.

Rafat Amari: Islam, Ditinjau dr Pengamatan Sejarah (SELESAI)

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Wed Feb 23, 2011 1:02 pm

Bagian II
3. Sejarah dan Arkeologi Arabia Menunjukkan bahwa Mekah Tidak Ada Sebelum Jaman Kristen


Terdapat banyak sekali penemuan arkeologi dan prasasti2 di berbagai daerah Arabia.

Islam menyatakan bahwa Mekah adalah kota kuno yang telah ada jauh sebelum jaman Kristus, bahkan sampai jaman Abraham. Bantahan yang kuat akan pernyataan ini ditunjukkan dengan tiadanya bukti keterangan apapun dalam bentuk monumen atau penemuan2 arkeologi. Kerajaan2 dan kota2 kuno Arabia memiliki sejarah yang kaya yang masih ada sampai jaman sekarang melalui monumen2, prasasti2, dan dokumen2 arkeologi. Semua keterangan sejarah ini memberikan para arkeologis keterangan yang lengkap tentang raja2 yang berkuasa atas kota2 dan kerajaan2 Arabia. Dalam banyak kasus, prasasti dan monumen berbagai kota – terutama di daerah Arabia barat dan barat laut – bahkan memberikan nama2 para pembantu raja2. Meskipun begitu, keterangan kaya sejarah dan seluruh arkeologi ini tidak menyebut apapun tentang Mekah.

Image
Prasasti Arab bernama Qaryat al-Faw, dari abad ke-1 SM, ditulis dalam aksara Musnad.

Berkenaan dengan banyaknya penemuan2 arkeologi Arabia, Montgomery berkata bahwa prasasti Assyria tidak menunjukkan keterangan selengkap prasasti2 Arabia. [67]
[67] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 131

Jika Mekah sudah ada sejak jaman kuno, maka seharusnya Mekah akan mewariskan penemuan arkeologi lebih banyak daripada daerah2 selatan dan utara Mekah yang keterangan sejarahnya tertulis lengkap melalui berbagai prasasti.

Tiadanya keterangan tentang Mekah adalah menarik karena Mekah dibangun pada jalur kafilah dagang antar berbagai kerajaan Arabia, dan kerajaan2 ini tercatat dalam sejarah sebelum jaman Kristus. Bahkan Mekah dibangun di atas jalur komersial terkenal antara kota2 Arabia selatan dan utara yakni Qedar dan Dedan. Selain itu, Mekah juga dibangun di dekat jalur dagang Laut Merah.

Para arkeologis menjelaskan bahwa masyarakat Sabaea di Arabia barat laut telah memiliki keahlian menulis sejak abad ke-10 SM. [68] Prasasti2 batu di Yemen barat laut merupakan salah satu penemuan arkeologi terkaya diantara kebudayaan Timur Tengah. Ribuan prasasti kuno ini masih ada sampai sekarang. Kebanyakan dari prasasti itu tetap utuh dan tidak rusak, karena hujan jarang turun di Arabia.
[68] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 135

Di daerah2 Arabia utara, beberapa ratus mil utara di mana Mekah kelak dibangun, banyak kota yang memiliki berbagai prasasti yang dipahat di batu, dan prasasti2 ini menyatakan berbagai nama dinasti yang berkuasa di kota2 tersebut. Dedan dan Teima adalah kota2 yang terletak di jalur2 dagang terkenal. Monumen dan prasasti2 batu dari kota ini cukup lengkap untuk menjelaskan sejarah mereka sejak abad ke-8 dan 7 SM.

Bagaimana dengan Mekah? Mekah dibangun di daerah yang memiliki berbagai masyarakat yang punya sejarah tertulis lengkap (masyarakat Sabaea, Dedan, dan Qedar), tapi semua masyarakat kuno ini tidak memiliki keterangan apapun tentang Mekah. Jika Mekah sudah ada sejak jaman masyarakat Dedan dan Qedar, tentunya Mekah juga punya berbagai prasasti sejarah tentang masyarakat mereka sendiri, bahkan kemungkinan prasastinya lebih banyak daripada daerah lain, misalnya Yemen. Daerah Mekah lebih kering dibandingkan daerah2 lain Arabia. Daerah Yemen menerima hujan sepuluh kali lebih banyak daripada daerah Mekah. Juga kota2 Arabia utara lebih banyak menerima hujan daripada kota Mekah. Jika Mekah sudah ada beberapa abad sebelum jaman Kristen, tentunya prasasti2 batunya lebih lengkap daripada ribuan prasasti yang masih ada di berbagai kota di sebelah selatan dan utaranya.

Selama bertahun-tahun, para sejarawan dan arkeologis telah mencatat banyak penguasa dan raja bagi setiap kerajaan Arabia sebelum abad ke-7 SM sampai jaman seterusnya. Berdasarkan prasasti2 dan penemuan arkeologi, para sejarawan dapat menyusun daftar nama penguasa dan kerajaan mereka. Kita temukan daftar seperti ini dari para sejarawan K.A. Kitchen, Von Wissmann, dll.

Sekarang akan kita amati sejarah setiap kerajaan dan kota yang ada di milenia pertama sebelum Kristus (1000 tahun sebelum Kristus) dan tahun2 setelah itu. Meskipun ada nama2 yang tak dikenal, dari lokasinya kita bisa dengan mudah menelusuri nama pemimpin dan kota2 mereka.


Arabia Baratlaut Tercatat dalam Arkeologi

Kota2 Qedar, Dedan dan Tema

Pertama-tama, kita tinjau Arabia baratlaut dan kota2 Qedar, Dedan dan Tema. Rangkaian penguasa di beberapa kota Arabia barat daya, seperti Qedar, paling lengkap tercatat sejak abad ke-9 SM. Keterangan lengkap ini karena kota2 para raja tersebut punya hubungan dagang dengan berbagai raja Assyria dan Babylonia. Kadangkala raja2 Assyria dan Babylonia itu menundukkan kota2 Arabia melalui peperangan. Sebagian raja2 Mesopotamia yang menguasai kota2 Qedar dan Dedan punya prasasti negara yang mengandung keterangan lengkap. Contohnya, dari Prasasti Nabonidus kita ketahui bahwa raja Babylonia Nabonidus menguasai Arabia utara dan tinggal di kota Tema selama sepuluh tahun, 550-540 SM.

Keterangan2 sejarah lain dipahat di berbagai mangkok. Kita memiliki sebuah mangkok perak yang dipersembahkan bagi dewa Han Ilat, dan di mangkok itu tercantum nama Raja Qaynu dari Kedar, yang berkuasa di tahun 430-410 SM. [69] Catatan sejarah lain berwujud grafiti, tulisan2 di dinding, seperti Grafiti Niran di Dedan, di al-Ula, yang menyebut tentang Gashmu I, putra Raja Qedar bernama Sharh I. [70] Hal ini sesuai dengan keterangan Alkitab di Nehemiah 6:6 tentang raja yang menentang Nehemiah dalam usaha membangun kembali kota Yerusalem, setelah pengasingan di Babylonia. Alkitab menyebut nama raja ini yakni Gesham, variasi nama Gashmu, yang berkuasa di kota Arab Qedar tahun 450-430 SM, [71] di waktu yang sama Nehemiah kembali dari pengasingan di Babylonia untuk membangun kembali tembok2 kota Yerusalem. Kita tahu bahwa Nehemiah membawa sekelompok kecil orang Yahudi dan kembali ke Kanaan sekitar tahun 445 SM. Ini merupakan satu dari ratusan bukti sejarah tentang kebenaran keterangan Alkitab.
[69] Rabinowitz, Journal of Near Eastern Studies 15 (1956),1-9, pls.6-7, dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 169
[70] Reed, Ancient Records from North Arabia, Toronto, 1970, 50 f., 115-117 dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994), hal. 169
[71] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Bab I, Liverpool University Press, 1994, hal. 237


Jika kita susun berbagai keterangan, maka kita dapatkan nama2 empatbelas raja2 dan ratu2 yang berkuasa di Arabia utara. Meskipun para sejarawan tidak tahu pasti tentang periode tahun 644-580 SM, tiada daftar yang hilang akan urutan daftar para penguasa dari tahun 870-410 SM.

Ketepatan prasasti yang ditemukan di penggalian arkeologi El-Ula, di kota kuno Dedan, ditulis dalam bahasa Minaea. Hal ini menunjukkan bahwa kota itu dikuasai oleh Raja2 Main. Banyak keterangan prasasti yang menyebut raja2 ini, dan keterangan ini serupa dengan prasasti Minaea di Yemen. [72]
[72] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal.138

Reruntuhan tua kota Tema mengandung banyak prasasti yang menunjukkan berbagai nama tuhan mereka, peperangan antar kota dan suku daerah itu, termasuk perang2 melawan kota Dedan. Lambang bulan kota Tema berbentuk bulan sabit. [73] Di berbagai prasasti Tema disebut nama dewa Lame’h yang berwujud bintang bersinar cemerlang. Salah satu gelar dewa2 mereka adalah Rahim, yang tampaknya adalah dewa bintang Lame’h. [74] Gelar ini juga dipakai Muhammad di Qur’an sebagai gelar Allah, dan hal ini menunjukkan akar Islam dari agama pagan Arabia kuno.
[73] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 104
[74] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, hal. 103



Suku2 Arabia Utara Thamud, Lihyan, dan Nabasia Tercatat Lengkap pada Penemuan Arkeologi

Sekarang kita bahas suku Thamud di Arabia utara, yang muncul pertama kali di abad ke-8 SM dan terus ada sampai abad ke-5 M. Terdapat ratusan batu dan prasasti berbahasa Thamud di berbagai tempat di Arabia utara yang menjelaskan kehidupan suku, dewa2 dan peperangan mereka.

Image
Bangunan peninggalan kerajaan Lihyan.

Image
Patung² peninggalan budaya Arab Lihyan.

Tempat kedua yang perlu kita amati adalah kerajaan Lihyan di Arabia utara. Kita memiliki keterangan berlimpah-ruah akan kerajaan ini. Kecuali keterangan tentang pendiri budaya Lihyanit, kita punya dokumentasi lengkap tentang penguasa dan periode kekuasaan; prasasti dan tawarikh kejadian² sejarah penting mengenai pemerintahan dan tuhan² mereka. Sebagian catatan sejarah ini tercantum di monumen² kerajaan, patung², prasasti di batu makam, tulisan² di bangunan makam, tulisan² yang dipahat di bebatuan, dan grafiti.

Pendiri kerajaan Lihyan berkuasa kira² dari tahun 330-320 SM. Keterangan tentang raja² berikutnya tertulis lengkap. Raja Shahru II berkuasa di tahun 320-305 SM. Daftar kekuasaan berakhir di raja ke sepuluh yakni Mas’udu, yang berkuasa di tahun 120-100 SM. Tak ada keterangan yang hilang dari urutan raja² tersebut. [75]
[75] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 237

Image
Prasasti Nabasia yang dipahat di batu.

Kerajaan ketiga yang kita telaah adalah Kerajaan Nabasia, yang daerah kekuasaannya mencakup banyak daerah² Hijaz. Kerajaan ini memiliki sejarah istimewa karena berhubungna dengan Arabia utara yang mengontrol jalur jalanan bagi perdagangan rempah² yang menghubungkan Arabia selatan dengan Syria dan negara² Mediterania lainnya. Jalur ini juga melalui daerah di manak Mekah dibangun di abad ke-4 M. Catatan² tentang Kerajaan Nabasia sangatlah lengkap, dari dalam maupun luar kerajaan. Catatan diluar kerajaan disusun oleh para sejarawan. Beberapa literatur Yahudi menulis tentang Nabasia, dan penemuan arkeologi di luar daerah Nabasia juga mencatat keterangan kerajaan ini. Dari dalam negeri, keterangan tentang berbagai raja tercantum dalam keping² mata uang logam, bangunan² ibadah, patung² raja, monumen² pribadi dan kerajaan, dan prasasti² di makam² kuburan, yang semuanya mengandung keterangan sejarah. Prasasti² di berbagai kuburan sangatlah banyak dan ditemukan di berbagai daerah, misalnya Petra, Madain Salih, dll. Berdasarkan catatan sejarah ini, para sejarawan mengerti urutan para raja Kerajaan Nabasia yang berkuasa setelah 175 SM. Para penguasa sebelum jaman itu masih belum diketahui, meskipun banyak keterangan tertulis tentang kerajaan terseubt sejak tahap pertama dibentuk. Kecuali penguasa kedua sejak tahun 175 SM, penguasa² lain diketahui, dari mulai Aretas I yang berkuasa di tahun 75-150 SM sampai pemimpin keduabelas (terakhir), yakni Rabbel II, yang berkuasa di tahun 70-106 M. [76]
[76] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Bab I, hal. 170-175;238

Setelah mempelajari semua catatan tentang kerajaan² dan kota² yang terletak di kota Mekah, kami menyimpulkan bahwa kekuasaan kebanyakan para raja ternyata tercatat dengan baik. Kita tahu tentang peperangan yang mereka alami, dan nama para dewa mereka. Akan tetapi tak ada keterangan tentang Mekah. Meskipun umat Muslim mengatakan Mekah sudah ada di jaman Abraham, tak ada satu pun keterangan sejarah Arabia yang menyatakan keberadaannya di jaman sebelum Kristus.


Tidaklah mungkin untuk bisa mengatakan kota Mekah sebagai kota tertua di Arabia tanpa menunjukkan bukti sejarahnya. Seluruh sejarah daerah sekitar Mekah tercatat dengan baik, bahkan kota² yang baru berusia beberapa abad saja. Tapi tak ada satu pun keterangan tentang kota Mekah.

Apakah para pembaca menyadari bahwa tak ada satu pun kerajaan di sebelah utara Mekah yang telah ada sebelum abad ke-10 SM? Sebagian dari kerajaan² itu, seperti kerajaan Lihyanit, muncul pertama kali di abad ke-4 SM dan lalu menghilang di akhir abad ke-2 SM. Beberapa kota punya peranan terbatas dalam sejarah Arabia. Banyak kota yang muncul setelah abad ke-10 SM dan hilang sekitar awal abad ke-4 SM. Semua kota² dan kerajaan² tersebut punya banyak catatan sejarah tentang keberadaan mereka, tapi tak satu pun keterangan tentang Mekah.

Jika pernyataan Muslim bahwa Mekah telah ada sejak jaman Abraham, yang hidup di sekitar 2080 SM, maka tentunya akan terdapat banyak sekali peninggalan arkeologi Mekah, lebih banyak daripada kerajaan² yang telah disebut. Faktanya, tiada catatan atau peninggalan sejarah apapun tentang Mekah, meskipun daerah itu jarang menerima hujan, sehingga seharusnya peninggalan prasasti atau monumen akan tetap utuh dan tidak dirusak air. Daerah Mekah yang kering seharusnya menyimpan peninggalan budaya kuno yang lebih banyak daripada daerah² yang sering menerima hujan. Hanya sedikit saja daerah Eropa yang punya catatan sejarah lengkap akan para penguasa mereka di milenia (1000 tahun) pertama SM. Salah satu alasannya adalah karena kondisi cuaca. Hujan lebat Eropa seringkali merusak prasasti kuno yang berharga. Hal ini sangat berbeda dengan daerah² kering Arabia di sekitar Mekah. Dengan kriteria ini, tidaklah mungkin menyatakan Mekah telah ada di Arabia sejak jaman kuno, tanpa menunjukkan bukti peninggalan sejarah apapun di daerah itu. Sejarah asli Arabia tercantum di berbagai peninggalan yang sangat banyak dan lengkap. Tidaklah mungkin sejarah selengkap itu luput menyebut tentang kota Mekah.

Menurut Muslim, Mekah merupakan kota tertua di Arabia, dan sudah ada sejak abad ke-21 SM, sampai ke jaman Kristen. Ini berarti Mekah sudah ada, tanpa keterangan sejarah apapun, di daerah di mana kota² yang berumur pendek sekalipun tercatat dalam berbagai catatan sejarah daerah itu. Setiap kota di suatu daerah punya banyak peninggalan sejarah, sedangkan Mekah tak punya. Muslim bisa saja dengan mudah menyatakan tanggal keberadaan Mekah, tapi mereka hendaknya menyelidiki apakah tanggal itu benar atau salah.


Kerajaan² dan Kota² di Selatan Mekah Memiliki Banyak Catatan Sejarah

Sebelumnya kita telah menelaah berbagai kerajaan dan kota di sebelah utara letak Mekah kelak dibangun. Kerajaan² tersebut jauhnya 500 sampai 600 mil dan mereka memiliki banyak catatan sejarah. Bagaimana dengan kerajaan² dan kota² di sebelah selatan letak Mekah kelak dibangun? Bagian baratdaya Arabia ternyata memiliki lebih banyak lagi catatan sejarah dibandingkan kerajaan² utara. Di beberapa kasus, ribuan tulisan, kebanyakan adalah prasasti di batu, telah ditemukan. Ini menyebabkan daerah baratdaya Arabia merupakan salah satu daerah yang mengandung peninggalan arkeologi terbanyak di dunia. Selain prasasti batu, tulisan² juga ditemukan di berbagai bangunan pemerintah atau pribadi, tulisan² di berbagai dinding, kuil, dan tugu peringatan. Berdasarkan keterangan tersebut, para sejarawan dan arkeologis mengetahui urutan penguasa setiap kerajaan dan kota. Pada umumnya, silsilah berbagai penguasa dapat diketahui dengan lengkap tanpa ada kronologi yang terputus.


Para Penguasa Kerajaan Main

Urutan penguasa kerajaan Main di Arabia selatan dimulai dari Raja Abkarib I, yang berkuasa tahun 430-415 SM. Dia memulai urutan tak terputus 26 penguasa, yang berakhir dengan Raja Ilyara’ Yashur II yang berkuasa dari 65-55 SM. Catatan sejarah mereka termasuk nama² para saudara laki dan putra raja² yang berkuasa. Dengan begitu kita mengetahui dengan pasti para penguasa kerajaan Main di tahun 430-55 SM. [77]
[77] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, pages 175-180; 238

[b]Kerajaan² kecil di sebelah selatan di mana Mekah kelak dibangun tercatat dengan sangat tepat dalam sejarah kuno Arabia, tanpa menyebut kota Mekah sama sekali.[/b]

Banyak kerajaan² kecil di dekat kerajaan Main yang juga memiliki catatan silsilah raja yang cukup lengkap. Sebagian kerajaan kecil ini terletak dekat lokasi di mana Mekah kelak dibangun. Kerajaan² kecil ini sudah ada ratusan tahun sebelum jaman Yesus. Meskipun mereka kecil, tapi catatan sejarah dan arkeologinya cukup lengkap untuk menjelaskan keberadaan dan silsilah raja² mereka.

Semua catatan ini merupakan tantangan jelas bagi pernyataan Muslim bahwa Mekah sudah ada ratusan tahun sebelum jaman Yesus – karena tak ada satu pun peninggalan sejarah kuno di Mekah. Karena tiadanya masalah air hujan yang tinggi, maka setiap kerajaan, baik besar atau kecil, memiliki banyak peninggalan prasasti yang menjelaskan budaya, silsilah raja, peperangan, dan berbagai kejadian penting di setiap kerajaan.

Mari kita lihat kerajaan kecil pertama yakni Haram, yang urutan penguasanya dimulai dari Raja Yaharil di 600 SM, [78] dan berakhir pada Raja Maadikarib Raydan yang berkuasa di tahun 190-175 SM. [79] Kerajaan berikut adalah Inaba. Penguasanya yang terpenting adalah raja Waqahil Yafush yang berkuasa di tahun 550-530 SM. [80] Kerajaan Kaminahu dimulai dari Raja Ammiyitha, yang berkuasa di tahun 585-570 SM. [81] Urutan selanjutnya adalah delapan raja² yang berakhir dengan Raja Ilisami II Nabat, yang berkuasa di tahun 495-475 SM. [82] Catatan sejarah menunjukkan bahwa kerajaan ini berkembang pesat di bawah pemerintahan Wahbu, putra Mas’ud, di tahun 160-140 SM. Kerajaan lainnya adalah Nashan, dengan penguasa pertamanya Raja Ab’amar Saqid yang berkuasa sekitar 760 SM. [83] Tiga raja setelah itu berkuasa diantara tahun 520-480 SM. Raja terakhir dari ketiga raja tersebut adalah Yadi’ab Amir, yang berkuasa pada tahun 500-480 SM. [84]
[78] C.Robin, Inventair des Inscriptions Sudarabiques, 1ff. Paris/Rome, 1992 ff.1, 67-68, Haram 3 & 4; Repertoire d'Epigraphie Semitique, esp.V-VIII, Paris, 1929-1968, 2751/M.15; quoted by K.A. Kitchen, hal. 180
[79] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 181; 239
[80] C.Robin, Inventair des Inscriptions Sudarabiques, 1ff. Paris/Rome, 1992 ff.,1, 5-6, pls.2b,3a; Inabba; dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, page 181; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 239
[81] Private building-dedication, al-Harashif 3 (C.Robin, Inventair des Inscriptions Sudarabiques,1ff. Paris/Rome, 1992 ff., 1, 200-201, pl.59b); dikutip oleh K.A. Kitchen, hal. 182

[82] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 181, 182; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 239
[83] Comptes-rendus de l'académie des Inscriptions et Belleslettres, 1992, 68; cf.C.Robin in Robin(ed.), L'Arabie Antique de Karib'il à Mahomet, Aix-en-Provence, 1993,55,128, fig.20; dikutip oleh K.A. Kitchen, hal. 183
[84] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, pages 181, 182; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 240

Berdasarkan peninggalan sejarah tersebut, kita memiliki dokumen cukup lengkap akan kronologi kerajaan² ini, meskipun ukurannya kecil dan tak punya banyak pengaruh dibandingkan kerajaan² utama lainnya. Hal ini membuktikan bahwa kerajaan kecil dekat Mekah sekali pun memiliki catatan sejarah kuno yang lengkap. Hadis Islam menyatakan Mekah merupakan kota agama yang utama dan maju di sepanjang sejarah Arabia, yang sudah ada sejak jaman Abraham. Tapi tidak seperti kerajaan² atau kota² kuno Arabia lainnya, tak ada catatan sejarah kuno tentang Mekah.


Kita Memiliki Catatan Sejarah yang Sangat Banyak akan Kerajaan Qataban

Penelitian kita berlanjut ke kerajaan Qataban, yang semakin membuktikan bahwa Mekah belum ada sebelum jaman Yesus. Kerajaan ini terletak di baratdaya Arabia, dan memiliki peninggalan sangat banyak tentang sekuens kejadian dan nama para penguasanya. Terdapat urutan 31 penguasa yang dimulai dari tahun 330 SM dan terus berlangsung sampai penguasa terakhir, Raja Marthadum, yang berkuasa di jaman akhir Kerajaan Qataban (150-160 M). Para sejarawan berhasil mencatat 31 penguasa, kecuali raja nomer 2 dan 27. Ini menunjukkan lengkapnya prasasti dan catatan sejarah Kerajaan Qataban. [85]
[85] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 181, 182; see also K.A. Kitchen, hal. 183-188



SABA DAN HIMYAR

Saba dan Himyar meninggalkan keterangan tentang 102 raja² yang berkuasa sejak abad ke-9 SM dan berakhir di abad ke-6 M. Ini membuktikan Mekah tak ada di jaman kuno. Jika Mekah sudah ada, maka tentunya kota itu memiliki bukti² peninggalan sejarah kuno.

Kerajaan Saba dan kerajaan penggantinya yakni Himyar meninggalkan catatan sejarah lengkap yang sangat mengagumkan. Kerajaan² ini memiliki berbagai peninggalan arkeologi yang menyebutkan nama² para penguasa mereka, dimulai dari Karibil A., yang berkuasa sekitar 860 SM. Urutan nama penguasa ini terdiri dari 31 Makrab. Makrab adalah raja² yang berkuasa di Saba dan daerah sekitarnya. Makrab terakhir adalah raja Yitha’a Amar Bayyin II, yang berkuasa di tahun 360-350 SM. Saba lalu kehilangan kekuasaan atas daerah sekitarnya, dan para raja Saba tidak lagi bergelar Makrab, tapi hanya disebut sebagai raja saja.

Setelah para Makrab, urutan raja terus berlanjut dengan raja nomer 32, yakni Yadi’ubil Bayyin, yang berkuasa tahun 350-335 SM. Urutannya terus berlanjut ke nomer 55, raja Saba bernama Yada’il Dharih IV yang berkuasa di tahun 0-15 M. Raja² Saba dan Dhu-Radydan merupakan urutan penguasa seterusnya.

Raja Dhamar’alay Warar Yahan’ifm merupakan penguasa nomer 56. Urutan berlangsung sampai penguasa nomer 79, yakni raja Saba terakhir yang bernama Dhamar’alay Warar Yahan’ifm, yang berkuasa di tahun 260-275 M.

Setelah itu urutan penguasa beralih ke raja pertama kekaisaran Himyar, yakni Yasir Yuhan’im I, yang berkuasa di tahun 275-285 M. Raja² Himyar berkuasa atas kerajaan² Saba, Himyar, dan negara² bagian lainnya. Urutan raja Himyar berakhir dengan raja Maadikarib III yang berkuasa tahun 575-577 M. Maadikarib adalah pemimpin nomer 102 di urutan panjang para raja yang berkuasa selama jenjang waktu 1.437 tahun, dimulai dari abad ke-9 SM, hanya beberapa puluh tahun sebelum Ratu Saba mengunjungi Salomo, dan berakhir di abad ke-6 M. [86]
[86] Lihat K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 181, 182; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 90-222

Keterangan para raja ini memberitahu kita bahwa daerah Arabia selatan dan barat merupakan salah satu daerah di dunia yang memiliki catatan sejarah jaman kuno yang terlengkap. Kita tak bisa menemukan keterangan lengkap silsilah raja² manapun di negara Eropa di jaman 1000 tahun SM. Tapi di Arabia bisa kita temukan urutan raja² di Yemen sejak abad ke-9 SM, terutama pada kerajaan Saba dan Himyar. Dengan demikian, pernyataan Muslim bahwa Mekah adalah pusat agama sejak jaman kuno adalah salah dan tak terbukti.


Kerajaan Kinda, Sebelah Timur Mekah, dan Peninggalan Sejarahnya

Kita telah menelaah daerah utara dan selatan, sekarang kita tinjau daerah sebelah timur Mekah. Ibu kota daerah ini adalah Dhu-Kahilum, yang di jaman sekarang dikenal sebagai Qaryat al-Fau, dekat kota tua Yamama, sekitar 500 mil dari Mekah. Kota kuno Dhu-Kahilum mengandung banyak peninggalan arkologi yang menerangkan siapa raja² dan peperangan² mereka. Raja pertama adalah Rabi’a yang berkuasa di tahun 205-203 M. Namanya disebut dalam prasasti Sabaia sebagai “Raja Kinda dan Kahtan.” [87] Dari prasastinya, kita bisa mengetahui keterangan tentang Kinda. Contohnya, di tahun 290 M, Kinda kehilangan kekuasaan karena dikalahkan kerajaan Saba. Prasasti Sabaia dari Mahram Bilqis–Ma'rib menyatakan tentang seorang raja Sabaia: “Saadta Iab Yatlaf, keturunan Gadanum, pemimpin bangsa Arab dan Raja Saba dan Kindat …” [88]
[87] A.Jamme, W.F., Sabaean Inscriptions from Mahram Bilqis (Ma'rib), the Johns Hopkins Press,Baltimore, 1962, Volume III, hal. 137
[88] A.Jamme, W.F., Sabaean Inscriptions from Mahram Bilqis (Ma'rib), the Johns Hopkins Press, Baltimore, 1962, Volume III, hal. 169



Tidaklah mungkin untuk menyatakan bahwa Mekah sudah ada selama 2.400 tahun tanpa bukti apapun sedangkan setiap kerajaan lain di daerah itu punya berbagai bukti peninggalan jaman kuno.

Kita telah lihat bahwa kota² terdekat ke Mekah, di sebelah utara, selatan, atau timur, semuanya punya catatan sejarah lengkap dalam bentuk penemuan arkeologi yang memungkinkan kita untuk mengetahui sejarah daerah itu dan nama² para pemimpinnya. Dengan catatan selengkap itu tentang kerajaan² yang berjarak kurang dari 500 mil dari Mekah, kita ketahui bahwa tak mungkin ada kota di daerah itu yang tak punya catatan sejarah kuno apapun. Tidak hanya para sejarawan dan geografer Yunani dan Romawi yang tidak menyebut Mekah, tapi juga peninggalan² arkeologi kuno Arabia tidak menyatakan keberadaan kota itu sebelum abad ke-4 M. Dengan begitu, tidaklah mungkin untuk bisa memasukkan nama Abraham dan monotheisme di Mekah, tidak untuk sesaat saja, apalagi untuk seluruh jaman Arabia. Meskipun begitu, Muslim di seluruh dunia tetap percaya bahwa Abraham dan putranya Ishmael membangun Ka’bah di Mekah. Tiada seorang pun yang bisa menulis ulang sejarah, sebagai usaha mencoga meyakinkan manusia tentang sejarah masa lalu suatu daerah, jika sejarah daerah itu sudah terlebih dahulu dicatat oleh berbagai sejarawan dan diselidiki oleh para arkeologis.


Arkeologi Arabia Timur Menyangkal Keterangan Mekah Sudah Ada Sejak Jaman Dahulu

Sejarah kota² kuno di Arabia timur dan barat yang telah ada ribuan tahun sebelum jaman Kristus, dan bahkan sejak jaman Abraham, memiliki berbagai peninggalan arkeologi yang mengungkapkan sejarah kota² tersebut. Peninggalan² kuno ini juga membuktikan bahwa Mekah, yang tanpa bukti sejarah kuno apapun, tidak mungkin ada di jaman Abraham.

Image
Peta kerajaan² kuno Arabia Dilmun dan Magan, 3000 SM, jauh sebelum jaman Abraham.

Arabia timur memiliki peninggalan sejarah yang cukup lengkap, dan daerah ini berhubungan dengan Mesopotamia kuno, yang sekarang adalah Iraq. Sejarah Arabia timur, termasuk daerah pantai Teluk Persia, tidak berhubungan dengan Arabia barat, karena daerah barat dan timur dipisahkan oleh dua gurun pasir besar: Ar’ Rub’ al-khali di selatan dan An Nafud di utara. Sejarah kuno tak menunjukkan adanya komunikasi apapun antara Arabia timur dan barat. Kita memiliki banyak peninggalan arkeologi daerah Teluk Persia yang membantu kita untuk mengetahui sejarah Arabia timur dan hubungannya dengan dinasti² Mesopotami, yang telah berlangsung beberapa ribu tahun sebelum jaman Kristus. Dari peninggalan² itu, diketahui bahwa daerah timur Arabia memiliki jaman kejayaan dan kekuasaan sendiri. Untuk menentukan tanggal penemuan² arkeologi di Arabia timur, kita bisa memeriksa kronologi kejadian² di Mesopotamia.


Dilmun

Salah satu kerajaan kuno paling penting di Arabia timur adalah Dilmun, yang menguasai daerah yang sekarang menjadi negara Bahrain. Dalam banyak jaman, kekuasaan Dilmun berkembang mencapai sebagian besar daerah Teluk Persia. Dilmun telah berkembang sejak tahun 3000 SM, karena perdagangannya dengan Lembah Indus (India dan Pakistan di jaman sekarang) dan Mesopotamia.

Image
Kuil Barbar di Dilmun.

Image
Cap stempel Dilmun, 2000-1800 SM.

Image

Penemuan² arkeologi, seperti barang² tembikar dan perabotan lainnya, menunjukkan bahwa kebudayaan Arabia kuno ternyata sama tuanya dengan kebudayaan Mesopotamia. Kontak antara Dilmun dan Mesopotamia tercatat sejak milenia ke-4 sampai ke-3 SM. Prasasti² Sumeria dan Akkad juga menyebut tentang Dilmun di seluruh sejarah awal mereka. [89] Kerajaan Dilmun memiliki banyak lahan² arkeologi yang menunjukkan sejarah mereka, seperti urutan raja² Dilmun yang dimulai dari tahun 1800 SM. Meskipun raja pertama tidak bernama, terdapat tiga raja yang berkuasa di tahun 1470-1320 SM. Setelah itu urutan raja mulai lagi di tahun 720 SM dengan Raja Uperi dan berlanjut dengan raja² berikutnya sampai kerajaan Dilmun dikuasai Raja Nabonidus dari Babylonia. Nabonidus menunjuk seorang gubernur atas Dilmun di tahun 550-540 SM.
[89] R.W. Ehrich, Chronologies in Old World Archaeology, 3rd Edition, I-II, Chicago, 1992, I, hal. 67-68; juga lihat D.T. Potts, Dilmun, New Studies in the Archaeology and Early History of Bahrain, (BBVO2), Berlin, 1983, dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 145

Keterangan bahwa Dilmun dikuasai oleh kerajaan² Assyria, Babylonia, Yunani dan Persia tercantum di berbagai peninggalan arkeologi, dan juga prasasti dari luar kerajaan² yang menjajahnya.


Magan

Kerajaan timur Arabia lainnya yang penting adalah Magan, yang lokasinya adalah di daerah Oman di jaman modern. Dari kota Ur di Sumeria, kita mendapatkan prasasti yang berkenaan dengan Magan, dari tahun 2800-2500 SM. Kita juga punya prasasti² tentang Magan dari periode Akkadic yang dimulai dengan raja Sargon yang menaklukkan negara² Sumeria di Iraq. Dia mendirikan kekaisaran Akkad di sekitar tahun 2340 SM. Prasasti² Raja Sargon menyebutkan bahwa Sargon “menyebabkan kapal² layar dari Meluhha (Pakistan), Magan dan Dilmun merapat ke pangkalan pelabuhan Agade.” [90]
[90] J.B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, Princeton, 268

Kekuasaan Magan mencakup daerah Oman, menyeberangi Selat Hormuz, ke daerah Iran, sampai ke daerah utara yang sekarang adalah negara United Arab Emirats (UAE) di Teluk Persia. Banyak lahan² arkeologi di Oman dan UAE yang menunjukkan berbagai keterangan penting tentang kerajaan Magan, misalnya tentang tiga raja Magan. Raja pertama adalah Raja Manitan, yang berkuasa di sekitar tahun 2240 SM, 150 tahun sebelum jaman Abraham. Yang kedua adalah raja tak bernama yang berkuasa di sekitar tahun 2060 SM, dan yang ketiga adalah Raja Nabudeli, yang berkuasa di sekitar tahun 2043 SM. Aku menyebut ketiga raja ini karena mereka hidup di jaman Abraham dan putra²nya. Ini merupakan penemuan penting yang menunjukkan kebudayaan kuno Arabia, di jaman Abraham dan bahkan sebelumnya, dan para raja ini benar² pernah ada. Peninggalan mereka merupakan bukti keberadaan mereka di Arabia timur, sama seperti kebudayaan lain di daerah Mesopotamia. Peninggalan ini membuktikan bahwa mereka sudah ada ribuan tahun sebelum jaman Abraham, sama seperti kebudayaan Dilmun dan Magan.

Kita lihat bahwa nama² para raja di jaman sangat kuno ini tercatat dengan baik. Mekah tidak punya catatan kuno arkeologi apapun, meskipun Muslim mengatakan Mekah sudah ada sejak jaman Abraham.

Arkeologi Mesopotamia dan Arabia timur menunjukkan bahwa Arabia barat tidak dikenal masyarakat Mesopotamia dan Arabia timur. Dengan begitu, bagaimana mungkin Abraham, penduduk kota Ur di Iraq, bisa menuju ke tempat yang tak dikenal pada jamannya?

Dari kerajaan Dilmun di Arabia timur, kita temukan berbagai catatan arkeologi raja² dan kejadian sejauh milenia ke-3 SM (3000 SM), sampai jaman penjajahan Islam di abad ke-7 M. Akan tetapi di Arabia tengah barat, di mana Mekah kelak dibangun, tiada catatan kebudayaan apapun sampai beberapa abad setelah jaman Kristus, sebagaimana yang telah dibahas dari tulisan² para geografer dan sejarawan kuno. Fakta menunjukkan bahwa tak ada peninggalan sejarah budaya apapun di Arabia barat di jaman Abraham. Padang pasir sangat luas yang memisahkan Arabia timur dan barat tidaklah dapat disebrangi oleh manusia di jaman Abraham. Hal ini menyebabkan Arabia barat tidak terjamah oleh penduduk Arabia timur dan Mesopotamia pada waktu itu. Hal ini sama juga seperti bangsa Eropa melihat Samudra Atlantik sebelum jaman Penjelajahan Columbus.


Daerah Arabia barat tak dikenal masyarakat Arabia timur dan juga masyarakat Mesopotamia di jaman Abraham. Kita bisa membaca keterangan Alkitab yang menyatakan Mesopotamia adalah tempat di mana Abraham hidup sebelum dia dipanggil Tuhan untuk pergi ke Tanah Perjanjian.

Kita punya banyak prasasti sejarah Mesopotamia tentang daerah timur Teluk Persia, termasuk periode Sumeria dan Akkadik dan kekuasaan mereka atas tempat tinggal Abraham, yakni kota Ur di Iraq. Tapi kita tidak menemukan catatan apapun dari Mesopotamia tentang Arabia tengah barat, di mana Mekah kelak dibangun. Catatan sejarah pertama yang menyebut daerah Arabia barat adalah tentang Yaman, yang terletak di baratdaya Arabia. Keterangan tentang Yaman telah ditemukan di prasasati² Mesir di abad ke-14 SM, yang merupakan tujuh abad setelah jaman Abraham. Prasasti² arkeologi di Mesopotamia, termasuk kota Ur, kotanya Abraham, tidak menyebutkan tentang Yaman sampai di abad ke-8 SM. Lalu prasasti² Assyria menyebut raja Saba-Yaman, yang menyerahkan upeti kepada raja Assyria yakni Sargon II. Hal ini menunjukkan bahwa Yaman, yang merupakan kebudayaan tertua baratdaya Arabia, tidak dikenal masyarakat Mesopotamia di jaman Abraham. Tak ada keterangan Mesopotamia apapun di jaman kuno tentang Arabia tengah barat di sepanjang jalur Laut Merah. Mengapa begitu? Hal ini karena daerah itu tak berpenghuni sampai di abad ke-3 SM, ketika jalur dagang dari Yaman di daerah Laut Merah mulai berkembang. Arabia barat di jaman Abraham adalah daerah kosong dan tak berpenghuni.

Selain peninggalan sejarah, juga terdapat sebuah novel yang ditulis di jaman itu. Buku The Epic of Gilgamesh ditulis di kota Uruk di Mesopotamia, sekitar 2000 SM, yakni 100 tahun setelah Abraham hidup di Ur, kota utama Mesopotamia. Tempat² kejadian The Epic of Gilgamesh menerangkan pada kita tentang kehidupan kuno di Mesopotamia. Sejarawan Hommel memberi komentar tentang bagian ke-9 syair panjang buku itu:

Kita diberitahu bagaimana Gilgamesh pergi ke tanah Mashu di Arabia tengah, yang merupakan pintu gerbang yang dijaga oleh orang² yang mirip kalajengking; karena itulah julukan “tanah kegelapan” diterapkan pada daerah Arabia di jaman tarikh awal Ibrani.

Selama 12 mil sang pahlawan harus berjalan melalui kegelapan pekat. Akhirnya dia tiba di daerah sempit dekat pantai yang dihuni dewi perawan Sabitu, yang mengatakan padanya bahwa, “sejak jaman jaman dahulu, tiada seorang pun bisa mengarungi lautan untuk menyelamatkan Shamash, sang pahlawan. Penyeberangan sangat sukar dan berbahaya, dan jalan masuk ke air kematian tertutup dengan baut. Bagaimana, wahai kau Gilgamesh, bisa melampaui lautan?”
[91]
[91] Hommel, Ancient Hebrew Tradition, pages 35-39, dikutip oleh Wilfred Schoff tentang komentarnya akan The Periplus of the Erythraean Sea, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd., 1995, hal. 134

Kisah ini ditulis di jaman Abraham dan kebudayaan Mesopotamia, di mana orang tidak bisa masuk ke Arabia tengah karena “pintu gerbangnya dijaga manusia yang mirip kalajengking,” dan tiada seorang pun yang berhasil mengarungi lautan ke Arabia baratdaya. Dengan begitu sudah jelas bahwa masyarakat Uruk dan Ur (kota tempat tinggal Abraham) menganggap Arabia tengah sebagai daerah yang misterius. Jika yang dimaksud buku itu adalah Yaman, yang terletak di baratdaya Arabia, maka tentunya daerah tengah barat Arabia di mana Mekah kelak dibangun akan terlebih asing lagi bagi masyarakat Mesopotamia.

Jika daerah Mashu di Arabia tengah merupakan daerah tak dikenal oleh masyarakat Mesopotamia dan tiada seorang pun yang pernah melalui daerah ini, maka terlebih lagi daerah Arabia barat bagi masyarakat Mesopotamia. Bagaimana mungkin orang seperti Abraham, yang berasal dari kota Ur (yang merupakan salah satu kota yang paling berkembang di Mesopotamia yang subur) meninggalkan Palestina untuk pergi ke gurun pasir Arabia, lalu membangun kuil Ka’bah di tempat yang tak berpenghuni di jamannya? Hal ini seperti membayangkan Napoleon pergi ke Kutub Utara untuk membangun gereja sebelum orang bisa mencapai Kutub Utara. Atau seperti membayangkan Napoleon mendaki puncak Himalaya untuk membangun kuil, sedangkan Napoleon sendiri belum tahu tentang puncak Himalaya. Pernyataan bahwa kebudayaan Yaman telah berhubungan dengan kerajaan² Palestina di jaman Abraham adalah salah dan tak terbukti. Kerajaan pertama Yaman baru dibangun di abad ke-14 SM, atau tujuh abad setelah jaman Abraham. Kota² Yaman di jalur dagang dekat Laut Merah menunju ke Arabia tengah barat belumlah ada di jaman Abraham. Kota² baru muncul setelah Yaman mulai berdagang dengan Israel dan Syria. Selain itu, kota Mekah nantinya akan dibangun oleh suku² asal Yaman, di beberapa abad setelah jaman Kristus.


