.

Irshad Manji: BERIMAN TANPA RASA TAKUT/THe Trouble w/ Islam

Irshad Manji: BERIMAN TANPA RASA TAKUT/THe Trouble w/ Islam

Postby coolman07 » Fri Sep 26, 2008 9:43 pm

Ini buku yg layak dibaca karena termasuk best-seller karya seorang muslimah.

Dia adalah penulis muslimah yg mendapat penghargaan karena bukunya yg menarik untuk dibaca oleh semua umat beragama.

Link websitenya adalah :

http://www.irshadmanji.com/indonesian-edition

Sedikit biografinya sbb :

IRSHAD MANJI diberi julukan “Mimpi Terburuk bagi Osama bin Laden”. Dan dia menerima hal itu sebagai pujian.

Buku bestseller dia, Beriman Tanpa Rasa Takut (atau bhsInggrisnya, The Trouble with Islam), diterbitkan di beberapa negara, antara lain: Pakistan, Turki, Irak, dan India. Di mana pun bukunya dilarang, Irshad masih bisa menyapa para pembaca dengan mengirimkan terjemahan-terjemahan yang bisa diakses secara gratis di website-nya. Kolom-kolomnya didistribusikan ke seluruh dunia oleh Sindikat New York Times dan dia tengah memproduksi sebuah film dokumenter yang didasarkan pada buku ini.

Irshad adalah seorang mentor bagi para mahasiswa muda, spesialisasinya dalam bidang hak asasi manusia dan kebijakan publik, pada the Pierre Trudeau Foundation di Montreal, Kanada. Dia juga duduk di dewan editorial antar-iman pada majalah Seventeen, yang bermarkas di New York. Selain itu, dia merintis berdirinya Project Ijtihad, sebuah lembaga yang akan membantu para muslim muda untuk memimpin reformasi liberal Islam.

Melihat kepemimpinan dan prestasi Irshad, Oprah Winfrey menghargainya dengan Chutzpah Award atas “keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya”. Majalah Ms. menabalkan Irshad sebagai “Feminis Abad 21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”.

Dan pada Hari Perempuan Internasional tahun 2005, The Jakarta Post mengakui Irshad sebagai satu dari tiga muslimah yang mampu menciptakan perubahan positif dalam Islam.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi website Irshad Manji: http://www.irshadmanji.com.

Satu dari tiga muslimah dunia yang menciptakan perubahan positif dalam Islam.
Last edited by coolman07 on Fri Sep 26, 2008 9:47 pm, edited 1 time in total.
User avatar
coolman07
 
Posts: 414
Joined: Fri Oct 12, 2007 7:47 pm
Location: Yerusalem Baru

Postby coolman07 » Fri Sep 26, 2008 9:45 pm

Tolong kunjungi website tersebut untuk membacanya siapa tahu kita bisa lebih tahu bagaiamana Islam yg sesungguhnya dan seharusnya dimata Tuhan dan umat manusia.

Gue nggak bisa kasih comment panjang lebar, karena pengetahuan gue (jujur) tentang Islam belum begitu banyak
User avatar
coolman07
 
Posts: 414
Joined: Fri Oct 12, 2007 7:47 pm
Location: Yerusalem Baru

Postby coolman07 » Fri Sep 26, 2008 9:50 pm

Ringkasan dari bagian buku tsb adalah :


Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed

Sekapur Sirih

Catatan Pengarang

Surat Terbuka

Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?

Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?

Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?

Bab 4 - Gerbang dan Korset

Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?

Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam

Bab 7 - Operasi Ijtihad

Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur

Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat

Kata Penutup

Bacaan-bacaan yang Dianjurkan

Ucapan Terima Kasih

Tentang Pengarang

Bisa di download dengan gratis dan juga terdapat versi bahasa Inggris/Melayu dan Indonesianya

SEMOGA BERGUNA BAGI KITA SEMUA.
User avatar
coolman07
 
Posts: 414
Joined: Fri Oct 12, 2007 7:47 pm
Location: Yerusalem Baru

Beriman Tanpa Rasa Takut (Buku tentang Islam Paling Inspirat

Postby feifei_fairy » Tue Sep 30, 2008 9:27 pm

Beriman Tanpa Rasa Takut (Buku tentang Islam Paling Inspiratif Saat Ini)

Judul: Beriman Tanpa Rasa Takut (Tantangan Umat Islam Saat Ini)
Penulis: Irshad Manji (Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam)
Penerbit: Nun Publisher (www.nunpublisher.com) dan Koalisi Perempuan Indonesia
Harga: Rp 55.000,- (345 hlm.)


