.

SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengkap)

Pembahasan tentang buku² Islam yang tersedia di berbagai toko buku di Indonesia. Isi buku² ini membenarkan penjelasan FFIndonesia tentang wajah Islam dan ajaran Muhammad yang sebenarnya.

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

Postby JANGAN GITU AH » Thu Dec 22, 2011 5:55 pm

hehehe...lompati lageeee... :green:

keqna dah cukup ruangnya...

lanjut
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

Postby JANGAN GITU AH » Thu Dec 22, 2011 11:14 pm

halaman 172

BAB 154

PERANG DZATU AR-RIQA’ PADA TAHUN KEEMPAT HIJRIYAH


Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Perang Bani An-Nadhir, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah selama bulan Rabiul Akhir, dan sebagian Jumadil Ula. Setelah itu, beliau berangkat ke Najed untuk menyerang Bani Muharib dan Bani Tsa’labah dari Ghatafan. Beliau menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa beliau menunjuk Utsman bin Affan sebagai imam sementara di Madinah.”)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di Nakhl. Di sana terjadi perang Dzatu Ar-Riqa’ (Ibnu Hisyam berkata, “Perang tersebut dinamakan Perang Dzatu Ar-Riqa’, karena kaum Muslimin menambal bendera perang mereka di sana. Ada lagi yang mengatakan bahwa dinamakan Perang Dzatu Ar-Riqa’, karena Dzatu Ar-Riqa’ adalah nama pohon di tempat tersebut.”)

Di Dzatu Ar-Riqa’, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjumpa dengan pasukan besar dari Gathafan. Kedua belah pihak saling mendekat kepada pihak lainnya, namun perang tidak meledak di antara mereka, karena masing-masing pihak takut kepada pihak yang lainnya hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan Shalat Khauf bersama para sahabat.” (JGA: lho, koq takut? bukankah katanya malaikat selalu datang membantu?)

Shalat Kauf

Ibnu Hisyam berkata, “Abdul Warits bin Sa’id At-Tannuri yang tidak lain adalah Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa Yunus bin Ubaid berkata kepadaku dari Al-Hasan bin Abu Al-Hasan dari Jabir bin Abdullah yang berkata tentang Shalat Khauf, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan Shalat Khauf dua raka’at bersama satu kelompok dan salam, kemudian kelompok yang tadinya menghadap musuh datang lalu beliau shalat dua raka’at yang lain bersama mereka kemudian salam’.”

Ibnu Hisyam berkata, “Abdul Warits berkata kepadaku bahwa Ayyub berkata kepadanya dari Abu Az-Zubair dari Jabir yang berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi kami ke dalam dua shaf. Beliau ruku’ dengan kami semuanya, kemudian sujud dan shaf pertama sujud bersama beliau. Ketika shaf pertama telah mengangkat kepala dari sujud, shaf kedua sujud …
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
halaman 173

sendirian, kemudian shaf pertama mundur ke belakang dan shaf kedua maju menggantikan tempat shaf pertama, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ruku’ dengan mereka semua, dan masing-masing shaf sujud dua kali secara sendirian’.”

Ibnu Hisyam berkata, “Abdul Warits bin Sa’id At-Tannuri berkata kepadaku bahwa Ayyub berkata kepadanya dari Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhumua yang berkata, ‘Imam berdiri bersama shaf yang berdiri bersamanya (shaf pertama) sedang shaf kedua menghadap musuh, kemudian imam ruku’ dan sujud bersama shaf pertama, kemudian mereka mundur ke belakang dan menjadi shaf yang menghadap musuh, kemudian shaf kedua maju ke depan, kemudian imam ruku’ bersama mereka satu raka’at dan sujud bersama mereka, kemudian masing-masing shaf shalat satu raka’at secara sendirian. Jadi masing-masing shaf shalat satu raka’at bersama imam dan mereka shalat satu raka’at secara sendiri-sendiri’.”

Salah seorang dari Ghatafan Berusaha Menyergap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam


Ibnu Ishaq berkata, “Amr bin Ubaid berkata kepadaku dari Al-Hasan dari Jabir bin Abdullah bahwa salah seorang dari Bani Muharib yang bernama Ghaurats berkata kepada kaumnya yaitu Ghatafan dan Muharib, ‘Bagaimana kalau aku membunuh Muhammad untuk kalian?’ Ghaurats berkata, ‘Aku akan menyergapnya.’ Kemudian Ghaurats pergi ke tempat Rasulullah yang ketika itu duduk, sedang pedang berada di pangkuannya. Ghaurats berkata, ‘Hai Muhammad, aku mau lihat pedangmu ini.’ Rasulullah menjawab, ‘Ya.’ (Ibnu Hisyam berkata, “Pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut dihiasi perak.”). Ghaurats mengambil pedang tersebut dan mengeluarkannya dari sarungnya. Ia menggerak-gerakkannya dan bermaksud membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam namun Allah menggagalkan usahanya. Ia berkata, ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau takut kepadaku?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak, apa yang mesti aku takutkan darimu?’ Ghaurats berkata, ‘Tidakkah engkau takut kepadaku sedang di tanganku terdapat pedang?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Aku tidak takut, karena Allah melindungiku darimu.” Kemudian Ghaurats berjalan dan mengembalikan pedang itu kepada beliau. Setelah itu Allah Ta’ala menurunkan ayat berikut,
= = = = = = = == = = = = = = = = = = == = = = = == = = = = = = = == = = = = = = = = = = == = = = = ==

halaman 174

    ‘Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kalian akan nikmat Allah kepada kalian di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepada kalian (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kalian, dan bertakwalah kepada Allah dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang Mukmin harus bertawakkal’.” (Al-Maidah: 11).

Ibnu Ishaq berkata, “Yazid bin Ruman berkata kepadaku bahwa ayat di atas diturunkan tentang Amr bin Jahasy saudara Bani An-Nadhir dan apa yang ia rencanakan.” Wallahu a’lam mana yang benar di antara kedua riwayat tersebut.

Kisah Jabir bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam Perjalanan Pulang ke Madinah

Ibnu Ishaq berkata, “Wahb bin Kisan berkata kepadaku dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma yang berkata, ‘Aku keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Perang Dzatu Ar-Riqa’ dari Nakhl dengan mengendarai unta yang lemah. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang dari Perang Dzatu Ar-Riqa, teman-temanku berjalan lancer, sedang aku terlambat di belakang hingga aku disusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda kepadaku,’Apa yang terjadi denganmu, hai Jabir?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, untaku jalannya pelan.’ Beliau bersabda, ‘Suruh dia duduk.’ Aku mendudukkan untaku dan beliau juga mendudukkan untanya. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Berikan tongkatmu kepadaku.’ Atau beliau bersabda, ‘Potongkan tongkat untukku dari pohon!’ Aku kerjakan permintaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau mengambil tongkat yang dimintanya. Beliau menusuk lambung untaku beberapa kali kemudian bersabda kepadaku, ‘Naikilah untamu!’ Aku segera menaiki untaku. Demi Dzat yang mengutus beliau dengan membawa kebenaran, untaku mampu menyalib unta beliau. Aku mengobrol dengan beliau, kemudian beliau berkata, ‘Hai Jabir, apakah engkau bersedia menjual untamu ini kepadaku?’ Aku menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah, namun aku bermaksud menghibahkannya kepadamu.’ Beliau bersabda, ‘Juallah untamu ini kepadaku!’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, hargailah untaku ini!’ Beliau bersabda, ‘Satu dirham.’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Rasulullah, kalau dengan harga seperti itu, engkau merugikanku.’ Beliau ber-…
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
halaman 175

…sabda, ‘Dua dirham.’ Aku berkata, ‘Aku tidak mau seharga itu, wahai Rasulullah.’ Beliau menaikkan penawaran harga unta hingga mencapai satu uqiyah. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau ridha dengan harga tersebut?’ Beliau bersabda, ‘Ya.’ Aku berkata, ‘Kalau begitu, untaku ini menjadi milikmu.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu aku ambil untamu.’ Setelah itu beliau bersabda, ‘Hai Jabir, apakah engkau sudah menikah?’ Aku menjawab, ‘Sudah, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Dengan janda atau gadis?’ Aku menjawab, ‘Dengan janda’ Beliau bersabda, ‘Kenapa engkau tidak menikah dengan gadis hingga engkau bisa bercanda dengannya dan ia bercanda denganmu?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku gugur di Perang Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan, kemudian aku menikahi wanita lengkap yang bisa melengkapi kepala ketujuh anak perempuan tersebut dan mengasuh mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau benar insya Allah. Bagaimana kalau kita sudah tiba di Shirar aku perintahkan penyiapan unta untuk disembelih kemudian kita adakan jamuan daging unta pada hari tersebut hingga istrimu mendengarnya kemudian ia melepaskan bantalnya?’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai bantal.’ Beliau bersabda, ‘Engkau akan memilikinya insya Allah. Oleh karena itu, jika engkau telah tiba, kerjakan perbuatan yang cerdas.’

Ketika tiba di Shirar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan penyiapan unta kemudian disembelih dan kita pun mengadakan pesta makan-makan pada hari tersebut. Pada sore harinya, beliau masuk ke rumah dan aku masuk ke rumahku Aku ceritakan kisah ini dan apa yang dikatakan kepadaku oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada istriku. Istriku berkata, ‘Ya, karena mendengar dan taat kepada Rasulullah.’ Esok paginya aku pegang kepala unta, menuntun dan mendudukkannya di pintu masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian aku duduk di dekat masjid. Ketika beliau keluar dan melihat unta, beliau bersabda, ‘Apa ini?’ Para sahabat menjawab, ‘Ini unta yang dibawa Jabir.’ Beliau bersabda, ‘Mana Jabir?’ Aku pun dipanggil, kemudian beliau bersabda, ‘Hai anak saudaraku, ambillah kepala untamu karena itu menjadi milikmu!’ Beliau memanggil Bilal dan bersabda kepadanya, ‘Pergilah bersama Jabir dan berikan uang satu uqiyah kepadanya!’ Aku pun pergi bersama Bilal kemudian ia memberiku uang satu uqiyah dan memberi tambahan sedikit kepadaku. Demi Allah, pemberian beliau tersebut berkembang terus dan bisa dilihat tempatnya di rumahku hingga aku mendapatkan musibah belum lama ini di Perang Al-Harrah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Pamanku Shadaqah bin Yasar berkata kepadaku dari Aqil bin Jabir dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari yang berkata, ‘Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Perang Dzatu Ar-Riqa’ dari Nakhl. Salah seorang dari sahabat melukai salah seorang istri kaum musyrikin (JGA: memperkosa…kemudian tampaknya dibunuh juga). Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah pulang ke Madinah, suami wanita tersebut pergi kemudian datang. Ketika ia diberitahu…
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
halaman 176

… apa yang terjadi, ia bersumpah tidak akan berhenti berjalan hingga bisa menumpahkan darah sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang tersebut keluar menelusuri jejak beliau dan ketika beliau tiba di satu tempat, beliau bersabda, ‘Siapa orang yang siap menjaga kita pada malam hari?’ Salah seorang dari kaum Muhajirin dan salah seorang dari kaum Anshar berkata, ‘Kami siap melakukan penjagaan, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada kedua sahabat tersebut, ‘Hendaklah kalian berdua berada di mulut jalan menuju gunung.’ Ketika itu, beliau dan para sahabat berhenti di jalan menuju gunung di salah satu lembah (Ibnu Hisyam berkata, “Kedua sahabat tersebut adalah Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyr.”).

Ketika kedua sahabat tersebut pergi ke jalan menuju gunung, sahabat dari kaum Anshar berkata kepada sahabat dari kaum Muhajirin, ‘Kapan engkau senang berjaga, awal malam atau akhir malam?’ Sahabat dari kaum Muhajirin berkata, ‘Jagalah diriku pada awal malam.’ Usai berkata seperti itu, sahabat dari kaum Muhajirin tidur, sedang sahabat dari kaum Anshar berdiri shalat. Ketika sahabat dari kaum Anshar sedang berdiri shalat, suami wanita yang terluka datang. Ketika ia melihat seseorang (sahabat dari kaum Anshar), ia paham bahwa orang tersebut bertugas mengintai musuh. Ia pun melempar panah dan sahabat tersebut mencabutnya dan tetap kokoh berdiri. Orang musyrik tersebut melempar panah lagi kemudian sahabat dari kaum Anshar mencabutnya dan tetap kokoh berdiri. Orang musyrik tersebut melempar panah lagi kemudian sahabat dari kaum Anshar mencabutnya lalu ia ruku’, sujud, dan membangunkan sahabatnya sambil berkata, ‘Bangunlah, sungguh aku terluka parah.’ Sahabat dari kaum Muhajirin bangun dan ketika keduanya melihat orang musyrik tersebut, oleh karena itu, ia segera melarikan diri. Ketika sahabat dari kaum Muhajirin melihat darah di sahabat dari kaum Anshar, ia berkata, ‘Subhaahallah, kenapa engkau tidak membangunkanku pada awal orang musyrik tersebut melemparkan panah kepadamu?’ Sahabat dari kaum Anshar menjawab, ‘Ketika itu, aku sedang membaca salah satu surat Al-Qur’an dan aku tidak ingin memotongnya hingga aku menuntaskannya. Ketika panah terus menerus mengenaiku, aku pun ruku’ kemudian membangunkanmu. Demi Allah, sekiranya aku tidak takut menyia-nyiakan perbatasan yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk aku jaga, orang musyrik tersebut pasti membunuhku sebelum aku menuntaskan bacaan’.”

Ibnu Ishaq berkata, “Setibanya dari Perang Dzatu Ar-Riqa’. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah pada sisa bulan Jumadil Ula, Jumadil Akhir, dan Sya’ban.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

Postby JANGAN GITU AH » Thu Dec 22, 2011 11:26 pm

Halaman 177

BAB 155
PERANG BADAR TERAKHIR DI BULAN SYA’BAN TAHUN KEEMPAT HIJRIYAH


Ibnu Ishaq berkata, “Pada bulan Sya’ban, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah untuk memenuhi janji Abu Sufyan bin Harb hingga tib di Badar (Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul Al-Anshari sebagai imam sementara di Madinah.”)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunggu Abu Sufyan bin Harb di Badar selama delapan malam. Abu Sufyan bin Harb sendiri keluar dari Makkah bersama orang-orang Makkah hingga tiba di Majannah dari arah Dhahran. Sebagian ulama berkata bahwa Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya berjalan hingga tiba di Usfan, kemudian memilih ulang kembali ke Makkah. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya tidak ada yang berguna bagi kalian kecuali musim subur dimana kalian bisa melihat pohon dan minum susu di dalamnya. Sesungguhnya tahun kalian sekarang adalah tahun kemarau, oleh karena itu, aku akan pulang dan hendaklah kalian juga pulang.’ Kemudian orang-orang Makkah pulang ke Makkah dan mereka dijuluki penduduk Makkah sebagai Pasukan Tepung. Penduduk Makkah berkata, ‘Kalian keluar hanya ingin meminum tepung’.”

Keberadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Badar Menunggu Pasukan Musyrikin

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di Badar menunggu Abu Sufyan bin Harb, beliau didatangi Makhsyi bin Amr Adz-Dzamri, wakil dari Bani Dzamrah, yang berdamai dengan beliau di Perang Waddan. Ia berkata, ‘Hai Muhammad, apakah engkau datang untuk berjumpa dengan orang-orang Quraisy di mata air ini?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya, wahai saudara dari Bani Dzamrah. Jika engkau mau, kami kembalikan perjanjian di antara kita, kemudian memerangimu hingga Allah memutuskan perkara di antara kita.’ Makhsyi bin Amr Adz-Dzamri berkata, ‘Hai Muhammad, demi Allah, kita tidak menginginkan pembatalan perjanjian.’ (JGA: ckckck…meminta dukungan dengan cara mengancam. Gila!)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = =
halaman 178

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap berada di Badar menunggu kedatangan Abu Sufyan bin Harb. Suatu ketika, Ma’bad bin Abu Ma’bad Al-Khuzai berjalan melewati beliau kemudian berkata ketika melihat tempat dan unta beliau yang berjalan cepat ke sana,

    ‘Sungguh, untanya lari dari teman-teman Muhammad
    Dan dari kurma Ajwah Yatsrib yang seperti anggur kering yang jelek
    Unta tersebut berjalan cepat di atas agama ayahnya dulu
    Ia menjadikan Mata Air Qudaid sebagai tempat tujuanku’.”

Syair Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu tentang Perang Badar Yang Dijanjikan Abu Sufyan bin Harb

Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu berkata tentang Perang Badar terakhir yang gagal tersebut,

    ‘Abu Sufyan berjanji lagi kepada kami untuk bertemu lagi di Badar
    Namun kami tidak melihatnya jujur dan ia tidak menepati janji
    Saya bersumpah seandainya engkau menepati janji jumpa dengan kami
    Engkau pasti pulang dalam keadaan hina dan kehilangan sanak-kerabat
    Di sana, kami tinggalkan tubuh Utbah dan anaknya
    Kami tinggalkan Amr dan Abu Jahal tewas
    Kalian mendurhakai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan persetan dengan agama kalian
    Persetan urusan jelek kalian yang sesat itu
    Sesungguhnya kendati kalian bersikap keras terhadapku
    Aku tetap akan berkata bahwa keluarga dan hartaku menjadi tebusanmu bagi Rasulullah
    Kami mentaati beliau dan tidak menggantinya dengan orang lain
    Ia sinar dan penunjuk bagi kami di kegelapan malam’.”

Ibnu Hisyam berkata, “Abu Zaid Al-Anshari berkata kepadaku bahwa syair di atas adalah syair Ka’bah bin Malik.”

Syair Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu tentang Perang Badar Yang Dijanjikan Abu Sufyan bin Harb

Ibnu Ishaq berkata, “Hassan bin Tsabit berkata tentang Perang Badar yang dijanjikan Abu Sufyan bin Harb,


      ‘Mereka tinggalkan anak sungai Syam dihalangi unta seperti mulut unta hamil yang digembalakan di pohon Urak
      Mereka tinggalkan anak sungai tersebut di tangan orang-orang hijrah kepada Tuhan mereka
      Dan penolong-penolong-Nya dengan jujur, serta para malaikat-malaikat
      Jika mereka pergi ke tempat yang dalam melalui pasir-pasir yang bertumpuk-tumpuk

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 179

      Maka katakan bahwa jalan itu tidak dari sana
      Kami menetap di sumur selama delapan hari
      Dengan guci besar dan lebar selebar kolam
      Dengan kuda berwarna hitam kemerah-merahan dimana setengahnya adalah separoh badannya
      Dengan ekor yang panjang dan tinggi pangkal lehernya
      Engkau lihat tumbuh-tumbuhan lebat dimana akar-akarnya diterbangkan
      Oleh ujung kuku unta yang cepat larinya
      Jika dalam pembembaraan dan pencarian, kita bertemu dengan Furat bin Hayyan
      Ia pasti tewas
      Jika kita bertemu dengan Qais bin Umru’ul Qais sesudahnya
      Maka warna gelap ditambahkan kepada warna gelapnya
      Antarkan suratku kepada Abu Sufyan
      Bahwa sesungguhnya engkau orang yang paling **** dan pelit’.”

    Jawaban Abu Sufyan bin Al-Harits terhadap Hassan bin Tsabit

    Ibnu Ishaq berkata, “Syair Hassan bin Tsabit di atas dijawab Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib,
      ‘Hai Hassan anak dari wanita pemakan kurma dan begitu juga kakekmu,
      Sesungguhnya kami telah menjelajahi padang sahara
      Kami keluar hingga kijang pun tidak selamat dari kami
      Kendati ia lari dari kami dengan menarik panca inderanya
      Engkau menetap di sumur untuk menyerang kami
      Dan meninggalkan kami berada di kebun kurma di tempat yang dekat
      Kuda-kuda dan pejalan kaki kami berjalan di atas tanaman
      Apa saja yang mereka injak, mereka meratakannya dengan lumpur
      Kami menetap tiga hari di antara Gunung Sal’u dan Gunung Fari’
      Dengan kuda dan unta yang kencang larinya
      Engkau jangan mengirim kuda bagus
      Namun katakan kepada kuda-kuda itu seperti perkataan pengikatnya
      Kalian bahagia dengan kuda-kuda tersebut, padahal orang lain lebih berhak atasnya
      Yaitu penunggang-penunggang kuda dari anak-anak Fihr bin Malik
      Jika Engkau ingat, sebenarnya engkau tidak beribadah dengan hijrah dan hal-hal lain yang suci dalam agama’.”

    ---ooOoo---

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 180

    BAB 156

    PERANG DAUMATUL JANDAL DI BULAN RABI’UL AWWAL TAHUN KELIMA HIJRIYAH


    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan menetap di dalamnya beberapa bulan hingga bulan Dzulhijjah habis. Ini adalah tahun keempat sajak kedatangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah.

    Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat untuk memerangi Daumatul Jandal (Ibnu Hisyam berkata, “Itu terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Siba’ bin Urfuthah Al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah.”)

    Kemudian beliau pulang ke Madinah sebelum tiba di Daumatul Jandal karena tidak mendapatkan perlawanan. Beliau menetap di Madinah di sisa-sisa hari tahun tersebut.”

    ---ooOoo---

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 181

    BAB 157

    PERANG KHANDAQ PADA TAHUN KELIMA HIJRIYAH


    Ibnu Hisyam berkata, “Ziyad bin Abdullah bin Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththalibi yang berkata bahwa setelah itu terjadilah Perang Khandaq yang terjadi pada bulan Syawwal tahun kelima Hijriyah.”

    Orang-orang Yahudi Memprovokasi Orang-orang Quraisy untuk melawan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Yazid bin Ruman mantan budak keluarga Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dan dari orang yang tidak aku ragukan kejujurannya dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik dan Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi. Az-Zuhri, Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu Bakr, dan ulama-ulama lainnya dimana hadits mereka tidak berbeda tentang Perang Khandaq dan sebagian dari mereka mengatakan apa yang tidak dikatakan sebagian lainnya. Mereka semua sepakat berkata,

    “Setelah Perang Khandaq, beberapa orang Yahudi di antaranya Sallam bin Abu Al-Huqaiq An-Nadhri, Huyai bin Akhthab An-Nadhri, Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abu Al-Huqaiq An-Nadhri, Haudzah bin Qais Al-Waili, dan Abu Ammar Al-Waili –dalam kelompok orang-orang dari Bani An-Nadhir dan Bani Wail yang membentuk pasukan sekutu untuk melawan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam—keluar dari Madinah dan tiba di tempat orang-orang Quraisy di Makkah. Mereka mengajak orang-orang Quraisy memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang-orang Yahudi tersebut b erkata, ‘Kita akan selalu bersama kalian dalam menghadapi dia hingga kita berhasil membumihanguskannya.’ Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi, ‘Hai orang-orang Yahudi, sesungguhnya kalian adalah ahli Kitab yang pertama dan mempunyai pengetahuan tentang akibat kami dengan Muhammad; manakah yang lebih baik antara agama kami dengan agama Muhammad?’ Orang-orang Yahudi menjawab, ‘Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad dan kalian lebih benar daripada dia.’ Tentang orang-orang Yahudi tersebut, Allah Ta’ala menurunkan ayat berikut,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 182

      ‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah) bahwa mereka lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman; mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.’ (An-Nisa’: 51-52)

    Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

      ‘Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. Maka di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya; dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.” (An-Nisa’: 54-55).

    Yang dimaksud dengan karunia pada ayat di atas ialah kenabian.

    Ketika orang-orang Yahudi berkata seperti itu kepada orang-orang Quraisy, maka orang-orang Quraisy senang dan bersemangat terhadap ajakan orang-orang Yahudi untuk memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian kedua kekuatan tersebut bersatu dan mengadakan persiapan secukupnya.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 183

    Orang-orang Yahudi Memprovokasi Orang-orang Ghatafan

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, orang-orang Yahudi keluar dari Makkah dan pergi ke Ghatafan guna mengajak mereka untuk memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka jelaskan kepada orang-orang Ghatafan bahwa mereka akan selalu bersama oarng-orang Ghatafan dan orang-orang Quraisy mendukung gagasan ini. Orang-orang Ghatafan pun bersatu dengan orang-orang Yahudi dalam ide tersebut.”

    Keberangkatan Orang-orang Musyrikin dan Nama-nama Pemimpin Mereka

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, berangkatlah orang-orang Quraisy di pimpin Abu Sufyan bin Harb, orang-orang Ghathafan dipimpin Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr bersama orang-orang Bani Fazarah, Al-Harits bin Auf bin Abu Haritsah Al-Muri bersama orang-orang Bani Murrah. Mis’ar bin Rukhailah bin Tharif bin Suhmah bin Abdullah bin Hilal bin Khulawah bin Asyja’ bin Raits bin Ghathafan bersama orang-orang yang ikut dengannya dari Bani Asyja’.”

    Penggalian Parit

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar rencana orang-orang musyrikin dan persatuan mereka, beliau membuat parit di sekitar Madinah. Beliau terjun langsung dalam pembuatannya untuk memotivasi kaum Muslimin kepada pahala. Beliau bersemangat dalam menggali parit begitu juga para sahabat. Hanya orang-orang munafik sajalah yang tidak serius. Orang-orang munafik kerja sedikit kemudian pulang ke rumah tanpa sepengetahuan dan izin beliau. Di saat yang sama, jika salah seorang dari kaum Muslimin mempunyai kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan, ia memberitahukannya dan meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau mengizinkannya pulang ke rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Jika ia telah selesai memenuhi kebutuhannya, ia kembali kerja membuat parit karena ingin mendapatkan kebaikan dan pahala di sisi Allah. Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang kaum Mukminin tersebut,

      ‘Sesungguhnya yang sebenar-benar orang Mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, merekat tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka dan mohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (An-Nuur: 62).(JGA: Bahasa muhammad = bahasa Allah swt :-k

    Ayat di atas turun kepada kaum Muslimin yang menyimpan pahala di sisi Allah, taat kepada-Nya, dan taat kepada Rasul-Nya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang orang-orang munafik yang tidak serius dalam bekerja dan pulang ke rumah tanpa meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

      ‘Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti penggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.’ (An-Nuur: 63)
    Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi, sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kalian berada di dalamnya (sekarang).’ (An-Nuur: 64).

    Maksudnya, Allah mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong. Kemudian Allah Ta’ala berfirman.
      ‘Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu dterangkan-Nya kepada mereka apa-apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nuur: 64).

    Kaum Muslimin serius dalam pembuatan parit hingga berhasil menyelesaikannya. Mereka menyenandungkan syair salah seorang dari kaum Muslimin yang bernama Ju’ail yang kemudian namanya diganti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi Amr.

      ‘Setelah namanya Ju’ail, maka namanya dirubah menjadi Amr
      Pada suatu hari ia menjadi tulang punggung bagi orang yang menderita.’

    Jika kaum Muslimin melewati kata Amr, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Amr.’ Dan jika mereka melewati kata tulang punggung maka beliau bersabda, ‘Tulang punggung’.”

    Tanda-tanda Kebesaran Allah Yang Terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam Penggalian Parit

    Ibnu Ishaq berkata, “Dalam penggalian parit terdapat banyak sekali hadits-hadits yang di dalamnya terdapat ibrah tentang kebenaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kenabiannya, dan ibrah-ibrah tersebut dilihat langsung oleh kaum Muslimin. Di antara hadits yang sampai kepadaku ialah hadits dari Jabir bin Abdullah yang berkata, ‘Kaum Muslimin mendapatkan kesulitan dalam menggali sebagian tanah liat, kemudian mengadukannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau meminta disediakan air kemudian meludah ke dalamnya, berdoa dengan doa yang beliau inginkan kepada Allah, dan menyiramkan air tersebut ke atas tanah liat. Orang-orang yang hadir ketika itu berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusnya sebagai nabi dengan membawa kebenaran, tanah liat tersebut hancur berkeping-keping hingga menjadi seperti pasir, padahal tadinya tidak mempan oleh kapak’.”

    Mujizat Pelipatgandaan Kurma

    Ibnu Ishaq berkata, “Sa’id bin Mina’ berkata kepadaku bahwa ia diberitahu bahwa putrid Basyir bin Sa’ad saudara perempuan An-Nu’man bin Basyir berkata, ‘Ibuku, Amrah binti Rawahah, memanggilku kemudian memberiku semangkok kurma di pakaianku dan berkata, ‘Putriku, pergilah ke tempat ayah dan pamanmu dari jalur ibu Abdullah bin Rawahah! Antarkan kurma ini kepada keduanya!’ Aku mengambil kurma tersebut kemudian pergi. Aku berjalan melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika aku mencari ayah dan pamanku dari jalur ibu. Beliau bersabda, ‘Nak, kemarilah, apa yang engkau bawa?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ini kurma. Ibuku menyuruhku mengantarkannya kepada ayahku, Basyir bin Sa’ad, dan pamanku dari jalur ibuku, Abdullah…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 186

    …bin Rawahah untuk keduanya makan.’ Beliau bersabda, ‘Coba bawa ke mari kurmanya tersebut!’ Aku tuang kurma yang aku bawa ke telapak tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam namun tidak muat. Beliau meminta kain lalu digelar untuk beliau, kemudian beliau meletakkan kurma ke dalamnya hingga kurma berserakan di atas kain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang yang berada di sampingnya,’Berserulah kepada para pembuat parit dan suruh mereka ke mari untuk makan siang.’ Para sahabat pembuat parit segera berkumpul di sekitar kurma kemudian memakannya. Anehnya kurma tersebut terus bertambah, hingga ketika para sahabat pembuat parit usai memakannya, ternyata kurma tersebu keluar lagi dari ujung-ujung kain’.”

    Mukjizat Lain di Pelipatgandaan Makanan

    Ibnu Ishaq berkata, “Sa’id bin Mina’ berkata kepadaku dari Jabir bin Abdullah yang b erkata, ‘Aku bekerja bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam penggalian parit. Aku mempunyai kambing kecil yang tidak gemuk. Aku berkata, ‘Demi Allah, aku pasti menghidangkannya kepada beliau.’ Aku perintahkan istriku membuat tepung dari sya’ir (sejenis gandum), roti, menyembelih kambing kecilku dan menghidangkan daging bakarnya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada sore hari ketika beliau hendak pulang -- kita kerja menggali parit di siang hari dan pulang ke rumah di sore hari --, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah menyiapkan makanan dari kambing kecilku, roti dari tepung sya’ir untukmu. Aku ingin pulang ke rumah berdua dengan beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya, boleh.’ Beliau memerintahkan penyeru berseru kepada para sahabat agar mereka pergi bersama beliau ke rumah Jabir bin Abdulullah. Aku berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilahihi raaji’un.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di rumahku bersama para sahabat. Beliau duduk kemudian aku keluarkan hidangan kepadanya. Beliau mengharapkan keberkahan bagi makanan hidanganku dan menyebut nama Allah kemudian memakannya. Para sahabat dating secara bergantian; setiap kali satu kelompok telah makan, datanglah kelompok lain hingga semua kelompok selesai memakannya.”

    Tanda-tanda Kebesaran Allah Yang Dilihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Parit (Khadaq)

    Ibnu Ishaq berkata bahwa ia diberitahu dari Salman Al-Farisi yang berkata, “Aku menggali di sebagian parit namun ada batu keras yang tidak mampu aku pecahkan, sedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di dekatku. Ketika beliau melihatku menggali dan kerepotanku dalam memecahkan batu…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 187

    …tersebut, beliau turun kemudian mengambil kapak dari tanganku. Beliau menghantam batu tersebu dengan hantaman yang memercikkan sinar di bawah kapak. Beliau menghantam batu tersebut sekali lagi dengan hantaman yang memercikkan sinar di bawah kapak. Beliau menghantam batu tersebut ketiga kalinya dengan hantaman yang memercikkan sinar di bawah kapak. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ayah ibuku menjadi tebusanmu, sinar apakah yang aku lihat ketika engkau menghantamkan batu tersebut?’ Beliau bersabda, ‘Hai Salman, apakah engkau melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku melihat sinar tersebut.’ Beliau bersabda, ‘Adapun sinar pertama, dengannya Allah akan menaklukan Yaman untukku. Adapun sinar kedua, dengannya Allah akan menaklukan Syam dan negeri-negeri barat untukku. Sedang sinar ketiga, dengannya Allah akan menaklukkan negeri-negeri timur untukku’.”

    Persinggahan Kaum Musyrikin di Sekitar Madinah

    Ibnu Ishaq berkata, “Usai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat parit, datanglah orang-orang Quraisy kemudian berhenti di tempat kumpulnya aliran air di Dumah antara Al-Juruf dan Zaghabah. Mereka dating ke tempat tersebut dengan membawa sepuluh ribu orang dari orang-orang ahabisy, Bani Kinanah, dan Bani Tihamah.

    Orang-orang dari Ghathafan bersama orang-orang Najed juga dating kemudian berhenti di Dzanab Naqma di samping Uhud.

    Di sisi lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama tiga ribu kaum Muslimin keluar dan menghadapkan punggung mereka ke Gunung Sil’un. Di sanalah beliau membuat markas, sedang parit membatasi mereka dengan musuh (Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai imam sementara di Madinah.”)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan anak-anak dan wanita-wanita berlindung di benteng.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 188

    Huyai bin Akhtab Memprovokasi Ka’ab bin Asad Al-Quradhi untuk Memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Musuh Allah, Huyai bin Akhtab An-Nadhri, keluar kemudian pergi ke tempat Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi, wakil Bani Quraidhah dalam perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ka’ab bin Asad Al-Quradhi telah membuat perjanjian dengan beliau mewakili kaumnya dan orang yang menandatanganinya. Ketika Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi mendengar kedatangan Huyai bin Akhtab An-Nadhri, ia menutup pintu bentengnya. Huyai bin Akhtab meminta Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi membukakan pintunya, namun ia menolak membukanya hingga akhirnya Huyai bin Akhtab An-Nadhri berteriak, ‘Hai Ka’ab, celakalah engkau, bukakan pintu untukku!’ Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi menjawab, ‘Hai Huyai, celakalah engkau, engkau orang tercela. Aku telah membuat perjanjian dengan Muhammad dan aku tidak ingin membatalkan perjanjianku dengannya, karena aku melihatnya menepati janji dan jujur.’ Huyai bin Akhtab bin An-Nadhri berkata, ‘Celakalah engkau, bukakan pintu untukku karena aku ingin bicara denganmu.’ Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi berkata, ‘Aku tetap tidak mau membuka pintu.’ Huyai bin Akhtab An-Nadhri berkata, ‘Demi Allah, jika engkau tetap mengunci benteng dariku, itu karena engkau takut aku makan makanan jasyisy (jenis makanan) milikmu.’ Perkataan Huyai bin Akhtab An-Nadhri tersebut membuat Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi naik darah, kemudian membuka pintu bagi Huyai bin Akhtab An-Nadhri yang kemudian berkata, ‘Celakalah engkau hai Ka’ab, aku datang kepadamu membawa orang-orang Quraisy lengkap dengan panglima perang dan tokoh-tokohnya. Sekarang mereka aku tempatkan di tempat kumpulnya air di Duman. Aku juga datang kepadamu membawa orang-orang Ghathafan lengkap dengan panglima perang dan tokoh-tokohnya. Dan sekarang mereka aku tempatkan di Dzanab Aqma di samping Uhud. Mereka semua telah bersumpah dan berjanji kepadaku untuk tidak pergi hingga kita berhasil menghabisi Muhammad dan para pengikutnya. Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi berkata kepada Huyai bin Akhtab An-Nadhri, ‘Demi Allah, engkau datang kepadaku membawa kehinaan zaman dan awan yang tidak terdapat air hujan di dalamnya. Awan tersebut berkilat namun tidak membawa apa-apa. Celakalah engkau hai Huyai, biarkan aku dengan pilihanku, karena aku melihat Muhammad itu orang yang jujur dan menepati janji.’ Huyai bin Akhtab An-Nadhri tetap berada di rumah Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi guna mengajukan berbagai argument kepadanya, hingga akhirnya Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi bersedia memberinya perjanjian untuknya. Isi perjanjian tersebut bahwa jika orang-orang Quraisy dan Ghathafan pulang tanpa berhasil mengalahkan Muhammad maka hendaknya Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi memasukkan Huyai bin Akhtab An-Nadhri ke bentengnya….
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 189

    … hingga ia mendapatkan musibah seperti musibah yang diterima Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi. Dengan demikian, Ka’ab bin Sa’ad Al-Quradhi membatalkan perjanjiannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

    Tibanya Informasi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Pengiriman Orang-orang untuk Mengecek Kebenarannya

    Ibnu Isahaq berkata, “Ketika informasi pembatalan perjanjian di atas terdengar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari kaum Muslimin, beliau mengirim Sa’ad bin Muadz bin An-Nu’man—tokoh Al-Auz ketika itu --, Sa’ad bin Ubadah bin Dulaim warga Bani Saidah bin Ka’ab bin Al-Khazraj – tokoh Al-Khazraj ketika itu --, Abdullah bin Rawahah saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, dan Khawwat bin Jubair saudara Bani Amr bin Auf kepada mereka (Bani Quraidhah), dan bersabda kepada mereka, ‘Pergilah, kemudian lihatlah; apakah informasi yang sampai kepada kita itu benar atau tidak? Jika informasi memang benar, hendaklah kalian berkata dengan bahasa sindiran yang paling baik dan jangan lemahkan mereka. Jika mereka menepati perjanjian antara kita dengan mereka, berkatalah secara terus terang kepada mereka.’ Para sahabat tersebut segera pergi ke Bani Quraidhah. Ketika mereka tiba di tempat mereka, mereka mendapati orang-orang Bani Quraidhah lebih brengsek dari informasi yang sampai pada mereka. Mereka menghina Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Siapa Rasulullah itu? Kami tidak mempunyai perjanjian dengan Muhammad.’ (JGA: Membatalkan perjanjian juga merupakan hinaan lho...! [-X :lol: )Mereka dikecam Sa’ad bin Muadz dan mereka ganti mengecam Sa’ad bin Muadz. Sa’ad bin Muadz adalah orang yang emosional. Sa’ad bin Ubadah berkata kepada Sa’ad bin Muadz, ‘Sudahlah, engkau tidak usah mengecam mereka. Kita tidak perlu meningkatkan saling kecam.’ Setelah itu, Sa’ad bin Muadz, Sa’ad bin Ubadah, dan dua sahabat lainnya menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka mengucapkan salam kepada beliau, kemudian berkata, ‘Mereka seperti Adhal dan Al-Qarah yang menghianati Khubaib dan sahabat-sahabatnya di Ar-Raji’.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Allahu Akbar. Bergembiralah kalian hai kaum Muslimin’.”

    Memuncaknya Ketakutan dan Munculnya Kemunafikan Orang-orang Munafik

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika itu, ujian terasa berat dan ketakutan memuncak di kaum Muslimin, karena musuh dating kepada mereka dari atas dan bawah mereka hingga kaum Mukminin menyangka yang bukan-bukan dan terlihatlah kemunafikan sebagian orang-orang munafik, bahkan Muattib bin Qusyair saudara Bani Amr bin Auf berkata, ‘Muhammad pernah berjanji kepada…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 190

    …kita bahwa kita akan menguasai asset Kisra dan Kaisar, padahal hari ini salah seorang dari kita tidak merasa aman untuk pergi ke tempat buang air.’ (Ibnu Hisyam berkata, ulama yang aku percaya berkata kepadaku bahwa Muattib bin Qusyair bukan termasuk orang-orang munafik. Ia berargumen bahwa Muattib bin Qusyair ikut hadir di Perang Badar.”)
    Dan hingga Aus bin Qaidhi, salah seorang warga Bani Haritsah bin Al-Harits, berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya rumah-rumah kami tidak terlindungi dari musuh. Oleh karena itu, izinkan kami keluar untuk pulang ke rumah, karena rumah-rumah kami terletak di luar Madinah’.”

    Orang-orang Musyrikin Mengepung Madinah

    Ibnu Ishaq berkata, “Selama dua puluh hari atau bahkan hamper sebulan tidak terjadi perang antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan orang-orang musyrikin. Yang terjadi hanya saling lempar panah dan pengepungan.”
    Pembicaraan Perdamaian

    Ibnu Ishaq berkata, “ketika ketakutan menyelimuti kaum Muslimin – seperti dikatakan kepadaku oleh Ashim bin Umar bin Qatadah dan dari orang yang tidak aku ragukan kejujurannya dari Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri --, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi kepada Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr dan kepada Al-Harits bin Auf bin Abu Haritsah Al-Murri yang ketika itu menjadi Panglima Perang Ghathafan. Beliau member keduanya sepertiga buah-buahan Madinah dengan syarat keduanya pulang bersama anak buahnya dari beliau dan para sahabatnya. Pembicaraan perdamaian pun berlangsung antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan dua orang tersebut hingga mereka sepakat menulis perjanjian. Namun karena hal tersebut tidak dihadiri saksi dan tidak serius, maka hanya merupakan tukar pikiran saja.

    Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bermaksud meneruskan rencana perdamaian, beliau pergi kepada Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah. Beliau menceritakan rencana perdamaian kepada keduanya dan meminta pertimbangan. Kedua sahabat berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, ini tindakan yang engkau inginkan kami laksanakan, ataukah engkau sendiri yang menetapkannya untuk kami?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ini sesuatu yang aku putuskan untuk kalian. Demi Allah, aku bertindak seperti itu, karena aku lihat orang-orang Arab telah menyerang kalian dari satu busur dan menyerbu kalian dari…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 191

    …semua penjuru. Jad aku ingin mengalihkan kekuatan mereka dari kalian kepada sesuatu yang lain.’

    Sa’ad bin Muadz berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, dulu kami dan kaum tersebut menyekutukan Allah, menyembah berhala-berhala, tidak menyembah Allah, tidak kenal dengan-Nya, dan mereka tidak makan kurma melainkan dari hasil jamuan dan jual-beli. Apakah sesudah Allah memuliakan kita dengan Islam, kemudian kita berikan kekayaan kita kepada mereka? Demi Allah, kita tidak perlu melakukan hal ini. Demi Allah, kita hanya berikan pedang kepada mereka hingga Allah memutuskan perkara kita di antara kita dengan mereka.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Engkau terserah dengan pendapatmu.’ Setelah itu, Sa’ad bin Muadz menerima lembaran perjanjian, kemudian menghapus tulisan yang ada di dalamnya, dan berkata, ‘Silakan mereka memusuhi kami’.”

    Sebagian Orang-orang Musyrikin Berusaha Menyeberangi Parit

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin tetap berada di dalam Madinah, sedang musuh mengepung mereka, namun perang tidak meledak di antara mereka. Beberapa tentara berkuda Quraisy, di antaranya Amr bin Abdu Wudd bin Abu Qais saudara Bani Amir bin Luai (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa Amr adalah anak Abd bin Abu Qais.”), Ikrimah bin Abu Jahal dari Bani Makhzum, Hubairah bin Abu Wahb dari Bani Makhzum, dan Dhirar bin Khaththab bin Mirdas saudara Bani Muharits bn Fihr siap-siap untuk perang dan keluar dengan mengendarai kuda. Ketika mereka berjalan melewati kampong-kampung Bani Kinanah, mereka berkata, ‘Hai Bani Kinanah, bersiaplah kalian untuk perang, niscaya pada hari ini kalian akan tahu siapa sesungguhnya pasukan berkuda itu.’ Usai berkata seperti itu, orang-orang Quraisy tersebut berlari kencang dengan kuda-kda mereka hingga tiba di parit. Ketika mereka melihat parit tersebut, mereka berkata, ‘Demi Allah, ini tipu muslihat yang tidak pernah dibuat oleh orang-orang Arab’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Salman Al-Farisi adalah sahabat yang menyarankan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat parit tersebut.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Salah seorang ulama berkata kepadaku bahwa pada Perang Khandaq kaum Muhajirin berkata, “Salman bagian dari kami.’ Orang-orang dari kaum Anshar berkata, “Salman bagian dari kami.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Salman bagian dari keluarga Nabi.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 192

    Pembunuhan Ali Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu terhadap Amr bin Abdu Wudd

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian orang-orang Quraisy tersebut mencari tempat sempit di parit, memukul kuda-kuda mereka dan kuda-kuda mereka pun masuk ke tempat tersebut, kemudian berjalan di tanah as-sabkhah (tanah berair dan asin) di atara parit dan Sal’un. Pada saat yang sama, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu bersama beberapa orang dari kaum Muslimin keluar kemudian mempersempit celah tempat masuknya orang-orang Quraisy. Penunggang-penunggang kuda Quraisy berjalan cepat dengan kuda-kuda mereka ke tempat Ali bin Abu Thalib dan sahabat-sahabatnya. Amr bin Abdul Wudd ikut hadir di Perang Badar hingga terluka berat dan tidak hadir di Perang Uhud. Pada Perang Khandaq ia keluar dengan mengenakan tanda pengenal agar tempatnya mudah diketahui. Ketika kudanya berhenti, ia berkata, ‘Siapa yang siap perang tanding denganku?’ Ali bin Abu Thalib muncul kemudian berkata, ‘Hai Amr, sungguh engkau telah berjanji kepada Allah bahwa tidaklah salah seorang dari Quraisy mengajakmu kepada dua hal melainkan engkau mengambilnya. Amr bin Abdu Wudd menjawab, ‘Ya betul.’ Ali bin Abu Thalib berkata,’Aku mengajakmu kepada Allah, Rasul-Nya, dan islam.’ Amr bin Abdu Wudd menjawab, ‘Aku tidak butuh pada itu semua.’ Ali bin Abu Thalib berkata, ‘Kalau begitu, aku ajak engkau berperang.’ Amr bin Abdu Wudd berkata, ‘Kenapa begitu, wahai anak saudaraku? Demi Allah, aku tidak ingin membunuhmu.’ Ali bin Abu Thalib berkata, ‘Namun demi Allah, aku ingin membunuhmu.’ Amr bin Abdu Wudd bangkit atas tantangan Ali bin Abu Thalib. Ia turun dari atas kuda, kemudian menyembelih, memukul wajah kudanya, dan maju kepada Ali bin Abu Thalib. Keduannya bertempur hingga akhirnya Ali bin Abu Thalib berhasil membunuh Amr bin Abdu Wudd, sedang kuda-kuda Quraisy lari pontang-panting menerobos parit.”

    Syair Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu Tentang Pembunuhannya terhadap Amr bin Abdu Wudd

    Ibnu Ishaq berkata, “Tentang kejadian di atas, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata,
      ‘Dia (Amr bin Abdu Wudd) menolong berhala karena akalnya tidak waras
      Sedang aku menolong Tuhannya Muhammad karena kebenaranku
      Jangan engkau kira Allah tidak menolong agama-Nya
      Dan tidak menolong Nabi-Nya, hai pasukan sekutu!’”

    Ibnu Hisyam berkata, “Sebagian besar pakar syair meragukan syair di atas milik Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 193

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika itu, Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan tombaknya pada saat ia melarikan diri meninggalkan Amr bin Abdu Wudd.”

    Hasan bin Tsabit Meledek Ikrimah bin Abu Jahal

    Ibnu Ishaq berkata, “Tentang pelarian Ikrimah bin Abu Jahal, Hassan bin Tsabit berkata,
      ‘Ia melarikan diri dan meletakkan tombaknya untuk kami
      Mudah-mudahan engkau hai Ikrimah tidak melakukannya
      Engkau lari kabur seperti kaburnya burung unta ketika berpaling dari jalan
      Engkau tidak membiarkan punggungmu jinak
      Seperti dagumu adalah dagu biawak kecil’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Bait di atas adalah penggalan dari syair Hassan bin Tsabit.”

    Kode Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sahabat-sahabatnya di Perang Khandaq

    Ibnu Hisyam berkata, “Kode sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Perang Khandaq dan Perang Bani Quraidhah adalah, ‘Haamm miim, laa yunsharuun’.”

    Ibnu Ishaq berkata, Abu Laila Abdullah bin Sahl bin Abdurrahman bin Sahl Al-Ashari saudara Bani Haritsah berkata kepadaku bahwa di Perang Khandaq, Ummul Mukminin, Aisyah, berada di benteng Bani Haritsah yang merupakan benteng terkuat di Madinah, Ibu Sa’ad bin Muadz juga bersama Aisyah di benteng tersebut. Aisyah berkata – ketika itu hijab belum diwajibkan --, “Kemudian lewatlah Sa’ad bin Muadz yang ketika itu mengenakan baju besi yang tidak menutupi seluruh tubuhnya. Sambil memegang tombak, Sa’ad bin Muadz berjalan melenggak-lenggok dan berkata,

      ‘Tinggallah sebentar untuk melihat perang
      Tidak apa-apa mati jika memang ajalnya telah tiba.’
    Ibu Sa’ad bin Muadz berkata kepada Sa’ad bin Muadz, ‘Anakku, demi Allah, engkau terlambat, oleh karena itu, segeralah berangkat!’ Aku berkata, Wahai ibu Sa’ad bin Muadz, demi Allah, aku senang kalau baju besi Sa’ad itu menutup seluruh badannya.’ Aku mengkhawatirkan Sa’ad bin Muadz terkena panah dari baju besinya tersebut dan betul Sa’ad bin Muadz dilempar panah dan memotong urat lenganya. Ia dipanah – seperti dikatakan Ashim bin Umar bin Qatadah kepadaku—oleh Habbah bin Qais bin Al-Ariqah salah seorang dari Bani Amir bin Luai. Ketika panah tersebut mengenai Sa’ad bin Muadz, Habban bin Qais bin Al-Ariqah berkata, ‘Ambil panah itu dariku. Aku anak…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 194

    …Al-Atiqah.’ Sa’ad bin Muadz berkata kepada Habban bin Qais, ‘Semoga Allah memasukkan wajahnya ke neraka. Ya Allah, jika Engkau masih menyisakan sesuatu dari perang Quraisy maka tentukan untukku, karena tidak ada kaum yang lebih aku sukai untuk aku perangi selain kaum yang menganiaya RasulMu, mendustakan, dan mengusirnya. Ya Allah, jika Engkau menyudahi perang antara kami dengan mereka, berikan aku mati syahid dan jangan matikan aku hingga mataku mendapatkan kepuasan dari Bani Quraidhah’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik yang berkata, ‘Orang yang melukai Sa’ad bin Muadz adalah Abu Usamah Al-Jusyami sekutu Bani Makhsum. Untuk itu, Abu Usamah melantunkan syair untuk Ikrimah bin Abu Jahal,
      [i‘Hai Ikrimah, silahkan engkau mengecamku ketika engkau berkata kepadaku.’
      ‘Tebusanmu adalah Khalid di benteng Madinah.’
      Bukankah aku yang membuat urat lengan Sa’ad berdarah?
      Dan karenanya, Sa’ad meninggal dunia
      Kemudian gadis-gadis yang meratapinya bersama wanita-wanita tua
      Engkau orang yang melawannya
      Dan Ubaidah memanggil pasukan mereka ketika ia mengalami kesulitan’.”
      ][/i]
    Ibnu Ishaq berkata, “Wallahu a’lam mana yang benar di antara kedua riwayat tersebut.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa orang yang memanah Sa’ad bin Muadz adalah Khafajah bin Ashim bin Hibban.”

