. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Teror di Poso

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Teror di Poso

Postby ali5196 » Wed Dec 28, 2005 6:57 am

http://www.foxnews.com/printer_friendly ... 58,00.html

POSO:pulau teror di Indonesia
Kekerasan menciptakan Pulau Teror di Indonesia

Monday, December 26, 2005

POSO, Indonesia — Masked, black-clad and brandishing machetes, the attackers sprang from behind a screen of tall grass and pounced on the four Christian girls as they walked to school. Within seconds, three of the teenagers were beheaded — fresh victims of violence that has turned this Indonesian island into yet another front in the terrorist wars.

"All I could do was pray to Jesus for his help," said 16-year-old Noviana Malewa, who fled with a gaping head wound. "I was streaming with blood." A thick scar runs from the back of her neck to just under her right eye.

Muslim militants are blamed for the October killings, the most gruesome yet in a campaign of terror against Christians on the island of Sulawesi.

Muslim-Christian violence from 2000 to 2002 killed some 1,000 people in Sulawesi and attracted Muslim militants from across Indonesia, including from Jemaah Islamiyah, a homegrown network linked to Al Qaeda, and even from the distant Middle East.

Despite a peace deal, bombings, shootings and other attacks on Christians have continued, especially around the small town of Poso in the heart of the octopus-shaped, Massachusetts-sized island.

Behind the attacks are Muslim islanders avenging their dead in that conflict, and terrorists bent on fomenting a new war, former fighters and security officials say.

"They want to see Poso become alive with the spirit of jihad again," said Fahirin Ibnu Achmad, an Afghan-trained militant who took part in the 2000-2002 war.

"It is easy to recruit people who have seen their relatives slaughtered," said Achmad, who claims to have renounced violence after spells in prison for gunrunning and taking part in an attack on a Christian village.

Sulawesi is one of several islands in what some call Southeast Asia's "triangle of terror" — a porous region encompassing the insurgency-wracked southern Philippines in the north and the Maluku archipelago, itself the scene of sectarian conflict, to the west.

Also close by is heavily Muslim southern Thailand, where a two-year insurgency has left more than 1,100 dead.

The United States is closely watching Indonesia, where Jemaah Islamiyah militants are accused of carrying out a string of suicide bombings on Western targets since 2002, including attacks on the island of Bali that killed more than 220 people, most of them foreign tourists.

Along with the Philippines, the "Sulawesi scene ... is perhaps the major issue right now in Southeast Asia, because there the enemy have the opportunity to gather and train and build cohesive groups and from there deploy outward," said Henry Crumpton, the U.S. State Department's counterterrorism coordinator.

Despite an Indonesian crackdown, militants are still able to move within the region and there is evidence that extremists are honing their bomb making skills at terror training camps, said Maj. Gen. Ansyaad Mbai, Indonesia's anti-terror chief.

The Sulawesi war has never been credibly investigated, and only a few perpetrators have stood trial. The island's Muslim and Christian communities, each numbering about half the population of 12.5 million, nurture their own histories of the conflict, casting themselves as victims. Burned out buildings and abandoned shops, many housing refugees, still dot the region, and aid money for reconstruction is stolen by corrupt officials and soldiers, human rights activists say.

Christian-Muslim relations were generally harmonious until 2000, when fighting spread from the Malukus and quickly took hold. Each side killed hundreds and burned down scores of villages, among them the hilltop hamlet where Noviana and her schoolmates grew up.

Noviana's family, which fled the hamlet overlooking Poso, had recently returned, confident that tensions were subsiding.

Still recovering from the attack, the girl now lives under police guard in the Christian town of Tentena.

In her only interview since the killings, Noviana described how the girls in their school uniforms were taking a shortcut to school through jungle and plantations when they ran into at least five masked, black-clad men.

As she fled bleeding, the assailants collected her friends' heads, put them into black plastic bags and then dumped in Christian parts of Poso, one on a porch, the other two on the street.

"They were killed as if they were chickens," said Hernius Morangki, showing a reporter the spot where his daughter was decapitated. "I keep asking myself, what were my daughter's sins?"

Christians, who represent just 5 percent of the country's overall population of 220 million, have refrained from loudly demanding justice.

"I tell people: Do not retaliate; only God can do that," said Rev. Stephen Dayoh, taking a break from pitching a large tent outside his church for Christmas services. "If we do, it means we are the same as them."
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Tahun Baru berdarah di POSO. Gereja kehilangan kesabaran!

Postby ali5196 » Sun Jan 01, 2006 9:14 pm

http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-p ... 570912.stm
http://www.faithfreedom.org/oped/GrantSwank60101.htm

Bloody New Year for Christians: Indonesia

J. Grant Swank, Jr.

2006/01/01

Seorang petinggi agama Kristen mengatakan hari Sabtu lalu bahwa ia sudah kehilangan kesabaran.

"’Setiap kali ada insiden, penguasa selalu meminta rakyat agar tidak terpancing provokasi," kata Rinaldi Damanik, pemimpin Sinod Gereja2 Sulawesi Tengah. ‘Kapan penguasa pernah mampu menunjukkan penyebab kegiatan biadab di provinsi itu ?’"

Hari menjelang tahun baru, para pembunuh Muslim meledakkan bom di pasaran yg penuh dgn rakyat (Kristen) yg sedang berbelanja (daging babi utk tahun baru), mengakibatkan terlemparnya tubuh2 orang ke udara. Paku dan peluru ditembakkan oleh bom ini dan menyerang rakyat tidak bersalah.

