Page 1 of 2

BILL WARNER: Statistika & Makna Islam (5 artikel)

PostPosted: Mon May 06, 2013 9:41 am
by Kibou
Statistika dan Makna dari Islam
Oleh Bill Warner
http://www.politicalislam.com/blog/stat ... -of-islam/

LIHAT JUGA: belajar-islam-lewat-statistik-t42074/

Bill Warner adalah pendiri Centre for the Study of Political Islam.
http://www.cspipublishing.com/
http://www.politicalislam.com/

Seperti apa sih islam yang "sesungguhnya"? Apakah islam-nya muslim moderat? Ataukah islam-nya Osama Bin Laden? Untuk mendapat jawaban logis, kita harus punya dasar logika.

Pernyataan paling mendasar islam adalah tiada tuhan selain Allah dan Muhamad adalah nabinya. Inilah pondasi islam dan mengarah langsung kepada sumber pasti dari islam - Allah dan Muhamad. Di manakah kita bisa temukan Allah dan Muhamad? Dari Trilogi Quran, Sirat, dan Hadis. Allah ditemukan di Quran dan Muhamad ditemukan di Sirat (biografi Muhamad) dan Hadis (tradisi kisah dan ucapan Muhamad). Ada istilah khusus untuk gabungan Sirat dan Hadis, yaitu Sunna.

Quran dan Sunna adalah satu-satunya sumber pasti mengenai islam. Seluruh islam didasarkan kepada Trilogi tersebut. Teks yang menjadi pondasi islam - Trilogi (Quran, Sirat, Hadis) - sulit dipahami. Adalah jelas bagi mereka yang mencoba membaca teks islam bahwa ada kesengajaan untuk membuat teks tersebut tidak jelas dan sulit dipahami. Ada dua alasan mengapa. Pertama, teks yang sulit dipahami mempermudah nafkah bagi kaum imam dan sarjana islam. Kalau mudah dipahami, maka tidak diperlukan bantuan orang lain untuk mengerti. Alasan kedua adalah bahwa teks tersebut mengandung pesan yang kontradiktif dan mengerikan di balik ketidakjelasan.

Tanggapan umum atas masalah di atas adalah dengan mengutip ayat dari Quran. Tapi "ayat" adalah kata yang bias dan relijius. Dalam hampir setiap kasus, ayat tidak lebih dari sebuah kalimat. Tidak ada cabang ilmu lain di mana satu kalimat diperhatikan sedemikian rupa.

"Comot ayat", meminjam istilah statistika, adalah metode sampling yang buruk. Yang kita inginkan adalah maknanya, dan makna keseluruhan tidak mungkin didapat hanya dari satu kalimat.Yang kita perlukan adalah ide-ide dan konsep-konsep, tidak sekedar sepotong kalimat. Harus ditekankan bahwa cara terbaik memperoleh makna keseluruhan adalah dengan cara menyusun ulang teks dan kemudian beranjak dari penyusunan tersebut. Quran terkenal sukar dipahami. Namun, jika sudah disusun ulang, Quran adalah dokumen yang cukup jelas.

Langkah penyusunan pertama adalah menempatkan Quran berdasarkan urutan waktu. Dengan begitu, setiap membalik halaman, kita beranjak maju dalam waktu, seperti halnya membaca buku sejarah. Urutan berdasarkan waktu ini sudah dikenal sejak awal mula islam. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan semua variasi atas kisah yang sama. Misalnya, kisah Musa dan Firaun diulang sampai 39 kali (kurang kerjaan banget - Kibou). Jika semua variasi seperti ini dikumpulkan di bawah satu kategori, maka Quran menjadi lebih mudah dibaca dan tidak terlalu membosankan.

Langkah selanjutnya adalah menyisipkan Sirah ke dalam Quran untuk memberikan konteks. Misalnya, ada ayat yang menyatakan bahwa diperbolehkan membakar pohon palem. Bagi yang membaca ayat ini, tentunya muncul pertanyaan: pohon palem yang mana? Quran tidak memberi konteks. Tapi di saat ayat ini turun, setiap orang yang mendengarnya tahu bahwa seminggu lalu Muhamad menyerang kaum Yahudi yang merupakan penanam pohon kurma dan Muhamad menghancurkan pohon-pohon kurma yang merupakan pelanggaran atas aturan perang Arabia. Ketika kisah Muhamad (dari Sirah) disisipkan de dalam Quran, konteks atas penyerangan terhadap kaum Yahudi menjadi jelas.

Quran yang tersusun kronologis, dikategorisasi, dan mengandung kisah hidup Muhamad adalah buku yang jelas dan mudah dimengerti. CSPI (Center for the Study of Political Islam) telah menerbitkan dua versi Quran yang telah disusun seperti ini - A Simple Koran dan Abridged Koran.
Image Image

Tapi kita masih ada masalah. Kita harus mampu mendiskusikan Quran dengan mereka yang tidak punya akses ke Quran yang disusun ulang atau dengan mereka yang tidak mau membaca sama sekali.

Kita harus mampu membuat rangkuman pernyataan yang bermakna. Asal comot ayat yang paling disukai bukanlah cara membuat rangkuman pernyataan. Yang kita perlukan adalah analisa makro, bukan analisa mikro. Kita harus mampu membicarakan "the big picture", makna keseluruhan dari islam. Tapi ada masalah merangkum islam karena islam penuh dengan pernyataan kontradiktif. Jadi bagaimana mengatasi kontradiksi tersebut selagi memandang "the big picture"?

Jawabannya adalah dengan menerapkan pengukuran statistika terhadap teks islam. Jangan gentar dengan istilah statistika. Statistika yang diperlukan hanyalah menentukan seberapa banyak kemunculan suatu item di dalam suatu kategori.

Ambil contoh ide mengenai pentingnya Quran. Umumnya orang percaya bahwa islam itu didasarkan kepada Quran dan suatu agama. Kedua anggapan ini salah. Seberapa pentingkah Quran? Quran mengandung sekitar 153.000 kata. Sirat oleh Ibn Ishaq mengandung sekitar 292.000 kata, dan Hadis Bukhari mengandung 646.000 kata. Jadi Allah (Quran) hanyalah sekitar 14% dari total Trilogi sementara Sunna (Sirah dan Hadis) adalah 86%. Ini sekedar pengukuran quantitatif, tapi menunjukkan bahwa Muhamad lebih penting jika dibanding dengan Allah kalau berdasarkan jumlah teks.

Terlebih lagi Quran tidak mengandung cukup informasi mengenai bagaimana menjalankan satu saja Lima Pilar Islam. Hanya Sunna (terutama Hadis) yang menjelaskan muslim bagaimana beribadah. Jadi pengukuran statistika menunjukkan bahwa islam adalah juga Muhamadisme.

Begitu Quran disusun kronologis, terkategorisasi dan kisah Muhamad disisipkan, muncul fakta lain mengenai islam. Sedikit sekali Quran menjelaskan bagaimana menjadi seorang muslim atau mengenai agama islam. Malahan, sebagian besar Quran adalah mengenai kafir atau non-muslim. Kafir adalah mahluk paling buruk. Allah membenci kafir dan melawan mereka. Kafir boleh disiksa, dibunuh, dirampok, diperkosa, dan diperbudak. Quran dan juga Muhamad, terobsesi dengan kafir.

Untuk mengukur obsesi Quran terhadap kafir, marilah kita hitung jumlah teks mengenai kafir. Dalam ayat-ayat Mekah, 67% dari teks adalah tentang kafir. Dalam ayat-ayat Medinah, 51% adalah mengenai kafir. Jumlah teks dari seluruh Quran mengenai kafir adalah 61%. Sebagai pembanding, ibadah islam tidak berhubungan dengan kafir sama sekali. Karena kafir berada di luar islam, istilah "politik islam" digunakan untuk menggambarkan bagaimana doktrin islam diterapkan terhadap kafir. Jadi 61% dari Quran adalah mengenai politik islam, bukan agama islam.

Sirah menunjukkan pentingnya politik islam. Muhamad berdakwah agama islam selama 13 tahun di Mekah dan hanya mendapat 150 pengikut. Dia hijrah ke Medinah dan menjadi politikus dan tukang perang. Setelah 10 tahun kekerasan dia menjadi penguasa seluruh Arabia tanpa satupun lawan. Dia terlibat dalam satu tindakan kekerasan di setiap 6 minggu dalam 9 tahun terakhir hidupnya. Kesimpulan statistika - kesuksesan islam berasal dari perang dan politik, bukan agama.

Satu lagi kesimpulan statistika - islam utamanya adalah doktrin politik, bukan agama. Statistika sederhana juga menyingkap hakikat sesungguhnya dari ideologi politik/religius jihad. Saat istilah jihad digunakan, muslim mengatakan ada dua jenis jihad. Jihad relijius atau jihad besar adalah pergumulan internal terhadap masalah pribadi. Jihad peperangan adalah jihad kecil.

Hadis Bukhari mengandung semua detil taktik jihad. Metode penghitungan sederhana menunjukkan:
3% dari Hadis adalah mengenai jihad pergumulan internal, sedangkan 97% Hadis adalah mengenai jihad peperangan.
Jadi apakah jihad itu pergumulan internal? Ya, 3%.
Apakah jihad itu perang terhadap kafir? Ya, 97%
.


Ini mengantar kita kepada konsep penting. Islam didasarkan kepada pernyataan-pernyataan kontradiktif. Bagaimana kita menyusunnya untuk mendapatkan makna keseluruhan? Kita ukur banyaknya teks yang terbagi ke dalam masing-masing dikotomi. Inilah yang kita lakukan dalam menjawab apakah jihad itu sebenarnya. Itulah jawaban statistikal yang menyeluruh.

Tidak ada hal yang baru di sini (penerapan statistika). Ide-ide yang jelas, tafsirnya adalah tunggal. Ide-ide yang ambigu, setiap tafsirnya harus diukur menggunakan statistik atas setiap variabelnya. Jika sebuah ide (seperti konsep jihad) memiliki banyak tafsir, maka daripada berdebat tafsir mana yang benar, mendingan diukur saja statistik setiap tafsir yang berbeda-beda tersebut.

Ada analogi tepat atas hal ini dari pengukuran kondisi elektron pada atom. Fisika quantum tidak memberikan satu jawaban pasti mengenai energi dan posisi, tapi memberikan kita probabilitas statistikal dari setiap kondisi yang mungkin. Sama juga dengan islam. Kita perlu tahu total kondisinya, bukan mengenai satu kategori saja.

Kesimpulannya, statistika adalah cara terbaik memperoleh pengetahuan lengkap mengenai teks islam. Statistika memampukan kita menyelidiki islam dalam totalitasnya. Ingat dengan cerita orang buta menyelidiki gajah? Yang satu bilang gajah seperti tali, yang lain bilang seperti pohon, dinding, dan lain-lain. Adakah yang salah? Tidak. Tapi tidak satupun yang benar secara keseluruhan. Analisa statistik tidak bisa memberitahu kita secara kualitatif, tapi bisa membuat kita tidak terjebak hanya melihat satu saja kategori dan memaksa kita melihat secara keseluruhan.

Perhatikan juga bahwa cara ini juga memberitahu kita bagaimana mengevaluasi para "ahli" yang cenderung memilih posisi yang paling disukainya. Inilah aturan tertinggi dalam islam - hanya Muhamad sendirilah yang menentukan kebenaran islam. Jika yang dikatakan seorang ahli bersesuaian dengan Muhamad, maka ahli itu benar, tapi yah gak ada gunanya. Kalau yang dikatakan ahli bertentangan dengan Muhamad, maka ahli itu salah. Jadi para ahli (mengenai islam) adalah tidak berguna atau salah. Hanya Muhamad yang mengatakan kebenaran islam, dan dia tidak pernah salah (soal islam). Jangan pedulikan para "ahli" dan langsung aja periksa Muhamad. Inilah yang dilakukan pendekatan statistika.

