.

MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?

Download Tulisan2 Penting tentang Islam; Website, referensi buku, artikel, latar belakang dll yang menyangkut Islam (Sunni) & Syariah.

MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?

Postby Gus Kusnanto » Tue Jul 17, 2007 6:31 am

Awal September 2006 diberitakan bahwa Alqaida, organisasi massa Islam bergaris keras, menyerukan agar presiden Bush dari USA dan perdana menteri Blair dari Inggris untuk memeluk agama Islam.

Image
Bush dan Blair tertawa terbahak2 ketika mendengar suruhan Al Qaeda utk masuk Islam :lol:

Seruan ini sungguh luar biasa mengingat di dunia modern agama apapun sudah tidak laku sebab rasio mereka yang tinggi menandaskan bahwa Tuhan lebih penting daripada agama, jadi mereka bukan mencari agama namun mencari Tuhan, mereka tidak berhenti mempelajari Tuhan pada kitab suci tertentu edisi ribuan tahun yang lalu – namun terus menerus mencari tahu akan Tuhan melalui banyak cara, misalnya ilmu pengetahuan, seperti kloning, nano teknologi, super komputer, genome, big bang, artificial intelligence, dst.

Dan mereka mempunyai kata bijak demikian: “Beragama belum tentu berTuhan (lihat banyaknya kriminalitas dan ketidakadilan di negara yang justru beragama dengan ketat); sedangkan ber Tuhan artinya tetap religius walau tidak beragama”. Mereka juga berpendapat bahwa banyak agamawan telah melakukan dosa besar sebab telah berani membatasi ke Maha Besaran Tuhan menjadi hanya sebatas buku tipis yang disebut kitab suci!

Hampir 90% pemenang hadiah Nobel menandaskan tidak memeluk agama lagi! Sebaliknya, bagi orang di negara terbelakang atau negara berkembang agama memang masih lebih penting daripada Tuhan, ini mereka sebut “masyarakat yang sedang mendem/mabok agama”.

Teriakan petinggi Alqaida untuk memeluk agama Islam terkesan sombong sekali bagi manusia modern. Bagi sementara Muslim, seolah-olah Islam adalah agama sempurna dan yang terakhir, mereka juga sering mengkafirkan dan menyerang agama lain (terutama Kristen) melalui buku-buku murahan/picisan yang dapat dibeli dengan mudah di berbagai kota di Indonesia, tanpa dapat dilawan; sebab buku/artikel yang mencoba meluruskan isu yang tidak benar ini selalu dilarang terbit atau pengarangnya dituntut di pengadilan, atau bahkan diancam dengan kekerasan, bahkan mungkin saja dibunuh!

Artikel ini akan mencoba menganalisis dan mengkritisi agama yang mengaku sempurna ini dari segi penalaran/logika. Kontributor utama artikel ini adalah tiga orang profesor dari luar negeri, Indonesianis, yang berdiskusi panjang lebar tentang agama, kebudayaan, nalar dan Tuhan di Yogyakarta. Mereka adalah dari Jepang, Inggris, dan Australia. Sebagai ilmuwan yang sudah tua dan sudah makan asam garam dunia, mereka ingin memberikan sumbang saran pemikiran.

Intisari pembicaraan mengatakan bahwa Islam memang akan dapat menguasai dunia apabila dapat menjelaskan secara logik/nalar ajaran2nya kepada para calon pemeluknya, terutama kepada para cendekiawan/scientiests yang kebanyakan sudah tidak peduli dengan agama. Tantangan ini kiranya juga dapat diberlakukan bagi agama lain (jadi bukan hanya untuk Islam).

Apabila kelemahan dalam penalaran seperti tersebut dibawah ini bisa diatasi, maka Islam memang layak menjadi agama nomor satu didunia. Menurut mereka, dinegara modern, apa saja dapat diperdebatkan atau didiskusikan, termasuk agama, sebab debat dan adu argumentasi akan meningkatkan inteligensia (IQ) dan EQ, asalkan kaki, tangan dan emosi (kelahi) tidak boleh disertakan dalam debat!

Image

Larang-melarang diskusi/debat menunjukkan tingkat kecerdasan yang masih jauh tertinggal, last but not least: semua manusia cerdas pasti gemar berdebat, Tuhan sendiri adalah Maha Cerdas, jadi Tuhan pasti menyukai debat! Selain itu, manusia yang hanya hidup di lingkungannya, sebagai misal: orang Kristen hanya diwilayah kristen, orang Islam di wilayah Islam, orang Budha hanya kumpul dengan kelompok Budha, maka jelas akan terjadi manusia yang bersifat “Katak dalam tempurung”.

Larang-melarang diskusi/debat agama atas dalih keyakinan biasanya diperintahkan oleh pemuka agama demi kelanggengan dominasi mereka menguasai agama dan Tuhan untuk alasan politis, kekuasaan dan finansial. Ketiga Professor itu berpesan: “Jika suatu agama hanya mengakibatkan beban bagi umat manusia dan negara, menguras devisa negara, membuat kemuduran bangsa, bertentangan dengan logika/nalar, serta justru membatasi Tuhan dan mengkotak-kotakan manusia sehingga menyebabkan perpecahan bangsa, maka sebaiknya agama semacam itu ditinggalkan saja; pilihan terbaik adalah hidup secara religius tanpa beragama.” Berikut ini intisari pendapat ketiga ilmuwan tsb.

1. Muhammad mengaku menerima kitab suci dari langit secara langsung (“tiban”), padahal bukti-buktinya (kitab) tidak ada.
Seandainya kitab suci itu ada, seperti apakah maha karya Tuhan itu - semaha indah seperti apa, apakah tulisan tangan, atau sudah pakai komputer dengan Microsoft Word dan dicetak dengan laser printer?

2. Bukankah semua ilmu pengetahuan dan teknologi berasal dari hal yang sangat sederhana, misalnya: dalam matematika: satu tambah satu = dua, dalam Fisika: hukum Pascal, Archimedes, bejana berhubungan, dalam ekonomi: hukum permintaan, dst., sampai dengan yang amat canggih (atom, komputer, genetik, DNA), semuanya adalah jerih payah manusia selama ribuan tahun di laboratorium-laboratorium, dan tidak ada yang bersifat “tiban”. Sejarah membuktikan bahwa Tuhan belum pernah menurunkan hukum2 atau kaidah2 ilmu pengetahuan, agama dan teknologi dari langit secara langsung (tiban), misalnya dalam bentuk Kitab Suci Ilmu Pengetahuan dan Teknologi!

3. Seandainya ada klaim dari seorang nabi tertentu yang menyatakan Tuhan telah menurunkan kitab maha suci bernama X langsung dari surga (tiban), dapatkah ia membuktikan keberadaan kitab itu?

Catatan tambahan penulis: Tanpa ada bukti adanya kitab tiban itu, bukankah ini bagaikan Soeharto (mantan presiden RI) yang mengaku menerima Supersemar (yang sampai saat ini belum diketemukan aslinya), kemudian menggunakan surat khayal itu untuk berkuasa dan memperdaya bangsanya (k.l. 200 juta dan yang s/d saat ini belum sadar tertipu!). Tidak hanya Supersemar, sejarah 1965pun, direkayasa regim Soeharto. Dan setiap usaha meluruskannya, selalu dilawan dengan kekerasan.

Menurut kaum Moslem, Alqouran yang ada adalah hanya salinan dari yang asli (tiban), yang ternyata isinya mirip kitab suci orang Yahudi dan Kristen dengan tambahan-tambahan yang sulit diterima akal seperti terbukti dibawah ini dan menurut ahli bahasa banyak kesalahan bahasanya (lihat artikel di www.faithfreedom.org ATAU http://indonesia.faithfreedom.org/forum). Bukankah klaim kitab suci tiban (Alqouran) ini tidak nalar? Tidak adanya Alqouran yang asli ditambah adanya larangan menayangkan wajah nabi Muhammad (benar adakah si Muhammad itu?), membuat manusia yang cerdas dan mau berpikir kritis beranggapan bahwa Alqouran beserta nabinya adalah rekayasa manusia Arab yang genius. Ingat, kitab suci agama lain dapat dibuktikan secara historis. Ingat, agama lain, selain Islam, adalah buah tangan manusia dengan bukti-bukti historis yang nyata dan benar.

4. Alqouran/Muhammad mengajarkan hukum dan aturan yang bersifat: mudah usang dimakan oleh jaman, statis, beku, tidak adil, bias gender, sulit diterapkan, berlaku lokal/regional (setempat), kurang menghormati hak asasi manusia, sadistik, ruwet serta banyak ayat2 yang tidak rasional dan ambigu/bias.

