. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Ternyata Versi AL QUR'AN ada yang berbeda-beda

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Ternyata Versi AL QUR'AN ada yang berbeda-beda

Postby gatotkaca » Tue Nov 01, 2005 12:23 am

Apakah Benar Al Quran Syi`ah itu Sama dengan Al Quran Sunni????

Sesungguhnya apa yang didakwakan sebagian orang bahwa Al Quran Syi`ah sama seperti Al Quran sunni, bertentangan dengan apa yang telah ditulis dan ditetapkan oleh ulama syi`ah dalam kitab-kitab mereka. Sebagai buktinya adalah kitab : "Fashlu Al khithab fi tahriifi kitab rabbil arbaab" karangan Husain An Nuuri At Tibrisi. Dan dalam buku ini membuktikan dari kitab-kitab mereka bahwa Al Quran yang ada sekarang ini telah diubah, dinukil dari jumlah yang besar dari riwayat-riwayat mereka yang mencela Al Quran, ia berkata : Riwayat itu telah dikumpulkan dari buku-buku yang terpercaya yang dijadikan rujukan bagi pemeluk (ajaran ini). (fashlul khitab lembaran 117). Dan ia berkata di halaman yang lain : "Dan ketahuilah bahwasanya riwayat-riwayat itu dinukil dari kitab-kitab yang terpercaya yang dijadikan sebagai rujukan oleh pengikut kita dalam menentukan hukum syara` dan hadits nabi". (fashlul khitab lembaran 126).

Dalam buku ini juga anda akan mendapatkan surat yang didakwakan oleh kaum Syi`ah, surat yang telah dihapus dari Al Quran yaitu surat wilayah.
Coba anda lihat juga di kitab Al Kafi, yang pengarangnya mengatakan ia konsisten mengeluarkan hadits yang shahih saja (menurutnya).

Sebagai contoh lihatlah dalam nomor-nomor berikut ini :
Kitab AL Kafi 1/413 dan setelahnya. Lihat pada nomor-nomor berikut ini : 8, 23, 25, 26, 27, 28, 31, 32, 45, 47, 58, 59, 60, 64.
Lihat di jilid dua (2/619) dari buku yang sama (Al Kafi) bab Al Quran akan diangkat sebagaimana diturunkan, no 2. dan bab An Nawadir (hal-hal yang asing), hal 627 dan setelahnya dengan nomor-nomor : 2, 3, 4, 16, 23, 28, .

Riwayat ini semua di dalam kitab Al Kafi terang-terangan dalam mencela kitab Allah, dan tidak bisa ditafsirkan bahwa itu adalah dari segi atau bagian dari qiraat atau tafsir.
Untuk memperkuat perkataan ini, saya akan mencantumkan beberapa perkataan ulama mereka yang diakui terpercaya :

Berkata al Majlisi pengarang kitab "Biharul Anwar" : "Menurut saya, sesungguhnya kabar-kabar (riwayat-riwayat) dalam bab ini (keyakinan bahwa Alquran dirubah), adalah kabar (riwayat) mutawatir makna, dan membuang seluruh riwayat itu mengharuskan untuk tidak mengakui dan mempercayai kabar itu, bahkan perkiraan saya sesungguhnya riwayat-riwayat itu pada masalah ini tidak hanya sebatas riwayat-riwayat para imam. (miraatul `Uqul 2/536).

Berkata syeikh syi`ah Al Mufiid : "Sesungguhnya riwayat-riwayat itu sungguh telah datang secara masyhur dan banyak dari para imam huda dari keluarga Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam- dengan (menerangkan) perbedaan Al Quran , dan apa yang telah dilakukakannya oleh sebagian orang-orang yang zholim dari menghapus dan mengurangi. (buku Awail al maqaalaat oleh AL Mufiid, hal : 98).

Berkata At Thibrisi tentang riwayat-riwayat mereka dalam mencela Al Quran : "Dan riwayat-riwayat itu banyak sekali, sehingga berkata Saiyid Ni`matullah al Jazairi di sebagian karangan-karangannya, sebagaimana diriwayatkan darinya, bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terhadap hal itu (alQuran dirubah) melebihi dari dua ribu hadits". ( buku Fashlul Khithab oleh At Thibrisi lembaran125.

Dan berkata Muhammad Sholeh Al Mazindaraani (wafat 1081 H), : "… membuang sebagian Al Quran dan merubahnya adalah hal yang telah tetap dari jalan (sanad) kami dengan riwayat mutawatir makna, sebagaimana tampak jelas bagi siapa yang memperhatikan dalam buku-buku hadits dari awal sampai akhir" (Muhammad Al Mazindaraani : Syarh Jami` Al Kafi : 11/76).

Berkata Ni`matullah Al Jazairi : Sesungguhnya perkataan bahwa Al Quran terjaga dan terpelihara, akan mengakibatkan kepada pembuangan riwayat-riwayat yang masyhur dan banyak, bahkan mutawatir yang mengindikasikan dengan jelas dan terang atas terjadinya perubahan pada Al Quran… sedangkan pengikut-pengikut kita telah sepakat atas keabsahannya dan mempercayainya". (kitab AL Nawar An Ni`maniayah : 2/358-358).

Lantaran itu tidak heranlah jika al-Suyuti di dalam Tadrib al-Rawi, hlm. 36 menyatakan bahwa al-Bukhari telah mengambil lebih 480 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Muslim dan ia mengandung para periwayat yang lemah, disebabkan oleh kebohongan dan sebagainya, sementara Muslim mengambil 620 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh al-Bukhari dan terdapat di dalamnya 160 periwayat yang lemah. Murtadha al- Askari menulis buku berjudul 150 sahabat khayalan, Beirut, 1968.,berkata: Hanya nama-nama mereka saja disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka sebenarnya tidak pernah wujud. Oleh sebab itu 'sahih" adalah nama buku yang diberikan oleh orang tertentu, misalnya al-Bukhari menamakannya 'Sahih" yaitu sahih menurut pandangannya, begitu juga Muslim menamakan bukunya 'Sahih" yaitu sahih menurut pandangannya.


Sebab Al Qurannya saja sudah berbeda apalagi yang lain.
Last edited by gatotkaca on Tue Nov 01, 2005 1:19 am, edited 1 time in total.
gatotkaca
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 60
Joined: Thu Oct 13, 2005 5:07 am

Postby gatotkaca » Tue Nov 01, 2005 1:14 am

Oleh sebab itu mazhab Syi'ah Ja'fari samalah dengan mazhab Ahlu s-Sunnah dari segi menjaga al-Qur'an dari penyelewengan, tetapi anehnya ialah terdapat banyak riwayat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah sendiri yang mencatat bahawa al-Qur'an telah ditambah, dikurang dan ditukarkan, di antaranya seperti berikut :

1. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, VI, hlm. 210 menyatakan (Surah al-Lail (92):3 telah ditambah perkataan "Ma Khalaqa" pada ayat yang asalnya ialah "Wa al-Dhakari wa al-Untha" tanpa "Ma Khalaqa". Hadith ini diriwayatkan oleh Abu al-Darda', kemudian dicatat pula oleh Muslim, Sahih,I,hlm. 565; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191.

2. Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 394; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191 menyatakan (Surah al-Dhariyat (51):58 telah diubah dari teks asalnya "Inni Ana r-Razzaq" kepada "Innallah Huwa r-Razzaq" iaitu teks sekarang.

3. Muslim, Sahih, I, hlm. 726; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 224 meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari,"Kami membaca satu surah seperti Surah al-Bara'ah dari segi panjangnya, tetapi aku telah lupa, hanya aku mengingat sepotong dari ayatnya,"Sekiranya anak Adam (manusia) mempunyai dua wadi dari harta, niscaya dia akan mencari wadi yang ketiga dan perutnya tidak akan dipenuhi melainkan dengan tanah."

4. Al-Suyuti, al-Itqan, II, hlm. 82, meriwayatkan bahwa 'Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab (33):56 pada masa Nabi SAWW adalah lebih panjang yaitu dibaca "Wa'ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal" selepas "Innalla ha wa Mala'ikatahu Yusalluna 'Ala al-Nabi..." Aisyah berkata,"Yaitu sebelum Uthman mengubah mushaf-mushaf."

5. al-Muslim, Sahih, II, hlm. 726, meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari membaca selepas Surah al-Saf (61):2, "Fatuktabu syahadatan fi A'naqikum..."tetapi tidak dimasukkan ke dalam al-Qur'an sekarang.

6. Al-Suyuti, al-Itqan, I, hlm. 226 menyatakan bahwa dua surah yang bernama "al-Khal’ " dan "al-Hafd" telah ditulis dalam mushaf Ubayy bin Ka'b dan mushaf Ibn 'Abbas, sesungguhnya 'Ali AS mengajar kedua surah tersebut kepada Abdullah al-Ghafiqi, 'Umar dan Abu Musa al-Asy'ari juga membacanya.

7. Malik, al-Muwatta', I, hlm. 138 meriwayatkan dari 'Umru bin Nafi' bahwa Hafsah telah meng'imla' "Wa Salati al-Asr" selepas Surah al-Baqarah (2): 238 dan tidak ada dalam al-Qur'an sekarang. Penambahan itu telah diriwayatkan juga oleh Muslim, Ibn, Hanbal, al-Bukhari, dan lain-lain.

8. Al-Bukhari, Sahih, VIII, hlm. 208 mencatat bahwa ayat al-Raghbah adalah sebagian dari al-Qur'an yaitu "La Targhabu 'an Aba'ikum" tetapi tidak wujud di dalam al-Qur'an yang ada sekarang.

9. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 82; al-Durr al-Manthur, V, hlm. 180 meriwayatkan dari 'Aisyah bahwa dia berkata,"Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAWW sebanyak 200 ayat, tetapi pada masa 'Uthman menulis mushaf tinggal 173 ayat saja."

10. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 192 mencatatkan bahwa di sana terdapat ayat yang tertinggal selepas Surah al-Ahzab (33):25 yaitu "Bi 'Ali bin Abi Talib". Jadi ayat yang dibaca, "Kafa Llahul Mu'minin al-Qital bi 'Ali bin Abi Talib."

11. Ibn Majah, al-Sunan, I, hlm. 625 mencatat riwayat dari 'Aisyah dia berkata: ayat al-Radha'ah sebanyak 10 kali telah diturunkan oleh Allah dan ditulis dalam mushaf di bawah katilku, tetapi manakala wafat Rasulullah SAWW dan kami sibuk dengan kewafatannya, maka ia hilang.

12. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 41 mencatat riwayat dari 'Abdullah bin 'Umar, dari bapanya 'Umar bin al-Khattab, dia berkata,"Janganlah seorang itu berkata aku telah mengambil keseluruhan al-Qur'an, apakah dia tahu keseluruhan al-Qur'an itu? Sesungguhnya sebagian al-Qur'an telah hilang dan katakan saja aku telah mengambil al-Qur'an mana yang ada." Ini bererti sebagian al-Qur'an telah hilang.

=============================
gatotkaca
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 60
Joined: Thu Oct 13, 2005 5:07 am

Postby Cucu Jusuf Estes » Sun Jul 16, 2006 2:14 pm

bro, ada linknya gak ...??

thx
Cucu Jusuf Estes
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 313
Joined: Wed Jun 28, 2006 6:25 pm

Postby Rebecca » Sat Nov 25, 2006 1:31 pm

Aku heran thread ini menarik banget, tapi kenapa nggak ramai ya?
Menurut link berikut ini:

http://mb-soft.com/believe/txo/koran.htm

KORAN punya berbagai versi manuskript kuno sebagai berikut:

Uthmanic
Ibn Mas'ud
Ubay ibn Ka'b
Abu Musa al-Ash'ari
Ali
Zayd ibn Thaabit
Abu Dardaa'


DAN katanya Abu Bakr Ibn Mujahid scholar dari Iraq menyeleksinya menjadi LIMA VERSI KORAN yaitu:

The Transmitter Hafs, who is Hafs ibn Suleyman ibn Al-Mugheerah Al-Asadi Al-Kuufi (d. 180H):
His Qiraa'ah named Hafs from 'Aasim is the most popular reading of the Quran in the world today, except for some parts of Africa. Hafs was officially adopted by Egypt in 1924. His chain from 'Aasim:

He heard from 'Aasim ibn Abu Najud Al-Kuufi (d. 128H) who was Taabi'i, i.e, among the generation following the Sahaabah, who heard from Abu Abdur-Rahman Abdullah ibn Habib As-Sulami, who heard from Uthman ibn Affan and Ali ibn Abi Talib and Zayd ibn Thaabit and Ubayy ibn Ka'b, who heard from the Prophet (PBUH).


The Transmitter Duuri, is Abu 'Amr Hafs ibn Umar ibn Abdul-Aziz ibn Subhan Ad-Duuri Al-Baghdaadi (d. 246H):
His Qiraa'ah named Duuri from Abu 'Amr is popular in parts of Africa like Somalia, Sudan as well as in other parts. His chain of from Abu 'Amr:

He heard from Abu Muhammad Yahya ibn Mubarak ibn Mugheerah Yazidiyy (d. 202H), who heard from Abu 'Amr Zuban ibn 'Ala Maziniyy Al-Busriyy (d. 154H), who heard from the Qiraa'aat from Sahaabis Ali and Uthman and Abu Musa and Umar and Ubayy ibn Ka'b and Zayd ibn Thaabit, who heard from the Prophet (PBUH).


The Transmitter Warsh, who is Abu Saeed Uthman ibn Saeed Al-Misri, nicknamed Warsh, (d. 197H):
HIs Qiraa'ah named Warsh from Naafi' is popular in North Africa. His chain from Naafi':

He heard from Naafi' ibn Abdur-Rahman ibn Abu Nu'aim Al-Madani (d. 169H), who heard from Abu Ja'far Yazid ibn Al-Qa'qaa' and Abu Dawud Abdur-Rahman ibn Hurmuz Al-A'raj and Shaybah ibn Nisah Al-Qaadhi and Abu Abdullah Muslim ibn Jundub Al-Hudhali and Abu Rawh Yazid ibn Ruman, who heard from Abu Hurairah and Ibn Abbaas and Abdullah ibn 'Ayyaash ibn Abi Rabii'ah, who heard from Ubayy ibn Ka'b, who heard from the Prophet (PBUH).


The Transmitter Suusi:
His Qiraa'ah named Suusi from Abu 'Amr is also found around the world in small parts.


The Transmitter Qaaluun, who is Imaam Qaaluun:
His Qiraa'ah named Qaaluun from Naafi' is popular in places like Libya in Africa. His chain from Naafi':

He heard from Naafi' ibn Abdur-Rahman ibn Abu Nu'aim Al-Madani (d. 169H), who heard from Abu Ja'far Yazid ibn Al-Qa'qaa', who heard from Abdullah ibn Abbaas and Abu Hurairah, who heard from Ubayy ibn Ka'b and Zayd ibn Thaabit, who heard from the Prophet (PBUH).



AYO dong thread ini dikupas sampai tuntas.... TAPI bagi muslims jangan NGIBULIN lagi ya dengan mengatakan THE KORAN JATUH dari LANGIT dikasih OULLOH.....yang diPRINT dan HARDCOVER di SORGA....he...he...he...
User avatar
Rebecca
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3107
Joined: Mon Nov 20, 2006 6:20 pm
Location: muhammad's Phallus RESEARCH HUB

Postby taksanggup » Sat Nov 25, 2006 1:57 pm

yang beda bukan AlQur'annya, tapi pola pikir, pemahaman yang menyertai setiap orang yang berbeda-beda, yang menghasilkan pendapat-pendapat yang berbeda pula
taksanggup
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 233
Joined: Wed Nov 01, 2006 11:46 am

Postby Kane » Sat Nov 25, 2006 2:20 pm

Wah mau tau dong, coba sekalian kaseh bahasa arab nya.... :oops: :oops:
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Postby Rebecca » Sun Nov 26, 2006 1:23 pm

taksanggup wrote:yang beda bukan AlQur'annya, tapi pola pikir, pemahaman yang menyertai setiap orang yang berbeda-beda, yang menghasilkan pendapat-pendapat yang berbeda pula


THE KORAN terbukti punya beberapa versi, kok anda tidak bisa menunjukkan bukti yang menyanggah bahwa THE KORAN yang tertua itu adalah dari 900AD?

POLA PIKIR dan PEMAHAMAN?
Maksud anda si Transmitter yang salah dengar dari TRANSMITTER lain gitu? Coba telaah salah satu kutipan saya sebelumnya berikut ini.