---

Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Mon May 06, 2013 3:04 pm
by Kibou
Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner
16 Januari 2012
http://frontpagemag.com/2012/01/16/a-ta ... ll-warner/



Setelah serangan 9/11, makin banyak non-muslim yang menyelidiki islam untuk mencari tahu apa yang memotivasi para jihadis. Namun para non-muslim yang terkejut dengan isi teks fundamental islam selalu dikibuli oleh apologis islam bahwa mereka tidak mengerti Quran yang sebenarnya, bahwa mereka salah mengerti Agama Damai, bahwa mereka tidak mengerti kerumitan shariah, bahwa protes dan kritik kita didasari oleh rasisme (padahal islam bukanlah ras) dan rasa takut irasional terhadap islam dan muslim. Masalahnya seperti selalu ada di pihak non-muslim. Apakah yang benar dan bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran di balik kontradiksi dan tipuan?

Bill Warner punya jawaban. Pendiri dan direktur Pusat Penelitian Politik Islam (Center for the Study of Political Islam - CSPI) ini memegang PhD dalam ilmu fisika dan matematika. Dia pernah menjadi profesor universitas, wirausahawan, dan fisikawan. Tapi Dr. Warner juga punya minat besar terhadap agama dan dampaknya dalam sejarah, dan karena itu sehari setelah serangan 9/11 beliau berusaha agar teks-teks sumber islam bisa diakses oleh orang awam yang ingin tahu lebih dalam. Sebagai bagian dari usaha tersebut, Dr. Warner sudah menerbitkan selusin buku-buku, termasuk Quran, biografi Muhamad dan rangkuman tradisi politis Muhamad. Beliau menulis artikel-artikel dan buletin berita yang mencatat penderitaan korban- korban dari politik islam. Beliau juga banyak bicara mengenai doktrin politik islam secara nasional maupun internasional.

Mark: Mr. Warner, latar belakang anda adalah fisika dan matematika. Kok bisa asik menyelidiki agama dan terdorong menyebar pandangan anda mengenai politik islam? Bagaimana bidang statistika membentuk sudut pandang anda terhadap islam?

Warner: Saya besar di keluarga relijius dan banyak membaca Alkitab. Saya belajar fisika dan matematika, tapi minat saya terhadap agama melebar ke pengaruh agama terhadap sejarah. Setelah lulus sekolah saya tertarik kepada mistisisme dan agama-agama Timur. Jadi, empat puluh tahun yang lalu saya mempelajari Sufisme atau mistisisme islam. Saya praktek tarian sufi, belajar dzikir, bertemu guru-guru sufi dan baca literatur sufi. Tapi selalu saja saya terganggu dengan sejarah islam. Karena itu saya berhenti belajar sufisme.

Dua puluh tahun kemudian sebagai profesor saya punya murid-murid muslim dan mereka membuat saya tertarik Quran. Memang sukar dibaca, tapi saya baca dari awal sampai akhir. Teks tersebut seperti teka-teki, tapi saya sisihkan dulu sampai akhirnya terjadi serangan 9/11.

Pada saat terjadinya serangan 9/11, begitu pesawat kedua menabrak menara WTC, saya sadar bahwa itu adalah tindakan jihad. Saya berdiri, mematikan televisi dan tidak lagi melihatnya sejak itu. Pada saat itu saya sadar bahwa sisa hidup saya adalah untuk menjelaskan makna dari teks-teks islam. Saya duduk dan membaca ulang Quran, baca Sirah (Ishaq dan Tabari), dan baca Hadis (Bukhari dan Muslim). Inilah teks-teks fundamental dari islam, sumbernya, DNA-nya. Saya mengikuti saran dari Sun Tzu; kenalilah lawan dan seranglah strategi dari lawan itu.

Serangan saya adalah dengan menjelaskan Quran, Sirah dan Hadis dalam bentuk yang rasional sehingga mudah dibaca. Ini menjadi Trilogy Project. Saya menyusun tim sukarela serta penulis dan editor bayaran. Dari awal, saya tahu bahwa yang bisa saya serang secara sukses adalah aspek politis islam. Aspek relijius islam dilindungi secara salah kaprah oleh First Amendment.

Mark: Apakah Trilogy Project itu?

Warner: Pendekatan Trilogy saat itu masih baru dan tidak umum (unorthodox), dan satu-satu peluang untuk berhasil adalah melalui pendekatan sains terhadap teks. Setiap pokok pikiran bisa ditelusur ulang kembali kepada teks sumber. Buku-buku saya bukanlah opini, melainkan berisi fakta mengenai sumbernya. Karena alasan ini, hampir setiap pokok pikiran diberi nomor indeks yang memudahkan untuk diperiksa.

Yang paling asik adalah menyelesaikan teka-teki Quran. Quran adalah buku yang terkenal sulit dibaca atau dimengerti. Langkah pertama adalah menyusun Quran sesuai urutan waktu. Quran yang dijual di toko buku disusun berdasarkan panjangnya bab dan tidak kronologis. Susunan itu diciptakan oleh Uthman, kalifah yang ketiga. Quran di toko buku adalah Quran Uthman.

Jika kamu sisipkan Sirat (biografi Muhamad) ke dalam Quran yang kronologis, itu seperti kunci masuk ke lubang yang pas. Apa yang terjadi kepada Muhamad direfleksikan langsung dengan apa yang ada di Quran. Jadi kalau kamu gabungkan isi Sirah dengan isi Quran dengan font (jenis huruf) yang berbeda, maka tidak ada kebingungan, kamu dapatkan rekonstruksi Quran jamannya Muhamad, Quran yang historis. Quran menjadi kisah yang hebat bermula dari pujian kepada tuhan dan berakhir dengan kemenangan islam atas seluruh dunia - dengan cara menghancurkan semua kebudayaan non-islam.

Di tahun 2006, saya menerbitkan secara lengkap doktrin-doktrin Politik Islam dalam tiga buku. Trilogy Project sudah rampung. Sekarang setiap orang bisa membaca dan memahami Quran, Sirat, dan Hadis. Kamu bisa mengenali Allah dan Muhamad langsung dari teks sumber. Sistem pengetahuan ini menggabungkan seluruh teks islam menjadi kesatuan pandangan. Jika ada di Trilogy, itulah islam. Jika ada di islam, pasti ada di Trilogy.

Setelah Trilogy tersusun, muncul bonus hadiah. Bagian dari usaha membuat teks islam mudah dibaca adalah melalui pengaturan dan penyusunan ulang atas ide-ide. Begitu rampung dan diperiksa korelasinya, konsep-konsep seperti melompat keluar halaman. Gagasan-gagasan ideologi islam muncul ke permukaan. Metode statistika sederhana dalam menghitung kata-kata yang merujuk kepada suatu ide secara jelas menunjukkan tema-tema doktrin islam.

Kejutan terbesar setelah penerapan statistik adalah hakikat dualisme dari doktrim islam. Islam berpegang kepada ide-ide yang saling kontradiksi namun secara bersamaan keduanya benar. Hal ini bertabrakan dengan logika Barat, namun inilah letak kekuatan islam. Islam itu damai, tapi Islam jihad. Islam itu saudara kristen dan yahudi tapi Islam juga menghancurkan kristen dan yahudi.

Interesan bahwa 64% isi Quran adalah tentang kafir, dan bukan muslim. Trilogi teks islam berisi kebencian terhadap yahudi, 9% lebih banyak dibanding Mein Kampf. Kita dikibuli bahwa hanya ada segelintir ayat mengenai jihad, padahal 24% ayat yang diturunkan di Medina adalah mengenai jihad.

Hasil karya saya adalah melalui sudut pandang kafir. Kafir adalah korban dari hampir seluruh ayat Allah dan tindakan Muhamad. Kebohongan terbesar islam adalah bahwa para muslim memiliki pandangan yang benar mengenai islam. Tapi dualisme membolehkan adanya dua pandangan kontradiktif yang sama-sama benar kendati meyalahi logika. Makanya ada versi islam berdasarkan perlakuan terhadap kafir dan ada versi islam berdasarkan perlakuan terhadap sesama muslim. Islam, universitas, dan para apologis semua menekankan bahwa pandangan muslim-lah yang merupakan pandangan seharusnya. Ini adalah keliru dan tidak didukung fakta.

Kini kita bisa berdiskusi mengenai islam dengan menggunakan fakta. Tidak perlu lagi para "ahli", karena kita sudah punya ahli yang paling ahli - Muhamad dan Allah.

Mark: Anda akan berbicara di Los Angeles mengenai "A Taste of Islam". Mengapa kita harus melihat "menu lengkap" Islam dalam memahaminya?

Warner: Adalah mustahil memahami islam hanya melalui Quran, tapi adalah mudah melalui keseluruhan, baik lewat Allah (Quran) maupun lewat Muhamad (Sunna). Muslim dan para apologis ingin kita melihat islam melalui ayat demi ayat. Tapi ini seperti melihat jigsaw puzzle melalui potongan demi potongan. Jika kita susun semua potongan secara sistematis, gambarnya menjadi jelas.

Mark: Menunjukkan motivasi theologis dari para fundamentalis islam selalu mengundang pembelaan politically correct bahwa mereka hanyalah "segelintir minoritas ekstremis" yang "membajak" agama damai nan toleran. Apa jawaban kita atas pembelaan ini?

Warner: Istilah "ekstrim" berarti ada yang sedang diukur, dan ukurannya melewati batas wajar. Hanya ada satu cara mengukur islam dan itu dengan doktrin yang tertulis di Trilogy. Contohnya, Muhamad menyebarkan agama islam selama 13 tahun dan hanya mendapat 150 pengikut. Tapi begitu jihad dilancarkan, sepuluh tahun setelah Muhamad mampus, seluruh Arab telah dikuasai dan setiap Arab menjadi muslim. Kesimpulan: jihad adalah wajar, bukan ekstrim. Tapi jangan lupa, islam itu dualistik, jadi muslim tetap aja ngaku islam itu damai.

Mengenai pembelaan bahwa jihadis itu hanya segelintir, lihatlah statistik perang. Selama Perang Dunia II hanya 10% populasi kita yang punya profesi militer. Apakah itu berarti kita tidak sedang berperang? Tidak. Dalam perang hanya sebagian kecil yang terlibat tempur, sisanya mendukung lewat bekerja, menyumbang uang, dan dukungan moril.

Ada empat cara menjadi jihadis - pedang, pena, khotbah, dan uang. Jihad diwajibkan untuk semua muslim; karena itu, jihad adalah pilar islam yang ke-6.

Mark: Dengan munculnya Arab Spring, pemerintahan Obama ingin membedakan para teroris dengan para islamis moderat yang bisa kita ajak bekerja sama. Apa tanggapan anda?

Warner: Pertama, teroris adalah jihadis, meneladani Muhamad sang jihadis utama. Muslim moderat biasanya adalah muslim yang tidak taat atau bisa juga muslim yang hanya mengikuti ayat-ayat Mekkah (Quran relijius).

Para apologis selalu ingin bicara soal penganut (muslim) dan bukan soal doktrin (ajaran). Ingatlah: saat muslim berbicara dengan kafir, ada 12 ayat Quran yang menyatakan bahwa muslim bukanlah teman dari kafir. Dan juga, Muhamad berulang kali mengajarkan muslim untuk menipu para kafir jika itu bisa memajukan islam. Ada satu muslim yang bisa mengajarkan kita kebenaran utuh dari islam dan itu adalah Muhamad sendiri.

Aturan besi dalam doktrin islam adalah: jika ada yang sedang membicarakan islam namun tidak menggubris Muhamad atau Allah (Quran) maka mereka sekedar omong kosong belaka.

Muslim menginginkan syariat. Syariat menghancurkan peradaban kafir dan hak-hak azasi manusia. Mengapa kita ingin bekerjasama dengan mereka yang menginginkan syariat?

Kita tidak perlu politisi, pemimpin relijius, atau akademisi untuk menjelaskan islam, kita kini mempunyai Muhamad dan Allah. Lupakan pendapat para ahli. Untuk pertama kali dalam sejarah, orang awam bisa membaca fakta-fakta dari Trilogy dan mendapatkan sendiri jawaban tanpa bantuan "ahli".

-------

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Mon May 06, 2013 6:43 pm
by spaceman
Bro, izin share ke neraka blogernas ya :green:

Mengetahui Kebusukan Islam, Wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Mon May 06, 2013 7:35 pm
by keeamad
Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

Dipost oleh Mark Tapson, 16 Januari 2012



Setelah serangan 9/11, makin banyak non-muslim yang menyelidiki islam untuk mencari tahu apa yang memotivasi para jihadis. Namun para non-muslim yang terkejut dengan isi teks fundamental islam selalu dikibuli oleh apologis islam bahwa mereka tidak mengerti Quran yang sebenarnya, bahwa mereka salah mengerti Agama Damai, bahwa mereka tidak mengerti kerumitan shariah, bahwa protes dan kritik kita didasari oleh rasisme (padahal islam bukanlah ras) dan rasa takut irasional terhadap islam dan muslim. Masalahnya seperti selalu ada di pihak non-muslim. Apakah yang benar dan bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran di balik kontradiksi dan tipuan?

Bill Warner punya jawaban. Pendiri dan direktur Pusat Penelitian Politik Islam (Center for the Study of Political Islam - CSPI) ini memegang PhD dalam ilmu fisika dan matematika. Dia pernah menjadi profesor universitas, wirausahawan, dan fisikawan. Tapi Dr. Warner juga punya minat besar terhadap agama dan dampaknya dalam sejarah, dan karena itu sehari setelah serangan 9/11 beliau berusaha agar teks-teks sumber islam bisa diakses oleh orang awam yang ingin tahu lebih dalam. Sebagai bagian dari usaha tersebut, Dr. Warner sudah menerbitkan selusin buku-buku, termasuk Quran, biografi Muhamad dan rangkuman tradisi politis Muhamad. Beliau menulis artikel-artikel dan buletin berita yang mencatat penderitaan korban- korban dari politik islam. Beliau juga banyak bicara mengenai doktrin politik islam secara nasional maupun internasional.

Mark: Mr. Warner, latar belakang anda adalah fisika dan matematika. Kok bisa asik menyelidiki agama dan terdorong menyebar pandangan anda mengenai politik islam? Bagaimana bidang statistika membentuk sudut pandang anda terhadap islam?

Warner: Saya besar di keluarga relijius dan banyak membaca Alkitab. Saya belajar fisika dan matematika, tapi minat saya terhadap agama melebar ke pengaruh agama terhadap sejarah. Setelah lulus sekolah saya tertarik kepada mistisisme dan agama-agama Timur. Jadi, empat puluh tahun yang lalu saya mempelajari Sufisme atau mistisisme islam. Saya praktek tarian sufi, belajar dzikir, bertemu guru-guru sufi dan baca literatur sufi. Tapi selalu saja saya terganggu dengan sejarah islam. Karena itu saya berhenti belajar sufisme.

Dua puluh tahun kemudian sebagai profesor saya punya murid-murid muslim dan mereka membuat saya tertarik Quran. Memang sukar dibaca, tapi saya baca dari awal sampai akhir. Teks tersebut seperti teka-teki, tapi saya sisihkan dulu sampai akhirnya terjadi serangan 9/11.

Pada saat terjadinya serangan 9/11,
begitu pesawat kedua menabrak menara WTC, saya sadar bahwa itu adalah tindakan jihad. Saya berdiri, mematikan televisi dan tidak lagi melihatnya sejak itu. Pada saat itu saya sadar bahwa sisa hidup saya adalah untuk menjelaskan makna dari teks-teks islam. Saya duduk dan membaca ulang Quran, baca Sirah (Ishaq dan Tabari), dan baca Hadis (Bukhari dan Muslim). Inilah teks-teks fundamental dari islam, sumbernya, DNA-nya (red : JIHAD). Saya mengikuti saran dari Sun Tzu; kenalilah lawan dan seranglah strategi dari lawan itu.
(Red : Islam pun secara tidak langsung MENERAPKAN Cara2x Sun Tzu, "Musuh Yang Paling Lemah Adalah Musuh Yang Tidak Tahu Jika Mereka Sedang Kita Perangi". Dan itulah yang menjadi alasan utama apologis islam, tetap MENIPU Lawannya dan Terus Membiarkan Orang Tetap Menjadi Usefull Idiot ... )

Serangan saya adalah dengan menjelaskan Quran, Sirah dan Hadis dalam bentuk yang rasional sehingga mudah dibaca. Ini menjadi Trilogy Project. Saya menyusun tim sukarela serta penulis dan editor bayaran. Dari awal, saya tahu bahwa yang bisa saya serang secara sukses adalah aspek politis islam. Aspek relijius islam dilindungi secara salah kaprah oleh First Amendment. ===== > PRODUK NYATA Usefull Idiot !!!

Mark: Apakah Trilogy Project itu?

Warner: Pendekatan Trilogy saat itu masih baru dan tidak umum (unorthodox), dan satu-satu peluang untuk berhasil adalah melalui pendekatan sains terhadap teks. Setiap pokok pikiran bisa ditelusur ulang kembali kepada teks sumber. Buku-buku saya bukanlah opini, melainkan berisi fakta mengenai sumbernya. Karena alasan ini, hampir setiap pokok pikiran diberi nomor indeks yang memudahkan untuk diperiksa.

Yang paling asik adalah menyelesaikan teka-teki Quran. Quran adalah buku yang terkenal sulit dibaca atau dimengerti. Langkah pertama adalah menyusun Quran sesuai urutan waktu. Quran yang dijual di toko buku disusun berdasarkan panjangnya bab dan tidak kronologis. Susunan itu diciptakan oleh Uthman, kalifah yang ketiga. Quran di toko buku adalah Quran Uthman.

Jika kamu sisipkan Sirah (biografi Muhamad) ke dalam Quran yang kronologis, itu seperti kunci masuk ke lubang yang pas.
Apa yang terjadi kepada Muhamad direfleksikan langsung dengan apa yang ada di Quran. Jadi kalau kamu gabungkan isi Sirah dengan isi Quran dengan font (jenis huruf) yang berbeda, maka tidak ada kebingungan, kamu dapatkan rekonstruksi Quran jamannya Muhamad, Quran yang historis. Quran menjadi kisah yang hebat bermula dari pujian kepada tuhan dan berakhir dengan kemenangan islam atas seluruh dunia - dengan cara menghancurkan semua kebudayaan non-islam.

Di tahun 2006, saya menerbitkan secara lengkap doktrin-doktrin Politik Islam dalam tiga buku. Trilogy Project sudah rampung. Sekarang setiap orang bisa membaca dan memahami Quran, Sira, dan Hadis. Kamu bisa mengenali Allah dan Muhamad langsung dari teks sumber. Sistem pengetahuan ini menggabungkan seluruh teks islam menjadi kesatuan pandangan. Jika ada di Trilogy, itulah islam. Jika ada di islam, pasti ada di Trilogy.

Setelah Trilogy tersusun, muncul bonus hadiah. Bagian dari usaha membuat teks islam mudah dibaca adalah melalui pengaturan dan penyusunan ulang atas ide-ide. Begitu rampung dan diperiksa korelasinya, konsep-konsep seperti melompat keluar halaman. Gagasan-gagasan ideologi islam muncul ke permukaan. Metode statistika sederhana dalam menghitung kata-kata yang merujuk kepada suatu ide secara jelas menunjukkan tema-tema doktrin islam.

Kejutan terbesar setelah penerapan statistik adalah hakikat dualisme dari doktrim islam. Islam berpegang kepada ide-ide yang saling kontradiksi namun secara bersamaan keduanya benar. Hal ini bertabrakan dengan logika Barat, namun inilah letak kekuatan islam. Islam itu damai. Islam itu jihad. Islam itu saudara kristen dan yahudi. Islam menghancurkan kristen dan yahudi.

Adalah sangat mencerahkan bahwa 64% isi Quran adalah tentang kafir, dan bukan muslim. Trilogi teks islam berisi kebencian terhadap yahudi, 9% lebih banyak dibanding Mein Kampf. Kita dikibuli bahwa hanya ada segelintir ayat mengenai jihad, padahal 24% ayat yang diturunkan di Medina adalah mengenai jihad.

Hasil karya saya adalah melalui sudut pandang kafir. Kafir adalah korban dari hampir seluruh ayat Allah dan tindakan Muhamad. Kebohongan terbesar islam adalah bahwa para muslim memiliki pandangan yang benar mengenai islam. Tapi dualisme membolehkan adanya dua pandangan kontradiktif yang sama-sama benar kendati meyalahi logika. Makanya ada versi islam berdasarkan perlakuan terhadap kafir dan ada versi islam berdasarkan perlakuan terhadap sesama muslim. Islam, universitas, dan para apologis semua menekankan bahwa pandangan muslim-lah yang merupakan pandangan seharusnya. Ini adalah keliru dan tidak didukung fakta.

Kini kita bisa berdiskusi mengenai islam dengan menggunakan fakta. Tidak perlu lagi para "ahli", karena kita sudah punya ahli yang paling ahli - Muhamad dan Allah.

Mark: Anda akan berbicara di Los Angeles mengenai "A Taste of Islam". Mengapa kita harus melihat "menu lengkap" Islam dalam memahaminya?

Warner: Adalah mustahil memahami islam hanya melalui Quran, tapi adalah mudah melalui keseluruhan, baik lewat Allah (Quran) maupun lewat Muhamad (Sunna). Muslim dan para apologis ingin kita melihat islam melalui ayat demi ayat. Tapi ini seperti melihat jigsaw puzzle melalui potongan demi potongan. Jika kita susun semua potongan secara sistematis, gambarnya menjadi jelas.

Mark: Menunjukkan motivasi theologis dari para fundamentalis islam selalu mengundang pembelaan politically correct bahwa mereka hanyalah "segelintir minoritas ekstremis" yang "membajak" agama damai nan toleran. Apa jawaban kita atas pembelaan ini?

Warner: Istilah "ekstrim" berarti ada yang sedang diukur, dan ukurannya melewati batas wajar. Hanya ada satu cara mengukur islam dan itu dengan doktrin yang tertulis di Trilogy. Contohnya, Muhamad menyebarkan agama islam selama 13 tahun dan hanya mendapat 150 pengikut. Tapi begitu jihad dilancarkan, sepuluh tahun setelah Muhamad mampus, seluruh Arab telah dikuasai dan setiap Arab menjadi muslim. Kesimpulan: jihad adalah wajar, bukan ekstrim. Tapi jangan lupa, islam itu dualistik, jadi muslim tetap aja ngaku islam itu damai.

Mengenai pembelaan bahwa jihadis itu hanya segelintir, lihatlah statistik perang. Selama Perang Dunia II hanya 10% populasi kita yang punya profesi militer. Apakah itu berarti kita tidak sedang berperang? Tidak. Dalam perang hanya sebagian kecil yang terlibat tempur, sisanya mendukung lewat bekerja, menyumbang uang, dan dukungan moril.

Ada empat cara menjadi jihadis - pedang, pena, khotbah, dan uang. Jihad diwajibkan untuk semua muslim; karena itu, jihad adalah pilar islam yang ke-6.

Mark: Dengan munculnya Arab Spring, pemerintahan Obama ingin membedakan para teroris dengan para islamis moderat yang bisa kita ajak bekerja sama. Apa tanggapan anda?

Warner: Pertama, teroris adalah jihadis, meneladani Muhamad sang jihadis utama. Muslim moderat biasanya adalah muslim yang tidak taat atau bisa juga muslim yang hanya mengikuti ayat-ayat Mekkah (Quran relijius).

Para apologis selalu ingin bicara soal penganut (muslim) dan bukan soal doktrin (ajaran). Ingatlah: saat muslim berbicara dengan kafir, ada 12 ayat Quran yang menyatakan bahwa muslim bukanlah teman dari kafir. Dan juga, Muhamad berulang kali mengajarkan muslim untuk menipu para kafir jika itu bisa memajukan islam. Ada satu muslim yang bisa mengajarkan kita kebenaran utuh dari islam dan itu adalah Muhamad sendiri.

Aturan besi dalam doktrin islam adalah: jika ada yang sedang membicarakan islam namun tidak menggubris Muhamad atau Allah (Quran) maka mereka sekedar omong kosong belaka.

Islamis menginginkan shariah. Shariah menghancurkan perabadan kafir dan hak-hak azasi manusia. Mengapa kita ingin bekerjasama dengan mereka yang menginginkan shariah?

Kita tidak perlu politisi, pemimpin relijius, atau akademisi untuk menjelaskan islam, kita kini mempunyai Muhamad dan Allah. Lupakan pendapat para ahli. Untuk pertama kali dalam sejarah, orang awam bisa membaca fakta-fakta dari Trilogy dan mendapatkan sendiri jawaban tanpa bantuan "ahli".


Article printed from FrontPage Magazine: http://frontpagemag.com

URL to article: http://frontpagemag.com/2012/01/16/a-ta ... ll-warner/

Copyright © 2009 FrontPage Magazine. All rights reserved.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

@ kibou, ijin ulang biar bisa dibaca di situs mirror FFI

Moral utama;
Islam itu Mempunyai SISI Damai (Kamuflase) dan sisi JIHAD/PERANG - yang MENJADI Inti dan DOKTRIN Utamanya ....
Merujuk dari kitab sebelah,
Ajaran Islam adalah (Seperti) SERIGALA BERBULU DOMBA - Sebaik apapun Bulu Dombanya, esensinya DIA Adalah Tetap Serigala yg Ganas dan Bengis,
atau dalam Pewujudan yg lebih extrim :
IblisYang Mengaku (Menjadi) Cahaya Terang .....

Salam

Mengetahui Kebusukan Islam, Wawancara dengan Bill Warner


FFI Alternative
Faithfreedompedia

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Tue May 07, 2013 9:18 am
by Kibou
spaceman wrote:Bro, izin share ke neraka blogernas ya :green:


Waduh, justru saya yang terima kasih Bro. Senang kalau bisa menambah wawasan publik mengenai dualisme islam. Thank you!

Re: Mengetahui Kebusukan Islam, Wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Tue May 07, 2013 9:45 am
by Kibou
Terima kasih sudah menyelamatkan terjemahan ini ke situs mirror.

Saya melakukan kesalahan ketik di akhir terjemahan, kata "perabadan" seharusnya "peradaban". Maaf yah.

Quran kronologis-historis dari Dr. Warner bisa dibeli di sini:

http://www.politicalislam.com/store/pri ... ged-koran/

Saya rencana akan pesan hari ini. Setahu saya belum ada versi digitalnya.

Penelitian atas Politik Islam

PostPosted: Tue May 07, 2013 11:01 am
by Kibou
Penelitian atas Politik Islam
Oleh Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | 2/5/2007

SUDAH DITERJEMAHKAN DI islam-politik-pembunuh-terbesar-segala-jaman-t13476/

Tamu wawancara Frontpage hari ini adalah Bill Warner, direktur dari Pusat Penelitian Politik Islam (Center for the Study of Political Islam - CSPI). Tujuan dari CSPI adalah menjelaskan doktrin politik islam melalui buku-buku dan juga serial-serial dengan fokus serupa. Mr. Warner tidak menulis serial-serial tersebut, tapi sebagai wakil dari kumpulan sarjana (scholars) yang merupakan penulis (author).

FP: Bill Warner, selamat datang ke wawancara Frontpage.

Warner: Terima kasih atas kesempatan ini, Jamie.

FP: Ceritakan sedikit mengenai CSPI.

Warner: CSPI adalah kumpulan sarjana yang mengkhususkan diri mempelajari teks-teks fundamen islam (Quran, Sirah, Hadis) secara ilmiah (scientific). Ada dua bidang yang diteliti dalam islam, yaitu doktrin (ajaran) dan sejarah, atau kalau memakai istilah CSPI - teori dan hasil teori. Kami meneliti sejarah untuk melihat hasil penerapan atau praktek dari doktrin.

Sepertinya CSPI adalah kelompok pertama yang menggunakan statistika untuk meneliti doktrin islam. Penelitian ilmiah islam sebelumnya menitik-beratkan kepada penelitian atas bahasa Arab.

Prinsip kami adalah bahwa Quran, Sirah, dan Hadis harus diteliti secara menyeluruh. Kami menyebutnya sebagai Trilogi Islam untuk menekankan kesatuan dari teks-teks tersebut.

Penemuan ilmiah terbesar kami adalah bahwa dualisme itu merupakan dasar dan kunci untuk memahami islam. Segala sesuatu mengenai islam sifatnya berpasangan, dimulai dari syahadat:

(1) tiada tuhan selain Allah
(2) Muhamad adalah nabi Allah

Maka dari itu, Islam terdiri atas Allah (Quran) dan Muhamad (Sunna - Sirah dan Hadis).

Sudah banyak sekali tinta yang habis untuk mencoba menjawab apa islam itu sesungguhnya? Apakah agama damai? Ataukah ideologi radikal? Apakah muslim moderat itu muslim yang sesungguhnya?

Ini mengingatkan saya akan perdebatan ilmiah mengenai cahaya. Apakah cahaya itu partikel, ataukah gelombang? Perdebatan ini maju-mundur. Mekanika quantum akhirnya bisa menjawab. Cahaya itu dualistik; partikel dan juga gelombang. Tergantung atas situasi wujud apa yang dimanifestasikan. Islam sama seperti ini.

Petunjuk pertama mengenai dualisme islam ada di Quran, yang sebenarnya terdiri dari dua bagian, yaitu ayat-ayat Mekkah (awal) dan ayat-ayat Medinah (belakangan). Pemahaman atas Quran berasal dari banyaknya kontradiksi logika di dalamnya. Dari permukaan, islam menyelesaikan kontradiksi ini dengan cara “abrogasi”. Maksudnya ayat yang turun belakangan mengalahkan ayat yang turun sebelumnya. Tapi nyatanya, karena Quran diyakini muslim sebagai wahyu sempurna dari Allah, ayat yang awal dan ayat yang belakangan sama-sama suci dan sama-sama benar. Ayat yang belakangan “lebih baik” tapi ayat yang sebelumnya tidak mungkin salah karena Allah itu sempurna. Inilah fondasi dari dualisme. Kedua ayat itu “benar”. Dua ayat yang berkontradiksi adalah sama-sama benar dalam logika dualistik. Situasi menentukan versi mana yang dipakai.

Contoh:

(Quran Mekkah) 73:10 – Dengarkan apa yang mereka (kafir) katakan dengan kesabaran, dan tinggalkan mereka dengan kehormatan.

Dari ayat toleransi ini kita menuju ke ayat anti-toleransi. Allah sangat tidak menyukai para kafir:

(Quran Medinah) 8:12 – Maka Allah berkata kepada para malaikatNya, “Aku besertamu. Kuatkan para muslim. Aku akan menteror hati para kafir, tebas putus kepala mereka dan juga ujung-ujung jari mereka!”

Semua logika Barat didasarkan kepada hukum kontradiksi – jika dua hal saling kontradiksi, maka salah satunya pasti salah. Tapi logika islam itu dualistik; dua hal bisa saling kontradiksi dan keduanya sama-sama benar.

Suatu sistem dualistik tidak bisa diukur dengan satu saja jawaban. Ini sebabnya perdebatan mengenai islam sesungguhnya terus-menerus berlangsung dan tidak pernah terselesaikan. Tidak ada satu jawaban yang benar.

Sistem yang dualistik hanya bisa diukur menggunakan statistika. Adalah percuma berdebat sisi mana yang benar dalam logika dualisme. Sebagai analogi, mekanika quantum selalu memberi jawaban statistik kepada semua pertanyaan (mengenai quantum).

Contoh penerapan statistik; ambil pertanyaan: apakah jihad yang sesungguhnya, jihad pergumulan spiritual pribadi, ataukah jihad peperangan? Mari kita ke Hadis Bukhari untuk menjawabnya, karena hadis ini banyak bicara soal jihad. Dalam Bukhari 97% rujukan jihad adalah mengenai jihad peperangan dan 3% mengenai pergumulan pribadi. Jadi jawaban statistik adalah bahwa jihad itu 97% perang dan 3% pergumulan pribadi. Apakah jihad itu perang? Iya – 97%. Apakah jihad itu pergumulan pribadi? Iya – 3%. Jadi kalau anda menulis artikel, anda bisa mendukung salah satu jawaban. Tapi nyatanya, hampir semua perdebatan mengenai islam bisa dijawab dengan: semuanya benar. Kedua sisi dalam dualisme adalah benar.

FP:Menurut anda, mengapa Barat tidak tahu menahu soal sejarah dan doktrin politik islam?

Warner: Pertama, mari kita lihat seberapa tidak tahunya kita mengenai sejarah politik islam. Berapa banyak orang kristen yang tahu bagaimana Turki dan Mesir menjadi islam? Apa yang terjadi kepada ke-7 gereja Asia yang ditulis di surat-surat Paulus? Carilah orang yahudi yang tahu mengenai sejarah yahudi-dhimmi (penduduk kelas kedua dalam pemerintahan islam). Apakah orang Eropa tahu bahwa perempuan kulit putih dulunya adalah budak dengan harga paling tinggi di Mekkah? Semua orang tahu berapa banyak yahudi yang dibunuh Hitler, tapi coba cari non-muslim yang tahu berapa banyak orang yang dibunuh akibat jihad selama 1400 tahun.

Begitu pula kita tidak tahu menahu soal doktrin islam. Agen FBI diberi pelajaran selama dua jam mengenai islam dan sebagian besar dari pelajaran itu adalah bagaimana supaya tidak menyinggung perasaan imam <pantesan Boston bisa kebobolan kena bom jihad, lah FBI-nya politically correct gini –Kibou>. Kita sedang bertempur di Irak. Siapa yang mempelajari doktrin politik dan militer islam supaya bisa susun strategi yang pas? Siapa yang bisa menemukan rabbi atau pendeta yang sudah membaca Quran, Sirah, dan Hadis? Apakah gubernur, senator, anggota kongress, atau pemimpin militer sudah mengetahui doktrin politik islam? Coba cari mata kuliah di universitas mengenai doktrin politik dan etika islam. Mahasiswa diajari seni islam, arsitektur islam, puisi islam, sufisme, dan sejarah indah islam yang tidak menggubris penderitaan non-muslim. Mahasiswa membaca tafsir dari Quran dan Hadis <yang sudah dilumuri madu pastinya – Kibou>, tapi TIDAK membaca doktrin yang sesungguhnya.

FP: Jadi mengapa kita tidak tahu menahu?

Warner: Mulai dari awal yah. Ketika islam melonjak dari Arab ke kerajaan Byzantium yang sedang mengalami kemunduran, para non-muslim mencatatnya sebagai invasi Arab. Begitu pula, invasi ke Eropa Timur dilakukan oleh Turki; invasi Spanyol dilakukan oleh Moor. Para sarjana kita bahkan tidak mampu memberi label “islam” kepada para penjajah tersebut.

Muhamad membunuh setiap intelektual atau seniman yang menentang dirinya. Rasa takutlah yang mendorong mayoritas media untuk tidak mencetak ulang kartun-kartun mengenai Muhamad, BUKAN karena perasaan sensitif. Rasa takut adalah fondasi kuat ketidak-tahuan, tapi belumlah cukup untuk menjelaskan semuanya. Apa sih yang menyebabkan ketidak-tahuan atas islam? Di luar rasa takut, ada kesadaran bahwa politik islam adalah sesuatu yang sama sekali asing bagi kita.

Mari kita periksa fondasi etika dari peradaban kita. Semua politik dan etika kita didasari kepada etika universal yang diformulasi menjadi Golden Rule:

Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan.

Dasar dari aturan ini adalah kesadaran bahwa pada dasarnya kita ini semua sama. Kemampuan kita tidak sama. Dalam olahraga sudah jelas itu. Tapi semua orang ingin diperlakukan sebagai manusia. Khususnya, kita ingin disamakan dalam hukum dan hubungan sosial. Melalui dasar Golden Rule – persamaan derajat manusia – kita telah menciptakan demokrasi, menghentikan perbudakan <ada gak sih fatwa dari muslim yang mengharamkan perbudakan? – Kibou>, dan memperlakukan laki-laki dan perempuan dengan hak politik yang sama. Jadi Golden Rule itu etika yang universal. Semua orang diperlakukan sama. Semua agama memiliki Golden Rule, kecuali islam.

FP: Jadi bagaimanakah perbedaan islam dalam konteks tersebut?

Warner: Istilah “human being” tidak memiliki makna dalam islam. Tidak ada kemanusiaan, yang ada hanyalah dualitas antara muslim dan kafir. Lihat aja ajaran etika dalam Hadis. Muslim tidak boleh bohong, curang, bunuh, atau curi dari muslim yang lain. Tapi muslim boleh bohong, tipu, atau bunuh kafir kalau itu bisa memajukan islam.

Tidak ada etika universal dalam islam. Muslim diperlakukan tidak sama dengan kafir. Etika universal versi islam yah bahwa seluruh dunia harus tunduk kepada islam. Setelah Muhamad menjadi nabi, dia tidak pernah memperlakukan kafir sama seperti muslim. Islam menyangkal kebenaran Golden Rule.

Ngomong-omong, etika dualistik inilah yang mendasari jihad. Sistem etika ini menganggap kafir itu bukan manusia dan karena itu, adalah mudah bagi muslim untuk membunuh, menyakiti, atau menipu kafir.

Nah ingatlah, non-muslim juga seringkali gagal menerapkan Golden Rule, tapi non-muslim tetap diadili dan dihukum sesuai dasar Golden Rule. Memang kita sering gagal, tapi Golden Rule adalah ideal kita.

Ada juga kultur dualistik selain islam. Misalnya Ku Klux Klan. Tapi KKK itu dualisme yang simplistik. Anggota KKK membenci semua orang hitam di setiap waktu; pilihannya cuma satu. Ini sangat sederhana dan mudah dilihat.

Dualisme islam itu lebih licik dan memberikan dua pilihan dalam memperlakukan non-muslim. Non-muslim boleh diperlakukan dengan baik, seperti seorang peternak merawat sapi dengan baik. Jadi islam boleh “baik”, tapi biarpun begitu si non-muslim bukanlah teman apalagi “saudara”. Bahkan ada kurang lebih 14 ayat dalam Quran yang menyatakan bahwa muslim tidak pernah merupakan teman bagi non-muslim. Seorang muslim boleh aja “friendly”, tapi dia tidak pernah menjadi teman. Dan sejauh mana seorang muslim merupakan teman bagi non-muslim, sejauh itu pula dirinya berhenti menjadi muslim dan malah menjadi “munafik”.

FP: Sebelumnya anda mengatakan ada perbedaan mendalam antara logika muslim dengan non-muslim. Bisakah anda memperjelas?

Warner: Untuk mengulang kembali, semua sains didasarkan kepada hukum kontradiksi. Jika dua hal saling kontradiksi, maka salah satunya pasti salah. Tapi dalam logika islam, dua hal yang kontradiksi bisa sama-sama benar. Islam memakai logika dualistik sedangkan kita memakai logika universal sains.

Karena islam memiliki logika dualistik dan etika dualistik, islam menjadi sama sekali asing bagi kita. Muslim berpikir dan berperasaan berbeda dengan kita. Jadi ketidak-tahuan kita bersumber dari rasa takut dan penolakan kita atas logika dan etika islam. Ini menyebabkan kita tidak mau mempelajari islam dan menjadi tidak tahu dan terus tidak tahu.

Alasan lain atas ketidak-tahuan kita adalah kesadaran bahwa tidak ada kompromi dalam etika dualistik. Tidak ada jalan tengah antara etika universal dengan etika dualistik. Jika kamu sedang berbisnis dengan seorang penipu nan curang, yah kamu akan kena tipu. Sebarapapun baiknya kamu terhadap seorang penipu, dia akan memanfaatkan kamu <useful idiots harap perhatikan – Kibou>. Tidak ada kompromi dalam etika dualistik. Singkatnya, politik islam, logika dan etika islam tidak bisa menjadi bagian dari peradaban kita. Islam tidak asimilasi, melainkan mendominasi. Tidak ada itu “jalan beriringan” dengan islam. Tuntutan islam tidak akan berhenti dan tuntutan mereka harus dipenuhi dengan cara tunduk kepada islam.

Alasan terakhir atas ketidaktahuan kita terhadap islam adalah rasa malu kita. Islam pernah memperbudak lebih dari satu juta orang Eropa. Karena muslim tidak boleh diperbudak, maka perempuan kristen yang menjadi budak seks Sultan Turki. Ini fakta yang kita tidak mau hadapi.

Yahudi tidak mau mempelajari sejarah politik islam karena mereka dulunya dhimmi, warga kelas dua atau semi-budak, sama seperti kristen. Yahudi senang mengingat bahwa mereka dulu pernah menjadi penasihat dan tabib bagi penguasa muslim, tapi apapun yang dilakukan atau jabatan apa yang dipegang yahudi, tetap aja yahudi itu dhimmi. Tidak ada kompromi antara menjadi sama derajat atau menjadi dhimmi.

Maukah hindu mengingat malunya menjadi budak muslim dan penghancuran atas kuil-kuil dan kota-kota mereka? Setelah pekerja hindu selesai membangun Taj Mahal, penguasa muslim memotong tangan mereka supaya mereka tidak lagi bisa membangun seindah itu bagi orang lain. Praktek suttee, di mana seorang janda membakar dirinya bersama jenasah mendiang suami, muncul sebagai reaksi atas brutalnya perkosaan jihad islam selagi menyebar di India jaman dulu.

Orang kulit hitam tidak ingin menghadapi fakta bahwa muslimlah yang dulu mengumpulkan nenek moyang mereka di Afrika untuk dijual kepada kulit putih pedagang budak. Arab adalah majikan sesungguhnya dari para kulit hitam. Orang kulit hitam tidak mau menerima kesamaan mereka dengan orang kulit putih; bahwa baik Afrika maupun Eropa pernah diperbudak islam. Orang kulit hitam suka berimajinasi bahwa islam adalah pengimbang mereka atas kuasa kulit putih, padahal islam sudah menguasai mereka selama 1400 tahun.

Logika dualistik. Etika Dualistik. Rasa takut. Rasa malu. Tidak ada kompromi. Inilah sebab-sebab mengapa kita tidak mau tahu menahu soal sejarah politik islam, doktrin islam, atau etika islam.

FP: Jadi sebenarnya ada gak sih islam yang non-politik?

Warner: Islam non-politik adalah islam relijius. Islam relijius adalah apa yang dilakukan muslim supaya terhindar dari neraka dan masuk surga. Ini disebut Lima Pilar – sholat, sesedah ke sesama muslim, ziarah ke Mekkah, puasa dan bersaksi bahwa Muhamad adalah nabi yang terakhir.

Tapi Trilogy sudah jelas mengenai doktrin. Setidaknya 75% Sirah adalah mengenai jihad. Sekitar 67% Quran ayat-ayat Mekkah adalah mengenai non-muslim, atau politik. Dari Quran ayat-ayat Medinah, 51% adalah tentang non-muslim. Sekitar 20% dari Hadis Bukhari adalah mengenai jihad dan politik. Religi adalah bagian terkecil dari teks-teks fundamen islam.

Politik islam yang dualistik membagi dunia ke dalam dua bagian, yaitu dar al islam (muslim) dan dar al harb (kafir). Sebagian besar dari Trilogy adalah mengenai bagaimana berperilaku terhadap kafir. Bahkan neraka islam itu juga politis. Ada 146 rujukan neraka di Quran. Hanya 6% dari rujukan tersebut yang mengenai hukuman atas kegagalan moral – pembunuhan, pencurian, dsb. Sisanya yang 94% adalah hukuman neraka karena dosa intelektual alias karena tidak setuju dengan Muhamad yang dianggap sebagai kejahatan politik. Karena itu, neraka adalah penjara politik bagi mereka yang menentang islam.

Muhamad berdakwah agama islam selama 13 tahun di Mekah dan hanya mendapat 150 pengikut. Ketika dia beralih ke politik dan perang, dalam 10 tahun kekerasan dia menjadi penguasa seluruh Arabia dengan terlibat dalam satu tindakan kekerasan di setiap 6 minggu dalam 9 tahun. Kesuksesan Muhamad bukan sebagai pemimpin agama melainkan sebagai pemimpin politik.

Singkatnya, politik islam menentukan bagaimana non-muslim dihadapi dan diperlakukan.

--- belum selesai ---

SUDAH DITERJEMAHKAN DI islam-politik-pembunuh-terbesar-segala-jaman-t13476/

Re: Penelitian atas Politik Islam

PostPosted: Wed May 08, 2013 12:56 pm
by Kibou
FP: Bisakah anda jelaskan sedikit mengenai sejarah politik islam?

Warner: Sejarah politik islam dimulai ketika Muhamad hijrah ke Medinah. Sejak itu tawaran islam kepada dunia adalah antara dua pilihan: bergabung dengan agama yang penuh kejayaan atau menjadi sasaran desakan politik dan kekerasan. Setelah hijrah dari Medinah, islam menjadi buas kalau bujukan agama telah gagal. Jihad telah muncul di dunia.

Setelah kematian Muhamad, Abu Bakar sang kalifah pertama menyelesaikan setiap argumen theologis bagi mereka yang ingin keluar dari islam dengan cara politis yaitu dengan membunuh mereka dengan pedang. Jihad dari Umar meledak di dunia non-muslim. Jihad menghancurkan kristen Timur Tengah dan kristen Afrika Utara. Setelah itu zoroater Persia dan hindu India yang jadi korban jihad. Sejarah politik islam adalah kehancuran kristen di Timur Tengah, Mesir, Turki dan Afrika Utara. Setengah dari kristen hilang. Sebelum islam, Afrika Utara adalah bagian selatan dari Eropa (bagian dari kerajaan Romawi). Sekitar 60 juta kristen dibantai selama penaklukan jihad.

Setengah dari peradaban hebat hindu dihancurkan dan 80 juta hindu dibunuh.

Penganut buddha pertama di Barat adalah para turunan yunani dari bekas pasukan Alexander Agung di daerah yang sekarang menjadi Afghanistan. Jihad menghancurkan buddhisme di sepanjang jalan sutera. Sekitar 10 juta buddhis dibunuh. Penaklukan islam terhadap buddhisme adalah hasil dari pasifisme mereka <Biksu Wirathu dari Myanmar berusaha menghindari nasib seperti ini – Kibou>.

Zoroaster dihapus dari Persia.

Yahudi jadi dhimmi di seluruh daerah kekuasaan islam.

Di Afrika lebih dari 200 juta kristen dan penganut animisme telah dibunuh selama 1400 tahun jihad.

Sekitar 270 juta non-muslim dibunuh selama 1400 tahun politik islam dilaksanakan. Inilah tangisan akibat jihad yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah.

FP: Bagaimana tanggapan para intelektual kita terhadap islam?

Warner: Fondasi pemikiran non-muslim telah takluk di hadapan politik islam, etika islam, dan logika islam. Kita sudah lihat bagaimana para intelektual kita bahkan tidak mampu memberi label “muslim” kepada para penakluk mereka. Kita tidak bisa sepakat apakah islam itu sebenarnya dan tidak punya kesadaran atas kesengsaraan kita sebagai korban jihad selama 1400 tahun.

Lihat bagaimana kristen, yahudi, kulit hitam, intelektual dan seniman berinteraksi dengan doktrin islam dan sejarah islam. Dalam setiap kasus ide-ide mereka mengalami kegagalan.

Kristen percaya bahwa “kasih mengalahkan segalanya”. Kasih tidak mengalahkan islam. Kristen punya kesulitan melihat islam sebagai doktrin politik dan bukan agama. Terpecah-pecahnya kristen menjadi banyak bagian membuat kristen yang non-orthodoks tidak memiliki pengetahuan ataupun simpati kepada kristen orthodoks yang teraniaya <contohnya kristen koptik Mesir – Kibou>.

Yahudi punya theologi di mana mereka memiliki hubungan yang unik dengan Sang Pencipta alam semesta. Tapi islam menganggap mereka monyet-monyet yang memalsukan Perjanjian Lama. Yahudi tidak melihat adanya hubungan antara doktrin politik islam dan israel <banyak juga yahudi sayap kiri yang malah membela islam di USA – Kibou>.

Para intelektual kulit hitam mendasarkan pemikiran mereka atas status majikan-budak dan bagaimana tidak adilnya para kulit putih yang telah memperbudak mereka. Islam tidak pernah mengakui adanya penderitaan dan siksaan yang disebabkan islam di Afrika selama 1400 tahun perdagangan budak. Tapi para kulit hitam tidak pernah menuntut permintaan maaf dari muslim dan diam saja di hadapan islam. Kenapa? Apakah karena majikan mereka memang Arab?

Multikulturalisme <produk sekuler-humanisme – Kibou> bangkrut menghadapi tuntutan islam supaya semua peradaban tunduk. Kultur toleransi ambruk menghadapi “intoleransi suci” dari etika dualistik. Para intelektual merespon dengan cara pura-pura tidak tahu akan kegagalan mereka.

Para intelektual dan seniman kita telah dianiaya selama 1400 tahun. Sebenarnya, psikologi para intelektual kita sama persis dengan psikologi isteri yang dipukuli, anak kecil yang dicabuli, atau korban perkosaan. Lihat saja persamaan respons dari korban aniaya dan para intelektual kita. Lihat bagaimana kekerasan menyebabkan penyangkalan.

Para korban menyangkal bahwa mereka pernah dianiaya: apakah alasan koran-koran tidak mau menerbitkan kartun Muhamad? Salman Rushdie masih diancam fatwa hukuman mati gara-gara menulis novel. Mana para seniman “cutting edge” yang membuat pernyataan artistik mengenai islam? <kapan yah Dan Brown akan tulis novel mengenai Muhamad? – Kibou> Rasa takut menguasai para intelektual dan seniman kita.

Para korban selalu menyalahkan diri sendiri: kita menyalahkan diri sendiri atas serangan 9/11. Jika kita mengalah, muslim akan lebih ramah. Kita harus akomodasi tuntutan muslim.

Para korban dipermalukan: orang kulit putih tidak mengungkit fakta bahwa nenek moyang mereka pernah diperbudak islam. Tidak ada yang mau mengaku telah menjadi korban jihad. Kenapa kita tidak mau mengakui penderitaan nenek moyang kita? Kita terlalu malu untuk ambil peduli.

Para korban merasa putus asa: “Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa membunuh 1,3 milyar orang.” Tidak ada yang punya pemahaman ataupun optimisme. Tidak ada yang punya ide apa yang harus dicoba. Satu-satunya ide adalah dengan “mengalah”.

Para korban marah kepada diri sendiri: Apa isu paling pro-kontra di politik kita saat ini? Iraq. Dan apakah Iraq itu sesungguhnya? Politik islam. Internet menyebar video mengenai bagaimana CIA dan Bush mengatur dan melaksanakan serangan 9/11. Kultur membenci diri sendiri menjadi istilah baku bagi para intelektual dan seniman kita.

Kita membenci diri sendiri karena kita secara mental telah dianiaya dan dicabuli. Para intelektual dan seniman kita merespon jihad seperti layaknya anak kecil yang dicabuli atau korban perkosaan. Intelektualitas kita sedang sakit dan gagal menghasilkan pemikiran yang jernih. Kita tidak menyadari penyangkalan kita.

--- belum selesai ---

Re: Penelitian atas Politik Islam

PostPosted: Wed May 08, 2013 4:34 pm
by Kibou
FP: Tolong rangkum mengapa sangat penting bagi kita untuk mempelajari doktrin politik islam.

Warner: Politik islam telah menghancurkan setiap peradaban yang dijajah dan dimasukinya. Waktu yang diperlukan untuk menghancurkan bisa berabad-abad, tapi sekali islam sudah naik, islam tidak pernah gagal. Kebudayaan asli hilang dan punah.

Kita harus mempelajari doktrin politik islam untuk bisa bertahan hidup. Doktrin islam jelas mengajarkan bahwa semua bentuk kekerasan dan bujukan halal digunakan untuk menaklukkan kita. Islam menyatakan dirinya sendiri sebagai musuh bagi semua non-muslim. Filsuf perang China yang sangat pandai, Sun Tzu, memiliki diktum – kenali musuhmu. Kita harus kenali doktrin musuh kita atau hancur.

Dengan kata lain: jika kita tidak mempelajari doktrin politik islam, maka kebudayaan kita akan dihancurkan sebagaimana kebudayaan kristen koptik Mesir dihancurkan.

Karena para non-muslim harus mengerti doktrin politik islam untuk bisa bertahan, CSPI telah menulis buku-buku dalam bahasa Inggris yang sederhana. Buku-buku kami standar peneliti, tapi gampang dibaca. <komiknya Adadeh juga enak dibaca – Kibou>. Sebagai contoh, siapa saja yang bisa membaca koran bisa membaca A Simple Qoran dan memahaminya. Tidak “diperbodoh” dan mengandung setiap kata yang ada di versi Uthman.

Tidak hanya bahasanya sederhana, tapi sudah disusun dan dikategorisasi secara logis. Konteks dan urutan waktu sudah disusun sebagaimana mestinya. Hasilnya adalah Quran yang menceritakan kisah hebat dengan kemenangan islam atas semua musuh Allah di akhir. Semua buku-buku dan filsafat kami bisa ditemui di: www.cspipublishing.com

FP: Bill Warner, terima kasih sudah bersama kita hari ini.

Warner: Jamie, terima kasih atas keramahan dan usahamu.


--- selesai, silahkan disebarkan seluas-luasnya. Terima kasih! ---

Re: Penelitian atas Politik Islam

PostPosted: Wed May 08, 2013 8:56 pm
by keeamad
Terimakasih bro kibou atas artikelnya yg mencerahkan ini.
Ada point yg ingin saya tegaskan di sini :
Kibou wrote:[..... Kristen (+ , sesungguhnya agama lain apapun) punya kesulitan melihat islam sebagai doktrin politik dan bukan agama.

Salah satu contoh nyata islam sebagai doktrin politk adalah sbb:
Image

Kalo memang islam adalah agama yg benar,
bagaimana mungkin orang2x - seperti muslimah, di atas bisa melakukan ibadah2x dan ritual2x agamanya (shalat, ngaji dll ... ) dengan telanjang seperti itu ... ?

Maka benar kata penulis,
islam itu hanya 6% urusan ritual dan pahala surga neraka dari amalan ibadah atau dosa,
tapi 94% adalah lebih bersifat URUSAN POLITIK Nabi muhammad saw (Politik Islam) ....

Salam

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Fri May 10, 2013 6:01 pm
by DHS
Thanks untuk Bro Kibou dan Spaceman,

Ternyata sambutan dari members netral maupun kafir cukup antusias.
Info bahwa Islam berwajah ganda dijelaskan dengan nyata.
Ada satu member yang nanya sumber datanya segala, lalu sy kasih linknya Frontpage dan situs: http://www.politicalislam.com/
di mana tulisan2 Bill Warner yang lain dapat ditemukan di sana.
Trus .... tentu saja, sy memperkenalkan FFI untuk bahan2 yang berbahasa Indonesia. :green:

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Fri May 10, 2013 8:33 pm
by spaceman
Gw pikir cuma ngerusuh pake bahan bro kibou, tapi bahannya emang mantep sih. Soalnya orang2 indo kan masih suka bilang "apa yg dikatakan bule tuh benar" :green:

Re: Penelitian atas Politik Islam

PostPosted: Sat May 11, 2013 9:24 am
by Kibou
keeamad wrote:Untuk memahami seperti apa doktirm islam yg sesungguhnya, kita (dan para pemimpin kafir) harus melihat wajah islam adalah seperti yg di bawah ini:
Image


> Bill Warner Mode: ON

Apakah islam itu domba, ataukah serigala?

Islam itu domba? Ya, 3% (bulu luarnya doank)
Islam itu serigala? Ya, 97%

Jadi dua-duanya benar, menurut logika dualistik islam.

> Bill Warner Mode: OFF

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Sat May 11, 2013 9:46 am
by Kibou
DHS wrote:Thanks untuk Bro Kibou dan Spaceman,

Ternyata sambutan dari members netral maupun kafir cukup antusias.
Info bahwa Islam berwajah ganda dijelaskan dengan nyata.
Ada satu member yang nanya sumber datanya segala, lalu sy kasih linknya Frontpage dan situs: http://www.politicalislam.com/
di mana tulisan2 Bill Warner yang lain dapat ditemukan di sana.
Trus .... tentu saja, sy memperkenalkan FFI untuk bahan2 yang berbahasa Indonesia. :green:


Terima kasih kembali.

Bill Warner memang pendekatan statistiknya unik dalam meneliti islam. Saya berencana menerjemahkan tulisan-tulisan beliau yang lain. Mungkin karena keunikan ini para pembaca jadi tertarik.

spaceman wrote:Gw pikir cuma ngerusuh pake bahan bro kibou, tapi bahannya emang mantep sih. Soalnya orang2 indo kan masih suka bilang "apa yg dikatakan bule tuh benar" :green:


Hahaha iya sih. Mental kurang percaya pada diri sendiri. Bahaya kalau baca bahan dari bule-bule yang useful idiots.

Berpikir dan Berlaku Baik Tidaklah Cukup (Bill Warner)

PostPosted: Sat May 11, 2013 11:11 am
by Kibou
Reservasi tempat dulu, terjemahan menyusul...

_______________
December 22, 2008

The Evil of Good Deeds and Good Thoughts

After the Mumbai jihad there was a response of "Do good deeds." The Jews of Chabad (the sect that had its members tortured to death) asked for Jews to do "a mitzvah," good works. A yoga group that had some of its members killed believes that love will triumph. Then Deepak Chopra weighed in with his "think good thoughts" campaign. Chopra's effort has the "magic" of if a million people pledge to think good thoughts the world will change for peace. All of these efforts may be summarized by one phrase: Be Nice.

I have nothing against being nice. Who does? But is that enough? What happened at Mumbai was evil. Any response must be aimed at preventing it from happening again. How can Being Nice prevent evil from recurring?

There is a strain of New Age, hippy, pacifist, and utopian thought which believes just that. Cue the Beatles, All We Need is Love. The Be Nice theory raises a question: if good deeds and good thoughts will prevent another Mumbai, then does that mean that the rabbi and his pregnant wife, who were tortured to death, had just not done enough good works? Is a 9-year-old girl who is raped just not nice enough?

Pacifists say that you should never respond to violence, because that just creates more violence. We should never use pain to correct. War is never the answer. These theories don't seem to take into account that learning how to avoid pain usually consists in remembering what led to the pain, so we don't do that again. Pain can and will change people's behavior. Pain works.

But, the first step in resisting jihad is not violence or war, but education. The Be Nice people deny that Islamic jihad even exists. Therefore, there is nothing to learn. The Be Nice people will never even use any language that would point towards Islam. Be Nice people are doctrinal deniers. The real Islam has nothing to do with jihad, and therefore there is nothing to learn.

When the Be Nice people speak they never refer to any Islamic doctrine or history. If they speak of doctrine it is about American foreign policy. Internal motivation is missing from the "gunmen." It is as though they only respond to us. They don't have an ideology, just reactions. Or maybe they were poor, economically impoverished.

The reason that the Be Nice people do not want to learn about political Islam is that they have too many suspicions about the truth and know that they don't have the courage to face the reality. So it is better to deny that an Islamic doctrine exists and ignore it. Then when the history and doctrine are pointed out, they hint that we are bigots, we are worse than the jihadists, that such talk is offensive and should not be tolerated. To quote Islamic doctrine has been defined as bigotry and not nice.

Being nice, in and of itself, is not wrong. What is wrong is the lack of balance. Being nice is feminine. We need both compassion and wisdom. Compassion by itself leads to idiot compassion. There are some things that love can't do. We must have an approach that it practical and includes wisdom.

We need being nice as a carrot, but we must have a stick. We have already had a culture respond to Islam with good thoughts. Part of Alexander the Great's army settled down Asia and became Buddhists. They created the Ghandarvian Buddhist culture, a high point in human history. The Ghandarvian Greek Buddhists created the first Buddhist art and sculpture. When Islam invaded they had no army, only good thoughts. Alexander the Great's best soldiers had become absolute pacifists. After the jihad, we do not find a single Buddhist in what is Afghanistan today. Good thoughts and good works are not enough in the face of violence.

We must have the masculine response as well. Look at our bodies. Do you think that our immune system just gives those misguided germs a big hug and understanding? No. It kills them. No inter-species dialogue, no being nice. Is that a bad thing? If you think so, then try AIDS, the failure of that viral/bacterial murdering (immoral, since its not nice?) immune system.

Being tough has come to mean cruel and, hence, evil. A feminized Christianity, Judaism, Hinduism, Buddhism and secularism can no longer conceive what courage, honor and pride of civilization even means. We relegate the military and police to some social corner to do the dirty work that we don't want to think about, but criticize.

All of the religions love to each feel superior to the other. But in the face of Islam, the Christians, the Jews, the Buddhists, the Hindus and the secularists all fall under the same banner-Be Nice. They all add Be Polite to Be Nice. Be Polite means that not only do we (Christians, Jews, Buddhists...) not talk about Islam, but Nice People don't let others talk about Islam, that would impolite, since quoting Islamic doctrine and history offends Islam. And we don't want to offend and doing more than Being Nice would cause us to examine our moral collapse and intellectual failure.

So go out there and Be Nice and Be Polite. Remember-a mitzvah a day keeps the evil away. Think happy thoughts. Love. That will change Islam. Oh wait! Islam does not need to change. We just need to Be Nicer!

Bill Warner

First published in American Thinker December 21, 2008
Permalink /blog/the-evil-of-good-deeds-and-good-thoughts/

Berpikir dan Berlaku Baik Tidaklah Cukup (Bill Warner)


FFI Alternative
Faithfreedompedia

Re: Berpikir dan Berlaku Baik Tidaklah Cukup (Bill Warner)

PostPosted: Sat May 11, 2013 4:02 pm
by keeamad
Oh wait! Islam does not need to change. We just need to Be Nicer!

Cucok untuk USEFUL IDIOTS, islam tidak akan pernah berubah,
orang2x kafir - yg USEFUL IDIOTS, lah yang HARUS Berperilaku LEBIH BAIK Terhadap islam - hingga pala mereka ditebas juga oleh islam nantinya ....
(lihat saja di afgan, jangankan kafir, sesama muslim saja banyak yg dipenggal dan dirajam oleh TALIBAN .... )

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Sat May 11, 2013 10:07 pm
by DHS
Kibou wrote:Saya berencana menerjemahkan tulisan-tulisan beliau yang lain. Mungkin karena keunikan ini para pembaca jadi tertarik.

Maju terus Bro, anda yang menterjemahkan, kami meneruskan ke berbagai grup di fesbuk, dan pembaca juga meneruskan lagi ke jejaringan maya yang lain.

Hari ini sy dpt masukan di inbox 2 pesanan. Ini pesanan yang kedua:

Conversation started today
3:56pm
Kopi Hitam Pait

Apa kabarmu Dewi??
Minta ijin dong comot berkasmu yang dikau post di DAI soal mencicipi Islam.

Thanks before,......
---------
Rupanya artikel tentang wajah ganda Islam banyak yang meminati:

Image

Re: Mencicipi Islam: wawancara dengan Bill Warner

PostPosted: Sun May 12, 2013 12:54 am
by APEL EMAS
Betul sekali . Aku lihat tulisan ini udah mulai exsis di fb.

Ayo maju terus untuk membuka borok borok islam.

Re: BILL WARNER: Statistika & Makna Islam (5 artikel)

PostPosted: Mon May 13, 2013 10:32 am
by Kibou
December 22, 2008

The Evil of Good Deeds and Good Thoughts

Setelah terjadinya aksi jihad di Mumbai muncul respon untuk “Buatlah kebaikan”. Yahudi Chabad (kelompok yahudi yang anggotanya disiksa sampai mati) meminta para yahudi lain untuk melakukan “mitzvah” atau perbuatan baik. Kelompok yoga yang beberapa anggotanya dibunuh percaya bahwa kasih akan menang. Kemudian Deepak Chopra menggalakkan kampanye “Berpikirlah yang baik-baik” (“think good thoughts”). Usaha Chopra seperti “sulap”: jika satu juta orang bersumpah untuk “berpikir yang baik-baik” maka dunia akan berubah menjadi damai. Semua upaya ini bisa dirangkum menjadi satu ungkapan: Be Nice.

Aku tidak keberatan menjadi baik (be nice). Siapa yang tidak suka kebaikan? Tapi apakah kebaikan itu cukup? Apa yang terjadi di Mumbai adalah JAHAT. Setiap respon harus ditujukan untuk mencegah hal yang serupa terulang kembali. Bagaimana kebaikan bisa mencegah berulangnya KEJAHATAN?

Ada suatu aliran pandangan New Age, hippy, pacifist, dan utopia yang meyakini hal itu. Seperti lagu Beatles, All We Need is Love. Teori “Be Nice” mengundang pertanyaan: jika perbuatan baik dan pikiran baik akan mencegah terulangnya kejadian seperti Mumbai, maka apakah itu berarti si rabbi dan istrinya yang kala itu sedang hamil kemudian disiksa sampai mati, tidak cukup melakukan perbuatan baik? Apakah anak 9 tahun yang diperkosa tidak cukup baik?

Para pacifist berkata bahwa kita tidak boleh melawan kekerasan, karena itu akan menyebabkan lebih banyak kekerasan. Kita tidak boleh gunakan rasa sakit untuk mengkoreksi. Perang bukanlah jawaban. Teori-teori seperti ini seperti tidak pernah menyadari bahwa belajar menghindari rasa sakit umumnya adalah dengan cara mengingat apa yang menyebabkan rasa sakit itu, supaya kita bisa menghindarinya. Rasa sakit mampu dan akan mengubah perilaku orang. Rasa sakit itu efektif.

Biarpun begitu, langkah pertama melawan jihad bukanlah dengan kekerasan atau perang, melainkan PENDIDIKAN. Kaum “Be nice” <useful idiots – Kibou> menyangkal bahwa jihad islamiah itu eksis. Karena itu, tidak ada yang harus dipelajari. Kaum “Be nice” tidak akan pernah menggunakan istilah yang menjurus kepada islam. Kaum “Be nice” adalah penyangkal doktrin islam. Islam yang “sesungguhnya” tidak mengenal jihad, dan karena itu tidak ada yang perlu dipelajari.

Ketika kaum “Be nice” berbicara mengenai islam, mereka tidak pernah merujuk kepada doktrin islam atau sejarah islam. Ketika mereka menyinggung doktrin itu adalah mengenai kebijakan asing Amerika Serikat. Motivasi internal tidak ada pada para jihadis. Sepertinya para jihadis hanya bereaksi terhadap kebijakan kita. Para jihadis tidak punya ideologi, cuma punya reaksi aja. Atau mungkin juga mereka hanya miskin, terbelakang secara ekonomi.

Alasan mengapa kaum “Be nice” tidak mau mempelajari politik islam adalah karena mereka terlalu mencurigai kebenaran dan sadar bahwa mereka tidak punya keberanian menghadapi realita. Jadi adalah lebih baik menyangkal doktrin islam dan menganggapnya seperti tidak ada. Lalu ketika kita menunjukkan doktrin dan sejarah islam, mereka menuduh kita “bigot” (berperasangka buruk), dan bahwa kita lebih buruk dari para jihadis, bahwa menyinggung islam itu melukai perasaan dan tidak bisa ditoleransi. Merujuk kepada doktrin islam telah dicap “prasangka buruk” dan tidak “baik”.

Berlaku baik itu sendiri tidaklah salah. Yang salah ialah kalau timpang sebelah. Berlaku baik itu feminin. Kita perlu rasa kasih dan kebijaksanaan. Rasa kasih kalau sendiri saja akan menjadi rasa kasih yang idiot. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh kasih. Kita harus punya pendekatan yang yang praktis dan bijaksana.

Kita perlu “Be nice” sebagai wortel, tapi kita harus punya tongkat <biar bisa pentung jihadis – Kibou>. Pernah ada kultur yang merespon islam dengan “pikiran baik”. Sebagian dari pasukan Aleksander Agung menempati Asia dan menjadi pengikut buddha. Mereka membangun kebudayaan Buddhis Ghandarvia, suatu pencapaian tinggi dalam sejarah manusia. Para buddhis Ghandarvia pertama kalinya menciptakan seni dan patung buddhis. Ketika datang invasi islam para buddhis ini hanya memiliki “pikiran baik” dan tidak punya pasukan perang. Pasukan hebat dari Aleksander Agung ini sudah menjadi pacifist tulen. Setelah jihad, tidak lagi kita temukan penganut buddha di Afghanistan di masa ini.

Pikiran baik dan perbuatan baik tidaklah cukup menghadapi kekerasan. Kita juga harus punya respon yang maskulin. Lihatlah tubuh kita. Kamu pikir sistem kekebalan tubuh memberi para virus rangkulan dan pengertian? Tidak. Dibunuh sih iya. Tidak ada dialog antar spesies, tidak ada “be nice”. Apakah ini buruk? Kalau kamu pikir ini buruk, cobain deh kena AIDS, di mana tidak ada kekebalan tubuh yang membunuhi (membunuh itu tidak baik kan?) virus/bakteri.

Ketegasan (being tough) sekarang dianggap kekejian dan karena itu, jahat. Feminisasi atas kristen, yudaisme, hindu, buddha, dan sekularisme tidak lagi mampu mengingat arti dari keberanian, kehormatan, dan kebanggaan atas peradaban. Kita buang tanggung jawab kita kepada militer dan polisi di pojok untuk menangani urusan kotor yang tidak mau kita pikirkan, tapi kita suka sekali mengkritik.

Semua agama senang menganggap diri sendiri berada di atas agama lain. Tapi kalau sudah di hadapan islam, orang kristen, orang yahudi, orang buddha, orang hindu dan orang sekuler semua berdiri di dalam satu payung – “Be nice”. Mereka tambahkan juga “Be polite to be nice” (berlaku sopan dan baik). Berlaku sopan berarti kita (kristen, yahudi, buddhis, dll) tidak boleh menyinggung islam, kita juga melarang orang lain menyinggung islam, jangan pula mengutip doktrin dan sejarah islam, nanti muslim tersinggung. Kita tidak mau menyinggung dan berbuat lebih dari “Be nice” karena itu akan menyebabkan kita menyadari keruntuhan moral dan kegagalan intelektual kita sendiri.

Jadi teruslah berlaku sopan dan baik. Ingat – berlaku baik setiap hari menjauhkan si jahat. Berpikirlah yang baik-baik saja. Kasih. Itu akan mengubah islam. Eh tunggu dulu! Islam gak perlu berubah kok. Kita aja yang harus berlaku lebih baik!

Bill Warner

First published in American Thinker December 21, 2008
Permalink /blog/the-evil-of-good-deeds-and-good-thoughts/

Re: BILL WARNER: Statistika & Makna Islam (5 artikel)

PostPosted: Mon May 13, 2013 3:13 pm
by Kibou
LANDASAN ETIKA UNTUK MELAWAN JIHAD

Oleh Bill Warner

Bagian I

Kenali lawanmu – Sun Tsu, The Art of War

Sebelum mulai, kita perlu pelajari kata-kata yang tepat, supaya pemikiran kita juga tepat.

Islam menyatakan bahwa semua yang tidak tunduk kepada islam adalah kafir. Allah membenci kafir dan bersiasat melawan kafir. Lebih dari 60% isi Quran khusus mengurus soal kafir. Kafir boleh dibunuh, dirampok, diperkosa, diperbudak, disiksa dan dihina . Setiap rujukan terhadap kafir bersifat negatif, merendahkan, menghina, dan menyakitkan. “Unbeliever” adalah kata yang netral. “Kafir” adalah kata terburuk dalam bahasa manusia.

Kata berikutnya adalah dhimmi. Di masa lalu, dhimmi adalah kristen dan yahudi yang diperbolehkan memegang keyakinan masing-masing namun hidup di bawah kuasa islam. Jaman sekarang dhimmi adalah kafir manapun yang membela islam.

Kisah islam bermula dengan yahudi karena islam adalah agama yahudi yang disesatkan. Quran terus menerus mengadaptasi kisah-kisah yahudi seperti kisah Musa dan Nuh untuk menunjukkan bahwa Muhamad itu adalah nabi Allah. Untuk mulai melihat islam, bagus juga kita mulai dari 10 Perintah Allah.

10 Perintah Allah

Aspek Relijius

Jangan ada ilah lain dihadapanKu.
Jangan ciptakan gambar atau apapun yang diserupai Aku.
Jangan bersumpah palsu atas namaKu.
Ingat dan sucikanlah hari sabbat.

Aspek Etika

Hormati ayah dan ibumu.
Jangan membunuh.
Jangan berzinah.
Jangan mencuri.
Jangan bersaksti dusta terhadap sesamamu.
Jangan menginginkan milik sesamamu.

10 Perintah Allah terbagi atas dua kategori – relijius dan etika. Satu-satunya agama yang menjalankan semua aspek relijius 10 Perintah Allah adalah agama yahudi. Kristen tidak melaksanakan perintah sabbat dan beberapa orang berpendapat kristen katolik dan kristen ortodoks melanggar perintah mengenai pembuatan gambar/rupa. Hindu, buddhis, dan atheis tidak melaksanakan satu pun perintah relijius dari 10 Perintah Allah. Tidak ada dua agama yang sepakat mengenai aspek relijius tersebut.

Manusia tidak bisa sepakat mengenai agama.

Tapi mari kita lihat aspek etika dari 10 Perintah Allah. Yahudi, kristen, hindu, buddhis, dan kebanyakan atheis sepakat bahwa berdusta, mencuri, dan menginginkan milik orang lain itu adalah perilaku yang buruk.

Setelah direnungkan, semua larangan ini mencegah kerugian terhadap orang lain. Kita tidak ingin merugikan orang lain dan kita tidak mau dirugikan. Kita semua ingin diperlakukan dengan baik dan ini adalah cara terbaik untuk memperlakukan sesama, kerena itulah ada Golden Rule:

Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan.

Golden Rule adalah etika universal. Semua diperlakukan sama. Satu sistem etika untuk semua orang. Ini sudah berulang kali diucapkan dalam berbagai bentuk di banyak kebudayaan. Tapi ada satu ajaran yang tidak setuju dengan etika universal ini – Islam.

Etika Islamiah

Apa itu etika islamiah dan di mana kita bisa temukan? Semua hal dalam islam didasarkan kepada Quran (apa yang kata Muhamad dikatakan oleh Allah) dan ucapan serta perbuatan Muhamad (disebut Sunna). Muslim tanpa henti menyatakan, “tiada tuhan selain Allah dan Muhamad adalah nabinya.” Berulang kali Quran menyatakan bahwa Muhamad adalah contoh atau teladan ideal bagi muslim. Seorang muslim bukan hanya seseorang yang menyembah Allah. Seorang muslim adalah seseorang yang menyembah Allah sama persis seperti Muhamad menyembah Allah. Jadi seorang muslim adalah seorang Muhamadan (peniru Muhamad). Tidak ada perkecualian.

Di mana bisa kita temukan ucapan dan perbuatan Muhamad?

1. Hadis – tradisi yang merekam apa pun yang diucapkan dan dilakukan Muhamad. Hadis yang terbaik dan paling dihormati adalah Hadis yang disusun Al Bukhari.

2. Sirah – biografi (kisah hidup) Muhamad dan ditulis oleh Ibn Ishaq. Sirah mencatat kisah hidup Muhamad seperti injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes mencatat kisah hidup Yesus.

Tidak ada cukup informasi dalam Quran untuk menciptakan islam. Sunna (Hadis dan Sirah) menentukan hampir semua doktrin (ajaran) islam.

Koleksi Quran, Sirah, dan Hadis disebut Trilogi Islam (istilah ini diciptakan oleh CSPI – Kibou). Trilogi Islam mengandung secara lengkap doktrin politik islam. Kristen punya dua teks suci – Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Muslim punya tiga teks suci (Quran-Hadis-Sirah). Selama 1400 tahun, ketiga teks ini hanya dibaca oleh pemimpin relijius dan politikus islam, tapi sekarang teks-teks ini mudah dipahami.

Trilogi Islam sarat dengan pernyataan-pernyataan etika. Ini beberapa contoh dari Hadis Bukhari:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak boleh menindas atau menolong penindasan terhadapnya.”

“Menyakiti muslim adalah tindakan jahat. Membunuh muslim berarti menolak Allah.”

Muhamad bertanya, “Siapa yang akan membunuh Ka’b (seorang penyair yahudi), musuh dari Allah dan Muhamad?” Bin Maslama berdiri dan menjawab, “Oh Muhamad! Apakah kau senang jika aku yang membunuhnya?” Muhamad menjawab, “Iya.” Bin Maslama kemudian berkata, “Beri aku ijin untuk mengelabuinya dengan dusta supaya siasatku berhasil.” Muhamad menjawab, “Kamu boleh berkata dusta kepadanya.”

Seorang muslim harus menjadi saudara bagi sesama muslim (selain muslim yah bukan saudara). Seorang muslim tidak boleh membunuh sesama muslim. Seorang muslim dibolehkan berdusta kepada kafir untuk memajukan islam.

Jadi bagi islam etika itu adalah:
Jangan bunuh sesama muslim
Jangan mencuri dari sesama muslim
Jangan berdusta kepada sesama muslim

Islam membolehkan membunuh, merampok, memperkosa, dan mengelabui kafir jika itu bisa memajukan islam (muslim jihadis - Kibou). Seorang muslim tidak harus berdusta, mencurangi atau membunuh kafir, ini adalah pilihan etika(muslim “moderat” - Kibou).

Islam membagi seluruh dunia menjadi dua bagian yaitu Islam dan kafir. Ada dua jenis etika dalam islam yaitu etika bagi sesama muslim dan etika bagi non-muslim. Golden Rule didasarkan kepada persamaan derajat antara semua manusia. Bunyi Golden rule bukanlah:

“perlakukan beberapa orang seperti kamu ingin diperlakukan.”

melainkan:

“perlakukan semua orang seperti kamu ingin diperlakukan.”

Islam menyangkal sifat universal Golden Rule karena islam dimulai dengan pemisahan dunia dan kemanusiaan ke dalam dua kelompok – islam dan non-islam. Setiap aspek etika islam didasarkan kepada pemisahan ini. Adanya dua kelompok ini berujung kepada adanya dua etika yang berbeda. Dengan kata lain, islam memiliki etika yang dualistik.

Penipuan, kekerasan dan paksaan terhadap kafir bersifat optional. Sesama muslim diperlakukan seperti saudara sendiri. Etika islam didasarkan kepada:
Apapun yang memajukan islam itu baik.
Apapun yang menentang islam itu jahat.

copyright (c) 2008, CBSX, Inc dba politicalislam.com

You may distribute this as you wish, please do not edit and give us credit.
Peramalink:http://www.politicalislam.com/blog/an-ethical-basis-for-war-against-political-islam-part-1/