Page 4 of 6

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

PostPosted: Thu Apr 07, 2011 7:29 pm
by pod-rock
Bagian IV
Kasus Ismail dan Islam


2. DISKUSI MENGENAI PENGAKUAN ARAB ITU KETURUNAN ISMAEL, ISMAEL ITU LANDASAN DARI IMAN MONOTEISME MEREKA.

Masuknya Arab ke Oasis2 suku Kedar, Teima dan Dumah

Kita sudah telaah bahwa Kaum Ismael hidup di Sinai hingga abad 10SM. Juga kita lihat dari naskah2 Assyrian, sebagian kaum Ismael yang hidup secara nomad mencari padang subur di gurun2 daerah Fertile Crescent. Suku2 Kedar dan Teima menjelajah hingga masuk sejauh 180 mil ke Arab Utara. Dua suku itu sajalah yang bergerak hingga sejauh itu kedalam daerah Arab. Suku Dumah bermukim di oasis perbatasan Mesopotamia dan Arab, yg belakangan daerah tsb diberi nama Dumah juga.
Naskah kuno Assyria membedakan suku Kedar dari Orang Arab. Kita lihat juga dalam sejarah raja Tiglath-Pileser III yg ditulis tahun 738SM [10] bahwa suku Kedar dan Arab didaftarkan secara terpisah. Ini menandakan bahwa pada periode itu suku Kedar tetap mempertahankan etnis Ismael mereka terpisah dari etnis arab. Orang Arab bisa masuk pindah kedaerah mereka atau mereka menjajah daerah sekitar Teima dan Kedar pada akhir abad 8SM. Perpindahan suku2 Arab akhirnya hingga sejauh bagian timur Tanah yang dikuasai babilonia. Pada pertengahan abad 8SM, di tanah2 Babilonia terdapat tembok2 kota bertuliskan nama2 Arab [11].
[10] Levine, Two New-Assyrian Stelae from Iran, (Toronto, 1972), 18-19
[11] Tablet signature of the British Museum, No: 113203; quoted by I. Eph’al, The Ancient Arabs, E.J.Brill, Leiden, 1982, page 115.


Diragukan bahwa kaum Ismael sendiri yang membangun kota2 Kedar, Teima dan Dumah. Meskipun ketiga suku ini adalah orang2 pertama yang tinggal dekat oasis ini, belakangan daerah tersebut jadi penuh dengan suku2 Arab. Perpindahan dan penjajahan suku arab kebanyakan disebabkan karena oasis2 tsb bertempat dijalur darat antara Mesopotamia, arab dan Syria.

Dari naskah2 Tiglath-Pileser III dan Sargon II, kita tahu bahwa daerah sekitar Teima, Kedar dan Dumah dipenuhi oleh beberapa suku Arab yg berbeda, seperti suku Badana, Hatiaya, Marsimani, Isame dan Thamud. Naskah2 Thamud yang banyak ditemukan menyebutkan oasis2 yang populasinya penuh dengan orang Arab tapi memakai nama tiga suku Ismael. Etnisitas kaum Ismael bisa saja terserap oleh penjajah atau yg lebih mungkin lagi kaum ismael ini terusir kembali ketempat mereka semula berasal, menjadi nomaden, sebelum mereka pindah ke arab utara. Jadi, kita tidak temukan kemiripan etnisitas kaum Ismael dalam dua tempat oase di Arab Utara maupun di Dumah, sebuah kota yang dibangun dalam oasis antara arab dan Mesopotamia.

Fakta lain yang mendukung dipertahankannya nama suku Ismael oleh orang2 Arab adalah bahwa diragukan kaum Ismael yg membangun kota2 di oasis tsb. Kaum Ismael bersifat nomaden dan telah berkelana di gurun Sinai sebelum abad 10SM. Bahkan setelah beberapa suku pindah dari Sinai ke gurun lain dalam daerah Fertile Crescent, mereka tetap mempertahankan gaya hidup mereka. Mereka berkelana digurun Jordan selatan dan Syro-Mesopotamia. Contoh: Suku Nebayot, Massa, adalah satu dari banyak suku yg berasal dari Sinai. Kita lihat juga suku Kedar, Teima dan Dumah melakukan hal yg sama, meski mereka diketahui pernah menghuni sekitar oasis setelah abad 10SM. Mereka menyumbang nama bagi oasis2 tsb belakangan hari, tapi mereka sendiri tidak menetap disana, mereka terus berkelana ke gurun lain di Fertile Crescent, sama seperti suku2 lain.

Alkitab tidak pernah menyebut kaum Ismael sebagai Arab

Alkitab tidak pernah menyebut kaum Ismael sebagai Arab. Mereka tidak dianggap orang Arab, juga bangsa lain keturunan Abraham, seperti bangsa Edom, tidak dianggap orang Arab. Edom adalah keturunan dari Esau, anak tertua Ishak, anak Abraham. Seperti juga keturunan Lot, ponakan Abraham, tidak dianggap orang Arab. Keturunan Lot menjadi bangsa Ammon dan Moab di Trans-Jordan.

Masuknya suku2 arab secara terus menerus ke bagian selatan dari Fertile Crescent. Asimilasi dan punahnya penghuni asli daerah tsb seperti suku Moab, Ammon dan Ismael.

Fertile Crescent mengalami perubahan radikal dalam hal populasi dan etnisitas. Perubahan ini mulai muncul sebelum kaum Chaldean berkuasa disana. Setelah Nebukadnezar menguasai Jordan Selatan dan Palestina Selatan, ada perubahan total dalam struktur populasi disekitar sana. Kita lihat misalnya bahwa suku Moab dan Edom tidak lagi disebut2 sebagai kelompok politik yg berpengaruh. Kita juga lihat bertambahnya suku2 arab yg masuk kesekitar sana dan pertambahan yg sejalan dengan kemampuan mereka utk bercampur baur dengan populasi asli [12]. Hal yg sama terjadi pada suku Ammon. Kitab Yehezkiel meramalkan tanah Ammon akan menjadi sepi dari penghuni2 aslinya.
[12] Van Zyl, The Moabites, 157-158

Yehezkiel 25:4 oleh sebab itu, sungguh, Aku menyerahkan engkau kepada orang dari sebelah timur menjadi miliknya; mereka akan mendirikan perkemahannya padamu dan membangun tempat kediamannya; mereka akan memakan buah-buahanmu dan meminum susu ternakmu.
25:5 Aku akan membuat Raba menjadi padang rumput untuk unta dan kota-kota bani Amon menjadi tempat kambing domba. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Ramalan ini terpenuhi setelah tahun 586SM, ketika Nebukadnezar menguasai Ammon, Moab dan Edom. Sebagai akibatnya, saat itu banyak suku2 arab datang dan tinggal di Trans Jordan. Ketika tiba abad 5 dan 4 SM, penghuninya sudah tercampur dari suku2 Edom dan suku2 nomadic Arab [13]
[13] Eph’al, The Ancient Arabs, E.J.Brill, Leiden, 1982, page 200.

Perubahan Etnis juga terjadi di SInai

Perubahan etnis juga terjadi di Sinai dimana kaum Ismael, Amalek dan Midian hidup. Selama abad 5 dan 4 SM, kaum Edom bersama dengan suku2 arab lain memasuki Palestina Selatan dan masuk ke Negev serta sepenuhnya mengubah gambaran etnis daerah tsb [14]. Dg demikian kaum Ismael mengalami hal yg sama dengan kaum Ammon, Moab dan penghuni asli lain didaerah tsb karena fenomena perpindahan ini.
[14] ini terlihat dari tanda2 kaum Edom dan banyaknya nama2 Arab yg terdapat disitus dan naskah2 yg ditemukan di Negev dan Palestina selatan. Lihat I. Eph’al, The Ancient Arabs, page 200.

Kaum Ismael terserap oleh suku2 lain, bukan hanya di Sinai tapi juga digurun2 lain seperti Syro-Mesopotamia. Jadi kita simpulkan bahwa kaum Ismael punah, seperti orang2 lama lain di Fertile Crescent, suku Ammon, Moba dan Filistin. Mereka terserap masuk kedalam gelombang baru populasi etnis yg datang menempati tanah2 mereka. Tak satupun orang2 yg tinggal di Fertile Crescent, termasuk juga kaum Ismael, adalah orang2 Arab.

Masuknya populasi lain terus terjadi didaerah Fertile Crescent. Orang2, baik dari arab ataupun luar arab, datang dan tinggal didaerah tsb. Satu contoh adalah suku Ghassan yg datang dari Yaman dan tinggal di Syria Selatan. Belakangan etnis mereka jadi kelompok dominan disana, membela perbatasan mereka bersama2 dengan kekaisaran Bizantin melawan serangan Persia yg tinggal di Mesopotamia. Suku Lakhmid, suku yg juga dari Yaman, pindah ke Mesopotamia dan tinggal disana di kota Hira, barat daya perbatasan Mesopotamia. Abad 3 SM, suku Lakhmid yg ketika itu dibawah kekuasaan Persia, menjadi penjaga perbatasan dg Bizantin. Contoh lain dari masuknya etnis lain adalah suku Nabatean yg sejak abad 5 dan 4 SM mendominasi Jordan Selatan dan mengembangkan domainnya ke gurun Mesopotamia, Syria selatan dan Palestina Selatan.

Dalam alkitab tidak disebut2 suku Ismail setelah abad 7 SM

Aktivitas suku ismael dilaporkan di abad 8 dan 7 SM, ketika Assyria menguasai Fertile Crescent. Alkitab menceritakan suku Ismael selama perioda ini, tapi setelah abad 6 SM tidak disebut2 lagi tentang suku Ismael, baik dalam alkitab maupun dalam naskah2 kuno negara lain. Ini membuat kita percaya bahwa suku Ismael terserap kedalam suku lain yg datang dan tinggal di Sinai dan gurun Syro-Mesopotamia.

92 Bangsa dan Suku di Arab dilaporkan oleh Pliny di abad 1 SM sebagai asal mula suku2 yang pindah atau menjajah Timur Tengah setelah itu.

Mengatakan orang arab adalah keturunan Ismael adalah pernyataan tanpa dukungan sejarah. Sejarawan seperti Pliny, dalam karyanya Natural History, yg ditulis di abad 1 SM melaporkan bahwa ada 92 bangsa dan suku2 di Arab. Dalam abad2 berikutnya, mereka menjadi bagian yang sekarang dikenal sebagai bangsa Arab. Banyak dari bangsa2 ini yang masuk kedalam daerah Fertile Crescent sebelum penjajahan Islam ke Timur Tengah. Setelah penjajahan Islam, banyak bangsa2 Timur Tengah di ‘arabisasi’. Kehilangan nilai2 dan bahasa2 etnis asli mereka dan mengambil nilai2 Arab dan bahasa Al Qur’an, yang adalah bahasa Arab. Bangsa Mesir bukanlah orang Arab, menjadi orang Arab setelah dijajah Islam. Hal yg sama juga terjadi dengan Afrika Utara, Lebanon, Syria Utara, Sudan, Mesopotamia, dan banyak lagi bangsa2 lain yang di arabisasi. Jika Perang salib gagal mencegah Islam, mungkin orang inggris, jerman, itali, spanyol dan lain2 akan berbahasa arab sekarang ini.

Kaum ismael adalah bangsa nomad di Sinai dan sebagian gurun Syro-Mesopotamia. Mereka berintegrasi kedalam suku nomad lain sebelum abad 6 SM. Jadi, mana itu keturunan Ismael yang berhubungan darah dengan bangsa arab dan bangsa2 lain di Timur Tengah yg telah di arabisasi? Jika kita membuat analisa yg BENAR2, kita harus bilang bahwa saat ini kaum Beduin di Sinai dan gurun Syro Mesopotamia mungkin saja punya sedikiiiiittt darah ismael, bersamaan dengan ratusan suku2 nomad lain yang terserap kedalam sejarah.

Punahnya kaum Ismael tidak dapat diklaim sebagai kakek moyang bangsa Arab. Juga, keluarga Muhammad dari garis Yaman tidak bisa dihubungkan dengan suku Nebayot, suku yang berkelana di gurun Fertile Crescent dan punah di abad 7 SM.

Tentu saja, hal ini tidak mendukung klaim bahwa bangsa arab merupakan keturunan suku Ismael yg punah. Juga kita tidak bisa bilang bahwa bangsa arab kuno seperti kaum Saba, yang ‘katanya’ garis keturunan keluarga Muhammad, adalah keturunan dari suku2 nomad yg dibicarakan diatas. Kita lihat dalam studi2, Saba aslinya adalah suku Cushite yang diturunkan dari Raamah, anak dari Cush, anak dari Ham.

Catatan2 sejarah Assyria menunjukan suku Nebayot berkelana di gurun Syro-Mesopotamia dan Jordan Selatan hingga punahnya di abad 7 SM. Kita lihat betapa menggelikannya hadis2 islam mengaku bahwa Muhammad adalah keturunan dari suku Ismael yg Nomad, Nebayot. Klaim ini bukan saja tidak ada bukti sejarahnya, tapi juga kontradiksi dengan bukti sejarah itu sendiri.

Bangsa Arab adalah salah satu bangsa yang mengaku keturunan langsung Abraham, baik itu melalui Ismael ataupun Ishak. Tapi banyak dari klaim2 ini tidak berdasar.

Sebelumnya kita lihat kaum ismael dimulai sebagai kaum nomad yg tinggal di Sinai, Belakangan sebagian dari antara mereka pindah ke gurun Syro Mesopotamia. Seperti bangsa2 lain disana , bangsa Ammon, Moab dan Filistia, pada akhirnya bangsa Ismael punah sekitar abad 7 SM. Kita juga melihat bangsa arab saat ini diturunkan dari 92 bangsa dan suku arab kuno yg disebut2 Pliny dalam buku karyanya, ditulis abad 77 SM. Bangsa2 lainnya adalah bangsa hasil ‘arabisasi’ setelah timur tengah dijajah oleh muslim selama dan setelah abad 7 SM, kecuali suku Ismael yg telah punah 14 abad sebelum arabisasi ini terjadi. Dg demikian, seperti telah kita simpulkan sebelumnya, lagi2 terbukti bahwa pengakuan muslim mengenai bangsa Arab merupakan keturunan Ismael tidaklah berdasarkan sejarah, tanpa dasar fakta.

Nama Abraham dan Ismael tak pernah muncul di Arab sebelum dikenalkannya Judaisme dan Kekristenan pada suku2 Arab.

Ada yang lebih penting lagi. Orang2 Israel adalah keturunan dari Abraham, sebuah fakta yang dibuktikan di setiap generasi israel. Kalian bisa temukan nama Abraham dan anak2nya dipakai dengan jelas dalam setiap literatur Yahudi disetiap era. Fakta bahwa Abraham adalah kakek moyang orang yahudi telah mempengaruhi kehidupan spiritual, budaya dan sosiologi orang2 israel sepanjang sejarah, membuat mereka tetap mengikuti iman kepercayaan Abraham.

Dalam sejarah Arab, tidak ada disebut2 tentang Abraham – bahkan dijaman jahiliyah sekalipun, perioda sebelum munculnya islam di Arab. Pemakaian nama2 alkitab muncul di arab karena banyak suku arab yang memeluk agama Yudaisme dan Kristen. Tapi, al-Kalbi seorang sejarawan kuno menyebut2 dua nama yang berasal dari nama Abraham, dia menulis:

Ibrahim (=Abraham), kakek dari Adi, anak Zayed, anak hamad, anak Zayed, anak Ayub dari anak2nya Emrea al-Kais (yang terkenal sebagai penyair Kristen Arab), anak dari Zayed Manat, anak Tamim. Yang lainnya adalah Mukatil, anak Hassan, anak Thaalabeh, anak Aus, anak Ibrahim, anak Ayub, Ibn al-Kalbi berkata, “saya tidak tahu ketika jaman jahiliyah mengenai orang2 lain dari keturunan arab kecuali dua orang yang memakai nama dari nama2 yg ada dalam alkitab. Dan dua orang tersebut dipanggil demikian karena mereka adalah orang Kristen.” [15]
[15] Taj al-Aruss I, page 151

Jika kita pelajari jaman sebelum Yudaisme dan Kristen masuk arab, kita tidak temukan nama2 dari alkitab, termasuk Abraham dan Ismael, dalam naskah2 arab. Secara sejarah, nama kakek moyang sebuah bangsa, dan juga figur2 besar nasional lainnya, selalu dicatat dan berulang-ulang disebut dalam kisah2 yang diturunkan dari generasi ke generasi. Jadi, akan sangat tidak biasa jika orang Arab yang mengaku keturunan Abraham lewat Ismael tidak menyebut2 tentang kakek moyang mereka. Contohnya, kita lihat nama Israel, yang Tuhan berikan pada Yakub, Bapak orang Israel. Kita lihat namanya disebut dalam naskah2 Yahudi sepanjang sejarah generasinya. Israel juga menyebut2 tentang Ismael, yang bukanlah kakek moyang mereka, dalam banyak tulisan sejarah mereka. Nama2 Abraham, Ishak dan Yakub adalah nama2 yang membuktikan garis keturunan orang Israel.

Jika kita perhatikan kaum lain seperti yang ada di Mesopotamia, kita temukan figur sejarah penting didaftarkan bagi generasi2 selanjutnya. Contoh, dalam kitab Kejadian 10:8-11 kita dapatkan tentang Nimrod yang adalah kakek moyang orang Babilon dan Assyria. Nimrod banyak disebut dalam naskah2 Babilon maupun Assyria. Banyak nama orang maupun nama lokasi memakai nama Nimrod. Ibukota Assyria kuno disebut kota Nimrod. Ini membuktikan fakta bahwa figur penting seperti kakek moyang tidaklah dapat dilupakan oleh generasi penerus bangsa tersebut.

Kebalikan dari semua ini, kita lihat naskah2 kuno Arab tidak ada menyebutkan tentang Abraham atau Ismael satu kalipun. Malah, mereka mencatat nama2 orang dan dewa yang terpisah jauh dari budaya arab. Bagaimana bisa Ismael jadi kakek moyang orang arab jika kita tidak temukan namanya disebut2 dalam naskah kuno Arab? Jawabannya sederhana sekali: ISMAEL BUKANLAH KAKEK MOYANG ORANG ARAB.

Banyak bangsa mengaku keturunan Abraham. Banyak orang Arab percaya bahwa orang Romawi dan Yunani juga keturunan Abraham.

Ini fakta lain utk dipertimbangakan. Dijaman Muhammad, sudah biasa sekelompok orang atau satu bangsa mengaku keturunan dari Abraham. Al-Masudi, sejarawan arab abad 9 menyatakan ada sekelompok orang Yunani yang mengaku keturunan Abraham lewat Ishak. Al Masudi menulis, “Orang Yunani, seperti juga orang Romawi, adalah keturunan Ishak.” [16]
[16] Al-Masudi, Muruj al-Thahab, Beirut-Lebanon, 1991, I, page 294

Orang Arab juga mendukung pernyataan bahwa orang Yunani keturunan Ishak. Malah, orang Arab menyusun silsilah bagi Alexander Agung (Iskandar), yang membuatnya menjadi keturunan dari Ishak [17]. Ide Yunani berasal dari Ishak juga lazim dijamannya Muhammad. Bukan hanya didukung al-Masudi, tapi juga oleh sejarawan arab muslim lainnya, al-Tabari, yg lahir tahun 844M. Al-Tabari menyambut ide, dan disebarkan kepada orang2 arab lainnya, bahwa Iskandar Agung adalah keturunan Ishak. Al-Tabari juga menyatakan bahwa Iskandar Agung telah sampai ke tempat2 dimana, menurut mitos Arab dan Quran, Matahari terbenam dan muncul dalam bumi, karena Iskandar mencari mata air yang memberi kehidupan kekal [18]. Dalam legenda Sumeria kita temukan kisah Gilgamesh, yang juga mencari hidup kekal. Legenda ini bercerita tentang lokasi yg dia temukan, dimana disana matahari bangkit di timur, hingga dia bertanya pada sang matahari tentang hidup kekal. Mitos2 demikian menjadi bahan bakar ‘isi’ Quran yg juga menceritakan kunjungan Iskandar Agung ketempat matahari terbit dan terbenam.
[17] Al-Masudi, Muruj al-Thahab, Beirut-Lebanon, 1991, I, page 297
[18] Tarikh al-Tabari, Abi Jaafar Bin Jarir al-Tabari, Dar al-Kutub al-Ilmiyeh, (Beirut-Lebanon, 1991), I, page 339


Pengakuan Yunani keturunan Ishak dan Iskandar Agung juga keturunan Ishak menjadi ide dibelakang Quran, yg semerta melabeli Iskandar Agung sebagai Nabi dan Pemimpin Islam, melakukan Jihad utk menyebarkan islam kepenjuru dunia. Dalam Surat Al-Kahfi kita temukan kisah2 perang Iskandar Agung. Dia digambarkan sebagai seorang muslim yang mencapai ujung barat bumi dan menemukan tempat matahari tenggelam didalam danau lumpur.” (Surah 18:86).

Pengakuan Tubb’a dan mitos yg dia percayai, mempengaruhi Muhammad, yg lalu memasukkannya kedalam Qur’an

Ide matahari tenggelam dalam danau lumpur pertama kali adalah berupa legenda orang Yaman. Kita temukan puisi2 karya Tubb’a, seorang pemimpin Yaman yg berkuasa atas kerajaan Himyarite di Yaman antara tahun 410-435M. Tubb’a, yg dianggap nabi oleh Muhammad, bilang matahari punya tempat terbenam dalam danau berlumpur. Muhammad menganggap apa yang Tubb’a ucapkan ini berasal dari Allah dan Tubb’a menganggap Iskandar Agung adalah nabi Allah.

Nama asli dari Tubb’a adalah Tuban Asa’d Abu Karb. Sebagai pemimpin militer, dia menguasai Yathrib (medinah sekarang). Disana, Tubb’a menangkap dua orang Rabbi Yahudi dari suku Bani Kharithah, yg saat itu menghuni Yathrib. Sang Rabbi mengajarkan Tubb’a banyak hal, khususnya tentang mitos2 Yahudi, seperti Mitos Burung Hupu-hupu, yang dikatakan mengungkapkan kerajaan Saba dan ratunya pada Sulaiman. Mitos ini diambil dari buku Yahudi ‘Targum Ester’. Tubb’a menceritakan tentang ini dalam kumpulan puisinya [19] dan Muhammad memasukan mitos ini dalam Qur’an.
[19] Al-Masudi, Muruj al-Thahab, Beirut-Lebanon, 1991, I, page 247

Muhammad memasukkan dalam Qur’an perkataan dan pemikiran Tubb’a yang dia anggap berasal dari Allah. Muhammad pikir hal ini akan membuat Qur’an menjadi buku yang dapat diandalkan karena berisi pemikiran tentang jagat raya dan sejarah2 yang dipercaya oleh orang2 Arab.

Sejarah Kaldea Tak Mencantumkan tentang Mekah

PostPosted: Fri Apr 08, 2011 9:54 am
by Adadeh
Bagian II
7. Catatan Sejarah Bangsa Kaldea Juga Tidak Mencantumkan Keterangan Apapun tentang Mekah di Abad ke-7 dan 6 SM.


Bangsa Kaldea adalah bangsa keturunan Afrika yang tinggal di daerah Babylonia. Setelah kematian Assurbanipal, Raja Babylonia keterunan Kaldea yakni Nabopolassar menyatakan kedaulatannya di tahun 625 SM. Nabopolassar menguasai propinsi² Assyria dan menghancurkan Niniveh di tahun 605 SM untuk menolong Manda, suku nomad dari Kurdistan, yang dianggap banyak sejarawan sebagai suku Medes. Dinasti Assryia yakni Harran memohon pertolongan pada Firaun Necho II, penguasa Mesir yang mengontrol Syria di jaman itu. Nabopolassar menunjuk putranya, Nebukadnezar, untuk memimpin pasukan tentara Babylonia. Mereka bertarung dan berhasil mengalahkan tentara Mesir di kota tua Hittite yakni Karkhemish di tahun 604 SM. Ketika Nebukadnezar mendengar bahwa ayahnya wafat, dia kembali ke Babylonia dan jadi raja yang menguasai salah satu kekaisaran terbesar di Timur Tengah. Di tahun 586 SM, Nebukadnezar menguasai dan menghancurkan Yerusalem, memaksa umat Yahudi untuk melarikan diri.

Ketika Nebuchadnezzar menguasai daerah Kaldea, dia berperang melawan banyak negara² Arab. Keterangan tentang periode Kaldea dapat dilihat di Tawarikh Babylonia, dan juga sumber² lain. Menurut Tawarikh Babylonia, Nebukadnezar menyerang bangsa Arab beberapa kali di tahun 599-598 SM. Gaung peperangan ini tercatat dalam Alkitab oleh Nabi Yeremia. Yeremia 49:28 menyatakan:

Mengenai Kedar dan mengenai kerajaan-kerajaan Hazor yang dipukul kalah oleh Nebukadnezar, raja Babel. Beginilah firman TUHAN: "Bersiaplah, majulah melawan Kedar, binasakanlah orang-orang di sebelah timur!

Penyerangan Nebukadnezar lainnya ditulis di kitab nubuat Judith, yang ditulis di abad ke-4 SM. Di bab II buku tersebut, Midian disebut diantara suku². [138] Ini keterangannya:

Dia mengambil semua anak² Midian dan membakar tenda mereka, dan merampas ternak mereka.
[138] Judith 2:26

Sebagian sejarawan memperkirakan Nebukadnezar menyerang daerah lebih jauh daripada Midian, sampai ke Teima. [139]
[139] Arabia and the Bible, James Montgomery, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 64

Image
Raja Babylonia yang terakhir, Nabonidus, 556-539 SM.

Raja terakhir Babylonia adalah Nabonidus. Raja Nabonidus juga melakukan banyak penyerangan ke Arabia. Dia berkuasa di tahun 556-539 SM, dan menguasai kota Arab Teima, dan lalu tinggal di situ. Nabonidus berasal dari Harran dan ibunya, Addagoppe, merupakan pendeta wanita bagi dewa bulan mereka yakni Sin. Addagoppe tampaknya punya hubungan istimewa dengan Nebukadnezar. Mungkin inilah sebabnya mengapa Nabonidus meninggalkan takhtanya di Babylon setelah cucu Nebukadnezar, Labasi-Marduk, terbunuh di istananya dalam usaha penggulingan kekuasaan.

Addagoppe lahir di tahun 649 SM dan hidup selama 102 tahun, wafat di tahun 547 SM. Prasasti Nabonidus menjelaskan bahwa Addagoppe ditangisi sebagai ratu besar. Kejadian ini dan juga detail keterangan lainnya menunjukkan bahwa dia tampaknya menikah dengan Nebukadnezar.

Prasasti Harran menerangkan bahwa Addagoppe dibawa ke istana Babylonia di tahun 610 SM, dan dia jadi sangat berpengaruh di sana. Ketika Labasi-Marduk dibunuh, dan tampuk kekuasaan jadi kosong, Addagoppe menempati posisi sebagai penunjuk akhli waris, karena dialah janda Nebukadnezar. Dia mengangkat putranya, Nabonidus, untuk menjadi raja. Beberapa sejarawan beranggapan Nabonidus menikah dengan putri Nebukadnezar. Jika ini benar, maka Nebukadnezar adalah ayah tiri Nabonidus dan kakek tiri putra Nabonidus yakni Belshazzar, dan mungkin juga adalah mertua Nabonidus pula. Belshazzar dan ayahnya merupakan anggota keluarga besar Raja Nebukadnezar. Karena itulah mereka ditunjuk sebagai raja² Babylonia.


Nabonidus, yang menguasai daerah Arabia utara dan barat tengah, termasuk lokasi di mana Mekah kelak dibangun, menyebutkan nama² semua kota di situ, tapi tak menyebut nama Mekah sama sekali.

Nabonidus menyerahkan urusan kerajaan pada putranya, Belshazzar, dan pergi ke Arabia untuk menguasai Arabia utara dan barat tengah. Dia pergi ke Edom di sebelah selatan Yordania, dan lalu ke Teima. Dia membunuh raja Teima, menundukkan masyarakatnya, dan membangun istana bagi dirinya sendiri. Setelah berkuasa di Teima, Nabonidus melancarkan berbagai penyerangan untuk memastikan bahwa dia menguasai semua bagian Arabia utara dan barat tengah. Dia akhirnya menaklukkan kota² Dedan, Fadak, Khaybar, Yadi, dan Yathrib (yang nantinya diganti nama jadi Medinah). (Lihat Peta nomer 4.)

Image
Raja Babylonia Belshazzar, dilukis oleh Rembrand di tahun 1635, berdasarkan keterangan kitab Daniel 5:1-4.

Prasasti bertanggal abad ke-6 SM ditemukan di Teima. Prasasti ini menerangkan perang² antara Teima dan Dedan. [140] Kemungkinan orang² Teima dipergunakan oleh Nabonidus dalam penyerangannya terhadap Dedan dan kota² lain di daerah itu. Sejarawan berpendapat kota² seperti Khaybar dan Yathrib telah dibangun di abad ke-6 SM. Sebelum jaman Nabonidus, kota Qedar telah ditaklukkan oleh Nebukadnezar. Nabonidus kemudian menaklukkan semua kota² yang ada di daerah itu. Dia mengontrol semua jalur jalan ke kota² Yathrib, Teima dan Dedan; ke timur dengan jalur jalan Yathrib-Hail; dan ke selatan kota Yathrib, yang berarti hanya sekitar 200 mil dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. [141]
[140] Prasasti² ditemukan Jabal Ghunaym, sekitar 10 mil dari Teima. Lihat F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 29
[141] Prasasti² Haran Nab. H2 I 26 and Nab. H2 I 24-25; dikutip oleh Eph'al, pages 180 and 181


Karena Nabonidus ingin menguasai semua daerah, Mekah tentunya akan jadi salah satu sasaran utamanya, jika Mekah memang sudah dibangun saat itu. Nabonidus tinggal di daerah itu untuk waktu yang lama. Kegiatan militernya tidak hanya satu penyerangan yang berlangsung beberapa hari dan bulan saja. Nabonidus menjelajahi daerah itu selama sepuluh tahun. Semua daerah Arabia utara dan barat tengah merupakan propinsinya. Dia begitu lama tinggal di tempat itu, sehingga dia tidak mungkin luput memperhatikan Mekah, jika Mekah memang sudah dibangun di jamannya.

Kita lihat bahwa Mekah tidak disebut sama sekali di jaman Kaldea, meskipun Nabonidus telah menguasai semua daerah Arabia utara dan barat tengah, termasuk daerah di mana Mekah kelak dibangun, sebagai bagian dari kekaisarannya. Hal ini tentunya penting, karena kota² lain yang kurang penting dibandingkan Mekah telah disebutunya sebagi bagian propinsi tersebut, tapi Mekah tak pernah disebut.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Fri Apr 08, 2011 2:18 pm
by CRESCENT-STAR
saya kira klaim bahwa benda arkeolog spt pondasi kabah dan cap kaki Ibrahim bukan datang dari Muhammad (Islam) saja.
keyakinan ini bertradisi di masyarakat pagan sebelum Islam. kira2 apa manfaat mereka mengklaim bahwa benda2 arkeologis itu milik Ibrahim dan ismail yah ?
belum ketemu jawabannya untuk pertanyaan itu.

Tiadanya Para Pedagang Mekah

PostPosted: Fri Apr 08, 2011 2:22 pm
by Adadeh
Bagian II
8. Tiadanya Para Pedagang Mekah


Tatkala berbagai pedagang Arabia disebut di banyak tempat, tak ada yang menyebutkan tentang pedagang dari Mekah.

Tidak hanya Mekah saja yang absen dari semua catatan peperangan selama periode Kaldea, tapi tak ada pula keterangan tentang perdagangan Mekah apapun. Berdagang merupakan kegiatan penting bagi orang Babylonia sejak awal abad ke-6 SM. Telah terjadi peningkatan perdagangan di tanah Arabia sepanjang jalur perjalanan ke daerah Bulan Sabit Subur. Catatan² sejarah Babylonia menunjukkan peningkatan perdagangan dan hubungan dengan para pedagang Arabia, tapi tak satu pun keterangan yang menyebut tentang Mekah. Para pedagang Arab terkenal akan perdagangannya dengan orang² Babylonia. Catatan sejarah menunjukkan Nabonidus mengirim surat ke salah satu pembantunya, memerintahkannya untuk memberi seorang pedagang Arab dari suku Thamud (Te-mu-da-a Ar-ba-a-a) beberapa talenta perak. [142]
[142] E. Ebeling, Neubabylonnische Briefe, Munchen 1949, No. 276; E.W. Moore, Neo-Babylonian Documents in the University of Michigan Collection, Ann Arbor, 1939, No. 67; dikutip oleh I. Eph’al, The Ancient Arabs, hal. 189

Beberapa dokumen sebelum Nabonidus menunjukkan orang² datang dari Teima ke Babylon, terutama untuk berdagang. Dokumen² lain menyebutkan tentang bangsa Qedar. Para pengelana dari Teima juga disebut dalam catatan sejarah Assyria dan Babylonia. Salah satu contoh surat menyebut tentang Am-me-ni-ilu tamkaru Te-ma-a-a, dan perjalanannya menghadap Raja Babylonia. [143] Meskipun demikian, di seluruh catatan sejarah perdagangan mereka, tak satupun ada keterangan tentang Mekah. Jika Mekah sudah ada di jaman Kaldea, tentunya Mekah akan disebut, terutama karena kota² lain di daerah yang sama disebut berkali-kali. Fakta menunjukkan bahwa di seluruh dokumen sejarah, kita tak menemukan seorang pun pedagang Mekah di seluruh tempat di Timur Tengah, sedangkan para pedagang dari berbagai kota Arabia barat disebut terus, bahkan sampai di tempat jauh seperti Sinai. Contohnya, prasasti² Sinai yang ditemukan menyebutkan tentang para pedagang dari suku Thamud. Kita juga temukan keterangan tentang para pedagang Mina di berbagai jaman berpergian ke daerah Bulan Sabit Subur. Para pedagang Mina juga berdagang ke Mesir di abad ke-3 dan 2 SM. Terdapat peti mayat dari batu milik pedagang Mina yang menjual kemenyan bagi kuil² ibadah Mesir. [144] Prasasti Mina yang ditemukan di Memphis, Mesir, dan Delos menjelaskan tentang kegiatan para pedagang Mina. [145] Prasasti² Mina dan Dedan di Yordania menjelaskan kegiatan para pedagang mereka di Bulan Sabit Subur. [146] Para pedagang Saba disebut dalam kitab Ayub, sekitar abad ke-9 sampai 7 SM. Para pedagang ini berkeliling di daerah Palestina. Prasasti² menjelaskan tentang para pedagang Sabian di Arabia timurlaut. [147] Para sejarawan membenarkan adanya orang² Sabian dekat Yathrib, di tempat bernama Wady ash Syeba, yang berarti Lembah Saba. Terdapat sebuah desa yang tertulis di prasasti Yunani bernama “Kolam Orang Sabi.” [148]
[143] R. F. Harper, Assyrian and Babylonian Letters, I, XIV, ( London – Chicago 1892-1914) dikutip oleh Eph'al , hal. 190
[144] Abdel Monem Sayed, “Reconsideration of the Minaean Inscription of Zayd 'il bin Zayd,” Proceedings of the Seminar for Arabian Studies, XIV, (1984), hal. 93-99; dikutip oleh Stanley Burstein dalam komentarnya di Agatharchides of Cnidus, on the Erythraean Sea, The Hakluyt Society London, 1989, hal. 149
[145] Teks Memphis diterbitkan oleh Rhodokanakis di Zeitschr.f.Semitistik, II, (1924), 113 ff; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 135; dua orang pedagang Main menunjukkan bakti mereka terhadap dewa Wadd di Delos, lihat Felix Durrbach, ed., Choix d'Inscriptions de Delos, (Paris, 1921-1922), page 129; dikutip oleh Stanley Burstein dalam komentarnya di Agatharchides of Cnidus, on the Erythraean Sea, hal. 150;
[146] Lihat David Graf, Dedanite and Minaean (South Arabia) Inscriptions from the Hisma', Annual of the Department of Antiqueties, XXVII (Amman-Jordan, 1983,) pp. 563-5; dikutip oleh Stanley Burstein dalam komentarnya pada Agatharchides of Cnidus, on the Erythraean Sea, hal. 149
[147] Dua prasasti ditemukan di Taj di Kuweit, Geog. Journal, 1922, hal. 59; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 166
[148] Sebuah desa di prasasti Yunani disebut bernama " Kolam Orang Sabi " di Leja, Dussaud, Les Arabes en Syrie, page 10; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 181


Dengan adanya berbagai catatan sejarah perdagangan ini, tidaklah masuk akal untuk mengira Mekah telah ada sejak jaman Abraham dan terletak di jalur dagang kuno. Tak ada satu pun peninggalan arkeologi atau keterangan kuno apapun tentang para pedagang Mekah, bahkan seorang pun tak ada. Di lain pihak, perdagangan setiap negara dan kota di daerah yang sama disebut dalam catatan sejarah kuno, termasuk tempat mereka biasa berdagang, atau tempat² yang biasa disinggahi para kafilah. Semua fakta sejarah ini mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin ada sebelum jaman Kristen. Sudah waktunya bagi umat Muslim untuk merenungkan kesalahan sejarah yang sangat serius ini dalam Islam.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Fri Apr 08, 2011 2:36 pm
by Adadeh
CRESCENT-STAR wrote:saya kira klaim bahwa benda arkeolog spt pondasi kabah dan cap kaki Ibrahim bukan datang dari Muhammad (Islam) saja.
keyakinan ini bertradisi di masyarakat pagan sebelum Islam. kira2 apa manfaat mereka mengklaim bahwa benda2 arkeologis itu milik Ibrahim dan ismail yah ?
belum ketemu jawabannya untuk pertanyaan itu.

Itu cap kaki made in Hong Kong.

http://archive.arabnews.com/?page=5&sec ... m=4&y=2006
As for the footprints preserved in the special glass structure, these are not real footprint. If you look at them you immediately conclude that they are not the prints of human feet. They may be the mark of sandals or slippers, but not the feet themselves. Besides, we are not sure of their being authentic.

terjemahan:
Tentang cap kaki Ibrahim yang dicetak di gelas khusus, itu sih bukan tapak kaki asli. Jika kamu perhatikan, maka kamu akan langsung tahu itu bukan cap kaki manusia. Itu sih cuman cap sandal atau kasut, dan bukan tapak kaki sebenarnya. Selain itu, kami pun tak yakin itu bener² asli.

Sejak kapan tuh orang pagan ngumpulin jejak kaki Ibrahim dan Ismael? Gak ada keterangan seperti itu di catatan sejarah kuno mana pun. Abraham dan Ismael TIDAK PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI MEKAH, APALAGI MEMBANGUN KA'BAH! Abraham itu hidup di abad ke-21 Sebelum Masehi, sedangkan Mekah baru dibangun di abad ke-4 Masehi. Muslim sibuk saja berdusta mengarang sejarah Mekah dan Ka'abah, tapi fakta sejarah bicara lain. Islam itu hanya berdasar pada DUSTA, DUSTA, DUSTA, dan DUSTA tiada habisnya. Beriman aja dah yang penting, bukti sih belakangan ajah... kagak ada bukti juga gak apa², yang penting beriman.

saya kira klaim bahwa benda arkeolog spt pondasi kabah

Umat Muslim sedunia tak ada satu pun yang berani memeriksa dan membuktikan berapa tahun/abad usia fondasi Ka'bah! Jika beneran asli sejak jaman abad ke-21 SM, maka tentunya Muslim udah koar² sekuat tenaga akan hal ini. Tunjukin dunk buktinya fondasi Ka'bah itu berusia 4000 tahun lebih, seusia piramida² Mesir, agar para kafirun jadi percaya Islam, agar para Kristen jadi yakin Abraham itu Muslim. Tapi sampai detik ini, tak ada satu pun Muslim yang berani menunjukkan usia asli fondasi Ka'bah atau bagian apapun dari Ka'bah. Kenapa yaaa???
Terlebih lagi, Ka'bah itu udah dibongkar pasang berkali-kali, diancurin, didirikan lagi, diancurin lagi, didirikan lagi sama Muslim. Batu kotak buatan manusia tuh, tapi dicium-cium, disembah-sembah lima kali sehari.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Fri Apr 08, 2011 2:58 pm
by freesoul
dicontreng ahh, tandain..

Bagian V-Haji, Okultisme Umra', dan Ramadan

PostPosted: Thu Apr 14, 2011 3:58 am
by Adadeh
Bagian V
Haji, Okultisme Umra', dan Ramadan


1. Ibadah Haji Besar Islam


Fakta sejarah tidak menunjukkan Mekah sebagai pusat Ibadah Haji di Jaman Sebelum Islam

Kegiatan ibadah ziarah atau Haji ke Mekah dan bukit²nya merupakan satu dari lima pilar Islam. Setiap Muslim wajib melakukan ibadah Haji sedikitnya sekali dalam seumur hidupnya. [1]
[1] Hadis Muslim, 9, hal. 100

Muhammad menjanjikan Muslim yang menunaikan ibadah haji dengan imbalan besar yang bersifat magis. Muhammad mengatakan ini dalam di dalam haditsnya, yang dianggap kedua terpenting dari Qur’an. Dia mengatakan:

Dia yang melaksanakan ibadah haji, kembali ke keadaan semula ketika ibunya melahirkan dia. [2]
[2] Hadis Sahih Bukhari, 2, hal. 141; Sahih Muslim 9, hal. 119

Dengan demikian, Muhammad mengatakan bahwa Muslim yang menunaikan ibadah haji menjadi tanpa dosa. Begitu banyak hal² di dalam Islam yang berporos pada ziarah Islam tersebut, dan bagian ini akan membahas ibadah haji dan akar pagannya.


Sebagian masyarakat Arab kuno ingin membuat ibadah haji di tempat² pagan terlihat penting dengan menyatakan tokoh² Alkitab juga naik haji di tempat yang sama.

Dalam sejarah, ibadah haji diketahui sebagai sebuah ritual pagan sekte tertentu di Timur Tengah. Salah satu dari sekte² tersebut yang melakukan ibadah haji adalah kaum Harran. Harran adalah sebuah kota di perbatasan antara Syaria, Irak dan Asia Kecil – Turki sekarang. Tuhan utama kaum Harran adalah bulan, tetapi mereka juga menyembah matahari, planet² dan makhluk² gaib yang lain seperti Jin. Mereka melakukan ibadah haji mereka di gunung² di sekitar Harran. Al-Hashimi, seorang sejarawan Arab, menyebutkan salah satu dari festival² mereka,” Festival dewa² untuk merayakan munculnya Bulan Baru.” [3] Harran menjadi sebuah kota yang terkenal dan sebuah tempat melaksanakan ibadah haji karena pemujaan Sin, dewa bulan. Ibn al-Nadim, sejarawan Arab lainnya, menyebutkan ibadah haji kaum Haranian ke beberapa tempat lain di mana mereka menyembah beberapa dewa, termasuk Sin, dewa bulan. Mereka juga menyembah planet² dan dewa² lainnya, seperti Hermes dan Jin. [4]
[3] Al-Biruni,op.cit., hal. 318 (dikutip oleh The Knowledge of Life, Sinasi Gunduz, Oxford University, 1994, hal. 183
[4] Ibn al-Nadim, al-Fahrisit, hal. 322


Kaum Harran berpengaruh besar pada Muhammad. Muhammad bergabung dengan sebuah kelompok di Mekah yang disebuh “al-Ahnaf” (Hanif), yang berhubungan dengan kaum Harran. Banyak anggota² kelompok tersebut pergi mengunjungi daerah al-Jazirah yang terletak di perbatasan di antara Timur Laut Syria, Irak dan Turki. Para sejarawan memberitahu kita bahwa para anggota kelompok ini, seperti Zayd Bin Amru, pergi ke sana untuk mencari pengetahuan agama. [5] Melalui hubungan ini, banyak tatacara ibadah kaum Harran yang diserap Islam. Zayd Bin Amru adalah salah satu pendiri Ahnaf/Hanif. Dia adalah kerabat Muhammad, dan Muhammad sering menemui Zayd di dalam gua² di Harra’, di mana para anggota Ahnaf kerap bertemu.[6]
[5] Ibn Kathir, Al Bidayah Wal Nihayah, Dar Al Hadith, (Cairo, 1992), 2 : 243
[6] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq 84; Qastallani Ahmad ibn Muhammed, Irshad al-Sari, 6, page 171 ; Ibn Kathir, al-Bidayah Wal Nihayah 2, hal. 244; Ibn al-Atheer, Asad al-Ghabah Fi Maarifat al-Sahabah 2, hal. 231


Karena pengaruh kaum Harran pada Muhammad, Harran menjadi sebuah tempat yang penting di dalam Qur’an. Qur’an mengisahkan bahwa Sulaiman menundukkan angin dan menggunakannya untuk melakukan perjalanan ke sebuah tempat yang jauh. Qur’an mengatakan dalam ayat 21:81:

Kepada Sulaiman angin berhembus dengan ganas menuruti perintahnya menuju ke tanah yang kami berkati.

Banyak penulis Islam mengartikan ayat ini bahwa Sulaiman menggunakan angin untuk melakukan ibadah haji ke Harran. Harran pada waktu itu dianggap sebagai kota haji, [7] khususnya bagi kaum Harran, yang menyembah bulan. Banyak kelompok yang dipengaruhi oleh kaum Harran, yang membuat Harran menjadi tempat di mana masyarakat pergi untuk menyembah dewa kaum pagan seperti Sin, sang dewa bulan. Kelompok² ini ingin membuat kesan bahwa Harran merupakan kota kuno di mana masyarakat telah melakukan haji sejak jaman dahulu. Karena itulah mereka mengatakan tokoh² penting, seperti Sulaiman, juga beribadah haji di jaman dahulu di tempat mereka. Tempat ibadah mereka jadi tampak lebih penting andaikata para nabi dari Perjanjian Lama mengakuinya.
[7] M. A. al-Hamed, Saebat Harran Wa Ikhawan al-Safa, ( al-A'hali- Damascus, 1998), hal. 199

Hal serupa terjadi atas Mekah. Kepercayaan Islam mencari cara untuk membuat Mekah tampak seperti pusat ibadah haji kuno. Mereka menghubungkan Abraham dengan Mekah, dengan cara mengatakan Abraham naik seekor Bouraq, yakni unta bersayap, dan terbang ke Mekah. Sudah jadi kebiasaan berbagai kelompok agama untuk membuat kota² pagan mereka jadi tampak penting, dengan cara mencatut tokoh² Alkitab dan menghubungkan para tokoh ini dengan tempat ibadah mereka.


Qur’an dan penulis2 Islam menyatakan bahwa Abraham menyuruh semua orang untuk melaksanakan Ibadah Haji ke Mekah.

Qur’an dalam Surah 22, ayat 27, menyatakan bahwa Allah memerintahkan Abraham untuk menampilkan dirinya di dalam sebuah minaret, atau menara di mana kaum muslim yang beriman dipanggil untuk sholat. Abraham mengajak orang² untuk melaksanakan ibadah haji, yaitu berziarah ke Mekah. Kemudian masyarakat seluruh dunia melaksanakan ajakan itu dalam generasi Abraham. Ibn Abbas mengklaim bahwa ketika Abraham memanggil untuk beribadah haji ke Mekah, semua batu², bukit² dan pohon² yang mendengarkan dia, bahkan debu, pergi beribadah haji ke Mekah. [8]
[8] Tarikh al-Tabari, I, 156, 157

Ayat² Qur’an menyatakan Abraham menggunakan Athan آذان, atau suara yang keras, guna memanggil mayarakat untuk bersembahyang. Meneriakan dengan suara yang keras dari atas sebuah minaret masih merupakan cara kaum muslim memanggil masyarakat untuk bersembahyang. Metode ini dikenali dan dilakukan sepanjang sejarah jazirah Arab. Para pemuja dari berbagai sekte Jin pada masa Muhammad biasanya berteriak dari sebuah minaret guna memanggil masyarakat untuk bersembahyang. Cara ini terutama dilakukan oleh orang² yang mengklaim sebagai nabi di jazirah Arabia, dan mereka diketahui memiliki hubungan dengan Jin. Sebelum Muhammad, Musaylimeh Bin Habib mengaku dirinya adalah seorang nabi di kota Yamama. Dia memiliki seseorang yang berteriak kepada masyarakat dari minaret, memanggil mereka untuk bersembahyang, atau pergi beribadah haji ke sebuah kuil tertentu. Ritual semacam ini tidak dikenal di luar jazirah Arab, tidak diketahui juga apakah hal itu adalah hal yang biasa dilakukan berabad-abad sebelum jaman Muhammad.

Ayat yang menunjukkan Abraham berteriak dari minaret juga mengatakan suara Abraham didengar oleh semua makhluk manusia di atas bumi. Hal ini merupakan mitos yang tidak mungkin terjadi. Dalam sejarah, tidak seorangpun di atas bumi pernah mendengar suara Abraham memanggilnya untuk melakukan ibadah haji ke Mekah. Lebih jauh, kita melihat dalam sejarah bahwa Mekah belum ada sampai abad ke-4 Masehi, sedangkan Abraham hidup di abad ke-21 SM. Dengan begitu, bagaimana mungkin semua orang dari seluruh penjuru dunia bisa datang ke kota yang belum ada di gurun pasir di Arabia barat tengah, yang di jaman Abraham belum pernah diinjak siapapun?


Tiadanya padang rumput yang memadai dan kurangnya air, menyebabkan Mekah tidak bisa menjadi pusat ibadah Haji sebelum masa Islam

Mekah tidak mungkin menjadi sebuah tempat berziarah haji sebelum masa Islam. Mekah pada masa tersebut adalah sebuah kota miskin, dengan sedikit tempat untuk menggembalakan ternak. Bagaimana mungkin kota itu dapat menyediakan padang rumput bagi ribuan unta yang membawa orang² yang beribadah haji ? Sudah ada tempat² lain yang lebih memadai bagi lahan penggembalaan di jazirah Arab. Ka’bah² dari kota² ini telah disiapkan untuk menyelenggarakan ibadah haji.

Hal penting lain yang membuat Mekah tidak bisa menjadi pusat ibadah haji adalah kurangnya air. Mekah baru punya air setelah Abdel Mutaleb, kakek Muhammad, menggali sumur Zamzam, 50 - 75 tahun sebelum Muhammad. Mekah bahkan tidak mampu menyediakan air yang cukup bagi hanya sebuah suku kecil Khuzaa’h, yang pertama kali membangun dan menghuni kota dalam masa abad ke-4 M. Bagaimana kemudian, Mekah dapat menyediakan air yang cukup untuk ribuan peziarah yang akan membutuhkannya? Bagaimana mereka akan memberi minum unta² mereka, dan binatang² lainnya yang dibawa serta, untuk dikorbankan sebagai bagian dari ritual ibadah haji ?

Sebelum sumur Zamzam digali persis 50 atau 70 tahun sebelum masa Muhammad, adalah tidak mungkin bahwa Mekah dapat menjadi sebuah tempat melaksanakan ibadah haji untuk orang2 Arab, karena alasan² yang baru saja aku sebutkan.


Memang ada ibadah haji di daerah sekitar Mekah dalam masa sebelum Islam, tetapi Mekah bukan yang termasuk di antara tempat untuk beribadah haji.

Ber-tahun² sebelum Islam, ritual ibadah haji ala pagan sudah ada di berbagai bukit di luar Mekah, tetapi hal itu dilakukan oleh orang² Arab penyembah berhala dalam jumlah yang terbatas. Dibawah Muhammad, pelaksanaan ibadah haji ke Mekah kemudian menjadi sebuah pilar utama dalam agama Islam.

Dalam masa sebelum Islam, Mekah diketahui menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai ‘ibadah haji kecil’, tetapi ibadah merupakan ibadah okultisme sepenuhnya, dan bagian dari ritual agama Jin Arab. Aku akan bahas hal ini lebih jauh di sub bab berikut "Ibadah Haji Kecil (Umra').

Sudah diakui secara umum bahwa orang² Arab terbiasa melakukan perdagangan ketika sedang beribadah haji, atau perziarahan keagamaan. Pada masa sebelum Islam, masyarakat yang datang ke daerah untuk beribadah haji tidak berdagang di Mekah, melainkan di Ukkaz dan daerah² lain di sekitarnya, seperti Majanna dan Dhul-Majaz. Penulis² Arab memberitahu kita bahwa Ukkaz adalah sebuah kota “Haram”, yang berarti tidak seorangpun boleh membunuh, atau melakukan hal² tertentu di sana, dalam bulan ibadah haji. Kita menemukan bahwa ketika kaum Quraish, suku dari mana Muhammad berasal, mengunjungi tempat² ini, mereka selalu mengunjunginya dengan kondisi Ihram atau suatu kondisi yang khusyuk. Ibn Habib memberitahu kita bahwa suku Quraish tidak pernah mengunjungi Dhul-Majaz kecuali dengan sebuah kondisi yang khusyuk atau Ihram. [9] Kita mengetahui bahwa suku Quraish berada dalam kondisi Ihram atau khusyuk, ketika mereka berada di Ukkaz, ketika perang Fujjar mulai berkobar. [10] Fujjar mempunyai arti “penyesat, kriminal atau pendosa”. Dalam perang Fujjar, suku² Quraish dan Kinaneh membentuk suatu persekutuan. Pada penghujung abad ke-6 Masehi, mereka berperang melawan suku² Arab lain yang menjadi musuh² mereka. Perang tersebut disebut Fujjar karena terjadi di dalam bulan² Haram, dalam masa di mana orang² Arab dilarang berperang. Al-Azruqi, seorang penulis Islam kuno yang menulis mengenai Mekah, juga mengatakan bahwa tidak seorangpun diperkenankan mengunjungi Ukkaz atau Dhul-Majaz kecuali dalam kondisi Ihram atau khusyuk. [11]
[9] Ibn Habib, Munammaq, hal. 275 ; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal., 173
[10] Muhammad Ibn Habib, Kitab al- Munammaq, hal. 196
[11] Azruqi, Akhbar Mecca, hal. 132


Saksi² sejarah ini menunjukkan bahwa ibadah haji sebelum masa Islam bermula di pusat² yang lain dari Mekah. Para peziarah berkumpul di tempat² ini untuk mengunjungi kuil² di sana, berdagang, dan mempersiapkan diri mereka untuk melakukan perziarahan ke tempat² yang disakralkan yaitu di bukit² Mina’, Arafah dan Muzdalifah. Tempat² ini adalah obyek² yang sesungguhnya dari ibadah haji, di mana akan kita lihat setelah ini. Mekah tidak termasuk dari peribadahan haji, karena ritual² resminya dimulai pada bukit yang disebut Arafah dan berakhir di Mina’, di mana kondisi Ihram selesai. Jelaslah bahwa ibadah haji dilakukan di bukit² tersebut di mana kaum Arab menyembah dewa² mereka dan mereka tidak memasukkan Mekah ke dalamnya. Fakta² ini menunjukkan pada kita bahwa Mekah tidak disinggahi dalam ibadah haji, tetapi bukti² tidak hanya berhenti sampai di sini. Kami melihat bahwa para pejabat kota Arafah adalah orang² dari suku Tamim bukan dari suku Quraish. [12] Hal ini juga memberitahu kita bahwa Mekah dan Quraish, suku yang berdiam di sana, tidak berkaitan apapun dengan ibadah haji.
[12] Wellhausen, Reste , hal. 83; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 174

Crone, seorang cendekiawan, dalam bukunya yang berjudul Meccan Trade (Perdagangan di Mekah dan Munculnya Islam) juga menegaskan bahwa perdagangan saat ibadah haji hanya terjadi di Arafah dan Mina’ saja, dan tidak termasuk Mekah. Ketika, menurut ritual keagamaan mereka, mereka akhirnya diizinkan untuk berdagang dalam masa peribadahan, mereka mulai berdagang di Arafah dan Mina’, tetapi tidak ada keterangan bahwa Mekah merupakan bagian dari ritual haji. [13] Jelaslah bahwa Arafah dan Mina’ adalah tempat yang sesungguhnya bagi kaum Arab beribadah haji, dan bahwa pada masa sebelum Islam, Mekah tidak dianggap sebagai pusat ibadah haji.
[13] Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 175

Setelah Muhammad gagal menyakinkan masyarakat untuk menjadi pemeluk agama baru Islam, dia mengubah strateginya, dan berusaha mencari sebuah suku yang bisa diajak berkompromi dan yang mau menerima dia sebagai seorang “nabi Allah”. Dia akan memimpin suku tersebut berperang melawan suku² Arab, membunuhi kaum lelakinya dan memberikan para wanita dan anak² perempuan orang² Arab dan Yahudi yang mereka taklukkan. Para wanita akan menjadi gundik² mereka, dan para anak laki akan dijual sebagai budak, dan rumah² dan milik pribadi akan menjadi jarahan bagi penakluk. Bertahun², Muhammad pergi ke Ukkaz, Majanna, Mina’ dan Dhul-Majaz, pusat² ibadah haji, untuk menawarkan program²nya. Tetapi ia hanya bertemu dengan suku² serupa dengan suku² Mekah.[14] Di tempat ini akhirnya dia bertemu dengan para wakil suku Oas dan Khazraj dari Medinah, yang menerima tawarannya. [15]
[14] Ibn Saad, Tabaqat 1, hal. hal. 216; Ibn Hisham, hal. 281 ; dikutip oleh Crone, hal. 175
[15] Ibn Hisham, hal. 286; Ibn Saad, Tabaqat 1, hal. 217; Dikutip oleh Crone, hal. 175


Walaupun Islam berusaha menghubungkan seremoni ibadah haji kaum pagan Arab dengan Abraham, fakta² sejarah dengan jelas berlawanan dengan pernyataan mereka. Umat Muslim secara sia² bersandar pada ibadah Arab pagan guna mendapatkan pengampunan illahi bagi dosa² mereka. Pengampunan dosa tak ada hubungannya dengan ibadah agama; karena jika begitu, maka hanya orang² kaya saja yang dapat pengampunan dosa karena, di jaman kuno, orang² pada umumnya tidak punya biaya untuk melakukan perjalanan panjang naik haji. Sebagai contoh, perjalanan dari Bangladesh sebelum penemuan modern transportasi bermotor sangatlah merepotkan dan sulit. Memutuskan untuk mengadakan perjalanan ini berarti menghabiskan waktu selama tujuh bulan dalam perjalanan ke Mekah, dan tujuh bulan berikutnya untuk pulang. Juga bahwa kemungkinan para peziarah tidak selamat dalam perjalanan. Melalui gurun² pasir Asia dan Jazirah Arab, dia akan menghadapi pelbagai mara bahaya, seperti pencuri², perampok, binatang² liar dan ular², belum lagi kekurangan makanan dan minuman. Resiko epidemi penyakit dapat menyebar di antara para peziarah yang berjumlah sangat banyak yang berkumpul untuk sebuah perjalanan yang panjang. Waktu yang diperlukan untuk sebuah perjalanan haji dari suatu daerah yang jauh dapat mencapai 12 sampai 16 bulan, suatu waktu yang sangat panjang memisahkan sang peziarah dengan keluarga dan pekerjaan²nya. Hal itu juga membebani dia sejumlah besar uang untuk biayanya dalam periode ini, karena ia tidak bekerja atau hidup dengan keluarganya. Ibadah Haji adalah beban biaya yang luarbiasa, ritual yang tidak masuk akal yang dapat menghancurkan keluarga dan kehidupan social dan ekonomi mereka yang menjalaninya dan membahayakan kesehatannya sendiri dan, barangkali, memakan jiwanya.

Muhammad dan sukunya yang tinggal di Mekah adalah satu²nya masyarakat yang diuntungkan dari ritual ibadah haji ke Mekah. Karena para peziarah membawa binatang² untuk di korbankan, semua daging ditinggalkan untuk para penduduk Mekah. Banyak kambing dan domba ditinggalkan, belum termasuk uang yang dibawa para peziarah, atau perdagangan yang mereka lakukan. Kenyataannya, peribadahan haji yang dilakukan setiap muslim paling sedikit sekali dalam hidupnya, diperintahkan oleh Muhammad agar kaum muslim lain dapat membawa kekayaan bagi sukunya sendiri, Quraish. Karena sukar dan mahalnya perjalanan naik haji yang harus dilakukan, maka kaum miskin tidak mampu melakukannya.


Mekah merupakan bagian dari sebuah ibadah haji klenik, yang disebut Umra'

Kita telah melihat bahwa masa sebelum Islam, Mekah tidak pernah menjadi salah satu kota yang menyelenggarakan kegiatan ziarah besar yang disebut sebagai ibadah Haji, meskipun umat Muslim mengatakan Mekah merupakan kota utama ibadah Haji.

Kita akan melihat bahwa Mekah merupakan bagian dari Umra, sebuah ibadah haji klenik kecil, yang dapat dilaksanakan setiap saat sepanjang tahun. Dalam masa sebelum Islam, ibadah haji ini berhubungan dengan pemujaan klenik di jazirah Arab. Peziarahan dimulai dari tempat dua patung Kahin, bernama Safa dan Naelah. Kahin adalah pendeta² dalam pemujaan jin di jazirah Arab. Patung² para Kahin ini ditempatkan pada lokasi Hajar Aswad di Ka’bah di Mekah. Peziarah² lainnya memulai ibadah haji dari patung yang sama Safa dan Naelah yang berlokasi di pantai dekat Mekah. Ibadah haji kemudian dilanjutkan ke bukit² Safa dan Marwa, di mana terletak patung² Safa dan Marwa. Dalam sejarahnya, Safa dan Marwa adalah pusat bagi agama klenik jin. Muhammad memasukkan kegiatan ibadah haji ke dalam Islam.


TAHAPAN² IBADAH HAJI BESAR DAN MAKNA PAGAN MEREKA DAN ASAL USULNYA

Ibadah haji menuju bukit Arafah

Ibadah Haji, juga disebut “ziarah besar”, dimulai pada tahun ke-7 dari Du al-Hijjah, bulan ziarah. Di Mekah, para peziarah mendengarkan khotbah² mengenai ziarah naik Haji, tetapi tidak ada ritual² yang dilakukan di sana yang membuktikan Mekah sebagai bagian sesungguhnya dari kegiatan naik Haji tersebut.

Pada hari kedua, hari kedelapan dari Du al-hijjah, peziarah² menuju bukit Arafah, berlokasi di Timur Mekah. Dibutuhkan lebih dari empat jam untuk mencapai bukit ini dengan unta. Di tengah perjalanan menuju Arafah, ada sebuah tempat yang disebut Muna, sekarang dikenal sebagai Mina’, di mana mereka bersembahyang untuk sholat pada tengah hari. Muna adalah tempat yang penting dalam ibadah haji. Kedua kata Muna dan Manat memiliki kesamaan dalam bahasa Arab yang berarti ”berharap atau menginginkan”. Manat adalah anak perempuan Allah. Ini mengindikasikan Muna diperuntukkan bagi pemujaan Manat. Setelah ini, aku akan mendiskusikan ritual² ibadah haji yang dilakukan di Muna dalam perjalanan pulang mereka ke Mekah.

Pada hari ketiga, hari kesembilan dari Du al-Hijjah, peziarah meneruskan ke bukit yang disebut Arafah. Mereka semua mengenakan pakaian putih, menunjukkan mereka berada dalam suatu kondisi khusyuk, menurut kepercayaan. Mereka berdiri pada suatu dataran dekat sebuah gunung yang disebut “jabal Al-Rahman,” yang berarti “gunung pengampunan”, dan mereka berteriak dengan suara yang keras dari tengah hari sampai matahari terbenam “Labeik Allahumma Labeik.” Allahumma berarti “Allah, adalah mereka,” jadi mereka teriakan mereka diterjemahkan,”Allah adalah mereka, Aku ada di sini.”


Teriakan “Allah adalah mereka, Aku ada di sini,” dan penggunaannya dalam pemujaan pagan di jazirah Arab.

Arti dari teriakan ini memiliki nilai penting yang khusus, karena para pemuja Keluarga Dewa Bintang Arabia akan melafalkan kalimat ini di hadapan setiap anggota dalam Keluarga Dewa Bintang untuk menunjukkan kepercayaan mereka bahwa setiap anggota Keluarga Dewa Bintang pantas dimuliakan. Muhammad memasukkan teriakan ini ke dalam Islam, seperti juga dia memasukkan ziarah ibadah haji ke dalam Islam.

Kita juga menemukan bahwa para pemuja Hubal, tempat pemujaan utama kuil di Mekah, akan membacakan kalimat ini. [16] “Hubal” adalah sebuah symbol bagi dewa bulan. [17] Banyak sejarawan berpendapat bahwa Hubal adalah Allah, sebelum planet, Venus, menggantikannya dengan gelar Allah.
[16] Ibn Habib, Kitab al-Muhabbar, hal. 315
[17] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, 328


Teriakan yang sama disuarakan orang Arab di depan Manat. Mereka berkata:

Allah adalah mereka, Aku ada di sini. Tanpa memohon yang datang lebih dahulu sebelum engkau, orang2 kan gagal dan meninggalkanmu, tetapi mereka masih datang kepadamu dalam setiap peziarahan setelah yang lainnya. [18]
[18] Ibn Habib, Kitab al-Muhabbar, hal. 313

Teriakan ini diserukan di hadapan Manat, putri Allah, dan menunjukkan bahwa tatacara ibadah bagi Keluarga Dewa Bintang Arabia ini dilakukan ketika umat melakukan ibadah Haji di tempat suci yang dibangun bagi dewa² anggota Keluarga Dewa Bintang. Manat punya tempat sendiri di mana umatnya akan datang dan menyerukan teriakan yang sama dan melakukan ritual lain, seperti menggunduli kepala. [19] Muhammad memasukkan ritual teriakan dan pemotongan rambut di Muna ke dalam ibadah Haji Islam. Quraish dan Khuzaa’h, suku yang membangun Mekah, adalah termasuk masyarakat yang memuja Manat dan pergi ke sana untuk berziarah. [20]
[19] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 14; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan 8, 169; Azruqi, Akhbar Mecca, I, 73
[20] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, hal.s 13, 15; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan 8, hal. 169


Semua kejadian dalam sejarah ini menunjukkan alasan mengapa para peziarah terbiasa menyerukan teriakan yang sama di atas bukit Arafah saat matahari terbenam, “Allah adalah mereka, aku ada di sini.” Arafah adalah tempat menyembah Ellat, sang dewi matahari, sampai saat matahari terbenam. Suami Ellat adalah Allah, sang dewa bulan, dan putrinya adalah Manat dan al-‘Uzza, dan mereka semua disembah dengan hormat dan menerima seruan teriakan yang sama.

Muhammad telah melarang para pengikutnya untuk berdoa di bukit Arafah setelah matahari terbenam, [21] yang merupakan kebiasaan masyarakat Arab pagan ketika mereka beribadah haji di bukit Arafah. Mereka terus memuja dan berteriak di hadapan matahari sampai ia terbenam.
[21] Al- Bukhari, 2, hal. 166

Istilah,”Allah adalah mereka,” diadopsi suku Quraish, suku asal Muhammad, sebelum ia mengaku sebagai nabi. Quraish biasanya memulai tulisan² atau perjanjian² “dalam nama Allah adalah mereka.” [22] Muhammad berasal dari suku Bani Hasyim yang memulai dengan istilah yang sama,”dalam namamu Allah adalah mereka.” Dokumen Quraish melarang anggota² mereka untuk melakukan hubungan apapun dengan Bani Hasyim karena Bani Hasyim menolak untuk menyerahkan Muhammad kepada Quraish supaya dapat diadili. Dokumen yang mereka tulis dimulai dengan frase,”dalam namamu Allah adalah mereka.” [23] Suku pagan ini biasanya menggunakan rumusan ini karena mereka menghormati setiap anggota dari Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab.
[22] Tarikh al-Tabari, I, hal. 553
[23] Tarikh al-Tabari, I, hal. 553


Suhail Bin Amru, salah seorang ketua suku Quraish, mempertimbangkan pembuatan perjanjian damai antara suku Quraish dan Muhammad. Dalam menulis perjanjian itu, Muhammad ingin memulai dengan kata²,”Dalam nama Allah sang Rahman al-Rahim.” Kata ini awalnya dikarang di hadapan Muhammad oleh Musaylimeh Bin Habib, orang yang mengklaim sebagai seorang nabi, yang punya ikatan dengan para jin/setan. Quraish menentang Musaylimeh. Juru bicara suku tersebut, Suhail, keberatan dengan kalimat,”Dalam nama Allah, sang Rahman al-Rahim.” Suhail berkata pada Muhammad:

“Aku tidak mengenal siapa itu ‘Rahman’, sebaliknya, tulislah dengan cara ini,’Dalam nama Allah adalah mereka,’ sebagaimana engkau biasanya menulis.” [24]
[24] Bukhari, 3, hal. 181

Hal ini menunjukkan bahwa ketika Muhammad menulis perjanjian damai, atau dokumen penting, dia menggunakan kata² yang sama yang digunakan sukunya dalam memuliakan anggota² Keluarga Dewa Bintang Arab.

Agama Jin-setan di jazirah Arab menyebarkan ajaran pagan melalui kepercayaan yang menyembah banyak dewa. Hal itu bertentangan dengan seruan Alkitab untuk menyembah satu Tuhan saja.

Umayya bin abi al-Salt adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Umayya juga menganut kepercayaan jin-setan yang mengajarkannya banyak hal, salah satunya kalimat, ”Dalam namamu, Allah adalah mereka.” [25] Umayya mengatakan dua ekor burung telah membuka dadanya dan mengambil “al-a’laka’ hitam” dari hatinya. Menurut konsep agnostic, “al-a’laka’ hitam” adalah unsur gelap dalam tubuh manusia yang menyebabkan manusia berdosa. Setelah itu diambil, Umayya menjadi tanpa dosa. Muhammad mencontek pernyataan Umayya, tetapi Muhammad mengganti sedikit dengan mengatakan bahwa dua malaikat yang membuka dadanya dan mengambil “al-a’laka’ hitam” yang membuatnya tanpa dosa.
[25] Al-Aghani, oleh Al Asfahani, 4, hal. 122- 195

Muhammad seringkali duduk bersama Fari’ah, saudara Umayya, karena Muhammad menyukai kecantikannya. Dia biasanya membacakan banyak puisi yang ditulis saudaranya, Umayya. Muhammad memasukkan banyak puisi² tersebut ke dalam Qur’an. Muhammad, seperti Umayya, juga mencontek kalimat , ”Dalam namamu, Allah adalah mereka” yang diajarkan para jin-setan pada Umayya.

Jin-setan Arab menyebarkan pesan bahwa semua dewa Arab dan berhala harus dihormati dan dimuliakan. Dengan cara ini Jin-setan menarik kaum Arab pada dewa² mereka. Istilah ”Dalam namamu, Allah adalah mereka” mengungkapkan tujuan gelap mereka untuk bersaing dengan konsep Alkitab tentang ketuhanan yang melarang siapapun memuliakan tuhan manapun kecuali Trinitas.


Ibadah Haji Dilanjutkan ke Muzdalifah di mana Peziarah Pagan Menyembah Bulan

Aku akan kembali pada diskusi kita mengenai apa yang terjadi dalam bulan ibadah haji. Telah aku sebutkan bahwa pada hari kesembilan dalam bulan peribadahan yang disebut Du al-Hijjah, para peziarah berada pada bukit Arafah sampai dengan matahari terbenam, meneriakan “Allah adalah mereka, aku berada di sini.” Setelah matahari terbenam, para peziarah memulai sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang disebut al-Muzdalifah, di mana mereka akan bermalam dan melakukan sembahyang malam. Hari kedua, hari kesepuluh bulan peribadahan Du al-hijjah, mereka melakukan Waqfa sebelum matahari terbit, yang berarti mereka berdiri dan berseru kepada Allah.

Ketika kami mempelajari buku² yang berisi Hadits Muhammad dan mendapatkan penjelasan mengenai kehidupannya, kami menemukan Muzdalifah adalah sebuah tempat di mana orang² Arab pagan dari area sekitar Mekah dan Medina sering datang untuk bersembahyang. Mereka bersembahyang dari saat bulan terbit sampai menghilang. Buku² al-Bukhari dan Sahih Muslim adalah dua buku yang dapat dipercaya yang berisi hadits Muhammad. Mereka mengutip kata² Abdulah, pembantu Asmaa, saudari Aishah, istri termuda Muhammad:

Asmaa pergi ke Muzdalifah, dan mulai bersembahyang. Dia melakukannya selama satu jam, kemudian dia berkata,”Anakku, apakah bulan telah hilang?” Aku menjawab”tidak.” Kemudian dia bersembahyang selama satu jam dan berkata,”Apakah bulan telah menghilang?” Aku berkata “ya”, dan dia berkata “ayo pergi,” maka kami pergi dari sana. [26]
[26] Sahih Muslim 9, hal. 39; Bukhari, 2, hal. 178

Muhammad, dalam salah satu haditsnya, juga mengatakan mengenai bersembahyang di Muzdalifah sampai bulan menghilang. [27] Kata2 ini memberitahu kita bahwa Muzdalifah berlokasi di sebuah tempat di mana para peziarah Keluarga Dewa Bintang Arab dimuliakan dan penyembahan bulan. Oleh karena itu, Asmaa bersembahyang di Muzdalifah selagi bulan sedang terbit di langit, dan dia tidak dapat berhenti sembahyang selagi bulan masih tampak. Dia baru berhenti setelah mengetahui bahwa bulan telah menghilang. Sudah jelas bahwa Muzdalifah merupakan tempat di mana bulan berada di fase yang tepat untuk mulai disembah di saat ibadah haji. Fakta bahwa peziarah harus meninggalkan Arafa setelah matahari terbenam, menunjukkan bahwa mereka telah memenuhi kewajiban mereka kepada matahari pada tingkatan ini dalam ibadah haji, dan bahwa mereka tidak perlu tidur di Arafah, lokasi yang dipersembahkan kepada matahari dalam ibadah haji. Barangkali, bahkan sebelum ibadah haji diadakan, mereka mencapai Muzdalifah pada malam hari ketika bulan disembah.
[27] Bukhari, 2, hal. 178

Pembahasan ibadah haji dan akar pagan Arabnya di bagian ini merupakan usaha untuk membantu para teman Muslim untuk mengerti makna Arab sebenarnya dari ritual haji dan agar mereka sadar bahwa ini bukan ibadah bagi Tuhan yang sebenarnya. Bahkan sekalipun Muhammad membubuhi penyembahan berhala para kakek moyangnya dengan banyak pembualan di sana sini, hal itu tidak membuat ibadah penyembahan ini sebagai hal yang benar.

Kita telah melihat pusat² ibadah haji yang berlokasi dekat Mekah. Pada masa sebelum ibadah haji Islam, setiap tempat ibadah mempunyai tempat khusus untuk menyembah setiap anggota dewa² Keluarga Dewa Bintang Arab. Kita telah mempelajari bahwa peziarah berhenti untuk menyembah matahari di Arafah dan mereka menyembah bulan di Muzdalifah. Aku akan meneruskan penjelasan mengenai tahapan² dalam upacara ibadah haji.

Berbagai suku yang berbeda lebih memilih lokasi ibadah haji tertentu dibandingkan lokasi lain. Pada masa lalu, kita anggap saja bahwa lokasi² ini tidak berhubungan. Sebuah suku akan mempersembahkan sebuah tempat khusus bagi satu anggota Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab. Pada akhirnya, mereka menyatukan dan mengkoordinasikan semua tempat² penyembahan ini, menjadi satu dalam peribadahan haji agung, diterima oleh semua suku yang sebelumnya menghormati individu dewa bintang tertentu yang lebih mereka sukai.

Waqfa adalah sebuah sikap berhenti dan berdiri di hadapan Allah dalam ibadah haji. Para peziarah melakukan waqfa di Muzdalifah. Mereka selalu berhenti di Muzdalifah sebelum matahari terbit. Ini mengkonfirmasi bahwa, sebelum mereka menyatukan ritual², Muzdalifah adalah sebuah tempat yang dipersembahkan secara eksklusif untuk menyembah bulan, dan hanya dalam beberapa jam pada malam harinya sebelum matahari terbit diberikan para pemuja kesempatan dengan bulan jazirah Arab sebelum menghilang. Mereka melakukan sedikitnya dua kali waqfa, sekali pada malam harinya dan yang berikutnya sebelum matahari terbit, sebelum bulan menghilang.


Di Muna, atau Mina, mereka mempunyai sebuah pusat peribadahan dalam ibadah haji yang dipersembahkan untuk menyembah Manat, salah satu dari dua putri Allah.

Para peziarah mengunjungi Muna sebelum matahari terbit untuk melaksanakan ritual² khusus. Pertama-tama, mereka melemparkan tujuh buah kerikil atau bebatuan kecil, pada sebuah gunung mini; kedua, mereka mengorbankan binatang; dan ketiga, mereka memotong rambut mereka, secara resmi menyelesaikan ibadahan haji. Ritual² yang dilakukan umat Muslim ini sama dengan ritual² yang dilakukan orang² Arab ketika melakukan ibadah penyembahan dan persembahan pada Manat, salah satu dari dua putri Allah.

Muna, atau Mina’, adalah sebuah tempat penting dalam peribadahan. Kita melihat ini melalui cara peziarah melemparkan tujuh buah bebatuan. Mekah berada pada sisi kiri mereka dan Muna berada pada sisi kanan. [28] Dalam pikiran orang² Arab, meletakkan Mekah pada sisi kiri berarti Mekah mempunyai arti yang kurang penting daripada Muna di mana mereka memuliakan Manat, salah satu dari dua putri Allah, dan seorang dewi khusus dalam Keluarga Dewa Bintang. Nama2 untuk Muna dan Manat, putri² Allah, mempunyai arti yang sama, yaitu “harapan” (Muna), atau “cita²” (Manat). Manat banyak disembah di berbagai lokasi di dalam dan di sekitar Mekah dan Medina. Medina adalah kota di mana Muhammad hijrah. Salah satu tempat penyembahan adalah Mashlal, tujuh mil dari Medina. [29] Juga ada banyak tempat untuk menyembah Manat di antara Mekah dan Medina; salah satunya adalah Khadid, [30] dan lain²nya di sepanjang pesisir pantai. [31] Kami asumsikan bahwa Muna, atau Mina’, adalah lokasi utama dalam peribadahan untuk menyembah Manat, karena Muna diberi nama mengikuti Manat.
[28] Sahih Muslim 9, hal. 42 and 43
[29] Taj Al Aruss 10, hal. 351; Tafsir al-Tabari 27
[30] Al-Tabarsi al-Fadl ibn al-Hasan, Majma' al-Bayan fi tafsir al-Qur'an, 9, hal. 176; Yaqut al-Hamawi, Mujam Al Buldan 2: 944; Jawad Ali, vi, hal. 246
[31] Al-Ya'akubi, I, hal. 312


Menurut banyak sejarawan Arab yang menulis mengenai masa jazirah Arab sebelum Islam, seperti Ibn al- Kalbi, masyarakat suku Khazraj dan Oas lebih terikat pada Manat. [32] Kedua suku ini membantu Muhammad mengobarkan perang melawan orang² Arab untuk menundukkan mereka di bawah Islam. Itulah salah satu alasan Muhammad memasukkan perayaan² ibadah haji ke Muna ke dalam peribadahan haji Islam. Dalam rangka Muhammad menyenangkan Khazraj dan Oas, dia mengadopsi banyak hukum2 keagamaan dan perayaan mereka. Dia mengambil hari Jum’at yang merupakan hari di mana kedua suku bersembahyang, dan meneruskan peribadahan di antara kedua batu Safa dan Marwa, ritual yang biasa dilakukan oleh kedua suku ini.
[32] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 14 ; juga lihat Yaqut al-Hamawi, Mujam Al Buldan 8, hal. 169

Mashlal adalah tempat yang berjarak tujuh mil dari Medina di mana Khazraj dan Oas tinggal. Ada sebuah kuil di sana, dibangun disekeliling sebuah batu yang melambangkan Manat. Kuil itu memiliki suatu Sidneh, atau pelayanan, seperti yang dilakukan dalam kuil di Mekah. [33] Kuil lainnya untuk Manat adalah di Khadid. Di antara suku² yang menyembahnya adalah Khuzaa’h, suku yang membangun Mekah. [34]
[33] Tafsir al-Tabari 27, hal. 35
[34] Tafsir al-Tabari 27, hal. 35



Manat adalah dewi hujan dan orang² Arab berdoa meminta hujan kepadanya. Pada akhir ibadah haji mereka, mereka mempersembahkan korban binatang kepada Manat.

Manat, awalnya adalah sebuah planet, yang dilambangkan dengan sebuah batu, dan pada batu inilah korban binatang diletakkan sebagai persembahan kepada berbagai dewa saat upacara ibadah haji. Menurut berbagai sumber, hal ini dilakukan karena dua hal yang berhubungan dengan Manat. Pertama, kata Mana berarti “untuk menumpahkan darah,” yang menyiratkan bahwa batu Manat diberi nama begitu karena semua binatang korban disembelih di atas batu itu. [35] Kedua, karena Manat berarti “harapan atau cita²,” dan pada batu inilah berbagai suku datang untuk mempersembahkan kurban binatang mereka, sebagai lambang harapan mereka sendiri dan permohonan akan hujan. [36] Keterangan ini adalah untuk menjelaskan asal-usul dan motivasi kegiatan naik haji jaman dulu, dan masih dilakukan Muslim jaman sekarang. Perhatikan bahwa penyembelihan binatang hanya terjadi di tempat Muna saja. Suku² lain di wilayah yang sama mempersembahkan korban binatang pada dewa² mereka di atas batu Manat.
[35]Tafsir al-Tabari 27, hal. 32
[36]Tafsir al-Tabari 27: 32; Al Zamkhari al- Khawarismi, Al Kashaf , 3, hal. 144


Kita juga melihat bahwa salah satu tujuan dari peribadahan haji dalam masa sebelum Islam adalah memohon hujan kepada dewa². Itu sebabnya mereka mempersembahkan korban² binatang mereka dan menyelesaikan ibadah haji di tempat Manat disembah karena Manat adalah dewa dengan siapa mereka mohon hujan. Kekeringan dan hujan adalah masalah yang serius bagi orang² Arab. Kelihatannya bahwa ketika musim hujan berakhir selama beberapa bulan, suku² Arab di area sekitar Mekah dan Medina menyiapkan suatu retreat khusus ke bukit², untuk memohon anggota² Keluarga Dewa Bintang Arab menurunkan hujan. Permohonan selesai ketika mereka mempersembahkan korban mereka kepada Manat, dewi yang mereka pikir mampu mengabulkan harapan mereka akan hujan.

Ibadah haji Islam sama dengan ibadah haji yang dilakukan oleh suku² Arab pagan dalam memohon kepada dewa² untuk memberikan mereka hujan. Setelah Islam muncul, Mekah ditambahkan ke dalam ritual ibadah haji ini, dan perayaan² lain juga diselenggarakan.

Ibn al-Kalbi, yang menulis mengenai tradisi orang² Arab sebelum Islam, menyebutkan sebuah peribadahan yang suku² Khazraj dan Oas, bersama-sama dengan suku² Ozd dan Ghassan, laksanakan di al-Mashlal, sebuah tempat yang berjarak tujuh mil dari Medina dan dipersembahkan untuk menyembah Manat. Dia berkata:

Mereka biasanya melaksanakan sebuah peribadahan berziarah dan melakukan “waqfa,” suatu sikap berhenti, di beberapa tempat. Mereka tidak akan memotong rambut mereka. Ketika mereka menyelesaikan kunjungan pada berbagai tempat peribadahan haji, mereka akan mendatangi Manat, di mana mereka memotong rambut mereka. Mereka tidak menganggap peribadahan mereka lengkap tanpa melakukan ini. [37]
[37] Al Azruqi, Akhbar Mecca, 1, hal. 73; Al Kalbi, Alasnam, hal. 14; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 8, hal. 169

Hal ini persis terjadi kini dalam peribadahan haji Islam. Setelah peziarah mengunjungi beberapa tempat berbeda, mereka berhenti di bukit Arafah, di mana orang² Arab melakukan “waqfa” untuk menyembah matahari. Mereka meneruskan ke Muzdalifah, di mana mereka berhenti untuk menyembah bulan, kemudian menyelesaikannya di Muna, di mana mereka mempersembahkan korban dan memotong rambut mereka. Ritual haji Islam mencerminkan ritual pagan yang sama seperti yang dilakukan pada masa sebelum Islam. Orang² pagan Arab bersatu dan berusaha keras untuk memohon dewa² mereka, khususnya matahari, bulan dan Manat, tiga dari empat anggota² Keluarga Dewa Bintang. Hal ini terjadi sebelum akhirnya planet Venus menggantikan bulan sebagai penyandang gelar Allah. Peribadahan haji, seperti yang aku sebutkan, kemungkinan besar bertujuan memohon hujan. Karena persembahan korban dan pemotongan rambut mereka merupakan tahap akhir dari ibadah haji orang pagan Arab, kita mengetahui bahwa peribadahan haji berakhir secara resmi di Muna. Segala sesuatu yang muncul belakangan, dan dilakukan dalam Islam kini, merupakan penambahan pada perayaan² kuno dari peribadahan haji yang dilakukan sebelum Islam.

Muhammad menambahkan beberapa hal pada peribadahan haji pagan, misalnya para haji Muslim harus kembali ke Mekah. Orang² mengelilingi Kaabah di Mekah sebanyak tujuh kali. Mereka yang tidak melaksanakan Umra, atau haji kecil, harus menjalani rute di antara dua bebatuan Safa dan Marwa tujuh kali sebelum kembali lagi ke Manat di mana kondisi khusuk. Yang disebut Ihram, selesai. Para peziarah memasuki kondisi penghiburan dan kesenangan dalam masa hari ke 11,12 dan 13 Du al-Hijjah, bulan haji. Para peziarah diperintahkan untuk melempar batu2 ke semua arah. Mereka meminum air dari sumur Zamzam dan mengunjungi makam Muhammad.

Berikutnya, tiga suku kembali ke Mekah setelah melaksanakan peribadahan haji ke Manat. Beberapa perayaan telah ditambahkan pada peribadahan haji aslinya.

Perayaan pertama adalah kembali dari Muna atau Mina, ke Mekah. Kami menemukan kunci ke perayaan ini dalam narasi² penulis Arab yang menulis mengenai peziarahan dan tradisi keagamaan suku² di jazirah Arab tengah bagian barat. Mereka memberitahu kita bahwa suku² Khuzaa’h, Oas dan Khazraj memuliakan Manat di Mashlal, sekitar tujuh mil dari Medina. Itu adalah tempat utama di mana Manat disembah, dan dari Manat mereka kembali berbaris di sekitar Kaabah Mekah. [38]
[38] Tafsir Ibn al-Kathir 4, hal. 252

Dari hal ini kita melihat bahwa suku Khuzaa’h, yang pertama kali membangun Mekah pada masa abad keempat Masehi, akan pergi ke batu Manat untuk mempersembahkan korban mereka, memohon hujan. Bagi Khuzaa’h, kembali untuk mengelilingi Kaabah dapat dimengerti, karena Kaabah tersebut adalah kuil mereka, dibangun bagi mereka oleh pemimpin Himyarite, Abu Karb Asa’d, ketika dia menduduki Mekah. Dia memerintah di Yaman dari tahun 410 ~ 435 Masehi. Dewa utama bagi Khuzaa’h adalah Venus, yang disebut “Allah”, gelar yang diambil alih dari bulan. Bagi Khuzaa’h, memuliakan Manat, putri Allah, dan memohon kepadanya untuk hujan tanpa kembali kepada ayahnya, Allah, di rumahnya di Ka’bah di Mekah, berarti bersikap tidak setia kepada pimpinan Keluarga Dewa Bintang Arab. Maka mereka diperintahkan untuk kembali ke Ka’bah dan mengelilinginya. Bukanlah Quraish,suku Muhammad, yang menduduki Mekah dan mengusir Khuzaa’h. Quraish tidak masuk daftar dengan ketiga suku yang kembali dari batu Manat untuk mengelilingi Kaabah.

Muhammad menambahkan Mekah ke dalam peribadahan Haji, mengikutkan tradisi okultis Oas dan Khazraj dalam peribadahan haji mereka yang disebut Umra’, yang dilakukan kepada dua tugu pendeta kuno agama jinn Mekah.

Kedua suku lainnya, yang biasa mengunjungi Manat dan kembali ke Mekah, adalah Oas dan Khazraj. Inilah kedua suku yang membantu Muhammad menundukkan orang² Arab dan membuat mereka memeluk Islam melalui ancaman pedang. Ketika kita mempelajari sejarah keagamaan dan ritual suku² ini, kita mengerti mengapa Oas dan Khazraj akan kembali ke Mekah setelah melaksanakan sebuah peribadahan haji kepada Manat. Kedua suku ini melakukan sebuah peribadahan haji khusus kepada dua tugu yang, menurut tradisi, adalah dua pendeta agama jin-setan. Kedua pendeta tersebut adalah Isaf, seorang pria dan Naila, seorang wanita. Orang² Arab di sekitar Mekah dan Medina mempercayai bahwa kedua pendeta ini berzinah dalam Kaabah, dan diubah menjadi batu² oleh para dewa. Batu² ini dimuliakan dan disebut Rukun yang terletak di Kaabah di Mekah. Karena batu² tersebut ditempatkan di mana dewa utama berdiri di dalam kuil Ka’bah, kita dapat mengerti nilai penting Isaf dan Naila dalam system pemujaan Mekah.

Oas dan Khazraj, seperti juga para pemuja² lainnya yang memuliakan pendeta² kuno agama jin-setan, Isaf dan Naila , mempunyai sebuah peribadahan haji khusus yang disebut Umra’. Mereka memulai Umra dengan menciumi kedua patung Isaf dan Naila di Mekah. Tetapi suku² Oas dan Khazraj, tidak menciumi patung yang asli, tapi replika patung² tersebut yang ditempatkan di pantai di arah yang berhadapan dengan Mekah. Kemudian mereka pergi ke sebuah bukit dekat Mekah ke dua batu yang disebut Safa dan Marwa, di atas mana ditempatkan patung² lain dari Isaf dan Naila . Mereka berjalan bolak balik tujuh kali di antara kedua batu ini, kemudian kembali ke Mekah untuk mencium kedua patung Isaf dan Naila . Kedua batu Safa dan Marwa berhubungan dengan pemujaan okultis.

Pada Umra ini, atau peribadahan haji kecil, ditambahkan kegiatan meminum air dari sumur Zamzam, di mana patung² lain Isaf dan Naila , pendeta2 kuno agama jin-setan, ditempatkan. Muhammad memasukkan ibadah haji kecil ke dalam ibadah haji besar. Hanya tiga suku yang kembali ke Mekah setelah menyelesaikan ibadah haji besar di Muna. Mereka adalah Khuzaa’h, pendiri Mekah, dan Khazraj dan Oas, kedua suku dari Medina.

Aku menyebutkan bahwa masyarakat Khuzaa’h kembali ke Mekah setelah mengunjungi Manat, untuk memuliakan dewa mereka, Allah, atau Venus. Oas dan Khazraj kembali ke Mekah untuk memenuhi sumpah mereka untuk menyembah Isaf dan Naila , patung² para pendeta terkenal agama jin-setan, sebelum mereka melanjutkan ibadah haji dengan pergi ke Safa dan Marwa, di mana kedua patung Isaf dan Naila ditempatkan. [39] Kemudian mereka melanjutkan ke sumur Zamzam, yang hanya memiliki Isaf dan Naila . Perjalanan keliling di sekitar patung² Isaf dan Naila ini adalah sebuah indikasi yang jelas bahwa pendeta² agama jin merupakan subyek ibadah Umra yang diadakan untuk menghormati mereka.
[39] Al Shahrastani, Al Milal Wa Al Nah'el, hal. 578

Patung² Isaf dan Naila ditempatkan di dekat sumur Zamzam oleh Abdul Mutaleb, kakek Muhammad, orang yang pertama kali menggali sumur tersebut. Abdul Mutaleb adalah seorang penganut agama jin Arab yang mengekeramatkan Isaf dan Naila , sehingga dia menempatkan patung² mereka di atas sumur yang dia gali.

Kini, kita telah melihat melalui sebuah studi mengenai sejarah, bahwa Muhammad memasukkan ibadah haji kecil atau Umra yang mana adalah, dalam masa sebelum Islam, bagian dari agama Jin Arab, ke dalam ibadah haji besar. Dia melakukan itu untuk menyenangkan kedua suku Khazraj dan Oas, yang menerima dia sebagai pemimpin mereka, dan menerima agendanya untuk menundukkan orang² Arab dan di bawah Islam melalui banyak peperangan. Tetapi jauh sebelum masa sebelum Islam, Mekah tidak berhubungan apapun dengan peribadahan haji yang disebut peribadahan haji besar Islam. Sebaliknya, Mekah melakukan Umra’, ibadah okultisme haji agama jin Arab.

Aku ingin mengajukan pertanyaan penting bagi teman² Muslim. Apakah agama okultis kedua suku yang membantu Muhammad memaksa orang² Arab menjadi Islam dan tradisi pagan meminta hujan pada dewa² mereka, merupakan ibadah yang layak dijaga dan diimani oleh pikiran dan hati ketika engkau rindu akan kebenaran Tuhan ?


“Ibadah haji besar” yang dimasukkan ke dalam Islam, adalah sebuah ibadah ziarah yang diciptakan oleh beberapa suku lokal pagan di daerah sekitar Mekah dan Medina.

Aku sebelumnya telah menyebutkan bahwa hanya tiga suku yang kembali ke Mekah untuk mengelilingi Ka’bah setelah melakukan ibadah haji ke Manat, yang berlokasi dekat Medina. Suku2 tersebut adalah Khuzaa’h, Oas dan Khazraj. Hal ini memberitahu kita bahwa Mekah mempunyai arti penting khusus bagi suku² ini secara istimewa, tetapi menyelesaikan ibadah haji dengan kembali ke Mekah tidak dianggap sebagai bagian dari ibadah haji apapun bagi suku² Arab lainnya. Kebanyakan suku² yang terlibat dalam ibadah haji pagan aslinya di sekitar Arafah, Muna dan Muzdalifah, adalah suku² yang tinggal di wilayah di sekitar Mekah dan Medina. Ketiga lokasi ini, Arah, Muna dan Muzdalifah, menarik sejumlah kecil suku² lokal, yang mengindikasikan bahwa ibadah haji berasal dari sebuah perayaan lokal untuk penyembah matahari, bulan dan Manat, putri Allah. Tidak satupun suku² Arab bagian timur, utara maupun selatan yang terlibat dalam ibadah haji ini, walaupun mereka termasuk di antara suku² terkuat di jazirah Arab.

Kita mengetahui suku² mana yang memulai ibadah haji sebelum munculnya Islam dengan menguji jenis² perayaan yang dilakukan setiap suku pada seiap pusat ibadah haji. Setiap suku menghormati dewa2 favoritnya sendiri di antara anggota2 Keluarga Dewa Bintang. Quraish, suku asal Muhammad, menjadikan Muzdalifah sebagai pusat lokasi peribadahan haji. Muzdalifah adalah sebuah tempat khusus untuk menghormati dan menyembah bulan dalam perayaan ibadah haji. Aisyah, istri termuda dan yang paling disayangi Muhammad, melaporkan banyak hadits Muhammad dan menjelaskan tradisi² Jahiliyah. Aishah mengatakan:

Quraish, dan semua yang mengikuti agama Quraish, disebut Hummas, biasa melakukan waqfa, atau saat berhenti dalam ibadah haji di Muzdalifah, sementara yang lainnya berhenti di Arafah. Ketika Islam muncul, Allah memerintahkan nabinya untuk datang ke Arafah dan menjadikannya tahap berhenti ibadah sebelum melanjutkan ke lokasi lain dalam ibadah haji, seperti Muzdalifah dan Mina. [40]
[40] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 158

Quraish ingin menghormati bulan, yang merupakan pimpinan Keluarga Dewa Bintang, maka mereka membuat sebuah ibadah haji yang didisain untuk kembali ke Mina’ untuk memohon hujan kepada Manat, putri Allah. Kelompok yang lain memilih Arafah sebagai waqfa mereka, atau penghentian utama. Mereka melakukannya untuk menekankan pentingnya Ellat, yaitu matahari, dan dewa favorit mereka di antara Keluarga Dewa Bintang. Kita melihat bahwa, sebelum Islam, Arafah, yang terletak di antara bukit² di mana suku² Arab melakukan ibadah haji, merupakan tempat di mana matahari dimuliakan dan disembah.
Sebelum Islam, persaingan di antara penyembah Matahari dan penyembah Bulan sangatlah jelas dalam ibadah haji. Umar Bin al-Khattab, Khalifah kedua Muhammad, dan salah satu dari mertua Muhammad, mengatakan:

Kaum pagan tidak melangkah setelah waqfa mereka sendiri, kecuali kalau matahari telah terbit. Muhammad telah menentang tradisi mereka, memulai langkahnya sebelum matahari terbit.[41]
[41] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 235

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Thu Apr 14, 2011 4:01 am
by Adadeh
Kita bisa mengerti adanya pertentangan diantara ritual² haji pagan ketika menyadari bahwa Ellat, matahari, merupakan dewa utama bagi banyak suku² Arab di wilayah tersebut. Mereka tidak dapat meninggalkan waqfa sebelum matahari terbit. Karena Bani Hasyim, suku kerabat Muhammad, adalah bagian dari suku Quraish, yang lebih terikat pada bulan, maka mereka tidak mempunyai masalah untuk mengabaikan matahari terbit. Dalam tradisi mereka, bulan lebih dihormati daripada matahari. Muhammad mengaku bahwa bulan menatap kepadanya dengan lembut dan kasih ketika dia masih kanak². Muhammad berkata bahwa dia mendengar suara bulan ketika ia bersujud di depan singgasana Allah [42]
[42] Halabieh, I, 127 and 128

Suku Sufa melakukan perayaan keagamaan mereka dari Arafah ke Muna. Di Muna mereka melakukan pelemparan batu² (jumroh). Seorang Sufa secara khusus ditugaskan untuk melempar batu pertama. Tidak seorangpun boleh melempar batu sebelum dia melakukannya. [43] Hal ini menunjukkan bahwa Sufa memulai ibadah haji pertama, atau peribadahan ziarah, yag dimulai di Arafah, dan dilanjutkan ke Muna. Tampaknya merekalah yang pertama menciptakan hukum² awal dan ritual², dan mengarahkan ibadah haji kedua lokasi. Pertama, mereka menghormati matahari di Arafah; kemudian mereka melanjutkan ke Muna, di mana mereka memohon hujan dalam perayaan² yang dilakukan bagi Manat, pemotongan rambut, dan pelemparan batu². Semua ini dimulai oleh suku Sufa dan dilakukan di Muna.
[43] Ibn Hisham, I, hal. 100; Tarikh al-Tabari, I, hal. 507


Qusayy Bin Kilab, kakek moyang Muhammad generasi ke-8, mendorong dilaksanakannya ibadah haji lokal setelah dia menduduki Mekah, walaupun dia maupun anggota tak menciptakan aturan upacaranya.

Sampai masa Qusayy’, Sufa memimpin upacara ibadah haji. Qusayy, pendahulu kedelapan Muhammad, juga orang yang mengumpulkan banyak keluarga untuk bersama-sama membentuk persekutuan yang kemudian menjadi Quraish, dan menduduki Mekah, mengusir suku Khuzaa’h yang mendirikan kota tersebut. Qusayy kemudian memerangi suku Sufa, yang mengembangkan peribadahan haji yang memasukkan Arafah dan Mina.[44] Ketika Qusayy Bin Kilab menemukan sejumlah orang2 Arab pagan melakukan ibadah haji sebagai bagian dari tradisi pagan mereka, dia mendorong mereka untuk meneruskan ritual² ini. [45]
[44] Tarikh al-Tabari, I, hal. 507
[45] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508


Qusayy berasal dari Yaman, yang berarti bahwa tidak seorangpun dari kakek moyangnya yang pernah mengambil bagian dalam peribadahan haji. Bahkan setelah Qusayy menduduki Mekah, tidak seorangpun dalam keluarganya memimpin perayaan² dalam peribadahan haji. Faktanya, kita diberitahu dalam Tabari bahwa, setelah Sufa diusir, klan al-Safwan mengambil alih tanggungjawab untuk peribadahan haji. [46] Semua fakta² sejarah ini menunjukkan kepada kita bahwa Quraish, suku dari mana Muhammad berasal, tidak berhubungan apapun dengan peribadahan haji. Maka, ngotot mengaku bahwa Quraish adalah suku yang religius yang sudah ada sejak jaman Ismael, dan merupakan pemimpin agama dalam perayaan² keagamaan di jazirah Arab, adalah tidak sesuai sejarah dan menggelikan.
[46] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508

Pada awalnya, ibadah haji dilakukan oleh dua kelompok; yang satu menyembah matahari, dan yang lain menyembah bulan. Kemudian, kedua upacara agama itu digabung dalam satu ibadah haji.

Udwan adalah suku lain yang memulai peribadahan haji berdasarkan penyembahan bulan di Muzdalifah. Mereka melakukan waqfa keagamaan di Muzdalifah; kemudian mereka berjalan menuju Muna. [47] Jelaslah bahwa mereka utamanya menyembah bulan. Perbedaan di mana Sufa dan Udwan memulai peribadahan haji menunjukkan bawa ibadah haji pada masa sebelum Islam bukanlah sebuah perayaan yang disatukan, tetapi terpisah bagi kedua kelompok – penyembah matahari dan penyembah bulan. Meskipun terpisah, mereka mempunyai satu kemiripan. Perayaan² kedua group berakhir dengan sebuah kunjungan ke Mina’, lokasi terdekat di mana Manat, putri Allah dan dewi hujan, dimuliakan. Mereka keduanya mempunyai tujuan yang sama: memohon hujan.
[47] Ibn Hisham I, hal. 101

Quraish dan kelompok fanatik, Hummas, mengikuti Udwan dalam perayaan mereka untuk memohon hujan, dimulai di Muzdalifah dan diteruskan ke Muna. Kelompok lainnya mengikuti Sufa, dimulai di Arafah, di mana mereka menyembah matahari, dan menyelesaikannya di Muna di mana mereka memuliakan Manat, dewi hujan. Walaupun kedua perayaan tersebut kemudian disatukan, setiap kelompok meneruskan penghormatan pada dewa mereka sendiri, melakukan waqfa, atau perhentian, pada tempat² yang sama, dan pada bukit² yang sama. Ketika Muhammad meguasai wilayah tersebut, dia mencontek tradisi kuno yang dikembangkan suku Sufa dan mewajibkannya pada yang lain, membuat perhentian setiap orang di Arafah.


Muzdalifah, dan penyembahan Okultis di jazirah Arabia barat tengah

Sekarang mari kita telaah Muzdalifah, dan penyembahan okultis di jazirah Arab Barat bagian tengah. Perhentian ibadah haji yang disebut Muzdalifah telah disebutkan oleh pengarang Arab yang menulis tentang tradisi Arab sebelum Islam. Mereka mengatakan bahwa Muzdalifah adalah tempat yang memiliki sebuah gunung yang disebut Khazeh قزح , berasal dari nama setan. [48] Khazeh adalah sebuah berhala Arab yang terkenal, [49] dan hal ini menunjukkan bahwa penyembahan setan Khazeh, telah menyebar ke dalam jazirah Arab Barat bagian tengah, khususnya di sekitar Mekah dan Medina. Jawad Ali, seorang cendekiawan Irak, mempercayai bahwa berhala ini disembah di Muzdalifah. [50] Sejarawan Arab mengatakan bahwa sebelum Islam, orang yang memimpin upacara ibadah di Muzdalifah, berdiri di atas gunung Khazeh.[51]
[48] Taj Al Aruss 2, hal. 207
[49] ] Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 384
[50] Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 384
[51] Taj Al Aruss 2, hal. 207


Agama Jin-setan di jazirah Arab, dan penyembahan Bintang Arab, menjadi dua agama utama di jazirah Arab. Kaabah di jazirah Arab sering mempunyai Kahin imam agama jin yang menjadi pendeta²nya. Maka, banyak dari perayaan² kedua agama ini telah dicampuraduk atau disatukan. Orang² Arab menganggap jin-setan sebagai keluarga Allah. Ini memberitahu kita megapa Muzdalifah penting bagi orang² Arab pagan di jazirah Arab tengah sebelum Islam. Itu adalah sebuah tempat di mana kedua setan, Khazeh dan bulan disembah.

Muhammad menambahkan perayaan lain ke dalam peribadahan haji: Orang² wajib berjalan bolak-balik tujuh kali di antara dua batu, Safa dan Marwa. Muhammad melakukan ritual ini walaupun tidak disukai secara diam² oleh beberapa pengikutnya, yang melihatnya sebagai sebuah ritual pagan yang berhubungan dengan jaman Jahiliyah dan dilakukan dalam masa sebelum Islam.

Berjalan tujuh kali di antara kedua batu, Safa dan Marwa, merupakan tradisi jaman Jahiliyah, periode pagan sebelum Islam. Hal ini dibenarkan oleh penulis² biografi Muhammad dan perawai yang dapat dipercaya mengenai perkataan² dan kebiasaannya. Ibn Abbas, salah satu dari koresponden terpenting Muhammad mengkonfirmasikan bahwa berjalan di antara Safa dan Marwa adalah tradisi masa Jahiliyah. [52] Perawai penting lainnya dari hadits Muhammad adalah Uns Bin Malek, yang mengatakan:
[52] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 238

Asem memberitahu kami dengan mengatakan”Aku mengatakan kepada Uns Bin Malek, engkau biasanya membenci untuk berjalan dalam melakukan peribadahan ziarah di antara Safa dan Marwa.” Dia menjawab, “ya,” karena itu berasal dari ritual² pagan pada masa Jahiliyah sampai Allah menginspirasikan hal itu” Safa dan Marwa berasal dari ritual² Allah, dia yang melakukan ibadah haji ke kuil, atau ibadah haji Umra’, tidak berdosa jika dia melintasi di sekitar mereka,” [53] mengutip Q 2:158.
[53] Sahih al-Bukhari, 2 , hal. 171

Alasan mengapa beberapa orang muslim pengikut Muhammad membenci peribadahan yang melibatkan Safa dan Marwa adalah karena karena ibadah itu berasal dari ritual² pagan dari masa Jahiliyah. Mereka sangat sadar akan hubungannya dengan penyembahan okultis. Sahih Muslim, kitab² hadits terpercaya lainnya, mengungkapkan bahwa mayoritas kaum muslim menentang kecenderungan beberapa orang muslim yang menganggap Safa dan Marwa sebagai bagian dari peribadahan haji. Mereka yang menolak untuk berada di hadapan Safa dan Marwa dipersenjatai dengan pengetahuan bahwa pemujaan demikian berasal dari pagan Jahiliyah. [54]
[54] Sahih Muslim 9, hal. 23

Tetapi Muhammad mengklaim bahwa dia diberi wahyu untuk menulis sebuah ayat baru Qur’an. QS 2:158 menyatakan:
Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. (2:158)
Dengan cara ini ritual Safa dan Marwa menjadi sebuah ritual Allah.

Peribadahan haji pagan ini, terbatas pada beberapa suku Arab di sekitar Mekah dan Medina, menjadi salah satu dari pilar² utama Islam, seperti Jihad. Muhammad mencoba menarik orang² Arab pagan dengan mengadopsi ritual² mereka dan ibadah haji mereka ke Arafah, Muzdalifah dan Mina, di mana mereka menyembah ketiga anggota dari Keluarga Dewa Bintang Arab. Dengan begitu, mereka jadi terlibat penyembahan okultis di Muzdalifah, di mana perayaan² bagi setan Khazeh dilakukan.

Walaupun kita mengetahui nama suku² pagan yang menciptakan peribadahan haji ini, tradisi Islam lalu mengaitkan ritual² ini kepada Abraham, walaupun ia tidak pernah menginjakkan kakinya di jazirah Arab Barat bagian tengah. Menghubungkan perayaan² pagan ini dengan Abraham dapat menipu mereka yang hanya menerima pernyataan² Islam tanpa membandingkan dengan fakta sejarah.


ASAL USUL PERAYAAN² IBADAH HAJI

Bulan di mana ibadah haji dilakukan disebut Du al-Hijjah. Ibahad haji, atau ziarah keagamaan, adalah tradisi yang dipraktekkan oleh orang² Arab pagan, dalam mana mereka melakukan perjalanan untuk mengunjungi dewa² mereka dan kuil²nya. Bulan di mana ibadah haji Islam dilaksanakan adalah sama dengan bulan orang² Arab pagan melakukan ibadah haji mereka. Di antara tulisan yang ditemukan di jazirah Arab, istilah “Du Hajjinin,” yang mana berarti “Du al-Hijjah,” merupakan bulan yang sama orang² Arab pagan melaksanakan ibadah ziarah haji mereka. [55]
[55] D.Nielsen, Die Altarabischen Mondreligion (Strassburg, 1904), S. 86; Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 348

Masyarakat Arab Utara memiliki bulan tertentu di mana mereka mengunjungi kuil² mereka dan memuliakan dewa² mereka. Epiphanius membicarakan mengenai bulan ini di mana masyarakat Arab pagan melaksanakan ritual² ibadah haji mereka. [56] Kaum muslim di jaman sekarang juga melaksanakan ibadah haji pada bulan yang sama, yakni di bulan Du al-Hijjah. Sementara sejarawan² kuno juga menulis mengenai bulan² suci bagi orang² Arab, Photius menulis mengenai bulan2 yang dianggap “Haram”, yang berarti masyarakat Arab setuju untuk tidak berperang di bulan² tersebut. Sejarawan Winekler, telah menjelaskan bahwa bulan² itu adalah bulan² yang sama ketika orang² Arab melaksanakan ibadah haji, dengan tambahan puasa, yang mereka sebut bulan Ramadan. [57] Dalam masa bulan Du al-Hajjeh, setiap orang Arab pergi ke kuilnya, atau bukit khusus, untuk menyembah dewanya sendiri. Ada banyak tempat di mana orang2 Arab biasa melaksanakan peribadahan haji.[58]
[56] Shorter Encyc.of Islam, hal. 124; dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 348
[57] Winekler, ALF., II, Reihe, Ibd., S.336; dikutip oleh Jawad Ali,vi, hal. 349
[58] Wellhausen, Reste, Arabischen Heidentums, Berlin, 1927, hal. 84; dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 351


Hal ini membantu kita untuk melihat bahwa peribadahan haji di sekitar Mekah dilakukan terpisah oleh dua kelompok dalam masa bulan yang sama dengan peribadahan haji. Satu kelompok pergi ke Arafah untuk menyembah Matahari, kelompok lainnya pergi ke Muzdalifah untuk menyembah bulan. Setelah melakukan perhentian2 keagamaan mereka untuk memuliakan dewa2 mereka sendiri, kedua kelompok melakukan perhentian2 untuk menghormati Manat dan memohon hujan. Ritual2 peribadahan haji dan Du al-Hijjah, bulan peribadahan ziarah, diketahui luas di antara orang2 Arab pagan, sebuah fakta yang diakui sejarawan2 dan penulis2 Islam. [59]
[59] Al Masudi, Muruj Al Thahab, II, hal. 212, 213


Ritual Lempar Batu ke Bukit (Jumroh)

Kami telah menyebutkan bahwa di Muna, atau Mina’, peziarah melemparkan tujuh buah batu ke sebuah bukit. Tradisi Islam mengklaim lokasi ini adalah di mana Abraham bertemu dengan setan dan melemparkan batu² padanya. Sejarah memberitahu kita bahwa Abraham tidak pernah mengunjungi Mekah, karena Mekah belum dibangun di jaman Abraham. Mekah baru muncul di abad ke-4 M. Arabia barat tengah, di mana Mekah kemudian berada, tidak berpenghuni pada masa kehidupan Abraham yang hidup pada abad ke-21 SM. Daerah Mekah saat itu hanya berupa sebuah gurun pasir, tidak dikenal oleh para penghuni Mesopotamia, di mana Abraham lahir, dan tidak dikenal oleh daerah Kanaan, di mana Abraham lalu tinggal.

Kota² jazirah Arab utara, seperti Dedan dan Qedar, dibangun sekitar abad ke-9 SM. Kota Yathrib dibangun setelah rute antara Yaman dan daerah bulan sabit berkembang, di sekitar abad ke-6 SM, tetapi rute di sepanjang Laut Merah di antara kota² utara jazirah Arab dan Yaman tidak dibangun sampai abad ke-3SM seperti yang dijelaskan oleh para geografer Yunani. Walaupun para sejarawan dan geografer kuno menjelaskan munculnya beberapa tempat perhentian, daerah di mana Mekah kelak dibangun tidak berpenghuni sampai setelah masa Kristen. Jadi, bagaimana mungkin Abraham yang telah meninggalkan tempat tinggalnya di Tanah Kanaan, bisa datang ke gurun pasir yang tak berpenghuni?

Lebih jauh, menyerang setan dengan batu² adalah sebuah mitos yang tak masuk akal karena setan berwujud roh, tidak tersentuh ketika barang² materi dilemparkan kepadanya. Setan tidak mempunyai sebuah tubuh jasmaniah yang bisa dilukai batu². Hal yang sama ketika bintang² (meteor?) dilemparkan kepada mereka. Qur’an mengklaim bahwa meteor adalah bintang² yang Allah gunakan untuk menyerang para setan. Terlebih lagi, pelemparan batu pada setan adalah perayaan pagan yang dipraktekkan oleh berbagai sekte2 pagan di Timur Tengah. [60] Pelemparan batu2 merupakan sebuah ritual yang dimulai di Muna oleh suku Sufa yang memimpin perayaan² di bukit Arafah. Suku Sufa tidak mengizinkan siapapun untuk melangkah dari Arafah ke perhentian peribadahan haji berikutnya sebelum semua suku selesai melakukannya. Tidak seorangpun diizinkan melempar batu sebelum mereka melakukannya. [61] Ini menunjukkan bahwa Sufa memulai pelemparan batu sebagai bagian dari ritual ibadah haji mereka di Arab, dan membuatnya menjadi bagian dari tradisi mereka.
[60] Alessandro Bausani, L’Islam, Garzanti Milano, 1980, hal. 61
[61] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508; Ibin Hisham, I, hal. 100



Ritual Zoroastria Melempar Kerikil dan Tradisi Persia lain yang Berpengaruh dalam Ibadah Haji Arab

Penganut Zoroastria juga melempar batu² ke dalam air dan air kencing sapi jantan. Air dan air kencing tersebut dipersiapkan untuk pencucian dan pembersihan tubuh dan barang². Sekali mereka melempar, batu² atau kerikil² akan tertanam dalam lubang² di dalam tanah, sebagai usaha menyerang serangga² atau ulat² di dalam tanah yang dianggap sebagai setan² oleh umat Zoroastria. Keterangan mengenai perayaan ini tertulis dalam banyak bab Surat Manuskihar, bagian dari Teks Pahlavi, literature tradisional bagi tafsir Avesta, yang merupakan tulisan² suci Zoroastrianisme.[62]
[62] Epistles of Manuskihar, Epistle I, Bab VII, 16, Pahlavi Texts, Bagian II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 308; Epistles of Manuskihar, Epistle II, Chapter III, 12, ; Epistles of Manuskihar, Epistle I , Chapter IX , 6 ; Appendix- The Bareshnum Ceremony, Pahlavi Texts, Part II, Translated by E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 447

Tujuan mencuci tubuh dalam Zoroastrianisme adalah untuk mengusir atau menolak setan dari tubuh. Dalam kitab² penganut Zoroastria, seperti Vendidad, bagian dari Zenda Avesta, dijelaskan bahwa setan diusir keluar dari tubuh setelah bagian itu dicuci dengan air campur kencing tersebut. Setan akan lari ke bagian dalam, tapi jika air mencapai jari² kaki, maka setan akan terusir. [63] Konsep yang sama tercantum dalam Teks Pahlavi, di bagian “Perayaan Bareshnum”. [64] Juga dalam Shayast La-Shayast, Bab XX, yang menjelaskan bahwa supaya setan dapat lari dari tubuh, orang harus melakukan pencucian dalam air dan air kencing sapi jantan sebelum matahari terbit.[65] Air dalam Zoroastria adalah seorang dewa yang membersihkan jiwa dan melepaskan noda dan efek dari sang setan. Qur’an berisi ajaran yang sama mengenai arti penting air: untuk membersihkan jiwa orang dan mengusir setan dan nodanya dari tubuh. Kita membaca dalam QS 8:11:

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (8:11)
[62] Epistles of Manuskihar, Epistle I, Chapter VII, 16, Pahlavi Texts, Part II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 308; Epistles of Manuskihar, Epistle II, Chapter III, 12, ; Epistles of Manuskihar, Epistle I , Chapter IX , 6 ; Appendix- The Bareshnum Ceremony, Pahlavi Texts, Part II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 447
[63] Vendidad, Fargard VIII :41-71, diterjemahkan oleh James Darmesteter, The Zenda –Avesta part I , The Sacred Books of the East, Volume IV, hal. 105-110


Para penganut Zoroastria percaya kekuatan air kencing sapi jantan dalam membersihkan dan menyembuhkan. Dalam kitab Zoroastria yang disebut Surat Manuskihar, Surat I, Bab VII, air kencing tersebut digambarkan sebagai “tindakan penyembuhan yang tepat”. [66] Dalam Vendidad, para penganut Zoroastria menyatakan bahwa Ahura Mazda, dewa utama Zoroastrianisme, menganjurkan untuk meminum susu dan air kencing sapi jantan untuk menyembuhkan penyakit. [67] Muhammad mencontek teknik penyembuhan ini dari penganut Zoroastria, tetapi ia mengubah air kencing sapi jantan menjadi air kencing unta betina. Dia mengatakan bahwa air kencing unta betina dapat menyembuhkan semua penyakit. Orang yang datang kepadanya dengan penyakit² diperintahkan oleh Muhammad untuk meminum air kencing unta betina. [68] Orang² Muslim biasa meminum air kencing Muhammad di depannya, dan dia suka akan hal itu dan berkata bahwa air kencingnya suatu pengobatan untuk penyakit2. [69] Kita mengetahui betapa berbahaya dan resiko air kencing, apakah dari unta atau manusia, karena kuman² yang keluarkan oleh tubuh melalui air kencing, di samping senyawa asam berbahaya lainnya dan material yang dikeluarkan oleh tubuh.
[66] Epistles of Manuskihar, Epistle I, Chapter VII, 17, Pahlavi Texts, Part II, The Sacred Books of the East, Volume 18, Published by Motilal Banarsidass, hal. 309
[67] Vendidad, Fargard VII:66
[68] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 64 and 70
[69] Halabiah, I, hal. 86


Masih ada ritual² lain di masa sebelum ibadah haji Islam yang berasal dari Zoroastrianisme. Salah satu dewa² penganut Zoroastria Persia adalah api. Qusayy, pendahulu kedelapan Muhammad, datang dari Yaman dan menduduki Mekah. Dia menyalakan api di Muzdalifah, tempat di mana bulan disembah dalam masa sebelum peribadahan haji Islam. Al-Tabari menulis bahwa api ini terus berkobar pada masa Muhammad, dan tiga khalifah yang datang sesudah dia. [70] Kita dapat mengerti bagaimana peribadahan keagamaan Persia menjadi bagian dari peribadahan haji, saat kita mengerti pengaruh orang² Persia terhadap orang² Yaman dan wilayah selatan jazirah Arab. Di Yaman, ada api yang terus menerus berkobar bertahun-tahun menurut kepercayaan Persia. [71]
[70] Tarikh al-Tabari, I, hal. 512
[71] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, I, hal. 109; Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma'rifat ahwal al-arab, 2, hal. 102


Ajaran Zoroastria lain memerintahkan pengikutnya untuk melakukan kegiatan² yang baik dan praktek² keagamaan demi kepentingan kerabat dan teman² yang telah meninggal.[72] Kita menemukan bahwa Muhammad juga mencontek ritual yang sama. Dalam sebuah hadits, dilaporkan oleh al-Bukhari, Muhammad menasehati seorang wanita untuk melaksanakan ibadah haji bagi ibunya yang telah meninggal.[73]
[72] Dadistan-I Dinik, Chapter VIII, 1, Pahlavi Texts, Part II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Published by Motilal Banarsidass, hal. 26
[73] Sahih al-Bukhari, 8, hal. 150


Tahap² perubahan penampakkan bulan mempengaruhi penyembahan di Timur Tengah, khususnya di jazirah Arab. Cara bagaimana bulan disembah di Muzdalifah dalam masa sebelum Islam mengingatkan kita pada kebiasaan orang² Persia menyembah bulan. Kitab suci Zoroastria bernama Nyayis menjelaskan bahwa umatnya harus menghadap bulan tiga kali dalam waktu sebulan: pertama, saat bulan muncul pertama kalinya; kedua, ketika purnama; dan akhirnya, ketika mulai menghilang. [74] Hal itu mengingatkan kita mengenai bagaimana orang2 Arab menyembah bulan di Muzdalifah sampai bulan menghilang. Mereka menyelesaikannya dengan berpuasa, kemudian makan ketika bulan sabit muncul kembali. Faktanya, permulaan Ramadan dimulai ketika bulan sabit muncul kembali. Bulan memainkan peranan yang penting dalam Islam kini, seperti yang kita lihat dari bulan sabit yang merupakan symbol identitas Islam.
[74] Komentar pada Nyayis, The Zenda –Avesta part II, Diterjemahkan oleh James Darmesteter, The Sacred Books of the East, Volume 23, hal. 349

Ritual2 yang berhubungan dengan bulan dan penyembahannya juga berakar dalam agama Arya. Di kitab suci Arya bernama Apastamba, dijelaskan bahwa sebuah pesta dimulai ketika bulan sabit muncul. Di saat itu, umat Arya tidak boleh belajar atau melakukan apapun selama dua malam [75]. Ritual ini juga diterapkan dalam Ramadan. Setelah satu bulan berpuasa, kaum muslim berpesta ketika mereka melihat bulan sabit muncul di langit.
[75] Apastamba, Prasna I, Patala 3, Khanda 9, 28, Sacred Laws of the Aryas, Part I, Translated by Georg Buhler, The Sacred Books of the East, Volume 2, Published by Motilal Banarsidass, Delhi, hal. 35
[76] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 18; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 1, hal. 341


Perayaan Ramadan awalnya berasal dari ibadah agama orang² Harran yang bertempat di kota Harran, di perbatasan antara Syria, Irak dan Asia Minor (Turki sekarang). Orang² Harran berpuasa selama satu bulan, dimulai minggu pertama atau kedua dalam bulan Maret, sama dengan aturan bulan Ramadan. Puasa ini dilakukan bagi Sin, dewa bulan. Beberapa sejarawan Arab mengidentifikasi puasa orang2 Harran identik dengan puasa Ramadan. Ketika bulan sabit muncul, orang2 Harran mengakhiri puasa mereka dan memulai suatu festival, cara yang sama dengan orang2 Aran merayakan Ramadan setiap tahun. Kita mengasumsikan perayaan Ramadan ditransfer dari Harran ke jazirah Arab pada masa abad keenam SM ketika Nabonidus, Raja Harran dari Babylonia, menduduki jazirah Arab Utara dari tahun 556~539 SM. Pembahasan lebih jauh tentang Ramadan terdapat di bagian V, sub bab 3.


Ritual ketiga Ibadah Haji adalah Potong Rambut

Pemotongan rambut adalah sebuah kebiasaan yang dipraktekkan oleh beberapa suku Arab setelah melakukan ibadah ziarah untuk menghormati dewa² mereka. Salah satu dari dewa mereka adalah sebuah berhala bernama al-akyaser الأقيصر. Mereka ber ziarah ke berhala dan memotong rambut mereka, dicampur dengan tepung dan melemparkannya ke udara.[76] Perayaan yang sama juga dilakukan oleh banyak suku pagan Yaman. [77] Suku² yang beremigrasi ke Medina, dan area sekitar Mekah, datang dari Yaman setelah hancurnya bendungan di Ma’rib, sekitar tahun 150 M. Hal ini membantu kita memahami mengapa pemotongan rambut adalah ritual yang mengakhiri peribadahan haji.
[76] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 18; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 1, hal. 341
[77] Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 1, hal. 341


Aku telah menyebutkan sebelumnya bahwa beberapa suku Yaman memuliakan Manat, putri Allah. Manat dilambangkan dengan sebuah batu, ke mana suku2 ini pergi dalam peribadahan haji mereka. Pada akhir peribadahan haji, mereka memotong rambut mereka. Ibn al-Kalbi, al-Azruki, dan lainnya menulis mengenai tradisi² jazirah Arab. Mereka memberitahu kita bahwa suku2, seperti Oas, Khazraj, Oz, dan Ghassan merupakan suku² yang seluruhnya berasal dari Yaman yang melakukan ibadah haji ke Manat. Di banyak tempat, mereka melakukan perhentian² keagamaan untuk memuliakan dewa² mereka tanpa memotong rambut mereka sampai mereka tiba di Manat, di mana mereka mengakhiri ibadah haji dengan pemotongan rambut mereka. Mereka menganggap ibadah haji tidaklah lengkap tanpa acara potong rambut. [78]
[78] Azruqi, Akhbar Mecca, I, hal. 73; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 8, 169; al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah ( Cairo, Egypt, 1925), 14

Anda mungkin ingat bahwa Manat adalah dewi yang diharapkan masyarakat pagan Arab untuk mendatangkan hujan. Setelah mereka melakukan peribadahan haji kepada dewa² mereka, mereka akan datang kepada Manat, memotong rambut mereka dan mempersembahkan korban binatang mereka. Perhentian² sebelum masa peribadahan haji Islam mencakup Arafah, tempat di mana mereka akan berhenti untuk menyembah matahari, dan Muzdalifah, di mana mereka akan berhenti untuk menyembah bulan. Kemudian ibadah haji akan selesai di Mina, disebut Muna, tempat yang didedikasikan kepada Manat, di mana mereka memotong rambut mereka dan mempersembahkan korban binatang mereka. Pada masa Muhammad, ritual ibadah haji yang sama dimasukkan kedalam Islam, termasuk ritual pemotongan rambut di Manat.


Ritual Berteriak dalam Ibadah Haji

Ritual lain yang dilakukan dalam masa peribadahan haji besar adalah meneriakkan dua hal: “Allah adalah mereka, Aku ada disini” dan “Allah Maha Besar.” Al-Ya'akubi, sejarawan Arab, menulis bahwa setiap orang² Arab akan berhenti dihadapan berhalanya dan meneriakkan “Allah adalah mereka, Aku ada di sini.”[79]
[79] Al-Ya'akubi, I, hal. 225

Ketika Islam mencontek ritual ibadah haji pagan, ucapan keagaam yang sama masih dipertahankan dan dipraktekkan. Ketika umat Muslim datang ke tempat untuk menyembah bulan, mereka meneriakkan “Allahu Akbar,” yang berarti “Allah Maha Besar”. Hal ini karena bulan, yang merupakan Allah dilihat sebagai pimpinan Keluarga Dewa Bintang dan lebih besar daripada anggota² dewa lainnya, misalnya Ellat, si matahari, dan Manat dan al-‘Uzza, kedua planet. Teriakan “Allahu Akbar” bukanlah teriakan Islam tetapi, lebih, suatu teriakan pagan di mana umat penyembah Keluarga Dewa Bintang biasa berteriak. Syair2 masa sebelum Islam di jazirah Arab seringkali memuliakan anggota2 Keluarga Dewa Bintang dengan menekankan Allah sebagai pimpinan Keluarga Dewa Bintang melalui pengulangan ucapan “Allahu Akbar.” Sebagai contohnya, Loas Bin Hagar, penyair Arab masa Jahiliyah, yang merupakan periode sebelum Islam, mengatakan:

Aku bersumpah demi Ellat dan al-‘Uzza dan semua yang mengikuti agama mereka, dan dalam Allah, Allah lebih besar daripada mereka. [80]
[80] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah (Cairo, Egypt, 1925), hal. 11

Abdel Mutaleb, kakek Muhammad, yang bukan seorang muslim tetapi adalah seorang penyembah Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab juga terikat pada agama jin jazirah Arab, biasa meneriakkan teriakkan yang sama,” Allahu Akbar.” [81] Mereka melakukan teriakan yang sama dengan semua penyembah anggota² Keluarga Dewa Bintang. Ini menjelaskan mengapa kita menemukan teriakan ini dalam ritual peribadahan haji, yang awalnya diperuntukkan bagi ketiga anggota Keluarga Dewa Bintang: bulan, matahari, dan Manat, putri Allah dan dewi hujan.
[81] Ibn Hisham I, hal. 118

Tampaknya ketika ibadah haji diselenggarakan untuk pertama kalinya, bulan masih menikmati gelar Allah sebelum gelar tersebut diambil alih Venus. Ketika orang2 Arab pagan sebelum Islam melihat bulan sabit, mereka akan meneriakan dengan keras “Allahu Akbar.” Dari masa kuno, bulan adalah “ Allah” bagi banyak suku2 Arab dan, seperti itulah, dewa mereka terlihat. Bulan dalam bentuk bulan sabit, setelah itu menghilang untuk satu periode waktu, dan ini memancing keinginan mereka untuk meneriakkan penyembahan dan memanggilnya.

Teriakan dan pemujaan bulan ketika bulan sabit muncul, masih berpengaruh pada ritual² Islam kini. Saat ini, Anda akan melihat ketika kaum muslim melhat bulan sabit muncul, mereka mengakhiri puasa mereka dan memulai makan Ramadan, persis seperti ritual kuno penyembah bulan. Bagi mereka, bulan adalah dewa dan pusat ibadah, dan kepada bulan juga mereka memulai puasa Ramadan.


Kesimpulan

Sejarawan Arab bernama Al-Shahrastani menulis tentang masyarakat pagan Jahiliyah. Dia mengatakan bahwa mereka seringkali melakukan ibadah haji dalam bulan yang lain dari Du al-Hijjah, tetapi dengan ritual² yang sama seperti ibadah haji Islam, dan berhubungan dengan hari² dalam bulan tersebut. Mereka menetapkan hari kesepuluh untuk korban binatang, persis sama dengan kaum Muslim kini melaksanakan korban pada hari kesepuluh dalam bulan Du al-Hijjah. Dengan kata lain, kadang² mereka memilih bulan lain, tetapi mengikuti ritual² yang sama pada tempat² yang sama. [82] Dengan bukti ini, kita menyimpulkan bahwa ibadah haji Islam telah dipraktekkan oleh suku² pagan Arab. Peribadahan haji dimulai pertama kalinya oleh beberapa suku untuk dewa² mereka sendiri. Kemudian, beragam elemen peribadahan haji dikonsolidasikan. Kini, ibadah haji Islam menampilkan ritual² yang dulu dipraktekkan suku² pagan di sekitar Mekah dan Medina, didirikan oleh suku² yang beremigrasi dari Yaman, dan melaksanakan ritual² ini kepada dewa² mereka.
[82] Al Shahrastani, Al Milal Wal Nahel, hal. 590


Walaupun kaum muslim mengklaim bahwa ibadah haji berhubungan dengan Abraham, ibadah haji ini sama sekali tidak berhubungan dengan Abraham.

Tidak satupun dari suku2 tersebut pernah mengatakan adanya hubungan antara ibadah haji pagan mereka dengan Abraham atau Ismael, sebagaimana pengakuan nabi dan umat Islam. Tidak ada satupun syair2 masyarakat Arab jaman Jahiliyah yang menghubungkan ibadah haji mereka kepada Abraham atau Ismael. Awalnya ibadah haji dilaksanakan demi memuja Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab, dan hanya dihubungkan dengan Abraham oleh Muhammad setelah Islam muncul.

Kegiatan umat Muslim dalam beribadah haji seperti suku² pagan Arab jaman dulu tidak akan pernah menghubungkan mereka dengan Tuhan yang Benar. Ritual ini sama dengan berbagai ritual yang dilaksanakan oleh berbagai masyarakat pagan di Timur Tengah dan Asia. Menghubungkan nama Abraham pada ritual pagan Arab di sekitar Mekah dan Medina tidak akan pernah mengubah asal usul ritual pagan mereka. Kaum muslim seharusnya perlu mempelajari kepercayaan Abraham seperti yang dikisahkan dalam Alkitab. Abraham tidak pernah berpuasa ketika bulan menghilang, maupun meneriakan dan makan ketika bulan sabit muncul. Dia tidak pernah menghubungkan penyembahannya dengan pergerakan benda² apapun dalam tata surya, atau dengan bintang atau batu. Dia juga tidak melemparkan bebatuan pada setan, atau memotong rambut di depan sebuah batu.

Kita hidup dalam masyarakat toleran dimana setiap orang bebas untuk mempercayai apa yang mereka inginkan, dan memiliki kebebasan berbicara untuk berubah keyakinan. Umat Muslim berusaha memualafkan non-Muslim melalui penyebaran ajaran palsu, dan banyak non-Muslim dan Muslim yang tertipu akan Islam. Banyak orang berasumsi bahwa Allah dan Tuhan adalah sama, dan tidaklah penting agama mana yang kita anut. Tetapi, sekarang kita telah mempelajari bahwa Tuhan dan Allah tidaklah sama. Doktrin Allah dalam Islam merupakan hasil campur-aduk berbagai bentuk kepercayaan dan ritual pagan selama bertahun-tahun. Islam dibentuk dari penyembahan bulan di satu pihak, dan penyembahan Venus di pihak lain.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

PostPosted: Fri Apr 15, 2011 4:28 am
by pod-rock
Bagian IV
Kasus Ismail dan Islam


Banyak kelompok2 dan penyair2 dijaman Muhammad mengklaim Persia, Romawi dan Kurdi adalah keturunan Abraham.

Ada juga orang Persia dan Arab yang percaya bahwa orang2 Persia adalah keturunan dari Abraham. Menurut Masudi, mereka mengarang silsilah figur2 mitos Persia seperti Manosher. Mereka ciptakan Manosher sebagai anak dari Mashjer, anak dari Werik. Lalu mereka hubungkan Werik dengan Ishak, anaknya Abraham. Mereka mengklaim bahwa Mashjer pergi ke tanah Persia dan bertemu seorang wanita yg berkuasa disana yg bernama Kork. Mashjer menikahinya dan melahirkan Manosher, sang Raja. Dari Manosher, katanya, lahirlah anak cucu yang akhirnya menjadi ras Persia [20].
[20] Al-Masudi, Muruj al-Thahab, Beirut-Lebanon, 1991, I, page 247

Al-Tabari juga menghubung2kan sebuah silsilah dimana orang2 Arab berhubungan darah dengan Manosher dan dg Ishak. Mungkin orang2 Arab mencuri silsilah ini dari sekelompok orang2 Persia. Silsiah tsb menunjukkan bahwa garis darah raja2 Persia berasal dari manosher yang, menurut mereka yang mengklaim silsilah tsb, berasal dari ishak. AL-Tabari mengutip sebuah puisi dari penyair Arab, Jarir bin Atieh, yang mana mengklaim bahwa orang2 Persia adalah keturunan Ishak. Sang penyair menyatakan orang2 Persia punya nabi sejati mereka sendiri dan sebuah kitab yang dianggap ditulis berdasarkan ilham surga. Utk membenarkan klaim buku surga dan nabi dalam hal silsilah ini, sekelompok orang Persia menghubung2kan diri mereka sendiri sebagai keturunan Abraham lewat salah seorang anaknya [21]. Muhammad sendiri melakukan hal yang sama. Al-Masudi mengutip banyak puisi2 Persia yang mana penyairnya sesumbar bahwa orang2 persia adalah keturunan Ishak, anaknya Abraham [22]. Selain penyair persia, kita temukan juga penyair arab yang menulis puisi dimana mereka mengatakan baik orang Persia maupun orang Romawi adalah keturunan Ishak. Salah satu dari penyair ini adalah Jarir, anak dari al-Khatfi al-Tamimi [23].
[21] Tarikh al-Tabari, I, page 227
[22] Masudi, Muruj al-Thahab, Beirut-Lebanon, 1991, I, pages 245, 248
[23] Masudi, Muruj al-Thahab, I, page 246


Juga banyak kelompok orang Arab dan Kurdi yang menganggap orang kurdi adalah keturunan Abraham. Menurut Masudi, sebagian bilang orang Kurdi berasal dari Ismael, sebagian lainnya mengklaim mereka keturunan dari Raja Sulaiman lewat salah satu selirnya [24]
[24] Masudi, Muruj al-Thahab, II, page 130

Seperti saya sebutkan sebelumnya, orang arab mengklaim bahwa orang Romawi itu keturunan Ishak. Orang Arab mengklaim bahwa kakek moyang orang Romawi adalah seseorang yang bernama Rum dan mereka mengarang silsilah dari Rum hingg ke Ishak, anaknya abraham [25]
[25] Masudi, Muruj al-Thahab, I, page 316

Kenapa banyak orang/bangsa ingin dihubungkan dengan Abraham.

Kita mengerti dari semua ini bahwa bukan saja sekelompok orang arab di jaman Muhammad yg mengaku keturunan Abraham lewat Ismael, tapi kebanyakan bangsa2 dijaman itu dijadikan seolah2 keturunan Abraham. Ini karena banyak dari pengakuan tanpa dasar sejarah ini berlandaskan iman monoteis Kitab Perjanjian Lama, yang dikabarkan oleh orang Yahudi dan Kristen. Iman mereka menarik banyak para pemikir dan orang2 religius dari banyak bangsa. Disaat yg sama para pemikir ini juga tertarik pada Yahudi dan Kristen, mereka menolak kebenaran ‘Perkataan Tuhan’ yang diklaim alkitab, dan mereka berpegangan erat pada kepercayaan pagannya. Seiring proses itu berjalan, mereka mencoba menanamkan sedikit legitimasi/pengesahan dengan mengaku sebagai keturunan Abraham, baik utk mereka sendiri ataupun utk orang/bangsa lain yang berperan bagi kepercayaan mereka – seperti orang Arab mengklaim bahwa Romawi, Yunani dan Persia adalah keturunan Ishak.

Bagi orang arab, kakek moyang itu sangat penting. Suku2 Arab memuliakan diri mereka jika mereka bisa menelusuri silsilah mereka sampai pada figur terkenal dalam sejarah. Jika sebuah suku tidak bisa menelusuri silsilah mereka kepada figur sejarah terkenal, mereka akan merasa malu. Itu sebabnya sebagian arab mengaku Ismael, anaknya Abraham, sebagai kakek moyang mereka. Individu2 ini percaya bahwa Romawi, Yunani dan Persia juga keturunan dari Abraham dan orang Arab tidak ingin ‘kalah’ dan merasa rendah diri dibanding mereka; jadi mereka menciptakan silsilah palsu versi mereka sendiri.

Pengakuan orang Arab keturunan Ismael pertama muncul di jaman Muhammad dan disambut oleh Ahnaf, sebuah keiompok pemujaan.

Pengakuan keturunan Ismael tidak pernah dibuktikan sebelum kedatangan islam. Jika hal itu diakui oleh beberapa individu dijaman Muhammad, maka kelompok individu itu mestilah jumlahnya sangat kecil dg tujuan ingin meningkatkan etnisitas mereka agar bisa bersaing dengan etnis lain yang juga mengklaim keturunan Abraham, seperti orang2 Persia. Mereka juga ingin bersaing dengan Yahudi yang mengenalkan diri mereka berbeda dari orang Arab, meskipun sama2 tinggal di Arabia, dan percaya pada Tuhan sejati. Kelompok2 kecil ini disebut ‘Ahnaf’ dan hidup di Mekah. Muhammad tinggal bersama mereka dan dia terpengaruh oleh ide2 mereka. Utamanya aliran Kristen Arab yg bercampur dengan kultus Gnostik dan sekte Sabian yang membentuk kelompok ini. Banyak dari mereka berasal dari Kuhhan, pendeta2 yang beragama Jinn di Arab. Jinn yg juga dikenal sebagai setan.

Silsilah palsu diciptakan oleh Ibnu Ishak, yg mana para Muslim mendasarkan pengakuan mereka sbg keturunan Ismael.

Sekitar 773 M, berabad setelah islam dimulai, Ibn ishak mengarang sebuah silsilah yang menghubungkan Muhammad dengan Ismael. Saat ini, gagasan bahwa orang Arab berasal dari keturunan Ismael telah diterima begitu saja oleh semua muslim. Tapi ketika Ibnu Ishak menciptakan silsilah ini, dia dituduh oleh sekelompok cendekiawan sejamannya sebagai “mengarang silsilah palsu.” Sangat menarik bagi kita utk melihat bahwa bukan saja bangsa2 awal ini bergerombol berusaha masuk kebawah ‘ketiak’ Abraham, baik melalui Ishak ataupun Ismael, tapi ini juga menandakan betapa jauh dari kebenaran islam itu ketika ditelaah jaman sekarang.

Para cendekiawan arab mengaku tidak punya referensi apapun dijaman Arab sebelum islam mengenai silsilah yang katanya menghubungkan orang2 Arab dengan Shem, anaknya Nuh. Lalu bagaimana bisa Ibnu Ishak muncul dengan silsilah yang menghubungkan Muhammad dengan Ismael? Saya mengutip al-Husseini, yang menuliskan perkataan Saad Zaglul dan Ibnu Khaldun:

Dalam kenyataannya, tidak ada sisa yg tertinggal bagi para penghuni Arab, baik itu penemuan arkeologis ataupun puisi2, yang mengindikasikan bahwa orang Arab percaya mereka adalah keturunan Shem, anaknya Nuh. Lebih jauh lagi, usaha2 para penulis muslim dalam hal silsilah semacam itu, membuat mereka jatuh lebih dalam lagi pada rasa malu dan kontradiksi, ketika mereka mencoba mengarah silsilah dan menciptakan sejarah utk mengisi kekosongan antara orang2 Arab dan bangsa2 lain yang telah ‘diarabisasi’. [26]
[26] Lutfi Abdel Wahab al-Husseini, Al-Arab Fi al-'Usur al-Khadimah, Dar al-Nahthah al-Arabiah, Beirut-1978, pages 84-85; citing Saad Zaglul Abel Hamid, Fi Tarikh al-Arab Khabl al-Islam, Beirut, 1975, page 84; citing Ibn Khaldun, 2, page 47 and footnote 3 of the same page.

ISMAEL TIDAK PUNYA PERAN SPIRITUAL UTK LANDASAN MEMBANGUN SEBUAH AGAMA

Perkataan Allah tentang Ismael dan keturunannya telah dipenuhi, bahwa mereka akan tinggal dekat Israel dan hidup sebagai bangsa biadab

Meski Ismael tidak pernah jadi nabi, Muhammad ngotot menghubungkan dirinya pada Abraham lewat Ismael. Kita baca tentang Ismael dalam alkitab, dan alkitab tidak pernah menaruh atribut spiritual apapun baginya. Hidupnya dijelaskan oleh seorang malaikat yang muncul pada ibunya Hagar di gurun ketika dia mengandung Ismael dan lari dari Sarah, istrinya Abraham. Ini adalah perkataan malaikat yang menjelaskan mengenai Ismael dan masa depannya. Dalam Kejadian 16:11-12

16:11 Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.
16:12 Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya."


Ketika sang malaikat mengatakan bahwa Ismael akan “ditempat kediamannya menentang semua saudaranya,” dia sedang membicarakan lokasi. Ismael akan tinggal ditempat yang sama seperti ishak, anak Abraham dari Sarah. Kita tahu bahwa keturunan dari Yakub adalah orang2 Israel. Tanah dimana mereka tinggal adalah Palestina. Keturunan dari saudaranya Yakub, Esau, adalah suku Edom yang tinggal di Jordania selatan. Ismael dan keturunannya tinggal diantara keturunan Ishak dan keturunan Esau, dibagian timurlaut Sinai, menggenapkan perkataan Tuhan mengenai lokasi tempat tinggal dari Ismael. Sejarah juga memastikan ramalan ini, seperti telah saya tunjukkan sebelumnya tentang kaum Ismael. Malah, ismael dan keturunannya yg terus tinggal disana telah terbukti secara sejarah, seperti yang telah kita pelajari tentang kaum ismael.

Tapi, kita tidak melihat janji apapun dalam alkitab mengenai peran Ismael dalam hal spiritual. Malah, kita baca tentang kehidupan biadab dari keturunan2nya, persis seperti yang telah diramalkan, seperti keledai liar. Mereka terus menerus bermusuhan dengan keturunan Yakub dan Esau. Ramalan mengenai Ismael telah digenapi. Mereka terkenal sepanjang sejarah sebagai kaum nomad yang menyerang dan diserang oleh bangsa2 sekitarnya. Kita lihat sepanjang sejarah Sinai hingga abad 10 SM dan juga setelah abad 10 SM, ketika banyak dari mereka meninggalkan Sinai. Mereka meneruskan karakter biadab mereka, menyerang negara2 tetangga seperti Assyria dan Chaldean. Bangsa2 ini, akibatnya menyerang balik. Ini terus menerus terjadi hingga suku2 nomad keturunan Ismael terserap kedalam etnis lain dan punah setelah abad 7 SM.

Tuhan membuat perjanjian dengan keturunan Ishak karena Dia bermaksud memakai garis keturunan itu. Semua Nabi Sejati berasal dari garis keturunan tsb

Munculnya malaikat saat itu bukan satu2nya kemunculan malaikat utk mengumumkan kelahiran seorang anak. Biasanya, kemunculan malaikat itu beserta ramalan akan masa depan si anak tsb. Kita lihat hal demikian juga bagi ishak. Tuhan menjanjikan Abraham bahwa ia akan menjadi bapak bangsa2 yg diberkati diseluruh bumi, keturunannya juga akan melahirkan seorang juru selamat, maksudnya Yesus Kristus, yang juga adalah keturunan Abraham. Tuhan berkata pada Abraham bahwa perjanjian ini akan digenapi lewat keturunan dari Ishak, anak Abraham lewat Sarah. Yesus Kristus merupakan keturunan Ishak.

Tujuan Tuhan dalam sejarah diungkapkan di alkitab. Disebut Perjanjian (Covenant), karena lewat janji itu Tuhan mengobligasikan DiriNya Sendiri utk memenuhi janji kedatangannya sendiri dalam bentuk darah daging utk menebus dosa manusia. Tuhan memastikan kembali janjiNya ini tiap kali seseorang penting dilahirkan dalam silsilah keturunan Ishak, yang pada akhirnya berujung pada Yesus Kristus sebagai Mesias. Tuhan juga memberi berkat spiritualnya pada garis silsilah tsb, jadi Tuhan telah ‘menandai’ garis silsilah Ishak sejak awal.

Ada anggota keluarga lain dari keluarga Abraham yang tidak dimasukkan kedalam perjanjian Tuhan ini. Utk anggota keluarga ini, mereka diberi janji materi dan dikatakan akan makmur sebagai bangsa. Satu contoh adalah bangsa yang diturunkan dari Esau, anak Ishak. Esau tidak dipilih menjadi garis silsilah Perjanjian, tapi saudaranya Yakub yang terpilih. Kita tahu bahwa semua nabi berasal dari garis Yakub hingga Yesus lahir.

Tuhan menunjuk keturunan Abraham dan keturunan Lot sebagai bapak pendiri bangsa2, tapi dia membuat PerjanjianNya dengan Ishak dan Yakub anaknya.

Seperti juga anak2 Abraham yg lain, selain Ishak, Ismael tidak dipilih. Tapi Ismael diberkati utk menjadi bapak bagi bangsa2 nya sendiri.

Meski bangsa2 keturunan Ismael bertahan selama berabad-abad, tetap saja mereka tidak diberi Perjanjian secara Spiritual. Tuhan memberkati Abraham sedemikian sehingga Dia mengijinkan keturunan Lot, ponakan Abraham, membentuk dua bangsa, Ammon dan Moab, yang hidup hingga abad 6 SM. Tuhan mengijinkan cucu Abraham, Esau, menjadi Bapak Bangsa Edom. Cucu Abraham dari perkawinannya dengan Keturah, menjadi bapak bangsa Midian. Mengingat hal2 ini, jelas bagi kita bahwa perkataan Tuhan pada Abraham ketika menjanjikan Ismael menjadi bapak bangsa juga. Sejarah memastikan apa yang dijanjikan Tuhan dan kita melihat buktinya kaum Ismael membentuk sebuah bangsa dan hidup di Sinai berdekatan dengan bangsa2 lain yang juga diturunkan dari Abraham dan ponakannya, Lot.

Ismael tidak termasuk Perjanjian Spiritual dengan Tuhan. Perjanjian garis keturunan Nabi2.

Kita lihat perbedaan Perjanjian yg Tuhan buat utk garis keturunan Nabi dan yang bukan. Yang bukan tetap dijanjikan menjadi bapak bangsa. Kejadian 17:15-22

17:15. Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.
17:16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya."
17:17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?"
17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
17:19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."
17:22 Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham.



Sulit bagi Abraham utk percaya, ketika dia berumur 100 th dan istrinya 90th, mereka bisa punya anak. Jadi ketika dijanjikan Tuhan akan punya anak, Abraham pikir “mustahil.” Itu sebabnya dia meminta Tuhan agar “ismail juga diperkenankan hidup dihadapan-Mu!” Abraham ingin Tuhan memilih Ismael. Tapi jawaban Tuhan jelas. “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” Jawabannya jelas “TIDAK!” Ismael tidak akan menjadi bagian dari maksud/rencana Tuhan bagi penyelamatan dosa manusia.

Janji Ismael akan memperanakan 12 raja tidak bisa dihubungkan dengan bangsa Arab.

Banyak orang berpikir, ketika Tuhan bilang “Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.”, bangsa yang dimaksud adalah bangsa Arab. Tapi, sudah jelas bahwa arab tidak berasal dari suku Ismael, karena kaum ismael telah punah pada abad 7SM.

Janji Tuhan adalah “Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.”. Dari Ismael akan muncul 12 raja, maksudnya 12 suku. Ini telah terpenuhi secara sejarah. Dua belas suku yang mendiami Sinai, sebagian diantaranya setelah abad 10SM. Mereka menyebar di Fertile Crescent, kebanyakan digurun antara Syria, Jordan dan Irak. Orang Arab tidak mungkin termasuk kedalam 12 suku Ismael ini, karena ada 19 bangsa Arab. Kita juga melihat bagaimana suku Ismael yang nomad menjadi musnah, tapi suku2 yang datang dari Arab mendominasi seluruh Timur Tengah. Jadi tidak bisa dibayangkan dua belas suku ismael yang nomaden, berkelana di gurun Sinai dan Syro-Mesopotamia, mewakili dunia arab.

Istilah “bangsa yang besar” di alkitab mengacu pada beberapa suku. Ini menguatkan fakta bahwa ramalan tentang keturunan Ismael akan menjadi “bangsa yg besar” dipenuhi oleh 12 suku Ismael di Sinai.

Utk mengerti pemakaian kata “bangsa” dalam alkitab, kita harus melihat bagaimana hal itu dimengerti dijamannya Abraham. Banyak ayat dalam alkitab memakai kata “bangsa” bagi sekelompok penghuni yang jumlahnya hanya segelintir atau sekota kecil saja. Contoh, dalam Kejadian Bab 20 kita lihat Abraham pindah dari Palestina selatan ke Sinai Selatan, sebuah kota yang berada diantara gurun Shur dan Kades, yang disebut Gerar. Gerar belakangan disebuat sebagai sebuah “bangsa”.

Abraham disana mengatakan Sarah, istrinya, adalah saudaranya. Karena Sarah Cantik, dia takut akan terbunuh sebab Raja Gerar, Abimelekh menginginkan Sarah. Tapi Tuhan memperingatkan Abimelekh dalam mimpi.

20:1. Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing.
20:2 Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: "Dia saudaraku," maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara.
20:3. Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: "Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami."
20:4 Adapun Abimelekh belum menghampiri Sara. Berkatalah ia: "Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tak bersalah?
20:5 Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci."
20:6 Lalu berfirmanlah Allah kepadanya dalam mimpi: "Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka Akupun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia.


Abimelekh menyebut kotanya sebagai “bangsa”. Alkitab, dalam kitab Kejadian memakai istilah “bangsa yg besar” utk menyebutkan suku2 yang sebenarnya hanya terdiri dari sejumlah kecil anggota, atau juga pada suku yang terdiri dari satu sampai 2 juta anggota. Satu contoh lain utk istilah bangsa bagi kelompok besar juga ditemukan dalam Kitab Kejadian 46:3,4.

46:3 Lalu firman-Nya: "Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana.

Menurut ayat 27 dari bab itu, hanya 70 orang yang berangkat ke Mesir. Mereka tinggal disana selama 400 tahun, dan jumlahnya selama itu meningkat pesat. Jika kita baca di Keluaran 13:37, jumlah mereka yang meninggalkan mesir adalah sekitar 600 ribu orang, belum termasuk anak2. Sejarawan memperkirakan ada hampir satu juta orang israel yang keluar dari Mesir. Alkitab bicara mengenai israel sebagai sebuah “bangsa yang besar” seperti yg kita baca dalam Kejadian 12:2, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar.” Kalimat khusus “bangsa yang besar” sama seperti yang dipakai ketika jaman Abraham dan Yakub, dimaksud utk menyebutkan beberapa suku yang berjumlah satu sampai 2 juta orang. Jadi, gimana bisa perkataan Tuhan mengenai keturunan Ismael akan menjadi bangsa yang besar tidak terpenuhi dalam 12 suku Ismael yang hidup di gurun Sinai? Kita punya gambaran akan jumlah besar dari kaum Ismael ketika mereka memerangi Israel jaman Gideon. Kitab Hakim2 bab 7 ayat 12 menyebutkan bahwa penghuni2 Sinai membentuk sekutu dengan kaum Ismael, Midian dan Amalek.

7:12 Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya.

Istilah “bangsa” juga diterapkan pada suku. Kita lihat dalam Kejadian 35:11, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu.” Yang dimaksud adalah 12 Suku Israel. Disini sebuah “Bangsa yg Besar” adalah “sekumpulan bangsa-bangsa”, seperti orang2 Israel di Mesir atau Kaum Ismael di Sinai

Menciptakan warisan Spiritual utk Ismael tanpa Landasan Sejarah

Ismael tidak dapat dijadikan landasan agama sejati masa depan karena Tuhan memberkatinya

Telah kita pelajari tentang Ismael, kita hanya dapatkan Ismael tidak pernah mendapat karunia spiritual apapun dari Tuhan. Tidak pernah dipilih oleh Tuhan sebagai bagian dari PerjanjianNya, seperti pada Ishak dan keturunannya. Ismael tidak pernah menunjukkan bakat spiritual yang istimewa. Alkitab tidak pernah mencatat satupun ucapan dari Ismael yang menunjukkan hubungannya dengan Tuhan. Tak ada satupun ramalan muncul lewat mulutnya. Malah, dia diramalkan akan seperti keledai liar, musuh semua orang, dan sejarah membuktikan demikian.

Melihat ini, bagaimana bisa Ismael jadi landasan iman monoteistik, seperti yang diklaim islam? Jika Tuhan bermaksud membangun iman monoteis lewat Ismael, lalu kenapa nabi2 muncul bukan dari keturunan Ismael, tapi malah dari keturunan Ishak dan anaknya Yakub? Landasan yang kuat sangat penting bagi ini. Tak seorangpun menggali dalam2, mengisinya dengan semen dan beton utk fondasi gedung, lalu pindah dari fondasi yang sudah dibuat itu, dan membangun gedungnya diatas pasir. Gimana bisa Tuhan menaruh fondasinya di Perjanjian Lama lewat banyak nabi yang keturunan dari Ishak, lalu membiarkan fondasi2 yg Dia bangun selama 2000 tahun itu? Melakukan hal demikian berarti mengkontradiksi apa yang Dia janjikan. Ramalan nabi2 keturunan Ishak membangun fondasi yang kuat. Sepanjang sejarah kuno, nabi2 semua berasal dari garis keturunan Ishak. Tak satupun keturunan Ismael yang pernah mengklaim peran Spiritual, mereka juga tidak pernah mengucapkan atau melakukan peran spiritual. Sepertinya keturunan Ismael benar2 lupa bahwa mereka itu keturunan Ismael. Dalam naskah2 kuno Assyria, hal seperti ini ditemukan di Kedar, Teima dan Dumah, mereka tidak pernah sekalipun menyebut2 tentang ismael, atau memberi nama anak2 mereka dengan nama ismael.

Dilain pihak, nama Ishak dan anaknya Yakub, diturunkan dari generasi ke generasi dalam setiap keluarga Yahudi. Keduanya dikenang sebagai kepala Israel, dan hal itu telah menjadi kebiasaan sepanjang sejarah mereka.

Daerah dimana Mekah belakangan dibangun tidak pernah jadi tempat menarik atau kunjungan dari kaum Ismael

Kita tahu Mekah tidak ada sebelum abad 4 Masehi. Tapi, mari kita kesampingkan dulu fakta ini, kita misalkan Ismael pergi ke Mekah dan membangun Tempat Pemujaan disana. Tempat Pemujaan itu mestilah jadi aspek paling penting dalam keberadaan hidup Ismael. Kaum Ismael mestilah menyebut2 Tempat Pemujaan itu dalam dokumen2 sejarah mereka. Tapi buktinya Tempat Pemujaan yang pertama dibangun adalah di Kades, Sinai, lalu pindah ke Dumah ketika sebagian dari suku itu keluar dari Sinai dan jadi penghuni gurun di Fertile Crescent.

Kenapa kita tidak melihat satupun dari mereka melakukan ziarah ke Mekah? Jika tempat Pemujaan di Mekah dibangun oleh Bapak mereka ismael, maka tempat ini mestilah jadi bahan pembicaraan terus menerus. Ribuan kaum Ismael mestilah berangkat kesana dan membangun kota2 disekitarnya. Kampanye2 Militer dibangun utk melindunginya dan setiap suku mestilah mencoba menguasainya. Tapi, studi sejarah dari suku Ismael menunjukkan tak seorangpun pernah mendengar tentang Mekah. Tak satupun suku pindah jauh ke selatan dari Teima, malah mereka pindahnya ke utara. Tak ada satupun kota dibangun oleh keturunan Ismael didaerah sekitar Mekah. Tak ada satupun petunjuk adanya ziarah kedaerah dimana Mekah belakangan dibangun.

Kaum Ismael tak pernah menunjukkan filosofi monoteisme, tak pernah juga Tuhan menegur mereka akan tradisi penyembahan berhala mereka; ini kebalikan dari apa yang dialami orang2 Israel.

Dalam mempelajari kehidupan religius orang2 Ismael, tak pernah kita dapatkan kepercayaan akan Tuhan yang Esa. Mereka tidak pernah menyebut2 Tuhannya Abraham. Mereka dikenal sebagai penyembah berhala, politeis. Sebaliknya, orang2 yang berasal dari keturunan Ishak dikenal hanya menyembah satu Tuhan, Tuhannya Abraham. Meski beberapa raja Israel menyembah berhala, bangsa itu dengan cepat bangkit menentangnya, dan setiap mereka bangkit, mereka menunjukkan warisan yg mendarah daging dalam budaya mereka, yang mendukung iman yg mereka terima dari kakek moyang mereka yang disebut Tuhan monoteistik. Jika Ismael yang dipilih oleh Tuhan utk menciptakan agama monoteis, seperti yang diklaim islam, Tuhan tidak akan pernah mengijikan keturunan2 Ismael masuk kedalam penyembahan berhala lebih lama dan dalam sepanjang sejarah mereka, hingga mereka musnah abad 7 SM. Muslim perlu berkaca dari fakta2 ini. Mencoba membangun iman tanpa fondasi adalah melawan kehendak Tuhan yang telah dipatri dalam Sejarah. Tidak saja kita tidak bisa melihat adanya nabi2 muncul dari garis keturunan Ismael, tapi kita juga tidak bisa menemukan nabi2 yang muncul menyebut2 tentang Ismael. Tak ada dalam alkitab peran spiritual atau kenabian bagi Ismael.

Meski Ismael menikahi orang Mesir, Ibnu Ishak mengklaim dia menikahi wanita Mekah. Klaim ini tanpa fakta pendukung. Ibnu Ishak mengarang nama gaya arab bagi sang istri dan ayahnya, konsisten dengan tradisi penamaan jamannya.

Kejadian 21:21

21:21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Karena Hagar, ibunya Ismael adalah orang Mesir, dia nikahkan Ismael dengan wanita dari kampung halamannya sendiri. Paran kurang 300 km dari perbatasan Mesir. Ini membuatnya bisa tetap berhubungan dengan keluarga mesirnya.

Ibnu Ishak, penulis biografi Muhammad, mengklaim Ismael menikahi wanita yang dia sebut anak perempuan Mathath, anak dari Amru al-Jurhami [27]. Kita bertanya dimana Ibnu Ishak mendapat informasi ini, karena hal itu tidak pernah ada dalam dokumen manapun, dan tak ada yang menyebut2 tentang itu sebelumnya. Juga tidak biasa karena gaya penamaan seperti itu tidak ditemukan dalam naskah2 Arab Kuno, tapi merupakan gaya penamaan khas abad 8 Masehi., perioda dimana Ibnu Ishak hidup. Ibnu Ishak juga mengarang puisi arab yang dia khususkan untuk Mathath, anak Amru al-Jurhami. Puisi ini ditulis dengan gaya yang sama sejaman dengan Ibnu Ishak [28].
[27] Tarikh al-Tabari, I, page 189
[28] Tarikh al-Tabari, I, page 524


Bahasa arab adalah bahasanya Qur’an. Bahasa dimana suku Quraish, sukunya Muhammad, pakai setelah mereka berhubungan dengan orang Beduin di barat tengah Arab. Bentuk Bahasa Arab ini tidak dikenal di Arab sebelum era Kristen dan tidak dianggap sebagai bentuk bahasa Arab terkini, khususnya jika dibandingkan dengan Thamud Arabik, yang dipahat pada naskah2 kuno bertanggal abad 7 SM. Meski kamu bisa temukan bahasa Arabik Lihyanit sebelum era kristen, bahasa arab Quran adalah bentuk paling baru dari penulisan bahasa Arab yang dikenal di Arabia. Kita lihat Ibnu Ishak mengkontradiksi sejarah ketika menyebutkan puisi jamannya adalah puisi abad 21 SM. Bahasa Arab Quraish dan Quran menjadi bahasa resmi Timur Tengah, jadi Ibn Ishak menyebut puisinya sebagai puisi jaman Ismael, meski mereka ditulis dalam bahasa Arab jaman dia hidup.

Jika Muslim mau menganalisa apa yang diajarkan pada mereka dengan sejarah, mereka akan melihat bahwa menciptakan warisan spiritual pada Ismael, tidak punya landasan sejarah apapun, dan tidak ada sejarawan yang kredibel mau memunculkan ide ini. Mudah utk mengenali hal ini sebagai barang tidak asli, palsu dan karangan. Klaim ini berlawanan dengan sejarah yang menyatakan dengan akurat mengenai Ishak. Jika kita bandingkan Islam dan Kristen, kita lihat mana yang lebih kredibel jika dilihat secara sejarah. Akan membuat orang terpana jika mereka tahu kebenaran, karena kebenaran akan membuat mereka bebas merdeka.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Fri Apr 15, 2011 8:47 am
by iluvboy.blogspot
:heart:

PostPosted: Fri Apr 15, 2011 3:05 pm
by Adadeh
Bagian V
2. Ibadah Haji Kecil yang Disebut Umra’ dan Perdukunan (Okultisme) di Mekah


Berdasarkan sejarah, Haji Umra’ adalah upacara agama Jin Arab yang berkisar pada dua dukun utama agama itu.

Kita akan menelaah Haji kecil yang disebut Umra’, dan perdukunan (okultisme = aliran kepercayaan gaib) di Mekah yang menyertainya. Di daerah sekitar Mekah, masyarakat mempraktekkan ibadah agama yang disebut Umra’, atau “kunjungan.” Ini merupakan ibadah haji kecil, yang dilakukan sejak jaman pra-Islam.Umra’ ini berhubungan dengan upacara² agama Jin Arab, terutama karena bersangkutan dengan penyembahan terhadap batu² dan patung² berhala. Dua patung berhala yang disembah adalah patung² dua dukun agama Jin, yakni patung Isaf (berkelamin pria), dan Naila (berkelamin wanita). Menurut kisahnya, dua dukun ini berhubungan seks di dalam Ka’bah, di Mekah, sehingga para dewa menghukum mereka menjadi dua buah patung batu.

Masyarakat Arab membuat banyak replika dari kedua patung ini untuk disembah. Patung² mereka yang terpenting diletakkan di Safa dan Marwa, dan dua patung lainnya diletakkan di bukit dekat sumur Zamzam. Sejarawan Islam bernama Al-Shahrastani mengatakan bahwa Amru bin Lahi meletakkan patung² di Safa dan Marwa. [83] Tapi Amru bin Lahi hanyalah tokoh karangan Muslim saja. Umat Muslim berusaha menyalahkan semua faktor paganisme Arab padanya, menuduhnya membawa semua patung², berhala², dan ibadah pagan ke Arabia. Ini semua hanyalah alasan saja, karena paganisme dan penyembahan terhadap bintang² dan bulan di Arabia sudah dilakukan sejak jaman kuno, seperti keterangan yang tercantum di Alkitab dan berbagai prasasti Assyria, yakni sejak abad ke-9 SM. Keterangan sejarah kuno ini menjabarkan berbagai dewa berhala yang disembah suku² Arab yang berhubungan dengan bangsa Assyria. Para sejarawan Yunani yang mengunjungi Arabia, dimulai dari Herodotus di abad ke-5 SM, juga membenarkan keterangan yang tercantum di Alkitab dan prasasti Assyria. Dengan begitu, Islam secara sia² berusaha memisahkan ibadah Islam dari latar belakang asli pagannya dengan cara menciptakan tokoh dongeng Amru bin Lahi yang sebenarnya tidak pernah ada.
[83] Al Shahrastani, Al Milal Wal Nahel, hal. 578

Di jaman pra-Islam, patung² Isaf dan Naila diletakkan di batu² utama Ka’bah di Mekah dan pada dua batu di Safa dan Marwa. Dalam ibadah Haji Umra’, para peziarah harus mengelilingi patung² ini tujuh kali. Hal ini menerangkan pada kita ibadah asli di Mekah jaman pra-Islam, dan Haji Umra’ yang berhubungan dengannya.

Ibadah agama di Mekah merupakan kombinasi dari dua kepercayaan: ibadah Dewa² Bintang Arab dan ibadah perdukunan Arab. Ibadah Dewa² Bintang Arab diselenggarakan oleh para Kahin (Kahin = tunggal, Kahun = jamak), yang adalah para dukun agama Jin Arab, dan mereka adalah satu²nya badan organisasi agama pagan di Arabia. Tiada dukun dalam ibadah Dewa² Bintang Arab. Para Kahin mendominasi berbagai Ka’bah dan kuil pemujaan bagi para dewa Keluarga Bintang Arab. Ka’bah di Mekah memiliki Kahin² yang bertanggungjawab atas kegiatan di sekitar Ka’bah. Salah satu dukun Kahin yang terkenal bernama Waki’a وكيع. Waki’a melafalkan ayat² berirama yang serupa dengan ayat² berirama dalam Qur’an.

Selain itu juga terdapat seekor ular di Ka’bah yang hidup di dalam sumur di tengah Ka’bah, di mana para umat melemparkan pemberian² mereka. [84] Bangsa Arab menganggap ular sebagai Jin atau setan. [85] Hal ini menerangkan bahwa ular alias Jin tersebut disembah para peziarah yang mengunjungi Mekah. Pemberian² mereka dilemparkan kepada sang ular sebagai tanda penghormatan, penyembahan dan rasa takut karena ular itu dianggap sebagai Jin atau setan. Hal serupa juga kita dapatkan di berbagai kuil India di mana terdapat ular yang diberi persembahan makanan atau barang berharga karena binatang itu dianggap sebagai dewa utama di kuil tersebut.
[84] Tarikh al-Tabari, I, hal. 525
[85] Taj Al Aruss, I, hal. 147, 284


Hipotesa kami tentang ibadah Jin di kuil Ka’bah ditunjang dengan fakta nama Allah, yang menurut penulis² Arab kuno, berasal dari Allaha, yang merupakan gelar bagi sang ular. [86]
[86] Taj Al Aruss, 9: 410


Apakah Agama Sebenarnya Abdul Mutalib, Orang yang Menggali Sumur Zamzam untuk Memuja Isaf dan Naila?

Patung² Isaf dan Naila diletakkan di atas sumur Zamzam. Ibn Hisyam, yang mengedit buku Sirat Rasul Allah, biografi tertua Muhammad, mengatakan bahwa kedua patung itu dipuja di dekat sumur Zamzam. Katanya, para pemuja mengorbankan binatang² mereka pada kedua patung ini. [87] Hal ini menunjukkan bahwa patung Zamzam dibuat untuk menyembah kedua patung dukun Jin tersebut. Adalah Abdul Mutalib, kakek Muhammad, yang mempersembahkan sumur Zamzam itu bagi kedua dukun Jin dan patung²nya. Kesimpulan ini diambil dari beberapa alasan. Pertama, Abdul Mutalib menggali sumur Zamzam. [88] Kedua, Abdul Mutalib merupakan salah satu pemuja patung² kedua dukun Jin. Dia begitu terpukau oleh perdukunan sehingga dia ingin mengorbankan salah seorang putranya di kaki kedua patung itu di dekat sumur Zamzam. Putranya ini bernama Abdullah, bapak Muhammad. Ketika Abdul Mutalib telah siap menghujamkan pisaunya untuk membunuh putranya Abdullah, saudara laki Abdul Mutalib datang dan menyelamatkan anak laki itu. [89]
[87] Ibn Hisham, I, hal. 69
[88] Ibn Hisham, I, hal. 117 and 118
[89] Ibn Hisham, I, hal. 126; Halabieh, I, hal. 58


Gagasan mempersembahkan putra sendiri pada Jin atau dukun utama telah dikenal luas, tidak hanya di Arabia saja, tapi juga di berbagai belahan dunia jaman kuno. Bahkan sekarang pun masih ada saja aliran² perdukunan yang mempersembahkan anak² jemaatnya pada para setan. Fakta bahwa Abdul Mutalib berusaha mengorbankan putranya di hadapan kedua patung menunjukkan bahwa agama Jin Arab merupakan agama yang paling diimaninya.

Alasan ketiga adalah Abdul Mutalib punya hubungan erat dengan para Kahin agama Jin. Abdul Mutalib berkonsultasi dengan para Kahin ketika menghadapi masalah. Para Kahin ini adalah penasehatnya, dan Abdul Mutalib rela melakukan perjalanan jauh untuk menemui Kahin terkenal dan minta nasehatnya. Ketika terjadi pertikaian antara suku Quraish dan Abdul Mutalib gara² sumur Zamzam, Abdul Mutalib memilih seorang Kahinah (Kahin wanita) terkenal untuk memutuskan perkara. Kahinah inilah yang menunjuk Kahin² lain yakni Satih dan Shak’ untuk menggantinya setelah dia mati. [90] Al-Halabiyah mengatakan tentang kedua Kahin agama Jin ini:
[90] Halabieh, I, hal.122

Mereka merupakan ketua² Kuhan dan yang berpengetahuan tentang perdukunan dan imamat Jin. [91]
[91] Halabieh, I, hal.122

Ibn Hisyam menyebut tentang Kahinah ini, “Dia adalah Kahinah dari keluarga Saad Hutheim.” [92] Ketika pertikaian terjadi antara Abdul Mutalib dan Bani Kilab, Abdul Mutalib pergi menemui Kahin bernama Rabiah Bin H’thar al-Asadi untuk menghakimi perkara. [93] Konsultasi dengan Kahin Jin merupakan kebiasaan kakek moyang Muhammad. Hisyam, ayah dari Abdul Mutalib, terkenal suka berkonsultasi dengan Kahin utama dari suku Khuzaa’h. [94] Banyaknya contoh² seperti ini menyingkapkan hubungan kakek moyang Muhammad dengan agama Jin Arab.
[92] Ibn Hisham, I, hal. 119
[93] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3, hal. 133
[94] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3, hal. 123


Jika alasan² di atas masih dianggap kurang meyakinkan, ada dua lagi bukti bahwa Abdul Mutalib merupakan pemimpin agama Jin Arab. Ketika Abdul Mutalib mempersembahkan putranya Abdullah (ayah Muhammad), dia melakukan hal ini melalui seorang Kahinah, di bawah perintah Jin yang berhubungan dengan Kahinah ini. Para penulis biografi Muhammad, termasuk Ibn Hisyam, mengatakan bahwa Abdul Mutalib membawa Abdullah menemui Kahinah bernama Khutbah. Wanita ini hidup di kota Khaybar yang terletak di Arab utara tengah. [95] Ketika mengunjungi Khubtah, Abdul Mutalib menyampaikan tekadnya untuk membunuh putranya jika Kahinah itu memerintahkan begitu. Kebiasaan ini memang sering dilakukan oleh para umat perdukunan bagi para roh yang terdapat pada benda² ibadah atau melalui dukun. Roh itu bisa meminta nyawa anak dikorbankan padanya, atau sang dukun bisa meminta orangtua anak mempersembahkan anjing atau binatang lain sebagai korban bagi roh tersebut. Sudah jelas bahwa di dalam kasus Abdul Mutalib, kita berhadapan dengan fenomena yang sama yang dipraktekkan berbagai sekte perdukunan. Roh² agama Jin berkuasa atas nasib anak² yang lahir dari keluarga umat agama itu. Inilah alasannya mengapa banyak anak² yang dikorbankan bagi para jin atau roh itu.
[95] Ibn Hisham I, hal. 126 dan 127

Abdul Mutalib menunjukkan pengabdian sepenuhnya pada kepercayaannya. Dia siap menerima keputusan Khutbah yang menjadi perantara Jin. Ibn Hisyam menjelaskan jawaban Khutbah terhadap pertanyaan Abdul Mutalib, “Kembalilah padaku setelah satu hari sampai dia yang berhubungan denganku mendatangiku.” [96] Yang dimaksud Khutbah adalah Jin yang sering berhubungan dengannya. Ternyata sang Jin memang datang padanya dan memberitahunya bahwa unta² harus dipersembahkan dan bukan Abdullah, yang nantinya jadi ayah Muhammad.
[96] Ibn Hisham, I, hal. 126; Halabieh, I, hal. 58

Untuk mengetahui agama seseorang, kita hanya perlu melihat di mana dia mentahbiskan anak²nya. Jika dia mentahbiskan anak²nya di gereja, sudah jelas bahwa dia adalah orang Kristen. Jika dia mentahbiskan di sinagog Yahudi, tentunya dia adalah orang Yahudi. Jika dia mentahbiskan di kuil Sabi, tentunya dia adalah penganuh agama Sabi. Tapi jika dia mempersembahkan anaknya di upacara perdukunan melalui medium atas perintah Jin, maka tentunya dia memeluk kepercayaan perdukunan yang diwakili medium atau dukunnya. Jadi itulah agama Abdul Mutalib. Tidak jauh dari Mekah, terdapat banyak gereja² Kristen, terutama di kota Najran. Banyak pula sinagog di dekat Mekah, tapi Abdul Mutalib menjauhi semua tempat ibadah tersebut, dan lebih memilih mempersembahkan putranya melalui Kahinah, dukun wanita agama Jin.

Hal lain yang juga harus dipertimbangkan adalah keinginannya untuk mencari istri bagi putranya Abdullah diantara para dukun wanita agama Jin. Dia memperkenalkan Abdullah kepada banyak dukun wanita muda. Di salah satu kejadian yang tertulis di Sira Halabiyah, tertulis sebagai berikut:

Ketika Abdul Mutalib menemani putranya Abdullah untuk mempersiapkan pernikahan, dia bertemu dengan seorang Kahinah yang merupakan dukun wanita agama Jin dari Tubbalah, kota kecil di Yaman. Nama wanita itu adalah Fatima, putra dari Mur al-Khathmie الخثعمية.
[97]
[97] Halabieh, 1, hal. 63

Dukun wanita lain yang diperkenalkan pada Abdullah adalah Rukhiah Binti Naufal رقية. Wanita ini juga merupakan Kahinah agama Jin. Ibn Hisyam, penulis biografi Muhammad yang terkemuka, menjelaskan bahwa Abdullah bertemu dengan Rukhiah di Ka’bah, dan ini berarti Rukhiah merupakan bagian ibadah perdukunan yang berlangsung di Ka’bah di Mekah. [98]
[98] Ibn Hisham, I, hal. 128


Khadija, Istri Pertama Muhammad, dan Saudara Sepupunya Waraqa

Rukhiah adalah saudara perempuan Waraqa bin Naufal, pendeta aliran Ebionit yang merupakan saudara sepupu Khadijah, istri pertama Muhammad. Waraqa-lah yang meyakinkan Muhammad untuk jadi nabi. Muhammad sering bertapa di gua Hira, dekat Mekah. Suatu hari dia pulang dari gua Hira sambil merasa ketakutan. Dia mengatakan pada istrinya bahwa sebuah jin mengaku sebagai Jibril muncul di hadapannya dan mencekiknya tiga kali. Setelah pertemuan gaib itu, Muhammad yakin dirinya dimasuki setan. Tapi Khadijah yakin bahwa Muhammad akan jadi nabi Allah. Perlu diperhatikan bahwa jika seorang malaikat muncul di Alkitab, mereka tidak pernah mengancam siapapun atau memaksa orang harus jadi nabi.

Khadijah dulu menikah dengan Nabash Bin Zarareh Bin Wakdanنباش بن زرارة بن وقدان, seorang peramal Jin, sebelum Khadijah bertemu Muhammad. Jin muncul di hadapan Nabash dalam bentuk orangtua yang memberinya petunjuk. [99] Sebagai istri peramal Jin, citra Khadija terangkat karena banyak orang Arab yang datang untuk konsultasi dengan peramal Jin dan membayar servisnya. Hal ini juga menerangkan mengapa Khadijah bisa jadi kaya. Selain itu, dia juga punya bisnis kafilah yang membawa barang² dagangan dari Syria ke Mekah. Setelah Nabash wafat, Khadijah memperkerjakan Muhammad dalam bisnis kafilahnya, dan lalu menikahinya, meskipun Muhammad dua puluh tahun lebih muda darinya.
[99] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq, hal. 88 dan 89

Setelah pengalaman buruk di Gua Hira membuat Muhammad tertekan, Khadijah mengirim Muhammad pada Waraqa agar meyakinkan Muhammad bahwa dia dipanggil untuk jadi nabi Allah. Waraqa ternyata berhasil meyakinkan Muhammad dan bertanggungjawab atas ditulisnya kebanyakan ayat² Qur’an di awal Islam. Waraqa menyelipkan doktrin² Ebionit tentang Yesus ke dalam Qur’an, yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi, dan Dia tidak disalib, tapi Tuhan membuat orang lain jadi tampak seperti Yesus. Orang ini disalib karena orang² mengira dia adalah Yesus. Doktrin ini awalnya diciptakan oleh Simon, dukun dari Samaria, yang lalu menciptakan aliran bid’ah yang dinamakan Simonisme. Alirannya lalu menjadi akar doktrin yang kemudian dikembangkan oleh para Gnostik di masa depan. Hyppolytus menulis di bukunya yang berjudul “The Refutation of all heresies” (Bantahan terhadap semua pemahaman bid’ah) tentang gagasan Simon mengenai Yesus:

Yesus Kristus dirubah, dan diserupakan dengan para penguasa dan kekuatan dan malaikat, datang untuk pemulihan (berbagai hal). Dan lalu tampaknya Yesus muncul sebagai manusia, padahal sebenarnya dia bukanlah orang. Dan tampaknya dia menderita, padahal sebenarnya tidak mengalami penderitaan, tapi tampak demikian pada pandangan masyarakat Yahudi. [100]
[100] Hyppolytus, The Refutation of All Heresies, jilid VI , Bab xiv

Gagasan bahwa Tuhan membuat orang lain mirip Yesus dan lalu disalib ternyata diterima oleh kelompok² bid’ah yang terkenal dengan nilai² amoralnya, seperti sex bebas dan berhubungan dengan perdukunan. Waraqa adalah salah satu umat aliran² ini.

Waraqa juga merupakan salah satu pendiri kelompok kepercayaan Hanif. Dalam keterangan pertama biografi Muhammad yang ditulis Ibn Hisyam di abad ke-8 M, tertulis:

Kaum Hanif atau Ahnaf adalah kelompok kecil yang dimulai oleh empat orang Sabian di Mekah. Mereka adalah Zayd bin Amru bin Nafil, Waraqa bin Naufal, Ubaydullah bin Jahsh, dan Uthman Bin al-Huwayrith. [101]

Para pendiri agama Hanif ini punya hubungan keluarga dengan Muhammad. Mereka adalah keturunan Loayy, salah satu kakek moyang Mumammad. Terlebih lagi, Waraqa bin Naufal dan Uthman Bin al-Huwayrith adalah sepupu Khadijah. Kita tahu akan hal ini dari silsilah keluarga Muhammad yang ditulis oleh Ibn Hisyam. [102] Ubaydullah bin Jahsh adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Muhammad menikahi janda Ubaydullah, yakni Umm Habibah. Semua ini mengungkapkan dekatnya hubungan antara Muhammad dan para pendiri agama Hanif.
[101] Ibn Hisham 1, hal. 242: dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 476
[102] Ibn Hisham, bagian pertama; hal. 63 dan 76


Kelompok ini tak dikenal diluar Mekah, tapi Umayya bin Abi al-Salt, sepupu Muhammad dari pihak ibu, dianggap sebagai anggota kelompok ini. Dia hidup di kota Taif. Tertulis bahwa banyak orang yang lalu menerima agama ini dan mencampurkannya dengan berbagai aliran polytheisme, paganisme, dan perdukunan. Sangatlah tak tepat jika dikatakan mereka menganut kepercayaan Abraham dan nabi² lain di Perjanjian Lama. Sungguh menggelikan bahwasanya umat Muslim percaya bahwa kelompok pagan ini menganut kepercayaan yang benar.

Dongeng² yang mereka percayai dan cantumkan dalam puisi² mereka juga tertulis di Qur’an karena Muhammad adalah bagian kelompok ini sewaktu dia masih muda. Dia mengatakan bahwa dia percaya pada imamat mereka, dan dia pun diketahui punya hubungan erat dengan kelompok ini. Dia terpengaruh akan ajaran² mereka, seperti misalnya surga penuh dengan free sex. Semua ini menunjukkan bahwa Muhammad sangat terlibat dengan kelompok Hanif dan juga menyerap gagasan² mereka. Di Qur’an kita dapatkan sebagian dari dongeng² Hanif.

Tidak diketahui dengan jelas apakah kelompok ini menyebut diri mereka sebagai Honafa’ atau Ahnaf, atau apakah julukan ini diberikan oleh masyarakat, tapi kata “hanif” sendiri memiliki konotasi yang negatif, yang berhubungan dengan perbuatan negatif. Kata hanif berarti “mengikat, mengurung, salah, berprasangka, dan tersesat. Kata Arab ini berasal dari kata kerja hanafa yang berarti “untuk jadi terikat.” [103] Meskipun Qur’an menunjukkan makna positif dari istilah Hanif, tapi maknanya tidaklah begitu di jaman Muhammad. Jawad Ali, ahli Islam dari Iraq, menulis, “Umat Hanif keluar dari jalan yang benar.” Jawad Ali mengutip banyak penulis² kuno Islam yang tetap mempertahankan makna hanif yang sebenarnya di jaman Muhammad. [104] Menurut Jawad Ali, kata itu diambil dari kata Aramaik yang berarti “tak bertuhan, penuh tipu daya, munafik, kafir atau menyesatkan.” [105]
[103] Al-Munjed, Arabic dictionary, hal. 158
[104] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 451
[105] Jawad Ali , al-Mufassal, vi, hal. 454


Bagaimana pun kau melihatnya, istilah hanif adalah negatif di jaman Muhammad, seperti yang kita lihat dalam bahasa Arab dan Aramaik. Hal ini menunjukkan bahwa nama hanif bukanlah nama pilihan umat Hanif, tapi julukan yang diberikan masyarakat Arab yang hidup bersama mereka, sebagai pencerminan tingkahlaku mereka yang dianggap amoral dan sesat.


Reputasi Amoral Kaum Hanif dan Akibatnya pada Muhammad

Contoh perbuatan amoral kaum Hanif tampak pada syair²nya, seperti puisi yang disusun oleh Waraqa bin Naufal, salah satu pendiri kelompok ini. Di puisinya, dia membual pengalamannya memperkosa seorang gadis di rumahnya dan menikmati sex bersamanya. Di puisinya, dia mendorong orang lain untuk melakukan hal ini. [106] Ajakan amoral Waraqa ini berakibat besar bagi Muhammad, yang belajar darinya.
[106] Al Asbahani, Al-Agani 3, hal. 118

Ketika Waraqa mati, para penulis biografi Muhammad mengatakan, “Wahyu tidak turun lagi.” [107] Karena itu, Muhammad ingin bunuh diri berkali-kali dengan cara menjatuhkan diri dari gunung. Para penulis saling bertentangan pendapat tentang lamanya masa Muhammad ingin bunuh diri; sebagian mengatakan empatpuluh hari, yang lain mengatakan tiga tahun. [108] Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya Muhammad menemukan sumber² lain bagi ayat² Qur’an-nya.
[107] Sahih al-Bukhari, 1, hal. 4
[108] Halabieh, I, hal. 421



Bagaimana Kita Harus Menyebut Kakek Muhammad yang Menggali Sumur Zamzam?

Aku telah menerangkan bahwa Abdul Mutalib ingin mencari istri bagi putranya Abdullah, yang nantinya menjadi ayah Muhammad. Abdul Mutalib menolak banyak dukun Jin wanita dalam mencari istri putranya. Akhirnya dia memilih Aminah, saudara sepupu Soda binti Zehra, Kahinah utama di Mekah. Al-Halabiyah, penulis biografi Muhammad, dalam Sira menyatakan bahwa alasan Abdul Mutalib mengambil Aminah sebagai istri bagi Abdullah adalah karena bibi Aminah adalah Soda binti Zehra. [109] Abdul ingin punya hubungan dekat dengan Kahinah utama ini dan membaktikan diri pada ibadah Jin yang Soda lakukan.
[109] Halabieh, I, hal. 73 and 74

Ujian penting untuk menilai tingkat dedikasi seseorang dan keterkaitannya pada suatu agama adalah melalui pasangan yang dia pilih bagi dirinya sendiri atau bagi putranya untuk dinikahi. Jika dia memilih wanita dari suatu sekte tertentu, kita bisa memperkirakan bahwa dia adalah pengikut sekte tersebut. Tapi jika dia memilih istri hanya dari wanita² yang jadi tokoh penting agamanya, maka itu berarti dia bukan hanya umat biasa saja, tapi adalah umat yang fanatik dan aktivis kegiatan agama tersebut. Dia menunjukkan keinginannya untuk menyebarkan agamanya dengan cara membangun keluarga yang berdedikasi total pada agamanya, sehingga keluarga ini akan menghasilkan pemimpin² utama sistem agama tersebut.

Pengertian di atas dapat membantu kita untuk melihat hubungan agama orang yang menggali sumur Zamzam dan menunjukkan pada kita apa tujuannya menggali sumur itu. Masyarakat Arab punya kebiasaan menggali sumur dan mempersembahkan sumur itu bagi dewa² yang mereka puja. Fakta bahwa Abdul Mutalib menggali sumur Zamzam dan meletakkan dua buah patung Jin Kahin Isaf dan Naila pada sumur itu, sudah cukup untuk meyakinkan kita akan jenis agamanya dan tekadnya dalam menyebarkan agamanya. Karena dia mempertimbangkan untuk membunuh putranya, Abdullah, di hadapan kedua patung tersebut, maka hal ini menunjukkan bahwa ibadah Jin Arab adalah agama utamanya, dan dia sangat berbakti padanya.

Literatur Islam yang menjelaskan latar belakang bangsa Arab di jaman Muhammad menyinggung tentang kebiasaan sebagian bangsa Arab untuk mempersembahkan korban bagi Jin-setan setelah menggali sumur. [110] Fakta yang menyatakan Abdul Mutalib mendirikan dua patung Kahin di sumur Zamzam, dan lalu hendak membunuh putranya di hadapan kaki² patung, menunjukkan bahwa dia ingin mempersembahkan putranya bagi sang Jin, dan dia menggali sumur Zamzam untuk mengekspresikan rasa hormatnya bagi ibadah agama Jin Arab.
[110] Al-Lisan, 13, hal. 213; dikutip oleh Jiwad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 720

Sungguh ironis untuk menghubungkan kepercayaan perdukunan ini dengan Abraham! Umat Muslim saat ini tidak menerima keuntungan apapun dengan meminum air dari sumur Zamzam. Mereka juga tak mendapatkan faedah apapun dengan melakukan ritual agama sistem kepercayaan dukun pagan.


Haji Umra’ dalam Islam dan Akar Pagannya

Sekarang mari telaah ibadah Haji kecil, Umra’. Ibadah ini merupakan ibadah Haji perdukunan asli Mekah, di kuilnya Ka’bah. Ibadah Haji kecil ini berbeda dengan ibadah Haji besar yang dilakukan di luar Mekah. Mekah tak ada hubungannya dengan ibadah Haji besar. Muhammad memasukkan ibadah Haji kecil ke dalam Islam, meskipun upacara Haji sangat berkaitan dengan agama Jin Arab.

Umra’ dilakukan di setiap waktu, dimulai dari kuil Ka’bah dengan melakukan tawaf, yakni mengelilingi Ka’bah. Setelah itu umat peziarah melanjutkan dengan meminum air dari sumur Zamzam. Lalu mereka harus berjalan kali tujuh kali diantara dua buah batu di Safa dan Marwa, di mana dua patung Isaf dan Naila dulu diletakkan di jaman pra-Islam. Akhirnya mereka harus memotong rambut di hadapan batu Marwa.

Umra’ jaman pra-Islam adalah ritual agama Jin Arab yang berkisar diantara dua patung dukun Kahin dan patung dewa angin.

Sekarang mari telaah asal-usul ibadah Haji kecil dan pusatnya pada empat patung berhala yang diletakkan di atas empat batu. Meskipun patung² berhala telah disingkirkan di jaman islam, batu² di mana patung² tersebut dulu berdiri masih terus menjadi subyek ibadah Haji dan penyembahannya. Patung² berhala itu dulu adalah patung² Isaf dan Naila. Kedua orang ini adalah dukun Kahin yang paling utama. Satu patung mereka diletakkan di atas batu di Safa, dan satu lagi di Marwa. [111] Safa dan Marwa terletak di dua bukit dekat Mekah, tak jauh dari tempat Abdul Mutalib menggali sumur Zamzam dan mendirikan dua buah patung Isaf dan Naila sebagai dewa² sumur tersebut. Muslim sampai sekarang masih saja berkunjung ke tempat² itu sebagai bagian dari ibadah Umra’.
[111] Al Shawrastani, Al-Milal Wal Nahil, hal. 578

Orang² Arab membuat patung² Isaf dan Naila karena mereka menganggap kedua dukun ini sebagai dukun² suci Ka’bah di Mekah. Keduanya merupakan simbol penting agama Jin. Menurut dongeng mereka, Isaf dan Naila diubah jadi patung batu setelah berzinah di dalam Ka’bah.

Al-Ya’akubi, sejarawan dan geografer Arab terkenal di abad ke-9 M, menulis tentang kehidupan bangsa Arab sebelum dan setelah jaman Islam. Dia menulis bahwa kedua patung berhala diletakkan di Safa dan Marwa. Patung berhala yang diletakkan di Safa bernama Mujawer al-Rih' مجاور الريح , yang berarti “tempat perlindungan bagi angin.” [112] Angin di Mekah dianggap sebagai Jin-setan. Kita tahu akan hal ini dari tulisan berbagai sejarawan. Banyak penulis biografi Muhammad yang menyatakan bahwa Muhammad didatangi seorang Kahin yang lalu memeluk Islam. Nama Kahin ini adalah Thamad al-Azdi. Di Sira Al-Halabiyah tertulis:
[112] Al-Yaa’kubi 1, hal. 224

Delegasi Thamad al-Azdi yang datang menemui Muhammad dilaporkan oleh Ibn Abbas: “Thamad datang ke Mekah dan dia berasal dari Izad Shina’t, yang merupakan nama sukunya, dan dia dulu sering mengguna-guna atau menyulap melalui angin yang sebenarnya adalah Jin. Dia menyapa Muhammad dan memeluk Islam.” [113]
[113] Halabieh, 2, hal. 39

Dengan begitu, sudahlah jelas bahwa angin merupakan salah satu gelar bagi Jin-setan di Mekah di jaman Muhammad. Orang² percaya bahwa angin adalah Jin. Topan badai merupakan salah satu setan² yang disembah di Mekah. [114] Sebuah berhala bernama Khazeh dipercayai sebagai penyebab topan badai, sehingga berhalanya diletakkan di dalam Ka’bah di Mekah. Banyak sejarawan yang yakin bahwa Khazeh adalah setan. [115] Aku telah menyebut sebelumnya bahwa ada tempat perhentian dalam ibadah Haji besar di Muzdalifah yang dekat dengan gunung yang diberi nama berdasarkan nama setan Khazeh قزح. Orang yang memimpin upacara² ibadah di Muzdalifah akan berdiri di atas gunung ini.
[114] Al Azruqi, Akhbar Mecca, I, hal. 73
[115] Encyclopedia Religion, I, hal. 661; dikutip olehJawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 287


Penulis Arab seperti al-Azruqi الازرقي, yang menulis tentang Mekah jaman pra-Islam, mengatakan bahwa angin juga disembah di Mekah, dan ada patung berhala bernama Nahik yang dianggap sebagai dewa angin. Orang² seringkali berziarah untuk menyapa berhala ini. [116] Berhala angin di Safa disebut “tempat berlindung bagi angin.” Berhala angin ini disembah di bukit² Safa dan Marwa. Berhala Dewa Angin, dan patung² Isaf dan Naila di Ka’bah dan juga di Safa dan Marwa, merupakan benda² yang disembah umat yang melakukan Umra’.
[116] Al Azruqi, Akhbar Mecca, I, hal. 73


Bukti² Lain bahwa Safa dan Marwa adalah Pusat Ibadah Agama Jin Arab

Para jin punya cara tersendiri untuk memanggil umatnya. Mereka bermain musik yang suaranya mirip dengan dentangan suara gaib. Di malam hari, biasanya bunyi ini terdengar bagaikan bunyi tabuhan. Ibn Abbas, sepupu Muhammad, dan penyampai hadis, mengatakan: “Para Jin sering bermain musik sepanjang malam diantara dua batu Safa dan Marwa.” [117] Hal ini menunjukkan bahwa tempat diantara Safa dan Marwa adalah pusat ibadah penting bagi agama Jin Arab. Ibadahnya mengandung elemen gaib seperti: patung² Isaf dan Naila – patung Kahin yang terkemuka – patung berhala dewa angin. Berhala² ini mendorong para pemuja Jin untuk berziarah ke Safa dan Marwa. Para peziarah menghubungkan ibadah mereka dengan batu² di mana berhala dewa angin dan patung² Isaf dan Naila diletakkan. Mereka mengunjungi dua patung Isaf dan Naila, memuliakan para Kahin, dan pergi ke sumur Zamzam.
[117] Taj Al Aruss, 6, hal. 197


Bukti² bahwa Haji Umra’ Berkisar pada Kedua Patung Dukun Kahin

Empat batu yang menjadi landasan berdirinya empat patung berhala di jaman dulu, masih ada di Islam jaman sekarang. Aku akan membahas hubungan berhala² ini dengan ibadah Haji kecil yang asli di jaman pra-Islam.

Penyembahan pada dua patung Kahin Isaf dan Naila berakar di Ka’bah, Mekah. Banyak bukti yang membuktikan bahwa ibadah Haji di Mekah diperuntukkan bagi kedua patung tersebut. Haji adalah upacara utama bagi umat agama Jin Arab. Al-Ya’akubi mengatakan bahwa patung² Isaf dan Naila diletakkan di batu² keramat utama di Ka’bah. Katanya lagi, orang² yang menunaikan ibadah Haji akan mencium kedua patung tersebut sebelum melanjutkan ritual Haji. Mereka melakukan perjalanan melingkar penuh yang berakhir di lokasi kedua patung Isaf dan Naila. [118]
[118] Al Yaa’kubi, 1: 224

Al-Ya’akubi menyingkapkan asal-usul Haji Mekah yang sekarang jadi Haji Umra’. Dari tulisannya, bisa disimpulkan bahwa sebelum jaman Islam, terdapat ibadah Haji yang melibatkan penyembahan terhadap dua patung Kahin itu. Dia menerangkan bahwa batu² yang disebut Rukun di Ka’bah bukanlah elemen utama penyembahan. Karena patung² Isaf dan Naila tidak diletakkan pada Rukun, tentunya patung² itu punya tempat istimewa yang sangat penting. Umat pagan terbiasa meletakkan berhala mereka di atas landasan batu, dan bukan di atas lantai kuil. Ini menjelaskan mengapa orang Arab yang menghormati kuil Ka’bah meletakkan kedua patung berhala Isaf dan Naila di atas dua batu utama Ka’bah.

Tulisan Ya’akubi menjelaskan bahwa Umra’ berkisar pada penyembahan dua patung berhala Kahin. Isaf dan Naila disembah dan kemungkinan dianggap sebagai perantara bagi Jin da umatnya. Ibadah Haji dimulai dari kedua patung ini dan selesai saat umat peziarah kembali untuk mencium kedua patung yang sama.

Hal ini menjelaskan mengapa patung² Isaf dan Naila juga didirikan di dekat sumur Zamzam. Orang Arab terbiasa menggali sumur bagi setiap kuil, dan mereka mempersembahkan korban bagi dewa² yang mereka sembah. Mereka pun melakukan ibadah Haji di sekitar patung² para dewa. Dalam ritual ibadah, mereka meminum air dari sumur yang didedikasikan bagi para dewa. Umat Jin Arab mendirikan kedua patung di sumur Zamzam untuk menunjukkan rasa hormat. Ibn Hisyam menulis bahwa bangsa Arab mempersembahkan hewan korban mereka pada patung² Isaf dan Naila di dekat sumur Zamzam. [119] Dengan begitu, sudah jelas bahwa Isaf dan Naila dianggap sebagai dewa dan ibadah Haji dipersembahkan bagi mereka berdua.
[119] Ibn Hisham, I, hal. 69

Dua suku Medina yang mendukung Muhammad dalam melaksanakan rencananya menundukkan suku² Arab di bawah Islam, ternyata melakukan ibadah Haji yang sama pada Isaf dan Naila.

Terdapat faktor sejarah lain yang menunjukkan bahwa Haji Umra’ di Mekah berkenaan dengan pemujaan patung berhala Kahin. Contohnya adalah bagaimana cara Aisyah menafsirkan satu ayat Qur’an di Sura Al-Baqarah (2), ayat 158 yang berbunyi:

Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Aisyah, istri termuda Muhammad, menerangkan tentang hal ini:

Ansar, di jaman pra-Islam, pergi untuk menyembah dua berhala yang terletak di tepi pantai. (Yang dimaksud sebagai orang Ansar olehnya adalah dua suku Yathrib yang menolong Muhammad menundukkan bangsa Arab dan memaka mereka memeluk Islam dengan cara memerangi mereka.) Patung² berhala ini adalah Isaf dan Naila. Lalu kedua suku itu datang untuk mengelilingi Safa dan Marwa. Setelah itu mereka memotong rambut mereka. Setelah Islam muncul, mereka tidak lagi bersemangat untuk mengelilingi Safa dan Marwa, seperti dulu di jaman pra-Islam. Allah menurunkan ayat “Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah.” Dengan demikian, kedua suku kembali lagi mengelilingi Safa dan Marwa. [120]
[120] Sahih Muslim, 9, hal. 21 dan 22

Aisyah menjelaskan bagaimana dan mengapa berbagai ayat Qur’an turun, dan dia menyampaikan banyak hadis Muhammad. Perkataannya di atas menerangkan fakta yang penting. Kedua suku Yathrib adalah Aws dan Khazraj, yang membuat perjanjian dengan Muhammad dan bersyahadat bahwa “tiada illah selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya.” Sebagai imbalannya, Muhammad berjanji untuk memimpin mereka berperang melawan suku² tetangga, dan akan memberikan imbalan besar. Mereka akan menikmati istri² dan anak² perempuan bangsa Arab yang mereka taklukkan, sebagai budak sex, memperbudak anak² mereka, dan merampas harta bendanya. Dari perkataan Aisyah sudah jelas bahwa kedua suku itu dulu menyembah Isaf dan Naila dan pergi ke Safa dan Marwa, dua tempat utama penyembahan para Jin. Di situ mereka lalu menyembah patung² Isaf dan Naila. Hal ini menunjukkan agama asli mereka sebenarnya adalah kepercayaan perdukunan. Mereka menyembah benda yang sama yang disembah umat Jin Arab.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mereka memulai ibadah Haji di lokasi kedua patung Isaf dan Naila. Mereka lalu memotong rambut, dan ini sama persis dengan kebiasaan yang dilakukan orang² Arab lainnya di jaman pra-Islam, seperti yang disebut oleh al-Ya’akubi. Perbedaannya hanyalah suku Aws dan Khazraj memulai ibadah Haji mereka dari kedua patung Isaf dan Naila di tepi pantai dekat Mekah, sedangkan suku² Arab lainnya memulai Umra’ di patung² Isaf dan Naila di kuil Ka’bah di Mekah, dan lalu menuju ke bukit² Safa dan Marwa. Ritual yang sama mengandung elemen ibadah jin yang sama, kecuali yang satu meletakkan patung² berhala di tepi pantai, dan yang lain di Ka’bah di Mekah. Keduanya juga mengunjungi Safa dan Marwa, di mana juga terletak patung² Isaf dan Naila, dan juga patung dewa angin.

Alasan mengapa suku Aws dan Khazraj meletakkan replika patung² Isaf dan Naila di tepi pantai, dan bukannya di Ka’bah di Mekah, adalah karena mereka menganggap Ka’bah Mekah merupakan tempat ibadah suku Quraysh.

Sungguh tak masuk akal bahwasanya umat Muslim membuat klaim Islam sebagai agama monotheistik, padahal Islam mengandung ibadah Haji okult yang menyembah berbagai elemen agama Jin Arab. Saat ini, Islam tetap mempraktekkan upacara Haji di tempat² yang sama seperti jaman pra-Islam, tapi sambil menghubungkannya dengan Abraham. Apakah hubungan kepercayaan Abraham dengan kepercayaan Jin-setan Arab? Sudah jelas bahwa Muhammad ingin menggabungkan dua agama yang tak bisa disatukan. Ibadah pada Tuhan tidak bisa dicampur dengan ibadah pada Jin-setan.

Aku telah mengutip perkataan Aisyah tentang ibadah Haji yang dilakukan suku² Yathrib, yakni Aws dan Khazraj. Ingatlah bahwa mereka mendukung Muhammad dan menolongnya memaksakan Islam pada suku² lainnya. Keterangan Aisyah juga menyebut bahwa mereka melaksanakan ibadah Haji yang sama, seperti mengunjungi kedua bukit Safa dan Marwa, dan diakhiri dengan memotong rambut. Ketika Islam muncul, para peziarah Haji wajib berjalan bolak-balik tujuh kali antara Safa dan Marwa, dan lalu mengakhiri ibadah Haji dengan potong rambut juga. Ini menunjukkan bahwa Muhammad meneruskan praktek Haji yang dilaksanakan agama Jin Arab.

Ritual ibadah agama Jin Arab tidak serupa dengan ritual ibadah agama monotheistik Abraham. Pengakuan Islam adalah tak realistik dan tak punya bukti historis. Dengan begitu, bagaimana mungkin Gabriel atau Jibril bisa menghentakkan kakinya ke tanah dan lalu mata air Zamzam muncul, seperti yang dikatakan Muslim? Ibn Ishak, penulis utama biografi Muhammad, mengatakan bahwa suku Jurhum menutupi sumur dengan Batu hitam dan patung gazel terbuat dari emas. Hal ini, katanya, terjadi setelah suku Jurhum dikalahkan dan diusir keluar dari Mekah. Bagaimana mungkin satu²nya sumur di Mekah bisa disembunyikan dari penduduk Mekah atau dari orang² Baduy yang berjalan berkilo-kilo meter untuk menemukan air bagi unta² mereka? Jika sumur ditutupi, tentunya orang² lain akan langsung menggalinya lagi di hari yang sama. Jika sumur itu sudah ada di jaman kuno, maka tentunya sumur itu akan jadi tempat paling terkenal di Mekah, dan jadi sumber utama kehidupan setiap hari bagi masyarakat Mekah. Dengan begitu, tentunya mereka tidak akan diam saja jika memang ada orang yang menutupi sumur tersebut. Maka tentunya tak masuk akal jika ada yang bisa menyembunyikan sumur itu selama ratusan tahun, sampai muncul suara gaib yang mengatakan pada Abdul Mutalib untuk mulai menggali tempat itu. Dan bagaimana mungkin suara gaib malaikat Tuhan bisa muncul pada orang yang memuja berhala Isaf dan Naila? Bagaimana mungkin sumur itu bisa diciptakan oleh malaikat Gabriel, seperti yang dikatakan Islam? Apakah mungkin Tuhan meminta pemuja Jin-setan untuk mengerjakan tugas suci bagiNya? Jika Abdul Mutalib benar² mendengar suara surgawi yang menyuruhnya untuk menggali “sumur suci”, maka mengapa dia lalu mendirikan dua buah patung berhala Isaf dan Naila di atasnya? Mengapa pula dia lalu ingin mempersembahkan putranya di hadapan kaki² kedua berhala tersebut? Apakah tidak cukup bukti bahwa dia menggali sumur itu bagi patung² yang diletakkannya di atas sumur, dan yang pada patung² itulah dia mempersembahkan putranya? Dia ingin menyediakan air bagi upacara ibadah Haji, dan dan ini merupakan kebiasaan bangsa Arab di jaman dulu bagi para dewa mereka.

Semua pertanyaan ini seharusnya membuat umat Muslim sadar bahwa ritual perdukunan Arab kuno telah ditampilkan sebagai agama baru oleh Muhammad sewaktu dia menciptakan Islam. Dia mencoteknya begitu saja ke dalam islam. Tapi fakta sejarah menunjukkan hubungan jelas antara ritual² pagan Arab dengan Islam, dan Muhammad tidak bisa menyembunyikan hal ini. Hanya anak kecil saja yang bisa percaya semua cerita² karangan Muslim untuk membuat agamanya tampak benar.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Mon Apr 18, 2011 2:54 am
by Adadeh
Apakah rahasia di belakang suku Aws and Khazraj? Hanya merekalah yang menerima tawaran Muhammad untuk mendukungnya dengan kekuatan militer untuk memaksa suku² Arab menerima Islam.

Setelah mengetahui bahwa suku² Medina yakni Aws dan Khazraj juga melaksanakan ibadah Haji dengan memulainya dengan penyembahan terhadap patung² berhala Isaf dan Naila, maka bisa dimengerti mengapa hanya mereka saja yang menerima ajakan Muhammad untuk menaklukkan suku² Arab lain dan memaksa mereka memeluk Islam. Sebagai imbalannya, Muhammad menawarkan pada mereka mereka para wanita yang ditawan dalam penyerangan dan dijadikan budak sex, anak² para tawanan yang dijadikan budak Muslim, dan harta yang dirampas dari suku yang ditaklukkan.

Ada hubungan antara kedua suku ini dengan ibadah Haji Isaf dan Naila. Ritual Haji dilanjutkan dengan mengunjungi bukit² Safa dan Marwa yang diperuntukkan bagi dewa Angin. Hal ini menunjukkan agama asli suku Aws dan Khazraj, yakni agama Jin Arab. Para Kahin yang merupakan pelaksana agama Jin, juga mendukung Muhammad. Kedua suku Aws dan Khazraj juga menganut agama Jin Arab, sehingga mereka bersedia menyediakan kekuatan militer untuk mendukung rencana Muhammad.

Mengelilingi batu² berhala, Safa dan Marwa, merupakan ritual yang dibenci kebanyakan sahabat Muhammad karena mereka tahu itu merupakan bagian dari ritual pagan. Tapi mereka tetap melaksanakannya, karena Muhammad mengatakan Allah membenarkan ritual tersebut.

Bahkan para sahabat Muhammad mengakui bahwa ibadah Haji ke Safa dan Marwa merupakan ritual pagan Jahiliyah, jaman pra-Isam. Sahih al-Bukhari menyatakan:

Asim mengatakan pada kami bahwa dia berkata pada Uns bin Malik, sahabat Muhammad, “Kau membenci kegiatan mengitari Safa dan Marwa.” Dia menjawab, “Ya, karena itu merupakan salah satu ritual Jahiliyah sampai Allah menurunkan ayat bahwa Safa dan Marwa adalah bagian dari syi’ar Allah. Jika Muslim ingin melakukan ibadah Haji di Ka/bah, maka dia wajib melakukan hal itu. Orang itu jadi tanpa dosa dosa jika mengelilingi bukti² itu.” [121]
[121] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 171

Bahkan sepupu Muhammad, Ibn Abbas, pelapor berbagai Hadis sahih, mengatakan bahwa mengelilingi Safa dan Marwa merupakan kebiasaan masyarakat Jahiliyah atau Arab pagan sebelum jaman Islam. Perkataannya ditulis di hadis sahih al-Bukhari. [122]
[122] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 238

Umat Muslim di jaman Muhammad tahu asal-usul ritual pagan ini sebagaimana mereka tahu akan berbagai ritual pagan Arab yang dimasukkan Muhammad ke dalam Islam. Tapi mereka menerima begitu saja tanpa banyak tanya. Semua yang dikatakan atau ditulis Muhammad dalam Qur’an diterima begitu saja dan dianggap suci, meskipun umatnya tahu asal-usulnya dari agama pagan. Sungguh menyedihkan bahwasanya mereka tidak menggunakan pikirannya untuk mempertimbangkan bagaimana Muhammad membentuk Islam. Sebaliknya, mereka mengikuti dia begitu saja dengan mengenyahkan segala pertimbangan.


[b]Mohammed Bermaksud Menyatukan Ritual² Arab Pagan dalam Satu Agama[/b]

Mohammed berniat mengumpulkan berbagai aturan dan ritual Arab sebelum jaman Islam. Tujuannya adalah untuk membentuk suatu agama yang memuaskan semua pihak masyarakat Arab. Al-Bukhari menyatakan:

Masyarakat Arab pagan jaman pra-Islam dulu mengitari Safa dan Marwa. Ketika Allah menyuruh kami mengelilingi Ka’bah, Dia tak mengatakan tentang Safa dan Marwa di Qur’an. Mereka lalu berkata pada Muhammad: “Wahai Nabi Allah, kami dulu biasa mengelilingi Safa dan Marwa. Allah mengirim ayat untuk mengelilingi Ka’bah, tapi kenapa Dia tak menyebut tentang Safa dan Marwa? Apakah kami berdosa jika kami mengelilingi Safa dan Marwa?” Karena itu Allah memberi ayat ini: “Safa dan Marwa adalah bagian dari syi’ar Allah.” Abu Bakar mengatakan bahwa ayat ini menyenangkan kedua belah pihak: mereka dari jaman pra- Islam yang tak mau mengelilingi Safa dan Marwa, dan mereka yang mengelilingi Safa dan Marwa jaman pra- Islam, tapi malu untuk melakukannya setelah Islam muncul. [123]
[123] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 169 and 170

Sudah jelas bahwa niat Muhammad adalah untuk memuaskan semua golongan Arab melalui cara menggabungkan semua ritual mereka, terutama ritual mengelilingi Safa dan Marwa, yang sering dipraktekkan oleh banyak orang dari suku Aws dan Khazraj yang merupakan dua suku utama yang mendukungnya dalam mengobarkan perang untuk memaksakan Islam terhadap suku² Arab lainnya. Ritual mengelilingi Safa dan Marwa juga dilakukan Muhammad, karena ini adalah ritual yang dilakukan kakeknya jaman dulu.


Muhammad sendiri mempraktekkan ritual² perdukunan Haji. Dia membuang semua patung² berhala, tapi tetap saja mengelilingi berbagai batu landasan tempat berhala² itu dulu diletakkan.

Bertahun-tahun sebelum menulis Qur’an, Muhammad juga mengelilingi Safa dan Marwa tujuh kali karena hal ini juga dilakukan keluarga dan kakeknya. Dia memulai ibadah Haji di Ka’bah, dengan cara mengelilinginya dan mencium dua batu. Lalu dia mengelilingi dua batu di bukit² Safa dan Marwa. [124] Dengan begitu, Muhammad melakukan ritual yang sama yang dilakukan umat Jin Arab yang memulai ibadah Haji mereka dengan mencium patung² Isaf dan Naila yang diletakkan di kuil Ka’bah. Patung² ini diletakkan di batu² yang sama yang dipertahankan dan dicium oleh Muhammad.
[124] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 170, 146 and 181; Bukhari, 8, hal. 128; Sahih Muslim, 9, hal. 8 and 23

Mereka melanjutkan ibadah Haji dengan mendatangi batu² di Safa dan Marwa yang sama, di mana patung dewa Angin, Isaf dan Naila diletakkan. Hanya ada satu perbedaan ibadah pagan ini dengan Islam: Muhammad tidak menganggap patung² ini sebagai bagian dari ritual² Haji. Meskipun dia menghancurkan segala patung berhala, dia tetap saja menyembah batu² di mana patung² itu dulu diletakkan. Dengan begitu, perbedaan penting apakah yang dilakukan Muhammad jikalau dia hanya menyingkirkan berhala² tapi tetap saja mempraktekkan ritual pagan yang sama?

Muhammad secara sia² ingin menampilkan agama kuno Arab pagan sebagai agama Islam yang baru, dengan menyingkirkan berhala²nya, tapi masih tetap melakukan ritual agama pagan yang sama, masih tetap mengitari batu² yang sama yang dulu menjadi landasan di mana berhala² itu ditempatkan. Umat Muslim seharusnya waspada agar tidak terperangkap dengan tipu muslihat ini.


Peranan Kuil Ka’bah di Mekah dalam Agama Jinn dan dalam Keluarga Para Dewa Arab

Ka’bah adalah kuil di mana dua patung Isaf dan Naila diletakkan. Ibadah haji dimulai dari lokasi ini. Kedua patung Isaf dan Naila juga diletakkan di bukit² Safa dan Marwa. Kuil Ka’bah di Mekah merupakan pemersatu dan pusat pemujaan bagi agama Jin Arab dan juga agama Keluarga Dewa Bintang Arab.

Dalam agama Keluarga Dewa Bintang, Allah adalah bintang utama yang terbesar. Istrinya adalah matahari, dan putri²nya adalah Manat dan al-‘Uzza, yang mewakili sebuah planet. Para Kahin, yang memperkenalkan agama Jin bagi masyarakat Arab yang mempraktekkan agama² pagan lainya seperti agama Keluarga Bintang Arab, dianggap sebagai dewa². Suku Quraish menganggap Iblis – nama lain dari setan – dan Allah sebagai adik kakak. [125] Mereka mengatakan bahwa diantara Allah dan Jin terdapat persaudaraan yang erat. [126] Mereka percaya bahwa para malaikat adalah putri² Allah, dan bahwa para ibu dari malaikat² adalah putri² dari “dewa Jin.” [127] Jin dianggap lebih superior dibandingkan malaikat. Masyarakat Arab pagan menjunjung tinggi Jin karena mereka percaya bahwa Jin punya hubungan erat dan persaudaraan dengan Allah. Karena para Jin menggeser kedudukan para malaikat, maka para Jin meninggalkan sidik jari mereka di Qur’an.
[125] Tafsir al-Tabari, 23, hal. 69
[126] Tafsir al-Tabari, 23, hal. 69
[127] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 96



Jin² - Setan² Menggantikan Malaikat² di Qur’an, Sama seperti Mereka Menggantikan Malaikat² di Literatur dan Puisi Agama Jin Arab

Qur’an mewakili literatur Arab yang disusun sebelum jaman Muhammad; literatur seperti ini merupakan karya tulis yang berkaitan dengan para Jin. [128] Dalam Qur’an, kita menemukan jiwa agama Jin Arab. Contohnya bisa dilihat dari para setan yang bekerja bagi Sulaiman di Sura al-Anbiya’(21) , ayat 81 dan 82:
[128] Al-Jaheth, al-Haiwan, 6, hal. 187; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,


Ayat 81 menerangkan bahwa Sulaiman membuat angin jadi pelayannya. Di bawah perintahnya, angin pergi ke tanah yang diberkati Allah, yakni Harran, sebagaimana yang dikatakan sumber lain. Angin berperan sebagai pelayan dewa² penuh kuasa dan raja² besar merupakan tema umum dalam agama² kuno Timur Tengah.

Al-Sabuni, penafsir Qur’an modern dari Saudi Arabia menjelaskan tentang ayat 82 sebagai berikut:

Setan² menyelam bagi Sulaiman, masuk ke dalam laut untuk mengambil permata mustika dan mutiara. Mereka membuat bangunan² besar bagi Sulaiman, termasuk istana²nya.

Setan² digambarkan di Qur’an sebagai pelayan² berguna bagi Sulaiman dan para nabi. Mereka digambarkan sebagai pelayan² Tuhan, dan Tuhan sendiri yang menempatkan mereka untuk melayani Sulaiman. [129] Ajaran seperti ini diambil dari agama Jin yang meninggikan para setan bagi mata orang² Arab sehingga setan² disembah dan dihormati. Ayat² Qur’an ini menyiratkan hubungan antara Tuhan di Perjanjian Lama dan setan², sepertinya Tuhan hendak melindungi para setan tersebut. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab, di mana setan² adalah makhluk terkutuk, dan tidak ada hubungan kerjasama antara Tuhan dan para setan.
[129] Sabuni, Safwat al-Tafasir, 2, hal. 270

Ayat² Qur’an lain yang menunjukkan pengaruh agama Jin dalam Qur’an adalah Sura S’ad (38), ayat 37-39, yang masih tentang Sulaiman:

dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam,
dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.
Inilah anugerah Kami, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.


Di ayat² di atas, setan² digambarkan sebagai pemberian Tuhan bagi Sulaiman, yang lalu berterima kasih pada Tuhan atas anugrah setan²-Nya. Pernyataan seperti ini berasal langsung dari agama Jin Arab, yang memberi kedudukan tinggi bagi setan² dan menganggap mereka adalah pemberian berharga pada para nabi Perjanjian Lama. Ajaran seperti ini bertentangan dengan ajaran Alkitab. Alkitab memperingatkan kita akan setan², setan² ditampilkan sebagai makhluk terkutuk, dan musuh Tuhan dan manusia. Alkitab memperingatkan kita untuk tidak berhubungan dengan para setan.

Tidak hanya di Qur’an kita melihat setan² bekerja bagi Sulaiman, tapi juga di puisi² pra-Islam yang ditulis orang² yang suka berhubungan dengan para Jin. Contohnya adalah puisi² al-Nabighah النابغة yang mengatakan para Jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kota Tadmur di gurun pasir Syria baginya. [130] Contoh lain ditemukan di tulisan Al-Aasha’, puisi Arab jaman pra-Islam. Al-Aasha’ menulis nama Jin-setan yang memberi inspirasi pada puisinya. Dia menyebut nama Jin-setan itu Musahhal المسحل, dan menyebutnya sebagai “ yang terkasih.” Al-Aasha’ berkata: “Saudaraku, sang Jin, telah menyapaku. Jiwaku berbakti baginya.” [131] Puisi ini hanyalah satu dari banyak puisi yang dibaktikan bagi agama Jin Arab. Dalam puisi² ini, para Jin dianggap sebagai saudara, dan mereka mencomba menyatukan umat manusia dengan para Jin. Muhammad juga mengutarakan pemikiran yang sama. Dia mengatakan pergi ke surga dan bertemu Allah yang mengutusnya membawa pesan bagi umat manusia dan para Jin. Muhammad mengatakan umatnya adalah para manusia dan para Jin. [132] Dia seringkali mengatakan para Jin jadi Muslim, [133] dan dia menganggap mereka bagaikan saudaranya. [134]
[130] Al-Jaheth, Al Haiwan, 6, hal. 223; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[131] Al-Tha'alibi, Abd al-Malik ibn Mohammed, Kitab Thimar al-qulub, hal. 69 and 70
[132] Halabiyah 2, hal. 130
[133] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 227
[134] Halabiyah 2, hal. 63


Al-Aasha’ menulis dalam salah satu puisinya bahwa “Para Jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kubah². [135] Muhammad mencontek tulisannya dan memasukkannya ke Sura Saba (34), ayat 12-13 yang berbunyi:
[135] Taj Al Aruss, 9, hal. 165

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.


Qur’an menggambarkan Tuhan meminta Sulaiman, putra Daud, untuk berterima kasih padaNya karena Dia mengirim para Jin untuk membuat berbagai karya seni dan bangunan. Ini adalah anggapan yang salah tentang Tuhan. Sangkaan bahwa Tuhan mengirim para Jin sebagai pekerja² yang baik adalah pengertian langsung dari para Kahin di Arabia, agar orang² Arab menghormati dan menyembah Jin. Ini juga menyebabkan orang² Arab konsultasi dengan para dukun Kahin untuk minta berkat dari pada para Jin.


Akar Pengertian Kuno yang Menganggap Jin Setan sebagai Keturunan Para Dewa

Ajaran² tentang Jin-setan yang berhubungan dengan Allah, dan putri²nya yang jadi ibu para malaikat, berasal dari Arabia. Bangsa Akkadia, yang berasal dari Arabia ke Mesopotamia, mengatakan bahwa tujuh setan adalah anak² dari dewa Mesopotamia “An,” yang merupakan dewa Langit, dan istrinya “Kai” yang merupakan dewi Bumi. Menurut bangsa Sumeria, An dan Kai lalu menikha. Bangsa Akkadia menyampaikan pengertian bahwa setran² punya hubungan dengan dewa² uatama Mesopotamia dan membantu mereka dalam mengurus jagad raya. [136] Bangsa Akkadia menyembah setan bernama Girru, yang merupakan keturunan dari dewa An, dan berasal dari api. [137] Dalam Qur’an juga dinyatakan bahwa Jin-setan berasal dari api.
[136] Jeremy Black and Anthony Green, gods demons and symbols Ancient Mesopotamia, hal. 162
[137] Jeremy Black and Anthony Green, gods demons and symbols Ancient Mesopotamia, hal. 88


Akar Arab kuno menunjukkan bahwa ribuan tahun sebelum jaman Muhammad, agama Jin-setan memberikan kedudukan tinggi pada setan, dan menjadi mereka sumber utama ibadah pagan di kuil² Arabia, terutama ibadah Keluarga Dewa Bintang. Para Kahin merupakan golongan relijius yang mengurus berbagai kuil di Arabia. Hal ini membuat para Kahin bisa memperkenalkan ritual² agama Jin Arab di kuil² mereka, seperti di ibadah Haji Umra’ yang berkisar pada Jin dan pembantu² utamanya yakni dukun² Kahin Isaf dan Naila. Ibadah Haji perdukunan ini sekarang jadi ibadah Haji formal bagi umat Muslim di Ka’bah, Mekah. Para Kahin ini membuat patung² para Kahin tersebut jadi elemen utama dan diletakkan di batu² uatama kuil Ka’bah.


Sejak awal dibangunnya Kuil Ka’bah di Mekah, para Kahin agama Jin adalah dukun² resminya. Inilah sebabnya mereka menjadikan ibadah Haji sebagai ibadah resmi di kuil itu.

Kuil Ka’bah di Mekah diurus oleh para Kahin agama Jin. Kita mengetahui hal ini melalui patung² Kahin yang ada di situ, yang dianggap keramat, dan hal ini bisa dilihat dari lokasi di mana patung² itu diletakkan. Berdirinya patung² tersebut untuk waktu yang lama menunjukkan banyaknya generasi Kahin yang terus menguasai tempat itu. Mereka menganggap Isaf dan Naila sebagai pioner dukun di kuil. Hal ini serupa dengan pastur di gereja Katolik yang mendirikan patung atau gambar pastor pertama di gereja itu di sudut tempat utama ibadah. Bedanya adalah patung atau gambar pastor Katolik itu tidak disembah umat Katolik.

Para Kahinlah yang bertanggung jawab menyelenggarakan ritual ibadah di Ka’bah, Mekah. Terdapat Kahin² lain yang terkenal di Ka’bah, Mekah, seperti misalnya: Wake'a Zuhair al-Iyadi. Ibn al-Kalbi, sejarawan Arab yang menulis sejarah Arab sebelum jaman Islam, mengatakan bahwa Wake’a adalah dukun utama Ka’bah di jamannya. [138] Menurut penulis² Arab kuno, Wake’a dikenal mengarang prosa² berirama tentang para Kahin. [139] Muhammad mencontek ayat² prosanya dan memasukkannya ke dalam Qur’an. Contoh perkataan² Wake’a ditemukan di literatur Arab kuno seperti Majma' al-Amthaal yang ditulis oleh al-Maydaani. [140]
[138] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma'rifat ahwal al-arab, 2, hal. 260
[139] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma'rifat ahwal al-arab, 2, hal. 260; Maydaani, Majma' al-Amthaal, 2, hal. 81
[140] Maydaani, Majma' al-Amthaal, 2, hal. 81


Semua ini menunjukkan berkuasanya para Kahin agama Jin atas kuil Ka’bah di Mekah, dan agama Jin menjadi agama resmi kuil itu. Inilah sebabnya mengapa banyak ritual² mereka, seperti Haji dan benda² berhala utamanya, menjadi ritual utama di kuil dan juga bagi umat agama Dewa Bintang Arabia.


Mereka Menyembah Ular di Ka’bah, mekah, dan Orang² Menganggap Ular itu adalah Jin-setan

Salah satu bukti hubungan antara Ka’bah dengan agama Jin tampak pada pemujaan ular di Ka’bah. Tabari, sejarawan Islam terkenal, menulis tentang jaman pra-Islam, dan dia memberitahu tentang adanya ular yang hidup di sumur di tengah bangunan Ka’bah. Masyarakat Mekah terbiasa melemparkan persembahan² mereka ke dalam sumur itu. [141] Tampaknya persembahan² diberikan pada sang ular. Sejarawan Arab yang menulis tentang Mekah jaman pra-Islam menerangkan bahwa istilah “Allaha,” dari mana nama Allah berasal, juga berarti “ular besar.” [142] Orang² Arab menyembah ular, menganggap binatang itu sebagai jin/setan ular. Salah satu gelar setan di Mekah adalah “Azab,” yang dianggap berbentuk ular. [143] Sejarawan mengatakan bahwa Jin adalah ular putih, [144] yang mereka yakini bisa mendengar dan membedakan berbagai macam bahasa. Para penyair seperti al-Nabighah, Umayya bin Abi al-Salt, Adi bin Zayd dan lainnya yang dikenal sering berhubungan dengan para Jin, mendukung kepercayaan ini. [145]
[141] Tarikh al-Tabari, I, hal. 525
[142] Taj Al Aruss, 9, hal. 410
[143] Taj Al Aruss, I, hal. 147, 284
[144] Taj Al Aruss, 9, hal. 165
[145] Al-Jaheth, Al Haiwan, 4, 203; dikutip oleh Jawad Ali,vi, 726


Karena ular dalam sumur disembah dan diberi persembahan, maka ini merupakan bukti bahwa Ka’bah merupakan pusat penting bagi ibadah agama Jin. Mereka menyembah Jin melalui ular dalam sumur Ka’bah, dan nama ular itu adalah “Allah.” Ingatlah bahwa berhala “Kozah” juga ditempatkan di dalam Ka’bah. Orang² percaya bahwa Kozah dapat mendatangkan hujan dan topan badai, tapi banyak sejarawan menduga bahwa dia adalah setan.

Dalam bentuk struktur bangunan dan tatacara ibadah, Ka’bah sama seperti kuil² agama Jin Arab lainnya.
Masyarakat Arab punya kuil² yang mereka sebut “Taghut” طاغوت, gelar bagi Jin Marid الجن مارد yang berarti Jin raksasa. Di masa selanjutnya, para Kahin agama Jin juga disebut sebagai Taghut, [146] dan ini menunjukkan bahwa Taghut adalah kuil² agama Jin. Penulis² Arabia jaman pra-Islam menyebutkan persamaan antara bangunan Ka’bah di Mekah dengan Taghut. Baghut memiliki konstruksi yang sama dengan konstruksi Ka’bah, juga upacara ibadah yang sama yakni mengelilingi bangunan. [147] Terdapat struktur dan tatacara ibadah yang seurpa diantara kuil² yang dibangun bagi Keluarga Dewa² Bintang dan agama Jin. Hal ini bisa dimengerti, karena para Kahin agama Jin yang mengurus kuil² yang dibangun bagi ibadah Keluarga Dewa² Bintang. Para Kahin menyelenggarakan ibadah di kuil Keluarga Dewa Bintang dengan cara yang sama seperti menyelenggarakan ibaadah di kuil² Taghut yang didedikasikan untuk menyembah Jin. Kuil Mekah adalah salah satu kuil² Arabia yang mempraktekkan ibadah kedua agama pagan utama Arabia: Ibadah Keluarga Dewa Bintang Arab dan agama Jin.
[146] Raghib al-Isfahani, Abu al-Qasim al-Husayn ibn Muhammed, Mufradat al-Qur'an, hal. 307; al-Kalbi, al-Asnam, hal. 6; Taj al-Aruss, 10, hal. 225
[147] Ibn Hisham I, hal. 64 ; Hamish Ala Al Rauth Al Anf, I, hal. 64; dikutip oleh Jawad Ali, al Mufassal, vi, hal. 401, 402


Dua dukun utama agama Jin, Isaf dan Naila, diduga dikubur di lokasi Ka’bah di Mekah. Di jaman pra-Islam, batu² nisan para Kahin dianggap keramat, sehingga orang² Arab berziarah ke kuburan tersebut untuk mendapatkan berkat. Orang² pagan Arab membuat tempat pusat ibadah sebagai tempat berlindung yang aman. Jika orang masuk ke tempat ini, maka dia tidak boleh dilukai oleh siapapun. [148] Hal ini juga berlaku di kuil Ka’bah di Mekah. Diperkirakan Isaf dan Naila dikubur di lokasi ini. Lalu suku² dari Yaman datang dan membangun Ka’bah bagi agama Jin dan ibadah Keluarga Dewa Bintang Arab yang juga dianut oleh masyarakat Yaman.
[148] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 448

Para penulis Mekah jaman pra-Islam juga menjelaskan praktek di Ka’bah yang di jaman sekarang hanya dilakukan oleh aliran sesat saja. Contohnya, menurut al-Bukhari, para peziarah Ka’bah melakukan ibadah telanjang bulat, termasuk para wanita. [149] Menurut Sira Al-Halabiya, Ka’bah adalah tempat bersundal. Jika orang ingin melakukan hubungan sex, dia bisa melakukannya di tempat Ka’bah. [150] Hal ini mengingatkan kita pada persundalan yang terjadi di kuil² tempat menyembah setan, dan juga menguatkan keterangan bahwa Ka’bah adalah pusat agama Jin Arab. Penulis² Arab juga menerangkan bahwa di Mekah terjadi persundalan yang dilakukan para wanita di kota itu. [151] Rupanya perbuatan amoral di Ka’bah merembet ke kota.
[149] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 164
[150] Halabiyah 1, hal. 15
[151] Ibn Al Muja'wir, Descriptio, 1, 7; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 106, 107


Sejarah praktek perdukunan di Ka’bah di Mekah menunjukkan bahwa Ka’bah bukanlah kuil Tuhan, karena Tuhan menentang Satanisme dan bentuk perdukunan apapun. Semua upacara dan orang² yang mengurus kegiatan ibadah, termasuk patung² berhala yang disembah, dan batu² yang dikeramatkan, menunjukkan dengan jelas bahwa Ka’bah merupakan pusat ibadah pagan dan perdukunan di Mekah. Pencemaran kesucian Tuhan ini lebih para daripada yang terjadi di kuil pagan manapun di jaman kuno, termasuk di Timur Tengah atau Asia. Praktek² perdukunan ini tidak menunjukkan ibadah pada Tuhan yang selayaknya. Di kuil Ka’bah di Mekah kita hanya melihat ibadah perdukunan dan dewa² saja. Dengan begitu, bagaimana mungkin Islam bisa mengaku bahwa kuil Ka’bah di Mekah merupakan pusat monotheisme sepanjang sejarah?

Komik Islam dalam Pengamatan Sejarah

PostPosted: Wed Apr 20, 2011 1:31 pm
by Adadeh
Keterangan buku Rafat Amari ini dengan telak merontokkan semua klaim Islam tentang sejarah Ka'bah, Mekah, ibadah haji, Abraham, Ismael, dll. Sayangnya, keterangan demikian banyak dan tak semua orang punya cukup waktu untuk membaca seluruhnya. Agar lebih memudahkan para pembaca mengingat keterangan² penting dari buku ini, aku membuat komik sederhana yang mengandung intisari setiap bab. Ini halaman pertama, tentang sejarah Mekah dan Ka'bah:

Image
Lembaran komik selanjutnya sedang dalam proses pembuatan. Semoga berguna.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Thu Apr 21, 2011 1:04 pm
by Adadeh
Image

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Mon Apr 25, 2011 2:16 pm
by Adadeh
Image

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Wed Apr 27, 2011 2:14 pm
by Adadeh
Image

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

PostPosted: Sun May 01, 2011 3:18 pm
by SUKA HUMOR
@ pad-rock : thanks a lot... :heart: :heart: :heart: ...

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

PostPosted: Mon May 02, 2011 5:01 am
by pod-rock
Bagian IV
Kasus Ismail dan Islam

3. BANTAHAN KLAIM ISLAM BAHWA MUHAMMAD KETURUNAN ISMAEL

Muslim percaya Muhammad itu keturunan Ismael. Sebagai bukti, mereka mengajukan silsilah keturunan yang ditulis oleh Ibnu Ishak sekitar tahun 770-775 M.

Yang Ibnu Ishak tulis itu bohong belaka. Suku Ismael, khususnya suku Nebayot, yg kata Ibnu Ishak menurunkan Muhammad, adalah suku nomaden yg tinggal di gurun Sinai dan Fertile Crescent. Suku2 ini musnah setelah abad 7 SM.

Keluarga Muhammad adalah keluarga Sabian Yaman, sementara Ismael, yg tinggal di gurun2 Fertile Crescent sudah musnah jauh berabad-abad sebelum keluarga Muhammad meninggalkan Yaman.

Sejarawan mengatakan bahwa keluarga kakek moyang Muhammad tinggal di Saba-Yaman. Di abad 5 M, Qusayy bin Kilab, kakek moyang Muhammad ke-8 mengumpulkan sekutu dari banyak keluarga2 Yaman, membentuk suku Kuraish, suku-nya Muhammad. Keluarga2 ini baru datang menempati Mekah pada abad 5 M. Kota Mekah sendiri dibangun oleh suku Khuzaa’h di abad 4 M.

Keluarga Muhammad tidak ada hubungannya dengan suku Ismael karena keluarga tidak meninggalkan Yaman sampai abad 5 M, dan itu adalah sekitar 1.100 tahun setelah kaum ismael musnah. Sukunya Muhammad tidaklah mungkin tinggal ditempat yang sama seperti suku ismael, kapanpun sepanjang sejarah.

Silsilah yg dikarang Ibnu Ishak mengkontradiksi perkataan2 Muhammad yang mengungkapkan ketidaktahuannya akan kakek moyang dia sendiri sampai generasi ke 17

Ibnu Ishak dianggap sebagai penjiplak dan pemalsu silsilah oleh akademisi muslim jamannya [29]
[29] Halabieh, I, page 93 ; comments on Ibn Hisham, page m

Jauh sebelum Ibnu Ishak, para muslim yang hidup dijamannya Muhammad juga mengarang2 silsilah dalam usaha menghubung-hubungkan Muhammad menjadi keturunannya Ismael. Muhammad sendiri menolak semua silsilah palsu tsb dan dia menentukan batas akan silsilah kakek moyangnya. Tentang penolakan Muhammad sendiri ini, Amru Bin Al-As menulis:

Muhammad menuliskan silsilahnya sendiri sampai ke al-Nather bin Kinaneh, lalu dia berkata, “siapapun yang mengklaim lain dari ini atau menambahkan kakek moyang lebih jauh dari ini, telah berbohong.” [30]
[30] Halabieh I, page 36

Dengan ini, Muhammad mengaku bahwa baik dia atapun orang lain, tidak tahu tentang kakek moyang Muhammad setelah al-Nather bin Kinaneh. Nather bin Kinaneh adalah generasi ke 17 dari Muhammad yang dia kenal sebagai sungguh2 keturunannya. Pernyataan2 lain dari hadis atau tradisi2 menunjukkan bahwa Muhammad menolak utk dibuat silsilahnya hingga ke Maad, yang kata orang, adalah kakek moyang generasi ke-4 [31].
[31] Masudi, Muruj al-Thahab, Beirut-Lebanon, 1991, II, pages 280-282

Jika kita lihat pada moyangnya Muhammad, dg perkiraan utk setiap generasi ada waktu 30 tahun, untuk 17 generasinya Muhammad. Maka kita bisa pastikan bahwa Muhammad tahu silsilah kakek moyangnya hingga sekitar 510 tahun kebelakang. Jika kita ingin tambahkan 4 generasi lagi yang didaftarkan Muhammad, jadinya 630 tahun. Lalu sejujurnya, siapa yang tahu setelah sekian ratus tahun itu. Bagaimana bisa Ibnu Ishak dan pengikutnya mampu membuat silsilah hingga ke Ismael yang hidup tahun 2050 SM? Ini sekitar 2000 tahun antara moyang Muhammad ke 21 dan Ismael. Bagaimana bisa Ibnu Ishak mengklaim kaum Ismael hidup di Mekah pada periode ini dan menuliskan dg rinci sejarah mereka padahal Muhammad sendiri bilang tak seorangpun tahu akan moyangnya setelah generasi ke 17 atau 21? Mekah bahkan belum ada di periode ini, seperti telah kita telaah pada bab2 sebelumnya. Silsilah Ibnu Ishak mengkontradiksi klaim Muhammad sendiri.

Semua silsilah yg muncul dijaman Muhammad dianggap palsu oleh Muhammad dan pengikutnya

Banyak versi Hadis berasal dari pengikut Muhammad yang melaporkan bahwa Muhammad menentang disilsilahkan hingga Ismael. Semua pengikut dan sahabatnya menganggap silsilah2 itu palsu. Diantara orang2 itu terdapat Aisya, istri ‘kanak2’nya dan keponakannya, Ibnu Abbas, salah seorang pelapor hadis paling penting [32]. Ibnu Ishak menentang semua orang2 ini.

Ibnu Ishak mengubah silsilah yang dituliskan Musa di Kitab Perjanjian; dia selipkan nama2 arab sejamannya dan mengkontradiksi sejarah mengenai kaum Amalek

Karang mengarang ini makin keterlaluan. Silsilah ciptaan Ibnu Ishak dan yg lain setelah jaman Ibnu Ishak menyelipkan nama2 Arab kedalamnya. Contoh, Ibnu Ishak menyelipkan nama arab “Ya’rab”, yang berasal dari kata “Arab,” dan dimasukkan kedalam daftar silsilah sebagai anak dari “Khahtan.” Ibnu Ishak lalu mengganti Khahtan utk Joktan, yang disebut dalam kitab Perjanjian sebagai Anak Eber, anak dari Arphaxad dan anak ketiga dari Shem, anaknya Nuh [32]. Kita tahu istilah “Arab” belum ada sampai abad 10 SM. Lalu bagaimana bisa diselipkan kedalam sejarah Nuh yang berkisar tahun 5.500 SM?
[32] Tarikh al-Tabari, I , page 127

Ibnu Ishak bertindak lebih jauh lagi, dia ganti nama Lot, anak keempat dari Shem, menjadi Luth. Dia buat Luth sebagai Bapak kaum Amalek. Dia juga mengklaim kaum Amalek ini hidup di Mekah dan bahwa orang2 Mesir kuno juga keturunan dari Amalek. Dia juga mengganti nama asli Amalek, menjadi “Arib,” agar ada hubungan dengan Arab [33]. Secara tidak langsung, lewat silsilah palsu ini, Ibnu Ishak mengklaim bahwa Mekah telah ada dijaman Nuh dan cucunya Lot. Ini secara langsung mengkontradiksi fakta sejarah yg telah kita telaah sebelumnya, yg menunjukkan bahwa Mekah belum ada sampai abad 4 M.
[33] Tarikh al-Tabari, I , page 127

Sebelumnya kita juga telaah Amalek adalah keturunan dari Esau, anak Ishak. Kejadian 36:12 menyatakan bahwa Timma adalah selir dari Elifas, anak pertama Esau, dan dia melahirkan Amalek. Amalek menjadi bapak kaum Amalek, sebelumnya adalah suku Edom yg tinggal di Jordan Selatan lalu pindah ke timur Sinai, seperti telah dibuktikan dijaman Musa. Kaum Amalek musnah setelah abad 10 SM. Tidak ada disebut2 Amalek dalam naskah2 ataupun tulisan2 sejarawan Yunani yang mengindikasikan suku ini hidup di Arab Utara, barat maupun Tengah.

Membantah Klaim mengenai Jurhum

Ibnu Ishak mengklaim suku Jurhum hidup di Mekah sejak jaman Abraham. Dia juga mengklaim Jurhum adalah cucunya Joktan, anak dari Eber. Katanya nama asli Jurhum adalah “Hathrem” [34]. Pentingnya nama “Hathrem” ini adalah bahwa nama itu bergaya arab dan banyak dipakai di jaman Ibnu Ishak, abad 8 Masehi. Nama2 yang ada dalam naskah2 kuno Yaman dan Arab Utara secara total berbeda gaya penamaan dibanding dengan yg ada dalam silsilah karangan Ibnu Ishak. Nama2 dalam silsilah karangan Ibnu Ishak lebih mencerminkan gaya penamaan jaman dia sendiri.
[34] Tarikh al-Tabari, I , page 127

Tidak ada naskah, tulisan sejarawan Yunani atau romawi dan tidak ada geografer yang mengunjungi Arab, sekalipun menyebut2 tentang suku bernama Jurhum. Jurhum disebut pertama kali adalah pada puisinya Ummaya bin Abi al-Salet, ponakan Muhammad, yang juga mengaku sebagai nabi. Puisi ini berisi “Tuhannya Ad dan Jurhum” [35]. Pertama, puisi ini lebih mungkin dibuat setelah Islam, karena kita tidak punya catatan sejarah sebelum Islam, yg katanya jaman Jahiliyah, tentang Jurhum. Ide disebutnya sebagai ‘Puisi Jahiliyah’ ditambahkan belakangan setelah islam dipeluk oleh akademisi seperti Tah Hussein, akademisi Terkenal Mesir. Kedua, jika kita mengakui keaslian ayat ini, belum tentu benar ada sebuah bangsa di arab yang disebut Jurhum sejak jaman Abraham, dengan berdasarkan hanya karena disebut dalam sebaris puisi belaka.
[35] Diwan Ummiah bin Abi al-Salt, ( Beirut-1938), page 58

Alasannya adalah karena Ummaya itu sejaman dengan Muhammad dan tidak mungkin dia dijadikan sumber dokumentasi sebuah bangsa yang ‘katanya’ ada selama 2.700 tahun sebelum jamannya. Seperti telah disimak sebelumnya dalam bagian pertama buku ini, tidak ada metoda pengarsipan ataupun percetakan seperti kita sekarang. Sebuah sejarah secara umum diterima dan dianggap akurat hanya jika ditulis dalam waktu empat abad sebelum jaman penulisnya sendiri. Jika Jurhum ada sebagai sebuah suku di Arab, mestilah ini suku kecil yg muncul beberapa saat setelah era kristen. Karena tidak ada penulis klasik menyebut2 suku ini, jikapun ada, mestilah bukan tentang hal yg penting.

Puisi2nya Umayya penuh kisah mitos, seperti klaimnya bahwa Ratu Saba, yang mengunjungi Raja Sulaiman, adalah keponakan dia; dia menulis ini utk membenarkan klaimnya sebagai nabi. Umayya juga mengaku sering diberi perintah oleh Jin, ini membuktikan dia adalah bagian dari agama okultisme Arab. Jika kita menerima bahwa puisi ini ciptaannya, maka kita mesti mengandalkan puisi2 yang dilantunkan oleh seorang penganut mitos dan okult yang mampu menuliskan sejarah hingga 2.700 tahun sebelum jamannya.

Kesalahan sejarah yang bueessaarrr ada dalam Qur’an, dan silsilah yang diciptakan setelah munculnya Islam, utk mendukung Qur’an. Contohnya adalah silsilah tentang Thamud dan Nimrod

Banyak kesalahan sejarah yg sangat serius dalam silsilah islam mengenai suku Thamud. Thamud adalah suku arab yang muncul abad 8 SM, tercatat dalam naskah jaman Raja Assyria Sargon II. Thamud belakangan hilang kuasa politiknya sekitar abad 5 M. Silsilah Islam mencoba mendukung pernyataan Qur’an dg menempatkan Thamud serta Ad – suku arab lain yang muncul setelah Thamud – sebagai suku yang muncul di jaman setelah Nuh. Jadi mereka menciptakan kakek moyang utk suku Thamud dan menamakan sang ‘kakek’ itu Thamud. Lalu mereka mengklaim bahwa si ‘Thamud’ ini adalah cucu dari Shem, anaknya Nuh [36]. Semua ini dikarang agar cocok dengan pernyataan Qur’an.
[36] Tarikh al-Tabari, I, page 128

Qur’an klaim suku Thamud adalah generasi ketiga setelah Nuh, (Menurut Sura 7.65;23.31,32;14.9 Suku arab Ad adalah generasi kedua setelah Nuh dan Thamud generasi ketiga), dan dikutuk Allah oleh angin. Kisah seperti ini juga ada dalam Zoroastrianisme, tentang angin yg dibawa Tuhan utk menghukum mereka. Kita tahu ini juga sebuah kesalahan sejarah yg besar. Dalam naskah2 Assyria ditunjukkan bahwa kaum Thamud terus ada hingga abad 7 SM. Juga dalam tulisan2 geografer Yunani dan Romawi yang menulis tentang Arabia, Thamud terus hidup hingga abad 5 M sebagai suku yang terorganisir secara politik dan menempati bagian besar arab utara. Tak ada angin yang menghancurkan suku ini, spt yg diklaim Qur’an.

Ini harusnya cukup meyakinkan kita, tapi ada lagi kesalahan sejarah besar lain dalam silsilah Islam. Ini menyangkut Nimrod. Menurut Kejadian 10:8-11, Nimrod adalah yg pertama membangun kota Mesopotamia. Dia anak dari Cush, anak dari Ham, anak dari Nuh. Kita bisa tempatkan dia ditahun antara 5000 s/d 4500 SM. Silsilah islam secara benar menuliskan dia sebagai anak dari Cush, tapi salah menyatakan bahwa dia hidup dijaman Abraham [37]. Klaim salah tentang Nimrod ini dibuat utk membenarkan sebuah kesalahan dalam Qur’an, yg menyatakan Nimrod berkuasa dijaman Abraham. Quran bilang Nimrod menyiksa Abraham dan memasukkannya kedalam api, tapi api itu tidak melukainya. Kita baca ini dalam Surah al-Anbiya 21:50-70 dan Surah al-Safat 37:95. Kita sudah telaah di Bagian 1 buku ini mengenai pernyataan Quran yang dicontek mentah2 dari buku Yahudi berjudul Midrash Rabbah, bab 17.

Saya anjurkan para muslim utk mempelajari sejarah dan membandingkan fakta2 ini dengan apa yang dikatakan Quran dan hadis. Klaim Muhammad, Qur’an dan Islam jelas2 tidak punya dasar. Bahkan jika kesalahan sejarah ini diterima sekalipun oleh para pengikut dijaman Muhammad, kita yg hidup dijaman ini punya lebih banyak bukti yang menyatakan hal2 tsb salah. Bagaimana bisa ada orang menerima semua kesalahan2 besar ini, padahal dengan belajar sejarah sedikit saja bisa dibuktikan semua itu tidak sesuai dengan sejarah.

Tak seorangpun punya hak mengklaim dia keturunan seseorang yg hidup 2.000 tahun sebelum dia, kecuali dia punya dokumen tertulis yang menjadi bukti klaimnya ini. Dalam kasus Muhammad, dokumen2 itu tidak ada. Kita tidak punya bukti2 bahwa kakek moyang Muhammad adalah keturunan Ismael.

Dalam hadisnya, Muhammad melarang silsilah lain selain yang telah dia tuliskan hingga Nather bin Kinaneh, yg hidup 17 generasi sebelum Muhammad. Hadis lain menyatakan dia tidak mau dibuat silsilahnya hingga sebelum Maad, yg dipercaya adalah generasi keempat sebelum Nather bin Kinaneh. Banyak silsilah lain yg muncul sejak abad 8 M memastikan informasi yang juga sama, baha silsilah Muhammad dibatasi hanya hingga 17 generasi sebelum dia, dan pastinya maksimal hingga 21 generasi, tidak lebih lagi.

Kenapa hal ini penting dalam pencarian silsilah Muhammad? Pertama, Muhammad sendiri mengaku dia tidak tahu siapa kakek moyang dia setelah generasi 17. Kedua, setelah generasi 17, kita mulai bisa melihat perbedaan silsilah. Setelah Maad bin Adnan, nomor 21, silsilah mulai kontradiksi sendiri besar2an, menggambarkan fakta bahwa penulis (baca: pengarang) silsilah tsb tidak bisa menemukan sumber utk silsilah tsb. Itu karena Muhammad memang tidak tahu dan melarang dan mematok hingga generasi 17 atau 21. Hingga semua silsilah karangan jadi berbeda satu dengan yang lain.

Ciri-ciri menarik lain dari karya karangan para penulis biografi itu adalah dipakainya nama2 bergaya arab abad 8 dan 9 M, tapi diterapkan pada generasi ketika Ismael hidup. Contoh, kita temukan silsilah dari Tabari yang mana sang penulis menyatakan Nebayot, anak pertama Ismael, punya anak bernama al-Awam dan al-Awam punya anak al-Saboh. Perhatikan nama arab itu. dalam silsilah, ada awal nama “al-“ [37]. Tidak ditemukan gaya penamaan ini bahkan dalam naskah2 kuno arab utara sebelum era kristen. Malah, kita lihat gaya penamaan demikian pada peroda Umayyad dan Abassid, abad 8 dan 9 Masehi. (Perioda Abassid dimulai tahun 750M).
[37] Tarikh al-Tabari, I, page 516

Jika kita kembali pada silsilah karangan Ibnu Ishak, yg mana banyak kali dikutip oleh penulis2 muslim jaman setelahnya hingga sekarang, kita juga bisa melihat arabisasi silsilah tsb. Dia menuliskan anak dari Nebayot sebagai Yashjub, anaknya Yarob. Yarob itu sendiri adalah kata yg diturunkan dari kata arab. Ibnu Ishak melakukan ini agar menimbulkan kesan bahwa Ismael itu arab. Meski kita tahu kata “ARAB” itu sendiri tidak dikenal sebelum abad 10 SM. Gaya nama seperti Yarob dan Yashjub adalah ciri gaya abad 8 M, jaman Ibnu Ishak hidup. Ciri yg sama bagi semua silsilah2 karangan ini adalah semuanya mengklaim Muhammad adalah keturunan Ismael dan mereka menyelipkan jumlah generasi terbatas antara Muhammad dan Ismael.

Antara Ismael ke Muhammad berbeda 2.670 tahun – waktu panjang yg tidak bisa dilalui hanya oleh 40 generasi saja.

Ibnu Ishak membuat daftar 40 generasi. Ketika dia mengarang silsilah ini, dia tidak sadar bahwa 40 generasi tidak cukup utk menutupi jarak waktu yang sangat besar antara Ismael hingga Muhammad. Ismael hidup sekitar tahun 2050 SM, sementara Muhammad pindah ke Mekah tahun 620 M. Maka ada sekitar 2.670 tahun antara keduanya. Bagaimana bisa waktu sepanjang ini ditutupi oleh 40 generasi saja?

Sebagai contoh, Injil Matius melaporkan silsilah Yesus hingga Abraham. Kita temukan ada 42 generasi diantara keduanya, meski perioda waktu yang ada hanyalah 1.950 tahun. Silsilah Muhammad mestilah kelebihan sekitar 720 tahun.

Hal lain yg harus dipertimbangkan adalah bahwa generasi Yahudi lebih panjang dari generasi Arab. Anggap saja kakek moyang Ishak dari Abraham hingga Raja Daud. Banyak dari orang2 ini mempunyai anak pertama ketika berumur 40 hingga 50 tahun. Kita lihat antara penahanan di Babilon tahun 586 SM, hingga kelahiran Yesus ada 14 generasi. Ini menunjukkan generasi yahudi pada perioda itu sekitar 41 tahunan. Tapi jika melihat generasi arab, kita tidak bisa menerima 41 tahunan utk tiap generasi. Para Akademisi menganggap generasi Arab sekitar 20 tahunan, orang arab menikah ketika berumur 17-20 tahun, karena faktor cuaca dan lingkungan serta budaya.

Arkeologi arab memastikan Arkeologi arab memastikan singkatnya generasi Arab

Arkeologi memastikan pendeknya tahun utk setiap generasi arab. Jika kita pelajari serangkaian raja2 arab, baik arab utara dan Yaman, kita temukan pendeknya setiap generasi jika dibandingkan dengan generasi tempat2 lain seperti israel. Contoh, para penguasa di Saba dan Himyar, Yaman, dimulai dengan Karibil A abad 9 SM dan hingga Maadikarib III, raja Himyar, yang merupakan generasi nomor 102, yg paling akhir dari keturunan tsb. Dia memerintah dari tahun 575-577 M [39]. Kita lihat ada 102 generasi raja dalam jangka waktu 1.400 tahun. Mengingat diantara para penguasa ini ada saudara sang raja, bukan keturunan langsung, jika dihitung ulang maka didapat angka sekitar 75 hingga 80 generasi, dan kita bisa pastikan angka rata2 utk setiap generasi di Arab adalah 17-20 tahun.

Mengingat pendeknya generasi orang Arab, kita misalkan setiap generasi dalam silsilah Muhammad adalah 20 tahun. Karena Muhammad dan Abraham terpaut 2.670 tahun, mestilah generasi antar keduanya sekitar 130. Jika kita hitung, 2.670 tahun dibagi 20 tahun = 133,5 generasi, bukan 35 atau 40 generasi seperti diklaim Ibnu Ishak dan pengarang2 lainnya. Kita lihat betapa tidak siap dan tidak pakai pemikirannya mereka yang mengklaim Muhammad adalah keturunan Abraham dari anaknya ismael.

Kecuali silsilah Yesus, yg didokumentasikan dalam alkitab, tak ada silsilah keluarga lain dalam sejarah manapun yang pernah membuat silsilah dalam perioda lebih dari 2000 tahun.

Jika kita asumsikan kakek moyang ke 21 Muhammad itu kita ketahui dan jika kita buat tiap generasi adalah 25 tahun, bukannya 20 tahun, maka kakek moyang nomor 21 tetap saja berbeda 525 tahun dari Muhammad. Ini berarti si kakek 21 itu hidup di tahun 50-70 SM. Ini akan membuat jarak antara si kakek dan Ismael sekitar 2000 tahun.

Kecuali silsilah Yesus, yg didokumentasikan dalam alkitab, tak ada silsilah keluarga lain dalam sejarah manapun yang pernah membuat silsilah dalam perioda lebih dari 2000 tahun. Keluarga Yusuf, yg berasal dari keluarga kerajaan Judah, dan keluarg Maria, yang berasal dari suku yang sama, bisa menuliskan silsilah mereka hingga sampai ke Abraham. Karena ada dokumennya, tertulis juga dalam alkitab utk setiap generasi, fakta ini telah diperiksa dan diuji berkali-kali. Mereka memberi kesaksian akan janji Tuhan pada Abraham dan Ishak, yang lalu dipastikan hingga kesetiap generasi mereka. Garis keturunan messiah seperti Ishak, anak Ishak, Yakub dan anak Yakub, Yudah, tercatat oleh Musa dalam kitab Kejadian, kitab pertama dalam alkitab.

Silsilah itu diteruskan dan dicatat dalam kitab lain dalam alkitab. Contohnya, Tuhan memastikan kelanjutan garis keturunan Mesias dalam kitab Ruth melalui Boaz, salah satu kakek moyang raja Daud. Janji ini mengenai lahirnya juru selamat yang dipastikan pada Daud dan anaknya Solomon; lalu pada banyak raja2 lain hingga ke raja terakhir yang memerintah Judah dijaman penaklukan Babilon, sekitar tahun 586 SM. Konfirmasi janji Tuhan diteruskan setelah penaklukan Babilon ini. Malah Tuhan memperbaharui janjiNya pada penguasa lain kepada garis keturunan Kerajaan Daud, Zerubbabel yang menjadi Gubernur Judah tahun 538 SM.

Tidak ada catatan sejarah apapun dijaman antara Muhammad dan Ismael yang bisa mendukung klaim islam tentang Muhammad keturunan Ismael

Dilain pihak, jika kita telaah keluarga Muhammad, kakek moyang tertua yang dia catat adalah generasi ke 21 yang tinggal di Yaman pada abad pertama Masehi, lalu bagaimana kita bisa menghubungkan generasi ke 21 itu dengan Ismael yang tinggal di Sinai 2.000 tahun sebelumnya? Tidak ada dokumen arab ditulis sebelum Muhammad utk mendukung klaim demikian.

Islam juga mengklaim Abraham dan Ismael membangun kota Mekah, tapi kita ketahui Mekah belum ada sebelum abad 4 Masehi. Tidak ada dokumen sejarah apapun yang ditulis selama 2000 tahun antara generasi 21 Muhammad dan Ismael, yang mengklaim si kakek moyang nomor 21 itu adalah keturunan Ismael. Dan tidak ada dokumen kredibel antara jaman kakek moyang 21 dan jaman Muhammad.

Seakan hal ini masih kurang kuat bukti tentang kebohongan Muhammad keturunan Ismael, kita punya kesaksian dari ribuan naskah2 kuno, catatan2 percakapan dan arkeologi yang biara tentang ratusan penguasa di arab yang terdiri dari banyak suku, tapi tak ada satupun dari semua itu yang berisikan silsilah atau keterangan tentang kakek moyangnya Muhammad. Ini hanya bisa dikonfirmasi oleh keluarga Muhammad sendiri yang merupakan keluarga biasa/awam, tidak terkenal seperti keluarga2 lain di Yaman, tidak pernah memerintah kota manapun di arab Barat, meski klaim hadis katanya pernah memerintah di Mekah.

Kemustahilan kakek moyang ke-21 Muhammad adalah keturunan Ismael

Karena Muhammad berasal dari keluarga Yaman awam, gimana bisa si kakek moyang ke-21 memiliki informasi keturunannya yang hidup dijaman Abraham? Meski percetakan telah ada diabad 15, dan pengarsipan serta dokumentasi telah lebih teratur dan mudah di abad sebelumnya, tak satupun keluarga2 di generasi kita tahu nama kakek moyang sendiri yang hidup 1000 tahun lalu. Lalu bagaimana bisa, orang biasa, bukan keturunan bangsawan atau raja, seperti kakek moyang ke 21 Muhammad, yang hidup abad 1 Masehi, tahu segala hal mengenai kakek moyangnya yang hidup 2000 tahun lalu?

Dari naskah2 kuno Assyria antara abad 9 dan 7 SM, kita tahu suku ismael hidup nomaden di Sinai dan Fertile Crescent. Tapi tak satupun catatan itu memasukkan nama Ismael. Tak ada naskah menunjukkan ada orang yang memakai nama Ismael. Ini menunjukkan mereka sendiri tidak tahu garis keturunan mereka dari Ismael. Jika tidak, sedikitnya mereka akan bangga dengan garis keturunan mereka dan setidaknya ada yang memakai nama Ismael pada anak cucu mereka, seperti bangsa Israel ada yg memakai nama Ishak pada anak cucu mereka dan pada setiap buku kuno yang mereka tulis.

Karena Ismael tidak mendapat panggilan spiritual apapun dari Tuhan, satu2nya keturunan sejarah mereka adalah 12 suku yg berasal dari anaknya. Pada generasi berikutnya, bahkan keturunan si anak itu sendiri melupakan asal muasalnya, termasuk namanya, meski jarak waktu generasi antara Ismael dan 12 suku ini hanya sekitar 1.200 tahun (antara abad 7 dan 9 SM). Karena yang terjadi demikian pada keturunan asli Ismael, bagaimana bisa seseorang yang hidup di Yaman, jauuuh dari Ismael tinggal, memastikan dia adalah keturunan ismael yang hidup 2.000 tahun sebelum dia? Jika kaum Ismael sendiri tidak tahu mereka keturunan Ismael, lalu siapa yang bilang pada kakek nomor 21 bahwa dia adalah keturunan Ismael?

Tidak ada bukti kakek moyang Muhammad, baik nomor 17 ataupun nomor 21, pernah mengklaim sebagai keturunan Ismael. Tidak ada dokumen tertulis sebelum Muhammad yang mengklaim demikian. Bahkan jika ada sekalipun, tetap saja si kakek 17 atau 21 itu tidak punya hak mengklaim keturunan seseorang yg hidup 2000 tahun lalu, tanpa dokumen tertulis yang mengesahkannya.

Jelas klaim islam tentang Muhammad keturunan Ismael lebih jauh dari fakta dibandingkan dg jika saya mengaku keturunan Julius Caesar yang hidup 2000 tahun sebelum saya. Meski saya mengaku kakek moyang saya ke 21 adalah Julius Caesar, saya tidak punya bukti apapun utk mendukung pengakuan saya itu. Klaim seperti itu sulit diuji oleh siapapun yang hidup dijaman sekarang. Itu sebabnya sekarang ini, bahkan di Roma sendiri, banyak orang2 yang membuat pengakuan sebagai keturunan Julius Caesar, atau keturunan siapapun yang hidup 1000 tahun lalu. Dapat dimengerti bahkan 1000 tahun lalu sekalipun jika tanpa bukti2 tertulis adalah pengakuan yang menggelikan.

Sudah jadi kebiasaan orang Arab di jaman Muhammad, banyak orang mengaku nabi mengklaim keturunan seorang figur karakter dari alkitab.

Pengakuan demikian dianggap sbg pelanggaran kejujuran dan logika. Tapi banyak orang2 demikian di arab, khususnya di jaman Muhammad, yang secara sadar berpegangan pada pengakuan bahwa mereka keturunan figur alkitab. Orang2 yang mengaku nabi sering mengaku demikian. Umayya bin abi al-Salt, sepupu Muhammad, mengaku nabi. Dia bilang Ratu Sheba yang berkunjung ke Sulaiman adalah bibinya [38]. Dia bilang ini utk memastikan bahwa dia adalah keturunan dari saudara lelaki sang Ratu. Juga Tubb’a (Pemimpin Yaman yg memerintah tahun 410-435 M dan menguasai Mekah) mengaku nabi dan juga bilang Ratu Sheba adalah bibinya [39]. Sepanjang sejarah kita temukan orang seperti Umayya bin Abi al-Salt yang ingin jadi nabi atas kaumnya. Mereka membuat pengakuan2 karena mereka tahu orang2 sekitar mereka banyak yang naif dan **** dan tidak bisa membantah pengakuannya itu.
[38] Diwan Ummiah, page 26
[39] Tarikh al-Tabari, I, page 429

Meski nabi palsu di Arab berani mengaku keturunan seorang yg hidup 1000 tahun lalu, Muhammad lebih berani lagi, dia mengaku keturunan dari seseorang yang hidup 2.700 tahun lalu, meski tanpa dokumen sejarah tertulis apapun. Saya iba terhadap teman2 muslim saya yang masih saja mempercayakan keselamatan mereka pada sebuah pengakuan palsu yg bertentangan dengan logika dan sejarah.

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Thu May 05, 2011 12:25 pm
by Adadeh
Image

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

PostPosted: Fri May 06, 2011 4:27 am
by sorangan
betul! dibikin komik jadi lebih cepat ngertinya. Kalu mau mengerti lebih detail, tinggal baca bukunya!

Ide hebat, Adadeh! Salut!!! =D> =D> =D>