.

Islam's Royal Family part 5: ALI

Download Tulisan2 Penting tentang Islam; Website, referensi buku, artikel, latar belakang dll yang menyangkut Islam (Sunni) & Syariah.

Islam's Royal Family part 5: ALI

Postby ali5196 » Mon Jan 22, 2007 8:27 pm

LIHAT BAB2 SEBELUMNYA :

PART 1 Warisan Muhamad
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=10144
Part 2 Abu Bakr, Ali, Abu Sofyan
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=9755
Part 3 Usman
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=9753
Part 4 Ali vs Aisyah
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=10848

---------------------------------------------
with thanks to podrock yg terjemahan aslinya ditaruh setelah post ini. Karena terjemahan artikel ini sampai mencapai 17 halaman A4, saya mencoba menyingkat dan mempermudah strukturnya.
http://www.answering-islam.org/Silas/rf ... uawiya.htm

BAGIAN 5: ALI vs MU’AWIYAH
PERANG SAUDARA BERLANJUT

:axe: :axe: :finga:

PENDAHULUAN

Setelah pasukan Ali melawan pasukan Aisha dlm Perang Onta, genangan darah mayat ke-12.000 Muslim meresap kedalam pasir gurun dekat Basra. Belum lagi derita puluhan ribu orang terluka. Ali mengawasi pemandangan menyedihkan ini dan tidak terlalu gembira dgn kemenangannya. Dia baru saja mengalahkan tiga orang pengikut yg paling dikasihi Muhammad : Aisha, Talha dan az-Zubayr. Kedua tokoh terakhir itu khususnya dijanjikan jaminan surga oleh Muhammad.
Tapi terlepas dari kebesaran mereka semua, darah mereka tetap mewarnai pasir gurun. Tokoh2 besar Islam ini dibunuh oleh sesama muslim !

Bab satu dari periode resmi “Fitnah” Islam, atau pemberontakan, baru saja berakhir, dan bab dua dimulai. Konflik dan dendam yg berkepanjangan antara Muhammad dan Abu Sufyan mencuat kembali.
Dalam bab ini, konflik adalah antara Ali (menantu Muhammad) vs Mu’awiyah (Anak dari Abu Sufyan).

Mu’awiyah bisa disebut orang baru dalam hal permainan politik religius. Ayahnya adalah seorang politisi kawakan. Dipaksa utk memeluk Islam
dibawah ujung pedang, Abu Sufyan memainkan peribahasa kuno: “jika kau tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dg mereka.” Ia menjadi muslim. Sufyan bekerja keras utk mendapat keistimewaan khusus dari Muhamad dan memastikan agar anak cucunya juga mendapatkan kekuatan politik yg sama. Dan itulah yg terjadi: ketika anaknya tidak terpilih menjadi Kalifah, Sufyan mengatakan bahwa kesalahan ini akan dilunasi dgn kucuran darah.

Islam : agama atau gangsta ?
Image

KONFLIK BERIKUT DIMULAI
Lokasi : IRAK

Dalam Tabari volume 17 halaman 2, [1], Ali menunjuk Abdallah b. Abbas, keponakan Muhamad, sebagai wakilnya di Basra. BTW, Ibn Abbas adalah orang yg tadinya menjelekkan Ali didepan Umar – lihat Bagian 2 – atau Sahih Muslim, buku 019, Nomor 4349. (Ini saja sudah menunjukkan keakraban antara sesama anggota keluarga besar Muhamad ! :shock: ) Ali lalu maju ke Kufa, sebuah kota yg menjadi ‘markas’nya. Disana ia meminta masukan dari para penasihatnya yg justru memberikannya masukan yg saling bertentangan.

Sementara itu, Mu’awiyah, setelah mendengar rencana Ali, memanggil Amr dan minta nasihatnya… Kata Amr, “Karena kau telah mendengar Ali sedang menuju kesini, siapkan dirimu dan yakinlah ketika berhadapan dgnya dg pendapat dan strategimu.” Mu’awiyah menjawab, “Kalau begitu, Oh Abu Abdallah, siapkan orang2 !”

Image
Siapkan perang O Abdullah ...

Amr menurut dan utk merendahkan kekuatan Ali dan pengikutnya, dia bilang, “Orang2 Irak terpecah belah, ini melemahkan kekuatan dan menumpulkan ketajaman mereka. Terlebih lagi, orang2 Basra menentang Ali yg telah melukai mereka dan mendatangkan kematian pada sanak saudara mereka. Pemimpin2 mereka dan pemimpin2 Kufa saling bunuh-membunuh dlm Perang Onta. Ali lolos dg segelintir pengikutnya, diantara mereka ada yg telah membunuh kalifahmu. Takutlah akan Allah, ambil hakmu utk melakukan pembalasan dan jangan biarkan darah Usman tidak terbalaskan.” (halaman 2)

Seraya persiapan konflik sedang berlanjut, Mu’awiyah dg pintar mencari dukungan dari mereka yg mengritik Ali…

“Dia menulis pada siapa saja yg dia pikir takut akan Ali atau telah bicara jelek mengenai Ali dan pada siapapun yg menganggap kucuran darah Usman adalah masalah besar dan dia minta pertolongan mereka2 ini utk melawan Ali.” (halaman 3)

Begitu orang2 Ali maju kearah SIFFIN, beberapa kota menolak membantu mereka. Ancaman2 mati membuat orang2 kota ini terpaksa membantu gerak barisan mereka.

Image
http://islammonitor.org/index.php?optio ... 7&Itemid=1

PERANG SIFFIN

Rangkaian awal perang terjadi dg cepat. Barisan depan Ali melawan pasukan Syria. Ali mengirim seorang tangan kanannya, Al-Ashtar (salah seorang yg ikut dalam pembunuhan Usman), utk memperkuat barisan depannya.

Yang paling berarti dari semua pertempuran kecil ini adalah yg disebut “Perang dekat Perairan (The Battle by the Water).”

Tabari mengutip pengikut Ali:

“Ketika kita mendekati Mu’awiyah, kita lihat dia telah mendirikan perkemahan pada sebuah ruang yg luas dan datar, yg telah dia pilih sebelum kita tiba, disisi perairan di Euphrates. Didaerah itu tidak ada tempat lain lagi utk mendapatkan air, dan Mu’awiyah menguasainya dan mengirim Abu al-A’war utk menghalangi akses kesana dan menjaganya. Kita maju terus ke bagian atas Euphrates dg harapan menemukan tempat utk minum, tapi tidak menemukannya dan kembali menghadap Ali. Kita bilang padanya mengenai kehausan yg melanda pasukan dan kita tidak menemukan tempat lain utk air kecuali yg diduduki musuh, katanya, “Lawan mereka utk itu.” (Tabari, volume 17, halaman 11).

Disini kita diberi gambaran akan kepemimpinan yg kuat dan kebulatan tekad dari Ali. Pengikutnya mengalahkan Mu’awiyah dan mendapat akses ke sumber air tsb. Ali telah mengucurkan darah pertama, dan dia serta para pengikutnya (kebanyakan orang2 Kufa dan Basra), membuktikan keberanian mereka.

Setelah ini terdapat rentetan dialog2 dan manuver2, tapi tidak ada yg patut dicatat. Ali meminta Mu’awiyah utk taat padanya dan bersatu bersama dg Muslim2 lain. Mu’awiyah menjawab bahwa jika Ali menghukum para pembunuh Usman, yg beberapa diantaranya bergabung dg Ali, maka ia akan tunduk pada Ali. Namun keduanya tidak mau mengalah shg pertempuran2 kecil dan perang kata2 terus berlanjut. Dan ujung2nya, Muawiyah menuduh Ali sbg pembunuh Usman karena memperlambat pertolongan kepadanya karena ia (Ali) menginginkan jabatannya. Ali tentu mencoba membantahnya dst dst. (Bagi yg ingin membaca pernyataan2 mereka secara lengkap, silahkan baca versi terjemahan seluruhnya dlm artikel yg menyusul post ini)

...

Perang terus berlangsung hari demi hari. Ada kalanya orang2 Ali bertahan, tapi hasil akhirnya tidak begitu berarti.

Orang yg terpandang lain adalah Ubaydallah bin Umar bin al-Khattab – anak dari kalifah kedua, Umar – menguraikan. Setelah Usman dibunuh, dia bergabung dg Mu’awiyah. Sekarang, dia memimpin pasukan sayap Mu’awiyah.

...

Dialog penting lain berlangsung antara seseorang (pro Usman) dgn Hashim b. Utbah (pro-Ali) yg menggambarkan posisi Ali dan para pengikutnya dalam pembunuhan Usman….

Hashim bilang padanya: “Apa urusanmu dg Ibn Affan (Usman) ? Sahabat2 dekat Muhammad dan anak2 dari sahabat2nya dan qurra (?) rakyatLAH yg membunuhnya (Usman) karena dia (Usman) melakukan perubahan2 dan menentang ke-absahan Quran. Mereka adalah orang2 saleh dan lebih pantas menangani urusan rakyat ketimbang kau dan rekan2mu. Saya percaya bahwa
bahwa urusan2 mukminin tidak diabaikan bahkan hanya utk sesaatpun. (hal 71).

Ini jelas menunjukkan bahwa Ali tidak punya maksud utk menghukum para pembunuh Usman… Dia malah merekrut mereka! Ali secara mutlak telah membenarkan pembunuhan.


KESIMPULAN DARI PERANG SIFFIN

Perang setiap hari berlangsung dan orang2nya Ali biasanya selalu diatas angin. Pengikut Ali terus mendapat kekuatan dan menekankan keuntungan ini. Situasi telah menjadi kritis bagi Mu’awiyah. Amr, jendralnya Mu’awiyah, sadar bahwa ombak telah berbalik kearahnya dan memberi Mu’awiyah strategi baru….

Ketika Amr b. al-As (?) melihat menguatnya posisi kaum Irak (Ali) dan takut ini akan membawa kehancuran, dia bilang pada Mu’awiyah;

“Bagaimana jika aku usulkan sesuatu yg akan menambah persatuan kita dan memecah belah mereka?” “Baik,” kata Mu’awiyah. Amir berkata, “Kita akan mengangkat masahif (halaman2 Quran) dan berkata, “Isi buku ini berkuasa dlm perselisihan kita. Bahkan jika ada dari mereka yg menolak menerimanya, kau akan mendapatkan sebagian dari mereka akan berkata, “Tentu saja, ya, kita harus terima,” dan mereka akan terpecah belah. Jika, dilain pihak, mereka bilang, “Ya, tentu saja, kita terima apa yg ada didalamnya,” maka kita sudah lepas dari beban pertempuran ini utk sementara waktu.” Jadi mereka mengangkat masahif diujung2 tombak mereka dan berkata: “Buku Allah ini ada diantara kau dan aku. Siapa yg akan melindungi garis depan distrik Syria (dipimpin Muawiyah) jika mereka semua musnah, dan siapa yg akan melindungi Irak (dipimpin Ali) jika mereka semua musnah?” Ketika para pengikut Ali melihat masahif diangkat, mereka berkata, “Kita menjawab buku Allah, dan kita bertobat padanya.” (hal. 7)

Tipuan Amr berhasil ! Para pengikut Ali terpecah2, dan mereka menuntut Ali utk mengadakan negosiasi. Ini tidak menyenangkan Ali….

Ali berkata, “Para abdi Allah, lanjutkan pertempuran dg musuhmu, karena kalian memegang kebenaran dan yg benar ada dipihakmu. Mu’awiyah, Amir, Abi Muayt, Habib Maslamah, Ibn Abi Sarh (seorang yg membuat ayat2 Quran dg ijin Muhammad), dan al-Dahhak adalah orang2 tidak beragama dan tidak percaya Quran. Aku mengenal mereka dg baik dibanding kalian, karena aku bersama mereka dari kecil hingga dewasa, dan mereka adalah anak2 yg terburuk dan orang dewasa yg terburuk. Mereka tidak mengagungkan masahif dan tidak tahu apa isinya. Mereka mengangkat itu hanya utk menipumu, utk melicikimu.” Mereka menjawabnya, “Jika kita dipanggil pada buku Allah, kita harus menjawab.” Kata Ali pada mereka, “Satu-satunya alasan aku melawan mereka adalah agar mereka mengikuti otoritas dari buku ini, karena mereka telah tidak patuh pada Allah pada apa yg Dia perintahkan dan mereka melupakan perjanjianNya dan menolak bukuNya.” (hal 79).

Dialog berakhir dg desakan para pengikut Ali agar ia bernegosiasi atau mereka akan berbalik melawannya dan menyerahkannya pada Mu’awiyah.

...

Ali hampir menang, tapi akhirnya oleh kelihaian Amr dan Mu’awiyah. Kemenangan yg sudah didepan mata berbalik menjadi alat yg akan menyusahkannya dan menghantar pada kematiannya.

