.

Rafat Amari: Islam, Ditinjau dr Pengamatan Sejarah (SELESAI)

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Fri May 06, 2011 10:52 am

sorangan wrote:betul! dibikin komik jadi lebih cepat ngertinya. Kalu mau mengerti lebih detail, tinggal baca bukunya!

Ide hebat, Adadeh! Salut!!! =D> =D> =D>

Terima kasih atas dukungannya, sor. Kalo gak dibikin komik seperti ini, keterangan bukunya yang panjang lebar jadi jarang dibaca. Kalau pun dibaca, isinya sering dilupakan dengan cepat. Gambar komik sih pasti teringat sampai lama sekali. Apalagi kalo ada adegan ngesexnya seperti yang berikut. Hehee...
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Fri May 06, 2011 10:52 am

Image
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

Postby pod-rock » Sun May 08, 2011 3:22 am

Bagian IV
Kasus Ismail dan Islam


Muhammad mengaku naik ke surga, ketemu Abraham dan bilang bahwa dirinya mirip sekali dg Abraham, ini utk meyakinkan pengikutnya bahwa dia benar2 keturunan Abraham.

Muhammad bukan saja mengaku keturunan Ismael, tapi dia bilang dia sudah naik ke surga, ketemu banyak tokoh2 alkitab, diantaranya adalah Abraham, dan …. Kejutan, ternyata muka Muhammad dan Abraham seperti pinang dibelah dua, alias kembar. Bukan saja itu, dia bilang surga itu terdiri dari tujuh lapis, ide ini dia contek dari banyak agama2 dan sekte2 dijamannya, seperti Gnostik, Mani dan Zoroastrian. Literatur Gnostik mengatakan setiap orang bertanggung jawab untuk setiap lapis surga. Muhammad mengatakan hal yg sama. Muhammad ‘menempatkan’ Abraham di lapis ke tujuh [40], memerintah para orang percaya yg mendapat kerja lebih banyak dan melaksanakan ritual2 religi dibandingkan penghuni lapis lebih bawah.
[40] Ibn Hisham, 2, page 36; al- Bukhari, I, page 92; Halabieh, II, page 111

Sumber kisah Muhammad tentang Adam di lapis surga pertama dan ide bahwa semua malaikat memuja Adam kecuali Setan.

Muhammad menjelaskan setiap lapis surga. Dia ‘menempatkan’ Adam di lapis pertama, menentukan siapa yang boleh masuk surga. Adam senyum pada sebagian calon penghuni, mengirim mereka ke satu dari tujuh lapis surga, tergantung dari pahala dan ritual yang pernah mereka lakukan. Dia cemberut pada sebagian lain, mengirim mereka ke neraka [41]. Adam melirik kekanan dan tertawa jika dia melihat ada yang masuk surga dan melirik ke kiri lalu menangis jika ada yang masuk neraka [42]. Ide ini berasal dari buku yang disebut Testament of Abraham. Kita bisa baca tentang Adam dalam bab pertama ayat ke 11.
[41] Ibn Hisham, 2, page 36; al- Bukhari, I, page 92; Halabieh, II, page 111
[42] Halabieh, II, page 112

Adam muncul dalam banyak tulisan2 Gnostik, dimana dikatakan dia menentukan nasib orang2. Dia juga disinggung dalam kitab suci Sabian Mandaean, dimana dia dikenal sebagai salah satu Dewa yg disebut Adkas Ziwa. Hawa dikenal sebagai istrinya, Anana Denhura, yg dikenal juga sebagai “sinar berawan” dalam mitologi Mandaean [43]. Dg demikian, Adam sangatlah dimuliakan dalam mitologi mandaean dan banyak malaikat memujanya [44]. Dalam kitab2 suci Mandaean, seluruh dunia dan malaikat memuja Adam, kecuali sang Setan [45].
[43] The Secret Adam, E.S. Drower, Oxford at the Clarendon Press, 1960, page 36
[44] The Canonical Prayerbook of the Mandaeans, translated by Drower, Leiden 1959 page 278; The Secret Adam, E.S. Drower, Oxford at the Clarendon Press 1960, page 25; The Great First World ( Alma Risaia RBA ), A Pair of Nasoraean Commentaries, translated by Drower, Leiden Brill, 1963, page 5
[45] The angels, except Satan, worshipping Adam we find it in Ginza Rba, first book, second hymn, pages 9 and 10 ; The angels of fire serve Adam: see The Secret Adam, E.S. Drower, Oxford at the Clarendon Press, 1960, page 35. Adam having angels: The Canonical Prayerbook of the Mandaeans, translated by Drower, Leiden, 1959 page 278. The world worshipping Adam : see - The Secret Adam, E.S. Drower, Oxford at the Clarendon Press 1960, page 25

Muhammad menjiplak hal ini kedalam Qur’an, dan menyatakan pada pengikutnya bahwa alasan Setan diusir dari surga adalah karena Tuhan memerintahkan Setan menyembah Adam dan Sang setan menolaknya. Kita lihat klaim ini dalam banyak Surat dalam Quran, salah satunya Al Baqarah.

[2.34] Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Setan dalam naskah kuno Mandaean digambarkan sebagai seseorang yang menolak menyembah yg lain selain Tuhan, bahkan ketika Tuhan sendiri yang memerintahkannya, memerintahkan Setan utk menyembah makhluk seperti Adam. Ini adalah penipuan yang sangat serius menunjukkan kesalahan sang Setan sebagai sebuah kebajikan, dalam hal ini sang setan berkeras tidak mau menyembah makhluk lain dan bahwa makhluk2 hanya boleh menyembah Tuhan saja.

Qur’an menjiplak ide Mandaean tentang Para setan yang menjadi pelayan Raja Sulaiman

Para setan dalam naskah Mandaean ditempatkan dalam posisi yang ‘enak’ dan membuat iri. Seperti para malaikat, mereka melayani para nabi dan raja2. Mereka mampu melakukan mukjijat dan ikut serta menciptakan jagat raya. Mereka menggali sungai dan membangun istana2 megah. Dalam kitab Suci Mandaean, Ginza Rba, para setan melayani Raja Sulaiman [46].
[46] Ginza Rba, second book, first hymn, page 28

Muhammad menjiplak ide para setan pelayan Raja ini dalam Quran surat Al Anbiya ayat 82:

[21.82] Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,

Para muslim, ketika menerjemahkan Quran kedalam bahasa Inggris, malu utk menterjemahkan kata “Shayatin”, kata arab utk Para Setan kedalam arti sebenarnya, maka mereka menterjemahkan menjadi “evil ones” (yang jahat). Banyak perkataan Qur’an yang secara sengaja diterjemahkan meleset dari arti sebenarnya; ini salah satu cara utk menyimpangkan okultisme sejati dan sifat mitologi dari Quran.

Muhammad menulis dalam Quran bahwa Allah melindungi para setan, tapi alkitab bilang para setan diusir dari hadapan Tuhan karena menolak menyembah Dia dan berontak melawanNya. Alkitab mengingatkan agar jangan berhubungan apapun dengan para setan.

Keterangan negatif tentang Musa dan ketidaksukaannya terhadap komunitas orang kulit hitam

Mari kita lihat lagi bagaimana Muhammad menjelaskan para penanggung jawab masing2 lapisan surga. Musa, ditempatkan di lapis lima oleh Muhammad. Dia bilang Musa itu hitam atau kulit gelap, tangannya putih, kontras dengan tubuhnya yang hitam [47]. Muhammad menerangkan tentang musa seakan Musa itu orang afrika; padahal kita tahu Musa orang Yahudi dan penjelasan dalam alkitab tidak sesuai dengan penjelasannya muhammad. Tidak ada hal yg negatif tentang orang afrika karena semua ras manusia itu sama indahnya, afrika, eropa atau asia. Tapi Muhammad sendiri menganggap rendah orang afrika, dia punya budak orang afrika dan dia pernah bilang budak tidak bisa bersaksi dalam pengadilan kecuali mereka di hukum atau dicambuk dulu [48]. Ketika para pengikut Muhammad mau membebaskan satu dari budak2 mereka, Muhammad tidak mengijinkannya, dan dia memerintahkan utk menjualnya saja, jangan dibebaskan [49]. Contoh, kita temukan Muhammad menjual budak yang telah dibebaskan oleh majikannya [50]. Dia menganggap membebaskan budak bukanlah tindakan yang bijak [51]. Ketika Qur’an bicara tentang pembebasan budak, bukan berarti kebebasan yg sejati. Muhammad menjelaskannya dalam hadis:
[47] Sahih Al- Bukhari 4:125; Ibn Hisham 2: 32
[48] Sahih al-Bukhari, 3, page 150
[49] Sahih al-Bukhari, 3, page 135; 3, page 86; 8, page 117
[50] Sahih Muslim 11: 141, 142
[51] Sahih al-Bukhari, 3, page 135

Kepatuhan atau kesetiaan atau loyalitas budak adalah satu-satunya hal yang bisa membebaskan dia, meski orangtua si budak bisa saja memberi 100 syarat
[52] Sahih al-Bukhari, 3, page 128


Artinya orang yang membebaskan budak akan selalu punya kuasa atas sang budak tersebut, dan tetap memiliki sang budak, apapun yang diklaim oleh orang tua si budak tersebut. Dia sering menjual budak atau menukarnya dengan budak lain. Contoh, dia menukar dua budak kulit hitam utk satu budak kulit putih [53]. Pernah dia membeli budak wanita bernama Barbareh. Barbareh ini sudah menikah tapi Muhammad menolak kepatuhan atau hubungan Barbareh dengan suaminya atau orang tuanya, dengan alasan bahwa budak hanya boleh dimiliki oleh orang yang memperbudaknya [54]. Semua ini menggambarkan ketidak sukaan dia dan kurang menghargai terhadap budak secara umum dan utk orang kulit hitam secara khususnya.
[53] Sahih Muslim 11, page 39
[54] Sahih al-Bukhari, 3, page 29; 7, page 238; 8, page 9

Dengan menjelaskan Musa secara demikian, Muhammad berniat membuat gambaran negatif tentang Musa. Muhammad ingin dilihat oleh pengikutnya lebih superior daripada Musa. Sejarah mengatakan ketika Muhammad melihat salah seorang pengikutnya membaca Taurat (juga disebut Pentateuch), Muhammad marah besar [55].
[55] Halabieh, 1, page 372

Dengan niatnya menjelek2kan Musa, Muhammad menyebut Musa sebagai “si Murung” [56], benar2 pandangan yg negatif. Harusnya tidak ada orang murung di surga, karena surga seharusnya menjadi tempat tenang dan abadi seperti disebut dalam alkitab. Kita tahu para nabi di surga, seperti Musa, dan semua yang mencintai Tuhan, ada bersamaNya dan hidup dalam ketenangan dan kegembiraan yg abadi.
[56] Halabieh, 2, page 91

Dibawah pengaruh sekte Gnostik, Yesus direndahkan oleh Muhammad dan disebutnya lebih rendah dari Yohannes Pembaptis

Dimana tempat Yesus dalam penjelasan Muhammad? Di lapis kedua surga. Ide menempatkan Yesus di lapis kedua ini juga ada dalam literatur Gnostik dan Manicheisme. Manicheisme adalah agama yang didirikan oleh Mani di abad 3 Masehi. Dalam Kitab Mazmurnya Manichean, ditulis oleh muridnya Mani akhir abad 3 M, kita baca Yesus ditempatkan di salah satu lapisan surga [57].
[57] A Manichaean Psalm-Book, Manichaean Manuscripts in the Chester Beatty Collection, Part II, edited by C.R.C. Alleberry, W.Kohlhammer, Stuttgart, 1938, page 52

Manicheisme menyebar ke Mekah dijaman Muhammad dan Muhammad banyak menjiplak kitab2 mereka. Seperti Muhammad, Mani juga mengaku pernah pergi ke surga.

Muhammad menempatkan Yesus di lapis kedua agar membuat Yesus seakan lebih rendah dari Musa, yang ditempatkan di lapis keenam dan dari Harun, yang ditempatkan dilapis kelima, dengan Abraham dilapis ketujuh, serta Nuh, dilapis keempat, Yusuf dilapis ke tiga [58]. Muhammad membuat Yohanes Pembaptis bertanggung jawab atas surga lapis kedua. Jelaslah Muhammad menjiplak urutan tujuh lapis surganya Gnostik, dimana Nuh diangkat atas banyak nabi lain. Dalam kitab Mandaean, Yohanes Pembaptis juga merupakan figur mitologi, diangkat diatas banyak dewa2 lain. Alasan Mandaean mengangkat Yohanes Pembaptis adalah untuk mengecilkan Yesus dalam perang mereka melawan orang kristen. Ingat, Yohanes Pembaptis pernah berkata bahwa dia datang utk menyiapkan jalan bagi Yesus. Ini adalah pemenuhan ramalan/nubuat dari Yesaya mengenai inkarnasi Tuhan dan mengirip seorang nabi sebelum Dia datang utk menyiapkan jalan dan bersaksi bagiNya.
[58] Halabieh, 2, page 117

Kultus Gnostik dijaman Muhammad berusaha mempertahankan Yesus agar tidak penting dibanding nabi lain. Mereka mengabaikan ramalan2 nabi2 sebelumnya. Semua doktrin aliran Gnostik, Sabian Mandaean ini mempengaruhi Muhammad.

Muhammad menerangkan Yesus dalam sikap sangat menghina

Anda akan merasakan apa niat Muhammad. Dia ingin merendahkan Yesus dan membuat gambaran negatif tentangnya. Setelah mengaku pergi ke surga, dia jelaskan ttg Yesus: “Yesus, anak Maria: kulit merah, tidak pendek, tidak tinggi, kulitnya penuh bintik2 hitam, seakan dia baru keluar dari Dimas. Kepalanya seperti penuh air.” Versi lain menerjemahkan perkataan Muhamamd, “keringat banyak mengalir keluar dari jenggotnya.” [59]
[59] Ibn Hisham, 2, page 32; Halabieh, 2, page 88

Buku lain yg menceritakan kehidupan Muhammad menjelaskan arti dari “Dimas”. Dimas adalah berarti negatif dari kamar mandi. Kitab Halabieh, menjelaskan “Dimas” sbb:

Aslinya adalah tempat dimana orang keluar keringat, dan sangat gelap, disebut “Night Dames.” Yang pertama menciptakan Dimas adalah para Jin. Mereka membuat dan menerapkan konsep itu ke Sulaiman. Mereka bilang ketika Sulaiman memasuki dimas dan mendapatkan panas disana, Sulaiman bilang ini adalah siksaan Tuhan, karena jalan masuk ke Dimas itu, yg disebut ruff, mengingatkannya akan neraka. Ruff mirip dengan neraka karena selain api dibagian bawah, gelap melingkupi sekelilingnya. [60]
[60] Halabieh, 2, page 88

Inilah Dimas bagi orang2 Mekah dijaman Muhammad, yang tidak mengenal atau tidak pernah mandi, dan dia melarang para pengikutnya utk masuk dimas [61] karena, dalam hukum Zoroastrian, kamar mandi dianggap berasal dari iblis. Kaum Magi konon diceritakan pernah menggulingkan seorang raja, Raja Balash atau Kavat, hanya karena sang Raja membangun Kamar mandi, dan karena mereka memuja air serta memuja kebersihan air tsb bukannya kebersihan tubuh mereka [62]. Kamar mandi ditentang juga oleh orang Aryan, dalam buku Gautama, hukum suci orang Aryan adalah melarang mandi [63]. Sepertinya Dimas adalah tempat yang lebih hina lagi dari semua arti kamar mandi yg ada dalam pikiran orang Arab, dibawah pengaruh Zoroastrianisme.
[67] Halabieh, 2, page 90
[68] Josue' Le Stylite, traduction Martin, xx; quoted by James Darmesteter in his Introduction to Vendidad, The Zenda –Avesta Part I, The Sacred Books of the East, Volume IV, page xc
[69] Gautama, Chapter IX, 61, Sacred Laws of the Aryas, Part I, Translated by Georg Buhler, The Sacred Books of the East, Volume 2, Published by Motilal Banarsidass, Delhi, page 225

Muhammad menerangkan Yesus ada di lapis bawah surga seakan Dia adalah orang yang keluar dari tempat gelap, dimana disana terdapat banyak derita dan keringat. Tubuhnya digambarkan penuh bintik hitam.

Niat muhammad merendahkan Yesus dan Musa karena mereka mewakili Perjanjian Lama dan Baru; dia ingin menyembunyikan mereka di surga utk membuat agamanya terasa lebih hebat

Jika anda mulai mengerti arti Dimas dijaman Muhammad, anda juga mengerti bagaimana Muhammad menghubungkan tempat itu dengan Yesus, disini bisa dilihat bagaimana sikap meremehkan Muhammad thd Yesus. Terhadap Musa juga demikian. Tetapi terhadap Yusuf, Muhammad menjelaskan hal yang sangat indah, ditempatkan di lapis tiga, wajahnya secantik bulan. Juga terhadap Nuh, menggambarkan posisi Nuh dalam naskah2 Gnostik dan Mandaean. Kita juga lihat pengangkatan Harun, Abraham dan Adam.

Yesus dan Musa dianggap mewakili dua Perjanjian – Hukum2 perjanjian lama, yang diwakili oleh Musa dan Perjanjian Baru, diwakili oleh Yesus. Konsisten dengan ide2 yang ada dijaman dia hidup di arab, Muhammad percaya Musa adalah perwakilan Perjanjian lama dalam Alkitab. Musa dipandang sebagai Kepala agama Yudaisme dan sebagai nabi utamanya. Yesus dipandang sebagai Kepala agama kristen. Muhammad ingin membenamkan keduanya disurga berlapis ciptaannya, dan menggambarkan sebagai orang yang ‘tidak seluarbiasa yg digambarkan selama ini’, malah lebih jelek bila dibandingkan dengan nabi2 lain. Muhammad ingin membuat para pengikutnya menjauh dari Perjanjian Lama dan baru karena dia ingin membuat agamanya ada diatas Yudaisme dan Kristen. Dalam Quran surah 98.6 dia menyatakan Kristen dan yahudi adalah seburuk-buruknya makhluk.

Utk menipu pengikutnya agar percaya dia keturunan Abraham, Muhammad bilang dia sangat mirip dg Abraham

Ketika pengikutnya bertanya seperti apakah Abraham itu, dia bilang Abraham dengan dia (Muhammad) seperti kembar.

Aku tidak melihat ada orang yang mirip dia seperti temanmu, teman kamu sangat mirip dengan dia (‘teman’ disini artinya dirinya sendiri, Muhammad)

Al-Bukhari, penulis Hadis Muhammad mengutip perkataan Muhammad, “Aku anak yang paling mirip dengan Abraham.” [70]. Muhammad ingin membujuk para pengikutnya bahwa dia benar2 keturunan Abraham, jadi dia mengaku secara fisik mirip dengan Abraham. Ishak saja tidak mengaku demikian, meski dia adalah anaknya Abraham dan ibunya adalah adik angkat Abraham. Begitu juga Yakub, atau keturunan2nya yang lain yang dekat dengan jaman Abraham. Lalu bagaimana bisa seseorang yang hidup 2.700 tahun kemudian mengaku demikian?
[70] Sahih al-Bukhari, 4, page 125

4. SEJARAH KAUM QURAISH TIDAK MEMASUKKAN HUBUNGAN DENGAN ISMAEL DALAM SILSILAH KETURUNANNYA

Argumen lain utk mengungkap kebenaran tentang Mekah adalah identitas suku Quraish, suku asal Muhammad, dan sejak kapan mereka menguasai Mekah?

Suku Quraish adalah kumpulan keluarga2 Yaman yg tidak punya hubungan keluarga apapun sebelumnya diantara mereka. Mereka dikumpulkan oleh Qusayy, kakek moyang Muhammad ke-8.

Ibn al-Kalbi, salah seorang sejarawan Arab terpenting menyatakan:

Suku Quraish adalah kumpulan keluarga2 yang berbeda, semuanya berhubungan satu sama lain lewat garis ayah, tapi bukan sebuah suku yang dimulai dari satu orang ayah atau satu orang ibu atau pembantu [71].
[71] Tarikh al-Tabari, I, page 511

Menurut al-Tabari, penulis biografi Muhammad dan juga penulis Hadis, arti dari “Quraish” adalah “kumpulan.” [Tarikh al-Tabari; I, page 511]. Ini mendukung pernyataan Ibn al-Kalbi. Salah seorang yang mengumpulkan keluarga2 ini adalah Qusayy bin Kilab [Tarikh al-Tabari; I, page 511]. Dia ditolong oleh saudara tirinya (dari pihak ibu), yg bernama Razeh bin Rabieh bin Haram. Razeh berasal dari suku Kuthaah, dari Yaman [Tarikh al-Tabari; I, page 506].

Dengan fakta sejarah ini, kita pastikan bahwa suku asal Muhammad belumlah ada sebelum Qusayy bin Kilab, kakek nomor 8 Muhammad [Ibnu Isham, I, hal 3], yg adalah orang Yaman. Karena saudara tirinya tinggal di Yaman, kita asumsikan Qusayy belum lama baru datang dari Yaman dan tidak diketahui asal usul kakek moyangnya. Kita hanya tahu dia bukan bagian salah satu suku yang dikenal. Kita juga bisa pastikan bahwa ketika dia ingin menguasai kota, dia tidak didukung oleh sebuah suku, sebuah hal yang biasanya dilakukan oleh orang arab dengan sangat teliti ketika mereka merencanakan perampokan/pendudukan. Malah, Qusayy bin Kilab mengumpulkan beberapa keluarga Yaman tanpa hubungan kesukuan diantara mereka. Kumpulan ini belakangan dikenal sebagai “Quraish”.

Tak ada keturunan yg diramalkan dari kakek moyang Muhammad dalam sejarahnya

Ini membantah klaim islam bahwa kakek moyang muhammad secara jelas digambarkan dan garis keturunannya dikenal luas di Arab, hingga ke Ismael. Jika benar demikian, kakek moyang Muhammad mestilah berasal dari sebuah suku yang besar, dikenal luas di Arab selama 2.600 tahun sebelum Muhammad. Jika benar, suku Quraish mestilah seperti suku Yudah, darimana Raja Daud berasal. Yudah terus menerus menjadi suku yang teroganisir dan terkenal setelah kematian Raja Sulaiman sekalipun. Terus terkenal hingga jaman Kristen. Cabangnya, yaitu suku Daud, dikenal dan diramalkan dalam sejarah Israel akan melahirkan seorang juru selamat. Tapi jika kita pelajari sejarah kakek moyangnya Muhammad, tidak ada suku sebelum kakek moyang ke-8. Tidak ada naskah2 kuno Yaman yang menyatakan keluarga anu atau suku anu yg dikenal sebagai sebuah suku2. Ini kebalikan dari ide bahwa keluarga Muhammad adalah keluarga tua dan keturunan2nya jelas dikenal, seperti yg ditulis dalam hadis2.

Pernyataan Ibnu al-Kalbi, bahwa Quraish adalah kumpulan beberapa keluarga dari latar belakang berbeda yg lalu membentuk sebuah suku, didasarkan pada fakta yang mana tidak ada penulis2 sejarah klasik yang menulis tentang suku2 di Arab, pernah menyebut ada suku bernama Quraish. Seperti Pliny ditahun 67 Masehi, penulis ini menyebut suku2 terkecil yang ada di Arab, tapi tidak menyebut tentang suku Quraish. Tidak juga penulis2 klasik lain yang datang setelah Pliny. Ini membuktikan bahwa, hingga akhir abad 3 Masehi, suku Quraish belum ada.

Qusayy membentuk Quraish dan menduduki Mekah dipertengahan abad 5 Masehi

Jika para penulis tidak mendokumentasikan keberadaan suku Quraish sebelum akhir abad 3 M, ketika suku itu baru terbentuk, lalu kapan mereka menguasai Mekah? Kita bisa memastikan ini dengan memperkirakan waktu antara Muhammad dan kakek moyangnya yang ke 8, Qusayy bin Kilab.

Muhammad lahir sekitar tahun 569 atau 570 M, ditahun yg dikenal sebagai Tahun al-feil atau tahun gajah. Ditahun itu bula Abraha, orang Ethiopia yang menguasai Yaman, masuk ke Mekah, memakai gajah2. Dengan anggapan generasi orang arab itu sekitar 20 tahunan, seperti telah kita telaah sebelumnya, kita bisa pastikan waktu antara Muhammad dan kakek no.8, Qusayy, sekitar 160 tahunan. Jika kita perkirakan bahwa Qusayy lahir sekitar 410 M, maka jadinya sekitar tahun 450-460 M ketika dia mengumpulkan dan mengorganisir beberapa keluarga yg belakangan dikenal sebagai kelompok Quraish dan menguasai Mekah. Logika ini sesuai dengan temuan2 dari akademisi lain bahwa Quraish menguasai Mekah sekitar abad 5 Masehi [72].
[72] Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 169

Usaha tak logis dari Hadis2 utk menghubungkan moyang Muhammad dengan Ismael

Hadis mengarang silsilah kakek moyangnya Muhammad. Kakek ke 14 disebut Faher bin al-Nather, belakangan dinamai Quraish [73]. Kita lihat ini tidak sesuai dengan bukti2 sejarah. Ibnu Ishak juga mengarang seorang ibu utk Faher ini, disebutnya Jindalah, anak dari Amer, anak dari Hareth, anak dari Mathath al-Jurhami, yang katanya hidup di Mekah pada jaman Ismael. Ibnu Ishak mengklaim anak perempuan Mathath al-Jurhami menikahi Ismael, dan bahwa Mathath adalah raja Mekah ketika Ismael datang ke Mekah bersama ibunya, Hagar [74].
[73] Ibn Hisham I, page 3
[74] Al-Masudi, Muruj al-Thahab, II, page 52; Tabari I, page 510

Dg kata lain, Ibnu Ishak memberikan tiga generasi antara Faher dan Ismael. Jika tiap generasi arab itu sekitar 20 tahunan, maka akan ada sekitar 280 tahun antara Faher dan Muhammad, dan tahun 290 Masehi lah jatuhnya. Ismael harus hidup 60 tahun sebelum Faher, sekitar tahun 230 M. Tapi, kita tahu Ismael hidup sekitar tahun 2050 SM – perbedaan yang suaangat besar – yang harusnya membuat teman2 muslim kita berpikir tentang Hadis2 ini. **** sekali jika bergantungan pada Ibnu Ishak dan Hadis2 utk informasi sejarah.

Quraish tidak pernah unggul di Arab Barat sebelum kebangkitan Islam

Hadis menyatakan suku Quraish unggul diseluruh dataran Arab, tapi klaim ini tidak ada bukti sejarahnya. Cukup melihat Najran. Sangat dikenal bahwa penghuni2 Najran, kota di perbatasan Yaman, adalah para bangsawan dan superior di Arab Barat. Sebagai kota yang kaya, Najran mendapatkan kehormatan dari orang2 arab. Najran juga tempat dimana kekristenan menyebar dan seorang uskup ditunjuk.

Penyair Arab sebelum Muhammad mengenali keunggulan Najran dan para penghuninya diatas seluruh orang Arab lain [75]. Hanya dibenak para muslim sajalah orang Quraish jauh lebih unggul dan hanya setelah Islam dimulai, karena dari suku itulah Muhammad berasal. Di Arab, suku yang menjadi pengadil punya kuasa atas suku2 lain. Suku Tamim punya kuasa demikian karena suku ini mengadili pertengkaran2 antar suku2 lain [76].
[75] Al-Agani, Abi Faraj Al-Asbahani, 10, page 145; 17, page 105
[76] “Mecca and Tamim,” Kister, pages 145 ff, quoted by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 156

Quraish tidak punya kuasa religius, tidak menguasai kabah di Mekah. Malah, Quraish memuja Kabah diluar Mekah

Quraish tidak pernah punya kuasa yang religius di arab barat karena orang2 sana adalah pedagang yang tidak punya keistimewaan religius. Hadis mengklaim Quraish adalah penguasa religius yang tidak dapat diganggu gugat sebelum islam muncul, tapi tidak ada kesaksian akan hal ini, bahkan para penyair arab sekalipun tidak mencatat hal demikian sebelum islam muncul [77].
[77] Jahiz, Tria Opuscula, page 63 ; Cf. R.B. Serjeant, “Haram and Hawtah , the Sacred Enclave in Arabia” ; quoted by Patricia Crone, page 181

Orang Quraish biasanya memuja di kuil di kota arab lain. Mereka melakukan dua perjalanan setiap tahun. Belakangan, setelah Muhammad menguasai Mekah, Qur’an melarang mereka melakukan perjalanan ini. Akademisi pikir perjalanan Quraish ini adalah ke sebuah sanctuary di Arab Utara dekat Aqaba. Pernyataan yg sama disebutkan oleh para penulis klasik lain. Nonnosus menyatakan bahwa ada kuil lain di teluk Aqaba yang menjadi tuan rumah suku2 Arab:

Orang Saracen, Phoinikon dan kelompok lain jauh hingga pegunungan Taurenian, menganggap suci sebuah tempat yg didedikasikan entah pada dewa mana, dan mereka berkumpul disana dua kali setahun, yg pertama berlangsung hingga satu bulan sampai pertengahan musim panas, yang kedua hingga dua bulan, selama melakukan ritual2 ini mereka berada dalam kedamaian satu sama lain [78].
[78] Nonnosus cited by Photius, Bibliotheque ,1, 5


Kabah yg ada di Arab utara ini menjadi daya tarik banyak suku2 Arab sehingga mereka melakukan perjalanan ritual hingga dua kali, yang pertama dibulan yang sama dengan bulan ramadhan sekarang. Quraish juga melakukan dua perjalanan setiap tahun, dan salah satunya adalah menuju Kabah ini [79].
[79] Tarikh al-Tabari, I, page 504

Kita asumsikan kabah yang ini dihubungkan dengan kabah terkenal lain di teritori Nabataean. Yang ini ada di kota Petra, teritori Nabataean juga, dekat dengan sanctuary di arab Utara dekat Aqaba tsb. Kuil Petra didedikasikan utk Dushare, dewanya orang Nabataean. Dushare disebut juga “The Lord of The House” dan kita tahu bahwa Kabah di Mekah juga disebut “The Lord of the House.” Karena mereka menjiplak julukan ini, ini mengindikasikan bahwa suku Quraish tahu tentang Kabah di Petra yang banyak disembah oleh suku2 arab lain [80].
[80] Ency. Relig., 9 page 122; cited by Jawad Ali, vi, pages 415 and 416

Quran menjiplak konsep Siang dan Malam yang oleh Mitologi Arab diterapkan pada Tuhannya Dushare

Menurut mitologi Arab, Dushare, Tuhannya Kabah di Petra, adalah Tuhan yang memisahkan Dewi Siang dari malam ketika mereka bertengkar satu sama lain setiap hari [81].
[81] Ency. Relig., 9 page 122; cited by Jawad Ali, VI, page 415

Banyak bangsa di Timur Tengah, termasuk orang arab, berpikir terjadi pertempuran setiap hari antara dewi siang dan dewa malam. Biasanya sang malam memulai perang dengan menyerang sang siang. Ketika sang malam memasuki peperangan, bumi berada dalam kegelapan. Dewa Utama ikut campur, memisahkan sang malam dan sang siang. Jadi muncullah terang di bumi. Biasanya kedua dewa siang dan malam akan berenang dengan matahari dan bulan. Sang malam adalah dewa sementara sang siang adalah dewi. Sang Malam mengejar sang Siang, berusaha keras utk menangkapnya.

Quran menjiplak konsep siang dan malam berenang dengan matahari dan bulan di angkasa raya. Siang atau malam muncul ketika salah satu dari mereka gagal dalam pertempuran mereka. Allah, bukannya dewa Arab Dushare, memisahkan siang dan malam dalam pertempuran mereka, membuat satu dan yang lain mendatangi bumi.

Dalam mitologi Arab, pagi hari adalah anak lelaki dari matahari. Orang arab menyebut matahari dengan kata “Thuka” dan pagi hari Ibn al-Thuka yang artinya anak lelaki dari Thuka. Mereka juga menggambarkan pagi hari atau siang, berenang dibelakang ibunya, sang matahari [82]. Kita temukan yang sama dalam hal menyamakan siang hari, pagi atau hari terang sebagai berenang dibelakang matahari dalam naskah2 suci Zoroastrian. Dalam Dina-I Mainog-I Khirat, bagian Teks Pahlavi, kita temukan Mitro, malaikat sinar matahari, berenang dibelakang matahari [83].
[82] Taj al-Aruss 10, page 137
[83] The Dina-I Mainog-I Khirad, Chapter LIII, 4, Pahlavi Texts, Part III, Translated by E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 24, page 96

Mitologi Arab khususnya mempengaruhi Qur’an dalam mengklaim bahwa siang serta malam berenang bersama matahari dan bulan. Malah kita temukan Qur’an mengungkapkan berenangnya matahari, bulan, siang dan malam di “lautan angkasa.” Orang2 Persia, Sabian Mandaean dan sekte2 lain di timur Tengah dijaman Muhammad percaya bahwa lautan angkasa ada diantara angkasa dan bumi. Dalam surah 21, al Anbiya ayat 33:

[21.33] It is He who created the night and the day and the sun and the moon, all swim in a Falak.
[21.33] Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
(Terjemahan Depag Indonesia, disesuaikan dengan akal sang penerjemah, bukan arti sebenarnya)


Muhammad menjelaskan dalam hadis bahwa Falak adalah “lautan angkasa raya”. [84]
[84] Tarikh al-Tabari, I, page 49

Quran mengungkapkan mitos arab tentang Sang Malam yg meminta utk memerangi sang siang. Surah Al-A’raf 7.54

[7.54] He draweth the night as a veil over the day, seeking the day in power and velocity – to wrestle with.
[7.54] Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya…
(Terjemahan Depag Indonesia, disesuaikan dengan akal sang penerjemah, bukan arti sebenarnya)


Al-Bukhari, penulis Hadis Muhammad menjelaskan ayat berikut tentang terus menerus terjadinya pertempuran antara siang dan malam sampai Allah datang dan memisahkan mereka [85]. Dalam surah al-Zumar 39.5 Qur’an memakai istilah “Yukawer” utk pertempuran ini, artinya “bergulat dan menindihnya.” Arti ini dibenarkan oleh Munjid, Kamus Arab paling berotoritas [86]. Disini dia menampilkan ayat dalam surah al-Zumar sbb:
[85] Sahih al-Bukhari, 4, page 75
[86] Al-Munjid, page 702

[39.5] He – Allah – makes the night wrestle and pin down the day, and the day wrestle and pin down the night.
[39.5] Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.


Dengan kata lain, pertempuran antara siang dan malam disebabkan oleh Allah, yang oleh Muhammad dipakai utk menggantikan dewa Arab yg menjadi penyebab pertempuran itu.

Orang2 arab berpikir bahwa sang malam, sebagai dewa, itu lelaki dan siang itu perempuan [87]. Dipercaya juga bahwa terjadi siang jika sang malam menahan sang siang didepannya. Ini karena sang malam ‘berpakaian’ sang siang hingga wajah cantik sang siang tertutup kegelapan. Tapi ketika sang dewa memisahkan siang dari pelukan malam , maka malam akan sendiri tanpa keindahan warna sang siang, dan kegelapan menyelimuti seluruh permukaan.
[87] Halabieh 2, page 332

Seperti mitologi Arab, dewa memisahkan malam dari serangan dan pelukannya terhadap sang siang; kita lihat dalam Quran ketika Allah memisahkan malam ddari serangan dan pelukannya pada siang, hingga kegelapan muncul. Surah 36.37

[36.37] And a sign for them is the night. We disengage (the night) from the day, and behold, they are plunged in darkness.
[36.37] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,


Muhammad juga membicarakan seorang malaikat yang mengambil sang malam kedalam tangannya dan menaruhnya lagi agar berenang dilautan angkasa raya [88]. Mitos ini diambil dari mitologi Persia
[88] Tarikh al-Tabari, I, page 50
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby iamthewarlord » Wed May 11, 2011 9:23 am

Adadeh wrote:Terima kasih atas tanggapannya, temans.

Tahukah kalian bahwa di Qur'an, Sura al-Imron ternyata nama Imron adalah nama Arab bagi Amram, babehnya Musa, Harun, dan Miriam? Muhammad mengira Amram dan Yokhebet itu adalah orangtua Maria ibu Yesus.
Qur’an, Sura al-Imran (3), ayat 35, 36 mengisahkan bahwa istri Imron/Amram yakni Yokhebet melahirkan bayi, yakni Maria yang nantinya jadi ibu Yesus! Ini bukan hanya satu atau dua ayat lagi yang salah besoar kronologi sejarahnya, tapi bahkan seluruh Sura al-Imron!! Nabinya b0doh, maka ajarannya pun bod0h pula. Mana ada orang cerdas cebok pake batu?


benar2 salah sejarah...
tapi mereka menutupi dengan berdalih kitab sebelah adalah palsu..
User avatar
iamthewarlord
 
Posts: 4494
Images: 6
Joined: Sun Feb 08, 2009 11:07 pm
Location: “Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” Muhammad.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Thu May 12, 2011 12:50 am

Image
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Fri May 13, 2011 4:01 pm

Image
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Sat May 14, 2011 1:38 am

straightfaith wrote:oh iya, saya minta tolong juga pada anda adadeh untuk membuat thread tentang motif muhammad atas islamnya mulai dari ideologi politik ekonomi sosial budaya pertahanan dan keamanan ..

Dikau ini banyak tanya dan ngasih PR begini begono ke gw. Sebenarnya gw udah jawab sebagian pertanyaan² seperti ini di buku komik gw:

http://prophetmuhammadillustrated.com
Image

Jika memang ingin tahu jawabannya, gw persilakan beli e-booknya di sini:
http://prophetmuhammadillustrated.com/order-now.html
Image



Kalo mau yang gratisan, silakan download buku Ali Sina di sini:
MENGENAL MUHAMMAD

Juga yang ini gratis dari Zaki Amin:
HIDUP DARI UJUNG TOMBAKKU

padahal secara ekonomi dan kedudukan tanpa wahyu itu muhammad sudah jelas sukses sebagai pedagang-peternak dan menikah dengan khadijah yg kaya raya serta kedudukan dan nama baik yg sudah ia sandang jauh sebelum wahyu.

Keterangan yang gw bold warna merah di atas itu salah banget. Muhammad itu hanya pernah bekerja sebagai pengangon kambing keluarganya saja di usia 25 tahun. Dia tidak pernah jadi pedagang atau peternak sukses. Gak ada keterangan seperti itu di Sira atau Hadis manapun, apalagi di Qur'an. Khadijah memang menghidupi Muhammad selama 25 tahun pernikahan mereka, tapi ini semua bukanlah prestasi Muhammad. Muhammad itu tak lebih hanya sekedar benalu istri, penyumbang sperma bagi Khadijah saja. Masyarakat Mekah mengejek Muhammad sebagai Abu Kabsa (domba kecil - bekas penggembala domba, kambing) (Sahih al Bukhari, Alwahi 970), karena dia memang tak punya prestasi apapun. Karena rasa rendah diri dan minder inilah dia lalu nekad ngaku sebagai Nabi, apalagi Khadija juga mendukung impiannya jadi Nabi. Akan tetapi dia tak berpengetahuan dan tak punya pendidikan memadai, sehingga bisanya ya cuman nyontek dari apa yang didengarnya. Isi Qur'an-nya sebagian besar hanyalah catatan hariannya saja, hasil contekannya pun salah² melulu. Itu udah gw bahas di komik gw.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Ramadan dan Asal-Usulnya

Postby Adadeh » Mon May 16, 2011 2:58 pm

Ramadan dan Asal-Usulnya

Ramadan memiliki Akar Pagan di India dan Timur Tengah

Ramadan, bulan ke-9 kalender Islam, dan ibadah puasa selama 30 hari di pagi dan siang hari, memiliki akar pagan di India dan Timur Tengah. Kebiasaan puasa untuk menghormati bulan, dan berhenti puasa saat bulan sabit muncul, telah dilakukan di berbagai ritual oleh bangsa Timur yang menyembah bulan. Ibn al-Nadim dan Shahrastani memberitahu kita tentang al-Jandrikinieh, sekte India yang mulai puasa saat bulan menghilang, dan mengakhiri puasa dengan perayaan besar saat bulan sabit muncul kembali. [152]
[152] Ibn Al Nadim, Al-Fahrisit, hal. 348

Bangsa Sabi, yang merupakan bangsa pagan Timur Tengah, dikenal dalam dua kelompok, yakni Sabi Mandaia, dan Sabi Harrania. Kaum Mandaia hidup di Iraq di abad ke-2 SM. Sama seperti yang masih mereka lakukan sampai sekarang, mereka menyembah berbagai dewa, atau “sosok² terang.” Dewa² mereka terbagi dalam empat kategori: “kehidupan pertama,” “kehidupan kedua,” “kehidupan ketiga” dan kehidupan keempat.” Dewa² kuno termasuk dalam kategori “kehidupan pertama.” Mereka memanggil dewa² yang lalu menciptakan dewa² “kehidupan kedua” dan seterusnya.

Kaum Harrania menyembah Sin, dewa bulan, sebagai dewa utama, tapi mereka juga menyembah planet² dan berbagai dewa lainnya. Bangsa Sabi berhubungan dengan Ahnaf/Hanif, kelompok orang² Arab yang diikuti Muhammad sebelum dia akhirnya mengaku sebagai nabi. Ahnaf mencari pengetahuan dengan cara pergi ke Iraq utara, tempat tinggal masyarakat Mandaia. Mereka juga mengunjungi kota Harran di daerah al-Jazirah di Syria utara, dekat perbatasan antara Syria, Iraq, dan Asia Minor.

Di Mekah, kelompok Ahnaf/Hanif disebut sebagai bangsa Sabi karena kepercayaan yang mereka anut. Setelah Muhammad mengaku sebagai nabi, dia disebut sebagai orang Sabi oleh masyarakat Mekah karena mereka melihat dia melakukan banyak ritual Sabi, termasuk sholat lima waktu; melakukan gerakan² sembahyang yang sama dengan orang² Mandaia dan Harrania; dan juga berwudhu sebelum sembahyang. Di Qur’an, Muhammad menyebut orang² Sabi sebagai “para ahli kitab,” sama seperti orang² Yahudi dan Kristen.

Ramadan adalah upacara pagan yang dilakukan oleh orang² Sabi, baik Sabi Harrania maupun Mandaia. Dari tulisan Abu Zanad, penulis Arab dari Iraq yang hidup sekitar tahun 747 M, kita menyimpulkan setidaknya terdapat satu masyarakat Mandaia yang hidup di Iraq utara yang melakukan upacara Ramadan. [153]
[153] Abdel Allah ibn Zakwan Abi al-Zanad. Lihat Ibn Qutaybah, op. cit.hal. 204; Dikutip oleh Sinasi Gunduz, The Knowledge of Life, Oxford University, 1994, hal. 25


Asal-usul Ramadan bermula dari Ritual Tahunan yang dilakukan di kota Harran. Persamaan antara Ramadan Harran dan Ramadan Islam.

Meskipun puasa Ramadan sudah dilakukan sebelum jaman Islam oleh orang² pagan Jahiliyah, upcara ini awalnya diperkenalkan di Arabia oleh orang² Harrania. Kota Harran terletak di perbatasan antara Syria dan Iraq, sangat dekat ke Asia Minor, yang sekarang adalah Turki. Dewa utama mereka adalah dewa Bulan, dan sewaktu menyembah bulan, mereka berpuasa besar yang berlangsung selama 30 hari. Puasa ini dimulai di tanggal 8 Maret, dan biasanya selesai di tanggal 8 April. Sejarawan Arab, Ibn Hazm, menyatakan puasa ini sebagai puasa Ramadan. [154]
[154] Ibn Hazm, I, hal. 34; dikutip oleh Sinasi Gunduz, hal. 167-168

Ibn al-Nadim menulis dalam bukunya, al-Fahrisit, tentang berbagai sekte agama di Timur Tengah. Dia berkata di bulan di mana kaum Harrania puasa selama 30 hari, mereka menyembah dewa Sin, yakni sang bulan. Al-Nadim menjelaskan tentang perayaan yang mereka selenggarakan dan korban² yang dipersembahkan pada sang bulan. [155] Sejarawan lain, Ibn Abi Zinah, juga menjelaskan tentang kaum Harrania, dan mengatakan bahwa mereka puasa selama 30 hari, mereka menghadap Yemen saat sholat lima kali sehari. [156] Kita juga tahu bahwa umat Muslim sholat lima kali sehari. Kaum Harrania puasa sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam, sama seperti yang dilakukan Muslim di bulan Ramadan. [157] Sejarawan lainnya, Ibn al-Juzi, menjelaskan kaum Harrania puasa di bulan ini. Dia berkata mereka mengakhiri puasa dengan memotong hewan kurban dan berzakat bagi kaum miskin. [158] Hal serupa juga dilakukan umat Muslim setelah selesai puasa.
[155] Ibn Al-Nadim, Al-Fahrisit, hal. 324-325
[156] Dikutip oleh Rushdi Ilia'n, Al Saebiun Harraniyen Wa Mandaeyn, Bagdad, 1976, hal. 33
[157] Dikutip dari sejarawan Arabia oleh M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57
[158] Ibn Al Juzi , Talbis Iblis , dipersiapkan oleh M. Ali, Kher, hal. 84; Kutipan oleh M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57


Akar mithologi akan perayaan Harran bagi bulan dijelaskan dengan menghilangnya bulan setelah bergabung dengan kelompok bintang Pleiades, dalam kumpulan bintang Taurus yang muncul di minggu ketiga bulan Maret. Orang² tersebut sembahyang pada sang bulan, memohon agar bulan kembali muncul di kota Harran, tapi bulan menolak kembali. Hal inilah yang membuat mereka lalu berpuasa di bulan itu. Sang bulan tidak berjanji untuk kembali ke Harran, tapi berjanji untuk kembali ke Deyr Kadi, daerah keramat dekat salah satu pintu gerbang kota Harran. Maka setelah satu bulan, para penyembah dewa bulan Sin, pergi ke Deyr Kadi untuk merayakan kemunculan kembali sang bulan. [159] Menurut Ibn al-Nadim, kaum Harrania menyebut perayaan ini sebagai al-Fitri الفطر , yakni nama yang sama bagi perayaan umat Muslim setelah puasa Ramadan. [160] Selain puasa Ramadan, kaum Harrania juga bersholat lima kali sehari. Sebelum sholat, mereka melakukan wudhu. [161] Hal ini pula yang diserap Muhammad ke dalam Islam.
[159] Dodge, B., The Sabians of Harran, hal. 78
[160] Ibn Al Nadim, al-Fahrisit, hal. 319
[161] Ibn Al Nadim, al-Fahrisit, hal. 319


Kebiasaan puasa Ramadan menyebar dari kaum Harrania kepada masyarakat Arabia. Hal ini kemungkinan mulai terjadi setelah Nabonidus, raja Babylonia, menjajah Arabia utara di sekitar tahun 552 SM, sewaktu dia tinggal di kota Teima. Nabonidus berasal dari kota Harran. Dia adalah penyembah fanatik dewa bulan Sin, dan ibunya bahkan pendeta agama Sin. Nabonidus tak sepaham dengan para pendeta Babylonia yang menganggap dewa Marduk sebagai kepala para dewa Babylonia. Nabonidus bertekad menyebarkan kepercayaan bahwa Sin sang dewa bulan adalah kepala para dewa. Karena itulah dia menyuruh putranya mengurus Babylonia dan dia lalu hidup di Teima, Arabia Utara.


Di jaman pra-Islam, Ramadan menjadi ritual Arab pagan dan dipraktekkan oleh bangsa Arab pagan, dengan tatacara upacara dan sifat yang sama seperti Ramadan Islam.

Ramadan dikenal dan dipraktekkan oleh bangsa Arab pagan sebelum jaman Islam. Al-Masudi mengatakan bahwa nama Ramadan berasal dari panasnya udara di bulan tersebut. [162]
[162] Masudi, Muruj Al-Thaheb, 2, hal. 213

Di jaman pra-Islam, Jahiliyah, bangsa pagan Arab telah berpuasa dengan cara yang sama seperti Muslim berpuasa, seperti yang diperintahkan Muhammad. Cara Arab pagan puasa termasuk tidak menelan makanan, minuman, dan tidak melakukan hubungan sexual – sama seperti Islam. Mereka berpuasa dengan berdiam diri, tidak berbicara, baik dalam waktu sehari maupun seminggu, atau lebih lama lagi. [163] Qur’an menunjukkan puasa dengan cara yang sama di Sura 19, ketika Allah memerintahkan perawan Maria berkata dia berpuasa bagi tuhan, yang berarti dia tak bicara dengan siapapun. [164] Kebiasaan bangsa Arab yang bersikap diam saat puasa tampak jelas pengaruhnya dalam Qur’an. Tertulis bahwa Abu Bakr mendekati seorang wanita diantara umat pagan di Medina. Dia mendapatkan wanita itu sedang berpuasa, termasuk puasa bicara. [165] Puasa adalah hal yang serius bagi bangsa Arab, diperkuat dengan aturan resmi yang menetapkan hukuman bagi siapapun yang gagal puasa bicara. Ramadan dalam Islam merupakan kelanjutan dari puasa jenis ini.
[163] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 342
[164] al-Allusi, Ruh' al-Maani 16; hal. 56 ; Tafsir al-Tabari, 16, hal. 56
[165] Qastallani Ahmad ibn Muhammed, Irshad al-Sari, 6: 175; Ibn Hagar, al-Isabah 4:315



Muhammad memasukkan berbagai ritual agama dari dua suku Medina yang mendukungnya menaklukkan bangsa Arab di bawah Islam. Salah satu ritual tersebut adalah Ramadan.

Tampaknya Ramadan dipraktekkan di berbagai kota di Arabia utara di mana Nabonidus, raja Harran dari Babylonia, berkuasa. Salah satu kota yang dikuasainya adalah Yathrib, yang kemudian berganti nama menjadi al-Medina. Muhammad memerintahkan puasa Ramadan, juga ritual sholat menghadap Mekah dan bukannya Yerusalem, setelah dia hijrah ke al-Medina, di mana suku² Arab disitu juga terbiasa sholat menghadap Mekah dan juga berpuasa Ramadan. [166] Muhammad menyesuaikan aturan Islamnya agar sesuai dengan ritual dan kebiasaan agama suku² Aws dan Khazraj, kedua suku Medina yang mendukung Muhammad mengobarkan perang melawan bangsa Arab. Salah satu upacara mereka adalah berkumpul untuk sembahyang di hari Jum’at. Muhammad menetapkan Jum’at sebagai hari Islam.
[166] Al Masudi, Muruj Al-Thaheb, 2, hal. 295


Muslim Tidak Akan Mendapatkan Karunia Tuhan dari Praktek Ritual Ramadan

Ramadan itu bukan puasa sesungguhnya, karena pelaku puasa masih makan makanan di malam hari. Karena ritual ini memperbolehkan mereka untuk makan di malam hari, ini berarti mereka makan besar di malam hari dan bangun di waktu subuh untuk makan besar lagi. Dengan kata lain, mereka hanya mengganti jam makan dari siang hari ke malam gelap.

Kemunafikan pelaku puasa terus berlangsung selama Ramadan melalui jenis makanan yang mereka pilih. Bukannya makan sederhana saja, tapi mereka malahan membuat makanan yang mewah, menghabiskan uang jauh lebih banyak untuk membeli makanan selama Ramadan dibandingkan bulan² lainnya. Tentu saja ini bukanlah puasa yang benar, tapi hanyalah alasan saja untuk makan lebih banyak di bulan itu, sambil mengaku mereka berpuasa.

Hubungan dengan Tuhan tidak berdasarkan praktek² agama yang berat dan sulit. Hubungan dengan Tuhan tidak terbentuk melalui praktek² agama. Seorang kriminal yang diadili di pengadilan tidak akan mendapatkan simpati hakim dengan melakukan ritual² agama. Bersikap relijius tidak berarti membatalkan tindakan kriminal yang telah dilakukannya. Hal ini berlaku pula bagi orang yang berdosa. Dia tak akan mendapatkan simpati Tuhan dengan cara melakukan ritual² agama seperti sembahyang atau puasa. Dia tidak akan dapat menghindari hukuman Tuhan yang menunggunya akibat perbuatan dosanya.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Wed May 18, 2011 4:22 am

Bagian VI – Kebangkitan Islam
1. Pengikut Pertama Muhammad di Mekah dan Jin Islam


Sebelum membahas bagaimana Islam bangkit, aku terlebih dahulu tentang klaim Muhammad bahwa para Jin (setan²) menjadi Muslim, mengetahui Qur’an, dan dongeng Muhammad tentang para jin menjadi penulis satu Sura dalam Qur’an. Hal ini penting untuk melihat pengaruh agama Jinn Arab dalam kebangkitan Islam.


Muhammad meniru dongeng Zoroastria Persia tentang meteor² yang bagaikan suluh api menimpuki para setan yang menguping saat wahyu diturunkan.

Mari kita lihat Surah al-Najm, yang berarti Surah Bintang dalam Qur’an. Dalam Surah ini, Muhammad mengatakan bahwa sebuah bintang datang padanya, memberinya wahyu. Kita akan mengerti isi Surah ini lebih baik jika kita mengetahui latar belakang keadaan pada saat itu. Ketika para nabi agama Bintang Arab melihat meteor membara di malam hari, mereka mengira meteor ini adalah bintang. Mereka mengira meteor itu datang dari langit untuk dua hal: (1) meteor² itu digunakan untuk melempar setan yang menguping di surga ketika para dewa mengirim wahyu kepada utusannya, atau (2) meteor² itu datang untuk memberikan ilham bagi para nabi untuk bersabda.

Pandangan ini juga dianut umat Zoroastria yang menyembah bintang Tistrya, sebagai dewa bintang². Menurut kepercayaan Zoroastria, Tistrya secara unik muncul pada tanggal 10 Agustus setiap tahun untuk memberi ilham pada manusia. Ketika hal ini terjadi, maka timbullah pertarungan sengit di mana lebih banyak meteor² yang ditembakkan pada para jin yang berusaha mengintip wahyu illahi. [1]
[1] Tir Yast V:8, lihat juga catatan kaki nomer 4 - komentar dari Mr. Geiger, Zend Avesta, Bab II, hal. 95

Muhammad mencontek dongeng Zoroastria. Dalam Surah al-Jinn (72), dia mengatakan bahwa meteor² bertambah banyak ketika Qur’an dibawa oleh malaikat Jibril melalui tujuh lapi surga dan menembus langit, sehingga bisa dibawa kepada Muhammad. Bertambah banyaknya jumlah meteor itu disebabkan oleh bertambah banyaknya setan yang menguping di langit sehingga mereka dilempari bintang² oleh para malaikat.

Image
Image
Image
Image

Muhammad mengatakan setan menjadi penulis Qur’an, Surah al-Jinn untuk menipu umatnya yang ****.

Muhammad mengaku bahwa Jin² atau setan² menemuinya di bawah pohon, lalu mereka percaya akan ucapannya dan lalu menjadi Muslim. Setelah itu, mereka menulis sebuah Surah, yang disebut Surah al-Jinn (nomer 72). Dalam ayat 8 dan 9 Surah ini, mereka menjelaskan bagaimana mereka menemukan Qur’an ketika mereka menguping di langit:

(8) dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,
(9) dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).


Keterangan Muhammad bahwa para jin atau setan tersebut menjadi Muslim dan penulis Surah al-Jinn diucapkannya untuk menipu orang² **** Jahiliyah di jamannya. Bertahun-tahun sebelum dia mengaku bertemu para jin di bawah pohon, Muhammad telah melafalkan Qur’an setiap hari. Mengapa tiba² sekarang para jin mendengar Qur’an untuk pertama kalinya, ketika kepala mereka dilempari dengan bintang² berapi oleh para malaikat Allah?

Hal lain yang patut direnungkan rekan² Muslim adalah tempat di mana para setan itu duduk. Menurut Qur’an, mereka itu duduk di “beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).” Jika ini benar, apakah mereka tidak melihat malaikat Jibril turun ke bumi setiap hari melalui langit² surga? Apakah mereka tak bisa mengikuti dan melihatnya ketika Jibril datang ke rumah Muhammad? Apakah mereka tidak bisa langsung berkomunikasi dengan Muhammad tanpa harus dilempari kepalanya dengan bintang²?


Muhammad menyampaikan dongeng² dan aturan² yang dilakukan para dukun agama Jin Arab agar orang² menaruh perhatian pada perkataan mereka.

Membuntuti Jibril dari “langit² surga” ke rumah Muhammad tentunya lebih mudah dilakukan setan, karena menurut Qur’an, berita dan bimbingan spiritual datang dari surga dibawa para malaikat. Para setan mendengar sebagian berita ini dan mencurinya untuk menyampaikannya pada para dukun penyembah setan di bumi. Hal inilah yang dipercayai para penganut agama Jin Arab. Kathir adalah seorang dukun setan Arab sebelum Muhammad lahir. Kathir menjelaskan bahwa seorang malaikat melempar seorang jin yang mengintai “langit² surga.” Karena kepalanya kena hajar, maka informasi yang dicurinya dari para malaikat yang sedang ngobrol, jatuh ke bumi. [2] (adoeh, loethoe bangeth nih)
[2] Halabieh I, hal. 337

Para dukun penyembah setan² Arab disebut sebagai “Kuhhan.” Mereka menyebarkan dongeng tentang para Jin atau setan mengintip langit² surga dengan ancaman disambit bintang oleh para malaikat. Para dukun menyampaikan kisah ini untuk meyakinkan langganan Arab mereka untuk datang dan mencari tahu tentang informasi yang dikumpulkan para setan dengan susah payah itu. Ajaran² agama Jin Arab ini serupa dengan apa yang diyakini Muhammad. Muhammad berkata: “Kabar datang dari satu surga ke surga lain yang lebih rendah sampai mencapai langit² bumi. Para setan mengintip sampai mereka menemukan informasi, lalu mencurinya, dan memberikannya kepada para dukunnya.” [3] Muhammad juga melakukan cara yang sama seperti yang dilakukan Kuhhan agama Jin Arab. Agar Qur’an-nya tampak berbobot, dia mengatakan dalam Qur’an bahwa para jin juga mengintip malaikat Jibril turun dari surga ke bumi untuk menemui Muhammad dan memberinya ayat² Qur’an.
[3] Bukhari, 4, hal. 79; Halabieh I, hal. 339


Dongeng ini berasal dari agama Zoroastria, disebarkan oleh agama Jin Arab, dan dipakai oleh Muhammad dalam Islam.

Pengamatan Kelompok yang Mengikuti Muhammad Sebelum Dia Berhubungan dengan Suku Aws and Khazraj.
Rekan² Muslim seharusnya merenung saat penting di mana para jin dan setan bertemu dengan Muhammad. Hal ini terjadi setelah Muhammad gagal meyakinkan warga Mekah bahwa dia adalah seorang nabi. Di saat itu, pengikut Muhammad berjumlah delapan puluh orang, kebanyakan dari mereka adalah kriminal dan pengacau yang memperkosa orang² dalam kafilah yang lewat. Al-Bukhari, hadis sahih tentang perkataan dan biografi Muhammad, menyebut tentang Abu Basir, seorang kriminal dan pemimpin gang. Abu Basir lalu jadi Muslim dan berkemah di luar Mekah. Dia menyerang tiba² kafilah² Mekah setiap hari untuk mencuri barang² mereka. Di Hadis al-Bukhari tertulis:

Abu Jandal, orang yang menjadi Muslim, bergabung bersama Abu Basir, dan memaksa setiap orang yang memeluk Islam untuk bergabung dengan Abu Basir, sampai mereka akhirnya menjadi gang. Setiap kali mereka mendengar kafilah keluar dari Mekah untuk pergi ke Damaskus, mereka menyerangnya secara tiba² dan membunuh orang² dalam kafilah itu, dan mencuri uangnya. [4]
[4] Bukhari, 3, 183

Para pengikut Muhammad yang pertama berasal dari kelompok yang bernama Saalik. Mereka merasa iri dengan masyarakat Mekah yang jadi kayaraya karena berdagang dengan orang² Syria, Palestina, Iraq, dan Yaman. Orang² Saalik ini pemalas, tak mau bekerja, tapi mau enak²an menikmati kekayaan orang lain. Mereka terkenal suka merampok barang orang lain. Diantara para pemimpin mereka adalah Urwah Bin Zayd al-Uzedi yang juga adalah seorang Arraf عراف , yakni dukun atau perantara bagi Jin dan setan. [5] Kelompok Saalik yang dipimpin dukun Jin menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian dari kepercayaan okult/mistik. Inilah sebabnya mereka bersedia ikut Muhammad, karena Muhamma sendiri mengaku sebagai nabi bagi manusia, jin dan setan, [6] dan dia malah menganggap para jin Muslim sebagai saudaranya. Dia berkata bahwa dia menyebut jin Muslim, “Saudara²mu, para jin.” [7]
[5] Al-Masudi, II, hal. 182; Al-Asbahani, Al Aghani, 3, hal. 73
[6] Halabieh 2; hal. 130
[7] Halabieh 2, hal. 65


Gang Saalik ini juga suka free sex. Itulah sebabnya mereka menyerang rumah² di Mekah dan memperkosa para wanitanya. Mereka menganggap Islam sebagai alasan untuk merampoki kafilah. Mereka mengikuti peraturan Muhammad yang mengatakan Muslim hanya boleh punya istri di waktu yang sama sebanyak empat orang saja, tapi mereka tetap boleh memiliki budak sex tanpa batasan jumlah; mereka menganggap peperangan sebagai cara yang tepat untuk mendapatkan budak² sex.

Fakta tentang para pengikut pertama Muhammad di Mekah tertulis jelas di berbagai literatur Islam yang menjelaskan tentang kehidupan Muhammad. Contohnya di buku Al-Bukhari tertulis bahwa Muhammad hijrah ke al-Medina dan didukung oleh dua suku al-Medina. Beberapa tahun kemudian ketika Muhammad dan pengikutnya ingin masuk Mekah untuk naik haji, masyarakat Mekah mengirim Urwa bin Masud, pemimpin mereka yang terhormat, untuk bernegosiasi dengan Muhammad. Urwa mengenal pengikut Muhammad dari Mekah, dan dia melihat beberapa kriminal yang berbahaya diantara mereka. Salah satunya adalah al-Magirah, dan Urwa melarang Magirah masuk Mekah karena pengkhianatan dan perbuatan jahatnya dahulu membunuh dan merampok orang² Mekah. Al-Magirah lalu bergabung bersama Muhammad, menjadi Muslim, dan ikut hijrah untuk menghindari hukuman di Mekah. [8]
[8] Bukhari 3: hal. 179, 180, 183

Salah seorang pemimpin Arab berkata pada Muhammad, “Mereka yang mengikutimu adalah para pencuri² yang mencuri harta para peziarah.” [9] Para pencuri ini mengikuti Muhammad tanpa pernah bertobat dari perbuatan² jahatnya. Sebaliknya, dengan ikut Muhammad, mereka mendapatkan “penghalalan” bagi dosa² mereka.
[9] Bukhari, 4; hal. 158


Ketika Muhammad gagal meyakinkan orang² akan Islam, maka dia merubah strategi dengan mengajukan tawaran yang menjijikan.

Ketika Muhammad melihat gang Saalik mengikutinya, dia lalu merubah strategi untuk merekrut lebih banyak pengikut dari suku² Arab. Dia mengunjungi kota² dan tempat tinggal mereka dengan tawaran yang aneh. Suku² itu harus percaya terlebih dahulu bahwa Muhammad adalah nabi Allah, dan mereka harus bersedia untuk berperang bersamanya untuk memaksakan Islam ke suku² Arab lainnya. Sebagai upahnya, Muhammad menjamin bahwa anak² dari berbagai suku yang ditaklukkan akan menjadi budak² mereka, dan para wanita dan putri²nya dari suku yang ditaklukkan akan menjadi milik mereka. Selain itu, mereka pun akan mendapat uang dan harta jarahan sebagai upah bagi pemenang perang.

Adalah menarik untuk disimak bahwasanya suku² Arab menolak tawaran Muhammad itu. Mereka menganggap menyerang suku lain untuk merampas dan memperbudak para wanita dan anak²nya sebagai hal yang memalukan. Diantara suku² yang dikunjungi Muhammad adalah suku Bakri bin Wael. Tawaran Muhammad bagi mereka ditulis oleh berbagai biografer di jamannya. Salah satu biografer menulis:

Kau mengagungkan Allah di atas dirimu sampai kau menghuni rumah² mereka, menikmati istri² mereka, dan membuat anak² mereka budak²mu. Satu²nya persyaratan adalah kau memberkati Allah tiga puluh kali dan memujinya tiga puluh kali dan berkata, “Allahuakbar” tiga puluh kali. [10]
[10] Halabieh 2, hal. 158

Inti tawaran Muhammad adalah yang menang boleh merampas para wanita dan rumah² pihak yang kalah, dan juga memperbudak anak² mereka. Muhammad tidak lagi berdakwah, tapi sekedar mengajukan tawaran menjijikan yang dibungku dengan kata² relijius. Untungnya, tawaran Muhammad itu ditolak suku Bakri.


Saat Setan² Muncul untuk Membantu Muhammad

Suatu hari Muhammad pergi ke suku Thaqif di kota Taif untuk mengajukan tawaran yang sama seperti yang disampaikannya kepada suku Bakri. Ketika masyarakat Thaqif menolak untuk mendengarnya, Muhammad kembali ke Mekah dengan rasa kecewa. Dalam perjalanan ke Mekah, dia duduk di bawah pohon di tengah gurun pasir. Penulis Sirat mengatakan bahwa para jin datang mengunjunginya di pohon itu, dan pohon itu lalu memberitahu Muhammad. Muhammad melafalkan ayat² Qur’an pada para jin. Setelah mendengarnya, para jin berkata, “Ini adalah Qur’an dan kita tidak bisa mendengarnya dulu karena disambit dengan bintang².” Mereka kemudian percaya pada Muhammad dan memeluk Islam. [11]
[11] Halabieh 2, hal. 59-61

Dalam bahasa Arab di masa Muhammad, jin juga dikenal sebagai setan. Al-Jahith, penulis Arab kuno, menerangkan tentang kepercayaan bangsa Arabia di jaman Muhammad. Dia berkata bahwa mereka menyebut para setan sebagai “jin-setan,” “setan” atau “jin” saja. [12] Penyair Arab terkenal yakni Jarir mengatakan dalam salah satu syairnya bahwa dia memiliki setan yang sanggup membuat jampi² dan setan ini adalah sejenis jin. [13] Al-Tabari juga menyampaikan keterangan yang sama bahwa sang Iblis adalah seorang jin dan ketua para jin. [14]
[12] Al-Jaheth, al- Haiwan, 6: 190; dikutip oleh Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 709
[13] Al- Shebli, Ahkam al- Jinn, hal. 114
[14] Tarikh al-Tabari I, hal. 56 and 61


Qur’an juga menyebut jin sebagai setan. Qur’an, Surah Al-Kahif (18), ayat 50 mengatakan bahwa Setan adalah salah satu dari para jin. Dalam buku riwayat hidup Muhammad, Iblis dijabarkan sebagai “bapak para jin.” [15] Kita bisa menyimpulkan bahwa Iblis adalah kepala para jin, dan bahwa jin memang adalah setan.
[15] Tarikh al-Tabari I, hal. 56 and 61

Jika Allah memang ingin membuat para jin itu jadi Muslim, mengapa dia lalu menimpuki kelapa mereka dengan meteor tatkala mereka mengintip untuk mencuri dengar Qur’an? Allah seharusnya senang karena mereka mau mendengar Qur’an ketika berada di surga. Mereka di sana bisa menjadi Muslim. Usaha melempari kepala jin dengan meteor merupakan hal yang tak masuk akal.

Apakah para setan ini tak mengenal Muhammad, padahal dia setiap hari melafalkan ayat² Qur’an di Mekah? Jika seluruh kerajaan setan bersatu, dan setan² melihat semua yang terjadi di bumi dan melaporkannya kepada raja setan, bagaimana mungkin para setan tidak tahu tentang Muhammad sebelum mereka menemuinya di bawah pohon, ketika Muhammad sedang sedih dan kecewa karena penolakkan masyarakat Thaqif? Kisah ini sebenarnya malah menunjukkan bahwa para setan sudah berhubungan dengan wahyu² Muhammad sejak awal. Para setan ini tentunya datang padanya untuk menghibur dan mendukungnya di saat² kritis.

Para jin setan ini tiba² saja jadi pengarang sebuah Surah dalam Qur’an, dengan bahasa yang serupa dengan isi Qur’an lainnya, menyerang Yesus sebagai putra Tuhan, dan menyombongkan diri dengan merasa suci. Qur’an menyuruh kita percaya bahwa setelah jin mendengarkan Qur’an, mereka tiba² saja bisa jadi penulis salah satu Surah Qur’an. Jadi saat itu jin dirubah menjadi penulis Qur'an setaraf Allah. Sura Jin adalah Sura para setan dedemit. Di dalamnya mereka menyerang Yesus Kristus sebagai Putra Tuhan. Mereka adalah pemberi wahyu dan penulis Qur’an, dan menegakkan sebuah doktrin agama. Dalam Surah tersebut, setan dan jin-lah yang dianggap sebagai pihak yang benar sedangkan ketuhanan Yesus salah.

Untuk membela ketidakmampuannya menunjukkan muzizat, Muhammad berkata bahwa bahasa Arab dalam Qur’an merupakan tanda kenabiannya. Muhammad mengatakan bahwa Qur’an diberikan padanya dalam tatabahasa Arab yang berkualitas tinggi, yang bahkan tak dapat ditiru para jin. Akan tetapi, gaya bahasa dalam Surah al-Jinn ternyata sama tuh dengan isi Qur’an lainnya.


Orang mudah tertipu karena mereka tak membaca Alkitab, di mana mereka bisa mempelajari tipu-muslihat setan.

Menurut Alkitab, Setan adalah pendusta dan tidak pernah melakukan perbuatan yang baik. Dia tersingkir dari keberadaan Tuhan untuk selamanya. Setan juga bisa muncul sebagai sosok yang suci untuk menipu manusia yang kurang berpengetahuan, tapi setan tak akan bisa jadi makhluk yang mencintai Tuhan atau berubah menjadi makhluk berbudi, seperti yang terjadi di Qur’an, Surah al-Jinn. Di kitab Wahyu, Alkitab memperingatkan kita tentang “sifat setan,” di mana dia mencoba menipu orang agar tidak belajar Alkitab. Hanya Alkitab saja yang menunjukkan tipu muslihat setan dan menunjukkan cara² untuk menanggulangi tipu muslihatnya. Semakin jauh kita mempelajari Islam, semakin tampak jelas bahwa para Muslim awal di jaman Muhammad begitu mudah tertipu.


Reputasi Muhammad sama seperti reputasi jelek pengikutnya di Mekah

Hubungan Muhammad dengan orang² yang mengikutinya, yang terkenal sebagai tukang rampok dan jarah kafilah², yang memperkosa para wanita dan gadis di Mekah, mewujudkan reputasi baginya yang sesuai dengan reputasi pengikutnya.

Al-Halabiyah, penulis riwayat hidup Muhammad, melaporkan reaksi suku² Arab terhadap tawaran Muhammad bagi mereka untuk memeluk Islam. Jika mereka bersedia, maka Muhammad menjamin pada mereka anak² para suku yang dikalahkan akan menjadi budak² mereka, dan istri² dan para anak perempuannya akan jadi budak sex mereka. Al-Halabiyah menulis:

Tak ada seorang pun diantara suku² itu yang menerimanya, dan mereka berkata, “Masyarakat seseorang jauh lebih mengenal tentang orang itu. Apakah kau pikir orang itu cocok bagi kami, padahal dia telah merusak masyarakatnya sendiri?” [16]
[16] Halabieh 2, hal. 158


Dengan kata lain, penolakan suku² Arab terhadap Muhammad berdasarkan pengakuan Muhammad sebagai pembaharu agama, tapi dia sendiri menyalahgunakan dan menyesatkan masyarakatnya. Aku pribadi yakin bahwa mereka berpendapat begitu karena faktanya Muhammad bersahabat dengan kelompok kriminal di Mekah, yang terkenal dengan perbuatan cabulnya dan kebiasaannya merampas harta orang lain. Banyak dari mereka yang setelah memeluk Islam, mulai menyerang kafilah² yang melakukan perjalanan dari Mekah ke Syria.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Tawaran nan Keji

Postby Adadeh » Thu May 19, 2011 1:58 am

Bab VI
2. Tawaran nan Keji


Sifat Kedua Suku Medinah yang Menerima Tawaran Muhammad

Suatu hari, dua suku buas Medina, yakni suku Aws dan Khazraj, datang ke Mekah. Nama² Arab mereka menunjukkan sifat dan kebiasaannya. Aws, menurut para penulis riwayat hidup Nabi, berarti “srigala” atau “kekanak-kanakan,” “periang” dan “orang yang sembrono.” [17] Begitulah sifat asli kedua suku Medina. Bagaikan srigala, mereka suka berkhianat dan berdurhaka. Anggota suku mereka terkenal dengan cara hidupnya yang tidak karuan dan penuh kekerasan. Mereka terkenal akan sifat malas, tak suka bekerja, suka menumpang hidup pada orang lain. Di lain pihak, terdapat suku² Yahudi yang tinggal di Medina, yakni Bani Qurayza dan Bani Nadir. Mereka terkenal pandai mengolah tanah dan menanam pohon – terutama pohon kurma. Mereka membangun perdagangan antara Syria dan Arabia. Sebaliknya dengan suku Aws dan Khazraj yang tak mampu bertani atau berdagang, mereka hidup dengan cara mengganggu dan mencuri kekayaan orang lain.

Meskipun tawaran Muhammad ditolak berbagai suku Arab, tapi suku Aws dan Khazraj, yang bertemu Muhammad di Mekah, melihat tawaran itu sebagai cara untuk mendapatkan harta jarahan dan rampasan yang mudah. Tawaran Muhammad cocok skali dengan latar belakang dan sifat mereka, karena mereka itu terkenal sebagai pengacau dan pencuri. Melalui tawaran Muhammad, mereka melihat kesempatan untuk menjarah harta bangsa Yahudi di Medinah. Yang lalu terjadi, dalam waktu singkat saja, Muhammad diterima suku Aws dan Khazraj, dan lalu dia hijrah ke Medina. Begitu berkuasa di sana, Muhammad mengusir suku Yahudi Bani Nadir dari Medina. Dia mengepung benteng mereka dan menghentikan suplai bagi mereka. Tanpa ada makanan, terpaksa Bani Nadir menyerah. Setelah itu Muhammad merampas rumah, harta benda, ladang, uang, emas dan persenjataan mereka. Setelah diusir dari Medina, suku Yahudi Bani Nadir mengungsi ke Syria.

Setelah itu Muhammad mengepung suku Yahudi kedua, yakni Bani Qurayza, dan menghentikan suplai makanan dan minuman ke dalam benteng sampai akhirnya kaum Yahudi menyerah. Muhammad mengatakan hukuman Allah menimpa mereka. Semua pria di atas usia 10 tahun dibunuh, dan yang berusia di bawah 10 tahun diperbudak. Rumah², kaum wanita suku Yahudi itu, dibagi-bagikan dan diberikan kepada pengikut Muhammad dari suku Aws dan Khazraj, dan Muslim dari Mekah yang ikut hijrah ke Medinah. Untuk membunuhi semua Yahudi pria tersebut, Muhammad memerintahkan parit digali di sepanjang pasar Medina. Para pria dibawa dalam kelompok² kecil ke dekat parit di mana mereka dipancung dan dikubur. Sesuai dengan janji Muhammad pada suku Aws dan Khazraj dahulu, anak² Yahudi dijadikan budak² mereka, uang dan rumah² Yahudi dibagi-bagi diantara umat Muslim. Wanita yang telah tua dan anak² kecil dijual sebagai budak di Damaskus. Seperti biasanya, Muhammada mengambil bagian harta jarahan seperlima dari keseluruhan – ini berarti seperlima dari semua tawanan wanita; anak² yang diperbudak; uang, rumah, dan ladang.

Dengan uang yang didapat melalui menjual budak² wanita tua dan anak² Yahudi, Muhamad membangun tentara dan persenjataan yang kuat. Sekarang dia bersiap untuk mengobarkan perang ke setiap kota Arab dan menaklukkan mereka semua.


Lagu Keji yang Dilantunkan Muhammad dan Didengar di Seluruh Arabia

Apa yang terjadi di Medina membantu kita mengerti mengapa ada yang menerima tawaran Muhammad. Pertama-tama, yang menerima tawarannya adalah delapan orang Medina yang datang ke Mekah. Lagu yang ditawarkan Muhammad untuk didendangkan bagi pengikutnya adalah “Allah maha besar, dan Muhammad adalah nabinya.” Sebagai upahnya, mereka mendapatkan dari suku² yang dikalahkan, para tawanan wanita, dan anak² mereka sebagai budak, juga uang mereka. Bagi kedelapan orang Medina itu, lagu Muhammad adalah jalan keluar untuk mendapatkan apa yang tak pernah mereka miliki tanpa pemimpin yang kuat, yang mau mewujudkan kekejian ini dengan gamblang, jelas, dan terang²an. Muhammad adalah pemimpin yang akan menutupi ketamakan dan kesesatan mereka dengan selimut agama sehingga perbuatan keji yang telah nyata mereka lakukan itu tampak benar. Faktanya, mereka terbiasa melakukan perbuatan menyimpang, dan itu sudah jadi sifat dan sejarah kehidupan mereka. Dengan selimut agama ini, mereka mengira mereka boleh saja membunuhi dua suku Yahudi di kota mereka, dan juga kota lain, memperkosa anak² perempuan dan istri² korban, merampoki rumah², tanah dan uang mereka, memperbudak anak² mereka yang masih kecil.

Muhammad telah mendentangkan senar² kekejian, yang terdengar di seluruh Arabia. Senar² ini terwujud dalam kedua suku tengik Aws dan Khazraj. Muhammad mengenal betul sifat kedua suku ini; malahan istri kanak²nya Aisyah menyebut mereka, “Kedua suku itu tak bermoral.” [18] Muhammad tahu orang² ini menyukai kejangakan dan ketidak karuan, sehingga dia dengan liciknya menawarkan hal² yang sesuai dengan hasrat mereka yang rendah akhlak.


Mohammed merencanakan pembunuhan terhadap Yahudi pemberi utang agar tidak perlu bayar utang, malahan bisa menjarah harta pemberi utang

Sebelum menyerang suku² Yahudi, terdapat perdamaian di kota Medina. Suku² Yahudi yang hidup berdampingan dengan suku² Aws dan Khazraj, sering memberikan banyak utang melalui persekutuan damai. Tapi Muhammad rupanya punya gagasan lain. Dia berencana membunuh suku² Yahudi kaya dan mengambil semua harta mereka. Usul Muhammad ini membuat orang² Aws dan Khazraj jadi serakah, sehingga mereka rela mengkhianati persekutuan dengan para Yahudi Medinah. Dengan begitu, mereka juga menyingkirkan pemberi utang mereka dan bisa menjarah seluruh kekayaan, rumah, istri dan anak² mereka.

Muhammad sudah mengajukan gagasan ini ketika dia pertama kali bertemu dengan delapan orang dari suku Khazraj di Mekah. Buku riwayat hidup Muhammad menulis perkataan Muhammad:

“Siapakah kalian?” Mereka berkata, “Kelompok orang Khazraj.” Dan dia berkata, “Apakah kalian yang bersekutu dengan orang² Yahudi Medina, suku Qurayza dan Nadir?” (Muhammad tahu bahwa mereka bersekutu untuk mempertahankan diri dari serangan pihak lain, dan juga menahan diri untuk tidak menyerang satu sama lain.) Mereka berkata, “ya.” Dan dia berkata, “Mengapa tidak duduk terlebih dahulu sehingga aku bisa bicara dengan kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” [19]

Kita hanya bisa menduga isi percakapan selanjutnya, tapi tentunya tak jauh berbeda dengan tawaran yang diajukan Muhammad terhadap suku Bakri bin Wael. Pertama-tama, mereka harus menghormati nama Allah tiga puluh kali, dan setelah itu mereka dijanjikan para wanita dan uang dari korban serangan mereka, dan akan dapat memperbudak anak² korban. Ini menjadi fondasi pesan Muhammad terhadap suku² Arab setelah dia gagal meyakinkan mereka akan klaim relijiusnya. Sudah tentu pesannya pada masyarakat Aws dan Khazraj juga sama. Muhammad saat itu sedang mencari suku yang bersedia menolongnya memerangi semua orang Arab agar mengakuinya sebagai nabi mereka.

Penduduk Mekah mengetahui pesan Muhammad kepada kedua suku ini, karena persetujuan diantara Muhammad dan kedua suku ini adalah untuk menyelenggarakan perang terhadap penduduk Mekah untuk mengambil kemerdekaan dan kekayaan mereka. Kejadian berikutnya membenarkan pesan apa yang sudah diajukan Muhammad pada suku Aws dan Khazraj. Pesan Muhammad bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang menghormati tetangga mereka dan tak akan mengkhianati atau menghancurkan mereka. Hanya orang yang tak bernurani saja yang mau menerima pesan seperti itu. Muhammad tahu keadaan kedua suku Medinah ini. Dia tahu bahwa persekutuan mereka dengan Yahudi Bani Nadir dan Qurayza akan menghasilkan ketenteraman dan keamanan dalam kota. Karena tak ada pemerintah pusat di Arabia, keamanan hanya bisa dicapai melalui persekutuan antara suku² utama di setiap kota. Persekutuan menuntut rasa hormat dan kerja sama diantara para suku. Contohnya, mereka semua setuju bahwa pelaku perbuatan kriminal harus diadili, dan mereka juga akan bekerja sama mempertahankan kota mereka jika ada serangan dari luar.

Muhammad menyampaikan pesan yang sama pada setiap kelompok yang dijumpainya. Pesannya bukanlah pesan relijius yang penuh damai, tapi proposal untuk mengakhiri ketenteraman di kota itu, dan memperbolehkan perikemanusiaan diinjak-injak. Dia menawarkan kesempatan untuk menjadi serakah dan tamak, melalui cara mengkhianati tetangganya dan melawannya agar bisa membunuhnya. Pesan Muhammad ini membatalkan segala perjanjian dan sumpah diantara para tetangga, menghancurkan segala prinsip keamaman yang telah dibangun selama ratusan tahun. Setiap tetangga sekarang menjadi korban, dan kekayaan dan anggota keluarganya menjadi milik para pengikut Muhammad.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Fri May 20, 2011 4:10 am

Apakah Muhammad Teladan yang Patut Dicontoh?

Dalam mengevaluasi sebuah filosofi atau kepercayaan, kita tidak bisa menutup mata akan bagaimana tokoh pendirinya berperilaku. Apakah hasil dari perbuatannya di masa hidupnya? Contoh perbuatan pendirinya ini akan selalu jadi pola pikir, atau teladan, bagi generasi selanjutnya yang mengikuti ajarannya. Orang² yang suka kekerasan dalam Islam radikal mendapatkan contoh yang mereka sukai dari pendiri dan pemimpin Islam, yakni Muhammad. Tidaklah heran bahwasanya radikalisme Islam di Sudan menghasilkan Jihad yang menyerang desa² Kristen di daerah selatan. Sama seperti suku² Aws dan Khazraj, mereka membunuh kaum prianya dan membagi-bagikan kaum wanita kepada Muslim yang ikut dalam Jihad.

Apa yang akan terjadi jika seperempat penduduk dunia menganut ajaran Nazisme dari Hitler? Apakah kita tidak lalu mengamati perbuatan Hitler, mengungkapkan kekejamannya, dan melawan tersebarnya Nazisme yang berbahaya dalam masyarakat sosial? Aku nasehatkan rekan² Muslim untuk merenungkan hal ini. Tuhan menegakkan kebaikan, dan menganugerahkan hak istimewa menjadi keluarga dalam seluruh umat manusia. Apakah Tuhan mencabut hak itu dengan cara membunuh sang pria dan menyerahkan istrinya dan anak² perempuannya ke kelompok agama lain untuk dijadikan budak sex?


Apa yang Diterima Kedua Suku Medina bukanlah Agama tapi Sebuah Rencana Tertentu

Meskipun ditolak oleh berbagai suku Arab lainnya, tawarannya tampak menarik bagi delapan orang wakil kedua suku Medina, yang merupakan suku terkejam dalam sejarah Jahiliyah, atau jaman pra-Islam. Dari tawaran itu, mereka melihat cara untuk bisa cepat kaya, dan iming² budak sex berjumlah besar memenuhi impian mereka yang cabul. Selain itu, mereka juga melihat kesempatan untuk menghilangkan hutang yang mereka miliki dari tetangga² Yahudi mereka. Mereka akan mewarisi emas, rumah, tanah tetangganya, dan lalu mereka bisa menjual anak² tetangga di pasar budak. Terlebih lagi, semua ini dilaksanakan atas nama agama.

Para wakil kedua suku ini melihat tawaran Muhammad bukanlah agama, tapi rencana khusus untuk menaklukkan Arabia. Muhammad sudah siap melaksanakan niatnya ketika hijrah ke Medina untuk memimpin kedua suku itu dalam melaksanakan program pembantaian dan memenuhi hasrat sexual mereka. Setelah mendengar tawaran Muhammad di Mekah, orang² dari kedua suku itu pulang ke Medina dengan rencana tertentu pula, rencana yang sama yang ditawarkan Muhammad kepada suku Bakri dan suku² Arab lainnya. Muhammad mengusulkan bahwa dia menjadi pemimpin kedua suku Medina untuk melaksanakan rencana pembantaiannya.

Mereka berjanji untuk menyampaikan pesan Muhammad kepada masyarakat kedua suku itu – yakni menerima Muhammad sebagai pemimpin mereka, yang berarti pengkhianatan terhadap tetangga² mereka; mengambil uang, istri, dan anak² perempuan; dan memperbudak anak² mereka. Kedelapan orang Medina itu lalu kembali ke kota mereka dan menyampaikan pesan Muhammad. Mereka menerima penawaran Muhammad untuk menjadi pemimpin kedua suku merea, dan bersedia melaksanakan rencananya. Ibn Hisyam, penulis biografi Muhammad, menulis perkataan mereka: “Semoga mereka berkumpul kepadamu. Kami akan datang pada mereka dan meminta mereka tunduk di bawah perintahmu. Jika mereka setuju, maka tak ada orang lain yang lebih mereka pilih daripada kamu.” Penulis biografi lainnya, al-Halabi, juga menulis keterangan yang serupa: “Semoga mereka berkumpul di bawahmu. Jika perkataan mereka bersatu bagimu dan mereka mengikutimu, maka tak ada orang lain lagi yang lebih mereka pilih daripada kamu.” [20]
[20]Ibn Hisham 2, hal. 54; Halabieh 2, hal. 159

Kita lihat dengan jelas bahwa masalah ini bukanlah tentang agama yang diterima secara pribadi, tapi tentang komitmen akan rencana yang isinya telah jelas diketahui, karena Muhammad telah menawarkannya kepada kedua suku itu.


Perjanjian antara Muhammad dan dua suku Medinah disebut sebagai “Perjanjian Aqaba.” Muhammad beruntung ketika kedua suku menerima umpannya, dan secara tak mereka sadari telah diperbudak olehnya.

Program Muhammad menyebar di seluruh dua suku tersebut. Dalam waktu singkat mereka mengirim sebuah delegasi berjumlah dua belas orang untuk berbicara secara resmi bagi kedua suku. Mereka bersumpah untuk membela Muhammad dengan penuh tekad, sama seperti membela anak² mereka sendiri. Mereka meminta Muhammad untuk hijrah ke kota mereka, menunjukkan bahwa kedua suku menerima program Muhammad, yang terdiri dari: Muhammad jadi pemimpin kedua suku dan akan memulai usaha perampokan yang akan membuat kedua suku mendominasi Medinah dengan cara mengenyahkan suku² Yahudi kayaraya yang hidup di kota itu. Setelah itu mereka akan mengobarkan perang melawan suku² Arab di sekitarnya.

Perjanjian antara Muhammad dan kedua suku Arab Medina disebut sebagai “Perjanjian Aqaba.” Biografer Muhammad berkata bahwa dia berkata kepada kedua suku:

“Aku berikrar untuk bersekutu dengan kalian dengan syarat kalian membelaku seperti membela istri² dan anak² lakimu.” Maka mereka pun bersumpah setia pada Muhamad dengan persyaratan itu, dan dia meminta Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Medina.

Muhammad menambahkan lebih banyak persyaratan lagi. Dia harus mempunyai:

“ketaatan kalian di masa senang dan juga masa banyak masalah dan sukar,” kata salah satu biografernya. “Mereka harus setia padanya di hari² senang dan di hari² sukar. Mereka tidak boleh melawannya dan membantah perintahnya.” [21]
[21] Halabieh 2, hal. 162

Ibadah Bin al-Samet عبادة بن الصامت adalah salah satu ketua yang dipilih untuk mewakili kedua suku menghadap Muhammad. Dia berkata:

“Kami bersumpah setia pada Muhammad untuk mendengarnya dengan seksama dan mentaatinya, di saat senang maupun susah, di hari² yang menguntungkan dan yang tak menguntungkan kami.” [22]
[22] Ibn Hisham 2, hal. 73

Ini berarti mereka akan taat pada Muhammad dalam keadaan apapun, tidak peduli mereka suka atau tidak. Muhammad telah mengikat mereka erat². Mereka telah jatuh ke dalam perangkapnya, memakan umpannya, dan mengharapkan free sex, uang jatuh ke tangan mereka.

Muhammad menuntut ketaatan membuta, di mana mereka menyingkirkan hak untuk menentang perbuatanya atau mengajukan keberatan, tidak peduli apakah mereka sangat membencinya. Muhamad menyusun maksud jahatnya atas hasrat mereka menikmati wanita² yang mereka taklukkan, dan menikmati kehidupan mewah yang tak bermoral, bahkan jikalaupun karena itu mereka kehilangan kemerdekaan mereka. Muhammad meletakkan mereka dalam jerat ikatan terjelek yang pernah diterapkan kepada manusia. Bahkan sampai detik ini umat Muslim masih berada dalam jeratan yang sama. Mereka tidak bisa dengan bebas memilih agamanya, dan mereka akan menghadapi ancaman mati jika berani mempertanyakan ajaran Muhammad dan meninggalkannya.

Pengikut Muhammad telah menjadi manusia yang diperalat, yang bisa direndahkannya untuk memperluas kekuasaan dan dominasinya. Dia tidak menghargai mereka, sehingga dia mendorong mereka untuk melakukan perang² bunuh diri. Muhammad menuntut pengorbanan mereka bagi kemenangan dirinya.

Muhammad juga mengancam mereka yang berani berbicara padanya dengan nada tinggi. Dia akan memalingkan muka pada orang itu, tak membalas sapaannya, menghindari pembicaraan dengannya. Lalu dia pun menyuruh umatnya untuk mengasingkan orang ini dengan cara yang sama, sehingga dia semakin terasing dari masyarakatnya sendiri. Muhammad lalu memisahkan orang ini dari istrinya, melarang istrinya melayani atau tinggal di satu atap bersama suaminya. Dia melakukan semua ini untuk menghina orang itu. Setelah itu, Muhammad biasanya berkata pengampunan bagi orang itu telah dinyatakan padanya dari Allah. Dia biasa melakukan hal itu untuk menghina orang yang berani melawannya dan merubah kedudukannya jadi budak hina.

Ketika kita mempelajari nama² para wakil kedua suku yang bersumpah pada Muhammad, kita dapatkan bahwa kebanyakan dari mereka terbunuh dalam perampokan² yang dilakukan Muhammad terhadap desa², kota², dan suku² di Arabia. Biografer Ibn Hisyam menulis hal ini dalam bukunya tentang Muhammad. Ajaran Muhammad telah memperbudak pengikutnya dalam meraih hasrat mendapatkan harta dan sex yang tak lumrah, dan dia membangun kerajaan dan kekuasaannya di atas tubuh para pengikutnya.


Kedua suku terganas Arabia yang memakan umpan Muhamad akhirnya menderita penghinaan dan keterikatan yang terparah.

Ibn Maktum, yang juga disebut Amru, adalah sepupu Khadijah, istri Muhammad yang pertama. Muhammad mengirimnya untuk menemui suku Aws dan Khazraj. [23]
[23] Halabieh 2, hal. 163

Sukar untuk dimengerti bagaimana kedua suku ini bisa menerima Muhammad sebagai ketua mereka, sedangkan hanya delapan orang dari mereka yang pernah bertemu dengannya, itu pun hanya beberapa menit saja. Apalagi mereka ini setuju untuk menerima gerombolan kriminal dari Mekah. Tiada jawaban untuk pertanyaan ini, kecuali merek tergiur akan iming² sex dan harta yang ditawarkan Muhammad.

Kita harus meninjau lebih dalam dari pertemuan singkat dan keputusan terburu-buru ini. Duduk bersama dengan delapan anggota suku dalam waktu singkat tidaklah cukup untuk menanamkan pemikiran² relijius dalam hatimereka. Tapi Muhammad hanya butuh waktu singkat saja untuk mengumumkan rencananya pada mereka untuk membunuhi para tetangga mereka, merampas harta, rumah, tanah, dan kaum wanitanya. Ketika Muhammad mengatakan pada mereka untuk mengkhianati tetangga² dan sekutu² mereka, dia mulai mengarahkan mereka dan membujuk hati mereka.

Dari segi moral, kedua suku Aws dan Khazraj ini serupa seperti gerombolan gang pengikut Muhammad di Mekah. Mereka malas bekerja, dan hidup foya² saja, sambil merasa iri terhadap suku² Yahudi yang beruang dan dihormati orang lain. Melalui rencana Muhammad, mereka punya dalih agama untuk menyerang para Yahudi dan suku² Arab lainnya.

Masyarakat Aws dan Khazraj lainnya tidak mengetahui apakah Islam sebenarnya, karena hanya delapan orang dari mereka saja yang pernah bertemu Muhammad dalam waktu singkat. Meskipun tidak mengenal Islam, tapi mereka mengerti betul tawaran Muhammad. Ketika mereka akhirnya menerima tawaran tersebut, Muhammad mulai meracuni pikiran mereka dan mereka akhirnya harus membayar mahal atas keputusan mereka.

Perjanjian Aqaba ini terkenal karena isinya yang begitu mengikat. Tiada tokoh agama manapun dalam sejarah yang begitu menuntut kelompoknya untuk mengakuinya sebagai pemimpin, padahal orang itu belum pernah hidup bersama mereka dan mereka pun tidak tahu apakah janjinya memang tulus. Meskipun begitu, kedua suku ini percaya saja pada kedelapan rekan mereka. Seluruh suku akhirnya setuju untuk menerima Muhammad sebagai ketua mereka dalam ketaatan yang membuta.

Apa sih yang membuat kedua suku agresif ini bersedia tunduk sedemikian rupa? Apa yang membuat mereka bersedia memenjarakan hati mereka di bawah ikatan dengan orang asing ini? Hal yang membuat mereka sukarela tunduk di bawah Muhammad adalah janjinya pada mereka – barang jarahan perang: para wanita, anak² perempuannya, tanah dan rumah². Impian untuk hidup enak dan cepat menjadi kaya inilah yang membuat mereka tunduk dan terikat pada kepemimpinan Muhammad.

Keterikatan ini merupakan penghinaan yang terbesar yang diterapkan kepada sekelompok masyarakat. Hal ini serupa dengan perjanjian dengan setan yang dilakukan banyak orang di jaman sekarang. Setan mengikat kuat² korbannya, menguasai pikiran dan perilakunya. Dia mencuri keinginan dan kemerdekaan orang itu. Di jaman sekarang pun setiap orang yang percaya pada Muhammad juga mengalami konsekuensi yang serupa. Muslim tidak boleh menolak pemikiran Muhammad. Jika mereka mulai bebas berpikir, maka mereka menghadapi ancaman hukuman, bahkan kematian. Ini semua masih terjadi di berbagai negara Islam.


Keputusan memeluk Islam pada kedua suku dilakukan oleh para ketua suku mereka. Hal ini dilakukan untuk segera melaksanakan program Muhammad dan kondisi Perjanjian Aqaba.

Proses masuknya suku Aws dan Khazraj dalam Islam bukanlah melalui pendekatan pribadi yang meyakinkan setiap orang, tapi keputusan yang ditetapkan oleh para ketua mereka. Muhammad mengiri Mesab bin Amir untuk menemui para ketua suku sebagai bagian dari Perjanjian. Mesab meminta para ketua suku untuk mengajak masyarakat mereka memeluk Islam sebelum Muhammad tiba di Medina.

Begitu para ketua suku memeluk Islam, tidaklah sukar untuk melakukan indoktrinasi pada seluruh masyarakatnya untuk juga memeluk agama yang sama. Semua ini dilakukan tanpa banyak persiapan, pengajaran, atau pertimbangan seksama setiap orang. Menerima Islam merupakan bagian dari persyaratan yang diajukan Muhammad kepada mereka. Masyarakat Aws dan Khazraj menerima Islam tanpa mempelajari doktrin Islam dengan seksama. Kita lihat contohnya pada Saad bin Maath سعد بن معاذ dan Usaid Bin Hutheir اسيد بن حضير, yang merupakan ketua suku Bani al-Ashhal, cabang utama salah satu dari kedua suku. Saad memaksakan Islam kepada masyarakat sukunya ketika keduanya menerima tawaran dan persyaratan Muhammad. Biografer Muhammad menulis:

Saad berdiri dan berkata pada mereka, “Putra² Abed al-Ashhal (al-Asshal adalah kakek moyang suku tersebut), bagaimana kalian memandang perintahku padamu?” Mereka menjawab, “Kau adalah ketua kami, dan kau paling bijak diantara kami, dan perintahmu diberkati.” Dia lalu berkata, “Apa yang kau katakan pada istri² kalian adalah haram dan terlarang sampai kalian percaya pada Allah dan nabinya.” Setelah dia berkata begitu, tiada seorang pun dari suku Bani Abdel Shahal yang tidak menjadi Muslim di malam hari itu. Semua pria dan wanita menjadi Muslim di hari yang sama. [26]
[26] Ibn Hisham 2, hal. 60; Halabieh 2, hal. 171

Kita lihat bahwa orang² itu tidak terdorong untuk sukarela memeluk agama Muhammad. Sebaliknya, yang terjadi adalah keputusan politik yang diambil para ketua suku untuk melaksanakan program yang dirancang Muhammad. Proses menerima Islam terjadi tanpa penundaan atau minat untuk memahami Islam terlebih dahulu. Para ketua memaksakan Islam pada masyarakatnya agar mereka bisa segera meraih impian menjadi kayaraya di Medina dan kota² lain di sekitarnya.

Seperti yang telah disebut sebelumnya, tak lama setelah Muhammad hijrah ke Medina, dia mengusir suku Yahudi Bani Nadir dan merampas uang, rumah, dan harta mereka. Lalu dia mengempung suku Yahudi Bani Qurayza, sampai mereka menyerah padnaya. Dia lalu memancungi para tawanan pria yang berusia 10 tahun ke atas. Setelah itu dia membagi-bagikan rumah, ladang, wanita dan anak²nya kepada para Muslim.

Contoh dari Muhammad ini ditiru para Muslim seluruh dunia sepanjang sejarah. Islam berkembang secara paksa ke berbagai masyarakat yang sebenarnya tidak mengetahui isi dan sejarah Islam.


Tujuan utama Qur’an adalah memaksa seluruh dunia memeluk Islam melalui penghinaan dan ancaman pedang, dan membunuhi semua orang yang menolak Islam.


Setelah Muhammad mati, suku² yang dipaksa Muhammad masuk Islam melalui ancaman pedang dengan segera meninggalkan Islam dan memperbolehkan siapapun memilih kepercayaan sendiri. Tapi pemberontakan mereka tak berlangsung lama. Abu Bakar, kalifah pertama Islam, mengobarkan perang terhadap para pemberontak, menundukkan mereka di bawah Islam dan membunuhi siapapun yang menolak Islam. Dia melakukan ini berdasarkan Qur’an yang memerintahkan semua Muslim memerangi semua orang yang tidak percaya akan ajaran Muhammad. Qur’an memerintahkan Muslim untuk memerangi kafir. Qur’an, Sura 8, ayat 39 berbunyi: “perangi mereka, sampai tiada fitnah, sampai satu²nya agama adalah agama Allah.” Ayat lain, yakni Q 9:12 berkata: “perangi para pemimpin kekafiran sampai mereka dibasmi.” Q 9:36 memerintahkan Muslim harus “memerangi semua kaum musyrikin.” Sudah jelas bahwa Qur’an menyuruh Mulsim untuk memerangi seluruh non-Muslim. Jika mereka tak mau menerima Islam, Allah dengan girang hati menyuruh Muslim menghabisi mereka, karena tujuan Jihad adalah agar seluruh dunia tunduk di bawah Islam.

Para pengikut Muhammad lalu mempraktekkan ayat² ini. Setelah merekan mengalahkan para pemberontak di Arabia, mereka lalu mengobarkan perang di seluruh Timur Tengah sampai semua negara² di situ tunduk di bawah Islam. Jika orang² tidak bersedia memeluk Islam, maka mereka dibunuh dengan pedang. Di beberapa negara di Afrika Utara, para penduduk menghadapi ancaman kematian jika mereka tidak menerima Islam. Karena itulah, banyak dari mereka yang mati sebagai martir. Di negara lain seperti Syria, Palestina, Mesir, dan Yordania, Muslim menerapkan pajak paksa yang berat, Jizya جزية, bagi mereka yang tak mau memeluk Islam. Pajak ini harus dibayar umat Yahudi dan Kristen yang hidup di bawah kekuasaan Islam.

Q 9:29
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Menurut Qur’an, Jizya yang dibayar oleh umat Kristen dan Yahudi termasuk juga penghinaan. Contohnya, para Muslim yang melakukan perintah ini di abad ke-7 M, menerima Jizya dari umat Kristen sambil meludahi wajah mereka. Seringkali mereka juga memukuli umat Kristen saat membayar Jizya. Mereka tidak punya toleransi terhadap agama Kristen atau Yahudi. Daripada membunuh mereka dengan cepat, umat Muslim memaksa mereka membayar dengan penuh hinaan. Semua ini dilakukan agar mereka berubah pikiran dan akhirnya memeluk Islam.

Para kakek moyang dari kebanyakan umat Muslim di Timur Tengah dahulu bergama Kristen dan mereka membayar pajak Jizya yang berat dan menerima banyak hinaan. Karena tak kuat, akhirnya mereka memeluk Islam, meskipun tidak yakin akan doktrinnya. Sampai hari ini pun para keturunannya tetap tak mampu melepaskan diri dari kekangan Islam. Mereka masih terus membayar harga yang mahal yang dulu dibayar oleh kakek moyang mereka. Hal ini karena umat Muslim harus membayar dengan nyawa dan darah mereka jika mereka berani meninggalkan Islam.


Ritual Pagan dari Kedua Suku Arab Medina menjadi Ritual Utama Islam

Apakah kau pernah bertanya mengapa Muslim beribadah di hari Jum’at, sedangkan umat Yahudi di hari Sabtu, dan Kristen di hari Minggu? Jawabnya mungkin akan mencengangkanmu. Ketika Muhammad hijrah dari Mekah ke Medinah, dia harus berurusan dengan suku Aws dan Khazraj, yang enggan meninggalkan ritual pagan mereka. Karena itu, Muhammad lalu memasukkan ritual pagan tersebut ke dalam Islam. Salah satu dari ritual pagan tersebut adalah sembahyang bersama di hari Jum’at. Mereka menyebut hari tersebut sebagai “Urubah,” dan artinya serupa dengan hari Jum’at. Ibn Abbas, sepupu Muhammad, berkata:

Kaum Ansar, gelar bagi kedua suku, berkata, “Terdapat hari bagi umat Yahudi untuk berkumpul sekali setiap tujuh hari dan bagi umat Kristen untuk berkumpul sekali setiap minggu. Maka, mari kita buat hari untuk bertemu dan memanggil orang dalam nama Allah dan sembahyang.” Lalu mereka menyebut hari itu Urubah. [27]
[27] Halabieh 2, hal. 168 dan 169

Mereka memilih hari kumpul pagan yang sama sebelum mereka menjadi Muslim. Di hari itulah mereka menyembah berhala² mereka. Sebelum Muhammad hijrah, kedua suku mengirim orang untuk meminta izin menggunakan hari kumpul pagan Urubah untuk sembahyang bersama. Muhammad mengijinkannya, [28] dan hari itu lalu menjadi hari suci bagi umat Muslim. Kejadian ini menunjukkan bahwa di awal² tahun Islam, Muhammad tidak punya ritual ibadah yang tetap bagi umatnya. Tujuan utamanya memang hanya untuk memuaskan suku² Arab, sehingga mereka diperbolehkan untuk tetap melakukan ibadah ritual lama mereka.
[28] Halabieh 2, hal. 169

Hari Jum’at merupakan nama yang diciptakan oleh Kaab bin Luay, salah satu ketua suku Medinah. Dalam bahasa Arab, Jum’at berarti “bertemu” atau “berkumpul.” Bagi orang² Arab pagan, Jum’at disebut sebagai Urubah, yang artinya adalah “pengampunan.” [29] Di hari Jum’at inilah kedua suku berkumpul sebelum Muhammad hijrah ke Medinah. [30]
[29] Halabieh 2, hal. 169
[30] Ibn Hisham 2, hal. 58


Muhammad malah mengikuti ritual pagan kedua suku, jika ritual mereka bertentangan dengan ritual Islam

Kedua suku tidak hanya menerapkan hari kumpul pagan mereka kepada agama Muhammad, tapi mereka juga menetapkan ke arah mana mereka berkiblat saat sembahyang. Sebelum bersekutu dengan suku Aws dan Khazraj, Muhammad berkiblat ke Yerusalem seperti orang Yahudi ketika sembahyang, tapi kedua suku ini tidak setuju dengan arah kiblat Muhammad. Kaab bin Malik berkata:

Kami melakukan ziarah dengan orang² kami yang pagan. Ketua kami, Albraa bin Maarur, ada bersama kami. Ketika kami meninggalkan Medinah, Albraa berkata, “Oh, aku punya pendapat, tapi aku tak tahu apakah kalian akan setuju denganku atau tidak.” Kami bertanya, “Apa pendapatmu?” Dia berkata, “Aku berkeputusan untuk tidak sholat dengan membelakangi Ka’bah, tapi aku aku akan sholat menghadap Ka’bah.” Kami berkata, “Dalam nama Allah, kami dengar bahwa nabi kita selalu sholat menghadap Damaskus (artinya kuil Yerusalem), dan kami tak mau bertentangan dengannya dalam hal ini.” Kata Albraa,”Aku akan sholat menghadap Ka’bah.” Maka ketika waktu sholat tiba, kami bersholat menghadap Damaskus dengan Ka’bah di belakang kami, sedangkan Albraa sholat menghadap Ka’bah dengan Damaskus di belakangnya. [31]
[31] Ibn Hisham 2, hal. 60 –61; Halabieh 2, hal. 172

Di sini kita ketahui bahwa sebelum Muhammad bersekutu dengan suku Aws dan Khazraj, baginya Ka’bah bukanlah bangunan yang lebih superior dibandingkan Kuil Yerusalem yang dikiranya masih ada di sana. Jika dia benar² percaya bahwa Abraham ingin mengorbankan Ishmael di atas Hajar Aswad di Mekah, mengapa dia tidak menganggap penting Ka’bah sampai para ketua Aws dan Khazraj memaksakan arah kiblat ke Ka’bah itu padanya?

Kesimpulan ain yang bisa kita dapat dari kejadian ini adalah perbedaan ritual pagan Aws dan Khazraj dari Medina. Mereka lebih memilih untuk tetap melakukan ritual mereka daripada ritual Muhammad, dan ketua mereka tak peduli dengan apa yang Muhammad praktekkan. Seperti yang kita lihat dalam kasus Albraa bin Maarur, mereka memiliki ritual mereka sendiri yang mereka warisi dari kakek moyang mereka, seperti sembahyang bersama di hari Jum’at, dan kiblat menghadap Mekah di mana kedua patung Isaf dan Naila berada. Mereka juga melakukan ibadah haji di bukit Safa dan Marwa di mana duplikat patung Isaf dan Naila diletakkan. Muhammad ingin membuat koneksi dengan agama Yahudi tapi para Arab pagan tidak bersedia meninggalkan ritual pagan mereka. Meskipun mereka menerima program Muhammad untuk jarah harta dan budak sex, tapi mereka tetap melaksanakan ritual ibadah pagan. Mereka menerima Muhammad untuk memperbaiki keadaan materi dan sexual dari suku² yang mereka taklukkan. Albraa bin Maarur tidak peduli akan kebiasaan kiblat Muhammad, dan dia tetap sholat menghadap Mekah.

Muhammad meninggalkan kebiasaan ibadahnya dan menyesuaikan diri dengan ibadah pagan Aws dan Khazraj. Dia juga bersedia melakukan sembahyang bersama di hari Jum’at, mengitari Safa dan Marwa, seperti yang biasa dilakukan orang² Aws dan Khazraj saat ibadah haji. Banyak Muslim yang tidak bersedia dengan ritual haji pagan ini. Uns bin Malik berkata:

Asim telah mengatakan pada kami,”Aku berkata pada Uns bin Malik, ‘Kau kan dulu tidak suka untuk berjalan ibadah haji antara Safa dan Marwa.’ Dia menjawab, ‘Ya,’ karena itu adalah ritual pagan Jahiliyah. Allah mengilhami Muhammad untuk melafalkan ayat Qur’an yang berkata, ‘Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya,” mengutip Q 2:158. [32]
[32] Bukhari, 2, hal. 171

Ayat Q 2:158 ini menyenangkan orang² Aws dan Khazraj. Muhammad juga menyenangkan hati mereka dengan mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Mekah. Dengan cepat Muhammad menyesuaikan ritual² Islam untuk memuaskan orang² kedua suku itu, tapi dia melakukannya dengan ayat² Qur’an agar tampaknya Allah sendiri yang menetapkan perubahan itu.


Muhammad menerapkan kebiasaan dan ritual Aws dan Khazraj dengan alasan Allah telah memujinya.

Kita baca dalam biografi Muhammad:

Allah mengilhami ayat Qur’an yang berbunyi, “Manusia suka membersihkan tubuh mereka.” Lalu Muhammad memanggil umatnya dan bertanya, “Pembersihan tubuh apa sih yang membuat Allah memuji kalian?” Mereka berkata, “Wahail nabi Allah, tiada seorang pun dari kami, baik wanita maupun lelaki, mengosongkan usus atau buang hajat tanpa melakukan membersihkan diri secara menyeluruh.” Muhammad menjawab, “Itu dia.”
[33]
[33] Halabieh 2, hal. 238

Muhammad mengetahui bahwa kedua suku Arab Medina ini punya kebiasaan khusus, yakni membersihkan diri dengan batu, setelah buang hajat. Maka dia bertanya pada mereka secara detail tentang kebiasaan ini. Setelah itu dia memasukkan kebiasaan itu sebagai bagian dari hukum Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa Muhammad ingin meniru kebiasaan kedua suku itu, tapi dia berusaha membuatnya seakan-akan Allah sendiri yang memerintahkannya. Muhammad ingin kedua suku melanjutkan kebiasaan mereka, tapi dengan alasan bahwa Allah suka akan kebiasaan mereka dan memujinya. Setelah itu Muhammad menerapkan kebiasaan kedua suku ini pada seluruh umat Muslim. Kita baca di biografi Muhammad: “Sudah menjadi sifat nabi Allah untuk membuat hukum bagi negaranya agar mereka membersihakn diri dengan batu setelah buang hajat.” [34] Akan tetapi manusia berbudaya tinggi, seperti orang² Byzantium di jaman Muhammad, terbiasa membersihkan diri dengan cara yang lebih sehat daripada memakai bebatuan di padang pasir. Batu seringkali tercemar dengan kuman dan cacing² yang dapat dengan mudah masuk ke tubuh melalui cara pembersihan diri primitif ini.
[34] Halabieh 2, hal. 239

Ketika Muhammad masuk ke Medina, dia menyampaikan khotbah yang menekankan tekadnya untuk segera melaksanakan perjanjiannya dengan para ketua kedua suku Aws dan Khazraj. Dia berkata, “Aku diperintahkan untuk membuat Medina memakan kota² lain,” yang berarti mengalahkan kota² lain, merampas hartanya, dan menculik para wanitanya. [35] Tanpa ragu lagi, ketika Muhammad tiba di Medina, dia dengan cepat melaksanakan programnya. Dia langsung ditunjuk sebagai ketua kedua suku Arab Medina. Muhammad tidak dapat masuk ke kota Medina tanpa mengulang-ulang ajakannya untuk mengangkat senjata. Hal ini serupa seperti orang yang ditunjuk menjadi seorang presiden karena agenda yang dirancangnya. Pengumuman pertamanya terpusat pada tekadnya untuk melaksanakan programnya yang telah membuatnya berkuasa. Maka ketika Muhammad tiba di Mekah, dia tidak berkhotbah dengan penuh pesan agama, tapi dia mengulang kembali janjinya bagi suku Aws dan Khazraj. Tiada pesan lain yang lebih menggembirakan kedua suku Medina tersebut.
[35] Halabieh 2, hal. 240

Muhammad diterima langsung sebagai pemimpin suku Aws dan Khazraj tanpa analisa terlebih dahulu terhadap doktrin agamanya. Malah sebenarnya, kedua suku tersebut sangat berbeda dan hanya memiliki kesamaan hasrat untuk menaklukkan suku² sekitarnya dan menikmati para wanitanya. Jika saja dia datang dengan khotbah² agama dan belas kasihan, tiada seorang pun yang akan menerimanya. Untanya akan terus menggelandang di kota itu bersama Abu Bakar, asistennya. Hal yang serupa juga terjadi di Mekah ketika Abu Bakr mempromosikan pernyataan Muhammad bahwa dia itu nabi. Hanya sedikit yang tertarik pada ajarannya. Nabash bin Zarareh bin Wakdan, suami Khadijah, mengalami penglihatan berjumpa dengan seorang jin: jin muncul di hadapan Nabash dalam bentuk orangtua untuk memberinya keterangan. [36] Abu Bakr adalah pengikut Muhammad yang terpenting dan teman dekat Khadijah. Dia percaya akan penjelasan Khadijah bahwa Muhammad itu adalah seorang nabi.
[36] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq, hal. 88 and 89

Ketika Muhammad mengubah pesannya dari persan relijius ke pesan “memakan desa²,” dia mendapatkan pengikut yang memang mencari kegiatan² rendah seperti itu. Mereka adalah orang² yang iri dengan masyarakat Mekah dan harta mereka. Kelompok ini melihat Muhammad sebagai orang yang dapat mewujudkan angan² mereka dengan suara yang berani di bawah agama baru.
Dengan begitu, ketika Muhammad tiba di Medinah, tak ada hal yang lebih menyenangkan kedua suku Arab Medina kecuali perkataan tentang program dan janjinya dulu.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Tue May 24, 2011 6:44 am

3. Bagaimanakah Kita Menilai Moral Muhammad?
Muhammad secara terang²an menawarkan sex sebagai suap bagi Aws dan Khazraj

Usaha penyerangan pertama Muhammad terjadi ketika dia mengunjungi suatu suku untuk mengajukan tawarannya dan untuk mengetahui apakah mereka bersedia menerimanya atau tidak. Ketika dia tiba di tempat tinggal mereka, dia menemukan para wanita di situ. Dia menculik para wanita itu ke Medina, dan dia memberi perintah pada umat Muslim Medina untuk menikmati free sex dengan para wanita tersebut. [37] Dia melakukan ini untuk meyakinkan kedua suku Arab Medina bahwa dia benar² akan mewujudkan apa yang dijanjikannya, yang merupakan bagian dari perjanjian antara dia dan mereka.

Di manakah semua ini terjadi? Thaniat al-Wada’a terletak di luar kota Medina. Biografer Muhamad menjelaskan bahwa daerah ini dipakai Muhammad untuk melakukan percabulan. Buku Halabiyah berkata:

Ketika para sahabat Muhammad kembali ke Thaniat al-Wada’a dari Khaybar, mereka memanggil para wanita yang telah mereka setubuhi secara bebas dulu di Khaybar. [38]

Al-Wada’a adalah tempat tersendiri untuk melakukan hubungan sex dengan para wanita yang diculik dalam usaha penyerangan yang dilakukan Muslim bersama Muhammad. Muhammad mendorong sikap amoral dalam skala besar sampai pada lingkup di mana para wanita seluruh kota diseret ke sana untuk melayani kebutuhan sexual umat Muslim. Aku tanya sekarang, “Di sepanjang sejarah, agama manakah, selain agama Muhammad, yang didirikan di atas kegemaran sexual?? Sex merupakan karakteristik unik dari agama Muhammad. Para anthropologis mengatakan bahwa perbuatan free sex dan orgy (pesta sex) seperti ini seringkali dilakukan oleh pengikut berbagai sekte/aliran sesat yang terang²an menyembah setan. Umat Muslim seharusnya menyadari bahwa Tuhan yang sejati tentu membenci dosa dan sikap amoral. Kecabulan dan kerendahan akhlak yang diterapkan Muhammad untuk membangun agamanya menempatkan Islam sebagai kepercayaan yang sama rendah dengan kepercayaan klenik yang juga mempraktekkan perbuatan cabul tersebut.


Muhammad menanamkan kebencian dalam hati Muslim untuk bersiap melakukan Jihad terhadap seluruh non-Muslim, bahkan termasuk anggota keluarga mereka sendiri.

Setelah hijrah ke Medina, Muhammad mempersiapkan umatnya untuk melakukan Jihad. Muslim tidak diperbolehkan tinggal di daerah non-Muslim. [39] Dia menyuruh Muslim Mekah untuk berhijrah ke Medina, meninggalkan anak istri mereka yang non-Muslim. Tujuan hal ini adalah untuk memisahkan umat Muslim dari masyarakat non-Muslim mereka, agar Muhammad bisa lebih mudah mengontrol umatnya. Sebagai alat di tangannya, Muhammad dengan mudah memerintahkan mereka untuk melakukan perang dan perampokan yang telah direncanakannya terhadap seluruh kota² dan suku² Arabia.

Muhammad tidak memandang sebelahmata hubungan kekeluargaan, dan dia memerintahkan umatnya untuk tidak menunjukkan kebaikan terhadap anggota keluarga non-Muslim mereka. Dia mengatakan itu di Qur’an, Sura al-Mujadilah (58), ayat 22:

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.

Di Qur’an, Sura at-Taubah (9), ayat 23 dan 24, Muhammad berkata:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.


Melalui ayat² ini Muhammad menerapkan dasar bagi umatnya untuk bersikap memusuhi anggota keluarga mereka sendiri. Hal ini dilakukannya agar umatnya siap melakukan Jihad melawan anggota² keluarga mereka yang tinggal di Mekah dan menolak menjadi Muslim. Di ayat 24, dia mengajarkan bahwa umat Muslim harus lebih mencintai Jihad daripada mencintai sanak keluarga mereka. Setelah Muhammad menanamkan kebencian di hati umatnya terhadap para bapak, saudara laki, istri, dll, dia menambahkan ayat pembunuhan dalam Qur’an, Sura at-Taubah, ayat 123:

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang berhubungan denganmu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Kata Arab untuk kata “berhubungan denganmu” dalam ayat ini adalah “Yalunakum.” Berdasarkan penafsir Qur’an, kata Yalunakum ini berarti “mereka dalam keluargamu yang dekat hubungannya denganmu, seperti bapak, anak laki, saudara laki, dan sepupu laki.” Al-Sabuni, penafsir Qur’an modern, memberi komentar tentang ayat di atas sebagai berikut:

Mereka harus memulai peperangan dengan anggota keluarga terdekat sampai mereka mencapai orang² yang lebih jauh hubungannya dengan mereka. [40]

Setelah Muhammad melarang menunjukkan kebaikan kepada ayah dan anggota keluarga di Q 9:23-24, dia melangkah lagi ke hal yang lebih buruk. Di ayat 123 tertulis bahwa Muhammad memerintahkan pembantaian ayah dan sanak keluarga yang tidak mau menjadi Muslim.


Bapak kafir dibunuh anak lakinya yang Muslim, dan Muhammad melarangnya untuk menunjukkan sikap menyesal atau sedih.

Setelah Muhammad mempersiapkan umatnya untuk membenci dan memerangi anggota keluarga mereka yang kafir, dia lalu mempimpin umatnya untuk mengungkapkan kebencian yang paling hebat yang pernah dicatat dalam sejarah manusia. Muhammad memimpin umatnya untuk menyerang kafilah² dagang Mekah, merampok harta bendanya, dan membunuh para pemimpinnya. Ketika masyarakat Mekah mengetahui kekayaan kota mareka dirampok oleh Muhammad dan umatnya, mereka berusaha mempertahankan apa yang menjadi milik mereka. Lalu Muhammad menyuruh umatnya untuk memerangi pasukan Mekah yang mencoba mempertahankan kafilahnya.

Tapi kemudian Muhammad melihat bahwa banyak dari pasukan Mekah yang merupakan ayah dari para umatnya. Muhammad lalu memerintahkan umat Muslim untuk berperang melawan ayah mereka sendiri. Dia tahu bahwa para bapak itu tidak akan tega membunuh putra mereka, meskipun putra mereka telah menjadi pengikut Muhammad dan mengancam keamanan perdagangan kota mereka. Justru karena itulah dia memilih umat Muslim Mekah untuk memerangi bapak mereka sendiri. Akibatnya, banyak bapak kafir yang terbunuh putra Muslim mereka sendiri. Di perang Uhud, Abu Ubaidah bin al-Jarrah membunuh ayahnya sendiri, dan dia lalu menjadi salah seorang pemimpin pasukan Islam.

Muhammad tidak hanya menyuruh Muslim membunuh bapak kafir mereka sendiri, tapi juga melarang Muslim untuk menunjukkan sikap sedih dan menyesal atas kematian bapak mereka. Abi Hudaifah ابي حذيفة membunuh ayahnya dalam penyerangan. Setelah itu, Muhammad mulai membuangi mayat² kafir ke dalam sumur. Abi Hudaifah melihat mayat ayahnya yang dibunuhnya, dibuang ke dalam sumur. Ketika Muhammad melihat raut wajahnya, dia berkata pada Abi Hudaifah, “Tampaknya kamu berperasaan tertentu pada ayahmu?” [41] Abi Hudaifah mengerti bahwa jika dia menunjukkan kesedihan, maka Muhammad akan marah padanya. Maka dia berkata, “Aku tidak berdukacita atas ayahku. Tapi demi Allah aku tahu ayahku adalah orang yang baik, murah hati dan disenangi. Aku berharap dia seharusnya menjadi Muslim.” [42]. Sekarang aku bertanya pada teman Muslim, “Apakah anak laki yang membunuh bapaknya sendiri itu melakukan perbuatan yang benar?” Anak laki itu mengakui kebaikan sifat ayahnya. Bukankah sifat yang baik, murah hati, dan disenangi menunjukkan bahwa kedudukan akhlak ayah itu lebih tinggi daripada putranya yang membunuhnya dan orang yang memerintahkan putra itu untuk membunuh bapaknya? Tiada sejarah apapun yang bisa menyamai kekejaman seperti ini!

Keterangan tambahan:
HALAL BUNUH BAPAK SENDIRI YANG MENOLAK ISLAM (Q9:24)
:shock:
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby siapmurtad » Tue May 24, 2011 4:48 pm

Bang Adadeh, yg semangat, wah udah hampir finish nech buku. Sampai saya buatkan khusus nech http://islaminlightofhistory.wordpress.com/
So buruan Bang, ntar jadikan pdf ya, design n perwajahan yg bagus, biar keren n terkesan buku serius n ilmiah. oke Bang Adadeh, Lanjutkan!!!
siapmurtad
 
Posts: 55
Joined: Sun May 09, 2010 1:53 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Wed May 25, 2011 2:53 am

siapmurtad wrote:Bang Adadeh, yg semangat, wah udah hampir finish nech buku. Sampai saya buatkan khusus nech http://islaminlightofhistory.wordpress.com/

Blog-nya bagoetz. Terima kasih atas penyebarannya. Kok gambar komik ogut tidak disertakan?

So buruan Bang, ntar jadikan pdf ya, design n perwajahan yg bagus, biar keren n terkesan buku serius n ilmiah. oke Bang Adadeh, Lanjutkan!!!

Ok, boss.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

Postby Adadeh » Wed May 25, 2011 3:02 am

Ieu bab katilu teh geus anggeus, pod? Rek dijieun pdf-na sakeudeung deui.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

Postby pod-rock » Wed May 25, 2011 4:53 am

Adadeh wrote:Ieu bab katilu teh geus anggeus, pod? Rek dijieun pdf-na sakeudeung deui.


Parantooosss agaan!!!
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

Postby David Andreas » Wed May 25, 2011 1:36 pm

Punten, kumargi nembean…bade Naros…. naon judul bukuna nya ?
Rame sih…nanging ulasanna rada pabaliut….rada sesah dihartosna kumargi referensina teu disarengkeun dina kalimat nu dijiplak……Hehehehe
Janten abdi hoyong ngaos ti sumberna…..punten….katingalna pengarangna pinter pisan kitu…..
David Andreas
 
Posts: 17
Joined: Fri May 06, 2011 2:34 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby siapmurtad » Wed May 25, 2011 4:55 pm

Gambarnya nanti menyusul saya masukkan Bang Adadeh
siapmurtad
 
Posts: 55
Joined: Sun May 09, 2010 1:53 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Sat May 28, 2011 7:49 am

Bagian VI
4. Islam adalah Agama Jin Arab yang Baru


Kekuatan Gaib di Belakang Kekejian Muhammad dan Umatnya

Perbuatan Muslim yang mengkhianati kawan² dan saudara² di rumah mereka sendiri atas perintah Muhammad merupakan perbuatan keji yang tak terperikan. Merekrut seorang Muslim untuk membunuh bapak sendiri merupakan perbuatan terkutuk, dan hanya setan saja yang bisa mengeluarkan perintah seperti itu. Apakah yang mendorong perbuatan rendah akhlak seperti ini? Penelitian akan kebangkitan Islam menunjukkan bahwa di belakang Muhammad terdapat kekuatan gaib dari agama Jin Arab. Para setan dan jin Arab menulis puisi dan prosa berirama untuk mempengaruhi orang² Arab. Karena orang² Arab menyukai puisi dan sentimentalitas, maka mereka mudah terpengaruh. Para setan diketahui suka menyuarakan tangisan dalam bentuk puisi, dan ini dikenal dengan istilah Hawatif, yang bisa didengar oleh orang² yang mempraktekkan perdukunan dan berhubungan dengan para setan dan jin. Setelah Muhammad hijrah ke Medina, para jin dan setan melafalkan berbagai Hawatif yang memuji para ketua kedua suku Aws dan Khazraj yang telah membuat perjanjian dengan Muhammad. [44]
[44] Halabieh 2, hal. 229

Hawatif, hasil karya para jin dan setan, dilafalkan untuk memuji dan mendorong para ketua suku seperti Muhammad dan Sa’d bin Maath dari suku Aws, dan Sa’d bin Ubaidah dari suku Khazraj. [45]
[45] Halabieh 2, hal. 229

Hal lain yang menunjukkan hubungan antara Muhammad dengan para Kahin (dukun² Arab) adalah karena Muhammad terus saja berkonsultasi dengan mereka dan agama Jin Arab, meskipun dia telah mengaku sebagai nabi. Salah satu kahin bernama Saf bin Sayyad yang berkata, "Setannya telah memberinya keterangan tentang rahasia² terselubung dan berita² dunia.” [46] Dia seringkali meramal masa depan melalui bisikan setannya. Sayyad mengaku sebagai nabi Allah, sama seperti yang dilakukan berbagai kahin di jaman Muhammad. [47] Buku² biografi Muhammad melaporkan bahwa Muhammad kembali ke kahin ini untuk mendapatkan nasehat. Dikatakan bahwa Muhammad mencari terus sampai akhirnya dia menemukan Saf bin Sayyad agar bisa berkonsultasi dengannya. [48] Hal ini menunjukkan bahwa Muhammad mencari petunjuk dari pak dukun Saf bin Sayyad, dan bahwa Muhammad tahu betul bahwa Sayyad memiliki seorang setan yang suka membisikinya. [49] Hal ini menunjukkan besarnya ketergantungan Muhammad pada para dukun agama Jin Arab dalam mencari petunjuk. Al-Bukhari melaporkan bahwa Muhammad dan umatnya membayar Saf bin Sayyad ketika menemuinya.
[46] Sahih al-Bukhari, 7:113,114, 215 ; al-Raud al-anf 1, hal. 137
[47] Al-Bukhari 7, hal. 113,114; al-Raud al-anf, 1, hal. 137; Kata Pengantar untuk Ibn Khaldun 1, hal. 95
[48] Al-Bukhari 7, hal. 113,114; Zad al- Muslim 2, hal. 104
[49] al-Raud al-anf, 1, hal. 135



Agama Jin Arab menggunakan Monotheisme untuk Menentang Agama Kristen

Di jaman Muhammad, banyak kahin agama Jin Arab yang mengaku sebagai nabi Allah. Mereka mencari cara untuk menentang agama Kristen. Sebagian dari mereka lalu mempromosikan “slogan² monotheisme” yang bertolak-belakang dengan monotheisme dari Alkitab, yang telah menjadi ancaman bagi agama mereka. Monotheisme agama Jin berdasarkan pada Allah, yang dikenal di Arabia sebagai bintang terbesar yang muncul di paruh ketiga setiap malam. Muhammad juga berkata, “Tuhan kami muncul di horison langit di paruh ketiga setiap malam.” [50] Sekarang kita ketahui bahwa bintang yang dimaksud itu adalah planet Venus. Dari keterangan ini diketahui bahwa agama Jin Arab menyerap pemujaan bintang untuk menentang monotheisme Alkitab. Jin menjadi agen penting dalam melayani Allah. Konsep jin-setan sebagai pembantu Allah yang berguna ditemukan di berbagai Sura dan ayat² Qur’an.
[50] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 47

Para kahin yang mengaku sebagai nabi ternyata saling mendukung satu sama lain. Setelah berkonsultasi dengan Saf bin Sayyah, Muhammad bertanya padanya apakah Saf percaya dirinya (Muhammad) adalah seorang nabi, dan Saf menjawab “ya.” Lalu Saf bin Sayyah bertanya pada Muhammad apakah dia percaya bahwa Saf bin Sayyad adalah seorang nabi Allah. Muhammad menjawab, “Aku percaya pada Allah dan nabi²nya,” dan jawaban ini berarti Muhammad mengakui Saf bin Sayyad sebagai salah satu nabi Allah. [51] Umar bin al-Khattab, yang nantinya menjadi Kalifah kedua Islam, meminta ijin pada Muhammad agar dia bisa memukul leher Saf bin Sayyah karena telah mengaku sebagai nabi Allah, sama seperti Muhammad. Tapi Muhammad menjawab Umar, “Jika dia adalah nabi Allah, kau tak berkuasa atasnya.” [52] Jawaban Muhammad ini menunjukkan bahwa dia menghormati Saf bin Sayyad. Dia percaya pada kemungkinan bahwa Saf bin Sayyad adalah nabi Allah, dan memperingatkan Umar untuk tidak menyakitinya. Hal ini juga menunjukkan bahwa Muhammad, yang awalnya mengakui sebagai nabi, percaya pada jenis monothesime yang dipraktekkan oleh Saf bin Sayyad, yang menganut agam Jin Arab. Agama Jin Arab ini menampilkan berbagai kahin sebagai nabi yang mengajarkan monotheisme versi mereka sendiri. Dukungan Muhammad pada para kahin menunjukkan bahwa Muhammad merupakan salah satu nabi agama Jin yang mengakui monotheisme versi mereka.
[51] Sahih al-Bukhari, 7, hal. 113, 215
[52] Sahih al-Bukhari, 7, hal. 114



Para Kahin Mendukung Muhammad dan Mempromosikan Islam

Buku² biografi Muhammad melaporkan sebagai berikut: “Sebagian kahin Arab memiliki pengaruh dan peranan penting dalam mempersiapkan suku² mereka untuk menerima Islam.” [53] Diantara para kahin utama yang mendukung Muhammad adalah kahin jin-setan Khatir bin Malik. Dialah dukun paling terkenal dari suku Bani Lahib. [54] Dukun/kahin lain yang sama berbahayanya dan juga mendukung Muhammad adalah Satih. [55] Al-Halabiyah melaporkan, “Satih adalah salah satu ketua para kahin, yang merupakan orang berpengetahuan luas tentang perdukunan dan imamat Jin.” [56]
[53] Al Raud al-anf 1, hal. 137; Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3; hal. 124 ; Tashkibri Zadeh, Miftah Al Saadeh 1, hal. 113; Subuh Al Aasha 1, hal. 398
[54] Halabieh 1, hal. 139
[55] Al Raud Al-anf 1, hal. 18
[56] Halabieh I, hal. 122


Kahin lain yang juga mendukung Muhammad adalah Swad bin Kharib al-Dusi, yang merupakan kahin terkenal di Arabia. Dia memiliki seekor setan yang sering muncul di hadapannya, dan dia terkenal pandai meramal masa depan, melalui bantuan dari setannya. Orang² Arab terbiasa menguji setan seorang kahin sebelum konsultasi pada sang kahin. Orang yang menguji akan mengajukan sebuah teka-teki atau kata rahasia, dan orang ini akan bertanya apakah sang dukun tahu teka-teki atau kata rahasia tersebut. Dukun lalu menanyakan jawabannya pada setannya. Swad dengan seketika bisa menebak dengan tepat teka-teki atau kata rahasia tersebut. [57] Kita bisa melihat dengan mudah bahwa para kahin/dukun, melalui setan² mereka, merupakan agen² yang mempromosikan pengakuan Muhammad. [58]
[57] Al Raud al-anf 1, hal. 139 ; Nuzhat al-Jalis 1, hal. 177
[58] Ibn Hisham 1, hal. 166


Setelah Muhammad hijrah ke Medina, banyak kahin yang bergabung dan berperang bersamanya. Mereka mengikutinya dalam berbagai peperangan dengan suku² Arab, dan mencoba mengajak orang² untuk memeluk Islam. Diantara para kahin yang berjuang bersama Muhammad adalah Amru bin al-'hamiq عمرو بن الحمق . [59] Hal ini menunjukkan pentingnya para pengantu agama Jin Arab untuk bergabung bersama Muhammad, sebagai wakil sukses agama mereka dalam melawan agama Kristen dengan cara menyebarkan versi monotheisme yang berbasis pada Allah.
[59] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq, hal. 279; Ibn Hajar, al-Isaabah 2, hal. 526


Agama Jin Arab Bersatu dengan agama Islam Muhammad menjadi Agama Klenik Arab yang Baru

Di masa lalu, agama Jin Arab menyebut berbagai dukun/kahin mereka sebagai nabi² Allah. Tapi karena suksesnya penyerangan militer yang dilakukan Muhammad untuk menundukkan suku² Arab di bawah Islam, maka para penganut agama Jin lalu mengganti strategi mereka dengan cara menyatukan seluruh usaha dan kegiatan mereka di bawah komando Muhammad. Hal ini ditunjukkan dalam berbagai kejadian. Contohnya, literatur Islam kuno menyebut tentang seorang kahin terkenal bernama Khanafer Bin al-Taua'm al-Humeiri خنافر بن التوأم الحميرى. Dia adalah ketua masyarakatnya, sangat kaya, dan bertubuh kuat. Utusan² dari Yaman menghadap Muhammad karena ancaman² Muhammad pada mereka. Serangan² yang dilancarkan Muhammad terhadap mereka dan tekanan untuk memeluk Islam membuat hidup mereka jadi sulit. Setiap tahun, mereka harus membayar Jizyah, uang keamanan dari ancaman Islam, dengan jumlah besar. Istri² dan anak² perempuan mereka dijadikan budak sex, dan ancaman kematian dihadapkan pada anak² laki mereka yang berusia lebih dari sepuluh tahun. Kahin al-Humeiri datang bersama masyarakatnya dan berkemah di sebuah bukti. Dia lalu bergabung bersama ketua suku lain bernama Jodan Bin Yahya al-Ferthami جودان ابن يحي الفيرضمي, untuk melawan Muhammad. Tapi setan piaraannya, Shassar, datang padanya dan memerintahkannya untuk memeluk Islam. [60]
[60] Ibn Hajar, al-Isaabah 1, hal. 456; Taj Al Arus 3, hal. 192; Al- Amali, ditulis oleh Al Khali 1, hal. 134

Agama Jin berperan sangat penting dalam mendukung Muhammad, termasuk dukungan dari para penulis syair yang menerima inspirasi dari para jin dan setan. Penulis Arab kuno berkata bahwa wahyu datang melalui hubungan khusus antara manusia dan jin. [61] Kapasitas jin dalam memberi ilham pada puisi dan syair sudah diakui di Arabia. Al-Mirsabi, lahir di sekitar tahun 900 M, mengumpulkan berbagai puisi yang diilhami Jin yang bernama الخينعور al-khin'ur. [62] Puisi dan syair mereka lebih unggul daripada Qur’an, baik dalam bidang bahasa, keluwesan, kelancaran, dan kefasihan.
[61] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma'rifat ahwal al-arab, 2, hal. 350
[62] Bint Al Shatea’, Risalt Al Ghufran, hal. 291


Orang² Arab memiliki lima belas jenis talibun yang digunakan dalam puisi mereka. Jin memiliki ribuan talibun yang tidak dapat disamai oleh orang² Arab di jaman Muhammad. [63] Karena itulah, orang² Arab menganggap prosa dan puisi yang diilhami Jin tentunya lebih hebat dan tidak bisa disamai oleh manusia. Para kahin yang mengaku sebagai nabi di Arabia, menggunakan puisi² mereka yang diilhami para jin untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka adalah nabi. Mereka berkata bahwa jin dukun lain tak bisa menghasilkan prosa berirama yang sama kualitasnya dengan milik mereka. Muhammad juga mengatakan begitu di Q 17:88.
[63] Bint Al Shatea’, Risalt Al Ghufran, hal. 291

Q 17:88
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".

Tapi pada kenyataannya, prosa dalam Qur’an lebih rendah kualitasnya dibandingkan sebagian prosa hasil karya para kahin. Muhammad dan umat Muslim mengatakan bahwa Surah Jinn dalam Qur’an ditulis seluruhnya oleh jin. Tapi bahasa di Surah Jinn ternyata tidak berbeda dari Surah² lainnya dalam Qur’an. Karena tulisan jin di Surah itu sama seperti isi Qur’an lainnya, maka pernyataan bahwa “syair prosa Qur’an adalah ajaib” berarti Qur’an sama kualitasnya seperti syair prosa buatan para kahin yang diilhami jin mereka.

Beberapa penyair Arab di jaman Muhammad juga mengatakan bahwa setan² telah mengilhami puisi mereka. Penyair al-‘Aasha berkata bahwa nama setan yang mengilhaminya adalah “Musahhal” مسحل, dan al-'Aasha seringkali memuji-muji setannya dalam puisi²nya. [64]
[64] Al-Jaheth, al- Haiwan 6, hal. 225; dikutip oleh Jawad Ali, al-Mufassal, VI, hal. 734

Hassan bin Thabit, penyair dan sahabat Muhammad, seringkali memuji-muji dan membela Muhammad dalam syair²nya. Hassan mengaku bahwa setanlah yang mengilhami syair²nya. Dia mengatakan bahwa setannya berasal dari “Bani Shasban,” dan merupakan salah satu ketua para setan. [65] Tampaknya “Bani Shasban” merupakan nama legion setan yang bertanggung-jawab atas agama Jin Arab. Banyak penyair Islam yang meminta pertolongan pada para jin untuk memberi ilham pada penulisan puisi mereka. Diantara para penyair Islam terkenal adalah Jarir, yang mengatakan bahwa setan pengilhamnya adalah “Iblis dari para setan” [66]. Iblis dalam bahasa Arab berarti Raja Setan. Dengan demikian sudahlah jelas bahwa para setan membang secara terbuka dan terang²an mendukung pernyataan dan ajaran Muhammad.
[65] Al-Tha'alibi Ahmad al-Malik ibn Muhammed, Kitab Thimar al-Qulub, hal. 55, 69
[66] Al-Tha'alibi Ahmad al-Malik ibn Muhammed, Kitab Thimar al-Qulub, hal. 69


Hal di atas dan contoh² lainnya membuktikan dengan jelas bahwa agama yang diciptakan Muhammad berasal dari agama Jin Arab. Di bab lain sudah dijelaskan bahwa Muhammad adalah seorang kahin. Aku juga menyebut bahwa pamannya, Abu Thalib, memuji-muji Muhammad, mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang Rachi. Rachi adalah profesi yang sejajar seperti dukun – orang yang menyembuhkan berbagai penyakit melalui jampi² dan klenik. Rachi merupakan profesi yang dipraktekkan para kahin Arab. Abu Thalib membual bahwa Muhammad melafalkan jampi² pada pasien²nya di gua Hira sebelum dia mengaku sebagai nabi. [67] Kita lihat juga bahwa pengakuan Muhammad didukung para kahin pada mulanya. Istri Muhammad, Khadijah, yang dulu menikah dengan kahin Nabash bin Zarareh bin Wakdan نباش بن زرارة بن وقدان, juga mendukung Muhammad sebagai nabi. Sewaktu Nabash masih hidup, jin seringkali muncul di hadapannya sebagai orang tua untuk memberikan keterangan. [68] Pada saat Muhammad menduga setanlah yang datang dalam mimpinya, Khadijah malah mendorongnya untuk percaya bahwa dia adalah nabi. Semua fakta ini menunjukkan bahwa agama Jin Arab juga mengakui sejenis paham “monotheisme” yang dianut Muhammad dan juga para kahin.
[67] Ibn Hisham 1, hal. 189, 218
[68] Taj al-Arus, 6, hal. 197, 287; Ibn Darid, Al-Ishtiqaq, hal. 88 dan 89



Pengamatan dari Hati Nurani Manusia

Para sahabat Muhammad yang melakukan berbagai tindakan kriminal termasuk memotong-motong tubuh manusia² tak bersalah, menjadi para pahlawan dalam Islam. Sebagian dari mereka bahkan membunuh ayah mereka sendiri, seperti misalnya Abu Ubaidah bin al-Jarrah yang diangkat Muhammad menjadi salah satu pemimpin pasukan Islam. Muhammad menyebutnya sebagai “Amin al-Ummah,” yang berarti “Orang yang Setia pada Negara,” dan Muhammad mempercayainya untuk memimpin berbagai penyerangan. Abu Ubaidah bin al-Jarrah juga dipercayai oleh dua kalifah yakni Abu Bakr dan Umar, untuk memimpin pasukan Islam menyerang Syria. Dengan begitu, mereka yang membunuhi bapak² sendiri mendapatkan penghormatan besar dalam Islam.

Tapi pertanyaan yang tetap muncul adalah: “Apakah Muslim radikal modern, dan segala kekerasan yang mereka lakukan pada orang² tak bersalah, lebih baik daripada para sahabat Muhammad yang membunuhi bapak² dan saudara² kafir mereka?” Apa beda teroris Islam jaman sekarang yang gemar memancung kepala kafir, dengan Muhammad yang memerintahkan parit digali dan 900 tawanan Yahudi pria dewasa (10 tahun ke atas) Bani Qurayzah dipancung, dan lalu kepala dan tubuh mereka dikubur dalam parit?

Muhammad menerapkan contoh perbuatan yang harus ditiru Muslim sepanjang jaman. Dia menulis ayat² Qur’an yang mewajibkan Jihad terhadap kafir yang tak sudi tunduk pada Islam. Kebenciannya dalam Qur’an menjadi motivator Muslim radikal, dan pembenaran bagi segala kejahatan yang mereka lakukan. Apa yang dilakukan para Muslim tersebut menyebabkan banyak orang tak bersalah kehilangan nyawa di berbagai penjuru dunia.

Para non-Muslim di jaman sekarang bertanya mengapa kelompok² Islam militan begitu giat meledakkan diri mereka sendiri dalam rangka membunuh kafir sebanyak mungkin? Bagaimana mereka bisa membenarkan tindakan mereka itu? Kekerasan Islam di jaman modern bukanlah hal baru dalam dunia Islam. Muhammad menuntut umatnya untuk berjabat tangan dengannya dalam melaksanakan “sumpah setia kematian,” yang berarti mereka akan masuk medan perang sebagai tentara bunuh diri yang bertujuan mati dalam jihad. Ibn al-Akwa’, sahabat Muhammad, membenarkan bahwa ketika Muslim bersumpah pada Muhammad dalam “sumpah setia Radwan” di daerah dekat Mekah yang bernama al-Hudaybiah, mereka “bersumpah setia pada kematian.” Hal ini berarti mereka bersumpah untuk masuk ke medan peperangan untuk mati. Lalu Muhammad menulis ayat di Qur’an, Surah 48, ayat 10 yang berbunyi demikian:

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (Muhammad) sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Al Sabuni mengatakan bahwa ayat ini turun ketika Muhammad bersumpah kematian di Al-Hudaybiah. [69] Apa yang dilakukan teroris Muslim di jaman sekarang adalah serupa dengan apa yang dilakukan dan diucapkan Muhammad.
[69] Al-Sabuni, Safwat al-Tafasir, 3, hal. 220

Di bagian awal buku ini telah dijelaskan bahwa Islam berdasarkan pada klaim sejarah yang salah, yang berkembang dari agama klenik pagan Arab, yang berusaha menghubungkan diri dengan Abraham dan Alkitab.

Radikal² Muslim di jaman modern mendasarkan strategi militer mereka pada cara² kuno agama Jin Arab yang digunakan umatnya untuk menaklukkan Arabia dan Timur Tengah. Mereka menaklukkan daerah tersebut melalui kekerasan. Selama Qur’an dan contoh² perbuatan Muhammad terus diajarkan di berbagai sekolah dan mesjid, akan ada saja Muslim yang tertarik menyerahkan nyawa mereka untuk mewujudkan perintah Muhammad menundukkan seluruh dunia di bawah Islam.

TAMAT
Last edited by Adadeh on Sat May 28, 2011 7:54 am, edited 1 time in total.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Sat May 28, 2011 7:53 am

siapmurtad wrote:Gambarnya nanti menyusul saya masukkan Bang Adadeh

Sudah selesai diterjemahkan semuanya, mas/mbak. Tapi masih harus digabung terlebih dahulu dengan Bab III yang dibuat pod-rock. E-book versi pdf dan scrib-nya akan tersedia dalam waktu 2 hari lagi.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

PreviousNext

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users