Berikut ini penjelasan hukum-hukum itu, misalnya saja: cara berpakaian (jilbab); hukuman yang bersifat sadis dan membuat cacat, misal potong tangan, penggal kepala dan dilempari batu; cara berpuasa yang tidak adil dan tidak rasional berdasarkan terbit-tenggelamnya matahari tanpa mengingat pembagian waktu dibelahan bumi yang berbeda-beda, ingat dikutub-kutub bumi, dimusim dingin matahari hanya muncul kurang dari 2 jam; pria boleh poligami, wanita tidak boleh poliandri (rasio laki: perempuan disuatu daerah tidak menentu); sex dianggap kotor, sehabis melakukan hubungan sex, pelaku wajib keramas; cara berdoa yang rumit; wanita baru mens dianggap kotor dan wanita dianggap sumber napsu berahi maka badan wanita harus dibungkus dari ujung kaki s/d kepala, cukup kelihatan mata saja; wanita mempunyai hak waris lebih sedikit, ini sungguh sangat bias gender dan tidak adil; cara berdoa yang terpisah antara pria dan wanita; anggapan wanita yang sedang datang bulan sebagai kotor; bias binatang: binatang anjing yang mempunyai kecerdasan tinggi dan penyayang manusia (mampu berteman dengan sangat akrab, dan sangat bermanfaat bagi manusia) di najiskan, misal tidak boleh kena air liurnya; babi yang sangat mudah diternakan dan dagingnya sangat lezat (yang menjadi sumber daging utama dinegara non Moslem) di haramkan; cara membunuh hewan yang kurang berperikehewanan (digorok lehernya); orang pindah agama diancam hukuman mati (ini melanggar sifat Tuhan yang Maha Demokratis dan menghormati hak asasi); mengklaim paling benar dan mengatakan kafir pada kelompok lain, kemudian menambahkan ajaran jihad yang bila dipadukan (kafir dan jihad) dapat dipakai sebagai alat politik yang ampuh; dan sebagainya.

Image
Zawahiri : 'Dasar kafir ! Gua minta video Pamela Anderson, malah gua dikasih Jay Leno ! Udah gitu Made in China pula ! Balikin duit gua !! Jihad ... Jihaaaaaad ... Alahhhhu AKbar ... Allahhhu Akbar !!'


Hukum2/aturan2 yang semacam ini bukankah justru melecehkan Sang Pembuat (=Tuhan) karena mencerminkan bahwa sang pembuat kok sebegitu tolol, padahal katanya Tuhan itu Maha Cerdas, mengapa aturannya kok sebegitu mudah usang, bersifat lokal/regional dan irasional, serta banyak mengandung kekerasan dan kekejaman? Jadi, siapa yang tolol: Muhammad atau Tuhannya Muhammad?
Bila Muhammad yang tolol, bukankah yang percaya kepada Muhammad lebih tolol lagi?

5. Alqouran/Muhammad mengajarkan cara berdoa yang tidak logis. Sembahyang lima waktu berdasar terbit-tenggelamnya matahari, kembali lagi, Tuhannya Muhammad kurang mengerti/menyadari ciptaannya sendiri bahwa dikutub-kutub bumi, seringkali siang dan malam itu hampir tidak ada sama sekali! Selain itu, berdoa (dan berkotbah) dengan alat pengeras suara yang demikian hingar bingar menyiratkan bahwa Tuhannya Muhammad mengalami kesulitan/cacat pendengaran, disamping itu hal ini sangat mengganggu ketenangan, ketentraman, dan kepentigan umum (melanggar HAM).

Demikian pula aturan bahwa pria dan wanita harus terpisah saat sembahyang, dan bila saling senggol sudah dianggap kotor, menunjukan atau mengajarkan/membiasakan pikiran yang mesum bagi umatnya. Aneh dan tidak logis, tuhannya Muhammad kurang cerdas dan suka berpikiran mesum/munafik, cacat pendengaran, dan suka mengusik ketenangan umum.

6. Karena Alqouran tidak memakai perumpamaan2, maka ayat2nya yang mudah usang dan tertinggal jaman seringkali membingungkan umatnya (karena bias, misal: haram-halal, kafir, memandang rendah wanita, bunga bank, dst.).

Contoh lain yang sangat aktual adalah ayat-ayat yang diungkapkan oleh banyak penulis di forum internet, misalnya tentang ayat2 yang mendasari: bunuh diri dan membunuh orang lain, jihad, dan mengkafirkan keyakinan lain, yang semuanya ini menjadi dasar suburnya terorisme. Karena ayat2 itu boleh dikata menjadi sumber terorisme, maka tanpa dapat di update, bahaya terorisme didunia ini akan selalu mengancam.

Dan ancaman ini terbukti terjadi mengingat adanya klaim bahwa Muhammad adalah nabi terakhir sehingga mengakibatkan agama Islam menemui jalan buntu untuk dapat direformasi dari ayat2 yang bias, sudah usang dan tertinggal jaman. Kalau tidak ada nabi baru setelah Muhammad, lalu melalui siapa bila Tuhan ingin mereformasi kitab suci Nya?

Menurut petuah orang bijak: Pakaian dijahit untuk manusia, jadi bukan manusia dijahit untuk pakaian. Maka, kalau ukuran manusianya berkembang seiring waktu, pakaian sering kali menjadi sesak, maka jahitannya perlu disesuaikan, bukan manusianya dikecilkan/dioperasi agar pas dengan pakaiannya.

Mirip dengan kebijakan diatas, agama itu untuk manusia, bukan manusia untuk agama; jadi kalau ada ayat2 yang sudah tidak layak lagi atau sangat membingungkan, maka kitab suci tsb. harus di update. Bukan manusianya dipasung untuk tetap menerima ayat yang sudah sulit diterima akal, dan juga bukan Tuhannya yang dimasukan kejalan buntu (karena tak ada Nabi baru lagi), serta bukan Tuhannya selalu dipenjarakan kemasa lalu.

Bukankah dengan pernyataan Muhammad seperti itu justru menandaskan bahwa Islam adalah agama masa lalu yang tidak punya masa depan lagi?

Bukankah hal ini mengakibatkan perpecahan dan/atau pertumpahan darah diantara sesama umat Islam sendiri yang menginginkan reformasi Islam, misal antara Suni, Ahmadiah dan Siah, antara Muhammadiah dan NU, antara kolot dan liberal, dst.? Dimana mereka juga akan saling klaim lebih Islami, dan mungkin akan disertai kekerasan/pembunuhan/pertempuran?

Sungguh sulit dimengerti dan dipercaya oleh nalar, bahwa seorang manusia justru berani membatasi Tuhannya dengan mengaku bahwa ia adalah nabi terakhir!

7. Kontradiksi logika lain dalam Alqouran/Muhammad adalah adanya ayat yang menandaskan bahwa agama Islam adalah agama terakhir yang sempurna, tanpa cacat cela; namun dalam ayat yang lain ditandaskan bahwa Alqouran hanya bagaikan setitik pasir dipantai dibandingkan Tuhan!

Salah satu ayat Alqouran dengan tegas menandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah dituliskan, maka tinta satu samudrapun tidak akan cukup! Jadi Alqouran dan Islam adalah amat sangat maha terbatas sekali, dan Tuhan adalah amat sangat Maha Tak Terbatas! Dengan demikian, klaim bahwa Islam adalah agama yang sempurna merupakan kontradiksi yang luar biasa! Klaim agama yang sempurna ini juga merendahkan martabat Tuhan mengingat sesuatu yang Maha Sempurna dan Tak Terbatas kok cukup ditulis dan diwadahi hanya dalam buku setipis Alqouran (yang kurang dari 1000 halaman).

Klaim ini juga menyiratkan bahwa Tuhan itu seolah-olah beragama Islam; hal ini adalah maha kayal sekali; bagaimana Sang Maha Cerdas dan Maha Sempurna dapat diwadahi pada sesuatu yang maha sempit, maha terbatas, dan banyak yang tidak nalar? Klaim ini juga menyiratkan bahwa bagi Muhammad – kebenaran itu absolut bukan relative, sungguh paham yang sangat membahayakan perbedaan pendapat bukan?

8. Jika Tuhan itu ada, maka Ia pasti sesuatu yang hidup, sangat dinamis bukan statis; mengingat aturan2 dalam Alqouran seperti dibahas diatas ternyata bersifat kaku, beku, dan statis (dan banyak yang sudah ketinggalan jaman, serta tak bisa di update karena Muhammad diklaim sebagai nabi terakhir) maka ini merupakan kontradiksi logika yang parah juga. Ini juga merendahkan martabat Tuhan yang Maha Dinamis, Maha Tak terbatas dan Maha Sempurna. Agama Islam lalu bagaikan agama yang telah mati, karena hanya memiliki masa lampau tanpa memiliki masa depan.

