SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Pembahasan tentang buku² Islam yang tersedia di berbagai toko buku di Indonesia. Isi buku² ini membenarkan penjelasan FFIndonesia tentang wajah Islam dan ajaran Muhammad yang sebenarnya.
User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 153
BAB 35
PERANG AL-FIJJAR
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusia empat belas tahun atau lima belas tahun--seperti dikatakan Abu Ubaidah An-Nahwi kepadaku dari Abu Amr bin Al-Ala'-- perang meledak antara Quraisy dengan di dukung Kinanah melawan Qais Ailan.

Pemicu perang bahwa Urwah Ar-Rahhal bin Utbah bin Ja'far bin Kilab bin Rabi'ah bin Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin melindungi unta angkut milik An-Nu'man bin Al-Mundzir. Al-Barradh bin Qais, salah seorang dari Bani Dhamrah bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah berkata kepada Urwah Ar-Rahhal, 'Apakah engkau melindungi unta tersebut dari Kinanah?' Urwah Ar-Rahhal menjawab, 'Ya, bahkan aku melindunginya dari semua manusia.' Setelah itu Urwah Ar-Rahhal keluar membawa unta tersebut dan Al-Barradh juga keluar untuk mencari kelengahan Urwah Ar-Rahhal. Ketika tiba di Taiman Dzi Thallal di Al-Aliyah, Urwah Ar-Rahhal lengah, saat itu pula Al-Barradh menyergapnya lalu membunuhnya pada bulan haram. Oleh karean itu dinamakan Perang Al-Fijjar. Tentang kejadian tersebut Al-Barradh berkata,
  • Berbagai petaka telah mendera manusia sebelumku
    Kuikat tulang rusukku
    Aku hancurkan rumah-rumah Bani Kilab
    Dan aku susui budak-budak (Bani Kilab) itu dengan susu
    Kuangkat tanganku untuknya di Dzu Thallal
    Kemudian ia jatuh ke bumi seperti dahan yang dipotong kemudian jatuh ke tanah
Al-Barradh juga berkata kepada Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Ja'far bin Kilab,
  • Sampaikan kisah ini jika engkau pergi ke Bani Kilab dan Amir
    Bencana itu akan terus datang pada mereka
    Sampaikan kisah ini kepada Bani Numair
    Dan paman-paman korban, Bani Hilal
    Bahwa tamu sang pengembara (Urwah) pada sore hari
    Berada di Taiman Dzi Thilal
Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Al-Barradh."
====================================================================================================
Halaman 154

Perang antara Quraisy Versus Hawazin
Ibnu Hisyam berkata, "Seseorang datang kepada orang-orang Quraisy kemudian berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya Al-Barradh telah membunuh Urwah, padahal mereka berada di bulan haram di Ukadz.' Kemudian orang-orang Quraisy berangkat ke tempat Hawazin tanpa disadarinya. Ketika Hawazin mendengar keberangkatan orang-orang Quraisy, mereka mengejarnya dan menemukan mereka sebelum masuk tanah haram. Kemudian mereka bertempur hingga malam hari tiba. Setelah itu orang-orang Quraisy memasuki tanah haram, namun Hawazin menahan diri dari mereka. Keesokan harinya dan hari-hari sesudahnya mereka bertemu lagi dan kedua belah pihak bersatu padu. Masing-masing kabilah dari Quraisy dan Kinanah mempunyai pemimpin. Pada sebagian hari perang, Rasulullah ikut perang, karean diajak paman-pamannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ketika itu aku memanah melindungi paman-pamanku."

Usia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Tahun Perang Al-Fijjar
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Perang Al-Fijjar meletus, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusia dua puluh tahun. Perang tersebut dinamakan Perang Al-Fijjar, karena kedua kampung tersebut, Kinanah dan Ailan telah menghalalkan hal-hal yang diharamkan pada mereka. Panglima perang Quraisy dan Kinanah adalah Harb bin Umaiyyah bin Abdu Syams. Pada pagi hari, kemenangan diraih Qais atas Kinanah, namun pada pertengahan hari, kemenangan berbalik menjadi milik Kinanah atas Qais."

Ibnu Hisyam berkata, "Pembahasan Perang Al-Fijjar sangat panjang, dan saya sengaja tidak menyebutkannya secara lengkap karena takut memangkas pembahasan tentang sirah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 155
BAB 36
PERNIKAHAN RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DENGAN KHADIJAH RADHIYALLAHU ANHA
Usia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika Menikah
Ibnu Hisyam berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusia dua puluh lima tahun, beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Luai bin Ghalib--seperti dikatakan kepadaku oleh banyak sekali ulama dari Abu Amr Al-Madani."

Kedudukan Khadijah dan Kepergian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Membawa Barang Dagangan Khadijah
Ibnu Ishaq berkata, "Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pedagang, terhormat, dan kaya raya. Ia mengkontrak banyak orang untuk menjualkan barang dagangannya dan berbagai hasil dengan mereka. Quraisy adalah bangsa pedagang. Ketika Khadijah mendengar informasi tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kebenaran tutur beliau, keagungan kejujuran beliau, dan kebaikan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Khadijah meminta beliau menjualkan barang dagangannya ke Syam dengan ditemani budak laki-lakinya yang bernama Maisarah dan akan memberikan gaji yang lebih banyak daripada gaji yang pernah diterima orang-orang lain.Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima tawaran Khadijah, kemudian beliau pergi membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani budak laki-laki Khadijah, Maisarah hingga beliau tiba di Syam."

Dialog Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Pendeta
Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti di naungan pohon dekat dengan rumah ibadah salah satu pendeta. Pendeta tersebut mendekati Maisarah, dan bertanya kepadanya, 'Siapa orang laki-laki yang berhenti di bawah pohon itu?' Maisarah berkata kepada pendeta, 'Orang tersebut berasal dari Quraisy, dan penduduk tanah haram.' Pendeta...
=======================================================================================================
Halaman 156

...tersebut berkata, 'Tidak akan berhenti di bawah pohon tersebut melainkan ia seorang nabi.'

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjual barang dagangan yang dibawanya dari Makkah, dan membeli apa yang ingin beliau beli. Setelah merampungkan aktifitas bisnisnya, beliau pulang ke Makkah dengan didampingi Maisarah. Jika matahari sedang panas-panasnya--menurut para ulama--Maisarah melihat dua malaikat menaungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari panas sinar matahari, sementara beliau tetap berjalan di atas untanya. Tiba di Makkah, beliau menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang ia bawa dengan harga dua kali lipat atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pendeta dan dua malaikat yang menaungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Khadijah."

Keinginan Khadijah Radhiyallahu Anha Menikah dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata, "Khadijah adalah wanita yang berpendidikan kuat, terhormat, dan cerdas, disamping kemuliaan yang dikehendaki Allah padanya. Ketika Maisarah bercerita kepadanya tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengutus seseorang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa pesannya, 'Hai saudara misanku, sungguh aku tertarik padamu, karena akhlakmu, dan kebenaran tutur katamu.' Khadijah menawarkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, wanita paling terhormat, dan wanita terkaya. Semua orang-orang Quraisy ingin menikah dengannya, jika mampu."

Nasab Khadijah dari Jalur Ayahnya
Ibnu Ishaq berkata, "Khadijah adalah anak wanita Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr."

Nasab Khadijah dari Jalur Ibunya
Ibnu Ishaq berkata, "Ibu Khadijah adalah Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah bin Hajar bin Abd bin Ma'ish bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr."

Ibu Fathimah adalah Halah binti Abdu Manaf bin Al-Harts bin Amr bin Munqidz bin Amr bin Ma'ish bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr.

Ibu Fathimah adalah Qalabah binti Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr.

Ketika Khadijah mengungkapkan tawarannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau menceritakannya kepada paman-paman...
====================================================================================================
Halaman 157

...beliau. Kemudian bersama pamannya, Hamzah bin Abdul Muththalib, beliau pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muththalib melamar Khadijah untuk beliau, kemudian Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Mahar Khadijah
Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi mahar kepada Khadijah sebanyak dua puluh anak lembu. Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau tidak menikah dengan wanita lain semasa hidup Khadijah dan baru menikah lagi ketika Khadijah telah meninggal dunia."

Anak-anak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Khadijah
Ibnu Ishaq berkata, "Semua anak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan Khadijah kecuali Ibrahim. Anak-anak beliau dari Khadijah adalah Al-Qasim (beliau dipanggil dengan nama Abu Qasim), Ath-Thahir, Ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Salam sejahtera atas mereka."

Ibnu Hisyam berkata, "Anak laki-laki Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang paling besar adalah Al-Qasim, kemudian Ath-Thyyib, kemudian Ath-Thahir. Anak wanita beliau yang paling besar adalah Ruqayyah, kemudian Zainab, kemudian Ummu Kaltzum, kemudian Fatimah."

Anak-anak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Yang Meninggal Dunia
Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Al-Qasim, Ath-Thayyib dan Ath-Thahir, mereka meninggal dunia pada masa jahiliyah. Adapun anak-anak wanita Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka hidup hingga zaman Islam, masuk Islam dan ikut Hijrah bersama beliau."

Ibrahim dan Ibunya
Ibnu Hisyam berkata, "Adapun Ibrahim, ibunya adalah Mariyah."
Ibnu Hisyam berkat bahwa Abdullah bin Wahb berkata kepadaku dari Ibnu Luhai'ah yang berkata, "Ibu Ibrahim adalah Mariyah, wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada beliau. Mariah berasal dari Hafn di distrik Anshina (di Mesir)/"

Khadijah Radhiyallahu Anha Menceritakan Cerita Maisarah tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Waraqah bin Naufal
Ibnu Ishaq berkata, "Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza--ia pamannya, pemeluk agama Nasrani, mempelajari kitab-kitab, dan mengetahui banyak tentang manusia--tentang..
===================================================================================================
Halaman 158

...ucapan pendeta Nasrani seperti dikisahkan budaknya kepadanya dan dua malaikat yang menaungi beliau. Waraqah bin Naufal berkata, 'Jika ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi untuk umat ini. Aku tahu persis, umat ini akan mempunyai nabi yang ditunggu kedatangannya dan sekarang telah tiba masanya kemunculan nabi tersebut--atau seperti dikatakan Waraqah bin Naufal.' Setelah itu, Waraqah mengembangkan persoalan dengan berkata, 'Namun hingga kapan masa penantian ini?' "

Syair Waraqah bin Naufal
  • Tentang hal di atas, Waraqah bin Naufal berkata,
    Sesungguhnya Muhammad akan menjadi pemimpin kami
    Ia mengalahkan lawannya dengan hujjah
    Cahayanya terlihat di seantero dunia
    Ia luruskan manusia yang bengkok
    Orang yang memeranginya mendapatkan kerugian
    Dan orang yang berdamai dengannya mendapat kemenengan
    Duhai, seandainya aku hidup pada saat itu
    Aku menyaksikannya dan aku menjadi orang yang paling beruntung
    Kendati yang dibenci orang-orang Quraisy itu amat berat
    Dan mereka berteriak dengan keras di Makkah
    Aku berharap dengan sesuatu yang mereka benci
    Kepada Pemilik Arasy, jika mereka turun dalam keadaan pincang
    Samakah antara persoalan orang-orang rendah
    Dengan orang yang memilih orang yang naik ke menara?
    Jika mereka masih ada, maka akan terjadi banyak persoalan
    Orang-orang kafir berteriak hiruk-pikuk terhadap persoalan-persoalan tersebut
    Jika aku mati, sesungguhnya semua pemuda
    Akan menemui takdir
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 159
BAB 37
PEMBANGUNAN KA'BAH DAN KEPUTUSAN RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI ANTARA ORANG-ORANG QURAISY DALAM PELETAKAN BATU
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusia dua puluh lima tahun, orang-orang Quraisy sepakat membangun Ka'bah. Mereka ingin memberi atap Ka'bah, namun mereka takut meruntuhkannya. Tadinya Ka'bah dibangun di atas ketinggian rata-rata orang. Oleh karena itu, mereka ingin meninggikannya dan memberi atap padanya. Penyebabnya adalah karena beberapa orang telah mencuri harta yang ada di dalam Ka'bah. Harta tersebut di simpan di sumur di dalam Ka'bah. Harta tersebut ditemukan di rumah Duwaik, mantan budak Bani Mulaih bin Amr bin Khuza'ah."

Ibnu Hisyam berkata, "Kemudian orang-orang Quraisy memotong tangan Duwaik."

Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy berkata bahwa orang-orang yang mencuri harta dari Ka'bah sengaja meletakkan hasil curiannya di rumah Duwaik. Ketika itu, laut melemparkan perahu milik salah seorang pedagang Romawi ke Jeddah. Perahu tersebut pecah, kemudian orang-orang Quraisy mengambil kayu-kayunya dan menyiapkannya sebagai atap Ka'bah. Di Makkah terdapat tukang kayu dari Mesir. Dialah yang menyiapkan sebagian bahan untuk pembangunan Ka'bah. Ketika mereka sedang bekerja, tiba-tiba ular keluar dari sumur Ka'bah, sumur tempat mereka memberikan sesajian setiap hari. Ular tersebut mendekati tembok Ka'bah. Itulah di antara yang ditakuti orang-orang Quraisy, sebab setiap kali ada orang yang mencoba mendekat kepada ular tersebut, ia mengerisik dan membuka mulutnya. Mereka sangat takut kepada ular tersebut. Pada suatu hari, ular tersebut sedang berada di tembok Ka'bah seperti biasanya, kemudian Allah mengirim burung kepadanya lalu burung tersebut menerkamnya dan membawanya pergi. Melihat kejadian tersebut, orang-orang Quraisy berkata, 'Sesungguhnya kita berharap Allah meridhai apa yang kita kerjakan. Kita mempunyai pekerja yang lembut, dan kayu. Sungguh Allah telah melindungi kita dari ular tersebut."
======================================================================================================
Halam160

Kesepakatan Orang-orang Quraisy untuk Membangun Ka'bah dan Nasihat Abu Wahb kepada Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika orang-orang Quraisy telah sepakat meruntuhkan Ka'bah kemudian membangunnya, berdirilah Abu Wahb bin Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin Makhzum (Ibnu Hisyam berkata bahwa Aidz adalah anak Imran bin Makhzum), kemudian mengambil batu dari Ka'bah, tapi batu tersebut meloncat dari tangannya dan kembali ke tempatnya semula. :lol: (JGA: ini kodok atau batu sih?) Abu Wahb berkata, 'Hai orang-orang Quraisy, untuk membangun Ka'bah ini kalian jangan menggunakan dana kecuali uang yang halal. Tidak boleh digunakan uang hasil pelacuran, uang dari transaksi riba, dan uang yang diambil dari manusia dengan cara yang tidak adil.' Orang-orang Quraisy mengklaim bahwa ucapan tersebut adalah ucapan Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Najin Al-Makki berkata kepadaku bahwa ia diberitahu dari Abdullah bin shafwan bin Umaiyyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luai, bahwa ia melihat anak Ja'dah bin Hubairah bin Abu Wahb bin Amr sedang thawaf di Baitullah, kemudian ia bertanya kepada seseorang tentang orang tersebut. Ia diberi jawaban bahwa orang tersebut adalah anak Ja'dah bin Hubairah. Abdullah bin Shafwan berkata, "Kakek orang inilah (maksudnya Abu Wahb) orang yang mengambil batu dari Ka'bah ketika orang-orang Quraisy sepakat untuk meruntuhkan Ka'bah, namun batu tersebut meloncat dari tangannya dan kembali ke tempat asalnya, kemudian Abu
Wahb berkata, 'Hai orang-orang Quraisy, untuk membangun Ka'bah ini kalian jangan menggunakan dana kecuali uang yang halal. Tidak boleh digunakan uang hasil pelacuran, uang dari transaksi riba, dan uang yang diambil dari manusia dengan cara yang tidak adil'."

JGA: mana yang benar, Abu Wahb bin Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin Makhzum yang mengambil atau anak Ja'dah bin Hubairah :rolleyes:

Syair Yang Diucapkan tentang Abu Wahb
Ibnu Ishaq berkata, "Abu Wahb adalah paman (dari pihak ibu) ayah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia terhormat. Untuknya, salah seorang penyair Arab berkata,
  • Kendati dengan Abu Wahb, aku tetap menderumkan (menghentikan) untaku
    Dari rumahnya, untanya berangkat dengan tidak membawa kerugian
    Pantang baginya mengambil barang secara dzalim dan senang dengan sikap dermawan
    Kedua kakeknya berada di pertengahan di antara keturuanan yang baik-baik
    Abu dapur memenuhi pelupuk matanya
    Karena membuat roti hingga debu membubung tinggi seperti jambul rambut
======================================================================================================
Halaman 161

Pembagian Pembangunan Ka'bah di Antara Kabilah-kabilah Quraisy
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy membagi Ka'bah. Pintu Ka'bah menjadi jatah Bani Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara tiang Aswad dengan tiang Yunani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah Quraisy yang bergabung kepada merek. Punggung Ka'bah menjadi jatah Bani Jumah dan Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luai. Hajar Aswad menjadi jatah Bani Abduddaar bin Qushai, Bani Asad bin Al-Uzza, dan Bani Adi bin Ka'ab bin Luai."

Al-Walid bin Al-Mughirah Orang Yang Pertama Kali Meruntuhkan Ka'bah
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy tidak berani meruntuhkan Ka'bah. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, 'Aku yang memulai meruntuhkan Ka'bah.' Kemudian Al-Walid mengambil kapak, dan berdiri di depan Ka'bah, sambil berkata, 'Ya Allah, kami tidak menginginkna melainkan kebaikan.' Ia meruntuhkan Ka'bah dari arah dua tiang Ka'bah. Pada malam itu, orang-orang Quraisy menunggu dengan cemas apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka berkata, 'Kita tunggu saja. Jika Al-Walid terkena sesuatu, ia tidak akan meruntuhkan sedikit pun dari Ka'bah kemudian kita kembalikan seperti bentuk aslinya. Jika ia tidak terkena apa-apa, berarti Allah meridhai dan kita akan meruntuhkannya.' Keesokan harinya, Al-Walid bin Al-Mughirah berangkat untuk meneruskan kerjanya. Ia runtuhkan Ka'bah dengan diikuti orang-orang Quraisy hingga proses peruntuhan Ka'bah memasuki peruntuhan pondasi Ibrahim Alaihis-Salam. Pondasi tersebut adalah batu hijau seperti punuk unta yang saling merapat kepada sebagian yang lain."

Kegagalan Usaha Mencabut Pondasi Ka'bah
Ibnu Ishaq berkata bahaw seorang perawi hadits berkata kepadaku bahwa seseorang dari Quraisy di antara orang-orang yang meruntuhkan Ka'bah memasukkan linggis di antara dua batu untuk mencabut salah saut dari dua batu tersebut. Ketika batu tersebut bergerak, tiba-tiba seluruh Makkah bergetar. Karena kejadian itu, mereka menghentikan upaya mencabut batu tersebut.

Ibnu Ishaq berkata bahwa aku diberi tahu orang-orang Quraisy menemukan tulisan dalam bahasa Ibrani di tiang Ka'bah dan mereka tidak mengerti tulisan tersebut hingga salah seorang Yahudi membacakannya kepada mereka. Tulisan tersebut berbunyi, "Aku Allah pemilik Bakkah (Makkah) ini. Aku menciptakan Makkah pada saat Ku-ciptakan langit dan bumi, dan pada saat Ku-bentuk matahari dan bulan. Aku melindunginya dengan tujuah raja yang lurus. (Bakkah) Makkah tidak hancur hingga gunung di (Bakkah) Makkah hancur. Penduduknya diberkahi pada air dan susunya."
========================================================================================================
Halaman 162

Tulisan di Maqam
Ibnu Ishaq berkata bahwa aku diberi tahu mereka menemukan tulisan di atas Ka'bah. Tulisan tersebut berbunyi, "Makkah adalah Rumah Allah yang haram. Rezki Makkah datang dari tiga jalan. Makkah tidak bisa diubah menjadi tanah halal oleh orang nomor satu Makkah."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Laits bin Abu Suliam menduga bahwa empat puluh tahun sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--jika yang dikatakan Laits bin Abu Suliam ini benar--mereka menemukan batu di Ka'bah. Di batu tersebut tertulis, "Barangsiapa menanam kebaikan, ia menuai kebahagiaan. Barangsiapa menanam keburukan, ia memanen penyesalan. Kalian mengerjakan dosa-dosa, dan kalian dibalas dengan kebaikan-kebaikan :shock: . Betul sekali sebagaimana anggur tidak bisa dipanen dari duri."(JGA: <===nyontek abis cuy) :lol:

Konflik Orang-orang Quraisy dalam Peletakan Hajar Aswad
Ibnu Ishaq berkata, "Semua kabilah di Quraisy mengumpulkan batu-batu untuk pembanguna Ka'ba. Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri, kemudian mereka membangun Ka'bah. Ketika pembangunan memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, mereka bertengkar. Setiap kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad, mereka bertengkar. Setiap kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya tanpa melibatkan kabilah lainnya. Itulah yang terjadi hingga mereka berdebat, saling sumpah, dan bersiap-siap untuk perang. Bani Abduddaar mendatangkan mangkok yang penuh dengan darah, kemudian mereka bersekutu dengan Bani Adi bin Ka'ab bin Luai untuk mati bersama dan memasukkan tangan mereka ke dalam mangkok darah tersebut. Oleh karena itu, mereka dinamakan La'aqatu Ad-Dami (sendok darah). Orang-orang Quraisy selama empat atau lima malam dalam kondisi seperti itu."

Penyelesaian Konflik

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian mereka bertemu di Masjidil Haram untuk berunding. Sebagian perawi mengaku bahwa Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah bin Umar bin Makhzum, orang tertua di kalangan Quraisy berkata, "Hai orang-orang Quraisy, serahkan penyelesaian konflik kalian ini kepada orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid.' Mereka menuruti perintah Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid. Ketika mereka melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah berada di dalam Masjid, mereka berkata, 'Kami ridha terhadap orang yang terpercaya ini, Muhammad.' Ketika beliau bertemu dengan mereka, maka diceritakan kepada beliau, kemudian beliau berkata, 'Serahkan kain Ka'bah kepadaku.' Kain Ka'bah diberikan kepada beliau. Rasulullah mengambil Hajar Aswad yang diperebutkan, kemudian meletakkannya ke dalam kain dengan tangannya sendiri dan berkata, 'Hendaklah setiap kepala kabilah memegang ujung kain, ...
====================================================================================================
Halaman 163

...kemudian mengangkat kain tersebut bersama-sama.' Mereka menuruti perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika mereka tiba di tempat Hajar Aswad, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil Hajar Aswad dari kain tersebut kemudian meletakkannya di tempatnya.

Sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima wahyu, orang-orang Quraisy menamakan beliau Al-Amin (orang yang terpercaya)."

Syair Az-Zubair tentang Ular
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika mereka merampungkan pembangunan Ka'bah dan membangunnya sesuai dengan keinginan mereka, Az-Zubair bin Abdul Muththalib berkata tentang ular yang ditakutkan orang-orang Quraisy ketika mereka membangun Ka'bah,
  • Aku kaget ketika burung elang terbang
    Ke arah ular kemudian ular tersebut kalut
    Sebelumnya ular tersebut mengerisik
    Dan terkadang ia melompat
    Ketika kami membangun Ka'bah, ular tersebut muncul
    Ia membuat kami tidak berani meneruskan pembangunan
    Ketika kami mendapat hukuman
    Tiba-tiba datanglah burung elang kemudian terbang ke tempat ular
    Burung elang menerkam ular tersebut
    Burung elang tersebut memberi jalan bagi kami kapada Ka'bah dan tidak ada penghalang
    Kita berkerumun di bangunan
    Kita mempunyai jatah pondasi dan tanah
    Esok pagi, kita memulai pembangunan dari Ka'bah
    Sedang di aurat kami tidak ada pakaian (telanjang)
    Dengan Ka'bah, Tuhan memuliakan Bani Luai
    Tidak ada seorang pun dari anak keturunannya yang pergi
    Sungguh di sana telah terkumpul Bani Adi
    Dan Murrah, namun sebelumnya telah didahului Kilab
    Tuhan menyiapkan kebesaran untuk kita dengan cara seperti itu
    Di sisi Allah-lah pahala itu dicari
Ka'bah pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah delapan belas hasta. Pada awalnya Ka'bah ditutup dengan kain Al-Qabathi, kemudian ditutup dengan kain Al-Burud. Orang yang pertama kali menutupnya dengan kain Dibaj adalah Al-Hajjaj bin Yusuf."
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 164
BAB 38
PEMBAHASAN TENTANG AL-HUMSU
Bid'ah Al-Humsu*
Ibnu Ishaq bertkata, "Dulu orang-orang Quraisy--saya tidak tahu persis apakah sebelum tahun gajah atau sesudahnya--membuat bid'ah Al-Humsu. Mereka berkata, 'Kami anak keturunan Ibrahim, penduduk tanah haram, penguasa Ka'bah, penjaga Makkah dari penghuninya, 'Tidak ada seorang pun dari orang-orang Arab yang mempunyai hak seperti kami, mempunyai kedudukan seperti kedudukan kami, dan tidak ada yang dikenal Arab seperti kami. Oleh karena itu, kalian jangan mengagungkan sedikit pun dari tanah halal sebagaimana kalian mengagungkan tanah haram. Jika kalian melakukannya, orang-orang Arab akan memandang rendah kehormatan kalian.' Mereka tidak melakukan wukuf di Arafah, dan tidak bertolak daripadanya, padahal mereka telah mengetahui dan mengakui bahwa wukuf di Arafah dan bertolak daripadanya adalah syiar, haji dan agama Ibrahim Alaihis-Salam. Mereka berpendapat, orang-orang Arab harus wukuf di Arafah dan harus bertolak daripadanya. Mereka berkata, 'Kami penduduk tanah haram, karena itu, kami tidak harus keluar dari tanah haram dan kami tidak mengagungkan tanah halal seperti mengagungkan tanah haram. Kami Al-Humsu; dan ...
__________________
(*) Al-Humsu adalah sikap berlebih-lebihan dalam suatu perkara. Orang-orang Quraisy membuat panduan, perbuatan-perbuatan yang harus mereka kerjakan, dan perbuatan-perbuatan yang harus mereka tinggalkan. Mereka menjalankan Al-Humsu ini hingga menjadi bagian dari agama yang harus ditaati. Mereka menolak wukuf di tanah halal sebagaimana mereka wukuf di tanah haram, karena mereka meyakini kebesaran mereka yang merupakan penduduk tanah haram, padahal mereka telah mengetahui wukuf di Arafah dan bertolak dari sana adalah salah satu manasik haji terpenting seperti dulu dikerjakan Nabi Ibrahim Alaihis-Salam. Selain itu, mereka melarang wanita-wanita menyaring minyak dan menenun kain. Mereka membagi jama'ah haji ke dalam tiga kelompok.
Pertama, penduduk tanah haram. Mereka adalah penduduk Al-Humsu. Mereka tidak harus pergi dari tanah haram ke tanah halal.
Kedua, penduduk tanah halal. Mereka harus berada di seluruh tempat-tempat haji. Dalam menjalankan haji, mereka melarang mengenakan pakaian mereka dan sebagai gantinya harus meminjam kain penduduk tanah haram.
Ketiga, Ath-Thals. Mereka adalah orang-orang yang tiba dari Yaman dengan pakaian mereka yang berdebu. Mereka dilarang melepaskan pakaiannya hingga menyelesaikan seluruh aktifitas hajinya. (Muhaqqiq).

========================================================================================================
Halaman 165

...Al-Humsu adalah penduduk tanah haram.' Memang menentukan bahwa orang-orang yang dilahirkan orang-orang Arab penghuni tanah halal atau tanah haram mempunyai hak yang sama dengan mereka. Dihalalkan bagi mereka (orang yang dilahirkan orang-orang Arab penghuni tanah halal dan tanah suci) apa saja yang dihalalkan bagi orang-orang Quraisy, dan diharamkan bagi mereka (orang yang dilahirkan orang-orang Arab penghuni tanah halal dan tanah suci) apa saja yang diharamkan bagi mereka (orang-orang Quraisy)."

Kabilah-kabilah Yang Meyakini Bid'ah Al-Humsu Bersam Quraisy
Ibnu Ishaq berkata, "Kinanah dan Khuza'ah sependapat dengan orang-orang Quraisy dalam bid'ah Al-Humsu ini."
Ibnu Hisyam berkata, "Abu Ubaidah An-Nahwi berkata kepadaku, Bani Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin sependapat dengan Quraisy dalam bid'ah Al-Humsu ini. Abu Ubaidah pernah membacakan syair Amr bin Ma'dikarb kepadaku,
  • 'Hai Abbas, seandainya kuda-kuda kita di Tatslits itu bagus
    Engkau tidak dapat berhubungan dengan Al-Ahamis sepeninggalku'."
Ibnu Hisyam berkata, "Tatslits adalah satu tempat di negeri mereka."
Yang dimaksud dengan Al-Ahamis pada syair di atas adalah Bani Amir bin Sha'sha'ah. Abbas yang dimaksud adalah Abbas bin Mirdas As-Sulaim. Ia menyerbu Bani Zubaid di Tatslits. Bait syair di atas adalah penggalan dari syair Amr. Abu Ubaidah juga membacakan syair Laqith bin Zurarah Ad-Darimi pada Perang Jablah,
  • Berhentilah, sesungguhnya Bani Abs
    Adalah orang-orang mulia di penduduk Al-Humsu
Perang Jabalah
Penyebab terjadinya Perang Jabalah karena Bani Abbas pada perang tersebut menjadi pemimpin Bani Amir bin Sha'sha'ah. Perang Jabalah adalah perang yang terjadi antara Bani Handzalah bin malik bin Zaid bin Manaf bin Tamim dengan Bani Amir bin Sha'sha'ah. Pada Perang Jablah, kemenangan diraih Bani Amir bin Sha'sha'ah atas Bani Handzalah. Laqith bin Zurarah bin Udas terbunuh, Hajib bin Zurarah bin Udas tertawan, dan Amr bin Amr bin Udas bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Malik bin Handzalah lari kocar-kacir. Tentang Perang Jabalah, Jarir berkata kepada Al-Farazdaq,
  • Sepertinya engkau tidak melihat Laqith dan Hajib
    Serta Amr bin Amr ketiak mereka memanggil, 'wahai Darim.'
Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Jarir.
=======================================================================================================
Halaman 166

Perang Dzu Najab
Mereka bertemu lagi di Dzi Najab. Pada pereang tersebut, Handzalah berhasil mengalahkan Bani Amir. Hassan bin Muawiyah Al-Kindi, anak Kabsyah tewas. Yazid bin Ash-Sha'iq tertawan, dan Ath-Thufail bin Malik bin Ja'far bin Kilab Abu Amir bin Ath-Thufal terpukul mundur. Tentang perang tersebut, Al-Farazdaq berkata,
  • Ketika Thufail bin Malik menyelamatkan diri
    Di atas kuda Hamah bin Khuwailid
Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syairnya. Jarir berkata,
  • Kami mengecat mahkota Ibnu Kabasyah
    Dan menimpakan serangan yang mematikan pada seseorang di tengah suara kuda
Bait syair di atas adalah sebagian dari syair-syairnya. Pembahasan Perang Jabalah dan Perang Dzu Najab lebih panjang dari apa yang kami sebutkan. Saya tidak membahasnya tuntas seperti membahas Perang Al-Fijjar.

Orang-orang Quraisy Menambah Banyak Hal dalam Bid'ah Al-Humsu
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy menciptakan banyak hal yang tidak pernah ada sebelumnya. Bahkan mereka berkata, 'Penduduk tanah suci Makkah tidak boleh mencampur mentega, tidak boleh menyaring minyak, tidak memasuki rumah dari dedaunan, dan tidak berteduh kecuali di rumah-rumah dari kulit ketika mereka sedang ihram.' Mereka semakin berlebih-lebihan dengan berkata, 'Penduduk tanah halal tidak boleh makan makanan yang mereka bawa dari tanah halal ke tanah haram jika ingin melakukan haji atau umrah. Jika mereka tiba di Makkah, tidak boleh thawaf pertama kecuali dengan mengenakan pakaian penduduk Makkah. Jika tidak mendapatkan pakaian penduduk Makkah, mereka thawaf di sekitar Ka'bah dengan telanjang. Jika di antara mereka terdapat orang dermawan; laki-laki atau perempuan dan tidak mendapatkan pakaian penduduk Makkah kemudian ia thawaf dengan pakaiannya yang dibawa dari daerah asalnya, ia harus mencopot pakaian tersebut usai thawaf, kemudian tidak boleh memanfaatkannya, tidak menyentuhnya atau siapa pun selain dirinya untuk selama-lamanya.' Orang-orang Arab menamakan pakaian tersebut Al-Liqa. Mereka memberlakukan peraturan tersebut kepada seluruh orang-orang Arab, dan orang-orang Arab memegangnya kuat-kuat. Orang orang Arab wukuf di Arafah, bertolak daripadanya, dan thawaf di Ka'bah dengan telanjang. Orang laki-laki thawaf dengan telanjang bulat. Sedang para wanita, maka salah seorang dari mereka mencopot seluruh pakaiannya kecuali pakaian rumah yang berlubang, kemudian ia thawaf dengan pakaian tersebut. :shock: Salah seorang...
======================================================================================================
Halaman 167

...wanita Arab berkata ketika thawaf di Ka'bah,
  • Pada hari ini, terlihat sebagiannya atau semuanya
    Apa yang terlihat padanya, maka tidak aku halalkan
Barangsiapa thawaf dengan pakaian yang dibawanya dari daerah asalnya, maka setelah thawaf ia harus mencopotnya dan tidak memanfaatkannya; dia atau orang lain. Salah seorang Arab berkata ketika ia ingat pakaiannya yang ditanggalkan dan tidak mendekatinya setelah thawaf dengannya, padahal ia amat menyukaianya,
  • Cukuplah kesedihanku, pulanglah engkau kepadanya,
    Karena ia seperti pakaian Al-Liqa yang ada ditangan orang-orang yang thawaf
Al-Quran Menghapus Bid'ah Al-Humsu (JGA: tetapi tetap memertahankan ibadah pagan haji... :finga: )
Mereka dalam keadaan seperti itu, hingga Allah Ta'ala mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Nabi. Allah menurunkan wahyu kepada beliau ketika Dia berkehendak memantapkan agama beliau, dan mensyariatkan sunnah-sunnah haji beliau,
  • "Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya manusia dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 199)
Yang dimaksud dengan An-Naasu (manusia) pada ayat di atas ialah orang-orang Arab. Kemudian Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan manusia dalam sunnah haji untuk pergi ke Arafah, wukuf di sana, dan bertolak daripadanya.

Selain itu, Allah menurunkan ayat tentang kebijakan orang-orang Quraisy mengharamkan manusia makan dan berpakaian di Baitullah. Ketika itu, mereka thawaf dengan telanjang dan mengharamkan diri memakan makanan yang halal. Allah Ta'ala berfirman,
  • "Hai anak-anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?' Katakanlah, 'Semuanya itu bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikian Kami menjelaskan ayat-ayat bagi orang-orang yang mengetahui." (Al-A'raaf: 31-32)
=====================================================================================================
Halaman 168

Allah Ta'ala menghapus bid'ah Al-Humsu dan bid'ah yang diciptakan orang-orang Quraisy untuk manusia dengan Islam ketika Dia mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Rasul-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menentang Bid'ah Al-Humsu sebelum menjadi Nabi
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku dari Utsman bin Abu Sulaiman bin Jubair bin Muth'im dari pamannya, Nafi' bin Jubair dari ayahnya. Jubair bin Muh'im yang berkata, "Sungguh aku lihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--sebelumya wahyu turun kepada beliau--wukuf di atas untanya di Arafah hingga beliau bertolak dari sana. Itulah petunjuk Allah kepada beliau."
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 169
BAB 39
PERIHAL DUKUN-DUKUN ARAB, RAHIB-RAHIB YAHUDI, DAN PENDETA-PENDETA NASRANI
Rahib-rahib Yahudi dan Pendeta-pendeta Nasrani Berdiskusi tentang Kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata, "Rahib-rahib Yahudi, pendeta-pendeta Nasrani, dan dukun-dukun Arab membicarakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum kenabian beliau, karena masa kenabian tersebut sudah semakin dekat.

Rahib-rahib Yahudi dan pendeta-pendeta Nasrani membicarakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena mereka menemukan sifat beliau dan sifat zaman beliau dalam kitab-kitab mereka, dan masa kenabian yang terjadi pada mereka. Adapun dukun-dukun Arab, mereka didatangi syetan-syetan jin yang membawa informasi yang mereka curi, sebab saat itu syetan-syetan tidak dihalang-halangi mencuri pendengaran. Dukun laki dan dukun wanita Arab tidak menggubrisnya hingga saat Allah mengutus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Nabi, dan ramalan-ramalan dukun-dukun tersebut menjadi kenyataan :lol: . Saat itulah, orang-orang Arab baru mengetahuinya."
(JGA: :shock: jadi muhammad juga diramalkan oleh dukun-dukun tho :shock: -pantesan Quran disusupi surat yang dibuat Jin)

Bintang-bintang Melempari Para Pencuri Pendengaran
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam semakin dekat dan tiba masanya, syetan-syetan dihalang-halangi dari pencuri pendengaran dan dijauhkan dari kursi-kursi yang dulunya mereka duduki untuk mencuri pendengaran. Mereka dilempari dengan panah-panah api. Ketika itulah jin-jin mengetahui, pelemparan terhadap mereka itu karena satu urusan besar yang ditetapkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bercerita kepada beliau tentang jin-jin ketika mereka dihalang-halangi dari mencuri pendengaran, kemudian mereka mengetahui dan mengingkari apa yang telah mereka ketahui,
=======================================================================================================
Halaman 170
  • 'Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya, sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. Dan bahwa Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. Dan bahwa orang yang kurang akal daripada kami dulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah Dan sesungguhnya kami mengira, manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kalian (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang mendengar-dengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan ini)...
=====================================================================================================
Halaman 171
  • apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukan Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka'." (Al-Jin: 1-10)
Ketika jin mendengarkan Al-Qur'an, mereka mengetahui bahwa mereka terhalang mendengarkannya agar Al-Qur'an tidak bercampur dengan sesuatu dari berita langit yang mengakibatkan manusia mempunyai ketidakjelasan tentang apa yang datang dari Allah kepada mereka. Al-Qur'an adalah hujjah dan menghilangkan keragu-raguan. Jin-jin tersebut beriman dan membenarkannya. Mereka,
  • "Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus'." (Al-Ahkqaaf: 29-30)
Ucapan jin, :shock: (JGA: tuh, Ibnu Ishaq mengakui Surah Al-Jin adalah dari Jin)
  • "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-in itu menambah lagi bagi mereka dosa dan kesalahan." (Al-Jin: 6)
Jika seseorang dari Arab; dari kalangan Quraisy atau non-Quraisy, berpergian dan singgah di salah satu lembah untuk bermalam di dalamnya, ia berkata, "Aku meminta perlindungan kepada jin yang terhormat di lembah ini pada malam ini dari keburukan yang ada di dalamnya." (JGA: dan itulah yang dilakukan Muhammad lewat Surah Al-Jin)

Penafsiran tentang Ar-Rahaqu
Ibnu Hisyam berkata, "Ar-Rahaqu ialah kedzaliman dan kebodohan. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
  • Tiba-tiba ia menawan burung yang ****
Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syairnya. Ar-Rahaqu juga berarti pencarianmu terhadap sesuatu hingga engkau berdekatan dengannya kemudian engkau mengambilnya atau tidak mengambilnya. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata menyifati keledai liar,
  • Mereka mengibaskan ekornya dan gemetar karena takut mendapatkan beban
Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syairnya. Ar-Rahaqu juga berarti kata mashdar dari ucapan seseorang kepada orang lain. "Rahiqtu al-itsma aw al-'usra al-ladzi arhaqtani rahaqan syadidan.'...
====================================================================================================
Halaman 172

...Artinya, aku menanggung dosa atau kesulitan yang engkau bebankan kepadaku dengan berat. Disebutkan dalam Kitabullah,
  • "Dan kami khawatir dia mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran." (Al-Kahfi: 80).
Firman Allah Ta'ala,
  • "Dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku." (Al-Kahfi: 73)
Amr bin Umaiyyah Mengemukakan Pendapatnya tentang Bintang-bintang kepada Tsaqif
Ibnu ishaq berkata bahwa Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas berkata kepadaku, ia diberitahu orang Arab yang pertama kali takut terkena lemparan bintang-bintang ketika dilemparkan adalah permukiman Tsaqif. Mereka datang kepada salah seorang yang bernama Amr bin Umaiyyah, ia dari Bani Ilaj. Amr bin Umaiyyah adalah orang Arab yang jenius, dan pendapatnya sangat tepat. Mereka berkata kepada Amr, "Hai Amr, tidakkah engkau lihat lemparan bintang-bintang yang telah terjadi di langit?" Amr bin Umaiyyah menjawab, "Ya, aku melihatnya. Perhatikan bintang-bintang tersebut. Jika bintang-bintang yang dilemparkan adalah bintang-bintang yang bisa dipakai sebagai penunjuk jalan di daratan, lautan, dan untuk mengenali musim panas dan musim hujan yang mendatangkan kemashlahatan kepada manusia dalam kehidupan mereka, maka itu demi Allah, adalah isi dunia, dan kehancuran manusia di dalamnya. Jika bintang-bintang tersebut tetap berada di tempatnya, maka itu untuk satu perkara yang dikehendaki Allah pada manusia." :lol: :lol: (JGA: ternyata oh ternyata, penembak jin itu adalah meteor yang jelas bukan bintang..ow bodohnya ya !)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bercerita Kepada Sahabat-sahabatnya tentang Bintang-bintang
Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri menyebutkan dari Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abu Thalib dari Abdullah bin Abbas dari beberapa orang dari kaum Anshar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka, "Apa pendapat kalian tetang bintang yang dipakai untuk melempar?" Para sahabat berkata, "Wahai Nabi Allah, dulu jika kami melihat bintang tersebut digunakan untuk melempar kami berkata, 'Raja telah meninggal dunia, raja telah diangkat, anak telah lahir, dan bayi telah meninggal dunia'." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidak begitu. Jika Allah Tabaraka wa Ta'ala memutuskan sesuatu pada makhluk-Nya, hal tersebut didengar para malaikat pemikul Arasy, kemudian mereka bertasbih dan berasbihlah siapa saja yang berada di bawah mereka. Tasbih meluncur hingga berhenti di langit dunia kemudian mereka...
======================================================================================================
Halaman 173

...bertasbih. Sebagian dari mereka bertanya kepada sebagian yang lain, 'Kenapa kalian bertasbih?' Mereka menjawab, 'Malaikat-malaikat yang berada di atas kami bertasbih, oleh karena itu kami bertasbih.' Mereka berkata, 'Mengapa kalian tidak bertanya kepada para malaikat di atas kenapa mereka bertasbih?' Mereka berkata seperti itu, hingga berakhir pada malaikat pemikul Arasy. Ditanyakan kepada malaikat pemikul Arasy, 'Kenapa kalian bertasbih?' Para malaikat pemikul Arasy berkata, 'Allah telah menentukan ini dan itu pada makhluk-Nya karena sesuatu hal yang sudah ada, kemudian hal tersebut meluncur dari langit ke langit hingga berhenti di langit dunia. Ketika mereka sedang memperbincangkannya, tiba-tiba syetan-syetan mencuri pendengaran dengan ragu-ragu, kemudian mereka memberikannya kepada dukun-dukun di dunia. Dukun-dukun memperbincangkan apa yang diterimanya dari syetan-syetan. Terkadang mereka salah dan terkadang benar. Dukun-dukun terus memperbincangkannya. Sebagian di antara mereka ada yang benar dan sebagian yang lain salah. Kemudian Allah Azza wa Jalla merintangi syetan-syetan dengan bintang-bintang yang dilemparkan kepada mereka. Akibatnya, terputuslah para dukun pada hari ini, dan sesudahnya tidak ada pedukunan lagi."
(JGA: Muhammad maksudkan bahwa ia lah dukun paling top ketika itu hingga dukun yang lain gulung tikar.. :lol: )

Pembahasan tentang Al-Ghaithalah dan Sahabatnya dari Jenis Jin
Ibnu Ishaq berkata bahwa sebagian orang berilmu berkata kepadaku, seorang wanita dari Bani Sahm yang bernama Al-Ghaithalah adalah dukun pada masa jahiliyah. Pada suatu malam, sahabatnya (jin) datang kepadanya kemudian merobohkan apa yang ada di bawah sang dukun, sambil berkata, "Ketahuilah, aku tidak tahu pada hari penyembelihan." Ketika hal tersebut didengar orang-orang Quraisy, mereka berkata, "Apa yang ia maksudkan dengan ucapan seperti itu?" Pada malam harinya, sahabat (jin) Al-Ghaithalah datang lagi, kemudian merobohkan apa yang ada di bawah Al-Ghaithalah, sambil berkata, 'Bangsa dan tidak ada bangsa. Di dalamnya Ka'ab tewas di sebelah selatan.' Ketika hal ini didengar orang-orang Quraisy, mereka berkata, "Apa yang ia maksud dengan ucapan seperti itu? Apa yang dikatakannya pasati terjadi pada suatu saat. Lihatlah apa kira-kira yang akan terjadi?" Mereka tidak mengetahui rahasia perkataan jin tersebut hingga meletus Perang Badar dan Uhud di syi'b (jalan di antara dua bukit). Saat itulah, mereka sadar bahwa itulah yang dimaksudkan ucapan jin kepada Al-Ghaithalah. (JGA: Kayaknya nubuat jin oye dong ? :lol: )

Nasab Al-Ghaithalah
Ibnu Hisyam berkata, "Al-Ghaithalah berasal dari Bani Murrah bin Abdu Manat bin Kinanah, saudara Mudlij bin Murrah. Al-Ghaithalah adalah ibu Al-Ghayathil yang disebutkan Abu Thalib dalam syairnya,
  • Sungguh **** mimpi-mimpi suatu kaum yang mengubah
    Bani Khalaf menjadi haus terhadap kami dan Al-Ghayathil
======================================================================================================
Halaman 174

Bait syair di atas adaalah penggalan dari syair-syair Abu Thalib dan secara lengkap akan saya sebutkan pada tempatnya, insya Allah.

