.

Jihad vs Umat Buddha (abad 6-abad 13)

Sejarah pedang jihad di Timur Tengah, Afrika, Eropa & Asia.

Jihad vs Umat Buddha (abad 6-abad 13)

Postby The-Fed » Sun Nov 16, 2008 9:47 pm

Jihad dan Penyerangan terhadap Umat Buddhis

Terdapat lagu rakyat Turki yang meneceritakan tentang penyerangan Karakhanid terhadap kerajaan Buddhis Uyghur di Turfan. Lagu rakyat tersebut dicatat dalam kamus yang ditulis oleh Al-Kashagri pada abad ke-12 M:

Kami datang kepada mereka layaknya air bah
Kami pergi ke kota-kota mereka
Kami merobohkan vihara-vihara Buddha
Kami mengumpat di kepala Buddha!


Para penjajah Arab menyebut penganut agama-agama India sebagai But-parast dan para penghancur patung sebagai “but-shikan” Kata-kata “But” berasal dari kata “Buddha”, namun bangsa Arab menggunakannya untuk mendeskripsikan umat-umat agama India. Ketika bangsa Arab datang ke Sind, cuma ada sedikit pengaruh agama Buddha di sana dan tidak ada pemerintahan Buddhis. Dari abad ke-7 sampai 13 M, Islam menggantikan agama Buddha sebagai agama perdagangan di banyak tempat, bersama dengan konsolidasi agama-agama para petani yaitu Hindu.

1. Periode Umayyad (661-750 M)

Pada tahun 711 M, Dinasti Umayyad, Muhammad bin Qasim menaklukkan Sind dan membawa penduduk India untuk bertemu dengan ajaran Islam. Pada saat itu umat Buddhis yang hidup di Sindh sangat banyak dan biasnaya berada dalam golongan pedagang. Para pasukan Hindu melawan serangan pasukan Umayyad. Para Buddhis yang tidak mempunyai kemampuan perang menyerah dengan damai. Pasukan Muhammad bin Qasim akhirnya berhasil mengalahkan Raja Dahir, raja Hindu di Sindh dengan bantuan aliansi Jat. Peperangannya sukses berkat dukungan kasta rendah seperti Jats, Meds dan Bhutto. Pasukan Umayyad menghancurkan kuil-kuil Hindu dan menggantinya dengan masjid. Gubernur kota yang Buddhis juga mengajukan perdamaian dengan pasukan Umayyad. Masjid juga dibangun di daerah vihara utama. Mereka yang berganti keyakinan menjadi Islam terutama dari umat Buddhis yang dari kalangan pedagang, karena mereka melihat banyak sekali keuntungan ekonomi dan politik apabila mereka menjadi Muslim. Mereka juga membayar pajak yang rendah apabila mereka berganti keyakinan menjadi Muslim.

Namun pasukan Umayyad ini cukup toleran dengan agama Buddha, mereka tidak menyerang Dudda Vihara yang berada di Valabhi (di bawah pemerintahan Rastrakuta), mereka malah mengadakan hubungan damai dengan Rastrakuta. Penghancuran vihara Buddhis oleh pasukan Umayyad bisa dibialng jarang.
Pada tahun 715 M, Gubernur Hajjaj mengrim Jenderal Qutaiba untuk mengambil kembali Bactria dengan menyerangnya dari timur laut Iran. Jenderal tersebut kemudian merusak Nava Vihara. Banyak Bhiksu melarikan diri ke Kashmir dan Khotan. Raja Karkota, Lalitaditya (701-1738) membangun banyak vihara baru untuk menampung para pengungsi Buddhis, atas anjuran menteri Bactria yang Buddhis. Lebih lanjut lagi dari Khotan, sebagain pengungi pergi ke Tibet. Ratu Jincheng pada tahun 725 M di Tibet menerima para Bhiksu pengungsi dan membangun tujuh vihara untuk mereka. Ketika pada tahun 739 M Ratu Jincheng meninggal, para Bhiksu pengungsi dipindahkan lagi ke Gandhara dan akhirnya mereka menetap di Baltistan di uata Oddiyana. Waktu terus berjalan dan Nava Vihara kemudian kembali berfungsi seperti sedia kala. Umat Muslim dan umat Buddhis hidup berdampingan dengan damai di Sindh.