9. Alqouran/Muhammad memuat logika yang saling kontradiksi. Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar; namun Muhammad mengaku sebagai nabi terakhir. Mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas dan Maha Besar (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang SANGAT TERBATAS (Muhammad, umur manusia k.l. 80 tahun saja)! Nabi agama lain tidak ada yang berani membatasi Tuhannya! Setelah Muhammad ternyata masih banyak nabi bermunculan, silahkan cari di internet dengan mengetik: New Religion di www.google.com; contoh nabi lain misalnya Yoseph Smith pendiri gereja Mormon di tahun 800 (k.l 400 thn setelah Muhammad).

Jika Allah bisa digambarkan sebagai garis lurus berawal dari minus tak terhingga (tak tahu kapan awalnya = alpha) dan berakhir di plus terhingga (tak tahu kapan berakhirnya = omega), maka mana mungkin seorang manusia yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 75 tahun) mampu menjelaskan sendirian secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi, dan masih terus berkembang, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan!

Ilmu Fisika tidak boleh diberhentikan cukup pada Newton saja, bukan? Masih ada Einstein, ada Quantum, dst., bukan? Adalah sangat kayal, pabila Newton menyatakan bahwa ia adalah Fisikawan terakhir dan hukum Newton adalah hukum Fisika terakhir yang sempurna, dan Tuhanpun beraliran fisika Newtonian!

Sesuatu Yang Maha Tak Terbatas (Tuhan) diklaim cukup dijelaskan oleh hanya seorang manusia yang amat sangat terbatas (Muhammad) dalam sebuah buku (Alqouran) yang sangat terbatas (tipis), edisi lama, dan tak pernah dapat direvisi pula, ini adalah maha kontradiksi! Ini bagaikan menggembalakan kambing dengan mengikat kakinya pada seutas tali sepanjang 5 m, kambing itu boleh berkeliaran dalam radius 5 m, tapi tidak boleh lebih dari 5 m; demikian pula dengan Islam, Islam bagaikan mengikat tuhannya dengan tali (Alqouran), sehingga tuhannya orang Islam terikat dan dibatasi pada “area waktu” yaitu sebatas abad 4; setiap usaha mengupdate kebenaran tentang tuhan, pasti dilawan, seringkali dengan kekerasan.

10. Secara umum dikatakan bahwa Tuhan itu menghormati hak asasi manusia (HAM). Namun hal ini tidak tercermin dalam Islam.

Pindah agama dapat dikenai hukuman mati; kawin campur antara wanita Muslim dengan pria agama lain tidak diperkenankan; cara berdoa yang mengganggu ketentraman umum; mengkritik agama atau berbeda pendapat dengan lembaga tertinggi agama dapat di fatwa hukuman mati. Kalau demikian, bolehkah dikatakan: “Tuhannya Islam” suka melanggar HAM?

11. Pria Muslim dapat menikah dengan wanita non Muslim, tapi sebaliknya tidak berlaku. Pria boleh nikah lebih dari satu istri (poligami), tapi sebaliknya tidak berlaku. Pria boleh jadi imam, tapi sebaliknya tidak berlaku. Pria mendapatkan warisan yang lebih banyak dari pada wanita, dst. Kalau demikian, bolehkah dikatakan: “Tuhannya Islam” sangat bias gender dan tidak adil?

12. Demikian pula dengan adanya ayat yang mengkafirkan keyakinan/pendapat/ajaran lain. Alqouran tidak mengenal agama selain Islam (3:85). Alqouran mengutuk orang yang tidak percaya Islam agar masuk neraka (5:10), dan mengelompokan mereka sebagai najis/kotor (9:28); Alqouran juga memerintahkan untuk memerangi mereka sampai tidak ada agama selain Islam didunia ini (2:193); Alqouran juga memerintahkan untuk membantai atau menyalib atau memotong tangan dan kaki pada orang yang tidak percaya Islam dan mengusir mereka keluar daerah dengan cara yang memalukan!

Nampak bahwa Islam tidak seiring dengan sifat Tuhan yang menghormati pluralisme dan penuh kasih sayang. Tuhan menciptakan berbagai suku bangsa, berbagai jenis hewan dan tumbuhan, lalu Tuhan menciptakan matahari untuk menyinari semua ciptaanNya, bukan hanya untuk golongan tetentu saja. Berapa ratusan fatwa ulama Islam telah diterbitkan untuk melanggar HAM? Ini merupakan kontradiksi logika yang hebat.

13. Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan.

Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).

Cobalah sekali-kali membandingkan kehidupan Muhammad dengan Budha dan Yesus, jauh sekali bedanya! Budha dan Yesus tidak menciptakan agama (murid-murid mereka yang mendirikan agama), tidak membatasi Tuhan, tidak suka kekerasan (sebaliknya penuh kasih sayang), dan perilaku kehidupan mereka luar biasa salehnya!

Image

14. Dalam kariernya, Muhammad melakukan: 47 pertempuran, pembantaian orang Yahudi, pemenggalan kepala masal (dimana Muhammad hadir), dan pembunuhan terencana tokoh Arab yang menjadi lawan politiknya di Medina.

Perangainya yang suka kekerasan sangat mewarnai berbagai ayat yang mentolerir kekerasan dalam Alqouran, sebagai contoh ayat2: (2:191), (9:123), (9:5), (8:65 ), (25:52), (66:9), (47:4) dan (9:29). Ini merupakan kontradiksi yang menarik, seorang nabi kok gemar kekerasan dan bersifat sadis!

Image

Menurut para ilmuwan diatas, Muhammad lebih tepat bila disebut politisi daripada nabi. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Alqouran lebih mencerminkan watak Muhammad yang keras dan sadis dari pada watak Tuhan yang penuh kasih sayang!

15. Pengakuan resmi dan pemberian kedudukan yang amat luar biasa tingginya dalam Alqouran terhadap Yesus, yang dikenal sebagai Isa, yaitu sebagai: nabi Ulul Azmi (nabi yang memiliki keunggulan dibandingkan nabi-nabi yang lain), bahkan Isa juga diberikan atribut yang indah yaitu sebagai pemuka manusia baik di Bumi maupun di Langit (sebagai referensi tambahan: Alwi Shihab, mantan menteri dan petinggi NU, harian Kompas tertanggal 18 Desember 2003), serta pernyataan bahwa nabi Isalah yang akan menjadi hakim paling adil di akhir jaman nanti membuat Alqouran kehilangan kekuatan magis dan super naturalnya, serta menjadikan Muhammad nabi kelas bawah (apalagi bila hal ini sering diungkapkan ke publik, maka lebih baik jarang diungkapkan/diendapkan).

Image

Aliran Ahmadiah juga menghormati nabi Isa dan juga menantikan kedatangan kembali nabi Isa. Bila Isa adalah hakim di akhir jaman (kiamat) dan sangat dihormati, maka sudah selayaknya Isa dihormati, dan ajaran Isa semestinya diajarkan dalam Islam sebab nantinya Isa tentu saja akan mengadili manusia menurut ajaran Isa pula; namun ternyata ajaran Isa justru tidak diajarkan dan Isa diperlakukan bagaikan musuh.

Ini juga merupakan suatu kontradiksi yang hebat, seorang nabi yang terunggul menurut Alqouran justru dimusuhi!

16. Muhammad, dalam Alqouran, juga menganjurkan pada pemeluknya untuk belajar sampai ke negeri Cina. Perlu diketahui, saat itu adalah jaman keemasan agama Budha.

Ini berarti, Muhammad secara tidak langsung menandaskan bahwa Budhism jauh lebih baik dari ajaran beliau! Atas pernyataan Muhammad sendiri itu (poin 15 dan 16), maka Islam adalah bagaikan agama yang rangking sekian - dibawah; tidak mengherankan manusia cerdas berkulit putih (Eropa) dan kuning sipit (Jepang, Korea, Taiwan, RRC) sulit menerima Islam mengingat Muhammad kurang yakin atas ajarannya sendiri!

17. Konsep ke esaan Tuhan dalam Islam terlalu sederhana untuk melukiskan ke Maha Besaran Tuhan. Dalam agama Hindu, Tuhan digambarkan dengan indah sekali sebagai kekuatan 3 dewa: perusak, pemelihara, dan pencipta.
Image

Dalam agama Kristen, Tuhan digambarkan sebagai Tri Tunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus; sebagai gambaran: air dapat berupa fase cair, uap dan padat (es), atau sekaligus ketiga fase itu hadir bersama, namun ia tetap satu yaitu air; kebetulan umat Kristen telah bersentuhan dengan Tuhan secara manusiawi liwat fase Es (Isa), maka tidak heran bila mereka lebih sering menyebut Isa/Yesus (Es) daripada Tuhan (air).

Image

Untuk lebih memperjelas lagi, sebagai ilustrasi: dalam Islam seolah-olah manusia yang esa/tunggal/satu itu ya manusia, titik. Agama lain menggali manusia lebih jauh lagi, misalnya ternyata manusia yang satu itu terdiri atas roh, pikiran dan jiwa, dimana ketiganya bisa dirasakan kehadirannya, namun tetap menyatu (esa) dalam diri manusia.