The Transmitter Qaaluun, who is Imaam Qaaluun:
His Qiraa'ah named Qaaluun from Naafi' is popular in places like Libya in Africa. His chain from Naafi':

He heard from Naafi' ibn Abdur-Rahman ibn Abu Nu'aim Al-Madani (d. 169H), who heard from Abu Ja'far Yazid ibn Al-Qa'qaa', who heard from Abdullah ibn Abbaas and Abu Hurairah, who heard from Ubayy ibn Ka'b and Zayd ibn Thaabit, who heard from the Prophet (PBUH).


NAH karena THE KORAN yang akhirnya ditulis pada 900AD berdasarkan hasil "REPEATED HEARD-FROM PROCESS" maka sangat logik jika ia memiliki beberapa (tujuh) versi yang berbeda karena CHAIN yang berbeda....


KANE di atas minta bahasa ARAB? GO TO HELL, kamu pikir bisa bahasa ARAB adalah segalanya bagi anda? APA ANDA pikir KORAN tidak bisa ditelaah secara sempurna dengan bahasa inggris?

OYA, satu lagi jika anda memiliki SUMBER bahasa arab silahkan SHARING ke site ini, tentu banyak yang lain yang bisa mengetahui kualitas kemampuan anda...JADI jangan BULLSHIT and HOAX all around!!!!!!!
User avatar
Rebecca
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3107
Joined: Mon Nov 20, 2006 6:20 pm
Location: muhammad's Phallus RESEARCH HUB

Postby Kane » Mon Nov 27, 2006 9:17 am

Rebeca wrote:KANE di atas minta bahasa ARAB? GO TO HELL, kamu pikir bisa bahasa ARAB adalah segalanya bagi anda? APA ANDA pikir KORAN tidak bisa ditelaah secara sempurna dengan bahasa inggris?


Yeh, ditanyaen bahasa arabnya biar gampang nyamain dengan isi Al Qur'an yang udah dihapalkan malah disuruh ke neraka?...aneh memang...

Saya bukan mengatakan anda harus menjadikan patokan bahasa arab nya, karena memang anda tidak paham barang kali, jadi pake bahasa inggris, nah saya cuma tau dari Al Qur'an dengan bahasa arabnya yang telah dihapalkan oleh banyak orang, gitu aja pake nyuruh ke neraka segala...

Kalo memang ada perbedaan isinya, nah itu baru namanya beda2 versi, begitu...
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Re: Ternyata Versi AL QUR'AN ada yang berbeda-beda

Postby ulahceneng » Tue Nov 28, 2006 12:42 pm

gatotkaca wrote:Apakah Benar Al Quran Syi`ah itu Sama dengan Al Quran Sunni????

Sesungguhnya apa yang didakwakan sebagian orang bahwa Al Quran Syi`ah sama seperti Al Quran sunni, bertentangan dengan apa yang telah ditulis dan ditetapkan oleh ulama syi`ah dalam kitab-kitab mereka. Sebagai buktinya adalah kitab : "Fashlu Al khithab fi tahriifi kitab rabbil arbaab" karangan Husain An Nuuri At Tibrisi. Dan dalam buku ini membuktikan dari kitab-kitab mereka bahwa Al Quran yang ada sekarang ini telah diubah, dinukil dari jumlah yang besar dari riwayat-riwayat mereka yang mencela Al Quran, ia berkata : Riwayat itu telah dikumpulkan dari buku-buku yang terpercaya yang dijadikan rujukan bagi pemeluk (ajaran ini). (fashlul khitab lembaran 117). Dan ia berkata di halaman yang lain : "Dan ketahuilah bahwasanya riwayat-riwayat itu dinukil dari kitab-kitab yang terpercaya yang dijadikan sebagai rujukan oleh pengikut kita dalam menentukan hukum syara` dan hadits nabi". (fashlul khitab lembaran 126).

Dalam buku ini juga anda akan mendapatkan surat yang didakwakan oleh kaum Syi`ah, surat yang telah dihapus dari Al Quran yaitu surat wilayah.
Coba anda lihat juga di kitab Al Kafi, yang pengarangnya mengatakan ia konsisten mengeluarkan hadits yang shahih saja (menurutnya).

Sebagai contoh lihatlah dalam nomor-nomor berikut ini :
Kitab AL Kafi 1/413 dan setelahnya. Lihat pada nomor-nomor berikut ini : 8, 23, 25, 26, 27, 28, 31, 32, 45, 47, 58, 59, 60, 64.
Lihat di jilid dua (2/619) dari buku yang sama (Al Kafi) bab Al Quran akan diangkat sebagaimana diturunkan, no 2. dan bab An Nawadir (hal-hal yang asing), hal 627 dan setelahnya dengan nomor-nomor : 2, 3, 4, 16, 23, 28, .

Riwayat ini semua di dalam kitab Al Kafi terang-terangan dalam mencela kitab Allah, dan tidak bisa ditafsirkan bahwa itu adalah dari segi atau bagian dari qiraat atau tafsir.
Untuk memperkuat perkataan ini, saya akan mencantumkan beberapa perkataan ulama mereka yang diakui terpercaya :

Berkata al Majlisi pengarang kitab "Biharul Anwar" : "Menurut saya, sesungguhnya kabar-kabar (riwayat-riwayat) dalam bab ini (keyakinan bahwa Alquran dirubah), adalah kabar (riwayat) mutawatir makna, dan membuang seluruh riwayat itu mengharuskan untuk tidak mengakui dan mempercayai kabar itu, bahkan perkiraan saya sesungguhnya riwayat-riwayat itu pada masalah ini tidak hanya sebatas riwayat-riwayat para imam. (miraatul `Uqul 2/536).

Berkata syeikh syi`ah Al Mufiid : "Sesungguhnya riwayat-riwayat itu sungguh telah datang secara masyhur dan banyak dari para imam huda dari keluarga Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam- dengan (menerangkan) perbedaan Al Quran , dan apa yang telah dilakukakannya oleh sebagian orang-orang yang zholim dari menghapus dan mengurangi. (buku Awail al maqaalaat oleh AL Mufiid, hal : 98).

Berkata At Thibrisi tentang riwayat-riwayat mereka dalam mencela Al Quran : "Dan riwayat-riwayat itu banyak sekali, sehingga berkata Saiyid Ni`matullah al Jazairi di sebagian karangan-karangannya, sebagaimana diriwayatkan darinya, bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terhadap hal itu (alQuran dirubah) melebihi dari dua ribu hadits". ( buku Fashlul Khithab oleh At Thibrisi lembaran125.

Dan berkata Muhammad Sholeh Al Mazindaraani (wafat 1081 H), : "… membuang sebagian Al Quran dan merubahnya adalah hal yang telah tetap dari jalan (sanad) kami dengan riwayat mutawatir makna, sebagaimana tampak jelas bagi siapa yang memperhatikan dalam buku-buku hadits dari awal sampai akhir" (Muhammad Al Mazindaraani : Syarh Jami` Al Kafi : 11/76).

Berkata Ni`matullah Al Jazairi : Sesungguhnya perkataan bahwa Al Quran terjaga dan terpelihara, akan mengakibatkan kepada pembuangan riwayat-riwayat yang masyhur dan banyak, bahkan mutawatir yang mengindikasikan dengan jelas dan terang atas terjadinya perubahan pada Al Quran… sedangkan pengikut-pengikut kita telah sepakat atas keabsahannya dan mempercayainya". (kitab AL Nawar An Ni`maniayah : 2/358-358).

Lantaran itu tidak heranlah jika al-Suyuti di dalam Tadrib al-Rawi, hlm. 36 menyatakan bahwa al-Bukhari telah mengambil lebih 480 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Muslim dan ia mengandung para periwayat yang lemah, disebabkan oleh kebohongan dan sebagainya, sementara Muslim mengambil 620 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh al-Bukhari dan terdapat di dalamnya 160 periwayat yang lemah. Murtadha al- Askari menulis buku berjudul 150 sahabat khayalan, Beirut, 1968.,berkata: Hanya nama-nama mereka saja disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka sebenarnya tidak pernah wujud. Oleh sebab itu 'sahih" adalah nama buku yang diberikan oleh orang tertentu, misalnya al-Bukhari menamakannya 'Sahih" yaitu sahih menurut pandangannya, begitu juga Muslim menamakan bukunya 'Sahih" yaitu sahih menurut pandangannya.


Sebab Al Qurannya saja sudah berbeda apalagi yang lain.


Sebagai referensi :
Cari penjelasannya di sini http://ceneng.blogspot.com/
cari topic : berbagai versi Al-Quran?
bagi para muslim dan non muslim yang ingin tahu lebih banyak
kalau perlu download ebook-nya di blog ini, dikupas tuntas beserta lampiran manuskrip2 yang berhubungan


ini cuplikannya :

Berbagai versi Al-Quran ?
Quran dituduh memiliki berbagai macam Versi ?

The History of The Qur'anic Text

Arthur Jeffery telah meneliti 170 jilid buku dalam mengumpulkan daftar ragam bacaan yang menghabiskan sebanyak sekitar 300 halaman dalam bentuk cetakan, memuat apa yang disebut mushaf milik sekitar tiga puluh orang ilmuwan. Dari jumlah ini ia mencadangkan 88 halaman guna mengupas ragam bacaan yang, menurutnya, bermula dari Mushaf Ibn Mas'ud, sedang 65 halaman yang lain dari Mushaf Ubayy. Sedang selebihnya (140 halaman) khusus membahas dua puluh delapan ilmuwan yang lain. Adanya ragam bacaan dengan urutan tinggi yang ditudingkan terhadap Ibn Mas'ud secara tidak wajar, membuat Mushaf itu menarik untuk diteliti dengan lebih mendalam; beberapa anggapan Jeffery mengenai mushaf itu sebagai berikut.

* Berbeda dengan Mushaf Uthmani dari sisi susunan surah,
* Mengalami perbedaan teks,
* Dan tidak memasukkan tiga surah.

la melempar semua tuduhan walau tak ada seorang manusia, termasuk sumber-sumbernya, yang pernah menyaksikan "Mushaf' tersebut dengan semua ragam bacaan yang la katakan. Pada hakikatnya, tidak satu pun referensi yang dipakai menyebut keberadaan "Mushaf Ibn Mas'ud"; sebaliknya mereka menggunakan perkataan qara'a (membaca), dalam konteks bacaan "Ibn Mas'ud terhadap ayat tertentu". Jika kita lihat secara sepintas terhadap sumber itu, maka akan dapat memunculkan dua bantahan secara spontan. Pertama, karena mereka tidak pernah menyatakan bahwa Ibn Mas'ud membaca dari naskah tertulis, maka kita dengan mudah menganggap bahwa ia membaca melalui hafalannya, dan bagaimana mungkin dapat kita menyimpulkan bahwa bacaan yang salah itu bukan disebabkan oleh ingatan yang meleset? Kedua, (hal ini pernah saya sampaikan sebelumnya), kebanyakan referensi Jeffery sama sekali tidak memiliki isnad yang menyulitkan untuk dapat diterima karena sumber itu tidak menawarkan sesuatu kecuali fitnah.

Membandingkan sebuah Mushaf yang dikaitkan dengan ilmuwan tertentu dengan Mushaf `Uthmani akan tak membawa faedah, kecuali dapat me­nunjukkan bahwa keduanya memiliki status yang sama, membuktikan kebenaran yang pertama dengan keyakinan yang kita miliki. lsi kandungan se­buah Mushaf, sama seperti hadith atau qira'at, yang hanya dapat diriwayatkan melalui cara yang ditentukan oleh para ilmuwan:

1.Sahih dengan keyakinan Sepenuhnya, atau
2.Meragukan, atau
3.Sama sekali palsu (baik karena kesalahan disengaja ataupun tidak di sengaja).

Katakanlah kebanyakan para murid Ibn Mas'ud (seperli al-Aswad, Masruy, ash-Shaibani, Abti Wa'il, al-Hamadani, 'Alqamah, Zirr, dan lainnya) melaporkan satu pemyataan secara sepakat, maka jika dikaitkan dengan Ibn Mas'ud akan dianggap sah dan diterima. Jika sebagian besar dapat menyepakati, sementara satu atau dua orang murid yang terkenal meriwayatkan sesuatu yang berlainan, maka anggapan yang minoritas ini disebut "meragukan". Jika yang minoritas terdiri dari para murid yang bernilai pas-pasan serta tak dikenal, tetapi pernyataan mereka menyalahi kesepakatan para murid yang ngetop, maka akan dimasukkan ke dalam kelompok ke tiga yang benar-benar palsu.

Guna menyatukan manuskrip, "kesamaan status" menjadi konsep yang sangat penting. Jika kita temukan dokumen tulisan tangan pengarang pertama, kedudukannya secara ilmiah dari naskah salinan yang dimiliki oleh para murid yang terkenal (apa lagi murid bayangan) akan secara otomatis hilang nilainya. Melakukan sebaliknya, atau menyamakan yang asli dengan duplikat dianggap sangat tidak ilmiah.1 Dengan memahami masalah ini, marilah kita hadapi tuduhan-tuduhan Jeffery.

1. Susunan Mushaf Ibn Mas'ud

Tak ada satu dari mereka yang hidup sezaman dengan Ibn Mas'ud menyebut Mushaf yang dimilikinya memuat susunan surah yang berlainan, isu itu muncul ke permukaan setelah beliau wafat. An-Nadim mengutip al-Fadl bin Shadhan, "Saya melihat susunan surah dalam Mushaf Ibn Mas'ud sebagai berikut: al-Baqarah, an-Nisa', `Ali `Imran...[yaitu, tanpa al-Fatihah]."2 Seterusnya melalui komentar, an-Nadim menyebut bahwa secara pribadi, ia pemah melihat berbagai Mushaf yang dikaitkan kepada Ibn Mas'ud, akan tetapi ia tidak pemah melihat dua naskah yang mirip satu sama lain, ditambah lagi ia juga menemukan satu naskah di abad kedua Hijrah yang memuat surah al-Fatihah. Karena al-Fadl bin Shadhan terhitung memiliki wewenang keilmuan yang cukup terpandang dalam bidang ini, an-Nadim memutuskan lebih baik mengutip daripada mengutamakan observasi sendiri.3Komentar an-Nadim membuktikan bahwa mereka yang menganggap adanya kelainan pada Mushaf Ibn Mas'ud tidak dnp;u menyatakan secara pasti susunan surah yang sebenarnya, walau pada tahapan keyakinan yang paling minim.

Terdapat jumlah signifikan dari murid-murid yang terkenal yang belajar Shari'ah (hukum Islam dan fiqih) di bawah bimbingan Ibn Mas'ud dan meriwayatkan AI-Qur'an darinya. Mengenai Mushafnya, kita menemukan dua riwayat silang: yang pertama menyebutkan bahwa susunan surah berlainan dengan yang kita miliki, sementara yang lain mengatakan sama. Yang pertama gagal mencapai kesepakatan mengenai urutan surah, dan ternyata riwayat ke dua jauh lebih meyakinkan. Tentunya versi yang lebih konkret akan lebih menarik perhatian kita. AI-Qur'an memperjelas apa yang pernah ia lihat tentang Mushaf Ibn Mas'ud, Ubayy, dan Zaid bin Thabit, dan melihatnya tidak terdapat perbedaan.4

Melalui kesepakatan para qari profesional, mereka mengikuti nada bacaan salah satu dari tujuh qari yang memiliki urutan teratas: misalnya `Uthman, 'All, Zaid bin Thabit, Ubayy, Abu Musa al-Ash'ari, Abu ad-Darda', dan Ibn Mas'ud. Jaringan mata rantai riwayat bacaan mereka langsung sampai pada Nabi Muhammad , dan susunan surah pada tiap-tiap bacaan persis sama dengan AI-Qur'an yang ada sekarang. Kita juga mesti ingat, kalaupun kita memberi penilaian pada riwayat yang sumbang, perbedaan susunan surah tidak akan berpengaruh pada isi kandungan AI-Qur'an .5

Karena setelah menghafal sebagian besar dari AI-Qur'an secara langsung dari Nabi Muhammad, Ibn Mas'ud ternyata sangat kritis dan bahkan pernah berang saat tidak diikutsertakan dalam kepanitiaan penyiapan Mushaf 'Uthmani, dengan melempar kecaman pedas yang membuat para Sahabat merasa gerah. Kemudian saat kemarahan mereda, bisa jadi juga ia telah menyatakan penyesalan atas komentarnya yang tergesa-gesa, dan lalu menyusun surah-surah dalam Mushaf pribadinya mengikuti urutan Mushaf 'Uthmani. Barangkali inilah pemicu munculnya dua riwayat yang berseberangan, urutannya sama, namun berbeda dengan milik `Uthman, kendati yang tahu persis penyebabnya hanya Allah swt.. Penyimpangan yang mungkin terjadi pada kebanyakan "Mushaf Ibn Mas'ud" yang muncul setelah wafatnya, di mana satu sama lain tidak sama, menunjukkan bahwa seluruh Mushaf yang dikaitkan kepadanya dianggap satu kekeliruan, dan para ilmuwan yang melakukan hal itu tampaknya juga lalai dalam meneliti sumber-sumber yang ada. Sayangnya, para penjual barang-barang kuno itu, lebih suka melihat dari sisi keuntungan, gara-gara mementingkan kepingan fulus perak, berani membuat taruhan menamhah Mushaf palsu Ibn Mas'ud atau Ubayy ke atas barang dagangan mereka.6