2. Periode Abbasid (750-840 M)

Pada tahun 780 M, para penguasa Abbasid di Sindh menyerang Surashtra dan menghancurkan vihara-vihara Buddhis di Valabhi. Setelah kejatuhan Dinasti Rashtrakuta, vihara ini menjadi tanpa perlindungan. Valabhi tidak hanya merupakan pusat pengajaran Buddhis, namun juga Jain sekte Shvetambara yang memakai jubah putih.

Pasukan Abbasid salah mengira kalau mereka (Jain) adalah pengikut Manichaean dan Musalemmiya yang keberdaaannya dianggap mengancam. Ketika berada di Valabhi, mereka tidak dapat membedakan mana yang vihara Buddhis mana yang kuil Jain. Mereka menghancurkan semuanya.

Dinasti Abbasid tetap terus melanjutkan sistem status dhimmi seperti pada dinasti sebelumnya, Umayyad. Mereka tetap memberikan status dhimmi bagi para Buddhis. Satu-satunya agama non-Muslim yang disiksa oleh pengikut Abbasid adalah umat agama Manichaean.

Kitab Al-Budd, Kita Bilawhar wa Budhasaf dan kitab al-Fihrist yang berkisah tentang Sang Buddha dan Bodhisattva semuanya muncul pada masa ini, menunjukkan bahwa para pemerintah Abbasid sangat toleran terhadap agama Buddha.

Pada tahun 815 M, pasukan Abbasid memenangkagn pertempuran melawan penguasa Turki Shahi, yaitu Kabul Shah. Kabul Shah dipaksa untuk masuk Islam. Sebagai tanda penyerahan dirinya, Kabul Shah mengirim sebuah rupang Buddha dari emas ke tanah Mekah dan disimpan selama 2 tahun sebagai harta di Kabah. Rupang Buddha tersebut dipertontonkan untuk menunjukkan bahwa Allah memimpin Raja Tibet ke dalam agama Islam. Bangsa Arab salah mengira Kabul Shah sebagai Raja Tibet. Pada tahun 817 M, bangsa Arab meleburkan rupang Buddha tersebut di Kabah untuk menghasilkan koin-koin emas.

3. Periode Bangsa Turki (840-1206 M)

Agama Buddha berkembang di Kerajaan Saffarid. Asadi Tusi, dalam karyanya Garshap Name yang ditulis tahun 1048, menjelaskan tentang vihara Subahar yang ditemukan oleh Ghaznavid ketika mereka menduduki Kabul. Sedangkan raja kerajaan Samanid yang beragama Sunni Islam, yaitu Nasr II juga sangat toleran dengan agama Buddha, dengan fakta bahwa pratima Buddha masih dibuat dan dijual di istana Samanid, Bukhara.

Khotan menjadi salah satu pusat perkembangan agama Buddha. Para penduduk Buddhis Kashgar, yang menolak untuk berganti keyakinan di tangan Qarakhanid karena mereka bukan orang Turki, didukung oleh umat Buddhis di Khotan. Umat Buddhis Khotan membantu penduduk kashgar untuk menjatuhkan kekuasaan Muslim Turki pada tahun 971 M. Namun 4 imam mengirim Yususf Qadr Khan, saudara Qarakhanid Oaghan untuk mengadakan jihad melawan pasukan Khotan dan Kashgar. Akhirnya pasukan Yusuf berhasil memberantas mereka dan Khotan menjadi salahstau daerah kekuasaan Qarakhanid. Penduduk Khotan kemudian beralih keyakinan dari Buddhis ke Islam. Raja Yeshey-wo dari Ngari yang Buddhis juga pernah ditangkap oleh para pasukan Qarakhanid ketika ia mengunjungi Khotan. Selama pendudukan Khotan oleh Qarakhanid, bahas Turki menggantikan bahasa Khotan dan seluruh kota menjadi Islam. Agama Buddha sepenuhnya lenyap di kota tersebut. Setelah keruntuhan Qarakhanid pada 1137 M, para penguasa Kashgar mendukung agama Buddha dan juga terdapat para pejabat Buddhis di Kashgar.

