.

Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said

Download Tulisan2 Penting tentang Islam; Website, referensi buku, artikel, latar belakang dll yang menyangkut Islam (Sunni) & Syariah.

Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said

Postby Adadeh » Wed Jun 29, 2011 6:18 am

Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said
oleh Fjordman

Catatan: Tulisan ini berhubungan dengan tulisanku sebelumnya yang berjudul Edward Said and the Myth of Eurocentrism.

Buku berjudul Orientalism oleh Edward W. Said (1935-2003), akademis dan aktivis politik Palestina-Amerika, pertama kali diterbitkan di tahun 1978. Dengan cepat buku ini jadi sangat disukai oleh para cendekiawan sayap kiri di dunia Barat. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dicetak ulang beberapa kali. Selama 30 tahun berikutnya, buku ini dihormati oleh banyak kalangan multi-budaya dan anti-Eropa. Dalam bukuya, Said mengaku meneliti pandangan barat tentang kaum “Orien” yang maksudnya adalah budaya Arab dan Islam. Buku ini tidak banyak membahas sikap orang² Eropa terhadap budaya China, Jepang, Thailand, atau Vietnam.

Image
Buku Edward Said, "Orientalism"

Koran Inggris sayap kiri The Guardian pada tahun 2011 menyatakan bahwa buku Orientalism merupakan salah satu dari 100 buku non-fiksi terbaik sepanjang masa, sejajar dengan The Histories oleh Herodotus, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire oleh Edward Gibbon, The Diary of a Young Girl oleh Anne Frank, On Liberty oleh John Stuart Mill, Thus Spake Zarathustra oleh Friedrich Nietzsche, The Structure of Scientific Revolutions oleh Thomas Kuhn, The Art of War oleh Sun Tzu, The Prince oleh Machiavelli dan On the Origin of Species oleh Charles Darwin.

Aku telah membaca buku Said beberapa tahun yang lalu. Sekarang pengetahuanku tentang masalah ini dan sejarah Timur Tengah dan Eropa sudah jauh lebih baik daripada bertahun-tahun yang lalu, sehingga aku mengambil keputusan untuk membaca buku Said sekali lagi dengan wawasan yang lebih cerah. Aku banyak berhutang budi pada Ibn Warraq atas bukunya Defending the West: A Critique of Edward Said’s Orientalism (Membela Barat: Kritik terhadap Orientalism dari Edward Said) yang diterbitkan di tahun 2007. Aku juga telah menulis ulasan panjang atas buku Ibn Warraq ini di website Atlas Shrugs.

Image
Buku Ibn Warraq, "Defending the West: A Critique of Edward Said's Orientalism"

Said dipengaruhi oleh sebagian dari pandangan² yang paling menghancurkan dari para intelek Perancis, seperti Jean-Paul Sartre (1905-1980), yang merupakan pemikir Marxis utama dan pembela kebrutalan Komunis, atau filsuf Perancis Yahudi bernama Jacques Derrida (1930-2004), yang dikenal akan paham² postmodern-nya tentang “perombakan” segala hal, terutama kebudayaan Barat. Ini komentar Ibn Warraq:

“Pada budaya² yang aslinya memang sudah anti kritik-diri-sendiri, Said malahan mendorong umat Muslim, terutama orang² Arab Muslim, untuk menyempurnakan sikap yang sudah menyatu dalam diri mereka: mengasihani-diri-sendiri. Memang enak tuh untuk percaya bahwa semua masalahmu bukanlah akibat kesalahanmu sendiri, atau bahwa kau tak perlu bertanggung-jawab atas masalah yang dihadapi masyarakatmu. Semua ini adalah salah pihak Barat, pihak kafir … Para intelek Barat setelah Perang Dunia II dan kaum kiri sangat amat merasa bersalah karena sejarah kolonial Barat masa lalu dan kolonialis yang masih terjadi di masa sekarang, sehingga mereka menyerap dengan sepenuh hati semua teori atau ideologi yang (tampaknya) menyuarakan aspirasi masyarakat dunia ketiga yang gagal. Orientalism muncul di saat yang tepat, saat pandangan anti-Barat disuarakan lantang dan diajarkan di universitas² Barat, dan ketika pandangan negara ketiga menjadi sangat populer. Jean-Paul Sartre berpidato bahwa semua orang kulit putih terlibat dalam mengexploitasi dunia ketiga, dan kekerasan pada pihak Barat adalah sah dilakukan pihak terjajah untuk mengambil alih kembali kejantanan mereka.”

