.

Jihad vs Polandia, Lithuania, Belarusia, Ukraina (1444-1699)

Sejarah pedang jihad di Timur Tengah, Afrika, Eropa & Asia.

Jihad vs Polandia, Lithuania, Belarusia, Ukraina (1444-1699)

Postby Adadeh » Mon Jan 14, 2008 2:08 pm

Sejarah Jihad melawan Polandia, Lithuania, Belarusia, dan Ukraina (1444 -1699)
oleh History of Jihad
12 Jan, 2008

SEKILAS: Ketika kesultanan Ottoman hampir menguasai seluruh Anatolia (Turki modern), mereka menemukan bahwa jalur ke Eropa telah ditutup oleh sisa2 tentara kekaisaran Byzantium, dengan ibukota Konstantinopel, yang merupakan pintu gerbang Eropa. Untuk dapat menyerang Eropa, Ottoman harus mampu menguasai ibukota Konstantinopel. Hal ini sukar dilaksanakan karena perlawanan keras tentara2 Byzantin dalam mempertahankan ibukota mereka. Untuk menghindari perlawanan keras dari Konstantinopel, Ottoman mencari jalur lain, yi : Eropa Timur.

Image
Pasukan Ottoman Menghindari Konstantinopel untuk Menguasai Eropa dan Menyerang Byzantium dari Belakang

Langkah pertama yang dilakukan Ottoman adalah mencari jalur lain ke Eropa dimana perlawanan tidak begitu sengit. Mereka bergerak ke pantai dan mengarungi Laut Aegea di tahun 1352.

NAMUN perlawanan sengit dan keberanian prajurit2 Polis, Lithuania, Belarusia, dan Ukraina mengakibatkan kekalahan mengejutkan bagi tentara Jihadis Turki. Di bawah pimpinan Jan Sobieski, tentara kafir mampu menjinakkan tentara Turki Ottoman di luar tembok2 kota Wina dan akhirnya mengusir tentara Muslim ke luar dari Eropa Pusat dan mengamankan Eropa dari pengaruh Islam selama 400 thn berikutnya.

Image
Jan Sobieski, Raja Polandia penghancur Jihadis Turki dan Tartar
__________________________________

Secara bertahap Ottoman menanamkan cengkramannya di tanah Eropa. Setelah mengalahkan tentara Venesia di laut, tentara Ottoman lalu masuk ke daerah Balkan Selatan. Perang besar pertama melawan tentara Serbia terjadi di tahun 1389 di daerah yg sekarang dikenal dgn Kosovo. Perang ini dikenal dengan nama Kosovo Polje. Dalam perang ini tentara Muslim berhasil mengelabui dan mengalahkan tentara Serbia.

Setelah mengalahkan Serbia, tentara Ottoman mulai menyerang Bulgaria dan Kroasia. Untuk membebaskan negaranya dari penjajahan penyerang Turki, masyarakat Serbia dan Bulgaria minta tolong kerajaan2 Kristen Eropa. Sebagai jawaban, tentara Polandia, Kroasia, Illyrian (pra-Islam Albania) dan ksatria2 dari Spanyol dan Perancis bergabung dengan tentara2 Balkan Kristen untuk menghadapi tentara Jihadis Ottoman.

Image
Perang Varna adalah perang pertama Polandia melawan jihadis Ottoman.

Perang Varna terjadi pada tanggal 10 November 1444 di Bulgaria Timur. Dlm pertempuran ini, tentara Ottoman di bawah pimpinan Sultan Murad II menghadapi tentara2 Polandia di bawah pimpinan Ladislaus III (atau Władysław III atau Warneńczyk III) dan tentara2 Hungaria di bawah pimpinan Janos Hunyadi.

Di Varna, gabungan tentara Kristen Hungaria, Polandia, Czechnia, Bosnia, Kroasia, Bulgaria, Romania, dan Routeni (Belarusia dan Ukraina) bertemu dengan kekuatan besar pasukan Ottoman Turki. Pasukan2 Hungaria tidak punya persenjataan lengkap dan janji dukungan militer dari Wallachia (Romania sekarang), Albania, dan Konstantinopel tidak kunjung datang. Mereka juga menerima janji2 dari orang2 Venesia yang katanya tidak akan mengijinkan tentara Turki masuk ke Bosphorus.

Tapi nasib mengatakan lain, dan 30.000 pasukan Kristen berhasil dikalahkan oleh 120.000 tentara Turki. Separuh pasukan Kristen tewas di Varna. Kekalahan ini membuka jalan bagi penguasaan dan penjajahan Eropa Timur oleh Turki dalam beberapa abad kemudian.

Meskipun kalah dlm ronde pertama, dalam kesempatan2 lain tentara Polandia selalu membantu tentara kafir melawan tentara Ottoman. Hal ini memperlambat usaha Ottoman untuk masuk ke jantung Eropa, kedalam Polandia dan Prusia di abad 14 dan 15M. Tentara Polandia juga berperan penting dalam mengusir tentara Turki dari tanah Eropa dalam pengepungan di Wina di tahun 1529.

Turki menyerang Polandia dari Belakang Melalui Ukraina

Untuk benar2 bisa mengalahkan Polandia, tentara Turki terlebih dahulu menyerang Ukraina di tahun 1650 lewat belakang melalui Laut Mati. Setelah itu, tentara Turki menyerbu masuk daerah Polandia yang bernama Podolia di tahun 1669. Pada jaman itu, Ukraina merupakan bagian dari kerajaan Polandia. Lihat peta dibawah:

Image
Kerajaan Polandia Saat Jihadis Turki menyerang Polandia
Pada jaman itu, daerah Ukraina terbagi jadi tiga bagian yakni Polandia, Ukraina, dan Belarusia. Polandia menguasai bagian Barat Ukraina, dan Rusia menguasai bagian Timur. Bagian2 ini dipisahkan oleh sungai Dnieper.

