Page 2 of 4

PostPosted: Mon Nov 13, 2006 11:56 pm
by kagakmurtad2
caberawit wrote:Kagakmurtad2 pake acara bersambung... kenapa? Cape ngetik ya? :P


biar agak seru doang....kayak trilogi pilem-2 amerika !

PostPosted: Tue Nov 14, 2006 7:11 am
by wa2n1805
kagakmurtad2 wrote:Dimasa lalu setiap kejadian yg terjadi selalu dicarikan alasan penyandaran kepada Tuhan.
Ketika seorang terkena penyakit demam sering akan lahir pertanyaan. Mengapa dirinya sakit dan siapa Pencipta penyakit tersebut ?
Pada masa itu jawaban atas pertanyaan seperti ini bahwa Tuhanlah yg menciptakannya.

Belakangan ilmu pengetahuan menemukan penyebab bahwa demam itu adalah bakteri, bukan Tuhan. Disini Tuhan kalah selangkah, sehingga orang-2 beriman harus mengulangi lagi pertanyaannya dg mengatakan lalu siapakah yg menciptakan bakteri ?
Selanjutnya ilmu pengetahuan menyingkap penyebab datangnya bakteri dan mengidentifikasikan proses munculnya bakteri. Lagi-2 Tuhan mundur selangkah, lalu perdebatan dilanjutkan dengan mempertanyakan sebab dari sebab itu, sehingga Tuhan selalu berada dalam posisi disalahkan.
Dan pada akhirnya, dengan penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan yg pesat, telah membuahkan penemuan-2 atas fenomena-2 itu. Bahkan fenomena yg sebab-2nya belum ditemukan secara pasti setidaknya telah diketahui kategori sebab-2nya. Dengan demikian manusia harus membebaskan Tuhan dari pekerjaannya untuk selamanya dengan sebuah apologi, karena tidak ada tersisa ruang dan tempat untukNya.

NAMUN BENARKAH DEMIKIAN...?

Dan mereka tidak menilai Allah dengan penilaian yang tepat mengenai-Nya (QS. 6:91)


(bersambung.........)


Iya... jangan-jangan konsep ketuhanan itu cuma bikinan manusia aja dengan tujuan untuk menjawab segala fenomen alam yang belum ketahuan penyebabnya. Dengan kata laen, cuma karena ada hal alami yang tidak dimengerti manusia, maka dibikinlah konsep ketuhanan itu....

Dan lagi, kalau TUHAN itu memang bener ada, emangnya ada manusia yang menilai TUHAN dengan penilaian yang tepat? Kalau ada, wah... manusia itu sungguh luar biasa, atau jangan-jangan manusia itu TUHAN sendiri yang katanya menjelma jadi orang (ada kepercayaan yang bilang gitu lho...)

PostPosted: Wed Nov 15, 2006 12:06 am
by kagakmurtad2
(.......sambungannye)


Adalah suatu kejahilan besar untuk berfikir dan mencari sebab dari suatu fenomena yg terjadi dimuka bumi untuk menyingkap wujud Tuhan kemudian bangga dan bergembira karena merasa telah menemukan tuhan pada suatu tempat tertentu. Dan bila kita tidak berhasil dan tidak mampu menyingkapkannya maka seharusnya menjadi seorang pesimis dan mengingkari eksistensi tuhan sama sekali.
Sebaliknya, dengan cara berpikir seperti itu, wajib bagi kita mengingkari tuhan yg digambarkan sedemikian, yakni dalam gambarannya sebagai salah satu dari kekuatan alam yg lain dan dapat terungkapkan - dalam penelitian mengenai fenomena-2 alam - seperti halnya fenomena-2 yg lain. tuhan seperti itu bukanlah Tuhan, dan wajib di ingkari sama sekali !
Pembahasan seperti diatas dapat disederhanakan dengan analogi berikut : dalam proses pencarian terhadap adanya Tuhan yang demikian, sama dengan perbuatan seseorang ketika ditunjukkan kepadanya sepasang pakaian yg bagus dan enak dipakai, lalu dikatakan kepadanya bahwa pakaian itu telah dibuat oelh seorang tukang jahit yg mahir. Maka orang itu lalu mencari si penjahit didalam saku-2 pakaian itu. Dan jika tidak menemukan tukang jahit itu maka diapun lalu berkesimpulan dan mengingkari sama sekali adanya tukang jahit itu.
Pendapat seperti ini sangat keliru dan omong kosong belaka. Antara Tuhan dan sebab-2 alamiah tidaklah terdapat hubungan yg sederajat yg membuat kita layak mengemukakan pertanyaan seperti itu.

Dan mereka berkata : Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup (didalamnya) dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa; Mereka sekali-2 tidak mempunyai pengetahuan tentang masalah itu. Mereka tak lain hanyalah menduga-2 saja. (QS. 45:24).



(Bersambung.....)