2. Teks yang Berbeda dengan Mushaf Kita

Di atas, tadi sudah saya sebut perlunya kepastian tentang Mushaf Ibn Mas'ud. Ketika meneliti berbagai ragam bacaan, Abu Hayyan an-Nahawi menemukan kebaayakan riwayat dikaitkan dengan Ibn Mas'ud, mengambil sumber dari kelompok Syiah. Sementara para ilmuwan Sunni di sisi lain menyatakan bahwa bacaan Ibn Mas'ud senada dengan bacaan seluruh umat Islam.7Oleh karena itu, pengaruh dari sumber itu tidak dapat mengubah keyakinan dan pengetahuan kita. Pada halaman 57-73 Kitab al-Masahif (yang disunting oleh Jeffery), dalam bab "Mushaf `Abdullah bin Mas'ud," kita mendapat koleksi ragam bacaan yang panjang itu, semuanya bersumber dari al­A'mash (w. 148 H.). AI-A'mash bukan saja tidak memberi referensi untuk hal itu - dan yang lebih mengejutkan, kesukaannya melakukan tadlis (menggelapkan sumber infotmasi) - ia juga dianggap memiliki kecenderungan terhadap Syiah.8 Banyak contoh yang dapat menguatkan kesimpulan Abu Hayyan mengenai hubungan Syiah itu. Dalam bukunya, Jeffery mengaitkan bacaan berikut terhadap Ubayy dan Ibn Mas`ud (walaupun tanpa referensi):9


"Dan mereka yang paling dulu percaya terhadap Nabi Muhammad, alaihis salam, adalah 'Ali dan keturunannya yang Allah telah pilih dari kalangan para Sahabat dan dijadikannya mereka sebagai pemimpin atas yang lain. Mereka itulah orang-orang yang menang dan yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal selama-lamanya."

Sementara yang disebut dalam AI-Qur'an
('Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu [masuk surga]. Mereka itulah orang yang didekatkan [kepada Allah.])10 Penghormatan yang berlebihan pada keturunan 'Ali, tanpa diragukan, menyimpan perasaan membela Syiah.11

Melibatkan diri dalam penelitian, memerlukan dasar pijakan yang kuat. Namun dalam hal ini, kita menemukan mereka tenggelam dalam arus kabar angin yang hampir sama sekali tidak punya jaringan mata rantai transmisi, dan gagal dalam menyajikan pendapat logis mengenai apa yang dikatakan sebagai 'Mushhaf Ibn Mas'ud' itu. Dalam keadaan seperti ini, pendekatan dan penemuan Jeffery, seperti yang dapat kita lihat, pada intinya sangat naif.

3. Tiga Surah yang Dihilangkan

Surah pertama dan dua surah yang terakhir (Surah al-Fatihah, al-Falaq dan an-Nas), menurut beberapa riwayat, tidak terdapat dalam Mushaf Ibn Mas'ud.12 Tampaknya seluruh masalah yang ada sangat meragukan. Jeffery mengawali tulisannya dengan melempar tudingan ragam bacaan dari Surah al­Fatihah: arshidna dan bukan ihdina, dan juga man, bukan alladhina.13 Di mana dia berkilah bahwa surah ini tidak pemah ada, jadi dari mana dia mendapat ragam bacaan ini? Para pembaca tentu masih ingat komentar an-Nadim sebelum ini bahwa ia pernah menemukan sebuah Mushaf yang dikaitkan dengan Ibn Mas' ud yang memuat surah al-Fatihah. Ingat bahwa surah al-Fatihah itu tak perlu dipertanyakan lagi, merupakan surah yang paling sering dibaca dalam AI­Qur' an, dan juga bagian yang tidak terpisahkan dari setiap rakaat dalam shalat. Dalam shalat berjamaah, surah itu menggema dari tiap menara masjid sebanyak enam kali dalam sehari, dan delapan kali pada tiap hari Jumat. Oleh sebab itu, tudingan adanya ragam bacaan al-Fatihah tidak perlu dianggap serius, dan secara logika bacaan surah ini diperdengarkan pada telinga setiap Muslim bermula sejak zaman Nabi Muhammad . 14

Seorang yang cenderung ingin menyalin beberapa surah Tertentu, kurang begitu suka dengan yang lain, ia behas melakukannya, bahkan membual tambahan pada sisi halaman juga dibenarkan selama hal itu dipisahkan dari Kitab Suci. Kejadian seperti itu tidak bisa dipakai untuk berkilah menentang keutuhan AI-Qur'an. Mushaf' Uthmani yang memuat Kalam Allah yang tidak pernah temodai dan dibagi ke dalam 114 surah, sudah jadi kepercayaan yang tak mungkin terusik bagi kaum Muslimin; siapa yang mengelak menerima pandangan ini, ia akan jadi buangan. Kalaulah Ibn Mas'ud menolak tiga surah ini, maka nasibnya juga sama.

Al-Baqillani sampai pada argumentasi yang menyeluruh dan meyakinkan dalam menafikan laporan miring seperti tersebut di alas. la menyatakan bahwa siapa yang menolak surah tertentu yang merupakan bagian dari Al-Qur an, maka ia dianggap murtad atau fasik. Jadi salah satu sifat ini akan terkena pada Ibn Mas'ud kalau riwayat itu benar adanya. Dalam banyak hadith, Nabi Muhammad memuji kesalehannya dan tidak mungkin berbuat macam­ macam. Orang-orang yang hidup sezaman dengan Ibn Mas'ud juga ber­kewajiban, kalau mereka melihat sesuatu yang mencemarkan kepercayaannya, mengungkapkannya sebagai penyeleweng atau murtad, jika tidak, berarti mereka mencemarkan din sendiri Namun kenyataannya, mereka yang hidup sezaman dengannya sepakat dalam memuji keilmuan yang dimiliki tanpa satu orang pun yang berseberangan. Dalam pandangan al-Baqillani, keadaan itu hanya mempunyai dua implikasi: kemungkinan Ibn Mas'ud tidak pernah menolak status sebenarnya mengenai surah itu, atau para ilmuwan yang mengenalnya kurang tepat dalam menghadapi fitnah yang semestinya perlu diganyang ketika itu.15

i. Analisis Isi Kandungan Mushaf Ibn Mas'ud

Asal usul munculnya penghapusan surah-surah ini, urutannya dapat dibuat sebagai berikut; dalam hal ini jaringan mata rantai transmisi mendahului setiap riwayat.

*'Asim-Zirr (salah seorang murid Ibn Mas'ud)-Ibn Mas'ud: riwayat mem­buat tudingan bahwa ia tidak menuliskan dua surah (no. 113 dan 114) dalam Mushafnya.16
* AI-A'mash-Abu Islury-'Ahdur-Rahman bin Yazid: Ibn Mas'ud mcng­hapus suruh Mu'awwidluuain (surah 113 and 114) dari Must afnya dan mcngatakan bahwa keduanya bukan bagian dart Al-Qur'an .17
* Ibn 'Uyaynah-`Abdah dan `Asim-Zirr: "Saya berkata pada Ubayy, 'Saudaramu menghapus surah 113 dan 114 dari Mushafnya', yang mana ia tidak menolaknya. Ketika ditanya apakah yang dimaksudkan itu adalah Ibn Mas'ud, Ibn `Uyaynah menjawab dengan nada pasti dan menambah bahwa kedua surah itu tidak ada dalam Mushafnya karena ia menganggap sebagai doa perlindungan Ilahi yang digunakan oleh Nabi Muhammad untuk cucunya al-Hasan dan al-Husain. Ibn Mas'ud tetap tidak mengubah pendiriannya, sementara yang lain yakin dan memasukkannya ke dalam AI-Qur'an.18

Jadi, dalam riwayat kedua dan ketiga, Ibn Mas'ud menghapus surah­surah yang sempat masuk dalam Mushafnya, jika demikian mengapa dia menulisnya saat pertama kali? Hal ini tentu tidak masuk akal. Kalau dikatakan Mushaf itu telah ditulis dan memuat dua surah terakhir, sudah tentu keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh dari Mushaf yang beredar pada saat itu. Kalau terdapat keraguan, maka menjadi kewajiban Ibn Mas'ud memastikan masalah yang ada dengan para ilmuwan lain sewaktu di Madinah maupun tempat lain. Dalam satu fatwanya, ia pemah menyatakan bahwa lelaki yang mengawini wanita lalu menceraikan sebelum jima', maka ia boleh mengawini ibu wanita itu. Ketika in berkunjung ke Madinah dan membahas isu itu selanjutnya, ia mengakui telah bersalah clan kemudian membatalkan fatwanya. Misi pertama saat kembali ke Kufah adalah menemui orang yang pernah minta fatwa dan mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Demikianlah sikapnya dalam bidang ilmiah, maka lebih-lebih lagi dalam isu yang jauh lebih penting mengenai AI-Qur'an. Semua bukti yang lebih masuk akal menunjukkan semua cerita yang tidak wajar mengenai dirinya adalah palsu, dan para ilmuwan zaman dulu seperti an-Nawawi dan Ibn Hazm menyatakan bahwa yang ditimpakan pada Ibn Mas'ud itu bohong.19

Ibn Hajar, salah satu muhaddithun terkemuka, menolak kesimpulan itu. Selagi Ibn Hanbal, Bazzar, at-Tabarani dan lainnya mengutip kejadian itu melalui jaringan mata rantai riwayat yang sahih, maka ia memberi alasan bahwa tudingam itu tidak dapat dinafikan sesederhana itu; melakukan hal itu berarti menafikan hadith sahih tanpa dukungan sewajarnya. Ibn Hajar berusaha membuat kompromi pada kedua riwayat yang berseberangan dengan berpijak pada penafsiran Ibn as-Sabbagh: dalam ulasan pertama Ibn Mas'ud tetap enggan mengakui kedudukan keduanya sebagai surah AI-Qur' an, tetapi setelah diketahui tidak dipersoalkan oleh umat dan merupakan bagian dari AI-Qur'an, sikap keraguannya semakin mencair dan akhimya percaya seperti yang lain.20

Argumentasi di atas merupakan yang terkuat yang saya pernah lihat dalam memberi dukungan terhadap tudingan itu. Untuk mengupas persoalan lebih lanjut, saya akan berpijak pada metode muhaddithun lain guna menyingkap kekeliruan pendirian Ibn Hajar itu.

ii. Keyakinan Ibn Mas'ud

Telah saya tegaskan sebelumnya bahwa al-Fatihah, tujuh ayat yang paling sering dibaca di masjid dan rumah-rumah semenjak zaman Nabi Muhammad secara logika tak mungkin ditolak oleh Ibn Mas'ud. Per­soalannya, menyangkut surah 113 dan I l4. Dalam jaringan cerita ke tiga, kita temukan bahwa Ubayy tidak menolak Ibn Mas'ud, dengan mendengar bahwa ia telah menghapus surah pungkasan itu, ia tidak bermaksud menolak. Apa artinya? Itu berarti ia setuju, ataupun tidak setuju tapi bertahan setelah melihat ada perbedaan. Karena kita tahu Mushaf Ubayy memuat kedua stirah tersebut, maka kita tidak bisa menerima persetujuannya. Begitu juga kita mesti menolak ketidaksetujuannya karena sikap tidak peduli sama dengan mengatakan bahwa masyarakat bebas memilih bagian AI-Qur'an apa saja yang mungkin dianggap menarik. Dalam hal ini, tidak seorang pun dapat mendominasi sikap yang demikian dan masih tetap dianggap sebagai Muslim. Oleh sebab itu, riwayat mengenai diamnya Ubayy merupakan kepalsuan yang nyata.21

Sekarang kita hendak melihat penyesuaian yang dilakukan oleh ibn as­Sabbagh. Banyak dari kalangan para Sahabat seperti Fatimah, A'ishah, Abu Harairah, Ibn `Abbas dan Ibn Mas'ud meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad selalu membaca AI-Qur'an dengan Malaikat Jibril tiap Ramadhan satu kali dalam setahun, dan dua kali dalam tahun sebelum beliau wafat. Bahkan dalam tahun terakhir, Ibn Mas'ud juga ikut serta. Dia juga membaca Kitab itu dua kali bersama Nabi Muhammad yang kemudian memujinya dengan ucapan laqad ahsanta (bacaan Anda hagus). berdasarkan kejadian itu pula Ibn 'Abbas menganggap bacaan Ibn Mas'ud sebagai yang jelas dan tepat.22 Pujian tersebut mcnunjukkan bahwa AI-Qur'an terekam dalam ingatan yang penuh kepastian; murid-muridnya yang cemerlang, seperti `Alqamah, al-Aswad, Masruq, as­Sulami, Abu Wa'il, ash-Shaibani, al-Hamadani, dan Zirr, semuanya meriwayatkan AI-Qur'an yang mereka terima dari padanya berjumlah sebanyak 114 surah. Hanya salah satu murid Zirr, `Asim, satu-satunya yang memberi pernyataan konyol kendati ia mengajarkan seluruh isi kandungan Kitab Suci atas wewenang Ibn Mas'ud.23

Salah satu karya Ibn Hajar, yaitu sebuah risalah ringkas mengenai hadith yang berjudul Nuzhat an-Nazar, memberitahukan kita bahwa jika seorang perawi yang tepercaya (katakanlah seorang ilmuwan betahap B) membelakangi pendapat perawi lain yang lebih tinggi kedudukannya (yaitu ilmuwan bertahap A), ataupun bila terdapat ilmuwan lebih banyak (yang sama derajatnya) mendukung satu versi cerita dari yang lain, maka penjelasan yang dikemukakan oleh yang lebih rendah disebut shadh (nyleneh dan loyo). Dalam berita di atas kita dihadapkan pada satu pernyataan laksana seorang atlet renang yang coba-coba hendak melawan arus raksasa, yang menjadikan hal ini dapat dipandang sebagai satu kebatilan.24 Ini tentunya berlandaskan pada metode yang dipakai oleh para muhaddithun, yang walaupun Ibn Hajar mengutip ketentuan-ketentuan itu, namun barangkali saat itu mental beliau dalam keadaan tidak begitu prima atau, dalam hal ini, dimana seorang yang intelijen pun boleh jadi mengalami hal yang sama. Mungkin ada pendapat yang menyebut, guna mengangkat permasalahan shadh dan batil memerlukan dua pernyataan silang, sementara apa yang kita hadapi adalah hanya berkaitan dengan penghapusan surah 113 dan 114, tanpa ada oposisi. Alasannya sederhana, dalam suasana yang normal hanya ketidaknormalan yang biasanya diangkat menjadi bahan cerita. Contohnya, darah yang mengucur keluar dari urat kita berwama merah adalah sesuatu yang biasa, tetapi darah berwarna biru (sejenis kepiting) adalah sesuatu yang luar biasa dan akan mendapat liputan lebih banyak. Hal yang serupa, kita tidak akan mempersoalkan murid-murid Ibn Mas'ud yang gagal memberitahukan kita apakah guru mereka meyakini 114 surah, karena itu sudah jadi masalah yang lumrah. Hanya mereka yang percaya sedikit atau lebih, akan menjadi objek pemberitaan.

Komentar yang saya kemukakan terhadap Mushaf Ibn Mas'ud dapat juga diterapkan pada Ubayy bin Ka'b, atau siapa saja dalam masalah tersebut.

4. Kapan Suatu Tulisan itu Dapat Diterima Sebagai Bagian dari AI-Quran?

Hammad bin Salamah meriwayatkan bahwa Mushaf Ubayy mcmuat dua surah lebih, yang disebut al-Hafad dan al-Khala'.25 Berita ini betul-hetul palsu karena terdapat cacat besar dalam jaringan mata rantai perawinya, karena jarak waktu yang tak terhitung, sekurang-kurangnya, dua atau tiga generasi antara kematian Ubayy (w. sekitar 30 H.) dan kegiatan ilmiah Hammad (w. 167 H.). Selain itu, kita juga mesti ingat bahwa catatan yang dibuat dalam buku tidak menjadi bagian dari buku itu sendiri. Tetapi katakanlah, sekadar untuk adu alasan dalam berdebat, kita menerima bahwa beberapa alinea lebih tertulis dalam Mushaf Ubayy. Adakah alinea langsung dan otomatis meningkat sama kedudukannya dengan AI-Qur'an? Tentu saja tidak. Mushaf 'Uthmani terselesaikan, dan disebarluaskan melalui para guru yang mengajarkannya setelah mendapat wewenang yang sesuai dan jadi ketentuan dalam menetapkan apakah sesuatu teks itu AI-Qur'an, bukan sekadar coret-coretan tak menentu dari manuskrip ilegal.

i. Prinsip Menenukan Ayat sebagai Al-Qur'an

Tiga pedoman yang hendaknya terpenuhi sebelum cara sebuah bacaan suatu ayat dapat diterima sebagai AI-Qur'an:

* Qira'at mesti tidak diriwayatkan hanya dari satu sumber yang memiliki otoritas, melainkan melalui sejumlah riwayat besar (yang cukup untuk melenyapkan kemungkinan adanya kesalahan yang masuk), yang juga sampai kepada Nabi Muhammad yang dapat menjamin keaslian dan kepastian bacaan.
* Teks bacaan mesti sama dengan apa yang terdapat dalam Mushaf 'Uthmani.
* Cara pengucapan mesti senada dengan tata bahasa Arab yang benar.

Semua karya tulis yang memiliki otoritas dalam bidang qira'at, seperti Kitab as-Sab`af fi al-Qira'at oleh Ibn Mujahid, pada umumnya menyebut adanya pembaca tunggal di setiap pusat kegiatan ilmu Islam yang kemudian diikuti oleh dua atau tiga orang murid. Daftar yang minim seperti itu tampaknya berseberangan dengan prinsip pertama. Bagaimana dapat menjelaskan seorang ahli membaca AI-Qui an (qari) dan dua muridnya dari Basrah misalnya, membuktikan bahwa qira'at itu diriwayatkan melalui jalur riwayat yang besar? Untuk menjelaskan persoalan ini para pembaca hendaknya melihat kembali topik "Ijazah bacaan" pada bab sebelum ini.26 Prof. Robson dan Ishaq Khan, yang menyajikan jalur riwayat Sunan Ibn Majah melalui Ibn Qudamah, hanya bisa mendapatkan beberapa nama saja, sementara dengan melacak ijazah bacaan kami temukan lebih dari 450 murid. Itu pun hanya dari satu manuskrip; naskah-naskah tambahan lain yang juga dari jaringan mata rantai periwayatan yang sama, dapat memberi angka yang lebih besar. Sama halnya dengan menyebut dua atau tiga nama murid adalah semata-mata sebagai yang terwakili dan dimaksudkan untuk menghemat waktu penyusunan dan juga bahan tulisan, dan terserah pada para ilmuwan yang merasa berminat akan hal itu untuk mengupas secara tuntas.

Ada perbedaan mendasar antara AI-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad dalam hal penyampaian riwayat melalui otoritas tunggal. Satu-satunya ilmuwan dan hafal satu hadith bisa jadi, ketika ia mengajar melalui hafalannya, merasa perlu mencari persamaan kata pengganti saat terlupa pada kata-kata yang sebenarnya. Jika tak seorang pun yang meriwayatkan hadith itu, maka ketidak telitiannya akan berlalu secara mudah tanpa terditeksi. Bandingkan hal itu dengan AI-Qur' an. Dalam tiga shalat jamaah, shalat Jumat, Tarawih, Idul Fitri, dan Idul Adha, imam akan membaca dengan suara kuat dan mendapat dukungan dari jamaah di belakangnya. Jika tidak ada anggota jamaah yang menegur, berarti bacaannya mendapat restu orang banyak yang jumlahnya ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan ribu. Tetapi apabila ada teguran ketika shalat, sedangkan imam tetap memaksakan bacaan yang menyalahi Mushaf 'Uthmani, ia akan didongkrak secepatnya sebagai imam shalat. Tak akan mungkin terdapat kekeliruan dalam qira'at yang dapat lewat begitu saja, dan semua yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan akan segera disingkirkan. Batas-batas yang ditetapkan dengan jelas seperti ini yang merupa­kan sumber penyelamat utama Al-Qui an .27

Mari kita periksa setiap naskah yang dikaitkan dengan AI-Qur'an dengan berpijak pada prinsip-prinsip di atas. Tampak jelas prinsip yang pertama itu tidak ada, karena naskah [dua surah Ubayy itu] tidak memberi penjelasan tenlang yang meriwayatkan. Mengenai syarat kedua; apakah hal ini sejalan dengan Mushaf 'Uthman? Adanya ketidakserasian sekecil apa pun dalam masalah kerangka huruf hidup, dapat menyebabkan runtuhnya nilai kepercayaan. la mungkin bisa dipakai untuk yang lain, kecuali untuk menjadi bagian dari AI-Qur'an. ltu merupakan kesepakatan kaum Muslimin semenjak empat belas abad yang lalu.

Berbicara mengenai kerangka huruf mati, perlu kita sebut di sini masalah huruf hidup (contohnya alif jika terletak di tengah sebuah kata) biasanya menampilkan ortografi yang agak lain, biasanya tergantung pada pertimbangan penulis. Lihat contoh him. 131-5 dan juga penerbitan faksimile dalam bahasa Prancis baru-baru ini mengenai kepingan naskah Al-Qui an.28 Dalam contoh yang kedua kita menemukan kata qalu (dengan alif di tengah) ditulis dengan qalu (tanpa alif di tengah). Berdasarkan ketentuan ini, maka hat yang sama dapat terjadi pada kepingan naskah AI-Qui an yang ditemukan di Yaman. Perbedaan pada tahapan ini tidak akan membuat kita keblinger, kita mesti memperlakukan masalah ini persis sama seperti kata color vs. colour atau center vs. centre dalam bahasa Inggris, karena kelainan ortografi laiknya kesatuan halus yang selalu muncul dalam bahasa manapun .29 Namun apabila sekeping tulisan itu jatuh ke tangan mereka yang selalu ingin tahu, meski dibenarkan adanya perbedaan ortografi, tetapi tidak sesuai dengan kerangka AI-Qur'an `Uthmani, kita mesti singkirkan jauh-jauh ke luar dan menganggapnya sebagai hal yang palsu dan tidak berlaku. Tentunya jika terdapat tanda-tanda huruf mati yang hilang disebabkan kesalahan menulis, maka hal itu akan bisa diterima sebagai bagian dari AI-Qur'an. Contohnya, al-fawahish ditulis al-wahish, di mana penulisnya meninggalkan huruf Fa'.30

ii. Contoh Hukuman bagi Ilmuwan Karena Menyalahi Ketentuan di atas

Ibn Sanbudh (w. 328/939), salah seorang ilmuwan terbesar di bidang qira'at di zamannya, menganggap remeh naskah 'Uthmani dalam membaca AI-Qur'an. Karena bacaan itu terbukti benar melalui jalur transmisi yang berlainan serta sesuai dengan grammar hahasa Arab, ia beranggapan bacaan itu sah walaupun berbeda dengan Mushaf 'Uthmani. Dalam persidangan hukum, ia diminta bertobat dan akhimya dikenakan hukum cambuk sebanyak sepuluh kali.31 An-Nadim mengutip surat pengakuan Ibn Shanbudh sebagai berikut:32


Dalam kalimat di bawah menunjukkan bahwa Ibn Shanbudh mengakui kesalahan melanggar Mushaf yang didukung oleh seluruh umat, dan kemudian mohon ampunan Allah

* Seorang ilmuwan lain, Ibn Miqsam (w. 354/965) juga diminta bertobat di depan para fuqaha' dan qurra' karena teori bacaannya yang berbeda. Teorinya menyebutkan, bacaan siapa saja selama masih sesuai dengan Mushaf `Uthmani dan kaidah bahasa Arab, dapat dianggap sah tanpa perlu menyelidiki asal usul jalur qira'at dan mendapat pengesahan mengenai tanda-tanda bacaan yang berkaitan dengan tiap-tiap ayat.33

Seorang ilmuwan meremehkan prinsip yang kedua, sementara yang lain menganggap rendah ketentuan yang pertama. Rev. Mingana menyatakan penyesalannya bagi yang mau menerima kedua ilmuwan itu.34 Sekurang­kurangnya, kita dapat menganggap suatu yang wajar setelah mengetahui bahwa keduanya diberi perlakuan atas dasar belas kasih ketimbang William Tyndale (1494-1536), gara-gara salah menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Inggris, dihajar hukum bakar hidup-hidup (menurut versi Bible King James).35

5. Kesimpulan

Para ilmuwan Yahudi dan Kristen sejak lama telah menyimpan obsesi ingin melecehkan adanya perbedaan terhadap Al-Qur'an, hanya Allah dengan begitu mudah mengamankan dan memelihara Kitab-Nya sehingga segala upaya dan sumber yang jadi andalan hanya mampu menjadikan mereka kewalahan. Abad ke-20 ini menyaksikan adanya satu Lembaga Kajian AI­Qur'an yang didirikan oleh Universitas Munich. Seluruh ruangan gedung dipenuhi sebanyak empat puluh ribu naskah AI-Qur'an dari berbagai abad dan negara dan kebanyakan dalam bentuk foto asli, sedang para stafnya asyik menyibukkan diri membandingkan kata-kata dari setiap naskah sebagai upaya yang tak kenal lelah dalam menyingkap perbedaan yang terdapat dalam AI­Qur'an.

Beberapa waktu sebelum Perang Dunia II, laporan pendahuluan yang cukup mantap telah diterbitkan yang menyebut bahwa tentunya terdapat kekeliruan dalam menyalin manuskrip Al-Qur'an, kendati tidak terdapat ragam perbedaan. Selama peperangan, Amerika mengebom lembaga tersebut menghancurkan keseluruhan yang ada termasuk direksi, staf, dan semua pakar perpustakaan... Ini semua membuktikan bahwa tidak ada perbedaan pada naskah-naskah AI-Qur'an sejak abad pertama hingga ke abad ini.36

Jeffery mengakui fakta ini kendati secara sinis ia menyesal bahwa "Secara praktis semua Mushaf-Mushaf terdahulu dan kepingan-kepingan naskah yang selama ini diteliti dengan hati-hati membuktikan adanya kesamaan teks, kalau pun terdapat perbedaan, hal itu hampir keseluruhannya dapat diterangkan sebagai kesalahan tulisan."37 Bergtrasser juga memiliki kesimpulan yang sama.38 Namun Jeffery tetap memaksakan pendapat bahwa teks-teks itu "tampaknya belum ditetapkan hingga abad ke-3 Islam"39 [dan karenanya] agak penasaran bahwa tidak terdapat contoh teks lain yang masih bertahan di antara semua kepingan-kepingan itu yang selama ini diteliti."40 Untuk menjawab kebimbangan yang dimiliki, tampaknya ia masih belum dapat melihat hutan rimba dengan aneka ragam pohon dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalamnya. Jelasnya, tidak pernah terdapat teks-teks yang berlainan.

Daripada merengek-rengek kepada komplatan Orientalis yang selalu berubah sikap menurut kepentingannya, kaum Muslimin hendaknya tetap meniti jalan yang dilalui para muhaddithun zaman dulu. Apa sebenamya hasil yang mungkin diraih sekiranya kita hendak menerapkan kriteria terhadap kajian kitab Injil? Coba renungkan contoh berikut ini, sekadar gambaran betapa rapuhnya dasar-dasar teori mereka. Dalam Dictionary of the Bible, dalam artikel yang berjudul "Jesus Christ", kita dapat membaca, "Satu-satunya saksi dalam pemakaman [Kristus] terdapat dua orang wanita..." Kemudian dalam judul lain, "The Resurrection", "Banyak sekali kesulitan yang berkaitan dengan bahasan ini, dan juga berita-beritanya, yang juga tak banyak jumlahnya dan bahkan mengecewakan, serta memuat beberapa perbedaan tertentu yang tak mungkin dicarikan titik temu atau penyelesaian; tetapi para pakar sejarah yang konsisten dengan aturan-aturan yang paling tepat dan merasa terikat oleh disiplin ilmiah, menemukan bukti yang cukup memadai untuk meyakini fakta itu."41

Kita hanya mampu meraba-raba bahwa 'fakta-fakta' dalam posisi lebih tinggi dari yang lain dan tidak perlu lagi mencari-cari bukti. Apa jadinya jika kita hendak menerapkan metode kita sendiri? Apa yang dapat kita sebut mengenai cerita penguburan Yesus Kristus? Pertama, siapakah orang yang mengarang cerita dalam Injil itu? Semuanya tidak ada yang dikenal secara pasti dan cerita itu pun hampa. Kedua, siapa yang membawa pernyataan dua orang wanita itu kepada pengarang? Entahlah. Ketiga, jaringan mata rantai riwayat macam mana yang dapat dipakai sebagai ukuran? Tidak ada. Semua cerita yang adalah hasil rekayasa.

Upaya mencari perbedaan dalam Al-Qur'an terus berjalan tanpa henti, dan bahkan Brill ikut memanasi usaha ini dengan membuat Encyclopedia AI­Qur'an (sebanyak empat jilid) yang akan terbit dalam beberapa tahun mendatang. Di antara badan penasihatnya, selain para ilmuwan Yahudi dan Kristen, tak ada lain adalah M. Arkoun dan Nasr Abu Zaid yang sudah dianggap sebagai penyeleweng (heretics) di negara-negara Islam.

Penilaian telah berulang kali saya buat terhadap kedudukan ilmiah kitab Injil secara sepintas, dan juga semangat yang membara hendak memaksakan AI-Qur'an dengan keraguan dan teka-teki guna menutupi kelemahan Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Kini giliran saya mengambil sikap proaktif dalam menyelami sejarah teks kitab suci mereka, bukan sekadar perbandingan. Setiap ilmuwan dan pengkritik merupakan produk lingkungan tertentu, dan para Orientalis - baik yang Kristen, Yahudi, ataupun ateis - semuanya lahir dari latar belakang Yahudi dan Kristen yang ingin memilah-milah pandangan tentang segala masalah yang berkaitan dengan keislaman. Sikap selektifnya memacu mereka mengubah studi Islam pada satu bentuk yang benar-benar aneh dengan mengenalkan peristilahan yang ada dalam Injil. Blachere misalnya, memakai istilah vulgate. Bible versi Latin yang dihasilkan pada abad keempat dan lebih digemari oleh Gereja Katolik Roma (penerjemah). saat menunjuk Mushaf `Uthman dalam bukunya Introduction au Coran, dan Jeffery menerangkan Al-Qur’an sebagai teks yang Masoretic, istilah yang umumnya berkaitan dengan Kitab Perjanjaian Lama berbahasa Ibrani. Dengan menghilangkan seluruh peristilahan AI-Qur'an, Wansbrough malah berbicara mengenai Haggadic exegesis, Halakhic exegesis, dan Deutungsbedurftigkeit.42 Setiap orang dari kalangan mereka juga menyebut canonization Al-Qur'an (dalih-dalih AI-Qur'an) dan naskah kuno Ibn Mas'ud. Kebanyakan kaum Muslimin tak pemah berurusan dengan jargon-jargon aneh itu. Apabila hipotesis Jeffery, Goldziher dan yang lain telah kita bicarakan dan kita nafikkan, maka kini saatnya untuk kita meneliti sepenuhnya motif-motif yang melatarbelakangi usaha mereka. Sketsa potter sejarah awal Yahudi­Kristen, diiringi sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diharap dapat melicinkan jalan pemahaman yang lebih dalam mengenai cara berpikir para ilmuwan dan akhimya akan mengantarkan kita dapat melihat lebih jelas lagi pertimbangan dan sederet tujuan pihak Barat dalam melakukan kajian terhadap Al-Qur'an.


salam dahsyat
ulahceneng
User avatar
ulahceneng
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 237
Joined: Tue Aug 15, 2006 10:36 am

Postby kristen_pagan » Tue Nov 28, 2006 5:01 pm

Buktikan dong
kristen_pagan
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 158
Joined: Thu Nov 16, 2006 8:21 am

Postby Kane » Wed Nov 29, 2006 1:53 pm

Jangan minta buktiin mas, nanti disuruh ke neraka lagi, apa tuh bahasa kerennya Go To Hell.

Padahal saya tuh minta bahasa arabnya biar disamain dengan Al Qur'an yang udah kite2 hapal di sini, bukan begitu?

Kalo ada yang coba tipu2 kan ketahuan ntarnya... :lol: :lol:
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Re: Ternyata Versi AL QUR'AN ada yang berbeda-beda

Postby kuta bali » Wed Jan 26, 2011 2:04 am

Image
Sundul Juragan
kuta bali
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2187
Joined: Tue Mar 02, 2010 3:55 am


Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron