. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Sejarah penulisan Qur'an & Hadis, ayat2 Mekah & Medinah, kontradiksi Qur'an, tafsir Qur'an, dan hal2 yang bersangkutan dengan Qur'an.

SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Postby Adadeh » Fri Nov 04, 2005 2:42 pm

http://answering-islam.org.uk/Authors/F ... orthy2.htm

Apa proses yang dilalui Quran sebelum menjadi buku wahyu Allah ?

Aku diajar beberapa cerita bagaimana Qur’an dibentuk. Dua keterangan yang paling terkenal adalah :

Muhammad menyusun Qur’an menjadi sebuah buku sebelum dia mati dan Kalifa lainnya, Abu Bakr, menyusunnya dari orang2 yang telah menulis ayat2 Qur’an dan menghafalnya.

Meskipun begitu, aku diajari bahwa Qur’an yang sekarang ini persis sama dengan yang diberikan pada Muhammad dulu oleh malaikat Jibril. Setelah itu aku mulai mempelajari sumber2 Islam yang bisa dipercaya – terutama Hadis yang Sahih (terpercaya) yang disusun oleh Bukhari untuk mengerti sejarah Islam.

Sewaktu aku mempelajari sejarah penyusunan teks Qur’an, aku sangat kaget ketika mengetahui bahwa Qur’an yang kita miliki hari ini ternyata melalui beberapa tahapan evolusi sebelum jadi yang standard seperti yang saat ini ada. Misalnya, aku menemukan ada tujuh cara yang berbeda untuk melafalkan Qur’an. Seorang dapat melafalkan dan mengingat Qur’an secara berbeda dan itu tetap diterima sebagai wahyu Allah. Kutipan dari Hadis Sahih Bukhari:

Volume 3, Buku 41, Nomer 601:
Dikisahkan oleh 'Umar bin Al-Khattab:
Aku dengar Hisham bin Hakim bin Hizam melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caraku. Rasul Allah telah mengajarkan padaku (dengan cara yang berbeda). Lalu, aku hampir saja ingin bertengkar dengan dia (pada saat sembahyang) tapi aku tunggu sampai dia selesai, lalu aku ikat bajunya di sekeliling lehernya dan kuseret dan kubawanya menghadap Rasul Allah dan berkata, “Aku telah mendengar dia melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan yang kau ajarkan padaku.”

Sang Rasul menyuruhku melepaskan dia dan meminta Hisham melafalkannya. Ketika dia melakukan itu, Rasul Allah berkata, “Itu (Surat-al-Furqan ) dilafalkan begitu.” Sang Rasul lalu meminta aku melafalkannya. Ketika aku melakukannya, dia berkata, “Itu dilafalkan begitu. Qur’an telah dinyatakan dalam tujuh cara yang berbeda, jadi lafalkan dengan cara yang mudah bagimu
.”


Karena itu dari sejak awal Qur’an, kutemukan bukan saja SATU melainkan TUJUH cara, untuk menghafalkan Qur’an. Ini berarti orang Muslim dapat menghafal Qur’an dalam tujuh cara yang berbeda, dan bukan hanya satu. Ini menimbulkan suatu masalah yang tadinya tidak terpikirkan bagiku. Jika Muhammad telah mengijinkan tujuh cara untuk melafalkan Qur’an, maka tentunya ada [b]TUJUH VERSI QURAN
.

Aku tidak pernah diajari bahwa ada tujuh buah Qur’an, aku hanya diberitahu satu Qur’an saja. Apakah memang betul ada tujuh buah dan semuanya itu asli?

Ketika aku terus melanjutkan penelaahanku, kutemukan Hadis Sahih lain yang memperkuat dan memperluas paham bahwa Qur’an mungkin dikisahkan dalam tujuh cara yang berbeda. Contohnya Sahih Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomer 442; V6, B61, N513; V6, B61, N514; V9, B3, N640.