Dalam menyerang masuk Polandia melalui pintu belakang, tentara Ottoman bekerja sama dengan tentara Muslim Tartar Mongolia.

Meskipun tentara Tartar tidak sekuat pada masa jayanya, sisa2 pasukan Tartar Khanate di Kazan di sebelah tenggara Ukraina masih menyimpan dendam membara terhadap bangsa2 Polandia, Ukraina, Belarusia, Rusia, dan Lithuania yang telah menghancurkan kekuasaan Kazan Khanate seabad sebelumnya. Bangsa Tartar masih ingat dengan jelas bagaimana dulu mereka diserang oleh pasukan Polandia, Ukraina, Belarusia, Rusia, dan Lithuania. Saat itu mereka berusaha keras bertahan dari serangan tentara2 Rusia di sekitar Mesjid Kul-Sherrif yang terletak di tengah2 benteng Kazan.

Semua masyarakat Tartar habis dibunuh saat itu. Ketua mereka yang bernama Yadigar Khan dan beberapa pengikutnya ditahan. Dalam perang ini, tentara Muslim Kazan bertempur sampai tiada satupun tentara yang masih hidup di medan perang. Setelah kota dikuasai, para Muslim dibantai oleh tentara Rusia sebagai balas dendam serangan Muslim Tartar sebelumnya. Tentara Rusia juga membunuh kaum wanita dan anak2. Hanya beberapa orang saja yang dibawa sebagai tawanan.

Sekelompok kecil tentara Tartar berhasil melarikan diri ke luar dari kota Kazan dan menyembunyikan diri di hutan2 untuk melanjutkan pertempuran mereka. Merekalah yang menyimpan dendam utk menghantam Rusia dan sekarang mereka bertekad balas dendam atas tentara Kristen. Semua kekayaan Kazan telah dirampas, mesjid2 dan rumah2 mereka telah dihancurkan.

Pasukan muslim Khanate Kazan dibentuk oleh Ulug Muhammed Khan di tahun 1437 dan berumur selama 115 tahun sebelum akhirnya dibasmi oleh Tsar Rusia bernama Ivan IV pada tanggal 15 Oktober 1552.

Tujuan pasukan Ottoman bukanlah berperang melawan Rusia, tapi dengan Polandia. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi tentara Tartar, sebab semua lawan adalah kafir, baik yang berbicara bahasa Polandia, Ukraina, Belarusia, Rusia, atau Lithuania, apakah mereka menganut agama Katolik Roma atau Kristen Orthodox.

Serangan kedua tentara Ottoman terhadap Polandia dilakukan di tahun 1669 dan raja Polandia Michael Wisniowiecki berhasil memukul mundur tentara Ottoman.

Image
Wisniowiecki, Raja Polandia yang pertama kali mengalahkan pasukan Turki

Setelah merasakan kekalahan pertama oleh tentara Polandia, tentara Turki lalu bekerja sama dengan tentara Muslim Tartar. Kedua pasukan ini lalu bersama-sama menyerang Polandia lagi di musim panas di tahun 1671. Dlm perang kedua ini mereka menghadapi orang yang berperan besar dalam menghancurkan pasukan Turki di berbagai perang beberapa tahun setelah itu. Orang itu adalah Grand Hetman (ketua daerah) Ukraina bagian Polandia. Namanya adalah Jan Sobieski.

Sobieski berhasil mengalahkan pasukan Tartar di Perang Podolia dengan menerapkan taktik perangnya yang sukses dengan menggunakan serangan artileri (bom, kanon, panah, senjata lontar) berjumlah besar terhadap pasukan berkuda Tartar – Ottoman yang bergerak menyerbu dengan cepatnya.

Image
Jan Sobieski, ketua daerah Polandia bagian Ukraina

Image
Dengan mempelajari taktik serangan yang digunakan oleh tentara Muslim melawan Eropa di Balkan sejak serangan pertama mereka di tahun 1334, Sobieski terus melaju menyerang setelah menang perang. Dia terus mendesak masuk sampai sejauh 150 mil ke dalam daerah Ukraina yang dikuasai Muslim. Dia berhasil mengambil alih daerah kekuasaan dan mengusir ke luar tentara Ottoman.

Pada saat itu, seharusnya dia mampu merebut kembali semua daerah yang dikuasai Ottoman dan Tartar, tapi apa daya, tentaranya tidak mendapat bantuan dari Lithuania. Pasukan Sobieski harus kembali ke Polandia.

Meskipun menderita kekalahan, tentara Turki tidak kapok menghentikan usaha mereka mendobrak perlawanan Polandia untuk masuk Eropa Tengah dan Utara. Mereka melancarkan lagi serangan di tahun 1672.

Perang Turki ketiga melawan Polandia, 1672-1676.

Di bulan Agustus 1672, Sultan Turki Mohammed IV memimpin 80.000 tentara Ottoman yang disebut Czambul, menuju Polandia-Lithuania. Tentara Turki mengepung benteng strategis di Kamieniec pada tanggal 19 Agustus. Peperangan berlangsung sengit karena tentara Muslim ingin menguasai seluruh Eropa sementara tentara Kristen bertahan keras untuk menyelamatkan tanah leluhur mereka dari jajahan para Jihadis.

Tapi meskipun sudah bertahan sekuat tenaga sampai hari ke tujuh, pasukan kafir Kamieniec kalah dan benteng tsb dikuasai tentara Turki pada tanggal 26 Agustus.

Kota terdekat, Lwow, adalah sasaran Turki berikutnya. Setelah kota Lwow yang terletak di dekat sungai Bug jatu ke tangan Turki, maka tampaknya Polandia akan segera jatuh ke tangan Turki. Bahaya ini sangat jelas sebab pasukan Polandia yang telah berperang habis2an di Kamienec tampaknya tidak berhasil mendapat bala bantuan dari manapun untuk menghadapi pasukan Turki yang berbaris masuk menuju Polandia.

Image
Pada tanggal 14 Oktober 1672, Sobieski melakukan serangan terhadap pasukan Turki Czambul. Dia hanya punya 3.000 tentara, tapi dia berperang bagaikan singa meradang. Dalam menghadapi 20.000 tentara Turki Ottoman, dia melalukan serangan gerilya yang merupakan taktik yang sama yang diterapkannya dalam menghadapi pasukan Muslim Tartar. Dia bagi2 pasukan dan mendirikan hubungan dengan petani2 lokal untuk melakukan perang partisan di seluruh negara. [/b]

Menurut sejarawan Polandia, Henryk Sienkiewicz, dalam perang ini, "Bom dan bola api dilemparkan; tembok2 dan batu bata berjatuhan di kepala tentara2 yang terkepung; asap mesiu bercampur dengan debu dan panas ledakan bercampur dengan panas matahari… Letusan senjata, ledakan bom, gempuran peluru kanon dengan batu, teriakan2 tentara Turki, jeritan2 tentara yang bertahan, semuanya bercampur dan menggema di sepanjang lembah. Bangunan benteng tertutup oleh peluru lontar; kota, pintu gerbang, semua menara pertahanan, dijatuhi peluru… Benteng kafir berusaha mempertahankan diri dengan membalas ledakan dengan ledakan. Asap, teriakan, muntahan api, kematian, dan kehancuran berbaur jadi satu.”

Dengan taktik gerilya ini, Sobieski mampu mengahadapi tentara Turki yang berjumlah jauh lebih banyak. Dia berhasil membebaskan 40.000 tawanan Turki. Para tawanan ini lalu bergabung dengan tentaranya. Tapi meskipun Sobieski sukses, Polandia-Lithuania kehilangan banyak tentara, harta dan tanah. Hal ini membuat mereka terpaksa menandatangani perjanjian damai dengan Kesultanan Ottoman, dan membiarkan para Jihadis menguasai Ukraina bagian Selatan yang juga dikenal sebagai Podolia. Merekapun dipaksa berjanji membayar jizya tahunan kepada Sultan Ottoman. Ini merupakan kekalahan hina yang diderita masyarakat Polandia.

Penghinaan ini membakar jiwa masyarakat Polandia untuk menyingkirkan penjajah Muslim. Api dendam semakin berkobar karena hukum penindasan yang diterapkan penguasa Turki. Setelah menang perang, penguasa Turki menjarah negara itu dan memaksa masyarakat Kristen di Dnieper untuk masuk Islam. Tapi hal ini membuat masyarakat Slav setempat melawan Turki dengan perang gerilya.

Dalam perang lokal Slav ini, terdapat dua kelompok tentara Kristen yakni Orthodox (Rusia) dan Katholik (Polandia) yang bergabung melawan Turki. Di bulan April 1673, para pemimpin Polandia mengumumkan bahwa mereka MENOLAK membayar pajak paksa Jizya. Michael Wisniowiecki mengajak para bangsawan lainnya untuk menolak pajak tsb. Keputusan ini juga didukung oleh Sejm (parlemen – tepatnya adalah persatuan bangsawan Polandia) dan Polandia-Lithuania bersikeras menolak setor Jizya pada Kesultanan Ottoman.

Akibatnya, tentara Turki lagi2 menyerang Polandia. Para ketua dan bangsawan Polandia menggunakan uang mereka bukan untuk bayar Jizaya tapi untuk memperkuat pasukan mereka melawan Turki. Jumlah pasukan Polandia adalah 36.000 tentara dan 65 kanon. Tentara Polandia berbaris maju menyambut tentara Turki yang menuju daerah Polandia. Ini merupakan taktik perang yang berani dari pihak Polandia, dan mereka memilih menyerang terlebih dahulu daripada berdiam di dalam benteng2 mereka seperti yang dulu mereka lakukan di Kamieniec. Tentara Polandia lagi2 diketuai oleh Sobieski.

Kedua belah pihak bertemu di tempat yang bernama Chocim. 30.000 tentara Turki berdiam di dalam benteng kota untuk menjaga daerah yang telah mereka duduki. Sobieski menyerang Chocim dengan jumlah tentara yang sama besarnya. Dia membagi tentara menjadi lima bagian dan melakukan taktik gerilya untuk menyerang benteng dari lima penjuru.

Image
Perang Chocim di tahun 1673 yg dilanjutkan dgn Perang Vienna di tahun 1683, merupakan kemenangan penting bagi Polandia dan Sobieski menjadi pahlawan besar Polandia.


Image
Ketika Sobieski tidak mampu menembus pertahanan Turki, dia melanjutkan serangan sampai malam agar tentara Turki kelelahan. Hujan bulan November yang sangat dingin membeku membuat tentara Turki kewalahan karena terbiasa hidup di daerah hangat. Hal ini tentunya menguntungkan tentara Polandia-Lithuania. Seorang penulis sejarah menulis:

"Itu merupakan malam yang tak terlupakan – ‘malam siksaan dan gertakan gigi.’ … Hujan bertambah dingin dan semakin dingin; angin bertiup keras… Sudah jelas, jika tentara2 Sihapis dan Janissari Turki berdiri seperti ini dalam kurun waktu 12 jam, hawa dingin akan membekukan tubuh mereka.”

Untuk menambah penderitaan pasukan Turki yang kedinginan, Sobieski melancarkan serangannya yang terbesar di saat terdingin di waktu subuh. Serangan ini mengejutkan dan mematahkan pertahanan pasukan Turki.

Image
Tentara berkuda Polandia, tentara Hussar, berjaya mengalahkan para Jihadis Turki dan Tartar

Dalam tulisannya, Sobieski sendiri menyatakan kemenangan berhasil diraih atas jasa keperkasaan pasukan berkuda Polandia (Hussar), yang berperang melawan pasukan infanteri Turki. Dia menjelaskan proses kekalahan Turki sebagai berikut:
“Di tempat ini kami hampir kalah, tapi hal ini bisa dielakkan kearena perjuangan luar biasa dari tentara Hussar.”

Tembakan2 kanon merusakkan benteng sedemikian rupa, sehingga pasukan infanteri harus menyingkirkan bongkahan2 bangunan untuk membuka jalan bagi pasukan berkuda. Perang ini berakhir dengan kemenangan besar bagi Polandia dan Sobieski lagi2 menjadi pahlawan Polandia.

“Keberuntungan dalam perang bergulir ke kanan, lalu ke kiri, ke pasukan Lithuania, lalu ke pasukan Turki. Ribuan pedang berkelabatan… tanpa henti; pisau2 terangkat bagaikan kilat… Akhirnya pasukan Turki hancur, bagaikan rantai yang putus, dan bagaikan barisan manusia yang satu ke barisan lainnya di setiap penjuru, lolongan, dan teriakan. Pasukan Turki akhirnya menjatuhkan senjatanya… Medan perang dibanjiri kucuran darah Muslim dan kafir, yang bercampur dengan salju dan hujan.”

Setelah kemenangan ini, seperti biasa, Sobieski ingin menyerang terus dan mengambil alih daerah yang dikuasai Turki. Akan tetapi, seperti sebelumnya, dia tidak dapat dukungan. Tentara Lithuania tidak mau terus maju memberi dukungan karena pemimpin mereka, Michael Pac, adalah saingan Sobieski dan tidak mau membantu keberhasilan Sobieski. Selain itu, gaji para prajurti Polandia tertunda sehingga banyak yang meninggalkan posisi mereka. Hal ini akhirnya membuat Sobieski terpaksa balik ke Polandia.

Selain itu, pada tanggal 11 November 1673, Raja Wisniowiecki meninggal dunia. Wisniowiecki tidak sempat mendengar kabar kemenangan Sobieski di Chocim. Dia meninggal sebelum berita datang. Kematian sang Raja Polandia ini membuka jalan bagi Yan Sobieski untuk menjadi Raja Polandia. Dia bergelar Sobieski III dan berkuasa dari tahun 1674 sampai 1696.

Sebagai raja, Sobieski memperkuat angkatan bersenjata Polandia-Lithuania. Dia merombak susunan militer, menciptakan pasukan berkuda lebih kecil – yang lebih murah dan lebih mampu bergerak cepat daripada pasukan hussar. Dia juga melatik para petani untuk menjadi pasukan infantri. Tujuan Sobieski adalah mempersiapkan tentara2 professional yang siap sedia menghadapi perang. Rencana Sobieski dengan cepat menghadapi ujian lagi dari pihak Turki. Sobieski memang termashyur karena kemenangannya atas tentara Turki di tahun 1673, tapi pihak Turki masih menguasai Podolia. Salah satu tindakannya yang pertama setelah menjadi Raja adalah mengirim pasukan untuk merebut kembali daerahnya.

Tentara Turki berada di Ukraina dan keadaan menguntungkan bagi Sobieski karena permusuhan agak mereda saat itu. Dia lalu membawa tentaranya untuk menyerang bagian belakang Turki secara tiba2 dan membunuh semua tentara Turki. Akan tetapi sebagian dari prajuritnya kurang sabar dan terlalu dini menyerang sehingga tentara Turki sempat mengelak.

Sobieski melaju ke Lwow (Lvov) pada tanggal 24 Augustus, 1675. Di Perang Lwow, pasukan Turki berjumlah 200.000 dan bergerak masuk daerah Polandia-Lithuania. Sobieski tidak memiliki banyak prajurit karena kebanyakan tentaranya berkemah di Lwow. Untuk mencegah tentara Polandia menambah kekuatan, pihak Turki mengirim 20.000 tentara untuk bertahan diri sebelum menerima tambahan tentara dan mengumpulkan kekuatan.

Sobieski melawan pasukan Turki hanya dengan 5.000 tentara. Akhirnya bantuan 32.000 tentara Polandia datang dan mereka mampu memukul mundur 200.000 tentara Turki!

Image
Setelah kalah perang, pasukan Turki melarikan diri sambil menumpahkan kemarahannya terhadap penduduk sipil. Sambil mengundurkan diri, pasukan Turki menyerang kota2 yang mereka lalui. Kota Trembowl mampu bertahan diri dengan sejumlah kecil tentara dan 200 penduduk sipil yang bersenjata. Mereka mampu menyibukkan tentara Turki cukup lama sampai tentara Sobieski tiba dan menyerang Turki dari belakang. Meskipun menang perang, Sobieski sekali lagi tidak mendapat bantuan militer dari Polandia-Lithuania. Hal ini karena para bangsawan yang lain iri akan kesuksesannya.

Politik dalam negeri Eropa menyebabkan gagalnya persatuan negara2 Eropa memerangi Turki

Untuk mengatasi dukungan lemah dari para bangsawan di negaranya, Sobieski bersekutu dengan pihak Perancis. Istrinya, Marie Casimir d'Arquien, merupakan anggota keluarga ningrat Bourbon dari Perancis. Karena istrinya inilah, terbentuklah persekutuan dengan Perancis. Dalam persekutuan ini, Sobieski berencana untuk menyerang Bradenburg yang saat itu merupakan bagian dari kerajaan Habsburg (Austria, musuh Perancis) dan sebagai imbalannya, Perancis akan menyerang Kesultanan Ottoman dan merebut daerah Podolia bagi Polandia – Lithuania. Akan tetapi para bangsawan Polandia-Lithuania tidak tertarik berperang melawan Bradenburg hanya karena bersekutu dengan Perancis. Mereka lebih memilih berkonsentrasi melawan Kesultanan Ottoman.

Karena hal ini, Sobieski akhirnya harus mencari sekutu lain untuk melindungi negaranya. Dia lalu bersekutu dengan Hapsburg Austria, yang nota bene musuh Perancis ! Keputusan politik ini terbukti tidak menguntungkan bagi terbentuknya Persekutuan Anti Turki.

Karena tiadanya persekutuan yang jelas antar negara2 Eropa, Kesultanan Ottoman memanfaatkan keadaan ini dan menyerang Austria di tahun 1675. Polandia-Lithuania membantu Hapsburg Austria dengan mengirimkan pasukannya. Tindakan ini memutuskan persekutuan dengan Perancis.

Sayangnya, pihak Austria ternyata merupakan sekutu yang lemah dan tidak mau bertempur habis2an melawan Kesultanan Ottoman. Mereka bahkan menahan Polandia-Lithuania agar menahan serangan untuk mengadakan perjanjian damai dengan Turki Ottoman. Pihak Ottoman dengan senang hati menggunakan kekuasaan Eropa yang terpecah-belah ini untuk berkuasa lebih banyak atas Polandia dan Austria.

Image
Di bulan September 1676, pihak Turki menyerang Polandia dan Lithuania lagi dengan 40.000 pasukan, kebanyakan dari mereka adalah tentara Tartar. Dengan hanya 8.000 pasukan, Polandia menahan mereka di kamp mereka di dekat Zurawno selama tiga minggu, sampai tanggal 14 Oktober, 1676.

Pihak Turki akhirnya mengajak damai di dekat Zurawno. Pihak Turki tetap menguasai daerah yang telah mereka jajah, termasuk Podolia, tapi mereka berjanji untuk tidak menyerang lagi dan membebaskan semua tawanan perang.

Image
Di tahun 1680, setelah perang 3 dekade yang tak berkesudahan melawan Ottoman, daerah Polandia-Lithuania berkurang sampai separuh. Tapi untuk memperoleh kemenangan ini, pihak Turki juga harus membayar mahal dengan tewasnya ratusan ribu tentaranya dan penyerangan selanjutnya ke daerah Polandia dan Rusia bukanlah pilihan yang menarik lagi.

Setelah kehilangan banyak tentara dan mengeluarkan banyak biaya berperang melawan Polandia, pihak Turki mengalihkan sasaran ke negara Kristen yang lain yang lebih kaya raya yakni Kerajaan HABSBURG AUSTRIA.

Sejak bulan Maret 1683, pasukan Turki bersiap untuk menyerang ibukota Habsburg yakni Vienna (Wina). Mereka mengumpulkan kekuatan dengan cepat. Di bulan Juni, mereka menyerang Austria, dan Raja Leopold melarikan diri ke Passau. Pada tanggal 14 Juli, pasukan Turki mencapai Vienna. Mereka mengepung kota besar itu. Kelemahan pihak Turki adalah mereka tidak memiliki persenjataan berat yang mencukupi. Pihak Austria bertahan dengan berani tapi mereka mulai kekurangan mesiu dan makanan. Pihak Turki telah membuat kerusakan pada tembok kota, tapi mereka tertahan oleh serangan tentara Vienna.

Paus Mengajak Polandia dan Austria Bersatu demi Mengalahkan Turki

Sebelumnya pada tanggal 21 Maret, 1683, Raja John III telah menandatangi Perjanjian Warsawa dengan Raja Austria Katolik Roma, Leopold. Dalam perjanjian ini, pihak Polandia dan Austria setuju untuk saling membantu jika Turki menyerang Krakow atau Vienna.

Image
Sesuai dengan perjanjian dan permintaan Paus, Sobieski dan pasukannya yang berjumlah 30.000 orang bergerak ke Vienna. Sobieski berkata bahwa tujuannya ke Vienna adalah untuk “melakukan Perang Suci dan dengan, bantuan Tuhan, akan membebaskan Vienna dan membantu kerajaan Kristen.”

Kara Mustapha Pasha memimpin pasukan Ottoman berjumlah 140.000 tentara melawan Vienna yang bertahan dengan 11.000 tentara. Pihak Vienna meninggalkan daerah2 luar kota dan bersiap menghadapi pengepungan untuk mempertahankan kota utama mereka. Raja Leopold telah pindah ke bagian barat Hapsburg. Dalam pengepungan yang berlangsung dari tanggal 14 Juli – 12 September ini, pasukan Turki mendapat kemajuan dan daerah2 sekitar Vienna dijarahi. Meskipun begitu, bantuan tentara untuk pihak Vienna sudah berkumpul di berbagai daerah di seluruh kerajaan Austria dan Polandia.

Image
Kara Mustapha, panglima perang Turki pada pengepungan kota Vienna

Vienna berbenteng kokoh, tapi di akhir bulan Agustus 1683 kota itu hampir runtuh karena serangan Turki. Makanan dan amunisi tidak mencukupi, dan pd tanggal 1 September, tentara Turki meledakkan bom di bawah tembok dan menghancurkan bagian tembok. Keadaan di luar tembok lebih memberi harapan. Kekalahan pasukan Turki di Bisamberg memungkinkan pasukan sekutu untuk berkonsentrasi di bagian barat daya Vienna. Yang lebih penting lagi, 30.000 pasukan Polandia di bawah raja perang mereka, Sobieski, telah datang.

Jan Sobieski merupakan komandan pasukan Polandia-Lithuania dan Austria/Jerman. Dalam kesempatan ini, putranya yang bernama James Sobieski (16 tahun) juga ikut.

Pihak Ottoman memiliki pasukan berkuda yang disebut sebagai "crazyheads" (kepala gila) atau Janissari yang mengenakan sayap di bagian belakangnya.
Pasukan infantri mereka terdiri dari orang2 yang dulu waktu masih kecil diculik Turki dari negara2 Katolik dalam perang2 sebelumnya. Dua kekuatan ini merupakan pasukan yang sangat buas dan ditakuti.

Sobieski yang memiliki reputasi meyakinkan melawan Turki mengatur perintah perang. Dia berencana berperang di dataran barat Vienna dan menghabis pasukan Turki yang ada di situ, sehingga membubarkan pengepungan. Komandan Turki Kara Mustapha tetap fokus pada usahanya menaklukkan kota, sehingga dia hanya mengirim sebagian pasukannya untuk menghadapi pasukan bantuan Kristen.

Pada jam 4 pagi di tanggal 12 September 1683, tentara Austria di sayap kiri maju menyerang, dan tentara Jerman di kiri tengah tak lama kemudian bergabung menyerang pula.

Sewaktu pasukan Turki bersiap-siap menyerang balik, pasukan infantri Polandia muncul di sayap kanan untuk membersihkan daerah kaki bukit dan menguasainya.

Pk 4 sore, pasukan berkuda maju dan bersiap untuk berperang.

Pk 5 sore, Sobieski memerintahkan penyerangan. Pasukan tentara berkuda Jerman-Austria dan tiga pasukan Hussar berkuda Polandia sebanyak 20.000 orang menyerang dari atas bukit ke bawah, dipimpin oleh Raja Jan Sobieski, langsung menuju jantung kamp Turki. Sewaktu pasukan berkuda Polandia menyerbu daerah lawan, pasukan bertahan Austria dalam benteng kota juga menyerang bagian belakang pasukan Turki. Pasukan Turki dan Tartar yang kewalahan diserang dari berbagai arah kehilangan semangat dan tak lama kemudian jadi tercerai-berai, dan perang jadi semakin kacau.

Image
Hussar Bersayap yg membantai Jihadis tanpa ampun, dan menyelamatkan Vienna, dan memungkinkan tentara Kristen mengalahkan para Jihadis sepenuhnya. Sobieski bersama pasukan Hussarnya menyerbu ke pusat militer Kara Mustafa dan tanpa ampun membunuhi semua tentara Turki yang mereka temui. Melihat ini, tentara Mustafa ciut. Legenda kemenangan perang dan kebuasan Sobieski telah menimbulkan rasa gentar di hati orang2 Turki. Setelah melihat Sobieski lagi2 menang perang, tentara Turki berlarian dengan panik.

Pk 5:30 sore, Sobieski masuk ke tenda Grand Viziers (ketua pasukan Turki) dan bubarlah sudah pengepungan kota Vienna.

Di Perang Vienna, Turki kehilangan 25.000 tentara (ditambah tewasnya 40.000 tentara Turki di Perang Parkany setelah itu). Semua 65.000 tentara ini merupakan pasukan berkuda Turki utama. Pihak kafir menderita kurang dari 4.000 tentara yang terluka dan terbunuh. Vienna selamat di waktu yang kritis, karena di hari yang sama pihak Turki telah meledakkan dinamit2 yang memberi jalan untuk masuk ke kota.

Pihak Turki tidak pernah pulih kembali setelah perang ini. Memang Kesultanan Ottoman terus berdiri sampai 200-an tahun kemudian, tapi tidak pernah sekuat dulu lagi. Bagi Polandia, ini merupakan momen yang terbesar dan terakhir di mana dia berperan sebagai penyelamat Eropa dari penjajahan Islam.

Setelah Perang selesai, Jan Sobieski masuk kota Vienna dengan megahnya. Raja dan tentara Polandia-nya jadi sangat termahsyur karena kemenangan mereka. Jan Sobieski III tidak hanya menyelamatkan Vienna, tapi juga seluruh Eropa dari ancaman Turki Ottoman. Perang Vienna merupakan kemenangan besar melawan Kesultanan Ottoman yang perkasa, dan ini merupakan saat terakhir Polandia-Lithuania terkenal karena kegagahan para pejuang militernya.


Perang Parkani

Tapi pihak Turki belum ke luar dari arena perang sepenuhnya, meskipun mereka kalah telak di Vienna. Mereka menunggu menyerang Polandia di
Parkani pada tanggal 7 Oktober, 1683. Di saat itu pasukan Turki yang melarikan diri bergabung kembali dan menyerang tentara Polandia dan Jerman yang sedang merayakan kemenangan mereka. Saat itu tentara Polandia sedang lengah, Jan Sobieski nyaris terbunuh tapi dia berhasil menyelamatkan diri dan mengumpulkan kembali pasukannya.

Dua hari kemudian, di tanggal 9 Oktober, 1683, dia balik menyerang Turki. Perang ini dikenal dengan Perang Parkani II. Sobieski berhasil menjebak pasukan Turki ke perbatasan sungai dan lalu membantai mereka. Para ahli sejarah merasa bahwa Perang Parkani II merupakan perang Sobieski yang paling berhasil, tapi Perang Vienna adalah perang yang membuat namanya terkenal dalam sejarah sebagai penyelamat kerajaan Kristen.

Kekalahan Jihadis Ottoman di Vienna tahun 1683 terutama adalah kemenangan pihak Polandia. Saat ini merupakan berbaliknya gelombang perlawanan terhadap invasi Muslim yang kedua di Eropa (Gelombang balik pertama dilakukan oleh Charles Martel di Poitiers di tahun 732). Republik Vienna mengumumkan perang terhadap Kesultanan Ottoman di tahun 1685; tentara Venesia menguasai kembali Morea, Attica, dan Athena.

Image

Angkatan bersenjata Austria juga tetap menyerang Ottoman dan menguasai daerah2 mereka kembali; Buda (kini bernama Budapes) berhasil dikuasai Austria setelah pengepungan di tahun 1686. Di tahun 1687, Ottoman menderita kekalahan lagi di Mount Harsan dekat Mohaks, dan Beograd berhasil dikuasai kembali oleh tentara kafir di tahun 1688, tapi tentara Ottoman merebutnya kembali di tahun 1690; di tahun 1691, Transylvania (di Rumania) diambil kembali oleh Austria. Saat itu angkatan bersenjata Austria dipimpin oleh Pangeran Eugene dari Savoy; di tahun 1697 dia memimpin pasukannya menang perang melawan Ottoman di Perang Zenta; di tahun 1699, Perjanjian Damai Karlowitz (bernama Sremski Karlovci di Serbia, dan Karloca di Hungaria) mengakhir perang selama 300 thn kemudian.

Pelajaran dari Perang Vienna

Image
Hal yang paling penting yang bisa dipelajari dari Perang Vienna yang merupakan kekalahan kedua Muslim di Eropa adalah bahwa Muslim hanya bisa dikalahkan dengan kekerasan. Mereka hanya mengerti bahasa darah dan pembantaian massal. Dan sekarang kita belajar lagi untuk menggunakan bahasa yang sama melawan Muslim. Jika kita sadar bahwa kita tidak akan bisa membuat Muslim jadi manusia demokratis dan berbudaya, maka kita akan mulai menang dalam perang melawan teror Islam.

Perang yang sekarang berlangsung di Irak dan Afghanistan adalah Perang Pura2 sama halnya seperti Perang Dunia II tahun 1939-1940, sampai Nazi mendobrak Maginot Line dan menyerang Perancis, Belanda, dan Belgia. Apakah sekarang kita harus menunggu Perang Pura2 melawan Teror menjadi perang betulan setelah para jihadis berhasil menuklir salah satu kota2 kita?

Sifat Asli Ancaman Muslim
Hanya sedikit sekali non-Muslim yang tahu ancaman Muslim terhadap semua non-Muslim. Dalam pikiran Muslim, seperti yang telah diperintahkan dalam manual terorisme bernama Quran itu, non-Muslim merupakan sasaran serangan Muslim. Keberadaan non-Muslim dan praktek agamanya yang non-Islam dianggap Islam sebagai perlawanan dan penolakan terhadap Islam.

Karena itulah, keberadaan non-Muslim adalah pengacauan, fitnah, dan syrik bagi Muslim. Selama ada Muslim di dunia ini, maka tidak akan pernah ada damai. Keberadaan agama2 Kristen, Yudaisme, Budha, Hindu, Animisme sendiri sudah merupakan alasan yang cukup bagi Muslim untuk mengobarkan perang pada non-Muslim sampai semua agama adalah agama Allah seperti yang tertera dalam Qur'an.

Karena itulah, usaha non-Mulsim untuk berdamai dengan Muslim merupakan hal yang sia2 belaka, karena Muslim akan selalu berada di jalur perang. Satu2nya cara yang masuk akal untuk menyelamatkan umat manusia adalah memerangi kanker Islam tanpa menunggu lagi sampai Islam melukai tubuh (negara) kita.

Jika kita ingin menyelamatkan diri kita sendiri, maka Islam harus diperlakukan bagaikan virus ganas, penyakit menular yang membunuh, bagaikan AIDS, kanker, pandemik flu burung, dll. Kita harus bisa mencari antidotnya, penyembuhnya sebelum Islam menulari kita dan membunuh semua yang menghalangi penyebarannya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka virus Islam akan menjalar dan menyerang setiap bagian masyarakat non-Muslim, sampai seluruh umat manusia terperangkap dalam jeruji besi Islam. Jika ini terjadi, kemajuan dan kebebasan berpikir manusia akan terhenti.
______________________________________

Select Bibliography
· The Mummy, Funeral Rites & Customs in Ancient Egypt, by Ernest A. Wallis Budge, reprint of 1893 edition by Senate Studio Editions 1995
· The Twilight of Ancient Egypt, First Millennium B.C.E., by Karol Mysliwiec, translated by David Lorton, Cornell University Press2000
· Egypt in The Age of Cleopatra, by Michel Chauveau, translated by David Lorton, Cornell University Press, 2000
· Women in Ancient Egypt, by Gay Robins, Harvard University Press, 1996
· Women and Society in Greek and Roman Egypt: A Source Book by Jane Rowlandson, Cambridge University Press, 1998
· The Chronicle of John Coptic Bishop of Nikiu (circa 690 A.D.), translated by Robert Henry Charles, reprint from 1916 edition, APA-Philo Press Amsterdam, Holland
· The Vanished Library, A Wonder of The Ancient World, by Luciano Canfora, University of California Press
· The Story of The Church of Egypt, Volumes I and II, by Edith L. Butcher, reprint of 1897 edition by AMS Press Inc, New York, N.Y 1975
· Coptic Egypt, by Murad Kamil, Le Scribe Egyptien, 1968
· Traditional Egyptian Christianity, A History of the Coptic Church, by Theodore. Hall Patrick, Fisher Park Press, 1999
· Muslim Extremism in Egypt, The Prophet and the Pharaoh, by Gilles Kepel, University of California Press 1993
· Ancient Egyptian Culture, published by Chartwell Books, Edison, N.J. 1998.
· Samson Blinded: A Machiavellian Perspective on the Middle East Conflict, by Obadiah Shoher
· Jihad in the West: Muslim Conquests from the 7th to the 21st Centuries (Hardcover) by Paul Fregosi
· The Sword of the Prophet: History, Theology, Impact on the World by Srdja Trifkovic
· Islam Unveiled: Disturbing Questions About the World's Fastest Growing Faith by Robert Spencer
· Studies in Muslim Apocalyptic (Studies in Late Antiquity and Early Islam) by David Cook
· Why I Am Not a Muslim by Ibn Warraq
· Onward Muslim Soldiers by Robert Spencer
· Eurabia: The Euro-Arab Axis by Bat Ye'Or
· Islam and Dhimmitude: Where Civilizations Collide by Bat Yeor
· What the Koran Really Says: Language, Text, and Commentary by Ibn Warraq
· Islam and Terrorism: What the Quran Really Teaches About Christianity, Violence and the Goals of the Islamic Jihad by Mark A. Gabriel, Mark A. Gabriel
· A Concise History of the Crusades by Thomas F. Madden
· The Politically Incorrect Guide to Islam (and the Crusades) by Robert Spencer
· The Great Divide: The failure of Islam and the Triumph of the West by Marvin Olasky
· The Myth of Islamic Tolerance: How Islamic Law Treats Non-Muslims by Robert Spencer
· Islam Unveiled: Disturbing Questions About the World's Fastest Growing Faith by Robert Spencer, David Pryce-Jones
· The Koran (Penguin Classics) by N. J. Dawood
· Don't Keep me Silent! One Woman's Escape from the Chains of Islam by Mina Nevisa
· Christianity And Islam: The Final Clash by Robert Livingston
· Holiest Wars : Islamic Mahdis, Their Jihads, and Osama bin Laden by Timothy R. Furnish
· The Last Trumpet: A Comparative Study in Christian-Islamic Eschatology by Samuel, Ph.D. Shahid
· Unleashing the beast: How a fanatical islamic dictator will form a ten-nation coalition and terrorize the world for forty-two months by Perry Stone
· Contemporary Muslim Apocalyptic Literature (Religion and Politics) by David Cook
· Islam and the Jews: The Unfinished Battle by Mark A., Ph.D. Gabriel
· The Challenge of Islam to Christians by David Pawson
· The Prophetic Fall of the Islamic Regime by Glenn Miller, Roger Loomis
· Prophet of Doom : Islam's Terrorist Dogma in Muhammad's Own Words by Craig Winn
· The False Prophet by Ellis H. Skolfield
· The Approach of Armageddon: An Islamic Perspective by Muhammad Hisham Kabbani
· The Cube and the Cathedral: Europe, America, and Politics Without God by George Weigel
· Infiltration : How Muslim Spies and Subversives have Penetrated Washington by Paul Sperry
· Unholy Alliance : Radical Islam and the American Left by David Horowitz
· Unveiling Islam : An Insider's Look at Muslim Life and Beliefs by Ergun Mehmet Caner
· Perfect Soldiers : The Hijackers: Who They Were, Why They Did It by Terry McDermott
· Islam Revealed A Christian Arab's View Of Islam by Anis Shorrosh
· Leaving Islam: Apostates Speak Out by Ibn Warraq
· The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam's Holy Book by Ibn Warraq
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Sat Jan 19, 2008 1:03 pm

User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby DHS » Sat Jan 19, 2008 7:32 pm

Ckk, ckk, ckkk! Luar biasa bagus cerita sejarah di atas!
Thanks banget bro, atas terjemahannya!

Berita-berita terkait:

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2687
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=1032
User avatar
DHS
 
Posts: 4378
Images: 4
Joined: Sat Jan 05, 2008 7:56 pm

Postby Adadeh » Wed Jan 23, 2008 6:49 am

DHS wrote:Ckk, ckk, ckkk! Luar biasa bagus cerita sejarah di atas!
Thanks banget bro, atas terjemahannya!

Berita-berita terkait:

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2687
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=1032

Terima kasih atas pujiannya, DHS. Marilah bersama-sama meramaikan FFI dengan artikel2 bermutu.
User avatar
Adadeh
 
Posts: 8461
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby becak » Sat May 17, 2008 2:17 am

mantab2.... lagi donk cerita2 sejarah nya boss....
mantabbbbbbbbbbbbbbbbbbbbz
Mayan buat nambah wawasan ...
User avatar
becak
 
Posts: 991
Joined: Wed Apr 02, 2008 8:25 pm
Location: Ka'bah Umum @ [Team Haha Hihi]

Postby ali5196 » Tue May 20, 2008 3:03 am

Bagian 18: JIhad vs Austria/Jerman 1500-sekarang***
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 7981#27981
ali5196
 
Posts: 17309
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Centre: Sejarah INVASI JIHAD



Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron