.

MA Khan: Imperialisme Islam (BELUM SELESAI)

Postby kimi07 » Mon Feb 23, 2009 7:26 pm

Diterjemahkan oleh maria_qibtiyah (menggunakan kapling kimi07)

BAB V HAL 158 EKSPLOITASI EKONOMI PADA EKSPANSI ISLAM

Siapa yang dapat membantah bahwa tujuan utama penjajahan oleh Eropa bukanlah untuk mengekploitasi sumber daya alamnya, upah buruh yang murah dan adanya pasar yang baru yang dilakukan untuk memperkaya perbendaharaan kota-kota di Eropa? Lagipula, kemajuan kota-kota seperti London, Paris, Amsterdam, Madrid dan Lisabon berhutang pada kekayaan bangsa2 asing yang mereka eksploitasi secara ekonomi. Banyak keluarga tersohor di Eropa yang menikmati kemewahan, hingga saat ini masih berhutang pada kesuksesan yang diraih oleh nenek moyang penjajah mereka yang untung besar dalam perdagangan teh, rempah-rempah, karet, gula dan perkapalan.

Namun, apakah motif yang sebenarnya invasi dan kekuasaan Islam diseluruh dunia? Apakah motivasinya bukan ekploitasi ekonomi juga? Mari kita kembali kepada dasar-dasar ajaran Islam untuk melihat bagaimana eksploitasi oleh Nabi Muhammad dalam rangka penghisapan ekonomi telah mempengaruhi ekspansi Islam di kemudian hari.

Contoh penjarahan dan ekploitasi ekonomi yang diterapkan Nabi pada daerah taklukannya – Khaybar sebagai contoh – telah menjadi modus operandi pada penyerangan-penyerangan berikut oleh Muslim sepanjang awal abad Islam. Segala yang dikerjakan Nabi, bagi Muslim, bukan hanya contoh untuk diikuti, namun secara teologis merupakan teladan yang paling baik yang harus dilaksanakan dan ditingkatkan dlm setiap perbuatan dan tingkah laku mereka. Pakta Umar juga merupakan pola guna menarik pajak dari kaum dhimmi (non-Muslim) disebuah negara Muslim. Ketika Muslim-Muslim dini menaklukkan Suriah, Yerusalem, Mesir, dll, orang-orang Kristen dan Yahudi dipaksa membayar jizyah kepada kas negara di Medinah dan mengalami penghinaan akibat aturan-aturan dhimmi. Lebih lanjut, Khalifah Umar menerapkan sebuah sistem pajak yang disebut kharaj (pajak atas tanah) yang diberlakukan pada dhimmi di wilayah-wilayah yang ditaklukkan Muslim.

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Qasim
Atas keberhasilannya menaklukkan Sindh th 712, Muhammad bin Qasim (ilustrasi atas) menjarah dan merampas sejumlah besar kekayaan dan harta benda serta menawan sejumlah besar wanita dan anak-anak untuk dijadikan budak setelah membunuhi sejumlah besar kaum lelakinya. Qasim selalu mengirimkan sebanyak seperlima dari hasil rampasan dan para budak tawanan, sesuai dengan ajaran Islam (Lihat Surat Al-Anfal), kepada kalif di Damaskus. Setelah setiap penyerangan sukses, bagian negara sebanyak seperlima dari hasil rampasan disisihkan untuk dikirimkan kepada sang kalif. Al-Kufi mencatat dalam Chachnama bahwa pada suatu ketika, 20.000 tawanan laki-laki dan perempuan bersama dengan harta jarahan diberikan kepada sang kalif. xx) Sang kalif akan menambah koleksi haremnya dengan mengambil beberapa wanita muda yang tercantik, lainnya dibagikan kepada para jenderal dan bangsawan serta sisanya akan dijual untuk menambah pundi-pundi negara.

Image
Suasana Harem http://www.myartprints.co.uk/a/islamic- ... ation.html

Nabi Muhammad biasa mengambil tawanan-tawanan wanita yang terbaik untuk dirinya sendiri, seperti Safiyah, seorang wanita muda dan cantik, istri dari Kinana, pemimpin Khaybar, sebagai selirnya. Qasim, demikian juga, mengirimkan tawanan-tawanan wanita yang terbaik – misalnya karena kecantikannya atau keturunan bangsawan – sebagai hadiah istimewa dan penghormatannya untuk sang kalif. Ketika dua putri Raja Dahir ditawan oleh Qasim, ia menyerahkan mereka bagi kalif al-Walid yang menjadikan mereka bagian dari haremnya.

Biaya penyerbuan Qasim di Sindh adalah sebesar 60 juta dirham, dibiayai oleh kas sang kalif. Beberapa bulan sebelum Qasim ditarik dari misi 3 tahunnya di Sindh, seperlima dari harta rampasan dikirimnya ke gubernur al-Hajaj di Irak, yaitu sebanyak 120 juta dirham.xxi) Hajaj segera melunasi utang-utangnya kepada bendahara sang kalif dan menulis surat kepada Qasim yang berbunyi :
”Keponakanku, aku telah setuju dan berjanji pada diri sendiri, disaat engkau berbaris bersama serdadumu, untuk melunasi semua biaya yang dikeluarkan bendahara untuk mempersiapkan ekspedisi tsb, kepada Khalifah Walid bin Abdul Malik bin Marwan, dan merupakan kewajibanku untuk melakukannya”. xxii)


Qasim memberlakukan pajak jizyah dan kharaj terhdp orang-orang Hindu sebagaimana aturan2 yang dibuat oleh Khalifah Umar, berdasarkan prinsip2 yang tercantum didalam Quran dan Sunnah. Chachnama mencatat :
”Muhammad Qasim menetapkan jizyah sesuai dengan Sunnah Nabi. Bagi orang-orang yang masuk Islam, akan dibebaskan dari menjadi budak, tidak perlu membayar jizyah dan kharaj; adapun orang-orang yang tetap tidak mau masuk Islam akan dikenakan jizyah dan kharaj”. xxiii)


Dengan ditaklukkannya Sind, orang2 Hindu menjadi buruh kasar di tanah yang selama berabad-abad telah menjadi miliki leluhurnya sendiri, yang kini menjadi milik penjajah & penguasa Muslim. Mereka harus membayar pajak atas tanah (kharaj) yang ditetapkan sebagai berikut :
“Pajak atas tanah biasanya sebesar 2/5 dari hasil panen gandum dan barli, jika lahan dialiri air oleh saluran milik pemerintah; 3/10 jika dialiri air oleh irigasi buatan dan ¼ jika seluruhnya tidak diirigasi...” Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Umar ketika ia 'menghitung nilai lahan pertanian (Sawad) di Irak”.xxiv)

Perlu dicatat disini bahwa hukum agama Hindu hanya menetapkan pajak sebesar 1/6 hingga 1/20 dari hasil panen.

Hasil dari pemungutan pajak ini, 1/5 bagian untuk negara, dengan rutin diserahkan kepada perbendaharaan kalif. Hasil tahunan dari propinsi Sindh, yang kemungkinannya digabung dengan Multan adalah sebanyak 11.5 juta dirham (Kira2 270.000 poundsterling pada 1860-an) dan 75 kg kayu gaharu untuk perbendaharaan khalifah Ini termasuk jizyah dan kharaj serta pajak2 lainnya. Jumlah hasil tahunan yang masuk kas kalif pusat dari provinsi2 kalifat India lainnya, diperkiraan oleh Elliot dan Dawson sebagai berikut : xxv)

1. Markhan: 400,000 dirham
2. Sijistan: 460.000 dirham, 300 aneka jubah dan 20.000 pon (pounds) dendeng daging
3. Kirman: 4.200.000 dirham, 500 pakaian mewah, 20.000 pon kurma dan 1.000 pon biji jintan.
4. Tukharistan: 106,.000 dirham
5. Kabul: 1.500.000 dirham dan 1000 ekor anak sapi ( kira2 senilai 700.000 dirham)
6. Fars: 27.000.000 dirham, 30.000 botol air mawar dan 20.000 botol syrup black currant.
7. Khultan: 1.733.000 dirham
8. Bust: 90.000 dirham


Kenyataan ini menunjukkan bahwa hukum yang diberlakukan di Sindh oleh Muhammad bin Qasim tidak lebih dari hukum penguasa asing yang diterapkan dari jantung Arabia.

Hal yang sama diterapkan pada wilayah asing lainnya yang ditaklukkan oleh Muslim. Jadi, jelas bahwa Muslim yang datang dan menyerang Sindh tidak hanya ingin memerintah namun juga untuk mengeksploitasi dan menghisap kekayaan dan sumber daya alam guna diberikan kepada markas besar kalifat di Damaskus (kemudian di Bagdad). Keadaan ini sangat mirip dengan yang dilakukan oleh bangsa Eropa atas daerah2 jajahannya. Pajak yang diberlakukan oleh penguasa Muslim atas orang2 Hindu di India sangat memberatkan, bahkan mereka sampai terpaksa harus menjual istri dan anak2 mereka untuk dapat melunasi pajak. Hal ini, menurut catatan sejarawan pada masa itu dan para penjelajah bangsa Eropa, adalah hal yang lumrah terjadi sepanjang masa pemerintahan Raja Shahjahan dan Aurangzeb (1620-1707). Sejumlah besar petani India terpaksa mengungsi ke hutan-hutan karena tidak mampu membayar pajak yang begitu besar.

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Shah_Jahan

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Aurangzeb

Pada saat gelombang kedua invasi Islam dilancarkan oleh Sultan Mahmud (1000M), otoritas kalif Baghdad sudah relatif lemah. Menentang khalifah Abbasid/Abbasiyah di Baghdad, dinasti Fatimid/Fatimiyah mendirikan pemerintahan yang independen di Mesir pada 909; dinasti Umayyah menguasai Spanyol secara independen juga sejak 756. Namun kalif2 Abbasiyah di Baghdad masih memiliki kekuasaan atas Sultan Mahmud, penyerbu India yang brutal. Ketika Mahmud mengalahkan gubernur Khurasan Abdul Malik, Kalif Al-Qadir Billah – gembira dengan hadirnya seorang jenderal yang kuat – mengakuinya sebagai amir (pemimpin) dan memberikan gelar Yamin-ud-Daulah (tangan kanan negara) dan Amin-ul-Millah (Wali Masyarakat).

Image
Mahmud dari Ghazni, kanan http://en.wikipedia.org/wiki/Mahmud_of_Ghazni

Dengan adanya restu kalif ini, Sultan Mahmud memulai serangannya di Barat Laut India pada sekitar 1000 M. Sebagai balasan atas pengakuan dan restunya, Mahmud sering mengirim sejumlah besar uang dan hadiah2 kepada sang kalif dari hasil rampasannya dan dari hasil pajak yang diberlakukan di India, yang mencakup “semua jenis kekayaan”. Menurut Tarikh-i-Alfi, Sultan Mahmud menyisihkan 1/5 dari hasil rampasannya, yang termasuk di dalamnya 150.000 budak untuk dikirim ke Baghdad.xxvi) Ini berarti kerajaannya merupakan propinsi penuh dari kalifat Baghdad. Putra dan penerusnya, Sultan Masud, juga menerima pengakuan dari sang kalif, setelah ia berjanji ”akan mengirim kepadanya (kalif) setiap tahun uang sejumlah 200.000 dinar, 10.000 potong pakaian, disamping hadiah2 lainnya”.xxvii)

Kebrutalan serangan Sultan Mahmud di India menjadikan Punjab di bagian Barat Laut India dibawah pemerintahan dinasti Ghaznivid. Sekitar 150 tahun kemudian, sultan2 Ghaurivid dari Afghanistan, Muhammad Ghauri (wafat 1206) dan kemudian Tajuddin Yildoz (w. 1216), penguasa Ghazni, telah menerima pengakuan dan restu dari kalif Bagdad. Sultan Iltutmish (w. 1236)dari Delhi, setelah mengalahkan Yildoz, menerima pengangkatan dari kalif. Walaupun tidak dicatat secara terperinci, sang kalif melimpahkan anugerah restunya hanya sebagai balasan dari pemberian uang dan hadiah2. Restu dari kalif Bagdad dan kemudian dari Kairo (setelah bangsa Mongol mengusir mereka keluar Bagdad) berlanjut untuk dilimpahkan kepada para sultan dari Delhi sebagai balasan atas harta dalam jumlah besar yang dikirim ke pusat pemerintahan Islam. Sultan Firoz Tughlaq (w. 1388) menerima pengangkatan dari sang kalif, sebagaimana ia mencatat :
"Sebuah surat pengangkatan dikirimkan kepadaku sebagai penegasan penuh atas wewenangku sebagai wakil kalifat
dan pemimpin dari kaum beriman (kalif) telah dengan senang hati memberikan kehormatan kepadaku dengan memberiku gelar Sayyidu-s-Salatin." xxviii)


Sejarawan Ziauddin Barani, menulis tentang kedermawanan Muhammad Tughlaq (w. 1351) kepada kalif yang sekarang memerintah dari Mesir, bahwa, “Begitu hebatnya kesetiaan Sultan kepada para kalif sehingga ia tadinya ingin mengirim semua kekayaannya di Delhi ke Mesir, kalau saja ia tidak khawatir akan dirampok”. Ghiyasuddin – seorang keturunan keluarga kalifat Bagdad yang sudah tak memerintah sehingga tak punya pengaruh lagi – datang ke Delhi pada masa pemerintahan Muhammad Tughlaq. Kedermawanan Sultan kepada tuannya di Mesir dapat diukur dari penghormatannya kepada tamu yang tak lagi punya pengaruh dan tak ada hubungannya ini, sebagaimana diringkaskan dalam Cambridge History of India sbb :
“...bejana2 yang dipakai dalam istananya (Ghiyasuddin) terbuat dari emas dan perak, bak mandinya terbuat dari emas dan pada saat akan dipakai untuk pertama kalinya, sebuah hadiah uang sebesar 40.000 tanga dikirim kepadanya; dia juga diberi budak2 dan pelayan2 laki2 dan perempuan. Ia diberi uang 300 tanga setiap harinya, walaupun ia makan makanan yang disediakan oleh dapur istana; ia menerima bagian uang dari kota Siri yang dikuasai oleh Sultan Alauddin, salah satu bagian kota yang membentuk ibukota, dengan semua taman2 dan ladang2 serta seratus buah desa; dia diangkat sebagai gubernur distrik bagian timur propinsi Delhi; dia menerima 30 keledai dengan kendali dari emas dan saat dia mengunjungi istana, dia diberi hak untuk menerima karpet yang bekas diduduki oleh Raja."xxx)


Jika tamu yang tak penting seperti Ghiyasuddin menerima sedemikian banyaknya harta dari Sultan, maka tidak sulit untuk menebak berapa banyak yang dia kirimkan untuk kalif di Kairo. Jaunpur, Sultan dari Bengal (1337-1576) dan Malwa, juga dilantik atas balasan sejumlah besar uang dan hadiah2. Sebagai contoh, Khalifah al-Mustanjid Billah mengirim kepada Sultan Mahmud Khilji (1436-69) dari Malwa jubah kehormatan dan pengakuan sebagai balasan atas sejumlah besar emas dan perak yang diterimanya. Bahkan beberapa pemberontak asal kesultanan Delhi juga dilantik oleh kalif sebagai balasan atas uang, emas dan budak2. xxxi)

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Timur

Tak diragukan, kesultanan Delhi merupakan sebuah propinsi kalifat Islam. Hubungan ini terganggu setelah Amir Timur (Tamerlane)--gambar atas--- seorang Jihadi yang terkenal karena kebrutalannya yang luar biasa, menggulingkan dinasti Tughlaq (1399). Nama kalif Arab dihapus dari keping uang Delhi.

Timur meninggalkan Delhi setelah penyerangan barbarnya, memproklamirkan dirinya sebagai Raja India dan menempatkan para Sayid (keturunan Muhammad) sebagai pemegang kekuasaan disana. Menyadari ancaman brutal Timur dan pentingnya arti restu darinya, para Sayid mengakui Timur dan para penerusnya sebagai kalif dan mengirim upeti ke Timurid, ibukota Samarkand. Menurut Feristhah, Sayid Sultan Khizr Khan,
“memimpin pemerintahan Teimoor (Timur) yang namanya dicetak pada keping2 uang dan disebut2 dalam khotbah. Sesudah kematian Teimoor, khotbah dibacakan atas nama penerusnya, Shahrukh Mirza, yang kepadanya dia(Sayid SKK) biasa mengirim upeti ...”. xxxii)


Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Akbar_the_Great

Kesultanan Islam kemudian Delhi pindah ke Samarkand, bukannya dihapuskan. Akbar yang Agung (berkuasa 1556-1605) – sekuat penguasa2 Ottoman dan Persia – kemudian memproklamirkan kemerdekaannya dari kalif2 asing. Sebelumnya, dari tahun 712 hingga awal abad ke 16, daerah di India yang dikuasai Muslim sebenarnya adalah sebuah bagian/propinsi dari pemerintahan Islam yang lebih luas.

Disamping mengirim hasil panen dan hadiah2 kepada pusat pemerintahan kalifat di Damaskus, Baghdad, Kairo atau Tashkent dari India, kota2 suci Islam Mekah dan Medinah juga menerima banyak sumbangan berbentuk uang dan hadiah2, bahkan pada masa Mughal ketika para penguasa Muslim India memproklamirkan kemerdekaannya dari kalifat asing.

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Babur

Raja Babur (berkuasa 1525-30) didalam otobiografinya, mencatat bahwa ia mengirim hadiah2 kepada para ulama di Samarkand, Khurasan, Mekah dan Medinah “dalam nama Allah.” Pada satu tempat, ia menulis,
“Kami memberi satu Shahrukhi (mata uang) kepada setiap orang di negara Kabul dan sisi lembah Varsak, laki2 dan perempuan, budak atu orang merdeka, tua maupun muda”.


Bahkan Akbar yang telah murtad (karena memisahkan diri dari kalifat) menunjukkan kedermawanannya kepada kota Mekah dan Medinah sebagaimana dicatat Humayun Nama :
“Walaupun dia tidak boleh pergi meninggalkan Hindustan, dia menolong banyak orang untuk berangkat menunaikan ibadah Haji dan membuka lebar2 dompetnya untuk bekal mereka. Setiap tahunnya, dia mengangkat seorang pemimpin karavan dan membawakan hadiah2 dan sejumlah besar uang untuk kedua kota suci tersebut. Ketika Gulbadan Begum, bibi dari pihak ayahnya, naik haji, Sultan Khawja membawa 12.000 jubah mewah diantara hadiah2 lainnya."


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/49/Bichitr_-_Jahangir_preferring_a_sufi_sheikh_to_kings.jpg/200px-Bichitr_-_Jahangir_preferring_a_sufi_sheikh_to_kings.jpg
http://en.wikipedia.org/wiki/Jahangir

Raja2 Mughal, Akbar (berkuasa 1556-1605), Jahangir (berkuasa 1605-27) dan Shahjahan (berkuasa 1628-58) biasa memberi kepada para ulama Persia, Romawi dan Azerbaijan uang “dari Allah” untuk “para abdiNya,” apakah mereka berada di Hindustan ataupun di negara2 Islam lainnya. Raja Shahjahan juga biasa mengririm hadiah2 mewah ke Mekah. xxxiii)

Hal ini menunjukkan betapa uang dan sumber kekayaan alam yang diambil dari keringat dan kerja keras NON-muslim di
India, dialirkan kepada kalif di Damaskus, Baghdad, Kairo atau Tashkent dan kepada kota suci Islam Mekah dan Medinah
serta kepada kantong2 ulama Muslim diseluruh dunia. Pada saat yang sama, kafir-kafir di India dianiaya.

Telah dicatat dengan baik, namun diabaikan secara sengaja, bahwa penaklukan oleh Muslim, dari jaman Nabi MuhammadPUN, bertujuan untuk :
1) menjarah dan merampas kekayaan dan sumber daya alam orang2 yang ditaklukkannya.
2) untuk menawan budak2, kebanyakan para wanita dan anak2, yang dipaksa untuk masuk Islam dan kemudian dijual
kepada majikan2 Muslim yang menyuruh mereka mengerjakan semua jenis pekerjaan di dalam rumah majikan-majikan Muslim-nya (lihat Bab VII tentang Perbudakan). Wanita-wanita tawanan yang muda-muda dan cantik-cantik dijadikan budak seks di dalam harem dan rumah para penguasa, jenderal, bangsawan dan Muslim pada umumnya. Kegunaan mereka ada 3 :
2 a) sebagai buruh yang bekerja membantu tuan Muslim-nya,
2 b) sebagai pemuas nafsu seks Muslim dan
2 c) sebagai alat pembuat anak untuk membengkakkan populasi Muslim.

3) untuk memberlakukan jizyah, kharaj dan pajak2 yang memberatkan lainnya kepada orang2 yang tertindas dan sebagian dari hasilnya diserahkan kepada bendahara pusat.

[...] Eksploitasi ekonomi adalah tujuan utama dari penjajah bangsa Eropa : bangsa Inggris, Belanda dan Perancis. Bagi ekspansi penjajah ala Islam, hal tersebut merupakan tujuan yang KEDUA. Tujuan utamanya sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi atas nama perang karena Allah, adalah untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok dunia. Mereka membantai kafir dalam jumlah yang sangat besar dan secara kejam menghancurkan agama, kebudayaan dan peradaban kafir. Penjajahan oleh Islam, seperti halnya oleh Portugis dan Spanyol, mempunyai tujuan yang sama yaitu penyebaran agama dan eksploitasi ekonomi.

IMPERIALISME BUDAYA ISLAM

Allah Berkata di dalam Quran bahwa Dia telah menyempurnakan Islam sebagai agama dan memilihnya untuk seluruh umat manusia serta mengatakan bahwa Islam berada diatas semua agama lainnya :

1. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Quran 5:3)

2. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Quran 48:28)


Islam sebagaimana dituliskan adalah sebuah paket lengkap untuk umat manusia, yang memuat agama, sosial, kebudayaan dan politik dan semua segi kehidupan dan bermasyarakat. Semua Muslim percaya bahwa Islam adalah “sebuah petunjuk yang lengkap untuk kehidupan”. Masyarakat kaum beriman – sebagaimana dicetuskan oleh Nabi Muhammad dan khalifah penerusnya – di Medinah (622-661M) adalah sebuah masyarakat ideal yang harus dicontoh di seluruh pelosok dunia. Allah memproklamirkan bahwa kedudukan Islam adalah diatas kedudukan semua agama dan semua orang harus menerimanya, sebagaimana ditulis sebelumnya, lewat kekuatan kaum yang beriman yaitu Jihad.

Pada masa kelahiran Islam, masyarakat Arab sebelum Islam, - kebudayaan, adat istiadat dan agamanya – dikenal sebagai zaman kebodohan (jahiliyah). Hal2 tersebut digantikan oleh cara2 Islam yang dicetuskan oleh Muhammad dan sahabat2nya. Nabi Muhammad bertindak berdasarkan idenya sendiri untuk menghapus kebiasaan masyarakat Pagan - yang dinamakan praktek2 ibadah, kebudayaan dan adat istiadat orang2 Arab, bahkan di sukunya sendiri – dengan cara memberikan pilihan kepada mereka, mati atau masuk Islam, sesuai dengan perintah Allah dalam Quran 9:5. Para serdadu Muslim yang menyerbu keluar dari Arabia untuk berperang demi Allah dan menaklukkan sejumlah besar wilayah – termasuk peradaban tinggi Persia, Byzantium, India, dll - mengakibatkan penderitaan tak terbayangkan terhdp masyarakat yang ditaklukkan akibat penghancuran atas kebudayaan, adat istiadat dan praktek ibadah mereka. Jadi, disamping eksploitasi ekonomi dan teror politik, penjajah2 Muslim menyebabkan kehancuran kebudayaan dan peradaban yang luar biasa bagi umat manusia.

Para penakluk yang hebat di jaman pra-Islam - Alexander Agung, Cyrus Agung, bangsa Jerman (orang2 Vandal, Visigoth, Ostrogoth, dsb) di Eropa dan bangsa Saka dan Hun di India – entah ikut bergabung didalam kebudayaan, agama dan masyarakat wilayah yang ditalukkannya atau membantu peleburan antara kebudayaan penakluk dan yang ditaklukkan. Pada jaman setelah “kejayaan” Islam, para penyerang bangsa Mongol juga meleburkan diri kedalam masyarakat yang ditaklukkannya : “Di Cina dan Mongolia, sebagian besar memeluk agama Buddha; di Asia Tengah mereka memeluk agama Islam; mungkin beberapa yang di Rusia dan Hungaria memeluk agama Kristen”.xxxiv) TETAPI para penakluk Muslim so pasti menghancurkan kebudayaan dari masyarakat kafir yang ditaklukkannya karena Muslim berkeyakinan bahwa tata cara masyarakat pra-Islam jahiliyah harus diganti dengan agama yang sempurna, politik dan kebudayaan Islam. Dari India ke Spanyol, penghancuran sejumlah besar kuil2 Pagan, biara2 Buddha, gereja2 Kristen, sinagog2 Yahudi dan sebagainya merupakan bukti dari meluasnya penghancuran kebudayaan non-Islam oleh para penyerang Muslim. Penaklukkan oleh Islam, oleh sebab itu, merupakan “kerugian yang luar biasa atas hilangnya kebudayaan,”xxxv) yang masih tetap belum dapat diketahui dampaknya secara keseluruhan itu.

Oleh karena itu, BETAPA MENGEJUTKAN bahwa para penyerang Muslim dikenal secara luas sebagai 'orang2 yang memperkaya kebudayaan masyarakat yang ditaklukkannya.' Sebagai bahan perbandingan dan kontrasnya pengaruh kekuasaan Eropa dan Arab (Islam) atas budaya dan peradaban masyarakat yang dikuasainya, Ibn Warraq mengatakan sbb :
"Walaupun bangsa Eropa terus menerus dituduh memaksakan nilai2, bahasa dan budaya mereka yang merusak terhadap Dunia Ketiga, tak seorangpun peduli untuk menunjuk pada wilayah2 yang dijajah Islam yang dulunya merupakan masyarakat yang berperadaban tinggi, kemudian setelah penjajahan Islam, diinjak-injak dan dihancurkan untuk selama-lamanya”. xxxvi)


Maka, disamping bertujuan untuk mengeksploitasi ekonomi dan mendominasi politiknya, kolonialis2 Islam juga datang dengan misi untuk menghapuskan kebudayaan. Islam datang dengan mantranya bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling agung dan teladan yang sempurna bagi umat manusia. Muslim harus selalu mengikuti teladan hidupnya, tindakannya dan ibadahnya dengan sebaik mungkin. Muhammad, sebagai orang Arab yang menjadi sumber agama Islam – seorang yang bukan Arab, dengan memeluk Islam berusaha meniru kehidupan Muhammad, seorang pemimpin Arab-Islam. Menjadi misi seumur hidup seorang Muslim kaffah untuk menjadi orang Arab di dalam gaya hidup dan keimanannya, sampai melupakan kebudayaan, nilai2, aturan dan praktek dalam masyarakatnya sendiri.

Sir VS Naipaul bertemu dengan Tuan Jaffrey – seorang wartawan berkebangsaan Inggris yang tinggal di Teheran. Lahir dan sekolah di Lukhnow (India), Tuan Jaffrey, sorang Muslim Syi’ah, tumbuh dewasa dengan impian akan adanya ‘jame touhidi, masyarakat orang2 beriman’, sebuah impian untuk menciptakan kembali budaya dan masyarakat masa awal Islam yang dibuat oleh Nabi Muhammad di Medinah. Dalam impiannya akan kehidupan yang seperti itu, dia keluar dari India yang didominasi Hindu pada tahun 1948 ke Pakistan. Tidak senang dengan perlakuan masyarakat Muslim Sunni kepada Muslim Syi’ah, dia pindah ke negara Syi’ah Iran, dimana dia bekerja pada surat kabar berbahasa Inggris Tehran Times. Dia kecewa lagi karena Iran di bawah pemerintahan Shah adalah tiranis dan korup’. xxxvii) Kemudian datanglah revolusi Islam Iran, sesuatu yang disukai oleh Tuan Jaffrey. Iran dibawah kekuasaan para Ayatolah, memerintah berdasarkan cara2 pemerintahan Nabi, sangat dekat dengan jame touhidi yang diimpi-impikan oleh Jaffrey. Mimpi yang seperti ini cukup umum diantara para Muslim kaffah, yang disebut fundamentalis, dimanapun juga, termasuk di Barat. Dari kisah Tuan Jaffrey ini kita dapat melihat bahwa Muslim memiliki keinginan yang sangat mendasar, bagaimanapun jauhnya seorang Muslim berada, seberapa tinggipun pendidikannya di sekolah2 sekular di Barat, ia tetap ingin mencapai sebuah lingkungan
sosial, budaya dan politik Arab-Islam, meninggalkan budaya dan adat istiadat leluhurnya.

Tentang budaya Arab yang dipaksakan oleh Muslim kepada daerah2 taklukannya dan pada orang2 yang masuk Islam, Anwar Shaikh menulis : xxxviii)
... menjadi kewajiban bagi semua orang yang masuk Islam bahwa mereka harus menerima budaya Arab, meletakkan budaya negara mereka dibawah budaya Arab, menerima hukum2 Islam, belajar bahasa Arab dan tata cara Arab, mencintai Mekah dan orang2 Arab untuk mengakui bahwa Muhammad adalah Teladan Tingkah Laku karena sebagai orang Arab dia mencintai dan melakukan segala yang berasal dari Arab. Bahkan lebih buruk lagi, mereka harus membenci budayanya dan tanah airnya sendiri karena telah menjadi Dar-ul-Harb, yaitu tempat kancah peperangan.


Dengan melihat lebih dekat kepada negara2 Islam di seluruh dunia, pengaruh buruk Islam pada orang2 yang dulunya menganut beraneka macam agama, memiliki aneka kebudayaan dan beragam ras pada letak geografis yang berbeda-beda dapat dilihat dengan mudah. Menakjubkan bagaimana kebudayaan dan adat istiadat Muslim di Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, Malaysia, Indonesia, Iran, Suriah, Palestina di Timur Tengah, Mesir, Sudan, Algeria, Somalia, Turki dan
Chechnya
– yang beragama Hindu, Buddha, Zoroastrian, Animisme, Kristen, Yahudi dan Pagan sebelum invasi Muslim – telah berubah menjadi mirip dengan Arab-Islam dengan beberapa variasi disana sini. Yang lebih menakjubkan adalah budaya dan pandangan hidup mereka yang sangat berbeda dengan orang2 yang masih menjalankan budaya pra-Islam yang hidup di sekitar mereka, walaupun ada penjajahan oleh bangsa Eropa selama hampir dua abad pada banyak negara tersebut yang selama masa itu sekularisme dibangkitkan bersamaan dengan pelestarian dan penemuan kembali warisan sosial budaya pra- Islam yang telah hilang atau tergusur.

