Page 6 of 7

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Thu Jul 12, 2012 6:51 pm
by Khanx88
Good Thread !

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Tue Jul 17, 2012 2:55 am
by Al_Qirun
Pahlawan Wage Rudolf Soepratman. Indonesia Raya diciptakan oleh seorang "Kafir", saya bangga karena setiap hari senin, setiap upacara kemerdekaan, setiap timnas berlaga di GBK, Lagu made in "Kafir" lah yang berkumandang.

Image

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Tue Jul 17, 2012 11:44 am
by je_prince97
Al_Qirun wrote:Pahlawan Wage Rudolf Soepratman. Indonesia Raya diciptakan oleh seorang "Kafir", saya bangga karena setiap hari senin, setiap upacara kemerdekaan, setiap timnas berlaga di GBK, Lagu made in "Kafir" lah yang berkumandang.

Image

LIKE THIS YOOOOOO!!! :supz:

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Tue Jul 17, 2012 3:49 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
I Gusti Ngurah Gde Ngurah

Seorang tokoh menurut Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan adalah seorang yang pada masa hidupnya, karena terdorong oleh rasa cinta tanah air sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur guna menentang penjajahan di Indonesia, melawan musuh atau sangat berjasa dalam lapangan politik, sosial-ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan masyarakat Indonesia.

Prof. Ngoerah, demikian biasanya beliau disebut, merupakan Anggota Pejuang Prapatan 10 Jakarta yaitu kelompok mahasiswa pejuang yang bermarkas di asrama Jalan Prapatan 10 Jakarta (Lahirnya Satu Bangsa dan Negara, hal 397). Pada jaman perjuangan, beliau juga sebagai dokter bedah unit Palang Merah di Jakarta dan Purwakarta (Jawa Barat). Beliau adalah dokter pejuang berjiwa nasionalis yang mengabdikan dirinya bagi nusa dan bangsa.

Sumber: Tokoh Hindu - IndoForum http://www.indoforum.org/t38080/#ixzz20rrwMToR
Hak Cipta: www.indoforum.org

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Tue Jul 17, 2012 4:25 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Lie Eng Hok

Image

Pahlawan Itu Bernama Lie Eng Hok

BENTUK kijing itu laiknya nisan-nisan lain di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal Semarang. Terbuat dari bahan teraso dengan model yang amat bersahaja. Kalaulah beda, itu lantaran sedikit amblas dan miring ke depan. Jika dilihat selintas, tentu tak terlampau istimewa.

Tapi tunggu dulu, coba cermati sekali lagi, nama yang terpahat di sebidang pualam yang terdapat pada nisan itu. Lie Eng Hok, sebuah nama Tionghoa! Unik? Tentu saja. Mungkin tak banyak orang tahu, dari ribuan pahlawan yang dikebumikan di Giri Tunggal, seorang di antaranya adalah warga keturunan.

Lantas, siapa sejatinya Lie Eng Hok? Dan apa jasanya hingga dimakamkan di tempat terhormat itu? H Junus Jahya dalam buku Peranakan Idealis, Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya menulis, Lie adalah keturunan Tionghoa yang dituduh terlibat dalam Pemberontakan 1926 di Banten. Untuk itu, dia sempat diasingkan di Boven Digoel selama lima tahun (1927-1932). Namun dalam karya tersebut, Junus tak menyebut secara pasti peran apa yang dilakukan Lie.

Sekadar catatan, Pemberontakan 1926 Banten adalah peristiwa huru-hara yang didalangi oleh orang-orang Komunis Hindia Belanda. Peristiwa serupa juga terjadi secara bersamaan di Sumatera Barat.

Dalam peristiwa tersebut, massa pribumi bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah serta kantor milik Pemerintah Kolonial Belanda.

Aksi itu dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan yang menindas. Meski demikian, menurut Junus, tak semua orang yang terlibat di dalamnya adalah komunis, sebab sebagian lain kaum nasionalis.

Lie yang merasa menjadi buronan Pemerintah Kolonial melarikan diri ke Semarang. Di ibu kota Midden Java ini, dia membuka usaha jual-beli buku loak. Menurut Kaspin (97), kawan dekat Lie, toko itu terletak di Jalan Gajahmada. Karena acap membeli buku-buku loak dari orang-orang Belanda, lelaki kelahiran Desa Balaraja, Tangerang, 7 Februari 1893 tersebut punya banyak informasi. Nah, informasi yang terkait dengan soal-soal politik dia sampaikan kepada kawan-kawan pergerakan.

''Dia sering mengirimken surat buat sesama kaum pergerakan. Beberapa kali juga pernah mencarikan mereka penginapan kalau sedang melaksanaken rapat di Semarang,'' kata Kaspin, saat Suara Merdeka mendatangi rumahnya di Jalan Magersari III Nomor 70 Semarang, Selasa (15/3).

Tertangkap

Suatu ketika, tindak-tanduk Lie terendus. Dia tertangkap saat hendak menyampaikan surat dari kawan pergerakan yang disembunyikan di dalam buku loaknya. Sebagai hukuman, Lie harus mendekam di Boven Digoel, pusat pengasingan tahanan politik Pemerintah Kolonial Belanda.

Di pengasingan, dia mencari penghasilan tambahan dengan membuka kios tambal sepatu. Mengutip Sin Po edisi 6 September 1930, buku Junus memuat foto Lie Eng Hok di Boven Digoel sebagai ''toekang tambel sepatoe'' bersama U Pardedeh, bekas Hoofd Redacteur Soeara Kita Pematang Siantar.

Usai dibebaskan, Lie pulang ke Semarang dan kembali menekuni usaha jual beli buku loaknya. Pada masa pemerintahan Sukarno, Lie dinyatakan sebagai perintis kemerdekaan RI, berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Lie juga berhak menerima uang tunjangan Rp 400 per bulan.

