.

Buku Ali Sina: MENGENAL MUHAMMAD

Postby Adadeh » Mon Jul 02, 2007 11:55 pm

Menyingkirkan Orang2 yang Menentang

Menurut Osherow, ketaatan mutlak ini tampak jelas berkurang jika ada sejumlah kecil orang2 yang menolak taat. “Riset menunjukkkan,” tulisnya, “bahwa hadirnya orang2 yang menolak taat ternyata jauh mengurangi ketaatan kebanyakan orang dalam riset Milgram [248]. Secara sama Asch menunjukkan bahwa adanya satu orang yang menyatakan pendapat berbeda dari kebanyakan orang akan membuat orang2 pun jadi cenderung tidak mudah setuju, bahkan jikalau pendapat satu orang itu tidak benar.
[248] Milgram S. Hal2 yang melepaskan diri dari tekanan suatu kelompok. Journal of personality and Social Psychology, 1965, 1, 127-134.

Baik Muhammad dan Jim Jones sangat tidak suka pada orang2 yang menentang. Mereka menuntut kesetiaan utama dan mutlak sedemikian rupa sehingga keinginan untuk bertanya atau mengritik mereka merupakan hal yang tidak terpikirkan. Muhammad memaafkan mereka yang memeranginya jika mereka menerima Islam dan kekuasaannya. Hal ini dia lakukan pada saudara sepupunya yakni Abu Sofyan. Setelah Muhammad menaklukkan Mekah, dia bahkan lalu menunjuk Abu Sofyan untuk memerintah Mekah. Tapi Muhammad tidak mengampuni mereka yang menolak dan meninggalkannya. Banyak orang yang dibunuh atas perintahnya hanya gara2 alasan sepele seperti mereka tidak setuju dengannya atau menghinanya.

Inilah sebabnya mengapa dia sangat takut akan penentangan dan mengapa pengikut2nya tidak bersikap toleran pada yang menentang Islam. Hal ini juga alasan mengapa aku yakin bahwa jika suara2 murtadin didengar, maka Muslim lain pun akan jadi berani dan kritik terhadap Islam tidak akan terbendung lagi.

Jeanne Mills menjadi jemaat Kenisah Rakyat selama enam tahun dan punya kedudukan tinggi tapi lalu meninggalkan aliran itu. Dia menulis: “Ada hukum tak tertulis tapi dimengerti sepenuhnya di gereja (Kenisah Rakyat) yang sangat penting: Tidak ada seorang pun yang boleh mengritik sang Bapak, istrinya, dan anak2nya.” [250]
[250] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.

Bukankah hal ini terjadi pula pada Muhammad, keluarganya dan sahabat2nya? Dr. Yunis Sheikh, yang adalah seorang profesor perguruan tinggi di Pakistan, menyatakan bahwa kedua orangtua Muhammad bukanlah Muslim. Hal ini masuk akal karena mereka mati ketika Muhammad masih anak2 dan dalam hadis dikatakan Muhammad mengira mereka masuk neraka. Tapi ternyata komentar Dr. Sheikh membuat mahasiswa2nya marah, dan menuduh dia menghina orangtua nabi junjungan mereka dan melaporkan hal ini kepada imam. Akibatnya Dr. Sheikh dituntut di pengadilan karena melakukan penghujatan dan menghukumnya dengan hukuman mati. Dia dibebaskan dari penjara setelah beberapa tahun karena banyak protes dari penjuru dunia.

Di bulan September, 2006, Mohammed Taha Mohammed Ahmed, yang adalah ketua editor surat kabar swasta Sudan bernama Al-Wifaq, diculik sekelompok Muslim sejati. Dia dihakimi dengan penuh hinaan sebelum akhirnya tenggorokannya disembelih sama seperti orang menyembelih unta, dan lalu tubuhnya dipotong-potong. Dia dituduh menghujat karena korannya menerbitkan artikel dari internet yang mempertanyakan orang tua Muhammad. Yang dilakukan Muhammad Taha yang malang ini hanyalah mengutip beberapa bagian buku dan menulis bantahannya. [251]
[251] http://www.news24.com/News24/Africa/New ... 54,00.html

Jika kau hidup di negara Islam, kau bisa dihukum mati karena berani mengritik Islam, Muhammad, dan sahabat2nya. Jika kau hidup di negara non-Muslim, kau bisa dibunuh meskipun kau sendiri bukan Muslim. Pembuat film dari Belanda yang bernama Theo Van Gogh terlambat menyadari hal ini ketika dia terguling jatuh di atas genangan darahnya setelah ditembak dan ditusuki oleh seorang Muslim. Dosa Van Gogh adalah membantu murtadin Ayan Hirshi Ali membuat film tentang wanita dalam Islam.

Di bulan Juli, 1991, Ettore Caprioli yang adalah penerjemah buku Satanic Verses (Ayat2 Setan oleh Salman Rushdie) ke dalam bahasa Italia, diserang dan terluka berat. Hitoshi Igarishi – profesor sastra dan pengamat budaya Islam yang menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Jepang – dibunuh di Tokyo. William Nygaard, penerjemah buku itu ke dalam bahasa Norwegia, juga ditusuk pisau.

Pesannya sudah jelas yakni melakukan teror sebanyaknya agar tiada seorang pun yang berani menentang Islam. Deborah Blakey adalah anggota senior Kenisah Rakyat yang akhirnya mampu melarikan diri. Dia bersaksi: “Semua sikap tidak setuju dengan perintah Jim Jones dianggap sebagai ‘pemberontakan’… Meskipun aku merasa sangat sedih dengan yang terjadi, aku takut berkata apapun karena aku tahu semua orang yang berbeda pendapat akan mendapat murka Jim Jones dan pengikutnya.” [252]
[252] Blakey, D. Affidavit: San Francisco. June 15, 1978.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 03, 2007 12:05 am

Tidak Konsisten

Sama seperti yang dialami beberapa jemaat Kenisah Rakyat, Muslim2 awal pun menyadari aturan ibadah kepercayaannya dan tindakan2 pemimpin mereka tidaklah konsisten. Jim Jones bersetubuh dengan banyak wanita di perkumpulannya dan dia tidak malu2 melakukannya. Muhammad juga melakukan banyak hal yang tentunya mengejutkan orang banyak, bahkan juga pengikutnya orang Arab yang bermoral rendah.

Di satu hadis Aisha berkata: “Aku memandang rendah para wanita yang menyerahkan diri mereka pada Rasul Allâh dan berkata, “Dapatkan wanita menyerahkan diri mereka (pada seorang pria)?” Tapi ketika Allâh menyatakan: “Kau (wahai Muhammad) dapat menunda (giliran istri2mu), dan kau dapa menerima siapapun yang kau kehendaki; dan kau tidak bersalah jika kau mengundang dia yang gilirannya kau tunda,” (Q.33:51) Aku berkata (pada sang Nabi), ‘Aku merasa Tuhanmu cepat memenuhi kehendak dan nafsumu.’” [253]
[253] Sahih Al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 311

Sudah jelas Aisha tidak hanya cantik tapi juga cerdas. Memang bisa jelas terlihat di banyak kejadian tuhannya Muhamad datang segera menolong dan mengijinkannya untuk melakukan apapun yang disukainya.

Muhammad melanggar beberapa norma masyarakat dengan menikahi Zainab, yang adalah menantunya sendiri. Dia berhubungan seks dengan Mariyah - pelayan istrinya – ketika istrinya (Hafsa) sedang tidak ada di rumah. Dia berusia 51 tahun ketika dia menikahi Aishya yang berusia 6 tahun dan menidurinya ketika Aisha baru berusia 8 tahun 9 bulan dan masih bermain dengan boneka2nya. Muhammad mengaku dapat ‘wahyu2’ terbaik ketika tidur di bawah satu selimut dengan anak perempuan kecil ini. Di puncak kekuasaannya, Muhammad melihat anak perempuan balita dan mengatakan pada orangtua anak itu bahwa dia ingin mengawininya jikalau anak itu sudah tumbuh besar. Untunglah bagi anak itu, Muhammad mati tak lama setelah mengatakan hal itu. Muhammad mengambil wanita2 remaja sebagai hadiah2 pribadi dari Allâh tatkala melakukan penyerangan2 dan menghabisi suku2 dan membunuhi sanak keluarga mereka. Dia menjadikan para wanita remaja itu sebagai budak2 seks di haremnya.

Tentu saja, banyak Muslim awal yang heran andaikata Muhammad itu rasul tuhan, mengapa tindakannya sangat jauh dari suci. Kita tidak bisa menyamaratakan bahwa Arab2 kuno tidak punya nurani sama sekali dan tidak tahu apa yang dilakukan Muhammad adalah salah. Akan tetapi, jika mereka ragu, mereka tidak berani menyatakan hal itu. Muslim takut akan ancaman dan hukuman. Mereka yang tidak setuju cepat2 disingkirkan.

Di satu kejadian, Muslim mujahirin (Muslim suku Quraish yang hijrah dari Mekah ke Medina sebagai pendatang), berkelahi dengan orang2 Medina ketika menjarah sebuah kota. Abdullah ibn Ubayy, orang Medina yang menyelamatkan Banu Nadir dari niat pembantaian Muhammad, merasa marah. Dia berkata, “Apakah kalian sebenarnya melakukan hal ini? Mereka bertengkar dengan kepentingan kita, mereka berjumlah lebih banyak di tempat kita sendiri, dan tiada yang begitu cocok bagi kita dan gelandangan Quraish seperti yang dikatakan orang kuno ‘Beri makan anjing dan anjing itu akan melahapmu.’ Demi Allâh, jika kita kembali ke Medina, yang kuat akan mengusir yang lemah.” Lalu dia pergi ke orang2nya yang berada di sana dan berkata, “Inilah yang kau lakukan terhadap dirimu. Kau biarkan mereka menguasai tanahmu, dan kau bagi kekayaanmu dengan mereka. Jikalau kau simpan kekayaanmu bagi dirimu, maka mereka sudah pergi ke tempat lain.” Ketika berita ini didengar Muhammad, dia berkeputusan untuk membunuh Ibn Ubayy. Tatkala mendengar hal ini, putra Ibn Ubayy yang telah masuk Islam datang kepada Muhammad dan berkata padanya, “Kudengar kau ingin membunuh ‘Abdullah b. Ubayy karena mendengar apa yang diucapkannya. Jika kau harus melakukan hal itu, maka perintahkanlah aku untuk melakukan hal itu dan aku akan bawah kepalanya, karena suku al-Khazraj tahu tiada seorang pun yang lebih berbakti kepada ayahnya selain aku. Aku takut jika kau memerintahkan orang untuk membunuhnya, jiwaku tidak akan mengijinkan aku melihat pembunuh ayahku berjalan diantara orang2 dan aku akan bunuh dia, dan karenanya aku membunuh orang beriman (Muslim) gara2 orang tak beriman (kafir), dan akibatnya aku akan masuk neraka.” [254]
[254] Ibn Ishaq. Sirat Rasul Allah.

Abdullah ibn Ubayy adalah orang besar bagi masyarakatnya, dan orang2 Medina menghormatinya. Ini adalah keadaan yang sulit. Memerintahkan seorang anak laki untuk membunuh ayah sendiri, yang orang penting seperti ibn Ubbay, dapat mengakibatkan keadaan yang tidak merugikan bagi Muhammad. Bagaimana jika anak itu hanya ingin menguji kebenaran berita Muhammad ingin membunuh bapaknya dan mengakibatkan anak ini melawan Muhammad untuk membela bapaknya? Muhammad dengan cerdiknya menolak tawaran dan membiarkan pertikaian itu berlalu. Akan tetapi, perkataan anak laki itu dipuji-puji sejarawan Muslim sebagai contoh iman yang sejati. Ini adalah tingkat pengaruh yang dituntuk Muhammad dari pengikutnya. Dia membuat orang2 saling memata-matai dan menciptakan suasana penuh ketakutan di mana segala benih penentangan bisa dicabut dari akarnya.

Kejadian menarik bisa dilihat pada saat Abdullah ibn Ubayy meninggal. Putra Abdullah ibn Ubayy memohon Muhammad untuk berdoa di pemakaman ayahnya. Karena pentingnya posisi ibn Ubayy, Muhammad merasa harus memenuhi permintaan putra ibn Ubayy. Ketika dia berdiri untuk berdoa bagi almarhum ibn Ubayy, Omar ingat Muhammad tidak mau berdoa di kuburan ibunya sendiri. Dia memegang baju Muhammad dan berkata: “Rasul Allâh, akankah kau berdoa bagi orang ini, sedangkan Allâh melarangmu berdoa bagi yang tidak beriman?” Dia menjawab: “Allâh telah memberikan pilihan sewaktu dia berkata: Mintalah ampun bagi mereka, atau jangan mintakan ampun bagi mereka; jika kau minta ampun bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, maka tuhan tidak akan mengampuni mereka (Q.9:80) dan aku akan memberi tambahan pada tujuh puluh kali minta ampun.” Sungguh ironis bahwa Muhammad memanggil ibn Ubayy “munafik” padahal julukan itu paling cocok bagi dirinya sendiri.

Sama seperti Jim Jones, Muhammad juga menciptakan suasana teror sehingga yang meragukan dirinya tidak berani menyatakan pikirannya. Dia melarang pertanyaan2 yang susah dan jadi sangat marah jikalau ada yang melakukannya.

Hadis berikut adalah contoh di mana Muhammad marah pada mereka yang berani mempertanyakan keputusannya. Hal ini terjadi ketika dia membagi-bagi semua jarahan yang dirampas di Perang Hunain kepada para pemimpin Mekah untuk “melunakkan hati mereka” dan “membuat Islam terasa manis di mulut2 mereka.” Pengikutnya yang membantunya berperang tidak kebagian jatah apapun. Seorang berkata: “Wahai Rasul Allâh! Bersikaplah adil.” Sang Nabi berkata, “Awas kamu! Siapa yang bisa berlaku adil jika aku tidak? Aku akan celaka jika aku tidak berbuat adil.” Omar berkata, “Wahai Rasul Allâh! Ijinkan aku memancung kepalanya.” [255]
[255] Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 807

Orang yang bertanya ini berasal dari suku Banu Tamim. Masyarakat Banu Tamim belum jadi Muslim. Mereka bergabung bersama Muhammad karena mengharapkan harta jarahan belaka. Tapi setelah Muhammad menang perang, dia tidak merasa perlu lagi memenuhi janjinya. Orang dari suku Tamim ini tidak kenal Muhammad dan perangainya. Pengalaman ini jelas membuka matanya dan orang2 lain di sekitarnya. Pelajaran yang diambil adalah tidak seorang pun yang boleh mempertanyakan keputusan Muhammad meskipun tidak adil sekalipun. Siapapun yang mempertanyakannya akan mendapat murka Muhammad dan dapat terancam dibunuh. Hanya yang membebek saja yang selamat. Dalam suasana seperti ini, kebenaran selalu dikorbankan. Apakah kaum politikus kiri jaman modern yang mendukung Muslim menghabisi nilai2 Yudeo-Kristen di dunia Barat dapat mengambil pelajaran? Tentunya dapat, tapi apakah pelajaran ini mendukung mereka?

Osherow melanjutkan: “Keadaan Kenisah Rakyat jadi sedemikian menekan, isi khotbah Jim Jones dan perilakunya sangat bertentangan, sehingga tidak mungkin jemaatnya tidak bisa melihat hal ini dan mempertanyakan gerejanya. Tapi keraguan ini ditekan. Tiada yang mendukung ketidaktaatan terhadap perintah2 sang pemimpin dan tiada kawan yang menyatakan ketidaksetujuan dengan mayoritas jemaat. Yang tidak taat dan menentang dengan cepat dihukum. Mempertanyakan kata2 Jones atau bahkan keluarga dan teman2nya saja sudah berbahaya. Orang yang menyadap pembicaraan dengan cepat melaporkan segala pertentangan, dan bahkan anggota2 keluarga sendiri pun melakukan hal ini.”

Sama seperti Jones, Muhammad bergantung kepada para penyadap, seperti yang dikatakan Osherow: “Ini tidak hanya menghilangkan sikap menentang, tapi juga menghilangkan sikap solidaritas dan kesetiaan orang terhadap sanak keluarga dan kawan2 mereka sendiri.”

Dalam Islam, para Muslim diminta untuk mengawasi dan memperingatkan satu sama lain jika ada yang keluar dari “jalur yang benar”. Hal ini disebut Amr bil ma’roof (perintah akan kebenaran) dan Nahi min al munkar (pelarangan akan kesalahan). Akan tetapi, yang benar dan yang salah bukanlah hal yang sama yang diakui orang pada umumnya dan yang sesuai dengan Hukum Emas (perlakukan orang lain seperti dirimu sendiri ingin diperlakukan). Yang benar adalah yang diijinkan sang Nabi dan yang salah adalah yang dilarang sang Nabi. Dengan kata lain, setiap orang adalah “Abang Besar” dan pengamat orang lain dan harus menegur untuk membenarkan Muslim lain dan jika perlu melaporkan mereka ke ketua Muslim. Setelah terjadinya Revolusi Islam di Iran, anak2 diperintahkan untuk melaporkan segala kegiatan tidak Islam yang dilakukan orangtua mereka. Beberapa anak muda dilaporkan oleh ayah mereka sendiri kepada Pemerintah dan mereka lalu dihukum mati. Penyampai laporan lalu dipuji-puji dan ditinggikan agar yang lain mau berbuat sama.

Osherwo berkata: “Jones berkhotbah bahwa semangat kekeluargaan harus dibentuk dalam gerejanya, dan dia menekankan pengabdian masing2 anggota jemaat ditujukan bagi sang “Bapak” (dirinya sendiri).”

Dalam islam, Muslim juga harus bersikap seperti saudara terhadap Muslim lain, tapi pertama-tama mereka harus setia dulu pada Muhammad, atau, seperti yang dikatakannya berkali-kali, pada “Allâh dan rasulnya.” Di saat seorang Muslim murtad, Muslim lain yang bersikap sebagai saudaranya tidak ragu lagi untuk menyembelih tenggorokannya.

Kesamaan antara Muhammad dan Jim Jones benar2 nyata. Jangan2 yang satu meniru yang lain. Sudah jelas bahwa semua tindakan mereka merupakan pernyataan pikiran gila penderita narsisis. Semua kebijaksanaan politis totalitarian, dari Nazisme sampai fasisme, dari komunisme sampai Islam, adalah aliran sesat dan mengandung sifat yang sama seperti yang dijabarkan George Orwell dalam novelnya yang berjudul Nineteen Eighty Four (1984).
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 03, 2007 12:14 am

Hancurnya Hubungan Keluarga

Jim Jones percaya: “Keluarga adalah bagian dari sistem musuh, karena mereka merugikan pengabdian total seseorang kepada “Alasan Utama”. [256] “Alasan Utama” ini tentunya tak lain daripadanya dirinya sendiri. Jadi seorang yang dipanggil menghadap jemaat untuk dihukum bisa menduga anggota keluarganya sendirilah yang jadi pengecam utama dan paling keras. [257]
[256] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.
[257] Cahill, T. In the valley of the shadow of death. Rolling Stone. January 25, 1979.


Muhammad memecah-belah keluarga dengan menyatakan bahwa Muslim pertama-tama harus setia terhadap Allâh dan Rasulnya dan tidak boleh taat pada orangtua mereka jika mereka menghalangi hubungan Muslim dengan Islam. Ayat Qur’an berikut menjelaskan hal ini:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [258]
[258] Qur’an, Sura 29, Ayat 8

“Mengapa tidak banyak orang yang keluar dari aliran itu?” tanya Osherow. “Begitu masuk Kenisah Rakyat, orang2 tidak boleh pergi; yang tetap pergi dibenci,” jelasnya. “Tiada yang lebih menjengkelkan Jim Jones daripada hal ini; orang2 yang meninggalkannya menjadi sasaran kebenciannya dan disalahkan atas segala masalah yang terjadi. Seorang anggota jemaat ingat setelah beberapa anggota remaja meninggalkan Kenisah Rakyat, ‘Kami sangat membenci ke delapan orang itu karena kami tahu suatu hari mereka akan mencoba membom kami. Maksudku, Jim Jones membuat kami benar2 percaya akan hal ini.’” [259]
[259] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Muslim juga diajarkan cara berpikir yang sama. Seorang Muslim sangat membenci murtadin. Dalam Islam, murtadin, pemikir merdeka (freethinkers), dan pengritik diancam dan dibunuh. Muslim yang murtad dituduh melakukan penghujatan dan mereka dihina atau dibunuh.

Osherow menulis: “Sikap menentang menjadi tindakan riskan, dan, bagi kebanyakan anggota, keuntungan menentang juga tidak jelas. Melarikan diri juga tidak mungkin. Melawan terlalu berbahaya. Karena tidak ada pilihan lain yang tampaknya lebih baik, maka tunduk jadi sikap yang paling aman. Kekuasaan yang diterapkan Jim Jones membuat jemaat Kenisah Rakyat taat. Mereka tetap jadi anggota sebab sukar untuk menentang.” Qur’an pun dengan jelas menyatakan bahwa Muslim tidak boleh murtad.

