.

SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Pembahasan tentang buku² Islam yang tersedia di berbagai toko buku di Indonesia. Isi buku² ini membenarkan penjelasan FFIndonesia tentang wajah Islam dan ajaran Muhammad yang sebenarnya.

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Mon Jun 14, 2010 8:56 pm

Halaman 561
BAB 105
TANGGAL HIJRAH


Berdasarkan sanad terdahulu dari Abdul Malik bin Hisyam yang berkata bahwa Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepadaku dari Abdullah bin Ishaq Al-Muthallibi yang berkata,

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah pada hari Senin ketika di akhir waktu dhuha, ketika matahari sedang tidak terlalu panas, tanggal 12 Rabiul Awwal. Itulah tanggal hijrah beliau seperti dikatakan Ibnu Hisyam."

Masa Tinggal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah tanpa Perang

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusia 53 tahun, tiga belas tahun setelah Allah mengutus beliau sebagai Nabi dan Rasul. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah pada sisa bulan Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawawal, Dzul Qa'dah, dan Dzul Hijjah. Pada bulan-bulan tersebut, dan bulan Muharram tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak terlibat perang dengan orang-orang musyrik.

Pada bulan Shafar tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk berperang, tepatnya dua belas bulan sejak kedatangan beliau di Madinah."

Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Sa'ad bin Ubadah sebagai pengganti beliau selama beliau pergi perang."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Mon Jun 14, 2010 9:05 pm

Halaman 106
BAB 106
PERANG WADDAN


Ibnu Hisyam berkata, "Perang Waddan adalah perang pertama yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah hingga tiba di Waddan. Perang Waddan adalah Perang Al-Abwa'. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berniat menyerang orang-orang Quraisy dan Bani Dzamrah bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah, namun beliau berdamai dengan Bani Dzamrah di Al-Abwa' tersebutt. Dalam perdamaian tersebut, Bani Dzmrah diwakili salah seorang dari mereka, yaitu Makhsyi bin Amr Adz-Dzamrah. Ia pemimpin Bani Dzamrah pada zamannya. Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan tidak mendapatkan perlawanan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah hingga akhir bulan Shafar dan awal bulan Rabiul Awwal."

Ibnu Hisyam berkata, "Perang Waddan adalah perang pertama kali yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Tue Jun 15, 2010 8:27 pm

Halaman 563
BAB 107
SARIYYAH (EKSPEDISI PERANG) UBAIDAH BIN AL-HARITS

Sariyyah (ekspedisi perang) Ubaidillah bin Al-Harits adalah panji pertama yang diangkat Islam.

Ibnu Ishaq berakta, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushai bersama enam puluh atau delapan puluh personel dari kaum Muhajirin, dan tidak menyertakan satu personel pun dari kaum Anshar. Ubaidah bin Al-Harits beserta pasukannya keluar dari Madinah hingga tiba di mata air di Hijaz di bawah Tsaniyyatul Marah. Di sana, Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya bertemu dengan banyak sekali orang-orang Quraisy, namun perang tidak meledak di antara mereka. Hanya saja ketika itu, Sa'ad bin Abu Waqqash melesatkan anak panahnya. Itulah anak panah pertama yang dilesatkan di dalam Islam. Kemudian kedua belah pihak meninggalkan yang lain, dan ketika itu kaum Muslimin sudah mempunyai keberanian yang luar biasa."

Tentara-tentara Kum Musyrikin Yang Lemah Melakukan Disersi ke Madinah

Ibnu Ishaq berkata, "Di antara kaum musyrikin yang melakukan disersi kepada kaum Muslimin ialah Al-Miqdad bin Amr Al-Bahrani sekutu Bani Zuhrah, dan Utbah bin Ghazwan bin Jabir Al-Mazini sekutu Bani Naufal bin Abdu Manaf. Keduanya telah masuk Islam, namun keduanya keluar membantu orang-orang kafir. Pada perang tersebut, orang-orang kafir dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Ibnu Abu Amr bin Al-Ala' berkata kepadaku dari Abu Amr Al-Madani yang berkata, "Ketika itu orang-orang kafir dipimpin Mikraz bin Hafsah bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani Ma'ish bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr."

Syair Yang Diatasnamakan kepada Abu Bakar Radhiyallahu Anhu

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Abu Bakar mengucapkan syair tentang sariyyah (ekspedisi perang) Ubaidah bin Al-Harits tersebut."
========================================================================================================
Halaman 564

Ibnu Hisyam berkata, "Sebagian besar pakar syair menolak mengatasnamakan syair tersebut kepada Abu Bakar."

Ibnu Hisyam berkata, "Syair-syair tersebut adalah sebagai berikut:
    Apakah engkau tercengang kepada mimpi Salma di tanah lapang lumpur yang lembek
    Padahal telah terjadi sesuatu di sanak kerabat?
    Engkau saksikan perpecahan pada Bani lUai
    Perpecahan tersebut tidak dapat dihentikan oleh peringatan, dan kebangkitan sang pembangkit
    Rasul yang benar telah datang kepada mereka, namun mereka mendustakan beliau
    Dan berkata, 'Engkau tidak tinggal di tempat kami.'
    Jika kami ajak mereka kepada kebenaran, mereka membelakangi,
    Dan meloncat seperti loncatan wanita-wanita yang mencari perlindungan, dan wanita-wanita yang terenggah-enggah karena terlalu cepat loncatannya
    Betapa seringnya kami memajang hubungan kekerabatan pada mereka
    Bagi mereka, meninggalkan ketakwaan adalah sesuatu yang tidak menyedihkan
    Jika mereka kembali dari kekafiran mereka, dan kedurhakaan mereka,
    Sesungguhnya hal-hal yang halal itu tidak sama dengan hal-hal yang buruk
    Jika mereka mempertahankan kedzaliman mereka, dan kesesatan mereka,
    Maka siksa Allah tidak akan terlambat datang kepada mereka
    Kami orang-orang yang paling mulia di Ghalib
    Kami mempunyai kejayaan di dalamnya di daerah-daerahnya yang bersatu
    Jika mereka tidak segera sadar dari kesesatan mereka,
    Maka serangan kuat akan datang ke tempat mereka
    Yang mengharamkan wanita-wanita suci yang haid
    Serangan tersebut meninggalkan korban-korban dikerubuti burung-burung
    Serangan tersebut juga tidak belas kasihan terhadap orang-orang kafir sebagaimana belas kasihannya Ibnu Harits
    Katakanlah keapda Bani Sahm, bahwa kalian mempunyai surat
    Dan semua orang kafir itu mencari keburukan
    Jika kalian merusak kehormatanku karena kesalahan pendapat kalian
    Sesungguhnya aku tidak akan merusak kehormatan kalian.'
========================================================================================================
Halaman 565

Syair Abu Bakar di atas dijawab Abdullah bin Az-Ziba'ra. Abdullah bin Az-Ziba'ra berkata,
    Apakah karena rumah yang tidak didiami di Al-Atsa'is
    Engkau menangis dengan mata yang air matanya tidak pernah berhenti
    Di antara kehebatan hari-hari, dan semua zaman itu mempunyai kehebatan
    Yaitu pasukan tangguh yang datang ke tempat kami
    Yang dipimpin Ubaidah yang biasa dipanggil Ibnu Harits di medan perang
    Agar kita meninggalkan berhala-berhala tetap di Makkah
    Berhala-berhala tersebut warisan yang diwariskan orang mulia kepada orang mulia
    Ketika kami bertemu dengan mereka dengan tombak buatan Rudainah,
    Dengan pedang dan sepertinya di tengah-tengahnya terdapat garam
    Pedang-pedang tersebut di tangan para pemberani seperti singa-singa perusak
    Dengan pedang-pedang tersebut, kami luruskan kemiringan orang yang miring
    Dan kami obat balas dendam dengan segera tanpa ditunda-tunda
    Mereka menahan diri karena ketakutan
    Dan mereka dibuat terperangah oleh sesuatu dan mereka mempunyai sesuatu yang lamban
    Jika mereka tidak melakukan itu (tidak menahan diri),
    Maka wanita-wanita hamil dan haid akan meratapi anak-anak yatim
    Sungguh para korban perang dibiarkan
    Hal ini dijelaskan oleh orang-orang penyambut mereka
    Katakan kepada Abu Bakar, bahwa engkau mempunyai surat
    Engkau tidak pernah mendiami kehormatan Bani Fihr
Ibnu Ishaq berkata, "Sa'ad bin Abu Waqqas berkata tentang panah yang ia lemparkan,
    Ketahuilah, apakah Rasulallah mendengar
    Bahwa aku melindungi sahabat-sahabattku dengan anak-anak panahku?
    Dengan anak-anak panah tersebut,aku lindungi orang-orang terdepan mereka
    Di tempat-tempat yang sulit dan di daratan
    Sebelumku, tidak ada pemanah yang mengarahkan panahnya kepada musuhnya, wahai Rasulullah
    Itu karena agamamu adalah agama yang jujur
    Dan karena engkau membawa kebenaran dan keadilan
    Dengan agama tersebut, orang-orang Mukmin diselamatkan, dan orang-orang kafir dihinakan
========================================================================================================
Halaman 566

    Tenanglah, engkau telah tersesat, maka jangan mencelaku, hai Abu Jahal
Ibnu Hisyam berkata, "Mayoritas pakar syair menolak mengatasnamakan syair di atas kepada Sa'ad bin Abu Waqqash."
Ibnu Ishaq berkata, "--Seperti dikatakan kepadaku--, bahwa panji Ubaidah bin Al-Harits adalah panji pertama yang diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam Islam kepada salah seorang dari kaum Muslimin."

Ibnu Ishaq berkata, "Sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya ketika beliau pulang dari Perang Al-Abwa', dan tiba di Madinah."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Tue Jun 15, 2010 10:31 pm

Halaman 567
BAB 108
SARIYYAH (EKSPEDISI PERANG) HAMZAH BIN ABDUL MUTHTHALIB KEPADA DAERAH PANTAI

Ibnu Ishaq berkata, "Pada saat yang sama, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengirimkan Hamzah bin Abdullah bin Hasyim dengan dengan membawa tiga puluh orang dari kaum Mujahirin ke Siful Bahri di daerah Al-Ish dan tidak ada satu pun orang kaum Anshar yang ikut dalam ekspedisi perang Hamzah bin Abdul Muththalib. Di daerah pantai tersebut, Hamzah bin Abdul Muththalib, dan pasukannya bertemu dengan Abu Jahal dengan tiga ratus personel orang-orang Makkah. Kemudian kedua belah pihak di tengah-tengah Majdi bin Amr al-Juhani. Dialah yang mendamaikan kaum Muslimin dan kaum musyrikin. Kemudian kedua belah pihak pulang ke tempatnya masing-masing dan tidak terjadi perang antara mereka.

Sebagian ulama berkata bahwa panji Hamzah bin Abdul Muththalib adalah panji pertama yang diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada salah seorang dari kaum Muslimin. Ini karena masa pengiriman sariyyah (ekspedisi perang) Hamzah bin Abdul Muththalib, dan sariyyah (ekspedisi perang) Ubaidah bin Al-Harts terjadi secara bersamaan. Oleh karena itu, banyak manusia menjadi bingung dalam hal ini.

Sebagian ulama berkata bahwa Hamzah bin Abdul Muththalib mengucapkan syair-syairnya. Dalam syair-syairnya, ia berkata, bahwa panjinya adalah panji pertama yang diserahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jika Hamzah bin Abdul Muththalib berkata seperti itu, ia berkata benar insya Allah, dan ia tidak mungkin berkata bohong. Wallahu a'lam mana yang benar dalam hal ini.

Adapun yang kami dengar dari para ulama kami, maka Ubaidah bin Al Harits adalah orang pertama yang diberi panji perang, kemudian Hamzah bin Abdul Muththalib berkata tentang hal ini menurut ulama tersebut."

Ibnu Hisyam berkata, "Sebagian besar para pakar syair menolak mengatasnamakan syair-syair tersebut kepada Hamzah bin Abdul Muththalib."

Syair-syair Hamzah bin Abdul Muththalib tersebut adalah sebagai berikut:
    Ketahuilah, duhai kaumku, karena khayal, kebodohan, dan kekurangan
    pendapat dan akal para pemimpin-pemimpinnya
========================================================================================================
Halaman 568

    Seperti kami memusuhi mereka, padahal kami tidak mempunyai permusuhan dengan mereka
    Selain kesucian dan keadilan
    Serta Islam yang tidak mereka terima
    Tidak lama kemudian, aku datang kepada mereka dengan serangan karena aku mencari karunia besar
    Karena perintah Rasulullah dengan membawa panji pertama yang tidak pernah diberikan kepada orang lain sebelumku
    Di panji tersebut terdapat pertolongan dari Dzat Pemilik kemuliaan
    Tuhan Yang Mahaperkasa di mana perbuatan-Nya adalah perbuatan terbaik
    Pada sore hari, mereka bersatu berangkat,
    Sedang kami, periuk kami mendidih karena kemarahan para pemiliknya
    Ketika kami saling melihat, maka mereka berhenti, kemudian mengikat hewan-hewan mereka
    Kami katakan kepada mereka, 'Tali Allah adalah penolong kami
    Sedang tali kalian adalah kesesatan.'
    Di sana, Abu Jahal bangkiit dengan pongah,
    Kemudian merugi dan Allah mengagalkan tipu daya Abu Jahal
    Ketika itu, kami hanya berjumlah tiga puluh orang
    Sedang mereka berjumlah dua ratus satu
    Hai Bani Luai, janganlah kalian mentaati orang sesat kalian
    Kembalilah kalian kepada Islam dan jalan yang lurus!
    Sesungguhnya aku khawatir siksa akan diturunkan kepada kalian,
    Kemudian kalian menyesal dan mati
Syair di atas dijawab oleh Abu Jahal,
    Aku merasa heran terhadap sebab-sebab kemarahan dan kebodohan
    Aku merasa heran terhadap para perusak yang menimbulkan persengketaan dan kebatilan
    Aku merasa heran terhadap orang-orang yagn meninggalkan apa yang kami dapatkan dari nenek moyang kami
    Nenek moyang kami bernasab mulia dan terhormat
    Mereka (kaum Muslimin) datang kepada kami dengan membawa kebohongan untuk menyesatkan akal kami
    Kebohongan mereka tidak akan bisa menyesatkan akal orang yang berakal
    Kami katakan kepada mereka, 'Hai kaum kami, kalian jangan menentang kaum kalian,
    Karena sesungguhnya pertentangan itu adalah kebodohan
    Jika kalian tidak mau berhenti, maka wanita-wanita memanggil anak-anak unta mereka untuk membawa musibah dan kematian
========================================================================================================
Halaman 569

    Jika kalian kembali (berhenti) dari perbuatan kalian,
    Maka sesungguhnya kami adalah anak-anak paman kalian, pemilik kemuliaan dan kehormatan.'
    Mereka berkata kepada kami, 'Sesungguhnya kami dapati Muhammad meridhai orang-orang yang bermimpi dan berakal dari kalangan kami.'
    Karena mereka tidak menginginkan selain pertentangan,
    Dan mereka menghiasi persoalan dengan tindakan yang buruk,
    Maka aku mendatangi mereka di pantai dengan serangan
    Aku pasti tinggalkan mereka seperti daun yang berguguran dan tidak mempunyai akar
    Kemudian aku dilarang Majdi dan sahabat-sahabatku untuk berhadapan mereka
    Dan sebelumnya mereka membantuku dengan pedang-pedang dan anak-anak panah
    Kerena perjanjian di antara kami, dan karena kewajiban yang tidak boleh kami sia-siakan
    Juga karena orang terpercaya yang kuat, dan tidak pernah melanggar janjinya
    Jika aku tidak dilarang ibnu Amr, aku pasti tinggalkan mereka
    Sebagai santapan burung-burung
    Namu ia komitmen dengan janjinya,
    Kemudian ketajaman pedang membuat kami membatalkan sumpah kami
    Jika hari-hari masih menyisakanku, aku akan kembali kepada mereka
    Dengan membawa pedang-pedang yang tajam
    Di tangan para pembela dari Bani Luai bin Ghalib
    Perbuatan mereka mulia di saat paceklik, dan saat-saat kelaparan

Ibnu Hisyam berkata, "Sebagian besar pakar syair menolak mengatasnamakan syair-syair di atas kepada Abu Jahal--semoga Allah mengutuknya."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Tue Jun 15, 2010 10:35 pm

Halaman 570
BAB 109
PERANG BUWATH

Ibnu Ishaq berkata, "Pada bulan Rabiul Awwal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah untuk memerangi orang-orang Quraisy."

Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk As-Saib bin Utsman bin Madz'un sebagai pemimpin sementara di Madinah."

Ibnu Ishaq berkata, "Tiba di Buwath, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan pulang ke Madinah, karena tidak mendapatkan perlawanan. Beliau menetap di Madinah pada sisa bulan Rabiul Awwal, dan sebagian bulan Jumadil Ula."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Tue Jun 15, 2010 11:03 pm

Halaman 571
BAB 110
PERANG AL-USYAIRAH

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat untuk memerangi orang-orang Quraisy, dan menunjuk Abu Salamah bin Abdul Asad sebagai pemimpin sementara di Madinah seperti dikatakan Ibnu Hisyam."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati gunung Bani Dinar, kemudian melewati Faifa', dan Al-Khabar. Beliau berhenti di bawah pohon Batha' bin Azhar yang bernama Dzatu As-Saaq, dan beliau shalat di sana. Kemudian masjid dibangun untuk beliau, makanan dibuat untuk beliau, kemudian beliau dan sahabat-sahabat beliau memakannya. Tempat tungku dapur beliau masih ada di sana, dan beliau diberi air minum dari Mata Air Al-Musytarib.

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meneruskan perjalanannya. Beliau tidak belok ke kiri ke Al-Khalaiq, dan berjalan melewati Bukit Abdullah. Itulah nama bukit tersebut ketika itu. Kemudian beliau menuruni Yasar, dan menuruni Yalyal. Beliau berhenti di perkampungan Yalyal, dan perkampungan Adh-Dhabu'ah. Beliau diambilkan air dari sumur di Adh-Dhabu'ah. Kemudian beliau berjalan melewati dataran Malal, hingga bertemu degnan jalan di Shukhairat Al-Yaman, kemudian berjalan lurus dan berhenti di Al-Usyairah, salah satu kabilah di Yanbu'. Beliau berada di sana selama bulan Jumadil Ula, dan beberapa malam bulan Jumadil Akhir. Di sana, beliau berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutu-sekutu mereka dari Bani Dhamrah. Setelelah itu, beliau pulang ke Madinah tanpa mendapatkan perlawanan. Pada perang tersebut, beliau mengucapkan sesuatu kepada Ali bin Abu Thalib."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Yazid bin Muhammad bin Khaitsam Al-Muharibi berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-Quradzi dari Muhammad bin Khaitsam abu Yazid dari Ammar bin Yasir yang berkata, "Aku dan Ali bin Abu Thalib adalah dua sahabat karib di Perang Al-Usyairah dan menetap di sana, kami melihat banyak sekali orang Bani Mudlij berkerja di mata air dan kebun kurma mereka. Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku, 'Wahai Abu Al-Yaqdzan, bagaimana pendapatmu kalau kita pergi ke tempat orang-orang tersebut, agar bisa melihat apa yang mereka kerjakan?' Aku...
========================================================================================================
Halaman 572

...menjawab, 'Kalau engkau mau, silahkan pergi ke sana!' Kami pergi ke tempat orang-orang tersebut untuk melihat pekerjaan mereka selama satu jam hingga kami ngantuk. Kemudian aku dan Ali bin Abu Thalib pergi, dan tidur di bawah pohon anak kurma di tempat yang tanahnya lembek. Demi Allah, kami tidur hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membangunkan kami. Beliau menggerak-gerakkan kami dengan kaki kiri beliau, sedang kami blepotan dengan tanah tempat tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, 'Apa yang terjadi pada dirimu, hai Bapak Tanah?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu karena melihat Ali bin Abu Thalib blepotan dengan tanah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Maukah kalian berdua aku beritahu tentang dua orang yang paling celaka?' Kami berdua menjawab, 'Ya, mau. wahai Rasulullah.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Dua orang yang paling celaka ialah Uhaimir Tsamud yang telah menyembelih unta, dan orang yang memukul tengkukmu wahai Ali--Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu sambil memegang tengkuk Ali bin Abu Thalib--, hingga ini basah--Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu sambil memegang jenggot Ali bin Abu Thalib'."

Ibnu Ishaq berkata sebagian ulama berkata kepadaku, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menggelari Ali bin Abu Thalib dengan nama Bapak Tanah, karena jika Ali bin Abu Thalib marah kepada Fathimah karena satu hal, ia tidak meneruskan marahnya, dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak berkenan di hati Fathimah. Sebagai gantinya, ia mengambil tanah, kemudian ia meletakkannya di atas kepalanya. Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat tanah di atas kepala Ali bin Abu Thalib, beliau mengetahui bahwa Ali bin Abu Thalib sedang marah kepada Fathimah, kemudian beliau bersabda, "Apa yang terjadi denganmu, wahai Bapak Tanah?" Wallahu a'lam, mana yang benar dalam hal ini.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Tue Jun 15, 2010 11:09 pm

Halaman 573
BAB 111
SARIYYAH (EKSPEDISI PERANG) SA'AD BIN ABU WAQQASH

Ibnu Ishaq berkata, "Di sela-sela waktu tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Sa'ad bin Abu Waqqash dengan pasukannya yang terdiri dari delapan orang dari kaum Muhajirin. Sa'ad bin Abu Waqqas dan pasukannya berangkat hingga tiba di Al-Kharrar di Hijaz, kemudian pulang ke Madinah tanpa mendapatkan perlawanan."

Ibnu Hisyam berkata, "Sebagian ulama menyebutkan bahwa pengiriman pasukan Sa'ad bin Abu Waqqas terjadi setelah pengiriman pasukan Hamzah bin Abdul Muththalib."


---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Tue Jun 15, 2010 11:16 pm

Halaman 574
BAB 112
PERANG SAFAWAN

Perang Safawan dinamakan Perang Badar pertama.

Ibnu Ishaq berkata, "Belum genap sepuluh malam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah dari Perang Al-Usyairah, ternyata Kurzu bin Jabir Al-Fihri menyerang sekawanan hewan ternak Madinah, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai wakilnya di Madinah seperti dikatakan Ibnu Hisyam."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri hingga tiba di lembah Safwan dari arah Badar. Kurzu bin Jabir Al-Fihri lolos dari kejaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak berhasil menangkapnya. Itulah Perang Badar pertama.

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah, dan menetap di dalamnya selama sisa bulan Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 16, 2010 6:55 pm

Halaman 575
BAB 113
SARIYAH (EKSPEDISI PERANG) ABDULLAH BIN JAHSY DAN TURUNNYA AYAT, "MEREKA BERTANYA KEPADAMU TENTANG BERPERANG DI BULAN-BULAN HARAM"

Ibnu Ishaq berkata, "Pada bulan Rajab, setelah kepulangannya dari Perang Badar Pertama, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin Jahsy bin Riab Al-Asadi dengan membawa pasukan yang terdiri dari delapan personel dari kaum Muhajirin dan tidak ada seorang pun dari kaum Anshar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menulis surat untuk Abdullah bin Jahsy dan memerintahkannya tidak membukanya kecuali setelahberjalan dua hari. Setelah berjalan dua hari, Abdullah bin Jahsy harus membukanya, melaksanakan perintah beliau di surat tersebut, dan tidak mamaksa seorang pun dari sahabat-sahabatnya.

Sahabat-sahabat Abdullah bin Jahsy dari kaum Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Hudzalah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams.

Dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abdullah bin Jahsy yang menjadi komando mereka, dan Ukkasyah bin Milshan bin Hurtsan sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf dari Bani Asad bin Khuzaimah.

Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf ialah Utbah bin Ghazwan bin Jabir sekutu mereka.

Dari Bani Zuhrah bin Kilab ialah Sa'ad bin Abu Waqqash.

Dari Bani Adi bin Ka'ab ialah Amir bin Rabi'ah sekutu mereka dari Anz bin Wail, Waqid bin Abdullah bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' salah seorang dari Bani Tamin sekutu mereka, Khalid bin Al-Bukair salah seorang dari Bani Sa'ad bin Laits sekutu mereka.

Dan dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Suhail bin Baidha'.

Sesudah berjalan dua hari, Abdullah bin Jahsy membukan surat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Surat tersebut berbunyi, 'Setelah engkau membaca suratku ini, hendaklah engkau berjalan hingga engkau berhenti di kurma antara Makkah dengan Thaif. Intailah orang-orang Quraisy di sana, kemudian laporkan kepadaku informasi tentang mereka! Setelah membuka dan...
(JGA: Sebelum melakukan penyerangan, terlebih dahulu situasi musuh dicari informasinya melalui kegiatan pengintaian oleh orang-orang tertentu yang dirahasiakan. Lihat buktinya dari surat yang ditulis Muhammad yang tidak boleh diketahui siapa pun kecuali si pembawa surat. Hasilnya dilaporkan secara tersembunyi pula. Anehnya Muhammad sering sesumbar mengatakan bahwa ia mampu mengetahui peta kekuatan musuh secara gaib yang diakui diwahyukan Allah Swt....heeh rahasianya sedikit diungkap oleh Ibnu Ishaq nih!) :green:
========================================================================================================
Halaman 576

...membawa surat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut, Abdullah bin Jahsy berkata, 'Aku dengar dan patuh.' Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkanku berjalan menuju kurma untuk mengintai orang-orang Quraisy kemudian melaporkan informasi tentang mereka kepada beliau. Beliau melarangku memaksa seorang pun dari kalian. Barangsiapa di antara kalian ingin mati syahid, dan tertarik kepadanya, :lol: silakan ia tetap ikut aku. Barangsiapa tidak ingin mati syahid, silakan ia kembali ke Madinah. Adapun aku, tetap akan melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.'

Abdullah bin Jahsy dan sahabat-sahabatnya meneruskan perjalanan mereka, dan tidak ada satu pun dari mereka yang pulang ke Madinah. Mereka berjalan melewati Hijaz. Ketika mereka berada di Bahran, tiba-tiba unta Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan hilang. Unta tersebut telah keduanya ikat. :rolleyes: Akibatnya keduanya tertinggal dari pasukan Abdullah bin Jahsy karena mencari untanya.

