Page 1 of 2

Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 10:34 am
by Kibou
Salam buat semua,

Saya dapat satu buku bagus, yaitu:

Just The Arguments, edited by Michael Bruce and Steven Barbone. Blackwell Publishing, 2011

Di trit ini saya akan mencoba menyadur beberapa argumen penting yang tercantum dalam buku tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

(to be continued)

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 11:05 am
by Kibou
dari halaman 198-200:

Aristoteles dan Argumen untuk Mengakhiri Semua Argumen
Toni Vogel Carey


Argumen ini, yang diwariskan oleh Aristoteles, adalah salah satu argumen paling mendasar dalam sejarah pemikiran. Argumen ini juga adalah salah satu yang paling singkat, sehingga mudah terlewat. Dalam buku Metaphysics, Aristoteles berkata,

"Mustahil bahwa segala sesuatu mutlak harus dibuktikan; [karena] akan ada infinite regress, sehingga pada akhirnya tidak ada pembuktian untuk apapun."

===> infinite regress kira-kira berarti "penjelasan mundur sampai tidak terbatas" - Kibou

Berikut adalah bentuk singkat argumen reductio ad infinitum Aristoteles secara implisit:

1. Untuk setiap p, jika p adalah sebuah proposisi, maka bisa diberikan alasan yang pro/kontra p.

2. p adalah sebuah proposisi.

3. Bisa diberikan alasan yang pro/kontra p. (modus ponens dari 1 dan 2)

4. q dan r adalah alasan yang pro/kontra p.

5. Jika q dan r adalah proposisi, maka bisa diberikan alasan yang pro/kontra q dan r.

6. q adalah sebuah proposisi.

7. Bisa diberikan alasan yang pro/kontra q. (modus ponens dari 1 dan 6)

8. s dan t adalah alasan yang pro/kontra q

9. Jika s dan t adalah proposisi, maka bisa diberikan alasan yang pro/kontra s dan t.

10. s adalah sebuah proposisi.

Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya, ad infinitum (sampai tidak terbatas).

Jika kita menuntut alasan yang pro/kontra untuk setiap proposisi, maka kita akan terjebak di dalam proses mencari alasan yang tidak akan berakhir, dan pada akhirnya tidak ada justifikasi sama sekali. Charles Parsons, seorang filsuf logika dan matematika berkata,

"The buck has to stop somewhere." ===> penjelasan harus berhenti di suatu titik - Kibou

(to be continued)

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 11:53 am
by Kibou
lanjut...


Argumen ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh memberikan alasan atas sebagian besar proposisi. Dan kalaupun kita tidak dapat memberikan alasan atas suatu proposisi, bukan berarti bahwa kita tidak punya justifikasi untuk meyakini proposisi tersebut. Ada proposisi yang menjustifikasi dirinya sendiri - atau diketahui secara intuitif, "evident without proof or reasoning," menurut kamus Webster's Ninth. Begitulah pandangan Aristoteles terhadap Hukum Logika Non-Kontradiksi dan Hukum Moral seperti menepati janji. Deklarasi Kemerdekaan Amerika dimulai dengan, "We hold these truths to be self evident." ===> "Kami meyakini bahwa kebenaran ini membuktikan dirinya sendiri." - Kibou

Walaupun "penjelasan harus berhenti di suatu titik", bukan berarti alasan setiap proposisi harus berhenti di titik yang sama. Kita dapat mengambil asumsi kebenaran suatu proposisi secara kondisional, demi menguji suatu argumen. Kita bahkan dapat berasumsi bahwa p itu benar dalam suatu argumen namun salah dalam argumen lain (selama masih dalam konteks pengujian argumen - Kibou).

Penting sekali untuk mengetahui proposisi apa saja yang termasuk dalam kategori self evident. Seringkali orang tidak menyadari premis-premis yang mendasari suatu proposisi atau menganggap semuanya terlalu obvious untuk dipaparkan.

Kita meyakini bahwa ada proposisi kebenaran yang lebih self evident dibanding proposisi kebenaran yang lain, tidak hanya demi pengujian suatu argumen, namun bahkan tanpa adanya kualifikasi. Ilmuwan (scientist) meyakini asumsi bahwa hukum alam semesta yang berlaku hari ini akan tetap berlaku di hari esok (prinsip induksi - Kibou). Juga bahwa prinsip "penjelasan harus berhenti di suatu titik" bahkan bersifat lebih mendasar daripada prinsip induksi. Para filsuf secara tradisi meyakini bahwa ada kebenaran hakiki (necessary truths); yaitu proposisi yang mutlak benar di semua possible worlds (konsep possibe worlds saya jelaskan di: perjalanan-spiritual-netter-kibou-t47276/page20.html) Jika demikian, maka argumen Aristoteles ini termasuk ke dalam kategori kebenaran hakiki.

(to be continued)

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 1:12 pm
by Kibou
lanjut...


Dari sisi yang berseberangan, filsuf W.V. Quine dalam "Two Dogmas of Empiricism", menganggap "kebenaran hakiki" sebenarnya adalah "proposisi yang kita enggan untuk meninggalkan". Bagi banyak orang, keyakinan akan adanya Tuhan yang Baik adalah keyakinan yang akan dipertahankan saat semuanya gagal. Menurut Quine, tidak ada proposisi, bahkan Hukum Logika sekalipun, yang "kebal terhadap revisi".

Argumen Aristoteles ini penting karena menunjukkan bahwa ada batasan atas apa yang dapat dicapai oleh pemikiran (reasoning), yang bertentangan dengan keyakinan kita bahwa pemikiran, secara prinsip, dapat menyelesaikan segala permasalahan. Jika "penjelasan harus berhenti di suatu titik", maka logika sendiri berdasar bukan pada pemikiran, baik deduktif maupun induktif, melainkan lebih kepada intuisi. Aristoteles tidak mempermasalahkan hal ini, begitu pula Einstein. Filsuf seperti John Stuart Mill telah memberikan reputasi buruk kepada intuisi - padahal dalam "A System of Logic", Mill mengakui bahwa, "kebenaran yang diketahui melalui intuisi adalah sumber darimana semua premis lain disimpulkan".

Yang menjadi masalah dengan intuisi adalah orang menjadi enggan untuk membahas tantangan atas kebenaran intuitif, sehingga diskusi menjadi buntu bahkan mustahil; dan ini bisa berujung kepada fanatisme. Karena suatu keyakinan didasari oleh intuisi, bukanlah jaminan bahwa keyakinan itu benar. Tapi biarpun intuisi bisa saja salah, bukan berarti bahwa intuisi didiskreditkan. George Bealer, dalam "Intuisi" (Encyclopedia of Philosophy) mengingatkan bahwa persepsi (panca indera - Kibou) pun bisa salah, namun bukan menjadi alasan untuk menolaknya.

Pengambilan kesimpulan logis (valid logical inference) aman untuk diyakini, sementara mendasari keyakinan pada intuisi bisa mengandung resiko. Tapi argumen dari Aristoteles menunjukkan bahwa pengambilan kesimpulan logis itu sendiri didasari oleh proposisi-proposisi (axiom) yang kebenarannya kita terima melalui intuisi; mungkin di titik inilah "penjelasan harus berhenti".

End of argument.

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 4:08 pm
by keeamad
Wow dalam banget,
tapi suatu yang pasti,
saya gak pernah menemukan ada muslim punya pemikiran seperti ini ....

Kalaupan ada penentang Aristotle yaitu Avicenna (Ibn Sina),
tapi justru dari situlah kunci muncul keyakinan dan bukti (setidaknya dari saya pribadi) bahwa Avicenna jelas2x bukan muslim .....


Bro kibou tolong terjemahin dong,
pusing ni ...

There remain two other doctrines of general metaphysical nature which exhibit him in the character of an original, or rather an Arabian, and not a neo-Platonic interpreter. The first is his division of being into three classes: (a) what is merely possible, including all sublunary things; (b) what is itself merely possible butendowed by the First Cause with necessity; such are the ideas that rule the heavenly spheres; (c) what is of its own nature necessary, namely, the First Cause. This classification is mentioned and refuted by Averroes. The second doctrine, to which also Averroes alludes, is a fairly outspoken system of pantheism which Avicenna is said to have elaborated in a work, now lost, entitled "Philosophia Orientalis". The Scholastics, apparently, know nothing of the special work on pantheism; they were, however, aware of the pantheistic tendencies of Avicenna's other works on philosophy, and were, accordingly, reluctant to trust in his exposition of Aristotle.

Makasih bro ....

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 4:19 pm
by Kibou
keeamad wrote:Wow dalam banget,
tapi suatu yang pasti,
saya gak pernah menemukan ada muslim punya pemikiran seperti ini ....

Kalaupan ada penentang Aristotle yaitu Avicenna (Ibn Sina),
tapi justru dari situlah kunci muncul keyakinan dan bukti (setidaknya dari saya pribadi) bahwa Avicenna jelas2x bukan muslim .....


Avicenna konon suka minum anggur beralkohol Bro! Jadi kalaupun muslim, dia ini muslim yang "nyeleneh" hehehe. Makanya Al Ghazali benci banget sama pemikiran Avicenna.

There remain two other doctrines of general metaphysical nature which exhibit him in the character of an original, or rather an Arabian, and not a neo-Platonic interpreter. The first is his division of being into three classes: (a) what is merely possible, including all sublunary things; (b) what is itself merely possible butendowed by the First Cause with necessity; such are the ideas that rule the heavenly spheres; (c) what is of its own nature necessary, namely, the First Cause. This classification is mentioned and refuted by Averroes. The second doctrine, to which also Averroes alludes, is a fairly outspoken system of pantheism which Avicenna is said to have elaborated in a work, now lost, entitled "Philosophia Orientalis". The Scholastics, apparently, know nothing of the special work on pantheism; they were, however, aware of the pantheistic tendencies of Avicenna's other works on philosophy, and were, accordingly, reluctant to trust in his exposition of Aristotle.


Buset, dalem amat nih cukilannya! Saya coba terjemahkan yah, tapi isi tidak dijamin 100% benar hehehe:

Ada dua doktrin metafisik yang menunjukkan (Avicenna) sebagai pemikir orisinal, atau pemikir Arab, dan bukan sekedar penerjemah neo-platonik.

Yang pertama yaitu pembagian atas "being" dalam tiga klasifikasi:

a. Apa yang sekedar "mungkin", termasuk semua yang ada di antara Bumi dengan Bulan.

b. Apa yang "mungkin", tapi diberikan "kemutlakan" oleh First Cause, seperti idea yang mengatur planet-planet.

c. Apa yang memiliki "kemutlakan" dalam hakikatnya sendiri, yaitu First Cause.

Klasifikasi ini diutarakan dan ditentang oleh Averroes. Doktrin yang kedua, juga pernah diutarakan oleh Averroes, adalah sebuah system pantheisme yang konon pernah dipaparkan oleh Avicenna dalam karya "Philosophia Orientalis" yang kini sudah hilang.

Kaum scholastic, tampaknya, tidak tahu menahu mengenai karya pantheisme tersebut; namun mereka sadar akan adanya tendensi pantheisme Avicenna dalam karya-karya filsafatnya, dan karenanya menjadi segan untuk mempercayai Avicenna dalam pemaparannya atas Aristoteles.

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 4:35 pm
by keeamad
Info baru,
thx bro ....

Bhs inggris yg ada di posting saya itu pemikiran Avicenna,
apa ya bro terjemahan nya ?

Salam

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 4:47 pm
by Kibou
@ Bro keeamad

Terjemahan saya masukkan ke editan posting sebelumnya Bro. Hmmm ternyata ada indikasi Avicenna ini penganut pantheisme yah. Pantesan Al Ghazali alergi banget sama Avicenna!

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 4:49 pm
by keeamad
OK,
bisa dibilang si Cenna itu setuju ama Aristotle ya bro ?

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 5:02 pm
by Kibou
keeamad wrote:OK,
bisa dibilang si Cenna itu setuju ama Aristotle ya bro ?


Iya Bro. Dari artikel mangenai autobiografi Avicenna di Internet Encyclopedia of Philosophy dikatakan, "the autobiography is an attempt to demonstrate that humans can achieve the highest knowledge through intuition". Autobiografi Avicenna berusaha menunjukkan bahwa manusia bisa mencapai pengetahuan tertinggi melalui intuisi.

Jadi sepertinya Avicenna ini contoh filsuf yang sangat mengandalkan kemampuan berpikir a priori.

Kalau kita sebagai manusia modern, sebaiknya mengandalkan intuisi dan juga data empiris supaya berimbang.

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Wed Feb 22, 2012 5:12 pm
by keeamad
keeamad wrote:OK,
bisa dibilang si Cenna itu setuju ama Aristotle ya bro ?

Kibou wrote:Iya Bro. Dari artikel mangenai autobiografi Avicenna di Internet Encyclopedia of Philosophy dikatakan, "the autobiography is an attempt to demonstrate that humans can achieve the highest knowledge through intuition". Autobiografi Avicenna berusaha menunjukkan bahwa manusia bisa mencapai pengetahuan tertinggi melalui intuisi.

Jadi sepertinya Avicenna ini contoh filsuf yang sangat mengandalkan kemampuan berpikir a priori.

Kalau kita sebagai manusia modern, sebaiknya mengandalkan intuisi dan juga data empiris supaya berimbang.



Gw malah jadi 99,99% yakin kalo si Cenna itu bukan muslim...

Karena dari proposisi, premise dll (sori gw gak ngerti cara pemakaian ke 2 nya yang baik dan benar),
memperlihatkan bahwa:
Pemikiran dan logika penemu2x (ilmuwan) modern seperti Galileo sampe Hawking,
sangat bertolak bertolak belakang dengan doktrin dan dogma2x islam ....
Vice versa,
Iman Islam itu hanya untuk diyakini saja,
jadi ruang untuk PEMIKIRAN DINAFIKAN .....
Begitu ada muslim yg BERPIKIR SEDIKIT SAJA DENGAN MENGGUNAKAN LOGIKA ATAS KEIMANANNYA,
DIPASTIKAN MURTAD ...

Kesimpulannya,
Logika Berpikir BUKAN bagian dari ajaran islam ......

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Fri Feb 24, 2012 2:43 pm
by Kibou
Ini bukan terjemahan kata demi kata, namun saya akan berusaha meringkas tanpa kehilangan esensi dari argumen. Mohon maaf atas keterbatasan bahasa inggris saya. - Kibou


Hal 52-56


Nietzsche Dan Kematian Tuhan
Tom Grimwood

Kritik Nietzsche terhadap ide mengenai kebenaran dan moralitas pada filsafat Barat menjadikannya sebagai salah satu pemikir terpenting di era modern. Serangan Nietzsche terhadap hakikat metafisik kebenaran tidak hanya memberikan fondasi kepada eksistensialisme, post-strukturalisme, dan post-modernisme, tapi juga mempengaruhi filsafat moralitas dengan cap moral skeptisisme.

Bagi Nietzsche, Eropa Utara di akhir abad 19 menyaksikan kejatuhan radikal atas fondasi-fondasi filsafat. Di satu sisi, kepercayaan tradisional kepada Tuhan menjadi tidak mungkin karena perkembangan sains. Tapi di sisi lain, "lubang" yang muncul karena Tuhan telah disingkirkan, kini diisi oleh sains itu sendiri, yang bagi Nietzsche tetap mempertahankan ilusi atas hakikat "kebenaran".

Masalah yang sebenarnya, menurut argumen Nietzche, bukan bahwa Tuhan tidak lagi bisa dipercaya, melainkan - karena sains telah menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Tuhan - belum ada orang yang menyadari betapa pentingnya kejadian ini. Nietzsche bukanlah seorang nihilist: baginya kematian Tuhan adalah kejadian terpenting pada masa ini, memungkinkan orang untuk terlepas dari belenggu metafisik dan menyambut masa depan yang benar-benar bebas.

(to be continued)

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Fri Feb 24, 2012 3:45 pm
by Kibou
Nietzsche sendiri tidak berargumen mengenai bagaimana Tuhan telah mati dengan cara melawan argumen filsafat teologi - melainkan dengan mengambil asumsi bahwa Tuhan memang sudah mati. Dia lebih tertarik dengan bagaimana kita, sebagai manusia, menyikapi "kejadian" tersebut: apakah kita menyambut semua konsekuensi dari kematian Tuhan ataukah kita akan tetap "beriman" kepada konsep-konsep yang masih bergantung kepada asumsi-asumsi metafisik seperti sains dan moralitas. Asumsi-asumsi ini berpusat kepada pengakuan akan adanya "realita yang lain" yaitu "kebenaran" yang berada di luar panca indera manusia (bagi kristen: Surga, bagi moralitas: "kebaikan" abstrak, bagi sains: struktur atom, dst). "Realita yang lain" ini memisahkan kita dari sensibilitas kita sendiri dan menahan kita di dalam kondisi "quasi-relijius" dalam memandang sains dan moralitas.

Rekonstruksi argumen Nietzsche kira-kira sebagai berikut:

1. Jika kita mematuhi suatu prinsip yang mengatur hidup kita, maka prinsip tersebut harus rasional, benar, atau bisa dipercaya.

2. Eksistensi Tuhan itu tidak rasional, benar, atau bisa dipercaya.

3. Kita tidak bisa mematuhi Tuhan sebagai prinsip yang mengatur hidup kita. (dari 1 dan 2)

4. Jika sains, moralitas, dan religi mengandung asumsi, maka asumsi tersebut akan mempengaruhi hasil pertimbangan.

5. Sains, moralitas, dan religi mengandung asumsi yang sama yaitu Pencapaian Kebenaran (The Will to Truth).

6. Pencapaian Kebenaran mempengaruhi hasil dari pertimbangan sains, moralitas, dan religi.

7. Jika Pencapaian Kebenaran adalah esensial bagi kehidupan kita, maka kita punya alasan untuk mematuhinya.

8. Kita tidak punya alasan moral atau utilitarian untuk mematuhi Pencapaian Kebenaran.

(Menurut Nietzsche berbohong atau memperdaya bisa berguna, misalnya dalam membesarkan anak. Jadi tidak ada kewajiban untuk mematuhi Pencapaian Kebenaran)

9. Pencapaian Kebenaran tidak esensial bagi kehidupan kita. (dari 7 dan 8)

(Nietzsche bertanya kepada kita, "Mengapa kamu menolak untuk berbohong, jika berbohong menguntungkan dirimu?)

10. Jika kita tidak memiliki alasan moral atau utilitarian untuk mematuhi Pencapaian Kebenaran, maka alasan kita bersumber dari hal lain.

11. Alasan kita mematuhi Pencapaian Kebenaran bukan berupa alasan moral atau utilitarian. (dari 11 dan 8)

12. Jika kita tidak punya alasan moral atau utilitarian untuk mematuhi Pencapaian Kebenaran, maka Pencapaian Kebenaran itu tidak rasional, benar, atau bisa dipercaya. (dari 12 dan 8)

Jadi, bagi Nietzsche, kematian Tuhan berarti juga kematian atas Pencapaian Kebenaran.


(end of argument)

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Fri Feb 24, 2012 7:25 pm
by keeamad
Sulit sekali untuk dimengerti ......

Tapi kalo saya simpulkan secara sederhana hubungan antara filsafat dan TUHAN,
Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia berpikir dengan otaknya untuk mencari dan menemukan TUHANNYA ....

Sementara dalam doktrin islam,
alah mengenalkan dirinya melalui quran dan momad kepada manusia dan melarang manusia tsb untuk berpikir agar merela tidak menemukan akalnya ....

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Sat Feb 25, 2012 10:39 am
by Kibou
keeamad wrote:Sulit sekali untuk dimengerti ......


Maaf Bro kee, mungkin itu disebabkan terjemahan saya yang tidak akurat.

Intinya adalah, Nietzsche menolak semua kebenaran yang bersifat metafisik/non-empiris. Jadi bisa dibilang Nietzsche tidak hanya ingin memutuskan hubungan dengan filsafat teologi, tapi juga dengan filsafat warisan Plato dan Aristoteles.

Argumen "God is Dead" itu sendiri bukan ditujukan kepada kaum theist ataupun kaum penerus Plato dan Aristoteles, melainkan kepada kaum atheist. Nietzsche ingin agar para atheist benar-benar terbebas dari belenggu sains, moralitas, dan agama, karena ketiganya sebenarnya didasari oleh The Will to Truth (Pencapaian Kebenaran) yang berada dalam wilayah jurisdiksi yang sama dengan Tuhan, yaitu realita metafisik. Bagi Nietzsche, apapun yang didasari oleh filsafat metafisik tidak bisa diterima atau diyakini.

Tapi kalo saya simpulkan secara sederhana hubungan antara filsafat dan TUHAN,
Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia berpikir dengan otaknya untuk mencari dan menemukan TUHANNYA ....


Amin Bro.

Sementara dalam doktrin islam,
alah mengenalkan dirinya melalui quran dan momad kepada manusia dan melarang manusia tsb untuk berpikir agar merela tidak menemukan akalnya ....


Setuju!

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Sat Feb 25, 2012 8:50 pm
by keeamad
@ kibou
"Bagi Nietzsche, apapun yang didasari oleh filsafat metafisik tidak bisa diterima atau diyakini.
"

Adakah nitse menerangkan,
"Apapun yang didasari oleh filsafat NON metafisik bisa diterima dan diyakini" ?
Lalu apakah (contoh) filsafat NON metafisik itu ?

Salam

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Mon Feb 27, 2012 1:15 pm
by Kibou
keeamad wrote:Adakah nitse menerangkan,
"Apapun yang didasari oleh filsafat NON metafisik bisa diterima dan diyakini" ?


Karena Nietzsche umumnya menuangkan pemikiran-pemikiran beliau dalam bentuk cerita atau puisi, maka sebenarnya Nietzche tidak menyampaikan argumen-argumen beliau dalam bentuk di mana premis-premis pemikirannya mudah untuk diformulasikan.

Sebenarnya, menurut Nietzsche konsep "kebenaran" yang diyakini oleh Plato, Aristoteles, dan teologi adalah suatu "kekeliruan". Karena Nietzsche adalah seorang yang sangat skeptik (meragukan hampir semua hal), maka konsep "kebenaran" itu sendiri yang diserang oleh Nietzsche. Bagi Nietzsche "kebenaran" hanyalah ilusi, sesuatu yang hanya eksis sebagai hasil dari pemikiran manusia. Jadi Nietzsche menyangkal bahwa manusia bisa mengetahui "kebenaran obyektif", sehingga "kebenaran" yang bisa diketahui manusia bersifat relatif terhadap cara berpikir manusia itu sendiri. Pandangan Nietzche terhadap "kebenaran" ini bisa disebut sebagai perspektivisme.

Jadi biarpun sains merupakan usaha untuk mendapatkan "kebenaran" empiris, tetap saja diperlukan "perspektif" yaitu pemikiran manusia untuk meng-interpretasikan data empiris tersebut. Jadi baik metode non-empiris dan metode empiris tidak bisa digunakan untuk mencapai "kebenaran obyektif".

Dan Nietzsche juga menyangkal bahwa manusia memiliki kewajiban untuk mencapai "kebenaran". Bagi Nietzsche, "kebenaran" (truth) dan "ketidakbenaran" (untruth) memiliki nilai yang seimbang.

Pertanyaan kedua saya jawab menyusul ya Bro, mau makan siang dulu. Salam hangat!

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Mon Feb 27, 2012 2:22 pm
by Kibou
keeamad wrote:Lalu apakah (contoh) filsafat NON metafisik itu ?


Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus terlebih dulu memberikan definisi atas "filsafat metafisik".

Menurut kamus Merriam-Webster:

Definition of METAPHYSICS

a division of philosophy that is concerned with the fundamental nature of reality and being and that includes ontology, cosmology, and often epistemology

Definisi METAFISIKA

suatu cabang filsafat yang berurusan dengan dasar hakikat dari realita dan "being" yang mencakup ontologi, kosmologi, dan seringkali epistemologi

Jadi jawaban yang simpel, filsafat yang berada di luar wilayah metafisika bisa dikatakan filsafat non-metafisik. Tapi justru di sinilah letak masalahnya, karena filsafat metafisika adalah filsafat yang mendasari bentuk-bentuk filsafat lainnya, sehingga sulit sekali mencari bentuk filsafat yang benar-benar bersih dari pengaruh metafisika.

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Tue Feb 28, 2012 12:53 am
by keeamad
ah si bro kibou,
malah makin bikin binung ane aje jadinya ...

Tapi tetap thx ..
Salam
GBU

Re: Beberapa Argumen Penting dalam Filsafat

PostPosted: Tue Feb 28, 2012 10:18 am
by Kibou
keeamad wrote:ah si bro kibou,
malah makin bikin binung ane aje jadinya ...

Tapi tetap thx ..
Salam
GBU


Sebenarnya adalah wajar kalau Bro keeamad jadi bingung:

Karena pemikiran-pemikiran Nietzsche itu memang membingungkan. Kita harus ingat, Nietzsche tidak menyanggah argumen-argumen mengenai eksistensi Tuhan (Thomas Aquinas, G.W. Leibniz, dll) tapi dia mengambil asumsi bahwa Tuhan sudah "mati". Sepertinya Nietzsche mengambil jalan yang agak memutar: dia memilih mengatakan bahwa Tuhan sudah "mati" dan bukannya bahwa Tuhan tidak eksis. Mengapa? Dugaan saya adalah supaya Nietzsche bisa menghindari tanggung jawab pembuktian burden of proof.

Jadi pemikiran Nietzsche dibangun pada sebuah iman: kita harus beriman (mempercayai asumsi) bahwa Tuhan sudah "mati".

Dan berawal dari iman yang keliru inilah pemikiran-pemikiran Nietzsche menjadi melantur tidak karuan. Pandangan hidup Nietzsche adalah pandangan hidup yang mengandung paradox, sehingga Nietzsche tidak bisa hidup konsisten dan konsekuen dengan apa yang diyakininya. Nietzsche menyangkal adanya standar objektif moralitas, tapi di saat yang sama beliau sangat membenci orang-orang yang anti-yahudi (contohnya Richard Wagner). Kalau memang moralitas itu relatif, maka tentu saja orang-orang yang anti-yahudi memiliki hak moral yang sama seperti halnya Nietzsche. Argumen Nietzche sendirilah yang menggugurkan hak Nietzsche untuk mengkritik pandangan moral orang lain.

Tapi saya baru saja menemukan satu fakta menarik mengenai Nietzsche:

Dalam buku "Anti-christ" Nietsche menyatakan:

"Why did Christianity trample down the culture of Islam? ...Because Islam was noble, because it owed its origin to manly instincts...War to the knife with Rome! Peace and friendship with Islam!"

Pertanyaan saya:

Kalau Nietzsche menyetujui bahwa Islam itu mulia, maka:

1. Nietzsche itu orang b0d0h (jelas tidak mungkin!)
2. Nietzsche belum mempelajari Islam secara menyeluruh (mungkin)
3. Nietzsche itu orang gila (faktanya memang beliau gila selama 11 tahun)


GBU always...