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. .... Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Q. 47:23-25)

Di sini Muhammad menjanjikan hukuman illahi bagi murtadin di alam baka. Dia juga mengumumkan hukuman bagi murtadin di dunia. Bukhari melaporkannya di hadis berikut:
Rasul Allâh berkata, “Darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selain Allâh dan bahwa aku adalah rasulnya, tidak boleh dikucurkan selain karena tiga hal: dalam Qisa melakukan pembunuhan, orang yang telah menikah melakukan zinah dan yang murtad dan meninggalkan kaum Muslim.” [260]
[260] Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 17

Hadis lain menyatakan bahwa beberapa murtadin dibawa menghadap Ali dan dia membakar mereka. Ketika berita ini didengar Ibn ‘Abbas, dia berkata, “Jika aku berada di tempatnya, aku tidak akan membakar mereka, sebagai yang dilarang Rasul Allâh yang berkata, ‘Jangan hukum orang dengan hukuman Allâh (api).’ Aku akan membunuh mereka berdasarkan perkataan Rasul Allâh, ‘Barangsiapa yang meninggalkan agama Islam, bunuh dia.’” [261]
[261] Sahih Bukhari Volume 9, Book 84, Number 57
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 03, 2007 12:25 am

Pengaruh Bujukan

Apa sih awalnya yang menyebabkan orang2 tertarik bergabung di gerejanya Jim Jones? Mari kita bahas pertanyaan ini dan membandingkannya dengan orang2 yang baru masuk Islam (mualaf).

Osherow menyebut daya tarik Jim Jones terdapat pada kepribadiannya yang berkharisma dan keahliannya dalam berkhotbah, juga ditambah dengan keahliannya dalam memanfaatkan orang yang mudah tertipu. Dengan janji2 dan penampilannya yang diatur rapih untuk memikat setiap penonton, dia dengan mudah memenangkan hati dan angan2 mereka. Kata2 Cicero tepat dalam menggambarkan hal ini: “jago khotbah dapat membuat hal yang mustahil dipercaya orang.”

Muhammad juga sadar betul akan pengaruh khotbah. Dia percaya bahwa “dalam kemahiran berkhotbah terdapat sihir” [262] dan sering berkata: “Dalam khotbah2 yang diucapkan dengan mahir terdapat pengaruh sihir" (artinya, beberapa orang tidak mau melakukan sesuatu dan pengkhotbah yang hebat mengutarakan hal itu dan kemudian orang2 mau melakukannya setelah mendengar khotbah).” [263]
[262] Sunnan Abu Dawud; Book 41, Number 4994
[263] Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 76


Di hadis lain, dia membual, “Aku telah diberi kunci2 khotbah yang berpengaruh dan diberi kemenangan melalui teror." [264] Dia menggunakan pengaruh khotbah dan bujukan, juga teror dan ancaman demi keuntungan dirinya sendiri.
[264] Sahih Bukhari Volume 9, Book 87, Number 127

Osherow menulis: “Anggota Kenisah Rakyat terdiri dari masyarakat yang butuh bantuan dan terlupakan: orang2 miskin, kulit hitam, para jompo dan beberapa pecandu obat bius dan bekas narapidana.” [265]
[265] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Bandingkan hal ini dengan pengikut2 pertama Muhammad di Mekah. Mereka kebanyakan adalah kaum miskin, budak2, anak2 muda pemberontak, dan beberapa wanita yang butuh perhatian. Dia berkhotbah pada para budak agar mereka melarikan diri dari majikannya dan hijrah; dia mengatakan pada kaum muda untuk tidak mentaati orang tua mereka dan ikut dia saja; dia berbicara tentang kesamaan sosial dan persaudaraan antar sesama Muslim; dia menjanjikan setiap orang hadiah besar di alam baka dan kekayaan di dunia fana, kekayaan yang nantinya datang melalui penjarahan.

Tiga sejarawan utama Muslim yakni Tabari, Ibn Sa’d dan Ibn Ishaq setuju bahwa hanya beberapa gelintir orang saja yang memeluk Islam secara sukarela. Kebanyakan orang lainnya memeluk Islam karena rasa takut atau karena serakah ingin dapat bagian harta jarahan. Meskipun demikian, apapun alasannya, mereka semua memenuhi tujuan Muhammad untuk menundukkan semua orang pada Islam.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 03, 2007 12:34 am

Bualan2 Luar Biasa Besar

Para pemimpin aliran sesat punya pribadi megalomaniak. Baik Jim Jones maupun Muhammad punya ego (keakuan) yang terlalu membengkak. Untuk memikat anggota baru, Jones mengadakan pelayanan masyarakat di berbagai kota. Di selebaran2 yang disebarkan tertulis:
Pendeta Jim Jones… Luar Biasa! Penuh Muzizat! Sukar Dipercaya!
Pelayanan kesembuhan kenabian yang paling unik yang engkau akan pernah saksikan! Saksikan Firman yang hadir diantara kalian!”
[266]
[266] Suicide Cult: The Inside Story of the Peoples Temple Sect and the Massacre in Guyana (201P) by Marshall Kilduff and Ron Javers (1978)

Muhammad juga punya banyak bualan tentang dirinya sendiri. Allâh yang adalah boneka ciptaannya seringkali memujinya sebagai:
Kami mengirim kamu sebagai belas kasihan untuk semua makhluk (Q.21:107)
Dan memang kau (Muhammad) punya moral2 yang luhur. (Q.68:4)
Memang benar Rasul Allâh kau adalah contoh baik untuk diikuti. (Q.33:21)
Sungguh benar inilah kata Rasul yang paling terhormat. (Q.81:19)
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q. 4:65)

Ayat terakhir jelas menunjukkan bahwa Muhammad menuntut ketaatan mutlak dan marah kalau dikritik atau kalau ada yang tidak setuju dengannya.

Osherow menulis: “Anggota jemaat belajar menanggapi hal yang bertentangan antara khotbah muluk Jones dan kerasnya aturan dalam Kenisah Rakyat dan menyalahkan semuanya pada ketidakmampuan diri sendiri dan tidak pada diri Jones. Seorang bekas anggota jemaat yang bernama Neva Sly mengatakan: ‘Kami selalu menyalahkan diri kami sendiri jikalau ada yang tidak beres.’ [267] Bahasa aneh dan sumbang mulai berkembang di dalam gereja itu, di mana ‘Sumber Alasan’ adalah apapun yang dikatakan Jim Jones. [268] Akhirnya, dengan kemahiran berpidato, penipuan, dan bahasa yang muluk, Jones bisa meyakinkan bahwa kematian sebenarnya adalah ‘langkah selanjutnya’ dan dengan ini dia menutupi tindakan putus asa bunuh diri sebagai tindakan ‘bunuh diri revolusioner’ yang terhormat dan berani. Para jemaatnya percaya pada kata2nya.”
[267] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.
[268] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979


Hal inipun persis dengan yang terjadi pada Islam, di mana Muslim secara sukarela menyalahkan diri sendiri jikalau ada yang tidak beres dan bersyukur pada Allâh untuk semua hal yang baik. Kita juga bisa melihat kesamaan yang tepat antara pengikut Muhammad dan Jim Jones di saat mereka menghadapi kematian.

Kata asli “kami cinta kematian sama seperti kau cinta kehidupan” yang dikatakan Osama bin Laden pada suratnya yang terkenal untuk Amerika Serikat sebenarnya terdapat dalam kejadian Perang Qadisiyya di tahun 636 ketika panglima tentara Muslim yakni Khalid ibn Al-Walid mengirim pesan surat dari Kalifah Abu Bakr kepada panglima Persia bernama Khosrau. Suratnya menyatakan: “Kau (Khosrau dan orang2nya) harus masuk Islam, dan dengan begitu nyawamu selamat, karena jika tidak, kau harus tahu bahwa aku datang padamu dengan tentara2 yang cinta kematian, seperti kau cinta kehidupan.” Kalimat ini terus dikutip di khotbah2 Muslim modern, di koran2 dan di buku2 Islam.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 03, 2007 12:39 am

Curiga akan Non-Muslim

Osherow menulis: “Jones menanamkan kecurigaan atas semua hal yang bertentangan dengan pesannya, dan menyebut mereka hasil karya musuh. Dengan menghancurkan kesahihan sumber berita, dia memberi penawar pada anggotanya agar tidak terpengaruh oleh kritik2 dari luar.”

Hal ini sama dengan yang terjadi pada Muslim, yang menuduh para pengritik Islam sebagai Zionis dan/atau orang2 yang dibayar oleh “musuh2 Islam.” Siapapun yang berani mengritik Islam akan didatangi Muslim secara pribadi. Bukannya membantah pendapat pengritik Islam, Muslim menyerang secara ad homimem. Mereka menghina kritikannya dan mencoba merendahkannya, tapi tidak mampu menjelaskan argumentasi yang membantah kebenaran kritik itu.

“Di Jonestown,” kritik Osherow, “semua pikiran2 yang bertentangan yang mungkin menimbulkan perlawanan dari pihak anggota dikecam. Para anggota tidak melihat kritik sebagai kenyataan, tapi menganggapnya sebagai tanda mereka kurang beriman dan kurang mengerti.” Ini juga sama dengan yang terjadi pada Muslim. Mereka menyadari hidup mereka bagaikan di neraka dan negara2 mereka tidak karuan, tapi mereka memilih menyalahkan diri sendiri karena kurang bisa menerapkan “Islam yang sejati” sehingga akibatnya hidup mereka penuh derita. Padahal kenyataannya justru Islamlah sumber derita mereka.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 03, 2007 12:45 am

Melakukan Muzizat2

Osherow melaporkan kisah berikut, yang ditulis oleh Jeannie Mills, di mana Jim Jones melakukan muzizat melipatgandakan makanan:

Jumlah orang yang hadir di kebaktian Minggu lebih banyak daripada biasanya, dan karena suatu alasan anggota gereja tidak membawa cukup makanan bagi setiap orang. Sudah jelas bahwa lima puluh orang terakhir di antre barisan tidak akan mendapatkan makanan apapun. Jim mengumumkan, “Meskipun tiada cukup makanan bagi semua orang, aku berkati makanan yang kita miliki dan melipatgandakannya sama seperti yang Yesus lakukan di Alkitab.

Ternyata, hanya beberapa menit setelah dia mengumumkan hal mengejutkan ini, Eva Pugh keluar dari dapur membawa dua nampan berisi ayam goreng. Orang2 bersorak bahagia, terutama yang antre di bagian belakang.

“Ayam goreng yang diberkati” ini rasanya enak luar biasa, dan beberapa orang menyatakan Jim menciptakan ayam terlezat yang pernah mereka makan.

Salah seorang bernama Chuck Beikman dengan bergurau mengatakan kepada beberapa orang yang berdiri di dekatnya bahwa dia melihat Eva menyetir mobil masuk beberapa menit lalu dengan kardus2 dari restoran ayam Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia tersenyum ketika berkata,”Orang yang memberkati makanan ini adalah Kolonel Sanders (pendiri KFC).”

Dalam kebaktian petang hari, Jim mengingatkan bahwa Chuck telah mengolok-olok berkat darinya. “Dia berbohong kepada beberapa jemaat di sini dengan mengatakan ayam2 itu datang dari restoran lokal,” kata Jim dengan marah. “Tapi Roh Keadilan menang. Karena kebohongannya, Chuck sekarang berada di WC pria, berharap dia mati saja. Dia sedang muntah2 dan mengalami diare begitu parah sehingga dia tidak bisa bicara!”

Sejam kemudian, Chuck Beikman dengan wajah pucat dan gemetar ke luar dari WC pria dan maju ke depan sambil dituntun oleh salah seorang penjaga. Jim bertanya padanya, “Ada yang ingin kau sampaikan?”

Chcuk memandangnya dengan lemah dan menjawab, “Jim, aku minta maaf akan apa yang kukatakan. Mohon maafkan aku.”

Ketika kami melihat keadaan Chuck, kami bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah mempertanyakan “muzizat” yang dilakukan Jim, setidaknya jangan terang2an. Beberapa tahun kemudian, kami mengetahui bahwa Jim ternyata menaruh racun ringan di sebuah kue dan memberikannya kepada Chuck.”
[269]
[269] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979

Nah, untuk menciptakan “muzizat”-nya, Jones harus bekerja sama dengan Eva. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa wanita ini mau saja diajak menipu? Terdapat hadis2 tentang muzizat Muhammad yang serupa.

Di sebuah hadis, seseorang mengaku melihat Muhammad meletakkan tangannya ke dalam sebuah pot dan air lalu memancar darinya, sehingga seluruh tentara melakukan wudhu dari pot itu.

Aku melihat Rasul Allâh ketika sembahyang ‘Asr tiba dan orang2 mencari air untuk wudhu tapi mereka tidak menemukannya. Tak lama kemudian sebuah pot penuh air untuk wudhu dibawa kepada Rasul Allâh. Dia meletakkan tangannya ke dalam pot dan memerintahkan orang2 untuk wudhu dari pot itu. Aku melihat air memancar dari bawah jari2nya sampai semuanya melakukan wudhu (ini adalah salah satu muzizat sang Nabi). [270]
[270] Sahih Bukhari Volume 1, Book 4, Number 170

Di hadis yang lain kita baca bahwa Muhammad melipatgandakan roti; [271] atau dia memecah batu besar dengan sekopnya dan batu itu jadi pasir. [272] Atau, dia memberkati makanan yang tidak cukup untuk empat atau lima orang sehingga makanan itu cukup untuk memberi makan seluruh tentara. [273]
[271] Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 428
[272] Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 427
[273] Sahih Bukhari, Volume 7, Book 65, Number 293


Terdapat puluhan “muzizat” yang dikisahkan oleh para Muslim dilakukan oleh Muhammad. Beberapa dari (katanya) muzizat2 ini diakui sendiri oleh Muhammad. Ini adalah muzizat2 yang diakuinya sendiri, tapi Muslim tidak meragukan hal ini sama sekali. Salah satu muzizat adalah pengakuannya mengunjungi kota jin. Di hadis lain dia berkata bahwa sekelompok jin di Medina telah memeluk Islam.[274] Di satu dongengnya, dia mengaku bergulat dengan setan besar dan berhasil mengalahkannya.
[274] Sahih Muslim Book 026, Number 5559

"Tadi malam seekor setan besar dari para jin datang padaku dan ingin mengganggu sembahyangku tapi Allâh memampukan diriku untuk menaklukkannya. Aku ingin mengikatnya pada salah satu pilar2 mesjid agar kalian semua bisa melihatnya di pagi hari…” [275]
[275] Sahih Bukhari Volume 1, Book 8, Number 450

Dongeng2 seperti ini merupakan makanan bagi pengikutnya yang mudah ditipu. Ibn Sa’d mengutip kisah yang disampaikan oleh Abu Rafi, salah seorang Muslim, yang berkata suatu hari Muhammad mengunjunginya dan dia memotong kambing untuk makan malam. Muhammad suka bahu kambing dan Rafi menyajikannya. Lalu Muhammad minta satu lagi dan dia pun menyajikannya pula dan setelah habis, dia meminta lagi (Ingat bahwa Muhammad punya nafsu makan besar tak terpuaskan). Abu Rafi berkata, “Aku berikan kau kedua belah bahu. Berapa bahu yang dimiliki seekor kambing?” Muhammad menjawab, “Jika kau tidak mengatakan hal ini, kau sebenarnya bisa menyajikan berapapun bahu kambing yang kuminta.” [276]
[276] Tabaqat, Volume 1, halaman 375

Meskipun pengakuannya luar biasa, tapi kalau ditantang orang2 yang tidak mudah percaya, ternyata Muhammad berulangkali menyangkal bisa melakukan muzizat. Dia mengaku bahwa meskipun semua nabi lain diberi kemampuan untuk melakukan muzizat, satu2nya muzizat yang dimilikinya hanyalah Qur’an.

Sang Nabi berkata, “Tiada nabi diantara para nabi yang diberi muzizat yang mengakibatkan orang2 jadi yakin dan percaya, tapi aku diberikan Wahyu Illahi yang Allâh nyatakan padaku. [277]
[277] Sahih Bukhari Volume 9, Book 92, Number 379

Pertanyaannya adalah mengapa para Muslim dengan sesukanya mengarang dongeng muzizat2 yang dilakukan nabi mereka? Ini pertanyaan yang harus dijawab. Dugaanku adalah begitu Muslim yakin kebenaran Islam, mereka menghalalkan segala cara termasuk berbohong. Orang2 yang beriman teguh yang biasanya berakhlak luhur dan bermoral, ternyata dengan sukarela berbohong, ikut bagian dalam melakukan penipun, menindas orang2 lain, dan kalau perlu bahkan membunuh untuk mendukung agama mereka. “Alasan Utama” jadi begitu penting bagi mereka sehingga pertimbangan lainnya dikesampingkan. Tatkala orang jadi begitu percaya akan kebenaran suatu alasan sehingga mereka bersedia mati untuk itu, maka berbohong ataupun membunuh demi kepentingan alasan itu merupakan hal yang benar baginya. Hasil akhir menentukan tujuan sebenarnya. Filsafat dan ahli matematika Perancis bernama Pascal menulis:
“Orang tidak pernah melakukan kejahatan sedemikian menyeluruh dan suka hati, seperti ketika mereka melakukannya demi keyakinan agama.” Sejarah menyaksikan kebenaran kata2 Pascal. Telah banyak kejahatan dilakukan atas nama agama. Iman membutakan jemaat dan iman buta membutakan semuanya. Otoritas Imam Ghazali [278] dalam Islam tidak dipertanyakan. Dia berkata: “Jikalau mungkin mencapai sebuah tujuan dengan berbohong dan tidak mengatakan kebenaran, maka diperbolehkan berbohong tujuannya adalah benar.” [279]
[279] Abu Hamid Muhammad al-Ghazzâlî (1058-1111) dikenal sebagai Algazel adalah salah seorang ilmuwan Islam yang paling dihormati dalam sejarah pemikiran Islam. Dia lahir di Iran, lalu jadi ahli agama Islam, ahli filsafat, dan mistik. Dia banyak menyumbang bagi perkembangan Sufisme sebagai bagian dari Islam.

Osherow mengutip Kasindrof, “Jim Jones dengan cerdiknya mengatur kesan gerejanya akan menarik jemaat baru. Dia menyusun dengan seksama kesan umum gerejanya. Dia menggunakan surat dan pengaruh politik ratusan anggotanya untuk memuji dan mengesankan para politikus dan wartawan untuk mendukung Kenisah Rakyat, dan juga untuk mengritik dan mengancam penentang2 aliran itu.” [280]
[280] Kasindorf, J. Jim Jones: The seduction of San Francisco. New West, December 18, 1978

Jika sebuah surat kabar menulis sesuatu yang dianggap Muslim menghina Islam, maka para Muslim akan membanjiri kantor2 editor surat kabar itu untuk mengutarakan keluhan mereka. Mereka terus-menerus mengganggu sampai dikeluarkan pernyataan maaf secara resmi dan edisi surat kabar itu ditarik. Bagaimana mungkin kita bisa lupa kerusuhan massa dan pembunuhan orang2 tak bersalah ketika surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, menerbitkan beberapa kartun Muhammad. Atau juga ketika Paus Benedict XVI mengutip perkataan kaisar Byzantium yang menanyakan, “Tunjukkan padaku apa hal baru yang dibawa Muhammad?”

Di tanggal 10 November, 2003, Muslim Public Affair Committee atau MPAC di Inggris, yang adalah badan Islam yang serupa dengan CAIR di A.S., mengeluarkan surat amarah pada penerbit Amber Books dengan tuduhan penghujatan. Tuduhan itu ditujukan kepada isi buku yang berjudul The History of Punishment (Sejarah Hukuman) yang diterbitkan oleh Amber Books.

Buku ini bukan buku tentang Islam. Buku ini menyatakan pandangan tentang hukuman2 di berbagai budaya dan masyarakat. Dalam buku ini terdapat satu bab tentang cara2 kuno dalam menghukum, seperti hukuman dalam Alkitab, hukuman Romawi dan Sharia. Terdapat gambar2 di dalamnya, dan salah satunya adalah gambar Muhammad. Muslim segera marah dengan cepatnya. Pihak penerbit menerima ribuan surat amarah dan ancaman sampai mereka ketakutan dan menarik kembali buku itu dari peredaran dan menyatakan ucapan minta maaf resmi kepada pihak Muslim.

Di kasus lain, CAIR berhasil menekan perusahaan film Paramount Pictures untuk mengubah novel Tom Clancy yang berjudul The Sum of All Fears (Inti Sari Segala Ketakutan) untuk mengganti terori Muslim di naskah yang asli dengan neo-Nazi. Sutradara film yakni Phil Alden Robinson dipaksa menulis permintaan maaf kepada CAIR, dan menyatakan bahwa dia tidak berniat untuk menunjukkan citra negatif Muslim dan menambahkan: “Aku harap kau berhasil dalam usahamu menentang segala diskriminasi.”

Ketika di tahun 2002, evangelis Pat Robertson dan Jerry Falwell mengutarakan pendapat mereka tentang Islam, para Muslim di seluruh dunia murka dan membuat onar. Mullah2 Iran mengancam membalas dan beberapa orang Kristen dibunuh, termasuk beberapa sekolah anak2 di Pakistan. Bonnie Penner Witherall, yang adalah suster Kristen berusia, ditembak mati di Sidon, Lebanon.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Sat Jul 14, 2007 12:03 am

Pembenaran Diri Sendiri

Tolstoy berkata, “Baik untung maupun buntung tergantung pada bagaimana seseorang melihat kenyataan terhadap cara hidupnya salah tapi mampu mengelabui diri sendiri agar tidak menganggap nasibnya merana.” [281]
[281] The Kreutzer Sonata

Jim Jones menciptakan suasana dominasi dan pengontrolan total. Osherow menulis: “Dengan mengamati ketaatan dan pengaturan suasana di Jonestown, maka akan diketahui mengapa orang2 bertindak sesuatu. Begitu anggota2 sudah masuk ke dalam Kenisah Rakyat di Jonestown, tidak banyak yang dapat mereka lakukan selain mengikuti apa yang diperintahkan Jim Jones. Mereka di bawah pengaruh kekuasaan mutlak. Mereka tidak punya banyak pilihan, dikelilingi penjaga bersenjata api dan berada di tengah2 hutan, mereka telah menyerahkan passport dan surat2 penting mereka, telah bersumpah kepada Jones, dan percaya keadaan di luar bahkan lebih mengancam. Anggota2 diberi makan yang sangat tidak bergizi, disuruh bekerja keras, kurang tidur, dan terus-menerus dikecam keras oleh Jones atas kesalahan2 mereka. Semua ini menekan mereka untuk tunduk terus pada Jones.”

Kita tahu bahwa Muhammad bersikap kejam terhadap mereka yang meninggalkannya. Jadi bisa dilihat bahwa tidak banyak perbedaan antara jalan pikir Muhammad dan Jones. Akan tetapi, tidak benar kalau dianggap bahwa anggota2 aliran sesat tetap tinggal karena mereka dipaksa tunduk secara fisik saja. Pemaksaan sikap tunduk secara moral jauh lebih berpengaruh dan berlangsung lama. Korbannya jadi penurut, bahkan turut berpartisipasi terhadap penindasan dan perbudakan atas diri mereka sendiri.

Osherow menulis: “Di saat upacara bunuh diri akhir, kebanyakan anggota tidak mungkin lagi untuk bisa melawan atau melarikan diri. Tapi sebenarnya, tidak dapat disangkal bahwa tidak banyak yang ingin melawan dan pergi. Kebanyakan anggota percaya pada Jones. Di sebuah tubuh wanita ditemukan pesan yang tertulis di tangannya di saat2 terakhir yang tertulis: ‘Jim Joneslah satu2nya yang benar.’ [282] Mereka tampaknya telah menerima pentingnya dan bahkan “indahnya” kematian. Sebelum upacara bunuh diri berlangsung, seorang penjaga mendekati Charles Garry, yang adalah salah satu pengacara yang disewa Kenisah Rakyat. Penjaga itu berkata, “Saat yang indah… kita semua akan mati.” [282]
[282] Cahill T. In the valley of the shadow of death. Rolling Stone. January 25, 1979.
[283] Lifton, R. J. Appeal of the death trip. New York Times Magazine, January 7, 1979.


Anggota yang berhasil selamat di Jonestown adalah seorang dokter gigi dan dia diwawancarai tentang terjadinya kematian2 itu. Katanya, “Jika aku berada di sana, aku pasti jadi salah seorang dari mereka yang berbaris untuk minum racun dan merasa bangga melakukannya. Yang kusedihkan adalah: aku tidak ikut mengalami saat akhir itu.” [284]
[284] Gallagher, N. Jonestown: The survivors' story. New York Times Magazine, November 18, 1979.

Sukar untuk menerangkan dan mengerti peristiwa ini. Kenyataannya adalah begitu seorang percaya bahwa pemimpin alirannya adalah utusan illahi, maka mereka dengan suka hati mau jadi partisipan dan pelaku dari pikiran2 pemimpinnya yang tidak waras. Apa yang mendorong orang normal untuk berlaku ekstrim seperti ini? Apakah ini dapat menerangkan sikap fanatik dan pengabdian mutlak dari Muslim2 awal terhadap Muhammad? Apakah para Muslim awal itu melihat Muhammad sama seperti pengikut Kenisah Rakyat melihat Jim Jones? Hadis berikut ini menerangkan fanatisme buta para Muslim awal.

Rasul Allâh datang mengunjungi kami di siang hari dan air wudhu dibawa baginya. Setelah dia melakukan wudhu, air sisa wudhu dibawa oleh orang2 dan mereka mulai membilasi tubuh2 mereka dengan air itu (sebagai berkat). [285]
[285] Bukhari Volume 1, Book 4, Number 187

Di hadis lain kita baca:
Ali punya masalah di matanya, sehingga sang Nabi mengulaskan air ludahnya ke matanya dan memohon Allâh untuk menyembuhkan matanya. Ali seketika sembuh bagaikan tidak pernah sakit sebelumnya. [286]
[286] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 253

Semua kebohongan ini dikarang oleh para pengikut Muhammad. Muhammad tidak mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan selalu menderita sakit tubuh, jadi bagaimana mungkin dia sanggup mengobati orang lain dengan ludahnya?
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 17, 2007 12:24 am

Isolasionisme (Pengasingan Diri)

Osherow menyebut isolasionisme (pengasingan diri) sebagai “aspek di Jonestown yang paling merusak.” Katanya, “Sampai saat akhir, kebanyakan anggota Kenisah Rakyat percaya pada Jim Jones. Pengaruh2 luar dalam bentuk kekuasaan atau bujukan, dapat mengakibatkan orang jadi tunduk. Tapi yang harus diperhatikan adalah bagaimana anggota memproses kepercayaan itu dalam pikiran mereka. Meskipun perkataan2 Jones selalu tidak konsisten dan metodanya kejam, kebanyakan anggotanya tetap tunduk di bawah perintahnya.”

Qur’an juga mengangdung banyak hal yang tidak konsisten, penuh kontradiksi dan salah keterangan. Qur’an adalah buku yang membingungkan, tulisannya kacau balau, penuh khayalan dan pernyataan2 yang tidak masuk akal. Buku ini benar2 mimpi buruk bagi seorang editor. Tapi meskipun begitu, para Muslim menganggapnya sebagai buku muzizat, hanya karena Muhammad mengatakannya begitu.

Keterangan tepat mengapa orang terus saja percaya hal yang tak masuk akal ditulis oleh Osherow tentang pengamatannya pada Kenisah Rakyat. Dia menulis: “Begitu diri mereka terasing di Jonestown, hanya sedikit ada kesempatan dan motivasi untuk menentang; mereka tidak bisa melawan atau melarikan diri lagi. Dalam keadaan seperti itu, setiap orang berusaha menerima nasib buruk dirinya sebagai hal yang tidak buruk. Orang yang mengalami nasib buruk cenderung menilai nasibnya lebih positif dari orang lain. Contohnya, riset psikologi sosial menunjukkan bahwa jika anak2 tahu bahwa mereka akan disuruh makan sayuran yang mereka tidak sukai, maka mereka cenderung meyakinkan diri bahwa sayuran itu tidak terlalu memuakkan untuk dimakan. [287] Jika seseorang tahu dia harus berhubungan dengan orang lain, dia cenderung menjabarkan diri orang tersebut dengan lebih ramah.”[288]
[287] Brehm, J. Disonansi kognitif yang meningkat yang dilakukan penganut kepercayaan. Journal of Abnormal and Social Psychology, 1959, 58, 379-382.
[288] Darley, J. and Bersceild, E. Increased liking as a result of the anticipation of personal contact. Human Relations, 1967, 20, 29-40.


Pemimpin aliran sesta seringkali mengurung anggota2nya agar tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Jim Jones membangun kotanya sendiri di tengah2 hutan Guyana dan menamakannya sesuai namanya sendiri: “Jonestown” (kota Jones). Muhammad perti ke Yahtrib, kota yang aslinya dibangun oleh Muhammad dan setelah meyakinkan penduduknya orang Arab untuk mengikuti dirinya, maka dia pun mengubah nama kota itu sesuai dengan julukan yang diberikan Muhammad pada dirinya sendiri: Medinat ul-Nabi (Kota Sang Nabi).

Di Medina, Muhammad mulai membunuhi dan menghina terang2an setiap orang yang mempertanyakan otoritasnya. Medinat ul Nabi jadi persis sama dengan Jonestown. Muhammad menjadi penguasa mutlak dan yang melawan dihukum kejam. Jika ada pendatang masuk Medina dan jadi Muslim, maka dia tidak bisa ke luar dengan mudah.

Salah seorang yang berhasil meninggalkan Muhammad adalah Abdullah ibn Sa'd Abi Sarh. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, dia memberi pengampunan kepada semua penduduk Mekah kecuali kepada 10 orang. Orang2 ini adalah mereka yang mengritik dan mengejek dirinya. Salah satu dari mereka adalah Abi Sarh.

Abi Sarh dulu adalah juru tulis Muhammad dan dia menulis ayat2 Qur’an yang diimlakan Muhammad di Medina. Dia lebih berpendidikan daripada Muhammad dan seringkali memperbaiki komposisi ayat2 Muhammad dan menyarankan penulisan yang lebih baik dan Muhammad pun setuju. Hal ini membuat Abi Sarh sadar bahwa Qur’an tidak diwahyukan dan Muhammad hanya mengarangnya saja. Dia lalu melarikan diri dan kembali ke Mekah. Di sana dia menyebarkan hal itu. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, meskipun sudah menjanjikan pengampunan bagi seluruh orang Mekah jika mereka menyerah dan masuk Islam, dia tetap memerintahkan pemancungan atas Abi Sarh. Nyawa Abi Sarh selamat karena Othman menengahi. Hal lain adalah karena Muhammad tidak bisa memberi isyarat yang jelas pada pengikutnya. Ketika Othman memohon Muhammad untuk tidak membunuh Abi Sarh, yang adalah saudara angkatnya pula, Muhammad diam saja. Pengikut2 Muhammad mengira sikap diamnya adalah karena dia mengabulkan permintaan Othman. Setelah Othman dan Abi Sarh pergi, Muhammad mengomel dan berkata dia tidak mau menolak permintaan sahabatnya Othman, tapi dia berharap pengikutnya dapat melihat raut muka Muhammad yang tidak suka dan lalu membunuh Abi Sarh. Kisah ini juga menunjukkan kemunafikan sang Nabi Allâh yang ingin menyenangkan Othman tapi sekaligus ingin membunuh Abi Sarh. Dia tidak mau langsung mengeluarkan perintah bunuh kepada pengikutnya karena takut Othman menyalahkannya.

Ibn Ishaq menjelaskan: “Alasan dia memerintahkan Abi Sarh dibunuh adalah karena dulu Abi Sarh itu Muslim dan biasa menulis ayat2 bagi Muhammad; tapi lalu dia murtad dan kembali ke Quraish (Mekah)…” Dia seharusnya dibunuh karena murtad, tapi selamat karena Othman menengahi. [289]
[289] Sirat, p. 550

Suasana di Medinah sangat menegangkan. Islam dan Jihad jadi pusat kehidupan masyarakatnya. Muhammad memerintahkan mereka pergi ke mesjid, sembahyang lima kali sehari, dan para prianya ke luar kota untuk menjarah, merampok, menyerang kafilah2, menghancurkan desa2, membunuh para pria dan memperkosa wanita2.

Hadis yang dilaporkan baik Imam Bukhari maupun Imam Muslim menunjukkan sebanyak apa ancaman yang dilakukan Muhammad untuk membuat orang2 tunduk pada perintahnya. Dia dilaporkan berkata:

Aku berpikir untuk mengumumkan saat sholat dan menyuruh seseorang memimpin jemaat sholat, dan aku akan pergi bersama orang2 sambil membawa obor kepada orang yang tidak ikut sholat dan lalu membakar rumah2 mereka dengan api. [290]
[290] Muslim Book 004, Number 1370; and Bukhari Volume 1, Book 11, Number 626

Di hadis ini Muhammad mengancam bakar bagi mereka yang tidak mau sholat bersama di mesjid.

Hidup di Medina jadi sangat berubah. Dulu sebelum Muhammad datang, masyarakat Yathrib adalah petani, pembuat karya seni, dan pedagang. Pusat perdagangan digerakkan oleh orang2 Yahudi, yang adalah pekerja keras, tahu baca tulis, dan makmur. Orang2 Arab kebanyakan buta huruf, malas, dan santai. Mereka tidak punya banyak kemahiran dan bekerja bagi kaum Yahudi. Ketika Muhammad mengusir dan membunuhi orang2 Yahudi, kota itu berubah drastis. Tidak ada bisnis apapun yang dapat dikerjakan orang2 Arab untuk menafkahi dirinya. Ekonomi kota runtuh semua. Orang2 hidup bergantung sepenuhnya pada barang jarahan dan rampokan yang disediakan Muhammad bagi kelangsungan hidup mereka. Bagi mereka, tidak ada jalan ke luar untuk kembali. Mereka bergantung sepenuhnya pada Muhammad dan barang2 jarahan darinya. Bahkan orang2 yang tidak percaya padanya seperti Abdullah ibn Ubbay dan pengikutnya juga ikut pula dalam kegiatan penjarahan yang dilakukan Muhammad. Ini bukan berarti mereka mau mendukung Islam tapi karena barang jarahan merupakan satu2nya mata pencaharian bagi penduduk Medina. Jika mereka tidak mau ikut dalam penjarahan yang dilakukan Muhammad maka mereka akan kelaparan. Sama seperti anggota2 Kenisah Rakyat, para Muslim dihadapkan pada keadaan yang tidak memungkinkan lagi, yang akhirnya membuat mereka menerima keadaan mereka sendiri. Beberapa yang berani bicara melawan pemimpinnya akan dibunuh atau dikecam.

Masyarakat Arab Medina merupakan masyarakat termiskin. Mereka ****, miskin, dan percaya takhayul. Bagi mereka, hanya memiliki satu unta dan satu mantel saja sudah membuat mereka merasa kaya. Mereka dulu bekerja sebagai pelayan bagi orang2 Yahudi. Beberapa hadis menyatakan bahwa orang2 Arab ini mendapatkan harta pertama mereka dari “barang jarahan dari Allâh” sesuai dengan yang disebut dalam Qur’an, dan barang jarahan itu didapatkan dari usaha perampokan. Selain itu banyak tersedia pula jarahan berupa budak2 seks wanita. Para wanita yang ditangkapi di usaha2 perampokan menjadi tambahan rangsangan bagi Muslim untuk ikut menjarah, terutama para mujahirin (yang hijrah dari Mekah ke Medinah) yang pada umumnya masih bujangan.

Begitu kaum Yahudi dibunuhi dan diusir, para Arab miskin di Medina tidak punya pilihan lain selain ikut pasukan Muhammad dan berperang baginya, jika masih ingin bisa makan. Alasan utama Muslim awal untuk berjihad adalah kekayaan dan seks.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 17, 2007 12:37 am

Perubahan Perlahan

Hidup orang beriman itu berat karena penuh pertentangan bathin dan harus menjalankan berbagai aturan ibadah agama tiada arti yang harus dilakukannya tanpa banyak tanya. Dia pelan2 harus tunduk dalam kehidupan ini. Osherow menulis: “Keterlibatan seorang anggota dalam Kenisah Rakyat tidak dimulai di Jonestown, tapi jauh lebih awal daripada itu, dekat dengan rumah mereka pribadi, dan tidak sedramatis di Jonestown. Awalnya, anggota2 itu mendatangi pertemuan2 secara sukarela dan menyempatkan diri beberapa jam setiap minggu bekerja di gereja Jim Jones. Meskipun anggota2 lama akan mengajak anggota baru untuk bergabung, tapi mereka bisa bebas memilih untuk tetap tinggal atau pergi. Jika mau bergabung, maka anggota itu akan lebih bertekad setia pada Kenisah Rakyat. Sedikit2, Jones menambah perintahnya pada setiap anggota. Setelah lama jadi anggota, barulah Jones mulai meningkatkan sikapnya yang menindas dan tuntutan2 dalam pesan2nya. Sedikit demi sedikit, pilihan lain bagi anggota dikurangi. Langkah demi langkah, orang itu tergerak untuk melogiskan pengabdiannya dan membenarkan perbuatannya.”

Mereka yang jadi mualaf (Muslim baru) juga melaporkan hal yang sama. Perubahan dalam diri mereka berlangsung perlahan. Begitu mereka mulai lebih terlibat, tingkat tuntutan pelan2 meningkat. Para wanita diberitahu bahwa menutupi rambut mereka bukanlah kewajiban, tapi merupakan hal yang suci untuk dilakukan. Lalu anggota baru disuruh menahan diri agar makan makanan halal, melakukan sholat, puasa, berzakat dan pelan2 mereka ditunjukkan nilai2 luhur dan iming2 hadiah jihad. Jihad ini harus dilakukan oleh setiap Muslim. Karena para mualaf biasanya penuh semangat untuk diterima dalam kelompok Muslim, maka mereka mau saja berbuat apapun yang diperintahkan dan bahkan mencoba lebih beribadah daripada mereka yang terlahir Muslim. Ini sama dengan kata pepatah “lebih katolik daripada Paus sekalipun.”

Indoktrinasi ini begitu perlahan sehingga mualaf merasa mereka melakukan hal ini secara sukarela. Mereka akhirnya akan melakukan hal2 yang dulu mereka rasa sangat konyol. Seorang ex-Muslimah Amerika menulis padaku bahwa ketika dia pertama kali melihat sekelompok Muslimah mengenakan burqa hitam sekujur tubuh, dia tertawa dan merasa kasihan pada mereka. Akhirnya dia memeluk Islam dan mulai mengenakan burqa (neqab) yang bahkan menutupi wajahnya. Aku mengenal wanita ini di internet karena dia membuat website yang mempromosikan Islam dan menghinaku. Dia memperingatkan Muslim lain untuk tidak membaca tulisan2ku. Tentunya dia sendiri tidak melakukan anjurannya sendiri karena dia tidak tahan untuk tidak membaca tulisan2ku. Akhirnya kebenaran menerpanya dan dia meninggalkan Islam sama sekali. Dia menjelaskan padaku bagaimana dirinya tersedot dalam Islam sampai2 dia mengajak suaminya yang non-Muslim memeluk Islam dan mengambil istri baru.

Di dunia nyata, aku bertemu para Muslimah yang dicuci otaknya sedemikian parah sehingga mereka membela pernyataan Muhammad bahwa wanita itu **** dan lebih rendah daripada pria, sedangkan di saat yang sama, mereka yakin sekali Islam memerdekakan wanita. Iman jelas merupakan narkotik yang melumpuhkan nalar.

Alasan2 orang jadi mualaf mungkin karena mereka mengira doktri monotheisme itu menarik atau mungkin pula karena mereka ingin jadi anggota “persaudaraan” yang besar. Apapun alasannya, para mualaf itu dalam waktu singkat akan menjadi pembenci Yahudi dan lalu negara mereka sendiri (terutama mereka yang tinggal di negara non-Islam). Tak lama kemudian mereka akan membenci orangtua mereka yang non-Muslim dan menjauhkan diri dari kawan2 non-Muslim. Demi memenuhi kewajiban agama, akhirnya mereka menjadi seorang jihadis dan teroris dan dengan senang hati melakukan pengorbanan akhir yakni mati syahdir (martir).

Seorang Kanada yang jadi mualaf tapi lalu murtad dan kembali memeluk agama aslinya, menulis pengalamannya dulu sebagai Muslim:

Islam yang asli sukar dicerna bagi kafir sehingga untuk membuat banyak orang tertarik pada dakwah Islam, maka Muslim menyesuaikan prinsip2 Islam agar sesuai dengan harapan kafir yang mendengarnya. Islam moderat yang disesuaikan yang dulu membuatku tertarik dan masuk Islam harus disesuaikan lagi agar tampak aslinya. Di mesjid lokal aku selalu disalami dan dipeluk. Hal menyenangkan ini tidak kualami di rumah, terutama dari ibuku yang selalu tidak puas akan prestasiku dan ayah yang tidak peduli atas kemajuanku. Karena bujukan saudara2 Muslimku, aku ingin unggul dalam beribadah Islam; mungkin menikah dan menguasai penuh bahasa Arab dan jadi mujahidin (dalam jihad) dan mati syahid.

