. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Pembahasan tentang buku² Islam yang tersedia di berbagai toko buku di Indonesia. Isi buku² ini membenarkan penjelasan FFIndonesia tentang wajah Islam dan ajaran Muhammad yang sebenarnya.

SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)

Postby JANGAN GITU AH » Wed Apr 28, 2010 11:25 pm

Disini saya mencoba untuk menuliskan secara lengkap isi salah satu buku sumber Islam yang penting, yaitu Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam.

Tujuannya semata-mata untuk menyediakan sumber sejarah awal bagi siapapun yang membutuhkannya secara utuh. Disisi lain, agar setiap orang muslim(ah) awam dapat lebih mengenal sejarah nabi mereka sendiri dari sumber awal dan tidak hanya melulu dari periwayatan tanpa referensi seperti kebiasaan beberapa pengajar keislaman yang hal ini diwakili ustad-ustad.

Jika Moderator kurang berkenan, dapat menghapusnya.

Bagi para pembaca setia FFI yang kebetulan membuka post ini dihimbau untuk tidak menginterupsi agar dicapai kesatuan yang baik.

Sirat Nabawiyah ini adalah buku tulisan asli dari penerbit Islam di Indonesia. Saya menuliskan apa adanya sesuai yang tertulis di sana. Barangkali ada nanti bagian tulisan arab dari ayat Al-Quran yang belum saya cantumkan karena keterbatasan dan dimohon pula bersabar. Bagian tulisan arabnya akan menyusul kemudian. (editing)

Bagi rekan-rekan kafir yang berniat mengubahnya dalam format Pdf dipersilahkan.

Diharapkan setelah semuanya rampung, maka sumber Islam awal ini sudah dimiliki oleh situs tercinta ini.

Salam untuk semua pembaca yang budiman

Image
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri May 21, 2010 7:52 pm, edited 1 time in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Wed Apr 28, 2010 11:28 pm

DAFTAR ISI

BAB 1 NASAB SUCI: DARI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM HINGGA ADAM ALAHIS-SALAM
Nasab Muhammad Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam

BAB 2 SILSILAH NASAB ANAK-ANAK NABI ISMAIL ALAIHIS-SALAM
Anak-anak Nabi Ismail Alaihi-Salam
Umur Nabi ismail Alaihis-Salam
Hadits Wasiat Berbuat Baik kepada Orang-orang Mesir
Asal-usul Orang-orang Arab
Anak-anak Adnan
Nasab Orang-orang Anshar
Qunush bin Ma'ad
Lakhm Adi

BAB 3 PENYEBAB KELUARNYA AMR BIN AMIR DARI YAMAN DAN KISAH TENTANG BENDUNGAN MA'RIB

Akan diisi setelah setiap bagian pasal-pasal diselesaikan.
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu Apr 29, 2010 1:59 am, edited 1 time in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Wed Apr 28, 2010 11:56 pm

halaman 1
BAB 1


NASAB SUCI: DARI MUHAMMAD
SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM HINGGA ADAM ALAHIS-SALAM


Nasab Muhammad Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam


Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam berkata, "Inilah sirah (biografi) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Nama asli Abdul Muththalib ialah Syaibah bin Hisyam. Nama asli Hisyam ialah Amr bin Abdu Manaf. Nama asli Abdu Manaf ialah Al-Mughirah bin Qushai. Nama asli Qushai ialah Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah. Nama asli Mudrikah ialah Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Ud.

Ada yang mengatakan udad ialah anak Murqwwim bin Nahur bin Tirah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim Khalilullah (kekasih Allah) bin Tarih yang tidak lain adalah Azar bin Nahur bin Saruqh bin Ra'u bin Falikh bin Aibar bin Syalikh bin Irfakhsyad bin Sarn bin Nuh Lamk bin Mattusyalakh bin Akhnukh yang tidak lain adalah idris menurut pendapat para ulama, dan Allah yang lebih tahu yang sebenarnya. Idris adalah manusia pertama yang mendapatkan nubuwwah (kenabian), dan menulis dengan pena. Beliau anak Yard bin Mahlil bin Qainan bin Yanis bin Syis bin Adam."

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam berkata bahwa Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata dari Muhammad bin ishaq Al-Muththalibi yang menyebutkan silsilah nasab Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga Adam Alaihis-Salam, pembahasan tentang nabi idris, dan lain sebagainya seperti yang saya sebutkan di atas.

Ibnu Hisyam berkata bahwa Khalid bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi berkata dari Syaliban bin Zuhair bin Syaqiq bin Tsurm dari Qatadah bin Di'amah yang berkata bahwa ismail bin ibrahim Khalilurrahman (kekasih Allah) bin Tarih yang tidak lain adalah Azar bin Nahur bin Asraqh bin Arghu bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamk bin Mattusyalakh bin Akhnukh bin Yarid bin Mahlail bin Qayin bin Anus bin Syis bin Adam Alaihis-Salam.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
halaman 2
Ibnu Hisyam berkata, "Insya Allah, saya awali buku ini dengan menyebutkan Islamil bin Ibrahim, anak-anak Nabi Islmail yang melahirkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan cucu-cucu mereka. Pembahasan dimulai dari nabi Ismail hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang sirah (biografi) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tidak menyebutkan sebagian pembahasa yang dikemukakan beliau, atau Al-Qur'an tidak menurunkannya, tidak mempunyai konsideran dengan pembahasan ini, tidak menjadi tafsir bagi permasalahan ini, dan tidak menjadi saksi penguat baginya karena ia dikemukakan dengan amat ringkas. Syair-syair yang ia sebutkan-menurut pengetahuanku-tidak dikenal ulama, sebagiannya tidak pantas dibahas, sebagian syair tersebut malah berisikan buruk sangka kepada manusia, dan Al-Bakkai sendiri tidak mengakui meriwayatkannya. Saya hanya mengemukakan, insya Allah riwayat Ibnu Ishaq yang lain yang ia akui sebagai hasil riwayatnya, dan ia mengetahuinya."
---ooO00---


disalin dari hal 1-2
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu Apr 29, 2010 2:10 am, edited 2 times in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Thu Apr 29, 2010 12:57 am

Halaman 3....

BAB 2


SILSILAH NASAB ANAK-ANAK NABI ISMAIL ALAIHIS-SALAM


Anak-anak Nabi Ismail Alaihi-Salam

Ibnu Hisyam berkata bahwa Ziyad bin Abdullah bin Al-Bakkai berkata kepada kami dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththlibi yang berkata, "Ismail bin Ibrahim mempunyai dua belas anak; Nabit yang merupakan anak sulungnya, Qaidzar, Adzbal, Mabsya, Masma'a. Masyi, Damma, Adzar, Thaima, Yathur, Nabas, dan Qaidzuma, Ibu mereka ialah Ra'lah binti Mudzadz bin Amr Al-Jurhumi."

Ibnu Hisyam berkata,"Ada yang mengatakan Midzadz dan bukannya Mudzadz. Jurhum adalah anak Qahthan, dan Qahthan adalah nenek moyang seluruh orang-orang Yaman, dan semua nasab mereka kembali kepadanya. Qahthan adalah anak Abir bin Syalikh bin Irfakhsyad bin Sam bin Nuh."

Ibny Ishaq berkata,"Jurhum adalah anak Yaqthan bin Aibar bin Syalikh. Yaqthan tersebut ialah Jurhum bin Aibar bin Syalikh."

Umur Nabi ismail Alaihis-Salam

Ibnu Ishaq berkata, "Seperti disebutkan para ulama, bahwa umur Nabi ismail Alahis-Salam ialah seratus tiga puluh tahun. Beliau meninggal dunia dalam usia seratus tiga puluh tahun dan dikebumikan di Hajar Aswad bersama ibunya, Hajar. Semoga Allah merahmati mereka."

Ibnu Hisyam berkata, "Orang-orang Arab mengatakan Hajar dan Ajar. Mereka mengganti haruf ha' dengan alif, sebagaimana mereka mengatakan haraaqul ma'i dan araaqul ma'i. Hajar berasal dari Mesir."

Hadits Wasiat Berbuat Baik kepada Orang-orang Mesir

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Wahb berkata kepada kami dari Abdullah bin Luhai'ah dari Umar mantan budak Ghufrah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    "Allah, dan Allah terhadap orang-orang kafir dzimmi, yaitu orang-orang di negeri yang banyak pohonnya, yang berkulit hitam (negro), dan berambut keriting, karena sesungguhnya mereka mempunyai nasab dan kekerabatan."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Halaman 4.....


Amr bin Umar, mantan budak Ghufrah berkata,"Tentang nasab mereka, sesungguhnya ibu ismail Alaihis-Salam berasal dari mereka. Dan tentang kekerabatan mereka, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil istri dari salah seorang dari mereka (Mariah Al-Qibthiyah)."

Ibnu Luhai'ah berkata, "Ibu Nabi Ismail, Hajar adalah wanita Arab. Ia berasal dari desa di dekat Al-Farama di dekat Mesir. Sedang ibu Ibrahim, wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berasal dari Fahn di distrik Anshita."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku bahwa Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik Al-Anshari kemudian As-Sulami berkata kepadanya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    "Jika kalian berhasil menaklukkan Mesir, maka wasiatkan hal-hal yang baik kepada penduduknya, karena mereka mampunyai tanggungan, dan kekerabatan."
Ibnu Ishaq berkata bahwa aku pernah bertanya kepada Muhammad bin Muslim Az-Zuhri, "Apa yang dimaksud dengan kekerabatan yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mereka pada hadits tersebut?" Muhammad bin Muslim Az-zuhri menjawab,"Ibu Nabi Ismail, Hajar berasal dari mereka."

Asal-usul Orang-orang Arab
Ibnu Hisyam berkata,"Seluruh orang-orang Arab berasal dari anak-anak ismail dan Qahthan. Salah seorang dari Yaman berkata,'Qahthan adalah anak Ismail, dan Ismail adalah bapak seluruh orang-orang Arab'."

Ibnu ishaq berkata,"Ad adalah anak Ush bin Iram bin Sam bin Nuh. Tsamud dan Judais adalah anak Abir bin Iram bin Sam bin Nuh. Tasm, Imlaq, Umaim adalah anak-anak Lawadz bin Sam bin Nuh. Mereka semua adalah orang-orang Arab."

Nabit bin Ismail mempunyai anak yang bernama Yasyjub bin Nabit, kemudian Yasyjub bin Nabit mempunyai anak yang bernama Ya'rub bin Yasyjub, kemudian Ya'rub bin Yasyjub mempunyai anak yang bernama Tirah bin Ya'rub, kemudian Tirah...
======================================================================================
Halaman 5...

bin Ya'rub mempunyai anak yang bernama Nahur bin Tirah, Kemudian Nahur bin Tirah mempunyai anak yang bernama Muqawwim bin Nahur, kemudian Muqawwim bin Nahur mempunyai anak yang bernama Adad bin Muqawwim, kemudian Adad bin Muqawim mempunyai anak yang bernama Adnan bin Adad."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan, bahwa Adnan adalah anak Ud."

Anak-anak Adnan
Ibnu Ishaq berkata,"Dari Adnan, anak-anak Ismail bin Ibrahim terpencar-pencar menjadi berbagai kabilah. Adnan mempunyai dua anak laki-laki, yaitu Ma'ad bin Adnan, dan Akka bin Adnan."

Ibnu Hisyam berkata,"Akka menetap di negeri Yaman, karena ia menikah dengan wanita orang-orang Asy'ariyyun. Ia menetap di sana. Dengan demikian, negeri dan bahasa menjadi satu rumpun. Orang-orang Asy'ariyyun adalah anak-anak Asy'ar bin Nabt bin Udad bin Zaid bin Humaisa' bin Amir bin Arib bin Yasyjub bin Zaid bin Kahlan bin Saba' bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan. Ada yang mengatakan, bahwa Asy'ar adalah Nabt bin Udad. Ada juga yang mengatakan Asy'ar adalah anak Malik, adalah Madzhaj bin Udad bin Zaid bin Jumaisa'. Ada lagi yang mengatakan Asy'ar adalah anak Saba' bin Yasyjub."

Abu Mahraj khalaf Al-Ahmar, dan Abu Ubaidah La'abbas bin Mirdas, salah seorang dari Bani Sulaim bin Mansur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan bin Mudzar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan, pernah membacakan syair kepadaku. Dalam syairnya, keduanya menyanjung Akka,

    Akka bin Adnan yang bergelar Ghassan
    Hingga mereka benar-benar terusir daripadanya

Syair di atas adalah penggalan dari syair-syairnya.

Ghassan adalah air di bendungan Ma'arib di Yemen. Tadinya Ghassan milik anak Mazin bin Al-Asd bin al-Ghauts, kemudian mereka diberi nama dengan nama air tersebut. Ada yang mengatakan Ghassan adalah air di Al-Musyallal di dekat Al-Juhfah, dan orang-orang yang minum daripadanya, kemudian memberikan nama tersebut kepada kabilah-kabilah dari Bani Mazin bin Al-Asd bin Al-Ghauts bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba' bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan.

Nasab Orang-orang Anshar
Hasan bin Tsabit Al-Anshari berkata dalam syairnya-dan orang-orang Anshar adalah anak-anak Al-Aus dan Al-Khazraj. keduanya anak Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir bin Haritsah bin Umru'u Al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asdi bin Al-Ghautsu.
=======================================================================================
Halaman 6...

    Jika engkau bertanya, sesungguhnya kami adalah orang-orang mulia Al-Asd adalah nasab kami, dan Ghassan adalah air kami
Syair di atas adalah salah satu syair panjang Hasan bin Tsabit.

Salah seorang dari Yaman dan Akka yang menetap di Khurasan, "Akka adalah anak-anak Adnan bin Abdullah Al-Asd bin Al-Ghauts." Ada pula yang mengatakan Udtsan adalah anak Ad-Daits bin Abdullah bin Al-Asd bin Al-Ghauts."

Ibnu Ishaq berkata,"Ma'ad bin Adnan mempunyai empat anak: Nizar bin Ma'ad, Qudha'ah bin Ma'ad-Qudha'ah adalah Bakr Ma'ad-, Qunush bin Ma'ad, dan Iyad bin Ma'ad. Adapun Qudha'ah, ia pergi ke Yaman ke rumah Himyar bin Saba'. Nama asli Saba' adalah Abdu Syams. Ia dinamakan Saba', karena ia orang Arab pertama yang mengumpulkan kabilah-kabilah Yaman. Ia anak Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan."

Ibnu Hisyam berkata bahwa orang-orang Yaman, dan Qudha'ah-Qudha'ah ialah anak Malik bin Himyar-, dan Amr bin Murrah Al-Juhani-Juhani adalah anak Zaid bin Laits bin Saud bin Aslam bin Ilhaf bin Qudha'ah-berkata,
    Kami adalah anak-anak tokoh yang mulia dan terkenal
    Yaitu Qudha'ah bin Malik bin Himyar
    Itu nasab terkenal yang tidak dipungkiri siapapun
    Di bawah batu yang diukir di bawah mimbar

Qunush bin Ma'ad
Ibnu Hisyam berkata,"Adapun Qunush, maka sisa-sisa mereka meninggal dunia menurut penuturan ahli nasab Ma'ad, termasuk di dalamnya An-Nu'man bin Al-Mundzir, raja Al-Hirah."

Nasab An-Nu'man bin Al-Mundzir
Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Muslim bin Abdullah bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku bahwa An-Nu'man bin Al-Mundzir adalah anak Qunush bin Ma'ad.

Ibnu Hisyam berkata,"Ada yang mengatakan Qanash, dan bukan Qunush."

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas berkata kepadaku dari salah seorang tua kaum Anshar dari Bani Zariq yang berkata bahwa ketika Umar bin Khathtahb Radhiyallahu Anhu diberi pedang An-Nu'man bin Al-Mundzir, ia memanggil Jubair bin Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushai-Jubair adalah orang yang paling ahli tentang nasab orang-orang Quraisy dan orang-orang Arab secara umum. Sebelumnya, Umar bin Khaththab pernah berkata,"Aku mengambil nasab dari Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, karena Abu Bakar adalah orang Arab yang paling jago tentang nasab." Umar bin Khaththab memberikan...
======================================================================================
Halaman 7

pedang tersebut kepada Jubair kemudian bertanya kepadanya,"Hai Jubair, An-Nu'man bin Al-Mundzir berasal dari mana?" Jubair berkata,"Ia berasal dari tulang-belulang Qunush bin Ma'ad."

Ibnu Ishaq berkata,"Adapun seluruh orang-orang Arab, maka ada yang menyatakan bahwa mereka adalah anak keturunan Lakhm, anak Rabi'ah bin Nashr." Hanya Allah yang Maha Mengetahui, sebenarnya ia berasal dari mana !

Lakhm Adi
Ibnu Hisyam berkata,"Lakhm adalah anak Adi bin Al-Harts bin Murrah bin Udad bin Zaid bin Humaisa' bin Amr bin Arib bin Yasyjub bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Lakhm adalah anak Adi bin Amr bin Saba'. Ada juga yang mengatakan Lakhm ialah Rabi'ah bin Nashr bin Abu Haritsah bin Amr bin Amir. Ia tertinggal di Yaman ketika Amr bin Amir meninggalkan Yaman."


---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu Apr 29, 2010 2:18 am, edited 2 times in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Thu Apr 29, 2010 1:46 am

Halaman 8...

BAB 3


PENYEBAB KELUARNYA AMR BIN AMIR DARI YAMAN DAN KISAH TENTANG BENDUNGAN MA'RIB


Penyebab keluarnya Amr bin Amir dari Yaman seperti dikatakan Abu Zaid Al-Anshari kepadaku, bahwa ia melihat tikus besar melubangi Bendungan Ma'rib. Bendungan tersebut adalah tempat penampungan air, dan mereka bebas mengalirkannya ke sawah ladang mereka. Amr bin Amir berkesimpulan bahwa bendungan tidak bisa dibiarkan seperti itu. Oleh karena itu, ia berniat angkat kaki dari Yaman. Namun kaumnya membuat jebakan jahat untuknya. Mereka memerintahkan anak bungsunya; jika ia dikasari ayahnya dan ditampar, ia harus membalasnya dengan menamparnya. Anak bungsu Amr bin Amir mengerjakan perintah kaumnya kepadanya, kemudian Amr bin Amir berkata, "Aku tidak akan bertempat tinggal di daerah dimana di daerah tersebut aku ditampar oleh anak bungsuku." Setelah itu, Amr bin Amir menawarkan asset-asset yang dimilikinya. Salah seorang dari pemuka-pemuka Yaman berkata,"Manfaatkan kemarahan Amr bin Amir!" Kemudian mereka membeli barang-barang Amr bin Amir. Sesudah itu, Amr bin Amir pergi dari Yaman dengan anaknya, dan cucunya. Orang-orang Azd berkata,"Kami tidak akan berpisah dengan Amr bin Amir." Mereka pun menjual barang-barang miliknya, lalu ikut keluar bersama Amr bin Amir hingga berhenti di daerah-daerah Akka dengan maksud pergi ke daerah-daerah lain. Namun mereka diperangi Akka, dan kemenangan silih berganti diraih kedua belah pihak. Tentang peperangan tersebut, Abbas bin Mirdas menulis syair-syairnya yang telah kami sebutkan sebelumnya. Setelah itu, mereka mereka dari Akka dan pergi berpencar-pencar menuju daerah yang berbeda. Keluarga Jufnah bin Amr bin Amir berhenti di Syam, Al-Aus dan Al-Khazraj berhenti di Yatsrib. Khuza'ah berhenti di Marra. Azd As-Sarah berhenti di Sarah. Azd Oman berhenti di Oman. Setelah itu, Allah Ta'ala mengirimkan banjir ke bendungan tersebut dan menghancurkannya. Tentang peristiwa tersebut, Allah Ta'ala menurunkan ayat-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,
=========================================================================================
Halaman 9
    "Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah kalian dari rezki yang (dianu-gerahkan) Tuhan kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Nya. (Negeri kalian) adalah negeri yang baik dan (Tuhan kalian) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.' Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar." (Saba': 15-16)

Yang dimaksud dengan kata al-arimi pada ayat di atas ialah banjir, dan kata tunggalnya ialah al-arimah seperti dikatakan kepadaku oleh Abu Ubaidah.

Al-A'sya yaitu A'sya Bani Qais bin Tsa'labah bin Ukabah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bin Wail bin Qasith binHinbi bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar bin Ma'ad berkata,
Padahal yang demikian terdapat suri-teladan bagi orang-orang yang mau mencontoh:
    Dan Ma'rib telah hancur binasa oleh banjir
    Marmer telah dibangun Himyar untuk mereka
    Jika angin telah datang, ia tidak menyisakan apa-apa
    Tanaman dan buah anggur diari dengan penuh
    Oleh air mereka ketika air tersebut dibagi
    Kemudian mereka menjadi orang-orang yang tidak mamapu memberi
    air kepada bayi yang hendak disapih

Syair-syair di atas adalah bagian dari syair-syair A'sya.

Ibnu Hisyam berkata,"Ada yang mengatakan Afsha dan bukan A'sya. Ia anak Du'mi bin Jadilah."

Nama asli A'sya adalah Maimn bin Qairs bin Jandal bin Syarahil bin Auf bin Sa'ad bin Dzubai'ah bin Qais bin Tsa'labah.

Umaiyyah bin Abu Ash-Shalt Ats-Tsaqafi-nama asli Tsaqif adalah Qasiyyu bin Munabbih bin Bakr bin Hawazin bin Mansur bin Ikrimah bin Khasafah bin Qais bin Ailand bin Mudzar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan-berkata,
    Dari Saba' yang datang ke Ma'rib
    Ketika mereka membangun bendungan di bawah banjir
Syair-syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Umaiyyah bin Abu Ash-Shalt. Ada yang mengatakan syair-syair di atas milik An-Nabighah...
============================================================================================
Halaman 10

...Al-Ja'di. Nama lengkap Qais ialah Qais bin Abdullah, salah seorang dari Bani Ja'dah bin Ka'ab bin Rabi'ah bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin.

Pembahasan masalah ini sangat panjang, dan saya hanya menyebutkannya secara ringkas.

Mimpi Rabi'ah bin Nashr
Ibnu ishaq berkata, "Rabi'ah bin Nashr adalah raja Yaman di antara sekian banyak raja-raja At-Tababa'ah. Dalam tidurnya, ia mimpi melihat hal yang menakutkan. Ia panggil semua dukun, penyihir, dan ahli nujum. Setelah mereka berkumpul, ia berkata kepada mereka, 'Aku mimpi melihat hal yang menakutkan. Oleh karena itu, jelaskan kepadaku arti mimpiku!' Mereka berkata kepada Rabi'ah bin Nashr, 'Coba paduka ceritakan mimpi paduka kepada kami, niscaya kami jelaskan artinya kepada paduka!' Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Jika aku ceritakan mimpiku kepada kalian, aku tidak puas dengan penjelasan kalian, karena sesungguhnya arti mimpiku tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mengetahuinya sebelum aku ceritakan mimpiku kepadanya.' Salah seorang dari mereka berkata,'Jika itu yang diinginkan paduka, maka suruhlah seseorang untuk memanggil Sathih dan Syiqq, karena tidak ada orang yang lebih ahli daripada keduanya, dan keduanya pasti bisa menjelaskan apa yang paduka tanyakan'."

Nasab Syiqq dan Sathih
Nama asli Sathih adalah Rabi' bin Rabi'ah bin Mas'ud bin Mazin bin Dzi'b bin Adi bin Mazin bin Gassan.
Sedang nasab Syiqq, ia anak Sha'b bin Yasykur bin Ruhm bin Afrak bin Qairs bin Abqar bin Anmar bin Nizar. Anmar adalah Abu Bajilah dan Khats'am.

Nasab Bajilah
Ibnu Hisyam berkata bahwa orang-orang Yaman berkata, "Bajilah adalah anak Anmar bin Iras bin Lihyan bin Amr bin Al-Ghauts bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Iras adalah anak Amr bin Lihyan bin Al-Ghauts. Bajilah dan Khats'am bertempat tinggal di Yaman."

Penjelasan Arti Mimpi Rabi'ah bin Nashr oleh Sathih
Ibnu Ishaq berkata,"Kemudian Rabi'ah bin Nashr mengutus seseorang menemui Sathih dan Syiqq. Sathih datang kepada Rabi'ah bin Nashr lebih cepat daripada Syiqq. Rabi'ah bin Nashr berkata kepada Sathih,'Sesungguhnya aku mimpi melihat hal yang menakutkan, maka coba tebak mimpiku...
======================================================================================
Halaman 11

...tersebut, sebab jika tebakanmu tepat, maka tepat pula penjelasanmu tentang artinya.' Sathih berkata, 'Ya, engkau bermimpi melihat benda hitam yang keluar dari tempat yang gelap, kemudian benda tersebut jatuh ke tanah datar, kemudian semua makhluk hidup memakannya.'

Rabi'ah bin Nashr berkata, "Tebakanmu tidak salah wahai Sathih. Sekarang jelaskan arti mimpi tersebut?"
Sathih berkata, 'Aku bersumpah dengan malam dan siang, bahwa orang-orang Habsy pasti menginjak negeri kalian, dan mereka pasti menguasai daerah Abyan hingga Juras.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Demi ayahmu wahai Sathih, sesungguhnya hal ini sungguh menyakitkan kita semua. Kapan itu terjadi? Apakah pada zamanku, atau zaman sesudahku?"
Sathih berkata, "Tidak pada zamanmu, namun sesudah zamanmu. Enam puluh atau tujuh puluh tahun yang akan datang.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah daerah-daerah tersebut terus-menerus berada dalam kekuasaan mereka atau tidak selama-lamanya?'
Sathih berkata,'Tidak selama-lamanya. Daerah-daerah tersebut berada dalam kekuasaan mereka hanya selama tujuh puluhan tahun lebih, karena setelah itu mereka dibunuh dan keluar daripadanya dengan lari terbirit-birit.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Siapakah yang membunuh dan mengusir mereka?'
Sathih menjawab, "Orang tersebut adalah Iram bin Dzi yazan. ia mendatangi mereka dari arah Aden dan tidak menyisakan seorang pun di antara mereka di Yaman.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah daerah-daerah tersebut selama-lamanya berada dalam kekuasaannya, atau tidak?'
Sathih berkata, ' Tidak selama-lamanya.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Siapakah yang menghentikannya?'
Sathih berkata, 'Seorang Nabi yang suci yang mendapatkan wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Nabi tersebut berasal dari mana?'
Sathih berkata, 'Ia berasal dari salah seorang dari Bani Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr. Kekuasaan berada dalam genggaman kaumnya hingga akhir zaman.'
Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah zaman mempunyai akhir?'
Sathih berkata,'Ya, pada hari manusia generasi pertama hingga generasi terakhir dikumpulkan di dalamnya. Pada hari itu, orang-orang yang berbuat baik mendapatkan kebahagiaan, dan orang-orang jahat mendapatkan kecelakaan.'
====================================================================================================

halaman 12

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah yang engkau katakan ini benar?'
Sathih berkata, 'Ya, Demi sinar merah setelah matahari terbenam, demi malam yang gelap gulita, dan demi subuh jika telah menyingsing, sesungguhnya apa yang aku katakan kepadamu adalah benar."