Pada abad ke-10 M, Mahmud dari Ghazni yang seorang Muslim Sunni berhasil mengalahkan Hindu Shahi dan mengakhir pemerintahan Buddhis di Asia Tengah dan Punjab. Mahmud menghancurkan stupa-stupa dan vihara-vihara selama peperangannya melalui India Utara, namun meninggalkan vihara-vihara yang berada dalam daerah kekuasaannya, Sogdia, Bactria, Kabul, dan Afghanistan. Ia menghancurkan vihara-vihara Buddhis di Nagarkot dan Mathura. Mahmud dari Ghazni adalah penentang pemujaan berhala. Rupang-rupang Hindu dan Buddhis semaunya dihancurkan dan banyak Buddhis yang pergi berlindung ke Tibet. Pada masa ini, Al-Biruni mencatat Sang Buddha sebagai Nabi Burxan.

Namun Mahmud tidak dapat menyerang dan menginvasi Kashmir. Berdasarkan catatan Buddhis, penguasa Ghazanavid tersebut dihentikan oleh mantra Buddhis yang dilafalkan oleh Prajnaraks**ta, murid dari Mahasiddha Naropa.

Seperti Samanid, Ghaznavid juga mempopulerkan kebudayaan Persia. Puisi-puisi Persia sering menggunakan perumpamaan istana-istana itu seindah “Nawbahar” (Nava Vihara).

Dihancurkannya banyak vihara adalah salah satu penyebab utama mundurnya agama Buddha di India, karena vihara adalah tempat berkumpulnya banyak umat Buddhis. Pasukan-pasukan Muslim Ghurid juga menghancurkan dan meluluhlantakkan Vihara Odantapuri dan Vikramashila.

Muhammad dari Ghur menyerang India utara banyak kali. Gujarat jatuh ke tangan pasukan Muhammad dari Ghur pada tahun 1197 M. Pasukan Muhammad dari Ghur menghancurkan banyak bangunan Buddhis.

Vihara-vihara Odantapuri dan Nalanda dihancurkan oleh Muhammad-bin-Bakhtiyar pada tahun 1197 M dan kota tersebut dinamakan kembali. Para bhiksu dibunuh dalam penyerangan itu. Taranatha dalam Sejarah India-nya (dpal dus kyi 'khor lo'i chos bskor gyi byung khungs nyer mkho) memberikan detail catatan sejarah mengenai abad-abad terkahir agama Buddha di India, terutama India Timur. Catatannya menunjukkan kemunduran agama Buddha yang luar biasa, namun bukan kepunahan agama Buddha.

Pada tahun 1200 M, Muhammad Khilji, salah satu jenderal Qutb-ud-Din, menghancurkan vihara-vihara yang ditempati oleh pasukan Sena, seperti di Vikramashila. Banyak monumen dan banunan di India yang dihancurkan oleh para penjajah Muslim, termasuk vihara-vihara Buddhis di Benares (Varanasi). Para bhiksu yang berhasil lolos dari pembantaian pergi ke Nepal, Tibet dan India Selatan.

Sejarawan Tibet pada abad 17 M menulis bahwa pada waktu pemerintahan Raja Sena, orang Tayi (Turki) telah muncul dengan pasukan berkudanya dan vihara-vihara kemudian diduduki dan diserbu oleh pasukan Tayi, para bhiksu di Uddandapura (Odantapuri) dibunuh, vihara diruntuhkan dan diganti oleh benteng baru dan Vikramashila yang ada di sebelah timur laut juga dihancurkan.

Catatan sejarah Muslim dan satu saksi mata Chag Lotsawa Dharmasvamin sekitar tahun 1235 M pergi ke India Utara dan bercerita tentang vihara-vihara yang ditinggalkan dan digunakan sebagai kamp oleh para Turukshah. Dharmasvamin juga menemukan bahwa Universitas Nalanda telah rusak dan ditinggalkan, namun masih berdiri dan berfungsi dengan hanya 70 murid. Di dekat Nalanda tepatnya di Vajrasana, Bodhgaya juga masih berdiri Vihara Srilanka Mahabodhi dengan 300 bhikshu Srilanka. Vihara Jagaddala di barat laut Bengal masih berkembang dan penuh dengan bhiksu. Somapura, vihara universitas terbesar di bengal, tampaknya ditinggalkan pada masa ini.

Akhirnya Jagaddala dan Somapura dihancurkan juga oleh pasukan Muslim.

Taranatha juga menyebutkan: “para Turukshah menaklukkan seluruh Magadha dan menghancurkan banyak vihara dan memberi banyak kerusakan pada Nalanda, dan banyak bhiksu melarikan diri.”

4. Periode-periode Selanjutnya

Raja Timur (abad ke-14 M) yang seorang Muslim dan pendiri Kerajaan Timurid banyak menghancurkan bangunan Buddhis dan menduduki daerah-daerah di mana agama Buddha berkembang.
Pemerintahan Dinasti Mughal juga memberikan dampak bagi kemunduran agama Buddha. Para penguasa Mughal seperti Aurangzeb menghancurkan kuil-kuil Hindu dan vihara-vihara Buddhis, kemudian menggantinya dengan masjid-masjid.

Banyak vihara-vihara Buddhis yang dihancurkan selama penjajahan di tanah India, pertama dilakukan oleh pasukan Umayyad pada abad ke-8 M dan kemudian oleh pasukan Islam Turki (pemerintahan Abbasid) mulai dari abad 11 – 13 M.
Last edited by The-Fed on Sun Nov 16, 2008 10:07 pm, edited 1 time in total.
The-Fed
 
Posts: 373
Joined: Fri Sep 19, 2008 11:46 am

Postby Eneng Kusnadi » Sun Nov 16, 2008 10:01 pm

Lho, Islam masuk Indonesia juga ngantem ummat budhis lhoo.
Jangan lupa borobudur sampai ditimbus dengan tanah supaya tidak dirusak oleh Islam.
User avatar
Eneng Kusnadi
 
Posts: 2997
Joined: Sat Dec 30, 2006 1:26 pm
Location: Peternakan Unta/Camelot

Postby The-Fed » Sun Nov 16, 2008 10:04 pm

Eneng Kusnadi wrote:Lho, Islam masuk Indonesia juga ngantem ummat budhis lhoo.
Jangan lupa borobudur sampai ditimbus dengan tanah supaya tidak dirusak oleh Islam.


Yg dalam negeri nanti menyusul ya Image
The-Fed
 
Posts: 373
Joined: Fri Sep 19, 2008 11:46 am

Re: Jihad vs Umat Buddha (abad 6-abad 13)

Postby Laurent » Sun Mar 14, 2010 10:37 am

itu sebabnya Islam dibenci Umat Budha Indochina bahkan dihabisi / digenosida seperti yang terjadi di Myanmar & Kamboja
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Jihad vs Umat Buddha (abad 6-abad 13)

Postby Laurent » Sun Sep 05, 2010 8:50 pm

baru tahu sejarah XINJIANG yang sebenarnya ,pantas aja RRC masih ngotot mempertahankan WIlayah XINJIANG sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya karena sadar XINJIANG itu justru dirampas ISLAM DAri CHINA yang sudah menguasai wilayah tersebut sejak jaman dinasti HAN
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Jihad vs Umat Buddha (abad 6-abad 13)

Postby lapis legit » Tue Jul 12, 2011 9:57 am

Laurent wrote:baru tahu sejarah XINJIANG yang sebenarnya ,pantas aja RRC masih ngotot mempertahankan WIlayah XINJIANG sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya karena sadar XINJIANG itu justru dirampas ISLAM DAri CHINA yang sudah menguasai wilayah tersebut sejak jaman dinasti HAN



orang Xinjiang atau Tibet bukan berasal dari etnis Han (mayoritas orang China) Klo anda pergi ke Xinjiang atau tibet yang menjajah itu orang han

Paham...!
lapis legit
 
Posts: 200
Joined: Tue Jan 11, 2011 11:38 am

Postby Laurent » Sat Sep 03, 2011 10:48 am

The Historical Interaction between the Buddhist and Islamic Cultures before the Mongol Empire
Alexander Berzin, 1996
http://www.berzinarchives.com/web/en/ar ... intro.html
Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Jihad vs Umat Buddha (abad 6-abad 13)

Postby Laurent » Sat Dec 29, 2012 4:28 am

Laurent
 
Posts: 6161
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby ali5196 » Sun Feb 17, 2013 3:44 am

Biasa khan Muslim? Gak di Birma, di Thailand, di Xinjiang, di Bangladesh, nggerecokin masyarakat Buddhis setempat, Muslim kini bikin pusing SRILANKA. Dibawah ini cuplikan sebuah artikel sk Srilanka.

Pendapat: Hukum dan Agama -- Beberapa Kekhawatiran kaum Buddhis Sinhala
oleh Shenali Waduge
12 January 2013
http://www.dailynews.lk/2013/01/12/fea03.asp


Rakyat Buddhist Srilanka, atau disebut juga dgn Buddhis Sinhala, khawatir krn warisan budaya, arkeolig dan monumen2 sejarah Buddhis mereka sedang dihancurkan. Muslim yg tinggal bersama mereak secara damai selama bertahun2 kini sedang diradikalisasi dan mengadopsi sebuah 'eksklusivitas' yang nampak dari busana2 wanita yg serba hitam dan menjamurnya madrasah.

Kami, rakyat Buddhis Srilanka khawatir karena:

* Islam adalah suatu cara hidup yg menyatukan komponen2 legal, social, economic, religious, political dan MILITER. Menantang satu komponen akan berakibat pada aktivisasi kesemua komponen guna menyerang mereka yang berani menantangnya.

* munculnya konflik antara hukum Islam (syariah) dgn hukum negara/internasional.

* terciptanya dualisme hukum: satu hukum bagi Muslim dan hukum lain bagi non-Muslim.

* menjamurnya pengadilan2 syariah yang tadinya tidak ada. Kalau Muslim sudah mengikuti hukum Srilanka selama puluhan tahun, mengapa tiba2 mereka kini merasa perlu tunduk pada syariah? Mengapa 9% penduduk harus memiliki hukum terpisah dan bukannya pada hukum Srilanka?

* karena kebebasan terancam begitu hukum (islam) melukai hewan atau orang lain.

* karena tuntutan ekstrimis spt memancarkan doa2 mereka lewat TOA tidak merupakan hak azasi fundamental, krn TOA hanyalah alat elektronik yang merupakan fenomena baru.

Kalau Muslim memang ingin hidup damai dgn penduduk setempat, mengapa mereka menuntut hukum, praktek dan adat yang secara langsung mengakibatkan konflik, padahal kita semua tahu bahwa di negara Islam, minoritas Buddhis tidak memiliki hak apapun.

Kalau Muslim sudah lama makan, menggunakan kosmetik dan telan obat tanpa masalah di Srilanka selama bertahun2 mengapa tiba2 mereka kini perlu sertifikat halal? Dan mengapa ke-90% rakyat Srilanka harus mengongkosi sertifikat macam itu?

Kalau menurut Islam, non-Muslim dianggap kafir dan tidak beragama -- persamaan derajad macam apa yg mereka ajarkan?

Ke 9% Muslim Srilanka sudah memiliki hak2 khusus: mereka dilibatkan dalam bendera nasional, hari2 suci Muslim dijadikan hari libur nasional, mereka diberikan tanah khusus dibelahan timur oleh raja Sinhala (tapi ini belum cukup dan kini mereka tuntut otonomi), supermarket2 Muslim tutup bagi solat Jumat dan bahkan Menteri Kehakiman Srilanka seorang Muslim (dan pemimpin partai politik Muslim radikal).

TAPI apa kebebasan yagn ditawarkan Muslim kpd non-Muslims?

