.

Moralitas Obyektif dan Eksistensi Tuhan

Moralitas Obyektif dan Eksistensi Tuhan

Postby Kibou » Sat Sep 03, 2011 10:11 pm

Salam semuanya!

Saya saat ini sedang membaca-baca soal Natural Theology (NT).
NT pengertiannya kurang lebih yaitu suatu usaha atau cara atau metodologi untuk membuktikan eksistensi Tuhan tanpa bergantung kepada wahyu (divine revelation) dari kitab suci manapun.

Pada prakteknya, NT berusaha memberikan argumen-argumen filosofis untuk menjawab masalah eksistensi Tuhan.

Salah satu argumen yang ditawarkan oleh NT yaitu The Moral Argument (MA). MA salah satu bentuk argumennya yaitu:

1) If God does not exist, objective moral values and duties do not exist.

2) Objective moral values and duties do exist.

3) Therefore, God exists.

dalam bahasa Indonesia kurang lebih:

1) Jika Tuhan tidak ada maka nilai dan kewajiban moral obyektif tidak ada.

2) Nilai dan kewajiban moral obyektif itu ada.

3) Maka, Tuhan ada.

Saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai MA ini, jadi jika ada yang ingin bertanya tunggu sampai posting penjelasan saya dulu yah. Thank you all!
Last edited by Kibou on Wed Oct 05, 2011 9:35 am, edited 3 times in total.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Sat Sep 03, 2011 11:19 pm

Nilai Moral Obyektif (NMO) maksudnya bahwa ada hal-hal yang secara universal dianggap berharga seperti contohnya nyawa manusia (human life).

Kewajiban Moral Obyektif (KMO) maksudnya ada hal-hal yang secara universal dianggap Benar atau Salah (Right or Wrong). Contohnya, perbudakan (slavery) adalah Salah. Karenanya, adalah kewajiban moral dari setiap manusia untuk menentang perbudakan.

Obyektif maksudnya, NMO dan KMO tetap berlaku biarpun ada manusia atau sekumpulan manusia atau sebagian besar manusia yang melanggar NMO/KMO. Contohnya, perbudakan adalah salah biarpun terjadi di Mesir 4000 tahun yang lalu dan di mana orang-orang Mesir di masa itu tidak merasa bahwa perbudakan itu salah.

NMO dan KMO tidak bergantung kepada konsensus. Kalaupun seandainya seluruh dan setiap umat manusia mencapai konsensus bahwa perbudakan itu diperbolehkan, tetap tidak merubah bahwa perbudakan adalah Salah secara moral.

Okay, saya rasa penjelasan awal sudah mencukupi. Adakah yang ingin menanggapi? Saya persilahkan. Terima kasih!
Last edited by Kibou on Sun Sep 18, 2011 2:32 pm, edited 1 time in total.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Jarum_Kudus » Sun Sep 11, 2011 10:21 am

1) If God does not exist, objective moral values and duties do not exist.

Mengapa bisa begitu, Mas? Bukankah orang yang tak mengenal/percaya tuhan sekalipun juga punya naluri atau kesadaran akan moral yang benar atau kewajiban dan tanggung jawab. Contohnya, beragama atau tidak, ibu pada umumnya akan merawat dan membesarkan anaknya dengan sepenuh cinta kasih, bahkan rela mati bagi anaknya.

Mungkin Anda akan menjawab: harus ada yang menciptakan moral, sebab tidak mungkin moral tiba2 saja ada dari ketiadaan. Tapi sekarang buktinya mana kalo Tuhanlah yang menciptakan moral?
Selain itu nilai moral juga berbeda-beda di berbagai budaya, agama, kepercayaan, negara, dll. Kalo tuhan yang sama yang menciptakan moral, maka kenapa kok standard moral bisa berbeda-beda? Hayooo... bingung ga lo.
User avatar
Jarum_Kudus
 
Posts: 1711
Images: 417
Joined: Tue Feb 28, 2006 9:49 am

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Sun Sep 11, 2011 10:47 am

Halo Bro Jarum Kudus,


Anda salah mengerti premis (1). Argumennya adalah, "kalau Tuhan tidak ada, maka moralitas objektif tidak ada."

