. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Tentang Syariah Islam

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

ACEH : PBB marah kpd polisi syariah ! ****

Postby ali5196 » Tue Aug 29, 2006 2:43 am

http://www.religiouswatch.com/nw0806.ht ... onger_Line

24th August
Chopping off the Hand that Feeds You
From Raw Story

The United Nations has lodged a complaint after Muslim morality police in Indonesia's tsunami-ravaged Aceh province broke into a UN diplomatic compound and peered through windows at sleeping foreign diplomats. The late-night raid, which violated international conventions on diplomatic privilege and immunity, was the latest incident involving Aceh's controversial "Sharia police," who have illegally detained women for not wearing headscarves and publicly flogged people for drinking alcohol.

The incident occurred at 11 p.m. last Thursday night when 30 men, both Sharia officers and regular city policemen, forced their way into the compound of the World Food Programme (WFP) in Banda Aceh, the provincial capital, despite protests from UN guards.

It's a violation of diplomatic rules - a clear violation, Barry Cane, a WFP spokesman said. Cane said the Sharia police, who are civil servants charged with enforcing a controversial Islamic law statute in Aceh, wandered around the compound, which contains both offices and residences for foreign UN workers. He acknowledged that the policemen peered into the bedroom windows of UN diplomats while they were sleeping.

I don't even want to speculate on their motives, Cane said, although another foreign aid worker familiar with the raid told dpa they were hoping to catch the Westerners drinking at their private bar.

The Indonesian parliament allowed Aceh to implement Sharia, or Islamic law, in 2003, despite the rest of the Muslim-majority nation being secular.

Since then, the Sharia police have become a law unto themselves, dragging women off of motorcycles and out of hotel lobbies for not wearing headscarves, making lewd sexual references, and illegally detaining them.

The group's antics have infuriated both Acehnese citizens and foreign relief agencies, which are spending billions of dollars helping Aceh recover from the 2004 Asian tsunami as well as a recently-finished 29-year separatist war.

It remains unknown why the UN or Indonesia's Foreign Ministry did not publicly acknowledge the incident, which occurred on the country's August 17 Independence Day. No one wants to make a big deal about it publicly at the moment, one UN official, speaking on background, told dpa. It's a very sensitive issue, but there was no attempt to cover it up.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Ba'asyir : Orang Islam Penolak Perda Syariat Islam Murtad

Postby Binyok » Tue Sep 26, 2006 1:07 am

Ba'asyir : Orang Islam Penolak Perda Syariat Islam Murtad



Jakarta (ANTARA News) - Pemimpin atau Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ustadz Abu Bakar Ba`asyir, mendukung sepenuhnya penerapan perda syariat Islam oleh sejumlah pemerintah daerah dan mengangggap orang Islam yang menolak perda itu adalah murtad. Ba`asyir menegaskan hal itu sebelum menyampaikan ceramah bertajuk "Indahnya Syariat Islam" pada acara Milad VIII Partai Bulan Bintang (PBB) di Jakarta, Senin.

Ba`asyir mengatakan jika yang menolak penerapan perda syariat tersebut orang "kafir" maka hal itu wajar, namun jika yang menolak justru orang Islam, maka itu keterlaluan. "Kalau orang Islam yang tidak setuju, itu murtad." katanya. Ba`asyir berpandangan, syariat Islam harus ditegakkan di Indonesia jika ingin negara ini selamat.

Oleh karena itu, kata Ba`asyir yang baru saja menikmati udara bebas pada 14 Juni, ia akan mendukung semua pihak yang memperjuangkan syariat Islam. "Karena alasan itulah saya datang ke sini," kata Ba`asyir, ketika ditanya wartawan apakah kedatangannya di Kantor DPP Partai Bulan Bintang mengisyaratkan dirinya akan masuk ke parpol yang saat ini diketuai Menhut, MS Kaban itu. Ba`asyir mengatakan akan memenuhi semua undangan partai politik maupun organisasi massa Islam yang memiliki kepedulian pada penegakan syariat Islam tanpa bermaksud bergabung menjadi anggota parpol atau ormas tersebut.



Pada bagian lain, menyinggung perkembangan konflik di Palestina dan Israel, Ba`asyir menyatakan pemerintah Indonesia sudah semestinya mengirim para mujahidin ke Palestina untuk memerangi Israel. "Israel itu musuh Allah yang harus diperangi. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia seharusnya mengirim para mujahiddin," katanya. Peringatan Milad Partai Bulan Bintang itu sendiri tidak dihadiri oleh Ketua Umum MS Kaban yang tengah berada di Surabaya. Selain Ustadz Ba`asyir, hadir dalam acara tersebut Sekjen DPP PBB, Sahar L. Hassan, para pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Abu Bakar Ba`asyir (TPABB), M Assegaf, Mahendradatta, dan Achmad Michdan.
Sementara itu, Sekjen DPP PBB, Sahar L Hassan mengatakan syariat Islam tidak perlu ditakuti karena sebagai ajaran, nilai-nilai yang ada pada Islam bersifat universal sehubungan Islam sendiri merupakan ajaran yang membawa kebaikan pada seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin).

(*) Copyright © 2006 ANTARA 3 Juli 2006 10:49 http://www.antara.co.id/print/index.php?id=37236

http://www.antara.co.id/seenws/?id=37236
User avatar
Binyok
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 789
Joined: Wed Jun 07, 2006 12:56 pm

Syari’at Islam Ditolak, DPR Malah Gelar Ruwatan

Postby Laurent » Mon Oct 16, 2006 12:42 pm

Syari’at Islam Ditolak, DPR Malah Gelar Ruwatan
Berita & Investigasi Oleh : Redaksi 14 Oct, 06 - 11:07 pm

Sudah 61 tahun Indonesia merdeka, dengan menolak Syari’at Islam di lembaga negara. Kondisi negeri ini tidak semakin baik, malah berambah ruwet. Parahnya, para pembesar negara bukannya bertobat kepada Allah, justru melakukan dosa syirik, ruwatan di gedung DPR-MPR.

ENTAH mengapa, untuk perkara yang berkenaan dengan syirik respon gerakan Islam tidak sama bersemangatnya ketika mereka menyikapi pornogafi dan pornoaksi serta aksi brutal Israel terhadap bangsa Palestina dan Lebanon.

Padahal perilaku syirik lebih berbahaya bagai virus merusak aqidah, dan merupakan kedzaliman paling besar, perbuatan yang dimurkai Allah, dan dosa yang tidak terampuni, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni segala dosa selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. ” (Qs. An-Nisa’ 48).

Apalagi, perilaku syirik yang terjadi belakangan ini, tidak hanya dilakukan oleh orang kafir saja, tetapi juga mereka yang selama ini dikenal jelas sebagai pemeluk agama Islam. Bahkan perilaku terkutuk ini dilakukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, status sosial tinggi, cendekiawan dan sebagainya.

Salah satu perilaku syirik yang kita kenal adalah ruwatan. Sepanjang orde baru, tradisi ruwatan sudah jarang dipraktekkan. Namun setelah reformasi bergulir, terutama setelah Gus Dur menjadi presiden, aktivitas syirik berupa ruwatan ini kembali marak. Bahkan Gus Dur sendiri sempat diruwat.

Tradisi Ruwatan merupakan kepercayaan sebagaian masyarakat Jawa penganut Sinkretis, berupa serangkaian upacara untuk membebaskan diri dari ancaman Bathara Kala, sosok raksasa buruk rupa pemakan manusia. Bathara Kala adalah anak dari Bathara Guru (anak para dewa). Konon, ketika Bathara Guru bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan bersama permaisurinya, Bathari Uma. Namun, mereka gagal melanjutkan percumbuannya hingga bersanggama, sehingga sperma sang Bathara Guru berceceran di laut dan kemudian menjelma menjadi Bathara Kala.

Menurut kepercayaan, makanan Bathara Kala adalah manusia yang dilahirkan dalam kondisi tertentu, yaitu mereka yang menurut perhitungan klenik akan menderita (sukerta), juga mereka yang lahir dalam keadaan tunggal (ontang-anting), kembang sepasang (kembar), sendang apit pancuran (laki, perempuan, laki), uger-uger lawang (anak dua laki-laki semua) dan sebagainya.

Biasanya, dalam menggelar acara ruwatan juga disiapkan sejumlah sesaji, antara lain berupa kain tujuh warna, beras kuning, jarum kuning, dan bunga tujuh rupa, sebagai syarat utama untuk melaksanakan ruwatan

Pemahaman irasional ini, ternyata diinternalisasi oleh para pimpinan wakil rakyat Indonesia di DPR RI. Buktinya, mereka menggelar acara ruwatan yang momentumnya dipilih saat bangsa Indonesia merayakan hari kemerdakaan. Tradisi baru di lingkungan DPR era reformasi ini setidaknya sudah terjadi sejak tahun lalu, bertepatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-60, Agustus 2005. Pimpinan DPR RI diruwat kala itu adalah Ketua DPR Agung Laksono (Partai Golkar), Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar (PKB) dan Soetardjo Soerjogoeritno (PDIP), serta Sekjen DPR Faisal Djamal. Pada acara yang berlangsung sejak pukul sepuluh malam itu, yang bertindak sebagai dalang ruwatan adalah Ki Tristuti. Keempat pejabat negara yang berstatus wakil rakyat itu naik ke atas panggung untuk diruwat, bersamaan dengan itu kemenyan pun dibakar, asapnya menebarkan aroma magis ke seluruh pelosok ruangan. Sang dalang ruwatan mendoakan mereka dalam bahasa Jawa, agar selamat dari bahaya. Acara dilanjutkan dengan menggelar tontonan wayang semalam suntuk dengan dalang Ki Manteb Soedarsono dan lakon berjudul Wiratha Parwa, mengisahkan perjuangan Pandawa menegakkan kedaulatan negara Wiratha yang sedang dilanda krisis multidimensi.

Bagaimana dengan Perayaan HUT RI ke-61 tahun ini? Ternyata DPR kembali menggelar ruwatan nusantara, yang juga diramaikan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara ruwatan yang berlangsung hari Sabtu 26 Agustus 2006, bertempat di Lapangan Bola DPR, Senayan, Jakarta. Pagelaran wayang kulit mengambil lakon Rojo Molo (raja bencana) dengan dalang Ki Entuh Susmono. Lakon Rojo Molo dipilih, menurut ketua panitia Soetardjo Soerjogoeritno, karena banyak bencana terjadi di Indonesia akibat ulah dan keserakahan manusia. Lakon ini akan memiliki klimaks berupa pertarungan Rojo Molo dengan Jagal Bilawa. Jagal Bilawa sebagai tokoh protagonis akan menang di akhir cerita. Malam itu, Ketua DPR Agung Laksono tampil bersama wakil-wakilnya seperti Zainal Maarif, Muhaimin Iskandar, dan Soetardjo Soerjogoeritno. Menurut Agung acara ruwatan diadakan dalam upaya melestarikan budaya luhur bangsa, di tengah serbuan budaya asing.

Acara syirik ini berlangsung sepi, undangan pun banyak yang tidak datang. Pertanda, masih banyak rakyat yang waras, dan yang tidak waras adalah wakil rakyat.


Ruwatan di mana-mana

Bukan hanya para wakil rakyat yang memaksa ruwatan tampil menasional, tetapi juga para tokoh politik dan pendidikan. Pada tanggal 18 Agustus 2000, Jum’at malam, di Universitas Gajah Mada tepatnya di Balairung UGM dilakukan ruwatan bangsa, yang dihadiri oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor UGM Ichlasul Amal, dengan tontonan wayang kulit berlakon Murwokolo dan Sesaji Rojo Suryo oleh Dalang Ki Timbul Hadiprayitno.

KRH Darmodipuro, ahli perhitungan Jawa dan menjabat Kepala Museum Radya Pustaka, Solo, pada 13 Januari 2006 meruwat Presiden SBY secara in absentia. Alasannya, berbagai bencana yang terjadi di Tanah Air adalah karena aura buruk bawaan lahir sang presiden. Ruwatan berlangsung di gedung belakang museum tersebut, Jumat siang.

Menurut Darmo, SBY lahir pada Jum’at Kliwon 9 September 1949, masuk dalam wuku Bala. Wuku adalah semacam zodiak dimulai hari Minggu dan berakhir Sabtu. Wuku Bala memiliki sejumlah watak buruk yang berpengaruh pada kepribadian orang yang dilahirkan dalam pengaruh wuku tersebut. Sehingga, diperlukan medium untuk menghilangkannya yaitu melalui ruwatan.

Sejumlah wartawan di Jawa Tengah tidak mau ketinggalan menasionalkan tradisi syirik ruwatan. Pada hari Sabtu 7 Februari 2004 mereka yang tergabung dalam Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng menggelar upacara ruwatan pemilu di halaman Hotel Santika, jalan Ahmad Yani, Semarang, untuk menghilangkan sukerto atau penghalang Pemilu 2004. Acara ruwatan itu dimulai sekitar pukul 09.30 WIB, dihadiri oleh Wakil Gubernur Jateng Ali Mufid, Ketua Panwaslu Jateng Nur Hidayat Sardini, dan anggota KPU Jateng Ari Pradanawati.

Selain wartawan, para seniman juga tidak mau ketinggalan. Contohnya, terjadi di Semarang. Mereka menggelar ruwatan bumi sebagai bentuk solidaritas atas bencana gempa dan tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara. Ruwatan digelar di Taman KB, Jalan Menteri Supeno, Semarang, hari Rabu tanggal 29 Desember 2004.

Konstituen parpol Islam ternyata tidak anti ruwatan. Contohnya, acara tahlilan dan ruwatan nasional yang diserentakkan dengan Deklarasi Posko Relawan untuk Korban Gempa dan Tsunami, pernah digelar di Kantor DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa, partai Islam yang menjadi kendaraan politik komunitas NU), jalan Kalibata Timur I nomor 12, Jakarta Selatan. Peristiwa yang terjadi Sabtu malam tanggal 1 Januari 2005, dihadiri anggota DPR-RI dari FKB, yakni Cecep Syarifuddin, Syaifullah Ma’shum dan Chairul Saleh Rasyid.

Tradisi syirik ruwatan juga dikemas sebagai bagian dari pariwisata dan dibiayai pemerintah. Peristiwa ini terjadi di Bojonegoro hari Minggu tanggal 5 Februari 2006. Ketika Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro menyelenggarakan ruwatan massal, banyak masyarakat yang mendaftarkan diri untuk menjadi peserta ruwatan. Mereka mengikuti ruwatan, karena ingin membersihkan diri dari kesialan dalam mengarungi hidupnya. Selain itu, menurut adat Jawa, ada beberapa orang yang dilahirkan ke dunia ini hanya membawa sengkolo (kesialan). Jika tidak diruwat, konon hidupnya akan selalu sengsara dan akan jadi santapan Betarakala. Acara ruwatan massal ini disaksikan para pejabat Pemkab Bojonegoro.

Acara ruwatan massal di Bojonegoro ini berlangsung setiap tahun, dan setiap tahun pesertanya selalu bertambah. Bahkan, tahun 2006 ini peserta ruwatan massal tidak hanya berasal dari Bojonegoro saja, melainkan ada yang datang dari Tuban, Lamongan, Surabaya dan Semarang, Jawa Tengah.


Anti Syariat

Salah satu Wakil Ketua DPR RI adalah Soetardjo Soerjogoeritno yang biasa dipanggil dengan sapaan mbah Tardjo. Disapa mbah karena memang usianya sudah tua. Meski tua, sayangnya belum juga mendapat hidayah. Dialah yang menjadi ketua panitia acara syirik ruwatan di DPR tahun 2005 dan 2006.

Kita tentu tidak lupa dengan sosok tua mbah Tardjo ini. Ketika 56 anggota DPR RI dari Fraksi PDS (beberapa diantaranya dari Fraksi PDIP) memprotes eksistensi perda bernuansa syariat Islam, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno setelah menerima mereka langsung menyurati presiden tanpa melalui mekanisme rapat pimpinan atau Badan Musyawarah DPR, dan rapat paripurna DPR, serta tidak mengindahkan ketentuan dalam UU No 22/2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD. Soetardjo juga mengabaikan Tata Tertib DPR. Padahal, pimpinan DPR hanyalah juru bicara bagi lembaga tersebut.

Dari sini kita melihat betapa bersemangatnya mbah Tardjo menolak syariat Islam meski sekecil apapun juga. Sampai-sampai melanggar aturan pun dilakoninya. Padahal, sesuai dengan namanya, syariat Islam adalah untuk umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Fakta sejarah telah membuktikan, bahwa syariat Islam sudah lama eksis di kawasan nusantara ini jauh sebelum terbentuknya NKRI.

Aneh, sikap anti Syari’at Islam terus dipelihara, sementara pemerintah terutama DPR mengusung dan menjajakan ruwatan, tradisi irasional dan syirik. Ini jelas, prilaku dan carab pandang kampungan. Karena, ruwatan adalah urusan orang sekampung, sedangkan Syari’at Islam adalah urusan orang se Indonesia (nasional). Yang nasional ditolak tetapi yang sekampung dibesar-besarkan seolah-olah urusan nasional.

Ruwatan adalah tradisi masyarakat Jawa. Itu pun tidak seluruh orang Jawa mau menerima ruwatan sebagai bagian dari hidupnya. Artinya, kedudukan tradisi ruwatan hanyalah mengambil areal sedikit saja dari kawasan yang bernama bangsa Indonesia. Sebagai sebuah variabel, ruwatan adalah variabel minor bukan major. Tentu tidak masuk akal dan tidak adil bila yang sedikit dan minor ini dipaksa-paksa tampil di pentas nasional. Lebih parah lagi, ruwatan merupakan tradisi primitif, dan musyrik, yang tujuannya mencari perlindungan kepada selain Allah SWT. Jelas, berbahaya bagi kemurnian tauhid. Apalagi percaya bahwa kebaikan dan keburukan disebabkan Bathara Kala, sadar atau tidak, berarti menganggap ada Ilah selain Allah, ada pencipta atau kekuatan lain sehingga peristiwa yang terjadi dikait-kaitkan dengan selain-Nya.

Allah SWT berfirman: “Siapakah yang memperkenankan do’a orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya. ” (Qs. An-Naml:62).

Hanya Allah yang dapat memberi manfaat dan mudharat kepada semua mekhluk-Nya. Meyakini ada kekuatan lain selain Allah yang memiliki kemampuan tersebut, itulah syirik, dosa yang tidak akan diampuni Allah SWT.

Dari berbagai contoh kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku syirik masyarakat Indonesia, khususnya dalam bentuk ruwatan, tidak saja sekedar menggeliat seperti orang yang baru bangun dari tidur, tetapi sudah berlari kencang mengejar ketertinggalannya dari berbagai kemungkaran yang sudah lebih dulu eksis. Anehnya, lembaga Islam yang berkompeten koq diam saja?

Majalah RISALAH MUJAHIDIN No. 1 Th I Ramadhan 1427 H / September 2006, hal. 7-9.

http://swaramuslim.net/HIKAYAT/more.php ... 6_0_14_0_M

Image
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5829
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby DianAZ » Mon Oct 16, 2006 7:20 pm

Nak Laurent.... Ruwetan itu bagian dari kehidupan orang Jawa.
Satu hal yang pasti, Ruwetan dilakukan bagi mereka yang percaya saja, tidak dipaksakan kepada orang lain. Syariat Islam diharuskan untuk semua orang yang percaya dan yang tidak percaya Islam.

Jadi anda tidak perlu kuatir, mereka tidak akan memaksa anda untuk terlibat dalam ruwetan!!! :partyman: :drinkers: :partyman:
DianAZ
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 388
Joined: Wed Mar 01, 2006 4:05 pm

Postby Hand15 » Mon Oct 16, 2006 11:09 pm

Itu kan tradisi... emang nggak boleh...???? aneh >_>

Ruwatan kan cuma di Jawa(emang udah budayanya kok).. emang ruwatan pernah digelar di luar jawa??
Hand15
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 382
Joined: Wed Oct 05, 2005 2:40 am

Postby ali5196 » Tue Oct 17, 2006 4:11 am

Ini berita bagus. Thanks to laurent. Udah gua abadikan di :

Resource Centre ttg Jihad di Indonesia, bgm Islam mengikis habis budaya Indonesia dan Malaysia.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 9007#79007

Ini tanda pemimpin Indonesia belum kehilangan jati diri dan tidak malu mengakui adat nenek moyang yg dianggap 'berhala' oleh Islam. Ini tanda 'murtad dalam hati.'

Betul khan, disaat kesulitan, akhirnya tradisi nenek moyang juga yg bawa kesejukan dan bukan zikir yg diimpor dari padang pasir.
Horas BEH ! Kalau perlu ditambahin tari bali dgn penari2 yg tidak berburkha.

Ayo kita yg diluar negeri mari bikin ruwetan. Pasti teman2 bule kalian pada seneng. Yg nggak demen pasti si tukang masak, bini2 kita. :lol: :lol: REVOT nek ! Ruwetan di Pizza Hut aja deh, nggak revot.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Tue Oct 17, 2006 4:13 am

BTW ada yg bisa recommend buku bagus ttg adat istiadat jawa nggak ? Ttg upacara2 kraton penting macam ruwetan, nikah, pencukuran rambut, pemandian dsb dsb ?

BTW, ini situs bagus : http://www.jawapalace.org/index.html

Apabila kita sempatkan untuk menelusuri keunikan riwayat perjalanan orang jawa hingga sampai terbentuknya suatu profil manusia jawa hingga sekarang melalui pemahaman berbagai literatur,naskah,maupun piwulang (ajaran) para leluhur di tanah jawa ini, nampaklah suatu kekhasan dari ciri manusia jawa yang sebenarnya mewarisi berbagai ajaran luhur, yaitu antara lain : gotong-royong, andap-asor, tepa-slira (saling menghargai), berbudi bawaleksana (mengedepankan budi pekerti) dll.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby Cucu Jusuf Estes » Tue Oct 17, 2006 10:58 am

ada juga lho.. tradisi PUNGUT TAHI KEBO.. lalu disimpan.. katanya bisa bawa HOKI ..
Cucu Jusuf Estes
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 313
Joined: Wed Jun 28, 2006 6:25 pm

Postby Sashimi » Tue Oct 17, 2006 11:00 am

ooh, kebo bulenya sultan solo ya?
Sashimi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3813
Joined: Sun Jul 09, 2006 8:19 am

Postby wix » Tue Oct 17, 2006 11:12 am

Semoga negara ini engga tambah RUWET aja...
wix
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 285
Joined: Sat Sep 23, 2006 1:58 pm
Location: Heaven and Earth

Postby caoks » Wed Oct 18, 2006 12:34 pm

syariat islam tidak akan pernah cocok dengan rakyat indonesia/khususnya orang Jawa, Ruwatan itu sudah ada sejak nenek moyang kita dulu, ingat budaya jawa itu lebih dulu ada & beradab dari pada budaya arab yang penuh dengan kekerasan & tukang Perkosa, Nafsu orang arab gede banget. .. dan bar-bar seperti Hewan...., mending bawa pergi aja Perda syariat islam ke tanah aslinya sana....,
caoks
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 27
Joined: Tue Oct 17, 2006 1:43 pm
Location: yogya

Islam Syariat Bisa Berubah ?

Postby freeman1 » Fri Oct 27, 2006 4:59 am

Islam Syariat Bisa Berubah

Masalah serius harus kita hadapi jika gerakan Islam syariat seperti yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Komite Penegakan Syariat Islam Sulawesi Selatan menjadi arus kuat di Indonesia. Masalahnya, Islam akan berwajah lebih rigid, doktriner, dan elitis, yang dapat melahirkan kultur santri baru yang semakin ortodoks. Ia juga sangat memungkinkan terjadinya perluasan fragmentasi yang melahirkan generasi Islam abangan yang lebih besar. Bahkan bisa muncul kecenderungan ekstrem berupa arus baru konversi kepemelukan Islam ke agama lain yang dirasa lebih memberi kenyamanan beragama daripada tetap berada dalam Islam yang serba syariat dan berwajah ideologis.

Itulah temuan Haedar Nashir dalam disertasi "Gerakan Islam Syari'at Reproduksi Salafiyah Ideologis", yang dipertahankan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 20 September lalu. Disertasi yang tampaknya mengkhawatirkan menguatnya gerakan Islam syariat itu menyebutkan bahwa yang dimaksud gerakan Islam syariat adalah gerakan Islam yang bercorak ideologis dengan memperjuangkan Islam secara formal dalam negara. Gerakan ini muncul dengan militan karena dorongan keyakinan dan paham keagamaan yang ingin mencetak ulang (reproduksi) tipe ideal zaman Nabi dan generasi salaf al-shalih (generasi terbaik sesudah Nabi) secara harfiah dan formal.

Disertasi salah satu Ketua PP Muhammadiyah itu sulit disanggah. Referensinya sangat kaya, metodologinya sangat ketat. Tujuh guru besar penguji yang terdiri dari Miftah Thoha, Sunyoto Usman, Tadjuddin Noer Effendi, Amin Abddullah, Azyumardi Azra, Ali Haidar, dan saya memberi yudisium kelulusan dengan predikat cum laude tanpa dissenting opinion. Ketika menguji pun, saya tak mempersoalkan temuan ilmiah yang telah dibingkai dengan konsep dan metodologi yang ketat itu. Saya hanya mengemukakan fakta bahwa meskipun gerakan itu dikatakan didorong oleh keyakinan, dalam kenyataan sejarah, sikap dan militansi penganut gerakan Islam syariat seperti itu bisa berubah atau diubah oleh situasi tertentu.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi`i Ma`arif, pada masa mudanya adalah orang yang mencitakan berdirinya negara Islam Indonesia. Tetapi, setelah nyantri ke Universitas Chicago dan berguru kepada Prof. Fazlur Rahman, dia berubah sangat drastis dan menjadi penentang gerakan Islam syariat.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada mulanya mengidolakan gerakan Al-Ikhwan al-Muslimin, sebuah gerakan Islam radikal yang pernah membunuh Presiden Anwar Sadat di Mesir karena dianggap kurang membela Islam, Bahkan, karena kekagumannya pada gerakan itu, ketika masih belia, Gus Dur pernah membangun organisasi "Al-Ikhwan" itu di Jombang. Tetapi, setelah belajar ke Mesir, Irak, dan bekerja di Eropa selama beberapa tahun, Gus Dur pulang ke Indonesia dengan visi pluralisme yang sangat liberal dan sangat anti-formalisasi Islam dalam kehidupan kenegaraan.

Banyak juga tokoh lain yang tadinya menggelorakan gerakan Islam syariat menjadi berubah dan sangat akomodatif terhadap yang serba "non-Islam" setelah menjadi anggota DPR atau masuk ke kabinet. Mereka bahkan menjadi sangat fasih menerangkan bahwa negara Pancasila adalah negara yang sudah final.

Perubahan seperti itu juga terjadi pada organisasi politik yang dulu jelas-jelas mengusung "semacam" gerakan Islam syariat. Minimal ada tiga parpol yang pada masa-masa awal reformasi menegaskan diri sebagai parpol Islam yang akan memperjuangkan berlakunya syariat Islam, mengubah Pasal 29 UUD 1945, bahkan ada yang menyatakan akan memperjuangkan berlakunya substansi Piagam Jakarta. Tetapi, setelah agenda itu dipertarungkan melalui mekanisme demokrasi di DPR dan MPR, sekarang parpol-parpol itu berubah diam. Mereka "sadar" dan ikut mengatakan bahwa negara Pancasila memang final sebagai pilihan yang secara demokratis tak bisa dilawan.

Maka, kalau kita memang takut akan menguatnya gerakan Islam syariat, minimal ada tiga situasi yang bisa mengubah gerakan itu. Pertama, menyekolahkan mereka ke universitas yang maju agar wawasannya lebih luas dan akomodatif seperti yang dialami Syafi`i Ma`arif, Gus Dur, dan lain-lain.

Kedua, memberi kesempatan dan tempat bagi mereka di lembaga demokrasi seperti DPR. Sebab, kalau kalah dalam pertarungan di sana, mereka takkan bisa berbuat apa-apa dan tetap harus terikat dengan segala konsekuensi keputusan yang telah diambil secara demokratis.

Ketiga, memberi jabatan penting pada tokoh mereka. Sebab, dalam kenyataannya, setelah tawar-menawar jabatan, tak sedikit di antara mereka yang tiba-tiba berubah dan mengatakan secara sama dengan yang kita inginkan bahwa untuk bangsa yang majemuk seperti Indonesia, negara Pancasila adalah pilihan final.

Menyambung tanya-jawab saya dengan promovendus pada ujian promosi doktor itu, Miftah Thoha menutup pertanyaan kepada Haedar Nashir. "Apakah Ustad Anu yang sangat keras dalam gerakan Islam syariat bisa berubah jika menjadi pejabat tinggi atau gubernur?" tanya Miftah. "Ya, ada kemungkinan berubah," jawab Haedar. Nah.

Moh. Mahfud MD
Anggota DPR-RI
[Kolom, Gatra Nomor 48 Beredar Kamis, 12 Oktober 2006]

Bisa ngga Abu Bakar Basyir (ABB) berubah kalo dijadiin Gubernur di salah satu propinsi di Indonesia? Soalnya terus terang gw bergidik ngeri saat mendengar ceramah dia pada acara Indonesia berzikir yg disiarkan tv beberapa waktu yg lalu. Karena intinya ABB bersikeras hendak menjalankan syariat di Indo ini dan mengatakan demokrasi adalah produk setan/kafir .
freeman1
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 37
Joined: Mon Oct 10, 2005 6:48 am

Postby Binyok » Sat Oct 28, 2006 2:36 am

Abu Bakar Baasyir adalah Tentara ALLAH, yang melindungi manusia dr KEKAFIRAN di muka bumi...kalo dia bisa jadi Gubernur di Bali misalnya, pastilah tidak akan ada lagi Bom Bali 3.....

beliau sangat baik koq....
User avatar
Binyok
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 789
Joined: Wed Jun 07, 2006 12:56 pm

Postby DianAZ » Mon Oct 30, 2006 8:24 pm

Apa sih yang sekarang bisa ditutup-tutupi di Indonesia (sekalipun pemerintah coba menutupinya)?? Thanks to the internet dan telephone technologeis!!

Kunci utama dari setiap "bocornya" informasi yang "rahasia" atau "tabu" bukan karena teknologi data itu sendiri, itu bukanlah yang utama.

Yang utama ialah orang Indonesia sendiri ( sebut saja mereka sebagai kafir, islam ktp, islam murtad dan sebagainya) sudah bosan melihat kemunafikan para pemimpin Islam Indonesia.

Banyak orang Indonesia (baik islam maupun non islam) telah menyadari bahwa negara dalam kondisi yang bebahaya atas ulah para "radical" islam. GNP semakin turun, keamanan dan kenyamanan hidup semakin menipis.

Saatnya memang kita sebagai orang Indonesia tidak perlu lagi malu-malu mengakui kebobrokan moral pemimpin bangsa kita (yang diatas 90% adalah islam).

Saatnya untuk bangun dari tidur!!!
Pancasila harus ditegakan kembal oleh para generasi muda Indonesia!
Satu bahasa - bahasa Indonesia , bukan bahasa ARAB
Satu budaya - budaya Indonesia, bukan budaya ARAB
Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH
DianAZ
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 388
Joined: Wed Mar 01, 2006 4:05 pm

Postby openyourmind » Mon Oct 30, 2006 11:57 pm

Duh bikin malu negara aja deh...
User avatar
openyourmind
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3051
Joined: Fri Oct 20, 2006 8:42 am

Postby Phoenix » Tue Oct 31, 2006 4:39 am

Itu si pasukan shariah, maunya orang PBB ngasih mentahane bae. Biar gue yang ngurus, kata shariah policemen.

JAdinye kan kecipratan tuh...dari PBB 1 milj USD, dateng ke rakyat cuman 1 milj. rupiah!!!

Itu para jagoan shariah bisanya ngalang-ngalangin orang aje mau bantu. Mereka nggak kena bencana, mereka nggak kelaparan..bisa-bisanya ngalangin bantuan buat mereka yg perlu!
Phoenix
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11175
Joined: Mon Feb 27, 2006 5:33 am
Location: FFI

Postby Mpok Tinem » Tue Oct 31, 2006 8:24 am

Memang Muslim baik kaya maupun miskin kelakuannya busuk persis seperti binatang !!!

Udah ditolong malah nggak tahu diri.

Mpok rasa sih emang musti dibiarin mampus apa gimana ya? Racun Islam sudah merasuk ke sendi yang paling dalam.
Mpok Tinem
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 611
Joined: Mon Feb 27, 2006 9:46 pm

Postby fans » Tue Oct 31, 2006 8:40 am

gw makin lama maakin sedih melihat bangsa indonesia semakin rendah dihadapan internasional...
fans
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 124
Joined: Sat Sep 02, 2006 3:46 am

Postby openyourmind » Tue Oct 31, 2006 10:45 am

Makin rendah dan makin miskin...kaga ada yang mau investasi disini karena takut sama islam geblek yang susah diatur ama pemerintah sendiri.
User avatar
openyourmind
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3051
Joined: Fri Oct 20, 2006 8:42 am

Postby Inter » Tue Oct 31, 2006 11:22 am

Makin hancurlah nama Indonesia di mata negara lain. Bener2 memuakkan kelakuan polisi shariah di Aceh, saya baca beritanya aja kesel, apalagi orang2 WFP di Aceh yang mengalaminya.
User avatar
Inter
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 252
Joined: Fri Nov 18, 2005 8:56 am

PreviousNext

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users