Semangat untuk melihat seluruh dunia melaksanakan syariat Islam dlm segala aspek kehidupan dan masyarakat adalah keinginan yang umum diantara Muslim kaffah. Saya mengenal banyak Muslim yang berpendidikan tinggi dari Bangladesh, Pakistan, India dan tempat2 lain yang tinggal di Barat. Walaupun mereka tidak pernah berpikir untuk meninggalkan masyarakat tempat tinggalnya yang sekarang untuk hidup secara Islami di tanah air mereka atau di tempat2 lain di negara2 Islam, mereka tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaan mereka pada gaya hidup masyarakat dan budaya Barat. Mereka sangat mengharapkan untuk dapat melihat masyarakat dan budaya Barat – disamping ekonomi dan pada tingkat tertentu aspek politik (demokrasi, dsb) – digantikan oleh ajaran moral Islam yang sempurna. Meningkatnya kepopuleran Syariah – diterapkannya sistem keuangan Syariah diantara para imigran Muslim nampaknya akan merubah aspek ekonomi masyarakat Barat juga. Hal ini harus dimengerti bahwa pada saat kelahiran Islam, agama Zoroastrian di Persia, Hindu-Buddha di India, Pagan-Koptik di Mesir, Pagan-Buddha di Cina dan Kristen di Byzantium, adalah peradaban terbaik di dunia, semua memiliki sejarah kebudayaan yang panjang dan pencapaian di bidang kesenian, arsitek, pendidikan, sastra dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya Islam, lahir dari masyarakat Arab Peninsula Beduin yang tidak mengenal hukum, ketika peradaban2 ini telah mencapai kemajuan yang hebat dibanding dengan Arab Beduin yang masih primitif. Menakjubkan bahwa Islam telah menghapuskan peradaban tinggi pra-Islam diantaranya di Iran, Irak, Suriah, Mesir dan Palestina. Peradaban Mesir kuno adalah yang pertama dan terbaik dari jaman peradaban kuno dunia, dan berlangsung selama 3.000 tahun. Muslim Mesir, yang bukan orang Arab, sekarang semuanya menjadi orang Arab. Meratapi transformasi generasi masyarakat Mesir, Anwar Shaikh menulis,
“lihatlah Mesir... Daerah yang hebat ilmu pengetahuannya, keseniannya, kebudayaannya dan adat istiadatnya, jatuh hingga ke titik nadirnya saat Islam mengambil alih. Tidak ada orang Mesir lagi. Mereka semua telah menjadi orang Arab!” xxxix)


Apa yang mengherankan adalah cara Muslim2 kaffah masa kini--yang merupakan pewaris/anak cucu dari peradaban2 hebat itu--melecehkan sisa-sisa warisan asli mereka. Gerakan Muslim Aljazair, sebagai contoh, mengangkat senjata pada 1990 an dan membunuh hingga 200.000 rekan senegaranya guna mentransformasi negaranya sepenuhnya seperti Arab, dan melepaskan diri dari pengaruh Afrika Berber di masa lampau. Penting dicatat disini bahwa leluhur Berber jaman pra Islam telah dikalahkan oleh para penyerang Muslim dan agama kepercayaan mereka menjadi alat perlawanan yang gigih melawan orang2 Arab di Afrika. Menurut Ibn Khaldun, orang2 Berber telah murtad sebanyak 12 kali sebelum para penyerang Islam berhasil memaksakan Islam pada mereka. Perlawanan sengit orang2 Berber telah memaksa orang2 Arab beberapa kali menarik diri dari Maroko. xl)

Dengan memeluk Islam, Muslim menyatakan untuk hidup menurut Quran dan teladan Nabi pada setiap segi kehidupannya. Mereka menjadi budak budaya Arab-Islam. Hal ini menjadi kewajiban bagi mereka bukan hanya sebagai monyet peniru cara hidup Arab-Islam tetapi juga untuk menghancurkan kebudayaan pra-Islam mereka, adat istiadat dan prestasi2nya, yang tak diakui oleh masyarakat Arab-Islam. Bagi mereka, tanah air mereka tetap sebagai Dar al-Harb – wilayah perang, sampai negara tsb disucikan agama, politik dan budayanya.
“Muslim non-Arab ini mengembangkan perasaan khusus, yang jijik pada budaya dan tanah airnya sendiri karena lebih mempercayai persaudaraan antara sesama Muslim”. xli)


Muslim yang taat di India, oleh sebab itu sangat bersemangat untuk menyaksikan negara2 mereka sepenuhnya dibersihkan dari agama berhala Hindu, adat istiadat dan budayanya. Muslim mengorbankan jutaan nyawa dalam usahanya untuk menjadikan Pakistan negara mereka. Gerakan yang mirip berlangsung terus di wilayah yang didominasi Muslim di Kashmir sejak 1947. Demikian juga, Muslim yang taat di Iran ingin melihat peninggalan agama pra Islam dan budayanya lenyap dari negara mereka secepat mungkin. Menyusul revolusi Iran, para Ayatolah yang punya tujuan untuk menciptakan kembali keadaan sosial, politik dan masyarakat yang religius yang dibuat oleh Nabi, melarang pelajaran tentang budaya kuno Iran di sekolah2 dan universitas2 serta guru2 yang mengajar pelajaran ini harus berhenti bekerja. Muslim Mesir yang taat, sama juga, sangat bersemangat untuk melihat sisa2 Kristen Koptik pra-Islam dan budaya serta adat istiadatnya dibuang jauh dari Mesir untuk selama-lamanya.

Di dalam perjalanannya ke Pakistan, Indonesia, Malaysia dan Iran pada akhir 1970 dan awal 1990-an, Naipaul mencatat sebuah keinginan dari Muslim yang berpendidikan tinggi untuk menghapuskan gaya hidup yang tidak Islami dan untuk menghancurkan sisa2 budaya warisan jaman pra Islam. Meneliti sifat kolot imperialis Arab yang ditanamkan oleh Muslim Indonesia yang taat, Naipaul menulis,
“Kekejaman Islam fundamentalis adalah ia memperbolehkan hanya kepada satu bangsa – bangsa Arab, bangsa asal Nabi - untuk diketahui tentang sejarahnya, tempat2 sucinya, ziarah-ziarahnya dan penghormatan dunia untuknya. Tempat2 suci di Arab harus menjadi tempat2 suci bagi seluruh orang yang masuk Islam. Para mualaf harus meninggalkan masa lalunya. Tak ada yang diminta dari para mualaf selain dari kemurnian imannya, Islam, ketundukan. Ini merupakan bentuk imperialisme tanpa kompromi”.xlii)


Berdasarkan penelitian tentang pengaruh buruk Islam pada wilayah yang ditaklukkannya, pada orang2 non Arab yang masuk Islam, serta budaya dan peradaban mereka, Naipaul menulis,
“Bagi mereka, agama dan sejarah leluhurnya tidak memiliki arti penting, barang2 peninggalan leluhurnya dianggap remeh, hanya gurun pasir Arabia-lah yang paling mulia”. xliii)


Meneliti dominasi pengaruh kebudayaan Arab diantara Muslim di Sindh - obsesi kepada agama-bahasa-baju-nama Arab, dsb – 12 abad setelah ditaklukkan, Naipaul menulis : xliv)
“... kemungkinan tidak ada imperialisme yang mirip Islam ataupun Arab. Orang2 Galia (perancis), setelah 500 tahun dijajah Romawi, dapat memulihkan kepercayaan lama mereka. Kepercayaan tersebut tidak mati, ia hanya tiarap dibawah permukaan pengaruh Romawi. Tetapi Islam menghapuskan agama leluhur, agama yang boleh hanyalah Islam. Mereka tidak dapat kembali lagi ke agama leluhurnya. Keinginan Muslim untuk secepatnya melenyapkan masa lalu pra Islam mereka tidak dilakukan hanya dengan berdiam diri. Di tanah airnya, mereka secara aktif dan penuh kekerasan bekerja untuk menghancurkan jejak2 agama non Islam, kebudayaan dan adat istiadatnya – bekas2 dari warisan jaman pra Islam jahiliyah mereka."


Image
Now you see it ... http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/south_asia/1242856.stm
Image Image
Now you don't ... http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/1229256.stm

Sebagai contoh, di Afghanistan pada tahun 2001, Islam Taliban memusnahkan patung Bamiyan Buddha (foto2 atas) yang berumur 18 abad. Para Muslim mengebom patung Buddha buatan abad pertama yang dipahat di batu di lembah Swat sebelah Barat Daya Pakistan pada September 2007; mereka mengebom salah satu keajaiban dunia, candi Buddha Borobudur, di Jawa Tengah (Indonesia) pada Januari 1985. Muslim di Mesir menyerang biara tertua di dunia di Deir Abu Fana pada Juni 2008. Pada April 2006, Ali Gomaa, seorang ulama besar Mesir mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa pameran patung adalah tidak Islami. Dihawatirkan bahwa para Muslim akan menggunakan alasan ini untuk menghancurkan kekayaan warisan jaman pra Islam di Mesir sebagaimana dikatakan editor majalah Akhbar Al Adab,
“Kami tidak kuasa untuk mencegah seseorang memasuki kuil Karnak di Luxor atau kuil2 Pharaoh lainnya dan meledakkannya berdasarkan fatwa ini”. xlv)


Para Ayatolah di Iran telah secara sistematis menghancurkan monumen2 pra Islam dan mausoleum2 selama 3 dekade. Kegigihan untuk melenyapkan semua yang dianggap tidak Islami juga terjadi pada pembasmian etnis Hindu di Bangladesh dan Pakistan oleh Muslim. Menyusul pemisahan India pada 1947, populasi Hindu masih sebanyak 25-30 persen dari jumlah populasi Pakistan Timur sekarang (Bangladesh), sementara sekitar 10 persen di Pakistan. Kini, jumlah mereka telah berkurang sekitar 10 persen di Bangladesh dan cuma 1 persen di Pakistan. Penyebab utama dari berkurangnya populasi Hindu di negara mayoritas Muslim di Bangladesh dan Pakistan adalah hasil dari minggatnya orang2 Hindu ke India akibat perlakuan buruk yang mereka alami. Paksaan untuk masuk Islam juga menjadi penyebab berkurangnya populasi Hindu. Penculikan atas gadis2 Hindu (juga non-Muslim lainnya) dan memaksa mereka menikah dengan lelaki Muslim yang kejam, pemerkosaan yang meluas terhdp wanita2 mereka, perampasan harta benda dan tanah mereka, pengusiran besar2an dan
tekanan2 dlm masyarakat memaksa orang2 Hindu – yang tidak mau masuk Islam – untuk pergi meninggalkan tanah leluhur mereka dan menetap di India.

Sebuah penelitian baru2 ini di Bangladesh menemukan bahwa hampir 10 juta orang Hindu dipaksa untuk meninggalkan negara mereka antara tahun 1964 dan 2001, karena konflik masyarakat dan penderitaan. Sekitar 2.6 juta are tanah milik orang2 Hindu dirampas oleh Muslim dari tahun 1965 hingga 2006. xlvi) Naeem Mohaiemen, seorang pembuat film dan komentator, mengatakan tentang perlakuan terhadap warga non-Muslim di Bangladesh sbb:
"Kami bukan hanya sebagai kaum elit tetapi juga kaum Muslim elit yang memporak-porandakan negara ini dan menjadikan yang lain sebagai warga bayangan saja. Dari Hukum Kepemilikan Tanah sampai dgn keputusan2, hukum, norma sosial, politik dan diskriminasi, menyebabkan warganegara Hindu, Kristen, Buddha, Adivasi (Aboriginal) dan Pahari (Hill) dianggap sebagai hanya setengah manusia – diusir dari sekolah2, pekerjaan2, politik, kebudayaan dan kehidupannya." xlvii)



Di Mesir, orang2 Kristen Koptik sebagai penduduk asli, terus berkurang sebagai akibat dari penganiayaan Muslim. Untuk menekan Kristen, Muslim membangun sebuah masjid pada setiap jalan yang rencananya disana akan dibangun sebuah gereja. Setiap waktu, Muslim membuat kerusuhan yang ditujukan kepada orang2 Kristen dan merusak harta benda, gereja2 dan usaha bisnis mereka (seringkali dimuat di media) serta menciptakan masalah2 sosial lainnya yang memaksa orang2 Koptik untuk masuk Islam atau bermigrasi, kebanyakan ke Barat. Pada suatu kejadian, sejumlah 20.000 perusuh Muslim dengan senjata batu dan tabung gas airmata mengepung sekitar 1.000 orang Kristen yang terperangkap di dalam Gereja Koptik Ortodok Perawan Maria di sebelah Barat Ain Shams (Kairo) pada hari pembukaannya. Sepanjang malam para Muslim merubah lantai bawah sebuah bangunan yang baru dibangun, yang berhadapan dengan Gereja, menjadi sebuah Masjid dan mulai melakukan sholat di sana.
Image
Ketika satuan keamanan mencoba membubarkan mereka, ‘perusuh Muslim menyerang gereja itu..., mendobrak pintu2nya dan menghancurkan seluruh lantai bawahnya. Para perusuh menerapkan ayat2 Jihad sebagaimana slogan mereka yang berbunyi ‘kami akan menghancurkan gereja’ dan ‘kami mengorbankan darah dan jiwa kami, kami mengorbankan diri kami untukmu, Islam’ ’. xlviii)

Baru2 ini, sejumlah gadis Hindu di London dilaporkan telah diteror oleh para pemuda Muslim agar mau masuk Islam, sedemikian parahnya sehingga mereka membutuhkan perlindungan polisi. xlix) Jika hal seperti ini terjadi di INGGRIS, dapat ditebak dengan mudah apa yang terjadi pada non-Muslim di negara2 mayoritas Muslim. Demikian juga halnya dengan populasi Kristen Arab yang jumlahnya turun drastis di negara2 Timur Tengah. Banyak dari mereka yang pergi ke Barat untuk melepaskan diri dari diskriminasi dan penganiayaan. Kota Betlehem di Tepi Barat di Palestina, dulu didominasi oleh orang2 Kristen, kini merupakan kota dengan mayoritas Muslim. Populasi Kristen sebanyak 60 persen dari total populasi pada tahun 1990, yang kemudian turun menjadi 40 persen di tahun 2000 dan kini hanya tinggal sekitar 15 persen. Menurut Justus Reid Weiner, seorang ahli hukum tentang hak asasi manusia dan dosen di Universitas Hebrew, bekerja secara diam2 dengan partai yang memimpin Palestina yaitu Fatah, Arab Kristen sering menderita pelanggaran hak asasi manusia di tangan Muslim, yang termasuk,
“intimidasi, pemukulan, pencurian lahan, pengeboman gereja dan yayasan Kristen lainnya, penolakan mempekerjakan, boikot ekonomi, penyiksaan, penculikan, pemaksaan perkawinan, pelecehan seksual dan pengusiran”. l)


Image
Masalah2 ini memaksa mereka untuk bermigrasi ke tempat2 lain. Di lain pihak, kota Nazaret, tempat kelahiran Yesus di Israel – yang didominasi oleh Kristen sejak 1848 – tetap menjadi kota yang didominasi Kristen. Menurut perkiraan kecenderungan yang terjadi sekarang, komunitas Kristen mungkin akan hilang semuanya dari daerah yang dikuasai Muslim di Tepi Barat dan Gaza dalam tempo 15 tahun sebagai akibat dari meningkatnya penganiayaan dan perlakuan buruk“. il)
Di lain pihak, populasi Muslim meningkat dengan cepatnya pada wilayah mayoritas Hindu di India. Muslim di Nigeria berjumlah sekitar 40 persen dari total populasi pada saat mereka memperoleh kemerdekaan dari Inggris di tahun 1960, namun kini kemungkinan telah menjadi mayoritas. Di Bosnia-Herzegovina, ada sekitar 43.5 persen Muslim pada saat perang sipil di petengahan tahun 1990, jumlah mereka meningkat lebih dari 50 persen di tahun 2008. Di Israel, walaupun banyak imigran Yahudi yang kembali dari seluruh dunia, Muslim tetap mempertahankan proporsi jumlah populasinya. Di negara2 manapun yang Muslim-nya minoritas, mereka berkembang lebih cepat daripada yang lainnya atau tetap mempertahankan proporsi populasinya. Tetapi non-Muslim yang minoritas di negara2 Islam telah berkurang dengan cepat tanpa kecuali.

Shahadat adalah dasar keimanan Islam yang mengatakan “Tiada Tuhan selain Allah” (Quran 6:102, 106; 2:163). Islam – perintah agama, sosial, budaya dan politik diberi sanksi oleh Allah, satu2nya kedaulatan tertinggi yang sejati di seluruh alam semesta- harus menggantikan semua dan mendominasi semua orang. Untuk menegakkan sebuah budaya Islam
imperialis bagi semua orang-- dengan Islam sebagai satu2nya dan cara yang terlengkap sebagai pedoman hidup bagi semua orang sebagaimana dikehendaki oleh Allah-- Muslim harus mengobarkan Jihad dengan cara apapun (Quran 2:193, 8:39). Pembunuhan masal terhadap non-Muslim di negara2 Islam, yang terus berlangsung dengan sedikit perlawanan dari populasi Muslim yang lebih luas, sadar atau tidak merupakan pemaksaan imperialisme budaya Islam. Maka, sejumlah besar warisan kebudayaan dan peradaban yang telah hilang akibat dari penyerangan oleh Islam, SAMA SEKALI TIDAK DISESALI oleh mayoritas Muslim. Bagi seorang Muslim yang taat, mereka malah bersorak sorai kegirangan karena perusakan oleh mereka itu merupakan tugas suci bagi mereka. Naipaul menulis :
“Ia (Islam) telah memberikan para mualaf pengaruh yang sangat membahayakan. Untuk masuk Islam, engkau harus memusnahkan masa lalumu, memusnahkan sejarahmu. Engkau harus menginjaknya, dan engkau harus mengatakan bahwa ‘budaya leluhurku tidak pernah ada, itu tidak ada artinya bagiku’.


Sebuah kampanye untuk memusnahkan jejak2 agama jahiliyah, adat istiadat, kebudayaan dan benda2 peninggalan, dilakukan oleh Muslim secara besar2an diseluruh dunia. Muslim harus merubah seluruh dunia menjadi satu masyarakat yang seragam yaitu Arab-Islam dengan cara menciptakan negara imperialis Islam diseluruh dunia – dimana Islam merupakan satu2nya ideologi dan sebuah pedoman hidup yang lengkap bagi segala aspek kehidupan bagi semua orang. Sekarang di negara2 Muslim pasca penjajahan oleh Muslim, bentuk sosial-budaya seperti itu telah diterapkan dan terus meningkat, apalagi pada daerah2 yang jumlah Muslimnya mayoritas. Proses Arab-Islamisasi diseluruh dunia telah dimulai sekarang bahkan di negara2 Barat oleh imigran Muslim.


Diterjemahkan maria_qibtiyah, diperiksa oleh ADMIN
User avatar
kimi07
 
Posts: 2287
Joined: Fri Dec 07, 2007 7:59 pm
Location: in the Father's Heart

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:10 am

DITERJEMAHKAN oleh MARIA QIBTIYAH


Image
BAB V HAL 172 SUMBANGAN ISLAM PADA WILAYAH-WILAYAH YANG DITAKLUKKANNYA

[...]

Hashmi, dengan ringkas menyajikan contoh cara berpikir Muslim sbb : liii)
“Muslim memberi India kebudayaan yang maju. Buah2an seperti semangka, apel, anggur, aprikot, aneka kacang, safron, parfum, bubuk mesiu, mosaik, porselen, ladam, kubah dan menara pada seni arsitektur, sitar dan tabla serta not musik, kuda2, turban, sepatu kulit, pakaian yang dijahit menggantikan dhoti dan sari serta sarung (lungi), es, air mawar dan masyarakat egaliter (tanpa kasta) dibawa oleh penguasa Muslim, para pedagang dan para Sufi ke India...”.


Diskusi tentang semua kebaikan atau keberuntungan yang dibawa Muslim ke India adalah diluar pembahasan buku ini. Tapi penting untuk dicantumkan di sini bahwa segala hal2 yang menguntungkan ini tidak ada dasarnya di dalam ajaran Islam. Banyak dari hal2 ini tidak ada akarnya di dalam budaya bangsa Arab (faktanya, musik, puisi, seni rupa dan arsitek, dsb secara jelas dilarang dalam Islam). Hal2 tersebut telah ada sejak jaman budaya pra Islam dan merupakan adat istiadat peradaban yang maju dari orang2 di Persia, Mesir, Suriah dan Byzantium, yang telah ditaklukkan oleh Muslim.

Muhammad Asghar, seorang penulis dan pengkritik Islam, menulis dalam rangka membantah pernyataan Hashim yang berlebihan bahwa,

Memang bagus untuk menunjuk pada penjajahan sebuah negara oleh kekuatan asing dengan maksud untuk memperkenalkan hal2 tertentu yang tidak dimiliki oleh negara yang didudukinya. Dapatkah kita menerapkan logika yang sama untuk membenarkan hal2 tertentu yang sekarang terjadi di dunia? Orang2 Irak tidak punya hamburger dan sandwich, mereka juga tidak makan steak serta hal2 lainnya yang biasa dimakan oleh orang Amerika. Mereka juga tidak dapat membangun gedung2 pencakar langit, bendungan2 dan hal2 modern lainnya. Mereka juga hidup dibawah tekanan diktator selama 30 tahun. Jadi Amerika menyerang Irak untuk memperkenalkan kebudayaan majunya kepada orang2 Irak. Kehadiran mereka di Irak kini membuat orang2 Irak dapat makan hamburger, sandwich dan juga mempelakari cara2 membuat gedung2 tinggi. Mereka juga mengajarkan bangsa Irak tentang konsep demokrasi. Dalam waktu yang singkat, orang2 Amerika akan merubah Irak menjadi bangsa yang beradab ...


[...] jujurkah pernyataan Hashim mengenai kebudayaan maju, egaliter sosial, seni rupa, arsitektur, alat2 musik dan tentu saja, para Sufi hebat yang dibawa Islam ke India ? Kita perlu bertanya :

1. Apakah Arab dan budaya yang berpusat pada Islam ada hubungannya dengan sumbangan-sumbangan ini?
2. Apakah hal-hal tersebut merupakan penemuan orang-orang Arab?
3. Apakah masyarakat Arab pada jaman Nabi Muhammad begitu kaya akan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan pengembangan material?

MASYARAKAT ARAB YANG TERBELAKANG

Sejarah mencatat hal tersebut tidaklah terjadi di dalam masyarakat Arab dan kebudayaan pada jamam Nabi. Kedua jaman pra Islam dan awal masa sastra Islam menunjukkan bahwa wilayah Semenanjung Arab pada jaman Nabi Muhammad dihuni oleh orang2 primitif yang memiliki budaya dan peradaban yang belum berkembang. Kehidupan sosial, politik dan peradabannya masih berupa janin jika dibandingkan dengan peradaban yang telah maju di India, Persia, Mesir dan Suriah (orang2 Levant). Kota Mekah yang terletak di tengah gurun pasir memiliki sedikit lahan pertanian sebagaimana Allah menegaskan : “Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah)..."(Quran 14:37). Sebagai akibatnya, orang2 Mekah sangat sedikit melakukan pekerjaan sehari-hari. Mereka bertahan hidup dari berdagang musiman dan penghasilan yang didapat dari para peziarah ke Ka’bah dan memajaki rombongan2 karavan yang melewati Mekah. Orang2 yang lebih suka berperang dan bertualang diantara mereka melakukan serangan dan menjarah sebagai mata pencahariannya. Suku2 Arab yang nomad, jumlahnya cukup banyak dari populasi, mereka menjelajah gurun untu mencari uang. Kebiasaan ini berlanjut terus hingga abad ke 20 sebelum ditemukannya minyak.

Orang2 di kota asal leluhur Nabi Muhammad, Mekah, hidup dengan kehidupan yang relatif menganggur. Sebagai mata pencaharian, mereka merampok apa saja yang mereka bisa pada setiap kesempatan yang ada. Dengan banyaknya waktu luang, mereka senang menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan seksual. Maxime Rodinson, seorang sejarawan Islam yang terkenal mengutip Rabbi Wathan tentang masyarakat Arab :
“Tak ada suatu tempatpun di dunia yang terdapat begitu banyak kecenderungan pada pelacuran sebanyak yang terdapat pada orang2 Arab, sebagaimana tak ada kejayaan sebanyak pada orang2 Persia atau kekayaan seperti pada orang2 Romawi atau keajaiban seperti pada orang2 Mesir. Jika seluruh ijin kegiatan seksual di seluruh dunia dibagi menjadi 10 bagian, 9 bagian akan dibagikan kepada orang2 Arab dan bagian yang kesepuluh cukup untuk seluruh ras lainnya”. liv)


Demikian juga, Ronald Bodley mencatat sifat2 orang2 Arab di Mekah sbb :
"Amr Ibn al-As adalah putra seorang pelacur cantik di Mekah. Semua orang terkemuka Mekah adalah temannya. Maka, setiap orang, mulai Abu Sufyan kebawah, mungkin adalah ayah Amr. Sejauh orang meyakini, dia dapat memanggilnya Amr Ibn Abu Lahab atau Ibn al-Abbas atau ‘Ibn orang lainnya lagi’ diantara sepuluh orang terkemuka suku Quraish. Menurut kebiasaan orang2 Mekah pada saat itu, tak masalah siapun yang menjadi bapaknya." lv)


Pembaca mungkin berpikir bahwa hal ini adalah hal yang lumrah pada saat itu, namun bukanlah demikian halnya. Pada kenyataannya, banyak korban2 Islam – orang2 Persia sebagai contoh – meskipun terpaksa harus menerima Islam, tetap
tidak menyukai sifat malas dan tak berbudaya orang2 Arab. Orang2 Persia (orang2 Iran), bahkan hingga saat ini, merayakan kematian khalifah kedua Umar yang telah membawa peradaban tinggi bangsa Persia merosot hingga ke bawah kaki Arab Beduin. Walaupun dipaksa masuk Islam, masyarakat yang terpelajar yang punya peradaban yang telah maju yang ditaklukkan oleh penyerang2 Islam, meremehkan tuan-tuan Arabnya.

Mereka biasa mengejek ritual-ritual Islam dan mencela prestasi mereka yang tak berguna. Mereka biasa mengelu-elukan prestasi yang diraih oleh negaranya (pra Islam). Mereka sangat bangga pada kekayaan warisan budayanya dan bahkan berusaha membangkitkan kembali peradaban pra Islam mereka untuk menggantikan cara2 ajaran2 Islam yang secara brutal dipaksakan kepada mereka.

Shu’ubiya adalah satu gerakan anti-Arab diantara orang2 Persia, Mesir dan Palestina, yang bangkit pada abad 2-3 Islam. Lambang pergerakan ini adalah Jenderal dari Persia, Khayder bin Kawus (alias Afshin) yang berjuang untuk kebebasan berpikir pada jamam khalifah Abbasiyah al-Mutasim (wafat 842). Meskipun mencapai kesuksesan militer untuk kepentingan kekhalifahan Islam, Afshin merasa tak suka pada kebudayaan Arab dan agama Islam. Ignaz Goldziher mencatat tentangnya :
“Dia adalah seorang Muslim yang payah, dia tidak melakukan propaganda Islam yaitu merubah sebuah kuil pagan menjadi sebuah Masjid. Dia mengejek hukum2 Islam. Dia makan daging hewan yang mati dijerat dan juga menyuruh orang lain melakukannya dengan berkata bahwa dagingnya lebih terasa segar daripada daging hewan yang disembelih menurut hukum Islam,”


Demikian Goldziher. Dia (Afshin) mengejek aneka kebiasaan Islami seperti berkhitan dan “bermimpi tentang kembalinya kerajaan Persia dan tentang ‘agama putih’ dan menghina orang Arab, Maroko dan Muslim Turki”. lvii)

Jenderal Afshin dituduh telah murtad dan memeluk agama nenek moyangnya yaitu Zoroastrian, dia dijebloskan ke penjara, tempat dia meninggal pada tahun 841. lviii) Ketika membicarakan tentang kebanggaan bangsanya dan pencapaiannya yang bersejarah, Shu’ubiya tidak pernah lupa untuk menuding pada budaya Beduin yang primitif dengan menyebutnya liar, biadab dan tak beradab. Mereka menyatakan bahwa orang2 Persialah yang mengajari mereka sopan santun. Mereka menggambarkan orang2 Arab sebagai para penghuni tenda, penggembala domba, penunggang onta, penghuni gurun dan pemakan kadal.

--------------------------SAMPAI SINI DULU PEMERIKSAAN OLEH ADMIN-------------------

Menurut Ismail al-Thalibi, mereka mencela budaya sodomi yang lazim diantara orang2 Quraish (ini menegaskan keinginan seksual mereka yang tak terkendali dan gambaran moral orang2 Arab sebagaimana ditulis di atas). lviii)
Gerakan yang serupa dibuat untuk membuktikan keunggulan kebudayaan penduduk asli dibanding budaya Arab yang dipaksakan kepada mereka, juga berakar diantara orang2 Mesir Koptik, Arab Nabatean dan diantara masyarakat lainnya yang wilayahnya ditaklukkan oleh bangsa Arab. Firuzan (atau Abu Lulu) yang membunuh Khalifah Umar pada tahun 644 membalas dendam atas kekejaman yang dilakukan bangsa Arab ketika menyerang Persia, ia dianggap sebagai pahlawan di Iran, bahkan hingga kini. lix)

Kejadian2 ini menjelaskan tentang jungkir baliknya perkembangan budaya, sosial dan politik bangsa Arab – yang dari sana lah Islam berasal dan berkembang serta dari sana lah asalnya norma2 budaya yang dijadikan dasar agama Islam. Kekejaman yang tak terkendali dan budaya perbudakan seks, sodomi dan jumlah harem yang banyak (lihat Bab tentang Perbudakan) yang dibawa oleh para penyerang Muslim dan ditanamkan sedalam-dalamnya di dunia Muslim, merupakan sebuah cermin atas rendahnya moral dan perkembangan budaya masyarakat Arab Beduin pada saat itu.

Wajar jika timbul pertanyaan : Bagaimana mungkin masyarakat yang begitu tak berbudaya dan terbelakang dapat memberikan kebaikan kepada bangsa2 yang telah mempunyai peradaban maju seperti India, Persia, Mesir, Levant dan Byzantium?
Bangsa Arab pada abad ke 7 nampaknya hanya mampu mengenalkan kesenangan seksual dan syair saja kepada bangsa yang ditaklukkannya. Harem2 berjumlah banyak dan menyebarnya perbudakan seks yang dikenalkan oleh para penyerang Muslim kepada seluruh wilayah yang ditaklukkannya membuktikan dengan jelas bahwa perbuatan tidak bermoral pada budaya seks mereka. Dalam hal syair, kehebatan orang2 Arab pra Islam telah terdengar hingga ke daerah2 tetangganya. Namun, Islam mengutuk kegiatan bersyair dan berpuisi (Quran 26:224; Bukhari 8:175-176; Muslim 28:5609). Walaupun demikian tetap saja syair2 orang2 Yunani mengungguli syair2 orang Arab. Ketika Muslim membual memperkaya India dengan syair2, ghazal, seni rupa, arsitek dan sains; kecuali syair, orang2 Arab tidak mempunyai keterampilan2 di bidang tersebut dan tidak memiliki apapun yang dapat diajarkan kepada India.

Kita telah mengetahui bahwa Nehru pernah memuji bagaimana bangsa Arab telah membawa “budaya yang brilian” dari satu tempat di dunia kepada tempat lainnya. Berlawanan dengan itu, dua halaman berikutnya ia menulis : “(Bangsa Arab) segera meninggalkan cara hidupnya yang sederhana dan mengembangkan kebudayaan yang lebih canggih... pengaruh Byzantium datang kepada mereka... ketika mereka pindah ke Baghdad, adat istiadat Iran kuno mempengaruhi mereka”. lx)
Nehru boleh saja menarik kesimpulan sesukanya, tetapi masyarakat yang hidupnya yang sederhana ini tidak dapat memberikan apapun kepada masyarakat yang telah jauh berkembang yang telah mereka ganyang. Bangsa Arab hanya mampu belajar dan merampas yang mereka lakukan dalam setiap kata-kata yang diucapkan Nehru – dari Byzantium dan Persia.


PELARANGAN MENUNTUT ILMU DI DALAM ISLAM

Banyak cendekiawan menuntut ilmu pada abad pertengahan – misalnya dalam bidang seni rupa dan arsitektur, musik dan syair, sains dan pengajaran dan lain2 – yang masuk dalam kategori yang dilarang dalam Islam. Sebagi contoh, Allah melarang Muslim menikmati kemewahan di dunia ini : “..tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Quran 43:33-35). Ini berarti bahwa kesenangan hidup di dunia ini adalah untuk para kafir saja. Muslim harus menghindarinya. Muslim tidak boleh bermain dan menghibur diri, sebagaimana Allah berkata : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Quran 6:32).
Allah dengan jelas telah melarang pameran karya2 arsitektur dan bangunan serta menghibur diri dengan bermain musik, syair, dll. Nabi Muhammad oleh sebab itu berkata pada Muslim barangsiapa yang berpikir bahwa bermain musik itu halal, maka mereka akan dihancurkan dan dirubah menjadi monyet2 dan babi2 (Bukhari 7:494B). Menurut hadis lainnya, Nabi menyuruh Ali : “Aku mengutusmu sebagaimana Allah telah mengutusku, untuk menghancurkan kecapi dan seruling”. lxi) Mengenai mendirikan bangunan yang megah, Muhammad, setuju dengan Allah, berkata : “Sesungguhny hal yang paling tidak menguntungan dan memakan kekayaan kaum beriman adalah membuat bangunan yang megah’ dan bahwa “Setiap ongkos yang dikeluarkan oleh orang beriman akan diberi pahala kecuali ongkos membangun bangunan megah’. lxii) Nabi juga tidak mau membangun bangunan2 megah walaupun dia telah berhasil mendirikan negara Islam yang sangat kuat di Madinah.