Dukun Janb di Yaman Bercerita kepada Kaumnya tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ali bin Nafi' Al-Jurasyi berkata kepadaku bahwa Janb, kabilah di Yaman mempunyai dukun pada masa jahiliyah. Ketika berita tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam luas di kalangan orang-orang Arab, kabilah Janb berkata kepada dukun tersebut, "Coba amati dengan baik tentang orang tersebut (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam)." Mereka berkumpul di bawah gunung guna menunggu dukun tersebut. Ketika matahari terbit, dukun tersebut turun kepada mereka, kemudian berdiri dengan bersandar kepada tombaknya. Ia angkat kepalanya ke langit lama sekali, kemudian ia melompat, lalu berkata, "Hai manusia, sesungguhnya Allah telah memuliakan Muhammad, memilihnya, mensucikan hatinya, dan ia hidup tidak lama ditengah-tengah kalian hai manusia." Usai berkata seperti itu, sang dukun naik ke gunung pulang ke tempatnya semula.

(JGA: Nah lho...dukun pun pada menubuatkan muhammad berdasarkan nama Allah SWT)

Sawad bin Qarib Berbicara dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu
Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka'ab, mantan budak Utsman bin Affan, bahwa Utsman bin Affan berkata, "Ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu sedang duduk bersama sahabat-sahabat di masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba datanglah orang Arab kemudian masuk ke dalam masjid karena ingin bertemu dengan Umar bin Khaththab. Ketika Umar bin Khaththab melihat kedatangan orang tersebut, ia berkata, 'Sungguh orang ini tetap berada pada kesyirikannya dan tidak meninggalkannya.' Atau ia tadinya adalah dukun pada masa jahiliyah. Orang tersebut mengucapkan salam kepada Umar bin Khaththab kemudian duduk. Umar bin Khaththab berkata, 'Apakah engkau telah masuk Islam?' Orang terebut berkata, 'Ya, wahai Amirul Mukminin.' Umar bin Khaththab berkata, 'Apakah pada masa jahiliyah engkau pernah menjadi dukun?' Orang tersebut berkata, 'Mahasuci Allah, wahai Amirul Mukminin, sungguh engkau telah menebus khayalku, dan menampakkan sesuatu yang aku lihat tidak pernah engkau ucapkan kepada orang lain selain diriku sejak engkau diangkat menjadi khalifah.' Umar bin Khaththtab berkata, 'Ya Allah, ampunilah dia. Sungguh pada masa jahiliyah kami lebih jelek dari itu. Kkami menyembah patung-patung, dan memeluk agama berhala hingga akhirnya Allah memuliakan kami dengan Rasul-Nya dan dengan Islam.' Orang tersebut berkata, 'Betul, wahai Amirul Mukminin, sungguh pada masa jahiliyah aku adalah seorang dukun.' Umar bin Khaththab berkata, 'Coba jelaskan kepadaku apa yang dibawa sahabatmu (jin).' ...
========================================================================================================
Halaman 175

...Orang tersebut berkata, 'Satu bulan atau kurang sebelum kemunculan Islam, ia datang kepadaku, kemudian berkata kepadaku, 'Tidakkah engkau lihat jin dengan kebingungannya, keputusannya dari agamanya, dan kepergiannya kepada unta muda dan alas pelana."

Ibnu Hisyam berkata, "Perkataan di atas sajak dan bukan syair."

Abdullah bin Ka'ab berkata, "Kemudian Umar bin Khaththab berkata kepada manusia, 'Demi Allah, pada masa jahiliyah aku pernah berada di samping salah satu patung bersama beberapa orang dari Quraisy. Salah seorang Arab telah menyembelih sapi betina untuk patung tersebut. Kami menunggu ia memberi kami bagian dari lembu betina yang disembelihnya, tiba-tiba kami mendengar suara dari perut lembu betina tersebut dan aku tidak mendengar suara yang lebih nyaring daripada suara tersebut--itu terjadi satu atau kurang dari satu bulan sebelum kemunculan Islam. Suara tersebut ialah, 'Hai Dzarih, ini persoalan yang tepat, dan orang fasih yang mengatakan laa ilaaha illallahu'."(JGA: Perhatikan dengan benar apa kata lembu betina yang disembelih untuk patung tersebut...!, Pikirkanlah wahai muslim !)
  • Sebagian orang berilmu membaca syair kepadaku,
    Aku heran pada jin dan kebingungannya
    Dan pengikatannya terhadap unta dengan pelananya
    Ia meluncur ke Makkah guna mencari petunjuk
    Tidaklah orang-orang yang percaya kepada jin itu seperti kotoran-kotorannya
Ibnu Ishaq berkata, "Inilah informasi yang kami terima tentang para dukun dari kalangan orang-orang Arab."
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 176
BAB 40
ANCAMAN ORANG-ORANG YAHUDI KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Orang-orang Yahudi Mengenal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Namun Mereka Kafir kepadanya
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari beberapa orang dari kaumnya yang berkata, "Sesungguhnya di antara sebab yang membuat kami masuk Islam selain rahmat Allah dan petunjuk-petunjuk-Nya ialah bahwa kami mendengar beberapa orang Yahudi. Kami orang-orang musyrikin, dan penyembah patung-patung, sedang mereka adalah Ahli Kitab. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kami ketahui. Konflik terus meledak di antara kami dengan mereka. Jika kami mendapatkan dari mereka apa yang tidak disukai, mereka berkata kepada kami, 'Sesungguhnya sekarang telah dekat kemunculan seorang Nabi. Kelak bersama Nabi tersebut, kami akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap Ad dan Iram.' Kami seringkali mendengar ucapan tersebut dari mereka. Ketika Allah Ta'ala mengutus Rasulullah-Nya, kami langsung menjawab seruannya ketika ia menyeru kepada Allah. Kami mengetahui ancaman yang diberikan orang-orang Yahudi kepada kami, jadi kami segera menghadap kepada Nabi tersebut, kemudian beriman kepada beliau sedangkan mereka kafir. Tentang kami dan mereka, Allah Ta'ala menurunkan ayat-ayatnya di surah Al-Baraqah,
  • 'Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allahlah atas orang-orang yang ingkar itu.'
======================================================================================================
Halaman 177

Ibnu Hisyam berkata, "Yastaftihuuna artinya meminta pertolongan atau meminta keputusan hukum. Disebutkan dalam Kitabullah,
  • 'Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya'." (Al-A'raaf: 89)
Salamah Menceritakan Hadits tentang Ancaman Orang-orang Yahudi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata bahwa Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata kepadaku dari Mahmud bin Labid, saudara Bani Abdu Al-Asyhal dari Salamah bin Salamah bin Waqqasy--Salamah ikut Perang Badar--, "Kami mempunyai tetangga orang Yahudi di Bani Abdu Al-Asyhal. Pada suatu hari, ia keluar dari rumahnya kemudian berdiri di Bani Abdu Al-Asyhal. Ketika itu, aku anak yang paling muda. Aku mengenakan kain burdah dan duduk di halaman keluargaku. Orang Yahudi tersebut bercerita tentang hari kiamat, hari kebangkitan, hari perhitungan, timbangan, surga, dan neraka. Ia ceritakan itu semua kepada orang-orang musyrikin penyembah patung-patung yang tidak mempercayai kebangkitan setelah kematian. Orang-orang musyrikin berkata, 'Celaka engkau, apakah engkau berpendapat bahwa manusia setelah kematian mereka akan dibangkitkan kepada negeri yang di dalamnya terdapat surga dan neraka, kemudian mereka diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka?' Orang Yahudi tersebut berkata, 'Ya, demik Dzat yang digunakan untuk bersumpah. Seseorang berharap kiranya sebagai ganti neraka tersebut ia mempunyai tungku yang paling besar di dunia ini. Tungku tersebut dijaga, kemudian ia dimasukkan ke dalamnya dan dilumur dengannya. itu lebih ia sukai asalkan ia bisa selamat dari neraka kelak.' Mereka berkata kepada orang Yahudi tersebut, 'Celakalah engkau, Si Fulan, apa tanda-tandanya?' Orang Yahudi tersebut berkata, 'Nabi yang diutus dari negeri-negeri ini--sambil menunjuk ke arah Makkah dan Yaman.' Mereka bertanya, 'Kapan itu terjadi?' Orang tersebut menoleh ke arahku dan ketika itu aku adalah anak yang paling muda yang hadir di pertemuan tersebut, kemudian ia berkata, 'Jika umur anak muda ini panjang, ia bertemu dengan Nabi tersebut.' Demi Allah, malam dan siang terus berjalan, hingga Allah Ta'ala mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Rasul-Nya dan beliau tetap hidup di tengah-tengah kami, kemudian kami beriman kepada beliau, sedang orang-orang Yahudi tersebut ingkar kepadanya karena dengki kepada beliau. Kami berkata kepada kepada orang Yahudi tersebut, 'Celaka engkau, hai Fulan, bukankah engkau yang berkata ini dan itu kepada kami?' Ia berkata, 'Ya, betul, namun Nabi itu bukan dia'."
=====================================================================================================
Halaman 178

Ibnu Al-Hayyaban Mengingatkan Orang-orang Yahudi tentang Kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari orang tua dari Bani Quraidzah yang berkata, beberapa orang dari BAni Hadl, saudara Bani Quraidzah yang ikut bersama mereka pada masa jahiliyah kemudian menjadi pemimpin-pemimpin mereka pada masa Islam bertanya kepadaku, "Apakah engkau mengetahui tentang keislaman Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, dan Asad bin Ubaid?" Aku berkata, "Tidak." Orang-orang dari Bani Hadl berkata, "Sesungguhnya seorang Yahudi dari Syam yang bernama Ibnu Al-Hayyaban datang kepada kami dua tahun sebelum kemunculan Islam, dan tinggal bersama kami. Demi Allah, kami belum pernah melihat orang mengerjakan shalat lima waktu yang leibh baik daripada dia. Ia tinggal bersama-sama kami. Jika kami mengalami kekeringan dan hujan tidak turun, kami berkata kepada Ibnu Al-Hayyaban, 'Keluarlah, wahai Ibnu Al-Hayyaban dan mintalah air untuk kami.' Ia berkata, 'Tidak, demi Allah, aku tidak mau melakukannya hingga kalian mengeluarkan sedekah di tempat kalian keluar.' Kami bertanya kepadanya, 'Berapa?' Ia menjawab, 'Satu sha' kurma, atau dua mud gandum.' Kami segera mengeluarkan sedekah, kemudian Ibnu Al-Hayyaban bersama-sama kami keluar kampung kemudia ia meminta hujan untuk kami kepada Allah. Demi Allah, ia belum beranjak dari duduknya, namun mendung telah berjalan kemudian menurunkan hujan untuk kami. Ia kerjakan hal tersebut tidak hanya sekali atau dua kali atau tiga kali. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia di tempat kami. Menjelang meninggal dunia, ia berkata, 'Hai orang-orang Yahudi, bagaimana pendapat kalian? Aku diusir dari negeri minuman keras dan roti ke negeri yang menderita dan kelaparan?' Mereka berkata, 'Engkau lebih tahu daripada kami.' Ibnu Al-Hayyaban berkata, 'Sesungguhnya aku datang ke negeri ini dengan maksud menunggu kemunculan seorang Nabi yang sudah dekat kedatangannya. Negeri ini adalah tempat hijrah Nabi tersebut. Aku berharap kiranya ia telah diutus kemudian aku mengikutinya, karena masa kemunculannya telah dekat pada kalian. Oleh karena itu, kalian jangan kalah cepat menuju kepadanya hai orang-orang Yahudi, karena ia diutus dengan menumpahkan darah dan menahan anak-anak dan wanita-wanita siapa saja yang menentangnya. Namun itu semua jangan menghalangi kalian untuk datang kepadanya.' Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah diutus dan beliau mengepung Bani Quraidzah, anak-anak muda--yang dulunya kecil tersebut--berkata, 'Hai Bani Quraidzah, demi Allah, inilah Nabi yang dijanjikan Ibnu Al-Hayyaban kepada kalian.' Mereka berkata, 'Bukan dia !'(JGA: lalu tiba-tiba mereka mengatakan==>) Mereka berkata, 'Demi allah, dialah nabi itu dengan sifat-sifatnya.' Mereka masuk Islam, kemudian darah mereka, harta mereka, dan keluarga mereka dilindungi.'(JGA: bagaimana mungkin sebuah perubahan terjadi tiba-tiba bila tidak disertai ancaman pembunuhan, bandingkan situasinya pada pasal sebelunya--belum ada pengepungan. Sekarang mereka sudah terkepung. Dari pada menjual nyawa, mereka terima saja paksaan tersebut... :-k )

Ibnu Ishaq berkata, "itulah informasi tentang orang-orang Yahudi yang disampaikan kepadaku."
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu May 06, 2010 1:16 pm, edited 1 time in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 179
BAB 41
SEPUTAR MASUK ISLAMNYA SALMAN RADHIYALLAHU ANHU
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari berkata kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abdullah bin Abbas yang berkata bahwa Salman Al-Farisi berkata kepadaku dengan mulutnya sendiri. Kata Salman Al-Farisi, "Aku orang Persia, tepatnya di Asfahan di desa yang bernama Jayyu. Ayahku seorang tokoh di desaku dan aku adalah yang makhluk Allah yang paling dicintainya. Ia amat mencintaiku hingga ia memingitku di rumah sebagaimana anak gadis dipingit di rumah. Aku serius memeluk agama Yahudi hingga aku menjadi penjaga api yang harus menyala terus dan tidak boleh padam sesaat pun. Ayahku mempunyai ladang yang sangat luas. Pada suatu hari, ayah disibukkan dengan bangunan, kemudian berkata kepadaku, 'Anakku, pada hari ini aku sibuk dengan bangunan ini hingga tidak mempunyai waktu untuk mengurusi ladangku. Oleh karena itu, pergilah engaku ke ladang!' Ayahku memerintahkan beberapa hal yang harus aku kerjakan, kemudian berkata kepadaku, 'Jangan terlambat pulang kepadaku, sebab jika engaku terlambat pulang kepadaku, engaku lebih berarti bagiku daripada ladangku dan engkau membuatku lupa segala urusan yang ada'."

Salman Tertari kepada Agama Nasrani
Salman berkata, "Kemudian aku pergi menuju ladang ayahku seperti diperintahkan kepadaku. Dalam perjalanan ke ladang ayahku, aku melewati salah satu gereja milik orang-orang Nasrani, dan aku dengar suara-suara mereka ketika mereka mengerjakan shalat di dalamnya. Aku tidak tahu banyak persoalan manusia, karena aku dipingit ayah di rumah. Ketika aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk kepada mereka untuk melihat dari dekat apa yang mereka kerjakan di dalamnya. Ketika aku melihat mereka, aku kagum kepada shalat-shalat mereka dan tertarik kepada aktifitas mereka. Aku berkata, 'Demi Allah, agama orang-orang ini lebih baik daripada agama yang aku peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam. Aku membatalkan pergi ke ladang ayahku. Aku berkata kepada orang-orang Nasrani tersebut, 'Agama ini berasal dari mana?' Mereka menjawab, 'Dari Syam.' Setelah itu, aku pulang ke rumah dan ternyata ayahku...
=========================================================================================================
Halaman 180

...mencariku, dan aku membuatnya tidak mengerjakan pekerjaannya. Ketika aku telah kembali kepadanya, ayahku berkata kepadaku, 'Anakku, dari mana saja engkau? Bukankah engkau telah membuat perjanjian denganku?' Aku berkata, 'Ayah, aku tadi berjalan melewati orang-orang yang sedang mengerjakan shalat di gereja mereka, kemudian aku kagum pada agama mereka yang aku lihat. Demi Allah, aku berada di tempat mereka hingga matahari terbenam.' Ayah berkata kepadaku, 'Anakku, tidak ada kebaikan pada agama tersebut. Agamamu, dan agama nenek moyang lebih baik daripada agama tersebut. Aku berkata, 'Tidak. Demi Allah, agama tersebut lebih baik daripada agama kita.' Setelah kejadian tersebut, ayah mengkhawatirkanku. Ia ikat kakiku dan memingitku di rumahnya. Aku mengutus seseorang kepada orang-orang Nasrani dan aku katakan kepada mereka, 'Jika ada rombongan dari Syam datang kepada kalian, maka beri kabar aku tentang mereka.' Tidak lama setelah itu, datanglah pedagang-pedagang Nasrani dari Syam, kemudian mereka menghubungiku. Aku katakan kepada mereka, 'Jika mereka telah selesai memenuhi kebutuhannya, dan hendak pulang ke negeri mereka, maka beri izin aku untuk bisa ikut mereka'."

Salman Kabur ke Syam
Salman berkata, "Ketika para pedagang Nasrani hendak pulang kembali ke negerinya, orang-orang Nasrani memberiku informasi tentang mereka. Kemudian aku buang rantai dari kakiku dan pergi bersama mereka hingga tiba di Syam. Setelah tiba di Syam, aku bertanya, 'Siapakah pemeluk agama ini yang paling banyak ilmunya?' Mereka menjawab, 'Uskup di gereja.' kemudian aku datang kepada uskup tersebut dan berkata kepadanya, 'Aku amat tertarik kepada agama ini. Jadi aku ingin sekali bisa bersamamu, dan melayani di gerejamu agar bisa belajar darimu dan shalat bersamamu.' Uskup berkata, 'Masuklah!' Aku pun masuk kepadanya, namun uskup tersebut orang jahat. Ia suruh pengikutnya bersedekah. Tapi ketika mereka telah mengumpulkannya, ia simpan untuk dirinya dan tidak memberikannya kepada orang-orang miskin, hingga ia berhasil mengumpulkan tujuh tempayan penuh berisi emas dan perak. Aku sangat marah kepadanya atas tindakannya tersebut. Tidak lama kemudian uskup tersebut meninggal dunia. Orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburnya, namun aku katakan kepada mereka, 'Sungguh, orang ini jahat. Ia suruh kalian bersedekah, namun jika kalian memberikan sedekah kepadanya, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak membagikannya sepeserpun kepada orang-orang miskin.' Mereka berkata, 'Dari mana engkau mengetahui hal itu?' Aku katakan kepada mereka, 'Mari aku tunjukkan tempat penyimpanannya kepada kalian.' Aku tunjukkan tempat penyimpanan uskup tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengeluarkan tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Ketika...
=====================================================================================================
Halaman 181

...mereka melihat ketujuh tempayan tersebut, mereka berkata, 'Demi Allah, kita tidak akan menguburkan mayat uskup ini.' Mereka menyalib uskup tersebtu dan melemparinya dengan batu. Setelah itu, mereka menunjuk orang lain untuk menjadi uskup pengganti."

Salman Bersama Uskup Yang Shalih
Salman berkata, "Aku tidak pernah melihat orang yang shalat lima waktu yang lebih mulia, lebih zuhud di dunia, lebih cinta kepada akhirat, lebih tekun di siang dan malam hari dari uskup baru tersebut. (JGA: hihi...ngibul benar ! masa uskup melakukan shalat 5 waktu? emangnya dia muslim ?) :lol: Aku mencintai uskup tersebut dengan cinta yang tidak ada duannya. Aku tinggal bersamanya lama sekali hingga akhirnya ajal menjemputnya. Aku katakan kepadanya, 'Hai Fulan, sungguh aku telah hidup bersamamu dan aku mencintaimu dengan cinta yang tidak ada duannya. Sekarang seperti yang engkau lihat telah datang keputusan Allah Ta'ala kepadamu, maka engkau titipkan aku kepada siapa?' Uskup menjawab, 'Anakku, demi Allah, aku tidak tahu ada orang yang seperti diriku. Manusia sudah banyak yang meninggal dunia, mengubah agamanya, dan meninggalkan apa yang tadinya mereka kerjakan, kecuali satu orang di Al-Maushil, yaitu si Fulan. Ia seperti diriku. Pergilah engkau kepadanya!'."

Salman bersam Uskup Al-Maushil
Salman berkata, "Ketika uskup tersebut meninggal dunia dan dikubur, aku pergi kepada uskup Al-Maushil. Ketika tiba di sana, aku katakan kepadanya, 'Hai Fulan, sesungguhnya uskup si Fulan telah berwasiat kepadaku ketika hendak meninggal dunia agar aku pergi kepadamu. Ia jelaskan kepadaku bahwa engkau seperti dia.' Uskup tersebut berkata, 'Tinggallah bersamaku.' Aku menetap bersamanya. Aku lihat ia orang yang sangat baik seperti cerita sahabatnya. Tidak lama kemudian uskup tersebut meningal dunia. Menjelang meninggal dunia, aku berkata kepadanya, 'Hai Si Fulan, sesungguhnya uskup Si Fulan telah berwasiat kepadaku agar pergi kepadamu dan sekarang keputusan Allah telah datang kepadamu seperti engkau liaht, maka kepada siapa aku engkau wasiatkan? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?' Uskup berkata, 'Anakku, demi Allah, aku tidak tahu ada orang yang seperti kita kecuali satu orang saja di Nashibin, yaitu Si Fulan. Pergilah kepadanya!' "

Salman Pergi kepada Uskup Nashibin
Salman berkata, "Ketika uskup tersebut telah meninggal dunia dan dimakamkan, aku pergi kepada uskup Nashibin. Aku jelaskan perihal diriku kepadanya dan apa yang diperintahkan dua sahabatku kepadanya. Ia berkata, 'Tinggallah bersamaku.' Aku tinggal bersamanya, dan aku dapati dia seperti dua sahabatnya yang telah meninggal dunia. Aku tinggal bersama orang terbaik. Demi Allah, tidak lama kemudian ajal menjemputnya. Menjelang...
======================================================================================================
Halaman 182

...kematiannya, aku berkata kepadanya, 'Hai Si Fulan, sungguh Si Fulan telah berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu, maka kepada siapa engkau wasiatkan? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?' Uskup tersebut berkata, 'Anakku, demi Allah, aku tidak tahu ada orang yang seperti kita dan aku perintahkan engkau pergi kepadanya kecuali satu orang di Ammuriyah wilayah Romawi. Ia sama seperti kita. Jika engkau mau, pergilah kepadanya, karena ia sama seperti kita!"