PostPosted: Thu Nov 16, 2006 8:36 pm
by kagakmurtad2
(......sambungannye lagi)

Disini gue, eh saya tidak akan membicarakan esensi (hakekat) Tuhan. Karena membicarakan hal demikian kata-2 tidak mampu menjelaskan dan akal pikiran tidak sanggup mengungkapkan.

Diantara hal-2 awal mengenai pengetahuan tentang Tuhan adalah bahwa Dia - Maha Suci Dia - adalah Tuhan seluruh sekalian alam, dan hubungannya dengan segala sesuatu selain Dia berada dalam batas-2 yg sama. Segala sesuatu tanpa keraguan adalah manifestasi dari kekuasaan, pengetahuan, kebijaksanaan, kehendak, dan rancangan Tuhan. Dan ayat-2 yang mengisahkan tentang kesempurnanNya, keindahanNya tanpa ada perbedaan diantara fenomena-2 yg diketahui ataupun tidak diketahui penyebabnya. Alam semesta seluruhnya dipelihara oleh Allah, keberadaanNya melintasi ruang dan waktu. Waktu dan seluruh satuan waktu, sama halnya dengan ruang dan obyek yang beruang, terlepas dari wujud yg terbatas atau tidak terbatas, apakah itu terbatas atau terbentang dari zaman azali hingga keabadian, apakah dunia yg terbatas dalam dimensi ruang atau tidak terbatas dan akhirnya apakah seluruh perkembangan wujud itu terbatas atau tidak terbatas dalam bingkai ruang dan waktu. Kesemuanya itu berujung pada wujud dan eksistensiNya dan dipandang sebagai pancaran-2Nya.


(Tamat....)

PostPosted: Mon Dec 11, 2006 7:19 pm
by Anti_ARAB
waduh maap baru buka sub forum ini

gwe absen deh atheis :P

PostPosted: Tue Dec 12, 2006 9:22 pm
by kagakmurtad2
Anti_ARAB wrote:waduh maap baru buka sub forum ini

gwe absen deh atheis :P


silakan masukken pendapet ente disini.

Re: Reason UNTUK NGGAK PERCAYA

PostPosted: Thu Jan 11, 2007 10:14 am
by Borland
arto wrote:Sebenarnya alasan untuk nggak percaya itu ada banyak banget. Kalau saya tulis di buku dulu sampai habis 400 halaman, aku bagikan di SMP empat tahun yang lalu. Dari sekian puluh temen yang aku pilih kasihin buku itu, cuma 6 orang yang jadi atheis akhirnya.
Tapi lumayan lah...

Cuman belakangan guru agama curiga ke aku, jadi aku narik semua buku itu dan sampe SMA aku gak begitu berani tampil lagi :wink:


Nah, sekarang dah lulus SMA jadi bisa cerita.

Satu aja yah... kenapa lebih baik jadi orang yang tidak percaya.
Kunci jadi atheis cuma satu : bertanya dan bertanya. Jangan pernah mau berhenti mencari ilmu. Itu saja.


Misalnya gini...
MENGAPA TUHAN TIDAK MENAMPAKKAN DIRI KEPADA MANUSIA?



1. Dia tidak ingin disembah.
Kenapa Tuhan tidak menampakkan diri? Jika dia bersembunyi pastilah punya alasan. Ada kemungkinan TUHAN MEMANG TIDAK INGIN DISEMBAH. Berarti : kita tidak perlu beragama.



2. Dia sengaja menjebak manusia (ngumpet).
Jadi Tuhan versi ini rada funky, dia sengaja bersembunyi supaya manusia bingung dan kemudian dia menjerumuskan orang yang nggak percaya ke neraka sementara yang cuek n tolol malah masuk surga.
Dengan bersembunyi-nya Tuhan kan berarti dia telah menjerumuskan banyak orang ke neraka apabila dia benar-benar ada.
JIKA DEMIKIAN, BERARTI TUHAN TIDAK MAHA BAIK tapi TUHAN YANG INI PASTI EGO MANIAK.



3. Dia menguji iman kita.
Seorang atheis tidak percaya kepada Tuhan karena alasan yang rasional dan masuk akal, jadi bisa dipertanggungjawabkan.
Misalnya Tuhan itu ada, atheis mati :
Tuhan : "Kenapa kamu nggak menyembah aku selama di dunia?"
Atheis : "Soalnya anda tidak menampakkan diri, saya yakin bahwa anda punya alasan di balik itu semua. Saya berpikir bahwa anda memang tak ingin disembah..."
Tuhan : "Saya kan menguji imanmu..."
Atheis : "Jika anda menguji iman saya, mengapa anda memberi saya otak dan logika untuk berpikir bahwa seakan-akan anda tidak ada. Bukankah anda sendiri yang memberi saya otak?"
Tuhan : "Tapi saya kan sudah kasih kitab suci buat panduan!"
Atheis : "Kalo kitab suci dan otak bertentangan saya harus pilih yang mana????? Kan kitab suci ciptaan Tuhan, otak juga ciptaan Tuhan. Kalo bertentangan gimana???? Lo bener-bener bisa nyiptain nggak sih????"
Tuhan : "Tapi kan sudah aku kasih nabi buat membantu pemahaman kitab suci yang gue beri ke lo, dodol!"
Atheis : "Kitab suci yang mana? Wong ada banyak bangetttt kitab suci di dunia ini... Saya kan nggak tahu harus nyembah yang mana. Jangan2 di dunia saya ikut Islam di dunia tapi ternyta yang benar adalah agama Yunani dan tiba-tiba di AKHERAT saya menghadap harus DEWA ZEUS..., saya mau ngomong apa ke dia?"
Tuhan : "Ya kitab suci yang paling benar (mis : Alkitab / Al-Qur'an)."
Atheis : "Gimana yang benar?"
Tuhan : "Yang sesuai sains dan logis..."
Atheis : "Benar gimana????? Al-Qur'an bilang ada matahari tenggelam di lumpur. Alkitab bilang belalang kakinya empat. Al-Qur'an bilang semut bisa bicara, padahal semut komunikasi pakai bau. Alkitab bilang ada org berjalan di atas air. Itu kan nggak logis dan nggak sesuai sains. Jangan2 nanti justru yang bener malah AGAMA HINDU !!"
dan seterusnya... (pikir ndiri...)



4. Dia tidak mampu menampakkan diri
Berarti dia tidak Maha Kuasa. Berarti dia bukan Tuhan. Berarti Tuhan itu tidak ada.



5. Kontradiktif dengan bukti dunia
Misalnya ada malaikat yang lumayan pinter ngobrol sama Tuhan.
Malaikat : "Tuhan kenapa anda tidak nongol ke manusia?"
Tuhan : "Biar mereka percaya kepadaku tanpa bukti dan tulus."
Malaikat : "Lalu kenapa kamu memberi mereka kitab suci?"
Tuhan : "Biar ada bukti kalau aku benar-benar ada."

Malaikat : "Loh? Ente itu gimana sih, tadi katanya nggak ngasih bukti ke manusia, lha kok sekarang malah bilang kitab suci itu buat bukti. Jadi sebenarnya ente itu mau ngasih bukti ato nggak sih?"
Tuhan : *bingung dan lenyap dalam logika*


Dari 5 kemungkinan itu, nggak ada alasan untuk menyembah Tuhan dgn asumsi bahwa Tuhan tidak menampakkan dirinya.
1. Dia tidak mau disembah : YA JADI ATHEIS AJA

2. Dia menjebak manusia : KALO ADA, TUHAN ITU MANIAK. KALO NGGAK ADA YA JADI ATHEIS AJA

3. Dia menguji iman kita : TERLALU RUMIT. Asumsinya jadi banyak :
> Jangan2 bumi ini datar, namun Tuhan menguji iman kita sehingga kita melihatnya nampak bulat. Tuhan ingin tahu apakah kita percaya kepada agama atau kepada godaan.
> Jangan2 matahari ini mengitari bumi, namun Tuhan membuatnya agar seakan bumi mengitari matahari untuk menguji iman kita.
> Jangan2 langit itu warnanya pink, namun Tuhan membuatnya nampak biru untuk menguji iman kita... dsb. dsb.
> Jangan2 aku ini Tuhan... tapi membuat diriku sendiri... (ah, lupakan)

Kalau kita asumsikan "menguji iman" maka terlalu banyak kemungkinan yang dihasilkan. Jadi kesimpulannya : YA JADI ATHEIS AJA.


4. Tuhan nggak Maha Kuasa? BERARTI BUKAN TUHAN. TUHAN NGGAK ADA. YA JADI ATHEIS AJA.


5. Kontradiktif. Ini gue nyerah. Ini bener-bener Tuhan yang nggak nalar banget... mungkin TUHAN SEPERTI INI IQ NYA CUMA DUA DIGIT



yah... itu sih cuman sedikit saja...
ada banyak esai lain yang bisa saya ceritakan misalnya : universalisme dan agama, tuhan itu tidak mungkin maha mengetahui, kisah adam dan hawa itu menghancurkan sifat-sifat Tuhan, dsb.

tapi satu-satu yah... males ngetik. ada ratusan hasil mikir 8 taon. :P



Salam,


Boleh tau agama anda sebelum jd Atheis apa yah?

Apa anda punya pengalaman buruk atau doa anda tidak pernah terkabulkan?

bgmnaa tanggapan Keluarga anda?

Sorry...agak dalem

PostPosted: Thu Jan 11, 2007 12:50 pm
by Humanism
kagakmurtad2 wrote:Disini gue, eh saya tidak akan membicarakan esensi (hakekat) Tuhan. Karena membicarakan hal demikian kata-2 tidak mampu menjelaskan dan akal pikiran tidak sanggup mengungkapkan.

Diantara hal-2 awal mengenai pengetahuan tentang Tuhan adalah...