Dua buah Masjid yang pertama dibangunnya – satu di Quba dan satunya lagi Masjid Nabi di Madinah – adalah merupakan bangunan yang sederhana hingga kematiannya. Ketika para sahabatnya menanyakan apakah perlu diperbaiki, dia menjawab : “Tidak, sebuah Masjid haruslah sederhana seperti gubuk Musa”. lxiii)
Allah juga tidak menyukai pengembangan sikap kreatif, seperti sains, filosofi dan pembelajaran. Nabi Muhammad buta huruf dan Allah dengan bangganya memuji kualitas Nabi : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil ...”(Quran 7:157). Allah juga memperingatkan Muslim yang ingin tahu dan menanyakan pertanyaan2 yang kreatif tentang dunia : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu... Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka menjadi kafir”. (Quran 5:101-102). Nabi Muhammad juga menasehati para pengikutnya untuk tidak mengajukan pertanyaan2 yang kreatif dan agar mengikuti dengan patuh apapun juga yang telah diwahyukan oleh Allah : “Rasul Allah berkata : ‘Setan menghampiri salah satu darimu dan berkata, ‘Siapa menciptakan ini dan itu?’ hingga dia berkata, ‘Siapa yang telah menciptakan Tuhanmu?’ Kemudian ketika ia berpikir tentang pertanyaan yang seperti itu, ia harus memohon ampun kepada Allah dan meninggalkan pikiran2 semacam itu” (Bukhari 4:496; Muslim 1:242-43). Nabi Muhammad sendiri tidak pernah berinisiatif untuk mempromosikan sains, seni rupa, arsitektur atau pembelajaran kreatif lainnya selama ia berkuasa di Madinah.

Wahyu2 Islam yang tersedia di dalam Quran, diyakini sebagai tuntunan lengkap atas semua ilmu pengetahuan di alam semesta yang diturunkan langsung oleh Pencipta Yang Maha Mengetahui.

Quran 3:164 berkata, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. Dengan kata lain, melalui Quran, Allah telah membuka semua ilmunya yang sejati, kebijaksanaan dan tuntunan bagi seluruh umat manusia. Seluruh ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia sebelum kedatangan Islam adalah penuh dengan kekeliruan. Allah menyatakan didalam Quran, sebagai pedoman pengetahuanNya, tiada pengetahuan di dunia ini yang tidak tercantum didalamnya : “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab...” (Quran 6:38). Allah bersikukuh bahwa Quran bukanlah buku yang mengada-ada namun merupakan tuntunan dan kebijaksanaanNya yang sejati, memuat semua ilmu pengetahuan yang telah ada sebelumnya dan yang akan datang, dikirim langsung dari surga yang seluruhnya disampaikan dengan jelas : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Quran 12:111).

Maka, pengetahuan dan petunjuk yang terdapat di dalam Quran , dipegang oleh Muslim yang taat, adalah segalanya yang diperlukan seseorang menjalani hidup dengan sempurna di dunia ini. Seorang Muslim dapat memastikan tempatnya di Surga – satu2nya tujuan hidup Muslim di dunia ini – hanya dengan cara melaksanakan dengan penuh ketekunan dan kesetiaan segalanya yang yang diperintahkan maupun yang dilarang di dalam Quran. Sebagai penegasan atas dasar keimanan Islam ini, Prof. Umaruddin menulis : “Kaum Muslimin dari awal yakin bahwa dengan datangnya Islam, semua sistem pemikiran2 yang ada sebelumnya dibatalkan.

Quran dianggap sebagai satu2nya petunjuk bagi umat manusia yang menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di kehidupan setelahnya”. lxix )
Dr. Ali Issa Othman, sama halnya, menegaskan bahwa Quran adalah ‘sebuah motivator pikiran kiita dan sebuah ujung dari ilmu pengetahuan’ bagi Muslim : lxv) Jadi, dteladani dari penguasa Abbasiyah, saat mereka membaca terjemahan manuskrip2 dari Yunani, India dan Mesir, mereka tertegun melihat begitu banyaknya harta karun pengetahuan dan kebijaksanaan telah diketahui oleh umat manusia sebelum datangnya Islam. Demi menegaskan penolakan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan kebijaksanan pra Islam yang penuh dengan kekeliruan dan menyesatkan, ‘Beberapa Khalifah menugaskan unuk membakar manuskrip2 asli milik bangsa Yunani dan Latin setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hal ini dimaksudkan untuk memusnahkan seluruh bukti2 bahwa manuskrip2 tersebut berasal dari masa pra Islam, sehingga mereka dapat menyatakannya sebagai produk2 di jaman Islam. Akibatnya, ‘ sejumlah hasil karya bangsa Yunani dan Latin yang ditulis dalam bahasa kuno mereka, kini hanya tersedia versi bahasa Arabnya’. lxvi)


Jaman awal Muslim, tidak memiliki ketertarikan malah meremehkan bidang2 sosial, budaya, pendidikan, politik dan pencapaian material. Sikap ini menuntun kepada pengabaian dan penolakan terhadap upaya2 yang dilakukan di wilayah yang ditaklukkan Muslim. Ketidak sukaan ajaran Islam kepada senirupa, syair, musik, sains dan arsitektur, dsb telah memberi pengaruh yang kecil kepada mereka, sebagaimana perkataan Guillaume, warisan Islam ‘memiliki sedikit sekali hal2 yang berharga padahal agama tersebut mempunyai pengaruh yang sangat kuat’. lxvii)
Al-Biruni menyaksikan pengaruh pemusnahan sains dan pendidikan di India menulis bahwa ‘Sains orang2 Hindu telah berhenti di tempat yang jauh dari bagian2 wilayah negara itu yang kami taklukkan dan telah pergi ke tempat2 dimana tangan2 kami tak dapat menjangkaunya, yaitu ke Kashmir, Benara dan tempat2 lainnya’.lxviii)

Mengenai sumbangan para penyerang Muslim ke India, Rizwan Salim menulis : Penyerangan yang kejam yang mengakibatkan begitu rendahnya peradaban dan tak ada budaya yang layak disebut, dari Arabia dan Asia Barat, dimulai pada saat memasuki India pada awal abad hingga setelahnya. Para penyerang Islam menghancurkan kuil2 Hindu tak terhitung banyaknya, menjadikan banyak arca hancur berkeping-keping, menjarah banyak istana dan benteng aja2 Hindu, membunuh sejumlah besar laki2 Hindu dan menculik para wanitanya. Kisah ini diketahui oleh banyak orang India yang berpendidikan maupun yang buta huruf.
Buku2 sejarah menulisnya dengan rincian yang luar biasa. Tetapi banyak orang2 India yang nampaknya tidak menyadari bahwa Muslim2 perompak telah memusnahkan salah satu peradaban maju di muka bumi ini, kebudayaannya yang kaya dan masyarakatnya yang sangat kreatif. lxix)

ISLAM EGALITER ATAU RASIS?

Mengenai sosil egaliterisme dan persamaan, banyak pujian dilontarkan kepada Islam tanpa mempelajarinya atau memahami kepercayaannya. Pernyataan Hashimi dan Reid tentang egalitarianisme Islam telah dibicarakan sebelumnya. Nehru berkata bahwa Islam membawa sebuah ‘citarasa demokrasi dan persamaan derajat’, yang menjadi daya tarik bagi masyarakat luas Arabia dan negara2 tetangganya.lxx)
Mengenai sifat agaliter Islam, Bernard Lewis seorang sejarawan Islam yang dihormati berkilah : lxxi) Banyak kebeneran pada pernyataan ini... Islam jelas membawa sebuah pesan tentang persamaan derajat. Bukan hanya Islam tidak menyetuui sistem perbedaan status sosial (sistem ras,sistem kasta, dsb), ia juga secara terbuka dan tegas menolaknya. Perbuatan dan perkataan Nabi, yang dijadikan teladan oleh para penguasa pada masa awal Islam diabadikan dalam hadis2, sangat menentang hak2 istimewa yang ditentukan oleh keturunan, oleh kelahiran, oleh status, oleh kekayaan bahkan oleh ketaatan dan jasanya pada Islam.

Lewis menambahkan bahwa penyimpangan dari prinsip dasar ini adalah tidak Islami dan jelas ditimbulkan oleh orang2 yang anti-Islam. Namun ia segera menyatakan bahwa merendahkan status para budak, kafir dan wanita dalam Islam, diberi sangsi seperti yang tertulis di kitab suci, tak terdapat sepanjang sejarah Islam. lxxii)
Hal yang tidak mendidik dengan menyatakan bahwa Islam membawa persamaan derajat pada semua orang, tidak peduli ras-nya, warna kulit atau bangsanya : Arab maupun non-Arab, Hitam atau Putih. Islam sebagaimana terulis di dalam kitab sucinya Quran, adalah sebuah agama yang rasis dan mengunggulkan bangsa Arab. Allah memuji-muji bangsa Arab sebagai orang2 yang terbaik, ras pilihanNya, yang Dia akan menolong untuk menegakkan kekuasaan mereka dan mendominasi semua bangsa di Bumi. Hal ini mirip keyakinan bangsa Israel yang menganggap bangsa pilihan Tuhan, tapi dominasinya adalah hanya sebatas negara Israel saja. Tuhannya Islam menyatakan bahwa Arab Hijaz adalah bangsa yang terbaik (rakyat dan ras) di dunia : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” (Quran 3:110). Menurut penulis awal biografi Muhammad Ibn Sa’d, Nabi juga menyatakan hal yang sama dalam kata2nya : ‘Tuhan membagi Bumi menjadi dua bagian dan menempatkanku di bagian yang terbaik dari keduanya, Dia kemudian membaginya menjadi tiga bagian dan aku pada bagian yang terbaik diantaranya, kemudian Dia memilih orang2 Arab diantara orang2, lalu Dia memilih suku Quraish diantara orang2 Arab, lalu Dia memilih anak2 Abdul Muthalib diantara Bani Hashim, kemudian Dia memilihku diantara anak2 Abdul Muthalib’. lxxiii)

Pada kenyataannya, Allah berharap Islam menjadi sebuah agama hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab yang sebelumnya tidak pernah menerima wahyu : ‘Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia Muhammad mengada-adakannya." Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk’. (Quran 32:3). Allah memilih Muhammad dari suku Quraish sebagai suku terbaik untuk memimpin dunia di bawah bendera Islam sebagaimana sebuah hadis meriwayatkan : ‘Rasul Allah berkata : ‘Wewenang untuk berkuasa tetap ada pada suku Quraish dan barangsiapa menentang mereka, Allah akan memusnahkannya, sepanjang mereka mematuhi hukum2 agama” (Bukhari 4:56:704).
Maka, dewa Islam denan jelas telah mewahyukan bahwa Islam merupakan agama yang mengunggulkan bangsa Arab – kebalikan dari yang diucapkan oleh banyak ulama yang berkata tentang persamaan derajat di dalam Islam. Bukan hanya itu, dewa Islam juga seorang yang mengunggulkan kulit putih – yang berarti seorang rasis anti kulit hitam – yang akan merubah orang2 kafir yang dihukum menjadi hitam pada hari Kiamat :

1. ‘Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam...’ (Quran 39:60)
2. ‘pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga)...’ (Quran 3:106-107)
3. ‘ Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam... Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan... Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita...’ (Quran 10:26-27)

Supremasi Arab dan anti-kulit hitamnya tidak hanya tertulis pada kitab suci Islam melainkan terdapat pada kehidupan nyata sejak masa awal Islam hingga ke masa sekarang. Kini, orang2 Arab Timur Tengah memperlakukan sesama Muslim yang berasal dari negara2 seperti Bangladesh atau Afrika dengan sikap meremehkan dan menghina. Ulama Islam terkenal Ignaz Goldziher, diluar dari kebodohannya tentang keberatan2 pada Quran, juga berpikir bahwa Islam mengajarkan dengan tegas tentang persamaan derajat semua Muslim dihadapan Tuhan. Maka Goldziher tidak perlu merasa sakit hati pada sejarah Islam yang mengabaikan anggapan tentang persamaan derajat untuk seluruh manusia, sebagaimana ia berkata. “ajaran Islam tentang persamaan derajat pada semua orang masih menjadi surat yang mati untuk waktu yang lama, tidak pernah disadari oleh orang2 Arab dan diabaikan pada tingkah laku mereka sehari-hari’. lxxiv)

Setelah Arab Muslim menyeruak keluar dari wilayah Arabia dan menaklukkan sejumlah besar wilayah, mereka tidak pernah mengakui persamaan derajat non Arab yang masuk Islam. Mereka adalah tuan2 penguasa dan para Muslim lainnya adalah warga kelas dua. Tentu saja, hal tersebut merupakan perintah Allah. Bangsa Arab memperlakukan bangsa non Arab yang masuk Islam dengan sikap meremehkan, menganggap mereka setara dengan ‘seluruh rangkaian dari keuangan, sosial, politik, militer dan kecacatan lainnya’. lxxv)
Bangsa Arab menerapkan sebuah kebijakan pembedaan ras (apartheid) kepada saudara Muslimnya yang bukan Arab. Menurut Cambridge History of Islam, mereka memerintahkannya untuk bertempur dengan bertelanjang kaki. Mereka dicurangi dalam pembagian harta rampasan. lxxvi) Mereka tidak mau berjalan pada sisi yang sama dengan mereka atau duduk di meja jamuan yang sama. Pada hampir setiap tempat, tenda2 dan masjid yang terpisah dibangun untuk mereka pergunakan. Perkawinan campur antara mereka dan orang2 Arab dianggap sebagai kejahatan sosial. lxxvii)
Tidak diragukan lagi Islam lahir untuk menjadi imperialisme yang mendunia yang dikuasai oleh bangsa Arab dan lebih disukai oleh bangsa Quraish – sukunya Nabi Muhammad.

Jadi, sepanjang sejarahnya, sudah menjadi kebiasaan, bahkan suatu kebutuhan untuk membuktikan kekuasaannya, bagi monarki2 Islam untuk mengaitkan keturunannya kepada bangsa Arab, terutama pada suu Quraish. Pada pertengahan abad ke 20, Nawab dari Bahawalpur (Sindh) yang berkulit hitam yang memiliki obsesi pada wanita2 berkulit putih guna mempunyai anak yang berkulit lebih terang, secara fanatik menyatakan bahwa leluhurnya adalah keturunan keluarga dinasti Abbasiyah dari suku Quraish. Ensiklopedia Islam edisi terakhir menolak pernyataan ini. lxxviii)

Di Asia Tenggara, para penguasa kesultanan Sulu yang berparas Mongol menyatakan diri sebagai keturunan Nabi untuk memperkuat mandat ke-Islamannya guna melegitimasi kekuasaan mereka. Menurut sejarah, monarki Muslim di Afrika Utara biasa menyatakan leluhurnya merupakan keturunan Arab. Sultan Moulay Ismail (mati 1727)menyatakan bahwa dirinya merupakan keturunan keluarga Nabi. Shah Ismail (berkuasa 1502-24), pendiri dinasti Safavid di Persia, walaupun sebagai seorang Turki dan berkebudayaan Persia, menyatakan dirinya sebagai keturunan Muhammad. Pernyataan2 seperti ini yang dilontarkan monarki2 Muslim sepanjang sejarah hampir mendunia. Bangsa Arab yang masih berkuasa di Afrika Utara seperti di Sudan dan Maroko.

Tidak diragukan, Allah menempatkan orang2 berkulit hitam diurutan terakhir dari ras yang disukaiNya. Dengan demikian, orang2 berkulit hitam menderita atas perlakuan terburuk dan kejam yang dilakukan oleh para penyerang Arab. Bangsa Arab telah merubah Afrika menjadi daerah perburuan budak dan tempat berkembang biak selama berabad-abad (lihat Bab VII). Nasib yang menghantui mereka sampai hari ini dalam satu bentuk atau lainnya, seperti di Sudan (Bab VII bagian : Kebangkitan Perbudakan di Sudan). Sejak awal Islam, banyak penyair2 ternama di Arab berkulit hitam yang sering mengekspresikan penderitaan mereka karena ras-nya dan sikap menghina bangsa Arab di dalam ratapannya seperti


‘Aku berkulit hitam namun jiwaku putih’ atau ‘Para wanita akan mencintaiku jika kulitku putih’. Perlu dicatat bahwa rasisme yang dirasakan pada jaman modern tidak dijumpai di jaman pra Islam Arabia. Lewis menambahkan, Islam, jauh dari mendorongnya, malah mengutuk kecenderungan dunia pada etnik dan kecongkakan sosial serta memproklamirkan persamaan derajat pada semua Muslim dihadapan Tuhan. Tetapi dari literatur, jelas bahwa sebuah pola yang baru dan terkadang keji dari permusuhan sosial dan diskriminasi telah timbul di dalam dunia Islam. lxxix)

Lewis jelas tidak tahu bahwa supremasi Arab dan rasis anti kulit hitam-nya tercantum di dalam kitab suci Islam, apa yang berlangsung dan terus berlanjut hingga hari ini (saat ini Arab adalah orang yang paling rasis di dunia) adalah apa yang tanpa ragu2 dimaksud olehTuhannya Islam.
Tidak diragukan, terdapat perbedaan sosial dalam bentuk satu dan lainnya pada semua masyarakat di saat kelahiran Islam. Tetapi Islam, didirikan dengan menyatukan semua ide2, ajaran2 dan nilai2 pada masyarakat Arab yang terbelakang, yang sedikit sekali dapat menawarkan hal2 seperti budaya yang tinggi dan egaliter sosial pada masyarakat yang telah maju seperti India, sebagaimana Hashim ingin kita mempercayainya. Perbudakan yang tak terkendali (termasuk perbudakan seks), harem yang meluas, merosotnya nilai2 sosial secra mengerikan dan penghinaan serta eksploitasi ekonomi yang luar biasa pada non Muslim -

- sebagai simbol penguasa Islam di India – samasekali tidak menunjukkan pemahaman akan budaya tinggi dan egaliter sosial. Sebaliknya mereka menunjukkan hal kebalikannya. Para penguasa Muslim, tidak seperti Inggris, tidak mengambil inisiatif untuk mengurangi atau menghapuskan penyakit2 sosial, seperti pembakaran janda (sati) dan sistem kasta yang merundung pra penjajahan Muslim di India. Pada kenyataannya, sebagian dari penyakit sosial ini lebih terasa menyakitkan di bawah pemerintahan Muslim (lihat Bab berikutnya).

Pada pengulangan yang kerap dan diterima dengan baik, namun tidak berdasar, pernyataan bahwa Islam membawa kebudayaan tinggi, persaudaraan manusia dan egaliter sosial, Anwar Shaikh menulis : lxxx)

Islam telah menyebabkan kerusakan yang lebih banyak pada martabat bangsa dan kehormatan Muslim non-Arab daripada bencana lainnya yang mungkin menimpa mereka, namun mereka percaya bahwa agama ini adalah dutabesar dari : 1) Persamaan derajat, dan 2) Cinta manusia... Hal ini adalah sebuah fiksi yang telah disajikan sebagai fakta dengan keterampilan yang tak ada bandingannya. Pada kenyataannya, Nabi Muhammad membagi umat manusia menjadi dua bagian – Arab dan non Arab -. Menurut penggolongan ini, bangsa Arab adalah para penguasa dan non-Arab adalah yang dikuasai melalui Imperialisme Budaya Arab... Cinta Umat Manusia dalam Islam adalah sebuah mitos dari bagian yang lebih besar. Kebencian pada non-Muslim adalah poros dari keberadaan Islam. Ini bukan hanya menyatakan bahwa semua yang menentang sebagai penghuni neraka namun juga untuk menyalakan api ketegangan secara permanen antara Muslim dan non Muslim.

Diterjemahkan maria_qibtiyah
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:11 am

Diterjemahkan maria_qibtiyah

BAB V HAL 183 PEMUSNAHAN AJARAN EGALITER BUDDHA OLEH ISLAM

Pada saat ekspansi Islam, ajaran Buddha - yang merupakan ajaran yang paling damai, anti kekerasan dan mempunyai sistem egaliter kuno – adalah agama yang menyebar di wilayah Asia Tengah dan Asia Tenggara serta tertanam kuat di sebagian India (di Bengal, Sindh, dll).

Islam menyebabkan pemusnahan ajaran Buddha pada hampir seluruh tempat yang didatanginya. Hal ini ditunjukkan oleh al-Biruni sebagaimana telah disampaikan. Dalam menguraikan kekejaman Bakhtiyar Khilji dalam membasmi ajaran Buddha di Bihar pada tahun 1203, Ibn Asir mencatat, lxxxi) “menyerang ketika musuh tidak siap”, “Muhammad Bakhtiyar dengan keberanian dan kekuatannya yang hebat, menyerbu gerbang benteng dan menguasai tempat itu. Penjarahan besar2an dilakukan oleh pihak yang menang. Sebagian besar penghuninya adalah kaum Brahman dengan kepala yang dicukur habis (sebenarnya adalah para pendeta Buddha). Mereka dibunuhi. ‘Ketika ia mencapai Universitas Nalanda yang terkenal itu, demikian ditambahkan oleh Ibn Asir, ‘sejumlah besar buku-buku ditemukan disana’. Begitu luasnya pembantaian yang dilakukan sehingga saat serdadu Muhammad menanyakan isi dari buku2 itu, tiada seorangpun yang dapat memberitahukannya karena ‘semua orang sudah dibunuh,’ demikian catatan Ibn Asir. lxxxii)
Universitas Nalanda memiliki sebuah perpustakaan yang sangat besar, bangunan yang terdiri dari sembilan lantai. Ketika sudah jelas bahwa tidak terdapat salinan Quran di dalamnya, Bakhtiyar Khilji membakar habis semuanya hingga menjadi debu.

Dr. BR Ambedhkar, seorang Buddha yang masuk Hindu dan seorang ketua arsitek pembuatan Undang-undang India, telah berjuang bersama Muslim dalam upaya mereka mendirikan negara Pakistan pada tahun 1940-an, ia menyebutnya sebagai hak mereka yang sah. Sebagai akibat dari invasi Islam kepada ajaran Buddha di India. Ambedhkar menulis sebagai berikut, ‘tak diragukan lagi bahwa kejatuhan ajaran Buddha di India adalah akibat dari invasi kaum Musalman.’ Menguraikan tentang misi pemusnahan Islam atas patung-patung berhala di India dan di tempat-tempat lainnya, ia menulis : ‘Islam datang sebagai musuh ‘But’. Kata ‘But’ sebagaimana setiap orang tahu, adalah kata bahasa Arab dan berarti berhala. Jadi asal usul kata itu menunjukkan bahwa dalam pemikiran Muslim tentang penyembahan berhala, ditujukan pada agama Buddha. Bagi Muslim, mereka semua satu dan sama. Misi untuk menghancurkan berhala kemudian menjadi misi untuk menghancurkan ajaran Buddha. Islam menghancurkan ajaran Buddha tidak hanya di India tetapi di seluruh tempat yang didatanginya. Sebelum kedatangan Islam, agama Buddha merupakan agama yang dianut di Bactria, Parthia, Afghanistan. Gandhar dan oleh orang-orang Cina Turkestan sebagaiman ia juga dianut di seluruh Asia...’

Ambedhkar memberitahu kita bahwa Islam tidak hanya memukul habis agama Buddha, namun juga menghancurkan pusat-pusat pengajarannya, sebagaimana ia menulis sebagai berikut : ‘Para penyerang kaum Mussalman merampok universitas-universitas Nalanda, Vikramshila, Jagaddala, Odantapuri diantra yang sedikit disebutkan. Bagaimana para pendeta Buddha mati oleh pedang para penyerang Muslim telah dicatat oleh para sejarawan Muslim sendiri. ‘Untuk menguraikan penyerangan Islam yang fatal terhadap agama Buddha di India, Ambedhkar menulis sebagai berikut : ‘Hal tersebut adalah pembantaian pendeta-pendeta Buddha yang dilakukan oleh para penyerang Islam. Kapak Muslim telah menebas hingga ke akarnya.

Dengan membantai pendeta-pendeta Buddha, Islam telah membunuh ajaran Buddha. Hal ini merupakan bencana besar yang menimpa agama Buddha di India.’ lxxxiii)
Lebih lanjut, para penguasa Muslim adalah orang-orang yang berpikiran menurut kasta sebagaimana kasta-kasta Hindu yang lebih tinggi memperlakukan orang-orang dari kasta yang lebih rendah. Mereka tidak pernah mencoba memberi wewenang pada kasta Hindu yang rendah saat mempekerjakan mereka. Ketika para penguasa Muslim mulai mempekerjakan beberapa orang Hindu dalam satuan tentara mereka dan pada pekerjaan lainnya, terutama pada masa pemerintahan Mughal, mereka selalu mencari pekerja dari kasta yang lebih tinggi yaitu Rajput dan Brahmin. Sementara kasta Hindu yang rendah yang tertindas dan orang-orang Sikh melakukan pemberontakan. Tercatat bahwa Aurangzeb mengirim sepasukan tentaranya, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Rajput, untuk menghancurkan para pemberontak berkasta rendah Jat di Sinsani pada tahun 1690 dimana 1.500 orang Jat terbunuh.

Mengenai pernyataan Hashim bahwa Islam membawa kaum Sufi – diantara mereka yang tersohor Amir Khasru, Nizamuddin Auliya dan Moinuddin Christi – bagi India, dapat memberikan nilai lebih jika para penguasa Muslim membawa para penemu seperti Aristotleles, Isaac Newton atau Albert Einstein. Telah dibicarakan bagaimana Amir Khasrau yang dianggap sebagai seorang penyair sufi yang hebat, merasa senang melihat penghancuran kuil-kuil Hindu dan pembantaian orang-orang Hindu oleh para perompak Muslim.

Para Sufi asal India seperti Auliya, Moinuddin dan Shah Jalal, datang ke India untuk berjihad dan membunuh orang-orang Hindu. Auliya menunjukkan kegembiraannya pada keberhasilan ekspedisi ini yang banyak sekali melakukan penjarahan, membunuh dan menculik orang-orang untuk dijadikan budak serta dengan senangnya menerima hadiah-hadiah dari hasil jarahan. Para Sufi hebat lainnya yang tinggal di Kashmir dan Gujarat mengilhami terorisme serta membawa kerusakan bagi masyarakat India.
Bangsa Arab, membenarkan tulisan ini, tidak membawa kebaikan apapun bagi India dan bagi masyarakat serta bangsa lainnya yang mereka taklukkan segera setelah kematian Muhammad. Akibat dari pembantaian yang dilakukan oleh Islam pada masyarakat adalah kemerosotan dibidang seni rupa, kebudayaan, sastra, arsitektur, sains dan pendidikan. Mereka menghancurkan banyak sekali pusat-pusat pendidikan, dari India hingga Mesir. Para cendekiawan dan usaha-usaha pembangunan bangkit kembali dianatar orang-orang Persia, Mesir, Suriah, dan lain-lain, diluar daripada peninggalan kebudayaan dan peradaban leluhur pra Islam mereka. Bahkan Nehru, yang biasanya menggambarkan tentang kebaikan penguasa Muslim di India, telah gagal menunujukkan segi-segi positif yang dapat ditawarkan kepada India. Ia menulis sebagai berikut :
Kaum Muslimin yang datnag ke India dari luar negeri tidak membawa teknik atau politik atau struktur ekonomi yang baru. Meskipun memiliki kepercayaan religius tentang persaudaraan dalam Islam, mereka mempunyai golongan-golongan sosial dan pandangan feodal. Mereka terbelakang atas apa yang telah dicapai India dalam bidang teknik dan metode produksi serta industri. Jadi pengaruh mereka sangat sedikit dalam kehidupan perekonomian di India. lxxxiv)



BAGAIMANA CARA MUSLIM MENGUNGGULI INTELEKTUAL DAN MATERIAL?

Setelah penyerangan brutal yang dilakukan oleh Muslim, orang-orang Arab Beduin yang masih terbelakang ini menghadapi tugas mengelola peradaban dunia yang telah maju yang mustahil dapat mereka lakukan.

Dengan hanya memiliki pengetahuan, keahlian dan disiplin yang sedikit untuk mengurus wilayah-wilayah yang telah maju, mereka terpaksa berkompromi dengan ajaran agamanya dan mengambil banyak hal yang telah dicapai umat manusia pada jaman pra Islam untuk diterapkan pada wilayah-wilayah yang ditaklukkannya. Mereka harus kembali kepada sistem jahiliyah yang telah maju dan mengajari penduduk asli tentang sosial, politik, keuangan, perdagangan dan pendidikan. Orang-orang Arab membiarkan oranag—orang yang belum masuk Islam untuk menjalankan urusan-urusan tersebut sementara mereka melakukan penaklukkan. Penguasa Muslim menemukan bahwa orang-orang Yahudi ahli dibidang keuangan, orang Yunani dibidang teknik, arsitektur dan seni rupa serta Kristen dibidang hukum, medis, pendidikan dan administrasi. Mereka merasa senang mempekerjakan sebagian orang-orang kafir ini untuk meneruskan bidang profesi mereka masing-masing. Sebagai akibatnya, banyak sumbangan pada awal Islam yang diakui Muslim sebagai sumbangan Islam, yang merupakan pikiran, kerja keras dan keringat kafir-kafir non-Arab yang dipandang hina. Tingkat ketergantung para penguasa Muslim kepada non Muslim dapat diukur dari kenyataan bahwa hampir dua setengah abad setelah kelahiran Islam, saat Khalifah Mutawakkil memperluas perpustakaannya di tahun 856, ia tidak dapat menemukan cendekiawan Muslim yang berpendidikan untuk memimpin perpustakaan tersebut.
Sebagai akibatnya, ia terpaksa mempercayakan pekerjaan tersebut kepada cendekiawan Kristen yang bernama Honayn Ibn Ishaq, meskipun ia membenci dan menganiaya orang-orang Yahudi dan Kristen.

Setelah mengambil semua pengetahuan dibidang musik, seni rupa, sastra, arsitektur dan sains yang diakui sebagai milik Islam, dimana sebenarnya hanya sedikit sekali sumbangan yang diberikan oleh orang-orang Arab gurun jika tidak bisa dibilang tidak ada sama sekali.
Semua pengetahuan ini diambil dari para penduduk asli dan peninggalan pra Islam dari bangsa-bangsa dan peradaban non Arab yang telah maju yang ditaklukkan oleh Muslim. Hal ini sebagai kompromi pada ajaran Islam karena pencapaian2 ini terdapat dalam masa jahiliyah pra Islam yang dihapuskan oleh Islam. Banyak dari hal-hal yang diambil ini yang dimurkai oleh Allah dan Nabi Muhammad sebagaimana telah dituliskan sebelumnya. Islam lahir bukan untuk menjaganya namun untuk menghancurkannya. Nabi Muhammad dan para penyerang Muslim dikemudian hari mencapai keberhasilannya dengan cara melancarkan serangan membabi buta terhadap satu persatu peradaban non Islam yang telah ada. Bukannya menumbangkan hal-hal yang telah dicapai pada masa jahiliyah pada masa awal penaklukkan oleh Islam, mereka malah tidak menyadari bahwa keberhasilan mereka disebabkan oleh lenturnya akar peradaban dan kebudayaan yang telah berusia ribuan tahun. Naiknya dinasti Umayyah yang tidak taat ke tampuk pemerintahan di saat Islam masih sangat muda (661) secara dramatis telah merubah banyak aspek politik dan ideologi yang telah dicanangkan oleh Nabi.

Walaupun bukan merupakan pembahasan di dalam buku ini, layak untuk dibicarakan dengan ringkas bahwa mayoritas penguasa dinasti Umayyah mempunyai dndam kesumat kepada Nabi Muhammad karena persaingan berdarah dan berkelanjutan antara Muhammad dan pemimpin Mekah Abu Sufyan, ayah Muawiyah, khalifah pertama dinasti Umayyah. Muawiyah sendiri kukuh melawan Islam. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah pada tahun 630, Abu Sufyan terpaksa memeluk Islam.

Sejumlah besar penduduk Mekah masuk Islam pada hari itu tetapi Muawiyah tidak. Tahun berikutnya, saat Allah mewahyukan ayat 9:1-5 untuk memaksa para penyembah berhala untuk masuk Islam atau mati, seluruh penduduk Mekah masuk Islam namun Muawiyah tetap menolak. Ia kemudian melarikan diri ke Yaman. Hanya setelah Yaman dan seluruh Arabia dikuasai oleh Muslim, barulah Muawiyah terpaksa masuk Islam.
Dengan demikian, Muawiyah dan sebagian besar penguasa Umayyah sedikit sekali menghargai Islam dan Qur’an. Pada pertempuran Shiffin di tahun 657 melawan khalifah keempat Ali, Muawiyah yang tahu bagaimana besarnya penghormatan Muslim kepada Quran, memerintahkan para serdadunya untuk meletakkan halaman-halaman Quran pada ujung tombak-tombak mereka. Melihat ini, serdadu-serdadu Ali menolak untuk bertempur dan secara teknis telah kalah dalam pertempuran ini. Menyusul naiknya mereka ke tampuk kekuasaan kekhalifahan, dinasti Umayyah bertanggung jawab atas terbunuhnya banyak anggota keluarga Ali. Pada saat putra Muawiyah, Yazid I berkuasa, Husayn, putra Ali dan cucu Muhammad dibunuh dengan cara yang sadis dalam pertempuran di Karbala (680). Husayn telah memberontak menentang kekuasaan Yazid dan di dalam pertempuran di Karbala, para serdadu Husayn dihalangi dari sumber air untuk membalas dendam kejadian di Badar – dimana Muhammad melakukan hal yang sama yaitu menghalangi para serdadu Abu Sufyan mendapatkan air. Kepala-kepala laki-laki, perempuan dan anak-anak yang terbunuh dibawa ke gubernur Basrah, sementara kepala Husayn dikirim kepada khalifah Yazid di Damaskus untuk dipertontonkan kepada publik. Sahih Bukhari (5:91) mencatat perlakuan kepada kepala Husayn bahwa ‘Kepala A-Husayn dibawa kepada Ubaidullah bin Ziyad dan diletakkan di atas sebuah nampan, Ibn Ziyad mulai mempermainkan kepala Husayn dan memukul-mukul hidung dan mulut Al-Husayn dengan sebuah tongkat dan mengatakan sesuatu tentang ketampanan wajahnya.’

Mengejek janji Allah di dalam Quran (14:9) untuk menghancurkan para pemberontak seperti ‘orang2 jaman Nuh, Ad dan Thamud’ yang telah dimusnahkan sebelumnya. Khalifah al-Walid II (mati 743) merobek halaman Quran menusukkannya pada sebuah lembing dan kemudian memanahnya hingga robek berserakan dan berseru menantang : ‘Apakah engkau marah kepada setiap yang menentangmu? Lihatlah, aku seorang penentang yang tangguh! Saat engkau muncul dihadapan Tuhanmu pada hari Pembalasan, katakanlah bahwa Walid telah merobekmu dengan cara ini.’lxxxv)
Walid II yang kurang sopan ini adalah seorang ‘seorang yang menyukai syair, gadis-gadis penari dan pemain musik serta hidup bersenang-senang tidak mengindahkan agama.’lxxxvi)

Hampir sepanjang 90 tahun masa pemerintahan dinasti Umayyah (660-750), kecuali masa yang singkat yang relatif bersifat kolot (715-21), para penguasa Umayyah melakukan semua jenis perbuatan asusila untuk merendahkan Islam. Satu-satunya ajaran Islam yang dilakukan penguasa Umayyah dengan sepenuh hati adalah perang untuk menaklukkan. Muawiyah – di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Islam mencapai pertambahan yang sangat luas – adalah seorang ahli imperialisme Arab. Walaupun para penguasa Umayyah memanfaatkan ajaran Jihad untuk usaha penaklukkannya, mereka tidak pernah dengan serius berusaha menyebar luaskan ajaran agama Muhammad. Abu Sufyan, tidak seperti Muhammad, adalah orang yang terpandang dan pemimpin penduduk Mekah. Keluarganya adalah salah satu keluarga yang berpendidikan tinggi di kota itu. Pada masa dinasti Umayyah, keturunan Abu Sufyan, ketertarikan untuk memajukan bidang seni rupa dan arsitektur, musik dan syair, sains dan pendidikan perlahan bangkit kembali. Kemudian hari, dinasti Abbasiyah melanjutkannya dan mengembangkannya, mengantarkan kepada jaman keemasan Islam.

Dunia Islam, tak dapat disangkal, telah berhasil unggul pada antara abad ke 9 dan ke 12. Hal ini dapat terjadi karena Muslim telah menguasai peradaban paling tinggi di dunia yaitu Mesir, Persia, India dan Levant, mengumpulkan seluruh kekayaannya yang berupa harta benda maupun ilmu pengetahuan.

Peradaban Hellenik, mengikuti jalur penaklukkan oleh Alexander, pindah ke arah Timur dari Yunani ke Alexandria dan ke Levant (Syria). Jadi, harta karun ilmu pengetahuan Yunani klasik menjadi menyatu di bawah kekuasaan Islam. Bangsa Eropa, yang disebut sebagai Barbar dari Utara - yaitu orang2 Vandal, Goth, Viking, dsb - dan di bawah pengaruh orang2 Kristen yang menyebarkan pengetahuan, telah tenggelam ke dalam kegelapan. Di bawah keadaan yang seperti ini, siapa lagi yang dapat memimpin peradaban dunia? Setelah dihancurkan oleh Muslim, peradaban pra Islam kembali bangkit. Bukan bangsa Arab, tapi Persia, India, Yunani dan Levantin – banyak diantara mereka non Muslim – yang membangkitkan ilmu pengetahuan dan perdagangan di bawah pemerintahan Muslim. Penerjemahan kitab-kitab berbahasa asing telah dilakukan di masa pra Islam Persia, Dan di dalam masa pemerintahan muslim, penerjemahan seluruhna dilakukan oleh para ahli non Muslim, kebanyakan Kristen. Tidak ada seorangpun dari penerjemah2 tersebut yang beragama Islam. Adanya larangan ajaran Islam pada banyak kegiatan2 ini, sedikit penghargaan diberikan kepada Islam untuk
kehebatan dunia Muslim, maka itu harus diberikan kepada masyarakat pra Islam yang telah secara keji disingkirkan oleh Islam.

MENGANGGAP DAERAH JAJAHAN SEBAGAI RUMAH SENDIRI

Hal yang benar bahwa dimanapun Muslim datang untuk menyerang, mereka menjadikan tempat tersebut sebagai rumahnya atau tanah airnya, yang tidak dilakukan oleh penjajah bangsa Eropa. Tetapi, hanya itu yang dapat diharapkan dari Muslim karena Allah telah memerintahkan mereka untuk menaklukkan dunia dan menjadikan semuanya beragama lslam. Allah telah menjadikanMuslim sebagai pewaris Bumi. Maka, suatu kewajiban bagi Muslim untuk merebut kepemilikan dunia ini dari tangan non-Muslim. Tak seperti penjajah Eropa, Muslim menjadi pemilik wilayah yang ditaklukkannya (semua mazhab Islam membenarkan hal ini). Mereka tidak dapat mengembalikan tanah tersebut kepada pemilik sebelumnya. Para penyerang Muslim mencintai wilayah-wilayah asing yang ditaklukkannya sedemikian hebat cintanya sehingga memusnahkan semua kebudayaan aslinya, adat istiadat dan penduduknya. Muslim memandang ini sebagai hal yang membanggakan, sebagaiman Hashmi membual, ‘tak seperti para penjajah Inggris, penguasa Muslim mengangggap India sebagai rumahnya. ‘Dalam memuji perbuatan para penyerang Muslim ini, Nehru menulis hal yang mirip : ‘Dinasti mereka menjadi dinasti India dan mereka melebur dengan baik melalui perkawinan campur... Mereka memandang India sebagai tanah airnya dan tidak mempunyai hubungan dengan negara lainnya.’ Di lain pihak, kata Nehru, ‘Orang-orang Inggris tetap menjadi orang-orang luar, asing dan tidak merasa canggung di India...’lxxxvii)

Seperti Muslim, banyak bangsa Eropa menetap di Afrika, bangsa Amerika dan Australasia telah menjadikan tanah yang dulu merupakan jajahannya menjadi rumah mereka juga. Muslim memandang keputusan mereka menetap di bekas wilayah jajahannya sebagai sebuah kebanggaan dan menuai pujian dari segala penjuru. Tetapi bangsa Eropa yang menetap di daerah bekas jajahannya seringkali menuai reaksi yang berlawanan. Bukannya pujian, mereka malah menerima kecurigaan, penghinaan dan bahkan kekerasan. Hal ini cukup membingungkan namun ada banyak lagi yang dapat ditambahkan.

Pada banyak wilayah bekas jajahan, dimana Muslim telah menjadi penghuni mayoritas, mereka pada umumnya tetap msikin dan memberi sumbangan yang kecil pada pengembangan masyarakatnya. Mereka unggul di bidang-bidang, misalnya kefanatikan, kekerasan, terrorisme, pelecehan hak asasi manusia dan sebagainya. Ketika Muslim menjadi minoritas, seperti di India, Thailand, Singapore, China, Eropa Timur, Rusia dan daerah lainnya, mereka tetap relatif terbelakang dibandingkan dengan rekan-rekan senegaranya yang tidak masuk Islam. Pada banyak kasus, mereka menjadi beban yang berkelanjutan bagi negara-negara mayoritas non-Muslim ini. Para penguasa Muslim di India, sebagai contoh, melakukan kesalahan dengan melakukan kekejaman kepada penduduk asli non-Muslim dan kemerosotan sosial yang parah serta memeras perekonomian mereka selama lebih dari satu milenium hingga beberapa abad di beberapa tempat berbeda di India. Namun setelah mayoritas Hindu mengambil alih kendali negara mereka kemudian diikuti oleh penarikan mundur Inggris di tahun 1947, Muslim terus jatuh di belakang ekonomi yang kini dijalankan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pemerintah India telah memberi spesial ekonomi insentif bagi Muslim. Di negara bagian Kerala, persentase tertentu dari lapangan pekerjaan telah diberikan untuk Muslim karena kegagalan mereka untuk bersaing secara terbuka.

Negara bagian Andhra Pradesh dan Tamil Nadu sedang dalam proses memperkenalkan tindakan yang mirip – sebuah proses yang nampaknya menyebar luas ke seluruh India.
Para pembayar pajak ini, mayoritas Hindu, telah diperas, ditindas, diteror dan direndahkan secara keji pada masa abad-abad kekuasaan Muslim. Sebagian komentator dengan cukup tepat menggambarkan ekonomi insentif untuk Muslim ini sebagai pemulihan terhadap diskriminasi yang dulu dilakukan Muslim kepada non-Muslim yaitu jizyah. Orang-orang Inggris menghapuskannya. Namun demikian, ada perbedaan antara pemulihan jizyah pada jaman pra penjajahan dan pada jaman paska penjajahan ini. Muslim yang menarik jizyah dari orang2 Hindu dan non-Muslim lainnya selama jaman pra penjajahan penguasa Islam.
Pada kebijakan yang baru, sekarang penguasa Hindu ( mayoritas para pembayar pajak), yang secara sukarela membayar bukannya menarik uang.

Pada kedua kasus itu, orang Hindu-lah yang digolongkan sebagai dhimmi pada masa pemerintahan Islam di India, yang akhirnya membayar jizyah, sementara Muslim menikmati manfaatnya. Di lain pihak, orang2 Eropa yang menetap, adalah warganegara yang produktif dan memberi sumbangan yang besar pada negara yang telah menjadi tanah airnya. Di Zimbabwe misalnya, orang-orang Eropa yang menetap, walaupun jumlahnya sangat sedikit, menjadi tulang punggung ekonomi negara sebelum mereka diusir dari dari tanah pertaniannya belum lama ini. Meskipun telah menjadi warganegara yang demikian bermanfaat , mereka menerima penghinaan dan kebencian dari penduduk asli dan pemerintah. Mereka menghadapi kekerasan. Orang kulit putih yang menetap di Zimbabwe dituduh menjadi sisa-sisa penjahat penjajahan Inggris, meneruskan eksploitasi jaman kolonial. Dalam usahanya menghabisi sisa-sia penjajah ini, pemerintah Zimbabwe, setelah meraih kemerdekaannya pada tahun 1980, meluncurkan program reformasi tanah untuk menyita tanah yang dimiliki kulit putih guna diberikan kepada para petani kulit hitam.
Pada tahun 2000, pemerintahan Robert Mugabe memberi kebebasan pada orang2 kulit hitam untuk menangkap pemilik lahan pertanian berkulit putih, dengan kekerasan, jika perlu. Hal ini menjurus kepada kerusuhan dengan kekerasan menyerang para pemilik tanah kulit putih yang menyebabkan banyak korban tewas. lxxxviii)
Sebanyak 110.000 km persegi tanah milik orang kulit putih dirampas dalam kampanye perampokan tanah ini. lxxxix)

Sebagai akibat dari kampanye anti kulit putih ini, para petani kulit putih dalam jumlah besar pergi meninggalkan Zimbabwe. Banyak tanah sitaan ini yang sekarang dimiliki oleh kulit Hitam yang kurang mengetahui dan memahami cara-cara bertani yang modern, kini tak ditanami. Kurangnya penanaman modal dan sifat bermalas-malasan diantara kulit Hitam juga menyebabkan hal ini. Lahan pertanian yang dulunya banyak menghasilkan, kini dibiarkan tidak dimanfaatkan menyebabkan kesulitan yang serius ekonomi, menimpa Zimbabwe menjadi daerah ang menderita kelaparan terburuk. Dua per tiga dari 1.6 juta penduduk Zimbabwe menderita kekurangan pangan (2007).

Saat penjajah Inggris meninggalkan Zimbabwe di tahun 1980, negara tersebut merupakan negara yang paling makmur di benua Afrika, tersohor dengan sebutannya sebagai keranjang roti bagi Afrika bagian Selatan. Kini Zimbabwe berjuang keras untuk memberi makan penduduknya, sebanyak 45 persennya kekurangan gizi, kelaparan akan berlanjut terus dan meluas. Pengusiran petani kulit putih memberi kesenangan yang sesaat bagi para pendukung Robert Mugabe yang bersorak-sorai dan menari-nari di jalanan. Tetapi perbuatan yang tak dipikirkan akibatnya ini telah menyebabkan penderitaan dan kerugian yang parah pada perekonomian Zimbabwe. Inflasi di Zimbabwe melonjak pada angka 100.000 persen per tahun. xc)

Rasa sentimen melepaskan diri dari hal-hal yang berbau penjajahan ini terus berkumandang di negara-negara bekas jajahan dimana sejumlah besar orang2 Eropa banyak menetap. Orang2 kulit hitam pendukung presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki, yang menganggap Robert Mugabe sebagai sekutunya dan sebagai ‘seorang pahlawan gerakan anti penjajah’, juga ingin menerapkan skenario Zimbabwe kepada negaranya. Max Hastings menulis tentang Mbeki bahwa ‘banyak pemilihnya yang memuji penyitaan lahan di Zimbabwe dan, tentu saja, perlakuan kasarnya kepada orang kulit putih’. xci)
Hal ini terjadi meskipun pada kenyataannya para pemukim kulit putih ini merupakan penyumbang terbesar ekonomi negara, tanpa mereka, negara-negara tersebut akan menghadapi kesulitan ekonomi yang serius.

Di lain pihak, para pemukim Muslim sebagaimana penduduk lokal yang masuk Islam telah menjadi faktor yang memperlemah perekonomian daerah yang dulunya ditaklukkan oleh Muslim. Jika seseorang melihat India, menjadi bukti bahwa penduduk asli Hindu yang masuk Islam telah memberikan kerugian berat bagi mereka. Walaupun secara genetis tidak berbeda dengan Hindu, Muslim di India terus terbelakang di hampir semua pencapaian yang positif : pendidikan, sains, kesejahteraan dan sebagainya. Masih saja mereka bangga pada impian keunggulan mereka dengan menjadi Muslim. Mereka menerima pujian bahkan dari banyak orang2 non-Muslim karena menganggap wilayah yang ditaklukkannya sebagai rumahnya. Terakhir, Muslim terus melecehkan orang-orang Hindu dan budaya jahiliyah mereka berusaha keras untuk memusnahkan semuanya. Kampanye untuk ini semakin kuat dengan meningkatnya radikalisme Muslim India pada dekade-dekade baru-baru ini. Jika mereka berhasil meng-Islamkan seluruh India, maka India beserta seluruh penduduknya yang berjumlah besar akan menjadi beban berat bagi dunia.

------------------------------------------------------------------
Daftar pustaka :
i The Age, Deadly disease without cure, 19 June 2007
ii Perr J, Homegrown Terrorism in the U.S. and Europe, Perrspectives.com, 13 August 2006.
iii A new faith for Kooris, The Sydney Morning Herald, 4 May 2007
iv ABC Radio, Aboriginal Da’wah - ‘Call to Islam’, 22 March 2006; http://www.abc.net.au/rn/talks/8.30/rel ... 597410.htm
v Hitti PK (2002) History of the Arabs, Palgrave Macmillan, London, p. 21,33
vi Elliot & Dawson, Vol. II, p. 26
vii Lewis B (2002) What Went Wrong: Western Impact and Middle Eastern Response, Phoenix, London, p. 12
viii al-Tabari, Vol. IX, p. 3
ix Naipaul VS (1981) Among the Believers: An Islamic Journey, Alfred A Knopf, New York, p. 143
x ghazals adalah sejenis lagu
xi Sharma, p. 111
xii Ibn Warrq, p. 198
xiii Nehru (1946), p. 222
xiv Jamal K, Founding fathers’ descendants condemn emergency, The News International, 20 November,
xv Sundaram V, Muslim Appeasement: The Guiding Path of Gandhi, Boloji.com, 31December 2006
xvi Nehru J (1989) Glimpses of World History, Oxford University Press, New Delhi, p.
146
xvii Pipes (1983), p. 86
xviii Lewis (2002), p. 10
xix Hashmi T, News from Bangladesh website; 2 June 2005
xx Lal (1994), p. 19
xxi Elliot & Dawson, Vol. I, p. 470–71
xxii Ibid, p. 206
xxiii Ibid, p. 182
xxiv Ibid, p. 474
xxv Ibid, p. 471–472
xxvi Lal, p. 19–20
xxvii Lal (1999), p. 208
xxviii Elliot & Dawson, Vol. III, p. 387
xxix Lal (1999), p. 210
xxx Haig W (1958) Cambridge History of India, Cambridge University Press, Delhi, Vol. III, p. 159
xxxi Ahmed A (1964) Studies in Islamic Culture in the Indian Environment, Clarendon Press, Oxford, p. 10
xxxii Ferishtah, Vol. I, p. 295; Lal (1999), p. 210
xxxiii Lal (1999), p. 212
xxxiv Nehru J (1989) Glimpses of World History, Oxford University Press, Delhi, p. 222
xxxv Crone P & Cook M (1977) Hagarism: The Making of the Islamic World, Cambridge University Press, Cambridge, p. VIII
xxxvi Ibn Warraq, p. 198
xxxvii Naipaul VS (1998) Beyond Belief: The Islamic Incursions among the Converted Peoples, Random House, New York, p. 144–45
xxxviii Shaikh A (1998) Islam: The Arab Imperialism, The Principality Publishers, Cardiff, Chapter
xxxix Ibid
xl Levtzion N (1979), Toward a Comparative Study of Islamization, In N. Levtzion ed., p. 6
xli Shaikh, Chapter 7
xlii Naipaul (1998), p. 64
xliii Ibid, p. 256
xliv Ibid, p. 331
xlv Fatwa against statues triggers uproar in Egypt, Middle East Times, 3 April 2006
xlvi Hindus lost 26 lakh acres of land from 1965 to 2006, The Daily Star, Dhaka, 15 May 2008
xlvii Mohaiemen N, Tattered blood-green flag: Secularism in crisis, Daily Star, Bangladesh, 26 Feb, 2007
lviii 20,000 Muslims Attack a Church in Cairo, Assyrian International News Agency, 26 November, 2008
xlix Daily Mail, Police protect girls forced to convert to Islam, 22 Feb, 2007 l Weiner JR (2008) Palestinian Crimes against Christian Arabs and Their Manipulation against Israel, in Institute for Global Jewish Affairs Bulletin, No. 72, 1 September 2008
li Lefkovits E, ‘Christian groups in PA to disappear’, Jerusalem Post, 04 December 2007
lii Ezard J, Nobel dream comes true for VS Naipaul, The Guardian, 12 October, 2001
liii Hashmi, op cit
liv Rodinson M (1976) Muhammad, trs. Anne Carter, Penguin, Harmondsworth, p.
lv Bodley RVC (1970) The Messenger: The Life of Muhammad, Greenwood Press Reprint, p. 73
lvi Goldziher I (1967) Muslim Studies, trs. CR Barber and SM Stern, London, Vol. I, p. 139
lvii Endress G (1988) An Introduction to Islam, trs. C Hillenbrand, Columbia University Press, New York, p. 172
lviii Al-Thaalibi I (1968) Lata’if Al-Ma’arif. The Book of Curious and Entertaining Information, ed. CE Bosworth, Edinburgh University Press, p. 25 lix Mohammad-Ali E, Tomb of Firuzan (Abu-lolo) in Kashan to be Destroyed, The Circle of Ancient Iranian Studies website, 28 June 2007; http://www.cais-soas.com/News/2007/ June2007/28-06.htm (As noted elsewhere, Muslim sources allege that Abu Lulu assassinated Omar over a dispute over tributes)
lx Nehru (1946), p. 224
lxi Walker, p. 283
lxii Hughes, p. 178
lxiii Walker, p. 271
lxiv Umaruddin, p. 42
lxv Waddy, p. 15
lxvi Walker, p. 289
lxviii Lal (1999), p. 20
lxix Salim R, What the invaders really did, Hindustan Times; 28 December1997
lxx Nehru (1989), p. 145
lxxi Lewis (2002), p. 91
lxxii Ibid, p. 91–92
lxxiii Ibn Sa’d AAM (1972) Kitab al-Tabaqat, Trans. S. Moinul Haq, Kitab Bhavan, New
Delhi, Vol. I., p. 2
lxxiv Goldziher, p. 98
lxxv Lewis B (1966) The Arabs in History, Oxford University Press, New York, p. 38
lxxvi Examples of these treatments will be found in the chapter on Slavery.
lxxvii Ibn Warraq, p. 202
lxxviii Naipaul (1998), p. 329-31
lxxix Lewis (1966), p. 36
lxxx Shaikh A (1995) Islam: The Arab National Movement, The Principality Publishers,
Cardiff, Preface
lxxxi In the attack of Bihar, Bakhtiyar had two brave brothers, Nizamuddin and Shamsuddin, in his army. Author Ibn Asir had met Shamsuddin at Lakhnauti in 1243.
lxxxii Elliot & Dawson, Vol. II, p. 306
lxxxiii Ambedkar BR (1990) Writings and Speeches: Pakistan or The Partition of India, Government of Maharashtra, Vol. III, p. 229–38
lxxxiv Nehru (1946), p. 265
lxxxv Walker, p. 237; also Ibn Warraq, p. 243
lxxxvi Ibn Warraq, p. 243
lxxxvii Nehru (1946), p. 233-34
lxxxviii White farmers held in Zimbabwe, BBC News, 7 August 2001
lxxxix Wikipedia, Land reform in Zimbabwe, http://en.wikipedia.org/wiki/Land_reform_in_Zimbabwe
xc Angus Shaw, Zimbabwe inflation passes 100,000%, officials say, Guardian, 22 February 2008
xci Hastings M, I’ll never lament the passing of white rule in Zimbabwe, Guardian, 27 Feb 2007
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:12 am

DITERJEMAHKAN oleh RAINNFORESTHA
Image


BAB VI : Imperialisme Islam di India


‘Pedang-pedang berkilatan bagai petir yang menyambar dari kumpulan awan gelap, dan darah tiada henti mengalir ibarat pancuran mata air. Sahabat-sahabat Allah telah mengalahkan musuh-musuhnya … Umat muslim menetaskan dendam mereka sekuat tenaga pada para tentara kafir musuh Allah, 15.000 kafir mati sudah, lalu menyajikan mayat para kafir tersebut sebagai makanan bagi para binatang dan burung pemangsa … Allah menganugerahkan pula kepada para sahabatnya sedemikian melimpah barang rampasan yang tak terhitung jumlahnya, termasuk 500 ribu budak, pria-pria tampan dan perempuan-perempuan cantik.’
[Menteri pada pemerintahan Sultan Mahmud, al-Utbi, tentang perjalanannya di India]


‘(Sultan) Mahmud jelas telah menghancurkan kemakmuran sebuah negara dan melakukan exploitasi luar biasa sampai warga Hindu bagaikan menjadi kumpulan atom debu yang berhamburan ke segala penjuru… Hal ini pulalah yang menjadi penyebab, mengapa ilmu pengetahuan warga Hindu menghilang dari wilayah negara yang berhasil kita kuasai dan terbang ke tempat-tempat yang belum dapat kita jangkau, seperti Kashmir, Benaras, dan lainnya.’ [Alberuni, pemikir besar dan ilmuwan muslim, 1050M]

‘Perempuan-perempuan dan anak-anak Hindu pergi mengemis pada rumah-rumah kaum muslim.’ [Komentar Sufi asal Mesir, Shamsuddin Turk, mengenai dampak perilaku Sultan Alauddin dalam menghancurkan warga Hindu]

Sejarah anak-benua India sejak awal abad delapan hingga pertengahan abad ke-duapuluh ditandai dengan kehadiran dua pemerintahan asing; Islam dan Inggris. Invasi Islam dan pemerintahannya bermula dari penaklukan atas wilayah Sindh oleh Muhammad bin Qasim di tahun 712 dan secara resmi berakhir setelah Pemberontakan Sepoy tahun 1857. Pemerintahan kolonial Inggris hadir sejak 1757 dan berakhir di tahun 1947 [sementara beberapa wilayah pantai India, seperti Goa, pada abad enambelas berada dalam kekuasaan Portugis].

Sesuai arahanan gubernur Baghdad Hajjaj bin Yusuf dan dengan persetujuan penuh Kalif al-Walid dari Damaskus, Qasim meresmikan penaklukan dan pemerintahan Islam atas India di tahun 712. Kaum muslim pada masa pemerintahan Kaisar Mughal, Akbar, di tahun 1590an akhirnya berhasil menguasai hampir seluruh India. Kontrol Muslim atas India juga mengalami sedikit perluasan pada pemerintahan Aurangzeb (1658-1707). Kekalahan Nawab Siraj-ud-Daulah dari Bengal dalam perang Plassey (the Battle of Plassey) di tahun 1757 oleh para pedagang Inggris yang tergabung dalam East India Company menjadi tanda awal berakhirnya pemerintahan Islam di India. Ketika Sultan Tipu dari Mysore –pemerintahan independen muslim terakhir- dikalahkan di tahun 1799, pemerintahan muslim di India dapat dikatakan telah berakhir. Sebagian besar wilayah India secara de facto telah berada dalam kontrol Inggris sejak bergabungnya Punjab tahun 1850. Para pedagang Inggris memelihara para penguasa muslim sebagai
‘pemimpin2 boneka,’ hingga terjadi Pemberontakan Sepoy tahun 1857. Di tahun 1858, secara resmi pemerintahan kolonial Inggris memerintah di India.

Seiring dengan pergulatan panjang kaum nasionalis India dalam memperjuangkan dan meng-upayakan kemerdekaannya, pemerintah Inggris akhirnya menyerahkan kedaulatannya pada rakyat India pada tanggal 26 Januari 1947 dan India resmi menjadi negara merdeka pada tanggal 14-15 Agustus, tahun yang sama. Setelah sekian lama berada di bawah pemerintahan bangsa asing, sebuah anak-benua yang merdeka –meskipun dibagi menjadi dua negara; India dan Pakistan- akhirnya muncul dan untuk pertama kalinya memperoleh kesempatan untuk sepenuhnya menentukan sendiri arah masa depannya.
Herannya, dari dua pemerintahan asing yang pernah berkuasa di India, hanya satu--–pemerintahan Inggris--- yang dinyatakan sebagai pemerintahan kolonial dan yang pemerintahannya terus disalah-salahkan oleh sejarawan, akademisi dan oleh warga anak-benua India maupun warga dibelahan bumi lainnya. Tampak adanya upaya sengaja dan disadari penuh untuk menutup-tutupi bagian pemerintahan [Islam] yang justru lebih panjang dan jauh lebih gelap dan mengerikan.

Lebih aneh lagi, bagian pemerintahan Islam biasanya dicitrakan secara positif oleh para sejarawan dan penulis modern. Hal ini diulang-ulang dalam penulisan sejarah modern, bukan hanya dalam sejarah Pakistan dan Bangladesh TAPI bahkan juga dalam sejarah India yang Hindu. Orang-orang dari anak-benua tersebut, baik muslim maupun non-muslim, senantiasa dibombardir dengan cerita 190 tahun kekejaman pemerintahan Inggris, termasuk kelicikan mereka dalam mengeksploitasi India. Namun tindakan brutal yang lebih mengerikan, exploitasi kejam dan kelicikan invasi Islam dan pemerintahannya di India (yang nyata-nyata lebih lama) justru jarang, jika ada, disebut-sebut. Jika sedang membahas pemerintahan muslim di India, yang disebut-sebut justru bagaimana pemerintahan muslim tersebut membawa nilai-nilai positif, progresif dan bahkan membanggakan. Contohnya Nehru, tokoh garis depan kemerdekaan India bersemangat pula melabur kekejaman pemerintahan muslim dengan menyatakan, “Islam membawa elemen kemajuan bagi India.” :rolleyes:

Masa depan stabilitas di India semakin terancam dengan meningkatnya ancaman radikalisme, intoleransi dan militansi di dalam populasi muslim India, yang jumlahnya tidak sedikit itu. Imperialisme Inggris di India, yang sama sekali tidak mempengaruhi masa depan India, justru lebih sering digembar-gemborkan sebagai tokoh jahat yang sangat kejam dalam wacana India.

[...] Pemerintahan kolonial/penjajahan ala Eropa di berbagai benua dikutuk sedemikian rupa oleh sejarawan dan kaum intelektual di mana-mana hingga sebagian besar warga Eropa kini, yang merasa turut menanggung kesalahan para pendahulunya, merasa malu oleh perbuatan tersebut bahkan dengan terang-terangan mengakui kesalahan para pendahulunya. Apa penyebab semua pendapat negatif tentang pemerintahan Inggris ini berkembang di India, menurut Ibn Warraq [198]:

“Setelah hari-hari yang membuat mabuk kepayang di awal kemerdekaan di tahun 1947, sejarawan India menelurkan kisah sejarah yang nasionalis, yang tidak menemukan secuilpun kebaikan dari Kerajaan Inggris kala mereka berkuasa di India. Sehingga kelak, setiap kesalahan, setiap kegagalan, setiap kekacauan (dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan pemerintahan) yang dibuat India (sebagai suatu negara baru) di tahun 1960-1970an selalu dirunut kebelakang hingga masa pemerintahan Inggris, ke masa penjajahan Inggris yang mengeksploitasi India.”


TAPI periode berdarah akibat ekspansi, invasi dan pemerintahan Islam –dari Timur Tengah hingga India, lalu ke Eropa juga Afrika- dinyatakan sebagai suatu hal yang membanggakan bagi umat islam, sesuatu hal yang digembor-gemborkan dan dikagumi,’ keluh Ibn Waraq. Sebagai contoh, sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu dari Turki, meminta agar Turki diijnkan menjadi anggota Uni-Eropa berdasarkan sumbangsih Islam bagi Eropa pada masa kolonial dulu. Baru-baru ini beliau menyatakan [mengutip dari tulisan Kamil Subasi, Ihsanoglu: 'Islam Bukanlah Sekedar Tamu di Eropa', Today’s Zaman, 9 Oktober 2008]:
“Kami berargumen bahwa Islam adalah salah satu darai elemen dasar Eropa. Kekaisaran Ottoman memerintah selama lima abad di wilayah Balkan dan muslim memerintah di Andalusia hingga delapan abad… Islam tidak dapat dinyatakan sebagai hal di luar Eropa. Islam adalah salah satu elemen dasar peradaban Eropa.”


TAPI kalau seorang politisi Inggris sampai berani mengatakan bahwa India sekarang tidak mungkin terbentuk tanpa campur tangan Inggris; mulai dari pendidikan hingga urusan administrasi, dari pemerintahan hingga layanan kesehatan, tentu si politisi bule ini akan mendapat kecaman keras dari dunia internasional.

Saat ini, kala masa depan keamanan dan stabilitas India menghadapi tantangan serius dari teroris muslim; baik dari dalam maupun dari luar India, studi obyektif mengenai invasi dan pemerintahan muslim di India adalah sangat genting. Bahkan, akibat teror muslim, stabilitas dan keamanan negara-negara muslim, Bangladesh dan Pakistan, jauh lebih rentan. Pembahasan berikut akan mencoba mengevaluasi lebih dalam lagi dampak pemerintahan Islam di anak-benua India dan pengaruhnya hingga sekarang.


Penaklukan Dan Penjajahan Islam

Sejarah India modern dipenuhi dengan claim-claim 'keselarasan yang harmonis, damai dan persaudaraan yang kuat' antara muslim dan penganut Hindu (juga non-muslim lainnya). Sementara, pemerintah Inggris 'sengaja menimbulkan perpecahan di antara muslim dan Hindu, yang akibatnya tetap dirasakan India hinga sekarang.'

TAPI catatan-catatan sejarah yang ditulis para sejarawan dan pemimpin muslim terkemuka yang menyatakan bahwa tidak pernah terjadi ketidakselarasan antara Hindu dan muslim sebelum datangnya pemerintah kolonial Inggris, adalah suatu fakta yang sangat jauh dari kenyataan. Yang sesungguhnya terjadi adalah : toleransi beragama dan keharmonisan
Hindu-Muslim DIHAPUS sejak Muslim menyerbu India. Mari kita pelajari jejak-jejak hubungan Hindu-muslim di India sepanjang masa invasi dan pemerintahan muslim.

Invasi Muhammad bin Qasim:
Dengan inspirasi langsung dari ayat-ayat Quran dan Sunnah, Hajjaj mengirim Qasim (diiringi 6000 tentara yang kuat) dengan instruksi untuk membunuh setiap pria yang mampu melawan dan memperbudak para perempuan dan anak-anak sebagai tujuan utama penaklukan. Setelah berhasil menguasai Debal di Sindh, Qasim dan pasukannya membantai para penduduk yang ada selama 3 hari. Di Brahmanabad, antara 6000 sampai 16.000 pria muda dan dewasa disembelih. Di Multan, semua pria secara fisik mampu berperang diwajibkan untuk dibunuh. Chachnama (Shahnama) mencatat tentang kesuksesan Qasim di Rawar yang menghasilkan 60.000 budak. Qasim telah membantai puluhan ribu pria India dan memperbudak perempuan dan anak-anak mereka dalam skala besar dan mencapai
ratusan korban dalam hanya 3 tahun masa invasinya di Sindh. Ditambahi pula dengan dihancurkannya pura2/kuil2,
ukiran/pahatan dan patung-patung, sementara masjid2 dibangun di atas puing-puing tersebut. Rumah-rumah umat Hindu dan istana-istana mereka turut diratakan, sanpai menghasilkan harta rampasan yang luar biasa banyaknya.

Kampanye2 Sultan Mahmud:
Sultan Mahmud, dalam ke tujuhbelas expedisi penjajahannya ke utara India (1000 – 1027) mengulang perilaku Qasim dalam mengeksploitasi pembantaian dan penghancuran, pada tingkat yang lebih kejam dan sadis serta dalam jumlah yang lebih besar. Dalam penjelajahannya, Sultan Mahmud tanpa ampun membantai para pria dewasa dan menangkap para perempuan dan anak-anak hingga puluhan dan ratusan ribu jumlahnya, merampas dan menyita apapun barang rampasan (kham) yang dapat mereka raih. Dalam penaklukannya di utara India (1001-1002), al-Utbi menulis:
‘Pedang-pedang berkilatan bagai petir yang menyambar dari kumpulan awan gelap dan darah tiada henti mengalir ibarat pancuran mata air. Sahabat-sahabat Allah telah mengalahkan musuh-musuhnya…Umat muslim menetaskan dendam mereka sekuat tenaga pada para tentara kafir musuh Allah, 15.000 kafir mati sudah, lalu menyajikan mayat para kafir tersebut sebagai makanan bagi para binatang dan burung pemangsa… Allah menganugerahkan pula kepada para sahabatnya sedemikian melimpah barang rampasan yang tak terhitung jumlahnya, termasuk 500 ribu budak, pria-pria tampan dan perempuan-perempuan cantik.’


Penaklukan Nagarkot (Kangra) tahun 1008, barang rampasan mencapai 70.000.000 dirham dalam bentuk koin dan 700.400 tumpukan barang emas dan perak, disamping batu permata dan jubah-jubah bersulam dalam jumlah tak terhingga. Sultan Mahmud maju terus menyerang Thanesar tahun 1011 dengan ‘tujuan utama meletakkan dasar-dasar Islam dan memusnahkan pemujaan berhala’ tulis al-Utbi. Ketika perang berlangsung,
darah kafir mengalir tiada henti hingga aliran sungai berubah warna, tidak lagi jernih sehingga orang tidak dapat meminumnya…. Sultan kembali dengan jarahan yang tak terhingga banyaknya. Puji Allah atas kehormatan yang ia berikan kepada Islam dan muslim !’


Dalam penaklukan Kanauj,
‘Penduduk harus memilih antara menerima Islam atau berperang menghadapi pasukan Sultan untuk dijadikan makanan bagi pedang Islam. Sultan mengumpulkan begitu banyak barang rampasan, tahanan dan kekayaan sehingga jemari yang menghitungnya menjadi lelah.’


Lanjut al-Utbi;
‘Banyak penduduk yang memutuskan untuk lari meninggalkan rumah mereka sehingga berhamburan keluar negeri seperti para janda dan anak-anak yatim bernasib sial … Begitu banyak yang berlarian dan yang tetap tinggal dibunuh. Sultan merebut kesemua tujuh benteng dalam sehari dan memberikan pada para tentaranya kesempatan untuk mengambil jarahan dan tawanan.’


Seperti yang tetulis di awal Bab VI, Alberuni (pejabat istana Mahmud) menyatakan invasi atas Hindustan sebagai ‘sesuatu yang benar-benar menghancurkan kemakmuran sebuah negara,’ dimana perilaku brutal Sultan Mahmud terhadap para penduduk Hindustan begitu mengerikannya hingga menjadikan mereka bagai ‘kumpulan atom debu yang berhamburan ke segala penjuru…’ serta memujinya sebagai hal yang, ‘menjadi akar ketidaksukaan pada muslim.’ Nehru menuliskan bahwa dalam penaklukannya di India, Sultan Mahmud menjadi 'teror di sepanjang wilayah utara India ... kebanyakan Muslim memujanya ... kebanyakan Hindu membencinya.' 'Setelah penjelajahan dan pembantaiannya di India, masyarakat di bagian utara India selalu mengasosiasikan islam dengan penghancuran dan kekejaman yang tak berperikemanusiaan,' tambah Nehru.

Invasi-Invasi Ghaurivid:
Gelombang ketiga penaklukan dan penjajahan muslim di India adalah oleh pasukan penakluk asal Ghauvirid di akhir abad 12 menuntaskan fondasi pemerintahan islam di India di tahun 1206. Sejarawan asal Persia, Hasan Nizami dalam bukunya Taj-ul-Ma’sir, mencatat penaklukan Muhammad Ghauri di Ajmer mengakibatkan :
‘nyawa seratus ribu Hindu melayang cepat menuju kobaran api neraka’, yang mana para penakluk ‘memperoleh barang rampasan dan kemewahan yang begitu berlimpah sehingga dapat dikatakan bahwa segala simpanan kekayaan yang ada pada lautan dan pegunungan telah terkuak.’ Sultan Ghauri maju terus menyerang Delhi dan 'banjir darah mengairi wilayah pertempuran…


Di tahun 1193, perjalanan jendral Qutbuddin Aibak di Aligarh dicatat oleh Nizami :
‘Di ujung pedang, para Hindu diperhadapkan pada kobaran api neraka. Pembantaian yang begitu luar biasa sehingga kepala-kepala korban ditumpuk dalam tiga sula yang menjulang tinggi ke langit, sementara mayat-mayatnya dijadikan makanan bagi para binatang buas. Daerah tersebut dibebaskan dari berhala dan pemujaannya serta akar kekafiran dihancurkan.’


Pada penjelajahan Aibak ke Benares, tambah Nizami:
‘yang adalah pusat negara Hindu….. pasukan Sultan Ghauri menghancurkan sekitar seribu pura lalu mendirikan masjid diatasnya; dan hukum Syariah secara resmi diberlakukan, serta dasar-dasar agama islam ditegakkan,’
.

Bulan January 1197, Qutbuddin Aibak memasuki Nahrwala, ibukota Gujarat, dan :
'limapuluhribu kafir digiring ke neraka dengan ujung pedang. Sebagai akibat dari banyaknya (korban) pembantaian, dataran dan pegunungan menjadi sama tinggi, ditambah dengan lebih dari duapuluhribu budak, dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya menjadi milik pemenang.’


Tentang pencapaian brilian jendral Aibak dalam perjalanannya ke Kalinjar di tahun 1202, tulis Nizami:
Pura demi pura diubah menjadi mesjid… dan suara-suara panggilan sembahyang dipanjatkan ke langit tertinggi sementara nama para berhala dimusnahkan. Limapuluhribu orang dijadikan budak dan dataran menjadi hitam oleh (mayat2) Hindu,’


‘Tentang invasi2 Ghauri,‘ catat Nehru:
'Muslim sedemikian beringas dan kejam … akibat pertama invasi Muslim adalah perpindahan penduduk besar-besaran
menuju wilayah selatan… Dengan tidak dapat dibendungnya invasi-invasi berikutnya, para tukang trampil dan orang berpendidikan pindah ke bagian selatan India.’


Cerita-cerita pembantaian masal terhadap penduduk Hindu yang tidak sigap, perbudakan, pemaksaan masuk Islam, penghancuran pura (yang lalu digantikan dengan pendirian mesjid), penjarahan dan perampasan kekayaan dalam skala besar-besaran oleh Muslim ini bukanlah peristiwa1 unik yg jarang. TAPI ini merupakan pola yang berkesinambungan, suatu standar perilaku yang dipraktekkan berulangkali dalam sejarah invasi Islam di India. Sultan Alauddin Khilji (r. 1296–1316) dan Muhammad Shah Tughlaq (1325–1351) adalah dua tokoh yang luar biasa dalam menganiaya dan mengeksploitasi kafir di India. Sultan Firoz Tughlaq (1351–1388) tergolong Sultan Delhi yang paling baik, karena setidaknya ia sangat berhati-hati dalam peperangan dengan memperhitungkan nyawa muslim (baik pendukung ataupun musuhnya). Meski demikian, dalam lawatannya ke Bengali (dicatat oleh Shiraj Afif), kepala-kepala orang Bengali (yang telah disembelihnya) ketika dihitung mencapai lebih dari 180.000…

Image Image



BERLANJUT ----------------------------------------------------------------------------------------

India before the coming of Islam ......................................................... 201

An advanced civilization: ................................................................ 201

A tolerant and humane society: ...................................................... 205

Muslim codes of war: .................................................................... 207

Indian tolerance in the eyes of Muslim chroniclers: .......................... 210
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:13 am

CHAPTER VI :

Tolerance & chivalry of Hindu rulers during Muslim period: ............... 212

Hindu-Muslim divide: A British invention? ............................................ 217

Hindu-Muslim discord, Partition of India & British complicity ................ 220

The 1947 Riots and Massacres: Who is Responsible? ......................... 225

The Mopla Rebellion: ....................................................................... 225

Direct Action riots in Calcutta. ........................................................ 226
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:14 am

kapling bab VI
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:16 am

BAB VI
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:43 am

kapling untuk BAB VI
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:44 am

DITERJEMAHKAN OLEH KIMI07
Image

HALAMAN 267-269
Bab VII - Perbudakan dalam Islam

’Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang ****, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh tuannya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?’ Allah, Quran 16:76

'Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab.. dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.' Allah, Quran 33:26

'Dalam Quran tertulis bahwa bangsa-bangsa yang tidak mengakui otoritas (Islam) adalah bangsa² berdosa; sudah menjadi hak dan kewajiban (Muslim) untuk berperang terhadap siapapun yang mereka temui dan menjadikan semua tahanan sebagai budak, dan setiap muslim yang terbunuh dalam peperangan pasti masuk surga.'
[Dubes Libya di London, Abdul Rahman, kpd Thomas Jefferson & John Adams (1786) mengenai hak negara2 Barbary*
memperbudak pelaut Amerika Serikat.]


* Barbary : istilah bagi negara2 Afrika Utara spt Tripolitania (Libya), Tunisia, Aljazair dan Maroko

Perbudakan merupakan sebuah institusi sosial-ekonomi, dimana beberapa individu yang disebut budak, menjadi milik orang lain, yang disebut majikan budak atau pemilik budak. Budak tak punya kebebasan dan kemerdakaan, dan mereka diharapkan mampu memberikan layanan yang setia dan rajin untuk kenyamanan dan kesejahteraan ekonomi majikan mereka. Dengan mencabut setiap hak asasinya, budak adalah milik tak bersyarat dari majikannya: budak hanyalah benda bergerak belaka, yang tidak memiliki hak untuk pergi, menolak bekerja, atau menerima kompensasi bagi pekerjaan mereka. Posisi budak di masyarakat dalam banyak hal serupa dengan binatang ternak. Sama seperti sapi, kuda dan binatang
penggotong beban lainnya yang dilatih dan dimanfaatkan untuk keuntungan ekonomi, seperti untuk menarik gerobak atau membajak lahan; budak dieksploitasi untuk kepentingan, kenyamanan dan kesejahteraan ekonomi majikannya. Perdagangan budak, yg integral bagi perbudakan, mencakup jual-beli manusia sebagai komoditas seperti transaksi komersial lainnya. Pada dasarnya, perbudakan adalah eksploitasi pihak yang lemah oleh pihak yang kuat dan memiliki sejarah sangat panjang.

Salah satu kritik utama terhadap masyarakat Barat, terutama pihak umat muslim, berhubungan dengan perdagangan budak trans-Atlantik oleh kekuasaan Eropa dan eksploitasi tak bermartabat dan perlakuan hina terhadap budak di Amerika dan Hindia Barat. Muslim seringkali cepat untuk menunjuk jari pada perdagangan budak Eropa, mereka sering menyatakan bahwa eksploitasi budak memungkinkan negara-negara seperti Amerika Serikat untuk mengumpulkan kekayaan yang besar yang mereka nikmati hari ini. Seorang Muslim muda, lahir di Amerika, menulis, "Apakah Anda tahu cara pemburu budak Amerika pergi ke Afrika, menangkap orang kulit hitam dan membawa mereka ke Amerika sebagai budak? Kekayaan ekonomi Amerika berhutang banyak pada hasil kerja budak- budak itu". Masa 350 tahun perdagangan budak trans-Atlantik adalah 'perbudakan yang terburuk dan paling kejam' dalam sejarah. Pendiri Nation of Islam, Louis
Farrakhan, menyatakan bahwa beberapa orang kulit putih Amerika tidak tahu bahwa mereka berada di posisi istimewa kini ... karena apa yang terjadi pada kita (kaum kulit hitam) di masa lampau. Mayoritas umat Islam percaya bahwa dalam sejarah Islam tidak ada praktek perbudakan yang menjijikan. Rocky Davis (alias Shahid Malik), seorang mualaf Aborigin Australia, kepada Radio ABC menyatakan 'Kristen adalah pendiri perbudakan. Bukan Islam.’ Saat Muslim di India berbicara tentang praktek perbudakan di bagian dunia mereka ---mereka berbicara tentang bgm Portugis mengangkut budak2 dari wilayah pantai Goa, Kerala dan Bengal dalam kondisi mengerikan. Bahkan buku-buku sejarah Pakistan mengajarkan bahwa sebelum Islam, ada eksploitasi dan perbudakan, yang hilang dengan kedatangan Islam. Mereka tidak akan pernah berbicara tentang perbudakan yang dilakukan pemerintah dan gerombolan Muslim pada skala besar-besaran di India.

TAPI Muslim² ini bungkam tentang praktek perbudakan yang meluas di bawah kekuasaan Islam, seperti di India. Kemungkinan besar ini hasil dari ketidaktahuan mereka akan fakta sejarah. Dalam penulisan sejarah modern di India,
kekejaman yang terjadi selama invasi Muslim dan kekuasaan Islam setelahnya, sering ditutup-tutup. Distorsi sejarah Islam macam itu, ditambah dgn kebodohan Muslim akan kekejaman Islam pada abad pertengahan di India memberikan mereka persepsi salah tentang perbudakan ekstensif yang dilakukan penguasa2 Muslim. Seperti dijelaskan dlm buku ini, perbudakan adalah institusi yang mencolok sepanjang sejarah dominasi Islam dimanapun. Perbudakan dalam Islam juga memiliki sifat unik, yaitu dgn adanya harem-harem, kasim-kasim, dan ghilman (dijelaskan di bawah) dalam skala yang besar .


DUKUNGAN QUR'AN AKAN PERBUDAKAN

Institusi perbudakan di dalam Islam telah diresmikan Quran dalam ayat berikut, dimana Allah membedakan manusia bebas/ majikan yang adil dan benar, dengan budak yang tak berharga dan ****:

’Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang ****, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh tuannya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?’ [Quran 16:76]

Allah memperingatkan Muslim untuk tidak mengambil budak sebagai mitra setara dalam status dan dalam berbagi kekayaan:

Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? [Quran 30:28]

Allah lebih memberkati sebagian manusia, seperti para majikan budak, sedangkan budak yang kurang disukaiNya adalah bagian dari rencana ilahi. Dia memperingatkan muslim agar tidak membagi rezeki dariNya secara adil pada para budak. Allah tidak suka jika majikan Muslim menganggap budak setara dengan manusia merdeka, dan orang yang beranggapan seperti ini berarti menyangkal kehendakNya:

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? [Quran 16:71]

Allah tidak hanya merestui lembaga perbudakan, Dia juga memberikan berkat pada majikan (hanya Muslim laki-laki yang dapat memiliki budak) untuk berhubungan seks dengan budak perempuan:

--------------------------
i. Farrakhan L, What does America and Europe Owe?, Final CalL, 2 June 2008
ii. ABC Radio, Aboriginal Da’wah - "Call to Islam", 22 March 2006; http://www.abc.net.
au/rn/talks/8.30/relrpt/stories/s1597410.htm
iii. Serjana terkenal Abu Ala Maududi pada interpretasinya atas ayat ini mencatat “Bukankah Anda tidak membuat budak jadi mitra kekayaan Anda, jadi bagaimana Anda berpikir dan percaya bahwa Allah akan membuat hamba-Nya jadi mitra dalam KetuhananNya? "[ Maududi AA, Towards Understanding the Quran, Markazi Muktaba Islami Publishers, New Delhi, Vol. VIII].
Dengan kata lain, menyamakan mitra dengan Allah, yang merupakan hal yang paling menjijikan dilakukan dalam Islam, hal ini sama seperti seorang lelaki mengangkat hamba-hamba-Nya sebagai mitra yang setara dengannya.


DIterjemahkan oleh kimi07, diperiksa oleh Admin
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:45 am

DITERJEMAHKAN OLEH KIMIO7

BAB VII HALAMAN 270-276

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [Quran 70:29-30]

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [Quran 23:5-6]


Oleh karena itu, jika ada perempuan diantara tawanan atau budak, Muslim diberi hak ilahi untuk berhubungan seks dengan perempuan2 itu seperti mereka lakukan dengan isteri2 mereka. Ini keputusan Allah yang mendirikan lembaga perbudakan seks atau persetubuhan diluar nikah dalam Islam, yang meluas di jaman pra-kolonial dunia Muslim dan terus berlanjut ke pertengahan abad kedua puluh. Sejauh yang berhubungan dengan hukum perkawinan, ada batasan pada empat isteri untuk seorang laki-laki pada satu waktu [Quran 4:3], tetapi bagi jumlah budak sex tidak ada batasan.

Allah juga memberikan perintah ilahi kepada umat Islam agar memperoleh budak perempuan bagi keperluan seksual lewat cara berperang melawan kafir:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang dikaruniakan Allah untukmu sebagai tawanan perang.. [Quran 33:50]

Umat Islam dapat melakukan seks dengan budak perempuan yang mereka tawan walaupun budak2 itu telah menikah, namun tidak dengan wanita Muslim merdeka yang telah menikah:

dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki... [Quran 4:24].

Ada juga ayat-ayat lain dalam Quran yang menyetujui perbudakan dan menangkap mereka dalam peperangan. Jadi, sesuai dengan perintah ilahi dari Allah yang diabadikan dalam Quran suci, umat Islam diizinkan untuk menyimpan budak. Mereka dapat mengumpulan budak dari peperangan, berhubungan seks dengan budak perempuan, dan tentu saja, menggunakannya sebagaimana mereka inginkan. Bagi umat Islam, berhubungan seks dengan budak perempuan adalah sah sebagaimana berhubungan seks dengan isteri mereka. Perbudakan nampaknya salah satu hak ilahi yang paling dikehendaki dalam Islam, karena Allah berkali-kali mengingatkan umat Islam tentang hal ini dalam ayat2 (Quran).

CONTOH NABI DALAM PERBUDAKAN

Allah tidak hanya berulang kali mengingatkan umat Islam untuk terlibat dalam perbudakan, tetapi juga mengambil inisiatif untuk membimbing Nabi Muhammad tentang cara memperbudak kafir, seperti pada ayat berikut:

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Qurayza) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka (yi Quraysh, suku Muhammad), dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka (pria dewasa) kamu bunuh dan sebahagian yang lain (anak-anak dan wanita) kamu tawan.[Quran 33:26]

Dalam ayat ini, Allah menuduh Yahudi Bani Qurayza mendukung suku Quraysh dari Mekah 'dari benteng-benteng mereka,' melawan umat Islam dalam Perang Parit (627M). Berdasarkan tuduhan tidak kuat ini, Allah memerintahkan agar beberapa
orang Yahudi---laki-laki dewasa---dibunuh, dan sisanya, perempuan dan anak-anak, diperbudak. Nabi patuh sepenuhnya dengan perintah ilahi ini. Dia mendistribusikan budak perempuan dan anak-anak kepada pengikut-pengikutnya, sementara dirinya mendapatkan 1/5 bagian. Wanita2 muda lagi cantik dijadakan tawanan budak seks; Nabi sendiri mengambil RAYHANA yang cantik, yang suami dan anggota keluarganya telah dibunuh secara massal. Dia membawa Rayhana ke ranjangnya pada malam yang sama. iv

Setelah menaklukkan Khaybar pada tahun berikutnya, Muhammad juga memboyong perempuan dan anak-anak (Khaybar) sebagai budak-budaknya. Dalam banyak serangan lainnya, Nabi dan pengikutnya terus membawa pergi wanita dan anak-anak dari pihak yang kalah untuk dijadikan budak. Oleh karena itu, pada setiap penyerangan agresif dimana Muslim mengalahkan kafir, perbudakan perempuan dan anak-anak menjadi model perang Muhammad. Beberapa budak dapat dijual atau disandera untuk mendapatkan uang tebusan. Tapi wanita-wanita muda dan cantik selalu dijadikan budak seks.

Karena dalam Islam, mencontoh Muhammad dalam segala tindakan dan perbuatan adalah patokan kehidupan seorang Muslim tulen, Muslim dengan patuh merangkul model perbudakannya (termasuk perdagangan budak dan persetubuhan dengan budak) dan terus menjalankan itu semasa dominasi Islam. Teladan Muhammad menangani Bani Qurayza atau Khaybar menjadi model standar untuk menangkap budak. Ini menyebabkan kenaikan besar dalam perbudakan, perbudakan seks dan perdagangan budak diabad pertengahan kekalifahan Islam. Setelah kematian Muhammad, Muslim bersenjatakan titah dari Quran dan Sunnah, bergerak tak terkekang dalam misi perang suci untuk menaklukkan dunia guna tujuan menyebarkan dan memperluas kekuasaan Islam. Dengan meledaknya Islam dari tanah Arab, gerombolan Muslim menjadi ahli dalam menangkap kafir-kafir yg kalah, khususnya perempuan dan anak-anak dalam jumlah besar, untuk diperbudak.

Dalam pemikiran Islam (seperti tercantum sebelumnya), peradaban sebelum dan diluar Islam adalah jahiliyah atau bersifat salah dan dibatalkan dengan kedatangan Islam. Hanya Muslim satu-satunya yang memiliki kebenaran dalam bentuk Islam, agama yang paling benar. Dalam pikiran mereka, dunia diluar Islam, seperti dikatakan Bernard Lewis, 'telah dihuni oleh kafir dan kaum barbar. Beberapa dikenal telah memiliki beberapa bentuk agama dan peradaban. Sisanya adalah penyembah berhala yang dilihat sebagai sumber budak. Muslim menangkap budak dalam jumlah yang besar sehingga perdagangan budak menjadi booming; pasar-pasar diseluruh dunia Muslim ramai dengan budak. Dengan demikian, 'atas jasa Islamlah tercipta perdagangan budak dalam skala besar yang dijalankan demi keuntungan dagang seperti layaknya sebuah bisnis,’ tulis Lal.vi


PERBUDAKAN DALAM DUNIA KUNO

Perbudakan bukan penemuan Islam dan juga bukan monopoli Islam. Sepertinya itu berasal dari jaman hukum rimba dan merupakan fitur yang menonjol dari semua peradaban besar sepanjang sejarah. Perbudakan ada di Babylonia dan Mesopotamia dan telah merata di Mesir kuno, Yunani dan Romawi sebelum datangnya Kristen. Perbudakan tertulis dalam kitab-kitab Kristen dan telah dipraktekkan umat Kristen diabad pertengahan.

Mesir kuno. Di Mesir Kuno, budak merupakan tenaga kerja bagi pembangunan piramid-piramid. Menurut penjelajah Yunani terkenal Herodotus (484-425 SM), sekitar 100.000 budak bekerja selama dua puluh tahun dalam pembangunan Piramid Agung di Giza, salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno yang dibangun oleh Cheops, seorang Firaun Kerajaan Mesir kuno (+ 2589-2566 SM).vii Karena angka ini merupakan bagian legenda, angka ini jelas merupakan pernyataan yg berlebihan. Namun, ini menunjukkan bahwa budak memang digunakan dalam jumlah besar pada zaman itu. Para firaun di Mesir biasanya menangkap budak dalam peperangan atau membeli mereka dari negara lain. Mereka adalah milik negara, bukan perorangan, namun sering diberikan sebagai hadiah untuk seorang jendral dan imam.

Yunani kuno. Di kota-kota kuno Yunani, yaitu Athena dan Sparta, perbudakan telah terintegrasi kedalam sistem sosial ekonomi dan politik. Disamping orang merdeka dan warga negara asing, terdapat kelas helot: kelas budak yang bekerja sebagai hamba dalam pertanian dan pekerjaan rendah lainnya. Ini, menurut asumsi para ahli, memungkinkan kaum elit dan orang merdeka untuk terlibat dalam hal2 lain spt pencarian intelektual, yang memberikan kontribusi menakjubkan bagi bidang intelektual, politik, ilmiah, dan prestasi sastra klasik Yunani. Banyak petani Yunani tidak memiliki tanah dan harus memberikan proporsi panen mereka kepada para tuan tanah. Akibatnya, mereka jatuh ke dalam hutang dan akhirnya menawarkan diri mereka sebagai budak, membentuk kelas helot. Pada satu titik, Athena dikatakan mempunyai 460.000 budak dibandingkan dengan hanya 2.100 warga merdeka. Di Athena, budak diperlakukan dgn lembut dibandingkan dengan budak di Sparta. Kemudian, konstitusi Draco (621 SM) dan undang-undang Solon (638-558 SM) menjadikan mereka milik negara, yang memperbaiki kondisi mereka. Undang-Undang Solon juga melarang perbudakan karena hutang. Budak sekarang memiliki beberapa hak-hak dasar dan tidak dapat dihukum mati, kecuali oleh negara.

Kekaisaran Romawi. Dijaman Republik Romawi kuno dan awal kekaisaran Romawi, sekitar 15-20 persen dari populasi adalah budak. Selama Kaisar Augustus Caesar (+. 63 SM-14 M), seorang majikan dikatakan memiliki 4.000 budak. Sampai abad kedua SM, seorang majikang dapat membunuh seorang budak, meskipun ini jarang terjadi. Hukum Cornelian (82 SM) melarang majikan membunuh budaknya. Hukum Petronian (32 SM) melarang majikan memaksa budaknya turut berperang. Di bawah Kaisar Claudius (+ 41-54 M), jika seorang majikan mengabaikan kesehatan hambanya sehingga mengakibatkan kematiannya, sang majikan dinyatakan bersalah atas pembunuhan. Dio Chrysostom-orator terkenal, penulis, filsuf, dan sejarawan-telah menyampaikan dua orasi (nomor 14 dan 15) yang disampaikan pada Forum, mengecam perbudakan selama Kaisar Trajan (+ 98-117 M). De Clementia (1:18), karangan Seneca the Elder (c. 54 SM -39 M), menulis bahwa majikan
yang kejam terhadap budak akan dihina dimuka umum. Kemudian, Kaisar Hadrian (+ 117-138 M) memperbaharui hukum Cornelian dan Petronian. Ulpian, seorang pengacara Stoic di bawah Kaisar Caracalla (+ 211-217 TM), melarang orang tua menjual anak-anak mereka kepada perbudakan. Diocletian (+ 284-305 M), seorang kaisar pagan Romawi terakhir yang terkenal, melarang seorang kreditor untuk memperhambakan pihak penghutang dan melarang seorang laki-laki dan untuk menjual dirinya ke dalam perbudakan untuk melunasi hutang. Konstantin (+306-337 M) melarang pemisahan anggota keluarga selama distribusi budak. Ini bukti bahwa kondisi budak lambat laun mengalami peningkatan di Kekaisaran Romawi jaman Pra-Kristen.

Cina kuno. Di Cina Kuno, budak dimiliki keluarga kaya untuk melakukan pekerjaan kasar di ladang dan di rumah. Kaisar biasanya memiliki ratusan bahkan ribuan budak. Sebagian besar budak lahir dari ibu yang juga budak. Beberapa menjadi budak karena tidak mampu membayar hutang; lainnya ditangkap dalam perang dan serangan.

India kuno. Perbudakan di India kuno, peradaban awal hebat lainnya sejak jaman purbakala, tidak banyak disinggung. Megasthenes (c. 350-290 SM), penjelajah Yunani yang terkenal yang akrab dengan perbudakan di Yunani dan negara-negara lain yang dikunjunginya, tidak melihat adanya perbudakan di India. Dia menulis, 'Semua orang India merdeka. Tak satupun di antaranya seorang budak ... Mereka bahkan tidak mengijinkan orang asing menjadi budak. Sehingga tidak ada alasan mereka menjerumuskan saudara sebangsa mereka kedalam perbudakan.'x Bahkan, tulisan Muslim, yang meninggalkan catatan berlimpah tentang skala besar perbudakan Islam di India, tidak pernah menyebutkan sebuah insiden perbudakan di jaman pra-Islam India. Namun, perbudakan jelas ada di India kuno, karena ada referensi tentang budak yang ditemukan didalam Rigveda (Kitab Hindu kuno) dan literatur filosofis serta literatur agama, termasuk dalam ajaran Budha.

Budha (c. 563-483 SM) memerintahkan kepada pengikutnya agar memberikan pekerjaan kepada budak yang mereka (para budak) dapat lakukan dengan mudah. Ia juga menganjurkan para majikan memperhatikan hambanya ketika mereka jatuh sakit. Kautaliya (aka Chanakya), seorang guru dari Universitas Taxila yang anak didiknya dari Chandragupta Maurya mendirikan dinasti besar Maurya (c. 320-100 SM), melarang majikan menghukum hamba tanpa alasan; yang bersalah akan dihukum oleh negara. Kaisar Ashoka (r. 273-232 SM) dari dinasti Maurya, dalam Dekrit Batu IX -nya, menyarankan majikan untuk memperlakukan hamba mereka dengan simpati dan pengertian. Kitab Hindu kuno Rigveda menyebut tentang budak yang diberikan sebagai hadiah dan tentang penguasa yang memberikan budak perempuan sebagai hadiah. Budak di India bekerja sebagai pelayan di istana raja dan di rumah-rumah para aristokrat dan pendeta (Brahmin). Kemungkinan, orang-orang yang gagal membayar hutang, akan menjadi budak di India. xi

Namun, bagaimanapun, tampaknya praktek perbudakan di India kuno jauh lebih beradab dan mereka juga menerima perlakuan lebih manusiawi dibandingkan dengan budak yang berada di zaman Mesir, Yunani, Cina, dan Romawi. Di India, budak tidak pernah dianggap sebagai komoditas untuk diperdagangkan, dan disana tidak ada pasar budak. Perdagangan budak tidak pernah menjadi bagian dari ekonomi India sampai Muslim membawanya ke India.

Perbudakan dalam Agama Kristen. Perbudakan jelas terlihat dan tertulis di Perjanjian Baru [Mat 18:25, Markus 14:66]. Misalnya, Yesus menasehatkan agar orang yang berhutang agar menjual dirinya beserta anggota keluarga mereka ke dalam perbudakan [Mat 18:25]. Demikian pula, sejumlah ayat dari surat Paulus seperti Efesus 6:5-9, Korintus 12:13, Galatia 3:28 dan Kolose 3:11 dll, mengenal perbudakan atau budak (yang terikat) dan manusia bebas.

Perjanjian Baru kemungkinan mendorong Kristen untuk memperbudak kafir (non-Kristen). Perbudakan sebelumnya telah menurun secara bertahap dalam kerajaan Romawi pra-Kristen; kondisi hamba telah ditingkatkan. Ketika Kristen memegang kekuasaan setelah penobatan Kaisar Konstantin di abad keempat, trend ini berbalik. Misalnya, Kaisar pro-Kristen Flavius Gratianus (r. 375 -- 383) menetapkan sebuah dekrit bahwa seorang hamba yang menuduh tuannya berbuat kejahatan, harus dibakar hidup-hidup. Pada th 694M, monarki Spanyol, di bawah tekanan gereja, memerintahkan orang-orang Yahudi untuk memilih baptisan atau perbudakan. Diabad pertengahan, para Bapa Pendiri Gereja dan Paus membenarkan perbudakan atas dasar agama. Mereka terus mendukung perdagangan budak bahkan dengan meningkatnya oposisi terhadap perbudakan di Eropa. 'Gereja, seperti semua orang tahu, menentang pembatalan perbudakan selama mereka bisa,' tulis Bertrand Russell. xii


PERBUDAKAN OLEH MUSLIM DI INDIA

Tentara dan penguasa Muslim terlibat dalam perbudakan kafir dalam skala besar kemanapun mereka pergi : di Eropa, Afrika dan Asia. Dalam bagian ini, perbudakan oleh umat Islam di India sebagaimana dicatat oleh sejarawan Muslim abad itu, akan disajikan dengan mendetail. Sejarah singkat dari perbudakan Islam di Afrika, Eropa dan tempat-tempat lain di Asia juga akan disajikan.

Oleh Muhammad bin Qasim: serangan2 Islam terhadap daerah2 perbatasan India dimulai dijaman Khalifah Omar, serangan dan penjarahan atas Thana di tahun 636, hanya empat tahun setelah Nabi Muhammad meninggal. Lebih dari delapan ekspedisi perampokan semacam itu berlanjut di bawah kalifah berikut secara berurutan : Usman, Ali dan Muabiyah. Penyerangan awal oleh gerombolan Muslim ini kadang menghasilkan barang rampasan dan budak selain pembantaian dan penjarahan, tetapi gagal untuk menanamkan kaki Islam di India. Dengan restu Khalifah Al-Walid, Hajjaj bin Yusuf mengirim dua ekspedisi ke Sindh (Hndia), dipimpin oleh Ubaidullah dan Budail. Keduanya menderita kegagalan dan menderita kekalahan berat; kedua komandan terbunuh. Dengan luka dihati, Hajjaj selanjutnya mengirim keponakan dan menantunya, Qasim, mengepalai 6.000 prajurit. Dia menyerang Debal di Sindh di tahun 712 dan menancapkan Islam secara kuat dan lama di Hindustan.

Image
Debal, menurut catatan sejarawan Muslim terkenal al-Biladuri, ’diambil lewat serangan dan pembunuhan besar-besaran selama tiga hari ... para pendeta kuil dibantai.’ xiii

Image
http://www.hindujagruti.org/activities/ ... lbum&id=17
Dia membunuh laki-laki diatas usia 17 dan memperbudak perempuan dan anak-anak. Total jumlah tawanan diambil dari Debal tidak tercatat, tetapi diantara mereka terdapat 700 wanita cantik, yang telah diambil dengan paksa dari kuil, catat Chachnama. Sang Kalif mendapatkan 1/5 dari harta rampasan dan jumlah budak, yang termasuk 75 perawan, telah dikirim ke Hajjaj. Sisanya didistribusikan diantara tentaranya. xiv

Image
Dalam serangan ke Rawar, catat Chachnama, 'Bila jumlah tahanan dihitung, akan ditemukan sejumlah 30.000 orang, diantara mereka terdapat puteri-puteri para pemimpin dan salah satunya adalah anak adik Rai Dahir. ’1/5 dari tahanan dan rampasan dikirim ke Hajjaj.xv

Image
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 205046#205
Seperti dicatat Chachnama, ketika Brahmanabad jatuh ke umat Islam, dimana 8.000-26.000 orang telah terbunuh, ’1/5 dari semua tahanan yang dipilih dan dikhususkan; mereka dihitung sebanyak 20.000 jumlahnya dan sisanya telah diberikan kepada prajurit.xvi Artinya, sekitar 100.000 perempuan dan anak-anak diperbudak dalam penyerangan ini.

Image
Seperti kepala Dahir
Satu muatan dari bagian rampasan untuk kalifah termasuk 30.000 perempuan dan anak-anak serta kepala Dahir. Diantara tawanan itu termasuk beberapa perempuan bangsawan dari Sindh. Hajjaj meneruskan karavan rampasan dan budak itu untuk Kalifat Al-Walid di Damaskus. 'Ketika kalif waktu itu membaca surat,' Chachnama mencatat, 'dia memuji Allah Maha Kuasa. Dia menjual beberapa puteri para pemimpin dan beberapa ia berikan sebagai imbalan. Ketika melihat puteri adik Rai Dahir, dia begitu terpana dengan kecantikannya dan mulai menggigit jarinya sendiri dengan takjub.' xvii

Image
Dalam serangan ke Multan, menurut Al-Biladuri, diantara para tawanan ada 'para pejabat kuil yang mencapai jumlah enam ribu."xviii Angka ini dapat memberikan kita gambaran dari total jumlah perempuan dan anak-anak yang diperbudak di Multan. Qasim melakukan ekspedisi serupa di Sehwan dan Dhalila, antara lainnya. Kesuksesannya di Sindh selama periode
tiga tahun saja (712-715) telah menghasilkan total sebanyak 300.000 budak.

Selama 715-1000 M: Setelah mundurnya Qasim pada tahun 715, kampanye2 pembantaian dan perbudakan Muslim menjadi agak lemah, tetapi penyerangan-penyerangan dengan intensitas rendah berjalan terus. Selama pemerintahan satu-satunya Kalif ortodoks Umayyad, Omar (717-720), kaptennya--Amru bin Muslim--melakukan beberapa ekspedisi Jihad melawan teritori Hindu dan menaklukkan mereka, tidak disangsikan ini telah menghasilkan budak.

Image
Selama Khalifah Hasham bin Abdul Malik (berkuasa 724-743), pemimpin militer Sindh, Junaid Abdur Rahman bin, terlibat dalam sejumlah penyerangan sukses. Dalam serangan dari Kiraj, ia 'menyerang istana, membantai, menjarah dan mengambil tawanan.' Dalam serbuan terhadap Ujjain dan Baharimad, ia membakar daerah pinggiran kota dan mendapat barang jarahan.xix Ini termasuk tawanan.

Image
Setelah didirikannya dinasti ortodoks Abbasid pada tahun 750, Kalif al-Mansur (berkuasa 755-774) mengirim Hasham bin Amru untuk melaksanakan jihad terhadap teritori Hindu. Dia 'menaklukan Kashmir dan mengambil banyak tahanan dan budak ...' xx Dia menyerang banyak tempat antara Kandahar dan Kashmir dan setiap kemenangan pasti menghasilkan tawanan, walau tidak tercatat.

Sejarawan besar Muslim Ibnu Asir (Athir) mencatat dalam Kamil-ut Tawarikh bahwa selama Khalifah Al-Mahdi berkuasa, Abdul Malik memimpin angkatan laut besar ekspedisi Jihad terhadap India di tahun 775. Mereka mendarat di Barada dan dalam perang melawan penduduk sekitar, tentara Muslim berjaya.

Image
'Beberapa orang dibakar, sisanya terbunuh dan 20 Muslimin mati demi agama,' catat Asir. xxi Jumlah tawanan tidak tercatat.

Image
Selama kekuasaan Khalifah al-Mamun (berkuasa 813-833), panglima Afif bin Isa memimpin ekspedisi terhadap Hindu yang memberontak. Setelah mengalahkan dan membantai mereka, 27.000 laki-laki, perempuan dan anak-anak yang selamat diperbudak.xxii Gubernur Sindh berikutnya dari Kalifah Al-Mutasim, Amran bin Musa, menyerang dan mengalahkan Multan dan Kandabil, 'membawa penduduk sebagai tahanan.' xxiii Sekitar tahun 870, Yakub Lais menyerang Ar-Rukhaj (Aracosia) dan memperbudak penduduk serta memaksa mereka memeluk Islam. xxiv
-------------------
iv. Ibn Ishaq, p. 461-70
v.Lewis (1966), p. 42
vi. Lal (1994), p6
vii. Ibid, p2
viii. Slavery,Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Slavery
ix. Lal (1994), p. 3
x Ibid, p. 5
xi. Ibid, p. 4
xii. Russell B (1957) Why I Am Not a Christian, Simon & Schuster, New York, p. 26
xiii. Elliot & Dawson, Vol. I, p. 119-20; Sharma, p. 95
xiv. Lal (1994), p. 17
xv. Elliot & Dawson, Vol. I, p. 173
xvi. Ibid, p. 181
xvii. Sharma, p. 95–96
xviii. Elliot & Dawson, Vol. I, p. 122–23,203
xix. Ibid, p. 125–26
xx. Ibid, p. 127
xxi. Ibid, Vol. II, p. 246
xxii. Ibid, p. 247–48
xxiii. Ibid, Vol. I, p. 128
xxiv. Ibid, Vol. II, p. 419

Diterjemahkan oleh Kimi07, diperiksa oleh Admin
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:46 am

DITERJEMAHKAN oleh KIMI07
Image


BAB VII : hal 276-279

Image
http://en.wikipedia.org/wiki/Ghaznavid_Empire
http://www.hindutva.org/landrajput.html

Oleh invasi Ghaznivid/Ghaznavid: Hampir tiga abad setelah eksploitasi Qasim, Sultan Muhammad meluncurkan tujuh belas serangan biadab ke India Utara (1000-1027) yg mencakup pembantaian massal, penjarahan, pembakaran, penghancuran kuil2 serta perbudakan dalam jumlah besar. Dlm serangannya terhdp Raja Jaipal th 1001–02,
al-Utbi mencatat : ‘Allah memberikan kepada sahabat2nya jumlah penjarahan yg tidak terhitung jumlahnya, termasuk 500.000 budak, wanita dan lelaki.’ Diantara para tahanan terdapat Raja Jaipal dan anak2nya, cucu2nya dan keponakan2nya, para pemimpin suku dan sanak keluarganya.xxv Ia membawa mereka pergi ke Ghazni untuk dijual. Dalam serangan atas Ninduna (Punjab) th 1014, al-Utbi menulis, ‘budak tak terhitung jumlahnya sehingga mereka menjadi sangat murah; orang2 terhormat di negeri mereka dihina sampai menjadi budak milik pemilik2 toko awam (di Ghazni).’ Dari serangan tahun berikutnya terhdp Thanesar (Haryana), tentara Muslim ‘membawa 200.000 tawanan shg ibukota (Persia) nampak sbg kota India ; setiap tentara memiliki beberapa budak lelaki dan perempuan,’ kata Ferishtah. Dari expedisi ke India th 1019, ia membawa 53.000 tawanan. Dari 17 expedisinya ke India, kampanye ke Kashmir adalah satu2nya yg gagal. Dalam setiap kampanye sukses, ia mengambil barang jarahan, yg biasanya mencakup budak. Bagian seperlima dari barang jarahan dikesampingkan bagi sang kalif, yang spt ditulis Tarikh-i-Alfi, mencakup 150.000 budak.xxvi Ini berarti bahwa minimum 750.000 budak digarap Sultan Mahmud.

Image
Sebuah pasar budak Muslim

Mahmud (wafat 1030) memulai meletakkan batu bagi didirikannya kesultanan Islam di Punjab, dimana dinasti Ghaznivid berkuasa sampai th 1186. Th 1033, puteranya, Sultan Masud I, melancarkan ‘serangan atas benteng Sursuti di Kashmir. Seluruh garisun ditebas dengan pedang, kecuali wanita dan anak2, yg dibawa pergi sbg budak.’xxvii Th 1037, Sultan Masud, selagi jatuh sakit, membuat sumpah utk ‘melancarkan perang suci atas Hansi,’ jika kesehatannya membaik nanti. Setelah sembuh. ia menyerang dan merebut Hansi. Menurut Abul Fazl Baihaki, ‘Pendeta2 Brahma dan petinggi2 lainnya dibunuh dan wanita2 serta anak2 mereka dibawa pergi sbg tawanan.’xxviii Sultan Ghaznivid yang agak lemah, Sultan Ibrahim, menyerang distrik2 Punjab th 1079. Perang sengit berlangsung sampai berminggu2 dan kedua pihak menderita menderita pembantaian besar2an. Pada akhirnya, tentaranya menang dan menjarah kekayaan dalam jumlah banyak dan 100.000 budak, yg dibawanya ke Ghazni, tulis Tarikh-i-Alfi & Tabakat-I Akbari.xxix

Oleh invasi Ghaurivid : Sultan Muhammad Ghauri, seorang Afghan, melancarkan serangan invasi Islam ketiga atas India di akhir abad ke 12, mendirikan pemerintahan Muslim di Delhi (1206). Dalam serangan Benaras pada tahun1194, 'pembantaian orang Hindu luar biasa hebatnya, tidak ada yang dibiarkan hidup kecuali perempuan dan anak-anak dan pembantaian manusia berlanjut sampai membuat bumi letih,' catat Ibnu Asir.xxx Perempuan dan anak-anak biasanya dibiarkan hidup untuk dijadikan budak. Jendralnya yang termasyhur, Qutbuddin Aibak, menyerang Raja Bhim dari Gujarat di thn 1195, dan menangkap 20.000 budak; xxxi Dalam serangan ke Kalinjar di tahun 1202, catat Hasan Nizami, '50.000 orang ditangkap sebagai budak dan daratan menjadi berwarna gelap karena penuh dengan Hindu.'xxxii Dalam tahun 1206, Muhammad Ghauri maju untuk memberantas pemberontak Khokhar yang telah mengoyang kekuasaan mereka di daerah Multan. Pembantaian atas para pemberontak begitu intensif sampai tidak ada satupun yang selamat. 'Barang rampasan, seperti budak dan senjata, yang tidak terhitung banyaknya, jatuh ke dalam tangan yang menang,’ tambah Nizami.xxxiii Merangkum fitur penangkapan budak dari Sultan Ghauri dan Aibak, menurut Fakhr-i-Mudabbir, 'bahkan Muslim miskinpun menjadi pemilik banyak budak.' xxxiv Menurut Ferishtah, 'tiga sampai empat ratus ribu Khokhar masuk Islam ' oleh Muhammad Ghauri.xxxv Penundukan kepada Islam ini kebanyakan melalui perbudakan.

Setelah menjadi sultan pertama di India pada tahun 1206, Aibak menaklukkan Hansi, Meerut, Delhi, Ranthambor dan Kol. Selama memerintah (1206-10), Aibak melakukan banyak ekspedisi menangkap banyak budak dari daerah Delhi ke Gujarat, dari ke Lakhnauti Lahore. Setiap kemenangan menghasilkan budak, tetapi jumlah mereka tidak tercatat. Kenyataan bahwa Aibak umumnya menangkap budak dalam peperangan dapat diketahui dari penegasan Ibnu Asir bahwa ia membuat 'perang terhadap provinsi Hind ... Dia membunuh banyak, dan kembali dengan tahanan dan barang jarahan.xxxvi

Pada saat yang sama, Bakhtiyar Khilji melakukan penaklukan meluas, melibatkan pembantaian massal dan perbudakan, di Bengal dan Bihar di India Timur. Jumlah budak yang diambil oleh Bakhtiyar juga tidak tercatat. Ibnu Asir berkata tentang Bakhtiyar, tegas dan usahawan, ia membuat serangan ke Munghir Bihar, dan memperoleh banyak jarahan, kuda, senjata dan manusia (budak). xxxvii Dalam serangan Bakhtiyar ke Lakhmansena di Bengal 1205, catat Ibnu Asir, 'seluruh harta, semua isteri, dan pelayan-pelayannya, dan perempuan-perempuan jatuh ke dalam tangan penakluk.' xxxviii

Setelah Aibak menetap di Delhi, budak tidak lagi diangkut ke luar negeri seperti penyerangan awal oleh Sultan Mahmud dan Muhammad Ghauri, yang sering datang ke Ghazni. Tawanan, sesudah itu, terlibat dalam berbagai kegiatan istana dan para jendral, bangsawan dan prajurit. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sisa2 budak yg kelebihan dijual di pasar India.

Selama Sultan Iltutmish ke Balban (1210-1285): Selanjutnya, Sultan Iltutmish (berkuasa 1210-36) menghabiskan tahun2 awalnya menekan musuh2nya, bangsa Turki. Dia juga takut di-invasi Genghis Khan. Th 1226, ia menyerang Ranthambhor. Minhaj Siraj mencatat bahwa 'banyak harta rampasan jatuh ke tangan pengikutnya;' xxxix Yang jelas rampasan itu termasuk budak. Pada tahun 1234-35 serangan ke Ujjain, ia mengambil tawanan dari 'perempuan dan anak-anak dari mereka yang membangkang,' menurut Shiraj dan Ferishtah.xl

Setelah kematian Iltutmish, masa perbudakan terhenti karena melemahnya kekuasaan sultan. Pada tahun 1244, Sultan Mahmud Nasiruddin, diperintahkan oleh Ulugh Khan Balban, utk menyerang pemberontak Gukkar dari gunung Jud di Multan dan membawa pulang 'beberapa ribu Gukkar dari segala usia dan jenis kelamin,' catat Ferishtah.xli Ulugh Khan Balban menyerang Karra di tahun 1248; disana, catat Siraj, ia mengambil tawanan dan menangkap sanak keluarga para Ranas (pangeran2 Hindu) tidak dapat dihitung jumlahnya. Dalam menyerang Rana Dalaki wa Malaki, ia menangkap istri-istrinya, anak-anak dan barang rampasan. xlii Di tahun 1252, Balban menyerang dan mengalahkan Rana paling agung, Jahir Deo dari Malwa. Siraj juga mencatat 'banyak tawanan banyak jatuh ke tangan pemenang perang.' xliii

Dalam serangan Ranthambhor di tahun 1253, Balban menangkap banyak budak, sementara serangan ke Haryana di tahun 1259, banyak perempuan dan anak-anak diperbudak. Balban memimpin dua kali ekspedisi melawan Kampil, Patiali dan Bhojpur pembudakan sejumlah besar perempuan dan anak-anak setiap kalinya. Dalam Katehar, ia menawan perempuan dan anak-anak setelah membunuh massal laki-laki usia diatas delapan belas tahun, catat Ferishtah. Pada tahun 1260, Balban menyerang Ranthambhor, Mewat dan Siwalik--- sambil menjanjikan dua tankah perak bagi setiap tawanan hidup dan satu tankah bagi setiap satu kepala kafir yang terbunuh. 'Segera tiga sampai empat ratus budak hidup dan beberapa potongan kepala dibawa kehadapannya', catat Ferishtah.

Saat mengabdi di bawah Sultan Nasiruddin (wafat 1266), Balban melakukan banyak serangan terhadap kafir, namun jumlah tawanan yang diambil olehnya tidak disebutkan. Tapi, dapat ditebak dari kenyataan bahwa Sultan Nasiruddin memiliki sangat banyak budak sampai ia menitipkan kepada penulis Minhaj Siraj 40 budak utk dikirimkan kpd adik perempuannya di Khurasan.xliv

Balban menjadi sultan di tahun 1265 dgn gelar Ghiyasuddin Balban. Sbg panglima dari sultan sebelumnya, Balban menunjukkan keberanian militer luar biasa, memimpin banyak ekspedisi melawan kafir. Setelah menerima kekuasaan, pekerjaan pertamanya, adalah untuk membasmi ratusan ribu orang pemberontak Hindu, Muwattis dll Ia memerintahkan untuk 'menghancurkan desa-desa yang memberontak, membunuh para pria, menahan perempuan dan anak-anak'. xlv

Selama dinasti Khilji: Dibawah Khilji (berkuasa 1290-1320) dan dinasti Tughlaq (berkuasa 1320 -1413), kekuasaan Kalifah Muslim di India telah dibentuk dengan kuat dengan perluasan tentara dan wilayah. Kekuatan Sultan sangat besar sehingga ’tidak ada yang berani melakukan protes,' catat Afif. Selain kampanye untuk memberangus banyak pemberontakan Hindu, banyak ekspedisi melawan teritori kafir dilakukan dengan semangat besar untuk membawa mereka dibawah kendali Muslim. Banyak harta Jarahan berhasil direbut, termasuk budak. Beberapa kesaksian yang ditinggalkan periwayat kontemporer memberikan gambaran dari luasnya perbudakan tsb. Jalaluddin Khilji (berkuasa 1290-96), pendiri dinasti Khilji, melakukan kampanye kejam untuk memberangus revolusi Hindu dan untuk memperluas batas dari kesultanan. Dia memimpin ekspedisi ke Katehar, Ranthambhor, Jhain, Malwa, dan Gwalior. Dalam kampanye ke Ranthambhor dan Jhain, dia merampok kuil-kuil, melakukan penjarahan, dan mengambil tawanan membuat 'neraka di surga,' tulis Amir Khasrau. Dari penyerbuan ke Malwa, sejumlah besar harta rampasan ( yang selalu termasuk budak-budak) dibawa ke Delhi, tambah Khasrau.xlvi
--------------
xxvi Lal (1994), p. 19–20
xxvii History of Punjab: Ghanznivide Dynasty, http://www.punjabonline.com/servlet/
library.history?Action=Page&Param=13
xxviii Elliot & Dawson, Vol. II, p. 135,139–40
xxix Ibid, Vol. V, p. 559–60; Lal (1994), p. 23
xxx Elliot & Dawson, Vol. II, p. 251
xxxi Ferishtah, Vol. I, p. 111
xxxii Elliot & Dawson, Vol. II, p. 232; also Lal (1994), p. 42
xxxiii Elliot & Dawson, Vol. II, p. 234–35
xxxiv Lal (1994), p. 44
xxxv Ibid, p. 43
xxxvi Elliot & Dawson, Vol. II, p. 251
xxxvii Ibid, p. 306
xxxviii Ibid, p. 308–09
xxxix Ibid, p. 325
xl Lal (1994), p. 44–45
xli Ferishtah, Vol. I, p. 130
xlii Elliot & Dawson, Vol. II, p. 348; also Ferishtah, Vol. I, p. 131
xliii Elliot & Dawson, Vol. II, p. 351
xliv Lal (1994), p. 46–48
xlv Elliot & Dawson, Vol. III, p. 105

DITERJEMAHKAN oleh KIMI07, diperiksa Admin
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:46 am

DITERJEMAHKAN KIMI07

BAB VII HAL 280-286

Selanjutnya, Sultan Alauddin Khilji (berkuasa 1296-1316) mengalahkan semua sultan sebelumnya dalam menangkap budak. Dia mengirim besar ekspedisi ke Gujarat tahun1299 merampok semua kota–kota besar: Naharwala, Asaval, Vanmanthali, Surat, Cambay dan Somnath. Menurut catatan sejarahwan Muslim Isami dan Barani, ia memperoleh sejumlah besar harta rampasan dan tawanan pria dan wanita. Dalam menhancurkan dan menjarah Somnath saja, saksi Wassaf, tentara Muslim 'membawa tawanan yang besar jumlah perawan yang cantik dan menarik, sebanyak 20.000 'serta' anak-anak baik lelaki dan perempuan. Ranthambhor diserang tahun 1301 dan Chittor pada tahun 1303. Dalam invasi Chittor, 30.000 orang dibantai, dan sebagai standar operasi, perempuan dan anak-anak mereka diperbudak meskipun beberapa perempuan Rajput telah berkomitmen Jauhar. Sejumlah besar budak ditangkap dalam ekspedisi ke Malwa, Sevana dan Jalor antara tahun 1305 dan 1311. Sultan Alauddin juga menangkap budak dalam ekspedisi ke Rajasthan. Selama pemerintahannya, menangkap budak menjadi seperti mainan anak kecil seperti tulisan Amir Khasrau, ’orang Turki kapanpun mereka mau, mereka dapat merampas, membeli atau menjual setiap orang Hindu.' Begitu menakjubkan operasi penangkapan budaknya, bahkan ia telah mengambil '50000 budak laki-laki untuk melayaninya secara pribadi ' dan '70000 budak bekerja pada bangunannya, 'catat Afif dan Barani. Barani memberi kesaksian bahwa ' sekelompok tawanan baru terus datang' pada pasar budak di Delhi selama Alauddin berkuasa. xlvii

Selama dinasti Tughlaq: Pada tahun 1320 Tughlaq memperoleh kekuasaan. Muhammad Shah Tughlaq (berkuasa 1325-51), yang paling terpelajar di antara penguasa Muslim di India, adalah penguasa yang paling kuat dari periode Kesultanan (1206-1526). Ia terkenal giat untuk menangkap budak, bahkan melebihi prestasi dari Alauddin Khilji. Shihabuddin Ahmad Abbas menulis dari cara dia mengambil budak 'Sultan tidak pernah berhenti untuk menampilkan semangat besar dalam mengobarkan perang atas kafir ... Setiap hari ribuan budak yang dijual pada harga yang sangat rendah, karena besarnya jumlah tahanan. 'Selama pemerintahannya yang terkenal jahat, dia melakukan berbagai ekspedisi untuk meredakan pemberontakan dan membawa daerah jauh dari India di bawah kekuasaannya. Mencapai jauh ke India Selatan dan Bengal. Dia juga secara brutal menumpas enam belas pemberontakan besar. Banyak dari ekspedisi ini membawa rampasan besar, termasuk hamba-hamba yang selalu dalam jumlah besar. Budak sangat berlimpah sehingga sultan dapat mengirim sepuluh budak perempuan ke musafir Ibnu Battutah pada kedatangannya di Delhi.xlviii Sultan mengirimkan misi diplomatik ke kaisar Cina, dipimpin oleh Battutah, dengan karavan dari hadiah-hadiah, termasuk yang 'seratus budak kulit putih, seratus penari Hindu dan gadis penyanyi ... ' xlix Mengirimkan budak sebagai hadiah pada khalifah dan penguasa luar negeri juga merupakan tindakan umum selama Sultan Iltutmish dan Feroz Tughlaq (wafat 1388). Ibnu Battutah menyaksikan bahwa sultan biasa untuk menumpuk budak sepanjang tahun dan menikahi mereka selama dua perayaan festival besar Islam, yaitu Eid.l Ini jelas bertujuan untuk mengelembungkan populasi Muslim di India.

Selanjutnya, Sultan Firoz Shah Tughlaq (berkuasa 1351-88) adalah seorang baik hati terhadap kafir, ia yang pertama mengizinkan beberapa non-muslim menjadi tentara, menghadapi musuh Muslim. Bahkan di bawah kekuasaannya, pembudakan terhadap kafir masih mengebu. Dia telah memperoleh 180000 budak laki-laki muda berfantasi di pengadilannya, kesaksian Afif.li Dia, seperti pendahulunya, biasanya menangkap ribuan budak laki-laki dan perempuan sepanjang tahun dan menikahi mereka pada hari-hari perayaan Eid. Menurut Afif, 'budak menjadi terlalu banyak' di bawah Firoz Tughlaq dan keberadaan budak terdapat di setiap tempat. 'Tak lama setelah itu, kesultanan pecah menjadi beberapa kerajaan independen, tapi perbudakan kafir berlanjutan seperti biasa di setiap 'pusat kekuasaan,' tulis Afif.lii

dari invasi Amin Timur: Amir Timur dari Asia Tengah, membangkitkan Jihad melawan
India (1398-99) untuk menjadi Ghazi atau syahid, telah mendapatkan lebih dari 100.000
tawanan saat ia tiba di Delhi. Pada serangan malam tahun baru di Delhi, dia membunuh mereka semua. Dari serangan di Delhi dan seterusnya samapi kepulangannya ke ibukotanya, dia telah meninggalkan jejak yang tragis dari pembantaian barbar, perusakan, penjarahan dan perbudakan, yang ia catat dalam riwayat hidupnya, Malfuzat-I-Timuri.liii

Dari serangannya ke Delhi pada tanggal 16 Desember 1398, catatan Timur,'15000 orang Turki terlibat dalam pembantaian, penjarahan dan penghancurkan ... Rampasan sangat besar sehingga setiap orang mendapat lima puluh hingga seratus tahanan-laki-laki, perempuan dan anak-anak. Tidak ada orang yang mengambil kurang dari dua puluh. "Jika setiap prajurit, di rata-rata, telah mengambil 60 tawanan, total jumlah budak adalah sekitar 100000.

Dalam perjalanan kembali ke ibu kota di Asia Tengah, Timur bercerita, ia menginstruksikan kepada komandan 'untuk mengambil setiap benteng dan kota dan desa mereka datang ,' untuk menempatkan kafir semua negara dengan pedang ... kawan pembrani saya mengejar dan membunuh banyak dari mereka, membuat isteri dan anak-anak kafir menjadi tahanan. Setelah sampai Kutila, dia menyerang kafir; 'Setelah sedikit perlawanan, musuh melarikan diri, namun banyak dari mereka terbunuh di bawah pedang prajurit saya. Semua istri dan anak-anak kafir dijadikan tahanan.

Bergerak maju, setelah tiba di pingiran sungai Ganga selama festival mandi, prajuritnya 'menyembelih banyak kafir dan mengejar mereka yang melarikan diri ke gunung-gunung. Rampasan, Timur menambahkan,' melebihi semua perhitungan ... jatuh ke tangan prajurit pemenang saya. rampasan tentunya termasuk budak.

Saat ia mencapai Siwalik, catatan Timur, 'kafir gabrs yang lalai sedikit dan melarikan diri. Prajurit suci mengejar mereka, dan membuat banyak terbunuh ... Rampasan banyak sekali melebihi yang dapat dihitung' telah diperoleh; ' Semua perempuan Hindu dan anak-anak di lembah dijadikan tahanan. Pada sisi lain dari sungai, Raja Ratan Sen, mendengar pergerakan Timur, dia menarik prajuritnya ke benteng Trisarta (Kangra). Ketika menyerang benteng, catatan Timur, ’orang Hindu berantakan dan melarikan diri, dan prajurit pemenang saya mengikuti' mereka dengan hanya beberapa yang dapat lolos, '... mereka mendapatkan banyak jarahan,' melebihi semua perhitungan dan masing-masing mendapatkan 'sepuluh hingga dua puluh budak. "Ini berarti serangan itu menghasilkan 20.000 hingga 30.000 budak.

Di sisi lain dari lembah Siwalik adalah kota besar dan penting Hindustan, yang disebut Nagarkot. Dalam serangan, ’Prajurit suci ... mendapat banyak hasil ladang, sejumlah besar jarahan, 'termasuk' tahanan ... jatuh ke tangan pemenang, yang kembali dalam kejayaan dan penuh dengan rampasan.' Timur menyimpulkan.

