.

ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Fri May 04, 2012 11:49 pm

Bagaimanapun, tampakmya kedua kedua teori tersebut sama-sama tidak memuaskan. Apakah tidak lebih mungkin bila yang kita lihat dalam kebiasaan ini ternyata unsur lain ajaran Yahudi dalam Islam, yang berkaitan dengan doktrin pengorbanan di Perjanjian Lama, khususnya mengenai penebusan anak sulung? (Bandingkan Keluaran 13:11-22; 34:19). Jika, disamping semua kemiripan dengan semua praktek Yahudi yang sudah tercatat, diperlukan kesaksian lebih lanjut, akan cukup merujuk ke pernyataan yang dibuat dalam komentar Al Bukhari sebagai kunci sesungguhnya ke Sunnah Nabi: “Untuk anak perempuan satu domba betina—dan ini mengabrogasi pendapat mereka yang tidak setuju korban untuk anak perempuan—sebagaimana kaum Yahudi, yang hanya membuat korban bagi anak laki-laki.” (Atas otoritas Araki dalam Tirmidzi – Fath-ul-Bari V.390).

Sebuah bukti tambahan, sebuah perintah dari Aisyah, “Bahwa tidak ada tulang korban yang boleh patah.” Sudah tentu, kajian atas upacara Aqiqa akan membawa kita untuk menggunakan Keluaran 12 dan Yohanes 19 (Yoh.19:36, Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulangNya yang akan dipatahkan”) pada saudara-saudara Muslim kita, memperlihatkan pada mereka “Anak domba Bapa yang menghapuskan dosa dunia,” yang adalah penebus sejati juga bagi kanak-kanak; yang merangkul anak-anak kecil dengan tanganNya sendiri serta memberkati mereka. Baru-baru ini saya mempersiapkan pamphlet mengenai hal ini untuk umat Islam, berjudul “Haqiqat ul ‘Aqiqa” (Makna Aqiqa Sesungguhnya) yang memperlihatkan beberapa hal mengenai tradisi ini, dan menunjukkan ajaran Perjanjian Lama mengenai penebusan dosa oleh Anak Domba Kudus, serta memperlihatkan bahwa tanpa ada darah yang tertumpah, tidak akan ada pengampunan dosa. Bahwa umat Islam sendiri pernah mengakui karakter yang mewakili pengorbanan ini serta makna penebusannya yang lebih dalam, merupakan bukti sempurna dari doa yang disampaikan dalam peristiwa tersebut.

Dalam salah satu buku keagamaan yang diterbitkan di Hindustan dan dicetak di Kalkuta, doa tersebut berbunyi, “Ya Allah, ini adalah korban Aqiqa untuk putraku ….dan….; darahnya untuk darahnya, dagingnya untuk dagingnya, tulangnya untuk tulangnya, kulitnya untuk kulitnya, rambutnya untuk rambutnya. Ya Allah! jadikan ia sebagai tebusan bagi putraku dari neraka, karena sesungguhnya aku telah memalingkan wajahku dari Dia yang menciptakan langit dan bumi, seorang mukmin sejati. Dan aku bukan termasuk mereka yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya sembahyang serta hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, yang tidak memiliki sekutu, dan dengan demikian aku diperintahkan, dan aku termasuk dalam Muslim.” Setelah mengucapkan doa ini, buku tuntunan ibadah tersebut menyatakan bahwa korban harus disembelih oleh ayah si anak sambil berseru, “Allahu Akbar.”

Kita mungkin mengingat dengan baik bahwa dalam hukum Perjajian Lama, doa syafaat serupa diucapkan orang Israel yang saleh saat mempersembahkan korban atas nama anak pertama yang lahir. Menurut hukum Talmud Yahudi, setiap orang Israel diharuskan untuk menebus putra sulungnya, paling lama 30 hari setelah kelahirannya. Bila sang ayah gagal melaksanakannya, maka setelah dewasa ia harus menebus dirinya sendiri. Saat penebusan sang ayah mengucapkan kata-kata berikut ini, “Diberkatilah engkau dalam nama Dia yang memerintahkan kita mengenai penebusan putra.” Dalam hal anak sulung, mereka juga melakukan adat Ahlakah, yaitu memotong rambut anak laki-laki tersebut untuk pertama kali. Ini dilakukan setelah ulang tahunnya yang ke-empat.

Tercantum di Jewish Encyclopedia, juga sudah menjadi kebiasaan di masa Talmud untuk menimbang rambut anak yang dicukur. 8 Menurut Rabbi Joseph Jacobs, diantara suku Israel, anak yang lahir disebabkan sumpah orangtuanya, tidak dipotong rambutnya hingga berusia 6 sampai 7 tahun. Sudah lazim untuk menimbang rambut yang dipotong dengan uang logam/koin yang kemudian diberikan untuk tujuan amal.

Jelas terlihat bahwa kebiasaan umat Islam ini merupakan pinjaman dari Yudaisme, namun banyak diantaranya yang belakangan berbaur dengan praktek ajaran Semit, yang tidak jelas asal-usulnya. Adakah juga mungkin hubungannya dengan ‘doa Akedah/Aqedah 9 serta upacara di kalangan Yahudi? Istilah Akedah mengacu pada pengikatan Ishak sebagai korban, dan peristiwa Alkitab ini memainkan peranan penting dalam liturgi Yahudi. Peringatan paling awal peristiwa ini terdapat dalam Mishnah, dan doa berikut ini terdapat dalam ritual perayaan Tahun Baru:

Binding Ishak.JPG

“Ingatlah kemurahanMu pada kami, ya TUHAN Tuhan kami, sumpah yang telah Engkau ucapkan pada bapa kami Abraham di Gunung Moria; ingatlah pengikatan putranya Ishak di atas mezbah saat ia menahan rasa kasihnya untuk melakukan kehendakMu dengan segenap hati! Semoga rasa kasihMu menahan murkaMu terhadap kami, dan melalui kebaikanMu yang besar semoga amarahMu berlalu dari umatMu, kotaMu dan milikMu. Ingatlah hari ini dalam kasih pengampunan dan kemurahan akan keturunannya, pengikatan Ishak” (Jewish Encyclopedia.)

Dr. Max Landsberg berkata: “Dalam perjalanan waktu, makna penting yang lebih besar tersematkan pada Akedah. Literatur Haggadah (teks relijius umat Yahudi yang dibaca saat perayaan Perjamuan Paskah) penuh akan peringatan peristiwa ini; janji pengampunan yang terdapat di dalamnya selalu disertakan dalam doa harian di pagi hari; dan bagian yang disebut Akedah disertakan dalam setiap liturgi hari pertobatan di kalangan Yahudi Jerman.”

Image
Up on the Temple Mount area is the place where Abraham offered up his son, Isaac. It also marks the place of YHVH's provision of a sacrifice lamb. (Gen.22: God would provide Himself a lamb)

Dalam berbagai kasus, kita melihat bahwa diantara orang Yahudi dan juga orang Islam, berbagai upaya dilakukan untuk mengecilkan makna penting doa dan pengorbanan ini dalam kaitannya dengan gagasan penebusan. Sebab itulah, banyak tata ibadah yang diperbaharui orang Amerika telah menghapus doa Akedah.

Menjadi kecenderungan saat ini di kalangan teolog liberal, Islam, Yahudi dan Kristen untuk mengecilkan makna gagasan penebusan dan penyelamatan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mezbah dengan darah pengorbanannya sebagai Salib Kristus merupakan batu sandungan besar bagi para pemikir itu.; namun, kedudukan mezbah dan Salib merupakan inti, titik terpenting dan dominan dalam kajian doktrin keselamatan (soteriologi) Kristen. Kita tidak bisa lepas dari ajaran yang jelas dari Firman Tuhan, bahwa “tanpa ada darah yang tertumpah tidak ada pengampunan dosa”; bahwa “Anak Domba Tuhan dibunuh sebelum dunia dijadikan”; bahwa Anak Tuhan datang “untuk memberikan Hidupnya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
For the life of a creature is in the blood, and I have given it to you to make atonement for yourselves on the altar; it is the blood that makes atonement for one's life (Leviticus.17:11)

For you know that it was not with perishable things such as silver or gold that you were redeemed from the empty way of life handed down to you from your forefathers, but with the precious blood of Christ, a lamb without blemish or defect. He was chosen before the creation of the world, but was revealed in these last times for your sake (1Peter 1:18-20)


Sebab itulah para misionaris dan siswa Alkitab tidak puas dengan setiap penjelasan doktrin pengorbanan yang tidak menyertakan mengenai penggantian dan penebusan. Satu hal menjadi jelas, bahwa dalam pengorbanan Aqiqah, sebagaimana perayaan tahunan besar Islam serta pengorbanannya di Mekah (hari raya qurban/Idul Adha), kita mendapatkan kesaksian jelas akan doktrin penebusan yang diwakilkan dan pengampunan dosa melalui penumpahan darah. Andaikan St. Paul hadir di upacara Aqiqah atau hari raya qurban di Arafah, tidakkah ia akan berkhotbah pada kumpulan orang banyak tersebut mengenai “pengampunan dosa melalui darahNya?” (Eph.1:7; Kol.1:14; Rom. 5:11; Rom. 111:25).

Sudah pasti ada rasa getir dan kasihan disamping rasa ingin tahu akan kenyataan bahwa kanak-kanak di dunia Islam semenjak bayi telah ditahbiskan/digadaikan ke agama Islam melalui pengorbanan Aqiqah.

“Setiap anak digadaikan dengan Aqiqah ia disembelihkan binatang (Kambing/domba)pada hari ketujuh dari kelahirannya,diberi nama dan dicukur kepalanya”(HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Maajah dan Samirah)
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Fri May 04, 2012 11:54 pm

BUKU-BUKU RUJUKAN BAB V

"Al Bukhari" (Bulak, 1314). Vol, VII, p.83.

"Commentary on al Bukhari," Fath-ul-Bari, by El 'Amy. Vol. IX, p. 710.

"Commentary on al Bukhari," by al Askalany. Vol. IX, p.464.

"Commentary on al Muwatta," by al Zarkani. Vol. III, p.23.

"Badayat ul Majtahid," by El Kurtubi bin Rushd el Hafidh. Vol. I, p.375.

"Minbaj ut Talibin,' by al Nawawi, p.127.

"Mishkat ul Masabih (Delhi). P.363.

"Ihya ulum id Din,' by al Ghazali. Vol.II, p.35.

Commentary on the same, by at Murtadhi. Vol. V, p.390.

"The Encyclopaedia of Islam" (Leyden).

"The Jewish Encyclopaedia" (Arts. Hair; First-born; Child; Sacrifice)..

W. Robertson Smith, "Kinship and Marriage in Early Arabia" (Cambridge,1885). "The Religion of the Semites" (New York, 1889).

G. Snouck Hurgronje, "Mekka" (The Hague, 1888).

C. M. Doughty, "Arabia Deserta" (Cambridge, 1888)

G.A. Herklots, "Customs of the Moosulmans of India" (London, 1832).

Major W. Fitz G. Bourne, "Hindustani Mussulmans and Mussulmans of the Eastern Punjab" (Calcutta, 1914).

N. Adriani and Alb. C. Kruijt, "De Barre's-sprekende Toradja's" (Batavia, 1912).

Budgett Meakin, "The Moors" (London, 1902).

Dr. Pennell, "Among the Wild Tribes of the Afghan Frontier" (London, 1909).

Marshall Broomball, "Islam in China" (London, 1910).



CATATAN KAKI UNTUK BAB LIMA

1 Lane's "Arabic-English Lexicon," Vol. V.

2 Doughty refers to animals such as sheep or horses taken as booty.

3 Skeat's "Malay Magic," pp. 341-342.

4 This is also the custom in Egypt.

5 Compare the Tradition already cited.

6 On the contrary, the Traditions leave the matter uncertain, except as regards the practice of the Jews.

7 Orotal = Allah Ta'ala, God Supreme,---Z.

8 This must be a misprint, even in so careful and accurate a work, for "hair of the child."

9 'Akedah - the binding or knotting of a rope.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Postby ali5196 » Sun May 06, 2012 3:54 pm

matur nuwun, jeng anne! om sudah periksa terjemahan yg diatas ini. :prayer: :prayer: :prayer:
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Sat May 12, 2012 10:31 pm

BAB VI
ROH PENDAMPING ATAU QARIN


Di antara semua takhayul dalam Islam tidak ada yang lebih memancing rasa ingin tahu mengenai karakter dan asal muasalnya dibanding kepercayaan pada Qarin atau Qarina . Kemungkinan berawal dari agama Mesir kuno, atau kepercayaan animisme yang lazim terdapat di Arab dan juga Mesir, yang sejaman dengan Muhammad. Melalui Qarin atau Qarina, umat Islam memahami ada karakter ganda dalam satu individu: temannya, pendampingnya, setan terdekatnya. Jika ia laki-laki maka roh tersebut perempuan, dan jika ia perempuan roh tersebut laki-laki. Pasangan ini secara umum dipahami sebagai iblis, setan atau jin yang lahir di saat yang sama dengan kelahiran seseorang, dan menjadi pendamping tetap seumur hidupnya. Qarin adalah keturunan Iblis.

ImageImage


Konsep jiwa dan serta kepercayaan pada karakter ganda di umat Islam sangat mirip dengan gagasan yang dianut di kalangan suku Melayu dan penganut animisme lainnya. Kita baca, “Konsep Melayu mengenai jiwa manusia adalah sejenis species sebesar ibu jari, selapis tipis rapuh bayang manusia, atau manikin, yang kadangkala terpisah dari tubuh disaat tidur, trance, sakit, dan terpisah selamanya setelah kematian.

Manikin
ini, biasanya tak terlihat namun diperkirakan sebesar ibu jari, yang perwujudan bentuk, proporsi dan bahkan kompleksitasnya terhubung persis dengan wujud atau penampilan tubuh manusia yang ia tempati. Sebentuk bayang tipis, samar, yang walau tidak bisa dirasakan namun dapat menyebabkan pergantian saat memasuki suatu objek fisik…… Roh yang bagi manusia (baik dalam keadaan sadar maupun tidur) tampak sebagai sosok hantu yang keluar dari tubuh, yang berbagi kesamaan/kemiripan, dan berbagi manifestasi kekuatan fisik, berjalan, duduk dan tidur.’” 1. Bagaimana konsep ini dalam Islam, akan kita lihat sejenak.

Bahwa bayangan seseorang merupakan jiwa kedua, atau kembaran jiwa, adalah juga gagasan animistik. Gagasan serupa ada di dalam Islam, dimana bayangan seekor anjing akan mencemarkan/menajiskan seseorang yang sholat seakan anjing itu sendiri. 2 Orang-orang Jawa percaya bahwa anak ayam hitam atau kucing hitam tidak memiliki bayangan karena mereka datang dari dunia bawah/neraka. Saat kita membaca mengenai ini, mau tidak mau kita membandingkannya dengan keyakinan umat Islam akan Qarin.

Ada banyak ayat di dalam Quran dimana doktrin ini diajarkan dengan gamblang, dan dengan membaca tafsir-tafsir mengenai ayat-ayat tersebut, dunia tahyul penuh rasa takut, vulgar dan yang paling tidak masuk akal, terpampang di hadapan para pembaca. Di dalam Quran, surah Gua/Al-Kahfi (18), ayat 50, terbaca sbb: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” Referensi disini adalah kata-kata: ‘Iblis dan keturunannya.” (Khususnya lihat di ‘Comentary of Fahr al Din al Razi,’ halaman pinggir, vol. V; hal.75.)

Berbicara mengenai kebangkitan ketika sangkakala ditiup dan hari penghakiman tiba, kita baca di Surah Qaaf (50), ayat 21-30, “Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Dan yang menyertai dia (qarin) berkata: "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku. Allah berfirman: "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat. Yang menyertai dia (qarin) berkata (pula): "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh. Allah berfirman: "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam: ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab: ‘Masih ada tambahan?’

Dan lagi kita baca di Surah Wanita/An Nisa’a (4), ayat 38, “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya (qarin), maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”

Lagi: Surah Yang Ber-Saf/As-Saffat (37), ayat 48-56, “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman (qarin), yang berkata: ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?’ Berkata pulalah ia: ‘Maukah kamu meninjau (temanku itu)?’ Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula): ‘Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,’”

Surah Yang Dijelaskan/Fussilat (41), ayat 25, “Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.”

Surah Perhiasan/Az-Zukhruf (43), ayat 36-37, "Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjaditeman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: ‘Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)’. (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.”

Berbicara mengenai salah satu ayat ini, apa yang dikatakan Baidhawi terkait Surah As-Saffat (37) ayat 51-56, tidak meninggalkan keraguan bahwa qarin, yang menjadi teman manusia sepanjang hidupnya, dimasukkan ke neraka di hari akhir, dan bahwa roh jahat yang lahir bersama setiap manusia ini sudah ditentukan untuk menyesatkannya, namun kehendak Allah-lah yang menyelamatkan kaum beriman, dan bahwa salah satu kemurahan khusus surga untuk orang beriman adalah menyaksikan teman syaitan (qarin)nya disiksa selamanya di neraka.

Sebelum kita melangkah lebih jauh dengan tafsir terhadap ayat-ayat ini serta ajaran-ajaran dalam buku Islam, kita pertimbangkan kemungkinan asal mula kepercayaan ini dalam ajaran yang ditemukan di dalam ‘Book of the Dead’ Mesir kuno: “Disamping tubuh-Alami dan tubuh-Roh,” tulis E.A. Wallis Budge (‘Book of the Dead,’ vol.I, p.73), “manusia juga memiliki individualitas atau kepribadian abstrak yang diperlengkapi dengan semua karakteristik yang ia miliki. Kepribadian abstrak ini memiliki eksistensi independen yang absolut. Dapat bergerak bebas dari satu tempat ke tempat lain, dapat memisahkan atau menggabungkan diri dengan tubuh sesukanya, dan juga menikmati hidup dengan para dewa di surga. Ini adalah ‘ka’sebuah kata yang kadangkala mengandung makna setara huruf Koptik
ka-1.jpg
, dan
ka-2.jpg
yang dapat diterjemahkan sebagai : gambaran/bayangan, roh pendamping/jin, karakter ganda, watak, dan atribut mental. Apa makna ‘ka’ sebenarnya belum diputuskan, dan para ahli Mesir kuno belum mencapai kata sepakat mengenai hal ini. Mr. Griffith (Hieroglyphs, hal.15) melihatnya dari salah satu sudut pandang yang menganggap ‘ka’ sebagai sumber dari kekuatan dan gerakan otot, lawan dari kata ha, kehendak atau jiwa yang menggerakkan.”


ImageImage


September 1878, M. Maspero menjelaskan kepada Anggota Kongress Lyons, mengenai pandangannya terkait kata ini, dan yang telah yang ia anut selama lima tahun terakhir mengajar di College Prancis, katanya: “ ‘ka’ ini adalah semacam kepribadian ganda manusia yang terdiri atas materi halus/tak kasat mata tidak sama dengan materi yang membentuk tubuh, namun harus diberi makan dan dirawat sebagaimana tubuh itu sendiri; kepribadian ganda ini hidup di makam dimana persembahan diberikan untuk perayaan-perayaan kanonik, dan bahkan saat ini banyak tradisi rakyat Mesir yang tadinya hanya menganggapnya sebagai roh pendamping atau pribadi ganda, kemudian menganggapnya sebagai setan saat para fellahin beralih ke Kristen dan selanjutnya ke Islam.” 4

Otoritas lain yang dikutip Mr. Budge menganggap bahwa ‘ka’ adalah roh pendamping/jin bukan karakter ganda. Mr. Breasted beranggapan ‘ka’ adalah roh pendamping yang superior yang dimaksudkan untuk memandu nasib seseorang di kehidupan selanjutnya. Namun Mr. Budge berkata, “Hubungan antara ‘ka’ dan persembahan (sesajen) di kuburan telah cukup dibahas oleh Baron Fr. W. v.Bissing (Versuch einer neuen Erklarung des ‘ka’'i der alten Aegypter in the Sitzungsberichte der Kgl. Bayer. Akad., Munich, 1911), dan kelihatannya solusi yang tepat atas misteri tersebut dapat diperoleh dengan mengkaji di tataran gagasannya (yang telah diterbitkan dalam Recueil, hal.182) serta membandingkan berbagai gagasan mengenai ‘karakter ganda’ yang dipercayai masyarakat Afrika di seluruh Sudan.

Sesajen di makam berupa daging, kue, aye, anggur, unguents, dll., ditujukan untuk ‘ka’; aroma dupa yang dibakar merupakan ucapan terimakasih untuknya. ‘Ka’ manusia berdiam di patung manusia sama seperti ‘ka’ dewa tinggal di patung dewa. Di masa yang sangat kuno, makam memiliki kamar khusus dimana ‘ka’ disembah dan menerima sesajen. Kedudukan imam dipangku oleh sekelompok orang yang menyandang nama ‘imam-imam ‘ka’ dan menyelenggarakan ibadah sembahyang pada ‘ka’ di ‘kuil kecil ‘ka’!’

Walaupun bukan dari sudut pandang ahli Mesir Kuno, saya percaya makna penting ‘ka’ akan diperjelas melalui pemahaman atas apa yang saat ini diajarkan dalam Islam populer.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby keeamad » Sat May 12, 2012 10:45 pm

@ ANNE
Paham saya sekarang, iblis itu akan dengan senang HATI DATANG JIKA KITA YANG MENGUNDANGNYA ....
Dengan doktrin islam yg seperti itu, KITA DIYAKINI BAHWA KITA DIDAMPINGI PENDAMPING,
ADALAH SALAH SATU CARA IBLIS AGAR MEREKA SELALU DIUNDANG OLEH Umat Muslim,
kapanpun, dimanapun, siapapun ....
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Postby anne » Sat May 12, 2012 11:19 pm

Apapun mungkin makna penting ‘ka’ dalam ilmu pengetahuan Mesir kuno, kita tidak meragukan apa yang Muhammad sendiri pikirkan mengenai ‘ka’ atau qarin ini. Dalam sebuah buku yang paling terkenal diantara semua buku Islam mengenai doktrin jin, yang berjudul ‘Kitab akam al marjan fi Ahkum al Jan’ oleh Abdullah-esh-Shabli (769 A.H.), kita baca di bab 5, sbb: “Diriwayatkan Muslim dan lainnya dari Aisyah bahwa Rasullullah meninggalkannya suatu malam dan ia berkata, ‘Aku cemburu padanya.’ Kemudian ia berkata, ‘Muhammad saw melihatku, menghampiriku dan berkata, ‘Ada apa denganmu, Aisyah? apakah kau cemburu?’ Dan aku menjawab, ‘Mengapa orang sepertiku tidak cemburu pada orang sepertimu?’ Kemudian Rasullullah berkata, ‘Apa setanmu mendatangimu?’ Kemudian aku bertanya, ‘Wahai Rasullullah, apakah ada setan menyertaiku?’ Ia menjawab, ‘Ya. Juga menyertai semua manusia’ Kataku, ‘Menyertai engkau juga wahai Rasullullah?’ Ia menjawab, ‘Ya, hanya saja Rabbku menolongku mengalahkannya hingga ia masuk Islam.’”

Hadist lain dicantumkan dalam bab yang sama atas otoritas Ibn Hanbal sbb: “Berkata Rasullullah, ‘Tidak seorangpun diantara kalian, yang tidak memiliki qarina dari jin dan qarina dari malaikat,’ Mereka berkata, ‘Dan engkau juga, wahai Rasullullah?’ ‘Ya,’ jawabnya, ‘Aku juga, tapi Allah telah menolongnya sehingga ia tidak memerintahku kecuali dalam hal yang benar dan baik.’” Hadist yang dicantumkan disini muncul dalam berbagai bentuk penyajian di bab yang sama, sehingga tidak ada keraguan keberadaannya telah diketahui dengan baik dan, dalam istilah Islam, sahih/otentik. (Ahmad dan Muslim).

Berikut, bentuk lain dari hadist serupa “Berkata Rasullullah, ‘Aku lebih unggul dari Adam dalam dua hal, setanku (qarina) yang kafir menjadi Muslim dengan pertolongan Allah, dan istri-istriku menolongku, tetapi setan (qarina) Adam tetap kafir dan istrinya membawanya dalam godaan.’” (Baihaqi)

Kita juga membaca mengenai doa malam Muhammad sbb: “Bilamana Rasullullah hendak pergi tidur di malam hari, ia berkata, ‘Dalam nama Allah sekarang membaringkan diri dan mencari perlindungan darinya dari pengaruh jahat setanku (qarina), dan dari beban dosaku dan kejahatan-kejahatanku. Ya, Allah, biarlah aku menerima keputusan tertinggi.’”

Mengenai jumlah para setan pendamping ini serta asal mereka, Hadist menyebutkan, “Dikatakan bahwa ada setan laki-laki dan setan perempuan, dari siapa mereka berkembang biak; namun mengenai Iblis, Allah telah menciptakan…..(Arti penting bagian ini, yang tidak pas bila diterjemahkan adalah bahwa Iblis hermaphrodit)….daripadanya setiap hari menghasilkan 10 telur, dan dari setiap telur lahir 70 setan laki-laki dan perempuan. (Ibn Khallikan, dikutip dari Hayat al-Hawayan, artikel mengenai jin.)

Di hadist lain dalam koleksi standar juga dikatakan bahwa Iblis meletakkan 30 telur: “sepuluh di barat, sepuluh di timur, dan sepuluh di tengah bumi, dari setiap telur-telur tersebut keluar sejenis spesies setan, seperti al-Gilan, al-‘Akarib, al-Katrib, al-Jann, dan lain-lain dengan beragam nama. Menurut firman Allah mereka semua adalah musuh manusia. ‘Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada kami, sedang mereka adalah musuhmu? dengan perkecualian yang beriman diantara mereka.’”

qarin.JPG


Al-Tabari, dalam tafsir terkenalnya, vol. 26, hal.104, berkata qarin atau qari adalah setan di setiap manusia, yang ditunjuk untuk memalingkannya di dunia. Ia kemudian membuktikan pernyataannya dengan serangkaian hadist serupa dengan yang telah dikutip di atas: “qarin-nya adalah setannya”; atau menurut hadist lain, “qarina-nya adalah jin-nya”(qarin bentuk maskulin, qarina feminine). Menurut hadist Islam, bukan hanya Muhammad, bahkan Yesus (Islam: Nabi Isa) memiliki qarin. Namun, karena Ia tidak berdosa dan karena –sesuai hadist yang sudah dikenal—Iblis tidak mampu menjamahNya saat kelahiranNya, maka qarinNya seperti qarin Muhammad, qarin yang baik. “Atas otoritas Ka’ab, Roh Kudus, Jibril, menguatkan Yesus karena Ia adalah qarinNya dan pendamping setianya, dan pergi bersamaNya kemanapun Ia pergi sampai hari dimana Ia diangkat ke surga.” (Qusus al Anbiya, oleh Al Tha’alabi.)

Dalam kasus Muhammad dan Yesus, dan kemungkinan juga dalam kasus nabi-nabi lain, qarin atau qarina digambarkan berupa sosok roh yang baik; sementara dalam ajaran secara umum, di diri semua manusia, non-Muslim atau Muslim, memiliki roh terdekat yang dalam berbagai kasus pencemburu, ganas dan menyebabkan sakit secara fisik maupun moral, tapi tetap aman sejauh pengaruhnya bisa diatasi dengan ilmu gaib atau agama. Disinilah berbagai praktek kepercayaan mendominasi dalam Islam populer. Untuk melawan roh pencemburu, sosok diri yang lain, inilah maka anak-anak mengenakan manik-manik, jimat, benda gaib, dsbnya.

Melalui sosok diri yang lain ini jugalah kecemburuan, kebencian dan iri hati menghalangi cinta antara suami istri, menyebabkan sterilitas dan kemandulan, membunuh anak yang belum lahir serta menimbulkan kesengsaraan yang tak terhitung baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Qarin diyakini sering mengambil bentuk kucing atau anjing, ataupun binatang peliharaan lain. Yang lazim dipercaya, qarin berdiam di tubuh seekor kucing di malam hari, sehingga tak seorangpun baik Koptik maupun Muslim berani memukul atau melukai kucing di malam hari. 5

Banyak tindakan pencegahan diambil untuk menyelamatkan bayi yang belum lahir dari roh pendampingnya, atau mungkin lebih tepat dari roh pendamping ibunya yang cemburu pada anak yang dikandung itu. Mayor Tremearne, yang mempelajari mengenai masalah ini di Afrika Utara, berkata (‘Ban of the Bori,’ hal.97) qarin tersebut “tidak muncul sampai bayi benar-benar lahir, karena jenis kelaminnya belum diketahui sebelum ia lahir.” Dan juga (hal. 131): “Semua manusia, hewan, tumbuhan dan batu-batu besar, memiliki jiwa permanen (quruwa) dan bori terdekat yang berjenis kelamin sama, dan selain itu, orang-orang muda memiliki bori sementara yang berjenis kelamin berlawanan, sementara semua mahluk hidup memiliki dua malaikat. Batu-batu kecil tidak memiliki jiwa, demikian pula batu-batu besar yang berada jauh di dalam tanah, ‘karena mereka jelas mati,’ lagipula mereka tidak akan dikubur. Jiwa tersebut mempunyai bentuk seperti bentuk tubuh yang ia tempati, dan berdiam di dalam hati, namun darimana ia datang dan kemana ia saat keluar dari tubuh tidak diketahui. Ia bukanlah bayangan (ennuwa) karena ia tidak terlihat, dan pada kenyataannya ennuwa adalah bayangan baik dari tubuh maupun jiwa. Tetapi kadangkala kata quruwa digunakan secara luas untuk bayangan juga, dan ada kaitan jelas karena dukun sihir dapat mengambil jiwa darinya. Ia juga bukan nafas, karena saat seseorang tidur, jiwanya mengembara; bahkan jiwa juga mengembara saat seseorang melamun.”

Semua ini, yang merupakan gambaran dari kondisi di kalangan Muslim Hausa di Afrika Utara, sangat mirip dengan kepercayaan di Mesir. Jin dari jenis kelamin berbeda yang menjadi pendamping umumnya berdiam di bawah tanah. Ia tidak ingin pasangannya yang fana menikah. Karena, sekali lagi saya kutip dari Mayor Tremearne, “Ia tidur bersama orang tersebut dan memiliki hubungan selama tidur yang dikenal sebagai mimpi.” Pendamping tidak terlihat dari jenis kelamin berbeda ini di Mesir biasa dipanggil ‘saudara perempuan’ atau ‘saudara laki-laki.’ Mereka biasanya tinggal di tempat yang teduh dan sunyi, terutama di bawah pintu masuk rumah. Kematian satu atau lebih anak dalam keluarga seringkali dikaitkan dengan keberadaan roh pendamping ibunya, dan sebab itulah sang ibu beserta anak-anak yang masih hidup mengenakan gelang kaki besi untuk menangkal bahaya ini. Kebanyakan orang percaya bahwa qarin meninggal bersamaan dengan orang yang ia tempati; sementara lainnya percaya bahwa qarin berada di kuburan bersama tubuh orang yang meninggal. Walaupun secara umum tidak terlihat, orang-orang yang memiliki penglihatan kedua (mata batin) bisa melihat qarin. Di malam hari qarin berkeliaran dalam bentuk seekor kucing.

Baru-baru ini saya mendapat penuturan langsung dari Sheikh Ahmed Muharram dari Daghestan dan kemudian dari Smyrna mengenai kepercayaan populer ini. Ia berkata bahwa yang ia nyatakan mewakili keyakinan semua penganut Islam Turki dan Rusia. Qurana (bentuk jamak qarin) datang ke dunia dari Alalam ul Barzakhiya (alam barzakh) 6 saat anak masih dalam kandungan; karena itu selama tindakan persetubuhan, umat Islam diperintah nabi mereka untuk mengucapkan kata ‘bismillah.’ Hal ini untuk mencegah anak tersebut dikuasai oleh setannya serta mengubahnya menjadi kafir atau orang jahat. Qarin berada bersama janin di rahim. Ketika si anak lahir, upacara mengucapkan syahadat di telinga kanan dan azan di telinga kiri adalah untuk melindungi anak tersebut dari roh pendampingnya. Diantara berbagai jimat yang dipakai untuk melawan qurana, ada bagian dari ayat-ayat Quran yang tertulis di lempengan timah berbentuk cakram atau ikan. Qurana tidak terlihat kecuali oleh orang-orang idiot dan para nabi. Orang-orang yang sering memiliki mata batin. Qurana tidak meninggal bersama teman hidupnya, namun berada di kuburan sampai hari kebangkitan, saat dimana mereka menjadi saksi melawan teman manusianya.


Image
Sesajen di kuburan Muslim syiah.

Image
Baca-baca doa di kuburan Islam


Penyebab mengapa anak-anak kecil meninggal adalah karena Um es Subyan (pembenci si anak/qarin ibunya) cemburu pada sang ibu, dan ia kemudian menggunakan qarin anak tersebut untuk membunuh si anak. “Cara saya mengalahkan qarin saya,” kata Ahmed Muharram, “adalah dengan sembahyang dan berpuasa. Saat seseorang tidur-lah qarinnya lebih kuat dari dia. Bila saya melakukan kecerobohan atau lupa saat sholat, itu adalah karena qarin saya bukan saya. Qarin bukan hanya roh semata melainkan juga tubuh spiritual, dan tubuh spiritual mereka berbeda satu sama lain, walau tidak terlihat oleh kita. Namun qarin tidak bertambah ukurannya sebagaimana anak yang ia tempati.” Si Sheiks tampaknya ragu mengenai jenis kelamin qarin. Awalnya ia tidak mengakui bahwa jenis kelamin seseorang menunjukkan jenis kelamin qarinnya, karena beranggapan tidak pantas bila seorang pria memiliki qarin perempuan, namun setelah berdiskusi ia mengaku salah. Ia juga mengakui bahwa semua kepercayaan populer ini berdasarkan Quran dan Hadist, meskipun praktek tahyul ini telah menjalar kemana-mana.

Seorang Sheikh terpelajar di Caliub, sebuah desa Islam dekat Kairo, juga ditanyai mengenai hal ini. Pada mulanya ia mencoba menyingkirkan ide di Islam populer tersebut dengan mengatakan bahwa qarin hanya mengacu pada naluri atau sifat jahat yang ada di diri manusia, namun setelah beberapa pertanyaan ia menjadi banyak bicara, dan memberikan keterangan berikut: Ibu yang sedang hamil, karena takut akan qarin, ia mengunjungi seorang sheikha (ulama perempuan/perempuan tua panutan) tiga bulan menjelang kelahiran si bayi serta melakukan apa saja yang sheikha itu katakan sebagai penolak bala. Para sheikha ini memiliki pengaruh besar terhadap para wanita dan menyuburkan kepercayaan tahyul mereka; sering meniru sebagai qarin dan menakuti mereka yang b0doh. Para ibu Muslim seringkali menyangkal jenis kelamin bayinya tujuh hari sejak kelahiran, untuk melindungi bayi dari qarin. Selama tujuh hari itu ia tidak boleh menyakiti kucing, atau ia dan bayinya, keduanya akan meninggal. Lilin dinyalakan di hari ke tujuh dan diletakkan dalam kendi air dekat kepala si bayi untuk menjaganya dari qarin. Sebelum bayi lahir, jimat khusus dipersiapkan, terdiri dari tujuh biji-bijian dari berbagai jenis tanaman padi-padian. Dijahit dalam sebuah kantong kecil yang dikalungkan atau dikenakan di tangan setelah si anak lahir. Sang ibu juga menuliskan ayat-ayat Quran tertentu dengan air musk atau tinta, di bagian dalam sebuah piring putih, yang kemudian diisi air sehingga tulisan terhapus dan airnya diambil sebagai ramuan. Sheikh berkata bahwa dua surah terakhir Quran dan juga surah Al Mujadala, paling sering dipakai untuk tujuan ini. Salah satu jimat yang paling lazim digunakan untuk melawan qarin ibunya atau pembenci si anak, disebut “Tujuh Segel Solomon.” 7

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Seal_of_Solomon

Image
Segel Solomon pada koin2 'falus' (?) Maroko
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby keeamad » Sat May 12, 2012 11:27 pm

Di agama sebelah, hal2x tsb harus dijauhi ...
Sementara di islam, itu harus diyakini SEBAGAI PENDAMPING !!!

Wow ....
User avatar
keeamad
 
Posts: 6944
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Postby anne » Sat May 12, 2012 11:42 pm

sudah diperiksa ali5196 :prayer:

Di Mesir Atas, pengantin mengenakan jimat khusus terhadap qarin yang diikat di rambutnya, di punggung, atau di bagian lain tubuhnya. Jimat tersebut berupa kantong persegi tiga sepanjang satu inci dari kain berwarna, berisikan biji-bjian. Lidah keledai yang dikeringkan dianggap jimat yang paling ampuh untuk melawan qarin, dan dipakai sebagai jimat di rumah ataupun dipakai seseorang.

Jimat ketiga untuk menghadapi qarin, saya dapatkan contohnya dari desa Sirakna, berupa cincin perunggu pipih berdiameter tiga perempat inci. Pada jimat ini mereka ikatkan benang berwarna kuning, merah dan sutra biru. Kemudian digantung di ketiak anak kecil untuk melindunginya dari qarin.

Amulets.jpg

Berbagai amulet/jimat serta ayat-ayat Quran yang dimasukkan ke dalamnya.

Berbagai mantra dan jimat berlimpah banyaknya. Buku-buku mengenai ini dicetak ribuan eksemplar. Berikut, keterangan yang diberikan dalam pembuatan jimat dalam sebuah buku terkenal berjudul Kitab Afujaribat oleh Sheikh Ahmed Al Dirbi (hal.105):

“Bab ini (bab 24) memberikan pengarahan mengenai jimat yang digunakan menghadapi qarin dan mengatasi keguguran. Ini adalah jimat yang diberkati yang dipersiapkan untuk menjaga dari kejahatan fisik dan spiritual, menghadapi bahaya dan sihir, ketakutan, terror, jin, qarin, roh-roh di sekitar, hantu-hantu, demam dan berbagai penyakit serta mengompol, dan melawan pembenci anak (Um es Subyan), angin puyuh, setan dan serangga beracun, mata jahat, wabah penyakit, dan menjaga anak menangis saat tidur—dan kegaiban tulisan ini anak yang tiba-tiba marah setiap bulan atau setiap minggu atau yang tidak bisa berhenti menangis, atau wanita yang gampang keguguran.”


Dan dikatakan pula bahwa jimat tersebut mengandung nama Allah yang besar dan berkuasa—singkatnya, berguna untuk semua kejahatan. Jimat harus ditulis di jam pertama, hari pertama di minggu itu, dan terbaca sbb:
“Dalam nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang, Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); dsbnya. (hingga akhir ayat Kursi). Dalam nama Allah, untuk Allah dan kepada Allah, dan tidak ada satupun pemenang kecuali Allah, dan tidak ada yang bisa menyelamatkan dia yang ingkar dari Allah, karena ia adalah yang hidup, yang tidak bergantung pada siapapun, yang tidak menutup mata atau tidak tidur, dsbnya. Aku meletakkan dalam penjagaan Allah dia yang membawa jimat ini, tuhan yang selain dia tiada yang lain, yang mengetahui yang tersembunyi dan terbuka. Ia maha pengasih lagi maha penyayang.

Aku melindungi si pemakai dengan kata-kata Allah yang maha sempurna dan dengan namanya yang mulia, dari kejahatan yang mendekat dan mata–mata yang berkedip dan roh-roh jahat, dan dari kejahatan bapa segala kejahatan beserta keturunanya, dan dari kejahatan mereka yang meniup buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki ketika ia iri, dan aku meletakkan dia di bawah perlindungan Allah yang maha suci, raja para malaikat dan roh-roh, tuhan dunia, tuhan tahta agung, Ihyashur, Ihyabur, Ihya-Adoni, Sabaoth Al Shaddai; 8 dan aku meletakkan si pemakai di bawah penjagaan Allah dengan cahaya wajah Allah yang tidak berubah dan dengan matanya yang tidak tidur atau mengantuk, dan perlindungannya yang tak terbayangkan atau tak bisa dihindari, dan pertolongan dia yang tidak memerlukan pertolongan, dan kebebasannya yang tidak ada menyamai, dan keabadiannya tanpa akhir, keilahiannya yang tak terkalahkan, dan keberadaannya yang tak bisa dihindari; dan aku meletakkan si pemakai di bawah perlindungan tuhan Jibril dan Mikail dan Israfil dan Izrail dan Muhammad, penutup para nabi, dan tuhan semua nabi dan rasul, dan dalam nama Dia yang menciptakan para malaikat dan menetapkan langkah mereka oleh keagungannya, untuk menahan tahtanya ketika berada di permukaan air, dan oleh delapan nama tertulis, sepuluh di tahta Allah.

Aku juga memberi pada si pemakai, perlindungan dari K.H.T.S. dan tujuh H.W.M. dan H.M.S.K. dan dengan jimat M.S. dan M.R. dan R. dan H.W.M. dan S. dan N. dan T.H. dan Y.S. 9 dan Quran dan dengan nama Allah yang maha tersembunyi dan buku mulianya dan oleh dia yang bercahaya mengatasi segala cahaya, dengan namanya yang berkelebat dalam kegelapan malam dan dihancurkan apinya segala perlawanan iblis dan membuat semua yang takut percaya padanya; dan dengan nama dia yang membuat manusia dapat berjalan di atas air dan menjadikannya sebagai tanah kering; dan dengan nama yang kau sebut dirimu sendiri dalam buku yang diturunan, dan tidak engkau singkapkan pada siapapun, melainkan mereka yang kekuasaannya engkau kembalikan ke tahtamu setelah penciptaan; dan dengan nama dimana engkau meninggikan langit dan membentangkan bumi dan menciptakan surga dan neraka; dengan nama dimana engkau membelah laut untuk Musa dan mengirim banjir untuk orang-orang Nuh, nama yang tertulis di tongkat Musa dan dengan nama dimana engkau membangkitkan Yesus, nama yang tertulis pada daun pohon-pohon zaitun dan pada dahi para malaikat yang mulia.

Dan aku meletakkan orang yang memakai jimat ini di bawah perlindungan dia yang ada sebelum semuanya dan yang yang akan hidup selamanya dan yang telah menciptakan semuanya, Allah, selain dia tiada yang lain, yang hidup. Dia maha mengetahui dan bijaksana; dan aku meletakkan si pemakai di bawah perlindungan nama Allah yang dengannya ia menetapkan tujuh langit, dan bumi dengan gunung dan air di atasnya sehingga mengalir, dan air terjun sehingga menyembur, dan sungai sehingga mengairi bumi, dan pohon-pohon yang berbuah, dan awan yang memberi hujan, dan malam menjadi gelap dan fajar menjelang, dan bulan memberikan cahayanya dan matahari bersinar, dan bintang melintas di lintasannya, dan angin yang membawa pesannya; dan aku meletakkan si pemakai di bawah perlindungan nama yang dengannya Yesus berbicara dalam buaian dan dengannya Yesus membangkitkan orang mati dari kubur, mencelikkan mata orang buta dari lahir dan menyembuhkan orang yang sakit lepra, dan membuat orang bisu bicara.

Dan aku melindungi dia dengan nama Allah yang maha penyayang beserta namanya yang agung dan firmannya yang sempurna, dimana tidak yang kaya maupun yang berdosa dapat bertahan; dari kejahatan yang turun dari langit atau kejahatan yang naik ke langit, dan dari kejahatan yang ditemukan di atas bumi atau keluar dari bumi, dan dari terror malam dan siang hari, dan dari penindasan malam dan siang hari; dan aku melindunginya dari segala pengaruh jahat yangberkuasa, dan dari iblis terkutuk, dan dari orang yang iri, dan dari kafir jahat; dan aku melindunginya dengan nama tuhan Ibrahim, sahabat Allah, dan Musa, juru bicara Allah, dan Yesus dan Yakub dan Ishak dan Ismael dan Daud dan Sulaiman dan Ayub dan Yunus dan Harun dan Seth dan Habel dan Henokh dan Nuh dan Elia dan Zakharia dan Yahya dan Hud dan Elisa dan Zulkifli dan Daniel dan Yeremia dan Shu’aib dan Ilyas dan Salih dan Ezra dan Saul dan Nabi Ikan dan Lokman dan Adam dan Hawa dan Alexander yang Agug dan Maria dan Asiah (istri Firaun) dan Bilkis dan Kharkil dan Saf bin Berakiah dan Muhammad penutup para nabi; dan aku melindungi dia dengan nama Allah yang selain dia tak ada yang lain, yang tetap ada setelah semua binasa, dan dengan kekuasaannya dan dengan kekuatannya dan dengan keagungannya mengatasi segala ciptaan dan segala iblis lelaki dan perempuan, dan segala jenis jin lelaki dan perempuan, dan roh pendamping lelaki dan perempuan, dan tukang tenung dan penyihir, dan penyesat lelaki dan perempuan, dan kafir lelaki dan perempuan, dan musuh lelaki dan perempuan, dan hantu dan setan, dan dari mata jahat dan iri, dari kejahatan di telinga dan mata dan lidah dan tangan dan kaki dan jantung dan nurani, tersembunyi atau terbuka.

Dan aku melindungi si pemakai dari segala sesuatu yang keluar dan masuk, dari setiap nafas yang membangkitkan kejahatan atau dari gerakan manusia atau hewan, baik ia sakit maupun sehat, terjaga atau tidur, dan dari kejahatan yang berdiam di bumi atau di awan atau di pegunungan atau di udara atau debu atau uap atau gua-gua atau sumur-sumur atau tambang, dan dari iblis dalam dirinya, dan dari setan yang melayang, dan dari mereka yang melakukan sihir dan dari kejahatan angin badai yang disebabkan pemimpin jin, dan dari kejahatan mereka yang tinggal di kuburan dan tempat tersembunyi, di kolam-kolam dan sumur-sumur dan dari dia yang bersama binatang liar atau di dalam rahim, dan dari dia yang mencuri dengar rahasia para malaikat, dsb….. dsbnya….” (setelah ini jimat ditutup dengan kata-kata syahadat Islam yang ditulis tiga kali, azan dua kali dan..) “Rahmat dan damai Allah atas Nabi dan para sahabatnya selamanya sampai hari penghakiman. Terpujilah Allah tuhan dunia.” :rolleyes: :rolleyes:


Semua ini tampaknya merupakan puncak keb0dohan bagi Muslim terdidik. Namun ini dikutip dari salah satu buku terlaris mengenai ilmu gaib dan pengobatan populer, yang dicetak di Kairo, edisi ke-3, 1328 Hijriah (enam tahun lalu), 192 halaman, cetakan bagus, dan dijual seharga 10 sen!

Tak seorangpun bisa menyingkirkan praktek dan keyakinan tahyul yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Quran dan Hadist ini, tanpa menyadari bahwa kepercayaan akan qarin menjadi terror siang malam bagi para ibu-ibu Muslim dan anak-anak mereka yang saleh. Ketakutan akan roh dan setan pendamping ini memperbudak mereka seumur hidup. Seorang ibu tidak pernah berani meninggalkan bayinya sendirian di Mesir karena takut pada qarin. Anak yang sedang tumbuh dilarang menapak kaki dengan keras ke tanah karena takut menyakiti qarinnya. Berbahaya bila menyiram air kea pi, jangan sampai itumenyakiti hati qarin. Anak-anak tidak boleh dibiarkan tertidur sambil menangis. Semua keinginan tiba-tiba yang aneh harus dipenuhi karena takut pada pendamping jahatnya.

Ada kepercayaan kuat di Mesir bahwa saat seorang ibu melahirkan anak laki-laki, qarinnya (maskulin) yang juga menikah dengan qarina (feminin), pada saat yang sama melahirkan qarina (perempuan). Bayi setan ini dan ibunya iri pada ibu manusia dan bayinya. Untuk menenangkan qarina tersebut mereka mengorbankan seekor ayam, harus berwarna hitam seluruhnya dan dikorbankan dengan upacara yang pantas. Tidak mungkin bisa melihat qarina kecuali dengan satu cara. Meniru tahyul Yahudi (Jewish Encyclopedia: art, demonology), seorang pria bisa melihat roh-roh jahat dengan menaruh abu janin seekor kucing hitam di sekitar matanya; atau dengan menebar abu ini di sekitar tempat tidurnya, ia dapat menelusur jejak kaki mereka di pagi hari.

Bila kita ingat bahwa hanya sepertiga dari satu persen perempuan Mesir yang bisa membaca, kita bisa bayangkan pengaruh yang ditanamkan terhadap mereka oleh para tuan penguasa tahyul, yang menjual jimat-jimat dan mendikte perilaku para calon ibu serta anak-anak mereka. Kisah-kisah menyedihkan disampaikan pada saya dari mereka yang menjadi saksi mata penipuan yang dilakukan di setiap desa di Delta.

Al-Ghazali sendiri, dalam karya terkenalnya, ‘The Revival of the Religious Sciences,’ saat bicara mengenai keutamaan kesabaran, berkata, “Dia yang lalai mengingat nama Allah walau hanya sekejap mata, saat itu juga tidak memiliki teman kecuali setan. Karena Allah telah berkata, ‘Dan barangsiapa yang berpaling dari pengingat (peringatan) Yang Maha Penyayang, kami akan rantai padanya setan, yang akan menjadi pasangannya (qarin).’”

Mungkin kita bisa menutup bab ini secara layak dengan mengutip apa yang dikatakan salah seorang terpelajar (Al-Damiri, penulis sufi Mesir) mengenai kemenangan umat percaya atas setannya dan kekuatan setan itu. Ini mungkin membawa kita ke sebuah konsep baru dari permohonan dalam Doa Bapa Kami yang kita tawarkan pula pada saudara-saudara Muslim kita: “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat” “Sesungguhnya setan adalah musuhmu, maka anggaplah ia musuhmu.(Q35:6)” Ini adalah perintah dari Dia—terpujilah Dia! –bahwa kita harus menganggap setan musuh.

Saat Al-Damiri ditanya, ‘Bagaimana kita menjadikannya musuh dan melepaskan diri darinya?’ dan ia menjawab, “Ketahuilah bahwa Tuhan telah menciptakan bagi setiap orang percaya tujuh benteng: benteng pertama adalah emas, yakni pengetahuan akan Tuhan; melingkari benteng pertama adalah benteng perak, yakni iman padaNya; melingkari benteng kedua adalah benteng besi, yakni percaya padaNya; melingkari benteng ketiga adalah benteng batu dan terdiri dari rasa syukur dan senang bersamaNya; melingkari benteng keempat adalah benteng tanah liat yang terdiri dari perintah untuk melakukan hal-hal yang sesuai hukum dan larangan melakukan hal-hal yang melanggar hukum, serta tindakan yang sesuai; melingkari benteng kelima adalah benteng emerald yang terdiri dari kejujuran dan ketulusan padaNya; dan melingkari benteng keenam adalah benteng mutiara cemerlang yang terdiri dari disiplin pikiran (jiwa).

Orang percaya berada di dalam benteng-benteng ini dan Iblis diluar mengeram, yang tidak dihiraukan orang percaya karena terlindung dengan baik di dalam benteng. Penting bagi orang percaya untuk tidak pernah meninggalkan disiplin pikiran dalam situasi apapun, atau kendor dalam keadaan apapun, karena barangsiapa meninggalkan disiplin pikiran atau mengendorkannya, akan mengalami kekecewaan karena meninggalkan disiplin terbaik, sementara Iblis terus sibuk menipunya, hendak berteman dan mendekatinya untuk mengambil semua benteng, serta mengubahnya menjadi orang tak percaya. Kita mengharap perlindungan Tuhan dari hal semacam itu! 10


CATATAN KAKI BAB VI


1 "Malay Magic,"by W. W. Skeat, London, 1900.

2 I have not found this stated in the Traditions, but it is a well known belief in Egypt and in Arabia.

3 Palmer's translation is used throughout.

4 'The Qarina. The belief in the Qarina shows itself in the common speech of the people. When an Egyptian wishes to send some one away he always uses the expression Rukh-anta-wa-huwa, i.e., Go thou and he. The latter pronoun refers to the man's demon mate or Qarina.

5 Many stories are related of the terrible consequences that follow beating a cat. These stories are credited even by the educated

6 The unseen world, Hades, the abode of Souls after death and before birth.

7 A translation of this is given in the chapter on amulets, charms and knots.

8 This portion shows Jewish origin and gives some of the Hebrew names of God-Jehovah.

9 These are the mystical letters which occur in the Koran text

10 "Al Damiri - Hayat-ul-Hayawan." Vol.I, p. 470. (English Translation by Jayakar.)
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Sat May 12, 2012 11:51 pm

@ ANNE
Paham saya sekarang, iblis itu akan dengan senang HATI DATANG JIKA KITA YANG MENGUNDANGNYA ....
Dengan doktrin islam yg seperti itu, KITA DIYAKINI BAHWA KITA DIDAMPINGI PENDAMPING,
ADALAH SALAH SATU CARA IBLIS AGAR MEREKA SELALU DIUNDANG OLEH Umat Muslim,
kapanpun, dimanapun, siapapun ....


Benar bro keeamad... O:)
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Postby ali5196 » Thu May 17, 2012 11:25 pm

Image

Qarin dan Penampakan http://majalah.hidayatullah.com/?p=3040

PENANYA: alamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

Beberapa bulan yang lalu Bibi saya meninggal dunia. Kami merawat jenazahnya sesuai dengan syariat Islam. Beberapa hari kemudian, ada keluarga saya melaporkan bahwa mereka telah melihat “penampakan” Bibi saya yang telah meninggal, di sekitar rumah. Pada mulanya saya tidak percaya, tapi yang melaporkan kejadian ini dari hari ke hari terus bertambah.

Saya bertanya kepada guru mengaji saya, beliau menyampaikan bahwa yang menampakkan dirinya seperti almarhumah adalah “qarin”, yaitu setan dari golongan jin yang menyertai setiap manusia selama hidupnya. Melalui konsultasi ini, saya mohon penjelasan lebih rinci tentang makhluk tersebut.

Atas jawabannya saya ucapkan jazakumullah.

Oki/Jakarta


JAWAB: Wa’alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakaatuh

Tentang qarin, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam firman-Nya:

(Setan) yang menyertai berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan-nya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh” (Qaaf [50]: 27)

Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, “Tidak seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin. Mereka bertanya, “Anda juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Aku juga, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam, tidaklah ia memerintahkan kepadaku kecuali kebaikan.” (Riwayat Muslim dan Ahmad dari Abdullah bin Mas’ud)

Al-Qurthubi, dalam tafsirnya menyebut qarin sebagai setan. Jadi, qarin adalah setan dari golongan jin yang mendampingi setiap anak Adam, serta berusaha sekuat daya untuk menyesatkannya dari jalan Allah yang lurus. Bagi manusia, qarin adalah ujian. Orang-orang yang berhasil dan selamat dari bujuk rayunya berarti dia telah memperoleh keberuntungan, demikian juga sebaliknya.

Al-Qur’an telah menjelaskan empat bentuk usaha qarin dalam mempengaruhi manusia. Pertama, melalui bisikan. Sebagaimana firman-Nya:
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisik-kan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Naas [114]: 4 – 6)

Kedua, menjadikan manusia lupa. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Yusuf [12]: 42)

Ketiga, memberi janji-janji dan angan-angan.
“Setan itu memberikan janji- janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka. Padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (An-Nisa [4]: 120)

Keempat, memasukkan rasa takut.
“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang beriman.” (Ali Imran [3]: 175)

Dalam kaitannya dengan “penampakan”, Badaruddin asy-Syubily menyebutkan bahwa jin memiliki kemampuan terbang dan membentuk dirinya serupa dengan hewan dan manusia. Lazimnya berbentuk ular, onta, sapi, kambing, kuda, peranakan kuda dan keledai, dan burung. Di zaman Rasulullah, kita mendapati beberapa penjelasan tentang hal ini. Salah satu di antaranya adalah penampakan jin menyerupai Suraqah bin Malik bin Ju’tsam tatkala mereka hendak keluar dalam Perang Badar. Setan dari golongan jin juga pernah menyerupai seorang kakek dari Najd tatkala kaum kafir berkumpul di “Darun-Nadwah” saat merundingkan penanganan atas Rasulullah. Lalu setan yang menyerupai seorang kakek itu dengan sangat meyakinkan mengusulkan agar Muhammad dibunuh saja. Dari penjelasan yang panjang tadi dapat disimpulkan bahwa setan dari golongan jin dapat menyerupai manusia, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bisa jadi “penampakan” yang disaksikan oleh keluarga Anda adalah qarin yang sangat hafal dengan gerak gerik, tingkah laku, dan kebiasaan almarhumah. Bisa juga jin yang lain. Wallahu a’lam.


:snakeman: :snakeman:
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Thu May 17, 2012 11:44 pm

Trims anne! Ingat .. bab berikutnya lebih seru lagi! Tentagn JINN!! :supz: :supz:
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby anne » Fri May 18, 2012 11:45 pm

BAB VII
Jin


Umat Islam bersikeras mengaku percaya pada satu Tuhan. Bagian kedua dari pengakuan iman/rukun iman mereka juga menyatakan mengaku percaya pada para malaikat Allah. Kata yang digunakan disini adalah mala’ikat, berasal dari akar kata Arab ‘alaka yang bermakna membawa pesan. Asal kata tersebut dengan demikian mirip dengan kata malaikat dalam bahasa Inggris: angel. Namun, istilah malaikat dalam Islam tersebut mencakup tiga jenis ciptaan yang berbeda.

Pertama, malaikat. Dlm arti kata: utusan surgawi yang dikaruniai tubuh halus dan diciptakan dari cahaya. Mereka tidak makan, minum atau memiliki jenis kelamin. Karakteristik umum mereka adalah taat sepenuhnya pada kehendak Allah. Mereka termasuk dalam pasukan budak/hambaNya. Tempat mereka di surga, dan pekerjaan mereka secara umum adalah menyembah dan menjalankan perintahNya. Penampilan mereka indah dan mereka terbagi dalam kelompok dan tingkatan. Empat jenis malaikat terpenting yang sudah sangat diketahui, yakni: 1.dua malaikat pencatat, satu di bahu kanan dan satu di bahu kiri, yang secara terus menerus mengawasi umat Islam (Kiraman Katibin); 2.para malaikat penjaga; 3.malaikat karubiyun (Jibril, Israfil, Izrail, Mikail); 4. malaikat kuburan (Munkar dan Nakir) dan malaikat khusus penjaga surga (Ridwan).

Mahluk spiritual lainnya adalah setan-setan dengan Iblis pemimpinnya, bernama asli Azazil.

Kelompok ketiga ciptaan supra natural tersebut, mendapatkan tempat diantara manusia dan malaikat. Mereka disebut Jin.

ImageImageImage

Gambar kiri: Nabi dan para sahabat menuju Mekah diiringi Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, tengah: Iblis dan setan-setan, kanan: Iman Ali dan Jin-jin

Menurut tradisi Islam, Jin diciptakan dari api beberapa ribu tahun sebelum Adam. Jin dianggap seperti manusia, bisa mendapat keselamatan atau kutukan di masa depan; mereka bisa menerima atau menolak pesan Allah. Mereka ada yang beriman ada yang tidak beriman (jin Islam, jin kafir). Menurut Quran, Muhammad diutus untuk meng-Islamkan baik Jin maupun manusia (lihat surah 72:1-7 dan 51:56). Diriwayatkan bahwa Jin suka mencuri dengar dan terus menerus mencoba pergi di balik tirai surga untuk mencuri rahasia-rahasia Allah. Sebab itulah para malaikat yang baik melempari mereka batu-batu, yakni batu meteor, dan si setan pelanggar ini dijuluki ‘yang dilempar/terkutuk’ – Ar-rajim. (Lihat surah 67:5; 37:6-10; 15:16-18, 16:98, dsb.) Dikatakan bahwa semua roh-roh ini umumnya bertempat tinggal di pegunungan Qaf yang diperkirakan mengitari dunia.

Walaupun Muhammad dikatakan menghancurkan kemusyrikan dalam bentuk kepercayaan maupun dewa2nya, lapisan bawah paganisme tetap ada dan masuk dalam Islam dengan keberadaan ayat-ayat mengenai Jin ini. Wellhausen telah memperlihatkan bagaimana kepercayaan akan Jin telah dikenal luas, mengakar sebelum Islam. Manusia dan Jin sering disebut sebagai Thaqalan, yakni dua jenis keberadaan materi yang diperlengkapi dengan jiwa. Asal muasal kata tersebut secara etimologis sungguh menarik dan asalnya yang serumpun dengan kata-kata seperti ‘taman, janin, perisai’ menunjukkan akar makna serupa: menyembunyikan, menutupi (tersembunyi dari pandangan). Diantara nama-nama untuk Jin, berikut untuk jin perempuan: ghul, si’lat, ‘alug dan ‘aulug. Jin pria disebut ‘afrit dan ‘azab, dsbnya. Kata ‘afrit muncul di Quran (surah 27:39): “Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".

Image
Jin Ifrit


Professor Macdonald dalam bukunya yang mengagumkan, ‘The Religious Attitude and Life in Islam,’ membuka wawasan penting mengenai doktrin Jin, baik sebelum maupun setelah munculnya Islam. Ia memaparkan pada kita bagaimana Hasan ibn Thabit, sahabat dekat Muhammad, dan orang yang memujinya (nabi) dalam puisi-puisinya, mulai menulis puisi karena dipaksa sosok Jin perempuan. “Ia (Jin Perempuan) bertemu dengannya di salah satu jalan di Medinah, melompat ke arahnya, menindihnya dan memaksanya mengucapkan tiga syair puisi. Selanjutnya jadilah ia seorang penyair dan ayat-ayat mengalir padanya sebagaimana penyair Arab lain, diinspirasi langsung dari Jin. Ia mengakui sendiri bahwa ‘saudara-saudara Jin’nya yang merangkaikan kata-kata artistik baginya, dan bahwa baris-baris tersebut dikirim padanya dari langit saat malam hari. Yang menarik adalah ungkapan-ungkapan yang ia gunakan persis sama dengan ‘ayat-ayat yang diturunkan’, yakni wahyu Quran.” :shock:

Macdonald menunjukkan, ada persamaan pada kisah bagaimana Hassan ibn Thabit mendapat inspirasinya, dengan kisah yang kita baca tentang bgm Muhammad mendapat wahyu pertamanya. “Sama seperti Hassan yang ditindih roh perempuan dan memaksanya mengucapkan ayat-ayat, demikian juga Muhammad dipaksa Jibril untuk mengucapkan wahyu pertama. Dan kesamaan itupun berlanjut. Malaikat Jibril dikatakan sebagai roh pendamping (qarin) Muhammad seperti sosok Jin mendampingi seorang penyair. Dan kata yang sama: nafatha (meniup), digunakan sosok yang menggunakan cara gaib/sihir: Jin yang menginspirasi/meniupkan (nafatha) puisi pada penyair dan Jibril yang menginspirasi/meniupkan (nafatha) wahyu pada Muhammad.” :snakeman:

Dalam bab sebelumnya mengenai Qarin, kepercayaan akan karakter ganda atau jiwa kembar sudah dijelaskan. Disini kita membahas subjek tersebut secara umum sebagaimana yang tercantum di Quran dan tradisi ortodoks. Jin disebut dalam Quran dalam Surat 6 ayat 100-102: “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu?”

Surat 6 ayat 128: “Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Surat 7 ayat 38: “Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui".

Surat 7 ayat 179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia.”

Surat 23 ayat 68-70: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu? Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya? Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila" (Yusuf Ali: Or do they say, "He is possessed"? ; E.H. Palmer: Or do they say, 'He is possessed by a ginn?). Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.”

Surat 34 ayat 46: “Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila (Yusuf Ali: and reflect (within yourselves): your Companion is not possessed ; E.H.Palmer: that ye reflect that there is no ginn in your companion) sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.”

Surat 55 ayat 14-15: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”

Surat 55 ayat 33: “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”

Dari seluruh surat al-Jinn--yakni surat 72--ayat-ayat penting adalah yang awal:
“Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak….”

“Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,”

“dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,”

“dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,”


Dan surat terakhir Quran (114), salah satu tang secara kronologis termasuk wahyu awal, berbunyi: “Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Image
Mesjid Jin di Mekah. Sejumlah jemaah menunggu waktu shalat Magrib di Masjid Jin di Mekah, di sebelah kiri pekuburan Ma'la (ada makam Khadijah), berjarak 1,5 kilometer dari Masjidil Haram. Dikatakan bahwa di tempat ini Muhammad bicara dengan jin, dan tempat turunnya surah al-Jin.


Kepercayaan pada jin di kalangan umat Islam SAMA dengan kepercayaan akan mahluk spiritual lain seperti: setan, hantu/arwah, peri, dsbnya dalam agama-agama Afrika. Nassau menulis (p.50): “Kepercayaan akan makhluk spiritual membuka suatu perspektif yang amat luas akan sisi tahyul murni dalam teologi agama-agama orang Bantu Afrika. Atmosfir suasana dan masa depan dipenuhi dengan sejumlah besar makhluk yang tak terbatas ini. Sikap Sang Pencipta (Anyambe) terhadap ras manusia dan hewan tingkat rendah yang tak perduli atau membiarkan adanya penderitaan menyebabkan kejahatan hadir, dan ketidakpedulianNya membuat Ia hampir tak dapat diminta pertolongan, sehingga upaya selanjutnya dalam ibadah diarahkan hanya pada roh-roh yang walaupun mungkin semuanya jahat, ada kemungkinan bisa dipengaruhi dan dibuat bermurah hati.” Nah, untuk melihat kemiripannya, kita tinggal mensejajarkan ini dengan praktek populer dalam Islam.

Jin dipanggil dengan bersiul atau meniup semacam suling/peluit. INi dikemudian hari dianggap sebagai pertanda adanya sesuatu yang jahat. Sebelum dan sesudah Islam, tempat-tempat tertentu dianggap dihuni oleh jin. Higar (kota mati dijaman Thamud), makam-makam dan toilet2 diluar rumah adalah tempat khusus bagi jin. Dimanapun ada tanah yang terganggu karena penggalian sumur atau pembangunan, disitu ada bahaya karena bisa mengganggu para jin. Kapan saja Muhammad berpindah perkemahan ia terbiasa menyuruh meneriakkan Takbir untuk mengusir mereka.

Angin puyuh juga merupakan pertanda kehadiran jin. Bilamana ayam berkokok atau keledai meringkik, itu karena mereka menyadari kehadiran jin (Bukhari 2:182). Mereka juga tinggal didalam tubuh hewan dan, sebagaimana yang dengan tepat dikatakan Wellhausen, “Zoologi (ilmu hewan) dalam Islam adalah demonology (ilmu tentang setan-setan).” Serigala, hyena, burung gagak, burung hudhud dan burung hantu adalah favorit khusus dalam konsep ini. Ada hubungan erat antara ular naga dan jin; di setiap ular ada roh baik maupun roh jahat. Contoh kepercayaan sang Nabi akan tahyul ini diberikan oleh Wellhausen. 1

Dalam agama Arab kuno, jin adalah semacam peri dan satyr (dewa) padang pasir. Mereka punya hubungan tetap dengan hewan-hewan buas dan seringkali muncul dalam bentuk kejam/kasar. Robertson Smith dalam bukunya ‘Religion of the Semites,’ memperlihatkan pada kita hubungan yang ada antara roh-roh buas ini dengan dewa-dewa. Ia berkata, “Bahkan bumi dikatakan terbagi antara setan-setan serta hewan buas di satu sisi dan para dewa serta manusia di sisi lain. Pihak pertama menguasai padang gurun/daerah liar yang tak dikenal dengan segala bahaya yang tak diketahui, tempat-tempat pembuangan dan hutan-hutan yang berada di luar padang penggembalaan dan jalan yang biasa dilintasi suku; dan hanya para pria paling berani yang mampu memasukinya tanpa rasa takut. Pihak kedua menguasai wilayah-wilayah yang dikenal manusia dan sering dilintasi, dan wilayah dimana ia telah membangun hubungan, bukan hanya dengan para tetangga manusia namun juga dengan makhluk roh yang hidup berdampingan dengannya. Dan seiring manusia memperluas batas secara bertahap ke wilayah liar, serta mendesak hewan-hewan liar di hadapannya, demikian pula para dewa dengan cara serupa mendesak setan-setan; dan tempat-tempat yang dulunya ditakuti sebagai tempat tinggal kekuatan misterius dan mungkin ganas, kehilangan daya terornya dan menjadi tempat biasa atau berubah menjadi tempat kediaman dewa-dewa/mahluk roh yang bersahabat. Dari sudut pandang ini, pengakuan akan tempat-tempat tertentu sebagai tempat yang dihantui/dihuni para dewa merupakan ekspresi relijius dari penaklukan alam secara bertahap oleh manusia.''

Bagi orang Arab di masa Muhammad, ajaran ini membentuk latar belakang dunia supranatural mereka. Para penyembah berhala Mekah menganggap jin sebagai anak laki-laki dan perempuan Allah. Ketika Islam hadir, hubungan ini disangkal, namun eksistensi jin serta karakter mereka tetap tak berubah. Dr. Macdonald mengutip sejumlah contoh dalam sejarah Islam dimana para orang suci melakukan hubungan dengan Allah melalui jin (hal. 139-152).

Image
Segala sesuatu yang tampak aneh/tak masuk akal, misalnya kamera (Muslim Mesir), dianggap dari Jin.

Image Image
RUQYAH. Segala macam penyakit fisik (demam, keracunan, luka, disengat binatang berbisa, dsbnya) maupun non-fisik (kesurupan, murung, susah tidur, menolak setan, jin, dsbnya), bisa diobati dengan cara Ruqyah, yakni membaca ayat-ayat Quran. Sebelum Islam, terapi ini sudah ada di kalangan suku-suku Arab, yakni dengan membaca mantra-mantra Arab yang memanggil/meminta pertolongan jin, setelah Islam datang menggunakan ayat-ayat Quran, dan dikatakan ‘dengan izin Allah.’

Ayat-ayat yang digunakan untuk Ruqyah
1. Surah Al-Fatihah ( ayat 1-7 )
2. Surah Al-Baqarah ( ayat 1-5 )
3. Surah Al-Baqarah ( ayat 102 )
4. Surah Al-Baqarah ( ayat 163-164 )

5. Surah Al-Baqarah ( ayat 255 )
6. Surah Al-Baqarah ( ayat 285-286 )
7. Surah Al-'Imran ( ayat 18-19 )

8. Surah Al-A'raf ( ayat 54-56 )
9. Surah Al-A'raf ( ayat 117-122 )
10. Surah Yunus ( ayat 81-82 )
11. Surah Thaha ( ayat 69 )

12. Surah Al-Mukminin ( ayat 115-118 )
13. Surah As-Shaffat ( ayat 1-10 )
14. Surah Al-Ahqaf ( ayat 29-32 )

15. Surah Ar-Rahman ( ayat 33-36 )
16. Surah Al-Hasyr ( ayat 21-24 )
17. Surah Al-Jin ( ayat 1-9 )

18. Surah A1-Ikhlas ( ayat 1-4 )
19. Surah Al-Falaq ( ayat 1-5 )
20. Surah An-Nas ( ayat 1-6 )


SUDAH DIPERIKSA ali5196--- :supz: :supz: :supz:
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Sat May 19, 2012 12:03 am

Kita tak perlu heran dengan kisah-kisah tradisi di kemudian hari ini, karena kita temui di dalam buku-buku Islam sejumlah contoh dimana Muhammad sendiri berbicara dengan jin. Berikut satu contohnya: “Suatu hari Nabi sholat shubuh bersama kami di Mesjid Al-Madina. Kemudian setelah selesai ia berkata, ‘Siapa diantara kalian yang akan mengikutiku menemui utusan jin malam ini?’ Namun orang-orang diam dan tak satupun berkata-kata. Ia berkata ‘siapa dari kalian?’ Ia mengatakannya tiga kali; kemudian ia berjalan melewatiku dan meraih tanganku, dan aku berjalan bersamanya hingga semua pegunungan al-Madina jauh dari kami dan kami berada di tempat terbuka. Dan disana ada laki-laki, menjulang seperti tombak, terbungkus jubah dari kaki ke atas. Ketika aku melihat mereka tubuhku gemetar hebat, sampai kakiku lemas ketakutan.

Ketika kami mendekati mereka Nabi membuat garis batas di tanah dengan jari kakinya yang besar, serta berkata, ‘duduklah di tengah-tengahnya.’ Kemudian ketika aku duduk semua rasa takutku beranjak pergi. Dan Nabi melintas diantara aku dan mereka serta mengucapkan ayat-ayat Quran dengan suara keras hingga fajar merebak. Kemudian ia berjalan melewatiku dan berkata, ‘Pegang aku.’ Lantas aku berjalan bersamanya, kami berjalan agak jauh. Kemudian ia berkata padaku, ‘Berbalik dan lihatlah; adakah kau lihat seorangpun disana tadi?’ aku berbalik dan berkata, ‘Wahai Rasullullah aku melihat begitu banyak kegelapan!’ Ia menundukan kepala ke tanah dan melihat tulang serta setumpuk kotoran, dan melemparkan keduanya ke mereka. Kemudian ia berkata, ‘Mereka adalah utusan jin dari Nasibin; mereka meminta makanan ternak padaku; lantas kutunjukkan pada mereka semua tulang dan kotoran.”


Al-Tabarani meriwayatkan dari hadist-hadist kuat, atas otoritas Abu-Tha’labah al-Khusnani Al-Khusnati, (Mishkat al-Masabih) dimana Nabi berkata, “Jinn ada tiga jenis: jenis jin yang memiliki sayap yakni jin di udara; jenis kedua adalah berupa ular-ular; dan jenis ketiga adalah cahaya yang menempuh perjalanan jauh.” Dan lagi, “Semua umat Islam berpendapat bahwa Nabi kita diutus untuk kaum jin dan manusia. Allah telah berfirman, ‘(Katakanlah) Quran ini diwahyukan padaku untuk memperingatkanmu dan mereka yang terjangkau.’ Quran menjangkau para jin, (sama seperti manusia). Allah juga berfirman, ‘Dan ketika kami berpaling padamu beberapa jin mendengarkan Quran, dan ketika diperdengarkan ayat-ayat Quran mereka berkata, ‘Diamlah!’ dan ketika selesai mereka kembali ke kaumnya memperingatkan mereka.”

Tradisi Islam tidak meninggalkan keraguan mengenai hubungan yang dimiliki Muhammad dengan para penghuni udara ini (hal.451). “Diriwayatkan dalam Kitab Khair al-bushr bi-khair al-bashar oleh imam Muhammad b. Dafar yang amat terpelajar, atas otoritas Ibn-Alas’ud, yang berkata, ‘Rasullullah berkata pada para sahabat saat di Mekah, ‘Barangsiapa diantaramu mau hadir malam ini untuk melihat urusan kaum jin, biarlah ikut bersamaku,’ lantas aku pergi bersamanya, dan ketika kami tiba di bagian atas Mekah, ia membuat garis batas untukku, kemudian pergi, berdiri dan mulai mengucapkan ayat-ayat Quran, yang membuatnya tersembunyi (dari pandanganku) oleh berbagai bentuk yang hadir antara aku dan dia, begitu banyak sehingga aku tidak dapat mendengar suaranya; kemudian mereka membuyar seperti awan, pergi, hanya sekelompok kecil darinya, di bawah sepuluh (dalam jumlah) tertinggal. Nabi kemudian datang dan bertanya (padaku), ‘apa yang dilakukan kelompok kecil itu?’ dan aku menjawab, ‘Itu mereka, ya Rasullullah,’ Ia kemudian mengambil sebuah tulang dan sejumlah kotoran dan memberikannya pada mereka serta melarang penggunaan tulang atau kotoran untuk membersihkan diri setelah buang air.”

Tradisi serupa ditemukan dalam Sahih Muslim (hal. 452-3), “Kami bersama Nabi suatu malam, dan kami kehilangan dia; lantas kami mencarinya di lembah dan sumber air, dan berkata (pada diri kami sendiri), ‘Ia telah dibawa dengan cepat, seolah burung-burung telah mengambilnya atau telah diperdaya, dibawa ke suatu tempat dan tewas disana.’ Kami menghabiskan malam itu dengan amat sangat buruk; namun ketika pagi tiba, ia datang dari arah Hira, dan kami berkata padanya, ‘Wahai Rasullullah, kami kehilanganmu dan mencari-cari engkau, dan menghabiskan malam dengan cara amat buruk yang bisa dilalui, yang kemudian dijawab Nabi, ‘Satu utusan jin datang padaku, maka aku pergi bersamanya dan membacakan Quran pada mereka.’ Ia kemudian pergi bersama kami dan memperlihatkan pada kami bekas-bekas perapian meeka; mereka (para jin) kemudian meminta makanan dan ia berkata (pada mereka), ‘Untuk kalian, setiap tulang yang atas nama Allah telah diambil (saat penyembelihan), yang mana boleh kalian ambil dan yang jatuh ke tangan kalian dengan sejumlah daging (pada tulang), dan semua kotoran bundar sebagai makanan ternak kalian.’ Nabi kemudian berkata (pada kami), “Jangan membersihkan dirimu dengannya karena itu makanan untuk saudara-saudarmu.’”

Lagi (di hal. 455), “Al-Bukhari, Muslim dan an-Nasa’I meriwayatkan, atas otoritas Abu-Hurairah, bahwa Nabi berkata, ‘Afrit (sesosok jin jahat) dari kaum jin tiba-tiba datang padaku tadi malam, hendak mengganggu sholatku, lantas aku mencekiknya dan hendak mengikatnya di salah satu tiang mesjid, tapi aku ingat kata-kata saudaraku (nabi) Sulaiman.”

Cerita berikut mengingatkan kita sedikit mirip kisah ‘Wandering Jew’ dan juga diriwayatkan oleh otoritas yang baik. Ditulis Damiri (hal. 461), “Aku sedang bersama Rasullullah di luar pegunungan Mekah, ketika seorang laki-laki tua bertongkat mendekat. Nabi berkata, ‘Yang berjalan itu adalah jin juga suaranya,’ dan ia menjawab, ‘Ya,’ Nabi kemudian bertanya padanya, ‘Dari kaum jin jenis apa?’ dan ia menjawab, ‘Aku Hamah bin al-Himor bin Him bin Lakis bin Iblis,’ yang mana membuat Nabi berkata, ‘Kulihat hanya berjarak dua generasi (leluhur) diantara kau dan dia (Iblis),’ dan ia menjawab, ‘Aku telah menikmati (menjalani hidup) hampir (seluruh) dunia; malam-malam ketika Kain (Kabil) membunuh Abel (Habil) aku hanyalah sosok jin anak lelaki berusia beberapa tahun dan biasa naik perbukitan yang tinggi untuk melihat ke bawah, dan biasa menghasut perselisihan diantara manusia.’ Rasullullah kemudian berkata, ‘Buruk sekali perbuatan itu!’ tapi ia menjawab, ‘Wahai Rasullullah jangan mencelaku, karena aku salah satu yang percaya pada Nuh dan bertobat melalui dia; aku kemudian mencelanya karena doanya (terhadap kaumnya—Quran 71:26-28), yang membuatnya menangis dan akupun menangis serta berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku termasuk salah satu yang bertobat dan aku berlindung pada Allah daripada menjadi salah seorang yang ****. Aku kemudian bertemu dengan Hud dan percaya padanya, dan aku bertemu Ibrahim, dengan siapa aku berada dalam api ketika ia dibuang ke dalamnya, dan aku bersama Yusuf ketika ia dibuang ke dalam sumur, mendahului dia ke dasarnya; Aku bertemu Yitro (Shu’aib), dan Musa, dan Yesus putra Maryam, yang berkata padaku, ‘Jika kau bertemu Muhammad sampaikan salamku,’ dan sekarang aku telah menyampaikan padamu pesannya dan telahpercaya padamu.’ Nabi kemudian berkata, ‘Salam bagi Yesus dan bagimu! Apa yang kau inginkan wahai Hamah?’ dan ia menjawab, ‘Musa mengajariku Pentateukh, dan Yesus mengajariku Injil dan sekarang ajari aku quran.’” Di versi yang lain dikatakan bahwa Nabi mengajarinya sepuluh surah Quran

Begitu kuatnya kepercayaan akan jin sehingga sengketa berkepanjangan timbul terkait pertanyaan mengenai 40 orang yang hadir saat sidang Jumat. Beberapa otoritas berpendapat bahwa mereka (jin) termasuk yang hadir, sementara otoritas lain tidak menerima kesaksian mereka yang mengatakan melihat jin-jin tersebut. Dalam buku-buku hukum Islam juga ada bagian khusus yang membahas masalah perkawainan jin dengan manusia serta hak mereka atas warisan!

Kita juga membaca bahwa jin tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada jeruk sitrun. “Disampaikan pada kami mengenai Imam Abu-‘l-Husain ‘Ali bin al-Hasan bin al-Husain bin Mohammed al-Khila’i—nama belakangnya (Khila’I dari khilat) ditambahkan sehubungan dengan penjualan jubah kehormatannya (khalat)—ia salah seorang pengikut ajaran Shafi’I; makamnya adalah salah satu makam terkenal di al-Karafah, dan segala doa yang dipanjatkan dalam namanya terjawab; ia dijuluki kadi para jin, karena dikisahkan bahwa mereka (para jin) biasa mengunjunginya dan membaca Quran (untuk belajar). Di suatu hari Jumat mereka menjauh darinya, dan ketika mereka datang kembali ia bertanya tentang sikap mereka, dan dijawab, ‘Di dalam rumahmu ada jeruk sitrun, dan kami tidak masuk rumah yang di dalamnya ada buah itu.’2

ImageImageImage

Majlis al-Jin, (Khoshilat Maqandeli), goa terbesar ke-9 di dunia, terletak di Oman. Diberi nama seseuai peruntukannya, yakni: goa tempat pertemuan para jin. Titik hitam kecil yang bergantung di tali adalah peneliti gua. Pintu masuk dari celah di bagian atas.

Tindakan pencegahan serupa terhadap bibit-bibit kejahatan dari dunia roh juga hal yang biasa di India dan Mesir saat ini. Di Mesir dan Maroko, kepercayaan akan jin mencakup hal-hal seperti menyisihkan sebagian hidangan makanan saat senja untuk mengambil hati mereka. Lainnya lagi menyimpan roti di bawah kasur dengan tujuan yang sama; selain itu makanan dan minyak ditaruh di sudut-sudut rumah baru untuk para jin. Penempatan pisau dan belati di bawah bantal orang yang sakit juga bertujuan sama.

Skeat dalam bukunya ‘Malay Magic’ memberikan contoh lengkap mengenai tempat-tempat persembahan, serta memperlihatkan bagaimana para jin yang baik maupun yang jahat mendominasi pemikiran masyarakat. Ada cerita menarik mengenai asal-usul jin menurut keyakinan umat Islam, dan ia bicara bagaimana jin bisa dibeli di Mekah dengan harga pasti. Ia memberikan gambaran tentang jin hitam dan jin putih:

“Jin putih dikatakan muncul oleh suatu kejadian, dari tetes-tetes darah yang jatuh ke tanah saat Habil dan Kabil menggigit jempol mereka; menurut yang lain, berasal dari selaput mata ular Sakatimuna (benih inata Sakatimuna), dan kadangkala dicampuradukkan dengan sosok dewa putih (Toh Mam-bang Puteh) yang hidup di matahari.

“Nama istrinya (jin putih) tidak disebut seperti dalam kasus jin hitam, namun nama ketiga anaknya diabadikan, yaitu: Tanjak Malim Kaya, Pan Lang (seperti layang-layang, pipih lebar), dan Bintang Sutan.

“Secara keseluruhan dapat saya katakan bahwa jin putih sangat jarang disebut dibandingkan jin hitam, dan sejauh yang saya ketahui, karena dianggap tidak berbahaya jin putih dimintai perlindungannya oleh para penyembahnya.”

Adakalanya dijumpai suatu jenis pembagian aneh dari para jin, yakni jin Islam dan jin Kafir, dan dikatakan juga bahwa Jin-jin tersebut (diharapkan dari jenis ortodoks/Islam) kadang-kadang bisa dibeli di Mekah dari seorang ‘Sheik al Jin’ (Kepala para Jin) dengan harga berkisar antara $90 hingga $100/satu jin.”3

Islam populer nyaris dapat dikatakan sebagaimana yang Dr. Warneck katakan tentang para penyembah berhala Batak di Sumatra: “Penyembahan roh-roh yang didasari rasa takut sepenuhnya mengisi kehidupan relijius masyarakat Batak dan semua masyarakat animis. Menyatu dengan kehidupan sehari-hari mereka hingga ke hitungan menit. Saat kelahiran, pemberian nama, kenalan muda-mudi/pacaran, pernikahan, pembangunan rumah, masa pembibitan dan menuai, keberadaan roh-roh diperhitungkan.”4

Kepercayaan umat Islam akan keterlibatan para jin diperlihatkan dengan baik disini, dengan mencantumkan daftar isi salah satu karya standar berjudul Akam ul Mirjan fi Ahkam al Jann oleh Mohammed ibn Abdallah al-Shibli yang meninggal 789 H. Dijual di setiap kota Muslim seluruh dunia. Saya cantumkan judul-judul bab tanpa menambahkan catatan atau komentar: para pembaca sendiri yang menilai:

Pendahuluan: Bukti keberadaan Jin. Muslim, Ahli Kitab dan kafir Arab sepakat akan keberadaan jin.
Filsuf dan dokter terkemuka menyatakan keberadaan mereka.
Asal mula dan penciptaan jin.
Jin berasal dari api sementara manusia dari tanah.
Tubuh jin.
Jenis-jenis jin.
Tempat tinggal jin.
Diversifikasi jin.
Kemampuan diversifikasi setan.
Allah memberikan bentuk berbeda pada malaikat, jin dan manusia.
Beberapa anjing adalah jin.
Jin melihat bagian pribadi/intim manusia bila terbuka.
Apa yang mencegah setan tidur di rumah manusia.
Pendamping manusia dari kaum jin, Qarin.
Jin makan dan minum.
Beberapa hadist mengenai subjek ini.
Iblis makan dan minum dengan tangan kirinya.
Apa yang mencegah jin merebut makanan manusia.
Jin menikah dan melahirkan anak-anak jin.
Jin memiliki tanggung jawab.
Apakah ada nabi-nabi jin sebelum Nabi? Jin termasuk dalam misi Nabi.
Jin menghampiri Nabi dan mendengarkannya
Sekte-sekte jin.
Menyembah jin dengan manusia.
Pahala jin
Jin kafir masuk neraka.
Jin beriman masuk surga.
Apakah jin beriman melihat Allah di surga? Doa-doa dibalik sosok jin.
Jin melintas diantara tangan orang yang sedang sembahyang.
Manusia membunuh jin.
Pernikahan jin.
Jin memperlihatkan diri pada wanita.
Beberapa jin mencegah jin lain memperlihatkan diri pada wanita.
Jika jin tidur bersama seorang perempuan haruskah perempuan itu menyucikan diri? Para waria adalah anak-anak jin.
Bagaimana jika jin merampas seorang wanita dari suaminya?
Larangan persembahan makanan dan bakaran jin.
Jin memberikan fatwa.
Jin berkhotbah pada manusia
Jin mengajarkan pengobatan pada manusia.
Jin dan manusia bertengkar di hadapan manusia.
Jin menakuti manusia.
Jin mematuhi manusia.
Cara mendapatkan perlindungan terhadap jin.
Pengaruh ayat-ayat Quran terhadap tubuh jin.
Mengapa jin patuh pada jimat?
Sulaiman manusia pertama yang mengambil hamba dari jin.
Apa yang harus ditulis untuk orang yang sakit.
Jin membalas perbuatan baik dan jahat manusia.
Bagaimana jin mengalahkan manusia.
Bagaimana jin memasuki tubuh manusia.
Apakah epilepsy disebabkan jin? Bagaimana menyembuhkannya.
Wabah penyakit berasal dari jin.
Hawa nafsu disebabkan oleh Iblis.
Mata jahat disebabkan oleh jin.
Pengaruhnya pada manusia.
Jin dirantai di bulan Ramadhan. Penyembahan jin oleh manusia.
Jin meramalkan misi Nabi yang dijaga dari mereka dengan bintang jatuh/batu meteor.
Jin menceritakan tentang serangan Nabi
Jin menceritakan tentang para pengikutnya.
Jin menceritakan kisah perang Badr.
Jin menceritakan pembunuhan Said ibn Ebada.
Diperbolehkan bertanya pada jin mengenai masa lalu, bukan masa depan.
Kesaksian jin di hari kiamat.
Jin meratapi dan menyanjung beberapa Muslim yang meninggal.
Apakah Iblis berasal dari malaikat?
Apakah Allah berbicara pada Iblis?
Kesalahan Iblis saat berkata ia lebih baik dari Adam.
Iblis berbisik.
Nama Allah mengusir bisikan itu. Kisah-kisah mengenai hal ini.
Panggilan Iblis pada manusia.
Kejahatan diehendaki oleh Iblis.
Bagaimana Iblis menggoda manusia.
Iblis selalu bersama orang yang bermusuhan dengan orang lain.
Orang berpengetahuan lebih kuat dari orang saleh bagi Iblis.
Iblis menangis saat kematian orang percaya karena tidak mampu menggodanya.
Malaikat takjub saat hati orang percaya terlepas dari Iblis.
Empat ratapan Iblis
Tahta Iblis di atas laut.
Kediaman Iblis.
Iblis memberi lima jabatan pada lima anak-anaknya.
Kehadiran Iblis di kehidupan bersama tanpa nikah.
Kehadiran Iblis saat kelahiran setiap anak.
Iblis ada di pembuluh darah manusia.
Iblis memperlihatkan diri pada anak laki-laki di malam hari.
Apa yang mengalihkan Iblis dari anak laki-laki.
Iblis tidur di tempat tidur kosong.
Iblis tidak pernah tidur siang.
Iblis mengikat tiga simpul di atas kepala orang yang sedang tidur….
Mimpi buruk dari Iblis. Iblis tidak pernah meniru Nabi.
Matahari terbit dan tenggelam diantara dua tanduk Iblis.
Tempat beristirahat Iblis.
Iblis melarikan diri saat azan.
Iblis menyertai hakim yang tak adil.
Iblis berjalan dalam satu sepatu.
Iblis melarikan diri jika manusia mengucapkan El-Sajada.
Menguap, tidur dan bersin adalah dari Iblis.
Ketergesaan dari Iblis.
Keledai meringkik bila melihat setan.
Iblis memperlihatkan diri pada orang-orang di mesjid.
Kesombongan Iblis tidak bersujud pada Adam dan menggodanya makan dari pohon.
Apakah eden di surga atau di bumi?
Iblis memperlihatkan diri pada Hawa.
Iblis memperlihatkan diri pada Nuh dalam bahtera.
Iblis memperlihatkan diri pada Ibrahim ketika ia hendak mengorbankan Ishak.
Iblis memperlihatkan diri pada Musa.
Iblis memperlihatkan diri pada Zul Kifli.
Iblis memperlihatkan diri pada Ayub.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Sat May 19, 2012 12:35 am

Image
Iblis.


Beberapa contoh mahluk mitologi:

Image Image
Div-e-Sepid (setan putih), Persia ; Satyr, Yunani


Image Image Image
Pazuzu, Assyria, Babilonia ; Gargoyle, Prancis


ImageImageImage
Lilith (Succubus), Yahudi, berawal dari Mesopotamia ; Incubus, Mesopotamia


ImageImage
Chullachaqui, Brazilia ; Kappa, Jepang


ImageImageImage
Jin, hantu impor dari Arab


Image
Genderuwo, asli Indonesia (andai Nabi Muhammad dari Indonesia, mungkin orang Arab akan impor Genderuwo Islam, dan akan ada surah al-Genderuwo atau al-Bunian)


Semuanya ini –dan hampir setiap bab adalah pintu ke dunia tahyul dan penyembahan setan yang vulgar—dan menemukan kesamaan/parallel dengan kepercayaan animisme. Bagi mereka ini, tanah, udara dan air berisi dengan roh-roh. Paling banyak jumlahnya terdapat di hutan-hutan dan tempat-tempat pembuangan, dimana mereka (para roh ini) berdiam menunggu makhluk hidup datang, kemudian menimpakan penyakit dan kegilaan pada mereka, atau menyeretnya ke kematian yang mengerikan. “Mereka berkeliaran di sekitar rumah saat malam hari, mengintai melalui celah-celah partisi atau masuk ke dalam rumah dalam bentuk manusia atau hewan. Kadang-kadang saat ada epidemik makhluk-makhluk ini bahkan dapat terlihat. Manusia yang memiliki kemampuan spiritual dikatakan dapat melihat mereka. Kadangkala orang-orang ini melihat roh orang mati melangkah keluar dari kerandanya dan bertengger di jiwa manusia yang masih hidup dan karenanya—tak terelakkan manusia tersebut pasti meninggal. Jumlah roh-roh berbahaya yang menyebabkan segala penderitaan manusia amat besar. Nama-nama diberikan dan berbagai atribut disematkan pada roh-roh yang terutama bereputasi buruk, misalnya roh yang menyebabkan kolera: ukurannya luarbiasa besar dan membawa gada besar yang digunakannya untuk memukul korban ke bumi.” 5

Roh-roh tersebut kebanyakan jahat dan tidak ramah. Mereka mengintai di puncak-puncak pohon dan segala macam tempat serta menyebabkan penyakit, kemalangan dan kematian. Lebih penting untuk menjaga perasaan roh yang jahat daripada menghormati yang baik, yang karenanya praktis diabaikan.

Ada berbagai macam legenda saat ini diantara penganut animisme India terkait asal-usul hantu-hantu atau roh-roh ini, namun sebagian besar telah bercampur, yang membuktikan legenda-legenda tsb. secara komparatif muncul belakangan. Harus dibedakan secara jelas antara dewa-dewa dan roh-roh. Tidak ada dewa-dewa dalam Animisme. Kata dewa berimplikasi tingkat personaliti yang lebih tinggi, dan bilamana kata tersebut disematkan pada roh-roh ini, maka umumnya bisa ditelusuri adanya pengaruh dari kepercayaan yang lebih maju. Unsur impersonal dalam Animisme pastilah memukul mundur orang yang mencoba untuk menyelidikinya. Kekuatan gelap tak terdefinisikan tanpa tempat tinggal teratur, mendesau dalam angin, berbisik di gemersik dedaunan dan mengintai dalam kebisuan di puncak-puncak pohon. Mereka mungkin berdiam untuk jangka waktu yang lebih panjang atau lebih pendek di objek tertentu.

Setiap fitur alami yang mencolok seperti pohon tunggal atau tersambar petir, air terjun, puncak gunung dipastikan dihuni mereka. Namun hutan-hutan dari jaman purba adalah domain khusus mereka, dan seiring lenyapnya hutan-hutan ini, pastilah tersisa hutan-hutan suci kecil di beberapa tempat. Seringkali orang mengatakan di pohon-pohon atau hutan kecil tertentu ‘didiami roh yang sangat kuat,’ namun bila ditanya nama atau asal-usulnya, tak ada yang bisa menjawab. Eksistensi dan kekuatannya tak diragukan, dan banyak kisah kekacauan yang disebabkannya mereka kemukakan sebagai bukti.

Dalam hal apapun, doktrin jin dalam Islam adalah animis, kecuali keyakinan mereka akan Allah sebagai tuhan jin dan manusia. Namun rasa takut akan jin membuat umat Islam diperhamba ketakutan dan kekhawatiran sepanjang hidup mereka. Apa yang ditulis Warneck mengenai suku-suku pagan di Malaysia sama benarnya dengan apa yang terjadi pada sesama mereka umat Islam, serta pada wanita dan anak-anak Muslim di Arab dan desa-desa di Delta. Ia berkata, “Kecuali bila sangat perlu, tak seorangpun meninggalkan rumah setelah matahari terbenam atau di bawah sinar bulan saat dimana roh-roh bergentayangan dalam jumlah besar. Rumah-rumah dan desa-desa di ubah-ubah tata letaknya disana-sini agar terhindar dari pengaruh roh jahat. Orang-orang sakit dibawa diam-diam di malam hari ke rumah lain menghindari roh penyiksa. Mereka memilih untuk menipu roh-roh. Sepanjang masa menuai, bernyanyi dengan suara keras dan bersiul dihindari, agar roh-roh tidak menganggap manusia bersuka cita karena panen melimpah sehingga mengambil bagian mereka karena iri.” 6

Ketika saya melakukan perjalanan di Yaman, tidak ada yang lebih membuat stress rekan seperjalanan Arab saya selain kebiasaan bersiul yang baginya mengerikan. Ada tradisi yang membuktikan bahwa Muhammad melarang siapapun meniup peluit atau bersiul terutama di malam hari.

Terkait pemujaan iblis dan ketakutan akan roh-roh jahat, Wilkinson berkata bahwa di Malaysia, “Islam, tentu saja berada di lapisan atas; orang Malaysia menerima seluruh demonology Persia dan Arab, dan bahkan menambahkan julukan seperti ‘yang terkutuk’ (mala’un) atau ‘terlahir haram’ (haramzadah) sebagai nama berbagai varietas baru iblis. Lapisan berikut, mereka ambil dari ajaran Hindu, karena Hanuman masih samar-samar diingat sebagai setan berwajah anjing atau kuda; meteror digambarkan sebagai panah hantu Arjuna; dan legenda Ramayana India dijadikan cerita rakyat di negara-negara bagian Utara. Literatur kuno Malaysia juga dipenuhi referensi mitologi Hindu.”

Kesimpulan penting dari Wilkinson:
“Secara komparatif sangat mudah mengidentifikasi mana diantara demonology Malaysia yang berhutang eksistensinya pada pengaruh Islam dan mana yang dari pengaruh Hindu, namun, di bawah lapisan atas kepercayaan-kepercayaan ini, kita temukan lapisan selanjutnya yang berasal dari agama-agama purba yang sangat sedikit kita ketahui karakternya. Disini kita berhubungan dengan ras manusia yang sangat beragam, yang mungkin mempertahankan tradisi yang diturunkan pada mereka dari berbagai sumber berbeda. Beberapa fakta cukup jelas menonjol. Para nelayan sepanjang pantai Semenanjung Malaysia memberikan persembahan kepada empat roh besar dari laut yang memiliki banyak nama namun cakupan otoritasnya selalu sama; pertama adalah Roh Teluk, kemudian Roh Sungai atau Roh Pantai, selanjutnya Roh Tanjung, dan terakhir yang paling bengis adalah Roh Arus Pasang atau Arus Tengah. Berbagai julukan yang diberikan pada roh-roh kuno ini semata-mata mencerminkan fungsi mereka.

Image
Orang Laut di Kep. Riau, masih kental kepercayaannya akan hantu, mambang, roh teluk, kuala, dsbnya

Selama segala sesuatu berjalan dengan baik, nama-nama empat jenis malaikat utama Islam dianggap cukup memadai; bila segalanya berubah memburuk, kata-kata dalam bahasa Sanskrit dipakai; jika situasi tak tertahankan dan membuat putus asa, nelayan tidak lagi memperdulikan apapun, dan berseru memohon pada roh-roh dalam istilah-istilah asli Indonesia yang amat mereka pahami dengan baik.” 7

CATATAN KAKI BAB VII

1 "Reste Arabischen Heidentums,Berlin, 1897, p. 153.
2 All page references are to Ad-Damiri's Hayat al-Hayawan (Jayaker).
3 Skeat's "Malay Magic," pp.95-96.
4 "Living Christ and Dying Heathenism," p.80.
5 "The Living Christ and Dying Heathenism," Warneck, p.68.
6 "The Living Christ and Dying Heathenism," p.79.
7 "Malay Beliefs," pp. 26-27.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Wed May 30, 2012 10:08 pm

BAB VIII
PRAKTEK PAGAN DALAM IBADAH HAJI


Saat kita berpikir tentang Mekah, kata-kata yang diucapkan Muhammad dalam surah kedua bukunya tampaknya benar-benar terwujud: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. (Q2:125)” Bekas kuil pagan telah menjadi tempat suci agama Islam serta tujuan ziarah universal bagi sepertujuh ras manusia.

Dari Sierra Leone hingga Canton, dan dari Tobolsk hingga ke Cape Town, orang Islam menghamparkan sajadah mereka, membangun rumah (mengikuti tradisi/hadist, bahkan sampai ke toilet di luar rumah!) serta menguburkan orang yang meninggal ke arah meridian Mekah. Jika dunia Islam dapat dipantau dari pesawat terbang, pengamat akan melihat lingkaran konsentris para penyembah yang mencakup wilayah yang meluas, dan juga kuburan-kuburan Islam yang digali mengarah ke kota suci.

Pemukiman-pemukiman paling awal di Mekah ada berdasarkan fakta adanya kafilah-kafilah pedagang dari Arab Selatan yang menuju ke utara, beristirahat sejenak di sekitar sumur Zam-zam, sebelum era Muhammad (Sumur Zam-zam baru ada setelah Abdul Muttalib menggalinya, 50-70 tahun sebelum Muhammad); sama halnya dengan pemukiman-pemukiman awal Romawi di Wiesbaden dan tempat-tempat lain di Jerman, berada di sekitar sumber-sumber air untuk pengobatan.

Mesjid suci, Masjid al Haram dengan Ka’abah di pusatnya terletak di tengah-tengah kota. Letak kota Mekah di lembah yang panas berpasir, benar-benar tanpa kehijauan dan dikelilingi perbukitan tandus berbatu, miskin pepohonan atau bahkan semak belukar. Lembah tersebut memiliki lebar sekitar 300 kaki dan panjang 400 kaki, melandai ke arah selatan. Ka’abah atau Rumah Allah (Beit Allah) terletak di dasar lembah. Semua jalan melandai ke arahnya, posisinya seakan-akan di pusat teater.

ImageImage
kiri: pemandangan ke arah barisan tiang penyangga (colonnades). Lampu-lampu bergantungan di bagian depan. Di bawahnya digunakan sebagai tempat belajar agama dan tempat pertemuan oleh para peziarah (th.1901) ; kanan: pemandangan kota Mekah dari atas bukit, dengan masjid al-Haram dan Ka’abah di tengah-tengahnya, (th.1877)

ImageImage


Ka’aba tepatnya berdiri di tengah ruang terbuka persegi dengan panjang 250 langkah dan lebar 200 langkah, dikelilingi barisan tiang yang menopang atap yang dibawahnya digunakan sebagai tempat belajar Sisi sebelah luar memiliki sembilan belas gerbang dan enam menara; di sisi sebelah dalam terdapat sumur Zam-zam, mimbar besar, tangga yang digunakan untuk memasuki pintu Ka’abah yang berada tinggi di atas tanah, dan dua mesjid kecil yang disebut al Kubat-tain. Sisa ruang kosong ditutupi pavement dan kerikil dimana doa-doa dilantunkan oleh ke-empat mazhab yang masing-masing menempati tempat sendiri yang sudah ditentukan.

Di sudut bagian timur Ka’abah, sekitar 5 kaki dari atas tanah, terletak Batu Hitam yang terkenal, harta tertua Mekah. Batu tersebut adalah pecahan yang menyerupai batu vulkanik hitam dengan rona kristal kemerahan dan menjadi licin oleh sentuhan berabad-abad. Tak diragukan itu adalah batu meteor yang berhutang reputasi pada peristiwa kejatuhannya dari langit. Sejarawan Islam tidak menyangkal bila itu adalah objek sesembahan sebelum Islam. Dalam tradisi Islam batu tersebut dihubung-hubungkan dengan sejarah para leluhur dimulai sejak Adam.

Baetylus (disebut juga Bethel, atau Betyl) adalah kata Semitik yang bermakna batu suci, yang diduga diberkahi dengan kehidupan (anne: berasal dari konsep daratan/kehidupan yang mucul dari tengah air dalam berbagai kisah penciptaan. Di Mesir namanya Benben, Yunani ‘Omphalos’, Latin ‘Baetyl’ dan di Hindu Shiva lingga. Dalam Islam pecahan batu hitam tsb diletakkan dalam wadah melambangkan yoni). Berdasarkan sumber kuno, objek pemujaan ini adalah batu meteor yang didedikasikan kepada dewa-dewa atau dihormati sebagai symbol dewa-dewa itu sendiri….diantara penganut monoteis, praktek yang masih bertahan saat ini adalah pemujaan Batu Hitam (Hajar Aswad tangan kanan Allah)

Image Image Image
Image Image Image
Baetylus di Emesa Temple, kuil dewa matahari El-Gabal, Syria; Omphalos Babylonia; Benben, Mesir; Lingga-yoni, India; Muhammad dan Hajar Aswad; Batu hitam dari Kuil Aphrodite, Paphos, Cyprus.

Kata Ka’abah menandakan sebuah kubus, walaupun pengukurannya, menurut Ah Bey, salah seorang penulis awal yang mensuplai data ilmiah mengenai upacara ziarah ini, tidak sesuai dengan nama yang disandangnya. Tingginya 34 kaki 4 inci, dan ke-empat sisinya masing-masing berukuran 38 kaki 4 inci, 37 kaki 2 inci, 31 kaki 7 inci, dan 29 kaki. Kain yang menutupinya diperbaharui setiap tahun. Saat ini dibuat dari kain sutra dan katun yang ditenun di Khurunfish, lokasi pabrik di Kairo. Prosesi tahunan peristiwa pengirimannya ke Mekah adalah salah satu perayaan besar di Kairo. (anne: sekarang kain penutup ini (kiswah) dan kain putih pelapis dalam (bithana kiswah) sudah dibuat sendiri oleh pemerintah Arab Saudi di pabrik di pinggiran Mekah)

Kami diberitahu, pada mulanya seluruh teks Quran ditenun di kain penutup Ka’abah. Sekarang tulisan yang tercantum berisikan kata-kata: “Sesungguhnya, rumah yang mula-mula dibangun untuk umat manusia beribadah adalah di Mekah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia beriman.” (Q3:96)) Tujuh surah pendek lainnya dari Quran juga ditenun di penutup dinding ini, yakni, surah Cave (Al-Kahf), Miriam, Al Amran, Repentance (At-Tawbah), T.H (Al-Araf atau An-Nasr?)., Y.S (Yasin?)., and Tabarak (Al-Mulk). (anne: sekarang di bagian Pintu: Al-Baqarah 125-128; Rukun Yamani: Ali-Imran 95-97; Rukun Iraqi: Hajj 26-28; Rukun Syami/Hijr Ismail: Al-Baqarah 197-199).

Kewajiban akhir umat Islam yang saleh serta upacara terpenting dalam agama Islam adalah berziarah ke Mekah. Ziarah (naik haji) ke Mekah bukan hanya salah satu pilar agama Islam, namun juga terbukti sebagai salah satu ikatan penyatu terkuat dan selalu memiliki pengaruh besar sebagai agen misionaris. Bahkan hingga saat ini, para peziarah yang kembali dari Mekah ke kampung-kampung mereka di Jawa, India dan Afrika Barat, merupakan duta-duta fanatik akan kebesaran dan kemuliaan Islam. Dari sudut pandang etika, naik haji ke Mekah dengan segala ritual tahyulnya yang kekanak-kanakan, adalah noda bagi monoteisme Muhammad.
ImageImage
Image


Namun, sebagai daya tarik terbesar bagi umat Islam sedunia untuk bersama-sama dalam semangat kebersamaan yang selalu meluas, naik haji ke Mekah tiada tandingannya….Untuk rincian naik haji ini, dapat dibaca dalam karya Buckhardt, Burton, atau para pengelana lain yang telah mempertaruhkan nyawanya mengunjungi ‘kota terlarang Islam. Catatan keberanian mereka telah dikompilasi dalam satu karya singkat oleh Augustus Ralli dengan judul, ‘Christian at Mecca,’ (Heinemann, London, 1909). Peziarah Eropa paling awal adalah Ludovico Bartema, yang mencapai Mekah tahun 1503; Dan yang deskripsinya paling akurat mengenai ritual-ritual naik haji adalah Burckhardt (1814-15); Yang paling menawan penuturannya adalah Burton (1853); Dan tetaplah seorang Kristen Belanda, Snouck Hurgronje, yang memaparkan sejarah Mekah, atlas fotografi kota tersebut, serta disertasi filosofis mengenai naik haji 1

“Ada kemugkinan,” kata Ralli, “untuk membagi peziarah Kristen ke Mekah dalam tiga kelompok. Pertama, orang-orang seperti Bartema hingga Pitss, termasuk mereka yang saya umpamakan sebagai pasukan perintis garis depan (para pionir). Diikuti kemudian oleh para pecinta pengetahuan: Bajia, Seetzen, Buckhardt, Hurgronje. Bersamaan dengan itu, mereka yang senang berpetualang atau terdorong rasa ingin tahu: von Maltzan, Bicknell, Keane, Courtellemont. Burton termasuk dalam dua golongan terakhir; Wallin termasuk kelompok pertama, namun ia gagal di hari-hari sulit; sementara Roches, agak sukar mengelompokkannya.

“Diperlukan kecerdasan bagi sebagian besar kita untuk mengelompokkan sekumpulan pria dari berbagai latar yang heterogen yang dikhususkan untuk satu tema. Mereka sangat jauh berbeda, dari sosok Pitts yang sederhana dan rendah hati ke Badia yang bersikap bangsawan, dari Buckhardt yang ilmiah ke Courtellemont yang puitis, dari Hurgronje yang bersikap impersonal ke Roches yang autobiographical/lebih ke pendekatan personal, dari Wild yang hanya dikenal samar-samar ke Burton yang begitu tenar. Kekontrasan seperti itu yang mungkin mempengaruhi catatan tertulis yang ada; antara kumpulan fakta Buckhardt yang tertata rapi dan narasi Keane yang bersifat hiburan.”

“Namun cukuplah bahwa anggota kelompok terpilih ini, yang berbeda dalam waktu dan negara, tujuan dan karakter, disatukan oleh satu ikatan petualangan aneh.”

“Petualangan aneh ini membawa mereka semua untuk mengamati ritual-ritual pagan kepercayaan monoteis besar Islam, yang secara singkat digambarkan sbb: setelah mengenakan pakaian peziarah dan melakukan wudhu, para Haji mengunjungi kuil suci dan mencium Batu Hitam. Mereka kemudian berlari mengelilingi Ka’abah tujuh kali—tiga kali dengan sangat cepat dan empat kali dengan sangat lambat—meniru gerakan planet-planet. Kemudian mereka berdoa, “Ya Allah, Tuhan Rumah Kuno, selamatkan leherku dari api neraka, dan jaga aku dari segala perbuatan jahat; puaskan aku dengan makanan sehari-hari yang kau berikan padaku, dan berkati aku dalam segala yang telah Kau berikan.”

ImageImage
Sumur Zam-zam

Di ‘Makam Ibrahim,’ mereka juga sholat; mereka minum dari air suci Zam-zam dan mencium lagi Batu Hitam. Selanjutnya para peziarah berlari antara bukit Safa dan Marwa. Mereka mengunjungi Mina dan Arafat, beberapa mil dari Mekah, dan di tempat terakhir mendengarkan khotbah. Dalam perjalanan kembali, mereka berhenti di Mina dan melempar batu kerikil ke tiga pilar batu yang dikenal sebagai ‘Iblis Besar,’ ‘pilar tengah’ dan ‘pilar pertama.’ Terakhir, menyembelih hewan korban berupa kambing domba atau hewan lain sebagai puncak kewajiban naik haji. Snouck Hurgronje dan Dozy memaparkan pada kita teori asal-usul upacara aneh ini dalam risalah mereka.
Keseluruhan ziarah, dalam kata-kata Kuenen, ‘suatu fragmen kekafiran yang tidak terpahami, diambil Islam tanpa dicerna.’ Dan sehubungan dengan pemujaan pada Batu Hitam, ada tradisi mengenai Kalif Omar yang berkata, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanya sebuah batu dan tidak tidak memberi manfaat ataupun membahayakan. Dan jika aku tidak tahu bahwa Nabi menciummu, aku tidak akan melakukannya.” (NIsai, vol.II, p.38).
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Wed May 30, 2012 10:38 pm

Ada dua buku yang dianggap otoritatif mengenai upacara-upacara ibadah haji: ‘Reste Arabisehen Heidentums,’ karya Wellhausen, hal. 68-249, dan ‘Pilgrimage to Al Medina and Mecca.’ karya Burton.

Deskripsi Burton mengenai ritual tersebut cukup lengkap:

Kami selanjutnya maju ke sudut timur Ka’abah, dimana dipasang Batu Hitam; dan sambil berdiri sekitar 10 meter darinya, mengucapkan kata-kata dengan tangan terangkat, ‘Tidak ada tuhan selain Allah saja, yang kata-katanya adalah kebenaran, dan yang hambanya adalah pemenang. Tidak ada tuhan selain Allah, tanpa sekutu; Kepunyaannya dunia, baginya pujian, dan kekuasaannya atas segala sesuatu.’ Setelah itu kami mendekat sedekat mungkin ke batu tersebut.

Kerumunan peziarah menghalangi kami menyentuh batu tersebut saat itu, lalu kami mengangkat tangan ke telinga, posisi awal sholat, kemudian menurunkannya dan berseru, ‘Ya Allah (saya melakukan ini), dalam agamamu, dan dalam kebenaran Kitabmu, dan menuruti contoh Nabimu—semoga Allah memberinya rahmat dan perlindungan! Ya Allah, aku mengulurkan tangan padamu, dan sungguh besar hasratku padamu! Wahai engkau terimalah permohonanku dan singkirkan penghalangku, dan kasihanilah kehinaanku, dan karuniakan ampunanmu!’ Setelah itu, karena kami masih tak bisa menjangkau batu tersebut, kami mengangkat tangan kami ke telinga dengan telapak menghadap ke batu seakan menyentuhnya, sambil mengucapkan berbagai kata-kata keagamaan, takbir, tahlil, dan Hamdilah, berkat pada nabi, serta mencium ujung jari tangan kanan.

Nabi biasanya menangis ketika ia menyentuh Batu Hitam, dan berkata bahwa itu adalah tempat untuk mengucurkan air mata. Menurut sebagian besar penulis, Kalif kedua juga biasa menciumnya. Karena alasan inilah, sebagian besar umat Islam, kecuali mazhab Shafi’I, harus menyentuh batu tersebut dengan kedua tangan dan mencium dengan bibir mereka, atau menyentuhnya dengan jari yang kemudian harus dicium, atau menggosokkan telapak tangan di atasnya dan setelah itu mengusapkan ke wajah. Bila sulit dijangkau, cukuplah berdiri di depan batu, namun sunnah, atau praktek sang Nabi adalah menyentuhnya. Lucian menyebutkan pemujaan matahari dengan mencium tangan.

“Selanjutnya melakukan upacara Tawaf atau berjalan mengelilingi. Rute kami, Mataf—granit oval rendah yang dipoles mengelilingi Ka’abahh. Setelah Mutawwif (guide), saya mengucapkan, ‘Dalam nama Allah, dan Allah maha kuasa! Aku hendak mengelilingi tujuh putaran untuk Allah, yang dimuliakan dan diagungkan!’ Secara teknis ini disebut Niyat (niat) Tawaf.
Image

(Q2:115) Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Bagaimanapun umat Islam menyangkal kotak hitam ini dan Hajar Aswad sebagai sesembahan mereka, namun kewajiban sholat menghadap ke Ka’aba, melakukan ibadah haji dengan berkunjung dan mencium batu berhala di sudutnya dari jarak dekat maupun jauh, serta melakukan ritual/doa permohonan di kotak hitam tersebut mencerminkan yang sebaliknya:

ImageImage

Keterangan:

1. Batu Hitam (Al Hajar Al Aswad)الحجر الأسود
2. Pintu Ka’aba di sisi timur 2.13m dari tanah (Baab Al Kab'ah)باب الكعبة
3. Pancuran Talang Air emas, (Al Mizab) الميزاب ditambahkan dalam renovasi th.1627 setelah setahun sebelumnya hujan menyebabkan tiga dinding runtuh. Ada yang berkata sejak th 959 dari Sulaiman I (Usmani).
4. Dasar Kaaba (Shaadharwaan) الشاذوران juga ditambahkan th.1627 untuk melindungi pondasi dari air tanah.
5. Al-Hatim الحاطم bagian rendah yang dulunya (masa pagan?) termasuk area Ka’aba. Peziarah tidak sah bila tawaf dalam area ini, harus di sebelah luar. Ada yang percaya area ini adalah makam Hajar dan Ismail.
6. Al-Multazam الملتزم Bagian dinding Ka’aba diantara Batu Hitam dan Pintu Masuk.
7. Makam Ibrahim مقام إبراهيم
8. Sudut Batu Hitam (Rukn Al Hajar Al Aswad) ركن الحجر الأسود
9. Sudut Yaman (Rukn Yamaani) الركن اليماني
10. Sudut Syria (Rukn Shami) الركن الشامي
11. Sudut Irak (Rukn Iraqi) الركن العراقي
12. Kain Penutup Ka’aba (Kiswa ) كسوة الكعبة


Kemudian kami mulai berdoa, ‘Ya Allah dalam agamamu, dan dalam kebenaran Kitabmu, dan menuruti contoh Nabimu—semoga Allah memberinya rahmat dan perlindungan!’ sampai kami mencapai Al-Multazem, tempat diantara sudut Batu Hitam dan pintu Ka’aba. Disini kami mengucapkan, ‘Ya Allah, Engkau yang memiliki Kebenaran, maka ampunilah aku karena melanggarnya.’ Di depan pintu kami berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya Rumah ini adalah Rumahmu, dan Kesucian adalah Kesucianmu, Perlindungan adalah Perlindunganmu, dan ini adalah Tempat bagi ia yang berlindung padamu dari Api Neraka!’ Di bangunan kecil yang disebut Makam Ibrahim, ‘yang mencari keselamatan dan perlindungan padaMu dari Api Neraka!—Wahai luputkanlah Daging dan Darahku, Kulit dan Tulangku dari Api Neraka!’ Sambil kami melangkah perlahan memutari bagian utara atau sudut Irak Ka’aba, kami berseru, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung padamu dari kesyirikan (politeisme), dan Ketidaktaatan, dan Kemunafikan, dan Pembicaraan yang jahat, dan Pemikiran yang jahat terkait Keluarga, Harta dan Keturunan!’

Image

Air yang jatuh di atap Ka’aba ketika hujan di Hateem melalui Al-Mizab dianggap air yang sangat murni dan suci. Jika seseorang memperoleh kesempatan berharga ini ia membasahi seluruh tubuhnya dengan air tersebut.


Ketika menghadap Mizab atau pancuran/talang air, kami mengucapkan kata-kata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon padamu iman yang tidak berkurang, dan kepastian yang tidak binasa, serta pertolongan nabimu Muhammad—semoga Allah memberinyanya rahmat dan perlindungan! Ya Allah lindungi aku dalam naunganmu di hari dimana tiada perlindungan kecuali darimu, dan biarkan aku minum dari cawan rasulmu-Muhammad—semoga Allah memberinya rahmat dan perlindungan! Tegukan yang tidak akan membuat haus selamanya, Ya Allah yang agung dan mulia!’ Beranjak ke sudut barat, atau Rukn al-Shami, kami berseru, ‘Ya Allah, jadikanlah ini ziarah yang diterima, dan pengampunan atas dosa-dosa, dan upaya yang patut dipuji, dan perbuatan yang menyenangkan (dalam pandanganmu), bekal yang tidak binasa, Wahai engkau yang agung! Wahai engkau sang pengampun!’

Ini diulangi tiga kali, sampai kami tiba di Yamani atau sudut selatan, dimana kerumunan orang yang berdesakan berkurang, kami menyentuh dinding dengan tangan kanan, mencontoh sang Nabi, dan mencium ujung jari. Akhirnya, diantara sudut selatan dan Batu Hitam, dimana putaran kami selesai, kami berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung padamu dari kekafiran, dan aku berlindung dari siksaan kematian/kubur, dari kesukaran hidup dan mati. Dan aku berlindung padamu dari kehinaan di dunia ini dan dunia akhirat, dan aku mohon pengampunanmu atas masa kini dan masa mendatang. Ya Allah, karuniakan kesejahteraan padaku dalam kehidupan ini dan kehidupan nanti, dan selamatkan aku dari siksaan api neraka.’

“Dengan demikian selesailah Shaut atau putaran tunggal mengelilingi rumah tersebut. Tiga putaran pertama kami lakukan di tempat melangkah yang disebut Harwalah, mirip dengan istilah Prancis pas gymnastique atau Tarammul, yang bermakna ‘menggerakkan bahu seakan berjalan di pasir.’ Berikutnya, empat putaran yang dilakukan di Ta’ammul, perlahan dan santai, kebalikan dari Sai, atau berlari. Tujuh Ashwat atau rute ini, semuanya disebut Usbu.” (Burton’s Pilgrimage to Al Madinah and Mecca, hal. 164-167).

Ia melanjutkan (di hal. 169):

“Setelah mencium batu tersebut, kami berdesakan dalam kerumunan ke tempat yang disebut Al-Multazem. Disini kami menekan perut, dada dan pipi kanan ke Ka’abah, sambil mengangkat tangan ke atas kepala, berseru, ‘Ya Allah! Tuhan Rumah Kuno, lepaskan leherku dari Api Neraka, dan lindungi aku dari segala perbuataan tercela, dan puaskan aku dengan roti harian yang Kau telah berikan padaku!’ Kemudian Istighfar atau memohon ampunan: ‘Aku memohon ampunan Allah yang maha tinggi, yang tiada tuhan selain dia, yang hidup, yang kekal, dan kepadanya aku bertobat!’ Setelah itu kami meminta rahmat untuk nabi, dan selanjutnya meminta bagi diri kami segala yang paling dihasratkan jiwa kami.

Doa dilantunkan di empat belas tempat selain Al-Multazem, semuanya punya kaitan, dengan penyembahan berhala kuno di Arab, yakni:

1. Di tempat ritual mengelilingi

2. Di bawah Mizab atau pancuran/talang Ka’abah

3. Di depan pintu Ka’aba

4. Di sumur Zam zam

5. Di Makam Ibrahim

6. Di Bukit Safa

7. Di Bukit Marwah

8. Selama upacara ‘Al-Sai.’

9. Di atas Bukit Arafat

10. Di Muzdalifah

11. Di Muna

12. Selama pelemparan setan

13. Saat pertama melihat Ka’abah

14. Di Hatim Hijr.

ImageImage
kiri: rute ziarah/haji ; kanan: batas miqat makami (batas tanah), sementara miqat zamani (batas waktu) dari 1 syawal s/d 10 zulhijah. Miqat adalah batas memulai ziarah, memasuki area dan waktu haji dengan mengucap salam (talbiyah) dan mengenakan ihram.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Wed May 30, 2012 11:18 pm

“Muna,” papar Burton (vol.11, hal.180), “istilah klasiknya Mina, adalah tempat yang amat suci. Ada tiga keajaiban disini: Batu-batu kerikil yang dilemparkan ke ‘Iblis’ dikembalikan oleh malaikat ke tempat asalnya; selama tiga Hari Pengeringan Daging, hewan dan burung pemangsa tidak berburu disana; dan terakhir, lalat tidak terbang hinggap di makanan-makanan terbuka yang melimpah di pasar raya. Selama musim haji, rumah-rumah disewakan dengan harga yang lebih tinggi, dan peristiwa ini menjadi suatu ‘Pasar Raya Dunia’ bagi para pedagang Muslim. Selama musim lain tempat ini hampir kosong, yang kata tahyul populer hal ini diakibatkan perajaman atau pelemparan setan. Berjarak sekitar 3 mil dari Mekah, ada sebuah desa kecil memanjang dengan letak rumah-rumah tak beraturan, terbuat dari lumpur atau batu-batu yang menurut cerita dibangun dengan gaya lazimnya rumah-rumah di Arab.

Melewati sebuah jalan sempit, kami melintasi sebelah kiri ‘Iblis Besar’. Setelah berhenti seperempat jam, menghisap tembakau dan minum kopi, kami tiba di sebuah tempat terbuka, dimana berdiri ‘Mesjid Al-Khayf.’ Disinilah, menurut beberapa orang Arab, Adam berbaring dengan kepala di ujung salah satu dinding panjang, dan kakinya di ujung yang lain sementara perutnya berada di bawah bagian kubah. Setelah melintasi kota tersebut kami tiba di Batn al-Muhassir; ‘Lembah Sang Pengacau’ (setan/jin) di permulaan jalan menurun ke Muzdalifah (yang Mendekat), dimana jalan menurun curam ke lembah Arafat.

Al-Khayf Mosque.JPG


“Siang hari kami mencapai Muzdalifah yang juga disebut Masha al-Haram, ‘Tempat yang diperuntukkan bagi Upacara-upacara agama.’ Dalam al-Islam dikenal sebagai ‘Menara tanpa Mesjid,’ berlawanan dengan Mesjid Nimrah yang disebut ‘Mesjid tanpa Menara.’ Ditengah jalan antara Muna dan Arafat, berjarak sekitar tiga mil dari kedua tempat tersebut.”

Burton: (vol11, hal.180-7):

“Arafat di masa kuno disebut Jabal Ilal, ‘Bukit Bergumul dalam Doa’ yang sekarang disebut Jabal al-Rahmah, ‘Bukit Rahmat/Ampunan,’ adalah sekumpulan besar granit kasar yang tersebar berupa batu-batu besar dengan sedikit tanaman berduri kering disana-sini.”

(Hal.188-9):

“Bukit suci yang berhutang nama dan kehormatan pada sebuah legenda terkenal. Ketika para leluhur pertama kita kehilangan hak atas surga karena makan gandum, yang membuat tercabutnya kemurnian awal mereka, mereka dibuang ke bumi. Ular di Ispahan, Merak di Kabul, Iblis di Bilbays (ada yang bilang Semnan dan Seistan), Hawa diturunkan di Arafat dan Adam di Sri Lanka. Adam, yang kemudian ditakdirkan untuk mencari istrinya, memulai perjalanan, meninggalkan jejak yang mempengaruhi bentuk tampilan muka bumi sekarang. Dimanapun bapak leluhur pertama kita menjejakkan kakinya—yang sungguh besar—sebuah kota akan muncul; diantara langkah-langkah akan selalu menjadi ‘negara.’ Ia berkelana selama bertahun-tahun, sampai tiba di Bukit Rahmat, dimana ibu kita terus menerus memanggil namanya, dan untuk memperingati pertemuan tsb. tempat tersebut diberi nama Arafat. Pada puncaknya, Adam diperintahkan malaikat Jibril membangun sebuah Mada’a, atau tempat sembahyang: dan diantara tempat ini dan Mesjid Nimrah kedua pasangan tersebut tinggal hingga akhir hayatnya.”

Jabal al Rahma (Mount of Mercy) Arafah.JPG


Burton: (vol.11, hal.203-205):

“Kami menemukan kerumunan orang-orang di jalan sempit seberang ‘Jamrat-al-Akabah,’ atau yang secara vulgar disebut Shaytan al-Kabir, ‘Iblis Besar.’ Nama ini untuk membedakannya dengan pilar lain, yakni ‘Wusta,’ atau Tempat Pusat (pelemparan batu), yang dibangun di tengah Muna, dan pilar yang ketiga di ujung timur, yaitu ‘Al-Aula’ atau ‘Tempat Pertama.’
‘Shaytan al-Kabir’ adalah sebuah bangunan/tonggak batu kasar pendek, dengan tinggi sekitar delapan kaki dan lebar dua setengah, ditempatkan menghadap dinding batu kasar di pintu masuk Mekah ke Muna. Dengan mencari-cari celah lewat, kami mendekat dalam jarak sekitar lima hasta, dan sambil memegang batu antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan, kami melemparkannya ke pilar tersebut seraya berseru, ‘Dalam nama Allah, dan Allah Maha Besar! (saya ikut melakukan ini) dalam kebencian akan Iblis dan untuk mempermalukanya.’ Setelah itu diikuti Tahlil dan ‘Sana’ atau memuji Allah. Setelah tujuh batu sesuai peruntukannya dilempar, kami beristirahat dan memasuki tempat tukang cukur, duduk di salah satu bangku tanah sekitarnya. Tukang cukur mencukur kepala kami dan setelah memangkas janggut dan memotong kuku, ia meminta kami mengucapkan kata-kata berikut: ‘Aku hendak melepaskan Ihramku sesuai sunnah Nabi, yang dirahmati dan dilindungi Allah! Ya Allah, jadikanlah untuk setiap helai rambut kami, cahaya, kemurnian dan pahala! Dalam nama Allah, dan Allah Maha Besar!’”

Jamarat.JPG


Setelah mengikuti semua rincian upacara ini dengan panduan Burton, kita siap mempertanyakan mengapa dilakukan dan dimana bermulanya upacara-upacara tersebut.

Kalau saja kaum Yahudi dan umat Kriten mendengarkan seruan Muhammad di Medinah ketika ia menjadikan Yerusalem sebagai Kiblat, mungkin perjalanan sejarah Islam digariskan sebagai suatu sekte Unitarian dari timur. Namun, ketika sang Nabi mengubah kiblat dari Yerusalem ke Mekah, ia berkompromi dengan penyembahan berhala dan akibatnya, inti terdalam ajaran Islam tetaplah kekafiran. Kuil Arab kuno ditransformasi menjadi rumah Allah. Cerita bahwa kuil ini dibangun ulang Abraham dan Adam sendirilah pendirinya adalah legenda untuk membenarkan penerapan praktek-praktek pagan yang ada.
Rafat Amari: Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Dalam masa sebelum Islam, Mekah diketahui menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai ‘ibadah haji kecil’, tetapi ibadah merupakan ibadah okultisme sepenuhnya, dan bagian dari ritual agama Jin Arab

…….

Saksi² sejarah menunjukkan bahwa ibadah haji sebelum masa Islam bermula di pusat² yang lain dari Mekah. Para peziarah berkumpul di tempat² ini untuk mengunjungi kuil² di sana, berdagang, dan mempersiapkan diri mereka untuk melakukan perziarahan ke tempat² yang disakralkan yaitu di bukit² Mina’, Arafah dan Muzdalifah. Tempat² ini adalah obyek² yang sesungguhnya dari ibadah haji, di mana akan kita lihat setelah ini. Mekah tidak termasuk dari peribadahan haji, karena ritual² resminya dimulai pada bukit yang disebut Arafah dan berakhir di Mina’, di mana kondisi Ihram selesai. Jelaslah bahwa ibadah haji dilakukan di bukit² tersebut di mana kaum Arab menyembah dewa² mereka dan mereka tidak memasukkan Mekah ke dalamnya. Fakta² ini menunjukkan pada kita bahwa Mekah tidak disinggahi dalam ibadah haji, tetapi bukti² tidak hanya berhenti sampai di sini. Kami melihat bahwa para pejabat kota Arafah adalah orang² dari suku Tamim bukan dari suku Quraish. [12] Hal ini juga memberitahu kita bahwa Mekah dan Quraish, suku yang berdiam di sana, tidak berkaitan apapun dengan ibadah haji.
[12] Wellhausen, Reste , hal. 83; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 174


Upacara lain yang tidak ada hubungannya dengan Ka’abah, namun dilakukan di tempat-tempat tertentu dekat Mekah, juga diadaptasi ke dalam agama baru ini. Di tahun ke sepuluh setelah hijriah, Muhammad mengadakan perjalanan ziarah ke Mekah, kuil tua para leluhurnya, dan setiap detail ketaatan tahyul yang dipenuhi kebohongan ini telah menjadi norma dalam Islam. Akibatnya, sebagaimana yang dikatakan Wellhausen, “kita sekarang memiliki tempat tujuan ziarah Kalvari minus sejarah Kesengsaraan.’ Praktek-praktek pagan tersebut dijelaskan dengan menciptakan legenda-legenda yang disematkan ke tokoh-tokoh Bible. dan secara keseluruhan merupakan pengetahuan fiktif yang campur aduk tidak dimengerti. (anne: Dari dulu sampai sekarang hobi menciptakan kebohongan, begitu mudah percaya kebohongan dan tahyul yang diciptakan sesama umat Islam).

Ka’abah sendiri rancang bangun dan strukturnya sendiri adalah kuil penyembah berhala. Penutup Ka’aba (Kiswa) terpulang ke penyembahan berhala kuno. Kuil tersebut adalah pengantin perempuan, dan ia menerima pakaian mahal. Bangunan ini berdiri dengan keempat sudut nyaris searah jarum kompas; bukan sisi-sisinya, melainkan sudutnya yang mengarah ke utara, selatan, timur dan barat. Dapat dipastikan benda-benda suci ditempatkan di sudut-sudut bangunan.
Image Image Image
Image Image Image

Ka’aba adalah salah satu dari kuil-kuil kecil tempat pemujaan jin-jin dan berhala batu yang banyak tersebar di Arab, seperti yang terdapat di Petra (atas). Struktur dan desain kuil jin kubus ‘Rumah Allah’ yang berulangkali direnovasi ini sangat jauh bila dibandingkan sisa reruntuhan kuil Ka’baye Zartosht/Cube of Zoroaster di Persia (kiri bawah), apagi kuil Isis dan Karnak yang megah di Mesir. Muhammad yang mengikuti kepercayaan leluhurnya pada jin-jin mengaitkan-ngaitkan kubus kecilnya dengan tokoh-tokoh Alkitab untuk mendapatkan legitimasi.

ImageImage
Cube of Zoroaster (Ka'ba-ye Zartosht)
Image


Pendapat Dr. Taha Husayn, dikutip dalam buku “Mizan al Islam” karya Anwar Jundi, hal. 170 (dikutip oleh Dr. Rafat Amari): "The case for this episode is very obvious because it is of recent date and came into vogue just before the rise of Islam. Islam exploited it for religious reasons.”
(Dalam kasus cerita Ibrahim dan Ismail membangun Ka’abah cukup jelas, cerita ini muncul belakangan disaat Islam mulai berkembang. Islam mengeksploitasi kisah ini untuk tujuan dan kepentingan agama/politik).
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Wed May 30, 2012 11:41 pm

Batu hitam terletak di sudut timur; keempat sudut lain juga memiliki batu-batu suci yang masih menjadi tempat ibadah khusus. Bagian depan Ka’abah adalah sisi timur laut, dan pintunya tidak di tengah melainkan di dekat Batu Hitam. Diantara Batu tersebut dan pintu terletak Multazam, tempat dimana para peziarah menekankan dirinya ke dinding bangunan, memeluk kain gorden dan berseru pada Allah. Di sisi barat laut ada pagar berbentuk setengah lingkaran yang tadinya adalah bagian dari Ka’abah namun sesaat sebelum masa Muhammad bangunan direstorasi. Pagar ini menandai ukuran semula kuil pemujaan berhala tersebut.

Image Image
Image


Batu Hitam Hajar Aswad (kiri atas). Sayangnya ‘malaikat Jibril’ yang membawa ‘batu surga’ ini ke bumi mungkin bosan menjaga tangan kanan Allah yang akan bersaksi di hari kiamat nanti, sehingga setelah ribuan tahun utuh dari sejak Adam sampai ke Muhammad (605), pecah berkeping-keping hanya selang 150 tahun sewaktu Umayah menyerang Mekah (756). Rupaya Hubal bersama jin kubus bisa menjaganya lebih baik. Pemujaan umat Islam atasnya mirip dengan yoni puja (kanan atas), relief berbentuk vulva di kuil Yogini di Bheragat Madhya Pradesh, India, yang merupakan lambang kesuburan, juga ritual mengelilingi kuil 7 kali yang di Hindu disebut Parikrama atau Pradakshina (tapi beda dengan Hindu, pagan Arab memiliki ritual ‘unik’ saat mengelilingi Hajar Aswad—ket di bawah: CIRCUMAMBULATION). Pemujaan figur organ intim dilakukan juga di Arab Selatan. (Yoel Natan, ‘Moon-o-theism’ p.151).

Image
Al-Uzza, Al-Lat dan Al-Manat

What about the CIRCUMAMBULATION?

In the book of The Methodological Way for Arabs by Mahmoud Slim Al-Hoot, page 123 “One of the rituals of pagan pilgrimage was an exciting and amazing ritual, as they were circumambulating around Al- Ka'bah men and women totally naked.” What was the reason for that nudeness?

In the book of The legendary in Quran, page 16,17 it said: “that nudeness was for a reason, as there were sexual worshiping rituals taking place inside that Makkahin godly house in the ancient epochs”

In the book of The Father of Prophets Ibrahim", by Muhammad Hosny Abdul-Hammid, published in Cairo, page 92, he said: “there was a pagan ritual performed by women, as they were touching the black stone by their menstrual blood, as the menstrual blood for the ancient pagan was the secret of birth, as they believed that, woman gives the blood and man gives the semen and the spirit is given by god They were assimilating the first act done by the moon god (Alh) when he slept with the sun god (Alat).”


Tidak ada keraguan bahwa Batu Hitam itu adalah berhala Ka’abah yang sesungguhnya. Bait Allah dan Masjid, menurut Wellhausen, awalnya mengacu ke ‘Batu’ bukan ‘Kuil/Bangunan’nya.Di masa kuno, terdapat sebuah sumur kosong di dalam Ka’abah untuk menerima persembahan nazar. Di depan sumur berdiri sosok patung dewa Hubal. Pemujaan serupa masih dapat ditemukan di makam Hawa dekat Jeddah, dimana terdapat sebuah sumur persembahan di bawah kubah yang berarti di atas bagian perut Ibu Hawa. Diperkirakan bahwa Hubal, dewa utama Ka’abah mungkin Allah itu sendiri. Lainnya berkata bahwa kata Hubal memiliki kaitan dengan Baal, dewa matahari. Bila kita ingat upacara mengelilingi Ka’abah sebanyak tujuh kali: tiga kali secara cepat dan empat kali lebih lambat, meniru planet bagian dalam dan luar, bukan hal yang aneh bila Baal si dewa matahari adalah dewa utama kuil tersebut.

Tempat yang sekarang disebut sebagai Maqam Ibrahim (surah 2:119) pada mulanya adalah sebuah altar batu untuk persembahan. Tidak jauh di luar Mekah, terdapat dua bukit Al Safa dan Al Marwa; kedua nama ini berarti ‘sebuah batu,’ yaitu sebuah berhala. Jalan diantara keduanya terletak hampir parallel dengan bagian depan Ka’abah dan langsung di timurnya sumur Zam-zam, yang awalnya juga tempat untuk persembahan suci. Isinya antara lain dua kijang emas. Ada banyak tempat-tempat suci lain di sekitar yang sebelumnya berkaitan dengan upacara penyembahan berhala, sekarang diubah legenda Islam menjadi makam-makam para orang suci, dll.

Arafat dan Muzdalifa saat ini hanyalah salah satu tempat pemberhentian ziarah. Tidak ada persembahan yang dibawa kesana. Dulunya Muzdalifa adalah tempat pemujaan api. Wakidi berkata: “Muhammad naik dari Arafat menuju api yang dinyalakan di Muzdalifa; ini adalah bukit api suci.” Bukit itu disebut Quzah, dan Wellhausen beranggapan tempat tersebut mungkin tempat dewa Guntur yang tandanya berupa pelangi (Quzah).

Sejarah awal Mekah memperlihatkan bahwa ini dulunya adalah tempat pemujaan pagan sebelum Muhammad. Peperangan Islam menaklukkan tanah Arab ditentukan di Mekah. Ini adalah perebutan pusat Pagan. Dalam proses penaklukkan Mekah Islam sendiri ditaklukkan. ‘Tiada tuhan selain Allah’—dan kuil berhala kuno di Mekah? Dozy berteori Mekah adalah pusat kuno kaum Yahudi, namun kesimpulannya telah dibantah oleh para penulis selanjutnya. 4

Bukan hanya ziarah itu sendiri, namun penanggalannya juga berasal dari paganisme. Nama-nama bulan dalam bahasa Arab banyak diantaranya memiliki makna pagan. Tentu saja mereka menggunakan kalender solar, namun Muhammad mengubahnya menjadi kalender lunar. Muharram adalah bulan perayaan besar. Pemujaan pohon dan batu—yang akan kita bahas di bab lain—berasal dari upacara kafir kuno. Di Nagran, sebuah pohon korma dijadikan dewa. Sejumlah pepohonan atau sekumpulan belukar antara Mekah dan Medinah yang dulunya kuil berhala, sekarang dikunjungi karena, ‘Muhammad tinggal disana, sembahyang disana, atau mencukur rambut di bawahnya.’ (lihat Bokhari 1:68—3:36).

Prof. A.J. Wensick, saat menulis mengenai Haji di Encyclopedia of Islam (vol.11, hal.22) memberikan opininya bahwa: “Perayaan-perayaan besar dari masa lalu dikaitkan dengan Haji yang dirayakan pada akhir panen korma. Perayaan-perayaan ini mungkin merupakan hal penting bagi para pendahulu Muhammad, dan masih demikian bagi banyak umat Islam sekarang. Walau arti penting upacara keagamaan itu sendiri bahkan kemudian sudah hilang maknanya bagi orang-orang tersebut."

Namun demikian, walaupun arti penting berbagai ritual dan upacara tersebut tidak lagi dipahami dengan jelas, mengarah ke asal-usul pagan. Snouck Hurgronje melihat adanya ritus matahari dalam upacara wukuf. Wensick berkata:

“Dewa Muzdalifa adalah Quzah, dewa Guntur. Api dinyalakan di bukit suci yang juga disebut Quzah. Disini dibuat perhentian, dan wukuf ini sangat memiliki kemiripan dengan yang di Sinai, karena di kedua kasus dewa Guntur dinyatakan dengan api. Selanjutnya dapat diduga bahwa kebiasaan tradisional membuat kegaduhan sebanyak mungkin merupakan upaya untuk memanggil guntur/hujan.” Segera setelah matahari terbit, barulah ifada ke Mina dimulai di masa pra-Islam. Muhammad memerintahkan ritual ini harus dilakukan sebelum matahari terbit; disini kita lihat lagi upaya menyingkirkan ritual matahari. Di masa kuno, disebutkan harus bernyanyi selama ifada, ‘ashrik thabir kaima nughir.’ Kata-kata ini tidak begitu jelas maknanya, kadangkala diterjemahkan: ‘Masuk ke dalam cahaya pagi Thabir, agar kita dapat bersegera.’
Rafat Amari: Islam Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Perhentian ibadah haji yang disebut Muzdalifah telah disebutkan oleh pengarang Arab yang menulis tentang tradisi Arab sebelum Islam. Mereka mengatakan bahwa Muzdalifah adalah tempat yang memiliki sebuah gunung yang disebut Khazeh قزح , berasal dari nama setan. [48] Khazeh adalah sebuah berhala Arab yang terkenal, [49] dan hal ini menunjukkan bahwa penyembahan setan Khazeh, telah menyebar ke dalam jazirah Arab Barat bagian tengah, khususnya di sekitar Mekah dan Medina. Jawad Ali, seorang cendekiawan Irak, mempercayai bahwa berhala ini disembah di Muzdalifah. [50] Sejarawan Arab mengatakan bahwa sebelum Islam, orang yang memimpin upacara ibadah di Muzdalifah, berdiri di atas gunung Khazeh.[51]
[48] Taj Al Aruss 2, hal. 207
[49] ] Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 384
[50] Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 384
[51] Taj Al Aruss 2, hal. 207


…Pada awalnya, ibadah haji dilakukan oleh dua kelompok; yang satu menyembah matahari, dan yang lain menyembah bulan. Kemudian, kedua upacara agama itu digabung dalam satu ibadah haji.…

Suku Sufa melakukan perayaan keagamaan mereka dari Arafah ke Muna. Di Muna mereka melakukan pelemparan batu² (jumroh). Seorang Sufa secara khusus ditugaskan untuk melempar batu pertama. Tidak seorangpun boleh melempar batu sebelum dia melakukannya. [43] Hal ini menunjukkan bahwa Sufa memulai ibadah haji pertama, atau peribadahan ziarah, yag dimulai di Arafah, dan dilanjutkan ke Muna. Tampaknya merekalah yang pertama menciptakan hukum² awal dan ritual², dan mengarahkan ibadah haji kedua lokasi. Pertama, mereka menghormati matahari di Arafah; kemudian mereka melanjutkan ke Muna, di mana mereka memohon hujan dalam perayaan² yang dilakukan bagi Manat, pemotongan rambut, dan pelemparan batu². Semua ini dimulai oleh suku Sufa dan dilakukan di Muna.
[43] Ibn Hisham, I, hal. 100; Tarikh al-Tabari, I, hal. 507

Qusayy, pendahulu kedelapan Muhammad, juga orang yang mengumpulkan banyak keluarga untuk bersama-sama membentuk persekutuan yang kemudian menjadi Quraish, dan menduduki Mekah, mengusir suku Khuzaa’h yang mendirikan kota tersebut. Qusayy kemudian memerangi suku Sufa, yang mengembangkan peribadahan haji yang memasukkan Arafah dan Mina.[44] Ketika Qusayy Bin Kilab menemukan sejumlah orang2 Arab pagan melakukan ibadah haji sebagai bagian dari tradisi pagan mereka, dia mendorong mereka untuk meneruskan ritual² ini. [45]
[44] Tarikh al-Tabari, I, hal. 507
[45] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508


Suku Udwan adalah suku lain yang memulai peribadahan haji berdasarkan penyembahan bulan di Muzdalifah. Mereka melakukan waqfa keagamaan di Muzdalifah; kemudian mereka berjalan menuju Muna. [47] Jelaslah bahwa mereka utamanya menyembah bulan. Perbedaan di mana Sufa dan Udwan memulai peribadahan haji menunjukkan bawa ibadah haji pada masa sebelum Islam bukanlah sebuah perayaan yang disatukan, tetapi terpisah bagi kedua kelompok – penyembah matahari dan penyembah bulan. Meskipun terpisah, mereka mempunyai satu kemiripan. Perayaan² kedua group berakhir dengan sebuah kunjungan ke Mina’, lokasi terdekat di mana Manat, putri Allah dan dewi hujan, dimuliakan. Mereka keduanya mempunyai tujuan yang sama: memohon hujan.
[47] Ibn Hisham I, hal. 101

anne: selanjutnya dalam upaya menarik pengikut dari kalangan pagan, Muhammad menggabungkan kedua macam ibadah, kemudian menambahkan ritual penyembahan jin dan berhala lokal di Ka’abah, termasuk tawaf dan berlari antara bukit Safa dan Marwa yang melibatkan pemujaan atas dua dukun Kahin Isaf dan Naila. Semua Praktek-praktek pagan tersebut dijelaskan dengan menciptakan legenda-legenda yang disematkan ke tokoh-tokoh Bible.


Kita juga mengetahui dari pernyataan Ibn Hisham (ed. Wustenfeld, hal.76 dan seterusnya) bahwa pelemparan batu hanya dimulai setelah matahari melintasi meridian. Houtsma mengajukan kemungkinan bahwa pelemparan tersebut awalnya ditujukan pada iblis-matahari; pandangan ini didukung kenyataan bahwa pada mulanya ziarah seperti itu dilakukan bertepatan dengan equinox di musim gugur, suatu kebiasaan yang lazim ditemukan di seluruh dunia, mengawali empat musim. Dengan peristiwa pengusiran iblis-matahari, dimana masa berkuasanya yang keras berakhir seiring berakhirnya musim panas, pemujaan atas dewa guntur/hujan yang membawa kesuburan serta upaya memanggilnya, dapat dihubungkan dengan mudah sebagaimana kita lihat pada ritual di Muzdalifa. Kata tarwiya, ‘membasahkan/melembabkan,’ sebagai semacam jimat hujan juga dapat dijelaskan dalam kaitan ini, dan jejaknya masih dapat ditemukan dalam pemberian persembahan minuman (biasanya anggur) yang diberikan pada dewa air Zam Zam.

Penjelasan lain mengenai pelemparan batu tersebut diajukan Van Vloten yang menghubungkannya dengan pemujaan ular atau setan; dan sebagai bukti, ungkapan tersebut sering dicantumkan di dalam Qur’an. As Shaitan ar rajim ‘iblis yang dilempar/terkutuk.’ Sedangkan Chauvin menganggapnya sebagai “suatu contoh objek scopelism oleh penduduk Mekah, mencegahnya agar tidak diambil alih/diolah pihak lain.” Kedua teori tersebut ditolak Houtsma.5

Terkait pelemparan batu dalam upacara haji, kita bisa membandingkannya dengan apa yang dikatakan Frazer dalam bab mengenai transfer kejahatan ke bebatuan dan tongkat di kalangan penyembah berhala dan penganut animism (The Scapegoat, hal.23-24).

“Kadangkala motif pelemparan batu tsb adalah untuk menangkal roh berbahaya; terkadang juga untuk membuang suatu kejahatan, atau untuk memperoleh kebaikan. Namun, mungkin bila kita bisa menelusur ke asalnya di dalam pemikiran manusia primitif, kita akan menemukan bahwa mereka mencari pemecahan atas suatu kondisi yang tak terpahami, kurang lebih persisnya ke dalam prinsip pemindahan kejahatan. Upaya untuk melepaskankan diri dari kejahatan serta memperoleh kebaikan, seringkali hanya merupakan dua sisi berbeda mata uang yang sama; misalnya, suatu upaya untuk memulihkan kesehatan memiliki proporsi seimbang dengan upaya membuang penyakitnya. Dan walaupun praktek pelemparan batu pada roh-roh berbahaya, khususnya hantu orang meninggal yang ganas dan berbahaya, tampaknya bersumber dari motif yang berbeda, namun bisa dipertanyakan apakah perbedaan tersebut benar-benar sebegitu kasar/tak beradab sebagaimana yang tampak oleh kita.”

Dengan demikian, pelemparan batu atau tongkat bisa jadi sebentuk upacara pemurnian yang di kalangan manusia primitif umumnya dipahami sebagai semacam penyucian fisik daripada moral, suatu cara membersihkan atau menyingkirkan hal-hal mengerikan yang mungkin menginfeksi orang yang tercemar. Gagasan ini mungkin bisa menjelaskan mengenai ritual pelemparan batu yang dilakukan para peziarah di Mekah; di hari pengorbanan, setiap peziarah harus melempar tujuh batu pada sebuah tonggak batu kasar, dan ritual ini diulang selama tiga hari berikutnya. Penjelasan tradisional mengenai kebiasaan ini adalah bahwa Muhammad mengusir setan dengan lemparan batu-batu’ namun ide orisinilnya mungkin para peziarah membersihkan diri dengan mentransfer kenajisan mereka ke batu yang mereka lempar ke tonggak batu.”

Disamping itu, Dr. Snouck Hurgronje menambahkan mengenai praktek pagan dalam ibadah haji. Sudah umum diketahui bahwa di masa sebelum Islam, ada dua berhala yang disembah di Safa dan Marwa, dan nama-nama berhala tersebut disebutkan. Surah kedua Quran, ayat 158 (Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya). mendukung adanya kebiasaan pagan yang dilakukan orang Arab sebelum Islam. Prof. Hurgronje berpendapat, keberadaan tempat-tempat suci kecil di sekitar Ka’abah adalah karena adanya pohon, batu dan sumur keramat yang dulunya tempat pemujaan pagan tapi kemudian di-Islamisasi dengan menyatakan bahwa di bawah pohon tersebut sang nabi duduk—batu ini bicara padanya—di batu tersebut ia duduk—dan sumur-sumur tertentu bahkan dijadikan tempat suci karena Muhammad meludah ke dalamnya. (Azraqi, hal.43S, dikutip Hurgronje, hal.123).

Sedikit di selatan lembah Arafat ada sebuah bukit kecil yang disebut Bukit Rahmat, di puncaknya dulu ada sebuah bangunan kecil berkubah. Saat ini tempat tersebut dikaitkan dengan Um Salima, sementara asal-usulnya hilang dalam ketidakjelasan. Ketika kaum Wahabi datang ke Mekah dan hendak menyucikannya dari penyembahan berhala, mereka menghancurkan tempat-tempat ini. Prof. Hurgronje menyimpulkan, walau ritual ibadah haji secara umum adalah Islam, ada banyak praktek yang sekarang dikutuk sebagai inovasi, pada kenyataannya memiliki karakter Arab kuno dan pagan. Kesimpulan akhir makalah ilmiahnya adalah sbb: “Andai harapan Sprenger terpenuhi—dan ini mustahil—bahwa kritik ajaran Tubingen akan muncul dalam Islam, maka sudah pasti perayaan di Mekah dan upacara haji akan menjadi yang pertama-tama lenyap diantara berbagai praktek yang merupakan jantung ajaran agama Islam.”

CATATAN KAKI BAB VIII

1 "Het Mekkaansche Feest," Leiden, 1880 and Mekka 2 vols. in German. The latter book is accompanied by a photographic atlas.
2
3
4 "De Israeliten te Mekka van David's tyd enz," Dozy (Leiden).
5 See Art. "Hadjdj in the Encyclop. of Islam," Vol.II, p.200.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby kokokbeluk » Wed May 30, 2012 11:45 pm

Waw sis anne, Tuhan Memberkati anda sekeluarga... :finga:
User avatar
kokokbeluk
 
Posts: 2540
Joined: Tue Apr 26, 2011 12:43 am
Location: Bukan TUHAN yang ngomong ame muhammad saw di gua hira! TAPI hantu!

Re: ZWEMER: Pengaruh Animisme dalam Islam

Postby anne » Wed May 30, 2012 11:51 pm

Trims berkatnya bro....saya beri lagu ini untuk bro kokokbeluk deh :)

[youtube]P1RM0Lc0I9Y&feature=related[/youtube]
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

PreviousNext

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users