Begitu masuk Islam, mualaf jadi begitu mudah dibohongi dan naif, sehingga dengan menerima saja segala tingkah laku dan propaganda Islam yang tidak masuk akal yang mempengaruhi masyarakat Muslim. Kami tidak mau bergaul dengan kafir dan menolak semua yang tidak Islami. Seorang mualaf menyatakan Osama bin Laden lebih baik daripada “sejuta George Bush” dan “seribu Tony Blairs” hanya karena Osama itu Muslim. Kami dengan sombong mengaku sebagai “orang2 terbaik dari seluruh umat manusia” (3:110). Sehingga jika kejadian kekerasan terjadi dan jelas dilakukan oleh Muslim demi nama Allaah, maka kami semua merasa puas. Kami mendukung pelanggaran kemanusiaan di negara2 Muslim, bahkan jika korbannya adalah Muslim pula. Teori2 konspirasi yang menyebar di masyarakat Muslim benar2 ngawur. Tidak ada seorang Muslim pun, bahkan yang moderat sekalipun, yang mau mengakui pelaku2 Muslim 9/11. Seperti yang dikatakan rekan kelasku dari Afghanistan, “Itu pasti perbuatan orang2 Yahudi!” Jika terjadi peristiwa yang membuat orang cenderung melakukan kritik sendiri, kami bukannya melakukan kritik diri itu tapi malah menyalahkan Yahudi, kambing hitam favorit kami. Kami menyatukan diri jadi bagian ummah Islam dan sama2 mendukung agenda politik Arab Muslim, membiarkan janggut tumbuh, menyatakan kebencian pada Yahudi, sering mengucapkan kata bid’ah (mengutuk modernisme), dan melawan negara Islam. Kami dengan bangga mengaku kebenaran jihad, tapi bersikap **** jika seorang kafir bertanya tentang teror yang dilakukan jihadis dan lebih memilih menjawab, misalnya, “Bagaimana kau tahu itu dilakukan oleh Muslim? Mana buktinya?” Meskipun kami tidak buta terhadap videotape2 kesaksian teroris Muslim, kami memilih membutakan diri saja. Tidak semua Muslim jadi teroris, tapi kebanyakan teroris adalah Muslim. Jika orang2 Amerika dan Yahudi mati, para Muslim bersuka cita. Hal ini jelas kulihat dari diri seroang Muslimah yang baru berusia lima tahun. Para mualaf secara buta menerima saja segala intrepetasi Islam yang kolot yang diajarkan imigran Muslim. Mereka mengajarkan Islam sebagai agama yang melarang ijtihaad (diskusi bebas) guna memberangus orang2 yang berpikir kritis dan agar agama mereka tetap berkuasa.
[291]
[291] www.faithfreedom.org/Testimonials/Abdulquddus.htm

Jeanne Mills [292], anggota Kenisah Rakyat yang berhasil melepaskan diri dua tahun sebelum aliran sesat itu pindah ke Guyana, menulis pengalamannya di bukunya yang berjudul Six Years with God (Enam Tahun bersama Tuhan) (1979). Dia menulis: “Setiap kali aku menceritakan pada seseorang tentang masa enam tahunku menjadi anggota Kenisah Rakyat, aku menghadapi pertanyaan yang tidak bisa kujawab: Jika gereja itu sedemikian jelek, mengapa dong kau dan keluargamu tetap jadi anggota untuk waktu yang sangat lama?” Osherow berkata, “Beberapa pengamatan lama dari penyelidikan kejiwaan sosial tentang proses pembenaran diri dan teori penerimaan hal yang tidak disetujui (cognitive dissonance) dapat menjelaskan perbuatan yang tampaknya tidak rasional.”
[292] Lihat Aronson, E. The social animal (3rd ed.) San Francisco: W. H. Freeman and Company, 1980. AND Aronson, E. Teori disonansi kognitif: Perspektif Masa Kini. In L. Berkowitz (ed.), Advances in experimental social psychology. Vol. 4, New York: Academic Press, 1969.

John Walker Lindh dikenal sebagai “Taliban Amerika.” Dia adalah anak muda yang pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan Al Qaida dan melawan tentara negaranya sendiri. Dia tidak jadi teroris hanya dalam waktu semalam saja. Ketertarikan John pada Islam dimulai di usia 12 tahun. Ibunya membawanya nonton film yang disutradarai Spike Lee yang berjudul “Malcolm X.” Majalah Time mengutip perkataan ibu Lindh, “Hatinya tergerak melihat adegan orang2 segala bangsa menyembah pada Tuhan.”

Tidak ada yang peduli untuk memberitahu anak muda ini akan bahaya Islam. Sebaliknya, dia malah mendapat restu dan ijin dari orangtuanya untuk memeluk Islam, karena kedua orangtuanya juga tidak tahu apa2 tentang Islam. Majalah Time edisi 29 September, 2002 menulis: “Orangtua John senang melihat anaknya menemukan sesuatu yang menarik hatinya. Pada jaman itu orangtua2 lain yang mereka kenal bergulat dengan masalah anak2 mereka yang terlibat obat bius, ngebut, minum. Hal ini membuat mereka mengira ketertarikan anak mereka terhadap Islam bukanlah masalah apapun. Ibu John yang bernama Marilyn biasa mengantar anaknya ke mesjid untuk sembahyang Jum’at. Di petang hari, seorang Muslim akan mengantar John pulang.”

Masyarakat Amerika yang penuh toleransi juga tidak melihat apapun yang salah jika seorang anak muda Amerika memeluk Islam. Dia berjalan dengan baju Islamnya yang aneh di jalanan, dan orang2 Amerika lainnya tidak menegurnya. “Ini dianggap sebagai anak muda mencoba sesuatu yang baru dalam hidupnya, dalam diri rohaninya, dan ini tentunya bukan hal yang mengerikan atau layak dibenci,” demikian laporan majalah Time.

Bukannya menyelidiki tentang Islam yang sebenarnya, ayah John malahan membiarkan dirinya ditipu oleh “keramahan budaya Islam oleh para Muslim.” Hal ini sendiri merupakan tanda2 peringatan sifat kultis Islam. Anggota2 aliran2 sesati biasanya luar biasa “ramah” dan ramah terhadap mereka yang mendukung agama mereka. Ayah John tidak mampu melihat bahaya Islam dan malah berusaha “menghargai” agama anaknya. Suatu hari dia memberitahu anaknya, “Kukira kau tidak benar2 memeluk Islam, tapi menemukannya di dalam dirimu; kau menemukan dirimu yang Muslim.”

Orang tua John dan seluruh rakyat Amerika yang gampang percaya tidak menyadari bahwa John yang masih muda ini pelan2 mengalami cuci otak dan indoktrinasi sehingga mulai membenci negaranya sendiri. Majalah Time mengutip, guru bahasa di Yemen berkata, “Ketika Lindh datang dari Amerika, dia sudah benci Amerika.” Tulis Time: “Surat2 Lindh dari Yemen sudah menunjukkan sikapnya yang mendua tentang A.S. Di sebuah suratnya pada ibunya tanggal 23 Sept., 1998, dia menulis bahwa pemboman di kedubes2 A.S. di Afrika bulan sebelumnya merupakan serangan yang “dilakukan Pemerintah Amerika sendiri dan bukan oleh Muslim.”

Kaum non-Muslim pelan2 jadi biasa mendengar taktik Islam yang melakukan tindakan kriminal dan menyalahkan korbannya. Setiap orang sudah mendengar bualan tentang “4000 orang Yahudi tidak masuk kerja di pagi hari 9/11/2001”, yang dikarang oleh para Muslim dan teori konspirasi yang mereka ciptakan untuk menyalahkan CIA dan Mossad padahal Bin Laden sendiri dengan sombongnya menyatakan kemenangannya. Jadi John muda yang inosen itu pelan2 dibimbing untuk percaya bahwa Islam adalah SATU-SATUNYA agama sejati bagi seluruh umat manusia. Dia mempelajari dan melakukan ibadahnya dengan tulus dan penuh semangat. Dia mulai membaca dan menghafal Qur’an dan di buku catatannya dia menulis, “Kita akan melakukan jihad selama kita hidup.”

Dengan menjadi Muslim, John Walker Lindh sudah masuk gelembung sabun dunia Muhammad yang narsistik. Dia mulai menunjukkan tanda2 pemikiran Islam yang irasional dan narsistik. Dia jelas tahu siapa yang bertanggung-jawab atas serangan teroris 9/11. Akan tetapi, di satu pihak dia menyangkal ini adalah hasil karya Muslim dan di pihak lain dia bersumpah untuk berjihad selama hidupnya.

John juga mengasingkan diri dari masyarakat negaranya. Berdasarkan Qur’an Muslim memang tidak boleh berteman dengan kafir. (Q.9:23) Mereka diminta untuk memerangi yang tidak percaya pada Allâh (Q.9:29) dan membunuh mereka. (Q.9:123) Seorang Muslim tidak boleh menerima agama lain. (Q.3:85)

Tidak heran ketika John menulis pada ibunya setelah pemilu presiden A.S. tahun 2000, dia menyebut George W. Bush sebagai “presidenmu yang baru” dan menambahkan, “Aku senang dia bukan presidenku.” Tentu saja bukan! Seorang Muslim tidak boleh menerima pimpinan kafir. Dia harus menentangnya, memeranginya dan berusaha membunuhnya. (Q.25:52)

John Walker Lindh adalah korban sakitnya masyarakat Barat yang disebut sebagai kebenaran politis (political correctnes = membenarkan hal yang salah untuk mencari kedudukan yang aman). Bukankah Ronald Reagan menyebut teroris Islam di Afghanistan sebagai “pnjuang kemerdekaan”? John lalu jadi pejuang kemerdekaan. Apa salahnya dengan hal itu? Bukankah Presiden George W. Bush dan Tony Blair berulang kali mengumumkan bahwa “Islam adalah agama damai”? Mengapa harus memenjarakan pengikut agama damai yang hanya melakukan apa yang tertulis dalam ajaran agama damainya?

Pihak Barat telah salah – salah karena melakukan dukungan, bersikap tidak peduli dan menipu diri sendiri.

Sebagai bacaan wajib musim panas tahun pertama mahasiswanya, Prof. Michael Sells dari University of North Carolina menyusun buku berjudul Approaching the Qur’an (Menelaah Qur’an) yang isinya hanya ajaran2 “baik” dari Qur’an yakni ayat2 Mekah saja, dan ayat2 Medinah yang penuh kekerasan, kucuran darah yang memerintahkan pembunuhan, penjarahan, dan pemerkosaan kafir, yang membuat orang waras manapun muak, sengaja tidak dimasukkan. Ini tidak lebih daripada permainan tipuan belaka. Penipuan yang sama dilakukan pula dalam buku2 karangan Karen Armstrong dan John Esposito tentang Islam. Anak2 muda Amerika dibohongi. Citra yang keliru tentang Islam diberikan pada mereka oleh akademis2 Barat, yang hanya Tuhan saja sendiri yang tahu apa tujuannya. Tatkala anak2 muda ini percaya apa yang dijejalkan dalam mulut mereka, percaya akan pertimbangan mereka, dan lalu memeluk Islam, maka masyarakat mencap mereka sebagai teroris, memenjarakan mereka, dan menghukum mereka. Bukankah ini munafik? Anak2 muda ini tidak bersalah. Mereka adalah hasil sikap masyarakat yang salah yang disebut sebagai kebenaran politis.

Berapa banyak koran2, TV2, dan radio2 yang berani mengatakan hitam ya hitam jika itu tentang Islam? Politikus kita yang mana yang berani berdiri di muka kamera dan menyatakan kepada seluruh bangsa bahwa Islam bukanlah agama damai? Bagaimana dengan anak2 kita? Jika seseorang berani mengatakan yang sebenarnya, maka dia seketika dicap sebagai rasis atau pembenci, dan kepalanya akan melayang. Akan tetapi, pelaku propaganda Islam diberi kebebasan untuk memutarbalik kebenaran dan menyebarkan kebohongan2 mereka, karena mereka tahu mereka tidak akan ditantang dengan apapun yang mereka katakan.

CAIR, Council of American-Islamic Relations (Konsul Hubungan Islam Amerika) (atau yang lebih tepat disebut sebagai “Conning Americans with Islamic Ruse” (Menipu Amerika dengan Muslihat Islam) membanjiri ribuan perpustakaan2 di seluruh Amerika dengan buku2 Islam, dengan harapan dapat menemukan John Walkers Lindsh yang lain. Mesjid2 dibangun di setiap kota dan desa di seluruh Amerika untuk membangkitkan kebencian terhadap Amerika diantara anak2 Amerika. Keadaannya malah lebih parah lagi di Eropa, Australia, Kanada, dan negara2 non-Muslim. Menurut “laporan rahasia” yang ditulis oleh Sean Rayment, Security Correspondent dari harian Sunday Telegraph pada tanggal 25 Februari, 2007, menyatakan bahwa lebih dari 2.000 Muslim berusaha melakukan aktivitas teroris di negaranya. Tiada seharipun seseorang tidak dibunuh teroris Muslim di penjuru dunia. Apa sih yang dibutuhkan agar dunia bangun dan menyadari bahwa Islam bukanlah agama tapi aliran sesat yang berbahaya? Kapan kita akan mempelajari Qur’an dan sejarah Islam untuk mengerti bahwa teroris bukanlah “ekstrimis” tapi hanya Muslim yang menjalankan ajaran2 agamanya yang asli dan nyata dan contoh perbuatan telah dilaksanakan oleh nabi mereka yang tercinta?

Begitu orang memeluk Islam, mereka masuk dunia kebohongan, kebodohan dan ketakutan, di mana khayalan menjadi kenyataan dan kejahatan dinyatakan sebagai perintah illahi. Nilai2 moral mereka mulai berantakan dan mereka melakukan hal2 yang tidak dapat diterima sebelum mereka kena indoktrinasi Islam. Semakin lama mereka berlaku seperti itu, semakin keras pula diri mereka, sampai2 tidak mungkin lagi kembali ke dunia nyata. Islam bertindak bagaikan kelumpuhan yang menyebar, yang perlahan-lahan mengkorupsi nalar dan nurani, sampai membentuknya menjadi buah Islam terbaik bagi seluruh Muslim yakni jihadis, atau yang lebih dikenal sebagai teroris, yang adalah mereka yang paling dicintai Allâh dan rasulnya.

Osherwo memberikan penjelasan kejiwaan yang lengkap terhadap kecenderungan ini: “Menurut teori disonan (pertentangan), ketika seseorang melakukan tindakan atau mempercayai hal yang tidak disetujuinya yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya, maka pertentangan ini mengakibatkan ketegangan yang tidak menyenangkan. Orang ini lalu akan mencoba mengurangi pertentangan, dan biasanya dengan cara mengubah kelakukannya agar sesuai dengan perbedaan atau kepercayaan tadi. Beberapa kejadian di Kenisah Rakyat dapat menerangkan terjadinya proses ini. Kejadian2 mengerikan di Jonestown tidak terjadi hanya karena ancaman2 belaka, dan tidak terjadi tiba2. Hal ini tidak terjadi karena orang2 lepas kontrol atau hilang ingatan, yang mengkibatkan mereka melakukan hal2 yang tidak waras. Yang terjadi adalah seperti yang dijelaskan dalam teori disonan kognitif, yakni orang2 membenarkan pilihan dan tekad mereka sendiri. Sama seperti air terjun raksasa dimulai dari beberapa tetes saja, maka perbuatan ekstrim dan musibah besar dalam terjadi melalui sikap setuju untuk melakukan perbuatan2 sepele yang tampaknya tak berarti. Dalam Kenisah Rakyat, prosesnya dimulai dengan menjalani pengurungan diri dan hanya bergabung bersama gereja Jones saja. Hal ini ditambah pula dengan kecenderungan membenarkan tekad dan tindakan dirinya.”

Mualaf (Muslim baru) seringkali menghadapi banyak kesukaran, dan ini mereka anggap sebagai “ujian dari Tuhan” dan “proses penyucian”. Hal ini dimulai dari berhenti minum minuman beralkohol dan makan babi. Memperhatikan apa yang dimakannya dan memilih makanan halal merupakan pembatasan kemerdekaan. Yang pria pelan2 tidak bergabung dengan para wanita sambil menekan hasrat seksual mereka. Hal ini mengganggu pikiran dan mereka seringkali terus-menerus merasa bersalah. Pikiran2 seksual tidak dapat dengan mudah ditekan. Akibatnya, banyak dari mereka yang terobsesi dengan seks. Seluruh tenaga mental mereka digunakan untuk memerangi “setan” dalam diri mereka. Semakin banyak mereka merasa bersalah tentang seks, semakin mereka benci terhadap wanita yang mereka salahkan karena menggodanya.

Lalu mereka wajib melakukan sholat lima waktu dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Jika tidak sholat, mereka merasa bersalah dan harus melakukan sholat2 penggantinya. Wajib sholat dan tepat melakukannya adalah bentuk lain dari perbudakan mental. Qur’an juga harus dibaca dan dihafalkan, tapi tidak perlu dimengerti. Yang paling penting adalah pelafalan yang benar. Muslim tidak diperbolehkan untuk bertanya apalagi mengritiknya. Ini dapat berarti kematian.

Lalu ada daftar2 panjang yang termasuk haram yang harus dihindari Muslim, seperti anjing, babi, kencing, dan kafir. Muslim harus waswas dengan hal2 yang kotor ini dan cuci tubuh setiap kali menyentuh mereka. Bagi mualaf wanita, pelarangan bahkan lebih banyak lagi. Dia harus mengerudungi dirinya dengan jilbab dan memakai pakaian longgar, bahkan di hari panas terik sekalipun. Belanja ke pasar sambil berjilbab di siang hari yang panas merupakan siksaan. Semua kesusahan ini meningkatkan iman Muslim pada Islam lebih banyak lagi. Mereka mengira dengan lebih banyak menderita maka mereka akan lebih banyak menerima upah di alam baka. Para wanita harus tunduk pada kaum pria di keluarganya dan selalu taat dan penuh hormat. Mereka diancam, dihina, dipukul, diperkosa dan bahkan dibunuh, dan tiada perlindungan yang berarti dari masyarakat Muslim. Islam sangat berharga bagi Muslim, alasan utama adalah karena melakukan ibadah Islam sangatlah sulit.

Keadaan kejiwaan kecenderungan ini diterangkan oleh Osherow: “Ambilah contoh, calon anggota datang pertama kali ke Kenisah Rakyat. Jika seorang mengalami awal yang sulit untuk diterima dalam sebuah kelompok, maka orang ini cenderung mengira kelompok ini menarik hati, agar membenarkan dirinya dalam menjalani banyak kesusahan dalam kelompok ini."

Aronson and Mills [293] menunjukkan bahwa murid2 yang mengalami rasa malu besar sebagai persyaratan diterima dalam suatu kelompok diskusi, maka mereka menilai percakapan2 dalam diskusi itu jauh lebih menarik dibandingkan penilain murid2 lain yang tidak mengalami hal yang memalukan. Padahal dalam kenyataannya, percakapan2 tersebut sangatlah membosankan. Orang yang sukarela menjalani hal2 yang sulit juga cenderung menganggap hal itu tidak sesulit yang sebenarnya. Zimbardo [294] dan koleganya menunjukkan hal ini melalui suatu prosedur yang mengharuskan orang2 yang yang berpartisipasi untuk sukarela disetrum. Mereka yang mengira punya pilihan lain dalam hal ini melaporkan tidak merasa begitu sakit ketika disetrum. Lebih tepatnya, mereka yang mengalami disonansi yang lebih besar, yang membenarkan diri sendiri untuk mau sukarela disetrum, melaporkan bahwa rasa disetrum tidak sesakit yang dilaporkan orang lain yang tidak mengalami disonansi. Hal ini berpengaruh bahkan di luar perasaan dan perkataan mereka; mereka jadi lebih giat melakukan hal sulit itu tersebut, reaksi kulit galfanik mereka pada setrum yang terbaca di alat pengukur juga ternyata rendah. Jadi proses menekan disonansi bagaikan pedang bermata dua: di bawah bimbingan yang benar, orang yang sukarela menjalani hal sukar menganggap hal itu tidak seberat yang sebenarnya, tapi bisa juga malah mengakibatkan hal yang sebaliknya: “Kami mulai menyukai pertemuan2 yang berlangsung lama melelahkan, karena kami diberitahu bahwa pertumbuhan rohani datang dari pengorbanan diri sendiri.” (Mills, 1979)
[293] Aronson, E., AND Mills, J. The effects of severity of initiation on liking for a group. Journal of Abnormal and Social Psychology. 1959, 59, 177-18 1.
[294] Zimbardo, P. The cognitive control of motivation. Glenview, Ill.: Scott Foreman, 1969.


Hal ini menjelaskan mengapa Muslim dengan senang hati menjalani berbagai siksaan dan menganggapnya sebagai anugrah. Semua penderitaan ini dianggap sebagai pengorbanan kecil untuk mencapai upah yang lebih besar. Semakin menderita, semakin besar pula upanya. Contoh ekstrim pengabdian ini dapat dilihat di bulan Ashura, ketika Shia Muslim beramai-ramain memukuli diri sendiri di bagian dada dan mencambuki punggung mereka dengan cambuk besi, dan bahkan memotong jidat mereka sampai darah banyak mengucur. Dengan berlumuran darah sendiri, mereka berbaris ramai2 sehingga mengingatkan gambaran neraka yang ditulis Dante. Selain sholat lima waktu sebagai kewajiban, sebulan puasa makan minum, dan ibadah2 berat lainnya, Muslim juga harus menyerahkan seperlima penghasilan mereka kepada mesjid sebagai Khoms, dan dia juga harus memberi zakat.

Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk melakukan jihad dan merampoki kekayaan kaum non-Muslim. Hal ini mungkin meragukan bagi beberapa pengikutnya yang masih punya nurani. Apakah memang kekayaan yang diambil melalui perampasan merupakan kekayaan yang suci? Tentunya begitu yang mereka pikirkan. Reaksi Muhammad adalah kekayaan hasil rampasan itu suci jika seperlimanya diberikan padanya. Dia menjejalkan ayat berikut ke dalam mulut tuhan boneka jejadiannya, memerintahkan dirinya untuk:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [295]
[295] Qur’an, Sura 9, Verse 103

Seperti yang kukatakan sebelumnya, setelah pengusicaran dan pembantaian masal kaum Yahudi di Medina, kota itu bukan lagi kota industri yang produktif. Sumber kekayaan mereka hanya dari merampok dan merampasi suku2 Arab lainnya. Kaum Muslim hanya bergantung pada barang jarahan yang didapatkan dari usaha merampok terus-menerus dan semua itu diatur oleh Muhammad. Khoms diwajibkan oleh sang Nabi untuk “memurnikan” harta haram itu dan tentunya untuk mengisi peti harta karun sang Nabi suci dan menyuplai tempat tidurnya dengan daging2 wanita yang baru. Bahkan sampai hari ini pun, para Muslim yang mencari nafkah secara jujur wajib untuk bayar khoms dan zakat. Terdapat ayat2 yang terus-menerus memperingatkan Muslim untuk “menyumbangkan sebagian uang untuk jalan Allâh”(Q.2:195) dan mengharuskan untuk “perang bagi Iman, dengan segala harta dan orang2nya.” (Q.8:72)

Muhammad menawarkan surga penuh orgi (pesta seks) dengan segala keindahan2nya bagi siapapun yang percaya padanya dan melakukan jihad baginya. Yang diperlukan hanyalah berhenti berpikir dan percaya apapun yang dikatakannya dan ini akan memberikannya jaminan masuk surga dan kenikmatan seksual abadi. Begitu seseorang masuk Islam atau aliran kepercayaan sesat manapun, dia pelan2 akan diminta untuk memberikan apapun yang dimilikinya, dari uangnya sampai waktunya. Tak lama kemudian dia akan begitu terlibat sampai susah untuk ke luar. Rasa sakit untuk mengakui bahwa dirinya memang ditipu amatlah pedih sehingga dia lebih memilih tidak menghadapi kenyataan dan terus saja membela imannya.

Osherow menjelaskan: “Begitu terlibat, seorang anggota harus menghabiskan waktu dan tenaga yang semakin banyak bagi Kenisah Rakyat. Ibadah2 dan pertemuan2 memenuhi segala waktu akhir minggu (Sabtu dan Minggu) dan beberapa petang setiap minggu. Bekerja untuk proyek2 Kenisah Rakyat dan menulis berbagai tulisan bagi politikus2 dan media memakan semua waktu senggang anggota. Sumbangan uang yang tadinya “sukarela” (tapi dicatat) diubah jadi sumbangan wajib seperempat penghasilan mereka. Akhirnya, seorang anggota harus melaporkan semua kekayaan, simpanan, cek uang kepada Kenisah Rakyat. Sebelum masuk ruang pertemuan di setiap ibadah, seorang anggota harus berhenti di sebuah meja dan menulis surat atau menandatangi dokumen kosong yang harus diserahkan kepada gereja Jones. Jika tidak mau, tindakan menolak ini dianggap “kurang beriman” pada Jones. Setiap tuntutan baru mengandung dua akibat: secara prakteknya, tuntutan baru membuat orang semakin terperosok masuk ke dalam jaringan Kenisah Rakyat dan sukar keluar; sedangkan akibat pada diri orang itu adalah membenarkan sikapnya sendiri karena menunjukkan iman yang kuat. Hal ini sama seperti yang ditulis Mills (1979): “Kami harus menghadapi kenyataan menyakitkan. Uang tabungan simpanan kami habis. Jim menuntut kami menjual asuransi jiwa kami dan menyerahkan uangnya kepada gereja, jadi kami tidak punya apa2. Semua kekayaan kami sudah diambil. Impian kami pergi melakukan missi ke luar negeri pupus sudah. Kami kira kami tidak mau berhubungan lagi dengan orang tua kami ketika menyatakan hendak meninggalkan negeri ini. Bahkan anak2 yang kami tinggal dan diurus oleh Carol dan Bill juga terang2an memusuhi kami. Jim berhasil melakukan semua ini dalam waktu singkat saja! Yang akhirnya kami miliki hanya Jim dan Alasan Utama saja, jadi kami berkeputusan untuk bersiap memberi semua kekuatan kami untuk kedua hal itu.”

Hal yang sama juga terjadi pada para Muslim awal. Mereka yang ikut hijrah bersama Muhammad ke Medina menjadi pengungsi yang tidak punya apa2 lagi. Mereka tidak punya pekerjaan dan rumah. Muhammad telah meminta kaum Ansar (= Penolong, Muslim Medina) untuk menolong kaum Muslim pendatang dan membagi apapun yang dimiliki dengan mereka. Ini tentunya bukan hal yang mudah bagi kedua belah pihak. Sebagian besar Muslim pendatang biasa tinggal di mesjid.

Ada kisah menarik tentang seorang Ansar menawarkan istrinya pada seorang Muslim pendatang:

Abdur Rahman bin Auf berkata, “Ketika kami datang ke Medina sebagai pendatang, Rasul Allâh mendirikan persaudaraan antara kami dan Sa’d bin Ar-Rabi'. Sa’d bin Ar-Rabi' berkata (padaku), “Aku adalah yang terkaya diantara orang2 Ansar, jadi aku akan memberimu separuh hartaku dan kau boleh melihat kedua istriku dan siapapun yang kau pilih dari keduanya, maka akan kuceraikan dia, dan setelah dia menyelesaikan waktu yang ditentukan (sebelum menikah) kau boleh menikahinya.” Beberapa hari kemudian, ‘Abdur Rahman datang dan terdapat bercak kuning (noda) di tubuhnya. Rasul Allâh bertanya padanya apakah dia telah menikah. Dia mengiyakannya. Sang Nabi berkata, ‘Siapakah yang kau nikahi?’ Dia menjawab, ‘Wanita dari kaum Ansar.” [296]
[296] Sahih Bukhari Volume 3, Book 34, Number 264

Para Muslim mengutip kisah ini untuk menunjukkan bagaimana Muhammad memperkuat persaudaraan diantara para Muslim. Tapi kisah ini juga menunjukkan bahwa para Muslim begitu fanatik sehingga tidak mengindahkan urusan pribadi dan bahkan mengorbankan perkawinan mereka. Semua kemerdekaan dan kemandirian mereka sudah hilang lenyap. Dalam kebanyakan kasus mereka menyerahkan kemerdekaannya secara sukarela. Mereka yang dapat melihat masalah tidak berani membicarakan hal ini. Kaum pendatang tidak dapat kembali lagi. Memberontak dianggap sebagai kejahatan terbesar. Kaum Ansar pun tidak berani bicara karena setiap orang bisa jadi mata2 bagi sang Nabi. Mereka dapat dibunuh pada keesokan harinya dan selalu saja ada pengikut fanatik yang dengan suka hati akan membunuh Muslim lain. Hal ini sama persis dengan keadaan saat ini di mana kebanyakan Muslim dengan suka hati akan membunuh siapapun yang mengritik agamanya. Mereka yang melihat masalah tidak punya pilihan lain selain tunduk dan terus ikut kelompoknya. Dalam suatu hadis kita baca:

Seorang pria buta punya seorang budak wanita yang sedang mengandung (bayi pria buta itu sendiri) dan budak ini suka mengolok-olok dan menghina sang Nabi. Ia melarangnya tapi budaknya tidak mau berhenti. Ia memarahinya, tapi budak itu tetap tidak meninggalkan tabiatnya. Suatu malam, budak itu mulai mencemooh sang Nabi dan menghinanya. Lalu pria itu mengambil sebuah pisau, menempelkannya di perut budak itu, lalu menusuknya, dan membunuhnya. Janinnya ke luar diantara kakinya berlumuran darah. Pagi harinya, sang Nabi diberitahu tentang hal ini. Dia mengumpulkan orang2nya dan berkata: Aku meminta dengan sangat demi Allah orang yang melakukan hal ini untuk berdiri mengaku. Pria buta itu lalu melompat dan dengan gemetar berdiri.
Dia duduk di sebelah sang Nabi dan berkata: Rasul Allah! Akulah majikan budak itu; ia seringkali menghina dan mengolok-olokmu. Aku melarangnya, tapi dia tidak berhenti, aku memarahinya, tapi dia tidak meninggalkan tabiatnya. Aku punya dua anak laki bagaikan mutiara dari budak perempuan ini, dan ia adalah kesayanganku. Kemaren malam, dia mulai lagi menghina dan mengolok-olok engkau. Lalu kuambil sebuah pisau, menempelkannya di perutnya, dan menusukkannya sampai aku membunuhnya.
Sang Nabi berkata: Oh jadilah saksi ini, tidak ada pembalasan yang perlu dibayar bagi darahnya”.
[297]
[297] Sunan Abu-Dawud Book 38, Number 4348

Seorang pria membunuh gundik dan anaknya sendiri dan yang hanya perlu dikatakannya untuk membela diri adalah gundik itu menghina sang Nabi dan lalu Muhammad membebaskannya.

Dalam suasana penuh teror seperti ini, siapakah yang berani melawan kehendak Muhammad? Bagaimana jika pria itu bohong untuk menghindari hukuman yang layak? Pesan yang disampaikan Muhammad sudah jelas: Siapapun yang menghinanya, harus dibunuh dan pembunuhnya tidak akan dihukum. Dapat dibayangkan berapa banyak pembunuh yang bebas hukuman dengan alibi ini.

Hukum bagian 295-C di Pakistan berbunyi: “Siapapun yang dengan kata2, yang diucapkan atau ditulis, atau dengan bukti yang dapat dilihat, atau dengan tuduhan, siratan, atau sindiran, secara langsung atau tidak langsung menghina nama suci Nabi Muhammad akan dihukum mati dan juga diberi sanksi.”

Muhammad tidak malu2 mengutarakan impiannya. Sebuah hadi mengatakan bahwa dia berkata: “Tiada seorang pun darimu yang punya iman sampai dia mencintai diriku lebih dari mencintai ayahnya, anak2nya, dan seluruh umat manusia.” [298] Dia adalah narsisis dan semua narsisis ingin dicintai dan ditakuti. Keduanya sama saja baginya. Yang dia pedulikan hanyalah keinginannya saja. Muhammad begitu ingin dihormati sampai2 ketika sekelompok orang Arab menemuinya dan tidak menghormatinya sebagaimana yang diinginkannya, dia membuat tuhannya berkata:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.”
[299]
[298] Sahih Bukhari Volume 1 Number 14
[299] Qur’an, Sura 49, Verses 2-4
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 17, 2007 12:46 am

Menuntut Nyawa sebagai Pengorbanan Akhir

Osherow menulis: “Akhirnya, Jim Jones dan Alasan Utama-nya menuntut pengikutnya untuk menyerahkan nyawa mereka.”

Pemimpin aliran sesat jadi begitu terobsesi dengan ketaatan sehingga dia menuntut pengikutnya membuktikan kesetiaan dan kecintaan mereka padanya dengan cara mengorbankan apapun, termasuk nyawa mereka sendiri. Alasannya hanyalah dikarang-karang saja. Qur’an juga menawarkan upah besar bagi yang mati syahid dan mengajak Muslim untuk mengorbankan nyawa mereka demi Muhammad.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu h idup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. [300]
[300] Qur’an, Sura 3, Verse 169

Ada pula ahadis yang menerangkan upah yang akan diterima mereka yang mati syahid.

Sang Nabi berkata, “Surga punya 100 tingkat yang disediakan Allâh bagi Mujahidin (pejuang Muslim) yang berperang di JalanNya.” [301]
[301] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 48

Sang Nabi berkata, “Tiada seorang pun yang masuk ke Surga yang mau kembali ke dunia bahkan jika dia mendapatkan apapun di dunia, kecuali seorang Mujahid yang ingin kembali ke dunia agar dia bisa mati syahid sepuluh kali lagi karena kehormatan yang diterimanya (dari Allâh). [302]
[302] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 72

Nabi kami mengatakan pada kami tentang pesan Tuhan kami bahwa “Siapapun diantara kami yang mati syahid akan masuk surga.” Omar bertanya pada sang Nabi, “Bukankah orang2 kita yang mati syahid akan pergi ke surga dan mereka (kaum pagan) akan pergi ke api (neraka)” Sang Nabi berkata, “Ya.” [303]
[303] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 72

Osherow menelaah: “Apa yang membuat orang2 tega membunuh anak2 mereka dan diri mereka sendiri? Dari pandangan luar, hal ini sukar dipercaya. Sama halnya, jika dilihat sekilas, sukar untuk dipercaya mengapa begitu banyak orang rela menghabiskan waktu, semua uang mereka dan bahkan menyerahkan pengurusan anak2 mereka kepada Kenisah Rakyat. Jones memanfaatkan proses pelogisan yang membuat orang membenarkan pengabdian mereka dengan menaikkan taraf ketaatan mereka sambil mengurangi resiko jika tidak taat.”

Hal ini pun dilakukan Muhammad. Dia meyakinkan pengikutnya bahwa dialah alasan yang paling utama dan pengikutnya diciptakan hanya untuk percaya padanya dan menyembah tuhan yang hanya bicara melalui dirinya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.51:56). Menurut sebuah hadis qudsi (dipercaya benar2 sahih) tujuan hidup adalah untuk mengenal Allâh dan menyembahnya dan tentunya hal ini hanya bisa terjadi melalui rasulnya yakni Muhammad. Allâh menjanjikan upah besar bagi mereka yang bersedia mengorbankan apapun bagi dirinya dan mengancam mereka yang tidak percaya dengan siksaan abadi. Muslim harus siap berperang bahkan melawan ayah2 dan saudara2 mereka sendiri, siap dibunuh dan membunuh. Sama seperti aliran sesat lainnya, para Muslim pun melogiskan dan menghalalkan semua tindakan kriminal, termasuk menculik orang2 tak bersalah dan memancung mereka, membom penduduk sipil dan membunuh ribuan orang. Dalam pikiran mereka, tujuan mereka sangatlah tinggi sehingga hal lain tidak berarti.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 17, 2007 1:02 am

Mengelabui Umat

Proses evolusi dari seorang Muslim moderat menjadi teroris berlangsung perlahan dan seringkali tidak disadari. Mualaf (Muslim baru) semuanya awalnya moderat. Pada mulanya, mereka diajarkan “keindahan2 Islam”. Mereka diberitahu bahwa Islam adalah agama yang mudah, agama damai, agama semua orang dan menyembah satu Tuhan. Mereka dibimbing untuk percaya bahwa Islam menerima agama2 lain, terutama Yudaisme dan Kristen yang juga monotheistik, dan Muslim hanya tidak setuju dengan kedua agama ini karena pengikutnya telah mengubah ajaran agama mereka sendiri. Mereka diajak untuk percaya bahwa Islamlah satu2nya agama sejati yang diterima Tuhan dan siapapun yang tidak percaya Islam, menolak kebenaran adalah orang2 berdosa. Orang2 ini menyangkal Tuhan dan karenanya mereka akan celaka. Akhirnya, para mualaf ini diberitahu bahwa Isa dan Musa dalam Qur’an bukanlah Yesus dan Musa dalam Alkitab. Para mualaf perlahan-lahan menganggap orang2 yang beragama lain adalah musuh Allâh dan mulai membenci mereka secara aktif. Lalu mereka diajarkan bahwa hanya Muslim saja yang bersaudara dengan mereka dan para kafir di luar ingin menyerang mereka.

Setelah semakin lama dicuci otak, kau secara perlahan-lahan mulai merasa sebagai korban kaum kafir. Kau telah kehilangan jati diri mereka, dan jadi anggota tanpa nama dari ummah (masyarakat Islam), jadi budak Allâh. Kau mulai melihat dunia dengan pandangan lain. Perasaan “kami” lawan “mereka” menjadi semakin kuat setiap hari. “Mereka” adalah orang2 jahat, musuh2 Allâh. Mereka adalah para penindas dan penjahat. Semua non-Muslim, terutama yang bukan sealiran Islam denganmu, dianggap bagian dari musuh Allâh. “Kami” adalah orang2 yang ditindas, orang2 yang dijahati dan merupakan korban musuh Allâh. “Kami” adalah Muslim sejati, yang melakukan kehendak dan pekerjaan Allâh. Lalu kau mulai percaya bahwa kau punya iman dan agama sejati yang memerintahkan dirimu untuk berperang, membunuh musuh yang menekanmu dan kau harus bersikap keras terhadap mereka. Kau diberitahu bahwa Allâh akan membuatmu menang, dan kau akan menerima upah sensual abadi di surga.

Seorang “Muslim moderat” bisa jadi ekstrimis dan teroris dalam waktu semalam saja. Selama Muslim percaya pada Islam, setiap Muslim punya potensi jadi teroris. Islam memerintahkan pengikutnya untuk membunuh non-Muslim demi nama Allâh. Ini adalah kewajiban suci yang unik dalam Islam. Memang benar, Allâh berkata dia paling mencintai Mujahidin (pejuang Islam). Mereka adalah para Muslim terbaik. Merekalah yang akan mendapat upah yang terbaik dan tererotis di surga. Para “moderat Muslim” hanyalah para munafik dan lemah imannya. Indoktrinasi perlahan adalah modus operandi (cara kerja) semua aliran sesat, di mana kebenaran sejati dan rencana asli aliran itu ditutupi dan disuapkan perlahan-lahan kepada penganutnya. Perkataan anggota2 utama aliran ini sangat berbeda sama sekali pada dunia luar dan pada anggota kelompoknya sendiri.

Osherow menulis: “Setelah perlahan-lahan meningkatkan tuntutannya, Jones dengan hati2 mengatur agar anggotanya mulai tahu tentang “upacara kematian akhir.” Dia menggunakan ketaatan mutlak mereka agar mereka bersedia melakukan hal ini. Setelah berhasil melakukan tugas ringan, maka orang itu pun setuju untuk melakukan tugas yang lebih besar, dan hal ini diakui oleh ahli jiwa sosial dan para salesman (penjual barang dagangan). [304] Dengan melakukan tugas awal ini maka hal yang awalnya terasa tidak masuk akal jadi lebih diterima akal, dan ini juga mendorong orang untuk setuju melakukan tuntutan yang lebih besar pula.”
[304] Freeman, J., AND Fraser, S. Setuju tanpa Tekanan: Teknik Menarik Hati Orang. Journal of Personality and Social Psychology, 1966, 4, 195-202.

Osherow menerangkan bagaimana Jones mempersiapkan pengikutnya secara perlahan untuk mau melakukan bunuh diri massal. “Dia mulai mempertanyakan iman anggota yang percaya kematian harus dilawan dan ditakuti dan Jones lalu mengatur beberapa latihan bunuh diri “palsu”. Hal ini jadi ujian iman apakah anggotanya bersedia mengikuti Jones bahkan sampai mati. Jones akan meminta anggotanya apakah mereka siap mati dan di suatu waktu dia meminta anggotanya “memutuskan” nasib mereka sendiri dengan memberi suara apakah mereka mau melakukan tuntutan2nya. Seorang bekas anggota mengatakan bahwa suatu saat, sambil tersenyum Jones berkata, “Ya, ini adalah pelajaran yang baik. Kulihat kau tidak mati.” Caranya mengatakannya bagaikan kita perlu waktu 30 menit untuk melakukan penelaahan diri yang sangat kuat. Kami semua merasa benar2 mengabdi dan bangga akan diri kami. Jones mengajarkan bahwa adalah suatu hal yang mulia untuk mati bagi apa yang kau percayai, dan itulah yang sebenarnya kulakukan.” [305]
[305] Winfrey, C. Mengapa 900 Orang Mati di Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Muhammad tidak minta pengikutnya bunuh diri. Sebaliknya, dia memuji-muji mati syahid. Sang Nabi Allâh lebih praktis dibandingkan Jones. Tindakan bunuh diri tiada gunanya baginya. Dia perlu anggotanya hidup agar bisa berperang baginya, memberinya harta jarahan dan menaklukkan dunia baginya. Dia memuliakan mati syahid di medan2 pertempuran. Kepraktisan Muhammad tampak jelas jika melihat kenyataan bahwa Jones dan berbagai pemimpin aliran sesat melakukan bunuh diri bersama-sama pengikutnya, sedangkan Muhammad jarang ikut berjuang aktif bersama2 pengikutnya di medan tempur.

Semua orang waras bisa dengan mudah melihat bahwa mengobarkan perang dan membunuhi orang2 tak berdosa dalam nama Tuhan adalah tindakan orang sakit jiwa, tapi tidak demikian dalam pandangan Muslim, bahkan “moderat” sekalipun. Jihad merupakan pilar utama Islam dan semua Muslim yang tidak setuju bukanlah Muslim lagi. Inilah sebabnya mengapa istilah “Muslim moderat” sebenarnya adalah menentang arti istilah itu sendiri (oxymoron). Tiada seorang Muslim pun yang dapat disebut moderat jikalau dia mengikuti ideologi yang memerintahkan pembunuhan terhadap non-Muslim. Perbedaan antara Muslim teroris dan Muslim moderat adalah Muslim teroris melakukan jihad saat ini juga, sedangkan Muslim moderat berpendapat mereka harus menunggu sampai menjadi lebih kuat dan baru setelah itu melakukan jihad. Pada prinsipnya, tiada seorang Muslim pun yang dapat tidak setuju dengan konsep jihad.

Bagaimana mungkin semilyar orang waras percaya pada ajaran gila ini? Jawabannya bisa didapatkan di Jonestown.

Osherow menulis: “Setelah Kenisah Rakyat pindah ke Jonestown, latihan bunuh diri yang disebut sebagai ‘Malam2 Putih’ dilakukan berkali-kali. Latihan yang tampaknya gila ini dilakukan secara teratur, dan membuat anggota Kenisah Rakyat menjadi terbiasa.”

Para anggota Kenisah Rakyat adalah orang2 normal. Mereka tidak sakit jiwa atau gila. Akan tetapi, karena mereka meletakkan intelijens mereka di tangan orang gila, maka mereka pun mengikuti kegilaannya secara membuta.

Osherow menulis: “Pembaca mungkin bertanya apakah latihan2 bunuh diri ini membuat para anggota berpikir bahwa bunuh diri betulan akan benar2 terjadi. Tapi ada banyak tanda bahwa mereka tahu bahwa di upacara akhir mereka minum racun sungguhan. Peristiwa puncaknya terjadi pada kedatangan politikus Ryan, munculnya beberapa orang yang murtad, para juru masak yang dulu tidak ikut serta latihan sekarang jadi ikut, Jones semakin marah, tertekan, dan tidak terduga, dan akhirnya, setiap orang melihat bayi pertama mati. Para anggota tertipu karena mereka tidak menyangka latihan kali ini ternyata benar2 mematikan.”

Osherow menjelaskan di bawah keadaan seperti itu, orang2 cenderung membenarkan tindakan mereka, termasuk melakukan kekerasan yang diperintahkan pemimpinnya. Tulisnya, “Contoh dramatis akibat pembenaran diri berhubungan dengan hukuman fisik yang diterapkan di Kenisah Rakyat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ancaman pukulan dan hinaan, membuat para anggota tunduk pada perintah2 Jones. Seseorang akan taat selama dia diancam dan diamati. Akan tetapi, untuk mempengaruhi seseorang, ancaman lunak terbukti lebih mujarab daripada ancaman keras [306] dan pengaruhnya tampak lebih lama [307]. Di bawah ancaman lunak, seseorang cenderung sukar bereaksi keras terhadap larangan ringan, dan dia cenderung mengubah kelakuannya untuk membenarkan reaksi dirinya yang tidak melawan. Ancaman keras menghasilkan sikap tunduk, tapi hal ini hanya sikap luar, sedangkan dalam dirinya tidak terjadi perubahan sikap. Reaksi yang berbeda terjadi ketika tidak jelas apakah suatu tindakan diharapkan pada seseorang. Pada saat seseorang merasa dia berperan aktif dalam menyakiti orang lain, dalam dirinya muncul motivasi yang membenarkan tindakan kejamnya terhadap korban karena merasa korban sudah selayaknya dihukum. [308]
[306] Aronson, E. , AND Carlsmith, J. M. Akibat ancaman keras pada pengamatan kelakuan terlarang. Journal of Abnormal and Social Psychology, 1963, 66. 584-588.
[307] Freedman, J. Akibat jangka panjang disonansi kognitif (melogiskan hal yang bertentangan). Journal of Experimental Social Psychology, 1965, 1, 145-155.
[308] Davos, K., AND Jones, E. Changes in interpersonal perception as a means of reducing cognitive dissonance. Journal of abnormal and Social Psychology, 1960, 61, 402-410.


Keterangan ini sangatlah penting. Di Jonestown para anggota sendiri akan mencela rekan mereka yang tidak tunduk, terutama sanak keluarga mereka, dan menghukum mereka. Tindakan kejam bagi orang normal terasa sangat mengganggu. Untuk mengurangi sakitnya nurani mereka sendiri, maka mereka mencoba merasionalkan kekejeman mereka dengan menyalahkan korban dan menganggap korban layak dihukum. Muslim diwajibkan memerangi non-Muslim dan bahkan orangtua, saudara, sanak keluarga mereka yang non-Muslim. Tindakan kekerasan dan kekejaman mereka itu dihalalkan dan dirasionalkan. Muslim diajar bahwa kekerasan terhadap non-Muslim dan sikap tak bertoleran itu sesuai dengan keinginan Illahi dan hukum suci Islam. Hal ini tidak hanya dapat diterima Muslim tapi diminati pula. Ketika Muslim menyerang orang2 tak bersalah dan membantai mereka, Muhammad meyakinkan mereka dengan berkata, “Bukan kalian yang melakukannya; tapi Allâh yang melakukannya.”

Wartawan BBC bernama James Reynolds mewawancara Hussam Abdo, usia 15 tahun, pembom bunuh diri yang agak menderita mental terbelakang yang tertangkap di pos pemeriksaan Israel. Dia ditanyai: “Ketika kau mengenakan sabuk bom itu, apakah kau benar2 tahu ke mana kau akan pergi dan membunuh orang2, bahwa kau akan mendatangkan banyak penderitaan terhadap para ibu dan bapak, bahwa kau akan melakukan pembunuhan massal? Apakah kau benar2 mengetahui hal itu?”
Hussam menjawab:
“Ya. Sama saja seperti mereka datang dan membuat para orangtua kami sedih dan menderita, maka mereka pun harus merasakan hal ini. Sama seperti yang kami rasakan – mereka pun harus merasakan hal ini pula.”
Dia ditanya, “Apakah kau takut mati?”
Jawabannya sama dengan yang dikatakan pengikut Jones di menit2 terakhir hidup mereka.
“Tidak. Aku tidak takut mati.”
“Kenapa?”
“Tiada yang hidup selamanya. Kita semua akhirnya akan mati.”


Sebuah kisah disampaikan oleh Abu Hodhaifa yang adalah Muslim Mekah usia muda yang ikut dalam perang Badr. Ayahnya ada di pihak lawan yakni Quraish. Dilaporkan bahwa Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk tidak membunuh Abbas, pamannya sendiri, yang juga berada di pihak Quraish. Hodhaifa menaikkan suaranya, “Apa? Masakan kita membunuh ayah, saudara, paman kita sendiri tapi harus menahan diri untuk tidak membunuh Abbas? Tidak, aku pasti akan membunuhnya jika aku menemuinya.” Sewaktu mendengar komentar melawan ini, Omar, seperti biasanya dalam menunjukkan kesetiannya, mencabut pedangnya dan melihat pada sang Nabi menunggu tanda perintah untuk seketika memancung anak muda tak tahu aturan ini. [309]
[309] Muir; The Life of Mohammet Vol. III Ch. XII, Page 109.

Ancaman ini mendatangkan akibat seketika. Kelakuan Hodhaifa dengan cepat berubah dan kita lihat di akhir pertempuran, dirinya jadi tunduk dan berbeda. Ketika dia melihat ayahnya dibunuh dan mayatnya diseret untuk dibuang ke dalam sumur, dia tidak tahan dan mulai menangis. “Kenapa?” tanya Muhammad, “Apakah kau sedih dengan kematian ayahmu?” Tidak begitu, wahai Rasul Allâh!” jawab Hodhaifa, “Aku tidak ragu akan keadilan atas nasib ayahku; tapi aku kenal benar hatinya yang bijaksana dan pemurah, dan aku dulu percaya Tuhan akan membimbingnya memeluk Islam. Tapi sekarang aku melihat dia mati, dan harapanku punah! – itulah mengapa aku bersedih.” Kali ini Muhammad senang akan jawabannya, dan dia menghibur Abu Hodhaifa, memberkatinya; dan berkata, “Itu baik.” [310]
[310] Muir; The Life of Mohammet Vol. III Ch. XII, Page 109; (Waqidi, p. 106; Sirat p. 230; Tabari, p. 294)

Sikap tidak suka Muhammad terhadap bantahan Hodhaifa dan reaksi cepat Omar untuk mengancam membunuhnya di tempat itu juga, merupakan stimuli (pengaruh) kuat yang mengakibatkan Hodhaifa berubah perangai seketika dan sehari kemudian dia bahkan melihat “keadilan” atas kematian ayahnya. Begitu Hodhaifa kehilangan ayahnya, yang dibunuh oleh teman2nya sendiri, maka tidak ada jalan kembali baginya. Dia harus membenarkan apa yang dilakukannya dan merasionalkan pembunuhan ayahnya. Menemukan nalarnya dan menghadapi rasa bersalah nuraninya terlalu menyakitkan. Dia harus terus melanjutkan jalan yang ditempuhnya dan meyakinkan dirinya bahwa Islam itu benar atau menghadapi rasa bersalah seumur hidup.

Para pemimpin aliran sesat punya kemampuan sangat cerdik untuk mengontrol pikiran2 pengikutnya. Seperti yang dikatakan Hitler, kebohongan2 yang besar lebih mudah dipercaya oleh orang banyak, dan pemimpin aliran sesat psikopat adalah biang pembuat kebohongan besar.

Ada kisah yang disampaikan oleh Abdullah bin Ka’b bin Malik yang menunjukan kontrol seperti apa yang diterapkan Muhammad pada pengikutnya, baik secara psikologis maupun sosial. Ibn Ka’b berkata bahwa dia adalah Muslim taat dan telah menemani Muhammad dalam seluruh kegiatan perampokannya sehingga dia jadi kaya raya. Tapi ketika Muhammad memanggil pengikutnya untuk bersiap menyerang kota Tabuk di tengah2 musim panas di mana buah2an sedang ranumnya, maka Ibn Ka’b memilih tidak ikut pergi. Setelah kembali dari Tabuk, Muhammad memanggil mereka yang tidak ikut pergi dan menanyakan alasannya. Banyak yang punya alasan kuat sehingga mereka diampuni. Tapi ibn Ka’b dan dua orang Muslim lain tidak berani bohong untuk mencari alasan. Ibn Ka’b berkata:

“Memang benar, demi Allâh, aku tidak punya alasan apapun. Demi Allâh, aku tidak pernah sekuat dan sekaya ini dibandingkan dulu ketika aku tetap di belakangmu.” Maka Rasul Allâh berkata, “Tentang orang ini, sudah jelas dia jujur. Maka pergilah kau sampai Allâh mengambil keputusan atas kasusmu.” Rasul Allâh melarang semua Muslim bicara pada kami, tiga orang dari semua yang memilih tidak pergi melakukan Ghawza. Maka kami diasingkan dari orang2 dan mereka merubah sikap mereka pada kami sampai tanah di maka aku hidup jadi terasa asing bagiku seperti aku tidak pernah mengenalnya. Kami tetap diasingkan selama limapuluh malam. Dua temanku yang lain tetap tinggal dalam rumah2 mereka dan menangis, tapi aku adalah yang termuda diantara mereka dan yang paling tegas, jadi aku tetap pergi ke luar dan melakukan sholat bersama para Muslim dan pergi ke pasar2, tapi tidak seorang pun bicara padaku, dan aku berkunjung pada Rasul Allâh dan mengucapkan salam padanya ketika dia masih duduk dalam perkumpulannya setelah sholat, dan aku heran apakah sang Nabi menggerakkan bibirnya untuk membalas ucapan salamku atau tidak. Lalu aku melakukan sholat di sebelahnya dan diam2 menengoknya. Ketika aku sibuk melakukan sholat, dia menoleh padaku, tapi ketika aku menolehkan wajah padanya, dia memalingkan muka. Ketika perlakuan kasar orang2 ini berlangsung lama, aku berjalan sampai aku mencapai tembok kebun Abu Qatada yang adalah saudara misanku dan orang yang kusayangi, dan aku mengucapkan salam baginya. Demi Allâh, dia tidak membalas salamku. Aku berkata, “Wahai Abu Qatada! Aku mohon padamu demi Allâh! Tidakkah kau tahu aku mencintai Allâh dan RasulNya?” Dia tetap saja diam. Aku berkata lagi padanya, memohonnya demi Allâh, tapi dia tetap diam. Lalu aku bertanya lagi padanya dalam nama Allâh. Dia berkata, “Allâh dan RasulNya lebih mengetahui.” Setelah itu airmataku membanjir dan aku berbalik dan melompati tembok.”

Ketika empat puluh dari lima puluh malam berlalu, perhatikanlah! Rasul Allâh datang padaku dan berkata, ‘Rasul Allâh memerintahkan kamu untuk menjauhkan diri dari istrimu, ‘ Aku berkata, “Haruskah aku menceraikannya; bagaimana kalau tidak! Apa yang harus kulakukan?” Dia berkata, “Tidak, hanya bersikap menjauhlah dari padanya dan jangan bersetubuh dengannya.” Sang Nabi juga menyampaikan hal yang sama kepada kedua temanku. Maka aku katakan pada istriku, “Pergilah ke orangtuamu dan tetaplah tinggal bersama mereka sampai Allâh memberikan keputusan atas masalah ini.” Ka’b menambahkan, “Istri Hilal bin Umaiya datang kepada sang Rasul dan berkata, “Wahai Rasul Allâh! Hilal bin Umaiya adalah orang tua tak berdaya yang tidak punya pelayan yang membantunya. Apakah kau tidak suka jika aku melayaninya?” Dia berkata, “Tidak, kau boleh melayaninya, tapi dia tidak boleh mendekat padamu.” Dia berkata, “Demi Allâh, dia tidak berminat apapun. Demi Allâh, dia tidak pernah berhenti menangis sampai hari ini sejak masalahnya terjadi.”

Mendengar hal itu, beberapa anggota keluargaku berkata padaku, “Tidakkah kau juga meminta Rasul Allâh untuk mengijinkan istrimu melayanimu karena dia mengijinkan istri Hilal bin Umaiya melayaninya?” Aku berkata, “Demi Allâh, aku tidak akan minta ijin Rasul Allâh tentang istriku, karena aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Rasul Allâh jika aku meminta dia mengijinkan istriku melayaniku karena aku masih muda.” Lalu aku tetap berada dalam keadaan itu sampai sepuluh malam kemudian sampai genap lima puluh malam Rasul Allâh melarang orang2 bicara pada kami. Ketika aku melakukan sholat Fajr di pagi hari ke limapuluh di atap salah satu rumah2 kami dan aku sedang duduk sesuai yang dinyatakan Allâh (dalam Qur’an), hatiku seakan bersuara dan bumi tampak lebih dekat padaku dengan segala kelapangannya, di saat itu aku mendengar suara orang yang bagaikan naik gunung Sala’ dan memanggil dengan suaranya yang paling keras, “Wahai Ka’b bin Malik! Bergembiralah dengan menerima salam hangat.” Aku jatuh bersujud di depan Allâh, karena mengetahui pengampunan telah tiba. Rasul Allâh mengumumkan penerimaan pertobatan kami oleh Allâh ketika dia melakukan sholat Fajr. Orang2 keluar menyelamati kami. Orang2 mulai menerima kami dalam kelompok, mengucapkan selamat padaku karena Allâh telah menerima pertobatanku, sambil berkata, “Kami ucapkan selamat karena Allâh menerima pertobatanmu.”
[311]
[311] Bukhari Volume 5, Book 59, Number 702

Muhammad menerangkan kisah ini dalam Qur’an:
(Dan Dia juga mengampuni) terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q. 9:118)

Seperti yang dapat dilihat di kisah di atas, Muhammad punya kontrol mutlak atas pengikutnya. Suasana Medina telah berubah sama sekali. Dia bisa memerintahkan para pengikutnya untuk mengasingkan seorang dari kaum mereka, saudara mereka sendiri, dan bahkan melarang orang ini untuk bersetubuh dengan istri2 mereka. Kontrol psikologis ini sangat kuat sehingga beberapa orang takut bohong atau mencari-cari alasan. Muhammad tidak mungkin tahu apa yang dipikirkan orang lain, apakah alasan yang mereka ajukan benar atau tidak. Tapi dia membuat mereka percaya tuhannya tahu pikiran mereka sehingga membuat mereka merasa tak berdaya dan bisa dikuasai sepenuhnya olehnya. Ini adalah bentuk kontrol yang paling utama. Sang “Abang Besar” yang tak terlihat tidak hanya mengawasi perbuatanmu, tapi dia juga mengamati pikiranmu. Tidak ada yang lebih melumpuhkan daripada kontrol kejiwaan seperti ini.

Muhammad menciptakan sistem yang paling kuat untuk mengontrol manusia dan pikiran2 mereka, kontrol yang berlangsung selama 1400 tahun. Jika kontrol ini tidak diubah, maka hal ini akan terus berlangsung selamanya, menggerogoti dan menghancurkan hak azasi manusia yang utama yakni kebebasan berpikir dan memutuskan sendiri.

Menyinggung mereka yang punya alasan kuat dan tidak dihukum seperti ketiga orang tersebut, Muhammad menulis ayat2 berikut:

Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu rida kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu.
(Q. 9:95-96)

Muhammad tidak bisa tahu apakah alasan2 orang ini benar atau tidak, sehingga dengan peringatan ini, dia mengancam mereka yang berbohong padanya dengan hukuman illahi yang berat. Kontrol pikiran ini mujarab selama orang tetap mudah ditipu untuk percaya pada kebohongan2 pemimpin aliran sesat. Begitu orang berhenti percaya kebohongan pemimpin narsisis, maka pemimpin itu kehilangan kontrol sama sekali. Saat ini para Muslim masih di bawah kontrol Muhammad karena mereka mempercayainya. Rasa takut ancaman neraka telah melumpuhkan kemampuan mereka untuk berpikir. Pikiran untuk meragukan Muhammad membuat bulu kuduk mereka merinding dan mereka lalu cepat2 melupakan pikiran itu.

Osherow menulis: “Mari mundur selangkah dulu. Proses pergi ke Jonestown tentunya tidaklah mudah, karena beberapa hal terjadi secara bersamaan. Misalnya, Jim Jones punya kekuatan untuk mengancam melakukan hukuman apapun yang diinginkannya di Kenisah Rakyat, dan terutama di saat akhir, di suasana brutal dan teror tersebar di Jonestown. Tapi Jones secara hati2 mengontrol bagaimana hukuman dilaksanakan. Dia seringkali memanggil anggotanya untuk setuju menerima pukulan2. Mereka diperintah untuk bersaksi di depan jemaat, anggota bertubuh besar disuruh memukul anggota bertubuh lebih kecil, para istri atau pacar dipaksa menghina pasangannya secara seksual, dan orangtua2 diminta setuju dan ikut membantu memukuli anak2 mereka (Mills, 1979; Kilduff and Javers, 1978). Hukumannya semakin lama semakin sadis, pukulan semakin keras sampai anggotanya pingsan dan menderita memar2 selama berminggu-minggu. Donald Lunde adalah ahli jiwa yang mengamati tindakan2 yang sangat brutal dan dia menjelaskan: ‘Begitu kau melakukan sesuatu yang besar, sangat sukar mengaku bahkan pada dirimu sendiri bahwa kau telah melakukan kesalahan, dan secara tak sadar kau akan berusaha keras untuk merasionalkan apa yang telah kau lakukan. Ini adalah mekanisme bela diri yang cerdik yang dimanfaatkan oleh pemimpin2 berkarisma." [Newsweek, 1978a]

Keterangan langsung akibat proses kejadian ini disampaikan oleh Jeanne Mills. Pada suatu pertemuan, dia dan suaminya dipaksa menyetujui pemukulan anak perempuan mereka sebagai hukuman pelanggaran kecil. Dia menghubungkan efek kejadian ini pada anaknya, sang korban, juga pada dirinya sendiri sebagai salah satu pihak yang melakukan pemukulan:

Ketika kami menyetir pulang, setiap orang di mobil diam saja. Kami taku kata2 kamu akan menambah ketegangan. Satu2nya suara berasal dari Linda yang menangis pelan2 di tempat duduk belakang. Ketika kami tiba di rumah, Al dan aku duduk bicara bersama Linda. Dia merasa terlalu sakit untuk duduk. Dia berdiri diam pada saat kami bicara padanya. “Bagaimana perasaanmu terhadap apa yang terjadi padamu malam ini?” Al bertanya padanya. “Bapak (Jones) memang benar menghukum cambuk padaku, “ jawab Linda. “Aku sangat nakal akhir2 ini, aku banyak melakukan hal yang salah. Aku yakin Bapak tahu semua itu, dan itulah sebabnya dia memukuli banyak kali seperti itu.” Kami mencium anak kami dan mengucapkan selamat malam, tapi kepala kami masih terasa pening. Sukar sekali rasanya untuk berpikir jernih dalam keadaan yang sangat memusingkan seperti itu. Linda telah jadi korban, tapi hanya kami saja yang merasa marah akan hal itu. Dia sendiri tidak merasa benci dan marah. Malah sebaliknya, dia merasa Jim sebenarnya menolongnya. Kami tahu Jim telah melakukan hal yang kejam terhadapnya, tapi semua orang berlaku bagaikan dia melakukan hal penuh kasih dengan mencambuki anak kami yang tidak taat. Tidak seperti orang kejam menyakiti anak2, Jim tampak tenang, penuh kasih, ketika dia melihat pemukulan dan menghitung berapa pukulan yang telah dilakukan. Pikiran kami tidak dapat mengerti semua keadaan ini karena semua keterangan yang kami terima tidak benar.

Keterangan dari luar terbatas, dan keterangan dari dalam Kenisah Rakyat rancu semua. Dengan membenarkan tindakan2 dan ketaatan2 sebelumnya, maka dasar untuk memberi kesetiaan mutlak sudah terbentuk.

Hanya beberapa bulan saja setelah kami meninggalkan Kenisah Rakyat kami akhirnya menyadari tebalnya kepompong yang menyelubungi kami. Hanya pada saat itu saja kami menyadari kepalsuan, sadisme, dan penjajahan emosi dari si penipu ulung.
[312]
[312] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.

Kesaksian Jeanne Mills dalam banyak hal serupa dengan kesaksian eks-Muslim. Para eks-Muslim ini mengaku bahwa mereka tidak menyadari penindasan yang mereka alami ketika masih jadi muslim. Hanya setelah mereka meninggalkan Islamlah tindakan penindasan dan kontrol pikiran yang dialami menjadi jelas tampak. Muslimah yang menikahi Muslim seringkali jadi korban kekerasan rumah tangga, sama halnya dengan wanita non-Muslim yang menikahi Muslim. Akan tetapi, Muslimah seringkali tidak menyadari terjadinya penindasan pada dirinya karena sudah terbiasa akan hal ini sejak kecil. Dia melihat ibunya sendiri dipukuli, begitu pula bibinya, dan wanita2 lain yang dikenalnya. Hal ini adalah normal baginya dan dia pun menerima pemukulan atas dirinya tanpa mengeluh. Wanita non-Muslim yang menikahi Muslim, biasanya datang dari keluarga yang tidak biasa melihat penindasan, pemukulan, dan penghinaan atas wanita. Bagi mereka, menikah dengan Muslim terasa lebih menekan dibandingkan wanita yang terlahir dan dibesarkan sebagai Muslimah. Para Muslimah ini malah seringkali membela hak suaminya untuk memukulnya.

Ada orang2 Kristen, Yahudi, atau Hindu yang meninggalkan agamnya. Akan tetapi setelah itu mereka tidak merasa marah atau benci dengan agama mereka yang dulu. Ketika Muslim murtad, mereka meninggalkan Islam dengan perasaan pahit dalam hatinya. Hal ini terjadi karena mereka merasa telah dijadikan korban Islam. Hal ini tidak terjadi pada orang2 lain yang meninggalkan agamanya, mereka tidak merasa marah terhadap nabi2 mereka yang dulu. Tapi eks-Muslim jadi sangat membenci Muhammad. Kesadaran bahwa mereka dulu ditipu sangatlah menyakitkan.

Osherow menulis: “Beberapa jam sebelum dibunuh, pejabat Kongres (MPR AS) Ryan menerangkan keanggotaan Kenisah Rakyat: “Aku bisa katakan padamu sekarang bahwa dari beberapa percakapan dengan orang2 di sini, ada sebagian orang yang percaya bahwa hal ini adalah hal yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidup mereka.” [Sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar di latar belakang] (Krause, 1978). Banyaknya orang lain yang setuju dan surat2 yang mereka tulis menunjukkan bahwa perasaan ini dirasakan pula oleh anggota2 yang lain.”

Islam, sama seperti Kenisah Rakyat, menarik orang2 yang mudah dipengaruhi dalam masyarakat, yakni mereka yang merasa tertekan dan butuh tujuan hidup. Dalam masyarakat Barat, di mana individualitas sangat terasa ekstrim, terdapat perasaan kesepian. Islam memberi mualaf perasaan kebersamaan. Islam memberi mereka tawaran lain untuk melihat hidup mereka, memberi arah, perasaan dimiliki, perasaan lebih unggul dari non-Muslim, tapi semua itu harus dibayar mahal sekali. Bayarannya adalah pengasingan diri dari budaya dan negara mereka, sampai bahkan mereka tega menolak keluarga sendiri dan kawan2nya yang dulu, dan inilah yang lalu menjadi kehancuran dirinya. Islam, sama seperti Kenisah Rakyat, mengajarkan pengikutnya takut akan segala hal dan semua yang berada di luar kepercayaan mereka dan menganggap orang tak percaya sebagai “musuh.” Sama seperti para pengikut Jones, orang2 Muslim sejati benci segala hal yang tidak Islami. Bagi mereka, Islam adalah satu2nya jalan yang benar dan yang lainnya harus dihancurkan. Muslim merasa curiga pada non-Muslim dan sangat percaya dengan teori konspirasi yang dilakukan “setan2 Barat yang kejam”. Aku telah mendengar banyak Muslim berpendidikan tinggi yang cerdas yang benar2 menyangka penyerangan terhadap Pentagon dan WTC di New York pada tanggal 11 September, 2001, adalah hasil karya CIA dan Zionis. Kelumpuhan intelektual separah ini hanya bisa dicapai jika kau menjadi korban aliran sesat.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 24, 2007 4:44 am

Pengekangan Informasi

Sama seperti nabinya, para Muslim juga dilatih untuk bersikap penuh curiga. Mereka diajarkan untuk menganggap non-Muslim sebagai musuh yang ingin menghancurkan mereka. Aku ingat dulu aku memandang curiga pada kawanku yang ingin tahu dan membaca buku Ayat2 Setan karangan Salman Rushdie. Padahal saat itu aku tidak tahu apapun tentang isi buku itu. Ternyata buku Salman Rushdi hanyalah novel biasa saja. Qur’an jauh lebih menjelek-jelekkan Islam daripada semua buku yang pernah ditulis. Meskipun begitu, sebagai Muslim kau tidak boleh membaca apapun yang mengritik Islam. Hal ini bukan karena kau takut ketahuan, tapi kau takut akan Allâh dan hukumannya yang sadis. Membaca buku2 anti Islam bisa menggoyahkan iman kesetiaanmu pada Islam.

Bandingkan hal ini dengan Kenisah Rakyat. “Dalam Kenisah Rakyat, dan terutama di Jonestown,” tulis Osherow, “Jim Jones mengontrol informasi yang bisa didengar anggotanya. Dia secara efektif mencegah segala perlawanan yang bisa muncul dalam gerejanya dan menanamkan kecurigaan dalam diri setiap anggota terhadap segala pesan yang berlawanan dari luar gerejanya. Lagi pula, kebenaran informasi apakah yang bisa disampaikan oleh “musuh2” yang berusaha menghancurkan Kenisah Rakyat dengan kebohongan2? Karena tidak punya pilihan lain dan tidak menerima informasi luar, maka kemampuan anggota untuk menelaah dan menolak sudah jauh berkurang. Lebih2 lagi, bagi kebanyakan pengikutnya, ketertarikan untuk menjadi bagian Kenisah Rakyat berasal dari kemauan mereka untuk menyerahkan tanggung jawab dan kontrol atas hidup mereka sendiri. Orang2 ini kebanyakan adalah kaum miskin, minoritas, lanjut usia, dan tidak berhasil dalam hidup. Mereka dengan senang hati menukar kekuasaan (tanggung jawab) atas diri mereka sendiri guna mendapat keamanan, persaudaraan, muzizat2 palsu, dan janji2 keselamatan yang semu. Stanley Cath adalah psykhiatris yang mempelajari teknik2 pertobatan menarik jemaat baru yang digunakan pemimpin2 aliran sesat. Dia menjelaskan: “Jemaat2 baru harus hanya percaya apa yang disampaikan pada mereka. Mereka tidak perlu berpikir, dan hal ini melepaskan diri mereka dari tekanan2 berat.” (Newsweek, 1978a)

Hal yang sama terjadi pada kaum Muslim, terutama yang hidup di negara2 Islam di mana semua informasi yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sah akan disensor dan umat Islam hanya boleh percaya pada satu pengertian Islam yang diakui Pemerintah Islam. Malah sebenarnya kaum Muslim berusaha keras untuk menyensor segala pesan anti-Islam bahkan di negara2 non-Muslim sekalipun. Jika terbit sebuah buku atau artikel yang tidak mereka sukai, maka mereka akan protes dan mencoba untuk memaksa pihak “pelanggar” untuk menarik penerbitan buku atau artikel itu dan meminta maaf pada mereka. Bisa dibayangkan pula kontrol sensor yang diterapkan Muhammad bagi pengikutnya di Medina. Dalam banyak kejadian, Omar akan mencabut pedangnya dan menunggu aba2 dari Muhammad untuk memenggal orang yang tampaknya berani melawan otoritas sang Nabi.

Sama seperti Mekah takluk di bawah Islam, juga Persia, Syria, Mesir dan lima puluh negara2 lain di bawah dominasi Islam; maka seluruh dunia non-Islam lainnya juga tidak akan luput dari serangan Islam. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, filosof China bernama Sun Zi (Tzu) berkata: “Kenalilah musuhmu, dirimu sendiri, dan kemenanganmu tidak akan terancam.” Kalimat ini benar artinya di masa sekarang, sama seperti di masa lalu. Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah kau mengenal musuhmu, dan apakah kau benar2 berusaha mengenal dirimu sendiri?” Sayangnya, jawaban kedua pertanyaan itu adalah tidak. Bukan saja kebanyakan non-Muslim (terutama Barat) tidak tahu apa2 tentang Islam, tapi banyak dari mereka yang benci budaya Kristen-Heleno mereka sendiri, dan berpihak pada siapa saja yang juga membenci hal yang sama.

Ibn Ishaq menyampaikan sebuah kisah yang menjelaskan sifat Islam yang sebenarnya. Kisah ini tentang pengamatan Orwa terhadap pengikut2 Muhammad. Dia mewakili masyarakat Quraish Mekah dan datang bertemu Muhammad di perkemahannya di Hudaibiyah, di daerah luar Mekah. Muhammad datang bersama 1.500 Muslim bersenjata untuk melakukan ibadah haji di Mekah tahun itu, dan bagi orang Mekah hal ini merupakan unjuk senjata yang menantang mereka.

Dalam pertemuan itu, Muhammad tampak tenang dan Abu Bakr bicara mewakili dirinya. Orwa yang tidak mempedulikan Abu Bakr, bersikap terus terang sesuai dengan adat Arab Bedouin, dan mengulurkan tangannya untuk menjamah jenggot Muhammad. Ini adalah tanda persahabatan dan kekeluargaan dan bukan tindakan menghina. “Minggir!” bentak seseorang sambil memukul tangan Orwa. “Singkirkan tanganmu dari Rasul Allâh!” Orwa tercengang oleh bentakan anak muda itu dan bertanya, “Siapakah kamu?” “Aku adalah keponakanmu, Moghira,” jawab anak muda itu. “Sungguh tak tahu budi!” tukas Orwa (yang dulu membayar uang darah atas beberapa pembunuhan yang dilakukan keponakannya tersebut), “padahal kemaren baru saja aku menebus nyawamu.”

Orwa kaget atas kesetiaan dan pengabdian pengikut2 Muhammad. Sekembalinya ke Mekah, dia melaporkan bahwa dia banyak melihat raja2 seperti Khosrow, Caysar, dan Najashi, tapi dia belum pernah melihat perhatian dan rasa hormat yang begitu besar yang diterima Muhammad dari pengikutnya. “Mereka cepat2 mengamankan air yang digunakannya untuk wudhu, menyimpan ludahnya, atau rambut yang jatuh dari kepalanya.” [313]
[313] Sirat Ibn Ishaq, p.823

Dari kisah ini sudah jelas bahwa Muhammad menjadikan dirinya pusat penyembahan bagi aliran ciptaannya. Dialah tuhan yang dikhotbahkannya sendiri. Ketaatan padanya sama dengan ketaatan pada Allâh dan menentangnya berarti menentang Allâh. Inilah yang memang diangan-angankan para narsisis dan psikopath – jadi reinkarnasi Tuhan. Muhammad menipu semua orang sampai dia mencapai takhta Allâh dan de facto menjadi Tuhan itu sendiri.

Jeanne Mills menulis: “Aku heran karena tidak banyak perbedaan pendapat diantara anggota2 gereja ini. Sebelum kami bergabung dalam gereja ini, Al dan aku bahkan tidak bisa setuju untuk memberi suara pada pemilu presiden. Tapi sekarang setelah kami bergabung dalam gereja Jim, dalam keluarga tidak lagi terdapat perdebatan2. Tiada lagi pertanyaan siapa yang benar, karena Jim-lah yang selalu benar. Ketika keluarga kami berkumpul untuk membicarakan masalah keluarga, kami tidak menanyakan pendapat masing2 anggota keluarga. Tapi kami ajukan pertanyaan seperti ini pada anak2, “Apakah yang akan Jim lakukan?” Hal ini menyingkirkan masalah dalam kehidupan. Kami percaya adanya “rencana illahi” yang mengatakan Alasan Utama adalah selalu benar dan akan berhasil. Jim selalu benar dan barangsiapa yang setuju padanya akan benar pula. Jika kau tidak setuju dengna Jim, maka kau tentu salah. Begitu saja masalahnya.” [314]
[314] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979

Muslim percaya dua hal: (1) Qur’an dan (2) Sunnah. Qur’an adalah perkataan Muhammad (yang diakui Muslim sebagai perkataan Allâh) [315] dan Sunnah adalah kisah yang disampaikan orang2 tentang apa yang dikatakan dan diperbuat Muhammad. Rincian keterangan Sunnah ditulis dalam berjilid-jilid buku ahadis (kumpulan hadis). Ilmuwan hukum Islam belajar bertahun-tahun untuk memahami semua ketarangan detail dalam ahadis dan Muslim tidak berani bertindak apa2 sebelum bertanya dulu pada para ilmuwan Islam dan belajar tentang aturan Islam yang benar dari mereka. Sunnah adalah “tata cara hidup” Islam yang dicontohkan Muhammad ketika dia masih hidup. Terdapat banyak keterangan lengkap yang ditulis oleh sahabat2 dan istri2 Muhammad. Semuanya dijabarkan secara rinci. Semua tindakannya dicatat. Yang perlu dilakukan semua Muslim adalah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari tata cara hidup Islam yang “penting” ini, yang sesuai dengan contoh2 yang dilakukan nabinya. Dengan mengikuti contoh ini secara persis mereka yakin telah memenuhi kewajiban sebagai Muslim sejati dan nantinya akan diberi upah atas ibadah “baik” mereka.
[315] Ada orang2 yang yakin bahwa Qur’an adalah hasil karya tulis beberapa orang. Contoh ilmuwan seperti itu adalah Denis Giron http://www.infidels.org/library/modern/ ... tiple.html

Hal yang baik dan buruk dalam Islam tidak ditentukan dengan apa yang orang awam anggap sebagai hal yang baik dan buruk, tapi ditentukan dari apa yang dilarang dan dianjurkan oleh Muhammad.

Bagaimana Muhammad dapat mengembangkan kemampuan hebat untuk menipu orang banyak, yang pengaruh tipuannya sukar dilenyapkan? Muhammad adalah orang narsisis dan apapun yang dikerjakannya adalah bagian dari sifat kelainan jiwa narsistik. Semuanya itu ke luar dari dirinya secara alami, dan kemampuan seperti ini juga dimiliki narsis sukses lainnya seperti Hitler, Stalin, Jim Jones dan Saddam.

Osherow menulis tentang hal ini ketika dia menjelaskan tentang Jim Jones: “Meskipun sudah jelas dia tidak punya pengetahuan ilmiah akan ilmu psikologis sosial, Jim Jones menggunakan teknik2 ampuh dan efektif untuk mengontrol kelakuan orang2 yang mengubah perilaku mereka. Beberapa pengamatan membandingkan teknik2nya dengan teknik2 yang digunakan untuk “cuci otak,” karena keduanya juga menggunakan komunikasi kontrol, pemanfaatan rasa bersalah, dan kekuasaan atas jati diri seseorang [316] dan juga isolasi, perintah2 yang harus ditaati, tekanan fisik, dan penggunaan pengakuan2. [317] Tapi menggunakan istilah cuci otak membuat proses kejiwaan ini jadi terdengar janggal dan tidak wajar. Ada hal2 yang aneh dan mengerikan dalam sifat paranoia Jones, angan2 tentang dirinya yang maha hebat, sadisme, dan obsesinya terhadap keinginan bunuh diri. Apapun tujuannya, dengan menyusun rencana dan angan2 khayalannya, dia mampu memanfaatkan cara2 psikologi sosial yang ampuh untuk mewujudkan keinginannya. Keputusan yang membuat suatu kelompok masyarakat menghancurkan diri sendiri adalah perbuatan tidak waras. Tapi pelaku perbuatan ini adalah orang2 “normal” yang dikondisikan dalam keadaan yang begitu menekan, sehingga mereka jadi koban tekanan dari dalam dan juga dari luar kelompok.”
[316] Lifton, R. J. Appeal of the death trip (Tuntutan Perjalanan Kematian) New York Times Magazine, January 7, 1979.
[317] Cahill, T. In the valley of the shadow of death (Di Lembah Maut). Rolling Stone. January 25, 1979.


Pernyataan ini menjelaskan bagaimana sejumlah besar orang2 normal dapat mengikuti ajaran orang sakit jiwa. Hal ini pun terjadi di Jerman. Hitler adalah orang sakit jiwa, tapi jutaan orang Jerman percaya bahwa dia waras. Bagaimana mungkin jutaan orang yang cerdas dan berpendidikan dapat dibodohi dan jadi korban tipuan orang sakit jiwa? Kita bisa lihat hal ini terjadi berkali-kali dalam sejarah. Para diktator biasanya adalah psikopath, tapi mereka ternyata mampu mengontrol jutaan orang dan membodohi orang2 yang sangat normal dan waras.

Cengkraman kejiwaan dari para psikopath ini terhadap korban2 mereka sungguh mencengangkan. Tidak minggu setelah kejadian bunuh diri massal di Jonestown, Michael Prokes, yang selamat dari kejadian naas itu karena ditugaskan membawa ke luar kotak uang Kenisah Rakyat, mengadakan jumpa pers di sebuah motel di California. Setelah Michael menjelaskan bahwa orang2 telah salah paham dalam menilai Jones dan menuntut disiarkannya rekaman suara menit2 akhir bunuh diri massal (yang telah dijelaskan di bab awal), dia berjalan ke dalam kamar kecil dan menembak kepalanya sendiri. Dia meninggalkan pesan tertulis yang mengatakan bahwa jika tindakan bunuh dirinya membuat orang ingin menulis sebuah buku tentang Jonestown, maka kematiannya telah jadi hal yang berguna. (Newsweek, 1979) Bukankah hal ini menerangkan psikopathologi (= asal usul, perkembangan, dan tujuan tindakan orang yang mengalami gangguan jiwa) para pembom bunuh diri?

Jeanne dan Al Mills adalah orang2 yang bersuara paling keras dalam mengritik Kenisah Rakyat setelah mereka meninggalkan perkumpulan itu. Karena inilah mereka jadi target utama pengikut2 Jones. Bahkan setelah kejadian bunuh diri di Jonestown, keluarga Mills tetap mengutarakan rasa takut jika mereka akan dibunuh pengikut Jones. Lebih dari setahun setelah kejadian bunuh diri Kenisah Rakyat, suami istri Mills dan anak2 mereka dibunuh di rumah mereka di Berkeley. Putra remaja mereka yang juga bekas anggota Kenisah Rakyat, mengaku berada di ruangan lain di rumah besar itu tatkala pembunuhan terjadi. Tapi tiada seorang pun jadi tertuduh pembunuhan. Ada tanda2 bahwa Mills mengenal pembunuh mereka. Tiada bukti adanya pemaksaan masuk rumah, dan mereka ditembak dari jarak dekat. Jeanne Mills telah mengatakan, “Hal ini akan terjadi; jika tidak hari ini, maka esok hari.” Di rekaman akhir pita suara Jonestown, Jim Jones menyalahkan Jeanne Mills dan berjanji bahwa pengikutnya di San Francisco “tidak akan membiarkan kematiannya secara sia2.” (Newsweek, 1980)

Muslim menganggap sudah jadi kewajiban mereka untuk membunuh siapa saja yang meninggalkan Islam. Kebencian mereka terhadap murtadin begitu kuat. Tiada yang lebih dibenci Muslim daripada murtadin. Muslim tidak akan membiarkan mereka sampai mereka menemukan dan membunuh murtadin. Mereka yang berani menolak Islam terancam bahaya. Muhammad sendiri telah menyatakan:

jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya (Q. 4:89).
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Jul 24, 2007 4:57 am

Bab VII
Pertukaran Pikiran (dialog) antar Budaya?


Muslim berkata mereka ingin berdialog (bertukarpikiran) antar budaya. Budaya apa? Islam sendiri adalah anti budaya. Islam menentang kebudayaan. Islam adalah barbar dan biadab. Lebih jauh lagi, pertukaran pikiran bukanlah kebiasaan dalam dunia Islam.

Di bulan September 2006, para Muslim sekali lagi mengangkat senjata. Kali ini gara2 ucapan Paus Benedict XVI di Universitas Regensburg di Jerman, di mana dia menjabat sebagai profesor di bidang theologia. Di pidatonya yang berjudul “Iman dan Akal” dia menjabarkan perbedaan mendasar antara pandangan Kristen bahwa Tuhan adalah makhluk berakal, dan ini serupa dengan konsep Yunani tentang logos, dan pandangan Islam bahwa “Tuhan sama sekali di luar akal,” sehingga melakukan apapun yang menyenangkan hatinya, tidak dibatasi apapun, termasuk akal, dan, karenanya, perbuatannya tidak masuk akal bagi manusia.

Paus Benedict mengutip percakapan yang terjadi di tahun 1391 antara Kaisar Bizantium Manuel II Paleologus yang terpelajar dan ilmuwan Persia tentang hal Kristen dan Islam. “Dalam diskusi ini,” kata Paus, “sang Kaisar membahas tentang jihad (perang suci Islam) dan mengatakan pada rekan diskusinya, ‘Tunjukkan padaku apa yang baru yang diajarkan Muhammad, dan yang kau akan temukan hanyalah kejahatan dan kebiadaban, seperti misalnya perintahnya untuk menyebarkan agamanya dengan pedang.’ Setelah menyatakan pendapatnya secara tegas, sang Kaisar melanjutkan dengan menerangkan alasan2 yang rinci mengapa menyebarkan agama dengan pedang merupakan perbuatan yang tidak masuk akal. Kekerasan merupakan sifat yang berlawanan dengan Tuhan dan sifat asli hati nurani. 'Tuhan', katanya, ‘tidak suka pertumpahan darah – dan bertindak secara tak masuk akal merupakan hal yang bertentangan dengan sifat Tuhan. Iman tidak lahir dari jiwa ataupun tubuh. Siapapun yang ingin mengajak orang untuk beriman harus mampu bercakap secara baik dan masuk akal, tanpa kekerasan dan ancaman… Untuk meyakinkan jiwa yang berlogika, orang tidak perlu bawa senjata2 berat macam apapun, atau ancaman2 mengambil nyawa orang itu …. Pernyataan jelas dalam keterangan yang menentang kekerasan ini adalah: tidak melakukan hal yang sesuai dengan akal sehat merupakan hal yang bertentangan dengan jati diri Tuhan.’

Paus juga mengutip perkataan Theodore Khoury, yang adalah pengedit dan penyusun buku tentang percakapan di atas. Theodore Khoury menjelaskan: “Bagi sang Kaisar, karena Bizantium dibentuk berdasarkan filosofi Yunani, maka pernyataannya menerangkan bentuk negaranya sendiri. Tapi bagi ajaran Muslim, Tuhan itu sama sekali di luar akal. Keinginan Tuhan tidak terikat jalan pikiran manusia apapun, tidak pula akal sehat manusia.” Khoury lalu mengutip tulisan ahli Islam Perancis yakni R. Arnaldez, yang menerangkan bahwa Ibn Hazn menyatakan bahwa “Tuhan tidak terikat pada perkataannya sendiri, dan tiada sesuatu pun yang membuatnya wajib menyatakan kebenaran pada kita. Jika Tuhan memerintahkannya, bahkan kita pun harus menyembah berhala.” Pidato sang Paus membuat kaum Muslim di seluruh dunia merasa sakit hati.

Menteri Luar Negeri Mesir berkata: “Ini merupakan pernyataan yang sangat disesalkan dan jelas menunjukkan sikap yang tidak mengerti akan Islam yang sebenarnya.” Dia menyatakan bahwa hal ini akan “mengakibatkan ketegangan dan rasa curiga dan pertentangan antar Muslim dan antar masyarakat Barat juga.”

Parlemen Afghanistan dan Menteri Luar Negerinya menuntut pernyataan maaf.

Konsul Penjaga Iran menuduh hal ini sebagai “Akal2an Barat dalam Menentang Islam” karena “menghubungkan Islam dengan kekerasan.”

Juru bicara Pemerintahan Irak bernama Ali al-Dabbagh berkata bahwa “Ucapan Paus menunjukkan dia salah mengerti tentang prinsip2 Islam dan ajaran Islam tentang pemberian maaf, kasih sayang, dan pengampunan.”

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa komentar Paus “tidak bijaksana dan tidak selayaknya.”

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengatakan, “Paus tidak boleh memandang enteng kemarahan yang telah diakibatkannya.”

Parlemen Pakistan Majlis-e-Shoora mengeluarkan pernyataan yang berbunyi, “Pernyataan2 Paus yang merendahkan tentang filosofi jihad dan Nabi Muhammad telah menyakiti hati para Muslim di seluruh dunia dan membahayakan hubungan antar agama.” Juru bicara wanita Kementerian Luar Negeri Pakistan yang bernama Tasnim Aslam berkata, “Siapapun yang mengatakan Islam sebagai tidak bertoleransi menantang terjadinya kekerasan.”

Ini adalah bukti nyata protes2 dari para pemimpin dunia Islam. Tidak disangkal lagi, pidato Paus menyulut kerusuhan di seluruh dunia – gereja2 dibakar dan dihancurkan di Gaza, Tepi Barat, dan di Basra. Di Mogadishu, seorang biarawati Italia yang telah uzur dan juga pembantunya, dibunuh. Beberapa Muslim bahkan mengajak agar Paus dibunuh.

Menurut surat kabar Inggris, pemimpin organisasi Muslim Inggris al-Ghurabaa yang bernama Anjem Choudary memimpin demonstrasi unjuk rasa di luar Westminster Abbey. Dia menuntut agar Paus dijatuhi hukum berat. Pemimpin agama Islam dari Somali yang bernama Abubakar Hassan Malin menyatakan bahwa Paus harus ditemukan dan dibunuh “di tempat itu juga.”

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoğan berkata: “Aku yakin Paus harus menarik kembali pernyataannya yang tidak benar dan jahat dan minta maaf kepada dunia Islam dan Muslim… Aku harap dia cepat2 memperbaiki kesalahannya agar tidak menghalangi usaha tukar pikiran antar budaya dan agama.”

Para Muslim tidak bersikap terbuka akan kritik dan mereka mudah mengancam melakukan kekerasan jika kau menyebut agamanya penuh kekerasan. Pada saat yang sama mereka berkata ingin bertukar pikiran. Tukar pikiran seperti apa yang bisa dilakukan jika mempertanyakan Islam saja sudah bisa mengakibatkan kekerasan dan menyebabkan kematian bagi sang penanya? Jika Islam itu “salah dimengerti, “ seperti yang dikatakan oleh Muslim, bukankah mereka seharusnya mengijinkan orang bertanya jawab dengan mereka untuk menghapus salah pengertian tersebut?

Banyak ayat2 Qur’an yang memerlukan penjelasan yang jelas. “Bunuh kafir di mana pun kau menemukanya.” (2:191) “Perangi mereka, sampai tidak ada fitnah lagi dan ketaatan adalah semata-mata bagi Allâh saja. (2:193) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (8:55) “Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (8:12) “Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (9:28 )

Bagaimana para Muslim menerangkan ayat2 ini? Bukankah ayat2 ini, dan ayat2 serupa lainnya dalam Qur’an, yang bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan di dalam dunia Islam? Kebanyakan agama, termasuk Kristen, punya sejarah masa lalu yang penuh kekerasan. Tapi Islam adalah satu2nya agama yang mengajarkan tindakan kekerasan dalam buku sucinya. Mengapa? Ini adalah pertanyaan sah yang membutuhkan jawaban.

Pertanyaan Kaisar Manuel II Paleologus tetap tidak terjawab. Jawaban seperti “Kau telah menyakiti hati kami yang peka, kau harus minta maaf, kau ****, kau membuat kami melakukan kekerasan,” dll bukanlah jawaban yang logis. Ini hanyalah jawaban untuk mengelak memberi keterangan yang sebenarnya. Jika kaum Muslim memang ingin bertukar pikiran, mereka harus mampu menjawab pertanyaan2 sulit, terutama tentang perbuatan nabi mereka.

Dalam pidatonya, sang Paus mengajak masyarakat Barat untuk beriman teguh pada Tuhan berdasarkan pengertian akal sehat. Lalu dia berkata: “Berdasarkan pengertian logos yang agung ini, berdasarkan adanya akal sehat inilah, maka kita mengajak rekan2 kita untuk bertukar pikiran tentang budaya.”

Bagi kebanyakan Muslim, tukar pikiran (dialog) hanya bisa terjadi satu arah saja (monolog). Yang sebenarnya ingin mereka katakan: kau dengar baik2 apa yang ingin kami katakan padamu dan kau harus setuju. Jika kau mengajukan pertanyaan2 sulit yang tidak bisa kami jawab, kami akan sakit hati dan kau akan menyesal karenanya. Bagaimana bisa terjadi dialog dari dua pendekatan yang saling bertentangan seperti ini?

Bukankah masuk akal untuk mempertanyakan bahwa jika memang tidak ada pemaksaan untuk memeluk Islam, seperti yang dinyatakan dalam sebuah ayat Qur’an, mengapa lalu begitu banyak ayat lainnya memerintahkan Muslim untuk melakukan jihad? Mengapa begitu banyak ayat2 Qur’an yang tidak bertoleran terhadap kebebasan menganut kepercayaan lain di luar Islam? Mengapa meninggalkan Islam diganjar dengan hukuman mati?

Ya, memang kita harus tukar pikiran, tapi ini harus merupakan dialog yang berdasarkan pertanyaan2 sah, pertanyaan2 sulit, pertanyaan yang belum pernah dijawab sebelumnya. Kumpul2 untuk saling berpelukan dan bersalaman bukanlah dialog. Menyembunyikan kotoran selama 1400 tahun di bawah karpet tidak akan membawa Muslim dan non-Muslim untuk lebih saling mengerti satu sama lain. Terdapat pertanyaan2 yang mendasar, yang mengganggu tentang Islam dan Muhammad dan semua ini harus dijawab.

Dialog ini harus dimulai dimulai. Kaum Muslim harus mendengar pertanyaan2 ini. Sudah waktunya mereka menjawabnya. Tingkah laku Muhammad harus diamati dengan cermat dan ajarannya dibongkar. Jika pertanyaan2 ini dibiarkan tidak dijawab, bagaimana kita bisa melakukan dialog? Sebelum pertanyaan2 ini dijawab saja dan dunia benar2 mengerti tentang Islam, maka dunia tidak perlu menerima Islam sebagai agama.

Peradaban manusia sudah mengalami terlalu banyak perang. Sudah terlalu banyak darah yang dikucurkan dan terjadi pembunuhan2 yang tidak masuk akal. “Para martir yang terlupakan berbaring di dalam peti matinya, dan mereka berkorban nyawa demi agamanya, tapi ternyata agama itu dingin yang mati.” [318] Kita tidak butuh perang2 lain. Kita butuh bicara satu sama lain. Mari kita tinggalkan sejenak sentimental dan fanatik agama, dan mari lakukan dialog yang sebenarnya, dan menjawab pertanyaan2 yang nyata.
[318] Margaret A Murray in "The Genesis of Religion" (Lahirnya Agama)

Sudah bisa dibuktikan dengan mudah bahwa Islam sama sekali bukan agama damai, tapi kepercayaan yang mengobarkan perang yang berbahaya. Merupakan tindakan yang salah besar untuk menganggap Islam sebagai salah satu dari banyak agama dan menggolongkan Islam sebagai agama.

Islam adalah gerakan politik fasisme yang serupa dengan Nazisme yang diciptakan orang sakit jiwa berat. Islam tidak diciptakan untuk menyatukan hati banyak orang tapi untuk memecah belah mereka, untuk menimbulkan kebencian diantara mereka dan untuk menguasai mereka, memaksa setiap orang tunduk di bawahnya. Kalau pun semua orang telah memeluk Islam, perang akan terus berlangsung, karena Muslim akan terus bertempur satu sama lain untuk menentukan mana yang benar2 Islam “sejati.”

Islam adalah hasil karya orang yang sakit jiwa. Islam diciptakan sebagai alatnya untuk menaklukkan. Islam tidak membawa apapun kecuali penderitaan bagi pemeluknya dan teror (ketakutan) bagi yang tidak menganutnya.

Islam harus diberatas agar kemanusiaan dapat terus berlangsung. Tiada jalan tengah atau kompromi. Islam tidak dapat diubah bentuknya, tapi bisa dihancurkan. Islam itu kaku keras tapi rapuh.

Akhirnya, yang bisa menghancurkan Islam adalah kebenaran. Islam tidak berdaya jika dihadapkan pada kebenaran. Yang dibutuhkan untuk menghancurkan doktrin kebencian ini hanyalah kata2. Kata2 kebenaran merupakan ancaman terbesar dalam Islam. Muhammad tahu akan hal ini. Karena itulah dia melarang adanya kritik dan mengeluarkan ancaman mati bagi mereka yang berani menentangnya. Semakin cepat kebenaran menyebar, semakin cepat pula Islam akan lenyap jadi debu dalam sejarah.

Sekarang kau tahu tentang kebenaran. Selebihnya adalah terserah dirimu sendiri. Tidak pernah terjadi sebelumnya di mana nasib umat manusia tergantung begitu besar pada setiap diri manusia satu per satu. Hari ini, kau dan aku akan mengubah sejarah. Yang harus kita lakukan adalah menyatakan kebenaran. Setelah itu kebenaran akan memerdekakan kita semua.

Tiada tempat bagi Islam di masa depan umat manusia. Ajaran kebencian ini tidak akan selamat di abad ini dan akan hancur di masa kita masih hidup pula. Islam harus lenyap, karena tidak hanya Islam itu palsu, ****, dan tidak masuk akal, tapi karena Islam juga penuh kekerasan, tidak bertoleransi, dan jahat. Kita tidak boleh bersikap toleran terhadap aliran yang tidak bertoleransi. Bagaimana Islam akan berakhir terletak di tangan kita semua – orang2 biasa seperti kau dan aku. Jika kita tidak berbuat apapun, jika kita tidak menentangnya dan membiarkannya, maka Muslim akan mengakibatkan terjadinya Perang Dunia III dan jutaan manusia akan mati karena perang nuklir.

Komunisme itu jahat, tapi orang2 komunis cinta kehidupan dan karenaya Perang Dingin dapat berakhir tanpa terjadi perang nuklir. Muslim cinta kematian. Hal ini merubah semua hal. Kau mungkin mengira orang yang cinta kematian tentunya orang tidak waras, tapi bagi mereka kematian merupakan bagian iman di alam baka.

Perang nuklir akan mengakhir Islam, tapi itu terjadi setelah sebagian besar umat manusia atau mungkin seluruh dunia Islam musnah. Jika kita bertindak sekarang dan mulai mengadakan dialog, mempertanyakan Islam dan membantu Muslim untuk melihat kebenaran, maka Islam akan semakin lemah dan Muslim akan merdeka. Muslim adalah korban kebohongan besar Islam. Mereka tidak butuh belah kasihan, tapi bimbingan. Jika dialog gagal terjadi, maka perang tidak dapat dihindari lagi. Jika saja dulu ideologi Nazisme dikalahkan sebelum mencengkeram masyarakat Jerman dan jadi begitu kuat, maka korban jiwa 50 juta manusia dapat dihindari.

Satu hal yang pasti, hari2 Islam dapat dihitung. Akankah Islam berakhir dengan ledakan hebat, seperti yang dialami Nazisme, setelah jutaan atau milyaran orang mat? Atau akankah Islam mati dengan sendirinya, seperti yang dialami Komunisme, setelah Muslim melihat kebenaran dan meninggalkannya? Jawaban pertanyaan ini tergantung dari sikap kita semua hari ini.

Alam tidak mengenal yang baik dan yang jahat; alam mengenal kekuatan. Muslim adalah kekuatan militan. Mereka secara aktif mempromosikan agamanya melalui penipuan dan teror. Penipuan dan teror adalah dua strategi jihad, yang wajib dilakukan semua Muslim, sesuai kemampuan masing2. Sebagian Muslim melakukan jihad dalam hidupnya melalui tindakan terorisme dan Muslim yang lain dengan cara mengelabui orang2 untuk menganggap Islam adama damai padahal mereka sendiri tahu bahwa itu tidak benar. Sebagian besar masyarakat dunia bersikap santai, ramah, dan percaya akan kebebasan beragama. Ini mengakibatkan perbedaan kekuatan yang tidak seimbang yang menguntungkan Islam. Karena sikap militan Muslim dan sikap bertoleransi non-Muslim, para Muslim mampu menguasai negara2 yang jauh lebih kuat. Kemenangan ini membuat mereka semakin berani dan sombong. Jika non-Muslim tidak bangkit untuk menghentikan Islam dan mengalahkannya, maka Islam akan menang. Kehancuran umat manusia merupakan kemenangan Islam.

Kau tidak usah jadi jenius untuk mengetahui bahwa hanya diperlukan sedikit militan nekad untuk menundukkan dan menyandera orang2 sipil tak tahu apa2 dalam jumlah besar. Muhammad berkoar, “Aku telah dimenangkan melalui teror.” [319] dan para Muslim menggunakan teror sebanyak mungkin di seluruh perang2 mereka dan mereka menang perang. Masyarakat non-Muslim dunia tidak sadar dan tidak siap. Inilah yang membuat mereka mudah dikalahkan. Jika kita tidak bangun dan melihat Islam sebagai musuh yang mengancam nyawa dan budaya kita, maka kita akan menghadapi masa2 sulit di masa depan. Waktu sudah tidak banyak tersisa. Jika ideologi Islam tidak segera dikalahkan, kita akan menghadapi masa depan sedemikian mengerikan sehingga kengerian Perang Dunia II hanya tampak seperti permainan anak2 saja.
[319] Bukhari, 4.52.220.

Muhammad adalah orang sakit jiwa. Islam adalah hasil ketidakwarasan yang harus segera berakhir. Jika tidak, maka kita harus membayarnya dengan nyawa kita sendiri.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Mon Aug 13, 2007 11:53 pm

Silakan download buku Ali Sina Mengenal Muhammad
Terima kasih banyak aku ucapkan kepada rekan2 setia FFI (pod-rock, curious, ali5196) yang telah bekerja keras membantu menerjemahkan buku ini.
Versi pdf atau word juga bisa didowload dari scribd berikut:

Last edited by Adadeh on Sun Dec 09, 2007 4:20 am, edited 1 time in total.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku Ali Sina: MENGENAL MUHAMMAD

Postby umatawam » Tue Oct 23, 2007 3:05 pm

[quote="Adadeh"]Silakan download buku Ali Sina "Mengenal Muhammad" di sini:
http://www.fileden.com/files/2009/2/17/ ... hammad.doc

Terima kasih banyak aku ucapkan kepada rekan2 setia FFI (pod-rock, curious, ali5196) yang telah bekerja keras membantu menerjemahkan buku ini.
umatawam
 
Posts: 1
Joined: Tue Oct 23, 2007 12:37 pm

Postby kimi57 » Thu Nov 22, 2007 12:11 pm

link nya kok ga bisa ya?
minta yg di gudangupload atau Gilaupload dunk (klo bisa)

tq b4
User avatar
kimi57
 
Posts: 232
Joined: Wed Jun 27, 2007 12:03 pm
Location: Meca - licking Hajar Aswad

Postby jifa » Wed Sep 17, 2008 2:29 pm

BELAJAR YANG BENER DULU! PELAJARI AGAMA ISLAM YANG BENER, DARI SUMBER ASLI, JANGAN APE KATA ORANG! DAN PELAJARI JUGA AGAMAMU! APAKAH SESUAI HATI NURANIMU!

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

Tehzibu'l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : " Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq " (Tehzi'bu'l-tehzi'b, Ibn Hajar Al-`asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: " Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq" (Tehzi'b u'l-tehzi'b, IbnHajar Al- `asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu'l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: "Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok" (Mizanu'l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu'l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

BUKTI #2: MEMINANG

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: "Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya " (Tarikhu'l-umam wa'l-mamlu'k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara'l-fikr, Beirut, 1979).

Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, "Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun... Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah " (Al-isabah fi tamyizi'l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu'l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma'

Menurut Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd: "Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la'ma'l-nubala', Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu'assasatu'l-risalah, Beirut, 1992).

Menurut Ibn Kathir: "Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]" (Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: "Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun" (Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: "Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H." (Taqribu'l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi'l-nisa', al-harfu'l-alif, Lucknow).

Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab karahiyati'l-isti`anah fi'l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: "ketika kita mencapai Shajarah". Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab Ghazwi'l-nisa' wa qitalihinnama`a'lrijal): "Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb]."

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu'l-maghazi, Bab Ghazwati'l-khandaq wa hiya'l-ahza'b): "Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb."

Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: "Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)" ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu'l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa'l-sa`atu adha' wa amarr).

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih
suka bermain (Lane's Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: "Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)". Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris "virgin".
Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah "wanita" (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah "wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan." Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

BUKTI #8. Text Qur'an

Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur'an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur'an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan "sampai usia menikah" sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

Disini, ayat Qur'an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan," berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?" Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur'an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

SUMMARY:

Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di
Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur'an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

sumber :
The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas , di Michigan.
? 2001 Minaret
from The Minaret Source: http://www.iiie.net/

Diterjemahkan oleh : C_P
jifa
 
Posts: 2
Joined: Sun Sep 14, 2008 9:48 am

Postby Adadeh » Wed Sep 17, 2008 11:09 pm

jifa wrote:BELAJAR YANG BENER DULU! PELAJARI AGAMA ISLAM YANG BENER, DARI SUMBER ASLI, JANGAN APE KATA ORANG! DAN PELAJARI JUGA AGAMAMU! APAKAH SESUAI HATI NURANIMU!

Sunan Abu-Dawud Buku 41, Nomer 4915, juga Nomer 4915 and Nomer 4915
Dinyatakan Aisha, Ummul Mu'minin:
Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr:Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun.


Dan Aisyah yang masih kecil bermain dengan boneka2nya:
Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 151
Dinyatakan 'Aisha:
Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku.

(Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3327:
'A'isha (Allah memberkatinya) melaporkan bahwa Rasul Allah menikahinya ketika ia berusia tujuh tahun, dan ia (Muhammad) membawanya ke rumahnya sebagai pengantin ketika ia berusia sembilan tahun, dan boneka2nya dibawanya, dan ketika ia (Muhammad) mati, ia (A’isha) berusia delapanbelas tahun.

Lebih jauh, Qur'an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

Mana ayatnya?
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby ali5196 » Thu Sep 18, 2008 3:23 pm

jifa wrote:Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.


Hehehhhehehhh .... satu lagi Muslim yg merasa nggak pantas kalau seorang 'nabi' bersenggama dgn anak dibawah umur.

Bagus .. bagus ... Muslim2 yg kayak gini nih yg kita incar. Begitu dia disodorin bukti oleh MUSLIM SENDIRI (tinggal nunggu aja dia baca buku2 Islami atau ngobrol sama khotibnya), maka benih2 keraguan akan kenabian Muhamad mulai timbul di benaknya.

Lagi2 masukan utk Cara Berpikir Muslim :

Muslim yg NGOTOT Muhamad tidak sex dgn Aisya (dibawah umur)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... c&start=20

bandingkan dgn :

Image
BACA TUH jifa, kalimat si pakar Islam Saudi di foto terakhir : 'BUT HE HAD SEX (gua ulangi ; HAD SEX) with her only when she was nine.'

Mslim yg scr jantan mngakui Aisyah diGAULI ktk msh anak2
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=24610
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

PreviousNext

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia



Who is online

Users browsing this forum: No registered users