Menurut kantor berita AP dari Palu, 7 orang tewas, banyak luka2. Ini merupakan tindak kebiadaban yg terus berlangsung di Poso terhdp rakyat Kristen oleh kaum Muslim fanatik. Kekuasaan Islam sedunia adalah tujuan mereka. Mereka membuat Indonesia tujuan utama mereka dgn menargetkan minoritas non-Muslim terbesar di Indonesia (Kristen) dan tempat2 ibadah mereka.

Poso terus menjadi sasaran. Baru2 ini gadis Kristen tidak bersalah dipenggal. Pertempuran sengit antara Kristen dan Muslim tahun 2001 dan 2002 menewaskan 1000 orang Kristen. Bulan Mei lalu, 2 bom di Tentena membantai 20 orang.

AKI/Jakarta Post melaporkan : "Sebuah cellphone text message dikirm ke stasiun radio Suara Timor di Kupang, Timor Barat, mengancam utk membom 31 gereja di kota itu pada malam tahun baru."
Dilanjutkannya, "Pesan itu dikirimkan sesorang yg menyatakan diri pemimpin kelompok teroris regional Jemaah Islamiyah. Polisi ditempatkan di gereja2 utk menghalangi serangan selama periode 24 Desember - 4 January."

Penguasa2 barat selalu tanggap mengeluarkan belasungkawa/pernyataan tidak setuju/mengancam perbuatan jahat kala terjadi kejahatan, bahkan oleh orang2nya sendiri. Tapi apakah hal yg sama bisa diharapkan dari pemimpin2 muslim ?

Mungkinkah badan2 spt Council on American-Islamic Relations (CAIR) akan mengirimkan pesan kpd teroris2 Jemaah Islamiyah tsb, mengutuk mereka karena mengakibatkan kerusuhan atas nama Allah ?

Atau raja Jordania misalnya akan mengirim pesan2 kpd Jemaah Islamiyah agar lebih mendisiplinkan diri ?

Atau penguasa Mesir akan melakukan yg sama mengingat Jemaah Islamiyah disana semakin mempersulit keadaan negeri tsb. ?

Saya rasa nol semua ! Seperti biasanya, pemimpin muslim dimanapun didunia bungkam seribu bahasa kalau menyangkut mengutuk kegiatan pengikut2 Allah.

Kaum Kristen di Indonesia tidak pernah tahu apakah memasuki tempat ibadah mereka mereka akan keluar hidup2. Baik petinggi maupun pengikut agama selalu mengalami kekhawatiran bahwa tiba2 nyawa mereka tercabut.

Pada saat Natal beberapa tahun lalu, 29 gereja dibom, 19 orang tewas dan lebih dari 100 orang luka2.

Visit: http://www.michnews.com/artman/publish/ ... 1070.shtml MUSLIMS BEHEAD 3 CHRISTIAN TEENS: INDONESIA

Visit: http://www.michnews.com/artman/publish/ ... 1076.shtml IRAQ : CHRISTIANS FEAR MUSLIMS

Visit: http://www.michnews.com/artman/publish/ ... 1066.shtml THE WILD CRAZY MUSLIM WORLD

Copyright © 2005 by J. Grant Swank, Jr.

Web: http://www.truthinconviction.us/weblog.php

Email: joseph_swank@yahoo.com
Last edited by ali5196 on Mon Jan 02, 2006 2:40 am, edited 2 times in total.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby reggie » Sun Jan 01, 2006 10:24 pm

turut berduka yang sedalam-dalamnya. pelakunya semoga masuk neraka!
User avatar
reggie
Banned
 
Posts: 2187
Joined: Wed Dec 28, 2005 8:48 pm

POSO: Pelaku Pemenggalan Mengaku

Postby Adadeh » Sat May 13, 2006 12:17 am

http://www.news24.com/News24/World/News ... 14,00.html
Pelaku Mengaku Pemancungan Pelajar2 Sekolah
10/05/2006 08:10 - (SA)

Jakarta – Tujuh tertuduh teroris Muslim telah mengaku memenggal kepala 3 pelajar putri di Sulawesi, kata polisi hari Rabu.
Ke tujuh tertuduh mengaku setelah ditanyai bahwa mereka merencanakan dan melakukan pemenggalan di tanggal 20 Oktober di Poso, Sulawesi, kata Letkol Polisi Rudi Sufahriadi pada Associated Press.
Seorang pelajar putri lainnya terluka tapi dibiarkan pergi oleh para pemenggal, katanya.
Dua dari orang2 ini punya kaitan dengan Noordin Top, yang dianggap sebagai pemimpin utama Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan al-Qaeda, demikian menurut kepala polisi Sulteng BrigJen Oegroseno.
Indonesia telah menangkap sejumlah militan yang merupakan anggota Jemaah Islamiyah di beberapa tahun terakhir.
Jemaah Islamiyah dianggap bertanggung jawab atas terjadinya pemboman bunuh diri di Indonesia di tahun2 terakhir, termasuk dua serangan bom di Bali.
Poso yang merupakan kota pantai, yang berjarak 1.600 km timurlaut Jakarta. Di tempat ini terjadi pertikaian antara Muslim dan Kristen di tahun 1999-2002 yang mengakibatkan lebih dari 1000 nyawa melayang.
Pemboman dan serangan sporadis yang terutama mengarah masyarakat Kristen terus saja terjadi dan pihak polisi mencurigai keterlibatan Jemaah Islamiyah.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Sat May 13, 2006 12:18 am

http://www.jihadwatch.org
Misunderstanders of Islam admit to beheading Christian schoolgirls

These benighted misunderstanders of Islam were evidently foolish enough to think that when the Qur'an says to "strike the necks" of unbelievers (47:4; cf. also 8:12), that it actually means, "strike the necks" of the unbelievers. The fools! They've probably been listening to Islamophobic rhetoric, or watching "United 93"! Don't they realize that the Qur'an is a document of staggering complexity, and that it can only be properly understood by Saudi-funded American professors who spend years in concentrated study, enabling them to determine that "strike the necks" actually means "hug the necks"? You have to read it in the original Arabic, you see, and use your secret Qur'anic Arabic decoder ring, which likewise renders "beat her" (Qur'an 4:34) as "tell her how much you love her."
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Sat May 13, 2006 12:17 pm

http://www.kompas.com/utama/news/0605/13/113901.htm
Polisi Tetapkan 4 Tersangka Baru Kasus Poso
Sabtu, 13 Mei 2006, 11:38 WIB
Palu, Sabtu

Kepolisian kembali menetapkan empat tersangka baru terkait sejumlah aksi kekerasan yang terjadi beberapa waktu lalu di bekas daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Semua tersangka sudah diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat khusus untuk menjalani pemeriksaan.Oknum berinisial D, I, R, dan H, yang resmi dijadikan tersangka merupakan bagian dari sembilan orang yang sebelumnya ditangkap secara terpisah di Tolitoli dan Palu.
Kapolda Sulteng Brigjen Pol Drs Oegroseno di Palu akhir pekan ini, menjelaskan keempat orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka terkait beberapa aksi kekerasan di wilayah Poso sejak tahun 2002, termasuk di antaranya peristiwa pembunuhan dengan cara mutilasi di pinggiran kota Poso akhir tahun lalu.
Tiga siswi SMA Kristen Poso, yakni Theresia Morangki (17), Ida Lambuaga (15), dan Alfitha Poliwo (15), ditemukan tewas mengenaskan pada 29 Oktober 2005 yaitu beberapa menit setelah meninggalkan rumah mereka di Kelurahan Bukit Bambu menuju ke sekolahnya di kota Poso.
Tubuh jenazah ketiga siswi yang masih mengenakan seragam pramuka ini ditemukan di badan jalan pinggiran selatan kota Poso sekitar pukul 07.00 WITA, sementara penggalan kepala mereka ditemukan di dua lokasi berbeda kurang dari satu jam kemudian. Ketiga korban sebelum tewas tengah menunggu angkutan umum untuk menuju kota Poso yang berjarak sekitar sembilan kilometer.
Selain korban tewas, seorang siswi SMU Kristen lainnya yakni Noviani Maleva berhasil selamat dari keberingasan pembunuh misterius yang mengenakan cadar, namun ia sempat terkena tebasan parang di bagian pelipis sehingga mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Mengenai peran masing-masing tersangka dalam beberapa kasus kriminal itu, Kapolda Oegroseno belum bersedia menjelaskan dengan alasan masih dalam proses penyidikan Mabes Polri, kecuali menduga motif dari perbuatan itu kemungkinan masalah dendam yang belum hilang di sebagian masyarakat Poso akibat kerusuhan lalu. Sebelumnya, sumber dari kepolisian setempat menyatakan ada dari keempat tersangka yang diboyong ke Jakarta itu terlibat kasus pembunuhan terhadap seorang istri anggota Kodim Poso tahun 2002 di pinggiran kota Poso.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri pada Sabtu pekan lalu (6/5) menangkap Aprianto alias Irwan, Arman alias Haris, Nano, Abdul Muis, dan Asrudin, karena dicurigai terlibat sejumlah aksi kekerasan di wilayah Poso beberapa waktu lalu.
Kelima orang ini ditangkap secara mendadak di dua terpisah di Tolitoli, kabupaten ujung utara Provinsi Sulteng, dan pada hari itu juga dibawa ke Mapolda Sulteng untuk menjalani pemeriksaan. Dua hari berikutnya (8/5), tim khusus Polri ini kembali menciduk empat orang lagi di Kota Palu, dan belakangan diketahui bernama Hasanuddin, Mochtar, Ali, dan Ibrahim. Keempatnya adalah warga Poso yang bermukim sementara di Palu.
Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam (FKSUI) Poso KH Adnan Arsal membantah kalau empat dari sembilan orang yang ditangkap itu terlibat kasus pembunuhan terhadap tiga siswi di Kelurahan Bukit Bambu.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby wix » Tue Sep 26, 2006 9:38 pm

Apakah mereka merasa bersalah? Tentu TIDAK...kan ada tertulis dalam kitab suci mereka bahwa membunuh itu boleh kok apalagi kafir. Ingat Poso mulia rusuh pada saat banyak islam ektrim masuk, pindahan dari jawa dan daerah-daerah lainnya atau mungkin langsung dari Afganistan.
wix
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 285
Joined: Sat Sep 23, 2006 1:58 pm
Location: Heaven and Earth

Satu lagi peristiwa kebiadaban di Poso.

Postby abdulah » Mon Oct 16, 2006 3:51 pm

SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Pendeta Ditembak di Palu

"Peristiwa tersebut sungguh memprihatinkan dan sangat disesalkan. Penegak hukum harus bekerja keras agar peristiwa ini tidak menimbulkan gejolak serta membuat kerukunan umat beragama di Poso terganggu." (Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin)


Pendeta Irianto Kongkoli MTh (40), Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena, Poso, Senin (16/10) sekitar pukul 08.15 Wita tewas ditembak orang tidak dikenal.

Korban ditembak saat hendak membeli ubin keramik di toko bangunan UD Sinar Sakti di Jalan Wolter Monginsidi, Palu, Ibu Kota Sulteng.

Korban saat itu bersama dengan istrinya, Rita yang juga polisi berpangkat inspektur satu, dengan sopir mereka, Edje, datang ke toko dengan mobil Toyota Kijang.

Sampai di toko, korban bersama istri turun dari mobil dan masuk ke dalam. Beberapa saat setelah menawar ubin keramik, korban Rita bersama sopir kembali ke mobil yang diparkir di depan toko bangunan tersebut.

Namun Irianto masih berada dalam toko, dan hendak bersiap-siap pula naik ke dalam mobil. Tapi belum sempat korban keluar dari dalam toko, tiba-tiba dia ditembak dan mengenai pelipis kiri tembus ke telinga kiri bagian belakang.

Korban pun langsung terkapar bersimbah darah. Rita yang mendengar bunyi tembakan langsung berteriak histeris dan turun dari mobil menghampiri suaminya yang sudah terkapar tidak sadarkan diri.

Rita yang sehari-hari bertugas di Polsek Palu Timur dengan dibantu pemilik toko berusaha menolong dan menaikkan korban ke dalam mobil, serta membawa ke Rumah Sakit Bala Keselamatan yang jaraknya hanya sekitar 600 meter dari lokasi kejadian. Namun begitu sampai di rumah sakit, korban sudah meninggal dunia.

Keterangan yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, pelaku menggunakan sepeda motor bermerek Honda Supra berwarna hitam. Pelaku menggunakan topeng sehingga wajahnya tidak terlihat.

Menurut Rita yang ditemui Pembaruan di RS Bala Keselamatan, sopir mereka Edje sempat melihat pelaku. "Saat itu saya sudah naik dalam mobil, tapi Papa Gita (Pdt Kongkoli) masih dalam toko. Tapi sopir kami, Edje sempat melihat pelakunya," ucapnya sambil menahan tangis.

Rita yang dalam keadaan sangat terpukul dan lemas, tidak dapat berbicara banyak. "Papa sudah dipanggil Tuhan. Tolong sampaikan pada semua keluarga agar datang ke Palu. Beri kami kekuatan," katanya.

Saat berita ini diturunkan korban masih disemayamkan di kamar jenazah RS Bala Kesalamatan Palu. Tampak sejumlah pejabat hadir, di antaranya Wakil Wali Kota Palu Suardi Suebo dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng Gumyadi.

Kepala Polda Sulteng Brigjen Polisi Badrodin Haiti juga datang menjenguk korban di kamar je- nazah, dan ia disambut histeris keluarga korban yang memenuhi halaman rumah sakit tersebut.

"Pak, di mana keadilan untuk kami? Kepala siapa lagi yang akan ditembak setelah ini? Kami siap pak, berikan kepala kami, tembak saja kami sudah siap," ucap seorang lelaki dengan histeris di depan Kapolda.

Seusai keluar dari kamar jenazah, Badrodin menyatakan prihatin dengan kejadian tersebut. Dia sudah memerintahkan aparatnya untuk merazia semua kendaraan dalam Kota Palu untuk menangkap pelakunya.

Dia menjelaskan, hasil penyelidikan sementara diduga pelaku menembak dengan menggunakan senjata berkaliber 9 milimeter.

Wakil Wali Kota Palu Suardin Suebu mengutuk keras peristiwa penembakan tersebut. Hal senada juga disampaikan Pastor Paroki Santa Theresia Poso, Jimmy Tumbelaka yang menyatakan kekecewaannya terhadap kejadian tersebut dan mengecam keras pelakunya.

Pada Juli 2003, Pendeta Susianty Tinulele (23) tewas ditembak saat sedang berkhotbah di GKST Jemaat Effata Palu. Hingga kini tidak diketahui siapa pelakunya.


Bentuk Tekanan

Menyikapi peristiwa sadis tersebut, Ketua Lembaga Advokasi Hukum dan HAM Poso Hany Tikualo mengatakan, penembakan tersebut sebagai bentuk tekanan kepada para pendeta yang bertugas di Poso maupun Palu.

"Dari segi sosial politik, penembakan seorang pendeta menunjukkan adanya tujuan-tujuan untuk menghancurkan pelayanan kependetaan di daerah ini," katanya.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Richard Daulay mengatakan, PGI ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Sekretaris Umum GKST di Palu akibat penembakan. PGI juga mengecam pelakunya dan mendesak pemerintah untuk mengusut peristiwa tuntas peristiwa tersebut.

"Yang tertembak itu adalah Sekjen dari satu gereja besar. Dia pejabat gereja. Karena itu, kami mendesak agar pemerintah mengusut kasus ini sampai tuntas," ucap Richard seraya menyayangkan situasi Palu masih sebagai daerah yang mudah rusuh.

Secara terpisah Sekretaris Komisi Hubungan Agama dan Gereja Konferensi Waligereja Indonesia Benny Susetyo Pr berpendapat, penembakan itu menunjukkan ketidakberdayaan Indonesia sebagai negara hukum memberikan jaminan rasa aman bagi warga negaranya.

Menurut dia, kelemahan aparat penegak hukum dan keamanan karena tidak mampu melindungi warganya merupakan cermin bahwa para penegak hukum di Poso tidak mampu lagi berbuat sesuatu untuk menciptakan rasa aman.

"Karena itu, sudah seharusnya dibentuk tim independen yang diberi kuasa untuk menyelidiki serta diberi wewenang untuk mengungkap tragedi kemanusiaan ini. Tanpa komitmen yang kuat untuk menciptakan rasa aman dan keadilan, dapat dipastikan kasus kekerasan dan pelanggaran HAM akan terus terjadi di Poso," katanya.

Wakil Sekretaris Umum PGI Weinata Sairin menambahkan, penembakan itu merupakan tindakan keji dan tidak beradab dari sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab dengan tujuan menciptakan kepanikan serta kerusuhan massa yang lebih besar di Poso.

"PGI sangat berharap pemerintah dan penegak keamana dapat mengusut tuntas pelakunya dan menyingkap seluruh permasalah Poso sampai ke akar-akarnya. Pelaku penembakan harus segera ditengkap dan dibawa ke pengadilan. Gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia menyatakan duka cita mendalam atas meninggalnya Sekum GKST itu," ujarnya.

Begitu pula Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengungkapkan rasa keprihatinannya atas peristiwa penembakan pendeta yang terjadi di Poso. "Peristiwa tersebut sungguh memprihatinkan dan sangat disesalkan. Penegak hukum harus bekerja keras menangkap pelakunya. Yang harus dilakukan selanjutnya penegak hukum harus bekerja keras agar peristiwa ini tidak menimbulkan gejolak serta membuat kerukunan umat beragama di Poso terganggu," ujarnya. [128/W-9/E-5]



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 16/10/06
abdulah
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 764
Joined: Sun Oct 23, 2005 12:05 am

Postby abdulah » Mon Oct 16, 2006 4:06 pm

Perbuatan menjijikan dan biadab yang kembali dilakukan oleh kelompok Islam.

Nyawa manusia dianggap sampah didepan Aulloh mereka.

Pernyataan-pernyataan yang hanya basa-basi dan hanya sebatas retorika kosong akan disuarakan oleh tokoh-tokoh Islam , dimana kenyataannya mereka sama sekali tidak memperdulikan perasaan pihak minoritas yang jelas tereliminasi dari umat Islam itu sendiri.
abdulah
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 764
Joined: Sun Oct 23, 2005 12:05 am

Postby Cucu Jusuf Estes » Mon Oct 16, 2006 7:35 pm

ya... mo apalagi bung abdulah,

negara kalo dipimpin seorang BANCI ya gitu,
LIPSTICK DOANG yg MENOR.. nyalinya sekecil kelingking.. (itupun klo bener).

KITA DOAKAN deh .. hatinya ga tambah BUSUK..
Cucu Jusuf Estes
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 313
Joined: Wed Jun 28, 2006 6:25 pm

Re: Satu lagi peristiwa kebiadaban di Poso.

Postby Binyok » Mon Oct 16, 2006 11:48 pm

abdulah wrote:SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Pendeta Ditembak di Palu

"Peristiwa tersebut sungguh memprihatinkan dan sangat disesalkan. Penegak hukum harus bekerja keras agar peristiwa ini tidak menimbulkan gejolak serta membuat kerukunan umat beragama di Poso terganggu." (Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin)


Pendeta Irianto Kongkoli MTh (40), Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena, Poso, Senin (16/10) sekitar pukul 08.15 Wita tewas ditembak orang tidak dikenal.

Korban ditembak saat hendak membeli ubin keramik di toko bangunan UD Sinar Sakti di Jalan Wolter Monginsidi, Palu, Ibu Kota Sulteng.

Korban saat itu bersama dengan istrinya, Rita yang juga polisi berpangkat inspektur satu, dengan sopir mereka, Edje, datang ke toko dengan mobil Toyota Kijang.

Sampai di toko, korban bersama istri turun dari mobil dan masuk ke dalam. Beberapa saat setelah menawar ubin keramik, korban Rita bersama sopir kembali ke mobil yang diparkir di depan toko bangunan tersebut.

Namun Irianto masih berada dalam toko, dan hendak bersiap-siap pula naik ke dalam mobil. Tapi belum sempat korban keluar dari dalam toko, tiba-tiba dia ditembak dan mengenai pelipis kiri tembus ke telinga kiri bagian belakang.

Korban pun langsung terkapar bersimbah darah. Rita yang mendengar bunyi tembakan langsung berteriak histeris dan turun dari mobil menghampiri suaminya yang sudah terkapar tidak sadarkan diri.

Rita yang sehari-hari bertugas di Polsek Palu Timur dengan dibantu pemilik toko berusaha menolong dan menaikkan korban ke dalam mobil, serta membawa ke Rumah Sakit Bala Keselamatan yang jaraknya hanya sekitar 600 meter dari lokasi kejadian. Namun begitu sampai di rumah sakit, korban sudah meninggal dunia.

Keterangan yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, pelaku menggunakan sepeda motor bermerek Honda Supra berwarna hitam. Pelaku menggunakan topeng sehingga wajahnya tidak terlihat.

Menurut Rita yang ditemui Pembaruan di RS Bala Keselamatan, sopir mereka Edje sempat melihat pelaku. "Saat itu saya sudah naik dalam mobil, tapi Papa Gita (Pdt Kongkoli) masih dalam toko. Tapi sopir kami, Edje sempat melihat pelakunya," ucapnya sambil menahan tangis.

Rita yang dalam keadaan sangat terpukul dan lemas, tidak dapat berbicara banyak. "Papa sudah dipanggil Tuhan. Tolong sampaikan pada semua keluarga agar datang ke Palu. Beri kami kekuatan," katanya.

Saat berita ini diturunkan korban masih disemayamkan di kamar jenazah RS Bala Kesalamatan Palu. Tampak sejumlah pejabat hadir, di antaranya Wakil Wali Kota Palu Suardi Suebo dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng Gumyadi.

Kepala Polda Sulteng Brigjen Polisi Badrodin Haiti juga datang menjenguk korban di kamar je- nazah, dan ia disambut histeris keluarga korban yang memenuhi halaman rumah sakit tersebut.

"Pak, di mana keadilan untuk kami? Kepala siapa lagi yang akan ditembak setelah ini? Kami siap pak, berikan kepala kami, tembak saja kami sudah siap," ucap seorang lelaki dengan histeris di depan Kapolda.

Seusai keluar dari kamar jenazah, Badrodin menyatakan prihatin dengan kejadian tersebut. Dia sudah memerintahkan aparatnya untuk merazia semua kendaraan dalam Kota Palu untuk menangkap pelakunya.

Dia menjelaskan, hasil penyelidikan sementara diduga pelaku menembak dengan menggunakan senjata berkaliber 9 milimeter.

Wakil Wali Kota Palu Suardin Suebu mengutuk keras peristiwa penembakan tersebut. Hal senada juga disampaikan Pastor Paroki Santa Theresia Poso, Jimmy Tumbelaka yang menyatakan kekecewaannya terhadap kejadian tersebut dan mengecam keras pelakunya.

Pada Juli 2003, Pendeta Susianty Tinulele (23) tewas ditembak saat sedang berkhotbah di GKST Jemaat Effata Palu. Hingga kini tidak diketahui siapa pelakunya.


Bentuk Tekanan

Menyikapi peristiwa sadis tersebut, Ketua Lembaga Advokasi Hukum dan HAM Poso Hany Tikualo mengatakan, penembakan tersebut sebagai bentuk tekanan kepada para pendeta yang bertugas di Poso maupun Palu.

"Dari segi sosial politik, penembakan seorang pendeta menunjukkan adanya tujuan-tujuan untuk menghancurkan pelayanan kependetaan di daerah ini," katanya.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Richard Daulay mengatakan, PGI ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Sekretaris Umum GKST di Palu akibat penembakan. PGI juga mengecam pelakunya dan mendesak pemerintah untuk mengusut peristiwa tuntas peristiwa tersebut.

"Yang tertembak itu adalah Sekjen dari satu gereja besar. Dia pejabat gereja. Karena itu, kami mendesak agar pemerintah mengusut kasus ini sampai tuntas," ucap Richard seraya menyayangkan situasi Palu masih sebagai daerah yang mudah rusuh.

Secara terpisah Sekretaris Komisi Hubungan Agama dan Gereja Konferensi Waligereja Indonesia Benny Susetyo Pr berpendapat, penembakan itu menunjukkan ketidakberdayaan Indonesia sebagai negara hukum memberikan jaminan rasa aman bagi warga negaranya.

Menurut dia, kelemahan aparat penegak hukum dan keamanan karena tidak mampu melindungi warganya merupakan cermin bahwa para penegak hukum di Poso tidak mampu lagi berbuat sesuatu untuk menciptakan rasa aman.

"Karena itu, sudah seharusnya dibentuk tim independen yang diberi kuasa untuk menyelidiki serta diberi wewenang untuk mengungkap tragedi kemanusiaan ini. Tanpa komitmen yang kuat untuk menciptakan rasa aman dan keadilan, dapat dipastikan kasus kekerasan dan pelanggaran HAM akan terus terjadi di Poso," katanya.

Wakil Sekretaris Umum PGI Weinata Sairin menambahkan, penembakan itu merupakan tindakan keji dan tidak beradab dari sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab dengan tujuan menciptakan kepanikan serta kerusuhan massa yang lebih besar di Poso.

"PGI sangat berharap pemerintah dan penegak keamana dapat mengusut tuntas pelakunya dan menyingkap seluruh permasalah Poso sampai ke akar-akarnya. Pelaku penembakan harus segera ditengkap dan dibawa ke pengadilan. Gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia menyatakan duka cita mendalam atas meninggalnya Sekum GKST itu," ujarnya.

Begitu pula Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengungkapkan rasa keprihatinannya atas peristiwa penembakan pendeta yang terjadi di Poso. "Peristiwa tersebut sungguh memprihatinkan dan sangat disesalkan. Penegak hukum harus bekerja keras menangkap pelakunya. Yang harus dilakukan selanjutnya penegak hukum harus bekerja keras agar peristiwa ini tidak menimbulkan gejolak serta membuat kerukunan umat beragama di Poso terganggu," ujarnya. [128/W-9/E-5]



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 16/10/06



Bapa, ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa Yang mereka perbuat....

kepada Netter2 Kristen, IMAN tumbuh karena Penganiayaan dan Pengajaran akan Kitab Suci.....

Bertekunlah
User avatar
Binyok
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 789
Joined: Wed Jun 07, 2006 12:56 pm

Postby Adadeh » Tue Oct 17, 2006 12:54 am

PGI Prihatin Penembakan Pendeta di Palu
Senin, 16 Oktober 2006 - 13:00 wib

JAKARTA, SENIN - Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH PGI) menyatakan keprihatinan atas peristiwa penembakan terhadap Pdt Irianto Kongkoli, Sekretaris Umum Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) di Palu. "Peristiwa seperti ini mengindikasikan bahwa pemerintah belum mampu melindungi warga negaranya," kata Ketua Umum MPII PGI, Pdt Andreas Yewangoe, dalam siaran pers di Jakarta, Senin (16/10).

Karena itu, ujarnya, pihaknya mendesak pemerintah menyelesaikan persoalan Poso secara mendasar dalam upaya pengamanan di Palu, Poso, Tentena dan sekitarnya yang masih rawan kekerasan, serta menangkap pelaku penembakan dan mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Namun, ujarnya, PGI juga menyerukan kepada keluarga korban dan GKST agar tidak terprovokasi dengan kejadian ini serta kepada para pemimpin dan umat beragama tidak terjerumus dalam upaya adu domba umat beragama.

Pihaknya juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar dikaruniakan kekuatan dan agar Tuhan mengaruniakan perdamaian di Palu, Poso, Tentena dan sekitarnya sehingga masyarakat dapat hidup aman dan tenteram.

Sumber: Antara
Penulis: Ima
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Oct 17, 2006 12:56 am

Pendeta Irianto Kongkoli Tewas Ditembak
Laporan Wartawan Kompas Reinhard Marulitua N

Image
Penembakan di Poso

PALU, KOMPAS - Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah, Pendeta Irianto Kongkoli, tewas ditembak, Senin (16/10), sekitar pukul 08.45 Wita. Kongkoli ditembak tepat dibagian kepala saat berbelanja di sebuah toko bahan bangunan di Jalan Mongonsidi, Palu.

Sesaat setelah penembakan, Kongkoli yang tewas di tempat kejadian langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan, Palu. Saat berita ini diturunkan, jenazah Kongkoli masih dalam pemeriksaan tim medis.

Belum ada informasi resmi dari kepolisian mengenai kejadian ini. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulteng, Ajun Komisasris Besar M Kilat, yang dihubungi Kompas belum bersedia memberikan informasi.

Kongkoli adalah salah seorang tokoh agama di Sulteng. Ia kerap mengkritik kinerja aparat keamanan di Kabupaten Poso. Ia juga selalu menggalang perdamaian dengan berbagai komunitas agama di Sulteng, khususnya Poso.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Tue Oct 17, 2006 12:58 am

Kapolri: Anatomi Penembak Pendeta Irianto Sudah Diketahui
Laporan Wartawan Kompas Sutta Dhamasaputra
Senin, 16 Oktober 2006 - 14:43 wib

JAKARTA, KOMPAS--Polisi telah mengenali ciri-ciri anatomi penembak Sekum Gereja Kriten Sulawesi Tengah (GKST) Pendeta Irianto Kongkoli. Kini, polisi sedang berupaya menangkap sang pelaku.

Pernyataan itu disamapaikan Kepala Polri Jenderal Sutanto saat ditemui pers di sela-sela rapat Tim Poso DPR dengan jajaran Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan, Senin (16/10).

"Kalau anatomi kami sudah mengetahui. Tinggal kami mencari mereka," kata Sutanto menjelaskan hasil kerja intelijen. Soal motif penembakan itu apakah terkait eksekusi TIbo cs, Sutanto belum mau mengungkapkan. "Setelah tertangkap, kami baru tau. Kalau sekarang menduga-duga," ucapnya.

Sutanto berjanji akan mengungkap kasus ini sesegera mungkin. Dia berharap mayarakat yang tahu informas bisa membantu pihak kepolisian. "Tolong masyarakat yang mendapat informasi sampaikan pada kami," imbau Sutanto.

Irianto ditembak orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor pada, Senin (16/10), pagi tadi, tepatnya pukul 8.15 WITA saat keluar dari toko keramik.

Setelah penembakan itu, Irianto langsung dilarikan ke rumah sakit. Tapi, nyawanya tak terselamatkan. Pukul 8.40 WITA Irianto mengembuskan nafasnya yang terakhir. Gubernur Sulteng Mayjen (Purn) Banjela Paliudju menduga penembakan ini terkait dengan pelaksanaan hukuman mati Tibo cs beberapa waktu lalu.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby cikago88 » Tue Oct 17, 2006 1:20 am

Aku turut berduka cita dengan tulus atas kejadian tersebut, yang dilakukan oleh manusia pengecut dan biadap yang tidak bertanggung jawab, semoga pelaku dan dalang-nya dapat di-tangkap oleh yang berwenang.


Agar hukum dapat ditegak-kan di Indonesia dengan seadil adilnya.
User avatar
cikago88
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 170
Joined: Sun Aug 27, 2006 5:30 am

Postby abdulah » Tue Oct 17, 2006 7:36 am

cikago88 wrote:Aku turut berduka cita dengan tulus atas kejadian tersebut, yang dilakukan oleh manusia pengecut dan biadap yang tidak bertanggung jawab, semoga pelaku dan dalang-nya dapat di-tangkap oleh yang berwenang.


Agar hukum dapat ditegak-kan di Indonesia dengan seadil adilnya.



Pernyataan yang cukup tegas dan bersimpatik , saya setuju dengan pernyataan anda bahwa memang hukum harus ditegakkan di Indonesia , dengan tanpa membela agama pihak manapun.

Masalahnya adalah di Indonesia ini antara hukum negara dengan kepentingan agama mayoritas kadangkala dicampur adukkan dengan kepentingan politik , inilah yang menjadi suatu kesan ketidak adilan yang semakin hari semakin terasa , dan ini sangat berbahaya.

Saya memandang masalah penembakan terhadap Sekum GKST Palu Pdt.Irianto Kongkoli ada suatu yang mengganjal dipikiran saya , yaitu bagaimana sipelaku dengan tepatnya dapat menembak dalam jarak tertentu berhasil menembak dengan tepat menyarangkan dua butir peluru keleher dan kepala Pdt.Kongkoli.
Itu memerlukan keterampilan khusus , dimana sipelaku sudah sangat mahir menembak dan sudah sering melakukan pelatihan menembak , nah siapa yang ada kesempatan memperoleh pelatihan semacam ini.

Saya memegang izin senpi , dan saya tahu benar sifat daripada beberapa jenis senpi , dimana tidak mungkin seorang yang baru atau tidak melakukan pelatihan dapat menembak sasaran dengan tepat.

Demikianpun dengan penjahat-penjahat yang memegang senpi dengan menembak korbannya dengan tepat , mereka pasti bukan masyarakat biasa yang hanya memiliki senpi dan tidak mengadakan pelatihan khusus.
Mereka pasti oknum-oknum tertentu yang sudah sering mengadakan pelatihan.

Saya kadang-kadang berlatih dengan jarak 50 meter , dan itupun sangat sulit menjangkau sasaran dengan mencapai angka 7 apalagi 10 (perfect point) , biarpun jaraknya didekatkan menjadi 25 meter , juga masih sulit mendapatkan point yang bagus.

Sedangkan penembak Pdt.Kongkoli dapat dengan tepat menyarangkan dua butir peluru dileher dan kepala korban , suatu prestasi yang sulit didapat.

Saya rasa aparat POLRI juga pasti menduga kearah sana.
abdulah
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 764
Joined: Sun Oct 23, 2005 12:05 am

Postby Cucu Jusuf Estes » Tue Oct 17, 2006 10:46 am

Sutanto berjanji akan mengungkap kasus ini sesegera mungkin. Dia berharap mayarakat yang tahu informas bisa membantu pihak kepolisian. "Tolong masyarakat yang mendapat informasi sampaikan pada kami," imbau Sutanto.


bacot doang yg GEDE. Silahkan ente buktiin TO, dari kemarin kayaknya BACOT gitu melulu..

"Saya berjanji..saya berjanji...", buktinya TEROR ga ada habisnya...
Cucu Jusuf Estes
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 313
Joined: Wed Jun 28, 2006 6:25 pm

Postby wix » Tue Oct 17, 2006 11:09 am

Politik itu emang biadab, engga kenal apapun juga. Kalo keluarga sendiri bisa dikorbankan, bagaimana dgn orang lain?

Di Indonesia mau menuntut keadilan? Kedengarannya hampir mustahil saja! Selama hukum masih bisa dibeli dengan uang dan para pejabat yang kebal hukum, maka negara ini jauh dari yang namanya adil.

Jelas lah yg menembak itu orang yang sangat terlatih!!! Dan apa motif sebenarnya dibelakang pembunuhan ini? Silahkan Pak Sutanto menyelidiki dan menjawab kasus ini secara transparan dan semoga tidak seperti biasanya yang selalu kasusnya hilang ditelan waktu.

Tuhan selalu beserta kita, sekarang dan selama-lamanya...amin
wix
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 285
Joined: Sat Sep 23, 2006 1:58 pm
Location: Heaven and Earth

Postby bono » Tue Oct 17, 2006 12:16 pm

penembakan pendeta perempuan di palu juga yang dulu udah ketangkep? kalo itu aja belum ketangkep gimana yang ini, palingan polisi nutup mata doang, kalo pelakunya ketangkep baru gw akui hukum sudah tegak di indonesia.
User avatar
bono
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2013
Joined: Thu Mar 16, 2006 3:30 pm
Location: Israel

Postby cahkangkung » Tue Oct 17, 2006 12:48 pm

Pada Juli 2003, Pendeta Susianty Tinulele (23) tewas ditembak saat sedang berkhotbah di GKST Jemaat Effata Palu. Hingga kini tidak diketahui siapa pelakunya.


Ya inilah yang akan terjadi pada penyelidikan pendeta Irianto.Apakah seolah2 tanda apatis dan pesimistis thp kesungguhan aparat? Mau apa lagi,kenyataan emang aparat hanya mengumbar2 janji untuk menenangkan/mengulur waktu semata. Akhirnya masuk ke lemari es kasus lagi.

Untuk Pak Abdullah,benar sekali seorang sesepuh Kopasus (L.B.Moerdani) pernah mengatakan : "Menembak orang yang diem dari jarak dekat aja susah,apalagi orang yang dari jarak jauh...". Maka dapat diambil kesimpulan perbuatan ini kemungkinan dilakukan oleh seseorang yang amat sangat terlatih (dlam hal ini unit2 pasukan istimewa). Dan telah menjadi rahasia umum,kerusuhan2 di daerah Indonesia Timur yang bernuansa SARA ini didukung oleh para petinggi2 TNI dan sipil yang mempunyai agenda tersendiri dengan ideologi agama tertentu.
User avatar
cahkangkung
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1429
Joined: Mon Sep 25, 2006 8:43 am
Location: Malta

Next

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users