Kehidupan Abraham, seperti yang ditulis Musa, menunjukkan minat Abraham untuk pergi ke Mesir di saat wabah kelaparan terjadi di Palestina, dan bukannya pergi ke daerah gurun pasir tak dikenal di jamannya seperti Arabia tengah.

Mari kita tinjau sejarah Abraham, seperti yang tercantum di Alkitab. Abraham adalah warga Ur dari Mesopotamia selatan, yang hidup di tanah yang tersubur dan paling berbudaya di abad ke-21 SM. Ketika wabah kelaparan melanda Kanaan/Palestina, Abraham melakukan apa yang dilakukan semua orang berakal. Dia tidak memilih pergi ke tanah asing tak dikenal olehnya yang lebih jelek keadaannya daripada tanah asalnya, tapi dia memilih pergi ke tanah Mesir. Mengapa? Karena di jaman itu, Mesir adalah satu² daerah beradab yang setara kualitasnya dengan negara asalnya Mesopotamia. Setelah wabah kelaparan berakhir, Abraham kembali lagi ke Kanaan, tanah indah yang disediakan tuhannya baginnya, dan tanah warisan bagi Ishak putranya. Abraham lebih memilih pergi sebentar ke Mesir, bahkan jikalau dia harus meninggalkan Kanaan untuk sementara. Dengan begitu, bagaimana mungkin dia bisa pergi ke gurun pasir tak dikenal seperti Arabia barat, letak Mekah kelak dibangun?


Para kepala keluarga yang hidup di sekitar Abraham tidak pernah menyebut Abraham melakukan perjalanan ke gurun pasir tak dikenal Arabia tengah di jamannya. Tiada nabi apapun di Alkitab dan literatur keturunan Abraham yang menyatakan perjalanan ke Arabia.

Guna menjelaskan hal ini, maka aku membuat pengandaian jika Abraham benar² memilih pergi ke Arabia barat. Jika benar begitu, mengapa keturunannya tidak pernah menulis tentang perjalanan bersejarah ke Arabia ini? Mereka mencatat semua kehidupan Abraham dengan terperinci, dari sejak dia mulai berangkat ke Tanah Perjanjian, tapi mengapa mereka lalu tidak mencatat perjalanan penting ke Arabia?

Kita tahu Musa mencatat kehidupan Abraham dengan penuh detail. Bagaimana mungkin Musa bisa luput mencatat perjalanan besar ke Arabia dan tidak menyertakan pengakuan Muslim bahwa Abraham membangun kuil Ka’bah di Mekah? Bagaimana mungkin semua nabi Israel diam saja tentang kejadian yang begitu penting, jika itu memang benar² terjadi? Mengapa kita tak menemukan satu pun keterangan perjalanan Abraham ke Arabia di seluruh catatan² kuno Ibrani? Jika Abraham memang mengunjungi gurun pasir Arabia, di tempat Mekah kelak dibangun di abad ke-4 M, maka dia tentunya adalah pionir pendiri kota itu. Keturunannya akan menyampaikan prestasi cemerlang ini ke berbagai nabi, sejarawan, dan penulis² lainnya. Kuil Ka’bah di Mekah akan jadi tempat ziarah bagi keturunan Ishak dan Yakub kerana pentingnya peranan Abraham sebagai bapak utama kepercayaan mereka. Tapi kita tidak melihat siapapun dari bani Israel, sejak jaman Musa sampai ke jaman berbagai nabi lainnya, pergi mencari tempat ibadah Ka’bah di Arabia atau naik haji ke Mekah.

Agar lebih jelas lagi, maka bayangkan jika orang² Alaska mengaku bahwa Shakespear hidup diantara mereka dan membangun kuil ibadah di Alaska. Untuk membenarkan pengakuan mereka, masyarakat Alaska harus bisa menunjukkan bukti sejarah, dan bukannya hanya bukti tulisan nabi mereka, atau kesaksian orang yang hidup raturan tahun setelah jaman Shakespear. Satu²nya sumber terpercaya adalah sejarah Inggris, karena tak ada sejarah apapun yang ditulis orang Alaska di jaman Shakespear tentang kedatangannya ke Alaska. Dengan begitu, kita bisa memeriksa bahwa sumber² sejarah asli Inggris tidak pernah menyebutkan Shakespear mengunjungi Alaska. Hal ini sama seperti membangun keterangan Abraham mengunjungi Arabia barat. Karena tiadanya bukti tulisan kuno Arabia apapun di jaman Abraham tentang kunjungan Abraham ke Mekah, maka satu²nya cara logis untuk memeriksa kebenaran ini hanyalah dari semua tulisan² keturunan Abraham di Israel sejak jaman Musa. Tiada satu pun keterangan mereka yang menyebut klaim Islam bahwa Abraham pernah mengunjungi Mekah dan membangun kuil di sana. Dengan begitu, kita bisa lihat bahwa klaim Islam bahwa Mekah sudah ada sejak abad ke-21 SM dan Abraham membangun Ka’bah di Mekah, adalah omong kosong semata dan kebohongan yang dijejalkan ke dalam sejarah Islam. Setelah mengamati semua bukti ini, tak ada seorang pun orang waras berakal yang bisa menerima klaim Islam tersebut.

Karena agamanya sudah terbukti salah dalam mengutarakan fakta sejarah, maka seharusnya Muslim meninggalkan Islam. Tiada orang waras yang mau menggantungkan semua nasib akhiratnya pada agama yang mengandung begitu banyak kesalahan sejarah.
Last edited by Adadeh on Thu Mar 17, 2011 2:14 am, edited 1 time in total.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Wed Feb 23, 2011 1:02 pm

Bagian II
4. Tiadanya Peninggalan Arkeologi tentang Mekah di Berbagai Kota dan Kerajaan Kuno Arabia


Meskipun kerajaan² dan kebudayaan² di jaman Abraham hanya sedikit, dan dari prasasti mereka terbukti mereka mengenal satu sama lain, tiada satupun yang menyebut tentang Mekah.

Sebelumnya, kita telah membahas berbagai bukti ilmiah yang membantah pernyataan Islam bahwa Mekah sudah ada di Arabia sejak jaman Abraham. Kita telah lihat bahwa setiap kebudayan yang muncul di Arabia selalu meninggalkan penemuan² arkeologi, yang membuktikan keberadaannya di jaman dulu. Meskipun begitu, tak ada peninggalan Mekah apapun sebelum abad ke-5 M. Kita sekarang akan membahas argumen arkeologi lain yang juga penting untuk membantah pernyataan Muslim bahwa Mekah sudah ada di jamna dahulu. Argumen ini adalah tentang tiadanya peninggalan arkeologi tentang Mekah di berbagai kota dan kerajaan Arabia lainnya.

Abraham hidup di abad ke-21 SM. Jika Mekah sudah ada di jaman Abraham, tentunya kota itu akan tercantum dalam berbagai prasasti terperinci dari kebudayaan Arabia timur, seperti prasasti² kerajaan Dilmun dan Magan, atau Oman di jaman sekarang. Terlebih lagi, jika Mekah sudah ada di abad ke-21 SM, maka Mekah adalah satu²nya kota yang ada di Arabia barat saat itu. Selama ribuan tahun, Magan terkenal akan perdagangannya dengan Mesopotamia dan Lembah Indus, yang sekarang adalah India dan Pakistan. Dilmu terkenal memiliki perdagangan luas dengan Asia, dan membawa barang² Asia ke Mesopotamia sejak 1000 tahun sebelum jaman Abraham. Jika Mekah sudah ada sejak Abraham hidup, maka Mekah tentunya adalah pasar penting bagi perdagangan Magan dan Dilmun. Akan tetapi baik peninggalan arkeologi Dilmun dan Magan tidak pernah menyebut tentang Mekah.

Kita juga tahu bahwa kebudayaan Arabia baratdaya baru dimulai di Yaman di abad ke-13 SM, sehingga tiada kebudayaan apapun di daerah Arabia barat yang berdagang dengan Magan dan Dilmun di jaman Abraham. Kerajaan² dan kebudayaan² di Arabia di jaman Abraham tidaklah banyak, dan mereka mengenal satu sama lain. Kerajaan² di Mesopotamia telah saling mengenal dan juga dikenal oleh seluruh peradaban Timur Tengah sejak tahun 3000 SM. Banyak prasasti di berbagai kerajaan Arabia timur, seperti Magan (Oman) dan Dilmun, yang terbukti mengetahui kebudayaan Timur Tengah lainnya seperti Mesopotamia.


Jika Mekah sudah ada sejak jaman Abraham, maka tentunya kebudayaan² lain di Arabia Timur, yang sebagian sudah berusia lebih dari 3000 tahun, akan mengenal kota Mekah selama ribuan tahun.

Di sepanjang kurun waktu kerajaan² Arabia selatan dari 3000 SM sampai abad ke-2 M, tak ditemukan satu pun prasasti dari mereka yang menyebut kota Mekah. Usaha ngotot mengatakan Mekah sudah ada sejak jaman kuno, meskipun fakta sejarah menyangkalnya, adalah bagaikan ngotot mengatakan bahwa dinasti² kerajaan di Mesir utara tidak pernah mendengar dinasti² kerajaan Mesir timur selama ribuan tahun sejarah. Faktanya, prasasti² yang ditemukan di Mesir utara sarat dengan informasi tentang Mesir selatan, dan begitu juga sebaliknya. Hal ini menunjang keterangan kami bahwa Mekah belum dibangun sampai setelah abad ke-3 M. Seluruh budaya² besar seperti Mesir, India, Mesopotamia, China telah saling mengenal selama ribuan tahun, dan hal itu tertulis jelas dalam peninggalan arkeologi mereka.

Tidaklah mungkin bagi dua kebudayaan besar yang menghuni daerah geografi yang sama (misalnya Mesir, India, Mesopotamia, China) selama ribuan tahun, tapi tidak pernah mendengar satu sama lain. Hal yang sama juga berlaku bagi kebudayaan Arabia. Jika Mekah sudah ada di Arabia barat kuno, bagaimana mungkin kebudayaan² besar Arabia lainnya tidak pernah mengetahuinya selama jenjang waktu 2.400 tahun?


Tiadanya Prasasti tentang Mekah di Daerah² Arabia Lainnya

Sampai sekarang kita telah menelaah kebudayaan² Arabia timur. Sekarang akan kita bahas kebudayaan²Arabia utara, selatan, dan tengah.
Adalah penting untuk meneliti berbagai kota atau kerajaan Arabia yang disebut dalam banyak prasasti di berbagai kerajaan Arabia lainnya.


Tiadanya Keterangan tentang Mekah di Prasasti² Yaman

Image
Peta daerah Yaman jaman kuno.

Telah kusebut sebelumnya, bahwa prasasti arkeologi Yaman adalah yang salah satu yang terlengkap di Timur Tengah. Melalui peninggalan mereka kita dapatkan banyak keterangan tentang raja² dan kebudayaan mereka. Selain itu, dari situ kita juga mendapatkan banyak keterangan tentang kebudayaan lain di Arabia dan di luar Arabia.

Image
Tugu batu tempat ibadah di Yaman.

Dari prasasti Yaman, kita temukan keterangan berbagai keterangan penting tentang kerajaan² di Arabia selatan. Contohnya, Kinda adalah kerajaan di Arabia tengah yang letaknya 500 mil dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. Ini tertulis jelas dalam prasasti Yaman. Demikian juga kota² Arabia utara seperti Qedar dan Dedan, yang sekarang terletak di sebelah utara Mekah, yang banyak tertulis dalam prasasti Yaman, yang membenarkan adanya hubungan dagang antara kerajaan² Yaman dan berbagai kota dan kerajaan Arabia di sebelah utara dan timur lokasi akhir kota Mekah.

Bahkan kota Yahtrib, yang lalu diganti nama jadi Medina, juga tertulis dalam prasasti² Yaman. Contohnya, prasasti Sabian menulis pengabdian para budak wanita di kuil Sabian. Menurut prasasti ini, para budak berasal dari Gaza, Yahtrib, Dedan dan Mesir. [92] Jika Yahtrib saja tertulis dalam prasasti Yaman, bagaimana mungkin Mekah, yang kata Muslim sudah ada di jaman Abraham, tidak tertulis sama sekali di prasasti Yaman manapun, padahal Mekah terletak lebih dekat ke Yaman daripada Medina?
[92] Halevy, nos.190, 231-234 ; Hommel, Chrestomathie, page 117; Hartmann, Die arabische Frage, hal. 206: dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 182

Prasasti² Yaman juga menyebut tentang kerajaan² Axum dan Habashat yang berada di daerah Ethiopia, sebelah barat Mekah, di seberang Laut Merah. [93] Prasasti² ini juga mengandung lebih banyak lagi informasi tentang kerajaan² yang terletak di sebelah utara, timur, dan barat lokasi di mana Mekah kelak dibangun. Meskipun mengandung banyak keterangan, tapi prasasti² itu tak menyebut tentang kota Mekah. Jika kerajaan² Ethiopia yang di benua lain saja disebut, masakan Mekah, jika memang sudah ada, tak disebut? Hal ini bagaikan masyarakat Roma menyebut tentang Spanyol dan Inggris, tapi tidak menyebut tentang Perancis, yang jaraknya lebih dekat ke Roma dibandingkan Spanyol dan Inggris. Dengan demikian, tidaklah mungkin untuk menyebut bahwa Mekah sudah ada di jaman kuno Arabia sebelum abad ke-4 M.
[93] A. Irvine, Journal of Semitic Studies 10, (1965), hal.178-196; A.F.L.Beeston, Proceedings of the Seminar for Arabian Studies, 17 ( 1987), pages 5-12; quoted by K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Bagian I, Liverpool University Press, 1994, hal. 39


Tiadanya Mekah dalam Prasasti² Kota² Arabia Utara

Jika kita lihat prasasti yang ditemukan di kota² Arabia utara, misalnya Dedan, kita dapatkan fenomena yang sama. Prasasti² Dedan menunjukkan keterangan sejarah kota mereka sendiri dan juga menyebut berbagai budaya lainnya di Arabia barat dan selatan. Contohnya, kita mengetahui tentang sebagian raja² kerajaan Main di Yaman melalui prasasti² di kota Dedan. [94]
[94] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal.138

Pengakuan Islam bahwa Mekah sudah ada sejak abad ke-21 SM adalah serupa seperti kota Roma telah ada di Italia selama berabad-abad, tapi tak ada keterangan tentang kota itu di berbagai peninggalan kuno² Italia. Faktanya, Roma adalah kota yang paling banyak disebut di seluruh peninggalan kuno Italia. Hal ini juga berlaku bagi kota Athena di Yunani, Babel di Mesopotamia. Jadi jika kota Mekah itu ada, tentunya akan banyak prasasti Arabia yang menyebutnya.

Sebagian Muslim mengatakan bahwa Ptolemius menyebut kota bernama Macoraba yang menurut Muslim adalah kota Mekah. Kita telah meneliti bahwa sistem longitudinal dan latitudinal Ptolemius menyatakan Macoraba bukanlah kota Mekah, tapi kota di Yaman, sebelah selatan kota tua Carna di abad ke-2 M. Untuk ngotot bergantung pada klaim itu sebagai bukti Mekah adalah kota besar sejak jaman Abraham adalah tindakan yang tak masuk akal. Bukti² arkeologi dan sejarah tidak bisa disingkirkan begitu saja untuk membenarkan klaim Islam tentang Mekah yang tak konsisten dengan fakta. Sebaliknya, suatu klaim tanpa bukti yang nyata bukanlah kebenaran.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Wed Feb 23, 2011 1:03 pm

Bab II
5. Tiadanya keterangan tentang Mekah di berbagai catatan sejarah Negara² yang Menguasai Arabia


Tiadanya kota Mekah sebelum abad ke-4 M merupakan fakta tak terbantahkan berdasarkan catatan sejarah dan peninggalan berbagai kebudayaan kuno yang tinggal di Arabia utara dan barat tengah, daerah di mana Mekah kelak dibangun. Arabia utara dan barat tengah dijajah oleh banyak negara besar di sepanjang sejarah, tapi tak ada satu pun dari tawarikh mereka yang meninggalkan penemuan prasasti atau arkeologi yang menyebut tentang kota Mekah.


Penyerangan Kerajaan Ma’in

Kerajaan Ma’in menyerang ke utara, menguasai berbagai daerah dan suku, tapi tidak menyebut kota Mekah dalam prasasti mereka, meskipun lokasi Mekah sebenarnya terdekat dengan daerah mereka.

Ma’in adalah salah satu negara² yang menjajah Arabia utara. Negara ini berkembang dari Yaman, di baratdaya Arabia, ke utara melalui koloni² perdagangan mereka. Daerah jajahan ini memberi fasilitas bagi Ma’in untuk berdagang dengan Syria dan Palestina. Daerah jajahan Ma’in di Arabia utara telah ada sejak jaman Achaemenid, yang dimulai tahun 559 SM. Di sebelah utara, orang² Minaian (orang² Ma’in) menduduki kota Dedan. Dedan memiliki dinasti raja² Minaian dan meninggalkan banyak prasasti sejarah yang bertebaran di berbagai daerah Arabia utara, seperti di lokasi al-Jawf dekat perbatasan dengan Iraq. [95] Prasasti mereka juga terdapat di koloni² dagang yang didirikan orang² Minaian di Tran-Jordan, dan juga di Jabal Ramm, sekitar 20 mil dari Aqaba. [96] Terdapat koloni terkenal di kota Maan, yang nama kotanya mengandung nama bangsa Minaian, yang terletak di Yordania selatan. Ini menjelaskan bahwa bangsa Minaian berkuasa di Hijaz (Arabia utara dan barat tengah) untuk waktu yang lama. Jika demikian, apakah mungkin bahwa bangsa Minaian di Hijaz tidak mempedulikan kota Mekah, padahal kota itu terletak pada jalur perjalanan antara Yaman dan Arabia utara? Jika Mekah sudah ada di jaman bangsa Minaian menguasai kota² Arabia utara, maka tentunya penting untuk menaklukkan Mekah untuk melindungi jalur perdagangan mereka di Arabia tengah. Mekah bisa mereka pakai untuk tempat istirahat dalam perjalanan mengarungi padang pasir, dari Yaman ke kota² Arabia utara. Tapi nyatanya kafilah² Minaia tidak menemukan tempat tinggal apapun di daerah di mana Mekah kelak dibangun. Mereka malahan melalui rute perjalanan yang lebih panjang lewat Arabia tengah ke Yathrib, dan lalu kota Dedan.
[95] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 75
[96] Revue Biblique, 43 (1934) pp.578-9 and 590-1; dikutip oleh F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 75


Suku Lihyan Menguasai Daerah Arabia Barat Tengah Tanpa Menyebut Mekah

Lihyan adalah suku lain yang mengontrol Arabia baratlaut. Raja² mereka memerintah dari kota Dedan dan mengontrol jalur² dagang Arabia baratlaut. Lihyan juga mengontrol Hegra, yang juga disebut “Madain Salih,” sampai ke daerah² Arabia tengah barat. Tapi tiada prasasti Lihyan apapun yang menyebut tentang Mekah, padahal jumlah prasasti mereka sangatlah banyak.

Raja Mas’udu yang berkuasa di Dedan di tahun 120-100 SM adalah raja terakhir Lihyan, demikian menurut keterangan prasasti Dedan.


Kerajaan Nabasia

Kerajaan Nabasia menjajah sepanjang jalur dagang ke selatan termasuk gurun pasir Arabia tengah barat di mana Mekah kelak dibangun.

Kerajaan Nabasia bertambah besar kekuasaannya ke daerah selatan dan menjajah daerah yang dulu dikuasai oleh kerajaan Lihyan. Prasasti mereka di Arabia utara ditulis terus sampai awal abad ke-4 M. [97]
[97] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, hal. 130

Bangsa Nabasia berperanan penting dalam sejarah Arabia. Dari Penyerangan Romawi ke Arabia di tahun 24 dan 23 SM, kita tahu bahwa kota kecil Leuce Come dekat Laut Merah dikuasai bangsa Nabasia di saat itu. [98] Strabo, geografer Yunani yang ikut dalam penyerangan itu, mencatat bahwa Nabasia menguasai sampai bagian selatan Leuce Come. Malah dia menyebut daerah lain yang diperintah oleh Aretas yang merupakan saudar Obodas, Raja Nabasia. [99] Pengaruh kerajaan Nabasia tidak berhenti di situ. Strabo menyebut tentang “desa di daerah yang dikontrol Obodas,” dan desa itu adalah Egra, dekat Laut Merah, sekitar 62 mil dari Malathan. [100] Obodas adalah raja Nabasia, dan Malathan adalah pelabuhan yang sangat dekat dengan lokasi di mana Mekah kelak dibangun. Strabo juga melaporkan besarnya kafilah Nabasia yang datang dari Yaman, melewati Leuce Come menuju ke Petra, ibukota Nabasia. Strabo menulis bahwa kafilah ini bergerak dengan jumlah besar dan “orang² dan onta² tidak berbeda dengan pasukan tentara.” [101] Komentar Strabo ini menjelaskan bahwa orang² Nabasia yang mengontrol Arabia baratlaut dan barat tengah di jaman Penyerangan Romawi, selalu menjaga kafilah² mereka yang bergerak dari Yaman di sepanjang jalur Laut Merah.
[98] The Geography of Strabo, Buku XVI .4.23
The Geography of Strabo, Volume V, Harvard University Press, 1966, hal. 357
[99] The Geography of Strabo, Book XVI .4.24
The Geography of Strabo, Volume V, hal. 359
[100] The Geography of Strabo, Book XVI. 4 . 24
The Geography of Strabo, Volume V, hal. 363
[101] The Geography of Strabo, Buku XVI .4.23
The Geography of Strabo, Volume VII, hal. 357


Sejarawan kuno lainnya, Pliny, menjelaskan bagaimana bangsa Nabasia mengontrol jalur “melalui Troglodytae (berbagai daerah) Nabasia, yang dikuasai bangsa Nabasia.” [102] Daerah gurun pasir di Arabia utara dan tengah terletak berseberangan dengan Daerah Troglodytae di seberang Laut Merah di pantai Afrika, dan hal ini membenarkan bahwa orang² Nabasia menguasai tanah jalur dagang ke selatan. Mereka mengontrol gurun pasir Arabia barat tengah, termasuk daerah di mana Mekah kelak dibangun.
[102] Pliny XII, 44

Mekah dibangun di jalur jalan yang sering dilampaui selama beratus-ratus tahun oleh bangsa Nabasia, tapi mereka tak pernah menyebut Mekah, meskipun menyebut berbagai kota kecil di daerah kekuasaan mereka.

Dari banyaknya peninggalan prasasti Nabasia dan arkeologi lainnya, mengapa orang² Nabasia bisa luput menyebut kota Mekah? Apalagi karena Mekah dibangun di jalur ramai di daerah kekuasaan Nabasia. Karena orang² Nabasia menulis daerah² yang paling kecil dan paling penting di daerah kekuasaan mereka, maka bagaimana mungkin mereka luput menulis tentang Mekah? Hal ini jelas karena Mekah saat itu memang belum ada.

Kinda mengontrol Arabia barat tengah. Penelitian terhadap prasasti mereka menunjukkan bahwa mereka tak menyebut Mekah di abad ke-2 dan 3 Masehi.

Tidak hanya orang² Nabasia saja yang mengontrol Hijaz, tapi juga beberapa kerajaan lainnya di Arabia, di lain waktu mengontrol daerah Arabia baratlaut dan tengah, di mana Mekah nantinya dibangun. Salah satu negara dari kerajaan² adalah Kinda, yang membentuk persekutuan di Arabia tengah. Di saat itu, Kinda mendominasi Hijza, termasuk gurun² pasir di mana Mekah kelak dibangun. Prasasti mereka menerangkan bahwa Kinda sudah ada sejak abad ke-2 M. Ibu kota mereka adalah Qaryat al-Fau, terletak 500 mil timur Mekah, dekat kota Yamama. Tak ada keterangan tentang Mekah dalam prasasti mereka, dan ini menunjang kesimpulan kita bahwa Mekah memang belum ada di abad ke-2 dan 3 Masehi.

Prasasti² Himyarti yang menguasai daerah di mana Mekah kelak dibangun, tidak menyebut Mekah di abad ke-3 M.

Kerajaan lain yang menguasai Hijaz adalah kerajaan Himyar dari Yaman, yang sudah ada sejak tahun 115 SM. Di tahun 275 M, Himyar menguasai Saba, setelah itu memperluas kekuasaan ke utara, tanah masyarakat Karnait. [103]. Himyar mengontrol jalur perdagangan darat, lalu menguasai hampir seluruh daerah Hijaz.
[103] D. H. Mullar dalam artikelnya Yemen, Encyclopaedia Brittanic, 9th edition;
Weber, Arabien vor dem Islam in Der alte Orient, III, Leipzig, 1901; dikutip oleh Wilfred Schoff, The Periplus of the Erythraean Sea, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd., 1995, hal. 109


Meskipun prasasti² Himyarit melimpah, tak ada satu pun keterangan tentang Mekah, dan ini mempertegas kesimpulan bahwa Mekah memang belum ada di akhir abad ke-3 M, atau akhir abad ke-4 M.

Tidaklah mungkin bahwasanya negara² yang menguasai Arabia barat tengah tidak menyebut Mekah sama sekali, jika Mekah saat itu sudah ada.
Jika kita mengamati fakta sejarah ini, kita akan menemui kesimpulab yang sama seperti jika kita mengamati laporan² sejarah orang² Ethiopia, Koptik, dan Kristen. Mekah tidak disebut dalam seluruh prasasti dan peninggalan arkeologi negara² Arabia yang menguasai Hijaz, atau mengontrol jalur darat di mana Mekah kelak dibangun. Hal ini berarti Mekah tidak ada sebelum abad ke-4 M. Ini merupakan fakta yang sangat jelas. Semua negara yang menguasai daerah Arabia barat tengah terkenal dengan peninggalan prasasti mereka yang sangat banyak. Tak ada satu pun dari mereka yang gagal mencatat kota² di daerah kekuasaan mereka, bahkan desa terkecil sekali pun. Jadi bagaimana mungkin semua negara² ini luput menyebut Mekah, yang letaknya lebih dekat pada mereka daripada desa² kecil yang mereka catat? Ini sama seperti semua kerajaan² di tanah Mesopotamia luput mencatat tentang kota Babel. Tiada seorang pun yang akan menerima keterangan seperti ini, karena kota kuno yang penting akan tampak nyata, dan tak mungkin negara² penjajahnya luput menyebut kota tersebut. Jika Mekah sudah ada, maka semua negara penjajahnya, atau negara² yang pernah kontak dengannya, akan menyebutnya ratusan kali.

Karena itulah, para Muslim seharusnya belajar dari arkeologi negara² sekitar Arabia, atau bahkan arkeologi dunia. Berapa banyak sih bukti yang dibutuhkan untuk mendukung pernyataan bahwa sebuah kota sudah ada 2000 tahun sebelum jaman Kristus? Kondisi arkeologikal apakah yang diperlukan untuk mengakui kebenaran pernyataan seperti itu? Terutama di kondisi seperti Arabia, di mana daerah Mekah dikelilingi oleh berbagai kerajaan yang menguasai Hijaz di berbagai jaman, yang sejarah dan peninggalan arkeologinya mencatat sejarah mereka sendiri dengan lengkap, dan bahkan negara² di sekitar Timur Tengah juga mencatat tentang mereka. Jika Mekah sudah ada, tentunya akan disebut berkali-kali dalam catatan sejarah mereka. Tapi faktanya tak ada keterangan tentang Mekah dalam prasasti mereka.


Catatan² Sejarah Negara² Besar yang Menjajah Arabia Barat Tengah, dan Keterangan Islam tentang Keberadaan Kota Mekah

Bangsa² Assyria, Babylonia, Persia, dan Romawi telah pernah menjajah Arabia utara dan barat tengah. Tak ada satu pun dari mereka yang menyebut keberadaan kota Mekah.

Image
Peta kekuasaan kekaisaran Assyria dan Babylonia, 750-625 SM. Mereka tak menyebut keberadaan Mekah sama sekali.

Banyak kekaisaran² besar di sepanjan sejarah yang menjajah bagian² Arabia, terutama Arabia baratlaut dan barat tengah. Ketertarikan menguasai daerah terasing ini karena lokasinya yang strategis pada jalur² dagang antara Timur Jauh dan daerah Mediterania. Perdagangan dari Timur Jauh menyeberangi Samudra India ke pelabuhan² di Arabia tenggara. Jalur² dagang berlanjut menyebrangi Arabia barat ke negara² Timur Tengah yang terletak di sekitar laut Mediterania. Dari situ, perdagangan mencapai daerah² Mediterania lainnya. Inilah sebabnya mengapa mengontrol daerah tersebut merupakan hal yang penting bagi kekaisaran² kuno.

Alasan lain adalah bagi keamanan kekaisaran² itu sendiri. Suku² Arabia utara dan sekitarnya sering melakukan serangan ke tetangga²nya. Dengan menguasai daerah itu, kekaisaran² dapat lebih dengan mudah menghadapi serangan² suku² Arabia yang memusuhi mereka.

Alasan ketiga adalah karena adanya emas dan mineral yang penting di daerah tersebut. Daerah Arabia tengah yakni Yamama, sekitar 500 mil sebelah timur dari tempat di mana Mekah kelak dibangun, terkenal akan tambang emas dan tembaganya. Daerah Oman Arabia terkenal pula akan tambang² tembaganya.


Kekuasaan Assyria

Glaser, sejarawan Arabia terkemuka, menyatakan bahwa kekaisaran Assyria memperlebar kekuasaan mereka ke Yamama di abad ke-8 dan 7 SM. Dia menyebut lokasi² yang tertulis di prasasti² Assyria tentang peperangan mereka melawan suku² Arabia. Salah satu keterangan menarik adalah tentang Raja Assurbanipal di daerah selatan dari kota² Teima dan Khaybar. [104]
[104] See I. Eph’al, E.J.Brill, The Ancient Arabs, Leiden, 1982, hal. 161, catatan 161

Prasasti² Assyria menjelaskan tentang berbagai suku Arabia, para penguasa dan kota²nya. Peninggalan ini sangat penting karena menyampaikan secara langsung dari yang bersangkutan tentang daerah kekuasaan Assyria di abad ke-8 dan 7 SM. Diperkirakan bahwa daerah kekuasaan Assyria mencapai Arabia selatan, dekat daerah Mekah kelak dibangun; akan tetapi prasasti Assyria tidak menyebut tentang Mekah atau suku²nya, seperti suku Jurhum, yang disebut hadis Islam menghuni Mekah di jaman Abraham.

Prasasti² Assyria menyebut lebih dari satu raja Saba yang menguasai Yaman. Para raja Saba itu memberi upeti kepada raja² Assyria sebagai simbol persekutuan di tanah jalur dagang yang mencapai daerah Bulan Sabit Subur, termasuk: Mesopotamia, Syria, Lebanon, Palestina dan Trans-Yordania, meluas sampai ke perbatasan Iraq dan Iran ke Laut Mediterania.

Sekali lagi, karena prasasti Assyria tidak menyebut Mekah, kita bisa menyimpulkan bahwa Mekah tidak ada di abad ke 9 sampai 7 SM.


Babylonia Menguasai Hijaz

Nabonidus menguasai kota² di daerah dekat lokasi Mekah kelak dibangun. Meskipun dia hidup sepuluh tahun di Teima, dia tidak pernah menyinggung tentang Mekah.

Tidak hanya Assyria saja yang menguasai Arabia utara dan tengah, tapi juga Babylonia. Mereka menguasai bagian Arabia ini di masa kekuasaan raja Babylon yakni Nabonidus, yang berkuasa di tahun 556-539 SM. Keterangan tentang raja ini dan daerah jajahannya ditemukan di Prasasti Harran (dikenal dengan nama H2), Nabonidus dan Tawarikh Kerajaan, dan Ayat² Nabonidus.

Nabonidus meninggalkan kekaisarannya kepada putranya Belshazzar, dan Nabonidus lalu pergi ke kota Teima di Arabia. Setibanya di kota itu, dia membunuh rajanya, menguasai kotanya, dan membuat Teima tempat tinggalnya, dan dia lalu membangun istananya di situ. [105] Dari Prasasti Harran tentang Nabonidus kita ketahui bahwa selama tinggal di Teima, dia menyerang ke arah selatan dan menaklukkan kota² Dedan, Fadak, Khaybar, Yadi, dan Yathrib (yang nantinya diganti nama jadi Medina). [106] Kota Yathrib berjarak 200 mil dari tempat di mana Mekah kelak dibangun, dan nantinya akan berperang penting dalam kebangkitan Islam.
[105] For “Verse Account of Nabonidus,” lihat Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, ed. J.B. Pritchard, 2nd edition, Princeton, 1955, hal. 313; Sidney Smith, Babylonian Historical Texts, London, 1924, Bagian III, hal.. 27-97 ; dikutip oleh F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 89
[106] Lihat C.J. Gadd “The Harran Inscriptions of Nabonidus,” Anatolian Studies, 8 ( 1958) hal. 59; dikutip oleh F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, page 91; Bagian ini persis seperti yang tercantum di Prasasti Harran (Nab. H2 I 26; ii 11) lihat I. Eph’al, The Ancient Arabs, 180


Sejak Nabonidus menguasai seluruh daerah itu, dia sudah jelas mendominasi ketiga jalur dagang dari Yathrib. Dia tidak pernah menyinggung apapun tentang Mekah dalam seluruh prasastinya. Jika Mekah memang sudah ada di jamannya, maka sudah tentu kota itu akan diserangnya pula, karena kota Mekah merupakan satu²nya kota di daerah sekitar Yathrib yang tidak dikuasainya. (lihat Fig. 4).

Jika Mekah adalah kota berpengaruh seperti yang dikatakan Islam, maka Mekah tentunya akan jadi target utama dalam penaklukan yang dilakukan Nabonidus. Dengan demikan, mengapa dia menaklukkan semua kota² di daerah itu, yang kebanyakan tak sepenting Mekah, tapi luput menyebut tentang Mekah? Seharusnya ada keterangan tentang Mekah, sebab dia berkuasa di daerah itu selama sepuluh tahun dan mengunjungi berbagai kota di sekitar Teima. Hal ini menegaskan bahwa Mekah memang belum ada di abad ke-6 SM.


Penjajahan Persia

Kekaisaran Persia menguasai banyak bagian Arabia dan punya persekutuan dengan berbagai suku dan negara Arabia, tapi Mekah tak disebut dalam catatan² sejarah mereka.

Setelah Babylon, daerah yang sama lalu dikuasai oleh kekaisaran Persia. Penelitian prasasti di Dedan menunjukkan mereka menaklukkan Arabia utara di periode Akhaemenid di akhir abad ke-6 SM. Kekaisaran Persia lalu menunjuk seorang gubernur untuk memerintah Dedan. Hal ini terjadi sebelum raja² Lihyan mendominasi kota² Qedar dan Dedan, dan beberapa daerah di Arabia baratlaut.

Di abad ke-5 SM, Herodotues, sejarawan Yunani, memberitahu kita bahwa masyarakat Persia membentuk persekutuan dengan masyarakat Arabia. Berabad-abad kemudian, bangsa Persia menguasai daerah Oman di jaman penulisan buku Penjelajahan Laut Erythrea (The Periplus of the Erythraean Sea). [107] Sebelumnya, aku menjelaskan bahwa tahun penulisan buku Periplus adalah sekitar tahun 62 M. Di abad ke-1 M, seluruh daerah Teluk Persia, termasuk Oman, dikuasai kekaisaran Parthian, dinasti penguasa Iran Kuno (Persia). [108] Tanah Jerra yang terletak dekat Teluk Persia, dikuasai Persia sekitar tahun 320 M. Hari ini, Jerra dikenal sebagai al-Qatif. [109] Bangsa Persia bersekutu dengan berbagai suku Arab, salah satunya adalah suku Kinda yang daerah kekuasaannya mencapari seluruh Arabia tengah dan sebagia Hadramaut, Yaman selatan, di Arabia Selatan. [110] Bangsa Persia menguasai pertambangan di Yamama, bahkan sampai di jaman Muhammad. Yamama merupakan daerah di mana ibukukota Kinda terletak, sekitar 500 mil dari Mekah di jaman sekarang. Hal ini menunjukkan berapa jauhnya Persia memasuki dan mempengaruhi daerah itu. Bangsa Persia menggunakan suku Lakhmid di al-Hira, dekat perbatasan dengan Mesopotamia, untuk melindungi daerah perbatasan. Bangsa Lakhmid menjadi kaki tangan gubernur² di periode Sasania. Al-Tabari mengatakan bahwa suku² Arabia tinggal di daerah Hira di jaman Ardashir, putra Papak. [111] Ardashir adalah pendiri Kerajaan Sassania. Dia juga terkenal dengan julukan “Artaxerxes.” Dia berkuasa di tahun 226-240 M. Melalui suku Lakhmid, bangsa Persia membentuk hubungan erat dengan suku² dan kota² Arabia selatan dan baratdaya. Usaha ini dilakukan dalam memperkuat pengaruh mereka di Arabia tengah.
[107] The Periplus of the Erythraean Sea, 33;The Periplus of the Erythraean Sea, Diterjemahkan oleh Wilfred Schoff, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd, 1995, hal. 35
[108] Wilfred Schoff, in his introduction to The Periplus of the Erythraean Sea, hal. 16
[109] Hirschfeld, New Researches, 6. Frankel, Aramaisch. Fremdworter; quoted by De Lacy O’Leary, Arabia before Muhammed, D.D., London, New York: Dutton & CO., 1927, hal. 181
[110] De Lacy O’Leary, Arabia Before Muhammed, hal.19
[111] Tarikh al-Tabari, I, hal. 360


Jika Mekah sudah ada di abad ke-3 M, catatan sejarah Persia tentunya akan menyebutkan hal itu. Meskipun Persia menembus banyak bagian Arabia, kita tak temukan catatan atau literatur Persia apapun tentang Mekah. Hal ini penting karena bangsa Persia berencana untuk mengontrol semua rute jalan antara Arabia Selatan dan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent), dan Mekah akhirnya dibangun di salah satu jalur jalan terpenting. Hal lain yang penting adalah usaha Persia untuk mempengaruhi seluruh daerah Arabia, melalui penyerangan maupun persekutuan degan negara² Arabia. Tak ada keterangan tentang Mekah dalam catatan sejarah Persia menyerang Arabia. Hal ini menunjukkan bahwa Mekah belum dibangun di awal abad ke-4 M.


Penyerangan Romawi ke Arabia Barat

Sewaktu Romaw menyerang Arabia barat, mereka mencatat dengan tepat semua desa² dan kota² di daerah itu. Catatan mereka menunjukkan bahwa Mekah belum ada di sekitar jaman Kristen dan abad ke-1 M.

Kita telah menulis tentang kekaisaran Assyria, Babylonia, dan Persia. Sekarang kita amati kekaisaran terakhir yang menduduki Arabia utara dan barat tengah, yakni kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi menaklukkan daerah Arabi ini dalam penyerangan yang dipimpin oleh Gallus di tahun 23 SM. Aku telah menjelaskan penyerangan ini secara detail bagaimana Gallus menguasai terlebih dahulu daerah Arabia baratdaya, dan lalu semua kota² di Arabia barat tengah sampai ke daerah selatan di mana kota Najran terletak, dan sampai perbatasan Yaman. Dari sini Gallus mengalahkan kota² Yaman sampai dia mencapai Ma’rib. Semua penyerangan ini ditulis secara terperinci oleh Strabo, sejarawan dan geografer terkemuka di jamannya. Strabo menulis semua kota² dan desa² di Arabia baratdaya dan barat tengah, di mana Mekah kelak dibangun. Tapi laporan Strabo tidak menyebut tentang Mekah sama sekali.

Selain laporan Strabo, kita pun punya catatan Romawi yang ditulis Pliny dalam surveynya ke Arabia baratdaya dan barat tengah. Sama seperti tulisan Strabo, Mekah juga tak disebut di catatan Pliny. Bangsa Romawi terkenal akan ketepatannya dalam mencatat laporan tentang suatu daerah, kota, dan desa yang mereka kalahkan atau kunjungi. Tulisan² mereka menegaskan bahwa Mekah memang belum ada di abad ke-1 SM di jaman Strabo dan Pliny.

Kekaisaran² besar yang berkuasa selama ribuan tahun, menguasai Arabia barat tengah, dan menulis tentang desa² kecil tanpa menyebut tentang Mekah. Bagaimana mungkin Muslim tidak peduli dengan laporan² kekaisaran² besar ini?

Kita telah mengamati catatan² kekaisaran² besar kuno yang menguasai bagian Arabia utara dan baratdaya selama bertahun-tahun. Kita mencoba menemukan keterangan tentang keberadaan Mekah di dalam prasasti Assyria, Babylonia, Persia, dan Romawi, tapi hasilnya kosong.

Meskipun Mekah memiliki letak strategis diantara kota² Arabia utara dan Yaman di Arabia selatan, kita tak menemukan keterangan tentangnya. Daerah² ini dikenal berbagai kekaisaran kuno tersebut. Jika Mekah sudah ada, tentunya kota ini merupakan kota strategis bagi jalur datang dan kafilah dari Yaman ke daerah Mediterrania, tapi kita tak menemukan keterangan tentang Mekah. Yaman adalah tempat strategis bagi perdagangan laut dengan Timur Jauh, terutama India. Sukar dipercaya bahwasanya keempat kekaisaran besar kuno akan melewatkan begitu saja kota seperti Mekah, apalagi mereka sangat berambisi mengontrol perdagangan di situ. Tak mempelajari catatan kekaisaran² kuno ini berarti melupakan begitu saja fakta sejarah penting yang tersedia. Jika kita menetapkan keputusan tanpa mengindahkan keterangan² dari kekaisaran² besar ini, tentunya kita bisa salah menentukan. Dengan kriteria apa lalu Muslim mengatakan bahwa Mekah sudah ada di jaman pemerintahan kekaisaran² tersebut yang berkuasa di Timur Tengah selama ribuan tahun? Bukti apakah yang dimiliki Muslim sehingga bisa mengatakan Mekah sudah ada? Jawabannya sederhana: Muslim tak punya catatan sejarah apapun dari jaman kuno yang menunjukkan Mekah sudah ada sejak jaman kuno, tapi mereka tetap ngotot beriman pada ajaran salah tersebut.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Wed Feb 23, 2011 1:03 pm

numpang tempat dulu...
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Wed Feb 23, 2011 1:04 pm

Bab II
9. Alkitab dan Pengakuan Muslim tentang Mekah Kuno


Bantahan penting untuk menentang pernyataan bahwa Mekah adalah kota kuno: Alkitab menunjukkan keterangan yang tepat.

Alkitab merupakan sumber terpenting bagi kita untuk memahami sejarah kuno, karena buku ini menjelaskan asal-usul berbagai ras, bangsa, dan suku. Pada awal bagian ini, kita akan menelaah orang² keturunan nabi Nuh setelah bencana air bah. Keterangan diambil dari kitab Kejadian, dan juga kitab² lain dari Alkitab. Alkitab secara tepat menyebutkan jumlah suku² dalam silsilah keturunan dari kitab Kejadian. Alkitab menjelaskan tempat setiap suku, dan kronologi yang tepat tentang kapan setiap suku muncul dalam sejarah, meskipun sebagian suku dan negara muncul berdekatan dengan jaman musibah air bah.


Musa: Sumber Terpercaya, Tidak Menyertakan Keberadaan Mekah di Jamannya

Musa adalah nabi yang menulis kitab Kejadian, di awal abad ke-15 SM. Terdapat pemisahan waktu 3000 sampai 4000 tahun antara masa awal suku² kuno dan jaman di saat Musa menulis kronologi kitab Kejadian. Tradisi penyampaian cerita dari mulut ke mulut tidak bisa menyampaikan keterangan yang sama untuk masa yang selama itu. Satu² keterangan tentang ketepatan dan kelengkapan data kuno adalah Tuhan membimbing Musa saat menulis kitab Kejadian.

Dalam kitab Kejadian, kita telusuri asal-usul berbagai suku Arabia dari awal sampai ke jaman Musa. Musa menulis kronologi tepat untuk generasi² suku² tersebut, dan nama² kakek moyang mereka. Tapi lebih dari itu, kitab Kejadian menjelaskan bagaimana daerah Arabia dihuni setelah bencana air bah. Keterangan tentang suku² Arabia segera disebut setelah bencana air bah, dan terus berlanjut ke jaman Abraham, sampai jaman Musa dan pembantunya, Yoshua, di abad ke-15 SM. Dengan begitu, kitab Kejadian tidak hanya data tentang berbagai nama suku, asal-usul, dan kronologi sejak jaman kuno, tapi juga data sejarah tentang berbagai negara di jaman Musa. Dia menerima pendidikan sejarah dari bangsa Mesir ketika hidup sebagai anak angkat putri Firaun. Bertahun-tahun kemudian, Lukas menulis di kitab Para Rasul 7:22, “Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir.”


Bangsa Midia tidak pernah mendengar tentang Mekah

Para sejarawan beranggapan suku² Arabia dikenal oleh bangsa Midia, yang berhubungan dnegan Musa ketika dia tinggal di Sinai. Kalian tentu ingat bagaimana Musa pergi ke gurun Sinai, ketika melarikan diri dari Mesir setelah membunuh seorang Mesir yang membunuh orang Israel. Hal ini terjadi sebelum Tuhan mengirim Musa kembali ke Mesir untuk meyakinkan Firaun agar membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Kita bisa mengira bahwa Jehtro, mertua Musa, tahu nama² suku² Arabia barat, karena dia adalah pendeta Midia, yang hidup sebagian di Sinai, dan sebagian lagi di Arabia utara. Jehtro lebih tahu tentang berbagai nama suku² Arab daripada para sahabat Muhammad di akhir abad ke-6 M. Hal ini serupa dengan keadaanku sebagai penduduk asli Timur Tengah; aku tahu nama² berbagai negara modern Arabia, terutama karena aku hidup di daerah itu. Aku yakin bangsa Midia juga tahu tentang Arabia barat karena mereka tinggal di lokasi terdekat di tempat Mekah kelak dibangun. Kita bisa yakin bahwa bangsa Midia tentunya akan tahu tentang Mekah, jika memang Mekah sudah ada di jaman Musa di abad ke-16 SM dan sebagian abad ke-15 SM.

Kita tidak bisa mengabaikan pernyataan² sejarah yang dikatakan Musa pada jamannya. Musa hidup selama 40 tahun di gurun pasir Sinai dengan bangsa Midia, yang merupakan separuh keturunan Arab. Dia berpendidikan tinggi Mesir, yang merupakan sumber budaya dan pengetahuan termaju di jaman itu. Tidak hanya Musa adalah nabi Tuhan, tapi dia juga merupakan penutur sejarah yang dapat dipercaya.

Ibn Ishaq, sumber sejarah ngawur, menyatakan keterangan yang bertentangan dengan keterangan Musa.

Di pihak lain, Ibn Ishaq, yang hidup di abad ke-8 M, dan menulis ulang sejarah bagi Muslim, sangat tidak berkualitas seperti Musa dalam melakukan hal itu. Sudah jelas bahwa Ibn Ishaq mengganti begitu saja silsilah keturunan yang ditulis Musa di kitab Kejadian, dan dia mengarang ini bagi Muslim, dan dikenal sebagai “tradisi Islam” atau hadis. Sebelumnya, aku telah menyebut bahwa suku² dan silsilah keturunan yang ditulis Ibn Ishaq hanyalah khayalannya saja, dan tidak pernah disebut catatan² sejarah sebelumnya. Selain itu, sejarawan lain pada masanya juga menuduhnya mengarang silsilah keturunan tersebut. Dengan begitu, tulisan Ibn Ishaq tidak mungkin bisa menyaingi kebenaran tulisan Musa di kitab Kejadian.


Silsiah Keturunan Ham dan Suku² Arabia

Musa menyebut bahwa keturunan pertama adalah dari Ham, putra kedua nabi Nuh. Kejadian 10:6 mengatakan:

Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan.

Mereka adalah kakek moyang dari suku² kuno. Contohnya, negara Kush terletak di Ethiopia modern. Mesir berasal dari Misraim. Put adalah suku tua Afrika Utara dan Kanaan terletak di Palestina dan Lebanon. Dari Kush munul suku² di Ethiopia dan Yaman. Kita lihat bahwa keturunan Kush disebut di Kejadian 10:7 yang berbunyi:

Keturunan Kush ialah Seba, Hawila, Sabta, Raema dan Sabtekha; anak-anak Raema ialah Syeba dan Dedan.

Sudah jelas dari nama² para putra Kush bahwa sebagian dari mereka mewakili tempat² di Arabia. Kush adalah kakek moyang suku Kush yang mendominasi Ethiopia dan Sudan di jaman kuno. Alkitab menyebut suku² lain yang berasal dari Kush. Sebagian suku² ini pergi ke Yaman melalui Celah Bab al-Mandeb, daerah sempit yang lebarnya hanya 20 mil. Sejak jaman kuno, lokasi geografi ini telah berpengaruh terhadap hubungan antara Ethiopia dan Yaman.

Alkitab menyebut asal-usul Sabian di Yaman sebagai bangsa Kushit yang datang dari Ethiopia.

Anak Kush yang keempat adalah Raema, bapak dari Syeba, suku yang menghuni Yaman. Tak diketahui kapan keturunan Syeba meninggalkan Ethiopia dan pergi ke Yaman. Banyak sejarawan berpendapat bahwa Sabian Yaman berasal dari Ethiopia. Salah satu alasan pendapat ini adalah kesamaan bahsa Saba di Yaman dengan bahasa Mahri di Ethiopia. Ini membuktikan adanya koneksi lama antara Yaman dan Mahri melalui Celah Bab al-Mandeb. Migrasi dari Ethiopia ke pantai Yaman Arabia, dan begitu juga sebaliknya, sering terjadi. Syeba mendominasi pantai Ethiopia, dan melahirkan para raja di milenia pertama SM. Daerah itu dikenal sebagai Di’amat, yang merupakan negara yang muncul sekitar tahun 350-320 SM.

Nama Raema, yang merupakan ayah Syeba, putra keempat Kush, terdapat dalam prasasti² Yaman. [149] Hal ini membuktikan ketepatan keterangan Alkitab tentang negara keturunan Syeba dari bangsa Kushit di pantai Ethiopia. Alkitab mengatakan keturunan suku Syeba-Yaman dari Syeba, putra Raema, orang Kushit. Keterangan ini terdapat di Yehezkiel 27:22. Yehezkiel menyampaikan kutukan terhadap Tyre, kota Funisia. Dia mengatakan perdagangan di Tyre denan kota² dan negara² lain:
[149] James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 42

Pedagang Syeba dan Raema berdagang dengan engkau; mereka menukarkan yang terbaik dari segala rempah-rempah dan segala batu permata yang mahal-mahal dan emas ganti barang-barangmu.

Raema, ayah Syeba, disebut dengan nama Syeba dalam keterangan Alkitab ini. Alkitab memang sering menyebut nama sebuah negara dengan nama ayah yang menjadi asal-usul negara tersebut. Alkitab seringkali menyebut Israel dengan nama Yakub, dan juga Ishak, ayah Yakub, yang namanya digunakan untuk menyebut negara Israel. Di pasal Yehezkiel, Syeba dan ayahnya disebut untuk mengingatkan kita bahwa Syeba atua Saba, adalah kerajaan yang berasal dari Raema, orang Kushit. Ayat itu juga menerangkan kekayaan dagang antara Saba di Yaman dan kota² Funisia, seperti Tyre, yang memperdagangkan rempah², batu permata berharga, dan emas.

Saudara laki Ramea bernama Seba. Dia adalah putra pertama Kush, yang menjelaskan mengapa ada persamaan bahasa antara bangsa Syeba di Yaman dan suku² Ethiopia di pantai yang bersebelahan di Laut Merah. Tampaknya ada pula suku bernama Seba yang berasal dari Seba putra Kush, selain suku Syeba yang berasal dari putra Raema, saudara laki Seba. Kita ketahui bahwa saudara laki Syeba, putra Raema, adalah Dedan. Dedan yang ini bukanlah kakek moyang Dedan, suku di Arabia utara yang tinggal di kota Dedan. Suku utara Dedan berasal dari Keturah, istri kedua Abraham, yang dinikahinya setelah Sarah, istri pertama Abraham, wafat. Dedan putra Raema kemungkinan adalah kakek moyang suku kecil yang kemudian bergabung dengan suku² Kushit.

Jadi kita lihat bahwa Alkitab dan fakta sejarah menunjukkan kesimpulan bahwa masyarakat kuno Yaman memiliki keturunan Kushit, dan suku Saba adalah suku Kushit yang berasal dari Ethiopia.


Garis Keturunan Muhammad yang Sebenarnya

Keluarga Muhammad, sama seperti suku Sabian Kushit yang merupakan keturunan Ham, tidak mungkin bisa punya hubungan keluarga dengan Ishmael dan Abraham, yang merupakan keturunan Semit.

Fakta Alkitab dan sejarah menunjuk pada asal-usul keluarga Muhammad. Kita tahu bahwa kakek moyang Muhammad hidup di Saba di Yaman. Sekitar tahun 150 M, ketika bendungan Ma’rib runtuh, banyak suku² Yaman yang meninggalkan Yaman, sebelum akhirnya bendungan itu diperbaiki. [150] Keluarga Muhammad merupakan salah satu dari orang² yang pergi ke daerah di Arabia barat tengah, dekat tempat di mana suku Khuzaa’h, juga dari Yaman, nantinya mendirikan kota Mekah. Mereka hidup di daerah sekitar Mekah sebelum akhirnya kota itu dibangun di sekitar abad ke-4 M. Dengan demikian, kakek moyang Muhammad berasal dari suku Saba, yang aslinya adalah keturunan Kushit, yang merupakan keturunan dari Ham. Sama seperti semua masyarakat Sabian dari Yaman, mereka bukanlah keturunan Semit. Kita tahu bahwa suku Quraysh yang merupakan suku asli Muhammad, belajar bahasa Arab ketika beremigrasi dari Yaman ke tempat itu (Arabia barat tengah) dan berhubungan dengan masyarakat Baduy di Arabia barat tengah. Dengan begitu, Muhammad tidak mungkin adalah keturunan dari Ishmael, seperti yang dikatakan sumber Islam.
[150] Caussin de Perceval, I, 84 ff ; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 125

Bangsa Ismael hidup di Sinai. Dari sana mereka menyebar ke berbagai gurun pasir Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). Mereka tidak pernah mencapai lokasi di mana Mekah kelak dibangun, atau pun daerah Yaman.

Suku² Ismael diketahui hidup di Palestina selatan, di gurun pasir Sinai dekat perbatasan Kanaan. Dari situ mereka menyebar ke gurun pasir Syro-Mesopotamia, dan juga ke arah utara. Hanya suku² Qedar dan Teima saja yang mencapai bagian utara Arabia.

Lokasi suku² Ismael dijelaskan dalam Alkitab, dan dibenarkan oleh prasasti² Assyria. Kita tak menemukan suku Ismael di daerah selatan Teima, yakni sekitar 180 mil dari perbatasan Arabia dan Yordania, dan kita pun tak pernah menemukan catatan sejarah apapun yang menyebut suku Ismael hidup di lokasi Mekah kelak dibangun.

Sejarah Islam menyebut Muhammad adalah keturunan suku Nabayot, yang hidup di Yordania selatan dan musnah sebelum abad ke-7 SM. Bagaimana mungkin sebuah keluarga Sabian, seperti kakek moyang Muhammad, bisa berhubungan dengan sebuah suku yang hidup di Yordania selatan, dan telah musnah lebih dari 1.300 tahun sebelum Muhammad lahir? Keterangan Islamiah seperti ini menunjukkan ketidaktahuan fakta sejarah tentang suku Ismael. Mereka mengarang dongeng untuk menghubungkan Ismael dengan Mekah, mengatakan bahwa ibu Ismael, Hagar, membawanya mengarungi daerah gurun pasir yang tak berpenghuni. Mereka juga mengatakan Abraham mengunjungi Ismael dengan mengunggang Bouraq, unta bersayap dari dongeng Persia.

Islam lebih lanjut mengatakan keturunan Ismael tinggal di Mekah dan mendirikan kerajaan besar di sana. Mereka mengatakan keturunan Ismael lalu pergi ke Yaman, berabad-abad sebelum Mekah dibangun. Tapi sejarah membuktikan bahwa Ismael hidup di Palestina selatan, di mana keturunannya memperluas pengaruh mereka. Beberapa suku Ismael pergi ke Damaskus dan Lebanon, sedangkan yang lain ke Yordania dan gurun pasir antara Yordania dan Iraq. Yang lain pergi ke daerah timurlaut ke gurun pasir Syro-Mesopotamia, dan beberapa pergi ke selatan dekat perbatasan Arabia utara. Jika bangsa Ismael hidup dekat Mekah, maka suku² mereka telah berkembang dari situ. Selain fakta sejarah yang membuktikan Mekah baru ada di abad ke-4 M, tiada suku Ismael apapun yang tercatat pernah hidup di Yaman, Yamama (selatan Mekah), atau di lokasi di mana Mekah kelak dibangun. Tradisi Islam mengatakan bahwa suku² Ismael hidup di Yaman, dan mereka merupakan kakek moyang Muhammad, dan bertambah kacau lagi dengan tambahan keterangan Ismael membangun Ka’bah di Mekah. Siapapun yang pernah mempelajari sejarah suku² Ismael tidak akan bisa menerima keterangan ngawur seperti ini. Aku ajak pembaca membaca Bagian IV di mana aku menjelaskan secara lebih detail tentang suku² Ismael.


Silsilah Muhammad yang Tak Dikenal dan Perbandingannya dengan Silsilah Yesus

Kakek moyang Muhammad berasal dari Sabian dan Yaman yang tak dikenal siapapun. Tak ada catatan sejarah silsilah keluarga mereka, dan tak ada dari mereka yang merupakan nabi apapun dari agama Abraham. Sebaliknya, silsilah keturunan Yesus telah dicatat setiap abad sejak jaman Abraham.

Kita telah mempelajari silsilah keturunan Ham. Kita lihat bahwa Yaman dipenuhi keturunan Syeba, putra Raema, putra Kush. Kita juga lihat bahwa di sepanjang sejarah, suku² dari Yaman beremigrasi ke utara. Bahasa suku Saba, suku utama Yaman yang menurunkan Muhammad, sangat berbeda dengan bahasa Arab, tapi bahasa Saba punya banyak persamaan dengan bahasa Ethiopia. Setelah diselidiki, ternyata hal ini benar, karena suku Saba berasal dari Kushit Ethiopia, sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya. Meskipun begitu, bahasa Saba tak dikenal di luar Yaman.

Kakek moyang Muhammad hidup di Saba di tahun 150 M, tahun hancurnya bendungan Ma’rib di Yaman. Tak ada keterangan sejarah apapun tentang keluarga ini sebelumnya. Tak ada bukti apapun dari pernyataan Islam yang mengatakan bahwa keluarga Muhammad hidup di luar Yaman. Karena Mekah belum ada sebelum abad ke-4 M, pernyataan bahwa keluarga ini hidup di Mekah sejak jaman kuno tidaklah terbukti. Setelah mempelajari sejarah lebih jauh, nyatalah bahwa keluarga ini merupakan keluarga Sabian yang tak dikenal, dan tidak punya pernyataan sejarah agama apapun, dan kisahnya tidak ditulis dalam prasasti apapun di sejarah Yaman.

Sebaliknya dari Muhammad, silsilah Yesus sangat jelas. Kita punya pernyataan tertulis Perjanjian Lama tentang setiap anggota keluarga Mesiah. Ingat bahwa Yeus adalah satu orang dari Trinitas, dan yang dijanjikan Perjanjian Lama untuk berinkarnasi jadi manusia sempurna. Kita lihat banyaknya janji dan nubuat yang diberikan kepada berbagai tokoh penting di Perjanjian Lama: Daud, Salomo, dan Zerubabel. Janji dan nubuat ini menjelaskan datangnya seorang Mesiah yang berkepribadian illahi, lahir dalam bentuk manusia, dan dalam bentuk Yesus.

Catatan silsilahnya dimulai dengan Abraham di abad ke-21 SM, dan dipenuhi dengan lahirnya Yesus di abad ke-4 M, sesuai dengan nubuat Yesaya. Mika 5:2 menyatakan:

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Nubuat ini menunjukkan bahwa Yesus berasal dari kekalan. Tapi itu tak berlaku bagi kakek moyang Muhammad, yang tak diketahui jati dirinya. Tradisi Islam ingin menciptakan kisah tentang keluarga Muhammad untuk mendukung pernyataannya. Sialnya, kakek moyang Muhammad sendiri tidak pernah menunjang pernyataannya. Tak ada nabi apapun yang berasal dari keluarga Sabian. Pernyataan Muslim tentang silsilah Muhammad tidaklah berdasarkan fakta sejarah apapun. Contohnya, Muslim mengatakan Mekah sudah ada sejak jaman kuno, tapi fakta sejarah menunjukkan bahwa Mekah baru ada di abad ke-4 M.


Muslim percaya bahwa Ismael adalah fondasi Islam, dan Muhammad adalah Nabinya

Muslim juga menyatakan bangsa Ismael hidup di Mekah, tapi bukti sejarah menunjukkan bahwa hal ini tidak betul. Bangsa Ismael awalnya tinggal di gurun pasir Palestina selatan di mana kakek moyang mereka, Ismael, hidup. Setelah itu mereka migrasi ke arah utara dan timur. Hanya dua suku yang pergi lebih jauh ke selatan, sekitar 180 mil ke gurun pasir Arabia. Muslim mengatakan Muhammad adalah keturunan Ismael. Ini tentunya tidak benar, karena tak ada satu pun suku Ismael pernah hidup di Yaman. Muhammad adalah orang Sabian dan karenanya berasal dari bangsa Kushit.

Fakta lain adalah Ismael tidak memiliki peranan spiritual apapun, dan tidak pula keturunannya. Terlebih lagi, tak ada nubuat apapun yang menyatakan akan muncul seorang nabi dari keturunan Ismael. Di lain pihak, nubuat bahwa Mesiah akan datang dari keturunan Ishak tertulis di setiap generasi. Dari keduabelas suku Ismael, tidak ada satu pun nubuat yang mengatakan akan ada nabi dari keturunan mereka. Tuhan tidak pernah menunjukkan pada dunia pesan iman tanpa membangun fondasi sejarah yang solid untuk menegakkan kredibilitas. Di setiap era, Tuhan mengirimkan nabi²nya, yang percaya akan hal yang sama yang diinginkanNya agar dunia percaya. Tuhan menetapkan fondasi firmanNya bagi manusia melalui silsilah keturunan dan nabi² yang dikirimNya. Banyak agama yang mengakui sesosok manusia sebagai nabi, tapi tanpa fondasi sejarah keturunan yang unik. Islam adalah salah satu dari agama² tersebut, yang menyatakan Muhammad adalah nabi Tuhan, tapi tanpa fondasi sejarah yang benar. Lalu Islam mencoba menghubungkan keturuan Muhammad dan fondasi Alkitab, tapi tanpa bukti sejarah apapun.


Silsilah Keturunan Sem dan Suku² Arabia yang Berasal Dari Shem

Mari kita lihat bangsa keturunan lain di Alkitab yang berperang penting pada pembentukan populasi di Arabia selatan. Bangsa ini adalah keturunan Sem, putra pertama Nuh. Kita baca keterangan akan keturunannya di Kejadian 10:22-30 sebagai berikut:

Keturunan Sem ialah Elam, Asyur, Arpakhsad, Lud dan Aram.
Keturunan Aram ialah Us, Hul, Geter dan Mas.
Arpakhsad memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber.
Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan nama adiknya ialah Yoktan.
Yoktan memperanakkan Almodad, Selef, Hazar-Mawet dan Yerah,
Hadoram, Uzal dan Dikla,
Obal, Abimael dan Syeba,
Ofir, Hawila dan Yobab; itulah semuanya keturunan Yoktan.
Daerah kediaman mereka terbentang dari Mesa ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur.


Ayat ke-22 menyebut putra² yang menghasilkan semua suku² Semit. Elam adalah ayah dari bangsa Elamit. Asyur adalah ayah dari bangsa Assyria. Lud adalah ayah dari suku² Semit lainnya. Aram adalah ayah dari bangsa Aramea, dan suku² Mesopotamia dan Syria lainnya. Arpakhsad adalah ayah dari berbagai suku Semit, termasuk kaum Yahudi dan juga orang² Mesopotamia dan Arabia selatan.

Tokoh yang perlu diperhatikan adalah Yoktan, yang menghasilkan banyak suku, dan sebagian lalu tinggal di Arabia selatan. Alkitab menerangkan tentang suku² keturunan Yoktan:

Daerah kediaman mereka terbentang dari Mesa ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur.

Dalam Septuaginta (kitab suci Yahudi (Perjanjian Lama bahasa Ibrani) yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani kuno), Mesa ditulis sebagai Massae. Hal ini menyatakan lokasi suku Massa, salah satu suku Ismael yang hidup di gurun pasir Syro-Mesopotamia, diantara Syria, Yordania, dan Iraq. Terjemahan yang sama menulis Sefar sebagai Sofer.

Gunung Sefar di timur disebut banyak sejarawan sebagai Gunung Seir di Edom, [151] terletak di tempat yang sekarang adalah Yordania selatan. Di kitab Bilangan 23:7, Balaam berkata bahwa Balak membawa dia dari “Gunung² dari Timur.” Kita tahu bahwa Balaam hidup di daerah Edom, dan ini menunjukkan bahwa “Gunung Timur” adalah Gunung Seir di Edom, dan hari ini disebut sebagai “Pegunungan Syarah” di Yordania selatan. Kesimpulannya adalah suku² ini berasal dari Yoktan hidup di gurun pasir Syro-Mesopotamia dan Edom selatan di Trans-Yordania. Hal ini sebelum suku² bergerak ke Teluk Persia, Arabia selatan, timur dan tenggara.
[151] James Montgomery, hal. 41

Diantara putra² Yoktan, Hazar-Mawet disebut berhubungan dengan negara Hadramot, yang terletak di Arabia tenggara. Meskipun lokasinya di Arabia tenggara, sepanjang sejarah negara ini terkenal dengan koneksinya pada Teluk Persia. [152] Hal ini menunjukkan bahwa suku ini datang ke Arabia melalui Teluk Persia, lalu menuju ke Arabia tenggara. Suku lain yang berasal dari Yoktan adalah Ofir, yang tinggal di Teluk Persia. Ofir terkenal dengan perdagangannya yang besar dengan India. [153] Suku ini merupakan perantara pusat dagang antara India dan negara² Timur Tengah. Hasil dari Arabia timur adalah emas, dan hasil dari India datang melalui Ofir. Alkitab mengatakan Salomo membuat kapal² laut untuk pergi ke Ofir agar mendapat keuntungan dari perdagangan emasnya. 1 Raja² 9:26-68 menyatakan:
[152] Lihat Van den Berg, Le Hadhramout et les colonies arabes dans l'Archipel indien, (Batavia, 1886); dikutip oleh James Montgomery, hal. 81
[153] Wilfred Schoff dalam komentarnya di The Periplus of the Erythraean Sea, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd., 1995, hal. 175


Raja Salomo membuat juga kapal-kapal di Ezion-Geber yang ada di dekat Elot, di tepi Laut Teberau, di tanah Edom.
Dengan kapal-kapal itu Hiram mengirim anak buahnya, yaitu anak-anak kapal yang tahu tentang laut, menyertai anak buah Salomo.
Mereka sampai ke Ofir dan dari sana mereka mengambil empat ratus dua puluh talenta emas, yang mereka bawa kepada raja Salomo.


1 Raja² 10:11 menyatakan:

Lagipula kapal-kapal Hiram, yang mengangkut emas dari Ofir, membawa dari Ofir sangat banyak kayu cendana dan batu permata yang mahal-mahal.

Bangsa Funisia terkenal sebagai pedagang² besar antara Teluk Persia dan negara² Mediterania. Salah satu alasannya adalah karena negara² Teluk merupakan tanah asli mereka sebelum berimigrasi ke Lebanon. Sejarah menunjukkan bahwa daerah Karmania di Iran, yang berhadapan dengan daerah Arabia di Teluk Persia, kaya akan emas. Pliny menjelaskan fakta ini dalam tulisannya, menyebut emas dengan nama “emas apiron.” [154] Juga komandan angkatan laut Alexander Agung, yakni Onesikritus, menyatakan tentang emas yang datang dari Karmania. [155] Hal ini menjelaskan bahwa Ofir terletak dekat Karmania, tapi berseberangan dengan bagian Teluk milik Arabia. Keterangan ini membenarkan adanya perdagangan emas Ofir di sepanjang sejarah kuno.
[154] Pliny 11:11
[155] Wilfred Schoff dalam komentarnya tentang The Periplus of the Erythraean Sea, hal. 161


Para sejarawan beranggapan bahwa Yerah adalah Yerakon Kome, yang disinggung Ptolemius tentang Dhofar selatan di Arabia tenggara. [156] Diklah tampaknya adalah Dilmu, suku yang menghuni Bahrain di Teluk Persia. Dilmu terkenal telah ada sejak 3000 SM. Umumnya, kita lihat suku² ini bergerak dari gurun pasir Syro-Mesopotamia dan Yordania selatan ke arah Teluk Persia dan akhirnya tinggal di Arabia timur dan tenggara.
[156] Dikutip oleh Wilfred, hal. 107

Putra Yoktan lain yang juga disebut adalah Syeba. Dia bukanlah Saba yang tinggal di Yaman. Dari pengetahuan keturunan Ham, Syeba dari Yaman berasal dari Kush, dan lalu jadi suku dominan di Ethiopia. Syeba masuk ke Yaman melalui celah Bab al-Mandub.

Sekarang kita berhubungan dengan suku² yang awalnya tinggal di gurun pasir Syro-Mesopotamia. Sebagian dari mereka berimigrasi secara perlahan ke daerah Teluk, tapi yang lain tetap tinggal di Syro-Mesopotamia. Syeba – mewakili nama suku, dan bukan hanya nama putra Yoktan – tampaknya adalah suku nomadis yang hidup di gurun Syro-Mesopotamia.

Meskipun Arabia barat tengah lebih dekat ke tempat di mana Musa hidup daripada bagian lain Arabia, baik Mekah maupun suku² yang katanya hidup di Mekah sejak jaman Abraham, tidak ditulis oleh Musa dalam daftar nama² suku Arabia.

Kita telah mempelajari keterangan Alkitab tentang bagaimana Arabia pertama kali dihuni. Awalnya yang dihuni adalah bagian baratdaya, yakni Yaman, melalui suku² keturunan Kush, putra Ham. Daerah Arabia timur dan tenggara dihuni oleh para putra Yoktan, dari keturunan Sem. Kita lihat bagaimana Alkitab menyebut berbagai tempat dan nama suku² dan negara² Arabia, yang merupakan keturunan dari Ham dan Sem, dan yang hidup di masa Musa di abad ke-16 SM. Meksipun begitu, di seluruh dokumentasi, tak ada yang menyebut Mekah, atau suku² yang katanya sudah hidup di jaman Abraham di Mekah, padahal letak Mekah lebih dekat ke Palestina daripada ke tempat lain atau negara² lain yang disebut sebagai keturunan dua putra Nuh, yakni Syem dan Ham. Kita tahu bahwa dari putra Nuh ketiga, yakni Yafet, muncullah suku² yang hidup di Asia dan Eropa. Jika Mekah sudah ada di jaman Musa, atau jika suku Jurhum telah ada di Mekah sejak jaman Abraham seperti yang dinyatakan Islam, maka Mekah tentu merupakan kota pertama yang disebut silsilah keturunannya dalam kitab Kejadian. Kitab Kejadian telah menyebut silsilah semua bangsa dan suku di Timur Tengah, dari yang besar sampai kecil. Kitab ini juga menyebut berbagai suku yang pergi ke daerah lain seperti Eropa, Afrika, dan Asia. Kita bisa menduga bahwa Musa kurang tertarik dalam membahas suku² di luar Israel, dan lebih membahas silsilah keturunan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya, seperti Arabia barat tengah, di mana Mekah nantinya dibangun. Meskipun begitu, dari seluruh tulisannya, tak satu pun ada keterangan tentang Mekah.

Karena Alkitab merupakan sumber terpercaya akan sejarah kuno, terutama tentang berbagai suku, negara, dan tempat yang merupakan keturunan dari Nuh, maka Alkitab merupakan bukti lain bahwa Mekah tidak pernah ada di milenia ke-2 dan 1 SM. Fakta ini penting untuk mengerti tentang Islam. Jika suatu agama ingin dipercaya, maka agama itu harus dibangun di atas informasi yang tepat.


Keturunan Abraham dan Keturah dan Arabia Utara

Kita telah lihat pasal² Alkitab yang menunjukkan bagaimana Arabia selatan dan timur dihuni penduduknya. Arabia utara sebelumnya tidak dihuni, selama dan beberapa waktu setelah jaman Abraham. Keturunan Abraham dan Ketura, istri Abraham setelah Sarah wafat, akhirnya tinggal di Arabia utara dan jadi penduduk pertama di sana. Berdasarkan sejarah, tak ada orang atau suku manapun yang tinggal di Arabia utara sebelum kedatangan bangsa keturunan Ketura. Bagaimana daerah ini dihuni dijelaskan di Kejadian 25:1-6, yang mengandung silsilah keturunan ketiga yang terpenting dalam penelitian suku² Arabia.

Kejadian 25:1-6
Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura.
Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah.
Yoksan memperanakkan Syeba dan Dedan. Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum.
Anak-anak Midian ialah Efa, Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura.
Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak,
tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka--masih pada waktu ia hidup--meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.


Apa yang dimaksud Alkitab dengan “Tanah Timur”? Karena negara di sebelah timur Palestina adalah Edom, di sebelah selatan adalah Yordania, maka ayat itu menerangkan bahwa keturunan Ketura hidup di Edom. Setelah itu, mereka menyebar ke berbagai daerah. Dua putra Ketura, yakni Yoksan dan Midan, pergi ke Arabia utara. Yoksan, putra kedua Abraham dan Ketura, menikahi Syeba dan Dedan. Dedan adalah ayah dari suku² Dedan, yang tinggal di Arabia utara di kota Dedan. Dari Dedan muncullah suku² Asyur, Letuh, dan Leum. Suku Asyur tercatat di tulisan Arabia selatan sebagai suku yang tinggal di Arabia baratdaya. [157] Hal ini membuktikan silsilah para putra Ketura dalam Alkitab adalah benar. Khususnya, Alkitab dengan tepat menyebutkan bahwa suku² Dedan berasal dari keturunan Ketura, juga bagaimana Dedan terbentuk dan apakah suku² utamanya dalam sejarah.
[157] Halevy, no. 525; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 44

Ada bukti² lain yang menunjukkan bahwa bangsa Dedan adalah keturunan Abraham dan Ketura. Para arkeologis meneliti berbagai reruntuhan jaman kuno di Dedan, dan mereka mendapatkan bahwa bahasa asli bangsa Dedan ternyata sangat mirip dengan bahasa Ibrani, dan bukannya dengan bahasa Arab. [158] Hal ini membuktikan lebih jauh bahwa memang benar kota itu dibangun oleh keturunan Dedan, putra Yoksan, putra Abraham dan Ketura, dan bahwa keturunan Abraham dan Ketura merupakan orang² pertama yang menghuni Arabia utara dan membangun kota² di situ. Hal ini terjadi setelah abad ke-10 SM. Dengan begitu, pernyataan bahwa Hagar melampaui gurun pasir tak berpenghuni bersama Ishmael di abad ke-21 SM adalah tak masuk akal.
[158] F.V. Winnett dan W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 115

Putra pertama Yoksan adalah Syeba. Sama seperti saudara lakinya (Dedan), Syeba juga merupakan ayah sebuah suku yang hidup di Yordania selatan, di gurun pasir antara Yordania dan Iraq. Kitab Ayub 1:15 menyebut tentang bangsa Sabian yang menyerang pelayan² Ayub, membunuh mereka, dan merampas unta² dan keledai². Ayub hidup di tanah Uz. Kita tahu dari Kejadian 22:20 bahwa Uz adalah putra Nahur, saudara laki Abraham. Dengan begitu, Ayub berasal dari suku Uz yang sama, yang berasal dari putra Nahur. Temannya, yakni Elihu, datang dari tanah Buz, seperti yang dinyatakan di Ayub 32: 2. Tanah Buz juga diberi nama berdasarkan kakek moyangnya, yakni Buz putra Nahur, seperti yang tertulis di Kejadian 22:20, yang menyebut putra² Nahur, saudara laki Abraham. Suku Buz disebut di Yeremia 25:53. Tampaknya tanah Uz terletak dekat Mesopotamia, dan posisinya mudah diserang kaum Baduy yang tinggal di gurun pasir antara Yordania, Iraq, dan Syria. Ini menyiratkan bahwa keturunan Syeba, saudara laki Dedan, adalah orang² yang sama yang membunuhi para pelayan Ayub. Hal ini juga menunjukkan bahwa bangsa Sabian hidup secara nomadis di gurun pasir antara Yordania dan Iraq.

Selain Alkitab, prasasti² Assyria mencatat tentang sebuah suku yang disebut suku Sabian, yang seringkali menyerang perbatasan Assyria dari gurun pasir. Para penyerang ini sudah barang tentu adalah bangsan Sabian, yang merupakan orang² Baduy keturunan dari Syeba, saudara laki Dedan, dan ini berbeda dengan bangsa Sabian di Yaman, yang merupakan para pedagang besar dan bangsa yang paling beradab di Arabia.

Suah, putra Abraham dan Ketura yang bungs, adalah ayah dari suku Suah, dan tinggal di daerah Suhi di tengah padang Efrata. Hal serupa juga dinyatakan di prasati² Kuneiform dari abad ke-18 SM. [159] Ayub 2:11 menerangkan bahwa salah satu teman Ayub adalah Bildad orang Suah, dan berasal dari suku Suah. Prasasti Kuneiform membenarkan keterangan Alkitab dan lokasi Ayub di Mesopotamia, yang tampaknya dekat dengan tempat di mana Bildad mengunjungi Ayub.
[159] Archives Royales de Mari (Paris), xv 133; J.A. Brinkman, Post-Kassite Babyloniam, page 183, note 1127; dikutip oleh I. Eph’al, The Ancient Arabs, hal. 232

Ishbak, putra kelima Abraham dan Ketura, merupakan kakek moyang negara Ia-as-bu-qa-a. Prasasti² Raja Shalmaneser III dari Assyria mengatakan bahwa negara itu bersekutu dengan kerajaan² Neo-Hittite melawan Shalmanasser III di tahun 858 SM. [160]
[160] Delitzsch, Zeitschrift Für Keilschriftforschung, 2 ( 1885), 92; dikutip oleh I. Eph’al, The Ancient Arabs, hal. 232; juga lihat Shiffer, Die Aramäer, hal. 89; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 44


Di Manakah Kaum Midian Hidup di Abad ke-16 dan 15 SM?

Selain Dedan, putra Yoksan, terdapat putra lain Abraham dan Ketura, yakni Midian, putra keempat. Keturunannya mengontrol daerah sampai Arabia utara. Menurut Alkitab, suku² Midian adalah Efah, Efer, Hanokh, Abidah dan Eldaah. Dalam sejarah, suku Midian terpenting adalah suku Efah, yang namanya tertulis di Septuaginta sebagai Eypah. Suku ini juga ditulis di prasasti² Assyria dengan nama Haiapa, yang seringkali menyerang perbatasan² Assyria dengan suku² lain. [161] Bangsa Midian hidup di Sinai selatan sampai ke arah Teluk Aqaba di daerah Arabia utara yang berbatasan dengan Yordania selatan. Di jaman Musa, sebagian suku Midian tinggal di gurun Sinai, terutama sekitar Gunung Sinai. Keluaran 2:15,16 menyatakan:
[161] James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 43

Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur.
Adapun imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayahnya.


Kita tahu bahwa imam Midian itu hidup di sekitar Gunung Sinai. Pasal Keluaran di atas menjelaskan bahwa di abad ke-16 SM dan awal abad ke-15 SM, suku Midian masih hidup di Sinai sebelum sebagian dari suku itu pergi ke wilayah Teluk Aqaba, di perbatasan antara Yordania dan Arabia utara.

Suku Midian seringkali dihubungkan dengan Moab. Ketika Musa membimbing bangsa Israel melalui gurun pasir, kitab Bilangan 22:7 menerangkan bahwa para ketua Moba dan Midian dikirim untuk menemui Balaam agar mengutuki Israel. Hal ini menegaskan bahwa lokasi Midian adalah Sinai selatan, sampai ke Sinai timur, dekat Moba di Yordania selatan. Menurut Bilangan 25, ketika bani Israel mencapai gurun pasir yang berbatasan dengan Moab, banyak orang Israel yang berzinah dengan para wanita Moab dan Midian. Hal ini berarti bahwa bangsa Midian memang tinggal di gurun Sinai diantara Gunung Sinai dan Moab di Yordania selatan. Di Bilangan 31 dijelaskan bahwa bangsa Israel berperang melawan bangsa Midian, karena bangsa Midian menyuruh para wanita mereka untuk membujuk orang² Israel secara sexual. Bangsa Israel membunuh lima dari raja² mereka. Hal ini juga merupakan penegasan tambahan bahwa bangsa Midian hidup di Sinai selatan di abad ke-15 SM.


Silsilah Keturunan Hagar, dan Tempat Tinggal Ismael dan Keturunannya

Silsilah keturunan Hagar, budak Sara yang melahirkan Ismael, terdiri dari tiga cucu laki yang hidup di Arabia utara setelah abad ke-10 SM. Para cucu Hagar ini disebut di Kejadian 25:12-18 sebagai berikut:

Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu.
Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam,
Misyma, Duma, Masa,
Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma.
Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya.
Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati di hadapan semua saudara²nya.
Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.


Aku akan membahas secara detail keturunan Hagar dan tempat hidup mereka di Bagian IV. Dari ayat 18, kita ketahui bahwa sejak jaman Musa di awal abad ke-15 SM, suku² Ismael masih hdiup di gurun Syur, bagian dari Sinai, yang merupakan Mesir timur, ke arah Hawilah di perbatasan antara Sinai timur dan Yordania selatan. Hal ini berarti di jaman Musa, keturunan Ismael masih tinggal di Sinai. Di saat itu tak ada suku Ismael yang hidup di perbatasan Arabia, dan juga Arabia utara atau timur. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Ismael dan keturunannya tidak pergi ke Mekah, seperti yang dikatakan Muslim dan Qur’an. Salah satu keterangan penting di pasal di atas adalah “Ia mati di hadapan semua saudara²nya.” Ketika Ismael mati, Ishak, dan mungkin juga Esau, putra Ishak ada di hadapannya. Sudah menjadi adat timur bahwa para anggota keluarga mengunjungi saudaranya yang hampir mati dan tinggal di tempat itu selama beberapa hari. Ini berarti Ismael tinggal di Paran, dekat Palestina selatan, di hari tuanya.

Suku² yang menyebar ke Arabia utara adalah suku Qedar dan Teima. Dumah terletak di gurun pasir antara Mesopotamia dan Arabia.

Sungguh memalukan klaim Islam yang mengatakan Hagar dan putranya berjalan mengarungi gurun pasir luas, yang tak berpenghuni, dan tak pernah dilalui kafilah apapun di jaman itu.

Bangsa Midian muncul setelah kematian Abraham dan Ketura, dan mungkin setelah bergenerasi-generasi setelah kematian ayah mereka, Midian. Bangsa Midian mulai menghuni sebagia gurun Sinai sebelum akhirnya menyebar di daerah dekat Teluk Aqaba.

Kita ketahui bahwa Abraham mengusir Hagar dan Ismael ke Palestina selatan, yang disebut Alkitab sebagai gurun Paran. Kita telah lihat di bagian terdahulu bahwa Para berbatasan dengan Hebron, di mana Musa mengirim duabelas orang Israel untuk mematai tanah Kanaan. Midian saat itu belum lahir, karena Abraham belum menikah dengan Ketura sampai Sara, istri pertamanya, wafat. Kita juga tahu bahwa Dedan, putra Ketura, hidup di Arabia utara lama setelah Midian melakukannya. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa Arabia utara merupakan gurun pasir tak berpenghuni suku apapun di jaman Hagar. Bagaimana mungkin Hagar bisa pergi ke Arabia utara yang tak berpenghuni sama sekali di jaman Hagar dan mencapai Mekah seperti yang dikatakan Muslim? Tak ada kota apapun di daerah gurun tersebut di jaman Hagar. Kota Dedan baru muncul setelah abad ke-10 SM. Oasis Qedar dan Teima di Arabia utara baru muncul berabad-abad setelah kematian Ismael. Qedar dan Teima berjarak sekitar 150-180 mil dari perbatasan Yordania. Kota Qedar, Teima, dan Dumah belum ada sebelum abad ke-10 SM. Tanpa kota² Arabia utara, yang semuanya baru muncul di abad ke-10 dan 9 SM, tak mungkin ada kafilah² dagang yang berjalan menyeberangi gurun pasir Yaman ke Palestina dan Syria, dan begitu juga sebaliknya. Yang memungkinkan para kafilah bergerak mengarungi gurun pasir yang sangat luas dan berbahaya adalah kota² tempat transit yang dibangun oleh keturunan Ketura, dan sebagian keturunan Hagar, di abad ke-10 dan 9 SM.

Salah satu alasan kesimpulan ini adalah karena unta² yang berjalan mengarungi gurun pasir memerlukan air setiap jarak 60 mil. Tanpa air, para kafilah tidak mungkin bisa melakukan perjalanan melewati gurun pasir di Arabia barat tengah yang jauh dari peradaban manapun. Di abad ke-10 dan 9 SM, kota² dibangun di Arabia utara, dan setelah itu dimulai pula perjalanan dagang para kafilah antara Syria dan Yaman. Masyarakat kota² tersebut menggali berbagai sumur yang menyediakan air bagi mereka dan kafilah yang singgah.

Selain menghadapi masalah air, sebelum kota² tersebut dibangun, para kafilah juga menghadapi serangan orang² Baduy buas yang terkadang berkeliaran di daerah itu. Semua ini mengakibatkan kesulitan besar untuk melakukan perjalanan dengan aman sebelum abad ke-10 SM. Perjalanan dagang di daratan dekat Laut Merah yang melalui daerah tempat Mekah kelak dibangun, baru dimulai di abad ke-3 SM. Dengan demikian, tidaklah mungkin bagi seorang wanita dengan putranya dan sekantung air untuk sanggup mengarungi gurun pasir sangat luas – sedangkan tiada satu pun kafilah yang bisa mengarunginya di jaman itu. Di jaman Hagar, tiada seorang pun hidup di daerah tersebut, dan tiada tempat transit apapun yang tersedia baginya untuk memberi bekal makanan dan air. Beberapa abad kemudian, di abad ke-6 SM, kota² seperti Khaybar dan Yathrib dibangun di jalur jalan antara Teima, Dedan, dan Qedar di Arabia utara, dan Yaman di selatan. Adalah mustahil untuk mengatakan bahwa Mekah sudah ada sebelum kota² Teima, Dedan dan Qedar dibangun.

Jika Mekah telah ada di jaman Musa, maka Mekah merupakan satu²nya kota di Arabia barat. Tetapi Musa tidak pernah mengatakan apapun tentang Mekah di kitab²-nya.

Alkitab menyebut semua suku² yang akhirnya menghuni Arabia utara. Alkitab menyebutkan suku² Saba dan Ma’in, dari Yaman. Disebutkan pula suku² kecil di jaman Musa, lama sebelum mereka dikenal sebagai negara, kerajaan, atau kota – seperti Dedan, Qedar, dan Teiman – bahkan Saba, sebelum dikenal sebagai negara di Yaman. Jika begitu, mengapa Alkitab tak menyebut kota penting Mekah, yang katanya Muslim sudah menjadi kota besar sejak jaman Abraham? Di antara abad ke-21 dan 15 SM, Mekah tentunya merupakan satu²nya kota di seluruh Arabia barat. Musa sudah pasti akan menaruh perhatian besar pada Mekah, lebih daripada suku² kecil yang disebutnya. Tapi Musa tidak pernah menyebut Mekah. Bukankah ini merupakan keterangan jelas bahwa Mekah memang tidak ada di jaman Musa?

Penting bagi kita untuk mempertanyakan semua klaim Islam, karena umatnya ditipu habis²an. Jika agama ingin dianggap bisa dipercayai, maka keterangan sejarahnya harus benar, dunk. Sebaliknya, semua keterangan sejarah Alkitab adalah benar dan sesuai dengan seluruh fakta sejarah.

Dari semua catatan marinir Salomo, dan raja² yang datang padanya, tak satu pun yang menyebut tentang Mekah.

Dari keterangan Alkitab, kita bisa menelusuri perdagangan antara negara² Yaman dan Mediterania, lengkap dengan berbagai kerajaan dan kota yang terlibat. Tiada kota yang terletak di jalur dagang yang tak disebut dalam Alkitab. Sebagian kota² dagang disebut berkali-kali; akan tetapi Mekah yang akhirnya dibangun di jalur dagang, tidak disebut sama sekali di Alkitab.

Dua kerajaan telah ada di Yaman, di awal abad ke-12 SM, yakni Saba dan Ma’in. Para sejarawan berbeda pendapat negara mana yang muncul terlebih dahulu. Sebagian berpendapat kerajaan Minaian adalah yang tertua dan didirikan di abad ke-13 SM. Yang lain berpendapat kerajaan Sabian lebih tua, dan dimulai sekitar abad ke-12 M.

Alkitab melaporkan aktivitas perdagangan orang² Yaman Minean dengan daerah Bulan Sabit Subur.
Ayat² Alkitab membenarkan keberadaan kerajaan Ma’in di utara, kemungkin sebagai koloni yang berhubungan dengan kebudayaan Trans-Yordania yang berperang melawan Israel. Salah satu ayat tersebut adalah II Tawarikh 20. Di ayat pertama, kita baca tentang persekutuan di Trans-Yordania melawan Yosafat. Terjemahan Septuaginta Yunani dari Perjanjian Lama Ibrani menyatakan:

Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.

Menurut Montgomery, istilah “orang Meunim” dalam bahasa Ibrani adalah “Meinim,” dan serupa dengan pengucapan kata “Minean” di Arabia Selatan. [162]
[162] James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 183

Josafat berkuasa di Yudea dari tahun 873 SM. Tampaknya bangsa Meunim, yang mencoba bersekutu dengan Yordania selatan, dan berpartisipasi dalam penyerangan yang diselenggarakan oleh bangsa Moab dan Ammon melawan Yudea. Moab dan Ammon adalah dua negara yang mengontrol jalur darat di mana bangsa Meunim ingin mendirikan kerajaannya. Di jaman Uziah, raja Yudea, kita baca lagi keterangan bangsa Minean bersekutu dengan bangsa Arab lain, dan bangsa Filistin. Di II Tawarikh 26:7 tertulis:

Tuhan menolongnya terhadap orang Filistin, dan terhadap orang Arab yang tinggal di Gur-Baal, dan terhadap orang Meunim.

Menurut Montgomery, kata Meunim dalam bahasa Ibrani adalah “Meinim,” dan ini adalah suku Arabia selatan di Yaman. [163] Uzziah mulai berkuasa di tahun 790 SM. Kerajaan ma’in menembus ke daerah Trans-Yordania dan Palestina selatan, menguasai semua jalur daratan di sepanjang daerah tersebut, kemungkinan sejak abad ke-8 SM.
[163] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, (Philadelphia, 1934), hal. 183

Di kitab Ezra 2:50, kita temukan bahwa sebagian keluarga Meunim dipaksa jadi budak di sekitar tahun 458 SM. Tampaknya perdagangan budak dengan Arabia selatan giat dilakukan di jaman Ezra. Suku Meunim disebut lagi di kitab Nehemiah 7:52. Di sekitar tahun 445 SM, sebagian dari mereka diperbudak lagi. Hal ini menunjukkan banyaknya perdagangan antara Palestina dan Arabia selatan, dan budak merupakan salah satu dari dari berbagai hal yang diperjualbelikan oleh para pedagang Meunim.

Meskipun tidak disebut jelas dalam Alkitab versi Inggris, di Ayub 2:11, Septuaginta menyebut nama belakang Zofar, orang Naama dan teman Ayub, sebagai “orang Meunim.” [164] Hal ini menunjukkan bahwa Zofar mungkin adalah pedagang penting yang sedang berdagang di jalur darat antara Arabia selatan dan Mesopotamia, atau dia mungkin adalah pemimpin daerah jajahan Meunim di Yordania selatan. Karena Ayub 1:17 menyebut penyerangan bangsa Kaldea terhadap para pelayan Ayub, maka kita perkirakan buku itu ditulisa sekitar abad ke-9 sampai 6 SM. Tanah milik Ayub adalah tanah Uz, yang kemungkinan terletak di perbatasan baratlaut Mesopotamia, di mana jalur darat dari Arabia ditempuh untuk mencapai jantung Babylonia. Dengan begitu, Ayub kemungkinan tinggal di tempat yang dilalui para pedagang. Menurut kitab Ayub, Ayub adalah salah seorang terkaya di daerah timur, dan karenanya besar kemungkinan dia suka menjamu para pedagang yang lewat. Istilah “tanah² timur” di Alkitab berarti tanah Palestina timur, yang membentang dari Yordania selatan, melintasi gurun pasir, dan mencapai sejauh Mesopotamia.
[164] Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 184

Orang² Kaldea mulai muncul di perbatasan Mesopotamia di abad ke-11 SM. Mereka mulai memperluas kekuasaan di abad ke-7 SM. Setelah kematian Assurbanipal, bangsa Kaldea memperoleh kemerdekaan dari bangsa Assyria. Nabopolossar, orang Kaldea penguasa Babylonia, mendirikan kekuasaannya di tahun 625 SM. Diperkirakan bangsa Kaldea mengirim pasukan militer ke daerah² perbatasan mereka, terutama di barat dan selatan, untuk mempertahankan diri dari serangan para Arab Baduy. Semua ini menimbulkan perkiraan bahwa kitab Ayub ditulis sekitar abad ke-7 SM.

Narasi Alkitab membenarkan apa yang kita ketahui tentang lalu lintas dan perdagangan Meunim di jaman dulu. Hal ini semua tidak mungkin terjadi sebelum abad ke-10 SM. Ini berarti abad ke-10 SM merupakan jaman paling awal dibangunnya kota² di Arabia utara, seperti Qedar, Teima, dan Dedan, yang memungkinkan dilakukannya perdagangan dan lalu lintas antar daerah.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Wed Feb 23, 2011 1:05 pm

Saba dari Yaman di Alkitab

Hubungan perdagangan antara Saba, atau Syeba, di Yaman dan negara² Mediterania, seperti Israel, merupakan keterangan penting bagi kita untuk mengerti proses pembangunan Mekah. Di I Raja² 10, kita baca tentang kunjungan Ratu Syeba kepada Raja Salomo. Aku sudah membahas hal ini di Bagian I, tentang bagaimana Ratu Syeba dengan mudah bisa mendengar kabar tentang Raja Salomo. Tapi kita juga harus tahu bahwa Salomo ingin berdagang emas dengan Ofir di Teluk Persia, sehingga dia membangun armada kapal laut di Ezion Geber dekat Elat di Laut Merak. I Raja² 9:26-28 menyatakan:

Raja Salomo membuat juga kapal-kapal di Ezion-Geber yang ada di dekat Elot, di tepi Laut Teberau, di tanah Edom.
Dengan kapal-kapal itu Hiram mengirim anak buahnya, yaitu anak-anak kapal yang tahu tentang laut, menyertai anak buah Salomo.
Mereka sampai ke Ofir dan dari sana mereka mengambil empat ratus dua puluh talenta emas, yang mereka bawa kepada raja Salomo.


Kemungkinan para pedangan Sabian telah berdagang di jalur darat melalui Arabia utara di abad ke-10 SM. Pada saat itu, kota² Teima, Dedan, dan Qedar hanya merupakan desa² kecil tempat transit para pedagang dari Yaman ke Israel. Ini mungkin alasan mengapa Ratu Syeba melakukan perjalanan darat dari Yaman ke Israel. Di abad sebelumnya (11 SM), tidaklah mungkin untuk melakukan perjalanan darat. Di Bagian I buku ini, aku telah menerangkan bahwa Salomo tentunya terkenal di kalangan masyarakat Saba, karena armada kapal lautnya telah berlayar mencapai negara Saba bertahun-tahun sebelum kunjungan Ratu Syeba. Armada laut ini berlajar mengarungi Laut Merah ke Ofir di Teluk Persia dan berhenti di banyak pelabuhan milik Saba, yang merupakan pelabuhan terpenting di Laut Merah untuk menambah perbekalan makanan dan minuman, dan juga untuk melakukan perdagangan.

Bertahun-tahun sebelum Salomo membangun armada kapalnya, Raja Hiram, orang Funisia yang jadi Raja Tirus, mulai berlayar di Laut Merah menuju ke Teluk Persia. Hiram berlayar ke Ofir, melalui pelabuhan² Sabian. Hiram berdagang di Mediterania, dan bahkan menyediakan Salomo (menantunya) dengan emas, kayu² spesial, dan batu² berharga. Negara² Mediterania berhubungan dengan berbagai negara penting di daerah Teluk Persia, seperti negara Dilmun (sekarang Bahrain); dan Magan (sekarang Oman). Terdapat pula berbagai pelabuhan kaya raya, seperti Jerra, yang melalukan perdagangan dengan India dan menyediakan hasil Asia pada masyarakat Funisia. Semua lalu lintas laut dari India ke Teluk Persia dilakukan melalui pelabuhan² Saba.

Meskipun daerah letak Mekah kelak dibangun hanya berjarak 30 mil saja dari pantai, lalu-lintas laut ke Laut Merah tidak pernah menyebut tentang kota bernama Mekah.

Setelah mengamati pelayaran armada Salomo, kita perlu mengamati lalu-lintas perdagangan laut melalui Laut Merah sebelum jaman Salomo. Armada laut kota Funisia dari Tirus telah berlayar sebelum Salomo membangun armada lautnya. Jika Mekah, yang letaknya hanya 30 mil dari pantai, telah benar² dibangun, maka tentunya kota itu akan dikenal bangsa Israel. Tapi faktanya tak ada kota apapun di dekat Laut Merah sebelum mencapai pelabuhan² Saba yang jauh letaknya. Jika Mekah sudah ada, kapal² Israel dan Funisia tentunya akan singgah sebentar sebelum mencapai Saba dan Teluk Persia. Tapi tak ada catatan sejarah Ibrani atau Funisia apapun yang menyebut tentang kota Mekah. Dari semua aktivitas marinir Salomo, dan semua raja² setelah dia, tak ada satu pun keterangan tentang Mekah.


Perdagangan dan Daerah Bulan Sabit Subur

Alkitab memberi keterangan jelas tentang kota² dan negara² yang terletak di jalur darat dari Yaman ke Arabia utara di abad ke-9 dan 8 SM, tapi sama sekali tidak menyebut tentang Mekah.

Di bagian ini akan dibahas perdagangan ke Daerah Bulan Sabit Subur Arabia seperti yang disebut di berbagai pasal di Alkitab. Mekah tak disebut sama sekali.

Kitab II Tawarikh menunjukkan hubungan antara Raja Salomo dan raja² Arabia. II Tawarikh 9:13,14 menyatakan:

Adapun berat emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta,
belum terhitung yang dibawa oleh saudagar-saudagar dan pedagang-pedagang; juga semua raja Arab dan bupati-bupati di negeri itu membawa emas dan perak kepada Salomo.


Kita telah membahas sebelumnya bahwa jalur dagang laut yang dibuat bangsa Israel di jaman Raja Salomo. Jalur² ini menghubungkan Israel dengan kerajaan² Arabia, termasuk Saba. Karena jalur dagang inilah maka kerajaan² dan kota² Arabia jadi terkenal diantara bangsa Israel. Para pedagang membawa emas ke Palestina di masa kekuasaan Salomo. Ayat dari II Tawarikh di atas menyatakan semua raja² di Arabia utara dan barat. Semua kerajaan² itu disebut di seluruh kitab² nubuat di Alkitab, seperti kitab Yesaya dan Yehezkiel. Tapi tak satu pun dari seluruh kitab² ini yang menyebut tentang kota Mekah.


Lalu-lintas Dagang antara Yaman dan Negara² Bulan Sabit Subur di Abad ke-9 SM di Kitab Ayub

Lalu-lintas dagang antara Yaman, Palestina, Syria dan Lebanon (Funisia) ditulis di Alkitab sejak jaman Nabi Yoel, yang bernubuat di sekitar tahun 830 SM. Kita baca di kitab Yoel 3:8 berisi firman Tuhan yang akan menghukum Tirus dan Sidon. Nubuat di ayat itu mengumumkan malapetaka yang akan menimpa kedua kota Funisia tersebut, yang mengakibatkan putra² mereka akan dijual kepada bangsa Sabian.

Prasasti Sabian membenarkan pernyataan Alkitab tersebut. Prasasti menyebut bahwa bangsa Sabian terlibat dalam perdagangan budak, membeli budak² dari negara² yang jauh. Budak² wanita dibeli dari negara² Mesir, Gaza, Yathrib, dan Dedan untuk melayani di kuil Sabian. [165]
[165] Halevy, nos.190, 231-234; Hommel, Chrestomathie, hal. 117; Hartmann, Die arabische Frage, pp. 206: cited by James Montgomery, hal. 182


Jalur² Darat dari Saba dan Teima di Kitab Ayub

Selain II Tawarikh dan Yoel, kitab Ayub juga memberi keterangan tentang negara² Arab. Ayub tahu tentang jalur² darat dari Saba dan Teima. Ayub 6:19,20 menyatakan:

Kafilah dari Syeba dan dari Tema mencari air itu dan mengharapkannya.
Tetapi harapan mereka sia-sia di tepi kali yang tiada airnya.


Ayub tinggal di daerah Uz yang terletak di perbatasan barat Mesopotamia, di akhir jalur dagang. Karena Ayub kemungkinan hidup diantara abad ke-9 dan 7 SM, Alkitab menyodorkan keterangan jaman awal perdagangan Syeba dan kafilah²nya yang melalui jalur darat.


Jalur² Dagang dari Yaman di Kitab Yesaya

Di kitab Nabi Yesaya terdapat keterangan tentang jalur dagang yang datang dari Yaman. Yesaya menulis nama² kota dan suku penting yang melalui jalur dagang rempah². Yesaya mulai bernubuat di tahun 739 SM ketika Raja Uzziah dari Yudea mati. Yesaya juga bernubuat selama pemerintahan beberapa raja lainnya, seperti Yotan, yang jadi raja Yudea di tahun 739 SM, Ahaz yang jadi raja Yudea di tahun 735 SM; Sargon II yang jadi raja Assyria di tahun 722 SM; Hezekiah yang jadi raja Yudea di tahun 715 SM; dan Sennakerib yang jadi raja Assyria di tahun 704 SM. Jadi Yesaya sudah mulai bernubuat di awal abad ke-7 SM.

Di kitab Yesaya pasal ke-60, kemungkinan ditulis saat Raja Hezekiah berkuasa, Yesaya menyatakan bahwa jalur perdagangan rempah² telah berkembang di akhir abad ke-8 SM, dan sebagian suku² dikenal di Palestina karena perdagangannya di daerah Palestina. Yesaya 60:6-7 berbunyi:

Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.
Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.


Ayat² menjelaskan bahwa di akhir abad ke-8 SM, terdapat perdagangan antara Yaman dan Bulan Sabit Subur, terutama di Palestina dan Syria. Para pedagang yang datang dari Saba dan berdagang dengan Israel dan negara² sekitarnya adalah bangsa Midian dan Efa. Telah kujelaskan bahwa orang² Midian merupakan keturunan dari putra sulung Midian, keturunan Keturah. Efa dan suku² lainnya seperti Thamud, sudah ditaklukkan oleh Raja Assyrian yakni Sargon II, yang berkuasa dari 722-705 SM. Alkitab mengatakan bahwa kafilah² mereka datang dari Saba/Syeba. Bangsa Sabian membeli kemenyan dari Hadramaut, Saba selatan; emas dari Ofir di Teluk Persia; dan mineral dari Yamama dan tempat² lain di Arabia barat.


Nebayot sebagai Partner Dagang Israel di Daerah Bulan Sabit Subur

Image
Daerah Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur) di jaman kuno.

Suku Nebayot tinggal di berbagai gurun Bulan Sabit Subur. Yesaya berkata, “domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu.” Bangsa Yahudi kemungkinan bergantung pada perdagangan dengan suku Nebayot untuk mendapatkan suplai binatang bagi ibadah persembahan di baitullah di Yerusalem.

Bangsa Nebayot merupakan keturunan suku Ismael. Kejadian 28:9 menyebut kakek moyang mereka Nebayot yang hidup di Edom. Suku ini lalu menyebar ke Sinai di jaman Musa. Di masa kekuasaan Assurbanipal, bangsa Nebayot tinggal di daerah timurlaut Palmyrena. [166] Prasasti Assyria, ABL 260, dibuat di pertengahan abad ke-7 SM, menunjukkan perbatasan Babylonia di gurun pasir Syro-Mesopotamia dekat suku Massa, [167] dan menyiratkan bahwa suku itu berimigrasi dari Yordania selatan ke daerah utara dan timur, untuk mencari lahan rumput bagi ternak mereka. Mereka hidup bagaikan kaum Baduy yang berkelana dari satu tempat ke tempat lain di daerah Bulan Sabit Subur.
[166] Tablet Signature of Kouyunjik Collection in the British Museum, 2802 vi 17-37; Dikutip oleh I. Eph’al, hal. 221
[167] R.F. Harper, Assyrian and Babylonian Letters, I XIV, (London-Chicago, 1892-1914), 1117


Berdasarkan keterangan di atas, bagaimana mungkin tradisi Islam menyatakan Muhammad sebagai keturunan suku Nebayot yang hidup di berbagai gurun Syria, Iraq, dan Yordania Selatan, sedangkan kita tahu keluarganya adalah orang Sabian dan tinggal di Yaman?


Daerah dan kota² lain di jalur dagang rempah² dan perdagangan yang disebut Yesaya.

Kita ketahui bahwa Qedar mengirim ternak ke Yudea, seperti yang dinyatakan Yesaya 60:7 sebagai berikut:

Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.

Karena bangsa Qedar berpengaruh di Yordania selatan, tampaknya domba² jantan yang mereka jual ke Palestina adalah satu dari barang dagangan mereka. Di Yesaya 42:11 dinyatakan bahwa Qedar disebut dengan Sela, kota tua di Petra, Yordania selatan. Pasal ini membicarakan tentang “desa² yang dihuni bangsa Qedar.” Tertulis, “Biarkan penduduk Sela bernyanyi,” menyiratkan bahwa bangsa Qedar masuk ke sebagian desa di Yordania selatan di akhir abad ke-8 SM. Keterangan ini juga tercantum di prasasti Assyria.

Yesaya bernubuat tentang kekalahan suku² Arabia oleh pasukan Assyria di pasal 21 ayat 13:

Ucapan ilahi terhadap Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan!


Tentara Assyria berusaha menguasai tanah dan kota² di Arabia barat tengah dan utara, termasuk Dumah, Dedan, Teima, dan Qedar. Semua suku² ini aktif berdagang di jalur darat dari Yaman. Ayat ke-14 menyatakan para kafilah dari Dedan, Arabia utara. Ayat 16 meramalkan “segala kemuliaan Qedar akan habis,” menyiratkan bahwa Qedar telah menjadi kaya raya karena perdagangan.

Kitab Yesaya menyatakan jalur jalan dari Saba menjadi ramai di akhir abad ke-8 SM. Kitab ini juga menunjukkan semua kota² di sepanjang jalur dagang di akhir abad ke-8 SM. Jalur ini berawal dari Teima ke Dumah, Mesopotamia, Trans-Yordania dan Syria. Juga disebut jalur yang dimulai dari Dedan dan Qedar ke Palestina, Syria dan Mesir. Kitab Yesaya juga menyebut suku² Midian dan Efa, yang berdagang dengan Saba. Tentunya perdagangan ini menggunakan jalur melewati kota Dedan yang letaknya lebih dekat dengan lokasi mereka.

Meskipun Alkitab menyebut dengan jelas nama² kota dan negara yang terletak di jalur dagang dari Yaman di abad ke-8 SM, buku itu sama sekali tidak menyebut tentang kota Mekah. Jika Mekah sudah ada di jaman itu, seperti yang dikatakan Muslim, maka tentunya kota Mekah akan disebut di kitab Yesaya.


Nabi Yeremia Bernubuat tentang Arabia dan Jalur Perdagangan Rempah²

Tuhan memanggil Nabi Yeremia sejak dia masih muda, dan dia ditugaskan untuk bernubuat. Nabi Yesaya masih tetap hidup untuk jangka waktu lama setelah kehancuran kota Yerusalem. Dia mulai bernubuat di sekitar tahun 627 SM, hampir di akhir masa kekuasaan Raja Assyria yakni Assurbanipal. Dia bernubuat di masa kekuasaan beberapa penguasa lainnya pula. Misalnya Raja Babylonia yakni Nabopolassar, di tahun 626 SM. Berikut adalah Raja Yudea yakni Yehoahaz di tahun 609 SM. Lalu Raja Babylon yakni Nebukhadnezzar di tahun 605 SM. Lalu Raja Yudea yakni Yehoakhin di tahun 597 SM, dan Raja Yudea Zedekiah di tahun 597 SM. Yeremia juga bernubuat tentang kehancuran baitullah oleh serangan pasukan Babylonia di tahun 586 SM. Kitab Yeremia 2:10 menyatakan tentang dewa² suku Qedar disembah selama berabad-abad. Yeremia 49:28 menyatakan malapetaka bagi suku² lainnya, termasuk Qedar. Dinyatakan bahwa Nebukhadnezzar sang Raja Babylonia akan menyerang mereka.

Yeremia meramalkan tentang penyerangan yang dilakukan oleh bangsa Kaldea di Arabia utara. Yeremia 25:23 menyatakan bahwa Dedan dan Teima akan ditaklukkan Kaldea. Wahyu hukuman terhadap Dedan ini diulang lagi di Yeremia 48:8. Perdagangan kemenyan dari Syeba ke Israel dinyatakan lagi di Yeremia 6:20 sebagai berikut:

Apakah gunanya bagi-Ku kamu bawa kemenyan dari Syeba dan tebu yang baik dari negeri yang jauh? Aku tidak berkenan kepada korban-korban bakaranmu dan korban-korban sembelihanmu tidak menyenangkan hati-Ku.

Ayat ini menunjukkan adanya perdagangan kemenyan dari Syeba ke daerah Mediterania di jaman Yeremia.


Yehezkiel dan Negara² yang Berdagang dengan Negara² Mediterania

Di abad ke-6 SM, Yehezkiel menyebut tentang barang dagangan yang diperjualbelikan oleh negara² Mediterania di sepanjang jalur Arabia, dan kota² yang ikut dalam perdagangan tersebut, tapi Mekah tak disebut sama sekali.

Image
Laut Mediterania.

Yehezkiel memulai nubuatnya di tahun 593 SM. Ramalan²nya bersangkutan dengan berbagai kejadian di sepertiga pertama abad ke-6 SM. Di Yehezkiel 25:13, dia menyebut bahwa bangsa Kaldea akan menjajah Dedan, dan negara² lainnya seperti Edom dan Filistia. Yehezkiel juga menyebut tentang jalur dagang dari Arabia di awal abad ke-6 SM. Dia menyebut berbagai barang dagangan yang dijuabelikan di kota² Mediterania, termasuk kota² Funisia yakni Tirus dan Sidon. Di Yehezkiel 27, dia menyatakan akan terjadi bencana terhadap Tirus. Dia menyebut tentang kekayaan Tirus dari berdagang dengan negara² lain di jaman itu. Yehezkiel menyebut beberapa kota dan negara di jalur jalan dari Arabia selatan. Yehezkiel 27:15 berbunyi:

Orang Rodos (terjemahan dari Septuaginta) atau Orang Dedan (terjemahan Ibrani) berdagang dengan engkau, banyak daerah pesisir menjadi daerah pasaranmu; mereka membawa kepadamu tulang gading dan kayu arang sebagai upeti.

Ayat ini menjelaskan para pedagang Dedan membawa gading dan arang ke Tirus di Mediterania. Barang² ini berasal dari India, dan dibawa ke Arabia selatan, dan bangsa Dedan lalu membawanya ke daerah Mediterania. Bangsa Funisia dari Tirus lalu akan mendistribusikan barang² ini ke berbagai negara di Mediterania. Yehezkiel 27:20 menyatakan satu barang dagangan lain yang diimport Tirus dari Dedan, “Dedan berdagang dengan engkau dalam kulit pelana untuk menunggang kuda.” Di ayat 21, dia mengatakan barang² Tirus diterima dari Qedar, “Arab dan semua pemuka Kedar berdagang dengan engkau dalam anak domba, domba jantan dan kambing jantan; dalam hal-hal itulah mereka berdagang dengan engkau.”

Begitulah barang² yang diperdagangkan Qedar dan Israel. Ayat ini juga membenarkan bahwa Qedar dipimpin oleh berbagai raja atau pangeran, dan hal ini benar berdasarkan fakta sejarah yang tertulis di prasasti² Assyria tentang berbagai raja yang menguasai Qedar di jaman itu.

Yehezkiel 27:22 menyatakan perdagangan dengan Syeba (Saba):

Pedagang Syeba dan Raema berdagang dengan engkau; mereka menukarkan yang terbaik dari segala rempah-rempah dan segala batu permata yang mahal-mahal dan emas ganti barang-barangmu.

Di kitab Kejadian 10:6,7, disebut bahwa Raema adalah ayah dari Syeba, yang merupakan kakek moyang suku Saba di Yaman. Raema adalah putra keempat dari Kush, dan cucu dari Ham. Raema disebut pula dalam prasasti Saba. Alkitab menghubungkan Raema dengan Syeba (Saba). Ayat terakhir dari kitab Yehezkiel menyatakan bahwa barang import Tirus ke Yaman adalah “rempah², batu berharga, dan emas.” Hal ini sesuai dengan fakta sejarah.

Yehezkiel 27:23,24 menyebut nama berbagai negara dan kota yang berdagang dengan Tirus:

Haran, Kane, Eden, Asyur dan Kilmad berdagang dengan engkau.
Mereka berdagang di pasar-pasarmu dalam jubah-jubah yang maha indah, kain ungu tua, pakaian yang berwarna-warni, permadani yang beraneka warna dan tali berpilin yang teguh.


Dari nama² terdapat nama kota² Arabia selatan, yakni Kane dan Eden. Kane disebut dalam buku “Periplus of the Erythrean Sean” yang ditulis tahun 60 M. Kota ini sama dengan kota Hisn Ghorab, pelabutan Arabia selatan yang terletak 14 derajat dan 10 menit utara, 48 derajat dan 20 menit selatan. Kane adalah tempat penting, karena mengimport pakaian² Asia. Dari Kane, barang² itu dibawa ke berbagai pelabuhan Funisia, seperti Tirus. Karena itulah Yehezkiel menyebut bahwa Kane datang dengan membawa pakaian² maha indah, kain ungu tua, dll. Semua barang ini dikenal merupakan produk dari China dan India. [168]
[168] Lihat The Periplus of the Erythraean Sea, 27, 33, 36 dan terutama 57

Keterangan di ayat Alkitab itu menyatakan bahwa selain dengan bangsa Sabian, kota Eden di Yaman selatan juga memperdagangkan barang² tersebut. Keterangan ini ditulis di awal abad ke-6 SM, ketika perdagangan maritim berkembang luas antara negara² Asia dan daerah Mesopotamia, melalui Yaman Selatan. Penjelasan tentang kekayaan kota Tirus, kain tirus yang dimiliki bangsa Tirus, dan barang² lain yang disebut di kitab Yehezkiel, juga disebut di berbagai tulisan sejarawan kuno, seperti Strabo dalam bukunya yang ke-17. [169] Kayu eboni dari India dan pulau² yang jauh juga dinyatakan di tulisan sejarah lainnya. [170]
[169] The Geography of Strabo, Book XVI. II. 23; The Geography of Strabo, Volume V, Harvard University Press, 1966, hal. 269
[170] The Periplus of the Erythraean Sea, 36



Di masa antara abad ke-8 dan 6 SM, Alkitab menyebutkan banyak kota dan negara Arabia, tapi tak menyebut tentang Mekah sama sekali.

Nabi² besar Alkitab adalah: Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel, dan mereka menulis tentang perdagangan dengan kerajaan² dan kota² Arabia, sejak abad ke-8 SM sampai awal abad ke-6 SM – ini merupakan periode di mana perdagangan antara Arabia selatan, kota² di sepanjang jalur dagang, negara² Mediterania dan Bulan Sabit Subur berkembang pesat. Tak ada satu pun kota di seluruh jalur dagang Arabia barat dan utara yang tidak disebut oleh para Nabi di Alkitab. Mereka tidak hanya menyebut kota², tapi juga jenis barang² yang diperdagangkan. Mereka menyebut kota² Dumah, Qedar, Teima, dan Dedan, tapi tak menyebut tentang Mekah sama sekali. Alkitab menyebut berbagai suku yang terlibat dalam perdagangan seperti Midian, Efa, Saba, dan Ma’in, tapi Mekah tidak disebut dalam segala keterangan!

Seperti yang telah berulangkali dijelaskan, Mekah baru dibangun di sekitar abad ke-4 M di jalur kafilah antara Yaman, Teima, dan Dedan. Jika Mekah memang sudah ada di jaman Nabi² besar Alkitab, maka tentunya mereka akan menyebut kota itu. Nabi Yehezkiel membicarakan semua kota di jalur dagang, bahkan tempat² terpencil sekalipun seperti Kane dan Eden. Jika memang sudah ada di jaman itu, kota Mekah seharusnya juga disebut karena terletak di jalur dagang. Alkitab berulangkali menyebut nama kota² dan negara² utama yang berdagang melalui Arabia barat dan utara. Contohnya Midian disebut duapuluh kali, Qedar delapan kali, Dedan enam kali, dan Teima tiga kali. Mekah itu dibangun di tengah jalur dagang yang strategis, di mana jalur terbelah jadi dua: satu jalur ke Teima dan satul lagi ke Dedan. Meskipun begitu, Mekah tak disebut sekalipun, padahal letaknya lebih dekat ke Palestina daripada Saba dan Ma’in di Yaman.

Kota² yang disebut berulangkali di Alkitab, semuanya telah ada di abad ke-10 SM. Kerajaan² seperti Syeba dan Main mulai kegiatan dagang dengan negara² Mediterania setelah abad ke-10 SM. Ma’in baru mulai berdagang berabad-abad kemudian, tapi Syeba dan Ma’in disebut berkali-kali. Jika Mekah sudah ada sejak abad ke-21 SM di jaman Abraham, maka tentunya kota Mekah juga akan disebut berkali-kali, tapi tak ada keterangan tentang Mekah sama sekali di seluruh buku Alkitab.


Alkitab merupakan sumber terpercaya tentang sejarah kuno. Alkitab tidak menyebut Mekah dari jaman Abraham sampai abad ke-5 SM, dan ini merupakan bukti nyata bahwa Mekah memang tidak ada di jaman itu.

Alkitab tidak menyebut kota Mekah dalam keterangannya tentang berbagai negara kuno Arabia dan bagaimana mereka terbentuk dari anak2 Nuh. Mekah juga tak disebut di silsilah keturunan apapun, seperti misalnya para putra Ketura, istri Abraham setelah Sara wafat. Mekah tidak disebut di silsilah keteruan Arabia tentang bagaimana bangsa Arabia mulai hidup di suatu daerah di jaman kuno. Akan tetapi, semua kota² dan suku² Arabia barat dan timur disebut berkali-kali.

Narasi Alkitab adalah satu²nya sumber sejarah kuno tentang banyak daerah Timur Tengah. Alkitab menyebutkan berbagai negara, suku dan kota yang tak disebut di sumber mana pun, seperti kota Ur dan suku Hitite. Sebagian sejarawan mempertanyakan apakah keterangan ini benar, tapi lalu ditemukan peninggalan kota² mereka yang sesuai dengan keterangan Alkitab. Ini berarti jika Alkitab menyebutkan berbagai kota Arabia dan dua negara Saba dan Main dari Yaman, tanpa menyebut Mekah sama sekali, maka ini berarti Mekah memang tidak ada di daerah itu, dari jaman Abraham di abad ke-21 SM sampai Maleakhi di tahun 436 SM. Fakta ini menunjukkan kesalahan Islam. Jika ingin bersandar pada agama yang benar, maka agama itu haruslah bisa dipercaya dan harus dibangun di atas fakta sejarah yang tepat.
Last edited by Adadeh on Tue Mar 29, 2011 8:55 pm, edited 3 times in total.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (2)

Postby pod-rock » Sun Mar 06, 2011 5:31 pm

Bagian III
Ka’bah dan Allah sebagai Keluarga Tuhan/Bintang yg dipuja di Arab


1. KA’BAH sebagai Kuil dari Pemujaan Keluarga Tuhan

Kaabah di Mekah adalah satu dari banyak Kabah cabang dari Kabah Pusat di Taif; bentuk bangunannya sama dan juga punya fungsi religius pagan yang sama
Islam adalah sebuah bentuk Tradisi Pemujaan Keluarga Tuhannya Arab dijaman Muhammad. Tirai yg menyembunyikan kenyataan ini rubuh jika kita pelajari asal muasal ‘agama’ islam.
Ibnu Abbas, sepupu Muhammad dan juga salah seorang penulis hadis, menceritakan dua rukun haji dari suku Quraish. Salah satu perjalanan rukun haji itu adalah ke kota Taif. [1]
[1. Ibn Abbas in Tabari, Jami’, xxx, 171. cited by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page, 205]

Di Taif ini juga ada bangunan yg disebut Ka’bah Ellat atau Ka’bah Matahari. Ka’bah ini sangat penting dan lebih tua dari Ka’bah di Mekah. Semua orang arab, termasuk suku Quraish-nya Muhammad ikut ritual di Ka’bah ini. Ka’bah di Taif persis sama dengan Ka’bah di Mekah dan punya fungsi religius yg juga persis sama. Seperti Ka’bah yg di Mekah, yang di Taif juga punya lembah suci dimana tidak boleh ada pembunuhan (binatang/manusia). Ka’bah Taif juga melakukan ritual yang sama, yang ditiru oleh Ka’bah Mekah. Ka’bah Taif juga ditutupi oleh Ishtar, kain penutup seperti yang sekarang kita lihat di Ka’bah mekah. Keduanya punya ‘halaman’ atau area suci. Tak seorangpun boleh menebang pohon atau membunuh binatang yg ada disana.Siapapun yang masuk kesana sebagai pengungsi akan dilindungi. Keduanya juga punya sumur yang dipakai sebagai tempat menyimpan hadiah/kurban. [2]
[2. Ibn al-Kathir 4:253 quoted by Jawad Ali, vi, 228]

Dalam Hijaz, Arab area barat dan barat tengah dimana Mekah dibangun, terdapat banyak Ka’bah yang bergantung pada Ka’bah Pusat di Taif [Jawad Ali, vi, 228]. Apakah Ka’bah di Mekah juga adalah cabang dari Ka’bah Taif? Sangat mungkin, banyak faktor menunjukkan hal tersebut. Pertama, suku Tamim, yang menempati kota Taif dimana Kabah pusat ini dibangun, berasal dari keturunan Yaman.
Kedua, suku Tamim punya kuasa atas suku2 lain didaerah tsb, termasuk suku Quraish. Kita sudah melihat suku Tamim menjadi hakim jika ada pertengkaran diantara suku2 Arab disana. [3]
[3. “Mecca and Tamim,” Kister, page 145 ff, quoted by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 156].

Ketiga, pintu Utama Kabah di Mekah disebut dengan “Pintu pemuja matahari”, yang menandakan bahwa Kabah Mekah, khususnya dibangun utk didedikasikan dalam pemujaan matahari, seperti juga ka’bah di Taif. Tapi, ini tidak berarti bahwa Allah tidak dipuja sebagai Bintang, bersama-sama putri2nya, al’Uzza dan Manat.
Suku Quraish, khususnya, memuja Ellat, matahari. Mereka punya patung bagi Ellat di sebuah tempat yg disebut Nekhlah, yg menjadi bagian terluas di Suk Ukkath (atau Ukkaz), atau pasar Ukkath [4]. Ukkath adah tempat banyak orang datang, bukan hanya utk berdagang tapi juga utk melaksanakan Haji. Karena Ukkath tempat Patung Ellat berada dan Ukkath dekat ke Mekah, maka orang2 mengunjungi Mekah sepulangnya dari Ukkath. Di Ka’bah Mekah juga terdapat Patung Ellat [5], tapi kurang bagus dibanding patung Ellat di Ukkath.
[4.Tafsir al-Tabari 27; page 35; Al-Allusi, Ruh' al-Maani 27:47]
[5. Al-Allusi, Ruh' al-Maani 27: 47 ; Al-Khazen 4: 194, quoted by Jawad Ali vi, page 232]


Semua hal ini menandakan bahwa ada hubungan antara Ka’bah2 di Hijaz, meski dibangun olah suku Yemeni dan pemimpin2 lain diwaktu2 yg berbeda dalam sejarah. Kita mengasumsikan bahwa Kabah di Taif adalah pusat Kabah yang didedikasikan utk pemujaan Ellat, sang matahari. Ini menjelaskan kenapa suku Quraish membiarkan kabah di mekah dan malah ikut dalam ritual Haji dengan suku2 lain ke Ka’bah di Taif. ‘Tuhan2’ yg menjadi Anggota Kelompok Arab Pemujaan Bintang semuanya dimuliakan didalam Ka’bah2, seperti Allah dan putri2nya, al-‘Uzza dan Manat. Tapi sepertinya masing2 Ka’bah mengkhususkan pujaan pada satu saja dari ‘Tuhan2’ itu.
Seperti pada Ka’bah di Mekah, Ka’bah di Taif juga punya Batu Hitam besar yg diputari oleh para pemujanya [6]. Batu adalah elemen utama dalam pemujaan bangsa Arab.
[6. Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan 7, page 310; Taj al-Aruss 1, page 580; Tafsir al-Beithawi 1:199 ; al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925; Al-Lusi, Ruh' al-Maani, 27, page 47; Azruqi, Akhbar Mecca, page 79]

Kaabah di Mekah bukan tempat penting, bahkan bagi suku Quraish sendiri, sampai Muhammad menetapkannya sebagai tempat eksklusif pemujaan para muslim.
Suku Quraish terus menerus melakukan dua perjalanan ritual. Salah satunya adalah ke Ka’bah di Utara, yang saya sebutkan sebelumnya, dan satunya lagi adalah ke Ka’bah di Taif. Ketika Muhammad menguasai Mekah, dia muncul dengan ayat Qur’an yg melarang para pengikutnya utk melakukan perjalanan ritual tsb. Qur’an memaksa mereka utk hanya memuja Ka’bah Mekah. Ayat tsb adalah Surah Quraish 106:1-3,

106 QURAISY
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
[106.1] Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
[106.2] (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
[106.3] Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).


Jelaslah bahwa suku Quraish pernah melakukan dua ritual perjalanan, satu waktu musim dingin dan satu lagi musim panas. Kita tahu dari sumber2 tua islam bahwa perjalanan Quraish di Musim Panas adalah menuju Taif [7]. Tapi Qur’an melarang pengikut Muhammad utk memuja Tuhan Lain selain yg ada di Ka’bah mekah. Para pemuja harus mengungkapkan pemujaan mereka hanya pada Ka’bah di Mekah. Semua ini menunjukan bahwa diantara ka’bah2 yg didedikasikan pada ‘keluarga Tuhan’ di Arab, Kabah Mekah bukanlah ka’bah yg penting, sampai Muhammad memerintahkannya demikian. Malah, Ka’bah ini kabah yg tidak spesial, bahkan bagi suku Quraish yg menempati mekah setelah mengusir suku Khuzaa’h, yg membangun kota dan Ka’bah tsb.
[7.Crone cited Ibn Abbas in Tabari, Jami’, xxx, 171; Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 205].


Ka’bah di Mekah penting bagi suku Khuzaa’h dan Sufa (pecahan suku Khuzaa’h). Suku Sufa bertanggung jawab atas penyelenggaraan upacara Pagan yang belakangan diadopsi kedalam Islam oleh Muhammad dan menjadi bagian dari rukun Hajinya.
Bahkan suku Quraish sekalipun menganggap Ka’bah di Mekah tidak penting dan tidak relevan dengan Ka’bah lain. Mereka lebih suka pergi ke Ukkath utk memuja Ellat, sang Matahari, daripada membatasi diri mereka hanya memuja Ka’bah di Mekah. Mereka lebih menganggap Ka’bah di Utara dan Ka’bah Pusat di Taif utk memuja Ellat sebagai pusat Pemujaan yang sangat Penting.

Ka’bah di Mekaa juga tidak penting bagi suku Arab lain

Bukan hanya suku Quraish yg tidak menganggap penting Ka’bah Mekah dibanding ka’bah lain, tapi banyak suku Arab lain yang juga berpikiran sama. Kita lihat bahwa Thaqif, Suku yg menempati Taif, tidak tertarik utk melestarikan Ka’bah mekah. Ini terlihat ketika Abraha, orang Ethiopia yang menguasai Yemen sekitar tahun 570 M masuk utk menguasai Thaqif. Mereka meminta Abraha utk tidak menghancurkan Ka’bah mereka, tapi malah meminta utk menghancurkan Ka’bah Mekah, karena mereka tahu bahwa rencana selanjutnya Abraha setelah menguasai kota mereka adalah Mekah. [8] Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Ka’bah Mekah tidaklah penting bagi suku2 Arab karena aslinya Ka’bah mekah hanya dimiliki oleh satu suku saja, yaitu suku Khuzaa’h, yg membangunnya.
[8. Tarikh al-Tabari, I, page 441]


Hubol adalah altar dalam Ka’bah yang melambangkan bulan. Hubol juga dipanggil “Allah” sebelum Venus mengambil alih gelar ‘Allah’ dari bulan.
Suku Quraish memuja patung kepunyaan suku lain, suku Kinaneh. Patung ini disebut “sahabat Kinaneh.” Kinaneh lalu memuja patung yang dipanggil “Sahabat Quraish.” [9] Dewa ini adalah Hubol. Hubol dipuja di Altar Utama Kabah Mekah. Para scholar berpendapat bahwa altar ini mewakili Allah, Kepala dari Tuhan2 orang2 Arab, istrinya Ellat, sang matahari. Tuhan ini, Hubol, ditemukan juga dalam prasasti2 Nabatean sebagai Dewa Bulan [10], dan bentuknya mirim manusia. [11]
[9. Ibn Habib, al-Mahbar, page 318]
[10. Jawad Ali,vi, 328; Rino' Disu, al-Arab Fi Suryia Khabel al-Islam, page 116]
[11. Al-Tabarsi al-Fadl ibn al-Hasan, Majma' al-Bayan fi tafsir al-Qur'an, (Beirut, 1954) 29, page 68]


Para Scholar sepakat bahwa Hubol, sebagai dewa Bulan, adalah Dewa yang menempati Kabah. Utk periode tertentu, dia juga adalah “Allah” yang menempati Ka’bah Mekah [12]. Ini sebelum Venus mendapat julukan Allah ‘Tuhan Terbesar’.
[12. Wellhausen, Reste Arabischen Heidentums, Berlin, 1927, S.73,221 ; Grohmann, S.87 cited by Jawad Ali, vi, page 252]
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby pod-rock » Sun Mar 06, 2011 5:36 pm

Bagian III
2. SIAPAKAH ALLAH YG DIPUJA DI ARAB?


Asal muasal “Allah” dan bagaimana nama itu muncul dari dewa bullan di Arab, seperti yang dituliskan dalam banyak prasasti2 Arab
Kita tahu istilah ‘Allah,’ sebagai dewa bulan berasal dari dewa bulannya Thamud. Namanya adalah Hilal atau Hlal, yang artinya bulan sabit. Belakangan nama Hilal menjadi Hilah, seperti bisa kita lihat dalam banyak prasasti2 yang ditemukan di arab. Dalam prasasti Thamud disebutkan sebagai H-ilah, Ha-ilah dan H-alah. [13]. Kita lihat ada perkembangan perubahan yang mirip utk ‘Hilah,’ dewa bulannya Yemen, dimana Almaqah disebut ‘Halal,’ atau ‘Hilal, bulan sabit.’ [14]
[13. James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, page 154; Wellhausen, Reste, Arabischen Heidentums, Berlin, 1927, S.209; cited by Jawad Ali, vi, page 117]
[14. Repertoire Dépigraphie Semitique, Tome VI, Paris, Imprimerie Nationale 3945, 4067, 4228, 4991, 4992, 4993; A. Grohmann, Arabien; S. 244; cited by Jawad Ali, vi, page 299]


Suku2 Safaitic adalah suku nomad, yg berkelana kebanyak tempat di Arab, khususnya daerah arab utara. Dewa bulan ditemukan dalam prasasti2 mereka sebagai ‘H-lah.’ Dalam Prasasti Safaitic, huruf ‘H’ diucapkan sebagai ‘Ha’ yg artinya sama dengan ‘The’ dalam bahasa inggris. Ini berhubungan dengan bahasa arab ‘Al.’ [15] Ini juga yang membuat sebutannya menjadi ‘Al-lah.’
[15. Ency.Religi. Volume 6, page 248; cited by Jawad Ali, vi, page 24]


Tuhan Besar Athtar – Venus – menggantikan Bulan utk julukan ‘Allah’

Dalam prasasti Thamudic, kita tahu bahwa pemujaan Venus digiatkan utk mengalahkan pemujaan terhadap dewa2 lain di Arab, dan bertujuan utk dipaksakan agar menjadi pemujaan monoteistik di Arab Utara. Para pemuja ‘Tuhan Besar’ ini bahkan menganggap enteng pemujaan dari tuhan2 lain dari keluarga ketuhanan mereka, seperti pemujaan istri dari kepala Tuhan, Ellat, yg melambangkan matahari atau pemujaan terhadap Bulan itu sendiri. Seiring waktu, Venus mencuri gelar ‘Allah’ dari Bulan. Baik bulan maupun Matahari menjadi subjek bagi Allah, Tuhan Terbesar. Kita mendapatkan konsep ini dalam Quran, dikatakan:

[29.61] Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Ini karena muncul kompetisi diantara anggota2 ‘keluarga Tuhan’. Para pemuja Allah, Tuhan Terbesar, menganggap tuhan lain dalam keluarga tuhan sebagai bawahan dari Allah, dan berkeras menyatakan bahwa dialah Tuhan paling penting dari keluarga Tuhan. Mereka mengajarkan bahwa tuhan2 lain menjadi pelayan Allah dan tunduk dihadapan singgasananya. Para pengikut Allah, ketua keluarga Tuhan, terkenal dalam hal membela Allahnya dan memerangi mereka yang bertentangan dan memuja tuhan lain. Konsep supremasi/ketua dari tuhan lain dalam keluarga Tuhan ini dinyatakan dg sangat jelas dalam Quran. Dalam Sura 36:38, kita baca, “dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” Muhammad lalu menjelaskan ayat ini dalam Hadis:

Matahari mendatangi singgasana Allah lalu menyembahnya bersama-sama dengan bulan.

Ada banyak Hadis dimana Muhammad mengklaim Matahari menghadap singgasana Allah. Kita mengutip sebuah Hadis Bukhari:
Diriwayatkan oleh Abi al-Thur. “Aku bertanya pada Rasul, pbuh, mengenai ayat Allah dalam Quran yang menyatakan bahwa matahari berjalan di tempat peredarannya, ‘sang Nabi menjawab: ‘Tempat abadi Matahari adalah dibawah singgasanaNya.” [Al-Bukhari 8 page 179]
Hadis Bukhari lain juga meriwayatkan:

Aku sedang bersama sang Rasul di mesjid ketika matahari terbenam. Dia bertanya: “Tahukah kau kemana matahari pergi ketika terbenam?” Kujawab: “Allah dan nabiNya lebih tahu.” Sang Nabi berkata: “Matahari pergi kebawah singgasana utk menyembahNya, ini adalah tafsiran perkataan Allah “dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” [Al-Bukhari 6 page 30]

Al Tabari juga melaporkan sebuah hadis, yg mana Muhammad menjelaskan matahari dan bulan beranjak ke singgasana Allah utk menyembah. [Tarikh al-Tabari, I, pages 46, 47]

Konsep jubah cahaya yg diberikan pada matahari agar bisa bersinar: adalah sebuah mitos yg dicontek Muhammad dari orang2 Sabian Mandaean, sekaligus dengan ritual2lain yang dia cotek dari mereka dan dimasukkannya kedalam Islam.

Muhammad mengklaim bahwa matahari dan bulan, setelah menyembah Allah pada singgasanaNya, lalu diperintahkan pergi oleh malaikat Jibril dg terlebih dahulu memasangkan jubah cahaya pada mereka, jubah ini diambil dari singgasana Allah. [Tarikh al-Tabari, I, pages 46, 47]. Mitos ini oleh Muhammad diambil dari mitologis Babilonia. Malah, orang2 Babilon percaya ada pintu di surga dimana Dewa matahari, yg mereka sebut Samas atau Utu, biasa liwat. Lalu Matahari sampai pada sebuah ruangan dimana mereka tinggal utk menyembah [16].
[16. Jeremy Black and Anthony Green, Gods Demons and Symbols of Ancient Mesopotamia, University of Texas Press, 1995, page 137]


Dalam mitos Babilonia, dewa2 memakai melam – jubah cahaya [17]. Ide jubah cahaya ini ditransfer ke orang2 Mandaean, atau juga disebut Sabian, sebuah sekte Gnostik yang muncul di Mesopotamia Utara pada abad ke-2 M. Dalam buku suci mereka, Ginza Rba, kita baca tentang salah satu pribadi cahaya yg disebut Pthahil, bagaimana dia dilengkapi dengan jubah cahaya yang membuat dia bisa menerangi dunia [18]. (sangat menarik utk diketahui bahwa Pthahil juga dipanggil Jibril.) Orang2 Mandaean percaya bahwa Pthahil-Jibril memberi cahaya pada matahari dan bulan [19]. Matahari dalam buku suci Mandaean, seperti “The Canonical Prayer Book of the Mandaean,” memakai jubah Cahaya [20]. Jubah2 ini diberikan pada matahari oleh Pthahil-Jibril, yang menjadi pencipta jagat raya menurut mitologi Mandaean.
[17. Jeremy Black and Anthony Green, Gods Demons and Symbols of Ancient Mesopotamia, pages 130,131]
[18. Ginza Rba, book 17, hymn 7, translated by Yousef Matta Khuzi and Sabih Madlul al-Suheiri (Bagdad, year 2001), page 290p]
[19. Ginza Rba, book 1, hymn 2, translated by Yousef Matta Khuzi and Sabih Madlul al-Suheiri (Bagdad, year 2001), page 9]
[20. The Canonical Prayerbook of the Mandaeans, translated by Drower, Leiden1959, page 178]


Orang2 Sabian punya pengaruh besar di Mekah pada jaman Muhammad. Malah, Muhammad menyebut orang2 Sabian sebagai teman2 sebangsanya [21], karena dia mengadopsi banyak ritual2 mereka – termasuk wudhu, pencucian tangan kaki dan wajah sebelum sholat, dan praktek sembahyang lima kali seharinya. Komunitas Sabian suka menyebut kelompok mereka Mushulmana [22], artinya Muslim, disinilah Muhammad mencontek nama muslim. Hingga saat ini doa orang Mandaean “O Muaslim, jangan sekali-kali berpaling dari perjanjian yang telah ditetapkan Tuhan.” [23]; “Setiap orang yang melakukan wudhu Yaslem – artinya menjadi muslim –“ berasal dari bahasa Aramaic “Ansh Sabi .. Shalmi.” [24]
[21] Taj al-Aruss 1, page 306 ; Al-Fayruz-Abadi, al-Qamus al-Muheet 1, page 20
[22] Sabih Al Suheiri, Al Nushu' and Khalek Fi Al Nussus Al Mandaeah, University of Bagdad, 1994, page 127; translating a work of Kort Rudolph on the subject.
[23] Quoted by Mohammed Abed Al Hamid Al Hamed, Saebet Harran Wa Ikhwan Al Safa, (Al Ahali, Damascus, Syria, 1998), page 37
[24] Mohammed Abed Al Hamid Al Hamed, Saebet Harran Wa Ikhwan Al Safa, (Al Ahali, Damascus, Syria, 1998), page 30


Masa kecil Muhammad juga dipengaruhi oleh apa yang diajarkan padanya. Dia mengambil ide tentang setiap malam matahari dan bulan sujud ke singgasana Allah. Ini sepertinya ide yg dia pelajari ketika kecil, diajarkan oleh keluarganya. Dalam satu hadis dia mengungkapkan bahwa ketika kecil, bulan suka menatap dan menghiburnya, dan dia suka mendengar bunyi2an dari bulan ketika bulan bersujud dihadapan singgasana Allah [Halabieh I, page 128]
Monoteisme Arab, yg didasarkan pada Ketuhanan Venus-Athtar, adalah akar dari monoteisme Muhammad

Belakangan, Athtar (planet Venus) yg disebut putra bulan, dipuja oleh suku Yemeni. Pemujaan Athtar ini menyebar ke daerah utara dan menggantikan bulan sebagai Allah. Athtar menjadi ‘kepala/ketua’ Tuhan utk monoteisme di Arab. Para pemujanya menolak tuhan2 lain yg dipuja juga di Arab dan berkeras bahwa Athtar, yg menjadi Allah, harus dipuja sendirian. Pemujaan ini adalah akar dari Tauhidnya Islam Muhammad.

Qur’an mencontek sifat2 yang dilekatkan pada Athtar dan melekatkannya pada Allah mereka. Dalam prasasti Yemeni, Athtar Khaham bertalian dengan sifat ‘al-Khadir’nya Quran yang berari ‘Maha Kuasa’, sebuah istilah yang biasa dipakai utk menyebut Allah. Kita juga menemukan prasasti yg menyebut nama/sifat lain Aththar “Athtar al Kaher,” yg artinya “Aththar sang Penakluk”, sifat ini juga kita temukan pada Allah dalam Quran.

Sifat lain adalah “Athtar Yaglin”, yang dicontek ke dalam Quran menjadi “Al-Montakim,” yang artinya “si Pembalas” or “pembalas dendam”. Sifat lain lagi “Athtar Samum” menjadi “Samie” atau “Maha Pendengar”. Semua sifat2 ini persis sama dengan sifat Allah dalam Quran. [A. Grohmann, Arabien, S, 245 quoted by Jawad Ali]

Dalam prasasti Thamud, Athtar mempunyai julukan “Rami”, artinya jika dalam bahasa Arab dan Quran adalah “Akbar”, “Maha Besar”. Sama dengan julukan bagi Allahnya Quran. Dalam prasasti Thamud ditujukan pada Venus yg artinya terbesar diantara semua Tuhan.

Baik Allah dalam Quran maupun Athtar dalam prasasti Thamud disebut juga “Rahim,” artinya “Maha Pengampun” [25]. Dalam prasasti didaerah Teima, ada disebut Tuhan yg dipanggil “Lame’h,” artinya “Maha Terang.” Ini juga ditujukan pada Venus [26]
[25. A. Grohmann, Arabien, 246; H. Grimme, S.66; quoted by Jawad Ali, 6, page 178]
[26. F.V.Winnett and W.L.Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, page 103]


Quran mencontek banyak sifat tuhan2nya orang Arab dan menempelkannya pada Allah. Contohnya, tuhan Thamud disebutkan dalam sebuah prasasti:
Dia tidak beranak, berketurunan ataupun diperanakan. [Grimme, S. 66 as cited by Jawad Ali 6:178]

Ungkapan kalimat ini sering dipakai di jaman Jahiliyah; Malah Kes Bin Saideh menyatakan dalam ucapan2nya [27]. Muhammad sering mendengar ucapan2 Kes Bin Saideh ketika Muhammad muda. Ide yang sama dia contek utk Quran dan diterapkan pada Allahnya, seperti pada surat Al-Ikhlas 112:3, “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” Jadilah sebuah ayat dalam Quran.
[27. Al-Shahrastani, page 583]

Azizos, julukan lain dari Venus-Athtar, menjadi sinonim bagi Allahnya Quran

Athtar juga disebut sebagai “al-Aziz” [28] Julukan utama bagi Allah dalam Quran. Muhammad pindah ke kota Yathrib (Medinah) setelah pesan2nya ditolak di Mekah. Kota ini lebih terkenal dengan nama Medina. Penghuni Medina memuja Dewa Matahari dan dewa2 lain yang muncul sebelum matahari. Mereka menyebut dewa2 yang muncul lebih pagi ini sebagai “Azizos.” Mereka juga memuja dewa yang muncul setelah Matahari terbit dengan nama “Monimos.” Para ulama mengenali Azizos ini dengan Aziz atau al-Aziz, yaitu Venus [29]. Athtar, sebagai Venus, dijelaskan dalam prasasti Thamud sebagai Ia yang muncul sebelum matahari terbit dibagian akhir malam [30]. Azizos dan Monimos dimuliakan di Edessa, sebuah kota diutara Mesopotamia. Kita temukan pernyataan dari Kaisari Julian dalam Pidatonya di Antiokia tahun 362 M. Azizos dan Monimos dimuliakan juga di Palmyra, sebuah kota Arab di gurun Syria.

Hubungan Mekah dengan pemujaan Athtar-Venus dan dengan Ka’bah2 lain yang dibangun dengan tujuan pemujaan yg sama
Pemujaan Athtar-Venus berlokasi di tempat2 seperti Ka’bahnya Mekah. Al-Shahrastani, salah satu sejarawan Islam menyatakan bahwa di Yemen pernah ada sebuah Ka’bah tempat pemujaan Venus yg mirip dengan Kabah di Mekah [31] Al-Masudi, sejarawan islam lain mengatakan bahwa Kabah Mekah dihiasi mirip dengan gaya hiasan Kabah di Yemen, yang dipakai untuk menyembah Venus [32]. Ini menolong kita utk memahami bahwa Kabah Mekah punya hubungan pemujaan yg sama dengan Venus dan Tuhan2 lain dalam keluarga Tuhan.
[31. Al-Shahrastani, Milal Wal Nah'l, page 575]
[32. Al-Masudi, Murj al-Thahab, II, page 250]


Al-Masudi juga mengungkapkan bahwa, utk setiap region di Arab, terdapat “Tuhan” special yg dianggap sebagai ‘Tuhan Utama’ yg dimuliakan oleh penghuni region tsb. Dia juga menyatakan bahwa Venus adalah ‘Tuhan’ di Mekah, Yathrib dan Yemen. [Masudi, Murj al-Thahab, I, page 96]
Athtar-Venus menjadi Allah, yg muncul di mekah pada sepertiga malam. Muhammad juga memakai konsep yg sama utk ketuhanannya.

Tidak heran Venus merebut gelar ‘Allah’ dari sang bulan. Belakangan, Athtar-Venus yg sama pula yang disebut ‘Allah’ di Mekah dan bagian lain di Arab Utara. Allah menjadi ‘Tuhan’ terbesar dan tertinggi yg turun pada sepertiga malam pada para pemujanya. Kita bisa lihat dari banyak penulis yang menulis tentang kehidupan Muhammad dan yang menulis tentang kehidupan dan kepercayaan jaman Jahiliyah, periode sebelum Islam. Diantara para penulis terdapat Ali Bin Burhan al-Din al-Halabi, dikenal sebagai Halabieh. Dia menulis bahwa Allah turun ke surga dunia ketika malam telah mencapai setengahnya [33]. Jelaslah bahwa, yg dimaksud ‘Allah’ oleh mereka adalah bintang pagi yang mereka lihat pada sepertiga terakhir malam hari.
[33. Halabieh I, page 129]

Dari sumber2 ini kita pelajari bahwa Allah pada jaman Muhammad dikenal sebagai Bintang Besar yang muncul di malam hari. Jelaslah yg dimaksud adalah bintang pagi yg muncul dilangit Arab ketika pagi hari akan tiba. Bintang Pagi ini sama dengan Aziz yg muncul dihadapan para penghuni Medinah sebelum terbitnya matahari. Ide mengenai Athtar-Venus, Dewa/Tuhan monoteis tua di Arab yg muncul dipenghujung malam pada para pemujanya, menjadi fondasi dari monoteisme Arab. Orang Arab Utara mengganti gelar Athtar dengan Allah, tapi mempertahankan identitas Venus.

Kita lihat Muhammad menjelaskan konsep ketuhanannya dengan istilah yg sama yg dipakai oleh orang2 Arab kuno. Konsep ketuhanan Muhammad tidak berbeda dengan penghuni awam lainnya. Kita tahu dari banyak ayat dalam Quran dan dari hadis2 bahwa konsep ketuhannya konsisten dengan akar penyembahan ‘tuhan’ yg dipuja oleh keluarga dan sukunya. Hadis Bukhari II, hal 47 menyatakan:
Allah, Junjungan kita, namanya diagungkan dan ditinggikan, turun kedunia setiap penghujung malam

Kita lihat ketuhanan Muhammad sama tuanya dengan konsep monoteis arab yg dipakai oleh orang2 sejamannya dan didasarkan atas sebuah planet yg muncul dipenghujung malam (subuh). Itu adalah Planet Venus, yang orang2 Arab jaman dulu sebut Athtar, dan planet itulah Tuhan yang dimaksud dalam konsep monoteisnya Muhammad dalam Quran lalu diganti nama menjadi Allah. Konsep Muhammad akan Allah persis sama dengan apa yang dipercaya oleh sukunya. Hubungan antara agama Muhammad dan akar dari agama Dewa Bulan Arab terlalu besar utk diacuhkan. Agama Muhammad berwajah dan berkelengkapan berhala yg dicontek dari orang2 arab sejamannya, meski mereka berusaha utk menghubung-hubungkan dengan Tuhannya Alkitab.

Islam adalah sebuah bentuk agama Arab penyembahan ‘Keluarga Tuhan’ dijaman Muhammad. Tirai yang mencoba menyembunyikan kenyataan ini runtuh ketika kita mempelajari akar2 dari agama Arab. Wajah dari agama Arab Kuno dengan mudah dilihat dan dikenal.
Sura Najm (bintang) dalam Qur’an menyatakan Muhammad mengenali putri Allah yg digambarkan oleh 2 Planet, dan Ellat – istri Allah – digambarkan oleh Matahari, sebagai perantara Allah.

Klaim Muhammad mengenai monoteisme menggambarkan klaim kuno akan pemujaan Athtar. Yaitu Kepala/Ketua Tuhan dari ‘keluarga ketuhanan’ yg harus lebih disembah dibanding anggota keluarga lain. Klaim orang Arab adalah bahwa Tuhan Allah harus lebih disebut atau disembah dibanding istrinya, Ellat (matahari) atau putri2nya, al-Uzza dan Manat (dua planet) para pemuja sekte Allah, sebelum Muhammad muncul, ingin memaksakan pemujaan mereka diatas pemujaan ‘tuhan2’ lainnya dan menyatakan bahwa ‘tuhan2’ lain hanyalah perantara kepada ‘tuhan terbesar’ yaitu Allah. Kita lihat Muhammad juga punya ide yg sama, malah dia tulis ayat Quran dalam Surat yg disebut Surat Bintang. Dalam Surat ini dia nyatakan posisi dari al-‘Uzza dan Manat serta Ellat, putri2 dan istri Allah, menurut suku Muhammad. Dia mengenali pentingnya ‘tuhan2 lain’ itu sebagai perantara Allah dan harus dihargai [1]. Hasilnya, orang Pagan Arab di Mekah menyembah bersama-sama dengan Muhammad, karena dia juga mengakui ‘tuhan2’ mereka yang punya peran penting. [2]
[1. Halabieh, Volume II, page 6; Look to Ibn Hisham, II, page 5; al-Suheili cited by Mustapha al-Sakkah in his comments on Ibn Hisham, footnote, page 5]
[2. Al-Bukhari 2, page 32; 4: page 239; Halabieh Volume II, page 6]


Ini menunjukkan bahwa Muhammad menyebarkan doktrin monoteisme arab kuno yg mengklaim ‘kebesaran’ Allah dibanding istri dan putri2nya. Ayat2 Quran yang menyatakan hal ini sekarang telah tidak ada dalam Quran. Alasannya adalah karena berada dibawah pengaruh Judaisme, pengikut2 Muhammad kecewa dengan adanya ayat2 ini, jadi Muhammad membuang ayat2 tersebut dari Quran dengan alasan bahwa dia dikelabui oleh Setan ketika menaruh ayat2 tsb dalam Quran.

Tapi penelaahan akan seluruh Surah Bintang menyimpulkan bahwa Muhammad sungguh2 bermaksud utk menjelaskan bahwa Allah adalah ‘ketua’ dari ‘keluarga ketuhanan’ dan Allah punya kuasa atas istri dan putri2nya; istri dan putri2nya harus diberi peran sebagai perantara baginya, tidak lebih. Jadi, dia mengungkapkan ide akan monoteisme Allah di Arab.

Ayat2 setan ini punya puitisasi yg sama bentuknya dengan ayat2 lain dalam surat yg sama. Ini harusnya membuat muslim bertanya-tanya bagaimana bisa Muhammad menganggap Quran berbahasa mukjijat yg tak bisa ditiru tapi juga mengklaim ayat2 dg level puitis yg sama berasal dari Setan. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa setan juga mampu membuat perkataan ‘seindah’ Quran. Jika setan bisa menginspirasi Muhammad menulis sebagian kecil Quran, kenapa setan tidak bisa menginspirasi bagian lainnya juga?

Utk membela diri, Muhammad mengklaim bahwa nabi perjanjian lama sekalipun pernah ditipu oleh setan dengan mengatakan dan menulis yg salah. Tapi kenyataannya tidak ada nabi Perjanjian Lama maupun para penulis Perjanjian baru yang mengatakan telah ditipu Setan utk menulis ayat2 tipuan. Menurut Alkitab, manusia yg menerima inspirasi dari setan adalah karena medium/perantaranya juga setan. Alkitab mengatakan perantara demikian harus dirajam. Kita baca dalam kitab Imamat 20:27 “Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri."

Bandingkan islam dengan agama2 sebelumnya, ingat ketergantungan islam akan mitos2 dewa bulan dan bintang2 langit, ingat ketidak konsistenan ajarannya dan ingat ajarannya yang mengajak para muslim untuk menjauh dari Tuhannya alkitab.


GUE LANJUUUUUUTTT ke PART IV!!!!
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby pod-rock » Fri Mar 11, 2011 4:21 am

Bagian IV
Kasus Ismail dan Islam


1. Ismail dan keberadaan mereka berdasarkan sejarah

Klaim bahwa Ismail beserta anak keturunannya hidup dan tinggal di Mekah, membangun kabah disana dan mendominasi Arab adalah sangat tidak berdasar sejarah. Jika kita pelajari sejarah arab secara langsung, kita bisa terhindar ancaman terselewengkan dari wahyu Tuhan dalam al kitab.

Hadis mengklaim bahwa Ismail dan ibunya yg orang mesir meninggalkan Palestina dan tinggal di Mekah. Hadis juga mengklaim ismail dan ayahnya, Abraham/Ibrahim, membangun Kabah di Mekah. Dikatakan bahwa Ibrahim berangkat ke Mekah mengendarai Unta bersayap. Hadis juga menyatakan anak2 ismail tinggal di Mekah dan Yaman, dan keturunannya, ismaelit, juga tinggal disana.

Semua ini ditulis dalam Hadis islam agar muslim bisa menghubung-hubungkan Muhammad dengan Ismail, meski kita tahu bahwa Muhammad berasal dari suku Quraish, yang aslinya adalah dari keluarga Sabian, dan tidak pernah tersangkut hubungan keluarga dengan Ismail.

Sebelumnya kita telah pelajari bahwa Mekah tidak ada sebelum abad 4 Masehi. Ini menunjukkan kita bahwa klaim islam akan Ibrahim dan ismail tinggal di Mekah adalah juga salah secara sejarah. Kita juga sekarang tahu bahwa komunikasi antara Palestina dan Arab tengah, barat serta selatan adalah tidak mungkin, sampai kota2 dibangun di oasis2 Arab utara sekitar abad 10 dan 9 SM.

Penelitian sejarah Kaum Ismael sangat menarik. Kita baca mereka tinggal didaerah dimana Mekah akhirnya dibangun. Kita lihat lewat penelaahan2 terdahulu bahwa daerah sekitar Mekah belum ditinggali sepanjang perioda Assyria dan Kaldean (10 SM – 6 SM), dan sepanjang jaman para penulis dan pembuat peta orang Yunani dan Romawi (abad 5 SM hingga era kristian).

Ismael tinggal di Gurun Paran sepanjang hayatnya, sebuah padang gurun dibagian timur Laut Sinai, bukannya di Mekah.

Baik sejarah maupun Alkitab memberitahu kita bahwa Ismael tinggal bersama ibunya, Hagar, di Gurun Paran, timur Laut Sinai tidak jauh dari perbatasan Palestina Selatan. Paran adalah juga tempat dimana Musa mengirim 12 orang mata-mata utk mengumpulkan informasi tentang Tanah Perjanjian Kanaan. Ismael tinggal di daerah Sinai sepanjang hidupnya. Salah satu fakta yang telah saya berikan sebelumnya sebagai bukti tentang ini adalah bahwa Ismael dan Ishak hadir ketika penguburan Ayahnya, Ibrahim/Abraham. Jika Ismael tinggal di tengah2 daerah Arab bag Barat, dia tidak mungkin bisa menghadiri penguburan ayahnya itu. Jarak antara Mekah sekarang dan Hebron (tempat dimana Abraham meninggal) sekitar 1500 km. Saat itu utk melakukan perjalanan 1.500 km akan memakan waktu lebih dari lima bulan. Kondisi cuaca disana mengharuskan orang yang meninggal dikubur pada hari yang sama. Karena Ismael tinggal di Paran yang dekat dengan Hebron, maka dia dapat dengan mudah pergi ke Hebron dalam waktu kurang dari satu hari.

Tempat Tinggal Ismael telah ada sebelum dia lahir

Pertama kali Hagar meninggalkan rumah Abraham, dia pergi ke padang gurun Shur. Padang gurun ini terdapat di perbatasan Sinai dan Mesir, sepertinya Hagar berusaha utk kembali ke kampung halamannya, Mesir. Kita baca dalam kitab Kejadian 16:7-10:

Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku." Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan berhadapan dengan semua saudaranya."

Sang Malaikat menetapkan bahwa Ismael ditakdirkan utk hidup “ditempat kediamannya menentang semua saudara2nya.” Artinya, “tinggal didaerah dimana keturunan saudaranya Ishak juga tinggal.” Anda mungkin ingat turunan Ishak adalah Yakub dan Esau. Yakub tinggal ditanah Kanaan, dikenal sebagai Palestina, sementara Esau tinggal di Jordan selatan. Ismael tinggal diantara kedua daerah tsb, dipadang gurun Paran, persis seperti yang dikatakan sang malaikat sebelum Ismael lahir. Secara sejarah, kita akan melihat keturunan2 Ismael terus bertempat tinggal didaerah yg sama. Keturunan Ismael pindah ke Jordan Selatan, ke Sinai dan hingga utara ke arah Gilead dan daerah lain di padang gurun Mesopotamia, tapi mereka sama sekali tidak pernah pindah kedaerah dekat Mekah.

Bukti2 lain bahwa Ismael menghabiskan hidupnya di Timurlaut Sinai

Jika kita ikuti sejarahnya Ismael, kita lihat dia tetap tinggal di Palestina Selatan. Dia bersosialisasi dengan ponakannya Esau, anak dari Ishak. Pada akhirnya Esau menikahi anak perempuan Ismael dan pindah ke selatan Trans-Jordan, tidak jauh dari Paran dimana Ismael tinggal.

Anak perempuan pertama dari Ismael yg dinikahi Esah adalah Mahalath, dalam Kitab Kejadian 28:9 kita baca:

Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayo

Ini terjadi ketika Ismael masih hidup. Alkitab tidak menceritakan anak keturunan dari pernikahan Esau dan mahalath. Tapi ada disebutkan anak perempuan Ismael yg lain, Basmath, dalam Kejadian 36:3. Esau juga mengambilnya sebagai istri dan melahirkan anak2 lelaki bagi Esau. Setelah dia menikahi Basmath, kita baca:

36:6 Esau membawa isteri-isterinya, anak-anaknya lelaki dan perempuan dan semua orang yang ada di rumahnya, ternaknya, segala hewannya dan segala harta bendanya yang telah diperolehnya di tanah Kanaan, lalu pergilah ia ke negeri lain dan ia meninggalkan Yakub, adiknya itu.
36:7 Sebab harta milik mereka terlalu banyak, sehingga mereka tidak dapat tinggal bersama-sama, dan negeri penumpangan mereka tidak dapat memuat mereka karena banyaknya ternak mereka itu.
36:8 Maka menetaplah Esau di pegunungan Seir; Esau itulah Edom.


Ketika Esau di Kanan, dia bisa bersosialisasi dengan Ismael, karena Ismael tinggal di Paran, tidak jauh dari perbatasan Kanaan.

Hal lain yang disebutkan dg jelas dalam Alkitab adalah bahwa Ismael tinggal “berhadapan dg semua saudara2nya.” Frasa ini secara umum berarti bahwa dia tinggal sepanjang hidupnya didaerah yg itu2 juga. Didaerah itu pulalah tinggal anak2 dari saudaranya, Ishak. Yakub tinggal di Palestina, dan Esau tinggal di Edom di Jordan Selatan.

Keturunan Ismael terus tinggal di Sinai hingga abad 19 SM

Keturunan Ismael dijaman Yusuf digambarkan sebagai pedagang antara Gilead (Jordan utara, perbatasan Syria) dan Mesir. Yusuf dibawa ke Mesir sekitar 1863-1860 SM.

Kita baca dalam Kitab Kejadian 37 dimana anak2 Yakub menjual Yusuf, saudaranya, ke sebuah perusahaan keturunan dari Ismael yang datang dari Gilead membawa balsem dan barang2 lain ke Mesir.

Kitab Kejadian 37:25-28
37:25 Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.
37:26 Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
37:27 Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.
37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir


Perhatikan ayat 28, alkitab menyebut saudagar2 dari Midian dan orang Ismael. Dalam Kejadian 39:1, orang yang mengambil Yusuf ke Mesir sekali lagi disebut orang Ismael. Perubahan istilah dari ‘orang Ismael’ ke ‘Orang Midian’ tumbuh karena perserikatan yg dijalin antara orang Ismael dan orang Midian, yang juga menghuni daerah selatan Sinai. Kita temukan ini dalam kitab Hakim-hakim, yang akan kita bahas kemudian.

Ayat2 dalam Kitab Kejadian bab 37 dan 39 menunjukkan bahwa di abad 19 SM orang2 Ismael tinggal di Palestina selatan dan kemungkinan satu atau lebih suku mereka menghuni sekitar Trans-Jordan dan Gilead, dimana mereka menghasilkan produk rempah2 dan hasil pertanian seperti minyak, balsam dan myrrh. Kelompok ini berdagang dengan negara2 tetangga seperti negara Mesir yg ada diperbatasan Sinai. Jika orang2 Ismael tinggal didaerah dimana Mekah belakangan dibangun, lalu gimana mereka berjalan sejauh itu ke Gilead diperbatasan Syria? Jika mereka hidup dekat Mekah, akan lebih mudah bagi mereka utk mendapatkan rempah2 yang lebih berkualitas dari Yaman. Yaman jauh lebih dekat dengan Mekah. Terlebih lagi, karena Mekah dibangun dijalur Yaman ke Palestina, orang2 Ismael tidak perlu bepergian utk mendapatkan rempah2 terbaik dari Yaman karena karavan yg membawa Rempah2 Yaman akan selalu liwat tempat mereka. Produk2 Yamani dikenal terbaik didunia pada jamannya.

Hal lain yg penting adalah padang gurun Mekah dan lembahnya dikenal akan tanaman Balsam. Tanaman Mekah ini – pohon pendek di gurun pasir – mendapat popularitas khusus didunia Muslim abad pertengahan, dan menjadi sumber resin [Cf.Lane, Lexicon, S.V.Balsan; Grohmann, Südarabien, 1, 156; cf Jacob, Beduinenleben, p. 15.; quoted by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 65]. Berdagang balsam Mekah dimulai hanya setelah islam bangkit di awal abad 7 M [Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 66]. Karena pohon balsam adalah pohon lokal daerah sekitar Mekah, siapapun yang hidup dijaman Yusuf akan menemukan pohon itu dekat rumah mereka di Mekah. Jadi utk apa pergi ke Gilead membeli Balsam? Utk apa membayar mahal utk sesuatu yang dapat mereka temukan dengan mudah dan gratis dekat rumah mereka? Mereka pergi ke Gilead karena Gilead lebih dekat dengan rumah mereka daripada Padang Gurun Mekah.

Semua ini memastikan kisah alkitab bahwa orang2 Ismael tinggal dekat dengan ayah mereka, Ismael, tinggal: di padang gurun Paran, perbatasan Trans-Jordan. Karena jalur dagang antara Palestina dan Mesir, mereka melakukan kontak antara Palestina timur dan Palestina selatan dari utara dan dengan Padang Gurun Shur di barat laut. Lokasi strategis orang2 Ismael di Paran – antara Jordan utara dan jalur dagang ke Mesir – membuat mereka, yg pedagang lokal, bisa membeli produk dari tetangga2 dan menjualnya ke Mesir, konsumen paling penting mereka saat itu.

Mengklaim bahwa Ismael dan keturunannya tinggal di Mekah dan membangun ka’bah lalu mendominasi Arab tidaklah berdasarkan sejarah. Muslim harusnya tidak berkeras berpegangan akan apa yang diajarkan pada mereka. Mereka harus menyelidiki sejarah sendiri. Ini akan membantu mereka mengerti wahyu Tuhan yang ada dalam alkitab agar mereka bisa mendapat kebenaran yang bisa membawa mereka pada kebebasan. Tidaklah sulit utk mendapat jalan yang lurus, karena jalan bengkok penuh dengan kesalahan2 sejarah yang jelas bagi pikiran jujur dan penuh pertanyaan.

Lokasi orang2 Ismael dijaman Musa

Kita lanjutkan penelaahan akan orang2 Ismael, yang merupakan keturunan Ismael, anak dari Abraham dari Hagar. Kita akan melihat tanah tempat tinggal mereka sepanjang sejarah dan khususnya, dimana mereka tinggal ketika jaman Musa.

Musa lahir sekitar tahun 1525 SM. Dia habiskan 40 tahun hidupnya di Sinai selatan dekat Gunung Sinai, daerah yang dihuni oleh orang2 Midian ketika itu. Ini terjadi setelah dia kabur dari mesir ketika Firaun tahu dia telah membunuh orang mesir yang membunuh orang israel.

Di Sinai dia tinggal bersama Jethro, pendeta Midian, dan menikahi salah seorang putrinya. Musa menjadi penghuni Sinai, menggembalakan ternak mertuanya. Ini terjadi sebelum Tuhan muncul padanya dan memerintahkan utk kembali ke Mesir dan membawa orang2 Israel keluar dari Mesir. Bukan saja Musa tinggal selama 40 tahun di Sinai, tapi dia juga menghabiskan 40 tahun hidupnya berkelana di padang gurun Sinai sebelum Tuhan mengijinkan orang2 Israel memasuki Kanaan. Masa 40 tahun kedua terjadi karena hukuman tuhan terhadap orang2 Israel, yg meskipun telah diberikan mukjijat2 di Mesir, tapi tetap memberontak terhadapNya ketika Dia memerintahkan mereka utk menaklukan tanah perjanjian.

Tidak lama setelah orang israel meninggalkan Mesir, Tuhan memerintahkan Musa utk mengirim 12 orang mata-mata ke Kanaan utk persiapan menaklukan tanah tsb. Ketika mata2 itu kembali dengan laporan betapa kuat dan tinggi orang2 Kanaan itu, orang2 Israel merasa takut. Mereka tidak yakin bahwa Tuhan akan membantu mereka, jadi mereka berontak. Mereka ingin membunuh Musa dan kembali ke Mesir. Itu sebabnya Tuhan marah dan bersumpah bahwa generasi Musa tidak akan masuk tanah perjanjian, melainkan anak2 mereka. Jadi dia membuat mereka berkelana di padang gurun Sinai sampai generasi tua meninggal di padang gurun itu.

Musa hidup di Sinai selama 80 tahun, lima buku yang ditulis Musa atas inspirasi Tuhan, yg dikenal sebagai Pentateuch, adalah sumber yang sangat bisa diandalkanakan lokasi2 orang2 Ismael. Dalam 80 tahun itu, Musa mengontak orang2 Midian dan pastinya juga dengan orang Ismael dan Amalek, orang2 yang ditulis dalam Pentateuch sebagai penghuni Sinai saat itu.

Dihuninya Sinai oleh orang Amalek, Midian dan Ismael

Orang Amalek adalah suku yang diturunkan Edom, adalah keturunan Esau, Anak pertama Ishak. Orang Edom tinggal di bagian selatan Trans-Jordan, tapi orang Amalek tinggal di bagian timur Sinai dan melakukan kontak dengan orang Edom. Orang Midian tinggal di selatan sekitar gunung Sinai, sebelah Teluk Aqaba, juga dipanggil sebagai orang Elath. Orang Ismael adalah orang2 Nomad yang menempati baik utara dan tengah dari Sinai sejauh perbatasan Palestina. Orang Ismael tidak terorganisir secara militer seperti suku2 Amalek dan Midian. Setidaknya sampai jaman Gideon dimana Ismael mulai terorganisir secara militer dibawah sekutu yang dipimpin oleh orang Midian dan Amalek.

Laporan Musa (Penghuni Sinai selama 80 tahun) mengenai lokasi orang Ismael dijamannya

Musa, yang menghuni Sinai selama 80 tahun, bisa dianggap sebagai cendekiawan atau ahli akan macam2 etnis orang yang tinggal di sekitar Sinai. Tulisan2 Musa dalam kitab Kejadian bisa dijadikan dokumen penting mengenai sejarah orang Ismael dijaman kuno. Dalam Kejadian 25:12-18 dia menjelaskan bagaimana dia mengamati suku Ismael :

25:12 Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu.
25:13 Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam,
25:14 Misyma, Duma, Masa,
25:15 Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma.
25:16 Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya.
25:17 Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.
25:18 Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.


Kita mengerti dari ayat2 ini bahwa keturunan Ismael sudah terorganisir menjadi 12 suku dijamannya Musa. Setiap suku diperintah oleh seorang raja. Musa juga menjelaskan daerah tempat tinggal mereka masing2; yaitu antara Hawila sampai Shur. Musa menulis: “Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur.” Kita bisa tahu dibagian mana di Sinai dua lokasi itu berada.

Mengidentifikasi daerah yg disebut “Dari Hawila sampai Syur” yang disebutkan Musa tentang lokasi orang2 Ismael dijamannya

Frase “dari Wahila sampai Syur” digunakan dalam alkitab utk menunjukkan jarak terjauh sepanjang bagian utara dari Sinai. Dibagian timur adalah “Hawila” dan di barat ada “Syur”. Kita bertemu dengan istilah ini lagi dalam Kitab Samuel 15:7, dimana alkitab mencatat serangan Saul terhadap orang Amalek (Saul adalah Raja pertama Israel):

Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir.

Orang Amalek dari keturunan Elifas, anak pertama Esau, anak dari Ishak. Ini kita baca dalam Kejadian 36:12:

Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau.

Dalam ayat 16 bab tsb, ada tiga suku berasal dari Elifas, yaitu Korah, Gatam dan Amalek. Orang Amalek aslinya tinggal bersama dengan suku2 Edom di Jordan Selatan, tapi belakangan mereka pindah kebagian barat Sinai dan Palestina Selatan. Mata2 yg dikirim Musa ke tanah Perjanjian melapor bahwa orang Amalek tinggal dengan orang Kanaan, yang juga tinggal di Palestina Selatan. Kita baca ini dalam Kitab Bilangan 13:29 dan 14:25.

Keluaran 17:8 menuliskan bahwa selama perpindahan orang Israel lewat gurun Sinai, orang Amalek datang dan berperang dg mereka di gurun Rephidim, Sinai Selatan. Sepertinya orang Amalek memerangi israel disana utk mencegah mereka pindah kebagian timur Sinai dan masuk ke Kanaan Selatan. Di abad 12 SM, jaman Gideon, orang Amalek membentuk persekutuan dengan orang Midian, Ismael dan ‘orang2 Timur’, yang mereka pikir adalah suku Edom dan suku2 lain yg tinggal di Israel Timur. Mereka perang melawan Israel. Dalam Hakim2 3:13, dikatakan bahwa orang Amalek juga bersekutu dengan suku Moab dan Ammon melawan Israel, menempati ‘Kota Palem’, yaitu Jericho.

Sekitar 1040 SM, jaman Raja Saul dari Israel, orang2 Amalek melebarkan tempat tinggal mereka ke Sinai Barat, sampai ke gurun Syur di perbatasan Mesir. Saul meminta orang Kenit utk “pergi dari orang2 Amalek, atau aku hancurkan sekalian dg orang Amalek.” Jethro, pendeta Midian, mertuanya Musa, berasal dari Suku Kenit.

Suku Kenit menemani Israel dalam perjalanan ke Jericho dan tinggal diantara Palestina Selatan dan Gunung Sinai. Suku Amalek masih hidup si Sinai Timur Laut, Judah selatan, persis ditempat dimana mereka tinggal ketika jaman Musa. Orang Amalek juga memasuki Sinai selatan dan bergerak kearah barat. Kita baca, “Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir.” Ini daerah yg sama dimana orang Ismael tinggal di jaman Musa. Jelaslah bahwa Hawilah adalah tempat terjauh bagian timur Sinai. Saul memukul orang Amalek; lalu Daud menyerang sisa sukunya ketika dia menyerang suku2 lain didaerah yg sama.

Amalek, setelah kekuasaan Daud, tidak lagi merupakan suku yg terorganisir, juga tidak disebut2 lagi dalam Alkitab. Dg kehancuran suku ini, orang2 yg tinggal di Sinai menyerap sisa2 yg masih hidup disana. Tapi, hadis islam bilang orang Amalek menempati Mekah sejak jaman Kuno. Kita tahu bahwa klaim islam ini tidak punya dasar sejarah sama sekali karena orang Amalek kita ketahui sebagai orang lokal di Sinai timur laut sebelum mereka punah sekitar abad 10 SM.
Kita baru saja menelaah perbatasan timur orang Ismael, yaitu Hawila. Hawila berlokasi di perbatasan Sinai Timur

Shur, Sinai Timur Laut

Kita alihkan perhatian ke perbatasan barat mereka, yaitu Shur, yg berlokasi dibagian paling ujung timurlaut Sinai. Ketika musa membawa orang Israel keluar Mesir, mereka keluar dari daerah Goshen, area subur di utara Mesir antara kota Mesir kuno Raamses dan Heliopolis. Musa menyeberangi Laut Merah. Lalu sampai ke padang gurun Shur. Kejadian 15:22

Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur;

Kita lihat bagian selatan Gurun Shur mulai dari perbatasan Sinai-Mesir hingga awal teluk Suez. Bagian utara Shur hingga mendekati bagian Sinai dekat Mediterania.

Di jaman Musa, orang Ismael menempati bagian tengah dan utara Sinai. Lalu bagaimana bisa kemudian kata Islam mereka tinggal di Mekah sejak jaman Ismael?

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa di abad 16 – 15 SM, jaman Musa, orang Ismael meninggali bagian tengah dan utara sinai. Mereka terus hidup di Gurun Paran dimana Ismael tinggal, dan melebarkan domain mereka lebih jauh ke timur, kearah Hawila di perbatasan dengan Jordan Selatan. Ini termasuk bagian utara Sinai yang disebut dengan gurun Zin. Di Barat mereka melebarkan domainnya hingga ke Gurun Syur sampai mencapai perbatasan Sinai-Mesir. Jelas bahwa selama 400 tahun sejak kematian Ismael, keturunannya terus menerus tinggal disekitar daerah yang sama. Mereka tinggal di Sinai, agak melebar sekitar Paran, yang merupakan daerah Sinai juga.

Lalu bagaimana bisa Ismael dan anak2nya tinggal di Mekah? Bagaimana bisa mereka membangun Kabah disana dan mendirikan agama monoteis di Arab?

Alkitab, sumber yg bisa diandalkan akan sejarah jaman kuno, menunjukkan bahwa mereka tinggal di Sinai. Mustahil mengajarkan Ismael dan keturunannya adalah penemu dan pendiri agama Arab di sebuah kota yang bahkan belum ada dibangun hingga abad 4 Masehi. Ini mengabaikan sejarah yg sejati dari orang2 Ismael dan tempat tinggal mereka sepanjang jaman kuno di Sinai tengah dan Utara.

Apa yang menyebabkan orang percaya kebohongan demikian? Muslim percaya, sebagian besar karena tulisan2 orang seperti Ibn Ishak, yang hidup diabad 8 Masehi. Dia mengarang sejarah baru agar cocok dengan kisah2 Muhammad dalam Quran. Meski Ibn Ishak dianggap sering mengarang kisah palsu dan tidak berdasar sejarah, bahkan oleh ulama2 islam sekalipun, tapi dia punya banyak pengikut. Dengan mempelajari sejarah dan Alkitab, kita lihat klaim2 demikian hanya diterima oleh orang2 yang gagal mempelajari kebenaran, dokumen sejarah dan hanya bersandarkan pada hadis2 dan tulisan2 ulama islam.

Orang Ismael di abad 12 SM tetap tinggal di Sinai

Abad 12 SM, Orang Midian jadi dominan dan berkuasa di Sinai ketika suku2 disana bersatu. Bagian utara dihuni oleh Ismael dan selatan oleh Midian. Persatuan ini begitu kuat sehingga semua suku2 di daerah sana hanya dikenal sebagai Suku Midian.

Kita lihat generalisasi ini dalam Kitab Hakim2 6:8, dimana Alkitab menjelaskan penghuni Sinai tahun 1162 SM, sebagai perlawanan terhadap Israel selama tujuh tahun. Kitab Hakim2 6:1-3:

6:1. Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya,
6:2 dan selama itu orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu.
6:3 Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka;


Hakim2 8:24 menyebut orang yg sama sbg orang Ismael. Perlawanan berakhir ketika Midian-Ismael dikalahkan dalam peperangan terakhir, dimana Gideon memimpin orang Israel melawan mereka sekitar tahun 1169 SM.
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby 12goal88 » Sat Mar 12, 2011 11:47 am

Good
Buku bagus nih
Membuka wawasan
12goal88
 
Posts: 5
Joined: Sat Mar 12, 2011 11:43 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby Adadeh » Thu Mar 17, 2011 4:24 am

Buku Rafat Amari memberi banyak keterangan mencengangkan tentang sejarah Arabia jaman pra-Islam. Ternyata banyak kerajaan² besar Arabia di jaman itu, bahkan ratusan tahun sebelum jaman Abraham, dengan peninggalan² prasasti yang lengkap (dalam bentuk tulisan yang dipahat di batu, monumen, gedung, tembikar, dll). Meskipun begitu tak ada satu pun peninggalan kuno itu yang menyebut tentang Mekah di jaman kuno. Mekah baru disebut di abad ke-4 Masehi. Berikut adalah film2 menarik tentang peradaban dan kerajaan² Arabia sebelum jaman Islam:






Catatan:
Bagian III, IV dst dipisah ke thread berikut:
rafat-amari-islam-ditinjau-dari-pengamatan-sejarah-2-t43684/
Jika semua terjemahan sudah selesai dibuat, maka kedua threads Rafat Amari akan digabung jadi satu lagi.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah

Postby pod-rock » Fri Mar 18, 2011 4:28 am

Bagian IV
Kasus Ismail dan Islam


Akhir abad 11 SM, orang Ismael masih tetap tinggal disekitar Palestina, terbanyak di daerah Sinai. Dua suku, Jetur dan Nafis pinah ke utara arah Gilead.

Disini kita temukan Ismael disebut-sebut lagi dalam Mazmur 83, sebuah mazmur untuk Asaf. Asaf, anak Berekya, dianggap sebagai salah satu pemimpin dalam syair Daud, menurut 1 Tawarikh 6:39. Daud berkuasa dari 1004-971 SM. Dalam Mazur 83:5-8, kita dapatkan bahwa sebuah perjanjian terbentuk utk melawan Israel. Mazmur 83:5-8

83:5 Sungguh, mereka telah berunding dengan satu hati, mereka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau:
83:6 Penghuni kemah-kemah Edom dan orang Ismael, Moab dan orang Hagar,
83:7 Gebal dan Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus,
83:8 juga Asyur telah bergabung dengan mereka, menjadi kaki tangan bani Lot. Sela


Disini kita lihat orang Ismael bersekutu dengan suku2 seperti Edom, Moab, Ammon, Filistia, Amalek, Tyre dan Hagar, bangsa2 yang kita kenal mengelilingi Israel.

Bangsa Hagar adalah sekelompok orang keturunan dari Hagar, ibunya Ismael yg orang Mesir . Karena kedekatan darah mereka dengan orang Ismael, orang Hagar hidup bersama mereka di Sinai sebelum pindah ke timur arah Gilead. Kita baca dalam 1 Tawarikh 5:10 dijamannya Saul, raja pertama Israel, suku Reuben Israel berperang dengan orang Hagar. Alkitab mengatakan, “Mereka tinggal dalam tenda2 mereka disepanjang area Timur Gilead.” Kaum Hagar tinggal dalam tenda2, bersifat nomad dan menggembala ternak mereka seperti kaum Ismael. Dua suku Ismael yaitu Jetur dan Nafis juga pindah bersama kaum Hagar ke Gilead dan dikalahkan oleh kaum Reuben, menurut 1 Tawarikh 5:19.

Assyria ingin punya pengaruh didaerah sana, dan belakangan berhasil dibawah kekuasaan Adad-Nirari II, yang berkuasa dari tahun 911-891 SM. Adad-Nirari II berperan atas penaklukan Babilon, Anatoli dan tanah Syria. Keterlibatan mereka diantara kaum2 yang mengelilingi Israel berarti bahwa kaum Ismael tetap tinggal di Sinai, sebagian Trans-Jordan – khususnya di Gilead sampai pertengahan abad 11 SM. Selama akhir pertengahan abad 11 SM, kaum Ismael terus dilihat sebagai satu kelompok yg bersatu. Tapi belakangan, suku2 Ismael yg berbeda menjadi tidak bergantung satu sama lain dan banyak dari mereka menyebar dari Sinai hingga ke daerah2 sekitarnya, ini akan kita bahas belakangan.

Selama berkuasanya Raja Daud, ia menaklukan kaum Ismael. Daud adalah raja yg kuat yang mendominasi Palestina Selatan dan selalu melakukan razia2 ke Sinai tengah dan Selatan. Dia menaklukan semua suku2 daerah tsb, termasuk orang Amalek. Daud lalu memakai kaum Ismael sebagai tentaranya, khususnya Resimen Unta. Dalam 1 Tawarikh 27:30 kita baca “Yang mengawasi unta-unta ialah Obil, orang Ismael”. Ini memberi kesan bahwa Daud membayar tentara berunta dan tentara ini adalah kaum Ismael yang ahli sbg penunggang unta. Pemakaian kaum Ismael bahkan hingga Daud menempatkan orang Ismael sebagai pemimpin kavaleri ini, Obil.

Unta adalah bantuan militer yang efektif, khususnya di padang gurun, karena unta bisa berjalan sejauh 100km tanpa minum. 1 Tawarikh 27:31 menyatakan bahwa Daud menaklukan penghuni Sinai tengah dan Selatan, yg umumnya terdiri dari kaum Ismael dan Hagar. Ini juga menunjukkan bahwa dijaman Daud, kebanyakan tinggal di Sinai.

Setelah Daud mengalahkan Kaum Ismael, muncul ikatan erat antara mereka dan kaum Israel. Kaum Ismael tetap tinggal di Palestina Selatan, Sinai utara dan sebagian Trans-Jordan. Ikatan erat ini bisa dilihat dari pernikahan2 yang terjadi antara kaum ismael dan israel. Saudarinya Daud menikahi orang Ismael. Kita baca tentang pernikahan Abigail, anak dari Jesse (ayahnya Daud) dalam 1 Tawarikh 2:17. Abigail melahirkan Amasa, “Abigail melahirkan Amasa dan ayah Amasa ialah Yeter, orang Ismael itu.”.


KAUM ISMAEL SETELAH ABAD 10SM

Kaum ismael setelah abad 10SM tidak disebutkan dalam alkitab sebagai sebuah kelompok selalu kompak ataupun sebagai sebuah satu bangsa. Ini karena beberapa suku Ismael pindah dari tanah air mereka di Sinai. Suku2 lain, seperti suku Adbil, tetap tinggal di Sinai seperti yg tercatat dalam prasasti Assyrian. Suku lainnya bercampur dengan kaum Midian dan kaum lain di Sinai. Suku2 lainnya lagi pindah ke daerah lain utk mencari padang rumput yg lebih baik bagi ternak mereka. Pada abad 10 SM, sedikit sekali terjadi kontak antara suku2 ismael ini.

Perubahan Etnis terjadi pada beberapa suku karena kontak mereka dengan non-Ismael. Kawin campur ini mencapai satu titik dimana beberapa suku ismael sama sekali menyatu kedalam suku2 yang menjajah tempat tinggal mereka. Ini khususnya terjadi pada dua suku yang tetap tinggal di Kedar dan Teima, Arab Utara. Daerah ini didominasi oleh suku2 Arab, jadi budaya dan etnis Arab lebih muncul.

Mari kita lihat suku2 kaum Ismael ini setelah abad 10SM. Dalam 1 Tawarikh 5:19, kita sudah tahu tentang Yetur dan Nafis yg tinggal di Gilead timur, sebelah utara Trans-Jordan, jamannya Raja Saul. Teks alkitab menunjukkan mereka masih tinggal didalam tenda2 dan mengikuti gaya hidup bedouin. Mereka pindah kesekitar Gilead dari kampung halaman mereka, Sinai, karena padang rumput dan bukit2 Gilead lebih subur utk ternak mereka. Tidak disebutkan tentang suku2 Ismael lainnya dalam bukti2 atau prasasti2 luar sesudah abad 9 SM, kecuali utk suku Kedar dan Teima. Kita asumsikan suku2 tsb pindah dari Sinai sekitar akhir abad 11SM atau awal abad 10SM.


Suku Kedar setelah Kepindahan dari Sinai

Referensi pertama tentang Kedar sebagai suku yg independen dari suku ismael lain, adalah dalam alkitab, Kidung Agung (ditulis sekitar 941SM). Kidung Agung 1:5 menyebutkan ‘kemah orang Kedar,’ ini menunjukkan bahwa suku dan kemah mereka dikenal baik oleh penulis kitab ini. Tidak ada penyebutan lain dalam alkittab mengenai Kedar sebagai sebuah kota sampai jaman Nabi Yesaya, yang memulai kenabiannya ditahun 739SM. Kita punya catatan mengenai Kedar pada prasasti Assyrian, bertanggal 738SM, waktu yang hampir sama dengan dimulainya kenabian Yesaya. Kita baca tentang Kedar dalam monumen Raja Tiglath-Pileser III, yang ditemukan di Iran. Disana dicatat sejumlah orang yang digantikan oleh Tiglath Pileser III [1]. Dalam daftar itu disebut “Aribi” seorang terkemuka dari “Qidri” yang artinya suku Kedar. Ini menandakan selama abad 8 SM, kaum Kedar belum bercampur dengan orang Arab dan oleh karenanya kota atau tempat tinggal mereka belum lagi dijajah arab.

Sampai jaman Sargon II yg berkuasa tahun 721-705SM kita punya bukti yang cukup banyak dan mencolok akan masuknya suku2 arab kedalam daerah Kedar dan Teima. Ini menandakan dimulai masuknya keetnisan arab, menggantikan keetnisan Ismael, sebuah proses dimana suku2 dan bangsa2 lain disana dijadikan subjek di Timur Tengah.


Suku Nabayot setelah perpindahan dari Sinai, seperti yg dicatat dalam referensi alkitab dan prasasti2 Assyria

Mari kita lihat suku Nabayot, yg berasal dari anak lelaki pertama Ismael. Suku ini pindah ke Jordan Selatan dan dikenal karena menyuplai Israel dengan kambing2. Fakta ini disinggung dalam kitab Yesaya 60:7 dimana dikatakan: “Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu”

Dari prasasti Assyrian yg disebut ABL 260 bertanggal sekitar pertengahan abad 7SM, Nebayot tercatat sebagai penghuni perbatasan barat Babilon, dekat dengan tempat tinggal suku Massa. Raja Natnu dari Nebayot dan orang2nya ditemukan dibagian timur laut Palmyrena dijaman Assurbanipal. Palmyrena ada di Syria Tengah Selatan sekitar 140 mil dari Damaskus, kearah gurun. Lokasi yang bermacam2 ditemukannya suku ini mengindikasikan bahwa suku ini bersifat nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari tempat2 yang baik bagi mereka. Mereka disinggung dalam prasasti Assyrian sebagai suku yang menyerang perbatasan Assyria, bersama-sama suku lain. Ini dilakukan utk menambah kebutuhan pindah ke tempat baru dimana mereka bisa menggembalakan ternak.

Sejarah menunjukkan bahwa kaum Nabayot adalah suku yang menjelajahi padang gurun dari Fertile Crescent. Ini membuat tertutupnya klaim bahwa ada hubungan antara mereka dan keluarga Yaman dari Muhammad. Terlebih lagi, suku itu tidak punya warisan spiritual dimana Muhammad dapat membentuk agama monoteisnya.

Hadis2 Muhammad, yg tidak tahu sejarah suku Nebayot, ingin menghubung-hubungkan Muhammad dengan Ismael. Mereka memilih hubungan lewat anak pertama Ismael, Nebayot dan keturunannya ini. Mereka bilang Nebayot sebagian besar hidupnya tinggal di Mekah, lalu pindah ke Yemen dan kembali lagi ke Mekah, disana mendominasi suku Ismael, sesuai dengan klaim islam, yg tinggal di Mekah.

Ini adalah pelanggaran sejarah utk menghubungkan suku nebayot dengan keluarga Muhammad, karena keluarga Muhammad sebenarnya bersal dari Ma’rib, ibukota kaum Sabian di Yemen. Seperti kita lihat dari alkitab dan prasasti2 Assyria, suku Nebayot hidup di Sinai bersama-sama dengan suku Ismael lainnya selama berabad-abad sebelum berkelana ke gurun Syro-Mesopotamia dan Trans-Jordan.Karena Quran membuat kesalahan yg sangat serius ketika mengklaim bahwa Ismael tinggal di Mekah dan membangun Kabah disana, hadis telah mengarang2 kisah utk mendukung pernyataan Qur’an ini. Siapapun yang mempelajari sejarah dan prasasti serta catatan sejarah Assyria, sadar kemustahilan klaim demikian.

Suku Nomad Ismael, Nebayot, tidak dikenal sebagai suku yang mengklaim ramalan bahwa seseorang dari suku mereka dikemudian hari, seperti Muhammad, akan muncul mendirikan agama monoteis utk mereka. Terlebih lagi, tidak ada nabi ataupun pemimpin spiritual dikenal berasal dari suku Nebayot, juga tidak ada warisan2 religius yang disampaikan bagi generasi Nebayot berikutnya. Akan lebih tidak memalukan bagi muslim seandainya Muhammad memilih mengarahkan pengakuan keturunannya ke bangsa kuno lain di Timur Tengah, sialnya dia malah memilih kaum nomad miskin yang berkelana di gurun Sinai.

Muslim butuh utk melandaskan monoteis mereka kedalam sejarah, seperti dalam alkitab yg didokumentasikan melalui nabi2 Israel. Nabi sejati Israel bercerita tentang penyelamat dunia. Mereka meramalkan inkarnasinya, kematiannya, kebangkitannya dan hidup2 spiritual yang mulia yang diajarkan bagi mereka yang percaya dan menerimanya sebagai juru selamat. Muslim butuh tema yang sama bagi Muhammad, jadi mereka mengarang-ngarang cerita. Teman2 muslim kita perlu mengerti kesalahan2 sejarah yang besar dalam Quran dan hadis, agar mereka tidak dijauhkan dari hidup kekal.


Mencari lokasi suku Adbil di Sinai barat dan lokasi lainnya dari suku Massa di Fertile Crescent

Kita sekarang akan menelaah suku Massa dari kaum Ismael. Suku Massa aslinya di Sinai, tapi belakangan pindah keluar Sinai dan menjadi suku yang lepas.

Suku Massa awalnya disebut sebagai suku lepas dalam kitab Amsal 31:1, disebutkan Raja Massa, Lemuel. Kala itu, kepala suku biasa disebut raja. Kita lihat kebiasaan ini dalam kitab Hakim2 dimana tiga kepala suku Midian yang bertempur dengan Gideon disebut sebagai raja2.

Selain kitab Amsal, prasasti Assyrian juga menyebut2 tentang Massa, tapi tulisan tentang itu kita temukan setelah abad 9 SM, menyiratkan bahwa mereka pindah keluar dari sinai pada tahun2 setelah abad 9 SM tsb. Dokumen lain menyatakan bahwa suku Massa hidup di banyak tempat di gurun Sinai dan Syro-Mesopotamia. Tiglath-Pileser III, Raja Assyria menyebutkan dalam prasastinya bahwa dia menaklukan suku2 Adbil dan Massa, bersamaan dg suku2 lainnya, dan sang Raja menerima upeti dari mereka. Peperangan ini terjadi sekitar tahun abad 738 SM, Dia menjelaskan lokasi mereka dg perkataan sbb:

Pada perbatasan tanah barat, atau negeri2 matahari terbenam, yang mana tak satupun pendahuluku tahu dan tempatnya sangat terpencil. Saya tunjuk suku Idibi’ilu sebagai pengawas jalan masuk ke Mesir.

Catatan Tiglath-Pileser tsb mengacu pada Sinai Barat, sebelah barat dari Assyria, sebagai tempat dimana tak satupun pendahulu mereka pernah tempati. Idiba’il atau Idibi’ilu di Akkadian, dimana dalam bahasa setempat ditulis adalah Adbil [3]. Ditunjuknya suku Adbil sebagai “Pengawas jalan masuk ke Mesir”, menandakan bahwa suku Ismael hidup di Sinai, bagian barat dari gurun Syur, perbatasan Mesir. Fakta bahwa suku Massa ditaklukan bersamaan dengan suku2 Sinai lain, membuat kita menyimpulkan bahwa suku Massa adalah suku yg bersifat nomaden yg tetap melakukan kontak dengan Sinai hingga pertengahan abad 8 SM. Suku Massa mungkin juga tinggal bersama dengan suku Adbil di Sinai ketika penyerangan Raja Tiglath Pileser III kesana.
[3] H.Tadmor, The Inscriptions of Tiglath – Pileser III King of Assyria, Jerusalem, Summ.13

Surat2 Nimrod yg ditulis pada akhir abad 8 SM juga berisi dokumen penting mengenai lokasi suku Massa. Sebuah surat yg khusus dikirim oleh seorang bernama Belliqbi kepada Raja Assyria [43]. Dengan mempelajari lokasi2 yang disebutkan dalam surat tsb, para sejarawan bisa memastikan bahwa Belliqbi adalah pengawas daerah2 tertentu di Lembah lebanon antara kota Damaskus dan Lebanon. Belliqbi telah menunjuk orang2 utk mengawasi setiap jalan daerah tsb. Diantara para pengawas, menurut surat tsb, terdapat “anak Asapi ayng telah dibawa ke tanah suku Massa” [5]. Kita memastikan bahwa tanah Suku Massa terdapat di Syria Selatan dan tengah ketika surat itu dikirim.
[4]. A letter labeled Rm. 77, or R.F. Harper, Assyrian and Babylonian Letters I XIV, (London – Chicago, 1892-1914), 414; dikutip oleh Eph'al, hal. 95; R.H.Pfeiffer, State Letters of Assyria, New Haven 1935, hal. 76-77
[5] Rm. 77, or R.F. Harper, Assyrian and Babylonian Letters I XIV, (London – Chicago, 1892-1914), hal. 414; R.H.Pfeiffer, State Letters of Assyria, New Haven 1935, pages 76-77 ; L.Waterman, Royal Correspondence of the Assyrian Empire, (Ann Arbor, 1930 -1936), I, 288-289; quoted by I. Eph’al, The Ancient Arabs, page 95


Surat2 Harper, khususnya surat yg diberi nomor ABL260 adalah sebuah surat yg dikirim pada Raja Assyria oleh seseorang yg disebut Nabu’-sum-lisir. Surat itu tentang seorang bernama Aakaba/maru, anak dari Amme’ta, suku Massa, yang menyerang sebuah karavan ketika meninggalkan daerah teritori kaum nabayatean. Ini, mungkin sebuah referensi kepada kepala suku Massa. Surat itu menjelaskan bahwa hanya satu orang yg bisa selamat dan sampai ke tempat tinggal orang Assyrian [6]. Surat yg sama menunjukkanb ahwa Nabu’-sum-lisir bekerja dijaman Assurbanipal disepanjang perbatasan barat daya Babilonia, berdekatan dengan banyak suku2 nomad. Lewat surat ini para Sejarawan bisa menentukan dengan pasti letak suku Massa dan pemimpinnya, Aakaba/maru [7]. Jadi kita pastikan bahwa selama Assurbanipal berkuasa, yakni dari 668-627 SM, suku Massa tinggal di gurun Mesopotamia perbatasan Babilonia.
[6] See L.Waterman, [i]Royal Correspondence of the Assyrian Empire, (Ann Arbor, 1930 -1936), I, No.260; R.H.P feiffer, State Letters of Assyria, New Haven 1935, No.91; A.L. Oppenheim, letters from Mesopotamia, (Chicago 1967), No.118
[7] Eph'al, Journal of the American Oriental Society, 94 (1974), 108 ff., 114-115[/i]


Banyaknya lokasi2 suku Massa yang didokumentasikan menandakan gaya hidup suku tersebut yang nomaden. Suku ini berkelana di Syro-Mesopotamian dan gurun Sinai, mencari tanah subur bagi ternak2nya, seperti yang dilakukan suku2 Ismael yang lain.


Suku Teima

Teima adalah suku kaum Ismael lain yang keluar dari Sinai. Dalam alkitab, Teima disebutkan pertama kali sebagai sebuah kota dalam kitab Yesaya sekitar akhir abad 8 SM. Dalam catatan Assyria disebutkan pertama kali dalam prasasti Tiglath-Pileser III, yg berkuasa tahun 744-727SM, menandakan bahwa suku Teima mungkin pindah dari Sinai sekitar abad 10 atau 9SM. Sepertinya suku ini berkelana di selatan gurun Trans-Jordan, dan akhirnya sampai ke sekitar 180 mil daerah Arab Utara, perbatasan Jordan selatan, hingga ke tempat dimana terdapat Oasis Teima berada. Daerah ini lalu mengalami imigrasi besar2an dari suku2 Arab. Salah satu suku yang muncul di daerah Teima, dan daerah arab utara lain, adalah suku Thamud. Sekitar akhir abad 8SM. Suku Thamud menyerang perbatasan kerajaan Assyria.

Imigrasi dan dominasi suku arab didaerah dimana Suku Teima bertempat tinggal mengubah etnisitas suku Teima hingga akhirnya hanya dikenal sebagai orang Arab. Prasasti2 Thamud yang banyak ditemukan telah memastikan hal tersebut.


Suku Dumah dan Emigrasinya ke Oasis antara Mesopotamia dan Yordania Selatan

Dumah adalah suku lain yang pindah dari sinai. Berkelana ke Trans-Yordania Selatan dan dari sana ke gurun antara Jordan Selatan dan Mesopotamia di perbatasasn dg Arab Utara. Disana, suku Dumah mendirikan tempat tinggal di sebuah Oasis, yang menjadi Oasis utama yg pertama ditemui oleh siapapun yg datang kearah timur dari Edom [8]
[8] Studi sull’Oriente e la Bibbia, chapter by Chaim Rabin, Genova 1967, hal. 305

Pertama kali Dumah disebut dalam Kitab Yesaya 21:11. Disini kita temukan sebuah ramalan terhadap suku Edom, termasuk juga suku Dumah. Yesaya memberitahu kita bahwa Dumah berhubungan dengan Edom – khususnya Jordan Selatan. Belakangan dalam Yesaya 42:11, Kedar disebutkan dengan Sila, kotanya suku Edom. Kaitan Sejarah dan Geografis menghubungkan suku2 Ismael dengan Edom. Suku2 yang meninggalkan Sinai sekitar abad 10SM sepertinya pernah menghabiskan waktu di tanah Edom, Jordan Selatan, selama perpindahan mereka ke oase2 di gurun.

Dumah, diperbatasan dg arab Utara, berada pada jalur migrasi utk suku2 Arab sejak abad 8SM. Saat itu, suku seperti Teima, etnisitas kotanya berubah menjadi seperti Arab. Dari prasasti2 Assyria, kota ini dikenal sebagai pusat religius bagi suku2 yang berbeda di gurun Syro-Arab. Bahkan kaum Edom juga punya tempat pemujaan di Dumah [9]. Belakangan, dg masuknya orang arab kedaerah itu, Dumah menjadi pusat religius penting bagi suku2 arab. Fakta ini didokumentasikan dalam prasasti2 Assyria yang telah kita pelajari sebelumnya.
[9] Ibn al-Kalbi, Kitab al-Asnam, says that there is a temple of the god, Wadd, at Dumah; see Wellhausen, Reste Arabischen Heidentums, Berlin 1897, p.16 ; quoted by Chaim Rabin, in Studi sull’Oriente e la Bibbia, Genova 1967, page 306


Pusat kegiatan Religius bagi suku2 Ismael adalah Beer-Lahai-Roi di Sinai, bukannya Mekah

Disaat yg sama, suku2 Ismael telah mempunyai pusat kegiatan religius mereka di Beer-Lahai-roi, terletak diantara Gurun Paran dan Gurun Zin, Sinai utara [10]. Beer-Lahai-roi dikenal bersamaan dengan sebuah tempat di Sinai utara yg disebut Ain Isaac, sebutan lainnya lagi adalah Ain Muwileh. Terletak di barat daya kota Beersheba, 13 mil dari Kadesh-Barnea. Dalam Kejadian 24:62 disebutkan Ishak tinggal disana ketika Rebecca datang dari Mesopotamia utk menjadi istrinya.

Karena suku2 Ismael dikenal telah punya Beer-Lahai-roi sebagai pusat kegiatan religius, ini jadi bukti tambahan bahwa suku ini benar2 tinggal di Sinai. Kita lihat suku2 Ismael suka berkelana ketempat ini, sangat dekat dengan Paran dimana Ismael, ayah mereka, tinggal sepanjang hidupnya. Mereka terus tinggal disana dan lalu pindah kebagian barat Sinai. Lalu berkelana ke Jordan Selatan. Akhirnya, sebagian dari mereka pindah lebih dalam lagi ke Syria-Mesopotamia dan gurun Arab-Mesopotamia, dan juga ke utara arah Gilead dan Syria-tengah bagian selatan. Ini semua artinya bagi kita saat ini adalah bahwa Mekah bukanlah tempat kegiatan religius suku Ismael, seperti yang diklaim oleh hadis2. Suku2 Ismael TIDAK PERNAH PINDAH hingga sejauh Mekah.

Keterangan tambahan tentang Beer-Lahai-roi
be-er-la-hi'-roi, be-er-la-hi-ro'-i (be'er lachai ro'i, "sumur Yang Hidup yang menyelamatkan aku"): "Mata air di padang belantara," "mata air ke arah Shur" (Genesis 16:7-14). Sumur inilah tempat Hagar mengalami teofani (melihat wujud malaikat), dan di sinilah Isaq lalu tinggal untuk sementara (Kejadian 16:7; Kejadian 24:62; Kejadian 25:11). Tempat ini terletak di Negeg, antara Kadesh dan Bered (Kejadian 16:14). Rowland menjelaskan bahwa letak sumur ini di jaman modern adalah 'Ain Moilaihhi, kira² 50 mil selatan Beersheba dan 12 barat 'Ain Kadis.

Image
Sumur Beer-Lahai-roi, tempat Hagar memberi minum Ismael. Sumur ini sangat jauh dari sumur Zamzam di Arabia barat tengah.

Prasasti Assyria mengkonfirmasi dg pasti kisah2 dalam alkitab tentang lokasi Kaum Ismael di Sinai dan penyebaran mereka kegurun sekitar daerah Fertile Crescent.

Sebelumnya disebutkan salah satu suku Ismael, Adbil, dituliskan dalam beberapa prasasti Raja Tiglath-Pileser III menjadi suku yang ditunjuk sebagai pengawas perbatasan Mesir. Artinya jaman Raja Tiglath-Pileser III, sekitar tahun 738 SM, suku Adbil berada di bagian barat Sinai, perbatasan Mesir yg dikenal sebagai Gurun Syur. Suku ini sepertinya cukup bisa dipercaya oleh orang2 Assyria utk menjadi penjaga perbatasan dg kerajaan Mesir. Suku2 Ismael lain seperti Mishma, Mibsam, Hadad dan Kedemah, sepertinya terserap kedalam suku Adbil atau suku2 lain di Sinai, seperti suku Midian. Kita lihat sebelumnya, bahkan di Jaman Gideon sekalipun, adanya persatuan diantara penduduk daerah Sinai.
Dengan menelaah prasasti Assyria, kita simpulkan kampung halaman asli kaum Ismail adalah Sinai. Prasasti mereka menunjukkan bahwa kaum Ismael seperti suku Adbil, menghuni Sinai hingga sejauh gurun Syur, yg menjadi perbatasan dengan Mesir. Ini mengkonfirmasi klaim alkitab, ketika jaman Musa, kaum Ismael tinggal diantara Hawila dan Syur. Lebih jauh lagi kita lihat perpindahan dari suku2 Ismael lain kearah timur dan utara dari Sinai, sejalan dengan yg dinyatakan dalam alkitab bahwa kampung halaman Kaum Ismael adalah Sinai, sepanjang milenium kedua sebelum Masehi. Perpindahan kearah Jordan Selatan dan Gilead (sekarang Trans-Jordan Utara) dimulai pada akhir millenium kedua sebelum Masehi.


Quran dan Hadis, secara hina berusaha mengubah kampung halaman sebuah bangsa ketika mereka mengklaim bahwa Kaum Ismael pindah ke Mekah beberapa Abad sebelum Mekah itu ada.

Hadis tanpa malu mengkontradiksi bukti2 dokumentasi dg mengklaim kaum Ismael tinggal di Mekah dan mendominasi seluruh Arab. Hadis juga mengklaim bahwa kaum Ismael belakangan pindah ke Yaman dan lalu kembali ke Mekah. Semua karangan ini dibuat sebagai usaha utk menghubungkan keluarga Sabian-nya Muhammad, yang tinggal di Yaman, dengan keturunan Ismael. Seolah mereka mencoba menjadikan Turki sebagai kampung halaman orang Mesir kuno dan mengklaim merekalah yang membangun Piramid di sana, dan berkuasa sejak itu. Kita tidak bisa bermain-main dengan sejarah, seperti Quran dan Hadis lakukan. Quran dan Hadis, secara hina berusaha mengubah kampung halaman sebuah bangsa ketika mereka mengklaim bahwa Kaum Ismael pindah ke Mekah beberapa Abad sebelum Mekah itu ada. Jika teman2 muslim kita tahu akan kesalahan fatal ini, mereka benar2 akan tahu kepalsuan agama mereka.
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Tue Mar 29, 2011 8:56 pm

Bagian II
10. Sejarah Sebenarnya Pembangunan Ka’bah di Mekah


Hal yang dibahas di bagian ini adalah tahun sebenarnya pembangunan Ka’bah di Mekah, penggalian sumur Zamzam, dan transfer Batu Hitam ke Mekah.

Pernyataan Muhammad bahwa Abraham dan Ishmael membangun Ka’bah di Mekah terbukti salah, terutama jika kita mempelajari asal-usul Batu Hitam (Hajar Aswad), yang merupakan jantung kuil tersebut.

Abraham tidak pernah datang ke Mekah, dan tidak pula Ishmael dan putra Ishmael yakni Nabayot. Meskipun demikian, biografer Muhammad yakni Ibn Ishaq menyatakan bahwa Abraham bertanggung jawab atas pembangunan kuil Ka’bah di Mekah, dan lalu diurus oleh Ishmael, dan akhirnya oleh Nabaioth. Dongeng karangan Ibn Ishaq dan teman²nya ini mengatakan bahwa setelah Nabaioth, suku Jurhum, yang kata mereka tinggal di Mekah di jaman Abraham, mengambil alih pengurusan Ka’bah di Mekah. Menurut dongeng mereka, suku ini terus mengurus Ka’bah sampai suku Khuzaa’h datang ke Mekah dari Yaman. Hal ini terjadi setelah bendungan di Ma’rib mulai menunjukkan tanda² retak dan memaksa mereka pergi. Dongeng mengisahkan bahwa suku Khuzaa’h datang ke Mekah, dan menaklukkan suku Jurhum. Suku Jurhum kemudian meninggalkan Mekah untuk menyembunyikan Batu Hitam dan dua patung gazel emas. Mereka menyembunyikan barang² tersebut di mata air Zamzam, lalu menutupi mata air, Batu Hitam dan patung² emas dengan tanah agar tidak kelihatan. [171] Tanggal kejadian ini sangatlah penting. Menurut dongeng tersebut, suku Jurhum tinggal di Mekah sampai bendungan Ma’rib retak, dan suku Khuzaa’h meninggalkan Mekah. Kita tahu bahwa kejadian² ini terjadi di tahun 150 M.
[171] Tarikh al-Tabari, I, hal. 524


Keterangan hadis Islam yang tak masuk akal tentang suku Jurhum dan usaha penyembunyian mata air Zamzam dan Batu Hitam.

Pertama, jika kisah tentang suku Jurhum itu benar, maka mengapa para sejarawan kuno tidak pernah menyebut tentang Mekah dan kuil Ka’bah padahal mereka telah mengunjungi daerah Arabia barat, menyebut semua suku yang tinggal di situ, bahkan yang terkecil sekalipun?

Kedua, setelah dikalahkan, bagaimana mungkin suku Jurhum bisa mengubur dua patung emas gazel dan batu besar hitam yang tadinya terletak di kuil Ka’bah tanpa pengetahuan para penduduk Mekah? Suku apapun yang meninggalkan Mekah sudah tentu akan membawa harta emasnya dan tidak menguburnya di tempat umum, apalagi di satu²nya sumber mata air kota Mekah.

Ketiga, Batu Hitam adalah batu yang besar. Tidaklah mudah untuk membawa batu itu keluar lingkungan Ka’bah. Menurut klaim Islam, perang terjadi untuk menentukan siapakah yang berhak mengurus Ka’bah. Bagaimana mungkin suku Jurhum yang kalah perang ternyata bisa membawa Batu Hitam tanpa dicegah oleh suku Khuzaa’h yang menang perang, atau setidaknya tidak tahu di mana batu itu disembunyikan?

Keempat, jika mata air Zamzam sudah ada di Arabia barat sejak jaman kuno, maka tentunya lokasi mata air itu akan mudah diingat. Air merupakan hal yang amat penting bagi masyarakat Arabia yang hidup di gurun pasir. Hadis Islam mengatakan mata air Zamzam sudah ada sejak jaman Abraham, ketika malaikat Jibril memberi air kepada Hagar dan putranya Ishmael. Jika itu benar, maka tentunya tidak hanya masyarakat Mekah yang tahu akan keberadaan mata air ini, tapi juga berbagai kota di sekitar Mekah. Masyarakat Baduy akan berbondong-bondong datang ke mata air tersebut untuk memberi minum ternak mereka. Penduduk sekitar juga akan sering berkunjung untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Sumber mata air tak bisa disembunyikan, meskipun dengan tumpukan pasir sekalipun.

Kisah suku Jurhum menyembunyikan benda² berharda di mata air sekitar abad ke-2 M terus diulang dengan tambahan bahwa Abdul Mutalib, kakek Muhammad, menemukan mata air di akhir abad ke-5 M. Kita bisa menyimpulkan bahwa mata air itu belum ada sebelum jaman Abdul Mutalib, dan masyarakat Mekah menggali pasir di daerah itu sehingga akhirnya menemukan sumber mata air yang sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi di Timur Tengah. Pernyataan Muslim yang mengatakan bahwa mata air Zamzam telah ada di Mekah selama 2.500 tahun sebelum suku Jurhum akhirnya menutupinya selama 300 tahun adalah keterangan yang tak masuk akal, karena semua mata air Arabia lebih penting bagi masyarakat Baduy daripada Laut Merah. Kau mungkin dapat menyembunyikan letak laut dari mata suku² Arabia yang haus, tapi kau tak dapat menyembunyikan mata air dari mereka untuk waktu selama itu.

Keterangan bahwa Batu Hitam disembunyikan selama tiga atau empat abad adalah tak masuk akal. Batu itu dianggap sebagai batu keramat di setiap kuil Ka’bah, karena dianggap mewakili wujud bulan. Ibadah agama Keluarga Bintang Arabia dengan sang dewa bulan Allah sebagai ketuanya berhubungan erat dengan Batu Hitam. Istri Allah yakni Ellat adalah dewi matahari, dan mereka punya putri yakni al-‘Uzza dan Mannat yang mewakili dua buah planet. Umat Muslim percaya bahwa Batu Hitam berasal dari Allah, yang dulu merupakan sang bulan sebelum akhirnya planet Venus mengganti gelar Allah. Tidaklah mungkin bahwa suatu suku bisa menyembunyikan batu besar yang disembah dan dipuja banyak orang. Jika suku Jurhum mengambil batu itu dari Ka’bah, tentunya mereka akan dikejar masyarakat sekitar. Suku Jurhum tak mungkin bisa menyembunyikan batu besar itu di dalam mata air Zamzam, tempat yang dikunjungi masyarakat Mekah setiap hari.

Kisah Batu Hitam (Hajar Aswad) mengandung beberapa hal penting. Batu Hitam itu tak ada di sekitar Mekah sampai kira² akhir abad ke-5 M. Itulah sebabnya mengapa hadis Islam mencoba menutupi hal ini dengan menciptakan dongeng sejarah palsu. Batu Hitam ini merupakan elemen penting untuk setiap kuil Ka’bah di Arabia. Batu ini biasanya didatangkan dari daerah lain, kemungkinan Yaman, di akhir abad ke-5 M.


Asa’d Abu Karb adalah Pembangun Ka’bah yang Sebenarnya di Awal Abad ke-5 M

Dikatakan bahwa sebelum Ka’bah dibangun, orang² Khuzaa’h membangun sebuah tenda di tempat Ka’bah kelak dibangun. [172] Suku Khuzaa’h datang dari Yaman sekitar abad ke-2 M. Di abad ke-4 M, mereka menuju ke tempat di mana Mekah kelak dibangun. Karena mereka tak menemukan kuil untuk ibadah, maka mereka mendirikan tenda untuk beribadah di suatu lapangan.
[172] Al-Azruqi, Akhbar Mecca, 1, hal. 6

Keterangan dari para penulis abad ke-8 M, yang mendengar keterangan dari jaman Muhammad, menyatakan bahwa Ka’bah dibangun di awal abad ke-5 M oleh seorang pagan Himyarit ketua suku Yaman bernama Asa’d Abu Karb. Dia juga dipanggil dengan nama Abu Karb Asa’d, dan berkuasa atas Yaman di tahun 410-435 M. [173]
[173] A. Jamme, W.F., Sabaean Inscriptions from Mahram Bilqis (Ma'rib), the Johns Hopkins Press, Baltimore, 1962, Volume III, hal. 387; tulisan diberi nomer oleh G. Ryckmans, G. Ryckmans, Le Museon 66 (1953), hal. 363-7, p1.V; dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 219

Image
Contoh prasasti Sabaian yang menjelaskan sejarah Arabia kuno.

Fakta bahwa sejarawan Islam mengakui Asa’d Abu Karb sebagai pemimpin pertama dalam sejarah yang menyelubungi Ka’bah merupakan petunjuk penting bahwa dialah pembangun Ka’bah yang sebenarnya. [174] Menyelubungi kuil Ka’bah dengan gorden/kiswah merupakan tahap kedua terpenting setelah selesai membangun kuilnya. Tahap ini mencakup menghias bagian dalam tembok, menempatkan karpet di lantai dan tembok, dan menambah perhiasan di berbagai bagian dalam kuil. (Masyarakat Arab tak akan beribadah di kuil yang tak dihiasi dan diselubungi gorden.). Asa’d Abu Karb menyuruh Amir dari Azed untuk membangun bagian dalam Ka’bah. [175] (Azed adalah suku yang datang dari Yaman bersamaan dengan kedatangan suku Khazaa’h.) Asa’d Abu Karb tentunya membangun Ka’bah di tempat yang sama di mana tenda ibadah didirikan oleh suku Khuzaa’h.
[174] Al-Azruqi, Akhbar Mecca, 1:173; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 4:463
[175] Ibn Saad, Tabakat, 1, hal. 64


Asa’d Abu Karb, yang juga disebut Tubb’a, menduduki kota Yathrib sebelum datang ke Mekah. [176] Tampaknya dia menemukan banyak kuil di Yathrib, tapi ketika dia tiba di Mekah, dia tak menemukan kuil apapun. Karena penduduk Mekah adalah para pendatang baru dari Yaman, maka Asa’d Abu Karb membangun bagi mereka kuil sederhana bergaya Yaman. Dia mendirikan kuil ini agar terjadi hubungan baik antara penduduk Mekah dan dirinya. Dia juga menulis syair tentang matahari terbenam dalam kolam lumpur, dan hal ini juga disebut Muhammad dalam Qur’an.
[176] Ibn Hisham 1, hal. 20


Bagian Tambahan Lain Dibangun oleh Suku Quraysh pada Ka’bah

Suku Quraysh, yakni suku asli Muhammad, lalu menguasai kota Mekah. Mereka mendapatkan batu hitam dari Yaman, sehingga kuil mereka tampak seperti Ka’bah² lainnya, yang sesuai dengan agama Keluarga Bintang Arabia, yang ibadahnya dilakukan di sekitar batu hitam. Agama Keluarga Bintang dimulai di Yaman, tempat asal suku Quraysh sebelum pindah ke Mekah. Ka’bah pertama yang dibangun Asa’d Abu Karb beratap kayu. Tapi atap kayu ini lalu terbakar, sehingga mereka menggunakan kayu yang dibawa perahu Byzantium, yang berhenti di pantai Laut Merah yakni “al-Shaebieth.” Pemilik perahi adalah orang Mesir Koptik bernama Bachum. Dia menjual kayu itu pada mereka dan lalu kayu dibuat menjadi atap Ka’bah. [177] Kemudian, tatkala Muhammad masih muda, hiasan² dan bagian² lain ditambahkan pada Ka’bah. [178]
[177] Halabieh 1, hal. 235; Ibn Hisham I, page 157; al-Azruqi, Akhbar Mecca I, hal. 104
[178] Tarikh al-Tabari, I, hal. 526


Fakta pembangunan kuil Mekah seharusnya membuat umat Muslim mempertanyakan keterangan Ibn Ishaq dan teman²nya tentang kota itu, dan juga keterangan Muhammad di Qur’an bahwa Ka’bah dibangun oleh Abraham dan Ishmael.


Masyarakat Yaman Membangun Kuil Ka’bah di Mekah

Suku Khuzaa’h dari Yaman membangun kota Mekah di abad ke-4 M. Ibadah agama pagan Yaman telah meninggalkan sidik jari di berbagai kuil Ka’bah, dan menunjukkan bahwa pembangunnya sudah jelas bukan Abraham dan Ishmael.

Kita akan membahas mengapa berbagai tatacara dan kebiasaan ibadah Yaman tampak jelas di Ka’bah di Mekah. Perkataan dan kebiasaan Muhammad disebut Hadis. Koleksi buku hadis dari “Muslim Sahih” dan “Bukhari Sahih” dianggap mengandung perkataan Muhammad. Di dalam buku² tersebut dapat kita baca kebiasaan Muhammad memeluk dan mencium dua batu, yakni “Rukun Yamani” dan “Batu Hitam.” Ibn Abbas, saudara sepupu Muhammad dan pelapor hadis, mengatakan bahwa Muhammad seringkali memeluk dua Rukun² Yamani. Yang dimaksud dengan “Rukun² Yamani” adalah Batu Hitam dan batu lain lagi yang disebut Rukun. [179] Dari keterangan ini kita ketahui bahwa Ka’bah mengandung dua benda keramat yang disebut Rukun. Kedua batu ini ditempelkan di Ka’bah dan disebut sebagai “Yamani” sehingga bisa diketahui bahwa batu² tersebut berasal dari Yaman. Hal ini juga memperkuat keterangan bahwa Ka’bah dibangun oleh pemimpin Yaman yakni Asa’d Abu Karb, sesuai dengan tata cara ibadah Yaman, terutama ibadah agama Keluarga Bintang Arabia. Allah adalah kepalanya, dan Ellat sang matahari adalah istrinya, dan kedua putri mereka adalah al-‘Uzza dan Manat.
[179] Sahih Muslim 9, hal.15

Image
Sudut tembok "Rukun/Sudut Yamani" terletak di sebelah kiri bawah Ka'bah pada gambar di atas.

RukunYemeni.jpg

Muslim sibuk memeluk dan menciumi batu "Rukun Yamani" di sudut Ka'bah. Ternyata bukan batu Hajar Aswad saja yang diciumi Muslim, tapi batu Rukun/Sudut Yamani juga. Memang begitulah kecenderungan umat pencium dan pemuja batu. Begitu ketemu batu... weleehh... tahu aja sendiri.

RukunYemeni1.jpg

Sudut batu "Rukun Yamani" di dinding Ka'bah.

Tampaknya Batu Hitam dibawa dari Yaman di jaman Abdul Mutalib, kakek Muhammad. Hadis Islam menyatakan batu itu dan mata air Zamzam hilang selama berabad-abad sebelum jaman Muhammad. Aku telah jelaskan bahwa keterangan ini tidak masuk akal. Fakta menunjukkan bahwa Muhammad dan hadis Islam berusaha keras menghubungkan ibadah pagan Yaman dari kakek moyang Muhammad dengan Abraham dan Ishmael, meskipun fakta sejarah bertentangan akan hal itu. Mari kita telaah hal ini.

Pertama, kota Mekah dibangun setelah abad ke-4 M. Abu Karb Asa’d adalah pembangun pertama Ka’bah, di saat dia berkuasa di Yaman pada tahun 410-435 M. Kedua Rukun, yakni batu keramat di Ka’bah, berasal dari Yaman. Batu Hitam pertama kali muncul di Mekah di jaman kakek Muhammad, yakni sekitar 495-520 M. Meskipun hadis Islam menyebutkan hal ini, tapi Muslim tetap saja menciptakan dongeng untuk menutupi celah sejarah.

Hal penting yang membuktikan orang² Yamanlah yang mendirikan Ka’bah di Mekah dan juga tahun pembuatannya terdapat di kerajaan Himyarit di Yaman. Abu Karb Asa’d, raja Himyarit, mencoba memperluas kekuasaannya sampai ke Arabia barat tengah guna menguasai rute dagang rempah² dari Yaman ke Arabia Utara, dan lalu ke daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). Abu Karb Asa’d atau Tubb’a menguasai kota² Arabia barat tengah di awal abad ke-5 M, termasuk kota Mekah dan Yahtrib (kelak bernama Medina). Sang Penguasa Yaman ini ingin menyatukan berbagai kota tersebut ke dalam kerajaannya dengan memperkuat ibadah agama Yaman yang sebenarnya telah dianut masyarakat Mekah yang juga berasal dari Yaman. Kota Yathrib dibangun oleh dua suku Yaman, yakni Aws dan Khazraj. Kedua suku ini meninggalkan Yaman ketika bendungan di situ retak pada tahun 150 M, dan mereka lalu menetap di Yathrib, yang telah lama dihuni suku² Yahudi yakni Bani Qurayza dan An-Nadr. Abu Karb Asa’d berasal dari Yaman. Dia membangun Ka’bah di Mekah untuk memperkuat kedudukannya di kota itu, dan untuk menyenangkan hati masyarakat Mekah yang sebelumnya tak punya kuil tempat ibadah. Sama seperti Abu Karb Asa’d, mereka pun beragama pagan Yamani.

Image
Daerah hijau adalah daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent).

Ajaran Tubb’a tentang dongeng pagan Yaman dan Yahudi dan pengaruhnya pada masyarakat Arabia di Arabia barat tengah, dan akhirnya pada Muhammad.

Tubb’a juga mencoba membangun hubungan dengan masyarakat Yahudi di Yathrib. Dia mempelajari pemikiran dan ibadah agama mereka. Selain itu dia juga mempelajari dongeng² Yahudi, misalnya tentang burung hupu yang mengumumkan tentang kerajaan Saba pada Salomo. Dongeng ini datang dari buku dongeng Yahudi berjudul Targum Kedua Esther (Second Targum of Esther). Muhammad menyampaikan dongeng ini di dalam Qur’an.

Agar usahanya berhasil, Tubb’a membawa dua rabi Yahudi ke Yaman. [180] Mereka mengajarkan padanya tentang berbagai ibadah agama Yahudi beserta dongeng² masyarakat Yahudi, sehingga Tubb’a mampu mencampurkannya ke dalam agama pagan Yaman. Contohnya, dia menggabungkan ibadah Bintang Arabia dengan dongeng² Yahudi. Dengan pengetahuan campur aduk ini, dia berharap bisa mengontrol berbagai daerah Arabia barat tengah, di mana orang² Arabia dan Yahudi tinggal. Dia lalu mengaku sebagai nabi, menguraikan terperinci penjelasan tentang matahari, bumi, dan alam semesta yang dianggap benar oleh masyarakat Yaman. Di Mekah, dalam rangka meyakinkan pendengarnya bahwa dia adalah nabi, Tubb’a mengajarkan bahwa matahari terbenam di kolam berlumpur hitam. [181] Dongeng ini juga dicantumkan ke dalam Qur’an oleh Muhammad.
[180] al-Tabari, I, hal. 426-428; al-Ya'akubi I, hal. 226
[181] Tarikh al-Tabari, I, hal. 429


Setelah Tubb’a wafat, ajarannya diingat dan dikisahkan ulang oleh banyak kelompok masyarakat, bahkan yang terus hidup sampai di jaman Muhammad. Muhammad menganggap Tubb’a sebagai Muslim dan setara nabi. [182] Terdapat banyak dongeng tentang Tubb’a diantara masyarakat Arab. Al-Tabari mengisahkan kemenangannya berperang di China dan Tibet. Hal ini jelas adalah keterangan sejarah yang salah, tapi menunjukkan besarnya pengaruh Tubb’a bagi masyarakat Arabia di jaman Muhammad, sampai² banyak yang menganggapnya sebagai nabi. [183]
[182] Halabieh I, page 280
[183] Tarikh al-Tabari, I, hal. 331, 332, 360



Ka’bah di Mekah dibangun bagi agama Bintang Arabia, dan mengandung semua sifat Ka’bah² lainnya yang dibangun bagi ibadah agama itu.

Kenyataan bahwa kuil Ka’bah di Mekah dibangun sebagai kuil untuk ibadah agama Bintang Arabia tampak dalam berbagai hal. Pertama, bentuknya sama persis seperti berbagai Ka’bah di Arabia. Ka’bah² ini merupakan kuil² agama Keluarga Bintang Arabia, di mana Allah dianggap sebagai ketuanya, dan Ellat sebagai istrinya. Semua Ka’bah memiliki Batu Hitam sebagai benda yang paling keramat. Batu ini mewakili dewa Bintang Arabia. Banyak dari batu² hitam itu yang sebenarnya adalah batu meteor yang dilihat orang² Arab jatuh dari langit ke bumi. Mereka mengira batu² meteor ini adalah utusan² dari bulan, dan mereka menganggap bulan adalah Allah. Hal ini dipercayai sebelum gelar Allah diberikan kepada Venus, yang menggantikan kedudukan bulan sebagai kepala Keluarga Bintang.

Selain itu, pintu utama Ka’bah Mekah disebut sebagai “pintu jemaat penyembah matahari,” [184] dan matahari adalah istri Allah.
[184] Halabieh I, hal. 236


Muhammad Membenarkan Asal-usul agama Ka’bah adalah dari Yaman.

Peranan agama pagan Yaman dalam pembangunan kuil Ka’bah di Mekah dan ajaran² agamanya pada masyarakat Mekah tak dapat disembunyikan. Bahkan Muhammad sendiri mengakui dalam beberapa hadis bahwa asal-usul sistem agama Mekah adalah Yaman. Contohnya di hadis al-Bukhari di mana Muhammad berkata, “Iman dari orang Yaman, fikih dari orang Yaman, hikmah Yaman.” Di hadis lain dia berkata, “Kepercayaan dan aturan agama dari orang Yaman.” [185] Karena itu, tidak hanya batu² keramat Ruku di Ka’bah yang berasal dari Yaman, tapi juga aturan² agama, doktrin, dan iman juga berasal dari Yaman. Sudah jelas Ka’bah di Mekah dibangun oleh pemimpin Yaman sesuai dengan gaya agama pagan Yaman dan aturan ibadahnya. Dia mendirikan agama Yaman di Mekah, dan agamanya juga dikenal di bagian lain Arabia. Dengan begitu, bagaimana mungkin Abraham bisa membangun Ka’bah, jika catatan sejarah yang kita miliki tentang pembangunan Ka’bah adalah benar? Bagaimana mungkin Batu Hitam bisa berasal dari surga, dan bagaimana caranya Abraham mendapatkannya dan membangun Ka’bah di sekitarnya, jika batu itu tak ada di Mekah sebelum abad ke-5 M? Bagaimana mungkin ajaran agama Muhammad berasal dari Allah melalui malaikat Jibril, padahal asal-usul agamanya adalah dari Yaman?
[185] Al-Bukhari 5, hal. 122; Halabieh I, hal. 259

Ahli Islam terkenal Mesir yakni Tah Hussein mengritik budaya Islam karena menghubungkan kuil Ka’bah di Mekah dengan tokoh2 Abraham dan Ishmael. [186] Tah berkata, “Kasus masalah ini sudah sangat jelas karena Ka’bah adalah bangunan baru yang dibangun sebelum munculnya Islam. Islam memanfaatkannya untuk alasan² agama.” [187]
[186] Kutipan dari Alessandro Bausani, L’Islam, Garzanti Milano, 1980, hal. 208
[187] Kutipan dari Mizan al-Islam oleh Anwar al-Jundi, hal. 170 ; Behind the Veil, hal. 184



Tahun Pembangunan Ka’bah oleh Suku Khuzaa’h

Banyak unsur sejarah yang membantu kita untuk mengetahui kapan tepatnya Mekah dibangun. Salah satu unsur utama adalah kerusakan yang terjadi pada bendungan Ma’rib di Yaman sekitar tahun 150 M. Kerusakan ini menyebabkan berbagai keluarga dan suku Yaman berimigrasi ke utara. Salah satu dari keluarga tersebut adalah keluarga Amru bin Amer, orang Yaman yang keturunannya menghasilkan banyak suku. Salah satu suku tersebut adalah suku Khuzaa’h, yang berdiam di Arabia barat tengah. Kelak mereka membangun kota Mekah.

Dari buku² sejarah Tabari, sejarawan Arabia terkenal, kita ketahui bahwa hal ini terjadi di saat yang sama bangsa Lakhmid pergi dari Yaman ke Mesopotamia. Di saat yang sama, Amru bin Amer, ayah Khuzaa’h, meninggalkan Yaman. [188] Bangsa Lakhmid tiba di daerah Mesopotamia, di kota Hira, pada abad ke-2 SM. Kelak orang² Persia menggunakan mereka untuk menjaga perbatasan Persia dan Kekaisaran Byzantium, yang sedang menguasai Syria. Raja Lakhmid pertama adalah Amr I bin Adi, yang berkuasa di tahun 265-295 M. [189] Hancurnya bendungan Ma’rib mengakibatkan suku² lain seperti Ghassan pergi meninggalkan Yaman dan tinggal di perbatasan Byzantium. [190] Suku² ini masih berhubungan darah satu sama lain karena mereka adalah keturunan Amru bin Amer. [191] Suku Shamar juga meninggalkan Yaman dan lalu tinggal di padang pasir Syria; suku² lain pergi ke Arabia utara dan daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). [190] Suku² Aws dan Khazraj meninggalkan Yaman dan tinggal di Yathrib, yang nantinya dikenal sebagai Medina, di mana suku² Yahudi Bani Qurayza dan An-Nadir telah lama tinggal. Suku Ozd al-Sarat pergi ke al-Sarat dekat Orfeh, tak jauh dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. Suku Khuzaa’h tinggal di tempat bernama Mur atau Mur al-Thahran, [192] yang juga tak jauh dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. [193]
[188] Tarikh al-Tabari, I, hal. 431 and 360 juga menyebutkan tentang suku² keturunan Maad bin Adnan dari Yaman yang berimigrasi ke daerah Hira di Mesopotamia.
[189] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I , Liverpool University Press, 1994, hal. 251
[190] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 126; Montgomery juga mengutip Philby, The Heart of Arabia, II, hal. 97
[191] Ibn Hisham I, hal. 12
[192] Ibn Hisham I, hal. 13
[193] Komentar² pada buku Ibn Hisham I, hal. 13



Mekah Dibangun Suku Khuzaa’h sebagai Gardu/Stasiun Terpencil di Jalur Dagang Rempah²

Tiada kota bernama Mekah di daerah itu; jika ada, tentunya suku Khuzaa’h dan Ozd akan menempatinya, sama seperti suku Aws dan Khazraj menempati kota Yathrib. Selama satu setengah abad, suku Khuzaa’h tinggal di daerah dekat Mekah kelak dibangun. Mereka lalu mengambil keputusan untuk membangun gardu/stasiun bagi jalur kafilah di mana para pedagang bisa beristirahat dan melakukan transaksi dagang. Jika Mekah sudah ada sebelum suku Khuzaa’h berimigrasi dari Yaman, tentunya Mekah telah jadi tempat mereka mencari nafkah. Mereka menunggu lebih dari 170-200 tahun sebelum akhirnya membangun kota tersebut, yang menjadi saingan Yathrib sebagai tempat istirahat para kafilah, yang berjarak 200 mil ke utara. Mereka lalu menamakan gardu/stasiun tersebut sebagai Mekah.

Penting untuk diingat bahwasanya tiada suku apapun dari Yaman yang menghuni Mekah. Jika Mekah sudah ada di jaman bendungan Ma’rib hancur (sekitar 150 M), maka tentunya akan banyak suku² Yaman yang tinggal di Mekah, karena letaknya lebih dekat ke Yaman daripada kota Yathrib. Karena daerah Mekah dulu kosong dan terasing, suku² Ozd dan Khuzaa’h tertarik untuk tinggal di situ, meskipun dulu mereka tinggal di kota besar Ma’rib, yang merupakan ibukota Saba. Akhirnya suku Khuzaa’h membangun Mekah pada abad ke-4 M.

Mari kita ulas beberapa fakta historis yang penting. Aku telah menunjukkan bagaimana suku Khuzaa’h dari Yaman mendirikan kota Mekah di abad ke-4 M. Kita juga telah melihat koneksi kuil Ka’bah di Mekah dengan ibadah agama pagan Yaman. Semua ini membuktikan klaim Islam bahwa Abraham dan Ishmael mendirikan Ka’bah di Mekah sungguhlah bertentangan dengan fakta² sejarah. Membangun iman dengan landasan pasir adalah tindakan tak bijaksana. Kepercayaan yang tak memiliki fakta sejarah yang benar tidaklah tepat untuk dijadikan pedoman hidup.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Mon Apr 04, 2011 1:10 pm

Bagian II
6. Penelitian Prasasti Assyria juga Tak Menemukan Keterangan tentang Mekah di Jaman Kuno


Image Image
Image Image
Beberapa contoh prasasti Assyria, jaman Sebelum Masehi.

Meskipun Muslim percaya sebaliknya, tanah Arabia sepanjang Laut Merah, termasuk daerah di mana Mekah kelak dibangun, tak berpenghuni sama sekali, sampai jalur dagang dibuat di daerah itu di abad ke-3 SM. Aku telah menerangkan bahwa Mekah tidak tercantum dalam berbagai catatan sejarah negara² dan kota² Arabia yang ada sebelum abad ke-4 M. Aku juga menunjukkan empat kekaisaran besar yang menjajah Arabia baratlaut dan barat tengah, dan semuanya tidak pernah menyebut Mekah dalam catatan² sejarah mereka. Sekarang aku tunjukan bahwa Mekah juga tak tercantum dalam catatan² sejarah kebudayaan Mesopotamia, terutama Assyria. Aku sudah menyebut tentang bangsa Assyria sebelumnya sebagai salah satu dari empat kekaisaran yang menjajah Arabia baratlaut dan barat tengah di abad ke-8 dan 7 SM.


Mekah Tidak Tercantum dalam Laporan² Milenia Kedua SM

Kebudayaan² Mesopotamia, Mesir dan Syria sangat mengenal kota² dan kerajaan² di Timur Tengah. Mereka sangat tahu kerajaan² Arabia timur seperti Dilmun dan Magan. Negara² kuno meninggalkan berbagai prasasti dan catatan sejarah. Sebelumnya telah kusebut hubungan antara kebudayaan Mesopotamia dan lainnya di Arabia timur, yang telah terbentuk sejak tahun 3000 SM. Contohnya, Magan atau Oman, di tahun 2800 SM kedua kerajaan itu disebut dalam prasasti² Akkadic. [112] Kerajaan atau kota Arabia barat manapun yang ada di jaman itu sudah pasti disebut di prasasti Mesopotamia. Sejarah menunjukkan bahwa kerajaan² di Arabia baratdaya, seperti Yaman, diwakili oleh Kerajaan Saba, yang belum ada sebelum abad ke-13 SM. Sebagian sejarawan berpendapat kerajaan itu baru terbentuk di abad ke-12 SM, yang lain menyebut abad ke-11 SM. Di atas segala perkiraan itu, bangsa Mesir mulai menyebut tentang Yaman di abad ke-14 SM, sebelum kota atau kerajaan apapun dibangun di daerah itu. Jadi tidak disebutnya kerajaan apapun di Arabia baratdaya dalam prasasti Mesopotamia adalah karena kerajaan² itu belum ada di jaman tersebut.
[112] P. Michalowski, Journal of Cuneiform Studies, 40 (1988), hal. 156-164; kutipan, hal. 163; dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 159

Kota² Arabia utaramulai muncu setelah abad ke-10 SM. Di jaman itulah kerajaan² Yaman mulai berhubungan dengan daerah Bulan Sabit Subur melalui oasis² Arabia utara, yang terletak di kota² Dedan, Qedar, dan kota² lainnya. Di abad ke-6 SM, barulah kota Yathrib dan kota² lainnya dibangun. Meskipun Muslim percaya sebaliknya, tanah Arabia sepanjang Laut Merah, termasuk daerah di mana Mekah kelak dibangun, tidak dihuni sama sekali, sampai jalur dagang dibuat di daerah itu di abad ke-3 SM. Jalur² dagang dekat pantai ini paralel dengan jalur dagang di tengah Arabia, dan jalur² ini menghubungkan Yaman dengan oasis² di Arabia utara, yang dibangun di abad ke-8 SM. Di jaman kuno ini, Mekah tidak disebut diantara banyak kota yang diketahui berada di jalur² dagang tersebut. Kita telah melihat keterangan serupa pada laporan para geografer Yunani dan Romawi, dan juga berbagai kekaisaran yang menjajah Arabia utara dan barat tengah.

Kita memiliki data sejarah lengkap tentang Arabia baratlaut, terutama Yaman, dan perkembangannya ke Arabia utara dan barat tengah sewaktu Yaman berdagang dengan kerajaan² Timur Tengah seperti Mesopotamia, Syria, dan Palestina. Adalah penting untuk memiliki pengertian sejarah yang tepat jika kita ingin membuktikan kesalahan keterangan Qur’an tentang Hagar, ibu Ismael, melampaui padang pasir untuk sampai di Mekah dan bahwa Abraham mengunjungi Mekah dan membangun Ka’bah di sana. Berbagai keterangan sejarah melimpah tentang Arabia barat menunjukkan tiadanya kota apapun di daerah itu yang bisa dikunjungi Abraham. Bahkan kafilah apapun tidak bisa mengarungi daerah gurun pasir sangat luas yang tak berpenghuni di sana di jaman Abraham, Ismael, dan Hagar.

Penelitian prasasti Assyria kuno sangatlah penting karena Assyria telah ada di Iraq utara sejak milenia ketiga SM, bersama-sama dengan kerajaan² lain Mesopotamia. Prasasti mereka tak menulis apapun tentang Arabia barat, karena memang tak ada kerajaan apapun yang ada di sana di jaman itu.

Image
Raja Assyria yakni Adad-Nirari II, 911-891 SM.

Image
Raja Assyria Tukulti Ninurta II, 890-884 SM.

Assyria menjadi kekaisaran besar di bawah pemerintahan Raja Adad-Nirari II, yang berkuasa di tahun 911-891 SM. Di bawah pemerintahannya, bangsa Assyria menguasai Babylonia, Anatolia dan sebagian Syria. Setelah Adad-Nirari II, maka Raja Tukulti-Ninurta II berkuasa di tahun 890-884 SM. Lalu Raja Ashurnasirpal II berkuasa di tahun 883-859 SM. Dia memperlebar kekuasaan Assyria sampai mencapai Laut Mediterania. Yang menarik adalah daerah Arabia selatan dan utara tidak pernah disebut selama seluruh kepemimpinan oleh berbagai raja yang berkuasa, padahal Assyria berbatasan dengan Arabia.

Arabia baru disebut di dalam prasasti Assyria di bawah kekuasaan Raja Shalmaneser III yang memimpin di tahun 858-824 SM. Hal ini karena hanya di abad ke-9 SM saja kota² Arabia utara membangun oasis². Keterangan itu terdapat di prasasti² Assyria. Raja Shalmaneser III, dalam Prasasti Monolith dari Kurkh, menyebutkan bahwa bangsa Assyria melawan persekutuan para raja di perang Qarqar. Diantara raja² sekutu adalah Raja Hadadezer dari Damaskus; Raja Ahab dari Israel; Raja Gindibu’ dari Arab yang memiliki pasukan 1000 unta. [113] Di prasasti Tiglath-Pileser III, yang berkuasa di tahun 744-727 SM, terdapat keterangan tentang kerajaan² Arabia utara. Di prasasti yang berasal dari tembok² istana Raja Shalmaneser III di Nimrud – juga disebut sebagai Calah, ibukota tua Assyria – kita lihat upeti dibayar oleh Ratu Zabibe, “Ratu Arab” pada Shalmaneser III, di tahun 738 SM. Keterangan lain tentang upeti Ratu Zabibe juga tercantum di tugu peringatan di Iran. Suku Qedar juga disebut di tugu peringatan tersebut, sebagai suku yang berbeda dengan suku² Arab. Berdasarkan keterangan itu, suku Ismael Qedar merupakan etnik terpisah dan tersendiri, sampai suku itu diserang oleh suku² Arab sehingga kehilangan kemerdekaannya. Tapi tak lama kemudian pihak penyerang lalu dikenal sebagai bangsa Qedar. Prasasti Tiglath-Pileser III menyebut nama ratu Arab lainnya yakni Samsi.
[113] Luckenbill, Ancient Records of Assyria and Babylonia, I, Chicago, hal. 223 ; Rogers, Cuneiform Parallels to the Old Testaments, page 296; Barton, Archaeology and the Bible, edition 6, 1933, hal. 457; dikutip di Arabia and the Bible, James Montgomery, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 58

Sudah jelas bahwa kerajaan Qedar di Arabia utara tidak ada sebelum abad ke-8 SM. Meskipun prasasti Mesopotamia tidak menyebut kerajaan² Arabia utara apapun, prasasti² Shamaneser III di tahun 858-824 SM menyebut “Gindibu, orang Arab.” Gindibu kemungkinan adalah ketua suku Arab yang punya 1000 unta yang disewa Raja Ahab dari Israel dan Raja Damaskus, dan raja² lainnya, untuk berperang melawan bangsa Assyria.

Sargon II berkuasa atas Assyria di tahun 721-705 SM. Mesir merupakan salah satu negara yang ditaklukkannya. Dia juga memperkuat kekuasaan Assyria atas Babylonia. Dari jaman Sargon II, keterangan tentang bangsa Arab bertambah banyak. Prasasti² Sargon II terkenal karena mengandung keterangan tentang upeti bagi Assyria yang diberian berbagai raja, termasuk Raja Saba. Juga disebut beberapa suku di Arabia utara.

Setelah Sargon II, terdapat prasasti dari Raja Assyria Sennacherib yang berkuasa di tahun 704-681 SM. Sennacherib terkenal karena menghancurkan kota Babylonia. Prasasti² utama dari jaman Sennacherib adalah Surat² Herper, yang dibuat di jaman Sennacherib dan Assurbanipal.

Setelah Sennacherib, terdapat prasasti² dari Raja Assyria Esarhaddon yang berkuasa di tahun 680-669 SM. Lalu muncul prasasti² Raja Assurbanipal yang berkuasa di tahun 668-627 SM. Assurbanipal mengalahkan Elam, Mesir, dan Lydia. Prasasti² Assurbanipal tahun 649 SM berisi keterangan tentang bangsa Arabia. [114]
[114] A.C. Piepkorn, Historical Prism of Assurbanipal, Chicago-USA, 1933, hal. 19-20

Banyak surat² bersejarah yang berisi tentang bangsa Arab. Diantaranya adalah Surat² Herper dan Nimrud. Surat² Nimrud dibuat di akhir abad ke-8 SM. [115] Kita juga punya berbagai sumber lain seperti Tawarikh Babylonia, yang mengisahkan tentang penyerangan yang dilakukan Esarhaddon di tanah Bazu di Arabia tengah. Tawarikh Babylonia juga menerangkan tentang penyerangan Babylonia di gurun Arab di jaman Nebuchadnezzar. Tawarikh Nabonidus menjelaskan tentang serangan Nabonidus di Arabia dan persinggahannya di Teima.
[115] Saggs, Iraq 17, ( 1955), hal. 142-143; Von Soden, Orientalia 35, (1966), hal. 20; dikutip oleh I. Eph’al, The Ancient Arabs, E.J. Brill, Leiden, 1982, hal. 94

Peninggalan² sejarah Assyria dan Babylonia mengandung banyak keterangan tentang Arabia barat, timur, dan tengah, dari akhir abad ke9 SM sampai abad ke-6 SM. Ini merupakan rentang waktu lama yang menyingkapkan berbagai suku, kerajaan, kota di sebagian Arabia kepada bangsa Assyria dan Babylonia. Tapi satupun prasasti mereka yang mencantumkan keterangan tentang Mekah atau suku² yang dikatakan literatur Islam tinggal di Mekah. Prasasti² Assyria dan Babylonia memberi keterangan hubungan lima abad antara daerah Arabia dan dua negara besar Mesopotamia. Catatan sejarah kedua bangsa besar ini dimulai dari abad ke-9 SM, dan menyebutkan berbagai suku dan negara di Arabia utara, tapi tak satupun menyebut tentang Mekah.


Mekah tak ada dalam kegiatan² Politik, Militer, dan Perdagangan Assyria, sedangkan suku² Arabia barat lain disebut dalam prasasti Assyria.

Di paruh kedua abad ke-8 SM, Assyria mulai berpengaruh terhadap suku² Arabia – mereka berusaha menghindari penjajahan Assyria dengan cara membayar upeti. Suku² Arabia lainnya ingin mendapatkan perlindungan dari Assyria untuk jalur dagang mereka. Jalur dagang ini menghubungkan daerah jajahan Assyria di Sinai dan Yordania selatan dengan daerah² Bulan Sabit Subur, yang juga di bawah kontrol Assyria. Semua kerajaan dan kota di Arabia barat tergantung dari perdagangan untuk cari nafkah dan kekayaan. Untuk mempertahankan perdagangan, mereka membayar upeti pada raja² Assyria. Hal ini penting bagi kota² tersebut karena tiada hujan untuk bertani, dan mereka perlu berdagang untuk mendapatkan makanan. Daearha di mana Mekah kelak dibangun merupakan salah satu daerah yang hanya menerima sedikit hujan. Karena itu, Mekah dimulai sebagai kota dagang di abad ke-4 M. Keberadaan Mekah tergantung dari keberlangsungan perdagangan, terutama dengan negara² Bulan Sabit Subur, seperti Mesopotamia, Syria, dan Palestina. Dengan begitu kota² Arabia perlu membangun hubungan baik dengan negara² yang berdagang dengan mereka, agar mereka mendapatkan pasar untuk jual beli.

Image
Raja Assyria Tiglath-Pileser III, 744-727 SM.

Kerajaan Assyria menerima upeti dari suku Qedar, dan hal itu tertulis di prasasti Raja Assyria Tiglath-Pileser III tahun 738 SM. [116] Raja² Saba juga membayar upeti pada Assyria agar perdagangan mereka aman. Untuk mempertahankan pengaruh dan menjaga perdagangan di daerah mereka, banyak suku Arab yang berusaha membangun persekutuan satu sama lain. Biasanya hal ini lalu menjurus pada peperangan dan saling serang.
[116] P. Rost, Die Keilschrifttexte Tiglat-Pilesers III, Leipzig, 1893, hal. 150-170; dikutip oleh I. Eph’al, The Ancient Arabs, hal. 82

Kota Mekah tak disebut di catatan² dagang antara masyarakat yang mendominasi Bulan Sabit Subur dari jaman kuno sampai jaman Assyria dan Babylonia. Tidak hanya keterangan tentang Mekah tak ada di catatan perdagangan, tapi juga tak ada di daftar persekutuan suku² dan kota² Arabia barat, meskipun lokasi mereka sama dengan lokasi Mekah.

Image
Tarikh Raja Assyria Tiglath-Pileser III.

Dalam prasasti² Tiglath-Pileser III, tahun 744-727 SM, kita temukan keterangan tentang perang² yang dilakukannya terhadap banyak suku² Arab. Tiglath-Pileser menjelaskan tentang penyerangannya melawan Samsi, “Ratu Arab,” di Arabia utara. Prasasti lain melaporkan tentang penyerangan Assyria terhadap suku² Arab. Tiglath-Pileser, di awal prasasti, menulis:

10.000 pasukan, kubuat tunduk semua di bawah kakiku. Orang² Massa, Teima, Saba, Hayappa, Badanu, Hatte, Idiba’ilu, di perbatasan negara² matahari terbit, yang tak dikenal oleh para leluhurku dan tempat mereka terpencul, sekarang mereka menyembah pada kekuasaanku.
… Unta, unta betina, berbagai rempah², upeti mereka jadi satu, mereka bawa di hadapanku dan mereka cium kakiku.
Aku tunjuk Idibi'ilu untuk menjadi pengawas jalur masuk ke Mesir.
[117]
[117] The Ancient Arabs, I. Eph’al, hal. 36

Dalam mengamati daftar orang² yang disebut prasasti Tiglath-Pileser III, kita temukan nama² Massa, Teima, dan Saba. Massa terkenal sebagai suku Ismael yang tinggal di gurun Syro-Arabia. Teima adalah kota dan suku Arab. Saba adalah kerajaan di Yaman di jaman Tiglath-Pileser III di abad ke-8 SM. Banyak sejarawan yang beranggapan bahwa Badanu adalah suku Bdn, yang namanya disebut di prasasti² Thamud dan Safaitik. [118] Pliny juga menyebut kota Badanatha di daerah suku Thamud. [119] Aku simpulkan bahwa nama Badanatha kemungkinan berasal dari nama suku Badanu, yang bergabung dengan suku Thamud di abad ke-8 SM. Kemungkinan mereka tinggal di daerah yang sama di mana kota Badanatha kelak dibangun.
[118] Winnett, Safaitic Inscriptions from Jordan, 1957, Nos. 87, 237
[119] Pliny, Natural History, buku VI, Bab 32


Suku Idiba’ilu dikenal sebagai suku Adbil. Abdil adalah salah satu putra Ismael. Di prasasti Tiglath-Pileser III, tertulis bahwa dia menunjuk suku ini sebagai penjaga jalur masuk ke Mesir. Keterangan ini menyiratkan bahwa suku Ismael ini masih tinggal di Sinai di abad ke-8 SM.

Keterangan prasasti² Assyria sesuai dengan keterangan Alkitab tentang asal-usul suku² dan negara² yang disebut di kitab Kejadian. Adalah masuk akal jika orang² Assyria menulis nama suku sesauai dengan pengucapan mereka dalam bahasa mereka sendiri. Contohnya mereka menulis Adbil sebagai I-di-ba’-il-a-a, dan Saba sebagai Saab’-a-a.

Dalam prasasti² abad ke-8 dan 7 SM, kita temukan berbagai suku yang ditulis Musa di Alkitab. Akan tetapi tak ada keterangan tentang Mekah dan suku² lainnya, seperti suku Jurhum, yang kata Muslim tinggal di Mekah sejak jaman Abraham. Banyak suku yang disebut Alkitab sejak abad ke-15 Sm disebut lagi di kitab lain di Alkitab, sehingga mengungkapkan keberadaan mereka dan kegiatan historisnya. Contohnya adalah suku Efa, yang berasal dari putra² Abraham dan Keturah, istri Abraham setelah Sarah wafat.

Para sejarawan berpendapat bahwa suku Hayappa, yang disebut di prasasti Tiglath-Pileser III dan Sargon II, adalah suku Efa. Di Septuaginta (Alkitab Ibrani yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani), suku ini disebut sebagai suku Ghaifa. Alkitab menyatakan lokasi suku ini, karena kitab Kejadian memberikan silsilah keturunan para putra Ketura. Efa adalah putra tersulung Midian, ayah dari suku Midian. Efa jadi suku Midian terkuat, seringkali mewakili seluruh suku Midian. Orang² Midian hidup di Arabia baratlaut, dengan daerah Aqaba. Mereka bersatu dengan bangsa Ismael di jaman Gideon, yang berperang melawan bangsa Midian di tahun 1170 SM. Tembikar Midian ditemukan di Negev-Sinai, Yordania selatan, dan berbagai tempat di Arabia utara, sampai ke daerah Teima. Tembikar Midian di Teima tertanggal antara awal abad ke-13 SM dan pertengahan abad ke-12 SM. [120] Tidak terdapat tembikar Midian di sebelah selatan Teima. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Midian dan Efa tidak pernah mencapai Arabia barat tengah, di lokasi Mekah kelak dibangun.
[120] Sawyer John and Clines David, Midian, Moab and Edom, JSOT Press , Department of Biblical Studies, University of Sheffield, 1984, hal. 101

Di Alkitab, kitab Yesya, kita baca Efa dan Midian sebagai satu kelompok. Yesaya 60:6 berbunyi:

Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.

Efa tinggal di Arabia baratlaut, di sekitar Teluk Aqaba. Ayat ini menunjukkan Efa punya peranan dagang antara Saba Yaman, yang disebut sebagai Syeba, dan Palestina. Yesaya mulai bernubuat di tahun 739 SM, di tahun kematian Raja Uzziah, dan Tiglath-Pileser III mulai berkuasa sebagai Raja Assyria di tahun 745 SM. Kita bisa menyimpulkan bahwa Alkitab menyatakan suku Efa sebagai bangsa pedagang antara Saba dan Israel di seperempat akhir abad ke-8 SM. Alkitab juga menerangkan tentang Saba. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa suku Sabian hidup di Arabia utara, dekat Dedan. Mereka berpendapat begitu karena keterangan di Ayub 1:15, yang mengatakan bangsa Sabian merampok putra² Ayub dan membunuh para pelayannya. Sejarawan lain berpendapat bahwa Saba adalah daerah jajahan utara dari Saba di Yaman. Ayat² Alkitab lain menunjukkan bahwa Saba terletak di Yaman. Yesus mengatakan bahwa Ratu Syeba datang dari daerah paling selatan (Matius 12:42). Yeremia 6:20 berbunyi:

Apakah gunanya bagi-Ku kamu bawa kemenyan dari Syeba dan tebu yang baik dari negeri yang jauh?

Dari ayat di atas, Yeremia pertama-tama menjabarkan tempat di mana kemenyan itu berasal, dan memang catatan sejarah membenarkan bahwa Saba di Yaman memperdagangkan kemenyan besar²an. Lalu dia menyebut negeri yang jauh. Bahkan di kitab Ayub juga disebut bahwa Saba adalah negara asal para pengelana, seperti yang tertulis di Ayub 6:19, “Kafilah dari Syeba dan dari Tema mencari air itu dan mengharapkannya.” Telah banyak diketahui bahwa orang² Sabian dari Yaman adalah para pedagang yang mendampingi kafilah² mengarungi gurun pasir ke Palestina dan Syria, dan negara² Mediterania lainnya.

Di pasal pertama kitab Ayub tercatat bahwa orang² Sabian menyerang tanah milik Ayub. Orang² Sabian ini tampaknya adalah suku Baduy utara, yang tinggal di gurun Syro-Mesopotamia. Mereka merupakan keturunan Keturah, istri kedua Abraham. Sejarawan lain berpendapat bahwa orang² Sabian yang disebut di kitab Ayub kemungkinan adalah jajahan dari bangsa Sabian di Yaman yang mencoba mengontrol jalur dagang rempah². Mereka mencapai daerah di mana Ayub hidup, seperti yang juga tertulis di prasasti Tiglath-Pileser III, dan punya koneksi antara daerah Arabia utara dan Sinai. Prasati menunjukkan bahwa Tiglath-Pileser III memaksa 10.000 prajurit Sabian tunduk di bawah kakinya. Dan dia menuntut “berbagai macam rempah²” sebagai upeti, menunjukkan bahwa dia berhubungan dengan orang² yang melewati jalur dagang rempah², terutama Saba, Teima, dan Efa. Ketiga suku ini dikenal sebagai bangsa yang mengontrol jalur rempah². Tiglath-Pileser III berkata bahwa tanah² terpencil, dan tidak dikenal leluhurnya. Tiglath-Pileser III berkata dalam prasastinya, “Aku tundukkan di bawah kakiku orang² Massa’, Teima, dan Saba” dan ini menjelaskan bahwa tentara Assyria menyerang suku² tersebut. Tidak dijelaskan apakah Sabian merupakan koloni Saba dari Yaman atau suku Baduy dari utara. Tapi yang jelas, raja² Saba lalu menawarkan upeti kepada raja Assyria, pertanda bahwa mereka mengakui supremasi Assyria di daerah tersebut. Mereka juga ingin memasuki daerah² yang dikontrol Assyria untuk memperluas pasar dagang.

Dari keterangan sejarah di jaman Tiglath-Pileser III yang berkuasa di tahun 744-727 SM, kita mengetahui tentang suku² yang dominan dalam perdagangan, politik dan militer di Arabia selatan. Kita tahu bahwa Qedar membayar upeti bagi kerajaan Assyria. Kita juga tahu bahwa Efa, suku Midian yang dominan, membayar upeti. Suku Badanu yang berhubungan dengan suku Thamud, suku yang muncul satu dekade setelah Sargon II (yang berkuasa di tahun 721-705 SM), juga bayar upeti. Begitu pula Teima, dan juga suku Saba, yang merupakan suku dominan di Yaman.

Setelah menelaah keterangan penting dari Sargon II, yang nanti akan dibahas lebih lanjut, kita temukan berbagai suku, tapi tak ada keterangan apapun tentang kota Mekah atau suku Jurhum yang kata Muslim telah lama tinggal di Mekah. Kota Mekah tak pernah tercantum dalam catatan sejarah negara² di seluruh milenia SM. Prasasti² Assyria menyebut suku kecil seperti Badanu dan suku² lainnya di Arabia barat, sehingga tak mungkin mereka luput menulis tentang Mekah, jika kota itu memang sudah ada di jaman tersebut. Muslim sudah seharusnya memeriksa keterangan sejarah Islam.


Pemerintahan Sargon II dan Arabia

Jika Mekah sudah ada di jaman Sargon II, tentunya kota ini akan disebut bersama berbagai suku Arabia, termasuk Saba, yang semuanya disebut dalam berbagai prasasti di jaman itu.

Image
Raja Assyria Sargon II, 722-705 SM.

Sargon II adalah satu dari raja² terbesar Assyria. Sebagai pengganti Raja Shamaneser V, Sargo II berkuasa di tahun 722-705 SM, dan memperkuat kontrol kekuasaan yang sudah dikembangkan oleh Tiglath-Pileser III. Filistia, Babylonia, Kurdistan dan Israel merupakan sebagian tanah² yang dia taklukkan. Di tahun 717 SM, dia memecat seorang raja dari kota Karkemish di Hittite dan membuat kota itu sebagai jajahan Assyria. Dia menghentikan pemberontakan di banyak kota, seperti Arpad, Damaskus, dan Hamath, dan dia mengalahkan rencana bangsa Mesir yang mendukung para pemberontak. Setelah mengalahkan sebuah bangsa, Sargon akan mengambil sebagian penduduk dan mencampur sisa penduduknya dengan masyarakat dari daerah lain. Salah satu contohnya adalah Samaria. Sargon II mengambil bangsa Israel yang tinggal di Samaria ke Assyria utara dan lalu membawa suku² Arab yang mengancam perbatasannya untuk hidup di Samaria.

Image
Istana Raja Sargon II.

Sisa² peninggalan istana Sargon dan ibukota Dur Sharrukin telah mengungkapkan catatan tahunannya. Diantara kejadian² penting yang tercatat adalah kemenangannya atas beberapa suku Arab, seperti Thamud, Marsimani, Efa, dan Ibadidi. Dia mengusir sebagian penduduknya ke Samaria. Di catatan itu juga tercantum upeti yang diterimanya dari Pir’u, raja Mesir; dari Samsi, Ratu Arabia utara dan gurun antara Arabia dan Palestina; dan dari Ita’amra, Raja Saba, yang terkenal dengan prasasati Saba seperti Yathi’ amar. [121] Kita juga temukan keterangan tentang kekalahan suku² Arab di catatan lain Assyria, yakni prasasti Cylinder (Silinder). Keterangan upeti dari raja² tertulis di prasasti Display (Memajang). Terdapat keterangan berbagai kejadian bersejarah dalam periode ini yang dicatat beberapa kali.
[121] Luckenbil, op. cit., vol. II, 7; Rogers, op. cit., hal. 331; Barton, op. cit., hal. 463; dikutip oleh James Montgomery, Arabia and the Bible, hal. 59

Image
Prasasti Sargon II.

Suku Marsimani juga disebut sebagai suku Mesamanes, yang disebut Ptolemius di bukunya Geography, di jilid enam, bab tujuh. [122] Ptolemius mencatat lokasi suku ini terletak dekat daerah Thamud. Thamud disebut dalam prasasti² sebagai suku Arab di Arabia baratlaut. Thamud dicatat oleh para penulis kuno Yunani dan Romawi, dan banyak tercantum di berbagai prasasti. Thamud terletak diantara Teima dan daerah di mana Mekah kelak dibangun.
[122] Claudius Ptolemy, The Geography, Book vi, bab VII, diterjemahkan oleh Stevenson, Dover Publications, 1991, hal. 139

Efa, yang bersekutu dengan suku² Arab baratlaut untuk melawan raja Assyria Tiglath-Pileser III, kembali muncul lagi dengan persekutuan baru.

Dari prasasti² Tiglath-Pileser III dan Sargon II, kita bisa mengetahui kejadian penting apa yang terjadi, negara dan kota apa yang dominan di daerah Arabia barat di abad ke-8 SM. Keterangan ini mencakup pandangan politik dan perdagangan. Mekah tak disebut dalam semua catatan sejarah tersebut, meskipun letaknya dekat dengan lokasi suku² yang disebut di prasasti abad ke-8 SM, seperti suku Thamud dan Mesamanes. Jika Mekah saat itu sudah dibangun, tentunya akan terletka diantara tempat tinggal suku² itu dan Saba.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Mon Apr 04, 2011 1:12 pm

Para pembaca, maaf jikalau sampai sekarang urutan masih kacau-balau, acak-adut, bagaikan Qur'an. Nanti jika semuanya sudah selesai diterjemahkan, so pasti urutan akan rapi tersusun.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Wed Apr 06, 2011 10:36 am

ari jambronk wrote:sekarang mari anda baca sejarah kota mekah di jaman nbi Ibrahim..

Muslim yang satu ini rupanya sangat bod0h dan tidak tahu ilmu arkeologi dan sejarah. Muslim boleh mengarang apapun tentang Mekah dan Ka'bah sudah ada di jaman Abraham dan Ishak, tapi jika tak ada prasasti, peninggalan arkeologi, catatan sejarah jaman SEBELUM MASEHI tentang Mekah, maka itu berarti TAK ADA BUKTI SEJARAH APAPUN YANG MENUNJANG PERNYATAAN TERSEBUT!! Jangan pake referensi wikipedia untuk membuktikan kebenaran bahwa Mekah sudah ada di jaman Abraham, karena siapapun bisa menulis artikel apapun di wikipedia. Karena Muslim ngaku Mekah dan Ka'bah sudah ada di abad ke-21 SM, maka Muslim harus mampu menunjukkan bukti² prasasti atau keterangan buku² kuno yang ditulis sejarawan, geografer tentang Mekah di jaman SEBELUM MASEHI.

BUKTINYA MANA?? Itu yang dibahas habis²an di sini. Bukti itu harus berbentuk fakta nyata, wujud benda yang konkrit, yang bisa dilihat dan diperiksa semua orang, kapanpun juga. Bukti itulah yang tidak dimiliki uma Muslim sama sekali untuk menunjukkan bahwa Mekah dan Ka'bah sudah ada di jaman Abraham (abad ke-21 SM).

Aku minta Moderator membuang tulisan² sampah Muslim kalut agar tidak mengotori thread terjemahan gw yang belon selesai.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Adadeh » Wed Apr 06, 2011 2:23 pm

Kekuasaan Sennacherib

Mekah tak disebut dalam laporan pemerintahan Sennacherib di bidang militer, perdagangan, dan agama.

Image
Raja Assyria Sennacherib, 705-681 SM.

Raja Sennacherib, berkuasa di tahun 705-681 SM, dan banyak berperang untuk mempertahankan kekaisarannya yang didirikan oleh ayahnya, Sargon II. Diantara perang² tersebut, adalah peperangan melawan Babylonia. Setelah itu dia memerangi berbagai negara di pantai Mediterania, yang didukung oleh Mesir, seperti negera Funisia dan Filistia. Setelah itu, Sennacherib menyerang Yerusalem. Lalu dia mengalahkan Mesir di tahun 701 SM. Dia juga menyerang Elam di tahun 691 SM.

Sennacherib mengalahkan bangsa Arab, yang memihak Merodach Baladan, sang Raja Babylonia yang memberontak terhadap Assyria. Sennacherib berperang melawan ratu Arabia utara yakni Te’lhunu. Sang Ratu dikalahkan dan merlarikan diri ke kota Adummatu atau Dumah atau Dumahis atau Dumaht al-Jandal yang terletak antara al-Medina dan Syria. Dumah terkenal sebagai pusat ibadah bagi suku² Arab. Kuil dewa utama mereka yakni Wadd terletak di Dumah. Di masa depan, kuil di daerah Teluk Aqaba akan mengganti kedudukan kuil di Dumah. Geografer Yunani Agatharchides mengunjungi pusat ibadah di Dumah. Tentara Sennacherib mengambil gambar² di lapisan kayu yang dibuat bangsa Arab di Dumah dan membawanya ke Assyria. Kelak Esarhaddon mengembalikannya ke Dumah.

Image
Tembok di jaman Sennacherib yang menunjukkan kegiatan Raja Assyria tersebut.

Berdasarkan prasasti Assyria, di tahun 689 SM, bangsa Assyria menyerang Arabia utara melawan Adummatu. Mereka berperang melawan persekutuan dua pemimpin Arabia utara: Telehunu, Ratu bangsa Arab; dan Hazael, Raja Qedar. Prasasti menerangkan bahwa persekutuan Arab dikalahkan, dan Hazael membayar upeti kepada Sennacherib. Melalui peperangan ini, Sennacherib menetapkan dirinya sebagai penguasa di tanah yang ditaklukkan ayahnya, Sargon II. Sennacherib memperluas kekuasaannya dengan menaklukkan bangsa Mesir, Babylonia, Ratu Arab Te’lhunu, dan Dumah. Dia juga menguasai jalur dagang rempah². Namanya begitu terkenal, sehingga sejarawan Yunani Herodotus menyebutnya sebagai “raja bangsa Arab dan Assyria.” [123]
[123] Herodotus II, hal. 141

Kota² Arab seperti Teima terus membayar upeti kepada Sennacherib. Di prasasti Niniveh terdapat keterangan tentang pintu gerbang di Niniveh yang merupakan “gerbang gurun di mana pemberian rakyat Teima masuk.” [124] Hal ini menunjukkan banyak kota² dagang, seperti Teima, tergantung pada belas kasihan Assyria jika mereka ingin perdagangan tetap berlangsung. Mereka butuh ijin dari Assyria untuk bisa terus hidup berdagang.
[124] Loh batu di Museum Inggris, 103,000 vn 96-viii 1(Luckenbill, Sennacherib, 113); dikutip oleh I. Eph’al, E.J. Brill, The Ancient Arabs, hal. 41

Image Image
Prasasti Sennacherib.

Tarikh Assyria menyebut pemberian atau upeti yang dibayar oleh Raja Saba yakni Kariba’ilu. Raja ini adalah Raja Karib’il Water yang terkenal dalam prasasti Saba. Hal ini karena Assyria mengontrol jalur jalan perbatasan daerah Bulan Sabit Subur. Raja Hazael dari Qedar membayar upeti bagi Sennacherib.


Jika Mekah sudah ada di abad ke-8 dan 7 SM, tentunya Mekah juga akan tergantung pada ijin Assyria untuk bisa terus hidup dari berdagang.

Berbagai negara di Arabia barat disebut oleh Sennacherib, terutama kerajaan² di sepanjang jalur dagang, misalnya Dumah, Qedar, Teima, dan Saba di Yaman. Sargon II juga menyebutkan kota² jalur rempah² seperti Saba, Teima, dan Efa. Kota² ini tergantung pada hubungannya dengan negara² lain, dan mereka tidak bisa diam saja terhadap penguasa daerah itu yakni Assyria.

http://img852.imageshack.us/img852/1907/sargonbust.jpg
Sargon II, raja Assyria.

Sejak Mekah dibangun di abad ke-4 M, Mekah membeli banyak barang dari Yaman dan memasarkannya ke Palestina, Syria, dan Mesopotamia di daerah Bulan Sabit Subur. Assyria mengontrol semua tanah itu sejak akhir abad ke-8 SM dan mencatat semua suku yang berdagang di daerahnya. Dengan begitu, bagaimana mungkin mereka bisa luput mencatat tentang Mekah di jaman tersebut? Alasannya tentu karena Mekah belum ada saat itu.


Kota Dumah Pusat Agama

Mekah tak tercatat sebagai pusat agama, sedangkan Dumah dikenal suku² Arab sebagai pusat agama.

Keterangan penting lain didapat di prasasti Assyria tentang Dumah sebagai pusat agama bagi suku² Arabia utara. Pahatan berisi gambar² berbagai dewa Dumah merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Arabia sehingga mereka pergi ke Assyria dan memohon pada Raja Esarhaddon agar gambar² tersebut dikembalikan pada mereka. Hal ini terjadi setelah ayah Esarhaddon mengambil pahatan² tersebut dan membawanya ke Assyria. Dumah mendominasi pengaruh agama di jaman Assyrian sebelum orang² Arab membangun kuil lain di daerah Teluk Aqaba. Orang² Arab terkenal setia pada pusat ibadah yang mereka pilih. Jika Mekah dan Ka’bah sudah dibangun saat itu, tentunya Mekah akan terkenal sebagai pusat ibadah, dan orang² mungkin akan berziarah dahulu ke Mekah sebelum berperang.

Akan tetapi tiada keterangan apapun tentang Mekah dalam catatan sejarah perdagangan, militer, dan agama di kekaisaran² Assyria dan Babylonia. Pernyataan Muslim bahwa Mekah sudah jadi pusat agama sejak jaman Abraham tidak terbukti karena tiadanya keterangan seperti itu di sepanjang jaman kuno. Jika Muhammad sudah lahir di jaman itu, tentunya dia akan memilih kota Dumah sebagai pusat agama, karena Mekah belum ada di abad ke 7 SM.


Kekuasaan Esarhaddon

Image
Raja Assyria Esarhaddon, 680-669 SM.

Raja Assyria Esarhaddon berkuasa menggantikan ayahnya, Sennacherib. Esarhaddon memipin Assyria di tahun 680-669 SM. Dia melalukan peperangan penting, dan yang terpenting adalah penyerangan ke Mesir, Ethiopia, dan gurun Arabia. Di dekat sungai Kalb, dekat Beirut atau Lebanon jaman sekarang, salah satu prasasti Esarhaddon ditemukan. Prasasti itu menerangkan penyerangannya ke Mesir dan Ethiopia. Mesir sedang berada di bawah kekuasaan Ethiopia ketika Esarhaddon menyerangnya. Dia akhirnya berhasil menaklukkan semua kerajaan di pantai timur Mediterania, dan dia membawa raja²nya ke Niniveh.

Prasasti Esarhaddon menyatakan banyak keterangan tentang perang²nya dengan bangsa Arab, menunjukkan banyaknya daerah Arab yang dikuasainya di awal abad ke-7 SM. Tarikh Niniveh menunjukkan berbagai kejadian penting, contohnya adalah pengembalian pahatan gambar dewa² Arab ke Dumah. Dumah adalah pusat ibadah suku² Arabia sejak abad ke-9 SM.

Esahaddon juga menyelamatkan Tabua, gadis Arab. Tabua diambil dari masyarakat Arabnya sewaktu masih kecil, dan dia besar di istana² para raja Assyria. Raja Assyria lalu menunjuk dia untuk jadi ratu bangsa Arab di Dumah. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh Assyria terhadap masyarakat Arab di jaman Esarhaddon.

Selain itu, tarik Niniveh juga menjelaskan bahwa Raja Qedar yakni Hazael membayar upeti ke Assyria. Hazael datang ke Niniveh untuk menunjukkan sikap tunduknya kepada Esarhaddon:

Tentang Hazael, raja Arabia, keagunganku membuatnya terpesona, dia datang membawa emas, perak, dan batu² berharga di hadapanku dan mencium kakiku. [125]
[125] Luckenbill, Records of Assyria II. 551.

Image
Raja² taklukkan Assyria mencium kaki Raja Esarhaddon.

Tarikh Niniveh juga menjelaskan tentang putra Hazael yakni Ia’-hi-u’ atau Yauta’. Dia jadi raja Qedar setelah Hazael mati. Tentara Assyria membantu Yauta’ untuk mengalahkan pemberontakan yang dipimpin oleh U-a-bu. U-a-bu memimpin persekutuan Arab melawan Yauta’, tapi tentara sekutu itu dikalahkan oleh tentara Assyria. Kemudian Yauta’ memberontak terhadap Assyria, dan lalu Assyria berbalik menyerangnya, Yauta’ kalah dan melarikan diri. Dia kemudian kembali dan mengucapkan sumpah setia kepada Assurbanipal, raja Assyria selanjutnya.

Image
Prasasti Assyria, jaman Esarhaddon.

Image
Prasasti silinder.

Keterangan ini merupakan contoh tulisan di prasasti Esarhaddon, yang menunjukkan bahwa Arabia utara, terutama Qedar, berada di bawah kekuasaan Assyria. Kekaisaran Assyria menunjuk raja², menerima upeti, dan menekan segala pemberontakan melawan mereka, atau raja² Arab yang setia pada Assyria. Keterangan ini juga terdapat di berbagai pahatan batu Assyria. [126] Terdapat pula prasasti² lain di Niniveh dan Assur yang melaporkan keterangan yang sama. Contoh² peninggalan sejarah seperti ini menunjukkan kejadian² bersejarah dalam kekuasaan Esarhaddon yang sudah teruji kebenarannya dalam catatan² arkeologi. Terdapat keterangan menarik dari Niniveh yang dikenal sebagai “Fragmen F.” Ketika tentara Esarhaddon mengarungi gurun pasir Sinai untuk menaklukkan pemberontakan di Mesir, mereka menggunakan unta² Arab untuk membawa bekal air. [127] Hal ini menunjukkan bahwa Esarhaddon belajar tentang penggunaan unta dari berbagai tanah Arab yang dikuasainya. Dengan menggunakan unta² Arab tersebut, tentara Assyria berhasil mengarungi gurun pasir luas untuk menyerang tanah musuh. Hal ini terjadi ketika dia menyerang daerah Ba’zu.
[126] Salah satu contoh adalah prasasti Silinder yang ditemukan di kota Nimrud, dan yang terpenting disebut Klch. A; terdapat pula prasasti yang diberi nama "Trb.A- a," prasasti silinder dari Tarisu (lihat E. Nassouhi, Mitteilungen der altorientalischen Gesellschaft, III, 1-2, (1927), hal. 22-28; dikutip oleh , I. Eph’al, hal. 45
[127] Prasasti² dari Niniveh (K 3082+ K 3086+ Sm 2027); lihat R. Borger, Die Inschriften Asarhaddons, Konigs von Assyrien, Graz 1956, hal. 112-113, dikutip oleh I. Eph’al, The Ancient Arabs, hal. 46



Daerah Ba’zu

Keterangan lain untuk membantah pernyataan Muslim bahwa Mekah sudah ada di jaman Esarhaddon, terdapat pada fakta bahwa tentara Assyria tidak menemukan kota lain apapun untuk ditaklukkan di Arabia baratlaut, sehingga mereka langsung menuju Arabia tengah ke daerah Ba’zu.

Para sejarawan beranggapan Ba’zu terletak di Arabia tengah, ke arah daerah Teluk Persia. Hal ini menunjang perkiraan bahwa Assyria berkuasa atas sebagian Arabia utara dan tengah. Keterangan tentang penyerang ini terdapat di prasasti dan tawarikh Esarhaddon dan Babylonia. Ba’zu dijabarkan sebagai berikut:

Kota yang jauh, melewati padang garam, melampaui daerah berpasir dan berduri, melampaui lingkup aktivitas militer di jaman raja² Assyria terdahulu. [128]
[128] Heidel Prism iii, 9-18, dikutip oleh Eph’al, hal. 130

Keterangan yang sama menerangkan daerah Ba’zu sebagai: “daerah yang tandus, bertanah garam, daerah tak berair.” Heidel Prism III menerangkan tentang tentara Assyria bergerak sejauh 140 beru (1.500 km) menuju daerah “yang berlapiskan pasir, tanaman berduri, ular, dan kalajengking menutupi tanah bagaikan semut.” [129] Keterangan lain tentang Ba’zu mengatakan: “Daerah yang terletak sangat jauh, gurun pasir alkali, daerah pasir yang kering, semak belukar berduri, dan mulut gazel, batu², penuh ular dan kalajengking, daerah yang ditutupi semut.” [129] Prasasti menyebutkan sembilan tempat yang ditaklukkan Assyria di Ba’zu, dan menyebutkan delapan nama raja² daerah tersebut. Tentara Assyria membakar tujuh tembok kota di Ba’zu. Lalu mereka mengangkat seorang raja lokal bernama Laya’le untuk memimpin negara itu. Dia adalah raja di daerah dekat Ba’zu, dan namanya adalah Ia-di. [131]
[129] Heidel Prism iii, 9-18, dikutip oleh Eph’al, hal. 130
[130] Luckenbill, Ancient Records of Assyria and Babylonia, Vol. II, hal. 214
[131] Nin. A.; Heidel Prism iii 21; dikutip oleh Eph'al hal. 131


Kejadian² ini menunjukkan besarnya pengaruh Assyria di Arabia di jaman Esarhaddon. Mereka mampu mengarungi gurun pasir sejauh 1.500 km. Para sejarawan memperkirakan lokasi Ba’zu di dua tempat: satu di Arabia tengah, dekat kota Khaybar [132] dan satu lagi di Teluk Persia barat. [133] Perlu diperhatikan bahwasanya tentara Assyria menyerang daerah sangat jauh seperti Ba’zu, dan bukannya menyerang Mekah di daerah Arabia barat. Alasan mengapa Mekah tidak diserang adalah karena daerah Mekah memang belum berpenghuni sama sekali saat itu. Daerah Mekah membagi Arabia utara dan Yaman, tapi Assyria tidak menyerang daerah itu, karena memang tak ada kota apapun di situ. Karena itulah tentara Assyria langsung menuju Arabia tengah dan timur untuk menaklukkan daerah baru, yakni Ba’zu.
[132] Hommel, Ethnologie und Geographie des alten Orients, Munchen, 1926, hal. 558-559; dikutip oleh Eph'al.
[133] Eph’al, The Ancient Arabs, E.J. Brill, Leiden, 1982, hal. 137



Kekuasaan Assurbanipal

Meskipun Assurbanipal banyak berhubungan dengan suku² Arabia, dan telah mencapai daerah Teima, catatan sejarah Assurbanipal tidak menyebut Mekah sama sekali.

Image
Raja Assyria Assurbanipal, 669-626 SM.

Bantahan terhadap pernyataan Muslim tentang Mekah tidak berhenti pada Esarhaddon saja, tapi juga pada penggantinya. Sebelum Esarhaddon wafat, dia membagi daerah Mesopotamia bagi kedua putranya. Dia memberikan Babylonia pada putra sulungya, yakni Shamash-shum-ukin, dan dia memberikan takhta Assyria pada putra keduanya, yakni Assurbanipal, yang berkuasa di tahun 669-626 SM. Assurbanipal menyerang Raja Ethiopia, yakni Taharka, keluar Mesir dan mengangkat Necho untuk menggantinya. Lalu di tahun 660 SM, saat Assurbanipal menyerang Elam dan Kaldea, Psamtik putra Necho memberontak dan memisahkan Mesir dari Assyria. Lalu Shamash-shum-ukin, kakak laki Assurbanipal dan raja Babylonia, membentuk persekutuan dengan negara² lain untuk memerangi adik lakinya, Assurbanipal. Prasasti Assyria mencatat daftar suku² Arab yang bersekutu dengan Shamash-shum-ukin, sebagai berikut:

Di hari² ini, Shamash-shum-ukin, kakak lakiku yang berkhianat, Raja Babylonia, membangkitkan pemberontakan terhadapku, bersama bangsa Akkad, Kaldea, Aramia… Daerah laut dari Akaba ke Bab-Salimeti. [134] (Akaba kemungkinan adalah nama asli dari Aqaba.)
[134] Luckenbill, op. cit., hal. 301; Doughty, Arabia Deserta, Volume I, page 51; dikutip di Arabia and the Bible, James Montgomery, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 62

Image
Raja Babylonia, Shamash-shum-ukin, kakak laki dari Raja Assyria Assurbanipal.

Di tahun 648 SM, Assurbanipal mengalahkan tentara sekutu dan mencaplok Babylonia ke dalam kekuasaannya. Abangnya lalu bunuh diri. Beberapa tahun kemudian, Nabopolassar, pemimpin dinasti Kaldea, memberontak terhadap Assurbanipal.

Prasasti² Assurbanipal mengandung keterangan tentang bangsa Arab. Tarikh Assurbanipal menulis tentang perjanjian yang dibuatnya dengan bangsa Qedar untuk tahun 652 SM. [135] Tarikh juga menerangkan tentang pemberontakan Yauta’, putra Hazael dan Raja Qedar. Yauta menyerang daerah² Trans Yordania sebelum terjadi peperangan antara Assurbanipal dan abangnya, Shamash-shum-ukin, Raja Babylonia. Yauta’ dikalahkan dan dia lalu lari ke tanah Nebayot untuk mencari perlindungan dari rajanya, yakni Natnu. Assurbanipal mengganti Yauta; dengan Abyate’, putra Te’ri, yang tunduk dan bayar upeti pada Assurbanipal. Natnu, raja Nebayot, juga tunduk dan bayar upeti. Prasasti² Assyrian menerangkan bahwa bangsa Qedar punya lebih dari satu pemimpin, dan salah satunya adalah Ammuladi. Ammuladi menyerang perbatasan barat dengan Assyria, tapi dia dikalahkan.
[135] Annals of Assurbanipal; R.F. Harper, Assyrian and Babylonian Letters, I XIV,(London-Chicago, 19140), 350; dikutip oleh Eph'al, hal. 55

Berdasarkan Tarikh Shamash-shum-ukin, pengepungan kota Babylonia terjadi di tahun 650 SM. Diantara bangsa Arab yang mendukung Shamash-shum-ukin adalah Abiyate’, putra Te’ri. [136] Juga orang Arab lainnya yakni Uaita’, putra Birdada, raja suku Su-mu-An, yang mengirim tentara untuk menolong Shamash-shum-ukin. Suku Su-mu-An merupakan bagian dari kelompok suku Qedar. [137] Alasan suku² Arab memihak Shamash-shum-ukin melawan Assurbanipal adalah karena Babylonia terletak lebih dekat ke Arab, dan mereka mengira Babylonia akan menang perang dan mengontrol jalur dagang ke pasar² daerah Bulan Sabit Subur. Mereka juga mengira Babylonia tidak akan menuntut mereka bayar upeti mahal sebagaimana yang dituntut Assyria.
[136] A.R. Millard, Iraq ( 1964), cit. 28 ; dikutip oleh Eph’al, The Ancient Arabs, hal. 154
[137] The Ancient Arabs, I. Eph’al, E.J. Brill, Leiden, 1982, hal. 168


Di sekitar tahun 645 SM, Assyria menyerang suku² Qedar, Su-mu-An, dan Nebayot. Penyerangan ini terjadi setelah Assyria menang perang atas Elam. Assurbanipal sekarang siap menghukum suku² Arab yang membantu abangnya berontak. Sebelum kekaisaran Assyrian di bawah Assurbanipal melemah dan ditekan Babylonia, Assurbanipal melakukan banyak penyerangan terhadap bangsa Arab. Dia berperang melawan mereka di gurun Syro-Arabia, mulai dari Tadmur dan bergerak ke selatan. Di akhir penyerangan, menurut sejarawan Glaser, Assurbanipal menembus gurun Arabia sampai mencapai Teima.

Mekah adalah kota yang dibangun di atas jalur rempah² dan tergantung pada pasar² di daerah Bulan Sabit Subur, yang sebelum abad ke-7 SM dikuasai oleh Assyria selama beberapa abad. Untuk bisa bertahan hidup, Mekah harus membuat dirinya terkenal diantara para pedagang dan kota² lain. Tapi itu pun andaikata Mekah memang sudah ada sejak jaman kuno.

Dengan mempelajari prasasti² Assyria di abad ke-7 SM, kita lihat bahwa Mekah terus-menerus absen. Hal ini terus terjadi selama beberapa abad. Setiap raja menuliskan penaklukkannya dan menulis secara detail kejadian² penting dalam pemerintahannya. Beberapa kejadian tertulis di banyak prasasti. Kita sekarang tahu bahwa suku² Arabia utara dan barat, sampai mencapai Saba, berusaha menyenangkan Assyria agar dilindungi pasaran dagangnya. Banyak dari suku² tersebut yang membayar upeti setiap tahun. Sebagian suku dan kota yang dikuasai Assyria berontak dan dikalahkan. Sebagian lagi membentuk persekutuan, berharap mendapatkan daerah baru, atau mencari hubungan untuk mendapatkan jalur dagang guna memperluas pasaran.

Dari semua keterangan tersebut, Mekah tidak disebut sama sekali di seluruh prasasti Assyria di rentang sejarah yang sangat panjang ini. Nama berbagai kerajaan dan kota di jalur rempah² muncul berulangkali, tapi nama kota Mekah tidak ada. Jika Mekah memang sudah dibangun, seperti yang dikatakan Muslim, Mekah tentaunya punya lebih banyak alasan daripada kota² lain untuk punya hubungan kuat dengan Assyria. Mekah akan butuh dukungan Assyria, dan akan membayar upeti, karena lokasi Mekah yang tergantung pada perdagangan untuk bisa terus hidup.

Di masa yang lama sekali setelah jaman Assurbanipal, yakni masa abad ke-4 SM, barulah Mekah mulai muncul di Arabia barat tengah. Sama seperti negara² sebelumnya, catatan sejarah menunjukkan bahwa Mekah tergantung pada perdagangan karena lokasinya yang terletak di atas jalur dagang rempah². Tiadanya keterangan tentang Mekah di daerah Bulan Sabit Subur yang dikontrol Assyria, dan dominasinya atas berbagai suku Arabia utara, menunjukkan fakta bahwa Mekah memang tidak ada di jaman Assyria tersebut. Keterangan ini penting untuk membantah satu hal: umat Islam mengatakan kota Mekah sudah ada lama sebelum jaman Assurbanipal. Mereka mengatakan Mekah dibangun oleh Abraham dan Ismael, putranya dari Hagar. Mereka mengatakan kedua pria ini membangun Ka’bah di Mekah di tahun 2050 SM. Kita telah buktikan bahwa keterangan ini salah besar.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby 5in » Wed Apr 06, 2011 3:40 pm

numpang nandai dl ach...
Manteb... :heart:
User avatar
5in
 
Posts: 66
Joined: Sun Mar 27, 2011 4:38 pm

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby Jarum_Kudus » Thu Apr 07, 2011 1:51 am

Gilee... Muslim ditipu abiiieezz gini sama Muhammad. Ternyata tak ada prasasti atau peninggalan sejarah Mekah apapun di jaman Sebelum Masehi, sedangkan kota2 kuno Arab lainnya punya banyak bukti prasasti kuno. Gw dari dulu juga udah tahu bahwa Muhammad mendirikan Islam di atas tonggak dusta dan tipu, tapi tak menyangka sampai separah ini. Terus terang, gw kasihan banget sama Muslim.

Kasus Muhammad dan Qur'an itu serupa dengan kasus Joseph Smith pendiri Mormon dan kitab sucinya. Joseph Smith mencontek buku fiksi sejarah jaman dulu, dan mengatakannya sebagai kitab suci baru, tapi dia dan umat Mormon tak mampu menunjukkan bukti sejarah apapun yang membuktikan kebenarannya. Banyak tuh kota2 besar dan berbagai perang di benua Amerika sebelum orang Indian dateng, kata Joseph Smith di kitab suci Mormon. Jutaan yang tewas di satu tanah lapang di medan perang itu, katanya lagi. Tapi gak ada bukti kerangkanya satu pun di tempat itu, atau peninggalan arkeologi kota2nya.

Kalau tak ada bukti sejarah, maka runtuhlah semua bual Muhammad tentang Mekah dan Ka'bah yang kata Qur'an sudah ada di jaman Abraham. Ngawur bin bullshit. Qur'an memang sudah seharusnya dibakar.
User avatar
Jarum_Kudus
 
Posts: 1711
Images: 417
Joined: Tue Feb 28, 2006 9:49 am

Re: Rafat Amari: Islam, Ditinjau dari Pengamatan Sejarah (1)

Postby kalangkilang » Thu Apr 07, 2011 2:06 am

wah,,thread sebagus ini,,kok bisa lolos dari pengamatan saia,,, ](*,)

numpang nandain bung adadeh,,
trims,,,
User avatar
kalangkilang
 
Posts: 2696
Joined: Sun Sep 26, 2010 12:52 am
Location: lagi menulis dibuku

PreviousNext

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users