. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Postby burung gereja » Tue Nov 29, 2005 6:54 pm

Ketika lagi buka2 file lama, saya nemu sesuatu yang menarik di komputer saya, saya nemu file tugas saya ketika saya kelas dua(2) smu. Tugasnya adalah resensi buku, berikut saya post bagian pembahasan materinya...

1. JUDUL BUKU : MENEMUKAN SEJARAH -Wacana Pergerakan Islam di
Indonesia-
2. PENGARANG : Ahmad Mansur Suryanegara
3. PENERBIT : Penerbit Mizan
4. BENTUK : Karya ilmiah tulisan
5. CETAKAN : Cetakan III, Januari 1996
6. TEBAL BUKU : 335 halaman
7. GAMBAR KULIT : Bendera Merah Putih dengan latar berbagai macam lambang ormas Islam


*Pemantapan Kesadaran Sejarah Lokal

Barangkali dewasa ini masih terlihat adanya sejarawan yang masih belum memahami makna sejarah Indonesia sebagai peristiwa sejarah yang menempati ruang seperenam lingkaran bumi. Dan barangkali masih ada yang menilai sejarah Indonesia sebagai sejarah lokal, bukan sebagai sejarah internasional.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, hubungan kontak antar Indonesia dengan bangsa luar, yang terjadi sekarang ini disebutkan di daerah atau lokal, padahal dahulu merupakan kerajaan atau kesultanan. Maka tak dapat disangkal lagi bahwa sejarah lokal yang menuturkan peristiwa sejarah di daerah, mungkin pula untuk dikategorikan sebagai sejarah internasional.
Hal lain yang perlu diperhatikan, adalah sistem periodisasi. Misalnya, periodisasi zaman Hindu, padahal pada masa tersebut berkembang pula Budha dan Islam. Jadi, dari realitas fakta di atas, pembagian periodisasi dengan penamaan yang spesifik, akan memberikan gambaran gerak sejarah yang diskontinyu. Apakah Periode Pemerintahan Kolonial, diartikan telah hilangnya kekuatan politik pribumi yang masih ada, hanya dinilai tidak ada dari sisi pandangan Barat. Hal ini terjadi akibat sejarah lokal belum mendapatkan tempat yang layak, sehingga periodisasinya tidak tepat. Informasinya belum merata, dan porsi penulisannya tidak seimbang.

*Masuknya Islam ke Nusantara

Tulisan ini tidak bermaksud membicarakan masuknya Islam ke setiap pulau di Nusantara, melainkan hanya menitikberatkan pada masuknya Islam ke pulau Sumatra dan Jawa, karena kedua wilayah ini dinilai sebagai sampel bagi wilayah Nusantara lainnya.
Ada tiga teori yang menganalisis tentang masuknya Islam ke Nusantara, Teori Gujarat, Teori Mekkah dan Teori Persia. Ketiga teori tersebut mencoba memberikan
jawaban permasalahan tentang masuknya agama Islam ke Nusantara, dengan perbedaan pendapatnya: Pertama, mengenai waktu masuknya agama Islam. Kedua, tentang asal negara yang menjadi perantara atau sumber tempat pengambilan ajaran agama Islam. Ketiga, tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.

Teori Gujarat
Teori ini dinamakan Teori Gujarat, bertolak dari asal negara yang membawa Islam ke Nusantara. Adapun peletak dasar teori ini kemungkinan besar adalah Snouck Hurgronje, dalam bukunya L’Arabie et les Indes Neerlandaises, atau Revue de l’histoire des Religious, jilid Ivil.
Hurgronje menitikberatkan pandangannya ke Gujarat berdasarkan: Pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Kedua, hubungan dagang Indonesia-India telah lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatra memberikan gambaran hubungan antara Sumatra dengan Gujarat.
Pandangan Snouck Hurgronje ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap para sejarawan Barat, dan berpengaruh juga terhadap sejarawan Indonesia. Teori Gujarat umumnya menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Pendapat ini berdasarkan bukti batu nisan Sultan pertama dari Kerajaan Samudera Pasai, yakni Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada 1297. Pendapat yang mengatakan bahwa nisan di Pasai tersebut becorak Hinduistis semakin menguatkan Teori Gujarat(India). Selain itu ajaran mistik Islam yang berkembang di Nusantara diakui dikembangkan oleh orang-orang India yang telah memeluk Islam.
Dari berbagai argumen Teori Gujarat yang dikemukakan oleh beberapa sejarawan, terlihat bahwa analisis mereka bersifat Hindu Sentris, karena beranggapan bahwa seluruh perubahan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama di Nusantara tidak lepas dari pengaruh India.

Teori Mekkah
Teori Gujarat mendapat kritik dan koreksi dari Hamka yang melahirkan teori baru, yakni Teori Mekkah. Hamka menolak pandangan yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam ke Nusantara. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan Mekkah sebagai pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.
Analisis Hamka berbeda dengan sejarawan dan orientalis Barat, dengan menambahkan pengamatannya pada masalah Mazhab Syafi’i, sebagai mazhab yang istimewa di Mekkah dan mempunyai pengaruh yang terbesar di Nusantara. Hal ini tidak dibicarakan secara mendalam oleh sejarawan Barat sebelumnya.
Selain itu, Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13, karena di Nusantara pada abad ke-13 telah berdiri kekuatan politik Islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai. Dan menurutnya tidak mungkin dalam waktu singkat setelah kedatangannya umat Islam telah mampu membangun sebuah kekuatan politik. Jadi masuknya agama Islam ke Nusantara menurut Hamka tidak terjadi pada abad ke-13, melainkan jauh sebelum itu, yaitu pada abad ke-7.
Pendapat ini didasarkan pada peranan bangsa Arab dalam perdagangan di Asia yang dimulai sejak abad ke-2 SM. Peranan ini tidak pernah dibicarakan oleh para penganut Teori Gujarat. Tinjauan Teori Gujarat menghapuskan peranan bangsa Arab dalam perdagangan dan penguasaan lautan, yang telah lama mengenal Samudera Indonesia daripada bangsa-bangsa lainnya. Dari ahli geografi Arab seperti Abu Zaid Al- Balkhi(934), Ibnu Hauqal(975), dan Maqdisi(985), kita mendapatkan informasi tentang peta bumi yang telah dimiliki oleh bangsa Arab, yang di dalamnya terdapat Samudera Indonesia.
Kalau kita perhatikan fakta sejarah ini, bangsa Arab telah memiliki peta bumi yang dilengkapi dengan Samudera Indonesia, dan menguasai jalur laut menuju Nusantara, sehingga tidaklah mengherankan bila pada tahun 674 telah berdiri perkampungan Arab Islam di pantai Barat Sumatra. Selain itu, fakta tersebut memberikan informasi tentang telah terjadinya hubungan Nusantara-Arab jauh sebelum abad ke-13. Oleh karena itu sukar kiranya untuk dimengerti mengapa pendukung Teori Gujarat, hanya melihat India-Nusantara dengan menghapuskan peranan Arab dalam perdagangan lautnya, termasuk penguasaan jalur laut ke Nusantara.
Kalau kenyataan sejarah semacam ini kemudian dianggap tidak pernah terjadi, artinya adanya peranan bangsa Arab atas bangsa Indonesia tidak ingin diakui oleh para sejarawan dan orientalis Barat. Mereka lebih cenderung memperbanyak informasi tentang hubungan India-Nusantara. Apakah target informasi sejarah yang bersifat Hindu Sentris adalah untuk menanamkan kecintaan intelektual Indonesia terhadap sejarah pra-Islam di Nusantara?. Kalau target pengaruh informasi sejarah adalah sikap politik kalangan intelektual Indonesia, tepatlah peringatan Hamka terhadap pandangan Snouck Hurgronje yang bertujuan menentang pengaruh Arab yang ditemuinya dalam perang Aceh.
Disamping dibawa oleh para pedagang Arab, Hamka juga menyatakan orang-orang Nusantara mengambil inisiatif untuk belajar dengan berlayar ke Cina, Hindustan, Laut Merah, Pantai Jeddah, bahkan sampai membangun negara baru di Malagasi (Madagaskar). Dengan keterangan ini, Hamka mencoba menginformasikan kemampuan penguasaan laut orang-orang Nusantara pada saat itu. Hal ini biasanya tidak didapatkan pada penulisan sejarah oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga terbaca bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pasif dan tidak bergerak keluar.Hal ini tentunya sejalan dengan politik kolonial yang tidak ingin mental bangsa jajahannya terangkat.

Teori Persia

Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya pada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia. Kesamaan kebudayaan itu antara lain:
Pertama, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan syi’ah atas kematian Husain. Biasanya diperingati dengan membuat bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut juga bulan Hasan-Husain.
Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj, sekalipun Al-Hallaj telah meninggal pada 310H/922M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan Syaikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
Ketiga, penggunan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Qur’an tingkat awal.
Teori Persia mendapat tentangan dari berbagai pihak, karena bila kita berpedoman kepada masuknya agama Islam pada abad ke-7, hal ini berarti terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Umayyah. Sedangkan, saat itu kepemimpinan Islam di bidang politik, ekonomi dan kebudayaan berada di Mekkah, Madinah, Damaskus dan Baghdad. Jadi, belum memungkinkan bagi Persia untuk menduduki kepemimpinan dunia Islam saat itu.

*Masuk dan Meluasnya Islam di Jawa Barat

Masuknya Islam ke Jawa Barat diyakini tidak lepas dari pengaruh perniagaan para pedagang Arab Islam. Mereka ini memperdagangkan rempah-rempah yang berasal dari Maluku dan Banten, jadi mereka pasti pernah singgah di salah satu pelabuhan di Jawa Barat, baik Banten, Cirebon maupun Sunda Kelapa.
Pertimbangan lainnya adalah, peranan Jawa Barat yang telah dirintis sejak adanya kekuasaan politik Taruma Negara pada abad ke-5, memberikan kesan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tertua di Jawa yang memegang peranan perdagangan, mustahil bila pada abad ke-7 tidak berbicara dalam perniagaan.
Proses penyebaran Islam di Jawa Barat lebih banyak dikisahkan melalui gerbang Jawa Barat yakni Cirebon. Sebagai mana masuknya Katolik melalui pelabuhan Sunda Kelapa, besar kemungkinan masuknya Islam juga datang dari sebelah Barat Indonesia. Untuk di Jawa tidak diragukan lagi pasti melalui gerbang barat: Sunda Kelapa dan Banten.

*Rasionalisasi Kisah Sejarah Walisongo

Kisah sejarah Walisongo sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di Indonesia, selalu dikaitkan dengan hal-hal yang kurang rasional, bahkan lebih dekat dengan ajaran yang tidak Islami.
Barangkali kisah yang banyak beredar di masyarakat bersumber dari penulis yang menentang Islam, karena kecenderungan para ulama yang kurang memperhatikan penulisan sejarah. Kelemahan ini menjadi penyebab utama kenapa kisah sejarah mereka banyak ditulis oleh penulis yang bukan beragama Islam.
Para wali seringkali dikisahkan melakukan hal-hal mistik dan irasional, seperti bertapa ditepi sungai berpuluh-puluh tahun. Tidakkah cara itu bertentangan dengan syari’at Islam?. Hal itu justru lebih dekat dengan ajaran Hindu yang mengajarkan sistem pertapaan. Sudah seharusnya kita lebih kritis dan tidak menerima begitu saja penulisan sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pemilihan Wilayah Dakwah

Para wali, meskipun masing-masing tidak hidup sezaman, tetapi dalam pemilihan wilayah dakwahnya tidak sembarangan. Penentuan tempat dakwahnya mempertimbangkan pula faktor geostrategi yang sesuai dengan kondisi zamannya.
Mereka memilih pulau Jawa karena mereka melihat Jawa sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik dan kebudayaan di Nusantara pada saat itu. Sebagai pusat perniagaan, tentunya Jawa banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari luar Jawa, sehingga diharapkan para pedagang inilah yang nantinya akan menyebarkan ajaran Islam di daerah asal mereka.
Kalau kita perhatikan dari kesembilan wali dalam pembagian wilayah dakwahnya, ternyata mereka membagi wilayah Jawa dengan rasio 5:3:1.
Jawa Timur mendapat perhatian besar dari para wali. Di sini ditempatkan 5 wali, dengan pembagian teritorial dakwah yang berbeda. Maulana Malik Ibrahim, sebagai wali perintis, mengambil wilayah Gresik. Setelah beliau wafat, wilayah ini dikuasai oleh Sunan Giri. Sunan Ampel mengambil posisi dakwahnya di Surabaya. Sunan Bonang di Tuban. Sedangkan Sunan Drajat di Sedayu.
Kalau kita perhatikan posisi wilayah yang dijadikan basis dakwah kelima wali tersebut, semuanya mengambil tempat “kota bandar” atau pelabuhan. Pengambilan posisi pantai ini adalah ciri Islam sebagai ajaran yang disampaikan oleh para da’i yang berprofesi sebagai pedagang.
Berkumpulnya kelima wali ini di Jawa Timur adalah karena kekuatan politik saat itu berpusat itu berpusat di wilayah ini. Kerajaan Kediri di Kediri dan Majapahit di Mojokerto.
Di Jawa Timur para wali terlihat sebagai penyebar Islam yang berdagang. Artinya tidak seperti yang banyak digambarkan oleh “dongeng” yang memberitakan kisah para wali sebagai “bhiksu”, atau lebih banyak beribadah semacam bertapa di gunung daripada aktif di bidang perekonomian. Ternyata dinamika kehidupannya lebih rasional seperti halnya yang dicontohkan oleh Rasulullah yang juga pernah berdagang.
Di Jawa Tengah para wali mengambil posisi di Demak, Kudus dan Muria. Sasaran dakwah para wali yang di Jawa Tengah tentu berbeda dengan para wali di Jawa Timur. Di Jawa Tengah dapat dikatakan bahwa pusat kekuasaan politik Hindu dan Budha sudah tidak berperan lagi. Hanya para wali melihat realitas masyarakat yang masih dipengaruhi oleh budaya yang bersumber dari ajaran Hindu dan Budha. Dan mereka melihat bahwa wayang sebagai media komunikasi yang memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat. Oleh karena itu, wayang perlu dimodifikasi, baik bentuk maupun isi kisahnya perlu diIslamkan.
Penempatan para wali di Demak, Kudus dan Muria ternyata tidak hanya ditujukan untuk penyebaran Islam di Jawa Tengah semata, tetapi untuk kawasan Indonesia Tengah seluruhnya. Saat itu, pusat kekuatan politik dan ekonomi memang sedang beralih ke Jawa Tengah. Dengan runtuhnya Majapahit akibat serangan dari Kediri (1478) dan munculnya Kesultanan Demak yang nantinya melahirkan Kesultanan Pajang dan Mataram II. Perubahan kondisi politik seperti ini, memungkinkan ketiga tempat tersebut mempunyai arti geostrategis yang menentukan.
Di Jawa Barat, proses Islamisasi hanya ditangani seorang wali, Syarif Hidayatullah, yang setelah wafat dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Pada saat itu, penyebaran ajaran Islam di wilayah Indonesia Barat, terutama di Sumatra dapat dikatakan telah merata bila dibandingkan dengan kondisi di Indonesia Timur. Seperti sekarang hal yang semacam itu masih dapat kita saksikan kenyataannya.
Adapun pemilihan kota Cirebon sebagai pusat aktivitas dakwah Sunan Gunung Jati, tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan jalur perdagangan rempah-rempah sebagai komoditi yang berasal dari Indonesia Timur, atau pun ke Indonesia Barat. Oleh karena itu, pemilihan Cirebon dengan pertimbangan sosial, politik dan ekonomi saat itu, mempunyai nilai geostrategis, geopolitik dan geoekonomi yang menentukan keberhasilan penyebaran Islam selanjutnya.


*Masa-Masa Perlawanan Bersenjata Terhadap Imperialis Barat

Abad ke-16 sering disebut sebagai Discovery of the East (Penemuan Timur) oleh sejarawan Barat, mereka menuliskan bahwa Portugis menemukan Tanjung Harapan, Spanyol menemukan Amerika dan lain sebagainya. Mereka menulis seolah-olah merekalah yang pertama kali datang ke tempat tersebut, seolah-olah merekalah satu-satunya bangsa beradab yang melakukan penjelajahan lautan. Padahal orang-orang Asia sering melewati tempat tersebut, tetapi mereka tidak pernah menuliskannya sebagai yang pertama.
Sekalipun demikian, sebagian sejarawan masih mau menuliskan bahwa Portugislah penemu Tanjung Harapan dan Spanyol penemu Amerika. Selain itu sebagian sejarawan juga menuliskan bahwa kedatangan Portugis ke Asia adalah untuk berdagang, pandangan yang demikian ini keliru, karena kenyataannya kedatangan Portugis ke Asia dengan kapal kosong. Kapal ini diisi dengan batu, guna mencegah agar tidak terlalu oleng. Mereka juga memperlengkapi kapal mereka dengan meriam, itulah sebabnya lebih tepat jika kedatangan Portugis ke Asia adalah untuk merampok ketimbang berdagang.
Karena pada abad ke-16 Nusantara telah dikuasai oleh Islam, maka Portugis berhadapan dengan perlawanan umat Islam. Pertama, walaupun Porugis berhasil menguasai Malaka, tetapi usaha melumpuhkan Kesultanan Demak mengalami kesukaran. Sekalipun saat itu Portugis mendapat bantuan kerjasama dari Kerajaan Hindu Pajajaran, dan berhasil mendirikan benteng di Sunda Kelapa sejak 21 agustus 1522, namun kelanjutannya dapat dipatahkan oleh Fatahillah.
Kedua, pembangunan pangkalan Portugis di Sunda Kelapa dirasakan oleh umat Islam sebagai jepitan penjajah Katolik yang mengancam Kesultanan Demak, dari barat Portugis di Sunda Kelapa dan dari timur Spanyol di Manila. Oleh karena itu, adanya Portugis di Sunda Kelapa dirasakan merupakan ancaman terdekat sesudah Malaka bagi Kesultanan Demak.
Merebut kembali Sunda Kelapa bukanlah pekerjaan yang mudah. Kesultanan Demak tidak langsung melancarkan serangan ke Sunda Kelapa, tetapi terlebih dahulu mematahkan kekuatan penunjang Kerajaan Pajajaran, yakni kedua pelabuhannya: Banten dan Cirebon. Setelah kedua pelabuhan dagang ini dikuasai barulah dilaksanakan penyerangan ke Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Jadi baru lima tahun kemudian .

