. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

siapa sebenarnya penulis al qur'an?

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

siapa sebenarnya penulis al qur'an?

Postby tongtong » Tue Jul 24, 2007 5:59 pm

saya sengaja buka diskusi ini, karena mohammad dinyatakan buta huruf, tentu bukan mohammad yang menulis al qur'an.

jadi sebenarnya siapa sih penulis al qur'an?

ada yang bisa jawab ga?
tongtong
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3596
Joined: Wed Jan 24, 2007 10:52 am

Postby NoeMoetz » Wed Jul 25, 2007 2:52 pm

Mungkin untuk membantu Diskusi deh...

Apakah sabda aulo swt turun dalam bentuk kertas berjilid(Buku)?
Bila iya, berarti penulis kuran adalah makhluk langit..

Atau sabda aulo swt turun dalam bentuk kata2?
Bila iya,
berarti pertanyaannya
siapakah yang menulisnya?
Lalu,
Benarkah dulu pernah kuran ditulis ulang, karena sumber aslinya(yang diketahui ama Mr Mo) rusak berat atau hilang?
Bila Iya,
Benarkah penulisan ulang itu hanya berdasarkan ingatan pengikutnya Mr Mo? APakah tidak mungkin terdapat kesalahan "cetak ulang" kuran ini?

Dan yang saya heran, kenapa peletakan Surah2nya bukan diurut berdasarkan waktu, tetapi (kalau tidak salah) berdasarkan panjang surahnya?
Bagaimana kita bisa tahu, Surah X turun pada saat Y sedang Z dlsb?

Itu aja deh...
Itung2 belajar Islam di sini...
NoeMoetz
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1509
Joined: Fri Dec 08, 2006 9:32 am
Location: Indonesia

Postby aljazeera » Thu Jul 26, 2007 9:39 am

Problem di link addressnya tuh..
ada "di" depanya :lol:
http://planet.time.net.my/Sepang/putera ... lihara.htm
User avatar
aljazeera
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 858
Joined: Sat Jul 29, 2006 2:18 pm

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 9:36 am

cu huiiii.
para gerombolan siberat udah pada puyeng.
tongtong nanya penulis Alquran.
trus gue kasi situs

http://planet.time.net.my/Sepang/putera ... lihara.htm

pan ude ade disitu...
nah mau lo ape??
Lo mau gue tulis begini ya:
Penulis Alquran Adalah Tongtong??? :wink:
kalau mau mag ntar gue tulisin.. :lol:

hanya orang gila yang nanya tapi gak ngerti yang ditanya hehehehe.. cape de


@basman :
lo dendam banget ya ama momon?? :lol:
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby tongtong » Fri Jul 27, 2007 11:03 am

tulisan di web itu ga jelas...
bersediakah kamu menuliskan yang lebih jelas dan lebih praktis, yang ga muter2 sehingga semua orang bisa mengerti setelah membacanya?

misalnya surat a ditulis oleh si anu, surat b ditulis oleh si anu, dst...

sanggup ga?
tongtong
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3596
Joined: Wed Jan 24, 2007 10:52 am

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 11:19 am

sekalian nanya gak yang beliin kertas sapa, yang beliin printer sapa, yang beliin coklat sapa?? :lol: :lol:
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby tongtong » Fri Jul 27, 2007 11:33 am

ga...
saya cuma perlu tahu, siapa penulis al qur'an ?
kamu ga tahu kan, jaman itu arab belum mengenal kertas, jadi ga mungkinlah ada yang beli kertas.

saya butuh jawaban pertanyaan itu, soalnya setahu saya, semua kitab suci agama lain jelas siapa penulisnya, artinya setiap tulisan ada penanggung jawabnya, lah ini, al qur'an sangat ga jelas siapa penulis tiap2 kitabnya, ga jelas siapa penanggung jawab tiap2 kitabnya, tapi kok bisa2nya disebut sebagai kitab suci agama.

jadi kamu bisa jawab ga? siapa nama penulis al qur'an? kalau bisa kamu boleh jawab, kalau ga bisa ya gpp, ga perlu plintat-plintut ke mana2.
tongtong
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3596
Joined: Wed Jan 24, 2007 10:52 am

Postby tongtong » Fri Jul 27, 2007 12:36 pm

jadi, siapa penulis kitab2:
- al faatihah?
- al baqarah?
- aali'imran?
- annisaa'?
- al maa-idah?
- al an'aam?
- al a'raaf?
- dst

kalau tahu nama penulisnya dengan jelas kan kita bisa tahu bahwa tulisan kitab2 itu ada penanggung jawabnya.

kamu tahu ga?
tongtong
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3596
Joined: Wed Jan 24, 2007 10:52 am

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 1:21 pm

kalo yang nulis Alquran (kesatuannya) uda dilink yang gue kasi.. liat aja disono, jangan kayak anak2 deh.
Pertanyaan lo menunjukkan tentang penanggung jawab Alquran menunjukkan bodohnya lo, dan bagaimana agama yang lo anut.
Alquran penanggung jawabnya dan pemeliharanya adalah Allah SWT tuhan semesta alam.
memangnya penanggung jawab kitab stensilan lo sapa mas?? paus bulus?? :lol:
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby Basman » Fri Jul 27, 2007 1:31 pm

Mizard, gue kasih link dong foto2 cuwilan ayat-ayat quran aslinya yang ditulis di daun-daun itu. biar kelihatan lebih asli, karena ada buktinya kalo alquran itu gak di otak-atik oleh penulisnya.
User avatar
Basman
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1032
Joined: Tue May 22, 2007 9:54 pm

Postby Al Cohol » Fri Jul 27, 2007 1:36 pm

Silahkan baca dari pakar muslim sendiri:

Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma' nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia: ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak denga percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh --dan menjadi bagian dari proyek-- penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah.Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.


Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan "Mushaf Uthmani," pada masa itu telah beredar puluhan --kalau buka ratusan-- mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.

Ibn Mas'ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas'ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An'am, tapi surahYunus.

Ibn Mas'ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur'an. Sahabat lain yang menganggap surah "penting" itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan "kata pengantar" saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah "ungkapan liturgis" untuk memulai bacaan Alqur'an. Ini merupakan tradisi popular masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.

Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: "siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia."

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: "pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat]."
Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka'b, sahabat Nabi yang lain, yang didalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal' dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan.

Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku 'ulum al-Qur'an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu.

Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur'an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi'in) sahabat Nabi.


Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak
sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari') dari kata a-l-m bisa dibaca yu'allimu, tu'allimu, atau nu'allimu atau juga menjadi na'lamu, ta' lamu atau bi'ilmi.

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas'ud berulangkali menggunakan kata "arsyidna" ketimbang "ihdina" (keduanya berarti "tunjuki kami") yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, "man" sebagai ganti "alladhi" (keduanya berarti "siapa"). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata da arti yang berbeda, seperti "al-talaq" menjadi "al-sarah" (Ibn Abbas), "fas'au" menjadi "famdhu" (Ibn Mas'ud), "linuhyiya" menjadi "linunsyira" (Talhah), dan sebagainya.


Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf."

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.

***

Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas.

Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat permasalahan baru. Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf" dengan cara menafsirkan "huruf" sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan
seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa.

Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.

Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk menunjukkan "banyak," ini lebih parah lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah
hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma'nan)? Seperti saya katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang
pembentukan ortodoksi Islam.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.

Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada
masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks --dan apalagi teks-teks suci—selalu bersifat "repressive, violent, and authoritarian." Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.

Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan itu, dengan menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang bias diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru, tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam bentuk yang lain.


Luthfi Assyaukanie.
Dosen Sejarah Pemikiran Islam
Universitas Paramadina
Jakarta
User avatar
Al Cohol
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 230
Joined: Sat Feb 25, 2006 11:05 pm

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 1:48 pm

@alcohol.
siapaun bisa saja berpendapat toh. biasalah itu. orang kresten aja ada yang berpendapat bahwa yesus pernah nikah. perkara percaya apa enggak, faktanya ada yang yakin begitu.

mengenai sejarah alquran, as you know, pada jaman rasul hanya dituliskan diatas media2 yang tersedia pada waktu itu. seperti pelepah korma, daun, dan tulang belulang. pada waktu itu tidak dikumpulkan atas dasar menghindari masuknya sunah yang "mencemari" alquran, beside waktu itu alquran masih terus turun sehingga tidak dikumpulkan dulu.

setelah Muhammad SAW wafat, terjadi pergolakan politik dan perperangan sehingga sahabat2 yang menghafal Alquran mulai berguguran, sehingga dirasakan perlu untuk membukukannya.
Dijaman khalifah Utsman ra Alquran dicetak/dibukukan secara resmi, bukan distandarisasikan seperti fitnahhan kaum orientalis.
Yang hebatnya, sampai sekarang, dari ujung berung ampe new york alquran itu sama persis isinya. gak ada beda cuma 1 abjad, uda banyak si yang coba "maen2", tapi pasti ketahuan, karena banyaknya manusia2 yang Allah karunia untuk menghafal Alquran.

Ada gak ya kitab laen yang bisa menandingi dalam hal ini saja??

@Basman
kl foto2 gue mau gal?? :lol:
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby tongtong » Fri Jul 27, 2007 1:50 pm

akhirnya saya dapet jawaban yang sahih dari pakar islam yang sebenarnya, bukan pakar boongan kayak si mizard yang jawabannya ngalor-ngidul kayak bunglon, jangan2 si mizard ini muslim gadungan, makanya dia ga bisa jawab, dia cuma kasih link yang isinya gombal doank yang kagak ngejawab pertanyaan saya babar blas.

malu2in muslim aja kamu zard, mulutnya aja yg digedein, paling suka ngomongin orang lain bloon.
tongtong
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3596
Joined: Wed Jan 24, 2007 10:52 am

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 1:55 pm

bagaimanapun upaya Alcohol kali ini gue hargai. dia mencoba melatih kemampuannya dan otaknya untuk menyangkal.
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby tongtong » Fri Jul 27, 2007 2:03 pm

Mizard wrote:bagaimanapun upaya Alcohol kali ini gue hargai. dia mencoba melatih kemampuannya dan otaknya untuk menyangkal.

gak kayak tongtong.. liat aja posting2nya.. asli sampah semua..
[color=indigo]
[/color]


saya coba sekali lagi ya, si mizard ini manusia atau monyet, kalau mizard berani jawab, berarti dia manusia kalau ga berani jawab, berarti mizard = monyet.

zard, menurut kamu kutipan dari alcohol isi ceritanya bener ga?
tongtong
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3596
Joined: Wed Jan 24, 2007 10:52 am

Postby Basman » Fri Jul 27, 2007 2:06 pm

Mizard wrote:@alcohol.
siapaun bisa saja berpendapat toh. biasalah itu. orang kresten aja ada yang berpendapat bahwa yesus pernah nikah. perkara percaya apa enggak, faktanya ada yang yakin begitu.

mengenai sejarah alquran, as you know, pada jaman rasul hanya dituliskan diatas media2 yang tersedia pada waktu itu. seperti pelepah korma, daun, dan tulang belulang. pada waktu itu tidak dikumpulkan atas dasar menghindari masuknya sunah yang "mencemari" alquran, beside waktu itu alquran masih terus turun sehingga tidak dikumpulkan dulu.

setelah Muhammad SAW wafat, terjadi pergolakan politik dan perperangan sehingga sahabat2 yang menghafal Alquran mulai berguguran, sehingga dirasakan perlu untuk membukukannya.
Dijaman khalifah Utsman ra Alquran dicetak/dibukukan secara resmi, bukan distandarisasikan seperti fitnahhan kaum orientalis.
Yang hebatnya, sampai sekarang, dari ujung berung ampe new york alquran itu sama persis isinya. gak ada beda cuma 1 abjad, uda banyak si yang coba "maen2", tapi pasti ketahuan, karena banyaknya manusia2 yang Allah karunia untuk menghafal Alquran.

Ada gak ya kitab laen yang bisa menandingi dalam hal ini saja??

@Basman
kl foto2 gue mau gal?? :lol:


Putera Bongsu berkata seperti ini :
Perkataan "Al waraq" (daun) yang lazim pula dipakaikan dengan arti "kertas" di masa itu, hanyalah dipakaikan pada daun kayu saja


Dengan demikian tlerdapatlah di masa Nabi tiga unsur yang tolong-menolong memelihara Al Ouran yang teIah diturunkan itu.

1. Hafalan dari mereka yang hafal Al Qur’an
2. Naskah-naskah yang dltulis untuk Nabi.
3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.



Mizard, emagnya loe Quran? yang gue minta, kasih linknya dong foto2 manuskrip Quran yang tertua yang dari daun2 ato gulungan kitab2 yang loe jelaskan di linkmu itu, kenapa susah? apa sudah gak dijaga allah swt lagi ya, makanya buktikan kalo naskah Quran itu masih ada.......
Last edited by Basman on Fri Jul 27, 2007 2:16 pm, edited 1 time in total.
User avatar
Basman
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1032
Joined: Tue May 22, 2007 9:54 pm

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 2:15 pm

@basman.
Allah menjaga Alquran bukan dengan menongkrongin daon2, dan tulang2 mas..
Tapi dengan mengkaruniakan umat2 Islam pilihanNya untuk menghafalkan setiap hurufnya. Hebatkan?

@tong..
uda bener2 terganggu jiwa lo. sekarang udah nyebut2 kakek lo si nyemot.. Tong, berubah deh.. gak malu apa
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby Basman » Fri Jul 27, 2007 2:22 pm

Mizard, gimana neh... masa kumpulan ayat2 jaman nabi gak ada arsipnya, malah monas jaman adam-hawa masih bertengger, hayo..... mana yang asli.... kok gak bisa kasih link....???
User avatar
Basman
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1032
Joined: Tue May 22, 2007 9:54 pm

Postby Mizard » Fri Jul 27, 2007 2:24 pm

@basman.
kalo yang lo minta daun2 yang ditulis "sekretaris" nya rasul, ntar dulu.. masi dalam penggalian informasi.
*maap ni tanye
emangnye naskah aseli alkitab ade ye??(bisa dicuekin kl gak mau jawab)

basman, orang gila yang ntu tolong didiemin dunk. capek gue liat aksi gilanye
User avatar
Mizard
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1270
Joined: Mon Mar 12, 2007 2:49 pm

Postby Basman » Fri Jul 27, 2007 3:12 pm

Mizard wrote:akan ku cari dulu sayangku basman.. link lo gak kasi foto naskah aseli tuh? :roll:


Kan loe sendiri bilang alkitab sudah dipalsukan, selesai kan? nah gantian gue minta bukti kalo naskah2 alquran itu harus ada, agar keasliannya bisa dibuktikan, jadi gak asal klaim asli tanpa bukti, gitu loooh mizard...
User avatar
Basman
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1032
Joined: Tue May 22, 2007 9:54 pm

Next

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users