"Buku ini telah memicu banyak perdebatan."
—The Jakarta Post



"Tidak sedikit umat Islam yang dididik untuk membenci Kristen dan Yahudi. Buku ini memaparkan sejarah kebencian tersebut."
—Prof. Dr. Musdah Mulia, Litbang Depag RI



Beriman Tanpa Rasa Takut (versi Inggrisnya, The Trouble with Islam Today) adalah sebuah buku tentang Islam yang inspiratif sekaligus kontroversial saat ini. Sejak terbit, Irshad Manji, penulisnya, menerima banyak ancaman pembunuhan dari para penentangnya, kelompok fundamentalis. Sejumlah negara Arab melarang buku ini masuk ke wilayahnya. Namun, jutaan umat Islam terinspirasi oleh perjaungan Irshad Manji setelah membaca buku ini, dan segera bangkit untuk berjuang melawan penindasan atas nama agama di komunitas-komunitas mereka sendiri.
Terbit pertama kali pada tahun 2003, buku ini telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa, mencakup Arab, Persia, Prancis, Urdu, Malaysia, dan Indonesia; menjadi buku bestseller dan bacaan wajib bagi kaum muslim yang berpikiran kritis, para aktivis hak asasi manusia, yang mendambakan reformasi di tubuh umat Islam. Di negara-negara di mana buku ini disensor, Irshad masih mampu menyapa para pembacanya dengan cara mem-posting terjemahan buku ini di website-nya. Terjemahan bahasa Arab sendiri telah dibaca oleh jutaan orang Arab dan menjadi kasak-kusuk hebat di kalangan pemuda Timur Tengah, terutama para perempuannya, yang ingin bebas dari penjara atas nama agama di negeri mereka.
Di buku ini Irshad Manji memaparkan kelemahan-kelemahan dalam Islam yang paling mendasar: terorisme atas nama agama, posisi perempuan muslim yang tertindas; kebencian yang berlebihan terhadap umat agama lain; dan pembacaan Al-Quran yang terlampau literal. Kemudian ia menawarkan visi reformasi Islam yang lebih menghormati umat lain, memberdayakan kaum perempuan, dan merangsang pikiran untuk keluar dari kepicikan.
Manji berseru kepada dunia Islam untuk menghidupkan kembali Ijtihad, tradisi berpikir independen yang hilang selama ratusan tahun dari peradaban. Tak peduli ancaman pembunuhan yang ia terima, ia berkeliling dunia, menggugah orang Islam untuk terus bertanya.



PERCIKAN PEMIKIRAN IRSHAD MANJI

1.Islam harus ditafsirkan terus-menerus sesuai dengan rasa keadilan yang berkembang dalam masyarakat.



2.Saat ini Islam mengalami krisis yang akan mengancam dan menyeret seluruh dunia ke dalamnya. Memang semua agama memiliki kelompok fundamentalis sendiri-sendiri yang menerapkan tafsiran harfiah, namun di agama Islam kelompok fundamentalis merupakan kelompok mainstream. Obsesi kelompok fundamentalis untuk menelan ajaran Islam secara harfiah merupakan penyebab semua masalah yang melanda Islam saat ini. Pola pemikiran seperti itulah yang menyebabkan muslim menganggap dirinya sebagai kelompok superior dan mendiskriminasi perempuan serta orang lain yang memiliki pandangan berbeda. Pola pemikiran seperti itu pula yang menjadi sumber kekerasan, serangan bunuh diri, dan terorisme.



3.Tafsiran fundamentalis yang anti-demokrasi dan anti-perempuan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Masih ada alternatif. Dan satu-satunya alternatif untuk itu adalah dengan menghidupkan kembali Ijtihad, tradisi berpikir independen dalam Islam. Tradisi itu mengajak setiap muslim untuk tidak secara mentah-mentah atau harfiah menerima ajaran Islam.



4.Ketidakmampuan muslim untuk turut ambil bagian dalam dunia modern saat ini bukan karena faktor luar seperti kolonialisme, melainkan karena adanya penindasan terhadap pandangan bebas dan kritis. Manji menantang kaum muslim untuk kembali menentukan nasibnya sendiri dengan mengembalikan pandangan bebas dan kritis guna `memperbaharui' Islam untuk abad ke-21.



5.Manji mendorong kaum intelektual Barat untuk mengkritik Islam. Menurutnya kritik sangat dibutuhkan untuk membawa pembaharuan yang dibutuhkan. Di Barat, filsafat multikulturalisme sudah berubah menjadi pandangan ortodoks, yang membuat orang Barat cenderung bersikap cuek dengan permasalahan di tempat lain. Orang-orang Barat takut dicap bersikap rasialis jika mengkritik Islam. Namun, menurut Manji, mengkritik Islam untuk membela hak asasi manusia bukanlah tindakan rasialis. Kebudayaan layak dihormati selama budaya itu juga menghormati.

INSPIRASI DAN KONTROVERSI PEMIKIRAN DI BUKU INI

1.Sebagai monoteis pertama di muka bumi, kaum Yahudi meletakkan dasar-dasar bagi kaum Kristen dan kaum muslim. Jadi, bukanlah kaum muslim Arab yang menemukan Tuhan yang satu: umat Islam menamai-ulang Dia sebagai "Allah". Kata "Allah" adalah kata Arab untuk "Tuhan"—Tuhan kaum Yahudi dan Kristen. Namun umat Islam saat ini kurang mengapresiasi fakta sejarah tersebut. (Hlm. 62).



2.Jika saja lebih banyak dari kita yang tahu bahwa Islam adalah produk puluhan sejarah yang saling-berkaitan, bukan sebagai sebuah jalan hidup utuh yang orisinal—jika saja kita memahami bahwa kita adalah makhluk hasil persilangan spiritual—akankah kita lebih mau menerima "yang lain"? Kenapa kita begitu enggan untuk mengakui pengaruh-pengaruh luar, kecuali ketika kita menyalahkan Barat atas aneka luka kolonial yang kita derita. Yang, pada gilirannya, memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah Islam lebih picik daripada agama-agama dunia lainnya? (Hlm. 143).



3.Pilih satu negara muslim, negara muslim mana saja, dan penghinaan paling brutal akan segera menyentak kesadaranmu. Di Pakistan, rata-rata dua perempuan mati setiap hari akibat "pembunuhan demi kehormatan", sering kali atas nama Allah yang diucapkan oleh mulut para pembunuh. Di Malaysia, seorang perempuan muslim tidak bisa melakukan perjalanan tanpa izin dari seorang lelaki. Di Mali dan Mauritania, anak-anak lelaki dirayu masuk perbudakan oleh para pemaksa muslim. Di Sudan, perbudakan terjadi di tangan para milisi muslim. Di Yaman dan Yordania, pekerja kemanusiaan Kristen ditembak begitu saja. Di Bangladesh, seniman yang mengadvokasi hak-hak religius kelompok minoritas dipenjarakan atau diusir ke luar negeri. Semua itu terdokumentasi dengan baik. (Hlm. 72).



4.Sebagian besar kaum muslim memperlakukan Al-Quran sebagai dokumen yang harus ditiru (diimitasi) ketimbang harus diinterpretasikan. Dan hal itu membunuh kemampuan kita untuk berpikir bagi diri kita sendiri. (Hlm. 75).



5.Al-Quran tidak secara transparan bersifat egaliter terhadap perempuan. Al-Quran tidak secara transparan bersifat apa pun selain menimbulkan banyak teka-teki. ....kaum muslimlah yang memproduksi banyak keputusan dengan mengatasnamakan Allah. Keputusan-keputusan yang kita buat berdasarkan Al-Quran tidak didiktekan oleh Tuhan: Kita membuatnya melalui kehendak bebas kita sebagai manusia. (Hlm. 82).



6.Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka "takutkan atau sesalkan" selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya "keyakinan yang benar". (Hlm. 85-86).



7.Al-Quran juga tidak mendorong kaum muslim untuk memposisikan kaum Yahudi dan Kristen sebagai teman. Bahkan kita tidak diperkenankan untuk menjadi "salah satu dari mereka". Al-Quran mengatakan "mereka" sebagai "orang yang tidak adil" yang "tidak diberi petunjuk oleh Tuhan". Ada pembahasan mengenai penaklukan, pembantaian, dan pemberian pajak khusus kepada kaum non-muslim sebagai upeti kepada para penakluk muslim mereka. Itu semua sungguh merupakan tema yang membuat darah mendidih. Hal-hal semacam itulah yang memberikan pembenaran kepada beberapa kaum muslim yang melecehkan dialog antar-iman untuk merangkul pemeluk agama lain. Bagi mereka yang berpaham demikian, non-muslim boleh eksis, tapi tidak boleh eksis pada tingkatan yang sama seperti kaum muslim. Bahkan, sama sekali tidak mungkin mencapai tingkatan kaum muslim, karena Islam bukanlah salah satu keyakinan dari sekian banyak keyakinan lain. Islam jauh lebih superior di atas yang lain. Karena Islam membawa wahyu yang sempurna dan nabi yang terakhir. Bukankah membaca Al-Quran dengan cara seperti ini adalah suatu pilihan juga? Tapi, kita tidak sadar jika kita sedang memilih cara yang ini. (Hlm. 8.



8.Ketika pintu ijtihad tertutup, hak berpikir independen hanya menjadi milik eksklusif kelompok mufti, ulama ahli hukum, di setiap kota atau negara. "Sampai hari ini," kata Mahmoud Ayoub, "para mufti menerbitkan opini-opini hukum, yang disebut fatwa, sesuai dengan asas-asas mazhab mereka. Kumpulan fatwa itu berfungsi sebagai manual terutama bagi para mufti yang kurang kreatif atau kurang mampu." Kurang kreatif? Kurang mampu? Kurang mampu ketimbang siapa? Anda atau aku? Apa kita masih membutuhkan mereka? Daripada terus menjiplak jiplakan mereka, bukankah lebih baik kita dengan sekuat tenaga mengguncang-guncang pintu ijtihad supaya terbuka? (Hlm. 114).



9.Lihatlah contoh lain bagaimana kita memuja pengulang-ulangan: hukum Syariah. Selalu dikatakan bahwa Syariah mewakili ideal-ideal Islam. Sebagian besar muslim beranggapan bahwa Syariah adalah sesuatu yang suci. "Sebagian besar Syariah," tulis seorang pembela reformasi, Ziauddin Sardar, "tak lebih daripada sekadar pendapat hukum dari para hakim klasik"—dengan kata lain, Syariah adalah milik keempat Mazhab Sunni. Diciptakan selama masa kerajaan Islam, kode-kode hukum ini terus-menerus dijiplak sejak saat itu. "Itulah sebabnya," kata Sardar, "kapan saja Syariah diberlakukan—di luar konteks waktu ketika dirumuskan dan jauh di luar jangkauan kita—maka masyarakat-masyarakat muslim akan menyaksikan suasana zaman pertengahan." Kita menyaksikan penerapannya di Saudi Arabia, Iran, Sudan, dan Afghanistan pada era Taliban. (Hlm. 115).



10.Berikut ini adalah barometer lain dari kemunafikan Arab: Selama bertahun-tahun, Kuwait mendonasikan lebih sedikit daripada donasi Israel kepada badan-badan PBB yang peduli terhadap nasib pengungsi Palestina. Arab Saudi juga tak mampu mengungguli donasi Israel meskipun uang mereka dari penjualan minyak terus menebal. Dan sekarang? Meskipun pundi-pundi uang mereka begitu berlimpah dan luas negaranya begitu besar untuk bisa ditinggali pengungsi Palestina, namun pemerintah Saudi tidak akan pernah menerima orang Palestina sebagai warga negara mereka. Sebaliknya, mereka akan mengumpulkan dana amal melalui program resmi di televisi yang sangat panjang, guna mendanai para pengebom bunuh diri. Mereka juga akan menghadiahi para keluarga pengebom bunuh diri yang berhasil dengan imbalan ibadah haji ke Makkah. Semua biayanya ditanggung pemerintah Saudi. (Hlm. 164-165).



11.Taslima Nasrin, seorang penulis dan dokter feminis yang dikucilkan di Bangladesh, memberiku contoh konkret tentang apa yang telah dia alami jauh sebelum orang Saudi menjadi kaya. "Saat kecil," katanya, "aku diberi tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu berarti segala sesuatu. Jadi, Allah seharusnya tahu bahasa Bengali, bukan?" Dia bertanya kepada ibunya, "Bagaimana mungkin aku harus shalat dalam bahasa Arab? Ketika aku ingin berbicara dengan Allah, kenapa aku harus menggunakan bahasa orang lain?" Ibunya tidak mengungkapkan alasan yang memuaskan, kecuali sebuah jawaban yang itu-itu saja. (Hlm. 218).



12.Apakah Al-Quran ditulis Allah dari awal sampai akhir? Sepanjang dekade-dekade pertama Islam, dengan sedikit waktu mencerna keyakinan yang baru itu, orang Arab meraih sukses militer internasional atas nama Allah. Bisa dipahami jika pengumpulan ayat-ayat Al-Quran harus dipercepat untuk memenuhi tekanan sebuah dinasti. Dalam sebuah esai revolusioner yang berjudul "Apakah Al-Quran itu?", The Atlantic Monthly menceritakan seorang panglima yang kembali dari Azerbaijan. Sang panglima memperingatkan khalifah ketiga, Usman, bahwa para mualaf mulai bercekcok tentang apa yang dikatakan Al-Quran. Dia memohon kepada Khalifah Usman untuk "mendahului orang-orang ini" sebelum mereka terseret ke dalam pertikaian, sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Yahudi dan Kristen. Khalifah Usman segera menitahkan untuk membukukan Kitab Suci. Wahyu-wahyu yang dihafal akan ditulis dan perkamen-perkamen ayat-ayat suci yang terpencar-pencar akan dikumpulkan, semuanya akan didistribusikan sebagai sebuah versi Al-Quran. Salinan-salinan "tidak sempurna" atau "tidak resmi" akan dimusnahkan. Pertanyaannya: Setelah disetujui dengan terburu-buru, bagaimana jika versi yang "sempurna" ternyata kurang sempurna? (Hlm. 222).



13.Jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama. Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi perempuan. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. (Hlm. 242).



14."Bertanyalah tentang uang yang Anda sumbangkan ke lembaga amal. …sejumlah lembaga donor tanpa disadari membiayai sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga sosial yang dijalankan oleh kelompok fundamentalis Islam. Para fundamentalis ini menekan para lelaki untuk pergi ke masjid (dan) para perempuan untuk membungkus tubuh mereka. Mereka mendorong diakhirinya sekolah yang mencampur lelaki dan perempuan bersama, melarang para gadis untuk belajar sains, olahraga, dan seni. Mereka menganjurkan pendidikan yang mengajarkan kebencian terhadap kelompok lain." (Hlm. 290).



15."Setelah banyak bereksplorasi, interpretasi pribadiku terhadap Al-Quran membawaku pada tiga pesan yang baru saja kudapatkan. Pertama, hanya Tuhan yang sepenuhnya tahu kebenaran dari segala hal. Kedua, hanya Tuhan yang bisa menghukum orang yang tak beriman, dan itu berarti bahwa hanya Tuhan yang tahu apa itu keimanan sejati. Ketiga, kesadaran kita membebaskan diri kita untuk merenungkan kehendak Tuhan—tanpa kewajiban apa pun untuk tunduk pada tekanan dari prinsip atau faham tertentu… (Hlm. 310).

TENTANG IRSHAD MANJI

Irshad Manji adalah seorang feminis muslim Kanada, penulis, jurnalis, dan juga aktivis hak asasi manusia. Ia adalah direktur Moral Courage Project di New York University; Moral Courage Project mengajari para pemuda untuk menyuarakan kebenaran di komunitas-komunitas mereka. Manji adalah seorang kritikus terhadap Islam radikal dan interpretasi-interpretasi ortodoks atas Al-Quran. Ia mengadvokasi bangkitnya pemikiran kritis, yang dikenal sebagai ijtihad dalam tradisi Islam. Demi tujuan itu, dia mendirikan Project Ijtihad, sebuah organisasi internasional untuk menciptakan jaringan umat Islam yang tertarik dengan reformasi Islam. Ia merupakan sebuah lembaga yang akan membantu para muslim muda untuk memimpin reformasi Islam.
Sebagai seorang jurnalis, tulisan-tulisannya muncul di banyak media, dan dia mendapatkan pembaca dari Amnesti Internasional, PBB, Democratic Muslims di Denmark, Royal Canadian Mounted Police. Dia juga sering tampil di jaringan televisi dunia, mencakup Al Jazeera, CBC, BBC, MSNBC, C-SPAN, CNN, PBS, The Fox News Channel, dan The CBS Evening News.
Melihat kepemimpinan dan prestasinya, Oprah Winfrey menghargainya dengan Chutzpah Award atas "keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya". Majalah Ms. menabalkan Irshad sebagai "Feminis Abad 21". Maclean's memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai "Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh".
Dan pada Hari Perempuan Internasional tahun 2005, The Jakarta Post mengakui Irshad sebagai satu dari tiga muslimah yang mampu menciptakan perubahan positif dalam Islam.






PENGAKUAN ATAS BUKU INI




"Semangatnya melampaui zamannya. Membaca buku ini bagai membaca wahyu."
—The New York Times


"Sebuah seruan keras bagi setiap muslim untuk jujur pada diri sendiri, dan mempertanyakan kembali kebenaran yang selama ini diyakininya."
—Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM


"Manji adalah suara-suara terpendam dari kaum muslim yang kritis namun takut bicara."
—Ayu Utami, Penulis


"Sebuah buku berani yang ditulis oleh seorang muslimah yang tidak takut mati!"
—Lola Amaria, Artis


"Aku sangat terkejut dengan apa yang dia katakan. Dan sungguh-sungguh berterima kasih."
—Hesham Hassaballa, Muslimwakeup.com



"Buku ini bisa menjadi mimpi buruk bagi Osama bin Laden."
—United Press International


"Seruan yang keras dan jelas untuk melakukan reformasi dan bersikap jujur. Sinis, blakblakan, sedikit kurang ajar, tapi sangat berguna."
—The Globe and Mail


"Yang ditolak Manji sebenarnya sederhana: Ia tidak menerima bahwa Islam adalah struktur yang stagnan dan tak dapat diubah."
—The Friday Times (Pakistan)


"Gerakan-gerakan demokratik yang kini muncul telah menunjukkan bagaimana banyak kaum muda muslim ingin menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka dan mencapai potensi mereka sepenuhnya. Jika Anda ingin merasakan suara mereka, bacalah buku Manji yang berani ini."
—Thomas Friedman, The New York Times


"Lebih agung, jauh lebih agung, ketimbang seorang gadis yang bertemu dengan Tuhannya."
—O, The Oprah Magazine


"Salah satu analisis terhadap Islam yang paling tajam sejak peristiwa 11 September."
—Philadelphia Inquirer

http://groups.yahoo.com/group/religions ... ssage/2396
User avatar
feifei_fairy
 
Posts: 342
Joined: Mon Jan 07, 2008 6:18 am
Location: WORLD

Postby ali5196 » Wed May 16, 2012 2:00 am

ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Wed May 16, 2012 4:24 am

Kritik terhadap bukunya ini :

http://www.faithfreedom.org/features/bo ... lam-today/
A Muslim’s Call for Reform In Her Faith/Seruan Seorang Muslimah bagi Reformasi dalam Agamanya
oleh Al Hope

Tidak heran bahwa semakin banyak Muslim kini mencoba menciptakan sebuah versi Islam yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Irshad misalnya memang sangat berani dalam menyerukan reformasi Islam. Ironisnya, setiap paragraf dalam bukunya semakin menyadarkan saya bahwa Islam tidak bisa direformasi. Ia menyebut para pejuang ijtihad, para mutazila, sebagai 'bukti' bahwa Islam bisa direformasi. Tapi bahkan dari cerita2nya sendiri, setiap hal tentang ijtihad (yang disebutnya: enlightenment) bisa dibantah dengan mudah oleh saudara se-ukuwahnya yang lebih fundamentalis yang lebih dekat dengan prinsip2 ajaran Quran.

Ia mencoba mencabut segala tanaman liar dalam Quran. Tapi QUran sendiri, apalagi sang nabi, harus di-ekspos sebagai benih yang pada akhirnya akan terus menerus menghasilkan tanaman liar di setiap taman. [...] Saya harap suatu hari, Irshad akan semakin melangkah keluar dari akarnya.

Komentar:
Irshad berani? Weleeehhh ... Ia tidak cukup berani untuk mempertanyakan diri sendiri dan menerima fakta bahwa keseluruhan agamanya didasarkan pada sebuah kebohongan. Ini memang memerlukan keberanian yang luar biasa. Sangat mudah untuk mengatakan pada orang lain bahwa mereka salah, tapi sangat sulit untuk menerima fakta bahwa kita sendiri salah. Melawan Muslim tidak sulit, apalagi kalau anda tinggal di Barat. Tapi mempertanyakan indoktrinasi yang ditanamkan dalam diri orang sejak kecil memerlukan keberanian Hercules yang hanya dimiliki segelintir orang saja.

Menurut saya, Irshad dan Muslim 'reformis' lainnya bukan pahlawan. Mereka justru membingungkan publik. Mereka2 ini lebih berbahaya karena menyebar kebohongan bahwa Islam bisa direformasi. Irshad Manji, Zuhdi Yasser, Tawfiq Hamid dkk yang ingin mereformasi Islam harus sadar bahwa itu tidak mungkin. Mereka memberikan orang HARAPAN PALSU! Yang mereka lakukan hanyalah mengulur waktu bagi agama kebencian ini. Sejarah tidak akan mencatat mereka sebagai pahlawan, tapi justru sebagai HALANGAN bagi perubahan yang benar, mengakar dan menyeluruh.

Islam tidak mungkin direformasi. Ini realitas. Terima saja dan dengan itu kita bisa lebih mudah memutuskan apa langkah berikutnya. Mereformasi Islam bukan saja langkah percuma, tapi ****. Para reformis yang meninggalkan negara Islam mereka dan menikmati hidup di Barat tapi masih tetap juga menuntut reformasi Islam bukan lagi merupakan pembawa perubahan tapi pengantar KEBOHONGAN/DESEPSI.

Siapa si Irshad ini yang merasa begitu berhak untuk mengatakan bagaimana MUslim harus menafsirkan agama mereka? Ia mendapatkan tepuk tangan meriah dari publik Barat dan Muslim2 culun tapi Muslim yg benar2 tahu Islam tidak peduli padanya. Dan jika orang2 Barat dan Muslim2 culun juga berhenti mengelu2kannya, iapun akan berhenti berkoar ttg 'reformasi' dan berhenti berbohong pada diri sendiri.

Irshad adalah pahlawan kesiangan. Ia hanya memenuhi harapan orang Barat yang inign melihat semacam perubahan, sekecil apapun, dalam Islam. Ia dipuji oleh mereka, ia berbicara pada mereka dan ia menjual bukunya pada mereka. Tapi buku2nya tidak laku di Al Azhar. Pahlawan2 sebenarnya adalah orang2 spt Wafa Sultan, Nonie Darwish dan murtadinah2 lainnya yang tidak takut untuk menerima kebenaran.

KOMENTAR LAIN:
Saya melihat debat Irshad dengan Salman Rushdie yagn kini juga murtadin. Rushdie menghancurkan teori2 IRshad dgn sekejap. Irshad gelagapan menghadapi orang dengan kaliber macam Rushdie. [Makanya Irshad kini tidak pernah lagi berdebat dgn orang2 kuat spt ini, tapi hanya dengan publik culun dan lembek yang memang juga desperate untuk mencari sebuah fata morgana Islam liberal. ali5196]
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re:

Postby young celebes » Wed May 16, 2012 7:52 am

ali5196 wrote:Kritik terhadap bukunya ini :

http://www.faithfreedom.org/features/bo ... lam-today/
A Muslim’s Call for Reform In Her Faith/Seruan Seorang Muslimah bagi Reformasi dalam Agamanya
oleh Al Hope

Tidak heran bahwa semakin banyak Muslim kini mencoba menciptakan sebuah versi Islam yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Irshad misalnya memang sangat berani dalam menyerukan reformasi Islam. Ironisnya, setiap paragraf dalam bukunya semakin menyadarkan saya bahwa Islam tidak bisa direformasi. Ia menyebut para pejuang ijtihad, para mutazila, sebagai 'bukti' bahwa Islam bisa direformasi. Tapi bahkan dari cerita2nya sendiri, setiap hal tentang ijtihad (yang disebutnya: enlightenment) bisa dibantah dengan mudah oleh saudara se-ukuwahnya yang lebih fundamentalis yang lebih dekat dengan prinsip2 ajaran Quran.

Ia mencoba mencabut segala tanaman liar dalam Quran. Tapi QUran sendiri, apalagi sang nabi, harus di-ekspos sebagai benih yang pada akhirnya akan terus menerus menghasilkan tanaman liar di setiap taman. [...] Saya harap suatu hari, Irshad akan semakin melangkah keluar dari akarnya.

Komentar:
Irshad berani? Weleeehhh ... Ia tidak cukup berani untuk mempertanyakan diri sendiri dan menerima fakta bahwa keseluruhan agamanya didasarkan pada sebuah kebohongan. Ini memang memerlukan keberanian yang luar biasa. Sangat mudah untuk mengatakan pada orang lain bahwa mereka salah, tapi sangat sulit untuk menerima fakta bahwa kita sendiri salah. Melawan Muslim tidak sulit, apalagi kalau anda tinggal di Barat. Tapi mempertanyakan indoktrinasi yang ditanamkan dalam diri orang sejak kecil memerlukan keberanian Hercules yang hanya dimiliki segelintir orang saja.

Menurut saya, Irshad dan Muslim 'reformis' lainnya bukan pahlawan. Mereka justru membingungkan publik. Mereka2 ini lebih berbahaya karena menyebar kebohongan bahwa Islam bisa direformasi. Irshad Manji, Zuhdi Yasser, Tawfiq Hamid dkk yang ingin mereformasi Islam harus sadar bahwa itu tidak mungkin. Mereka memberikan orang HARAPAN PALSU! Yang mereka lakukan hanyalah mengulur waktu bagi agama kebencian ini. Sejarah tidak akan mencatat mereka sebagai pahlawan, tapi justru sebagai HALANGAN bagi perubahan yang benar, mengakar dan menyeluruh.

Islam tidak mungkin direformasi. Ini realitas. Terima saja dan dengan itu kita bisa lebih mudah memutuskan apa langkah berikutnya. Mereformasi Islam bukan saja langkah percuma, tapi ****. Para reformis yang meninggalkan negara Islam mereka dan menikmati hidup di Barat tapi masih tetap juga menuntut reformasi Islam bukan lagi merupakan pembawa perubahan tapi pengantar KEBOHONGAN/DESEPSI.

Siapa si Irshad ini yang merasa begitu berhak untuk mengatakan bagaimana MUslim harus menafsirkan agama mereka? Ia mendapatkan tepuk tangan meriah dari publik Barat dan Muslim2 culun tapi Muslim yg benar2 tahu Islam tidak peduli padanya. Dan jika orang2 Barat dan Muslim2 culun juga berhenti mengelu2kannya, iapun akan berhenti berkoar ttg 'reformasi' dan berhenti berbohong pada diri sendiri.

Irshad adalah pahlawan kesiangan. Ia hanya memenuhi harapan orang Barat yang inign melihat semacam perubahan, sekecil apapun, dalam Islam. Ia dipuji oleh mereka, ia berbicara pada mereka dan ia menjual bukunya pada mereka. Tapi buku2nya tidak laku di Al Azhar. Pahlawan2 sebenarnya adalah orang2 spt Wafa Sultan, Nonie Darwish dan murtadinah2 lainnya yang tidak takut untuk menerima kebenaran.

KOMENTAR LAIN:
Saya melihat debat Irshad dengan Salman Rushdie yagn kini juga murtadin. Rushdie menghancurkan teori2 IRshad dgn sekejap. Irshad gelagapan menghadapi orang dengan kaliber macam Rushdie. [Makanya Irshad kini tidak pernah lagi berdebat dgn orang2 kuat spt ini, tapi hanya dengan publik culun dan lembek yang memang juga desperate untuk mencari sebuah fata morgana Islam liberal. ali5196]

Nah ini baru pendapat yang BENAR bahwa orang seperti Irshad ini bukanlah pahlawan perubahan justru tanpa ia sadari justru dia hanya menjadi penghambat dari perubahan yg sebenarnya,ia hanya menanamkan harapan kosong bagi muslim2 culun.
Bagi saya pribadi,irshad sama berbahayanya dengan para muslim2 moderat yg munafik :butthead:
User avatar
young celebes
 
Posts: 388
Joined: Wed Sep 01, 2010 8:30 pm

Re:

Postby sodrun » Wed May 16, 2012 8:20 pm

ali5196 wrote:KOMENTAR LAIN:
Saya melihat debat Irshad dengan Salman Rushdie yagn kini juga murtadin. Rushdie menghancurkan teori2 IRshad dgn sekejap. Irshad gelagapan menghadapi orang dengan kaliber macam Rushdie. [Makanya Irshad kini tidak pernah lagi berdebat dgn orang2 kuat spt ini, tapi hanya dengan publik culun dan lembek yang memang juga desperate untuk mencari sebuah fata morgana Islam liberal. ali5196]

Debat antara Irshad dengan Salman Rushdie ini apa sudah di-upload di forum ini ?
Kalau belum... boleh tuh dituliskan di sini.
Thx to sensei ali5196.
sodrun
 
Posts: 1950
Joined: Sat Apr 30, 2011 8:38 pm


Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users