*Akibat Agresi Militer dan Agama

Islam sebagai agama dalam sejarahnya tidak pernah dikembangkan melalui agresi militer ataupun agama, melainkan dilaksanakan dengan jalan damai. Tetapi saat itu umat Islam menghadapi kenyataan yang tidak dapat dihindarkan. Portugis secara tiba-tiba melancarkan serangan militer dan agama Katoliknya di Malaka dan Nusantara. Serangan yang demikian ini diikuti oleh Spanyol dari Indonesia Timur atau dari wilayah Filipina. Sudah tentu situasi ini memaksa umat Islam untuk memberikan jawaban yang tepat. Serangan Portugis yang merusak kerukunan beragama, dijawab dengan angkat senjata.
Serangan Portugis ke Asia Tenggara yang berharap mendapatkan rempah-rempah, emas, kemegahan dan penyebaran agama Katolik, ternyata berbalik. Tujuan semula adalah untuk menghancurkan kekuatan politik dan kebudayaan Islam, tetapi dalam kenyataannya agresi Portugis ke Nusantara justru mendorong menciptakan suasana yang memungkinkan raja-raja Nusantara memeluk agama Islam.
Tingkah laku Portugis yang mengkombinasikan penyebaran agama, dagang dan peperangan di Asia Tenggara ini dilihat sebagai sesuatu yang sangat aneh, karena di Asia Tenggara tidak pernah terjadi penyebaran agama dengan peperangan. Oleh karena itu, kedatangan Portugis ke Asia Tenggara dinilai sebagai tindakan yang mengancam kelestarian kehidupan beragama dan perdagangan yang damai. Para bangsawan dan raja sebagai pengusa perdagangan juga merasa terncam dan memihak kepada Islam sebagai agama rakyatnya saat itu.
Di samping itu, akibat serangan tersebut, Kesultanan Demak dengan bekerjasama dengan kesultanan lainnya berhasil menutup laut Indonesia dari kapal-kapal Portugis. Akibat serangan Portugis, ternyata kekuatan politik Islam saat itu malah bersatu dan keberhasilan merebut kembali Sunda Kelapa ke tangan Islam berhasil mengamankan Nusantara dari usaha penjajahan Portugis selama 200 tahun. Hanya satu wilayah Indonesia yang lemah yang dapat dikuasai Portugis, yakni Timor-Timur, karena disini belum berdiri kekuatan politik Islam.

*Islam Dalam Kebangkitan Nasional

Menurut George Mc Turnan, dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, tiga faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas nasional adalah: Pertama, agama Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia. Kedua, agama Islam tidak hanya mengajari berjamaah, tetapi juga anti penjajah. Ketiga, umat Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh, dalam melahirkan aspirasi perjuangan nasionalnya.
Sejarah yang demikian itu tidak mendapatkan tempat layak dalam Sejarah Nasional Indonesia. Dituliskan bahwa pelopor Gerakan Nasional adalah Budi Utomo, 20 Mei 1908. Realitas sejarah Budi Utomo sangat bertentangan dengan ketetapan kepeloporannya. Fakta sejarah menuliskan Budi Utomo menolak persatuan Indonesia, dalam kongresnya bulan April 1928. Jadi, setelah 20 tahun Budi Utomo masih tidak mampu memahami perjuangan bangsa Indonesia. Penolakan yang demikian itu diikuti pula dengan penolakan bahasa Indonesia. Kalangan pimpinan Budi Utomo lebih menyukai bahasa Jawa atau Belanda. Slamet Muljana dalam Nasionalisme Sebagai Modal Perdjoeangan Bangsa Indonesia, menyatakan bahwa selama 23 tahun Budi Utomo bersikap eksklusif, berada di luar perjuangan Pergerakan Nasional.
Sebaliknya Sarekat Islam justru mempelopori memasyarakatkan istilah nasional, melalui Kongres Nasional Central Sarekat Islam di Bandung pada 1916. Padahal istilah nasional baru digunakan oleh PNI sebelas tahun kemudian, ketika PNI didirikan di Bandung pada 1927.
K.H Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah yang dibangun pada 18 Nopember 1912, mempelopori pembaruan sistem pendidikan. Muhammadiyah dibangun sepuluh tahun lebih awal daripada Taman Siswa (1922) yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara. Muhammadiyah sendiri diakui jauh lebih berpengaruh di tengah rakyat daripada Budi Utomo. Hal yang demikian ini dapat dipahami, karena Budi Utomo memang merupakan organisasi ningrat yang tidak membuka dirinya untuk rakyat jelata.

===============================================

Well, silakan yang mau kasih komentar terhadap tugas saya di smu dulu :lol:
burung gereja
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 57
Joined: Wed Nov 02, 2005 9:02 am

Re: Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Postby wachdie.jr » Tue Nov 29, 2005 7:04 pm

burung gereja wrote:
1. JUDUL BUKU : MENEMUKAN SEJARAH -Wacana Pergerakan Islam di
Indonesia-
2. PENGARANG : Ahmad Mansur Suryanegara
3. PENERBIT : Penerbit Mizan

4. BENTUK : Karya ilmiah tulisan
5. CETAKAN : Cetakan III, Januari 1996
6. TEBAL BUKU : 335 halaman
7. GAMBAR KULIT : Bendera Merah Putih dengan latar berbagai macam lambang ormas Islam

Well, silakan yang mau kasih komentar terhadap tugas saya di smu dulu :lol:


no comment.... kalo liat pengarang, penerbit dan gambar kulit nya...
sudah tak perlu dibahas lagi karena isinya adalah propaganda islam serta pembenaran-pembenaran atas keburukan islam...
persis seperti Quran..

Jadi jika mau mengerjakan tugas SMU sebaiknya cari referensi yang lebih netral.
User avatar
wachdie.jr
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby dago » Wed Nov 30, 2005 12:54 pm

Topik ini sudah saya jawab diforum lain.
Islam masuk untuk rempah2 sambil memaksa pribumi masuk islam.

Tidaklah bedanya penjajah kaum eropa dalam tujuan mengambil alih sumber komoditi rempah2.

Bedanya. Arab muslims disamping dagang mereka berniat expansi agama islam. Celakannya islam menjadi darah daging muslim Indonesia. Seperti orang menderita narkotik.
Susah deh. disembuhin.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby ali5196 » Wed Nov 30, 2005 7:50 pm

kasih linknya dong, dago, biar orang cepet nyarinya gitu. gimana seh jij aduh seh...
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby dago » Thu Dec 01, 2005 9:25 am

Bung Ali5196. Pendapat saya itu adalah hasil dari baca sejarah dunia dan buku mengenai sejarah asia dalam bidang ekonomi dan sosial, bukan karangan muslims.

Sebenarnya kalau kita lihat sejarahnya commodity dan perekonomian serta penguasa2 kerajaan baik abad BC dan abad AD, kita dapat melihat pusat perniagaan dunia adalah didaerah Mediterrarean dan Timur Dekat.
Sedangkan sumber commoditynya adalah sangat jauh. Dalam hal rempah2 cenkeh, pala (nutmeg), lada sumbernya adalah India dan kepulauan Indonesia. India dapatnya dari kepulauan Indonesia melalui pedagang India dan kerajaan2 Hindu Indonesia.
Jadi prosess perniagaan cenkeh misalnya akan memakan waktu dan melalui berbagai pedagang2 dari berbagai bangsa yang anchirnya sampai diEropa.
Indonesia> India> Persia> Arab> Eropa timur > Eropa Barat.

maka tak heranlah harga cengkeh sama dengan harga emas sesampainya di Eropa barat pada waktu itu. Timbulnya Islam middleman beserta expansinya membuat harga commodity ini meloncat. Karena perampokan oleh bandit2 termasuk pengikut2 Muhammad :twisted: sebelum Islam terbentuk.

Setelah terbentuknya Islam, Arab mulai merebut daerah/kerajaan2 yang menuju ke sumber commodity. Yaitu Persia > Hindustan (India/pakistan) achirnya ke Indonesia. But Muslims sesuai dengan ajaran Muhammad bukan saja ingin menjarah dan menguasai teritory demi harta2, mereka juga memaksa kafir untuk masuk Islam sesuai dengan pernyataan Muslims (ya illahlailleloh or something like that) kedatangan islam ke pulau2 Indonesia adalah setelah India ditaklukan, melalui pedagang2 Gujarat/India ditumpangi Arab2 inilah mereka mulai menginjak tanah Hindu Indonesia. Untuk mendominasi penguasaan atas commodity ini Muslims Arab menjadikan pribumi masuk islam, supaya mereka dapat cooperasi penuh tampa penolakan.

Disinilah kesimpulanku bahwa islam adalah penjajah pertama tanah Indonesia dan Islam adalah alat2 Arab untuk menguasai jiwa/roh orang melayu.

Dilain pihak, bangsa eropa sebagai bangsa explorer mereka menjadi tak senang karena harga2 commodity sangat mahal dan dipermainkan oleh Muslims Arab. Maka mereka mencari jalan singkat untuk menemukan sumber rempah2 itu. So to cut the middleman.

Setelah mereka sampai dikepulauan Indonesia mereka mulai berdagang seperti biasa, lalu mulai membeli tanah2 dari local sebagai base.
Setelah itu mereka mulai mengadakan deal2 dengan Sultan2 yang achirnya mereka menguasai daerah Indonesia bit by bit. baik dengan peperangan maupun dengan perjanjian2 dengan sultan2.
Orang2 Eropa inilah yang menjadi penjajah2 kedua setelah Islam.
Bedanya dengan Arab adalah penguasaan Indonesia hanya berdasarkan geopolitical bukan agama. Karena itu pengembangan agama kristen hanyalah oleh missionary individual . Bukan oleh pemerintah penjajahan.
Buktinya adanya policy appartheit/diskriminasi antara pribumi dan bule.

Saya salahkan Sultan2 Indonesia yang memungkinkan belanda/portugis mengarap tanah Indonesia. Karena mereka ini lemah dan rakus akan harta2 sehingga making deal dengan penjajah2.

Lihatlah Thailand, Cina, Jepang mereka belum pernah dijajah oleh Eropa.
Hongkong, Macao adalah tanah sewa sebagai pusat perniagaan Eropa.

Kalau saja ini Muslims Sultan indonesia pintar/bijaksana dan berani, mereka bisa membuat suatu perjanjian dengan memberikan tanah sewa.
dan tidak bikin konsesi2 lain. seperti negara2 diatas, Indonesia akan tidak dijajah.

Inilah uraian singkat saya.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby bakayaro » Thu Dec 01, 2005 10:22 am

Iya gimana nih mas burung gereja.... sejarah kok diputar balikin begitu sih???

Sudah jelas bahwa para pedagang Arab itu berdagang ke Nusantara dengan kapal2 perangnya yang dilengkapi meriam...

Sudah jelas para pedagang Arab itu datang ke Nusantara dengan semangat Emas, Kemenangan dan Islam...

Sudah jelas para pedagang Arab itu mengajarkan para pribumi cara hidup mereka yang syaitoniah seperti mabuk2an, dansa dansi dan belahan dada terbuka...

Sudah Jelas para pedagang Arab itu mengadu domba kerajaan2 di Nusantara agar menjadi lemah....

Sudah jelas para pedagang Arab itu menyuruh tanam paksa, kerja rodi dan menghajar para pribumi yang tidak mau tunduk dengan kekerasan luar biasa...

Dan yang paling jelas adalah para Arab tersebut mendapat perlawanan dari para biarawan pribumi seperti Teuku umar, Diponegoro, Imam Bonjol dan seorang biarawati yang sangat gigih yaitu tjut nyak dhien....

Sudah jelas pula karena kuatnya kristen di aceh, maka para pedagang Arab tersebut mengutus seorang Islam untuk menyamar menjadi kristen dengan tujuan melemahkan dari dalam... ingat kunyuk hurgronje.... (kalo ingat kunyuk hurgronje ini jadi ingat si kunyuk wachnguik yang mau menyamar jadi apa aja bahkan menjelekkan agamanya sendiri)

Dengan bukti2 sejarah yang jelas seperti itu masak masih mau bilang ISLAM agama yang penuh KASIH..... kalian ini kerjanya cuman memutar balikkan fakta saja.....
bakayaro
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 98
Joined: Wed Sep 21, 2005 10:14 am

Postby dago » Thu Dec 01, 2005 11:41 am

bakayaro a twisted mind muslims.!!!
Image
Brainwashed by Arab Islamisation. Pemuja dewa bulan.

Kamu harus keluar dari mindset madrasah bung kalau mau melihat kenyataan sejarah. Jangan baca sejarah tulisan Muslims atau sympetiser islam.

soal perjuangan,Teuku umar, Diponegoro, Imam Bonjol dan seorang biarawati yang sangat gigih yaitu tjut nyak dhien.
Itu sudah harusnya terjadi untuk melawan penjajah untuk merdeka.
Tidak uniknya muslim Indonesia saja. :wink:

Amerikapun harus berjuang melawan Inggris untuk merdeka.
Inggris, Perancis dan negara2 Eropa lain harus berjuang melawan penjajah Nazi Hitler. :wink:

Oh sebagai catatan, Malaysia(muslims) tidak berjuang mereka mendapat kemerdekaan dari Inggris. Yang memusingkan Inggris pada waktu itu adalah pemberontakan oleh kommunis melayu.

:wink:
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Re: Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Postby wachdie.jr » Thu Dec 01, 2005 12:38 pm

ISLAM DI JAWA BARAT

burung muhammad enak sekalee wrote: *Masuk dan Meluasnya Islam di Jawa Barat
Masuknya Islam ke Jawa Barat diyakini tidak lepas dari pengaruh perniagaan para pedagang Arab Islam. Mereka ini memperdagangkan rempah-rempah yang berasal dari Maluku dan Banten, jadi mereka pasti pernah singgah di salah satu pelabuhan di Jawa Barat, baik Banten, Cirebon maupun Sunda Kelapa.
Pertimbangan lainnya adalah, peranan Jawa Barat yang telah dirintis sejak adanya kekuasaan politik Taruma Negara pada abad ke-5, memberikan kesan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tertua di Jawa yang memegang peranan perdagangan, mustahil bila pada abad ke-7 tidak berbicara dalam perniagaan.
Proses penyebaran Islam di Jawa Barat lebih banyak dikisahkan melalui gerbang Jawa Barat yakni Cirebon. Sebagai mana masuknya Katolik melalui pelabuhan Sunda Kelapa, besar kemungkinan masuknya Islam juga datang dari sebelah Barat Indonesia. Untuk di Jawa tidak diragukan lagi pasti melalui gerbang barat: Sunda Kelapa dan Banten.


BACA tuh.... masuknya Islam ke Jawa Barat juga tidak lepas dari kekerasan dan PAKSAAN!!!!... mana Hindu yang tertinggal di tataran SUNDA??? tidak ada...punahh!!! gara-gara ISLAM!!!


http://pasundan.homestead.com/files/Sejarah/sejarahframe.htm

JAMAN PAJAJARAN (1482 - 1579) (2)

B. Raja-raja Pajajaran

1. Sri Baduga Maharaja
Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (RatuJayadewata) yang memerintah selama 39 thaun (1482 - 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar PRABU GURU DEWAPRANATA. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya (Susuktunggal). Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI di PAKUAN PAJAJARAN SRI SANG RATU DEWATA. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat.

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama PRABU SILIWANGI. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana
(kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis: "Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira" (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan RATU JAPURA (AMUK MURUGUL) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi. {Tentang hal ini, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja): "Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa. Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda"}

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta (penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara) menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, menurut naskah Wastu kancana disebut juga PRABU WANGSISUTAH). Orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat?. Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasan Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar MAHARAJA (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana].

Proses kepindahan isteri Ratu Pakuan (Sri Baduga) ke Pakuan terekam oleh pujangga bernama
KAI RAGA di Gunung Srimanganti (Sikuray). Naskahnya ditulis dalam gaya pantun dan dinamai
CARITA RATU PAKUAN (diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18).
Naskah itu dapat ditemukan pada Kropak 410 . Isinya adalah sebagai berikut (hanya
terjemahannya saja):

Tersebutlah Ngabetkasih
bersama madu-madunya
bergerak payung lebesaran melintas tugu
yang seia dan sekata
hendak pulang ke Pakuan
kembali dari keraton di timur
halaman cahaya putih induk permata
cahaya datar namanya
keraton berseri emas permata
rumah berukir lukisan alun
di Sanghiyang Pandan-larang
keraton penenang hidup.

Bergerak barisan depan disusul yang kemudian
teduh dalam ikatan dijunjung
bakul kue dengan tutup yang diukir
kotak jati bersudut bulatan emas
tempat sirih nampan perak
bertiang gading ukiran telapak gajah
hendak dibawa ke Pakuan

Bergerak tandu kencana
beratap cemara gading
bertiang emas
bernama lingkaran langit
berpuncak permata indah
ditatahkan pada watang yang bercungap

Singa-singaan di sebelah kiri-kanan
payung hijau bertiang gading
berpuncak getas yang bertiang
berpuncak emas
dan payung saberilen
berumbai potongan benang
tapok terongnya emas berlekuk
berayun panjang langkahnya
terkedip sambil menoleh
ibarat semut, rukun dengan saudaranya
tingkahnya seperti semut beralih
Bergerak seperti pematang cahaya melayang-layang
berlenggang di awang-awang
pembawa gendi di belakang
pembawa kandaga di depan
dan ayam-ayaman emas kiri-kanan
kidang-kidangan emas di tengah
siapa diusun di singa barong

Bergerak yang di depan, menyusul yang kemudian
barisan yang lain lagi

[yang dikisahkan dalam pantun itu adalah Ngabetkasih (Ambetkasih), isteri Sri BAduga yang pertama (puteri Ki Gedng Sindang Kasih, putera Wastu Kancana ketiga dari Mayangsari). Ia pindah dari keraton timur (Galuh) ke Pakuan bersama isteri-isteri Sri Baduga yang lain]

Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat
Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peniggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.

Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".

Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegus mengamalkan peraturan dewa.

Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma". [Dalam kropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka= 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan ke- mudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu di gotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipaka untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya: menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi)]

[Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memangfaatkan trasisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakongawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat. Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut KARYABHAKTI dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga DESA PERDIKAN (desa bebas pajak).

Untuk mengetahui lebih lanjut kejadian di masa pemerintahan Sri Baduga, marilah kita telusuri sumber sejarah sebagai berikut:

a. Carita Parahiyangan

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian: "Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa" (Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama)Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama. Mereka disebut "loba" (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru.

b. Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I serga 2

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh PUROHITA (pendeta tertinggi) keraton KI PURWA GALIH. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang). Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran]

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah JUNG (adakah yang tahu artinya?) dari 150 ton dan beberala LANKARAS (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)]

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu
1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi)
2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor
3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun
4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa)

[Perkawinan Sabrang Lor (YUNUS ABDUL KADIR) dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai SENAPATI SARJAWALA (Panglima angkatan laut) Kerajaan Demak, ia untuk sementara berada di Cirebon]

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis ALFONSO d'ALBUQUERQUE di Malaka (ketika itu baru saja merebut Pelabuhan Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan SEKTOR-SEKTOR PEMERINTAHAN. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya (Subanglarang) adalah muslimah dan ketiga anaknya (Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang dan Raja Sangara) diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing-masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah KITAB WARUGA JAGAT dari Sumedang dan PANCAKAKI MASALAH KARUHUN KABEH dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa GEMUH PAKUAN (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut SUSUHUNAN di PAKUAN PAJAJARAN, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut SECARA ANUMERTA SANG LUMAHING (SANG MOKTENG) RANCAMAYA karena ia dipusarakan di Rancamaya (di sinilah nilai khusus Rancamaya). [Rancamaya terletak kira-kira 7 Km di sebelah tenggara Kota Bogor. Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7.5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat Pohon Hampelas Badak setinggi kira-kira 25 m dan sebuah pohon beringin.

Dewasa ini seluruh situs sudah "dihancurkan" orang. Pelatarannya ditanami ubi kayu, pohon-pohonannya ditebang dan makam kuno itu diberi saung. Di dalamnya sudah bertambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai MAKAM WALI. Kejadian ini sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya yang "dijual" orang sebagai "makam Raja Galuh".

Telaga yang ada di Rancamaya, menurut Pantun Bogor, asalnya bernama Rena Wijaya dan kemudian berubah menjadi Rancamaya. Akan tetapi, menurut naskah kuno, penamaannya malah dibalik, setelah menjadi telaga kemudian dinamai Rena Maha Wijaya (terungkap pada prasasti). "Talaga" (Sangsakerta "tadaga") mengandung arti kolam. Orang Sunda biasanya menyebut telaga untuk kolam bening di pegunungan atau tempat yang sunyi. Kata lain yang sepadan adalah situ (Sangsakerta, setu) yang berarti bendungan.

Bila diteliti keadaan sawah di Rancamaya, dapat diperkirakan bahwa dulu telaga itu membentang dari hulu Cirancamaya sampai ke kaki bukit Badigul di sebelah utara jalan lama yang mengitarinya dan berseberangan dengan Kampung Bojong. Pada sisi utara lapang bola Rancamaya yang sekarang, tepi telaga itu bersambung dengan kaki bukit.

Bukit Badigul memperoleh namanya dari penduduk karena penampakannya yang unik. Bukit itu hampir "gersang" dengan bentuk parabola sempurna dan tampak seperti "katel" (wajan) terbalik. Bukit-bukit disekitarnya tampak subur. Badigul hanya ditumbuhi jenis rumput tertentu. Mudah diduga bukit ini dulu "dikerok" sampai mencapai bentuk parabola. Akibat pengerokan itu tanah suburnya habis.

Bagidul kemungkinan waktu itu dijadikan "bukit punden" (bukit pemujaan) yaitu bukit tempat berziarah (bahasa Sunda, nyekar atau ngembang=tabur bunga). Kemungkinan yang dimaksud dalam "rajah Waruga Pakuan" dengan Sanghiyang Padungkulan itu adalah Bukit Badigul ini.

Kedekatan telaga dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanagara selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi (Setu Gangga) yang terletak dalam istana Kerajaan Indraprahasta (di Cirebon Girang). Setelah bermandi- mandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai.

Spekulasi lain mengenai pengertian adanya kombinasi Badigul-Rancamaya adalah perpaduan gunung-air yang berarti pula SUNDA-GALUH].
Last edited by wachdie.jr on Fri Dec 02, 2005 9:51 am, edited 1 time in total.
User avatar
wachdie.jr
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby wachdie.jr » Thu Dec 01, 2005 12:47 pm

2. ISLAM DI JAWA BARAT


BACA sejarah ISLAM MASUK SUNDA...part II
FATAHILLAH Ternyata memangsa orang satu kulit sendiri!!!
hanya karena ISLAM!!!... setelah memangsa HINDU...
ISLAM pun saling beradu sendiri mencari kemenangan sendiri-sendiri!!!!



NGERAKEUN!!!! kumaha yeuh jelma anu ngaku SUNDA?
MAUNG PAJAJARAN aseli NA LAIN ONTOHOT JEUNG BEBEGIG ISLAM...!!!!


http://pasundan.homestead.com/files/Sejarah/sejarahframe.html


JAMAN PAJAJARAN (1482 - 1579) (2)
2. Surawisesa (1521 - 1535)


Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa (puteranya dari Mayang Sunda dan juga cucu Prabu Susuktunggal). Ia dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan sebutan "kasuran" (perwira), "kadiran" (perkasa) dan "kuwanen" (pemberani). Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis Carita Parahiyangan memang berkaitan dengan
hal ini.

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d'Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan. [Ten Dam menganggap bahwa perjanjian itu hanya lisan, akan tetapi sumber portugis yang kemudian dikutip Hageman menyebutkan "Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield" (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu) Menurut Soekanto (1956) perjanjian itu ditandatangai 21 Agustus 1522]

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua "costumodos" (kurang lebih 351 kuintal).

Perjanjian Pajajaran - Portugis sangat mencemaskan TRENGGANA (Sultan Demak III).
Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan FADILLAH KHAN yang menjadi Senapati Demak. [Fadillah Khan memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana. Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya BARKAT ZAINAL ABIDIN adalah adik NURUL AMIN (kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah). Selain itu Fadillah masih terhitung cucu SUNAN AMPEL (ALI RAKHMATULLAH) sebab buyutnya adalah kakak IBRAHIN ZAINAL AKBAR ayah Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

Barros menyebut Fadillah dengan FALETEHAN. Ini barangkali lafal orang Portugis untuk Fadillah Khan. Tome Pinto menyebutnya TAGARIL untuk KI FADIL (julukan Fadillah Khan sehari-hari).

Kretabhumi I/2 menyebutkan, bahwa makam Fadillah Khan (disebut juga WONG AGUNG PASE) terletak di puncak Gunung Sembung berdampingan (di sebelah timurnya) dengan makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat (1913) menganggap Fadillah identik dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah sendiri baru muncul dalam buku Sejarah Indonesia susunan Sanusi Pane (1950). Carita Parahiyangan menyebut Fadillah dengan ARYA BURAH]

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi Bupati Banten (1526). Setahun kemudian, Fadillah bersama 1452 orang pasukannya menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan MERIAM yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersipakan dari Goa dengan 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa memancangkan padrao pada tanggal 30 Juni 1527 dan memberikan nama kepada Cisadane "Rio de Sa Jorge". Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) yang langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana (Walasungsang atau bernama pula HAJI ABDULLAH IMAN). Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Dengan demikian, keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang.

[Cirebon sebenarnya relatif lemah. Akan tetapi berkat dukungan Demak, kedudukannya menjadi mantap. Setelah kedudukan Demak goyah akibat kegagalan serbuannya ke Pasuruan dan Panarukan (bahkan Sultan Trenggana tebunuh), kemudian disusul dengan perang perebutan tahta, maka Cirebon pun turut menjadi goyah pula. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Cirebon terdesak dan bahkan terlampaui oleh Banten di kemudian hari]

Perang Cirebon - Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan PASUKAN MERIAM Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi "panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas". Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

SUMEDANG masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon dengan dinobatkannya PANGERAN SANTRI menjadi Bupati Sumedang pada tanggal 21 Oktober 1530. [Pangeran Santri adalah cucu PANGERAN PANJUNAN, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah SYEKH DATUK KAHFI pendiri pesantren pertama di Cirebon. Ia menjadi bupati karena pernikahannya dengan SATYASIH, Pucuk Umum Sumedang. Secara tidak resmi Sumedang menjadi daerah Cirebon]

Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. [Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran PASAREAN (Putera Mahkota Cirebon), Fadillah Khan dan Hasanudin (Bupati banten)]

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.

Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya. Dalam tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat SAKAKALA (tanda peringatan buat ayahnya). Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. ITULAH PRASASTI BATUTULIS yang diletakkannya di KABUYUTAN tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa LINGGA BATU ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, BATUTULIS itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri LINGGA BATU. Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi ASTATALA ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi PADATALA ukiran jejak kaki. [Mungkin pemasangan batutulis itu bertepatan dengan upacara SRADA yaitu "penyempurnaan sukma" yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi].

[Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan GURU GANTANGAN atau MUNDING LAYA DIKUSUMA. Permaisurinya, KINAWATI, berasal dari Kerajaan Tanjung Barat yang terletak di daerah PASAR MINGGU sekarang. Kinawati adalah puteri MENTAL BUANA, cicit MUNDING KAWATI yang kesemuanya penguasa di Tanjung Barat.

Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu KAUNG PANDAK). Di Muara Beres in bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota pelabuhan sungai ini jaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut JALAN BANTEN LAMA ("oude Bantamsche weg")].

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai SAKAKALA untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di PADAREN. Diantara raja-raja jaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babadd maupun pantun. [Babad Pajajaran atau Babad Pakuan sebenarnya mengisahkan "petualangan" Surawisesa (Guru Gantangan) dengan gaya cerita Panji].
Last edited by wachdie.jr on Fri Dec 02, 2005 9:52 am, edited 2 times in total.
User avatar
wachdie.jr
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby bakayaro » Thu Dec 01, 2005 12:52 pm

Betul sekali nyet......

Sejarah mencatat dengan sangat jelas bahwa kerajaan kerajaan hindu dan buddha di Indonesia dimusnahkan oleh meriam meriam arab.....

Para arab itu datang kemari dengan armada lengkap, lengkap dengan senjata dan kuda2 perangnya dan direstui raja arab.... demi emas, kemenangan dan kejayaan islam. BERDAGANGLAH kamu di nusantara.

sang khalifah berpesan kepada panglima arab waktu itu.... Silakan kalian perbudak orang-orangnya, jarah kekayaannya, asal jangan lupa.... sebarkan juga ajaran arab yang penuh KASIH.

KASIH mereka pelajaran bagaimana menghianati negrinya.
KASIH mereka pendidikan untuk menjauhi adat dan budayanya
KASIH mereka siksa yang keras jika menolak bekerja sama.
bakayaro
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 98
Joined: Wed Sep 21, 2005 10:14 am

Postby wachdie.jr » Thu Dec 01, 2005 12:58 pm

aha... Jing..

kalo ente baca bener-bener sejarah diatas...
maka ketahuan siapa-siapa anjing-anjing Islam yang menghancurkan sendi-sendi dan tradisi Indonesia. Gila harta... Gila Kawin....Gila kuasa
semua dihallalkan atas nama ISLAM...

oke Jing... silakan menggonggong...
User avatar
wachdie.jr
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby bakayaro » Thu Dec 01, 2005 1:36 pm

Lho NYET!

Apa yang salah sama dua tulisan ane.... kalo ente si babi ngepet kagak setuju sama tulisan ane, berarti Islam masuk ke nusantara tanpa kekerasan dong?

Ah dasar babi ngepet..... nguik-nguik aje ditanggepin!!!

Ayo moaning lagi di gereja sono.... ooohhh....jesussshhhh..........
bakayaro
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 98
Joined: Wed Sep 21, 2005 10:14 am

Postby dago » Thu Dec 01, 2005 1:41 pm

Si bakayaro ini mungkin keturunan Arab.
pemuja dewa bulan.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby bakayaro » Thu Dec 01, 2005 2:11 pm

Si dago ini mungkin keturunan monyet pemuja si gondrong bercangcut belel
bakayaro
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 98
Joined: Wed Sep 21, 2005 10:14 am

Postby burung gereja » Thu Dec 01, 2005 3:19 pm

Kita melihat bahwa penulisan sejarah saat ini tidaklah terlalu jujur untuk mengungkapkan peranan umat Islam di Indonesia, kalau ada penulis yang melihat Islam tidak memiliki peran dalam membina budaya bangsa, maka pandangan demikian merupakan kelanjutan dari politik penulisan sejarah pemerintah kolonial Belanda.

Dari sejarah hanya terbaca tiga kelompok besar: Pertama, Indianisasi dengan pengertian agama Hindu Budha yang memberikan bentukan kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, Cinanisasi, mengakarnya pengaruh Cina dalam budaya bangsa. Ketiga, Kristenisasi, sebagai budaya bangsa yang menang perang, mempengaruhi segenap aspek kehidupan. Dari pembagian tiga pola ini, tidak terbaca peran Islam dalam membentuk kebudayaan bangsa Indonesia. Dibandingkan dengan puluhan ribu masjid yang bertebaran di Indonesia, jumlah candi tidaklah ada apa-apanya, tetapi mengapa dikatakan Islam tidak memiliki pengaruh apa-apa. Hal ini diakibatkan oleh lemahnya sistem penerbitan dari kalangan Islam, yang tidak mampu mengkontra balik informasi seperti diatas yang tampaknya seprti benar.

Selain itu dengan adanya asumsi bahwa Islam dikembangkan dengan pedang, maka penulisan sejarah Islam Indonesia dituliskan dengan pendahuluan kisah pembunuhan. Kesultanan Demak dikisahkan sebagai sumber petaka kerusakan kesatuan bangsa. Sebaliknya asumsi agama Hindu-Budha dikembangkan dengan penuh kedamaian, maka dituliskan periode Hindu-Budha sebagai masa kejayaan dan keemasan bangsa Indonesia. Ini terjadi karena penulisan sejarah Islam oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam dan mereka memiliki kepentingan tertentu dengan sejarah Islam.

Tidak terpikirkan pula oleh mereka, mengapa Belanda hadir dengan memakai bendera dagang VOC, dan Inggris hadir dengan bendera EIC. Semuanya ini terjadi akibat umat Islam pada masa lalunya memiliki budaya wirausaha yang kuat di Nusantara. Kemajuan perekonomian umat Islam memungkinkan agama Islam diterima sebagai agama rakyat Indonesia, sebagai agama yang menumbuhkan kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Perang berkepanjangan membendung bencana banjir Imperialis Barat, menyebabkan umat Islam terbaca berkondisi sosial ekonomi sangat lemah

Melihat kenyataan yang seperti itu tentunya mendorong kita semua untuk lebih kritis lagi terhadap semua informasi yang kita peroleh.

===============================================

Baca dulu baik2 postingan saya, baik yang pertama maupun yang ini, kalo udah baru komentar ya, adakah yang udah baca semuanya?

Saya harap banyak muslim yang bisa membacanya agar pemahamannya tidak dibentuk oleh sejarah yang penuh distorsi yang menyebabkan mereka tidak punya izzah(harga diri) terhadap agamanya.
burung gereja
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 57
Joined: Wed Nov 02, 2005 9:02 am

Postby dago » Fri Dec 02, 2005 2:54 am

bakayaro:
KASIH mereka pelajaran bagaimana menghianati negrinya.
KASIH mereka pendidikan untuk menjauhi adat dan budayanya


Dam you are right,
itu orang2 Inggris yang setelah masuk Islam menghianati negerinya sendiri dengan membom London dengan bunuh diri dan puluhan rakyat biasa.
Islam membuat orang normal jadi pembunuh demi Allah Islam.

Semua ini karena Islam ajaran iblis.



burung gereja
Selain itu dengan adanya asumsi bahwa Islam dikembangkan dengan pedang, maka penulisan sejarah Islam Indonesia dituliskan dengan pendahuluan kisah pembunuhan. Kesultanan Demak dikisahkan sebagai sumber petaka kerusakan kesatuan bangsa. Sebaliknya asumsi agama Hindu-Budha dikembangkan dengan penuh kedamaian, maka dituliskan periode Hindu-Budha sebagai masa kejayaan dan keemasan bangsa Indonesia. Ini terjadi karena penulisan sejarah Islam oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam dan mereka memiliki kepentingan tertentu dengan sejarah Islam.


Pengembangan Islam melalui pedang(war) bukanlah asumsi, tetapi kenyataan sejarah Islam dari mulanya.

624: Battle of Badr. Expulsion of the Bani Qainuqa Jews from Madina.
625: Battle of Uhud. Massacre of 70 Muslims at Bir Mauna. Expulsion of Banu Nadir Jews from Madina. Second expedition of Badr.
626: Expedition of Banu Mustaliq.
627: Battle of the Trench. Expulsion of Banu Quraiza Jews.
628: Truce of Hudaibiya. Expedition to Khyber. The Holy Prophet addresses letters to various heads of states.
629: The Holy Prophet performs the pilgrimage at Makkah. Expedition to Muta (Romans).
630: Conquest of Makkah. Battles of Hunsin, Auras, and Taif.
631: Expedition to Tabuk. Year of Deputations.
632: Farewell pilgrimage at Makkah.
632: Death of the Holy Prophet. Election of Hadrat Abu Bakr as the Caliph. Usamah leads expedition to Syria. Battles of Zu Qissa and Abraq. Battles of Buzakha, Zafar and Naqra. Campaigns against Bani Tamim and Musailima, the Liar.
633: Campaigns in Bahrain, Oman, Mahrah Yemen, and Hadramaut. Raids in Iraq. Battles of Kazima, Mazar, Walaja, Ulleis, Hirah, Anbar, Ein at tamr, Daumatul Jandal and Firaz.
634: Battles of Basra, Damascus and Ajnadin. Death of Hadrat Abu Bakr. Hadrat Umar Farooq becomes the Caliph. Battles of Namaraq and Saqatia.
635: Battle of Bridge. Battle of Buwaib. Conquest of Damascus. Battle of Fahl.
636: Battle of Yermuk. Battle of Qadsiyia. Conquest of Madain.
637: Conquest of Syria. Fall of Jerusalem. Battle of Jalula.
638: Conquest of Jazirah.
639: Conquest of Khuizistan. Advance into Egypt.
640: Capture of the post of Caesaria in Syria. Conquest of Shustar and Jande Sabur in Persia. Battle of Babylon in Egypt.
641: Battle of Nihawand. Conquest Of Alexandria in Egypt.
642: Battle of Rayy in Persia. Conquest of Egypt. Foundation of Fustat.
643: Conquest of Azarbaijan and Tabaristan (Russia).
644: Conquest of Fars, Kerman, Sistan, Mekran and Kharan.Martyrdom of Hadrat Umar. Hadrat Othman becomes the Caliph.
645: Campaigns in Fats.
646: Campaigns in Khurasan, Armeain and Asia Minor.
647: Campaigns in North Africa. Conquest of the island of Cypress.
648: Campaigns against the Byzantines.
651: Naval battle of the Masts against the Byzantines.
652: Discontentment and disaffection against the rule of Hadrat Othman.
656: Martyrdom of Hadrat Othman. Hadrat Ali becomes the Caliph. Battle of the Camel.
657: Hadrat Ali shifts the capital from Madina to Kufa. Battle of Siffin. Arbitration proceedings at Daumaut ul Jandal.
658: Battle of Nahrawan.
659: Conquest of Egypt by Mu'awiyah.
660: Hadrat Ali recaptures Hijaz and Yemen from Mu'awiyah. Mu'awiyah declares himself as the Caliph at Damascus.
661: Martyrdom of Hadrat Ali. Accession of Hadrat Hasan and his abdication. Mu'awiyah becomes the sole Caliph.
662: Khawarij revolts.
666: Raid of Sicily.
670: Advance in North Africa. Uqba b Nafe founds the town of Qairowan in Tunisia. Conquest of Kabul.
672: Capture of the island of Rhodes. Campaigns in Khurasan.
674: The Muslims cross the Oxus. Bukhara becomes a vassal state.
677: Occupation of Sarnarkand and Tirmiz. Siege of Constantinople.
680: Death of Muawiyah. Accession of Yazid. Tragedy of Kerbala and martyrdom of Hadrat Hussain.
682: In North Africa Uqba b Nafe marches to the Atlantic, is ambushed and killed at Biskra. The Muslims evacuate Qairowan and withdraw to Burqa.
683: Death of Yazid. Accession of Mu'awiyah II.
684: Abdullah b Zubair declares himself aS the Caliph at'Makkah. Marwan I becomes the Caliph' at Damascus. Battle of Marj Rahat.
685: Death of Marwan I. Abdul Malik becomes the Caliph at Damascus. Battle of Ain ul Wada.
686: Mukhtar declares himself as the Caliph at Kufa.
687: Battle of Kufa between the forces of Mukhtar and Abdullah b Zubair. Mukhtar killed.
691: Battle of Deir ul Jaliq. Kufa falls to Abdul Malik.
692: The fall of Makkah. Death of Abdullah b Zubair. Abdul Malik becomes the sole Caliph.
695: Khawarij revolts in Jazira and Ahwaz. Battle of the Karun. Campaigns against Kahina in North Africa. The' Muslims once again withdraw to Barqa. The Muslims advance in Transoxiana and occupy Kish.
8th Century (700-799) C.E.
700: Campaigns against the Berbers in North Africa.
702: Ashath's rebellion in Iraq, battle of Deir ul Jamira.
705: Death of Abdul Malik. Accession of Walid I as Caliph.
711: Conquest of Spain, Sind and Transoxiana.
712: The Muslims advance in Spain, Sind and Transoxiana.
713: Conquest of Multan.
715: Death of Walid I. Accession of Sulaiman.
716: Invasion of Constantinople.
717: Death of Sulaiman. Accession of Umar b Abdul Aziz.
720: Death of Umar b Abdul Aziz. Accession of Yazid II.
724: Death of Yazid II. Accession of Hisham.
725: The Muslims occupy Nimes in France.
732: The battle of Tours in France.
737: The Muslims meet reverse at Avignon in France.
740: Shia revolt under Zaid b Ali. Berber revolt in North Africa. Battle of the Nobles.
741: Battle of Bagdoura in North Africa.
742: The Muslim rule restored in Qiarowan.
743: Death of Hisham. Accession of Walid II. Shia revolt in Khurasan under Yahya b Zaid.
744: Deposition of Walid I1. Accession of Yazid II1 and his death. Accession of Ibrahim and his overthrow. Battle of Ain al Jurr. Accession of Marwan II.
745: Kufa and Mosul occupied by the Khawarjites.
746: Battle of Rupar Thutha, Kufa and Mosul occupied by Marwan II.
747: Revolt of Abu Muslim in Khurasan.
748: Battle of Rayy.
749: Battles of lsfahan and Nihawand. Capture of Kufa by the Abbasids. As Saffah becomes the Abbasid Caliph at Kufa.
750: Battle of Zab. Fall of Damascus. End of the Umayyads.
751: Conquest of Wasit by the Abbasid. Murder of the Minister Abu Salama.
754: Death of As Saffah. Accession of Mansur as the Caliph.
755: Revolt of Abdullah b Ali. Murder of Abu Muslim. Sunbadh revolt in Khurasan.
756: Abdul Rahman founds the Umayyad state in Spain.
762: Shia revolt under Muhammad (Nafs uz Zakia) and Ibrahim.
763: Foundation of Baghdad. Defeat of the Abbasids in Spain.
767: Khariji state set up by Ibn Madrar at Sijilmasa. Ustad Sees revolt in Khurasan.
772: Battle of Janbi in North Africa. Rustamid. state set up in Morocco.
775: Death or the Abbasid Caliph Mansur, Accession of Mahdi,
777: Battle of Saragossa in Spain.
785: Death of the Caliph Mahdi. Accession of Hadi.
786: Death of Hadi. Accession of Harun ur Rashid.
788: Idrisid state set up in the Maghrib. Death of Abdul Rahman of Spain, and accession of Hisham.
792: Invasion of South France.
796: Death of Hisham in Spain; accession of al Hakam.
799: Suppression of the revolt of the Khazars. Ninth century.
9th Century (800-899) C.E.
800: The Aghlabid rule is established in North Africa.
803: Downfall of the Barmakids. Execution of Jafar Barmki.
805: Campaigns against the Byzantines. Capture of the islands of Rhodes and Cypress.
809: Death of Harun ur Rashid. Accession of Amin.
814: Civil war between Amin and Mamun. Amin killed and Mamun becomes the Caliph.
815: Shia revolt under Ibn Tuba Tabs.
816: Shia revolt in Makkah; Harsama quells the revolt. In Spain the Umayyads capture the island of Corsica.
817: Harsama killed.
818: The Umayyads of Spain capture the islands of Izira, Majorica, and Sardinia.
819: Mamun comes to Baghdad.
820: Tahir establishes the rule of the Tahirids in Khurasan.
822: Death of AI Hakam in Spain; accession of Abdul Rahman. II.
823: Death of Tahir in Khurasan. Accession of Talha and his deposition. Accession of Abdullah b Tahir.
827: Mamun declares the Mutazila creed as the state religion.
833: Death of Mamun. Accession of Mutasim.
836: Mutasim shifts the capital to Samarra. 837 Revolt of the Jats.
838: Revolt of Babek in Azarbaijan suppressed.
839: Revolt of Maziar in Tabaristan. The Muslims occupy South Italy. Capture of the city of Messina in Sicily.
842: Death of Mutasim, accession of Wasiq.
843: Revolts of the Arabs.
847: Death of Wasiq, accession of Mutawakkil.
850: Mutawakkil restores orthodoxy.
849: Death of the Tahirid ruler Abdullah b Tahir; accession of Tahir II.
852: Death of Abdur Rahman II of Spain;. accession of Muhammad I.

856: Umar b Abdul Aziz founds the Habbarid rule in Sind.
858: Mutawakkil founds the town of Jafariya.
860: Ahmad founds the Samanid rule in Transoxiana.
861: Murder of the Abbasid Caliph Mutawakkil; accession of Muntasir.
862: Muntasir poisoned to death; accession of Mutasin.
864: Zaidi state established in Tabaristan by Hasan b Zaid.
866: Mutasim flies from Samarra, his depostion and accession of Mutaaz.
867: Yaqub b Layth founds the Saffarid rule in Sistan.
868: Ahmad b Tulun founds the Tulunid rule in Egypt.
869: The Abbasid Caliph Mutaaz forced to abdicate, his death and accession of Muhtadi.
870: Turks revolt against Muhtadi, his death and accession of Mutamid.
873: Tahirid rule extinguished.
874: Zanj revolt in South Iraq. Death of the Samanid ruler Ahmad, accession of Nasr.
877: Death of Yaqubb Layth in Sistan, accession of Amr b Layth.
885: Death of Ahmad b Tulun in Egypt, accession of Khamar- wiyiah.
866: Death of Muhammad I the Umayyad ruler of Spain, accession of Munzir. Death of Abdullah b Umar the Habbari ruler of Sind.
888: Death of Munzir the Umayyad ruler of Spain, accession of Abbullah.
891: The Qarmatian state established at Bahrain.
892: Death of the Samanid ruler Nasr, accession of Ismail.
894: The Rustamids become the vassals of Spain.
896: Death of the Tulunid ruler Khamarwiyiah; accession of Abul Asakir Jaish.
897: Assassination of Abul Asakir Jaish; accession of Abu Musa Harun.
898: Qarmatians sack Basra,
10th Century (900-999) C.E.
902: Death of the Abbasid Caliph Muktafi; death of the Saffarid ruler Amr.
903: Assassination of the Qarmatian ruler Abu Said; accession of Abu Tahir.
905: Abdullah b Hamdan founds the Hamdanid rule in Mosul and Jazira. End of the Tulunid rule in Egypt.
907: Death of the Abbasid Caliph Muktafi; accession of Muqtadir,
908: End of the Saffarid rule, annexation of their territories by the Samanids.
909: Ubaidullah overthrows the Aghlablds and founds the Fatimid rule in North Africa.
912: Death of the Umayyad Amir Abdullah in Spain, accession of Abdur Rahman III.
913: Assassination of the Samanid ruler Ahmad II, accession of Nasr II.
928: Mardawij b Ziyar founds the Ziyarid rule in Tabaristan.
929: Qarmatians sack Makkah and carry away the Black Stone from the Holy Kaaba. In Spain, Abdur Rahman III declares himself as the Caliph.
931: Deposition and restoration of the Abbasid Caliph Muqtadir. Death of the Qarmatian ruler Abu Tahir; accession of Abu Mansur.
932: Death of the Abbasid Caliph Muqtadir; accession of Al Qahir.
934: Deposition of the Abbasid Caliph AI Qahir; accession of Ar Radi. Death of the Fatimid Caliph Ubaidullah ; accession of Al Qaim.
935: Assassination of the Ziyarid ruler Mardawij; accession of Washimgir. Death of Hamdanid ruler Abdullah b Hamdan accession of Nasir ud Daula.
936: By coup Ibn Raiq becomes the Amir ul Umara.
938: By another coup power at Baghdad is captured by Bajkam.
940: Death of the Abbasid Caliph Ar Radi, accession of Muttaqi.
941: Assassination of Bajkam, capture of power by Kurtakin.
942: Ibn Raiq recaptures power.
943: Al Baeidi captures power. The Abbasid Caliph Muttaqi is forced to seek refuge with the Hamdanids. Sail ud Daula captures power at Baghdad and the Caliph returns to' Baghdad. Power is captured by Tuzun and Sail ud Daula retires' to Mosul. Death of the Samanid ruler Nasr II, accession of Nuh.
944: Muttaqi is blinded and deposed, accession of Mustakafi.
945: Death of Tuzun. Shirzad becomes Amir ul Umra. The Buwayhids capture power. Deposition of the Abbasid Caliph Mustakafi.
946: The Qarnaatiana restore the Black Stone to the Holy Kaaba.

954: Death of the Sasanid ruler Nuh, accession of Abdul Malik.
961: Death of the Samanid ruler Abdul Malik, accession of Manauf. Alptgin founds the rule of the Ghazanavids. Death of the Umayyad Caliph Abdul Rahman III in Spain; accession of Hakam. Death of the Ikhshid ruler Ungur accession of Abul Hasan Ali.
965: Death of the Qarmatian ruler Abu Mansur; accession of Hasan Azam. Assassination of the Ikhshid ruler Abul Hasan Ali; power captured by Malik Kafur.
967: Death of the Buwayhid Sultan Muiz ud Daula, accession of Bakhtiar. Death of the Hamdanid ruler Sail ud Daula.
968: Byzantines occupy Aleppo. Death of the Ikhshid ruler Malik Kafur; accession of Abul Fawaris.
969: The Fatimids conquer Egypt.
>>>>>>>>
>>>>> abad 21? global terrorisme


Coba pikirkanlah dengan ayat2 Quran dibawa ini bagaimana bisa Muslim bisa berkembang damai, kalau pribumi tidak mau mengikuti atau melawan serangan Muslims baik dengan senjata atau fitnah(keachlian muslims)

[5:33] Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar


[47:4] Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Note: " dibuang dari negerinya"adalah ethnic cleansing yang masih terjadi kini terhadap pribumi Afrika yang menentang islam,diSudan dilakukan oleh Janjaweed Arab dihadapan pandangan reportasi2 dari dunia.