Lie Eng Hok meninggal pada 27 Desember 1961. Semula jenazahnya dimakamkan di pemakaman Tionghoa Kedungmundu. Namun atas upaya Kaspin--yang merupakan Ketua Perintis Kemerdekaan Cabang Semarang--kerangkanya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan pengesahan SK Pangdam IV/Diponegoro No B/ 678/ X/ 1986.

Ya, pahlawan bermata sipit dan berkulit kuning itu kini telah bersemayam dengan tenang di tempat yang memang setara dengan jasa-jasa yang pernah ia perbuat untuk bangsa yang dicintainya.

==============================================================================================================================================

tidak ada tertulis secara pasti ttg keyakinan yg dianut oleh tokoh satu ini, akan tetapi pertama kali tokoh ini dimakamkan di pemakaman tionghoa kedungmundu. gw berasumsi bhw seorang muslim tentu tidak akan dimakamkan di pemakaman tionghoa ( ato gw salah ? cmiiw :green: ). jdi gw asumsikan beliau adalah seorang kafirun.

kalo ada yg bisa memberi bukti sebaliknya, monggo di lampirkan
:yawinkle:

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 12:01 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
I Gusti Ketut Pudja

Image

Putra asli Bali ini lahir di Singaraja, 19 Mei 1908 dari pasangan I Gusti Nyoman Raka dan Jero Ratna Kusuma. Tahun 1934, di usia 26 tahun, Pudja berhasil menyelesaikan kuliah di bidang hukum dan meraih gelar Meester in de Rechten dari Rechts Hoge School, Jakarta. Setahun kemudian, ia mulai mengabdikan dirinya pada kantor Residen Bali dan Lombok di Singaraja.Pada 7 Agustus 1945, Pemerintah Angkatan Darat XVI Jepang yang berkedudukan di Jakarta membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. I Gusti Ketut Pudja kemudian terpilih sebagai salah satu anggota PPKI mewakili Sunda Kecil yang saat ini dikenal sebagai Bali dan Nusa Tenggara. PPKI bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dimana sebelum panitia ini terbentuk, telah berdiri BPUPKI namun dibubarkan Jepang karena dianggap terlalu cepat ingin melaksanakan proklamasi kemerdekaan. Selanjutnya pada 16 Agustus hingga 17 Agustus 1945 dinihari, Pudja turut hadir dalam perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat. Pudja juga menyaksikan momen bersejarah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Sehari setelah proklamasi, PPKI mengadakan rapat guna membahas Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang merupakan hasil kompromi tentang dasar negara Indonesia. Piagam tersebut merupakan hasil rumusan Panitia Sembilan yakni panitia kecil yang dibentuk oleh BPUPKI yang terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin.
Di dalam Piagam yang disetujui pada 22 Juni 1945 antara pihak Islam dan kaum kebangsaan (nasionalis) itu terdapat lima butir yang kelak menjadi Pancasila, yaitu:
- Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
- Kemanusiaan yang adil dan beradab;
- Persatuan Indonesia;
- Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; dan
- Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagian dari warga Indonesia bagian timur termasuk I Gusti Ketut Pudja tidak menyetujui butir pertama yang berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Pudja kemudian menyarankan agar menggantinya dengan kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa".
Perubahan butir pertama dilakukan oleh Drs. M. Hatta atas usul A.A. Maramis setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo. Istilah Muqaddimah pun diubah menjadi Pembukaan UUD. Mereka menyetujui perubahan kalimat tersebut demi persatuan dan kesatuan bangsa. Setelah butir pertama diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, pada sidang kedua yang beragendakan penyusunan UUD, Piagam Jakarta dijadikan Muqaddimah (preambule). Bersamaan dengan penetapan rancangan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 pada Sidang PPKI I, 18 Agustus 1945, Pancasila pun ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.


Presiden Soekarno kemudian mengangkat Pudja sebagai Gubernur Sunda Kecil yang waktu itu disebut Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia Sunda Kecil pada 22 Agustus 1945. Keesokan harinya, Pudja tiba di kampung halamannya, Bali, dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur dan langsung memulai tugasnya.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menyebarluaskan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hingga ke desa-desa terpencil di Bali. Pudja menjelaskan latar belakang proklamasi dan struktur pemerintahan Republik Indonesia serta menyampaikan bahwa ia adalah Gubernur Sunda Kecil hasil pemilihan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang disahkan oleh Presiden RI Ir. Soekarno. Pudja juga mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.


Saat itu, walau sebenarnya sudah menyerah, Jepang tetap saja masih berkuasa di sejumlah daerah di Bali. Pudja kemudian mengerahkan para pemuda untuk melucuti senjata tentara Jepang di akhir tahun 1945. Namun sayang usaha itu gagal dan Pudja bahkan sempat ditangkap tentara Jepang.Selain sebagai Gubernur, suami dari I Gusti Ayu Made Mirah ini pernah mendapat amanat dari Presiden Soekarno untuk menjadi pejabat di Departemen Dalam Negeri. Jabatan lain yang pernah diemban bapak lima anak ini adalah Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) hingga ia memasuki masa purnabakti di tahun 1968.

I Gusti Ketut Pudja meninggal dunia pada 4 Mei 1977 di usia 68 tahun. Pada 1992,Presiden Soeharto menganugerahkannya penghargaan Bintang Mahaputera Utama. Pada tahun 2011, I Gusti Ketut Pudja ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011. Gelar tersebut secara resmi diberikan pada ahli warisnya IGM Arinta Pudja di Istana Negara, Jakarta.

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 12:23 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
I Made Pugeg

Image

Proklamasi kemerdekaan RI ke-57 tahun ini memberikan makna tersendiri bagi tiap orang. Tidak terkecuali, kenangan yang kembali muncul dari pengalaman Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Denpasar I Made Pugeg. Veteran yang lahir dari keluarga petani dan undagi ini mengisahkan suka dukanya sebagai tentara PETA yang berhadapan langsung dengan pasukan Jepang. Senjata mereka sempat dilucuti tentara Jepang. Tanpa senjata yang memadai ia ikut menghadapi tentara Sekutu yang mendarat di daerah Benoa. Lalu bagaimana pengalamannya ikut bergabung dengan pahlawan I Gusti Ngurah Rai? Berikut petikan perjalanan hidup veteran yang mendapatkan bintang jasa dari pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika itu sebagaimana dituturkan kepada Bali Post dan Radio Global FM.

BAGAIMANA pengalaman Anda ketika ikut dalam perjuangan merebut kemerdekaan RI?
Waktu itu kita senang karena Jepang masuk pada tahun 1942. Sebab, mata-mata Jepang mengatakan bahwa Jepang akan datang ke Asia Selatan untuk membebaskan jajahan Belanda. Jadi kami kaum muda menyambut antusias ketika Jepang mendarat. Kami waktu itu masih sekolah di Taman Siswa dan diajari menyanyikan lagu-lagu Jepang. Para pemuda di Denpasar membuat perkumpulan Indonesia Mulia. Waktu itu tuntutannya Indonesia berparlemen, belum menuntut Indonesia merdeka. Makanya semboyan kami "Indonesia berparlemen!" Apa sebabnya namanya Indonesia Mulia? Karena lagu Indonesia Raya waktu itu refreinnya bukan Indonesia merdeka tapi Indonesia Mulia.

Lalu bagaimana aksi Jepang selanjutnya?
Setelah berada setahun di Indonesia, dengan janji akan membebaskan negara dari penjajahan Belanda, ternyata mereka bohong. Bahkan mereka lebih keras menjajah Indonesia. Semua hasil bumi diperas. Semua hasil panen harus setor sama dia. Jadi waktu itu kami masuk tentara Jepang karena tidak punya kerja. Saya ikut tentara pembela tanah air atau PETA. Waktu Bung Karno pidato mengatakan bahwa PETA hanya membela Indonesia, tidak perlu dikirim ke luar untuk berperang bersama tentara Jepang. Setelah satu tahun menjadi tentara PETA asuhan Jepang, barulah saya tahu kalau tentara Jepang itu tidak mungkin memberikan kemerdekaan. Karena itu kami membuat organisasi tentara di bawah tanah untuk menentang Jepang. Setelah itu kami dengar pahlawan Supriyadi di Blitar berontak. Begitu mendengar kabar itu, maka kami melakukan persiapan.


Pak Sugianyar yang memimpin tentara di sini mengirim utusan ke Kediri, Tabanan, tempat saya memimpin pasukan. Saya dikasih tahu bahwa sudah waktunya kita memberontak. Lalu kami mengadakan rapat pada tanggal 15 Agustus 1945 di Denpasar. Saya merupakan utusan batalyon Kediri bersama Gusti Made Oka. Awalnya kami kumpul di rumah Wija, tetapi karena suasana genting, maka kami pindah ke Gaji, Dalung. Dalam rapat itu kami sepakat untuk segera melakukan pemberontakan kepada Jepang.

Di Bali waktu itu ada tiga batalyon yaitu di Negara, Tabanan dan Klungkung. Saya katakan pada rapat malam itu bahwa Pak Sigianyar menyarankan kita untuk melakukan pemberontakan. Sebab beliau khawatir kelompok kita sudah diketahui Jepang. Banyak tentara kita dipotong di Blitar karena pemberontakan Supriyadi. Lalu ketika malam itu rapat, tiba-tiba datang utusan dari Jawa dan mengatakan, "Tunggu dulu, jangan melakukan pemberontakan, tunggu hingga 21 Agustus." Persiapan kita sudah matang. Seusai rapat saya kembali ke Kediri, Tabanan, pada pagi hari. Sesampai di sana tentara yang menjaga markas memberitahu saya bahwa para tentara Jepang siang tadi ada yang menangis di sini. "Lho kenapa?" tanya saya, "Apakah dia sebut-sebut nama saya?" Mereka jawab, "Tidak!" "Lalu ada apa dia menangis?" "Sebab Jepang terkena bom atom". Paginya semua tentara PETA dikumpulkan. Semua tentara PETA bukan orang Jepang, tetapi penasihatnya orang Jepang. Setelah dikumpulkan rencananya akan dibuat latihan di dekat Pantai Yeh Gangga. Kita berlatih seakan-akan sekutu mendarat di sana. Pulang dari sana tentara kita yang jaga mengatakan bahwa semua amunisi dan peluru diangkut tentara Jepang. Kita terkejut, ada apa ini? Saya akhirnya memeriksa di gudang, ternyata memang tidak ada peluru di sana. Jadi saya punya pistol saja. Sedangkan pasukan saya hanya punya senapan tanpa peluru.

Paginya, di lapangan, tentara Jepang mengumumkan bahwa perang untuk sementara dihentikan. Sebenarnya itu hanya alasan saja, karena Jepang sudah kena bom atom dan sudah menyerah. Tapi kita tidak tahu. Setelah kita diberitahu pimpinan PETA bahwa tentara boleh pulang dulu karena gencatan senjata. Pimpinan tentara mengatakan bahwa jika perang aktif kembali maka akan diberitahukan kemudian. Sekarang pulang saja, senjata taruh di lapangan. Jadi tanpa senjata. Saya terkejut, padahal kita baru saja rapat. Saat itu tanggal 17 Agustus, sudah proklamasi, tetapi kami tidak tahu. Radio tidak kami dengar pengumumannya. Jepang kelihatan ketakutan. Saya ke Denpasar naik sepeda dan memberitahukan bahwa kami sudah dibubarkan dan tidak memiliki senjata.

Lalu bagimana cara memberontak?
Memang, Wija dan Made Puger tidak mengerti, mengapa begini? Kami terus memantau radio. Ketika saya pulang, ada Jepang yang baik hati. Ia mungkin sudah tahu rencana kita berontak, lalu ia memanggil saya. Ia bilang bahwa ia sudah tahu tentara PETA akan melakukan pemberontakan. Lalu ia memberi saya pistol, lengkap dengan peluru. Ini bawa, katanya, ''tapi jangan katakan pada siapa-siapa''. Ia mungkin simpati pada perang kemerdekaan kita. Lalu saya bawa pistol itu ke Denpasar.

Sementara teman-teman di Denpasar tetap tidak mengerti situasi terakhir negara ini. Sedangkan utusan dari Jawa kemudian datang dan tetap mengatakan bahwa tunggu saja tanggal 21 Agustus untuk melakukan pemberontakan. Padahal waktu itu sudah tanggal 18 Agustus. Akhirnya kita menelepon rekan di Jawa dan bertanya apakah telah ada proklamasi? Ia juga tidak tahu. Akhirnya, kita terus pantau radio dan barulah kita ketahui bahwa Jepang telah menyerah. Kita lalu terang-terangan pasang bendera, spanduk dan menyanyikan lagu-lagu Indonesia merdeka. Di jalan banyak yang menyanyi Indonesia Raya. Sebab penjajahan zaman Jepang itu keterlaluan. Jadi tidak perlu kita banyak bicara rakyat telah merasakan.

Anda pernah ikut perjuangan pahlawan I Gusti Ngurah Rai, bagaimana kesan Anda?
Beliau adalah orang yang tegas. Waktu pertama ada tentara Inggris mendarat di Benoa pada tahun 1945, waktu itu karena akan ada Sekutu datang yang akan melucuti tentara Jepang. Saya diperintah oleh Pak Rai, ''kamu jaga itu tentara Sekutu dan stop di perbatasan Benoa''. Saya jaga dekat kuburan bersama pasukan. Hanya saya yang punya senjata pistol. Sedangkan yang lainnya bawa tombak dan pedang serta mitraliyur dibawa oleh tentara dari Jawa. Ada 2 jip datang, salah satunya berbendera Inggris dan lainnya berbendera Australia. Di belakangnya banyak truk bersenjata. Lalu saya stop dan saya suruh lapor. Di jalan mobil-mobil itu kami halangi dengan kayu-kayu bakau, sehingga tidak bisa lewat. Lalu perwiranya datang dengan pengawalan yang ketat, kira-kira ada 6 orang yang bersenjata otomatis. Ia berbicara bahasa Inggris, saya nggak mengerti. Cuma saya bilang "Wait here". Ia mau menunggu. "Lalu berapa menit harus saya tunggu?" ia bertanya. Lalu saya bilang, "Ya kira-kira 15 menit." Lalu kita menelepon Denpasar, tidak lama kemudian datang Kapten Putu Serangan bersama pasukannya, termasuk dr. Katung yang bahasa Inggrisnya lumayan. Lalu Putu Serangan bicara dengan kapten yang berasal dari Inggris itu dan para tentara itu bilang bahwa mereka akan menginap di Hotel Denpasar. Saya lalu diperintah buka barikade. Lalu semua militer itu memberikan penghormatan. Saya juga hormat sama dia.


Setelah perundingan, Pak Rai minta bantuan senjata kepada Sekutu dan akhirnya kita menyerang Jepang pada tanggal 19 Desember 1945. Kita serang asrama perang Jepang, ternyata gagal. Sebab kita tidak punya senjata. Lalu kita gerilya. Pak Rai sebagai komandan dan kepala stafnya, Pak Wisnu. Waktu itu namanya Resimen Sunda Kecil.

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 12:30 pm
by gateway
Al_Qirun wrote:Pahlawan Wage Rudolf Soepratman. Indonesia Raya diciptakan oleh seorang "Kafir", saya bangga karena setiap hari senin, setiap upacara kemerdekaan, setiap timnas berlaga di GBK, Lagu made in "Kafir" lah yang berkumandang.

Image

@al-qirun
ini "kafir" tanda kutip maksudnya ? bisa di perjelas gitchu.

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 1:02 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Tjia Giok Thwan ( dr. Basuki Hidayat )

sewaktu mudanya ia adalah anggota regu pasukan penggempur pasukan 19 CMDT ( Corps Mahasiswa Djawa Timur ).

Dengan SK mentri pertahanan (juanda), pada 5 oktober 1958 mendapat satya lencana perang kemerdekaan kedua.
dengan SK 10 november 1958, menerima tanda jasa pahlawan dari presiden suharto
dengan SK mentri pertahanan (juanda) 29 januari 1959 mendapat satya lencana gerakan operasi militer kesatu.

keluarga pada awalnya berniat memperabukan beliau ketika beliau wafat, namun atas permintaan Pangdam VIII Brawijaya Mayjen Soegita maka beliau di makamkan di TMP .

sumber :
Image
buku Peranakan Idealis, dari lie eng hok sampe teguh karya. karangan H.junus jahja

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 1:35 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Tjoa Sik Ien

beliau adalah tokoh yg mendukung dan mendorong integrasi etnis tionghoa sbg warga negara indonesia. semenjak muda sudah sangat militan dlm membela perjuangan indonesia melawan belanda, salah satunya dgn mendirikan Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia, sangat berbeda jauh dgn mahasiswa2 tionghoa lainnya kala itu yg condong kepada belanda atau tiongkok. Sepulangnya ke indonesia ia sempat menjadi ketua partai yg memperjuangkan kemerdekaan yaitu PTI yg kemduian dibubarkan jepang.

pada tahun 1949 beliau dikirim oleh pemerintah indonesia utk mewakili indonesia didepan sidang PBB utk menjelaskan bhw indonesia adalah negara teratur dan tertib, bukan negara teroris seperti yg dikumandangkan oleh belanda. setelah itu beliau selalu gigih dalam mendorong warga tionghoa di indonesia utk tidak ragu2 memilih indonesia sbg kewarganegaraanya.

Namun tragis, akibat pemberontakan G30S PKI maka beliau terpaksa kabur ke Austria dan wafat disana sbg seorang Stateless.

namun peran beliau yg paling penting yg patut diingat adalah usaha nya menemui perwira2 angkatan laut jepang di Pujon, deket Batu-Malang yg bersimpati kepada kemerdekaan indonesia sehingga membuahkan sebuah informasi penting yaitu lokasi2 gudang persenjataan jepang. Senjata dari lokasi2 inilah yang dikemudian hari digunakan utk memasok persenjataan bagi pejuang perang hebat di Surabaya 1945.


berdasarkan tulisan Harry Tjan "Dr.Tjoa Sik Ien : aktivis dan pejuang " terlihat bhw dr.Tjoa tidak percaya kepada sebuah agama, karena baginya agama membuat pikiran menjadi beku dgn dogma2 yg harus diterima tanpa bisa dikritik.

sumber :

Image

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 7:51 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Tom Gerson Pello (Tom Pello )

Tom Gerson Pello yang lebih dikenal dengan panggilan Tom Pello dilahirkan di Kapan, Timor Tengah Selatan pada tanggal 18 Juli 1917. Tom Pello lahir dari keluarga Protestan yang taat, dari seorang ayah bernama Hendrik Mesakh Pello dilahirkan pada 28 Juli 1888. Ayah Tom Pello bekerja sebagai seorang guru/Pendeta Protestan, tetapi ia juga seorang tokoh pergerakkan Timor Verbornd

riwayat perjuangan :

    1. Semenjak masih dibangku sekolah Tom Pello telah aktif mengikuti berbagai organisasi politik diantaranya Organisasi Pemuda Timor dibawah pimpinan almarhum Prof. Ir. H. Johannes. Tujuan organisasi tersebut memperjuangkan kemerdekaan RI.

    2. Pada masa pemerintahan pendudukan Jepang Tom Pello dan I.H. Doko dengan strategi yang tepat berhasil membela dan mengurangi penderitaan rakyat dan para raja di pulau Timor dari kekejaman pemerintahan Jepang. Berkat perannya ini maka Tom Pello dan I.H. Doko oleh masyarakat dijuluki : Stoet Blok (balok penahan).

    3. Tom Pello ikut aktif dalam pergerakkan Persatuan Kebangsaan Timor. Kemudian bersama-sama dengan I.H. Doko dan tokoh masyarakat Timor mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Timor (PDI) yang merupakan gabungan dari Partai Kebangkitan Indonesia pada tahun 1937. Pengurus PDI : Ketua Tom Pello, dan Wakil Ketua : I.H. Doko. Sekretaris CH. F. Ndaumanu, Wakil Skretaris Sahetapy Engels. Penasehat : HA. Koroh (Raja Amarasi).
    Lewat partai tersebut dikeluarkan motto :Mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Memperjuangkan Persatuan RI dari Sabang sampai Merauke.

    4. Pada waktu setelah pendaratan pasukan NICA dan masuknya kembali pemerintahan kolonialisme Belanda di Kupang yang membonceng tentara sekutu, Tom Pello, I.H. Doko, HA. Koroh dan D Adoe sebagai aktifis perjuangan yang dianggap membahayakan kelangsungan kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda di keresidenan Timor dan daerah takluknya, dituduh sebagai collaborator Jepang, anak emas Jepang dan menyimpan senjata dan barang-barang Jepang sehingga rumah mereka digeledah pasukan NICA.

    5. Para pemuda pergerakan di Kupang sempat merencanakan untuk membumi hanguskan Kamp NICA, tempat kediaman pamong praja Belanda, kantor dan jawatan dan gudang makanan. Rencana tersebut disusun Max Rihi di bawah pimpinan Tom Pello didukung tokoh pemuda PDI : Adi Pello, M. Saba, M.M. Foeh, Arif Kiah, A. Johanes, Asba Salean. Namun raja Amarasi HA Koroh yang bertindak sebagai penasehat PDI berhasil meyakinkan Tom Pello dan para pemuda untuk mengurung niatnya apabila dilaksanakan akan merugikan perjuangan dan masyarakat Kota Kupang.

    6. Tom Pello karena sifat gerakannya yang non kooperatif dan selalu konsisten melawan pemerintahan colonial Belanda ia dijuluki : Soekarnoisten, Republiken dan Extremesten.

    7. Sebagai pejuang yang konsekwen bersifat non kooperatif Tom Pello berkorban demi perjuangannya, walaupun ia telah memiliki kedudukan yang cukup tinggi untuk seorang bumi putra pada waktu itu, namun demi perjuangan ia minta berhenti sebagai pegawai pada Keresidenan Timor, walaupun akibatnya anggota keluarganya menderita.

    8. Mempersatukan eks Heiho dan Eks KNIL untuk menentang Belanda.

    9. Mamggalang para pegawai NICA untuk melakukan mogok kerja.




Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Wed Jul 18, 2012 8:20 pm
by tendangin
wahh ko id saya yang buat acuan. tak apalah :green:

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Thu Jul 19, 2012 1:40 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Arnold Mononutu

Image


SUASANA rapat menjadi panas saat anggota Konstituante yang beragama Kristen, Arnold Mononutu melampiaskan kekecewaannya saat tokoh-tokoh Islam memaksa nilai-nilai Islam menjadi konstitusi negara.

"Wajar saja jika Anda sekalian dari golongan Islam punya nilai-nilai demikian. Kami sebagai orang Kristen juga punya nilai-nilai dan kami tahu-nilai-nilai tak boleh dikorbankan. Tetapi, jangan minta negara Islam. Jika itu terjadi, maka kiranya kami menjadi tamu Anda sekalian dan kami bukan tamu di negara ini."

Arnold Mononutu, politisi PNI beragama Kristen tak menerima nilai-nilai Islam menjadi dasar negara. Dia lebih menekankan agar Sila Pertama Pancasila yang fundamental mengakomodasi nilai-nilai religis juga mengakomodasi nilai-nilai agama lain yang dianut masyarakat Indonesia.

Dalam proses penyusunan konstitusi negara kala itu, panggung politik diwarnai benturan keras karena perbedaan ideologi. Sejumlah tokoh-tokoh Islam bersemangat memperjuangkan Indonesia yang merdeka dengan menerapkan Islam sebagai dasar negara. Upaya itu mendapat penentangan luar biasa dari tokoh-tokoh non muslim dan kalangan nasionalis. Perdebatan para founding fathers dalam sidang BPUPK dihadapi kesulitan menemukan konsensus untuk mempertemukan posisi-posisi ideologis masing-masing.

Mohammad Natsir, tokoh Islam dari Partai Masyumi menilai, Pancasila adalah sekuler. Natsir dalam artikel berjudul: Keindonesiaan Mononutu yang ditulis Syafii Maarif, memperingatkan umat Islam bahwa bilamana berpindah dari Islam ke Pancasila samalah artinya melompat dari bumi tempat berpijak, ke ruang hampa, vacuum, tak berhawa.

Namun, pendapat itu dibantah Arnold Mononutu yang mengatakan bahwa Pancasila tidak bercorak sekular. "Pancasila merupakan satu weltaan schauung yang bersumber kepada Ketuhanan yang Maha Esa," ujarnya seperti dikutip dalam buku berjudul Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, Sebuah Konsensus Nasional tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), karya Endang Saifuddin Anshari, Gema Insani Press, 1997.

Pernyataan Natsir juga disambut Arnold Mononutu dengan berucap, "Dari ideologi Pancasila ke negara Indonesia berdasar agama Islam, bagi umat Kristen adalah ibarat: melompat dari bumi, yang tenang dan sentosa untuk menjalankan agamanya sebagai manusia Indonesia yang volwaardig, ke ruang kosong, vacuum, tak berhawa."

Arnold Mononutu adalah salah satu elit PNI yang menjadi anggota Majelis Konstituante (1956-1959), tidak sepakat jika nilai-nilai Islam menjadi corak dasar negara Indonesia yang majemuk ini.

Dia begitu gigih membela Pancasila sebagai dasar negara dalam Majelis Konstituante ditinjau dari sudut ajaran Kristen berhadapan dengan kelompok Islam yang mengusung Islam sebagai dasar negara. Bagi Mononutu, Pancasila menawarkan nilai-nilai Kristen yang religius monistis. Dia menentang anggapan Natsir yang menganggap Pancasila adalah ideologi sekularisme.

Dalam konteks ini, Arnold Mononutu menempatkan diri sebagai pihak yang alergi terhadap Islam. Namun, dia lebih mengutamakan kepentingan nasional bangsa secara lebih luas. Sama seperti halnya Mohammad Hatta yang dianggap berperan dalam menghapus kata Islam tersebut. Hatta nampaknya menangkap realitas sosiologis masyarakat Indonesia saat itu.

Dia khawatir Indonesia timur yang mayoritas Kristen tidak akan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia bila dasar negara mengadopsi Islam. Presiden Soekarno juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang implikasi-implikasi negatif terhadap kesatuan nasional jika kelompok Islam memaksakan tuntutan mereka untuk sebuah negara Islam.

Arnold Mononutu, adalah politisi asal negara federal (NIT), tetapi dia sosok republiken, bukan federalis. Dalam parlemen NIT, ia memimpin Fraksi Progresif yang lebih berorientasi kepada RI daripada NIT. Dia adalah seorang nasionalis Indonesia Bagian Timur yang pro Republik Indonesia di zaman perjuangan kemerdekaan.

Arnold juga akrab dengan Hatta saat menjadi mahasiswa di Negeri Belanda tahun 1920-an. Di Belanda, dia bergabung dalam gerakan Perhimpunan Indonesia (PI) yang gencar melakukan propaganda antikolonial di luar negeri. Arnold Mononutu ke Paris, Perancis mewakili PI memperkuat jaringan dengan beberapa mahasiswa Asia. Pada waktu itu gerakan demokrasi internasional di bawah pimpinan besar anggota Parlemen Perancis, Marc Sangnier, sedang menyiapkan suatu kongres untuk perdamaian.

Dalam menyuarakan propaganda anti penjajahan, Arnold Mononutu bersama mahasiswa Indonesia lainnya seperti Muhammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdoel Madjib Djojoadhiningrat, Pamontjak dan sebagainya pernah diancam pemerintah kolonial.

Tahun 1925, pemerintah kolonial mengeluarkan ancaman agar mahasiswa yang belajar di Negeri Belanda tidak boleh dikirimi belanja jika orang tuanya adalah pegawai di Hindia Belanda. Mononutu terkena ancaman ini, karena ayahnya adalah seorang komis di Manado. Tidak ada pilihan bagi ayahnya kecuali mematuhi ancaman itu.

Mononutu pun dihadapkan dua pilihan: mundur dari PI agar kiriman tidak putus atau tetap dalam PI dengan akibat tidak ada lagi kiriman dari orang tua. Mononutu memilih tetap bergabung dengan PI. Ia meminta maaf kepada ayahnya karena terputusnya kiriman. Kata Hatta, dengan adanya kasus Mononutu ini, rasa solidaritas PI malah semakin kuat dan meningkat. Mereka kemudian beriuran untuk meringankan biaya hidup Mononutu, sekalipun tidak sebanyak kiriman orang tuanya.

Setelah Indonesia merdeka, Mononutu bergabung dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri. Kabinet itu terdiri dari 13 menteri dan 3 menteri negara dan 11 orang di antaranya adalah Republiken. Tokoh-tokoh terkemuka yang duduk dalam kabinet itu adalah dari pihak Republik seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Djuanda, Wilopo, Supomo, Leimena, Herling Laoh, Sultan Hamid II dan Ide Anak Agung Gde Agung. Kabinet itu merupakan zaken cabinet (kabinet ahli) dan bukan kabinet koalisi yang bersandar pada kekuatan partai-partai politik.

Arnold juga berperan membangun hubungan antara Indonesia dengan China. Dia pernah ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Beijing. Penunjukan Arnold sebagai duta besar itu menandai mulai eratnya hubungan kedua negara. Dalam buku berjudul: Merangkul Cina, Hubungan Indonesia-Cina Pasca Soeharto, PT Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Thu Jul 19, 2012 2:13 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Elvianus Katopo




adalah seorang tokoh Alkitab Indonesia. Ia juga seorang novelis.Ia menempuh pendidikan di Ambonse Kweekschool (Sekolah Guru Ambon), dan kemudian meraih Hoofdaktesebagai orang Indonesia. Ia bekerja sebagai direktur "Louwerierschool" di Tomohon sebelum Perang Dunia II, ikut berjuang dalam menentang Belanda.Ketika Republik Indonesia Serikatdibentuk, ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Agama Negara Indonesia Timur.

Setelah NIT dilebur ke dalam RI, ia pindah ke Jakarta dan hingga 1955 bekerja sebagai pegawai tinggi Kementerian P&K dan merupakan salah satu tokoh penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia.Pada tahun1953 ia ikut mendirikan Universitas Kristen Indonesia,dan Lembaga Alkitab Indonesia,1954. Di masa hidupnya, ia pun lama menjadi Ketua Dewan Kurator Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan juga menyumbangkan tenaga dan pikirannya di dalam usaha mengembangkan UKI dan UI. Ia pernah menulis novel "Nuku, Pahlawan Maluku Utara" yang diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Thu Jul 19, 2012 9:24 pm
by MaNuSiA_bLeGuG
Tijel Djelau




Hari ini, 10 November 2010, negeri yang dilanda berbagai bencana memperingati Hari Pahlawan ke-65. Sebuah hari bersejarah yang barangkali sudah terlupa di tanah gempa dan gunung api sana. Lalu, bagaimana dengan Kalteng? Tulisan ini coba mengingatkan salah satu pejuang Dayak.


Namanya Tijel Djelau. Lahir di Kasongan, 10 Agustus 1927. Oleh keluarga dan para kemenakannya, dia sering dipanggil Mamang Dangek. Sesuai kebiasaan orang Dayak Ngaju, Tijel juga kerap disapa Bapa Dino, sedang istrinya, Indu Dino. Mereka bertempat tinggal di Jalan Beruk Angis Palangka Raya, dan Jalan Raya Katunen, Kasongan, Kabupaten Katingan.
Sosok Tijel tercatat sebagai salah satu tokoh pejuang veteran kemerdekaan yang memberikan dharma bakti, pengabdian, baik dalam perjuangan mempertahankan proklamasi maupun ikut mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Termasuk upaya membangun daerah Kalteng.

Usai mengenyam pendidikan Zending Vervolgschool di Kasongan (1936- 1941), Kioin Joseijo Sekolah Guru zaman Jepang di Sampit (1942–1944), dan kursus Kader Kementerian Penerangan RI di Yogyakarta (1949), Tijel diangkat menjadi guru sekolah dasar–dulu disebut Sekolah Rendah (SR)–ditempatkan di Rantau Pulut, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan, 1944-1947.
Pada tahun 1948, ia kemudian dipindahkan ke Samba Bakumpai, Tumbang Samba, Kecamatan Katingan Tengah, Katingan. Sang guru muda Tijel atas panggilan jiwanya melakukan gerakan perjuangan menentang penjajah NICA/Belanda dan bergabung dengan pasukan MN 1001/MTKI (Mohammad Noor 1001/Mandau Telawang Kalimantan Indonesia) untuk kawasan Sungai Seruyan.


Saat melaksanakan tugas sebagai guru di Tumbang Samba awal 1948, oleh ALRI Divisi-IV dari Banjarmasin–tentu saja secara rahasia–Tijel ditunjuk sebagai Perwakilan ALRI Divisi-IV Daerah Katingan, berkedudukan di Tumbang Samba.
Sebagai anggota pasukan MN 1001/MTKI, dengan pangkat Kapten, Tijel melaksanakan tugas mempersiapkan pembentukan Markas Pedalaman di Sepan Biha-hulu Sungai Manjul, anak Sungai Seruyan.
TT Suan, pemerhati sejarah budaya Kalteng, kepada Tabengan menceritakan, pada pertengahan 1946, ada seorang lelaki datang menemui Tijel Djelau seraya memperkenalkan diri bernama “Tjilik Riwut”.

Tjilik adalah saudara sepupu Tijel, sangat mengenal kakak sepupunya itu. Maka, saat “perkenalan” itu, membuat Tijel senyum dikulum. Orang yang menyebut dirinya “Tjilik Riwut” itu pun buka kartu, bahwa dia adalah Kapten Mulyono, PMC (Penyelidik Militer Chusus MBT/TNI) mendapat tugas rahasia dari Tjilik untuk menemui Tijel. Rombongan Kapten Mulyono datang dari Jawa berjumlah 11 orang, di antaranya Opsir Muda AURI Marconi R. Mangkin yang asal muasalnya warga domestik etnik Dayak, juga dari suku Dayak Ngaju. Pasukan itu meneruskan perjalanan ke Tumbang Manjul, selanjutnya menuju Sepan Biha tempat latihan militer MN 1001.

Dalam kurun waktu 1945-1949, Tijel menjadi “langganan” penangkapan dan penyiksaan, ditahan, dihukum, serta mengalami penderitaan berat akibat tindakan pasukan NICA/KNIL Belanda. Penguasa NICA/KNIL Belanda memang cukup repot dan “pusing” atas gerakan “ekstremis” pemuda Tijel itu.Betapa tidak, pada Oktober 1945, ketika rombongan PETA/BPRI dari Surabaya tiba di Kuala Pembuang membentuk Pemerintahan RI, Tijel sebagai anggota sekaligus melatih para pemuda mengikuti latihan pelajaran baris berbaris dengan senjata bambu runcing.Desember 1945, datang pasukan NICA/KNIL menggempur. Tijel ditangkap lalu dibawa ke Sampit, diperiksa dan disiksa. Pada 17 September 1946, Pasukan MN 1001/TKR, dipimpin Kapten Mulyono dengan persenjataan senapan dan mandau, tengah malam menyergap pasukan KNIL/KL yang bercokol di Sanggrahan Tumbang Manjul.

Di pihak KNIL/KL banyak yang gugur dan pihak MN 1001 pun jatuh korban. Setelah pertempuran itu, Kapten Mulyono kembali ke Jawa melaporkan perkembangan perjuangan di Kalimantan. Sementara pasukannya diperintahkan kembali ke markas di pedalaman, siap sedia mempertahankan daerah Seruyan dari serangan NICA/Belanda.Dari Rantau Pulut, Kapten Mulyono menulis surat kepada Kapten FJ Hips, Wakil Kontrolir (Controleur) Onderafdeling Sampit di Sampit. Tijel diminta mengantar surat itu ke Sampit. Isi surat itu antara lain menyatakan pertempuran di Tumbang Manjul, yang bertanggung jawab Kapten Mulyono/pasukan MN 1001/TKR. Hips jangan menyakiti rakyat yang tidak berdosa. Setelah surat itu disampaikan setangan ke alamatnya, tak ayal Tijel pun ditangkap sang Kapten KNIL si Hips. Tijel menjadi bulan-bulanan penyiksaan. Rakyat dan pasukan MN 1001 di Seruyan banyak terbunuh akibat operasi militer KNIL/KL yang berlangsung sampai awal tahun 1947.

Menjelang akhir 1949, Tijel menerima berita adanya gencatan senjata. Sewaktu pergi dan tiba di Kasongan, dia ditangkap oleh serdadu Belanda, lalu diikat di tiang bendera di depan Kantor HPB (Hoofd van Plaatselijk Bestuur) Kasongan selama dua hari dua malam. Namun, pada malam ketiga, datanglah kapal dari Sampit menjemput pasukan KNIL di Katingan. Bersamaan itu, diterima surat dari Kapten Mulyono ditujukan kepada Tijel. Surat itu memberitahukan, Sampit telah menjadi daerah kekuasaan RI dan agar Tijel segera mengatur roda pemerintahan RI di Kasongan. Maka, segera pimpinan HPB membebaskan Tijel.Tindakan mengatur kelancaran pemerintahan, oleh Tijel diserahkan sepenuhnya kepada HPB (Kiai Kepala), dan Tijel segera melaksanakan tugas lain di daerah Katingan.

Atas jasa-jasanya kepada negara dan bangsa, Tijel telah dianugerahi tanda jasa dan penghargaan dari pemerintah, berupa Bintang Gerilya, Bintang Sewindu, Satya Lencana PPK (Peristiwa Perang Kemerdekaan) I dan II, Satya Lencana Kesetiaan VIIII tahun, Bintang Legiun Veteran RI, dan Satya Lencana Legiun Veteran RI.Hingga wafatnya pada 6 September, dua bulan lalu, gelar pejuang masih melekat padanya, seperti Ketua/Anggota Pengurus Markas Daerah Legiun Veteran RI Kalteng dan Anggota Pengurus Dewan Harian Daerah Angkatan-45 Kalteng. Tijel wafat pada usia 83 tahun, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Jalan Tjilik Riwut Km2,5 Palangka Raya

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Sat Jul 28, 2012 12:48 am
by muslim_netral
kafir yang ikut bela negara dengan muslim yang bela negara, perbandingannya 1 : 250 juta

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Sat Jul 28, 2012 1:15 am
by muslim_netral
muslim_netral wrote:kafir yang ikut bela negara dengan muslim yang bela negara, perbandingannya 1 : 250 juta

fayhem wrote:aq jamin km asal bunyi :lol:


Bukankah itu semua yang kita lakukan di sini ? :lol:

Re: Penyesatan 1: Kafir Tidak ikut berjuang dalam Kemerdekaa

PostPosted: Sat Jul 28, 2012 1:30 am
by muslim_netral
muslim_netral wrote:
Bukankah itu semua yang kita lakukan di sini ? :lol:

fayhem wrote:Hahaha..
tawa sutra episode muslim netral :green:


Hehehe, udah dulu yah, takut kesiangan, mau tidur dulu,
bangunin aku, takut kelewat sahur!
Dadaaah fayhem....