Bagaimana orang tersebut tahu keberadaan Tuhan? Siapa yang memberi pengetahuan tentang Tuhan? Katanya "akal pikiran tidak sanggup mengungkapkan". Kok ternyata masih ada yang bisa mengungkapkan pengetahuan tentang Tuhan? Ini hipokrit namanya.

kagakmurtad2 wrote:bahwa Dia - Maha Suci Dia - adalah Tuhan seluruh sekalian alam, dan hubungannya dengan segala sesuatu selain Dia berada dalam batas-2 yg sama. Segala sesuatu tanpa keraguan adalah manifestasi dari kekuasaan, pengetahuan, kebijaksanaan, kehendak, dan rancangan Tuhan. Dan ayat-2 yang mengisahkan tentang kesempurnanNya, keindahanNya tanpa ada perbedaan diantara fenomena-2 yg diketahui ataupun tidak diketahui penyebabnya.


Lho, katanya tidak ada yang sanggup mengungkapkan, jadi pastilah ini ungkapan manusia tentang Tuhan. Yang berarti juga manusia yang menciptakan Tuhan.

kagakmurtad2 wrote:Alam semesta seluruhnya dipelihara oleh Allah, keberadaanNya melintasi ruang dan waktu. Waktu dan seluruh satuan waktu, sama halnya dengan ruang dan obyek yang beruang, terlepas dari wujud yg terbatas atau tidak terbatas, apakah itu terbatas atau terbentang dari zaman azali hingga keabadian, apakah dunia yg terbatas dalam dimensi ruang atau tidak terbatas dan akhirnya apakah seluruh perkembangan wujud itu terbatas atau tidak terbatas dalam bingkai ruang dan waktu.


Mari berpikir dengan akal sehat.
Tidak ada bukti alam semesta dipelihara oleh Allah.
KeberadaanNya melintasi ruang dan waktu? Apa dasar pengetahuan ini?

kagakmurtad2 wrote:Kesemuanya itu berujung pada wujud dan eksistensiNya dan dipandang sebagai pancaran-2Nya


Segala sesuatu yang berwujud atau eksis adalah berkondisi. Segala sesuatu yang berkondisi terikat oleh ruang dan waktu, inilah realita kehidupan. Penjelasan ini bertentangan dengan penjelasan awal tentang Tuhan melintasi ruang dan waktu.

Apabila Tuhan menciptakan alam semesta, atau bahkan cukup dengan membuat "Big Bang" saja, Tuhan telah terkondisi oleh ruang dan waktu.

Inilah mengapa mereka yang percaya Tuhan melandaskan hidupnya pada pandangan salah. Sebab bahkan seketika mereka mengungkapkan namaNya, detik itu juga mereka SALAH. Sebab apapun yang kita katakan, apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita gambarkan, pasti terikat ruang dan waktu. Dan semakin mereka berusaha menjelaskan "keberadaan"Nya, semakin melenceng mereka dari konsep Tuhan.

Kesimpulan: Tuhan tidak relevan di dalam dunia ini. Tuhan tidak relevan di dalam kehidupan anda.

Re: Reason UNTUK NGGAK PERCAYA

PostPosted: Thu Jan 11, 2007 1:00 pm
by Humanism
Borland wrote:Boleh tau agama anda sebelum jd Atheis apa yah?

Apa anda punya pengalaman buruk atau doa anda tidak pernah terkabulkan?

bgmnaa tanggapan Keluarga anda?

Sorry...agak dalem


Boleh tahu, sebelum anda beragama, di detik anda lahir, atau bahkan ketika anda masih dirahim, agama anda apa ya?
Apa anda sering mengalami rasa takut dan ragu akan ketidakpastian dunia dan kepastian kematian, sehingga memerlukan agama?
Bagaimana tanggapan Tuhan ketika anda menyembahNya?
Sorry...agak menyindir :P

PostPosted: Thu Jan 11, 2007 7:27 pm
by Borland
Humanism wrote:
Borland wrote:Boleh tau agama anda sebelum jd Atheis apa yah?

Apa anda punya pengalaman buruk atau doa anda tidak pernah terkabulkan?

bgmnaa tanggapan Keluarga anda?

Sorry...agak dalem


Boleh tahu, sebelum anda beragama, di detik anda lahir, atau bahkan ketika anda masih dirahim, agama anda apa ya?
Apa anda sering mengalami rasa takut dan ragu akan ketidakpastian dunia dan kepastian kematian, sehingga memerlukan agama?
Bagaimana tanggapan Tuhan ketika anda menyembahNya?
Sorry...agak menyindir :P
Agama saya?? Gak ada....

Yang Jelas Tuhan Yesus telah memilih Saya sejak dalam Kandungan....dan Saya mengikut DIA.

dan Saya gak butuh Agama....Saya butuh Yesus...klo krn mengikut Yesus saya dibilang beragama Kristen, Nasrani, Maseehiyin, de el el....terserah anda...

Sebagai Org Indonesia, tentu di KTP anda ada kolom agama....klo di KTP anda beragaama apa??

apakah anda disunat or dibaptis?

PostPosted: Thu Jan 11, 2007 8:35 pm
by Humanism
Borland wrote:Agama saya?? Gak ada....

Yang Jelas Tuhan Yesus telah memilih Saya sejak dalam Kandungan....dan Saya mengikut DIA.

dan Saya gak butuh Agama....Saya butuh Yesus...klo krn mengikut Yesus saya dibilang beragama Kristen, Nasrani, Maseehiyin, de el el....terserah anda...

Sebagai Org Indonesia, tentu di KTP anda ada kolom agama....klo di KTP anda beragaama apa??

apakah anda disunat or dibaptis?


Baiklah, karena iman anda membutuhkan Yesus, yang penuh kasih, saya juga berbaik hati kepada Yesus & anda. Tidak ada kritik, tidak ada argumen.

Di KTP saya tertulis Islam, karena salah ketik. Keluarga & teman2 saya tertawa melihat KTP Islam saya.

PostPosted: Thu Jan 11, 2007 11:07 pm
by kagakmurtad2
Humanism wrote:
kagakmurtad2 wrote:Disini gue, eh saya tidak akan membicarakan esensi (hakekat) Tuhan. Karena membicarakan hal demikian kata-2 tidak mampu menjelaskan dan akal pikiran tidak sanggup mengungkapkan.

Diantara hal-2 awal mengenai pengetahuan tentang Tuhan adalah...


Bagaimana orang tersebut tahu keberadaan Tuhan? Siapa yang memberi pengetahuan tentang Tuhan? Katanya "akal pikiran tidak sanggup mengungkapkan". Kok ternyata masih ada yang bisa mengungkapkan pengetahuan tentang Tuhan? Ini hipokrit namanya.

ini jelas bukan hipokrit.
pengetauan tentang Tuhan tidak akan dapat dicapai hanya oleh penalaran akal manusia yang sangat terbatas, kecuali Tuhan itu sendiri yang mengabarkan lewat kitab-2 suciNya.

Humanism wrote:
kagakmurtad2 wrote:bahwa Dia - Maha Suci Dia - adalah Tuhan seluruh sekalian alam, dan hubungannya dengan segala sesuatu selain Dia berada dalam batas-2 yg sama. Segala sesuatu tanpa keraguan adalah manifestasi dari kekuasaan, pengetahuan, kebijaksanaan, kehendak, dan rancangan Tuhan. Dan ayat-2 yang mengisahkan tentang kesempurnanNya, keindahanNya tanpa ada perbedaan diantara fenomena-2 yg diketahui ataupun tidak diketahui penyebabnya.


Lho, katanya tidak ada yang sanggup mengungkapkan, jadi pastilah ini ungkapan manusia tentang Tuhan. Yang berarti juga manusia yang menciptakan Tuhan.

jawabannya sama dengan diatas.

Humanism wrote:
kagakmurtad2 wrote:Alam semesta seluruhnya dipelihara oleh Allah, keberadaanNya melintasi ruang dan waktu. Waktu dan seluruh satuan waktu, sama halnya dengan ruang dan obyek yang beruang, terlepas dari wujud yg terbatas atau tidak terbatas, apakah itu terbatas atau terbentang dari zaman azali hingga keabadian, apakah dunia yg terbatas dalam dimensi ruang atau tidak terbatas dan akhirnya apakah seluruh perkembangan wujud itu terbatas atau tidak terbatas dalam bingkai ruang dan waktu.


Mari berpikir dengan akal sehat.
Tidak ada bukti alam semesta dipelihara oleh Allah.
KeberadaanNya melintasi ruang dan waktu? Apa dasar pengetahuan ini?

sudah saya katakan bahwa penalaran akal sangat terbatas.
apakah anda punya bukti alam semesta ini tidak ada yang memelihara ?
tentu saja dasar pengetahuan saya adalah ayat-2 alqur'an.

Humanism wrote:
kagakmurtad2 wrote:Kesemuanya itu berujung pada wujud dan eksistensiNya dan dipandang sebagai pancaran-2Nya


Segala sesuatu yang berwujud atau eksis adalah berkondisi. Segala sesuatu yang berkondisi terikat oleh ruang dan waktu, inilah realita kehidupan. Penjelasan ini bertentangan dengan penjelasan awal tentang Tuhan melintasi ruang dan waktu.

justru "melintasi ruang dan waktu" disini berarti tidak terikat olehnya.
saya katakan tentang keterbatasan akal manusia, disini terbukti dari perkataan anda tentang keterkondisian yang terikat oleh ruang dan waktu, sungguhkah demikian ? apakah anda tidak tahu mengenai fenomena "black hole" ? dimana segala jenis materi, even cahaya dan waktu bisa "tersedot" olehnya ? walaupun belum ada bukti empiris namun fakta-2 ilmu pengetahuan membuktikan hal tersebut ? juga mengenai rebirth atau reinkarnasi dalam agama budha. semua itu tidak tercerna oleh penalaran kita paling tidak untuk saat ini, namun kita tidak memungkirinya bukan ?

Humanism wrote:Apabila Tuhan menciptakan alam semesta, atau bahkan cukup dengan membuat "Big Bang" saja, Tuhan telah terkondisi oleh ruang dan waktu.

Inilah mengapa mereka yang percaya Tuhan melandaskan hidupnya pada pandangan salah. Sebab bahkan seketika mereka mengungkapkan namaNya, detik itu juga mereka SALAH. Sebab apapun yang kita katakan, apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita gambarkan, pasti terikat ruang dan waktu. Dan semakin mereka berusaha menjelaskan "keberadaan"Nya, semakin melenceng mereka dari konsep Tuhan.

pernyataan yang paradoks,Dan semakin mereka berusaha menjelaskan "keberadaan"Nya, semakin melenceng mereka dari konsep Tuhan. seakan-akan dengan menyalahkan konsep mereka tentang Tuhan, anda sendiri mengetahui konsep "tentang"Tuhan

Humanism wrote:Kesimpulan: Tuhan tidak relevan di dalam dunia ini. Tuhan tidak relevan di dalam kehidupan anda.

perlu anda ketahui, bahwa dalam kehidupan beragama-yang notabene berasal dari Tuhan- justru tujuan hidup itu bukan untuk kehidupan di dunia ini saja, tetapi yang lebih penting adalah kehidupan sesudahnya yang kekal abadi.
didalam islam (maaf jika saya agak oot) disebutkan bahwa hidup di dunia untuk beramal sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat kelak, karena nanti tidak ada lagi amalan, tetapi hanya "rewards" atas amalan di dunia.
jika kita semata-2 hidup untuk kehidupan ini saja dan berakhir segala sesuatunya setelah kita meninggal, alangkah tidak adilnya. bayangkan saja, anda dan saya tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang bagaimana, dengan status sosial kayak apa, padahal hal itu sangat penting bagi kita untuk survive kelak setelah dewasa.

demikian.

PostPosted: Fri Jan 12, 2007 7:16 am
by Humanism
kagakmurtad2 wrote:kecuali Tuhan itu sendiri yang mengabarkan lewat kitab-2 suciNya.


Haha.. iya nih OOT, harusnya soal komunisme.

Nah, bagaimana Tuhan mengabarkan lewat kitab-2 suciNya? Di manakah buktinya? Tidak ada buktinya. Yang kita ketahui adalah, apapun yang tertulis tentang Tuhan, semuanya berdasarkan PIKIRAN manusia, bukan fakta, termasuk juga ayat2 suci dari kitab manapun. Nabi dan ahli agama boleh saja mengaku2 menerima wahyu Tuhan, tetapi buktinya tidak ada. Kita hanya dapat melandaskan kepercayaan kita terhadap omongan dan tulisan mereka.

Tentu saja pernyataan anda tentang Tuhan adalah benar, bahwa "kata-2 tidak mampu menjelaskan dan akal pikiran tidak sanggup mengungkapkan", dan juga "penalaran akal sangat terbatas".

Yang saya permasalahkan di sini adalah BUKTI. Saya merasa anda seorang yang percaya Tuhan, dan tentu saja sebagai seorang bijaksana, maukah anda berpikir lebih 'rendah' sedikit dan lebih sederhana, yakni cara berpikir kaum Atheis: yang mereka butuhkan adalah bukti konkret, bukti nyata, semudah itu.

kagakmurtad2 wrote:apakah anda punya bukti alam semesta ini tidak ada yang memelihara ?


Nah, analogi seorang atheis itu biasanya begini bung kagakmurtad2 yang baik, misalnya di dalam hukum:

"Semua tersangka adalah tidak bersalah/tidak melakukan sesuatu yang merugikan, kecuali telah dibuktikan bersalah/
melakukan sesuatu yang merugikan."

Demikian juga Tuhan. "Tuhan tidaklah ada, karena tidak melakukan sesuatu, kecuali telah dibuktikan ada, karena melakukan sesuatu."

Alam semesta ini tidak ada memelihara. Alam ini apa adanya. Anda sebaiknya berpikir lebih jauh dengan tidak mengaitkan Tuhan di dalam kehidupan anda. Mengapa demikian? Dari segi ke-Tuhan-an, banyak ilmuwan beragama, dan juga ahli agama yang akan setuju dengan pendapat saya ini (ini apabila saya percaya Tuhan):

"Tuhan itu ADIL. Karena itu beliau menciptakan dunia ini apa adanya, dengan hukum alam sehingga alam ini berjalan tanpa campur-tanganNya. Apabila Tuhan mencampuri urusan manusia, misalnya membantu seseorang, atau bahkan membuat hujan, maka Tuhan ini tidak lagi ADIL, karena tidak membantu yang lain, atau bahkan dapat merugikan yang lain. Hal ini juga berarti beliau sudah mencampuri urusan dunia, mencampuri apa yang seharusnya sudah berjalan sesuai ciptaanNya dari awal, ciptaan yang semestinya berjalan apa adanya dan ADIL. Karena itu Tuhan tidak akan pernah mencampuri urusan alam semesta, karena beliau ADIL."

Karena itu bung kagakmurtad2, anda pasti setuju bahwa semua orang, bahkan yang percaya Tuhan, TIDAK AKAN PERNAH, dan tidak akan mampu membuktikan keberadaanNya semasa hidup, karena satu2nya cara membuktikan adalah IMAN, yang jelas2 bukan bukti konkret. Karena itu banyak atheis dan ilmuwan modern yang tidak setuju dengan orang2 yang berbuat sesuatu dengan mengatas-namakan 'kebenaran' Tuhan, karena jelas2 mereka tidak punya bukti.

Efek sampingnya adalah munculnya orang2 lain yang berbuat sesuatu demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan Tuhan, dan orang2 yang percaya Tuhan, tetapi tidak memahami keADILan Tuhan akan mudah terjerumus aliran2 macam ini. Seperti aliran2 baru yang kita lihat saat ini.

Semoga anda mengerti jalan berpikir atheis.

Maka saya tekankan sekali lagi: Tuhan tidak relevan di dalam dunia ini. Tuhan tidak relevan di dalam kehidupan anda. Apabila anda ingin mencapai "surga" atau kehidupan kekal abadi yang bahagia di alam masa mendatang, jalan tersebut hanya dapat ditempuh oleh anda sendiri, bukan dengan memohon, menyembah, memuji Tuhan, karena Tuhan itu ADIL, dan dunia apa adanya ini ADIL, tanpa campur tangan Tuhan.

"Black hole" memang mampu menyedot energi, gelombang elektromagnet, dan bahkan cahaya, namun black hole tetap terikat oleh ruang dan waktu. Ilmuwan dapat mengamati dan mengukur secara kira2 besarnya black hole. Apabila anda dapat "mengamati" dan "mengukur" suatu benda, berarti benda tersebut "pernah" (waktu) terlihat dan "ada" di suatu tempat/ruang.

kagakmurtad2 wrote:anda sendiri mengetahui konsep "tentang"Tuhan


Jelas, konsep tentang Tuhan adalah satu: ADIL. Bukan hanya saya yang mengetahui konsep ini, ANDA-pun tahu. Saya hanya memberi penjelasan lebih mendalam, yang saya sampaikan di atas.

kagakmurtad2 wrote:didalam islam (maaf jika saya agak oot) disebutkan bahwa hidup di dunia untuk beramal sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat kelak, karena nanti tidak ada lagi amalan, tetapi hanya "rewards" atas amalan di dunia.


Saya setuju sekali dengan "beramal sebagai bekal kehidupan".

kagakmurtad2 wrote:jika kita semata-2 hidup untuk kehidupan ini saja dan berakhir segala sesuatunya setelah kita meninggal, alangkah tidak adilnya. bayangkan saja, anda dan saya tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang bagaimana, dengan status sosial kayak apa, padahal hal itu sangat penting bagi kita untuk survive kelak setelah dewasa.


Dan tentu saja sebagai orang yang percaya Tuhan, anda tahu bahwa Tuhan itu ADIL, demikian juga bahwa alam semesta ini ADIL, berjalan tanpa campur-tanganNya.

Yang anda permasalahkan adalah bagaimana membuktikan keadilan Tuhan bukan? Karena kita hidup di dunia ini, dan terkondisi oleh ruang dan waktu, apabila anda mencari bukti keADILan Tuhan dengan cara mencari Tuhan, anda telah salah jalan, karena pikiran kita selalu terikat ruang dan waktu, tidak akan pernah mampu menjamah-NYA. Yang anda perlukan adalah bukti keADILan ALAM SEMESTA. Bukti bahwa hidup ini adil. Dan tentu saja ADIL tanpa campur tangan Tuhan.
Di sinilah juga biasanya DILEMA para pemuka agama tentang atheis, karena atheis merasa Tuhan tidak ada, dan tidak dapat membuktikan keadilan alam semesta, maka mereka berbuat sekehendak mereka, dan bebas melakukan kejahatan. Di sisi lain, mereka tidak punya bukti konkret keberadaan Tuhan, sehingga sering Tuhan ini disalahgunakan oleh orang dengan niat kurang baik.

Salah satu yang orang2 cari dengan mempelajari agama Buddha adalah ini: membuktikan keADILan alam semesta, bukan Tuhan.

kagakmurtad2 wrote:juga mengenai rebirth atau reinkarnasi dalam agama budha. semua itu tidak tercerna oleh penalaran kita paling tidak untuk saat ini, namun kita tidak memungkirinya bukan ?


Saya tempatkan ini di paling bawah, karena agak menjauh dari topik2 di atas. Meskipun jalan pikiran saya banyak dipengaruhi agama Buddha dan ilmu pengetahuan, dan kadang bahkan saya mengaku Buddhist (juga atheis), saya rasa adalah salah APABILA reinkarnasi atau rebirth yang dimaksud berdasarkan "roh yang mengalami proses tumimbal lahir".

Apakah anda mau mencerna dan menalarkan proses Rebirth? Saya bisa membantu apabila anda siap membuka batin anda.
Proses penalarannya panjang, tetapi saya bisa memulai dengan memberikan beberapa pertanyaan yang dengan mudah anda jawab YA / TIDAK, atau apabila anda ragu, jawab saja kurang yakin. Anda setuju?

PostPosted: Fri Jan 12, 2007 7:34 am
by Humanism
Oh iya, saya tidak setuju dengan pendapat bhante2 di thread "pengalaman menjelang kematian" yang saya terjemahkan. Itu sebuah pandangan salah tentang Rebirth.

PostPosted: Sat Jan 13, 2007 9:00 pm
by Humanism
Sebelum makin menjauh dari topik threadnya tentang komunisme, sampai di sinilah tulisan saya di thread ini. Any questions, kirim lewat private message. Terima kasih.

PostPosted: Sat Jan 13, 2007 11:21 pm
by kagakmurtad2
sori bro...saya rasa topik yang kita diskusikan masih relevan dengan komunisme, saya sebetulnya sedang menyiapkan sanggahan atas tulisan anda yang lumayan panjang, tapi kalau anda menganggap sudah oot ya apa boleh buat. terimakasih sebelumnya atas diskusinya..

PostPosted: Sun Jan 14, 2007 12:40 am
by swatantre
Ya kalo ngerasa punya sanggahan, ya posting aja dong. Siapa tahu kalo sanggahannya bermutu dan bener, dianya jadi tertarik balik lagi...

PostPosted: Sun Jan 14, 2007 6:32 am
by Humanism
Baiklah, tulis saja pendapat anda di sini, saya akan me-reply-nya di sini juga. Sebenarnya OOT juga bukan masalah. Menulis di thread ini, mengemukakan pendapat dengan bebas dan akal sehat, cukup menarik.

Tidak ada kalah dan menang, yang penting bisa mendapatkan keselarasan.

PostPosted: Sun Jan 14, 2007 3:41 pm
by betsyII
"Tuhan"
itu termasuk jenis kata benda, ataukah kata penunjuk ataukah kata sifat?

Mohon pencerahannya.

Menurut saya, Tuhan itu diluar ada dan tidak ada. Selama kita masih sebagai manusia yang berpikir, maka kita menciptakan Tuhan. Pemikiran yg bersentral pada si "Aku", subyek, maka muncullah obyek : Tuhan 'nun jauh disana'. Sekedar nominalisasi, sesuatu yang abstrak telah dinominalisasikan. Kala sang "aku" lenyap maka Tuhan-nominalisasi itu lenyap.
Sebaliknya, kala si "aku" lenyap maka yang ada hanyalah Tuhan (kt .sifat menerangkan pd yg transenden yg mendasari segala sesuatu). Ini bukan kepercayaan tapi merupakan pengalaman langsung. Saya menyebutnya itu Noumena.

Adalah sifat pikiran manusia utk menghayati sesuatu noumen, sesuatu yg suci. Itu adalah bagian dari genetika biologis yg tertanam dalam otak kita. Kala kita menyebutkan kata "Tuhan", berarti bagian otak itu menampakkan kebutuhannya. Kebutuhan itu jelas ada dan real, karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri biologis kita. Dengan kebutuhan itulah maka manusia mencari, maka terciptalah agama-agama. Sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka kenalilah dirimu sebaik2nya, karena "Tuhan" itu bukan terletak diluar nun jauh disana, bukan sesuatu obyek, tetapi merupakan hakikat dari sifat pikiran asali. Kala kesadaran murni itu terealisasi, maka yang ada hanyalah pengalaman transendental thd Noumen. Dengan demikian maka manusia mengatakan ada dan sekaligus pembuktian itu hanya bisa dilalui melalui pengalaman subyektif.

Jadi mohon maaf bagi yang menyebut "Tuhan" sebagai kata benda, barangkali pemaparan saya ini mengecewakan anda, karena Tuhan semacam itu tidak ada. Demikian juga bagi yang atheis, barangkali pemaparan saya tidak bisa memuaskan anda karena untuk membuktikannya anda harus mematikan pikiran anda dulu -- yang dengan demikian runtuhlah kebutuhan untuk pembuktian.

Salam,
Betsy

PostPosted: Sun Jan 14, 2007 7:05 pm
by Humanism
Saya kira atheis (& saya sendiri) pada umumnya tidak mengakui keberadaan Tuhan sebagai kata benda. Dan sepengetahuan saya, Tuhan yg kagakmurtad2 maksud adalah kata benda juga, karena 'ada'.

'Pengalaman langsung' yang anda maksud adalah meditasi?
Maksud Betsy ttg Noumena adalah kata sifat yang menerangkan "kesadaran murni", atau "pikiran yang tidak lagi terikat oleh persepsi dan perasaan terhadap sensasi yang diterima oleh panca indera kita"? Atau meditasi anda sudah mencapai tingkat lebih tinggi nih? :wink: