. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Tentang Tibo CS

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Tibo dkk: bela diri

Postby ali5196 » Wed Apr 26, 2006 3:19 am

http://www.indonesiawatch.org/berita1.php

Tibo cs menuduh Majelis Sinode GKST terlibat dalam Kerusuhan Poso

“Pada tahun Natal 1998170 rumah dan toko Kristen dibakar dalam Jilid I Kerusuhan Poso. Pada April 2000 menjelang Paskah, 1000 toko, rumah dan gereja dihancurkan dan 50 orang Kristen dibunuh. Sebagian besar dari 170 rumah yang dihancurkan pada Natal 1998 telah dibangun kembali untuk dihancurkan untuk kedua kalinya pada Paskah 2000.

Pemerintah dan aparat (TNI, POLRI) sama sekali tidak memberi perlindungan kepada masyarakat Kristiani, sebagian umat Kristen membentuk milisi untuk melindungi diri dari serangan-serangan yang mereka hadapi.

Majelis Sinode GKST telah berulang-ulang berseru kepada pemerintah dan aparat untuk menangkap pelaku dan otak serangan-serangan yang membuat penghancuran dan pembunuhan tetapi seruannya tak didengar. Justru di sini para pemimpin pemerintahan Sulteng dari Gubernor sampai Bupati terlibat demikian pimpinan aparat dari tingkat Propinsi sampai Kota Poso turut terlibat.

Tindakan untuk tidak bertindak juga merupakan pelanggaran HAM yang harus dituntut karena justru tidak membela masyarakat adalah kejahatan besar. Dalam suasana demikian, tidak salah kalau umat Kristiani harus membela diri dan tidak salah kalau Majelis Sinode mendoakan anggotanya agar selamat dalam usaha melindungi masyarakat.

Majelis Sinode juga mendoakan pemerintah dan aparat – apa itu juga salah? Kami yakin sangat tidak adil kalau Tibo, Riwu dan da Silva dieksekusi, tetapi juga tidak adil kalau Majelis Sinode disebut otak atau pelaku kerusuhan. IW

--------------------------------------------------------------
http://www.indonesiawatch.org/berita.php?news_id=370

TIBO DKK ANTARA MISPERSEPSI, KONSEPSI & JARGON HUKUM

“Coalition for Opposing Unfair Trials, Jerry/Gerdi/Nora/Wiske/Irawan/Nona, telah kirim respons mereka terhadap berita Tibo cs kini menuduh Majelis Sinode GKST sebagai otak Jilid III Kerusuhan Poso. Harus dimaklumi bahwa selama ini koalsisi ini sangat mendukung Tibo cs dalam usaha mendapat PK dan “fair trial”. Namun, dengan usaha Tibo cs untuk menyelamatkan nyawanya ada tuduhan yang menyudutkan semakin banyak orang dan hal ini perlu ditanggapi.” IW

Kita semua tersentak-kaget, ketika TIBO CS mengungkapkan GKST terlibat dalam "pergolakan berdarah" dan nama-nama yang tersebut adalah person-person yang kita yakini adalah asal minahasa-paling tidak terpandang dilingkungan gereja.

Sejenak kita semua merasa -TIBO DKK- seakan-akan tidak memahami perjuangan orang kristen atas nasib mereka dan khususnya perjuangan kebanyakan orang Minahasa yang terus membela mereka. Nuansa kultural-religius kita seakan-akan tidak bisa menerima pernyataan TIBO DKK

Mungkin lebih baik terlebih dahulu menjelaskan posisi dasar pandangan yang digunakan disini;

Asumsi utama disini adalah bahwa pernyataan TIBO DKK sebuah pernyataan yang lahir dalam suatu proses pergulatan; IMAN, SOSIAL, PSIKOLOGIS maupun HUKUM.

Sebagai orang Kristen saya percaya: TIBO DKK setiap saat di ruang penjara dalam doa doanya berseru: Ya Tuhan mengapa Engkau tinggalkan kami.

Secara sosial TIBO DKK merasa terlempar dari kelompoknya. Secara umum masyarakat dan secara khusus jemaat GKST.

Secara Psikologis TIBO DKK dalam suatu situasi yang sangat berat; tidak menentu; tak berdaya;kecewa dan marah. Tidak tahu kepada siapa lagi pertolongan diharapkan. Meskipun kita semua tahu; dan mungkin TIBO DKK tidak mengetahui bahwa MATA DUNIA SEDANG MENGAMATI MEREKA. Suatu perasaan campur baur antara keterasingan sosial dan perasaan ditinggalkan (abondoned).

Secara hukum TIBO DKK tidak memahami label label dan terminologi hukum yang dikenakan kepada mereka: terutama OTAK PERENCANA/PERBUATAN YANG DIRENCANAKAN/PERENCANAAN.

Dan saya yakin TIBO DKK sangat tidak memahami perbedaan antara PEMBUNUHAN BIASA dan atau PEMBUNUHAN BERENCANA( maaf saya tidak mengatakan mereka melakukan pembunuhan). Apalagi memahami Konstelasi konflik sosial yang sudah mempunyai makna politik-religius.

Dalam persepsi TIBO DKK mendoakan adalah merestui. Konsepsi merestui mempunyai makna pribadi yaitu keterlibatan.Sehingga kita semua tidak perlu heran atau kaget; mengapa tiba tiba TIBO DKK seakan-akan bersikap" memusuhi" kelompoknya sendiri(GKST). Lebih lagi; mendoakan yang nota bene adalah tugas setiap orang kristen dalam keadaan apapun; dan ketika majelis atau pendeta mendoakan; dimengerti sebagai suatu perestuan/ "blessing"/ dan kemudian terjadilah institusionalisasi. Dengan kata lain; doa yang sebenarnya adalah inti dasar dari keyakinan sebagai orang kristen / dan saya percaya bukan doa untuk membunuh tetapi doa untuk meminta perlindungan ---mengalami institutionalized dalam konsepsi TIBO DKK. Sehingga jika ada pernyataan "setiap saat kami------dst kami selalu didoakan" janganlah merasa tertuduh..

Konsepsi publik Indonesia yang sudah dipengaruhi oleh politisasi religius-seakan-akan soal hidup mati TIBO DKK adalah soal KRISTEN YANG SALAH DAN ISLAM YANG BENAR atau sebaliknya. Menyambut pernyataan TIBO DKK sebagai sebuah "RAHASIA YANG TERBONGKAR" Kemudian jadilah - gayung bersambut- tidak mengherankan atau jangan kaget apabila dikemudian hari kita akan menemukan pernyataan-pernyataan yang akan memojokkan "alinasi perjuangan-perjuangan melawan peradilan tidak adil." Berbagai perjuangan kemanusiaan dan perjuangan harkat kemanusiaan-dan perjuangan menjaga kemurnian sistim peradilan-saat ini akan dengan mudah dipatahkan oleh kelompok-kelompok yang memang menanti-nantikan situasi ini.

Tanpa disadari -(TIBO DKK tidak bermaksud demikian)- pernyataan mereka (yang lahir dalam situasi HIDUP DAN MATI -dengan persepsi yang LUGAS- sekarang ini telah mengalami pemaknaan PUBLIK yang berbeda.

PUBLIK terutama silent majority (dalam kasus ini) yang cenderung menunggu arah angin akan menyambut pernyataan TIBO DKK sebagai sebuah KEBENARAN.

KEBENARAN yang dipercayai tadi sebagai sebuah KEBENARAN yang baru terungkap hanya bisa ditepis melalui dua hal:

Pertama; Kelompok yang terkait langsung dengan Pernyataan TIBO DKK harus melakukan AKSI PEMBUKTIAN TERBALIK (dalam konteks sosial). AKTIF membuktikan bahwa doa jemaat-doa majelis-atau pendeta adalah doa yang memang sebagai layaknya meminta perlindungan. Sedangkan person-person GKST yang terlibat (jika ada) harus dibuktikan bertindak atas "KEMAUAN PRIBADI" atau dalam konteks pembelaan diri.

Kedua; Kelompok pemerhati hukum yang melihat proses penyidikan dan penyelidikan hukum maupun sistim beracara peradilan-cross examination-harus tetap tegak berdiri atas dasar prinsip prinsip hukum universal.

Melihat persoalan TIBO DKK telah mengalami pemaknaan publik yang berubah -setelah pernyataan TIBO DKK- adanya pernyataan pribadi Pendeta Riyandi Damanik -yang menyatakan kesediaannya untuk menggantikan TIBO DKK apabila ternyata GKST secara institusi terlibat- haruslah dimaklumi sebagai usaha beliau untuk melawan persepsi publik tadi itu.

