.

Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Sejarah pedang jihad di Timur Tengah, Afrika, Eropa & Asia.

Postby Laurent » Sat Jul 21, 2012 10:40 am

Orang Arab, Rohingya, Dan Rakhine (I)
Friday, 06 July 2012
http://www.republika.co.id/berita/inter ... -rakhine-i

REPUBLIKA.CO.ID Dalam Hanifa O Kaiya puri, buku yang ditulis pada abad ke-16, Shah Barid Khan bercerita tentang kedatangan orang Arab di Arakan. Lebih tiga abad kemudian, British Burma Gazetteers yang ditulis RB Smart bertutur tentang orang-orang Moor yang terdampar di Pantai Arakan, bermukim, kawin dengan penduduk lokal, dan membentuk masyarakat baru.

Sebelum Hanifa O Kaiyapuri terbit, cerita tentang kedatangan orang orang Arab adalah cerita tutur masyarakat Muslim di Arakan. Barid Khan meneliti kebenaran cerita ini dan membandingkannya dengan berbagai sumber dari Persia dan Arab.

Barid Khan sampai pada kesimpulan kedatangan orang Arab pertama di Arakan terjadi pada 680 Masehi. Setelah Perang Karbala, Barid Khan, Mohammed Hanofiya, dan tentaranya tiba di Arab-Shah Para— sebuah kawasan dekat Maungdaw, kota di sebelah utara Arakan saat ini.

Hanif dan pasukannya bermukim di tempat itu, berbaur bersama penduduk setempat. Di dalam hutan, Ratu Kaiyapuri memimpin masyarakat kanibal. Secara berkala, pasukan Kaiyapuri menyerang desa desa di pinggir hutan, menculik penduduk, dan memakannya.

Hanif berinisiatif mengakhiri semua ini. Bersama pasukannya, Hanif masuk ke dalam hutan dan menyerang istana Ratu Kaiyapuri. Unggul pengalaman tempur dan persenjataan, Hanif berhasil menangkap Ratu Kaiyapuri bersama pengikutinya.

Ia membawa sang Ratu Kanibal keluar hutan. Ratu Kaiyapuri bersedia memeluk Islam dan Hanif menikahinya. Setelah itu, terjadi perpindahan agama secara massal. Pengikut Hanif dan Kaiyapuri berbaur, kawin dan menciptakan masyarakat baru.
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby Laurent » Sat Jul 21, 2012 10:42 am

Orang Arab, Rohingya, dan Rakhine (II) Raja Mahataing Sandya
Jumat, 06 Juli 2012, 02:40 WIB
http://www.republika.co.id/berita/inter ... ing-sandya

REPUBLIKA.CO.ID, Masyarakat campuran itu tinggal selama sekian abad di dua tempat yang dikenal dengan nama Hanifa Tonki dan Kaiyapuri Tonki. Jika pemerintahan militer tidak melakukan demuslimisasi di Arakan, dunia masih akan menemukan tempat ini di Arakan. Mohammed Ashraf Alam, dalam A Short Historical Background of Arakan, masyarakat campuran inilah yang menjadi inti Muslim Rohingya di Arakan saat ini.

RB Smart punya versi lain. Sekitar 788 M, Mahataing Sandya mendirikan sebuah kota baru di atas lokasi kota kuno Ramawadi dan menjadikan dirinya raja. Setelah berkuasa 22 tahun, Mahataing Sandya meninggal dunia.

Selama berkuasa, Mahataing Sandya mendapat beberapa laporan tentang kapal tenggelam terhantam badai di perairan Arakan dan awaknya terdampar di Pulau Rambree. Raja Mahataing Sandya memerintahkan pasukan untuk membawa semua kru dari Pulau Rambree dan memukimkannya di beberapa desa yang lokasinya tidak jauh dari Akyab—kota di Arakan saat ini.

Mengutip sejumlah sumber-sumber kuno, RB Smart memastikan kru kapal itu adalah orang-orang Arab Moor. Mereka bermukim sekian lama dan membentuk komunitas yang mapan. Jejak arkeologis mereka berupa tempat ziarah Babazi Sha Monayem dari Ambari, Pir Badar Sha, atau Badar Al-din Allamah, di dekat Teluk Bengal, masih berdiri sebelum terjadi demuslimisasi.

Dalam Rohingya Outcry and Demands, sejarawan Arakan menulis, setelah bermukim lebih satu generasi, orang-orang Arab nyaris menguasai seluruh Arakan dan melakukan pe net rasi ke beberapa bagian Burma. Tindakan ini membuka jalan bagi masuknya penyebar agama Islam mendedikasikan hidup mereka melayani penduduk asli.

Penyebar Islam tidak hanya orang Arab, tapi juga Turki, penduduk Asia Tengah, Bengal, Moor, dan Pathan. Khusus Bengal, mereka tidak sekadar datang sebagai penyebar agama, tapi juga pedagang. Ada pula yang ber profesi sebagai tentara.

Merekalah yang memainkan peran penting dalam perkembangan ma syarakat Muslim di Arakan. Ajar an Islam yang menekankan kesamaan hak dan menolak sistem kasta men jadi daya tarik bagi penduduk Arakan.
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Sat Jul 21, 2012 10:44 am

Orang Arab, Rohingya, dan Rakhine (III) Nenek Moyang Rakhine
Jumat, 06 Juli 2012, 03:00 WIB
http://www.republika.co.id/berita/inter ... ng-rakhine

REPUBLIKA.CO.ID,Pada 950, Mongolia menyerbu Bengal dan Vesali. Di Vesali, pasukan Mongol membunuh Sula Chandra— raja terakhir Dinasti Chandra. Di Bengal, Mongol gagal membunuh keluarga raja.

Setelah sekian tahun, Hindu Bengal bangkit di bawah Dinasti Pala. Hindu Vesali gagal membangun kembali kerajaannya karena kesulitan menghadapi invasi dan migrasi Tibeto Burman. Akibatnya, Hindu Vesali menjadi minoritas di negeri sendiri.

Tibeto Burman menjalankan program pertamanya, yaitu de-indianisasi. Mereka berusaha berbaur dengan penduduk asli, kawin-mawin yang dikemudian hari menghasilkan generasi baru masyarakat Indo Mongoloid yang kini disebut Rakhine Arakan.

Sejarawan MS Collis juga mengatakan, kemunculan ras baru ini bukan sebagai akibat invasi tunggal pada 950, melainkan migrasi besar-besaran Tibeto-Burman tujuh tahun setelah kedatangan Mongol.

Namun, nama Rakhine relatif belum muncul sampai abad ke-15. Satyendra Nath Ghosal dalam Missing Links in Arakan History menyebutkan, sepanjang abad ke-15 dan 16, penduduk Arakan disebut Maghs. Lengkapnya Maghs dari Arakan. Ada pula Maghs dari Bangladesh.

Belakangan, orang Arakan dan Bangladesh menolak dipanggil Maghs karena kata itu berkonotasi buruk. Menurut Kamus Bahasa Inggris edisi baru, maghs adalah bajak laut. Profesi orang Arakan dan Bengali sepanjang abad 15 dan 17 adalah bajak laut.

Selepas abad ke-17, setelah tidak lagi menjadi bajak laut, orang Arakan—terutama yang telah memeluk Buddha—menyebut diri Rakhine. Ketika menjadi Rakhine, mereka mulai menyusun identitasnya sendiri. Abdul Mabub Khan, dalam The Maghs, Rakhine—atau Maghs dari Arakan—berasal dari ras Mongoloid.

Para etnolog sampai pada kesimpulan bahwa Maghs Arakan atau Rakhine berasal dari tepi Sungai Yang Tse Kiang dan Hoang Ho. Mereka bermigrasi menyusuri Sungari Irawadi, bertemu suku-suku Mon-Khmer dan mengalahkannya.

Maghs Arakan, menurut Abdul Mabub Khan, terbagi dua, mereka yang tinggal di dataran rendah dan pegunungan. Mereka yang tinggal di pegunungan, meski berbicara dalam bahasa dan keimanan yang sama dengan saudara mereka di dataran rendah, memiliki kebudayaan berbeda. Mereka juga mengembangkan dialek sendiri sebagai identitas pembeda.

Secara fisik, Maghs dari Arakan atau Rakhine bertubuh lebih pendek, berhidung pesek, tulang pipi yang tinggi dan lebar. Satu hal lagi, kaki mereka lebih pendek dibanding tubuh. Wanita Rakhine berdada datar, bibir tipis, rambut hitam lurus, hidung pesek, bermata kecil dan cokelat.

Sebagai bajak laut, Maghs Arakahan atau Rakhine bekerja sama sama dengan Portugis pada abad ke 17. Mereka menyerang desa-desa di Bengal, menculik warganya, dan menjualnya sebagai budak ke pedagang Arab di Arakan atau ke raja raja Arakan.

Portugis berusaha mengkristenkan para budak Muslim dan Hindu, tapi gagal total. Portugis menjual mereka ke pasar budak. Maghs Arakan menggunakan sendiri para tawanan untuk bekerja di tanah pertanian atau menjadi serdadu bayaran. Saat itu, raja-raja Arakan banyak mempekerjakan Muslim Bengal dan Hindu sebagai pengawal pribadi.

Aktivitas perbudakan yang dilakukan Rakhine dan Portugis membuat Chittagong nyaris menjadi daerah kosong dan buas. Setelah Portugis pergi, Rakhine menjadi sangat ketergantungan pada perdagangan budak. Akibatnya, mereka harus selalu berperang dengan negaranegara lain di sekitar untuk mendapatkan budak untuk dipekerjakan di tanah pertanian.

Namun, ketika populasi budak Muslim Bengal sedemikian tinggi dan di sisi lain Muslim Rohingya menjadi komunitas yang mapan, Rakhine mulai ketakutan dan menjadi agresif membunuh para budaknya sendiri. Mereka mungkin harus melakukannya untuk menjalankan politik keseimbangan etnis, tapi di sisi lain perlahan tapi pasti—mereka menjadi masyarakat fasis.
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby Laurent » Sat Jul 21, 2012 10:45 am

Orang Arab, Rohingya, Dan Rakhine (IV), Rakhine Muslim?
Jumat, 06 Juli 2012, 04:15 WIB
nytimes
Orang Arab, Rohingya, Dan Rakhine (IV), Rakhine Muslim?
Muslim Rohingya


REPUBLIKA.CO.ID,Terdapat kesan, Arakan relatif hanya dihuni dua etnis, Muslim Rohingya dan Rakhine Buddha. Muslim lebih suka menyebut kawasan provinsi mereka tinggal sebagai Arakan. Rakhine, meski anti Burma dan berusaha memisahkan diri dari Uni Burma (sekarang Myanmar), lebih suka menyebut wilayah Arakan sebagai Rakhine State.

Arakan adalah kata yang netral. Sedangkan, kata Rakhine State berkonotasi mengabaikan eksistensi etnis lain. Namun, Pemerintah Burma lebih suka menggunakan Rakhine State. Sedangkan, Arakan digunakan sampai Inggris berkuasa.

Rakhine State atau Arakan juga menyimpan sejumlah etnis minoritas, Chin, Mro, Chakma, Khami, Dainet, and Maramagri, yang bermukim di kawasan pegunungan. Mereka menganut Buddha, Hindu, dan agama lainnya.

Islam tidak hanya dipeluk Rohingya yang tersebar di sebelah utara Arakan, tapi juga dianut sebagian Rakhine. Rakhine Muslim, demikian peneliti menyebutnya, adalah mereka yang lahir dari perkawinan Rohingya dan Rakhine.

Anehnya, Pemerintah Burma cenderung mengidentikkan Rohingya sebagai Muslim dan Rakhine adalah pemeluk Buddha. Pada 2010, penduduk Rakhine State atau Arakan berjumlah 3,83 juta. Sebanyak 59,7 persen pemeluk Buddha, 35,6 persen pemeluk Islam, dan lainnya Hindu, serta agama lain.

Islam juga dipeluk masyarakat Kaman. Konstitusi Myanmar mengakui Kaman sebagai penduduk asli. Tidak diketahui berapa penduduk Kaman dan Rakhine Muslim. Kabar yang beredar menyebutkan, mereka menjadi sasaran demuslimisasi. Pemerintah Myanmar menuduh Rohingya melakukan Muslimisasi.

Yang juga tidak diketahui adalah apakah Kaman dan Rakhine Muslim menjadi sasaran pembantaian dalam 60 tahun terakhir sebagai akibat penolakan demuslimisasi.
Redaktur: M Irwan Ariefyanto

http://www.republika.co.id/berita/inter ... ine-muslim
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby Laurent » Fri Aug 10, 2012 2:34 pm

Empat Hal Yang Bisa Dilakukan untuk Rohingnya


3 Juni 2012, 10 Jamaah Tabligh secara brutal disalib di kawasan Taung Gok

Kamis, 09 Agustus 2012

Oleh: M Adli Abdullah

APA akar masalah yang dialami oleh etnik Rohingya? Memahami akar persoalan di negeri junta militer akan memberi pemahaman jelas perihal konflik yang sudah terjadi puluhan tahun lalu. Masalah di sana bukan terjadi kemarin sore atau tiba-tiba meledak.

Adalah pemerintah Burma tidak mengakui keberadaan etnis Muslim Rohingya. Kondisi yang tidak nyaman ini diperparah lagi ketika pihak ultranasional dibawah pimpinan Jendral Ne Win pada tahun 1962 mulai membagi penduduk di Provinsi Arakan berdasarkan agama.

Walhasil, jadilah etnik Rakhine yang beragama Budha dianakemaskan sedangkan etnik Rohingya beragama Islam dianaktirikan. Belum cukup itu, pada pada tahun 1982 junta militer mengeluarkan undang-undang kewarganegaraan yang tidak mengakui etnis muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Padahal Rohingya penduduk asli Arakan yang sudah Islam sejak tahun 788 oleh pedagang Arab. Kemudian abad ke 11, penganut Budha Theravada menguasai Arakan, dengan kata lain, etnik Rohinya tidak diakui keberadaanya di negeri sendiri.

Walaupun berbeda agama, kehidupan Muslim-Budha tidak banyak masalah. Mereka hidup toleransi tanpa ada konflik. Kehidupan mereka menjadi persoalan sejak kaum junta menguasai Myanmar dan mengusik kehidupan harmoni di Arakan.

Data terbaru, etnis Muslim Rohingya tersisa 800.000 jiwa lebih kurang dari 3 juta jiwa sebelumnya. Komunitas Muslim tersebar di 6 Kabupaten (township) dari sebelumnya menguasai 17 Kabupaten di Myanmar. Hal yang menyakitkan, pemerintah Burma menuduh etnik Rohingya sebagai pendatang gelap di Arakan padahal mareka telah beranakpinak berabad-abad sebelumnya.

Mengutip laporan badan pengunsi PBB (UNHCR) etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia. Bayangkan saja, di Burma, etnis Rohingya dianggap sebagai orang Bangladesh. Sebaliknya di Bangladesh, etnis Rohingya dianggap sebagai orang Burma.

Padahal etnis Rakhine yang mendiami Bangladesh diakui sebagi warga negara Bangladesh, sedangkan etnis Rohingya yang mendiami Myanmar tidak diakui sebagai warga negara Burma karena mareka beragama Islam.

Kondisi Terkini

Sejak 10 Juni 2012, junta militer Burma telah menerapkan hukum darurat di Arakan. Kondisinya seperti Indonesia menerapkan darurat militer untuk umat Islam di Aceh pada tahun 2003-2004. Sejak berlaku undang-undang darurat ini, akses etnis Muslim Rohingya terhadap makanan, shelters, perubatan dan bantuan kemanusiaan lainnya sangat terbatas, bantuan yang diberikan oleh NGO harus melalui saluran pemerintah dan bantuan ini sedikit mengalir ke etnis Islam Rohingya tetapi banyak mengalir terhadap etnis Budha Rakhine yang dianakemaskan oleh pemerintah Myanmar.

Sudah sering terjadi konflik di sana. Misalnya pada 28 Mei 2012 yakni 3 etnis Muslim Rohingya dituduh memperkosa wanita Budha Rakhine. Namun Tetapi para analis menyakini kasus ini hanya rekayasa junta militer Myanmar.

Akibatnya pada tanggal 3 Juni 2012, 10 Jamaah Tabligh secara brutal disalib di kawasan Taung Gok. Dan pada 8 Juni 2012, kaum Muslimin di Maung Daw berdoa untuk korban Jamaah Tabligh ini yang dibalas dengan sikap militer setempat yang menembak para jamaah Jum’at. Setelah itu etnis Rakhine yang didukung oleh aparat keamanan membakar mesjid, al-Quran, bahkan masjid bersejarah di Akyab dan Maung Daw jadi rata dengan tanah sampai sekarang, pembakaran rumah kaum muslimin rohingya, mengeksekusi paksa harta kekayaan etnis rohingya, dan pemerkosaan terhadap gadis-gadis Muslim Rohingya terus terjadi.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Paling kurang ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, melakukan tekanan diplomatik terhadap pemerintah Myanmar, baik oleh negara Muslim seperti Indonesia, Asean UN, sehingga pemrintah Myanmar merubah kebijakan terhadap etnis Muslim di sana. Dan mareka diakui punya hak hidup yang sama dengan etnis etnis lain yang ada di Myanmar.

Kedua, bantuan kemanusian terus digiatkan agar mareka dapat bertahan hidup dari sekatan ekonomi yang dimainkan olet etnis Rakhine yang didukung oleh Junta Militer Myanmar. Bahkan kondisi sekarang etnis Muslim tidak hari ada korban eksekusi oleh etnis Rakhine tanpa ada balasan. Bahkan untuk kain kafan pun tidak ada. Maka dikifayahkan menurut apa adanya.

Ketiga, untuk menghentikan kebrutalan ini tekanan internasional, kunjungan diplomatik dari negara-negara atau lembaga internasional akan mengurangi kebrutalan terhadap etnis muslim di sana.

Selanjutnya, unjuk rasa yang dilakukan secara terus-menerus merupakan bagian yang dahsyat untuk menekan mengingatkan Presiden SBY. Unjuk rasa yang damai menjadi media pengingat bahwa ada masalah kemanusiaan di Burma. Ini bukan sekedar masalah agama, namun lebih dari itu, ada sisi-sisi kemanusiaan yang mesti dibela.

Bagaimana pun, mengutip sabda Rasulullah, umat Islam itu bersaudara. Jika satu bagian tubuh sakit, maka yang lain merasakan sakit juga. Ukhuwah Islam dibuktikan dengan peduli pada nestapa muslim di seluruh dunia.*

Penulis adalah Executive Secretary International Concern Group for Rohingya di Bangkok
Rep: Cholis Akbar
Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/24249/ ... ngnya.html
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby iamthewarlord » Tue Aug 14, 2012 6:39 pm

Laurent wrote:Orang Arab, Rohingya, Dan Rakhine (I)
Friday, 06 July 2012, 02:00 WIB
Orang Arab, Rohingya, Dan Rakhine (I)
Pria muslim Rohingya menangis ketika dipaksa untuk naik kapal untuk dikembalikan ke Myanmar dekat pos penjaga perbatasan di Taknaf,Bangladesh,Jumat (22/6). (Saurabh Das/AP)


REPUBLIKA.CO.ID,Dalam Hanifa O Kaiya puri, buku yang ditulis pada abad ke-16, Shah Barid Khan bercerita tentang kedatangan orang Arab di Arakan. Lebih tiga abad kemudian, British Burma Gazetteers yang ditulis RB Smart bertutur tentang orang-orang Moor yang terdampar di Pantai Arakan, bermukim, kawin dengan penduduk lokal, dan membentuk masyarakat baru.

Sebelum Hanifa O Kaiyapuri terbit, cerita tentang kedatangan orang orang Arab adalah cerita tutur masyarakat Muslim di Arakan. Barid Khan meneliti kebenaran cerita ini dan membandingkannya dengan berbagai sumber dari Persia dan Arab.

Barid Khan sampai pada kesimpulan kedatangan orang Arab pertama di Arakan terjadi pada 680 Masehi. Setelah Perang Karbala, Barid Khan, Mohammed Hanofiya, dan tentaranya tiba di Arab-Shah Para— sebuah kawasan dekat Maungdaw, kota di sebelah utara Arakan saat ini.

Hanif dan pasukannya bermukim di tempat itu, berbaur bersama penduduk setempat. Di dalam hutan, Ratu Kaiyapuri memimpin masyarakat kanibal. Secara berkala, pasukan Kaiyapuri menyerang desa desa di pinggir hutan, menculik penduduk, dan memakannya.

Hanif berinisiatif mengakhiri semua ini. Bersama pasukannya, Hanif masuk ke dalam hutan dan menyerang istana Ratu Kaiyapuri. Unggul pengalaman tempur dan persenjataan, Hanif berhasil menangkap Ratu Kaiyapuri bersama pengikutinya.

Ia membawa sang Ratu Kanibal keluar hutan. Ratu Kaiyapuri bersedia memeluk Islam dan Hanif menikahinya. Setelah itu, terjadi perpindahan agama secara massal. Pengikut Hanif dan Kaiyapuri berbaur, kawin dan menciptakan masyarakat baru.
Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Reporter: teguh setiawan

http://www.republika.co.id/berita/inter ... -rakhine-i


dongeng khas muslim.
User avatar
iamthewarlord
 
Posts: 4494
Images: 6
Joined: Sun Feb 08, 2009 11:07 pm
Location: “Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” Muhammad.

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby iamthewarlord » Tue Aug 14, 2012 6:42 pm

http://www.terbaruindo.com/2012/07/pembantaian-muslim-di-burma-myanmar-ternyata-bohong-besar.html#axzz23UfuCLCJ


Pembantaian Muslim Di Burma "Myanmar" Ternyata BOHONG BESAR
Belakangan ini ada banyak beredar foto mengenai perkembangan kasus kerusuhan antara umat muslim Rohingya dan umat Buddhist yang ada di Burma. Foto-foto tersebut umumnya beredar di situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, termasuk melalui BBM

Tapi tahukah anda bahwa tidak semua foto tersebut benar, ada beberapa foto yang ternyata hanyalah ulah orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin memperkeruh keadaan. Berikut ini adalah beberapa gambar yang pernah dan sering beredar yang setelah saya selidiki ternyata hoax

Gambar satu

Image

Foto di atas bukanlah foto pembunuhan, justru sebaliknya foto tersebut adalah foto situasi ketika umat Buddhist di Tibet membantu evakuasi mayat pasca terjadinya gempa di Cina.



Sumber : Tibetan Community
Sumber : Tibet Times

Gambar Dua

Image

Foto ini termasuk yang paling populer beredar dan banyak yang percaya, bahkan musisi terkenal seperti Maher Zain percaya dan ikut-ikutan menyebarkan foto ini. Sungguh tidak bisa dibayangkan seorang public figur ternyata kurang cerdas dalam menyikapi informasi.

Ini sebenarnya adalah foto dari perkembangan kasus Pattani di Thailand Selatan pada Oktober 2004. Foto tersebut bukan foto mayat, tapi foto para demonstran muslim yang ditangkap karena dianggap memperkeruh konflik yang ada di sana setelah sebelumnya memang ada ketegangan antara muslim dengan umat

Suara Merdeka pernah memuat berita tersebut, hanya saja setelah saya telusuri ulang, berita tersebut tidak bisa saya temui, namun saya punya screenshot gambarnya :

Image

Sumber : The Telegraph
Sumber: SMH Portal

Gambar Tiga

Image

Sama seperti pada gambar 2, kumpulan foto ini juga sebenarnya adalah bagian dari penangkapan terhadap orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan di Thailand Selatan.
Sumber : People's Daily
Sumber : Frontline

Gambar Empat

Image

Seperti komentar yang ada pada facebook tersebut, disana dikatakan bahwa itu adalah foto muslim yang dibakar di Burma, dan lihat bagaimana orang dengan mudahnya percaya dan terprovokasi. Padahal jika diperhatikan dengan lebih teliti, bagaimana mungkin orang dibakar dan ada 3 orang juru kamera lain mengambil gambar tersebut dengan santainya.

Foto tersebut sebenarnya adalah foto aktivis Tibet (bernama Jamphel Yesh) yang melakukan demonstrasi saat kedatangan Presiden Cina ke India. Aktivis tersebut adalah imigran yang mencari suaka ke India, dan melakukan aksi bakar diri ketika mengetahui Presisden Cina (saat itu yang menjabat adalah Hu Jintao) akan datang berkunjung.

Inilah foto aktivis tibet bernama :
Jamphel Yesh
yang membakar diri


Image

Image

Image

Image

Image

Image



Sumber : International Bussines Time
Sumber : The Guardian
Gambar Lima

Image

Foto ini bukanlah gambar pertikaian apalagi pembantaian umat muslim yang dilakukan oleh bikhu, melainkan foto demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat Burma terhadap pemerintah atas sulitnya biaya hidup terutama karena kenaikan harga BBM di negara tersebut pada tahun 2007.

Sumber : Ahrchk
Sumber : My Sinchew

Gambar Enam

Image

Foto ini sempat dimuat di berbagai media dan nampak sangat meyakinkan sebagai kasus pembantaian tapi kenyataannya gambar tersebut bukan diambil dari konflik di Burma baru-baru ini. Foto tersebut sebenarnya adalah foto korban dari kasus pengeboman yang terjadi di Kota Myawaddy daerah di Burma Timur yang berbatasan dengan Thailand dan kasus tersebut terjadi pada Februari 2011
Sumber : Arakan Info

Gambar Tujuh

Image

Foto ini dikatakan sebagai korban muslim Rohingya saat kerusuhan di Burma, padahal ini adalah korban dari pembantaian dari militan Boko Haram di Nigeria.

Sumber : Afrik.com
Sumber : News Rescue

Dan inilah Facebooknya orang yang menyebarkan dan memprovokasi
Pembantaian Muslim di Burma myanmar, di Indonesia
Facebook : Andromeda Alfajrie
facebook : Andromeda Alfajrie

Kesimpulan

Sebelum menerima sebuah berita maka sebaiknya kita harus melakukan pengecekan terhadap berita tersebut, apakah benar adanya atau tidak, apalagi jika kabar tersebut hanya dari mulut ke mulut atau situs jejaring sosial yang disampaikan secara berantai. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan untuk mengetahui mana berita yang dapat dipercaya dan mana yang tidak

Pastikan Berasal Dari Sumber Yang Terpercaya dan Netral

Berita-berita yang baik adalah berita yang bersumber dari portal berita terpercaya. Memang tidak semua portal berita bebas dari kepentingan tapi kita juga bisa menilai mana yang netral dan tidak, dan mana yang memiliki reputasi baik dan tidak.

Ketika mencari berita tentang lumpur Lapindo janganlah mencarinya di TvOne karena pemilik stasiun tersebut adalah Bakrie yang notabene terlibat dalam kasus tersebut. Ketika mencari tau tentang situasi partai Nasional Demokrat jangan juga mencarinya di Metro karena yang tampil pasti yang baik-baik saja mengingat pemilik Metro adalah Surya Paloh, sang Ketua Umum Partai Nasional Demokrat

Begitu juga ketika mencari berita tentang kerusuhan antar agama, janganlah mencarinya di situas agama yang terlibat karena beritanya pasti memihak komunitasnya. Carilah di situs berita yang netral dan tidak memiliki visi misi dakwah agama dalam pemberitaannya.

Catatan :

Tulisan ini saya buat untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Membela sesama muslim itu memang penting tapi membela dengan kebohongan yang berujung pada kerusuhan yang tidak berujung juga bukanlah hal yang baik. Jika anda memiliki info tambahan silahkan cantumkan di komentar, maka saya akan menambahkan info tersebut di postingan ini. Sekecil apapun informasinya akan kami hargai

Read more: http://www.terbaruindo.com/2012/07/pemb ... z23UgP2yYu
User avatar
iamthewarlord
 
Posts: 4494
Images: 6
Joined: Sun Feb 08, 2009 11:07 pm
Location: “Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” Muhammad.

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby Laurent » Wed Nov 14, 2012 5:31 pm

..Rohingya, Tanpa Pengakuan dan Tanpa Kawan di Myanmar
Antara – Min, 28 Okt 2012....Email

Lihat Foto.Rohingya, Tanpa Pengakuan dan Tanpa Kawan di Myanmar
Bangkok (AFP/ANTARA) - Diskriminasi selama satu dasawarsa telah diderita Muslim Rohingya tanpa status kependudukan, yang tersebar di seluruh dunia dan dilihat sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di planet ini oleh berbagai bangsa.


Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sekitar 800 ribu kaum Rohingya di Myanmar, terutama di bagian barat Rakhine, terpukul oleh kekerasan komunal yang sengit sejak Juni, yang merenggut 150 nyawa dan menyebabkan ribuan orang mengungsi.


Terbagi dalam tiga kabupaten yaitu Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung, Muslim Rohingya telah lama diperlakukan sebagai orang asing oleh pemerintah dan masyarakat Burma. Sebuah situasi keterasingan yang mendalam dari kaum Buddha Rakhine, kata para aktivis.


Gambar berupa kamp yang kumuh dan laporan bahwa mereka dalam bahaya dan ingin melarikan diri ke negara lain dengan perahu telah menarik perhatian internasional terhadap penderitaan mereka beberapa tahun terakhir, namun kondisi kehidupan mereka hampir tidak ada perkembangan.


Kerja paksa, pembatasan kebebasan untuk bergerak, kurangnya hak atas tanah, pendidikan dan pelayanan publik adalah daftar keterbatasan mereka, kata Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dalam sebuah laporan yang diterbitkan, Desember tahun lalu.


"Muslim Rohingya hampir tidak memiliki hubungan sosial dengan suku Myanmar lainnyam bahasa maupun komunitas agama," kata laporan UNHCR.


Berbicara dengan dialek yang mirip dengan Chittagong di sebelah tenggara Bangladesh, Muslim Sunni dipandang bermusuhan oleh banyak orang di negara Rahine, yang melihat mereka sebagai imigram ilegal dari Bangladesh dan menyebut mereka sebagai Bengali.





Ancaman Reformasi








Permusuhan telah meluas di luar negara dan bahkan termasuk tokoh-tokoh penting dalam gerakan demokrasi, yang didukung oleh masyarakat internasional, telah memperingati bahwa kerusuhan dan pemindahan menimbulkan ancaman bagi reformasi Myanmar.


Terdapat juga serangkaian protes anti Muslim baru oleh umat Budha di negeri ini, kadang-kadang dipimpin para biksu, di tengah persepsi ancaman terhadap mayoritas agama Buddha dan tuduhan kekhawatiran ekstrim terhadap Islam yang sangat disangkal kaum Rohingya.


Di negara tetangga, Bangladesh, PBB memperkirakan setidaknya terdapat 230 ribu kaum Rohingya, dan kelompok tersebut dianggap membebani anggaran dan para pengungsi mulai dituduh atas berbagai macam kejahatan yang terjadi di bagian tenggara negara tersebut, mulai dari pencurian kecil-kecilan hingga perdagangan narkoba.


Bangladesh, yang melakukan pengamanan lebih ketat di sepanjang perbatasan sungai sebagai antisipasi terjadinya kekerasan baru, mengundang kritik dari PBB setelah kembali ke Rohingya, terutama perempuan dan anak-anak setelah kerusuhan, Juni.


Dua gelombang besar pengungsi, berjumlah sekitar 250 ribu orang membanjiri perbatasan Bangladesh pada 1978 dan antara tahun 1991-1992. Skala pemulangan besar-besaran terjadi, dengan perntanyaan PBB tentang ukuran sifat sukarela.





Dalam beberapa tahun terakhir, pendatang Rohingya lainnya menempuh perjalanan berbahaya dengan perahu menuju Malaysia atau Thailand, Angkatan Laut dituduh menarik mereka kembali ke laut pada masa lalu.


Menurut laporan UNHCR, ratusan ribu Rohingya kini diperkirakan tinggal di luar Myanmar, termasuk masyarakat di Pakistan dan sekitar 400 ribu di negara-negara Teluk. PBB mendata sekitar 24 ribu orang saat ini lari ke Malaysia. Kelompok Hak Asasi Manusia mengatakan mungkin terdapat ribuan orang lainnya yang tidak terdaftar di negara tersebut.


Myanmar memiliki banyak kelompok etnis, beberapa di antaranya dilakukan pemberontak sporadis bersenjata sejak negara tersebut merdeka dari Inggris tahun 1948.


Tapi keum Rohingya tidak diakui secara resmi, sebagian karena Undang-undang tahun 1982 menyatakan bahwa minoritas harus membuktikan bahwa mereka tinggal di Myanmar sebelum 1823, sebelum perang Anglo, perang Burma yang pertama, untuk memperoleh pengakuan kewarganegaraan.


Perwakilan dari Rohingya mengatakan bahwa kaum mereka sudah tinggal di Myanmar jauh sebelum itu, sementara ada dugaan bahwa kewarganegaraan dapat diberikan kepada mereka yang memiliki hubungan dengan negara itu, menilai bukti warisan Myanmar bisa menimbulkan tantangan keras bagi minoritas. (ar)

http://id.berita.yahoo.com/rohingya-tan ... 21294.html
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby Laurent » Wed Nov 14, 2012 5:33 pm

..Rohingya: Tak Berkewarganegaraan dan Tak Berteman di Myanmar
AFP – Sab, 27 Okt 2012....Email

Lihat Foto.Rohingya: Tak Berkewarganegaraan dan Tak Berteman di Myanmar

Bangkok (AFP/ANTARA) – Beberapa dekade diskriminasi menyebabkan penduduk Muslim Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan, tersebar di seluruh dunia dan dipandang oleh PBB sebagai kaum minoritas paling dianiaya di dunia.





Sekitar 800.000 penduduk Rohingya hidup di Myanmar, menurut PBB, sebagian besar berada di bagian barat Rakhine, yang dilanda oleh kekerasan komunal sejak Juni yang menewaskan sekitar 150 orang dan menyebabkan puluhan ribu meninggalkan rumah mereka.





Dibatasi oleh tiga distrik, Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung, sejak lama mereka diperlakukan sebagai “orang asing” oleh pemerintah dan banyak Burma, sebuah situasi yang dianggap para aktivis akan mengarah untuk memperdalam keterasingan dari umat Buddha Rakhine.





Gambar dari perkampungan yang kumuh dan beberapa laporan upaya berbahaya untuk melarikan diri ke negara-negara lain menggunakan kapal telah menarik perhatian dunia internasional terhadap penderitaan mereka dalam beberapa tahun terakhir ini, namun kondisi hidup hampir tidak membaik.





Kerja paksa, pembatasan kebebasan bergerak, kurangnya hak atas tanah, pendidikan dan pelayanan publik yang terdaftar sebagai salah satu keterbatasan diberlakukan kepada kelompok tersebut, ujar badan pengungsi (UNHCR) PBB dalam sebuah laporan yang dipublikasikan pada bulan Desember tahun lalu.





"Muslim Rohingya hampir tidak bersahabat dengan masyarakat etnis, bahasa dan agama Myanmar lainnya, ," kata laporan UNHCR.





Dialek berbicara yang mirip dengan yang digunakan di Chittagong, Bangladesh, Muslim Sunni dipandang sebagai musuh oleh banyak negara di Rakhine, yang melihat mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan menyebut mereka sebagai "Bengali". (dh/ai)

http://id.berita.yahoo.com/rohingya-tak ... 20349.html
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby ali5196 » Thu May 23, 2013 8:43 am

http://europenews.dk/en/node/67778
jihadonbuddhists.org 22 May 2013

Image
Foto: kanibalisme Muslim Birma menyantapi daging Buddhis


Setelah melihat foto Muslim Syria menyantapi hati yang dicongkel dair jenazah tentara Syria dan kepala yg dipenggal dan dibakar spt sate, foto diatas ini tidak terlalu mengejutkan. Muslim mengakibatkan ketegangan di Birma, Thailand, Indonesia, India, Bangladesh (asal Muslim Birma) dsb. Tapi saat kaum Buddha Birma membalas kekejaman Muslim, mrk selalu teriak dizolimi.


Foto diatas masih perlu dikonfirmasi. Silahkan mengajukan keberatan kalau foto diatas bukan dari Birma. :snakeman:
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Tue May 28, 2013 8:48 pm

Image
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re: Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)

Postby Laurent » Wed Jul 17, 2013 5:39 am

http://www.longwarjournal.org/archives/ ... _to_op.php

Jihadists seek to open new front in Burma

By BILL ROGGIO July 15, 2013

A group of "mujahideen" training in Burma. Image for Kavkaz Center.

A group of jihadists from Burma, Bangladesh, Indonesia, and Pakistan are reported to have formed a "brigade" to fight the Burmese government. A Burmese branch of the Harkat-ul-Jihad-al-Islami that is based in Karachi, Pakistan and has been in operation since the late 1980s is likely involved in recruiting Pakistanis to fight in Burma.

"A brigade of Mujahedeen from Burma, Bangladesh, Indonesia and Tehreek-i-Taliban Pakistan under the leadership of Abu Safiya and Abu Arif reached Burma," according to a statement released at Kavkaz Center, a propaganda arm of the al Qaeda-linked Islamic Caucasus Emirate.

The statement was accompanied by nine photographs of members of the brigade. The jihadists are dressed in military fatigues and most are wearing green headbands. The men are armed with AK-47 assault rifles and PKM machine guns. The men are seen marching in formation, training with their weapons, and praying. Scores of fighters appear together in some of the pictures.

The photographs were originally published at Arrahmah.com, an Indonesian website that glorifies jihad in Afghanistan, Pakistan, Syria, Indonesia, and in other theaters.

The group claims it killed 17 Burmese soldiers in its first ambush of a military convoy, and "a few days ago they slaughtered three men including a Buddhist monk." The claims could not be confirmed.

The statement at Kavkaz also noted that Abu Bakar Bashir, the spiritual leader of Jemaah Islamiyah who is currently serving a jail sentence for forming an al Qaeda branch in Indonesia, called for Muslims to wage jihad against the Burmese government.

"By the will of Allah, we can destroy you and your people like Russia, the socialist-communist country, or like America that will be destroyed soon," Bashir threatened in a letter to the president of Burma.

The Burmese branch of Pakistan's Harkat-ul-Jihad-al-Islami

Harkat-ul-Jihad-al-Islami, a Pakistani terror group closely tied to al Qaeda, operates a branch that is active in Burma. Known as Harkat-ul-Jihad-al-Islami Arakan, the group was founded by Maulana Abdul Quddus, a Burmese Muslim who fled to Pakistan sometime in the early 1980s, according to Amir Rana, the author of A to Z of Jehadi Organizations in Pakistan.

Quddus said he fought the Russians in Afghanistan in the 1980s after settling in Karachi and joining Harkat-ul-Jihad-al-Islami.

"The Afghan war started while I was studying and I went many times to Afghanistan at the behest of Harakat ul-Jihad-e-Islami and had the honor of participating in jihad," he said in an interview in 1998. "I stayed in Afghanistan from 1982 to 1988."

He formed Harkat-ul-Jihad-al-Islami Arakan in 1988. The goal was to liberate the Muslim-dominated Burmese state of Rakhine, which was formerly known as Arakan.

Quddus and his Harkat-ul-Jihad-al-Islami Arakan are based in Korangi Town in Karachi, Pakistan. The group has an extensive network of madrassas and charities.

Harkat-ul-Jihad-al-Islami, the parent organization, is closely tied to al Qaeda, and its Brigade 313 serves as al Qaeda's military arm in Pakistan and Afghanistan. Ilyas Kashmiri, the former emir of Brigade 313 who was killed in a US drone strike in June 2011, also served as a member of al Qaeda's military committee.

Terror groups call for jihad in Burma

As tensions between Rohingya Muslims in Burma and the government have escalated over the past several years, calls for jihad in the South Asia country from numerous jihadist groups have increased.

One of the most blatant calls for Muslims to wage jihad in Burma came from a senior cleric and spokesman from the Islamic Movement of Uzbekistan, Abu Dher Azzam, who is also known as Abu Dher al Burmi. In the statement, which was released on Nov. 28, 2012 and was obtained and translated by the SITE Intelligence Group, Azzam assailed the Burmese government and accused China and Germany of supporting "these massacres and this genocide" in Burma.

"Rise O servants of Allah to help your brothers and sisters!," Azzam proclaimed. "Rise to save your sons and daughters! Do your best in jihad, O guardians of creed and [monotheism], against the enemies of Allah the idolatrous Buddhists, and target the most important installations of Burma, China and Germany, and their interests and the interests of the United Nations, which supports these massacres and this genocide in Arakan."

Other groups that have offered support for Burmese Muslims include the Afghan and Pakistani Taliban, al Qaeda in the Islamic Maghreb, Shabaab, al Qaeda, and various jihadist media outlets such as the Shumukh al-Islam forum, the Global Islamic Media Front, al Qaeda's Vanguards of Khorasan magazine, and the Turkish jihadist magazine Islamic World.

Bagian 21 : JIHAD vs Buddhist Birma (abad 13 - 21)
Mirror
Faithfreedom forum static
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby ali5196 » Mon Dec 23, 2013 10:06 pm

http://www.frequency.com/video/us-admin ... 38/-/5-166
Lihat video dlm link diatas ttg seorang wanita Buddhis yg mengisahkan cerita seram ttg Muslim haus darah keluar dari mesjid dan teriak2 Allahu Akbar.

:snakeman: :snakeman:

Lihat video dlm link diatas ttg seorang wanita Buddhis yg mengisahkan cerita ser
Mirror
Faithfreedom forum static
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Mon Dec 23, 2013 10:08 pm


Arakan Orphan: her father was killed by Rohingya terrorist in Maung-Daw massacre/Yatim piatu Arakan: ayahnya, seorang kepala sekolah, dibunuh teroris Bangladesh dlm pembantaian Mang Daw bulan Juni 2012

Artikel Faithfreedom Indonesia
Mirror
Faithfreedom forum static
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Previous

Return to Resource Centre: Sejarah INVASI JIHAD



Who is online

Users browsing this forum: No registered users