Salman Pergi kepada Uskup Ammuriyah dan Ia Berwasiat agar Mengikuti Nabi dan Menjelaskan Sifat Nabi kepadanya
Salman berkata, "Ketika uskup Nashibin telah meninggal dunia dan disemayamkan, aku pergi kepada uskup di Ammuriyah. Aku jelaskan perihal diriku kepadanya. Ia berkata, 'Tinggallah bersamaku,' Aku tinggal bersama orang terbaik sesuai dengan petunjuk sahabat-sahabatnya dan perintah mereka. Aku bekerja hingga aku mempunyai beberapa lembu dan kambing. Tidak lama kemudian, uskup tersebut juga meninggal dunia. Menjelang kematiannya, aku bertanya kepadanya, 'Hai Si Fulan, sungguh aku pernah tinggal bersama Si Fulan kemudian ia berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu, maka kepada siapa aku engaku wasiatkan? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?' Uskup berkata, 'Anakku, demi Allah, sungguh aku tidak tahu pada hari ini ada orang-orang yang seperti kita yang engkau bisa aku perintahkan pergi kepadanya, namun telah dekat datangnya seorang Nabi. Ia diutus dengan membawa agama Ibrahim Alaihis-Salam dan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya adalah daerah di antara dua daerah yang berbatu dan di antara dua daerah tersebut terdapat kurma. Nabi tersebut mempunyai tanda-tanda yang tidak bisa disembunyikan; ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau bisa pergi ke negeri tersebut, pergilah engkau ke sana!'"
***********************************************************************************************************************************************
JGA: Cerita di atas benar-benar sangat janggal dan sengaja dikarang muslim (Ibnu Ishaq) untuk melebih-lebihkan Islam. Sungguh isapan jempol ! Perhatikan kisah terakhir dimana seorang Uskup mengumpankan umatnya kepada kepercayaan lain...! Tidak mungkin seorang ustad menyuruh umatnya menjadi hindu, atau budha atau agama yang lain. Ini sangat tidak logis, apa pun alasannya. Jika ada ustad seperti ini, ustad tersebut pasti sangat ****.

Kejanggalan kedua yang penting kita cermati dari cerita di atas adalah tentang paham yang dianut oleh uskup Nasrani di atas yang mengatakan bahwa seorang nabi memilik ciri fisik kenabian berupa cap? Jangankan Nasrani, agama manapun di dunia ini, kecuali islam, tidak ada yang pernah mengatakan ada cap kenabian.

Sangat luar biasa bodohnya tipuan semacam ini yang terus menerus dilancarkan para muslimer yang katanya hebat ! :-k

*************************************************************************************************************************************************

Salman Pergi ke Lembah Al-Qura
Salman berkata, "Kemudian uskup tersebut meninggal dunia dan dimakamkan. Sedang aku tetap tinggal di Ammuriyah hingga beberapa lama. Setelah itu, sekelompok pedagang berjalan melewatiku. Aku berkata kepada mereka, 'Bawa aku ke negeri Arab, niscaya aku serahkan lembu dan kambingku ini kepada kalian!' Mereka berkata, 'Ya.' Aku berikan lembu dan kambingku kepada mereka, dan mereka membawaku. Namun ketika tiba di lembah Al-Qura, mereka berbuat dzalim kepadaku. Mereka menjualku kepada seorang Yahudi sebagai budak. Kemudian aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut,
=======================================================================================================
Halaman 183

..dan aku melihat kurma. Aku berharap kiranya negeri ini yang pernah diisyaratkan sahabatku."

Salman Tiba di Madinah
Salman berkata, "Ketika aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut, tiba-tiba saudara misan orang Yahudi yang berasal dari Bani Quraidzah tiba dari Madinah. Ia membeliku dari orang Yahudi tersebut, dan membawaku ke Madinah. Demi Allah, ketika aku melihat Madinah, aku lihat persis seperti dijelaskan sahabatku. Aku menetap di sana. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus sebagai Nabi dan menetap di Makkah dalam jangka waktu tertentu dan aku tidak mendapat informasi tentang beliau, karena kesibukanku sebagai seorang budak. Tidak lama setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah."

Salman Mendengar Tempat Hijrah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
Salman berkata, "Demi Allah, aku berada di atas pohon kurma mengerjakan beberapa pekerjaan untuk tuanku,sedang tuanku duduk di bawahku. Tiba-tiba saudara misan tuanku datang dan berdiri di depannya. Saudara misan tuanku berkata, 'Hai Fulan, semoga Allah membunuh Bani Qialah. Demi Allah, sesungguhnya mereka sekarang berkumpul di Quba' untuk menyambut kedatangan seorang laki-laki dari Makkah, dan mereka mengklaim bahwa orang tersebut adalah Nabi'."

Nasab Qailah
Ibnu Hisyam berkata, "Qailah adalah anak wanita dari Kahil bin Udzarah bin Sa'ad bin Zaid bin Laits bin Sud bin Aslum bin Ilhaf bin Qadha'ah. Ia ibu Al-Aus dan Al-Khazraj. An-Nu'man bin Basyir Al-Anshari berkata memuji Al-Aus dan Al-Khazraj,
  • Orang-orang gagah dari anak-anak Qailah
    Tidak ada tandingannya dalam menghadapi kerusakan
    Mereka orang-orang pemaaf dan pahlawan-pahlawan yang senang dengan kedermawanan
    Mereka melihat prestasi nenek moyang untuk mereka sebagai hal yang sangat agung
Kembali kepada Pembahasan tentang Salman
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari berkata kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abdullah bin Abbas yang berkata bahwa Salman berkata, "Ketika aku mendengar ucapan saudara misan tuanku, aku menggigil seolah-olah akan jatuh mengenai tuanku. Kemudian aku turun dari atas pohon kurma dan bertanya kepada saudara...
=====================================================================================================
Halaman 183

...misan tuanku, 'Apa yang engkau katakan tadi?' Tuanku marah kepadaku dan menamparku dengan cukup telak mendengar pertanyaanku, sambil berkata, 'Apa urusanmu dengan persoalan ini? Pergi sana dan bereskan pekerjaanmu?' Aku berkata, "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mem-verifikasi ucapannya'."

Salman Mempelajari Risalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
Salman berkata, "Aku mempunyai sesuatu yang telah aku siapkan. Pada sore hari, aku mengambilnya kemudian pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Quba'. Aku masuk kepada beliau dan berkata kepadanya, 'Aku mendapat informasi bahwa engkau orang shalih. Engkau mempunyai sahabat-sahabat, terasing dan memerlukan bantuan. Inilah sedekah dariku. Aku melihat kalian lebih berhak daripada orang-orang lain.' Aku serahkan sedekah tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, 'Makanlah.' Beliau menahan mulutnya dan tidak memakan sedikit pun dari sedekahku. Aku berkata dalam hati, 'Ini tanda pertama.' Kemudian aku mohon pamit dari hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah itu, aku mengumpulkan barang yang lain, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah pindah ke Madinah. Aku datang kepada beliau dan berkata kepadanya, 'Sungguh aku melihatmu tidak memakan harta sedekah. Inilah hadiah khusus aku berikan kepadamu.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakan hadiahku dan memerintahkan sahabat-sahabatnya ikut makan bersamanya. Aku berkata dalam hati, 'Ini tanda kedua.' Setelah itu, aku datangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Baqi' Al-Gharqad yang ketika itu sedang mengantar jenazah salah seorang dari sahabat-sahabatnya. Aku sudah mengetahui dua tanda pada beliau. Beliau sedang duduk di antara sahabat-sahabatnya, kemudian aku mengucapkan salam kepada beliau. Setelah itu, aku berada dibelakang beliau karena ingin melihat punggung beliau; apakah aku bisa melihat cap seperti yang dijelaskan sahabatku? Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku berada di belakangnya, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari sifat yang pernah dijelaskan sahabatku. Beliau melempar kainnya dari punggungnya, maka pada saat itulah aku melihat cap kenabian pada beliau. Kemudian aku balik ke depan beliau dan menangis. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, 'Baliklah!' Aku berbalik arah dan duduk di depan beliau. Aku ceritakan kepadanya semua kisah tentang diriku sebagaimana aku ceritakan kisah ini kepadamu, hai Ibnu Abbas. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin kisahku ini didengar sahabat-sahabatnya.' Setelah itu Salman sibuk dengan statusnya sebagai seorang budak hingga tidak bisa ikut Perang Badar dan Uhud bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Salman Membeli Kemerdekaannya dengan Bantuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Salman berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, 'Bebaskan dirimu dengan membayar sejumlah uang, hai Salman!' Kemudian aku memerdekakan diriku dari tuanku dengan membayar tiga ratus pohon kurma yang aku tanam untuknya dan emas empat puluh ons. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya, 'Bantulah saudara kalian ini!' Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi bantuan pohon kurma kepadaku. Ada sahabat yang memberi tiga puluh pohon kurma. Ada sahabat yang memberiku dua puluh anak pohon kurma. Ada sahabat yang memberiku lima belas anak pohon kurma. Ada sahabat yang memberiku sepuluh pohon kurma. Setiap orang membantu sesuai kemampuannya, hingga akhirnya terkumpul tiga ratus anak pohon kurma. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, 'Pergilah hai Salman, dan galilah lubang untuk anak-anak pohon kurma ini. Jika engkau telah selesai menggalinya, datanglah kepadaku, agar tanganku sendiri yang meletakkan anak pohon kurma ini ke dalamnya'."

Salman berkata, "Kemudian aku menggali lubang untuk anak-anak pohon kurma tersebut dengan dibantu sahabat-sahabatku. Ketika itu telah selesai menggalinya, aku menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melaporkan kepada beliau bahwa aku telah selesai membuat lubang. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi bersamaku ke lubang-lubang tersebut. Kami berikan anak pohon kurma kepada beliau dan diletakkannya ke dalam lubang dengan tangannya sendiri hingga proses penanaman selesai. Demi Dzat yang jiwa Salman berada di Tangan-Nya, tida ada satu pun anak kurma yang mati. Aku pelihara pohon-pohon kurma tersebut dan aku mempunyai sedikit harta. Tidak lama setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang dengan membawa emas sebesar telur ayam dari salah satu lokasi pertambangan :lol: (JGA: iya..lokasi pertambangan itu adalah karavan Quraisy yang dirampok muhammad...asyikkkk...emas gratis lho :lol: ). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Apa yang telah dikerjakan orang Persia yang memerdekakan dirinya dengan membayar sejumlah uang?' Aku dipanggil Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda, 'Ambil emas ini, dan bayarlah hutangmu dengannya, wahai Salman!' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana emas ini bisa menutup hutangku?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Ambil emas ini, karena Allah akan menutup hutangmu dengannya.' Aku ambil emas tersebut kemudian menimbangnya. Demi Dzat yang jiwa Salman berada dalam genggaman Tangan-Nya, ternyata berat emas tersebut adalah empat puluh ons. Kemudian aku bayar hutangku pada tuanku dengan emas tersebut. Setelah itu aku menjadi orang merdeka. Aku bisa ikut Perang Khandaq bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai orang merdeka dan sesudahnya aku tidak pernah melewatkan satu...
=====================================================================================================
Halaman 186

...perang pun'."

Ibnu Ishaq berkata, bahwa Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari seseorang dari Abdu Al-Qais dari Salman yang berkata, "Ketika aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana emas ini bisa menutupi hutangku?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memungut emas tersebut dan membolak-baliknya di depan mulutnya. Beliau bersabda, 'Ambillah emas ini, hai Salman dan bayar hutangmu pada tuanmu dengan emas ini! Emas tersebut aku ambil, lalu aku bayar hutangku pada tuanku secara penuh; empat puluh ons emas."

Pembicaraan Salman dengan Pendeta Ammuriyah
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Umar bin Abdul Aziz bin Marwan yang berkata bahwa aku diberitahu dari Salman, ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menceritakan perjalanan hidupnya kepada beliau bahwa pendeta Ammuriyah berkata kepadanya, 'Pergilah engkau ke daerah ini dan itu di wilayah Syam, karena di sana terdapat orang laki-laki yang hidup di antara dua hutan. Pada setiap tahun, ia keluar dari satu hutan ke hutan satunya karena ia ditunggu orang-orang yang sakit. Setiapkali ia mendoakan salah seorang dari mereka, pasti orang tersebut sembuh dari sakitnya. Bertanyalah kepadanya perihal agama yang engkau cari, pasti ia menjelaskannya kepadaku!" (JGA: mana yang benar nih...di awal dikatakan sang pendeta menyuruh Salman pergi ke arab..sekarang koq ke syam? mencla mencle sekaleee..!!!)

Salman berkata, "Kemudian aku pergi ke tempat yang dijelaskan sahabatku. Di tempat tersebut kulihat orang-orang berkumpul dengan membawa keluarganya yang sakit. Pada suatu malam, orang tersebut keluar dari satu hutan ke hutan satunya, dan dibuntuti orang-orang. ia tidak mendoakan orang yang sakit, melainkan ia sembuh. Mereka lebih cepat daatang kepada orang tersebut daripada aku. Akibatnya aku tidak bisa mendekat kepadanya hingga ia masuk ke hutan yang ingin ia masuki. Aku membuntuti orang tersebut. Ia berkata, 'Siapa engkau?' Ia menoleh kepadaku, kemudian aku katakan kepadanya. 'Semoga Allah merahmatimu, coba jelaskan kepadaku perihal hanafiyah (agama yang lurus), agama Ibrahim!" Ia berkata, 'Engkau menanyakan sesuatu yang tidak ditanyakankan manusia pada hari ini. Sungguh telah dekat kepadamu zaman kemunculan Nabi yang diutus dengan membawa agama tersebut dari tanah suci. Pergilah engkau kepadanya, pasti ia membawamu kepada agamanya!' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Hai Salman, jika penuturanmu ini benar, sungguh engkau telah bertemu dengan Isa bin Maryam'."
---ooOoo--
**********************************************************************************************************************************************
JGA: Jika cerita ini benar...maka terlihat betapa bodohnya muhammad yang mengatakan pada Salman bahwa ia telah bertemu Isa bin Maryam ! Namun karena Isa bin Maryam hidup 5 abad sebelum Muhammad dan Salman lahir dan tidak mungkin ketemu dengan mereka karena perbedaan tajam masa hidunya, maka kisahnya tentu cuma kisah rekaan belaka dari para slimer...!

Pada akhirnya terbongkarlah kepalsuan cerita ini. :rofl: #-o #-o
Last edited by JANGAN GITU AH on Sat May 08, 2010 1:13 pm, edited 3 times in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 187
BAB 42
PERIHAL WARAQAH BIN NAUFAL, UBAIDILLAH BIN JAHSY, UTSMAN BIN AL-HUWAIRITS DAN ZAID BIN AMR
Ibnu Ishaq berkata, "Pada suatu hari raya, orang-orang Quraisy mengadakan rapat di samping salah satu dari patung-patung mereka. Mereka mengkultuskan patung tersebut, menyembelih hewan qurban untuknya, duduk berdoa disampingnya, dan thawaf di sekitarnya. Itulah hari raya mereka dalam setiap tahunnya. Mereka semua seperti itu, kecuali empat orang di antara mereka. Sebagian dari empat orang tersebut berkata kepada sahabatnya, 'Bersahabatlah kalian, dan hendaklah sebagian dari kalian merahasiakan dirinya dari sebagian yang lain.' Keempat orang tersebut adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai, Ubaidillah bin Jashsy bin Ri'ab bin Ya'mar bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah (ibunya bernama Umaimah binti Abdul Muththalib), Utsman bin Al-Huwirits bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, dan Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Razah bin Adi bin Ka'ab bin Luai. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, 'Demi Allah, belajarlah kalian, karena kaum kalian tidak berada pada sesuatu yang bisa diandalkan. Sungguh mereka telah menyimpang dari agama nenek moyang mereka, Ibrahim. Bukan batu yang kita thawaf di sekitarnya, karena batu tidak mendengar, tidak melihat, tidak bis memberi madharat, dan tidak bisa memberi manfaat. Sahabat-sahabatku, carilah kebaikan untuk diri kalian. Demi Allah, kalian tidak berada pada sesuatu yang bisa diandalkan.' Kemudian mereka mengembara ke negeri-negeri lain guna mencari agama Ibrahim yang lurus."

Perihal Waraqah bin Naufal
Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Waraqah bin Naufal, ia memeluk agama Nasrani, dan mengikuti kitab-kitab dari umat Ahli Kitab, hingga mendapatkan ilmu dari mereka."

Perihal Ubaidillah bin Jahsy
Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Ubaidillah bin Jahsy, ia mencari agama Ibrahim yang lurus hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslim...
=======================================================================================================
Halaman 188

...ke Habasyah. Ketika hijarah, ia disertai istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang juga telah masuk Islam. Namun ketika tiba di Habasyah, ia masuk agama Nasrani dan keluar dari Islam. Ia meninggal di Habasyah dalam keadaan memeluk agama Nasrani."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair berkata kepadaku, sesudah memeluk agama Nasrani, Ubaidillah berjalan melewati sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berada di Habasyah. Mereka berkata, "Kami telah melihat, sedang kalian berusaha untuk melihat tetapi tidak bisa melihatnya." Ini karena jika anak anjing ingin membuka kedua matanya untuk melihat, ia takut untuk melihat.

Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Ummu Habibah Radhiyallahu Anha
Ibnu Ishaq berkata, "Sepeninggal Ubaidillah bin Jahsy, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahi istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ali bin Husain berkata kepadaku, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri menghadapa An-Najasyi, kemudian An-Najasyi melamar Ummu Habibah dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau memberi mahar kepadanya sebesar empat ratus dinar."

Muhammad bin Ali berkata, "Kami lihat Abdul Malik bin Marwan menentukan mahar wanita sebesar empat ratus dinar berdasarkan mahar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Ummu Habibah. Wakil Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam pernikahan tersebut adalah Khalid bin Sa'id bin Al-Ash."

Perihal Utsman bin Al-Huwairits
Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Utsman bin Al-Huwairits, ia datang kepada Kaisar, raja Romawi, kemudian memeluk agama Nasrani, dan memperoleh kedudukan tinggi di sana."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada hadits tentang keberadaan Utsman bin Al-Huwairits di Kaisar, namun saya enggan menyebutkannya." (JGA: kenapa enggan euy !!!, ada rahasia apa nih !)

Perihal Zaid bin Amr bin Nufail
Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Zaid bin Amr bin Nufail, ia tidak memeluk agama Yahudi dan tidak pula memeluk agama Nasrani, ia meninggalkan agama kaumnya, kemudian menjauhi patung-patung, bangkai, darah, hewan-hewan yang disembelih untuk patung-patung, dan melarang pemakaman anak dalam keadaan hidup-hidup. Ia berkata, 'Sembahlah Tuhan Ibrahim.' Ia menentang kaumnya dengan mengkritik mereka."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya dari ibunya, Asma' binti Bakar Radhiyallahu Anhuma yang berkata,

"Aku pernah melihat Zaid bin Amr bin Nufail semasa tuanya. Ia menyandarkan punggungnya ke Ka'bah sambil berkata, 'Hai orang-orang Quraisy, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian selain aku yang berpegang teguh kepada agama Ibrahim.' Setelah itu, ia berkata, "Ya Allah, seandainya aku mengetahui wajah yang paling Engkau sukai, pasti aku menyembahnya, namun aku tidak mengetahuinya.' Setelah itu, ia sujud'."

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Zaid bin Amr
Ibnu Ishaq berkata, "Aku diberitahu bahwa anak Zaid, Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail, dan Umar bin Khaththab--saudara misannya--berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Bolehkah kita memintakan ampunan untuk Zaid bin Amr?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Ya, boleh. Sungguh, dia dibangkitkan sebagai satu umat'."

Syair Zaid bin Amr tentang Dirinya Yang Meninggalkan Agama Berhala
Zaid bin Amr bin Nufai berkata tentang dirinya yang meninggalkan agama kaumnya, dan perlakuan kaumnya terhadap dirinya karena tindakannya tersebut,
  • Apakah satu Tuhan ataukah seribu tuhan yang mesti aku sembah
    Jika semua persoalan dibagi?
    Aku tinggalkan Al-Lata dan Al-Uzza
    Begitulah yang dilakukan orang yang kuat dan sabar
    Aku tidak menyembah Uzza dan kedua anak wanitanya
    Aku tidak mengunjungi dua patung Bani Amr
    Aku juga tidak menyembah kambing
    Kami mempunyai Tuhan sepanjang masa sejak aku masih kecil
    Aku kagum dan semua malam itu memang mengagumkan
    Dan juga semua siang yang hanya diketahui oleh orang-orang yang bisa melihat
    Sesungguhnya Allah telah memusnahkan banyak orang
    Karena mereka orang-orang yang bergelimang dengan kejahatan
    Dia menyisahkan banyak orang karena kebaikan sebuah kaum
    Kemudian anak kecil di antara mereka tumbuh dengan subur
    Ketika seseorang tersesat, ia akan sadar kembali pada suatu hari
    Sebagaimana halnya daun ranting yang tumbuh kembali setelah sebelumnya rontok daunnya terkena hujan
======================================================================================================
Halaman 190
  • Namun aku menyembah Ar-Rahman, Tuhanku
    Agar Tuhan Yang Maha Pengampun mengampuni dosa-dosaku
    Pertahankan ketakwaan kalian kepada Allah
    Jika kalian menjaganya, kalian tidak akan binasa
    Anda lihat, bahwa negeri-negeri orang yang baik-baik adalah surga
    Sedang negeri orang-orang kafir adalah Jahannam yang membakar
    Selain itu, orang-orang kafir mendapat kehinaan di dunia
    Jika mereka mati, mereka mendapatkan siksa yang menyesakkan dada
Zaid bin Amr bin Naufal juga berkata,
  • Kepada Allah aku persembahkan pujianku dan sanjunganku
    Serta ucapan yang teguh yang tidak musnah sepanjang masa
    Kepada Raja Tertinggi yang di atas-Nya tidak ada apa-apa lagi
    Tuhan dan tidak ada Tuhan yang lain yang melindungi-Nya
    Hai manusia, hati-hatilah terhadap kematian
    Karena sesungguhnya engkau tidak dapat bersembunyi dari Allah
    Hati-hatilah, jangan kalian menjadikan tuhan lain bersama Allah
    Karena jalan petunjuk itu telah jelas
    Ah kamu, sesungguhnya jin adalah harapan mereka
    Sedang Engkau ya Allah adalah Tuhanku dan harapanku
    Ya Allah, aku ridha Engkau sebagai Tuhan
    Dan aku tidak akan menjadikan selain Engkau sebagai Allah kedua
    Engkau Pemberi nikmat dan rahmat
    Engkau mengutus kepada Musa utusan yang berseru,
    'Maka aku katakan kepada Musa, 'Hai Musa dan Harun, ajaklah kepada Allah
    Fir'aun yang telah melewati batas
    Katakan kepadanya, 'Apakah engkau yang meninggikan gunung-gunung tanpa tiang ini?
    Kokohkan gunung-gunung tersebut, jika engkau mempunyai tukang bangunan.'
    Katakan kepadanya, 'Apakah engkau yang meratakan tengahnya (langit)
    Hingga ia bersinar menjadi petunjuk ketika malam tiba?
    Katakan kepadanya, 'Apakah engkau yang menerbitkan matahari pada waktu pagi?
    Kemudian karenanya sayuran tumbuh subur
    Matahari mengeluarkan biji-bijinya dari kepalanya
    Pada yang demikian terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah bagi orang yang sadar.'
======================================================================================================
Halaman 191
  • Engkau dengan segala karunia-Mu telah menyelamatkan Yunus
    Yang sebelum menginap di dalam perut ikan selama bermalam-malam
    Sungguh, jika aku membaca tasbih dengan nama-Mu, ya Tuhanku
    Maka aku perbanyak tasbih tersebut agar Engkau mengampuni dosa-dosaku
    Wahai Tuhan semua hamba, lemparan hujan dan rahmat kepadaku
    Berkahilah aku dan hartaku
Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair di atas adalah milik Umaiyyah bin Abu Ash-Shalt dalam syair-syairnya, kecuali ada bait pertama, bait kelima, dan bait terakhir. Bait pertama berasal dari selain Ibnu Ishaq."

Zaid bin Amr juga berkata mengkritik istrinya, Shafiyyah binti Al-Hadhrami.

Nasab Al-Hadhrami
Ibnu Hisyam berkata, "Nama Al-Hadhrami adalah Abdullah bin Ibad bin Akbar, salah seorang dari Ash-Shadaf. Nama Ash-Shadaf adalah Amr bin Malik Ahas As-Sakun bin Asyras bin Kindi (ada yang mengatakan Kindah) bin Tsaur bin Murta' bin Afir bin Adi bin Al-Harts bin Murrah bin Adad bin Zaid bin Mahsa' bin Amr bin Arib bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Murta' adalah anak Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'."

Zaid bin Amr Mengecam Istrinya
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu May 06, 2010 11:26 pm, edited 3 times in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 194
BAB 43
SIFAT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DALAM INJIL
Penjelasan Isa bin Maryam tentang Kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata, "Aku mendapat informasi bahwa di antara yang diterangkan Isa bin Maryam dalam Injil untuk orang-orang Nasrani tentang sifat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ia terima dari Allah, ialah apa yang ditegaskan Yohanes Al-Hawari kepada orang-orang Nasrani ketika menulis Injil untuk mereka dari zaman Isa bin Maryam Alaihis-Salam, dan di dalamnya disebutkan tentang kedatangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada mereka. Yohanes Al-Hawari mengaskan bahwa Isa bin Maryam berkata, 'Siapa saja yang membuatku marah, sungguh ia membuat Tuhan marah. Seandainya saja aku tidak mengerjakan di depan mereka tindakan-tindakan yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum aku, pasti mereka tidak mempunyai dosa. Namun sejak sekarang mereka sombong dan mengklaim telah menghiburku dan juga menghibur Tuhan. Tapi kalimat yang ada pada Jibril harus terealisir. Sungguh mereka telah membuatku marah dengan batil. Seandainya saja Al-Munhammana telah datang kepadaku, dia yang diutus kepada kalian dari Allah Ruhul Qudus, dia yang berasal dari Tuhan telah keluar, ia yang menjadi saksi atas aku dan atas kalian juga. Karena sejak dulu kalian bersamaku dalam hal ini, maka hal ini aku katakan kepada kepada kalian, agar kalian tidak mengeluh.' Dalam bahasa Ibrani, Al-Munhamana berarti Muhammad, dan Muhammad dalam bahasa Romawi ialah Paraclet. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
---ooOoo---
JGA menulis:
Untuk pembaca muslim yang budiman ! Seperti yang anda baca pada pernyataan Ibnu Ishaq di atas yang bersinggungan dengan pernyataan dalam Injil tentang Muhammad, adalah lebih baik jika anda dapat membaca sendiri. Berikut saya tampilkan apa yang ditulis Yohanes Al-Hawari dari kitab Injil

Yesus menjanjikan Penghibur
Yohanes pasal 14
15. "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

16. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.

17. yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

26. tetapi Penghibur, yaitu Roh Kebenaran, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku. Dia lah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (==>Muhammad SAW tidak mengikuti apa yang diajarkan ISA AS, lalu bagaimana Ibnu Ishaq dapat merujuk Penghibur sebagai Muhammad SAW? :-k )

Pekerjaan Penghibur
Yohanes pasal 16
8 dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

9. akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya pada-Ku (===>Apakah Islam percaya ISA AS itu Tuhan? tentu saja tidak. Lalu bagaimana Penghibur bisa merujuk kepada Muhammad SAW sementara ISA AS menuntut agar semua orang percaya padanya ?) :-k

13. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

14. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. (==>apakah Muhammad SAW memuliakan Isa AS dan berfokus mengerjakan perintah ISA AS? Jelas tidak, cukup satu contoh menyolok bagaimana muhammad menentang perintah ISA AS. Contoh itu adalah ketika Muhammad SAW bernafsu memandang menantunya, padahal ISA AS sudah memperingatkan bahwa barang siapa yang memandang lawan jenisnya (bukan pasangannya tentunya) dan birahi padanya maka ia telah berzinah dalam hatinya. belum lagi banyak kasus pelanggaran perintah ISA AS yang lain.

Muhammad bukan Roh melainkan manusia. Bagaimana mungkin Ibnu Ishaq dapat menghubungkan Roh Kebenaran ini sebagai Muhammad SAW...sangat dipaksakan..!
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu May 06, 2010 4:45 pm, edited 3 times in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 195
BAB 44
MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENJADI NABI
Allah Mengambil Perjanjian kepada Para Nabi agar Mereka Beriman Kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Muhammad bin Abdul Malik bin Hisyam berkata kepadaku bahwa Ziyad bin Abdullah A-Bakkai berkata kepada kami dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththalibi yang berkata,

“Ketika Muhammad, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusia empat puluh tahun, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta, dan pemberi kabar gembir bagi seluruh manusia. Sebelumnya Allah Tabraka wa Ta’ala telah mengambil perjanjian kepada semua nabi agar mereka beriman kepadanya, membenarkannya, dan menolongnya dalam menghadapi orang-orang yang menentangnya. Allah juga mengambil perjanjian dari mereka agar menyampaikan hal tersebut kepada orang-orang yang beriman kepada mereka dan membenarkan mereka; dan menyampaikan kebenaran yang mesti mereka tunaikan. Allah Ta’ala berfirman kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,
  • “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian dating kepada kalian seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sunguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kalian’.” (Ali Imran: 81).
Jadi Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari semua nabi agar mereka membenarkan Rasulullah Alaihi wa Sallam, menolongnya dalam menghadapi orang-orang yang menentangnya, dan menyampaikan perjanjian tersebut kepada orang-orang yang beriman kepada mereka, dan membenarkan mereka di antara pengikut Taurat dan Injil.”
======================================================================================================
Halaman 169

Mimpi Yang Benar
Ibnu Ishaq berkata bahwa Az-Zuhri menyebutkan dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anhu bahwa Aisyah berkata kepada Urwah,

“Sesungguhnya bentuk kenabian yang pertama kali yang diterima Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam—ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengannya—ialah mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi dalam tidurnya, pasti beliau melihat cahaya subuh dalam mimpinya.”

Aisyah berkata, “Sejak itu, Allah mengkondisikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyukai menyendiri dan tidak aktifitas yang paling disukainya kecuali menyendiri.”

Salam dari Batu dan Pohon kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam :lol:
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdul Malik bin Ubaidillah bin Abu Sufyan bin Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi berkata kepadaku dan ia mendengar dari beberapa orang berilmu,

“Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam – ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberikan kenabian kepadanya – ia ingin keluar untuk buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh hingga rumah-rumah tidak terlihat olehnya dan berhenti di syi’ab (jalan di antara dua bukit) Makkah, dan lembah-lembahnya. Setiap kali beliau berjalan melewati batu dan pohon, pasti keduannya berkata, ‘As-Salaamu Alaika ya Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menoleh ke sekitarnya; kanan, kiri dan belakang, namun tidak melihat apa-apa kecuali pohon dan batu. Itulah yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam jangka waktu tertentu; bermimpi dan mendengar salam hingga Jibril dating kepada beliau dengan membawa kemuliaan dari Allah ketika beliau berada di Gua Hira’ pada bulan Ramadhan.”

Malaikat Jibril Turun dengan Membawa Wahyu
Ibnu Ishaq berkata bahwa Wahb bin Kaisan, mantan budak keluarga Az-Zubair berkata kepadaku bahwa aku mendengar Abdullah bin Az-Zubair berkata kepada Ubaid bin Umair bin Qatadah Al-Laitsi,

“Hai Ubaid, ceritakan kepada kami, bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pertama kali menerima kenabian ketika Malaikat Jibril dating kepada beliau !” Wahb bin Kaisan berkata, “Kemudian Ubaid berkata – ketika itu aku hadir berbicara dengan Abdullah bin Az-Zubair dan orang-orang yang ada di sekitar Abdullah bin Az-Zubair -- , ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Gua Hira’ selama sebulan dalam setiap tahun. Itulah bentuk tahannuts (ibadah) orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah. Arti tahannuts yang lain adalah pembersihan diri’.”
====================================================================================================
Halaman 197

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Thalib berkata,
  • Aku berlindung kepada Tuhan dari patung Tsaur, dan orang-orang yang
    Menggantinya dengan patung Tsabir.
    Serta dari pembuat mantera untuk nai ke Hira’ dan Nazil
Ibnu Hisyam berkata, bahwa Abu Ubaidah berkata bahwa orang-orang Arab berkata, “At-Tahannuts dan At-Tahannuf maksudnya ialah Al-Hanafiyyah (agama yang lurus, agama Ibrahim). Mereka mengganti huruf fa’ pada kata At-Tahannuf dengan huruf tsa’, maka jadilah At-Tahannuts. Ini sama seperti mereka berkata, ‘Jadaf dan jadats.’ Arti kedua kata tersebut adalah sama yaitu kuburan. Ru’bah bin Al-Ajjaj berkata,
  • Seandainya batu-batuku bersama ajdaaf (kuburan)
Yang dimaksud dengan kata ajdaaf pada syair di atas adalah ajdaats. Bait syair di atas terdapat pada kumpulan syair Ru’bah bin Al-Ajjaj, sedang bait Abu Thalib di atas terdapat pada kumpulan syairnya yang akan saya sebutkan pada tempatnya, insya Allah.”

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata kepadaku, bahwa orang-orang Arab berkata, “Fumma sebagai ganti kata Tsumma.” Mereka mengganti huruf fa’ dengan huruf tsa’.

Kedatangan Malaikat Jibril kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Gua Hira’
Ibnu Ishaq berkata bahwa Wahb bin Kaisan berkata kepadaku, bahwa Ubaid berkata,

“Pada bulan itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Gua Hira’. Beliau memberi makan orang-orang miskin yang dating kepada beliau. Usai melakukan hal itu, aktifitas pertama beliau ialah pergi ke Ka’bah sebelum pulang ke rumahnya. Beliau thawaf di sekitar Ka’bah sebanyak tujuh kali atau lebih. Usai thawaf, beliau pulang ke rumah. Itulah yang terjadi hingga pada bulan dimana Allah berkehendak memuliakan beliau dengan mengutus sebagai Nabi pada bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut, beliau pergi ke Gua Hira’ seperti biasanya dengan diikuti keluarganya. Pada suatu malam Allah memuliakan beliau dengan memberi risalah dan merahmati hamba-hamba-Nya dengan beliau, datang Malaikat Jibril dengan membawa perintah Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jibril datang kepadaku pada saat aku tidur dengan membawa secarik kain Dibaj dan di dalamnya terdapat tulisan. Malaikat Jibril berkata, ‘Bacalah!’ Aku berkata, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Malaikat Jibril mencekik leherku dengan kain Dibaj tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati kemudian ia melepas cekikannya dan berkata, ‘Bacalah’ Aku menjawab, ‘Apa yang harus aku baca?’ Malaikat Jibril kembali mencekik leherku dengan kain Dibaj tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian ia melepas cekikannya dan berkata, ‘Bacalah!’ Aku berkata,’apa yang harus aku baca?’...
========================================================================================================
Halaman 198

...Jibril kembali mencekik leherku dengan kain Dibaj tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian ia melepas cekikannya, dan berkata ‘Bacalah!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Aku berkata seperti itu dengan harapan ia mengulangi apa yang sebelumnya ia lakukan terhadap diriku. Kemudian ia berkata, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’ (Al-A’la: 1-5). Aku pun membacanya, (JGA: Muslim **** saja yang mengatakan Muhammad gak bisa baca [-X )sedang Jibril pergi dari hadapanku. Setelah itu, aku bangun dari tidurku dan aku merasakan ada sesuatu yang tertulis dalam hatiku. Kemudian aku keluar dari Gua Hira’. Ketika aku berada di tengah-tengah gunung, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, ‘Hai Muhammad, engkau utusan Allah dan aku adalah Jibril.’ Aku hadapkan kepalaku ke langit, saat itu kulihat Jibril menjelama seperti orang laki-laki yang membentangkan kedua lututnya ke ufuk langit. Jibril berkata lagi, ‘Hai Muhammad, engkau utusan Allah, dan aku adalah Jibril.’ Aku berdiri untuk melihatnya tanpa maju dan mundur. Aku arahkan pandanganku kepadanya di ufuk langit, dan aku tidak melihat arah mana pun melainkan aku lihat dia berada di sana. Aku berdiri diam terpaku; tidak maju dan tidak mundur, hingga akhirnya Khadijah mengutus orang-orangnya untuk mencariku. Mereka tiba di Makkah Atas dan kembali menemui Khadijah, sedang aku tetap berdiri di tempatku semula’.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menceritakan apa Yang Dialaminya kepada Khadijah
Ibnu Ishaq berkata bahwa Wahb bin Kaisan berkata kepadaku bahwa Ubaid berkata,

“Kemudian Jibril pergi dari hadapanku, dan aku pulang menemui keluargaku. Ketika aku bertemu Khadijah, aku duduk di pahanya, dan bersandar padanya. Khadijah berkata, ‘Hai Abu Al-Qasim, di mana engkau berada? Sungguh, aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Kemudian aku ceritakan kepada Khadijah kejadian yang baru aku alami. Khadijah berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah, dan tegarlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di Tanga-Nya, sungguh aku berharapa kiranya engkau menjadi Nabi untuk umat ini’.”

Khadijah Menceritakan apa Yang Dialami Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Waraqah bin Naufal
Ibnu Ishaq berkata bahwa Wahb bin Kaisan berkata kepadaku bahwa Ubaid berkata,..
=====================================================================================================
Halaman 199

“Khadijah berdiri dan mengemasi pakainnya kemudian pergi ke rumah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, saudara misannya. Waraqah adalah seorang pemeluk agama Nasrani, membaca kitab-kitab, dan mendengar dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Khadijah bercerita kepadanya persis seperti yang diceritakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya bahwa beliau melihat dan mendengar sesuatu. Waraqah bin Naufal berkata, ‘Mahasuci Allah. Mahasuci Allah. Demi Dzat yang jiwa Waraqah ada di Tangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan benar, wahai Khadijah, sungguh suamimu didatangi Jibril yang dulu pernah dating kepada Musa. Sungguh suamimu adalah Nabi untuk umat ini. Katakan padanya agar ia bersabar.’ Kemudian Khadijah pulang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakan perkataan Waraqah bin Naufal kepada beliau.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bertemu Waraqah bin Naufal
Ibnu Ishaq berkata bahwa Wahb bin Kaisan berkata kepadaku, bahwa Ubaid berkata,

‘Usai melakuakan penyendirian di Gua Hira’, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan aktifitas-aktifitas yang biasa beliau lakukan. Beliau pergi ke Ka’bah, dan thawaf di sekitarnya. Ketika beliau sedang thawaf, beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata kepada beliau, ‘Keponakanku, ceritakan kepadaku apa yang telah engkau lihat dan engkau dengar!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menceritakan apa yang beliau lihat dan dengar kepada Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh engkau adalah Nabi untuk umat ini. Sungguh telah dating kepadamu Malaikat Jibril yang dulu pernah datang kepada Musa.(JGA: :lol: Musa gak pernah didatangi malaikat sekalipun...Musa langsung berbicara dgn Tuhan mereka YHWH). Sungguh, engkau pasti akan didustakan, diganggu, diusir, dan diperangi. Seandainya aku berada pada hari itu, pasti aku menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya :lol: (JGA: Waraqah ini ternyata bukan pengikut Isa AS, tetapi pengikut Muhammad--Versi Muhammad :lol: ).’ Kemudian Waraqah bin Naufal mendekatkan kepalanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mencium ubun-ubun beliau. Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke rumahnya.”

Khadijah Radhyallahu Anha Mencari Kejelasan tentang Wahyu
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ismail bin Abu Hakim, mantan budak keluarga Az-Zubair berkata kepadaku bahwa ia diberitahu dari Khadijah Radhiyallahu Anha,

“Khadijah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Hai saudara misanku, bisakah engkau bercerita kepadaku tentang sahabatmu (Malaikat Jibril) yang datang kepadamu?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya, bisa.’ Khadijah berkata, ‘Jika ia datang lagi kepadamu,
======================================================================================================
Halaman 200

…maka ceritakan kepadaku!’ Tidak lama setelah itu, Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti biasanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Khadijah, ‘Hai Khadijah, inilah Jibril datang kepadaku.’ Khadijah berkata, ‘Saudara misanku, berdirilah dan duduklah di atas paha kiriku!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri lalu duduk di atas paha kiri Khadijah. Khadijah berkata, ‘Apakah engkau melihatnya?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya.’ Khadijah berkata, ‘Rubah posisimu dan duduklah di paha kananku!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengubah posisinya dengan duduk di atas paha kanan Khadijah. Khadijah berkata, ‘Apakah engkau masih melihatnya?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya.’ Kemudian Khadijah duduk dengan kepala dan wajah terbuka, serta melepas kerudungnya, sedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di atas pangkuannya. Khadijah berkata, ‘Apakah engkau masih melihatnya?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Tidak.’ Khadijah berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah dan bersabarlah. Demi Allah, sungguh dia adalah malaikat dan bukan syetan.’

Ibnu Ishaq berkata bahwa aku pernah berdiskusi dengan Abdulullah bin Hasan tentang Hadits di atas. Abdullah bin Hasan berkata, “Aku pernah mendengar ibuku berkata, “Khadijah memasukkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke dalam dir’un (baju rumah wanita) miliknya, :lol: (JGA: artinya saat itu khadijah mencopot pakaiannya dengan pertimbangan--menurut para penganut tahayul--malaikat malu melihat wanita telanjang dan akibatnya malaikat kabur menjauh... :lol: ) kemudian pada saat itulah Jibril pergi dari hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Khadijah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sungguh, dia adalah malaikat dan bukan syetan’.”
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu May 06, 2010 3:49 pm, edited 2 times in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 201
BAB 45
PERMULAAN TURUNNYA AL-QURA'N
Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima Al-Qur'an untuk pertama kalinya pada bulan Ramadhan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
  • '(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).' (Al-Baqarah: 185)
Allah Ta'ala berfirman,
  • "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam ini (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.' (Al-Qadr: 1-5)
Allah Ta'ala berfirman,
  • 'Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmat. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.' (Ad Dukhkhan: 1-5)
Allah Ta'ala berfirman,
  • 'Jika kalian berfirman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.' (Al-Anfal: 41).
Yaitu pertemuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan orang-orang musyirikin di Perang Badar."

Sejarah Perang Badar
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain berkata kepadaku, "Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu dengan orang-orang musyrikin di Badar pada pagi hari Jum'at, tanggal 17 Ramadhan."

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian wahyu datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam secara berurutan. Beliau beriman kepada Allah, membenarkan apa yang datang kepada beliau, menerimanya dengan sepenuh hati, berdabar terhadapnya daripada mendapatkan keridhaan dan kemarahan manusia. Kenabian adalah beban yang tidak mampu dipikul kecuali oleh orang yang kuat dan bertekat baja seperti para rasul karena pertolongan Allah Ta'ala dan petunjuk-Nya, karena mereka mendapatkan gangguan dari manusia, dan apa yang mereka bawa dari Allah ditolak kaumnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melangkah tegar di atas perintah Allah kendati mendapatkan penentangan dan gangguan dari kaumnya." :---)
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 203
BAB 46
MASUK ISLAMNYA KHADIJAH RADHIYALLAHU ANHA
Ibnu Ishaq berkata, "Khadijah binti Khuwailid beriman kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, membenarkan apa yang beliau bawa dari Allah, dan mendukungnya dalam menjalankan perintah Allah, Khadijah binti Khuwailid adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta membenarkan apa yang beliau bawa dari Allah. Dengan masuk Islamnya Khadijah binti Khuwailid, Allah Ta'ala meringankan beban Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jika beliau mendengar perkataan yang tidak beliau sukai; baik itu penolakan terhadap beliau, atau pendustaan kepada beliau yang membuat sedih, melainkan Allah menghilangkan kesedihan beliau melalui Khadijah binti Khuwailid ketika beliau pulang kepadanya. Khadijah binti Khuwailid menyemangati, meringankan beban beliau, membenarkan beliau, dan memandang remeh tanggapan manusia terhadap beliau. Semoga Allah merahmati Khadijah binti Khuwailid."

Berita Gembira Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata bahwa Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Az-Zubair dari Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
  • "Aku diperintahkan menyampaikan berita gembira kepada Khadijah berupa rumah dan qashab (mutiara yang berongga) yang di dalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan."
Ibnu Hisyam berkata, "Qashab ialah mutiara yang berongga."

Malaikat Jibril Menyampaikan Salam Allah kepada Khadijah Radhiyallahu Anha
Ibnu Hisyam berkata bahwa seseorang yang aku percayai berkata kepadaku,

"Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, 'Sampaikan salam Allah kepada Khadijah.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam...(JGA: tuhan yang aneh, ngapain nyampaikan salam lewat orang lain. Emangnya gak bisa nyampaikan sendiri. Koq jibril gak bisa datang kepada Khadijah...lho kan katanya Maha Kuasa...mana buktinya !) :-k
====================================================================================================
Halaman 204

...bersabda, 'Hai Khadijah, inilah Jibril menyampaikan salam Allah kepadamu.' Khadijah berkata, 'Allah adalah kesejahteraan, dari-Nya kesejahteraan, dan kesejahteraan juga atas Malaikat Jibril'."

Terputusnya Wahyu dan Turunnya Surat Adh-Dhuha
Ibnu Ishaq berkata, "Setelah itu, wahyu terputus dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau sedih karenanya. Kemudian Jibril datang kepada beliau dengan membawa surat Adh-Dhuha. Dalam surat Adh-Dhuha, Allah Ta'ala--Dialah yang memuliakan beliau--bersumpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Dia tidak meninggalkan beliau dan tidak benci kepada beliau. Allah Ta'ala berfirman,
  • 'Demi waktu matahari sepenggalah naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu.' (Ad-Dhuha: 1-3)
Maksudnya, Tuhanmu tidak mendiamkanmu, tidak meninggalkanmu, dan tidak membencimu sejak Dia mencintaimu. Allah Ta'ala berfirman,
  • 'Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.' (Adh-Dhuha: 4)
Maksudnya, sesungguhnya kembalinya dirimu kepada-Ku tu lebih baik daripada kenikmatan dunia yang Aku berikan kepadamu.
  • 'Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu kamu menjadi puas.' (Adh-Dhuha: 5)
Maksudnya, engkau puas kepada keberuntungan di dunia dan pahala di akhirat.
  • 'Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.' (Adh-Dhuha: 6-8)
====================================================================================================
Halaman 205

Pada ayat di atas, Allah Ta'ala mengenalkan kemudian yang Dia berikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dunia, dan karunia-Nya kepada beliau pada saat beliau yatim, miskin, tersesat dan Allah menyelamatkannya dengan rahmat-Nya.

Penafsiran Kata-kata Surat Adh-Dhuha
Ibnu Hisyam berkata, "Sajas artinya sunyi senyap. Umaiyyah bin Abu Ash-Shalt Ats Tsaqif berkata,
  • Tiba-tiba ia datang dengan lemah, sementara sahabatku telah tidur
    Dan malam telah sunyi senyap dengan gelap-gulita
Bait syair tersebut adalah bagian dari syair-syair Umaiyyah bin Ash-Shalt."
Al-Ailu artinya fakir. Abu Khiras Al-Hudzali berkata,
  • Orang miskin berlindung ke rumahnya jika telah datang musim hujan
    Orang tua yang berpakaian usang itu Al-A'ilu (orang fakir)
Jamaknya Aalah atau Uyyal. Bait syair di atas adalah bagian dari syair-syair Abu Khiras Al-Hudzali dan secara lengkap akan saya sebutkan di tempatnya, insya Allah.

Al-Aailu juga berarti orang yang menanggung tanggungan, dan orang yang tidak adil. Disebutkan dalam Al-Qur'an,
  • 'Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat dzalim.' (An-Nisa':3)
Abu Thalib berkata,
  • Dengan timbangan yang adil yang tidak mengurangi sebutir gandum pun
    Ia mempunyai saksi dari dalam dirinya yang tidak dzalim
Bait di atas adalah potongan dari syair-syair Abu Thalib dan secara lengkap akan saya sebutkan di tempatnya, insya Allah.

Al-Aailu juga bisa berarti sesuatu yang memberatkan dan melelahkan. Seseorang berkata, 'Qadd 'aalani hadza al-amru.' Maksudnya sungguh persoalan ini memberatkanku dan melelahkanku. Al-Farajdaq berkata,
  • Anda lihat tokoh yang murah hati dari Quraisy
    Jika muncul persoalan baru, maka persoalan tersebut memberatkannya
Bait tersebut di atas adalah penggalan dari syair-syair Al-farajdaq.
Firman Allah Ta'ala,
  • 'Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.' (Adh-Dhuha: 9-10)
Maksudnya, engkau jangan sombong dan berkata kasar kepada hamba-hamba Allah yang lemah. (JGA: muhammad menyakiti tetapi tidak boleh disakiti !--ia bebas berbuat apa saja menghina tuhan Quraisya. Ingat itu !) :roll:
=======================================================================================================
Halaman 206
  • 'Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya' (Adh-Dhuha: 11)
Maksudnya, nikmat Allah dan kemudian dalam bentuk kenabian yang diberikan Allah kepadamu hendaklah engkau terangkan dan engkau ajak orang lain kepadanya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada beliau dan kepada hamba-hamba Allah yang lain, termasuk keluarganya dengan diam-diam. (JGA: haha...nabi yang satu ini antik. sepanjang sejarah kenabian, tidak ada yang menceritakan diri mereka sendiri kecuali muhammad. Narcistik sekaleee !)
Shalat pun diwajibkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau mengerjakannya." (JGA: Kata "wajib" mengindikasikan bahwa aturan itu memang sudah ada sebelumnya, yang dianut oleh pagan Quraisy dan suku-suku arab lain di Makkah. Akan berbeda bila dikatakan Jibril mengajarkan cara ibadah yang baru yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Dalam hal periwayatan Ibnu Ishaq tentang bagaimana muhammad mengajarkan shalat kepada khadijah cara sholat--lihat bab sebelumnya--menjelaskan kepada kita bahwa khadijah memang tidak mengenal shalat yang biasa dilakukan penyembah berhala Quraisy sebab ia adalah seorang Kristen Ebione. Tentu saja bagi Nasrani dan Yahudi di Arab, sholat bukan sebuah kewajiban karena hal ini bukan bagian dari ibadah mereka. Dari hal yang dijelaskan sirat ini, menjadi jelas bahwa ibadah islam adalah kelanjutan dari tata ibadah pagan Quraisy yang sedikit dimodifikasi.)
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri May 07, 2010 9:40 pm, edited 2 times in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 207
BAB 47
PERMULAAN ALLAH MEWAJIBKAN SHALAT KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Pada Awalnya Shalat Diwajibkan Dua Rakaat kemudian Ditambah
Ibnu Ishaq berkata bahwa Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata,

"Untuk pertama kalinya, shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dua rakaat untuk setiap shalat, kemudian Allah Ta'ala menyempurnakannya dengan menjadikan shalat itu empat rakaat bagi orang Mukim dan menetapkannya seperti sejak awal (dua rakaat) bagi musafir."

Malaikat Jibril Mengajari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Wudhu dan Shalat
Ibnu Ishaq berkata bahwa sebagian orang berilmu berkata kepadaku,

"Ketika untuk pertama kalinya shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Malaikat Jibril datang kepada beliau yang ketika itu sedang berada di atas gunung Makkah, Malaikat Jibril memberi isyarat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tumitnya di lembah dan dari lembah tersebut memancarlah mata air. Kemudian Malaikat Jibril berwudhu--sedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatnya--untuk memperlihatkan kepada beliau cara beruci untuk shalat, kemudian beliau berwudhu seperti Malaikat Jibril berwudhu. Kemudian Malaikat Jibril berdiri dan shalat, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat seperti shalatnya Jibril. Setelah itu, Malaikat Jibril berpaling dari hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengajari Khadijah Cara Wudhu dan Shalat
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui Khadijah dan berwudhu untuk memperlihatkan kepadanya cara bersuci untuk shalat seperti diperlihatkan Malaikat Jibril kepadanya. Khadijah pun berwudhu seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudhu untuknya. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat seperti Malaikat Jibril shalat dengan beliau, dan Khadijah shalat seperti shalat beliau."

Waktu-waktu Shalat
Ibnu Ishaq berkata bahwa Utbah bin Muslim, mantan budak Bani Taim berkata kepadaku dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im -- Nafi ini meriwayatkan banyak sekali hadits dari Ibnu Abbas -- yang berkata,
"Ketika shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau didatangi Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Jibril shalat dengan beliau ketika matahari mulai condong ke barat, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Ashar dengan beliau ketika bayangan benda sama persis dengan bendanya, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Maghrib dengan beliau ketika matahari telah terbenam, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Isya' dengan beliau ketika sinar mereh matahari setelah terbenam telah hilang, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Subuh dengan beliau ketika fajar menyingsing. Esok paginya, Malaikat Jibril datang lagi kepada beliau lalu mengerjakan shalat Dhuhur dengan beliau ketika bayangan persis seperti dirinya, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Ashar bersama beliau ketika bayangan seseorang dua kali lebih panjang, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Maghrib bersama beliau ketika matahari telah terbenam sama seperti kemarin, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Isya' bersama beliau setelah sepertiga malam pertama berlalu, kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Shubuh bersama beliau ketika fajar belum menyingsing. Setelah itu, Malaikat Jibril berkata, 'Hai Muhammad, waktu shalat adalah pertengahan di antara shalatmu hari ini dan shalatmu kemarin'." (Diriwayatkan Malik)
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri May 07, 2010 10:48 pm, edited 1 time in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 209
BAB 48
ALI BIN ABU THALIB LAKI-LAKI PERTAMA YANG MASUK ISLAM
Ibnu Ishaq berkata, "Orang laki-laki pertama yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, shalat bersama beliau, dan membenarkan apa yang beliau bawa ialah Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Pada saat ia masuk Islam, ia berusia sepuluh tahun. Di antara nikmat yang diberikan Allah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu bahwa ia hidup di bawah asuhan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum Islam."
Sebab Ali bin Abu Thalib Hidup di bawah Asuhan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Mujahid bin Jabr Abu Al-Hajjaj yang berkata,
"Di antara nikmat Allah pada Ali bin Abu Thalib, dan kebaikan yang disiapkan Allah untuknya, bahwa orang-orang Quraisy ditimpa krisis hebat sedang Abu Thalib mempunyai tanggungan yang banyak. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada pamannya, Al-Abbas -- orang Bani Hasyim yang paling kaya ketika itu --, 'Hai Abbas, sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan, dan manusia sedang ditimpa krisis seperti yang engkau lihat. Mari kita pergi bersama kepadanya kemudian kita ringankan tanggungannya. Aku ambil satu orang anaknya dan engaku juga mengambil satu orang anaknya daripadanya. Jadi, kita minta dua orang anaknya.' Al-Abbas berkata, 'Ya, boleh.' Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Al-Abbas pergi ke rumah Abu Thalib. Tiba di rumah Abu Thalib, keduanya berkata kepada Abu Thalib, 'Kita berdua ingin meringankan tanggunganmu hingga krisis yang menimpa manusia berakhir.' Abu Thalib berkata kepada keduanya, 'Jika kalian berdua menyisakan Aqil untukku, maka laksanakan apa yang kalian berdua inginkan'."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Aqil dan Thalib."
Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memungut Ali dan memboyongnya ke rumah beliau, sedang Al-Abbas memungut Ja'far dan memboyongnya ke rumahnya. Ali tetap tinggal bersama Rasulullah...
====================================================================================================
Halaman 210

...Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau di utus Allah Tabaraka wa Ta'ala sebagai Nabi-Nya. Kemudian Ali Radhiyallahu Anhu mengikuti beliau, beriman kepada beliau, dan membenarkan beliau. Sedang Ja'far tetap tinggal bersama Al-Abbas hingga ia masuk Islam dan mandiri."

Kepergian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersama Ali untuk Shalat ke Syi'b dan Pengintaian Abu Thalib terhadap Keduanya
Ibnu Ishaq berkata bahwa sebagian orang berilmu berkata,
"Jika waktu shalat telah tiba, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke syi'b (jalan di antara dua bukti) bersama Ali bin Abu Thalib dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ayah Ali, yaitu Abu Thalib, paman-paman beliau, dan kaumnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Ali bin Abu Thalib mengerjakan shalat-shalat di syi'b tersebut. Pada sore hari, keduanya pulang ke rumah. Itulah yang keduanya lakukan dalam jangka waktu tertentu hingga akhirnya Abu Thalib menemukan keduanya sedang shalat. Abu Thalib berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam' 'Wahai keponakanku, agama apa yang engkau anut seperti yang kulihat tadi? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, 'Allah telah mengutusku sebagai hamba-hamba-Nya. Dan engkau, wahai pamanku, adalah orang yang palling berhak aku nasihati dan aku ajak kepada petunjuk. Engkau orang yang paling layak merespon dakwahku dan menyokongku di dalamnya -- atau seperti yang beliau sabdakan.' Abu Thalib berkata, 'Wahai keponakanku, sungguh aku tidak dapat meninggalkan agama nenek moyangku dan apa yang biasa mereka kerjakan. Namun demi Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menimpakan kejahatan kepadamu, selagi aku masih hidup.'

Banyak orang berkata bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali bin Abu Thalib, 'Anakku, agama apa yang engkau anut?' Ali bin Abu Thalib berkata, 'Ayah, aku telah beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya. Aku membenarkan apa yang beliau bawa, shalat bersama beliau, dan mengikuti beliau,' Ada yang mengatakan Abu Thalib berkata kepada Ali, 'Jika ia mengajakmu kepada kebaikan, maka ikutilah dia !'"
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri May 07, 2010 11:21 pm, edited 1 time in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 211
BAB 49
MASUK ISLAMNYA ZAID BIN HARITSAH
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru Al-Qais Al-Kalbi, mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk Islam. Dia laki-laki pertama yang masuk Islam dan Shalat sesudah Ali bin Abu Thalib."

Nasab Zaid bin Haritsah
Ibnu Ishaq berkata, "Zaid adalah anak Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru'u Al-Qais bin Abir bin An-Nu'man bin Amir bin Abdu Wudd bin Auf bin Kinanah bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabarah. Dikisahkan bahwa Hakim bin Hizam bin Khuwailid tiba dari Syam dengan membawa budak-budak di antaranya Zaid bin Haritsah dan anak kedil yang belum baligh. Kemudian bibi Hakim, Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertandang ke rumahnya. Hakim berkata kepada Khadijah, 'Bibi, pilihlah mana di antara dua orang tersebut yang engaku sukai, maka ia menjadi milikmu.' Khadijah memilih Zaid kemudian mengambilnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui Khadijah mempunyai Zaid, lalu beliau meminta Khadijah menghadiahkan Zaid kepada beliau. Khadijah pun menghadiahkan Zaid kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian memerdekakan Zaid dan mengadopsinya. Ini terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau."

Syair Haritsah ketika Kehilangan Zaid Anaknya
Ibnu Ishaq berkata, "Ayah Zaid, Haritsah, amat sedih dan menangis karena kehilangan Zaid. Ia berkata,
  • Aku menangis karena zaid, dan aku tidak tahu apa yang ia kerjaka
    Apakah ia masih hidup hingga bisa diharapkan ataukah ajal telah datang kepadanya?
    Demi Allah, aku tidak tahu, namun aku pasti akan mengembara
    Apakah sepeninggalku, dataran rendah telah membinasakanmu
    ataukah gunung yang membinasakanmu?
    Duhai syairku, apakah zaman mempunyai angin?
    Cukuplah dunia bagiku, jika engaku kembali kepadaku
======================================================================================================
Halaman 212
  • Ketika matahari terbit, ia mengingatkanku kepadanya
    Ia menghadiahkan ingatan kepada Zaki ketika ia terbangun
    Jika angin bertiup, angin tersebut menggerakkan ingatan tentang dia
    Duhai lama nian kesedihanku karena dia
    aku akan duduk di atas pilihan berjalan ke bumi dengan sungguh-sungguh
    Aku tidak bosan mengembara dan unta tidak bosan menjelajah
    Duhai kehidupanku, atau kematian datang kepadaku
    Semua orang akan mati, kendati ia tertipu oleh angan-angan kosong
Haritsah menemui Zaid di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliua bersabda kepada Zaid, 'Jika engkau mau, silahkan pulang dengan ayahmu!' Zaki menjawab, 'Aku lebih suka tinggal bersamamu.' Setelah itu, Zaid tinggal bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau diangkat sebagai Nabi, kemudian ia membenarkan beliau, masuk Islam, dan shalat bersama beliau. Ketika Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, 'Panggillah mereka dengan menggunakan nama ayah-ayah mereka. ' (Al-Ahzab: 5). Zaid berkata, 'Aku Zaid anak Haritsah'."
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Sat May 08, 2010 10:09 am, edited 1 time in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 213
BAB 50
MASUK ISLAMNYA ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk Islam. Nama Abu Bakar adalah Atiq, dan nama aslinya Abu Quhafah (ayahnya) adalah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr."

Nasab Abu Bakar dan Julukannya
Ibnu Hisyam berakata, "Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah, dan Atiq adalah julukannya, karena ketampanan wajahnya dan pembebasan budak yang ia lakukan."

Masuk Islamnya Abu Bakar Radhiyallahu Anhu dan Dakwahnya kepada Kaumnya
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk islam, ia perlihatkan keislamannya, dan berdakwah kepada Allah dan Rasulnya.

Abu Bakar adalah orang yang diterima di kaumnya, dicintai, mudah, orang Quraisy yang paling ahli tentang nasab Quraisy, dan orang Quraisy yang paling ahli tentang Quraisy; kebaikannya dan keburukannya. Selain itu, ia seorang pedagang yang berakhlak dan baik hati. Tokoh-tokoh kaumnya datang kepadanya dan senang karena ilmunya, perniagaannya, dan tanggapannya yang baik. Ia ajak orang-orang yang dipercayai di antara orang-orang yang sering datang kepadanya dan ngobrol dengannya kepada Allah dan islam."
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri May 07, 2010 11:37 pm, edited 1 time in total.

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 214
BAB 51
ORANG-ORANG YANG MASUK ISLAM KARENA DAKWAH ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU
Hahaha...dengan sangat menyesal saya tunda dulu...

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 219
BAB 52
PERMULAAN DAKWAH DENGAN TERANG-TERANGAN
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian orang-orang masuk Islam; laki-laki dan perempuan secara bergelombang, hingga pembahasan tentang Islam menyebar di Makkah, dan Islam menjadi bahan perbincangan. Setelah itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya mengungkapkan apa yang beliau bawa daripada-Nya dengan terang-terangan, memperlihatkan perintah Allah kepada manusia, dan mengajak mereka kepadan-Nya. Rentang waktu antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merahasiakan perintah-Nya hingga Allah Ta'ala memerintahkan beliau memperlihatkan perintah-Nya ialah tiga tahun--sebagaimana disampaikan kepadaku."

Perintah Allah agar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Berdakwah secara Terang-terangan
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Allah Ta'ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
  • "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (Al-Hijr: 49)
Allah Ta'ala berfirman kepada beliau,
  • "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang beriman." (Asy-Syua'araa': 214-215)
Allah Ta'ala berfirman,
  • "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'." (Al-Hijr : 89)
Ibnu Hisyam berkata, "Arti fashda' ialah pisahkan antara kebenaran dengan kebatilan. Abu Dzuaib Al-Hudzali yang nama aslinya adalah Khuwailid bin Khalid berkata menyifati keledai liar dan pejantan :lol: ,
  • Keledai-keledai tersebut seperti sahabat-sahabat
=======================================================================================================
Halaman 220
  • Dan pejantannya seperti orang yang mengocok kotak dadu dan memisahkannya
Maksudnya, ia memisahkan dadu-dadu dan menjelaskan bagiannya masing-masing. Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Abu Dzuaib Al-Hudzali. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
  • Engkau orang yang lemah lembut dan komandan perang sang pembalas
    Engkau terang-terangan memperlihatkan kebenaran dan mengusir orang yang dzalim
Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Ru'bah binti Al-Ajjaj."

Permulaan Pergulatan di Makkah dengan Orang-orang Musyrikin
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika itu, jika sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin melakukan shalat, mereka pergi ke syi'b (jalan di antara dua gunung) dan merahasiakan shalatnya dari penglihatan kaumnya. Ketika Sa'ad bin Abu Waqqash bersama beberapa orang dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang shalat di salah satu syi'b, tiba-tiba beberapa orang dari kaum musyrikin muncul ke tempat mereka. Orang-orang Quraisy tersebut mengecam tindakan kaum Muslimin, dan mencela apa yang mereka perbuat, hingga terjadilah perkelahian di antara mereka. Dalam perkelahian tersebut, Sa'ad bin Abu Waqqash memukul salah seorang dari orang-orang musyrikin dengan tulang rahang unta hingga terluka. Itulah darah yang pertama kali ditumpahkan dalam Islam."

Permusuhan Orang-orang Quraisy dan Perlindungan Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperlihatkan Islam dengan terang-terangan kepada kaumnya, dan menampakkan perintah Allah kepadanya dengan terbuka, ketika itu orang-orang Quraisy tidak mengutuk beliau dan tidak memberi reaksi--seperti disampaikan kepadaku--, hingga suatu saat beliau menyebut tuhan-tuhan mereka dan menghinanya. Ketika beliau melakukan hal tersebut, kontan mereka memandang besar permasalahan beliau, menentangnya, dan sepakat menentangnya kecuali orang-orang yang dijaga Allah di antaranya meraka dengan Islam, namun mereka tidak banyak. Paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Thalib menaruh simpati kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, melindungi beliau, dan berdiri di pihak beliau. Sedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap tegar terhadap perintah Allah dan memperlihatkan perintah-Nya tanpa bisa dicegah oleh sesuatu apa pun.

Ketika orang-orang Quraisy melihat bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menggubris kecaman mereka kepada beliau dan melihat pamannya, Abu Thalib, menaruh simpati kepada beliau, melindungi beliau, dan tidak akan menyerahkan beliau kepada mereka, maka beberpa tokoh...
======================================================================================================
Halaman 221

...Quraisy di antaranya Utbah, Syaibah (keduanya anak Rabi'ah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib), Abu Sufyan bin Harb bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr (Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Sufyan adalah Shakhr), Abu Al-Bakhtari yang nama aslinya adalah Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harts bin Asad bin Abdul Uzza bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai (Ibnu Hisyam berkata, bahwa Abu Al-Bakhtari ialah Al-Ash bin Hasyim), Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai, Abu Jahl yang nama aslinya adalah Amr Abu Al-Hakam bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Kakhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luai, Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luai, Nubaih, Munabbih (keduanya anak Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luai), dan Al-Ash bin Wail."

Ibnu Hisyam berkata, "Al-Ash adalah anak Wail bin Hasyim bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luai."

Utusan Quraisy Mengecam Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata, "Serta orang-orang Quraisy lainnya menemui Abu Thalib. Mereka berkata, 'Hai Abu Thalib, sesungguhnya keponakanmu telah menghina tuhan-tuhan kita, mecaci-maki agama kita, membodoh-bodohkan mimpi-mimpi kita, dan menuduh sesat nenek moyang kita. Engkau larang dia meneruskan tindakannya terhadap kami atau engkau melepas persoalan kami dengannya. Sungguh engkau juga menentangnya seperti kami. Jadi kami merasa cukup denganmu.' Abu Thalib berkata kepada mereka dengan perkataan yang lembut dan menjawab permintaan mereka dengan jawaban yang baik. Kemudian mereka pamit pulang."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap Melanjutkan Dakwahnya
Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan seperti semula.(JGA: tetap menghina tuhan-tuhan pagan) Beliau menampakkan agama Allah, dan mengajak manusia kepadanya, hingga konflik meledak antara beliau dengan orang-orang Quraisy, orang-orang menjauhi diri dari yang lain, mendendam satu sama lain, orang-orang Quraisy menyebut-nyebut nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam pembicaraan mereka, mengecam beliau, dan mengadakan rapat membahas persoalan beliau." (JGA: Muhammad tetap tidak mengubah gaya dakwahnya menjadi lebih sopan lagi. Dan gaya seperti ini yang menghina agama-agama lain tetap berlangsung sampai sekarang di masdjid-masjid manapun di seluruh dunia)
======================================================================================================
Halaman 222

Utusan Quraisy Kembali Menghadap Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata, "Utusan Quraisy menemui Abu Talib untuk kedua kalinya. Mereka berkata kepada Abu Thalib, 'Hai Abu Thalib, Sesungguhnya engkau mempunyai kedewasaan, kehormatan, dan kemuliaan di kalangan kami. Sungguh kami telah memintamu melarang keponakanmu, namun engkau tidak melarangnya. Demi Allah, kita tidak bisa bersabar atas penghinaan terhadap nenek moyang kita, pembodoh-bodohan mimpi-mimpi kita, dan pelecehan agama kita. :shock: Silahkan pilih; kami menghentikan semua tindakan keponakanmu atau kami terjung berhadapan dengannya hingga salah satu dari dua pihak ada yang binasa, dan jagalah dirimu dalam masalah ini--atau seperti yang mereka ucapkan.' Usai berkata seperti itu, mereka berpaling dari hadapan Abu Thalib. Abu Thalib merasa berat hati untuk berbeda pendapat dengan kaumnya dan bermusuhan dengan mereka, namun ia tidak sudi menyerahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada mereka atau menelantarkan beliau."

Pertemuan antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas berkata kepadaku bahwa ia diberitahu,

"Ketika orang-orang Quraisy berkata seperti di atas kepada Abu Thalib, Abu Thalib segera menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau, 'Hai keponakanku, sesungguhnya kaummu belum lama datang kepadaku dan berkata begini dan begitu kepadaku. Oleh karena itu, tetaplah engkau bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan seret aku dalam persoalan yang tidak sanggup aku pikul!' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menduga bahwa pamannya telah berubah sikap, tidak lagi melindungi dan akan menyerahkan beliau. (JGA: lho koq gak minta perlindungan Allah SWT?) dan tidak mampu membela serta tidak berpihak lagi kepada beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan persoalan ini hingga Allah memenangkan perkara ini atau aku mati karenanya, niscaya aku tidak meninggalkan persoalan ini.' (JGA: artinya muhammad tetap akan terus melancarkan intimidasi terhadap tuhan-tuhan Quraisy) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedih. Beliau menangis :lol: (JGA: dia cubit orang, tapi tetap merasa jadi korban), kemudian berdiri dan pergi dari hadapan Abu Thalib. Ketika beliau hendak meninggalkannya, Abu Thalib memanggil, 'Hai keponakanku, kemarilah!' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang kembali. Abu Thalib berkata, ' Keponakanku, pergilah dan katakanlah apa saja yang engkau kehendaki, karena sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun'." (JGA: jitu juga air matanya. :lol: )
======================================================================================================
Halaman 223

Orang-orang Quraisy Meminta Abu Thalib Menyerahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Mereka, dan Sebagai Gantinya Mereka Memberikan Imarah bin Al-Walid kepadanya
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Abu Thalib menolak meninggalkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak mau menyerahkan beliau kepada mereka, berketetapan hati untuk berpisah dan bermusuhan dengan mereka, maka mereka datang kembali kepada Abu Thalib dengan membawa Imarah bin Al-Walid. Mereka berkata kepadanya (seperti disampaikan kepadaku), 'Hai Abu Thalib, inilah Imarah bin Al-Walid. Ia anak muda Quraisy yang paling kuat dan paling tampan. Lindungilah dia dan belalah dia. Ambillah dia sebagai anak, karena ia menjadi milikmu. Sebagai gantinya serahkan kepada kami keponakanmu yang menentang agamamu dan agama nenek moyang kita, memecah belah persatuan kaummu, dan membodoh-bodohkan mimpi-mimpi kita kemudian akan kami bunuh dia. Satu orang diganti dengan satu orang pula.' Abu Thalib menjawab, 'Demi Allah, sungguh jelek apa yang kalian tawarkan kepadaku. Kalian memberiku anak kalian yang aku beri makan dan aku berikan anakku kepada kalian kemudian kalian membunuhnya? Ini, demi Allah, sampai kapan pun tidak akan terjadi.' Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushai berkata, 'Demi Allah, hai Abu Thalib, sungguh kaummu telah berbuat adil kepadamu, dan mereka berupaya keras untuk bisa keluar dari apa yang mereka benci selama ini, namu aku lihat engkau tidak menerima apa pun dari mereka.' Abu Thalib berkata kepada Al-Muth'im, 'Demi Allah, mereka tidak berbuat adil kepadaku. Justru mereka sepakat meninggalkanku, dan mendukung orang-orang untuk melawanku. Kerjakan apa saj yang engkau inginkan--atau seperti yang ia katakan'." (JGA: artinya Abu Thalib menarik diri dari persoalan dan menyerahkan penyelesaian kepada keinginan masing-masing. Abu Thalib terjepit dalam situasi sulit. Secara moral ia tidak dapat mendukung tindakan ceroboh muhammad dan tidak pula mendukung emosi kaumnya)

Syair Abu Thalib tentang Al-Muth'im dan Orang-orang Yang Meninggalkannya
Ibnu Ishaq berkata, "Persoalan semikin rumit. Perang semakin membara. Manusia tarik-menarik. Sebagian memusuhi sebagian lain. Oleh karena itu, Abu Thalib berkata dalam syairnya sambil menyindir Al-Muth'im bin Adi, menyamakan Bani Abdu Manaf yang meninggalkannya dengan kabilah-kabilah Quraisy yang memusuhinya, menyinggung permintaan mereka kepadanya, dan persoalan mereka yang semakin membesar,
  • Ketahuilah, katakan kepada Amr, Al-Walid, dan Al-Muth'im
    Ketahuilah, alangkah beruntungnya aku, jika termasuk kalian yang dilindungi Bakr dari kelemahan
    Orang lemah itu banyak bualannya
    Ia menyiramkan air dari kencingnya kepada para pencari air
    Ia tertinggal oleh unta lain dan tidak dapat menyusulnya
    Jika ia naik ke tempat yang tinggi, dikatakan kepadanya, 'Hai kelinci!'
======================================================================================================
Halaman 224
  • Kulihat dua saudaraku seibu seayah jika keduanya ditanya
    Keduanya menjawab bahwa persoalan ini terserah kepada orang-orang selain kita
    Ya, keduanya mempunyai persoalan serius, namun keduanya jatuh
    Sebagaimana batu jatuh dari puncak Gunung Dzi Alaq
    Aku memberikan perhatian khusus kepada Abdu Syams dan Naufal
    Karena keduanya mencampakkan kami seperti bara api dicampakkan
    Keduanya menyuruh orang-orang menghina dua saudaranya
    Keduanya menjadi seperti mereka dan kedua telapak tangannya kosong tidak berisi
    Keduannya ikut kejayaan orang yang tidak mempunyai ayah
    Padahal kejayaan mereka hanya diingat selintas saja
    Taim, Makhzum, danZuhrah adalah termasuk mereka
    Dulu mereka semua adalah bekas budak-budak kami ketika kemenangan dicari
    Demi Allah, permusuhan kami dengan mereka tidak akan berakhir
    Selama keturunan kita masih diciptakan
    Sungguh mimpi-mimpi dan akal mereka ****
    Mereka seperti anak-anak kambing, dan sungguh buruk apa yang dilakukan anak kambing
Ibnu Hisyam berakat, "Ada dua bait yang jorok yang sengaja tidak saya sebutkan."

Orang-orang Quraisy Memperlihatkan Permusuhannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian orang-orang Quraisy mengancam kabilah-kabilah mereka yang di dalamnya terdapat sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang masuk Islam bersama beliau. Setiap kabilah menangkapi orang-orang Islam yang ada di tengah-tengah mereka kemudian menyiksanya, dan menganiaya karena agamanya. Adapun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Allah melindunginya melalui pamannya Abu Thalib :lol: . Ketika Abu Thalib melihat orang-orang Quraisy bertindak seperti itu, ia menemui Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib guna mengajak mereka melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam :lol: (JGA: melindungi muhammad=menolong Allah :lol: ), dan berdiri di pihak beliau. Mereka bersedia memihak Abu Thalib, berdiri di pihaknya, dan memenuhi seruannya kecuali Abu Lahab--semoga Allah mengutukinya."(JGA: hah, pantas mulut muslim selalu penuh dengan ucapan kutuk dan sumpah serapah)

Syair Abu Thalib tentang Pujiannya kepada Orang-orang Yang Membelanya
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Abu Thalib melihat sesuatu yang menggembirakan pada kaumnya yaitu mereka berpihak dan bersimpati kepadanya, ia memuji mereka, menyebut-nyebut masa lalu mereka, mengingatkan keberadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di tengah-tengah mereka dan kedudukan beliau di sisi mereka. (JGA: mungkin maksudnya termasuk saudara satu kaum) Abu Thalib bersikap seperti itu agar pendapat mereka semakin kuat dan bersama dirinya berpihak kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
  • Jika pada suatu hari orang-orang Quraisy bertemu untuk berbangga diri
    Maka Abdu Manaf adalah rahasianya dan inti sarinya
    Jika tokoh-tokoh Bani Abdu Manaf dicari
    Maka tokoh-tokohnya ada di Bani Hasyim
    Jika pada suatu hari mereka berbangga diri
    Sesungguhnya Muhammad adalah manusia pilihan, kata kuncinya, dan manusia termulianya
    Orang-orang Quraisy yang kurus dan yang gemuk mengajak orang-orang memerangi kami
    Namun mereka sombong, maka kami meluruskannya
    Kami lindungi tempat suci pada setiap hari yang kritis
    Kami pukul orang berniat jahat kepada batu-batunya
    Dengan kamilah batang yang layu bisa segar kembali
    Dan dengan pundak-pundak kamilah, akar-akarnya bisa terkumpul kembali dan bersemi'."
---ooOoo---

User avatar
JANGAN GITU AH
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by JANGAN GITU AH »

Halaman 226
BAB 53
MAKAR JAHAT AL-WALID BIN AL-MUGHIRAH ALAIHI WA SALLAM DAN SIKAPNYA TERHADAP AL-QUR'AN
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian beberapa orang dari Quraisy mengadakan pertemuan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah pada saat musim haji telah tiba. Al-Walid bin Al-Mughirah adalah tokoh yang mereka tuakan. Di pertemuan tersebut, Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada mereka, 'Hai orang-orang Quraisy, musim haji telah tiba dan rombongan orang-orang Arab akan berdatangan ke tempat kalian dan mereka telah mendengar persoalan sahabat kalian ini (Muhammad). Oleh karena itu, hendaklah kalian satu pendapat, jangan berselisih, jangan sebagian mendustakan sebagian lain, dan ucapan sebagian ditolak sebagian lain. Mereka berkata, 'Engkau wahai Abu Abdu Syams, silahkan bicara dan berikan pendapatmu, niscaya pendapat itu pula yang kita ucapkan.' Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, 'Justru silahkan kalian bicara, niscaya aku dengar ucapan kalian.' Mereka berkata, 'Kita katakan Muhammad sebagai dukun.' Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, 'Demi Allah, ia bukan dukun. Kita sudah mengetahui para dukun; ucapan khasnya (yang bisa dipahami atau tidak bisa dipahami) dan sajaknya.' Mereka berkata, 'Kita katakan dia orang gila.' Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, 'Tidak, ia bukan orang gila. Sungguh, kita sudah mengetahui orang gila, dan mengenal kekusutannya, kekacauan, dan keragu-raguan yang ada padanya.' Mereka berkata, 'Kita katakan dia penyair.' Al-Walid bin Al-Mughirahh berkata, 'Ia bukan penyair, karena kita telah mengetahui semua bentuk syair dan ucapannya bukan termasuk syair.' Mereka berkata, 'Kita katakan dia penyihir.' Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, 'Tidak, ia bukan penyihir, karena kita sudah mengetahui penyihir; tipuannya dan tali temalinya.' Mereka berkata, 'Kalau begitu, bagaimana pendapatmu wahai Abu Abdu Syams?' Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya ucapan Muhammad itu manis :lol: (JGA: bagaimana mungkin Al-Walid bisa mengatakan muhammad bicaranya manis sementara pertemuan ini pun terjadi karena kejengkelan mereka yang melihat muhammad menghina mereka dan agama mereka. Tidak logis seorang yang merasa terhina memuji-muji penghinanya--yang logis itu kalo memaafkan penghina !Kalimat ini tampaknya telah dirubah oleh penterjemah untuk menaikkan citra muhammad sekaligus menutupi fakta buruk sikap muhammad), akarnya harum, dan ranting-rantingnya matang. Jika kalian berkata seperti di atas, maka bisa disimpulkan bahwa perkataan kalian adalah batil. Sesungguhnya perkataan kalian yang paling tepat tentang dia ialah, hendaklah kalian mengatakan dia penyihir. Ia membawa sihir yang memisahkan orang dengan ayahnya, orang dengan...
========================================================================================================
Halaman 227

...saudaranya, orang dengan istrinya, dan orang dengan keluarganya. Mereka bercerai-berai karena ulah sihirnya.' Setelah itu, orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan umum ketika orang-orang Arab berdatangan ke Makkah pada musim haji. Tidak ada seorang pun yang berjalan melewati mereka, melainkan mereka memperingatkan perihal Muhammad kepadanya, dan menjelaskan persoalan Muhammad kepadanya. (JGA: Lalu dibagian manakah makar itu terjadi? koq gak ada? )Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Al-Walid bin Al-Mughirah,
  • Biarkan Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendiri. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak. Dan anak-anak yang selalu bersama dia. Dan Aku lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan aku tambahkan). Karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Quran). (Al-Muddatstsir: 11-16)
Kata aniid pada ayat di atas artinya memusuhi."
Ibnu Hisyam berkata, "Aniid aratinya membangkang dan menentang. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
  • Kami adalah pemukul kepala orang-orang yang membangkang dan menentang
Bait di atas ada dalam kumpulan syair Ru'bah bin Al-Ajjaj."
Ibnu Ishaq berkata, "Allah Ta'ala juga menurunkan ayat,
  • 'Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang melelahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia ! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia ! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam mukan dan merengut'." (Al-Muddatstsir: 17-22)
Ibnu Hisyam berkata, "Basar artinya wajahnya tidak suka. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
  • Orang-orang besar dua tulang rahangnya makan dengan ujung mulutnya
========================================================================================================
Halaman 228

Maksudnya, wajahnya tidak suka. Bait syair tersebut ada dalam kumpulan syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj."
Ibnu Isha berkata, "Allah Ta'ala juga menurunkan ayat,
  • 'Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, '(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' (Al-Muddatstsir: 23-25)
Allah Ta'ala juga menurunkan ayat tentang Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, apa yang beliau bawa dari Allah Ta'ala, orang-orang yang merencanakan tuduhan-tuduhan terhadap beliau, dan terhadap apa yang beliau bawa dari Allah Ta'ala,
  • 'Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), kami telah menurunkan (adzab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah). (Yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur'an itu terbagi-bagi. Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu'." (Al-Hijr: 90-93)
Ibnu Hisyam berkata, "Kata tunggal idziin ialah idzah. Orang-orang Arab mengatakan, 'Adzdzauhu.' Maksud mereka membagi-baginya. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
  • Agama Allah itu tidak bisa dibagi-bagi
Bait di atas adalah bagian dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj."
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian orang-orang Quraisy menceritakan sosok Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti itu kepada orang-orang yang mereka temui. Jadi sejak musim haji tahun itu, orang-orang Arab mengetahui persoalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan perbincangan tentang beliau menyebar ke seluruh negeri Arab."

Harapan dan Kecaman
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Abu Thalib khawatir orang-orang Arab dalam jumlah besar akan bersatu dengan kaumnya, maka ia membuat syair. Dalam syairnya, ia meminta perlindungan dengan kesucian Makkah, dan kedudukan dirinya di dalamnya, serta menaruh harapan kepada tokoh-tokoh kaumnya. Ia jelaskan kepada mereka dan orang-orang selain mereka dalam syairnya, bahwa ia tidak menyerahkan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan tidak meninggalkannya selama-lamanya hingga ia mati karenanya. Abu Thalib berkata dalam syairnya,
  • Ketika aku lihat tidak cinta pada orang-orang tersebut
    Sungguh mereka telah memutus semua ikatan dan jalinan
    Sungguh mereka telah terang-terangan memusuhi dan mengganggu
    Sungguh mereka telah bersekutu dengan kaum-kaum lain berburuk sangka kepada kami
======================================================================================================
Halaman 229
  • Dibelakang kami, mereka menggigit jari-jemari mereka karena marah
    Aku menyabarkan diri dalam menghadapi mereka dengan tombak yang murah hati
    Dengan pedang tajam hadiah para raja
    Aku hadirkan kaumku dan saudara-saudaraku di samping Ka'bah
    Aku pegang kain Ka'bah dengan semua kerabat
    Berdiri bersama menghadap batu besarnya (Hajar Aswad)
    :lol:
    Di tempat di mana di dalamnya semua orang Nafil menyelenggarakan persekutuannya (perjanjiannya)
    Di tempat di mana di dalamnya, orang-orang Asy'ari menghentikan unta-unta mereka
    Di tempat lokasi perzinahan Isaf dan Naila
    Dengan membuat tanda di lengan unta atau di pangkal ekornya
    Dengan menahannya di antara As-Sadis dan Bazil
    Anda lihat hiasan kerang, lalu pualam, dan hiasan
    Di leher-leher unta, dan itu semua menempel padanya seperti tanda kurma
    Aku meminta perlindungan kepada Tuhan manusia dari semua pencela kami dengan jahat
    Dari orang yang bertahan dalam kebatilan
    Dari musuh tersembunyi yang membawa aib untuk kami
    Dari pengikut agama selagi kita tidak berubah
    Dari patung Tsaur, dan orang yang menggantinya dengan patung Tsabir
    Serta dari pembuat mantera untuk naik ke Hira' dan Nazil
    Aku berlindung diri dengan Baitullah, dan hak Baitullah dari kabilah Makkah
    Dengan Allah dan sesungguhnya Allah tidak pernah lengah
    Dengan Hajar Aswad ketika mereka menyentuhnya

    Jika mereka mengelilinginya pada pagi hari dan petang hari
    Dengan tempat pijakan Ibrahim di batu yang halus
    Ia menginjaknya dengan kakinya tanpa sandal
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan dua jarak antara Marwa dan Safa
    Dengan patung-patung yang ada di antara keduanya

    Dengan orang yang mengunjungi Baitullah dari semua pengendara,
    Semua orang yang bernadzar dan semua pejalan kaki
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan Masy'ar yang jauh ketika mereka datang kepadanya
    Dengan berjalan cepat ke tempat berkumpulnya kabilah-kabilah
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan persinggahan mereka di atas gunung pada petang hari
=======================================================================================================
Halaman 130
  • Mereka mengangkat dada-dada unta dengan tangan-tangan mereka
    aku berlindung diri kepada Allah dengan seluruh malam dan rumah-rumah di Mina
    apakah di atas Mina terdapat wanita dan rumah?
    Aku berlindung diri kepada Allah bersumpah dengan Arafah jika kuda-kuda pilihan melintasinya
    Dengan cepat seperti mereka lari karena terkena air hujan
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan batu besar ketika mereka pergi ke sana
    Mereka pergi ke sanan dengan menghadapkan kepala ke saluran iar
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan Kindah ketika mereka membawa kerikil-kerikil pada sore hari
    Mereka dipandu jama'ah haji Bakr bin Wail
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan dua sekutu yang memegang erat-ereat apa yang keduanya telah sepakati
    Keduanya membuang belas-kasihan para mediator
    Aku berlindung diri kepada Allah dengan penghancuran mereka
    terhadap tombak yang berwarna coklat, ternaknya, dan anak kucingnya
    Penghancuran mereka yang cepat secepat laju burung unta yang kencang larinya
    Adakah tempat berlindung bagi orang yang meminta perlindungan setelah ini semua?
    Adakah pencela dan peminta perlindungan yang bertaqwa kepada Allah?
    Kami disuruh mentaati perintah musuh
    Ah, seandainya pintu-pintu Turki dan Kabul tertutup untuk kami
    Demi Baitullah, kalian telah berdusta, jika Muhammad diambil dari kami
    Maka kami akan menikam karenanya, berjuang untuknya
    Kami mengambilnya hingga kami gugur di sekitarnya
    Hingga kami lupa kepada anak-anak dan istri-istri
    Dan hingga kaum bangkit dengan senjata kepada kalian
    Seperti bangkitnya perawi di tanah liat
    Dan hingga kami melihat pendendam itu mati dengan dendamnya
    Kita, demi Allah, jika apa yang aku lihat semakin membesar
    Pasti pedang-pedang kami bercampur dengan para pemimpin
    Dengan perlindungan pemuda seperti bintang dan pemimpin
    Saudaraku yang jujur, pelindung nilai, dna pemberani
    Selama berbulan-bulan, berhari-hari, dan setahun penuh
========================================================================================================
Halaman 231
  • Serta musim haji tahun depan
    Tidakkah satu kaum, -- semoga engkau tidak mempunyai ayah -- meninggalkan pemimpinnya yang melindungi kehormatan
    Tidak lain karena keburukan mereka dan penyerahan persoalan mereka kepada selain pemimpinnya
    Pemimpin (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) tersebut putih dan awan dimintai air hujan dengan wajahnya
    Ia pemelihara anak-anak yatim dan pelindung wanita-wanita janda :lol:
    Orang-orang lapar dari Bani Hasyim berlindung kepadanya
    Dengannya, mereka berada dalam rahmat dan nikmat
    Aku bersumpah, sungguh Asid dan Bakrah telah membuat kami marah
    Keduanya telah memotong kami untuk dimakan
    Utsman dan Qunfudz, keduanya tidak sayang kepada kami
    Justru keduanya taat kepada kabilah-kabilah tersebut
    Keduanya taat kepada Ubal dan kepada anak Abdu Yaghuts
    Keduanya tidak melindungi kami karena termakan ucapan seseorang
    Ini sama seperti yang kami terima dari Subay'i dan Naufal
    Semuanya berpaling dan tidak ramah
    Jika keduanya ditentukan atau Alah menangkap salah satu dari keduanya
    Maka kami takar untuknya satu sha' dengan ukuran sha' penakar
    Dialah Abu Amr, kemarahan kami
    Membuatnya berbicara dengan batil kepada pemilik kambing dan unta
    Ia memperbincangkan kami dengan batil secara diam-diam di setiap sore dan pagi
    Hai Abu Amr, silakan bicara tentang kami dengan batil kemudian tipulah
    Dia bersumpah dengan Allah kepada kita bahwa dia tidak berkhianat kepada kita
    Ya, Anda lihat dia bertindak seperti itu dengan terang-terangan tanpa tabir
    Apakah kemarahan kami membuat sempit baginya semua dataran tinggi
    Di bumi di antara gunung-gunung dan istana-istana?
    Tanyakan kepada Abu Al-Walid, apa yang engkau berikan kepada kami
    Karena ulahmu berpaling dari kami seperti seorang penipu?
    Sebelum ini, engkau orang yang pendapatnya diikuti
    Mencintai kami, dan bukan orang ****
    Sedang Utbah, jangan dengarkan perihal kami ucapan musuh yang tersembunyi
====================================================================================================
Halaman 232
  • Seorang pendengki, pendusta, dan penyimpan permusuhan di dadanya
    Abu Sufyan melewati kami dengan berpaling
    Persis seperti jalannya pemimpin besar
    Ia lari ke Najed dan airnya yang sejuk
    Ia menduga bahwa aku tidak lupa kepada kalian
    Ia memberitahu kami seperti layaknya seorang penasihat
    Bahwa ia mencintai kami, padahal ia menyembunyikan permusuhan di hatinya
    Hai Muth'im, aku tidak mentelantarkanmu pada Perang Najdah
    Aku tidak meninggalkanmu pada saat musuh bebuyutan datang kepadamu
    Musuh-musuh yang ahli debat di antara musuh-musuh yang jago debat
    Hai Muth'im, sesungguhnya mereka hanya memuliakanmu di kampungmu
    Sungguh, jika aku menang, aku tidak membiarkanmu lols
    Semoga Allah menghukum Abdu Syams dan Naufal karena tindakannya kepada kami
    Dengan hukuman yang menyakitkan di dunia dan akhirat
    Dengan timbangan yang adil yang tidak mengurangi sebutir gandum pun
    Ia mempunyai saksi dari dalam dirinya yang tidak dzalim
    Sungguh lemah akal kaum yang memecah-belah kami
    Yaitu Bani Khlaf dan Al-Ghayathil
    Kami oang-orang pilihan dari jambul Hasyim
    Dan anak keturunan Qushai dalam persoalan-persoalan penting
    Sahm, dan Makhzum, mereka membantu dan berkumpul
    Untuk memusuhi kami dengan semua orang **** dan orang yang tidak dikenal
    Hai Abdu Manaf, kalian orang-orang terbaik di kaum kalian
    Oleh karena itu, jangan menyertakan penyusup ke dalam persoalan kalian
    Aku bersumpah, sungguh kalian lemah tidak berdaya
    Kalian membawa persoalan yang menyalahi persendian
    Sebelum ini kalian adalah kayu bakar periuk
    Tapi sekarang kalian menjadi pencari kayu bakar periuk dan cerek
    Silahkan Bani Abdu Manaf durhaka kepada kami
    Mentelantarkan kami dan membiarkan kami di benteng-benteng
    Kami adalah kaum yang akan balas dendam atas ulah kalian terhadap kami
=====================================================================================================
Halaman 233

  • Dan kalian akan mendapatkan perang dahsyat dari kami
    Orang-orang yang berada di kabilah Luai bin Ghalib
    Mereka diusir kepada kami oleh pemimpim-pemimpin yang pemberani
    Dan kabilah Qushai adalah orang-orang terjelek yang menginjak kerikil
    Kalian adalah orang yang paling hina di antara orang yang tidak
    mengenakan sandal dan orang-orang yang mengenakan sandal di Ma'ad
    Katakan kepada Qushai, bahwa persoalan kami akan tersebar luas
    Dan beri dia kabar gembira berupa kehinaan sepeninggal kami
    Jika bencana besar terjadi di Bani Qushai pada suatu malam
    Maka kami tidak melindungi mereka di jalan-jalan
    Jika mereka orang-orang benar di rumah-rumah mereka
    Pasti kami sedih di samping wanita-wanita yang mempunyai anak-anak kecil
    Semua orang yang telah kami anggap sebagai teman, dan keponakan
    Ternyata pada akhirnya kami tidak mendapatkan manfaat pada mereka
    Kecuali beberapa orang dari Bani Kilab bin Murrah
    Mereka bersih dari durhaka dan sikap cuek terhadap kami
    Hingga akhirnya petaka menimpa mereka dan persatuan mereka menjadi pecah belah
    Dan semua orang yang dzalim dan **** merasa letih memusuhi kami
    Dulu kami mempunyai kolam air di tempat mereka
    Dulu kami kikir kepada Ghalib dan para pemimpin
    Pemuda-pemuda dari Al-Muthayyibin (yang memakai parfum) dan Hasyim
    Adalah seperti pedang-pedang putih di antara tangan-tangan yang mengkilap
    Mereka tidak melancarkan permusuhan, dan tidak menumpahkan darah
    Serta tidak bersumpah kecuali terhadap kabilah-kabilah yang jahat
    Dengan pukulan di mana anak-anak muda di dalamnya
    Seperti awan hitam di atas potongan-potongan daging
    Keturunan budak yang dicintai
    Adalah Bani Jumah Ubaid bin Aqil
    Namun kami adalah keturunan mulia bagi para pemimpin mereka
    Karena mereka, orang-orang menangis
    Sebaik-baik keponakan kaum yang tidak didustakan adalah Zuhair
    Ia pedang tajam di antara anak-anak yang baru lahir
    Ia lebih harum dari aroma yang wangi
    Ia bernasabkan kepada asal-usul di arena kejayaan
    Aku bersumpah bahwa aku menahan marah kepada Ahmad
======================================================================================================
Halaman 234
  • Dan saudara-saudaranya sebagai kebiasaan seorang pecinta sejati
    Di dunia masih ada keindahan bagi penghuninya
    Dan perhiasan bagi orang yang dilindungi Pemilik semua persoalan
    Adakah manusia seperti dia (Muhammad)
    Jika kelebihannya ditimbang dengan para pemimpin yang ada?
    Ia lembut, bijak, adil dan tidak gegabah :shock:
    Ia berpihak kepada Tuhan Yang tidak lengah terhadap dirinya
    Demi Allah, seandainya aku tidak mendatangkan celaan
    Yang ditujukan kepada nenek moyang di ruang-ruang pertemuan
    Pasti pengikutnya (Muhammad) dalam semua kondisi
    Sepanjang zaman dengan serius dan tidak bersenda-gurau
    Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa anak kami tidak pantas didustakan di kalangan kami
    Ia tidak mengatakan perkataan yang batil
    Kemudian Ahmad di kalangan kami menjadi orang terhormat
    Kekuasaan raja tidak mampu mencapai derajatnya
    Aku arahkan simpatiku kepadanya dan menjaganya
    Aku lindungi dia dengan memberikan tempat perlindungan dan orang-orangku
    Kemudian dia didukung Tuhan manusia dengan pertolongan-Nya
    Allah memenangkan agama yang kebenarannya bukan kebatilan
    Orang-orang mulia dan tidak bengkok, telah dia bimbing kepada kebaikan
    Mereka orang-orang berjiwa besar dan terhormat
    Jika di antara Kabilah Ka'ab dengan Kabilah Luai terdapat hubungan
    Pasti hubungan tersebut akan putus pada suatu hari'."
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Meminta Air Hujan untuk Penduduk Madinah dan Harapan Beliau Kiranya Abu Thalib Masih Hidup
Ibnu Hisyam berkata bahwa orang yang aku percayai berkata kepadaku,
"Penduduk Madinah mengalami kekeringan, kemudian mereka mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengelukah kondisi yang mereka alami. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar dn meminta air hujan untuk mereka. Tidak lama berselang, hujan turun kepada mereka dan orang-orang melaporkan banjir. (JGA: :lol: malah bencana yang datang...top abis dah ! eh, ngomong-ngomong mana laporannya di Al-Qur'an ? koq gak ada sih?) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ya Allah, sekitar kami, dan tidak di atas kami." Seketika itu juga mendung tersingkap dari Madinah dan hujan di...
=====================================================================================================
Halaman 235

...sekitarnya menjadi rintik-rintik. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Jika Abu Thalib melihat kejadian ini, pasti ia senang sekali.' Beberapa sahabat bertanya kepada beliau, 'Sepertinya engkau menginginkan syair Abu Thalib,
  • Pemimpin (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) tersebut putih dan awan dimintai air hujan dengan wajahnya
    Ia pemelihara anak-anak yatim dan pelindung wanita-wanita janda :lol:
Beliau bersabda, 'Ya, betul'."

Penjelasan Nama-nama Yang Disebut Abu Thalib dalam Syairnya
Ibnu Ishaq berkata, "Al-Ghayathil berasal dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish. Abu Sufyan adalah anak Harb bin Umaiyyah. Muth'im adalah anak Adi bin Naufal bin Abdu Manaf. Zuhair adalah anak Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum dan ibunya adalah Atikah binti Abdul Muththalib."

Ibnu Ishaq berkata, "Asid dan Bakrah adalah Itab bin Asid bin Abu Al-Ish bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai. Utsman adalah anak Ubaidillah, saudara Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi. Qunfudz adalah anak Umair bin Jud'an bin Amr bin Ka'ab bin Taim bin Murrah. Abu Al-Walid adalah Utbah bin Rabi'ah. Ubai adalah Al-Akhnas bin Syariq Ats-Tsaqfi, sekutu Bani Zuhrah bin Kilab."

Ibnu Hisyam berkata, "Ia dinamakan Al-Akhnas, karena ia tidak ikut Perang Badar. Nama aslinya adalah Ubai dan berasal dari Bani Ilaj, yaitu Ilaj bin Salamah bin Auf bin Uqbah.

Al-Aswad adalah anak Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Subay'i adalah anak Khalid, saudara Al-Harts bin Fihr. Naufal adalah anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Naufal ini adalah anak Al-Adawiyah dan termasuk syetan-syetan Quraisy. Dialah yang mengikat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah dalam satu tali ketika keduanya masuk Islam. Oleh karena itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah dinamakan Al-Qarinaini. Naufal dibunuh Ali bin Abu Thalib di Perang Badar. Abu Amr adalah Quradzah bin Abdu Amr bin Naufal bin Abdu Manaf. Kaum yang dimaksud adalah Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Nama-nama itulah yang disebutkan Abu Thalib dalam syairnya.

Perihal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menyebar di Luar Makkah
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika informasi tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebar luas ke kalangan orang-orang Arab dan menembus banyak negeri termasuk Madinah. Tidak ada satu pemukiman di Arab yang lebih mengetahui perihal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melainkan dari pemukiman Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka mendengar informasi...
=======================================================================================================
Halaman 236

...tentang beliau dari rahib-rahib Yahudi. Rahib-rahib Yahudi adalah sekutu-sekutu mereka, dan tinggal bersama di negeri mereka. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi agenda pembicaraan di Madinah dan mereka membicarakan konflik yang terjadi antara beliau dengan orang-orang Quraisy, maka berkatalah Abu Qais bin Al-Aslat, saudara Bani Waqif (Syairnya secara lengkap dimuat di sub pembahasan Nasab Abu Qais bin As-Aslat.

Nasab Abu Qais bin As-Aslat
Ibnu Hisyam berkata, "Ibnu Ishaq menasabkan Abu Qais di sini kepada Bani Waqif, padahal nasabnya dalam hadits tentang gajah kepada Khathmah, karena di Arab bisa jadi seseorang menasabkan dirinya kepada nasab saudara kakeknya yang lebih terkenal."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa Al-Hakam adalah anak Amr Al-Ghifari dari anak keturunan Nu'ailah, saudara Ghifar yaitu Ghifar bin Mulail. Nu'ailah adalah anak Mulail bin Dzamrah bin Bakr bin Abdu Manat. Mereka berkata bahwa Utbah adalah anak Ghazwan As-Sulaim, padahal ia anak Mazin bin Mansur. Sulaim adalah anak Mansur.

Ibnu Hisyam berkata, "Jadi Abu Qais bin Al-Aslat berasal dari Bani Wail. Wail, Waqif, dan Khathmah adalah satu saudara dari Al-Aus."

Ibnu Ishaq berkata, "Abu Qais--yang mencintai Quraisy, mempunyai ikatan kekeluargaan dengan mereka, beristrikan Arnab binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, dan menetap di kalangan orang-orang Quraisy hingga bertahun-tahun bersama istrinya--mengucapkan syairnya. Dalam syairnya, Abu Qais bin Al-Aslat mendewa-dewakan kehormatan Quraisy, melarang Quraisy terlibat perang di Makkah, memerintahkan mereka menahan diri dari menyerang sebagian yang lain, mengingatkan kelebihan mereka dan mimpi-mimpi mereka, memerintahkan mereka menahan diri dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menjelaskan nikmat Allah pada mereka, dan perlindungan-Nya terhadap mereka dari pasukan gajah,
  • Hai pengembara, perlihatkan dan sampaikan
    Suratku kepada anak-anak Luai bin Ghalib
    Surat tersebut sebagai utusan dari orang yang mengkhawatirkan konflik kalian
    Dari jauh, ia sedih dan lelah karena memikirkannya
    Sungguh, aku lupa daratan jika sedih
    Oleh karenanya, aku tidak dapat memenuhi kebutuhanku
    Aku menjadikan kalian ke dalam dua kelompok
    Setiap kelompok mempunyai pendukung di antara penyulut api dan pencari kayu bakar
    Aku meminta perlindungan untuk kalian kepada Allah dari keburukan perbuatan kalian
=====================================================================================================
Halaman 237
  • Dan dari keburukan kekejaman kalian dan konflik kalian
    Memperlihatkan akhlak dan bisikan jahat
    Adalah seperti menembus lubang yang menyakitkan
    Ingatkan mereka kepada Allah sejak awal
    Keledai saja jika ia memasuki tanah haram Makkah, ia merasa aman
    Katakan pada mereka bahwa Allah pasti memberlakukan hukum-Nya
    Tinggalkan perang, kami pasti pergi dari kalian ke tempat-tempat yang luas
    Jika kalian melepaskan perang, maka kalian melepaskannya dalam keadaan hina
    Perang membinasakan orang-orang jauh dan orang-orang dekat
    Perang memutuskan sanak keluarga dan membunuh bangsa
    Perang memotong-motong tulang punggung dan melemahkan kalian
    Pada saat perang, kalian mengganti pakaian mewah dengan pakaian perang
    Kalian mengganti minyak kesturi dan kapur barus dengan baju besi
    Seolah-olah baju besi itu menjadi sebuah petaka
    Jagalah diri kalian dan janganlah kalian terperangkap dalam perang
    Janganlah kalian terjebak dalam kolam, danau dan aliran air
    Perang berdandan untuk orang-orang kemudian mereka melihatnya
    Ternyata dia seperti nenek yang lanjut usia
    Perang membakar orang lemah
    Dan mengusir orang-orang terhormat dengan membawa kematian yang tidak meleset ke orang lain
    Tidakkah kalian tahu apa yang terjadi di Perang Dahis, pikirkanlah!
    Atau apa yang terjadi di Perang Hathib?
    Betapa seringnya perang merugikan orang mulia yang ditokohkan
    Terhormat, dan tamunya tidak pernah merasa rugi
    Abu tungkunya besar, dan jasanya dipuji
    Ia mempunyai pembawaan yang bersih dan mulia
    Dan mempunyai air yang dituang di naungan
    Seolah-olah angin timur dan selatan memberitakan perihal dirinya
    Hari-hari perang akan diceritakan orang yang benar-benar berilmu kepada kalian
    Ilmu yang sesungguhnya ialah ilmu berdasarkan pengalaman
    Juallah tombak dan ingatlah kalian hari perhitungan kalian
    Karena Allah adalah sebaik-baik Penghitung
    Dia pemilik manusia kemudian memilih suatu agama
    Kalian Allah adalah sebaik-baik Penghitung
    Dia pemilik manusia kemudian memilh satu agama
    Kalian tidak mempunyai pengawas selain Pemilik bintang-bintang
    Kerjakan untuk kami agama yang lurus
    Kalian adalah tujuan bagi kami karena kalian telah mendapat petunjuk
====================================================================================================
Halaman 238
  • dengan seorang pemimpin
    Kalian bagi manusia lain adalah cahaya dan pelindung
    Kalian memimpin, sedang mimpi-mimpi itu tidak jauh
    Jika manusia mendapatkan permata
    Kalian adalah pusat saluran air dan orang-orang agung
    Kalian lindungi badan-badan yang mulia dan terhormat
    Nasabnya luhur dan tidak tercela
    Orang-orang miskin melihat rumah kalian
    Mereka kumpulkan orang-orang lapar yang berhasil mendapatkan orang dermawan
    Sungguh kaum-kaum itu telah mengetahui bahwa tokoh-tokoh kalian
    Dalam semua kondisi adalah manusia terbaik
    Pendapatnya paling mulia, dan sunnahnya paling agung
    Ucapannya paling benar di tengah-tengah manusia
    Oleh karena itu, berdirilah, berdoalah kepada Tuhan kalian
    Sentuhlah tiang-tiang Ka'bah di antara gunung-gunung Makkah
    Kalian mempunyai nikmat yang besar di Ka'bah
    Di pagi hari ketika Abu Yaksum (Abrahah) datang membawa pasukan
    Pasukannya ada di dataran rendah
    Dan pasukan pejalan kakinya di puncak gunung-gunung Makkah
    Ketika pertolongan dari Pemilik Arasy datang kepada kalian
    Mereka diusir tentara-tentara Allah
    Ada yang terbunuh karena badai dan karena terkena lemparan batu oleh burung
    Mereka lari kocar-kacir
    Dan tidak pulang kepada keluarganya, orang-orang Habasyah kecuali dalam keadaan dibalut
    Jika kalian mati, maka matilah kami, dan musim-musim haji yang selama ini dihidupkan di Makkah
    Ini adalah ucapan orang yang tidak bohong
Perang Dahis dan Al-Ghabra'
Ibnu Hisyam berkata, "Adapun ucapannya, 'Tidakkah kalian tahu apa yang terjadi di Perang Dahis?' Maka Abu ubaidah An-Nahwi berkata kepadaku bahwa Dahis adalah kuda milik Abs bin Zuhair bin Jadzimah bin Rawahah bin Rabi'ah bin Al-Harits bin Mazin bin Quthai'ah bin Abs bin Baghidz bin Farazah bin Dzubyan bin Baghidz bin Raits bin Ghathafan. Kuda Hudzaifah tersebut bernama Al-Ghabra'. Dalam perlombaan tersebut, Hudzaifah menyelinap kepada kaum, dan menyuruh mereka memukul wajah kuda Dahis jika mereka melihatnya tiba lebih awal. Kuda Dahis tiba lebih...
======================================================================================================
Halaman 239

...cepat, kemudian mereka memukul wajahnya. Sedang kuda Al-Ghabra' datang belakangan. Ketika penunggang kuda Dahis telah tiba, ia memberi tahu Qais tentang kejadian yang menimpa kuda Dahis. Mendengar informasi tersebut, saudara Qais, Malik bin Zuhair bangkit dan memukul wajah kuda Al-Ghabra'. Pada saat yang sama Hamal bin Badr berdiri lalu memukul Malik. Seseorang dari Bani Fazarah bertemu dengan Malik kemudian membunuhnya. Hamal bin Badr, saudara Huddzaifah bin Badr berkata,
  • Kita bunuh Malik dengan Auf
    Itulah pembalasan kami
    Jika kalian meminta selain kebenaran kepada kami, mereka menyesal
Syair di atas adalah sebagian dari syair-syair Hamal bin Badr.
Ar-Rabi' bin Ziyad Al-Absi berkata,
  • Apakah setelah terbunuhnya Malik bin Zuhair
    Maka para wanita mengharapkan hasil akhir yang suci?
Bait di atas ialah sebagian dari syair-syair Ar-Rabi' bin Ziyad.
Perang pun meledak antara Abs melawan Farah. Pada perang tersebut, Hudzaifah bin Badr dan saudaranya, Hamal bin Badr tewas. Qais bin Zuhair bin Jadzimah berkata mengungkapkan kesedihannya atas kematian Hudzaifah,
  • Betapa banyak jagoan dipanggil sebagai jagoan, padahal ia bukan jagoan
    Di Al-Haba'ah terdapat jagoan yang sudah terbukti kedigdayaannya
    Oleh karena itu, tangisilah Hudzaifah, karena kalian tidak akan diberi orang seperti dia
Bait di atas adalah potongan dari syair-syair Qais bin Zuhair.
Qais bin Zuhair juga berkata,
  • Sesungguhnya anak muda Hamal bin Badr telah berbuat dzalim
    Dan akibat kedzaliman ialah kebinasaan
Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syair Qais bin Zuhair
Al-Harts bin Zuhair, saudara Qais bin Zuhair berkata,
  • Bukan kebanggaan yang aku tinggalkan di Al-Haba'ah
    Di sana Hudzaifah terluka karena tombak
Bait syair tersebut ialah penggalan dari syair-syair Al-Harts bin Zuhair."
Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Qais mengirim kuda Dahis dan kuda Al-Ghabra', sedang Hudzaifah mengirim kuda Al-Khaththar dan kuda Al-Hanfa'. Namun hadits pertama lebih benar. Hadits tersebut sangat panjang dan saya tidak ingin memutus hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."
===================================================================================================
Halaman 240

Perang Hathib
Ibnu Hisyam berkata, "Adapun ucapannya, 'Perang Hathib,' maka yang dimaksud adalah Hathib bin Al-Harts bin Qais bin Haisyah bin Al-Harts bin Umaiyyah bin Muawiyyah bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus. Hathib bin Al-Harts membunuh orang Yahudi yang bertetanggaan denga Al-Khazraj. Kemudian pada suatu malam, Hathib bin Al-Harts ditemui Yazid bin Al-Harts bin Qais bin Malik bin Ahmar bin Haritsah bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harts bin Al-Khazraj yang biasa dipanggil Ibnu Fushum (Fushum adalah ibunya yang berasal dari kabilah Al-Qain bin Jasr) dengan beberapa orang dari Bani Al-Harts bin Al-Khazrah lalu mereka membunuh Hathib bin Al-Harts. Perang meledak antara Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka berperang dengan sengit dan di akhir perang kemenangan diraih Al-Khazraj atas Al-Aus. Pada perang tersebut, Suwaid bin Shamit bin Khalid bin Athiyyah bin Hauth bin Habib bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus terbunuh. Ia dibunuh Al-Mujadzdzir bin Dzayyad Al-Balwi yang nama aslinya Abdullah bin Dzayyad Al-Balwi, sekutu Bani Auf bin Khazraj. Pada perang Uhud, Al-Mujadzdzir bin Dzayyad keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Al-Harts bin Suwaid bin Shamit juga ikut Perang Uhud. Ketika Al-Harts bin Suwaid melihat Al-Mujadzdzir lengah, ia membunuhnya sebagai pembalasan atas kematian ayahnya. Pembahasan hal ini akan saya ketengahkan pada tempatnya, insya Allah.

Perang meledak lagi di antara mereka, namun saya tidak mengetangahkannya, karena pemaparan Perang Dahis sudh cukup mewakilinya."

Syair Kecaman Hakim bin Umaiyyah kepada Kaumnya karena Memusuhi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata, "Hakim bin Umaiyyah bin Haritsah Al-Auqash Al-Sulami, sekutu Bani Umaiyyah yang telah masuk Islam berkata tentang kesepakatan kaumnya untuk memusuhi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--ia orang terhormat dan ditaati kaumnya,
  • Apakah orang yang mengatakan kebenaran itu berdiri di atas kebenaran?
    Apakah orang yang marah karena petunjuk itu mendengar?
    Apakah seorang pemimpin yang manfaatnya diharapkan keluarganya
    Yang jauh dan dekat itu bisa mempersatukan?
    Aku lepas tangan kecuali kepada Wajah Dzat yang mempunyai angin
    Aku tinggalkan kalian, selam masih ada orang yang menurunkan timbanya ke dalam sumur
    Aku serahkan wajahku dan lidahku kepada Tuhan
    Kendati aku mendapatkan serangan dari sahabat
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Sun May 09, 2010 2:12 pm, edited 9 times in total.

User avatar
betdaniel99
Posts: 2374
Joined: Thu May 22, 2008 9:55 pm

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Post by betdaniel99 »

Numpang absen kelas ya, bang...

Syukron & Salaam.

Post Reply