Sewaktu aku mempelajarinya lebih lanjut, Hadis Sahih menegaskan bahwa Muhammad tidak menyusun tulisan Qur’an jadi satu koleksi, tapi ini untuk pertamakali dilakukan di bawah kekuasaan Khalifa Abu Bakr. Ternyata pada saat itulah qurra, yakni orang2 yang menghafalkan Qur’an, terbunuh di Perang Yamama. Khalifa Abu Bakr memerintahkan untuk dibuat kumpulan ayat2 Qur’an, dan ini juga atas desakan Umar (Khalifa yang kedua). Kumpulan ayat ini disimpan oleh Khalifa Abu Bakr, dan setelah dia mati, lalu disimpan oleh Khalifa Umar dan diserahkan pada anak perempuan Umar yang bernama Hafsa, yang juga adalah janda Muhammad. Ini diceritakan dengan jelas di Sahih Hadis of Bukhari:

Volume 6, Buku 61, Nomer 509:
Dikisahkan oleh Zaid bin Thabit:
Abu Bakr As-Siddiq memanggilku ketika orang2 Yamama telah dibunuh (sejumlah pengikut sang Nabi yang bertempur melawan Musailama). (Aku pergi kepadanya) dan menemukan 'Umar bin Al-Khattab duduk dengannya. Abu Bakr lalu berkata (padaku), “Umar telah datang padaku dan berkata: “Banyak yang Qurra Qur’an (orang2 yang hafal Qur’an di luar kepala) yang tewas di Perang Yamama dan aku takut akan lebih banyak lagi Qurra yang akan tewas di medan perang lain, sehingga sebagian besar Qur’an bisa hilang. Karena itu aku menganjurkan kau (Abu Bakr) memerintah agar ayat2 Qur’an dikumpulkan.”

Aku berkata pada ‘Umar, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” ‘Umar berkata, “Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” ‘Umar terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku dan aku mulai menyadari kebenaran usul ini.”

Lalu Abu Bakr berkata (padaku). ‘Kamu adalah anak muda yang bijaksana dan kami tidak curiga apapun padamu, dan kau biasa menulis Ilham Illahi bagi Rasul Allah. Maka kau harus mencari (ayat2 terpisah-pisah) Qur’an dan mengumpulkannya jadi satu buku.” Demi Allah, jika mereka memerintahkanku untuk memindahkan satu dari gunung2, ini tidak akan sesukar perintah mengumpulkan ayat2 Qur’an.

Lalu aku berkata pada Abu Bakr, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” Abu Bakr menjawab, ““Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” Abu Bakr terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku seperti Dia telah membuka hati Abu Bakr dan ‘Umar.

Lalu aku mulai mencari ayat2 Qur’an dan mengumpulkannya dari (yang ditulis di) tangkai2 palem, batu2 putih tipis dan juga orang2 yang mengingatnya dalam hati, sampai aku menemukan ayat akhir dari Surat At-Tauba (Pertobatan) dari Abi Khuzaima Al-Ansari, dan aku tidak menemukan ayat ini pada orang lain.

Ayatnya berbunyi: ‘Sesungguhnya telah datang bagimu seorang Rasul (Muhammad) dari antara kalian sendiri. Dia sedih melihat engkau harus menerima kecelakaan atau kesusahan … (sampai akhir Surat-Baraa’ (At-Tauba) (9.128-129). Lalu naskah2 (salinan) lengkap Qur’an disimpan Abu Bakr sampai dia mati, lalu disimpan ‘Umar sampai akhir hidupnya, dan kemudian disimpan Hafsa, anak perempuan ‘Umar
.


Sewaktu aku mempelajari Hadis Sahih di atas dan Hadis yang lain yang sama pesannya, aku mendapatkan hal2 yang penting.

Pertama, Umar khawatir jika Qur’an tidak ditulis, dan jika Qurra banyak yang mati, maka sebagian besar Qur’an akan hilang. Kedua, ini adalah tugas yang monumental (besar sekali) yang diberikan pada Zaid karena Muhammad sendiri tidak pernah melakukan hal ini, dan Zaid menjelaskan kekhawatirannya. Ketiga, perlu banyak usaha untuk mengumpulkan ayat2 Qur’an karena beberapa ayat hanya diingat oleh satu orang dan tidak ada orang lain yang menegaskan atau membenarkannya.

Ada beberapa Hadis Sahih lain yang juga mengatakan hal itu. Kejujuran Zaid membuatku waswas. Apakah betul ini adalah tugas yang sangat berat? Apakah memang dia orang yang tepat melaksanakan tugas itu? Aku mulai mencari dan menemukan bahwa Muhammad telah menganjurkan orang2 lain dan bukan Zaid untuk mengajar Qur’an. Dari Hadis Sahih:

Volume 6, Buku 61, Nomer 521:
Dikisahkan oleh Masriq:
'Abdullah bin 'Amr mengingatkan 'Abdullah bin Masud dan berkata, "Aku akan mencintai orang itu selamanya, karena aku mendengar sang Nabi berkata, ‘Belajarlah Qur’an dari empat orang ini: 'Abdullah bin Masud, Salim, Mu'adh dan Ubai bin Ka'b.’"


Aku sangat khawatir karena tidak seorang pun dari keempat orang yang direkomendasikan Muhammad untuk mengajar Qur’an diberi tugas untuk mengumpulkan atau menegaskan kebenarannya. Yang disuruh malah juru tulisnya Muhammad: Zaid bin Thabit. Dia juga khawatir bahwa tugas ini terlalu berat. Tapi baik Khalifa Abu Bakr maupun Umar pada saat itu tidak minta satu pun dari keempat orang di atas untuk memeriksa hasil kerja Zaid. Aku lanjutkan penyelidikanku dengan rasa agak bingung karena proses penyusunan ini ternyata melibatkan lebih banyak hal yang tidak pernah kedengar sebelumnya. Sayangnya, aku mendapatkan bahwa sejarah penyusunan Qur’an tidak berhenti pada saat itu saja. Dengan makin bertambah dan menyebarnya masyarakat Muslim, jadi bertambah sukar pula untuk mempertahankan keutuhan isi Qur’an karena tidak ada satu patokan isi Qur’an yang sah, tapi setiap guru agama punya salinan mereka sendiri. Ini mengakibatkan banyaknya ketidaksetujuan diantara masyarakat Muslim, dan karena itu, Khalifa Uthman diminta untuk berbuat sesuatu untuk menanggulangi hal ini. Harap ingat bahwa pada saat itu, naskah Qur’an yang dikumpulkan Zaid tidak disebarkan ke mana2, dan masih disimpan oleh Hafsa. Juga perhatikan apa yang dilakukan Khalifa Uthman seperti yang diterangkan di Hadis Sahih Bukhari berikut.

Volume 6, Buku 61, Nomer 510:
Dikisahkan oleh Anas bin Malik:
Hudhaifa bin Al-Yaman datang pada Uthman pada saat orang2 Sham dan Iraq sedang mengadakan perang untuk menaklukkan Arminya dan Adharbijan. Hudhaifa takut akan perbedaan pelafalan Qur’an yang dilakukan mereka (orang2 Sham dan Iraq), lalu dia berkata pada ‘Uthman, “O ketua orang yang beriman! Selamatkan negara ini sebelum mereka bertentangan tentang Buku ini (Qur’an) seperti yang dilakukan orang Yahudi dan Kristen sebelumnya.” Lalu ‘Uthman mengirim pesan pada Hafsa yang isinya, “Kirim pada kami naskah2 Qur’an sehingga kami bisa mengumpulkan bahan2 Qur’an dalam salinan yang sempuran dan mengembalikan naskah2 itu padamu.” Hafsa lalu mengirimkannya pada ‘Uthman. ‘Uthman lalu memerintahkan Zaid bin Thabit, 'Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As dan 'AbdurRahman bin Harith bin Hisham untuk menulis ulang naskah2 itu menjadi salinan yang sempurna. ‘Uthman berkata pda tiga orang Quraish, “Andaikata kau tidak setuju dengan Zaid bin Thabit tentang isi apapun dalam Qur’an, maka tulislah Qur’an dalam dialek Quraish, agar Qur’an dinyatakan dalam bahasa asli mereka.” Mereka melakukan itu, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Uthman mengembalikan naskah2 yang asli pada Hafsa. ‘Uthman mengirim satu salinan Qur’an ke setiap propinsi Muslim, dan memerintahkan semua tulisan2 Qur’an lain, baik yang ditulis di beberapa naskah atau seluruh buku, dibakar. Said bin Thabit menambahkan, “Satu ayat dari Surat Ahzab hilang dariku ketika kita menyalin Qur’an dan aku biasa mendengar Rasul Allah menceritakannya. Maka kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaima bin Thabit Al-Ansari. (Ayat ini berbunyi): ‘Diantara orang2 yang Beriman ada orang2 yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.’ (33.23).