    Perihal Shafiyyah binti Abdul Muththalib dan Mata-mata Yahudi

    Ibnu Ishaq berkata, “Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya yaitu Abbad yang berkata bahwa Shafiyyah binti Abdul Muththalib Radhiyallahu Anha berada di benteng tinggi milik Hassan bin Tsabit. Shafiyyah binti Abdul Muththalib berkata, ‘Hassan bin Tsabit berada di benteng tersebut bersama para wanita dan anak-anak. Tiba-tiba salah seorang Yahudi berjalan melewati kami dan mengelilingi benteng. Bani Quraidhah telah mengumumkan perang dan membatalkan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tidak ada seorang pun yang bisa melindungi kami dari mereka, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin sedang menghadapi musuh hingga tidak bisa pergi ke tempat kami jika seseorang datang menyerang kami. Aku berkata, ‘Hai Hassan, orang Yahudi ini seperti engkau lihat mengelilingi benteng. Demi Allah, aku khawatir ia menyebarkan aurat kita kepada orang-orang Yahudi di belakang kita. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 195
    …dan sahabat-sahabatnya sibuk hingga tidak bisa mengurusi kita, oleh karena itu, turunlah engkau kepadanya dan bunuhlah dia!’ Hassan bin Tsabit berkata, ‘Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, hai anak Abdul Muththalib, demi Allah, engkau tahu bahwa aku tidak ahli untuk tugas tersebut.’ Ketika Hassan bin Tsabit berkata seperti itu dan aku tidak melihat sesuatu padanya, aku mengencangkan kainku kemudian mengambil tongkat besi. Setelah itu, aku turun dari benteng menuju orang Yahudi tersebut dan memukulnya dengan tongkat besiku hingga tewas. Setelah membunuhnya, aku naik ke atas benteng dan berkata kepada Hassan bin Tsabit, ‘Hai Hassan, turunlah engkau ke jenazah orang Yahudi tersebut, kemudian ambillah apa yang dikenakannya, karena tidak ada yang menghalangiku untuk mengambil apa yang ia kenakan melainkan ia orang laki-laki.’ Hassan bin Tsabit berkata, ‘Aku tidak butuh untuk mengambil barang-barangnya, hai Putri Abul Muththalib’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya berada dalam ketakutan dan penderitaan luar biasa, karena persekutuan musuh untuk menghadapi mereka dank arena musuh-musuh mendatangi mereka dari atas dan bawah mereka.”

    Masuk Islamnya Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafani dan Tawaran Bantuan darinya

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Nu’aim bin Ma’sud bin Amir bin Unaif bin Tsa’labah bin Qunfudz bin Hilal bin Khalawah bin Asyja’ bin Raits bin Ghathafan datang ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam dan kaumku tidak mengetahui ke islamanku. Oleh karena itu, suruhlah aku apa saja yang engkau inginkan.’ Beliau bersabda, Engkau salah seorang dari kami. Oleh karena itu, pecahkan persatuan mereka jika engkau mampu, karena perang adalah tipu daya’.” :-k

    Nu’aim bin Mas’ud Pergi ke Bani Quraidhah untuk Menggembosi Mereka

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Nu’aim bin Mas’ud pergi ke Bani Quraidhah – ia sahabat mereka pada masa jahiliyah—kemudian berkata kepada mereka, ‘Hai Bani Quraidhah, kalian tahu kecintaaku kepada kalian dan kekhususan antara aku dengan kalian.’ Orang-orang Bani Quraidhah berkata, ‘Engkau benar. Engkau bukan orang tertuduh di tempat kami.’ Nu’aim bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan tidak sama seperti kalian. Negeri ini negeri kalian. Di dalamnya, terdapat kekayaan, anak-anak, dan wanita-wanita kalian. Kalian tidak bisa pindah ke negeri lainnya. Sesungguhnya orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan datang untuk…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 196

    …memerangi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Anehnya kalian mendukung mereka, padahal negeri, kekayaan, dan wanita-wanita mereka buka di negeri kalian. Jadi mereka tidak sama seperti kalian. Jika mereka mendapatkan kesempatan, mereka pasti mengambilnya. Jika mereka tidak mendapatkannya mereka pulang ke negeri mereka dan meninggalkan kalian berhadapan dengan Muhammad di negeri kalian dan kalian tidak mempunyai kekuatan jika ia menyerang kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian memerangi Muhammad bersama kaum tersebut hingga kalian mengambil gadai dari tokoh-tokoh mereka untuk menjadi jaminan di tangan kalian sehingga dengan demikian kalian dapat memerangi Muhammad dengan mereka hingga kalian berhasil mengalahkannya.’ Orang-orang Bani Quraidhah berkata, ‘Engkau telah memberikan pertimbagan yang baik’.”

    Nu’aim bin Mas’ud Pergi ke Tempat Orang-orang Quraisy untuk Menggembosi Mereka

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Nu’aim bin Mas’ud pergi ke tempat orang-orang Quraisy. Ia berkata kepada Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang Quraisy yang bersamanya, ‘Kalian tahu kecintaanku kepada kalian dan sikapku meninggalkan Muhammad. Aku menerima informasi dan berpendapat bahwa aku harus menyampaikannya kepada kalian sebagai nasihat untuk kalian, oleh karena itu rahasiakan aku.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Ya, itu akan kami kerjakan.’ Nu’aim bin Mas’ud berkata, ‘Kalian tahu bahwa semua orang-orang Yahudi telah menyesali perbuatan mereka terhadap Muhammad dan berkirim surat kepadanya yang isinya, ‘Kami menyesali apa yang telah kami perbuat. Oleh karena itu, apakah engkau ridha jika kami mengambil tokoh-tokoh dari Quraisy dan Ghathafan kemudian mereka kami serahkan kepadamu lalu engkau penggal kepala mereka. Setelah itu kita bersama-sama menghadapi sisa-sisa mereka hingga kita menghabisi mereka?’ Muhammad membalas surat mereka dengan berkata, ‘Ya,’ Jadi, jika orang-orang Yahudi datang kepada kalian untuk meminta gadai dari tokoh-tokoh kalian, jangan serahkan seorang pun dari kalian kepada mereka.”

    Nu’aim bin Mas’ud Pergi ke Tempat Orang-orang Ghathafan Untuk Menggembosi Mereka

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Nu’aim bin Mas’ud pergi ke tempat orang-orang Ghathafan dan berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Ghathafan, sesungguhnya kalian adalah asal-usulku, keluargaku, manusia yang paling aku cintai, dan aku tidak melihat kalian mencurigaiku.’ Orang-orang Ghathafan menjawab, ‘Engkau berkata benar dan bukan orang tertuduh di tempat kami,’
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 197

    Nu’aim bin Mas’ud berkata, ‘Rahasiakan aku.’ Mereka menjawab,’Ya. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Setelah itu, Nu’aim bin Mas’ud berkata seperti yang ia katakana kepada orang-orang Quraisy dan mengingatkan mereka seperti yang ia ingatkan kepada orang-orang Quraisy.”

    Delegasi Quraisy dan Ghathafan Pergi kepada Orang-orang Yahudi untuk Mengajak Mereka Berperang

    Ibnu Ishaq berkata, “Pada malam Sabtu bulan Syawwal tahun kelima Hijriyah di antara yang diperbuat Allah Ta’ala untuk Rasul-Nya bahwa Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Ghathafan mengirim Ikrimah bin Abu Jahal beserta beberapa orang dari Quraisy dan Ghathafan kepada Bani Quraidhah dan berkata kepada mereka, ‘Kita telah berada di negeri abadi. Unta dan kuda banyak yang tewas, oleh karena itu, mari kita berangkat perang hingga mengalahkan Muhammad dan kita selesaikan permasalahan antara kita dengannya’.”

    Orang-orang Yahudi MInta Gadai

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian orang-orang Yahudi mengirim delegasi kepada orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan dengan membawa pesan, ‘Sesungguhnya hari ini hari Sabtu yaitu hari dimana kami tidak mengerjakan apa pun di dalamnya. Pernah ada sebagian dari kami melakukan sesuatu pada hari tersebut kemudian ia mendapatkan musibah seperti yang kalian ketahui. Kami tidak akan ikut bersama kalian memerangi Muhammad hingga kalian member kami gadai dari tokoh-tokoh kaliam kemudian tokoh-tokoh tersebut berada di tempat kami sebagai jaminan untuk kami hingga kita bisa mengalahkan Muhammad, karena kita khawatir jika kita kalah di perang maka kalian pulang ke negeri kalian dan meninggalkan kami dan Muhammad di negeri kami sedang kami tidak mempunyai kekuatan untk menghadapinya’.”

    Orang-orang Quraisy Menolak Tuntutan Orang-orang Yahudi

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika delegasi Quraisy dan Ghathafan pulang dengan membawa pesan orang-orang Yahudi Bani Quraidhah, maka orang-orang Quraisy dan Ghathafan berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya apa yang dikatakan Nu’aim bin Mas’ud kepada kalian adalah benar, maka kirim utusan kepada Bani Quraidhah dengan membawa pesan bahwa demi Allah, kita tidak akan menyerahkan seorang pun tokoh-tokoh kami kepada kalian. Jika kalian ingin perang, keluarlah dan berperanglah.’ Ketika delegasi orang-orang Quraisy dan Ghathafan tiba di tempat orang-orang Yahudi Bani Quraidhah dan menyampaikan pesan orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan, mereka berkata, ‘Sesungguhnya apa yang dikatakan Nu’aim bin Mas’ud kepada kalian…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 198

    …adalah benar. Orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan tidak menginginkan apa-apa kecuali perang. Jika mereka mendapatkan peluan emas, mereka akan menggunakannya baik-baik. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka akan pulang ke negeri mereka dan membiarkan kalian dengan Muhammad di negeri kalian’.”

    Orang-orang Yahudi Menolak Perang

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian orang-orang Yahudi Quraidhah mengirim delegasi untuk menemui orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan dengan membawa pesan, ‘Demi Allah, kita tidak mau memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian member kami gadai.’ Orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan menolak memenuhi permintaan orang-orang Yahudi Bani Quraidhah. Allah menggagalkan rencana mereka dengan mengirim angin di malam-malam yang sangat dingin, menjungkirbalikkan periuk-periuk mereka.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengutus Hudzaifah bin Al-Yaman Menyelidik Kondisi Pasukan Sekutu

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar konflik yang terjadi di pasukan sekutu dan bagaimana Allah memecah-belah persatuan mereka, beliau memanggil Hudzaifah bin Al-Yaman kemudian mengutusnya pergi kepada mereka untuk menyelidiki apa yang dikerjakan mereka di amalam hari.”

    Ibnu Ishaq berkata, Yazid bin Ziyad berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi yang berkata bahwa seseorang dari Kufah berkata kepada Hudzaifah bin Al-Yaman, “Hai Abu Abdullah, apakah engkau pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menemaninya?” Hudzaifah bin Al-Yaman menjawab, “Ya.” Orang Kufah tersebut bertanya, “Apa yang engkau perbuat?” Hudzaifah bin Al-Yaman menjawab, “Demi Allah, dulu kami sangat menderita.” Orang Kufah tersebut berkata, “Demi Allah, jika kami berjumpa dengan Rasulullah, kami tidak akan membirakannya berjalan di atas permukaan bumi dan kami pasti memanggulnya di atas pundak-pundak kami.” Hudzaifah bin Al-Yaman berkata, “Hai anak saudaraku, demi Allah, dulu kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Khandaq (parit). Beliau melakukan qiyamul lail kemudian menoleh kepada kami dan bersabda, ‘Siapa orang yang siap pergi kepada kaum tersebut (pasukan sekutu) untuk melihat apa yang mereka kerjakan kemudian ia pulang lagi kepada kita? Sebagai gantinya, aku meminta kepada Allah Ta’ala agar orang tersebut menjadi sahabat karibku di surge.’ Beliau member syarat orang yang diutus tersebut harus kembali lagi.
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 199

    Tidak ada seorang pun kaum Muslimin yang siap menunaikan tugas tersebut karena takut, lapar, dan udara sangat dingin. Karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang berdiri untuk menunaikan tugas tersebut, beliau memanggilku. Aku tidak tertarik menunaikan tugas tersebut ketika beliau memanggilku. Beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Hudzaifah, pergilah dan masuklah ke tempat mereka. Lihatlah apa yang sedang mereka kerjakan dan jangan melakukan perbuatan apa pun hingga engkau tiba di tempat kita.’ Aku pun berangkat kemudian masuk ke tempat kaum tersebut, sementara itu, angin dan tentara-tentara Allah bereaksi kepada mereka hingga tidak periuk, api dan kemah yang tetap utuh. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, hendaklah setiap orang melihat kepada orang yang ada di sebelahnya.’ Aku segera memegang tangan seseorang yang ada di sampingku dan bertanya kepadanya, ‘Siapa engkau?’ Orang tersebut menjawab, ‘Aku Fulan bin Fulan.’ Setelah itu, Abu Sufyan bin Harb, ‘Hai semua orang-orang Quraisy, demi, Allah kalian tidak berada di negeri abadi. Sungguh betis dan tapak kaki hewan telah kelelahan. Bani Quraidhah telah berkhianat dan kita mendengar sesuatu yang tidak kita sukai dari mereka. Kita juga mendapatkan serangan angin keras seperti yang kalian lihat. Periuk kita tidak ada yang utuh. Api tidak ada yang menyala. Dan kemah tidak ada yang tegak untuk kita. Oleh karena itu, pulanglah kalian, karena aku juga akan pulang.’ Usai berkata seperti itu, Abu Sufyan bin Harb berdiri menuju untanya yang tadinya terikat kemudian duduk di atasnya. Ia pukul untanya, kemudian untanya meloncat sambil jalan. Demi Allah, Abu Sufyan bin Harb tidak melepaskan tali kekang untanya melainkan ia berada di atasnya. Seandainya saja Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membuat perjanjian denganku agar aku tidak mengerjakan perbuatan apa pun hingga aku datang kepada beliau, aku pasti membunuhnya dengan panah jika aku mau.

    Setelah itu, aku pulang menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ketika itu sedang berdiri shalat dengan mengenakan pakaian dari bulu milik salah satu istrinya. Ketika beliau melihatku datang, beliau menyuruhku masuk ke kedua kakinya dan melemparkan ujung pakaian bulunya kepadaku. Setelah itu, beliau kembali sujud dan aku di dalamnya. Sesudah beliau salam, aku laporkan apa yang aku lihat kepada beliau.

    Orang-orang Ghathafan mendengar apa yang dialami orang-orang Quraisy, kemudian mereka pulang kembali ke negeri mereka.”
    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Fri Dec 30, 2011 3:22 pm

    halaman 200
    BAB 158

    PERANG BANI QURAIDAH PADA TAHUN KELIMA HIJRIAH

    Perintah Allah Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Untuk Berangkat ke Bani Quraidhah

    Ibnu Ishaq berkata, “Pagi hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin pulang dari khandaq (parit) dengan tujuan Madinah dan meletakkan senjata (istirahat). Pada waktu dhuhur, Malaikat Jibril Alaihi Salam datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam – seperti dikatakan kepadaku oleh Az-Zuhri --- dengan mengenakan sorban dari kain sutra tebal dan mengendarai baghal*) (JGA: setelah menyimak lebih dalam, ternyata Muhammad saw secara sembarangan menyebut Malaikat kepada orang-orang/sahabatnya sendiri yang memberi info atau nasehat.) yang diberi pelana dari kain sutra. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Apakah engkau telah meletakkan senjata, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya’. Malaikat Jibril berkata, ‘Para malaikat belum pernah meletakkan senjata. Mereka sekarang sedang mengejar kaum tersebut. Hai Muhammad, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyuruhmu berangkat ke Bani Quraidhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka.’ Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan penyeru untuk berseru kepada kaum Muslimin, ‘Barangsiapa mendengar dan taat, ia jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraidhah.’ (Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai imam sementara di Madinah.”).

    Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu Berada di Depan dengan Membawa Bendera Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memposisikan Ali bin Abu Thalib di depan barisan dengan membawa bendera perang dalam perjalanan menuju Bani Quraidhah sedangkan kaum Muslimin berjalan di belakangnya. Kemudian Ali bin Abu Thalib terus berjalan dan ketika berada di dekat benteng-benteng, ia mendengar perkataan kotor ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seketika itu juga ia berbalik arah hingga…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 201

    …bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di jalan. Ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, tidak ada salahnya kalau engkau tidak mendekat kepada orang-orang brengsek tersebut.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kenapa begitu? Aku yakin engkau mendengar perkataan kotor yang ditujukan kepadaku?’ Ali bin Abu Thalib berkata, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika mereka melihatku, mereka tidak akan berkata seperti itu.’ Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mendekati benteng-benteng mereka, beliau bersabda, ‘Hai saudara-saudara kera, apakah betul Allah telah menghinakan kalian dan menimpakan hukuman kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Hai Abu Al-Qasim, engkau bukan orang ****.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati beberapa sahabat Ash-Shaurain sebelum tiba di Bani Quraidhah, kemudian beliau bertanya kepada mereka, ‘Apakah ada seseorang yang melewati kalian?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, Dihyah bin khalifah Al-Kalbi berjalan melewati kami dengan mengendarai baghal putih yang diberi pelana dari kain sutra.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Dia Malaikat Jibril yang dikirim kepada Bani Quraidhah untuk mengguncang benteng-benteng mereka dan memasukkan ketakutan ke hati mereka.’

    Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Bani Quraidhah, beliau berhenti di salah satu sumur Bani Quraidah di samping kebun mereka yang bernama Sumur Anna (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan sumur Anni.”).

    Setelah itu, kaum Muslimin berdatangan. Bahkan, beberapa orang dari mereka tiba setelah Isya’ dan belum mengerjakan shalat Isya’. Allah tidak mengancam mereka di Al-Quran atas kejadian tersebut dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tidak memarahi mereka. :green: Hadits ini disampaikan kepadaku oleh Abu Ishaq bin Yasar dari Ka’ab bin Ka’ab bin Malik Al-Anshari.”

    Pengepungan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Bani Quraidhah

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengepung Bani Quraidhah selama dua puluh lima malam hingga mereka menderita dan Allah memasukkan ketakutan ke hati mereka. Huyai bin Akhthab bersama Bani Quraidhah masuk ke benteng mereka—setelah orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghatafan meninggalkan mereka---karena ingin menepati janji yang ia buat dengan Ka’ab bin Asad.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 202

    Nasihat Ka’ab bin Asad Kepada Bani Quraidhah

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Bani Quraidha yakin bahwa Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam tidak meninggalkan mereka hingga mengalahkan mereka, Ka’ab bin Asad berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Yahudi, kalian telah mendapatkan penderitaan seperti yang kalian rasakan. Oleh karena itu, aku ajukan tawaran kepada kalian dan silahkan kalian mengambil pilihan yang kalian inginkan.’ Mereka berkata, ‘Apa ketiga tawaran tersebut?’ Ka’ab bin Asad berkata, ‘Ketiga tawaran tersebut ialah kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi Allah, sungguh telah terlihat dengan jelas oleh kalian bahwa dia Rasul dan kalian mendapati namanya tertulis di Kitab kalian. :-k Dengan cara seperti itu, kalian mendapatkan keamanan terhadap darah, kekayaan, anak-anak, dan wanita-wanita kalian. Mereka berkata, ‘Kita tidak akan meninggalkan Kitab Taurat selama-lamanya dan tidak menggantinya dengan Kitab lain. Ka’ab bin Asad berkata,’Jika kalian tidak mau tawaran pertama, mari kita bunuh anak-anak dan wanita-wanita kita, kemudian orang laki-laki dari kita keluar menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dengan senjata lengkap tanpa meninggalkan beban berat (anak-anak dan wanita) di rumah hingga Allah menyelesaikan perkara kita dengan mereka. Jika kita terbunuh, kita terbunuh tanpa meninggalkan keturunan di rumah yang kita khawatirkan keselamatannya. Jika kita menang, aku bersumpah bahwa kita akan mendapatkan wanita-wanita dan anak-anak.’ Mereka berkata, ‘Haruskah kita membunuh anak-anak dan wanita-wanita yang seharusnya kita belas kasihani? Apa artinya kehidupan enak tanpa mereka?’ (JGA: muhammad saw mana mampu berkata seperti ini) :-k Ka’ab bin Asad berkata, ‘Jika kalian tidak mau tawaran kedua, mala mini adalah malam Sabtu, mudah-mudahan Muhammad dan sahabat-sahabatnya member keamanan kepada kita, oleh karena itu, turunlah kalian dari benteng-benteng semoga kita mendapatkan kelengahan Muhammad dan sahabat-sahabatnya kemudian kita serang mereka dengan tiba-tiba.’ Mereka berkata, ‘Kalau begitu kita merusak hari Sabtu dan mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan orang-orang sebelum kita kecuali orang yang telah engkau ketahui kemudian ia mendapatkan musibah yang engkau ketahui yaitu pemusnahan.’ Ka’ab bin Asad berkata, ‘Tidak ada seorang pun dari kalian yang serius pada satu malam pun sejak ia dilahirkan ibunya’.”

    Perihal Abu Lubabah, Musyawarah Orang-orang Yahudi dengannya dan Taubatnya setelah itu.
    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Bani Quraidhah mengirim delegasi kepada Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam dengan membawa pesan, ‘Kirimlah kepada kami Abu Lubabah bin Abdul Mundzir saudara Bani Amr bin Auf dan sekutu orang-orang Al-Aus agar kita bisa meminta pertimbangannya dalam…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 203

    …masalah kami.’ Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraidhah. Ketika mereka melihat kedatangan Abu Lubabah, orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berlari kepadanya kemudian menangis hingga Abu Lubabah merasa iba kepada mereka. (JGA: bagi Muhammad saw, rasa iba kepada kafir adalah sebuah kesalahan besar yang harus dimohonkan ampunan dan maaf kepadanya) Orang-orang Yahudi Bani Quraidhah berkata kepada Abu Lubabah, ‘Hai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu kalau kita tunduk kepada hokum Muhammad?’ Abu Lubabah berkata, ‘Ya.’ Abu Lubabah berkata seperti itu sambil member isyarat dengan tangan ke tenggorokannya yang berarti disembelih. Abu Lubabah berkata, Demi Allah, kedua kakiku belum bergeser dari tempatku hingga aku sadar aku telah menghianati Allah dan Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam.’ Usai berkata seperti itu, Abu Lubabah pergi. (JGA: tuh...benarkan?) Ketika tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam, ia langsung mengikat diri di masjid pada salah satu tiangnya. Abu Lubabah berkata,’Aku tidak beranjak dari tempatku ini hingga Allah menerima taubatku atas perbuatanku. Aku berjanji kepada Allah untuk tidak menginjakkan kaki di Bani Quraidhah untuk selama-lamanya dan aku tidak diperlihatkan selama-lamanya kepada negeri yang di dalamnya aku pernah menghianati Allah dan Rasul-Nya’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang Abu Lubabah seperti dikatakan Sufyan bin Uyainah dari Ismail bin Abu Khalid bin Abdullah bin Abu Qatadah,

      ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) jangan kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui .’ (Al-Anfal: 27).

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam mendengar informasi tentang Abu Lubabah—informasi agak terlambat sampai pada beliau--, beliau bersabda, ‘Seandainya ia dating kepadaku, aku pasti memintakan ampunan untuknya. Tapi jika ia telah berbuat seperti itu, aku tidak melepaskannya hingga Allah menerima taubatnya’.”

    Ibnu Ishaq berkata, ‘Yazid bin Abdullah bin Qusaith berkata kepadaku bahwa berita taubatnya Abu Lubabah diterima Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam menjelang shubuh ketika beliau sedang berada di rumah Ummu Salamah. Ummu Salamah Radhiyallahu Anha berkata, ‘Pada waktu menjelang shubuh, aku dengar Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam tertawa. Aku berkata, ‘Kenapa engkau tertawa wahai Rasulullah semoga Allah mentertawakan gigi-gigimu?’ Beliau bersabda, ‘Karena taubat Abu Lubabah diterima Allah.’ Aku berkata, ‘Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepadanya?’ Beliau bersabda, ‘Silahkan, jika engkau mau.’ Ummu Salamah berdiri di depan pintu kamarnya—itu terjadi sebelum hijab diwajibkan—kemudian berkata, ‘Hai Abu Lubabah, bergembiralah, karena Allah telah menerima taubatmu.’ Para sahabat pun mengerumuni Abu Lubabah untuk melepaskan ikatannya, namun ia berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak mau, hingga Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam sendiri yang melepaskanku dengan tangannya.’ Ketika Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam keluar untuk menunaikan shalat Shubuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah, kemudian melepaskan ikatannya.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Abu Lubabah mengikat diri pada tiang masjid selama enam hari. Dalam jangka waktu tersebut, istrinya datang di setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa mengerjakan shalat. Usai shalat, ia kembali mengikat diri. Itulah seperti dikatakan kepadaku oleh sebagian ulama. Ayat yang turun tentang taubatnya Abu Lubabah ialah firman Allah Ta’ala,
      ‘Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka menyampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (At-Taubat: 102).

    Masuk Islamnya Beberapa Orang dari Bani Hadai

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Tsa’labah bin Sa’yah, Usaid bin Sa’yah, dan Asad bin Ubaid—mereka berasal dari Bani Hadai; bukan berasal dari Bani Quraidhah dan bukan pula dari Bani An-Nadhir. Nasab mereka di atas itu masuk Islam pada suatu malam dimana pada malam itu Bani Quraidhah rela tunduk kepada hokum Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam.”

    Perihal Amr bin Su’dah Al-Quradhi

    Ibnu Ishaq berkata, “Pada malam itu, Amr bin Su’da Al-Quradhi keluar rumah dan berjalan melewati pengawal Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam yang pada malam itu adalah Muhammad bin Maslamah. Ketika Muhammad bin Maslamah melihatnya, ia bertanya, ‘Siapa engkau?’ Amr bin Su’da menjawab, ‘Aku Amr bin Su’da.’ Amr bin Su’da tidak mengkhianati Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam seperti Bani Quraidhah pada umumnya. Amr bin Su’da…

    = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = =
    Halaman 205

    …berkata, ‘Aku tidak akan pernah mengkhianati Muhammad untuk selama-lamanya.’ Ketika Muhammad bin Maslamah telah mengenal jati diri Amr bin Su’da, ia berkata, ‘Ya Allah, jangan engkau haramkan kepadaku penghapusan kesalahan-kesalahan tokoh-tokoh mereka.’ Muhammad bin Maslamah mempersilahkan Amr bin Su’da jalan dan Amr bin Su’da pun berjalan tanpa ekspresi kemudian bermalam di masjid Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam. Setelah itu, ia pergi dan tidak diketahui dengan pasti hingga sekarang ke mana ia pergi. Hal ini pernah dilaporkan kepada Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam kemudian beliau bersabda, ‘Orang-orang tersebut diselamatkan Allah karena menepati janji.’ :lol: (JGA: "diselamatkan" ke neraka :lol: alias di bunuh) Sebagian orang menduga bahwa Amr bin Su’da termasuk orang yang diikat dengan tali using bersama orang-orang yang diikat dari Bani Quraidhah ketika mereka tunduk kepada hukum Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam kemudian talinya terurai dan ia tidak diketahui ke mana ia pergi, kemudian Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda seperti itu. Wallahu a’lam mana yang benar dalam hal ini.”

    Bani Quraidhah Tunduk kepada Hukum Islam, dan Perkara Mereka Diputuskan Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Pada pagi harinya, Bani Quraidhah tunduk kepada hukum Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam. Orang-orang Al-Aus berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadamu, mereka adalah keluarga kami dan belum lama ini engkau bertindak terhadap sekutu saudara-saudara Al-Khazraj seperti yang telah engkau ketahui.’ Memang sebelum mengepung Bani Quraidhah, Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam mengpung Bani Qainuqa’ sekutu Al-Khazraj kemudian mereka tunduk kepada hukum beliau. Sikap beliau terhadap Bani Qainuqa’ tersebut pernah dipertanyakan Abdullah bin Ubai bin Salul kemudian beliau menyerahkan mereka kepada Abdullah bin Ubai bin Salul. Sesudah orang-orang Al-Aus berkata seperti itu, beliau bersabda, ‘Hai semua orang-orang Al-Aus, tidakkah kalian senang kalau urusan kalian diputuskan salah seorang dari kalangan kalian sendiri?’ Orang-orang Al-Aus menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda, ‘Sa’ad bin Muadz adalah orangnya.’ Sebelumnya, Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam menempatkan Sa’ad bin Muadz di kemah masjidnya milik seorang wanita yang telah masuk Islam yaitu Rufaidah. Rufaidah mengobati orang-orang yang terluka dan menghibahkan dirinya untuk melayani siapa saja di antara kaum Muslimin yang terluka.(JGA: gw curiga ama ini cewek...apa apemnya juga dihibahkan? :-k ) Ketika Sa’ad bin Muadz mendapatkan serangan panah di Perang Khandaq, Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda, ‘Letakkan Sa’ad bin Muadz di kemah milik Rufaidah agar aku bisa mengunjunginya dari jarak dekat.’ Ketika Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam menunjuk Sa’ad bin Muadz sebagai hakim bagi Bani Quraidhah , …
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 206

    …kaum Sa’ad bin Muadz datang kepada Sa’ad bin Muadz kemudian mereka menaikkannya di atas keledai yang mereka beri bantal dari kulit. Sa’ad bin Muadz gemuk dan tampan. Mereka pergi bersama Sa’ad bin Muadz kepada Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam . Meraka berkata, ‘’Hai Abu Amr, berbuat baiklah kepada keluargamu, karena Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam mengangkatmu sebagai hakim tidak lain agar engkau berbuat baik kepada mereka.’ Ketika mereka banyak bicara kepada Sa’ad bin Muadz, maka Sa’ad bin Muadz berkata, Sungguh telah tiba waktunya bagi Sa’ad bin Muadz untuk tidak takut kecaman orang di jalan Allah.’ Setelah itu, beberapa orang dari kaum Sa’ad bin Muadz yang tadinya ikut bersama Sa’ad bin Muadz pulang ke perkampungan Abdul Asyhal, kemudian menceritakan perkataan Sa’ad bin Muadz kepada beberapa orang dari Bani Quraidhah sebelum Sa’ad bin Muadz tiba di tempat mereka. Ketika Sa’ad bin Muadz dan kaumnya tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam , beliau bersabda, ‘Berdirilah kalian kepada pemimpin kalian!’ Kaum Muhajirin dari Quraisy berkata, ‘Yang dimaksudkan dengan kalian oleh Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam ialah orang-orang Anshar.’ Sedang orang-orang Anshar berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam memberlakukan kata tersebut kepada seluruh kaum Muslimin’.”

    Keputusan Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Muslimin berdiri menuju Sa’ad bin Muadz dan berkata, ‘Hai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam mengangkatmu untuk memutuskan perkara-perkara keluargamu.’ Sa’ad bin Muadz berkata, “Terhadap itu semua, kalian harus komitmen dengan janji Allah bahwa hukum tentang mereka adalah sesuai dengan hukum yang aku keluarkan.’ Mereka berkata, ‘Ya.’ Sa’ad bin Muadz berkata , ‘Kalian juga harus berkomitmen kepada orang yang ada di sini.’ Sa’ad bin Muadz berkata seperti itu sambil menunjuk ke tempat Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam. Ia bertindak seperti itu sebagai penghormatannya kepada beliau. Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya.’ Sa’ad bin Muadz berkata, ‘Tentang Bani Quraidhah, aku putuskan bahwa orang laki-laki mereka dibunuh, kekayaan mereka dibagi-bagi, dan anak-anak serta wanita-wanita mereka ditawan’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari Abdurrahman bin Amr bin Sa’ad bin Muadz dari Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda kepada Sa’ad bin Muadz, ‘Sesungguhnya engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh langit’.” =D> (JGA: Muhammad saw bertindak sebagai Allah swt membenarkan keputusan Sa'ad bin Muadz...weleh-weleh...)

    Ibnu Hisyam berkata, “Sebagian orang yang aku percaya berkata kepadaku bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berteriak keras ketika kaum…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 207

    …Muslimin mengepung Bani Quraidhah, ‘Hai pasukan iman!’ Kemudian ia dan Az-Zubair bin Al-Awwan maju. Ali bin Abu Thalib berkata lagi, ‘Aku pasti akan merasakan apa yang telah dirasakan oleh Hamzah atau aku pasti membuka benteng mereka.’ Orang-orang Yahudi Bani Quraidhah berkata, ‘Hai Muhammad, kita tunduk kepada hukum Sa’ad bin Muadz’.”

    Realisasi Keputusan Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu terhadap Bani Quraidah

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, orang-orang Yahudi Bani Quraidhah disuruh turun, kemudian Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam menahan mereka di Madinah di rumah putrid Al-Harits, salah seorang wanita dari Bani An-Najjar. Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam pergi ke Pasar Madinah, kemudian membuat parit di sana. Setelah itu, beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraidhah dibawa ke parit tersebut dan memenggal kepala mereka di dalamnya. Mereka dibawa ke parit tersebut kelompok per kelompok, termasuk musuh Allah Huyai bin Akhtab, Ka’ab bin Asad tokoh Bani Quraidhah bersama enam ratus atau tujuh ratus orang-orang Bani Quraidhah. Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka adalah delapan ratus atau bahkan Sembilan ratus. Orang-orang Yahudi Bani Quraidhah berkata kepada Ka’ab bin Asad ketika mereka dibawa kepada Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam secara berkelompok, ‘Hai Ka’ab, bagaimana pendapatmu terhadap perlakuan Muhammad kepada kita?’ Ka’ab bin Asad berkata, ‘Kenapa kalian tidak berfikir di setiap tempat? Tidakkah kalian lihat dia yang tidak terbantahkan? Bukankah orang di antara kalian yang dibawa kepadanya itu tidak kembali lagi? Demi Allah, inilah pembunuhan.’ Itulah yang terjadi hingga Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam selesai merealisasikan keputusan Sa’ad bin Muadz terhadap mereka.

    Perihal Huyai bin Akhtab

    Ibnu Ishaq berkata, “Musuh Allah, Huyai bin Akhtab, yang ketika itu mengenakan pakaian berwarna seperti bunga namun tercabik-cabik di semua sudutnya agar tidak diambil kaum Muslimin didatangkan dalam keadaan kedua tangannya ditali menyatu dengan lehernya. Ketika ia melihat Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam, ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak menyalahkan diriku karena memusuhimu, namun barangsiapa tidak menolong Allah, ia tidak akan ditolong oleh-Nya.’ Setelah itu, Huyai bin Akhtab menghadapkan wajahnya kepada manusia dan berkata, ‘Hai manusia, tidak apa-apa terhadap perintah Allah. Ini adalah keputusan, takdir, dan penyembelihan yang telah ditetapkan Allah kepada Bani Israel.’ Usai berkata begitu, Huyai bin Akhtab duduk, …
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 208

    …kemudian kepalanya dipenggal. Tentang kejadian tersebut, Jabal bin Jawal Ats-Tsa’labi berkata,
      ‘Aku bersumpah kepadamu bahwa anak Akhtab tidak menyalahkan dirinya
      Namun barangsiapa tidak menolong Allah, ia tidak akan ditolong
      Ia pasti berjuang hingga mengantarkan dirinya pada argumennya
      Ia berusaha kepada kejayaan dengan segala cara’.”
    Pembunuhan Wanita Yahudi Yang Telah Membunuh

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, ‘Hanya satu wanita yang dibunuh dari wanita-wanita Bani Quraidhah. Demi Allah ia berada di tempatku. Ia ngobrol dan tertawa-tawa denganku ketika Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam membunuh orang laki-laki Bani Quraidhah di Pasar Madinah, tapi tiba-tiba penyeru menyebut namanya dengan berkata, ‘Mana wanita si Fulan?’ Ia berkata, ‘Demi Allah, akulah orangnya.’ Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau, apa yang terjadi pada dirimu?’ Ia berkata, ‘Aku pernah membunuh.’ Aku bertanya, ‘Kenapa engkau membunuh?’ Ia menjawab, ‘Aku membunuh karena perbuatan baru aku yang ciptakan.’ Kemudian penyeru berjalan bersama wanita tersebut hingga kepalanya dipenggal. Demi Allah, aku ingat terus dan kagum kepadanya. Hatinya tetap baik dan tertawa-tawa padahal ia tahu akan dibunuh’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Wanita itulah yang melemparkan batu penggilingan kepada Khallad bin Suwail hingga meninggal dunia.”

    Perihal Az-Zubair bin Batha Al-Quradhi

    Ibnu Ishaq berkata, “Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas—seperti dikatakan kepadaku oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri—ia datang ke tempat Az-Zuhri bin Batha Al-Quradhi alias Abu Abdurrahman. Az-Zubair bin Batha Al-Quradhi pernah membebaskan Tsabit bin Qais bin Syammas pada zaman jhiliyah—sebagian keturunan Az-Zubair berkata kepadaku bahwa Az-Zubair bin Batha membebaskan Tsabit bin Qais di Perang Bu’ats. Ketika itu Az-Zubair bin Atha mengambil Tsabit bin Qais, kemudian mencukur jambul dan membebaskannya--. Sekarang ketika Az-Zubair bin Batha telah tua, Tsabit bin Qais datang kepadanya kemudian berkata, ‘Hai Abu Abdurrahman, apakah engkau masih mengenaliku?’ Az-Zubair bin Batha berkata, ‘Apakah orang sepertiku tidak mengenalimu?’ Tsabit bin Qais berkata,’Aku ingin membalas orang mulia.’ Kemudian Tsabit bin Qais pergi kepada Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam dan berkata,…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 209

    ‘Wahai Rasulullah, dulu Az-Zubair membebaskanku dan sekarang aku ingin membalas budi baiknya. Oleh karena itu, berikan darahnya kepadaku.’ Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda, ‘Darahnya menjadi milikmu.’ Tsabit bin Qais menemui Az-Zubair bin Batha dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Rasulullah memberikan darahmu kepadaku dan sekarang darahmu menjadi milikmu.’ Az-Zubair bin Batha berkata,’Apa yang bisa diperbuat dalam hidup ini oleh orang tua tanpa istri dan anak?’ Tsabit bin Qais menemui Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam untuk kedua kalinya dan berkata, ‘Ayah ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah, berikan istri dan anak Az-Zubair kepadaku.’ Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda, ‘Mereka menjadi milikmu.’ Tsabit bin Qais menemui Az-Zubair bin Batha dan berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah memberikan istri dan anakmu kepadaku dan sekarang mereka menjadi milikmu.’ Az-Zubair bin Batha berkata, ‘Rumah tangga di Hijaz tanpa harta? Apa artinya keberadaan mereka seperti itu?’ Tsabit bin Qais menemui Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam untuk ketiga kalinya dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan harta Az-Zubair bin Batha?’ Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam bersabda, ‘Hartanya menjadi milikmu.’ Tsabit bin Qais menemui Az-Zubair bin Batha dan berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam memberikan hartamu kepadaku dan sekarang harta tersebut menjadi milikmu.’ Az-Zubair bin Batha berkata, ‘Hai Tsabit, bagaimana kabar orang yang wajahnya seperti cermin Cina dimana anak-anak kampong bisa bercermin padanya, yaitu Ka’ab bin Asad?’ Tsabit bin Qais menjawab, ‘Ia telah dibunuh.’ Az-Zubair bin Batha bertanya, ‘Bagaimana kabar sang pemberani jika kita menyerang dan kabar sang pelindung jika kita melarikan diri, yaitu Azzal bin Samwal?’ Tsabit bin Qais menjawab, ‘Ia telah dibunuh.’ Az-Zubair bertanya,’Bagaimana khabar dua sahabat karib, yaitu Bani Ka’ab bin Quraidhah dan Bani Amr bin Quraidhah?’ Tsabit bin Qais menjawab, ‘Keduannya telah dibunuh.’ Az-Zubair bin Batha berkata, ‘Hai Tsabit, atas dasar amal baikku kepadamu, aku meminta menyusulkan aku kepada mereka. Demi Allah, hidup menjadi tidak ada artimya setelah kematian mereka. Aku tidak bisa bersabar sedetik pun karena Allah hingga aku bertemu dengan orang-orang tercinta.’ Tsabit bin Qais menyuruh Az-Zubair bin Batha berjalan lalu memenggal kepalanya. Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mendengar ucapan Az-Zubair bin Batha,’Hingga aku bertemu dengan orang-oarng tercinta,’ Ia berkata,’Demi Allah, ia akan bertemu mereka di neraka dlam keadaan kekal dan dikekalkan di dalamnya.’

    Rasulullah Shallallahu Walaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan orang-orang Bani Quraidhah yang telah dewasa.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 210

    Perihal Athiyyah Al-Quradhi dan Rifa’ah bin Samuel

    Ibnu Ishaq berkata, “Syu’bah bin Al-Hajjaj berkata kepadaku dari Abdul Malik bin Umair dari Athiyyah Al-Quradhi yang berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan orang-orang Bani Quraidhah yang telah dewasa (baligh). Ketika itu, aku masih anak-anak dan kaum Muslimin mendapatiku belum dewasa, jadi, mereka membebaskanku’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Ayyub bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abu Sha’sha saudara Bani Adi bin An-Najjar berkata kepadaku bahwa Salma bin Qais—ibu Al-Mundzir, saudara perempuan Salith bin Qais, dan salah satu bibi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari jalur ibu, pernah shalat menghadap dua kiblat, dan berbaiat kepada beliau dalam baiat kaum wanita—menanyakan tentang Rifa’ah bin Samuel Al-Quradhi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rifa’ah bin Samuel telah dewasa dan meminta perlindungan kepadanya dan sudah kenal dengan kaum Muslimin sebelum ini. Kata Salma binti Qais, ‘Wahai Nabi Allah, ayah ibuku menjadi tebusanmu, berikan Rifa’ah kepadaku, karena ia mengaku akan shalat dan makan daging unta.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan Rifa’ah kepada Salma binti Qais kemudian Salma binti Qais membiarkan Rifa’ah bin Samuel hidup.”

    Pembagian Fay’i

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi-bagi kekayaan, wanita-wanita, dan anak-anak Bani Quraidhah kepada kaum Muslimin. Hari itu juga, beliau mengumumkan jatah tentara berkuda (kavaleri), jatah tentara pejalan kaki (infantri), dan mengeluarkan seperlima dari padanya. Tentara berkuda (kavaleri) mendapat tiga jatah; dua jatah untuk kuda dan satu jatah untuk penunggangnya. Sedang tentara pejalan kaki (infantri) mendapat satu jatah. Jumlah kuda Bani Quraidhah ketika itu adalah tiga puluh enam ekor. Itulah fay’I yang pertama kali dibagi sesuai dengan jalannya, seperlima daripadanya dikeluarkan, dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam pembagian fay’I di perang.

    Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Sa’ad bin Zaid Al-Anshari saudara Bani Abdul Asyhal membawa tawanan-tawanan wanita Bani Quraidhah ke Najed dan menukar mereka dengan kuda-kuda dan senjata.” (JGA: hihi..dijual ni yee..!)

    Kisah Raihanah binti Amr Al-Quraidhah Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memilih salah seorang wanita Bani Quraidhah yang bernama Raihanah binti Amr bin Junafah untuk diri beliau sendiri. Ia berasal dari Bani Amr bin Quraidhah dan tetap dalam...
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 211

    ...kepemilikan beliau ketika beliau wafat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyatakan diri untuk menikahinya dan memasang hijab (tabir) padanya, namun ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, biarkan aku dalam kepemilikanmu, karena itu lebih baik bagiku dan bagimu.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membiarkan status budaknya.

    Pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menawan Raihanah binti Amr, ia tidak mau masuk Islam dan tetap memilih menjadi orang Yahudi. Karena itu, beliau melepaskannya dan sedih karenanya.

    Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang bersama para sahabat, tiba-tiba beliau mendengar suara dua sandal di belakang beliau, kemudian beliau bersabda, ‘Ini pasti suara Tsa’labah bin Sa’yah yang menyampaikan berita gembira kepadaku tentang masuk islamnya Raihanah.’ Betul, Tsa’labah bin Sa’yah tiba di tempat beliau kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, Raihanah telah masuk Islam.’ Berita tersebut sangat menggembirakan hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’.” (JGA: masuk islam atau tidak, sih? Muslim pasti bilang “Wallahuallam”)

    Ayat-ayat Quran Yang Turun Tentang Perang Khandaq dan Bani Quraidhah

    Ibnu Ishaq berkata, “Tentang Perang Khandaq dan Bani Quraidhah, Allah Ta’ala menurunkan surah Al-Ahzab. Di surat tersebut, Allah Ta’ala menyebutkan musibah yang menimpa kaum Muslimin, nikmat-Nya kepada mereka, perlindungan-Nya kepada mereka, dan bagaimana Dia menghilangkan musibah tersebut dari mereka setelah adanya ucapan orang-orang munafik. Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kalian akan nikmat Allah kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian lihat. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Ahzab: 9)

    Yang dimaksud dengan tentara-tentara pada ayat, “Ketika datang kepada kalian tentara-tentara,’ ialah orang-orang Quraisy, Ghatafan, dan Bani Quraidhah. Tentara-tentara yang dikirim Allah kepada mereka adalah angin dan para malaikat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 212

      ‘(Yaitu)ketika mereka datang kepada kalian dari atas kalian dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan macam-macam persangkaan.’ (Al-Ahzab: 10) [/list](JGA: Ayat-ayat ****, sudah jelas muhammad memperalat si Yahudi murtad untuk memecah belah persatuan Quraisy dan Ghathafan dengan trik busuknya, masih saja diakui sebagai perbuatan Allah swt).

      Orang-orang yang datang kepada kaum Muslimin dari atas mereka adalah orang-orang Bani Quraidhah, sedang orang-orang yang datang kepada mereka dari bawah mereka adalah orang-orang Quraisy dan Ghathafan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Di situ diuji orang-orang Mukmin dan diguncang dengan guncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu-daya’.’ (Al-Ahzab:11-12).

      Orang-orang yang berkata seperti di atas adalah Muattib bin Qusyair. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, ‘Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagi kalian, maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga). ‘Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.’ (Al-Ahzab: 13).

      Orang-orang yang berkata seperti di atas adalah Aus bin Qaidhi dan orang-orang dari kaumnya yang seide dengannya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
      Halaman 213

        ‘Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta fitnah, niscaya mereka mengerjakannya, dan mereka tidak akan menundanya melainkan dalam waktu yang singkat.’ (Al-Ahzab: 14).

      Yang dimaksud dengan fitnah pada ayat di atas ialah kembali kepada syirik. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, ‘Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).’ Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.’(Al-Ahzab: 15)

      Yang dimaksud adalah Bani Haritsah. Merekalah yang ingin mundur di Perang Uhud bersama Bani Salimah, kemudian berjanji kepada Allah tidak akan mengulanginya lagi selama-lamanya. Allah Ta’ala menyebutkan kepada mereka apa yang pernah mereka janjikan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Katakanlah, ‘Lari itu sekali-kali tidak berguna bagi kalian, jika kalian melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kalian terhindar dari kematian) kalian tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari rahmat untuk diri kalian?’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.’ (Al-Ahzab: 16-17).
      Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kalian.’(Al-Ahzab: 18)
      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
      Halaman 214

      Orang-orang yang menghalang-halangi tersebut adalah orang munafik. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudarany, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak mendatangi perang melainkan sebentar (Al-Ahzab: 18)
      Maksudnya, mereka tidak mendatangi perang melainkan sekali dan tidak serius. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Mereka bakhil erhadap kalian apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka memandang kepada kalian dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati.’ (Al-Ahzab: 19)
      Maksudnya, mereka seperti orang yang pingsan karena takut mati. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kalian dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’ (Al-Ahzab: 19).
      Maksudnya, mereka mencaci-maki kalian dengan perkataan yang tidak mereka sukai, karena mereka tidak mengharapkan akhirat, tidak menyimpan pahala di sisi Allah, dan takut mati seperti ketakutan orang yang tidak mengharapkan apa-apa setelah kematiannya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi.’ (Al-Ahzab: 20).
      Yang dimaksud dengan golongan-golongan yang bersekutu tersebut adalah orang-orang Quraisy dan Ghathafan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
      Halaman 215

        ‘Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan tentang berita-berita kalian, dan sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.’ (Al-Ahzab: 20).
      Kemudian Allah Ta’ala mengarahkan firman kepada kaum Mukminin dengan berfirman,
        ‘Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri-teladan yang baik bagi kalian bagi orang yang mengharap (rahmat) dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.’ (Al-Ahzab: 21).
      Maksudnya agar kaum Muslimin tidak lebih mencintai diri mereka dari pada diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kedudukan beliau. Setelah itu, Allah Ta’ala menyebutkan tentang kaum Mukminin, kejujuran, dan pembenaran mereka terhadap musibah yang dijanjikan Allah kepada mereka dimana musibah tersebut diturunkan untuk menguji mereka. Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.’ (Al-Ahzab: 22).
      Maksudnya, itu semua menambahkan (meningkatkan) kesabaran mereka terhadap musibah, tunduk kepada takdir, dan pembenaran terhadap yang dijanjikan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
      Halaman 216

        ‘Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur.’ (Al-Ahzab: 23).
      Maksudnya, ada di antara mereka yang telah menyelesaikan tugasnya dan pulang ke haribaan Allah seperti para sahabat yang gugur sebagai syuhada’ di Perang Badar dan Perang Uhud. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu.’ (Al-Ahzab: 23).
      Maksudnya mereka menunggu apa yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada mereka yaitu kemenangan atau mati syahid seperti orang-orang yang mendahului mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).’ (Al-Ahzab: 23).
      Maksudnya, mereka tidak ragu-ragu, tidak plin-plan terhadap agama mereka, dan tidak menukar agamanya dengan agama lain. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena kebenarannya dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Al-Ahzab: 24).
      Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari perang. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.’ (Al-Ahzab: 25).
      Yang dimaksud orang-orang kafir di atas ialah orang-orang Quraisy dan Ghathafan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka.’ (Al-Ahzab: 26).
      Yang dimaksud dengan Ahli Kitab pada ayat di atas adalah orang-orang Bani Quraidhah. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.’ (Al-Ahzab: 26).
      Maksudnya, ayat di atas adalah pembunuhan orang laki-laki, penawanan anak-anak, dan wanita-wanita. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
        ‘Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah, rumah-rumah dan harta-benda mereka, dan tanah yang belum kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’ (Al-Ahzab: 27).
      Yang dimaksud dengan tanah yang belum kalian injak pada ayat di atas ialah tanah Khaibar.”

      Meninggalnya Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu

      Ibnu Ishaq berkata, “Setelah menyelesaikan permasalahan Bani Quraidhah, luka Sa’ad bin Muadz semakin parah, kemudian ia mati syahid karenanya.”

      Ibnu Ishaq berkata, “Muadz bin Rifa’ah Az-Zuraqa berkata kepadaku bahwa orang-orang dari kaumku berkata kepadaku, ‘Malaikat Jibril Alaihi Salam datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak lama setelah wafatnya Sa’ad bin Muadz, tepatnya pada pertengahan malam dengan mengenakan sorban dari sutra, kemudian berkata, ‘Hai Muhammad, siapakah mayit yang karenanya pintu-pintu langit dibuka dan Arasy bergetar karenanya?’
      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
      Halaman 218

      Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri kemudian pergi sambil menyeret pakaiannya kepada Sa’ad bin Muadz dan mendapatinya meninggal dunia’.”

      Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku dari Amrah binti Abdurrahman yang berkata, ‘Aisyah Radhiyallahu Anha pulang dari Makkah bersama rombongan, di antaranya Usaid bin Hudhair, kemudian Usaid bin Hudhair mendapat informasi kematian istrinya dan ia pun agak sedih. Aisyah berkata kepadanya, ‘Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu hai Abu Yahya, apakah engkau sedih karena wanita, padahal engkau mendengar musibah yang lebih besar yaitu wafatnya anak pamanmu dimana Arasy bergetar karenanya?’ “

      Ibnu Ishaq berkata, “Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Al-Hasan Al-Bashri yang berkata, ‘Sa’ad bin Muadz adalah gemuk. Ketika orang-orang mengikutinya, mereka merasakan ringan. Beberapa orang munafik berkata, ‘Demi Allah, ia orang gemuk, anehnya, kita tidak pernah memikul jenazah yang lebih ringan daripadanya.’ Hal tersebut terdengar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Sa’ad bin Muadz mempunyai para pemiku selain kalian. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh para malaikat senang dengan ruh Sa’ad bin Muadz dan Arasy bergetar karenanya’.”

      Kuburan Mempunyai Tekanan dan Tidak Ada Seorang pun Yang Selamat daripadanya

      Ibnu Ishaq berkata, Muadz bin Rifa’ah berkata kepadaku dari Mahmud bin Abdurrahman bin Amr bin Al-Jamuh dari Jabir bin Abdullah yang berkata, “Ketika Sa’ad bin Muadz dikebumikan, kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau membaca tasbih dan para sahabat ikut membaca tasbih. Beliau bertakbir dan para sahabat pun ikut bertakbir. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau bertasbih?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sungguh kuburan ini menekan hamba yang shalih ini hingga Allah menghilangkannya’.”

      Ibnu Hisyam berkata, “Hadits yang semakna adalah ucapan Aisyah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan mempunyai tekanan dan jika ada orang yang selamat daripadanya, tentulah Sa’ad bin Muadz orangnya’.”

      Syair Tangisan untuk Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu

      Ibnu Ishaq berkata, “Untuk Sa’ad bin Muadz, salah seorang dari kaum Anshar berkata,
      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
      Halaman 219

        ‘Arasy Allah tidak bergetar karena kematian orang yang pernah kami dengar
        Melainkan karena kematian Sa’ad bin Muadz yang tidak lain adalah Abu Amr.’
        Ketika keranda mayat Sa’ad bin Muadz diangkat, ibu Sa’ad bin Muadz berkata,
        ‘Celakalah ibu Sa’ad, hai Sa’ad, engkau pemberani dan emosional
        Engkau mulia dan terhormat
        Engkau penunggang kuda yang selalu siap
        Dengannya, celah ditutup
        Ia potong kepala hingga berkeping-keping.’

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semua wanita peratap berdusta, kecuali wanita yang meratapi Sa’ad bin Muadz’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ibu Sa’ad bin Muadz adalah Kubaisyah binti Rafi’ bin Muawiyyah bin Ubaid bin Tsa’labah bin Abdun bin Al-Anjar adalah Judrah bin Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj--.”

    Syuhada Perang Khandaq

    Ibnu Ishaq berkata, “Syuhada’ kaum Muslimin di Perang Khandaq sebanyak enam orang. Syuhada’ dari Bani Abdul Asyhal adalah sebagai berikut:
    1. Sa’ad bin Muadz
    2. Anas bin Aus bin Atik bin Amr.
    3. Abdullah bin Sahl.
    Jadi, syuhada Perang Khandaq dari Bani Abdul Asyhal adalah tiga orang.

    Syuhada dari Bani Jusyam bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Salimah adalah sebagai berikut:
    1. Ath-Thufail bin An-Nu’man.
    2. Tsa’labah bin Ghanamah.
    Jadi, syuhada Perang Khandaq dari Bani Salimah adalah dua orang. Syuhada dari Bani An-Najjar kemudian dari Bani Dinar adalah Ka’ab bin Zaid. Ia terkena panah siluman yang tidak jelas siapa pelemparnya dan ia syahid karenanya.

    Korban-korban Kaum Musyrikin di Perang Khandaq

    Ibnu Ishaq berkata, “Korban dari kaum musyrikin adalah tiga orang. Korban dari Bani Abduddaar bin Qushai adalah Muhabbih bin Utsman bin Ubaid bin As-Sabbaq bin Abduddaar. Ia terkena panah dan meninggal dunia karenanya di Makkah. Ibnu Hisyam berkata, “Utsman yang dimaksud ialah…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 220

    Utsman anak Umaiyyah bin Munabbih bin Ubaid bin As-Sabbaq.”

    Korban dari Bani Makzum bin Yaqadzah adalah Naufal bin Abdullah bin Al-Mughirah. Orang-orang Quraisy meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjual jasad Naufal bin Abdullah kepada mereka. Di Perang Khandaq, ia menerobos parit, mendapatkan kesulitan di dalamnya, kemudian tewas, dan kaum Muslimin menguasai jasadnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kita tidak butuh jasad dan harganya.’ Kemudian beliau memberikan jasad Naufal bin Abdullah kepada orang-orang Quraisy. (Ibnu Hisyam berkata, Orang-orang Quraisy memberi uang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai harga jasad Naufal bin Abdullah seperti dikatakan kepadaku oleh Az-Zuhri.”). :stun:

    Korban dari Bani Amir bin Luai kemudian dari Bani Malik bin Hisl adalah Amr bin Abdu Wudd. Ia dibunuh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu. (Ibnu Hisyam berkata, “Orang yang aku percayai berkata kepadaku bahwa ia diberi tahu dari Az-Zuhri yang berkata, ‘Di Perang Khandaq, Ali bin Abu Thalib membunuh Amr bin Abdu Wudd sekaligus anaknya yang bernama Hisl bin Amr’.”).

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Amr bin Abdu Wudd dan juga ada yang mengatakan Amr bin Abdun.”

    Syuhada Kaum Muslimin di Perang Bani Quraidhah

    Ibnu Ishaq berkata, “Syuhada kaum Muslimin di Perang Bani Quraidhah dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj adalah Khallad bin Suwail bin Tsa’labah bin Amr. Ia dilempar dengan batu penggilingan hingga tengkoraknya remuk. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Khallad bin Suwaid mendapatkan pahala dua orang syahid.’

    Selain itu, Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan saudara Bani Asad bin Khuzaimah juga meninggal dunia ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mengepung Bani Quraidhah. Jenazah Abu Sinan bin Mihshan dimakamkan di kuburan Bani Quraidhah.

    Pada saat para sahabat pulang dari parit (khandaq), Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Setelah tahun ini, orang-orang Quraisy tidak akan menyerang kalian, namun kalian yang akan menyerang mereka.’ Betul, sejak tahun itu, orang-orang Quraisy tidak menyerang kaum Muslimin dan malah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyerang mereka hingga Allah Ta’ala menaklukkan Makkah untuk beliau.”

    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Sat Jan 14, 2012 4:33 pm

    Bab 159 hanya berisi syair-syair perang khandaq, sementara di lompati dulu ke bab selanjutnya
    = = = = = = = =
    Halaman 236
    Bab 160

    TERBUNUHNYA SALLAM BIN ABU AL-HUQAIQ


    Orang-orang Al-Khazraj Meminta Izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk Membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Perang Khandaq dan penanganan Bani Quraidhah rampung, Sallam bin Abu Al-Huqaiq alias Abu Rafi’ terlibat dalam pembentukan pasukan sekutu untuk memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan orang-orang Al-Aus membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf sebelum Perang Uhud karena permusuhannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan provokasinya, maka orang-orang Al-Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang ketika itu berada di Khaibar dan beliau memberi izin kepada mereka untuk membunuhnya.”

    Persaingan Para Sahabat dari Al-Aus dan Para Sahabat dari Al-Khazraj kepada Keridhaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik yang berkata, ‘Di antara yang diperbuat Allah untuk Rasul-Nya bahwa dua permukiman kaum Anshar; Al-Aus dan Al-Khazraj, selalu bersaing kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti persaingan dua kuda. Jika para sahabat dari Al-Aus mengerjakan sesuatu untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat dari Al-Khazraj berkata kepada para sahabat dari Al-Aus, ‘Demi Allah, kalian tidak boleh pergi dengan sesuatu tersebut dan tidak boleh lebih baik daripada kami di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ Para sahabat Al-Khazraj pun tidak berhenti berbuat hingga bisa mengejar ketertinggalan mereka dari para sahabat dari Al-Aus. Sebaliknya, jika para sahabat dari Al-Khazraj mengerjakan sesuatu, para sahabat dari Al-Aus juga berkata yang sama.

    Ketika para sahabat dari Al-Aus berhasil membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf karena permusuhannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat dari Al-Khazraj berkata, ‘Demi Allah, kalian tidak boleh pergi dengan prestasi tersebut dan menjadi lebih baik daripada kami selama-lamanya.’ Para sahabat dari Al-Khazraj mengingat-ingat siapa sekarang ini yang memusuhi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti Ka’ab bin Al-Asyraf lalu mereka…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 237

    …ingat nama Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang sekarang berada di Khaibar. Kemudian mereka meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk membunuhnya dan beliau mengizinkan mereka membunuhnya.

    Untuk itu, keluarlah lima orang dari Bani Salimah ke tempat Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Kelima sahabat tersebut adalah sebagai berikut,
    1. Abdullah bin Atik.
    2. Mas’ud bin Sinan.
    3. Abdullah bin Unais.
    4. Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i.
    5. Khuza’ah bin Aswad sekutu mereka dari Aslam.

    Mereka berangkat dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Abdullah bin Atik sebagai pemimpin rombongan, melarang mereka membunuh anak-anak dan wanita-wanita. Ketika mereka tiba di Khaibar, mereka mendatangi rumah Sallam bin Abu Al-Huqaiq pada malam hari. Mereka menyuruh semua orang di kampung untuk menuntup pintu rumah. Untuk naik ke ruang atas milik Sallam bin Abu Al-Huqaiq terdapat tangga. Mereka naik ke kamar atas Sallam bin Abu Al-Huqaiq melalui tangga tersebut hingga mereka berdiri di depan pintu kamarnya. Mereka meminta izin untuk masuk kepadanya, namun mereka ditemui istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq bertanya, ‘Siapa kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘Kami orang-orang Arab yang mencari makanan.’ Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berkata, ‘Itulah sahabat kalian dan silakan masuk kepadanya!’ Ketika mereka telah masuk ke tempat Sallam bin Abu Al-Huqaiq, mereka menutup pintu rumah dan pintu kamarnya karena khawatir ada celah yang memungkinkan seseorang masuk kemudian menggagalkan usaha mereka untuk membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berteriak memberitahukan keberadaan mereka, kemudian mereka pergi dengan pedang terhunus ke tempat Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang ketika itu berada di atas ranjangnya. Demi Allah, tidak ada yang menunjukkan mereka kepadanya di tengah malam yang gelap itu melainkan kulitnya yang amat putih bak kain dari Mesir yang dicampakkan. Ketika istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berteriak, salah seorang dari mereka mengayunkan pedang untuk membunuhnya, namun mengurungkannya karena ingat larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jika mereka tidak ingat larangan tersebut, mereka pasti menghabisinya hanya pada satu malam. Ketika mereka telah menebas Sallam bin Abu Al-Huqaiq dengan pedang-pedang mereka, Abdullah bin Unais menusukkan pedang ke perut Sallam bin Abu Al-Huqaiq hingga tembus. Ketika itu, Sallam bin Abu Al-Huqaiq berkata, ‘Cukup. Cukup!’

    Setelah itu, kelima sahabat tersebut keluar. Abdullah bin Atik kurang baik penglihatannya, oleh karena itu, ia jatuh dari tangga hingga tanganya…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 238

    …memar. (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa yang memar adalah kakinya.”). Mereka menggotong Abdullah bin Atik hingga tiba di manhar (tempat masuknya air ke benteng) kemudian masuk ke dalamnya. Penduduk setempat menyalakan lampu dan berusaha keras mencari kelima sahabat tersebut di semu penjuru. Ketika mereka putus asa tidak menemukan kelima sahabat tersebut, mereka pergi ke tempat Sallam bin Abu Al-Huqaiq dan memeluknya. Sallam bin Abu Al-Huqaiq meninggal dunia di tengah-tengah mereka. Salah seorang dari kelima sahabat berkata, ‘Bagaimana cara kita mengetahui musuh Allah tersebut telah tewas?’ Salah seorang dari mereka berkata, ‘Aku akan pergi ke sana untuk melihat kondisinya.’ Sahabat tersebut berangkat hingga masuk ke tengah kerumunan manusia. Ia berkata, ‘Aku lihat istri Sllam bin Abu Al-Huqaiq memegang lampu melihat wajah Sallam bin Abu Al-Huqaiq bersama orang-orang Yahudi kemudian berkata, ‘Demi Allah, tadi aku mendengar suara anak Atik, namun aku tidak mempercayainya.’ Aku berkata, ‘Mana ada anak Atik di negeri ini?’ Setelah itu, istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq mendekat kepada Sallam bin Abu Al-Huqaiq dan berkata, ‘Ia telah tewas demi Tuhannya orang Yahudi.’ Aku tidak pernah mendengar perkataan yang lebih enak didengar daripada perkataan istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq tersebut.’ Setelah itu, kelima sahabat tersebut datang ke tempat persembunyian sahabat-sahabatnya dan menceritakan kejadian tersebut. Mereka menggotong Abdullah bin Atik yang tangannya memar kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika mereka tiba di tempat beliau, mereka melaporkan kepada beliau tentang tewasnya musuh Allah tersebut. Semua dari mereka mengklaim yang membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa kemari semua pedang kalian!’ Mereka datang lagi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa pedangnya masing-masing. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengamati pedang-pedang tersebut, kemudian bersabda tentang pedang Abdullah bin Unais, ‘Pedang inilah yang membunuhnya. Aku lihat bekas makanan padanya’.”

    Syair Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu tentang Tewasnya Ka’ab bin Al-Asyraf dan Sallam bin Abu Al-Huqaiq

    Ibnu Ishaq berkata, “Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu berkata tentang tewasnya Ka’ab bin Al-Asyraf dan Sallam bin Abu Al-Huqaiq,
      ‘Sungguh hebat kelompok yang engkau temui,
      Hai anak Al-Huqaiq dan anak Al-Asyraf
      Mereka pergi dengan pedang-pedang ringan kepada kalian
      Dengan riang gembira seperti singa-singa di kumpulan pohon
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 239

      Hingga mereka mendatangi kalian di tempat kalian
      Mereka menyiramkan kematian kepada kalian dengan pedang yang cepat mematikan
      Karena mereka diminta untuk menolong agama nabi mereka
      Mereka menganggap enteng segala hal’.”

    ---ooOoo---

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 240

    BAB 161

    MASUK ISLAMNYA AMR BIN AL-ASH DAN KHALID BIN WALID


    Ibnu Ishaq berkata, “Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Rasyid mantan budak Habib bin Abu At-Tsaqafi dari Habib bin Abu Aus At-Tsaqafi yang berkata kepadaku bahwa Amr bin Al-Ash berkata kepadanya, ‘Sesudah kami pulang bersama pasukan sekutu dari parit (khandaq), aku kumpulkan beberapa orang Quraisy yang bisa memikirkan dan mendengarkan pendapatku. Aku katakana kepada mereka, ‘Demi Allah, ketahuilah, aku berpendapat bahwa persoalan Muhammad telah meninggi dan sulit ditandingi. Aku mempunyai satu pendapat, bagaimana pandapat kalian?’ Mereka berkata, ‘Bagaimana pendapatmu?’ Aku berkata, ’Aku berpendapat, sebaiknya kita pergi ke tempat An-Najasyi dan menetap di negerinya. Jika Muhammad mampu mengalahkan kaum kita, maka kita menetap di negerinya. Jika Muhammad mampu mengalahkan kaum kita, maka kita menetap di negeri An-Najasy, karena kita lebih senang dikuasai An-Najasy daripada dikuasai Muhammad. Namun jika kaum kita berhasil mangalahkan Muhammad, kita orang yang telah dikenal, jadi, hanya kebaikan kita yang mereka sebut.’ Mereka berkata, ‘Ini pendapat yang tepat.’ Aku berkata, ‘Kalau begitu, kumpulkan hadiah untuk An-Najasy’.”

    Amr bin Al-Ash dan Teman-temannya Pergi ke Habasyah

    Amr bin Al-Ash, berkata, “Sesuatu yang paling kami sukai untuk kami hadiahkan kepada An-Najasy dari negeri kami adalah kulit. Oleh karena itu, kami kumpulkan kulit sebanyak-banyaknya, kemudian pergi ke tempat An-Najasy hingga tiba di tempatnya. Demi Allah, ketika kami berada di tempat An-Najasy, tiba-tiba Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri tiba di tempatnya. Ia sengaja di kirim Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna menanyakan tentang Ja’far dan sahabat-sahabatnya. Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri masuk ke tempat An-Najasy dan tidak lama berselang keluar. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku, ‘Inilah Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri, jika aku dapat menemui An-Najasy, aku pasti memintanya memberikan Amr bin Umaiyyah…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 241

    …Adh Dhamri kepadaku kemudian aku penggal kepalanya. Jika itu telah aku lakukan, orang-orang Quraisy tahu bahwa aku telah mewakilinya ketika aku membunuh utusan Muhammad.’ Aku masuk ke tempat An-Najasy dan sujud kepadanya seperti biasa aku lakukan. An-Najasy berkata, ‘Selamat dating sahabatku. Apa hadiah untukku dari negerimu?’ Aku menjawab, ‘Ya, paduka raja. Aku hadiahkan untukmu kulit yang sangat banyak.’ Aku dekatkan kulit tersebut kepadanya, dan ia pun takjub serta tertarik kepadanya. Aku berkata, ‘Wahai paduka raja, sungguh kulihat seseorang keluar dari tempatmu dan ia adalah utusan musuh kami. Serahkan dia kepadaku untuk kami bunuh, karena ia telah membunuh tokoh-tokoh dan orang-orang pilihan kami’.”

    An-Najasy Menasihati Amr bin Al-Ash

    Amr bin Al-Ash berkata, “An-Najasy marah. Ia mengangkat tangan dan memukulkannya ke hidungnya hingga aku menyangka pukulan tersebut memecahkan hidungnya. Jika bumi terbelah untukku, aku pasti masuk ke dalamnya karena takut kepadanya. Aku berkata, ‘Wahai paduka raja, demi Allah, kalau aku tahu engkau tidak menyukai permintaanku, aku pasti tidak mengajukannya kepadamu.’ An-Najasy berkata, ‘Pantaskah engkau memintaku memberikan utusan orang yang didatangi Malaikat Jibril yang pernah dating kepada Nabi Musa kemudian engkau membunuhnya?’ Aku berkata, ‘Wahai paduka raja, betulkan itu?’ An-Najasy berkata, ‘Celakalah engkau, hai Amr, taatlah kepadaku dan ikuti Muhammad. Demi Allah, ia berada di atas kebenaran dan Allah pasti memenangkannya atas siapa saja yang menentangnya sebagaimana Allah memenangkan Musa atas Fir’aun dan tentara-tentaranya.’ Aku berkata, ‘Ya, ‘ An-Najasy membentangkan tangannya, kemudian aku b erbaiat kepadanya untuk masuk Islam. Setelah itu, aku keluar menemui teman-temanku dengan pendapat yang berbeda dari sebelumnya. Aku rahasiakan keislamanku dari mereka’.” (JGA: Cerita yang sangat tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin seorang raja non-muslim bisa mengislamkan seseorang? Sungguh sebuah karangan yang dibuat-buat! Ingat, utusan Muhammad pertama sekali datang mendahului Amr bin Al-Ash menghadap An-Najasy. Kemungkian besar utusan Muhammad sudah menyuap An-Najasy untuk menyerahkan rombongan Amr bin Al-Ash kepada utusan Muhammad. Karena ketakutan, maka demi menghindari pembunuhan, terpaksa Amr bin Al-Ash menyerah. Jadi ia ditekan dari kedua belah pihak.

    Hal kedua, bagaimana An-Najasy bisa mengetahui Muhammad adalah utusan Jibril dengan benar sebelum memeriksa cerita utusan dan membuktikan sendiri dari sumbernya?)


    Pertemuan antara Khalid bin Walid dengan Amr bin Al-Ash

    Amr bin Al-Ash berkata, “Kemudian aku pergi ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk masuk Islam dan bertemu Khalid bin Walid di perjalanan. (JGA: tuh lihat bagaimana cerita ngawur di atas, sekarang dikatakan ia masuk islam di hadapan Muhammad. Kelihatan bukan bohongnya?) Ini terjadi menjelang penaklukan Makkah dan ketika itu Khalid bin Walid datang dari Makkah. Aku berkata, ‘Hai Abu Sulaiman, engkau akan pergi ke mana?’ Khalid bin Walid menjawab, ‘Demi Allah, sungguh segala sesuatu menjadi jelas bahwa Muhammad benar-benar seorang nabi. Engkau sendiri sampai kapan akan memusuhinya?’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku juga akan pergi kepadanya untuk…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 242

    …masuk Islam.’ Kami berdua tiba di Madinah di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Khalid bin Walid maju ke depan kemudian masuk Islam dan berbaiat. Aku mendekat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku berbaiat kepadamu dengan syarat dosa-dosaku silamku diampuni.’ Aku tidak menyebutkan dosa-dosaku pada masa mendatang. (JGA: hahaha…lha belum dibuat bagaimana mau disebut? **** sekali!). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Amr, berbaiatlah, karena islam dan hijrah itu merontokkan dosa-dosa sebelumnya. (JGA: wuahahahaha…pikir sendiri deh gelonya Muhammad ini. Seakan-akan ia mau bilang, ‘Saya, Muhammad dengan ini bertindak sebagai tuhan!) Aku berbaiat kepada beliau.”

    Ibnu Ishaq berkata, orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku bahwa Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah juga masuk Islam berbarengan dengan Amr bin Al-Ash dan Khalid bin Walid.

    Syair Abdullah bin Az-Ziba’ra tentang Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Az-Ziba’ra As-Sahmi berkata,
      ‘Aku bersumpah bahwa Utsman bin Thalhah adalah sekutu kita
      Dan tempat pelemparan sandal kaum di Hajar Aswad
      Tidakkah nenek moyang mengadakan semua persekutuan
      Dan Khalid tidak sama dengan mereka
      Apakah kunci rumah selain rumahmu yang engkau cari?
      Dan engkau tidak mencari kemuliaan rumah yang mulia sejak dulu kala?
      Setelah ini, engkau jangan memberikan jaminan keamanan kepada Khalid dan Utsman
      Karena keduanya datang membawa bencana yang sulit dihilangkan.’

    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Fri Jan 20, 2012 11:06 pm

    Halaman 243

    BAB 162

    PERANG BANI LAHYAN

    Ibnu Hisyam berkata, Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththallabi yang berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah selama bulan Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, dan Rabi’ul Akhir. Pada bulan Jumadil Ula tepatnya enam bulan pasca penaklukan Bani Quraidhah, beliau keluar dari Madinah menuju Bani Lahyan guna mencari sahabat-sahabat yang beliau kirim ke Ar-Raji’ yaitu Khubaib bin Adi dan lain-lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperlihatkan diri seolah-olah hendak pergi ke Syam agar bisa menyerang Bani Lahyan dengan tiba-tiba (Ibnu Hisyam berkata, “Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai imam sementara di Madinah.”).

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melintasi Ghurab, gunung di Madinah, dengan tujuan Syam, melintasi Makhidh, Al-Batra’, belok kiri ke Dzatu Al-Masar, keluar di Bain, melintasi Shukhairatul Yamam, berjalan lurus menuju Al-Mahajjah dari jalan Makkah, meningkatkan tempo perjalanan hingga turun di Ghuran yang merupakan tempat tinggal Bani Lahyan—Ghuran adalah lembah antara Amaj dengan Usfan—menuju daerah yang bernama Sayah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapati orang-orang Bani Lahyan siap siaga dan berlindung di puncak gunung.

    Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam turun di Sa’yah dan rencana menyerang Bani Lahyan dengan tiba-tiba menemui kegagalan, beliau bersabda, ‘Seandainya kita turun ke Usfan, orang-orang Makkah pasti melihat kita hendak mendatangi mereka.’ Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan bersama dua ratus pejalan kaki dari para sahabat hingga keduanya tiba di Kurral Ghmim dan Kura’. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri memilih pulang ke Madinah. Jabir bin Abdullah berkata, ‘Ketika hendak pulang ke Madinah, aku dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Mereka kembali, bertaubat insya Allah, dan memuji Tuhan. Aku berlindung diri dari kesulitan perjalanan, kesedihan kepulangan, penglihatan buruk terhadap keluarga dan harta’.”

    Hadits tentang Perang Bani Lahyan berasal dari Ashim bin Umar bin Qatadah dan Abdullah bin Abu Bakr dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 244

    Syair Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu tentang Perang Bani Lahyan

    Ibnu Ishaq berkata, “Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata tentang Perang Bani Lahyan,
      ‘Seandainya saja Bani Lahyan tidak pergi
      Mereka pasti menjumpai kelompok-kelompok yang jujur di negeri mereka sendiri
      Mereka pasti menjumpai orang yang pertama kali datang dan takut kepadanya memenuhi fatamorgana
      Di depan pasukan penggempur seperti galaksi
      Namun mereka seperti kelinci yang menelusuri
      Jalan-jalan di gunung Hijaz yang tidak mempunyai pintu’.”

    ---ooOoo---

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = =
    Halaman 245

    BAB 163

    PERANG DZU QARAD


    Sebab-sebab Perang Dzu Qarad

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan hanya menetap beberapa malam, karena tidak lama setelah itu, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr Al-Fazari bersama pasukan berkuda dari Ghathafan menyerang unta-unta hamil milik beliau di Al-Ghabah. Di Al-Ghabah terdapat seseorang dari Bani Ghifar dan istrinya. Uyainah bin Hishn membunuh orang tersebut dan membawa istrinya dengan meletakkannya di unta hamil tersebut.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Ashim bin Umar bin Qatadah dan Abdullah bin Abu Bakr serta orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik. Mereka semua hanya menceritakan sebagian Perang Dzu Qarad. Mereka berkata, ‘Orang yang pertama kali mengetahui kedatangan Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr Al-Fazari beserta pasukannya dan bersiap-siap untuk menghadapinya adalah Salamah bin Amr bin Al-Akwa’ As-Sulami. Ia pergi ke Al-Ghabah pada waktu pagi dengan membawa busur panah dan panah ditemani budak milik Thalhah bin Ubaidillah yang menuntun kuda. Ketika Salamah bin Amr berada di atas Tsaniyyatul Wada’, ia melihat sebagian kuda-kuda Uyainah bin Hishn. Ia mendaki Sal’u dan berteriak, ‘Duhai pagi ini.’ Kemudian Salimah bin Amr menelusuri jejak Uyainah bin Hishn, Salamah bin Amr persis seperti binatang buas. Ia terus berjalan hingga berhasil mengejar mereka, kemudian menyerang mereka dengan anak panah. Setiap kali ia memanah, ia berkata,
      ‘Ambillah anak panah ini, aku anak Al-Akwa’
      Hari ini kematian orang yang sepadan.’

    Jika pasukan berkuda Uyainah bin Hishn berlari ke arahnya, ia melarikan diri dan menjauhi mereka. Jika ia mendapat kesempatan untuk memanah, ia memanah mereka sambil berkata,
      ‘Ambillah anak panah ini, aku anak Al-Akwa’
      Hari ini kematian orang yang sepadan.’
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 246

    Itulah yang terjadi hingga salah seorang dari anak buah Uyainah bin Hishn berkata, ‘Aduh sungguh buruk siang hari kita sejak awal’.”

    Para Penunggang Kuda Berpacu untuk Keluar

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat informasi tentang teriakan Salamah bin Amr, beliau berseru di Madinah, ‘Tolong. Tolong.’ Para sahabat penunggang kuda memacu kudanya menuju Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Penunggang kuda yang pertama kali tiba di tempat beliau adalah Al-Miqdad bin Amr—dialah Al-Miqdad bin Al-Aswad sekutu Bani Zuhrah--. Orang kedua yang tiba di tempat beliau dan kaum Anshar setelah Al-Miqdad bin Amr ialah Abbad bin Bisyr bin Waqasy bin Zughbah bin Zaura’ salah seorang warga Bani Abdul Asyhal, Sa’ad bin Zaid salah seorang warga Bani Ka’ab bin Abdul Asyhal, Usaid bin Dhuhair saudara Bani Haritsah bin Al-Haritsah—ia diragukan--, Ukkasyah bin Mihshan saudara Bani Asad bin Khuzaimah, Muhriz bin Nadhlah saudara Bani Asad bin Khuzaimah, Abu Qatadah alias Al-Harits bin Rib’I saudara Bani Salamah, dan Abu Ayyas alias Abu Ubaid bin Zaid bin Ash-Shamit saudara Bani Zuraiq.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menyuruh Para Penunggang Kuda Mengejar Uyainah bin Hishn dan Anak Buahnya

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika para sahabat penunggang kuda berkumpul di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , beliau menunjuk Sa’ad bin Zaid—seperti disampaikan kepadaku—sebagai pemimpin pasukan, kemudian beliau bersabda, ‘Kejarlah kaum tersebut hingga bertemu dengan mereka.’ Sebelum itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ayyas—seperti dikatakan kepadaku oleh beberapa orang dari Bani Zuraiq, ‘Hai Abu Ayyas, bagaimana kalau kudamu engkau serahkan kepada orang lain yang lebih mahir mengendarai kuda daripada engkau hingga ia dapat mengejar musuh?’ Abu Ayyas berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku orang yang paling mahir mengendarai kuda.’ Kata Abu Ayyas, ‘Usai berkata seperti itu, aku memukul kudaku. Demi Allah, kudaku tersebut baru saja berlari lima puluh hasta namun melemparkanku. Aku heran bagaimana tadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bagaimana kalau kudamu engkau serahkan kepada orang lain yang lebih mahir mengendarai kuda?’ Dan aku menjawab, ‘Aku manusia yang paling mahir mengendarai kuda’.’ Orang-orang Bani Zuraiq meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kuda Abu Ayyas kepada Muadz bin Ma’ish atau Aidz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah penunggang kuda kedelapan. Sebagian orang memasukkan Salamah bin Amr bin Al-Akwa sebagai salah satu dari kedelapan penunggang dan mencoret Usaid bin…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 247

    …Dhuhair saudara Bani Haritsha. Wallahu a’lam mana yang benar dalam hal ini. Ketika itu, sebenarnya Salamah bin Amr bukan penunggang kuda, namun orang yang pertama kali mengejar Uyainah bin Hishn dan anak buahnya dengan berjalan kaki. Kemudian para sahabat pasukan berkuda keluar untuk mengejar mereka hingga mereka saling bertemu.”

    Muhriz bin Nadziah Menyusul Uyainah bin Hishn dan Anak Buahnya kemudian Mereka Membunuhnya

    Ibnu Ishaq berkata, “Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa penunggang kuda yang pertama kali menyusul Uyainah bin Hishn dan anak buahnya adalah Muhriz bin Nadhlah saudara Bani Asad bin Khuzaimah. Ia biasa dipanggil Al-Akhram atau Qumair. Pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berteriak, ‘Tolong, tolong,’ kuda jinak milik Mahmud bin Maslamah berjalan di kebun. Wanita-wanita Bani Abdul Asyhal berkata kepada Muhriz bin Nadhlah—ketika melihat kuda tersebut berjalan di kebun dengan membawa batang kurma yang diikatkan di atasnya--, ‘Hai, Qumair, apakah engkau siap menaiki kuda ini kemudian menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin?’ Muhriz bin Nadhlah menjawab, ‘Ya.’ Wanita-wanita Bani Abdul Asyhal memberikan kuda tersebut kepada Muhriz bin Nadhlah kemudian Muhriz bin Nadhlah berangkat dengan menaiki kuda tersebut. Tidak lama berselang, kuda tersebut mampu melewati kuda-kuda lainnya dan tiba di tempat Uyaianah bin Hishn dan anak buahnya. Muhriz bin Nadhlah berdiri di depan mereka, ‘Hai orang-orang terkutuk, berhentilah kalian hingga kalian disusul kaum Muhajirin dan kaum Anshar.’ Salah seorang anak buah Uyainah bin Hishn naik ke kuda Muhriz bin Nadhlah kemudian membunuhnya. Kuda Muhriz bin Nadhlah goyah kemudian lari hingga tiba di tempat pengikatan kuda di Bani Abdul Asyhal. Hanya Muhriz bin Nadhlah yang terbunuh dari kaum Muslimin’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ketika itu, yang terbunuh dari kaum Muslmin selain Muhriz bin Nadhlah adalah Waqqash bin Mujazziz Al-Mudliji seperti dikatakan lebih dari satu ulama.”

    Kuda-kuda Kaum Muslimin

    Ibnu Ishaq berkata, “Kuda milik Mahmud bin Maslamah tersebut bernama Al-Limmah.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Kuda milik Sa’ad bin Zaid bernama Lahiq. Kuda milik Al-Miqdad bernama Ba’zajah dan ada yang mengatakan bernama Sabhah. Kuda milik Ukkasyah bin Mihshan bernama Dzu Al-Limmah. Kuda milik Abu Qatadah bernama Hazrah. Kuda milik Abbad bin Bisyr bernama Lama’. Kuda …
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Halaman 248

    Terbunuhnya Muhriz bin Nadhlah Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik yang berkata bahwa Muhriz bin Nadhlah menaiki kuda milik Ukkasyah bin Mihshan yang bernama Al-Junah. Muhriz bin Nadhlah dibunuh salah seorang anak buah Uyainah bin Hishn dan kudanya dirampas. Ketika kuda-kuda kaum Muslimin berdatangan, Abu Qatadah alias Al-Harits bin Rib’I saudara Bani Salamah membunuh Habib bin Uyainah bin Hishn dan menutupinya dengan kain burdah. Setelah itu Abu Qatadah pergi mengejar musuh dan pada saat yang sama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba bersama kaum Muslimin (Ibnu Hisyam berkata, “Ketika itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai imam sementara di Madinah.”).

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapati Habib ditutupi dengan kaun burdah milik Abu Qatadah, oleh karena itu, beliau meminta kaum Muslimin kembali. Kaum Muslimin berkata, ‘Abu Qatada terbunuh.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ini bukan mayat Abu Qatadah, namun mayat orang yang dibunuh Abu Qatadah. Abu Qatadah sengaja meletakkan kain burdahnya di atas mayat ini agar kalian mengetahui dialah yang membunuhnya.’
    Ukkaysah bin Mihshan mampu mengejar Aubar dan anaknya, Amr bin Aubar, yang keduanya menaiki satu unta, kemudian Ukkaysah bin Mihshan menusuk keduanya dengan tombak hingga tewas. Kaum Muslimin berhasil membebaskan beberapa unta hamil.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus berjalan hingga menuruni gunung dari Dzu Qarad. Di sanalah, kedua belah pihak bertemu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti di tempat tersebut dan menetap sehari semalam di dalamnya. Salamah bin Al-Akwa’ berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, jika engkau mengirimku bersama seratus orang, aku pasti mampu menyelamatkan sisa-sisa unta hamil yang belum berhasil diselamatkan dan aku penggal kepala mereka.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda—seperti dikatakan kepadaku, ‘Sekarang mereka sedang diberi jamuan minum sore di Ghathafan.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi-bagikan satu unta untuk setiap seratus para sahabat dan mereka membuat pesta makan dengannya. Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Halaman 249

    Wanita dari Bani Ghifar

    Ibnu Ishaq berkata, “Salah seorang wanita dari Bani Ghifar datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaiki unta. Tiba di tempat beliau, ia bercerita kepada beliau kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar kepada Allah untuk menyembelih untaku ini jika Allah menyelamatkanku di atasnya.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum, kemudian bersabda, ‘Sungguh jelek balas budimu. Allah membuatmu bisa menaiki unta tersebut dan menyelamatkanmu di atasnya kemudian engkau menyembelihnya? Tidak ada nadzar dalam maksiat kepada Allah dan apa yang tidak engkau miliki. [size=150]Sesungguhnya unta ini untukku[/size], oleh karena itu, pulanglah kepada keluargamu dengan keberkahan Allah.’ Hadits tentang wanita dari Bani Ghifar tersebut, ucapannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sabda beliau kepadanya berasal dai Abu Az-Zubair Al-Makki dari Al-Hasan bin Abu Al-Hasan Al-Bashri.” (JGA: hihihi...si perempuan itu datang "menyerahkan" diri kepada Muhammad saw. Asyiiiikkk kata Muhammad, "unta"-mu menjadi milikku! :lol: Bahasa Ishaq sengaja dihaluskan!)

    ---ooOoo---

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 250
    Lompati dulu bab ini karena hanya berisi syair-syair saja

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 254

    BAB 165

    PERANG BANI AL-MUSTHALIQ DI AL-MURAISI’ PADA BULAN SYA’BAN TAHUN ENAM HIJRIAH


    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah di sebagian bulan Jumadil Akhir dan Rajab. Setelah itu, beliau menyerbu Bani Al-Musthaliq di bulan Sya’ban tahun enam Hijriyah.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Abu Dzar Al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah. Ada yang mengatakan beliau menunjuk Numailah bin Abdullah Al-Laitsi.”

    Sebab-sebab Perang Bani Al-Musthaliq

    Ibnu Hisyam berkata, “Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu Bakr, dan Muhammad bin Yahya bin Hibban berkata kepadaku. Semuanya menceritakan sebagian hadits tentang Perang Bani Al-Musthaliq kepadaku. Mereka berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat informasi bahwa Bani Al-Musthaliq bersatu untuk menghadapi beliau dan panglima perang mereka adalah Al-Harits bin Abu Dhirar ayah Juwairiyah binti Al-Harits istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Keberangkatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Tempat Bani Al-Musthaliq

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar rencana mereka, beliau berangkat ke tempat mereka hingga bertemu mereka di mata air yang bernama Al-Muraisi’. Di sana, kedua belah pihak saling serang dan bertempur hingga akhirnya Allah mengalahkan Bani Al-Musthaliq, beberapa orang dari mereka tewas, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menguasai anak-anak, istri-istri, dan kekayaan mereka. Allah memberikan mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai harta fay’i. Di perang tersebut, salah seorang dari kaum Muslimin yaitu dari Bani Kalb bin Auf bin Amir bin Laits bin Bakr yang bernama Hisyam bin Shubabah terbunuh. Ia dibunuh salah seorang dari kaum Anshar yaitu kabilah Ubadah bin Ash-Shamit karena disangka musuh.”

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Halaman 255

    Konflik di Mata Air Al-Muraisi’

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di mata air Al-Muraisi’, orang-orang dan pekerja Umar bin Khaththab dari Bani Ghifar bernama Jahjah bin Mas’ud yang menuntun kuda datang ke mata air tersebut. Di sana, Jahjah bin Mas’ud berdesak-desakan dengan Sinan bin Wabar Al-Juhani sekutu Bani Auf bin Al-Khazraj kemudian keduanya berkelahi. Sinan bin Wabar Al-Juhani berteriak, ‘Hai orang-orang Anshar.’ Sedang Jahjah berteriak, ‘Hai orang-orang Muhajirin’.”

    Ucapan Abdullah bin Ubai bin Salul

    Ibnu Ishaq berkata, “Karena kejadian di atas, Abdullah bin Ubai bin Salul yang ketika itu bersama beberapa orang dari kaumnya di antaranya Zaid bin Arqam—anak muda usia—naik pitam kemudian berkata, ‘Sungguh mereka telah melakukannya. Mereka mengalahkan dan mengungguli kita di Madinah. Demi Allah, aku tidak mengibaratkan kita dengan orang-orang gembel Quraisy tersebut melainkan seperti dikatakan orang-orang tua dulu, ‘Gemukkan anjingmu, niscaya ia memakanmu.’ Demi Allah, jika kita tiba di Madinah, orang-orang mulia di dalamnya pasti mengusir orang-orang hina.’ Abdullah bin Ubai bin Salul menghadap kepada beberapa orang dari kaumnya yang ada di tempat tersebut, kemudian berkata kepada mereka, ‘Inilah yang kalian perbuat terhadap diri kalian. Kalian tempatkan mereka di negeri kalian dan membagi harta kalian dengan mereka. Demi Allah, jika kalian tidak memberikan kekayaan kalian kepada mereka, mereka pasti pindah ke selain negeri kalian’.”

    Zaid bin Arqam Melaporkan Ucapan Abdullah bin Ubai bin Arqam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Zaid bin Arqam mendengar dengan jelas ucapan Abdullah bin Ubai bin Salul di atas, kemudian ia pergi ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Itu terjadi setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil mengatasi musuhnya. Zaid bin Arqam melaporkan ucapan Abdullah bin Ubai bin Salul di atas kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ketika itu ditemani Umar bin Khaththab. Zaid bin Arqam berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Kirimlah Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Zaid bin Arqam, ‘Bagaimana pendapatmu hai Umar, jika manusia membicarakan Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya. Tidak, namun umumkan agar semua orang pulang.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pulang ke Madinah, sedang para sahabat pulang’.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Halaman 256

    Kemunafikan Abdullah bin Ubai bin Salul dan Pengingkarannya terhadap Ucapannya Sendiri

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abdullah bin Ubai bin Salul mendengar Zaid bin Arqam melaporkan ucapan yang didengarnya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamm, ia pergi menghadap beliau kemudian bersumpah dengan nama Allah dan berkata, ‘Aku tidak mengatakan ucapan yang dilaporkan Zaid bin Arqam.’ Abdullah bin Ubai bin Salul adalah tokoh penting di kaumnya. Salah seorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, bisa jadi anak muda usia tersebut (Zaid bin Arqam) bicara salah dan tidak hapal apa yang dikatakan Abdullah bin Ubai bin Salul.’ Sahabat tersebut berkata seperti itu untuk melindungi Abdullah bin Ubai bin Salul.”

    Usaid bin Hudhair dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu Usaid bin Hudhair. Ia mengucapkan salam kepada beliau, dan berkata kepada beliau, ‘Wahai Nabi Allah, demi Allah, sungguh engkau pulang di waktu yang tidak mengenakkan. Engkau tidak pernah pulang pada waktu seperti sekarang sebelum ini.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Usaid bin Hudhair, ‘Apakah engkau telah mendengar apa yang dikatakan sahabat kami?’

    Usaid bin Hudhair berkata, ‘Sahabat kami yang mana, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Abdullah bin Ubai bin Salul.’ Usaid bin Hudhair berkata, ‘Apa yang ia katakana?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ia menyangka bahwa jika ia tiba di Madinah, orang mulia di dalamnya akan mengusir orang hina.’ Usaid bin Hudhair berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkaulah yang akan mengusirnya dari Madinah jika engkau mau. Demi Allah, ia hina sedang engkau mulia.’ Usaid bin Hudhair berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, bersikaplah lembut kepadanya. Demi Allah, pada saat engkau datang kepada kami, ketika itu kaumnya meminta pertimbangan kepadanya dalam kapasitasnya sebagai raja dan sekarang ia menganggapmu telah merampas kerajaannya’.”

    Pengetahuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Fitnah

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan bersama kaum Muslimin pada siang hari itu hingga sore, malam harinya hingga pagi hari berikutnya, dan awal pagi hari berikutnya hingga sinar matahari menyengat mereka. Setelah itu, beliau bersama mereka berhenti. Tidak lama ber…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 257

    …selang, mereka mengantuk dan tertidur. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti agar kaum Muslimin melupakan pembicaraan tentang Abdullah bin Ubai bin Salul di hari kemarin.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan bersama kaum Muslimin melewati Hijaz hingga turun di atas mata air di Hijaz yang bernama Baq’a. Ketika beliau sedang berjalan, tiba-tiba angin kencang bertiup mengenai kaum Muslimin hingga mereka sakit dan ketakutan. (JGA: hehehe…dihajar pasukan malaikat yee) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah kalian takut kepada angin kencang ini. Angin kencang ini bertiup karena kematian salah seorang tokoh orang-orang kafir.’ (JGA: Bhwakakakak…ngelindur ni yee? Ternyata pikiran Muhammad dipenuhi mitos-mitos klenik.) Ketika kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka mendapati Rifa’ah bin Zaid bin At-Tabut salah seorang warga Bani Qainuqa’ yang tidak lain adalah tokoh orang-orang Yahudi dan pelindung orang-orang munafik meninggal pada hari bertiupnya angin kencang tersebut’.”

    Turunya Ayat Al-Qur’an Yang Membenarkan Laporan Zaid bin Arqam Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian turunlah surat Al-Qur’an dimana di dalamnya Allah menyebutkan tentang orang-orang munafik yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul dan konco-konconya. Ketika surat tersebut turun, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang telinga Zaid bin Arqam kemudian bersabda, ‘Orang inilah yang menepati janji kepada Allah dengan telinganya.’ Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul mendengar permasalahan yang terjadi pada ayatnya.”

    Sikap Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul terhadap Ayahnya

    Ibnu Ishaq berkata, “Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku dengar engkau hendak membunuh Abdullah bin Ubai bin Salul karena mendengar ucapannya. Jika engkau memang ingin membunuhnya, perintahkan aku saja yang membunuhnya, niscaya aku bawa kepalanya kepadamu. Demi Allah, orang-orang Al-Khazraj tahu betul bahwa di kalangan mereka tidak ada anak yang lebih berbakti kepada orang tuanya daripada aku. Aku khawatir engkau menyuruh orang lain untuk membunuhnya. Jangan biarkan diriku melihat pembunuh ayahku berjalan di tengah-tengah manusia kemudian aku membunuhnya. Jika itu terjadi, berarti aku membunuh orang Mukmin yang telah membunuh orang kafir. Karenanya, aku masuk neraka.’

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kita akan bersikap lembut dan bersahabat baik dengannya selagi ia bersama kita.’

    = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 258

    Setelah itu, jika Abdullah bin Ubai bin Salul mengerjakan kesalahan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kaumnya sendiri yang mengecam, menindak, dan memarahinya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umar bin Khaththab ketika mendengar sikap kaum Abdullah bin Ubai bin Salul seperti itu, ‘Bagaimana pendapatmu hai Umar, demi Allah, jika aku membunuhnya pada hari engkau memerintahkanku membunuhnya, pasti semua hidung dibuat gemetar karenanya. (JGA: hihihi...ternyata Umar bisa juga memerintah nabinya. Pantesan Umar sumbang ayat di dalam Quran. :-k )Jika sekarang engkau menyuruhku membunuhnya, aku pasti membunuhnya.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Demi Allah, aku tahu bahwa perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam itu lebih besar keberkahannya daripada perintahku’.”

    Perihal Miqyas bin Shubabah dan Tipu Muslihatnya

    Ibnu Ishaq berkata, “Miqyas bin Shubabah datang dari Makkah ke Madinah dengan menampilkan diri telah masuk islam. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu dalam keadaan Muslim dan bermaksud meminta diyat saudaraku. Ia dibunuh karena salah sasaran. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan sahabat membayar diyat kepadanya. Miqyas bin Shubabah tinggal di Madinah beberapa lama, kemudian membunuh pembunuh saudaranya. Setelah itu, ia pulang ke Makkah dalam keadaan murtad. Ia berkata dalam syairnya,
      ‘Ia menyembuhkan jiwa sejak ia tersandar di lembah
      Dengan darah urat lutut melumuri kedua pakaiannya
      Hati amat sedih sebelum kematiannya
      Kesedihan menyelimuti hati sebelum kematiannya
      Kemudian kesedihan tersebut melindungiku dari himpitan tidur
      Dengannya aku lampiaskan dendamku dan aku telah merampungkannya
      Aku orang yang pertama kali kembali kepada berhala
      Dengannya, aku balas dendam untuk Fihr dan membawa diyatnya
      Kepada singa-singa Bani An-Najjar pemilik benteng Fari’
      .

    Miqyas bin Shababah juga berkata,
      ‘Aku pukul sekujur tubuhnya dengan pukulan yang mengeluarkan darah
      dari perutnya dan memutusnya
      Aku katakana ketika kematian menutupi usus-ususnya
      Janganlah sekali-kali engkau member keamanan kepada Bani Bakr’.”

    Kode Kaum Muslimin di Perang Bani Musthaliq

    Ibnu Hisyam berkata, “Kode kaum Muslimin di Perang Bani Al-Musthaliq adalah ya manshuur amit, amit.”

    = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 259

    Ibnu Hisyam berkata, “Korban dari Bani Al-Musthaliq banyak sekali. Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu membunuh dua orang, yaitu Malik dan anaknya. Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu membunuh salah seorag penunggang kuda mereka yang bernama Ahmar atau Uhaimar.”

    Tawanan-tawanan Wanita Bani Al-Musthaliq

    Ibnu Ishaq berkata, “Pada perang tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan tawanan yang banyak sekali kemudian semua tawanan dibagi secara merata di antara kaum Muslimin. Di antara tawanan wanita ketika itu adalah Juwairiyah binti Al-Harits bin Abu Dhirar yang akhirnya diperistri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Perihal Juwairiyah binti Al-Harits dan Keberangkatannya atas Kaumnya

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi-bagi tawanan-tawanan wanita Bani Al-Musthaliq, Juwairiyah binti Al-Harits masuk ke dalam jatah Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas atau anak pamannya, kemudian ia menebus dirinya dengan membayar kredit. Ia wanita yang manis dan cantik. Siapa pun yang melihatnya, pasti tertarik kepadanya. Pada suatu waktu, ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna meminta beliau membantu penebusan dirinya. Demi Allah, aku lihat dia di pintu kamarku dan aku muak kepadanya. Aku tahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan melihat kecantikannya seperti yang telah aku lihat. Ia masuk kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku Juwairiyah binti Al-Harits bin Abu Dhirar dan ayahku adalah tokoh penting di kaumnya. Aku mendapat musibah seperti yang engkau ketahui dan masuk ke dalam jatah Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas atau anak pamannya, kemudian aku menebus diriku dengan pembayaran kredit. Sekarang aku datang kepadamu guna memintamu membantu pembayaran kredit pembebasanku.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Maukah engkau sesuatu yang lebih baik dari itu?’ Ia berkata, ‘Apa itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Aku lunasi kredit pembebasan dirimu kemudian menikahimu.’ Ia menjawab, ‘Mau, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Itu akan aku lakukan’.”

    Kebaikan Rasulullah kepada Bani Al-Musthaliq

    Aisyah berkata, “Informasi pun menyebar ke tengah-tengah manusia bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahi Juwairiyah binti Al-Harits…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 260

    Mereka berkata, ‘Ia menjadi keluarga Rasulullah.’ Mereka kirim apa yang mereka miliki kepada beliau. Karena pernikahan tersebut, seratus keluarga dari Bani Al-Musthaliq dibebaskan. Aku tidak tahu ada wanita yang lebih terhormat dan lebih berkah di kalangan kaumnya daripada Juwairiyah bin Al-Harits.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang dari Bani Al-Musththaliq dengan disertai Juwairiyah binti Al-Harits dan tiba di Dzatul Jaisy, beliau menitipkan Juwairiyah binti Al-Harits kepada salah seorang dari kaum Anshar untuk dijaga dan beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Madinah.”

    Masuk Islamnya Al-Harits bin Abu Dhirar

    Ibnu Hisyam berkata, “Kemudian datanglah ayah Juwairiyah binti Al-Harits, Al-Harits bin Abu Dhirar, untuk menebus putrinya. Ketika ia berada di Al-Aqiq, ia mengamati unta-unta yang ia siapkan sebagai tebusan bagi putrinya kemudian tertarik kepada dua unta daripadanya, lalu ia menyembunyikannya di salah satu jalan ke gunung. Kemudian ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Hai Muhammad, engkau tawan putriku dan inilah tebusannya.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Mana dua unta yang engkau sembunyikan di salah satu jalan ke gunung di Al-Aqiq?’ Al-Harits berkata, ‘Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Demi Allah, tidak ada yang melihat kedua unta tersebut kecuali Allah.’ Al-Harits masuk Islam diikuti dua anaknya dan beberapa orang dari kaumnya. Setelah itu, ia pergi ke tempat dua unta yang ia sembunyikan, dan datang lagi dengannya, menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan putrinya, Juwairiyah binti Al-Harits, diserahkan kepadanya. Juwairiyah binti Al-Harits masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melamar Juwairiyah binti Al-Harits kepada ayahnya, dan ayahnya menikahkan beliau dengan Juwairiyah mahar empat ratus dirham.” (JGA: waw…dari mana Muhammad mendapat uang sebegitu banyaknya? ketahuan dah hasil perang-perangnya yang membuat kekayaannya bertambah-tambah)

    Berita Bohong

    Ibnu Ishaq berkata, “Yazid bin Ruman berkata kepadaku bahwa setelah keislaman orang-orang Bani Al-Musththaliq, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Al-Walid bin Uqbah bin Abu Mu’aith kepada mereka. Ketika mereka mendengar kedatangan Al-Walid bin Uqbah bin Abu Mu’aith, mereka berangkat kepadanya. Namun ketika Al-Walid bin Uqbah bin Abu Mu’aith mendengar keberangkatan mereka, ia takut kepada mereka, oleh karena itu, ia pulang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melapor kepada beliau bahwa mereka hendak membunuhnya dan melarangnya mengambil zakat…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 261

    …dari mereka. Kaum Muslimin banyak yang mengusulkan perang kepada mereka, bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri ingin menyerbu mereka. Ketika kaum Muslimin dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datanglah delegasi mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Delegasi tersebut berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami dengar kedatangan utusanmu ketika engkau mengutusnya kepada kami. Untuk itu, kami keluar kepadanya untuk menjamunya dan menyerahkan zakat kepadanya, namun ia buru-buru pulang ke Madinah. Setelah itu, kami mendapat kabar ia mengaku kepadamu bahwa kami hendak membunuhnya. Demi Allah, kami tidak keluar untuk tujuan itu.’ Tentang Al-Walid bin Uqbah bin Abu Mu’aith dan delegasi Bani Al-Musththaliq tersebut, Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu. Dan ketahuilah oleh kalian bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah; kalau ia menuruti kalian dalam beberapa urusan benar-benarlah kalian akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.’ (Al-Hujuraat: 6-7).

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan dari tempat tersebut—seperti dikatakan kepadaku oleh orang yang tidak aku ragukan kejujurannya dari Az-Zuhri dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha--. Ketika tiba di dekat Madinah—ketika itu Aisyah ikut bersama beliau--, orang-orang mengatakan berita bohong tentang Aisyah Radhiyallahu Anha.”

    ---ooOoo---
    Last edited by JANGAN GITU AH on Sat Jan 21, 2012 11:23 am, edited 1 time in total.
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Sat Jan 21, 2012 12:07 am

    halaman 262

    BAB 166

    BERITA BOHONG DI PERANG BANI AL-MUSTHTHALIQ


    Ibnu Ishaq berkata, “Az-Zuhri berkata kepadaku dari Alqamah bin Waqqash, Sa’id bin Jubair, dan Urwah bin Az-Zubair dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah. Mereka semua mengisahkan sebagian hadits kepadaku dan sebagian dari mereka lebih menguasai dari sebagian lain, kemudian hadits mereka aku kumpulkan.”

    Muhammad bin Ishaq berkata, “Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya dari Aisyah. Abdullah bin Abu Bakr juga berkata kepadaku dari Amrah binti Abdurrahman dari Aisyah dari dirinya sendiri ketika orang-orang mengatakan berita bohong tentang dirinya. Mereka semua membahas hadits tentang Aisyah dari Aisyah sendiri; sebagian dari mereka menceritakan apa yang tidak diceritakan sebagian lain. Mereka yang meriwayatkan hadits tersebut dari Aisyah adalah orang-orang terpercaya dan semua dari mereka menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah.”

    Kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Pergi dengan Salah Satu Istrinya

    Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hendak berpergian, beliau mengadakan undian di antara istri-istrinya. Nama siapa yang keluar dalam undian, dialah yang berhak menemani beliau. Pada Perang Bani Al-Musththaliq, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengundi istri-istrinya seperti biasanya. Dalam undian tersebut, namaku keluar. Jadi, aku yang beliau bawa dalam perjalanannya. Wanita-wanita ketika itu makannya tidak banyak, maka wajar kalau badan mereka tidak berat. Jika untaku telah disiapkan, aku duduk di sekedup, kemudian orang-orang datang untuk mengambilku. Mereka memegang bagian bawah sekedup, mengangkatnya, meletakkannya di atas punggung unta, mengikatnya ke unta, memegang kepala unta, dan berjalan dengannya. Setelah merampungkan permasalahan Bani Al-Musththaliq, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah. Tiba di dekat Madinah, beliau berhenti di satu tempat, dan tidur sebagian malam.”

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 263

    Sebab Ketertinggalan Aisyah Radhiyallahu Anha dari Rombongan

    Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Muslimin meneruskan perjalanan. Mereka pun berangkat, sedang aku keluar untuk memenuhi hajat dengan mengenakan kalung yang di dalamnya terdapat baut akik dari Dzafar. Ketika aku selesai memenuhi hajat, kalungku terlepas dari leherku tanpa sepengetahuanku. Aku balik ke tempat pemberhentian rombongan semula untuk mencari kalungku, namun tidak menemukannya. Sementara itu, kaum Muslimin mulai meninggalkan tempat untuk meneruskan perjalanan. Aku balik lagi ke tempat aku memenuhi hajat guna mencari kalungku hingga menemukannya. Setelah itu, datanglah orang-orang yang tadi menyiapkan unta untukku. Mereka mengangkat sekedup karena mengira aku berada di dalamnya seperti sebelumnya. Mereka memikul sekedup tersebut dan mengikatkannya ke atas unta karena yakin aku telah berada di dalamnya. Setelah itu, mereka memegang kepala unta dan menuntunnya. Aku balik lagi ke tempat pemberhentian rombongan, namun di sana tidak ada siapa-siapa, karena semua telah berangkat. Aku tutup diriku dengan jilbab dan tertidur ditempat tersebut. Aku yakin, jika orang-orang kehilangan diriku, mereka pasti kembali ke tempatku. Demi Allah, ketika aku tidur, tiba-tiba Shafwan bin Al-Muaththal As-Sulami berjalan melewatiku. Ia sengaja berjalan di belakang kaum Muslimin untuk memenuhi salah satu kebutuhannya. (JGA: kenapa kedua orang ini punya hajat yang sama ya? :-k ) Ia melihat bayangan hitam diriku dan datang ke tempatku hingga berdiri di depanku. Ia pernah melihatku ketika hijab belum diwajibkan kepada kami. Ketika ia melihatku, ia berkata, ‘inna lillahi wan inna lillahi raa’jiuun. Istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Ketika itu, aku tutup diriku dengan jilbab. Shafwan bin Al-Muaththal As-Sulami berkata lagi, ‘Kenapa engkau tertinggal?’ Aku tidak menjawab pertanyaannya. Ia dekatkan untanya kepadaku sambil berkata, ‘Naiklah ke atasnya.’ Ia menjauh dariku dan aku pun menaiki untanya. Setelah aku berada di atas unta, ia memegang kepala unta kemudian berjalan cepat untuk menyusul kaum Muslimin. Demi Allah, kami tidak berjumpa dengan siapa-siapa dan kaum Muslimin tidak merasa kehilangan diriku hingga esok hari, bahkan hingga mereka tiba di Madinah. Ketika mereka istirahat di Madinah, tiba-tiba Shafwan bin Al-Muaththal As-Sulami muncul dengan menuntun unta sedang aku berada di atasnya. Saat itulah, para penyebar berita bohong mengucapkan perkataan mereka. Orang-orang pun gempar. Demi Allah, aku tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut.”

    Sakitnya Aisyah Radhiyallahu Anha (JGA: di dalam salah satu haditsnya, Aisyah mengaku pernah digebuk Muhammad saw di dadanya hingga sakit ) :-k

    Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Kami tiba di Madinah dan sesudahnya aku sakit. Selama aku sakit, aku tidak pernah mendapatkan informasi yang beredar di luar. Informasi tentang diriku juga terdengar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 264

    …dan kedua orang tuaku, namun mereka tidak menceritakan sedikit pun kepadaku. Anehnya, aku tidak lagi mendapatkan sebagian keramahan beliau, karena jika aku sakit, beliau menyayangku dan ramah padaku. Tapi itu semua tidak beliau berikan kepadaku dalam sakitku kali ini. Ya, aku tidak mendapatkan itu semua dari beliau. Ketika itu, jika beliau masuk ke tempatku dan di tempatku terdapat ibuku (Ibnu Hisyam berkata, “Ibu Aisyah adalah Ummu Ruman. Nama aslinya adalah Zainab binti Abdu Duhman salah seorang dari Bani Faras bin Ghanm bin Malik bin Kinanah.”), beliau berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Tidak lebih dari itu.

    Aku sedih tidak karuan. Aku berkata—ketika melihat ketidaramahan beliau kepadaku--, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau mengizinkanku pindah ke rumah ibuku agar aku dirawat ibuku?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Tidak apa-apa.’ Kemudian aku pindah ke rumah ibuku dan tidak tahu sama sekali apa sebenarnya yang terjadi hingga aku sembuh setelah dua puluh hari lebih. Kami adalah wanita-wanita Arab dan tidak membuat WC di dalam rumah seperti yang dilakukan orang-orang non-Arab, karena kami tidak begitu menyukainya dan lebih terbiasa pergi ke tanah luas di Madinah. Jika wanita-wanita ingin buang hajat, mereka keluar rumah pada setiap malam hari. Pada suatu malam, aku keluar rumah untuk memenuhi hajat ditemani Ummu Misthah binti Abu Ruhm bin Al-Muththalib bin Abdu Manaf. Ibu Misthah adalah putrid Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim dan Ummu Misthah adalah bibi ayahku dari jalur ibu. Demi Allah, Ummu Misthah berjalan denganku, tiba-tiba ia jatuh karena tersangkut pakaiannya. Ia berkata, ‘Celakalah Misthah.’ Misthah adalah gelar dan nama aslinya dari Auf. Aku berkata, ‘Demi Allah, sungguh jelek perkataanmu terhadap salah seorang dari Muhajirin yang ikut hadir di Perang Badar.’ Ummu Misthah berkata, ‘Apakah informasi tersebut tidak sampai kepadamu, wahai putrid Abu Bakar?’ Aku berkata, ‘Informasi yang mana?’ Ummu Misthah bercerita kepadaku apa yang diucapkan para penyebar berita bohong. Aku bertanya kepada Ummu Misthah, ‘Apakah informasi ini telah menyebar?’ Ummu Misthah menjawab,’Ya, betul demi Allah.’ Demi Allah, aku tidak jadi buang hajat dan segera pulang ke rumah. Demi Allah, aku terus-menerus menangis hingga aku mengira tangisan akan membelah jantungku karena marah. Aku berkata kepada ibuku, ‘Semoga Allah mengampunimu, orang-orang membicarakan diriku, namun engkau tidak bercerita sedikit pun kepadaku? Ibuku berkata, ‘Putriku, engkau tidak usah menganggap berat masalah yang menimpamu. Demi Allah, jika ada istri cantik dicintai suaminya dan suaminya mempunyai istri-istri lain, mereka dan orang-orang lain pasti membicarakan istri yang cantik tersebut.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri berkhutbah kepada manusia tanpa sepengetahuanku. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya. Setelah itu, beliau berkata, ‘Hai manusia, kenapa orang-orang…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 265

    …menyakitiku dengan menyakiti keluargaku dari mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang mereka. Demi Allah, sepengetahuanku keluargaku adalah orang baik. Kenapa pula mereka mengatakan yang tidak benar tentang orang laki-laki yang demi Allah, aku tidak mengetahui padanya kecuali kebaikan dan ia tidak memasuki salah satu rumahku melainkan ia bersamaku.”

    Orang yang amat gencar menyebarkan berita bohong ini adalah Abdullah bin Ubai bin Salul. Ia menyebarkannya di kalangan orang-orang Al-Khazraj bersama Misthah dan Hamnah binti Jahsy. Hamnah binti Jahsy ikut menyebarkan berita bohong ini karena saudara perempuannya, yaitu Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak ada satu pu dari istri-istri beliau yang menyaingi kedudukanku di sisi beliau melainkan dia. Adapun Zainab binti Jahsy sendiri, Allah Ta’ala melindunginya dan tidak mengatakan kecuali yang baik-baik. Sedang Hamnah binti Jahsy, ia ikut menyebarluaskan berita bohong ini dan melawanku karena membela saudara perempuannya. Akibatnya, ia merugi.

    Sesudah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti di atas, Usaid bin Hudhair berkata, ‘Wahai Rasulullah, jika orang-orang yang menyakitimu adalah orang-orang Al-Aus, kami melindungimu dari mereka. Jika mereka orang-orang Al-Khazraj, perintahkan kami sesuai dengan perintahmu, karena demi Allah, mereka layak dipenggal lehernya.’ Sa’ad bin Ubadah berdiri—sebelum ini, ia terlihat shalih—kemudian berkata kepada Usaid bin Hudhair, ‘Engkau bohong, jangan penggal leher mereka. Demi Allah, engkau berkata seperti itu, karena engkau mengetahui mereka yang menyebarkan berita bohong adalah orang-orang Al-Khazraj. Jika mereka berasal dari kaummu, engkau tidak akan berkata seperti tadi.’ Usaid bin Hudhair berkata kepada Sa’ad bin Ubadah, ‘Demi Allah, engkau bohong, dan orang munafik yang membela orang munafik.’ Orang-orang pun berdiri saling berhadapan hingga perang nyaris meledak diantara kedua kabilah tersebut; Al-Aus dan Al-Khajraz. (JGA: hihihi, benar-benar sudah kerasukan roh jahat Muhammad, sehingga mereka sanggup saling ingin membunuh demi Muhammad. Semuanya gara-gara Muhammad dan untuk Muhammad. )

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam turun dari mimbar kemudian masuk ke rumah. Beliau memanggil Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dan Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu kemudian bermusyawarah dengan keduanya. Adapun Usamah bin Zaid, ia menyanjungku dan berkata baik tentang diriku. Usamah bin Zaid berkata, ‘Wahai Rasulullah, ia istrimu dan kami tidak mengetahui padanya kecuali yang baik-baik dan engkau juga tidak mengetahui padanya kecuali yang baik-baik saja. Ini kebohongan dan kebatilan.’ Sedang Ali bin Abu Thalib, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita masih banyak dan engkau mampu mencari wanita pengganti. Tanyakan kepada budak wanita, niscaya ia akan membenarkanmu.’ (JGA: hihihi…saran yang ****…tanyakan dong sama ahli hukum, ahli psikologi, apa Muhammad dibenarkan?)
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 266

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Barirah untuk bertanya kepadanya. Ali bin Abu Thalib pergi kepada Barirah dan memukulnya dengan pukulan keras sambil berkata, ‘Berkatalah jujur kepada Rasulullah.’ Barirah berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui pada Aisyah kecuali yang baik saja. aku tidak pernah mencela sesuatu pada Aisyah melainkan karena aku pernah membuat adonan roti kemudian aku menyuruhnya menjaganya, namun ia tidur hingga akhirnya kambing datang dan memakan adonan roti tersebut.’

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke tempatku. Ketika itu aku ditemani kedua orang tuaku dan salah seorang wanita dari kaum Anshar. Aku menangis dan wanita dari Anshar tersebut juga ikut menangis. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk, memuji Allah, menyanjung-Nya, kemudian bersabda, ‘Hai Aisyah, engkau telah mendengar omongan orang tentang dirimu, oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah. Jika engkau telah mengerjakan kesalahan, bertaubatlah kepada Allah, karena Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya.’

    Demi Allah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu. Air mataku jatuh berderai tanpa aku sadari. Aku menunggu kedua orang tuaku menjawab pertanyaan beliau mewakiliku, namu keduanya tidak berbicara sepatah kata pun. Demi Allah, aku terlalu kecil dan kerdil kalau misalnya Allah menurunkan ayat Al-Qur’an tentang diriku yang dibaca di masjid-masjid dan dijadikan doa. Tapi, aku tetap berharap kiranya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat sesuatu dalam mimpinya dimana Allah tidak membenarkan ucapannya, karena Allah mengetahui kesucian diriku atau Allah memberitahukan sesuatu kepada beliau. Adapun Al-Qur’an yang diturunkan tentang diriku, demi Allah, diriku lebih hina kalau itu sampai terjadi. Ketika kulihat kedua orang tuaku tidak berbicara, aku berkata kepada keduanya, ‘Kenapa engkau tidak menjawab pertanyaan Rasulullah?’ Kedua orang tuaku menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak tahu harus menjawab apa.’ Demi Allah, aku tidak tahu ada keluarga yang dimasuki sesuatu melebihi sesuatu yang masuk kepada keluarga Abu Bakar ketika itu.

    Ketika kedua orang tuaku tidak berbicara sepatah kata pun tentang diriku, aku sedih kemudian menangis. Aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Demi Allah, aku tidak bertaubat kepada Allah selama-lamanya dari apa yang engkau katakana tadi. Demi Allah, jika aku mengakui apa yang dikatakan manusia padahal Allah mengetahui aku bersih daripadanya, maka kalau begitu aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Jika aku tidak mempercayai apa yang mereka katakana, mereka pasti tidak mempercayaiku.’ Aku mencari nama Ya’qub, namun tidak menemukannya. Tapi aku akan berkata seperti yang dikatakan ayah Nabi Yusuf,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 267

    ‘Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Alah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.” (Yusuf: 18).

    Turunya Kepastian Kesucian Aisyah Radhiyallahu Anha dan Vonis Bohong bagi Orang Yang menuduhnya

    Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam belum beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba beliau pingsan. Lalu beliau diselimuti dengan pakaiannya dan bantal dari kulit diletakkan di bawah kepalanya. Ketika aku melihat hal tersebut, demi Allah, aku tidak takut dan tidak menggubrisnya, karena aku tahu bahwa aku suci bersih dan Allah tidak akan mendhalimiku. Sedang kedua orang tuaku, demi jiwa Aisyah yang berada di tangan-Nya, keduanya tidak senang dengan apa yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga aku berkeyakinan bahwa nyawa keduanya pasti keluar dari badan keduanya karena takut datang sesuatu dari Allah yang membenarkan apa yang dikatakan manusia. Kemudian kedua orang tuaku senang dengan keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena beliau duduk kembali dan keringat mengucur dari badan beliau seperti biji intan berlian di musim hujan. Beliau mengusap keringat dari keningnya, kemudian bersabda, ‘Bergembiralah engkau hai Aisyah, karena Allah telah menurunkan ayat tentang kesucian dirimu.’ Aku berkata Alhamdulillah sedang beliau keluar menemui manusia, berkhutbah kepada mereka, dan membacakan kepada mereka ayat Al-Qur’an tentang kasus yang diturunkan Allah kepada beliau. Setelah itu, beliau memerintahkan pemanggilan Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahys yang semuanya ikut menyebarkan berita bohong tentang diriku, kemudian mereka dikenakan hukum had.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari beberapa orang dari Bani An-Najjar yang berkata bahwa Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid ditanya istrinya, Ummu Ayyub, ‘Hai Abu Ayyub, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan manusia tentang Aisyah?’ Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid menjawab, ‘Ya, aku mendengarnya dan itu tidak benar. Apakah engkau juga ikut menyebarkannya, hai Ummu Ayyub?’ Ummu Ayyub menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan pernah melakukan hal itu.’ Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid berkata, ‘Demi Allah, Aisyah jauh lebih baik daripadamu.’ Ummu Ayyub berkata, ‘Ketika Al-Qur’an turun, ia menyebutkan orang-orang berdosa yang mengatakan perkataan orang-orang yang menyebarluaskan berita bohong. Allah Ta’ala berfirman,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 268

      ‘Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian bahkan ia baik bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.’ (An-Nuur: 11).

    Pelaku yang menyebarkan berita bohong tersebut adalah Hassan bin Tsabit dan sahabat-sahabatnya. (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa mereka yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubai bin Salul dan sahabat-sahabatnya. Orang yang mengambil sebagian tersebesar dalam penyiaran berita bohong adalah Abdullah bin Ubai bin Salul dan itu telah disebutkan Ibnu Ishaq di hadits di atas.”).

    Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan (mengapa tidak) berkata, ‘Ini adalah sesuatu berita bohong yang nyata.’ (An-Nuur: 12).

    Maksudnya, kenapa mereka tidak berkata seperti perkataan Abu Ayyub dan istrinya? Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      ‘(Ingatlah) diwaktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang kalian tidak ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah adalah besar.’ (An-Nuur:15).
    Ketika ayat di atas turun untuk Aisyah dan orang-orang yang telah mengatakan sesuatu tentang Aisyah, Abu Bakar—yang sebelumnya menafkahi…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 269

    …Misthah karena masih kerabat dan ia miskin---berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan member sesuatu apa pun kepada Misthah dan tidak memberinya manfaat apa pun selama-lamanya setelah ia berkata sesuatu tentang Aisyah dan memasukkan sesuatu kepada kita.’ Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang ucapan Abu Bakar tersebut,
      ‘Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan membei (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (An-Nuur: 22).
    Abu Bakar berkata, ‘Ya, aku ingin Allah mengampuniku.’ Usai berkata seperti itu, ia kembali menafkahi Misthah seperti sebelumnya dan berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menghentikan pemberian nafkah kepadanya selama-lamanya’.”
    Pertemuan Antara Shafwan bin Al-Muaththal dengan Hassan bin Tsabit

    Ibnu Ishaq berkata, “Shafwan bin Al-Muaththal datang kepada Hassan bin Tsabit dengan membawa pedang—setelah ia mendengar ucapan Hassan bin Tsabit tentang dirinya--. Sebelum itu Hassan bin Tsabit mengatakan syair dan dalam syairnya, Hassan bin Tsabit menyindir Shafwan bin Al-Muaththal dan orang-orang Arab dari Mudzar yang masuk islam. Hassan bin Tsabit berkata,
      ‘Pada sore hari, orang-orang hina menjadi mulia dan banyak
      Dan anak Al-Furairah (dirinya sendiri) pada sore hari menjadi tokoh penting
      Semoga menjadi janda ibu orang yang aku bersahabat dengannya
      Atau orang yang melekat di cakar singa
      Bukan karena korban aku berangkat kemudian aku mengambil diyat yang diberikan tanpa qishas
      Tidaklah laut bergelombang ketika angin bertiup di Syam
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 270

      Juga tidak melemparkan buih di pantai
      Pada suatu hari angin tidak lebih kuat dariku ketika engkau melihatku
      Dalam keadaan marah
      Aku potong seperti awan yang membawa udara dingin
      Adapun orang-orang Quraisy, aku tidak menyerah kepada mereka hingga mereka kembali dari kesesatan kepada petunjuk
      Hingga meninggalkan Al-Lata dan Al-Uzza menjadi sendirian
      Kemudian mereka semua sujud kepada Yang Maha Esa dan Tempat Bergantung
      Mereka bersaksi bahwa apa yang disabdakan Rasul kepada mereka itu benar
      Dan mereka menunaikan janji Allah’.”

    Shafwan bin Al-Muaththal Memukul Hassan bin Tsabit

    Ibnu Ishaq berkata, “Shafwan bin Al-Muaththal menghadang Hassan bin Tsabit kemudian memukulnya dengan pedang. Shafwan bin Al-Muaththal berkata—seperti dikatakan kepadaku oleh Ya’qub bin Utbah--,
      ‘Terimalah mata pedang dariku
      Karena aku orang yang jika dihina, maka aku bukan penyair lagi’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi berkata kepadaku bahwa Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas meloncat ke atas Shafwan bin Al-Muaththal—sesudah ia memukul Hassan bin Tsabit--, mengikat kedua tangannya ke leher, dan membawanya ke Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dalam perjalanan ke sana. Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas berjumpa dengan Abdullah bin Rawahah yang bertanya, ‘Apa-apaan ini?’ Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas berkata, ‘Tidakkah engkau heran? dia telah memukul Hassan bin Tsabit dengan pedang. Demi Allah, aku berpendapat ia harus dibunuh.’ Abdullah bin Rawahah berkata kepada Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas, ‘ Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengetahui apa yang engkau kerjakan ini?’ Tsabit bin Qais Asy-Syammas menjawab, ‘Demi Allah, belum.’ Abdullah bin Rawahah berkata, ‘Engkau telah bertindak lancing. Lepaskan Shafwan!’ Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas melepas Shafwan bin Al-Muaththal. Setelah itu, para sahabat datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakan kasus di atas kepada beliau. Beliau memanggil Hassan bin Tsabit dan Shafwan bin Al-Muaththal. Shafwan bin Al-Muaththal berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hassan bin Tsabit menyakitiku dan menghinaku, kemudian emosi mendorongku untuk memukulnya.‘ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Hassan, kenapa engkau melecehkan kaumku, padahal Allah telah member mereka petunjuk kepada Islam?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 271

    …bersabda lagi kepada Hassan bin Tsabit, ‘Hai Hassan, berbuat baiklah kepada orang yang telah memukulmu!’ Hassan bin Tsabit berkata, ‘Itu menjadi milikmu, wahai Rasulullah.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memberi Ganti kepada Hassan bin Tsabit karena Pukulan Shafwan bin Al-Muaththal

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ibrahim berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…
    member Hassan bin Tsabit iwadh (ganti rugi) berupa Biyaraha’ yaitu istana Bani Hudailah di Madinah. Tadinya Biyaraha’ milik Thalhah bin Sahl, namun ia menyedekahkannya kepada keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau memberikannya kepada Hassan bin Tsabit karena pukulan yang diterimanya. Selain itu, beliau memberikan Sirin, budak wanita Mesir, kepada Hassan bin Tsabit yang kemudian melahirkan anaknya yang diberi nama Abdurrahman bin Hassan. Aisyah berkata, “Orang-orang bertanya tentang keadaan Shafwan bin Al-Muaththal, kemudian mereka mendapatinya orang impoten yang tidak bisa menggauli wanita. Tidak lama setelah itu, Shafwan bin Al-Muaththal gugur sebagai syahid.” (JGA: hihi…penyelesaian kisah yang tak masuk akal, cara yang sama juga dilakukan terhadap kasus Mariyah Qubtiyah budak Hafsah. Pria yang dicurigai berselingkuh dengan Mariyah Qubtiyah diklaim impoten…hahahaha. Hei, awas perhatikanlah, kedua pemuda ini tewas juga—saya menduga ini sengaja dilakukan untuk menutupi aib didalam keluarga Muhammad saw)

    Syair Hassan bin Tsabit tentang Kesucian Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha

    Ibnu Ishaq berkata, “Hassan bin Tsabit meminta maaf dari ucapan yang pernah ia ucapkan tentang Aisyah Radhiyallahu Anha. Ia b erkata,
      ‘Ia suci, teguh, dan tidak layak dituduh
      Serta tidak berkata batil tentang wanita yang suci
      Orang mulia dari kampung dari Luai bin Ghalib
      Usaha mereka mulia dan kejayaan mereka abadi
      Ia terdidik, Allah memperindah wataknya
      Dan membersihkannya dari semua keburukan dan kebatilan
      Jika aku telah mengatakan sesuatu yang kalian sangka
      Maka pukulan terhadapku itu tidak naik ke ujung jari jemariku
      Karena kecintaan dan pertolonganku selama hidupku
      Kepada keluarga Rasulullah hiasan pasukan
      Beliau mempunyai kedudukan tinggi atas seluruh manusia
      Kehebatan loncatan tetap tidak bisa mendekatinya’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Bait, ‘Orang mulia dari kampung,’ dan bait, ‘Beliau mempunyai kedudukan,’ berasal dari Abu Zaid Al-Anshari.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa seseorang wanita memuji putri Hassan bin Tsabit di depan Aisyah.
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 272

      ‘Ia suci, teguh, dan tidak layak dituduh
      Serta tidak berkata batil tentang wanita yang suci’.”

    Aisyah berkata, ‘Justru ayahnya yang harus dicurigai’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Salah seorang dari kaum Muslimin berkata tentang hukuman terhadap Hassan bin Tsabit dan lain-lain karena kelancangannya terhadap Aisyah. (Ibnu Hisyam berkata, “Orang tersebut berkata tentang hukuman terhadap Hassan bin Tsabit dari dua sahabatnya.”)
      ‘Sungguh Hassan telah merasakan rajam karena ia layak mendapatkannya
      Juga Hamnah dan Misthah
      Ketika mereka berkata kotor terhadap istri Nabi
      Mereka mendapatkan murka Pemilik Arasy yang mulia
      Kemudian mereka sedih karenanya
      Mereka menyakiti Rasulullah
      Kemudian mereka diliputi dengan kehinaan abadi
      Seperti sorban di kepala mereka
      Hasil panen disiramkan kepada mereka
      Seperti hujan deras dari awan yang menghujani’.”
    ---ooOoo---
    Last edited by JANGAN GITU AH on Sat Jan 21, 2012 1:19 pm, edited 1 time in total.
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Jan 23, 2012 11:55 am

    halaman 273

    BAB 167

    PERIHAL AL-HUDAIBIYAH


    Ibnu Ishaq berkata, “Setalah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah selama bulan Ramadhan dan Syawal. Pada bulan Dzulqa’dah, beliau keluar dari Madinah untuk berumrah dan tidak menginginkan perang (Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Numailah bin Abdullah Al-Laitsi sebagai imam sementara di Madinah.”).”

    Keberangkatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berumrah dan Ajakannya kepada Manusia

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak orang-orang Arab dan orang-orang Badui yang ada di sekitar beliau untuk pergi bersama beliau, karena khawatir orang-orang Quraisy memerangi atau melarang beliau mengunjungi Baitullah. Banyak sekali orang-orang Badui yang menolak ajakan beliau. Kendati begitu, beliau tetap berangkat bersama para sahabat dari kaum Muhajirin, para sahabat dari kaum Anshar, dan orang-orang Arab lainnya. Beliau membawa hewan sembelihan (unta) dan berpakaian ihram untuk umrah agar manusia merasa aman dan mengetahui beliau keluar untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Membawa Hewan Sembelihan

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam yang keduanya berkata, ‘Pada tahun Al-Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk mengunjungi Baitullah, tidak menginginkan perang, dan membawa tujuh puluh unta untuk disembelih. Jumlah orang-orang yang ikut bersama beliau adalah tujuh ratus orang. Satu unta untuk sepuluh orang. Jabir bin Abdullah—seperti disampaikan kepadaku—berkata, ‘Jumlah orang-orang yang ikut ke Al-Hudaibiyah adalah empat ratus orang’.”

    Az-Zuhri berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan dan ketika tiba di Usfan, beliau bertemu Bisyr bin Sufyan Al-Ka’bi (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Bisr.”)
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 274

    Bisyr bin Sufyan Melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Kesepakatan Orang-orang Quraisy untuk Memerangi Beliau

    Az-Zuhri berkata, “Bisyr bin Sufyan berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang Quraisy mendengar keberangkatanmu, untuk itu, mereka keluar bersama wanita-wanita dan anak-anak mereka dengan mengenakan kulit-kulit dari harimau dan berhenti di Dzu Thawa. Mereka bersumpah kepada Allah bahwa engkau tidak boleh masuk ke tempat mereka untuk selama-lamanya. Inilah Khalid bin Walid dengan pasukan berkudanya, mereka mengutusnya ke Kuraul-Ghamim.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Celakalah orang-orang Quraisy, sungguh mereka dimakan perang. Apa salahnya kalau mereka tidak menghalang-halangiku berhubungan dengan orang-orang Arab. Jika orang-orang Arab tersebut, mengalahkanku, itulah yang mereka harapkan. Jika Allah memenangkanku atas mereka, maka mereka masuk Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, mereka berperang, toh mereka mempunyai kekuatan. Demi Allah, orang-orang Quraisy jangan salah sangka, sesungguhnya aku tidak pernah berhenti memperjuangkan apa yang aku bawa dari Allah hingga Dia memenangkannya atau aku mati karenanya.’ Beliau bersabda lagi,’Siapa orang yang bisa berjalan dengan kita di jalan lain yang tidak mereka lalui?’”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menempuh Jalan Lain

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa seseorang dari Aslam berkata, ‘Aku, wahai Rasulullah.’ Orang tersebut berjalan bersama kaum Muslimin melewati jalan yang penuh dengan pohon hingga sulit dilalui di antara jalan-jalan menuju gunung. Ketika mereka keluar dari jalan tersebut dalam keadaan lelah dan tiba di tanah datar di ujung lembah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Katakanlah, ‘Kami meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya’.’ Mereka mengucapkan perkataan tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda lagi, ‘Demi Allah, itulah perkataan yang dulu ditawarkan kepada Bani Israel, namun mereka tidak mengucapkannya’.” (JGA: Bacot Muhammad gede juga…di depan orang yang tidak tahu sejarah Israel bisalah dia tipu orang-orang…hihi)

    Az-Zuhri berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam member instruksi kepada kaum muslimin dengan bersabda, ‘Hendaklah kalian berjalan melewati Dzatul Yamin.’ Dzatul Yamin terletak di antara tepi Al-Hamdzu di jalan yang mengeluarkan mereka ke Tsaniyyatul Mirar, tempat pemberhentian di Al-Hudaibiyah, dari Makkah bawah. Kaum berjalan melewati jalan tersebut. Ketika pasukan berkuda Quraisy melihat kepulan debu dari jalan yang berlainan dengan jalan mereka yang mereka lalui, mereka pulang kepada…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 275

    …orang-orang Quraisy. Di sisi lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus berjalan dan ketika berjalan di Tsaniyyatul Mirar, tiba-tiba unta beliau berhenti dan orang-orang pun berkata, ‘Unta ini mogok jalan.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Unta ini tidak mogok jalan dan itu bukan tabiatnya., namun ia ditahan oleh Dzat yang dulu pernah menahan gajah dari tiba di Makkah (pasukan Abrahah). Jika hari ini orang-orang Quraisy mengajakku menyambung hubungan kekerabatan, aku menyetujuinya.’ Beliau bersabda lagi, ‘Berhentilah kalian.’ Salah seorang sahabat berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, di lembah ini tidak ada mata air. Jadi, kita tidak usah berhenti di sini.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengeluarkan panah dari tabung panah dan memberikannya kepada salah seorang dari para sahabat, kemudian ia turun dengan panah tersebut ke salah satu sumur di tempat tersebut dan memasukkan panah ke dalamnya. Air pun keluar hingga tanah di sekitar sumur menjadi basah.” (JGA: hihi tak nyambung ceritanya…ada banyak sumur, tapi tidak ada mata air…hmm gimana nih?).

    Ibnu Ishaq berkata, “Beberapa ulama berkata kepadaku dari orang-orang dari Aslam yang berkata bahwa orang yang turun ke sumur dengan membawa panah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah najiyah bin Jundab bin Umari bin Ya’mur bin Darim bin Amr bin Watsilah bin Sahm bin Mazin bin Salaman bin Aslam bin Afsah bin Abu Haritsah (Ibnu Hisyam berkata, “Afsha adalah anak Haritsah.”). Dialah orang yang menuntun unta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” (JGA: wew ternyata untanya haus, pantas mogok…hihihi, tapi bacotnya Muhammad dan keterlaluan menyamakannya dengan Abrahah. Kalau gitu, sama dong dia dengan Abrahah…hihihi).

    Ibnu Ishaq berkata, “Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa Al-Barra’ bin Azib pernah berkata, ‘Aku orang yang turun membawa sumur [color=#0000BF](JGA: ???) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ Wallahu a’lam mana yang benar di antara kedua riwayat di atas. (JGA: duh riwayat yang tidak jelas)

    Orang-orang Aslam melantunkan bait-bait syair yang pernah diucapkan Najiyah bin Jundab dan saya piker dialah orang yang turun membawa panah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang-orang Aslam mengklaim bahwa budak wanita dari kaum Anshar datang dengan membawa timba, sedang Najiyah bin Jundab memenuhi timba orang-orang. Budak wanita tersebut berkata,
      ‘Hai orang pengisi timba, isilah timbaku
      Aku lihat orang-orang memujimu
      Merka menyanjungmu dengan baik dan memuliakanmu.’

    Najiyah bin Jundab yang mengisi timba di sumur berkata,
      ‘Budak wanita dari Yaman tahu bahwa akulah pengisi timba dan namaku Najiyah
      Tusukan yang dalam dan lebar
      Aku menusuk sumur di tempat yang mengeluarkan air dengan cepat’.”
    (JGA: oaalaaah…perkara mengambil air saja ribetnya luar biasa, masing-masing saling menonjolkan diri..ckck..cari muka nih yeee?? hihihi)

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 276

    Kedatangan Budail Al-Khuzai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Az-Zuhri berkata dalam haditsnya, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam istirahat, beliau di datangi Budail bin Warqa’ Al-Khuzai bersama beberapa orang dari Khuza’ah. Mereka berbicara dan menanyakan alas an kedatangan beliau ke Makkah. Beliau menjelaskan kepada mereka bahwa beliau datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya. Setelah itu, beliau bersabda dengan mereka seperti yang beliau sabdakan kepada Bisyr bin Sufyan. Usai mendapatkan penjelasan beliau, Budail bin Warqa’ Al-Khuzai dan anak buahnya pulang ke tempat orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian terlalu cepat bertindak terhadap Muhammad . Sesungguhnya Muhammad datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah. Maka curigailah dan tolaklah mereka dengan kata-kata kasar.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Jika ia datang untuk tujuan tersebut dan tidak untuk perang, ia tidak boleh masuk ke tempat kita dengan kekerasan untuk selama-lamanya dan ia tidak boleh mengungkit-ungkit perang kepada kita’.”

    Kedatangan Mikraz bin Hafsah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Az-Zuhri berkata, “Orang-orang Aza’ah; baik yang Muslim atau yang kafir adalah kolega dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang tidak merahasiakan apa saja yang terjadi di Makkah terhadap beliau. Mereka mengutus Mikraz bin Hafsah bin Al-Akhyaf saudara Bani Amir bin Luai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika beliau melihat kedatangannya, beliau bersabda, ‘Orang ini penghianat.’ Ketika Makraz bin Hafsah tiba di tempat beliau dan berbicara dengan beliau, maka beliau bersabda kepadanya seperti yang beliau sabdakan kepada Budail bin Warqa’ dan teman-temannya. Setelah itu, Makraz bin Hafsh pulang kepada orang-orang Quraisy dan menceritakan kepada mereka apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

    Orang-orang Quraisy Mengutus Al-Hulais bin Alqamah

    Az-Zuhri berkata,”Orang-orang Quraisy mengutus Al-Hulais bin Alqamah atau bin Zabban kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika itu, Al-Hulais adalah pemimpin orang-orang Ahabisy dan warga Bani Al-Harits bin Abdu Manat bin Kinanah. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat kedatangannya, beliau bersabda, ‘Orang ini berasal dari kaum yang beribadah, oleh karena itu, tempatkan hewan sembelihan (unta)…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 277

    …di depannya agar ia bisa melihatnya.’ Ketika Al-Husail bin Alqamah melihat hewan sembelihan (unta) berdatangan kepadanya dari samping lembah dengan memakai kalung sebagai tanda akan disembelih dan bulu-bulunya telah rusak karena terlalu lama berada di tempat ia akan disembelih, ia segera pulang kepada orang-orang Quraisy dan tidak jadi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena hormat kepada beliau. Ia ceritakan apa yang dilihatnya kepada orang-orang Quraisy, kemudian orang-orang Quraisy berkata kepadanya,’Duduklah engkau, karena engkau orang Arab dusun yang ****’.”

    Kemarahan Al-Hulais bin Alqamah

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Al-Hulais bin Alqamah marah karena perkataan orang-orang Quraisy. Ia berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, demi Allah, kami bersekutu dan mengikat perjanjian dengan kalian tidak untuk hal ini. Pantaskah orang yang ingin mengagungkan Baitullah itu tidak boleh datang kepadanya? Demi Dzat yang jiwa Al-Hulais di tangan-Nya, kalian mengizinkan Muhammad mengunjungi Baitullah atau aku membelot dari kalian bersama orang-orang Ahabisy.’ Orang-orang Quraisy berkata kepada Al-Hulais bin Alqamah, ‘Tahan dirimu, hai Al-Hulais, hingga kami bisa mengambil apa yang kami ridha untuk kami’.”

    Orang-orang Quraisy Mengutus Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi

    Az-Zuhri berkata dalam haditsnya, “Kemudian orang-orang Quraisy mengutus Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi untuk pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Urwah bin Mas’ud berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, sungguh aku tahu kata-kata kasar dan buruk yang kalian sampaikan kepada orang-orang yang beliau utus untuk menemui Muhammad. Kalian tahu bahwa kalian adalah orang tua sedang aku anak—Urwah adalah anak Subai’ah binti Abdu Syams--. Aku dengar apa yang terjadi pada kalian, mengumpulkan orang-orang dari kaumku yang taat kepadaku, kemudian datang kepada kalian untuk membantu kalian dengan diriku sendiri.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Engkau benar. Engkau bukan orang tertuduh di tempat kami.’ Setelah itu, Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berangkat ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika ia tiba di tempat beliau, ia duduk di depan beliau, kemudian berkata, ‘Hai Muhammad, engkau kumpulkan orang banyak kemudian membawa mereka kepada keluargamu untuk membunuh mereka? Orang-orang Quraisy telah keluar bersama wanita-wanita dan anak-anak mereka dengan memakai kulit-kulit harimau. Mereka bersumpah tidak akan mengizinkanmu masuk ke tempat mereka untuk selama-lamanya. Demi Allah, dengan mereka, sepertinya kami lihat pengikut kalian akan menyingkir darimu besok pagi.’ Abu Bakar Ash-Shiddiq…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 278

    …yang duduk di sebelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Isaplah kelentit (clitoris) Lata. Apakah kami akan menyingkir dari beliau?’ Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, ‘Siapa orang ini, hai Muhammad?’ Beliau menjawab, ‘Dia anak Abu Quhafah.’ Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, ‘Demi Allah, jika aku tidak berhutang budi padanya, pasti balas ucapannya dengan ucapan yang lebih menyakitkan, namun perkataanku ini sudah cukup.’ Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berusaha memegang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil berbicara dengan beliau. Al-Mughirah bin Syu’bah yang berdiri di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan memegang pedang memukul tangan Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi yang hendak memegang jenggot Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sambil berkata, “Tahan tanganmu dari wajah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum pedang ini mengenaimu.’ Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, ‘Celakalah engkau, betapa kasarnya engkau!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata kepada beliau, ‘Siapa orang ini, hai Muhammad?’ Beliau menjawab, ‘Dia anak saudaramu, yaitu Al-Mughirah bin Syu’bah.’ Urwah bin Mas’ud berkata, ‘Engkau penghianat, aku baru saja membersihkan aibmu kemarin’.” (JGA: hehe…ternyata mengikut Muhammad menjadikan mereka sebagai manusia kasar dan tidak tahu membalas budi)


    Ibnu Hisyam berkata, “Dengan ucapan tersebut, Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi ingin mengatakan bahwa Al-Mughirah bin Syu’bah sebelum masuk Islam telah membunuh tiga belas orang dari Bani Malik bin Tsaqif. Akibatnya, kabilah Bani Malik yang tidak lain adalah keluarga korban dan kabilah Al-Ahlaf keluarga Al-Mughirah bin Syu’bah marah, kemudian Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi memberi diyat kepada ketiga belas keluarga korban dan urusannya pun selesai.”

    Ibnu Ishaq berkata, Az-Zuhri berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi seperti yang telah beliau jelaskan kepada teman-teman Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi sebelum ini bahwa beliau datang tidak untuk perang. Kemudian Urwah bin Mas’ud beranjak dari tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sebelum itu, ia melihat apa yang diperbuat para sahabat terhadap beliau, beliau meludah maka mereka memperebutkannya, dan jika rambut beliau jatuh maka mereka mengambilnya. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi pulang kepada orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah mengunjungi Kisra di kerajaannya. Kaisar di kerajaannya, dan An-Najasyi di kerajaannya. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja di rakyatnya seperti Muhammad di sahabat-sahabatnya. Sungguh aku lihat kaum yang tidak akan menyerahkannya kepada sesuatu apa pun untuk selama-lamanya, oleh karena itu, pikirkanlah pendapat kalian’.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 279

    Utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Kepada Orang-orang Quraisy

    Ibnu Ishaq berkata, “Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Khirasy bin Umaiyyah Al-Khuzai dan mengutusnya untuk menemui orang-orang Quraisy. Beliau menyerahkan unta beliau yang bernama Ats-Tsa’lab kepada Kirasy bin Ummaiyyah dan menyuruhnya menyampaikan pesan beliau kepada tokoh-tokoh Quraisy. Ketika Khirasy bin Umaiyyah tiba di tempat orang-orang Quraisy, mereka menyembelih unta beliau yang dikendarai Khirasy bin Umaiyyah dan juga bermaksud membunuh Khirasy bin Umaiyyah namun dicegah orang-orang ahabisy. Mereka melepas Khirasy bin Umaiyyah hingga ia tiba kembali di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

    Orang-orang Quraisy Mengirim Mata-mata untuk Mencari informasi tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Kaum Muslimin

    Ibnu Ishaq berkata, “Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas dari Ibnu Abbas yang berkata bahwa orang-orang Quraisy mengirim empat puluh atau lima puluh orang dan memerintahkan mereka mengelilingi markas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna menangkap salah seorang dari sahabat-sahabat beliau. Tapi justru mereka sendiri yang tertangkap. Mereka dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau memaafkan dan membebaskan mereka. Sebelum itu, mereka melempari markas beliau dengan batu dan panah.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengutus Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Umar bin Khaththab untuk diutus ke Makkah guna menyampaikan pesan beliau kepada tokoh-tokoh Quraisy. Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku takut kepada orang-orang Quraisy atas diriku, sementara di Makkah, tidak ada seorang pun dari Bani Adi bin Ka’ab yang bisa melindungiku. Selain itu, orang-orang Quraisy mengetahui permusuhanku dan kekerasanku terhadap mereka. Aku tunjukkan kepadamu orang yang lebih mulia di Makkah daripada aku yaitu Utsman bin Affan.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Utsman bin Affan dan menyuruhnya menemui Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya serta menjelaskan kepada mereka bahwa beliau datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 280

    Keberangkatan Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu ke Makkah

    Ibnu Ishaq berkata, “Utsman bin Affan berangkat ke Makkah dan bertemu Aban bin Sa’id bin Al-Ash ketika memasuki Makkah atau hendak memasukinya. Aban bin Sa’id Al-Ash membawa Utsman bin Affan di depannya dan melindunginya hingga ia menyampaikan surat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah itu, Utsman bin Affan menemui Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy, dan menyampaikan surat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada mereka. Mereka berkata kepada Utsman bin Affan setelah ia selesai menyampaikan pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada mereka, ‘Jika engkau mau thawaf di Baitullah, silahkan.’ Utsman bin Affan menjawab, ‘Aku tidak akan thawaf hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memulai thawaf’.”

    Isu Terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Utsman bin Affan ditahan orang-orang Quraisy di tempat mereka, namun informasi yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin ialah Utsman bin Affan dibunuh.” (JGA: yah namanya saja muslim, gampang terhasut isu).

    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Jan 23, 2012 12:04 pm

    halaman 281

    BAB 168
    BAIAT AR-RIDHWAN


    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat informasi Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu dibunuh, beliau bersabda, “Kita tidak pulang hingga mengalahkan kaum tersebut.’ Beliau mengajak kaum Muslimin berbaiat, kemudian berlangsunglah Baiat Ar-Ridhwan di bawah pohon. Kaum Muslimin berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaiat kaum Muslimin untuk mati. Jabir bin Abdullah berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaiat kita tidak untuk mati, namun untuk tidak melarikan diri’.”

    Orang-orang Yang Tidak Berbaiat

    Ibnu Ishaq berkata, “Di antara kaum Muslimin yang hadir di peristiwa Baiat Ar-Ridhwan namun tidak ikut berbaiat ialah Al-Jadd bin Qais saudara Bani Salamah. Jabir bin Abdullah berkata, ‘Demi Allah, sepertinya aku lihat Al-jadd bin Qais merapat ke perut untanya dan bersembunyi di dalamnya dari manusia. Setelah itu, ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menjelaskan kepada beliau bahwa informasi terbunuhnya Utsman bin Affan adalah isapan jempol belaka’.” (JGA: isapan jempol…hihi..tetapi isapan jempol itu membuat Muhammad kebakaran jenggot dan membaiat pengikutnya untuk berperang…hihi…nabi macam apa ini yang begitu gegabahnya. Tapi yah begitulah kalau orang yang ngaku nabi namun tidak punya kemampuan mengendalikan diri. Ciri khas seorang garong yang selalu melihat kesempatan untuk menyerang mangsanya)

    Sahabat Yang Pertama Kali Berbaiat Kepada Rasulullah

    Ibnu Hisyam berkata, “Waki’ berkata dari Ismail bin Abu Khalid dari Asy-Sya’bi yang mengatakan orang yang pertama kali berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Sinan Al-Asadi.”

    Rasulullah Membaiat untuk Utsman bin Affan

    Ibnu Hisyam berkata, “Orang yang aku percayai berkata kepadaku dari orang yang berkata kepadanya dengan sanadnya dari Ibnu Abu Mulaikah dari Ibnu Umar yang berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaiat untuk Utsman bin Affan, dan menepukkan salah satu tangannya ke tangannya yang lain.”

    ---ooOoo---


    = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Jan 23, 2012 12:19 pm

    halaman 282

    BAB 169

    GENCATAN SENJATA


    Ibnu Ishaq berkata, Az-Zuhri berkata, “Kemudian orang-orang Quraisy mengutus Suhail bin Amr saudara Bani Amr bin Luai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka berkata kepada Suhail bin Amr, ‘Pergilah kepada Muhammad, berdamailah dengannya, dan isi perdamaian ialah bahwa ia harus pergi dari tempat kita tahun ini. Demi Allah, orang-orang Arab tidak boleh memperbincangkan kita bahwa ia datang kepada kami dengan kekerasan.’ Suhail bin Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika beliau melihat kedatangan Suhail bin Amr, beliau bersabda, ‘Orang-orang Quraisy menginginkan perdamaian ketika mereka mengutus orang ini.’ Ketika Suhail bin Amr tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berbicara panjang lebar dengan beliau, saling menyanggah, dan sesudah itu berlangsunglah perdamaian.” (JGA: Nah...siapa tuh yang menginginkan perdamaian, muhammad atau Quraisy? Dari sini jelas, Quraisy yang menginginkan perdamaian, seharusnya istilah agama damai patut disematkan kepada kaum pagan bukan pada islam)

    Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu Sedih Karena Perdamaian dengan Orang-orang Quraisy

    Az-Zuhri berkata, “Ketika segala sesuatu telah beres dan tinggal penulisan, Umar bin Khaththab berdiri kemudian mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Bakar, bukankah beliau utusan Allah?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ya, betul.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Bukankah kita kaum Muslimin?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ya, betul.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Bukankah mereka orang-orang musyrikin?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ya, betul.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Kalau begitu, kenapa kita menerima kehinaan untuk agama kita?’ Abu Bakar berkata,’Hai Umar, tetaplah pada perintah dan larangan beliau. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau utusan Allah.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku juga bersaksi bahwa beliau utusan Allah.’ Umar bin Khaththab datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, bukankah engkau utusan Allah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya, betul.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Bukankah kita kaum Muslimin?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya, betul.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Bukankah mereka orang-orang musyrikin?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya, betul.’ Umar bin Khaththab berkata, “Kalau begitu, kenapa kita…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 283

    …menerima kehinaan untuk agama kita?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Aku hamba Allah dan Rasulnya. Aku tidak menentang perintah Allah dan Dia tidak akan menelantarkanku.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku selalu bersedekah, berpuasa, shalat, dan memerdekakan budak karena perbuatanku tersebut, karena aku takut ucapanku tersebut ketika aku menghendaki kebaikan’.”

    Penulisan Teks Perdamaian dan Syarat-syaratnya
    Az-Zuhri berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dan bersabda kepadanya, ‘Tulislah Bismillah Rahmaanir Rahim.’ Suhail bin Amr berkata, ‘aku tidak kenal kata-kata itu, namun tulislah bismikallahumma (dengan nama-Mu, ya Allah).’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, ‘Tulislah bismikalllahumma.’ Ali bin Abu Thalib menulisnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib,’Tulislah ini perdamaian antara Rasul dengan Suhail bin Amr.’ Suhail bin Amr berkata, ‘Kalau aku melihatmu sebagai Rasulullah, aku tidak memerangimu, namun tulislah namamu dan nama ayahmu.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, ‘Tulislah ini perdamaian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin Amr. Keduanya berdamai untuk menghentikan perang selama sepuluh tahun, masing-masing pihak memberikan keamanan selama jangka waktu tersebut, masing-masing pihak menahan diri dari pihak lainnya, barangsiapa di antara orang-orang Quraisy datang kepada Muhammad tanpa izin pemiliknya maka ia dikembalikan kepadanya, barangsiapa di antara pengikut Muhammad pergi kepada orang-orang Quraisy maka ia tidak dikembalikan kepadanya, kita harus komitmen dengan isi perdamaian, pencurian rahasia dan penghianatan tidak diperbolehkan, barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Muhammad maka ia masuk ke dalamnya, dan barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian orang-orang Quraisy maka ia masuk ke dalamnya.’ Orang-orang Khuza’ah berdiri dan berkata, ‘Kami masuk ke dalam perjanjian Muhammad.’ Orang-orang Bani Bakr juga berdiri dan berkata, ‘Kami masuk ke dalam perjanjian orang-orang Quraisy.’ Isi perdamaian lebih lanjut, ‘Engkau (Muhammad) pulang dari tempat kami tahun ini dan tidak boleh masuk ke Makkah pada tahun ini. Tahun depan, kami keluar Makkah, kemudian engkau memasuki Makkah dengan sahabat-sahabatmu, engkau berada di sana selama tiga hari dengan membawa senjata layaknya musafir yaitu pedang di sarungnya dan tidak membawa senjata lainnya’.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halman 284

    Perihal Abu Jundal

    Az-Zuhri berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menulis teks perdamaian dengan Suhail bin Amr, tiba-tiba Abu Jundal bin Suhail bin Amr datang kepada beliau dengan melompat dan memegang pedang. Sebenarnya ketika para sahabat keluar dari Madinah dengan tujuan Makkah, mereka tidak meragukan terjadinya penaklukan Makkah, karena mimpi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi wajar ketika mereka menyaksikan perdamaian, sikap mengalah, dan apa yang dirasakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka mereka terpukul hingga keragu-raguan nyaris masuk ke hati mereka. Ketika Suhail bin Amr melihat Abu Jundal, ia berdiri, memukulnya, dan mencengkeram leher bajunya, kemudian berkata, ‘Hai Muhammad, permasalahan di antara kita telah selesai sebelum orang ini (Abu Jundal) datang kepadamu.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Engkau berkata benar.’ Suhail bin Amr mencengkeram leher baju Abu Jundal dan menyeretnya untuk dibawa kepada orang-orang Quraisy. Abu Jundal berteriak dengan suara terkerasnya, ‘Hai seluruh kaum Muslimin, apakah aku dibiarkan dibawa kepada kaum musyrikin kemudian mereka menyiksaku karena agamaku?’ Kaum Muslimin semakin sedih dengan kejadian yang dialami Abu Jandal.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Abu Jandal, bersabarlah dan berharaplah akan pahala di sisi Allah, karena sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar bagimu dan bagi orang-orang lemah spertimu. Sungguh, kita telah meneken perjanjian dengan kaum tersebut. Kita berikan perjanjian kepada mereka sedang mereka memberikan janji Allah kepada kita, dan kita tidak mengkhianati mereka’.”

    Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu Memprovokasi Abu Jandal untuk Menyerang Kaum Musyrikin

    Az-Zuhri berkata, “Umar bin Khaththab berdiri ke tempat Abu Jandal kemudian berjalan di sampingnya dan berkata, ‘Bersabarlah engkau, hai Abu Jandal, sesungguhnya mereka orang-orang musyrikin dan darah mereka adalah darah anjing.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘ Umar bin Khaththab mendekatkan pegangan pedang kepada Abu Jandal. Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku berharap Abu Jandal mengambil pedang terebut kemudian memukul ayahnya dan permasalahan pun selesai.”

    Saksi-saksi Penandatanganan Perdamaian

    Az-Zuhri berkata, “Setelah teks perdamaian ditulis, perdamaian tersebut disaksikan sejumlah orang dari kaum Muslimin dan kaum musyrikin. Para saksi…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 85


    …tersebut adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin Amr, Sa’ad bin Abu Waraqqas, Mahmud bin Maslamah, Mikraz bin Hafsh—yang masih musyrik ketika itu--, dan Ali bin Abu Thalib yang menulis teks perdamaian tersebut.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bertahallul dari Ihram

    Az-Zuhri berkata, “Setelah menyelesaikan perdamaian, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan kea rah hewan sembelihannya kemudian menyembelihnya, duduk, dan mencukur rambutnya. Orang yang mencukur rambut beliau seperti dikatakan kepadaku adalah Khirasy bin Umaiyyah Al-Fadhl Al-Khuzai. Ketika kaum Muslimin melihat beliau menyembelih hewan sembelihan dan mencukur rambut, mereka pun menyembelih hewan sembelihan hewan sembelihan (unta) dan mencukur rambut mereka.”

    Mencukur Rambut dan Memendekkannya

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Mujahid dari Ibnu Abbas yang berkata, ‘Di peristiwa Al-Hudaibiyah, sebagian orang mencukur rambutnya dan sebagian lain memendekkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya.’ Para sahabat berkata, ‘Bagaimana dengan orang-orang yang memendekkannya, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya.’ Mereka berkata, ‘Bagaimana dengan orang-orang yang memendekkannya, wahai Rasulullah ?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya.’ Mereka berkata, ‘Bagaimana dengan orang-orang yang mencukurnya, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Semoga Allah juga merahmati orang-orang yang memendekkannya.’ Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau mengulang-ulang doa untuk orang-orang yang mencukur rambutnya dan tidak untuk orang-orang yang memendekkannya?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Mereka tidak diragukan’.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menghadiahkan Untanya Yang Tadinya Milik Abu Jahal

    Abdullah bin Abu Najih berkata bahwa Mujahid berkata dari Ibnu Abbas yang berkata, “Pada peristiwa Al-Hudaibiyah, Rasulullah memberikan hadiah kepada orang-orang musyrikin. Di antara hadiah tersebut adalah unta yang tadinya milik Abu Jahal yang di hidungnya terdapat kalung dari perak. Orang-orang musyrikin marah karena hadiah tersebut.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 286

    Kepulangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Turunnya Surat Al-Fath

    Az-Zuhri berkata dalam haditsnya, “Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang dari tempat tersebut. Ketika beliau berada di antara Makkah dengan Madinah, turunlah surat Al-Fath kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan mempimpn kamu ke jalan yang lurus.’ (Al-Fath: 1-2).
    Kisah dilanjutkan perihal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat hingga pemaparan tentang Baiat Ar-Ridhwan. Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah; Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.’ (Al-Fath: 10).
    Setelah itu, Allah Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang Arab yang tidak ikut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berfirman ketika menyuruh mereka berangkat bersama beliau, namun mereka teap tidak mau berangkat,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 287

      ‘Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan berkata, ‘Harta dan keluarga kemi telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, ‘Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagi kalian atau jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Fath: 11).

    Kisah dilanjutkan tentang orang-orang Badui hingga berakhir pada firman Allah Ta’ala,
      ‘Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kalian berangkat untuk mengambil barang rampasan, ‘Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kalian.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kalian sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Mereka akan berkata, ‘Sebenarnya kalian dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.’ (Al-Fath: 15).

    Kisah dilanjutkan tentang orang-orang Badui tersebut dan jihad melawan musuh tangguh yang ditawarkan kepada mereka.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Atha’ bin Abu Rabah dari Ibnu Abbas yang berkata, ‘Kaum tangguh tersebut adalah Persia’.”

    Ibnu Ishaq berkata, orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Az-Zuhri yang berkata, “Kaum tangguh tersebut adalah Hanifah dari Musailamah sang pendusta.”

    Az-Zuhri berkata, “Setelah itu, Allah Ta’ala berfirman,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 288

      ‘Sesungguhnya Allah telah ridha kepada orang-orang Mukminin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan kepada mereka dengan meberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepda kalian harta rampasan ini untuk kalian dan Dia menahan tangan manusia dari kalian dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukminin dan agar Dia menunjuki kalian kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kalian belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’ (Al-Fath: 18-21).
    Setelah itu Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kalian dan (menahan) tangan kalian dari (membinasakan) mereka di tengah kota (Makkah) sesudah Allah memenangkan kalian atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Fath: 24).
    Setelah itu Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kalian dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan qurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki Mukmi dan perempuan-perempuan Mukminah yang tidak kalian ketahui, bahwa kalian akan membunuh mereka yang menyebabkan kalian ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan kalian (tentulah Allah tidak akan menahan tangan kalian dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih’.’ (Al-Fath: 25).

    Ibnu Hisyamb berkata, “Aku mendapat kabar dari Mujahid yang berkata, ‘Ayat di atas turun tentang Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah, Salamah bin Hisyam, Abbas bin Abu Rabi’ah, Abu Jandal bin Suhai, dan orang-orang seperti mereka’.”
    Az-Zuhri berkata, “Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah.’ (Al-Fath: 26).

    Yang dimaksud dengan orang-orang kafir pada ayat di atas adalah Suhail bin Amr ketika ia tidak sudi menulis bismillahir rahmaanir rahim dan Rasulullah. Setelah itu, Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang Muminin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adlah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’(Al-Fath: 26).

    Yang dimaksud dengan kalimat takwa pada ayat di atas adlah kalimat tauhid yaitu kesaksian tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya. Setelah itu, Allah Ta’ala berfirman,
      ‘Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kalian tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kalian ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.’ (Al-Fath: 27).

    Kemenangan yang dekat yang dimaksud pada ayat di atas adalah Perdamaian Al-Hudaibiyah.”

    Az-Zuhri berkata lagi, “Sebelum penaklukan Makkah, tidak ada penaklukan yang labih agung daripada Perdamaian Al-Hudaibiyah. Perdamaian Al-Hudaibiyah dinamakan perang karena kedua belah pihak bertemu di sana. Ketika gencatan senjata terjadi, perang dihentikan, masing-masing pihak memberikan jaminan keamanan kepada pihak lain, dan mereka bertemu, mereka mengadakan pembicaraan, perdebatan, dan tidak ada seorang pun yang membicarakan Islam melainkan ia masuk ke dalamnya. Dalam jangka wantu dua tahun tersebut, telah masuk Islam orang-orang yang jumlahnya sama dengan jumlah orang-orang yang masuk islam sebelumnya atau bahkan lebih banyak.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Dalil pendapat Az-Zuhri bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke Al-Hudaibiyah dengan seribu empat ratus sahabat adalah ucapan Jabir bin Abdullah. Dua tahun kemudian pada tahun penaklukan Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat dengan sepuluh ribu orang.”

    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Jan 23, 2012 12:24 pm

    halaman 291
    BAB 170

    PERIHAL ORANG-ORANG LEMAH DI MAKKAH PASCA PERDAMAIAN
    AL-HUDAIBIYAH


    Perihal Abu Bashir

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah, beliau didatangi Abu Bashir Utbah bin Usaid bin Jariyah. Ia termasuk orang-orang yang tertahan di Makkah. Ketika Abu Bashir tiba di tempat beliau, maka Azhar bin Abdu Auf binAbdul Harits bin Zuhrah dan Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin Wahb Ats-Tsaqafi mengirim surat kepda beliau menanyakan perihal Abu Bashir dan mengutus salah seorang dari Bani Amir bin Luai ditemani mantan budak mereka. Ketika kedua utusan tersebut tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa surat Azhar bin Abu Auf dan Al-Akhna s Syariq, beliau bersabda kepada Abu Bashir, ‘Hai Abu Bashir, sesungguhnya kita telah memberikan perjanjian kepada mereka seperti engkau ketahui, pengkhianatan itu tidak pantas dalam agama kita, dan Allah akan memberikan jalan keluar bagimu dan orang-orang lemah sepertimu, maka pulanglah kepada kaummu.’ Abu Bashir berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau memulangkanku kepada orang-orang musyrikin agar mereka menyiksaku karena agamaku?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Abu Bashir, pulanglah, karena Allah akan memberikan jalan keluar bagimu dan orang-orang lemah sepertimu.’ Abu Bashir pulang bersama kedua utusan orang-orang Quraisy tersebut. Ketika Abu Bashir tiba di Dzul Al-Hulaifah, ia duduk di samping tembok dan duduk bersama kedua utusan tersebut. Abu Bashri berkata, ‘Hai saudara Bani Amir, apakah pedangmu tajam?’ Utusan orang-orang Quraisy tersebut menjawab, ‘Ya.’ Abu Bashir berkata, ‘Bolehkah aku melihatnya?’ Utusan orang-orang Quraisy tersebut berkata, ‘Silahkan lihat, kalau engkau mau.’ Abu Bashir mengambil pedang tersebut dari sarungnya, kemudian memukulkannya ke utusan orang Quraisy tersebut hingga tewas. Mantan budak orang-orang Quraisy balik menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tiba di tempat beliau yang ketika itu sedang duduk di masjid. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat melihat kedatangannya, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang ini baru saja melihat sesuatu yang menakutkan.’ Ketika orang tersebut tiba, beliau bersabda, ‘Celakalah engkau, apa yang terjadi padamu?’ Orang terebut menjawab, ‘Sahabat kalian telah membunuh sahabatku.’ Tidak lama setelah itu, Abu Amir datang dengan…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 292

    …menghunus pedang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga berdiri di depan beliau. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, tanggunganmu telah terpenuhi dan Allah menunaikannya. Engkau serahkan aku kepada orang-orang tersebut, namun karena agamaku, aku tidak mau disiksa atau dilecehkan.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Celakalah ibunya yang mengobarkan perang, seandainya saja ia bersama orang-orang.’

    Abu Bashir keluar hingga menuruni Al-Ish dari arah Dzi Al-Marwah di atas pantai di jalan orang-orang Quraisy dimana mereka biasa melalui jalan tersebut jika hendak pergi ke Syam. Pada saat lain, sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Abu Bashir, ‘Celakalah ibunya yang mengobarkan perang, seandainya saja ia bersama orang-orang terdengar oleh kaum Muslimin yang bertahan di Makkah, kemudian mereka keluar dari Makkah guna menemui Abu Bashir di Al-Ish. Ada sekitar tujuh puluh orang yang berkumpul dengan Abu Bashir. Mereka menekan orang-orang Quraisy dengan membunuh siapa saja di antara orang-orang Quraisy yang berhasil mereka tangkap dan merampas kekayaan rombongan dagang yang berjalan melewati mereka. Itulah yang terjadi hingga akhirnya orang-orang Quraisy menulis surat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna meminta beliau melindungi sanak kerabat mereka, kemudian beliau melindungi mereka hingga mereka tiba di Madinah.

    Ketika Suhail bin Amr mendengar informasi pembunuhan Abu Bashir terhadap utusannya dari Bani Amir tersebut, ia menyandarkan punggungnya ke Ka’bah, kemudian berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mencabu punggungku dari Ka’bah hingga utusan tersebut diberi diyat.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Demi Allah, ini sebuah ketololan. Demi Allah, orang tersebut tidak layak diberi diyat.’ Abu Sufyan bin Harb berkata seperti itu hingga tiga kali. Tentang kejadian tersebut, Maubah bin Rabah alias Abu Unais sekutu Bani Zuhrah berkata,
      ‘Penggalan ucapan Suhail sampai padaku
      Kemudian ucapan tersebut membangunkanku dan aku tidak tidur
      Jika engkau ingin mengarahkan kecaman kepadaku
      Silahkan kecam aku, toh engkau tidak jauh
      Apakah engkau mengancamku, padahal Abdu Manaf di sekitarku di Makhzum?
      Jika engkau mencela tombakku, engkau tidak mendapatiku lemah di saat-saat yang kritis
      Aku berbangga diri dengan orang-orang mulia yaitu ayah di kaumku
      Jika orang lemah menginjak dengan mereka, maka aku senang
      Mereka melindungi tulang punggung hingga perut tanpa ragu
      Dengan kuda yang kencang larinya dan kuda yang bagus serta anak panah.’
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 293

      Syair di atas dijawab Abdullah bin Az-Ziba’ra
      ‘Pada sore hari, Mauhab seperti keledainya yang jelek
      Ia berjalan di satu negeri sambil berteriak-teriak
      Sesungguhnya budak sepertimu itu tidak pantas memusuhi Suhail
      Sungguh tersesat perbuatanmu terhadap orang yang engkau lawan
      Maka tahanlah mulutmu daripadanya
      Dan hentikan pembicaraan di banyak negeri
      Jangan ingat kecaman Abu Yazid
      Amat jauh perbedaan antara samudera dengan setetes air’.”


    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Jan 23, 2012 12:34 pm

    halaman 294

    BAB 171
    PERIHAL WANITA-WANITA MUKMINAH YANG HIJRAH PASCA GENCATAN SENJATA


    Ibnu Ishaq berkata, “Pada masa tersebut, Ummu Kultum binti Uqbah bin Abu Mu’aith hijrah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian saudaranya, Imarah bin Uqbah dan Al-Walid bin Uqbah, datang kepada beliau guna meminta beliau menyerahkan Ummu Kultum kepada keduanya sesuai perjanjian beliau dengan orang-orang Quraisy di Al-Hudaibiyah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menolak mengabulkan permintaan keduanya, karena Allah tidak menghendakinya.” (JGA: waaw…para muslimer idiot sering mengatakan orang Quraisy lah yang melanggar perjanjian hingga mereka berhak menyerang dan menaklukkan Makkah pada futu Makkah, padahal dari informasi ini jelas sekali dengan penolakan Muhammad untuk menyerahkan orang mereka, ia sudah melanggar perjanjian yang ditanda tanganinya sendiri. Dengan penolakan ini, dapat disimpulkan bahwa Allah swt sendiri tidak menghormati keputusan nabinya...wah..nabi bandel nih...gak bertanya dulu sama sang Allah swt ) :-k

    Ibnu Ishaq berkata, “Az-Zuhri berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair yang berkata, ‘Aku pernah masuk ke tempat Az-Zuhri yang ketika itu sedang menulis surat untuk dikirim kepada anak Abu Hanukah sahabat Al-Walid bin Abdul Malik. Dalam suratnya, Az-Zuhri menanyakan tentang yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala,
      ‘Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian perempuan-perempuan beriman, maka hendaklah kalian uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 295

      …kafir tidak halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tidak ada dosa atas kalian mengawini mereka apabila kalian bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir dan hendaklah kalian minta mahar yang telah kalian bayar; demikianlah hukuman Allah yang ditetapkan-Nya di antara kalian dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana’.” (Al-Mumtahanah: 10).

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Urwah bin Az-Zubair menulis surat kepada Az-Zuhri bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdamai dengan orang-orang Quraisy di Al-Hudaibiyah dengan syarat beliau memulangkan kepada mereka siapa saja yang datang kepada beliau tanpa izin mereka. Ketika wanita-wanita hijrah kepada beliau dan Islam, Allah menolak pemulangan mereka kepada orang-orang musyrikin jika mereka telah disiksa karena Islam sehingga orang-orang musyrikin mengetahui bahwa mereka datang ke Madinah karena cinta kepada Islam. Selain itu, Allah memerintahkan pengembalian mahar wanita-wanita Muslimah tersebut tidak mau kembali kepada suami-suami mereka yang musyrikin dan orang-orang musyrikin tersebut juga mengembalikan mahar wanita-wanita kaum Muslimin yang ada pada mereka. Itulah keputusan Allah yang diputuskan untuk kalian dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. Jadi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memulangkan wanita-wanita Muslimah yang datang dari Makkah, memulangkan orang-orang laki-laki yang datang dari Makkah, meminta apa yang diperintahkan Allah untuk beliau minta yaitu mahar wanita-wanita yagn ada pada kaum musyrikin, dan beliau mengembalikan mahar wanita-wanita yang tidak mau kembali kepada mereka jika mereka mengembalikan mahar wanita-wanita yang ada pada mereka. Sekiranya Allah tidak memberikan keputusan seperti itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pasti memulangkan wanita-wanita Muslimah yang hijrah kepada beliau pasca Perdamaian Al-Hudaibiyah sebagaimana beliau memulangkan orang-laki-laki Muslim yang hijrah kepada beliau ke Makkah. Dan sekiranya tidak ada gencatan senjata dan perdamaian antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan orang-orang Quraisy di peristiwa Al-Hudaibiyah, beliau pasti tidak memulangkan wanita-wanita Muslimah dan tidak mengembalikan mahar-mahar mereka kepada suami-suami mereka yang musyrik. Itulah yang beliau lakukan terhadap wanita-wanita Muslimah yang datang kepada beliau sebelum perjanjian Al-Hudaibiyah.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Aku pernah bertanya kepada Az-Zuhri tentang ayat di atas dan firman Allah Ta’ala,

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 296

      ‘Dan jika seseorang dari istri-istri kalian lari kepada orang-orang kafir, lalu kalian mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kalian beriman.’ (Al-Mumtahanah: 11).

    Maka Az-Zuhri menjawab, “Maksudnya, jika istri salah seorang dari kalian lari kepada orang-orang kafir dan tidak ada wanita yagn bisa kalian ambil sebagaimana mereka mengambil istri dari kalian, maka berilah ganti orang tersebut dari harta fay’I jika kalian mendapatkannya.’

    Ketika Allah Ta’ala menurunkan ayat berikut,

      ‘Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian perempuan-perempuan beriman, maka hendaklah kalian uji (keimanannya) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tidak ada dosa atas kalian mengawini mereka apabila kalian bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir dan hendaklah kalian minta mahar yang telah kalian bayar dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar; demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kalian dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’ (Al-Mumtahanah: 10-11).
    Di antara sahabat yang menceraikan istrinya adalah Umar bin Khaththab. Ia menceraikan istrinya yang kafir yang bernama Quraibah binti Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah yang kemudian dinikahi Muawiyah bin Abu Sufyan dan keduanya masih musyrik di Makkah. Umar bin Khaththab juga menceraikan istrinya yang kafir lainnya, yaitu Ummu Kultsum binti Jarwal Al-Khuzaiyah yang tidak lain adalah ibu Ubaidilah bin Umar yang kemudian dinikahi Abu Jahm bin Hudzaifah bin Ghanim yang berasal dari kaum Umar bin Khaththab sendiri dan keduanya masih musyrik di Makkah.”

    Kabar Gembira Penaklukan Makkah Al-Mukarramah

    Ibnu Hisyam berkata, “Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa beberapa sahabat yang pernah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada beliau ketika tiba di Madinah, ‘Wahai Rasulullah, bukankah engkau pernah berkata engkau akan memasuki Makkah dengan aman?’
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 297

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya, namun apakah aku pernah berkata kepada kalian bahwa itu akan terjadi pada tahun ini?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, itu seperti dikatakan kepadaku oleh Malaikat Jibril Alaihis Salam’.”

    ---ooOoo---
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Jan 23, 2012 2:02 pm

    halaman 299

    BAB 172
    KEBERANGKATAN KE KHAIBAR PADA BULAN MUHARRAM TAHUN KETUJUH HIJRIYAH


    Keberangkatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Khaibar

    Ibnu Hisyam berkata, “Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-Muthallabi yang berkata, ‘Pulang dari Al-Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah selama bulan Dzulhijjah dan sebagian bulan Muharram. Pada akhir bulan Muharram, beliau berangkat ke Khaibar’.”

    Pejabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah dan Pemegang Bendera Perang di Perang Khaibar

    Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Numailah bin Abdullah bin Al-Laitsi sebagai imam sementara di Madinah dan menyerahkan bendera yang berwarna putih kepada Ali bin Abu Thalib.”

    Perihal Amir bin Al-Akwa’

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi berkata kepadaku dari Abu Al-Haitsam bin Nashr bin Dahr Al-Aslami bahwa ayahnya berkata kepadanya bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Amir bin Al-Akwa’ paman Salamah bin Amr bin Al-Akwa’—nama Al-Akwa’ adalah Sinan—dalam kepergiannya ke Khaibar, ‘Hai anak Al-Akwa’, berhentilah dan perdengarkan penghinaanmu.’ Amir bin Al-Akwa’ berhenti, kemudian melantunkan syair tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
      ‘Demi Allah, tanpa Allah, kita tidak mendapatkan petunjuk
      Tanpa Allah, kita tidak bersedekah dan tidak shalat
      Sesungguhnya dulu kami adalah kaum yang zhalim kepada yang lain
      Dan jika mereka menginginkan fitnah, maka kami lawan
      Kemudian turunkan ketenangan kepada kami
      Dan kokohkan kaki jika kami bertemu dengan mereka.’
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 299

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Amir bin Al-Akwa’, ‘Semoga Allah merahmatimu.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau mewajibkan Amir bin Al-Akwa’ masuk surge. Seandainya saja engkau memberikan kata tersebut kepadaku.’ Amir bin Al-Akwa’ syahid di Khaibar. Ia gugur karena pedangnya berbalik arah kepadanya ketika ia bertempur, melukainya hingga luka parah dan meninggal dunia. Kaum Muslimin ragu-ragu tentang kematiannya seperti itu dan berkata, ‘Ia dibunuh senjatanya sendiri.’ Keponakannya, Salamah bin Amr bin Al-Akwa’ menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melaporkan ucapan kaum Muslimin tentang kematian Amir bin Al-Akwa’. Beliau bersabda, ‘Ia syahid.’ Kemudian beliau menyalati Amir bin Al-Akwa’ diikuti kaum Muslimin.”

    Doa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Atha’ bin Marwan Al-Aslami dari ayahnya dari Abu Muattib bin Amr yang berkata, ‘Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat Khaibar, beliau berkata kepada para sahabat---ketika itu aku bersama mereka---, ‘Berdirilah kalian!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Ya Allah, Tuhannya langit dan Tuhan apa saja yang dinaungi langit, Tuhannya bumi dan Tuhan apa saja yang diangkutnya, Tuhannya syetan dan Tuah apa saja yang dinaunginya, Tuhannya angin dan Tuhan apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Majulah kalian dengan nama Allah!’ Doa tersebut selalu diucapkan beliau setiap kali beliau memasuki perkampungan.”

    Serangan Tiba-tiba terhadap Penduduk Khaibar

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa orang yang tidak diragukan kejujurannya berkata kepadanya dari Anas bin Malik yang berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin menyerang salah satu kaum, beliau tidak menyerang mereka hingga pagi hari(JGA: ya kalau begal, rampok..ya biasalah menyerang tiba-tiba..) :-k . Jika beliau mendengar adzan di suatu tempat, beliau menahan diri tidak menyerbunya dan jika tidak mendengar adzan di satu tempat, beliau menyerangnya. Kita berhenti di Khaibar pada malam hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bermalam hingga pagi hari, namun tidak mendengar adzan, kemudian beliau berjalan dan kami mengikutinya. Ketika itu, aku berjalan di belakang Abu Thalhah dan kakiku menyentuh kaki Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kita bertemu para pekerja di Khaibar yang …
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 300

    …berangkat kerja dengan sekop dan keranjang. Ketika mereka melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pasukannya, mereka berkata, ‘Muhammad bersama pasukannya.’ Mereka lari ngacir, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Allah Mahabesar, hancurkan Khaibar. Jika kita tiba di halaman suatu kaum, sungguh buruk pagi hari kaum yang telah diperingatkan’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Harun berkata kepadaku dari Humaid dari Anas bin Malik yang berkata sama dengan di atas.”

    Tempat-tempat Persinggahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam Keberangkatannya ke Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah menuju Khaibar, beliau melintasi Ishr dan membangun masjid di sana, kemudian melintasi Ash-Shahba’. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pasukan terus berjalan hingga menuruni Lembah Ar-Raji’ dan berhenti di tempat penduduk lembah tersebut dengan Ghathafan untuk menghalang-halangi mereka memberi bala bantuan kepada penduduk Khaibar, karena orang-orang Ghathafan pernah membantu orang-orang Khaibar dalam menghadapi beliau. Ketika orang-orang Ghathafan mendengar tempat beliau di Khaibar, mereka bersatu untuk menghadapi beliau dan keluar untuk membantu orang-orang Yahudi dalam menghadapi beliau. Ketika mereka baru berjalan beberapa meter, mereka mendengar suara di belakang mereka tepatnya di kebun dan rumah mereka. Mereka mengira kaum Muslimin mengejar mereka, oleh karena itu, mereka pulang dan menetap di rumah dan kebun mereka, serta membiarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menghadapi penduduk Khaibar.”

    Penaklukan Satu Demi Satu Benteng Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendekati kebun-kebun secara berangsur-angsur dan menguasainya satu demi satu. Benteng penduduk Khaibar yang pertama kali beliau taklukkan ialah Benteng Na’im. Di benteng tersebut, Mahmud bin Maslamah terbunuh karena dilempar batu penggilingan dari atasnya hingga ia meninggal dunia.

    Benteng kedua yang ditaklukkan beliau adalah Benteng Al-Qumush, benteng Bani Abu Al-Huqaiq. Dari mereka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan tawanan-tawanan wanita, di antaranya Shafiyah binti Huyai bin Akhtab—istri Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abu Al-Huqaiq—dan dua putrid pamannya dari jalur ayahnya. Beliau memiliki Shafiyah binti Huyai bin Akhtab untuk diri beliau sendiri.
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 301

    Tadinya, Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi meminta Shafiyah binti Huyai bin Akhthab kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun karena beliau memilihnya untuk beliau sendiri, maka sebagai gantinya beliau memberikan dua putri paman Shafiyah dari jalur pamannya kepada Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi. Tawanan-tawanan wanita Khaibar dibagi secara merata kepada kaum Muslimin.”

    Hal-hal Yang Dilarang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam Perang Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Muslimin memakan daging keledai jinak Khaibar, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri dan melarang banyak hal kepada kaum Muslimin.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Amr bin Dhamrah Al-Fazari berkata kepadaku dari Abdullah bin Abu Salith dari ayahnya yang berkata, ‘Kami mendengar larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakan daging keledai jinak ketika periuk-periuk sedang mendidih memasaknya, kemudian kami berhenti dari memakannya’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Makhul yang berkata, ‘Di Perang Khaibar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang empat hal; menggauli tawanan wanita yang hamil :green: , memakan daging keledai jinak, memakan binatang buas yang bertaring, dan menjual ghanimah yang belum dibagi’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Sallam bin Kirkarah berkata kepadaku dari Amr bin Dinar dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari—ia tidak ikut di Perang Khaibar—yang berkata, ‘Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kaum Muslimin memakan daging keledai jinak, maka beliau mengizinkan mereka memakan daging kuda’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Marzuq mantan budak Najib dari Hins Ash-Shan’ani yang berkata, ‘Kami memerangi Maroko bersama Ruwaifi’ bin Tsabit Al-Anshari dan berhasil menaklukkan salah satu desa Maroko yang bernama Jarbah. Ruwaifi’ berdiri dan berkhutbah kepada kita, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku tidak berkata kepada kalian kecuali seperti perkataan yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Perkataan tersebut beliau sabdakan kepada kami di Perang Khaibar. Ketika itu, beliau berdiri, kemudian bersabda, ‘Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak halal mengalirkan airnya ke tanaman orang lain—maksudnya tidak boleh menggauli tawanan wanita yang hamil--. Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak halal menggauli salah satu tawanan wanita hingga ia menunggu haid. Orang yang beriman kepada… (JGA: bujug busssyeeet...muhammad dah menabrak aturan yang dibuatnya sendiri. Burung muhammad dah cenat-cenut aja melihat kecantikan Shafiyah..maka pada malam itu juga tanpa perlu menunggu iddahnya, muhammad ber yes..no...yes..no bae...!) :lol:
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 302

    …Allah dan Hari Akhir tidak halal menjual ghanimah hingga dibagi. Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak halal menaiki hewan kendaraan dari fay’I kaum Muslimin hingga kurus melainkan ia mengembalikannya seperti semula. Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak halal mengenakan pakaian dari fay’I kaum Muslimin hingga using melainkan ia mengembalikan seperti semula’.”

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Yazid bin Abdullah bin Qusaith berkata kepadanya bahwa ia diberitahu dari Ubadah bin Ash-Shamit yang berkata, ‘Di Perang Khaibar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kita menjual atau membeli biji emas dengan uang logam emas dan biji perak dengan uang logam perak. Beliau bersabda, ‘Belilah biji emas dengan uang logam perak dan biji perak dengan uang logam emas’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendekat secara berangsur-angsur ke benteng dan kebun Khaibar.”

    Perihal Bani Sahm

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa ia diberitahu beberapa orang dari Aslam bahwa Bani Sahm datang menghadap kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, Wahai Rasulullah , demi Allah, kami kelaparan dan tidak memiliki apa-apa lagi.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan kepada mereka. Beliau berkata, “Ya Allah, Engkau mengetahui kondisi mereka, mereka tidak mempunyai kekuatan, dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk aku berikan kepada mereka, maka taklukkan untuk mereka benteng yang paling kaya, paling banyak makanannya, dan paling banyak lemaknya.” Bani Sahm pergi dan tidak lama kemudian Allah menaklukkan benteng Ash-Sha’b bin Muadz kepada mereka dan tidak benteng yang paling banyak makanan dan lemaknya dari benteng tersebut. (JGA: hmm…jadi terbukti toh Muhammad karena kelaparan lalu melakukan perampokan. Dengan kata lain Muhammad hidup dari merampoki suku-suku Arab dan non-Arab.)

    Penaklukan Dua Benteng

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah berhasil menaklukkan benteng-benteng Khaibar dan kebun-kebunnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan hingga tiba di dua benteng, yaitu Al-Wathih dan As-Sulaim. Kedua benteng Khaibar itulah yang paling akhir ditaklukkan kaum Muslimin.”

    Kode Kaum Muslimin di Perang Khaibar

    Ibnu Hisyam berkata, “Kode sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Perang Khaibar adalah ya manshuur, amit, amit.” (JGA: eh..elu kalau bilang,"amit-amit jabang bayi" maka kau berarti menyerang si jabang bayi..lho? hahahaha....just kidding...) :lol:
    = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = =
    halaman 303

    Keluarnya Marhab untuk Perang dan Kesombongannya

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Sabi Abdurrahman bin Sahl saudara Bani Haritsah berkata kepadaku dari Jabir bin Abdullah yang berkata, ‘Marhab si Yahudi keluar dari benteng Khaibar dengan senjata lengkap. Ia berkata,
      ‘Khaibar tahu aku Marhab
      Penghunus senjata dan pahlawan yang teruji
      Terkadang aku menikam dan memukul
      Jika singa-singa datang dalam keadaan marah
      Sesungguhnya tanah perlindunganku adalah tanah yang tidak boleh didekati
      Dan seranganku dipatahkan oleh orang yang berpengalaman’.”

    Ka’ab bin Malik Menjawab Syair Marhab

    Ibnu Ishq berkata, “Setelah itu, Marhab berkata, ‘Siapa yang siap bertarung denganku?’ Ka’ab bin Malik menjawab,
      ‘Khaibar tahu bahwa aku adalah Ka’ab
      Penghilang duka, pemberani, dan kokoh
      Jika perang telah dikobarkan maka dilanjutkan dengan perang berikutnya
      Aku mempunyai pedang tajam seperti kilat
      Aku injak kalian hingga hal yang sulit menjadi teratasi
      Kita diberi balasan atau mendapatkan rampasan’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Abu Zaid Al-Anshari melantunkan syair Ka’ab bin Malik kepadaku seperti berikut,
      ‘Khaibar tahu bahwa aku Ka’ab
      Jika perang telah disulut
      Maka aku langkahi semua ketakutan, pemberani, dan kokoh
      Aku mempunyai pedang tajam seperti kilat
      Di tangan yang terus bergerak dan tidak salah sasaran
      Kami hancurkan kalian hingga hal sulit menjadi teratasi.’

    Terbunuhnya Marhab

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Abdullah bin Sahl berkata kepadanya dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Siapa yang siap menghadapi Marhab?’ Muhammad bin Maslamah berkata, ‘Aku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku harus balas dendam, karena saudaraku terbunuh kemarin.’ (JGA: *****, yang bunuh siapa yang disalahkan siapa!) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Berdirilah dan majulah kepadanya. Ya Allah, bantulah dia!’ Ketika…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == == = = =
    halaman 304

    …masing-masing dari keduanya telah mendekat kepada lawannya, tiba-tiba pohon tua di antara pohon Usyar masuk di antara keduanya. (JGA: konyol, pohon apaan yang bisa pindah di antara dua manusia…islam membuat muslim menjadi manusia **** mempercayai cerita seperti ini). Masing-masing dari keduanya berlindunga diri dari lawannya. Setiap kali salah satu dari keduannya berlindung di pohon tersebut, lawannya memotong pohon yang menghalanginya dengan pedang hingga masing-masing dari keduanya terlihat oleh lawannya, tidak ada lagi dahan pohon. Marhab menyerang Muhammad bin Maslamah dan memukulnya dengan pedang, namun Muhammad bin Maslamah terlindungi perisai kulitnya. Pedang Marhab masuk ke perisai kulit Muhammad bin Maslamah, kemudian Muhammad bin Maslamah memukul Marhab hingga tewas.”

    Terbunuhnya Yasir Saudara Marhab

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Marhab, keluarlah saudara Marhab, yaitu Yasir. Ia berkata, ‘Siapa yang berani bertarung denganku?’ Hisyam bin Urwah menduga bahwa Az-Zubair bin Awwam keluar untuk menghadapi Yasir. Ibu Az-Zubair, Shafiyah binti Abdul Muththalib, berkata, ‘Apakah ia akan membunuh anakku, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Tidak, justru anakmu yang akan membunuhnya, insya Allah.’ Az-Zubair bin Al-Awwan keluar. Keduanya bertemu kemudian terjadilah pergulatan di antara keduanya dan di akhir pergulatan Az-Zubair bin Al-Awwam berhasil membunuh Yasir.”

    Perihal Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Buraidah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami berkata kepadaku dari ayahnya, Sufyan, dari Salamah bin Amr Al-Akwa’ yang berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu dengan bendera beliau (Ibnu Hisyam berkata, “Bendera tersebut berwarna putih.”) ke salah satu benteng Khaibar. Abu Bakar berjuang menaklukkannya, kemudian pulang tanpa hasil dan kelelahan. Esok harinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu. Umar bin Khaththab pun berjuan menaklukkan benteng tersebut, namun gagal dan juga mengalami kelelahan. Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Esok pagi, bendera ini pasti akan aku berikan kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah memberikan pertolongan melalui kedua tanganya dan ia bukan orang yang melarikan…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 305

    …diri.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yang ketika itu sakit mata, kemudian meludahi matanya dan bersabda, ‘Ambillah bendera ini dan majulah dengannya hingga Allah memberi kemenangan kepadamu.’ Demi Allah, ketika itu Ali bin Abu Thalib menjerit karena sakit yang dideritanya, kemudian lari-lari kecil. Ketika itu, aku di belakang untuk mengikutinya hinga ia menancapkan bendera di batu yang di tumpuk di bawah benteng, kemudian bertanya, ‘Siapa engkau?’ Ali bin Abu Thalib menjawab, ‘Aku Ali bin Abu Thalib.’ Orang Yahudi tersebut berkata, ‘Kalian menang demi sesuatu yang diturunkan kepada Musa---atau yang seperti ia katakana---.‘ Ali bin Abu Thalib baru pulang ketika berhasil menaklukkan benteng tersebut’.”

    Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu Menjadikan Salah Satu Pintu Benteng Khaibar Sebagai Perisai

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Al-Hasan berkata kepadaku dari sebagian keluarganya dari Abu Rafi’ mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berkata, “Aku keluar bersama Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu ketika ia diutus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membawa bendera perang. Ketika Ali bin Abu Thalib telah dekat dengan benteng yang ia diperintahkan untuk menaklukkannya, sontak penghuni benteng keluar melawan Ali bin Abu Thalib, kemudian Ali bin Abu Thalib bertempur melawan mereka. Salah seorang dari orang-orang Yahudi memukul Ali bin Abu Thalib hingga melemparkan perisai dari tangannya, kemudian Ali bin Abu Thalib mengambil salah satu pintu benteng tersebut kemudian membentengi diri dengan pintu tersebut. Pintu terebut dipegang Ali bin Abu Thalib hingga Allah memberi kemenangan kepadanya. Baru ketika itulah ia melepas pintu tersebut dari tangannya. Itulah padahal aku bersama tujuh orang tidak mampu membalik pintu tersebut.” (JGA: kisah bohong, tak layak dipercaya…atau dengan begitu para muslim secara tidak sadar telah mengatakan Ali bin Abu Thalib lebih kuat, lebih dahsyat dari nabinya sendiri. Hemm…suatu penghinaan bagi Muhammad yang dilakukan Ibnu Ishaq.}

    Perihal Abu Al-Yasar Ka’ab bin Amr

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Buraidah bin Sufyan Al-Aslami berkata kepadanya dari beberapa orang dari Bani Salimah dari Abu Al-Yasar. Ka’ab bin Amr yang berkata, “Demi Allah, kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Khaibar pada suatu petang, tiba-tiba datanglah sekawanan kambing milik orang Yahudi ingin pergi ke benteng mereka ketika kami sedang mengepung mereka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Siapa orang yang bisa memberi makan kita dengan kambing tersebut?’ Aku berkata, ‘Aku wahai Rasulullah. (JGA; wahahaha…kedapatan sudah…Khaibar belum ditaklukan, barang rampasan belum sah dirampas. Karenanya, perbuatan ini sama dengan pencurian milik orang. Ternyata, Muhammad mengajari orang melakukan pencurian!) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Silahkan kerjakan.’ Aku lari kencang seperti burung unta. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 306

    …melihatku lari, beliau bersabda, ‘Ya Allah, berilah kami kenikmatan dengannya.’ Aku berhasil menangkap kambing tersebut, sedang kambing-kambing lainnya masuk ke benteng. Aku menangkap dua kambing, mendekapnya, berlari kencang membawanya seperti tidak membawa apa-apa, dan menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kaum Muslimin menyembelih kedua kambing tersebut dan memakannya ramai-ramai.” Abu Al-Yasar adalah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terakhir meninggal dunia. Jika ia menceritakan hadits ini, ia menangis. Abu Al-Yasar berkata, “Demi Allah, mereka diberi nikmat denganku hingga aku menjadi orang yang terakhir meninggal dunia.”

    Perihal Shafiyah binti Huyai bin Akhthab Radhiyallahu Anha

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil menaklukkan Al-Qamush benteng milik Hishn bin Abu Al-Huqaiq, Shafiyah binti Huyai bin Akhthab dan wanita lainnya dihadapkan kepada beliau. Bilal—orang yang mendatangkan keduanya--- bersama keduanya melewati korban orang-orang Yahudi. Ketika wanita yang bersama Shafiyah korban-korban tersebut, ia berteriak, memukul wajahnya, dan menumpahkan tanah ke atas kepalanya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat wanita tersebut, beliau bersabda, ‘Jauhkan dariku wanita syetan ini!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Shafiyah berjalan di belakang beliau dan mengenakan baju beliau kepadanya. Kaum Muslimin pun paham bahwa beliau memilih Shafiyah untuk diri beliau sendiri. Beliau bersabda kepada Bilal, ‘Hai Bilal, sungguh kasih sayang dicabut darimu ketika engkau berjalan bersama dua wanita ini melewati korban-korban keduanya.’ Shafiyah—tadinya istri Kinanah bin Ar-Rabi’ Abu Al-Huqaiq---pernah bermimpi dalam tidurnya bahwa bulan jatuh ke pangkuannya, kemudian menceritakan mimpi tersebut kepada suaminya. Suaminya berkata, ‘Itu artinya engkau menginginkan raja Hijaz, yaitu Muhammad.’ Usai berkata seperti itu, suaminya menamparnya hingga matanya memar. Ketika Shafiyah didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bekas memar tersebut terlihat. Beliau menanyakan asal-muasal memar tersebut kepada Shafiyah, kemudian ia menceritakan kisah di atas kepada beliau.” (JGA: wah…dasar muslim, gemar sekali berbohong dan mengarang cerita kibulan. Mata merah dikatakan memar, lha bagaimana tidak matanya merah, suaminya Kinanah dibunuh di depan matanya. Boleh jadi saat itu ia memberontak kepada pembunuh suaminya yang membuat sipembunuh kalap dan memukul Shafiyah…)

    Perihal Kinanah bin Ar-Rabi’ah dan Kematiannya

    Ibnu Ishaq berkata, “Kinanah bin Ar-Rabi’ didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena kekayaan Bani an-Nadhir ada padanya. Beliau menanyakan kekayaan tersebut kepada Kinanah bin Ar-Rabi’, (JGA: Seorang perampok yang pikirannya hanya uang, hal pertama yang diingininya adalah kekayaan orang lain yang telah ditaklukkannya) namun ia mengaku tidak mengetahui tempatnya. Setelah itu, salah seorang Yahudi di datangkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang Yahudi…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 307
    …tersebut berkata, ‘Aku pernah melihat Kinanah mengelilingi reruntuhan benteng ini setiap pagi.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Kinanah bin Ar-Rabi’, ‘Bagaimana pendapatmu, kalau kami menemukan kekayaan terebut kemudian kami membunuhmu?’ Kinanah bin Ar-Rabi’ menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan penggalian reruntuhan benteng tersebu hingga akhirnya sebagian kekayaan orang-orang Khaibar dapat dikeluarkan daripadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Az-Zubair bin Al-Awwam, ‘Siksa dia hinga engkau bisa mendapatkan apa yang ada padanya.’ Az-Zubair bin Al-Awwam menyalakan api dengan batang kayu di dada Kinanah bin Ar-Rabi’ hingga ia melihatnya, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendorong Kinanah bin Ar-Rabi’ kepada Muhammad bin Maslamah yang kemudian memenggal kepalanya setelah pembalasan atas kematian saudaranya yaitu Mahmud bin Maslamah.’

    Pengepungan Khaibar dan Permintaan Damai oleh Penduduknya

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengepung penduduk Khaibar di kedua benteng mereka, yaitu Al-Wathih dan As-Sulalim. Ketika mereka yakin kalah, mereka meminta beliau mengusir mereka ke salah satu tempat dan tidak membunuh mereka. Beliau mengabulkan permintaan mereka. Ketika itu, beliau berhasil menguasai seluruh kebun penduduk Khaibar. As-Syiqq, Nathah, dan Al-Katibah. Beliau juga menguasai seluruh benteng mereka kecuali kedua benteng; Benteng Al-Wathih dan As-Sulalim. Ketika orang-orang Fadak mendengar apa yang diperbuat penduduk Khaibar, mereka mengutus wakil untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna meminta beliau mengusir mereka ke suatu tempat, tidak membunuh mereka, dan menyerahkan kekayaan mereka kepada beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabulkan permintaan mereka. (JGA: wah, si setan ini gak perlu cape-cape membuang energy, dapat harta gratis..lho…wow uenak thenan…! Dasar perampok!) Di antara orang yang mondar-mandir ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah Muhayyishah bin Mas’ud saudara Bani Haritsah. Penduduk Khaibar meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi dua kebun mereka. Mereka berkaa, ‘Kami lebih tahu tentang kebun tersebut dan lebih mampu memakmurkannya daripada kalian.’ Akhirnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdamai dengan mereka dengan syarat kebun mereka dibagi dua dengan beliau dan jika beliau ingin mengusir mereka maka beliau berhak melakukannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga berdamai dengan orang-orang Fadak seperti itu. Jadi, Khaibar adalah harta fay’I kaum Muslimin, sedang Fadak milik khusus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka tidak menaklukkannya dengan pasukan berkuda atau pasukan pejalan kaki.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 308

    Perihal Makanan Beracun

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa kondisi telah nyaman, beliau dihadiahi Zainab binti Al-Harits istri Sallam bin Misykam kambing bakar. Sebelum itu, Zainab bertanya kepada beliau, ‘Apa yang paling engkau sukai dari kambing, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Lengan.’ Zainab membubuhkan racun sebanyak mungkin ke lengan kambing, meracuni semua daging kambing, dan menghidangkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau mengambil lengan kambing, mengunyah sedikit daripadanya, tidak menelannya, dan memuntahkannya. Sedang Bisyr bin Al-Barra’ bin Ma’rur yang ketika itu bersama beliau mengambil seperti beliau dan menelannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya tulang kambing tersebut memberitahuku bahwa ia beracun.’ (JGA: hihihi...tulang kambing bisa bicara oy...pake mulut safa fula itu...minjam mulutnya muhammad lah... :lol: aneh...lha kalau dibubuhi racun yang banyak sekali, otomatis rasa kambing bukan lagi rasa kambing betulan, tetapi sudah berubah rasa dan dimulut bisa seperti rasa terbakar...muslim..muslim...dikibuli koq mau sih???) :-k Beliau memanggil Zainab dan ia mengakui meracuni kambing bakar tersebut. Beliau bertanya kepada Zainab, ‘Kenapa engkau berbuat seperti itu?’ Zainab menjawab, ‘Engkau telah bertindak terhadap kaumku seperti engkau ketahui. Oleh karena itu, aku berkata, ‘Jika ia (Muhammad) seorang raja maka aku bisa membunuhnya dan jika seorang nabi maka ia akan diberitahu.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memaafkan Zainab, sedang Bisyr meninggal dunia karena yang dimakannya.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Marwan bin Utsman bin Abu Sa’id Al-Ma’alli berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkannya wafat dan ketika ibu Bisyr binti Al-Bara’ bin Ma’rur masuk menjenguk beliau, ‘Hai ibu Bisyr, sesungguhnya di tempat ini, aku temukan potongan urat hati dari makanan yang aku makan bersama anakmu’.”

    Pengepungan Lembah Al-Qura

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menaklukkan Khaibar, beliau bergerak kea rah Lembah Al-Qura. Beliau mengepung penduduknya bermalam-malam, kemudian pulang ke Madinah.”

    Perihal Budak Yang Mencuri Fay’i

    Ibnu Ishq berkata, “Tsaur bin Zaid berkata kepadaku dari Salim mantan budak Abdullah bin Muthi’ dari Abu Hurairah yang berkata, ‘Kami bergerak bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Lembah Al-Qura dan berhenti di sana pada waktu sore menjelang matahari terbenam. Saat itu, beliau bersama budak hadiah dari Rifa’ah bin Zaid Al-Judzami kemudian Adz-Dzabi. Demi Allah, ketika budak tersebut meletakkan pelana beliau, tiba-tiba ia mendapatkan serangan panah dari sumber yang tidak jelas dan mati karenanya. Kami berkata, ‘Selamat, ia masuk surge.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 309

    bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, sesungguhnya mantelnya sekarang ini membakar dirinya di neraka. Ia mencurinya dari harta fay’I kaum Muslimin di Perang Khaibar.’

    Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut didengar salah seorang dari para sahabat, kemudian ia datang kepada beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku juga mengambil tali untuk dua sandalku ini.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Dua tali yang sama dari neraka diiris untukmu’.”

    Perihal Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadanya dari Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani yang berkata, ‘Aku mengambil sekantong lemak dari fay’I Khaibar kemudian membawanya ke pelanaku dan sahabat-sahabatku. Aku berjumpa dengan orang yang memperolehnya dan ia ditentukan mendapatkannya. Ia berkata, ‘Mari sekantong lemak tersebut kita bagi di antara kaum Muslimin!’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak memberikannya.’ Orang tersebut berusaha menarik kantong lemak dariku. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat kami ketika kami berbuat seperti itu, tersenyum, dan bersabda kepada orang tersebut,’Tidak ada ayah bagimu. Berikan kantong lemak padanya!’ Orang tersebut melepaskan kantong lemak dari tangannya. Aku membawa kantong lemak tersebut ke pelanaku dan sahabat-sahabat, kemudian memakannya ramai-ramai.”

    Resepsi Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Shafwan binti Huyai Radhiyallahu Anha

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyelenggarakan pesta pernikahan dengan Shafiyah binti Huyai di Khaibar atau di salah satu jalan. Wanita yang merias Shafiyah binti Huyai untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , menyisir rambutnya, dan merapikannya adalah Ummu Sulaim binti Milhan, ibu Anas bin Malik. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bermalam dengan Shafiyah binti Huyai di kemah beliau, sedang Abu Ayyub Khalid bin Zaid saudara Bani An-Najjar semalam suntuk menghunus pedang menjaga dan menglilingi kemah beliau. Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat Abu Ayyub di sekitar kemah, kemudian bersabda, ‘Ada apa denganmu wahai Abu Ayyub?’ Abu Ayyub menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku khawatir wanita ini (Shafiyah) mencelakakanmu, karena kita telah membunuh ayah, suami, dan kaumnya. Ia baru saja masuk Islam, jadi, aku khawatir ia mencelakakanmu.’ Para ulama meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya Allah, jagalah Abu Ayuub, sebagaimana ia semalam suntuk menajagaku’.” (JGA: Beuh…burungnya Muhammad gak sabaran menunggu masa iddah Shafiyah…Tapi, ya nabi Islam, mana sudi mematuhi aturan yang dibuatnya sendiri/aturan Allah swt-nya…!. Yang kedua..dikatakan sesuai judul, resepsi pernikahan...padahal tidak ada tuh ijab khobul, tidak ada tuh acara potong kaming, unta..tak ada tuh pesta makan...mana sempat..lha selesai perang saja dah sore..)
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 310

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Para Sahabat Ketiduran hingga Terlambat Mengerjakan Shalat Shubuh

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Az-Zuhri berkata kepadanya dari Sa’id bin Al-Musayyib yang berkata, “Dalam perjalanan pulang dari Khaibar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di salah satu jalan di akhir malam, ‘Siapa orang yang siap menunggu shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?’ Bilal berkata, ‘Aku siap menunggu shubuh untukmu, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti diikuti kaum Muslimin, kemudian tidur. Sedang Bilal, ia mengerjakan shalat beberapa raka’at. Usai shalat, ia bersandar pada untanya untuk menunggu waktu shubuh, namun ras kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur. Tidak ada yang membangunkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin melainkan sengatan sinar matahari. Beliau orang yang pertama kali bangun. Beliau bersabda, ‘Apa yang engkau perbuat terhadap kita, hai Bilal?’ Bilal menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku tertidur sepertimu.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Engkau berkata benar.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuntun unta tidak terlalu jauh kemudian menghentikannya. Beliau berwudlu diikuti kaum Muslimin, menyuruh Bilal melakukan iqamah shalat, dan mengerjakan shalat bersama kaum Muslimin. Setelah salam, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menghadap kepada para sahabat dan bersabda, ‘Jika kalian lupa shalat, shalatlah jika kalian telah ingat karena Allah Ta’ala berfirman, ‘Shalatlah karena ingat kepada-Ku’.”

    Syair Ibnu Luqaim tentang Perang Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menaklukkan Khaibar, beliau memberi Ibnu Luqaim Al-Absi hadiah yang di dalamnya terdapat ayam atau salah satu binatang jinak. Penaklukan Khaibar terjadi pada bulan Shafar. Ibnu Luqaim Al-Absi berkata tentang Perang Khaibar,
      ‘Benteng Nathah dilempari Rasul dengan pasukan besar
      Yang bersenjata lengkap
      Yang mempunyai pundak dan punggung
      Benteng Nathah merasa kalah ketika berita kematiannya disebarkan
      Di tengah-tengah mereka terdapat orang-orang Aslam dan Ghifar
      Pasukan tersebut menyerbu Bani Amr bin Zur’ah pada suatu pagi
      Dan benteng Asy-Syiqq. Penduduknya merasa kegelapan di siang hari
      Setiap benteng mempunyai kesibukan dari pasukan berkuda
      Yang berasal dari Abdul Asyhal atau Bani An-Najjar
      Dan kaum Muhajirin yang cirri-ciri mereka diketahui dari atas pelindung kepada mereka

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 311

      Mereka tidak berniat melarikan diri
      Sungguh aku tahu Muhammad pasti menang
      Dan ia pasti menetap di sana hingga bulan Shafar
      Orang-orang Yahudi membuka pelupuk matanya ke perang tersebut
      Di bawah debu dengan pandangan yang gelap’.”

    Apa Yang Diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Sebagian Wanita Muslimah dari Harta Fay’i

    Ibnu Ishaq berkata, “Beberapa istri kaum Muslimin ikut menghadiri Perang Khaibar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau memberi mereka sedikit dari harta fay’I dan tidak memberikan jatah khusus kepada mereka.”

    Perihal Wanita dari Bani Ghifar

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Sulaiman bin Suhaim berkata kepadanya dari Umaiyyah binti Abu Ash-Shalt dari seoarng wanita dari Bani Ghifar yang berkata, “aku datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama rombongan wanita dari Bani Ghifar dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami ingin keluar bersamamu ke tempat yang engkau tuju---ketika beliau sedang berangkat ke Khaibar---, agar kami bisa mengobati orang-orang yang terluka dan membantu kaum Muslimin semampu kami.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Dengan berkah Allah, silahkan.’ Kami pun berangkat bersama beliau. Ketika itu, aku gadis yang baru menginjak dewasa. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menempatkanku di kantong pelana untanya. Demi Allah, beliau turun dari kantong pelana unta beliau hingga waktu shubuh dan menghentikan untanya. Aku pun turun dari kantong pelana unta beliau, ternyata di dalamnya terdapat darah. Itu darah haidku yang pertama kali. Aku melompat ke arah unta dan merasa malu. Ketika beliau melihatku dan melihat darah, beliau bersabda, ‘Apa yang terjadi denganmu, barangkali engkau baru haid?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Perbaikilah dirimu, ambil tempat air, masukkan garam ke dalamnya, bersihkan kantong pelana unta yang terkena darah dengan air tersebut, kemudian kembalilah ke kendaraanmu. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil menaklukkan Khaibar, beliau memberi kami sedikit dari harta fay’I, mengambil kalung yang kalian lihat di leherku ini, memberikannya kepadaku, dan memasangkannya ke leherku. Demi Allah, kalung ini, tidak berpisah denganku selama-lamanya.” (JGA: coba…kira-kira menurutmu kisah ini kisah apa? Kenapa bukan salah satu istrinya yang dibawa di atas untanya…kenapa seorang gadis lain? Kenapa pula sigadis mengalami pendarahan hingga ia mati. Lihat kisah selanjutnya di bawah ini,,,Kalau dengan Aisyah, daya tahannya mungkin lebih kuat dari daya tahan gadis ini dari gempuran burung si setan itu…)

    Umaiyyah binti Abu Ash-Shalit berkata, Kalung tersebut tetap berada di leher wanita tersebut hingga ia meninggal dunia. Ia berwasiat agar kalung tersebut dimakamkan bersamanya. Wanita tersebut juga tidak bersuci dari haid
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    Halaman 312

    melainkan memasukkan garam di tempat air dan berwasiat agar ia dimandikan dengannya ketika meninggal dunia.”
    (JGA: wuahahahah…si gadis berwasiat agar air yang dibubuhi garam tersebu digunakan untuk memandikan dirinya ketika ia mati…coba kau lihat lagi..masuk akalmu tidak jika wanita itu mati karena haid…ada gak sih yang gara-gara haid mati? Kalau yang mati gara-gara mengalami pendarahan sehabis gituan, adaaa..! gw tahu itu…ini serius..dua rius..tiga rius..dan berius-rius malahan..jangan kau anggap saya lagi bercanda ya…awas kau..! So. Apa kesimpulanmu kalau begitu…bukankah ini berarti Muhammad telah menggenjot si gadis di atas untanya? Huahahahaha..kau pasti tertawa…karena kau tidak tahu ada sunnah Muhammad yang mengatakan bahwa seorang istri wajib memenuhi hajat seksual istrinya, bahkan ketika sedang berada di atas unta pun wajib patuh…lhaaa..kau gak percaya ya..ya udahlah..mungkin kau bilang, ‘si gadis kan bukan istrinya momed?’ lah..lah…gimana sih? Kan Muhammad punya privasi sendiri…gak kenal istri atau bukan, yang penting Allah swt sudah mengijinkan dia koq…kata beliau (si Allah swt), “bahkan wanita mukmin yang menyerahkan diri pada nabi, kalau nabi mau menggaulinya” Asyikkan jadi nabi model ginian? Makanya jika kau mau menikmati hal-hal privasi seperti ini, segeralah melamar menjadi nabi pada si Allah swt) :lol:
    ---ooOoo---


    rehat dulu yee...pegel-pegel nih jari-jari gw...susah mbedain mana jempol mana jari lainnya...dah pada kapalan..bengkak-bengkak...hihihi...ceryio...

    selamat menikmati..ntar dilanjutkan lagi...

    Selamat hari raya imlek...Gong Xi Fat Chai....semoga berkah turun melimpah =D>
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Mon Apr 15, 2013 9:49 pm

    duh senangnya berhasil sudah....


    hal 313

    BAB 173

    SYUHADA’ KAUM MUSLIMIN DI PERANG KHAIBAR


    Ibnu Ishaq berkata, “Inilah nama-nama syuhada’ kaum Muslimin dari Quraisy, kemudian bani Umaiyyah bin Abdu Syams, dan sekutu-sekutu mereka:
    1. Rabi’ah bin Akhtsam bin Sakhrah bin Amr bin Lakiz bin Amir bin Ghanm bin Dudan bin Asad.
    2. Rifa’ah bin Masruh.

    Syuhada’ dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah Abdullah bin Al-Hubaib (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Al-Habib.”) bin Uhaib bin Suhaim Bani Ghiyarah dari Bani Sa’ad bin Laits sekutu Bani Asad dan anak saudara perempuan mereka.”

    Syuhada’ Kaum Anshar

    Ibnu Ishaq berkata, “Syuhada’ kaum Muslimin dari kaum Anshar, kemudian dari Bani Salimah adalah sebagai berikut:
    1. Bisyr bin Al-Barra’ bin Ma’rur. Ia meninggal dunia karena memakan kambing beracun yang disiapkan untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
    2. Fudhail bin An-Nu’man.
    Jadi total syuhada’ dari Bani Salimah adalah dua orang.

    Syuhada’ dari Bani Zuraiq adalah Mas’ud bin Sa’ad bin Qais bin Khaladash bin Amir bin Zuraiq.

    Syuhada’ dari Al-Auz kemudian dari Bani Abdul Asyhal adalah Mahmud bin Maslamah bin Khalid bin Adi bin Majda’ah bin Haritsah bin Al-Haritsah. Ia sekutu mereka dari Bani Haritsah.

    Syuhada’ dari Bani Amr bin Auf adalah sebagai berikut:
    1. Abu Dhayyah bin Tsabit bin An-Nu’man bin Umaiyyah bin Umru’ul Qais bin Tsa’alabah bin Amr bin Auf.
    2. Al-Harits bin Hathib.
    3. Urwah bin Murrah bin Suraqah.
    ========================================================================================================

    halaman 314

    4. Aus bin Al-Qaid.
    5. Unaif bin Hubaib
    6. Tsabit bin Atslah.
    7. Thalhah bin (Yahya bin Malil bin Dhamrah).1

    Syuhada’ dari Bani Ghifar adalah Umarah bin Uqbah. Ia terkena panah.

    Syuhada’ dari Aslam adalah sebagai berikut:
    Al-Aswad sang penggembala. Namanya adalah Aslam (Ibnu Hisyam berkata, “Al-Aswad berasal dari Khaibar.”)’

    Syuhada’ di Khaibar--menurut Az-Zuhri--dari Bani Zuhrah adalah Mas’ud bin Rabi’ah sekutu mereka dari Al-Qarah.

    Syuhada’ kaum Anshar dari Bani Amr bin Auf adalah Aus bin Qatadah.”


    --ooOoo--


    ========================================================================================================

    halaman 315

    BAB 174

    PERIHAL AL-ASWAD SANG PENGGEMBALA


    Ibnu Ishaq berkata, “Kisah tentang Al-Aswad sang penggembala--seperti yang disampaikan kepadaku--bahwa ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--ketika beliau mengepung salah satu benteng Khaibar--dengan membawa sekawanan kambing milik orang Yah’di dan ia adalah penggembalanya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskan Islam keadaku.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan Islam kepadanya, kemudian ia masuk Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menghina seseorang ketika beliau mengajaknya kepada Islam dan menjelaskan Islam kepadanya. Sesudah masuk Islam, Al-Aswad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku penggembala kambing-kambing ini dan kambing-kambing ini amanah bagiku, apa yang mesti aku perbuat terhadapnya?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Pukullah wajahnya, niscaya ia pulang kepada pemiliknya--atau seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--.’ Al-Aswad berdiri, mengambil segenggam kerikil, dan melemparkannya ke wajah kambing-kambing tersebut sambil berkata, ‘Pulanglah kepada pemilik kalian, demi Allah aku tidak berteman lagi denganmu selama-lamanya.’ Kontan, kambing-kambing tersebut berkumpul dan berjalan seperti ada yang menunutun hingga memasuki benteng. Setelah itu, Al-Aswad maju bertempur bersama kaum Muslimin. Ia terkena batu dan meninggal dunia karenanya dan belum pernah mengerjakan shalat. Al-Aswad dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, diletakkan di belakang beliau, dan ditutup dengan mantelnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatnya bersama beberapa orang dari para sahabat, kemudian memalingkan muka. Para sahabat bertanya,’Kenapa engkau memalingkan muka daripadanya, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya ia sedang bersama duanya istri dari bidadari.’”

    Ibnu Ishaq berkata, “Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa ia diberitahu jika syahid meninggal dunia, dua istrinya dari bidadari turun padanya dan mengibaskan tanah dari wajahnya sambil berkata, ‘Semoga Allah menjadikan tanah wajah orang yang menjadikanmu sebagai tanah dan membunuh orang yang membunuhmu’.”


    --ooOoo--


    hal 316
    BAB 175
    PERIHAL AL-HAJJAJ BIN ILATH AS SULAIM

    Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Khaibar ditaklukkan, Al-Hajjaj bin Ilath As-Sulami berbincang-bincang dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, di Makkah aku mempunyai kekayaan di tangan istriku, Ummu Syaibah binti Abu Thalhah, --Ummu Syaibah adalah istri adalah istri Al-Hajjaj bin Ilath dan darinya ia mendapatkan anak, Mu’ridh bin Al-Hajjaj--. Aku juga mempunyai harta di para pedagang Makkah, oleh karena itu, izinkan aku pergi ke sana!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi izin kepadanya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada sesuatu yang ingin aku katakana.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Silakan katakana.’ Al-Hajjaj bin Ilath berkata, ‘Aku pun berangkat ke Makkah. Ketika tiba di Tsaniyyatul Baidha, aku lihat banyak sekali orang-orang Quraisy mencari informasi dan menanyakan perihal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka mendengar beliau berangkat ke Khaibar dan mereka tahu Khaibar adalah desa di Hijaz yang paling subur, kuat, dan paling banyak penduduknya. Mereka mencari-cari informasi dan bertanya kepada setiap musafir. Ketika mereka melihatku mereka berkata, ‘Ini dia Al-Hajjaj bin Ilath, -- mereka belum mengetahui keIslamanku Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--. Demi Allah, ia mempunyai informasi Hai Abu Muhammad, jelaskan kepada kami. Kami mendengar pemutus hubungan kekerabatan (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke Khaibar, padahal Khaibar adalah negeri Yahudi dan desa di Hijaz yang paling subur’ Aku berkata, ‘Aku juga mendengarnya dan aku juga mempunyai informasi yang menggembirakan kalian.’ Mereka berkerumun di sekitar untaku Mereka berkata, ‘Informasi apa wahai Al-Hajjaj?’ Aku berkata, ‘Ia kalah dan kalian belum pernah mendengar kekalahan seperti kekalahannya. Sahabat-sahabatnya terbunuh dan kalian belum pernah mendengar pembunuhan seperti itu. Muhammad sendiri tertawan. Orang-orang Khaibar berkata, ‘Kita tidak membunuhnya, namun kita mengirimkannya ke Makkah agar orang-orang Makkah sendiri yang membunuhnya sebagai pembalasan terbunuhnya orang-orang mereka’.’ Orang-orang Quraisy berdiri dan berteriak, ‘Inilah informasi itu. Kalian tinggal menunggu Muhammad dibawa kepada kalian kemudian ia dibunuh ditengah-tengah kalian.’ Aku berkata, ‘Tapi, tolonglah aku mengumpulkan hartaku di Makkah dan terhadap para…
    ========================================================================================================

    halaman 317

    debiturku, karena aku ingin pergi ke Khaibar untuk membeli Muhammad dan sahabat-sahabatnya sebelum di dahului para pedagang yang lain.’ Mereka mengumpulkan hartaku dengan cepat yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Aku mendatangi istriku dan berkata kepadanya, ‘Mana hartaku?’ --aku masih mempunyai harta padanya--. Mudah-mudahan aku bisa pergi ke Khaibar dan mendapatkan peluang membeli sebelum didahului para pedagang.’ Ketika Al-Abbas bin Abdul Muththalib mendengar informasi yang aku bawa, ia datang kepadaku hingga berdiri di sampingku ketika aku berada di salah satu kemah pedagang. Ia berkata, ‘Hai Hajjaj, informasi apa yang engkau bawa?’ Aku katakan kepadanya, ‘Apakah engkau siap menjaga sesuatu yang aku berikan kepadamu?’ Al-Abbas bin Abdul Muththalib menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib, ‘Kalau begitu, pergilah dariku. Kita bertemu lagi di tempat sepi, karena sekarang aku sedang mengumpulkan hartaku seperti engkau lihat.’
    Ketika aku usai mengumpulkan seluruh hartaku di Makkah dan siap pulang, aku bertemu Al-Abbas bin Abdul Muththalib. Aku katakana kepadanya, ‘Hai Abu Al-Fadhl, rahasiakanlah pembicaraanku ini, karena aku takut dirimu -- ia berkata seperti itu hingga tiga kali --. Setelah itu, katakana apa saja yang engkau inginkan!’
    Al-Abbas bin Al-Muththalib berkata, ‘Ya.’
    Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tinggalkan anak saudaramu menjadi pengantin dengan putrid raja mereka, yaitu Shafiyah binti Huyai. Khaibar telah ia taklukkan. Ia keluarkan apa saja yang ada di dalamnya, Khaibar menjadi miliknya dan milik sahabat-sahabatnya.’
    Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, ‘Apa engkau katakana, hai Hajjaj?’
    Aku katakana kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib, ‘Demi Allah, rahasiakan diriku, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Aku datang ke sini untuk mengambil hartaku karena aku takut harta tersebut direbut dariku. JIka telah berlalu tiga hari, umumkan perihal diriku, karena itu demi Allah, sesuai dengan yang engkau inginkan.’
    Pada hari ketiga, Al-Abbas bin Abdul Muththalib mengenakan pakaian, memakai parfum, mengambil tongkat, dan pergi ke Ka’bah. Tiba di Ka’bah, ia thawaf. Ketika orang-orang Quraisy melihatnya, mereka berkata, ‘Hai Abu Al-Fadhl, demi Allah, orang ini sabar atas musibah yang berat.’ Al-Abbas bin Abdul Muththalib menjawab, ‘Tidak demi Allah yang kalian bersumpah dengan-Nya. Sungguh Muhammad telah menaklukkan Khaibar, dibiarkan menjadi pengantin dengan putri raja mereka, dan mengeluarkan apa saja yang ada di dalamnya kemudian menjadi miliknya dan sahabat-sahabatnya.’ Mereka berkata,...
    ========================================================================================================

    halaman 318
    ‘Siapa yang membawa informasi ini?’ Al-Abbas bin Abdul Muththalib menjawab, ‘Informasi ini dibawa oleh orang yang telah datang kepada kalian dengan informasi yang dibawanya. Ia masuk ke tempat kalian dalam keadaan Muslim, mengambil hartanya, lalu pergi untuk bergabung dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Sekarang orang tersebut bersama dia.’ Mereka berkata, ‘Hai hamba-hamba Allah, dia lolos. Demi Allah, kalau kita mengetahui hal ini sebelumnya, pasti kita membuat perhitungan dengannya.’
    Mereka tidak bereaksi apa-apa ketika Al-Abbas bin Abdul Muththalib datang kepada mereka dengan membawa informasi tersebut.”
    --ooOoo--

    ========================================================================================================

    halaman 319

    BAB 176

    SYAIR-SYAIR YANG DIUCAPKAN TENTANG PERANG KHAIBAR


    Ibnu Ishaq berkata, “Di antara syair-syair yang diucapkan tentang Perang Khaibar adalah syair Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu. Ia berkata,
      ‘Sungguh jelek yang dibela orang-orang Khaibar
      Ketika mereka membela lading-ladang dan kebun kurma mereka
      Mereka benci mati, kemudian darah mereka dihalalkan
      Mereka mengakui perbuatan buruk dan hina mereka
      Apakah kalian lari dari kematian?
      Padahal kematian adalah kematian kelaparan yang tidak baik’

    Hassan bin Tsabit juga memintakan maaf bagi Aiman bin Ummu Aiman bin Ubaid karena tidak ikut hadir di Perang Khaibar. Aiman bin Ummu Aiman bin Ubaid berasal dari Bani Auf bin Al-Khazraj dan ibunya adalah Ummu Aiman mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ummu Aiman juga ibu Usamah bin Zaid. Jad, Aiman bin Ummu Aiman adalah saudara seibu dengan Usamah bin Zaid. Hassan bin Tsabit berkata,
    ‘Ketika Ummu Aiman berkata kepada Aiman,
    ‘Engkau pengecut dan tidak ikut hadir di pasukan kuda di Khaibar.’
    Engkau tidak pengecut, namun anak kuda memaksanya memberi makanan kepadanya
    Jika ia tidak diganggu anak kudanya
    Ia pasti bertempur dengan mereka sebagai penunggang kuda dengan tangan kidal!
    Namun, ia dihalang-halangi ulah anak kudanya
    Tidak ada sesuatu padanya kecuali kuda yang melihat kepadanya’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Abu Zaid Al-Anshari mengatakan bahwa syair-syair di atas sebenarnya miik Ka’ab bin Malik. Ia juga membacakan bait syair berikut kepadaku,
    ‘Namun ia dihalang-halangi ulang anak kudanya
    JIka itu tidak terjadi, ia tidak akan telat’.”

    ========================================================================================================

    halaman 320

    Syair-syair Najiyah bin Jundab Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Najiyah bin Jundab Al-Aslami berkata,
      ‘Duhai hamba-hamba Allah, mereka tidak diiming-iming
      Kecuali dengan makanan, minuman, dan surga yang di dalamnya kenikmatan yang menggiurkan’.”
    :lol:

    Syair Lain Najiyah bin Jundab Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Najiyah bin Jundab Al-Aslami juga berkata,
      ‘ Aku anak Jundab bagi orang yang tidak mengakuiku
      Duhai barangkali lawan sepadan di tempat larinya kuda
      Itu tersungkur kemudian mejadi santapan burung Nasar dan serigala’.”


    Syair Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata,
      ‘Kami tiba di Khaibar dan mulut sungainya
      Dengan pemuda-pemua dengan urat bahu terbuka karena membela assetnya
      Mereka dermawan dalam semua tujuan dan tidak lemah kekuatannya
      Mereka pemberani terhadap semua musuh dalam setiap perang
      Mereka sering menjamu tamu dalam setiap tetesan air hujan
      Mereka melihat pembunuhan sebagai sesuatu yang terpuji
      Mereka mengharapkan mati syahid dari Allah dan keberuntungan dengan Ahmad
      Mereka membela Muhammad
      Dan membela beliau dengan lisan dan tangan
      Mereka membelanya dalam semua perkara yang membahayakannya
      Mereka dermawan dengan nyawa mereka untuk melindungi nyawa Muhammad
      Mereka membenarkan berita ghaib dan ikhlas
      Dalam itu semua, mereka menginginkan keberuntungan dan kemuliaan di akhirat kelak’.”


    --ooOoo--

    ========================================================================================================

    halaman 321

    BAB 177

    PEMBAGIAN LADANG-LADANG KHAIBAR


    Ghanimah Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata, “Asset Khaibar yang dibagi-bagi adalah Asy-Syiqq, Nathah dan Al-Katibah. Asy-Syiqq dan Nathah dibagikan kepada kaum Muslimin karena jatah mereka. Sedang Al-Khatibah, seperlimanya untuk Allah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sanak kerabat beliau, dan makanan untuk orang-orang yang berjalan antara beliau dan penduduk Fadak dengan membawa perdamaian, di antara mereka adalah Muhaiyyishah bin Mas’ud yang ketika itu diberi tiga puluh wasaq* sya’ir (sejenis gandum), tiga puluh wassaq’ kurma. Khaibar dibagikan kepada para sahabat yang menghadiri perdamaian Al-Hudaibiyah, para sahabat yang menghadiri Perang Khaibar, dan sahabat yang tidak menghadirinya yaitu satu orang. Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya jatah seperti jatah orang yang menghadiri Perang Khaibar. Lembah Khaibar adalah As-Surair dan Khas. Kedua lembah itulah yang diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Jabir bin Abdullah. Nathah dan Asy-Syiqq mempunyai delapan belas bagian; Nathah lima bagian dan As-Syiqq tiga belas bagian, kemudian dibagi menjadi seribu delapan ratus bagian, karena jumlah bagian para sahabat terhadap asset Khaibar adalah seribu delapan ratus bagian. Pejalan kaki berjumlah seribu empat ratus dan pasukan berkuda berjumlah dua ratus. Setiap kuda mendapatkan dua bagian dan penunggangnya satu bagian, sedang setiap pejalan kaki mendapat satu bagian. Setiap satu bagian mempunyai ketua yang membawahi seratus orang, sehingga jumlah total bagian adalah delapan belas bagian.”
    Arabisasi Kuda
    Ibnu Hisyam berkata, “Di Khaibar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan Arabisasi kuda Arab dan dearabisasi terhadap kuda non Arab.”
    --------------
    *Satu wasaq sama dengan enam puluh gantang
    ========================================================================================================

    halaman 322

    Ibnu Ishaq berkata, “Bagian-bagia yang menjadi ketua dan membawa seratus bagian adalah sebagai berikut:
    1. Bagian Ali bin Abu Thalib.
    2. Bagian Az-Zubair bin Al-Awwam.
    3. Bagian Thalhah bin Ubaidillah.
    4. Bagian Umar bin Khaththab.
    5. Bagian Abdurrahman bin Auf.
    6. Bagian Ashim bin Adi saudara Bani Al-Ajlan.
    7. Bagian Usaid bin Al-Hushair.
    8. Bagian Al-Harits bin Al-Khazraj.
    9. Bagian Na’im.
    10. Bagian Bani Bayadhah.
    11. Bagian Bani Ubaidah.
    12. Bagian Bani Haram dari Bani Salimah.
    13. Bagian Bani As-Sihan (Ibnu Hisyam berkata, “Ia menamakan As-Shiham, karena membeli as-siham (anak panah) di Perang Khaibar. Ia adalah Ubaid bin Aus saudara Bani Haritsah bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus.”).
    14. Bagian Saidah.
    15. Bagian Ghifar dan Aslam.
    16. Bagian An-Najjar.
    17. Bagian Haritsah.
    18. Bagian Aus.

    Bagian yang pertama kali keluar terhadap ladang Khaibar di Nathah adalah bagian Az-Zuhri bin Al-Awwam yaitu Al-Khau’ disusul As-Surair, bagian kedua adalah bagian Bayadzah, bagian ketiga adalah bagian Usaid, bagian ke empat adalah bagian Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, bagian kelima adalah bagian Na’im untuk Bani Auf bin Al-Khazraj dan Muzayyanah dan sekutu-sekutu mereka. Di tempat tersebutlah, Mahmud bin Maslamah terbunuh. Ini pembagian terhadap Nathah.

    Setelah itu, para sahabat menuruni Asy-Syiqq. Bagian yang pertama kali keluar adalah bagian Ashim bin Adi saudara Bani Al-Ajlan bersama bagian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, disusul bagian Abdurrahman bin Auf, disusul bagian Saidah, disusul bagian An-Najjar, disusul bagian Ali bin Abu Thalib, disuse bagian Thalhah bin Ubaidillah, disusul bagian Ghifar dan Aslam, disusul bagian Umar bin Khaththab, disusul dua bagian Bani Ubaid dan Bani Haram, disusul bagian Haritsah, disusul Ubaid As-Siham, disusul bagian Aus yaitu bagian Al-Lafif, Juhainah, dan orang-orang Arab yang hadir di Perang Khaibar. Di dekat bagian Aus terdapat bagian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam…

    ========================================================================================================

    halaman 323

    …yang beliau dapatkan bersama-sama Ashim bin Adi.

    Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi Al-Katibah, yaitu Lembah Khas kepada sanak kerabat dan beberapa orang laki-laki dan wanita dari kaum Muslimin Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi Fathimah dua ratus wassaq, Ali bin Abu Thalib seratus wassaq, Usamah bin Zaid dua ratus wassaq biji-bijian, Aisyah Ummul Mukminin dua ratus wassaq, Abu Bakar bin Abu Quhafah seratus wassaq, Aqil bin Abu Thalib seratus empat puluh wassaq, anak-anak Ja’far lima puluh wassaq, Rabi’ah bin Al-Harits seratus wassaq, Ash-Shalt bin Makhramah dan dua anaknya seratus wassaq, Qais bin Makhramah tiga puluh wassaq daripadanya, Abu Al-Qasim bin Makhramah empat puluh wassaq, anak-anak putrid Ubaidillah bin Al-Harits dan putrid Al-Hushain bin Al-Harits seratus wassaq, anak-anak Ubaid bin Abdu Yazid enam puluh wassaq, Ujair bin Abdu Yazid tiga puluh wassaq, Ummu Al-Hakam* binti Az-Zubair bin Al-Muththalib tiga puluh wassaq, Jumanah binti Abu Thalib tiga puluh wassaq, Ummu Al-Arqam lima puluh wassaq, Abdurrahman bin Abu Bakar empat puluh wassaq, Hamnah binti Jahsy tiga puluh wassaq, Ummu Az-Zubair empat puluh wassaq, Dzuba’ah binti Az-Zubair empat puluh wassaq, anak Abu Khunais tiga puluh wassaq, Ummu Thalib empat puluh wassaq, Abu Bashrah dua puluh wassaq, Numailah Al-Kalbi lima puluh wassaq, Abdullah bin Wahb dan kedua anaknya Sembilan
    puluh wassaq, kedua anaknya menapatkan empat puluh wassaq daripadanya, Ummu Habib binti Jahsy tiga puluh wassaq, Malku bin Abdah tiga puluh wassaq, dan istri-istri beliau tujuh ratus wassaq.”
    Ibnu Hisyam berkata, “Gandum, sya’ir (sejenis gandum), kurma, biji-bijian, dan lain sebagainya dibagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebutuhan Bani Abdul Muththalib lebih banyak daripada yang lain, oleh karena itu, beliau memberi mereka melebihi dari yang lain.”
    Gandum Yang Diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi istri-istrinya sebanyak seratus delapan puluh wassaq gandum, untuk Fathimah…
    - - - - - ---------------------------------------------------------
    * Yang benar adalah Ummu Al-Hakim binti Az-Zubair bin Al-Muththalib saudara perempuan Dzaba’ah, karena Ummu Al-Hakam adalah putrid Abu Sufyan yang masuk Islam pasca penaklukan Makkah, jadi masuk akal kalau ia mendapatkan bagian dari Khaibar sebelum keislamannya.
    ========================================================================================================

    halaman 324

    binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebanyak delapan puluh lima wassaq, Usamah bin Zaid empat puluh wassaq, Al-Miqdad bin Al-Aswad lima belas wassaq dan Ummu Rumaitsah lima wassaq. Pembagian ini disaksikan Utsman bin Affan dan Abbas, kemudian ditulis.”

    Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Sebelum Wafat

    Ibnu Ishaq berkata, “Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari (Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Utbah bin Ma’sud yang berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mewasiatkan enam hal sebelum wafat; orang-orang Rahawiyin diberi seratus wassaq gandum Khaibar, orang-orang Ad-Dariyyin diberi seratus wassaq gandum Khaibar, orang-orang Al-Asy’ariyyin diberi seratus wassaq gandum Khaibar, pengiriman pasukan Usamah bin Zaid tetap dilanjutkan, dan tidak boleh ada dua agama di Jazirah Arab.

    --ooOoo--
    Last edited by JANGAN GITU AH on Tue Apr 16, 2013 8:28 pm, edited 1 time in total.
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Thu Apr 18, 2013 7:52 pm

    halaman 325

    BAB 178

    FADAK PASCA PENAKLUKAN KHAIBAR


    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merampungkan penaklukan Khaibar, Allah Ta’ala memasukkan ketakutan ke hati orang-orang Fadak ketika mendengar Allah Ta’ala menimpakan hukuman kepada orang-orang Khaibar. Oleh karena itu, mereka mengirim utusan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berdamai dengan beliau dengan ketentuan berbagi dua terhadap asset Fadak. Utusan mereka bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Khaibar, atau di salah satu jalan, atau setelah beliau tiba di Madinah. Beliau menerima perdamaian mereka. Fadak murni menjadi bagian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena tidak diserang dengan pasukan berkuda atau pasukan pejalan kaki.”

    --ooOoo--


    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 318

    BAB 179

    PENAMAAN BEBERAPA ORANG AD-DARIYYIN


    [justify]Ibnu Ishaq berkata, “Orang-orang Ad-Dariyyin adalah anak keturunan Dar bin Hani bin Habib bin Numarah bin Lakham yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Syams. Tamim bin Aus, saudara Tamin yang bernama Nu’aim bin Aus, Yassid bin Qais, Arfah bin Malik (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Azzah bin Malik.”, dan saudaranya yang bernama Murran bin Malik diberi nama Abdurrahman oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”Sedang Fakih bin Nu’man, Jabalah bin Malik, Abu Hindun bin Bar, dan saudaranya yang bernama Ath-Thayyib diberi nama Abdullah oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengutus Kharish’ kepada Penduduk Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abdullah bin Rawahah kepada penduduk Khaibar sebagai kharish antara kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi berkata, ‘Engkau curang kepada kami Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ Abdullah bin Rawahah berkata, ‘Jika kalian mau, maka ini menjadi milik kami dan jika kalian mau maka menjadi milik kalian.’ Mereka berkata, ‘Dengan inilah langit dan bumi menjadi tegak.’ Abdullah bin Rawahah hanya setahun bertugas sebagai *kharish di Khaibar, karena ia gugur sebagai syahid di Perang Mu’tah. Sepeninggalnya, yang menjadi kharis adalah Jabbar bin Shakir bin Umaiyyah bin Khansa’ saudara Bani Salimah.”

    Terbunuhnya Abdullah bin Sahi Saudara Bani Haritsah dengan Tiba-tiba dan Tertuduhnya Orang-orang Yahudi dalam Kasus Tersebut.

    Ibnu Ishaq berkata, “Dalam jangka waktu tersebut, kaum Muslimin tidak melihat hal-hal yang buruk pada orang-orang Yahudi hingga suatu saat pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka menyerang Abdullah…

    --------------------------
    *Kharis adalah petugas yang menerka hasil panen buah kurma yang masih berada di pohonnya.

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 327

    …bin Sahl saudara Bani Haritsah dan membunuhnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin menuduh mereka sebagai pembunuhnya.”

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Az-Zuhri dan juga Basyir bin Yassar mantan budak Bani Haritsah berkata kepadanya dari Sahl bin Abu Hatsmah yang berkata, “Abdullah bin Sahl meninggal di Khaibar. Ia berangkat ke Khaibar bersama teman-temannya guna memotong kurma, namun ia ditemukan di salah satu mata air dalam keadaan leher putus dan dilemparkan ke dalamnya. Teman-temannya mengambilnya, menyembunyikannya, datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan menceritakan kisah tersebut kepada beliau. Saudara Abdullah bin Sahl, Abdurrahman bin Sahl, maju kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama dua anak pamannya; Huwaiyyishah bin Mas’ud dan Muhaiyyisah bin Mas’ud. Abdurrahman bin Mas’ud masih sangat muda, keluarga korban, dan pemberani di kalangan kaumnya. Ketika Abdurrahman bin Sahl berbicara mendahului dua kedua anak pamannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa bersabda, ‘Mulai dari yang tua. mulai dari yang tua’.”

    Al-Qasamah (Sumpah)

    Ibnu Ishaq berkata, “Akhirnya yang pertama kali bicara adalah Huwaiyyisah, Muhaiyyisah, kemudian Abdurrahman. Mereka menceritakan terbunuhnya saudara mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda kepada mereka, ‘Maukah kalian menyebutkan nama pembunuh saudara kalian, bersumpah untuknya sebanyak lima puluh kali, kemudian pembunuh tersebut aku serahkan kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak terbiasa bersumpah untuk sesuatu yang tidak kami ketahui.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, saudara kalian dan tidak mengetahui siapa pembunuhnya, kemudian mereka dibebaskan?’ Mereka bertiga menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak terbiasa menerima sumpah orang-orang Yahudi, karena kekafiran yang ada pada mereka itu lebih besar daripada mereka bersumpah dengan dosa.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi mereka diyat seratus unta dari harta beliau sendiri. Abdurrahman bin Sahl berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah lupa akan anak unta berwarna merah yang memukulku ketika aku menggiringnya’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi berkata kepadaku dari Abdurrahman bin Bujaid bin Qaidhi saudara Bani Haritsah. Muhammad bin Ibrahim berkata, ‘Demi Allah, Abdurrahman bin Sahl tidak lebih tahu daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun lebih muda dari beliau. Ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Demi Allah, …

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 328

    …, permasalahannya tiak seperti ini.’ Ia salah paham, karena sebenarnya beliau tidak bersaba, ‘Bersumpahlah terhadap apa yang tidak kalian ketahui.’ namun beliau menulis surat kepada orang-orang Yahudi--sesudah kaum Anshar berbicara kepada beliau--, ‘Di antara rumah-rumah kalian ditemukan korban, oleh karena itu, hendaklah kalian membayar diyatnya.’ Orang-orang Yahudi membalas surat beliau. Dalam suratnya, mereka bersumpah tidak membunuh korban tersebut dan tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Akhirnya , Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membayar diyat untuk keluarga korban dari harta beliau sendiri.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Amr bin Syuaib menceritakan kepadaku hadits seperti hadits riwayat Abdurrahman bin Bujaid, hanya saja Amr bin Syuaib berkata dalam haditsnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang-orang Yahudi, ‘Berikan diyatnya atau izinkan perang dari Allah.’ Mereka menulis dalam suratnya, mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak membunuh Abdullah bin Sahl dan tidak tahu siapa pembunuhnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membayar diyat dari harta beliau sendiri.”
    Pengusiran Orang-orang Khaibar

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Ibnu Asy-Syihab Az-Zuhri menjelaskan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menaklukkan Khaibar dengan senjata dan Khaibar termasuk harta fay’I yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada beliau. Allah Ta’ala memberikan seperlimanya kepada beliau, membagikannya kepada kaum Muslimin, dan mengusir orang-orang Khaibar setelah perang. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil orang Khaibar dan bersabda kepada mereka, “Jika kalian mau, kami serahkan kebun-kebun ini kepada kalian dengan syarat kalian menggarapnya, hasilnya dibagi di antara kita, serta aku mengesahkan untuk kalian apa yang telah disahkan Allah untuk kalian.” Kemudian mereka menggarap kebun-kebun Khaibar dengan perjanjian seperti itu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abdullah bin Rawahah untuk membagi hasil panen dan adil terhadap mereka dalam menentukannya. Ketika beliau wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengesahkan kebun-kebun tersebut berada di tangan mereka dengan mekanisme yang pernah diterapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga Abu Bakar meninggal dunia. Hal tersebut disahkan Umar bin Khaththab di awal masa pemerintahannya. Tidak lama setelah memerintah, Umar bin Khaththab mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam sakitnya yang membuatnya meninggal dunia, “Tidak boleh berkumpul dua agama di Jajiarah Arab.” Umar bin Khaththab mengecek kebenaran sabda tersebut dan mendapatkan kesimpulan bahwa sabda tersebut memang benar. Umar bin Khaththab mengirim…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 329

    …surat kepada orang-orang Yahudi. Dalam suratnya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah wa Jalla mengizinkan pengusiran kalian, karena aku mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak boleh ada dua agam di Jazirah Arab.’ Oleh karena itu, barangsiapa di antara orang-orang Yahudi yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, silakan ia datang kepadaku untuk aku tunaikan perjanjiannya. Sedang bagi orang yang tidak mempunyai perjanjian dengan beliau, bersiap-siaplah untuk diusir.” Setelah itu, Umar Khaththab mengusir orang-orang Yahudi yang tidak mempunyai perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Ibnu Ishaq berkata, “Nafi’ mantan budak Abdullah bin Umar berkata kepadaku dari Abdullah bin Umar yang berkata, ‘Aku keluar bersama Az-Zubair bin Al-Awwam dan Al-Miqdad bin Al-Aswad ke kebun-kebun kami untuk mengadakan perjanjian terhadapnya. Ketika tiba di Khaibar, kami berpisah untuk pergi ke kebunnya masing-masing. Pada suatu malam, aku tidur di atas kasur, tiba-tiba diserang seseorang dan karenanya kedua tanganku bengkok hingga siku. Pagi harinya, kedua sahabatku berteriak memanggilku, mendatangiku dan bertanya, ‘Siapa yang berbuat ini kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Kedua sahabatku meluruskan kedua tangganku kemudian membawaku ke hadapan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu. Umar bin Khathtahb berdiri berkhutbah kepada kaum Muslimin. Dalam khutbahnya ia berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memperlakukan Khaibar dengan baik dan kita boleh mengusir mereka sewaktu-waktu jika kita mau. Belum lama ini mereka menyerang Abdullah bin Umar hingga kedua kakinya bengkok (JGA: mana yang benar, tangan atau kaki…? ) :rolleyes: dan sebelumnya juga menyerang salah seorang dari kaum Anshar. Kita tidak mempunyai musuh selain mereka, maka barangsiapa mempunyai harta di Khaibar, silakan ia pergi ke sana, karena aku akan mengusir mereka.’ Setelah itu, Umar bin Khaththab mengusir mereka.”

    Pembagian Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadanya dari Abdullah bin Maknaf saudara Bani Haritsah yang berkata, “Ketika Umar bin Khaththab mengusir orang-orang Yahudi dari Khaibar, ia berangkat ke sana bersama orang-orang Muhajirin, Anshar, Jabbar bin Shakhr bin Umayyah bin Khansa’ saudara Bani Salimah yang merupakan kharis Madinah, dan Yazid bin Tsabit. Keduanya membagi Khaibar kepada penduduknya berdasarkan pokok pembagian sebelumnya. Di antara pembagian Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu terhadap Lembah Al-Qura ialah bahwa Utsman bin Affan mempunyai satu bagian terhadapnya, Abdurrahman mempunyai satu…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 330

    …bagian, Umar bin Salamh mempunyai satu bagian, Amir bin Abu Rabi’ah mempunyai satu bagian, Amr bin Suraqah mempunyai satu bagian, Asyam (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Aslam.”) mempunyai satu bagian. Bani Ja’far mempunyai satu bagian, Muaiqib mempunyai satu bagian, Abdullah bin Al-Arqam mempunyai satu bagian, Abdullah dan Ubaidillah mempunyai satu bagian, anak Abdullah bin Jahsy mempunyai satu bagian, Ibnu Al-Bukair satu bagian, Al-Mu’tamir mempunyai satu bagian, Zaid bin Tsabit mempunyai satu bagian, Ubai bin Ka’ab mempunyai satu bagian, Muadz bin Afra’ mempunyai satu bagian, Abu Thalhah dan Hasan mempunyai satu bagian, Jabbar bin Shakhr bin Abdullah bin Amr mempunyai satu bagian, Ibnu Hudhair mempunyai satu bagian, Sa’ad bin Muadz mempunyai satu bagian, Salamah bin Salamah mempunyai satu bagian, Jabr bin Atik mempunyai setengah bagian, Muhammad bin Maslamah mempunyai satu bagian, Ubadah bin Thariq (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Qatadah.”) mempunyai satu bagian, Jabbar bin Atik mempunyai setengah bagian (JGA: wuih…dah disebut di atas, diulang lagi..jelek amat editing buku ini!), anak Al-Harits bin Qais mempunyai setengah bagian, anak Hamzah dan Adh-Dhahhak mempunyai satu bagian. Inilah penyelesaian Khaibar, Lembah Al-Qura, dan pembagiannya yang sampai kepada kami.”

    (JGA: hadeeeuuh…bolak bali ngemeng “mempunyai satu bagian”, sama sekali tidak mengindahkan kaidah penulisan praktis untuk perihal yang sama keterangannya…benar-benar ajaib. Membuat orang yang baca akan segera bosan! Sangat melelahkan.) :turban:

    --ooOoo--
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Thu Apr 18, 2013 8:30 pm

    halaman 331

    BAB 180

    KEDATANGAN JA’FAR BIN ABU THALIB DARI HABASYAH DAN PERIHAL ORANG-ORANG YANG HIJRAH KE HABASYAH

    Kepulangan Sisa-sisa Muhajirin Habasyah pada Hari Penaklukan Khaibar

    Ibnu Hisyam berkata bahwa Sufyan bin Uyainah berkata dari Al-Ajlah dari Asy-Sya’bi yang berkata, “Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari penaklukan Khaibar. Beliau mencium di antara kedua mata Ja’far bin Abu Thalib dan mendekapnya. Beliau bersabda, ‘Aku tidak tahu dengan apakah aku berbahagia, dengan penaklukan Khaibar atau dengan kedatangan Ja’far’.”

    Nama-nama Muhajirin Yang Pulang ke Madinah

    Ibnu Ishaq berkata, “Di antara sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menetap di Habasyah hingga beliau mengutus Abdullah bin Umaiyyah Adh-Dhamri kepada An-Najasy kemudian Abdullah bin Umaiyyah Adh-Dhamri membawa mereka pulang dengan dua kapal hingga tiba di tempat beliau yang ketika itu berada di Khaibar adalah sebagai berikut:
    Dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf adalah Ja’far bin Abu Thalib beserta istrinya, Asma’ binti Umais Al-Khats’amiyyah, dan anaknya, Abdullah bin Ja’far. Asma’ binti Umais melahirkan Abdullah bin Ja’far di Habasyah. Ja’far bin Abu Thalib gugur sebagai syahid di Perang Mu’tah, daerah di Syam, sebagai komandan perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf satu orang (hanya Ja’far yang dihitung).
    Dari Banu Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut:

      1. Khalid bin Sa’id bin Umaiyyah bin Abdu Syams beserta istrinya, Umainah binti Khalaf bin As’ad (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Humainah binti Khalaf.”), dan kedua anaknya, Sa’id bin Khalid dan Amah binti Khalid. Umainah melahirkan keduannya di Habasyah. Khalid gugur sebagai syahid di Marj Ash-Shufur, daerah di Syams, pada masa pemerintahan Abu Bakar.
      2. Saudara Khalid, Amr bin Sa’ad bin Al-Ash, beserta istrinya, Fathimah binti Shafwan bin Umaiyyah bin Muharrits Al-Kinani. Fathimah binti…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 332

      …Shafwan meninggal dunia di daerah Habasyah, sedang Khalid gugur sebagai syahid di Ajnadin, daerah di Syam, pada masa pemerintahan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Tentang Amr bin Sa’id, ayahnya, Sa’id bin Al-Ash bin Umaiyyah Abu Uhaihah, berkata,
      ‘Duhai syairku bertanya kepadamu hai Amr,
      Jika ia dewasa, kedua tangannya telah kuat, dan disenjatai
      Pantaskah engkau tinggalkan kaummu kacau balau
      Dan engkau buka emosi di hati yang tadinya tertutup?’


    Tentang Khalid dan Amr, saudara keduanya, Aban bin Sa’id bin Al-Ash, berkata ketika keduannya masuk Islam--ayah mereka meninggal dunia di Adz-Dzuraibah daerah di Thaif di ladangnya--,

      ‘Ah, seandainya orang yang meninggal di Adz-Dzuraibah menyaksikan
      Amr dan Khalid yang membuat kebohongan di agama
      Keduanya mentaati perintah para wanita daripada perintah kami
      Kemudian keduanya mmusuh-musuh yang kita hadapi.’


    Syair di atas dijawab Khalid bin Sa’ad,

      ‘Saudaraku, aku tidak mencela kehormatannya karena kehormatannya adalah kehormatanku juga
      Ia tidak berhenti dari berkata buruk
      Ia berkata jika persoalannya memuncak,
      ‘Ah, seandainya orang yang meninggal di Adz-Dzuraibah dibangkitkan,’
      Tinggalkan olehmu mayit yang telah pergi
      Dan majulah kepada sesuatu yang paling dekat dimana ketika orang sangat membutuhkan bantuan.’


      3. Muaqib bin Abu Fathimah. Ia orang yang ditunjuk Umar bin Khaththab untuk menjaga Baitul Mal kaum Muslimin. Ia termasuk keluarga Sa’id bin Al-Ash.
      4. Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais sekutu keluarga Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams.
    Total dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah empat orang.

    Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai hanya satu orang, yaitu Al-Aswad bin Naufal bin Khuwailid.

    Dari Bani Abduddaar bin Qushai hanya satu orang, yaitu Jahm bin Qais bin Abdu Syurahbil beserta kedua anaknya, Amr bin Jahm dan Khuzaimah bin Jahm. Istri Jahm bin Qais, Ummu Harmalah binti Abdul Al-Aswad, dan dua anaknya yang lain meninggal dunia di Habasyah.

    Dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah sebagai berikut,
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    hal 333

      1. Amir bin Abu Waqqash.
      2. Utbbah bin Mas’ud sekutu mereka dari Hudzail.
    Total dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah dua orang.

    Dari Bani Taim bin Murrah bin Ka’ab hanya satu orang, yaitu Al-Harits bin Khalid bin Shakir. Ia pulang bersama istrinya, Raithab binti Al-Harits bin Jubailah, dan meninggal dunia di daerah di Habasyah.

    Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab hanya satu orang. Utsman bin Rabi’ah bin Uhban.

    Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab hanya satu orang, yaitu Mahmiyyah bin Al-Jaz’I sekutu mereka dari Bani Zubaid. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikannya berhak atas bagian seperlima kaum Muslimin.

    Dari Bani Adi bin Ka’ab bin Luai hanya satu orang, yaitu Ma’mar bin Abdullah bin Nadhlah.

    Dari Bani Amir bin Luai bin Ghalib adalah sebagai berikut:
      1. Abu Hathib bin Amr bin Abdu Syams.
      2. Malik bin Rabi’ah bin Qais bin Abdu Syams beserta istrinya, Amrah binti As-Sa’di bin Waqdan bin Abdu Syams.
    Jadi dari Bani Amir bin Luai bin Ghalib dua orang.

    Dari Bani Al-Harits bin Fihr bin Malik hanya satu orang, yaitu Al-Harits bin Abdu Qais bin Laqith.
    An-Najasy menyertakan istri-istri kaum Muslimin yang meninggal di Habasyah ke dalam dua perahu tersebut. Mereka itulah yang diangkut An-Najasy bersama Abdullah bin Umaiyyah Adh-Dhamri ke dalam dua perahu. Jadi total Muhajirin yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan dua perahu tersebut adalah enam belas orang laki-laki.”

    Perihal Ubaidillah bin Jahsy

    Ibnu Ishaq berkata, “Di antara kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah namun tidak datang kecuali setelah Perang Badar, tidak diangkut An-Najasy ke dalam dua perahu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, datang setelah itu, dan meninggal di daerah Habasyah dari Bani Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut:
      1. Ubaidillah bin Jahsy bin Riab Al-Asadi sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams beserta istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan putrinya, Habibah binti Ubaidillah,--karena itulah istrinya dipanggil Ummu Habibah binti Abu Sufyan--. Nama asli Ummu Habibah binti Abu Sufyan adalah Ramlah. Ubaidillah bin Jahsy Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah bersama kaum Muslimin ke Habasyah…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 334

    …Ketika tiba di sana, ia masuk Kristen dan meninggal di sana. Sepeninggalnya, istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan dinikahi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah yang berkata, ‘Ubaidillah bin Jahsy berangkat bersama kaum Muslimin dalam keadaan Muslim. Tiba di Habasyah, ia masuk agama Kristen. Jika ia berjalan melewati kaum Muslimin, ia berkata, ‘Aku telah melihat, sedang kalian mencari penglihatan dan belum melihat’.”
      2. Qais bin Abdullah, salah seorang dari Bani Asad bin Khuzaimah. Ia ayah Umaiyyah binti Qais yang ikut pergi bersama Ummu Habibah. Ia pulang bersama istrinya, Barakah binti Yasar mantan budak Abu Sufyan. Umaiyyah binti Qais dan Barakah menyusui anak Ubaidillah bin Jahsy dan Ummu Habibah. Ubaidillah bin Jahsy dan Ummu Habibah membawa keduanya ke Habasyah ketika hijrah ke sana.
    Jadi total dari Bani Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah dua orang.

    Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai adalah sebagai berikut:
      1. Yazid bin Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad. Ia gugur sebagai syahid di Perang Hunain.
      2. Amr bin Umaiyyah bin Al-Harits bin Asad. Ia meninggal dunia di Habasyah.
    Jadi total dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai adalah dua orang.

    Dari Bani Abduddaar bin Qushai adalah sebagai berikut:
      1. Abu Ar-Ruum bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddaar.
      2. Firas bin An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddaar.
    Jadi total dari Bani Abduddaar bin Qushai adalah dua orang.

    Dari Bani Zuhrah bin Kilab bin Murrah hanya satu orang, yaitu Al-Muththalib bin Azhar bin Abdu Manaf bin Abdun bin Al-Harits bin Zuhrah beserta istrinya, Ramlah binti Abu Auf bin Dhubair bin Sa’id bin Sa’ad bin Sahm. Al-Muththalib bin Azhar meninggal di daerah di Habasyah. Di Habasyah, Ramlah binti Abu Auf melahirkan Abdullah bin Al-Muththalib. Ada yang mengatakan bahwa Abdullah bin Al-Muththalib adalah anak yang pertama kali mewarisi harta ayahnya dalam Islam.
    Dari Bani Tamim bin Murrah bin Ka’ab bin Luai hanya satu orang, yaitu Amr bin Utsman bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Ia gugur sebagai syahid di Al-Qadisiyah ketika ikut perang bersama Sa’ad bin Abu Waqqash.

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 335

    Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka’ab adalah sebagai berikut:
    1. Habbar bin Sufyan bin Abdul Asad. Ia gugur sebagai syahid di Ajnadin daerah di Syam pada masa pemerintahan Abu Bakar ra.
    2. Saudara Habbar bin Sufyan, Abdullah bin Sufyan. Ia gugur sebagai syahid di Perang Yarmuk di Syam pada masa peperintahan Abu Bakar ra. Namun ia diragukan, apakah ia gugur di perang tersebut atau tidak?
    3. Hisyam bin Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah.

    Jadi total dari Bani Tamim bin Murrah adalah tiga orang.

    Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab adalah sebagai berikut:
    1. Hathib bin Al-Harits bin Ma’mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta kedua anaknya, Muhammad dan Al-Harits, serta istrinya, Fathimah binti Al-Muhallal. Hathib bin Al-Harits meninggal di Habasyah dalam keadaan Muslim, kemudian istri dan keduanya anaknya tiba di Madinah dengan menumpang kedua perahu.
    2. Saudara Hathib bin Al-Harits, Haththab bin Al-Harits, beserta istrinya, Fukaihah binti Yasar. Haththab bin Al-Harits meninggal di daerah Habasyah, kemudian istrinya pulang dengan menaiki salah satu perahu.
    3. Sufyan bin Ma’mar bin Habib, beserta kedua anaknya, Junadah dan Jabir, ibu keduannya, Hasanah, dan dua saudara seibu keduanya. Syurahbil bin Hasanah. Sufyan bin Ma’mar dan kedua anaknya, Junadah dan Jabir, meninggal pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab.

    Jadi total dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab adalah tiga orang.

    Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab adalah sebagai berikut:
    1. Abdullah bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa’ad bin Sahm. Ia penyair dan meninggal dunia di daerah Habasyah.
    2. Qais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa’id bin Sahm.
    3. Abu Qais bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa’id bin Sahm. Ia gugur sebagai syahid di Perang Al-Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar ra.
    4. Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa’id bin Sahm. Dialah utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Kisra.
    5. Al-Harits bin Al-Harits bin Qais bin Adi.
    6. Ma’mar bin Al-Harits bin Qais bin Adi.
    7. Bisyr bin Al-Harits bin Qais bin Adi.
    8. Saudara seibu Bisyr bin Al-Harits dari Bani Tamim yang bernama Sa’id…
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 336

    …bin Amr. Ia gugur sebagai syahid di Perang Ajnadin pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
    9. Sa’id bin Al-Harits bin Qais. Ia gugur sebagai syahid di Perang Al-Yarmuk pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab ra.
    10. As-Saib bin Al-Harits bin Qais. Ia terluka di Thaif bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan gugur sebagai syahid di Perang Fahl pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab ra. Ada yang mengatakan ia gugur sebagai syahid di Perang Khaibar.
    11. Umar bin Riab bin Hudzafah bin Mihsyam bin Sa’id bin Sahm. Ia gugur sebagai syahid di Ain At-Tamri bersama Khalid bin Al-Walid dalam perjalanan pulang dari Al-Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
    Total dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab adalah sebelas orang.
    Dari Bani Adi bin Ka’ab bin Luai adalah sebagai berikut:
    1. Urwah bin Abdul Uzza bin Hurtsan bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Ka’ab. Ia meninggal di daerah Habasyah.
    2. Adi bin Nadhlah bin Abdul Uzza bin Hurtsan. Ia meninggal di daerah Habasyah.
    Total dari Bani Adi bin Ka’ab bin Luai adalah dua orang.

    Perihal An-Nu’man bin Adi

    Ibnu Ishaq berkata, “Adi bin Nadhlah pulang bersama anaknya, An-Nu’man bin Adi. Ia tiba bersama kaum Muslimin dari Habasyah dan hidup sampai masa pemerintahan Umar bin Khaththab dan diangkat Umar bin Khaththab sebagai gubernur Maisyan, daerah di Basrah. Ia melantunkan syair,
      ’Ketahuilah, apakah telah terdengar oleh Hasna’?
      Bahwa suaminya di Maisyan diberi minum dari kaca dan guci jika engkau mau
      Para ratu salah satu desa bernyanyi untukku
      Dan juga para penari yang berjingkrak-jingkrak di atas jari-jarinya
      Barangkali Amirul Mukminin merasa terganggu
      Oleh penyesalan kami di bangunan tinggi yang runtuh.’

    Ketika Umar bin Khaththab mendengar bait-bait syair di atas, ia berkata, ‘Ya demi Allah, itu sangat menggangguku. Barangsiapa bertemu dengan An-Nu’man bin Adi, katakan padanya bahwa aku memecatnya dari jabatannya. Umar bin Khaththab pun memecat An-Nu’man bin Adi. Ketika An-Nu’man bin Adi tiba di tempat Umar bin Khaththab, ia meminta maaf dan berkata,
    = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 337

    …’Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku tidak berbuat apa-apa dalam syair yang engkau dengar, namun aku seorang penyair yang kebablasan bicara seperti biasa terjadi pada para penyair.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Demi Allah, engkau jangan mengerjakan tugas apa un untukku selagi aku hidup, karena engkau telah berkata seperti itu.’

    Dari Bani Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr hanya satu orang, yaitu Salith bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashar bin Malik bin Hisl bin Amir. Ia utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Haudzah bin Ali Al-Hanafi di Al-Yamamah.

    Dari Bani Al-Harits bin Fihr bin Malik adalah sebagai berikut:
    1. Utsman bin Abdu Ghanm bin Zubair bin Abu Syadad.
    2. Sa’ad bin Abdu Qais bin Laqith bin Amir bin Umaiyyah bin Dzarib bin Al-Harits bin Fihr.
    3. Iyadh bin Zubair bin Abu Syadad.

    Total dari Bani Al-Harits bin Fihr bin Abu Syadad adalah tiga orang.

    Total kaum Muhajirin ke Habasyah yang tidak ikut Perang Badar, tidak datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah, dan tidak diangkut An-Najasyi dengan dua perahu adalah dua puluh empat orang.”

    Kaum Muslimin Yang Hijrah ke Habasyah dan Meninggal Dunia di Sana
    Ibnu Ishaq berkata, “Inilah nama-nama mereka dan anak-anak mereka yang meninggal dunia di Habasyah.

    Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah Ubaidillah bin Jahsy bin Riab sekutu Bani Umaiyyah. Ia meninggal dunia di Habasyah dalam keadaan Kristen.

    Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai adalah Amr bin Umaiyyah bin Al-Harits bin Asad.

    Dari Bani Jumah adalah Hathib bin Al-Harits dan saudaranya. Haththab bin Al-Harits.

    Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab adalah Abdullah bin Al-Harits bin Qais.

    Dari Bani Adi bin Ka’ab bin Luai adalah Urwah bin Abdul Uzza bin Hurtsan bin Auf dan Adi bin Nadhlah.

    Total kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah dan meninggal dunia di sana adalah tujuh orang.
    Anak-anak mereka yang meninggal dunia di Habasyah dari Bani Taim bin Murrah hanya satu orang, yaitu Musa bin Al-Harits bin Khalid bin Shakhrah bin Amil.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 338

    Wanita-wanita Muslimah Yang Hijrah ke Habasyah

    Ibnu Ishaq berkata, “Total wanita-wanita Muslimah yang hijrah ke Habasyah, baik yang pulang lagi atau yang meninggal dunia di sana, adalah enam belas orang tidak termasuk anak-anak putri mereka yang lahir di sana; yang pulang lagi atau meninggal di sana dan tidak termasuk wanita-wanita yang hijrah bersama mereka.

    Dari Quraisy, kemudian dari Bani Hasyim adalah Ruqaiyyah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Dari Bani Umaiyyah adalah Ummu Habibah binti Abu Sufyan bersama putrinya, Habibah. Ummu Habibah membawa Habibah hijrah ke Habasyah dan pulang dari sana.

    Dari Bani Makhzum adalah Ummu Salamah binti Abu Umaiyyah. Ia pulang bersama putrinya, Zainab, dari hasil pernikahannya dengan Abu Salamah. Zainab lahir di Habasyah.

    Dari Bani Taim bin Murrah adalah Raithab binti Al-Harits bin Jubailah yang meningga dunia di perjalanan. Ia pulang bersama kedua putrinya yang lahir di Habasyah, Aisyah binti Al-Harits dan Zainab binti Al-Harits. Mereka semua bersama anak laki-laki Raithah binti Al-Harits meninggal dunia karena air yang mereka minum di jalan. Yang tiba hanya salah seorang putrinya yang lahir di Habasyah yang bernama Fathimah. Ia tidak mempunyai anak sesudahnya.

    Dari Bani Sahm bin Amr adalah Ramlah binti Abu Auf bin Dzubairah.

    Dari Bani Adi bin Ka’ab adalah Laila binti Abu Hatsmah bin Ghanim.

    Dari Bani Amir bin Luai adalah sebagai berikut:
    1. Saudah binti Zam’ah bin Qais.
    2. Sahab binti Suhail bin Amr.
    3. Putri Al-Muhallal.
    4. Amrah binti As-Sa’di bin Waqdan.
    5. Ummu Kultsum binti Suhail bin Amr.

    Dari orang-orang asing Arab adalah sebagai berikut:
    1. Asma’ binti Umais bin An-Nu’man Al-Khats’amiyyah.
    2. Fathimah binti Shafwan bin Umaiyyah bin Muharrits Al-Kinaniyah.
    3. Fukaikah binti Yasar.
    4. Barakah binti Yasar.
    5. Hasanah ibu Syurahbil bin Hasanah.”

    Anak-anak Kaum Muslimin Yang Lahir di Habasyah

    Ibnu Ishaq berkata, “Inilah anak-anak kaum Muslimin yang lahir di Habasyah.

    Dari Bani Hasyim adalah Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib.

    Dari Bani Abdu Syams adalah sebagai berikut:
    1. Muhammad bin Abu Hudzaifah.
    2. Sa’id bin Khalid bin Sa’id.
    3. Saudara perempuan Sa’id, Amah binti Khalid.

    Dari Bani Makhzum adalah Zainab binti Abu Salamah bin Abdul Asad.

    Dari Bani Zuhrah adalah Abdullah bin Al-Muththalib bin Azhar.

    Dari Bani Taim adalah Musa bin Al-Harits bin Khalid dan saudara-saudara perempuannya, yaitu Aisyah binti Al-Harits, Fathimah binti Al-Harits, dan Zainab binti Al-Harits.
    Rinciannya, anak laki-laki yang lahir di Habasyah berjumlah lima orang, yaitu:
    1. Abdullah bin Ja’far.
    2. Muhammad bin Abu Hudzaifah.
    3. Sa’id bin Khalid.
    4. Abdullah bin Al-Muththalib.
    5. Musa bin Al-Harits.

    Dan anak-anak perempuan berjumlah lima orang juga, yaitu:
    1. Amah binti Khalid.
    2. Zainab binti Abu Salamah.
    3. Aisyah binti Al-Harits bin Khalid bin Shakhr.
    4. Zainab binti Al-Harits bin Khalid bin Shakhr.
    5. Fathimah binti Al-Harits bin Khalid bin Shakhr.

    Sepulangnya dari Khaibar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah selama bulan Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Syawwal. Dalam waktu di antara bulan-bulan tersebut, beliau mengirim detasemen-detasemennya.”

    —ooOoo—


    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 340

    BAB 181
    PELAKSANAAN UMRAH TERTUNDA PADA BULAN DZULQA’DAH TAHUN TUJUH HIJRIAH

    [justify]

    Keberangkatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk Melakukan Umrah

    Ibnu Ishaq berkata, “Pada bulan Dzulqa’dah tahun ketujuh Hijriah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah untuk menunaikan umrah yang tidak bisa beliau tunaikan pada tahun sebelumnya.”

    Latar Belakang Penamaan Umrah Qishas

    Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Uwaif bin Al-Adhbath Ad-Daili sebagai imam sementara di Madinah. Umrah kali ini dinamakan umrah qishas, karena pada bulan Dzulqa’dah yang merupakan bulan haram tahun enam Hijriah, orang-orang Quraisy melarang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan umrah, lalu beliau mengambil qishas (pembalasan) dari mereka dengan cara masuk ke Makkah pada bulan Dzulqa’dah tahun ketujuh Hijriah. Aku mendengar dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata bahwa tentang umrah tersebut, Allah Ta’ala menurunkan ayat berikut,

      ‘Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishas, oleh sebab itu, barangsiapa menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian; bertaqwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.’(Al-Baqarah: 194).

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 341

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke Makkah bersama para sahabat yang ikut umrah yang gagal dilaksanakan pada tahun sebelumnya. Ketika orang-orang Quraisy mendengar keberangkatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka menghindari pertemuan dengan beliau. Orang-orang Quraisy berbicara sesame mereka bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat berada dalam kesulitan, kelaparan, dan penderitaan.”

    Sebab-sebab Al-Idhthiba* dan Ar-Rami** dalam Thawaf

    Ibnu Ishaq berkata, orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata, “Orang-orang Quraisy berbaris di Daar An-Nadwah untuk melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Ketika beliau dan para sahabat memasuki Masjidil Haram, beliau melakukan al-idhthiba’, kemudian bersabda, ‘Semoga Allah merahmati orang yang memperlihatkan kekuatannya kepada orang-orang Quraisy.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyentuh [i]rukun, berlari-lari kecil bersama para sahabat hingga Baitullah tertutup oleh mereka, meyentuh Rukun Yamani, berjalan hingga menyentuh rukun Aswad, berlari-lari kecil sebanyak tiga kali thawaf, dan berjalan di sisa thawaf. Orang-orang Quraisy melihat bahwa thawaf beliau berbeda dengan thawaf yang selama ini mereka lakukan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sengaja memperlihatkan thawaf seperti itu kepada orang-orang Quraisy, karena beliau mendengar ucapan mereka bahwa beliau dan para sahabat berada dalam keadaan kesulitan, kelaparan, dan penderitaan. Pada haji Wada’, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan thawaf di atas kemudian thawaf seperti itu ditetapkan sebagai sunnah beliau.”

    Ucapan Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu ketika Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam Memasuki Makkah

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam memasuki Makkah untuk melakukan umrah tersebut, tali kendali unta beliau dipegang Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu sambil berkata,

      ”Hai orang-orang kafir, biarkan dia jalan
      Karena semua kebaikan ada pada Rasul

    ----------------------------------------------------------------
    1 Al-Idhtiba’ adalah memasukkan pakaian ihram dari bawah ketiak kanan menyelubungi ketiak kiri,
    2. Ar-Raml adalah lari-lari kecil


    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 342

      Ya Allah, aku beriman kepada sabda beliau
      Aku mengetahui hak Allah dengan menerima beliau
      Kami perangi kalian sesuai dengan takwil beliau
      Sebagaimana kami memerangi kalian sesuai dengan wahyu
      Kami serang kalian dengan pukulan yang menghilangkan kepala dan leher
      Dan membuat orang lupa terhadap temannya”

    Ibnu Hisyam berkata, “Bait syair, ’Kami perangi kalian sesaui dengan penjelasannya,’ dan sesudahnya adalah syair Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhuma dalam peristiwa lain. Buktinya, Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhuma mengarahkan syair di atas untuk orang-orang musyrikin, padahal mereka tidak mengakui wahyu, sedang yang dibunuh sesuai dengan takwil ialah orang yang mengakui wahyu.”

    Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam dengan Maimunah binti Al-Harits

    Ibnu Ishaq berkata, Aban bin Shalih dan Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Atha’ bin Abu Rabah dan juga Mujahid bin Al-Hajjaj berkata kepadaku dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata, “Dalam perjalanan umrah tersebut, Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam menikah dengan Maimunah binti Al-Harits dan orang yang menikahkan beliau dengannya adalah Al-Abbas bin Abdul Muththaib.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Maimunah binti Al-Harits mewakili urusan dirinya kepada Ummu Al-Fadhl, istri Al-Abbas bin Abdul Muththalib, kemudian Ummu Al-Fadhl melimpahkan pengurusan Maimunah binti Al-Harits kepada suaminya, Al-Abbas bin Abdul Muththalib. Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam menikah dengan Maimunah binti Al-Harits di Makkah dengan empat ratus dirham.”

    Masa Tinggal Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam di Makkah dalam Umrah Kali Ini

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam menetap di Makkah selama tiga hari. Pada hari ketiga, beliau didatangi Huwaithib bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashar bin Malik bin Hisl yang ditugaskan orang-orang Quraisy untuk mengusir beliau bersama beberapa orang Quraisy. Mereka berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam, ‘Masa tinggalmu di Makkah telah habis, oleh karena itu, silakan engkau pergi.’

    Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, ‘Bagaimana kalau kalian membiarkanku mengadakan resepsi pernikahan di tengah-tengah kalian dan…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 343

    …aku buatkan jamuan makanan untuk kalian kemudian kalian menghadirinya?” Orang-orang Quraisy berkata, ‘Kami tidak memerlukan makananmu. Silahkan engkau pergi dari Makkah.’

    Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam pun meninggalkan Makkah. Beliau menugaskan Abu Rafi’, mantan budak beliau, untuk menjaga Maimunah binti Al-Harits, kemudian Abu Rafi’ bersama Maimunah binti Al-Harits menyusul beliau di Sarif dan di sanalah resepsi pernikahan beliau dengan Maimunah binti Al-Harits diselenggarakan. Pada bulan Dzulhijjah, Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam pulang ke Madinah.”

    Ibnu Hisyam berkata, Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat berikut kepada Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam,

      ”Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kalian pasti memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kalian tidak merasa takut, maka Allah mengetahui apa yang tidak kalian ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”(Al-Fath: 27)

    Yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat ialah penaklukan Khaibar.

    (JGA : Sinting! Ayatnya berbicara tentang menaklukkan Makkah, eh malah disebut penaklukan Khaibar. Hmmm…pantas cara berfikir muslim tidak nyambung, wong buku-bukunya juga mengajari berfikir tak nyambung…)

    - - oo O oo- -


    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 344

    BAB 182

    PERANG MU’TAH DI BULAN JUMADIL ULA TAHUN KEDELAPAN HIJRIYAH, TERBUNUHNYA JA’FAR BIN ABU THALIB, ZAID BIN HARITSAH, DAN ABDULLAH BIN RAWAHAH RADHIYALLAHU ANHUM


    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam menetap di Madinah di sisa bulan Dzulhijjah dilanjutkan bulan Muharram, Shafar, Rabiul Awal, dan Rabiul Akhir. Pada Jumadil Ula, beliau mengirim pasukan ke Syam dan di antara mereka yang gugur sebagai syahid di Mu’tah.”

    Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair yang berkata, “Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam mengirim pasukan ke Mu’tah pada bulan Jumadil Ula tahun ke delapan Hijriyah dan menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, “Jika Zaid gugur, maka yang menjadi komandan pasukan adalah Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far bin Abu Thalib gugur, maka yang menjadi komandan pasukan adalah Abdullah bin Rawahah.’

    Pasukan tersebut segera mengadakan persiapan dan bersiap-siap untuk berangkat menunaikan tugas. Pasukan tersebut terdiri dari tiga ribu personel. Ketika keberangkatan tiba, kaum Muslimin melepas dan mengucapkan salam kepada para komandan pasukan. Ketika Abdullah bin Rawahah dilepas bersama para komandan pasukan, ia menangis. Para sahabat bertanya kepadanya, ‘Kenapa engkau menangis, wahai anak Rawahah?’ Abdullah bin Rawahah menjawab, ‘Demi Allah, aku menangis bukan karena cinta dunia atau rindu kalian, namun karena aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam membaca ayat Al-Qur’an yang mengingatkan tentang neraka.

      ’Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka tersebut; hal ini bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan’ (Maryam: 71)

    Aku tidak tahu bagaimana nasibku setelah kematian.’ Kaum Muslimin berkata, ‘Semoga Allah menemani, melindungi dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat’.”

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 345

    Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu Mendambakan Mati Syahid

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Abdullah bin Rawahah Radhiyallah Anhu berkata,
      Aku meminta ampunan kepada Ar-Rahman
      Dan pukulan dahsyat yang memuncratkan darah
      Atau tikaman oleh orang haus darah
      Dengan tombak hingga menembus usus dan hati
      Hingga orang-orang berkata ketika melewati kuburanku,
      Semoga Allah member petunjuk kepada tentara dan sungguh ia telah mendapatkannya’.”

    Perpisahan Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu dengan Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam Sebelum Berangkat

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika pasukan telah siap berangkat, Abdullah bin Rawahah menghadap kepada Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam dan mengucapkan salam perpisahan kepada beliau. Ia berkata,

      ’Semoga Allah mengokohkan kebaikan yang engkau bawa
      Seperti pengokohan yang Dia berikan kepada Musa
      Dan member pertolongan seperti orang yang ditolong-Nya
      Sungguh aku melihat kebaikan padamu itu sebagai hadiah sejak pandangan pertama
      Allah mengetahui bahwa aku tidak salah dalam member keputusan
      Engkau Rasul dan barangsiapa diharamkan mengikutimu
      Ia diharamkan mendapatkan kebaikan yang banyak sekali’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Sebagian ulama pakar syair membacakan bait-bait Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu seperti di bawah ini kepadaku,

      ’Engkau Rasul dan barangsiapa diharamkan mengikutimu
      Ia diharamkan mendapatkan kebaikan yang banyak sekali
      Semoga Allah mengokohkan kebaikan yang engkau bawa bersama para rasul
      Dan memberikan pertolongan seperti orang yang ditolong-Nya
      Sungguh aku melihat kebaikan padamu itu sebagai hadiah sejak pandangan pertama
      Yang berbeda dengan pandangan mereka.’

    Yang dimaksud mereka adalah orang-orang musyrikin. Bait-bait tersebut adalah penggalan dari syair Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu.”

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 346

    Ibnu Hisyam berkata, “Kemudian pasukan tersebut berangkat dengan diantar Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam. Setelah beliau melepas dan meninggalkan mereka, Abdullah bin Rawahah berkata,

      ’Kedamaian tercurah kepada orang yang aku tinggalkan di Madinah
      Ia orang pengantar dan kekasih terbaik’.”

    Singgah di Mu’an

    Ibnu Ishaq berkata, “Pasukan kaum Muslimin berjalan dan singgah di Mu’an, daerah di Syam. Di sana mereka mendapat kabar bahwa Hirekleus tiba di Ma’ab, daerah di Al-Balqa’, dengan membawa seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu tentara gabungan dari Lakhm, Judzam, Al-Yaqin, Bahra’, dan Baly dipimpin salah seorang dari Baly kemudian dari Irasyah bernama Malik bin Zafilah. Ketika kaum Muslimin mendengar informasi tersebut, mereka menetap di Mu’an dua malam untuk berpikir. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kita kirim surat kepada Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam dan kita jelaskan jumlah musuh, agar beliau mengirim bantuan personel atau menyuruh kita pulang.’ Abdullah bin Rawahah memberi motivasi kepada mereka dengan berkata, ‘Hai kaum Muslimin, demi Allah, sesuatu yang kalian takuti pada hakikatnya adalah sesuatu yang kalian minta selama ini, yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh dengan jumlah besar pasukan atau kekuatan, namun kita memerangi mereka dengan agama Islam ini dimana Allah memuliakan kita dengannya. Berangkatlah kalian, niscaya kalian mendapatkan salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid.’ Kaum Muslimin berkata, ‘Sungguh Abdullah bin Rawahah berkata benar.’ Mereka pun berangkat.”

    Syair Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu di Mu’an

    Ibnu Ishaq berkata, “Di Mu’an, Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu berkata,

      ’Kita bawa kuda dari Gunung Ajak dan Far’i
      Yang diberi rumput sedikit demi sedikit dan di atasnya terdapat perbekalan
      Kami memberinya sepatu dari kulit karena banyaknya batu di jalan
      Sepatu tersebut halus dan permukaannya seperti kulit yang disamak
      Kuda-kuda tersebut menetap dua malam di Mu’an
      Setelah lelah, kuda-kuda tersebut menjadi kuat dan gesit
      Kita meninggalkan Mu’an sore hari dan kuda-kuda pun berangkat
      Sepertinya angin panas ada di hidungnya
      Kita pasti mendatangi Ma’ab
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 347

      Kendati di dalamnya terdapat orang-orang Arab dan Romawi
      Kita siapkan tali kekang kuda
      Kemudian kuda-kuda tersebut tiba di Awabis dan debu-debu itu seperti tali
      Dengan pasukan besar yang mengenakan pelindung kepala
      Bagian atas pelindung kepala tersebut seperti bintang-bintang
      Seorang suami dibunuh oleh tombak pasukan tersebut
      Kemudian istrinya dinikahi orang lain atau dibiarkan menjanda’.”

    Perjalanan ke Al-Balqa

    Ibnu Ishaq berkata, “Pasukan kaum Muslimin pun berjalan.”
    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa ia diberitahu dari Zaid bin Arqam yang berkata, “Aku anak yatim dalam asuhan Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu. Dalam perjalanan kali ini, ia membawaku dan menempatkanku di kantong besar yang ada di unta. Demi Allah, ia berjalan pada suatu malam dan aku mendengarnya melantunkan syair berikut,

      ’Jika engkau (kudaku) setia padaku dan mengangkut perbekalanku
      Dalam perjalanan empat hari setelah Al-Hisa’
      Maka engkau baik dan menepati janji
      Dan aku tidak akan pulang ke keluarga di belakangku
      Kaum Muslimin pulang
      Dan meninggalkanku di daerah Syam karena senang menetap di dalamnya
      Engkau kudaku, ditinggalkan orang yang mempunyai nasab dekat
      Kepada Ar-Rahman dalam keadaan persaudaraannya terputus
      Di sana, aku tidak peduli dengan tumbuhnya Ba’al dan kurma yang disirami hujan.’

    Ketika aku mendengar lantunan bait-bait syair tersebut, aku menangis. Abdullah bin Rawahah memukulku dengan tongkat kecil sambil berkata, ‘Nak, apa salahnya Allah memberiku mati syahid dan engkau pulang di salah satu kantong pelana?’ Usai berkata seperti itu, Abdullah bin Rawahah berkata,
      ’Hai unta yang cepat jalannya, malam telah berlalu
      Engkau telah mendapatkan petunjuk dan turunlah’.”
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 348

    Pertemuan Kaum Muslimin dengan Pasukan Romawi di Mu’tah

    Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Muslimin terus berjalan. Ketika tiba di perbatasan Al-Balqa’ tepatnya di desa Masyarif, mereka bertemu pasukan Romawi dan pasukan gabungan orang-orang Arab. Kedua belah pihak saling mendekat, namun kaum Muslimin pindah ke desa Mu’tah. Di sanalah, kedua belah pihak bertemu. Kaum Muslimin bersiap-siap untuk menghadapi musuh dengan menunjuk salah seorang dari Bani Udzrah bernama Quthbah bin Qatadah sebagai komandan pasukan sayap kanan dan salah seorang dari kaum Anshar bernama Abayah bin Malik (Ibnu Hisyam berkata, “Ada orang yang mengatakan Ubadah bin Malik.”)

    Kesyahidan Zaid bin Haritsah Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata berkata, “Kedua belah pihak bertemu kemudian saling serang. Zaid bin Haritsah bertempur dengan memegang bendera perang Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam hingga gugur karena terkena tombak musuh kemudian bendera perang diambil alih Ja’far bin Abu Thalib. Ketika perang memuncak, Ja’far bin Abu Thalib turun dari kudanya dan menyembelihnya. Setelah itu, ia menyerang musuh hingga gugur. Ja’far bin Abu Thalib adalah orang yang pertama kali menyembelih kudanya di perang dalam Islam.”

    Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu Terjun ke Medan Perang

    Ibnu Ishaq berkata, Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Abbad, yang berkata, ayahku warga Bani Murrah bin Auf dan hadir di Perang Mu’tah. Ia berkata, “Demi Allah, ketika aku melihat Ja’far bin Abu Thalib turun dari kudanya, menyembelihnya, dan bertempur hingga terbunuh, ia berkata,

      ’Duhai betapa dekatnya surge
      Sungguh enak surge itu dan minumannya menyegarkan
      Orang-orang Romawi telah dekat siksanya
      Mereka kafir dan nasabnya jauh
      Jika aku bertemu mereka, aku akan menyerang mereka’.”

    Kesyahidan Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Hisyam berkata, ulama yang aku percayai berkata kepadaku bahwa Ja’far bin Abu Thalib memegang bendera perang dengan tangan kanannya hingga putus, kemudian ia pegang bendera perang dengan tangan kirinya hingga putus, kemudian ia dekap bendera perang dengan kedua lengannya hingga gugur dalam usia tiga puluh tiga tahun. Allah Ta’ala memberinya pahala dalam bentuk dua sayap di surge dimana ia dapat terbang dengannya ke mana-mana (JGA: ih enak dong…gak usah beli tiket pesawat lagiii…hihi)

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 349

    pun ia mau. Ada yang mengatakan bahwa salah seorang tentara Romawi memukuklnya hingga badannya terbelah dua.

    Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu Mengambil Alih bendera Perang

    Ibnu Ishaq berkata, Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Abbad, yang berkata, ayahku yang warga Bani Murrah bin Auf berkata kepadaku, “Ketika Ja’far bin Abdullah (JGA: ??), Abdullah bin Rawahah mengambil alih bendera perang. Ia maju dengannya dengan mengendarai kuda dan mendorong dirinya terjun ke medan perang namun agak ragu-ragu, kemudian ia berkata,

      ’Wahai diriku, aku bersumpah, engkau harus turun ke medan perang
      Engkau harus terjun ke kancah perang atau aku memaksamu terjun
      Manusia telah berkumpul dan mengeraskan teriakan
      Namun kenapa kulihat engkau benci kepada surge?
      Sudah sekian lama engkau tentram
      Dan engkau hanyalah setetes air mani di tempat air.’

    Abdullah bin Rawahah juga berkata,

      ’Wahai diriku, jika engkau tidak terbunuh, engkau tetap akan mati
      Inilah kendali kematian telah mengenaimu
      Apa yang engkau dambakan telah diberikan kepadamu
      Jika engkau mengerjakan perbuatan dua orang, engkau mendapat petunjuk.’

    Yang dimaksud dengan dua orang pada bait di atas adalah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib.”

    Kesyahidan Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Sesudah itu, Abdullah bin Rawahah terjun ke medan perang. Ketika ia turun, ia didatangi saudara sepupunya dengan membawa tulang yang masih ada dagingnya. Saudara sepupunya berkata, “Kuatkan badanmu dengan daging ini, karena kulihat engkau lapar sejak beberapa hari ini.’ Abdullah bin Rawahah mengambil tulang tersebut dan menggigitnya. Tiba-tiba ia mendengar suara perang dari arah dua belah pihak yang sedang bertempur, ia pun berkata, ‘Engkau (daging) berada di dunia.’ Ia buang daging tersebut, mengambil pedang, dan bertempur hingga gugur.”

    Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu Mengambil Alih Komando[b]

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Abdullah bin Rawahah gugur, bendera perang diambil alih Tsabit bin Arqam saudara Bani Al-Ajlan. Ia berkata, ‘Hai…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 350

    kaum Muslimin, angkatlah salah seorang dari kalian menjadi komandan pasukan.’ Kaum Muslimin berkata, ‘Engkau komandan perang kami.’ Tsabit bin Arqam berkata, ‘Aku tidak siap.’ Kaum Muslimin mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan mereka. Ketika Khalid bin Walid mengambil bendera perang, ia menyerang musuh, kemudian mundur dan pulang bersama kaum Muslimin.”

    [b] Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam di Madinah Bercerita kepada Para Sahabat tentang Apa yang Terjadi di Mu’tah


    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika para komandan perang pasukan Islam gugur, Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, ‘Bendera perang dipegang Zaid bin Haritsah kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid, lalu bendera perang diambil alih Ja’far bin Abu Thalib, kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid.’ Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam diam hingga wajah orang-orang Anshar berubah dan menyangka telah terjadi sesuatu yang tidak mereka sukai pada Abdullah bin Rawahah. Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda lagi, ‘Kemudian bendera perang diambil alih Abdullah bin Rawah, lalu ia bertempur hingga gugur sebagai syahid.’ Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda lagi, ‘Dalam mimpiku, aku lihat mereka di surga diangkat kepadaku di atas singgasana dari emas. Aku lihat singgasana Abdullah bin Rawahah miring dari singgasana dua sahabatnya. Aku bertanya, ‘Kenapa singgasana Abdullah bin Rawahah miring?’ Dikatakan kepadaku, ‘Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib bertempur tanpa ragu, sedang Abdullah bin Rawahah agak ragu-ragu, kemudian ia bertempur’.”

    Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam Mengunjungi Keluarga Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku dari Ummu Isa Al-Khuzaiyyah dari Ummu Ja’far binti Muhammad bin Ja’far bin Abu Thalib dari neneknya, Asma’ binti Umais, yang berkata, “Ketika Ja’far bin Abu Thalib dan sahabat-sahabatnya gugur, Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam mengunjungiku. Ketika itu, aku telah menyamak sebanyak empat puluh kulitm, membuat adonan roti, memandikan anak-anakku, meminyaki rambut, dan membersihkan mereka. Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, ‘Bawa kemari anak-anak Ja’far.’ Aku bawa anak-anakku ke hadapan beliau, kemudian beliau menciumi mereka satu persatu dengan air mata berlinang. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ayah ibuku menjadi tebusanmu, kenapa engkau menangis? Apakah engkau telah menerima informasi tentang Ja’far dan sahabat-sahabatnya?’ Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, ‘Mereka gugur pada…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 351

    …hari ini.’ Aku berdiri dan berteriak hingga wanita-wanita berkumpul di sekitarku. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam keluar dari rumahku dan bersabda, ‘Jangan kalian lupa memasak makanan untuk keluarga Ja’far, sebab mereka sedih karena kematian Ja’far’.”

    Ibnu Ishaq berkata, Abdurrahman bin Al-Qasim bin Muhammad berkata kepadaku dari ayahnya dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata,”Ketika informasi gugurnya Ja’far bin Abu Thalib sampai kepada kami, aku lihat kesedihan di wajah Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam. Salah seorang sahabat masuk ke tempat beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, wanita-wanita menyusahkan dan mengganggu kami.’ Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, “Temui mereka dan suruh mereka diam.’ Sahabat tersebut pergi kemudian datang lagi dan berkata seperti sebelumnya. Aku berkata, ‘Jangan-jangan mereka mendapat musibah.’ Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, ‘Pergilah ke tempat mereka dan suruh mereka diam. Jika mereka tetap tidak mau diam, taburkan tanah ke mulut mereka.’ Aku berkata dalam diriku tentang sahabat tersebut, ‘Demi Allah, engkau tidak meninggalkan dirimu dan tidak taat kepada Rasulullah.’ Setelah itu, aku tahu sahabat tersebut tidak sanggup menaburkan tanah ke mulut para wanita tersebut.” (JGA: Dasar manusia berhati jahat, kasar sekali omongannya…katanya nabi suci…koq gitu ya??)

    Terbunuhnya Malik bin Zafilah Al-Balawi

    Ibnu Ishaq berkata, “Quthbah bin Qatadah Al-Udzri, komandan pasukan sayap kanan pasukan kaum Muslimin, menyerang Malik bin Zafilah dan menewaskannya. Quthbah bin Qatadah berkata,

      ’Aku tikam anak Zafilah bin Al-Irasy
      Dengan tombak yang masuk ke tubuhnya kemudian merobeknya
      Aku pukul lehernya hingga miring seperti miringnya ranting As-Salam’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Kata, ‘Bin Al-Irasy,’ berasal dari selain Ibnu Ishaq. Bait sesudahnya berasal dari Khalid bin Walid bin Qurrah. Ada yang mengatakan Malik bin Rafilah.” (JGA: ????)

    Dukun Wanita Hadas Memperingatkan Kaumnya dari Pasukan Kaum Muslimin

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika mendengar kepulangan pasukan kaum Muslimin, dukun wanita dari Hadas berkata mengingatkan kaumnya, Bani Ghanm, Aku peringatkan kalian terhadap kaum yang melihat dengan memicingkan mata dan melirik, menuntun unta secara berurutan, dan menumpahkan darah keruh.’ Orang-orang Bani Ghanm mematuhi ucapan dukun wanita tersebut dan menyingkir dari Lakhm.

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 352

    Orang-orang yang menyalakan api perang ketika itu adalah Bani Tsa’alabah, salah satu kabilah di Hadas yang menjadi berkurang setelah itu. Setelah Khalid bin Walid berhasil mundur, ia pulang ke Madinah bersama pasukan Islam.”

    Pulang ke Madinah

    Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair yang berkata, “Ketika pasukan Islam mendekati Madinah, mereka disambut Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam, kaum Muslimin, dan anak-anak yang berlari-lari. Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam datang ke tempat tersebut dengan mengendarai kuda bersama kaum Muslim. Beliau bersabda, ‘Ambillah anak-anak, bawa mereka, dan berikan kepadaku anak Ja’far.’ Abdullah bin Ja’far dibawa kepada Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam, kemudian beliau mengambilnya dan membawanya di depan. Kaum Muslimin menaburkan tanah di depan pasukan Islam sambil berkata, ‘Hai orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah.’ Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam bersabda, ‘Mereka tidak melarikan diri, namun bolak-balik, insya Allah’.”

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku, dari Amir bin Abdullah bin Az-Zubair, dari sebagian keluarga Al-Harits bin Hisyam yang berkata, “Ummu Salamah Radhiyallahu Anha berkata kepada istri Salamah bin Hisyam bin Al-Ash bin Al-Mughirah, ‘Kok aku tidak melihat Salamah mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam dan para sahabat?’ Istri Salamah bin Hisyam menjawab, ‘Demi Allah, ia tidak bias keluar karena setiap kali ia keluar, orang-orang berkata, ‘Hai orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah.’ Karena itulah, ia berdiam diri di rumah dan tidak berani keluar’.”

    Syair Qais bin Al-Musahhar di Perang Mu’tah

    Ibnu Ishaq berkata, “Tentang apa yang terjadi pada pasukan Islam, tindakan Khalid bin Walid menghindari musuh, dan kepulangannya bersama pasukan, Qais bin Al-Musahhar Al-Ya’muri berkata,

      ’Demi Allah, diriku tidak henti-hentinya mengancamku
      Aku berada di atas kudaku, sedang kuda-kuda saling melompat untuk menyerangnya
      Aku mengajak diriku meniru Khalid
      Ketahuilah bahwa Khalid tidak mempunyai tandingan
      Perhatianku tertuju kepada Ja’far di Mu’tah

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 353

      Karena kemuliaan itu tidak ada artinya bagi orang mulia
      Dua kabilah mereka bergabung kepada kita
      Keduanya hijrah, tidak musyrik, dan tidak lemah’.”

    Ibnu Hisyam berkata, Az-Zuhri berkata bahwa setelah ketiga komandan pasukan kaum Muslimin gugur, maka kaum Muslimin dikomandani Khalid bin Walid hingga Allah Ta’ala memberi kemenangan kepada mereka. Khalid bin Walid tetap menjadi komandan pasukan hingga tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam.”

    —ooOoo—

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 354

    BAB 183

    SYAIR-SYAIR DUKA CITA TERHADAP SYUHADA’ PERANG MU’TAH

    Syair Hasan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Di antara syair-syair dukacita terhadap syuhada’ Perang Mu’tah adalah syair Hasan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu. Ia berkata,
      ’Malam yang sulit silih berganti datang kepadaku
      Duka lara datang kepadaku jika manusia tidak bisa tidur
      Ingat kekasih membuatku mengalirkan air mata dengan deras
      Setiap kali aku ingat mereka, aku menangis
      Ketahuilah, sesungguhnya kehilangan orang tercinta adalah musibah
      Betapa banyak orang diuji, kemudian bersabar
      Kulihat orang-orang pilihan kaum Mukminin gugur secara bergantian
      Di Mu’tah, di antaranya pemilik dua sayap, Ja’far,
      Zaid, dan Abdullah yang meninggal secara beruntun
      Ketika sebab-sebab kematian datang di suatu pagi
      Mereka berjalan dan menuntun kaum Mukminin
      Kepada kematian dengan senang hati dan cerah
      Ia lebih putih daripada bulan purnama dan berasal dari keturunan Hasyim
      Ia pantang menyerah dan pemberani jika menghadapi kezhaliman
      Ia menikam hingga jatuh tanpa bantal
      Di medan perang karena terkena tombak yang mematikan
      Ia pun bersama para syuhada’
      Pahalanya adalah surga dan taman-taman hijau
      Kami lihat Ja’far menepati janji Muhammad dan tegas dalam menyuruh
      Islam selalu mempunyai pilar-pilar tangguh dari Bani Hasyim
      Dan itu akan selalu menjadi kebanggaan
      Mereka laksana gunung Islam
      Sedang manusia rendah di sekitar mereka
      Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Ja’far, saudaranya yaitu Ali

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 355

      Ahmad yang terpilih menjadi nabi
      Hamzah, Al-Abbas dan Aqil
      Dengan mereka semua, segala kesulitan di masa-masa sulit menjadi hilang
      Jika manusia mendapatkan kesukaran
      Mereka adalah wali-wali Allah dimana Allah menurunkan hukum-Nya
      Dan kitab yang suci pada mereka’.”

    Syair Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Ka’ab bin Malik ra berkata,
      ’Semua mata telah tidur nyenyak, sedang mataku tidak tidur karena mengucurkan air mata
      Kesedihan datang kepadaku pada suatu malam
      Terkadang aku sengau dan tergesa-gesa
      Kesedihan datang kepadaku hingga sepertinya aku disuruh menjaga bintang-bintang di langit
      Sepertinya di antara dada dan perut terdapat potongan api yang menyala
      Karena sedih atas meninggalnya tiga orang secara bergantian di Perang Mu’tah
      Mereka tidak dibawa pulang
      Semoga Allah memberi shalawat kepada pemuda-pemuda tersebut
      Dan semoga tulang-tulang mereka disirami awan yang membawa hujan
      Di Mu’tah, mereka bersabar dan menyerahkan nyawa kepada Allah
      Pantang terhina dan mundur dari musuh
      Mereka berjalan di depan kaum Muslimin
      Mereka bak kuda jantan di atasnya besi yang berjalan mendahului unta
      Mereka berjalan menunju Ja’far dan bendera perangnya
      Ia orang terdepan dan dialah orang terdepan yang paling baik
      Ia porakporandakan barisan musuh dan bertempur hingga terbanting ke tanah dan gugur
      Bulan yang bersinar pun redup karena kematiannya
      Matahari terbenam dan nyaris hilang karena kematiannya
      Ia mulia, bangunannya tinggi, dan berasal dari Hasyim
      Ia bak ranting yang paling harum aromanya dan mulia
      Hasyim adalah kaum dimana dengan mereka Allah melindungi hamba-hamba-Nya
      Dan Al-Qur’an diturunkan kepada mereka
      Kemudian mereka lebih unggul dari semua manusia

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 356
      Dan akal mereka menutup kebodohan orang-orang yang ****
      Mereka tidak memberikan cinta kepada orang-orang yang tidak waras
      Engkau lihat penceramah mereka dengan benar itu mengatasi segala masalah
      Wajah mereka putih dan engkau lihat bagian dalam telapak tangan mereka dermawan
      Jika zaman mengalami paceklik
      Dengan petunjuk mereka, Allah meridhai makhluk-Nya
      Dan dengan ketajaman mereka, Nabi dimenangkan’.”

    Syair Hasan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu Menangisi Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Hasan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu berkata menangisi Ja’far bin Abu Thalib ra,
      ’Aku menangis dan sedih karena kematian Ja’far
      Kekasih Nabi atas seluruh manusia
      Aku sangat sedih dan berkata ketika berita kematiannya disampaikan kepadaku
      Siapa lagi memegang Al-Uqab* di perang??
      Dengan pedang sesudah dicabut dari sarungnya
      Dengan pukulan dan tusukan tombak bertubi-tubi
      Setelah anak Fathimah yang diberkati, Ja’far
      Manusia terbaik dan termulia?
      Ia dermawan, paling dermawan, mulia asal-usulnya
      Penumpas orang zhalim dan penghinanya demi kebenaran’.”

    Syair Hasan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu Menangisi Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Hasan bin Tsabit ra berkata tentang Perang Mu’tah dan menangisi Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah ra,
      ’Duhai mataku, dermawanlah dengan air matamu yang ditumpahkan
      tangis hingga nyaris habis
      Ingatlah para penghuni kuburan pada saat makmur
      Ingatlah Mu’tah dan apa saja yang ada di dalamnya

    ----------------------------------------------------------------
    * Al-Uqab adalah nama bendera perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 357

      Pada saat mereka pergi ke tempat rendah ketika mereka meninggalkan Zaid
      Itulah tempat terbaik bagi orang miskin dan orang yang tertawan
      Cintailah manusia terbaik dan pemimpin mereka
      Cintai kepadanya melekat di hati
      Dialah Ahmad dan tidak ada lagi orang selain dia
      Aku sedih dan bahagia karenanya
      Zaid di kalangan kami bukanlah orang yang didustakan dan tertipu
      Duhai mataku, dermawanlah dengan air mata kepada orang Al-Khazraj (Abdullah bin Rawahah)
      Ia tokoh dan banyak pemberiannya
      Sungguh kematian mereka mendatangkan kesedihan kepada kami
      Hingga kami semalam suntuk tidak bisa bahagia’.”

    Syair Salah Seorang dari Kaum Musimin

    Ibnu Ishaq berkata, “Salah seorang dari kaum Muslimin yang pulang dari Perang Mu’tah berkata,
      ’Betapa sedih hatiku, aku pulang
      Sedang Ja’far, Zaid, dan Abdullah tertanam di kuburan
      Mereka menepati janji ketika berjalan di jalan mereka
      Dan meninggalkanku mendapatkan musibah dan pulang dalam keadaan berdebu
      Tiba pendekar disuruh maju, kemudian mereka maju
      Ke air kematian yang berwarna merah’.”

    Nama-nama Syuhada’ Kaum Muslim di Perang Mu’tah

    Ibnu Ishaq berkata, “Inilah nama-nama syuhada’ kaum Muslim di Perang Mu’tah.”

    Syuhada’ dari Quraisy

    Ibnu Ishaq berkata, “Syuhada’ dari Quraisy, kemudian dari Bani Hasyim adalah sebagai berikut:
    1. Ja’far bin Abu Thalib ra
    2. Zaid bin Haritsah ra

    Syuhada’ dari Bani Adi bin Ka’ab adalah Mas’ud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah.
    Syuhada’ dari Bani Malik bin Hisl adalah Wahb bin Sa’ad bin Abu Sarh.”

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 358

    Syuhada’ dari Kaum Anshar

    Ibnu Ishaq berkata, “Syuhada’ dari kaum Anshar, kemudian dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut:
    1. Abdullah bin Rawahah.
    2. Abbad bin Qais.

    Syuhada’ dari Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar adalah Al-Harits bin An-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah bin Abdun bin Auf bin Ghanm.

    Syuhada’ dari Bani Mazin bin An-Najjar adalah Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa’.”

    Ibnu Ishaq berkata, Ibnu Syihab berkata, “Di antara syuhada’ Perang Mu’tah dari Bani Mazin bin An-Najjar adalah sebagai berikut:
    1. Abu Kulaib bin Amr bin Zaid bin Auf bin Mabdzul.
    2. Jabir bin Amr bin Zaid bin Auf bin Mabzul.

    Keduanya saudara kandung.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Syuhada’ dari Bani Malik bin Afsha adalah sebagai berikut:
    1. Amr bin Sa’ad bin Al-Harits bin Abbad bin Sa’ad bin Amir bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha.
    2. Amir bin Sa’ad bin Al-Harits bin Abbad bin Sa’ad bin Amir bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa Abu Kilab dan Amir adalah anak Amr.”


    —ooOoo—
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Sun May 26, 2013 1:46 am

    halaman 359

    BAB 184

    SEBAB-SEBAB YANG MENGHARUSKAN BERANGKAT KE MAKKAH DAN PENAKLUKAN MAKKAH PADA BULAN RAMADHAN TAHUN KEDELAPAN HIJRIYAH


    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah pengiriman pasukan ke Mu’tah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah pada bulan Jumadil Akhir dan Rajab.”

    Perang Antara Kabilah Bani Bakr dengan Kabilah Khuza’ah Sebelum Islam

    Ibnu Ishaq berkata, “Tidak lama setelah itu, kabilah Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah menyerang kabilah Khuza’ah ketika mereka berada di mata air mereka di Makkah Bawah yang bernama Al-Watir. Pemicu perang antara kabilah Bani Bakr dengan kabilah Khuza’ah bahwa orang dari Bani Al-Hadhrami bernama Malik bin Abbad—ketika itu Bani Al-Hadhrami bersekutu dengan Bani Al-Aswad bin Razn Ad-Daili dari kabilah Bani Bakr—keluar untuk berdangang. Ketika ia berada di tengah-tengah daerah kabilah Khuza’ah, orang-orang kabilah Khuza’ah menyerangnya hingga tewas dan mereka mengambil hartanya. (JGA: Perampokan atau pembegalan namanya…hehehe…sama seperti cara geng Muhammad!). Sebagai gantinya, kabilah Bani Bakr menyerang salah seorang dari kabilah Khuza’ah hingga tewas. Sebelum Islam datang, kabilah Khuza’ah menyerang tokoh-tokoh Bani Al-Aswad bin Razn Ad-Daili, yaitu Salma, Kultsum, dan Dhuaib, serta membunuh mereka di Araf di perbatasan tanah haram.”
    Ibnu Ishaq berkata, seseorang dari Bani Ad-Daili berkata kepadaku, “Pada masa jahiliyah, Bani As-Aswad bin Razan diberi diyat dua kali lipat, sedang mereka membayar satu diyat. Ini karena kemuliaan mereka di kalangan kami.”

    Gencatan Senjata Setelah Perdamaian Al-Hudaibiyah

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kabilah Bani Bakr dan kabilah Khuza’ah dalam keadaan seperti itu, Islam menghalang-halangi kedua belah pihak berperang karena masing-masing dari keduanya lebih sibuk memikirkan Islam.
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 360

    Ketika perdamaian Al-Hudaibiyah terjadi antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Quraisy dan di dalamnya disyaratkan—seperti dikatakan kepadaku oleh Az-Zuhri dari Urwah bin Az-Zubair dari Al-Miswar bin Makhramah, Marwan bin Al-Hakam, dan ulama-ulama lainnya—bahwa barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam maka ia masuk ke dalamnya dan barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Quraisy maka ia masuk ke dalamnya sedang kabilah Khuza’ah masuk ke dalam perjanjian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

    Penghianatan Kabilah Bani Bakr dan Dukungan Quraisy terhadap Mereka

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika gencatan senjata terjadi antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Quraisy, Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr memanfaatkan kesempatan untuk balas dendam atas kematian orang-orang dari Bani Al-Aswad bin Razn Ad-Daili yang dibunuh kabilah Khuza’ah. Untuk itu, Naufal bin Muawiyah Ad-Daili, pemimpin Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr, berangkat bersama Bani Ad-Dail, kendati tidak semua orang-orang Bani Bakr, mengikutinya, kemudian ia menyerang kabilah Khuza’ah dengan tiba-tiba di Mata Air Al-Watir dan membunuh satu orang dari mereka. Masing-masing orang bergabung kepada kabilahnya dan bertempur. Bani Ad-Dail dan kabilah Abu Bakr ini disokong senjata oleh Quraisy dan beberapa orang Quraisy ikut perang di barisan Bani Ad-Dail dari Bani Bakr di malam hari dengan sembunyi-sembunyi. Perang terus berkecamuk hingga akhirnya Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr memaksa kabilah Khuza’ah pergi ke tanah haram. Ketika kabilah Khuza’ah tiba di tanah haram, orang-orang Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr berkata, ‘Hai Naufal, kita telah memasuki tanah haram. Ingatlah engkau kepada Tuhanmu. Ingatlah engkau kepada Tuhanmu.’ Naufal bin Muawiyah Ad-Daili mengatakan kata-kata agung. ‘Saya tidak mempunyai Tuhan pada hari ini. Hai Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr, lampiaskan dendam kalian. Aku bersumpah, kalian telah mencuri di tanah haram, kenapa kalian juga tidak melampiaskan dendam kalian di dalamnya?’ Pada malam hari saat Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr menyerang kabilah Khuza’ah di Mata Air Al-Watir, mereka berhasil menangkap orang kabilah Khuza’ah bernama Munabbih yang berhati lemah. Ia keluar bersama salah seorang dari kaumnya bernama Tamim bin Asad. Munabbih berkata kepada Tamim bin Asad, ‘Hai Tamim, selamatkan dirimu. Sedang aku, maka aku akan mati. Mereka membunuhku atau membiarkanku. Sungguh hatiku telah hancur.’ Tamim binti Asad segera pergi melarikan diri. Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr menemukan Munabbih kemudian membunuhnya. Ketika kabilah Khuza’ah….
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 361

    …tiba di Makkah, mereka berlindung di rumah Budail bin Warqa’ dan mantan budak mereka bernama Rafi’.”

    Syair Tamim bin Asad tentang Kejadian di Atas

    Ibnu Ishaq berkata, “Tamim bin Asad berkata memohon maaf atas kaburnya dari Munabbih,
      ’Ketika kulihat Bani Naufatsah datang
      Mereka kepung seluruh wilayah Al-Watir
      Dengan Shakhr dan Razn dimana tidak ada orang selain mereka
      Mereka menuntun kuda gesit dan lebar hidungnya
      Aku ingat balas dendam diarahkan kepada kami
      Karena sesuatu yang telah terjadi pada zaman lampau
      Aku cium aroma kematian datang dari arah mereka
      Dan aku takut terkena tebasan pedang tajam
      Aku tahu bahwa siapa pun yang mereka tangkap
      Mereka pasti membiarkan dagingnya sebagai santapan binatang buas dan burung gagak
      Aku luruskan kaki tanpa takut terpeleset
      Aku lemparkan pakaianku di tanah lapang
      Aku berlari kencang yang tidak bisa ditandingi keledai liar yang besar ekornya, perutnya kecil, dan kencang larinya
      Istriku mengecam aku lari
      Padahal jika ia melihat apa yang terjadi, ia pasti terkencing-kencing karena takut
      Kaumku lebih tahu bahwa aku tidak meninggalkan Munabbih dengan hati senang
      Silakan bertanya kepada sahabat-sahabatku’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa syair di atas adalah syair Habib bin Abdullah Al-A’lam Al-Hudzail. Bait, ’Aku ingat balas dendam di arahkan kepada kami,’ dan bait ’Mereka menuntun kuda gesit dan lebar hidungnya,’ berasal dari Abu Ubaidah.”

    Syair Al-Akhzar bin La’thu tentang Perang tersebut

    Ibnu Ishaq berkata, Al-Akhzar bin La’thu berkata tentang perang yang terjadi antara Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr dengan kabilah Khuza’ah,
      ’Ketahuilah, apakah telah terdengan oleh orang-orang Ahabisy yang jauh

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 362

      ’Bahwa kami telah mengusir Bani Ka’ab dengan tangan hampa?
      Kami tahan mereka di rumah kecil milik budak Rafi’
      Dan di rumah Budail yang tidak bermanfaat bagi mereka
      Kami sembuhkan luka hati dengan ketajaman pedang-pedang kami
      Kami tahan mereka hingga hari-hari mereka terasa panjang
      Kemudian kami serang mereka dari semua penjuru
      Kami sembelih mereka seperti penyembelihan anjing hutan
      Kami seperti singa-singa yang mengasah taring dengan mereka
      Mereka telah menzhalimi kami dan berbuat jahat dalam perjalanan mereka
      Merekalah yang pertama kali membunuh di samping berhala
      Mereka seperti burung unta kecil di Fatsur yang takut
      Ketika dikejar para pemburu’.”

    Jawaban Budail bin Abdu Manat

    Ibnu Ishaq berkata, “Syair di atas dijawab Budail bin Abdu Manat bin Salamah bin Amr bin Al-Ahab. Ia biasa dipanggil Budail bin Ummu Ashram. Ia berkata,
      ’Mereka berbangga diri karena telah membunuh orang-orang kami
      Padahal kami sebelumnya membunuh pemimpin-pemimpin yang mengumpulkan mereka di forum-forum pertemuan
      Apakah kalian menghina mereka, karena kalian takut tidak bisa kembali lagi setelah menyeberangi Al-Watir?
      Setiap hari kami membayar diyat untuk keluarga yang kami bunuh
      Dan kami tidak mengambil diyat dari orang lain atas kematian orang-orang kami seperti halnya kalian
      Kami serang kalian dengan tiba-tiba rumah kalian di At-Tila’ah
      Dengan pedang-pedang kami yang lebih cepat gerakannya daripada kecaman para pengeritik
      Kamii lindungi antara Bidh dengan Atwad
      HIngga Khaif Radhwa dari serangan para pemberani
      Di Perang Al-Ghamim, kotoran unta telah melindungi unta yang kencang larinya
      Kami melukainya dengan pemimpin tangguh yang berkedudukan mulia di kaumnya
      Apakah ibu sebagian dari kalian telah membuat bara di rumahnya dengan kotoran unta?

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = ==
    halaman 363

      Kalian berbangga diri jika kami tidak berperang
      Demi Allah, kalian berkata bohong dan tidak membunuh
      Justru kami meninggalkan urusan kalian dalam keadaan kacau balau’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ucapan Budail bin Abdu Manat, ’Padahal kami sebelumnya membunuh pemimpin-pemimpin yang mengumpulkan mereka di forum-forum pertemuan,’ hingga bait, ’Hingga Khaif Radhwa dari serangan para pemberani,’ tidak berasal dari Ibnu Ishaq.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Tentang kejadian di atas, Hassan bin Tsabit ra berkata,
      ’Semoga Allah mengutuk kaum yang satu pun dari pemimpin-pemimpinnya
      Kami tidak biarkan memanggil rakyatnya di forum pertemuan mereka dalam keadaan sehat
      Apakah keledai yang mati kemarin itu adalah Naufal?
      Jika engkau tidak mengendarai hewan untuk berperang’.”[i]

    Kabilah Khuza’ah Meminta Bantuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kabilah Bani Bakr bersekutu dengan Quraisy untuk menyerang kabilah Khuza’ah, menangkap salah seorang dari mereka, melanggar perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, membunuh orang kabilah Khuza’ah padahal kabilah Khuza’ah adalah sekutu beliau, maka Amr bin Salim dari Khuza’ah, salah seorang warga Bani Ka’ab, pergi ke Madinah dan tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Iniah yang mendorong terjadinya penaklukan Makkah. Amr bin Salim berdiri di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid di tengah-tengah kaum Muslimin, kemudian berkata,
      [i]’Tuhanku, sungguh aku memanggil Muhammad
      Sekutu orang tua kami dan orang tuanya dulu
      Tadinya kalian adalah anak, sedang kami adalah ayah
      Kami berdamai dan membatalkannya
      Tolonglah kami, semoga Allah memberimu pertolongan gilang-gemilang
      Panggillah hamba-hamba Allah untuk datang sebagai bala bantuan
      Dimana di dalamnya terdapat Rasulullah
      Yang jika hendak dizhalimi, ia berubah marah

      Dan pasukan besar seperti laut yang mengalir hingga mengeluarkan buih
      Sesungguhnya Quraisy telah mengingkari perjanjiannya denganmu
    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = =
    halaman 364

      Melanggar perjanjianmu yang kuat
      Dan mengincar untuk membunuhku di Kada’
      Mereka mengira aku tidak mengajak siapapun
      Mereka sangat hina dan jumlah mereka sangat sedikit
      Mereka menyerang kami di Al-Watir pada malam hari saat kami mengerjakan shalat Tahajjud
      Dan membunuh kami ketika kami ruku’ dan sujud’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang meriwayatkan bahwa Amr bin Salim berkata,
      ’Tolonglah kami semoga Allah memberimu kemenangan yang kuat.’
    Ada juga yang meriwayatkan bahwa Amr bin Salim berkata,
      ’Kami melahirkanmu dan engkau adalah anak kami’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Amr bin Salim, engkau akan dibantu.’ Mendung di langit ditampakkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mendung ini akan turun membawa pertolongan bagi Bani Ka’ab—dari kabilah Khuza’ah’.”

    Delegasi Kabilah Khuza’ah Melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Penghianatan Kabilah Bani Bakr dan Dukungan Quraisy terhadap Kabilah Bani Bakr

    Ibnu Ishaq berkata, “Budail bin Warqa’ bersama beberapa orang dari kabilah Khuza’ah berangkat ke Madinah untuk bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tiba di Madinah, mereka melaporkan kepada beliau apa yang mereka alami dan dukungan Quraisy terhadap kabilah Bani Bakr dalam menghadapi mereka. Setelah itu mereka pulang ke Makkah. Sebelum itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sepertinya Abu Sufyan bin Harb akan datang kepada kalian untuk menguatkan perjanjian dan menambah masa berlakunya’.”

    Abu Sufyan bin Harb Bertemu dengan Delegasi Kabilah Khuza’ah di Perjalanan

    Ibnu Ishaq berkata, “Budail bin Warqa’ dan anak buahnya terus berjalan hingga berjumpa dengan Abu Sufyan bin Harb di Usfan yang diutus orang –orang Quraisy untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna menguatkan perjanjian dan memperpanjang masa berlakunya karena mereka ketakutan atas tindakan mereka membantu kabilah Bani Bakr. Ketika Abu Sufyan bin Harb bertemu Budail bin Warqa’, ia bertanya, ‘Engkau dari mana wahai Budail.’ Abu Sufyan bin Harb menduga bahwa Budail bin Warqa’ barusan…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 365

    menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Budail bin Warqa’ menjawab, ‘Aku bersama orang-orang kabila Khuza’ah baru saja berjalan-jalan di pantai (JGA: dusta ni yeee! pengikut Muhammad di mana-mana sama saja) ini dan kabilah di lembah ini.’ Abu Sufyan bin Harb bertanya, ‘Apakah engkau barusan menemui Muhammad?’ Budail bin Warqa’ menjawab, ‘Tidak.’ (JGA: hiii…lagi-lagi dusta!). Ketika Budail tiba di Makkah, Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Jika Budail bin Warqa’ baru tiba dari Madinah, pasti untanya memakan biji kurma.’ Usai berkata seperti itu, Abu Sufyan bin Harb mendatangi tempat pemberhentian unta Budail bin Warqa’ dan mengambil kotorannya. Ia menemukan kotoran unta tersebut dan melihat biji kurma di dalamnya. Ia berkata, ‘Aku bersumpah bahwa Budail bin Warqa’ telah menemu Muhammad’.” (JGA: hahaha….akhirnya Sufyan tidak bisa dibohongi si Budail-ketahuan deh…)

    Pertemuan Abu Sufyan bin Harb dengan Ummu Habibah ra

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Abu Sufyan bin Harb berangkat ke Madinah. Tiba di Madinah, ia masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb. Ketika ia hendak duduk di atas kasur Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Ummu Habibah melipatnya dan tidak memperkenankan Abu Sufyan bin Harb duduk di atasnya. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Hai putriku, aku tidak tahu apakah engkau tidak menyukaiku duduk di atas kasur ini dan engkau lebih menyukai dia duduk dia di atasnya.’ Ummu Habibah menjawab, ‘Kasur ini milik Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , sedang engkau orang musyrik dan najis. Jadi, aku tidak suka engkau duduk di atas kasur tersebut.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Demi Allah, engkau menjadi jahat sesudah berpisah denganku’.”

    Abu Sufyan bin Harb Berusaha Memperbaharui Perdamaian

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Abu Sufyan bin Harb datang ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berbicara dengan beliau, namun beliau tidak menggubrisnya. Kemudian Abu Sufyan bin Harb pergi ke tempat Abu Bakar dan menyuruhnya berbicara dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun Abu Bakar berkata, ‘Aku tidak mau.’ Kemudian Abu Sufyan bin Harb mendatangi Umar bin Khaththab dan berbicara dengannya, namun malah Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku harus membelamu di hadapan Rasulullah? Demi Allah, jika aku hanya mendapatkan semut kecil, aku akan memerangimu dengannya.’ Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumah Umar bin Khaththab dan pergi ke rumah Ali bin Abu Thalib yang ketika itu sedang bersama istrinya, Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan anak keduanya, Hasan bin Ali, yang sedang merangkak. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Hai Ali, engkau orang yang paling penyayang. Aku datang kepadamu untuk satu keperluan, oleh karena itu, jangan pulangkan aku dalam keadaan,,,

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 366

    gagal total. Belalah aku di hadapan Rasulullah.’ Ali bin Abu Thalib berkata, ‘Celakalah engkau, hai Abu Sufyan, demi Allah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bertekad kepada sesuatu dan kita tidak lagi dapat bernegosiasi dengan beliau.’ Abu Sufyan bin Harb menoleh ke arah Fathimah, kemudian berkata, ‘Hai putri Muhammad, maukah engkau menyuruh anak kecilmu ini melindungi manusia kemudian ia menjadi pemimpin Arab sepanjang zaman?’ Fathimah menjawab, ‘Demi Allah, anakku tidak dapat melindungi manusia dan seorang pun tidak bisa melindungi mereka dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’(JGA: Muhammad gitu looohhh…besar kuasanya! Maha kuasa hihihi) Abu Sufyan berkata kepada Ali bin Abu Thalib, ‘Hai Abu Hasan, aku lihat permasalahan menjadi sulit bagiku, nasehatilah aku.’ Ali bin Abu Thalib berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui ada sesuatu yang bermanfaat bagimu. Engkau pemimpin Bani Kinanah, oleh karena itu, berdirilah dan lindungilah manusia, kemudian pulanglah ke tempat asalmu.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Apakah hal tersebut bermanfaat bagiku?’ Ali bin Abu Thalib berkata, ‘Kukira hal tersebut tidak bermanfaat bagimu, namun aku tidak mengetahui alternatif yang lain.’ Abu Sufyan bin Harb pergi ke masjid, kemudian berkata, ‘Hai manusia, aku telah melindungi manusia.’ Usai berkata seperti itu, Abu Sufyan bin Harb menaiki untanya dan pulang ke Makkah. Ketika ia tiba di Makkah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya, ‘Informasi apa yang engkau bawa?’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Aku datang kepada Muhammad kemudian berbicara dengannya, namun ia tidak menyahut sedikitpun. Kemudian aku datang kepada Abu Bakar, namun aku tidak melihat kebaikan padanya. Kemudian aku datang kepada Umar bin Khaththab dan mendapatinya orang yang paling keras permusuhannya. Kemudian aku datang kepada Ali bin Abu Thalib dan mendapatinya orang yang paling lembut. Ia menasihatiku melakukan sesuatu, namun demi Allah, aku tidak tahu apakah sesuatu tersebut bermanfaat bagiku atau tidak.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Apa yang diperintahkan Ali bin Abu Thalib kepadamu? Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Ia menyuruhku untuk melindungi manusia dan akupun melakukannya.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Celakalah engkau, engkau dipermainkan Ali bin Abu Thalib. Apa yang engkau katakan tadi sama sekali tidak bermanfaat bagimu.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mendapatkan alternatif lain’.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memerintahkan Kaum Mulimin Bersiap-siap Berangkat

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Muslimin bersiap-siap dan memerintahkan keluarga beliau menyiapkan keperluan untuk beliau. Abu Bakar masuk ke rumah putrinya…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 367

    …Aisyah, yang sedang menyiapkan keperluan Rasulullah SAW kemudian berkata, ‘Putriku, apakah Rasulullah memerintahkanmu membuat persiapan untuk beliau?’ Aisyah menjawab, ‘Ya. Oleh karena itu, bersiap-siaplah engkau.’ Abu Bakar bertanya, ‘Engkau lihat beliau akan pergi ke mana?’ Aisyah menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu.’

    Tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW mengumumkan bahwa beliau hendak berangkat ke Makkah dan memerintahkan kaum Muslimin serius dan bersiap-siap. Beliau berdoa, ‘Ya Allah, rahasiakan informasi ini dari orang-orang Quraisy, agar kami bisa menyerang mereka dengan tiba-tiba di negeri mereka sendiri.’ Kaum Muslimin pun bersiap-siap.” (JGA: sampai sekarang modus operandinya seperti ini. hit and run

    Syair Hassan bin Tsabit ra Memotivasi Kaum Muslimin Untuk Berperang

    Ibnu Ishaq berkata, “Hassan bin Tsabit ra berkata memotivasi kaum Muslimin dan menyebutkan tentang korban kabilah Khuza’ah,
      ’Aku tidak melihat orang-orang Bani Ka’ab dipancung lehernya di tanah lapang Makkah
      Oleh tangan orang-orang yang pedang mereka tidak terhunus
      Dan banyak sekali korban yang pakaiannya tidak cukup
      Apakah pertolonganku; tikaman dan hukumanku sampai kepada Suhail bin Amr?
      Shafwan, ia unta tua yang telah terpotong dari rambut duburnya
      Inilah saat perang dimana tali-temalinya telah dikuatkan
      Hai anak Ummu Mujalid, engkau jangan sekali-kali merasa aman
      Jika perang telah disulut dan taringnya telah bengkok
      Janganlah kalian sedih karenanya, karena pedang-pedang kami
      Akan menimpakan kematian dan membukakan pintunya’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Yang dimaksud Hassan bin Tsabit dengan ucapannya, ’Oleh tangan orang-orang yang pedang mereka tidak terhunus.’ ialah orang-orang Quraisy. Anak Ummu Mujalid adalah Ikrimah bin Abu Jahal.”

    Perihal Hathib bin Abu Balta’ah dan Suratnya

    Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dan ulama-ulama lain. Mereka berkata, “Ketika Rasulullah SAW memutuskan berangkat ke Makkah, Hathib bin Abu Balta’ah mengirimkan surat kepada orang-orang Quraisy. Dalam suratnya, Hathib bin Abu Balta’ah menjelaskan tentang keputusan Rasulullah SAW untuk berangkat ke tempat mereka. Surat tersebut…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 368

    …dititipkan Hathib bin Abu Balta’ah kepada seorang wanita bernama Muzainah—menurut Muhammad bin Ja’far—atau Sarah, mantan budak wanita salah seorang dari Bani Abdul Muththalib, --menurut ulama lain--. Hathib bin Abu Balta’ah memberikan hadiah kepada wanita tersebut dengan syarat ia mengantarkan suratnya kepada orang-orang Quraisy. Wanita tersebut meletakkan surat Hathib bin Abu Balta’ah di kepalanya, memintalnya dengan gulungan rambut, kemudian ia berangkat ke Makkah.”

    Rasulullah SAW Diberitahu Allah Ta’ala tentang Perbuatan Hathib bin Abu Balta’ah

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah SAW menerima wahyu dari langit tentang perbuatan Hathib bin Abu Balta’ah tersebut, kemudian beliau mengutus Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam. Beliau bersabda kepada keluarganya, ‘Kejarlah wanita yang membawa surat Hathib bin Abu Balta’ah yang berisi penjelasan kepada orang-orang Quraisy tentang rencana kita terhadap mereka.’

    Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam berangkat dan berhasil menyusul wanita tersebut di dataran tinggi, tepatnya dataran tinggi Bani Abu Ahmad. Keduanya menyuruh wanita tersebut turun dari unta dan membongkar pelananya, namun tidak menemukan apa-apa.

    Ali bin Abu Thalib berkata kepada wanita itu, ‘Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah SAW tidak berkata dusta dan kita tidak mendustakannya. Serahkan surat yang engkau bawa kepada kami. Jika tidak, kami akan menelanjangimu.’ Ketika wanita tersebut melihat keseriusan Ali bin Abu Thalib, ia berkata, ‘Berpalinglah dariku.’ Ali bin Abu Thalib berpaling, kemudian wanita tersebut membuka gelungan rambutnya, mengeluarkan surat daripadanya, dan menyerahkan surat tersebut kepada Ali bin Abu Thalib, kemudian Ali bin Abu Thalib membawa surat kepada Rasulullah SAW.”

    Hathib bin Abu Balta’ah Meminta Maaf dan Rasulullah SAW Memaafkannya

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah SAW memanggil Hathib bin Abu Balta’ah dan bersabda, ‘Hai Hathib, kenapa engkau berbuat seperti itu?’ Hathib bin Abu Balta’ah menjawab, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak berubah dan tidak berganti agama. Hanya saja, aku orang yang tidak mempunya asal-usul Quraisy, sedangkan anak dan keluargaku di tempat mereka. Oleh karena itulah, aku mengambil muka terhadap mereka.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang ini,, karena ia telah munafik.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Hai Umar, engkau tidak tahu bahwa Allah melihat mujahidin Badar di Perang Badar, kemudian berfirman, ’Kerjakan apa saja yang kalian inginkan, karena Allah telah mengampuni kalian’.” Tentang Hathib bin Abu Balta’ah, Allah menurunkan ayat berikut,

      ’Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian, mereka mengusir Rasul dan kalian karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku; kalian memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang; Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti dan mereka ingin supaya kalian (kembali kafir). Karib kerabat dan anak-anak kalian sekali-kali tidak bermanfaat bagi kalian pada hari Kiamat; Dia akan memisahkan antara kalian dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.’ kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tidak dapat menolak sesuatu pun dari kalian (siksaan) Allah. ‘(Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.’(Al-Mumtahanah: 1-4)

    [Keberangkatan Rasulullah SAW Bersama Pasukan Kaum Muslimin[/b]

    Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, dari Abdullah bin Abbas ra, yang berkata, “Rasulullah SAW berangkat ke Makkah dan menunjuk Abu Rahm bin Hushain bin Utbah bin Khalaf Al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah. Itu terjadi pada tanggal sepuluh Ramadhan, jadi, beliau berpuasa begitu juga kaum Muslimin. Ketika beliau tiba di Al-Kudaid, tempat antara Usfan dengan Amaj, beliau membatalkan puasanya.” (JGA: Nah muslim, sebagai suri teladan yang baik, contohlah perbuatan junjunganmu ini yang dengan seenak udelnya melanggar aturan karangannya sendiri)

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah SAW terus berjalan hingga berhenti di Marru Adz-Dzahran bersama sepuluh ribu kaum Muslimin; tujuh ratus personel berasal dari Sulaim—ada yang mengatakan seribu personel—dan seribu personel dari Muzainah, karena disemua kabilah terdapat orang-orang yang masuk Islam. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ikut bersama Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun orang dari mereka yang tidak ikut. Rasulullah SAW berhenti di Marru Adz-Dzahran sedang orang-orang Quraisy tidak mendengar informasi seputar beliau dan apa yang akan beliau lakukan. Di sisi lain, pada malam tersebut, keluarlah Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa’ guna mencari informasi dan melihat-lihat siapa tahu mereka mendapatkan informasi atau…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = ==
    halaman 371

    …mendengarnya. Al-Abbas bin Abdul Muththalib bertemu Rasulullah SAW di salah satu jalan.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Al-Abbas bin Abdul Muththalib bertemu Rasulullah SAW di Al-Juhfah dan bermaksud hijrah dengan keluarganya. Sebelum itu, Al-Abbas bin Abdul Muththalib bermukim di Makkah guna memberi minum kepada jama’ah haji atas restu beliau seperti dikatakan Ibnu Syihab Az-Zuhri.”

    Masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits dan Abdullah bin Abu Umaiyyah

    Ibnu Ishaq berkata, “Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah juga bertemu Rasulullah SAW di Niqul Uqab, daerah di antara Makkah dengan Madinah. Keduanya ingin masuk ke tempat Rasulullah SAW kemudian Ummu Salamah berkata kepada beliau tentang keduanya. Ummu Salamah berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah anak paman dan anak bibimu, serta keluargamu.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku tidak ada keperluan dengan keduanya. Adapun anak pamanku, ia telah merusak kehormatanku. Sedang anak bibiku dan keluargaku, ia pernah mengatakan sesuatu tetang diriku di Makkah.’ ketika sabda Rasulullah SAW disampaikan kepada keduanya, Abu Sufyan bin Al-Harits—ketika itu membawa anak kecilnya—berkata, ‘Demi Allah, Muhammad harus mengizinkanku masuk. Jika tidak, aku akan membawa anak kecil ini, kemudian kami berkelana ke dunia hingga mati karena lapar dan haus.’ Ketika Rasulullah SAW mendengar ucapan Abu Sufyan bin Al-Harits tersebut, beliau terketuk hatinya, kemudian mengizinkan keduanya masuk kepada beliau. Keduanya pun masuk dan mengucapkan salam kepada beliau.”

    Syair Abu Sufyan bin Al-Harits

    Ibnu Ishaq berkata, “Abu Sufyan bin Al-Harits berkata tentang keislamannya dan permohonan maafnya akan dosa-dosa silamnya,
      ’Aku bersumpah, ketika aku membawa bendera perang musyrik
      Pasukan berkuda Lata mengalahkan pasukan berkuda Muhammad
      Aku seperti orang yang berjalan di malam hari yang gelap dalam keadaan bingung
      Dan sekarang aku telah mendapat petunjuk dan diberi petunjuk
      Aku diberi petunjuk oleh pemberi petunjuk selain diriku

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 372

      Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkannya
      Dulu aku bersungguh-sungguh menghalang-halangi manusia dari Muhammad
      Aku tetap dihormati kendati aku tidak bergabung dengan Muhammad
      Tidak termasuk musyrik orang yang tidak berkata dengan hawa nafsu
      Kendati ia cerdas, ia dikecam dan didustakan
      Aku ingin keridhaan mereka
      Dan aku tidak dekat dengan kaum jika aku tidak diberi petunjuk di semua tempat
      Katakan kepada Tsaqif, aku tidak ingin menyerang kalian
      Dan katakan kepada Tsaqif, silakan ancam orang selain aku
      Aku tidak ikut dalam pasukan yang menangkap Amir
      Itu tidak karena ulah lisan dan tanganku
      Kabilah-kabilah datang dari tempat jauh
      Mereka datang dari Siham dan Surdud’.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa Abu Sufya bin Al-Harits berkata,
      ’Aku ditunjukkan kepada kebenaran oleh orang-orang yang pernah aku usir’.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Para ulama mengatakan bahwa ketika Abu Sufyan bin Al-Harits melantunkan bait syair berikut kepada Rasulullah SAW, ’Orang yang pernah kau usir bersama Allah telah mendapatkanku.’ beliau menepuk dadanya, kemudian bersabda, ‘Engkaulah orang-orang yang pernah mengusirku?’”(JGA: bohong…bukan mengusir, tapi hendak menangkap Muhammad dan membunuhnya)

    Pertemuan Al-Abbas bin Abdul Muththalib dengan Abu Sufyan bin Harb

    Ibnu Ishaq berkata, ketika Rasulullah SAW berhenti di Marru Adz-Dzahran, Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Hati-hatilah hai orang-orang Quraisy pagi ini. Demi Allah, jika Rasulullah SAW memasuki Makkah dengan kekerasan dan sebelum itu mereka (orang-orang Quraisy) tidak datang meminta jaminan keamanan kepada beliau maka itu adalah kehancuran mereka sepanjang jaman.”

    Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Setelah itu, aku duduk di atas baghal* milik Rasulullah SAW yang berwarna putih dan keluar dengan menaikinya. Ketika aku tiba di pohon Urak, aku berkata, ‘Mudah-mudahan aku dapat bertemu salah seorang pencari kayu bakar, atau…
    ------------------------------------
    *[size=small]baghal adalah peranakan kuda dengan keledai[/size]

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    halaman 373

    …penggembala unta, atau penggembala kambing, atau orang yang mempunyai keperluan pergi ke Makkah, yang bisa menjelaskan kepada mereka keberadaan Rasulullah SAW, kemudian mereka datang kepada beliau untuk meminta jaminan keamanan kepada beliau sebelum beliau memasuki ke tempat mereka dengan kekerasan.’

    Demi Allah, aku terus berjalan di atas baghal milik Rasulullah SAW dan mencari salah satu dari oerang yang aku cari. Tiba-tiba aku mendengar ucapan Abu Sufyan bin Harb dan Budail bin Warqa’ yang sedang tukar pendapat. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Aku tidak pernah melihat api dan markas tentara seperti pada mala mini.’ Budail bin Warqa’ berkata, ‘Demi Allah, itu adalah kabilah Khuza’ah yang sedang menyalakan api.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Api kabilah Khuza’ah dan markasnya tidak sebesar itu.’

    Aku mengenali suara Abu Sufyan bin Harb. Aku berkata, ‘Hai Abu Handzalah.’ Abu Sufyan bin Harb juga mengenali suaraku, kemudian berkata, ‘Hai Abu Al-Fadhl.’ Aku berkata, ‘Ya, betul.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Ayah-ibuku menjadi tebusanmu, ada apa denganmu?’ Aku berkata, ‘Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, inlah Rasulullah SAW sedang bersama pengikutnya. Demi Allah, hati-hatilah orang-orang Quraisy pada pagi ini.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Ayah-ibuku menjadi tebusanmu, bagaimana cara menghindar dari itu semua?’ [size-150]Aku berkata, ‘Demi Allah, jika Rasulullah SAW berhasil menangkapmu, beliau pasti memenggal lehermu.[/size] Oleh karena itu, naiklah di belakang baghal ini, hingga aku membawamu ke tempat Rasulullah SAW, [size-150]kemudian engkau meminta jaminan keamanan untukmu kepada beliau[/size]

    Abu Sufyan bin Harb pun naik di belakangku, sedang kedua temannya pulang ke Makkah. Aku membawa Abu Sufyan bin Harb dan setiap kali aku melewati api kaum Muslimin, mereka bertanya, ‘Siapa orang ini?’ Ketika mereka melihat baghal milik Rasulullah SAW dan aku berada di atasnya, mereka berkata, ‘Paman Rasulullah SAW sedang mengendarai baghal beliau.’ Aku terus berjalan hingga melewati api Umar bin Khaththab. Ia berkata, ‘Siapa ini?’ Ia mendekatiku dan ketika ia melihat Abu Sufyan bin Harb, ia berkata, ‘Abu Sufyan musuh Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menaklukkanmu tanpa perjanjian sebelumnya.’

    Kemudian Umar bin Khaththab berlari menuju tempat Rasulullah SAW, sedang aku memacu baghal hingga mendahului Umar bin Khaththab seperti halnya hewan pelan yang mendahului orang yang jalannya pelan. Aku turun dari baghal kemudian masuk ke tempat Rasulullah SAW dan pada saat itu yang sama Umar bin Khaththab masuk ke tempat beliau. Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW , inilah…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 374

    …Abu Sufyan. Allah telah menaklukkannya tanpa perjanjian sebelumnya. Oleh karena itu, izinkan aku memenggal lehernya.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, aku telah melindungi Abu Sufyan bin Harb.’ Setelah itu, aku duduk dekat Rasulullah SAW dan memegang kepala beliau sambil berkata, ‘Demi Allah, pada mala mini tidak boleh aa orang lain selain diriku yang berbicara denganmu.’ Ketika Umar bin Khaththab banyak bicara tentang Abu Sufyan bin Harb, aku berkata, ‘Tahan dirimu hai Umar. Demi Allah, seandainya Abu Sufyan bin Harb berasal dari Bani Adi bin Ka’ab, engkau tidak akan berkata seperti tadi. Engkau berkata seperti tadi, karena engkau tahu bahwa Abu Sufyan bin Harb berasal dari Abdu Manaf.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Tahan dirimu hai Al-Abbas. Demi Allah, keislamanmu ketika engkau masuk Islam itu lebih aku sukai daripada keislaman Khaththab jika ia masuk islam. Aku juga tahu kalau keislamanmu itu lebih disukai Rasulullah SAW daripada keislaman Khaththab jika ia masuk Islam.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Hai Al-Abbas, pergilah dengan Abu Sufyan bin Harb ke tempat istirahatmu dan menghadaplah kepadaku esok pagi’.”

    Masuk Islamnya Abu Sufyan bin Harb[b]

    Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Aku membawa pergi Abu Sufyan bin Harb ke tempat istirahatku dan ia menginap di tempatku. Esok paginya, aku membawa Abu Sufyan bin Harb ke tempat Rasulullah SAW. Ketika beliau melihat Abu Sufyan bin Harb, beliau bersabda, ‘Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Ayah-ibuku menjadi tebusan bagimu, engkau amat lembut, mulia, dan menyambung hubungan kekerabatan. Demi Allah, sungguh aku telah meyakini seandainya ada Tuhan lain selain Allah, maka Tuhan tersebut pasti mencukupiku dengan sesuatu.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Celakalah engkau hai Abu Sufyan, apakah belum tiba bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?’ Abu Sufyan berkata, ‘Ayah-ibuku menjadi tebusan bagimu, engkau amat lembut, mulia, dan menyambung tali kekerabatan. Adapun hal ini, demi Allah, di hatiku masih terdapat ganjalan hingga sekarang ini.’ Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata kepada Abu Sufyan bin Harb, ‘Celakalah engkau, hai Abu Sufyan, masuk Islamlah. Bersaksilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah sebelum aku memenggal lehermu.’ (JGA: pola pemaksaan yang sampai sekarang kerap kita lihat masih digunakan muslim di berbagai negara yang menerapkan syariah kepada non-muslim)

    Abu Sufyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang benar dan masuk Islam. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Abu Sufyan bin Harb adalah…

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
    halaman 375

    …orang yang senang dengan kebanggaan, oleh karena itu, berikan sesuatu kepadanya.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan bin Harb, ia aman. Barangsiapa menurutp pintu rumahnya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman’.”(JGA: janji yang nanti juga akan diingkarinya sendiri dengan membunuh orang yang bergantungan pada tirai Ka’bah)

    [b]Perjalanan Pasukan Kaum Muslimin di Depan Abu Sufyan bin Harb
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby JANGAN GITU AH » Tue Dec 23, 2014 2:40 pm

    Perjalanan Pasukan Kaum Muslimin di Depan Abu Sufyan bin Harb

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abu Sufyan bin Harb telah pergi, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hai Al Abbas, tahan Abu sufyan di tempat sempit di depan gunung, agar pasukan Allah melaluinya, dan ia melihat mereka.’ Aku segera segera keluar dan menahan Abu Sufyan bin Harb di tempat yang diperintahkan Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, tidak lama kemudian berbagai kabilah berjalan melewatinya dengan membawa bendera masing-masing. Setiap satu kabilah lewat, Abu Sufyan berkata, ‘Hai, Al Abbas, siapa ini?’ Aku berkata, ‘Ini kabilah Sulaim.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Apa urusanku dengan kabilah Sulaim.’ Kabilah lain lewat, kemudian Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Hai, Al Abbas, ini siapa?’ Aku berkata, ‘Ini adalah kabilah Maimunah.’ Setiap kali kabilah lewat Abu Sufyan bertanya kepadaku tentang kabilah tersebut dan ketika aku telah menjelaskan kabilah tersebut kepadanya, ia berkata, ‘Apa urusanku dengannya.’ Itulah hingga akhirnya Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam lewat dengan batalionnya yang bernama hijau’.”

    Batalion Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam

    Ibnu Hisyam berkata, “Batalion Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dikatakan hijau karena besinya banyak dan didominasi warna hijau di dalamnya.”

    Ibnu Ishaq berkata, “Di batalion tersebut terdapat kaum Muhajirin dan Anshar Radhiyallahu Anhum. Setiap dari mereka diliputi baju besi. Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Mahasuci Allah, wahai Al Abbas, siapa mereka?’ Al Abbas bin Abdul Muththalib menjawab, ‘Itulah Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bersama bersama kaum Muhajirin dan Anshar.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Tidak ada satu pun orang yang mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka. Demi Allah, wahai Al Abbas, kerajaan anak saudaramu besok pagi menjadi sangat agung.’ Al Abbas bin Al Muththalib berkata, ‘Hai Abu Sufyan, itulah kenabian.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Ya betul.’ Al Abbas bin Al-Muththalib berkata, ‘Sekarang segeralah pergi kepada kaummu.’

    Ketika Abu Sufyan bin Harb tiba di orang-orang Quraisy, ia berteriak dengan suara dengan membawa pasukan yang tidak ada tandingannya. Oleh karena itu, barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman.’

    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

    hal 376

    Hindun binti Utbah mendekat kepada Abu Sufyan bin Harb, memegang kumisnya, dan berkata, ‘Perangilah orang yang besar badannya, banyak lemaknya, dan orang sesat. Sungguh jelek pemimpin kaum.’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Celakalah kalian, jangan kalian tertipu oleh wanita ini. Sungguh Muhammad datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak ada tandingannya. Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Semoga Allah membunuhmu. Apa arti rumahmu bagi kami?’ Abu Sufyan bin Harb berkata, ‘Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman.’ Orang-orang Quraisy pun berpencar-pencar, ada yang pergi ke rumah-rumah mereka dan ada yang pergi ke Masjidil Haram.”

    Kedatangan Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam di Dzi Thuwa

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa ketika Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam tiba di Dzi Thuwa, beliau berdiri di atas hewan kendaraannya, bersorban dengan separuh burdah dari Yaman yang berjahit dan berwarna merah. Beliau menundukkan wajah karena tunduk kepada Allah Ta’ala ketika melihat penaklukan yang diberikan Allah Ta’ala kepada beliau, hingga jenggotnya nyaris menyentuh bagian tengah.

    Masuk Islamnya Abu Quhafah

    Ibnu Ishaq berkata, “Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya dari neneknya, Asma’ binti Abu Bakar, yang berkata, “Ketika Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam berhenti di Dzi Thuwa, Abu Quhafah berkata kepada putrid bangsanya, ‘Putriku, bawalah aku naik ke Gunung Abu Qais.’ Abu Quhafah sudah buta. Aku membawanya naik ke Gunung Abu Qais. Ia berkata, ‘Hai putriku, apa yang engkau lihat?’ Putrinya berkata, ‘Aku lihat warna hitam yang berkumpul.’ Abu Quhafah berkata, ‘Itu pasukan berkuda.’ Putri bungsunya berkata, ‘Aku juga melihat orang mondar mandir berjalan di depan mereka.’ Abu Quhafah berkata, ‘Putriku, dialah pengatur. Ia memerintahkan pasukan berkuda dan berada di depannya.’ Putrinya berkata, ‘Demi Allah, warna hitam itu menyebar.’ Abu Quhafah berkata, ‘Demi Allah, pasukan berkuda telah berjalan, oleh karena itu, bawa aku turun dan bertemu pasukan berkuda tersebut sebelum tiba di rumah. Putri bungsu Abu Quhafah mengenakan kalung dari perak dan berpapasan dengan salah seorang dari pasukan berkuda kemudian memutus kalung tersebut dari lehernya. (JGA: Dasar pengikut geng perampok!)

    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
    hal 377

    Ketika Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakar datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika beliau melihat ayah Abu Bakar, beliau bersabda, ‘Hai Abu Bakar, kenapa engkau tidak membiarkan ayahmu di rumah dan aku saja yang datang kepadanya?’ Abu Bakar menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya.’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam mendudukan Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepadanya, ‘Masuk Islamlah. Abu Quhafah pun masuk Islam. Tidak lama setelah itul, Abu Bakar membawa ayahnya kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan kepalanya seperti tumbuh-tumbuhan Tsaqhamah. Beliau bersabda, ‘Rubahlah warna rambutnya.’ Abu Bakar berdiri, memegang tangan saudara perempuannya, dan berkata, ‘Aku bersumpah kepada Allah dan Islam. siapa yang mengambil kalung saudara perempuanku.’ Tidak ada satu pun orang yang menjawab pertanyaan Abu Bakar, kemudian ia berkata, ‘Wahai saudara perempuanku, relakan kalungmu, demi Allah, kejujuran di manusia pada hari ini amat sedikit’.” (JGA: Mana ada muslim yang ngaku sebagai perampok, walau telah merampok!)

    Pengaturan Pasukan Kaum Muslimin ketika Memasuki Makkah

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa setelah Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam memecah pasukan di Dzi Thuwah, beliau memerintahkan Az-Zubair bin Al –Awwam masuk ke dalam salah satu pasukan berkuda. Tadinya Az-Zubair bin Al-Awwam berada di pasukan sayap kiri. Beliau juga memerintahkan Sa’ad bin Ubadah masuk ke salah satu pasukan dari Kada’.

    Ucapan Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu Anhu ketika Memasuki Makkah

    Ibnu Ishaq berkata, sebagian ulama meyakini bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata ketika memasuki Makkah, “Hari ini hari kepahlawanan dan hal-hal haram menjadi halal.” Ucapan tersebut didengar salah seorang dari kaum Muhajirin (Ibnu Hisyam berkata, “Orang tersebut adalah Umar bin Khaththab.”), kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Sa’ad bin Ubadah? Kami tidak merasa aman jika ia mempunyai kekuasaan atas Quraisy.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, “Cari Sa’ad bin Ubadah, ambil bendera perang darinya, dan hendaklah engkau yang memasuki Makkah dengan bendera perang tersebut.”

    - - - - - - - - - - - - - - - -
    Hal 378

    Lokasi-lokasi Masuknya Pasukan Kaum Muslimin ke Makkah

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dalam haditsnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Khalid bin Walid memasuki Makkah dari Al-Lith di Makkah Bawah bersama salah satu pasukan. Tadinya, Khalid bin Walid berada di pasukan sayap kanan dimana di dalamnya terdapat kabilah Aslam, kabilah Sulaim, kabilah Ghifar, kabilah Muzainah, kabilah Juhainah, dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sedang Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bersama salah satu pasukan kaum Muslimin turun ke Makkah di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau sendiri memasuki Makkah dari Adzakhir hingga turun di Makkah Atas, kemudian di sanalah kubah beliau dipasang.

    Perihal Penduduk Al-Khandamah


    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih dan Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Shafwan bin Umaiyyah, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr mengumpulkan massa di Al-Khandamah untuk berperang. Himas bin Qais bin Khalid saudara Bani Bakr telah menyiapkan senjata sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memasuki Makkah. Istri Hismas bin Qais berkata, “Kenapa engkau menyiapkan senjata?” Himas bin Qais menjawab, “Untuk memerangi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” Istrinya berkata, “Demi Allah, aku berpendapat bahwa senjatamu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, aku berharap engkau tidak dibantu mereka.” Himas bin Qais berkata,

      “Jika mereka menyerah pada hari ini, aku tidak mempunyai alasan menyerah, karena aku mempunyai senjata sempurna dan tombak yang panjang mata penanya, serta pedang yang mempunyai dua mata pena dan cepat terhunus.”

    Himas bin Qais ikut hadir di Perang Al-Khandamah bersama Shafwan bin Umaiyyah, Suhail bin Amr, dan Ikrimah bin Abu Jahal. Ketika mereka bertemu anak buah Khalid bin Walid, mereka menyerang dengan sedikit penyerangan hingga menewaskan Kurz bin Jabir warga Bani Muharib bin Fihr dan Khunais bin Khalid bin Rabi’ah bin Ashram sekutu Bani Munqidz. Tadinya, keduanya berada di pasukan berkuda Khalid bin Walid, kemudian berjalan di jalan lain hingga keduanya terbunuh; Khunais bin Khalid terbunuh sebelum Kurz bin Jabir. Setelah Khunaiz bin Khalid terbunuh, Kurz bin Jabir meletakkannya di antara kedua kakinya, kemudian ia berperang membela hingga ia gugur sambil melantunkan syair,

    - - - - - - - - - - - - -
    hal 379

      ‘Orang-orang yang bening, bersih raut mukanya, dan suci hatinya dari Bani Fihr telah mengetahui
      Bahwa pada hari ini aku pasti menyerang karena membela Abu Shakhr.’

    Ibnu Hisyam berkata, “Nama panggilan Khunais bin Khalid adalah Abu Shakhr dan berasal dari kabilah Khuza’ah.”

    Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Najih dan Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku, “Orang yang terbunuh dari kabilah Juhainah adalah Salamah bin Al-Maila’, salah satu personel pasukan berkuda Khalid bin Walid. Korban dari kaum musyirikin kira-kira dua belas atau tiga belas orang. Setelah itu, orang-orang musyrikin mundur, termasuk Himas bin Qais hingga ia masuk ke rumahnya sambil berkata kepada istrinya, “Tutuplah pintu rumah.” Istrinya berkata, “Mana bukti ucapanmu?” Himas bin Qais berkata,
      “Ah, seandainya engkau menyaksikan Perang Al-Khandamah
      Shafwan dan Ikrimah melarikan diri
      Abu Yazid berdiri seperti istri yang ditinggal mati suaminya dengan meninggalkan anak-anak
      Mereka dihadapi oleh pedang-pedang kaum Muslimin
      Pedang-pedang tersebut memutus semua lengan dan tengkorak kepala
      Hingga tidak ada yang bisa didengar kecuali suara yang tidak bisa dipahami
      Mereka mempunyai suara dari tenggorokan dan suara dari dada di belakang kami
      Maka engkau tidak dapat mengecam dengan sepatah kata pun.”

    Kode Kaum Muslimin di Penaklukan Makkah

    Ibnu Ishaq berkata, “Kode kaum Muslimin di penaklukan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif adalah sebagai berikut;
    1. Kode kaum Muhajirin adalah ya bani Abdurrahman
    2. Kode kaum Al-Khazraj adalah ya bani Abdillah
    3. Kode kaum Al-Aus adalah ya bani Ubaidilah

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memerintahkan Pembunuhan Beberapa Orang Kafir Kendati Mereka Bergantung di Kain Ka’bah

    Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam teleah berpesan kepada para komandan pasukannya—ketika beliau memerintahkan mereka memasuki Makkah—agar tidak memerangi siapa pun kecuali orang-orang yang memerangi mereka dan bebeapa orang yang harus dibunuh kendati orang-orang tersebut bergantung di kain Ka’bah. Orang-orang tersebut adalah sebagai berikut:

    - - - - - - - - - - -
    Hal 380

    1. Abdullah bin Sa’ad

    Ia saudara Bani Amir bin Luai. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para komandan perang membunuhnya, karena tadinya ia masuk Islam dan menulis wahyu untuk beliau, namun kemudian murtad dan pulang kepada orang-orang Quraisy. Abdullah bin Sa’ad lari kepada Utsman bin Affan—saudara susuannya—dan Utsman bin Affan menyembunyikannya kemudian membawanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika kaum Muslim dan penduduk Makkah telah merasa tenang. Utsman bin Affan meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk Abdullah bin Sa’ad, namun beliau diam lama sekali, kemudian bersabda, ‘Ya.’ Ketika Utsman bin Affan telah meninggalkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda kepada para sahabat yang ada di sekitar beliau, ‘Aku diam lama tadi karena aku berharap ada salah seorang dari kalian yang berdiri memenggal leher Abdullah bin Sa’ad.’ Salah seorang dari kaum Anshar berkata, ‘Kenapa engkau tidak memberi isyarat kepadaku, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Nabi itu tidak boleh membunuh dengan memberi isyarat.’ (Ibnu Hisyam berkata, “Setelah itu, Abdullah bin Sa’ad masuk Islam lagi dan Umar bin Khaththab mengangkatnya sebagai gubernur di salah satu wilayah Islam, begitu juga Utsman bin Affan sesudah Umar bin Khaththab.”)

    2. Abdullah bin Khaththal


    Ia salah seorang dari Bani Tamim bin Ghalib. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan terhadapnya, karena tadinya, ia Muslim dan beliau mengutusnya sebagai petugas zakat ke salah satu daerah bersama salah seorang dari kaum Anshar dan mantan budak Abdullah bin Khaththal yang Muslim. Ia berhenti di suatu tempat, kemudian menyuruh mantan budaknya menyembelih kambing hutan miliknya dan membuat makanan untuknya. Setelah itu Abdullah bin Khaththal tidur. Ketika ia bangun, ia melihat mantan budaknya tidak membuatkan makanan untuknya, kemudian ia menyerangnya hingga tewas. Setelah itu, ia murtad. Ia mempunyai dua penyanyi wanita pelacur dan istri. Kedua penyanyi wanita yang pelacur tersebut bernyanyi menghina Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau memerintahkan pembunuhan keduanya bersama Abdullah bin Khaththal.

    3. Al-Huwairits bin Nuqaidz

    Nama lengkapnya adalah Al-Huwairits bin Nuwaidz bin Wahb bin Abdun bin Qushai. Ia termasuk orang yang menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah (Ibnu Hisyam berkata, “Abdullah bin Al-Abbas membawa…

    ¬- - - - - - - - - - - -
    Hal 381

    Fathimah dan Ummu Kultsum, keduanya putrid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Makkah dengan tujuan Madinah, kemudian hewan-hewan kendaraan keduanya dicucuk lambungnya oleh Al-Huwairits bin Nuqaidz hingga keduanya jatuh terpelanting ke tanah.”)

    4. Miqyas bin Shubabah

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan terhadap Miqyas bin Shubabah, karena ia telah membunuh salah seorang dari kaum Anshar yang membunuh saudaranya dengan tidak sengaja dan karena ia pulang ke Quraisy dalam keadaan murtad.

    5 dan 6. Sarah dan Ikrimah bin Abu Jahal

    Sarah adalah mantan budak salah seorang dari Bani Abdul Muththalib, sedang Ikrimah adalah anak Abu Jahal. Sarah termasuk wanita yang menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah. Adapun Ikrimah bin Abu Jahal, ia kabur ke Yaman, sedang istrinya, Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam, masuk Islam kemudian memintakan jaminan keamanan untuknya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau mengabulkan permintaannya. Setelah itu, Ummu Hakim binti Al-Harits pergi mencari suaminya ke Yaman hingga akhirnya berhasil membawanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masuk Islam.

    Abdullah bin Khaththal dibunuh Sa’id bin Harits Al-Makhzumi dan Abu Barzah Al-Aslami.

    Miqyas bin Shubabah dibunuh Numailah bin Abdullah, salah seorang dari kaumnya sendiri. Tentang pembunuhan Miqyas bin Shubabah, saudara perempuannya berkata,
      ‘Aku bersumpah, sungguh Numailah telah menghinakan kaumnya
      Dan melukai tamu-tamu musim hujan dengan membunuh Miqyas
      Sungguh indah mata yang melihat orang seperti Miqyas
      Jika wanita-wanita nifas tidak dibuatkan makanan setelah melahirkan.’

    Sedang dua penyanyi muda pelacur Abdullah bin Khaththal, salah satu dari keduanya dibunuh, sedang satunya melarikan diri, kemudian meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau mengabulkan permintaanya.

    Sarah juga meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau memberinya. Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab, ia diinjak kuda salah seseorang di salah satu Al-Abthah hingga ia meninggal dunia.

    Sedang Al-Huwairits bin Nuqaidz, ia dibunuh Ali bin Abu Thalib.”
    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
    Hal 382

    Mirror 1: Perjalanan Pasukan Kaum Muslimin di Depan Abu Sufyan bin Harb
    Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
    User avatar
    JANGAN GITU AH
     
    Posts: 5366
    Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
    Location: Peshawar-Pakistan

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby Mahasiswa98 » Tue Dec 23, 2014 7:57 pm

    Halo bro JGA
    ijin nandain biar gak ilang linknya :lol:

    thanks atas share nya sip sip
    Mirror 1: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka
    Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
    User avatar
    Mahasiswa98
     
    Posts: 1480
    Images: 0
    Joined: Wed Mar 28, 2012 6:50 pm
    Location: Dalam TerangNya

    Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2 (txt lengka

    Postby IC1101 » Fri Jan 09, 2015 3:30 pm

    Ud ada yang PDF nya belom yah?
    IC1101
     
    Posts: 354
    Images: 0
    Joined: Fri Oct 21, 2011 9:54 pm

    Previous

    Return to Buku² Islam Indonesia oleh Penulis² Muslim



    Who is online

    Users browsing this forum: No registered users

    cron