Kita harus membedakan antara dua hal: Keberadaan Tuhan dengan Kepercayaan kepada Tuhan.

Tuhan tetap ada biarpun tidak ada seorangpun yang percaya Tuhan ada.

Untuk sanggahan anda terhadap premis (2), anda mengatakan bahwa semua nilai moralitas itu bersifat relatif dan tidak ada nilai moralitas yang objektif. Apakah ini benar-benar anda percaya?

Saya rasa kita semua sepakat bahwa kita hidup dalam suatu Realitas Obyektif (Objective Reality). Dalam Realitas Obyektif kita mengenal setidaknya tiga dimensi yaitu:

1. Dimensi Fisik
Manusia berinteraksi dengan dimensi fisik melalui panca indera. Dengan menggunakan panca indera secara terstruktur dan sistematis, lahirlah science. Dalam dimensi fisik berlaku Hukum Alam (Laws of Nature). Contoh pernyataan dimensi fisik:

Jika air didinginkan sampai pada suatu suhu tertentu, wujudnya menjadi es.

Pernyataan di atas adalah TRUE.

2. Dimensi Mental
Juga disebut dimensi pikiran. Dalam dimensi ini berlaku Hukum Logika (Laws of Logic).
Contoh pernyataan dimensi mental:

Satu ditambah satu sama dengan dua ( 1 + 1 = 2 ).

Pernyataan di atas adalah TRUE.

3. Dimensi Moral

ini adalah dimensi realitas yang paling kontroversial.
Contoh pernyataan dimensi moral:

Memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan adalah benar.

Bagi sebagian besar orang, pernyataan di atas adalah TRUE (khusus untuk dimensi moral, secara teknis lebih tepat pakai istilah "Right" atau "Good").

Pernyataan ini umumnya dikenal dengan sebutan Golden Rule. Golden Rule adalah salah satu bentuk formulasi Hukum Moral yang sangat sederhana dan maknanya bisa ditangkap oleh sebagian besar manusia secara intuitif dan naluriah.

Terus terang, selama saya hidup, saya belum pernah mengenal seseorang yang mengatakan bahwa pernyataan di atas FALSE. Yang mungkin ada yaitu orang yang mengatakan pernyataan di atas TIDAK MEMILIKI VALUE TRUE ATAUPUN FALSE atau sifatnya RELATIF.

Apakah Dimensi Moral, sebagaimana halnya dengan Dimensi Fisik dan Dimensi Mental, bersifat obyektif? Biasanya, karena melihat realita dalam kehidupan, kita cenderung melihat subyektivisme dimensi moral karena adanya perbedaan-perbedaan nilai dalam kultur-kultur masyarakat.

Saya akan coba menjelaskan bahwa subyektivitas dimensi moral sebenarnya hanyalah kesalahpahaman:

Kita harus membedakan antara Hukum Moral dengan Penerapan Hukum Moral. Hukum Moral sendiri tidak pernah berubah, namun manusia sebagai mahluk yang tidak sempurna dan penuh keterbatasan menerapkan Hukum Moral di bawah pengaruh internal (dari dalam dirinya sendiri) maupun eksternal (alam dan sosio-kultural). Ini sebabnya kita melihat seakan-akan moralitas itu berbeda dari satu kultur ke kultur lainnya, namun sesungguhnya yang berbeda adalah penerapan dan bukan Hukum Moral itu sendiri.

Di atas saya mengatakan bahwa Penerapan Hukum Moral dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu dari individual itu sendiri. Saya akan coba menjelaskan lebih lanjut:

Dalam dimensi fisik kita menangkap fenomena alam melalui indera fisik (Physical Senses). Indera fisik mencakup Sense of Sight, Sense of Hearing, Sense of Touch, Sense of Smell, dan Sense of Taste.Saya percaya, dalam dimensi moral kita menangkap fenomena moral melalui indera moral (Moral Senses). Indera moral mencakup antara lain Sense of Duty, Sense of Justice, Sense of Mercy, Sense of Sacrifice, Sense of Humility, dan lain-lain.

Sama halnya dengan orang yang indera fisiknya cacat, ada juga orang yang indera moralnya cacat. Orang-orang yang indera moralnya cacat cenderung mudah masuk ke dalam ideologi sesat seperti Islam. Indera moral juga bisa ditumpulkan melalui indoktrinasi, terutama selagi korban masih berumur belia.

Kita ambil contoh penerapan Hukum Moral dalam sosio-kultur Islam. Beberapa orang menganggap bahwa Islam tidak mengenal Golden Rule. Menurut saya anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Muslim masih menerapkan Golden Rule, hanya saja dalam penerapan versi Islam Golden Rule kehilangan aspek universal. Dalam penerapan Islam, Golden Rule hanya berlaku antara sesama Muslim tapi tidak berlaku antara Muslim dengan Non-muslim.

Penerapan Golden Rule secara selektif ini tentunya agar Golden Rule tidak menghambat Pioritas Utama dari ideologi Islam yaitu untuk menguasai dunia dan memaksakan ideologi Islam ke seluruh umat manusia.

Jadi saya rasa contoh kasus Islam di atas cukup masuk akal untuk menjelaskan mengapa nilai-nilai moralitas dari kulit luarnya tampak berbeda-beda dari satu kultur ke kultur yang lain, yaitu sebagai akibat dari penerapan manusia yang tidak sempurna. Hukum Moral sifatnya Obyektif sedangkan Penerapan Hukum Moral dapat bersifat Subyektif.

Standar Moralitas cuma satu, tapi Standar Penerapan Moralitas bisa banyak.

Satu lagi yang harus diingat, yaitu perbedaan intrinsik dari dimensi fisik dan dimensi mental di satu sisi, dengan dimensi moral di sisi yang lain. Hukum Alam dan Hukum Logika berurusan dengan "What is" sedangkan Hukum Moral berurusan dengan "what ought to be". Hukum Moral mengacu pada "apa yang seharusnya, atau apa yang ideal". Manusia bebas melanggar Hukum Moral. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia sadar bahwa dengan setiap pelanggaran Hukum Moral yang dia lakukan, maka semakin jauh dirinya dari "aku yang seharusnya dan aku yang ideal".

Okay, saya tunggu tanggapan lebih lanjut dari teman-teman yang berkenan menyumbangkan pikiran. Salam!
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Mon Sep 19, 2011 2:30 pm

Saya akan memaparkan argumen saya lebih lanjut:

Lalu, apabila memang Moralitas Obyektif itu eksis, apakah ini berarti Tuhan eksis?

Apabila kita mengatakan bahwa sesuatu itu obyektif, maka timbul suatu dikotomi antara dua "truth value" yang saling bertentangan: Benar / Salah, Baik / Jahat.

Apabila sesuatu sifatnya tidak obyektif, maka kita mengatakan bahwa sesuatu itu subyektif.
Misalnya pernyataan:

"Merah adalah warna yang paling indah."

Pernyataan di atas tidak memiliki "truth value". Tidak ada yang "Benar" ataupun "Salah" dari pernyataan di atas. Ini adalah pernyataan yang subyektif.

Namun, bagaimana dengan pernyataan ini:

"Manusia tidak boleh memperbudak manusia yang lain."

Apakah kita, jika bertanya secara jujur kepada lubuk hati kita yang paling dalam, akan berkata bahwa pernyataan di atas "Salah" ?
Mereka yang mengatakan "Salah" berarti menyetujui perbudakan.
Mereka yang mengatakan bahwa pernyataan di atas adalah "subyektif'" berarti tidak menyetujui perbudakan tapi juga tidak menentang perbudakan.

Bagi pembaca yang menilai bahwa "perbudakan itu Salah":

Berarti kalian setuju bahwa Moralitas Obyektif itu eksis. Siapa yang menentukan bahwa manusia tidak boleh memperbudak manusia yang lain? Ini adalah salah satu bentuk penerapan dari Golden Rule: "Jangan memperbudak orang lain kalau anda sendiri tidak mau diperbudak." Dari manakah asal-usul Golden Rule ini?

Bagi pembaca yang menilai bahwa "masalah perbudakan adalah Subyektif":

Berarti bagi kalian, Moralitas Obyektif tidak eksis. Lalu, apa dasar dari moralitas yang kalian gunakan untuk mengkritik moralitas Islam dan para muslim?
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Fri Sep 23, 2011 10:41 am

Saya akan coba menjelaskan lebih lanjut mengenai sifat Obyektif Moralitas:

PERBEDAAN ANTARA "MENEMUKAN" DAN "MENCIPTAKAN"
(Dalam bahasa Inggris: 'to discover' and 'to invent')

Perhatikan dua pernyataan di bawah ini:

(A) Thomas Edison menciptakan bohlam lampu.
(B) Isaac Newton menemukan hukum gravitasi.

Pernyataan (A) memakai kata 'menciptakan' karena bohlam lampu tidak eksis sebelum Edison.

Pernyataan (B) memakai kata 'menemukan' karena hukum gravitasi sudah eksis sebelum Newton.

Sekarang perhatikan dua pernyataan di bawah ini:

(C) Manusia menciptakan Golden Rule.
(D) Manusia menemukan Golden Rule.

Antara (C) dan (D), manakah yang benar? Adakah yang berkenan menjawab?
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby 8immortals » Sun Oct 02, 2011 1:14 am

gak ada yang salah :green:
User avatar
8immortals
 
Posts: 21
Joined: Wed Aug 31, 2011 10:22 pm

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Mon Oct 03, 2011 10:41 am

8immortals wrote:gak ada yang salah :green:


Halo Bro 8immortals, terima kasih atas tanggapannya.
Anda mengatakan bahwa kedua pernyataan di atas tidak salah. Berarti:

(C) Manusia menciptakan Golden Rule. --> Pernyataan ini BENAR.
(D) Manusia menemukan Golden Rule. --> Pernyataan ini BENAR.

Terlepas dari masalah kontradiksi yang mungkin timbul dari tanggapan Saudara 8immortals, saya akan memulai pemaparan konsekuensi logis dari (C) jika (C) adalah BENAR.

Sebelum berangkat lebih jauh, saya ingin menentukan posisi saya mengenai istilah Golden Rule. Saya meminjam istilah Golden Rule karena ini adalah formulasi Hukum Moral yang paling banyak dikenal orang pada umumnya. Walaupun begitu, menurut saya Golden Rule sendiri belum merepresentasikan Dimensi Moralitas secara menyeluruh.

Apabila Golden Rule adalah ciptaan manusia, maka Golden Rule tidak lagi Obyektif. Yang saya maksud Obyektif, yaitu Golden Rule tetap berlaku dan mengikat, walaupun manusia tidak percaya bahwa Golden Rule berlaku dan mengikat.

Jika memang Golden Rule adalah ciptaan dari manusia, maka setiap manusia bebas menciptakan aturan-aturan moralitas bagi diri mereka masing-masing. Apabila setiap manusia bebas menciptakan aturan-aturan moralitas bagi diri mereka masing-masing, maka dikotomi BENAR/SALAH dan BAIK/JAHAT menjadi hilang maknanya.

Saya coba buat contohnya dalam sebuah ilustrasi dialog:

Confucius: Saya menciptakan aturan, "Jangan melakukan perbuatan yang kamu tidak ingin diperbuat kepadamu." Jadi, jangan mencuri barang orang lain kalau kamu tidak ingin barangmu dicuri, dst, dst...

Muhamad : Oh begitu ya. Saya juga menciptakan aturan, "Muhamad boleh melakukan apapun yang menguntungkan diri Muhamad." Berarti saya boleh merampok kalau merampok menguntungkan diri saya. Saya boleh mengambil isteri anak sendiri kalau itu bisa memuaskan nafsu libido saya, dst, dst...

Confucius: Tidak bisa begitu, Muhamad. Kamu tidak boleh berlaku seenakmu tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Muhamad : Lah, itu kan cuma pendapat pribadi kamu, Confucius. Bagi kamu, perasaaan orang lain itu penting. Bagiku perasaan orang lain tidak ada harganya. Yang paling penting adalah perasaanku sendiri. Selama aku merasa diuntungkan, aku tidak peduli dengan perasaan orang lain.

Confusius: Kamu tidak berperikemanusiaan!

Muhamad : Sekali lagi, itu cuma pendapat pribadi kamu. Kok kamu bisa mengatakan aku bukan manusia? Manusia kan bebas menentukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Aku punya milyaran pengikut, dan mereka semua siap melakukan apa yang aku perintahkan. Kamu mau aku suruh mereka memenggal kepalamu? Sadarlah kamu, Confusius. Di dunia ini siapa yang paling kuat, bebas menciptakan aturan dan memaksakan aturan versinya kepada yang lebih lemah. Wahai Confucius! Masuklah dirimu sekarang juga ke dalam Islam, sebelum kepalamu terlepas dari leher!

Dari ilustrasi di atas, kita bisa membayangkan apa jadinya jika Golden Rule tidak berlaku dan mengikat secara Obyektif.

Sebelum memulai pemaparan saya jika (D) adalah BENAR, saya persilahkan tanggapan dari saudara 8immortals atau juga yang lain jika ada yang berkenan. Terima kasih!
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby duren » Mon Oct 03, 2011 12:14 pm

1) Jika Tuhan tidak ada maka nilai dan kewajiban moral obyektif tidak ada.

2) Nilai dan kewajiban moral obyektif itu ada.

3) Maka, Tuhan ada.


Gimana dengan : Vox Populi, Vox Dei :-k
User avatar
duren
 
Posts: 11124
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Mon Oct 03, 2011 1:15 pm

duren wrote:Gimana dengan : Vox Populi, Vox Dei :-k


Halo Bang Duren! Senang sekali anda ikut memberi masukan.

Saya jujur, tidak mengerti arti Vox Populi, Vox Dei. Saya coba cek Mbah Wiki dulu yah. Nanti saya edit posting ini setelah saya dapat informasi yang cukup. Salam!

Edit:

Setelah googling, saya mendapatkan arti "Vox populi, vox Dei" kalau diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya "Suara rakyat, suara Tuhan." Kalau saya tidak salah interpretasi, maknanya "Suara rakyat adalah juga suara Tuhan." (Mohon diluruskan apabila saya salah mengerti).

Maka seperti penjelasan saya di posting sebelumnya, Moralitas Obyektif tidak bergantung pada konsensus manusia. Kita ambil contoh mengenai masalah perbudakan. Apabila semua manusia mencapai konsensus bahwa perbudakan itu tidak Salah dan diperbolehkan, maka tidak berarti perbudakan menjadi Benar. Ada nilai-nilai moralitas yang sifatnya Obyektif sehingga terlepas dan tidak tergantung kepada sikap manusia terhadap nilai-nilai moralitas Obyektif tersebut.

Namun, tidak juga berarti bahwa konsensus manusia tidak dapat menerapkan nilai-nilai moralitas yang bersesuaian dengan nilai-nilai moralitas Obyektif. Dan demikian pula sebaliknya, mungkin saja konsensus manusia menerapkan nilai-nilai moralitas yang bertentangan dengan moralitas Obyektif.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby 8immortals » Tue Oct 04, 2011 12:32 am

ok lanjut... :green:
User avatar
8immortals
 
Posts: 21
Joined: Wed Aug 31, 2011 10:22 pm

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Tue Oct 04, 2011 1:40 pm

8immortals wrote:ok lanjut... :green:


Welcome back, Bro. Yuk kita lanjut...

(D) Manusia menemukan Golden Rule. --> Pernyataan ini adalah BENAR.

Jika Moralitas Obyektif memang eksis sebelum ada satu pun manusia yang eksis, maka konsekuensi logika dari (D) adalah bahwa eksistensi Moralitas Obyektif tidak bergantung kepada eksistensi, pikiran, ataupun tingkah laku manusia. Biarpun setiap manusia tidak percaya pada Moralitas Obyektif, Moralitas Obyektif tetap berlaku dan mengikat. Biarpun setiap manusia melanggar Moralitas Obyektif, Moralitas Obyektif tetap berlaku dan mengikat. Biarpun seluruh species Homo Sapiens punah, Moralitas Obyektif tetap eksis.

Moralitas Obyektif mencakup nilai-nilai moralitas obyektif, seperti: Keadilan, Pengorbanan, Kesabaran, dll.
Dalam dimensi fisik, manusia menggunakan panca indera untuk "merasakan" fenomena alam. Mata merasakan cahaya, telinga merasakan bunyi, dst.
Dalam dimensi moral, manusia menggunakan "indera moral" untuk "merasakan" nilai-nilai moralitas obyektif. Manusia yang normal memiliki Sense of Justice, Sense of Sacrifice, dsb.

Ketika melihat ketidakadilan, Sense of Justice kita berteriak! Kita ingin keadilan ditegakkan. Ketika datang perempuan yang mengandung, Sense of Sacrifice kita terusik. Kita matikan rokok agar asapnya tidak terhirup sang calon ibu dan jabang bayinya.

Namun, karena kita mahluk yang memiliki Kehendak Bebas, kita tidak selalu bertindak menuruti indera moral kita. Jika kita jujur kepada diri kita masing-masing, kita secara intuitif tahu bahwa nasihat dari "indera moral" harus dituruti walaupun seringkali merugikan kepentingan pribadi kita. Ketika kita gagal menuruti nasihat dari "indera moral" kita merasa bersalah, dan umumnya kita membuat berbagai macam alasan dan pembenaran sehingga kita bisa terhindar dari perasaan bersalah tersebut.

Bukankah seringkali kita merasa telah gagal melakukan kewajiban moral kita? Inilah satu indera moral yang sangat penting, yaitu Sense of Duty.
Jika kita memang memiliki Sense of Duty, berarti ada "Sesuatu" yang membebankan pertanggungjawaban kepada kita atas bagaimana kita menyikapi indera-indera moral yang lain.

"Sesuatu" inilah yang sering disebut orang sebagai Tuhan.

Tuhan adalah sesuatu yang tidak berawal dan tidak berakhir. Tuhan adalah realitas yang paling utama (ultimate reality). Tuhan adalah sumber Kebenaran, Keadilan, dan Kasih. Moralitas Oyektif eksis karena Tuhan eksis.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby 8immortals » Tue Oct 04, 2011 2:33 pm

ok bagus bagus.... =D> setuju , ada komen lain mungkin? penganut manunggaling kawulo gusti... :finga:
User avatar
8immortals
 
Posts: 21
Joined: Wed Aug 31, 2011 10:22 pm

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby duren » Tue Oct 04, 2011 4:01 pm

Kibou wrote:kalau diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya "Suara rakyat, suara Tuhan." Kalau saya tidak salah interpretasi, maknanya "Suara rakyat adalah juga suara Tuhan." (Mohon diluruskan apabila saya salah mengerti).

Maka seperti penjelasan saya di posting sebelumnya, Moralitas Obyektif tidak bergantung pada konsensus manusia. Kita ambil contoh mengenai masalah perbudakan. Apabila semua manusia mencapai konsensus bahwa perbudakan itu tidak Salah dan diperbolehkan, maka tidak berarti perbudakan menjadi Benar.

Topic bagus nihh

Saya ambil contoh kasus nyata dari sebuah pilkada gubernur disatu daerah beberapa tahun yang lalu. Ada seorang cagub yang amat populer .. didukung oleh dua partai terbesar , kampanye meriah karena didukung dana kampanye yang nyaris unlimited . Semua pihak mengatakan pasti menang dehh !!

Namun apa yang terjadi ??
BABAK BELUR KALAH TOTAL di hari pencoblosan .... persoalannya simple , ybs di JIJIK IN oleh voter ibu ibu / wanita ( mayoritas 80 % muslim ) KARENA TERKENAL TUKANG KAWIN alias dia adalah seorang muslim taat yang bepoligami.

Mari kita gunakan sejenak cara berfikir muslim ... bukankah dia sempurna segala galanya , bukankah poligaminya merupakan perintah AWLLOH

Kaitannya dengan vox populi vox dei .
Manakah yang lebih anda yakini sebagai suara Tuhan :
- JIJIKNYA para voter ( gile jek , kok berani yahh jijik sama perintah Tuhan )
atau
- PERINTAH POLIGAMI AWLLOH SWT ( diyakini muslim sebagai perintah Tuhan ) ?? :-k
Last edited by duren on Tue Oct 04, 2011 4:03 pm, edited 1 time in total.
User avatar
duren
 
Posts: 11124
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Tue Oct 04, 2011 4:03 pm

8immortals wrote:ok bagus bagus.... =D> setuju , ada komen lain mungkin? penganut manunggaling kawulo gusti... :finga:


Thanks, Bro. Semua ini bukan murni buah pemikiran saya, semuanya saya contek dari berbagai sumber. Tapi karena argumen moral ini saya rasa bagus sekali (dan kebetulan juga saya setuju dengan isinya), makanya saya buat thread ini untuk berbagi-bagi ilmu dengan teman-teman sekalian.

Oh iya, Confucius memakai istilah Tian (Langit atau Surga) sebagai "Sesuatu" yang mendorong manusia untuk menuruti moralitas obyektif. Bagi Confucius, manusia akan mencapai kebahagiaan jika pikiran dan perilakunya bersesuaian dengan Kehendak Surga. Lebih keren Confucius daripada Muhamad yak? :D
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Re: Natural Theology: The Moral Argument

Postby Kibou » Tue Oct 04, 2011 4:21 pm

duren wrote:Topic bagus nihh

Saya ambil contoh kasus nyata dari sebuah pilkada gubernur disatu daerah beberapa tahun yang lalu. Ada seorang cagub yang amat populer .. didukung oleh dua partai terbesar , kampanye meriah karena didukung dana kampanye yang nyaris unlimited . Semua pihak mengatakan pasti menang dehh !!

Namun apa yang terjadi ??
BABAK BELUR KALAH TOTAL di hari pencoblosan .... persoalannya simple , ybs di JIJIK IN oleh voter ibu ibu / wanita ( mayoritas 80 % muslim ) KARENA TERKENAL TUKANG KAWIN alias dia adalah seorang muslim taat yang bepoligami.

Mari kita gunakan sejenak cara berfikir muslim ... bukankah dia sempurna segala galanya , bukankah poligaminya merupakan perintah AWLLOH

Kaitannya dengan vox populi vox dei .
Manakah yang lebih anda yakini sebagai suara Tuhan :
- JIJIKNYA para voter ( gile jek , kok berani yahh jijik sama perintah Tuhan )
atau
- PERINTAH POLIGAMI AWLLOH SWT ( diyakini muslim sebagai perintah Tuhan ) ?? :-k


Terima kasih Bro Duren, saya coba jawab menurut kemampuan saya seadanya.

Dalam kasus pemilihan pilkada di atas, saya rasa keputusan para voter perempuan bersesuaian dengan Moralitas Obyektif. Karena Sense of Justice, mereka merasa praktek poligami lebih menguntungkan pria dan merugikan perempuan. Mungkin juga, menurut para voter perempuan, laki-laki yang beristri banyak tidak punya Sense of Loyalty: yaitu perasaan setia kepada isteri yang pertama. Jadi tidak heran kalau mereka merasa jijik!

Jadi, untuk kasus ini, suara para voter perempuan sudah bersesuaian dengan Sense of Justice dan Sense of Loyalty.

Namun, ada juga kasus di mana suara rakyat menuntut sesuatu yang melanggar Moralitas Obyektif. Contohnya ketika rakyat Israel meminta Harun untuk membuat patung anak kerbau untuk disembah. Di sini rakyat Israel gagal menuruti Sense of Gratitude: yaitu rasa bersyukur kepada Yhwh yang sudah membebaskan mereka dari penindasan Mesir.

Kalau saya sih merasa Awlloh SWT itu bukan Tuhan yang sejati, soalnya ajaran moralnya mencurigakan Bro.
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free


Return to Spiritualisme - Filsafat - Keyakinan Lain



Who is online

Users browsing this forum: No registered users