Seraya konflik diperkemahan Ali menjadi semakin ganas, ia sadar ia harus bergerak cepat utk menyelamatkan kesempatan utk menang. Sebab itu ia berkompromi dan setuju utk negosiasi, mengharapkan hasil yg akan menguntungkan dia…

NEGOSIASI

Negosiasi dimulai dg buruk. Masing2 negosiator saling menghina dan menjelek2an satu sama lain dg mengutip ayat2 Quran dan melemparkannya ke yang lain (Ayat 7.175: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia
tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. versus ayat 62.5: Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.)

:rock: :rock: (istirahat dulu ah ... pusing !)


Dan situasi semakin memburuk bagi Ali…

Orang2 kita berkata, “Kita senang dan menerima.” Orang2 Syria berkata, “Kita telah memilih Amr b. al-As,” dan al-Ashath dan mereka yg menjadi Khawarij setelahnya berkata, “Kita puas dg Abu Musa al-Ashari.” Ali berkata” “Kau tidak mematuhiku saat permulaan masalah ii; jangan menentangku sekarang. Aku tidak punya pikiran utk memberi kekuasaan pada Abu Musa.” Tapi al-Ashath, Zayd b. Husayn dan Misar b. Fadaki memaksa, “Kita tdk temukan orang lain lagi yg dapat diterima: Apa yg telah dia peringatkan pada kita telah kita masuki.” Ali berkata, “Kuanggap dia tidak dapat dipercaya. Dia berpisah dariku dan menyebabkan orang2ku mengabaikanku. Kemudian dia lari dariku hingga aku beri dia keamanan setelah beberapa bulan. Tapi ada Ibn Abbas; kita akan memberinya kekuasaan dalam hal ini.” Mereka menjawab, “Tidak ada bedanya bagi kita apa itu anda atau Ibn Abbas… Ali berkata, “Apa kalian menolak siapapun selain Abu Musa?” dan mereka menjawab, “Ya.” Ali berkata, “Kalau begitu lakukan apa yg kalian mau.” (hal 82 dan 83).

#-o #-o #-o #-o


Kau dapat merasakan kesedihan dan kepedihan dalam kalimat2 Ali. Kerajaannya runtuh didepan matanya. Jatuh kedalam akal bulus Amr, pasukan terpercayanya berpaling darinya. Ditambah sekarang mereka menuntutnya utk menunjuk orang dungu, Amr Usa, menjadi negosiatornya. Ali melihat malapetaka didepan matanya : kegagalan dan kejatuhan dari kekalifahannya, dan dia tidak berkuasa menghentikannya.

:cry: :cry:

Dan ini belum apa2. Bahkan ketika dokumen negosiasi dibuat, gelar Ali, “Komandan Mukminin” ditentang. Amr, negosiator Mu’awiyah yg lihai itu,
mempermalukan Ali, persis seperti Muhammad mempermalukan kaum Quraysh di Hudaybiyyah.

Mereka awalnya menulis: “Demi Allah, maha pengampun dan penyayang. Inilah yg ditetapkan Ali, sang Komandan Mukminin.” Tapi Amr menghardik berkata, “Tulis saja namanya dan nama bapaknya, karena dia komandanmu, bukan komandan kami.” Al-Ahnaf berkata pada Ali, “Jangan menghapus gelar Komandan Mukminin, karena aku taku jika kau hapus, mereka tidak akan pernah mengembalikannya padamu … (Tapi ….) … tapi akhirnya gelar itu dihapus juga.” (hal 84).

:cry: :cry: :cry:

Masalah Ali semakin membengkak. Ia meninggalkan medan perang, dan ingin menunggu hasil negosiasi. Tapi, orang2 yg memaksa dia utk memilih negosiator telah berubah pendirian. Orang2 ini menjadi dikenal sebagai Khawarij. Sekarang, mereka merasa Ali telah salah dalam memilih negosiator,d an memaksa dia utk berbalik dan melawan Mu’awiyah. Mereka mulai melawan Ali (hal 90).

Salah seorang dari mereka mengatakan:

“Mereka bilang: “Ali punya dukungan yg sangat kuat dan dia memecahnya, dia punya benteng yg kokoh dan dia robohkan itu. Berapa lama yg dia butuhkan utk membangun semua yg dia hancurkan dan utk menyatukan mereka yg terpecah?””… (hal 95).

Komentar dan pengamatan lain dari para pengikutnya…

“Demi Allah, Ali tidak melakukan apa2. Dia pergi dan lalu kembali tanpa apapun.” … Mereka pergi ke Siffin bersama Ali dg penuh rasa sayang dan cinta persaudaraan, dan mereka kembali dg kebencian dan rasa permusuhan satu sama lain. (Hal 98)

Image
Khawarij protes terhdp Ali

Akhirnya, kaum Khawarij memprotes negosiasi yg dilakukan Ali. Ali bilang, wong mereka yg memaksanya utk bernegosiasi, dan sekarang tidak ada pilihan lain selain mematuhi hasil negosiasi tsb. Ini tidak memuaskan mereka, dan mereka menyatakan bahwa Ali sekarang sama saja dgn kafir2 Syria. Sekali lagi, Ali menunjukkan bahwa mereka yg menekannya utk menunjuk seorang negosiator. Balas mereka;

“Memang kau benar, tapi itu adalah karena kekafiran dipihak kami dan kini kami berpaling pada Tuhan utk tobat. Bertobatlah seperti kami dan kami akan memberimu sumpah setia; jika tidak kami akan menentangmu.” (hal 103).

(Muslim paling jago NGANCEM TERUSSssss ... :shock: :shock: :shock: )

Waktu terus berjalan, dan negosiasi patah total. Amr jauh lebih cerdik dari Abu Musa. Musa, sadar akan kesalahannya, berseru;

“Apa yg kau lakukan, semoga Allah menggagalkannya ! Kau berlaku curang dan tidak jujur. Kau seperti anjing yang, jika diserang, akan menjulurkan lidahnya, atau jika dibiarkan, akan tetap juga menjulurkan lidah.” Amr menjawab, “Dan kau seperti monyet yg membawa tulisan2.” (hal 109, 110).

Setelah kejadian ini orang2 Syria dg resmi mengangkat Mu’awiyah sebagai Kalifah mereka. Ali memohon kutukan pada Mu’awiyah dan para pengikutnya.

Ali bersujud memohon, “Ya Auloooh ... jatuhkan kutukan pada Mu’awiyah, Amr, Abu al-Awar al-Sulami, Habib b. Maslamah, Abd al-Rahman, b. Khalid, al-Dahhak b. Qays, dan al-Walid b. Uqbah.”

:prayer:

Mu’awiyah mendengarnya dan ia juga mulai mengutuk Ali, Ibn Abbas, al-Ashtar, al-Hassan dan al-Husayn (anaknya Ali) (hal 110).

Para kalifah muslim yg saleh2 ini saling kutuk mengutuk, juga terhadap teman2 dan keluarga mereka. Sama seperti Muhammad memanjatkan doa utk memohon kutukan bagi NONMuslim. :twisted: :twisted:

Seiring berlalunya waktu, Mu’awiyah menjadi bertambah kuat dan Ali semakin lemah. Awalnya, Ali kesulitan membentuk pasukan, tapi dia tetap memaksa utk membentuk pasukan yg cukup dan siap utk memerangi Mu’awiyah. Para pengikutnya kehilangan kepercayaan padanya dan mereka letih berperang tanpa hasil. Tapi sebelum menghadapi Muawiyah, Ali harus terlebih dahulu membereskan Khawarij.

Para Khawarij awalnya sadar bahwa situasi mereka sulit dan berkelana ketempat2 dimana mereka dapat mendirikan domain islam yg cocok bagi mereka. Mereka menjarah, menyiksa dan membunuh muslim2 lain sepanjang perjalanan mereka. Tapi menghadapi pasukan Ali, mereka hancur. Perang ini dikenal sebagai Perang Canal, th. 37AH.


...

Ketika Ali selesai dg orang2 Nahrawan (Para Khawarij), dia memuji Allah dan bersyukur dan katanya pada para pengikutnya, “Allah berpihak pada kita dan memperkuat kemenangan kita, jadi arahkan dirimu langsung kepada musuhmu.” Namun mereka menjawab “Wahai, Komandan Mukminin, panah2 kami letih, pedang2 kami tumpul, ujung tombak kami terbelah dan banyak yg patah. Kembalilah ke kota garnisun kita (Kufa) dan mari kita membuat persiapan baru. Sekiranya Komandan bisa menambah peralatan yg akan membuat kita menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi musuh.” . .. Tapi ternyata mereka tidak melakukannya maupun mempersiapkan diri mereka. (hal 135, 13 6).

Ali yg malang! Sekali lagi, kemungkinan menjadi selebriti (Kalifah Utama) lepas dari tangannya seperti air: semakin keras kau genggam, semakin sedikit yg kau dapat. Ali mencela mereka sebagai orang2 lemah, tidak bisa diandalkan dan pengecut. Banyak dari orang2 ini telah bertempur disisinya bertahun2 dan menanggung luka2 baginya. Mereka lelah dan tidak lagi percaya pada orang yg tidak pernah menggolkan rencananya tanpa cekcok. Mereka letih dgn pembunuhan dan kematian yg semuanya hanya bagi kejayaan Ali semata2.

Inilah permulaan dari akhir perlawanan agresif Ali melawan Mu’awiyah. Momentumnya telah berpindah. Tapi ... tunggu dulu, masih ada kejadian berbahaya lain yg akan terjadi dalam kehidupan Ali sesaat lagi.

ANAK ABU BAKR: PEMBUNUH USMAN

Meski Ali melemah, Mu’awiyah belum selesai dgnnya. Bukannya langsung menghadapi Ali, Mu’awiyah mengejar tangan2 kanan Ali. Dia memalingkan perhatiannya pada tanah yg kaya di Mesir. Disini, Ali telah menunjuk Muhammad b. Abu Bakr sebagai gubernur Mesir. Dia adalah anaknya Abu Bakr, Kalifah pertama, sobat baik dan mertua Muhammad, ayah Aisha. Muhammad b. Abu Bakr dituduh memimpin sekelompok pembunuh Usman. Kesempatan muncul sendiri pada Mu’awiyah dan dia mengirim pasukan melawan Muhammad b. Abu Bakr.

Ingat, tuduhan utama Muslim terhdp Ali adalah karena ia menolak utk menghukum para pembunuh Usman. Mereka mengklaim bahwa ia menyokong pembunuhan itu dan bahkan memberi perlindungan kpd para pembunuh. Muhammad b. Abu Bakr adalah salah seorang tertuduh pembunuh tsb. Ada yg mengatakan bahwa ia ada dirumah Usman pada malam terjadinya pembunuhan. Tapi ada juga laporan yg sama sekali tidak menyebutnya, dan sampai hari ini, komunitas Islam berbeda pendapat ttg keterlibatannya. (Ini salah satu diantara banyak perbedaan pendapat diantara kaum Muslim :lol:)

Tapi sekarang, meja telah berbalik! Pasukan Mu’awiyah bertempur melawan Muhamad bin Abu Bakr dan mengalahkannya. Pasukan Muhamad meninggalkannya. Orang2 Mu’awiyah mengejar Muhamad dan menangkapnya. Adegan akhir dari konfrontasi ini terjadi antara Mu’awiyah dan Muhamad…

:axe: :axe:

Mu’awiyah berkata padanya, “Aku membunuhmu utk membalas Usman.” Muhamad bertanya, “Apa urusanmu dg Usman? Dia bertindak tidak adil dan menolak otoritas Quran dan Allah telah berkata, “Mereka yg tidak menghakimi dg apa yg telah Allah turunkan, mereka adalah orang2 tidak bermoral.” Kita melawannya dan membunuhnya, tapi kau memberinya kepantasan utk itu, kau dan mereka yg sepertimu. Allah telah membebaskan kita – Kehendak Allah - dari dosa kita, tapi kau mendapat bagian dalam perlawanannya dan besarnya dosa2 dia, dan orang yg memperalatmu juga sama saja.”

Muhamad bin Abu Bakr mengaku membunuh Usman dan pedang Mu’awiyahpun melayang. Lalu dia (Muawiyah) membuang mayatnya (Muh Abu Bakr) ke antara mayat keledai dan membakarnya (hal 158).

:shock: :shock: :shock: :shock: ahhhh ... damainya Islam ...

Ingat bagaimana Abu Sufyan meramalkan bahwa pertumpahan darah diperlukan utk membetulkan kesalahan terpilihnya Abu Bakr sebagai Kalifah ? Putera Abu Sufyan (Muawiyah) baru saja membunuh putera Abu Bakr (Muhamad) secara brutal.

Mendengar kejatuhan Mesir ke tangan Mu’awiyah, Ali menjadi sangat sedih. Sekali lagi dia terlambat memberi pertolongan. Selama beberapa tahun ia melihat daerah kekalifahannya runtuh satu demi satu. Nasib Gelombang ketidakberuntungan terus menghantamnya. Orang2nya
menentangnya, tangan kanan yg paling dipercayanya mati terbunuh ... :cry: :cry: Dalam keputus asaan, Ali menulis pada ibn Abbas…

“Sekarang Mesir telah ditaklukan dan Muhammad b. Abi Bakr telah menjadi martir… Pada permulaan aku berdiri diantara orang2ku dan memerintahkan mereka utk menolongnya sebelum bencana ini muncul. Aku terus menerus memanggil mereka, baik secara diam2 maupun secara terang2an. Ada yg datang dg tidak sukarela, ada yg beralasan utk tidak datang dan ada yg hanya diam saja ditempat. Aku tanya Allah agar Dia memberiku jalan keluar dan agar dia mengantarkanku jauh dari mereka. Demi Allah, jika saja aku tidak begitu berhasrat utk mati di jalan Allah, aku tidak ingin tinggal bersama2 orang2 ini meskipun utk satu hari…” (hal 164).


Selingan : PEMBUNUHAN PARA KRISTEN

Sama seperti Muhamad mengijinkan pembunuhan terhdp murtadin, Ali juga melakukan hal yg sama. Dibawah ini adalah beberapa kejadian bagaimana Ali dan orang2nya menyiksa dan membunuhi kristen.

Diantara mereka terdapat orang2 Kristen yg telah memeluk Islam, tapi ketika timbul perselisihan diantara orang Islam. Kaum eks Kristen itu berkata, “Demi Allah, agama yg kita tinggalkan lebih baik dan lebih benar daripada agama yg diikuti orang2 ini. Agama mereka tidak menghentikan mereka dari pertikaian berdarah, meneror jalan2 dan merampoki harta milik.” Dan mereka kembali keagama semula mereka. Orang2 Al-Khirrit bertemu mereka dan berkata, “Terkutuklah kalian ! Tahukah kalian akan hukuman Ali bagi Kristen yg memeluk Islam dan kemudian kembali ke Kristen ? Demi Allah, dia tidak mendengar apapun yg mereka katakan, dia tidak peduli dgn alasan mereka, dia tidak akan menerima tobat apapun .... Hukumannya adalah langsung pancung kepala jika kau temui orang seperti itu.” (hal 187, 188).

“Aku berada dalam pasukan yg dikirim oleh Ali Abi Talib utk melawan Banu Najiyah…. Komandan kami bertanya pada salah seorang dari kelompok ini, “Kamu ini apa? Dan jawab mereka, “Kami orang2 kristen yg tidak menganggap agama2 lain lebih baik dari agama kita, dan kami memegang erat pandangan kami itu.” Komandan berkata pada mereka, “Pergilah.” Dia bertanya pd yg lain, “Kamu ini apa?” Dan kata mereka, “Kami Kristen, tapi kami sekarang memeluk islam, dan kami memegang erat keislaman kami.” Kata Komandan, “Pergilah!” kemudian pada kelompok ketiga, “Kamu ini apa?” dan kata mereka, “Kami tadinya Kristen, kami memeluk Islam tapi kami pikir, agama kami yg dulu lebih baik dari yg baru.” Kata komandan pada mereka, “Terima Islam!” tapi mereka menolak. Dia bilang pada orang2nya, “Jika aku menggosok kepalaku tiga kali, serang mereka, bunuh orang yg melawan dan tangkap sisanya.” (hal 188).

Tapi ada satu orang tua diantara mereka, seorang Kristen yg dipanggil al-Rumahis bin Mansur, yg berkata, “Demi Tuhan, satu2nya kesalahan yg pernah kuperbuat sejak memakai akal adalah melepaskan agamaku, agama kebenaran, karena punyamu adalah agama kejahatan. Tidak demi tuhan, aku tidak akan meninggalkan agamaku dan aku tidak akan menerima agamamu selama aku hidup.” Maqil membawanya maju dan memotong kepalanya.” (hal 191).

“Utk para Kristen, kami tawan mereka dan menjadikan mereka sbg peringatan bagi orang2 yg mengikuti mereka dg menolak jizyah (pajak pemerasan), agar mereka tidak berani melawan agama dan komunitas kami, karena orang2 itu tidak dianggap dan punya status rendah. (hal 192).

Masqalah memanggil satu orang Kristen dari Banu Taghlib, namanya Hulwan, utk pergi ke Nuaym dari Syria dg membawa surat… Ali yg mengambil surat itu dan membacanya, lalu dia memotong tangan orang Kristen itu, orang itu kemudian meninggal. (hal 195).

Meskipun pandai menghias diri dgn segala retorika ttg kebajikannya, hati
Ali penuh dgn kekejaman. Rohnya terinfeksi kanker Islam yg mengakar dalam hatinya dan membuatnya haus kekuasaan. Ali adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Dia bisa membunuh orang tanpa ampun karena ia dibutakan oleh kekuasaannya. Ali menjerumuskan
puluhan ribu Muslim dlm kematian melawan sesama Muslim dan menendang mereka saat mereka lelah bertempur baginya. Ali dapat membunuh orang tak bersalah hanya karena mereka menghalangi posisinya dalam masy Islam.

KEMATIAN ALI

Keadaan semakin mencekik Ali. Mu’awiyah mengirim pasukan KOPASUS yg cukup besar ke teritori Ali dan menang terus. Pasukan Ali mulai mundur dari pertempuran2 dan Ali hanya bisa mengamuk pada mereka. Semakin Ali memanggil mereka, semakin mereka menjauh. Bahkan para komandannyapun menghindar dari perang yg berat. Ali, dalam amarahnya berkata pada mereka dalam mimbar khotbahnya…

“Ya kaum al-Kufah, tiap kali kalian dengar pasukan berkuda Syria datang melawanmu, tiap kali laki2 bersembunyi dirumahnya dan mengunci pintu, seperti kadal dalam lubangnya dan hyena disarangnya. Siapapun yg percaya padamu telah tertipu dan siapapun yg memanggilmu berperang, ia memanggil orang yg tak berguna. Kalian bukan lelaki sejati ketika muncul panggilan utk maju dg senjata, kalian bukan pula saudara yg dapat dipercaya dg rahasia … Betapa aku telah diuji lewat kalian! Kalian buta, bisu dan tuli.” (hal 199)

Senyum Muawiyah semakin lebar sambil menggosok2 tangannya melihat semakin melemahnya musuh. Dia semakin berani mengirim pasukan ke Hijaz (Medinah) itu sendiri ! Kampung halaman Muhamad dan tempat kelahiran Islam ! Orang2 Medinah sekarang terpecah belah. Mereka tidak mau melawan pasukan Syria. Mereka lelah dan tidak punya kekuatan. Orang2 yg sama ini, yg satu generasi sebelumnya telah banyak menjarah dan merampok suku2 Arab sekarang dipermalukan, dijarah dan dirampok. (aduhhhhh ... kasihan .... :cry: :cry: :cry: )

Image
Ratapan penduduk Medinah : Ya Auloh, mengapa nasib kami seburuk ini ????

Jendralnya Mu’awiyah, Busr, mengambil alih Medinah, (kota pertama yg melahirkan komunitas Islam dan tempat istirahatnya Muhamad). Busr menghancurkan rumah2 penduduk dan dia berkata pada penghuni Medinah, “Penduduk Medina! Demi Aulloh, kalau saja bukan tanggung jawabku pada Mu’awiyah, aku tidak akan meninggalkan satupun laki2 dewasa hidup diantara kamu, (hal 207).

Busr terus maju ke Yaman dan melakukan hal yg sama, ditambah dg terbunuhnya gubernur daerah itu yg diangkat oleh Ali – Ubaydallah bin Abbas dan anak2nya yg masih kecil. Kejahatan Islam memang terukir dlm hati setiap muslim; entah Ali ataupun Mu’awiyah, keduanya sama saja. Kerajaan Ali mulai runtuh dan itu telah jelas bagi setiap orang.

PENGKHIANATAN IBNU ABBAS TERHADAP ALI

Ingat bagaimana Ibn Abbas dan Ali saling memaki didepan Kalifah Umar ttg kekayaan Muhammad? Sekarang Ibn Abbas sadar bahwa waktu Ali telah habis. Mu’awiyah terlalu kuat. Ia menampilkan sifat sejatinya dgn
berpikir utk cepat ambil uangnya dan lari…

Dari Tabari, volume 17, halaman 209, 210:

Keadaan Ibn Abbas ketika pergi ke Mekah dan meninggalkan Irak.

Abdallah b. Abbas menemui Abu al-Aswad al Duali, yg berkata (pd Abbas), “Jika kau seekor binatang, kau akan menjadi onta; jika kau gembala, kau tidak akan dapat mengatur (gembala2mu) dipadang rumput dan tidak tahu bagaimana mengatur mereka dg baik.

Abu al-Aswad oleh karena itu menulis pada Ali: “Allah telah membuatmu menjadi penguasa yg dipercaya oleh gembalanya dan sebuah padang rumput yg menanggung tanggung jawab bagi jemaahnya. Kita telah mengujimu dan mendapatkan kau penuh integritas dan seorang penasihat yg jujur bagi jemaahmu. Kau beri mereka harta jarahan dg penuh, kau tidak ikut2 menyita harta dunia mereka, kau tidak mengambil kekayaan mereka dan kau tidak mengambil sogokan dari pemerintah mereka. Keponakanmu, dilain pihak, telah mengambil apa yg harusnya ada dibawah otoritasnya tanpa sepengetahuanmu, dan aku tidak dapat membiarkannya tanpa sepengetahuanmu. Jadi periksalah apa yg terjadi disini, semoga Allah mengampunimu dan katakan kpd kami apa yg harus kami lakukan bagimu. Salam.”

Ali tidak ****. Dia ingat bagaimana Abbas berhasrat akan kekayaan Muhamad, persis seperti dirinya. Dia juga tahu bagaimana Usman jatuh reputasinya karena tindakan2 penyiksaan dari gubernur2nya. Ali mengambil tindakan.

Ali menulis tentang hal ini pada Ibn Abbas (!), yg membalas, “Apa yg kau dengar itu salah. Yang kudapat dibawah otoritasku aku jaga dg cara yg baik dan hati2. Jangan percaya akan kecurigaan ini. Salam”

Ali menulis balik, “Katakan Jizyah apa (Pajak pemerasan yg diambil dari non muslim) yg kau ambil, kapan diambilnya, dan dimana disimpannya.” Ibn Abbas menjawab, “Aku mengerti kekhawatiranmu akan perampasan yg kau dengar telah kuperbuat terhdp orang2 kaya diwilayah ini. Jadi kirim siapa saja yg kau inginkan dari provinsimu dan aku akan mempersilahkannya (berkuasa). Salam.”

Ibn Abbas kemudian memanggil pamannya dari Banu Hilal b. Amir dan al-Dahak b. Abdallah al-Hilali dan Abdallah b. Razin b. Abi Amr al-Hilali datang padanya. Lalu semua bergabung dgnnya dan membawa serta sejumlah besar harta… ini adalah uang2 dan harta2 yg dikumpulkan utk mendanai pasukan tempur dan Ibn Abbas mengambil sebanyak yg bisa ia kumpulkan. (hal 210, 211).

Beberapa orang Muslim menentang pencurian Ibn Abbas ini dan pedangpun beraksi kembali. :axe: :axe: (ahhhhh ... damainya Islam ...) Tapi Ibn Abbas punya kelompok besar pengikut yg membantunya dan mereka yg menentangnya terbunuh atau terpaksa lari. Ibn Abbas, calon cendekiawan Muslim, ternyata tidak lebih dari seorang pencuri. :finga:

Gubernur dan kerabat Ali telah merampoknya. Rumah kartu yg dibangun Ali, sang Kalifah mulai menghantam tanah. Tenggelamnya matahari Ali tidak lama lagi.

Seluk beluk pembunuhan Ali sangat menarik, tapi tidak ada yg perlu dicatat. Intinya, seorang yg terluka akan tindakan2, kegagalan2 dan muka dua Ali, memutuskan bahwa Ali mesti mati, meskipun jika itu akan menyebabkan dia sendiri mati. (Ini memang cara Islam menyelesaikan masalah : lebih seru dari KILL BILL ! ) Dia ingin membunuh Ali. Ia mengajak dua konco2nya. Ketiganya menunggu Ali meninggalkan mesjid….

Ketika Ali muncul, sang Kill Bill, Shabib, memukulnya dg pedang tapi mengenai kusen pintu; Ubn Muljam membelah kepalanya dibagian atas dg pedang (hal 216).

Ali mati tidak lama kemudian. Ia memerintah sebagai Kalifah selama lima tahun. Pelakunya tertangkap dan dibunuh. Anak Ali, Hasan mengambil alih sebagai penguasa sementara, hingga keputusan resmi dibuat mengenai siapa Kalifah berikutnya.

Ketika Aisha, pengantin anak2 Muhammad, mendengar kematian Ali, dia girang. Selama bertahun2 dia sangat membenci Ali. Kata Aisha, “dan ia ('she') melempar tongkatnya dan duduk ditahtanya, seperti seorang pengelana yg berbahagia telah pulang kerumah.” (hal 224). Aisha hidup cukup lama utk dapat menertawakan orang yg paling dibencinya. Ia wafat pada usia 68) Kebencian dalam sanak keluarga Muhamad memang berakar sangat dalam.

EPILOG

Pujian dari Hasan:

“Malam ini kau telah membunuh seseorang pada malam turunya Quran (! :shock: ), di malam diambilnya Yesus, anak Maria, dan dimalam dibunuhnya Joshua anak dari Nun, juaranya Musa. Demi Allah, tak seorangpun yg mendahuluinya berada didepannya dan tak seorangpun dibelakangnya akan mengejarnya. Demi Allah, jika sang Nabi mengirimnya utk menjarah :shock:, Jibril ada ditangan kanannya dan Mikael ada ditangan kirinya.”

Jibril dan Mikael meninggalkan Ali seperti juga pendukung2 awalnya. Pada akhirnya, tak seorangpun kelihatan memperhatikan jabatan
Ali. Kekalifan yg begitu dirindukannya sekarang terasa spt obat pahit. Ali tidak berakhir sbg pejuang muslim yg bangga. Dia berakhir seperti seekor singa tua, usang dan diabaikan, yg pelahan mengalah pada sekelompok hyena.

IKHTISAR

Setelah Muhammad mati, segalanya berubah. Ali yg sebenarnya, Ali sejati, muncul; muslim sebenarnya, muslim sejati, muncul. Tanpa kendali
Muhamad, hati sejati mereka menjadi jelas. Ali adalah manusia dgn sifat baik dan buruk. Tragisnya, racun Islam memperkuat sisi jahatnya. Ali tahu bagaimana mempertahankan kebutuhan luar Islam, tapi didalam, dia sejahat orang lalim manapun.

Kekalifahan Ali nampak seperti tragedi MAFIA. Dari pembunuhan Usman, Ali memikul bencana demi bencana. Ali ternodai oleh pembunuhan Usman, rebutan kekuasaan dgn rekan2nya, melawan istri tercinta Muhammad, Aisha, ditantang anak dari musuh keluarganya – Mu’awiyah. Ali mengalirkan darah puluhan ribu muslim, pasukannya sendiri mengkhianatinya. Akhirnya, ia terbunuh, dg cara lebih memalukan dari pembunuhan Usman.

Image
Ah, tidak apa2 kok. Cuma surat tagihan terakhir dari Mafia.
(Isi surat dari Mafia : MAMPUS KAU !)



DISKUSI – CICIPI BUAH 'DA HAPPY FAMILY OF ISLAM'

Mana kalau begitu buah kerohanian Islam ? Yg kita lihat selama ini adalah tokoh2 penting Islam menghasilkan perang, berbohong, pembunuhan, saling menuduh, mengkhianat, mencuri & benci.

Mana kwalitas “kerohanian” Ali, Mu’awiyah, Ibn Abbas, atau Aisha ? Malah kita melihat keluarga rusak mirip GANGSTA2 yg begitu patuh akan segala
ritual yg BLING BLING tapi didalamnya, mereka bobrok dan miskin secara rohani.

Mari kita rangkum beberapa buah yg kita telah lihat.

ALI

Ali adalah menantunya Muhamad. Ambisi egoisnya menghalalkan segala cara, bahkan menghadapkan Muslim pada sesama Muslim. Bukannya menindak para pembunuh Usman, ia berpihak pada para pembunuh. Setelah pura-pura tidak ingin menjadi Kalifah, sekali gelar itu diberikan, dia berpegang erat2 dg segala kekuatannya. Dia menjerumuskan ribuan Muslim pada kematian. Mereka dikorbankan demi kejayaannya. Dia tidak menunjukkan rasa terimakasih atas pengorbanan mereka. Ketika bertemu Kristen yang meninggalkan Islam karena mereka sadar bahwa
Islam = agama mafia alias KILL BILL, dia menghabisi mereka.

Image
Al PacAli, Komandan Mukminin, Kalif terakhir dari keempat 'Kalif yg diridhoi'

IBN ABBAS

Ibn Abbas adalah sepupu Muhamad. Ketika Ali mempertanyakannya mengenai manajemen provinsinya, Ibn Abbas berbohong. Ketika Ibn Abbas sadar bahwa Ali mempertanyakan pajak penduduk (yg notabene tidak adil, anyway !), ia malah cabut dgn segala harta yg sanggup dibawanya. Ketika dihadang sesama Muslim, Ibn Abbas malah membunuh mereka. Pembunuh, penipu dan maling ini belakangan dikenal sebagai Cendekiawan Islam Terbesar :shock: :shock: !

Image
Ibn Abbas : Get Rich or Die Tryin'

AISHA

Dia adalah istri favorit Muhammad. Ia sumber ribuan riwayat Muhamad, yg dijadikan doktrin2 Islam. Tapi soal kerabatnya sendiri, Ali, rasa bencinya begitu dalam hingga ia bergembira atas kematiannya ! Perempuan yg digenjoti Muhamad saat anak2 ternyata balik menggenjoti anggota2 keluarganya sendiri. Mana rasa maaf, kasih, kerukunan dalam hatinya ? Inilah yg disebut 'Ummi Mukminin' ?

Image
Ummi da Female Gangsta & da gank (Ibn Abu Bakr & Ibn Umar dgn seorang tak dikenal, mungkin Muawiyah)

IBN ABU BAKR dan IBN UMAR
(Lihat foto diatas)

Ini adalah anak2 dari dua kalifah pertama. Ibn Abu Bakr ikut serta dalam pembunuhan Usman – Dia salah seorang pemimpinnya. Ibn Umar kabur ke Syria ketika situasi mulai memanas di Hijaz. Keduanya saing bertempur satu sama lain. Ironis ! Apa isi Islam kalau anak2 Kalifah beriman ini saling mengasah pedang mereka pada leher sesama ? Anak2 ini adalah buah dari Islam. Perbuatan jasmani mereka ternyata diikuti oleh generasi2 berikutnya.

PERTANYAAN DAN KOMENTAR

Jika Islam benar2 punya nilai spiritual/rohani bukankah seharusnya kita
melihat karakter2 yg lebih baik dari ini?

Seperti banyak orang saat ini yg menjadi Muslim dan meninggalkannya tidak lama kemudian, mereka sadar bahwa setelah bulan madu dgn Islam selesai, mereka akan memuntahkannya. Islam jauh lebih rusak dari yang mereka sadari. Islam tidak menawarkan ketuhanan, melainkan buah2 jasmani yg penuh darah.

---------------------------------
BIBLIOGRAFI

al-Tabari, "The History of al-Tabari", (Ta'rikh al-rusul wa'l-muluk), State University of New York Press, 1993
Last edited by ali5196 on Fri Jun 27, 2008 7:28 pm, edited 2 times in total.
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Sat Feb 17, 2007 4:19 am

BAGIAN 5: ALI DAN MU’AWIYAH, PERANG SAUDARA BERLANJUT
http://www.answering-islam.org/Silas/rf ... uawiya.htm

Quran – 8:63 Al Anfal (Barang Jarahan)
Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


PENGENALAN

Genangan darah meresap kedalam pasir gurun dekat Basra ketika mayat 12.000 muslim meneteskannya kebumi. Puluhan ribu orang terluka dan dimedan perang mereka lebih sangat menderita. Ali mengawasi pemandangan menyedihkan ini dan hanya sedikit saja gembira akan kemenangannya. Dia baru saja mengalahkan tiga orang pengikut yg paling dikasihi Muhammad : Aisha (pengantin anak2 Muhammad), Talha dan az-Zubayr. Dua orang diantaranya telah secara khusus dijanjikan jaminan masuk surga oleh Muhammad dan mereka pernah sama2 bersaing utk menjadi Kalifah. Tapi dg semua kebesaran mereka, darah mereka tetap mewarnai pasir gurun. Muslim2 besar ini dibunuh oleh sesama muslim lagi. Banyak ‘teman2’ lain yg juga telah jatuh. Meskipun telah memenangkan perang brutal ini, Ali tetap mengfokuskan pada bahaya yg jauh lebih besar lagi. Dia melihat awan badai dicakrawala; dan tahu bahwa darah yg saat ini mengalir dikakinya akan tidak berarti dibandingkan sungai darah yg akan muncul berikutnya.

Bab satu dari periode resmi “Fitnah” Islam, atau pemberontakan, baru saja berakhir, dan bab dua dimulai. Konflik yg berkepanjangan antara Muhammad dan Abu Sufyan muncul kembali dan dendam2 terbangkitkan. Dalam bab konflik ini, Ali – Mantu dari Muhammad, dan Mu’awiyah – Anak dari Abu Sufyan, saling berhadapan.

Kita akan lanjutkan mempelajari karya sejarah dari Tabari. Tabari mengumpulkan tulisan2 sejarah dari muslim2 pertama. Dia sering menampilkan laporan2 individu sepenuhnya, jadi, sering satu cerita melingkupi satu perioda waktu, dan kemudian laporan berikutnya, juga melingkupi perioda yg sama. Dg begitu laporan2 itu akan tumpang tindih, dan segi2 anekdot (cerita pendek) yg penting ditampilkan dalam bentuk cerita, dan anekdot tsb tidak berurut secara kronologis. Dalam bagian dari seri ini, kita akan mengutamakan penggunaan dari Sejarah Tabari, volume 17.

LATAR BELAKANG

Usman telah mati dan Ali menjadi Kalifah. Ali mulai memerintah sekitar 35 AH (722 M). Muslim2 terkemuka lain seketika menentang Ali. Perang besar pertama dari Ali adalah melawan sekelompok muslim dekat Basra, dan mereka berperang utk apa yg dikenal sebagai “Perang Onta”, dinamakan begitu karena konflik membesar dimulai dari onta Aisha. Tantangan kekalifahan besar lainnya datang dari Mu’awiyah. Dia adalah Gubernur Syria. Mu’awiyah adalah anak pimpinan dari musuhnya Muhammad, Abu Sufyan. Ironi ini tidak lepas dari pengamatan Ali.

Mu’awiyah bisa disebut orang baru dalam hal permainan politik religius. Ayahnya adalah seorang politisi kawakan dan ia belajar dg baik. Dipaksa utk memeluk Islam dibawah ujung pedang, Abu Sufyan memainkan peribahasa kuno: “jika kau tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dg mereka.”, dan menjadi seorang muslim. Sufyan memastikan utk mendapat keistimewaan khusus dari Muhammad dan bekerja keras utk memastikan agar anak cucunya juga mendapatkan kekuatan politik yg sama. Dan itu yg terjadi. Ketika Abu Bakr terpilih menjadi Kalifah, Sufyan bilang bahwa cucuran darah diperlukan utk membetulkan kesalahan itu.

Mu’awiyah telah mendapat layanan dari orang2 yg punya keahlian. Jendral utamanya, Amr al-As, baru saja selesai menaklukan Mesir dan menjadi gubernur islam pertama yg ditunjuk utk area itu. Amr sendiri adalah pengikut terkenal dari Muhammad. Dia seorang jendral dan pemimpin yg pandai. Dia tidak takut pada Ali.

Tidur semalaman tidak membawa ketenangan bagi Ali. Langsung setelah kematian Muhammad, hidup Ali menjadi satu tumpuk masalah2. Begitu satu masalah selesai, masalah lain muncul menggantikannya. Setelah kematian Muhammad, Ali (dan istrinya, FATIMAH--puteri Muhammad) menuntut warisan2 Muhammad dari Abu Bakr dan telah ditolak mentah2. Ali benci Abu Bakr. Motif yg sama membuat Ali dingin terhadap Kalifah berikutnya – Umar. Pada akhirnya Umar menyerah terhadap tuntutan Ali dan bertindak melawan perintah Muhammad utk jangan membagikan kekayaannya pada sanak famili. Ali berpikir dia lebih mampu dari mereka yg disebut al-Khulafa' al-Rasyidun (orang2 yg dipandang sebagai pemimpin yang mendapat petunjuk dan patut dicontoh), tapi aduhhhhh, Ali tidak terpilih ataupun dipilih sampai setelah pembunuhan Usman. Sekarang, bukannya mendapat suatu peristiwa yg agung, pemilihan Ali menjadi Kalifah ditantang dg kontroversi, ancaman mati dan pengkhianatan. Tidak ada waktu utk hidup tenang dalam kehidupan Ali. Perang Siffin telah mengintip dicakrawala.


KONFLIK DIMULAI

Kita baca dalam Tabari volume 17 halaman 2, [1], bahwa Ali menunjuk Abdallah b. Abbas, ponakan Muhammad, sebagai wakilnya di Basra. (Ibn Abbas adalah orang yg tadinya menjelekkan Ali didepan Umar – lihat http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=9755 – atau Sahih Muslim (buku 019, Nomor 4349). Ali lalu maju ke Kufa, (sebuah garnisun kota yg menjadi ‘markas’nya). Disana dia meminta masukkan dari para penasihatnya dan mendapatkan masukan yg saling bertentangan, Mu’awiyah, setelah mendengar rencana Ali, memanggil Amr dan minta nasihatnya…

Kata Amr, “Karena telah kau dengar Ali sedang menuju kesini, siapkan dirimu dan yakinlah ketika berhadapan dgnya dg pendapat dan strategimu.” Mu’awiyah menjawab, “Kalau begitu, Oh Abu Abdallah, siapkan orang2!”

Amr mengerjakannya dan utk mengecilkan kekuatan Ali dan pengikutnya, dia bilang, “orang2 Irak terpecah belah, ini melemahkan kekuatan mereka dan menumpulkan ketajamannya. Terlebih lagi, orang2 Basra menentang Ali yg telah melukai mereka dan mendatangkan kematian pada sanak mereka. Para pemimpin mereka dan pemimpin dari Kufa saling basmi di perang Camel (Onta), dan Ali lolos hanya dg sedikit pengikutnya, diantara mereka ada yg telah membunuh kalifahmu. Takutlah akan Allah, ambil hakmu utk melakukan pembalasan dan jangan biarkan darah Usman tidak terbalaskan.” (halaman 2)

Seraya persiapan dilakukan utk konflik nanti, Mu’awiyah dg pintar menerima dukungan dari mereka yg mengritik Ali…

“Dia menulis pada siapa saja yg dia pikir takut akan Ali atau telah bicara jelek mengenai Ali dan pada siapapun yg menganggap kucuran darah Usman adalah masalah besar dan dia minta pertolongan mereka2 ini utk melawan Ali.” (halaman 3)

Begitu orang2 Ali maju kearah Siffin, beberapa kota menolak membantu mereka. Ancaman2 mati membuat orang2 kota ini terpaksa membantu gerak barisan mereka.

Rangkaian awal perang terjadi dg cepat. Barisan depan Ali melawan pasukan Syria. Ali mengirim satu dari tangan kanannya, Al-Ashtar (salah seorang yg ikut dalam pembunuhan Usman), utk memperkuat barisan depannya. Kemudian Perang yg sebenarnya dimulai dan para pengikut Ali berjaya.

Yang paling berarti dari semua pertempuran2 kecil ini adalah yg disebut “Perang dekat Perairan.” Tabari menjelaskannya dalam kalimat2 dari pengikut Ali.

“Ketika kita mendekati Mu’awiyah, kita lihat dia telah mendirikan perkemahan pada sebuah ruang yg luas dan datar, yg telah dia pilih sebelum kita tiba, disisi perairan di Euphrates. Didaerah itu tidak ada tempat lain lagi utk mendapatkan air, dan Mu’awiyah menguasainya dan mengirim Abu al-A’war utk menghalangi akses kesana dan menjaganya. Kita maju terus ke bagian atas Euphrates dg harapan menemukan tempat utk minum, tapi tidak menemukannya dan kembali menghadap Ali. Kita bilang padanya mengenai kehausan yg melanda pasukan dan kita tidak menemukan tempat lain utk air kecuali yg diduduki musuh, katanya, “Lawan mereka utk itu.” (Tabari, volume 17, halaman 11).

Disini kita diberi gambaran akan kepemimpinan yg kuat dan kebulatan tekad dari Ali. Pengikutnya mengalahkan Mu’awiyah dan mendapat akses keair tsb. Ali telah mengucurkan darah pertama, dan dia serta para pengikutnya (kebanyakan orang2 Kufa dan Basra (irak)), membuktikan keberanian mereka.

Setelah ini terdapat runtutan dialog2 dan manuver2, tapi tidak ada yg patut dicatat muncul. Ali meminta Mu’awiyah utk taat padanya dan bersatu bersama dg muslim2 lain. Mu’awiyah menjawab bahwa jika Ali menghukum para pembunuh Usman, yg beberapa diantaranya bergabung dg Ali, maka ia akan tunduk pada Ali. Tidak ada satupun pihak yg bergeming atas kehendak masing2 jadi pertempuran2 kecil dan perang kata2 berlanjut.

Dialog yg menjadi kunci terjadi antara utusan Ali dan Mu’awiyah. Dialog ini menggambarkan bahwa para pelakunya tahu hal yg hakiki dalam konflik ini. Dari halaman 17 kita baca …

“Mu’awiyah, saya mengerti jawabanmu pada Ibn Mihasn dan, demi Allah, kita bukannya tidak tahu apa maksud dan tujuanmu. Satu-satunya jalan yg dapat kau temukan utk menyesatkan orang2, memurtadkan keinginan mereka dan mendapat kepatuhan mereka dg mengatakan “Iman mu telah dibunuh dg tidak adil, dan kita menuntut balas darah utk itu!” Beberapa orang **** menjawab hal itu, tapi kita juga tahu bahwa kau memperlambat pertolongan pada Usman dan bahwa kau sendiri berkeinginan membunuhnya agar kau mendapat posisi yg kau cari sekarang….”

Perang terus berlanjut dalam skala kecil karena Ali tidak ingin mengulang pembantaian seperti pada Perang Camel (lihat islam-s-royal-family-part-4-ali-vs-aisha-t10848/ utk detailnya). Ada saat2 dimana pertempuran lebih besar dari hari lain, tapi umumnya tidak ada perang yg bisa disebut besar. Ali berharap Mu’awiyah mengubah pendiriannya.

Lalu datang bulan spesial dan gencatan senjata diserukan. Dialog2 berlanjut tapi tidak membawa perubahan. Satu dialog antara Mu’awiyah dan Adi menggambarkan sudut pandang dari Mu’awiyah.

Jawab Mu’awiyah: “Seakan kau datang hanya utk mengancam bukan utk mencapai persetujuan. Kau tidak bisa lebih salah lagi. Adi, aku anak dari Harb, (Harb artinya perang – nama kakeknya), demi Allah, kaulah yg berteriak dg keras melawan Usman, kaulah salah satu yg membunuhnya, dan kuharap kau akan menjadi salah satu yg dibunuh Allah karenanya. Betapa salahnya kau, Adi Hatim – kau telah mengambil jalan kekerasan ketika kau tidak berhasil dg bujukan.” (halaman 22)

Dialog2 berlanjut dg tanpa hasil. Tapi dalam halaman 25 dan 26, Ali membuat pernyataan yg mengungkapkan isi hati kecilnya mengenai pemilihan Kalifah selain dirinya sendiri, dan tentang pembunuhan Usman…

“Orang2 menunjuk Abu Bakr sebagai Kalifah, dan Abu Bakr menunjuk Umar setelahnya, dan keduanya memimpin dg baik dan adil. Kita tidak suka akan kuasa mereka pada kita, kerabat dari sang Rasul, tapi kita memaafkan mereka karena kemampuan mereka. Kemudian Usman berkuasa dan melakukan sesuatu yg oleh orang2 dianggap tercela, jadi mereka membunuhnya. Lalu mereka mendatangiku yg telah memperhatikan kekhawatiran2 mereka, dan mereka memintaku utk bersumpah setia… Tapi kemudian aku terkejut akan perselisihan dua orang diantara mereka (Talha dan az-Zubayr) yg telah memberi sumpah setianya padaku, (dibawah paksaan, lihat bagian 4), dan perlawanan Mu’awiyah yg mana tidak diberi tuhan keutamaan dalam hal agama ataupun mempunyai karakter islam yg baik. Dia adalah salah seorang yg dibebaskan oleh sang nabi, dan anak salah satu dari mereka, anggota partai yg bertahan memusuhi tuhan, nabi dan para muslim, baik dia maupun ayahnya, hingga mereka dg enggan memeluk islam.”

Kita melihat harga diri Ali terluka karena tidak terpilih menjadi Kalifah, dan pertentangannya terhadap pembunuhan Usman. Tuduhan2 terhadap Ali akan keterlambatan ataupun penolakannya utk bergerak terhadap para pembunuh Usman ini benar. Bahkan pada titik ini, dg para pembunuh berada diujung jarinya, Ali tidak melakukan apa-apa terhadap mereka. Lebih jauh lagi, Ali salah tanggap akan tindakan Talha dan az-Zubayr dg bilang mereka telah memberi sumpah setianya sementara ia tahu bahwa itu muncul karena terpaksa. Terakhir, Identitas sejarah Mu’awiyah tidak lepas dari Ali. Dia tahu dg jelas siapa yg dia hadapi dan lawan. Pertentangan antara Abu Sufyan dan Muhammad sekarang hidup dan bernapas dalam pertentangan antara Ali dan Mu’awiyah.

GENCATAN SENJATA BERAKHIR

Bulan gencatan senjata berakhir, dan Ali memutuskan sudah saatnya mengakhiri konflik dg sebuah peperangan. Dia mengumumkan ke pasukan musuh bahwa gencatan telah berakhir. Para pemimpin dikedua belah pihak mulai berbaris dan pertempuran terjadi. Perang Siffin sebenarnya adalah rangkaian pertempuran berhari-hari. Tiap hari beberapa batalyon pasukan bertempur, tapi belum ada perang skala besar muncul. Biasanya, tiap pihak saling bertahan. Tapi skala perang bertambah besar dg pasti.

Sebuah peringatan yg patut dicatat diberikan oleh Ammar, salah satu jendral Ali, mengenai Mu’awiyah…

“Orang2 Irak, maukah kalian menatap orang yg menunjukkan permusuhan pada Allah dan rasulnya dan berjuang melawannya, orang yang menekan para muslim dan mendukung kaum polyteis? Tapi ketika ia melihat bahwa Allah membuat agamanya besar dan memberikan kemenangan2 pada rasulnya, dia lari pada sang rasul dan memeluk islam, kelihatannya bagi kita, karena takut bukan karena keinginannya masuk islam. Kemudian Allah mengambil rasulnya dan, demi Allah, orang ini terus dikenal akan permusuhannya pada para muslim dan mendukung para pelaku dosa. Jadi teguhlah melawannya dan berperang karena dia akan mematikan sinar Allah dan memberi pertolongan pada musuh2 Allah… (halaman 31 dan 32).

Pidato Ammar berisikan setengah kebenaran. Abu Sufyan betul menerima islam karena takut: dia diancam mati oleh Ibn Abbas, didepan Muhammad! Pilihannya masuk islam atau kehilangan kepala! Sufyan membuat pilihan politik yg cerdas, seperti juga mereka yg dipaksa masuk islam sebelumnya dan sejak itu juga. Perhatikan bahwa bagaimanapun pemaksaan ini diijinkan Muhammad, dan diketahui oleh komunitas, tapi tetap diterima. Bahkan selama hidupnya, Muhammad mengijinkan imannya utk dikotori demi hal2 politik bukan demi pencapaian rohaniah. Motif Muhammad yg sebenarnya sekarang berbalik mengancam sanak familinya sendiri!

Perang terus berlangsung hari demi hari. Ada kalanya orang2 Ali bertahan, tapi hasil akhirnya tidak begitu berarti.

Orang yg terpandang lain Ubaydallah bin Umar bin al-Khattab – anak dari kalifah “dg tuntunan benar” kedua, Umar – menguraikan. Setelah Usman dibunuh, dia bergabung dg Mu’awiyah. Sekarang, dia memimpin pasukan sayap Mu’awiyah dan membangkitkan semangat mereka dg berkata:

Kala itu Orang Syria telah berpaling kearah lain, tapi itu tidak akan lama sebelum mereka diserang lagi, dan Ubaydallah b. Umar berkata: “Orang2 Syria! Klan orang2 Irak ini adalah para pembunuh Usman b. Affan dan pendukung dari Ali Abi Talib. Jika kalian mengalahkan suku ini, kalian akan mendapat pembalasan bagi Usman, dan Ali b. Abi Talib dan orang2 Irak akan dihancurkan…” (Halaman 61).

Tapi, segala sesuatu tidak berjalan baik bagi anaknya Umar ini. Dalam perkataan salah seorang pasukan Ali…

“Kita naik kuda2 kita dan kemudian maju berperang. Tidak lama sebelum Dhu al-Kala dijatuhkan, Ubaydallah b. Umar terbunuh… (halaman 62).

Seorang muslim menyusun beberapa prosa tentang kematian Ubaydallah…
“Pasangan mata menangis hanya utk seorang penunggang kuda, ketika rekan2nya lari dari Siffin dia berdiri tegak, menukar Asma (istrinya) utk pedang2 dari Wail. Dia seorang pejuang; jika saja padang kematian menyisakannya. Mereka meninggalkan Ubaydallah dimedan perang, urat nadinya mengalirkan dari dari luka2nya.” (hal 63).

Betapa ironis bahwa anak Abu Bakr adalah salah seorang pembunuh Usman, dan anak umar berperang melawannya. Bahkan anak2 dari para Kalifah “dg tuntunan benar” Islam bernafsu saling membunuh!

Dialog penting lain mengambil tempat diantara para pejuang muda dan Hashim b. Utbah (satu dari orang2nya Ali) yg menggambarkan posisi Ali dan para pengikutnya dalam pembunuhan Usman….

Hashim bilang padanya: “Apa yg akan kau lakukan dg Ibn Affan? (Usman). Adalah rekan dekatnya Muhammad dan anak2 dari rekan2nya dan qurra dari orang2 yg membunuhnya ketika dia dikenalkan akan inovasi2 dan menentang otoritas dari Quran. Mereka adalah orang2 agamawi dan lebih berharga menangani urusan orang2 daripada kamu dan rekan2mu. Aku tidak berpikir bahwa urusan2 dari komunitas ini dan dari agama ini telah diabaikan bahkan hanya utk sesaat. (hal 71).

Telah menjadi jelas bahwa Ali tidak punya maksud utk menghukum para pembunuh Usman… Dia malah merekrut mereka! Ali secara mutlak telah membenarkan pembunuhan.

KESIMPULAN DARI PERANG SIFFIN DAN GENCATAN SENJATA
Perang setiap hari berlangsung dan orang2nya Ali biasanya selalu diatas angin. Pengikut Ali terus mendapat kekuatan dan menekankan keuntungan ini. Situasi telah menjadi kritis bagi Mu’awiyah. Jendralnya Mu’awiyah, Amr, sadar bahwa ombak telah berbalik kearahnya dan memberi Mu’awiyah strategi baru….

Ketika Amr b. al-As melihat posisi kaum Irak telah menguat dan takut ini akan menuju kepd kehancuran, dia bilang pada Mu’awiyah, “Bagaimana jika aku menaruh sesuatu padamu yg akan menambah persatuan kita dan memecah belah mereka?” “Baik,” kata Mu’awiyah. Amir berkata, “Kita akan mengangkat masahif (halaman2 Quran) dan berkata, “Isi buku ini berkuasa akan perselisihan kita.” Bahkan jika ada dari mereka yg menolak menerimanya, kau akan mendapatkan sebagian dari mereka akan berkata, “Tentu saja, ya, kita harus terima,” dan mereka akan terpecah belah. Jika, dilain pihak, mereka bilang, “Ya, tentu saja, kita terima apa yg ada didalamnya,” maka kita akan melepaskan beban kita akan pertempuran ini dan peperangan ini hingga waktu yg akan ditentukan atau kesempatan berikutnya.” Jadi mereka mengangkat masahif diujung2 tombak mereka dan berkata: “Ini buku Allah ada diantara kau dan aku. Siapa yg akan melindungi garis depan distrik Syria jika mereka semua musnah, dan yg melindungi Irak jika mereka semua musnah?” Ketika para pengikut Ali melihat masahif diangkat, mereka berkata,

“Kita menjawab buku Allah, dan kita menjadi bertobat padanya.” (hal. 7

Tipuan Amr berhasil! Para pengikut Ali terpecah, dan mereka menuntut Ali utk mengadakan negosiasi. Ini tidak menyenangkan Ali….

Ali berkata, “para pelayan Allah, lanjutkan pertempuran dg musuhmu, karena kalian memegang kebenaran dan yg benar ada dipihakmu. Mu’awiyah, Amir, Abi Muayt, Habib Maslamah, Ibn Abi Sarh (seorang yg membuat ayat2 Quran dg ijin Muhammad), dan al-Dahhak adalah orang2 tidak beragama dan tidak percaya Quran. Aku mengenal mereka dg baik dibanding kalian, karena aku bersama mereka dari kecil hingga dewasa, dan mereka adalah anak2 yg terburuk dan orang dewasa yg terburuk. Mereka tidak mengagungkan masahif dan tidak tahu apa isinya. Mereka mengangkat itu hanya utk menipumu, utk melicikimu.” Mereka menjawabnya, “Jika kita dipanggil pada buku Allah, kita harus menjawab.” Kata Ali pada mereka, “Satu-satunya alasan aku melawan mereka adalah agar mereka mengikuti otoritas dari buku ini, karena mereka telah tidak patuh pada Allah pada apa yg Dia perintahkan dan mereka melupakan perjanjianNya dan menolak bukuNya.” (hal 79).

Dialog berakhir dg desakan para pengikut Ali agar ia bernegosiasi atau mereka akan berbalik melawannya dan menyerahkannya pada Mu’awiyah. Ali memperingatkan mereka utk mengingat kesalahan ini karena ini sebuah kesalahan yg mengerikan, sebuah kesalahan yg akan segera mereka sesali. Bahkan nasihat al-Ashtar (jendral Ali yg paling pemberani) dan kemarahannya pada orang2 yg memberontak tidak dapat merubah pendirian mereka. Mereka juga malah berbalik melawan al-Ashtar.

Ali, berada pada ujung kemenangan yg menentukan hari itu, tapi kalah oleh kelicikan Amr dan Mu’awiyah, dan kemenangan yg sudah didepan mata berbalik menjadi alat yg akan menyusahkan masa depan dan menentukan kematiannya.

Seraya konflik diperkemahan Ali menjadi semakin ganas, dia sadar harus bergerak cepat utk menyelamatkan kesempatan utk menang. Sebab itu dia berkompromi dan setuju utk negosiasi, mengharapkan hasil yg akan menguntungkan dia…

“Kita setuju utk membuat Quran menjadi kuasa diantara kita dan mereka.” (hal 81)

Tapi segala hal terus memburuk bagi Ali…

Orang2 kita berkata, “Kita senang dan menerima.” Orang2 Syria berkata, “Kita telah memilih Amr b. al-As,” dan al-Ashath dan mereka yg menjadi Khawarij setelahnya berkata, “Kita puas dg Abu Musa al-Ashari.” Ali berkata” “Kau tidak mematuhiku saat permulaan masalah ii; jangan menentangku sekarang. Aku tidak punya pikiran utk memberi kekuasaan pada Abu Musa.” Tapi al-Ashath, Zayd b. Husayn dan Misar b. Fadaki memaksa, “Kita tdk temukan orang lain lagi yg dapat diterima: Apa yg telah dia peringatkan pada kita telah kita masuki.” Ali berkata, “Kuanggap dia tidak dapat dipercaya. Dia berpisah dariku dan menyebabkan orang2ku mengabaikanku. Kemudian dia lari dariku hingga aku beri dia keamanan setelah beberapa bulan. Tapi ada Ibn Abbas; kita akan memberinya kekuasaan dalam hal ini.” Mereka menjawab, “Tidak ada bedanya bagi kita apa itu anda atau Ibn Abbas… Ali berkata, “Apa kalian menolak siapapun selain Abu Musa?” dan mereka menjawab, “Ya.” Ali berkata, “Kalau begitu lakukan apa yg kalian mau.” (hal 82 dan 83).

Kau dapat merasakan kesedihan dan kepedihan dalam kalimat2 Ali. Kerajaannya runtuh didepan matanya. Jatuh kedalam akal bulus Amr, pasukan terpercayanya berpaling darinya. Ditambah sekarang mereka menuntutnya utk menunjuk seorang dungu, Amr usa, menjadi negosiatornya. Ali melihat malapetaka yg akan datang – kegagalan dan kejatuhan dari kekalifahannya, dan dia tidak punya kuasa utk menghentikannya.

Dan ini masih belum selesai. Bahkan ketika dokumen negosiasi dibuat, gelar Ali, “Komandan dari orang2 beriman” ditentang. Negosiatornya Mu’awiyah, Amr seorang yg pandai, dan sama seperti ketika Muhammad mempermalukan kaum Quraysh di Hudaybiyya, disini Ali juga dipermalukan.

Mereka awalnya menulis: “Demi Allah, maha pengampun dan penyayang. Ini apa yg Ali sang komandan orang2 beriman tetapkan.” Tapi Amr berkata, “Tulis saja namanya dan nama bapaknya, karena dia komandanmu bukan kita.” Al-Ahnaf berkata pada Ali, “Jangan menghapus gelar Komandan orang beriman, karena aku taku jika kau hapus, mereka tidak akan pernah mengembalikannya padamu … (Tapi ….) … Jadi gelar itu akhirnya dihapus.” (hal 84).

Masalah Ali terus menyebar. Dia meninggalkan medan perang, dan ingin menunggu hasil negosiasi. Tapi, orang2 yg memaksa dia utk memilih negosiator telah berubah pendirian. Orang2 ini menjadi dikenal sebagai Khawarij. Sekarang, mereka merasa Ali telah salah dalam memilih negosiator,d an memaksa dia utk berbalik dan melawan Mu’awiyah. Mereka mulai melawan Ali (hal 90).

SAAT2 NEGOSIASI

Negosiasi dimulai dg buruk. Masing2 negosiator saling menghina dan menjelek2an satu sama lain dg mengutip ayat2 Quran dan melemparkannya keyang lain (Ayat 7.175: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia
melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. versus ayat 62.5: Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.)

Begitu Ali kembali ke Kufa utk menunggu hasil negosiasi dia menjumpai banyak orang dan dia menanyakan opini mereka akan situasi ini. Terjadi perpecahan yg serius dalam komunitasnya. Salah seorang dari mereka menceritakan hal ini:

“Mereka bilang: “Ali punya dukungan yg sangat kuat dan dia memecahnya, dia punya benteng yg kokoh dan dia robohkan itu. Berapa lama yg dia butuhkan utk membangun semua yg dia hancurkan dan utk menyatukan mereka yg terpecah?””… (hal 95).

Komentar dan pengamatan lain dari para pengikutnya…

“Demi Allah, Ali tidak melakukan apa2. Dia pergi dan lalu kembali tanpa apapun.” … Mereka pergi ke Siffin bersama Ali dg penuh rasa sayang dan cinta persaudaraan, dan mereka kembali dg kebencian dan rasa permusuhan satu sama lain. (Hal 9)

Akhirnya, Para Khawarij berontak terhadap Ali dalam negosiasi. Ali bilang mereka telah memaksanya utk bernegosiasi, dan sekarang dia telah memberikan pedangnya, dia akan membiarkan negosiasi membawanya kemanapun. Ini tidak memuaskan mereka, dan mereka menyatakan bahwa Ali sekarang sama dg orang2 Syria dalam hal ketidak percayaan. Lagi, Ali menunjukkan bahwa mereka yg menekannya utk menunjuk seorang negosiator, kata mereka,

“Kau telah berbicara jujur dan ini persis seperti yg telah kau katakan, tapi itu adalah ketidak percayaan dipihak kita dan kita berpaling pada tuhan utk pertobatan. Bertobatlah seperti kita dan kita akan memberimu sumpah setia; jika tidak kita akan menentangmu.” (hal 103).

Waktu terus berjalan, dan negosiasi terpatah sepenuhnya. Amr jauh lebih pintar dari Abu Musa dan membuatnya melakukan langkah ****. Musa, sadar akan kesalahannya, berseru, “Apa yg kau lakukan, apa Allah menggagalkan usahamu? Kau berlaku curang dan tidak jujur. Kau seperti anjing yang, jika kau serang, akan menjulurkan lidahnya, atau jika kau biarkan, akan tetap juga menjulurkan lidah.” Amr menjawab, “Dan kau seperti monyet yg membawa surat2.” (hal 109, 110).

Setelah kejadian ini orang2 Syria dg resmi mengangkat Mu’awiyah sebagai Kalifah mereka. Ali memohon kutuk jatuh pada Mu’awiyah dan para pengikutnya. Ketika tahu hal ini, Mu’awiyah membalas…

Ali bersujud memohon, “Oh God, jatuhkan kutuk pada Mu’awiyah, Amr, Abu al-Awar al-Sulami, Habib b. Maslamah, Abd al-Rahman, b. Khalid, al-Dahhak b. Qays, dan al-Walid b. Uqbah.” Mu’awiyah mendengarnya dan ketika dia sendiri memohon, dia mengutuk Ali, Ibn Abbas, al-Ashtar, al-Hassan dan al-Husayn (anaknya Ali) (hal 110).

Para kalifah muslim yg saleh2 ini saling melempar kutuk, juga terhadap teman2 dan keluarga mereka. Sama seperti Muhammad memanjatkan doa utk memohon kutuk keseluruh penghuni dusun, maka, begitu juga orang2 lalim ini mengikutinya.

Tapi, seiring berlalunya waktu, Mu’awiyah menjadi bertambah kuat dan Ali menjadi lemah. Awalnya, Ali kesulitan membentuk pasukan, tapi dia tetap memaksa utk membentuk pasukan yg cukup dan siap utk memerangi Mu’awiyah. Para pengikutnya kehilangan kepercayaan padanya dan mereka letih berperang tanpa hasil. Jadinya, Ali harus berbalik dari menghadapi Mu’awiyah menjadi menghadapi pemberontakan para Khawarij.

Para Khawarij awalnya sadar bahwa situasi mereka sulit dan berkelana ketempat2 dimana mereka dapat mendirikan domain islam yg cocok bagi mereka. Mereka menjarah, menyiksa dan membunuh muslim2 lain sepanjang perjalanan mereka. Ali harus berbalik dari melawan Mu’awiyah dan jadi mengirim pasukan utk memerangi para Khawarij. Dia menghancurkan mereka. Perang ini dikenal sebagai Perang Canal. Terjadi di th. 37 AH.

Dg para Khawarij terkalahkan, pikir Ali akhirnya gangguan berakhir. Akhirnya, Ali sekarang dapat memfokuskan seluruh pikirannya melawan sang bajingan Mu’awiyah. Akhirnya, Ali akan menghabisi Perampas kekuasaan yg dengki ini selamanya. Akhirnya, Ali sekali lagi dapat dg tekun, percaya diri dan siap utk menyelesaikan masalah yg seharusnya dia bereskan dulu sekali. Akhirnya, dia memberi perintah utk berbaris menuju musuh besarnya, mengalahkannya dan memberikannya rasa manis kekuasaan dan dominasi yg telah dia impi-impikan bertahun2 lamanya….

Ketika Ali selesai dg orang2 Nahrawan (Para Khawarij), dia memuji Allah dan bersyukur dan katanya pada para pengikutnya, “Allah berpihak pada kita dan memperkuat kemenangan kita, jadi arahkan dirimu langsung kepada musuhmu.” Mereka menjawab “Komandan orang beriman, panah2 kita letih, pedang2 kita tumpul, ujung tombak kita terbelah dan banyak yg telah patah2. Kembalilah ke kota garnisun kita dan mari kita membuat persiapan yg mungkin. Barangkali sang komandan akan menambah peralatan2 yg akan membuat kita menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi musuh.” . .. Tapi mereka tidak melakukan apa yg dia katakan maupun mempersiapkan diri mereka. (hal 135, 13 6).

Ali yg malang! Sekali lagi, kemungkinan menjadi Kalifah Utama lepas dari tangannya seperti air: lebih keras kau pegang, lebih sedikit yg kau dapat. Ali mencela mereka sebagai orang2 lemah, tidak bisa diandalkan, pengecut2. Banyak dari orang2 ini telah bertempur disisinya bertahun2 dan terluka baginya. Mereka lelah dan tidak punya kepercayaan pada orang yg sepertinya tidak pernah bisa melakukan sesuatu dg benar dan tanpa perselisihan. Mereka letih akan pembunuhan dan kematian yg semuanya hanya bagi kejayaan Ali.

Hal ini intinya menjadi akhir dari gerakan2 agresif Ali melawan Mu’awiyah. Momentumnya telah berpindah. Tapi, ada kejadian berbahaya lain yg akan terjadi dalam kehidupan Ali sesaat lagi.

ANAK ABU BAKR: PEMBUNUH USMAN

Meski Ali terhalang lagi, Mu’awiyah belum selesai dg Ali. Bukannya langsung menghadapi Ali, Mu’awiyah mengejar tangan2 Ali. Dia memalingkan perhatiannya pada tanah yg kaya di Mesir. Disini, Ali telah menunjuk Muhammad b. Abi Bakr sebagai gubernur Mesir. Dia adalah anaknya Abu Bakr, Kalifah pertama yg disebut sbg Kalifah “dg tuntunan benar”, dan teman baiknya Muhammad. Muhammad b. Abi Bakr dituduh memimpin sekelompok pembunuh Usman. Kesempatan muncul sendiri pada Mu’awiyah dan dia mengirim pasukan terhadap Muhammad b. Abi Bakr.

Ingat, tuduhan penting banyak muslim kepada Ali adalah dia menolak utk menghukum para pembunuh Usman. Nyatanya, mereka mengklaim bahwa dia yg menyokong pembunuhan itu sendiri dan memberi mereka perlindungan. Muhammad b. Abi Bakr adalah salah seorang tertuduh pembunuh ini. Laporan awal melaporkan ia ada dirumah Usman ketika malam terjadinya pembunuhan, menyiksa Kalifah lama itu. Tapi laporan lain tidak membawa2 dia, dan hingga hari ini, komunitas islam terbagi mengenai keikutsertaan dia dalam pembunuhan ini.

Tapi sekarang, meja telah berbalik! Pasukan Mu’awiyah bertempur melawan Muhammad bin Abi Bakr dan mengalahkannya. Pasukan Muhammad meninggalkannya. Orang2 Mu’awiyah mengejar Muhammad dan menangkapnya. Adegan akhir dari konfrontasi ini terjadi antara Mu’awiyah dan Muhammad…

Mu’awiyah berkata padanya, “Aku membunuhmu utk membalas bagi Usman.” Muhammad bertanya, “Apa urusanmu dg Usman? Dia bertindak tidak adil dan menolak otoritas Quran dan Allah telah berkata, “Mereka yg tidak menghakimi dg apa yg telah Allah turunkan, mereka adalah orang2 tidak bermoral.” Kita melawannya dan membunuhnya, tapi kau memberinya kepantasan utk itu, kau dan mereka yg sepertimu. Allah telah membebaskan kita – Kehendak Allah - dari dosa kita, tapi kau mendapat bagian dalam perlawanannya dan besarnya dosa2 dia, dan orang yg memperalatmu juga sama saja.”

Mu’awiyah jadi marah, disuruhnya maju dan dibunuhnya. Lalu dia membuang mayatnya diantara mayat keledai dan membakarnya (hal 158).

Akhirnya, Muhammad bin Abi Bakr telah mengakui pembunuhan Usman.

Ingat bagaimana Abu Sufyan meramalkan bahwa pertumpahan darah diperlukan utk membetulkan kesalahan pemilihan Abu Bakr sebagai Kalifah? Anak Abu Sufyan baru saja membunuh anak Abu Bakr secara brutal.

Mendengar kejatuhan Mesir ke Mu’awiyah, Ali menjadi sangat sedih. Sekali lagi dia terlambat memberi pertolongan. Selama beberapa tahun Kekalifahannya dia melihatnya runtuh satu demi satu. Gelombang ketidak beruntungan datang. Orang2 nya berbalik melawannya, atau berbeda pendapat dgnya, tangan kanan yg paling dipercayanya telah mati terbunuh, Mu’awiyah telah mengakalinya dan mengalahkannya dg pukulan2 yg telak. Dalam keputus asaan, Ali menulis pada ibn Abbas…

“Sekarang Mesir telah ditaklukan dan Muhammad b. Abi Bakr telah menjadi martir… Pada permulaan aku berdiri diantara orang2ku dan memerintahkan mereka utk menolongnya sebelum bencana ini muncul. Aku pernah memanggil mereka baik secara diam2 maupun secara terang2an, lagi dan lagi. Ada yg datang dg tidak sukarela, ada yg beralasan utk tidak datang dan ada yg hanya diam saja ditempat mereka. Aku tanya Allah agar Dia memberiku jalan keluar dari mereka dan agar dia mengantarkanku jauh dari mereka. Demi Allah, jika saja aku tidak begitu berhasrat utk mati di jalan Allah, aku tidak ingin tinggal bersama2 orang2 ini meskipun utk satu hari…” (hal 164).


PEMBUNUHAN PARA KRISTEN

Sama seperti Muhammad yg mengijinkan membunuh para kristen, belakangan, Ali melakukan hal yg sama. Dibawah ini adalah beberapa kejadian bagaimana Ali dan orang2nya menyiksa dan membunuhi kristen.

Diantara mereka terdapat orang2 kristen yg telah memeluk Islam, tapi ketika timbul perselisihan diantara orang islam, mereka berkata, “demi tuhan, agama yg kita tinggalkan lebih baik dan lebih benar daripada agama yg diikuti orang2 ini. Agama mereka tidak menghentikan mereka dari pertikaian berdarah, meneror jalan2 dan merampoki harta milik.” Dan mereka kembali keagama semula mereka. Orang2 Al-Khirrit bertemu mereka dan berkata, “Terkutuklah kalian! Tahukah kalian aturan dari Ali mengenai kristen yg memeluk Islam dan kemudian kembali kekristenan? Demi Allah dia tidak mendengar apapun yg mereka katakan, ida tidak menganggap apapun alasannya, dia tidak akan menerima tobat apapun, dan dia tidak akan memanggilmu karena itu. Aturannya adalah langsung pancung kepala jika kau temui orang seperti itu.” (hal 187, 188).

“Aku ada dalam psukan yg dikirim oleh Ali Abi Talib utk melawan Banu Najiyah…. Komandan kita bertanya pada salah seorang dari kelompok ini, “Kamu ini apa? Dan jawab mereka, “Kami orang2 kristen yg tidak menganggap agama2 lain lebih baik dari agama kita, dan kami memegang erat pandangan kami itu.” Komandan berkata pada mereka, “Pergilah.” Dia bertanya lagi pd yg lain, “Kamu ini apa?” Dan kata mereka, “Kami kristen, tapi kami sekarang memeluk islam, dan kami memegang erat keislaman kami.” Kata Komandan, “Pergilah!” kemudian pada kelompok ketiga, “Kamu ini apa?” dan kata mereka, “Kami tadinya adalah orang kristen, kami memeluk islam tapi kami pikir, agama kami yg dulu lebih baik dari yg baru.” Kata komandan pada mereka, “Terima Islam!” tapi mereka menolak. Dia bilang pada orang2nya, “Jika aku menggosok kepalaku tiga kali, serang mereka, bunuh orang yg melawan dan tangkap sisanya.” (hal 188).

Tapi ada satu orang tua diantara mereka, seorang kristen yg dipanggil al-Rumahis bin Mansur, yg berkata, “Demi Tuhan, satu2nya kesalahan yg pernah kuperbuat sejak memakai akal adalah melepaskan agamaku, agama kebenaran, karena punyamu adalah agama kejahatan. Tidak demi tuhan, aku tidak akan meninggalkan agamaku dan aku tidak akan menerima agamamu selama aku hidup.” Maqil membawanya maju dan memotong kepalanya.” (hal 191).

“Utk para Kristen, kita tawan mereka dan menuntun mereka agar menjadi peringatan bagi mereka orang2 yg mengikuti mereka dg menolak jizyah (pajak pemerasan), dan agar tidak berani melawan agama dan komunitas kita, karena orang2 itu tidak dianggap dan punya status rendah. (hal 192).

Masqalah memanggil satu orang kristen dari Banu Taghlib, namanya Hulwan, utk pergi ke Nuaym dari Syria dg membawa surat… Ali yg mengambil surat itu dan membacanya, lalu dia memotong tangan orang kristen itu, orang itu kemudian meninggal. (hal 195).

Meskipun dg semua retorika kebajikan diri, dalam hatinya, Ali bisa menjadi sangat kejam. Dia terinfeksi sangat dalam dg roh kanker dari Islam, dan telah mengeras dalam hatinya dan menimbulkan hasrat yg tinggi akan kekuasaan. Ali adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Dia bisa membunuh orang tanpa ampun hanya karena dia telah buta dan dikeraskan oleh kekuasaannya. Ali dapat mendorong ribuan muslim menuju kekematian mereka melawan muslim lain, dan kemudian menendang mereka ketika mereka lelah bertempur demi dia. Ali dapat membunuh orang tak bersalah hanya karena mereka menghalangi posisinya dalam populasi Islam.

KEMATIAN ALI

Segalanya terus memburuk bagi Ali. Mu’awiyah bertambah kuat dan percaya diri. Dia mulai mengirim kelompok2 serangan yg cukup besar ke teritori Ali dan mendapat kemenangan. Orang2 Ali mulai mundur dari pertempuran2 dan Ali terus terbakar amarah pada mereka. Semakin Ali memanggil mereka, semakin mereka menjauh. Bahkan para komandannya pun menghindar dari perang yg berat. Ali, dalam amarahnya berkata pada mereka dalam mimbar khotbahnya…

“Oh Orang2 al-Kufah, tiap kali kalian dengar pasukan berkuda Syria datang melawanmu, tiap kali laki2 bersembunyi dirumahnya dan mengunci pintu, seperti kadal dalam lubangnya dan hyena disarangnya. Siapapun yg percaya padamu telah tertipu dan siapapun yg memanggilmu berperang, ia memanggil orang yg tak berguna. Kalian bukan lelaki sejati ketika pemanggilan utk datang dg senjata penuh muncul maupun saudara yg dapat dipercaya dg rahasia2… Betapa aku telah diuji melalui kalian! Kalianlah orang buta yg tidak dapat melihat, orang dungu yg tidak dapat bicara, dan orang tuli yg tidak dapat mendengar.” (hal 199)

Mu’awiyah telah menguji kekuatan2 Ali dan sadar bahwa kekuatan lawannya itu memburuk seiring waktu. Dia menjadi semakin berani mengirim pasukan ke Hijaz itu sendiri! Tempat ini adalah kampung halaman Muhammad dan tempat kelahiran Islam. Orang2 Medina sekarang terpecah belah. Mereka tidak melawan pasukan Syria. Mereka lelah dan tidak punya kekuatan. Orang2 yg sama ini, yg satu generasi sebelumnya telah banyak menjarah dan merampok suku2 Arab sekarang dipermalukan, dijarah dan dirampok.

Jendralnya Mu’awiyah, Busr, mengambil alih Medina, (kota pertama yg punya komunitas Islam dan tempat istirahatnya Muhammad). Busr menghancurkan rumah2 penduduk dan dia berkata pada penghuni Medina, “Penduduk Medina! Demi tuhan, Kalau saja bukan tanggung jawabku pada Mu’awiyah, aku tidak akan meninggalkan satupun laki2 dewasa hidup diantara kamu, (hal 207). Busr terus maju ke Yemen dan melakukan hal yg sama, ditambah dg terbunuhnya gubernur daerah itu yg diangkat oleh Ali – Ubaydallah bin Abbas, dan anak2nya yg kecil. Kejahatan Islam hidup tinggal dalam setiap muslim, Ali ataupun Mu’awiyah sama saja. Kerajaan Ali mulai runtuh dan itu telah jelas bagi setiap orang.

PENGKHIANATAN IBNU ABBAS TERHADAP ALI

Ingat bagaimana Ibn Abbas dan Ali saling memaki didepan Kalifah Umar dalam hal kekayaan Muhammad? Sekarang Ibn Abbas sadar bahwa waktu Ali telah habis. Mu’awiyah terlalu kuat. Menampilkan sifat sejatinya, dia berpikir lebih baik ambil uangnya dan lari…

Dari Tabari, volume 17, halaman 209, 210:

Keadaan Ibn Abbas ketika pergi ke Mekah dan meninggalkan Irak.

Abdallah b. Abbas menemui Abu al-Aswad al Duali, yg berkata (pd Abbas), “Jika kau seekor binatang, kau akan menjadi onta; jika kau gembala, kau tidak akan dapat mengatur (gembalaanmu) dipadang rumput dan tidak tahu bagaimana mengatur mereka dg baik ketika bergerak.

Abu al-Aswad karenanya menulis pada Ali: “Allah telah membuatmu menjadi penguasa yg dipercaya oleh gembalaanya dan sebuah padang rumput yg mengambil tanggung jawab bagi jemaahnya. Kita telah mengujimu dan mendapatkan kau penuh integritas dan seorang penasihat yg jujur bagi jemaahmu. Kau beri mereka harta jarahan dg penuh, kau tidak ikut2 menyita harta dunia mereka, kau tidak mengambil kekayaan mereka dan kau tidak mengambil sogokan dari pemerintah mereka. Ponakanmu, dilain pihak, telah mengambil apa yg harusnya ada dibawah otoritasnya tanpa sepengetahuanmu, dan aku tidak dapat membiarkannya tanpa sepengetahuanmu. Jadi periksalah apa yg terjadi disini, semoga Allah mengampunimu dan tulis surat utk mengatakan pendapatmu akan hal ini , apa yg kau ingin aku lakukan bagimu. Salutation.”

Ali tidak ****. Dia ingat bagaimana Abbas berhasrat akan kekayaan Muhammad persis seperti dirinya. Dia juga tahu bagaimana Usman jatuh reputasinya karena tindakan2 penyiksaan dari gubernur2nya. Ali mengambil tindakan.

Ali menulis tentang hal ini pada Ibn Abbas, yg membalas, “Apa yg kau dengar itu salah. Yang kudapat dibawah otoritasku aku kontrol dg cara yg baik dan hati2. Jangan percaya akan kecurigaan ini. Salutations” Ali menulis balik, “Katakan Jizyah apa (Pajak pemerasan yg diambil dari non muslim) yg kau ambil, kapan diambilnya, dan dimana disimpannya.” Ibn Abbas menjawab, “Aku mengerti kekhawatiranmu akan perampasan yg kau dengar telah kuperbuat dari orang2 kaya diteritori ini jadi kirim siapa saja yg kau inginkan dari provinsimu dan aku akan memberi jalan baginya. Salutations.”

Ibn Abbas kemudian memanggil paman pihak ayahnya dari Banu Hilal b. Amir dan al-Dahak b. Abdallah al-Hilali dan Abdallah b. Razin b. Abi Amr al-Hilali datang padanya. Lalu semua orang Quay bergabung dgnya dan dia membawa serta sejumlah besar harta… ini adalah uang2 dan harta2 yg dikumpulkan utk mendanai pasukan tempur, dan Ibn Abbas mengambil sebanyak yg bisa dia kumpulkan. (hal 210, 211).

Beberapa orang Muslim menentang pencurian Ibn Abbas ini dan pertempuran muncul. Tapi Ibn Abbas punya sekelompok besar pengikut yg membantunya dalam pencurian dan mereka yg menentangnya terbunuh atau terpaksa lari. Ibn Abbas, cendekiawan muslim masa depan, tidak lebih baik dari seorang pencuri.

Ali yg memilih sendiri gubernurnya, kerabatnya, telah merampoknya. Rumah kartu yg disusun sang Kalifah Ali mulai menghantam tanah. Tenggelamnya matahari Ali tidak lama lagi.

Seluk beluk pembunuhan Ali sangat menarik, tapi tidak ada yg perlu utk dicatat. Intinya, seorang yg terluka akan tindakan2 Ali, akan kemenduaannya dan kegagalannya, memutuskan bahwa Ali mesti mati, meskipun jika itu akan menyebabkan dia sendiri mati. Dia ingin membunuh Ali. Bahkan dia bisa mengajak dua kaki tangan. Ketiganya menunggu Ali meninggalkan mesjid….

Ketika Ali muncul, Shabib memukulnya dg pedang tapi mengenai kusen pintu; Ubn Muljam membelah kepalanya dibagian atas dg pedang (hal 216).

Ali mati tidak lama kemudian. Saat mati ia seorang yg gemuk, botak dan pendek. Dia memerintah sebagai Kalifah selama lima tahun. Pelakunya tertangkap dan dibunuh. Anak Ali, Hasan mengambil alih sebagai penguasa sementara, hingga keputusan resmi dibuat mengenai siapa Kalifah berikutnya.

Ketika Aisha, pengantin anak2 Muhammad, mendengar kematian Ali, dia senang. Dia sangat membenci Ali selama bertahun-tahun. Kata Aisha, “dan ia melempar tongkatnya dan duduk ditempat kediamannya, seperti seorang pengelana yg berbahagia karena telah pulang kerumah.” (hal 224). Aisha hidup cukup lama utk tertawa terhadap orang yg paling dia benci. Kebencian dalam sanak keluarga Muhammad berakar sangat dalam.

EPILOG

Pujian dari Hasan:
“Malam ini kau telah membunuh seorang manusia di malam dimana quran diturunkan, di malam dimana Yesus anak Maria diambil, dan dimalam dimana Joshua anak dari Nun, Musa, dibunuh. Demi Allah, tak seorangpun yg pergi mendahului dia ada didepan dia dan tak seorangpun yg dibelakangnya akan mengejarnya. Demi Allah, jika sang Nabi mengirimnya utk menjarah, malaikat2 Gabriel ada ditangan kanannya dan Michael ada ditangan kirinya.”

Gabriel dan Michael meninggalkan Ali, sama seperti yg banyak dilakukan oleh pendukung2 awalnya. Pada akhirnya, tak seorangpun kelihatan memperhatikan reputasi tinggi Ali. Ketika gilirannya menjadi Kalifah, manisnya kekuasaan yg dia rindukan telah menjadi pahit dimulutnya. Ali tidak berangkat seperti para pejuang muslim yg bangga, sebaliknya, dia berangkat seperti seorang yg singa tua, usang dan diabaikan, yg pelahan mengalah pada sekelompok hyena.

IKHTISAR

Setelah muhammad mati segalanya berubah. Ali yg sebenarnya, Ali sejati, muncul; muslim sebenarnya, muslim sejati, muncul. Tanpa kendali pengaruh dari aturan Muhammad, hati sejati mereka menjadi jelas. Ali adalah seorang manusia yg punya sifat baik dan jelek. Tragisnya, racun islam memperkuat sisi jahatnya. Ali tahu bagaimana utk mempertahankan kebutuhan luar Islam, tapi didalam, dia sejahat orang lalim manapun. Kekalifahan Ali terbaca seperti tragedi Shakespeare yg hebat. Dari pembunuhan Usman, Ali memikul satu ke lain bencana dan satu ke lain ketidak beruntungan. Ali ternodai oleh pembunuhan Usman, terpalingkan oleh temannya yg mengujinya utk kekuasaan, tergerak melawan istri tercinta Muhammad, Aisha, tertantang oelh anak dari musuh keluarganya – Mu’awiyah. Ali mengalirkan darah puluhan ribu muslim, pasukannya sendiri mengesampingkan kemenangan tertentu karena mereka hanya orang2 sederhana dan mudah ditipu, pada gilirannya mereka mengancam dia dg pengkhianatan dan kematian yg pasti. Pemberontakan2, kematian dari pendukung2 terdekatnya berlangsung dari bulan ke bulan. Ali tidak mendapat kedamaian tidur. Akhirnya, ia terbunuh, dg cara lebih memalukan dari pembunuhan Usman.

DISKUSI – CICIPI BUAHNYA

Kita seharusnya mempelajari buah kerohanian Islam, betul? Tapi yg kita lihat dari orang2 terkenal muslim adalah perang, berbohong, pembunuhan, tuduhan, pengkhianatan, pencurian, kebencian dan kepedihan. Kita sangat sedikit melihat “kerohanian” dari Ali, Mu’awiyah, Ibn Abbas, atau Aisha. Malah kita melihat keluarga rusak mirip “Mafia”. Oya, mereka patuh akan segala bentuk ritual islam, diluarnya, tapi didalamnya, mereka bobrok dan miskin secara rohani seperti kriminal. Para muslim ini persis tipe orang seperti apa yg Yesus gambarkan ketika Dia berkata pada kaum Parisi, “Kalian terlihat baik diluar tapi didalam kalian ini mati.” (frase saya). Betapa kosong dan miskinnya rohani dari sekelompok orang yg disebut Keluarga Kerajaan Islam ini.

Mari kita rangkum beberapa buah yg kita telah lihat.

ALI

Ali adalah menantunya Muhammad. Ambisi egois Ali mendorong hampir semua aksinya dalam mencapai kekuasaannya. Bukannya membunuh para pembunuh Usman, ia bergabung dg para kriminal itu. Setelah pura-pura tidak ingin menjadi Kalifah, sekali gelar itu diberikan, dia berpegang erat2 dg segala kekuatannya. Dia mendorong ribuan orang pada kematian dan luka-luka dalam pencapaian tujuannya. Hidup mereka dikorbankan demi kebanggaan dan kejayaannya. Pada akhirnya, Ali mencemarkan pasukan yg telah berperang baginya bertahun-tahun. Dia tidak menunjukkan rasa terimakasih utk pengorbanan begitu banyak muslim. Ketika dia bertemu kristen, banyak yang telah meninggalkan islam, karena mereka sadar bahwa itu adalah agama yg bobrok, dia membunuhi mereka.

IBN ABBAS

Ibn Abbas adalah sepupu muhammad. Ketika Ali mempertanyakannya mengenai manajemen provinsinya, Ibn Abbas berbohong. Ketika Ibn Abbas sadar bahwa Ali menyelidiki dia yg mencuri uang dari para penduduk, ia mencuri sejumlah besar uang dari perbendaharaan, dan lolos. Ketika ditantang oleh beberapa muslim selama waktu pencurian, Ibn Abbas melawan dan membunuh mereka. Orang ini belakangan dikenal sebagai cendekiawan Islam Terbesar, tapi ketika kartunya dibuka, dia menunjukkan bahwa dia tidak punya rohani yg baik didalamnya, malah ia adalah seorang pembohong, pencuri dan pembunuh.

AISHA

Dia adalah istri favorit Muhammad. Belakangan dia banyak menceritakan ribuan riwayat Muhammad, yg digunakan untuk mendirikan doktrin2 Islam. Tapi ketika membicarakan sanaknya Ali, rasa bencinya begitu dalam hingga ia bergembira waktu kematiannya! Tidak ada rasa maaf, tidak ada kerukunan dalam hati mereka. Dimana kebaikan dalam hatinya? Kenapa ada kebencian yg demikian diantara muslim2 terbaik?

IBN ABU BAKR AND IBN UMAR

Ini adalah anak2 dari dua kalifah pertama. Ibn Abu Bakr ikut serta dalam pembunuhan Usman – Dia salah seorang pemimpinnya. Ibn Umar kabur ke Syria ketika situasi mulai memanas di Hijaz. Seiring waktu berlalu, orang2 ini saling bertempur satu sama lain. Betapa ironis. Apa yg terjadi dalam islam ketika anak2 Kalifah “dg tuntunan benar” mencoba membunuh yg lain? Anak2 ini adalah buah dari islam sebenarnya. Dan kita lihat perbuatan jasmani mereka sejelas kita lihat pada orang2 yg hanya melakukan buah perbuatan jasmani.

PERTANYAAN DAN KOMENTAR
Jika islam benar2 punya nilai spiritual/rohani bukankah seharusnya kita mengharapkan melihat sifat/karakter yg lebih baik dari ini? Islam jauh lebih rusak dari yang anda sadari. Bukannya menawarkan ketuhanan, islam malah menawarkan buah2 daging/jasmani.

-------------------------------------------------------
BIBLIOGRAPHY

1) al-Tabari, "The History of al-Tabari", (Ta'rikh al-rusul wa'l-muluk), State University of New York Press, 1993
Last edited by ali5196 on Wed Oct 12, 2011 3:15 am, edited 1 time in total.
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Wed Oct 12, 2011 3:01 am

ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Thu Apr 12, 2012 4:50 am

ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Center: Hal2 PENTING ttg Islam (Sunni)



Who is online

Users browsing this forum: No registered users