Dalam konsepsi HUKUM selain adalah prinsip pembuktian-siapa yang mendalilkan dia yang membuktikan(pembuktian langsung) -dan atau adanya pembuktian terbalik. Ada juga sebuah pembuktian lain yang tidak dikenal oleh sistim hukum Indonesia; ialah RES IPSA LIQUTUR-LET THE THING SPEAKS FOR ITSELF.

Mungkin harusnya demikian.

Sebagai contoh: jika sebuah gunting tertinggal dalam perut pasien/lupa diambil oleh para dokter yang melakukan operasi maka dalam perkara MALPRAKTEK TERTINGGAL GUNTING dalam perut sudah merupakan bukti kelalaian. Sehingga tidak memerlukan p
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

PENGECUT !!

Postby parto » Thu May 18, 2006 11:27 am

TIBO dkk adalah PENGECUT !! Sudah membunuh ratusan orang, ketika ditangkap minta amnesti, apaan tuh ?? Dasar pengecut !!
PALING PENGECUT adalah institusi yang menyokong tapi setelah TIBO tertangkap, malah cuci tangan seolah-olah tidak terlibat.

Ya begitulah gaya segerombolan pengecut, kalaupun sebagai negara besar, perang juga beraninya pake robot... jatuhkan bom dari pesawat yang terbang sangat tinggi supaya gak kena tembak, tapi akibatnya tidak akurat..... hampir kalah perang lalu pake bom atom... yah segerombolan pengecut !!
parto
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 11
Joined: Wed May 17, 2006 1:55 pm

Postby Inter » Thu May 18, 2006 12:07 pm

Untuk soal Tibo saya tidak akan menanggapi karena akan bias.

Saya menanggapi tulisan sdr. Parto yang mengatakan bahwa perang pake bom dari pesawat, pake robot lah, pake bom atom adalah pengecut. Menurut saya justru hal ini adalah pintar, karena hal tersebut merupakan kemajuan teknologi yang cuma bisa dibuat oleh orang yang cerdas.

Katakanlah sdr. Parto adalah raja/penguasa dari suatu negara yang sedang berperang, kalau negara anda bisa menggunakan bom atom dan negara lawan belum bisa menggunakan bom atom, masa anda tidak menggunakan pilihan untuk pake bom atom ????

Kalau dengan cara tersebut bisa meminimalkan kerugian, kenapa tidak?? namanya juga sedang perang.
User avatar
Inter
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 252
Joined: Fri Nov 18, 2005 8:56 am

Re: PENGECUT !!

Postby ali5196 » Thu May 18, 2006 1:37 pm

parto wrote:TIBO dkk adalah PENGECUT !! Sudah membunuh ratusan orang, ketika ditangkap minta amnesti, apaan tuh ?? Dasar pengecut !!
PALING PENGECUT adalah institusi yang menyokong tapi setelah TIBO tertangkap, malah cuci tangan seolah-olah tidak terlibat.


Tibo adalah orang BERANI, orang yg berani melawan Muslim yg mendatangi daerahnya dan membunuhi seenak perut mereka-mereka yg dianggap 'kafir'. Wong, TEMPO sendiri memuat artikel panajng lebar ttg Laskar Jihad yg membawa senjata mahir, dipersiapkan secara fisik, memasuki Sulsel.

Anda buta/bisu/tuli ?

Kalau gua di situasi yg sama spt Tibo, gua juga akan bunuh siapa saja yg berani membunuh keluarga/tetangga gua.

Ya begitulah gaya segerombolan pengecut, kalaupun sebagai negara besar, perang juga beraninya pake robot... jatuhkan bom dari pesawat yang terbang sangat tinggi supaya gak kena tembak, tapi akibatnya tidak akurat..... hampir kalah perang lalu pake bom atom... yah segerombolan pengecut !!


'Gerombolan pengecut' yg anda maksud ini juga telah membebaskan Indonesia dari tentara Jepang dan sampai saat ini melindungi Indonesia dari bahaya Komunisme. SO, hati2 kalau menuding hidung orang.

Gereombolan pengecut ini juga yg selalu siap sedia kalau Indonesia mengalama bencana alam, tsunami, letusan gunung api, flu burung, AIds, sekolah, bea siswa.

So, shut up or **** off.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby Phoenix » Fri May 19, 2006 1:26 am

Ya begitulah gaya segerombolan pengecut, kalaupun sebagai negara besar, perang juga beraninya pake robot... jatuhkan bom dari pesawat yang terbang sangat tinggi supaya gak kena tembak, tapi akibatnya tidak akurat..... hampir kalah perang lalu pake bom atom... yah segerombolan pengecut !!


Oooh..jadi bom bunuh diri lebih berani yak maksud elo..kalau menurut gue sih itu MATI KONYOL!!!
Phoenix
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11175
Joined: Mon Feb 27, 2006 5:33 am
Location: FFI

SELAMATKAN TIBO !

Postby ali5196 » Thu Jun 01, 2006 5:55 am

http://www.indonesiawatch.org/berita.php?news_id=416

Seruan Theophilus Bela, Ketua Umum FKKJ: Turun ke Jalan, Selamatkan Tibo cs

“Langkah-langkah hukum untuk Tibo cs sepertinya buntu. Rupanya hanya mukjizat Tuhan dapat menyelamatkan mereka dari eksekusi dalam waktu yang sangat singkat. Para pembela hukum mereka belum angkat tangan, mereka tetap berusaha. Ketua Umum FKKJ, Bpk. Theophilus Bela berjuang terus untuk menyelamatkan kehidupan tiga orang yang mungkin saja adalah pahlawan negara.

Kenapa? Poso, terbukti telah menjadi tempat pelatihan Al Qaeda. Omar Al-Farouq, tangan kanan Osama bin Laden dan pemimpin Al Qaeda Asia Tenggara divideo dalam serangan bersenjata dengan para mujahiddin terhadap desa-desa Kristen.

Kalau ada yang berani melawan kelompok teroris bersenjata tersebut, daripada dieksekusi sebaliknya harus disebut pemberani yang membela Sang Merah Putih terhadap ancaman besar yang melawan NKRI” IW

Surat Terbuka Theophilus Bela

Dear all,

Mahkamah Agung (MA) telah mengagetkan kita semua dengan pengumumannya pada Selasa tanggal 9 Mei lalu yang mengatakan bahwa MA menolak permohonan PK kedua para terpidana mati Tibo dkk . Kita semua schok mendengar pengumuman MA tersebut . Sebenarnya kita sangat mengharapkan sebuah terobosan dari lembaga hukum tertinggi kita itu, tapi apa mau dibilang pihak MA tidak mau memenuhi harapan kita. Di negara ini hanya orang yang berduit atau mempunyai pasukan yang dibela MA.

Kita masih ingat disaat genting ketika Tibo dkk akan dieksekusi April lalu tiba-tiba Kapolda Sulawesi Tenggara (Sulteng) Brigjen. Polisi Oegroseno mengumumkan bahwa pihak polisi memutuskan untuk menunda eksekusi tersebut karena ingin lebih dahulu memeriksa secara tuntas 16 orang yang disebut namanya oleh Tibo dkk. Langkah-langkah pengungkapan keterlibatan 16 orang tersebut telah dimulai Kapolda Sulteng dengan menggali kuburan massa korban kerusuhan di "Kilo 9" pada hari Rabu tanggal 10 Mei lalu. Setelah mengadakan penggalian tersebut Kapolda Sulteng mengatakan bahwa dia telah mempunyai 5 nama dari orang-orang yang disebut Tibo dkk yang akan dijadikan tersangka otak kerusuhan Poso bulan Mei 2000 lalu.

Kapolda Sulteng juga mengemukakan kesangsiannya bahwa konflik Poso yang begitu meluas dan menelan korban yang begitu banyak adalah hasil ulah orang sederhana seperti Tibo. Seperti kita baca dalam Republika online tanggal 15 Mei lalu Kapolda Sulteng merasa menyesal mengapa pengungkapan kasus Poso tidak dituntaskan oleh para pendahulunya. Kapolda Sulteng menegaskan bahwa untuk membongkar kasus Poso sampai tuntas beliau membutuhkan kesaksian Tibo dkk.

Sementara itu pihak polisi telah menangkap 5 orang pelaku teror pada hari Sabtu tanggal 6 Mei lalu di Tolitoli. Dari kelima orang tersebut ada yang diduga sebagai pelaku pembunuhan secara sadis (mutilasi) 3 siswi SMU Kristen di Poso. Setelah mendengar laporan Kapolri tentang tertangkapnya kelima pelaku teror tersebut Presiden SBY menyampaikan pujiannya terhadap keberhasilan pihak polisi serta mengharapkan bahwa dengan tertangkapnya para teroris tersebut semoga usaha rehabilitasi dan rekonsiliasi Poso pasca konflik dapat segera terwujud.
KOK NGGAK DITEMBAK MATI PELAKU2 TEROR ITU ??

"Semoga dengan tertangkapnya para teroris tersebut maka situasi Poso dan Sulteng pada umumnya akan lebih aman", demikian harapan Presiden SBY yang disampaikan hari Jumat tanggal 12 Mei lalu di Halim Perdana Kusuma sesaat sebelum berangkat ke Bali untuk menghadiri konperensi 8 negara sedang berkembang.

Siang tadi, Selasa tanggal 16 Mei ada rapat rahasia di kantor Menko Polhukam Widodo di Jakarta. Dalam rapat yang serba tertutup tadi hadir juga Kapolda Sulteng Brigjen Pol. Oegroseno yang membawa fakta-fakta baru dari lapangan. Namun dari pihak Menko Polhukam cs ada upaya kuat utk MEMAKSAKAN AGAR EKSEKUSI TIBO DKK SEGERA DILAKSANAKAN.

Menghadapi ini semua bagi kita tidak ada pilihan lain dari pada mengadakan aksi turun kejalan di seluruh Indonesia untuk menolak dengan sekuat tenaga dan akal pikiran dengan mengerahkan kawan-kawan kita diseluruh dunia untuk membatalkan eksekusi mati terhadap ketiga orang malang itu. Mungkin mereka akan dibunuh karena mereka tidak mempunyai uang atau pasukan.

Maju terus pantang mundur.

Theophilus Bela
Duta Besar Perdamaian (Ambassador for Peace)
Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta FKKJ
Sekjen Indonesian Committee on Religion and Peace IComRP
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Kejanggalan kasus Tibo CS (Surat pdt.Damanik -> SBY)

Postby Cucu Jusuf Estes » Sun Aug 13, 2006 7:07 pm

Surat Pdt Damanik kepada Presiden dan Wkl Presiden RI

Kepada YANG TERHORMAT:

1. BAPAK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
2. BAPAK WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

di - Jakarta.

Dengan kerendahan hati, perkenankan kami menyampaikan kepada Bapak tentang:

TERPIDANA MATI KASUS POSO:
Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus Da Silva

YANG DIRENCANAKAN akan diseksekusi mati pada hari Sabtu, tanggal 12 Agustus 2006, jam 00.15 Wita di Palu.

Hari ini, Selasa, 8 Agustus 2006, sekitar jam 15.10 Wita di Tentena, sementara di berbagai tempat sedang berlangsung kegiatan menyambut HUT Kemerdekaan RI, kami mendampingi Robert Tibo (anak pertama Fabianus Tibo), ketika staf Kejaksaan Negeri Poso menyampaikan Surat Eksekusi Tibo Cs.

Surat tersebut Nomor: SR-65/R.2.10/Buh.1/8/2006, Sifat: Sangat Rahasia; Perihal: Eksekusi terpidana mati Fabianus Tibo dkk., ditandatangani oleh Kepala Kejaksaan Negeri Palu: Muh. Basri Akib, SH. Eksekusi itu akan dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2006 jam 00.15 Wita. (selengkapnya terlampir dalam attach file).

Reaksi dari Robert Tibo (sebagai anak dan mewakili keluarga) adalah: menolak isi surat tersebut. Dia menyatakannya secara tertulis dalam lembaran surat Berita Acara Serah Terima Pemberitahuan Eksekusi (terlampir dalam attach file).

Sungguh tragis dan sangat TIDAK ADIL ! mengapa ? Sebelum Tibo cs dieksekusi, dibutuhkan jawaban yang jujur terhadap beberapa pertanyaan berikut (pertanyaan yang selama ini belum dijawab tuntas):

Tibo cs, baru berada di wilayah Poso pertengahan Mei 2000. Kerusuhan Poso telah terjadi Desember 1998 dan April 2000. Siapa yang memanggil Tibo cs untuk datang ke Poso? Apakah logis jika Tibo cs yang disebut sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kasus kerusuhan Poso ? Lantas siapa yang paling bertanggungjawab? Apakah Kerusuhan Poso Desember 1998 tidak berkaitan dengan Kerusuhan April 2000 ? apakah April tidak berkaitan dengan Mei, Juni, Juli dan seterusnya ? Apakah dalam kasus Poso, aksioma �sebab-akibat� tidak berlaku ?


Bukankah Kepolisian RI sedang mengusut kembali data dan fakta tentang Tibo, cs? Mengapa hasilnya belum dipublikasikan secara transparan kepada masyarakat oleh penangungjawab Kepolisian RI, dalam hal ini Bapak Kapolri?

Benarkah proses pengadilan Tibo cs dilaksanakan secara adil dan murni dari tekanan massa?

Dalam kerusuhan sosial yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia, tidak ada seorang pun yang divonis hukuman mati. Mengapa di Poso ada hukuman mati? Ada apa dengan kasus Poso ? Siapa yang paling bertanggungjawab dan siapa yang paling berkepentingan?

Sejak sekitar 3 (tiga) bulan terakhir, Pemerintah (Gubernur Sulawesi Tengah) menyampaikan ide kepada masyarakat bahwa untuk mencapai keamanan, kesejahteraan dan rekonsiliasi di Poso, diperlukan pemberlakuan �Amnesti Umum� untuk terpidana kasus Poso. Sejak saat itu pula tokoh-tokoh agama, budaya, masyarakat Poso, berulang-kali mengadakan pertemuan untuk tercapainya �Amnesti Umum�. Tetapi mengapa tiba-tiba muncul Surat Kejaksaan Negeri Palu untuk mengeksekusi Tibo cs. ? Mengapa Tibo cs tidak disertakan sebagai yang perlu dibicarakan dalam rencana �Amnesti�? Lantas, siapa yang akan dianugerahi Amnesti dalam kasus Poso? Apakah para pelaku bom? para pelaku penembakan? para pelaku mutilasi? aparat pemerintah dan keamanan yang telah melakukan �pembiaran� dan kekerasan? para koruptor?

Apakah eksekusi mati Tibo cs menjamin terciptanya keamanan dan kedamaian di Poso dan sekitarnya?

Mengapa eksekusi Tibo cs akan dilaksanakan tanggal 12 Agustus 2006, ketika di berbagai tempat dilaksanakan kegiatan perayaan HUT Proklamasi RI ?

Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Dengan kerendahan hati, kami mohon: Jika pertanyaan-pernyataan tersebut belum dijawab tuntas, dan jika Negara ini masih punya hati nurani, EKSEKUSI TIBO CS TIDAK DAPAT DILAKUKAN.

Demikian hal ini disampaikan, dengan harapan agar keadilan dan kebenaran ditegakkan di Negara Republik Indonesia.

Terimakasih.

Tentena-Poso, 8 Agustus 2006

Teriring salam dan hormat,

Pdt. Rinaldy Damanik.

Tembusan:

Kepada Yth.,

Semua pihak yang peduli terhadap kasus Poso.
Cucu Jusuf Estes
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 313
Joined: Wed Jun 28, 2006 6:25 pm

POSO: Kerusuhan Agama Berulang Lagi?****

Postby Adadeh » Tue Sep 12, 2006 1:03 am

Indonesia: Fatal Explosions In Poso - Is Muslim Christian Conflict Reigniting?

Image

The Jakarta Post and Antara News report that a woman has become the latest casualty of violence in Poso, in Central Sulawesi, Indonesia. Late last night, at 8.25 pm local time, a bomb went off in Poso town, and a 20-year old woman died at hospital from her wounds. She had found a flashlight shaped object outside her house, and had had gone to investigate. The device exploded when she picked it up.

Two men on a motorcycle had tossed the device into the yard before fleeing. The victim has been named as Nela Saliango.

The blast was the second to take place in Poso district. On Wednesday, a 50 year old man was killed in an explosion at Tangkuran village, in the coastal region of Poso district. John Tobeli, a Christian from the neighbouring village of Tangkuran, was rushed to Poso Public Hospital, but had already died.

It seems that Nela Saliango, who died yesterday, was also a Christian, by the sound of her name. There is currently a dispute between Muslims and Christians, with Muslims demanding the execution of three Catholic men and Christians demanding the men be retried.

We reported on the case of Fabianus Tibo, 60, Marinus Riwu, 48, and Dominggus da Silva, 42, on August 13 when their imminent execution was delayed for the duration of Indonesia's Independence Day celebrations. Though convicted in April 2001 for inciting murders of Muslims in Poso during the sectarian conflicts on May 2000, there is ample evidence that the men were tried unfairly, and may well be innocent. On August 28 the three men appealed for clemency, though so far President Susilo Bambang Yudhoyono has never commuted any death sentence.

On Thursday (September 7), thousands marched through the mainly Christian town of Tentena in Central Sulawesi, demanding that the executions not go ahead. The incidents for which the three Catholics from the adjoining southerly province of East Nusa Tenggara were convicted comprised part of a conflict that lasted from 1998 to 2002, and killed 1,000 people in Central Sulawesi, mainly Christians. The conflict was part of a wider war, waged in the Moluccan islands by Umar Jaffar Thalib and his government-sponsored sectarian army, the Lashkar Jihad. 9,000 people died as a result of Thalib's violence, even though he himself was never punished.

The current explosions, apparently aimed at Christians, may be connected to the issues with the three Catholics and their execution, but it is more likely that it is part of the sectarian conflict, exploited by Lashkar Jihad, which has never gone away.

On October 29 last year, four Christian schoolgirls were attacked in Poso by machete-wielding assailants. Three of these, da Yarni Sambue (15), Theresia Morangke (15), and Alfita Poliwo (19), were decapitated. A fourth girl, Noviana Malewa, survived after receiving horrific injuries. On November 8, two Christian schoolgirls were shot in the head at point-blank range. They barely survived, and it was later revealed that their attacker was a Muslim policeman.

Later that month, more Christians were shot in Poso and Palu towns in Central Sulawesi province. Three more Christian girls were attacked with machetes, and one girl called Afrianti (pictured) died from a machete wound to the neck.

On December 31, six people were killed and 43 injured in Palu, when a bomb exploded at a house selling pork to Christians. On February 3 we reported that a pastor had been one of two Christians attacked with machetes. One man had his fingers sliced off, and the pastor had his front teeth smashed out.

Christians have been the main targets of Muslim violence, but not the only targets. On March 12 we reported that Nengah Sugiarta eceived severe lacerations from shrapnel from a bomb planted at a Hindu temple in Poso.

In May, Islamists confessed to the decapitations of the three Christian schoolgirls on October 29, but police refused to link the assailants with "militant groups" in the region, in case this move "inflamed tensions".

The killings of non-Muslims in Central Sulawesi have never stopped. They have only become more sporadic.

The Jakarta Post reports that in the south of Sulawesi island, explosives have been uncovered. During a raid on a house in West Sulawesi yesterday morning, in Polewali Mandar regency, materials for bomb-making, including gunpowder, were found.

Five occupants of the house, which had been under surveillance for a month, were arrested.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

PALU: eksekusi TIBO akibatkan huru hara****

Postby ali5196 » Fri Sep 22, 2006 5:55 pm

BIAR MUSLIM SEKALI2 RASAIN JADI KORBAN HURU HARA SEKALI2 !

ttp://news.yahoo.com/s/ap/20060922/ap_o ... executions

Indonesian executions lead to violence
By IRWAN FIRDAUS, Associated Press Writer

PALU, Indonesia - Christian mobs torched cars, blockaded roads and looted Muslim-owned shops in violence touched off by Friday's executions of three Roman Catholics convicted of instigating attacks on Muslims.

Some 200 inmates escaped after mobs assaulted a jail in the town of Atambua, sending guards fleeing to the nearby jungle. By midday only 20 had been recaptured, deputy national police chief Lt. Gen. Adang Dorodjatun said, calling on the others to turn themselves in.

And on the island of Flores, the executed men's birthplace, machete-wielding mobs ran through the streets Friday, sending women and children running in panic, police and witnesses said.

Police and media reports said at least five people were hurt, including a prosecutor who was hospitalized with stab wounds. Vice President Jusuf Kalla appealed for calm, saying the deaths of the three men had nothing to do with religion. (LIAR ... LIAR ... :x :x ) "It's a matter of law," he told reporters in the capital Jakarta. "If the people resent the law, we are doomed." (YOU ARE DOOMED ANYWAY !! :twisted: )

Fabianus Tibo, 60, Marinus Riwu, 48, and Dominggus da Silva, 42, were found guilty of leading a Christian militia that launched a series of attacks on Muslims in May 2000 that left at least 70 people dead.

Human rights workers say the men's 2001 trial was a sham, and that while it was possible the men took part in some of the violence, they almost certainly were not the leaders.

The men were taken before the firing squad at 12:15 a.m. (2:15 p.m. EDT Thursday), said a senior police officer who asked not to be identified because he was not authorized to speak to the media. Family members later said they had received confirmation of the deaths.

Palu, where the executions took place, was largely calm, with thousands of police standing on street corners and guarding markets and churches. But violence flared in the Sulawesi villages of Tentena and Lage, where hundreds of Christians rampaged after learning of the deaths.

Thousands also rallied in the eastern province of East Nusa Tenggara, home to many Roman Catholics, blockading roads and setting fire to government buildings, including a courthouse and a prosecutor's office.
Some 200 prisoners escaped in the town of Atambua, and only 20 had been recaptured by mid-afternoon, deputy national police chief Lt. Gen. Adang Dorodjatun said, calling on the others to turn themselves in.

In carrying out the death sentence, Indonesia ignored an appeal last month by Pope Benedict XVI to spare the men. A Vatican spokesman, the Rev. Federico Lombardi, told the Italian news agency ANSA that news of the execution "was very sad and painful."

The European Union also criticized the executions; capital punishment is banned in the 25-member bloc. "The presidency of the European Union has learned with disappointment that despite numerous expressions of concern by the EU to the Indonesian authorities, Indonesia has carried out executions in Central Sulawesi," said a statement issued Friday by Finland, which currently holds the EU presidency.

The case against the three had heightened tensions in the world's most populous Muslim nation and raised questions about the role religion played in punishing those allegedly behind the violence that swept Sulawesi province from 1998 to 2002, killing more than 1,000 people of both religions. Only a handful of Muslims were convicted, all for 15 years in prison or less.

The men told relatives and a priest during final prayers at their jail Thursday that they were innocent but ready to die. Tibo's son, Robert, told Christian followers early Friday that his father "begged us not to be angry, not to seek revenge." "He asked us to forgive those who did this to him. 'God blesses all of us,' he said.

The condemned men had said they hoped investigations into the clashes would continue, noting that they had provided authorities with the names of 16 Christians who allegedly provoked some of the worst bloodshed.

The government says its probe is complete.

"It's useless for me to say anything now," said Tibo's son early Friday. "The government never listened to him when he was alive. They ignored everything."

Human rights activists said Muslim hardliners gathered at the court during the hearings, likely intimidating judges, prosecutors, defense attorneys and witnesses.

"The men's lawyers received death threats, including a bomb planted at one lawyer's house and demonstrators armed with stones outside the courthouse demanded that the three be sentenced to death," said Isabelle Cartron of London-based Amnesty International.

Though violence in Sulawesi largely ended with the signing of a peace deal in 2002, there have been isolated incidents of violence since then, most blamed on Islamic militants.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Tentang Tibo CS

Postby Yanto » Fri Sep 22, 2006 6:30 pm

Aku temuin di forum komentar RM http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexfra ... e&id=19636.

Tengok deh, pertandingan ngak berimbang
antara si kasar & si halus,
antara si pembenci & si pengasih,
antara si haus darah & si penyayang manusia.

Sekali-kali nimbrung juga donk di sana, biar ngak jadi jago kandang.

Nih puisinya:

Refleksiku
Jumat, 22 September 2006, 14:09:41 - oleh : Gi

Kutanya Tuhan,
Menangiskah Engkau, saat butir peluru merobek otak?
Dia tak menjawab,
Namun kulihat mata Tuhan,
Butiran-butiran bening merayap berarak,
Tiap tetes menjamin harap.

Kutanya Tuhan,
Di manakah Engkau, saat seluruh umat berteriak?
Kali ini Dia menjawab,
“Aku ada di penjara sebagai pelayan,
Menghibur, mengasuh, mengajak bertempik sorak,
Sebab takut sudah lenyap.”

Lagi kutanya Tuhan,
Maukah Engkau, menerima mereka sebagai anak?
Kata-Nya, “Kau sendiri pun bisa menjawab.”
Lalu kugenggam firman Tuhan,
Palang salib, tombak, air dan darah di Bukit Tengkorak,
Sungguh agung, penebusan-Mu tak terucap!

Selamat jalan,
Fabianus Tibo,
Dominggus Da Silva,
Marinus Riwu,

Tinggalkan kemah penuh kebencian,
Masuki kediaman penuh kasih dan penerimaan.
“Tuhan menyertaimu,” janji yang tak terbantahkan.
User avatar
Yanto
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 4
Joined: Wed Aug 02, 2006 3:29 pm
Location: Jakarta

Postby swatantre » Sat Sep 23, 2006 11:22 am

Saya tidak bgt mengkhawatirkan Tibo cs.
Yang lebih saya khawatirkan justru Indonesia kedepannya.
Setelah eksekusi mati melalui unjust trial warga negaranya sendiri,
Entah kutuk dan bencana apa lagi yang akan menimpa tanah airku ini.
Aku hanya bisa berdoa.
Ya Tuhan, ampuni bangsaku
Yang tak tahu diri ini.....
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4173
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby swatantre » Sat Sep 23, 2006 11:28 am

http://www.suarapembaruan.com/ News/2006/ 09/22/Nasional/ nas08.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY
Eksekusi Tibo Cs

Pemerintah Dilaporkan ke Mahkamah Internasional

[JAKARTA] Pemerintah akan diajukan ke Mahkamah
Kejahatan Internasional terkait keputusan mengeksekusi
Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva,
Jumat (22/9) dini hari, di sebuah tempat di pinggir
Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Pasalnya, pemerintah telah sewenang-wenang
memperlakukan warga negaranya dengan menghukum atas
dasar pengadilan sesat, kendati sudah diingatkan oleh
berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri untuk
mengkaji kembali pengadilan tersebut.

Hal itu dikatakan Chris Siner Keytimu dari Forum
Solidaritas Warga Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur
(NTT), Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah di Jakarta,
Jumat (22/9) pagi.

Forum ini, kata Keytimu, bersama Padma Indonesia akan
melaporkan pemerintah ke Mahkamah Kejahatan
Internasional. Sebelumnya, forum ini melalui Mochtar
Pakpahan telah melaporkan pemerintah ke Komisi HAM PBB
terkait pengadilan yang dianggap sesat terhadap Tibo
Cs.

Menurut Keytimu, keputusan pemerintah mengeksekusi
Tibo Cs telah mengoyak rasa nasionalisme, NKRI,
penghormatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar
(UUD) 1945, akibat kesewenangan pemerintah terhadap
orang kecil dan kelompok-kelompok masyarakat yang
selama ini terpencil.

"Jadi langkah kami pasca eksekusi ini adalah
melaporkan pemerintah ke Mahkamah Kejahatan
Internasional. Kita tak mau kesewenang-wenangan ini
berlaku terus di rezim yang menutup mata dari berbagai
seruan tentang pengadilan sesat," katanya.

Solidaritas Eksponen Aktivis Pergerakan untuk Keadilan
Tibo Cs, juga akan melaporkan pemerintah Indonesia ke
Mahkamah Kejahatan Internasional. "Hari ini kita
mengadakan pertemuan lagi untuk membahas rencana
melaporkan pemerintah ke Mahkamah Kejahatan
Internasional terkait tindakan eksekusi mati itu,"
kata anggota Solidaritas Eksponen Aktivis Pergerakan
untuk Keadilan Tibo Cs, yang juga sebagai kuasa hukum
Tibo Cs, Petrus Selestinus SH kepada Pembaruan, Jumat
(22/9).

Melindungi Penjahat

Petrus menegaskan, pemerintah mengeksekusi mati tiga
orang tersebut benar-benar untuk melindungi kejahatan
dan penjahat yang sebenarnya.

Padahal, kata dia, kalau pemerintah ingin kasus Poso
yang masih terjadi sampai sekarang, terungkap tuntas,
maka tiga terpidana tersebut, harus dijadikan saksi
dan justru harus di-lindungi.
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4173
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Tibo CS dilarang menerima Sakramen Terakhir

Postby curious » Sat Sep 23, 2006 12:24 pm

http://www.asianews.it/view.php?l=en&art=7279

Three men sentenced to death denied last Sacraments in Indonesia

Prosecutor’s Office in Palu denies Tibo and his fellow prisoners the right to attend mass before their execution by firing squad. It also denies them the right to have a chapel of rest in the city’s cathedral as requested.

Palu (AsiaNews) – Indonesian authorities have denied the three Catholic men sentenced to death the right to attend mass one last time before they are executed tonight by a firing squad. The Prosecutor’s Office in Palu has decided that Fabianus Tibo, Marinus Riwu and Dominggus da Silva cannot receive the “spiritual guidance” hitherto provided by Fr Jimmy Tumbelaka in Petobo Prison, this according to Father Tumbelaka himself, who is also parish priest at Poso’s Saint Therese Parish church. The clergyman added that the prosecutor also banned a chapel of rest in Palu St Mary’s Cathedral for the three men as they had requested.

“I am deeply disappointed that the Prosecutor’s Office rejected their demand to be confessed and receive the Sacraments one last time,” he said.

The negative decision violates Indonesian law which grants death row convicts the right to have their last wishes properly addressed.

Father Tumbelaka is not discouraged though. In late afternoon he celebrated mass in Petobo Prison, where the families of the three Catholic men were able to attend.

In the meantime, the authorities have set up tight security around the prison in Palu, government buildings, Mutiara Airport and St Mary’s Church.

Tibo and his fellow prisoners were scheduled to die yesterday but the execution was postponed. Although no information is forthcoming, it seems almost certain that they will be executed by firing squad around midnight local time (GMT + 08:00) at an undisclosed location.

According to anonymous sources, a few hours before the “deadline” the three men will be moved to another detention facility before finally reaching their “death scene”—usually an open-air space far from residential areas.

“There are no more tears in our family . . . we have lost the power to cry,” said Robert Tibo, Fabianus’s eldest son. In his last public statement, Robert’s father, Fabianus, said he was “not afraid of dying.” Instead, he said: “I am praying that my family be able to provide for themselves and forgive me for not being with them all these years.”

“My hands are clean. We are innocent,” said Riwu. “It is a political plot to cover 16 names we denounced as the real culprits,” he added. Similarly, for da Silva, the “law is against us. For years we tried to tell the truth but they silenced us”.

As the hours ticked away, several human rights groups, Christian organisations and prominent religious and lay leaders have tried to intervene in Jakarta , calling on the authorities not to carry out the death sentence. For many people, Tibo and his fellow inmates are victims of an unfair trial that was exploited by Islamic fundamentalists for their own purposes.

The three men were found guilty in the massacre of 70 Muslims in the 2000 Poso sectarian clashes, but no one else was tried for the crime.


BASTARD! Biar Tuhan yang membalas jaksa terkutuk yang berani melebihi Tuhan.
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby fans » Sat Sep 23, 2006 1:55 pm

"but no one else was tried for the crime"

yg islam2 ga ada yg di adili?
fans
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 124
Joined: Sat Sep 02, 2006 3:46 am

Postby 1zenk » Sat Sep 23, 2006 3:19 pm

kapan giliran Amrozi cs?? kok cepet banget eksekusi orang2 kafir??
1zenk
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 1
Joined: Sat Sep 23, 2006 3:09 pm

Postby dreamtheater » Sat Sep 23, 2006 3:27 pm

kerusuhan Poso itukan bukan kristen vs kristen tapi Islam vs Kristen.

Nah yang Kristen sudah dieksekusi

Islamnya mana?

perasaan jumlah korban mokat lebih banyak kristen!

Dasar negara indonesia islam biadab, sampai kiamat juga nih negara ga bakal2 maju, makanya banyak islam munafik yang kudu ngemis2 beasiswa kenegara2 kristen! bela2in kuliah n kerja dinegara kafir!

tapi begitu pulang lagi keindonesia, yang dipakai tetep aja intelektualitas cap mohammed!

mana neh aktor islam pembasmian umat kristen poso? kog ga ada satupun yang diproses hukum?
User avatar
dreamtheater
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3089
Joined: Thu Mar 30, 2006 1:49 am
Location: Langit ke 7

Postby curious » Sat Sep 23, 2006 4:11 pm

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=156108

Kuburan Dominggus Dibongkar Lagi

Sabtu, 23 September 2006
PALU (Suara Karya): Kuburan Dominggus da Silva, salah seorang terpidana mati kasus kerusuhan Poso tahun 2000, dibongkar kembali. Itu dilakukan karena prosesi pemakamannya tidak sesuai tata cara agama Katolik yang dianut almarhum, di samping permintaan terakhirnya yang tidak mau menggunakan fasilitas negara.

Pendamping tiga terpidana mati, Antonius Suyata (mantan Jampidsus) ketika dihubungi Suara Kaya di Palu, Sulteng, semalam, menjelaskan, jenazah Dominggus setelah dibongkar disemayamkan di Gereja Santa Maria. Besar kemungkinan Dominggus dimakamkan di tanah kelahirannya, Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Anton mengemukakan, pihak penasihat hukum sempat mencari-cari kuburan Dominggus. Itu karena begitu selesai dieksekusi, eksekutor langsung menguburkannya tanpa memberitahu penasihat hukum.

"Setelah (kuburan) ketemu, lalu diurus. Kami minta kepada polisi supaya kuburan Dominggus dibongkar kembali. Sekarang jenazah mendiang dibersihkan dan diformalin, kemudian diberi pakaian," kata Sujata.

Dia menambahkan, itu dilakukan karena sebelum dieksekusi, mendiang Dominggus berpesan tidak mau menggunakan fasilitas negara berupa stelan jas maupun peti mati.

Anton Sujata juga mengatakan, jika Sabtu ini tidak jadi dibawa ke Maumere, jenazah Dominggus akan dikebumikan di Beteleme, berdampingan dengan dua terpidana lain kasus Poso 2000 yang sama-sama sudah dieksekusi, yakni Fabianus Tibo dan Marinus Riwu.

"Di Maumere sebenarnya sudah dipersiapkan upacara adat untuk penyambutan jenazah. Pihak keluarga menyesalkan pemakaman Dominggus dilakukan begitu selesai eksekusi," ujar Sujata.

Tibo, Dominggus, dan Marinus dieksekusi mati oleh regu tembak Brimob Polda Sulteng, Jumat dini hari. Ketiga orang yang dituduh sebagai dalang kerusuhan Poso tahun 2000 di Desa Poboya di Selatan Kota Palu itu menjalani eksekusi mati secara serentak pada pukul 01.10 Wita.

Kuat dugaan, sebuah bangunan di salah satu bagian Bandara Mutiara, Palu, dijadikan tempat eksekusi sekaligus tempat penyemayaman jenazah Tibo dkk sebelum dibawa ke tempat penguburan masing-masing. Sumber di Palu menyebutkan, sesaat setelah tubuh ketiga terpidana ditembus peluru, sejumlah dokter dan paramedis memeriksa tubuh Tibo, Dominggus, dan Marinus guna memastikan kematian mereka.

Berselang beberapa menit kemudian, jasad ketiga terpidana yang benar-benar telah dinyatakan meninggal dunia segera dimandikan oleh puluhan petugas yang sudah bersiaga di lokasi eksekusi. Lalu, masing-masing jenazah didandani dengan setelan jas sebelum dimasukkan ke peti mati.

Ketika ditanyakan siapa saja yang menyaksikan prosesi hukuman mati, termasuk orang yang mendampingi ketiga terpidana, sumber menolak memberikan penjelasan.

Jumat pagi, tim eksekutor memberangkatkan dua jenazah - Tibo dan Marinus - ke Beteleme, Kabupaten Morowali, Sulteng, guna dikebumikan di desa tempat keluarga mereka menetap. Sementara jenazah Dominggus da Silva dikebumikan di TPU Kristen Poboya, Palu Timur. Proses penguburan jenazah Dominggus sendiri berlangsung pukul 03.50 Wita.

Sekitar pukul 09.00 Wita, jenazah Tibo dan Marinus diserahkan kepada pihak keluarga di tugu perbatasan Sulteng-Sulsel di Desa Nuha, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. Kemudian kedua jenazah dibawa ke Beteleme. (Lerman S/Pudyo Saptono/Jimmy Radjah/Antara)
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby Yanto » Mon Sep 25, 2006 11:20 am

Utk temen2 yg udah ngecek ke RM, pasti kecewa krn ruang komentarnya udah diapus. Tp aku kebetulan nge-save page ini, nih aku kasih tau bbrp komentarnya:

Hindari SARA
Jumat, 22 September 2006, 18:13:10 - oleh : fredy
Teman2 di Rakyat Merdeka, tolong edit komentar2 yang berbau SARA, melecehkan agama lain. Kebebeasan berpendapat dijamin UUD 1945, tapi melecehkan, menghujat agama lain, saya rasa, perlu dielakkan di negara ini. Sekali lagi, saya minta tolong redaktur RM untuk koreksi.
Fredy, Kupang, wartawan JPNN

Tibo sudah mampus
Jumat, 22 September 2006, 16:08:12 - oleh : FX. Sinaga
Sudah..sudah.. gak usah ngeributin Tibo. Mending urus saja tuhanmu yang disalib, gak pake baju kedinginan!

Sudah-sudah
Jumat, 22 September 2006, 15:55:09 - oleh : Netral
Kawan-2, sudah.. sudahlah. Tibo cs sudah menerima hukuman yang setimpal dengan kesalahan (melalui pengadilan). Jadi kita saling menjaga perasaan baik yang pro maupun kontra.
Hukum sudah dijalankan, kita yang masih hidup marilah jalan dengan keyakinan ,masing-2 dan jangan saling mengganggu.
Peace

??????????
Jumat, 22 September 2006, 15:32:08 - oleh : Udin
Apa bener yang mampus itu si Tibo Cs......???????makanya jangan seenaknya aja membantai umat Islam.......

@Gi
Jumat, 22 September 2006, 15:13:57 - oleh : osama
Koq Tuhan bisa menangis ya? (kayak manusia aja...)

Koq Tuhan mau ya jd pelayan di penjara? (Emang ga ada kerjaan laen selain pelayan?)
Koq Tuhan kayak orang tua asuh aja ya? Pake ditawarin anak segala?
Ini Tuhannya yg mana sih sebenarnya? gw jd bingung...

...
Jumat, 22 September 2006, 15:08:46 - oleh : 911
Hehehe...cm mo pake jas, dasi dan sepatu aja musti ngorbanin nyawa, weleh...weleh...weleh...kasihan nian kalian...tp gpp koq yg penting ketemu sm Bapa...jgn takut, dosa kalian dah ditebus...Enak kan?

Selamat Datang Tibo
Jumat, 22 September 2006, 14:39:34 - oleh : Penghubni Neraka
Hohoohoho...Selamat datang Tibo!Mana 10 temenmu yang lain?Hohohoho,saya kira kamu orang yang pemberani seperti kerusuhan yang lalu, membantai ratusan orang.Gak taunya kamu pengecut yah, pake minta grasi segala. Untung kita memnag ditakdirkan bertemu disini. Tenang Tibo, hukumanmu saya kasih pelan2 Ok!Apinya saya kecilin dikit kok!Gak perlu takut gosong, nanti juga terbiasa... Hohohohoho

Huahaha
Jumat, 22 September 2006, 14:36:07 - oleh : Anto
Nah begitu, mendingan kayak si Gi, orang mati didoain bukan malah demo ngerusak kampung sendiri. Eh Osama,kagak ada Tuhan yang minta tolong ama Tuhan waktu disalib.Lagian gak juga yang ngerasa paling benar di dunia. Yang ada juga orang2 yang ngerasa bener sehingga ngerusuh untuk seorang pembunuh...iiiiyyy, jijay deh

untuk imam mahdi
Jumat, 22 September 2006, 14:22:50 - oleh : osama
Anda ini jangan sok pintar, di dunia ini nggak ada ajaran agama lain yg selalu ngobral dan berteriak nama Allah untuk bikin rusuh, merusak, mengacau apalagi membunuh. Nggak ada ngebunuh orang dianggap halal. Lu mesti ingat nggak ada nabi hobinya perang, bawa pedang kemana-mana. Jadi manusia nggak berhak merasa dirinya paling benar di dunia, paling halal, apalagi wakil Allah...Jadi sebaiknya manusia kayak lu sebaiknya ngaca dulu di sumur baru komentar.
User avatar
Yanto
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 4
Joined: Wed Aug 02, 2006 3:29 pm
Location: Jakarta

Postby wix » Tue Sep 26, 2006 4:08 pm

Saya hanya bisa mendoakan Tibo cs supaya semua dosa mereka diampuni dan keluarga yg ditinggalkan diberikan kekuatan oleh Tuhan kita Yesus Kristus, amin.
wix
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 285
Joined: Sat Sep 23, 2006 1:58 pm
Location: Heaven and Earth

Postby curious » Tue Sep 26, 2006 7:31 pm

Tibo, cs maafkan semua
Palu, PK

Tiga terpidana mati kasus kerusuhan Poso tahun 2000, Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva, akhirnya dieksekusi di hadapan 12 personel regu tembak, dini hari Jumat (22/9). Sebelum dieksekusi ketiga terpidana mati menyatakan sudah memaafkan semua orang yang telah "mengantar" mereka ke penjara hingga ditembak mati.

Pengacara Tibo, cs, Roy Rening, S.H mengatakan itu saat dihubungi Pos Kupang, dini hari Jumat (22/9) pukul 01.40 Wita. Pendamping rohani terpidana mati, Romo Jimmy Tumbelaka, Pr yang dihubungi pukul 00.00 Wita semalam, mengatakan, lokasi eksekusi di sekitar Bandara Mutiara, kota Palu. Meski eksekusi mati tetap dilaksanakan, namun Roy dan Romo Jimmy menolak mendampingi para terpidana mati saat dieksekusi, sebab permintaan terakhir terpidana mati ditolak oleh kejaksaan.

Menurut Roy, saat bertemu terakhir kalinya Tibo, cs di LP Petobo-Palu, Kamis (21/9) pagi, Tibo sudah menyatakan memaafkan semua orang yang mengakibatkan mereka dieksekusi mati. "Saya tidak dendam dengan orang-orang yang menghujat, menuding dan menghina, hingga kami dijebloskan ke penjara dan ditembak mati. Saya yakin Tuhan akan selalu bersama saya. Saya sudah maafkan mereka semua," kata Fabianus Tibo seperti dikutip pengacaranya, Roy Rening, S.H usai menjenguk ketiga terpidana mati di LP Petobo-Palu, Kamis (21/9) pagi.
Roy yang dikontak Pos Kupang ke ponselnya pada pukul 01.10 Wita dini hari Jumat (22/9), mengatakan, ketika terpidana mati sudah dibawa ke luar dari LP pada pukul 00.50 Wita. Dia dan pastor pendamping para terpidana mati, Romo Jimmy Tumbelaka,Pr, menolak menolak ikut ke lokasi eksekusi, karena permintaan terakhir ketiga terpidana mati ditolak pihak kejaksaan selaku eksekutor. Permintaan para terpidana yakni agar jenazah mereka disemayamkan dan didoakan oleh Uskup Manado, Mgr. Yoseph Suwatan di Gereja Santa Maria-Palu.

"Saya tidak mau bertanggung jawab secara hukum karena ada prosedur eksekusi terpidana mati yang diabaikan. Apalagi permintaan tiga terpidana mati untuk diadakan prosesi pemakaman menurut adat Flores serta misa requem dipimpin Uskup Manado, ditolak. Saya tidak mau bertanggung jawab, apabila di kemudian hari timbul masalah. Saya juga tidak mau diperalat untuk melegitimasi eksekusi mati itu," tandas Roy.
Hal senada dikatakan Romo Jimmy yang dihubungi sekitar pukul 00.00 Wita, semalam. Saat dikontak, Romo mengabarkan bahwa kota Palu sedang turun hujan; sesuatu yang tidak biasanya terjadi. "Ini pertanda alam menangisi eksekusi Tibo, cs," ujar Romo Jimmy via ponselnya. Dia mengatakan bahwa pihaknya sudah menjalankan tugas sebagai pendamping rohani para terpidana mati selama mereka dalam masa isolasi. Namun dia menolak mendampingi ke lokasi eksekusi karena permintaan para terpidana mati ditolak.

"Itu hak yang hakiki dari tiga terpidana mati. Mereka minta disemayamkan di Gereja Santa Maria dan misa dipimpin Uskup Manado, Mgr. Yoseph Suwatan, tapi pihak eksekutor menolak. Kalau begitu, biar mereka yang urus semua, saya tidak mau terjebak dalam permainan kotor. Mereka (ketiga terpidana mati, Red) itu orang kecil, tapi punya hak yang tidak boleh disepelekan," kata Romo Jimmy.

Romo Jimmy kagum dengan ketegaran ketiga terpidana mati menghadapi regu tembak. Apalagi, ketiganya menyampaikan pesan rohani yang sangat bagus. Semua warga negara diingatkan untuk berdoa dalam perdamaian.

Jangan sentuh saya
Sementara itu, pada Kamis (21/9) pagi, suasana LP Petobo nampak sepi. Jalan Dewi Sartika, jalan utama di depan LP hanya dikerumuni puluhan polisi dan wartawan. Sepanjang pagar bagian depan, dipasangi garis polisi police line. Tak ada lagi kendaraan umum yang lewat di jalan itu. Polisi menjaga ketat. Dan, pagi kemarin ketiga terpidana mati itu ditemui Romo Jimmy Tumbelaka, Pr, pengacara, Roy Rening, istri Tibo, Ny. Nurmin Kasiala dan putra Tibo, Robertus Tibo. Setelah mereka keluar, suasana di depan Lapas semakin sepi. Hanya puluhan anggota polisi yang tetap berjaga-jaga.

Setelah permintaan agar jenazahnya disemayamkan di Gereja Sta. Maria Palu ditolak, Fabianus Tibo menyampaikan permintaan "terbaru". "Setelah saya ditembak mati, jangan seorang pun jaksa yang menyentuh jenazah saya. Roh saya masih tetap hidup. Tolong permintaan ini benar-benar disampaikan kepada para jaksa yang terlibat dalam eksekusi nanti," kata Tibo seperti dikutip pengacaranya, Roy Rening saat dihubungi Pos Kupang ke Palu, semalam.

Menurut Roy, para jaksa yang mengadili ketiga terpidana mati itu dinilai Tibo kotor. "Mereka tidak bersalah tetapi dijadikantumbal dalam kasus konflik Poso sampai masuk penjara. Karenanya Tibo meminta jangan ada jaksa yang menyentuh jenazahnya nanti. Pesan ini diulangi Tibo berkali-kali," katanya. Tibo, kata Roy, sempat marah ketika mendengar beberapa permintaannya ditolak pihak eksekutor. Misalnya, kejaksaan tetap menyediakan tiga peti jenazah lengkap dengan tiga jas. Padahal, keluarga sudah menyediakan sendiri sesuai permintaan ketiga terpidana mati.

Walau demikian, Tibo mengaku tidak dendam dengan semua orang yang menghujat dan menghinanya serta orang-orang yang bersaksi palsu di dalam persidangan. Selain Tibo, Dominggus yang terkenal temperamental, kata Roy, juga sempat marah. Soalnya, permintaan agar jenazahnya dipulangkan ke Maumere, Flores, juga ditolak eksekutor. Pihak kejaksaan justru berencana menguburkan jenazah Dominggus di Palu.

"Mengapa saya harus dikuburkan di Palu, sementara saya tidak punya keluarga di Palu. Apa alasannya? Kok, orang sudah mati masih mau dipersulit," kata Roy menirukan ucapan Dominggus. Roy menjelaskan, tidak secara langsung bertemu dengan Kajati Sulteng maupun Kajari Palu, tetapi melalui utusan kejaksaan, bernama Agus. Saat itu disampaikan bahwa beberapa permintaan tiga terpidana mati tidak dikabulkan tanpa alasan yang jelas.

"Soal eksekusi, memang itu tugas kejaksaan yang dibantu dengan aparat kepolisian, tetapi soal penguburan setelah eksekusi itu tugas dari keluarga korban. Nah, ada apa sehingga pihak eksekutor mau mencampuri terlalu jauh?" tanya Roy. Orang Flores yang wafat, katanya, ada beberapa prosesi untuk pemakaman, baik secara agama yang dianutnya, maupun secara adat. Itulah sebabnya, keluarga ngotot untuk mengurusi sendiri pemakaman ketiga terpidana mati itu, ketimbang dilakukan pihak eksekutor.

Kepolisian dan kejaksaan menolak membawa jenazah Dominggus da Silva dan Marinus Riwu ke Flores karena dikhawatirkan akan memicu terjadinya masalah lain lagi. Oleh karena itu, diputuskan jenazah Dominggus da Silva dimakamkan di Palu, sementara jenazah Fabianus Tibo dan Marinus Riwu dibawa ke kampung mereka di Beteleme, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Hanya saja, tidak ada keterangan resmi dari polisi, mengenai rute maupun kendaraan yang digunakan untuk membawa jenazah kedua terpidana mati tersebut ke Beteleme. Dari pantauan Pos Kupang, kemarin, di Bandara Mutiara Palu telah diparkir dua unit pesawat cassa milik Polri. Pada Rabu (20/9) sore, terlihat petugas polisi sedang mengeluarkan kursi bagian belakang dari pesawat tersebut. Kemungkinan kedua jenazah itu akan diterbangkan dengan pesawat tersebut ke Beteleme.

Penasehat hukum ketiga terpidana mati, Roy Rening mengatakan, negara sudah terlalu jauh mengintervensi masalah hukum dan adat. Padahal, bagi orang Flores, prosesi adat setelah seseorang meninggal dunia itu wajib dilakukan."Ini pelanggaran dan saya selain sebagai kuasa hukum ketiga terpidana, sebagai orang Flores, saya tidak bisa menerima itu," tegas Roy.

Romo Jimmy Tumbelaka, rohaniawan yang akan mendampingi ketiga terpidana mati saat eksekusi nanti, mengatakan bahwa dalam ajaran Katolik, pelaksanaan misa terakhir sebelum kematian seseorang adalah harus. Tapi negara justrumelarangnya. "Inilah yang saya bingung," kata Romo Jimmy. (gem/JBP/tb)

Matinya keadilan di Indonesia

KETUA Forum Kerjasama Pemuka Agama (FKPA) Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU), Mgr. Anton Pain Ratu, SVD menegaskan, eksekusi mati terhadap Tibo, cs menandakan matinya keadilan di Indonesia. Bahkan hukum di Indonesia pun sudah mati.

Uskup Pain Ratu menegaskan itu ketika berorasi di hadapan sekitar 6.000 massa yang menggelar aksi damai di Atambua, Kamis (21/9). Aksi damai ini melibatkan umat lintas agama. Nampak sejumlah tokoh agama Islam, Katolik dan Kristen Protestan mengikuti aksi damai ini.Ketua MUI Kabupaten Belu, Haji Muhammad Hasan nampak berada di barisan depan massa yang mengusung sejumlah spanduk. Massa bergerak dari Gereja Katedral Sta. Maria Imakulata di Atambua menuju kantor Kejari Atambua.
Uskup Pain Ratu dalam orasinya menyerukan kepada aparat penegak hukum untuk mendengarkan suara kaum kecil yang selalu menjadi korban. "Supremasi hukum di Indonesia sudah mati. Yang sekarang ada adalah supremasi uang, supremasi kedudukan dan jabatan. Saya serukan supaya tolong didengar hukum iman, bukan hukum yang diputarbalikkan manusia. Republik ini dipenuhi dengan kepalsuan," tegas Pain Ratu disambut yel-yel massa yang hadir.

Usai orasi, massa menyegel kantor Kejari Atambua. Penyegelan dilakukan wakil dari Islam, Kaliman Lamarobak, S.H, RomoYan Seran, Pr (Katolik) dan salah seorang wakil dari Kristen Protestan. Penyegelan dilakukan pukul 11.00 Wita hingga pukul 15.00 Wita sebagai simbol matinya penegakan hukum di Indonesia.

Menyaksikan penyegelan itu, Kajari Atambua, Saut Simanjuntak, S.H yang didampingi Kapolres Belu, AKBP Drs. Heb Dehen, Simanjuntak nampak terisak-isak. Sementara itu aktivitas di kita Atambua tetap berjalan normal. Meski demikian sebagian pedagang di Pasar Baru dan Pasar Lama Atambua, memilih menutup tempat jualannya.
Dari Bajawa dilaporkan, sekitar 1.500 massa dari berbagai komponen menggelar aksi damai menentang pelaksanaan eksekusi mati Tibo, cs. Aksi berlangsung sekitar pukul 11.00 Wita (Kamis 21/9) sampai pukul 17.00 Wita digelar misa untuk mendoakan Tibo, cs. Pater Markus Ture, OCD yang memimpin misa itu, dalam khotahnya meminta masyarakat mendoakan Tibo, cs agar tabah. Masyarakat, katanya, jangan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kedamaian.

Sampai semalam, warga kota Bajawa menyalakan lilin di depan rumah mereka dan di tempat umum seperti di cabang jalan raya dan jalan-jalan protokol. Kapolres Ngada, ABP Wijanarko mengatakan, pihaknya menurunkan 150 anggota Polres Ngada untuk mengamankan kota Bajawa dan sekitarnya. Dia meminta masyarakat tetap tenang dan jangan melakukan tindakan yang melanggar hukum.

Di Kupang, puluhan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Penuntut Keadilan (FMPK), Kamis (21/0) siang, menggelar aksi damai di kantor Kejati NTT. Mereka menyatakan menolak eksekusi mati Tibo cs dan menuntut diadilinya dalang kerusuhan Poso sebagaimana pengakuanTibo, cs. Sebelum ke Kejati NTT, massa berdemo di kantor Bupati Kupang, kantor DPRD NTT dan kantor Gubernur NTT. DI Kejati NTT, massa meminta aparat kejaksaan memfaksimail tuntutan mereka ke Kejagung RI di Jakarta. Usai tuntutan mereka difaks, massa membubarkan diri.

Di TTU dan Sikka
Dari Kefamenanu, Kabupaten TTU, dilaporkan, sekitar 500 massa yang tergabung dalam Forum Peduli Hak Hidup, Kebenaran dan Keadilan, menduduki kantor Kejari setempat sejak pukul 09.00 Wita-pukul 19.00 Wita, Kamis (21/9). Aksi damai ini berlangsung aman dan tertib. Massa dipimpin Ketua Dekenat TTU, Romo Aloysius Kosat, PR, Pater Vinsen Wun, SVD, Pendeta Gabriel Manek Amteme, S.Th, Pendeta Joudje Pangemanan, S.Th, Pater Marianus Kobatoyo, SVD, Romo Yoris Giri, Pr, dan beberapa pemuda lintas agama lainnya.

"Tibo, cs boleh mati. Darahnya boleh tumpah ke Bumi Pertiwi Tapi kebenaran tidak akan mati dan terus hidup. Perjuangan ini akan terus berlangsung," tegas Pater Vinsen dalam orasinya. Menjelang petang, massa diajak menyalakan lilin di halaman Kantor Kejari Kefamenanu, diiringi doa singkat dan lagu-lagu rohani. Massa membubarkan diri pukul 19.00 Wita.
Aksi massa juga berlangsung di di Maumere, Kabupaten Sikka. Dalam aksi damai yang melibatkan umat lintas agama ini dilakukan doa bersama di gedung Gelora Samador Maumere, Kamis (21/9) sore. Dia bersama dibuka oleh Vikjen Maumere, Rm. Frans Fao, Pr dihadiri sekitar 300 umat dan tokoh dari berbagai agama di Sikka. Beberapa tokoh agama yang hadir diantaranya Abdul Rasyd Wahab dari MUI, I Ketut Wijaya dari PHDI, Pdt. Ibrahim Assa, Pdt S Uli, Pdt Zet S, Rm Anton Martony, P Robert Mirsel, Hasanudin Chalig. Hadir juga Wakil Bupati Sikka, Kapolres Sikka, Kajari Sikka serta para frater dari Seminari Ledalero.
Doa bersama, juga dilakukan warga di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Mereka berdoa agar Tuhan memberi kekuatan dan ketabahan kepada Tibo, cs dan keluarga mereka. Sebelumnya, sejumlah mahasiswa Unipa dan Serikat Petani Kabupaten Sikka menggelar aksi demo menentang eksekusi mati Tibo, cs. Aksi ini berlangsung tertib dalam kawalan aparat keamanan. Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus yang ditemui pada Kamis (21/9), mengatakan Pemkab Sikka siap untuk membantu jika jenazah Dominggus da Silva dikirim ke Maumere untuk dikebumikan.

Longginus juga mengatakan sudah meminta para camat untuk menjaga agar jangan sampai terjadi mobilisasi massa ke kota Maumere. "Saya minta agar mereka bisa mengantisipasi mobilisasi massa untuk mencegah terjadi gejolak," katanya. (yon/ade/ira/mar/vel/yel)
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Next

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users