Semua konsep tentang ke Esaan Tuhan ini (dan juga IPTEK)  dirumuskan oleh manusia, tidak ada yang jatuh dari langit (tiban), jadi mungkin dapat saja salah, ini tidak masalah mengingat manusia belum selesai atau tidak akan pernah selesai memahami Tuhan!

Sayang sekali, ada sementara orang yang pengetahuannya/konsepnya tentang Tuhan hanya sedikit dan sederhana sekali, namun justru memarahi atau bahkan mengkafirkan manusia lain yang pengetahuannya tentang Tuhan justru lebih banyak!

Ini bagaikan ilmuwan Blaise Pascal memarahi ilmuwan Einstein! Ini juga kontradiksi nalar. Ibarat manusia yang pengetahuan matematiknya haya terbatas pada tambah, kurang, kali, bagi – kok menyalahkan manusia yang tahu bilangan imaginer bersama diferensial integral!

18. Dengan banyaknya ayat2 yang kontradiksi dengan nalar, maka cara menyebarluaskan agama Islam adalah dengan sistim pendidikan yang memaksa dan searah (brain washing, doktriner, menghindari debat dan diskusi), serta harus dimulai sejak kecil (pengajaran disertai hal2 yang tidak nalar dan menakut-nakuti anak kecil: misal dibakar dan ditusuk saat dineraka, mau masuk surga ditanyai agamanya apa, dst.); dan melalui politisasi agama - direkayasa berbagai aturan yang bertentangan dengan nalar dan HAM untuk melindungi agama Islam, misalnya: melarang kawin campur dan melarang pindah agama, mewajibkan hukum syariah untuk suatu daerah/negara, sistim pendidikan yang porsi jamnya banyak dihabiskan untuk agama, ancaman perusakan, kekerasan s/d pembunuhan bagi yang mengkritisi Islam (fatwa mati), dsb.

Pikiran modern yang berusaha mengupdate ayat2 yang sudah ketinggalan jaman ini sering dilawan dengan kekerasan, tak jarang pengusulnya difatwa hukuman mati. Tidak mengherankan bila sampai dengan detik ini belum ada negara Islam yang demokratis dikarenakan banyaknya kontradiksi logika dalam Islam yang harus dijagai dengan kekerasan dan kediktatoran. Padahal sifat Tuhan adalah logis dan demokratis, serta suka berdebat sebab Maha Cerdas, maka ini adalah kontradiksi nalar lagi!

19. Muhammad/Alqouran mengajarkan penyembahan berhala yaitu batu besar yang disebut Ka’bah yang harus disembah dan menjadi kiblat doa umat Islam.

Image
Untuk melihat dan berdoa disekitar Ka’bah, biayanya sangat besar, namun Alqouran menganjurkan untuk dapat kesana sampai 7 kali! Kiblat doa ke Ka'bah juga akan menyulitkan bagaimana seorang astronaut Muslim harus berdoa diatas pesawat antariksanya (Ka'bah dibawahnya). Benarkah Tuhan menginginkan agar Ia disamakan dengan sekedar batu besar? Ataukah ini keinginan Muhammad untuk memperkaya negara, lembaga dakwah dan agamanya? Sungguh tidak nalar.

20. Muhammad/Alqouran mendesain penjajahan kebudayaan bagi negara penganut Islam dengan cara: mengharuskan menggunakan bahasa Arab dan meniru cara berpakaian, berdoa, berseni, dan bernegara (politik, hukum dan perbankan).

Dengan strategi ini, otomatis kebudayaan Arab akan mewabah, sebaliknya kebudayaan/keyakinan setempat akan tertindas. Benarkah Tuhan menginginkan bahasa dan kebudayaan Arab yang levelnya masih jauh tertinggal dibanding beberapa kebudayaan lain sebagai ‘terpilih internasional’? Atau ini sekedar keinginan Muhammad? Apakah ini bukan politisasi kebudayaan dengan mengatas namakan Tuhan, sungguh tidak nalar.

20. Muhammad/Alqouran mengajarkan bahwa ada bulan suci yaitu Ramadhan (bias waktu), ada tempat suci yang disebut Mekah (bias tempat), kemudian menyatukannya dengan ajaran bahwa wajib bagi umat Islam untuk pergi naik haji ke Mekah dengan diberi imbalan kepastian naik surga, gelaran tamu Allah dan pengampunan dosa setahun.

Dengan demikian, umat Islam tergerak untuk bolak-balik naik haji ke Mekah walau membutuhkan biaya banyak dan kalau perlu harus menjadi miskin (bagi yang ekonomi menengah/lemah).

Benarkah Tuhan menginginkan DiriNya atau SurgaNya dijual semurah itu? Benarkah Tuhan menginginkan ajaranNya menjadi mesin pencuci dosa (ada money laundry, ada sin laundry)?

Bukankah ini suatu bentuk ketidak adilan karena yang kaya bagaikan mampu membeli surga sedangkan yang miskin lalu tidak mampu membeli surga (katanya Tuhan Maha Adil)?

Image
Jamarat ritual in Mina, outside of Makkah, February 11, 2003.

Bukankah hal ini akan menyebabkan suatu negara terjerembab menjadi bangsa yang hipokrit-munafik karena penguasanya yang hobi berbuat KKN dan suka melanggar HAM ternyata merasa sama sekali tidak bersalah/berdosa atau bahkan merasa suci-bersih kembali dengan hanya cukup naik haji atau cukup berpuasa?

Bukankah bagi negara diluar Arab, hal ini mengakibatkan terkurasnya devisa/uang setempat, pemiskinan masyarakat lokal, dan menumbuh suburkan pelaku KKN dan pelanggar HAM? Sedangkan bagi negara Arab, agama dibuat kedok sebagai penghasil “devisa pariwisata”.

Benarkah Tuhan menginginkan hal setolol ini, menguras negara miskin, memakmurkan negara kaya? Benarkah Islam hanya sekedar sin laundry?

21. Alqouran mengajarkan umat Islam untuk beragama namun dengan sifat tidak percaya diri (PD).

Berbagai main larang-melarang buku, pendirian, temuan baru, inovasi, kreativitas, dinamika baru dalam teologi, filsafat, kebudayaan, bahkan ilmu pengetahuan adalah buktinya. Demikian pula, “membungkus wanita Muslim” sehingga cukup sekedar nampak wajahnya atau matanya saja menunjukan kekurangan PD mereka; wanita bagaikan barang yang terus diplastiki takut rusak.

Hal ini juga menyiratkan:

a) ngeresnya (kotornya) pikiran, sebab cukup melihat betis wanita atau pusar wanita saja maka kaum lelakinya langsung terjangkit pikiran mesum (ngeres) atau berahi, di negara modern, wanita dan lelakinya sudah jauh sekali (bebas) dari “pikiran mesum” melihat hal2 seperti itu;

b) tidak menghargai karunia Tuhan bahwa wanita itu diberi banyak keindahan, misalnya rambut (ingat ungkapan:”Rambut adalah mahkota wanita”), dan keindahan bodi wanita (ingat ungkapan:”Aduh bodinya indah sekali seperti gitar Spanyol”), jadi bila diibaratkan: membungkus wanita sama saja menutupi dengan plastik suatu pemandangan pegunungan atau patung karya seni yang indah sekali, jadi sama sekali tidak ada penghargaan bagi sang Pencipta keindahan itu sendiri! Bayangkan saja bintang film secantik Krisdayanti, Nicole Kidman, dan Agnes Monica hanya kelihatan matanya atau wajahnya saja!

Image

c) Justru dinegara muslim yang keras, perkosaan malah banyak terjadi (lihat nasib TKW Indonesia); sedangkan dinegara maju/modern para wanitanya mendapat perlindungan hukum yang sangat baik (misalnya dari Sexual Harashment).

Sungguh aneh dan tidak logis, suatu agama membuat pemeluknya untuk beragama secara tidak PD dan mengingkari atau tidak menghargai kreasi Sang Pencipta dalam hal keindahan yang naturalistik sekaligus memandang wanita hanya sebagai manusia kelas dua dan objek kambing hitam!

22. Masih ada kaitan dengan diatas, hal lain yang kurang logik adalah jurus apologi. Karena para pemuka agama Islam kesulitan mencari negara berbasis agama Islam yang bisa dijadikan model/tauladan yang baik misalnya dalam hal demokrasi dan penegakan hukum, maka seringkali untuk menutupi kelemahan ini lalu mereka mengatakan bahwa negara lain: yang non Islam namun baik, itulah yang lebih Islami.

Misalnya saja hukuman tegas, yaitu mati, bagi para koruptor di RRC lalu diaku sebagai hukuman yang lebih Islami, lalu negara yang demokratis dan menghormati HAM secara baik seperti Eropa juga disebut lebih Islami daripada negara Islam; ini adalah jurus apologi yang sama sekali tidak fair, tidak logik, bahkan boleh dikata menipu umat: karena tidak mampu berprestasi sendiri, lalu meminjam prestasi orang/negara lain sebagai contoh, sekaligus sebagai pernyataan maaf atas ketidak mampuan berprestasi sendiri.

Demikian pula dalam hal moral dan etika, karena negara Islam tidak mampu menjadi teladan atau justru menjadi negara KKN dan pelanggar HAM nomor wahid seperti Indonesia, maka para agamawan Islam yang merangkap sebagai politikus selalu menimpakan atau mengalihkan ketidak mampuan ini pada “kambing hitam” yang lain, misalnya kebudayaan barat, internet, maraknya pronografi, atau kurangnya pelaksanaan hukum syariah Islam.

Padahal negara-negara modern yang aman, tentram, sejahtera, dan bermoral tinggi, justru negara-negara yang sudah sangat dewasa dimana penduduknya tidak begitu perduli dengan agama lagi ! Politik kambing hitam dan “buruk muka cermin dibelah” sangat membahayakan harmonisasi hubungan antar manusia didunia.

23. Seperti dikatakan diatas, Alqouran adalah sangat terbatas, tidak sempurna, dan buku yang termasuk edisi lama (ribuan tahun y.l), maka keinginan untuk meng Islamisasi berbagai hal seperti hukum negara (syariah), perbankan, ilmu pengetahuan, bahkan kebudayaan adalah jauh dari nalar dan bertentangan dengan sifat Tuhan yang dinamis dan menjujung tinggi pluralisme. Islamisasi segalanya bagaikan membalikan dunia kemasa lampau seperti abad kegelapan Eropa (abad 17) disaat bangsa Eropa dibuat mendem/mabok agama Kristen oleh para pemuka agama dan penguasa politik!

24. Last but not least, dengan karakteristik Alqouran yang: tiban, isi kitab yang banyak bertentangan dengan logika, bias lokasi, bias budaya, sangat terbatas oleh isi, ruang dan waktu, bias gender, bias binatang, bias tapsir, nabinya (Muhammad) meninggikan nabi lain (Isa) dan keyakinan lain (Budha), kurang mencerminkan kecerdasan Tuhan, kurang mencerminkan sifat kasih sayang Tuhan (banyak sadismenya), statis-kaku-beku, dan sama sekali tidak mencerminkan ke dinamisan dan ke Maha Besaran Tuhan, mengandung pelanggaran HAM, dst., maka dapat disimpulkan  bahwa Alqouran justru bertentangan dengan sifat-sifat Tuhan itu sendiri. Dalam perkembangannya, kotbah2 ulama Islam lebih banyak mengakomodasi kebenaran2 umum dalam ceramah ke agamaannya.

Sebagai penutup, para prof. tsb. menyarankan agar:

o Untuk anak2, agar pendidikan budi pekerti lebih dipentingkan daripada agama (abstraksi anak2 tentang Tuhan belum mampu). Di negara modern, agama sudah tidak diijinkan untuk diajarkan di sekolah2 negeri, agama adalah tanggung jawab pribadi dan orang tua.

Image

o Agama adalah kebebasan, maka sebaiknya dipilih setelah dewasa (bukan kanak2). Memilih agama jangan hanya karena umatnya banyak (jutaan atau milyaran), melainkan karena mutunya dan tingkat rasionalitasnya. Agama yang baik tidak mementingkan jumlah umat, melainkan mutu ajaran dan umatnya.

Emas itu lebih sedikit daripada loyang/besi, doktor itu lebih sedikit daripada lulusan SMU/SMA, pemenang hadiah Nobel itu hanya segelintir manusia saja! Negara Belanda yang hanya sebesar Jawa Barat mampu menjajah Indonesia selama 300 tahun, Jepang yang hanya sebesar Sumatra mampu menundukan ekonomi dunia, jadi – jelas bukan? Bukan kuantitas, melainkan kualitas SDM.

Apa gunanya agama dengan umat yang banyak dan dominan disuatu negara pabila rasionya terbelakang? Jumlah umat yang banyak namun hanya mempunyai mental seperti kumpulan domba atau kumpulan ikan adalah justru memprihatinkan; sebab setiap domba adalah peserta sekaligus pemimpin pada saat yang sama, masing-masing saling tergantung satu sama lain, masing2 begitu mudah saling menyesatkan.

Kumpulan ikan juga berkeliaran dengan cara yang sama. Tapi manusia adalah lain, kita tidak selayaknya mengikuti yang lain secara membabi buta! Kita punya hati nurani, kecerdasan dan nalar! Jadi, justru mungkin sekali bahwa agama yang irasional namun mayoritas justru akan membuat suatu negara menjadi terbelakang dan masyarakatnya tertinggal dibanyak hal (kecerdasan, kemakmuran, keamanan dan keadilan). Atau dengan kata lain, umat beragama yang banyak, mayoritas, dominan namun dengan kualitas SDM setingkat kumpulan domba atau ikan justru hanya akan membebani serta merugikan negara dan bangsanya!

Memilih agama tuk kemudian beragama secara santun, baik, dan benar harus tetap mengedepankan rasio yang kritis, analitis, dan berpengetahuan yang luas dan terbuka terhadap science dan agama2/kepercayaan2 yang lain.

o Agama masih tetap diperlukan oleh banyak manusia sebagai salah satu pintu masuk untuk mengenal Tuhan, namun agama apapun seharusnya tidak boleh bertentangan dengan nalar/logika, apalagi menyetop pengetahuan (membatasi) tentang Tuhan sebatas pada nabi tertentu saja. Agama juga tidak boleh digunakan untuk membentuk dinding penyekat antar manusia, sebab Tuhan itu tidak membeda-bedakan.

o Dinegara modern, manusia sudah tidak mencari atau berhenti pada suatu agama beserta kitab sucinya yang sangat terbatas, melainkan terus mencari Tuhan Yang Maha Tak Terbatas! Manusia modern berpendapat bahwa agama yang sangat terbatas itu telah dipakai untuk: membatasi Tuhan demi kepentingan duniawi semata dan juga membatasi (mengkotak-kotakan) manusia, dan seringkali ujung-ujungnya adalah duit (UUD) dan kekuasaan!

o Pada umumnya, agama akan tumbuh dan berkembang dengan baik dinegara yang: miskin, tidak stabil dan terbelakang (pendidikan rendah, SDM masih bernalar rendah), serta banyak terjadi pelanggaran HAM dan KKN. Di negeri semacam ini, agama seringkali menjelma menjadi kekuatan/alat politik yang hebat, menjadi bahan mimpi (negara yang seperti surga) dan seringkali berubah wajah sekedar menjadi alat kekuasaan belaka serta menjadi alat perusak kerukunan bangsa!

Sedangkan bagi para pelaku pelanggaran HAM dan KKN kelas berat, agama adalah tempat persembunyian yang teraman, tenang dan tentram, inilah salah satu sebab maraknya kemunafikan! Sebaliknya, agama di negara maju-modern sudah dianggap tertinggal dan kurang diperlukan mengingat watak agama yang seolah-olah sengaja dibuat statis-kaku-beku oleh para penguasa agama; agama bagi manusia yang cerdas-maju-modern sudah bagaikan “sun set technology” (teknologi yang sudah mulai usang/terbenam).

o Penyebaran agama seringkali ditumpangi kebudayaan asal agama itu; bila tidak hati2, maka perkembangan suatu agama dapat memusnahkan atau melemahkan/melecehkan kebudayaan lokal setempat.

o Cara suatu bangsa memahami dan mempraktekan agama/Tuhan mencerminkan tingkat penalaran bangsa itu sendiri.

o Beberapa oknum pemuka agama mencoba mengkelabui umatnya dengan menandaskan bahwa kitab sucinya serba bisa-serba pintar, misalnya bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Para ilmuwan busuk lalu diminta mengarang buku2 yang isinya, sebenarnya mengada-ada serta mereka-reka, seolah-olah kitab suci itu maha bisa, maha kuasa, dan maha luar biasa; padahal sebaliknya maha terbatas (baca point 7 diatas)!

Ingat, tak ada seorang ilmuwan top pemenang hadiah Nobel yang mengkaitkan kepakaran keilmuannya dengan kitab suci, sebab kitab suci ditulis untuk menjelaskan adanya kehidupan yang jauh lebih baik setelah mati (surga) beserta cara untuk dapat sampai kesana (surga), jadi kitab suci ditulis bukan untuk menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst.

Gejala rekayasa ini, yang baru marak di Indonesia, dapat dipahami mengingat sejarah lampau agama Kristen/Katholik yang mulai ditinggalkan oleh para ilmuwan akibat kebekuan dan kekakuannya. Untuk menghindari nasib serupa (Islam ditinggalkan oleh umatnya), maka oleh sementara pemuka Islam, dirasa perlu dikarang ke maha hebatan kitab suci (Alqouran) yang mampu apa saja! Dan gerakan ini biasa disebut Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Harap hati2 dengan kecap nomor 1 dari oknum pemuka agama ini! Sungguh dapat dikatakan bahwa para oknum pemuka agama ini telah: menyesatkan, membodohi serta membuat **** umatnya bahkan bangsanya! Ingat di abad 17 hal sama telah terjadi di Eropa, saat Paus menghukum ilmuwan kelas Dunia seperti Gallileo, Kopernikus, dan Charles Darwin karena pendapat ilmuwan ini dianggap tidak Kristiani dan menentang kitab Injil.

Bila tidak hati2, sejarah akan berulang kembali di Indonesia, akan terjadi penghukuman ilmuwan atas dasar tidak Islami dan menentang Alqouran.

SEBAGAI PENUTUP, ITULAH BERBAGAI TANTANGAN YANG PALING BERAT BAGI UMAT ISLAM (DAN JUGA AGAMA LAIN). Masa depan agama sangat tergantung pada tingkat rasionalitas para pemimpin agama beserta umatnya.

Agama yang tidak rasional sebaiknya bubar saja! Manusia modern-kritis-cerdas-analitis-bijak merasa sudah tidak perlu beragama lagi, namun merasa tertantang untuk teru-smenerus untuk hidup secara baik-benar-religius.

Mohon bantuan agar artikel ini dapat disebarluaskan, demi mencegah kesempitan beragama yang akan bermuara pada: penyempitan ke Maha Besaran Tuhan, pengkotak-kotakan manusia, kemunduran negara dan kerusuhan serta kriminal berbaju agama seperti terorisme dan perusakan/pelarangan atas beda faham.

Sekali lagi, agama masih sangat diperlukan, namun setiap agama harus selalu dijaga agar tidak boleh bertentangan dengan nalar/logika, untuk itu setiap agama perlu mengadakan revisi dan reformasi secara berkala, sebab Tuhan bukan hanya masa ribuan tahun yang lalu, melainkan masa depan yang masih milyaran tahun lagi.

Kritik dan saran anda yang positip sangat ditunggu dan diharapkan, demi revisi artikel ini. Mohon dihindari emosi dan kebodohan yang tidak perlu dalam menanggapi setiap isi artikel yang cerdas; sebab sering terjadi dikarenakan ketidak mampuan menerima pendapat orang lain yang lebih: intelektual, maju, cerdas dan bijak, lalu mengakibatkan tanggapan emosional misal dalam bentuk anjuran untuk penutupan web site, atau bahkan fatwa hukuman mati (seperti fatwa untuk Salman Rusdi dan Ulil Absar Adhala). Terima kasih…
Gus Kusnanto
 
Posts: 2
Joined: Mon Jul 16, 2007 5:06 pm

Postby SQUALL LION HEART » Tue Jul 17, 2007 8:25 am

Udah mulai memasuki zaman humanisme kayaknya..
manusia jangan diperbudak oleh agama lagi, terutama
oleh islam yg memperbudak umatnya menjadi pembunuh dan pembenci yg bukan agama islam..
contoh sebutan kafir dll..
SQUALL LION HEART
 
Posts: 2430
Joined: Thu Nov 23, 2006 8:56 am
Location: ujung langit

Postby lnua » Tue Jul 17, 2007 8:35 am

Menurut saya, ini telah ditulis dg baik sekali. Gaya bicara yg lugas dan tidak bertele-tele.
(hanya mungkin perlu diberi warna, ditebalkan/digaris bawahi, atau diberi spasi agar lebih mudah dibaca)
2 Hal besar yg saya setujui:

1. Keterpakuan manusia thd agama (sistem peribadatan yg bersifat ritual, tradisi, kaku dan fana), justru seringkali membuat manusia lupa menggunakkan akal & hati nurani
(yg sesungguhnya tlh Tuhan anugerahkan u/mencari tahu ttg diriNya yg sebenarnya, dan kehendak2nya)

2. Agama Islam adalah agama yg tidak bisa dinalarkan dg logika ataupun dibenarkan oleh hati nurani.
Hanya dengan aturan2 yg bersifat 'pemaksaan' dan 'mengancam', agama Islam bisa dipraktikkan.

(ie.tauhid,mualaf-mati,jihad-surga,kafir-najis, etc)

Dg penalaran mengenai Islam spt yg di atas, pasti banyak umat muslims yg keberatan dan semangat u/ merespons.
Saya penasaran apakah ada yg bisa menjawab topik2 diatas secara sopan & logika atau hanya mampu OOT/menghujat
(which of course only further justify the barbaric and violent nature of the religion)

kita lihat saja....
lnua
 
Posts: 457
Joined: Mon May 15, 2006 8:16 pm

Postby Eneng Kusnadi » Tue Jul 17, 2007 9:03 am

@ atas gw, ganti judul bukunya supaya lebih cocok
Syariat Sebagai Metodologi penambah masalah
Kayaknya di Arab Saudi aja syariat gak sampe 100 persen gie, kacau, sekarang aja syariat diskon negaranya gak maju maju. :lol:
User avatar
Eneng Kusnadi
 
Posts: 2997
Joined: Sat Dec 30, 2006 1:26 pm
Location: Peternakan Unta/Camelot

Postby kiwaras » Tue Jul 17, 2007 1:48 pm

gue rasa memang usia2 segini nih yg mudah utk mengerti ajaran eslam yg benar

http://www.youtube.com/watch?v=1YKOhUL- ... ed&search=

asli loh...kemampuan mereka2 ini yg dapat mengerti the "real" eslam

ayo ikutan...insyoauloh..!
kiwaras
 
Posts: 59
Joined: Fri Feb 23, 2007 11:57 pm

kutipan

Postby candide » Tue Jul 17, 2007 11:13 pm

Agama dan Kesusilaan
(oleh Leopold Weiss)

Apapun juga aturan-aturan khusus dari bermacam-macam agama -- betapapun tinggi atau primitif ajaran-ajarannya, baik yang bertuhan satu, bertuhan banyak, maupun yang mengajarkan alam semesta sebagai tuhan -- inti dalam dari tiap pengalaman keagamaan di segala jaman, di sepanjang lintasan sejarah dan di semua peradaban, ada dua:

Pertama, keyakinan batin manusia bahwa semua yang ada dan terjadi di dalam alam ini adalah penjelmaan dari suatu Kekuasaan yang sadar, menciptakan dan meliputi segala sesuatu -- atau dengan perkataan yang lebih sederhana, suatu Kemauan Tuhan (Iradat Ilahi).

Kedua, perasaan bahwa seseorang harus, atau sedikitnya patut, menyelaraskan diri dengan Kemauan itu.

Berdasarkan perasaan dan keyakinan ini sajalah ditegakkan kesanggupan manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Jika kita tidak menganggap ada suatu Kemauan yang mutlak dan membuat rencana di dalam akar semesta alam ini, tidak akan ada artinya kita menganggap salah satu tujuan dan tindakan kita dapat dikategorikan sebagai benar atau salah, bersusila atau asusila.
Jika tidak ada kepercayaan kepada suatu Kemauan yang merencanakan seperti itu, semua pengertian kita mengenai kesusilaan pasti akan samar-samar dan makin lama makin tunduk kepada kepentingan sendiri: yaitu tunduk kepada soal, apakah suatu tujuan atau tindakan itu berguna atau tidak bagi orang tersebut, atau bagi masyarakat dimana ia hidup. Akibatnya, maka "yang benar" dan "yang salah" hanya menjadi istilah yang relatif, dan dapat ditafsirkan dengan sesuka hati, menurut kebutuhan-kebutuhan individu masyarakatnya, yang pada gilirannya dapat dikutak-katikkan oleh perubahan yang berlangsung terus menerus di dalam lingkungan sosial ekonomi suatu bangsa.
Peranan pikiran dan perasaan keagamaan di dalam alam kesusilaan ini memiliki kedudukan yang amat penting, jika kita menyadari bahwa pada masa ini ada kecenderungan kuat memusuhi agama sedemikian hebat. Dimana-mana dan tiap hari kita mendengar kecaman dari kaum cendekiawan, bahwa agama itu tidak lain adalah fosil bekas-bekas peninggalan jaman kebiadaban masa lampau, yang sekarang dianggap sudah tendesak oleh "Jaman Ilmu". Mereka mengatakan, bahwa ilmu akan menggartikan sistem-sistem keagamaan yang sudah usang dan kolot. Ilmu yang berkembang sedemikian megah dan tak tertahankan, akhirnya akan mengajar manusia agar hidup dengan "akal yang murni", dan kemudian menciptakan ukuran-ukuran kesusilaan baru tanpa suatu sanksi metafisik.
Optimisme kekanak-kanakan yang berkenaan dengan ilmu ini pada hakekatnya tidaklah modern sama sekali, bahkan sebaliknya terlalu kolot. Sebuah peniruan membabi-buta dari optimisme kekanak-kanakan di dunia Barat dalam abad ke-18 dan ke-19. Selama masa itu (dan terutama dalam bagian kedua dari abad ke-19), banyak ilmuwan Barat percaya rahasia-rahasia alam tidak lama lagi akan dapat mereka buka selubungnya, dan mulai saati itu tidak akan ada yang merintangi manusia untuk mengatur kehidupannya di alam yang terbebas dari kecaman akal yang dimiliki dewa-dewa.
Sedangkan pemikir-pemikir pada masa kita sekarang lebih berhati-hati -- jika tidak akan dikatakan sangsi tentang hal ini. Di bawah pengaruh ilmu fisika abad ke-20 yang modern dan dahsyat, mereka kini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ilmu deterministik tidak sanggup mengabulkan harapan-harapan rohaniah yang dibebankan kepadanya kira-kira seratus tahun lalu. Sebab pemikir-pemikir itu telah mengetahui bahwa rahasia-rahasia alam itu bertambah tebal selubungnya dan makin musykil jika penyelidikan kita semakin maju.
Tiap hari menjadi lebih jelas, soal-soal bagaimana terjadinya jagad ini, bagaimana hidup berkembang di dalam alam ini, dan apa yang sebenarnya menjadi gejala-gejala hidup itu sendiri, tidak akan pernah mungkin terjawab dengan semata-mata mempergunakan alat-alat ilmiah. Dan karena itu tidak dapat dijawab pula soal hakekat sebenarnya dan tujuan manusia itu hidup di muka bumi ini. Sampai kita sanggup menjawab pertanyaan terakhir ini, kita tidak dapat -- walaupun mencoba -- menetapkan nilai-nilai moral seperti "yang baik" dan "yang buruk". Ini semata-mata karena istilah semacam itu tidak berarti sama sekali, kecuali jika telah dihubungkan dengan suatu pengetahuan (sejati atau khayalan belaka) tentang hakekat dan tujuan hidup manusia.
Hal inilah yang mulai disadari oleh para ilmuwan yang telah tinggi kemajuan pikirannya. Mereka mengerti bahwa mustahil dapat dijawab soal-soal metafisik dengan menggunakan alat fisik saja. Penyelidikan mereka telah membuang jauh harapan kekanak-kanakan dari abad yang lalu, bahwa ilmu akan dapat memberikan petunjuk--petunjuk di bidang etika dan kesusilaan.
Cendikiawan Barat berpikiran maju ini bukannya tidak mempercayai ilmu. Sebaliknya, mereka meyakini bahwa ilmu akan menyibakkan manusia pada keajaiban--keajaiban yang lebih besar dari ilmu dan pencapaian. Namun, mereka menyadari pula bahwa daya-upaya ilmiah tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan moral dan rohaniah manusia. Ilmu memang dapat dan telah membimbing kita ke dalam pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita dan di dalam diri kita. Akan tetapi, karena ia bekerja menyelidiki fakta-fakta di dalam alam, dan menganalisis hukum-hukum yang tampak dan menguasai saling hubungan dari fakta--fakta itu, maka ilmu tidak dapat dituntut memutuskan tentang tujuan hidup yang sanggup memberi kita petunjuk-petunjuk mengenai perilaku sosial yang harus diikuti. Hanya secara tidak langsung -- dengan demikian spekulatif -- ilmu itu dapat mencoba memberi kita Saran secara ilmiah.
Celakanya, karena ilmu selalu dalam keadaan berubah-ubah (selalu dapat diubah oleh penemuan fakta-fakta baru dari alam) -- dan akibatnya ia terus-menerus harus dinilai dan ditafsirkan kembali rangkaian fakta yang ditetapkan terdahulu -- maka saran itu diberikan dengan kebimbangan, dipaksa-paksakan, bahkan kadang-kadang amat bertentangan dengan saran yang diberikan sebelumnya. Pendeknya, ilmu itu tidak pernah sanggup menetapkan dengan pasti apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh manusia agar memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Dengan alasan ini, ilmu tidak dapat (juga tidak sungguh-sungguh mencoba) menanam kesadaran moral di dalam jiwa manusia. Permasalahan etika dan kesusilaan memang tidak terletak di dalam lapangan ilmu. Ia bersemayam seluruhnya di dalam lapangan agama.
Hanyalah dengan perantaraan pengalaman keagamaan, kita dapat sampai -- tepat atau keliru -- pada batas-batas nilai moral yang terbebas dari segala -perubahan fana di sekitar kita. Saya katakan, tepat atau keliru, karena dengan memperhatikan semua ajaran-ajaran agama dengan pemikiran yang obyektif, selalu akan terbuka kemungkinan bagi orang untuk keliru menggunakan pangkal dalil metafisik, suatu agama (atau agama apa saja). Sebagai akibatnya, akan menyimpang pula penilaian moral yang disimpulkan dari pangkal dalil itu. Dengan demikian, penerimaan atau penolakan kita terhadap suatu agama, sebagai ikhtiar penghabisan, harus dibimbing oleh akal kita, yang menyatakan kepada kita seberapa jauh suatu agama tertentu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang pokok, baik jasmani maupun rohani.
Perlunya kita mengarahkan segenap kemampuan akal secara tajam berkaitan dengan ajaran-ajaran suatu agama, tidak sedikitpun mengurangi keyakinan dasar bahwa hanya agama saja yang dapat memberikan arti pada hidup kita. Keyakinan ini memperbesar dorongan dalam diri kita untuk menyesuaikan pemikiran dan perilaku diri kita dengan suatu pola dari nilai-nilai moral yang bebas sama sekali dari konstelasi sesaat dari kehidupan perseorangan. Agama dapat memberikan gelanggang yang luas untuk suatu persetujuan diantara kelompok-kelompok besar manusia mengenai apa yang baik (dan karena itu diinginkan) dan apa yang buruk (dan karena itu dihindarkan). Dan masih adakah lagi suatu keraguan, bahwa persetujuan semacam itu adalah syarat mutlak dan pasti untuk membangun ketertiban di dalam hubungan-hubungan manusia?
Ditinjau dari sudut pandang ini, hasrat keagamaan di dalam diri manusia bukanlah suatu taraf yang sekedar lewat di sepanjang sejarah perkembangan jiwanya, melainkan sumber terakhir dari semua pikiran etikanya dan semua pemahamannya tentang kesusilaan. Hasrat keagamaan itu bukanlah hasil dari keserampangan keyakinan primitif, yang akan ditinggalkan apabila sudah meningkat ke masa "pencerahan", melainkan satu-satunya pemuasan bagi kebutuhan manusia yang sejati dan pokok di setiap masa dan di dalam segala lingkungan. Dengan kata lain, ia merupakan insting.
Karena itu, adalah tidak berlebihan jika dikatakan bahwa suatu negara yang didirikan di atas dasar-dasar keagamaan memberikan harapan masa depan yang lebih baik bagi kebahagiaan nasional daripada suatu negara yang ditegakkan di atas pengertian tentang suatu organisme politik yang "sekular". Sudah tentu dengan syarat bahwa doktrin keagamaan yang menjadi sendi negara itu, memperhatikan sepenuhnya:

1. Kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial manusia.
2. Hukum evolusi sejarah dan intelektual yang menguasai masyarakat manusia sebagai suatu keseluruhan.
Yang pertama dari dua syarat ini dapat dipenuhi hanya jika doktrin keagamaan tersebut mengakui adanya nilai positif, bukan saja dari sifat kerohanian manusia, tetapi juga tabiat biologisnya, sebagaimana pasti dilakukan oleh Islam. Syarat yang kedua dapat dipenuhi jika hukum politik -- yang akan menuntun perilaku masyarakat -- bukan saja konkrit, tetapi juga terbebas dari segala kekakuan, suatu yang kita tuntut bagi hukum politik sesuai ajaran yang termaktub di dalam Al-Quran dan Sunnah.
User avatar
candide
 
Posts: 56
Joined: Sat Jun 16, 2007 7:07 pm
Location: jkt

Postby ali5196 » Mon Jul 23, 2007 4:32 am

Satu lagi ciri khas Muslim : mudah mempercayai hal2 konyol ! Hal2 'gaib' dipercaya, hal2 sains rada sulit menembus otak mereka rupanya !

http://www.theasiannews.co.uk/news/s/23 ... e_web.html

Image

Seluruh keluarga Umar Memon, 37, girang dgn 'ikan suci' yg mereka temukan karena sisik ikan itu membentuk huruf 'Allah' & 'Mohamad' dlm bahasa Arab yg lalu mereka pamerkan di internet : www.allahfish.com.
:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

Situs itu sedemikian banyak tamunya sampai situsnya macet !
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re: ga fair ah

Postby santri gagal » Wed Aug 22, 2007 3:37 pm

kalo yg ente maksud cacat, adalah kelakuan cacat si pembawa ajaran/wahyu maka cuman bisa ente temuin di muhamad.
silaken ente buktiken sendiri secara fair.
User avatar
santri gagal
 
Posts: 848
Joined: Sat Apr 21, 2007 2:36 am
Location: somewhere in time

Postby mohamedbincamel » Sun Oct 14, 2007 8:09 pm

Ini salah satu artikel paling bagus yg gw baca di FFI.
mohamedbincamel
 
Posts: 804
Joined: Sat Jan 20, 2007 9:34 am
Location: The land of milk and honey

Postby Duladi » Sun Oct 14, 2007 8:51 pm

Thanks Gus Kusnanto untuk artikelnya.
Duladi
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Postby AtheistIsBetter » Mon Jan 07, 2008 8:00 pm

ini karya tulis yang berbobot, kalau ada yang mau mengedit atau menambahi shg menjadi sebuat buku, wah luar biasa...
User avatar
AtheistIsBetter
 
Posts: 990
Joined: Sun Dec 02, 2007 1:09 pm

Postby dhanimambo » Wed Jan 09, 2008 6:22 pm

anda akan melihat keadaan 10 sampai 15 tahun lg daerah mana yank akan terjadi hal seperti itu...

dan anda terlalu bertumpuk kepada indonesia sebagai contoh
yank anda tau sendiri indonesia adalah yang plin plan selain itu apabila negara muslim benar2 menhjalankan syariat apakah tidak timbul pertanyaan yang lain yaitu knp muslim terlalu sadis

dan akan timbul indikasi kalian akan menyebut kami barbar


benar gak bray......
dhanimambo
 
Posts: 3
Joined: Sun Dec 30, 2007 5:31 pm

Postby Garin laksana » Wed Jan 09, 2008 8:09 pm

Tulisan Gus Kusnanto, telah menyita waktu saya utk merenung & membaca ulang 2-3 kali atau lebih,... Sedang kepikir utk saya jadikan leaflet ukuran A4, dilipat; agar praktis utk dicetak/dibawa/dibagi dst... Memang segmennya masih berkisar masyarakat perkotaan serta yg well educated; rada berat memang buat masyarakat pinggiran... tapi seberapa pun beratnya tentunya tangan2 Tuhan akan terlibat!*
User avatar
Garin laksana
 
Posts: 1198
Joined: Mon Sep 24, 2007 5:07 pm
Location: Al-Quds

Postby madison » Wed Jan 09, 2008 8:22 pm

gue doakan semoga usaha Garin membuahkan hasil.
User avatar
madison
 
Posts: 2393
Joined: Tue Sep 25, 2007 6:01 pm
Location: pentagon

Postby dhanimambo » Thu Jan 10, 2008 4:19 am

saat saya membaca tentang telisan gus nanto bekata begini :
Dalam agama Kristen, Tuhan digambarkan sebagai Tri Tunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus; sebagai gambaran: air dapat berupa fase cair, uap dan padat (es), atau sekaligus ketiga fase itu hadir bersama, namun ia tetap satu yaitu air; kebetulan umat Kristen telah bersentuhan dengan Tuhan secara manusiawi liwat fase Es (Isa), maka tidak heran bila mereka lebih sering menyebut Isa/Yesus (Es) daripada Tuhan (air).


apakah tidak terjadi kebingingan menadasar tuhan kalian sapa sih?????

selain itu masalah otak kaum muslim yank ngerz
lihat paha ja nafsu saya rasa tidak malahan dampak yang diberikan kaum barat sendiri yang merusak moral benar tidak????
dhanimambo
 
Posts: 3
Joined: Sun Dec 30, 2007 5:31 pm

Postby madison » Thu Jan 10, 2008 7:46 am

dhanimambo wrote:saat saya membaca tentang telisan gus nanto bekata begini :
Dalam agama Kristen, Tuhan digambarkan sebagai Tri Tunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus; sebagai gambaran: air dapat berupa fase cair, uap dan padat (es), atau sekaligus ketiga fase itu hadir bersama, namun ia tetap satu yaitu air; kebetulan umat Kristen telah bersentuhan dengan Tuhan secara manusiawi liwat fase Es (Isa), maka tidak heran bila mereka lebih sering menyebut Isa/Yesus (Es) daripada Tuhan (air).

apakah tidak terjadi kebingingan menadasar tuhan kalian sapa sih?????

ach kamu itu yang bingung.
mengutip tulisan gus nanto:
Sayang sekali, ada sementara orang yang pengetahuannya/konsepnya tentang Tuhan hanya sedikit dan sederhana sekali, namun justru memarahi atau bahkan mengkafirkan manusia lain yang pengetahuannya tentang Tuhan justru lebih banyak!

dhanimambo wrote:selain itu masalah otak kaum muslim yank ngerz
lihat paha ja nafsu saya rasa tidak malahan dampak yang diberikan kaum barat sendiri yang merusak moral benar tidak????

kok jadi nyalahin barat??
yang nyuruh cewe dibungkus bukan barat lho,
tapi muslim sendiri.
User avatar
madison
 
Posts: 2393
Joined: Tue Sep 25, 2007 6:01 pm
Location: pentagon

Postby moh_mad007 » Tue Jan 22, 2008 10:21 pm

buat bung dhanimambo , gue nanya ya lo skr ini agamanya apa? kalo lo muslim? dr mana lo bisa jd muslim , apa cuman keturunan aja ato lo memang betul2 dah belajar ttg islam ??? kalo lo mm dah belajar ttg islam coba lo buka hati nurani lo yang paling dalam apa benar tu quran ??? kalo lo dah mm membenarkan tu quran lo hrs jalankan perintah2nya kalo gak lo kafir katenye nabi lo , benar gak??? nah skr lo musti jihad , bunuhin kafir2 itu tu kaye osama ato azhari
User avatar
moh_mad007
 
Posts: 2407
Joined: Tue Jan 15, 2008 12:18 am

Re: MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?

Postby mikimos » Wed May 14, 2014 10:48 am

Ini ada artikel lama tapi bagus...
User avatar
mikimos
 
Posts: 3251
Joined: Tue Jul 15, 2008 7:01 pm
Location: Indonesia Faith Freedom

Re: MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?

Postby Patah Salero » Wed May 14, 2014 11:30 am

Alangkah baiknya kalo Artikel di Resource Center betul-betul memiliki RESOURCE yang bisa dipertanggungjawabkan.

Misalnya ini kutipan dari tulisan diatas:

Hampir 90% pemenang hadiah Nobel menandaskan tidak memeluk agama lagi! Sebaliknya, bagi orang di negara terbelakang atau negara berkembang agama memang masih lebih penting daripada Tuhan, ini mereka sebut “masyarakat yang sedang mendem/mabok agama”.


Ini kutipan dari sumber resmi http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/lists/all/:

Between 1901 and 2013, the Nobel Prizes and the Prize in Economic Sciences were awarded 561 times to 876 people and organizations. With some receiving the Nobel Prize more than once, this makes a total of 847 individuals and 22 organizations. Below, you can view the full list of Nobel Prizes and Nobel Laureates.


Berarti menurut penulis artikel ada 762 penerima Nobel yang mengatakan tidak memeluk agama lagi.
Adakah yang bisa menunjukkan sumbernya ??
Kalau berdasarkan polling, Kapan polling dilakukan ??
Dan apakah polling juga diikuti oleh nobel laurette yang sudah meninggal ?? :green:
Patah Salero
 
Posts: 2702
Joined: Tue Dec 21, 2010 12:31 am

Re: MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?

Postby JANGAN GITU AH » Wed May 14, 2014 7:47 pm

@PS
kenapa? emang keberatanmu dimana jika dikatakan 90 % pemenang nobel itu jadi atheis. Kan muslim berpeluang besar mengklaim mereka jadi mualaf? Mestinya senang dong? Kan hal itu membuktikan Kristen semakin ditinggalkan pengikutnya :lol:

Dah baca buku biografi Stephen Hawking? Dia malah dah jadi mualaf Islam setelah menjelaskan Big Bang-nya Quran... :lol: :butthead:

Dah pernah baca biografi si turunan Yahudi, Issac Newton? Dia dah jadi mualaf islam lho karena prestasinya menjelaskan garis edar bulan bintang yang gak akan pernah saling mendahului..sebagaimana dengan penjelasan quran...bareng-bareng mualafnya dengan Yahya Keppler tuh... :rolling:

Tapi binun juga sih dengan si turunan Yahudi, Issac Newton ini. Malah dirinya pernah menggagas rancang bagun Mount Temple jilid 3 di Yerusalem. Barangkali ingin mengajak kaum Yahudi jadi mualaf juga ya? hihihi

MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?
Mirror 1: MENGAPA MANUSIA CERDAS-KRITIS SULIT TERIMA ISLAM ?
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Faithfreedompedia static
User avatar
JANGAN GITU AH
 
Posts: 5366
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Next

Return to Resource Center: Hal2 PENTING ttg Islam (Sunni)



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron