.

MOON-o-Theism oleh Yoel Natan

Re: MOON-o-Theism oleh Yoel Natan

Postby anne » Fri Sep 21, 2012 11:08 pm

Bro MyLovelyCarnation,

Kalender Yahudi adalah lunisolar, kombinasi kalender lunar dan kalender solar, yi. menambahkan satu bulan ekstra di kalender lunar agar selaras dengan musim-musim di kalender solar. Ke-12 bulan dalam kalender Yahudi: Nissan, Iyar, Sivan, Tammuz, Av, Elul, Tishri, Cheshvan, Kislev, Tevet, Shevat, dan Adar. Bulan ke-13, Adar I, disisipkan setelah bulan Shevat, sebelum bulan Adar biasa (yang kemudian disebut Adar II). Tahun baru Yahudi dimulai di bulan ke-7, Tishri (sekitar September-Oktober kalender Gregorian).

Adar I ditambahkan di tahun ke-3, ke-6, ke-8, ke-11, ke-14, ke-17, dan ke-19 dalam satu siklus tahun. Siklus yang sekarang dimulai di tahun 5758 kalender Yahudi (sekitar 2 Oktober 1997 kalender Gregorian). Untuk memudahkan mengingatnya, dipakai illustrasi tangga nada mayor di piano: untuk nada yang berjarak 1 (c-d-e dan f-g-a-b) ada dua tahun biasa dan satu tahun kabisat; untuk nada yang berjarak ½ (e-f dan b-c) ada satu tahun biasa dan satu tahun kabisat:

Image
sumber: http://www.jewfaq.org/calendar.htm

Penambahan diperlukan agar perayaan-perayaan Yahudi jatuh sesuai musimnya (sesuai Firman Tuhan). Misalnya, Sukkoth, Hari Raya Pondok Daun atau Pesta Panen, dilangsungkan di akhir tahun Yahudi (Kel. 23:16; 34:22), dan Shavuot, berlangsung di musim semi (Im 23:10-14).

Jika bersandar pada kalender lunar murni, maka 12 bulan lunar lebih pendek 11 hari dari satu tahun solar dan 13 bulan lunar lebih lama 19 hari dari satu tahun solar. Akibatnya, dengan menggunakan kalender 12 bulan lunar perayaan selalu maju 11 hari lebih cepat setiap tahun, dan dengan menggunakan 13 bulan lunar hal yang sama terjadi sebaliknya, 19 hari lebih lambat setiap tahun.

Demikian sederhananya bro, CMIIW O:)
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: MOON-o-Theism oleh Yoel Natan

Postby MyLovelyCarnation » Sat Sep 22, 2012 12:38 am

@anne

OK thanks anne.

Berarti dasarnya adalah kalender lunar (bkn kalender solar) yg karena kekurangannya maka disisipkan 1 bln pada tahun2 tertentu agar dapat menyesuaikan masa terjadinya musim2tahunan. Penyisipan ini dgn sendirinya dapat menjadi selaras dgn kalender solar. Itulah mengapa disebut kalender solilunar. Begitukan?
User avatar
MyLovelyCarnation
 
Posts: 522
Joined: Mon Aug 06, 2012 12:30 am
Location: komunitas Ganyang Islam

Re: MOON-o-Theism oleh Yoel Natan

Postby anne » Wed Nov 28, 2012 10:27 pm

Analisa mendalam Ibrahim dan Monoteisme Dewa Bulan (Q6)

Umumnya, kalimat "Saya tidak suka kepada yang tenggelam" dianggap kunci yang membuka makna kisah mengenai Ibrahim ini (Q6:76). Kalimat ini diartikan bahwa Ibrahim menolak matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai tuhan, berdasarkan fakta mereka tenggelam. 2392 Ruthven. World, pp.16-17

Agar selaras dengan gagasan ini, Pickthall dan Yusuf Ali berulangkali menerjemahkan kalimat (Shakir Q6:76,77,78): “so when it set” (maka saat ia tenggelam) sebagai “but when it set.” (tetapi saat ia tenggelam). Kata sambung ‘but’ (tetapi) menyiratkan Ibrahim heran dan kecewa saat objek astral tersebut benar-benar tenggelam.

Terjemahan ‘tetapi’ dan tafsir saleh episode Ibrahim dalam Quran, terasa konyol dan menggelikan. Ibrahim, tentu sudah mengetahui dari sejak kecil bahwa benda-benda langit tertentu akan tenggelam di balik batas cakrawala. Tidak perlu bagi Allah secara personal memperlihatkan pada Ibrahim bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang tenggelam (Q6:75).

Tafsir saleh Quran surah 6 kemungkinan muncul satu atau dua abad setelah masa Muhammad. Muhammad jelas mengajarkan bahwa Ibrahim mengenali petunjuk Allah sang dewa bulan. Penjelasan saleh di kemudian hari merupakan usaha untuk membersihkan implikasi kisah “Allah adalah dewa bulan.” Terjemahan Quran surah 6 selanjutnya juga memperkuat tafsir saleh tersebut dengan menggunakan terjemahan ‘tetapi’ seperti yang disebut di atas.

Penjelasan saleh tersebut untuk mengalihkan kisah Ibrahim dari paganisme astral kuno. Umat Islam yang berjarak beberapa abad dari inti ajaran astral pagan, beranggapan kisah yang disetting seperti itu memudarkan dewa matahari, bulan dan bintang, dengan diterapkan prinsip ‘hilang dari penglihatan, hilang pula dari pikiran(bintang, bulan, matahari hilang tenggelam sehingga tidak ada kandidat tuhan dari ketiganya, sungguh dungu Ibrahim ini), Namun, penafsir lupa bahwa dewa-dewa planet seperti Jupiter dan Venus disembah baik di saat siang dan juga malam, tak masalah mereka terlihat atau tidak.

Banyak dewa dewi astral disembah terutama justru saat-saat dimana mereka tidak terlihat. Dianggap bahwa ketika matahari, bulan dan bintang-bintang berada di balik batas cakrawala, mereka sebenarnya mengadakan perjalanan dari barat ke timur lewat dunia bawah.

Kekuatan gelap chthonic atau dunia bawah, yang dianggap para pagan lebih baik ditentramkan saat mereka menghilang, termasuk diantaranya matahari malam, yi, bintang-bintang yang muncul musiman seperti Sirius, serta bulan dalam periode peralihan tiga hari sebelum bulan baru berikutnya. Periode peralihan tersebut, yakni saat bulan tidak terlihat-- diantara fase bulan sabit hilang menyusut dan bulan sabit mulai terlihat membesar-- adalah waktu istimewa bagi budaya penyembahan dewa bulan.

Dalam ‘Book of Dead’ Mesir kuno, dan sekte-sekte rahasia di Kekaisaran Roma sepanjang abad pertama masehi, sangat kental berurusan dengan masalah menentramkan/menyenangkan dewa-dewi dunia bawah chthonic. Menyembah dewa-dewi astral selagi mereka berada di balik batas cakrawala, perayaannya diizinkan dilakukan selama siang hari.

Bedah ayat mengungkap bahwa kisah Ibrahim di Q6 agaknya dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa ada gradasi diantara objek-objek astral. Kisah tersebut untuk menghilangkan prasangka trinitas astral di Timur Tengah.

Muhammad ingin membantah kepercayaan populer pra-Islam saat itu, bahwa Allah, sang dewa bulan hanyalah bagian dari trinitas bulan, matahari dan Venus, atau dalam kata-kata Muhammad sendiri, ia ingin membantah Allah hanyalah “Allah salah seorang dari yang tiga” (Q5:73).

Kebanyakan trinitas, terdiri dari kombinasi matahari, bulan dan Venus. Logika monoteistik dari kisah tersebut adalah, karena salah satu objek astral memberi kesan paling kuat pada Ibrahim, maka yang lain, yang kurang begitu mengesankan, hanyalah ciptaan semata.

Muhammad menjadi percaya bahwa para malaikat laki-laki menduduki posisi matahari dan bintang-bintang. Ia yakin orang-orang terdahulu telah salah memberi nama perempuan pada matahari dan banyak bintang lain, serta menaikkan status mereka ke status ilahiah, sebagaimana dijelaskan di atas.

Mengapa Muhammad berpikir bahwa para malaikat harus laki-laki (Q37:150; Q42:19; Q53:27)? Pertama, mereka harus memerangi Jin-jin dan setan-setan yang mencuri dengar, dan bahkan menyerbu langit. Meteor dan meteorit dilemparkan para malaikat laki-laki pada Jin-jin dan setan-setan ini (Q41:12; Q72:8-9). Kedua, di Arab kuno, keturunan laki-laki lebih disukai daripada keturunan perempuan (Q16:59; Q17:40; Q37:149, 153; Q43:16; Q52:39; Q53:21).

Muhammad percaya bahwa Allah, sang dewa bulan tidak mungkin memiliki anak laki-laki dewa (Q39:4). Muhammad membuktikan Yesus hanyalah manusia biasa, karena ia makan (Q25:20), walau diantara banyak hal lain, Yesus makan untuk membuktikan ia bukan hantu (Luk 24:39). Muhammad agaknya lupa bahwa umat Kristiani percaya Yesus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dan dengan demikian bisa makan seperti manusia. Ia adalah Tuhan.

Quran tak habis-habisnya mempolemikkan orang-orang yang percaya Allah memiliki anak dewa laki-laki dan perempuan, 2393 Allah has no sons or daughters (Q6:100; 16:57-58; 17:40; 37:149,153; 43:16; 52:39). atau memiliki penjaga, perantara atau partner, 2394 (Q3:64; 4:36,48,116; 5:72; 6:22,51,70,94,100,136,148,151,163; 7:33,53,173,190,191,195; 10:3,18,28,34,66; 11:54; 12:38,106; 13:16,33,36; 14:22; 16:1,3,27,35,54,86,100; 17:22,39; 18:26,38,42,52; 22:17,26,31; 23:59,92; 24:55; 25:2; 26:100; 27:59,63; 28:62,64,68,74; 29:8,65; 30:13,33,35,40; 31:13,15; 32:4; 34:27; 35:14,40; 37:22; 39:38,43,65,67; 40:12,42,84; 41:47; 42:21; 60:12; 72:20). Alasan Muhammad menyatakan Allah tidak memiliki anak laki-laki karena Allah tidak punya pasangan (Q6:101; Q6:100-101).

Allah tidak memiliki anak-anak perempuan karena kalaupun Allah memiliki keturunan, maka keturunannya pastilah laki-laki (Q16:59; Q17:40; Q37:149, 154; Q43:16; Q52:39; Q53:21). Muhammad percaya hanya ada “satu tuhan” dan para malaikat mendapat posisi matahari, bintang, dan onjek astral lain, selain bulan.

Asumsi Muhammad bahwa ‘hirarki menyiratkan monoteisme,’ tampak di ayat Quran lain. Di Q53:7 dan ikhtisar Q53 (Q81:23). Allah, sang dewa bulan berbicara saat di batas tinggi cakrawala. Selanjutnya di bab yang sama Muhammad katakan mengenai Allah, “Dia adalah tuhan Sirius.” (Q53:49). Muhammad juga berkata bahwa Allat (matahari), Uzza (Venus) dan Manat (Takdir) adalah malaikat-malaikat laki-laki yang oleh kaum pagan diberi nama perempuan.

Dalam kisah Ibrahim (Q6:75) Allah memperlihatkan diri sebagai sosok ilahiah astral, saat ia memilih untuk menyampaikan kebenaran spiritual lewat medium langit malam. Dalam Q6:76 Ibrahim berkata ia tidak menyukai ‘yang tenggelam.’ ‘Yang tenggelam’ serupa dengan nama deskriptif untuk planet-planet: ‘Yang mengembara.’ Kata ‘planets’ dalam bahasa Ingris berasal dari kata Yunani yang bermakna ‘mengembara.’

Muhammad juga menggunakan nama deskriptif untuk benda-benda langit. ‘Zodiacal signs‘mansion’ ‘houses’ atau ‘stages’ –digunakan sesuai terjemahan (Q10:5; Q15:16; Q25:61; Q36:39; Q85:1). Muhammad menganggap langit sebagai ‘kingdom’ (Shakir Q6:75).

‘Yang tenggelam’ menjelaskan posisi bintang-bintang yang letaknya jauh dari langit kutub utara. Bintang-bintang yang terlihat bergerak di sekitar langit kutub utara tidak tenggelam di balik batas cakrawala, namun hanya memudar dari pandangan saat matahari terbit.

Saat membahas mengenai dewa matahari Mesir: Set, Egerton Sykes menulis perbedaan antara bintang-bintang yang tengelam dan bintang-bintang yang tidak tenggelam:

“Walau konflik utama kisah berkisar seputar Horus, Isis dan Osiris, beberapa pengetahuan baru diperoleh dari pembagian bintang-bintang diantara [dewa matahari] Set dan Horus menguasai semua bintang-bintang kutub yang tidak tenggelam (circumpolar stars), sementara Horus menguasai bintang-bintang yang terbit dan tenggelam seperti matahari. Untuk mengawasi Set [dari bintang-bintang yang tidak tenggelam], empat putra Horus….ditempatkan di ….konstelasi Great Bear di kutub utara [yang mengandung Big Dipper] 2395 Sykes, Mythology, pp.188-189, Set entry


Mitologi tersebut memperlihatkan orang-orang Mesir mengetahui bahwa bintang-bintang kutub tidak tenggelam, bahkan saat siang hari. Orang-orang Mesir mendapat pengetahuan ini melalui pengamatan terhadap langit kutub di siang hari saat terjadi gerhana total, juga saat menjelang malam dan fajar, serta melalui deduksi.

Orang-orang Mesir, khususnya, terkenal akan pembuatan lorong-lorong panjang di pyramid-piramid mereka, yang agaknya untuk mengamati bintang-bintang saat menjelang malam. Lorong-lorong bintang ini cenderung mengarah ke langit utara dan selatan.

Image Image
kiri: Arah lorong pengamat bintang dalam pyramid; kanan: lorong selatan

Ada teori lorong-lorong bintang tersebut mungkin digunakan untuk meluruskan lapisan pyramid, baik tingkat maupun lerengnya, seperti juga bagian dasar. Lorong-lorong bintang mungkin dihubungkan dengan mitologi Mesir mengenai Firaun. Teori ini menduga bahwa tiga pyramid Giza mewakili tiga bintang di konstelasi Orion. Namun, susunan pyramid tidak sesuai dengan konstelasi tersebut. Lorong-lorong bintang juga tidak sejajar dengan konstelasi Orion, karena ini mengisyaratkan pyramid-piramid tersebut dibangun 10.450 SM, bukan sekitar 2700 – 2500 SM: waktu konsensus perkiraan dibangunnya pyramid. 2396 Bauval R.G. & A. Gilbert, The Orion Mystery, London, 1994, p.193.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Re: MOON-o-Theism oleh Yoel Natan

Postby anne » Wed Nov 28, 2012 10:44 pm

Orang-orang Turki Meyakini Ibrahim Memanggil Bulan sebagai Tuhannya di Q6

Keberadaan Allah sebagai dewa bulan, menjelaskan tradisi Pemberian Berkat Turki yang merefer dewa bulan sebagai Teman (Khalil) atau Bulan Sabit (Halil) bagi Ibrahim:

“Semoga bulan bersinar di hadapanmu.
Semoha dewa bulan,
Melindungi engkau dan kami.
Aku melihat bulan, ya Tuhan.
Semoga bulan-bulan membawa keberuntungan.
Aku melihat bulan
Aku melihat cahaya,
Aku melihat Halil Ibrahim,
Aku mengucap terimakasih
Dan bersumpah menghentikan dosaku
Terimakasih pada Tuhan”
2397 Turkey Ministry of Culture and Tourism, Culture > Stereotypical Expression > Prayers—Blessing > m.kultur.gov.tr/portal/kultur_en.asp?belgeno=5598. “Moon,” accessed 13 Nov 2003 (search the Google cache, or web.archive.org. if necessary).

‘Halil Ibrahim’ dalam puisi di atas bermakna ‘Bulan Sabit Ibrahim.’ Mungkin juga ini harus dibaca ‘Khalil Ibrahim,’ yang berarti ‘Sahabat Ibrahim.’ Khalil berarti ‘sahabat.’ Bagaimanapun, dibaca dari kedua sisi, puisi tersebut menunjukkan orang-orang Turki umumnya percaya bahwa Allah adalah dewa bulan.

Kebetulan, banyak mesjid-mesjid dengan ornamen bulan sabit, disebut ‘Khalil Ibrahim.’ Encyclopedia Britannica mencantumkan informasi mengenai kuburan Abraham:

“Tempat ini dimuliakan saat ini di Hebron, di Haram Al-Khalil (Tempat Suci dari Sahabat), di bawah Mesjid 2398 EB. Abraham entry, accessed 16 Aug 2004.

Encyclopedia Britannica memberikan informasi mengenai ‘the Oaks of Mamre’ (Kej 13:18, dst.) Mamre ….

“….1.5 mil (3km) barat laut Hebron di Ramat Al-Khalil, nama Arab yang bermakna ‘Tempat Ketinggian Sahabat,’ sahabat (Tuhan) adalah Abraham. 2399 EB. Abraham entry, accessed 16 Aug 2004.

Orang-orang Persia Meyakini Ibrahim Memanggil Bulan sebagai Tuhannya di Q6

Orang-orang Persia atau pengikut Zoroaster, memiliki kesimpulan yang sama mengenai Q6. Orang-orang Persia menolak interpretasi biasa Q6:75-79. Orang-orang Persia tidak percaya Muhammad atau Ibrahim secara otomatis menolak benda langit manapun, hanya karena ia tenggelam, Orang-orang Persia percaya….

….Ibrahim (Abraham), sahabat Tuhan, melakukan hal yang sama [seperti Muhammad]; yakni, ia menolak berhala-berhala yang tidak memiliki bentuk yang berkaitan dengan planet; dan penghormatan diberikan olehnya pada Batu Hitam [di Kabah], yang menurut tradisi kuno agaknya membenarkan pendapat itu. 2400 Fani. Dabistan, p.30.


Para pengikut Zoroaster benar dalam hal Islam adalah agama astral. Muhammad menghormati bintang-bintang kutub dapat disimpulkan dari kepastian Ia mempertahankan kebiasaan pagan mengelilingi Kabah. Umat Islam mengelilingi Kabah tujuh kali. Bintang-bintang berputar di sekitar Kutub Utara satu kali sehari, tujuh kali seminggu.

Ada yang mengatakan tujuh kali putaran mengelilingi Kabah, menunjukkan penghormatan pada lima planet yang terlihat beserta matahari dan bulan. Ini mungkin penjelasan yang bagus, namun orang perlu menggunakan imajinasinya untuk melihat bagaimana matahari dan bulan menyelesaikan putaran penuh mereka melalui dunia bawah. Sebaliknya, orang dengan mudah bisa mengamati putaran penuh bintang-bintang kutub.

Penjelasan termudah adalah gerakan memutar tersebut meniru gerakan Big Dipper, kelompok tujuh bintang di konstelasi Ursa Mayor. Asterisme (sekelompok kecil bintang) ini berputar di sekitar langit kutub utara tujuh kali seminggu. Big Dipper memiliki tujuh bintang cemerlang: tiga bintang membentuk gagangnya, dan empat bintang membentuk wadahnya.

Image Image
Ursa Major (Big Bear) with the Big Dipper

Sejarawan Azraqi berkata bahwa malaikat-malaikat mengelilingi Kabah yang ada di langit, dan Kabah yang ada di bumi sama dengan Kabah yang ada di langit. 2401 Jeffery. Islam, p.207. Sejarawan Tabari (839-923 M) mengatakan bahwa Muhammad mengaitkan penyembahan pada Allah dengan gerakan bintang-bintang. Muhammad berkata:

“Kelima bintang ini [planet-planet yang terlihat] muncul dan bergerak seperti matahari dan bulan, serta melintas bersama-sama mereka. Semua bintang-bintang lain digantung di langit seperti lampu Mesjid, dan berputar bersama dengan surga, memuji dan menguduskan Allah dengan sembahyang….lintasan memutar mereka yang kalian lihat saat ini adalah sembahyang mereka 2402 Al Tabari. History, vol.i, pp.235-236.

Ibn Ishaq mengatakan, persepsi yang lazim adalah bintang-bintang tersebut menyanyikan pujian pada Allah sang dewa bulan.

Dalam sebuah puisi penyesalan yang disusun Al Husayn, ia berkata:

“Aku menyesali apa yang kukatakan sebelumnya; Kusadari itu adalah perkataan seorang pendusta. Andaikan lidahku [terbagi] menjadi dua, sebagian kelu dan sebagian lagi menyanyikan pujianmu [scr literal, ‘bersama gerakan bintang-bintang’] 2403 Ishaq. Sirat, p.43&fn.2.

Kecepatan planet mengelilingi yang ditekankan bukan lintasan melingkar, seperti yang ditulis Zwemer:

“Mereka kemudian berlari mengelilingi Ka’abah tujuh kali—tiga kali dengan sangat cepat dan empat kali dengan sangat lambat—meniru gerakan planet-planet. 2404 Zwemer. Animism, ch.8


Sang Nabi mengikuti metode mengelilingi Kabah ini, tiga kali cepat dan empat kali lambat, dalam ibadah haji terakhirnya. 2405 Ishaq. Sirat, pp.530-531 Mungkin itu kebiasaannya.

Jauh sebelum ditemukannya kompas magnetik, Big Dipper menjadi penuntun para pelaut, dan juga kafilah-kafilah unta yang mengadakan perjalanan sepanjang malam yang dingin melalui padang pasir luas.

Karena dewa-dewi atau para malaikat yang mewakili bintang-bintang kedudukannya jelas lebih rendah daripada bulan, maka sepantasnya mereka bergerak berputar mengitari langit seperti Big Dipper, daripada hanya membuat garis lurus dari timur ke barat. Muhammad menggambarkan Ibrahim mencintai bintang-bintang Big Dipper, namun tidak menyukai bintang-bintang non-kutub yang tenggelam.

Di masa modern, bintang-bintang kutub utara (Polaris) terlihat tak bergerak di mata telanjang pengamat. Di masa Muhammad (570-632M) dan sebelumnya, Polaris membuat gerakan melingkar di seputar bidang hitam kosong di langit. Posisi Polaris tampaknya berubah karena lenggokan edar bumi. “Di tahun 2300SM bintang-bintang kutub berada di konstelasi Draco, dan di tahun 12.000M bintang Vega yang berada di konstelasi Lyra akan menjadi bintang kutub.” 2406 CEE, Polaris entry.

Bintang-bintang kutub yang mengitari bidang hitam kosong di langit, mungkin menjelaskan mengapa orang-orang Mekah kuno mengelilingi Kabah dengan kiswa gelap dan batu hitamnya. Bidang gelap di langit kutub utara diandaikan Kabah hitam, sebagaimana yang dicatat Gibson:

“Bintang ditambahkan ke bulan sabit di tahun 1973 oleh Sultan Selim III (kemungkinan karena Kabah dikatakan terletak langsung di bawah Bintang Kutub), sudutnya dibuat menjadi lima di tahun 1844.” 2407 Gibson. Symbols, p.109.


Bila gerakan mengelilingi menirukan gerakan gerakan Big Dipper, maka kecepatan gerakan, tiga kali cepat dan empat kali lambat, bukan menirukan gerakan planet-planet dalam dan luar, melainkan menirukan gerakan Big Dipper juga.

Tiga gerakan cepat menirukan gerakan tiga bintang pembentuk gagang gayung, dan empat gerakan lambat menirukan gerakan empat bintang pembentuk wadah gayung.
anne
 
Posts: 502
Joined: Wed Sep 21, 2011 9:52 pm

Previous

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users