Setelah itu, Syiqq datang dan berkata persis seperti yang dikatakan Sathih. Rabi'ah bin Nashr menyembunyikan ucapan Sathih untuk mengetahui apakah ucapan Syiqq sama dengan ucapan Sathih, ataukah berbeda.

Syiqq berkata, 'Ya, engkau melihat benda hitam yang keluar dari tempat gelap, kemudian benda benda hitam tersebut jatuh di padang rumput dan anak bukit, kemudian ia dimakan semua makhluk hidup'."

Ibnu Ishaq menambahkan, ""ketika Syiqq berkata seperti itu, Rabi'ah bin Nashr mengerti bahwa ucapan Syiqq sama dengan ucapan Sathih, dan bahwa ucapan keduanya betul-betul sama. Bedanya, Sathih mengatakan bahwa benda hitam tersebut jatuh di tanah datar kemudian dimakan segala makhluk hidup, sedang Syiqq berkata bahwa benda hitam tersebut jatuh di antara padang rumput dan anak bukit.

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Sedikit pun engkau tidak salah, wahai Syiqq. Sekarang, bagaimana penjelasanmu tentang arti mimpi tersebut?'

Syiqq berkata,'Aku bersumpah dengan malam dan siang, sungguh orang-orang Sudan akan singgah di negeri kalian, mereka pasti memiliki gadis-gadis remaja, dan berkuasa di atara Abyan hingga Najran.'

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Demi ayahmu wahai Syiqq, sungguh hal ini amat menyakitkan kita. Kapan itu terjadi? Apakah pada zamanku, atau zaman sesudahku?'

Syiqq berkata, 'Tidak terjadi pada zamanmu, namun terjadi sesudah zamanmu. Kemudian kalian diselamatkan dari penguasaan mereka oleh orang besar yang hebat. Orang tersebut menimpakan kehinaan kepada mereka.'

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Siapakah orang agung yang hebat tersebut?'

Syiqq berkata,'Anak muda yang tidak rendah diri. Ia keluar menemui mereka dari rumah Dzi Yazan, dan tidak menyisakan seorang pun di Yaman.'

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah kekuasaannya bertahan lama, atau tidak?'
Syiqq berkata, 'Kekuasaannya dihentikan oleh Rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan, di antara orang-orang beragama dan orang-orang mulia. Kekuasaan berada dalam genggaman kaumnya hingga Hari Pengadilan.'

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah yang dimaksud dengan Hari Pengadilang?'
==============================================================================================
Halaman 13

Syiqq berkta, 'Hari Pengadilan yaitu hari dimana para penguasa mendapatkan balasan atas perbuatannya, dan seruan dikumandangkan dari langit. Seruan tersebut didengar seluruh makhluk hidup dan yang telah meninggal dunia. Pada hari tersebut keberuntungan dan kebaikan menjadi milik orang-orang yang bertaqwa.'

Rabi'ah bin Nashr berkata, 'Apakah yang engkau katakan ini benar?'

Syiqq berkata, 'Demi Tuhan langit dan bumi, serta peningkatan dan perendahan (derajad) yang di dalamnya, sesungguhnya apa yang aku katakan kepadamu adalah kebenaran yang tidak ada kebatilan di dalamnya'."

Hijrahnya Rabi'ah bin Nashr
Ucapan Sathih dan Syiqq di atas betul-betul membekas dalam hati Rabi'ah bin Nashr, kemudian ia menyiapkan anak-anaknya dan keluarganya untuk pergi ke Irak dengan harapan langkahnya ini mendatangkan kemashlahatan bagi mereka, dan mengirimkan mereka kepada salah seorang raja Persia yang bernama Sabur bin Khurrazadz. Sabur menempatkan mereka di Al-Hirah. Di antara sisa anak keturunan Rabi'ah bin Nashr adalah An-Nu'man bin Al-Mundzir. Menurut nasab orang-orang Yaman, nasab An-Nu'man adalah An-Nu'man bin Al-Mundzir bin An-Nu'man bin Al-Munzir bin Amr bin Adi bin Rabi'ah bin Nashr.

Ibnu Hisyam berkata, "An-Nu'man ialah anak Al-Mundzir bin Al-Mundzir seperti dikatakan kepadaku oleh Khalal Al-Ahmar."
(JGA: Silsilah yang memusingkan kepala... :rolleyes: )

---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Thu Apr 29, 2010 4:27 pm, edited 2 times in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby I Want You » Thu Apr 29, 2010 9:22 am

Ow mantab Bro ! numpang nandain ya ! :prayer: :prayer: :prayer:

makin banyak buku2 bermutu di FFI ! =D> =D> =D> =D> =D> =D> =D> =D>
User avatar
I Want You
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2392
Joined: Thu May 07, 2009 2:20 pm
Location: Serambi Yerusalem

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Thu Apr 29, 2010 4:40 pm

Halaman 14

BAB 4


PENGUASAAN ABU KARIB TUBAN TERHADAP KERAJAAN YAMAN DAN PENYERANGANNYA TERHADAP YATSRIB


Tubba' Al-Akhiru
Ibnu ishaq berkata,"Ketika Rabi'ah bin Nashr meninggal dunia, kerajaan negeri Yaman pindah ke tangan Hassan bin Tuban As'ad Abu Karib. Tuban As'ad adalah Tubba' Al-Akhiru bin Kuli Karib bin Zaid. Zaid adalah Tubba' Al-Awwal bin Amr Dzu Al-Adz'ar bin Abrahah Dzu Al-Manar bin Ar-Ris (Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Ar-Rais.") bin Adi bin Shaifi bin Saba' Al-Ashghar bin Ka'ab Kahfi Adz-Dzulmi bin Zaid bin Sahl bin Amr bin Qais bin Muawiyah bin Jasym bin Abdu Syams bin Wail bin Al-Ghauts bin Quthn bin Arib bin Zuhair bin Aiman bin Al-Hamaisa' bin Al-Aranjaj yang tidak lain adalah Himyar bin Saba' Al-Akbar bin Ya'rub bin Yasyjub bin Qahthan."

Ibnu Hisyam berkata, "Yasyjub adalah anak Ya'rub bin Qahthan."

Ibnu Ishaq berkata, "Tuban As'ad Abu Karib datang ke Madinah, kemudian membawa dua rahib Yahudi Madinah ke Yaman, memakmurkan Masjidil Haram, dan menutupinya. Raja Yaman sebelumnya adalah Rabi'ah bin Nashr."

Ibnu Hisyam berkata, "Tuban As'ad Abu Karib inilah yang pernah dikatakan dalam salah satu syair,
    Duhai seandainya aku mendapatkan keberuntungan seperti Abu Karib
    Kebaikannya menutupi kebodohannya

Hassan Melewati Madinah
Ibnu ishaq berkata,"Dari timur, Hassan mengarahkan perjalanannya ke Madinah. Sebelumnya, ia pernah melewati Madinah tanpa membunuh penduduknya. Ia tinggalkan anaknya sebagai pemimpin mereka, namun anaknya dibunuh penduduk Madinah dengan dzalim. Kemudian Hassan datang ke Madinah untuk mengusir penduduknya, memberangus penduduknya, dan menebang pohon kurmanya. Untuk menghadapinya, Al-Anshar bersatu di...
===============================================================================================
Halaman 15

...bawah pemimpin mereka Amr bin Thallah, saudara Bani An-Najjar, dan salah seorang dari Bani Amr bin Mabdzul. Nama lengkap Mabdzul adalah Amir bin Malik bin An-Najjar. Nama lengkap An-Najjar adalah Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir."

Ibnu Hisyam berkata,"Amr bin Thallah adalah Amr bin Muawiyah bin Amr bin Amir bin Malik bin An-Najjar. Thallah adalah ibu Amr. Ibu Amir adalah putri Amir bin Zuraiq bin Amir bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadzb bin Jusyam bin Al-Khazraj."

Antara Tubba' dengan Penduduk Madinah
Ibnu Hisyam berkata, "Salah seorang dari Bani Adi bin An-Najjar yang bernama Ahmar berbuat jahat terhadap salah seorang sahabat Tubba'. Sahabat Tubba' tersebut datang ke Madinah kemudian dibunuh oleh Ahmar. Penyebabnya, Ahmar melihat sahabat Tubba' tersebut berada di tandan kurma dan sedang memotongnya, kemudian Ahmar membacoknya dengan sabit dan tewas seketika. Ahmar berkata, 'Kurma itu menjadi milik orang yang menyerbukinya.' Peristiwa pembunuhan terhadap sahabatnya membuat Hassan semakin geram kepada penduduk Madinah. ia berkata, 'Bunuh mereka semua !' Orang-orang Anshar berpendapat, bahwa mereka berperang melawan Tubba' pada siang hari saja, dan pada malam harinya mereka berperang melawan Tubba' pada siang hari saja, dan pada malam harinya mereka menjamunya sebagai tamu. Karena sikap mereka seperti itu, Tubba' kagum kepada mereka. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kaum kami pastilah orang-orang mulia.' Ketika Tubba' sedang memerangi penduduk Madinah, tiba-tiba dua orang rahib dari rahib-rahib Yahudi Bani Quraidzah datang kepadanya. -Quraidzah, An-Nadzir, An-Najjam, Amr yang tiada lain Hadal adalah anak-anak Al-Khazraj bin Ash-Sharih bin At-Tau'aman bin As-Sabt bin Al-Yasa' bin Sa'ad bin Lawai bin Khair bin An-Najjam bin Tanhum bin Azir bin Azra bin Harwan bin Imran bin Yashur bin Qahits bin Lawai bin Ya'qub yang tidak lain adalah Israil bin Ishaq bin Ibrahim Khalilurrahman-. Kedua rahib Yahudi tersebut orang alim dan ilmunya mendalam. Keduanya datang kepada Tubba' karena mendengar rencana Tubba' untuk membumihanguskan Madinah dan memberangus penduduknya. keduanya berkata kepada Tubba', 'Wahai raja, jangan teruskan rencanamu itu. Jika engkau tetap memaksa diri melakukannya, maka hubunganmu dengan Madinah terputus, dan kami khawatir engkau mendapatkan hukuman dalam waktu dekat.'Tubba' berkata kepada kedua rahib Yahudi tersebut, 'Kenapa begitu?' kedua rahib Yahudi berkata,'Karena Madinah kelak menjadi tempat hijrahnya seorang Nabi yang muncul dari tanah suci Makkah dari kalangan Quraisy pada akhir zaman. Kelak Madinah menjadi negeri Nabi tersebut dan tempat menetapnya.' Mendengar penjelasan kedua rahib Yahudi tersebut, Tubba' membatalkan rencananya. ia melihat, bahwa kedua rahib Yahudi tersebut...
=====================================================================================================
Halaman 16

benar-benar orang berilmu dan ia pun tertarik terhadap perkataan keduanya kepadanya. kemudian ia meninggalkan Madina dan beralih memeluk agama kedua rahib Yahudi tersebut. Khalid bin Abdul Uzza bin Ghaziyyah bin Amr bin Abd bin Auf bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar berkata membangga-banggakan Amr bin Thllah,

    Apakah ia telah bangun ataukah ia telah mengharamkan kemaluannya
    Ataukah ia telah menunaikan kebutuhan biologisnya
    Ataukah engkau ingat masa muda
    Tidak ada nostagiamu tentang masa muda dan zaman itu
    Melainkan tentang perang yang
    Terhadap perang seperti ini, seorang pemuda menjadi ibrah
    Tanyakan kepada Imran dan Asad
    Ketika perang terjadi menjelang subuh
    Pada perang tersebut, Abu karib mengenakan baju besi panjang
    Kemudian orang-orang berkata, 'Siapakah yang kita jadikan target
    sasaran dalam perang ini?
    Apakah Bani Auf ataukah Bani An-Najjar?
    Yang menjadi target sasaran kita adalah Bani An-Najjar
    Karena orang-orang kami dibunuh mereka dan kami harus membalas
    dendam terhadap mereka.'
    Kemudian mereka berperang dengan menghunus pedang masing-masing
    Gerakan pedang-pedang tersebut seperti awan yang mendatangkan
    air hujan
    Di antara mereka terdapat Amr bin Thallah
    Semoga Tuhan memanjangkan umurnya untuk kaumnya
    Ia pemimpin yang mengungguli semua pemimpin
    Barangsiapa takut pada umurnya, ia tidak sampai pada tujuannya
Orang-orang Anshar berkeyakinan, bahwa Tubba' geram kepada orang-orang Yahudi yang ada di tengah-tengah mereka. ketika Tubba' datang untuk membunuh orang-orang Yahudi tersebut, orang-orang Al-Ashar melindungi orang-orang Yahudi dari serangan Tubba' hingga Tubba' meninggalkan mereka. Oleh karena itu, Tubba' berkata dalam syairnya,
    Aku sungguh geram kepada dua suku Yahudi yang ada di Yatsrib
    Mereka pantas mendapatkan hukum pada hari yang naas

Ibnu Hisyam berkata, "Syair di atas sengaja dibuat-buat. Oleh karena itu, kami sengaja melarang menyakitinya."
===================================================================================================
Halaman 17
Kedatangan Tubba' ke Makkah dan Menutupi Ka'bah dengan Kiswah
Ibnu Ishaq berkata, "Tubba' dan kaumnya adalah penyembah berhala. Ia mampir ke Makkah dalam perjalanan pulang ke Yaman. Ketika ia berada di antara Usfan dan Amaja, ia didatangi sekelompok orang dari Hudzail Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Ma'ad. Mereka berkata kepadanya, 'Paduka raja, maukah paduka raja kami beritahu tentang rumah penyimpanan harta melimpah yang disembunyikan raja-raja sebelum paduka raja? Di dalamnya terdapat mutiara, zabarjad, intan berlian, emas, dan perak?' Tubba' berkata, 'Ya, saya mau.' Mereka berkata, 'Yaitu rumah di Makkah yang disembah pendudunya dan mereka dan mereka shalat disampingnya.' Orang-orang Hudzail ingin mencelakakan Tubba' dengan cara seperti itu, karena mereka tahu betul bahwa siapa saja yang ingin merusak Baitullah, pasti celaka. Ketika Tubba' telah bersiap diri untuk mengikuti arahan orang-orang Hudzail, Tubba' mengutus seseorang untuk menemui dua rahib Yahudi guna menanyakan arahan orang-orang Hudzail tersebut. Kedua rahib Yahudi berkata kepada Tubba', 'Orang-orang Hudzail hanya ingin mencelakakan dirimu dan pasukanmu, karena kita tidak tahu ada rumah selain Baitullah di muka bumi ini yang khusus dijadikan Allah sebagai rumah-Nya. Jika engkau menuruti arahan mereka, engkau pasti mati dan orang-orang yang bersamamu.' Tubba' berkata kepada kedua rahib Yahudi, 'Kalau begitu, apa yang kalian berdua perintahkan kepadaku, jika aku datang ke Makkah?' Kedua rahib Yahudi berkata, 'Engkau harus berbuat seperti yang dikerjakan penduduknya. Engkau thawaf di samping Ka'bah, mengagungkannya, memuliakannya, mencukur rambut di sampingnya, dan merendahkan diri di samping hingga engkau keluar daripadanya.' Tubba' berkata, 'Apa yang membuat kalian berdua melarangku mengikuti arahan orang-orang Hudzail?' Kedua rahib Yahudi berkata, 'Sesungguhnya Ka'bah adalah rumah ayah kita Ibrahim, dan ia seperti yang telah kami jelaskan kepadamu. Namun penduduknya memisahkan kami daripadanya dengan cara mereka memasang berhala-berhala di dalamnya, dan dengan darah yang mereka tumpahkan di sampingnya. Mereka orang-orang kotor dan orang-orang syirik.' Atau seperti dikatakan keduanya. Tubba' memahami nasihat kedua rahib tersebut dan kejujuran nasihat keduanya. Kemudian ia mendekat kepada sekelompok orang dari orang-orang Hudzail lalu ia memotong tangan dan kaki mereka. Setelah itu, ia meneruskan perjalanannya hingga tiba di Makkah. Tiba di Makkah, ia thawaf di sekeliling Ka'bah, menyembelih hewan qurban di sebelahnya, mencukur rambutnya, dan berada di sana selama enam hari. Menurut banyak orang, Tubba' menyembelih hewan qurban kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang, ia memberi makan penduduk Makkah, dan memberi mereka minum madu. Tubba' bermimpi dalam tidurnya mendapat perintah untuk menutup Ka'bah, kemudian ia menutupinya dengan kain...
===================================================================================================-
Halaman 18

...kasar. Ia bermimpi lagi agar ia menutupi Ka'bah dengan kain yang lebih bagus, kemudian ia menutupinya dengan kain ma'afir (jenis kain Yaman). ia bermimpi lagi agar ia menutupinya dengan kain yang lebih bagus, kemudian ia menutupinya dengan kain mahal ketika itu yaitu kain Al-Mala'a dan Al-Washail. Menurut orang-orang ketika itu, Tubba' adalah orang yang pertama kali menutupi Ka'bah dan mewasiatkannya kepada para gubernurnya dari orang-orang Jurhum. Ia perintahkan mereka membersihkan Ka'bah; darah, bangkai, dan darah haid tidak boleh didekatkan kepadanya. Ia membuat pintu dan kunci untuk Ka'bah. Subai'ah binti Al-Ajabb bin Zabnah bin Jadzimah bin Auf bin Nashr bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Mansur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qairs bin Atlan, istri Abdu Manaf bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Laui bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah berkata kepada anaknya Khalid agar Khalid mengagungkan kesucian Makkah, melarangnya mengganggunya, dan mengingatkannya kerendahan diri Tubba' kepada Makkah, dan apa yang ia kerjakan selam berada di Makkah,

    Anakku, janganlah engkau mendzalimi anak kecil dari orang tua di
    Makkah
    Anakku, jagalah kesucian Makkah dan jangan sekali-kali engkau
    terperdaya oleh tipuan
    Anakku, barangsiapa berbuat kedzaliman di Makkah, ia mendapat
    balasan yang buruk
    Anakku, barangsiapa berbuat kedzaliman di Makkah, ia mendapat
    balasan yang buruk
    Anakku, wajahnya dipukul dan terbakar
    Anakku, sungguh aku telah mencobanya
    Kulihat orang yang mendzaliminya itu binasa
    Allah memberi keamanan kepada Makkah
    Dan istana-istana tidak dibangun di pelatarannya
    Allah memberi keamanan kepada burung-burung Makkah
    Dan kambing hutan merasa aman di gunung Tsabir (gunung di Makkah)
    Sungguh Tubba' telah datang kepadanya
    Kemudian ia menutupi Ka'bah dengan kain Habir (kain dari Yaman)
    Tuhanku merendahkan kekuasaan Tubba' di dalamnya
    Kemudian ia menunaikan nadzarnya di dalamnya
    Ia berjalan kepadanya dengan telanjang kaki
    Di halaman Ka'bah terdapat seribu unta
    Ia tidak henti-hentinya memberi makan penduduk Makkah
    Dengan daging unta kecil dan unta besar
    Ia memberi mereka minum dengan madu asli dan air gandum
    Gajah membinasakan pasukannya
    Mereka melemparinya dengan batu-batu
    Dengarkan jika engkau diajak bicara
    Dan pahamilah akhir kesudahan segala sesuatu
===============================================================================================
Halaman 19

Tubba' Mengajak Rakyat Yaman kepada Agamanya
Setelah itu, Tubba' pulang ke Yaman bersama pasukannya dan dua rahib Yahudi. Tiba di Yaman, ia mengajak penduduk Yaman masuk kepada agamanya, namun mereka menolak ajakan Tubba'. Mereka menyerahkan persoalan Tubbah' kepada api di Yaman.

Rakyat Yaman Menyerahkan Persoalan Tubba' kepada Api
Ibnu ishaq mengatakan Abu Malik bin Tsa'labah bin Abu Malik Al-Quradzi berkata bahwa aku mendengar Ibrahim bin Muhammad bin Thlhah bin Ubaidillah berkata, bahwa ketika Tubba' mendekati Yaman, orang-orang Himyar melarangnya masuk Yaman. Mereka berkata, "Engkau jangan masuk ke Yaman, karena engkau telah meninggalkan agama kami." Tubba' mengajak orang-orang Himyar kepada agamanya dengan berkata kepada mereka, "Agamaku lebih baik daripada agama kalian." Mereka berkata,"Kita selesaikan persoalan kita kepada api." Tubba' berkata, "Boleh." Ibnu ishaq menambahkan, "Menurut kepercayaan orang-orang Yaman, di Yaman terdapat api yang menjadi hakim dalam semua persoalan mereka; api tersebut melalap orang yang dzalim, dan tidak membahayakan orang yang didzalimi. Orang-orang Yaman pun keluar dari rumah masing-masing dengan membawa berhala-berhala mereka dan apa-apa yang dipakai ibadah dalam agama mereka, sedang dua rahib Yahudi membawa dua mushaf yang tergantung di leher keduanya. Mereka duduk di tempat keluarnya api, kemudian api keluar kepada mereka. Ketika api keluar kepada mereka, mereka menghindar daripadanya, dan meniupnya. Para hadirin menguatkan semangat mereka dan menyuruh mereka bersabar. Mereka bersabar hingga api mengelilingi mereka kemudian memakan berhala-berhala mereka dan apa saja yang meereka pakai untuk beribadah, serta apa saja yang dibawa orang-orang Himyar. Di sisi lain, dua rahib Yahudi keluar dengan dua mushaf di lehernya. Dahinya berkeringat dan api sedikit pun tidak menjilat mereka. Seketika itu juga, orang-orang Himyar memeluk agama kedua rahib tersebut, dan sejak itu agama Yahudi berkembang di Yaman.

Penghancuran Rumah Berhala Riam
Ibnu ishaq berkata, "Riam adalah rumah yang diagung-agungkan orang-orang Yaman. Mereka menyembelih hewan qurban di sebelahnya, dan berbicara berdasarkan petunjuk rumah tersebut ketika mereka masih dalam keadaan syirik. Dua rahib Yahudi berkata kepada Tubba', 'Sesungguhnya syetan menyesalkan mereka dengan Rumah Riam tersebut. Untuk itu, jauhkan kami daripadanya.' Tubbah' berkata,'Terserah pendapatmu terhadap rumah tersebut !' Menurut orang-orang Yaman, dua rahib Yahudi tersebut...
================================================================================================
Halaman 20

...meminta Tubba' mengeluarkan anjing hitam, kemudian keduanya menyembelihnya dan menghancurkan Rumah Riam tersebut. Menurut informasi yang disampaikan kepadaku, puing-puing Rumah Rian tersebut adalah darah yang dulunya ditumpahkan ke atasnya."

Raja Hassan dan Kematiannya di Tangan Saudaranya
Ketika anak Tubba', Hassan bin Tuban As'ad Abu karib menjadi raja baru, ia berjalan bersama orang-orang Yaman dengan tujuan menguasai negeri-negeri Arab dan negeri-negeri non-Arab. ketika mereka tiba di salah satu daerah di Irak, Ibnu Hisyam berkata, yaitu tepatnya di Bahrain sebagaimana disampaikan kepadaku, maka orang-orang Himyar dan kabilah-kabilah menolak meneruskan perjalanannya. Mereka berbicara kepada saudara Hassan yang bernama Amr yang sedang berada dalam pasukan bersama Hassan, kata mereka kepada Amr, "Bunuhlah Hassan, niscaya kami mengangkatnya sebagai raja kami, kemudian engkau pulang bersama kami ke negeri asal." Amr menyetujui rencana tersebut, kemudian mereka sepakat melaksanakan rencana tersebut, namun Dzu Ruain Al-Himyari tidak menyetujuinya dan melarang realisasinya. Saran Dzu Ruain tidak diterima Amr, kemudian Dzu Ruain berkata,
    Ketahuilah, siapakah yang mau membeli tidak tidur dengan tidur
    Orang bahagia adalah orang yang bisa tidur dengan nyenyak
    Adapun orang-orang Himyar, mereka telah berkhianat
    Semoga Allah mengampuni Dzu Ruain
Dzu Ruain menulis bait syair di atas di secarik kertas, kemudian mengirimkannya kepada Amr. Dzu Ruain berkata kepada Amr, "Simpan tulisan ini di tempatmu !" Permintaan Dzu Ruain tersebut dipenuhi Amr. Setelah itu, Amr membunuh saudaranya. Hassan, kemudian pulang ke Yaman bersama anak buahnya. Salah seorang dari Himyar berkata kepada Amr,
    Allah mempunyai mata terhadap orang
    Hassan yang dibunuh pada suatu zaman
    Ia dibunuh oleh orang-orang elit karena takut ditahan
    Besok pagi, mereka berkata bahwa itu tidak apa-apa
    Jenazah kalian adalah orang terbaik kami
    Orang hidup kalian adalah pemimpin kami, dan kalian adalah
    pemimpin kami

(JGA: Kisah menggelikan: Hassan dibunuh, tapi masih bisa pulang ke Yaman bersama anak buahnya? lho siapa sih yang dibunuh? :-k )

Kematian Amr dan Perpecahan di Tubuh Orang-orang Himyar
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Amir bin Tuban As'ad tiba di Yaman ia tidak bisa tidur sekejap pun, dan selalu dalam keadaan terjaga. Karena ia merasa tersiksa karena tidak bisa tidur, ia minta dipanggilkan tim dokter,...
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Halaman 21

...dan pakar dukun untuk mengobati penyakitnya tersebut. Salah seorang dari mereka berkata kepadanya, 'Demi Allah, tidak ada orang yang membunuh saudaranya atau dengan dzalim seperti pembunuhanmu terhadap saudaramu, melainkan tidurnya hilang dan tidak bisa tidur diberikan kepadanya.' ketika perkataan tersebut disampaikan kepada Amr, ia bunuh semua orang Yaman yang menyuruhnya membunuh saudaranya, Hassan. Kemudian ia pergi menemui Dzu Ruain. Dzu Ruain berkata kepadanya, 'Sesungguhnya aku pernah menitipkan sesuatu padamu.' Amr berkata, 'Titipan apa itu?' Dzu Ruain berkata,'Tulisan yang pernah aku berikan kepadamu.' Amr mengeluarkannya dan ternyata di dalamnya terdapat bait syair di atas. Dzu Ruain meninggalkan Amr dan Amr sadar bahwa dulu Dzu Ruain pernah memberi nasihat kepadanya. Tidak lama kemudian Amr meninggal dunia, dan sepeninggalnya kendali orang-orang Himyar terlepas dan mereka terpecah belah.

Perihal Lakhni'ah dan Dzu Nuwas
Kemudian salah seorang dari orang-orang Himyar yang tidak berasal dari keluarga istana yang bernama Lakhni'ah Yanofa Dzu Syanatir membunuh tokoh-tokoh Himyar dan menodai kehormatan keluarga istana. Salah seorang dari orang-orang Himyar berkata kepada Lakhni'ah,
    Engkau telah membunuh anak-anaknya dan mengusir istri-istrinya
    Dengan tangan-tanganya, engkau membangun kehinaan bagi orang
    orang Himyar
    Engkau bumihanguskan dunianya dengan kecerobohan para pemikir
    Namun kerusakan pada agama itu jauh lebih banyak
    Begitulah, sebelum ini terjadi kedzaliman
    Yang kemudian mendatangkan kerugian
Lakhni'ah orang bejat yang gemar melakukan hubungan homoseksual seperti kaum Nabi Luth. Ia seringkali mendatangi remaja-remaja istana, kemudian melakukan hubungan homoseksual dengan mereka di ruang tamu khusus, agar remaja-remaja istana tersebut tidak bisa diangkat menjadi raja sesudah itu. (JGA: keq tabiat sang nabi,yah ! hehe) Dari atas ruang khusus tersebut, ia melihat ke arah para penjaganya dan tentara-tentaranya sambil meletakkan gosok gigi di mulutnya sebagai syarat untuk mereka bahwa ia telah melakukan hubungan homseksual. Suatu ketika, Lakhni'ah mengutus seseorang untuk membawa Zur'ah Dzu Nuwas bin Tuban As'ad, saudara Hassan kepadanya. Zur'ah masih berusia kanak-kanak ketika Hassan dibunuh. Ia tumbuh besar menjadi remaja tampan, berpostur tubuh atletis, dan cerdas. Ketika utusan Lakhni'ah tiba di kediaman Zur'ah, ia mengerti maksud yang diinginkan Lakhni'ah padanya. Ia mengambil pisau kecil yang tajam dan menyembunyikannya di bawah sepatunya, kemudian bangkit ke tempat Lakhni'ah. Ketika ia berduaan dengan Lakhni'ah, maka Lakhni'ah langsung menindih Zur'ah, namun dengan cepat Zur'ah Dzu Nuwas menindihnya dan menikamnnya hingga...
===================================================================================================
Halaman 22

...tewas. Ia potong kepalanya, kemudian ia letakkan di lubang dinding. Ia letakkan gosok gigi dimulutnya kemudian keluar menemui manusia.

Ibnu Hisyam berkata, "Manusia melihat ke arah lobang dinding, ternyata mereka melihat kepala Lakhni'ah di dalamnya. Kemudian mereka menyusul Dzu Nuwas hingga berhasil mengejarnya. Mereka berkata kepadanya, 'Tidak ada yang pantas menjadi raja bagi kami kecuali engkau, jika engkau telah berhasil membereskan orang brengsek ini (Lakhni'ah)

Raja Zur'ah Dzu Nuwas
Kemudian rakyat Himyar mengangkat Zur'ah Dzu Nuwas sebagai raja. Orang-orang Himyar dan kabilah-kabilah Yaman bersatu di bawah kepemimpinannya. Dzu Nuwas adalah raja terakhir orang-orang Himyar, dan dialah pelaku kasus pembunuhan di dalam parit (Ashabul Ukhdud). Ia menamakan dirinya Yusuf dan menjadi raja selama bertahun-tahun.

Agama Kristen Masuk ke Najran
Di Najran terdapat sisa-sisa pengikut agama Nabi isa Alahis-Salam yang tetap komitmen dengan kitab Injil. Mereka orang-orang mulia, dan orang-orang yang tetap istiqamah. Mereka mempunyai pemimpin yang bernama Abdullah bin Ats-Tsamir. Tempat asal agama tersebut adalah di Najran, karena Najran adalah negeri Arab yang paling "bersih" untuk ukuran zaman ketika itu. Orang-orang Najran sendiri dan orang-orang Arab adalah para penyembah berhala-berhala. Sebab masuknya agama Kristen di Najran, bahwa salah seorang sisa-sisa agama Kristen yang bernama Faimiyun tinggal bersama mereka, kemudian ia mengajak mereka kepada agamanya, sampai kemudian mereka memeluk agamanya.

Perihal Faimiyun
Ibnu Ishaq berkata bahwa Al-Mughirah bin Abu Lubaid mantan budak Al-Akhnas berkata kepadaku dari Wahb bin Munabbih Al-Yamani yang berkata, sebab masuknya agama Kristen di Najran, bahwa salah seorang dari sisa-sisa pemeluk agama Isa yang bernama Faimiyun adalah orang yang shalih, rajin, zuhud di dunia, dan doanya mustajab. Ia seorang pengembara yang gemar singgah di kampung-kampung. Ia keluar dari kampung yang ia tidak kenal di dalamnya menuju kampung lain yang ia tidak dikenal di dalamnya. Ia tidak makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Ia pekerja bangunan. Ia sangat menghormati hari Ahad. Oleh karena itu, jika hari Ahad tiba ia tidak melakukan aktifitas apa pun. Pada hari Ahad, ia pergi ke tempat sepi kemudian shalat di dalamnya hingga petang hari.

Ibnu Ishaq menambahkan, "Di suatu perkampungan, Faimiyun melakukan aktifitas ibadahnya dengan sembunyi-sembunyi. Tanpa sepengetahuannya, ia diamati salah seorang penduduk kampung tersebut yang...
===============================================================================================
Halaman 23
...bernama Shalih. Shalih langsung mencintai Faimiyun dengan cinta yang tidak pernah ia berikan kepada orang lain sebelum ini. Shalih selalu menguntit kamana pun Faimiyun pergi tanpa sepengetahuan Faimiyun. Hingga pada suatu hari Ahad, Faimiyun pergi ke tempat kosong untuk melakukan ibadah seperti biasanya, dan Shalih menguntitnya tanpa sepengetahuannya. Shalih duduk di tempat tersembunyi dan ia tidak ingin tempatnya diketahui Faimiyun. Faimiyun berdiri untuk shalat, tiba-tiba naga besar yang berkepala tujuh datang ke tempatnya. Ketika Faimiyun melihatnya, ia berdoa kemudian naga besar itu mati seketika. Shalih melihatnya, namun ia tidak tahu apa sesungguhnya yang terjadi pada naga besar tersebut. Ia khawatir naga besar tersebut menyerang Faimiyun. Kesabarannya hilang, ia pun berteriak keras, 'Hai Faimiyun, naga besar datang ke tempatmu.' Faimiyun tidak menoleh kepadanya. Ia tetap melanjutkan shalatnya hingga selesai pada petang hari. Usai shalat, ia meninggalkan tempat tersebut. Faimiyun mengetahui bahwa ia telah dikenal. Shalih sendiri telah mengetahui bahwa Faimiyun telah mengetahui tempatnya. Ia berkata kepada Faimiyun, 'Hai Faimiyun, demi Allah, engkaui mengerti bahwa aku sungguh mencintaimu, aku ingin bersahabat denganmu, dan tidak berpisah denganmu dimana pun engkau berada.' Faimiyun berkata, 'Terserah kepadamu. Aku seperti yang engkau lihat. Jika engkau merasa sanggup melakukannya, maka silakan saja.' Setelah itu Shalih selalu bersam dengan Faimiyun. Semua penduduk kampung tersebut hampir semua mengetahui perihal Faimiyun. Jika seseorang menderita sakit, Faimiyun mendoakannya dan orang tersebut pun sembuh. Namun ia tidak mau dipanggil ke rumah orang yang sakit. Dikisahkan, bahwa salah seorang dari warga kampung tersebut mempunyai anak yang but, kemudian orang tersebut menanyakan perihal Faimiyun. Dikatakan kepadanya, 'Faimiyun tidak mau datang kepada orang yang mengundangnya. Ia bekerja membuat rumah dan mendapatkan gaji dari pekerjaannya tersebut.' Kemudian orang tersebut meletakkan anaknya di kamarnya dan menutupinya dengan kain. Setelah itu, ia datang kepada Faimiyun, dan berkata kepadanya, 'Hai Faimiyun, aku ingin engkau mengerjakan suatu pekerjaan di rumahku. Untuk itu, mari ikut aku ke rumahku agar engkau bisa melihat pekerjaan yang harus engkau kerjakan, kemudian engkau aku beri gaji atas pekerjaan tersebut.' Kemudian Faimiyun berjalan bersama orang tersebut ke rumahnya hingga masuk ke kamarnya. Tiba di rumah orang tersebut, Faimiyun berkata, 'Pekerjaan apa harus aku kerjakan di rumahmu ini?' Orang tersebut berkata, 'Ini dan itu.' Orang tersebut membuka kain dari anaknya, lalu berkata, 'Hai Faimiyun, anakku adalah satu dari hamba-hamba Allah yang menderita penyakit seperti engkau lihat. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah untuk anak ini !' Kemudian Faimiyun berdoa untuk anak tersebut, dan hasilnya anak tersebut langsung berdiri seperti tidak pernah sakit.
=================================================================================================
Halaman 24

Ketika itulah, Faimiyun sadar, bahwa dirinya sudah diketahui orang banyak. Kemudian ia keluar dari kampung tersebut dengan diikuti Shalih. Ketika Faimiyun berjalan di salah satu daerah di Syam, ia melewati pohon besar dan dari pohon besar, ia dipanggil seseorang. Orang tersebut berkata, 'Hai Faimiyun' Faimiyun berkata, 'Ya.' Orang terebut berkata, 'Aku tidak henti-hentinya menunggu kedatanganmu dan aku tidak bosan berkata, 'Kapankah dia akan datang?' Hingga ketika aku mendengar suaramu, maka aku tahu bahwa suara tersebut adalah suaramu. Engkau jangan meninggalkan tempat ini hingga engkau mengurusiku, karena aku akan mati sekarang.' Usai berkata seperti itu, orang tersebut meninggal dunia. Kemudian Faimiyun mengurusinya dan menguburnya. Setelah itu, ia meninggalkan tempat tersebut dengan ditemani Shalih hingga keduanya tiba di salah satu daerah di jazirah Arab. Tiba di daerah tersebut, penduduk setempat menangkap keduanya, kemudian keduanya diambil rombongan musafir dari penduduk setempat. Rombongan musafir tersebut meneruskan perjalanannya dengan membawa keduanya kemudian mereka menjual keduanya di Najran. Penduduk Najran ketika itu memeluk agama orang-orang Arab. Mereka menyembah pohon kurma tinggi yang ada di tengah-tengah mereka. Pohon kurma tersebut mempunyai hari raya dalam setiap tahun. Pada hari raya, orang-orang Najran menggantungkan di atasnya semua pakaian yang indah dan perhiasan wanita-wanita. Mereka datang ke pohon kurma tersebut dan menetap di sana hingga beberapa hari. Faimiyun dibeli salah seorang tokoh mereka, dan Shalih dibeli orang lain. Jika Faimiyun melakukan shalat tahajjud di rumah yang diberikan tuannya, rumah tersebut memancarkan sinar hingga pagi hari, padahal di dalamnya tidak ada lampu. Kejadian ini disaksikan tuannya, dan ia pun tertarik terhadap apa yang dilihatnya. Ia menanyakan agama Faimiyun, dan Faimiyun menjelaskan agamannya. Faimiyun berkata kepada tuannya, 'Sesungguhnya kalian berada dalam kebatilan. Sesungguhnya pohon kurma tersebut tidak mampu memberikan madharat dan manfaat. Jika aku mau berdoa kepada Tuhan yang aku sembah, pasti Tuhanku menghancurkan pohon kurma tersebut. Dialah Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya.' Tuannya berkata, 'Coba kerjakan itu. Jika engkau mampu melakukannya, maka kami semua akan masuk kepada agamamu dan kami meninggalkan agama kami.' Faimiyun berdiri untuk bersuci dan shalat dua rakaat. (JGA: hihi, ini islam atau nasrani sih-cerita ngawur) Sesudah itu ia berdoa kepada Allah agar Allah menghancurkan pohon kurma tersebut. Kemudian Allah mengirimkan angin lalu mencabut pohon kurma tersebut dari akarnya dan tumbang seketika. Orang-orang Najran langsung memeluk agama Faimiyun dan Faimiyun menerapkan syariat agama Nabi Isa bin Maryam Alaihis-Salam kepada mereka. Setelah itu, terjadilah pada mereka peristiwa-peristiwa yang terjadi ditempat lain (timbul ajaran Trinitas). Jadi dari Najran agama Kristen muncul di negeri Arab.
---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri Apr 30, 2010 3:09 pm, edited 8 times in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Thu Apr 29, 2010 4:43 pm

Halaman 25
BAB 5

PERIHAL ABDULLAH ATS-TSAMIR

Ibnu Ishaq berkata, "Ini adalah hadits Wahb bin Munabbih tentang orang-orang Najran."
Ibnu Ishaq berkata, "Yazid bin Zayyad berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-Quradzi, dan juga sebagian orang-orang Najran berkata kepadaku tentang orang-orang Najran, bahwa tadinya orang-orang Najran adalah orang-orang musyrikin yang menyembah patung-patung. Disalah satu desa Najran-Najran adalah desa besar tempat berkumpulnya penduduk Najran--terdapat penyihir yang mengajarkan ilmu sihir kepada remaja-remaja Najran. Ketika Faimiyun tiba di desa tersebut--orang-orang tidak menamakannya sesuai dengan nama yang diberikan Wahb bin Munabbih--, orang-orang desa tersebut berkata, 'Seseorang telah singgah di sini.' Faimiyun membangun kemah antara Najran dengan desa tempat penyihir berada. Orang-orang Najran mengirimkan anak-anak remajanya kepada penyihir tersebut guna belajar sihir. Ats-Tsamir juga mengirimkan anak remajanya, Abdullah bin Ats-Tsamir bersama anak-anak remaja yang lain kepada penyihir tersebut. Setiapkali Abdullah bin Ats-Tsamir melewati penghuni kemah (Faimiyun), ia tertarik kepada shalat dan ibadah Faimiyun yang dilihatnya. Ia duduk dan mendengar segala ucapan Faimiyun hingga memutuskan masuk Islam, (JGA: bohongnya ketahuan coy:green:) mentauhidkan Allah, dan beribadah kepada-Nya. Ia bertanya tentang syariat-syariat Islam kepada Faimiyun. (JGA: Bhwaahahaha, Faimiyun si Nasrani yang menjalankan syariat islam. Bussyeet dah ngibulnya gak ketulungan ) ketika ia memahami syariat-syariat islam, ia bertanya tentang nama terbesar. Faimiyun mengetahuinya, namun ia sengaja merahasiakannya. (JGA: Wah, pasti Faimiyun meniru ucapan Muhammad, "Wallahuallam" hihixixixi) Ia berkata kepada Abdullah bin Ats-Tsamir, 'Wahai anak saudaraku, engkau tidak akan sanggup memikulnya, dan aku khawatir nama terbesar membuatmu lemah tidak berdaya.' Ats-Tsamir, ayah Abdullah hanya mengetahui kalau anaknya, Abdullah bin Ats-Tsamir pergi kepada penyihir sebagaimana remaja-remaja lainnya. Ketika Abdullah bin Ats-Tsamir mengetahui bahwa Faimiyun tidak menjelaskan nama terbesar kepadanya, dan mengkhawatirkan dirinya tidak sanggup memikulnya, ia segera mengumpulkan kotak dadu. Semua nama-nama Allah yang ia ketahui, ia tulis di atas dadu tersebut. (JGA: Aneh, penyembah berhala koq tahu nama-nama Allah SWT?) Usai menulisnya, ia menyalakan api di kotak dadu, kemudian ia memasukkan setiap dadu yang bertuliskan nama Allah ke dalamnya. Ketika sampai pada dadu yang bertuliskan nama Allah...
===============================================================================================
Halaman 26

...yang terbesar, ia melemparkannya ke dalam kotak dadu yang sedang menyala tersebut. Dadu tersebut masuk ke dalam kotak, dan keluar lagi tanpa membahayakannya sedikit pun. Abdullah bin Ats-Tsamir segera mengambilnya lalu membawanya kepada Faimiyun. Ia jelaskan kepadanya, bahwa ia telah mengetahui nama yang dirahasiakan Faimiyun. Faimiyun berkata kepadanya, 'Apa nama terbesar tersebut?' Abdullah bin Ats-Tsamir berkata, 'Yaitu ini dan itu.' Faimiyun berkata, 'Bagaimana engaku bisa mengetahuinya?' Abdullah bin Ats-Tsamir menjelaskan apa yang barusan ia kerjakan. Faimiyun berkata, 'Wahai anak saudaraku, engaku benar. Jagalah dirimu. Aku tidak pernah menduga engkau sanggup melakukannya.' Setelah itu, jika Abdullah bin Ats-Tsamir masuk ke Najran, dan bertemu dengan orang sakit, pasti ia berkata, 'Hai hamba Allah, maukah engkau mentauhidkan Allah, dan masuk kepada agamaku, kemudian aku berdoa kepada Allah mudah-mudahan Dia menyembuhkanmu dari penyakit yang menimpamu ini?' Orang tersebut berkata, 'Ya, aku mau.' Orang tersebut bersedia mentauhidkan Allah dan masuk Islam, kemudian Abdullah bin Ats-Tsamir mendoakannya lalu ia sembuh dari penyakitnya. Inilah yang selalu dikerjakan Abdullah bin Ats-Tsamir hingga semua orang yang sakit dikunjunginya, bersedia mengikuti tawarannya dan ia mendoakan kesembuhan untuknya. Itulah hingga akhirnya informasi tentang dirinya didengar raja Najran yang kemudian memanggilnya. Raja Najran berkata, 'Apakah engkau mau merusak agama warga desaku, bertentangan dengan agamaku dan agama nenek moyangku? Engkau pasti aku cincang-cincang.' Abdullah bin Ats-Tsamir berkata, 'Engkau tidak akan sanggup melakukannya.' Raja Najran menyuruh pengawalnya membawa Abdullah bin Ats-Tsamir ke gunung yang tinggi kemudian melemparkannya dari puncak gunung tersebut. Abdullah bin Ats-Tsamir pun jatuh ke tanah tanpa luka sedikitpun. (JGA: wah, hebat...Muhammad sampai berdarah lho kena bacok di Uhud. Dimana Allah SWT yang dibangga-banggakan muslim?). Setelah itu, Abdullah bin Ats-Tsamir dibawa ke laut di Najran dimana tidak bisa selamat daripadanya jika telah dilemparkan, namun ia keluar daripadanya tanpa luka sedikitpun. ketika raja Najran mengaku kalah, Abdullah bin Ats-Tsamir berkata kepada raja Najran mengaku kalah, Abdullah bin Ats-Tsamir berkata kepada raja Najran tersebut, 'Demi Allah, sungguh engkau tidak akan mampu membunuhku, hingga engkau mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya sebagaimana aku beriman kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, engkau mampu mampu mengalahkanku dan membunuhku.' Kemudian raja Najran mentauhidkan Allah Ta'ala dengan disaksikan Abdullah bin Ats-Tsamir dengan tongkatnya dan melukainya dengan luka yang tidak terlalu besar, namun membuat Abdullah bin Ats-Tsamir meninggal dunia, dan pemimpin Najran bersatu untuk memeluk agama Abdullah bin Ats-Tsamir yang sesuai dengan Injil dan hukum yang diturunkan Allah kepada Nabi isa bin Maryam. Dalam perjalanan waktu, terjadilah ajaran Trinitas pada mereka seperti yang terjadi pada orang-orang Kristen di tempat lain. Jadi dari sanalah, asal-usul agama Kristen di Najran. Wallahu a' lam.'
=================================================================================================
Halaman 27

Ibnu Ishaq menambahkan, "Itulah hadits Muhammad bin Ka'ab Al-Quradzi dan sebagian orang-orang Najran tentang Abdullah bin Ats-Tsamir, wallahu a'lam"

JGA: Ooo, sumbernya hadist orang islam tho...pantesan ngawur top dah...hehehe. Kalaulah cerita itu benar terjadi, sangat terlihat bahwa penyebaran Kristen di Najran tidak perlu harus membunuh orang lain, kecuali sang penyebar tersebut. Jauh berbeda dari apa yang dapat kita saksikan nanti pada halaman-halaman berikutnya.

Dzu Nuwas Mengajak Rakyat Najran Masuk Agama Yahudi
Kemudian Dzu Nuwas pergi ke Najran dengan membawa pasukannya dan mengajak mereka masuk ke dalam agama Yahudi, serta menyuruh mereka memilih salah satu dari dua hal; masuk ke dalam agam Yahudi atau dibunuh? (JGA: hih, Islam banget tabiatnya :green: ) Mereka memilih lebih baik dibunuh daripada masuk ke dalam agama Yahudi. Dzu Nuwas menggali parit untuk mereka, kemudian ia membakar sebagian dari rakyat Najran, membunuh mereka dengan pedang, dan mencincang-cincang mereka. Jumlah orang-orang Najran yang ia bunuh kira-kira dua puluh ribu jiwa. Tentang Dzu Nuwas dan pasukannya, Allah Ta'ala menurunkan ayat-Nya kepada Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam,
    "Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi-api (dinyalakan dengan) kayu bakar. ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin tersebut melainkan karena orang-orang Mukmin tersebut beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 4-8)

Penafsiran tentang Al-Ukhdud
Ibnu Hisyam berkata, "Yang dimaksud dengan al-ukhdud ialah lubang yang memanjang di tanah seperti parit, aliran air, dan lain sebagainya. Jamaknya ialah akkahadiid."

Dzu Ar-Rahmmah yang nama aslinya ialah Ghailan bin Uqbah, salah seorang dari Bani Adi bin Abdu Manaf bin Ud bin Thabihah bin Ilyas bin Mudzar berkata,
    Dari Irak yang ditempati
    Antara tanah kosong dan pohon kurma terdapat ukhdud
Yang dimaksud dengan ukhdud pada syair di atas ialah aliran air. Bekas sabetan pedang, dan pisau di kulit, serta bekas cambuk dinamakan ukhdud dan jamaknya ialah akkahadiid.
=========================================================================================
Halaman 28

Ibnu Ishaq berkata, "Di antara orang-orang yang dibunuh Dzu Nuwas ialah pemimpin dan tokoh-tokoh rakyat Najran."

Ibnu Ishaq berkata kepadaku, ia diberitahu bahwa seseorang dari Najran pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu menggali salah satu bekas rumah di Najran untuk memenuhi salah satu kebutuhannya, (JGA: Nyari barang jarahan nih yeee??)ia mendapati Abdullah bin Ats-Tsamir berada di bawahnya dalam keadaan duduk sambil meletakkan tangannya di atas bekas pukulan di kepalanya, serta memegang lukanya. Jika tangannya dilepaskan dari lukanya tersebut darah mengucur. Jika tangannya diletakkan di atasnya, darah pun berhenti. Di tangan Abdullah bin Ats-Tsamir terdapat cincin yang ada tulisannya Tuhanku adalah Allah. Kemudian orang dari Najran tersebut menulis surat kepada Umar bin Khaththab dan menceritakan kejadian yang dilihatnya. Umar bin Khaththab berkata kepada mereka, "Biarkan Abdulllah bin Tsamir dalam posisinya semula, dan kembalikan pemakamannya seperti semula." Orang-orang Najran pun mematuhi perintah Umar bin Khathtab.
---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Fri Apr 30, 2010 5:54 pm

Halaman 29
BAB 6

DAUS DZU TSA'LABAH MELARIKAN DIRI DARI DZU NUWAS DAN MEMINTA BANTUAN KEPADA KAISAR

Ibnu Ishaq berkata, "Salah seorang dari Saba' yang bernama Daus Dzu Tsa'labah selamat dari pembunuhan massal oleh Dzu Nuwas. Ia melarikan diri dengan mengendarai kudanya dan mengarungi tanah lumpur hingga tidak mampu dikejar pasukan Dzu Nuwas. Ia terus berjalan hingga tiba di Kaisar, guna meminta bantuan kepada raja Romawi, untuk menghadapi Dzu Nuwas dan pasukannya. Ia jelaskan kepadanya perlakuan pasukan Dzu Nuwas terhadap dirinya. Kaisar berkata kepada Daus, 'Sayang negerimu jauh dari kami, namun aku akan menulis surat kepada raja Habasyah karena ia seagama denganmu, dan ia sangat dekat dengan negerimu.' Kaisar menulis surat kepada raja Habasyah. Dalam suratnya, Kaisar menyuruh raja Habasyah memberi bantuan kepada Daus dan mengambil tindakan atas perlakuan Dzu Nuwas."

Najasyi Membantu Daud dengan Tujuh Puluh Ribu Tentara
Daus tiba di tempat Najasyi dengan membawa surat Kaisar, kemudian Najasyi membantunya dengan pasukan yang berkekuatan tujuh puluh ribu persone, dan pasukan tersebut dikomandani salah seorang dari mereka yang bernama Aryath, dan salah seorang dari anak buahnya ialah Abrahah Al-Asyram. Aryath dan pasukannya termasuk Daus Dzu Tsa'labah mengarungi lautan hingga tiba di pesisir Yaman.

Akhir Era Dzu Nuwas
Dzu Nuwas di Himyar dan kabilah-kabilah Yaman yang setia kepadanya datang menghadang Daus dengan dukungan pasukan dari Habasyah. Ketika kedua belah pihak telah bertemu, Dzu Nuwas dan pasukannya terpukul mundur. Ketika Dzu Nuwas mengetahui apa yang terjadi pada dirinya dan pasukannya, ia mengarahkan kudanya ke arah laut, dan berjalan di laut dari air yang dangkal ke air yang dalam hingga tenggelam. Itulah akhir kesudahan Dzu Nuwas. Kemudian Aryath memasuki Yaman dan menguasainya. Salah seorang dari Yaman berkata tentang tindakan Daus mengundang pasukan Habasyah, ....
==============================================================================================
Halaman 30
    Tidak seperti Daus dan tidak pula seperti apa yang ia bawa dalam
    perjalanannya

Pepatah di atas tetap berlaku di Yaman hingga hari ini.

Syair Dzu Jadan Al-Himyari
Dzu Jadan Al-Himyari berkata,
    Pertahankanlah, air mata tidak mau mengembalikan apa yang telah sirna
    Jangan engkau mati karena sedih memikirkan orang yang telah
    meninggal
    Apakah setelah Yabnun tidak ada mata air dan bekas
    Apakah setelah Sihin manusia bisa membangun rumah-rumah
Bainun dan Silhin adalah benteng-benteng Yaman. Dzu Jadan juga berkata,
    Biarkan aku, semoga engkau tidak mempunyai bapak, engkau tidak
    akan sanggup
    Semoga Allah mengutukmu, sungguh engkau telah membuat air liurku
    kering
    Ketika kita mabuk di tengah lantunan lagi artis
    Dan ketika kami disuguhi madu asli
    Meminum minuman keras bukanlah hal aib bagiku
    Jika sahabatku tidak mengeluhkan kejahatan akhlakku
    Sesungguhnya kematian itu tidak bisa dihadang siapa pun
    Kendati ia minum obat
    Kematian juga tidak pula bisa dihadang rahib di biaranya
    Burung Anuq melindungi telurnya di tempat yang sulit dijangkau
    binatang lain
    Ghumdzan* yang engkau ceritakan kepadaku
    Telah dibangun dengan tingginya di atas puncak gunung
    Di tempat peribadatan dan di bawahnya terdapat batu yang terukir
    Yang bersih dari kotoran, campuran, dan licin
    Lampu-lampu minyak bersinar di dalamnya
    Nyaris doyong karena tandan kurmanya
    Setelah tua ia menjadi lumpur
    Kobaran api mengubah keindahannya
    Dzu Nuwas menyerah kalah
    Ia ingatkan kaumnya akan sempitnya jalan yang sempit
-----------
(*) = Ghumdzan ialah benteng di Yamamah
=================================================================================================
Halaman 31

Syair Rabi'ah bin Adz-Dzi'bah Ats-Tsaqafi
Tentang kejadian di atas, Abdullah bin Adz-Dzi'bah Ats-Tsaqafi berkata,

    Demi Allah, seorang pemuda tidak dapat mendapatkan tempat untuk
    melarikan diri
    Dari kematian yang mengejarnya dan dari usia tua
    Demi Allah, seorang pemuda tidak mempunyai tempat yang luas
    Demi Allah, ia tidak mempunyai tempat berlindung
    Apakah setelah kabilah-kabilah Himyar
    Dihancurkan pada pagi hari di Dzatu Al-Ibar
    Oleh sejuta tentara dan tikaman seperti langit yang berawan tebal
    sebelum hujan turun?
    Teriakan mereka membuat tuli kuda-kuda yang ditali dekat rumah
    Mereka menolak orang-orang yang berperang dengan mulut yang berbau
    Jin-jin itu seperti tanah yang banyak
    Pohon basah menjadi kering karena mereka

Ibnu Hisyam berkata, "Adz-Dzi'bah adalah nama ibu Rabi'ah. Nama asli Rabi'ah ialah Rabi'ah bin Abdi Yalil bin Salim bin Malik bin Huthaith bin Jusyam bin Qasi."

Ucapan Amr bin Ma'di Karib Az-Zubaidi
Amr bin Ma'di Karib Az-Zubaidi berkata tentang perseteruan yang terjadi antara dirinya dengan Qais bin Maksyuf Al-Muradi, karena ia mendengar Qais bin Maksyuf mengancamnya. Ia berkata kepada Qais bin Maksyuf dan mengingatkannya tentang Himyar, kebesarannya, dan kekuasaan selalu berasal daripadanya. Ia berkata,
    Apakah engkau mengancamku, sepertinya engaku lebih enak hidupnya
    Daripada Dzu Ruain dan Dzu Nuwas
    Jadilah, orang sebelummu berada dalam kenikmatan
    Dan berada dalam kekuasaan yang kuat atas manusia
    Kekuasaannya dari zaman dulu sejak zaman Ad
    Kekuasaannya kuat dan tangguh
    Kemudian mereka lenyap dan kekuasaan tersebut berpindah tangan
    Dari orang ke orang lain

Nasab Zubaid dan Murad
Ibnu Hisyam berkata, "Zubaid adalah anak Salamah bin Mazin bin Munabbih bin Sha'b bin Sa'ad Al-Asyirah bin Madhij. Ada yang mengatakan Zubaid adalah anak Munabbih bin Sha'b bin Sa'ad Al-Asyirah. Ada juga yang mengatakan Zubaid adalah anak Sha'b bin Sa'ad. Dan Murad tidak lain adalah Yuhabir bin Madhij.
====================================================================================
Halaman 32
Sebab-sebab Ucapan Amr bin Ma'di Karib
Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata kepadaku, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkirim surat kepada Salman bin Rabi'ah Al-Bahili dan Bahilah bin Ya'shur bin Sa'ad bin Qais bin Ailan yang sedang berada di Armenia. Dalam suratnya, Umar bin Khaththab memerintahkannya melebihkan jatah pemilik kuda kuat atas pemilik kuda tua (lemah). Ketika kuda-kuda diperlihatkan, kuda Amr bin Ma'di Karib lewat di hadapan Salman. Salman berkata kepada Amr bin Ma'di Karib, "Kudamu ini tua (lemah)." Amr bin Ma'di Karib marah kemudian berkata, "Orang jelek yang mengetahui orang jelek seperti dirinya." Qais bin Maksyuf meloncat kepada Salman dan mengancamnya. Mendapat ancaman Qais, Amr bin Ma'di Karib berkata seperti di atas.

Kembali kepada Ucapan Sathih dan Ucapan Syiqq
Ibnu Hisyam berkata, "Inilah yang dimaksud Sathih dengan ucapannya, 'Orang-orang Habasyi pasti menginjak negeri kalian, dan mereka pasti menguasai daerah antara Abyan hingga Juras.' Dan yang dimaksud Syiqq dengan ucapannya, 'Sungguh orang-orang Sudan akan singgah di negeri kalian, mereka pasti memiliki gadis-gadis remaja, dan berkuasa di antara Abyan hingga Najran'."

Konflik antara Aryath dengan Abrahah
Ibnu Ishaq berkata, "Setelah itu, Aryath menetap di Yaman hingga beberapa tahun dan menjadi penguasa Yaman di sana. Kemudian Abrahah Al-Habsyi berusaha merebut kekuasaan Habasyah di Yaman dari tangan Aryath. Akibatnya orang-orang Habasyah di Yaman terpecah menjadi dua kubu. Orang-orang Habasyah bergabung kepada salah satu kubu dari dua kubu, dan masing-masing kubu menyerang kubu lain. Ketika kedua kubu saling berhadap-hadapan, Abrahah menulis surat kepada Aryath, 'Engkau jangan mempertemukan sesama orang-orang Habasyah, karena hal ini membuat mereka musnah. Datanglah kepadaku, aku pasti datang kepadamu. Siapa diantara kita berdua yang mampu mengalahkan lawannya, maka pasukannya bergabung kepadanya.' Aryath membalas surat Abrahah, 'Engkau benar.' Kemudian Abrahah yang berpostur besar dan beragama Nasrani datang ke tempat Aryath, dan pada saat yang sama Aryath yang tampan, besar dan jangkung datang ke tempat Abrahah dengan memegang tombak kecil. Di belakang Abrahah terdapat budaknya, Ataudah yang mencegah kemungkinan Abrahah melarikan diri. Aryath mengangkat tombak kecilnya, dan memukulkannya kepada Abrahah dengan sasaran ubun-ubunnya. Tombak kecil Aryath mengenai dahi Abrahah. Akibatnya, kedua alis Abrahah, hidungnya, matanya, dan kedua bibirnya robek. Karena itulah, Abrahah dinamakan Abrahah Al-Asyram (robek). Namun dari belakang...
===================================================================================================
Halaman 33

...Abrahah, Ataudah menyerang Aryath dan berhasil membunuhnya. Setelah itu, pasukan Aryath bergabung kepada Abrahah., semua orang-orang Habasyah di Yaman bersatu di bawah kepemimpinannya, dan Abrahah membayar diyat (uang darah) atas kematian Aryath."

Murka Najasyi dan Trik Abrahah
Ketika An-Najasyi mendengar peristiwa di atas, ia marah besar. Ia berkata, "Gubernurku dibunuh tanpa perintahku." An-Najasyi bersumpah, bahwa ia tidak menginggalkan Abrahah hingga ia menginjak wilayah kekuasaannya dan memotong ubun-ubunnya. Mendengar sumpah An-Najasyi, Abrahah mencukur rambutnya dan mengisi kantong kulit dengan tanah Yaman, kemudian mengirimkannya kepada An-Najasyi. Ia menulis surat untuknya, dan dalam suratnya ia berkata, "Paduka raja, sesungguhnya Aryath adalah budakmu, dan aku juga budakmu. Kami berbeda pendapat dalam memahami perintahmu, dan semuanya tetap patuh kepadamu. Namun aku lebih kuat mengurusi persoalan orang-orang Habasyah di Yaman, lebih mantap dan lebih bijak daripada Aryath. Sungguh aku telah mencukur semua rambutku ketika aku mendengar sumpah paduka raja dan mengirimkan kantong kulit yang berisi tanah Yaman kepadamu agar paduka raja meletakkannya di bawah telapak kakinya, agar dengan demikian sumpahnya tidak berlaku lagi terhadap diriku."

Restu Najasyi
Ketika surat Abrahah sampai kepada An-Najasyi, ia merestuinya dan mengirim surat balasan kepadanya. Dalam surat balasannya, An-Najasyi berkata, "Engkau harus tetap bertahan di Yaman, hingga engkau mendapat perintah dariku." Abrahah pun tetap menetap di Yaman.

Pembangunan Gereja
Kemudian Abrahah membangun gereja. Ia bangun gereja megah yang belum pernah ada pada masa itu. Abrahah menulis surat kepada Najasyi, "Paduka raja, untukmu, aku telah membangun gereja megah yang belum pernah dibangun untuk raja sebelummu. Aku tidak berhenti membangun gereja, hingga berhasil mengalihkan haji orang-orang Arab kepadanya."

Kisah Nasa'ah
Ketika orang-orang Arab mengetahui surat Abrahah kepada An-Najasyi, maka marahlah salah seorang dari An-Nasa'ah, yaitu salah seorang dari Bani Fuqaim bin Adi bin Amir bin Tsa'labah bin Al-Harts bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar. An-Nasa'ah yaitu orang-orang yang menunda bulan-bulan bagi orang-orang Arab pada...
===================================================================================================
Halaman 34

...masa jahiliyah. Mereka menghalalkan bulan-bulan haram, mengharamkan bulan-bulan suci, dan menunda bulan-bulan tersebut. Tentang hal tersebut, Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan ayat-Nya,
    "Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah." (At-Taubah: 37)
Ibnu Hisyam berkata, "Maksud firman Allah liyuwathiuu adalah menyesuaikan. Muwatha'ah artinya persesuaian. Orang-orang Arab berkata, 'Waatha'tuka 'ala hadza al-amri.' Maksudnya aku sesuai denganmu dalam urusan ini.

Bid'ah Nasi'
Ibnu Ishaq berkata, "Orang yang pertama kali menunda bulan-bulan bagi orang-orang Arab, mengharamkan bulan-bulan halal, dan menghalalkan bulan-bulan haram ialah Al-Qalammas. Nama lengkapnya ialah Hudzaifah bin Abd bin Fuqaim bin Adi bin Amir bin Tsa'labah bin Al-Harts bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah. Sepeninggalnya, nasi' dilanjutkan anaknya, Qala'. Setelah Umaiyah, nasi' dilanjutkan anaknya, Abu Tsumamah Junadah bin Auf. Dialah orang terakhir yang melakukan nasi' dan pada zamannya Islam muncul.

Dulu jika orang-orang Arab merampungkan ibadah hajinya(JGA: Islam belum muncul lho !), mereka datang kepada Al-Qalammas, kemudian ia mengharamkan empat bulan yang diharamkan; yaitu Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Jika ia ingin menghalalkan salah satu dari keempat bulan tersebut, misalnya bulan Muharram, maka ia mengharamkannya, dan mereka pun mengharamkan. Sebagai gantinya, ia mengharamkannya, dan mereka pun mengharamkan. Sebagai gantinya, ia mengharamkan bulah Shafar, dan mereka pun mengharamkannya, agar dengan cara seperti itu mereka tetap bisa menyesuaikan diri dengan keempat bulan tersebut. Jika orang-orang Arab hendak pulang haji, Al-Qalammas berdiri di depan mereka kemudian berkata, "Ya Allah, aku telah menghalalkan untuk mereka salah satu dari dua Shafar, yaitu Shafar pertama (Muharram) dan aku menunda Shafar kedua untuk tahun depan."
==================================================================================================
Halaman 35

Tentang hal ini, Umair bin Qais Jadzlu Ath-Tha'an, salah seorang dari Bani Firas bin Ghunm bin Tsa'labah bin Malik bin Kinanah berkata membangga-banggakan para An-Nasa'ah atas orang-orang Arab,
    Sungguh Ma'ad telah mengetahui, bahwa kaumku
    Adalah orang-orang mulia dan anak-anak orang-orang mulia
    Orang-orang manakah yang tidak bisa kita tindak?
    Orang-orang manakah yang tidak bisa kita gerakkan?
    Bukankah kita yang menunda-nunda bulan halal
    Kemudian kami menjadikannya haram bagi Ma'ad
Ibnu Hisyam berkata, "Bulan-bulan haram pertama adalah Muharram."

Al-Kinani Berak di Gereja Abrahah(JGA: Hmm, kurang ajar juga si kinani ini...)
Ibnu Ishaq berkata, "Al-Kinani keluar dari rumahnya dengan tujuan gereja Abrahah, kemudian ia berak di dalamnya."
Ibnu Ishaq berkata, "Setelah berak di gereja tersebut, Al-Kinani pulang ke negerinya. Peristiwa pemberakan gereja dilaporkan kepada Abarahah. Abrahah bertanya, 'Siapa yang melakukannya?' Dikatakan kepadanya, 'Pelakunya salah seorang Arab tepatnya dari warga sekitar Baitullah di Makkah, tempat orang-orang Arab berhaji kepadanya, karena ia mendengar ucapanmu bahwa engkau akan mengalihkan haji orang-orang Arab ke gerejamu. Orang tersebut naik pitam kemudian ia berak di gerejamu. Ini artinya gerejamu itu tidak layak dijadikan sebagai tempat haji." (JGA: bukan cuma tidak layak, ****..!, tapi tidak boleh. berhaji itu buat orang penyembah berhala kayak Islam, tauuuu )

Kepergian Abrahah ke Makkah untuk Menghancurkan Ka'bah
Abrahah murka mendengar laporan pemberakan di gerejanya. Ia bersumpah, bahwa ia akan pergi ke Baitullah untuk menghancurkannya. Ia perintahkan pasukan Habasyah bersiap-siap, kemudian ia berangkat ke Mekkah dengan mengendarai gajah. Ketika orang-orang Arab mendengar rencana Abrahah menghancurkan Ka'bah rumah Allah yang suci, mereka menganggap rencana tersebut sangat berbahaya, dan berpendapat bahwa perang melawan Abrahah adalah wajib bagi mereka.

Tokoh-tokoh Yaman Berperang Membela Ka'bah
Salah seorang dari tokoh Yaman dan pemimpinya, Dzu Nafr menemui kaumnya kemudian mengajak mereka, dan orang-orang Arab yang merespon ajakan mereka untuk memerangi Abrahah dan berjuang melawannya demi mempertahankan Baitullah yang suci, serta menggagalkan rencana Abrahah untuk menghancurkannya. Ajakan Dzu Nafr disambut orang-orang yang sependapat dengannya, kemudian ia beserta pengikutnya bertempur melawan Abrahah, namun Dzu Nafr dan pengikutnya dapat dikalahkan dengan mudah oleh Abrahah, dan Dzu Nafr sendiri jatuh menjadi tawanan pereang. Ketika...
==============================================================================================
Halaman 36

...Abrahah hendak membunuhnya, Dzu Nafr berkata, "Paduka raja, jangan bunuh aku, karena barangkali keberadaanku bersamamu itu lebih baik daripada engkau membunuhku." Abrahah membatalkan keinginannya membunuh Dzu Nafr dan sebagai gantinya ia menahannya dalam keadaan terikat.

Pertempuran Khats'am Melawan Abrahah
Abrahah melanjutkan perjalanannya untuk mewujudkan keinginannya. Tiba di daerah Khats'am, ia dihadang Nufail bin Habib Al-Khats'ami dengan dukungan dua kabilah Khats'am, yaitu Syahran dan Nahis, serta kabilah-kabilah Arab yang ikut bersamanya. Namun pasukan gabungan ini dapat dipukul mundur oleh Abrahah, dan Nufail jatuh menjadi tawanan perang. Ketika Nufail dihadapkan kepada Abrahah dan ia berkeinginan membunuhnya, Nufail berkata kepadanya, "Paduka raja, jangan membunuh aku, karena aku bisa menjadi penunjuk jalan bagimu ke negeri Arab. Inilah kedua tanganku mewakili Syahran dan Nahis menyatakan mendengar dan patuh kepadamu." Abrahah membebaskan Nufail dan berjalan bersamanya sebagai penunjuk jalan baginya. ketika Abrahah melewati Thaif, ia dihadang Mas'ud bin Mu'attib bin Malik bin Ka'ab bin Amr bin Sa'ad bin Auf bin Tsaqif dengan dukungan orang-orang Tsaqif.

Nasab Tsaqif
Nama asli Tsaqif adalah Qasiyyu bin An-Nabit bin Munabbih bin Mansur bin Yaqdum bin Afsha bin Du'mi bin Iyad bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
    Umaiyah bin Abu Ash-Shalt Ats-Tsaqafi berkata,
    Kaumku adalah Iyad jika mereka dekat
    Atau seandainya mereka berkuasa kemudian nikmat-nikmat menjadi
    berkurang
    Kami adalah satu kaum yang mempunyai daerah Irak
    Jika mereka berjalan semua dengan membawa kertas dan pulpen
    Umaiyah bin Abu Ash-Shalt Ats-Tsaqafi juga berkata,
    Jika engkau bertanya tentang aku
    Dan tentang nasabku, maka aku jelaskan kepadamu dengan benar
    Sesungguhnya kami berasal dari An-Nabit Abu Qasiyyu
    Mansur bin Yaqdum yang telah berlalu
Ibnu Ishaq berkata, "Nama asli Tsaqif adalah Qasiyyu bin Munabbah bin Bakr bin Hawazin bin Mansur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan bin Mudzar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Dua syair di atas adalah ucapan Umaiyah bin Ash-Shalt Ats-Tsaqafi."
=====================================================================================
Halaman 37

Gencatan Senjata antara Tsaqif dengan Abrahah

Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Tsaqif berkata kepada Abrahah, 'Paduka raja, sesungguhnya kami adalah budak-budak yang mendengar dan patuh kepadamu. Kami tidak mempunyai alasan untuk menetangmu. Rumah kami yaitu rumah Al-Lata bukanlah rumah yang engkau kehendaki, namun rumah ibadah yang engkau kehendaki adalah rumah ibadah di Makkah. Kami sertakan untukmu orang yang siap menunjukkan jalan kepadamu. Oleh karena itu, berilah ampunan orang-orang Tsaqif."

Al-Lata
Al-Lata adalah rumah ibadah orang-orang Tsaqif di Thaif. Mereka mengagungkannya seperti mengagungkan Ka'bah.

Ibnu Hisyam berkata, "Abu Ubaidah An-Nahwi membacakan kepadaku syair Dzirar bin Al-Khaththab Al-Fihri,
    Orang-orang Tsaqif lari kepada Al-Lata mereka
    Dengan membawa kegagalan dan kerugian
Syair di atas adalah salah satu bait dari syair panjang Dzirar bin Al-Khaththab Al-Fihri."

Abu Righal Menjadi Penunjuk Jalan Abrahah
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Tsaqif mengutus Abu Righal ikut bersama Abrahah dan bertugas sebagai penunjuk jalan. Abrahah meneruskan perjalanannya dengan dipandu Abu Righal. Ketika ia tiba di Al-Mughammis, Abu Righal meninggal dunia di sana, kemudian kuburannya dilempari batu oleh orang-orang Arab. Kuburan itulah yang sekarang dilempari batu oleh orang-orang Arab di Al-Mughammis."

Al-Aswad bin Maqsud Menyerang Makkah
Tiba di Al-Mughammis, Abrahah mengutus salah seorang Habasyah, Al-Aswad bin Maqsud dengan pasukan berkudanya terus berjalan hingga tiba di Makkah. Kekayaan Makkah milik orang-orang Quraisy dan selain orang-orang Quraisy diserahkan kepadanya, termasuk dua ratus ekor unta milik Abdullah Muththalib. Ketika itu, Abdullah Muththalib adalah pemimpin dan tokoh orang-orang Quraisy. Karena kejadian tersebut, orang-orang Quraisy, Kinanah, Hudzail, dan semua pihak yang berada di tanah suci ingin memerangi Abrahah. Namun karena mereka mengetahui tidak sanggup menghadapinya, mereka mengurungkan maksud tersebut.

Utusan Abrahah ke Makkah
Abrahah mengutus Hanathah Al-Himyar pergi ke Makkah, dan berkata kepadanya, "Tanyakan siapa pemimpin dan tokoh negeri ini, kemudian...
=============================================================================================
halaman 38

...katakan kepada pemimpin tersebut, bahwa sesungguhnya raja (Abrahah) berkata kepadamu, 'Sesungguhnya kami datang ke tempat kalian tidak dengan maksud memerangi kalian. Kami datang untuk menghancurkan rumah ini (Ka'bah). Jika kalian tidak menghalang-halangi kami dengan mengumumkan perang melawan kami, kami tidak butuh daerah kalian(JGA: Nah lho...apa lagi Romawi yang jauh di eropah, tapi Crescent Star masih ngotot mencari alasan) . Sebaliknya, jika pemimpin tersebut bermaksud memerangiku, maka bawa dia kepadaku'."

Tiba di Makkah, Hanathah menanyakan siapa pemimpin orang-orang Quraisy, kemudain dikatakan kepadanya, bahwa pemimpin orang-orang Quraisy adalah Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai. Kemudian Hanathah menemui Abdul Muththalib dan menjelaskan kepadanya apa yang diperintahkan Abrahah. Abdul Muththalib berkata kepada Hanathah, "Demi Allah, kami tidak ada maksud untuk memerangimu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Rumah ini (Ka'bah) adalah Rumah Allah yang suci dan rumah kekasih-Nya, Ibrahim Alaihis-Salam--atau seperti yang dikatakan Abdul Muththalib. Jika Allah melindunginya, itu karena Ka'bah adalah Rumah-Nya dan rumah suci-Nya. Jika Allah tidak melindunginya, demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya." Hanathah berkata kepada Abdul Muththalib, "Mari ikut aku, karena aku diperintahkan pulang membawamu !"

Pertemuan Abdul Muththalib dengan Abrahah
Kemudian Abdul Muththalib dengan dikawal sebagian anak-anaknya pergi bersama Hanathah. Tiba di barak Abrahah, Abdul Muththalib menanyakan Dzu Nafr, karena ia sahabatnya. Ketika berjumpa dengan Dzu Nafr di penahanannya, Abdul Muththalib berkata kepada Dzu Nafr, "Wahai Dzu Nafr, apakah engkau mempunyai kekuatan untuk mengatasi musibah yang menimpa kita?" Dzu Nafr berkata, "Apakah artinya kekuatan tawanan raja? Ia menunggu kapan dibunuh, pagi hari atau sore hari? Aku tidak mempunyai kekuatan sedikit pun untuk mengatasi musibah yang menimpamu. Namun Unais, pengendali unta adalah sahabat karibku. Aku akan datang kepadanya kemudian aku perintahkan dia untuk berbuat baik kepadamu, menjelaskan kepadanya bahwa hakmu amat besar, dan memintanya mempertemukanmu dengan Raja Abrahah, kemudian engkau berkata kepadanya apa saja yang engkau inginkan, serta membelamu dengan baik di sisinya, jika ia mampu melakukannya." Abdul Muththalib berkata, "Itu sudah cukup bagiku." Kemudian Dzu Nafr menemui Unaism dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya Abdul Muththalib adalah pemimpin orang-orang Quraisy, dan pemilik rombongan dagang Makkah. Ia memberi makan orang-orang di dataran rendah, dan binatang buas dipuncak gunung. (JGA:<=== ah masa' iya sih ? xixixi ) Sungguh, Raja Abrahah telah mengambil dua ratus ekor untanya. Oleh karena itu, mintakan izin untuknya agar ia bisa bertemu dengan Raja Abrahah, dan berilah pembelaan kepadanya...
=====================================================================================================
Halaman 39

...sesuai dengan kemampuanmu !" Unais berkata, "Itu akan aku kerjakan."

Unais Memintakan Izin bagi Abdul Muththalib kepada Abrahah
Kemudian Unais berbicara kepada Abrahah. Ia berkata kepadanya, "Paduka raja, sesungguhnya pemimpin Quraisy sedang berada di pintumu untuk meminta izin bertemu denganmu. Ia pemilik rombongan dagang Makkah, memberi makan orang-orang di dataran rendah, dan binatang buas di puncak gunung. Izinkan ia masuk agar ia bisa mengutarakan maksudnya kepadamu !" Abrahah mengizinkan Abdul Muththalib masuk kepadanya.

Baitullah Mempunyai Tuhan yang Memeliharanya
Ibnu Ishaq berkata, "Abdul Muththalib adalah orang yang paling tampan, dan paling agung. Ketika Abrahah melihatnya, ia memuliakannya, mengagungkannya, dan menghormatinya dengan tidak menyuruhnya duduk di bawahnya. Abrahah tidak suka dilihat orang-orang Habasyah mendudukkan orang lain di atas singgasananya. Oleh karena itu, ia turun dari singgasananya, kemudian duduk di atas permadaninya dan mendudukkan Abdul Muththalib di sebelahnya. Abrahah berkata kepada penerjemahnya, "Katakan kepadanya (Abdul Muththalib), 'Apa keperluanmu." Penerjemah Abrahah menjelaskan ucapan Abrahah kepada Abdul Muththalib, kemudian Abdul Muththalib berkata, "Keperluanku ialah hendaknya raja Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta yang dirampasnya dariku." Usai menerjemah Abrahah menjelaskan keperluan Abdul Muththalib kepada Abrahah, Abrahah berkata kepada penerjemahnya, "Katakan kepadanya, 'Sesungguhnya aku kagum kepadamu ketika aku melihatmu, kemudian aku tidak mau berbicara banyak kepadamu ketika engkau berkata kepadamu. :rolleyes: Apakah engkau membicarakan dua ratus ekor unta yang aku rampas darimu dan engkau meninggalkan rumah yang tiada lain adalah agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk menghancurkannya dan engkau sedikit pun tidak menyinggungnya?" Abdul Muththalib berkata kepada Abrahah, "Sesungguhnya aku adalah pemilik unta, dan rumah tersebut mempunyai Pemilik yang akan melindunginya." Abrahah berkata, "Ia tidak layak menghalang-halangiku." Abdul Muththalib berkata, "Itu terserah antara engkau dengan-Nya."

Utusan Yang Menyertai Abdul Muththalib
Menurut pendapat sebagian ulama, ketika Abdul Muththalib menemui Abrahah bersama dengan Hanathah, Abdul Muththalib ditemani Ya'mur bin Nufatsah bin Adi bin As-Dual bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah pemimpin Bani Bakr, dan Khuwailid bin Watsilah Al-Hudzali pemimpin Hudzail. Keduanya menawarkan siap memberikan sepertiga kekayaan Mekkah kepada Abrahah dengan konpensasi Abrahah pulang ke negerinya dan tidak...
===================================================================================================
Halaman 40
...menghancurkan Baitullah. Abrahah menolak tawaran keduanya. Allah yang lebih tahu apakah keduanya jadi memberikan sepertiga kekayaan Makkah kepadanya atau tidak. Kemudian Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta kepada Abdul Muththalib yang telah dirampasnya.

Abdul Muththalib Memerintahkan Orang-orang Quraisy Keluar dari Makkah
Usai ketiganya bertemu dengan Abrahah, Abdul Muththalib menemui orang-orang Quraisy dan menjelaskan permasalahan yang sesungguhnya. Ia perintahkan mereka keluar dari Makkah, dan berlindung diri di puncak gunung, dan syi'b (jalan di antara dua gunung), karena khawatir mendapatkan gangguan dari pasukan Abrahah. Setelah itu, Abdul Muththalib mengambil rantai pintu Ka'bah dan berdoa dengan beberapa orang Quraisy kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya atas Abrahah dan pasukannya. Abdul Muththalib berkata sambil memegang rantai Ka'bah.
    Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba telah melindungi pelananya
    Maka lindungilah Rumah-Mu
    Ya Tuhan, salib mereka tidak akan mengalahkan-Mu besok pagi
    Karena hanya Engkaulah Yang Mahakuat
    Jika Engkau membiarkan mereka dan kiblat kami
    Maka itu karena sesuatu yang telah Engkau inginkan sebelumnya
Ibnu Hisyam berkata, "Itulah perkataan yang dikatakan Abdul Muththalib."

Doa Ikrimah bin Amir kepada Al-Aswad
Ibnu ishaq berkata bahwa Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushai berkata,
    Ya Allah, hinakan Al-Aswad bin Mas'ud
    Orang yang telah merampas dan memotong unta betina yang banyak
    air susunya dalam keadaan terikat
    Ia menahannya di antara Gunung Hira' dan Gunung Tsabir, serta padang pasir
    Padahal biasanya unta-unta tersebut bebas pergi ke mana ia suka
    Kemudian ia menyatukan unta-unta tersebut kepada orang-orang Sudah
    Ya Tuhan, gagalkan rencananya, karena Engkau Maha Terpuji
Ibnu Hisyam berkata, "Itulah ucapan yang benar yang diucapkan Ikrimah."

Ibnu Hisyam berkata, "Setelah berdoa, Abdul Muththalib melepaskan rantai pintu Ka'bah, lalu bersama dengan beberapa orang-orang Quraisy, ia ...
=============================================================================================
Halaman 41
...pergi ke puncak gunung untuk berlindung di dalamnya dan menunggu apa yang kan diperbuat Abrahah terhadap Makkah jika ia telah memasukinya."

Serangan Abrahah dan Penolakan Gajah
Esok harinya, Abrahah bersiap-siap untuk memasuki Makkah. Ia menyiap-kan gajah-gajahnya, dan memobilisir pasukannya. Gajah Abrahah bernama Mahmud. Ia membulatkan tekatnya untuk menghancurkan Ka'bah, kemudian pulang ke Yaman. Ketika Abrahah dan pasukannya telah mengarahkan gajahnya masing-masing ke Makkah, tiba-tiba Nafal bin Habib Al-Khats'ami tiba, kemudian berdiri di samping gajah Abrahah, Mahmud dan membisikkan kepadanya, "Duduklah wahai Mahmud, atau pulanglah dengan damai ke tempatmu semula, karena sesungguhnya engkau sekarang berada di tanah haram !" Nufail bin Habib melepaskan telinga Gajah Mahmud dan gajah itu pun duduk. Setelah itu, Nufail bin Habib pergi dan naik ke gunung. Pasukan Abrahah memukul Gajah Mahmud agar berdiri, namun ia menolak berdiri. Mereka memukul Gajah Mahmud dengan mencucuk lambungnya agar berdiri, namun ia tetap menolak berdiri. Mereka memasukkan mihjan (tongkat yang berkeluk kepalanya) ke bawah perutnya dan mengiris perutnya dengannya agar berdiri, namun gajah Mahmud tetap menolak berdiri. Mereka menghadapkan gajah Mahmud ke arah Yaman, ternyata ia langsung berdiri dan berlari. Mereka menghadapkan lagi Gajah Mahmud ke arah Syam, ternyata berdiri dan lari seperti sebelumnya. Mereka menghadapkannya ke Makkah, namun ia menolak berdiri.

Hukuman Allah kepada Abrahah
Kemudian Allah Ta'ala mengirim untuk Abrahah dan pasukannya burung-burung seperti burung layang-layang dan burung balsan (sejenis burung tiung) dari arah laut. Setiap burung membawa tiga batu; satu batu di paruhnya, dan dua batu di kedua kakinya. Batu-batu tersebut mirip kacang dan adas. Jika batu tersebut mengenai salah seorang dari pasukan Abrahah, ia pasti tewas, namun tidak semuanya dari mereka terkena batu tersebut. Mereka lari kocar-kacir, berebutan mencari jalan yang telah dilaluinya, dan mencari-cari Nufail agar ia menunjukkan jalan ke arah Yaman.

Syair Nufail tentang Peristiwa Hukuman Allah kepada Abrahah
Melihat hukum Allah kepada mereka, Nufail berkata,
    Di manakah gerangan tempat berlindung dari Allah yang menuntut
    Dan Abrahah Al-Asyram yang menjadi pecundang dan bukan pemenang

Ibnu Hisyam berkata, "Ucapan bukan pemenang berasal dari selain Ibnu Ishaq."
===================================================================================================
Halaman 42
Ibnu Ishaq berkata, "Nufail juga berkata,
    Ketahuilah wahai Rudainah, mudah-mudahan engkau menghidupkan kami
    Kami telah memberikan kenikmatan kepadamu pada pagi hari
    Rudainah, jika engkau melihat, maka engkau jangan melihatnya
    Di tanah berkerikil yang belum pernah kami lihat
    Engkau pasti memaafkanku dan memuji tindakanku
    Serta tidak sedih atas apa yang hilang dari kita
    Aku memuji Allah karena aku melihat burung-burung
    Dan aku takut batu-batu jatuh mengenai kita
    Semua orang bertanya-tanya tentang Nufail
    Sepertinya aku mempunyai hutang pada pasukan Habasyah tersebut
Pasukan Abrahah jatuh berguguran di setiap jalan dan tewas di setiap tempat dan rumah di padang sahara. Abrahah sendiri mendapatkan luka di badannya, kemudian ia digotong anak buahnya, namun tubuhnya berjatuha satu demi satu. Setiap kali anggota tubuhnya berjatuhan, pasti disusul dengan keluarnya nanah dan darah(JGA: ciri khas penyakit cacar yang bernanah dan dapat menimbulkan bopeng.) Itulah yang terjadi pada Abrahah hingga mereka tiba di Shan'a dengan membawa Abrahah yang berubah seperti anak burung. Ketika Abrahah meninggal dunia, dadanya terpisah dari hatinya menurut sebagian besar orang." (JGA: kalimat terakhir ini yang membuatnya jadi tak jelas...hahahaha)

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ya'qub bin Utbah berkata kepadaku, ia diberitahu untuk pertama kalinya terlihat tanah berkerikil di daerah Arab adalah tahun tersebut dan untuk pertama kalinya dijumpai pohon-pohon yang pahit seperti pohon Harmal, pohon Handzal, dan pohon Usyar adalah sejak tahun tersebut.

Allah Subhanahu Mengingatkan Peritiwa Gajah di dalam Al-Quran
Ibnu Ishaq berkata, "Ketika Allah Ta'ala mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Nabi dan Rasul, maka di antara nikmat yang diberikan Allah kepada orang-orang Quraisy ialah bahwa Allah menghalau rencana orang-orang Habasyah terhadap mereka karena keabadian hak mereka. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman,
    "Apakah kamu...
    ================================================================================================
    Halaman 43
    ...tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (Al-Fiil: 1-5).

Allah Ta'ala berfirman,
    "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (Quraisy: 1-5).

Maksudnya, agar sedikit pun tidak ada perubahan pada mereka, karena Allah menghendaki kebaikan pada mereka jika mereka menerima kebaikan tersebut.

Penafsiran Kata-kata pada Surat Al-Fill dan Surat Quraisy
Ibnu Hisyam berkata, "Ababil artinya berkelompok-kelompok. Menurt sepengetahuanku, belum pernah orang-orang Arab menggunakan kata tersebut. Tentang kata sijjil, aku diberitahu oleh Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah bahwa kata tersebut menurut orang-orang Arab artinya keras dan kuat. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
    Mereka ditimpa seperti apa yang menimpa pasukan gajah
    Mereka dilempari batu dari sijjil
    Dan burung-burung yang berkelompok-kelompok mempermainkan mereka
    Bait-bait di atas adalah cuplikan dari syair-syairnya.
Sebagian pakar tafsir menyebutkan, bahwa sijjil adalah dua kata dalam bahasa Persia kemudian orang-orang Arab menjadikannya sebagai satu kata. Dua kata tersebut adalah sinjun dan jillun. Arti dari sinjun ialah batu, sedang arti jillun ialah tanah. Al-'Ashfu artinya daun tanaman yang belum laik ditebang. Kata tunggalnya ashfah."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah An-Nahwi berkata kepadaku, ada yang berkata kepadanya kata tunggal tersebut ialah Al-Ushafah dan Al-Ashifah. Abu Ubaidah juga membacakan kepadaku syair Alqamah bin Abadah, salah seorang dari Bani Rabi'ah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamin, ...
===============================================================================================
Halaman 44
    Ia mengaliri aliran air yang tumbuh-tumbuhannya telah doyong
    Akar-akarnya diisi dari air yang jauh
Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syairnya. Ar-Rajiz berkata,
    Kemudian mereka berubah seperti daun-daun yang dimakan ulat
Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair di atas mempunyai penjelasan tersendiri dalam ilmu gramatikal bahasa Arab. Yang dimaksud dengan li'ilaafi quraisyin ialah keluarnya orang-orang Quraisy ke Syam untuk tujuan bisnis. Mereka mempunyai dua perjalanan; perjalanan di musim dingin, dan perjalanan di musim panas."

Ibnu Hisyam melanjutkan, "Abu Zaid Al-Anshari berkata kepadaku bahwa orang-orang Arab berkata, "Aliftu asy-syai'a ilfan wa aliftuhu iilaafan.'"
Dengan arti yang sama.
Mathrud bin Ka'ab Al-Khuzai berkata,
    Orang-orang yang bergelimang dengan nikamt-nikmat ketika bintang-bintang telah berubah
    Dan orang-orang yang berangkat untuk perjalanan
Bait-bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Mathrud bin Ka'ab Al-Khuzai dan secara lengkap akan saya muat di tempatnya, Insya Allah. Arti iilaaf yang lain, ialah seseorang mempunyai seribu unta atau sapi atau kambing, atau hewan-hewan lainnya. Al-Khmaitu bin Zaid, salah seorang dari Bani Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Nizar bin Ma'ad,
    Pada tahun ini, orang-orang yang memiliki unta seribu berkata
    Tahun ini kita berjalan kaki (karena untanya tidak sanggup menanggungnya
    karena tidak mendapatkan air minum)
Arti iilaf yang lain ialah kaum itu berjumlah seribu. Al-Kumaitu bin Zaid berkata,
    Keluarga Muzaiqiya besok pagi bertemu
    Dengan Bani Sa'ad bin Dzabbah yang berjumlah seribu
Arti iilaf yang lain ialah sesuatu yang jumlahnya belum seribu berubah menjadi seribu.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku dari Umrah binti Abdurrahman bin Sa'id bin Zurarah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, "Sungguh aku pernah melihat penuntun gajah dan pengendalinya di Makkah dalam keadaan buta dan duduk meminta-minta makanan pada manusia."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Fri Apr 30, 2010 11:21 pm

Halaman 45
BAB 7

CIRI-CIRI GAJAH DALAM SYAIR


Tunda dulu sementara disini karena hanya berisi syair-syair

lanjutkan ke bab 8
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Fri Apr 30, 2010 11:27 pm

Halaman 49

BAB 8

KEPERGIAN SAIF BIN DZU YAZIN

Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Yaman didera musibah yang berkepanjangan. Oleh karena itu, Saif bin Dzu Yazin Al-Himyar yang biasa dipanggil Abu Murrah keluar dari Yaman dan tiba di Kaisar, raja Romawi. Ia mengadukan musibah yang dialami orang-orang Yaman kepada Kaisar, memintanya mengeluarkan mereka dari bencana tersebut, ia (Saif bin Dzu Yazin) menjadi raja bagi mereka, dan mengirimkan tentara-tentara Romawi kepada mereka. Kaisar tidak menggubris keluhan Saif bin Dzu Yazin."

Saif bin Dzu Yazin Menemui Kisra
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Saif bin Dzu Yazin keluar dari istana Kaisar dan pergi ke tempat An-Nu'man bin Mundzir, gubernur Kisra di Al-Hijrah dan daerah-daerah Irak di sekitarnya. Saif bin Dzu Yazin mengadukan sepak terjang orang-orang Habasyah kepada An-Nu'man bin Al-Mundzir. An-Nu'man bin Al-Mundzir berkata Saif, 'Aku mempunyai utusan rutin setiap tahun yang datang kepada Kisra. Berdirilah !' Saif bin Dzu Yazin pun berdiri, kemudian ia berjalan bersama An-Nu'man bin Al-Mundzir dan menemui Kisra. Ketika itu, Kisra sedang duduk di istananya dan mahkotanya ada di dalamnya. Mahkotanya seperti takaran besar menurut mereka. Di mahkota tersebut, mutiara yakut, intan berlian, dan mutiara zabarja dicetak dengan emas dan perak, kemudian digantungkan di rantai emas di jendela istana tersebut. Leher Kisra tidak sanggup menyangga mahkota tesebut. Oleh karena itu, mahkotanya ditutup dengan kain. Jika ia telah duduk di singgasananya, maka saat itulah kepalanya dimasukkan ke dalam mahkota. Jika ia telah duduk tegak di singgasananya, kain itu diambil daripadanya. Jika orang yang belum pernah melihatnya kemudian melihatnya memakai mahkotanya, pasti ia duduk karena sungkan kepadanya. Ketika Saif bin Dzu Yazin masuk kepadanya, Saif bin Dzu Yazin duduk di depannya.

Pertemuan antara Kisra dengan Saif Dzu Yazin
Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata kepadaku, ketika Saif bin Dzu Yazin masuk kepada Kisra, ia menundukkan kepalanya. Kisra berkata, "Orang **** ini masuk kepadaku dari pintu setinggi ini dengan menundukkan kepalanya !" Ucapan tersebut disampaikan kepada Saif bin...
====================================================================================================
Halaman 50

...Dzu Yazin, lalu ia berkata, "Aku bertindak seperti itu karena aku sedih, dan karena segala sesuatu menjadi sempit bagiku."

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Saif bin Dzu Yazin berkata, 'Paduka raja, kami dikalahkan orang-orang asing di negeri kami sendiri.' Kisrah bertanya kepada Saif bin Dzu Yazin, 'Orang asing dari mana; dari Habasyah atau Sindi?' Saif bin Dzu Yazin berkata, 'Dari Habasyah. Aku datang kepadamu dengan maksud meminta pertolonganmu dan pemerintahan negeriku menjadi milikmu.' Kisra berkata, 'Negerimu jauh dari sini, dan kekayaannya sangat sedikit.(JGA: wahai Crescent Star, lihatlah pernyataan gubernur dari kekaisaran Romawi di Irak tersebut yang menunjukkan mereka tidak tertarik sampai kapanpun terhadap Arab. Jadi jangan mengarang-ngarang alasan ya-ingat diskusi kita tentang Abu Amir yang kau sebut Rahib Kristen?) Aku tidak mau menyulitkan pasukan Persia di negeri Arab, dan aku tidak mempunyai kepentingan dalam hal ini.' Kemudian Kisra menghadiahi Saif bin Dzu Yazin uang sebesar sepuluh ribu dirham, dan pakaian yang bagus. Setelah menerima hadiah tersebut, Saif bin Dzu Yazin keluar dari hadapan Kisra, dan menyebarkan uang hadiah Kisra tersebut kepada manusia. Kejadian tersebut dilaporkan kepada Kisra. Ia berkata, 'Orang tersebut pasti mempunyai persoalan penting.'

Kemudian Kisra mengutus seseorang menemui Saif bin Dzu Yazin dan berkata kepadanya, 'Engkau sengaja menyebarkan hadiah Kisra?' Said bin Dzu Yazin berkata, 'Apa yang bisa aku kerjakan dengan hadiah tersebut? Gunung-gunung di negeriku semuanya adalah emas dan perak.' Said bin Dzu Yazin merayu Kisra agar ia tertarik kepada gunung-gunung emas dan perak tersebut. (JGA: Rayuan gombal ni yeee...hahaha) Kemudian Kisra mengumpulkan para sahabatnya dan berkata kepada mereka, 'Bagaimana pendapat kalian terhadap orang ini, dan persoalannya?' Salah seorang dari mereka berkata, 'Paduka raja, sesungguhnya di penjara banyak sekali narapidana yang dipenjara karena kasus pembunuhan. Jika engkau mengirim mereka bersama Saif bin Dzu Yazin; jika mereka semua meninggal dunia, itulah yang engkau inginkan pada mereka. Jika mereka menang, itu adalah kekuasaan yang ditambahkan kepadamu.' Akhirnya Kisra mengirim semua narapidana bersama Saif bin Dzu Yazin. Mereka berjumlah delapan ratus orang dipimpin salah seorang dari mereka yang bernama Wahriz. Ia orang yang paling tua di antara mereka, paling mulia nasab dan status sosialnya. Mereka berangkat dengan menaiki delapan kapal. Dua kapal tenggelam dalam perjalanan, :lol: dan enam kapal sisanya tiba di pesisir Aden. Saif bin Dzu Yazin menggabungkan orang-orang yang mampu di antara kaumnya kepada pasukan Wahriz. Ia berkata kepada Wahriz, 'Kedua kakiku bersama dengan kedua kakimu hingga kita mati bersama, atau menang bersama.' (JGA: tuh, bukannya ngirim tentara buat bantu, eh malah memberi para penjahat kepada si Saif...hehe)

Kekalahan Orang-orang Habasyah
Wahriz berkata, ‘Engkau benar.’ Raja Yaman, Masrq bin Abrahah mengumpulkan pasukannya dan memberi perlawanan sengit kepada Wahriz. Wahriz mengirimkan anaknya untuk menghadapi pasukan Masruq bin Abrahah, memerangi mereka, dan menguji kemampuan perang mereka.
===================================================================================================
Halaman 51

Dalam perang tersebut, anak Wahriz terbunuh. Hal ii membuat Wahriz geram. Ketika pasukannya berdiri di barisannya masing-masing, Wahriz berkata, ‘Tunjukkan kepadaku raja mereka?’ Mereka berkata kepda Wahriz, ‘Apakah engkau melihat seseorang duduk di atas gajah dengan mengenakan mahkota di kepalanya, dan di kedua matanya terdapat mutiara yakut yang berwarna merah?’ Wahriz berkata, ‘Ya, aku melihatnya.’ Mereka berkata, ‘Itulah raja mereka.’ Wahriz berkata, ‘Biarkan mereka.’.”

Ibnu Ishaq menambahkan, “Mereka diam lama, kemudian Wahriz berkata, ‘Apa tandanya dia?’ Mereka menjawab, ‘Ia ganti mengendarai kuda.’ Wahriz berkata, ‘Biarkan dia.’ Mereka berdiri lama sekali, kemudian Wahriz berkata, ‘Apa tandanya dia?’ Mereka menjawab, ‘Ia ganti mengendarai bighal (peranakan kuda dengan keledai).’ Wahriz berkata, ‘Anak keledai itu hina, dan hina kerajaannya. Aku akan melemparnya. Jika kalian melihat pasukannya tidak bergerak, maka kalian jangan bergerak hingga aku memberi komando kepada kalian, karena aku salah sasaran. JIka kalian melihat pasukannya mengelilinginya, maka aku tidak salah sasaran dan seranglah mereka!’ Kemudian Wahriz memasang anak panahnya. Konon, selain dirinya tidak ada yang kuat memasangnya karena saking kuatnya tali panah. Ia perintahkan dua pengawalnya membantu memasang anak panah, kemudian ia melemparkan anak panah tersebut dan memecahkan mutiara yakut yang ada di kedua mata Masruq bin Abrahah. Anak panah tersebut menembus kepalanya dan keluar dari tengkuknya. Ia terjatuh dari hewan tunggangannya, kemudian orang-orang Habasyah berkerumun di sekitarnya. Ketika itulah, orang-orang Persia menyerang mereka. Orang-orang Habasya kalah. Banyak sekali dari mereka yang terbunuh, dan mereka yang masih hidup lari ke mana-mana. Kemudian Wahriz berjalan untuk memasuki Shan’a. Tiba di pintunya, ia berkata, ‘Benderaku tidak boleh masuk dalam keadaan terjungkir selama-lamanya. Hancurkan pintu ini.’ Mereka pun menghancurkan pintu masuk Shan’a, kemudian masuk ke dalamnya dengan bendera tegak.’

Syair Saif bin Dzu Yazin tentang Peristiwa Kekalahan Orang-orang Habasyah
Syaif bin Dzu Yazin Al-Himyari berkata,

    Manusia mengira, bahwa dua raja tersebut telah bersatu
    Siapakah yang mau mendengar seruannya
    Pada saat petaka telah membesar?
    Kami telah membunuh Masruq
    Dan menyirami dataran tinggi dengan darah
    Sesungguhnya raja ialah raja manusia
    Yaitu Wahriz yang telah membagi-bagi jatah
    Ia menikmati minuman keras
    Hingga mendapatkan tawanan perang dan kekayaan
=================================================================================================
Halaman 52

Ibnu Hisyam berkata, “Bait-bait di atas adalah penggalan dari syair-syairnya. Khallad bin Qurrah As-Sadusi membacakan kepadaku bait terakhir syair A’sya anak Qais bin Tsa’labah dalam kumpulan syair-syairnya, namun pakar syair menolak menisbahkan syair tersebut kepadanya.”

Syair Ibnu Abu Ash-Shalt
Ibnu Ishaq berkata, “Abu Ash-Shalt bin Abu Rabi’ah Ats-Tsaqafi berkata,
    Hendaklah orang seperti anak Dzu Yazin mencari anak panah
    Ia hilang di laut tidak diketahui musuh-musuhnya bertahun-tahun
    Ia bermaksud pergi ke Kaisar ketika perjalanannya semakin jelas
    Namun ia tidak mendapatkan apa yang dimintanya
    Kemudian ia beralih pergi kepada Kisra pada tahun kesepuluh
    Ia merendahkan dirinya dan hartanya
    Hingga akhirnya ia berhasil membawa orang-orang merdeka
    Aku bersumpah, sungguh engkau telah bertindak cepat hingga engkau
    Berhasil membawa apa yang engkau pinta
    Demi Allah, mereka keluar dari keluarganya
    Aku belum pernah melihat orang-orang seperti mereka
    Orang berkulit putih, pejabat teras yang kuat dan ahli panah
    Singa-singa yang mengasuh anak-anak singa di hutan belantara
    Mereka melempar anak panah dengan semangat yang tinggi
    Anak-anak panah tersebut tak ubahnya seperti air hujan
    Yang membuat mati dengan cepat orang yang terkena olehnya
    Engkau telah mengirimkan singa-singa kepada anjing-anjing hitam (orang-orang Habasya)
    Membuat mereka lari terusir tidak karuan
    Minumlah kehinaan
    Engkau mempunyai mahkota tinggi di atas istana Ghumdan
    Minumlah kehinaan, karena kub-kubu mereka telah lumpuh
    Dan panjangkan kain burdahmu pada hari ini
    Itulah kemuliaan itu dan bukannya gelas berisi susu
    Yang dicampur dengan air, kemudian berubah menjadi air kencing
Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang berpendapat bahwa syair tersebut milik Umaiyah bin Abu-Ash-Shalt."

Ibnu Hisyam berkata, "Itulah syair yang diriwayatkan Ibnu Ishaq, kecuali bait terakhir. Bair tersebut milik An-Nabighah Al-Ja’di yang nama aslinya ialah Abdullah bin Qais, salah seorang dari Bani Ja’dah bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin dalam kumpulan syairnya."
===================================================================================================
Halaman 53

Syair Adi bin Zaid
Ibnu Ishaq berkata, “Adi bin Zaid Al-Hiri, salah seorang dari Bani Tamim mengatakan syair di bawah.” Ibnu Hisyam berkata, “Ia anak keturunan Umru’Al-Qais bin Zaid bin Manat bin Tamin. Ada yang mengatakan, bahwa Adi berasal dari Al-Ibadi di Al-Hirah.”
    Setelah Sha’a, ia diurus
    Oleh pengasa-penguas yang dermawan
    Shan’a dibangun oleh orang yang membangunya di awan yang berserakan
    Prajurit-prajuritnya basah seperti minyak kesturi
    Shan’a tersebut dikelilingi gunung-gunung
    Dekat dengan langit hingga orang tidak bisa mendakinya
    Di dalamnya, suara burung hantu menjadi merdu
    Jika diikuti suara seruling pada petang hari
    Pasukan orang-orang merdeka mendatangkan sebab-sebab kepadanya
    Yaitu pasukan berkuda dengan perahu-perahunya
    Pasukan tersebut mengarungi negeri-negeri bahaya dengan mengendarai bighal (peranakan kuda dengan keledai)
    Dengan menjadikan kematian sebagai muatan hewan kendaraannya
    Hingga akhirnya pasukan tersebut dilihat oleh orang-orang dari atas benteng
    Hari itu, mereka memanggil marga Barbar dan Al-Yaksum
    Bahwa orang yang lari tidak akan selamat
    Hari itu akan terus menjadi bahan perbincangan
    Dan nikmat yang dulu mereka rasakan, sekarang telah sirna
    Dari jalan sendiri-sendir, mereka berubah menjadi lari kocar-kacir bersama-sama
    Dan hari-hari itu menjadi gelap dan menyimpan banyak keajaiban
    Setelah kedatangan orang-orang mulia dari Bani Tubba’
    Menteri-menterinya senang hidup di dalamnya
Ibnu Hisyam berkata, "Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Adi bin Zaid. Abu Zaid Al-Anshari membacakan syair Adi bin Zaid kepadaku dan diriwayatkan kepadaku dari Al-Mufadhdhal Adz-Dzabi,
    Hari itu, mereka memanggil marga Barbar dan Al-Yaksum
Inilah yang dimaksud Sathih dengan ucapannya, "Ia akan dikuasai Iram bin Dzu Yazin. Ia keluar kepada mereka dari Aden kemudian tidak menyisakan seorang pun dari mereka di Yaman." Dan yang dimaksud Syiqq dengan ucapannya, "Seorang anak muda yang tidak hina dan tidak lemah. Ia keluar kepada mereka dari keturunan Dzu Yazin."

---ooOoo---
Last edited by JANGAN GITU AH on Sat May 01, 2010 8:34 am, edited 3 times in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Fri Apr 30, 2010 11:29 pm

Halaman 45

BAB 9

AKHIR ERA PERSIA DI YAMAN


Masa Kerajaan Habasyah di Yaman dan Jumlah Raja-raja Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Wahriz dan orang-orang Persia menetap di Yaman. Anak keturunan sebagian pasukan Persia sampai sekarang masih ada di Yaman. Usia kerajaan Habasyah di Yaman sejak Aryath masuk kepadanya hingga orang-orang Persia membunuh Masruq bin Abrahah dan mengusir orang-orang Habasyah dari Yaman adalah tujuh puluh dua tahun. Kerajaan mereka diwarisi di antara empat orang; Aryath kemudian Abrahah, kemudian Yaksum bin Abrahah, kemudian Masruq bin Abrahah."

Gubernur-gubernur Persia di Yaman
Ibnu Hisyam berkata, "Setelah Wahriz meninggal dunia, Kisra mengangkat anaknya, Al-Marzuban bin Wahriz sebagai gubernur di Yaman. Ketika Al-Marzuban meninggal dunia, Kisra mengangkat anaknya, At-Tainujan bin Al-Marzuban sebagai gubernur di Yaman. Ketika At-Tainujan meninggal dunia, Kisra mengangkat anaknya, sebagai gubernur di Yaman, kemudian memecatnya dan menggantikannya dengan Badzan. Badzan menjadi gubernur di Yaman, hingga Allah mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai Nabi dan Rasul"

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Memberitahu Manusia tentang Kematian Kisra
Ibnu Hisyam berkata bahwa aku diberitahu seseorang dari Az-Zuhri yang berkata bahwa Kisra menulis surat kepada gubernurnya di Yaman, Badzan. Dalam suratnya, Kisra berkata, "Aku mendapat informasi bahwa seseorang dari suku Quraisy di Makkah mengaku sebagai Nabi(JGA: ngaku-ngaku ni yee), maka pergilah engkau kepadanya dan suruh dia bertaubat. Jika ia tidak bertaubat, datanglah kepadaku dengan membawa kepalanya !" Kemudian Badzan mengirimkan surat Kisra kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau membalas suratnya. Dalam surat balasannya, beliau berkata, "Sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku akan mematikan Kisra pada hari ini, di bulan ini." Ketika surat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai ke tangan Badzan, Badzan membukanya untuk melihat isinya. Ia berkata, "Jika ia se....
==================================================================================================
Halaman 55

...orang Nabi, maka apa yang ia katakan akan terjadi." Kemudian Allah mematikan Kisra tepat pada hari yang dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ibnu Hisyam berkata, "Kisra terbunuh di tangan anaknya, Syirawith." Khalid bin Hiqq Asy-Syaibani berkata,
    Dan Kisra, ketika ia dipotong anak-anaknya
    Dengan pedang sebagaimana daging dipotong-potong
    Kematian lahir untuknya pada suatu hari
    Sebagaimana orang hamil mempunyai hari untuk melahirkan

Masuk Islamnya Orang-orang Persia di Yaman
Az-Zuhri berkata, "Ketika kematian Kisra didengar Badzan, ia mengutus utusan untuk memberitahu keislaman dirinya dan keislaman orang-orang Persia kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Utusan Badzan berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Siapakah yang kami anggap sebagai wali kami, wahai Rasulullah?' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, 'Kalian menjadi bagian dari kami dan perwalian kalian kepada keluarga kami."

Ibnu Hisyam berkata bahwa disampaikan kepadaku dari Az-Zuhri yang berkata, "Di antara yang dikatakan Rasulullah Alaihi wa Sallam,
    'Salman adalah bagian dari kami, ahlul bait.'"
Ibnu Hisyam berkata, "Inilah yang dimaksudkan Sathih dengan ucapannya, 'Nabi suci yang mendapatkan wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi.' Dan yang dimaksudkan Syiqq dengan ucapannya, 'Tidak. Kerajaannya terhenti dengan kedatangan Rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan di antara orang-orang beragama (JGA: sekarang keadilan di antara orang-orang beragama dilaksanakan dengan cara melarang penganut agam lain beribadah atau mendirikan rumah ibadah..kayak di Iran itu lho ! :shock: ) dan orang-orang mulia. kerajaan dimiliki kaumnya hingga hari Pengadilan'."

Buku di Batu Yang Ada di Yaman dan Yang Disebutkan Penyair
Ibnu Ishaq berkata, "Menurut banyak orang, bahwa di Batu di Yaman terdapat Kitab Zabur yang ditulis pada periode pertama, 'Kerajaan Dzimar menjadi milik siapa? Milik Himyar yang terbaik. kerajaan Dzimar menjadi milik siapa? Milik orang-orang Habasyah yang jahat. Kerajaan Dzimar menjadi milik siapa? Milik orang-orang Persia yang merdeka. kerajaan Dzimar menjadi milik siapa? Menjadi milik orang-orang Quraisy yang pedagang'."

Dzimar adalah Yaman atau Shan'a.

Ibnu Hisyam berkata, "Dzamar adalah Yunus seperti yang disampaikan kepadaku."
==================================================================================================
Halaman 56
Al-A'sya Menyebut tentang Kenabian dalam Syairnya
Ibnu Ishaq berkata, "Al-A'sya, salah seorang dari Bani Qais bin Tsa'labah berkata tentang kebenaran ramalan Sathih dan sahabatnya,
    Orang-orang yang panjang bulu matanya tidak bisa melihat seperti dirinya
    Betul sekali seperti ketika Adz-Dzi'biyyu berkata dalam sajaknya
Orang-orang Arab memanggil Shatih dengan panggilan Adz-Dzi'biyyun, karena ia adalah anak Rabi'ah bin Mas'ud bin Mazin bin Dzi'bun.

Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair di atas berasal dari syair-syair Al-A'sya. Nama lengkap Al-A'sya ialah Maimun bin Qais."

Kisah tentang Raja Al-Hadhr
Ibnu Hisyam berkata bahwa Khallad bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi berkata kepadaku dari Jannad atau dari sebagian ulama ahli tentang nasab dari Kufah, bahwa An-Nu'man bin Al-Hadhr ialah benteng besar di pantai Efrat seperti Madinah. Benteng itulah yang disebutkan Adi bin Zaid dalam syairnya,
Ia membangunnya dengan marmer dan mengecatnya dengan kapur, serta di atasnya terdapat sarang burung,
    Kematian tidak takut kepada benteng tersebut
    Kemudian sang raja menjauh daripadanya dan pintunya ditinggalkan orang
Ibnu Hisyam berkata, "Bait-bait syair di atas adalah penggalan syair-syair Adi bin Zaid. Sedang yang disebutkan Abu Daud Al-Iyadi di dalam syairnya ialah seperti berikut,
    Aku lihat kematian telah mendekat kepada Al-Hadhr
    Kepada pemiliknya, yaitu Sathirun
Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Abu Daud Al-Iyadi. Konon ada yang mengatakan, bahwa syair tersebut milik Khalaf Al-Ahmar. Konon lagi ada yang mengatakan, bahwa syair tersebut milik Hammad Ar-Rawiyah." (JGA: hihi..konon, konon, konon...konon. Mana yang pasti?)

Penguasaan Sabur atas Al-Hadhr
Ibnu Hisyam berkata, "Kisra (raja) Persia, Sabur yang mempunyai kekuatan tangguh bermaksud menyerang Sathirun, raja Al-Hadhr. Ia kepung Al-Hadhr selama dua tahun. Pada suatu hari, putri Sathirun keluar dan melihat Sabur yang sedang mengenakan pakaian dari bahan sutra dan di kepalanya terdapat mahkota yang dilapisi dengan zabarzad, mutiara yakut, intan berlian, dan emas. Sabur adalah laki-laki tampan. Putri Sathirun menemuinya dan berkata, 'Apakah engkau bersedia menikahiku, jika aku bukakan pintu Al-Hadhr untukmu?' Sabur berkata, 'Ya.' Pada petang hari, Sathirun menenggak minuman keras hingga teler dan ia tertidur dalam keadaan teler. Ketika itulah,...
====================================================================================================
Halaman 57

putrinya mengambil kunci pintu Al-Hadhr dari bawah kepalanya kemudian memberikannya kepada bekas budaknya yang kemudian membuka pintu Al-Hadhr. dan menghancurkannya. Sabur membawa putri Sathirun kemudian menikahinya. Pada suatu malam, putri Sathirun berguling-guling di ranjangnya karena tidak bisa tidur. Sabur meminta diambilkan lilin untuk istrinya, dan memeriksa ranjang istrinya, ternyata ia menemukan daurn pohon Asu. Sabur bertanya kepada istrinya, 'Apakah benda ini yang membuatmu tidak bisa tidur?' Istrinya menjawab, 'Ya.' Sabur berkata, 'Dulu apa yang diperbuat ayahmu terhadapmu?' Istrinya menjawab, 'Dulu ayahku menyelimutikan kain dibaj (sejenis sutra) kepadaku, memakaikan kain sutra kepadaku, memberiku otak untuk aku makan, dan memberiku minuman keras untuk aku minum.' Sabur berkata, 'Apakah kebaikan ayahmu engkau balas dengan perbuatanmu tadi, dan engkau datang kepadaku dengan cepat seperti itu?' Sabur memerintahkan gelung rambut istrinya dikaitkan ke ekor kuda, kemudian kuda tersebut lari hingga menewaskan putri Sathirun." (JGA: :shock: apa salah putri Sathirun kepada ayahnya hingga harus dihukum oleh Sabur? Dasar manusia tak bisa berterima kasih. Sudah dibantu menguasai, eh membala dengan air tuba, sudah di kasi vagina juga hehehe...nuntut nyawa lagi)

Tentang peristiwa di atas, A'sya, salah seorang dari anak Qais bin Tsa'labah berkata,
    Tidakkah Anda lihat ketika orang-orang Al-Hadhr bergelimang dengan kenikmatan
    Adakah kenikmatan itu abadi?
    Syahbur (Sabur) memerintahkan pasukannya menetap di dalamnya selama dua tahun
    Al-Hadhr diserang oleh orang-orang Persia
    ketika Tuhan memanggilnya,
    Ia pun bertaubat kepada-Nya hingga Dia tidak menghukumnya
Bait-bait syair di atas potongan dari syair-syair A'sya. Tentang peristiwa di atas, Adi bin Zaid berkata,
    Al-Hadhr mendapat musibah dahsyat dari atasnya
    Seorang gadis yang tidak menjaga ayahnya ketika ia tidak dijaga
    Sebab ia diberi minum minuman keras murni
    Minuman keras itu menghilangkan kesadaran peminumnya
    Gadis tersebut menyerahkan penduduk Al-Hadhr pada suatu malam
    Dengan harapan raja (Sabur) akan melamarnya
    Nasib pengantin ketika fajar telah menyingsing darah mengucur
    Al-Hadhr dihancurkan dan dihalalkan
    Ia dibakar, sedang pakaiannya terikat di kayu sangkutan pakaian
Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Adi bin Zaid.

Anak-anak Nizar bin Ma'ad
Ibnu Ishaq berkata, "Nizar mempunyai tiga anak, yaitu Mudzar bin...
====================================================================================================
Halaman 58

...Nizar, Rabi'ah bin Nizar, dan Anmar bin Nizar."

Ibnu Hisyam berkata, "Selain itu, Nizar mempunyai anak yang bernama Iyad bin Nizar." Al-Harts bin Daus Al-Iyadi berkata dalam syairnya, dan konon syair tersebut milik Abu Daud Al-Iyadi yang nama aslinya ialah Jariyah bin Al-Hujjaj,
    Kejantanan yang baik ialah pemuka mereka
    Dari Iyad bin Nizar bin Ma'ad
Bait-bait syair di atas adalah sebagian dari syair-syairnya.

Ibu Mudzar dan Iyad ialah Saudah binti Akka bin Adnan. Dan ibu Rabi'ah dan Anmar ialah Syaqiqah binti Akka bin Adnan. Ada yang mengatakan bahwa ibu Rabi'ah dan Anmar ialah Jum'ah binti Akka bin Adnan.

Anak-anak Anmar
Ibnu Ishaq berkata, "Anmar adalah ayah Khat'sam dan Bajilah."
Jarir bin Abdullah Al-Bajali, salah seorang tokoh Kabilah Bajilah dan orang yang dimaksud penyair dalam syairnya,
    Tanpa Jarir, Bajilah pasti binasa
    Jarir adalah pemuda terbaik, dan Bajilah adalah kabilah terburuk
    Jarir bin Abdullah Al-Bajali berkata ketika ia mengadukan Al-furabishah
    Al-Kalibi kepada Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi,
    Wahai Aqra' bin Habis, hai Aqra'
    Jika saudaramu kalah, engkau juga pasti kalah
Ia juga berkata,
    Hai kedua anak Nizar, tolonglah saudara kalian berdua !
    Karena ayaku ternyata kudapati adalah ayah kalian berdua
    Pada hari ini, seorang saudara yang berkoalisi dengan kalian berdua
    tidak akan terkalahkan

Ibnu Hisyam berkata bahwa orang-orang Yaman dan kabilah Bajilah berkata, "Anmar adalah anak Iras bin Lihyan bin Amr bin Al-Ghauts bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba." Ada yang mengatakan bahwa Iras adalah anak Amr bin Lihyan bin Al-Ghauts. Rumah Bajilah dan Khats'am di Yaman.

Anak-anak Mudzar bin Nizar
Ibnu Ishaq berkata, "Mudzar bin Nizar mempunyai dua orang anak yaitu Ilyas bin Mudzar dan Ailan bin Mudzar."
Ibu keduanya berasal dari Jurhum.
=======================================================================================
Halaman 59

Anak-anak Ilyas bin Mudzar
Ibnu Ishaq berkata, "Ilyas bin Mudzar mempunyai tiga anak; yaitu Mudrikah bin Ilyas, Thabikhah bin Ilyas, dan Qama'ah bin Ilyas. Ibu mereka adalah Khindif yang berasal dari Yaman."

Ibnu Hisyam berkata, "Khindif adalah putri Imran bin Ilhaf bin Qudha'ah."

Ibnu Ishaq berkata, "Nama asli Mudrikah ialah Amir, dan nama asli Thabikhah ialah Amr. Mereka mengatakan bahwa keduanya sedang menggembalakan unta milik keduanya, kemudian keduanya berburu hewan buruan. Ketika keduanya duduk untuk memasak hewan buruan, tiba-tiba datanglah singa kepada unta keduanya, Amir berkata kepada Amr, 'Engkau pergi menyusul unta atau memasak hewan buruan ini?' Amr berkata, 'Aku memasak saja.' Kemudian Amir pergi menyusul untanya dan datang kembali dengan membawa unta. Ketika keduanya bertemu dengan ayahnya, keduanya menceritakan apa yang terjadi pada keduanya, kemudian ayahnya berkata kepada Amir, 'Engkau adalah Mudrikah (menemukan unta kembali).' Dan kepada Amr, ayahnya berkata, 'Engkau adalah Thabikhah (juru masak)'."

Adapun Qama'ah, maka ahli nasab Mudzar menduga Khuza'ah adalah anak Amr bin Luhai bin Qama'ah bin Ilyas.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sat May 01, 2010 10:20 am

Halaman 60
BAB 10

PERIHAL AMR BIH LUHAI DAN BERHALA-BERHALA ARAB

Amr bin Hushai Menyeret Usus-ususnya di Neraka
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata bahwa aku diberitahu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Aku melihat Amr bin Luhai menyeret usus-ususnya di neraka. Aku bertanya kepadanya tentang manusia (yang hidup) antara aku dengannya, ia menjawab, 'Mereka telah binasa'."
Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harts At-Taimi berkata kepadaku bahwa Abu Shalih As-Saman berkata kepadanya bahwa Abu Hurairah (Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Hurairah ialah Abdullah bin Amir. Ada yang mengatakan nama aslinya ialah Abdurrahman bih Shakhr) mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Aktsam bin Al-Jaun Al-Khuzai,
    "Hai Aktsam, aku lihat Amr bin Luhai bin Qama'ah bin Khindif menyeret usus-ususnya, dan aku tidak melihat orang yang amat mirip dengan orang lain melainkan engkau dengannya dan dia denganmu." Aktsam berkata, "Barangkali kemiripannya denganku itu membahayakanku, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak, karena engkau orang Mukmin, sedang dia orang kafir. Dialah orang yang pertama kali mengubah agama Ismail, memasang berhala, mengiris telinga unta, melepaskan saibah, memberikan washilah, dan melindungi haam."

Amr bin Luhai Adalah Orang Yang Pertama Kali Mendatangkan Berhala
Ibnu Hisyam berkata bahwa salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa Amr bin Luhai pergi dari Makkah ke Syam untuk satu keperluan. Ketika tiba di Ma'arib, daerah di Balqa'. Ketika itu, Ma'arib didiami Al-Amaliq--anak keturunan Imlaq (ada yang mengatakan Amliq) bin Lawudz bin Sam bin Nuh. Di sana, Amr bin Luhai melihat mereka menyembah berhala. Ia berkata kepada mereka, "Berhala-berhala apa yang kalian sembah...
====================================================================================================
Halaman 61

...seperti yang aku lihat ini?" Mereka berkata kepada Amr bin Luha, "Kami menyembah berhala-berhala ini guna meminta hujan kepadanya, kemudian ia memberi kami hujan. Kami meminta pertolongan kepadanya kemudian ia memberikan pertolongan kepada kami." Amr bin Luhai berkata kepada mereka, "Apakah kalian mau memberiku satu berhala untuk aku bawa ke jazirah Arab kemudian mereka menyembahnya?" Mereka memberi Amr bin Luhai satu berhala yang bernama Hubal. Amr bin Luhai tiba di Makkah dengan membawa berhala. Ia memasangnya, kemudian memerintahkan manusia menyembahnya dan mendewa-dewakannya.

Asal-usul Penyembahan Berhala di Jazirah Arab
Ibnu Ishaq berkata, "Ada yang mengatakan bahwa penyebab anak keturunan Ismail menyembah batu ialah jika mereka mengalami kesulitan di Makkah, dan ingin pergi mencari rezki di negeri-negeri lain, mereka membawa salah satu batu dari batu-batu tanah suci Makkah sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Makkah. Jika mereka berhenti di suatu tempat, mereka meletakkan batu tersebut, kemudian thawaf di sekelilingnya persis seperti mereka thawaf di sekeliling Ka'bah. Itulah yang terjadi, hingga akhirnya terjadi perubahan pada mereka. Mereka menyembah batu yang mereka anggap baik dan menarik perhatian mereka. Generasi datang silih berganti hingga mereka lupa penyikapan yang benar terhadap batu tersebut dan mengubah agama Ibrahim dan Ismail dengan agama lainnya. Mereka menyembah berhala-berhala dan menjadi tersesat seperti umat-umat sebelumnya. Kendati begitu, di antara mereka masih terdapat sisa-sisa pengikut Nabi Ibrahim yang berpegang teguh kepada agama Ibrahim; mengagungkan Ka'bah, thawaf disekelilingnya, melakukan ibadah haji, umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan qurban, membaca talbiyah ketika melakukan haji dan umrah, serta tidak ketinggalan memasukkan ajaran baru (bid'ah) ke dalamnya. Jika orang-orang Kinanah dan orang-orang Quraisy melakukan talbiyah mereka berkata, "Labbaikallahumma labbaika. Labbaikan laa syariika laka illaa syariikun huwa laka. Tamlikuhi wa maa malaka (Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu tersebut menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya dan tidak ada yang memilikinya)." Mereka mentauhidkan Allah dalam talbiyah, namun memasukkan berhala- berhala mereka bersama Allah dan menjadikan kepemilikan berhala-berhala tersebut di Tangan-Nya. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Shallam,
    Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersukutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (Yusuf: 106)
==========================================================================================
Halaman 62

Maksud ayat di atas bahwa mereka tidak mentauhidkan Aku karena mengetahui hak-ku; namun mereka menjadikan sekutu bagi-Ku dari makhluk-Ku. (JGA: eh berhala itu makhluk juga ya? eh baru tahu nih...wakakaka)

Berhala-berhala Kaum Nuh
Umat Nuh mempunyai berhala-berhala, tempat mereka beribadah kepadanya. Allah Tabaraka wa Ta'ala menceritakan berhala-berhala tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Shallam dengan firman-Nya,
    "Dan mereka berkata, 'Jangan sekali-sekali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-sekali meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa'a, yaghuts, nyakan (manusia). Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu selain kesesatan." (Nuh: 22-24)

Berhala-berhala Kabila-kabila Arab
Orang-orang yang membuat berhala-berhala dari anak keturunan Ismail dan orang-orang selain keturunan Ismail, dan memberi nama berhala-berhala dengan nama-nama mereka ketika mereka meninggalkan agama Ismail ialah Kabilah Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar. Mereka menjadikan Suwa' sebagai berhala dan mereka mempunyai tempat di dekat sumber air. Selain Kabilah Hudzail ialah Kabilah Kalb bin Wabrah dari Qadha'ah. Mereka menjadikan Wadd sebagai berhala di Dumatul Jandal.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ka'ab bin Malik Al-Anshari berkata,
    Kami sudah lupa kepada Al-Lata, Al-Uzza dan Wadd
    Dan kami mengambil ikatannya dan tali di hidungnya
Ibnu Hisyam berkata, "Bait-bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Ka'ab bin Malik, dan secara lengkap akan saya sebutkan pada tempatnya, Insya Allah."

Ibnu Hisyam berkata, "Kalb ialah anak Wabrah bin Taghlab bin Hulwan bin Imran bin lihaf bin Qudha'ah."

Para Penyembah Yaghuts
Ibnu Ishaq berkata, "An'um dari Thayyi' dan penduduk Huras dari Madzhaj menjadikan Yaghuts sebagai berhala."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan An'am. Dan Thayyi' adalah anak Adad bin Malik dan Malik ialah Madzhaj bin Udad. Ada yang mengatakan Thayyi' adalah anak Adad bin Zaid bin Kahlan bin Saba."

Para Penyembah Ya'uq
Ibnu Ishaq berkata, "Khaiwan, salah satu kabilah dari Hamdzan menjadikan Ya'uq sebagai berhala di daerah Hamdzan dari daerah Yaman."
====================================================================================================
Halaman 63

Ibnu Hisyam berkata, "Nama Hamdzan ialah Ausalah bin Malik bin Zaid bin Rab'iah bin Ausalah bin Al-Khiyar bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Ausalah adalah anak Zaid bin Ausalah Al-Khiyar."

Ibnu Hisyam berkata bahwa Malik bin Namth al-Hamdani berkata,

    Allah menolong dan mengalahkan di dunia
    Sedang Ya'uq tidak bisa mengalahkan dan menolong

Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Malik bin Namth Al-Hamdani.
Ada yang mengatakan Hamdan adalah anak Ausalah bin Rabi'ah bin Malik bin Al-Khiyar bin Malik bin Zaid Kahlan bin Saba'.

Para Penyembah Nasr
Ibnu Ishaq berkata, "Dzu Al-Kila' dari Himyar menjadikan Nasr sebagai berhala di daerah Himyar."

Para Penyembah Umyanis
Khaulan mempunyai berhala yang bernama Umyanis di daerah Khaulan. Mereka memberikan hewan dan panen mereka kepadanya di samping kepada Allah. Hak Allah yang masuk ke dalam hak berhala Umyanis, mereka biarkan untuk berhala Umyanis, dan hak Allah yang masuk dalam hak berhala Umyanis, mereka ambil kemudian mereka berikan kepada berhala Umyanis. Mereka adalah kabilah dari Khaulan yang bernama Al-Adim. Tentang mereka, allah Tabarak wa Ta'ala menurunkan ayat-Nya,
    "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhal mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu." (Al-An'am: 136)
Nasab Khaulan
Ibnu Hisyam berkata, "Khaulan adalah anak Amr bin Ilhaf bin Qadha'ah. Ada yang mengatakan bahwa Khaulan adalah anak Amr bin Murrah bin Udad bin Zaid bin Mihsa' bin Amr bin Arib bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Khaulan adalah anak Amr bin Sa'ad Al-Asyirah bin Madzhaj."

Para Penyembah Sa'ad
Ibnu Ishaq berkata, "Anak-anak keturunan Milkan bin kinanah bin...
======================================================================================
Halaman 64

...Khuzaiman bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar mempunyai berhala yang bernama Sa'ad. Berhala Sa'ad adalah batu di tempat lapang di daerah mereka yang luas. Salah seorang dari Bani Milkan denga unta-untanya pergi kepada berhala tersebut dan bermaksud mendudukkannya di atas berhala batu tersebut karena ingin mendapatkan keberkahannya--berdasarkan dugaannya. Ketika unta-untanya melihat batu berhala disiram dengan darah di atasnya, unta-unta tersebut lari tak tentu arahnya. Pemilik unta dari Milkan tersebut pun marah, kemudian ia mengambil batu dan melemparkannya ke batu berhala tersebut, sambil berkata, 'Semoga Allah tidak memberkahimu. Engkau membuat untaku lari dariku,' Setelah itu, ia mencari unta-untanya hingga berhasil mengumpulkannya. Ketika unta-untanya telah terkumpul, ia berkata,
    Kami datang kepada Sa'ad agar ia menyatukan perpecahan kami
    Namun justru Sa'ad memporak-porandakan kami dan kami tidak
    mempunyai hubungan apa-apa dengan Sa'ad lagi
    Sa'ad hanyalah batu di tanah tandus di satu tempat
    Ia tidak bisa mengajak kepada kesesatan dan petunjuk

Berhala Daus
Di Daus terdapat berhala milik Amr bin Humamah Ad-Dausi.

Ibnu Hisyam berkata, "Akan saya sebutkan masalah ini pada tempatnya, Insya Allah. Daus adalah anak Udtsan bin Abdullah bin Zahran bin Ka'ab Al-Harts bin Ka'ab bin Abdullah bin Malik bin Nadhr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Ada yang mengatakan, bahwa Daus adalah anak Abdullah bin Zahran bin Al-Asd bin Al-Ghauts."

Penyembahan Hubal di Makkah
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Quraisy membuat berhala di sumur dekat Ka'bah dan menamakannya Hubal."
Ibnu Hisyam berkata, "Akan saya sebutkan pembahasan tentang Hubal pada tempatnya, Insya Allah."

Isaf dan Nailah
Ibnu Ishaq berkata, "Mereka membuat berhala Isaf dan Nailah di sumur Zamzam dan menyembelih hewan qurban di samping kedua berhala tersebut. Isaf adalah orang laki-laki dan Nailah adalah wanita dari Jurhum. Isaf adalah anak Baghyi, dan Nailah adalah putri Diki. Isaf berzina dengan Naila di Ka'bah, kemudian Allah mengubah bentuk keduanya menjadi batu.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku dari Amrah binti Abdurrahman bin Sa'ad bin Zurarah yang berkata bahwa aku mendengar Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, "Kita selalu mendengar bahwa Isaf dan Nailah adalah laki-laki dan...
=============================================================================================
Halaman 65

wanita dari Jurhum yang melakukan hubungan haram di Ka'bah, kemudian Allah Ta'ala mengubah bentuk keduanya menjadi batu. wallahu a'lam."
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Thalib berkata,
    Orang-orang Asy'ari menderumkan unta-unta mereka
    Di tempat mengalirnya air Isaf dan Nailah
Ibnu Hisyam berkata,"Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Abu Thalib yang akan saya sebutkan pada tempatnya, Insya Allah."

Hubungan Orang-orang Arab dengan Berhala-berhala Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Setiap penduduk negeri membuat berhala yang mereka sembah di negerinya. Jika salah seorang dari mereka hendak bepergian, ia memegang berhalanya ketika hendak berangkat. Itulah aktifitas terakhir yang ia lakukan ketika ia hendak bepergian. Jika tiba dari bepergian, ia memegang berhala tersebut dan itulah yang pertama kali yang ia lakukan sebelum bertemu dengan keluaraganya.

Ketika Allah Ta'ala mengutus Rasulnya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa ajaran tauhid, orang-orang Quraisy berkata,
    "Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shaad: 5)

Thaghut-thaghut
Orang-orang Arab membuat thaghut-thaghut selain Ka'bah. Thaghut-thaghut adalah rumah-rumah yang mereka agung-agungkan seperti Ka'bah. Thaghut-thaghut tersebut mempunyai penjaga dan pelayan, diberi sesajian seperti Ka'bah, mereka thawaf di sekelilingnya, menyembelih hewan qurban di sampingnya, dan mengenalkan kelebihan Ka'bah di atas thaghut-thaghut tersebut, karena mereka telah mengetahui, bahwa Ka'bah adalah rumah Ibrahim dan masjidnya.

Para Penjaga Al-Uzza
Orang-orang Quraisy dan Bani Kinanah mempunyai berhala Al-Uzza di Nakhlah. Penjaga dan pelayan berhala tersebut ialah Bani Syaiban dari Sulaim, sekutu Bani Hasyim.

Ibnu Hisyam berkata, "Sulaim adalah sekutu Bani Abu Thalib, Sulaim yang dimaksud ialah Sulaim bin Mansur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan."

Ibnu Ishaq berkata, "Salah seorang penyair Arab berkata,
    Sungguh Asma' telah dinikahkan dengan kepala lembu
    Dari Al-Udmi yang dihadiahkan seseorang dari Bani kambing
    Ia bisa melihat sesuatu yang jauh dari matanya
======================================================================================
Halaman 66

    Ketika ia digiring ke tempat penyembelihan Al-Uzza kemudian ia
    membagi rata pembagian

Jika mereka menyembelih hewan qurban, mereka membagikannya kepada orang-orang yang hadir di tempat tersebut."

Ibnu Hisyam berkata, "Bait-bait syair di atas adalah milik Abu Khiras Al-Hudzali. Nama lengkapnya ialah Khuwailid bin Murrah. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
    Tidak demi pemilik tempat-tempat aman yang didiami
    Di tempat penahanan hewan-hewan qurban dan rumah yang dijaga

Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj dan akan saya sebutkan di tempatnya, Insya Allah."

Para Penjaga Al-Lata
Ibnu Ishaq berkata, "Berhala Al-Lata adalah milik Kabilah Tsaqif di Thaif. Para penjaga dan pelayannya adalah Bani Muattab dari kabilah Tsaqif."
Ibnu Hisyam berkata,"Pembahasan Al-Lata akan saya sebutkan pada tempatnya tersendiri, Insya Allah."
Last edited by JANGAN GITU AH on Fri May 07, 2010 9:51 pm, edited 1 time in total.
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sat May 01, 2010 5:21 pm

halaman 66
Penjaga Manat
Ibnu Ishaq berkata, "Berhala Manat adalah milik Kabilah Al-Aus, Al-Khazraj, dan orang-orang Yatsrib yang seagama dengan mereka di pesisir laut dari arah Al-Musyallal tepatnya di Qudaid."

Ibnu Hisyam berkata, "Al-Kumait, salah seorang dari Bani Usdi bin Khuzaimah bin Mudrikah berkata,
    Sungguh, kailah-kabilah telah berubah
    Mereka tidak lagi memberikan punggungnya kepada Manat
Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Al-Kumait."

Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Sufyan Radhiyallahu Anhu kepada berhala Manat dan menghancurkannya. Ada yang mengatakan sahabat yang diutus untuk menghancurkan berhala Manat ialah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu."

Dzu Al-Khalshah

Ibnu Ishaq berkata, "Berhala Dzu Al-Khalshah adalah milik Daus, Khats'am, Bajilah, dan orang-orang Arab yang berada di daerah mereka, tepatnya di Tabalah."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Dzu Al-Khalashah, Salah seorang penyair Arab berkata,
    Wahai Dzu Al-Khalash, jika engkau menjadi teman dekatku yang terbunuh
==================================================================================================
Halaman 67

    Seperti diriku, dan ayahmu telah meninggal dunia
    Engaku tidak bisa melarang pembunuhan
Kata Ibnu Hisyam lebih lanjut, "Ayah penyair tersebut terbunuh, dan ia ingin balas dendam atas kematian ayahnya. Kemudian ia datang kepada Dzu Al-Khalashah, dan mengeluarkan dadu-dadu untuk dijadikan undian. Setelah diadakan undian, ternyata yang keluar ialah dadu yang melarangnya balas dendam. Oleh karena itu, ia mengucapkan syair-syair di atas. Sebagian orang menisbatkan syair-syair di atas kepada Umru'u Al-Qais bin Hujr Al-Kindi.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Jarir bin Abdulllah untuk menghancurkan berhala Dzu Al-Khalshah.

Fals
Ibnu Ishaq berkata, "Berhala Fals adalah milik Thayyi', dan orang-orang yang bertempat tinggal di dua Gunung Salma dan Aja'."

Ibnu Hisyam berkata, "Sebagian orang berilmu berkata kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib untuk menghancurkan berhala Fals. Ketika Ali bin Abu Thalib sedang menghancurkannya, ia menemukan dua pedang yang bernama Ar-Rasub dan Al-Mikhdzam. Ali bin Abu Thalib membawa kedua pedang tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu beliau menghadiahkan kedua pedang tersebut kepadanya. Kedua pedang itu milik Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu."

Ri'am
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Himyar dan penduduk Yaman mempunyai rumah berhala di Shan'a yang bernama Ri'am."
Ibnu Hisyam berkata, "Pembahasan ini telah saya sebutkan sebelumnya."

Rudha'
Ibnu ishaq berkata, "Rudha' adalah rumah berhala milik Bani Rabi'ah bin Ka'ab bin Sa'ad bin Zaid bin Manat bin Tamim. Tentang Rudha' ini, Al-Mustaughir bin Rabi'ah bin Ka'ab bin Sa'ad berkata ketika ia menghancurkannya pada era Islam,
    Sungguh, aku telah menarik Rudha' dengan tarikan yang kuat
    Aku tinggalkan dia dalam keadaan lengang di tempat yang hitam
Ibnu Hisyam berkata, "Ucapan, 'Aku tinggalkan dia dalam keadaan lengan di tempat yang hitam,' berasal dari salah seorang dari Bani Sa'ad."
================================================================================================
Halaman 68

Umur Al-Mustaughir
Ada yang mengatakan Al-Mustaughir diberi umur tiga ratus tiga puluh tahun. Ia orang Mudzar yang paling panjang umurnya. Ia pernah berkata,
    Sungguh, aku telah bosan hidup karena terlalu lama
    Dan aku mendapat umur ratusan tahun
    Seratus dan dua ratus sesudahnya
    Ditambah beberapa bulan
    Apa yang tersisa tidak lain seperti apa yang telah hilang
    Siang dan malam terus berjalan melewati kita
Sebagian manusia mengatakan syair-syair di atas adalah milik Zuhair bin Janab Al-Kalibi."

Dzu Al-Ka'abaat adalah Berhala Milik Bakr, Taghlab, dan Iyad
Ibnu Ishaq berkata, "Dzu Al-Ka'abaat adalah berhala milik Bakr, Taghlab anak keturunan Wail, dan Iyad. Berhala tersebut terletak di Sindad. A'sya, salah seorang dari Bani Qais bin Tsa'labah berkata tentang berhala tersebut,
    Di antara Istana Al-Khawarnaq, As-Sadir, Bariq
    Dan rumah Dzu Al-Ka'abaat di Sandad
Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair di atas ialah milik Al-Aswad bin Ya'fur An-Nahsyali. Nahsyal adalah anak Darim bin Malik bin Handzalah bin Malik bin Zaid bin Manat bin Tamim. Abu Muhraz Khalf Al-Ahmar membacakan syair kepadaku,
    Penduduk Istana Al-Khawarnaq, As-Sadir, Bariq
    Dan rumah Dzu Al-Ka'abaat di Sindad

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sat May 01, 2010 5:38 pm

Halaman 69

BAB 11

PERIHAL AL-BAHIRAH, AS-SAIBAH, AL-WASHILAH, DAN AL-HAMI

Ibnu Ishaq berkata, "Al-Bahirah ialah anak betina As-Saibah. As-Saibah ialah unta yang melahirkan sepuluh kali dan kesepuluh anaknya tersebut semuanya betina. Untuk selanjutnya unta As-Saibah harus dilepas bebas, tidak boleh dinaiki, bulunya tidak dipotong, dan susunya tidak diminumkan kecuali untuk tamu.

Jika setelah itu, unta As-Saibah melahirkan anak betina lagi, maka anak betina tersebut dipotong telinganya kemudian dilepas seperti induknya; tidak boleh dinaiki, bulunya tidak dipotong, dan susunya tidak diminum kecuali untuk tamu seperti perlakuan terhadap induknya. Anak unta betina tersebut dinamakan Al-Bahirah.

Al-Wasilah ialah jika kambing melahirkan sepuluh anak kambing betina secara terus menerus dalam lima kehamilan, maka kambing tersebut dinamakan washilah. Ketika itu, orang-orang berkata, 'Kambing ini telah sampai.' Jika setelah itu, kambing tersebut melahirkan anak lagi, maka anak kambing tersebut diperuntukkan khusus untuk laki-laki mereka dan tidak diperuntukkan wanita-wanita mereka, terkecuali jika salah satu dari anak kambing tersebut ada yang mati. Jika itu terjadi, maka wanita-wanita diperbolehkan memakannya bersama laki-laki mereka."

Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan jika setelah itu kambing tersebut masih melahirkan lagi, maka anak kambing tersebut diperuntukkan bagi anak laki-laki mereka, dan bukannya anak-anak wanita mereka."

Ibnu Ishaq berkata, " Al-Hami ialah unta betina yang melahirkan sepuluh anak betina secara berturut-turut. Untuk itu punggung unta betina tersebut dilindungi; tidak dinaiki, bulunya tidak dipotong, dilepas bebas berjalan di sekawanan unta-untanya, dan tidak dimanfaatkan untuk selain di atas."

Bantahan Ibnu Hisyam

Ibnu Hisyam berkata, "Penjelasan Ibnu Ishaq di atas tidak sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang Arab. Hanya penjelasan Ibnu Ishaq tentang Al-Hami yang benar.
==================================================================================================
Halaman 70

Menurut orang-orang Arab, Al-Bahirah ialah unta yang dipotong telinganya, kemudian unta tersebut tidak boleh dinaiki, bulunya tidak dipotong, susunya tidak diminum kecuali untuk tamu atau disedekahkan kepada orang lain, dan unta tersebut dipersembahkan kepada berhala-berhal mereka.

As-Saibah ialah seseorang bernazar akan melepaskan untanya jika ia sembuh dari penyakitnya atau berhasil mendapatkan sesuatu yang dicari. Jika itu semua terjadi, ia melepaskan untanya untuk berhala-berhalanya. Kemudian unta tersebut digembalakan secara bebas dan tidak boleh dimanfaatkan.

Al-Wasilah ialah unta yang melahirkan anak kembar dalam setiap kehamilannya. Pemilik unta tersebut memberikan anak betina kepada berhala-berhalanya, dan anak unta jantan ia peruntukkan untuk dirinya. Jadi anak betina dan anak jantan tersebut dilahirkan induknya dalam satu kehamilan. Ketika itu terjadi, orang-orang berkata, 'Saudar anak betina itu telah datang.' Kemudian anak betina jantan tersebut dilepas bebas dan tidak boleh dimanfaatkan."

Ibnu Hisyam berkata, "Penjelasan di atas diterangkan kepadaku oleh Yunus bin Habib An-Nahwi, dan ulama-ulama lain. Jadi sebagian perawi meriwayatkan hadits yang tidak diriwayatkan sebagian yang lain."

Ibnu Ishaq berkata bahwa ketika Allah Tabaraka wa Ta'ala mengutus Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, Dia menurunkan firman-Nya kepadanya,
    "Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saaibah, washilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti." (Al-Maidah: 103)

Allah Ta'ala juga menurunkan firman-Nya,
    "Dan mereka mengatakan, 'Apa yang dalam perut binatang ternak ini khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,' dan jika yang dalam perut ini dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalaskan mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 139).
Allah Ta'ala juga menurutkan firman-Nya,
    "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepada kalian, lalu kalian jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.' Katakanlah, 'Apakah Allah telah memberikan izin kepada kalian (tentang Ini) atau kalian mengada-adakan saja terhadap Allah?" (Yunus: 59).
Allah Ta'ala juga menurunkan firman-Nya,
====================================================================================================
Halaman 71

    "(Yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. katakanlah, 'Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukan dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dau betinanya? Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kalian memang orang-orang yang benar, dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu.' Katakanlah, 'Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kalian menyaksikan diwaktu Allah menetapkan ini bagi kalian? Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?' Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (Al-An'am: 143-144).
Jamak Al-Bahirah ialah Al-Baha'ir dan Al-Buhur. Jamak Al-Washilah ialah Al-Saha'il dan Al-Wushul. Jamak As-Saibah ialah As-Suyyab. Dan jamak Al-Haam ialah Al-Hawaam.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sat May 01, 2010 11:51 pm

Halaman 72
BAB 12
KEMBALI KEPADA PEMBAHASAN NASAB


Nasab Khuza'ah
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang Khuza'ah berkata, 'Kami anak keturunan Amr bin Amir dari Yaman'."
Ibnu Hisyam berkata, "Orang-orang Khuza'ah berkata, 'Kami anak keturunan Amr bin Rabi'ah bin Haritsah bin Amr bin Amir bin Haritsah bin Umru'u Al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asdi bin Al-Gauts, dan ibu kami adalah Khindaf.' Ini seperti dikatakan Abu Ubaidah dan orang-orang berilmu lainnya kepadaku. Ada yang mengatakan bahwa orang-orang Khuza'ah berkata, 'Khuza'ah ialah anak keturunan Haritsah bin Amr bin Amir.' Khuza'ah dinamakan Khuza'ah, karean mereka terpisah dari anak Amr bin Amir ketika mereka pergi dari Yaman ke Syam. Mereka singgah di jalan Dhahran dan menetap di sana. Auf bin Ayyub Al-Anshari, salah seorang dari anak keturunan Amr bin Sawad bin Ghanm bin Ka'ab bin Salamah bin Al-Khazraj berkata ketika masuk Islam,
    Ketika kami singgah di kabilah Marr, maka terpisahlah
    Khuza'ah dari kami di tengah kerumunan kuda-kuda yang mondar-mandir
Abu Al-Muthahhir Ismail bin Rafi' Al-Anshari, salah seorang dari Bani Haritsah bin Al-Harts bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus berkata,
    Ketika kami singgah di kabilah Makkah
    Kabilah Khuza'ah melakukan perbuatan terpuji di perkampungan Al-Akil yang sedang kesulitan
    Kemudian ia bertempat tinggal di Akarisa dan menyerang sekelompok orang
    Di setiap perkampungan di antara Najed dan pesisir pantai
    Mereka usir Jurhum dari Makkah dan mereka merangkak
    karena kebesaran Khuza'ah yang punggungnya amat kuat
Ibnu Hisyam berkata, "Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Abu Al-Muthaththir ismail bin Rafi' Al-Anshari. Insya Allah, saya akan sebutkan syair-syair tersebut secara lengkap pada tempatnya, yaitu pada pembahasan pengusiran orang-orang Jurhum dari Makkah."
==================================================================================================
Halaman 73

Anak-anak Mudrikah bin Ilyas
Ibnu ishaq berkata, "Mudrikah bin Ilyas mempunyai dua anak; Khuzaimah bin Mudrikah, dan Hudzail bin Mudrikah. Ibu keduanya berasal dari Qudha'ah."

Anak-anak Khuzaimah bin Mudrikah
Khuzaimah bin Mudrikah mempunyai empat anak, yaitu Kinanah bin Khuzaimah, Asad bin Khuzaimah, Asadah bin Khuzaimah, dan Alhun bin Khuzaimah. Ibu mereka adalah Uwanah binti Sa'ad bin Qais bin Ailan bin Mudzar.

Anak-anak Kinanah bin Khuzaimah dan Ibu-ibu Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Kinanah bin Khuzaimah mempunyai empat anak, yaitu An-Nadhr bin Kinanah, Malik bin Kinanah, Abdu Manat bin Kinanah, dan Milkan bin Kinanah, Ibu An-Nadhr adalah Barrah binti Murr bin Udd bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudzar. Sedang anak-anak Kinanah lain An-Nadhr berasal dari istri yang lain."

Ibnu Hisyam berkata, "Ibu An-Nadhr, Malik dan Milkan adalah Barrah binti Murr, sedang ibu Abdu Manat adalah Halah binti Sawaid bin Al-Ghithrif dari Azdi Syanu'ah. Syanu'ah adalah Abdullah bin Ka'ab bin Abdullah bin Malik bin Nadhr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Mereka dinamakan Syanu'ah, karena permusuhan yang terjadi di antara mereka."

Orang Yang Bergelar Quraisy
Ibnu Hisyam berkata, "An-Nadhr adalah Quraisy. Anak keturunannya dinamakan orang-orang Quraisy, dan orang-orang yang tidak berasal dari keturunannya tidak dinamakan orang-orang Quraisy. Jarir bin Athiyyah, salah seorang dari Bani Kulaib bin Yarbu' bin Handzalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim berkata memuji Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan,
    Ibu yang melahirkan Quraisy
    Bukanlah wanita yang buruk asal-usulnya dan bukan wanita mandul
    Tidak ada kaum yang lebih subur daripada ayah kalian
    Dan tidak ada paman yang lebih mulia daripada Tamim
Yang dimaksud dengan Ibu pada syair di atas adalah Barrah binti Murr, saudara Tamim bin Murr yang tidak lain adalah ibu dari An-Nadhr. Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Jarir bin Athiyyah.

Konon ada yang mengatakan Fihr bin Malik adalah Quraisy, anak keturunannya dinamakan orang-orang Quraisy, dan orang-orang yang tidak berasal dari anak keturunannya tidak dinamakan orang-orang Quraisy."
====================================================================================================
Halaman 74

Sebab Penamaan Quraisy
Quraisy dinamakan Quraisy karena taqarrusy. Arti taqarrusy adalah bisnis dan kerja. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata,
    Sungguh, mereka telah dibuat tidak butuh kepada gandum
    Dan ujung gelang, serta kerja
    Oleh lemak dan susu murni yang tidak palsu
Abu Jildah Al-Yasykuri dan Yasykur ialah anak Bakr bin Wail berkata,
    Mereka adalah saudar-saudara yang mengumpulkan dosa-dosa kepada kami
    Dalam pembicaraan tentang umur kita dan masa lalu
Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Abu Jildah Al-Yasykuri.
Ibnu Ishaq berkata, "Ada yang mengatakan Quraisy dinamakan Quraisy, karena mereka bersatu setelah sebelumnya berpecah-belah."

Anak-anak An-Nadhr bin Kinanah dan Ibu-ibu Mereka
An-Nadhr mempunyai dua anak; yaitu Malik bin An-Nadhr dan Yakhlud bin An-Nadhr, Ibu Malik adalah Atikah binti Adwan bin Amr bin Qais bin Ailan. Saya tidak tahu, apakah ibu Yakhlud juga Atikah atau tidak?"

Ibnu Hisyam berkata, "Selain kedua anak di atas, An-Nadhr mempunyai anak yang bernama Ash-Shalt bin An-Nadhr seperti dikatakan Abu Amr Al-Madani kepadaku. Ibu mereka semua adalah putri Sa'ad bin Dzarib Al-Adwani. Adwan adalah anak Amr bin Qais bin Ailan. Kutsair bin Abdurrahman yang tidak lain adalah Kutstair Azzah, salah seorang dari Bani Mulaih bin Amr dari Khuza'ah berkata,
    Bukankah ayahku adalah Ash-Shalt?
    Bukankah saudara-saudarku adalah orang-orang mulia dan orang orang terkenal di kalangan Bani An-Nadhr
    Kulihat baju Ashab (tumbuh-tumbuhan di Yaman) bercampur dengan benang
    Jika kalian tidak berasal dari Bani An-Nadhr, maka tinggalkan
    Pohon Arok di ujung lembah yang hijau
Ibnu Hisyam berkata, "Bait-bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Kutstsair bin Abdurrahman.

Orang-orang Khuza'ah dari Bani Mulih bin Amir yang dinisbatkan kepada Ash-Shalt bin An-Nadhr adalah kaum Kutsair Azzah."

Anak-anak Malik bin An-Nadhr
Ibnu Ishaq berkata, "Malik bin An-Nadhr mempunyai satu orang anak, yaitu Fihr bin Malik, dan Ibunya adalah Jandalah binti Al-Harts bin Midzadz Al-Jurhumi."
======================================================================================================
Halaman 75

Ibnu Hisyam berkata, "Al-Harts bukan anak Midzadz Al-Akbar."

Anak-anak Fihr bin Malik
Ibnu Ishaq berkata, "Fihr bin Malik mempunyai empat anak, yaitu Ghalib bin Fihr, Muharib bin Fihr, Al-Harts bin Fihr, dan Asad bin Fihr. Ibu mereka adalah Laila binti Sa'ad bin Hudzail bin Mudrikah."

Ibnu Hisyam berkata, "Fihr bin Malik juga mempunyai empat anak perempuan, yaitu Jandalah binti Fihr, Jandalah adalah ibu Yarbu' bin Handzalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim. Ibu Jandalah adalah Laila binti Sa'ad. Jarir bin Athiyyah bin Al-Khathafi yang nama aslinya al-Khathafi Hudzaifah bin Badr bin Salamah bin Auf bin Kulaib bin Yarbu' bin Handzalah berkata,
    Jika aku marah, maka aku dilempar dengan tongkat dari belakangku
    Oleh anak-anak Jandalah sebagai sebaik-baik batu
Bait-bait tersebut adalah penggalan dari syair-syair Jarir."

Anak-anak Ghalib bin Fihr dan Ibu-ibu Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Ghalib bin Fihr mempunyai dua anak, yaitu Luai bin Ghalib, dan Taim bin Ghalib. Ibu keduanya adalah Salma binti Amr Al-Khuza'i. Taim bin Ghalib dinamakan Bani Al-Adram."

Ibnu Hisyam berkata, "Ghalib bin Fihr juga mempunyai anak bernama Qais bin Ghalib, dan ibunya bernama Salma binti Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i yang sekaligus ibu Luai dan Taim, dua anak Ghalib yang lain."

Anak-anak Luai bin Ghalib
Ibnu Ishaq berkata, "Luai bin Ghalib mempunyai empat anak, yaitu Ka'ab bin Luai, Amir bin Luai, Samah bin Luai, dan Auf bin Luai. Ibu Ka'ab, Amir, dan Samah adalah Mawiyyah binti Ka'ab bin Al-Qain bin Jasr dari Qudha'ah."

Ibnu Hisyam, "Ada yang mengatakan bahwa Luai bin Ghalib mempunyai anak lain yang bernama Al-Harts bin Luai. Jarir berkata,
    Bani Jusyam, kalian bukan berasal dari Hizzan
    Kalian berasal dari keturunan tertinggi yaitu Luai bin Ghalib
    Janganlah kalian menikahkan wanita-wanita kalian dengan keluarga Dzaur
    Dan juga dengan kabilah Syukais, karena itu hal yang tidak wajar
Anak Luai yang lain adalah Sa'ad bin Luai, dan Khuzaimah bin Luai bin Ghalib. Ibu semua anak-anak Luai --kecuali Amir bin Luai -- adalah Mawiyyah binti Ka'ab bin Al-Qain bin Jasr. Ibu Amir bin Luai adalah Makhsyiyyah binti Syaiban bin Muharib bin Fihr. Ada yang mengatakan ibu Amir bin Luai adalah Laila binti Syaiban bin Muharib bin Fihr.

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sun May 02, 2010 11:41 am

Halaman 76
BAB 13
PERIHAL SAMAH BIN LUAI


Kepergian Samah ke Oman
Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Samah bin Luai, ia pergi ke Oman dan menetap di sana. Ada yang mengatakan ia diusir Amir bin Luai, karena konflik yang terjadi di antara keduanya. Samah mencukil mata Amir, kemudian ia diancam Amir. Karena diancam Amir, Samah memutuskan pergi ke Oman. Ada yang mengatakan ketika Samah berjalan di atas untanya, dan untanya sedang makan rumput, tiba-tiba seekor ular melompat ke bibir untanya kemudian memecahkan bibirnya. Unta tersebut ambruk seketika, karena bibirnya pecah, kemudian ular menggigit Samah dan menewaskannya. Ada yang mengatakan ketika Samah merasa tidak lama lagi akan meninggal dunia, ia berkata,
    Mata, menangislah untuk Samah binti Luai
    Karena petaka menempel di betis Samah
    Aku tidak pernah melihat orang seperti Samah bin Luai
    Pada hari mereka menempatkannya sebagai korban terbunuh karena unta
    Sampaikan kepada Amir, dan Ka'ab
    Bahwa aku amat merindukan keduanya
    Kendati rumahku di Oman
    Sesungguhnya aku adalah keturunan Ghalib dan aku keluar tidak karena miskin
    Barangkali gelas telah engkau tumpahkan, wahai anak Luai
    Karena takut mati, engkau tidak dapat menumpahkannya
    Engkau telah melempar menolak kematian, wahai anak Luai
    Tidak ada yang mempunyai kekuatan untuk menolak kematian

Ibnu Hisyam berkata bahwa ada yang mengatakan kepadaku salah seorang dari keturunan Samah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengaku bernasabkan kepada Samah bin Luai. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Apakah Samah bin Luai yang penyihir itu?" Salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, "Wahai Rasulullah, sepertinya engkau menginginkan ucapan Samah bin Luai,
=====================================================================================================
Halaman 77

    Barangkali gelas telah engkau tumpahkan, wahai anak Luai
    Karena takut mati, engkau tidak dapat menumpahkannya
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Betul."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sun May 02, 2010 12:49 pm

Halaman 78
BAB 14
PERIHAL AUF BIN LUAI DAN PERUBAHAN KEPEMIHAKANNYA KEPADA GHATHAFAN

Ibnu Ishaq berkata, "Adapun Auf bin Luai--menurut mereka--, ia keluar bersama rombongan musafir Quraisy. Ketika tiba di daerah Ghathafan bin Sa'ad bin Qais bin Ailan, ia menunda perjalanannya, sedang kaumnya melanjutkan perjalanannya. Kemudian Auf bin Luai didatangi Tsa' labah. Tsa' lalbah adalah saudara senasab dengan Auf di Bani Dzubyan. Tsa' labah adalah anak Sa'ad bin Dzubyan bin Baghidz bin Raits bin Ghathafan. Sedang Auf adalah anak Sa'ad bin Dzubyan bin Baghidz bin Raits bin Ghathafan. Tsa' labah menahan Auf, kemudian menikahkannya, menyatukan nasabnya dengannya, dan menganggapnya sebagai saudara, sehingga nasabnya dikenal luas di Bani Ghathafan. Kono Tsa'labah berkata kepada Auf, ketika Auf menunda perjalanannya hingga ditinggal pergi kaumnya,
    Hai anak Luai, tahanlah untamu di tempatmu
    Kaum itu telah meninggalkanmu dan tidak yang bisa meninggalkanmu

Kedudukan Murrah
Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair atau Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Hushain berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, "Seandainya aku mengaku bernasabkan kepada kami, pasti aku mengaku bernasabkan kepada Bani Murrah bin Auf. Sesungguhnya kita mengetahui persamaan pada mereka, di samping mengetahui lokasi orang tersebut." Maksudnya, Auf bin Luai.

Nasab Murrah bin Auf
Ibnu Ishaq berkata, "Menurut nasab Ghathafan, Murrah adalah anak Auf bin Sa'ad bin Dzubyan bin Baghidz bin Raits bin Ghathafan. Jika nasab tersebut disebabkan kepada mereka, mereka berkata, 'Kami tidak menolaknya dan membantahnya, karena nasab adalah nasab yang paling kami sukai'."

Al-Harts bin Dzalim bin Jadzimah bin Yarbu' --menurut Ibnu Hisyam, ia adalah salah satu anak keturunan Murrah bin Auf-- berkata ketika ia lari...
===================================================================================================
Halaman 79

...dari An-Nu'man bin Al-Mundzir dan bergabung kepada Quraisy,
    Kaumku bukanlah Tsa'labah bin Sa'ad
    Bukan pula Fazarah Asy-Syu'ri
    Jika Anda bertanya tentang kaumku, maka kaumku adalah Bani Luai
    Di Makkah yang mengajarkan perang pada Mundzar
    Kami **** dengan mengikuti Bani Baghidz
    Dan tidak bernasabkan kepada saudara-saudara kami sendiri
    Sebuah kebodohan ketika kami menumpahkan air dan mengikuti fatamorgana
    Seandainya aku disuruh taat kepada usiamu, aku berada di tempat mereka
    Aku tidak tertarik untuk meminta bantua kepada awan
    Rawahah Al-Qurasyi telah membantu perjalananku
    Dan ia tidak meminta upah atas bantuannya tersebut

Ibnu Hisyam berkata, "Syair itulah yang dibacakan Abu Ubaidah kepadaku."
Ibnu Ishaq berkata, "Al-Hushain bin Al-Humam Al-Murri sekaligus salah seorang dari Bani Sahm bin Murrah mengkritik Al-Harits bin Dzalim, dan memilih bernasabkan kepada Ghathafan,
    Kalian bukan termasuk kami dan kami bukan termasuk kalian
    Kami berlepas tangan dari kalian Bani Luai bin Ghalib
    Kami berada dalam kebesaran Hijaz
    Sedang kalian berada di saluran air di antara gunung-gunung Makkah
Maksudnya ialah Quraisy. Usai berkata seperti itu, Al-Hushain menyesali ucapannya dan mengetahui kebenaran ucapan Al-Harts bin Dzalim. Kemudian ia kembali bernasabkan kepada Quraisy dan menyalahkan dirinya. Ia berkata,
    Aku menyesali ucapan yang telah aku ucapkan
    Aku mendapatkan kejelasan di dalamnya, bahwa ucapan tersebut adalah ucapan dusta
    Duhai, seandainya lidahku dua
    Salah satunya bisu, dan satunya berada di garis edar bintang-bintang
    Nenek moyang kami ialah Kinanah yang dikubur di Makkah
    Di saluran air di antara gunung-gunung Makkah
    Kami mempunyai saluran air di rumah Ibnu Hathib

Maksudnya anak Luai adalah empat orang, yaitu Ka'ab, Amir, Samah dan Auf."
Ibnu Ishaq berkata bahwa seseorang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada beberapa orang dari Bani Murrah, "Jika kalian mau kembali...
=====================================================================================================
Halaman 80
...kepada nasab kalian, maka kembalilah kepadanya."

Tokoh-tokoh Bani Murrah bin Auf
Ibnu Ishaq berkata, "Kaum Bani Murrah bin Auf adalah orang-orang mulia di kalangan Ghathafan dan pemimpin-pemimpin mereka. Di antara tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin tersebut adalah Harim bin Sinan bin Abu Haritsah, Kharijah bin Sinan bin Abu Haritsah, Al-Harts bin Auf, Al-Hushain bin Al-Humama, dan Hasyim bin Harmalah yang dikatakan oleh salah seorang penyair,
    Hasyim bin Harmalah menghidupkan ayahnya
    Pada Hari Al-Haba'ah dan Hari Al-Ya' malah
    Anda lihat para raja di sampingnya menjadi hina
    Ia membunuh orang berdosa dan orang yang tidak berdosa

Ibnu Hisyam berkata, "Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa bait-bait syair di atas adalah milik Amir Al-Khashafi. Khashafah adalah anak Qais bin Ailan. Amir Al-Khashafi berkata,
    Hasyim bin Harmalah menghidupkan ayahnya
    Pada Hari Al-Haba'ah dan Hari Al-Ya' malah
    Anda lihat para raja di sampingnya menjadi hina
    Ia membunuh orang berdosa dan orang yang tidak berdosa
Ibnu Hisyam berkata bahwa ada yang mengatakan kepadaku Hasyim berkata kepada Amir, "Katakan tentang diriku sebuah bait syair yang bagus, engkau pasti aku beri imbalan." Kemudian Amir mengucapkan bait syair pertama, namun bait syair tersebut tidak mengesankan. Ia mengucapkan bait syair kedua, namun bait syair kedua juga tidak mengesankan. Ketika Amir mengucapkan bait syair keempat, 'Ia membunuh orang berdosa dan orang tidak berdosa.' Bait syair tersebut mengesankan Hasyim, lalu ia memberi hadiah kepada Amir."

Ibnu Hisyam berkata, "Itulah yang dimaksudkan Al-Kumait bin Zaid dalam syairnya,
    Dan Hasyim Murrah yang melenyapkan raja-raja
    Tanpa dosa yang ia kerjakan dan orang-orang yang berdosa
Bait syair tersebut adalah bagian dari syair-syairnya. Ucapan Amir, "Pada Hari Al-Haba'ah." Berasal dari selain Abu Ubaidah.

Ibnu Ishaq berkata, "Bani Murrah bin Auf sangat tersohor di kalangan Bani Ghathafan dan Qais secara umum. Mereka menasabkan diri mereka kepada Bani Murrah dan basl terjadi pada mereka."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sun May 02, 2010 1:29 pm

Halaman 81
BAB 15
PERIHAL AL-BASL


Definisi Al-Basl
Menurut para ulama, Al-Basl ialah delapan bulan yang diharamkan kepada mereka dalam setiap tahun. Orang-orang Arab mengetahui bahwa mereka mempunyai Al-Basl tersebut, tidak memungkirinya, dan tidak menentangnya. Selama delapan bulan haram tersebut, mereka bebas pergi ke wilayah-wilayah Arab tanpa rasa takut terhadap sesuatu apapun.

Nasab Zuhair bin Abu Sulma
Zuhair bin Abu Sulma yang tiada lain adalah Bani Murrah berkata,
    Di negeri tersebut, aku minum bersama mereka dan bersahabat dengan mereka
    Jika engaku berhenti pada mereka, sesungguhnya mereka adalah basl

Ibnu Hisyam berkata, "Zuhair ialah salah seorang dari Bani Muzainah bin Ud bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudzar. Ada yang mengatakan Zuhair ialah anak Abu Sulma dari Ghathafan. Ada pula yang mengatakan ia adalah sekutu Ghathafan.

Yang dimaksud dengan basl di atas adalah haram. Ia berkata, "Mereka berjalan di tanah haram mereka."

Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Zubair bin Abu Sulma."
    Apakah tetangga kalian adalah basl yang diharumkan kepada kami?
    Sedang tetangga kami adalah halal bagi kalian
Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair di atas adalah bagian dari syair-syair A'sya."

Anak-anak Ka'ab dan Ibu-ibu Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Ka'ab bin Luai mempunyai tiga anak, yaitu Murrah bin Ka'ab, Adi bin Ka'ab, dan Hushaish bin Ka'ab. Ibu mereka adalah Wahsyiyah binti Syaiban bin Muharib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr."
=====================================================================================================
Halaman 82

Anak-anak Murrah dan Ibu-ibu Mereka
Murrah bin Ka'ab mempunyai tiga anak, yaitu Kilab bin Murrah, Taim bin Murrah, dan Yaqadzah bin Murrah. Ibu Kilab ialah Hindun binti Surair bin Tsa'labah bin al-Harts bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah. Ibu Yaqadzah adalah Al-Bariyah, wanita dari Bariq, dari Al-Asdu dari Yaman. Ada yang mengatakan ia adalah ibu Taim juga. Ada yang mengatakan Taim adalah anak Hindun binti Surair, ibu Kilab."

Nasab Bariq
Ibnu Hisyam berkata, "Bariq adalah anak keturunan Adi bin Haritsah bin Amr bin Amir bin Haritsah bin Umru al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asdu bin Al-Ghauts. Mereka berada di Syanu'ah. Al-Kumait bin Zaid berkata,
    Dari Azd Syanu'ah, mereka telah berbuat dzalim terhadap kami
    Dengan menahan domba yang tidak bertanduk
    Apa yang telah kami katakan kepada Bariq telah kalian pandang buruk
    Dan apa yang telah kami katakan kepada Bariq telah kalian kecam
Ibnu Hisyam berkata, "Bait syair d atas adalah sebagian dari syair-syair Al-Kumait bin Zaid. Mereka dinamakan Bariq, karena mereka berjalan mengikuti kilat."

Anak-anak Kilab bin Murrah dan Ibu Mereka
Ibnu Ishaq berkata, "Kilab bin Murrah mempunyai dua anak, yaitu Qushai bin Kilab, dan Zuhrah bin Kilab. Ibu keduanya adalah Fathimah binti Sa'ad bin Sayal, salah seorang dari Bani Al-Jadarah dari Ju'tsumah Al-Azdi dari Yaman, sekutu Bani Ad-Duil bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah."

Nasab Ju'tsumah
Ibnu Ishaq berkata, "Ada yang mengatakan, Ju'tsumah al-Asdi, dan Ju'tsumah Al-Azdi. Ia adalah Ju'tsumah bin Yasykur bin Mubasysyir bin Sha'b bin Duhman bin Nashr bin Zahran bin Al-Harts bin Ka'ab bin Abdullah bin Malik bin Nashr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Ada yang mengatakan Ju'tsumah adalah anak Yasykur bin Mubasysyir bin Sha'b bin Nasr bin Zahran bin Al-Asd bin Al-Ghauts."

Penyebab Mereka Dinamakan Al-Jadarah
Mereka dinamakan Al-Jadarah, karena Amir bin Amr bin Ju'tsumah menikai putri Al-Harts bin Mudzadz Al-Jurhumi. Ketika itu orang-orang Jurhum menjadi penguasa Ka'bah. Amir membangun dinding untuk Ka'bah. Oleh karena itu, Amir dinamakan Al-Jadir (pembuat dinding), dan anak keturunannya dinamakan Al-Jadarah.
======================================================================================================
Halaman 84

Ibnu Ishaq berkata, "Salah seorang penyair berkata tentang Sa'ad bin Sayal,
Kita tidak melihat satu pun orang pada manusia
Yang kita ketahui seperti Sa'ad bin Sayal
Ia penunggang kuda yang kedua tangannya sama-sama kuat dalam menghadapi kesulitan
Jika ia bertemu dengan orang kuat seperti dirinya, ia turun untuk bertempur
Ia penunggang kuda yang memburu kuda
Sebagaimana burung elang memburu burung puyuh

Ibnu Hisyam berkata, "Ucapan Sa'ad bin Sayal, 'Sebagaimana burung elang memburu burung puyuh,' berasal dari salah seorang pakar syair."

Nu'm binti Kilab
Ibnu Hisyam berkata, "Kilab bin Murrah juga mempunyai anak perempuan yang bernama Nu'm binti Kilab. Ia adalah ibu As'ad, dan Su'aid yang merupakan anak Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luai. Ibu Nu'm adalah Fathimah binti Sa'ad bin Sayal."

Anak-anak Qushai bin Kilab
Ibnu Ishaq berkata, "Qushai bin Kilab mempunyai empat anak laki-laki, dan dua perempuan. Keempat anak laki-lakinya adalah Abdu Manaf bin Qushai, Abduddaar bin Qushai, Abdul Uzza bin Qushai, dan Abdu Qushai bin Qushai. Sedang dua anak perempuannya adalah Takhmur binti Qushai, dan Barrah binti Qushai. Ibu mereka adalah Hubayya binti Hulail bin Habasyiyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i."
Ibnu Hisyam berkata, "Ada yang mengatakan Hubsyiyah bin Salul."

Anak-anak Abdu Manaf
Ibnu Ishaq berkata, "Abdu Manaf yang nama aslinya adalah Al Mughirah bin Qushai mempunyai empat anak laki-laki, yaitu Hasyim bin Abdu Manaf, Abdu Syams bin Abdu Manaf, dan Al-Muthallib bin Abdu Manaf. Ibu mereka adalah Atikah binti Burrah bin Hilal bin Falij bin Dzakwan bin Tsa'labah bin Buh'ah bin Sulaim bin Mansur bin Ikrimah. Serta anaknya yang lain yang bernama Naufal bin Abdu Manaf. Ibunya adalah Waqidah binti Amr Al-Maziniyah. Mazin adalah anak Mansur bin Ikrimah. "

Ibnu Hisyam berkata, "Dengan nasab seperti di atas, mereka berbeda nasab dengan Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nasaib bin Malik bin Al-Harts bin Mazin bin Mansur bin Ikrimah."
=====================================================================================================
Halaman 84

Anak-anak Abdu Manaf bin Qushai Yang Lain
Ibnu Hisyam berkata, "Abu Amr, Tumadhir, Qilabah, Hayyah, Raithah, Ummu al-Akhtsam, dan Ummu Sufyan adalah anak-anak Abdu Manaf. Ibu Abu Amr adalah Raithah, wanita dari Tsaqif. Ibu anak-anak wanitanya adalah Atikah binti Murrah bin Hilal. Ummu Hasyim bin Abdu Manaf. Ibu Atikah adalah Shafiyyah binti Hauza binti Amir bin Salul bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin. Ibu Shafiyyah adalah putri Aidzullah bin Sa'ad A-Asyirah bin Madzhaj."

Anak-anak Hasyim bin Abdu Manaf dan Ibu-ibu Mereka
Ibnu Hisyam berkata, "Hasyim bin Abdu Manaf mempunyai empat anak laki-laki, dan lima anak wanita. Keempat anak laki-lakinya adalah Abdul Muththalib bin Hasyim, Asa bin Hasyim, Abu Shaifi bin Hasyim, dan Nadhlah bin Hasyim. Sedang kelima anak wanitanya adalah Asy-Syifa', Khalidah, Dhaifah, Ruqaiyyah, dan Hayyah. Ibu Abdul Muththalib dan Ruqayyah adalah Salma binti Amr bin Zaid bin Labid bin Haram bin Khudasy bin Amir bin Ghunm bin Adi bin An-Najjar. Nama An-Najjar adalah Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amr. Ibu Salma adalah Amirah binti Shakhr bin Al-Harts bin Tsa'labah bin Mazin bin An-Najjar. Ibu Amirah adalah Salma binti Abdu Al-Asyhal An-Najjariyah. Ibu Asad adalah Qailah binti Amir bin Malik Al-Khuza'i. Ibu Abu Shaifi dan Hayyah adalah Hindun binti Amr bin Tsa'labah Al-Khazrajiyyah. Ibu Nadhlah dan Asy-Syifa' adalah wanita dari Qudha'ah. Ibu Khalidah dan Dhaifah adalah Waqidah binti Abu Adi Al-Maziniyah."

---ooOoo---
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Re: Sirat Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1

Postby JANGAN GITU AH » Sun May 02, 2010 3:22 pm

Halaman 85
BAB 16
ANAK-ANAK ABDUL MUTHTHALIB BIN HASYIM


Ibnu Hisyam berkata, "Abdul Muththalib bin Hasyim mempunyai sepuluh anak laki-laki dan enam anak wanita. kesepuluh anak laki-lakinya adalah Al-Abbas, Hamzah, Abdullah, Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abdu Manaf, Az-Zubair, Al-Harts, Hajl, al-Muqawwim, Dhirar, dan Abu Lahab yang nama aslinya adalah Abdul Uzza. Sedang keenam anak wanitanya adalah Shafiyyah, Ummu Hakim Al-Baidha', Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah.

Ibu Al-Abbas dan Dhirar adalah Nutailah binti Janab bin Kulaib bin Malik bin Amr bin Amir bin Zaid bin Manat bin Amir bin Sa'ad bin Al-Khazraj bin Taim Al-Lata bin An-Namir bin Qasith bin Hinbun bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar. Ada yang mengatakan Afsha adalah anak Du'miyyu bin Jadilah.

Ibu Hamzah, Al-Muqawwim, Hajl--yang digelari dengan gelas Al-Ghaidaq karena kebaikannya yang banyak, dan hartanya yang melimpah--, dan Shafiyyah adalah Halah binti Wuhaib bin Abdu Manat bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai.

Ibu Abdullah, Abu Thalib, Az-Zubair, semua anak wanitanya selain Shafiyyah adalah fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.

Ibu Fathimah adalah Shakhrah binti Abdun bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.

Ibu Shakhrah adalah Takhmur binti Abd bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.

Ibu Al-Harts bin Abdul Muththalib adalah Samra' binti Jundab bin Hujair bin Ri'ab bin Habib bin Suwa'ah bin Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Mansur bin Ikrimah.

Ibu Abu Lahab adalah Lubna binti Hajir bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i.

Ayah, Ibu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta Ibu-ibunya
Ibnu Hisyam berkata, "Abdullah bin Abdul Muththalib mempunyai anak, yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, anak keturunan Adam yang terbaik (JGA: Hihi...penzinah dibilang keturunan terbaik...busyett dah :lol: ), Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Semoga shalawat Allah, salam-Nya, rahmat-Nya, dan keberkahan-Nya terlimpahkan kepada beliau, dan keluarganya. (JGA: Wah, si Hisyam ini curang, nama asli Muhammad yang adalah Khotam kagak dicantumkan. bisanya cuma puja-puji setinggi langit bak Dewa aja)

Ibu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.

Ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddaar bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.

Ibu Barrah adalah Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.

Ibu Ummu Habib adalah Barrah binti Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr."

Ibnu Hisyam berkata, "Jadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah anak keturunan Adam yang paling mulia keturunannya dan nasabnya dari jalur ayan dan ibunya. Semoga Allah memberikan Shalawat-Nya kepadanya, memuliakannya, dan mengagungkannya."

---ooOoo---


(JGA: Oh, kalau gitu Muhammad dewa dong?, Hisyam ini mikir gak sih? masa' Allah SWT yang katanya tuhan mesti mengagungkan Muhammad? Yieee...muhammad nyuri kebesaran Allah SWT nih untuk dirinya sendiri...terkutuklah kau muhammad..!)
User avatar
JANGAN GITU AH
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5255
Joined: Sun Jan 04, 2009 1:39 pm
Location: Peshawar-Pakistan

Next

Return to Buku² Islam Indonesia oleh Penulis² Muslim



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users