Page 1 of 3

Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Wed Apr 25, 2012 8:03 am
by Adadeh
Image
Did Muhammad Exist?: An Inquiry into Islam's Obscure Origins oleh Robert Spencer

Keterangan dari Robert Spencer mengapa dia menulis buku ini:

Sudah Tiba Waktunya untuk Berhenti Memperlakukan Muslim bagaikan Anak²
Eksklusif: Buku baru Robert Spencer memberi nasehat terbaik bagaimana caranya menghormati pengikut Islam.
Oleh Robert Spencer

Buku baruku, “Did Muhammad Exist? An Inquiry Into Islam’s Obscure Origins,” (Apakah Muhammad Benar² Ada? Penyelidikan akan Asal-Usul Islam yang Tidak Jelas) terbit minggu ini, dan telah membuat murka para Muslim: penulis Muslim bernama Hussein Rashid, yang adalah dosen di Center for Spiritual Inquiry di Park Avenue Christian Church, menulis kecaman di Religion Dispatches bahwa buku Muhammad ku itu hanya akan mendatangkan pujian dari “industri Islamofobia” saja – karena buku ini hanyalah wujud dari kebencian dan kefanatikan.

Mendengar komentarnya, aku jadi ingat perkataan pembuat film dari Belanda, Theo van Gogh, sewaktu Muslim bernama Mohammed Bouyeri mulai menggorok lehernya karena dia berani membuat film “Submission” tentang nasib Muslimah. Theo berkata, “Dapatkah kita diskusi tentang hal ini?” Tidak, Muslim ogah membicarakan hal itu. Di Amerika, bicara jujur tentang Islam tidak akan membuatmu mati dibunuh, tapi kau bisa dijauhi orang. Banyak orang yang tak berani menulis (atau membaca) buku yang berjudul “Apakah Muhammad Benar² Ada?” karena takut untuk membuat Muslim ngamuk dan khawatir dijuluki berbagai kata ejekan.

Di lain pihak, aku bertekad untuk menghormati Muslim dan memperlakukan mereka sebagai orang dewasa. Malahan itulah sebabnya aku menulis buku Apakah Muhammad Benar² Ada? – karena aku percaya bahwa bahkan dalam budaya politically correct (PC) Amerika Serikat tahun 2012 ini, kita seharusnya bisa diskusi secara dewasa tentang bukti² sejarah yang menyangkal keberadaan Muhammad. Kitab² suci dan figur² relijius Yudaisme dan Kristen telah diselidiki habis²an sejak abad ke-18. Semua penyelidikian ini tak pernah menimbulkan amuk massa, ancaman bunuh, atau kematian – tidak ada tuh yang namanya “industri Yudeofobia” atau “industri Kristianofobia.” Malahan ada sebagian kritikus sejarah yang terang²an bermotivasi melakukan penyelidikan karena kebencian terhadap Kristen atau Yudaisme, tapi tiada satu pun pihak Barat yang berusaha merampas hak mereka untuk melakukan penyelidikan. Hanya terhadap Islam saja kalangan intelek bersikap maha hati², bagaikan berjalan di atas kulit telur.

Sudah saatnya kita berhenti bersikap seperti itu. Tidak hanya usaha mengamati sejarah Muhammad harus dilakukan di universitas² AS, tapi kita juga harus berani memperlakukan Muslim sebagai orang dewasa pula. Sebagai ganti dari sikap PC terhadap Islam politik dan supremasi, kita harus menyelenggarakan debat publik terbuka untuk menunjukkan bahwa Syariah Islam tidaklah sesuai dengan nilai² demokrasi pluralistik, dan aturan² Islam sangat berlawanan dengan azas kemanusiaan dalam budaya Barat.

Terlebih lagi, sebagai orang dewasa, kita tidak boleh menggunakan istilah² muluk seperti “Masyarakat Afghanistan yang Terhormat” seperti yang diucapkan Jendral John Allen dalam ucapan minta maafnya yang sangat memalukan gara² kejadian bakar Qur’an di pangkalan NATO. Sebagai orang dewasa, kita tak usah berpura-pura bahwa “Arab Spring” (Kebangkitan Negara² Arab yang akhir² ini ‘tampaknya’ terjadi) bagaikan kebangkitan akan kemerdekaan manusia Arab, padahal sebenarnya yang terjadi hanyalah pengambil-alihan kekuasaan oleh para supremasis Islam yang pro-Syariah.

Jika kita memperlakukan Muslim sebagai orang dewasa, dan bukan sebagai anak², kita tidak akan mengalihkan pandangan dan pura² tidak melihat tatkala para Muslim Nigeria membakari gereja² dan bersikap brutal terhadap umat Kristen di sana. Kita tak akan pura² tidak tahu penindasan yang dilakukan umat Muslim terhadap umat Kristen Koptik di Mesir, Irak, Pakistan, dan berbagai dunia Islam lainnya. Jika kita memperlakukan umat Muslim sebagai orang dewasa, kita tak akan pura² buta ketika negara Saudi Arabia memancungi wanita² dengan tuduhan melakukan sihir. Kita tidak akan mengalihkan pandangan, seakan tak melihat bagaimana negara² Muslim membunuhi para homosex. Kita tak akan pura² menganggap tidak ada para Muslimah yang jadi korban honor killing (pembunuhan putri sendiri yang dianggap mempermalukan keluarga Muslim). Kita juga tak akan pura² tak mendengar ancaman Iran membumi-hanguskan Israel.

Jika kita memperlakukan umat Muslim dengan terhormat, maka kita akan menerapkan standard yang sama pada mereka sebagaimana yang kita terapkan pada orang dewasa terhormat lainnya. Kita tak akan tunduk karena mereka ngamuk dan mata gelap, atau membungkam ucapan dan pikiran kita sendiri karena menghadapi keluh-kesah dan tuduhan kemarahan mereka. Kita akan menganggap mereka mengerti bahwa di masyarakat pluralis Barat seperti di Amerika Serikat, kita harus bisa hidup dengan segala ketidaksenangan dalam hidup kita tanpa melakukan pembunuhan atau mengancam bunuh atau memfitnah orang lain.

Buku “Apakah Muhammad Benar² Ada?” merupakan buku yang mengajukan pertanyaan sejarah yang sah, dan sebenarnya beberapa ahli sejarah pemberani telah menyelidiki hal ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Mari kita tunjukkan pada Muslim rasa hormat yang sama yang secara otomatis juga kita terapkan pada orang dewasa lainnya, dan perlakukan Muslim sebagai orang² dewasa yang mampu menghadapi pertanyaan sejarah keberadaan Muhammad dengan bijak – dan bukannya bersikap seperti anak kecil cengeng. Hal ini penting karena jika kita tidak bersikap begitu atau tunduk di bawah ancaman fisik Muslim, maka kita sudah mengurangi kemerdekaan berpikir kita.
==============


Terjemahan bukunya akan mulai muncul di akhir minggu ini. Sabar ya...

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Wed Apr 25, 2012 10:37 am
by Kibou
Ditunggu dengan sangat antusias. Thanks Bro!

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Thu Apr 26, 2012 6:24 am
by Adadeh
Apakah Muhammad Benar² Ada?
Penyelidikan terhadap Asal-Usul Islam yang Tak Jelas

Oleh Robert Spencer

Image

Buku ini dipersembahkan bagi mereka yang tak takut untuk menuju ke mana pun kebenaran membimbing mereka.

Daftar Isi
Kata Pengantar dari Johannes J. G. Jansen ............ ix
Kronologi Peristiwa ........................................ xiii
Muhammad dan Keluarganya, menurut ahadis ......... xvi

Pendahuluan – Sejarah yang Sangat Jelas?
Bab 1 – Orang yang Sebenarnya Tidak Ada
Bab 2 – Yesus, sang Muhammad
Bab 3 – Menciptakan Muhammad
Bab 4 – Meneliti Kebenaran Sejarah
Bab 5 – Mempermalukan Muhammad
Bab 6 – Perubahan² Qur’an yang Tetap Ada
Bab 7 – Qur’an Arab versi non-Arab
Bab 8 – Bagaimana Sebenarnya Qur’an
Bab 9 – Siapakah yang Menyusun Qur’an?
Bab 10 – Memahami Semuanya



Kata Pengantar
Oleh Johannes J.G. Jansen

Muhammad, sang Nabi Islam, hadir nyata sekali dalam benak jutaan Muslim. Karena itu, sungguh sukar membayangkan kemungkinan dia bukan orang yang nyata – senyata sosok tokoh Richard Nixon.

Muslim punya ingatan yang kuat dan jelas sekali akan pendiri agama Islam. Ingatan ini begitu kuat sehingga bahkan para cendekiawan akademis yang menyelidiki keberadaan Muhammad seringkali berpikir bahwa penyelidikan intelek mereka sungguh tak masuk akal.

Memang sebenarnya lebih mudah bagi kita untuk membayangkan Muhammad itu benar² ada, sama seperti kakek moyang kita benar² hidup di jaman dulu, hanya karena sosok Muhammad hidup dalam benak Muslim. Tapi penelaahan bukti sejarah yang mendalam ternyata meragukan hal ini.

Para ahli logika berulangkali mengatakan bahwa ketidakberadaan tidak bisa dibuktikan. Ketika filsuf Inggris Bertrand Russel mengatakan tidak ada badak di ruang kuliah, mahasiswa Austria bernama Ludwig Wittgenstein mulai mencari badak di bawah bangku, meja, dan kursi ruang kuliah. Dia tidak yakin dengan keterangan dosennya. Pelajaran yang diambil dari kisah ini adalah sederhana saja: Untuk membuktikan sesuatu benar² ada kadangkala sulit, tapi untuk membuktikan ketidakberadaan adalah tak mungkin.

Meskipun begitu, adalah masuk akal untuk meragukan kisah sejarah Muhammad. Pertama, tak ada bukti arkeologi apapun yang meyakinkan tentang kebenaran kisah Muhammad dan sejarah awal Islam. Para ahli dan juru tulis Islam telah mengetahui berbagai agama di jaman itu – tapi apa yang mereka ketahui bukanlah berdasarkan bukti fisik, melainkan dari cerita² yang mereka dengar.

Sama seperti cerita² tersebut, latar belakang cerita² karir kenabian Muhammad juga tidak menunjukkan bukti fisik apapun. Kita tidak banyak tahu keadaan lingkungan Arabia di abad ke-7 M, tapi keadaan yang dijelaskan dalam hadis Islam seringkali tidak selaras dengan apa yang kita ketahui. Malahan penemuan² arkeologi seringkali bertentangan dengan keterangan hadis. Contohnya, peninggalan² prasasti menunjukkan masyarakat kuno Arab bukanlah masyarakat pagan, seperti yang dikatakan Islam, tapi mereka adalah masyarakat monotheis yang menyembah satu Tuhan saja, sang Pencipta langit dan bumi.

Penyelidikan arkeologi lebih menyeluruh di Arabia dan Syria modern tentunya bisa sangat membantu memecahkan dilema sejarah Muhammad, tapi para pemimpin modern daerah ini tidak memberi ijin dengan mudah karena mereka khawatir hasil penemuan para ahli mungkin bertentangan dengan keterangan Islam. Jika hasil penyelidikan telah ditentukan terlebih dahulu oleh para pemuka Islam, tentunya para ilmuman tidak percaya akan kesimpulan mereka.

Ahli sejarah Irak, Ibn Ishaq (760 M), menulis buku tentang riwayat hidup Muhammad. Tiada satu pun buku riwayat hidup Muhammad yang tidak bergantung pada keterangan Ibn Ishaq. Jika penelaahan ilmiah atas buku Ibn Ishaq ternyata tidak bisa dilihat sebagai sumber sejarah yang meyakinkan, maka semua pengetahuan kita tentang Muhammad bisa menguap tanpa makna. Jika buku Ibn Ishaq yang telah dikutip habis²an itu ternyata hanyalah sekedar kisah fiksi belaka, maka kita harus mengakui dengan jujur bahwa kita tidak mungkin bisa mengetahui kebenaran kisah hidup Muhammad.

Selain buku Ibn Ishaq, Qur’an juga tampaknya bisa dianggap sebagai bukti tentang Muhammad dan karirnya. Tapi lagi² kita akan menghadapi masalah jika kita ingin menyusun kehidupan dan ajaran² Muhammad dari Qur’an, karena buku Qur’an jaman sekarang kemungkinan besar bukanlah buku asli Arab yang diimlakan Muhammad di abad ke 7 M. Ada alasan² meyakinkan bahwa Qur’an jaman sekarang bukanlah Qur’an di abad ke 7 M, tapi di jaman berikutnya. Huruf Arab di masa Qur’an ditulis untuk dibukukan ternyata tidak ada di abad ke 7 M, dengan begitu para juru tulis Muhammad tentunya tidak akan mengenal Qur’an modern sebagai Qur’an asli yang diimlakan Muhammad kepada mereka – itu pun kalau pengimlaan tersebut memang pernah terjadi.

Koleksi hadis bisa jadi sumber ketiga untuk mengetahui riwayat hidup Muhammad. Koleksi hadis itu berbagai macam, dengan kualitas yang berbeda-beda. Sebagian koleksi hadis dianggap lebih akurat dibandingkan yang lain, begitu anggapan para Muslim ahli Islam. Mereka mengakui bahwa sebagian hadis ada yang tidak bisa dipercaya dan hanya karangan Muslim saja. Sangatlah mungkin untuk memalsukan kisah tentang seseorang, tapi untuk mendapatkan keterangan jelas tentang tokoh sepenting Muhammad, tentunya kita tidak bisa menggunakan kisah² yang mungkin telah dipalsukan.

Untuk mengetahui kebenaran tentang Richard Nixon adalah sukar, dan tak mungkin dicapai tanpa rekaman² suaranya. Dalam kasus Muhammad, tak ada rekaman suara apapun. Karena sedikitnya bukti fisik yang ada, maka sudah lumrah untuk bersikap sangat curiga tentang kebenaran keberadaannya.

Johannes J.G. Jansen bekerja sebagai Houtsma Profesor bagi Contemporerary Islamic Thought (Pemikiran Islam Kontemporer) di Universitas Utrecht (Belanda) sampai dia pensiun di tahun 2008. Dia adalah pengarang sejumlah buku, termasuk The Dual Nature of Islamic Fundamentalism dan The Interpretation of the Koran in Modern Egypt, dan dia menerjemahkan Qur’an ke dalam bahasa Belanda.

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Thu Apr 26, 2012 6:33 am
by Adadeh
Kronologi Peristiwa

Dalam kronologi ini, kejadian sejarah yang tampaknya meragukan ditulis dengan huruf miring/italik.

610 Muhammad menerima wahyu pertama Qur’an dari Allah, melalui malaikat Jibril
610-632 Muhammad terus menerima wahyu Qur’an
632 Muhammad mati
632-634 Pemerintahan Kalifah pertama Abu Bakr
632-633 Perang Murtad (Perang Ridda)
632 Desember: Perang Yamama, kematian banyak Muslim yang hafal Qur’an; menurut hadis Islam, inilah penyebab pembukuan Qur’an yang pertama
633 Invasi Arab terhadap Iraq
634-644 Pemerintahan Kalifah Umar
636-637 Penaklukan Arab terhadap Syria dan Palestina
Akhir 630-an Dokumen Kristen diterbitkan dan isinya menyebut nabi Arab yang tak bernama, masih hidup, yang “bersenjata pedang”
639 Penaklukan Arab terhadap Armenia dan Mesir
Awal 640-an Pendeta Kristen bernama Thomas menyebut perang antara Byzantium dan “tayyay d-Mhmt” di Gaza Timur tahun 634
644 Penaklukan Arabia terhadap Persia
644-656 Pemerintahan Kalifah Uthman
640-an-650-an Uang logam Palestina mengandung tulisan “Muhammad” tapi menunjukkan sosok manusia memegang sebuah salib
650-an-660-an Penaklukan Arabia terhadap Afrika Utara
651 Muawiya, penguasa Syria, menulis pada Kaisar Byzantium Konstantin dan memintanya untuk meninggalkan Yesus dan menyembah tuhannya Abraham
653 Uthman mengumpulkan Qur’an, menyamakan tulisannya, membakar versi² Qur’an lainnya, dan menyebarkan Qur’an versinya ke seluruh wilayah kekuasaan Islam
654 Penaklukan Arabia terhadap Cyprus dan Rhodes
656-661 Pemerintahan Kalifah Ali
661-680 Pemerintahan Kalifah Muawiya
660-an/670-an Uang logam yang menggambarkan Muawiya memegang salib dengan bulan sabit di atasnya
660-an/670-an Uskup Armenia bernama Sebeos menulis tokoh setengah-sejarah, setengah-legenda bernama Mahmet, yang adalah pengkhotbah Arab yang mengajarkan umatnya untuk menyembah tuhannya Abraham dan yang memimpin 12.000 Yahudi dan Arab untuk menyerang Palestina
662 Rumah pemandian di Palestina yang berprasasti resmi menggambarkan tokoh Muawiya memegang sebuah salib
674 Pengepungan Arab pertama terhadap kota Konstantinopel (sekarang adalah Islamabad, ibukota Turki)
680 Penulis sejarah tak bernama menyebut Muhammad sebagai pemimpin “putra² Ismael” yang dikirim Tuhan datang “bagaikan banyaknya pasir di pantai” untuk melawan orang² Persia
680-683 Pemerintahan Kalifah Yazid I
Awal 680-an Uang² logam menggambarkan Yazid memegang salib
685 Abdullah ibn Az-Zubair, ketua pemberontak Arabia, Iraq, dan Iran, mencetak uang logam yang menyebut Muhammad sebagai nabi Allah
685-705 Pemerintahan Kalifah Abd al-Malik
690 Sejarawan Kristen Nestoria bernama John bar Penkaye menulis kekuasaan Muhammad dan kebrutalan orang² Arab
690-an Uskup Kristen Koptik bernama John dari Nikiou menyebut pertama kalinya istilah “Muslim” (meskipun edisi tulisannya yang terawal yang masih ada sekarang bertanggal tahun 1602 dan kemungkinan telah diganti dalam proses penerjemahan)
691 Kubah Batu (Dome of Rock) mengandung prasasti yang menyebut “Muhammad adalah budak Allah dan Rasulnya” dan “sang Mesiah, Yesus putra Maryam, hanyalah utusan Tuhan,” dan kutipan ayat² Qur’an
696 Uang logam pertama yang tak menggambarkan tokoh penguasa, tapi mencantumkan kalimat syahadah
690-an Menurut berbagai hadis Islam, Hajjaj ibn Yusuf, penguasa Iraq, mengumpulkan Qur’an, menyamakan isinya, membakar berbagai versi Qur’an lainnya, dan menyebarkan versinya ke berbagai daerah kekuasaan Islam
690-an Hajjaj ibn Yusuf memperkenalkan kegiatan membaca Qur’an di mesjid, berdasarkan keterangan hadis Islam yang lebih baru
690-an Hajjaj ibn Yusuf menambahkan tanda baca pada Qur’an, yang membantu pembaca membedakan berbagai konsonan Arab sehingga tulisannya jadi masuk akal
711-718 Tentara Muslim menaklukkan Spanyol
730 Penulis Kristen John dari Damaskus menulis theologia Islam dengan terperinci, tentang isi Surat dalam Qur’an, meskipun tidak menyebut nama Qur’an
732 Tentara Muslim menyerbu Eropa Barat dan dihentikan di Perang Tours
750-an-760-an Malik ibn Anas menyusun koleksi Hadis yang pertama
±760 Ibn Ishaq mengumpulkan bahan² tulisan dan menerbitkan buku riwayat hidup Muhammad untuk pertama kali
830-an-860-an Enam koleksi Hadis disusun dan diterbitkan, berisi banyak keterangan tentang perkataan dan perbuatan Muhammad

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Thu Apr 26, 2012 6:40 am
by Adadeh
Muhammad dan Keluarganya, Menurut Keterangan Hadis

Image

Muhammad adalah putra Abdullah dan Amina

Kakek Muhammad adalah Abd al-Muttalib, dan dia memiliki putra-putera bernama:
1) Abdullah, ayah Muhammad

2) Abbas, ayah Abdullah ibn Abbas, saudara sepupu Muhammad. Banyak hadis bersumber utama dari Abdullah ibn Abbas: rantai penyampai cerita bersumber dari dia sebagai saksi peristiwa.

3) Abu Talib, yang merupakan paman Muhammad yang mengurusnya setelah kematian Abdullah dan Amina. Abu Talib adalah ayah dari Ali ibn Abi Talib, yang merupakan saudara sepupu Muhammad dan tokoh utama dalam Islam Syiah.

Muhammad dan istri pertamanya, Khadija, punya tiga orang putri: Fatima, Zaynab, dan Ruqayya (Rokhayah).

Fatima menikah dengan Ali ibn Abi Talib dan punya lima anak, termasuk pahlawan² Syi'ah yakni Hasan dan Husein. Husein dibunuh di Perang Karbala, 680M, dan peristiwa ini menyebabkan terpecahnya Islam Sunni dan Syi'ah.

Ruqayya menikah dengan Usman, yang menjadi Kalifah ketiga setelah Abu Bakr dan Umar.

Ali menjadi Kalifah keempat setelah Usman dibunuh. Setelah Ali dibunuh, Muawiya, yang adalah saudara sepupu Usman, menjadi Kalifah berikutnya.

Pendahuluan – Sejarah yang Sangat Jelas?

PostPosted: Fri Apr 27, 2012 1:47 pm
by Adadeh
Pendahuluan – Sejarah yang Sangat Jelas?


Tatkala agama² lain menutupi asal-usulnya yang misterius, Islam muncul dengan sejarah yang sangat jelas; akarnya bisa dilihat dari luar. Kehidupan pendiri Islam kita ketahui dengan jelas, sama seperti tokoh reformasi di abad 16 M. Kita bisa ikuti tahun-tahun gejolak pemikirannya, kontradiksinya, dan kelemahannya.

- Ernest Renan, “Muhammad and the Origins of Islam”


Gelap dan Terang

Apakah Muhammad benar² pernah ada?

Hanya segelintir orang saja yang berani mempertanyakan atau memikirkan hal ini.

Selama 1400 tahun setelah Nabi Islam dianggap pernah berjalan di bumi, tanpa pikir panjang hampir semua orang mengakui keberadaannya. Bukankah ajarannya berbekas besar pada sejarah manusia?

Encyclopedia Britannica menyebut Muhammad sebagai tokoh “yang paling sukses dari seluruh Nabi² dan pemimpin² agama.” Di bukunya yang berjudul The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History yang terbit di tahun 1978, sejarawan Michael H. Hart menempatkan Muhammad di urutan pertama, dan ini penjelasannya: “Keputusanku memilih Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh tentunya telah membuat banyak pembaca heran dan bertanya-tanya, tapi Muhammad adalah satu²nya orang dalam sejarah yang sukses dalam hal agama dan sekuler.” [1]
[1] Michael H. Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (New York: Hart Publishing, 1978), 33.

Sejarawan lain mencatat cepatnya perluasan kekalifahan Arabia setelah Muhammad mati. Para penakluk dari Arab, yang rupanya mendapat inspirasi menyerang dari ajaran Muhammad, menciptakan kekalifahan yang luasnya mencakup Jazirah Iberia sampai India, dalam waktu 100 tahun saja. Tidak hanya ini merupakan daerah kekuasaan yang sangat besar, tapi pengaruh budaya Islam – yang berdasarkan ajaran Muhammad – juga tersebar luas di daerah itu.

Terlebih lagi, literatur Islam mengandung begitu banyak keterangan tentang sejarah hidup Muhammad. Dalam kedua bukunya yang berjudul Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956), sejarawan Inggris W. Montgomery Watt menulis dengan terperinci keterangan Islam tentang Muhammad, lengkap dengan pembahasan tentang sisi negatifnya, dan semua ini membuat keterangannya jadi masuk akal. [2]
[2] W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca (Oxford: Oxford University Press, 1953); Muhammad at Medina (Oxford: Oxford University Press, 1956).

Bagaimanapun perbedaan pendapat tentang baik dan jahatnya Muhammad, benar atau tidaknya kenabiannya, tampaknya tiada yang meragukan bahwa dia adalah orang yang benar² hidup di waktu dan tempat tertentu, dan menciptakan salah satu agama terbesar dunia.

Apakah mungkin orang ini ternyata tidak pernah ada?

Sebenarnya banyak alasan untuk mempertanyakan riwayat sejarah Muhammad. Meskipun sejarah Muhammad, Qur’an, dan jaman Islam awal banyak diterima kalangan luas, penelaahan mendalam sebagian keterangan sejarah ternyata tidak mengandung bukti apapun. Semakin dalam kita menelaah sejarah asal-usul Islam, semakin sedikit pula bukti yang kita temukan.

Buku ini menyelidiki pertanyaan² yang diajukan beberapa ahli sejarah tentang keaslian sejarah hidup Muhammad dan karirnya sebagai nabi. Pengamatan menyeluruh catatan² sejarah menunjukkan bahwa Muhammad itu ternyata adalah sekedar tokoh legenda saja, dan bukan fakta sejarah. Penyelidikan seksama yang serupa juga menunjukkan bahwa Qur’an bukanlah koleksi wahyu yang diterima Muhammad dari Tuhan yang maha esa, tapi adalah gabungan berbagai materi tulisan yang bersumber dari literatur Yahudi dan Kristen.

Sejarawan abad 19 Ernest Renan dengan yakin menyebut Islam muncul dari “sejarah yang sangat jelas.” Tapi sebenarnya, kisah asli Muhammad, Qur’an, dan awal Islam terkubur jauh dalam kegelapan. Sudah saatnya kita membawanya ke tempat terang.


Penelitian Sejarah yang Cermat

Mengapa perlu melakukan pengamatan sejarah seperti ini?

Agama, apapun agama tersebut, merupakan kepercayaan yang dijunjung tinggi pengikutnya. Karena itu, banyak Muslim yang menganggap penyelidikan asal-usul Islam seperti ini sebagai penghinaan. Penyelidikan seperti ini tampaknya mempertanyakan fondasi kepercayaan umat Muslim yang berjumlah lebih dari semilyar.

Tapi pertanyaan² sejarah yang diajukan di buku ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Muslim. Tujuan pertanyaan² ini adalah untuk mengerti data² sejarah yang ada, membandingkan apa yangditulis dalam literatur Islam dengan fakta catatan sejarah.

Islam adalah kepercayaan yang berakar dari sejarah. Islam mengajukan berbagai klaim (pernyataan tanpa bukti) sejarah. Dikatakan bahwa Muhammad hidup di jaman tertentu dan berkhotbah doktrin tertentu yang katanya diwahyukan Tuhan padanya. Klaim seperti ini terbuka bagi pengamatan sejarah. Perihal apakah Muhammad itu benar² menerima wahyu dari malaikat Jibril merupakan pertimbangan iman, tapi apakakah dia benar² pernah hidup merupakan penilaian sejarah.

Islam seringkali menyatakan klaim sebagai sejarah Islam, tapi Islam belum mengalami penelitian sejarah secara kritis dalam skala apapun. Agama Yahudi dan Kristen telah jadi bahan penyelidikan berbagai ilmuwan dan sejarawan selama lebih dari dua abad.

Ilmuwan Alkitab abad 19 bernama Julius Wellhausen yang menulis Prolegomena zur Geschichte Israels (Mukadimah Sejarah Israel), menulis penyelidikan tentang sejarah dan isi Taurat, dan ini mempengaruhi secara luas bagaimana umat Yahudi dan Kristen menilai asal-usul kitab suci dan tradisi kepercayaan mereka. Saat Wellhausen menerbitkan bukunya di tahun 1882, ktirik sejarah Yahudi dan Kristen telah berlangsung lebih dari 100 tahun.

Penyelidikan ilmiah “mencari sejarah Yesus” telah dimulai sejak abad ke 18, tapi kritik sejarah Kristen berkembang lebih jauh di abad ke 19. Teolog Jerman bernama David Friedrich Strauss (1808-1874) menulis di bukunya yang berjudul Das Leben Jesu, kritisch bearbeitet (Riwayat Hidup Yesus, Penelitian Kritis) (1835) bahwa muzizat² dalam Injil tak lebih daripada kejadian² natural yang dilihat pengikut Yesus sebagai ajaib. Ernest Renan (1823-1892) dalam bukunya Vie de Jesus (Riwayat Hidup Yesus) (1863) mengatakan bahwa kehidupan Yesus, sama seperti kehidupan orang lain, harus bisa diselidiki secara kritis. Sejarawan lain yakni Rudolf Bultmann (1884-1976) meragukan nilai sejarah Injil. Sebagian sejarawan lain mengatakan bahwa Injil di Alkitab Perjanjian Baru merupakan tulisan yang dibuat di abad 2M dan karenanya tidak punya nilai sejarah yang cukup. Sejarawan lain mengatakan Yesus dari Nazareth tidak pernah ada. [3]
[3] Untuk membaca berbagai diskusi mencerahkan tentang bagaimana efek kritik sejarah pada kepercayaan Kristen, silakan baca tulisan Jaroslav Pelikan, Christian Doctrin and Modern Culture (sejak tahun 1700) (Chicago: University of Chicago Press, 1989).

Akhirnya, pengritik sejarah yang mengatakan Injil ditulis di abad 2M menjadi kelompok sejarawan minoritas. Kesimpulan sejarah yang lebih diakui menunjukkan bahwa Injil ditulis sekitar 40 sampai 60 tahun setelah kematian Yesus Kristus. Dari kurun waktu tersebut, banyak sejarawan yang menyimpulkan bahwa Injil bercampur dengan materi legenda. Mereka lalu berusaha menunjukkan dari bukti yang ada siapakah Yesus dan apa yang benar² dia katakan dan lakukan.

Reaksi dari dunia Kristen berbeda-beda. Banyak umat Kristen yang tak menanggapi kritik sejarah Kristen karena menganggapnya sebagai usaha untuk melemahkan iman mereka. Sebagian umat menuduh para sejarawan tersebut melakukan kritik sejarah untuk membenarkan ketidakpercayaan mereka akan Yesus. Tapi sebagian umat Kristen lain lebih bisa menerima keterangan kritik sejarah tersebut. Gereja² Prostestan besar seperti Episkopal, Presbitarian, dan Methodis akhirnya meninggalkan dogma Kristen yang kaku dan spiritual dan lebih berkonsentrasi pada penerapan pelayanan sosial. Denominasi Protestan lainnya bersikap lebih fundamental, sebagai sikap perlawanan terhadap tantangan kritik sejarah Kristen, sejarah Yesus lahir dari seorang perawan, kebangkitannya, dll.

Paus Leo XIII mengutuk kritik sejarah Kristen dalam tesisnya yang berjudul Providentissimus Deus (1893), tapi 9 tahun kemudian dia menetapkan Pontifical Biblical Commission, yang menerapkan kritik sejarah yang cermat untuk menyelidiki ktiab² suci dalam konteks yang berhubungan dengan iman Katolik. Di tahun 1943, Paus Pius XII mendukung dilakukannya kritik sejarah dalam tulisannya yang berjudul Divino Afflante Spiritu. Gereja Katolik berkeputusan bahwa karena iman Katolik merupakan fakta sejarah, maka penelitian sejarah tidak bisa menjadi musuh iman, selama penyelidikan sejarah bukan hanya sekedar topeng yang menyembunyikan sikap tak percaya yang radikal.

Kritik sejarah Kristen sudah jelas merubah dunia Kristen, merubah beberapa aliran utama Kristen dan secara radikal merubah sikap umat Kristen menyatakan kepercayaannya. Hal yang sama juga terjadi pada penyelidikan asal-usul Yudaisme dan materi sejarah dalam kitab suci Yudaisme yang telah merubah tradisi Yahudi. Dalam Yudaisme, sama seperti dalam Kristen, tradisi kepercayaan berkembang dan menolak pemahaman harafiah dan melakukan peninjauan ulang berbagai unsur dalam tradisi kepercayaan ortodox. Yudaisme yang telah direformasi, sama seperti denominasi Kristen liberal, akhirnya menolak pemahaman tradisional kaku dan harafiah yang mendasari kepercayaan tersebut.

Baik Yudaisme dan Kristen sampai sekarang masih tetap ada, dan keduanya malahan berkembang pesat di berbagai bidang. Kepercayaan² ini tetap bisa bertahan dalam menghadapi kritik dan tantangan. Nah, dapatkah Islam bertahan dalam menghadapi tantangan kritik sejarah yang sama?

Tiada yang tahu jawabannya, karena Islam belum pernah menghadapi perlakuan seperti ini dalam skala yang jauh lebih kecil sekalipun.

Mengapa Islam dan Nabinya tidak boleh diselidiki seperti yang telah dilakukan terhadap agama lain?


Kekuatan Legenda

Sebagai seorang tokoh, Muhammad muncul dari halaman² literatur Islam. Tangan dan mata apa yang bisa membingkai tokoh yang menakutkan seperti ini? Siapakah yang berani menciptakan tokoh yang begitu besar dalam membuat klaim, menunjukkan apa yang disukai dan dibencinya?

Terlebih lagi, tak banyak yang meragukan bahwa persatuan politik Arabia memang terjadi di waktu yang diperkirakan Muhammad hidup. Para sejarawan setuju bahwa tentara² Arab menyerbu dari Arabia dimulai pada pertengahan abad ke 7M dan dalam waktu seratus tahun mereka telah menaklukkan Timur Tengah, Afrika Utara, Persia dan masuk ke India dan Spanyol.

Akhirnya, tentu saja Muhammad telah menimbulkan bekas besar sebagai guru dan contoh teladan dunia Islam.

Mengingat ketiga hal di atas – penggambaran detail sosok Muhammad dalam literatur Islam, sosok yang tampak mendorong para penerusnya untuk mendirikan kekuasaan yang besar, dan warisannya sebagai pendiri Islam yang diakui oleh lebih dari satu milyar Muslim – hanya sedikit orang yang mempertanyakan keberadaannya. Muslim dan non-Muslim menerima begitu saja bahwa dia pernah hidup dan dialah yang mempelopori Islam. Aku mengerti pengaruh tradisi Islam, karena aku menghabiskan waktu 20 tahun mempelajari teologi, sejarah dan hukum Islam secara mendalam sebelum memikirkan kredibilitas sumber sejarah awal Islam yang menulis apa yang dikatakan dan dilakukan Muhammad.

Tapi semakin lama aku mengamati bukti² yang dikumpulkan para ahli yang menerapkan metoda kritik-sejarah terhadap asal-usul Islam, semakin aku sadar bahwa tidak banyak bukti yang membenarkan sejarah Islam. Dalam bukuku The Truth About Muhammad (2006), aku menulis biografi Muhammad berdasarkan sumber literatur Islam pertama, yang kusebut sebagai “sumber² yang bisa dipercaya” dan mengamati bahwa “dari pengamatan sejarah saja, tidaklah mungkin bisa menentukan secara pasti bahwa manusia bernama Muhammad ini benar² pernah ada, atau jikalau dia memang pernah ada, apakah dia memang benar berbuat apa yang ditulis tentang dirinya.” Akan tetapi di saat itu aku menulis bahwa karena berbagai alasan, maka “tampaknya dia memang pernah ada.” [4]
[4] Robert Spencer, The Truth about Muhammad (Washington, DC: Regnery, 2006), 9, 31. the-truth-about-muhammad-t33436/

Penilaian tersebut ternyata terlalu optimistik. Bahkan pilar² yang mendukung keterangan tradisi Islam akan runtuh berantakan jika diamati secara cermat. Memang benar bahwa bala tentara Arabia menyerbu keluar Jazirah Arab dan mendirikan kekuasaan yang sangat besar di abad ke 7M. Tapi seperti yang nanti dijabarkan di buku ini, catatan sejarah dan arkeologi sangat meragukan bahwa mereka melakukan serangan ini atas dorongan Islam, berdasarkan Qur’an sebagai sumber agama dan dengan mencontoh pada Nabi sebagai teladan tindakan mereka.

Dampak Muhammad yang sangat besar dalam sejarah juga tidak lalu begitu saja menunjukkan bukti yang sangat tepat tentang sosoknya seperti yang ditulis dalam literatur Islam awal. Banyak tokoh² legenda atau separuh legenda yang menjadi dorongan banyak orang untuk meraih prestasi besar. Contohnya dalam literatur Crusader (Pahlawan Salib), yang berjudul The Song of Roland dan The Poem of El Cid, yang menulis figur² sejarah dengan muluk dan membesar-besarkan figur pahlawan ini jauh dari kenyataan, dan akhirnya mempengaruhi para pejuang lain untuk bersikap berani bak pahlawan. Pengaruh besar Muhammad dalam mendorong meluasnya budaya kuat Islam tidak perlu bergantung pada dirinya sebagai figur sejarah, karena figur legenda/dongeng yang sangat dipercaya juga bisa menimbulkan efek yang sama.

Jelasnya gambaran Muhammad yang muncul dari sumber Islam juga bukanlah jaminan bahwa dia memang benar² pernah ada. Banyak karya² tulis yang sarat dengan penjelasan sosok orang yang meyakinkan , yang sebenarnya tidak pernah ada tapi personalitas mereka sangat utuh muncul dalam halaman² tulisan, sehingga jikalau karangan tersebut dianggap fakta sejarah, banyak orang yang tidak menganggapnya sebagai hal yang keliru. Contohnya sosok Macbeth, raja Skotlandia, dalam drama karangan Shakespeare tampil sama menyakinkan dan utuhnya seperti sosok Nabi Islam. Macbeth sebenarnya adalah raja sesungguhnya, tapi catatan sejarah mengenai dirinya sangatlah berbeda dengan keterangan Shakespeare tentang sosoknya sebagai anti-pahlawan yang punya banyak masalah. Novel sejarah karangan Sir Walter Scott berjudul Ivanhoe menggambarkan berbagai kejadian sejarah dengan tepat, tapi kisah utamanya adalah fiksi. Robin Hood bisa jadi adalah orang yang benar² ada, tapi kebenaran tentang dirinya tercampur dengan berbagai dongeng rakyat. Coba lucuti keterangan Robin Hood merampok orang kaya bagi kaum miskin dan anggaplah para pengikutnya, Friar Tuck, Hutan Sherwood, dan lain²nya hanyalah sekedar legenda saja, lalu apa yang tersisa dari kisah ini? Mungkin hanyalah inti pesannya saja, atau mungkin tiada pesan apapun. Kita mungkin tak akan pernah tahu.

Pengamatan cermat bukti sejarah yang ada menunjukkan, atau setidaknya menunjukkan kemungkinan, bahwa kasus yang sama juga terjadi pada tokoh Muhammad. Catatan sejarah awal memang menyebut seseorang bernama Muhammad, tapi yang mereka katakan tentang dia sungguh berbeda dengan sang Nabi Muslim, yang menjadi suluh pelopor dan sumber inspirasi para tentara Arab nomad yang menyerbu keluar dari Arabia di tahun 630-an dan berhasil melakukan berbagai penaklukkan. Catatan² sejarah tertua yang mengisahkan tentang pria ini, itu pun jikalau memang pasti menerangkan tentang dirinya, sangatlah berbeda dengan kisah yang ditulis di literatur Islam awal, yang ditulis berpuluh-puluh tahun setelah Muhammad dilaporkan mati.

Terlebih lagi, catatan sejarah yang ada mengandung begitu banyak teka-teki dan anomali yang menyiratkan bahwa kisah Muslim tentang Muhammad lebih mendekati legenda daripada fakta. Muhammad tampaknya sangat berbeda dengan sosok manusia sempurna dalam hagiografi (karangan tentang kehidupan orang suci) Islam – itu pun jika dia memang pernah ada.


Berdiri di atas Pundak² Para Raksasa

Dalam menulis buku ini, aku tidak bertujuan untuk mendobrak gelanggang baru. Tapi tujuanku adalah membawa perhatian publik yang lebih luas terhadap hasil penelitian sejumlah kecil ilmuwan yang berani, yang mempertaruhkan nyawa dan jabatan mereka, dalam menyelidiki data sejarah yang ada tentang asal-usul Islam.

Buku ini merupakan buah dari penelitianku terhadap tulisan² para cendekia dari generasi terdahulu, seperti Ignaz Goldziher, Arthur Jeffery, Henri Lammens, David S. Margoliouth, Alphonse Mingana, Theodor Noldeke, Aloys Sprenger, Joseph Schacht dan Julius Wellhausen, juga sejarawan modern seperti Suliman Bashear, Patricia Crone, Michael Cook, Ibn Warraq, Judith Koren, Christopher Luxenberg, Gunter Luling, Yehuda Nevo, Volker Popp, Ibn Rawandi, David S. Powers dan John Wansbrough.

Sebagian dari cendekia pemberani tersebut yang meneliti sejarah awal Islam telah menerima ancaman² pembunuhan. Akibatnya, sebagian menerbitkan laporan penelitian dengan nama samaran, termasuk cendekia terkemuka seperti Christopher Luxenberg dan Ibn Warraq. Ancaman terhadap jiwa penulis seperti ini merupakan rintangan bagi riset ilmiah yang tidak pernah dihadapi peneliti Perjanjian Baru yang paling radikal sekalipun.

Penelitian asal-usul Islam, meskipun hasilnya jarang didengar, sebenarnya telah berusia setua penelitian tentang Yudaisme dan Kristen. Ilmiawan Jerman bernama Gustav Weil (1808-1889) menulis usaha penelitiannya yang pertama kali tentang asal-usul Islam dalam bukunya yang berjudul Mohammed der prophet, sein Leben und sein Lehre (Muhammad sang Nabi, Riwayat Hidupnya dan Ajarannya) (1843), tapi dia tak punya banyak akses pada bahan penelitian. Weil menulis dibukunya yang lain bahwa Islam “bergantung pada tradisi oral, pada masa dimana penyampaian keterangan didasarkan pada ingatan saja dan setiap hari menghasilkan perpecahan baru diantara para profesor Islam, sehingga membuka banyak kemungkinan pemalsuan dan distorsi keterangan.” [5]
[5] Gustav Weil, Geschichte der Chalifen, vol. 2 (Mannheim, 1846-51), 290, terjemahan. William Muir, The Life of Mahomet, edisi volume pertama (London, 1894), xli-xlii (dikutip oleh Ibn Warraq, ed., The Quest for the Historical Muhammad (Amherst, NY: Prometheus, 2000), 44).

Ernest Renan, meskipun bersemangat membahas sejarah Muhammad, sebenarnya meneliti sumber² Islam dengan mata yang kritis. Dalam menulis tentang Qur’an, dia menunjukkan bahwa “keterangan yang berdasarkan daya ingat untuk waktu yang lama saja tidak bisa menjaga keutuhan keasliannya; tidak mungkinkah adanya tambahan sisipan dan perubahan terjadi pada penulisan berikutnya?” Tapi anehnya, Renan tidak menyelidiki kemungkan itu. Dia lebih memilih mengambil kesimpulan tanpa bukti bahwa “kebenaran sejarah awal Islam, Qur’an, tetaplah terjaga dan cukup untuk menunjukkan kepada kita tentang Muhammad.” [6]
[6] Dikutip dalam Ibn Warraq, The Quest for the Historical Muhammad, 16.

Sejarawan Scott yakni William Muir (1819-1905) menerbitkan bukunya A Life of Mahomet and History of Islam to the Era of the Hegira (Riwayat Hidup Muhammad dan Sejarah Islam sampai Masa Hijrah) dalam empat volume sekitar tahun 1858 dan 1862. Muir menunjukkan keraguannya tentang keterangan Muhammad dalam hadis, dengan mengatakan bahwa “hadis yang paling dipercaya sekalipun seringkali mengandung keterangan yang berlebihan dan dibuat-buat.” [7] Meskipun begitu, dalam bukunya tentang biografi Muhammad, dia tetap memakai keterangan dari literatur awal Islam tanpa membuang hal yang “berlebihan dan dibuat-buat.”
[7] Muir, The Life of Mahomet, xli-xlii, (dikutip oleh Ibn Warraq, ed., The Quest for the Historical Muhammad, 44).

Ilmiawan lain yang juga bersikap ragu adalah Wellhausen (1844-1918), yang penelitiannya tentang buku Taurat oleh Musa menyebabkan dia menyimpulkan bahwa kelima buku itu tidak ditulis oleh satu orang yang sama, tapi empat orang yang berbeda dan sudah di-edit pula oleh orang lain. Hadis, yang makna harafiahnya adalah “laporan-laporan,” merupakan koleksi perkataan dan perbuatan Muhammad yang membentuk fondasi hukum dan praktek Islam. Wellhausen berusaha menggolongkan penyampai hadis yang bisa dipercaya dengan yang meragukan. [8]
[8] Kata Arab jamak/plural bagi hadis adalah ahadis, dan kata ini ditemukan di banyak literatur Muslim Inggris. Tapi agar lebih memudahkan, aku menggunakan kata “hadis” untuk bentuk plural.

Ilmiawan Austria bernama Aloys Sprenger (1813-1893) memberikan sumbangan besar pada penelitian asal-usul Islam dengan menggali tulisan² Islam yang dahulu dikira hilang, termasuk tulisan Ibn Hisyam di abad 9M tentang biografi Muhammad. Sprenger juga meragukan kebenaran keterangan sebagian hadis.

Ilmiawan pionir dari Hungaria yakni Ignaz Goldziher (1850-1921) melakukan penelitian lebih jauh. Dia berkesimpulan bahwa koleksi hadis yang ditulis jauh setelah saat Muhammad dianggap mati, juga kecenderungan besar umat Muslim dalam mengganti cerita tentang Muhammad demi alasan politik dan agama, maka sangatlah tak mungkin untuk menganggap hadis yang begitu banyak jumlahnya sebagai sumber sejarah yang bisa dipercaya.

Perlu diingat bahwa Goldziher sangat mencintai agama Islam, meskipun dia tidak pernah menjadi Muslim. Sebagai pemuda, dia mengunjungi Damaskus dan Kairo dan dia begitu mengagumi Islam sehingga dia menulis di buku hariannya: “Aku yakin sekali bahwa aku adalah Muslim.” Di Kairo, dia memasuki sebuah mesjid dan solat sebagaimana Muslim: “Di tengah² ribuan umat Muslim, aku menyentuhkan keningku ke lantai mesjid. Tidak pernah sebelumnya dalam hidupku aku begitu khusuk, benar² khusuk, daripada saat di hari Jum’at itu.” [9]
[9] Dikutip di Raphel Patai, Ignaz Goldziher and His Oriental Diary (Detroit: Wayne State University Press, 1987), 28 (dikutip di Martin Kramer, Introduction, dalam The Jewish Discovery of Islam: Studies in Honor of Bernard Lewis, ed. Martin Kramer [Syracuse: Syracuse University Press, 1999] I-48, diterbitkan online di http://www.martinkramer.org/sandbox/rea ... islam/#n38).

Karena itu, tentunya aneh jika Goldziher tidak bisa mempercayai secara ilmiah kebenaran sejarah hadis. Tapi kesimpulannya itu tidak dimaksudkannya untuk merusak iman Islam. Sebaliknya, dia berharap pengamatan sejarahnya bisa membantu untuk melihat hadis sebagai apa adanya: bukan sebagai sumber sejarah, yang sering dianggap orang awam pada umumnya, tapi sebagai indikasi bagaimana hukum dan praktek ritual Islam berkembang. Dia berharap penyelidikannya bisa memberi pengertian lebih lengkap tentang asal-usul Islam dan memberi pengaruh positif bagi Islam.

Sejarawan lain yang meragukan kebenaran sejarah literatur awal Islam adalah ilmiawan di bidang Timur Tengah dari Italia bernama Pangeran Leone Caetani, Duke/bangsawan dari Sermoneta (1869-1935). Caetani menyimpulkan bahwa “kita hampir tak bisa menemukan apapun yang benar tentang Muhamad di hadis, kita bisa menganggap semua isi materi hadis yang ada meragukan kebenarannya.” [10] Ilmiawan lain sejamannya yang bernama Henri Lammens (1862-1937), seorang Yesuit Flemish (Belgia-Belanda), melakukan penyelidikan terperinci akan hadis tentang Muhammad, meragukan berbagai keterangan berbagai hal, terutama masa kelahiran dan kematian Muhammad. Lammens menulis tentang Muhammad yang ditulis di biografi awal Islam sebagai “tokoh karangan dan tidak masuk akal,” meskipun dia juga memperingatkan agar “tidak menolak semua keterangan yang ada.”[11]
[10] Dikutip di Ibn Warraq, The Quest for the Historical Muhammad, 46.
[11] Henri Lammens, The Age of Muhammad and the Chronology of the Sira, dikutip dalam Ibn Warraq, The Quest for the Historical Muhammad, 206.


Joseph Schacht(1902-1969), ahli hukum Islam terkemuka dari Barat, menulis penelitian tentang asal-usul hukum Islam dan menyimpulkan bahwa “bahkan hadis klasik juga mengandung banyak keterangan yang tidak mungkin asli. Semua usaha untuk mengambil keterangan asli dari hadis yang saling berkontradiksi ini telah gagal.” Dia juga setuju dengan kesimpulan Goldziher bahwa “sebagian besar hadis dari Nabi ditulis bukan di masa yang diakui sebelumnya, tapi di masa selanjutnya sewaktu doktrin² berkembang di abad pertama Islam.” Tapi Schacht menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan bahwa “sejumlah besar hadis klasik dan koleksi hadis lain baru beredar setelah jaman Shafi’I (Muslim ahli Islam ash-Shafii wafat tahun 820]; kumpulan hadis sahih dari Muhammad muncul di pertengahan abad ke-2”; dan “bukti² menunjukkan bahwa hadis sahih itu baru ditulis sekitar tahun 100 Hijriah” – dan ini adalah awal abad ke 8 M, yang jauh dari perkiraan masa hidup Muhammad. [12]
[12] Joseph Schacht, The Origin of Muhammadan Jurisprudence (Oxford: Oxford University Press, 1950), 4-5.

John Wansbrough (1928-2002), sejarawan Amerika yang mengajar di Universitas London, mengumpulkan tulisan² para ilmiawan yang meragukan nilai sejarah literatur Islam awal. Melalui penelitiannya yang melakukan terobosan dan komplex, Wansbrough menyimpulkan bahwa Qur’an terutama disusun untuk mendirikan asal-usul Islam di Arabia dan Hadis dikarang guna memberi Kekaisaran Arabia agama khusus yang memperkuat stabilitas dan persatuan.

Sejarawan Patricia Crone, murid Wansbrough, Michael Cook, dan Bernard Lewis (sejarawan Timur Tengah terkemuka), terpengaruh akan kesimpulan Wansbrough dan menulis buku kontroversial berjudul Hagarism: The Making of the Islamic World (1977). Sama seperti pendahulu mereka, Crone dan Cook mencatat bahwa literatur Islam awal tentang Muhammad dan asal-usul Islam ditulis lama setelah Muhammad mati dan keterangan² itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu mereka melakukan penyelidikan tentang kelahiran dan perkembangan awal Islam dengan mengamati catatan sejarah yang lain, penemuan² arkeologi yang ada dan catatan² filologikal tentang Islam awal, termasuk uang² logam di daerah Arabia di abad ke 7 dan 8 dan prasasti² resmi yang dibuat di masa itu. “Kami melalukan penelitian dengan nekad untuk menyusun pengertian di bidang asing yang fondasinya masih harus digali para ahli.” [13]
[13] Patricia Crone dan Michael Cook, Hagarism: The Making of the Islamic World (Cambridge: Cambridge University Press, 1977), vii.

Crone dan Cook mengajukan fakta bahwa Islam muncul sebagai gerakan dalam kepercayaan Yudaisme yang berpusat pada Abraham dan putranya Ishmael, hasil hubungan Abraham dengan selirnya, Hagar – sebagaimana banyak sumber non-Muslim awal yang tidak menyebut orang² Arab sebagai “Muslim” tapi sebagai “Hagarian” (atau “Hagarin”). Gerakan ini, karena berbagai alasan, terpecah dari Yudaisme di akhir abad ke 7M dan mulai berkembang sampai akhirnya menjadi Islam.

Di tahun 1987, Crone menerbitkan Meccan Trade and the Rise of Islam (Perdagangan Mekah dan Kebangkitan Islam), dimana dia menunjukkan bahwa fondasi utama biografi Muhammad dalam Islam - dengan Mekah sebagai pusat perdagangan, berlatarbelakang Arabia – ternyata tidak didukung catatan sejarah jaman modern. Catatan² sejarah, katanya, menunjukkan bahwa Mekah bukanlah pusat perdagangan sama sekali. Crone, sama seperti Wansbrough, melihat latar belakang Arabia bagi Islam sebagai keterangan yang ditambahkan dalam literatur Islam di jaman kemudian demi kepentingan politik.

Akan tetapi Crone kemudian menulis, “Bukti bahwa seorang nabi aktif berperan diantara masyarakat Arab di awal abad 7M, di awal masa penaklukkan Arab di Timur Tengah, harus diakui sangat tepat.” Dia menambahkan bahwa “kita bisa yakin bahwa Qur’an merupakan koleksi ucapan Muhammad yang dipercaya umatnya disampaikan padanya oleh Tuhan.” Meskipun pernyataan ini bertentangan dengan pernyataannya sebelumnya tentang asal-usul Islam, Crone tidak menawarkan penemuan atau bukti apapun untuk menerangkan perubahan pendapatnya; sebaliknya dia meninggalkan begitu saja pemikirannya yang pertama dan tidak menampilkan bukti apapun. Crone masih mengakui bahwa “segala hal lain tentang Muhammad tidaklah pasti,” dengan menunjukkan bahwa sumber Islam awal tentang kehidupan Muhammad baru ditulis “sekitar empat atau lima generasi setelah kematiannya,” dan hanya sedikit ilmiawan yang menganggap sumber literatur ini “mengandung kebenaran sejarah.” [14] Ketidakpastian ini, ditambah dengan bukti provokatif yang ditampilkan Crone dalam bukunya, mendorong sejumlah ilmiawan lainnya untuk terus meneliti sejarah Muhammad.
[14] Patricia Crone, “What Do We Actually Know About Muhammad?,” Open Democracy, 31 Agustus, 2006, http://www.opendemocracy.net/faith-euro ... d_3866.jsp

Di lain pihak, ilmiawan modern telah melakukan pemeriksaan kritis akan Qur’an. Ahli theologia Jerman, Günter Lüling, berkesimpulan bahwa Qur’an yang asli bukanlah tulisan Islam tapi dokumen Kristen pra-Islam. Penelitian seksama terhadap keanehan dan anomali dalam Qur’an menunjukkan banyaknya tanda² fondasi Kristen. Lüling yakin bahwa Qur’an mencerminkan theologi sekte Kristen non-Trinitas yang meninggalkan jejak pada theologi Islam, terutama dalam penggambarannya akan Kristus dan doktrin keesaan Tuhannya yang mutlak.

Ilmiawan yang memakai nama samaran sebagai Christoph Luxenberg, meskipun berbeda metoda dan kesimpulan dengan Lüling, setuju bahwa Qur’an mengandung dasar Kristen. Luxenberg mengatakan bahwa banyaknya kata² dan kalimat² membingungkan dalam Qur’an menjadi jelas jika membacanya dengan bahasa Syriak, yang merupakan dialek bahasa Aramaik yang merupakan bahasa yang dipakai di daerah di mana Qur’an disusun. Melalui metoda baca ini, dia menghasilkan kesimpulan yang sangat mengejutkan. Sebagian penemuannya telah menarik perhatian internasional. Yang paling terkenal adalah pasal² Qur’an yang menjanjikan perawan di surga bagi Muslim syahid. Menurutnya, terjemahan sebenarnya kata dalam Qur’an itu tidak bermakna “perawan” tapi adalah “kismis” atau “anggur.”

Di buku ini, aku terutama menggunakan keterangan dari penulis² modern, terutama karya awal Crone, Luxenberg, Lüling, Popp, dan Powers, juga dari beberapa penulis terdahulu, terutama Goldziher.

Reaksi para Muslim terhadap penyelidikan sejarah Islam berbeda-beda. Sebagian berusaha membantah berbagai penemuan penelitian sejarawan. [15] Contohnya, Professor Ahmad Ali al-Imam menerbitkan buku mengamati perbedaan variasi dalam Qur’an. Dia menjelaskan variasi² melalui keterangan dari hadis yang menjelaskan bahwa Qur’an disampaikan dalam 7 gaya pengimlaan; dia menyimpulkan bahwa “kelengkapan dan kelayakan Qur’an telah nyata.” [16] Di lain pihak, Professor Muhammad Sven Kalisch, orang Jerman yang memeluk Islam dan profesor theologia Islam pertama di Jerman, mengamati sejarah Islam dengan kritis dan berkesimpulan bahwa Muhammad sebenarnya tidak pernah ada dalam wujud yang dijelaskan di literatur Islam. [17] Dia akhirnya meninggalkan Islam. [18] Sebaliknya, Khaled Abou El Fadl, profesor hukum dari Universitas California di Los Angeles, bersikap sangat marah terhadap penelitian sejarah asal-usul Islam dan menyebutnya sebagai “tidak toleran.” Abou El Fadl menyebut Ibn Warraq sebagai “orang yang patut dikasihani” yang “ngawur dan sangat membosankan.” Abou El Fadl menuduh ilmiawan Daniel Pipes hanya “melampiaskan rasa bersalahnya sebagai orang kulit putih.” (Adadeh: banyak orang kulit putih liberal/sayap kiri yang merasa bersalah dengan masa lalu orang kulit putih yang menjajah orang² kulit berwarna di dunia ketiga) El Fadl bahkan menyebut bahwa “penelitian asal-usul sejarah Islam, sama seperti tindakan atoleran lainnya, bersandar pada beberapa anggapan aneh. Anggapan pertama adalah bahwa Muslim berbohong dalam berbagai cara … dan tidak sanggup membedakan fiksi dengan fakta.” [19]
[15] Contoh reaksi ini bisa dilihat di Amaal Muhammad Al-Roubi, A Response to Patricia Crone’s Book (“Meccan Trade and the Rise of Islam”), http://www.sultan.org/books/Patricia_cr ... _reply.pdf
[16] Ahmad Ali Al-Imam, Variant Readings of the Qur’an: A Critical Study of Their Historical and Linguistic Origins (Washington, DC: International Institute of Islamic Thought, 2006), 112.
[17] Andrew Higgins, “Professor Hired for Outreach to Muslims Delivers a Jolt,” Wall Street Journal, November 15, 2008.
[18] “Islam Scientist Kalisch No Longer Muslim,” Politically Incorrect, 22 April, 2010, http://www.pi-news.org/2010/04/islam-sc ... er-muslim/
[19] Khaled Abou El Fadl, “On Revising Bigotry,” Scholar of the House, n.d., http://www.scholarofthehouse.org/onrebit.html


Masalahnya bukan begitu. Penyelidikan ilmiah tentang asal-usul Islam tidak bergantung pada dugaan bahwa Muslim tak bisa membedakan fiksi dengan fakta. Masalahnya adalah apakah legenda bercampur dengan catatan sejarah sampai tidak bisa lagi dibedakan mana yang legenda dan mana yang sejarah. Tambahan keterangan legenda ini bukan hanya terjadi pada Muslim saja; penambahan keterangan legenda terjadi dari berbagai kehidupan tokoh sejarah masa lalu yang perbuatan telah dilupakan tapi mereka menjadi pahlawan dalam dongeng/legenda yang terus disampaikan kisahnya berulang kali sampai hari ini.

Ilmiawan yang menyelidiki asal-usul Islam tidak bermotivasi kebencian, atoleransi atau rasisme, tapi didorong oleh keinginan untuk menemukan kebenaran. Mereka inilah para ahli yang meletakkan fondasi bagi penyelidikan dalam buku ini.

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Sun Apr 29, 2012 1:16 pm
by Adadeh
Bab 1 – Orang yang Sebenarnya Tidak Ada

Sumber Keterangan

Orang seringkali beranggapan bahwa sumber pertama dan utama tentang kehidupan Muhammad adalah Qur’an, kitab suci Islam. Tapi Qur’an sebenarnya hanya menerangkan sedikit sekali tentang khidupan tokoh utama Islam ini. di Qur’an, Allah berkali-kali berkata pada nabinya dan memerintahkan untuk mengatakan pesan pada umat yang percaya dan tidak percaya. Para pemberi komentar dan pembaca umumnya menduga bahwa Muhammadlah yang dimaksud Allah dalam berbagai kejadian, tapi – sama seperti banyak kasus lain dalam Islam – hal ini tidaklah jelas.

Nama Muhammad sebenarnya muncul dalam Qur’an sebanyak empat kali saja, dan tiga diantaranya disebut dengan julukan “yang terpuji” atau “yang dipilih” – dan bukannya disebut dengan namanya. Tidak begitu dengan Musa yang disebut namanya 136 kali, dan Abraham 79 kali. Bahkan Firaun disebut sebanyak 7 4 kali. Di lain pihak, julukan “Rasul Allah” muncul dalam berbagai bentuk sejumlah 300 kali, dan “nabi” muncul 43 kali. [1] Apakah julukan² ini ditujukan pada Muhammad, sang Nabi Arab di abad 7 M? Mungkin begitu. Sudah jelas para Muslim pembaca Qur’an menganggapnya begitu sepanjang jaman. Tapi jikalau pun anggapannya memang begitu, tetap saja tak menunjukkan kejadian dan keadaan kehidupannya.
[1] Yehuda D. Nevo dan Judith Koren, Crossroads to Islam (Amherst, NY: Prometheus, 2003), 265.

Dalam seluruh Qur’an tidak ada keterangan tentang Rasul Allah selain dari statusnya sebagai utusan Allah dan menuntut umatnya untuk taat padanya. Tiga dari empat kali nama Muhammad disebut, tiada keterangan apapun yang mengungkapkan kehidupannya.

Sebutan pertama dari empat kali penyebutan nama Muhammad terdapat di Sura 3 dalam Qur’an: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. (3:144). Qur’an lalu berkata, “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul” (5:75). [2] Kesamaan kalimat tersebut menyiratkan bahwa dalam 3:144, Yesus adalah tokoh yang disebut sebagai “yang terpuji” – yakni, sang muhammad.
[2] Ibid., 265-66.

Dalam sura 33, kita baca bahwa “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (33:40). [3] Keterangan ini hampir pasti ditujukan bagi nabi Islam dan bukan nabi yang dinubuatkan sebagai “yang terpuji.” Ini juga merupakan ayat yang sangat penting bagi theologi Islam: ilmiawan Muslim mengenal status Muhammad sebagai “Penutup para Nabi” yang berarti Muhammad adalah nabi terakhir dari Allah dan siapapun yang mengaku sebagai nabi setelah Muhammad adalah nabi palsu. Doktrin ini menyebabkan Muslim bersikap memusuhi, kadangkala dengan kekerasan, terhadap segala cabang Islam selanjutnya yang memiliki nabi lain, seperti Baha’I dan Qadiani Ahmadiyah.
[3] Kutipan dari Qur’an, dari A.J. Arberry, The Koran Interpreted (New York: George Allen & Unwin, Ltd., 1955)

Pernyataan yang serupa juga dinyatakan di Qur’an 47:2 : “Dan orang-orang mu'min dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” Dalam ayat ini, “Muhammad” adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah, tapi ini bisa bermakna siapa pun dari berbagai nabi dalam Qur’an, juga bisa bermakna bagi satu orang Muhammad tertentu saja.

Qur’an 48:29 tampaknya merujuk pada sang Nabi Islam saja: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” Meskipun istilah “yang terpuji” di sini bisa berarti nabi lain, tapi gelar “Muhammad adalah utusan Allah” (Muhammadun rasulu Allahi) dalam syahadah Islam memberi pengertian bahwa Q 48:29 menyebut langsung tentang sang Nabi Islam.

Hanya sampai di situ saja Qur’an menyebut nama Muhammad. Berbagai sebutan Rasul Allah dalam Qur’an tidak menyebutkan nama utusan itu, dan hanya sedikit keterangan tentang perbuatannya. Karena itu, kita tidak mendapatkan banyak keterangan tentang riwayat hidup Muhammad dalam Qur’an. Bahkan tidaklah jelas apakah pasal² Qur’an yang menyebut Rasul Allah itu merujuk pada Muhammad pada khususnya, atau Qur’an versi aslinya memang begitu.

Begitu banyak detail tentang perkataan dan perbuatan Muhammad dalam hadis, yang koleksinya sangat banyak dan merupakan fondasi hukum Islam. Hadis menerangkan secara terperinci latar belakang turunnya ayat dalam Qur’an. Tapi (sebagaimana yang nanti bisa dibaca di bab berikutnya) terdapat alasan untuk yakin bahwa sebagian besar hadis tentang perkataan dan perbuatan Muhammad ditulis lama setelah masa di mana Muhammad diperkirakan mati di tahun 632 M.

Selain Hadis, terdapat pula Sira, yakni kisah riwayat hidup (biografi) sang Nabi Islam. Biografi terawal Muhammad ditulis oleh Ibn Ishaq (wafat tahun 773 M), yang menulis buku itu di abad 8 M, setidaknya 125 tahun setelah kematian Nabi Islam, dengan kondisi di mana materi dongeng tentang Muhammad telah berkembang biak. Biografi karya Ibn Ishaq sudah tidak ada lagi, dan yang masih ada bagi kita sekarang adalah sebagian dari tulisannya yang diedit ulang oleh Ibn Hisham, di kuartal pertama abad 9, dan oleh sejarawan² lain yang menerbitkan kembali dan melestarikan bagian² lain tulisan Ibn Ishaq lainnya.

Biografi ini merupakan sumber utama yang disebut Ernest Renan sebagai “sejarah yang sangat jelas” tentang kehidupan dan pekerjaan Muhammad. Tapi sebenarnya bisa dikatakan bahwa tiada biografi yang memperinci dengan jelas tanggal masa karir kenabian Muhammad.


Catatan Paling Awal tentang Nabi Arab

Tentunya banyak keterangan yang ditulis oleh para sahabat dan musuh orang ini yang kehidupan dan pekerjaannya ditulis di “sejarah yang sangat jelas.”

Setidaknya begitulah tentunya perkiraan banyak orang. Apalagi orang ini katanya telah mempersatukan berbagai suku yang saling berperang di Arabia. Dia mengubah mereka semua menjadi mesin perang, yang dalam beberapa tahun saja setelah kematiannya, berhasil mengejutkan dan melukai sampai berdarah dua kekaisaran besar yakni Romawi Byzantium dan Persia, lalu dengan memperluas kekuasaan sampai ke wilayah kedua kekaisaran tersebut. Sudah masuk akal jika catatan² sejarah Byzantium dan Persia, dan juga Muslm, mengandung keterangan akan pengaruh dan prestasi orang ini.

Tapi ternyata catatan² awal malah menawarkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Salah satu tulisan terawal yang menyebut Muhammad adalah dokumen yang dikenal sebagai Doctrina Jacobi, yang kemungkinan ditulis oleh orang Kristen Palestina sekitar tahun 634-640 – ini adalah masa penaklukkan awal Arabia dan tak lama setelah Muhammad dilaporkan mati di tahun 632. Dokumen ini ditulis dalam bahasa Yunani dari sudut pandang orang Yahudi yang percaya bahwa sang Mesiah Kristen merupakan juru selamat yang sebenarnya dan dia mendengar tentang nabi lain yang muncul di Arabia:

Ketika sang kandidatus (yakni anggota pengawal istana Byzantium) dibunuh oleh orang Sarasen (Sarakenoi = sebutan bagi orang² Arab), aku berada di Caesaria dan pergi dengan perahu ke Sykamina. Orang² berkata “sang kandidatus telah dibunuh,” dan kami para Yahudi merasa sangat senang. Dan mereka berkata bahwa seorang nabi telah muncul, bersama kaum Sarasen, dan dia mengumumkan tentang kedatangan orang yang diurapi, yakni Kristus. Setiba di Sykamina, aku dihentikan oleh seorang tua yang mengerti kitab² suci, dan aku berkata padanya: “Apakah yang bisa kau ceritakan padaku tentang nabi yang telah muncul bersama orang² Sarasen?” Dia menjawab, dengan keluhan dalam: “Dia itu palsu, karena para nabi tidak datang dengan bersenjata pedang. Ini sudah jelas merupakan tipu daya pengacau saat ini dan aku khawatir bahwa Kristus pertama yang disembah umat Kristen, adalah orang yang dikirim Tuhan, tapi sebaliknya kita malahan akan menerima Anti Kristus. Memang sesungguhnya, Yesaya berkata bahwa kaum Yahudi akan tetap sesat dan keras hati sampai semua bumi binasa. Tapi kau, tuan Abraham, pergilah dan cari tahulah tentang nabi ini yang katanya telah muncul.” Maka aku, Abraham, menyelidiki dan mendengar dari mereka yang telah bertemu dengannya bahwa tiada kebenaran yang ditemukan dari orang yang disebut sebagai nabi ini, yang dilakukan hanyalah menumpahkan darah banyak orang. Dia juga berkata bahwa dia memegang kunci² surga, dan ini adalah pengakuan yang luar biasa. [4]
[4] Doctrina Jacobi vol. 16, 209 (dikutip di Robert G. Hoyland, Seeing Islam as Others Saw It: A Survey and Evaluation of Christian, Jewish, and Zoroastrian Writings on Early Islam [Princeton: Darwish Press, 1997], 57).

Dalam kasus ini, istilah “luar biasa” bermakna “tak dapat dipercaya.” Satu hal yang bisa dilihat dari keterangan ini adalah bahwa para penyerang Arabia yang menaklukkan Palestina di tahun 635 (kaum Sarasen) datang dengan membawa berita tentang munculnya nabi baru, yakni orang yang “bersenjata pedang.” Tapi di Doctrina Jacobi diterangkan bahwa nabi tak bernama ini masih hidup, pergi bersama tentaranya, sedangkan Muhammad katanya sudah mati di tahun 632. Terlebih lagi, nabi Sarasen ini, tidak mengumumkan bahwa dia adalah nabi terakhir Allah (Q 33:40), tapi “mengumumkan kedatangan orang yang diurapi, yakni Kristus yang akan datang.” Ini merupakan referensi tentang juru selamat versi Yahudi yang sedang ditunggu-tunggu kaum Yahudi, dan bukan Yesus Kristus dari kepercayaan Kristen (Kristus berarti “yang diurapi” atau “Mesiah” dalam bahasa Yunani).

Qur’an menerangkan bahwa Yesus mengumumkan kedatangan tokoh yang dalam hadis disebut sebagai Muhammad: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad” (Q 61:6). Ahmad adalah “yang terpuji,” dan ilmiawan Muslim menganggap ahmad adalah Muhammad: Nama Ahmad merupakan variasi dari Muhammad (karena mengandung tiga akar huruf yang sama h-m-d). Mungkin baik Doctrina Jacobi dan Qur’an 61:6 mengingatkan dengan cara yang berbeda bahwa nabi yang akan datang dikenal sebagai orang “yang terpuji” atau “yang terpilih” – ahmad atau muhammad.

Nabi yang disebut di Doctrina Jacobi “berkata bahwa dia memegang kunci² surga,” dan katanya “ ini adalah pengakuan yang luar biasa.” Ini bukan hanya luar biasa, tapi juga aneh karena hadis Islam tak pernah menyatakan bahwa Muhammad mengaku memegang kunci² surga. Sebaliknya, Yesus menganugerahkan kunci surga kepada Petrus di Injil menurut Matius 16:19, dan ini menandakan bahwa tokoh yang mengaku punya kunci surga punya hubungan dengan tradisi Kristen, dan juga dengan nubuat datangnya juru selamat dalam kepercayaan Yudaisme. Ucapan tentang “kunci² surga” lebih mirip dengan “kunci Kerajaan Surga” yang diberikan kepada Petrus daripada ajaran Muhammad apapun, sehingga nabi yang disebut di Doctrina Jacobi kemungkinan beragama Kristen atau orang yang dipengaruhi kepercayaan Kristen dan bukannya nabi Islam yang digambarkan literatur utama Islam.


Siapakah Muhammad itu?

Apakah bisa dikatakan bahwa Doctrina Jacobi merujuk pada Muhammad? Sungguh sukar untuk membayangkan orang lain, karena nabi² yang mengacungkan pedang untuk menaklukkan Tanah Suci (Palestina) – dan tentara yang didorong oleh nabi seperti itu – tidak ada di tahun 630-an. Dokumen² yang ditulis berdasarkan keterangan hadis Islam tentang tahun kematian Muhammad dan isi ajarannya bisa dilihat sebagai kesalahpahaman dari penulis Byzantium dalam meneliti Islam dari jarak jauh, dan bukan sebagai bukti bahwa Muhammad dan Islam di jaman dulu berbeda dari jaman sekarang.

Selain itu, tak ada satu pun keterangan dalam Doctrina Jacobi tentang kisah Muhamad dan asal-usul Islam. Kemungkinan nabi tak bernama di Doctrina Jacobi merupakan satu dari beberapa tokoh, yang atribut sejarahnya lalu dimasukkan ke dalam tokoh nabi Islam yang diberi nama salah seorang dari mereka, yakni Muhammad. Hal ini karena tak ada catatan apapun di masa hidupnya yang menerangkan tokoh seperti apakah dia atau apa yang diperbuatnya.

Satu bukti yang menyebut namanya adalah berbagai tulisan Syriak (dialek Aramaik yang dipakai luas di wilayah itu pada jaman itu) yang mengacu pada seorang pendeta Kristen bernama Thomas dan ditulis di awal tahun 640-an. Tapi bukti lain menunjukkan bahwa tulisan² telah direvisi di pertengahan abad ke 8, sehingga ini mungkin bukan keterangan awal tentang Muhammad. [5] Meskipun begitu, Thomas disebut dalam “pertempuran antara tentara Romawi dan tayyaye d-Mhmt” di Gaza timur di tahun 634. [6] Kata tayyaye atau tiyaye berarti orang² nomad; naskah sejarah awal menggunakan kata ini sebagai kaum penakluk. Sejarawan Robert G. Hoyland menerjemahkan tayyaye d-Mhmt sebagai “orang² Arab Muhammad”; terjemahan ini relatif lumrah. Bahasa Syriak membedakan huruf t dan d, sehingga tidaklah jelas apakah Mhmt, Thomas itu sebenarnya maksudnya adalahMhmd, Muhammad. Bahkan jika “orang² Arab Muhammad” itu adalah terjemahan sebenarnya dari tayyaye d-Mhmt, kita tetap tidak bisa tahu dengan tepat apakah Muhammad yang dimaksud adalah Nabi Islam, yakni nabi perang yang berpoligami, yang menerima Qur’an, yang mengayunkan pedang terhadap kafir. Tiada satu pun tulisan orang² Arab atau orang² yang ditaklukan Arab di pertengahan abad 7 yang menyebut tentang biografi Muhammad. Di puncak penyerbuan tentara Arab, sumber² tulisan non-Muslim dan Muslim tidak mencantumkan keterangan apapun tentang nabi dan kitab sucinya yang katanya mendorong tentara Arab melakukan berbagai penyerangan.
[5] Sejarawan Robert G. Hoyland mencatat bahwa editor pertama tulisan ini menerangkan bahwa tulisan ini merupakan terusan dari sejarah gerejawi dari Eusebius dan lalu diperbaharui seabad kemudian setelah keterangan ini ditulis: “Di pertengahan abad 7 penulis Jacobit telah menulis terusan dari Eusebius dan … tulisan ini telah diperbaharui hampir seabad kemudian ketika daftar sinoda dan kalifah dan lainnya ditambahkan” (Hoyland, Seeing Islam, 119).
[6] Thomas sang Presbiter, Chronicle, 147-48 (dikutip di buku Hoyland, Seeing Islam, 120).


Ada kemungkinan Thomas yang disebut dengan kata Mhmt bukanlah nama sebenarnya, tapi hanya gelar bagi orang “yang terpuji” atau “yang terpilih” tanpa mengacu pada siapapun. Kalau pun benar demikian, Thomas yang mengacu pada nama Muhammad itu tidak memiliki persamaan apapun dengan Nabi Islam, kecuali persamaan nama.


Sophronius dan Umar

Dari orang² yang telah berhubungan dengan para penyerang Arab yang menaklukkan Timur Tengah di pertengahan abad 7, tidak ada satu pun yang menulis keterangan apapun tentang seorang nabi yang bernama Muhammad, yang pengikutnya menyerbu keluar Arabia dengan membawa kitab suci atau kepercayaan baru, di belakang segala penaklukkan yang mereka lakukan. [7]
[7] Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 264.

Image
St. Sophronius, pemimpin agama Kristen Yerusalem, 639 M

Coba simak tulisan orang Kristen di abad 7 tentang penaklukkan Yerusalem, yang ditulis beberapa tahun setelah penaklukkan tersebut (aslinya ditulis dalam bahasa Yunani dan lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Georgia). Menurut tulisan ini, “Orang² Sarasen yang tak bertuhan masuk ke kota suci Kristus Tuhan kita, Yerusalem, dengan ijin Tuhan dan sebagai hukuman atas kelalaian kita.” [8] Tulisan khotbah Koptik dari jaman yang sama menyebut orang² Sarasen sebagai “penjajah, yang menyerahkan diri pada pelacuran, pembantaian, dan menangkapi orang², sambil berkata: ‘Kami puasa dan sembahyang.’ “ [9]
[8] John Moschus, Pratum spirituale, 100-102, terjemahan Georgia, Gerard Garitte, terjemahan., “’Histoires edificantes’ georgiennes,” Byzantion 36 (1966): 414-16 (dikutip di Hoyland, Seeing Islam, 63).
[9] Homily on the Child Saints of Babylon, §36 (terjemahan. De Vis, 99-100) (dikutip di Hoyland, Seeing Islam, 69).


Sophronius, ketua masyarakat Yerusalem yang menyerahkan kota itu kepada Kalifah Umar setelah penaklukan Arabia di tahun 637, mengeluh tentang kedatangan “orang² Sarasen yang, karena dosa² kami, telah memerangi kami secara tiba² dan menjarahi dengan keji dan liar, dengan kelancangan yang tak bermoral dan tak bertuhan.” [10] Dalam khotbah Natal di tahun 634, Sophronius mengumumkan bahwa “kita, karena melakukan dosa besar dan kesalahan serius, tidak melihat kemungkinan ini, dan sekarang kita dilarang masuk kota Betlehem. Bertentangan dengan harapan kita, kita sekarang dikurung tidak boleh meninggalkan di rumah, tubuh kita tidak tidak terikat, tapi kita terikat akan rasa takut terhadap kaum Sarasen.” Dia mengeluh bahwa “sama seperti kaum Filistin dulu, sekarang tentara Sarasen yang tak bertuhan menguasai kota suci Betlehem dan melarang kita masuk ke sana, mengancam mau membunuh dan menghancurkan jika kita meninggalkan kota suci ini dan berani mendekati kota Betlehem suci yang kita cintai.” [11]
[10] Sophronius, Ep. Synodica, Patrologia Greca 87, 3197D-3200A (dikutip di Hoyland, Seeing Islam, 69).
[11] Sophronius, Christmas Sermon, 506 (dikutip di Hoyland, Seeing Islam, 70).


Tak mengherankan jika orang Kristen abad 7 seperti Sophronius menyebut pihak penyerang sebagai orang² yang “tak bertuhan.” Bahkan jikalau para penyerang itu mengacung-acungkan kitab suci tuhan mereka sebagai pencipta tunggal apapun, Sophronius tetap saja menyangkal keberadaan tuhan para penyerang. Tapi anehnya, dalam tulisannya yang membara, dia tidak menyebut sama sekali tentang nama tuhan pihak penyerang, Nabi mereka, dan juga kitab suci mereka.

Dalam tulisannya tentang kaum “Sarasen,” Sophronius menerangkan bahwa mereka menghina salib dan doktrin Kristus dalam Kristen orthodox, tapi tidak sekalipun dia menyebut mereka sebagai “Muslim” dan tidak pernah menyebut tentang Muhammad, Qur’an, atau Islam. Dalam khotbahnya di bulan Desember tahun 636 atau 637, Sophronius berbicara panjang lebar tentang kebrutalan pihak penyerang, dan dalam hal ini dia menyinggung sedikit tentang kepercayaan mereka:

Tapi keadaan sekarang memaksa aku untuk berpikir berbeda tentang cara hidup kami, karena mengapa begitu banyak peperangan yang terjadi diantara kami? Mengapa begitu banyak orang barbar yang menyerang? Mengapa tentara Sarasen menyerang kami? Mengapa begitu banyak terjadi penghancuran dan penjarahan? Mengapa terjadi begitu banyak pertumpahan darah? Mengapa burung² di angkasa memakani tubuh² manusia?

Pihak penyerang tidak hanya buas tapi rupanya punya kebencian khusus pada agama Kristen:

Mengapa gereja² kami diruntuhkan? Mengapa salib² kami dihina? Mengapa Kristus, yang memberikan segala yang baik dan menyediakan sukacita bagi kami, dihujat oleh mulut² orang pagan (ethnikois tois stomasi) sehingga dia dengan tepat menangis pada kami : “Karena kamu maka namaku dihujat diantara kaum pagan,” dan inilah hal yang terjelek yang terjadi pada kami.

Khotbah Sophronius ini sesuai dengan sikap Islam yang menolak salib – penolakan yang juga ditulis di Qur’an, yang mengatakan bahwa orang Yahudi “tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya” (Q 4:157). Dan berbicara tentang orang² pagan yang menghina Kristus, Sophronius mungkin merujuk pada penyangkalan ketuhanan Yesus dan pengorbanannya – penyangkalan ini juga termasuk dalam doktrin Islam.

Sophronius melihat orang² Sarasen sebagai alat kemarahan Tuhan bagi orang² Kristen yang mulai berdosa, meskipun dia menyebut orang² Sarasen sebagai “pembenci Tuhan” dan “penentang Tuhan,” dan pemimpin mereka yang tak bernama sebagai “setan.” Tidaklah jelas apakah Sophronius merujuk pada setan yang sebenarnya atau pada Kalifah Umar, yang menaklukkan Yerusalem, atau pada Muhammad atau orang lain. Sophronius menyatakan:

Inilah sebabnya orang² Sarasen yang sarat dendam dan pembenci Tuhan, pembinasa yang keji yang dinubuatkan dengan jelas pada kita oleh para Nabi, menghancurkan tempat yang terlarang bagi mereka, menjarah kota, menghancurkan ladang, membakar desa², membakar gereja² suci, menghancurkan biara² suci, memerangi tentara² Byzantium, dan berperang sambil mengacungkan piala perang dan terus menambah kemenangan atas kemenangan. Terlebih lagi, mereka semakin bangkit melawan kita dan meningkatkan hujatan terhadap Kristus dan gereja, dan mengucapkan hujatan keji terhadap Tuhan. Para pelawan Tuhan itu membuat dapat mengalahkan segalanya, meniru pemimpin mereka, yakni si setan, dan menyamai kesombongannya yang menyebabkan dirinya dikeluarkan dari surga dan ditempatkan di tempat gelap. Tapi orang² keji ini tidak akan bisa melakkan hal ini atau tidak akan bisa jadi begitu kuat dalam melakukan semua kekacauan ini, jika saja kita tidak menolak anugerah pembaptisan dan penyucian, yang membuat Kristus sedih dan marah terhadap kita, meskipun dia baik dan tidak suka berbuat jahat, karena dia sumber kebaikan dan tidak ingin melihat keruntuhan dan kehancuran manusia. Kitalah yang bertanggungjawab atas semua ini dan tiada kata bagi pembelaan diri kita. Kata atau keterangan apa yang bisa membela diri kita jika kita mengambil semua pemberiannya pada kita, mengotori dan menajiskan semuanya dengan perbuatan kita yang jahat? [12]
[12] Sophronius, Holy Baptism, 162 (dikutip di Hoyland, Seeing Islam, 72-73).

Penjelasan kekerasan dan kebrutalan di atas jauh berbeda dengan berbagai tulisan tentang penaklukan Arabia terhadap Yerusalem yang sering kita dengar. Tulisan² itu menjelaskan Umar bertemu dengan Sophronius dan memperlakukannya dengan hormat, bahkan menolak sholat di Gereja Makam Suci agar umat Muslim tidka bisa merampas gereja dan mengubahnya menjadi mesjid. [13] Umar dan Sophronius membuat persetujuan yang melarang orang² Kristen membangun gereja² baru, menyandang senjata, atau naik kuda, dan mereka harus bayar pungutan jizya pada Muslim; tapi umumnya orang Kristen diperbolehkan beribadah dan relatif bisa hidup dengan damai. [14] Ini adalah struktur sah Islam bagi dhimmi (masyarakat kelas dua, yakni kafir), yang menolak persamaan hak bagi non-Muslim di negara Islam dan menindas dalam berbagai hal dalam standard modern, tapi di abad ke 7 dianggap masih bertoleransi.
[13] Steven Runciman, A History of the Crusaders, vol. 1 (Cambridge: Cambridge University Press, 1951), 3.
[14] Ibid., 1:4


Akan tetapi “Perjanjian Umar” ini diragukan kebenaran sejarahnya. [15] Keterangan tertulis tertua akan perjanjian ini ditulis oleh sejarawan Muslim bernama Tabari, yang wafat di tahun 923, tiga abad setelah pakta Umar dibuat. Menurut Tabari, Umar menulis pada propinsi² sekitar tentang bagaimana dia memperlakukan masyarakat Yerusalem yang baru ditaklukkannya:
[15] Dalam Pakta Umar, lihat tulisan Mark Cohen, “What Was the Pact of Umar? A Literary-Historical Study,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 23 (1999), 100-158.

Dalam nama Allah, yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Ini merupakan jaminan keamanan yang diberikan budak Allah, Umar, Komandan Umat yang Setia, bagi masyarakat Yerusalem. Dia telah memberi jaminan keamanan bagi mereka, bagi harta mereka, gereja mereka, salib mereka, orang sakit dan sehat di kota itu, dan semua ibadah agama mereka. Gereja² mereka tak akan diduduki Muslim dan tak akan dihancurkan. Mereka atau tanah mereka di mana mereka berpijak, atau salib² mereka atau kekayaan mereka tidak akan dirampas. Mereka tidak akan dipaksa berubah kepercayaan. Tiada Yahudi yang akan hidup dengan mereka di Yerusalem. Masyarakat Yerusalem harus bayar pungutan jizya sama seperti masyarakat lain di kota lain, dan mereka harus mengusir Byzantin dan para perampok. Bagi mereka yang meninggalkan kota, nyawa dan harta mereka akan tetap aman sampai mereka mencapai tempat yang terlindung; dan bagi mereka yang tinggal di kota, mereka akan aman. Mereka harus bayar jizya sama seperti masyarakat Yerusalem. Masyarakat Yerusalem yang ingin bergabung bersama Byzantin, yang mengambil harta mereka dan meninggalkan gereja² dan salib² mereka akan tetap aman sampai mencapai tempat yang terlindung … Jika mereka bayar jizya menurut kewajiban, maka isi surat ini di bawah persetujuan Allah, dan merupakan tanggungjawab Nabinya, kalifahnya, dan umatnya yang setia. [16]
[16] Muhammad ibn Jarir at-Tabari, The History of al-Tabari, vol. XII, “The Battle of al-Qadisiyyah and the Conquest of Syria and Palestine,” diterjemahkan oleh Yohanan Friedmann (Albany: State University of New York Press, 1992), 191-92.

Isi surat Umar yang ditulis Tabari sangatlah berbeda dengan tulisan Sophronius. Umar berjanji menjaga keutuhan gereja² dan mempersilakan umat Kristen bepergian dengan bebas dan bahkan boleh membawa harta mereka dan meninggalkan rumah mereka, meskipun dia tidak begitu toleran karena melarang kaum Yahudi tinggal di Yerusalem. Sebaliknya, Sophronius menangisi penghancuran gereja² dan pelarangan terhadap umat Kristen untuk bepergian. Perbedaan paling jelas adalah surat Umar diawali dengan pernyataan iman Islam dengan menyebut Allah sebagai Maha Pengampun dan Penyayang, dan menyebut pula Nabi Allah. Sebaliknya, keterangan Sophronius yang ditulis saat Umar menaklukkan Yerusalem, tidak menunjukkan apapun bahwa tentara Arab memiliki nabi dan tidak menyebut mereka sebagai Muslim.

Orang² Arab Pagan?

PostPosted: Tue May 01, 2012 10:51 am
by Adadeh
Orang² Arab Pagan?

Arabia sebelum jaman Muhammad adalah daerah pagan; orang² Arab dulu merupakan polytheis (penyembah banyak tuhan). Islam sudah tentu mengakhiri semua ini. Muhammad, menurut keterangan umum, menyatukan dan mengIslamkan Arabia. Tak lama setelah kematiannya, sebagian masyarakat Arab memberontak, mengakibatkan terjadinya Perang Ridda (Perang Murtad) di tahun 632 dan 633, tapi kaum Muslim menang dalam peperangan ini. Orang² Arab polytheis dan pagan dengan cepat hilang dan hanya menjadi catatan sejarah saja.

Akan tetapi, lagi² keterangan fakta sejarah menunjukkan hal yang sangat berbeda. Di tahun 676, sinode Nestoria mengumumkan pada umat Kristen Syria di “pulau di selatan” – yakni Arabia – bahwa “wanita² yang pernah percaya pada Kristus dan ingin hidup dalam cara hidup Kristen harus berusaha sebaik mungkin untuk tidak bersatu bersama orang² pagan [hanpe]. … Wanita² Kristen harus sepenuhnya menghindari hidup bersama orang² pagan.” [17]
[17] Dikutip di J.B. Chabot, terjemahan dan editor, Synodicon Orientale, 3 volume (Paris: Imprimerie Nationale, 1902), text Syria, 1:224, terjemahan Perancis, 2:488 (dikutip oleh Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 218).

Banyak penulis Kristen kemudian yang merujuk pada Muslim sebagai kaum pagan, dan sebagian sejarawan telah menganggap hal sebagai contoh penggunaan istilah pagan. Meskipun begitu, terdapat indikasi kuat bahwa ketika para penulis Kristen di abad 7 merujuk pada kata “umat pagan,” mereka memang benar² merujuk pada umat pagan dan bukan umat Muslim. Sinoda Nestoria menentukan bahwa “mereka yang terdaftar sebagai umat yang setia harus menjauhkan diri dari kebiasaan pagan mengambil dua istri.” Islam tentu saja mengijikan Muslim memiliki sampai 4 istri, dan juga budak² wanita sebagai gundik (Q 4:3). Perintah sinoda/gereja ini tampaknya tidak berhubungan dengan poligami Islam – tapi pada kebiasaan poligami pagan. Sebagai tambahan, sinoda memerintahkan langsung bahwa “jenazah Kristen harus dikubur berdasarkan aturan Kristen, dan bukan aturan pagan. Sudah jadi aturan pagan untuk membungkus jenazah dengan hiasan dan pakaian mewah, dan untuk menangisi keras² orang yang wafat. Orang² Kristen tidak diijinkan untuk mengubur jenazah yang dibungkus kain sutra atau baju mewah.” [18] Keterangan ini tak ada hubungannya dengan Islam, yang memang tidak mengijinkan penguburan mayat dengan memakai baju mewah, kain sutra, dan menangisi jenazah keras².
[18] Dikutip di Chabot, Synodicon Orientale, Syriac text, vol. 1, 224, terjemahan bahasa Perancis, 2:488, Sinoda Nestoria, 676 SM, Canon 16 (dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 219).

Dengan begitu, sinoda Nestoria tampaknya memang membicarakan orang² pagan sebenarnya, empat puluh tahun setelah kaum pagan seharusnya, berdasarkan keterangan literatur Islam, telah lenyap dari Arabia.

Indikasi lain datang dari Athanasius II, kepala monofisit (Kristen yang mengutamakan keesaan Tuhan) dari Antiokhia (683-686), kota di Syria yang merupakan daerah keempat terpenting dari kerajaan Kristen. Athanasius mengeluh bahwa orang² Kristen “mengambil bagian dalam perayaan umat pagan” dan “sebagian wanita Kristen bersatu dengan kaum pagan.” Dia menjabarkan kegiatan perayaan yang memang bagian dari kepercayaan pagan dan bukan Islam: “Singkatnya, mereka semua makan, tanpa membedakan apapun korban binatang persembahan pagan, dengan begitu melupakan aturan dan nasihat para Rasul … untuk menolak percabulan, daging dari binatang yang dicekik, darah dan makanan korban binatang kaum pagan.” [19]
[19] Dikutip di F.M. Nau, “Literature Canonique Syriaque Ineditee,” Ruveu de l’Orient Chretien 14 (1909): 128-30 (dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 217).

Larangan ini berhubungan dengan perintah Rasul pada umat non-Yahudi Kristen yang baru saja meninggalkan kepercayaan pagan mereka agar “mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.” (Kisah Para Rasul 15:20), tapi Athanasius tidak mengatakan peringatan karena mereka melakukan semua ini. Tampaknya yang dikhawatirkannya adalah umat pagan melakukan salah satu dari praktek² tersebut, seperti yang lalu dijelaskan Athanasius: “Nasehati mereka, peringatkan mereka, tegur mereka, dan terutama kaum wanita agar tidak bersatu dengan pria semacam mereka, agar mereka menjauhi diri dari makanan korban binatang, yang dicekik, dan berasal dari jemaat terlarang.” [20]
[20] Dikutip di Nau, “Litterature Canonique Syriaque Ineditee,” 128-30 (dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 217-18).

Umat Muslim memang mengorbankan binatang setahun sekali, di perayaan Idul Adha, sebagai tanda akhir ibadah haji di Mekah; akan tetapi mereka tidak mencekik binatang untuk dikurbankan. Dengan begitu, Athanasius tidak membicarakan tentang Idul Adha, tapi ucapara kurban umat pagan di tempat tertentu, yang menurut sejarah Muslim seharusnya Islam telah menghapus umat pagan lima puluh tahun sebelumnya.

Kemungkinan pihak penakluk Arabia itu sendiri adalah lebih pagan daripada Muslim – ini bukan karena mereka baru saja memeluk Islam dan masih mempertahankan kebiasaan ibadah pagan mereka, tapi karena Islam sebenarnya tidak ada. [21] Terlepas apakah Islam saat itu sudah atau belum ada, literatur sejarah masa tersebut menunjukkan bahwa tiada satu pun orang Arab atau masyarakat yang ditaklukkan Arab saat itu yang menyebut apapun tentang Islam.
[21] Untuk melihat ini dari sudut pandang yang berbeda, lihat Fred M. Donner, Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam (Cambridge, MA: The Belknap Press of Harvard University Press, 2010).


Tak Ada Orang Muslim

Di tahun 639 ketua Kristen Monofisit yakni John I Antioch mengadakan musyawarah dengan komandan tentara Arab yakni Amr ibn al-As; pertemuan ini ditulis di naskah di tahun 874. [22] Dalam naskah ini penulis menyebut orang² Arab tidak sebagai Muslim tapi sebagai “Hagarin” (mhaggraye) – yang berarti orang² Hagar, gundiknya Muhammad dan ibunya Ishmael. Tokoh dari Arab itu tidak percaya ketuhanan Kristus, dan ini sesuai dengan ajaran Islam, tapi kedua belah pihak tidak menyebut apapun tentang Qur’an, Islam, dan Muhammad. [23]
[23] Alphonse Mingana, “The Transmission of the Koran,” di buku Ibn Warraq, ed., The Origins of the Koran (Amherst, NY: Prometheus, 1998), 105.

Image
John I Antioch

Hal yang sama juga terjadi pada tahun 647 ketika Ishoyahb III, pemimpin Kristen di Seleucia, menulis surat tentang “Tayyaye” dan “Hagarin Arab” yang “tidak menolong mereka yang sengsara dan mati terhadap Tuhan, sang Pencipta segalanya.” [24] Dengan kata lain, umat Hagarin menolak ketuhanan Kristus. Surat ini juga tidak menyebutkan apapun tentang Muslim, Islam, Qur’an, atau Muhammad sang Nabi Islam. Surat Ishoyahb seusai dengan perbedaan pandangan 8 tahaun sebelumnya dengan mengatakan bahwa penjajah Arabia tidak mengakui ketuhanan Yesus, tapi tidak menyebut doktrin kepercayaan apapun yang dibawa orang² Arab ke tanah jajahan mereka yang baru.
[24] Duval, ed., Corp. Script. Christ. Orient, tomus LXIV, 97 (dikutip di Mingana, “The Transmission of the Koran,” 106).

Ketika sumber² literatur awal non-Muslim menyebut tentang Muhammad, tulisan mereka, sama seperti Doctrina Jacobi, berbeda dalam menerangkan berbagai hal penting dengan kisah standard Islam. Naskah yang ditulis uskup Armeina Sebeos di tahun 660-an atau 670-an menggambarkan “Mahmet” sebagai seorang pedagang dan pendakwah dari masyarakat Ishmaelit yang mengajarkan pengikutnya untuk menyembah satu Tuhan saja, yakni Tuhannya Abraham. Keterangan itu masih sesuai dengan Islam, tampaknya Mahmet ini adalah sang Nabi Islam. Akan tetapi tulisan Sebeos lainnya tidak menunjukkan tradisi Islam apapun. Naskah Sebeos dimulai dari kisah pertemuan antara pengungsi Yahudi dan kaum Ishmaelit di Arabia, setelah Byzantium menaklukkan kembali Edessa di tahun 628:

Mereka pergi ke gurun pasir dan datang ke Arabia, diantara para anak Ishmael; mereka meminta bantuan, dan menerangkan bahwa mereka merupakan saudara berdasarkan keterangan dari Alkitab. Meskipun mereka (kaum Ishmaelit) siap menerima hubungan persaudaraan yang dekat ini, mereka (kaum Yahudi) tidak merasa yakin, karena aliran kepercayaan mereka berbeda.

Pada saat itu terdapat seorang Ishmaelit bernama Mahmet, seorang pedagang; dia memperkenalkan diri pada mereka bahwa dia ditunjuk Tuhan sebagai pendakwah, sebagai jalan kebenaran, dan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya Abraham, karena dia sangat berpengetahuan, dan sangat mengenal kisah² Musa. Karena peritnahnya datang dari Tuhan, maka mereka semua bersatu di bawah perintah satu orang, satu hukum, dan meninggalkan aliran kepercayaan sesat, kembali pada Tuhan yang hidup yang telah memperkenalkan diri pada ayah mereka yakni Abraham. Mahmet melarang mereka untuk makan bangkai binatang, minum anggur, berbohong dan berzinah. Dia menambahkan: “Tuhan telah menjanjikan tanah ini bagi Abraham dan kemakmurannya baginya untuk selamanya; dia berlaku sesuai dengan janjiNya karena dia mencintai Israel. Kalian adalah putra² Abraham dan Tuhan memenuhi dalam dirimu janji yang dibuatnya dulu pada Abraham dan kemakmurannya. Hanya cinta pada Tuhan Abraham saja, pergi dan ambil kekayaan negerimu yang telah Tuhan berikan pada ayahmu Abraham, dan tiada orang yang mampu menahan kalian dalam peperangan, karena Tuhan bersamamu.”

Lalu mereka berkumpul bersama dari Havilah sampai ke Shur dan sebelum mencapai Mesir [Kejadian 25:18]; mereka keluar dari gurun Pharan terbagi dalam 12 suku sesuai dengan urutan kepemimpinan mereka. Mereka membagi 12.000 orang Israel, seribu orang per suku, untuk membawa mereka masuk ke Israel. Mereka keluar, perkemahan demi perkemahan, sesuai dengan urutan keturunan mereka: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Mishma, Dumah, Massa, Hadar, Tema, Jetur, Nafish, dan Kedma. [Kejadian 25:13-15]. Inilah suku² Ishmael … Sisa² bangsa Israel datang untuk bergabung bersama mereka, dan mendirikan pasukan yang kuat. Lalu mereka mengirim utusan kepada Kaisar Yunani, dengan pesan: “Tuhan telah memberikan tanah ini sebagai warisan pada ayah kami Abraham dan kemakmurannya; kami adalah keturunan Abraham; kau telah menjajah negera kami cukup lama; serahkan kembali kepada kami dengan damai, dan kami tak akan menyerang daerahmu; jika tidak, maka kami akan mengambil kembali dengan bunga yang telah kau ambil.”
[25]
[25] Sebeos, Histoire d’Heraclius par l’Efeque Sebeos, terjemahan Frederic Macler (Paris: 1904), 94-96 (dikutip di Patricia Crone dan Michael Cook, Hagarism: The Making of the Islamic World [Cambridge: Cambridge University Press, 1977], 6-7).

Sungguh luarbiasa bahwasanya salah satu tulisan tertua tentang Muhammad sebagai nabi malahan mengandung keterangan terperinci bahwa dia bersikeras mempertahankan hak bangsa Yahudi akan Tanah Suci – meskipun dalam konteks merebut tanah bagi umat Ismaelit, yang bekerja sama dengan bangsa Yahudi. Banyak keterangan hadis yang menunjukkan Muhammad mengaku sebagai nabi keturunan Yahudi dan menganut aturan ibadah Yahudi bagi umatnya. Dia juga pernah menyuruh Muslim sholat berkiblat ke Yerusalem, sebelum Allah mewahyukan bahwa mereka harus berkiblat ke Mekah. Anehnya, surat ini tidak menunjukkan indikasi permusuhan apapun terhadap bangsa Yahudi, padahal permusuhan terhadap Yahudi merupakan karakter Muhammad dan Muslim; Qur’an menyebut Yahudi sebagai musuh Muslim yang terjahat (Q 5:82).

Tentu saja surat dari Sebeos bukanlah surat berisi keterangan sejarah akurat. Tidak ada catatan sejarah yang menulis bahwa 12.000 Yahudi bekerja sama dengan orang² Arab untuk menyerang daerah kekuasaan Byzantium. Meskipun begitu, surat ini merupakan catatan pertama yang menyebut tentang Muhammad, dan sesuai dengan hadis Islam dalam menggambarkan Muhammad sebagai pedagang dan dalam bersekutu dengan Yahudi, setidaknya sekali dalam karirnya. Tapi dari tulisan Sebeo ini terdapat kesan bahwa di tahun 660-an, Muslim dan Yahudi merupakan bangsa yang bersaudara secara spiritual dan merupakan sekutu politik.

Jika surat ini menerangkan kejadian sejarah, sudah jelas bahwa bangsa Yahudi yang bersekutu dengan bangsa Arab tidak melakukannya seperti “hubungan Muslim-Yahudi” di jaman sekarang. Surat itu tak menyebut apapun tentang Muslim dan Islam. Seperti yang sudah dijelaskan, naskah² dari bangsa² di daerah jajahan Arab menyebut bangsa Arab sebagai orang² “Hagarian,” “Saresen,” atau “Taiyaye.” Bangsa Arab penjajah menyebut diri mereka sebagai Muhajirun, artinya “kaum imigran” – istilah yang akhirnya menjadi penting dalam Islam tapi di saat itu tak ada penjelasan atau sebutan Islam apapun. Penulis² berbahasa Yunani kadangkala menyebut penjajah Arab sebagai “Magaritai,” yang merupakan kata lain dari Muhajirun. Tapi yang terus-menerus tak disebut oleh bangsa yang dijajah Arab adalah julukan bagi penjajah Arab yakni “Muslim.” [26]
[26] Lihat Donner, Muhammad and the Believers.

Sebeos juga mencatat keterangan bahwa Muawiya, penguasa Syria dan kalifah selanjutnya, menulis surat kepada Kaisar Byzantium yakni Konstantin “Yang Berjenggot” di tahun 641. Surat itu meminta Konstantin untuk meninggalkan agama Kristen – dan tidak beralih memeluk Islam tapi menganut kepercayaan monotheisme Abraham:

Jika kau berharap untuk bisa hidup damai … tinggalkan kepercayaanmu yang sia², yang kau peluk sejak masih kanak². Tinggalkan Yesus dan sembahlah Tuhan yang kusembah, Tuhan ayah kami Abraham… Jika tidak, bagaimana Yesus ini yang kau panggil sebagai Kristus, yang tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari bangsa Yahudi, bisa mampu menyelamatkanmu dari tanganku?” [27]
[27] Dikutip di Sebeos, Histoire, 139-40 (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 229).

Dari surat di atas, sudah jelas tampak penolakan Islam terhadap Yesus, tapi sekali lagi, tak ada sebutan apapun tentang Muhammad, Qur’an, dan Islam. Ajakan Muawiya pada Konstantin untuk memeluk agama “Tuhan dari ayah kami Abraham” mengingatkan pada rumusan iman semu Islam: “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya" (Q 2:136). Tapi pasal Qur’an ini tidak menyebut turunnya wahyu baru yang katanya disampaikan pada Nabi yang melafalkan Qur’an, yang disebut membenarkan pesan yang dibawa para nabi sebelumnya.

Sangat aneh bahwasanya Sebeos tidak menyebut hubungan pedagang Ishmaelit bernama Mahmet dalam surat Muawiya; mungkin pemimpin Arab misterius ini saat itu belum menjadi pemimpin utama agama Abraham dan di kemudian hari dia berhasil mencapai kedudukan tersebut.

Jadi tulisan² sejarah tertua menggambarkan bangsa Arab monotheis, kadangkala menyebut nabi bernama Muhammad yang mengaku beragama sesuai dengan agama Abraham, tapi tak ada penjelasan lebih jauh. Naskah non-Muslim tak bernama di tahun 680 menyebut Muhammad sebagai pemimpin “putra² Ishmael,” yang dikirim Tuhan untuk melawan bangsa Persia “bagaikan pasir di pantai.” Dia menyebut tentang Ka’bah – tempat keramat berbentuk kotak di Mekah – sebagai pusat ibadah bangsa Arab, yang mengaku bahwa Abraham adalah “bapak suku mereka.” Tapi tak ada keterangan tentang ajaran Muhammad, dan sama seperti naskah² tua lainnya, dia tak pernah menyebut Qur’an atau menggunakan kata Muslim atau Islam. [28]
[28] Chronica Minora, tomus IV, 30, 38, di Duval, ed., Corp. Script. Christ. Orient (dikutip di Mingana, “The Transmission of the Koran,” 106-7).

Sepuluh tahun berikutnya, di tahun 690, sejarawan Kristen Nestoria bernama John bar Penkaye menulis kekuasaan Muhammad dan kebrutalan orang² Arab dalam memaksakan kekuasaan itu, tapi dia tak menyebut apapun tentang kitab suci para penjajah Arab. Dia juga menerangkan tentang agama baru yang dianut bangsa Arab, dan praktek agama ini lebih dekat ke Yudaisme dan Kristen daripada Islam yang akhirnya terbentuk:

Orang² Arab … memiliki perintah tertentu dari pemimpin mereka, dan memihak orang² Kristen dan para biarawan; di bawah pimpinan orang ini, mereka menyembah satu Tuhan, sesuai dengan aturan Perjanjian Lama; awalnya mereka sangat terikat dengan tradisi Muhammad yang merupakan guru mereka, sedemikian rupa sehingga mereka akan menyakiti sampai mati siapapun yang berbeda pendapat dengan tradisinya … Diantara mereka terdapat banyak orang Kristen, sebagian bid’ah, dan sebagian lagi berasal dari kami. [29]
[29] Dikutip di Alphonse Mingana, Sources Syriaques, vol. 1, pt. 2, 146ff. (dikutip di Mingana, “The Transmission of the Koran,” 107).

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Tue May 01, 2012 11:49 am
by angky
numpang ngopi ahhh

Penyebutan istilah “Muslim” yang Pertama Kali?

PostPosted: Tue May 08, 2012 10:14 am
by Adadeh
Penyebutan istilah “Muslim” yang Pertama Kali?

Juga di tahun 690-an, seorang uskup Kristen Koptik bernama John dari Nikiou menyebut istilah Muslim untuk pertama kali.

Dan sekarang banyak orang² Mesir yang Kristen bid’ah menolak iman Kristen orthodox suci dan anugrah pembaptisan, dan memilih memeluk agama kaum Muslim, musuh Tuhan, dan menerima doktrin binatang yang memuakkan, yakni doktrin Muhammad, dan mereka bergabung bersama para pagan, dan mengambil senjata untuk memerangi orang² Kristen. Dan salah satu dari mereka … memeluk Islam … dan menindas orang² Kristen. [30]
[30] The Chronicle of John (c. 690 A.D.) Coptic Bishop of Nikiu, terjemahan dan edit oleh Robert H. Church (London: 1916; dicetak ulang oleh Philo Press), bab 121, hal. 10-11, 201 (dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 233).

Akan tetapi, tampaknya tulisan ini bukanlah tulisan asli Jon Nikiou. Naskah ini merupakan naskah Ethiopik satu²nya yang diterjemahkan dari bahasa Arab, pada tahun 1602. Naskah bahasa Arabnya sendiri merupakan terjemahan dari naskah terdahulu dalam bahasa Yunani atau bahasa lainnya. Tak ada naskah lainnya yang menggunakan nama Muslim dan Islam baik oleh orang² Arab maupun masyarakat yang dijajah orang Arab di tahun 690-an, selain dari prasasti di mesjid Kubah Batu (Dome of Rock), dan itu pun mengundang banyak pertanyaan yang akan dibahas di bab berikut. Dengan begitu, tampaknya John Nikou menggunakan sebutan lain bagi para penjajah Arab – kemungkinan adalah Hagarian, Sarasen, Ismaelit – dan penerjemah lalu menerjemahkannya sebagai Muslim. [31]
[31] Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 234.

Jika julukan Muslim memang sudah digunakan di tahun 690-an, maka julukan ini tidak begitu luas dipakai seperti julukan Hagarian, Sarasen, Muhajirun, dan Ishmaelit. Di tahun 708, penulis Kristen bernama Jacob dari Edessa masih menyebut bangsa Arab sebagai Mahgraye – yakni kata Syria bagi Mujahirun atau “kaum imigran”:

Bahwa sang Mesiah merupakan keturunan Daud, diakui oleh kaum Yahudi, Mahgraye, dan Kristen … Kaum Mahgraye juga mengakui meskipun mereka tidak mau mengatakan bahwa sang Mesiah sejati, yang telah datang dan yang diakui umat Kristen, adalah Tuhan dan Putra Tuhan, meskipun demikian mereka mengakui bahwa dialah Mesiah sejati yang nanti akan datang lagi … [Tapi] mereka tidak memanggil sang Mesiah sebagai Tuhan atau Putra Tuhan. [32]
[32] F.Nau, “Lettre de Jacques d’Edesse sur la genealogie de la sainte Vierge,” Revue de l’Orient Chretien (1901): 518-23 (dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 235).

Tulisan Jacob ini menunjukkan bahwa di dekade pertama abad ke 8 M, kaum Muhajirun terkenal mengakui Yesus, tapi menyangkal ketuhanannya – dan ini sama dengan penjelasan tentang Yesus (Isa) dalam Qur’an, sebagai nabi Islam tapi bukan Tuhan.


John dari Damaskus tentang kaum Hagarian, Ishmaelit, atau Sarasen

Di sekitar tahun 730, ahli agama Kristen terkenal yakni John dari Damaskus menerbitkan tulisan berjudul On the Heresies (Tentang Kaum Bid’ah/Sesat), yang merupakan koleksi ajaran Kristen versi orthodox Byzantium. Dia menulis satu bab tentang keanehan agama baru yang dianut orang² Arab yang disebutnya dengan tiga nama: Hagarian, Ishmaelit, dan Sarasen. John menulis tentang “nabi palsu” bernama Muhammad (Mamed), yang “kebetulan membaca Alkitab Perjanjian Lama dan Baru dan rupanya dia telah berbicara dengan seorang biarawan Aria, lalu mengarang sendiri ajaran bid’ahnya. Dan setelah berdalih mengajarkan kerohaniawan, dia mulai menyebarkan kabar angin bahwa sebuah kitab suci diturunkan dari surga baginya. Maka, setelah menulis doktrin² menggelikan di bukunya, dia menyerahkan buku ini pada para pengikutnya sebagai tatacara ibadah.” [33]
[33] John dari Damaskus, De haeresibus C/CI, 60-61 (= Patrologia Greca 94, 764A-765A) (dikutip dalam Hoyland, Seeing Islam, 486).

John menerangkan dengan jelas kepercayaan bangsa Sarasen yang berhubungan dengan doktrin Islam – terutama pada pertentangannya dengan Kristen. “Mereka menyebut kami,” tulisnya, “sebagai para penyekutu, karena menurut mereka kami mempersekutukan Tuhan karena menyebut Kristus sebagai Putra Tuhan dan Tuhan … Mereka menuduh kami sebagai kaum pagan karena kami bersujud di depan salib, yang mereka sangat benci.” Dia juga menulis hal lain yang berhubungan dengan praktek ibadah Islam: “Dan kami katakan pada mereka, ‘Bagaimana dengan kalian sendiri yang menggosokkan diri pada sebuah batu di Ka’bah (Chabatha) kalian dan memuliakan batu dengan ciuman penuh sayang?’ [34]
[34] Ibid., 63-64 (= Patrologia Greca 94, 765C-769B) (dikutip dalam Hoyland, Seeing Islam, 486-87).

John lagi² menunjukkan persamaan dengan sebagian isi Qur’an, meskipun tanpa sebutan nama Sura. Sura “Wanita” merupakan Sura keempat dalam Qur’an, dan John menulis: “Muhammad ini, seperti yang telah kusebut, menyusun berbagai cerita ngawur, dan setiap cerita dia beri nama, seperti pada tulisan tentang Wanita, di mana dia dengan jelas mengijinkan beristri empat wanita dan seribu gundik, jika memang mungkin.” Sura ini memang menyebut lelaki boleh memiliki empat istri dan juga berhubungan sex dengan budak² wanita, “yang dimiliki tangan kanan” (Q 4:3), meskipun tidak dengan jelas menyebut seribu atau angka apapun. John mungkin hanya melebihkan angka tersebut untuk menjelaskan tiadanya batas jumlah gundik yang boleh dimiliki.

John juga menyebut “teks/tulisan tentang Onta dari Tuhan, di mana dia (Muhammad) berkata bahwa ada seekor onta yang dikirim Tuhan” – kisah ini muncul dua kali dalam Qur’an, yakni di Q 7:77, 91:11-14. Lebih jauh lagi, John menulis bahwa “Muhammad menyebut tentang teks Meja,” kisah yang berasal dari Eukharis Kristen yang tercantum dalam Qur’an 5:112-115, dan “teks tentang Onta,” yang merupakan nama Sura kedua dalam Qur’an, “dan beberapa hal yang **** dan ngawur di dalamnya, karena jumlahnya, aku lebih tak membacanya saja.” [35]
[35] Ibid., 63-64 (= Patrologia Greca 94, 769B-772D) (dikutip dalam Hoyland, Seeing Islam, 487).

John menunjukkan pengetahuan lengkap akan ajaran Qur’an akan Yesus/Isa, yang ditulis Muhammad. Perhatikan bahwa keterangan di dalam tanda kurung di bawah telah ditambahkan oleh penerjemah, sebagian besar adalah ayat² Qur’an, dan bukan tulisan asli John. John menulis:

Dia [yakni Muhammad] berkata bahwa Kristus adalah Firman Tuhan dan Roh Tuhan [Qur’an 9:171], diciptakan [3:59] dan pelayan Tuhan [4:172, 9:30, 43:59], dan dia lahir dari Maryam [3:45 dan Isa ibn Maryam], saudara perempuan Musa dan Harun [19:28], tanpa sperma [3:47, 19:20, 21:91, 66:12]. Karena, katanya, Firman Tuhan dan Roh Tuhan masuk ke dalam Maryam [19:17, 21:91, 66:12] dan Maryam lalu melahirkan Yesus, yang adalah seorang Nabi [9:30, 33:7] dan pelayan Tuhan. Dan [dia berkata] bahwa orang² Yahudi melawan hukum dan ingin menyalibnya, tapi saat mereka menangkapnya, mereka [hanya] bisa menyalibkan bayangannya; Kristus sendiri tidaklah disalib, katanya, dan dia tak mati [4:157]. Karena Tuhan mengangkatnya ke surga untuk jadi bersamaNya … Dan Tuhan bertanya padanya: “Yesus, apakah kau berkata bahwa ‘Aku adalah Putra Tuhan dan Tuhan’?” Dan Yesus menjawab, “Ampuni aku, Tuhan, Kau tahu bahwa aku tidak mengatakan begitu” [5:116]. [36]
[36] Ibid., 61 (= Patrologia Greca 94, 765A-B) (dikutip dalam Hoyland, Seeing Islam, 488-89).

Ini merupakan kesimpulan lengkap akan ajaran Qur’an tentang Yesus, tapi harap ingat bahwa ayat² Qur’an di atas merupakan sisipan dari pihak penerjemah ke bahasa Inggris; John sendiri tidak mengutip Sura dan ayat, dan kesimpulannya mengandung sedikit perbedaan dengan isi Qur’an sekarang. Contohnya, di Q 5:116, Allah tidak bertanya pada Yesus apakah dia menyebut dirinya sendiri sebagai Putra Tuhan dan Tuhan, tapi Allah bertanya, “"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’” Dan Yesus tidak menjawab: “Ampuni aku, Tuhan, Kau tahu bahwa aku tidak mengatakan begitu,” tapi menjawab begini: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”

Perbedaan ini, dan juga fakta bahwa John tidak menerangkan keterangan penting Qur’an tentang Yesus yang seharusnya merupakan keterangan menarik baginya sebagai ahli agama Kristen (terutama tentang nubuat Yesus tentang kedatangan Muhammad di 61:6), menunjukkan kemungkinan bahwa John mengetahui Qur’an bukan dari membacar Qur’an versi jaman modern tapi dari keterangan oral atau tulisan yang kemudian dimasukkan ke dalam Qur’an.

Alasan lain yang menunjukkan bahwa John tidak membaca buku Qur’an di hadapannya adalah karena dia tidak pernah menyebut nama buku tersebut. Dia hanya menyebut “tulisan² tentang Wanita” dan “tulisan tentang Onta dari Tuhan” dan “tulisan tentang Sapi” yang merupakan dokumen² yang terpisah dan bukan kumpulan satu buku. “Wanita-wanita” (dan bukan singular “Wanita” seperti yang disebut John) dan “Sang Sapi” merupakan nama dua Sura Qur’an yang keempat dan kedua; sedangkan “Onta dari Tuhan” bukanlah judul Sura apapun. Tampaknya John mendengar keterangan ini dari kaum Hagarian yang bertemu dengannya, dan bukan membaca dari keterangan tertulis, atau setidaknya bukan tulisan dalam buku Qur’an yang kita kenal sekarang.

Kemungkinan lain adalah John memang tidak tepat dalam mengutip. Tapi bagaimana pun juga, John telah menyampaikan keterangan yang lebih lengkap dan lebih tepat akan ajaran Islam yang sebenarnya daripada semua tulisan² para non-Muslim sebelumnya yang menyusun keterangan tentang agama bangsa Arab yang menjajah mereka. Tapi perlu diingat bahwa tulisan John ini dibuat sekitar seabad setelah Qur’an katanya diterbitkan dan Islam katanya terwujud.

Sampai di jaman John yang hampir seratus tahun setelah kematian Muhammad, sosok sang Nabi Islam ini tetap saja tak jelas. Keterangan tentang Muhammad yang menerima wahyu dari Allah untuk menyusun Qur’an, yang hidup dan berkarir berdasarkan “keterangan sejarah yang sangat jelas,” ternyata baru muncul beberapa puluh tahun kemudian.

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Wed May 09, 2012 10:01 pm
by anne
Bukunya bagus. Terimakasih banget bisa ikutan baca...



[youtube]gIOzJnBL33c&feature=related[/youtube]

Bab 2 - Yesus, Sang Muhammad

PostPosted: Thu May 10, 2012 1:01 pm
by Adadeh
Bab 2
Yesus, Sang Muhammad


Muhammad: Muncul Terlambat di Tempat Kejadian

Catatan² sejarah non-Muslim yant ditulis di jaman awal penjajahan Arab tidak pernah menyebut tentang Qur’an, Islam, Muslim, dan hanya sedikit sekali menyebut tentang Muhammad.

Catatan sejarah Islam yang ditulis Muslim di jaman itu juga tidak mencantumkan keterangan tersebut. Dikabarkan bahwa para penjajah Arab yang menyerbu di Afrika Utara di tahun 650-an dan 660-an dan mengepung Konstantinopel di tahun 670-an, disulut semangatnya oleh Qur’an dan ajaran dan perbuatan Muhammad. Tapi tak pernah disebutkan bahwa Qur’an dan Muhammad merupakan inspirasi utama serangan Arab. Referensi ayat² Qur’an dan Islam tidak muncul sampai di akhir abad ke 7 M, dan saat para penjajah Arab menyebut tentang Muhammad, yang mereka sampaikan ternyata adalah sosok yang sangat berbeda dengan yang disebut dalam Islam.

Contohnya, di tahun 677 atau 678, saat pemerintahan kalifah Umayyad yang pertama yakni kalifah Muawiya (661-680), sebuah bendungan dibuat sebagai peringatan di dekat Ta’if di Arabia. (Bani Umayyad merupakan dinasti yang memimpin daerah Timur Dekat dari tengah abad 7 – tengah abad 8.) Prasasti di bendungan itu berkata:

Bendungan ini adalah milik Pelayan Tuhan yakni Muawiya, Pemimpin Umat yang Setia. Abdullah bn Sazr [1] membangunnya dengan ijin Tuhan di tahun 58.
Allah! Ampuni Pelayan Tuhan Muawiya,
Pemimpin Umat yang Setia, teguhkan kedudukannya dan tolong dia dan biarkan umatnya yang setia bersukacita dalam dirinya. Amr bn Habbab/Jnab menulis ini.
[2]
[1] X mewakili huruf Arab خ yang berbunyi kh.
[2] Dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 409.


Muawiya adalah “Pemimpin Umat yang Setia,” tapi tidak dijelaskan bagaimana sifat dasar kepercayaannya, selain percaya pada Allah. Tiada sedikit pun petunjuk tentang budaya agama Islam yang tersirat dalam prasasti² resmi serupa di jaman itu. [3] Tidaklah jelas apa sebenarnya yang diimani Muawiya, dan tidak pula tampak bahwa dia percaya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah dan Qur’an adalah buku dari Allah bagi umat manusia yang diturunkan melalui seorang Nabi.
[3] Bandingkan ini dengan prasasti di mesjid di Medina, tahun 752 (dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 421):
Dalam nama Allah, yang Maha Pengampun, Maha Penyayang! Tiada tuhan selain Allah saja, Dia tidak punya sarik (sekutu).
Muhammad adalah pelayan Allah dan rasulNya.
Dia yang mengirim rasulNya dengan Bimbingan dan agama Kebenaran, sehingga agama ini akan menang di atas semua agama lain, bahkan di hadapan muka kebencian kaum musrikun (pagan)!
Rasul Allah, Pemimpin Kaum yang Setia, telah memerintahkan untuk takut pada Allah dan tunduk padaNya dengan cara berbuat sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Nabi …


Prasasti resmi yang sama di saluran bendungan di Fustat, Mesir, yang dibangun di tahun 688 menunjukkan keterangan ini: “Ini adalah kubah di mana Abd al-Aziz bn Marwan, sang Emir, memerintahkan untuk dibangun. Allah! Berkati dia dalam segala perbuatannya, tegakkan kekuasaannya seperti yang Kau kehendaki, dan puaskan dia dengan dirinya dan rumah tangganya, Amen! Sa’d Abu Uthman membangun ini dan Abd ar-Rahman menulis ini di bulan Safar di tahun 69.” [4] Lagi² prasasti tua ini tak menyebut tentang Muhammad, Qur’an, atau Islam.
[4] Dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 411.

Salah satu bukti sejarah terbaik yang tentang pihak penjajah terdapat pada uang² logam yang mereka buat. Uang² logam mengandung keputusan resmi dan prasasti yang mencerminkan prinsip² dasar politik pemerintah yang membuat uang logam itu. Di jaman Islam modern, sukar untuk menemukan benda resmi pemerintah yang tidak menyebut tentang Islam, Muhammad, dan Qur’an. Misalnya, kalimat syahadah tercantum pada bendera Saudi Arabia. Uang² logam modern di seluruh dunia Islam mengandung unsur² Islam. Aspek yang paling jelas dan paling dibanggakan oleh dunia Islam adalah penampilan unsur² Islam itu sendiri. Tapi di jaman awal Islam, ternyata justru unsur² Islam inilah yang tidak ditemukan.

Uang² logam tertua yang dicetak oleh para penjajah Arab mengandung perkataan bism Allah, yang artinya adalah “dalam nama Allah.” Allah adalah kata Arab bagi Tuhan, dan kata Allah ini digunakan juga oleh orang² Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab, dan juga Muslim. Tapi uang² logam yang dibuat di tahun 650-an dan mungkin akhir 670-an hanya mencantumkan kalimat itu saja, tanpa ada referensi tentang Muhammad sebagai Rasul Allah atau unsur apapun yang berhubungan dengan Islam. Ini adalah masa penaklukkan pertama terbesar oleh bangsa Arab, ketika orang² tentunya menduga bahwa bangsa Arab sudah pasti akan sangat menekankan sifat² agama Islamnya, yang mereka anggap sebagai agama pembawa kemenangan di tanah jajahan, dan Islam akan bersaing melawan agama² asli daerah itu.

Uang² logam lain dari jaman yang sama menampilkan tulisan seperti bism Allah rabbi (“Dalam nama Allah Tuhanku”), rabbi Allah (“Tuhanku adalah Allah”), dan bism Allah al-malik (dalam nama Allah sang Raja”). [5] Yang juga tampak mencolok adalah tiadanya referensi yang menyebut tentang Muhammad sebagai rasul Allah.
[5] Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 250.

Uang logam yang dibuat penjajah Arab di Palestina tahun 647 dan 658 mengandung kata muhammad. Tapi gambar pada uang logam itu jelas bertentangan dengan pandangan Muslim tentang Nabi Islam, karena uang logam itu menggambarkan sesosok tubuh manusia, tampaknya adalah pemimpin bangsa – dan ini merupakan pelanggaran terhadap hukum Islam yang melarang penggambaran makhluk hidup. Yang lebih aneh adalah fakta bahwa sosok ini ternyata memegang salib, simbol musuh Islam. [6]
[6] Clive Foss, Arab-Byzantine Coins: An Introduction, with a Catalogue of the Dumbarton Oaks Collection (Washington, DC: Dumbarton Oaks Research Library and Collection, 2008), 34.

Pengumpul mata uang (numismatis) Clive Foss menjelaskan bahwa uang logam ini menunjukkan “sosok manusia yang berdiri dengan mahkota yang terpisah, diapit oleh salib panjang, dan kata محمد muh[ammad].” [7]
[7] Ibid.

Image

Muhammad, sang Nabi Islam, seharusnya merupakan sosok utama dalam budaya Islam berdasarkan kitab suci yang mencela umat Kristen dengan mengatakan Yesus tidak dibunuh dan juga tidak disalib: “mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya” (Qur’an 4:157). Apakah mungkin sang Kalifah, pemimpin umat agama yang mencela anggapan Yesus adalah Putra Tuhan, bisa digambarkan dengan memegang salib, yang merupakan simbol dari agama saingan, dalam uang logam resminya? Apakah mungkin pemimpin umat suatu agama yang Nabinya mengatakan bahwa Yesus akan kembali lagi ke bumi untuk “mematahkan salib” ternyata mengijinkan pencetakan lambang salib di uang logam resmi di daerah kekuasaannya? [8]
[8] Hadis yang disampaikan oleh Abu Huraira pada kami: “Rasul Allah berkata, ‘Demi Dia yang TanganNya memegang jiwaku, sebenarnya Isa putra Maryam akan segera datang diantara kalian (Muslim) dan akan menghakimi umat manusia dengan adil dengan Hukum Qur’an (sebagai penguasa yang adil) dan akan mematahkan salib dan membunuh babi dan menghapuskan Jizya (pungutan uang keamanan bagi non-Muslim untuk pemerintah Islam). Jizya tak akan diterima Isa (Yesus). Maka akan ada harta berlimpah dan tiada yang perlu menerima sedekah.’” Dikutip di Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari: The Translation of the Meanings, diterjemahkan oleh Muhammad M. Khan (Riyadh: Darussalam, 1997), vol. 3, buku 34, no. 2222.

Apakah mungkin para pengikut sang Nabi baru, yang agama barunya dan perintah politiknya sangat bertentangan dengan agama “para penyembah salib,” malahan mencetak sosok manusia memegang salib di uang logamnya? Mungkin ini adalah bentuk toleransi Islam, atas dasar banyaknya umat Kristen yang hidup di daerah baru jajahan kekalifahan Arab. Tapi hukum Islam di abad ke 9 dan 10 melarang orang² Kristen untuk menunjukkan salib secara terbuka – bahkan di bagian luar gedung gereja sekalipun – dan tak ada keterangan apapun bahwa hukum ini tidak diterapkan di abad terdahulu. [9] Dengan begitu, sungguh sangat menarik untuk diamati bahwasanya penjajah Muslim terhadap umat Kristen malahan membuat uang logam yang menggambarkan sosok utama Kristen, agama yang paling dibenci, dimusuhi, dan harus dilenyapkan Muslim. [10]
[9] Ahmed ibn Naqib al-Misri, Reliance of the Traveller (‘Umdat al Salik): A Classic Manual of Islam Sacred Law, diterjemahkan oleh Nuh Ha Mim Keller (Beltsville, MD: Amana Publications, 1999), 011.5(6).
[10] Tentang hal ini dilihat dari sudut pandang lain, lihat Donner, Muhammad and The Believers.


Uang logam lain dari masa kuno itu juga mengadung gambar salib dan kata Muhammad. [11] Numismatis Volker Popp menunjukkan bahwa uang logam Syria yang berasal dari tahun 686 atau 687 mencantumkan “semboyan sang muhammad” pada sisi belakang (lihat gambar logam di sebelah kanan). [12] Sisi lain logam itu menunjukkan gambar seorang pemimpin bermahkota salib dan memegang sebuah salib lain. [13]
[11] Voker Popp, “The Early History of Islam, Following Inscriptional and Numismatic Testimony,” di Karl-Heinz Ohlig dan Gerd-R. Puin, editor, The Hidden Origins of Islam (Amherst, NY: Prometheus, 2010), 55.
[12] Popp, “The Early History of Islam,” 113
[13] Ibid., 55,56.


Image

Penjelasan yang paling masuk akal adalah “muhammad” yang disebut di uang logam itu bukanlah Muhammad sang Nabi Islam. Kemungkinan lain adalah sosok dalam uang logam itu nantinya berkembang menjadi sosok Muhammad pendiri Islam, tapi itu bukanlah sosok asli saat uang logam itu dibuat. Kata muhammad di uang logam itu kemungkinan adalah sebuah gelar, dan bukan nama orang. Muhammad berarti “orang yang terpuji” atau “orang yang terpilih.” Popp mengatakan bahwa beberapa uang logam lain dari abad ke 7 mengandung kata bismillah (dalam nama Tuhan), dan juga kata muhammad, dan ini tampaknya menjelaskan bahwa sosok pemimpin pada uang logam itu sebagai “Dia yang dipilih dalam nama Tuhan,” atau “Pujilah dia dalam nama Tuhan.” [14]
[14] Ibid., 55.

Penjelasan ini diambil dari istilah liturgi Kristen yang lazim dipakai untuk menjelaskan kedatangan Kristus: Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.” Dalam kasus ini, sang muhammad, orang yang terpuji atau yang diberkati, adalah Yesus sendiri.

Hal ini tampak semakin jelas jika kita melihat kenyataan bahwa Qur’an hanya menyebut Muhammad beberapa kali saja, dan referensinya tidak merujuk tepat pada sang Nabi Islam, tapi pada “orang yang terpuji” dan ini bisa jadi tokoh/nabi lain. Kemungkinan terbesar tokoh lain adalah Yesus, karena seperti yang telah kita lihat, Qur’an memberitahu umat Muslim bahwa “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu beberapa orang rasul sebelumnya.” (3:144). Qur’an juga menggunakan kalimat yang serupa untuk menjabarkan Yesus: “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu beberapa rasul sebelum dia” (5:75). [15] Kesamaan ini menunjukkan kemungkinan di ayat itu, dan juga ayat² lainnya, bahwa sebenarnya Yesus-lah yang disebut sebagai “orang yang terpuji,” yakni sang muhammad.
[15] Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 265-66. Terjemahan teks Qur’an oleh Nevo dan Koren.

Penulis biografi pertama Muhammad, Ibn Ishaq, menulis keterangan yang mendukung kemungkinan ini. Ingatlah bahwa di Qur’an 61:6, Yesus diterangkan bernubuat tentang kedatangan “rasul Allah” yang baru, “yang namanya Ahmad.” Karena Ahmad – “orang yang terpuji” – merupakan variasi dari kata Muhammad, para ahli Islam menganggap ayat ini ditujukan bagi sang Nabi Islam. Ibn Ishaq memperkuat pandangan ini dalam biografi Muhammad, dengan mengutip “Injil” di Alkitab Perjanjian Baru, di mana Yesus mengatakan “tatkala penghibur [Munahhemana] telah datang dikirim oleh Tuhan bagimu melalui kehadiran Tuhan, dan roh kebenaran yang datang dari kehadiran Tuhan, dia akan bersaksi bagimu dan bagiku juga, karena kau telah berada bersamaku dari awal. Aku telah berkata padamu tentang hal ini agar kau tidak merasa ragu.” Ibn Ishaq menjelaskan: “sang Munahhemana (Allah memberkati dan menjaganya!) dalam bahasa Syria adalah Muhammad; dalam bahasa Yunani dia disebut sebagai paraclete.” [16]
[16] Ibn Ishaq, The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, terjemahan oleh Alfred Guillaume (Oxford: Oxford University Press, 1955), 104; Ibn Warraq, Virgins? What Virgins? And Other Essays (Amherst, NY: Prometheus, 2010), 50.

Penerjemah buku Ibn Ishaq ke bahasa Inggris yakni Alfred Guillaume menulis bahwa kata Munahhemana “dalam literatur gereja kuno … ditujukan bagi Tuhan sendiri” – dengan begitu bukan pada Muhammad tapi pada Yesus. Orang yang bergelar sebagai “yang terpuji” adalah Yesus, dan gelar ini dan nubuat yang berkenaan dengannya “telah dimanipulasi dengan cerdiknya guna menyusun isi” buku biografi Muhammad karangan Ibn Ishaq dan juga Qur’an. [17]
[17] Alfred Guillaume, “The Version of the Gospels Used in Medina Circa 700 A.D.,” Al-Anadlus 15 (1950): 289-96 (dikutip di Ibn Warraq, Virgins?, 50).

Dari semua kemungkinan di atas, hypothesa (praduga) yang terlemah adalah anggapan bahwa muhammad di uang logam kuno adalah Nabi Islam yang disebut di Qur’an dan Hadis. [18] Tiada catatan sejarah apapun di jaman itu tentang Muhammad sang Nabi Islam, dan bukti catatan sejarah pertama tentang Muhammad dicatat lama setelah uang² logam kuno itu dibuat.
[18] Foxx, Arab-Byzantine Coins, 34.


Lambang Salib dan Bintang Sabit Berdampingan

Fakta yang juga menarik tampak pada sebuah uang logam dari Palestina utara atau Yordania di masa pemerintahan Kalifah Muawiya. Sosok manusia yang tampak di uang logam itu (tidak jelas apakah dia adalah Muawiya atau orang lain) tidak tampak dengan lambang salib di atas bumi, yang merupaan ciri khas uang logam Byzantium di jaman itu, tapi dengan lambang salib di atas lambang bulan sabit di bagian sebelah kanan vertikal. [19] (lihat gambar uang logam sebelah kiri)
[19] Ibid., 47.

Image

Lambang bulan sabit tampak di sebelah figur manusia. Apakah gambar ini menjelaskan tentang sisa² kombinasi dua kepercayaan? Apakah gambar ini menunjukkan bahwa di jaman dulu tak banyak perbedaan antara agama Kristen dan agam Islam monotheistik dari Arab, tapi lalu berkembang menjadi dua kepercayaan yang bertolak belakang? Apapun kasusnya, sungguh sukar dibayangkan bahwa uang logam itu bisa dicetak jikalau pemerintahan Islam yang sangat membenci salib sudah terbentuk di jaman itu, dan itu pun jika memang benar Islam telah resmi terbentuk saat para tentara Arabia menyerang daerah² luar Arabia. [20]
[20] Lihat Donner, Muhammad and the Believers.

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Thu May 17, 2012 7:23 am
by Adadeh
Sang Kalifah dan Salib

Terdapat juga peninggalan menarik dari jaman kekuasaan Muawiya: sebuah prasasti yang dibuat tahun 662, di tempat permandian di Gadara in Palestina. (Gadara ini mungkin adalah tempat di mana Yesus mengusir setan dari diri seorang pemuda dan lalu para setan merasuk ke dalam sekelompok babi.) Prasasti Yunani menulis Muawiya sebagai “hamba Tuhan, pemimpin kaum pelindung,” dan menulis tanggal pembuatan prasasti di tempat pemandian itu sebagai “tahun ke-42 mengikuti bangsa Arab.” Di bagian awal prasasti tampak tanda salib. [21]
[21] Popp, “The Early History of Islam,”33-36.

Image
Prasasti resmi dari pemerintahan Arab Muawiya di Palestina. Lihatlah tanda salib di bagian awal prasasti tersebut.

Prasasti itu tertera di tempat umum, dan merupakan pengumuman resmi yang dibuat pihak penguasa. Muawiya sendiri tampaknya telah mengunjungi tempat itu, telah melihat prasasti tersebut dan tak keberatan dengan isinya. [22] Meskipun kekalifahan Umayyad terkenal (setidaknya begitulah yang dilaporkan pihak Muslim pada kita) bersikap santai dalam menerapkan hukum Islam, tapi tentunya ada perbedaan besar antara bersikap lunak dalam menerapkan Islam dengan sikap memperbolehkan promosi simbol agama lain – apalagi jika ternyata simbol ini dikecam berulang kali di Qur’an.
[22] Foxx, Arab-Byzantine Coins, 118.

Keterangan yang masuk akal adalah pembuatan tanda salib itu diperbolehkan penguasa Arab karena Qur’an dan Islam di jaman Muawiya belum ada, setidaknya bukan dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Karena itulah lambang salib muncul di prasasti resmi Arab di Gadara dan juga pada uang logam bernama Muhammad dengan lambang salib di Palestina.

Image

Image

Hal lain yang menarik adalah keterangan tanggal “mengikuti bangsa Arab” – yang berarti “jaman bangsa Arab,” dan bukannya disebut “jaman Islam” atau “jaman setelah Hijrah.” Bangsa Arab melakukan serangan penjajahan merupakan fakta sejarah yang nyata; tapi bahwa para penjajah Arab keluar dari Arabia karena diilhami Qur’an dan Muhammad bukanlah fakta yang jelas. Isi prasasti Gadara itu menjadi masuk akal jika tahun Hijrah (622 M) dan peranan Islam bagi bangsa Arab ternyata tidak pernah terjadi dan hanyalah cerita yang ditempelkan begitu saja ke dalam sejarah.

Jika memang begitu, kapan sebenarnya awal “jaman bangsa Arab”? Bangsa Arab menggunakan penanggalan lunar/bulan, dan setahun dalam kalender lunar adalah sepuluh hari lebih pendek daripada setahun dalam kalender solar/matahari. Jadi 42 tahun lunar adalah sama dengan 40 tahun solar. Ini berarti tahun 622 M adalah 42 tahun lunar sebelum prasasti Gadara dibuat di tahun 662. Di tahun 622, Kaisar Byzantium secara mengejutkan berhasil mengalahkan tentara Persia, sehingga kekaisaran Persia runtuh. Tak lama setelah kejadian itu, bangsa Arab mengisi kekosongan kekuasaan dengan mengambil alih wilayah Persia. Lalu mereka mulai mengancam kekuasaan Byzantium juga. Tampaknya penetapan tahun Hijrah awalnya dimulai di masa bangsa Arab berhasil menjadi kekuatan politik yang patut diperhitungkan.

Keterangan penting tentang tahun 622 juga tampak pada prasasti yang dibuat di tahun 64 lunar, atau 683 Masehi, dan ini berarti 64 tahun lunar sejak tahun 622. Prasasti ini ditemukan dekat Karbala di Irak:

Dalam nama Allah yang Maha Pengampun, Maha Pengasih
Allah adalah besar dalam kemegahan dan besar dalam keinginanNya
Dan sembahyang/pujilah Allah di pagi hari, petang, dan malam panjang.
Allah! Tuhannya Gabriel dan Michael dan Asrafil,
Ampuni Tabi bin Yazid al-Asari (yakni, dari Ashar)
Pelanggarannya yang terdahulu dan yang kemudian
Dan dia yang berkata, Amin, Tuhan sang Pencipta
Dan kitab ini ditulis di
Sawal tahun 64
[23]
[23] Dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 377.

Sawal merupakan bulan ke-10 dalam kalender Islam, sama seperti kalender yang digunakan masyarakat pagan Arab jaman sebelum Islam. Gabriel, Michael, dan Asrafil merupakan para malaikat di Alkitab. Jika Tabit bin Jazid al-Asar adalah Muslim yang percaya bahwa Muhammad merupakan nabi terbesar dan terakhir, mengapa dia kok malah menyebut Allah sebagai Tuhan para malaikat dan bukannya menyebut nama sang Nabi Islam? Tampaknya Tabit bin Jazid bukanlah orang Kristen atau Yahudi karena penyebutan Tuhan para malaikat bukanlah hal yang lazim dalam agama Kristen dan Yudaisme. Prasasti² lain dari jaman itu menyebut Allah sebagai “Tuhan dari Musa dan Isa,” tapi tak menyebut Muhammad sama sekali. [24]
[24] Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 383.

Prasasti seperti itu tampaknya sering dibuat oleh orang² monotheis yang punya hubungan dengan orang² Kristen dan Yahudi tapi tidak menganut kepercayaan mereka. Kepercayaan seperti ini cocok dengan kepercayaan aliran Abraham yang dianut Muawiya yang tak jelas segi monotheismenya. Muawiya menolak penuhanan Kristus tapi tidak sangat bermusuhan dengan agama Kristen sehingga dia masih memperbolehkan pembuatan simbol salib, sedangkan Islam dengan keras menolak lambang salib. Tiada prasasti di jaman itu yang menunjukkan bahwa Muawiya mengenal Muhammad atau Islam, tapi dia jelas menyebut tentang Abrahaman dan tampaknya punya sedikit pengetahuan tentang tokoh² utama dalam kitab suci Ibrani. Tabit bin Yazid al-Asarai, yang hidup di daerah kekuasaan Muawiya di jaman itu, tampaknya juga menganut kepercayaan yang sama.

Jika keterangan tentang tanda salib pada prasasti Gadara hilang dalam kabut sejarah, maka bisa disimpulkan bahwa larangan Islam akan lambang salib dan agama Kristen tidak ditaati penganutnya karena aturan tersebut memang tidak ada, setidaknya di jaman itu. Uang logam yang menggambarkan penguasa setelah Muawiya, yakni Yazid I (680-683), juga tampil dengan lambang salib. [25]
[25] Yazid terkenal sebagai orang yang suka memelihara burung elang, dan sebagai pemimpin di uang logam ini dia digambarkan dengan seekor burung di pergelangan lengannya. Foss, Arab-Byzantium Coins, 48.

Jikalau sekalipun semuanya ini hanya kebetulan saja, dengan melihat keping² uang logam kuno dan prasasti Gadara, maka bisa dilihat bahwa Muawiya dan Yazid menganggap diri mereka sebagai pemimpin umat Kristen. Mereka tidak menganut kepercayaan Kristen yang kita kenal sekarang, tapi menganut sebagian dari kepercayaan Kristen dan menolak bagian lain. Petunjuk kepercayaan Kristen jenis apa yang dianut Muawiya, Yazid, dan pemimin Arab lain tampak pada prasasti di dalam Kubah Batu (Dome of Rock), yang merupakan mesjid yang didirikan di akhir abad ke 7 di atas Bait Suci, tempat tersuci di Yerusalem bagi umat Kristen dan juga umat Yahudi. [26]
[26] Lihat Chritoph Luxenberg, “Penafsiran Baru Prasasti Arab di Kubah Batu di Yerusalem,” di Ohlig dan Puin, The Hidden Origins of Islam.


Kubah Batu: Pameran Theologi Islam yang Pertama?

Menurut budaya Islam, mesjid Kubah Batu dianggap sebagai perwujudan keperkasaan dan superioritas Islam. Mesjid ini selesai dibangun di tahun 691, sebelas tahun setelah kematian Muawiya, atas perintah dari Kalifah Abd al-Malik (685-705). Mesjid ini mengandung prasasti yang tampaknya diambil langsung dari Qur’an, meskipun bukan dari urutan Qur’an yang dikenal sekarang.

Image
Mesjid Kubah Batu (Dome of Rock) di Yerusalem. Yang dibahas di sini adalah tulisan dalam prasasti yang tercantum di bagian luar dan dalam pinggiran atap oktagon gedung tersebut.

Image
Sebagian dari prasasti mesjid Kubah Batu, pada bagian gedung bersegi delapan.

Image

Image

Inilah teks prasasti di bagian dalam pada pinggiran atap segi delapan mesjid Kubah Batu. Penerjemahnya, Estelle Whelan, menambahkan keterangan dalam tanda kurung yang menunjukkan bagian² tulisan mana yang ada (dan tak ada) dalam Qur’an:

“Dalam nama Allah, yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Tiada tuhan selain Allah. Dialah yang Esa. Dia tak bersekutu” [ini adalah bagian awal syahadah]. “PadaNya segala kekuasaan dan padanya segala pujian. Dia cepat dan Dia memberi kematian; dan Dia mampu melakukan segalanya” [gabungan dari 64:1 dan 57:2]. “Muhammad adalah budak Allah dan Rasul Allah’ [variasi bagian syahadah]. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [33:56 lengkap]. “Berkat Allah baginya dan damai baginya dan semoga Allah memiliki pengampunan” [berkat, tak ada dalam Qur’an]. “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. [4:171-172 lengkap]. “Wahai Allah, berkati rasulMu dan hambamu Isa putra Maryam (kalimat pendahuluan bagi kalimat selanjutnya). “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadanya, pada hari dia dilahirkan, pada hari dia meninggal dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali [19:33 lengkap, dengan perubahan dari orang pertama menjadi orang ketiga → aku menjadi dia]. “Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.” [19:33-34 lengkap]. “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. [19:36 lengkap, kecuali kata “dan”]. “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Tunduk (pada keinginan dan bimbinganNya). Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”[3:18-19 lengkap].

Image

Prasasti lain juga terdapat di bagian luar Kubah Batu, yang terbaca sebagai berikut:

“Dalam nama Allah, yang Maha Pengasih. Tiada tuhan selain Allah. Dialah yang Esa. Dia tak bersekutu” [awal syahadah]. “Katakan: Dia adalah Allah, yang Esa! Allah, kepadanya kami memohon untuk selamanya! Dia tidak beranak atau diperanakkan. Dan tiada yang menyerupai Dia” [112 lengkap kecuali kata awal Bismillah]. “Muhammad adalah Rasul Allah, berkat Allah baginya” [bagian dari syahadah], “Dalam nama Allah yang Maha Pengasih. Tiada tuhan selain Allah. Dialah yang Esa. Dia tidak bersekutu. Muhammad adalah Rasul Allah [syahadah lengkap]. “Sesungguhnya Allah dan malaikat²Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang² yang beriman, bershawalatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [33:56 lengkap]. “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaanNya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya” [17:111 lengkap kecuali bagian awal “dan katakanlah”]. “Muhammad adalah Rasul Allah” [bagian dari syahadah], “berkat Allah baginya dan para malaikat dan nabi²Nya, dan damai baginya, dan semoga Allah memiliki pengampunan [berkat]. Dalam nama Allah, yang Maha Pengampung, Maya Penyayang. Tiada tuhan selain Allah. Dia Maha Esa. Dia tak bersekutu” [awal syahadah]. “Hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian. Dia cepat dan Dia memberi kematian, dan Dia mampu melakukan segalanya” [gabungan dari 64:1 dan 57:2]. “Muhammad adalah Rasul Allah” [bagian dari syahada], “berkat Allah padanya. Semoga Allah menerima perantaraannya di Hari Kiamat atas umatnya” [berkat dan doa]. “Dalam nama Allah, yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Tiada tuhan selain Allah. Dialah yang Esa. Dia tak bersekutu. Muhammad adalah Rasul Allah” [syahadah lengkap], “berkat Allah baginya. Kubah ini dibangun oleh hamba Allah, ‘Abd [Allah sang Imam al-Ma’mun, panglima] umat yang Setia, di tahun dua dan tujuh puluh. Semoga Allah menerimanya dengan puas akan dia. Amin, Tuhan Sejagat raya, terpujilah Allah. [27]
[27] Estelle Whelan, “Saksi yang Terlupakan: Bukti Kodifikasi Qur’an,” Journal of the American Oriental Society, 118 (1998): 1-14, diterbitkan ulang di http://www.islamic-awareness.org/History/Islam/Dome_Of_The_Rock/Estwitness.html. Tulisan dalam tanda kurung ditambahkan oleh penulis. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang prasasti Kubah Batu, lihat Oleg Grabar, The Dome of the Rock (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2006), dan Donner, Muhammad and the Believers. Kutipan Qur’an diterjemahkan oleh Whelan.

Image

Materi Qur’an ini merupakan bukti paling awal bahwa Qur’an memang ada – enam puluh tahun setelah pasukan Arab menyerang tanah² tetangga, yang katanya penyerangan diilhami oleh pesan Qur’an. Meskipun bukti sudah ada, tapi pencampuran materi Qur’an dan non-Qur’an tampak sangat janggal. Apakah mungkin seorang Muslim kaffah berani mencampurkan-adukkan tulisan Qur’an dengan tulisan manusia biasa, padahal katanya Muslim percaya bahwa Qur’an merupakan firman Allah yang sempurna dan tak boleh diganti. Apakah Muslim berani mengganti Q 19:33 yang berbunyi: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" menjadi seperti yang tercantum di atas Kubah Batu: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadanya, pada hari dia dilahirkan, pada hari dia meninggal dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali!”? Meskipun perubahannya tidak banyak, tapi ini tetap saja merubah firman Allah yang sempurna. Tentunya Muslim harus merenungkan akan hal ini.

Hal lain yang menarik juga tampak dalam berbagai materi Qur’an di prasasti tersebut yang mengandung pesan yang sama. Jika pembuat prasasti ingin mengikutsertakan semua pernyataan² Qur’an yang menentang Trinitas Kristen, maka mengapa mereka melewatkan Q 4:157 yang berbunyi: “mereka tidak membunuh dia, tidak menyalibkan dia.” Atau jika tujuan utama prasasti adalah untuk menyangkal ketuhanan Yesus dan menegaskan kenabian Muhammad, maka tampak aneh mengapa mereka melewatkan begitu saja nubuat Yesus tentang kedatangan Muhammad di Q 61:6 yang berbunyi: “"Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”.

Melihat bercampurnya ayat² Qur’an dan non-Qur’an di prasasti itu dan bagaimana ayat² Qur’an diambil secara tak beraturan dari kitab Qur’an, beberapa ahli, termasuk Christoph Luxenberg, mengambil kesimpulan bahwa siapapun yang menerapkan tulisan itu pada prasasti tentunya tidak mengutip dari Qur’an yang kita kenal sekarang. Yang terjadi, mereka terangkan, adalah kebanyakan tulisan ditambahkan pada Qur’an di kemudian hari, setelah kitab Qur’an disusun jadi satu.

Tidak semua ahli setuju pada kesimpulan ini. Estelle Whelan yang menulis di Journal of the American Oriental Society di tahun 1998, menerangkan bahwa jika prasasti di mesjid Kubah Batu ternyata mendahului Qur’an, maka tulisan di prasasti itu tentunya dicantumkan dalam Qur’an dengan isi yang sama: “Tampaknya tidak mungkin bahwa kombinasi kalimat dari 64:1 dan 57:2, diulang dua kali, berasal dari satu kalimat yang kemudian ‘dipisahkan’ dan diterapkan sebagai dua bagian berbeda di Qur’an.” Dia membantahnya dengan mengatakan bahwa Qur’an telah terlebih dahulu terbit sebelum prasasti Kubah Batu dibuat dan Qur’an menjadi sumber tulisan di prasasti itu. [28]
[28] Whelan, “Forgotten Witness,” diterbitkan ulang di http://www.islamic-awareness.org/Histor ... tness.html

Gabungan kedua ayat itu tampak selaras di prasasti Kubah Batu, dan juga selaras pada konteksnya dalam Qur’an – ini tidak tampak pada ayat² lain yang jelas tampak digabungkan begitu saja tanpa keselarasan (seperti yang nanti kita lihat di Bab 8). Kemungkinan baik Kubah Batu dan Qur’an mengambil ayat² ini dari sumber lain yang mengandung materi yang sama dalam bentuk yang berbeda. Sifat awal literatur Islam adalah mengulang-ulang pesan yang sama. Isi Qur’an juga penuh pengulangan. Meskipun Qur’an sangat sedikit isinya (lebih tipis daripada buku Perjanjian Baru) tapi Qur’an mengulang berbagai kisah lebih dari sekali, dan terus-menerus menampilkan kalimat² yang serupa. Meskipun begitu, setiap pengulangan mengandung sedikit perbedaan dari satu versi ke versi lainnya, misalnya pada kisah Musa dan Firaun, Setan yang menolak menyembah Adam. Hal ini biasa terjadi jika materi kisah berasal dari ucapan penyair, nabi, orator, dan bukan dari keterangan tertulis.

Dengan demikian, prasasti Kubah Batu kemungkinan dibuat lebih awal daripada penyusunan Qur’an, tapi tidak berfungsi sebagai satu²nya sumber Qur’an. Qur’an 64:1 dan 57:2 bisa berasal dari sumber² keterangan yang berbeda, dan bukan dari satu orang yang berkeputusan untuk memisahkan kalimat² di prasasti itu menjadi dua ayat berbeda di Qur’an.

Yang tampak aneh pada prasasti Kubah Batu adalah isinya kemungkinan tidak berhubungan apapun dengan theologi Islam. Pernyataan ini sekilas tentunya tampak mengejutkan, karena bukankah prasasti itu memperingatkan “Wahai Ahli Kitab” – yakni orang² Yahudi dan Kristen, dan dalam konteks ini merujuk pada orang Kristen saja – untuk “janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu” dengan menyatakan Yesus adalah Putra Allah, dan ini merupakan pokok pesan theologia Islam dan diulang-ulang dalam Qur’an.

Akan tetapi, terdapat kesukaran gramatik dalam prasasti Kubah Batu tersebut. Ingatlah bahwa kata Muhammad dalam bahasa Arab berarti “orang yang terpuji” – dan dengan demikian kata ini bisa berarti sebuah gelar atau sebuah nama orang. Kata Al-Muhammad (The Muhammad (Inggris) atau Sang Muhammad (Indonesia)) merujuk pasti pada satu orang tertentu “yang terpuji,” tapi kata muhammad tanpa awal al (atau the (Inggris) atau sang (Indonesia)) bisa berarti “memuji” atau “dipuji,” dan juga “orang yang dipuji” tanpa penjelasan pasti siapakah orang itu. Ahli bahasa (filologis) Christoph Luxenberg menjelaskan bahwa terjemahan umum “Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul Allah” seharusnya diterjemahkan lebih tepat sebagai “terpujilah hamba Allah dan RasulNya.” Luxenberg menjabarkan lebih lanjut dengan referensi dari gramatik Arab: “Dengan begitu, dengan menggunakan gerund ini, kalimat ini tidak berbicara tentang seseorang bernama Muhammad, dan di kemudian hari kata muhammad ini diubah menjadi nama orang yang dikenal sebagai nabi Islam.” [29]
[29] Luxenberg, “A New Interpretation,” 130.

Berdasarkan penjelasan gramatik di atas, prasasti Kubah Batu tidak merujuk pada Nabi Arabia tapi kepada Yesus sendiri, yang disebut di prasasti itu sebagai “Rasul Allah,” “hamba Allah,” dan akhirnya “RasulMu dan hambaMu,” [30]
[30] Ibid., 128-29.

Malahan keseluruhan prasasti akan menjadi lebih masuk akal secara harafiah dan dari sudut theologi jika kita mengartikan kata muhammad sebagai Yesus. Seluruh kalimat di prasasti itu adalah tentang Yesus sebagai Rasul Allah dan bukan Putra Allah. Jika kita melihat dari pengertian Islam, maka tak masuk akal mengapa prasasti itu menyebut tentang Muhammad sebagai Rasul dan hamba Allah, tapi tiba² saja tanpa penjelasan apapun, kalimat berikutnya langsung meloncat dari Muhammad ke Yesus, sambil menyebut Yesus sebagai Rasul dan hamba Allah, dan melanjutkan kalimat seterusnya dengan menyangkal Kristologi Kristen.

Jika prasasti itu tidak membicarakan tentang Muhammad atau mencerminkan theologi Islam, maka mengapa menantang ketuhanan Kristus? Hal ini kemungkinan karena kepercayaan ini merupakan versi theologi Kristen lain yang berbeda dengan Kristen versi Byzantium atau Romawi dan gereja utama di Konstantinopel.

Di masa mesjid Kubah Batu dibangun, Gereja Konstantinopel masih mengalami pergumulan berabad-abad untuk menetapkan siapakah Yesus sebenarnya. Lima konsul gereja dibentuk untuk membahas hal ini; mereka yang percaya bahwa Yesus adalah manusia biasa, meskipun setengah tuhan, dikecam di seluruh Bosforus dari Konstantinopel di Nicae di tahun 352. Karena perlakuan diskriminatif yang dialami kelompok Kristen bid’ah ini, banyak dari mereka yang lalu meninggalkan Kekaisaran Byzantium dan menunju ke daerah timur. Prasasti Kubah Batu kemungkinan adalah pernyataan theologi kelompok Kristen bid’ah ini yang menganggap Yesus hanya sebagai Rasul Tuhan, dan bukan Putra Tuhan atau Juru Selamat dunia. [31]
[31] Lihat Karl-Heinz Olig, “Syrian and Arabian Christianity and the Qur’an,” di Ohlig dan Puin, The Hidden Origins of Islam, 361-402.

Keterangan jelas theologi Kristen bid’ah ini tidak tampak pada berbagai aliran Kristen yang ditolak oleh Kristen orthodox di abad modern. Tiadanya keterangan ini terjadi kemungkinan karena faktor² berikut: hal ini dilakukan atas dorongan kepentingan politik seperti Monothelitisme dalam agama Kristen. Kompromi politik seperti ini tidak berhubungan langsung dengan theologi aliran Kristen manapun. Atau kemungkinan kelompok ini tinggal jauh dari pusat Kekaisaran Byzantium di jaman itu, atau kelompok ini lalu berhubungan dengan masyarakat monotheistik non-Kristen sehingga unsur Kristen dari kelompok ini lama-kelamaan punah.

Prasasti Kubah Batu merupakan pernyataan theologi monotheistik Arab yang berhubungan erat dengan Kristus dan agama Kristen – sampai menekankan pembantahan ketuhanan Kristus. Pusat pembahasan tentang Kristus terus-menerus ini tentunya sangat jauh dari ajaran Islam yang kita kenal sebagai agama Muhamad dan yang tertulis Qur’an. Sampai pada jaman prasasti Kubah Batu, ajaran Islam yang jelas masih belum dijabarkan secara terperinci.

PostPosted: Thu May 17, 2012 5:30 pm
by ali5196
Sori bung adadeh, kalo ane lancang. Tapi ane sumbang urutan para kalif, krn ini juga bikin ane bingung ... mana yg duluan ... Ali atau Abu Bakar, siapa Muawiya?? ](*,)

(Hapus ajah, kalo post ane ini ngerusak)


Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam

http://blog.re.or.id/urutan-khilafah-islamiyah.htm

1. Khilafah Rasyidah

Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:

Abu Bakar ash-Shiddiq ra {tahun 11-13 H/632-634 M} (yg dibunuh oleh orang2nya Umar)

‘Umar bin Khaththab ra {tahun 13-23 H/634-644 M} (yg dibunuh oleh orang2nya Usman)

‘Utsman bin ‘Affan ra {tahun 23-35 H/644-656 M} (yg dibunuh oleh orang2nya ALi)

‘Ali bin Abi Thalib ra {tahun 35-40 H/656-661 M} ( yang hampir dibunuh oleh antek2nya Aisya/Abu Bakar) dan

Al-Hasan bin ‘Ali ra {tahun 40 H/661 M} (yang menjadi kepala Syiah & dibunuh oleh Muslim Sunni--- bener gak nih?)

Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.

2. Khilafah Bani Umayyah

Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Mu’awiyyah bin Abi Sufyan {tahun 40-64 H/661-680 M}

Yazid bin Mu’awiyah {tahun 61-64 H/680-683 M}

Mu’awiyah bin Yazid {tahun 64-65 H/683-684 M}

Marwan bin Hakam {tahun 65-66 H/684-685 M}

Abdul Malik bin Marwan {tahun 66-86 H/685-705 M} Ini toh yg disebut oleh Spencer diatas itu?
Menurut budaya Islam, mesjid Kubah Batu dianggap sebagai perwujudan keperkasaan dan superioritas Islam. Mesjid ini selesai dibangun di tahun 691, sebelas tahun setelah kematian Muawiya, atas perintah dari Kalifah Abd al-Malik (685-705). Mesjid ini mengandung prasasti yang tampaknya diambil langsung dari Qur’an, meskipun bukan dari urutan Qur’an yang dikenal sekarang.


Tapi si Ibn Yusuf ini dari khalifah Ummayyah-kah? Kok namanya gak ada di urutan khalif2 ini?
690-an Menurut berbagai hadis Islam, Hajjaj ibn Yusuf, penguasa Iraq, mengumpulkan Qur’an, menyamakan isinya, membakar berbagai versi Qur’an lainnya, dan menyebarkan versinya ke berbagai daerah kekuasaan Islam


Walid bin ‘Abdul Malik {tahun 86-97 H/705-715 M}

Sulaiman bin ‘Abdul Malik {tahun 97-99 H/715-717 M}

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz {tahun 99-102 H/717-720 M}

Yazid bin ‘Abdul Malik {tahun 102-106 H/720-724M}

Hisyam bin Abdul Malik {tahun 106-126 H/724-743 M}

Walid bin Yazid {tahun 126 H/744 M}

Yazid bin Walid {tahun 127 H/744 M}

Ibrahim bin Walid {tahun 127 H/744 M}

Marwan bin Muhammad {tahun 127-133 H/744-750 M}

Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang kesemenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.

3. Khilfah Bani Abbasiyah (yg menumbangkan khalifah Ummayyad) :supz: Muslim vs Muslim teruss!!
Bani ‘Abasiyah berpusat di Baghdad. Selama masa ini, kata Spencer, 750-an-760-an Malik ibn Anas menyusun koleksi Hadis yang pertama. ±760 Ibn Ishaq mengumpulkan bahan² tulisan dan menerbitkan buku riwayat hidup Muhammad untuk pertama kali. INi semua terjadi di Bagdad dan bukan di Mekah, jauh dari tempat operasinya Muhammad.

Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-’Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah. Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar, sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.

4. Khilafah Bani Utsmaniyyah
Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki 30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah, atau 16M. Kalif pertama adalah Salim I {tahun 918-926 H/1517-1520 M} dan kalif teralhir adalah ‘Abdul Majid II {tahun 1340-1342 H/1922-1924 M}.

Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.

PostPosted: Thu May 17, 2012 6:10 pm
by ali5196
Sekedar mengingatkan pembaca bahwa udah ada satu mualaf yg murtad krn bukti bahwa Muhammad ternyata tidak eksis! \:D/ \:D/

profesor-islam-jerman-yang-mualaf-sekarang-murtad-t29137/
Image
Di awal bulan September 2008, media Jerman melaporkan pendapat dari Profesor Jerman ahli Islam bernama Sven (Muhammad) Kalisch, seorang mualaf yg mengajar ilmu agama Islam di Universitas Munster di Jerman. Prof. Kalisch menyatakan bahwa dia merasa sangat ragu bahwa Muhammad sang Nabi Islam itu pernah benar2 ada. Dia juga menduga kemungkinan bahwa Muhammad dianggap Nabi hanya setelah dia mati. Kini dia murtad.

Image
Kritis historis terhdp buku2 suci Yahudi dan Kristen oleh akademisi tidak pernah dilakukan terhdp Qur'an. Alasannya kita tahu semua. Qur’an adalah buku yang tidak boleh diragukan ataupun dipertanyakan : ketika seorang akademisi Islam, Suliman Bashear (Sulaiman Basheer), mengajarkan pada siswa2nya di An-Najah National University di Nablus bahwa Qur’an dan Islam adalah hasil perkembangan historis dan bukan disampaikan secara sempurna kpd Muhammad, siswa2nya melemparkannya dari jendela kelas ditingkat dua. Akademisi2 lain juga harus menerbitkan buku mereka ttg penemuan mereka vis a vis Qur'an dengan nama samaran.

PostPosted: Sun May 27, 2012 4:31 am
by ali5196
Kalau Muhammad tidak pernah ada, kalau gitu pastor yg teriak2 dibawah ini, yg katanya liat Muhammad di neraka, hoax dong?


TAPI dlm youtube ini si Muhammad dilaporkan sbg mengatakan: 'saya melakukan perang karena saya miskin, ingin imitasi Yesus, ingin menjadi pemimpin bangsa, tapi islam dirubah oleh orang lain. Bukan saya yg tulis itu semua,' katanya. Nah loh ... yg mana yg benar, yg mana yg tidak?

Re:

PostPosted: Sun May 27, 2012 7:25 am
by Adadeh
ali5196 wrote:Kalau Muhammad tidak pernah ada, kalau gitu pastor yg teriak2 dibawah ini, yg katanya liat Muhammad di neraka, hoax dong?

Ada Muhammad-nya sih, tapi bukan seperti yang tertulis di Qur'an dan Hadis. Tunggu lanjutan terjemahannya ... sekarang lagi revoth bangeth nih.

Image

Re: Buku: Apakah Muhammad Benar² Ada?

PostPosted: Mon May 28, 2012 9:40 am
by Adadeh
Abd al-Malik dan Hajjaj ibn Yusuf Memperkenalkan Islam

Prasasti penguasa resmi di tahun 693 (atau mungkin 702) di dekat Tiberias tidak menerangkan dengan jelas tentang Islam dan Nabi Islam yakni Muhammad:

Dalam nama Allah, yang Maha Pengampung, Maha Penyayang
Tiada tuhan selain Allah saja, Dia tak punya sharik (sekutu)
Muhammad adalah rasul Allah
Sang Hamba Tuhan Abd al-Malik, Komandan Umat Setia,
Memerintahkan
Pelurusan jalan gunung ini.
Ini dibuat oleh Yahya bn al-…
Di bulan Muharram tahun tiga [atau 70 atau dan 80].
[32]
[32] Dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 411.

Di sini mungkin kita akhirnya mendengar pesan penuh Islam, dengan penolakan terhadap syirik, dan pengumuman bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Tapi prasasti ini juga sama tak jelasnya seperti isi pesan prasasti di mesjid Kubah Batu, meskipun pesannya sesuai dengan kepercayaan Muawiya akan monotheis Abrahamik dan juga kepercayan tradisional Islam.

Baru di tahun 696, lima tahun setelah mesjid Kubah Batu didirikan, Kalifah Abd al-Malik mulai mencetak uang logam tanpa gambar penguasa (sesuai dengan larangan Islam membuat gambar manusia) dan mengandung kalimat syahadah, yang merupakan kalimat pengakuan iman Islamiah. [33]
[33] Foss, Arab-Byzantine Coins, 59.

Abd al-Malik-lah yang pertama kali mengumumkan Islam sebagai negara agama kekalifahan Bani Umayyad – dan ini merupakan pengumuman Islam yang seharusnya sudah disampaikan 60 tahun sebelumnya. [34] Sejarawan Robert G. Hoyland menyimpulkan bahwa “tekanan dari pihak pemberontak” memaksa Abd al-Malik dan para penerusnya “menyatakan Islam secara umum sebagai dasar ideologi negara Arab.” [35]
[34] Ibid., 110.
[35] Hoyland, Seeing Islam, 553.


Saat itu, Abd al-Malik sedang bersaing kekuasaan melawan Abdullah ibn Az-Zubair, yang berontak melawan kalifah Umayyad dan telah menguasai Arabia, Iraq, dan Iran. Abdullah ibn Az-Zubair mencetak uang² logam yang mengumumkan Muhammad sebagai nabi Allah di tahun 685 – dan ini merupakan proklamasi resmi yang pertama kali dilakukan. [36] Uang logam itu mengandung kalimat “Dalam nama Allah, Muhammad adalah rasul Allah (bismillah Muhammad rasul Allah).” [37] Hoyland menulis bahwa ini “mungkin merupakan pernyataan Islam pertama dari pihak pemberontak. Hal ini memang mungkin terjadi. Pemberontakan yang dilakukan Abdullah ibn Az-Zubair bersangkutan dengan masalah kepercayaan, dan hal ini ditulis oleh sumber Kristen saat itu yang mengatakan bahwa “dia muncul dengan penuh semangat bagi rumah Tuhan dan dia mengancam untuk melawan orang² Barat, yang dituduhnya melanggar hukum.’” [38]
[36] Foss, Arab-Byzantine Coins, 60.
[37] Hoyland, Seeing Islam, 553.
[38] John bar Penkaye, Ktaba d-rish melle, 155/183, di Sebastian P. Brock, “North Mesopotamia in the Late Seventh Century: Book XV of John bar Penkaye’s Ris Melle,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 9 (1987), 64 (dikutip di Hoyland, Seeing Islam, 552).


Abd al-Malik juga meniru perbuatan Ibn Az-Zubair dengan mencetak uang² logam yang juga berlafal Muhammad rasul Allah. Di tahun 696, sekutu Abd al-Malik yakni Hajjaj ibn Yusuf (wafat 714) yang menjabat sebagai gubernur Iraq setelah Ibn Az-Zubair dikalahkan, juga mencetak uang² logam berlafal syahadah penuh: bism Allah la ilah ila Allah wahdahu Muhammad rasul Allah (Dalam nama Allah, tiada illah selain Allah sendiri; Muhammad adalah rasul Allah). [39] (Teks ini berbeda dengan pernyataan syahadah pada umumnya – contohnya syahadah ini dimulai dengan kata bismillah.)
[39] Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 250-51.

Meskipun syahadah mulai bermunculan di uang² logam Arab, keadaannya tetap membingungkan: beberapa uang logam di jaman itu berlafal syahadah dan juga gambar pemimpin; salah satu menggambarkan pemimpin dengan mengenakan mahkota bersalib. [40]
[40] Foss, Arab-Byzantine Coins, 63, 65.

Image
Uang logam jaman Kafilah Abd al-Malik dari banu Umayyad masih menggambarkan penguasa memegang lambang salib dan mengenakan mahkota bersalib. Di bagian koin lagin tercantum huurf M bagi muhammad (dia yang terpuji).

Meskipun demikian, kekuasaan Abd al-Malik merupakan jaman baru yang penting. Di jaman ini juga digunakan untuk pertama kalinya non-Muslim menyebut bangsa Arab sebagai Muslim, dan tidak lagi “Hagarian,” “Ishmaelit,” “Muhajirun,” dan “Sarasen” dan juga menyebut Qur’an pula. Semua keterangan Islamiah ini tidak tercatat 60 tahun setelah bangsa Arab memulai penyerangan.

Apakah Abd al-Malik menciptakan Islam atau mulai menciptakan Islam dengan detail tentang Muhammad dan ajarannya, untuk menyatukan dan memperkuat kekalifahannya? Ibn Az-Zubair pertama kali mencetak uang logam Muhammad sehingga gagasan awal membuat uang logam seperti itu bukanlah berasal dari Abd al-Malik, tapi ada kemungkinan al-Malik mengembangkan ide itu demi keuntungan politiknya.

Ada beberapa petunjuk akan hal ini. Apa yang kita ketahui tentang Islam bisa dilacak kembali ke jaman kekuasaan Abd al-Malik. Menurut sebuah hadis yang dilaporkan oleh as-Suyuti (wafat 1505) dan lainnya, sang Kalifah sendiri berkata, “Aku telah mengumpulkan Qur’an (jama’tul-Qur’ana).” [41] Laporan hadis ini muncul lama setelah keterangan dari hadis² sebelumnya yang menyatakan bahwa Kalifah Umar (644-656 M) mengumpulkan dan menyeragamkan Qur’an. Tidak bisa dijelaskan mengapa hadis ini sangat terlambat muncul kecuali jika hadis ini memang mengandung inti kebenaran yang sah. Terdapat hadis² lain yang mengatakan bahwa Qur’an disusun di jaman pemerintahan Abd al-Malik. Beberapa hadis mencatat bahwa Hajjaj bin Yusuf mengkoleksi dan mengedit Qur’an. Beberapa hadis lain membenarkan bahwa Hajjaj menambah banyak tanda² pengucapan pada teks Qur’an, sehingga untuk pertamakalinya orang bisa membaca Qur’an dengan jelas – dan kemungkinan juga menyisipkan sifat Islam pada teks Qur’an. [42] Menurut sebuah hadis, ahli hukum Islam bernama Malik ibn Anas (wafat 795) mengatakan bahwa “membaca mushaf” – artinya membaca Qur’an – di mesjid tidak biasa dilakukan di jaman dulu. Hajjaj b. Yusuf-lah yang pertama kali memerintahkan hal ini.” [43]
[41] Mingana, “The Transmission of the Koran,” 102-3.
[42] Fred M. Donner, “The Qur’an in Recent Scholarship,” di Gabriel Said Reynolds, ed., The Qur’an in Its Historical Context (New York: Routledge, 2008), 35-36.
[43] Ali al-Samhudi, Wafa al-Wafa bi-akhbar dar al-Mustafa, ed. Muhammad Muhyi I-Din Abd al-Hamid (Kairo, 1955, mewakili Beyrouth: Dar al-Kutub al-Ilmiyya, 1984), 4 bagian dalam 3 volume (dikutip di Alfred-Louis de Premare, “’Abd al-Malik b. Marwan and the Process of the Qur’an Composition,” di Ohlig dan Puin, The Hidden Origins of Islam, 205).


Ahli hadis abad ke-15 yakni Ibn Hajar (1372-1448) menulis bahwa Hajjaj “menguasai bahasa Arab murni, dan dia hafal dan tahu sekali akan hukum,” dan dia berkata bahwa Hajjaj “taat pada sang Kalifah dan setiap keinginannya merupakan kewajiban bagi masyarakat.” [44] Enam abad setelah kematian Hajjaj, “bahasa Arabnya yang murni” masih diingat dalam masyarakat Islam. Bahasa Arab murni tentunya berguna untuk menulis atau mengedit teks Arab demi menciptakan sikap tunduk pada Kalifah dan kesatuan politik kekalifahannya. Dan untuk alasan² lain yang nanti akan dijabarkan di buku ini, tujuan politik ini nampaknya merupakan alasan mengapa Qur’an harus ditulis dalam bahasa Arab.
[44] Ibn Hajar, Tahdhib, 2:185n388 (dikutip di Premare, “Abd al-Malik b. Marwan,” 199).

Mahkamah Umayyad di jaman Abd al-Malik dan penerusnya mulai mengeluarkan berbagai hadis tentang Muhammad dan mengedit dan menambah teks Qur’an demi menopang praktek dan posisi politik mereka – praktek ini juga terus diterapkan dengan ahli oleh musuh bani Umayyad yakni bani Abbasid, setelah berhasil menggulingkan Umayyad di tahun 750.

Jika Abd al-Malik menciptakan agama Islam demi tujuan politik, maka tiadanya catatan sejarah apapun tentang Muhammad, Islam, dan Qur’an sebelumnya bisa dijelaskan dengan mudah: Tiadanya catatan tersebut adalah karena memang Muhammad, Islam, dan Qur’an belum ada, atau belum tersusun lengkap.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Islam baru mulai berkembang di pemerintahan Abd al-Malik bisa dilihat dari fakta bahwa gagasan menciptakan Islam tidak lalu berakar dengan cepat. Bahkan setelah Abd al-Malik dan Hajjaj ibn Yusuf melakukan usaha mereka, pernyataan² resmi dari bani Umayyad lainnya tidak seluruhnya Islamiah. Di istana/kuil Qasr Kharana di Yordania timur yang dibangun oleh pengganti Abd al-Malik, yakni Walid I (705-715), terdapat prasasti sebagai berikut:

Allahuma berbelas kasihan pada Abd al-Malik ibn Umar (bukan Abd al-Malik sang Kalifah, yang merupakan putra Marwan, tapi al-Malik putra Umar] dan mengampuni kesalahannya,
Yang awal dan yang kemudian, yang tersembunyi dan yang nyata;
Tiada apapun dari dirinya yang mendekatkannya pada Mu tapi Engkau lah yang memaafkannya dan mengampuninya jika dia percaya. Aku percaya padamu Tuhanku. Karena itu anugerahkan aku
Manfaat² Mu,
Karena Kau lah sang Penyedia, dan punya pengampunan
Terhadap aku, karena Kau adalah Maha Pengampun. Ya Tuhan, aku mohon Kau untuk menerima doanya dan persembahannya. Amin Tuhan sang Pencipta, Tuhannya Musa dan Harun. Semoga Tuhan mengampuni orang yang membaca ini dan berkata
Amin, Amin, Tuhan sang Pencipta
Yang Perkasa, Yang Bijak! Abd al-Malik bin Umar menulis ini di
Hari Senin, tiga [malam] sisa dari Muharram tahun dua dan sembilan puluh [710 M]
[Disaksikan oleh] Lam bin Harun.
Dan pimpin kami sehingga kami bisa bertemu nabi kami dan nabinya
Di dunia ini dan dunia akherat.
[45]
[45] Dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 387, 389.

Image
Image

Tuhan yang disebut adalah Tuhannya Musa dan Harun. Tiada keterangan apapun tentang Muhammad. Ini merupakan pernyataan aneh, kecuali jika nabi baru Muhammad belum terkenal seperti Musa dan Harun.

Tapi tak lama kemudian rupanya Muhammad sang Nabi perang jadi mulai terkenal di Arabia. Di tahun 735, prasasti lain menyatakan keterangan yang berbeda dari Islam:

Dalam nama Allah, sang Maha Pengasih, Maha Pengampun
Allah! Maaf! Hasan bin Maysarah
Dan kedua orangtuanya dan anak² mereka
Amin Tuhannya Muhammad dan Ibrahim
Allah! Anggap perbuatanku sebagai jihad yang besar
Dan terima belas kasihku sebagai syahid bagi kepentinganMu
Dan Hasan menulis (ini) di hari Selasa
Tahun ke 22 di bulan Rabiy’ al-Awwal
Yang telah berlalu
Banu Ha[t]im semoga Allah mengasihani mereka semua
Dan ini tahun 117 [735 M]
[46]
[46] Dikutip di Nevo dan Koren, Crossroads to Islam, 397.

Di jaman ini, keterangan tentang kehidupan dan contoh perbuatan Muhammad, sang Nabi Islam, telah mulai tersebar luas. Dia telah jadi figur yang bisa dikenal oleh umat Muslim.

Rasa keakaraban terhadap sosok Muhammad ini merupakan produk hebat badan industri hukum yang pertama kali dibentuk oleh bani Umayyad dan lalu dikembangkan oleh bani Abbasid, yang tanpa merasa malu mengarang saja segala materi tentang apa yang dikatakan dan diperbuat Muhammad.

Re: Re:

PostPosted: Tue May 29, 2012 4:15 am
by walet
Adadeh wrote:Ada Muhammad-nya sih, tapi bukan seperti yang tertulis di Qur'an dan Hadis. Tunggu lanjutan terjemahannya ... sekarang lagi revoth bangeth nih.

Image


Maaf oot dikit, bang ada rahasia kecil untuk menggambar menjadi lebih realistis.
Bagian muka kalau bisa dikasih warna putih atau mendekati putih, akan memberi efek mengkilat karena berkeringat atau jenis kulit yang agak berminyak seperti kebanyakan onta padang pasir yg kepanasan.

Contohnya:

Image
Lihat bagian hidung, dahi dan pipi atas

Imageali5196
Lihat bagian dahi

Punya bang Adadeh sudah terang, tp bagian2 tertentu kasih lebih terang lagi, coba aja putih. Insya Duladi jadi lebih realistis.

Re: Re:

PostPosted: Wed May 30, 2012 1:28 am
by Adadeh
walet wrote:Maaf oot dikit, bang ada rahasia kecil untuk menggambar menjadi lebih realistis.
Bagian muka kalau bisa dikasih warna putih atau mendekati putih, akan memberi efek mengkilat karena berkeringat atau jenis kulit yang agak berminyak seperti kebanyakan onta padang pasir yg kepanasan.

Terima kasih banyak atas masukkannya, walet.

Image