Dari mempelajari kisah di atas dan juga Hadis Sahih lain yang pesannya serupa, aku perhatikan ada beberapa kumpulan Qur’an yang berbeda-beda yang tersebar saat itu. Ini adalah bagian kumpulan Qur’an yang dibuat oleh keempat guru2 Qur’an yang direkomendasikan Muhammad seperti yang ditulis di Hadis terdahulu, yakni salah satunya Ubai bin Ka'b. Lagi2 aku merasa terganggu dengan hal2 berikut. Pertama, ada banyak ketidaksetujuan diantara para Mauslim tentang apa yang seharusnya ada dalam Qur’an. Karena itu, Khalifa Uthman memerintahkan naskah2 Qur’an yang disimpan Hafsa untuk disalin dan disebarkan dan ditunjuk sebagai salinan Qur’an yang sah. Kedua, jika ada banyak ketidaksetujuan diantara ahli2 tulis yang menyalin Qur’an tentang bagaimana melafalkan suatu ayat, ‘Uthman menyuruh mereka menulisnya dalam dialek Quraish. Aku merasa kecewa ketika tahu Khalifa Uthman memerintahkan perubahan kata2 Qur’an ke dalam dialek Quraish. Apakah perubahan bagian dari tujuh versi Qur’an yang berbeda? Aku tidak menemukan penjelasan ini di Hadis Sahih. Yang terakhir, aku kaget sekali ketika Khalifa Uthman memerintahkan penghancuran Qur’an2 yang lain – tidak peduli apakah seluruhnya atau sebagian saja. Ini sangat mengganggu. Aku bertanya dalam hati: mengapa? Mestinya karena Qur’an2 lain yang beredar saat itu begitu berbeda dengan yang dimiliki Khalifa sehingga dia sampai2 mengeluarkan perintah yang begitu keras. Ingat saat Al-Yaman bertemu Uthman untuk memintanya menyelamatkan negara karena mereka berbeda pendapat tentang Qur’an. Sekarang Khalifa Uthman memerintahkan disebarkannya salinan yang dimiliki Hafsa, padahal versi ini belum pula disahkan oleh guru2 Qur’an terbaik untuk jadi patokan Qur’an yang sah.

Sewaktu aku menyelidiki apa kemungkinan perbedaannya yang ada, aku menemukan contoh kata Bismillah yang hilang pada awal Surah 9, ayat perajaman yang hilang yang berhubungan dengan perzinahan, dan lalu ayat ini dihapus, ditarik kembali, dibatalkan atau dilupakan. Aku telah membicarakan hal ini dalam penelitianku tentang ayat2 yang dibatalkan. Aku menjumpai bahwa meskipun perintah penghancuran diberikan, beberapa bagian dari versi Qur’an lain ternyata selamat, mungkin karena orang2 Muslim hafal akan variasi lain dari Qur’an. Contohnya, dari terjemahan Qur’an oleh Abdullah Yusuf Ali dan dari catatan kaki kutemukan Qiraat (bacaan Qur’an) lain, dari Ka’b yang direkomendasikan Muhammad sebagai satu dari empat guru terbaik untuk mengajar Qur’an. Dia menulis ada kata2 tambahan bagi Surah 33:6. Aku dulu diajari bahwa tidak ada satu titik pun yang diubah, dan inilah seluruh kalimat yang hilang yang ditandai dengan ** di bawah di catatan kaki 3674 dari Abdullah Yusuf Ali.

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, ** dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah) . Surah 33:6

** Catatan kaki 3674 : … Di beberapa Qiraats, seperti yang dimiliki Ubai ibn Ka’b, muncul pula kata2 ini “dan dia adalah ayah bagi mereka”, yang mengartikan bahwa hubungan spiritualnya dan hubungannya denga kata2 “dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka”. …

Ini bukan berita baik bagiku. Tidak ada guru Muslim yang bahkan mengisyaratkan kenyataan bahwa naskah akhir Qur’an yang diperintahkan oleh Khalifa Uthman untuk disebarkan sebenarnya punya sejarah yang penuh perubahan, pertentangan dan penghancuran.

Dengan menyesal aku mengambil kesimpulan pengertian mengenai penyusunan Qur’an bahwa:

Muhammad tidak pernah mengumpulkan bahan2 Qur’an menjadi satu naskah Qur’an tunggal. Dia merekomendasikan empat guru untuk mengajar bahan2 Qur’an. Dia juga menegaskan bahwa Qur’an dapat dilafalkan dalam tujuh cara.

Khalifa Abu Bakr memerintahkan Zaid bin Thabit, salah satu juru tulis, dan bukan empat guru yang direkomendasikan Muhammad, untuk menyusun bahan2 Qur’an jadi satu naskah tunggal, ketika para qurra mulai berguguran di medan perang.

Dalam beberapa tahun, versi Qur’an yang berbeda-beda muncul dan menyebabkan banyak masalah diantara masyarakat Muslim. Khalifa Uthman memerintahkan penyebaran salinan dari versi Qur’an yang dibuat oleh Zaid bin Thabit yang disimpan oleh anak Khalifa Umar, yakni Hafsa. Dia lalu memerintahkan penghancuran Qur’an2 yang telah disusun orang lain.

Sebagian Muslim tentunya tidak suka dengan kesimpulan ini karena mereka percaya bukan ini yang terjadi. Akan tetapi, tulisan sah yang diakui dalam sejarah Islam adalah dari Hadis Sahih, Sirat (riwayat hidup Muhammad) dan dari Tafsir Qur’an. Tidak ada sumber sejarah Islam lain yang bisa menjelaskan dengan sah tentang masalah ini. Dari semua sumber yang lain, kesaksian yang ada juga mirip seperti yang telah aku jabarkan dengan menggunakan Hadis Sahih Bukhari sebagai sumber keterangan yang utama. Qur’an yang kita miliki sekarang jauh dari kumpulan Qur’an yang sempurna dan berwenang seperti yang dulu diajarkan padaku bahwa kita punya Qur’an asli dari Muhammad.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Postby menghayati » Tue Jul 06, 2010 10:03 pm

numpang nandain om
menghayati
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 58
Joined: Sat May 29, 2010 9:08 pm

Re: SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Postby rajawajar » Sun Sep 19, 2010 2:16 pm

Ijin Copy paste bwt referensi:

Tak henti-hentinya kaum liberal berusaha menghambat kembalinya kaum muslimin menerapkan Syariat Islam. Salah satunya adalah dengan membuat kaum muslimin ragu-ragu akan keotentikan Mushhaf al-Qur`an sebagai wahyu Allah. Jika kaum muslimin telah ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an sebagai wahyu Allah, maka syariat Islam semakin bisa dihambat penerapannya.

Manusia-manusia jahat itu banyak memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang sejarah penulisan, pengumpulan dan penyalinan al-Qur`an. Oleh karena itu, sangat penting penyampaian Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Qur`an.

PENULISAN AL-QUR`AN

Ketika diturunkan satu atau beberapa ayat, Rasul saw langsung menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di hadapan beliau. Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyu. Para penulis wahyu menuliskannya ke dalam lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis.

Mengenai lembaran-lembaran ini Allah SWT berfirman:

Rasuulun minallaaHi yatluu shuhufan muthaHHarah

Artinya:

(yaitu) seorang utusan Allah (yakni Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (al-Qur`an) (QS. Al-Bayyinah [98]: 2)

Rasulullah saw mengizinkan kaum muslimin untuk menuliskan al-Qur`an berdasarkan apa yang beliau diktekan kepada para penulis wahyu. Rasulullah saw bersabda:

Laa taktubuu ‘annii, wa man kataba ‘annii ghairal qur`aani falyamhuHu

Artinya:

Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain al-Qur`an hendaknya ia menghapusnya. (HR. Muslim)

Rasulullah saw tidak khawatir dengan hilangnya ayat-ayat al-Qur`an karena Allah telah menjamin untuk memeliharanya berdasarkan nash yang jelas:

Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHu lahaafizhuun

Artinya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]:9)

Rasulullah saw gembira dan ridha dengan al-Qur`an sebagai mukjizat terbesarnya yang dapat digunakan sebagai hujjah terhadap orang-orang Arab maupun orang-orang di seluruh dunia

Ketika Nabi saw wafat, al-Quran secara keseluruhan sudah tertulis pada lembaran-lembaran, tulang-tulang, pelepah kurma, dan batu-batu tipis, dan di dalam hafalan para sahabat ra.

* * *

PENGUMPULAN AL-QUR`AN

Di masa pemerintahan Khalifatur Rasul Abu Bakar ash-Shiddiq ra, terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan banyak sekali para qurra’/ para huffazh (penghafal al-Qur`an) terbunuh. Akibat peristiwa tersebut, Umar bin Khaththab merasa khawatir akan hilangnya sebagian besar ayat-ayat al-Qur`an akibat wafatnya para huffazh. Maka beliau berpikir tentang pengumpulan al-Qur`an yang masih ada di lembaran-lembaran.

Zaid bin Tsabit ra berkata:

Abu Bakar telah mengirim berita kepadaku tentang korban Perang Ahlul Yamamah. Saat itu Umar bin Khaththab berapa di sisinya.

Abu Bakar ra berkata, bahwa Umar telah datang kepadanya lalu ia berkata: “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar al-Qur`an.”

Abu Bakar berkata kepada Umar: “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasul saw?”

Umar menjawab: “Demi Allah ini adalah sesuatu yang baik.”

Umar selalu mengulang-ulang kepada Abu Bakar hingga Allah memberikan kelapangan pada dada Abu Bakar tentang perkara itu. Lalu Abu Bakar berpendapat seperti apa yang dipandang oleh Umar.

Zaid bin Tsabit melanjutkan kisahnya. Abu Bakar telah mengatakan kepadaku, “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”

Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku mengenai pengumpulan al-Qur`an.

Aku bertanya: “Bagaimana kalian melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?”

Umar menjawab bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Umar selalu mengulang-ulang perkataaannya sampai Allah memberikan kelapangan pada dadaku seperti yang telah diberikanNya kepada Umar dan Abu Bakar ra.

Maka aku mulai menyusun al-Qur`an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, tulang-tulang, dari batu-batu tipis, serta dari hafalan para sahabat, hingga aku dapatkan akhir surat at-Taubah pada diri Khuzaimah al-Anshari yang tidak aku temukan dari yang lainnya, yaitu ayat:

Laqad jaaa`akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu`miniina ra`uufur rahiim

Artinya:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olenya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah [9]: 128)

Pengumpulan al-Qur`an yang dilakukan Zaid bin Tsabit ini tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran-lembaran al-Qur`an tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Tidak selembar pun diambil kecuali memenuhi dua syarat: 1) Harus diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat. 2) Harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.

Saking telitinya, hingga pengambilan akhir Surat at-Taubah sempat terhenti karena tidak bisa dihadirkannya dua orang saksi yang menyaksikan bahwa akhir Surat at-Taubah tsb ditulis di hadapan Rasululllah saw, kecuali kesaksian Khuzaimah saja. Para sahabat tidak berani menghimpun akhir ayat tersebut, sampai terbukti bahwa Rasulullah telah berpegang pada kesaksian Khuzaimah, bahwa kesaksian Khuzaimah sebanding dengan kesaksian dua orang muslim yang adil. Barulah mereka menghimpun lembaran yang disaksikan oleh Khuzaimah tersebut.

Demikianlah, walaupun para sahabat telah hafal seluruh ayat al-Qur`an, namun mereka tidak hanya mendasarkan pada hafalan mereka saja.

Akhirnya, rampung sudah tugas pengumpulan al-Qur`an yang sangat berat namun sangat mulia ini. Perlu diketahui, bahwa pengumpulan ini bukan pengumpulan al-Qur`an untuk ditulis dalam satu mushhaf, tetapi sekedar mengumpulkan lembaran-lembaran yang telah ditulis di hadapan Rasulullah saw ke dalam satu tempat.

Lembaran-lembaran al-Qur`an ini tetap terjaga bersama Abu Bakar selama hidupnya. Kemudian berada pada Umar bin al-Khaththab selama hidupnya. Kemudian bersama Ummul Mu`minin Hafshah binti Umar ra sesuai wasiat Umar.

* * *

PENYALINAN AL-QUR`AN

Kemudian datanglah masa pemerintahan Amirul Mu`minin Utsman bin Affan ra. Di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman terkejut melihat terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur`an. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca al-Qur`an dengan bacaan Ubay bin Ka’ab. Mereka membacanya dengan sesuatu yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca al-Qur`an dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Implikasi dari fenomena ini adalah adanya peristiwa saling mengkafirkan di antara sesama muslim. Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.

Hudzaifah pun marah. Kedua matanya merah.

Hudzaifah berkata, “Penduduk Kufah membaca qiraat Ibnu Mas’ud, sedangkan penduduk Bashrah membaca qiraat Abu Musa. Demi Allah jika aku bertemu dengan Amirul Mu`minin, sungguh aku akan memintanya untuk menjadikan bacaan tersebut menjadi satu.”

Sekitar tahun 25 H, datanglah Huzaifah bin al-Yaman menghadap Amirul Mu`minin Utsman bin Affan di Madinah.

Hudzaifah berkata, “Wahai Amirul Mu`minin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang al-Kitab (al-Qur`an) sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani.”

Utsman kemudian mengutus seseorang kepada Hafshah agar Hafshah mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`an yang ada padanya kepada Utsman untuk disalin ke dalam beberapa mushhaf, dan setelah itu akan dikembalikan lagi.

Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`an itu kepada Utsman.

Utsman lalu memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushhaf.

Utsman bertanya, “Siapa yang orang yang biasa menulis?”

Dijawab, “Penulis Rasulullah saw adalah Zaid bin Tsabit.”

Utsman bertanya lagi, “Lalu siapa oang yang paling pintar bahasa Arabnya?”

Dijawab, “Said bin al-‘Ash.

Utsman kemudian berkata, “Suruhlah Said untuk mendiktekan dan Zaid untuk menuliskan al-Qur`an.”

Saat proses penyalinan mushhaf berjalan, mereka hanya satu kali mengalami kesulitan, yakni adanya perbedaan pendapat tentang penulisan kata “at-Taabuut”.

Seperti diketahui, yang mendiktekannya adalah Said bin al-Ash dan yang menuliskannya adalah Zaid bin Tsabit. Semua dilakukan di hadapan para sahabat. Ketika Said bin al-Ash mendiktekan kata at-Taabuut maka Zaid bin Tsabit menuliskannya sebagaimana ditulis oleh kaum Anshar yaitu at-Taabuuh, karena memang begitulah menurut bahasa mereka dan begitulah mereka menuliskannya. Tetapi anggota tim lain memberitahukan kepada Zaid bahwa sebenarnya kata itu tertulis di dalam lembaran-lembaran al-Qur`an dengan Ta` Maftuhah, dan mereka memperlihatkannya ke Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit memandang perlu untuk menyampaikan hal itu kepada Utsman supaya hatinya menjadi tenang dan semakin teguh. Utsman lalu memerintahkan mereka agar kata itu ditulis dengan kata seperti dalam lembaran-lembaran al-Qur`an yaitu dengan Ta` Mahtuhah. Sebab hal itu merupakan bahasa orang-orang Quraisy, lagi pula al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka. Akhirnya ditulislah kata tersebut dengan Ta` Maftuhah.

Demikianlah, mereka tidak berbeda pendapat selain dari perkara itu, karena mereka hanya menyalin tulisan yang sama dengan yang ada pada lembaran-lembaran al-Qur`an, dan bukan berdasarkan pada ijtihad mereka.

Setelah mereka menyalin lembaran-lembaran tersebut ke dalam mushhaf, Utsman segara mengembalikannya kepada Hafshah.

Utsman kemudian mengirimkan salinan-salinan mushhaf ke seluruh wilayah negeri Islam agar orang-orang tidak berbeda pendapat lagi tentang al-Qur`an. Jumlah salinan yang telah dicopy sebanyak tujuh buah. Tujuh salinan tersebut dikirimkan masing-masing satu copy ke kota Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushhaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushhaf Utsmani.

Utsman kemudian memerintahkan al-Qur`an yang ditulis oleh sebagian kaum muslimin yang bertentangan dengan Mushhaf Utsmani yang mutawatir tersebut untuk dibakar.

Pada masa berikutnya kaum muslimin menyalin mushhaf-mushhaf yang lain dari mushhaf Utsmani tersebut dengan tulisan dan bacaan yang sama hingga sampai kepada kita sekarang.

Adapun pembubuhan tanda syakal berupa fathah, dhamah, dan kasrah dengan titik yang warna tintanya berbeda dengan warna tinta yang dipakai pada mushhaf yang terjadi di masa Khalifah Muawiyah dilakukan untuk menghindari kesalahan bacaan bagi para pembaca al-Qur`an yang kurang mengerti tata bahasa Arab. Pada masa Daulah Abbasiyah, tanda syakal ini diganti. Tanda dhamah ditandai dengan dengan wawu kecil di atas huruf, fathah ditandai dengan alif kecil di atas huruf, dan kasrah ditandai dengan ya` kecil di bawah huruf.

Begitu pula pembubuhan tanda titik di bawah dan di atas huruf di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dilakukan untuk membedakan satu huruf dengan huruf lainnya.

Dengan demikian, al-Qur`an yang sampai kepada kita sekarang adalah sama dengan yang telah dituliskan di hadapan Rasulullah saw. Allah SWT telah menjamin terjaganya al-Qur`an. Tidak ada orang yang berusaha mengganti satu huruf saja dari al-Qur`an kecuali hal itu akan terungkap.

Allah SWT berfirman:

Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHu lahaafizhuun

Artinya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Oleh karena itu, tidak perlu kita ragu-ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an. Tak perlu kita terprovokasi tipu daya orang-orang liberal yang berupaya membuat kita ragu-ragu terhadap al-Qur`an. Orang-orang liberal itu memang telah berguru kepada para orientalis yang mempelajari al-Qur`an bukan untuk mengimaninya, bukan untuk menerapkan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Mereka mempelajari al-Qur`an untuk mencari-cari cara agar bisa melemahkan aqidah umat Islam. Semoga Allah menghancurkan rencana-rencana mereka. Semoga Allah membuat sakit yang ada pada hati mereka semakin parah dan semakin parah. Semoga Allah segera
membinasakan mereka karena sakit itu. Amin ya Allah ya Mujiibas saa`iliin.[]

http://mediaislamnet.com/2010/08/sejara ... -al-quran/
rajawajar
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 130
Joined: Sat Sep 18, 2010 6:48 pm

Re: SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Postby bagonk » Mon Aug 01, 2011 1:42 pm

:-k tandai aja..
User avatar
bagonk
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 214
Joined: Sun Jul 31, 2011 10:44 am

Re: SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Postby Haniam_maria » Mon Aug 01, 2011 2:05 pm

Itulah bahasa arab, penuh makna. Salah dalam hal titik saja bisa fatal. Oh ya 7 versi Qur'an diganti aja jadi Qiro'ah Sab'ah.
Btw, kemarin baru dari sarapan pagi.com n aku temukan banyak sekali kesalahan penulisan terutama penulisan angka yang banyak ditanyakan. Dan tau gak jawabanya? Cari tahu sendiri aja.

________________________________________________________________________________________________________________________

Peringatan Moderator

Kepada netter Haniam_maria, jangan mengacau di RC, postingan anda berikutnya akan dihapus tanpa peringatan.

- M -
Haniam_maria
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 652
Joined: Wed Mar 16, 2011 11:50 am
Location: Di tempat ku berdzikir

Postby ali5196 » Tue Aug 02, 2011 2:08 pm

Haniam_maria wrote:Itulah bahasa arab, penuh makna. Salah dalam hal titik saja bisa fatal.

Betul sekali!

Kata '72 perawan bahenol disurga' begitu dipindahin titiknya jadi 'anggur kering'! Itulah makna bahasa Arab: yi sbg bahasa sempalan dari bahasa Syriak-Aram. Mushaf tertua selama ini adalah Quran Sana'a dan ditemukan dalam huruf Kufi (huruf Suriak-Aram) dan bukan bhs Arab. Bhs Arab belum baku saat itu.

Contoh salah titik yang fatal sudah dicatat banyak disini:
syro-aramaic-dlm-quran-quran-liturgi-injil-sudah-selesai-t37252/
g-sawma-bahasa-syriak-aram-dalam-quran-belum-selesai-t37757/

Btw, kemarin baru dari sarapan pagi.com n aku temukan banyak sekali kesalahan penulisan terutama penulisan angka yang banyak ditanyakan. Dan tau gak jawabanya? Cari tahu sendiri aja.

Di FFi ini kita gak peduli pada sarapanpagi.com ataupun makanmalam.com
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re: SEJARAH Quran: 7 VERSI QURAN ?

Postby khanaya » Tue Aug 02, 2011 5:00 pm

numpang menandai ya Om Mod :yawinkle:
khanaya
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 161
Joined: Sat Jul 24, 2010 5:55 pm


Return to Resource Centre: Quran & Hadits



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users