.

Demokrasi bukan obat instan utk penyakit didunia islam

Download Tulisan2 Penting tentang Islam; Website, referensi buku, artikel, latar belakang dll yang menyangkut Islam (Sunni) & Syariah.

Demokrasi bukan obat instan utk penyakit didunia islam

Postby pod-rock » Sun Jun 28, 2009 6:24 am

Demokrasi bukan obat instan utk penyakit didunia islam

Oleh: Andrew Stunich

http://www.islam-watch.org/index.php?op ... 21:stunich

Sia-sia memaksa demokrasi didunia islamselama para muslim masih menjadi budak dari sebuah sistem ideologi dan kepercayaan yang hanya menolong para islamis totalitarian mengontrol keuntungan politik, lewat hal yg sepertinya proses sah padahal subversif. Tidak akan mengubah apapun; lihat saja pemilihan umum Hamas dan efeknya pada Palestina dan Israel.

Ada sebuah kekeliruan pemikiran menguat dilingkaran para intelektual, khususnya di barat. Keliru pemikiran bahwa demokrasi bisa menyelamatkan dunia islam dari tiran dan kemiskinan, dan pada gilirannya akan menolong dunia non islam dari terorisme islam.

Bagaimanapun, kepercayaan bahwa demokrasi adalah obat mujarab bagi semua penyakit didunia islam tampaknya benar. Kebanyakan dunia islam tidaklah siap utk demokrasi, dan utk menyeru serta mendorong demokrasi atau peningkatan kontrol atas pemerintahan lewat pemilihan umum akan merusak kestabilan banyak negara yang sudah punya risiko lepas kekaum islamis. Mesir sepertinya menjadi fokus tujuan argumen banyak ahli bahwa demokratisasi akan menimbulkan usaha2 damai di Timur tengah. Tapi, demokrasi akan menghasilkan kontrol islamis yang lebih dalam di Mesir, dan tidak akan menghasilkan damai. Contoh, Anwar Sadat menciptakan perdamaian dengan Israel meski ada perlawanan yg kuat dari masyarakat luas Mesir. Jika dia saat itu dekat pada pemilihan umum, dia tidak akan pernah atau mau membuat perdamaian tsb.

Sia-sia membebaskan orang utk memilih pemimpin mereka sendiri ketika mereka pada saat itu benaknya diperbuak oleh sebuah sistem kepercayaan dan ideologi yang berujung pada kaum islamis mengambil alih kekuasaan lewat jalan subversif, kaum itu akan dengan mudah menang lewat pemilihan umum. Demokrasi dan pemilihan umum tidak akan memperbaiki kondisi dan perdamaian dikebanyakan dunia islamis seperti yg terjadi di Jalur Gaza, dimana Hamas, sebuah kelompok teroris sadis, menang pemilihan umum tahun 2006 serta terus menerus meluncurkan ratusan bom2 ke israel.

Tidak realistis mengharapkan demokrasi membawa hasil lebih baik dibagian dunia islam seperti Mesir, dimana pemerintahan otokrasi mempertahankan kontrol terhadap kelompok islam yang kuat dan berakar dalam seperti Muslim Brotherhood. Demokrasi tidak akan membawa damai dan keadilan sosial terhadap Mesir, sama saja seperti mengharap damai dan keadilan sosial diterapkan terhadap penjara kelas berat.

Ada keyakinan kuat dalam demokrasi barat bahwa prinsip “satu pribadi satu suara” bisa mengontrol pemilihan pemerintahan. Tapi, di Mesir prinsip itu ungkin diterjemahkan “satu orang satu suara” dan penerapannya akan dimanfaatkan partai islam yang akhirnya akan memberi mereka legitimasi yg kuat lewat pemilihan umum, sehingga proses pemilihan tidak akan berkesempatan utk menghilangkan para islamis dari puncak kekuasaan. Akhirnya, “satu suara” hanya berarti menjadi “satu suara paksa” dan pemilihan jadi tak berarti seperti yang terjadi di Iran.

Kata “Demokrasi” berasal dari kata Yunani yang berarti “pemerintahan rakyat.” Dalam bahasa Yunani, ‘demos’ artinya rakyat dan ‘cratos’ artinya pemerintahan. Artinya bahwa demokrasi akan menghasilkan kehendak rakyat sebagai kekuatan dominan dinegeri itu. Jika kehendak rakyat dikontrol oleh islam, artinya islam akan berkuasa. Sesederhana itu.

Semua dorongan utk demokrasi sepertinya akan tercapai di Mesir persis seperti yang terjadi di Iran. Ada kemiripan yang besar antara Pra Revolusi di Iran dan Mesir modern. Husni Mubaak mempertontonkan banyak kualitas yang sama seperti Shah Iran: keduanya ada bagus dan jeleknya. Keduanya bersekutu dengan amerika dan keduanya berusaha memodernisasi negara mereka. Keduanya mengalami perlawanan kuat dari elemen islam. Sebagian tindakan tirani mereka diharuskan oleh kondisi alami yg kejam dari lawan politik islami mereka.

Sebelum demokrasi bisa secara sukses diimplementasikan dinegara2 seperti Mesir, pengaruh islam pada rakyat mesir haruslah dihilangkan lebih dahulu atau dikontrol. Ini hanya akan terjadi oleh kontrol dan dominasi penuh masyarakat mesir itu sendiri, dan pengurangan pelahan pengaruh islam seiring waktu berjalan. Proses itu butuh kontrol media, industri entertainment, sistem pendidikan dan mesjid2, juga bertahun2 pendidikan utk memusnahkan kontrol islam atas nilai2 kepercayaan dan budaya rakyat. Tapi, pendekatan demikian saat ini diluar kuasa atau kehendak pemerintah Mesir. Pada akhirnya, tidak ada kemajuan terjadi melawan pengaruh islam di Mesir, sama dengan model kemajuan yang Kemal Ataturk terapkan di Turki; malahan, pihak oposisi makin menguat. Aliran uang dari Arab Saudi membuat kaum ortodoks islamis menyebar dan menguat; dan Mesir telah kalah, bukannya menang melawan pengaruh islam.

Saya memperkirakan Mesir pada akhirnya akan lepas kepada kaum fundamentalis islam kecuali sesuatu yang dramatis terjadi, seperti reformasi gaya Kemal terjadi, diterapkan untuk mengubah arahnya sekarang ini. Pemilihan demokratis akan mempercepat kematian mesir dan menghalangi segala kemungkinan militer kuat menahan kaum islamis ketika/jika reformasi terjadi, yang mana akan sangat tidak populer, utk mengurangi pengaruh islam akan budaya sana.

Muslim Brotherhood, sekalipun anggota2nya menjadi calon legislatif sebagai pihak ‘independen’, telah membuka jalan kedalam pemerintahan mesir lewat pemilu, dan mengembangkan demokrasi akan mempercepat kemajuan kelompok ini saja. Orang2 seperti Reza Aslan, yang mengajarkan bahwa membiarkan kelompok seperti Muslim Brotherhood kedalam proses pemilihan akan membuat mereka menjadi lebih moderat adalah penipuan terbesarnya. Muslim Brotherhood berindak lebih moderat hanya utk mencari nama belaka, tapi tidak punya niat utk meninggalkan agenda aslinya jika mereka berkuasa nanti.

Salah satu prinsip paling penting tentang islam yang perlu non muslim mengerti ialah bahwa muhammad – orang yang dipercaya oleh Reza Azlan sebagai nabi dan Utusan Allah – berkata: “Perang adalah penipuan”. Ini bukanlah pernyataan yg mengejutkan karena banyak budaya tahu bahwa peperangan melibatkan tipu-tipu. Tapi, penerapan Muhammad akan prinsip ini punya implikasi yang jauh lebih besar dalam budaya islam. Dalam doktrin islam, perang punya arti jauh lebih luas dibanding pengertian budaya barat. Doktrin dan kepercayaan islam membagi dua umat manusia menjadi: Dar al-Islam, yakni dunia islam, dimana islam berkuasa dan Dar al-Harb, yakni dunia perang melawan non muslim. Islam mengajarkan bahwa kewajiban muslim adalah menyebarkan islam dengan segala cara. Diikuti dg pengertian bahwa fundamentalis islam memakai penipuan sebagai cara utk meningkatkan agenda islam mereka kapan dan dimanapun itu bisa dilakukan. Prinsip ini dipahatkan dalam pemikiran mereka sebagai kepercayaan religius. Mereka diajarkan sejak lahir bahwa Muhammad harus secara total dipatuhi, dan hidupnya adalah pola terindah yang harus diikuti setiap muslim. Bagi para islamis, penipuan yg dipakai utk meningkatkan kemajuan islam bukan hanya masalah pragmatis, tapi adlah jalan utk menunjukkan pengabdian mereka pada muhammad dan allah, dan utk berperang hingga islam akan superior. Muhammad sendiri memakai penipuan utk keuntungannya, dan **** sekali mengharapkan muslim, yg sejak lahir berulang2 mengatakan “Tidak ada tuhan selain allah dan Muhammad adalah utusannya.” Utk mencoba dan mengikuti ‘teladan’ Muhammad hingga meniru seluruh kehidupan Muhammad sepanjang pengetahuannya.

Ayatollah Khomeini secara ahli memakai penipuan utk berkuasa di Iran dengan menjanjikan demokrasi dan awalnya bekerja sama dengan non muslim serta kelompok2 muslim liberal lainnya, tapi pada akhirnya dia menjadi tirani yang jauh lebih parah dibanding Shah segera setelah dia berkuasa penuh. Karena, mereka tidak mengerti tentang islam, barat yg mudah ditipu menerima begitu saja pernyataan2 palsu Khomeini. Usaha2nya didukung oleh barat yg tidak tahu, yg gagal menyadari bahwa meski Shah Iran memang punya banyak kelemahan, tapi bekerja sama dengan Shah utk mereformasi masyarakat iran sebenarnya solusi yg lebih tepat, dan mendukung penggulingan Shah iran Cuma memunculkan tirani lebih besar bagi Iran dan Dunia.

Kesalahan atau taktik yg sama dijalankan lagi. Benar sekali bahwa sejarah selalu berulang. Saya melihat Presiden Obama, memuji-muji ahli Timur Tengah seperti Bernard Lewis dan pembela islam sayap-kiri seperti Reza Aslan – semua menyerukan demokrasi utk timur tengah. Seorang Filsuf pernah berkata, “hati-hati dengan hasrat mudamu karena anda mungkin mendapatkannya seiring umurmu bertambah.” Presiden Obama dan para ‘ahli’ ini sebaiknya berhati-hati karena jika nanti mereka mendapatkan ‘demokrasi’ tsb, mungkin mereka akan menyesalinya juga.

Dapat dimengerti bahwa orang yg hidup dalam dunia demokrasi yg berfungsi ingin melihat keuntungan serupa tersebar kedunia lain. Tapi, dg hormat thd dunia islam, kita perlu kebijakan dan keberanian utk mengerti betapa jahat dan merusaknya pengaruh islam itu, dan kita perlu mengurangi bahkan meniadakan pengaruh tsb sebelum mencoba menerapkan demokrasi ditempat2 seperti Mesir. Saya takut jika kita membuat persepsi salah, dan tidak tahu sifat asli dari Islam akan menyebabkan tambah eratnya genggaman kelompok radikal islam di Timur tengah, dan berakibat buruk bagi dunia luas lainnya. Saya terpaksa menulis bahwa saya meragukan Reza Aslan, saya pikir dia salah dan sedang menerapkan strategi dari buku2nya Khomeini, meski saya tidak yakin apa motifnya. Saya sudah baca bukunya dan percaya dia sangat-sangat menipu dalam analisanya tentang islam.

Satu-satunya cara kita melindungi diri dalam jangka panjang, dan melindungi juga muslim2 moderat yg tulus ingin hidup damai dengan non muslim, adalah secara pelahan menghapus pengaruh islam. Cara lain tidak akan jalan. Saya belum melihat model2 lain sukses dipakai utk melonggarkan genggaman islam kedalam budaya selain pendekatan yang dipakai oleh Kemal Ataturk di Turki. Tapi, Turki sendiri sekarang makin kehilangan gaya mereka seiring memudarnya popularitas Kemal Ataturk, dan meningkatnya fundamentalis2 islam. Bahkan dinegara islam seperti Turki yang di masa lalu telah memijakkan kaki kearah modernitas dan kebebasan, pengaruh islam terus menyebabkan masalah2, dan menghalangi kemajuan; dan dimana islam mempengaruhi benak orang2, mereka menjadi budak dalam tingkatan yg berbeda-beda, dan mereka tidak akan pernah kenal kebebasan sejati, demokrasi sejati, atau kedamaian sampai mereka membebaskan diri dari genggaman jahat islam.

Kita tidak akan pernah sepenuhnya aman dari terorisme islam, dan para muslim tidak akan pernah sungguh2 bebas sampai, seperti kata Winston Churchill, “Iman Islam berhenti jadi kekuatan hebat diantara manusia.”
User avatar
pod-rock
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Return to Resource Center: Hal2 PENTING ttg Islam (Sunni)



Who is online

Users browsing this forum: No registered users