Abdullah bin Jahsy dan sisa-sisa sahabatnya tetap berjalan hingga tiba di kurma yang dimaksud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tidak lama kemudian kafilah dagang Quraisy yang membawa anggur kering, kulit, dan komoditi orang-orang Quraisy melewati kurma tersebut. Di kafilah dagang tersebut terdapat Amr bin Al-Hadhrami, Utsman bin Abdullah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, saudara Utsman yang bernama Naufal bin Abdullah Al-Makhzumi, dan Al-Hakam bin Kaisan mantan budak Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, saudara Utsman yang bernama Naufal bin Abdullah Al-Makhzumi, dan Al-Hakam bin Kaisan mantan budak Hisyam bin Al-Mughirah. Ketika Kafilah dagang Quraisy tersebut dilihat pasukan Abdullah bin Jahsy, mereka ketakutan, karena mereka berhenti di tempat yang berdekatan dengan pasukan Abdullah bin Jahsy. Kemudian Ukkasyah bin Mihsyan yang telah mencukur rambutnya mendekat kepada kafilah dagang Quraisy tersebut. Ketika mereka melihat Ukkasyah bin Mihshan, mereka merasa aman. Mereka berkata, 'Ini dia Ummar (nama lain Ukkasyah bin Mihshan). Kalian tidak usah takut kepada mereka.' Pada saat yang sama, pasukan Abdullah bin Jahsy bermusyawarah sesama mereka membahas kafilah dagang Quraisy tersebut. Ini terjadi pada akhir bulan Rajab. Pasukan Abdullah bin Jahsy berkata, 'Demi Allah, jika malam ini kalian biarkan kafilah dagang Quraisy tersebut, mereka pasti akan memasuki Al-Haram, kemudian mereka berlindung dari kalian di sana. Jika kalian membunuh mereka, kalian membunuh mereka di bulan-bulan haram.' Pasukan Abdullah bin Jahsy pun bimbang. Namun akhirnya mereka memutuskan menyerang kafilah dagang Quraisy tersebut. Mereka bakar semangat diri mereka untuk menghadapi kafilah dagang Quraisy. Mereka sepakat untuk membunuh siapa saja dari kafilah dagang Quraisy tersebut yang bisa mereka bunuh, dan mengambil apa saja yang bisa diambil dari mereka. Kemudian Waqid bin Abdullah At-Tamimi melepaskan anak panahnya ke arah Amr bin Al-Hadhrami dan berhasil membunuhnya. Pasukan Abdullah bin Jahsy juga berhasil menawan Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam...
========================================================================================================
Halaman 577

...bin Kalsan. Sedang Naufal bin Abdullah, ia berhasil lolos dan pasukan Abdullah bin Jahsy tidak bisa menangkapnya. Kemudian Abdullah bin Jahsy dan pasukannya pulang membawa unta dan dua tawanan hingga mereka tiba di Madinah bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Salah seorang dari keluarga Abdullah bin Jahsy menyebutkan bahwa Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai hak seperlima dari rampasan perang yang kita peroleh.' Itu terjadi ketika Allah Ta'ala belum mewajibkan seperlima terhadap rampasan perang mereka. Abdullah bin Jahsy menyisihkan bagian seperlima untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan membagi sisanya kepada sahabat-sahabatnya."

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika pasukan Abdullah bin Jahsy menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda kepada mereka, 'Aku tidak menyuruh kalian membunuh mereka di bulan haram.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menahan unta dan kedua tawanan tersebut. Beliau tidak mau mengambil sedikit pun daripadanya. :lol: Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu, pasukan Abdullah bin Jahsy menyesali perbuatan mereka, dan mereka yakin akan dibunuh. (JGA: kenyataannya apakah pasukan tersebut dihukum karena melanggar status bulan haram? Kagak tuh...!) Saudara-saudara mereka dari kaum Muslimin juga mengecam keras tindakan mereka. Di tempat lain, orang-orang Quraisy berkata, 'Muhammad dan sahabat-sahabatnya telah menghalalkan bulan haram, menumpahkan darah di bulan haram, merampas harta di bulan haram, dan menawan orang-orang di bulan haram.' Beberapa orang dari kaum Muslimin di Makkah menyerang balik pernyataan orang-orang Quraisy tersebut,'Sesungguhnya mereka (pasukan Abdullah bin Jahsy) membalas atas apa yang mereka alami di bulan Sya'ban.' :shock: (JGA: Tuh..apa gw bilang. perang muhammad salah satunya bermotif balas dendanm.) Orang-orang Yahudi berkata, 'Amr bin Al-Hadhrami ialah telah dibunuh Waqid bin Abdullah. Amr ialah meramaikan perang. Al-Hadhrami ialah orang yang terlibat perang. Dan Waqid ialah orang yang menyalakan perang.' Ketika orang-orang banyak bicara tentang kasus ini, Allah menurunkan ayat-Nya kepada Rasul-Nya,
    'Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, 'Berperang di bulan itu dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah.' (Al-Baqarah: 217).
========================================================================================================
Halaman 578

Maksudnya, jika kalian telah membunuh di bulan haram, sesungguhnya mereka (orang-orang Quraisy) telah menghalang-halangi kalian dari jalan Allah, kafir kepada Allah, melarang kalian dari Masjidil Haram, dan mengusir kalian daripadanya, padahal kalian orang yang paling berhak atas Masjidil Haram. Perbuatan mereka itu lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan kalian terhadap salah seorang dari mereka.
    'Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh.' (Al-Baqarah: 217).
Maksudnya, mereka telah menyiksa orang Muslim karena agamanya, karena mereka ingin mengeluarkan orang Muslim dari agamanya setelah ia beriman kepadanya. Itu lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan.
    'Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup; barangsiapa murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.' (Al-Baqarah: 217).
Maksudnya, mereka melakukan perbuatan yang lebih buruk dan lebih jahat daripada perbuatan mereka yang disebutkan di ayat sebelumnya. Mereka tidak mau bertaubat, dan berhenti daripadanya.

Sesudah Al-Qur'an turun membawa hal tersebut, dan Allah menghilangkan kesedihan yang diderita kaum Muslimin, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mau menerima unta dan kedua tawanan tersebut. ] :lol: (*,) :mo: :mo: Kemudian orang-orang Quraisy mengirim wakilnya menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menebus Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, 'Kami tidak menyerahkan keduanya kepada kalian, hingga dua sahabat kami datang--yaitu Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bn Ghazwan. Kami khawatir kalian berbuat sesuatu terhadap keduanya. Jika kalian membunuh keduanya, kami juga akan membunuh dua sahabat kalian ini.' Tidak lama setelah itu, Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba di Madinah, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan kedua tawanan tersebut kepada utusan orang-...
========================================================================================================
Halaman 579

...-orang Quraisy. Adapun Al-Hakam bin Kaisan, ia masuk Islam dan keislamannya amat baik. Ia menetap di Madinah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga ia mati syahid pada Perang Bi'ru Ma'unah. Sedang Utsman bin Abdullah, ia pulang ke Makkah dan mati dalam keadaan kafir di sana.

Ketika penderitaan telah sirna dari pasukan Abdullah bin Jahsy setelah Al-Qur'an turun, maka para sahabat ingin mendapatkan pahala. Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, bolehkah kita menginginkan perang, kemudian dengan perang tersebut kita mendapatkan pahala para Mujahidin?' Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat,
    'Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (Al-Baqarah: 218).
Allah Azza wa Jalla meletakkan mereka ke puncak harapan.

Hadits tentang peristiwa di atas berasal dari Az-Zuhri dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Az-Zubair.

Ibnu Ishaq berkata bahwa salah seorang dari keluarga Abdullah bin Jahsy berkata bahwa Allah Ta'ala mem-fai (rampasan tidak melalui pertempuran)--setelah Dia menghalalkannya :-k --empat perlima bagi orang-orang yang mendapatkannya, dan seperlimanya untuk Allah dan Rasul-Nya. :lol: Ini berarti sesuai dengan kebijakan Abdullah bin Jahsy pada unta yang mereka dapatkan dari kafilah dagang Quraisy tersebut.

Ibnu Hisyam berkata "Itulah rampasan perang pertama yang diperoleh kaum Muslimin. Am bin Al-Hadhrami adalah orang yang pertama kali dibunuh kaum Muslimin. Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan adalah orang yang pertama kali ditawan kaum Muslimin."

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika orang-orang Quraisy berkata, 'Muhammad dan sahabat-sahabatnya menghalalkan bulan-bulan haram, menumpahkan darah di dalamnya, merampas harta di dalamnya, dan menawan orang-orang di dalamnya.' Maka Abu Bakar berkata tentang perang Abdullah bin Jahsy tersebut--ada yang mengatakan bahwa ucapan berikut diucapkan Abdullah bin Jahsy,
    Kalian menganggap pembunuhan di bulan haram itu sebagai suatu yang besar
    Padahal ada lagi yang lebih besar dari itu jika seseorang mendapatkan petunjuk
========================================================================================================
Halaman 580

    Yaitu sikap kalian menghalangi-halangi manusia dari apa yang dikatakan Muhammad
    Kekafiran kalian kepadanya, dan Allah Maha Melihat dan Menyaksikan
    Pengusiran kalian terhadap warga Masjidil Haram daripadanya
    Agar tidak terlihat orang yang sujud karena Allah di dalamnya
    Sesungguhnya kami, kendati kalian mengecam kami karena pembunuhan ini
    Dan kendati Islam digoyang oleh orang dzalim dan pendendam
    Sesungguhnya membasahi tombak kami dengan Ibnu Al-Hadhrami
    Di kurma, ketika seseorang telah menyalakan perang
    Anak Abdullah, yaitu Utsman ada di tempat kami (kami tawan)
    Ia ditusuk oleh belenggu dari kulit yang tidak henti-hentinya mengucapkan darah

Ibnu Hisyam berkata, "Syair-syair di atas adalah milik Abdullah bin Jahsy."


---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu Jun 24, 2010 5:52 pm, edited 1 time in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 16, 2010 8:39 pm

Halaman 581
BAB 114
TANGGAL PERUBAHAN KIBLAT KE KA'BAH

Ibnu Ishaq berkata, "Adapun yang mengatakan bahwa perubahan kiblat ke Ka'bah terjadi pada bulan Sya'ban delapan belas bulan sejak kedatangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Madinah."


---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 16, 2010 9:09 pm

Halaman 582
BAB 115
PERANG BADAR TERBESAR

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar bahwa Abu Sufyan bin Harb tiba dari Syam bersama kafilah dagang Quraisy yang mengangkut kekayaan yang banyak sekali milik orang-orang Quraisy, dan komoditi mereka. Kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb ini terdiri dari tiga puluh atau empat puluh orang dari orang-orang Quraisy. Di antara mereka adalah Makhramah bin Naufal bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah dan Amr bin Al-Ash bin Wail bin Hisyam."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang berkata bahwa Amr ialah anak Wail bin Hasyim."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu Bakar, Yazid bin Ruman, dan ulama-ulama lain berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. Semuanya mengatakan beberapa hadits kepadaku dan hadits mereka sama tentang Perang Badar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengajak Kaum Muslimin Keluar

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar Abu Sufyan bin Harb tiba dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin keluar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Inilah kafilah dagang Quraisy. Di dalamnya terdapat harta kekayaan mereka. Oleh karena itu, pergilah kalian kepada mereka!' Mudah-mudahan Allah memberikan kekayaan mereka kepada kalian! Kaum Muslimin merespon ajakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagian kaum Muslimin merasa ringan tanpa beban untuk berangkat, dan sebagian lain merasa berat hati untuk berangkat, karena mereka tidak menyangka kalau Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perlawanan."

Abu Sufyan bin Harb Meminta Bantuan

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika mendekati Hijaz, Abu Sufyan mencari-cari informasi dan bertanya kepada musafir yang ia temui, karena ia takut mendapat serangan tidak terduga dari manusia. Ia mendapatkan informasi...
========================================================================================================
Halaman 583

...dari salah seorang musafir yang berkata kepadanya, 'Sesungguhnya Muhammad telah memobilisasi sahabat-sahabatnya untuk menyerangmu dan menyerang kafilah dagangmu.' Karena informasi tersebut, Abu Sufyan bersikap hati-hati. Ia sewa Dhamdham bin Amr Al-Ghifari untuk pergi ke Makkah. Ia perintahkan Dhamdham bin Amr Al-Ghifari mendatangi orang-orang Quraisy, memobilisasi mereka untuk menyelamatkan harta kekayaan mereka, dan memberi tahu mereka bahwa Muhammad menghadang kami bersama sahabat-sahabatnya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari pun segera pergi ke Makkah.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 23, 2010 4:36 pm

Halaman 584
BAB 116
MIMPI ATIKAH BINTI ABDUL MUTHTHALIB


Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Az-Zubair yang keduanya berkata,

“Tiga malam sebelum kedatangan Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di Makkah, Atikah binti Abdul Muthathalib melihat mimpi yang menakutkannya. Ia pun pergi kepada saudaranya, Al-Abbas bin Abdul Muththalib, dan berkata kepadanya, ‘Saudaraku, demi Allah, sungguh pada malam ini aku melihat mimpi yang menakutkanku. Aku khawatir keburukan dan kemaksiatan akan menimpa kaummu. Rahasiakan apa yang aku katakana kepadamu.’ Al-Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Atikah binti Abdul Muththalib, ‘Apa yang engkau lihat dalam mimpimu?’ Atikah binti Abdul Muththalib menjawab, ‘Dalam mimpiku, aku melihat seorang musafir datang dengan mengendarai unta. Ia berdiri di tanah lapang, kemudian berteriak dengan suara terkerasnya, ‘Ketahuilah, wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian kepada tempat-tempat kematian kalian dalam tiga hari.’ Aku lihat manusia berkumpul pada musafir tersebut, kemudian ia masuk masjid diikuti orang-orang. Ketika mereka berada di sekelilingnya, musafir tersebut berdiri di atas untanya di depan Ka’bah, kemudian ia berteriak dengan suara terkerasnya, ‘Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian kepada tempat-tempat kematian kalian dalam tiga hari.’ Kemudian musafir tersebut berdiri di atas untanya di depan Abu Qais, dan berteriak dengan teriakan yang sama. Musafir tersebut mengambil batu besar, kemudian melemparkannya. Batu besar tersebut jatuh meluncur. Ketika batu tersebut tiba di bawah gunung, batu besar pecah berkeping-keping. Tidak ada satu rumah pun di Makkah, kecuali dimasuki pecahan batu besar tersebut.’ Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, ‘Demi Allah, inilah mimpi itu. Rahasiakan mimpimu ini, dan jangan ceritakan kepada siapa pun!’ “

Al-bbas bin Abdul Muththalib Menceritakan Mimpi Atikah binti Abdul Muththalib kepada Utbah bin Rabi’ah

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Al-Abbas bin Abdul Muththalib keluar menemui Al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah …
=========================================================================================================
Halaman 585

…adalah sahabat dekat Al-Abbas bin Abdul Muththalib, kemudian Al-Abbas bin Abdul Muththalib menceritakan mimpi Atikah bin Abdul Muththalib kepadanya, dan meminta Al-Walid merahasiakan mimpi tersebut. Namun Al-Walid menceritakan mimpi tersebut kepada ayahnya, Utbah bin Rabi’ah. Akibatnya, mimpi tersebut pun tersebar luas di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang Quraisy dib alai pertemuan mereka.”

Abu Jahal Melecehkan Mimpi Atikah binti Abdul Muththalib

Ibnu Ishaq berkata, “Al-Abbas berkata, ‘Kemudian aku pergi untuk thawaf di Baitullah. Ketika itu, Abu Jahal bersama beberapa orang Quraisy sedang membicarakan mimpi Atikah binti Abdul Muththalib. Ketika Abu Jahal melihatku, ia berkata, ‘Hai Abu Al-Fadhl, jika engkau telah selesai thawaf, tolong datang ke tempat kami!’ Ketika aku telah selesai thawaf, aku datang ke tempat mereka, dan duduk bersama mereka. Abu Jahal berkata kepadaku, ‘Hai Bani Abdul Muththalib, kapan kenabian wanita terjadi di tempat kalian?’ Aku bertanya, ‘Kenabian wanita apa itu?’ Abu Jahal berkata, ‘Itu mimpi yang dilihat Atikah.’ Aku bertanya, ‘Atikah mimpi apa?’ Abu Jahal berkata, ‘Hai Bani Abdul Muththalib, bukankah kalian senang seorang laki-laki kalian mengaku sebagai nabi, kemudian wanita kalian juga mengaku sebagai nabi? Atikah mengaku bahwa dalam mimpinya, orang tersebut berkata, ‘Pergilah kalian dalam tiga hari ini! Kami akan menunggu apa yang akan terjadi pada kalian dalam tiga hari ini! Jika apa yang dikatakan Atikah benar, akan terjadi. Jika telah berjalan tiga hari, namun tidak terjadi sesuatu, kami akan menulis bahwa kalian adalah warga Baitullah yang paling pembohong sedunia Arab.’

Al-Abbas berkata, ‘Demi Allah, tidak ada tokoh yang berani berbuat sesuatu terhadap Abu Jahal, melainkan aku. Hanya saja, aku menolak mimpi tersebut, dan tidak mengakui Atikah bermimpi seperti itu.’

Kata Al-Abbas lebih lanjut, ‘Setelah itu, kita bubar. Sore harinya, semua wanita Bani Abdul Muththalib datang kepadaku. Setiap wanita Bani Abdul Muththalib berkata kepadaku, ‘Kenapa engkau biarkan orang fasik dan brengsek ini (Abu Jahal) menyerang orang laki-lakimu, dan menyinggung wanita-wanitamu? Engkau mendengar ucapannya, namun engkau tidak mempunyai ghirah atas ucapan yang engkau dengar.’ Al-Abbas berkata, ‘Demi Allah, aku akan melakukannya. Tidak ada tokoh yang berani berbuat sesuatu terhadap Abu Jahal, melainkan aku. Aku bersumpah kepada Allah, aku akan hadapi dia. Jika ia mengulangi perbuatannya, aku pasti melindungi kalian daripadanya!’ ”

Al-Abbas bin Abdul Muththalib Menghadapi Abu Jahal

Ibnu Ishaq berkata, “Al-Abbas berkata, ‘Tiga hari setelah mimpi Atikah binti Abdul Muththalib, aku keluar rumah dalam keadaan emosional. Aku berpendapat, bahwa aku telah kehilangan sesuatu yang seharusnya aku…
=========================================================================================================
Halaman 586

…dapatkan. Aku masuk masjid, dan melihat Abu Jahal di dalamnya. Demi Allah, aku berjalan ke arahnya untuk menghadapinya, agar ia mengulangi sebagian ucapannya, kemudian aku menyerang balik dia. Abu Jahal adalah orang yang ringan, wajahnya tajam, mulutnya tajam, dan penglihatannya tajam. Abu Jahal buru-buru keluar menuju pintu masjid. Aku berkata dalam diriku, ‘Apa yang terjadi pada orang yang dikutuk Allah ini? Apakah karena aku akan mencaci makinya?’ Ternyata Abu Jahal telah mendengar apa yang tidak aku dengar, yaitu suara Dhamdham bin Amr Al-Ghifari. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari berteriak di tengah lembah dengan berdiri di atas untanya yang hidungnya telah ia potong. Ia letakkan pelananya terbalik, dan merobek-robek bajunya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, unta, dan harta kekayaan kalian yang sedang dibawa Abu Sufyan sedang dihadang Muhammad bersama sahabat-sahabatnya. Aku berpendapat bahwa kalian tidak dapat menyelamatkannya. Bala bantuan. Bala bantuan!’”

Orang-orang Quraisy Mempersiapkan Diri untuk Menghadapi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sahabat-sahabat Beliau

Ibnu Ishaq berkata, “Al-Abbas berkata, ‘Aku lebih sibuk dengan informasi Dhamdham, hingga lupa pada Abu Jahal. Abu Jahal juga mengalami hal yang sama. Orang-orang Quraisy segera mengadakan persiapan. Mereka berkata, ‘Apakah Muhammad dan sahabat-sahabatnya mengira bahwa nasib kafilah dagang Abu Sufyan akan sama dengan nasib kafilah dagang Ibnu Al-Hadhrami? Tidak, demi Allah, ia (Muhammad) akan tahu, bahwa kafilah dagang Abu Sufyan tidak bernasib sama dengan kafilah dagang Ibnu Al-Hadhrami.’ Orang-orang dan sahabat-sahabatnya, atau mengutus seseorang sebagai pengganti dirinya. Orang-orang Quraisy sepakat perang, kecuali Abu Lahab bin Abdul Muththalib. Ia tidak ikut perang, dan sebagai ganti dirinya ia mengutus Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah. Tadinya Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah tidak ikut perang, karena ia mempunyai hutang sebesar empat ribu dirham kepada Abu Lahab. Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah pinjam uang sebesar itu untuk dagang, tetapi ia bangkrut. Kemudian ia dikontrak Abu Lahab dengan nilai sebesar hutangnya. Akhirnya, ia ikut perang mewakili Abu Lahab yang tidak ikut perang.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdulah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa Umaiyyah bin Khalaf memutuskan tidak ikut perang. Umaiyyah bin Khalaf sudah lanjut usia, gemuk, dan tubuhnya berat. Umaiyyah bin Khalaf yang ketika itu duduk di masjid bersama kaumnya didatangi Uqbah bin Abu Mu’aith yang membawa anglo (tempat bara api) yang di dalamnya terdapat api dan dupa. Uqbah bin Abu Mu’aith meletakkan anglo dan dupa tersebut di…
=========================================================================================================
Halaman 587

…depan Umaiyyah bin Khalaf, dan berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, “Hai Abu Ali, hiasilah dirimu dengan dupa ini, karena engkau termasuk wanita.” Umaiyyah bin Khalaf menjawab, “Semoga Allah menjelek-jelekkanmu dan menjelek-jelekkan apa yang engkau bawa!” Kemudian Umaiyyah bin Khalaf bersiap-siap dan ikut perang bersama orang-orang Quraisy lainnya.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 23, 2010 5:22 pm

Halaman 588

BAB 117
PERANG ANTARA BANI BAKR MELAWAN QURAISY, DAN PERSEKUTUAN MEREKA DI PERANG BADAR

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika orang-orang Quraisy selesai mengadakan persiapan perang, dan hendak berangkat perang, tiba-tiba mereka ingat perang yang terjadi antara mereka melawan Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Mereka berkata, 'Kita khawatir orang-orang Bani Bakr menyerang kita dari belakang'."

Salah seorang dari Bani Amir bin Luai berkata kepadaku dari Muhammad bin Sa'ad bin Al-Musayyib yang berkata bahwa anak Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani Ma'ish bin Amir bin Luai keluar mencari barangnya yang hilang di Khajnan. Anak Hafsh tersebut masih muda belia, rambutnya digelung, dan mengenakan perhiasan. Ia tampan dan bersih. Anak Hafsh tersebut berjalan melewati Amir bin Yazid bin Amir Al-Mulawwah, salah seorang dari Bani Ya'mur bin Auf bin Ka'ab bin Amir bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah di Dhajnan. Amir bin bin Yazid ketika itu adalah pemimpin kaumnya. Ketika ia melihat anak Hafsh, ia tertarik kepadanya. Ia bertanya kepada anak Hafsh, 'Siapa engkau, hai anak muda?' Anak Hafsh menjawab, 'Aku anak Hafsh bin Al-Akhyat Al-Qurasyi.' Ketika anak Hafsh tersebut berpaling dari Amir bin Al-Akhyaf, ia berkata, 'Hai Bani Bakr, apakah kalian mempunyai hutang darah dengan Quraisy?' Mereka menjawab, 'Betul, kita mempunyai hutang darah pada mereka.' Amir bin Yazid berkata, 'Jika salah seorang dari kalian membunuh anak muda ini dengan kakinya, ia telah menunaikan hutang darahnya.' Salah seorang dari Bani Bakr berjalan membuntuti anak Hafsh, kemudian ia membunuhnya sebagai pembalasan darah yang ada pada Quraisy. Orang-orang Quraisy gempar membicarakan pembunuhan anak Hafsh. Amir bin Yazid berkata, 'Hai orang-orang Quraisy, kami mempunyai hutang darah pada kalian. Apa yang kalian inginkan? Jika kalian mau, silahkan bayar hutang kalian pada kami sebelumnya, niscaya kami bayar hutang kami pada kalian sebelum ini. JIka kalian mau, ini adalah darah satu orang dibalas dengan darah satu orang pula. Oleh karena itu, silahkan kalian membebaskan hutang kalian sebelumnya pada kami, niscaya kami bebaskan hutang kalian pada kami sebelum ini.' Anak Hafsh tersebut dianggap tidak ada harganya di kampung Quraisy. Orang-orang Quraisy berkata, 'Ya betul. ...
=========================================================================================================
Halaman 589

...Satu orang dibalas dengan satu orang pula.' Mereka tidak menuntut apa pun atas darah anak Hafsh.

Ketika saudara korban, Makraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf berjalan melewati Mar Adh-Dhahran, ia melihat Amir bin Yazid bin Amir bin Al-Mulawwah sedang naik unta. Ketika Makraz bin Hafsh melihatnya, ia mendekat kepadanya dan mendudukkan untanya. Ketika itu Amir bin Yazid menghunus pedang, kemudian Makraz bin Hafsh menyerangnya dengan pedang dan menewaskannya. Makraz bin Hafsh mengambil perutnya, membawanya ke Makkah, dan menggantungkannya di kain Ka'bah pada suatu malam. Esok paginya, ketika orang-orang Quraisy melihat pedang Amir bin Yazid bin Amr menggantung di kain Ka'bah, mereka pun mengenalinya. Mereka berkata, 'Ini pasti pedang Amir bin Yazid. Ia diserang Makraz bin Hafsh yang kemudian membunuhnya.' Itulah yang terjadi antara orang-orang Quraisy dengan Bani Bakr.

Ketika mereka berada di alam perang seperti itu, Islam datang menengahi mereka, kemudian mereka melupakan yang lain, dan hingga orang-orang Quraisy memutuskan berangkat ke Badar, kemudian mereka ingat kasusnya dengan Bani Bakr, dan mereka khawatir Bani Bakr menyerang. Makraz bin Hafsh berkata tentang pembunuhannya terhadap Amir bin Yazid,
    Ketika aku melihat bahwa dia adalah Amir bin Yazid
    Aku pun akan daging sang kekasih (adiknya) yang telah tercabik-cabik
    Aku berkata kepada diriku, 'Dialah Amir,
    Janganlah takut padanya dan lihatlah
    Aku pun yakin, bahwa jika memukulnya dengan pedang, ia binasa
    Dalam menghadapinya, aku kendalikan ketakutanku,
    Dan campakkan untaku terhadap pahlawan si penghunus pedang yang berpengalaman
    Ketika kita telah bertemu untuk perang, dan pedang-pedang kita telah berhadap-hadapan,
    Aku tidak menjadi sasaran penghinaan wanita dan ayah
    Akan lepaskan anak panahku, dan aku tidak pernah lupa balas dendamnya
    Jika orang tidak waras lupa pada dendamnya
Ibnu Ishaq berkata bahwa Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair yang berkata,

"Ketika orang-orang Quraisy memutuskan berangkat, mereka ingat kasusnya dengan Bani Bakr. Hal ini nyaris membatalkan keberangkatan mereka, namun iblis menampakkan diri kepada mereka dalam bentuk Suraqah bin Malik bin Jus'syum Al-Mudliji. Suraqah bin Malik adalah salah seorang tokoh Bani Kinanah (Bani Bakr). Iblis dalam bentuk Suraqah bin Malik berkata...
=========================================================================================================
Halaman 590

... kepada orang-orang Quraisy, 'Aku pelindung kalian, jika orang-orang Bani Bakr datang kepada kalian dengan sesuatu yang tidak kalian sukai.' Kemudian mereka berangkat dengan buru-buru."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah bersama sahabat-sahabatnya setelah Ramadhan berjalan beberapa malam."

Wakil Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah

Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari Madinah pada hari Senin tanggal 8 Ramadhan, dan menunjuk Amr bin Ummu Maktum sebagai pengganti beliau mengimami shalat di Madinah. Ada yang mengatakan bahwa nama Amr ialah Abdullah bin Ummu Maktum, saudara Bani Amir bin Luai. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menarik Abu Lubabah dari Ar-Rauha', dan menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah."

Panji Perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Dua Bendera Beliau

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan panji perang kepada Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddaar."

Ibnu Hisyamn berakta, "Mush'ab bin Umair orangnya putih."

Ibnu Ishaq berkata, "Di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terdapat dua bendera hitam; salah satunya dipegang Ali bin Abu Thalib. Bendera tersebut bernama Al-Uqbah. Dan bendera satunya dipegang salah seorang dari kaum Anshar."

Jumlah Unta Pasukan Kaum Muslimin

Ibnu Ishaq berkata, "Jumlah unta sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika itu tujuh puluh ekor, dan mereka menaikinya secara bergiliran. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Ali bin Abu Thalib, dan Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawi secara bergiliran menaiki satu unta. Hamzah bin Abdul Muththalib, Zaid bin Haritsah, Abu Kabsyah, dan Anasah, keduanya mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam secara bergiliran menaiki satu unta. Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Abdurrahman bin Auf secara bergiliran menaiki satu unta."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Qais bin Abu Sha'sha'ah saudara Bani Mazin bin An-Najjar sebagai komando pasukan belakang.

Bendera kaum Anshar dipegang Sa'ad bin Muadz seperti dikatakan Ibnu Hisyam."
=========================================================================================================
Halaman 591

Perjalanan ke Badar

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menempuh perjalanannya dari Madinah ke Makkah dengan melewati gunung Madinah, kemudian melewati Al-Aqiq, kemudian melewati Dzi Al-Hulaifah, kemudian melewati Aulatul Jaisy. (Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Dzatul Jaisy."), kemudian berjalan melewati Turban, kemudian melewati Malal, kemudian melewati Ghamis Al-Hamam dari Marayain, kemudian melewati Shukhairatul Yamam, kemudian melewati As-Sayalah, kemudian melewati Faiji Ar-Rauha', kemudian melewati Syanukah. Itu adalah rute perjalanan yang biasa dijalani manusia."

Ajakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk Berakhlak Baik

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat tiba di Irqi Adz-Dzubyah (Ibnu Hisyam berkata, "Adz-Dzabyah."), mereka bertemu dengan salah seorang Arab dusun. Para sahabat bertanya kepadanya tentang orang-orang Quraisy, namun mereka tidak mendapatkan informasi apa pun dari orang Arab dusun tersebut. Para sahabat berkata kepada orang Arab dusun tersebut, 'Ucapkan salam kepada Rasulullah!' Orang Arab dusun tersebut bertanya, 'Apakah dalam rombongan kalian terdapat Rasulullah?' Para sahabat menjawab, 'Ya, betul.' Orang Arab dusun tersebut pun mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Jika engkau Rasulullah, tolong beritahu aku apa saja yang ada di dalam perut untaku ini! Salamah bin Salamah bin Waqasy berkata kepada orang Arab dusun tersebut, 'Jangan tanyakan pertanyaan seperti itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun datanglah kepadaku, niscaya aku berikan jawabannya kepadamu. Engkau telah menggauli untamu, kemudian di dalam perutnya terdapat anak unta hasil hubungannya denganmu.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Ah, engkau berkata jorok kepada orang ini.' Kemudian orang Arab dusun tersebut berpaling dari Salamah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti di Sajsaj. Sajsaj ialah sumur di Ar-Rauha', kemudian pergi daripadanya. Ketika tiba di Al-Munsharif, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menempuh perjalanan ke Makkah dari sebelah kiri, namun menempuh perjalanan dari sebelah kanan dengan melewati An-Naziyah dengan tujuan Badar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menempuh perjalanan daripadanya, hingga melintasi Lembah Rahqan antara An-Naziyah dengan Madhiq Ash-Shafra', kemudian berjalan melewati Al-Madhiz, kemudian turun daripadanya. Ketika tiba di dekat Ash-Shafra', Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Basbas bin Amr Al-Juhani sekutu Bani Sa'idah, dan Adi bin Abu Az-Zaghba' al-Juhani sekutu Bani An-Najjar untuk pergi ke Badar guna mencari informasi tentang Abu Sufyan bin...
=========================================================================================================
Halaman 592

...Harb dan anak buahnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri meneruskan perjalanan setelah mengutus kedua sahabat tersebut. Ketika beliau berjalan menghadap Ash-Shafra', sebuah desa di antara dua gunung, beliau menanyakan nama kedua gunung tersebut. Para sahabat menjawab bahwa salah satu dari gunung tersebut bernama Muslih, dan gunung satunya bernama Mukhzi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bertanya tentang penduduk kedua gunung tersebut, kemudian para sahabat menjawab, 'Salah satu penduduk gunung tersebut ialah Bani An-Naar, dan penduduk gunung satunya ialah Bani Huraq. Keduanya kabilah dari Bani Ghifar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyukai kedua penduduk tersebut dan menolak melewati keduanya. Beliau tidak menyukai nama gunung tersebut dan penduduknya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melewati kedua gunung tersebut, dan tidak belok ke kiri ke Ash-Shafra'. Beliau belok kanan melewati Lembah Dzafiran, kemudian berjalan melintasinya dan turun dari padanya."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bermusyawarah dengan Rara Sahabat ketika Mendengar Keberangkatan Orang-orang Quraisy

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan informasi keberangkatan orang-orang Quraisy untuk melindungi unta-unta mereka, kemudian beliau menyampaikan informasi tersebut kepada para sahabat. Abu Bakar berdiri, dan berkata dengan baik. Umar bin Khaththab juga berdiri, dan berkata dengan baik. Al-Miqdad bin Amr berdiri dan berkata, 'Wahai Rasulullah, teruslah berjalan seperti diperlihatkan Allah, kami tidak akan berkata kepadamu seperti dikatakan Bani Israel kepada Musa, 'Pergilah engkau dan Tuhanmu, kemudian berperanglah, sesungguhnya kami duduk di sini.' (Al-Maidah: 24). Namun pergilah engkau dan Tuhanmu untuk berperang, sesungguhnya kami ikut perang bersamamu, dan bersama Allah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berjalan bersama kami ke Barki Al-Ghimad (tempat yang jauh di Yaman), kami bersabar denganmu ke sana hingga engkau tiba di sana.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Al-Miqdad bin Amr dengan baik dan mendoakannya."

Usulan Kaum Anshar

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Hai manusia, berikan usulan kalian kepadaku!' Yang dimaksud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia tersebut ialah kaum Anshar, karena mereka bagian dari sahabat, dan ketika mereka berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu, ....
=========================================================================================================
Halaman 593

...hingga engkau tiba di negeri kami. Jika engkau tiba di negeri kami, engkau berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungimu seperti kami melindungi anak-anak kami, dan wanita-wanita kami.' :lol: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam khawatir kalau kaum Anshar berpendapat bahwa pertolongan kepada beliau itu hanya terjadi terhadap musuh yang datang ke Madinah, dan mereka tidak mau berangkat bersama beliau kepada musuh beliau di luar Madinah." (JGA: lho, koq bukan minta perlindungan kepada Allah SWT?)

Perkataan Sa'ad bin Muadz

Ibnu Ishaq berkata, "Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu, Sa'ad bin Muadz berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sepertinya engkau menghendaki kami bicara?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Ya betul.' Sa'ad bin Muadz berkata, 'Sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar, menyerahkan janji dan sumpah kami untuk mendengar dan taat. Wahai Rasulullah, kerjakan apa yang engkau inginkan, kami tetap bersamamu. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau menyuruh kami menyelami laut ini, kemudian engkau menyelaminya, kami pasti menyelaminya bersamamu, dan tidak ada seorang pun dari kami apa yang tidak ikut menyelam. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan dari kami apa yang menghibur matamu. Berangkatlah bersama kami dengan berkah Allah.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam gembira dengan ucapan Sa'ad bin Muadz dan bersemangat. Beliau bersabda, 'Berangkatlah kalian, dan bergembiralah kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan dua kelompok kepadaku. Demi Allah, sepertinya aku sekarang melihat tempat kematian kaum tersebut (orang-orang Quraisy).'

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat dari Dzafiran, kemudian berjalan melewati bukit yang bernama Al-Ashafir, kemudian turun daripadanya menuju daerah Ad-Dabbah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak belok ke kanan ke Al-Hannan, karena Al-Hannan lebat, dan besar seperti gunung besar. Beliau berhenti di dekat Badar, kemudian meneruskan perjalanan dengan salah seorang dari sahabatnya."

Ibnu Hisyam berkata, "Sahabat yang dimaksud ialah Abu Bakar."
Ibnu Ishaq berkata bahwa seperti dikatakan kepadaku oleh Muhammad bin Yahya bin Habban, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan hingga bertemu dengan salah seorang tua dari Arab. Beliau bertanya kepadanya tentang orang-orang Quraisy, Muhammad beserta sahabat-sahabatnya, dan informasi lain tentang mereka. Orang tua Arab tersebut menjawab, "Aku tidak akan memberi informasi kepadamu, hingga engkau menjelaskan kepada kami siapa sebenarnya kalian berdua!" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika engkau menjelaskan kepada kami siapa engkau sebenarnya,...
=========================================================================================================
Halaman 594

...kami akan menjelaskan siapa kami berdua kepadamu!!" Orang tua Arab tersebut berkata, "Apakah ini dibalas dengan ini pula?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ya, betul." Orang tua Arab tersebut berkata, "Aku mendapat informasi, bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya berangkat pada hari ini dan itu. Jika informasi yang disampaikan kepadaku benar, maka pada hari ini mereka berada di tempat ini dan itu--yang ia maksudkan ialah tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada. Aku juga mendapatkan informasi, bahwa orang-orang Quraisy berangkat pada hari ini dan itu. Jika orang yang memberiku informasi tidak berbohong, maka pada hari ini mereka berada di tempat ini dan itu --yang dimaksudkan ialah tempat orang-orang Quraisy." Orang tua Arab tersebut bertanya, "Kalian berdua berasal dari mana?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, "Kami berasal dari air." :---)(JGA: ckckck...nabi koq berbohong??? nabi apaan tuh...!) Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpaling dari hadapan orang tua Arab tersebut. Orang tua Arab tersebut bertanya, "Kalian berdua dari air yang mana? Apakah dari air yang ada di Irak?"

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan bahwa orang tua Arab tersebut ialah Sufyan Adh-Dhamri."

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali kepada sahabat-sahabatnya. Pada sore harinya, beliau mengutus Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, dan Sa'ad bin Abu Waqqash bersama beberapa sahabat pergi ke air Badar guna mencari informasi untuk beliau tentang air tersebut--seperti dikatakan kepadaku oleh Yazid bin Ruman dari Urwah bin Az-Zubair. Mereka berhasil menangkap unta milik orang-orang Qurasiy, dan di unta tersebut terdapat Aslam budak Bani Al-Hajjaj, dan Aridh Abu Yasar budak Bani Al-Ash bin Sa'id. Mereka membawa keduanya dan bertanya kepada keduanya. Ketika itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang shalat. Kedua orang tersebut menjawab, "Kami petugas pengambil air orang-orang Quraisy. Mereka mengirim kami untuk mengambil air untuk mereka dari air Badar." Para sahabat tidak menerima jawaban kedua orang tersebut, karena mereka berharap bahwa keduanya adalah milik Abu Sufyan. Kemudian para sahabat memukuli kedua orang tersebut. Setelah para sahabat memukuli kedua orang tersebut dengan bertubi-tubi, kedua orang tersebut berkata, "Ya, kami milik Abu Sufyan." Setelah keduanya berkata seperti itu, para sahabat membiarkan keduanya, sendang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ruku', sujud dua kali, mengucapkan salam, kemudian beliau bersabda, "Ketika dua orang ini berkata dengan benar kepada kalian, tetapi justru kalian memukulinya. Dan ketika keduanya berbohong kepada kalian, kalian membiarkan keduanya. Demi Allah, dua orang ini berkata benar bahwa keduanya milik orang-orang Quraisy." Kepada kedua orang tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Coba jelaskan kepada kami informasi tentang orang-orang Quraisy." Kedua orang tersebut menjawab, "Demi Allah, mereka berada di balik bukit pasir yang engkau lihat ini, tepatnya di tepi...
=========================================================================================================
Halaman 595

...lembah yang jauh (dari Madinah)." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada kedua orang teresebut, "Berapa jumlah mereka?" Kedua orang tersebut menjawab, "Mereka banyak sekali." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada keduanya, "Apa saja persenjataan mereka?" Kedua orang tersebut menjawab, "Kami tidak tahu." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada keduanya, "Berapa hewan yang mereka sembelih dalam setiap hari? Kedua orang tersebut menjawab, "Dalam sehari kadang-kadang mereka menyembelih sembilan atau sepuluh." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Kalau begitu jumlah mereka berkisar antara sembilan ratus hingga seribu." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada kedua orang tersebut, "Siapa saja tokoh-tokoh Quraisy yang ikut?" Kedua orang tersebut menjawab, "Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, al-Harits, Zam'ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, Umaiyyah bin Khalaf, Nubaih bin Al-Hajjaj, Munabbih bin Al-Hajjaj, Suhail bin Amr, dan Amr bin Abdu Wudd."

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui para sahabat dan bersabda, "Inilah Makkah. Ia telah melemparkan semua buah hatinya kepada kalian."

Ibnu Ishaq berkata, "Basbas bin Amr dan Adi bin Abu Az-Zaghba' pergi hingga berhenti di Badar, dan mendudukkan untanya di anak bukit yang dekat dengan air. Kemudian keduanya mengambil qirbah (tempat air dari kulit) milik keduanya untuk keduanya isi dengan air. Ketika itu, Majdi bin Amr sedang berada di air tersebut. Tiba-tiba Adi dan Basbas mendengar suara dua wanita milik musafir. Kedua budak wanita tersebut sedang saling menagih di air tersebut. Budak wanita yang ditagih berkata kepada budak yang menagihnya, "Sesungguhnya kafilah dagang akan datang besok atau besok lusa. Jika mereka telah datang, aku kerja pada mereka, dan uang hasil kerjaku akan aku bayarkan kepadamu." Majdi bin Amr Al-Juhani berkata kepada budak wanita yang ditagih, "Engkau berkata benar." Majdi bin Amr Al-Juhani membebaskan keduanya, dan hal tersebut didengar Adi dan Basbas. Kemudian Adi dan Basbas duduk di unta keduanya, kemudian pulang hingga tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Keduanya melaporkan apa yang keduanya dengar kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Abu Sufyan Melarikan Diri bersama Kafilah Dagangnya

Ibnu Ishaq berkata, "Tidak lama kemudian datanglah Abu Sufyan bin Harb. Tiba di air Badar, Abu Sufyan bin Harb bertanya kepada Majdi bin Amr Al-Juhani, 'Apakah engkau melihat seseorang?' Majdi bin Amr Al-Juhani menjawab, 'Aku tidak melihat seseorang yang aku curigai. Tapi tadi aku melihat dua musafir menghentikan unta di bukit pasir ini, mengisi qirbah keduanya....
=========================================================================================================
Halaman 596

...dengan air, kemudian keduanya pergi.' Abu Sufyan bin Harb pergi ke bekas tempat pemberhentian unta kedua musafir yang dimaksud. Ia ambil kotoran unta keduanya, meremukkannya, dan ternyata di dalamnya terdapat biji kurma. Ia berkata, 'Demi Allah, ini kotoran hewan orang-orang Yatsrib.' Abu Sufyan bin Harb menemui sahabat-sahabatnya, kemudian ia mengubah arah perjalanannya. Ia berjalan melalui pantai dan tidak belok ke kiri dari Badar. Ia berjalan dengan terburu-buru."

Mimpi Juhaim bin Ash-Shalt

Ibnu Ishaq berkata, "Pada saat yang sama, orang-orang Quraisy terus berjalan. Ketika mereka berhenti di Al-Juhfah, Juhaim bin Ash-Shalt bin Makhramah bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf bermimpi. Juhaim bin Ash-Shal berkata, 'Aku bermimpi seperti layaknya orang tidur bermimpi. Aku berada di antara tidur dan tidak tidur, tiba-tiba aku lihat seseorang datang mengendarai kuda. Ia berhenti dengan untanya, dan berkata, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al-Hakam bin Hisyam, Umaiyyah bin Khalaf, Si Fulan, dan Si Fulan--berkata seperti itu sambil menyebutkan tokoh-tokoh Quraisy yang tewas di Perang Badar.' Aku lihat orang tersebut memukul leher untanya, kemudian mengirimkannya ke barak-barak. Tidak ada satu kemah pun kecuali terkena cipratan darahnya.' Mimpiku ini aku ceritakan kepada Abu Jahal. Ia berkata, 'Ini nabi yang lain dari Bani Abdul Muththalib. Besok akan terlihat siapa sebenarnya yang terbunuh, jika kami telah bertemu'."

Surat Abu Sufyan kepada Orang-orang Quraisy

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Abu Sufyan bin Harb melihat ia telah berhasil menyelamatkan kafilah dagangnya, ia menulis surat kepada orang-orang Quraisy. Dalam suratnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kalian keluar dari Makkah untuk melindungi unta-unta kalian, orang-orang kalian, dan harta kekayaan kalian. Sungguh Allah telah menyelamatkan mereka semua. Oleh karena itu, pulanglah kalian.' Abu Jahal berkata, 'Demi Allah, kita tidak pulang hingga kita tiba di Badar--Badar ketika itu adalah salah satu dari tempat pertemuan orang-orang Arab, dan di sana terdapat pasar tahunan. Kita tinggal di sana selama tiga hari. Di sana kita menyembelih unta, memberi makan orang-orang, meminum minuman keras, para penyanyi bernyanyi untuk kita, orang-orang Arab mendengar kita, perjalanan kita, dan kekompakan kita, agar mereka selama-lamanya takut kepada kita. Silahkan kalian berangkat terus!' "

Kepulangan Bani Zuhrah

Ibnu Ishaq berkata, "Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin Wahb Ars-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah berkata ketika mereka sedang berada di Al-Juhfah, 'Hai orang-orang Bani Zuhrah, sungguh Allah telah menyelamatkan harta kekayaan kalian, dan membebaskan sahabat kalian, Makhramah bin Naufal. Kalian...
=========================================================================================================
Halaman 597

...berangkat untuk melindungi Makhramah dan harta kekayaan kalian. Tidak ada masalah aku dicap sebagai pengecut. Pulanglah kalian, karena kalian tidak boleh keluar tanpa sebab, tidak seperti yang dikatakan orang ini--Abu Jahal.' Mereka pun pulang, dan tidak ada seorang pun dari Bani Zuhrah yang ikut Perang Badar. Mereka taat kepada Al-Akhnas bin Syariq bin Amr, karena ia orang yang mereka taati."

Bani Adi Tidak Ikut Perang Badar

Ibnu Ishaq berkata, "Tidak ada satu kabilah pun di Quraisy, melainkan mereka berangkat kecuali Bani Adi. Tidak ada satu orang pun dari Bani Adi yang berangkat ke Badar.

Bani Zuhrah pulang bersama Al-Akhnas bin Syariq. Jadi tidak ada seorang pun dari kedua kabilah tersebut yang ikut Perang Badar, sedang kabilah-kabilah Quraisy tetap berangkat ke Badar.

Terjadi dialog antara Thalib bin Abu Thalib yang ada di tengah-tengah orang-orang Quraisy dengan sebagian orang-orang Quraisy. Mereka berkata kepada Thalib bin Abu Thalib, 'Demi Allah, hai Bani Hasyim, sesungguhnya kendati kalian keluar bersama kami, namun sesungguhnya hati kalian bersama Muhammad.' Kemudian Thalib bin Abu Thalib berkata,
    Ya Allah, jika Thalib berangkat bersama kelompok penentang
    Di dalam sekawanan unta di antara unta-unta ini,
    Maka jadikan orang yang dirampas itu berbeda dengan orang yang merampas
    Dan orang yang dikalahkan itu berbeda dengan orang yang mengalahkannya
Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair, 'Maka jadikan orang yang dirampas itu berbeda dengan orang yang merampas. Dan orang yang dikalahkan itu berbeda dengan orang yang mengalahkannya,' berasal dari berbagai perawi syair."

Persinggahan Orang-orang Quraisy di Tepi Lembah Yang Jauh dari Madinah

Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy tetap berangkat hingga tiba di tepi lembah yang jauh (dari Madinah) tepatnya di lembah di belakang bukit pasir dan di tengah lembah, yaitu Yalyal yang terletak di antara Badar dan bukit pasir di belakang orang-orang Quraisy. Sedang Sumur Badar terletak di lembah yang dekat (dengan Madinah) di kabilah Yalyal menuju Madinah. Kemudian Allah menurunkan hujan. Lembah tersebut tanahnya lembek. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendapatkan air hujan yang membuat tanah menjadi padat, dan perjalanan mereka pun tidak terganggu. Sedang orang-orang Quraisy mendapatkan air, dan karenanya...
=========================================================================================================
Halaman 598

...mereka tidak bisa berjalan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendahului orang-orang Quraisy tiba di lembah tersebut. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di air yang paling dekat dengan Badar, beliau berhenti di sana."

Usulan Al-Hubab bin Al-Mundzir kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Ibnu Ishaq berkata bahwa aku diberitahu oleh beberapa orang dari Bani Salamah yang berkata bahwa Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh berkata, "Wahai Rasulullah, apakah tempat ini termasuk tempat yang ditentukan Allah dan kita tidak boleh memajukannya atau mengakhirinya. Ataukah tempat ini termasuk pendapat, perang, dan skenario perang?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, "Ini termasuk pendapat, perang, dan skenario perang." Al-Hubab bin Al-Mundzir berkata, "Wahai Rasulullah, ini bukan tempat yang tepat. Pergilah bersama para sahabat hingga tiba di air yang paling dekat orang-orang Quraisy. Kita berhenti di sana, kemudian kita menuntupnya, menimbunnya, membangun kolam, memenuhi kolam tersebut dengan air, kemudian kita berperang melawan orang-orang Quraisy dalam keadaan kita bisa minum, sedang mereka tidak bisa minum." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh engkau memberi pendapat yang tepat." Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat pergi. Ketika tiba di air yang dekat dengan orang-orang Quraisy, beliau berhenti. beliau perintahkan air sumur dialirkan, kemudian beliau membangun kolam di dekat sumur tersebut, memenuhinya dengan air, dan para sahabat melemparkan tempat-tempat air mereka ke kolam tersebut.

(JGA: penghalalan segala cara sampai dengan menyediakan kolam air yang diisi racun tuba atau sejenisnya) :shock:

Para Sahabat Membangun Bangsal untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa ia diberitahu Sa'ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak membangun bangsal untukmu, dan kita siapkan kendaraan untukmu, kemudian kita berperang melawan musuh-musuh kita? Jika Allah memuliakan kita, dan memenangkan kita atas musuh-musuh kita, itulah yang kita harapkan. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, engkau duduk di atas kendaraanmu, kemudian engkau menyusul kaum kami yang ada di belakang kami, karena kaum tersebut berjalan di belakang. Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kita lebih mencintaimu daripada mereka. Jika mereka melihat engkau mendapatkan perlawanan, mereka tidak akan meninggalkan. Allah akan melindungimu dengan mereka :green: :lol: ; mereka akan menasihatimu dan berjihad bersamamu." :shock: :lol: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memuji Sa'ad bin Muadz dengan baik dan mendoakannya. Kemudian bangsal dibangun untuk beliau dan beliau menetap di dalamnya.

(JGA: Seharusnya sebagai nabi, muhammad haruslah didepan pasukannya dan menolak untuk ditempatkan dibarisan paling belakang untuk melindunginya. Bukankah Allah SWT sanggup melindungi muhammad dari keadaan paling gawatpun. Koq malah sangat senang menerima tawaran manusia untuk melindunginya? )
=========================================================================================================
Halaman 599

Perjalanan Orang-orang Quraisy

Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy tetap berjalan, dan tiba esok harinya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat mereka turun dari bukit pasir, beliau bersabda, 'Ya Allah, inilah orang-orang Quraisy datang dengan kepongahannya dan kesombongannya memusuhi-Mu, dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, berikan pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakan mereka pada pagi ini.' Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat Utbah bin Rabi'ah mengendarai unta merahnya bersama orang-orang Quraisy, beliau bersabda, 'Jika pada kaum tersebut terdapat kebaikan, maka kebaikan itu ada pada pemilik unta merah itu. Jika mereka taat kepadanya, mereka mendapatkan petunjuk'."

Anak Rahadhah Al-Ghifari Menghadiahkan Hewan Sembelihan kepada Orang-roang Quraisy

Ibnu Ishaq berkata, "Khufaf bin Aima' bin Rahadhah Al-Ghifari atau ayahnya, Aima' bin Rahadhah Al-Ghifari--ketika orang-orang Quraisy berjalan melewatinya--mengutus anaknya membawa hewan sembelihan sebagai hadiah untuk mereka. Ia berkata kepada mereka, 'Jika kalian ingin kami mensuplai kalian dengan senjata dan pasukan, kami akan melakukannya.' Orang-orang Quraisy mengirim utusan bersama anaknya dengan membawa pesan, 'Engkau telah menyambung hubungan sanak kerabat, kita tidak lemah untuk menghadapi mereka. Namun jika kita memerangi Allah seperti yang dikatakan Muhammad, siapa pun tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Allah.'

Ketika orang-orang Quraisy telah berhenti, beberapa orang dari mereka termasuk Hakim bin Hizam pergi hingga tiba di kolam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Biarkan mereka.' Ketika itu, tidak seorang pun yang meminum air kolam tersebut, melainkan ia mati, kecuali Hakim bin Hizam yang tidak mati. Kemudian Hakim bin Hizam masuk Islam, dan keislamannya baik. Jika ia bersumpah dengan serius, ia berkata, 'Tidak, demi Dzat yang menyelamatkanku di Perang Badar'."

Musyawarah Orang-orang Quraisy untuk Mengundurkan Diri dari Perang

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Ishaq bin Yasar dan ulama-ulama lain berkata kepadaku dari orang-orang tua kaum Anshar yang berkata,

"Setelah beristirahat, orang-orang Quraisy mengirim Umair bin Wahb Al-Jumahi. Mereka berkata kepada Umair bin Wahb Al-Jumahi, 'Cobalah hitung jumlah sahabat-sahabat Muhammad!' Umair bin Wahb Al-Jumahi berjalan mengelilingi markas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat dengan mengendarai kudanya. Kemudian ia pulang menemui orang-orang...
=========================================================================================================
Halaman 600

...Quraisy, dan berkata, 'Jumlah sahabat-sahabat Muhammad kurang lebih kira-kira tiga ratus orang. Tapi, beri aku waktu hingga aku bisa melihat apakah mereka mempunyai kekuatan tersembunyi atau bala bantuan.' Umair bin Wahb Al-Jumahi berjalan lagi mengelilingi lembah hingga berjalan jauh, namun ia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia pulang menemui orang-orang Quraisy, dan berkata kepada mereka, 'Aku tidak menemukan apa-apa. Namun wahai orang-orang Quraisy, aku lihat unta mengangkut kematian. Unta-unta Yatsrib datang membawa kematian yang mengerikan. Mereka kaum yang tidak mempunyai perlindungan, dan tempat melarikan diri kecuali pedang-pedang mereka. Demi Allah, aku lihat seorang pun dari mereka tidak terbunuh, melainkan sebelumnya ia telah membunuh salah seorang dari kalian. Jika jumlah mereka mendekati jumlah kalian, apa enaknya hidup setelah itu? Keluarkan pendapat kalian!'

Mendengar perekataan Umair bin Wahb Al-Jumahi, maka Hakim bin Hizam berjalan kepada orang-orang Quraisy. Ia menemui Utbah bin Rabi'ah, dan berkata kepadanya, 'Hai Abu Al-Walid, engkau orang tua Quraisy, pemimpinnya, dan orang yang ditaati. Kenapa engkau tidak ingin dikenang baik sepanjang zaman?' Utbah bin Rabi'ah berkata, 'Apa itu, wahai Hakim?' Hakim bin Hizam berkata, 'Engkau pulang bersama orang-orang dan menanggung persoalan sekutumu, Amr bin Al-Hadhrami.' Utbah bin Rabi'ah berkata, 'Ya, aku akan melakukannya. Engkau sama denganku dalam hal ini. Amr bin Al-Hadhrami adalah sekutuku, dan aku berhak menanggung ganti ruginya dan harta yang diambil darinya. Pergilah engkau kepada anak Al-Handhaliyah!' (Ibnu Hisyam berkata, "Al-Handhaliyah ialah ibu Abu Jahal. Nama lengkapnya ialah Asma' binti Mukharribah, salah seorang dari Bani Nahsyal bin Darim bin Malik bin Handhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim"). Karena aku yakin tidak ada manusia yang menentang hal ini, kecuali dia saja -- yang ia maksud ialah Abu Jahal'."

Utbah bin Rabi'ah Mengajak Orang-orang Quraisy Pulang ke Makkah

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Utbah bin Rabi'ah berdiri berpidato, 'Hai orang-orang Quraisy, demi Allah, kalian tidak sanggup mengerjakan apa-apa, jika kalian bertemu dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, jika kalian bisa mengalahkannya, ia tetap melihat wajah orang lain dengan wajah tidak suka. Ia telah membunuh saudara misannya dari ayahnya, atau saudara misannya dari ibunya, atau salah seorang dari keluarganya. Pulanglah kalian, dan biarkan Muhammad dengan seluruh orang-orang Arab. Jika kalian berhasil mengalahkannya, itulah yang kalian harapkan. Jika itu tidak terjadi, berarti ia mengalahkan kalian, dan kalian tidak berhasil mewujudkan apa yang kalian inginkan padanya'."
=========================================================================================================
Halaman 601

Abu Jahal Mengecam Usulan Utbah bin Rabi'ah

Ibnu Ishaq berkata, 'Hakim bin Hizam berkata, 'Kemudian aku pergi kepada Abu Jahal. Aku lihat dia mengeluarkan baju besinya dari kantong kulitnya, dan mengecatnya dengan endapan minyak. Aku berkata kepadanya, 'Hai Abu Al-Hakam, sesungguhnya Utbah bin Rabi'ah mengutusku datang kepadamu dengan membawa pesan ini dan itu.' Abu Jahal berkata, 'Demi Allah, paru-paru Utbah telah menggembung (Ia menjadi pengecut), ketika ia melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Tidak, demi Allah kita tidak pulang hingga Allah memutuskan persoalan kita dengan Muhammad. Utbah bin Rabi'ah tidak boleh berkata seperti itu, karena ia sudah tahu bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu cukup makan dengan satu unta (maksudnya jumlah mereka sedikit), dan karena anak kandungnya ada pada mereka. Jadi ia takut anaknya terbunuh.'

Abu Jahal pergi menemui Amir bin Al-Hadhrami dan berkata kepadanya, 'Inilah sekutumu ingin pulang ke Makkah bersama orang-orang. Sungguh aku lihat dendammu di kedua matamu. Berdirilah, kemudian suruh orang-orang Quraisy memenuhi janji mereka kepadamu, dan tempat kematian saudaramu!' Amir bin Al-Hadhrami berdiri menampakkan dirinya dan berteriak keras, 'Duhai Amr. Duhai Amr, perang telah berkobar, persoalan manusia telah meruncing, mereka sepakat terhadap keburukannya, kemudian hal ini dirusak oleh pendapat Utbah bin Rabi'ah.' Ketika Utbah bin Rabi'ah mendengar perkataan Abu Jahal yang mengatakan bahwa paru-paru dirinya telah menggembung (ia menjadi pengecut), ia berkata, 'Orang yang melumuri pantatnya dengan za'faron (Abu Jahal) mengetahui siapa yang paru-parunya mengembung (pengecut); aku atau dia.'

Kemudian Utbah bin Rabi'ah mencari topi baja untuk ia kenakan di kepalanya, namun ia tidak mendapatkan topi baja yang sesuai dengan ukuran kepalanya, karena kepalanya besar. Sebagai gantinya, Utbah bin Rabi'ah menggunakan kainnya sebagai sorban di kepalanya."

Tempat Kematian Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi

Ibnu Ishaq berkata, "Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi ikut keluar ke Badar. Ia kejam dan akhlaknya bejat. Ia berkata, 'Aku bersumpah dengan nama Allah, aku pasti minum dari kolam mereka (kaum Muslimin), atau aku menghancurkannya, atau aku mati karenanya.' Ketika Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi telah keluar, Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiyallahu Anhu juga keluar untuk menghadapinya. Ketika keduanya telah bertemu, Hamzah bin Abdul Muththallib memukul Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, dan memotong kakinya hingga separuh betisnya ketika ingin pergi ke kolam. Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi ingin pergi kepada sahabat-sahabatnya, namun ia jatuh tersungkur dengan kaki berlumuran darah. Ia merayap ingin pergi ke kolam dengan harapan bisa mencebur ke dalamnya...
=========================================================================================================
Halaman 602

...hingga dengan begitu ia bisa mewujudkan sumpahnya, namun ia dibunuh Hamzah bin Abdul Muththalib, kemudian Hamzah bin Abdul Muththalib memukulnya hingga ia tewas di kolam tersebut."

Utbah bin Rabi'ah Menantang Duel

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Utbah bin Rabi'ah bersama saudaranya yang bernama Syaibah bin Rabi'ah, dan anak Utbah sendiri yang bernama Al-Walid bin Utbah keluar dari barisan kaumnya dan menantang duel. Tiga pemuda Anshar, yaitu Auf bin Al-Harts, Muawwidz bin Al-Harts, dan Abdullah bin Rawahah keluar untuk menghadapi mereka bertiga. Ketiga orang Quraisy tersebut bertanya, 'Siapa kalian ini?' Ketiga orang dari kaum Anshar tersebut menjawab, 'Kami kaum Anshar.' Ketiga orang Quraisy tersebut berkata, 'Kami tidak punya urusan dengan kalian.' Penyeru orang-orang Quraisy berseru, 'Hai Muhammad, keluarkan untuk kami orang-orang dari kaum kami yang sepadan dengan kami!' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Berdirilah engkau hai Ubaidah bin Al-Harits! Berdirilah engkau hai Hamzah! Berdirilah engkau hai Ali!' Ketika ketiga sahabat tersebut telah berdiri dan mendekat kepada tiga orang Quraisy tersebut, ketiga orang Quraisy tersebu berkata, 'Betul, kalian orang-orang mulia yang sepadan dengan kami.' Kemudian Ubaidah--sahabatt yang paling tua-- duel melawan Utbah bin Rabi'ah, Hamzah duel melawan Syaibah bin Rabi'ah, dan Ali duel melawan Al-Walid bin Utbah. Hamzah tidak membutuhkan waktu lama untuk membunuh Syaibah bin Rabi'ah. Ali juga tidak butuh waktu lama untuk membunuh Al-Walid. Sedang Ubaidah, dan Utbah bin Rabi'ah, keduanya memukul lawannya secara bergantian dan masing-masing dari keduanya memukul lawannya dengan pukulan yang tepat, kemudian Hamzah dan Ali memukul kedua pedangnya kepada Utbah bin Rabi'ah. Hamzah, dan Ali membantu Ubaidah dalam membunuh lawannya, kemudian menggotong Ubaidah ke tempat para sahabat."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Utbah bin Rabi'ah berkata kepada tiga pemuda Anshar, "Kalian orang-orang mulia yang sepadan dengan kami, namun kami ingin duel dengan kaum kami sendiri."

Jalannya Pertempuran

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian kedua belah pihak saling mendekat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang para sahabat menyerang musuh, kecuali setelah ada perintah dari beliau. Beliau bersabda. 'Jika mereka telah berkumpul di sekitar kalian, seranglah mereka dengan anak panah.' Ketika itu, beliau berada di bangsal dikawal Abu Bakar Radhiyallahu Anhu.
=========================================================================================================
Halaman 603

Perang Badar terjadi pada hari Jum'at, pagi hari tanggal 17 Ramadhan. Ini seperti dikatakan kepadaku oleh Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Al-Husain."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Habban bin Wasi' bin Hibban berkata kepadaku dari orang-orang tua kaumnya yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meluruskan barisan para sahabat pada Perang Badar. Beliau meluruskan barisan mereka dengan menggunakan anak panah yang tumpul. Beliau berjalan melewati Sawad bin Ghaziyyah sekutu Bani Adi bin An-Najjar yang agak menonjol dari barisan, dan menusuk perut Sawad bin Ghaziyyah dengan anak panah tumpul tersebut sambil bersabda, 'Luruskan barisanmu hai Sawad!' Sawad bin Ghaziyyah berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal engkau diutus Allah membawa kebenaran dan keadilan. Aku harus meminta qishas kepadamu.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuka perutnya, dan bersabda kepada Sawad bin Ghaziyyah, 'Silahkan lakukan qishas.' Sawad bin Ghaziyyah memeluk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mencium perut beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Sawad bin Ghaziyyah, 'Kenapa engkau bertindak seperti ini, hai Sawad?' Sawad bin Ghaziyyah, 'Wahai Rasulullah, aku hadir di sini seperti yang engkau lihat. Aku bertekad menjadikan akhir perjanjianku denganmu ialah kulitku menyentuh kulitmu.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan untuk Sawad bin Ghaziyyah dan bersabda kepadanya."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Meminta Pertolongan kepada Allah

Ibnu Ishaq berkata, "Setelah meluruskan barisan para sahabat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali ke bangsalnya. Beliau memasuki bangsal ditemani Abu Bakar dan tidak ada seorang pun selain keduanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bermunajat kepada Tuhannya, dan meminta pertolongan yang dijanjikan kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata dalam doanya, 'Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini (para sahabat) pada hari ini, Engkau tidak akan disembah.' :lol: Abu Bakar berkata, 'Wahai Nabi Allah, tahanlah munajatmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu.'

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tertidur di bangsal, kemudian beliau terbangun, dan bersabda, 'Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah Jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dan digigi depannya terdapat kematian'."

(JGA: watak jibril ekivalen dengan watak setan. satu-satunya keinginan setan ialah membunuh dan membinasakan!)


Syahid Pertama dari Kaum Muslimin

Ibnu Ishaq berkata, "Mihja', mantan budak Umar bin Khaththab terkena...
=========================================================================================================
Halaman 604

...lemparan anak panah dan ia meninggal dunia karenanya. Jadi dia Rahimahullah syahid pertama dari kaum Muslimin. Kemudian Harisah bin Suraqah, salah seorang dari Bani Adi bin An-Najjar yang ketika itu sedang minum air kolam terkena lemparan anak panah dan mengenai lehernya, hingga meninggal dunia karenanya."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memobilisasi Semangat Perang Para Sahabat

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari bangsal kepada sahabat-sahabatnya, dan memobilisasi mereka untuk perang. Beliau bersabda, 'Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman Tangan-Nya, pada hari ini tidak ada seorang pun yang memerangi mereka dengan sabar, mengharapkan ridha Allah, dan maju tanpa mundur, melainkan Allah memasukkannya ke dalam surga.' Umair bin Al-Humam, saudara Bani Salimah berkata sambil memegang beberapa kurma yang hendak ia makan, 'Hebat! Hebat! Tidak ada jarak bagiku untuk masuk surga kecuali aku dibunuh mereka.' Kemudian Umair bin Al-Humam membuang kurma dari tangannya, mengambil pedangnya, dan bertempur melawan musuh hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah merahmatinya."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Auf bin Al-Harits anak Afra' berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang membuat Tuhan berbahagia dengan hamba-Nya?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ia tancapkan Tangan-Nya pada musuh tanpa menggunakan baju besi." Kemudian Auf bin Al-Harits melepas baju besinya, membuangnya, mengambil pedangnya, dan menyerang musuh, hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah merahmatinya.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku dari Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air Al-Udzri sekutu Bani Zuhrah yang berkata padanya bahwa ia diberitahu, ketika kedua belah pihak telah bertemu, dan sebagian telah mendekat kepada sebagian yang lain, maka Abu Jahal bin Hisyam berkata, "Ya Allah, orang yang telah memutus hubungan silaturahim di antara kita, dan datang kepada kita dengan sesuatu yang tidak diketahuinya, hancurkan dia pada pagi ini!" Abu Jahal juga meminta pertolongan kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Melempar Orang-orang Musyrikin dengan Kerikil

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil segenggam kerikil, kemudian berjalan ke arah orang-orang Quraisy dan bersabda, 'Wajah-wajah kaum ini jelek.' Beliau meniup kerikil tersebut ke arah mereka, dan bersabda kepada para sahabat, 'Kuatkan serangan kalian!' Kemudian terjadilah kekalahan itu. Allah Ta'ala menewaskan tokoh-tokoh Quraisy...
=========================================================================================================
Halaman 605

...yang terbunuh dan menawan tokoh-tokoh mereka yang lain.

Ketika para sahabat sedang istirahat setelah berhasil menawan orang-orang Quraisy, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di dalam bangsal, tiba-tiba Sa'ad bin Muadz berdiri di depan pintu bangsal tersebut dengan menghunus pedang bersama beberapa orang dari kaum Anshar guna menjaga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka khawatir adanya serangan balik musuh. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat ketidaksukaan di wajah Sa'ad bin Muadz atas apa yang diperbuat para sahabat, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, 'Hai Sa'ad, sepertinya engkau tidak suka atas apa yang diperbuat orang-orang itu?' Sa'ad bin Muadz menjawab, 'Betul, wahai Rasulullah. Ini perang pertama yang dikehendaki Allah melawan orang-orang musyrik. Oleh karena itu, pembunuhan lebih aku sukai daripada tersisanya orang-orang tersebut'."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Melarang Pembunuhan terhadap Orang-orang Musyrikin Yang Ikut Perang karena Terpaksa
(JGA: alasan coy, bilang saja terus terang keluargaku jangan dibunuh meski mereka musyrik...susah amat sih?

Ibnu Ishaq berkata bahwa Al-Abbas bin Abdullah bin Ma'bad berkata kepadaku dari salah seorang dari keluarganya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat ketika itu, "Sungguh aku tahu, bahwa banyak sekali orang-orang dari Bani Hasyim dan selain Bani Hasyim dipaksa keluar untuk perang. Mereka tidak mempunyai keperluan berperang dengan kita. Oleh karena itu, barangsiapa bertemu dengan salah seorang dari Bani Hasyim, maka jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad, maka jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Al-Abbas bin Abdul Muththalib paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka jangan bunuh dia, karena ia dipaksa keluar untuk berperang." Abu Hudzaifah berkata, "Kita bunuh ayah-ayah kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan keluarga kita, kemudian kita biarkan Al-Abbas begitu saja? Demi Allah, jika aku bertemu dengannya, aku pasti membunuhnya." Hal ini didengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian ia bersabda kepada Umar bin Khaththab, "Hai Abu Hafsh!" Umar bin Khaththab berkata, "Demi Allah, saat itulah untuk pertama kalinya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggilku dengan nama Abu Hafsh." Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih lanjut, "Bolehkah paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dipukul dengan pedang?" Umar bin Khaththab menjawab, "Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya (Abu Hudzaifah)! Demi Allah, dia telah munafik." Abu Hudzaifah berkata, "Sejak saat itu, aku tidak merasa aman dengan ucapanku tersebut. Aku selalu dihantui ketakutan karenanya, namun aku tetap berharap ucapanku tersebut bisa dihapus dengan mati syahid." Abu Hudzaifah gugur sebagai syahid di Perang Yamamah.

(JGA: orang waras pasti mengatakan yang munafik adalah Muhammad dan Umar. Orang lain yang tidak kena mengena secara kekerabatan dengannya harus disikat, sedang yang merupakan kerabatnya dari penyembah berhala tidak boleh disikat. Jelas Al-Abbas tidak terima karena merasa sikap ini tidak adil, sebab ia tahu kerabatnya dihabisi oleh mereka termasuk oleh dirinya sendiri! Tapi apa akibatnya bagi Al-Abbas? Kritik kecilnya menimbulkan kesulitan keamanan bagi dirinya karena ancaman dari Umar. Luar biasa damainya Islam ini!) :green: :lol:
=========================================================================================================
Halaman 606

Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang pembunuhan terhadap Abu Al-Bakhtari, karena ia orang yang paling bisa menahan diri dari mengganggu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau tinggal di Makkah. Abu Al-Bakhtari tidak pernah menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan tidak pernah mengucapkan sesuatu yang menyakiti beliau. (JGA: dengan apa yang diungkap oleh Ibnu Hisyam di atas, dengan terang benderang menjelaskan kepada kita bahwa motif awal Muhammad menyerang orang-orang Quraisy Pagan adalah sebagai aksi balas dendamnya saja. Penyerangan selanjutnya yang semakin luas ke luar kabilah Quraisy semata-mata disebabkan rasa ketagihan terhadap hasil rampasan harta, wanita dari kabilah-kabilah yang "dianggapnya" musuh) Abu Al-Bakhtari termasuk orang yang membatalkan shahifah (nota perjanjian) yang diterapkan orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib. Di Perang Badar, Al-Mujadzdzar bin Dziyad Al-Balawi sekutu kaum Al-Anshar, kemudian dari Bani Salim bin Auf bertemu dengan Abu Al-Bakhtari, dan berkata kepada Abu Al-Bakhtari, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarangku membunuhmu." Ketika itu Abu Al-Bakhtari sedang berdua dengan temannya yang keluar bersamanya dari Makkah, yaitu Junadah bin Mulaihah binti Zuhair bin Al-Harits bin Asad. Junadah berasal dari Bani Laits. Nama asli Abu Al-Bakhtari ialah Al-Ash. Abu Al-Bakhtari bertanya kepada Al-Mujadzdzar, "Bagaimana dengan temanku ini?" Al-Mujadzdzar menjawab, "Tidak. Demi Allah, kita tidak membiarkan temanmu, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya melarang pembunuhanmu saja!" Abu Al-Bakhtari berkata, "Tidak. Demi Allah, kalau begitu, aku akan mati bersamanya, agar wanita-wanita Quraisy tidak membicarakanku bahwa aku membiarkan temanku dibunuh dan aku lebih suka hidup." Abu Al-Bakhtari berkata ketika Al-Mujadzdzar mendebatnya dan berniat membunuh temannya,
    Anak Hurrah tidak akan menyerahkan temannya
    Hingga ia ikut mati atau melihatnya bebas
Kemudian Abu Al-Bakhtari bertempur melawan Al-Mujadzdzar, dan Al-Mujadzdzar berhasil membunuhnya.

Al-Mujadzdzar bin Dziyad berkata tentang pembunuhannya terhadap Abu Al-Bakhtari,
    Engkau tidak tahu atau engkau lupa nasabku
    Tulislah nasabku, bahwa aku berasal dari Bali
    Yaitu orang-orang yang menikam dengan tombak,
    Dan memukul pemimpin kaum hingga ia goyah
    Ceritakan keyatiman orang yang ayahnya adalah Abu Al-Bakhtari
    Atau ceritakan kisah yang sama kepada kabilahku, yaitu Bali
    Bahwa aku telah menusuk (Abu Al-Bakhtari) dengan tombak hingga ia goyah
    Aku bunuh orang yang sepadan denganku dengan pedang tajam dari Masyraf
    Ia dilahirkan kepada kematian dengan susah payah seperti lahirnya anak unta dengan susah payah
    Engkau tidak melihat Mujadzdzar mengerjakan sesuatu yang luar biasa
=========================================================================================================
Halaman 607

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Al-Mujadzdzar pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan berkata kepada beliau, 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku sudah berusaha menjadikannya sebagai tawanan, dan membawanya kepadamu, namun ia tidak mau kecuali bertempur melawanku. Kemudian aku bertempur melawan dia, dan aku berhasil membunuhnya'."

Ibnu Hisyam berkata, "Abu Al-Bakhtari ialah Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad."

Tempat Kematian Umaiyyah bin Khalaf

Ibnu Ishaq berkata Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya. Ibnu Ishaq juga berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepada keduanya dan kepada selain keduanya dari Abdurrahman bin Auf yang berkata,

"Umaiyyah bin Khalaf adalah sahabat karibku di Makkah. Nama asliku Abdu Amr. Ketika aku masuk Islam, aku mengubah namaku dengan nama baru, yaitu Abdurrahman. Ini terjadi ketika kami tinggal di Makkah. Semasa masih di Makkah, Umaiyyah bin Khalaf sering menemuiku dan berkata, 'Hai Abdu Amr, apakah engkau benci dengan nama yang diberikan kedua orang tuamu?' Aku menjawab, 'Ya betul.' Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Aku tidak kenal dengan Ar-Rahman. Oleh karena itu, buatkan nama kemudian aku memanggilmu dengan nama tersebut! Engkau jangan menjawab panggilanku jika aku memanggilmu dengan nama pertamamu, dan aku juga tidak akan memanggilmu dengan nama pertamamu, dan aku juga tidak akan memanggilmu dengan nama yang tidak aku kenal."

(JGA: Ar-Rahman adalah salah satu nama dewa yang disembah di daerah Yaman. Muslim tidak sadar bahwa di antara 99 nama yang disematkan pada Allah SWT beberapa di antaranya adalah nama dewa Pagan. Dengan penuh percaya diri muslim memuji-muji dalam dzikirnya nama-nama dewa tersebut!) :prayer:

Abdurrahman bin Auf berkata, "Jika Umaiyyah bin Khalaf memanggilku dengan panggilan, 'Hai Abdu Amr,' aku tidak menyahutnya. Aku berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, 'Hai Abu Ali, panggil aku sesukamu!' Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Engkau aku panggil dengan nama Abdul Ilah.' Aku berkata, 'Ya, tidak apa-apa!' Sejak saat itu, jika aku berjalan melewati Umaiyyah bin Khalaf, ia berkata, 'Hai Abdul Ilah!' Aku menjawab panggilannya dan aku ngobrol dengannya. Pada Perang Badar, aku berjalan melewati Umaiyyah bin Khalaf yang ketika itu berdiri dengan anaknya yang bernama Ali bin Umaiyyah, dan memegang tangan anaknya. Ketika itu, aku membawa beberapa baju besi yang berhasil aku dapatkan dari orang-orang Quraisy. Ketika ia melihatku, ia berkata kepadaku, 'Hai Abdu Amr!' Aku tidak menyahut panggilannya. Umaiyyah bin Khalaf berkata lagi, 'Hai Abdu Ilah!' Aku menyahut, 'Ya.' Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Apakah engkau tertarik kepadaku, karena aku lebih baik daripada baju besi yang engkau bawa ini?' Aku berkata, 'Ya.' Kemudian aku buang baju-baju besi dari tanganku, dan aku pegang tangan Umaiyyah bin Khalaf dan tangan anaknya. Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Aku tidak pernah melihatmu seperti sekarang ini! Apakah engkau menginginkan susu?' Aku berjalan dengan membawa keduanya."
=========================================================================================================
Halaman 608
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Fri Jun 25, 2010 5:43 pm

Lanjutan...

Halaman 608

Ibnu Hisyam berkata, "Yang dimaksud Umaiyyah bin Khalaf dengan susu ialah bahwa siapa saja yang menawanku, aku menebus diriku daripadanya dengan unta yang banyak air susunya."

Kepahlawanan Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiyallahu Anhu

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdul Wahid bin Abu Aun berkata kepadaku dari Sa'ad bin Ibrahim dari ayahnya dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu yang berkata,

"Umaiyyah bin Khalaf berkata kepadaku ketika aku memegang tangannya dan tangan anaknya, 'Hai Abdul Ilah, siapakah orang di antara kalian yang diberi tanda dengan bulu unta di dadanya? Aku menjawab, 'Dia Hamzah bin Abdul Muththalib.' Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Dialah orang yang berbuat banyak hal terhadap kami.' Demi Allah, aku menuntun Umaiyyah bin Khalaf dan anaknya, Ali bin Umaiyyah. Tiba-tiba Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf bersamaku. Umaiyyah bin Khalaf inilah orang yang menyiksa Bilal di Makkah agar Bilal meninggalkan Islam. Umaiyyah bin Khalaf membawa Bilal ke padang pasir Makkah ketika sedang panas membara, membaringkannya, dan menyuruh batu besar diletakkan di atas dada Bilal. Umaiyyah bin Khalaf berkata kepada Bilal, 'Engkau terus dalam keadaan seperti ini atau engkau meninggalkan agama Muhammad!' Bilal menjawab, 'Ahad (Allah Maha Esa). Ahad (Allah Maha Esa).' Ketika Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf, ia berkata, 'Ini dia gembong kekafiran, Umaiyyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia selamat.' Aku berkata kepada Bilal, 'Hai Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?' Bilal berkata, 'Aku tidak selamat jika dia selamat.' Aku berkata kepada Bilal, 'Apakah engkau tidak mendengar suaraku, hai anak si Hitam?' Bilal berkata, 'Aku tidak selamat jika dia selamat.' Bilal berteriak dengan suara terkerasnya, 'Hai para penolong Allah, ini dia gembong kekafiran. Aku tidak selamat jika dia selamat'." (JGA: Islam ternyata tidak membuat pengikutnya menjadi lebih bermoral dan pemaaf, tetapi menjadikan mereka menjadi pendendam mengikuti junjungannya Muhammad)

Abdurrahman bin Auf berkata, "Kemudian para sahabat mengepung kami, hingga mereka menjadikan kami seperti berada di lingkaran. Aku tetap berusaha melindungi Umaiyyah bin Khalaf. Seseorang mencabut pedangnya dari sarung pedangnya, dan pada saat yang bersamaan seseorang memukul anak Umaiyyah bin Khalaf hingga ia jatuh tersungkur. Melihat anaknya jatuh tersungkur, Umaiyyah bin Khalaf berteriak dengan teriakan yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Aku berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, 'Selamatkan dirimu, karena tidak ada keselamatan bagimu. Demi Allah, sedikit pun aku tidak dapat melindungimu.' Para sahabat memotong-motong keduanya dengan pedang mereka. Abdurrahman bin Auf berkata, 'Semoga Allah merahmati Bilal. Baju besiku hilang. Ia menyakitiku dengan cara menyakiti kedua tawananku'."
=========================================================================================================
Halaman 609

Para Malaikat Ikut Perang Badar

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku, bahwa ia diberitahu dari Ibnu Abbas yang berkata bahwa seseorang dari Bani Ghifar berkata kepadaku,

"Aku dan saudara misanku naik ke gunung, hingga kami bisa melihat Badar. Ketika itu kami masih musyrik. Kami menunggu akhir perang; siapakah yang kalah? Kemudian kami bisa mengambil rampasan perang bersama orang-orang lain. Ketika kami berada di gunung tersebut, tiba-tiba awan mendekat kepada kami. Di awan tersebut, kami mendengar ringkik kuda. Kami mendengar ada yang berkata, 'Majulah engkau wahai Haizun (kuda Malaikat Jibril)!' Adapun saudara misanku, hatinya tidak tahan atas apa yang dilihatnya dan didengarnya, kemudian ia meninggal duni karenanya seketika itu juga. Aku sendiri nyaris meninggal dunia karenanya, kemudian kami saling berpegangan satu sama lainnya."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku dari seseorang dari Bani Sa'idah dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah yang ikut hadir di Perang Badar. Setelah ia buta, ia berkata, "Jika hari ini aku berada di Badar dan aku masih bisa melihat, aku pasti memperlihatkan kepada kalian jalan tempat keluarnya para malaikat. Aku tidak ragu-ragu dan mengada -ada dalam hal ini."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari orang-orang Bani Mazin bin An-Najjar dari Abu Daud Al-Mazini yang ikut Perang Badar yang berkata, "Ketika aku membuntuti salah seorang musyrik pada Perang Badar untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya jatuh tersungkur sebelum pedangku mengenainya. Aku pun sadar bahwa orang tersebut telah ditebas pihak lain."

Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Miqsam mantan budak Abdullah bin Al-Harts dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata, "Ciri-ciri para malaikat pada Perang Badar ialah sorban putih yang mereka selempangkan di punggung mereka. Pada Perang Uhud, mereka mengenakan sorban merah."

Sorban-sorban Para Malaikat di Perang Badar

Ibnu Ishaq berkata bahwa beberapa ulama berkata kepadaku bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, "Sorban ialah mahkota orang-orang Arab. Pada Perang Badar ciri-ciri para malaikat ialah sorban putih yang mereka turunkan hingga punggung mereka, kecuali Malaikat Jibril. Ia mengenakan sorban kuning."

Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Misqam dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata, "Para malaikat tidak ikut perang di selain Perang Badar. Pada perang-...
=========================================================================================================
Halaman 610

...perang selain Perang Badar, mereka menjadi penambahan jumlah dan tidak ikut bertempur secara langsung."

Tempat Kematian Abu Jahal

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika itu, sambil bertempur, Abu Jahal melantunkan syair,
    Perang sengit tidak balas dendam kepadaku
    Aku ibarat unta dua tahun yang telah keluar giginya
    Untuk seperti inilah, ibuku melahirkanku
Ibnu Hisyam berkata, "Slogan sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Perang Badar ialah,, 'Ahad (Allah Maha Esa). Ahad (Allah Maha Esa)'."

Ibnu Ishaq berkata, "Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengalahkan musuhnya, beliau memerintahkan mencari Abu Jahal di antara korban-korban perang. Orang yang pertama kali menemukan Abu Jahal--seperti dikatakan Tsaur bin Zaid kepadaku dari Ikrimah dari Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abu Bakar juga berkata kepadaku--ialah Muadz bin Amr bin Al-Jamuh, saudara Bani Salimah. Muadz bin Amr Al-Jamuh berkata, 'Aku mendengar dari orang-orang bahwa Abu Jahal berada di pohon yang rimbun. Mereka berkata, 'Abu Al-Hakam (Abu Jahal) tidak bisa didekati.' Ketika aku mendengar informasi tersebut, aku menjadikan Abu Jahal sebagai pusat obsesiku. Kemudian aku pergi menuju tempat Abu Jahal. Ketika aku menemukan lokasi Abu Jahal, aku menebasnya dengan tebasan yang membuat kakinya terpotong hingga separoh betisnya--ketika telah terpotong--melainkan seperti biji kurma yang jatuh dari alat pemecah biji ketika biji kurma tersebut dipukul. Anak Abu Jahal, Ikrimah menebas pundakku, kemudian tanganku terelempar, dan menggantung di kulit di lambungku. Perang di sekitarku berkecamuk dengan sengit hingga menjauhkanku dari Abu Jahal. Sungguh, aku telah bertempur sepanjang siangku dan menyeret tanganku di belakangku. Ketika aku merasa kesakitan, aku letakkan kakiku di atas kakiku, kemudian aku berjalan cepat dan membuangnya'.'

Ibnu Hisyam berkata, "Muadz bin Amr hidup hingga zaman pemerintahan Utsman bin Affan.'

Ibnu Ishaq berkata, "Muawwadz bin Afra' berjalan melewati Abu Jahal yang terluka, kemudian Muawwadz bin Afra' menebasnya dengan tebasan telak, dan membiarkannya dalam keadaan sekarat. Setelah itu, Muawwadz bin Afra' bertempur hingga gugur sebagai syahid. Kemudian Abdullah bin Mas'ud berjalan melewati Abu Jahal--ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pencarian Abu Jahal di antara para korban perang. Saat itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat, 'Jika kalian mengalami ketidakjelasan tentang Abu Jahal di antara para korban perang, lihatlah bekas luka di lututnya! Pada suatu hari aku dan dia berdesak- ...
=========================================================================================================
Halaman 611

...desakan di jamuan makan di rumah Abdullah bin Jud'an. Ketika itu aku dan dia masih anak-anak. Aku agak sedikit kurus daripadanya, kemudian aku mendorongnya. Ia jatuh di atas kedua lututnya, kemudian terdapat luka dalam disalah satu lututnya. Bekas luka tersebut sampai sekarang masih terlihat.' Abdullah bin Mas'ud berkata, 'Aku menemukan Abu Jahal di akhir sekaratnya. Aku mengenalinya, kemudian aku letakkan kedua kakiku di atas lehernya. Dulu di Makkah, Abu Jahal pernah memukulku hingga aku kesakitan dan pernah meninjuku. Aku bertanya kepada Abu Jahal, 'Apakah Allah telah menghinakanmu, hai musuh Allah?' Abu Jahal berkata, 'Dengan apa Allah menghinaku? Adakah aib bagi orang yang kalian perangi? Katakanlah kepadaku, milik siapa kemenangan pada hari ini?' Aku menjawab, 'Milik Allah dan Rasul-Nya'."

Ibnu Ishaq berkata bahwa beberapa orang dari Bani Makhzum berkata bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata, "Abu Jahal berkata kepadaku, 'Sungguh engkau telah mendaki pendakian yang sulit, hai anak kecil penggembala.' Kemudian aku penggal kepala Abu Jahal, dan membawa kepalanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, inilah kepala musuh Allah, Abu Jahal.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.' Itulah sumpah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aku berkata, 'Ya betul. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.' Aku lemparkan kepala Abu Jahal di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau pun memuji Allah."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah dan ulama-ulama ahli tentang perang berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada Sa'id bin Al-Ash ketika ia berjalan melewatinya, "Sesungguhnya aku melihat sepertinya ada sesuatu dalam dirimu? Jika aku membunuh ayahmu, aku tidak minta maaf kepadamu. Namun aku telah membunuh pamanku dari jalur ibuku yaitu Al-Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah. Adapun ayahmu, aku lihat dia menggali tanah seperti sapi menggali tanah dengan tanduknya. Aku menghindar darinya, kemudian ia didatangi saudara misannya yaitu Ali, kemudian Ali membunuhnya."

Pedang Ukkasyah bin Mihshan

Ibnu Ishaq berkata, "Di Perang Badar, Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan Al-Asadi sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bertempur dengan pedangnya hingga pedangnya patah di tangannya. Ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya tonggak pohon, sambil bersabda, 'Hai Ukkasyah, bertempurlah dengan tonggak kayu ini!' Ketika Ukkasyah bin Mihshan mengambil tonggak kayu tersebut dari tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam...
=========================================================================================================
Halaman 612

...ia mengerak-gerakkannya, tiba-tiba tonggak kayu tersebut berubah menjadi pedang panjang di tangannya, sangat kuat, dan putih tajam. Ukkasyah bin Mihshan bertempur dengan pedang tersebut, hingga Allah Ta'ala memberi kemenangan kepada kaum Muslimin. Pedang tersebut diberi nama Al-Aun. Pedang tersebut dimiliki Ukkasyah bin Mihshan dan ia gunakan di semua perang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga ia mati syahid di perang memerangi orang-orang murtad, dan pedang tersebut masih berada di tangannya. Ukkasyah bin Mihshan dibunuh Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi. Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi berkata tentang pembunuhannya terhadap Ukkasyah bin Mihshan,
    Apa komentar kalian terhadap satu kaum jika kalian memerangi mereka
    Bukankah mereka juga lelaki kendati mereka tidak masuk Islam?
    Jika sekawanan unta dan wanita dibunuh,
    Maka mereka tetap akan balas dendam atas kematian Hibal
    Aku pasang dada kuda Al-Himalah (kuda milik thulaihah)
    Jika penunggang kuda berkata, 'Baliklah,' maka Al-Himalah pun balik
    Sekali waktu, Anda lihat kuda tersebut dipakai perang dengan pelana di atas punggungnya
    Dan sekali waktu, ia digunakan perang tanpa pelana di atas punggungnya
    Pada suatu sore, aku tinggalkan Ibnu Aqram meninggal dunia, dan juga Ukkaysyah Al-Ghanmi
Ibnu Hisyam berkata, "Hibal adalah anak Thulaihah bin Khuwailid, dan Ibnu Aqram adalah Tsabit bin Aqram Al-Anshari."

Kesaksian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Ukkasyah bin Mihshan

Ibnu Ishaq berkata, "Ukkasyah bin Mihshan ialah sahabat yang berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau bersabda, 'Akan masuk surga tujuh puluh ribu dari umatku seperti bulan pada saat purnama.' Ukkasyah bin Mihshan berkata, 'Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Allah menjadikanku salah seorang dari mereka.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Engkau salah seorang dari mereka.' Kemudian salah seorang dari kaum Anshar berdiri, dan berkata, 'Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku salah seorang dari mereka!' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Engkau telah didahului Ukkasyah, dan doa itu telah selesai.' :lol: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda seperti dikatakan kepadaku oleh istrinya, 'Di antara kami terdapat penunggang kuda terbaik di Arab.' Para sahabat bertanya, 'Siapa dia wahai Rasulullah?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Dialah Ukkasyah bin Mihshan.' Dhirar bin Al-Azwar Al-Azwar Al-Asadi berkata, 'Orang tersebut (Ukkasyah) adalah salah seorang dari kami, wahai Rasulullah?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Ia bukan salah seorang dari kalian, namun salah seorang...
=========================================================================================================
Halaman 613

...dari kami.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu sebagai sumpah."

Ibnu Hisyam berkata, "Di Perang Badar, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu memanggil anaknya, Abdurrahman yang ketika itu berada di pihak orang-orang musyrikin, 'Mana kekayaanku, hai orang brengsek?' Abdurrahman menjawab,
    Kekayaan tersebut tidak tersisa kecuali senjata dan kuda yang kencang larinya
    Serta pedang yang membunuh orang tua tersesat
Itu seperti dikatakan kepadaku dari Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi."

Pelemparan Mayat-mayat Kaum Musyrikin ke Sumur

Ibnu Ishaq berkata bahwa Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan korban perang kaum musyrikin dilemparkan ke dalam sumur, maka korban-korban tersebut dilemparkan ke dalamnya, kecuali mayat Umaiyyah bin Khalaf. Badan Umaiyyah bin Khalaf membesar di baju besinya hingga memenuhi baju besinya. Para sahabat pergi untuk menggerak-gerakkannya, namun dagingnya malah cerai berai. Kemudian mereka melemparkan tanah dan batu ke atas tubuh Umaiyyah bin Khalaf."

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Para Penghuni Sumur

Aisyah berkata, "Ketika pelemparan mayat-mayat kaum musyrikin ke dalam sumur telah selesai, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di atas mereka, dan bersabda, 'Hai para penghuni sumur, apakah kalian telah melihat bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kepada kalian itu benar? Sesungguhnya aku telah melihat bahwa apa yang dijanjikan Allah kepadaku itu benar'."

Aisyah berkata, "Para sahabat-sahabat berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Kenapa engkau berbicara dengan kaum yang telah mati?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sungguh mereka telah mengetahui, bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu benar.' Para sahabat bertanya, 'Apakah mereka mendengar apa yang engkau katakan kepada mereka?' Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sungguh mereka telah mengetahui'."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Humaid Ath-Thawil berkata kepadaku dari Anas bin Malik yang berkata, "Para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata di pertengahan malam, 'Hai penghuni sumur, hai Utbah bin Rabi'ah, hai Syaibah bin Rabi'ah, hai Umaiyyah bin Khalaf, hai Abu Jahal bin Hisyam--Rasulullah...
========================================================================================================
Halaman 614

...Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan beberapa nama orang-orang Quraisy--, apakah kalian telah melihat bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kalian itu benar? Sungguh aku telah melihat bahwa apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku itu benar.' Kaum Muslimin berkata, 'Wahai Rasulullah, kenapa engkau memanggil kaum yang telah menjadi mayat? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Kalian tidak lebih mendengar terhadap apa yang aku katakan kepada mereka, hanya saja mereka tidak dapat menjawab pertanyaanku'."

Ibnu Ishaq berkata bahwa sebagian ulama berkata kepadaku, pada suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Hai penghuni sumur, keluarga Nabi yang paling jelek ialah kalian. :shock: :shock: Kalian mendustakanku pada saat orang-orang membenarkanku. Kalian mengusirku, padahal orang-orang lain menolongku." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda lagi, "Apakah kalian telah melihat bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kalian kepada kalian itu benar?"

Syair Hassan bin Tsabit tentang Perang Badar
    Ibnu Ishaq berkata, "Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu berkata,
    Aku mengetahui rumah Zainab di bukit pasir
    Seperti tulisan wahyu di kertas baru
    Rumah tersebut diterpa angin,
    Dan di semua siang, hujan turun padanya dengan deras
    Akibatnya, tulisannya menjadi rusak,
    Rumah tersebut runtuh, padahal sebelum dihuni orang-orang tercinta
    Hilangkan ingatanmu terhadap rumah tersebut di setiap hari
    Kembalikan entusias hati yang berduka
    Cerita kisah yang tidak ada aib di dalamnya
    Dengan jujur, dan tidak dengan bohong
    Kisah tentang apa yang diperbuat Allah untuk kita terhadap orang-orang musyrikin di Badar pada pagi hari
    Kita hadapi mereka dengan orang-orang
    Seperti singa-singa belantara yang masih muda, dan sudah tua
    Di depan Muhammad, mereka mendukung beliau
    Dalam menghadapi musuh-musuh di medan perang
    Mereka memegang pedang-pedang yang tajam,
    Bani Al-Aus yang dermawan di dukung Bani An-Najjar yang kuat agamanya
    Kita tinggalkan Abu Jahal tewas
    Kita tinggalkan Utbah di antara tanah dan batu
    Kita tinggalkan Syaibah bersama orang-orang ningrat,
    Jika nasab mereka disebutkan ahli nasab
========================================================================================================
Halaman 615

    Ketika kita lemparkan mereka ke dalam sumur, Rasulullah berseru kepada mereka,
    'Bukankah kalian sekarang mengetahui, bahwa perkataanku itu benar?
    Dan perintah Allah itu masuk ke dalam hati kami?'
    Mereka tidak dapat bicara, dan seandainya mereka bisa bicara, mereka pasti berkata,
    'Ya, engkau benar, dan engkau mempunyai pendapat benar.'

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan mayat-mayat orang-orang musyrikin dilemparkan ke dalam sumur, maka mayat Utbah bin Rabi'ah diambil, kemudian diseret ke dalam sumur. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat kesedihan di wajah Abu Hudzaifah bin Utbah, dan berubah warna. Beliau bersabda kepada Abu Hudzaifah bin Utbah, 'Hai Abu Hudzaifah, barangkali sesuatu telah masuk ke dalam dirimu karena perlakuan terhadap ayahmu?' --Atau seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.' Abu Hudzaifah berkata, 'Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak bimbang perihal ayahku dan perihal kematiannya. Aku lihat sikap bijak, kelembutan, dan kelebihan pada ayahku. Oleh karena itu, aku berharap kiranya itu semua membuatnya mendapat petunjuk kepada Islam. Ketika aku melihat apa yang terjadi padanya, dan ingat ia mati dalam keadaan kafir setelah aku berharap banyak padanya, aku sedih karenanya.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan bagi Abu Hudzaifah dan bersabda dengan baik kepadanya."

--ooOoo--
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Mon Jun 28, 2010 5:41 pm

Halaman 616

BAB 118
PEMUDA-PEMUDA DI MANA ALLAH MENURUNKAN AYAT TENTANG MEREKA:
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri,...

Ibnu Ishaq berkata, "Pemuda-pemuda yang tewas di Perang Badar, kemudian Al-Qur'an turun tentang mereka--seperti dikatakan kepadaku,
    'Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kalian ini?' Mereka menjawab, 'Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).' Para malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.' (An-Nisa': 97).

Adalah pemuda-pemuda Muslim. Pemuda-pemuda Muslim dari Bani Asad bin Abdu Uzza bin Qushai ialah Al-Harits bin Zama'ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad.

Pemuda-pemuda Muslim dari Bani Makhzum ialah Abu Qais bin Al-Fakih bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, dan Abu Qais bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Pemuda-pemuda Muslim dari Bani Jumah ialah Ali bin Umaiyyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah.

Pemuda-pemuda Muslim dari Bani Sahm ialah Al-Ash bin Munabbaih bin Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm.

Mereka semua telah masuk Islam ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah. Namun ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam...
========================================================================================================
Halaman 617

...hijrah ke Madinah, mereka tertahan oleh ayah mereka, keluarga mereka di Makkah, dan disiksa. Akibatnya, mereka terpengaruh, keluar bersama kaumnya ke Badar, dan tewas semuanya.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Mon Jun 28, 2010 6:26 pm

Halaman 618
BAB 119
HARTA RAMPASAN PERANG
DAN TAWANAN PERANG BADAR

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar rampasan perang yang berhasil dikumpulkan para sahabat dikumpulkan di barak beliau, namun mereka berselisih paham tentang rampasan perang tersebut. Para sahabat yang mengumpulkannya berkata, 'Rampasan perang tersebut milik kami.' Sedang para sahabat yang bertempur melawan musuh berkata, 'Demi Allah, tanpa kami, mustahil kalian dapat mengumpulkannya. Kami lebih sibuk memerangi musuh sehingga tidak mempunyai waktu mengumpulkannya.' Para sahabat yang mengawal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena khawatir beliau diserang musuh berkata, 'Demi Allah, kalian tidak lebih berhak atas rampasan perang daripada kami. Kami ingin membunuh musuh, tapi tiba-tiba Allah memberikan pundak-pundak mereka kepada kami. Tadinya kami ingin mengumpulkan rampasan perang ketika tidak ada orang yang mengawal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun kami khawatir musuh berbalik menyerang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, kami melindungi beliau. Jadi kalian tidak lebih berhak atas rampasan perang tersebut daripada kami'."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdurrahman bin Al-Harts dan sahabat-sahabatku lainnya berkata kepadaku dari Sulaiman bin Musa dari Makhul dari Abu Umamah Al-Bahili--nama asli Abu Umamah ialah Shudai bin Ajlan seperti dikatakan Ibnu Hisyam--yang berkata, "Aku pernah bertanya kepada Ubadah bin Ash-Shamit tentang surat Al-Anfaal (rampasan perang), ia menjawab, 'Surat tersebut diturunkan kepada kami para mujahidin Perang Badar. Surat itu, akhlak kami betul-betul rusak, kemudian Allah mencabut rampasan perang tersebut dari tangan kami, dan Dia menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau membagi-bagikannya kepada kaum Muslimin secara merata'."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa salah seorang dari Bani Sa'idah berkata kepadaku dari Abu Usaidah As-Sa'idi Malik bin Rabi'ah yang berkata, "Pada Perang Badar, aku berhasil...
========================================================================================================
Halaman 619

...mendapatkan pedang Bani Aidz Al-Makhzumi yang bernama Al-Mazruban. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pengembalian semua rampasan perang yang ada di tangan para sahabat, aku pun datang, dan mengumpulkan pedang tersebut bersama rampasan perang lain. Ketika itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menahan sesuatu yang diminta kepada beliau. Pedang tersebut diketahui Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, kemudian ia memintanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau memberikan pedang tersebut kepadanya."

Berita Gembira Kemenangan

Ibnu Ishaq berkata, "Setelah kemenangan diraih, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin Rawahah sebagai penyampai berita gembira kepada warga Al-Aliyah, bahwa Allah Azza wa Jalla memenangkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Zaid bin Harits sebagai penyampai berita gembira kemenangan kepada warga As-Safilah. Usamah bin Zaid berkata, 'Informasi tiba kepada kami--ketika kami sedang menguruk tanah ke atas kuburan Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diperisteri Utsman bin Affan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan aku dan Utsman menjaga Ruqayyah.' Ketika Zaid bin Haritsah tiba, aku datang kepadanya yang ketika itu sedang berdiri di mushalla, dan dikerubuti kaum Muslimin, Zaid bin Haritsah berkata, 'Utbah bin Rabi'ah tewas, Syaibah bin Rabi'ah tewas, Abu Jahal bin Hisyam tewas, Zama'ah bin Al-Aswad tewas, Abu Al-Bakhtari Al-Ash bin Hisyam tewas, Umaiyyah bin Khalaf tewas, Nubaih bin Al-Hajjaj tewas, dan Munabbih bin Al-Hajjaj juga tewas.' Usamah bin Zaid bertanya kepada ayahnya, Zaid bin Haritsah, 'Ayah, apakah itu semua benar?' Zaid bin Haritsah menjawab, 'Demi Allah, benar wahai anakku'."

Perjalanan Pulang ke Madinah

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah bersama rombongan para sahabat, dan membawa tawanan perang dari kaum musyrikin. Di antara tawanan perang tersebut terdapat Uqbah bin Abu Mu'aith dan An-Nadhr bin Al-Harits. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga membawa rampasan perang yang berhasil didapatkan dari kaum musyrikin. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Abdullah bin Ka'ab bin Amr bin Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin bin An-Najjar menjaga rampasan perang tersebut. Salah seorang dari kaum Muslimin berkata melantunkan syair-syairnya. (Ibnu Hisyam berkata, "Orang tersebut ialah Adi bin Abu Az-Zaghba")
    Hai Basbas, dirikan untuknya dada-dadanya
    Di Dzi Ath-Thalah tidak tempat istirahat untuknya
    Dan di padang sahara sepi tidak ada penjara
========================================================================================================
Halaman 620

    Sesungguhnya kuda-kuda kaum itu tidak bisa ditahan
    Kemudian kuda-kuda tersebut dibawa orang yang cerdas
    Allah telah memberi kemenangan, dan Al-Akhnas melarikan diri

Pembagian Rampasan Perang

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan, dan ketika beliau keluar dari Madziq Ash-Shafra', beliau berhenti di bukit pasir antara Madziq dengan An-Naziyah yang bernama Sayar, tepatnya di bawah pohon yang ada di sana. Di sanalah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi rampasan perang yang diberikan Allah kepada kaum Muslimin dari kaum musyrikin dengan merata.

Setelah melakukan pembagian rampasan perang, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan. Mereka mengucapkan selamat kepada beliau atas kemenangan yang diberikan Allah kepada beliau, dan kepada kaum Muslimin. Salamah bin Salamah berkata kepada kaum Muslimin tersebut--seperti di katakan kepadaku oleh Ashim bin Umar bin Qatadah dan Yazid bin Rumahl--, 'Ucapan selamat apa yang kalian berikan kepada kita? Demi Allah, kita tidak bertemu kecuali dengan orang-orang lemah dan botak seperti unta yang ditali, kemudian kita menyembelihnya.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum, kemudian beliau bersabda, 'Hai sanak saudaraku, mereka (orang-orang Quraisy) adalah para tokoh dan orang-orang terhormat'."

Pembunuhan terhadap An-Nadhr bin Al-Harits

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Ash-Shafra', beliau memerintahkan pembunuhan terhadap An-Nadhr bin Al-Harits. Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits dibunuh Ali bin Abu Thalib seperti dikatakan kepadaku oleh ulama Makkah." :-k :-k

Pembunuhan terhadap Uqbah bin Abu Mu'aith

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus berjalan. Ketika beliau tiba di Irqi Adz-Dzabyah, beliau memerintahkan pembunuhan terhadap Uqbah bin Mu'aith."

Ibnu Hisyam berkata, "Irzi Adz-Dzabyah berasal dari selain Ibnu Ishaq."

Ibnu Ishaq berkata, "Sahabat yang menawan Uqbah bin Mu'aith ialah Abdullah bin Salamah, salah seorang dari Bani Al-Ajlan."

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan terhadap Uqbah bin Mu'aith, ia berkata, 'Hai Muhammad, anak kecil menjadi milik siapa?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, 'Neraka.' Uqbah bin Mu'aith dibunuh Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqla' Al-Anshari, saudara Bani Amr bin Auf--seperti dikatakan...
========================================================================================================
Halaman 621

...kepadaku oleh Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Uqbah bin Mu'aith juga dibunuh Ali bin Abu Thalib--seperti dikatakan kepadaku oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dan ulama lain."

Ibnu Ishaq berkata, "Di Irqi Adz-Dzabyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu dengan Abu Hindun mantan budak Farwah bin Amr Al-Bayadhi yang membawa kantong yang penuh berisi hais (makanan dari kurma, tepung, dan samin). abu Hindun tidak ikut Perang Badar, kemudian ikut perang-perang lain bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya Abu Hindun termasuk kaum Anshar. Oleh karena itu, nikahkan dia dan nikahkan wanita kalian dengannya!' Para sahabat melaksakan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus berjalan hingga beliau tiba di Madinah sehari sebelum kedatangan para tawanan perang."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membawa para tawanan perang. Ketika itu, Saudah binti Zama'ah, istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di tempat keluarga Afra' sedang meratapi kematian Auf dan Muawwidz, keduannya anak Afra'. Itu terjadi ketika Hijab belum diwajibkan kepada wanita Muslimah.

Saudah berkata, 'Demi Allah, aku berada di tempat mereka, tiba-tiba seseorang datang kepada kami, dan berkata, 'Inilah para tawanan perang telah datang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.' aku segera pulang ke rumah, ternyata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah berada di dalamnya, dan ternyata Abu Yazid Suhail bin Amr berada di pojok kamar dalam keadaan kedua tangannya yang terikat dilehernya. Tidak, demi Allah, aku tidak dapat menguasai diriku ketika melihat Abu Yazid dalam keadaan seperti itu. Aku berkata, 'Hai Abu Yazid, kenapa engkau memberikan tanganmu? Kenapa engkau tidak mati dalam keadaan mulia?' Demi Allah, tidak ada yang menyadarkanku kecuali ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari dalam rumah, 'Hai Saudah, pantaskah engkau mengobarkan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya? Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, aku tidak dapat menguasai diriku, ketika melihat Abu Yazid dalam keadaan seperti itu; kedua tangannya terikat di lehernya, sehingga aku berkata seperti tadi'."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memerintahkan Perlakuan Yang Baik terhadap Para Tawanan Perang

Ibnu Ishaq berkata bahwa Nubaih bin Wahb saudara Bani Abduddaar berkata kepadaku, ketika para tawanan perang telah datang, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi-bagikannya kepada para sahabat. Beliau...
========================================================================================================
Halaman 622

...bersabda, 'Berbuat baiklah kepada para tawanan perang.' Abu Azid bin Umair bin Hasyim, saudara kandung Mush'ab bin Umair yang berada dalam tawanan perang berkata, 'Saudaraku, Mush'ab bin Umair berjalan melewatiku bersama salah seorang kaum Anshar yang menawanku. Mush'ab bin Umair berkata, 'Pegang kuat orang ini, karena ibunya kaya raya. Mudah-mudahan ia menebusnya darimu!' :-k Abu Aziz bin Umair berkata, 'Aku bersama beberapa orang kaum Anshar ketika mereka membawaku dari Badar. Jika mereka datang membawa makanan sian dan makanan malam, mereka memberiku roti, sedang mereka sendiri makan kurma. Ini karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka berbuat baik terhadap kami para tawanan perang. Tidak ada seorang pun dari mereka mempunyai remukan roti, melainkan ia memberikannya kepadaku. Aku pun malu kepada mereka, kemudian aku mengembalikan roti tersebut kepada salah seorang dari mereka, namun ia mengembalikannya kepadaku. Ia tidak menyentuhnya sedikit pun'."

Informasi Kemenangan Kaum Muslimin Tiba di Makkah

Ibnu Hisyam berkata, "Abu Aziz bin Umair ialah pemegang panji kaum musyrikin setelah An-Nadhr bin Al-Harits. Ketika saudaranya, Mush'ab bin Umair berkata kepada Abu Yasir, sahabat yang menawannya seperti di atas, Abu Aziz bin Umair berkata kepada Mush'ab bin Umair, 'Saudaraku, begitukah wasiatmu terhadapku?' Mush'ab bin Umair berkata kepada saudaranya, Abu Aziz bin Umair, 'Sesungguhnya Abu Yasir adalah saudaraku, dan bukannya engkau.' Kemudian ibu Abu Aziz bin Umair bertanya tentang tebusan tawanan termahal bagi orang Quraisy, lalu dikatakan kepada ibu Abu Aziz bin Umair, 'Tebusan tawanan perang terbesar ialah empat ribu dirham.' Ibu Abu Aziz menebus Abu Aziz dengan uang tebusan sebesar itu."

(JGA: Anjriitt...ternyata perintah untuk memperlakukan para tawanan dengan baik dimaksudkan untuk mendapatkan tebusan uang karena mengingat keluarga yang ditawan adalah orang yang berduit dan sanggup membayar tebusan...ckckck)

Informasi Kekalahan Orang-orang Quraisy Tiba di Makkah

Ibnu Ishaq berkata, "Orang yang pertama kali tiba di Makkah dengan membawa informasi kekalahan orang-orang Quraisy di Perang Badar ialah Al-Haisuman bin Abdullah Al-Khuzai. Orang-orang Quraisy bertanya kepada Al-Haisuman bin Abdullah, 'Informasi apa yang engkau bawa?' Al-Haisuman bin Abdullah menjawab, 'Utbah bin Rabi'ah tewas, Syaibah bin Rabi'ah tewas, Abu Al-Hakam (Abu Jahal) bin Hisyam tewas, Umaiyyah bin Khalaf tewas, Zama'ah bin Al-Aswad tewas, Nubaih bin Al-Hajjaj tewas, Munabbih bin Al-Hajjaj tewas, dan Abu Al-Bakhtari tewas.' Ketika Al-Haisuman bin Abdullah menyebutkan nama-nama pemimpin Makkah, Shafwan bin Umaiyyah yang duduk di atas batu berkata, 'Demi Allah, orang ini tidak berakal!' Al-Haisuman bin Abdullah berkata, 'Tanyakan kepadaku tentang Shafwan bin Umaiyyah!' Orang-orang Quraisy bertanya, 'Apa yang dikerjakan Shafwan bin Umaiyyah?' Al-Haisuman bin Abdullah menjawab, 'Dia sekarang duduk di atas batu. Demi Allah, sungguh, aku melihat ayahnya dan saudaranya, ketika keduanya terbunuh'."
========================================================================================================
Halaman 623

Abu Lahab Meninggal Dunia karena Malu dan Stress

Ibnu Ishaq berkata bahwa Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas berkata kepadaku dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas yang berkata bahwa Abu Rafi' mantan budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata,

"Tadinya aku adalah budak milik Al-Abbas bin Abdul Muththalib, dan Islam telah masuk kepada kami, warga rumah Al-Abbas. Al-Abbas dan Ummu Al-Fadhl (istri Al-Abbas) masuk Islam, kemudian aku ikut masuk Islam. Al-Abbas segan kepada kaumnya, dan tidak suka berbeda dengan mereka. Oleh karena itu, ia rahasiakan keislamannya. Ia kaya raya dan kekayaannya tersebar di kaumnya. Abu Lahab tidak ikut Perang Badar, dan sebagai gantinya ia kirim Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah. Itulah yang dilakukan orang-orang Quraisy ketika itu. Jika ia tidak bisa berangkat perang, ia mengirim seseorang sebagai pengganti dirinya. Ketika Abu Lahab mendengar informasi kekalahan orang-orang Quraisy di Perang Badar, maka Allah menghinakannya dan merendahkannya. Sedang kami merasa lebih kuat dan mulia."

Abu Rafi' berkata lebih lanjut, "Aku orang lemah. Aku bekerja membuat anak panah. Aku meraut anak panah di kemah dari kulit di Zamzam. Demi Allah, aku duduk di kemah kulitku di Zamzam dengan meraut anak panah. Ummu Al-Fadhl juga duduk bersamaku. Kami semua amat senang dengan informasi kemenangan kaum Muslimin yang sampai pada kami. Tiba-tiba Abu Lahab datang. Ia menyeret kedua kakinya dengan jahat. Ketika ia duduk di kayu pasak kemah, punggungnya berdekatan dengan punggungku. Ketika ia duduk, tiba-tiba orang-orang berkata, 'Ini dia Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib telah datang.' (Ibnu Hisyam berkata, "Nama asli Abu Sufyan ialah Al-Mughirah."). Abu Lahab berkata kepada Abu Sufyan bin Al-Harits, 'Hai Abu Sufyan, kemarilah. Aku bersumpah, bahwa engkau mempunyai informasi!' Abu Sufyan bin Al-Harits duduk di dekat Abu Lahab, sedang orang-orang lain berdiri di depannya. Abu Lahab berkata, 'Hai anak saudaraku, beritahu aku bagaimana kabar orang-orang Quraisy!' Abu Sufyan bin Al-Harits berkata, 'Demi Allah, kita bertemu dengan kaum tersebut (kaum Muslimin), kemudian kita berikan pundak kita kepada mereka. Mereka membunuh kami semau mereka, dan menawan kami semau mereka. Demi Allah, kendati demikian, aku tidak mencela orang-orang Quraisy. Kita bertemu dengan orang-orang putih di atas kuda belang di antara langit dan bumi. Demi Allah, tidak ada yang sanggup bertahan menghadapi mereka'."

Abu Rafi' berkata, "Kemudian aku mengangkat pasak kemah dengan tanganku dan berkata, 'Demi Allah, orang-orang putih tersebut adalah para malaikat.' Abu Lahab mengangkat tangannya, kemudian memukul wajahku dengan pukulan yang menyakitkan. Aku melompat ke arah Abu Lahab, namun ia menyerangku. Ia melemparku dengan tanah, kemudian mendudukiku sambil memukuliku, karena aku orang lemah. Kemudian Ummu Al-Fadhl pergi ke kayu pasak kemah dan mengambilnya. Ia pukul Abu Lahab dengan kayu...
========================================================================================================
Halaman 624

...pasak kemah tersebut dengan pukulan yang membuat luka parah di kepalanya. Ummu Al-Fadhl berkata, 'Engkau anggap lemah dia, ketika tuannya tidak ada di tempat?' Kemudian Abu Lahab lari dengan hina. Demi Allah, tujuh hari kemudian, Allah menimpakan penyakit membahayakan seperti thaun hingga ia mati karenanya."

Orang-orang Quraisy Menahan Dukanya

Ibnu Ishaq berkata bahwa Yahya bin Ubbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya Ubad yang berkata,

"Orang-orang Quraisy meratapi korban-korban mereka. Mereka berkata, 'Jangan kalian teruskan ratapan kalian, karena nanti terdengar oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya, kemudian mereka mentertawakan kalian. Kalian jangan mengutus orang untuk menebus tawanan kalian, dan tundalah penebusan mereka, niscaya Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak akan meminta uang tebusan banyak bagi penebusan tawanan kalian?' :-k

Tiga anak Al-Aswad bin Al-Muththalib: Zama'ah bin Al-Aswad, Aqil bin Al-Aswad, dan Al-Harits bin Al-Aswad tewas di Perang Badar. Ia ingin menangisi kematian anak-anaknya. Namun ketika ia ingin menangisi kematian anak-anaknya, tiba-tiba pada suatu malam ia mendengar wanita menangis meratap. Al-Aswad yang telah buta berkata kepada budaknya, 'Lihatlah, apakah meratap itu diperbolehkan? Lihatlah, apakah orang-orang Quraisy menangisi para korban mereka, sehingga dengan demikian aku bisa menangisi Abu Hakimah (Zama'ah). Sesungguhnya hatiku telah terbakar!' Ketika budak Al-Aswad telah kembali, ia berkata, 'Wanita tadi menangisi untanya yang hilang.' Kemudian Al-Aswad berkata,
    Apakah wanita tersebut menangis karena kehilangan unta?
    Dan tidak bisa tidur karenanya?
    Engkau jangan menangisi Bakr
    Namun tangisilah Badar, karena nenek moyang menjadi berkurang
    Tangisilah Badar; tokoh-tokoh Bani Hushaish,
    Bani Makhzum, dan anak-anak Abu Al-Walid
    Jika engkau menangis, tangisilah Aqil
    Tangisilah Harits, singa dari para singa
    Tangisilah mereka, dan jangan sebut mereka semua!
    Abu Hakimah tidak mempunyai tandingan
    Ketahuilah bahwa setelah mereka, ada orang-orang yang berkuasa
    Jika tidak ada Perang Badar, mereka idak akan berkuasa

Orang-orang Quraisy Menebus Tawanan Mereka

Ibnu Ishaq berkata, "Di antara para tawanan ialah Abu Wada'ah bin Dhubairah As-Sahmi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
========================================================================================================
Halaman 625

"Sesungguhnya Abu Wadah di Makkah mempunyai anak yang cerdas dam pedagang kaya. Sepertinya ia pergi kepada kalian untuk menebus ayahnya.' Ketika orang-orang Quraisy berkata, 'Janganlah kalian buru-buru menebus tawanan kalian, mudah-mudahan dengan cara seperti itu, Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak meminta uang tebusan yang banyak.' Al-Muththalib bin Abu Wada'ah yang dimaksud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hadits di atas berkata, 'Kalian benar. Kalian jangan buru-buru menebus tawanan kalian!' Namun pada malam harinya, Al-Muththalib bin Abu Wada'ah berangkat dari Makkah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tiba di Madinah, kemudian menebus ayahnya dengan uang tebusan sebesar empat ribu dirham, kemudian ia pulang bersama ayahnya."

Penebusan Suhail bin Amr

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk menebus tawanan mereka. Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf tiba di Madinah untuk menebus Suhail bin Amr yang ditawan Malik bin Ad-Dukhsyum, saudara Bani Salim bin Auf. Malik bin Ad-Dukhsyum berkata,
    Aku menawan Suhail dan aku tidak ingin tawanan lain selain dia di seluruh dunia
    Khindif mengetahui bahwa pemuda mereka
    Ialah Suhail, jika ia didzalimi
    Aku tebas dengan parang hingga parang tersebut bengkok
    Aku paksa diriku dengan menggunakan pedang Dzi Al-Alam
Ibnu Ishaq berkata, "Sebagian pakar syair mengatakan bahwa syair-syair di atas bukan syair-syair Malik bin Ad-Dukhsyum."

Ibnu Hisyam berkata, "Ciri-ciri Suhail ialah bibir bawahnya pecah."
Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Amr bin Atha', saudara Bani Amir bin Luai berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Wahai Rasulullah, izinkan saya mencabut gigi depan Suhail bin Amr, agar lidahnya menjulur sehingga ia tidak berdiri berceramah di tempat mana pun selama-lamanya." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Aku tidak akan memberikan hukuman berat kepadanya, agar aku tidak dihukum berat oleh Allah, kendati aku seorang Nabi." :---) :---)

Ibnu Ishaq berkata bahwa ada yang menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda kepada Umar bin Khaththab pada hadits di atas, "Mudah-mudahan dia berdiri di tempat yang tidak engkau benci."

Ibnu Hisyam berkata, "Pembahasan hal ini akan saya jelaskan pada tempatnya insya Allah."
========================================================================================================
Halaman 626

Mikraz bin Hafsh Menebus Suhail bin Amr

Ibnu Ishaq berkata, "Setelah Mikraz bin Hafsh berbicara dengan para sahabat tentang Suhail bin Amr dan para sahabat puas dengan hasil pembicaraan tersebut, maka para sahabat berkata, 'Sekarang serahkan hak kami kepada kami!' Mikraz bin Hafsh berkata, 'Ikatlah kakiku sebagai pengganti kaki Suhail bin Amr, dan sebagai gantinya lepaskan dia hingga dia mengutus orang untuk menebusnya!' Para sahabat melepas Suhail bin Amr, dan sebagai gantinya mereka menahan Mikraz bin Hafsh. Mikraz bin Hafsh berkata,
    Aku tebus dengan pemuda yang paling hebat
    Aku gadaikan tanganku dan harta lebih mudah daripada tanganku
    Aku takut kehinaan
    Aku berkata, 'Suhail adalah orang terbaik di kalangan kami
    Oleh karena itu pergilah kalian dengannya
    Kepada anak-anak kami hingga kita memutar keamanan kita
Ibnu Hisyam berkata, "Sebagian pakar syair berkata bahwa syair-syair di atas bukan milik Mikraz bin Hafsah."

Abu Sufyan bin Harb Menolak Menebus Anaknya, Amr bin Abu Sufyan

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku yang berkata, "Amr bin Abu Sufyan bin Harb termasuk tawanan Perang Badar di tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ibu Amr bin Abu Sufyan bin Harb ialah putri Uqbah bin Abu Mu'aith."

Ibnu Hisyam berkata, "Ibu Amr bin Abu Sufyan bin Harb ialah putri Abu Amr, saudara wanita Abu Mu'aith bin Abu Amr."

Ibnu Hisyam berkata, "Amr bin Abu Sufyan bin Harb ialah putri Abu Amr, saudara wanita Abu Mu'aith bin Abu Amr."

Ibnu Hisyam berkata, "Amr bin Abu Sufyan bin Harb ditawan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa ada orang berkata kepada Abu Sufyan bin Harb, "Tebuslah anakmu, Amr!" Abu Sufyan bin Harb berkata, "Apakah Ali mengumpulkan darahku dan kekayaanku? Mereka telah membunuh Handzalah, apakah aku harus menebus Amr? Mereka telah membunuh Handzalah, apakah aku harus menebus Amr? Biarkan Amr berada di tangan mereka, dan biarkan mereka menahannya di tangan mereka semau mereka! Ketika Amr bin Abu Sufyan tertahan di Madinah di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba Sa'ad bin An-Nu'man bin Akkal saudara Bani Amr bin Auf kemudian salah seorang dari Bani Umaiyyah keluar dari Madinah untuk melakukan umrah ditemani gadis kecilnya. Sa'ad bin An-Nukman telah berusaha lanjut dan masuk Islam. Ia menetap bersama kambingnya di An-Naqi' (tempat dekat Madinah). Dari An-Naqi', ia keluar untuk melakukan umrah tanpa khawatir mendapatkan perlakuan buruk. Ia tidak menyangka, bahwa ia akan ditahan di Makkah, karena ia pergi ke Makkah untuk melakukan umrah. Sebelumnya Sa'ad bin An-...
========================================================================================================
Halaman 627

...Nukman telah membuat perjanjian dengan orang-orang Quraisy, bahwa mereka tidak boleh mengganggu orang yang tiba di Makkah untuk melakukan haji atau umrah. Namun Abu Sufyan bin Harb menangkapnya, dan menahannya sebagai ganti penahanan atas Amr bin Abu Sufyan. Abu Sufyan berkata,
    Hai anak-anak Akkal, penuhilah dia
    Kalian telah berjanji tidak akan menyerahkan pemimpin yang telah lanjut usia
    Sesungguhnya Bani Amr itu orang hina-dina,
    Jika mereka tidak melepas tawanan mereka
Ucapan Abu Sufyan bin Harb di atas dijawab Hassan bin Tsabit,
    Jika Sa'ad dilepas di Makkah
    Pasti ia akan banyak melakukan pembunuhan sebelum ia ditawan
    Ia membunuh dengan pedang tajam atau dengan anak panah dari pohon Na'bah
    Hingga pedang atau anak panah tersebut mengeluarkan suara
Bani Amr bin Auf pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan menjelaskan kepada beliau masalah mereka. Mereka meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan Amr bin Abu Sufyan bin Harb kepada mereka untuk dibebaskan sehingga dengan cara seperti itu, mereka bisa membebaskan sahabat mereka (Sa'ad bin An-Nu'man). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabulkan permintaan mereka, kemudian mereka mengirim Amr bin Abu Sufyan bin Harb kepada Abu Sufyan bin Harb, dan Abu Sufyan bin Harb membebaskan Sa'ad bin An-Nu'man."

Kisah Abu Al-Ash dan Pernikahannya dengan Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta Penawanan Dirinya di Perang Badar

Ibnu Ishaq berakta, "Di antara tawanan Perang Badar terdapat Abu al-Ash bin Ar-Rabi' bin Abdun bin Al-Uzza bin Abdu Syams, menantu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan suami putri beliau, Zainab."

Ibnu Hisyam berkata, "Abu Al-Ash ditawan Khiras bin Ash-Shimmah, salah seorang dari Bani Haram."

Ibnu Ishaq berkata, "Abu Al-Ash termasuk orang-orang Makkah yang kaya, jujur dan pedagang. Ia anak Halal binti Khuwailid, dan Khadijah adalah bibinya. Khadijah meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahkan Abu Al-Ash dengan Zainab. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak ingin menolak keinginan Khadijah, dan itu terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau, kemudian beliau menikahkan Abu Al-Ash dengan Zainab. Khadijah menganggap Abu Al-Ash seperti anaknya sendiri. Ketika Allah Ta'ala memuliakan Rasul-Nya dengan memberikan kenabian kepada beliau, Khadijah...
========================================================================================================
Halaman 628

...dan putri-putrinya beriman kepada beliau. Mereka membenarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersaksi bahwa apa yang beliau bawa adalah benar, dan beragama dengan agama beliau. Sedang Abu Al-Ash bertahan pada kesyirikannya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahkan Utbah bin Abu Lahab dengan Ruqaiyyah atau Ummu Kaltsum. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperlihatkan perintah Allah, dan permusuhan kepada orang-orang Quraisy, mereka berkata, 'Sesungguhnya kalian telah mengosongkan hati Muhammad dari kesedihan. Kembalikan putri-putrinya kepadanya, agar ia lebih sibuk dengan mereka.' Kemudian mereka pergi menemui Abu Al-Ash dan berkata kepadanya, 'Ceraikan istrimu, niscaya kami nikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana pun yang engkau kehendaki!' Abu Al-Ash menjawab, 'Tidak demi Allah, aku tidak akan menceraikan istriku! Aku tidak ingin istriku diganti dengan wanita Quraisy lainnya.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi pujian kepada Abu Al-Ash karena ia menantu yang baik--seperti dikatakan kepadaku.

Orang-orang Quraisy pergi menemui Utbah bin Abu Lahab, dan mereka berkata kepadanya, 'Ceraikan putri Muhammad, niscaya kami nikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana pun yang engkau sukai.' Utbah bin Abu Lahab berkata, 'Jika kalian bisa menikahkan aku dengan putri Aban bin Sa'id bin Al-Ash atau putri Sa'id bin Al-Ash, aku akan menceraikan putri Muhammad.' Kemudian orang-orang Quraisy menikahkan Utbah bin Abu Lahab dengan putri Sa'ad bin Al-Ash, dan Utbah abin Abu Lahab pun menceraikan putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tanpa pernah menggaulinya. Allah mengeluarkan Ruqaiyyah dari tangan Utbah bin Abu Lahab untuk memuliakannya, dan menghinakan Utbah bin Abu Lahab untuk memuliakannya, dan menghinakan Utbah bin Abu Lahab. Sesudah itu, Ruqaiyyah dinikahi Utsman bin Affan. Di Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menghalalkan dan tidak mengharamkan orang yang kalah sesuai dengan perintahnya. Sesungguhnya Islam telah menceraikan Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan suaminya, Abu Al-Ash--ketika Zainab telah masuk Islam--, namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak tega memisahkan keduanya. Zainab tetap tinggal bersama Abu Al-Ash sebagai seorang Muslimah dan Abu Al-Ash yang musyrik hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Ketika orang-orang Quraisy berangkat ke Badar, Abu Al-Ash ikut berangkat bersama mereka, dan menjadi tawanan di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Zainah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Pergi ke Madinah untuk Menebus Suaminya

Ibnu Ishaq berkata bahwa Yahya bin Ubbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Ubbah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, "Ketika orang-orang Makkah mengirim wakilnya pergi ke Madinah...
========================================================================================================
Halaman 629

...untuk menebus tawanan mereka, Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengirim wakilnya pergi ke Madinah untuk menebus Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' dengan uang. Zainab juga mengirimkan kalung kepada suaminya, Abu Al-Ash. Kalung tersebut tadinya milik Khadijah, kemudian Khadijah memberikan kalung tersebut kepadanya ketika ia menikah dengan Abu Al-Ash. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat kalung tersebut, beliau trenyuh, kemudian beliau bersabda, 'JIka kalian ingin membebaskan suami Zainab, dan mengembalikan hartanya kepadanya, silahkan kalian melakukannya!' Para sahabat berkata, 'Itu akan kami lakukan, wahai Rasulullah.' Kemudian para sahabat membebaskan Abu Al-Ash dan mengembalikan harta Zainab.

Kepergian Zainab Radhiyallahu Anha ke Madinah

Aisyah berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah membuat kesepakatan dengan Abu Al-Ash, atau beliau membuat perjanjian dengannya untuk memberikan kemudahan bagi kepergian Zainab kepada beliau. Atau Abu Al-Ash telah memberikan persyaratan dalam pembebasan dirinya, tapi persyaratan tersebut tidak terlihat pada Abu Al-Ash atau dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hanya saja ketika Abu Al-Ash berangkat pulang ke Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan salah seorang dari kaum Anshar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada keduanya, 'Pergilah ke kabilah Ya'jij. Jika Zainab melewati kalian berdua, temani dia hingga dia tiba di tempatku!' kemudian Zaid bin Haritsah dan sahabat dari kaum Anshar tersebut berangkat ke tempat yang dimaksud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini terjadi sebulan atau hampir sebulan setelah Perang Badar. Ketika Abu Al-Ash tiba di Makkah, ia memerintahkan istrinya pergi menyusul ayahnya, kemudian Zainab mengadakan persiapan untuk pergi ke Madinah.

    Hindun binti Utbah Bertanya kepada Zainab tentang Kepergiannya ke Madinah, dan Sanggahan Zainab

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa aku diberitahu dari Zainab yang berkata, "Ketika aku bersiap-siap di Makkah untuk menyusul ayahku, Hindun binti Utbah bertemu denganku. Ia berkata, 'Hai putri Muhammad, aku dengar engkau akan pergi menyusul ayahmu?' Aku menjawab, 'Aku tidak ingin menyusul ayahku.' Hindun binti Utbah berkata, 'Hai putri pamanku, jika engkau membutuhkan perbekalan untuk bekal perjalananmu atau uang sehingga engkau bisa tiba di tempat ayahmu, silahkan ajukan kebutuhanmu kepadaku, dan engkau tidak usah malu kepadaku, kerena sesuatu yang masuk kepada orang laki-laki itu tidak masuk kepada orang perempuan.' Zainab berkata, 'Demi Allah, aku melihat Hindun berkata seperti itu tidak dengan maksud ingin melakukan apa yang ia katakan.
========================================================================================================
Halaman 630

Namun aku tetap takut padanya. Oleh karena itu, aku katakan padanya, bahwa aku tidak akan menyusul ayahku. Tapi, aku tetap mengadakan persiapan untuk pergi ke Madinah menyusul ayahku.'

Habbar bin Al-Aswad bin Abdul Muththalib Menteror Zainab hingga Bayinya Keluar

Aisyah berkata, "Ketika Zainab telah selesai melakukan persiapan, maka saudara ipar Zainab, Kinanah bin Ar-Rabi', saudara suaminya memberikan unta kepadanya. Kinanah bin Ar-Rabi' mengambil busurnya dan tabung tempat anak panah. Kemudian di siang hari, Kinanah bin Ar-Rabi' berjalan menuntun unta Zainab, sedang Zainab berada di sekedupnya. Hal tersebut menjadi bahan pembicaraan orang-orang Quraisy, kemudian mereka pergi mengejar Zainab. Mereka berhasil bertemu dengannya di Dzi Thawa. ORang yang pertama kali menyusul Zainab ialah Habbar bin Al-Aswad bin Abdul Muththalib bin Asad bin Abdul Uzza Al-Fihri. Habbar bin Al-Aswad menteror Zainab di sekedupnya dengan tombak. Menurut para ulama, ketika Zainab sedang hamil. Karena mendapat teror dari Habbar bin Al-Aswad, maka bayi di kandungan Zainab keluar. Kinanah bin Ar-Rabi' berhenti, kemudian ia mengeluarkan anak panahnya dan berkata, 'Demi Allah, jika salah seorang dari kalian mendekat kepadaku, aku pasti melesatkan anak panahku padanya.' Orang-orang Quraisy pu pulang kembali ke Makkah.'

Orang-orang Musyrikin Melarang Zainab Keluar dari Makkah

Aisyah berkata, "Abu Sufyan bin Harb bersama tokoh-tokoh Quraisy tiba di lokasi Zainab dan Kinanah bin Ar-Rabi'. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Kinanah, 'Hai si Fulan, tahanlah anak panahmu dari kami, sehingga kami bisa bicara denganmu!' Kinanah bin Ar-Rabi' menahan anak panahnya, kemudian Abu Sufyan bin Harb datang kepadanya hingga berdiri di dekatnya. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Kinanah bin Ar-Rabi', 'Engkau bertindak tidak benar, karena engkau keluar bersama seorang wanita secara terang-terangan dilihat manusia. Engkau telah tahu musibah, dan petaka yang menimpa kami, serta apa yang dimasukkan Muhammad kepada kami. Jika engkau tetap memaksa keluar bersama putri Muhammad dengan terang-terangan dilihat orang-orang, maka orang-orang berpendapat bahwa itu karena kehinaan yang menimpa kita akibat musibah yang menimpa kita, dan itu adalah kelemahan kita. Aku bersumpah bahwa kami tidak mempunyai kepentingan menahan putri Muhammad, sehingga ia tidak bisa bertemu ayahnya. Kami tidak ingin balas dendam terhadap Zainab dengan menahannya. Namun pulanglah dengan putri Muhammad. Jika suara-suara telah mereda dan orang-orang berkata bahwa kami telah mengembalikan putri Muhammad kepada Muhammad, pergilah engkau bersama putri Muhammad dengan diam-diam dan susulkan dia kepada ayahnya!'
========================================================================================================
Halaman 631

Kinanah bin Ar-Rabi' menerima saran Abu Sufyan bin Harb, kemudian Zainab tinggal di Makkah hingga beberapa malam. Ketika suara-suara telah mereda, maka pada suatu malam, Kinanah bin Ar-Rabi' keluar dari Makkah bersama Zainab, kemudian Kinanah bin Ar-Rabi' menyerahkan Zainab kepada Zaid bin Haritsah dan sahabatnya. Zaid bin Haritsah dan sahabatnya tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa Zainab'."

Ibnu Ishaq berkata, "Abdullah bin Rawahah atau Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin Auf berkata tentang kejadian yang dialami Zainab,
    Telah datang kepadaku sesuatu yang tidak bisa ditaksir manusia, yaitu Zainab
    Mereka durhaka dan berdosa
    Zainab diusir, dan Muhammad tidak terhina karena pengusiran tersebut
    Perang di antara kita berkecamuk dengan dahsyat
    Kita gandengkan anak Abu Sufyan yang bernama Amr, dengan mantan budaknya
    Di rantai yang kuat dan suaranya bergemerincing
    Kita giring Quraisy yang kafir,
    Kita tempatkan mereka di daerah-daerah Najed dan kurma
    Jika mereka pergi ke Tihamah dengan mengendarai kuda atau berjalan,
    Kita juga akan pergi ke sana sepanjang masa hingga agar jalan kita tidak dibengkokkan
    Kita susulkan mereka kepada jejak-jejak Ad dan Jurhum
    Jika ada satu kaum tidak mentaati Muhammad,
    Mereka akan menyesali perbuatan mereka
    Katakan kepada Abu Sufyan, jika engkau bertemu dengannya
    Bahwa jika engkau tidak sujud dengan ikhlas dan tidak masuk Islam
    Maka sampaikan padanya tentag kehinaan di dunia
    Dan pakaian dingin yang abadi di Jahannam

Ibnu Ishaq berkata, "Mantan budak Abu Sufyan yang dimaksud pada syair di atas adalah Amir bin Al-Hadhrami. Ia juga menjadi tawanan di tempat kaum Muslimin. Tadinya ia bersekutu dengan Harb bin Umaiyyah."

Ibnu Hisyam berkata, "Mantan budak Abu Sufyan yang dimaksud di syair di atas ialah Uqbah bin Abdul Harits bin Al-Hadhrami. Adapun Amir bin Al-Hadhrami, ia tewas di Perang Badar."

Ketika orang-orang Quraisy yang menemui Zainab pulang ke Makkah, mereka bertemu dengan Hindun binti Utbah. Hindun binti Utbah berkata kepada mereka,
    Apakah dalam suasana damai, mereka tegas
    Kemudian di saat perang, mereka seperti wanita-wanita haid.

Kinanah bin Ar-Rabi' berkata tentang Zainab, ketika ia menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan sahabatnya,
========================================================================================================
Halaman 632

    Aku merasa heran terhadap Habbar, dan orang-orang hina dari kaumnya
    Mereka bermaksud menghalangiku mengantarkan putri Muhammad
    Aku tidak peduli terhadap kesombongan mereka selagi aku masih hidup
    Dan selagi tanganku masih dapat mengumpulkan harta dengan pedang buatan India

Ibnu Ishaq berkata bahwa Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Bukair bin Abdullah bin Al-Asyaj dari Sulaiman bin Yasar dari Abu Ishaq Ad-Dausi dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata,

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim sariyyah (ekspedisi perang) dan aku ikut dalam sariyyah (ekspedisi perang) tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada kami, 'Jika kalian bisa menangkap Habbar bin Al-Aswad atau orang lain yang tiba duluan di tempat Zainab (Ibnu Hisyam berkata, 'Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang dimaksud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits di atas ialah Nafi' bin Abdu Qais.'), bakarlah keduanya'." :shock: :-k Abu Hurairah berkata, "Esok paginya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke tempat kami dan beliau bersabda, 'Sebelum ini aku memerintahkan kalian membakar dua orang tersebut jika kalian berhasil menangkap keduanya. Aku berubah pikiran bahwa siapa pun tidak boleh menyiksa orang lain dengan api kecuali Allah saja yang diperbolehkan melakukannya. Jika kalian berhasil menangkap kedua orang tersebut, bunuhlah keduanya!' "

Masuk Islamnya Abu Al-Ash bin Ar-Rabi'

Ibnu Ishaq berkata, "Setelah itu, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' menetap di Makkah, sedang Zainab menetap di Madinah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--ketika Islam memisahkan keduanya. Menjelang penaklukan Makkah, Abu Al-Ash pergi berdagang ke Syam. Abu Al-Ash adalah orang yang amanah terhadap hartanya sendiri dan harta orang-orang Quraisy yang mereka titipkan kepadanya untuk dijual. Setelah selesai berdagang dan pulang ke Makkah, ia berjumpa dengan sariyyah (ekspedisi perang) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian mereka merampas kekayaan Abu Al-Ash bin Ar-Rabi'. Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' tidak sanggup menghadapi mereka, kemudian ia memilih kabur. Ketika sariyyah (ekspedisi perang) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah dengan membawa barang rampasan mereka, maka pada malam harinya Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' tiba di Madinah. Ia masuk ke rumah Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian meminta perlindungan kepadanya dan Zainab pun memberi perlindungan kepada Abu Al-Ash bin Ar-Rabi'. Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' pergi ke Madinah untuk mengambil kembali hartanya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk menunaikan shalat Shubuh--seperti dikatakan kepadaku oleh Yazid bin Ruman--, beliau bertakbir, dan para sahabat bertakbir. Tiba-tiba Zainab berteriak keras dari shaf wanita, 'Hai manusia, sesungguhnya...
========================================================================================================
Halaman 633

...aku telah memberi perlindungan kepada Abu Al-Ash.' Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam salam dari shalatnya, beliau menemui para sahabat, dan bersabda kepada mereka, 'Hai manusia, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?' Para sahabat menjawab, 'Ya, kami mendengarnya.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, aku tidak mengetahui sedikit pun tentang hal ini hingga aku mendengar apa yang kalian dengar. Sesungguhnya kaum Muslimin harus memberi perlindungan kepada orang yang paling lemah di antara mereka.' Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang hingga beliau masuk ke rumah menemui putrinya, dan berkata, 'Hai putriku, muliakan dia (Abu Al-Ash bin Ar-Rabi') dan jangan sekali-kali dia mendekatimu karena engkau tidak halal baginya!' "

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke sariyyah (ekspedisi perang) yang merampas harta Abu Al-Ash bin Ar-Rabi', dan bersabda kepada mereka, "Sesungguhnya orang ini termasuk golongan kita seperti yang kalian ketahui, dan kalian telah merampas hartanya. Jika kalian berbuat baik kepadanya dan mengembalikan hartanya kepadanya, maka hal ini sangat aku inginkan. Namun jika kalian tidak mau melakukannya, maka harta rampasan tersebut adalah harta fa'i yang diberikan Allah kepada kalian." Para sahabat menjawab, "Kami kembalikan hartanya kepadanya, wahai Rasulullah." Kemudian para sahabat mengembalikan harta Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' kepadanya, hingga salah seorang dari sahabat mengembalikan timbanya, sahabat lainnya datang mengembalikan qirbah (tempat air dari kulit), bahkan seorang sahabat mengembalikan kayu kecil untuk mengangkat karung. Mereka mengembalikan semua harta Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' tanpa mengurangi sedikit pun.

Kemudian Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' membawa pulang harta tersebut ke Makkah, mengembalikannya kepada pemiliknya dan orang-orang yang menitipkan barang dagangan kepadanya. Setelah itu, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' berkata, "Hai orang-orang Quraisy, apakah masih ada salah seorang dari kalian yang belum menerima hartanya?" Orang-orang Quraisy menjawab, "Tidak ada. Semua dari kami telah menerima hartanya. Semoga Allah memberi balasan yang baik kepadamu. Sungguh kami mendapatimu menepati janji dan orang mulia." Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku masuk Islam di tempat Muhammad, kecuali karena khawatir kalian menyangka bahwa aku bersikap seperti itu karena aku ingin memakan harta kalian. Setelah Allah mengembalikan harta kalian kepada kalian, dan aku selesai membagi-bagikannya kepada kalian, maka aku masuk Islam." Setelah itu, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' keluar dari Makkah hingga tiba di tempat...
========================================================================================================
Halaman 634

...Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Daud bin Al-Hushain berkata kepadaku dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' kepada Zainab tanpa melalui pernikahan baru, dan enam tahun kemudian tidak terjadi apa-apa padanya."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa ketika Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' pulang dari Syam dengan membawa harta orang-orang musyrikin, maka dikatakan kepadanya, "Apakah engkau masuk Islam dan mengambil harta ini, karena harta ini milik orang-orang musyrikin?" Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' menjawab, "Sesuatu yang paling buruk pada keislamanku ialah aku mengkhianati amanah yang diberikan kepadaku."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdul Warits bin Sa'id At-Tanuri berkata kepadaku dari Daud bin Abu Hindun dari Amir Asy-Sya'bi tentang hadits yang sama dengan hadits Abu Ubaidah dari Abu Al-Ash.

Nama-nama Tawanan Yang Dibebaskan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tanpa Uang Tebusan

Ibnu Ishaq berkata, "Di antara para tawanan yang dibebaskan tanpa uang tebusan yang nama-namanya disebutkan kepada kami adalah sebagai berikut:

Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' bin Abdul Uzza bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Ia dibebaskan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus orang untuk menebusnya.

Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah sebagai berikut:
Al-Muththalib bin Haritsah bin Al-Harts bin Utbah bin Umar bin Makhzum. Ia milik seseorang Bani Al-Harits. Ia dibiarkan di tangan mereka, kemudian mereka membebaskannya, dan ia menyusul kaumnya. (Ibnu Hisyam berkata, "Al-Muththalib bin Haritsah ditawan oleh Khalid bin Zaid yang tidak lain adalah Abu Ayyub Al-Anshari, saudara Bani An-Najjar.")

Shafi bin Abu Rifa' bin Aidz bin Abdullah bin Umar bin Makdzum. Ia dibiarkan bebas di tangan para sahabat. Ketika tidak ada orang yang menebus Shaifi bin Abu Rifa'ah, para sahabat membuat perjanjian dengannya agar ia mengirim orang menebus dirinya. Kemudian para sahabat membebaskannya, namun ia tidak memberikan apa-apa pada mereka. Tentang hal tersebut, Hassan bin Tsabit berkata,
    Shaifi tidak menetapi amanahnya
    Ia seperti tengkuk serigala yang tersesat di salah satu tempat
Abu Azzah Amr bin Abdullah bin Utsman bin Uhaibah bin Hudzafah bin Jumah. Ia orang miskin yang mempunyai anak-anak perempuan. Ia berkata...
========================================================================================================
Halaman 635

...kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Wahai Rasulullah, engkau telah mengetahui kalau aku tidak mempunyai uang, orang miskin, dan mempunyai tanggungan anak-anak perempuan. Oleh karena itu, bebaskan aku!' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membebaskannya, dan membuat perjanjian dengannya agar tidak membantu siapa pun untuk memerangi beliau. Tentang hal ini, Abu Azzah berkata memuji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menyebut kelebihan beliau atas kaumnya,
    Siapakah yang bisa menyampaikan dariku kepada Rasul Muhammad?
    Bahwa engkau benar dan raja yang terpuji
    Engkau mengajak kepada kebenaran dan petunjuk
    Engkau mempunyai saksi dari Allah Yang Mahaagung
    Engkau orang yang memperoleh kedudukan tinggi di kalangan kami
    Barangsiapa yang engkau perangi, sungguh ia tentara yang celaka
    Dan barangsiapa yang engkau berdamai dengannya, sungguh ia orang yang bahagia
    Namun, jika disebutkan Badar dan para pelaku Perang Badar
    Maka kerugian kembali kepadaku

Jumlah Tebusan Orang-orang Musyrikin

Ibnu Hisyam berkata, "Jumlah tebusan orang-orang musyrikin ketika itu ialah empat ribu hingga seribu dirham per satu tawanan, kecuali tawanan yang tidak mempunyai apa-apa, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membebaskannya tanpa uang tebusan."

Shafwan bin Umaiyyah Menyuruh Umair bin Wahb Membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair yang berkata, "Setelah orang-orang Quraisy menderita kekalahan di Perang Badar, Umair bin Wahb Al-Jumahi duduk berdua dengan Shafwan bin Umaiyyah di dekat Hajar Aswad. Umair bin Wahb adalah salah satu syetan Quraisy, termasuk orang yang menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, serta para sahabat mendapat kesusahan darinya ketika mereka tinggal di Makkah. Anak Umair mendapat kesusahan darinya ketika mereka tinggal di Makkah. Anak Umair bin Wahb yang bernama Wahb bin Umair masuk dalam tawanan kaum Muslimin."

Ibnu Hisyam berkata, "Wahb bin Umair ditawan Rifa'ah bin Rafi', salah seorang dari Bani Zuraq."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair yang berkata, "Umair bin Wahb ingat para penghuni sumur di Badar dan kekalahan mereka. Shafwan bin Umaiyyah berkata, 'Demi Allah, tidak ada kebaikan dalam hidup ini setelah mereka meninggal dunia.' Umair bin Wahb berkata kepada Shafwan bin Umaiyyah,...
========================================================================================================
Halaman 636

'Demi Allah, engkau berkata benar. Demi Allah, jika aku tidak mempunyai hutang yang harus aku lunasi, dan jika aku tidak mempunyai tanggungan yang aku khawatirkan mereka menjadi miskin sepeninggalku, aku pasti pergi kepada Muhammad kemudian membunuhnya. Sesungguhnya aku mempunyai aib pada mereka. Anakku menjadi tawanan di tangan mereka.' Ucapan Umair bin Wahb di atas dimanfaatkan baik-baik oleh Shafwan bin Umaiyyah, kemudian ia berkata, 'Hutangmu menjadi hutangku dan aku yang melunasinya. Anak-anak tanggunganmu menjadi anak-anak tanggunganku dan aku akan membantu mereka selama hidup. Tidak ada sesuatu yang bisa menghalangiku dan membuatku lemah dalam mengurusi mereka.' Umair bin Wahb berkata kepada Shafwan bin Umaiyyah, 'Rahasiakan kesepakatanku denganmu ini dari orang lain.' Shafwan bin Umaiyyah menjawab, 'Ya!' Kemudian Umair bin Wahb meminta salah seorang keluarganya mengambilkan pedangnya, kemudian ia mengasahnya dan memberinya racun. Setelah itu, ia berangkat hingga tiba di Madinah. Ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu sedang berkumpul dengan beberapa sahabat membicarakan Perang Badar, kemudian yang diberikan Allah kepada mereka, dan musuh mereka diperlihatkan Allah kepada mereka, tiba-tiba Umar bin Khaththab melihat kedatangan Umair bin Wahb yang kemudian berhenti di pintu masjid dengan menghunus pedang. Umar bin Khaththab berkata, 'Inilah anjing dan musuh Allah, Umair bin Wahb. Demi Allah, ia datang ke sini untuk berbuat jahat. Dialah orang yang menghasut orang-orang untuk berbuat terhadap kita kepada orang-orang Quraisy.' Umair bin Khaththab masuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau, 'Wahai Nabi Allah, inilah musuh Allah Umair bin Wahb datang dengan menghunus pedangnya.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Suruh dia masuk kepadaku!' Umar bin Khaththab pergi sambil memanggul pedangnya kemudian menarik dan memegang leher Umair bin Wahb dengan pedangnya. Umair bin Khaththab berkata kepada beberapa sahabat dari kaum Anshar, 'Masuklah kalian kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan duduklah di depan beliau. Hati-hatilah kalian terhadap orang brengsek ini, karena orang ini tidak bisa dipercaya.' Setelah itu, Umar bin Khaththab masuk ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa Umair bin Wahab."

Masuk Islamnya Umair bin Wahb

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat Umair bin Wahb, dan Umar bin Khaththab memanggul pedangnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Hai Umar, turunkan pedangmu. Hai Umair mendekatlah kepadaku!' Umair bin Wahb pun mendekat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian Umair bin Wahb berkata, 'An 'imuu shabahan (kalian diberi nikmat pada pagi ini)--ini...
========================================================================================================
Halaman 637

...adalah ucapan salam pada zaman jahiliyah.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Hai Umair, sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan ucapan salam yang lebih baik daripada ucapan salammu. Yaitu ucapan salam penghuni surga.' Umair bin Wahb berkata, 'Demi Allah, hai Muhammad, sesungguhnya aku orang baru dalam hal ini.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umair bin Wahb, 'Hai Umair, untuk apa engkau datang ke mari?' Umair bin Wahb menjawab, 'Aku datang kepada kalian karenan tawanan yang ada di tangan kalian. Berbuat baiklah kepadanya,' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Kalau begitu, kenapa pedang ada di atas pundakmu?' Umar bin Wahb menjawab, 'Semoga Allah menjelek-jelekkan pedang ini di antara pedang-pedang lain. Apakah pedang ini bisa memberikan sesuatu padaku?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umair bin Wahb, 'Jujurlah padaku, kenapa engkau datang ke sini?' Umair bin Wahb menjawab, 'Aku datang ke mari hanya untuk tujuan tersebut.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, 'Tidak, engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umaiyyah di dekat Hajar Aswad, kemudian kalian berdua membahas tentang orang-orang Quraisy penghuni sumur, kemudian engkau berkata, 'Seandainya aku tidak mempunyai tanggungan anak-anak, aku pasti pergi ke Madinah kemudian membunuh Muhammad.' Kemudian Shafwan bin Umaiyyah menanggung hutangmu, dan anak-anak tanggunganmu dengan syarat engkau membunuhku untuknya. Namun Allah menghalangimu sehingga engkau tidak dapat mewujudkan rencanamu.' Umair bin Wahb berkata, 'Aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah. Wahai Rasulullah, dulu kami mendustakan berita langit yang engkau bawa kepada kami, dan wahyu yang turun kepadamu. Rencana pembunuhan ini tidak dihadiri kecuali oleh aku dan Shafwan bin Umaiyyah. Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa memberitahukan rencana ini kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku petunjuk kepada Islam, dan menuntunku ke jalan ini.' Setelah itu, Umair bin Wahb bersaksi dengan kesaksian yang benar.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat, 'Ajarilah saudara kalian ini dalam masalah-masalah agamanya, bacakan Al-Qur'an kepadanya, dan bebaskan tawanannya!' Para sahabat melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Umair bin Wahb berkata, 'Wahai Rasulullah, dulu aku berusaha keras untuk memadamkan cahaya Allah, dan amat kejam terhadap orang yang memeluk agama Allah Azza wa Jalla. Sekarang aku ingin engkau mengizinkanku pulang ke Makkah, kemudian aku ajak orang-orang Quraisy kepada Allah Ta'ala, kepada Rasul-Nya, dan kepada Islam. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada mereka. Kalau tidak, aku siksa mereka karena agama mereka.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan Umair bin Wahb pulang ke Makkah, kemudian ia pulang ke Makkah."
========================================================================================================
Halaman 638

Umair bin Wahb di Makkah

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Umair ben Wahb berangkat ke Madinah, Shafwan bin Umaiyyah berkata kepada orang-orang Quraisy, 'Bergembiralah kalian dengan kejadian yang akan datang kepada kalian pada hari-hari di mana kalian dibuat lupa oleh Perang Badar.' Shafwan bin Umaiyyah selalu menanyakan informasi tentang Umair bin Wahb kepada setiap musafir, hingga suatu saat datanglah salah seorang musafir, kemudian musafir tersebut menjelaskan kepada Shafwan bin Umaiyyah tentang masuk Islamnya Umair bin Wahb. Shafwan bin Umaiyyah bersumpah ia tidak akan bicara apa pun dengan Umair bin Wahb dan tidak memberi sesuatu apa pun kepadanya selama-lamanya."

Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Umair bin Wahb telah tiba di Makkah, ia menetap di sana guna mengajak manusia kepada Islam, dan menyiksa dengan siksaan keras siapa saja yang menentangnya. Banyak sekali orang-orang yang masuk Islam karena dakwahnya."

Ibnu Ishaq berkata, "Disebutkan kepadaku bahwa salah seorang dari Umair bin Wahb atau Al-Harits bin Hisyam melihat iblis ketika Iblis mundur di Perang Badar. Iblis tersebut berkata, 'Mana Suraqah?' Kemudian iblis kembali ke bentuk aslinya dan pergi. Tentang hal ini, Allah menurunkan ayat,
    'Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kalian pada hari ini, dan sesungguhnya saya adalah pelindung kalian.' (Al-Anfaal: 48).
Pada ayat di atas, Allah menjelaskan tentang tipu daya iblis kepada orang-orang musyrikin Quraisy, dan penjelmaan iblis seperti Suraqah bin Malik bin Ju'syum kepada mereka ketika mereka ingat perang yang terjadi antara mereka melawan Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Allah Ta'ala berfirman,
    'Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan).' (Al-Anfaal: 48).
Maksudnya, musuh Allah, iblis melihat tentara-tentara Allah dari para malaikat dimana dengan mereka Allah mendukung Rasul-Nya dan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh-musuh Allah. Allah Ta'ala berfirman,
========================================================================================================Halaman 639
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 30, 2010 4:25 pm

Lanjutan...

Halaman 639

    'Syetan berbalik diri ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri dari kalian, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kalian sekalian tidak dapat melihatnya.' (Al-Anfaal: 48).
Musuh Allah, iblis berkata benar bahwa ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang-orang musyrikin Quraisy. Iblis berkata, 'Aku berlepas diri dari kalian.'
    'Sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya'." (Al-Anfaal: 48).
Ibnu Ishaq berkata bahwa disebutkan kepadaku bahwa orang-orang Quraisy melihat iblis di semua tempat dalam bentuk seperti Suraqah bin Malik. Oleh karena itu, mereka mempercayainya. Ketika Perang Badar dan pada saat kedua belah pihak telah berhadap-hadapan, iblis mundur ke belakang, kemudian membawa mereka dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslimin.

Ibnu Ishaq berkata, "Hassan bin Tsabit berkata,
    Kaumkulah yang melindungi Nabi mereka
    Dan membenarkannya, ketika penduduk bumi kafir kepadanya
    Kecuali kaum-kaum pilihan, mereka generasi pendahulu yang shalih
    Bersama orang-orang Anshar mereka menjadi penolong
    Mereka bergembira dengan pembagian Allah
    Ucapa mereka ketika orang yang mulia asal-usulnya dan orang pilihan datang kepada mereka
    ialah, 'Selamat datang di tempat yang aman dan luas.'
    Ia sebaik-baik Nabi, sebaik-baik bagian, dan sebaik-baik tetangga
    Mereka menempatkan Nabi di rumah yang tidak mengkhawatirkan
    Di Madinah, mereka membagi harta mereka dengan kaum Muhajirin
    Dan bagian penentang ialah neraka
    Kita berangkat dan mereka juga berangkat ke Badar
    Jika mereka betul-betul mengetahui, mereka tidak akan berangkat ke Badar
    Iblis menipu mereka, kemudian menyeerahkan mereka
    Sesungguhnya makhluk brengsek itu selalu menipu orang-orang yang loyal kepadanya
    Iblis berkata, 'Sesungguhnya aku adalah pelindung kalian.'
    Kemudian ia menempatkan mereka ke tempat-tempat yang hina dan...
========================================================================================================
Halaman 640

    penuh aib
    Kemudian kita bertemu dengan mereka, kemudian mereka menunju pemimpin mereka
    Dari Najad, dan di antara mereka terdapat kelompok-kelompok yang terpecah-belah
Ibnu Hisyam berkata, "Ucapan Hassan bin Tsabit, 'Ketika orang yang mulia asal-usulnya dan orang pilihan datang kepada mereka,' dibacakan kepadaku oleh Abu Zaid Al-Anshari."

---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu Jul 01, 2010 12:15 am, edited 1 time in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 30, 2010 4:35 pm

Halaman 641
BAB 120
ORANG-ORANG QURAISY PEMBERI MAKANAN

Ibnu Ishaq berkata, "Para pemberi makan dari orang-orang Quraisy, kemudian dari Bani8 Hasyim bin Abdu Manaf ialah Al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim.

Dari Banu Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams.

Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf ialah Al-Harits bin Amir bin Naufal yang bergantian dengan Thu'aimah bin Al-Harits bin Naufal.

Dari Bani Asad bin Abdul Uzza ialah Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Al-Harits bin Asad yang bergantian dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad.

Dari Bani Abduddaar bin Qushai ialah An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddaar. (Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan An-Nadhr ialah anak Al-Harits bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddaar.")

Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah ialah Abu Jahal bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Dari Bani Sahm bin Amr ialah Nubaih yang bergantian dengan Munabbih. Keduanya anak Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm.

Dari Bani Amir bin Luai ialah Suhail bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisi bin Amir."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 30, 2010 4:40 pm

Halaman 642
BAB 121
NAMA KUDA-KUDA KAUM MUSLIMIN DI PERANG BADAR

Ibnu Hisyam berkata bahwa salah seorang ulama berkata kepadaku bahwa kuda-kuda kaum Muslimin di Perang Badar ialah sebagai berikut:
1. Kuda milik Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawi yang bernama As-Sabal.
2. Kuda milik Al-Miqdad bin Amr bin Al-Bahrani yang bernama Za'zajah.
3. Kuda milik Az-Zubair bin Al-Awwam yang bernama Al-Ya'sub. Ibnu Hisyam berkata, "Kuda kaum musyrikin berjumlah seratus ekor."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Jun 30, 2010 11:28 pm

Halaman 643
BAB 122
TURUNNYA SURAT AL-ANFAL DAN PEMAPARANNYA TENTANG PERANG BADAR

Abu Muhammad bin Abdul Malik bin Hisyam berkata bahwa Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepada kami dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththalibi yang berkata,

"Setelah permasalahan Perang Badar tuntas, Allah Azza wa Jalla menurunkan seluruh surat Al-Anfal tentang Perang Badar. Di antara ayat di surat Al-Anfal yang turun ialah tentang perselisihan kaum Muslimin perihal rampasan perang ketika mereka memperselisihkannya. Allah Ta'ala berfirman,
    'Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesama kalian, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian orang-orang yang beriman'." (Al-Anfal: 1).
Jika Ubadah bin Ash-Shamit--seperti dikatakan kepadaku--ditanya tentang surat Al-Anfal, ia berkata, 'Surat Al-Anfal ini diturunkan kepada kami, para mujahidin Perang Badar ketika kami berselisih paham tentang harta rampasan perang di Perang Badar, kemudian Allah mencabut rampasan perang tersebut dari tangan kami--ketika akhlak kami rusak--, dan Allah mengembalikannya kepada Rasul-Nya, kemudian beliau membagi-bagikannya kepada kami dengan merata. Pada yang demikian itu terdapat ketakwaan kepada Allah, taat kepada-Nya, taat kepada Rasul-Nya, dan perbaiki hubungan di antara kita.'

Kemudian Allah Ta'ala menjelaskan tentang para sahabat, dan keberangkatan mereka bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam--ketika mereka mengetahui bahwa orang-orang Quraisy berangkat kepada mereka. Pada awalnya, kaum Muslimin menginginkan kafilah dagang Abu Sufyan karena mereka ingin mendapat harta rampasan, kemudian Allah Ta'ala berfirman, ...
========================================================================================================
Halaman 644

    'Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (padahal mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).' (Al-Anfal: 5-6).
Maksudnya, mereka tidak menghendaki pertemuan dengan orang-orang Quraisy, dan tidak menginginkan keberangkatan orang-orang Quraisy ketika informasi tentang orang-orang Quraisy disampaikan kepada mereka Allah Ta'ala berfirman,
    'Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untuk kalian, sedang kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian.' (Al-Anfal: 7).
Maksudnya, para sahabat menginginkan rampasan perang daripada perang. Allah Ta'ala berfirman,
    'Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.' (Al-Anfal: 7).
Maksudnya, memusnahkan orang-orang kafir melalui pertempuran yang menewaskan tokoh-tokoh Quraisy, dan pemimpin-pemimpin mereka di Perang Badar. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    '(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian.' (Al-Anfal: 9).
Maksudnya, keikak merka berdoa setelah melihat begitu banyaknya jumlah musuh, dan sedikitnya jumlah mereka sendiri. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Lalu diperkenankan-Nya bagi kalian.' (Al-Anfal: 9).
Maksudnya, lalu diperkenankan-Nya bagi kalian dengan doa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan doa kalian. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut -turut.' (Al-Anfal: 9).
Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suat penentraman daripada-Nya.' (Al-Anfal: 11).
Maksudnya, ketika Aku menurunkan kantuk kepada kalian, kemudian kalian tidur tanpa merasa takut sedikit pun. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit.' (Al-Anfal: 11).
Maksudnya, hujan yang turun pada mereka pada malam hari. Dengan hujan tersebut, Allah membuat orang-orang musyrikin tidak dapat mendahului mereka tiba di air Badar, dan Allah memudahkan perjalanan kaum Muslimin...
========================================================================================================
Halaman 645

...kepada air Badar. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Untuk menyucikan kalian dengan hujan itu dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan syetan dan untuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian).' (Al-Anfal: 11).
Maksudnya, untuk menghilangkan dari kalian keragu-raguan syetan. Allah membuat musuh mereka takut kepada mereka, dan membuat bumi padat bagi mereka sehingga mereka dapat mendahului musuh tiba dengan mudah di tempat mereka.

Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    '(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kalian maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman'." (Al-Anfal: 12).
Maksudnya, bantulah orang-orang yang telah beriman! Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan kepada kalian), maka rasakanlah hukuman itu, sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) adzab neraka.' (An-Anfal: 12-14).
Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerang kalian, maka janganlah kalian membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam, dan amat buruklah tempat kembalinya.' (Al-Anfal: 15-16).
Ayat di atas adalah dukungan Allah kepada kaum Muslimin dalam menghadapi orang-orang Quraisy, agar mereka tidak mundur dari orang-orang Quraisy ketika mereka telah berhadap-hadapan dengan musuh, karena Allah berjanji memberi kemenangan kepada mereka.

Kemudian Allah Ta'ala berfirman tentang pelemparan kerikil oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tangannya kepada orang-orang Quraisy ketika beliau melempar mereka,
    'Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.' (Al-Anfal: 17).
:shock:
========================================================================================================
Halaman 646

Maksudnya, engkau tidak dapat melempar mereka jika Allah tidak memberikan pertolongan dengan lemparan tersebut, dan jika Allah tidak melemparkannya ke dada musuhmu ketika Allah menghancurkan mereka. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    '(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukminin, dengan kemenangan yang baik; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' (Al-Anfal: 17).
Hal ini agar kaum Mukminin mengetahui nikmat Allah pada mereka, yaitu memberi mereka kemenangan, padahal jumlah mereka sedikit, dan agar mereka mengetahui hak Allah, kemudian mereka bersyukur atas nikmat-Nya pada mereka.

Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Jika kalian (orang-orang musyrikin) meminta pertolongan, maka pertolongan tersebut telah datang kepada kalian.' (Al-Anfal; 19).
Yaitu ucapan Abu Jahal, 'Ya Allah, orang yang telah memutus hubungan sanak kerabat kita, dan datang kepada kita dengan sesuatu yang tidak diketahuinya, binasakan dia pada pagi ini! Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Dan jika kalian berhenti, maka itulah yang lebih baik bagi kalian...' (Al-Anfal: 19).
Firman di atas ditujukan kepada orang-orang Quraisy. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Dan angkatan perang kalian sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kalian sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.' (Al-Anfal: 19).
Maksudnya, sesungguhnya jumlah kalian (orang-orang Quraisy), dan banyaknya jumlah kalian tidak akan berguna sedikit pun bagi kalian, karena Aku bersama kaum Mukminin, dan Aku menolong mereka dalam menghadapi siapa saja yang melawan mereka.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling daripada-Nya, sedang kalian mendengar (perintah-perintah-Nya).' (Al-Anfal: 20).
Maksudnya, hai orang-orang beriman, kalian jangan menentang perintah Allah, padahal kalian mendengar firman-Nya, dan mengaku bahwa kalian berasal dari-Nya. Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
    'Dan janganlah kalian menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata, 'Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan'.' (Al-Anfal: 21).
========================================================================================================
Halaman 647

Maksudnya, janganlah kalian menjadi seperti orang-orang munafik yang menampakkan ketaatan kepada Allah, padahal mereka menyembunyikan kemaksiatan kepada-Nya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.’ (Al-Anfal: 22).

Yaitu orang-orang munafik yang Aku larang kalian menjadi seperti mereka, karena mereka tuli dari kebaikan dan pekak dari kebenaran. Mereka tidak berakal dalam arti tidak mengetahui hokum yang ditimpakan kepada mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar.’ (Al-Anfal: 23).

Maksudnya, Kami pasti menyampaikan ucapan mereka kepada mereka, yaitu ucapan yang diucapkan mulu mereka, namun hati mereka menentang ucapan mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).’ (Al-Anfal: 23).

Maksudnya, mereka tidak memenuhi janji mereka kepada kalian. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan pada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.’ (Al-Anfal: 24).

Maksudnya, penuhilah perang di mana Allah memuliakan kalian dengannya setelah sebelumnya kalian hina, Allah menguatkan kalian dengannya setelah sebelumnya kalian lemah, dan Allah melindungi kalian dengannya setelah sebelumnya mereka mengalahkan kalian. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan ingatlah ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kalian takut orang-orang (Makkah) akan menculik kalian, maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kalian rezki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) jangan kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.’ (Al-Anfal: 26-27).

Maksudnya, janganlah kalian menampakkan kepada Allah kebenaran yang dengannya Allah ridha kepada kalian, kemudian kalian menentang…
=======================================================================================================
Halaman 648

…kebenaran tersebut dengan diam-diam, karena yang demikian itu kebinasaan bagi kalian, dan pengkhianatan terhadap diri kalian. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqaan dan menghapus segala kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.’ (Al-Anfal: 29).

Furqaan pada ayat di atas ialah garis pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Dengan furqaan tersebut, Allah memenangkan hak kalian, dan memadamkan kebatilan orang yang menentang kalian.

Kemudian Allah Ta’ala mengingatkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang nikmat-Nya kepada beliau, ketika orang-orang Quraisy membuat makar kepada beliau. Mereka ingin membunuh beliau, atau menahan beliau di Makkah, atau mengusir beliau dari Makkah. Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu; mereka memikirkan tipu-daya dan Allah menggagalkan tipu-daya itu, dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu-daya.’ (Al-Anfal: 30).

Maksudnya, kemudian Aku menggagalkan tipu-daya mereka dengan tipu daya-Ku yang hebat, hingga Aku membebaskanmu dari mereka. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan permintaan orang-orang Quraisy kepada Allah untuk diri mereka, ketika mereka berkata,

‘Ya Allah, jika betul ini, dialah yang benar dari sisi Engkau…’ (Al-Anfal: 323).

Maksudnya ialah ajaran yang dibawa Muhammad. Mereka berkata,

‘Maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit…’ (Al-Anfal: 32).

Maksudnya hujanilah kami dengan batu dari langit sebagaimana Engkau menghujani kaum Luth dengan batu. Mereka berkata,

‘Atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih’.’ (Al-Anfal: 23).

Maksudnya, datangkan kepada kami sebagian adzab yang Engkau berikan kepada umat-umat sebelum kami. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa kami. Ketika kami istighfar kepada-Nya, dan umat tidak akan disiksa, karena Nabi mereka bersama mereka, kecuali jika mereka mengusir Nabi mereka. Itulah ucapan mereka di depan Nabi-Nya, mengingatkan beliau tentang kebodohan mereka (orang-orang musyrikin), permintaan mereka untuk diri mereka, dan Allah memberi tahu beliau tentang keburukan amal perbuatan mereka,

‘Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka, dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.’ (Al-Anfal: 33).
========================================================================================================
Halaman 649

Maksudnya, yaitu ucapan mereka, ‘Kita meminta ampunan, karena Muhammad ada di tengah-tengah kita. Allah Ta’ala berfirman,

‘Kenapa Allah tidak mengadzab mereka…’ (Al-Anfal: 34).

Maksudnya, kenapa Allah tidak mengadzab mereka, kendati engkau (hai Muhammad) ada di tengah-tengah mereka, dan kendati mereka meminta ampunan seperti yang mereka katakana? Allah Ta’ala berfirman,

‘Padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram…’ (Al-Anfal: 34).

Maksudnya, padahal mereka menghalang-halangi orang yang beriman kepada Allah dan menyembah-Nya, yaitu engkau (hai Muhammad) dan orang-orang yang mengikutimu dari mendatangi Masjidil Haram? Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’ (Al-Anfal: 34).

Yang dimaksud dengan orang-orang yang bertakwa pada ayat di atas ialah orang-orang yang mengharamkan apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan shalat di Masjidil Haram, yaitu engkau dengan orang-orang yang beriman kepadamu. Allah Ta’ala berfirman,

‘Shalat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan…’ (Al-Anfal: 35).

Maksudnya, ibadah mereka seperti itu tidak diridha Allah Azza wa Jalla, tidak disukai-Nya dan bukan ibadah yang Dia wajibkan dan perintahkan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,

‘Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiran kalian.’ (Al-Anfal: 35).

Maksudnya, rasakanlah pembunuhan yang ditimpakan Allah kepada kalian di Perang Badar.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Abbad dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, “Jarak waktu antara turunnya ayat, ‘Hai orang yang berselimut (Muhammad),’ (Al-Muzzammil: 1) dengan ayat, ‘Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih.’ (Al-Muzzammil: 11-13). Itu tidak terlalu lama, hingga Allah menimpakan kekalahan pada orang-orang Quraisy di Perang Badar.”

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah, mereka akan menafkah-…
=========================================================================================================
Halaman 650

Kan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan; dank e dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.’ (Al-Anfal: 36).
Orang-orang kafir yang dimaksud ayat di atas ialah sekelompok orang-orang kafir yang pergi kepada Abu Sufyan bin Harb, dan kepada orang-orang kaya Quraisy di kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb. Mereka meminta Abu Sufyan bin Harb, dan orang-orang kaya Quraisy untuk mendukung mereka dalam memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang kaya Quraisy memenuhi permintaan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

‘Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi…(Al-Anfal: 38).

Maksudnya mereka kembali memerangimu, hai Muhammad. Allah Ta’ala berfirman,

‘Maka sesungguhnya akan berlaku (Kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu’.’ (Al-Anfal: 38).

Yang dimaksud dengan orang-orang terdahulu pada ayat di atas ialah orang-orang dari mereka yang terbunuh di Perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama ini semata-mata untuk Allah, jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.’ (Al-Anfal: 39).

Maksudnya, perangilah mereka supaya tidak ada lagi orang Mukmin yang disuruh keluar dari agamanya, tauhid itu murni milik Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan semua tuhan-tuhan tandingan selain Allah dibuang. Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan jika mereka berpaling…’ (Al-Anfal: 40).

Maksudnya, jika mereka berpaling dari perintahmu dan memilih kekafiran mereka, maka,

‘Ketahuilah bahwasanya Allah Pelindung kalian; Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.’ (Al-Anfal: 40).

Maksudnya, ketahuilah bahwa Allah adalah pelindung kalian yang memuliakan kalian, dan menolong kalian di Perang Badar atas mereka, padahal jumlah mereka banyak sekali, sedang jumlah kalian sedikit.

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan kepada kaum Muslimin tentang pembagian harta rampasan, dan hukumnya setelah Allah menghalalkannya bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

‘Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul,…
=========================================================================================================
Halaman 651

Kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’ (Al-Anfal: 41).

Hari Furqaan yang dimaksud ayat di atas ialah hari di mana pada hari tersebut Aku membedakan kebenaran dengan kebatilan dengan kemampuan-Ku, yaitu hari pertemuan dua kelompok, kelompok dari kalian dan kelompok dari mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘(Yaitu di hari) ketika kalian berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kalian.’ (Al-Anfal: 42).

Yang dimaksud dengan kafilah pada ayat di atas ialah kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb di mana kalian keluar dari Madinah untuk merampasnya, dan mereka (orang-orang Quraisy) keluar untuk melindungi kafilah dagang tersebut tanpa kesepakatan sebelumnya dari mereka dan dari kalian. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Sekiranya kalian mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kalian tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu…’ (Al-Anfal: 42).

Maksudnya, jika perang tersebut melalui kesepakatan antara kalian dengan mereka, kemudian kalian mengetahui jumlah mereka yang banyak, dan jumlah kalian yang sedikit, maka kalian tidak akan berani berhadapan dengan mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan…’ (Al-Anfal: 42).

Maksudnya, agar Allah melaksanakan apa yang Dia inginkan berdasarkan ketentuan-Nya, yaitu memuliakan Islam dan umatnya, serta menghinakan kekafiran dan orang-orang kafir tanpa adanya peran dari kalian, kemudian Allah melaksanakan apa yang Dia inginkan dengan kebaikan-Nya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ (Al-Anfal: 42).

Maksudnya agar kafirlah orang yang kafir setelah ia melihat ayat-ayat Allah dan ibrah-Nya. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan kebaikan Allah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan scenario-Nya untuk beliau. Allah Ta’ala berfirman,
=========================================================================================================
Halaman 652

‘(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah sedikit); dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kalian menjadi gentar dan tentu saja kalian akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.’ (Al-Anfal: 43).

Apa yang diperlihatkan Allah dalam mimpi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah salah satu nikmat-Nya kepada kaum Muslimin. Dengan nikmat tersebut, Allah memotivasi mereka untuk menghadapi musuh mereka, dan Allah menghilangkan kekhawatiran dari mereka karena kelemahan mereka, karena Allah mengetahui apa saja yang ada pada mereka.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata kalian dan kalian ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan; dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.’ (Al-Anfal: 44).

Maksudnya, agar Allah mempertemukan di antara kedua kelompok tersebut di perang sebagai tempat balas dendam terhadap orang-orang yang Allah berkehendak balas dendam terhadapnya, dan memberi nikmat kepada orang-orang yang Allah berkehendak untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka, yaitu para wali-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala menasihati kaum Muslimin, mengajari mereka, dan menjelaskan kepada mereka tentang sikap mereka yang semestinya dalam perang mereka. Allah Ta’ala berfirman,

‘Hai orang-orang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh)…’ (Al-Anfal: 45).

Maksudnya, jika kalian memerangi mereka di jalan Allah Azza wa Jalla. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.’ (Al-Anfal: 45).

Maka, sebutlah Allah dimana kalian mengorbankan nyawa kalian untuk-Nya, dan memenuhi bait yang pernah kalian berikan kepada-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar…’ (Al-Anfal: 46).

Maksudnya, janganlah kalian konflik sesame kalian yang mengakibatkan persatuan kalian menjadi cerai-berai. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
=========================================================================================================
Halaman 653

‘Dan hilang kekuatan kalian…’ (Al-Anfal: 46).

Maksudnya, ketajaman (kedigdayaan) kalian hilang. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,


‘Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’ (Al-Anfal: 46).

Maksudnya, Aku bersama kalian jka kalian melaksanakan perintah-Ku di ayat tersebut. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
‘Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah; dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.’ (Al-Anfal: 47).

Maksudnya, jangan kalian menjadi seperti Abu Jahal dan konco-konconya yang berkata, ‘Kita tidak akan pulang hingga tiba di Badar. Di sana, kita menyembelih unta, mengadakan pesta minuman keras, para artis bernyanyi untuk kita, dan orang-orang Arab mendengar siapa kita yang sesungguhnya.’ Ya, jangan terjadi riya’ dan sum’ah dalam urusan kalian, serta jangan kalian mencari apa yang ada di tangan manusia. Namun niatkan itu semua karena Allah, dan mengharap pertolongan-Nya kepada agama kalian dan membela nabi kalian. Kalian jangan beramal, kecuali karena tujuan tersebut, dan jangan mencari selain tujuan tersebut. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan berkata, ‘Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang atas kalian pada hari ini, dan sesungguhnya saya pelindung kaian.’ Maka tatkala kedua pasukan dapat saling melihat (berhadapan), maka syetan balik ke belakang seraya berkata, ‘Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kalian tidak dapat melihat, sesungguhnya saya takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya.’ (Al-Anfal: 48).

Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang kafir, dan apa yang mereka temui ketika mereka meninggal dunia. Allah menyifati mereka dengan sifat mereka. Allah menjelaskan tentang mereka kepada Nabi-Nya hingga sampai pada ayat,

‘Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.’ (Al-Anfal: 57).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kelian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan…
=========================================================================================================
Halaman 564

…Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Anfal: 60).

Maksudnya, pahala kalian di sisi Allah Ta’ala tidak akan disia-siakan dan juga balasan di dunia. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya…’ (Al-Anfal: 61).

Maksudnya, jika mereka mengajakmu berdamai berdasarkan Islam, berdamailah dengan mereka berdasarkan Islam. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan bertawakallah kepada Allah…’ (Al-Anfal: 61).

Maksudnya, bertawakallah kepada Allah, karena Allah melindungimu. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu).’ (Al-Anfal: 62).

Maksudnya, Allah ada di belakang itu semua. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya, dan dengan kaum Mukminin.’ (Al-Anfal: 62).

Maksudnya, Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya setelah sebelumnya engkau lemah.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan Dia yang mempersatukan hati mereka (hati orang-orang beriman).’ (Al-Anfal: 63).

Maksudnya, Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman) di atas petunjuk yang Engkau bawa dari Allah kepada mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Jika kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka; sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ (Al-Anfal: 63).

Maksudnya, Allah telah mempersatukan hati mereka dengan agama-Nya, dan mengumpulkan mereka di atas agama tersebut. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi kaum Mukminin yang mengikutimu. Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum Mukminin untuk berperang; jika ada dua puluh orang yang sabat di antara kalian, niscaya dapat mengalahkan dua ratus orang musuh, dan jika ada seratus ornag (yang sabar) di atara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.’ (Al-Anfal: 64-65).
=========================================================================================================
Halaman 655

Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak berperang berdasarkan niat, kebenaran, dan pengetahuan terhadap kebaikan dan keburukan.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Atha’ bin Rabah dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata, “Ketika ayat di atas turun, maka kaum Muslimin merasa keberatan terhadapnya, dan mereka menganggap bahwa dua puluh orang tidak mungkin mampu bertempur melawan dua ratus orang dari kaum musyrikin, dan seratus dari mereka tidak dapat bertempur melawan seribu orang dari orang-orang musyrikin. Kemudian Allah memberikan keringanan kepada mereka, dan ayat tersebut dihapus dengan ayat selanjutnya. Yaitu firman Allah Ta’ala,
‘Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan Dia telah mengetahui bahwa pada kalian terdapat kelemahan. Maka jika terdapat di antara kalian seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antara kalian terdapat seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’
(Al-Anfal: 66).

Setelah ayat di atas turun, maka jika jumlah kaum Mulimin separuh dari jumlah musuh mereka, mereka tidak boleh lari dari musuh. Jika jumlah mereka di bawah jumlah musuh, mereka tidak wajib memerangi dan diperbolehkan menghindar dari mereka.

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah mengkritik Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kasus tawanan, dan pengambilan rampasan perang, karena sebelum ini tidak ada seorang pun nabi yang memakan rampasan perang dari musuhnya.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad Abu Ja’far bin Ali bin Al-Husian berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Aku ditolong dengan rasa takut (yang dimasukkan kepada lawan). Bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan suci. Aku diberi perkataan yang padat makna. Dihalalkan bagi rampasan perang dan sebelumnya rampasan perang tidak dihalalkan kepada seorang nabi pun. Aku diberi syafa’at. Kelima hal tersebut tidak pernah diberikan kepada nabi sebelumku.”
=========================================================================================================
Halaman 656

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Tidak patut bagi seorang Nabi…’ (Al-Anfal: 67).

Maksudnya, mempunyai tawanan dari musuhnya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Hingga ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.’ (Al-Anfal: 67).

Maksudnya, hingga ia dapat melumpuhkan musuhnya dan mengusirnya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Kalian menghendaki harta benda duniawi…’ (Al-Anfal: 67).

Harta benda duniawi ialah perhiasan dan uang tebusan tawanan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Padahal Allah menghendaki akhirat, dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ (Al-Anfal: 67).

Yaitu pembunuhan atas orang-orang Quraisy, karena kemenangan agama yang ingin kalian menangkan. Dengan agama tersebut, akhirat bias dicapai. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Kalau sekiranya tidak ada ketentuan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kalian ditimpa siksaan yang besar karena apa yang telah kalian ambil.’ (Al-Anfal: 68).

Sesuatu yang kalian ambil tersebut ialah tawanan dan rampasan perang. Maksudnya, jika tidak telah Aku tetapkan sebelumnya, bahwa Aku tidak menyiksa kalian kecuali setelah memberikan larangan bagi kalian, Aku pasti menyiksa kalian karena perbuatan kalian. Namun kemudian Aku menghalalkan rampasan perang kepada Muhammad, dan mereka mendapatkan rahmat dari-Nya, dan kebaikan dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Al-Anfal: 69).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tangan kalian, ‘Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik dari apa yang telah diambil dari kalian dan Dia akan mengampuni kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Al-Anfal: 70).
=========================================================================================================
Halaman 657

Allah memerintahkan kaum Muslimin akrab dengan sesamanya, dan menjadikan kaum Muhajirin dan kaum Anshar sebagai wali-wali-Nya dalam agama dan bukan orang-orang selain mereka. Selain itu, Allah menjadikan orang-orang kafir itu sebagai pelindung bagi orang-orang kafir lainnya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
‘Jika kalian (hai kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.’ (Al-Anfal: 73).

Maksudnya, jika orang Mukmin tidak memberikan loyalitasnya kepada orang Mukmin lainnya, dan malah memberikannya kepada orang kafir—kendati ia mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang Mukmin--, maka akan terjadi fitnah di atas muka bumi. Artinya, akan terjadi ketidakjelasan antara kebenaran dengan kebatilan, dan munculnya kerusakan di muka bumi, karena orang Mukmin memberikan loyalitasnya kepada orang kafir dan bukan kepada orang Mukmin. Kemudian Allah mengembalikan hak waris kepada keluarga mereka setelah sebelumnya mereka memberikannya kepada kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya di dalam Kitab Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’ (Al-Anfal: 76).

Yang dimaksud dengan Kitab Allah pada ayat di atas ialah warisan.”

- - - o o O o o - - -
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

PreviousNext

Return to Buku² Islam Indonesia oleh Penulis² Muslim



Who is online

Users browsing this forum: No registered users