* Apakah non-Muslim bisa mewakili diri sendiri dlm pengadilan syariah? Tidak.

* Apakah non-Muslim punya kebebasan beribadah dalam negara Muslim? TIDAK.

* Apakah non-Muslim punya kebebasan beragama spt Muslim (bangun mesjid, meradikalisasi busana, menggunakan TOA, mengorganisasikan konferensi2 akbar)? Bahkan mengunjungi tempat ibadah non-Muslim saja tidak boleh. Apalagi membawa buku2 atau benda2 yang melambangkan agama non-Muslim.

* Muslim di Srilanka membangun mesjid diseluruh negeri dlm jumlah yang jauh lebih banyak dari jumlah populasi Muslim tapi apakah negara2 Muslim mengijinkan kuil2, gereja2 atau sinagog? Kalaupun boleh, ini dengan segala macam persyaratan/pengetatan.

* Muslim Srilanka memiliki kebebasan berekspresi dan mencap Buddhis2 sbg rasis dan ekstrimis dan bahkan Menteri Kehakiman Muslim menyebut bhiksu2 Srilanka sbg 'teroris berbusana kuning' - tapi begitu Islam dikritik di Saudi, hukumannya adalah mati dirajam.

* Dimana keadilan hukum jika non-Muslim hanya mendapatkan segelintir dari Muslim dlm sebuah kasus hukum sesuai dgn hk syariah? Bukannya ini tidak adil dlm negara yang mayoritas non-Muslim?

* Muslim Srilanka dengan terbuka hanya menerima buruh Muslim bagi bisnis mereka, tapi mengapa mereka keberatan kalau rakyat Srilanka menuntut agar bisnis2 diskriminatif macam ini diboikot?

* Mengapa kaum fundamentalis Islam menghasut kekerasan terhdp penduduk Buddhis di Srilanka Timur--padahal tanah yg mereka duduki adalah hadiah raja Sinhala-- dan kini mereka menghancurkan kelenteng2 Buddhis?

* Kami MERAGUKAN KEDAMAIAN DALAM ISLAM mengingat semua konflik besar di dunia ini berorientasi pada Muslim dan berakhir pada Muslim bunuh Muslim yang jauh lebih berbahaya daripada apa yang dilakukan Barat dengan perang udara (drone) mereka.

Tuntutan2 agresif mereka bagi eksklusifitas hukum tidak menunjukkan kebijakan kompromi ataupun ko-eksistensi damai Muslim dengan komunitas2 lain. Ini bukan hanya pertanyaan yang diajukan rakyat Srilanka, tapi juga rakyat Barat dan dimanapun Muslim berhijrah.

[...]

Baik Muslim maupun umat Tamil mencari alasan 'diskriminasi etnik,' 'rasisme' dan 'kampanye kebencian' oleh rakyat Buddhis terhdp mereka untuk mengalihkan perhatian dari tuduhan2 yang dilemparkan pada mereka. Ini memang taktik sukses. Dengan menampakkan kaum Buddhis Srilanka sbg 'ekstrimis' kpd dunia dan media internasional, Muslim Srilanka mengkamuflasi motivasi mereka sebenarnya.

Memang mudah bagi Muslim untuk menuntut belas kasih dari pihak Buddhist sambil meledek Buddhis yang mencoba menghentikan ekspansi Islam dengan menunjukkan fakta2.

Muslim sendiri setuju bahwa mereka memiliki sebuah rencana terselubung maupun strategi terbuka untuk menyebarkan dominasi mereka tas bangsa2 non-Muslim. Pihak Muslim harus menerima dan memeriksa tuduhan2 sah yang dilemparkan kpd mereka dan berhenti menuntut status khusus kalau mereka ingin hidup damai di tanah Srilanka.

Muslim moderat tidak boleh membiarkan diri mereka sbg kamuflase kaum radikal yang berpura2 ingin hidup damai, sementara melangsungkan agenda yang sama sekali bertentangan.

Muslim sering melanggar agama mereka dengan menyumbang darah, minum alkohol, merokok, mensantapi hidangan haram dll. Apakah Muslim sadar bahwa Ini semua akan jadi tabu kalau syariah dibiarkan mengatur kehidupan mereka? Maukah Muslim di Srilanka hidup spt saudara/i mereka di Saudi, Libya, Irak, Afghan, Mesir dan negara2 Islam lainnya dimana syariah berkuasa?

Kalau pemimpin Srilanka ataupun pihak Muslim moderat tidak menangani radikalisme ini, maka ini akan mengakibatkan kesengsaraan dan malapetaka bagi negeri ini dalam jangka waktu panjang.
:supz: :supz:
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Sun Feb 17, 2013 3:50 am

Contoh penghancuran tempat2 bersejarah Buddhis oleh Muslim di Srilanka:

http://rebelofkandy.blogspot.co.uk/2011 ... uslim.html


Friday, September 16, 2011
A Key lesson learnt by Muslim fundamentalists in Sri Lanka from Tamil racism: Claim a fabricated history of 2000 years of Muslims in Sri Lanka and go a step ahead in turning temples and Sinhalese Buddhist archeological sites into mosques.
Building a mosque on the tomb of the Sinhalese king Dutu Gamunu raised a many an eye brows of fair thinking people here and abroad irrespective of the ethnicity they belong to. The laughable and bizarre claim that a Mullah has been buried on the site 1000 years ago not only make one surprised but stunned.

It is well known that the Tamil racism created a bogus history and to facilitate it went on destroying the Temples and Sinhalese Buddhist archeological sites strewn length and breadth of the North and East of Sri Lanka. But there has been some sort of restraint on the part of Tamil racists in certain instances where some Buddhist temples and its archeological artifacts and inscriptions have been spared. You can witness this if you visit some of the Buddhist Temples in the North and East.

But in the case of Muslim fundamentalism the case has been quite opposite. It can be observed that Muslim fundamentalists have been ruthless and very fast in this instance: Ruthless in completely destroying the temples and archeological sites and fast in building mosques on the sites. As our fellow blogger on Kottu Sinhala Buddhist reports the Kuragala temple is the latest case in point. Kuragala is a vast complex of Buddhist monasteries which was home to thousands of Arhats. The caves with drip ledges and Brahmi letters were the meditating abodes for the Buddhists monks. The fundamentalists have gone to the extent of destroying the inscriptions written in Brahami letters with the use of acids and have given an Arabic name (Dufter Jayalani) to the place. Mosques built and several constructions made with inscriptions covered with cement plasters. In this instance too a mullah is claimed to have stayed in the place some 'thousands years' ago. The funniest part of the whole story has been a video and a web site has been produced in support of the bogus, fabricated and defaced history of the site. As it is well known Muslim fundamentalists in Sri Lanka never care about the law of the land of the country and the court order given to remove the mosques and other constructions has been ignored.

Now a campaign is underway to claim that the removal of the mosque built on King Dutu Gamunu's tomb was done by unruly Sinhalese Buddhist racist mobs including Buddhist monks against peace loving Muslims. (This is the same method used by Tamil racists to cover their racist acts against Sinhalese Buddhists). Dolor crazy NGO hordes are fabricating the stories and up in arms claiming that the right to have a place of worship to peace loving Muslims is denied. The court order given to remove the construction is conveniently forgotten.

As I pointed out in my previous posts, Muslim fundamentalists have found the time is very much conducive to make their move at a time Sri Lanka is under pressure by 'International' witch hunt over alleged war crimes. Grease Yaka incidents which were used to attack the security forces personnel was a case in point. Now building of mosques in Sinhalese Buddhist archeological sites go on with impunity.

PS: It was the destruction of artifacts and land grabbing of Deegawapi temple that came to public limelight for the first time in Sri Lanka though there have been numerous such instances reported and continue to occur from the Eastern part of the country.

Klik Alternatif Diskusi Kalau FFI Terblokir
Mirror
Mirror Rss Feed
Faithfreedom forum static
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Centre: Sejarah INVASI JIHAD



Who is online

Users browsing this forum: No registered users