Pada jalan pulangnya dari Delhi, Timur telah membuat lima serangan besar pada benteng Hindu, kota-kota dan pedesaan, selain serangan lainnya yang lebih kecil dan menangkap budak di setiap kesempatan. hitungan kasar jumlah tawanan sekitar 20000 hingga 30000 hanya berasal dari serangan di Kangra. Jika serupa jumlah budak yang ditangkap dari penyerangan lainnya, dia pasti mendapatkan 100 hingga 150 ribu budak sewaktu ia
kembali. Digabungkan dengan tawanan diambil di Delhi, ia membawa sekitar 200 hingga 250 ribu budak dari India. Di Delhi, dia juga memilih ribuan tukang dan pengrajin, yang ia bawa ke kotanya. liv

Selama dinasti Sayyid dan Lodi (1400-1525): Dalam kurun waktu tersebut, setelah invasi Timur, jumlah budak yang diambil dalam perang tidak tercatat dengan benar;
hanya referensi abstrak yang ditemukan di berbagai documen.lv mengikuti kepergian Timur setelah menghancurkan kekuasaan di Delhi, Tughlaqs, diikuti oleh Sayyids, sementara melakulkan konsolidasi kekuasaan mereka, membuat banyak ekspedisi. Banyak kampanye ini menghasilkan budak dalam jumlah besar. Seperti yang dicatat oleh Ferishtah, dalam pemerintahan Sultan Sayyid Mubarak (berkuasa 1431-35), tentara Muslim menjarah Katehar dan memperbudak banyak Rahtore Rajputs (1422), memperbudak banyak orang di Malwa di 1423, membawa pemberontak Muwatti yang menyerah di Alwar di 1425 dan warga dari Raja Hulkant (di Gwalior, pada 1430) telah dibawa pergi sebagai 'sebagai tahanan dan budak.lvi

Pada tahun 1430, Amir Shaikh Ali dari Kabul menyerang Sirhind dan Lahore di Punjab. Di Lahore, catatan Ferishtah,'40.000 orang Hindu terhitung telah dibantai, selain jumlah yang besar dibawa sebagai tahanan '; di Toolumba (Multan), tentaranya menjarah tempat itu dan membunuh semua pria yang dapat membawa dan menggunakan senjata ... dan membawa isteri dan anak-anak penduduk ke dalam tahanan. lvii

Mengikuti Sayyids, Dinasti Lodi (1451-1526) kembali menetapkan wewenang
kesultanan dan terus mempraktekan perbudakan seperti biasa. Sultan Bahlul,
pendiri dinasti, 'berpaling dari prajurit gratisan dan dengan keuntungan dari jarahan ia membangun pasukan yang kuat. 'Dalam serangan terhadap Nimsar (di kabupaten Hardoi), ia' mengurangi penduduk dengan cara membunuh dan mempembudaknya.’ Penerusnya Sikandar Lodi menghasilkan hal yangsama besar di wilayah Rewa dan Gwalior.lviii

Selama Kekuasaan Mughal (1526 ...): Dengan mengalahkan Sikandar Lodi di tahun 1526, Jahiruddin Shah Babur, keturunan angkuh Amir Timur, menetapkan kekuasaan Mughal di India. Dalam autobiografinya yang berjudul Babur Nama,dia mendeskripsikan kampanyenya melawan Hindu sebagai Jihad, dijelaskan dengan ayat dan referensi dari Quran. Catatan menangkap budak selama Babur memerintah tidak didokumentasikan secara sistematis. Namun, dalam serangan kecil dari kerajaan Hindu Bajaur atau provinsi perbatasan barat day Pakistan, catat Babur: 'mereka melakukan pembunuhan massal dan wanita dan anak-anak yang dijadikan tawanan. Diperkirakan, lebih dari 3.000 pria mati terbunuh ... memerintahkan bahwa tumpukan kepala harus dibuat pada dataran yang tinggi”. lix Demikian pula, ia menjadikan pilar dari kepala Hindu terbunuh di Agra. Di tahun 1528, ia menyerang dan mengalahkan musuh di Kanauj ’dan keluarga mereka dan pengikutnya dijadikan tahanan. lx contoh ini menunjukkan bahwa perbudakan perempuan dan anak-anak adalah kebijakan umum dari Jihad kampanye Babur.[i] Babur Nama juga menyebutkan ada pasar perdagangan utama antara Hindustan dan Khurasan, yaitu di Kabul dan Qandahar, dimana karavan-karavan datang dari India membawa budak-budak (barda) dan komoditas lainnya dijual untuk mendapatkan keuntungan besar.

setelah kematian Babur (1530), sebuah masa kekacauan terjadi selama persaingan
antara anaknya Humayun dan Sher Shah Suri, seorang Afghanistan. Pada tahun 1562, Kaisar Akbar the Great, cucu dari Babur dan murtad dari Islam, melarang grosir perbudakan perempuan dan anak-anak di perang.lxi Selama Akbar memerintah, catat Moreland, ' menjadi sebuah tren merampok sebuah desa atau sekelompok desa tanpa alasan jelas, dan merebut penduduknya sebagai budak '; ini mendorong Akbar untuk melarang perbudakan.lxii Namun, tradisi ini sangat berakar sehingga sulit dihentikan.
Meskipun dilarang, para Jendralnya dan pemerintah provinsi masing-masing bergerak sendiri untuk menjarah dan memperbudakk non-Muslim. Seperti yang sudah dicatat, jendral Akbar waktu kecil Abdulla Khan Uzbeg sesumbar telah mempembudak dan menjual 500.000 laki-laki dan perempuan. Bahkan Akbar, mengabaikan keputusannya sendiri sebelumnya, memerintahkan untuk memperbudak perempuan dari Rajput yang terbunuh di Chittor (1568), yang berkomitmen jauhar. Perbudakan terus terjadi di seluruh
provinsi meskipun larangan. Di masa pemerintahan Akbar, catat Moreland,
anak-anak biasa diculik serta diperjualbelikan; Bengal yang terkenal jahat dari praktek dalam bentuk yang paling memuakkan ini (misalnya, budak di kebiri). lxiii Ini memaksa Akbar untuk melarang kembali perbudakan pada Tahun 1576. Dalam pemerintahannya, disaksikan della Valle, 'pelayan dan budak sangat banyak dan murah bahwa 'semua orang kaya, menyimpan sebuah keluarga besar, dan dilayani dengan baik sekali. lxiv Ini memberikan contoh yang jelas tentang skala dimana perbudakan berada bahkan di pemerintahan Akbar yang telah memberikan keringanan-keringanan.

Perbudakan tidak disangsikan memburuk selama penganti Akbar, Jahangir (1605 -
27) dan Shah Jahan (1628-58), di bawah mereka yang berkuasa secara kolot dan Islamisasi telah kembali secara bertahap. Kaisar Jahangir dalam riwayat hidupnya bersaksi anak-anak di Bengal di kebiri oleh orang tua tidak berdaya untuk diberikan 'kepada gubernur sebagai budak kantor pajak. '' ini telah menjadi praktik umum, "ia menambahkan. Menurut Chaghtai Khan, seorang mulia dari Jahangir, telah 'memiliki1200 kasim budak sendiri,' menurut beberapa kesaksian.lxv Jahangir sendiri telah mengirim sekitar 200.000 India tawanan ke Iran untuk dijual pada tahun 1619-20. lxvi

Selanjutnya di bawah Kaisar Shah Jahan, kondisi petani Hindu yang telah
menjadi tak tertahankan. Penjelajah Eropa Manrique menyaksikan di Mughal India bahwa kolektor pajak membawa pergi petani miskin bersama dengan anak-anak mereka
dan isteri 'ke berbagai pasar dan Pameran' untuk menjual mereka untuk membayar pajak. Dokter dan pengelana Prancis, Francois Bernier, yang menghabiskan dua belas tahun di India dan telah menjadi dokter pribadi kaisar Aurangzeb, mengemukakan hal yang sama. Dia menuliskan petani yang kurang beruntung, yang tidak mampu membayar pajak, anak-anak mereka dibawa pergi sebagai budak. lxvii Selama Aurangzeb berkuasa (1658-1707), dinilai sangat menghancurkan untuk orang Hindu, ada 22.000 anak-anak di kebiri pada tahun 1659 hanya di kota Golkunda (Hyderabad). Lxviii Mereka yang akan diberikan kepada pemerintah Muslim dan gubernur, atau dijual di pasar budak.

Nadir Shah dari Iran menyerang India pada tahun 1738-39. Setelah melakukan pembantaian massal dan pengrusakan, ia menangkap sejumlah besar budak dan membawa mereka bersama-sama dengan banyak jarahan. Ahmad Shah Abdali dari Afghanistan menyerang India tiga kali pada pertengahan abad kedelapanbelas. Dalam kemenangannya di perang Ketiga Panipat (1761), sekitar 22.000 perempuan dan anak-anak prajurit Maratha yang gugur dibawa sebagai budak.lxix Seperti telah disebutkan, sebagai penguasa Muslim independen yang terakhir, Tipu Sultan, telah memperbudak sekitar 7.000 orang di Travancore. Mereka dipaksa pergi dan dipaksa masuk Islam.lxx perbudakan kafir di India berlansung selama Islam berkuasa. Konsolidasi kekuasaan oleh tentara bayaran Inggris pada abad kesembilanbelas yang akhirnya mengakhiri perbudakan di India. Bahkan selama pemisahan (1947), umat Islam menculik puluhan ribu Hindu dan perempuan Sikh dan menikahkan mereka dengan muslim: sebuah bentuk perbudakan berusia tua (sudah dibahas). Di November 1947, seperti yang sudah dicatat, perampok Muslim Pathan membawa pergi orang Hindu dan perempuan Sikh dari Kashmir dan dijual di pasar-pasar Jhelum (di Pakistan). Lxxi

Ini adalah catatan dari perbudakan oleh penjajah Muslim terutama di India Utara. Perbudakan beralngsung serius hingga jauh di seluruh provinsi terjauh India, termasuk Gujarat, Malwa, Jaunpur, Khandesh, Bengal dan Deccan, baik di bawah pengawasan Delhi atau kesultan Muslim independen. Itu catatan perbudakan di daerah-daerah itu tidak selalu direkam secara sistematis.


PERBUDAKAN OLEH MUSLIM DI TEMPAT LAIN

Penjajah dan penguasa Muslim yang terlibat dalam pembudakan kafir yang takluk dalam besar dalam penyerangan dalam peperangan mereka di mana-mana. Nabi Muhammad membuka grosir perbudakan non-muslim untuk di jual atau menggunakan mereka dalam pekerjaan rumah tangga dan persetubuhan dengan budak makin berkembang setelah kematiannya saat kekuasaan Muslim semakin meningkat melalui khalifah yang benar(632-60), Umayyah (661-750) dan Abbasiyah (751-1250).

Ketika jendral Muslim Amru, diarahkan oleh Khalifah Omar, menaklukkan Tripoli di tahun 643, ia membawa pergi perempuan dan anak-anak dari orang-orang Yahudi dan Kristen. Khalifah Othman, catat sejarah abad kesembilan-Abu Khalif al-Bhuturi, membebankan perjanjian di Nubia (Sudan) di tahun 652, yang memerintahkan penguasa untuk mengirim setiap tahunnya budak-360 untuk kalifah dan empat puluh untuk gubernur Mesir, lxxii yang terus terjadi sampai tahun 1276. Perjanjian serupa juga ditandatangani selama kekuasaan Umayyah dan Abbasiyah dengan kota-kota di Transoxiana, Sijistan, Armenia dan Fezzan (Afrika barat daya masa kini), yang telah ditetapkan untuk mengirim stiap tahunnya budak dari kedua jenis kelamin.lxxiii Selama kekuasaan Umayyah, Musa bin Nusair, seorang jendralYaman terkemuka, dijadikan Gubernur Afrika Utara (Ifrikiya, 698-712) untuk memadamkan pemberontakan Berber yang terjadi lagi dan untuk menyebarkan wilayah Islam. Musa meredakan pemberontakan dan memperbudak 300.000 kafir. Bagian Khalifah yang seperlima, berjumlah 60.000 dijual ke dalam perbudakan dan hasilnya disimpan ke dalam perbendaharaan kalifah. Musa melibatkan 30.000 tawanan ke dalam dinas militer.lxxiv

Dalam empat tahun kampanye di Spanyol (711-15), Musa telah mengambil 30.000 perawan hanya dari keluarga bangsawan Gothic saja.lxxv ini tidak termasuk dari perempuan yang diperbudak dari latar belakang lainnya, dan tentu saja, anak-anak. Dalam mengalahkan Ephesus di tahun 781, 7.000 Yunani dijadikan budak. Dari penangkapan di Amorium tahun 838, budak sangat berlimpah sehingga Khalifah al-Mutasim memerintahkan mereka untuk dilelang dalam kelompok lima dan sepuluh orang. Dalam serangan ke Thessalonika tahun 903, 22000 orang Kristen dibagikan di antara kepala suku Arab atau dijual ke dalam perbudakan. Dalam pengrusakan Georgia dan Armenia oleh Sultan Alp Arsalan di tahun 1064, terjadi pembantaian besar sekali dan semua yang selamat telah diperbudak. Almohad Khalifah Yaqub al-Mansur dari Spanyol menyerang Lisbon pada 1189, memperbudak sekitar 3.000 perempuan dan anak-anak. Gubernur Cordoba-nya menyerang Silves pada tahun 1191, sehingga 3.000 orang Kristen ditangkap.lxxvi

Setelah mengambil Yerusalem dari tentara salib di 1187, Sultan Salahuddin memperbudak populasi Kristen dan menjual mereka. Dari penangkapan di Antiokhia di tahun1268, Mamluk Sultan al-Zahir Baybars (berkuasa 1260-77) memperbudak 100.000 orang setelah membunuh 16.000 garnisun tentara salib.
pembela dari garnisun ke pedang. ' Pasar budak menjadi begitu meluap seorang anak laki-laki hanya akan dihargai dua belas dirhams dan seorang anak perempuan lima dirham, 'catat Hitti.lxxvii

Sudah dicatat bahwa, Menyusul Muslim mendapatkan kekuatan di Asia Tenggara,
mereka telah mempromosikan perbudakan sedemikian luas sampai saat Protugis tiba seabad kemudian-menemukan bahwa hampir semua orang termasuk hamba atau tuan; orang Arab banyak menjadi tuan. Juga tercatat bahwa penguasa Muslim di Asia tenggara sering memperbudak seluruh penduduk sebuah wilayah setelah menangkap dan membawa mereka jauh. Di Jawa, penguasa Muslim mengurangi penduduk disekitar bukit, bagian penting dari populasi, untuk perbudakan melalui penyerangan dan pembelian. Sultan Iskandar Muda (berkuasa 1607 -36) dari Aceh membawa ribuan budak ke kotanya sebagai hasil dari penaklukan Malaka. Jawa merupakan eksportir terbesar dari budak sekitar tahun 1500, budak ini diambil dalam 'peperangan yang menentukan Islamisasi'. lxxviii Kesultanan Sulu, walaupun sedang berada di bawah ancaman konstan ambil alih oleh Spanyol, membawa sebanyak 2,3 juta orang Filipina sebagai budak dari Filipina dikontrol Spanyol melalui perampokan Jihad Moro di antara tahun1665 dan 1870. Akhir1860an hingga tahun 1880-an, budak naik dari 6 persen menjadi
dua pertiga penduduk di daerah kekuasaan Muslim dari Semenanjung Malaysia dan
kepulauan Indonesia.

Akhir abad kedelapanbelas, Sultan Maroko Moulay Ismail (berkuasa 1672-1727)
'Memiliki tentara budak hitam, dikatakan hingga 250.000. Lxxix Di Tahun 1721, Moulay Ismail memerintahkan sebuah ekspedisi terhadap pemberontak di wilayah Pegunungan Atlas, dimana terselesaikan setelah mengirimkan upeti ke sultan. Dari Mengalahkan pemberontak di atas, 'Semua laki-laki dibunuh, sementara perempuan dan anak-anak yang dibawa ... kembali ke ota. Segera setelah itu, ia memerintahkan ekspedisi lain dari 40.000 pasukan kuat di bawah pimpinan anaknya Moulay as-Sharif terhadap pemberontak kota Guzlan yang berhenti membayar upeti. Setelah melihat tidak ada harapan memenangkan peperangan, maka pemberontak menyerah dan mengharapkan belas kasihan. Tetapi Moulay as-Sharif 'memerintahkan setiap pria untuk dibunuh dan dipenggal '. lxxx perempuan dan anak-anak mereka tentu saja dibawa pergi sebagai budak.

----------------
xlvi Lal (1994), p. 48
xlvii Ibid, p. 49–51
xlviii Ibid, p. 51
xlix Gibb, p. 214
l Lal (1994), p. 51–52
li Elliot & Dawson, III, p. 297
lii Ibid, p. 53
liii Elliot & Dawson, Vol. III, p. 436–71; Bostom, p. 648–50
liv Lal (1994), p. 86
lv Ibid, p. 70–71
lvi Freishtah, Vol. I, p. 299–303
lvii Ibid, p. 303,306
lviii Lal (1994), p. 86
lix Babur JS (1975) Baburnama, trs. AS Beveridge, Sange-Meel Publications, Lahore, p.
370–71
lx Ferishtah, Vol. II, p. 38–39
lxi Nizami, p. 106
lxii Moreland, p. 92
lxiii Ibid, p. 92–93
lxiv Ibid, p. 88–89
lxv Lal, p. 116–117
lxvi Levi (2002), p. 283–84
lxvii Lal (1994), p. 255
lxviii Lal (1994), p. 117
lxix Ibid, p. 155
lxx Hasan M (1971) The History of Tipu Sultan, Aakar Books, Delhi, p. 362–63
lxxi Talib, SGS (1991), Muslim League Attack on Sikhs and Hindus in the Punjab 1947,
Voice of India, New Delhi, p. 201
lxxii Vantini G (1981) Christianity in the Sudan, EMI, Bologna, p. 65–67
lxxiii Ibn Warraq, p. 231
lxxiv Umayyad Conquest of North Africa, Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Umayyad_
conquest_of_North_Africa
lxxv Lal (1999), p103; Hitti (1961), p. 229-30
lxxvi Brodman JW (1986) Ransoming Captives in Crusader Spain: The Order of Merced on
the Christian-Islamic Frontier
, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, p. 2-3
lxxvii Hitti (1961), p. 316
lxxviii Reid (1988), p. 133
lxxix Lewis B (1994) Race and Slavery in the Middle East, Oxford University Press, Chapter
8, http://www.fordham.edu/halsall/med/lewis1.html
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Tue Feb 24, 2009 5:48 am

DITERJEMAHKAN OLEH KIMI07
Image

HAL 287-294

Guinea (Afrika, saat ini 85% Muslim) tunduk pada pemerintahan Muslim pada abad 18. Selama sisa abad ini, Guinea pantai atas memiliki ”kota budak” dengan penduduk sebanyak 1000 orang 'di bawah seorang kepala. Berkelana di negara Islam
Sierra Leone pada tahun 1823, Mayor Laing menyaksikan "kota budak" di Falaba, kota Salima Susu.lxxxi Budak2 ini bekerja dalam proyek-proyek pertanian kepala suku. Kerajaan Afrika Timur milik Sultan termasyhur, Sayyid Sa'id, dengan ibukota di Zanzibar (1806-56) 'didirikan di atas perbudakan ... budak dikirim ke pasar2 di Arab Selatan dan Persia sebagai pelayan domestik dan budak seks.' Lxxxii

Ronald Segal, yang bersimpati kepada agama Islam, lxxxiii bahkan menulis bahwa anak-anak Afrika berusia sepuluh hingga sebelas tahun ditangkap dalam jumlah besar untuk pelatihan militer untuk mengabdi pada pasukan Muslim. Dari Persia ke Mesir ke Maroko, tentara budak berjumlah 50.000-250.000 tentara menjadi hal biasa. :rolleyes: lxxxiv Sama seperti membesarkan tentara Janissary Ottoman (lihat pembahasan dibawah), Sultan Ismail Moulay biasa mengambil anak berusia sepuluh tahun dari peternakan budak-kulit hitam, mengebiri mereka dan melatih mereka menjadi pejuang yang setia dan ganas, bernama Bukhari, karena, mereka bersumpah setia pada sultan
dengan Sahih Bukhari. Yang terbaik dari para Bukhari ini menjabat sebagai pengawal pribadi sultan dan penjaga istana; sisanya bertugas mempertahankan setiap propinsi. 25.000 bukhari menjaga kotanya di Meknes, sementara 75.000 orang berjaga di kota garnisun, Mahalla.lxxxv

Menurut perkiraan Paul Lovejoy (Transformations in Slavery, 1983), sekitar DUA JUTA BUDAK diangkut dari Afrika dan
pantai Laut Merah ke Dunia Islam di abad 19 saja, dengan sedikitnya DELAPAN JUTA (diperkirakan tingkat kematian 80-90
persen) kemungkinan MATI dalam proses. Pada abad 18, diperkirakan 1.300.000 orang kulit hitam Afrika diperbudak. Lovejoy memperkirakan bahwa total sekitar 11.5120.00 budak dikirim dari Afrika ke dunia Islam pada abad 19, sementara perkiraan Raymond Mauvy (dikutip dlm Perdagangan budak di Afrika dari Abad 15-19, UNESCO, 1979) mengatakan jumlah total EMPPAT BELAS JUTA, yang juga termasuk ke 300.000 budak pada pertengahan pertama abad 20.lxxxvi
---
lxxx Milton, p. 143,169–71
lxxxi Rodney W (1972) In MA Klein & GW Johnson eds., Perspectives on the African Past, Little Brown Company, Boston, p. 158
lxxxii Gann L (1972) In Ibid, p. 182
lxxxiii Segal menekankan bahwa anti-Semit berada pada kondisi yang sangat bertentangan dengan hubungan damai antara nabi Muhammad dengan Judaisme dan Kristen. Dia menegaskan bahwa tidak ada sejarah konflik antara orang-orang Yahudi dan Muslim, meskipun beberapa konflik timbul setelah peristiwa perang salib (crusades). Pernyataan ini berlawanan dengan perintah pemusnahan dan pengucilan orang-orang yahudi di Madinah dan Khaybar. Juga perintah terakhirnya (Muhammad) ketika dalam kondisi menjelang kematiannya di tempat tidur untuk membersihkan Arab dari orang-orang Yahudi dan Kristen. Dia juga mendesak pengikutnya untuk membunuh orang-orang Yahudi sampai tidak tersisa satupun [Sahih Muslim, 41:6985]
lxxxiv Segal R (2002) Islam’s Black Slaves, Farrar, Straus and Giroux, New York, p. 55
lxxxv Milton, p. 147–150


Buku Murray Gordon yang berjudul Slavery in the Arab World menempatkan jumlah total kulit hitam dipanen oleh perampok budak Muslim sekitar SEBELAS JUTA orang, kira-kira setara dengan jumlah yang diambil oleh pedagang Eropa
untuk koloni dunia baru mereka. Pada akhir abad 18, karavan dari Darfur digunakan untuk transportasi 18.000-20.000 budak dalam satu perjalanan ke Kairo. Bahkan setelah perbudakan di Eropa dilarang thn 1815, dan menekan pemerintah2 Muslim
untuk menghentikan praktek tsb, 'Pada 1830, Sultan Zanzibar mendapatkan iuran dari 37.000 budak setahun; th 1872, 10.000-20.000 budak meninggalkan Suakin dan diberangkatkan ke Arabia. lxxxvii


'Dewshirme' Ottoman
Salah satu praktek yang sangat dikutuk dari perbudakan Islam adalah sistim Dewshirme, yg diperkenalkan oleh Sultan Ottoman/Usmani, Orkhan, di tahun 1330, yang mengumpulkan anak laki-laki Kristen yang berusia 7 hingga 20 tahun dari keluarga Kristen dan non-muslim di Kekaisaran Ottoman. Tentang kebijakan ini, Bernard Lewis mengutip sejarawan Usmani abad 16, Sadeddin (aka Hoca Efendi):
'Raja yang terkenal ... setelah berkonsultasi dengan menteri2 negara, hasilnya disini adalah, bahwa untuk waktu yang akan datang, harus ada pilihan dari pemuda2 yang gagah berani dan rajin, dari anak-anak kafir, cocok untuk pelayanan ini, yang seharusnya juga digerakkan oleh iman Islam, untuk membuat mereka kaya dan religius, yang mungkin juga salah satu cara untuk menaklukkan benteng-benteng orang-orang kafir ". lxxxviii

Dibawah sistim ini, anak-anak non-muslim, terutama Kristen, dipilih dari Yunani, Serbia, Bulgaria, Georgia, Macedonia, Bosnia dan Herzegovina, Armenia dan Albania yang berada di bawah pemerintahan Ottoman. Pada tanggal yang ditentukan, ayah-ayah non-muslim (terutama Kristen) membawa anak-anak mereka ke sebuah lapangan umum yg sudah ditentukan.

Agen2 perekrutan Muslim biasanya memilih anak yang sehat, kuat dan tampan. Setelah Sultan Mehmet II menaklukkan Konstantinopel pada tahun1453, Dewshirme mengalami kemajuan pesat seperti dicatat Stephen O'Shea: "... menyusul penaklukan (Konstantinopel),Fatih (sang penakluk) memperluas sistim kejam, devshirme, atau sistem ”pengumpulan”, dimana pemuda Kristen diculik dan dibawa ke ibukota ... beberapa tahun sekali para perekrut Ottoman, disertai oleh tentara, turun ke desa-desa dan ... memilih anak laki-laki petani yang paling berpotensi dan direbut
dari saudara dan teman bermain mereka (dgn cara membunuh saudara2 mereka itu)’. lxxxix Jumlah anak yang dikumpulkan sebagai bagian dari Dewshirme berbeda-beda: "Beberapa ulama memberikan angka tinggi hingga 12.000 setahun, yang lain sekitar 8000, tetapi ada kemungkinan rata-rata minimal 1.000 setahun. Xc

Anak2 ini adalah yang terbaik dari orang Kristen, Yahudi dan anak-anak Gypsy yang disunat dan masuk Islam dan didoktrin dengan ideologi Jihad dari usia dini. Mereka dilatih secara cermat untuk berjihad dan bertugas dlm unit tentara Ottoman khusus, yaitu resimen Janissary. Dilarang menikah dan dikurung dalam barak mereka, mereka dipersiapkan untuk menjadi prajurit maut untuk berjihad melawan kafir, saudara2 seagama mereka di masa lalu.

Kebijakan ini memberikan keuntungan bagi Ottoman. Penguasa Muslim tadinya frustrasi karena berulang kali gagal menaklukkan Konstantinopel -pusat kerajaan Kristen- sejak zaman Khalifah Muwabiya (wafat 680). Dalam banyak upaya prematur mereka untuk menguasai Konstantinopel, mereka seringkali menderita kekalahan. Akhirnya, Janissaries meluncurkan serangan yang sangat efektif terhadap Konstantinopel pada tahun 1453 dan mengalahkannya, memenangkan hadiah terbesar bagi agama Islam. Sultan Mehmet II mempersilahkan Janissari untuk menjarah kota dan membantai teman seagama mereka dahulu, terutama Kristen, selama tiga hari. Mereka yang selamat diperbudak. Selanjutnya, prajurit yang direkrut kedalam resimen Janissary tidak lagi pandang bulu, termasuk Muslim dan banyak Sufi bersama orang-orang yang dikumpulkan sebagai bagian dari Dewshirme. Disiplin dan ketegaran secara bertahap menurun dalam resimen, juga ditandai dengan penurunan kekuasaan Usmani.

Lembaga Dewshirme mengungkap fakta bagaimana dunia Islam diperluas dengan memanfaatkan tenaga kafir untuk menaklukkan wilayah kafir lebih luas. Mencontoh sistim Dewshirme, Sultan Firoz Tughlaq di India (berkuasa 1351-88) mengadakan perekrutan anak-anak Hindu dengan gaya serupa. Dia memerintahkan kepada pejabat provinsi dan jendral-jendral untuk menangkap budak dan memilih yang muda dan yang terbaik untuk dikirim ke istananya. Dengan cara ini ini, ia menghimpun 180.000 anak-anak sebagai budak.xci

Kritik terhdp sistim Dewshirme: skema jahat Dewshirme milik Ottoman ini, dihapuskan di tahun 1656, setelah dikritik keras karena cara2 penculikan budak dgn membunuh teman2 mereka. Akan tetapi, Usmani ortodoks, yang menyusun undang-undang mereka sesuai dengan Hukum syariah Sunni, membenarkan sistim Dewshirme dengan Quran dan hukum Islam.

Quran 8:42 berkata, 'Ketahuilah bahwa apapun yang kamu dapatkan (rampasan perang), seperlima itu untuk Allah dan untuk Rasul ... ' Seperlima dari rampasan yang diperoleh dari kafir dalam perang, dialokasikan kepada Allah dan utusan-Nya, pada awalnya jatuh kpd Nabi Muhammad dan kpd kepala perbendaharaan dari negara Islam yang baru muncul. Setelah kematiannya, bagian ini diperoleh oleh kalifah. Minimal seperlima dari semua yang dihasilkan dari Dhimmi dikumpulkan sebagai kharaj dibawah kebijakan perpajakan yang diresmikan oleh Khalifah Umar, walaupun jumlah ini sering dinaikkan di bawah keadaan khusus atau oleh penguasa Muslim yang tidak karuan.

Sejak, anak-anak yang baru lahir dari kafir juga adalah jenis produk dari negara, lembaga Dewshirme dibenarkan
dalam hukum Islam. Nabi sendiri telah menetapkan contoh mendapatkan anak-anak Kristen ketika ia melarang anak-anak suku Taghlib untuk tidak membaptis anak-anak mereka. Selanjutnya, Khalifah Umar memerintahkan suku Taghlib lain agar 'tidak menandai anak-anak mereka (dengan salib di pergelangan tangan atau lengan mereka) dan tidak memaksa mereka pada agama mereka (yaitu, tidak membaptis mereka) ". xcii Akibatnya, anak-anak masuk darul Islam. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Nabi dan Khalifah Umar mengambil semua anak-anak dari suku Taghlib, sementara Usmani hanya mengambil sebagian dari mereka melalui Dewshirme.

Dengan adanya ayat Quran dan sunnah nabi, Khalifah yang benar Usman telah mengesahkan sistim Dewshirme dengan memaksa Kristen Nubian untuk mengirimkan upeti budak ke Kairo (652-1276). Perjanjian serupa juga telah disahkan oleh Umayyah dan Abbasiyah sebagai khalifah seperti telah dikutip. Kebijakan Dewshirme, oleh karena itu, bukan penemuan Usmani. Selain itu, kebijakan ini jelas jauh lebih manusiawi dari protokol Nabi Muhammad menangkap budak seperti diterapkan pada orang-orang Yahudi Bani Qurayza dan Khaybar dll, dimana dia membunuh semua laki-laki dewasa dan memperbudak perempuan dan anak-anak: sebuah protokol yang disetujui oleh Allah [Quran 33:26-27]. Selama abad penaklukan dan kekuasaan Islam, protokol perbudakan Nabi Muhammad , jauh lebih kejam dan biadab daripada Dewshirme, yang biasa diterapkan. --------------SEKIAN DULU PEMERIKSAAN ADMIN


STATUS BUDAK

Menurut Ibn Warraq:
Di bawah Islam, budak tidak memiliki hak apa-apa, mereka dianggap ”barang” belaka, milik tuan mereka, yang dapat mereka buang dengan cara apapun yang ia pilih -dijual, hadiah dll. Budak tidak dapat menjadi wali atau pelaksana wasiat, dan apa yang mereka hasilkan adalah kepunyaan tuan mereka. Seorang budak tidak dapat memberikan kesaksian dalam persidangan. Bahkan stelah masuk Islam, seorang budak non-muslim tidak berarti bahwa dia secara otomatis merdeka. tidak ada kewajiban dari pemilik untuk membebaskannya. xciii


Maka akan terlihat bahwa di bawah hukum Syariah hamba-hamba berada di antara daftar properti umum dan komoditas, dan ditetapkan aturan dan panduan yang berlaku bagi mereka untuk dijual sebagai sebuah aturan perdagangan. Setelah membeli budak, jika tuan menemukan ada cacat di dalam dirinya, ia dapat memukul dan menyiksanya tanpa meninggalkan luka atau tanda yang terlihat. Menurut fatwa - i-Alamgiri, Majikan dapat mengembalikan budak ke penjual dengan kompensasi penuh selama pemukulan dan penyiksaan tidak menyebabkan cedera permanen. e Hedayah, kompendium abad kedua belas dari hukum Hanafi, memberitahu kita bahwa ampultasi dari seorang budak untuk pencurian merupakan praktek umum yang diakui oleh hukum. 'Meskipun Islam merekomendasikan perlakuan baik terhadap budak, dianggap sebagai kematian alami jika majikan membunuh budaknya.xciv

xcii Al-Biladhuri AY (1865) Kitab Futuh al-Buldan, Ed. MJ De Geoje, Leiden, p. 181
xciii Warraq, p. 203
xciv Lal (1994), p. 148

Dalam penyerangan yang mereka menangkan dari kafir, Tentara Jihad Muslim sering membantai semua tawanan laki-laki usia mampu membawa senjata (yang dapat menyebabkan ancaman keamanan dengan penyerangan kembali nanti) memperbudak dan perempuan dan anak-anak, yang biasanya harus memeluk agama Islam. Mengenai pembantaian dari tawanan, Hedayah berkata, 'Imam (penguasa), sehubungan dengan tawanan, memiliki pilihan untuk membunuh mereka, karena Nabi menempatkan tawanan sampai mati, dan juga karena, membantai mereka mengakhiri kejahatan mereka.’ perempuan dan anak-anak Yang tidak memberikan ancaman ini umumnya diperbudak, ucap Hedayah, 'Karena dengan mempembudak mereka (untuk kemudian masuk ke Islam), kejahatan mereka diperbaiki; dan pada saat yang sama, umat Islam yang menuai keuntungan (dengan memanfaatkan tenaga mereka dan bertumbuh jumlahnya) ... 'xcv

Pemikir Islam terkenal Ibn Khaldun (wafat 1406), yang bahkan dipuji oleh banyak sarjana Barat, xcvi menjelaskan profesi dari perbudakan dengan kebanggaan agama: "... [tawanan] yang dibawa dari Rumah Perang ke Rumah Islam di bawah aturan perbudakan, yang menyembunyikan diri dalam sebuah takdir ilahi; disembuhkan oleh perbudakan, mereka memasuki agama Muslim dengan ketetapan hati yang kuat dari orang-orang yang benar ... 'xcvii Dalam Bakhtiyar Khilji mengalahkan Kol di tahun 1194, yang 'bijaksana dan manis' di antara orang yang terkepung, seperti sudah dicatat, adalah masuk Islam, tetapi orang-orang yang tetap pada agama mereka telah dibantai. Di sini 'Bijaksana dan manis' berarti orang-orang yang cepat menerima Islam untuk menghindari pedang dan menjadi budak. Hedayah menegaskan bahwa meskipun tawanan telah menjadi Muslim, 'Dia (imam) dapat secara hukum membuat mereka menjadi budak karena alasan menjadikan budak (yakni, yang kafir) telah terjadi sebelum mereka memeluk Islam. Lain halnya jika kafir menjadi umat Islam sebelum mereka ditangkap ... 'xcviii

PENDERITAAN BUDAK
Tidak diragukan lagi, menurunkan derajat manusia menjadi seperti hewan ternak tuli dan bisu menyebabkan luka dalam psikologis dan mental, plus kehilangan martabat, kehormatan dan harga diri, untuk korban. Selain itu, umumnya penawan Muslim biasanya mengejek dan mempermalukan tawanan dengan mempetujukan mereka di alun-alun publik. Mereka yang bangsawan dan bermartabat yang biasanya sendirian dipermalukan dan dihina. Misalnya, Sultan Mahmud membawa memperbudak Raja Hindu Jaipal dari Kabul ke Ghazni dan memperlakukannya dengan penghinaan ekstrim. Dalam sebuah pasar budak, di mana dia dilelang seperti budak biasa; ia dipertontonkan agar anak-anaknya dan kepala suku dapat melihat dia dalam kondisi yang memalukan, terkekang dan memalukan ...
---
xcv Hughes TP (1998) Dictionary of Islam, Adam Publishers and Distributors, New Delhi,
p. 597
xcvi British historian Toynbee menuliskan Muqaddimah nya sebagai berikut “tidak dapat disangsikan pekerjaan besar dari jenisnya yang dapat di ciptakan oleh sebuah pikiran di waktu atau tempat. Bernard Lewis dibukunya The Arabs in History menyebut dua “sejarahwan besar dunia Arab dan mungkin sejarahwan pemikir terbesar tentang abad pertengahan
xcvii Lal (1994), p. 41
xcviii Hughes, p. 597


membebankan kepadanya penghinaan publik dari 'pergaulannya dalam satu kehambaan.''xcix Memilih kematian daripada hidup dengan kehinaan ekstrim seperti itu, Jaipal melakukan bunuh diri dengan cara melompat ke dalam api.

Nasib para budak adalah sama atau bahkan lebih parah di mana-mana pada akhir periode. Pada akhir dari pemerintahan Moulay Sultan Ismail dari Maroko (wafat 1727), tawanan kulit putih, yang tertangkap di laut, dirantai setelah mereka tertangkap dan berbaris teratur melalui kota pada kedatangan mereka di pantai atau kota. Sejumlah besar orang berengsek biasanya berkumpul untuk mengutuk dan mengejek mereka dan memberikan kepada mereka semua jenis hinaan, sikap bermusuhan. Menurut tawanan Inggris George Elliot yang tertangkap di sebuah kapal, ketika dibawa ke pantai, ia dan awak kapal lainnya dikelilingi oleh “beberapa ratus pemalas, orang kasar dan anak-anak nakal 'yang membuat teriakan tidak berperikemanusiaan pada mereka dan mereka dipaksa'' seperti kumpulan dari domba melalui jalan-jalan. 'c

Rasa sakit dan penderitaan terbesar yang harus di tanggung budak secara fisik adalah:
kelaparan, haus dan penyakit. Rasa sakit dan penderitaan fisik dimulai segera setelah ditangkap dan terus sampai mereka tiba di tempat tujuan. Tujuan yang seringkali terletak jauh ribuan mil di luar negeri, di mana mereka seperti digiring seperti hewan ternak melalui medan sulit. Tawanan biasanya terikat dengan rantai sampai terjual pada tuan akhir mereka. Terkadang, seorang budak pindah tangan sampai dua puluh kali.

Contoh bagaimana perjalanan dimulai untuk budak dapat ditemukan pada deskripsi dari perbudakan Raja Jaipal oleh Sultan Mahmud. Menurut al-Utbi, anak dan cucu nya (Jaipal), keponakannya, pemimpin-pemimpinnya, kerabatnya, diambil menjadi tahanan, dan diikat kuat dengan tali, dan dibawa sebelum Sultan seperti orang-orang pelaku kejahatan ... Beberapa dipaksa lengan mereka terikat ke belakang mereka, ada yang diikat pada leher, beberapa digerakkan oleh pukulan pada leher mereka. 'ci

Harus dipahami bahwa Sultan Mahmud kadang-kadang menghabiskan beberapa bulan pada kampanye di India menangkap budak berjumlah puluhan hingga ratusan ribu di sepanjang jalan. Para tawanan, diikat bersama-sama dalam kondisi tidak nyaman dan menderita sekali, yang kemudian digerakan ke kotanya di Ghazni, ratusan ribu mil jauhnya. Mayoritas budak ini biasanya perempuan dan anak-anak yang lemah, yang harus berjalan kaki telanjang di bawah kondisi tidak nyaman melalui medan berat dan hutan-hutan, kadang-kadang selama berbulan-bulan. Saat Timur memulai ekspedisi ke India, itu berlangsung empat-lima bulan (Sept 1398 ke Jan 1399). Sepanjang jalan, ia telah mengumpulkan 100.000 budak sebelum mencapai Delhi; mereka akan digerakan untuk kembali ke kotanya Samarkhand di Asia Tengah. Kembali pada jalan pulang dari Delhi, dia mengambil lagi 200.000 atau lebih budak dan mengiring mereka ke Samarkhand, ribuan mil jauhnya.

Contoh-contoh ini jelas mengarah ke tekanan fisik yang besar, sakit dan penderitaan yang harus dipikul tawanan. Mereka yang gagal untuk menjaga langkah, karena kelemahan dan kelelahan fisik, menerima pemukulan agar mereka tetap berjalan.

----------------
xcix Lal (1994), p. 22
c Milton, p. 65–66
ci Lal (1994), p. 22


Ada sedikit jaminan bahwa jumlah tawanan mendapatkan cukup makanan dan air di sepanjang jalan. Mereka yang jatuh sakit tentu saja tidak menerima perawatan medis yang diperlukan. Jika mereka gagal menahan sakitnya, mereka ditinggalkan setengah hidup hingga mati sendiri di padang gurun dalam keadaan sakit parah atau menjadi santapan oleh binatang liar.

Penderitaan dari tawanan telah diceritakan dengan gamblang seorang saksi mata saat Ulugh Khan Balban melakukan serangan ke Raja Kanhardeva dari Jalor (Rajasthan), didokumentasikan oleh Prabandha, seorang penulis India abad abad kelimabelas. Merujuk kepada banyaknya perempuan dan anak-anak yang diambil menjadi budak, terikat dan berhimpitan bersama, penulis menulis:
'Selama hari itu, mereka jenuh pada matahari yang amat panas, tanpa bayangan atau tempat berteduh bagi mereka (di padang pasir Rajasthan) dan dingin menggigil di malam hari di bawah langit terbuka. Anak-anak, berlinang air mata jauh dari susu ibu dan rumah mereka, menangis. Setiap tawanan tampaknya sengsara seperti satu sama lainnya. Telah mengeliat dalam penderitaan karena kehausan, kelaparan yang pedih ... ditambahkan ke penderitaan mereka. Beberapa orang tawanan sakit, beberapa tidak bisa duduk. Beberapa tidak memiliki sepatu untuk melindungi kaki dan pakaian untuk di pakai ...''


Dia menambahkan:
"Beberapa memakai borgol besi pada kaki. terpisah satu sama lain, mereka berhimpitan bersama-sama dan terikat dengan tali tersembunyi. Anak-anak dipisahkan dari orang tua, isteri dari suaminya, dilemparkan terpisah oleh serangan kejam ini. Tua dan muda terlihat mengerang sekarat, sekeras ratapan yang timbul dari bagian di perkemahan dimana mereka semua berhimpitan ... menangis dan meratap, mereka berharap ada keajaiban yang mungkin dapat menyelamatkan mereka sekarang. 'cii


Ini hanya sebuah catatan dari awal beberapa hari dari penderitaan. Tidak akan sulit menebak bagaimana tawanan yang sangat menderita ketika mereka harus melakukan perjalanan ribuan mil sebulan lebih untuk mencapai ibukota asing dari: Sultan Mahmud, Muhammad Ghauri dan Amir Timur. Kasus serupa terjadi dengan budak hitam dari Afrika, yang harus menempuh perjalanan jarak jauh dalam kondisi menderita seperti itu untuk menjangkau pasar di Tengah Timur dan bahkan India. Penderitaan berat tawanan Eropa, tertangkap di laut oleh bajak laut barbar, yang bertahan akan memberikan gambaran umum dari pengalaman dan penderitaan mengerikan mereka. Ketika Sultan Moulay Ismail mengambil alih kota benteng Taroudant, sebuah perbatasan luar Prancis, di tahun 1687 dan membunuh penduduk dengan pedang, 120 warga negara Prancis yang ditemukan disana diperbudak, sebuah hadiah berharga untuk sultan. Setelah mereka ditangkap, mereka mengacau, dan menolak makanan selama seminggu. Ketika mereka mulai menangis untuk makanan, maka sultan memerintahkan mereka untuk berjalan berbaris panjang ke ibukotanya di Meknes. Salah satu budak, Jean Ladire, kemudian menceritakan perjalanan menakutkan sepanjang 300 mil biarawan Perancis, Dominique Busnot. Terikat dan terbelengu mereka dikumpulkan bersama, mereka menderita sakit dan kelelahan; beberapa di antaranya jatuh mati. Kepala orang mati di potong dan yang masih hidup harus membawa kepala mereka, karena penjaga mereka takut kepada sultan yang kejam akan menuduh mereka menjual tawanan yang kurang atau membiarkan mereka kabur.ciii

Setelah mereka ditangkap, budak ditempatkan dalam kondisi menyedihkan di gua bawah tanah yang buruk, disebut matamores di Afrika. Setiap matamore ditempati lima belas hinga dua puluh budak; di dalam, satu-satunya sumber udaran dan ventilasi berasal dari jeruji besi di atap lantai.
cii Ibid, p. 54–55
ciii Milton, p. 34


Di musim hujan, air hujan tercurah melalui jeruji dan membanjiri lantai. Di hari pasar seminggu sekali, mereka di lelang. Para tawanan harus naik melalui jeruji ini dengan bantuan tali yang disimpulkan. Mereka sering harus menghabiskan berminggu-minggu di bawah tanah ini. tawananGermain Mouette saat hidup mengerikan di matamores air dan kotoran sering meluap ke lantai dari tanah berlumpur di musim hujan. 'biasanya air setinggi lutut di lantai selama enam bulan, sehingga sulit tidur. Untuk tidur, mereka biasa membuat beberapa tempat tidur gantung dari tali digantung oleh paku, satu di atas yang lainnya, yang terendah hampir menyentuh air. Sering kali, yang paling tinggi akan jatuh menyebabkan smua yang dibawahnya ke dalam air, mereka akan menghabiskan sisa malam berdiri dalam air dingin.

Ruang bawah tanah biasanya begitu kecil dan sempit sehingga mereka terpaksa untuk berbaring melingkar dengan kaki bertemu di tengah. 'Tidak ada lagi ruang tersisa selain untuk memegang sebuah wadah dari tanah untuk memudahkan mereka di dalamnya, 'tulis Mouette. Lembab selama musim panas , matamores, dengan begitu banyak orang berjejal di dalamnya, menjadi 'kotor, pengap dan penuh dengan kutu 'dan' menjadi tempat yang sangat tidak nyaman ketika semua budak berada di dalam dan menjadi hangat, 'terus Mouette, menambahkan bahwa kematian adalah berkah yang melegakan bagi tahanan.civ ini adalah kondisi umum hidup budak di Afrika Utara berabad-abad. Sekitar satu abad sebelumnya, tahanan Inggris Robert Adams, ditangkap tahun 1620an, dapat mengirim surat kepada orang tuanya di Inggris, menceritakan kondisi hidup dalam hamba-pena Sultan Moulay Zidan (1603-27); adalah ”sebuah penjara gelap bawah tanah di bawah tanah, di mana sekitar 150-200 dari kami berbaring bersama, tidak ada cahaya yg cukup, tetapi hanya lubang kecil '. Pakaian dan rambutnya kasar, ditambahkan Adams,' yang penuh dengan kutu dan tidak membiarkan untuk mengambil sendiri ... aku hampir dimakan oleh mereka. 'cv

Para tawanan, di tempatkan di matamore yang penuh sesak, menerima sangat sedikit makanan, seringkali hanya roti dan air. Pada hari pelelangan, mereka didorong seperti binatang liar, dicambuk dan digiring ke pasar. Di pasar lelang, mereka berdesakan melewati keramaian dari satu pedagan ke yang lain. Mereka harus melompat dan menunjukkan kekuatan mereka dan ketangkasan dan jari ditusukkan ke telinga dan mulut mereka menyebabkan pertunjukan yang menghinakan pada tawanan yang hina, cvi yang adalah pria merdeka terhormat beberapa hari sebelumnya.

Penderitaan budak tidak berhenti setelah mereka tiba di kediaman tuan mereka. Thomas Pellow, warga Inggris yg ditawan selama dua belas tahun, tertangkap diatas sebuah kapal, dibeli Sultan Moulay Ismail dan berakhir di istana kerajaan. Ketika Pellow dan sahabat-nya, berjalan 120 mil melalui gurun, mencapai ibukota, mereka disambut oleh cemooh dan kelompok Muslim yang memusuhi berkumpul di luar istana untuk mengolok-olok dan menghina orang Kristen yang mereka benci. keramaian berteriak tidak terkendali, mengejek dan berusaha untuk memukul mereka saat mereka berjalan menuju ke istana. Walaupun dijaga oleh prajurit sultan, banyak di kerumunan mampu meninju dan memukul dan menarik rambut mereka.cvii

civ Ibid, p. 66–67
cv Ibid, p. 20
cvi Ibid, p. 68–69
cvii Ibid, p. 71–72
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:30 pm

Kapling bab VII
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Re: BUKU : Jihad & Imperialism Islam (juga di ASIA TENGGARA)

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:30 pm

Kapling bab VII
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Re: BUKU : Jihad & Imperialism Islam (juga di ASIA TENGGARA)

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:30 pm

Kapling Bab VII
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Re: BUKU : Jihad & Imperialism Islam (juga di ASIA TENGGARA)

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:31 pm

Kapling bab VII
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Re: BUKU : Jihad & Imperialism Islam (juga di ASIA TENGGARA)

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:31 pm

Kapling bab VII
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Re: BUKU : Jihad & Imperialism Islam (juga di ASIA TENGGARA)

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:33 pm

kaping bab VII
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

Re: BUKU : Jihad & Imperialism Islam (juga di ASIA TENGGARA)

Postby FFI Admin » Sun Mar 01, 2009 9:34 pm

DITERJEMAHKAN MANGGA MANIS


Bab VIII/ KATA PENUTUP (hal. 353 s/d 357)

Buku ini telah memperlihatkan dengan jelas bahwa doktrin Jihad yang diwahyukan oleh Allah dalam Qur’an memang mengajarkan (pertama-tama) pemaksaan agama, khususnya buat penyembah-penyembah berhala, (kedua) mengejar kekuasaan dalam skala dunia dengan tujuan penindasan ekonomi terhadap non-Muslim dan (ketiga) melestarikan praktek perbudakan, yang termasuk didalamnya perdagangan budak dan budak sex. Perintah-perintah ilahi dari Allah ini dijalankan dengan penuh hati oleh Nabi Islam. Dengan pedang, dia memaksa orang-orang Arab yang polytheis untuk masuk Islam, menciptakan negara Arab pertama yang berkuasa dengan mengusir dan membunuh orang-orang Yahudi yang tidak tunduk kepadanya dan memperbudak begitu banyak wanita dan anak-anak Yahudi dan orang-orang Polytheis. Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya menyimpan banyak wanita muda yang cantik sebagai budak sex dan selir; dia juga menjual beberapa dari budak wanitanya. Kalifah-kalifah dan raja-raja Muslim, setelah itu, menggunakan dan mengembangkan pola-pola ini tepat seperti yang dicontohkan oleh tingkah laku nabi ini dan mendirikan kerajaan Islam yang bertumbuh besar.

Semua perintah dari Qur’an termasuk Jihad berlaku setiap saat. Oleh sebab itu kebiasaan Islam yang suka memaksakan agama, yang haus akan kekuasaan dan yang suka memperbudak –jika perintah Allah musti ditaati– harus dipertahankan selamanya. Untuk kebiasaan memaksakan agama, hal itu akan terus dilakukan sampai tidak ada kafir lagi yang tersisa. Walaupun semua orang di dunia telah memeluk Islam, akan selalu ada Muslim yang membangkang yang murtad. Jadi secara teknis, paksaan masuk Islam tidak akan berhenti sampai kiamat. Mengenai kebiasaan suka memperbudak, hal ini juga tidak akan pernah berhenti walaupun seluruh dunia masuk Islam. Mereka yang meninggalkan Islam dengan jalan murtad akan selalu menjadi sasaran yang sah untuk dibantai atau untuk diperbudak. Sebagai tambahan, hukum Islam menyatakan bahwa kafir yang masuk Islam setelah tertangkap saat perang adalah seorang budak untuk selamanya. Anak seorang budak adalah budak juga. Itu sebabnya, suka memperbudak orang, adat ilahi yang diturunkan Allah ini, akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan umat manusia selamanya. Mengenai adat (kebiasaan) Islam yang ingin selalu menguasai, melestarikan adat Islam yang mendunia ini merupakan tujuan akhir Allah.

Perintah Allah akan Jihad –dipeluk erat oleh seorang penyendiri yang bernama Nabi Muhammad– membuahkan hasil yang mencengangkan dalam waktu 14 abad belakangan ini. Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya telah memaksa puluhan juta kafir masuk Islam dengan jalan menyakiti mereka sampai mati, dengan cara perbudakan dan juga paksaan masuk Islam dengan tekanan ekonomi yang berat. Jumlah Muslim sekarang ada sekitar 1,4 Milyar orang atau lebih dari 20 persen penduduk dunia. Sudah banyak sekali bukti yang dapat dilihat bahwa Muslim tetap melakukan praktek-praktek perbudakan –termasuk perdagangan budak dan budak sex– dalam skala yang sangat besar sampai abad ke 20 (saat ini). Dan tentunya, kebiasaan Islam yang haus akan kekuasaan, yang terus berlangsung di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara, Bangladesh dan Pakistan sejak Islam mula-mula, akan terus menjadi kebiasaan Islam yang tdak akan pernah hilang.

Sejak jaman Renaissance, orang-orang Kristen Eropa, yang mengalami peningkatan-peningkatan (di berbagai bidang) dibandingkan dunia Islam, memang membiarkan siasat perang Jihadnya Allah yang dibuat untuk membangun kekuasaan Islam yang mendunia dan siasat ini dibuat seolah-olah seperti berkat untuk umat manusia yang dapat diperoleh dengan jalan percaya kepada kesempurnaan Islam. Eropa memang membiarkan misi Allah ini terjadi 3 kali: pertama pada Perang Tours (732) dan 2 kali pada peristiwa Gerbang Vienna melawan Ottoman (1527 & 1683). Eropa bahkan pernah mengalami pukulan yang lebih berat lagi dari misi ilahi Allah ini ketika mereka berusaha merebut kembali tanah mereka yang diambil oleh Muslim lewat cara Jihad yang berbahaya ini selama berabad-abad. Di tempat-tempat seperti Turki dan Iran dimana orang-orang Eropa tidak secara langsung menguasainya, mereka mengangkat pemimpin dari negara-negara itu untuk mewakili mereka.

Dengan dikalahkannya kekuatan Islam oleh kekuatan Eropa, ini juga merupakan pukulan bertubi-tubi terhadap pernyataan ilahi Jihad ini. Imperialisme Eropa tidak hanya mengakhiri dominasi politik Islam dan penyebarannya, mereka hampir menghapuskan semua siasat Jihad: kebiasaan pemaksaan agama dan praktek perbudakan, perdagangan budak dan budak sex. Jihad yang adalah konsep utama Islam secara praktis telah mati. Saat dimana imperialis Eropa akhirnya menarik diri, banyak tanah-tanah yang tadinya direbut secara kepahlawanan dan oleh darah Jihadis yang diurapi Allah berubah menjadi tanah-tanah yang dikuasai oleh kafir, contonhya adalah India. Ini merupakan kerugian besar bagi Islam.

Akan tetapi cara-cara dari Allah yang maha kuasa ini tidak dapat terus dijinakkan atau dimusnahkan oleh kekuatan manusia yang terbatas. Orang-orang yang diurapi Allah terus menjunjung tinggi semangat Jihad terhadap penguasa Eropa sejak Eropa menarik diri pada abad ke 20. Tetapi karena imperialis Eropa ini telah membuat siasat dan rezim yang berbeda, contohnya dengan membuat hukum internasional, menegakkan hak asasi manusia, menghapus praktek perbudakan dan banyak hal lagi –semuanya itu menghalangi pelaksanaan siasat Jihad untuk penyebaran Islam secara cepat. Di abad ke 19 dan diawal abad ke 20, Eropa juga membuka pintu bagi pelajar-pelajar Muslim dari keluarga berada untuk masuk universitas-uinversitas disana. Adalah hal yang baik jika mereka belajar ilmu pengetahuan dan mendapatkan keahlian untuk membuat senjata yang dapat digunakan untuk melawan kekuatan Barat. Tetapi kebanyakannya, mereka kembali ke negara asal mereka dengan doktrin-doktrin yang tidak Islamiah – sekulerisme, menghargai hak asasi manusia, feminisme dan banyak lagi yang memang bertentangan dengan doktrin Jihad. Iran dan Turki, 2 kekuatan besar Muslim, menjadi budak dari ajaran asing yang non-Islam ini dan membuka diri untuk sekulerisme dan benar-benar meninggalkan pikiran Jihad.

Tetapi apa yang terjadi kemudian, Allah itu Maha Licik kata Qur’an; Dia punya kuasa dan cara untuk menggagalkan siasat manusia dan untuk menjadikan misi-Nya berhasil. “Sesungguhnya mereka (kafir) akan membuat siasat. Dan Aku (juga) akan membuat siasat,” Qur’an mengingatkan kepada mereka yang membuat persekongkolan terhadap Dia [Qur’an 13:42]. Rezim Iran yang tergila-gila dengan Barat telah dijatuhkan oleh Ayatollah. Ideologi Kemal yang sekuler di Turki akan ditinggalkan tidak lama lagi. Jihad dengan seluruh kekuatannya berperan aktif di Iran sejak 3 dekade belakangan ini, dan hal ini walaupun dengan perlahan juga mulai menguasai Turki.

Di bagian lain benua, semangat Jihad dari banyak penduduk Muslim yang selama ini dapat ditekan oleh Inggris menjadi bebas beraksi lagi sejak kejadian Pembagian Tanah (1946-48). Beberapa juta Hindu & Sikh dipaksa masuk Islam atau dianiaya sampai mati dan puluhan ribu wanita-wanita mereka dijadikan budak dan diambil dari mereka. Bahkan sampai hari ini, perbuatan ini tetap dijalankan tapi dengan memakai cara/bentuk yang berbeda. Di Pakistan, sebagai contoh, ratusan Hindu, Sikh dan Kristen dipaksa untuk memeluk Islam dan lusinan anak perempuan mereka diculik untuk dijadikan budak setiap tahun. Kalau mereka melawan, mereka akan menghadapi aniaya sebagai ganjarannya atau mereka diusir keluar dari komunitas oleh penduduk setempat, ini semua mengakibatkan penurunan tajam jumlah mereka (Hindu, Sikh & Keristen). Cara-cara penindasan seperti ini juga dilakukan di negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, Mesir, Palestina dan di hampir semua negara-negara Islam.

Dalam hal perbudakan, memang sudah dicatat bahwa praktek perbudakan itu masih dilakukan dan tumbuh subur di Arab Saudi tapi dengan cara/bentuk yang berbeda-beda. Praktek perbudakan meluas di Mauritania, sedangkan di Sudan mulai ada perubahan sejak pertengahan tahun 80’an setelah Islam berkuasa sebelumnya. Kekuasaan Islam juga diperluas dengan berbagai cara: salah satunya dengan membentuk negara Muslim baru seperti di Kosovo. Cara-cara perluasan daerah yang sama kemungkinan akan dilakukan di Kashmir, Mindanao dan Thailand Selatan. Doktrin Jihad, dengan segala komponennya yang ada –pemaksaan agama, keinginan menguasai dan perbudakan– akan terus berlangsung secara alami. Sampai hari ini, Jihad tetap mempertahankan karakternya yang dari dulu.

Kesimpulannya, konsep ilahi Allah tentang Jihad dengan segala komponennya masih tetap ada dan tumbuh subur saat ini. Di masa-masa yang akan datang, siasat Jihad yang diagungkan ini akan lebih terang lagi. Di masa yang lampau dan lewat periode dominasi Islam, Allah memberikan bantuan kepada Jihadis yang diurapi dengan mengguyur mereka dengan kekayaan dan harta karun orang-orang kafir dan juga (Allah) membuat mereka menang dalam peperangan yang kelihatannya sulit bahkan mustahil untuk menang dengan bantuan malaikat-malaikat. Saat kekuatan malaikat tidak lagi efektif menghadapi kekuatan hebat senjata-senjata yang diciptakan oleh orang-orang kafir, Allah datang dengan bantuan baru berupa emas hitam, warisan kekayaan bawah tanah yang melimpah ruah di banyak negara Islam –Arab Saudi, Kuwait, Iraq dan Iran adalah yang termasuk paling banyak mendapat warisan kekayaan ini. Kebutuhan akan emas hitam untuk memutar roda dunia begitu besarnya sehingga seluruh dunia, termasuk Barat yang adidaya, seperti menjadi tawanan dari penghasil produk penting ini yang kebanyakan adalah negara-negara Islam. Harga yang melonjak dari emas cair ini sejak tahun 70an membuat negara-negara Muslim tersebut, khususnya Arab Saudi, seperti diguyur oleh kekayaan yang mereka tidak bisa dapatkan dari praktek-praktek Jihad yang dilakukan dimasa yang lampau.

Arab Saudi, sebagai penjaga tempat lahirnya Islam yang diberkati, dengan bantuan Allah ini telah menghamburkan milyaran dolar setiap tahunnya untuk memajukan Islam yang “murni” ke seluruh dunia. Mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah yang menjamur di seluruh dunia, termasuk di Barat, digunakan untuk melatih otak Muslim dengan ajaran Islam yang murni itu. Dengan berdasarkan pengalaman penting nabi Muhammad di Medina, nabi menegaskan bahwa Jihad adalah inti ajaran Islam. Muslim menerima intisari ajaran ini dengan sangat baik. Osama Bin Laden telah menanamkan (kedalam Jihad/Islam) sebagian besar kekayaannya yang didapat dari ayahnya yang seorang pengusaha minyak. Dengan mendirikan al-Qaeda dan melakukan praktek Jihad dengan keberanian yang hampir menyamai Nabi, dia telah memberikan inspirasi kepada Muslim yang malas berpikir bagaimana menjadi seorang Muslim sejati. Banyak sekali praktek Jihad yang diilhami oleh pikiran-pikiran kelompok al-Qaeda bermunculan di seluruh dunia termasuk di negara-negara kafir seperti India, Cina, Rusia dan Barat.

Kita lihat Jihad sedang membentuk barisan yang mengagumkan, sekali lagi. Dan akan semakin kuat pada dekade-dekade yang akan datang. Jihad telah diluncurkan dengan 2 cara –keras dan halus– dengan tujuan yang sama yaitu: menegakkan hukum Allah, yaitu Syariah, dengan pelaksanaan pajak diskriminasi yang tinggi bagi kafir, melakukan praktek perbudakan dan melakukan pemaksaan agama, semua hal ini memang menempel kuat pada ajaran Jihad. Jihad yang keras masih dapat dikendalikan, tapi Jihad yang halus, khususnya dengan cara–cara penyusupan yang tidak terbatas jumlahnya ke negara-negara kafir, merupakan hal yang paling sulit untuk dilawan. Beberapa dekade ke depan, India, Rusia dan Eropa kemungkinan besar akan menjadi tempat bermain para Jihadis dengan cara keras maupun halus.

Walaupun kedengaran lucu dan tidak adil, Jihad dalam bentuk yang satu atau dalam bentuk yang lain akan memainkan peranan kuat di panggung dunia pada dekade-dekade mendatang. Pada saat pembentukan negara Pakistan pada tahun 1947, Jahar Khan, ketua DPRD lokal, yang juga merupakan pemimpin kelompok Muslim mengatakan kepada orang-orang Hindu dan Sikh: “Muslim sekarang berkuasa. Pakistan sudah terbentuk. Kami adalah penguasanya dan umat Hindu adalah orang kampung. Orang-orang Sikh harus mengibarkan bendera Pakistan… harus bayar pajak atas tanah dan berbagai macam iuran.” Seorang pakar dari Pakistan, Dr. Israr Ahmed, yang juga pendiri dari Partai Tanzeem-e-Islami membahas isyu mengenai non-Muslim yang hidup di negara Islam:

Kami katakan (kepada non-Muslim): jadilah Muslim dan nikmati persamaan hak atau jadi warga negara kelas 2 yang hidup dibawah peraturan kami. Atau kalau tidak begitu, datanglah ke lapangan terbuka dan biar pedang yang menyelesaikan masalah ini.

Di Palestina, Hassan El-Masalmeh, seorang anggota dewan kota Betlehem dan yang juga pemimpin Hamas, menyarankan untuk memungut pajak yang diskriminasi, Jiziyah, kepada warga non-Muslim pada tahun 2006. Hal itu akhirnya urung dilakukan tapi El-Masalmeh berjanji, “Kami di Hamas tetap bermaksud untuk memberlakukan pajak ini satu hari nanti.”

Bahkan Malaysia, sebuah negara Muslim modern, telah menyiapkan aturan dhimmi dan jiziyah jaman modern. Warga non-Muslim yang minoritas pada tahun 2006 melakukan protes untuk dicabutnya praktek perbedaan ras (apartheid) yang disponsori oleh pemerintah ini yang telah berlaku selama tiga setengah dekade. Sebagai jawabannya, aktivis dan pemimpin partai yang berkuasa, didalam pertemuan tahunan partai bulan Desember 2006, mengeluarkan peringatan keras yang bercampur nada gelisah meminta hak istimewa Muslim atas non-Muslim ini tetap diberlakukan. Dalam pidato yang penuh emosi, beberapa peserta bahkan menawarkan untuk menumpahkan darah mereka untuk membela hak istimewa Muslim itu; pemimpin generasi muda partai itu bahkan mengeluarkan keris (pedang) untuk memperingatkan warga non-Muslim yang ada.

Gerakan radikal Islam semakin mendapat sambutan di dunia Muslim. sementara hukum Syariah mulai mernyusup masuk ke dalam sistim hukum (negara-negara di dunaia) sedikit demi sedikit dan hal ini bahkan terjadi juga di Barat. Memang masih perlu dibuktikan apakah intisari pernyataan Jihad –yaitu pemaksaan kepercayaan, keinginan bekuasa dan praktek perbudakan bersama dengan pemerasan ekonomi dan pengekangan sosial terhadap non-Muslim– akan kembali ke panggung dunia dengan kejayaan abad pertengahan.

TAMAT
FFI Admin
 
Posts: 364
Joined: Wed Mar 15, 2006 1:25 pm

PreviousNext

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users