Kritik pedas pada Said ini tentunya lebih menyengat lagi karena datang dari Ibn Warraq, nama samaran ex-Muslim yang lahir dari keluarga Muslim Pakistan. Alasan mengapa dia tak memakai nama asli adalah karena Islam menetapkan hukuman mati bagi Muslim yang meninggalkan Islam, dan banyak umat Muslim yang bersedia melaksanakannya.

Ibn Warraq menulis bahwa budaya Barat faktanya jauh lebih bersemangat dalam mengritik diri sendiri dibandingkan budaya besar apapun di seluruh dunia, sampai² kelewatan sehingga hampir ngawur. Dalam pandangannya, nada agresif Orietalism merupakan contoh dari apa yang disebutnya sebagai “terorisme intelek,” karena tujuannya bukan untuk meyakinkan melalui argumen serius atau analisa sejarah yang benar tapi hanya melalui cara intimidasi dengan melontarkan tuduhan² “rasisme, imperialisme dan Eurosentrisme” pada siapapun yang tak setuju.

Said berulang kali mengutip dan sangat setuju dengan tulisan penulis komunis Italia bernama Antonio Gramsci (1891-1937), terutama konsepnya tentang kultural hegemony (ekososbudpol yang ditetapkan oleh pihak dominan yang berkuasa). Gramsci bukanlah filsuf yang terkenal. Gagasan yang serupa dengan milik Gramsci telah dianut oleh pihak akademis dan media Barat di awal abad ke-20, dan para aktivis Marxist akhirnya berhasil menyelesaikan “perjalanan panjang menembus berbagai institusi.” (Adadeh: institusi di sini merupakan badan pendidikan, pemerintah, dan badan formal lainnya.)

Orang lain yang juga mempengaruhi Said adalah Michel Foucault (1926-1984), filsuf Perancis yang berpengaruh besar pada pemikiran Barat di akhir abad ke-20. Banyak ahli sains sosial dari berbagai universitas² Barat yang masih mengutip pernyataannya, hampir 30 tahun setelah Foucault mati karena AIDS, mungkin akibat doyan ngesex di berbagai pemandian kaum homo. Foucault dikritik sebagai pembela tokoh² Islam militan seperti Ayatollah Khomeini saat Revolusi Iran di tahun 1979.

Said mengklaim bahwa kebanyakan, jika tidak semua, penulis² Eropa dan Barat tentang Timur Tengah menciptakan mitos untuk menaklukkan dan mendominasi daerah itu. Untuk mendukung pernyataannya, dia dengan mudahnya tidak menyebut segala sumbangan penting ilmuwan² Jerman. Dengan tidak mengikusertakan sumbangan penemuan² penting Jerman berarti pihak pendidikan Timur Tengah tetap terbelakang dalam bidang musik, sains, dan permesinan.

Apakah masuk akal jikalau Jerman menghasilkan produk untuk menolong saingannya yang utama yakni Inggris dan Perancis dalam membangun kekaisaran mereka? Selain itu, jika kau berpendapat bahwa para Orientalis (penulis² Barat yang menulis tentang daerah Timur dan Asia) menulis keterangan salah tentang Orient secara umum dan Islam dan Arab secara khusus, maka bagaimana mungkin keterangan salah itu bisa membantu imperialis² Eropa mendominasi daerah² oriental (Asia dan Timur Tengah)?

Jika tujuan mempelajari sejarah dan budaya suatu masyarakat hanyalah untuk mendominasi masyarakat tersebut, maka mengapa para penguasa Muslim tidak melakukan hal yang sama? Mengapa para penjajah Turki Ottoman tidak melakukan penggalian arkeologi agar bisa mendominasi jajahan² mereka secara lebih menyeluruh? Bruce G. Trigger mengatakan dalam bukunya yang berjudul A History of Archaeological Thought bahwa “Penelitian² arkeologi serius tidak terjadi di Yunani, sampai negara itu merdeka dari penjajahan Turki di awal abad ke 19.”

Ketika kota Troy ditemukan setelah tahun 1868 di baratlaut Anatolia yang sekarang disebut sebagai Turki, penggalian ini dilakukan oleh usahawan Jerman bernama Heinrich Schliemann yang sangat suka tulisan Homer tentang Perang Troya. Hal ini menimbulkan pertanyaan pada kita: mengapa tiada umat Muslim yang berusaha melakukan hal yang sama? Mengapa mereka sama sekali tak tertarik atau ingin tahu tentang apa yang dulu terjadi di daerah jajahan mereka? Buku Homer yang berjudul Iliad atau Odyssey juga tak pernah diterjemahkan ke bahasa Turki. Mengapa tuh?

Serupa juga dengan hal berikut. Jika tujuan orang Barat melakukan perbandingan ilmu tatabahasa adalah hanya untuk mendominasi negara² lain dan memanfaatkan mereka seefektif mungkin, mengapa tiada penjajah atau kekaisaran mana pun yang melakukan hal yang sama? Selama berabad-abad Muslim menjajah berbagai bangsa yang berbahasa berbeda-beda seperti bahasa² Indo-Eropa, yang diantaranya adalah bahasa Yunani, Serbia, Armenia, dan Sanskrit, dan juga berhubungan dagang dengan orang² di Afrika sampai China dan Asia Tenggara. Dalam perbandingan realitas yang paralel, orang Arab atau Turki bisa saja memanfaatkan penjajahan mereka untuk menyelidiki perbandingan ilmu tatabahasa, tapi ternyata mereka tak melakukannya. Sejarawan Nicholas Ostler menulis bahwa “Majikan² Muslim yang baru, meskipun bisa berbahasa Arab, Persia, dan Turki, tidak tampak sebagai orang² yang menguasai ilmu bahasa.”

Edward Said tidak banyak membahas sejarah India, dan ini tampaknya sengaja karena dia ingin menghindari pembahasan sejarah Islam berdarah di India. India telah mengalami penjajahan Islam dan Inggris. Tak terhitung sudah banyaknya kuil² Hindu dan Budha yang dihancurkan Muslim di India. Ini sungguh kontras dengan perbuatan para ilmuwan Barat, dan tidak semuanya adalah warga Inggris, yang bekerja keras untuk menunjukkan dan menjaga keutuhan budaya asli India. Kebanyakan ilmuwan Barat ini bekerja sukarela tanpa bayaran dalam melakukan penyelidikan² budaya tersebut, dan malahan harus membayar biaya dengan uang pribadi.

Lencana Kerajaan Besar Ashoka (sekitar 268-239 BC) sekarang merupakan simbol nasional Republik India, yang tampak pada bendera kebangsaan mereka, tapi lambang ini terlupakan begitu saja di jaman dulu, dan baru diingat lagi setelah ilmuwan Inggris datang dan mengungkapkannya. Setelah penjajah Inggris datang, agama dan umat Budha bisa bangkit kembali dan jadi agama besar di Asia. (Addh: di jaman penjajahan Islam atas India selama 1000 tahun, umat Budha dibantai Muslim sampai hampir habis).

Image
Lencana Ashoka di tengah bendera kebangsaan India.

Bangsa India yang tak menyadari pentingnya peninggalan² sejarah kuno mereka, membiarkan saja sisa² bangunan mereka membusuk dan hancur. Demikian juga dengan berbagai naskah kuno yang tak terawat. Atas jasa orang² Inggris seperti Charles Wilkins dan orang Jerman seperti Johann Georg Bühler, maka naskah² Sansekerta kuno langka seperti Rajatarangini masih bisa diselamatkan.

Di atas mereka semua, terdapat Sir William Jones yang berjasa besar. Ibn Warraq mengingatkan kita bahwa “Melalui jasanya menulis kronologi sejarah India dan menciptakan bingkai kokoh untuk memahami sejarah India, maka Jones dapat dianggap sebagai bapak sejarah India. Terjemahan Jones yang berjudul Sacontala (Shakuntala) telah memberi pengaruh sangat besar di Eropa, mengilhami Schiller, Novalis, Schlegel, dan Goethe, yang menggunakan bagian awalnya sebagai model bagi ‘Vorspiel auf dem Theater’ dalam karyanya Faust (1797). Tapi lebih penting lagi, koleksi, cetakan, dan terjemahan teks² Sansekerta dari Jones dan para Orientalis lainnya telah tersedia bagi seluruh masyarakat India untuk pertama kalinya karena jasa orang² Barat ini. Karya² besar Sansekerta yang terselamatkan oleh jasa orang² Barat ini kemudian merubah pandangan orang India terhadap citra diri mereka. Di jaman dulu, tulisan² Sanskrit ini hanya boleh dibaca oleh kaum dari kasta teratas yang terbatas yakni Brahmana.”

Kebudayaan Lembah Indus telah musnah dari ingatan masyarakat India. “Baru setelah empat ribu tahun kemudian, tepatnya di awal tahun 1920-an, keberadaan budaya Indus ditemukan kembali.” Yang menemukan kembali adalah arkeologis² Inggris atau didikan Inggris bernama John Hubert Marshall, Mortimer Wheeler and Rakhaldas Bandyopadhyay. Survey Arkeologi India dimulai oleh Alexander Cunningham sejak lima belas tahun sebelumnya. Professor A. L. Basham memuji kelompok kecil ilmuwan Barat yang bekerja keras mengungkapkan sejarah masa lalu India:

“Tujuan utama kami mempelajari India adalah demi keuntungan India sendiri. Ketika Jones menerjemahkan Sakuntala dan lalu memperkenalkan drama Sansekerta kepada dunia Barat, apakah kau mengira dia berpikir seperti ini: ‘Aku lakukan ini agar negaraku bisa mendominasi orang² India’? Apakah motif seperti itu terdapat dalam benak James Prinsep ketika dia menguraikan prasasti² Ashoka? Apakah Colebrooke mempelajari kitab Veda demi semangat patriotis Inggrisnya? Jika memang begitu pikiran mereka, maka tentunya mereka bisa bekerja bagi Pemerintah mereka untuk mencapai hasil yang lebih efektif.”

Para ilmuwan Eripa juga menguraikan sistem penulisan berbentuk paku yang dipakai di Mesopotamia lebih dari tiga ribu tahun. Prasasti² dipahat di sisi gunung Behistun (Bisitun) di Persia dan telah dilihat oleh beberapa pengelana. Pengelana Jerman bernama Carsten Niebuhr (1733-1815) menjiplak beberapa tulisan tersebut, dan jiplakan ini digunakan oleh Georg Friedrich Grotefend (1775-1853) untuk menguraikan beberapa simbol tulisan paku Persia Kuno. Rahasia tulisan ini terpecahkan di tahun 1830-an dan 40-an ketika prajurit Inggris Henry Rawlinson Rawlinson (1810-1895), dibantu dengan penelitian dari pendeta Edward Hincks (1792-1866), berhasil menerjemahkan tulisan² paku Persia Kuno dan Babylonia dalam prasasti² Behistun.

Tapi bagi Said sih, “Setiap orang Eropa di abad ke 19 – dan kupikir orang bisa menyamaratakan tanpa perkecualian – Orientalism merupakan sistem kebenaran, tapi menurut makna kebenaran dari Nietzsche. Dengan demikian, maka benar pula bahwa setiap orang Eropa, menurut pandangannya akan Orient, adalah rasis, imperialis, dan hampir etnosentris (menganggap budaya sendiri paling unggul) total.”

Ilmuwan² dari Eropa Barat hanya dapat sedikit sekali uang dari usaha penyelidikan mereka yang dilakukan selama bertahun-tahun masa hidupnya untuk memecahkan tulisan² kuno dari budaya² yang telah lama mati. Mereka melakukan itu untuk membuka jendela yang tak ternilai harganya untuk mengetahui budaya literatur kuno di dunia ini. Bagi Edward Said, hal ini malah merupakan bukti nyata betapa jahatnya para ilmuwan tersebut. Sikapnya jelas tampak di seluruh bukunya.

Asko Parpola adalah Indologis dari Finlandia, profesor emeritus (udah pensiun) dalam bidang Indology dan Penelitian Asia Selatan di Universitas Helsinki di Finlandia. Dia ahli di bidang penelitian naskah yang berasal dari Budaya Lembah Indus sekitar empat ribu tahun yang lalu. Saudara lakinya merupakan ahli terkemuka bahasa Akkadia, yang merupakan bahasa Semit yang sekarang sudah musnah dan dulu digunakan di Mesopotamia, di sepanjang Sumeria, lebih dari 4000 tahun yang lalu.

Finlandia merupakan negara kecil yang terletak di bagian atas utara Eropa. Motif “rasis, imperialis” apakah yang dianut Parpola bersaudara sehingga mereka rela menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mempelajari bahasa² di belahan dunia lain yang telah lenyap 4000 tahun yang lalu? Tiada bukti apapun akan tuduhan seperti itu. Orang² Eropa ini hanya didorong oleh rasa ingin tahu, semangat untuk menyelidiki, untuk mendapatkan kebenaran. Edward Said dan pengikutnya tidak bisa memahami motivasi seseorang yang ingin menjejalahi dunia dan mempelajari budayanya demi kepentingan budaya itu sendiri, tanpa pamrih, sehingga mereka melontarkan tuduhan jahat bagi apa yang tak mereka mengerti:

“Usaha mati-matian yang dilakukan Said untuk melumuri setiap Orientalis dengan motif² murahan tidak hanya tak dapat dimengerti tapi juga gagal untuk menjelekkan benang emas yang terurai di seluruh kebudayaan Barat. Rupanya Said perlu dibertitahu bahwa rasa haus akan pengetahuan orang² Eropa inilah yang membuat masyarakat Timur Jauh tergerak unutk menggali kembali dan menemukan sejarah masa lalu dan identitas mereka. Di abad ke 19 dan awal abad 20, penggalian² arkeologi di Mesopotamia, Syria kuno, Palestina kuno, dan Iran dilakukan seluruhnya oleh orang² Eropa, dan lalu orang² Amerika. Disiplin ilmu Egyptology (budaya Mesir kuno), Assyrialogi, dan Iranologi, semuanya ditegakkan kembali sebagai warisan masa lalu bagi umat manusia, dan usaha ini semuanya dilakukan oleh orang² Eropa dan Amerika. Sebaliknya, Islam malahan dengan sengaja menghancurkan segala budaya pra-Islam, karena umat Muslim menganggapnya sebagai jaman Jahiliyah.”

Ibn Warraq memperingatkan bahwa sebagian “benang² emas” yang beredar dalam budaya Barat bisa berubah menjadi rintangan: Rasionalisme dapat menjurus menjadi saintisme mandul, universalisme bisa mengakibatkan orang kehilangan rasa dimiliki golongan masyarakat tertentu, dan kritik-diri-sendiri tanpa batas bisa berubah menjadi kebencian terhadap diri sendiri:

“Politik luar negeri AS tidak ada hubungannya dengan kematian 150.000 Muslim Algeria di tangan para Muslim lainnya. Akar fundamentalisme Islam adalah Islam itu sendiri. Politik luar negeri America tiada hubungannya dengan kematian wanita yand dirajam gara² berzinah di Nigeria. Semuanya ini berhubungan langsung dengan Islam, dan Syariah. Teori dan praktek Jihad – yang merupakan kebijaksanaan politik bin Laden – tidak diciptakan di Pentagon (pusat Angkatan Bersenjata AS); tapi diambil langsung dari Qur’an dan hadis. Tapi para humanis dan liberal/sayap kiri Barat sangat sukar untuk menerima fakta ini.”

Said berbicara tentang bagaimana Napoleon dalam penyerangannya ke Mesir di tahun 1798-1801 “mencoba membuktikan di mana pun bahwa dia berperang bagi Islam; apapun yang dikatakannya berasal dari Qur’an Arab, demikian pula prajurit² Perancis dianjurkan untuk mengingat kepekaan perasaan orang² Arab.” Para prajurit Perancis mencoba memakai para imam, qadi, mufti, dan ulama lokal untuk mengartikan Qur’an demi keuntungan orang² Perancis. Enam puluh ulama dari Al Azhar yang ahli Syariah diundang ke benteng Bonaparte dan “dibuat bangga atas kekaguman Napolean akan Islam dan Muhammad dan Qur’an, dan tampaknya dia paham benar isi Qur’an. Ternyata taktik ini berhasil, dan tak lama kemudian masyarakat Kairo tidak lagi curiga akan penjajah Perancis.”

Dalam buku From Dawn to Decadence: 500 Years of Western Cultural Life 1500 to the Present, penulis Amerika yang lahir di Perancis bernama Jacques Barzun juga menulis tentang penjajahan Perancis di Mesir:

“Masyarakat pribumi tidak peduli dengan mesin² dan teknik². Yang membuat mereka kagum adalah bagaimana begitu banyak orang Barat mempelajari bahasa Arab dan menjelajahi gurun pasir untuk hal² yang tak penting bagi mereka. Orang² Kairo, ibu kota yang berpenduduk 200.000 orang, hanya suka melakukan hal sepele seperti menyapu jalan dua kali sehari dan membuang sampah. Mereka kaget sekali ketika melihat wanita² Barat tanpa penutup muka, agak kaget melihat bagaimana wajah mereka digambar dengan pensil, dan sangat ketakutan ketika berbagai warna diterapkan di atas gambar wajah mereka, karena menganggap hal ini sebagai guna². Di lain pihak, orang² Barat terpesona dengan lingkungan baru tersebut, cara hidup dan masyarakat Mesir, yang dalam waktu beberapa bulan saja sudah dianggap sebagai sesama warga Perancis. Sikap Perancis ini sangat berbeda dengan sikap orang Inggris di manapun. Di Mesir, orang² Perancis menolerir semua cara hidup, kecuali yang tidak sehat atau kotor. Mereka juga berkencan dengan para Muslimah (seorang Jendral Perancis menikahi Muslimah dan malah lalu memeluk Islam), dan orang² Perancis mempelajari tatacara hidup orang² pribumi tanpa sikap merendahkan.”

Semua contoh ini menunjukkan bahwa jika Perancis harus dikritik, maka ini tentu karena sikap mereka yang tidak kritis akan sebagian hal dalam budaya Islam. Orang bisa melihat bibit Eurabia di dalam kejadian ini. Sebagian intelek dan penguasa Perancis merasa “mengerti” orang² Arab dan Islam dan menganggapnya serupa dengan Kristen. Pada sisi positifnya, sikap ini pula yang melahirkan ilmu Egyptologi.

bersambung…
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said

Postby raja_klenik » Tue Jul 12, 2011 6:32 pm

weleh.. ini ditunggu sambungannya knafa kaga nongol-nongol... :-k
User avatar
raja_klenik
 
Posts: 111
Joined: Sat Mar 27, 2010 10:00 am

Re: Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said

Postby Adadeh » Thu Jul 21, 2011 1:06 am

raja_klenik wrote:weleh.. ini ditunggu sambungannya knafa kaga nongol-nongol... :-k

Lho? Ada yang baca juga rupanya? Biasanya artikel "berat" kayak gini gak laku, sepi komentar.

knafa kaga nongol-nongol.

Udah nongol sih, tapi masih terselip diantara celah celana dalam Muslimah.

Image
:rofl:
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said

Postby papierkorb » Fri Jul 22, 2011 12:25 pm

=D> =D> =D>
sambungannya mana lagi nieh ?
User avatar
papierkorb
 
Posts: 552
Joined: Wed Mar 30, 2011 6:24 pm

Re: Kesalahan Pandangan² Orientalisme Edward Said

Postby fractal daun » Fri Jul 22, 2011 8:31 pm

@senior adadeh.

saya sangat menikmati terjemahan buku ini, apalagi terkait dengan mengkonfrontasi ide-ide dari Edward Said, salah seorang yang "didewakan" dalam bidang kritik kultural.

Adadeh wrote:Lho? Ada yang baca juga rupanya? Biasanya artikel "berat" kayak gini gak laku, sepi komentar.

banyak kok yang membaca terjemahannya pak, salah satunya.

papierkorb wrote:=D> =D> =D>
sambungannya mana lagi nieh ?

setuju.....

salam
FD
fractal daun
 
Posts: 562
Joined: Sat Jun 04, 2011 12:35 pm
Location: pikiran

Postby ali5196 » Sun Jan 08, 2012 7:00 am

ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Center: Hal2 PENTING ttg Islam (Sunni)



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron