.

Intelektual Denmark VS Islam

Forum ini berisi artikel2 terjemahan dari Faithfreedom.org & situs2 lain. Artikel2 yg dibiarkan disini belum dapat dicakupkan kedalam Resource Centre ybs. Hanya penerjemah sukarelawan yang mempunyai akses penuh.

Intelektual Denmark VS Islam

Postby Kibou » Wed May 15, 2013 11:50 am

Ini adalah terjemahan yang dipersingkat. Artikel utuh ada di: http://www.andrewbostom.org/blog/2013/0 ... and-islam/

Kierkegaard, Hedegaard, Magaard, and Islam
February 25th, 2013 by Andrew Bostom

Para intelektual Denmark yang sangat terpelajar dan jujur, selama 176 tahun, mulai dari Soren Kierkegaard sampai dengan Lars Hedegaard dan Tina Magaard di masa kini, telah menyatakan kebenaran mengenai islam. Sayangnya di jaman sekarang kebebasan ekspresi dari kebijaksanaan mereka diancam oleh kultur relativisme dan supremasi islamiah.

Selama dua tahun terakhir, aku telah mencatat perjuangan rekanku Lars Hedegaard, seorang jurnalis dan sejarawan Denmark, yang baru-baru ini lolos dari percobaan pembunuhan oleh tersangka muslim.

Kesukaran yang dialami Hedegaard, dan apa yang dikatakan olehnya mengenai islam baik melalui ucapan maupun tulisan, membuatku penasaran mengenai apa yang dikatakan oleh Soren Kierkegaard (seorang penulis Denmark dari abad 19 yang menguasai banyak bidang) mengenai islam. Kierkegaard, yang dikenal sebagai pelopor filsafat eksistensialisme, menghasilkan banyak sekali karya orisinil yang dipuji oleh Stanford Encyclopedia of Philosophy sebagai, “melampaui batas filsafat, theologi, psikologi, kritik literatur, literatur devosional dan fiksi.”

Ternyata, Kierkegaard tidak suka dengan monotheisme versi islam. Lebih lagi, Kierkegaard menyamakan Muhamad dengan Napoleon dalam soal usaha menaklukkan dunia lewat kekerasan dan kekuatan militer.

Berikut kutipan dari buku jurnal Kierkegaard:

8 Juni 1837: Muhamadanisme adalah karikatur; kuasa Tuhan menjadi asal-asalan, dan bimbinganNya menjadi fatalisme. (fatalisme: segala sesuatu sudah ditentukan, tidak ada kehendak bebas - Kibou)

12 September 1838: (catatan: ini 155 tahun setelah kepungan jihad Ottoman terhadap Vienna dipatahkan) Aku pikir Napoleon paling mirip Muhamad dibanding jenderal-jenderal masa lalu manapun. Napoleon merasa dirinya sebagai atau setidaknya terlibat dalam penyebaran agama, sebagai seorang yang membawa dan memperjuangkan ide-ide tertentu...Napoleon melancarkan ekspedisi berlawanan arah dengan ekspansi Muhamad, namun melawati negara-negara yang sama – Mumahad dari Timur ke Barat, Napoleon dari Barat ke Timur.

Sentimen garis besar Kierkegaard terhadap islam diulang juga oleh James Freeman Clarke (ahli komparasi agama pertama dari Amerika). Dalam sebuah tulisan di tahun 1871, Ten Great Religions – An Essay in Comparative Theology, Clarke melihat bahwa konsep Allah dalam islam – bahwa Allah adalah murni kehendak...terputus dari rasionalitas dan kasih – adalah kemunduran dari konsep Tuhan dalam yahudi-kristen. Membandingkan islam dengan yudaisme, Clarke menulis:

“Kebaikan tidak tunduk kepada kehendak ilahi, melainkan selaras dengan hakikat ilahi. Inilah doktrin dari Perjanjian Lama dan salah satu cirinya yang paling mulia...Muhamadanisme adalah kemunduran (dari yudaisme)...karena membuat Tuhan sebagai penguasa asal-asalan yang kehendakNya harus dituruti tanpa merujuk kepada hakikat moralNya.”

“Islam melihat Allah, tapi tidak melihat manusia; melihat pengakuan sebagai Tuhan, bukan hak-hak manusia; melihat kuasa, tapi gagal melihat kebebasan – karena itu mengeras sebagai despotisme.” (despotisme: diktator, otoriter – Kibou)

Lars Hedeegard menggabungkan pandangan Soren Kierkegaard dan James Freeman Clarke dalam sebuah pernyataan:

“Kami (dari komunitas kebebasan pers Denmark) tidak main-main dengan fakta bahwa kami menganggap islam – sebagaimana yang disebarkan oleh imam-iman yang berpengaruh – sebagai ancaman mematikan kepada semua kebebasan terutama kebebasan berpendapat. Karena kami konsisten dengan posisi ini, kami telah diolok-olok dan diejek, tapi kami tidak akan goyah. Aku tahu bahwa ada teman-temanku yang berpikir bahwa islam bisa direformasi, dijinakkan, dan diperadabkan. Aku menanti saat itu, tapi sekarang harus menghadapi fakta bahwa itu belum terjadi – walaupun muslim sudah melewati 1400 tahun untuk merampungkan usaha itu. Di negara ini seorang bisa tanpa resiko menyatakan bahwa hukum sharia itu barbar dan represif. Dia juga bisa, tanpa disentuh bahkan sehelai rambutnya, menyatakan bahwa perempuan tuna susila harus dilempari batu sampai mati, dan bahwa muslim yang murtad sudah tentu harus dibunuh. Tapi jika dia berucap atau menulis bahwa semua ini adalah islam, maka dia akan dicap rasialis, dianggap kriminal, dan – seperti yang kita sudah lihat sendiri – sebagai target percobaan pembunuhan.”

Harus diingat bahwa pandangan Hedegaard terhadap islam secara terpisah divalidasi oleh riset modern seorang ahli bahasa dan akademisi Denmark, Tina Magaard. Dr. Magaard – lulusan Sorbonne spesialis analisa tekstual – menerbitkan riset di tahun 2005 (dirangkum di 2007) yang membandingkan teks-teks fundamen dari sepuluh agama terbesar. Magaard menyimpulkan dari data hasil analisa beliau:

“Teks-teks islam membedakan dirinya sendiri dari teks-teks agama lain yaitu dengan mendorong kekerasan dan agresi terhadap orang yang beragama lain secara lebih banyak. Ada juga panggilan langsung untuk menteror. Hal ini sangat tabu dalam penelitian terhadap islam, tapi merupakan fakta yang harus kita hadapi.”

Sebagai contoh, Magaard dalam esai tahun 2007 “Fjendebilleder og voldforestillinger i islamike grundtekster” (Gambaran musuh dan konsep kekerasan dalam teks utama islam) menulis,

“Ada 36 rujukan dalam Koran yang berakar dari kata qa-ta-la, yang berarti bertempur, membunuh, atau dibunuh. Rujukan yang berakar dari kata ja-ha-da, yang merupakan asal dari kata jihad, bersifat lebih ambigu karena maknanya adalah “bergumul” atau “berusaha” ketimbang “membunuh”. Tapi hampir semua rujukan dari akar ini ditemukan dalam kisah-kisah yang tidak memberikan keraguan mengenai hakikat kekerasan dari pergumulan ini. Cuma ada satu rujukan ja-ha-da (29:6) yang secara gamblang menunjukkan pergumulan sebagai fenomena spiritual internal, bukan sebagai fenomena eksternal (umumnya militer). Tapi rujukan tunggal ini tidak berarti banyak jika dibandingkan dengan lebih dari 50 rujukan mengenai pergumulan dengan senjata di Quran, dan bahkan lebih banyak lagi di Hadis.”

Dari tulisanku sendiri The Legacy of Jihad menggambarkan doktrin jihad islam yang mensucikan kekerasan, dan juga manifestasinya dalam sejarah, sejak munculnya kepercayaan muslim hingga masa kini. Konsisten dengan analisa tekstual Magaard, aku cantumkan juga hasil penelitian independen dari Paul Stenhouse (ahli bahasa dan penerjemah Arab-Inggris berkebangsaan Australia), yang menyatakan bahwa akar kata jihad muncul 40 kali dalam Quran. Dengan 4 perkecualian, sisanya yang 36 adalah sesuai dengan apa yang dipahami oleh ahli-ahli islam klasik dan juga orang-orang pada umumnya bahwa “dia bertempur, berperang atau memerangi para kafir.”

Para intelektual Denmark yang sangat terpelajar dan jujur, selama 176 tahun, mulai dari Soren Kierkegaard sampai dengan Lars Hedegaard dan Tina Magaard di masa kini, telah menyatakan kebenaran mengenai islam. Sayangnya di jaman sekarang kebebasan ekspresi dari kebijaksanaan mereka diancam oleh kultur relativisme dan supremasi islamiah.


All Articles Copyright © 2007-2013 Dr. Andrew Bostom

Intelektual Denmark VS Islam


FFI Alternative
Faithfreedompedia
User avatar
Kibou
 
Posts: 1359
Joined: Mon Nov 03, 2008 11:30 am
Location: Land of the free

Return to Dapur Terjemahan Dari Website FFI dll



Who is online

Users browsing this forum: No registered users