Menerima tebusan adalah sama dengan yang dilakukan teroris jihad yang menculik orang biasa sebagai sandera(hostage)

So Muslims stop membohongi dirimu sendiri (stop kidding yourself)
Peristiwa diPoso, Ambon dan pemboman diBali adalah salah satu taktik Muslims untuk mengislaminsasi seluruh Indonesia.
Akuilah!!


ImageImage
Robot>>>> Zombie>>> Jihad Muslims

Image
pasukan Janjaweed Arab dalam kuda

Image
Pembakaran rumah2/desa pribumi afrika

ImageImage
Akibat ethniccleansing :Pengunsi>>>>>>>>>>>. .korban

Muslimslah dan para nazis :twisted: sudah pasti masuk neraka bersama nabinya dan hitler. Karena mereka adalah alat Iblis campain untuk menghancurkan kemanusiaan. Yang parah adalah Muslim/islam karena kejahatannya dibuat atas nama Allah.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby wachdie.jr » Fri Dec 02, 2005 3:01 am

Burung CenggurKita melihat bahwa penulisan sejarah saat ini tidaklah terlalu jujur untuk mengungkapkan peranan umat Islam di Indonesia, kalau ada penulis yang melihat Islam tidak memiliki peran dalam membina budaya bangsa, maka pandangan demikian merupakan kelanjutan dari politik penulisan sejarah pemerintah kolonial Belanda.

Jadi siapa penulis netral yang menurut ente ada?
Jika penulis menulkiskan sejarah yang berlawan dengan apa yang dimaui Islam, maka penulis tersebut, akan dicap kafir, tidak syah lah, antek kristen... yang patut di kutuk.
Tidak usah susah-susah mikir, dari buku sejarah SD saja kita sudah dicekoki apa yang diinginkan pemerintah dari pola kita berpikir....



Burung Bangkai

Dari pembagian tiga pola ini, tidak terbaca peran Islam dalam membentuk kebudayaan bangsa Indonesia. Dibandingkan dengan puluhan ribu masjid yang bertebaran di Indonesia, jumlah candi tidaklah ada apa-apanya, tetapi mengapa dikatakan Islam tidak memiliki pengaruh apa-apa. Hal ini diakibatkan oleh lemahnya sistem penerbitan dari kalangan Islam, yang tidak mampu mengkontra balik informasi seperti diatas yang tampaknya seprti benar.

Bukannya Islam dengan huruf dan pengetahuan Arab nya bisa menuliskan sejarah dengan sempurna??? Kenapa tidak menuliskan sejarah secara benar? malah Hindu dan BUdha yang mengalami kekalahan di Indonesia terus terdengan suara nya?
Apakah karena Islam terlalu sibuk dalam membela agama dan menyiarkan nya sehingga lupa mencatat perkembangan diri mereka sendiri? Islam sendiri dengan kemajuan Islamiyah yang selalu diyakini terbaik di dunia kenapa melempem dalam menerbitkan informasi> tetapi tidak dalam menerbitkan Quran????apakah karena ketakutan dasar jika terlalu banyak informasi akan membuka keburukan Islam?



Selain itu dengan adanya asumsi bahwa Islam dikembangkan dengan pedang, maka penulisan sejarah Islam Indonesia dituliskan dengan pendahuluan kisah pembunuhan. Kesultanan Demak dikisahkan sebagai sumber petaka kerusakan kesatuan bangsa. Sebaliknya asumsi agama Hindu-Budha dikembangkan dengan penuh kedamaian, maka dituliskan periode Hindu-Budha sebagai masa kejayaan dan keemasan bangsa Indonesia. Ini terjadi karena penulisan sejarah Islam oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam dan mereka memiliki kepentingan tertentu dengan sejarah Islam.

Jadi siapa pakar penulisan sejarah Islam di Indonesia yang benar-benar lurus? yang menghilangkan dan menghapus segala kekejaman yang ada menjadi kata-kata yang indah menawan?
Apakah ini suatu standar penulisan sejarah Islam dengan patokan Quran dan HAditz dimana segala kekejaman, kekotoran, kebencian terhadap kepercayaan lain..hilang dari penulisan nya? itukah yang ente inginkan
?

Semuanya ini terjadi akibat umat Islam pada masa lalunya memiliki budaya wirausaha yang kuat di Nusantara. Kemajuan perekonomian umat Islam memungkinkan agama Islam diterima sebagai agama rakyat Indonesia, sebagai agama yang menumbuhkan kemajuan peradaban bangsa Indonesia.
Perang berkepanjangan membendung bencana banjir Imperialis Barat, menyebabkan umat Islam terbaca berkondisi sosial ekonomi sangat lemah

Dengan membaca sejarah diatas maka akan terlihat pola-pola pengislaman Indonesia...
Perang yang terjadi di Indonesia sendiri dikarenakan karena masyarakat Islam saling cakar-cakaran sendiri jika benar Islam adalah agama pembawa damai dan sumber segala hukum, kenapa semua raja-raja Islam di Indonesia bisa saling berebut tahta dengan menggunakan hukum rimba yang jelas..sehingga akhir nya dimanfaatkan oleh penjajah


[quote]Melihat kenyataan yang seperti itu tentunya mendorong kita semua untuk lebih kritis lagi terhadap semua informasi yang kita peroleh.[/quote

Bagus jika ente semakin kritis, saran ana tidak hanya kritis tapi cari pembuktian nya..benar tidaknya terlebih dahulu secara netral
..tanpa didasari atau dibayang-bayangi dengan apa yang anda percayai
User avatar
wachdie.jr
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby bakayaro » Fri Dec 02, 2005 9:37 am

Yaahhhh.... masih juga debat....

Kan udah jelas banget tertulis dalam sejarah bahwa para LASKAR ARAB.... dengan restu dari khalifah dan mesjid.... mencari tanah baru untuk dijadikan koloni, dihisap kekayaannya demi kejayaan ARAB.

Mereka dielu-elukan oleh seluruh rakyat ARAB dan diberkati oleh khalifah ISLAM demi membawa kejayaan ARAB dan ISLAM.

Mereka diijinkan untuk menumpas the native people jika membangkang kepada kehendak ARAB dan ISLAM.

Maka ISLAM pun tersebar keseluruh dunia melalui pendudukan oleh ARAB terhadap bangsa lain.... EROPA yang tadinya bersatu dipecah-pecah menjadi negara kecil-kecil supaya kelak bisa menjadi BONEKA ARAB.

Para ARAB ini dengan kelicikannya memfasilitasi ISRAEL untuk mendirikan negara di EROPA sehingga kawasan ini menjadi daerah konflik abadi, dengan demikian ARAB bisa terus menanamkan hegemoninya.

Dan jangan juga kalian lupa bahwa para ARAB yang ISLAM MANIAC ini telah merampas tanah dan menumpas INDIAN di amerika dengan restu dari kahlifah dan mesjid.

Dengan sejarah yang demikian jelasnya, masihkah kalian ORANG ISLAM mau meutar balikkan kenyataan..... menutupi kenyataan masa lalu dengan menunjuk ORANG KRISTEN yang telah menjadi korban keserakahan kalian....
bakayaro
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 98
Joined: Wed Sep 21, 2005 10:14 am

Postby wachdie.jr » Fri Dec 02, 2005 9:47 am

3. SEJARAH WALISONGO


burung arab*Rasionalisasi Kisah Sejarah Walisongo
Kisah sejarah Walisongo sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di Indonesia, selalu dikaitkan dengan hal-hal yang kurang rasional, bahkan lebih dekat dengan ajaran yang tidak Islami.
Barangkali kisah yang banyak beredar di masyarakat bersumber dari penulis yang menentang Islam, karena kecenderungan para ulama yang kurang memperhatikan penulisan sejarah. Kelemahan ini menjadi penyebab utama kenapa kisah sejarah mereka banyak ditulis oleh penulis yang bukan beragama Islam.
Para wali seringkali dikisahkan melakukan hal-hal mistik dan irasional, seperti bertapa ditepi sungai berpuluh-puluh tahun. Tidakkah cara itu bertentangan dengan syari’at Islam?. Hal itu justru lebih dekat dengan ajaran Hindu yang mengajarkan sistem pertapaan. Sudah seharusnya kita lebih kritis dan tidak menerima begitu saja penulisan sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya



http://www.jawapalace.org/walisanga2.htm
Menengok konflik Masa Lalu
Biasanya, konflik yang terjadi di kalangan ulama -terutama ulama jaman dahulu, lebih banyak diakibatkan karena persoalan (rebutan pengaruh) politik. Tidak hanya terjadi pada era kiai-ulama masa kini, tapi sejak jaman Wali Songo-pun, konflik seperti itu pernah terjadi.
Bahkan, sejarah Islam telah mencatat bahwa jenazah Muhammad Rasulullah SAW baru dimakamkan tiga hari setelah wafatnya, dikarenakan para sahabat justru sibuk rebutan soal posisi khalifah pengganti Nabi
(Tarikh Ibnu Ishak, ta'liq Muhammad Hamidi).

Di era Wali Songo -kelompok ulama yang "diklaim" oleh NU sebagai nenek-moyangnya dalam perihal berdakwah dan ajarannya, sejarah telah mencatat pula terjadinya konflik yang "fenomenal" antara Wali Songo (yang mementingkan syari'at) dengan kelompok Syekh Siti Jenar (yang mengutamakan hakekat).

Konflik itu berakhir dengan fatwa hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya. Sejarah juga mencatat bahwa dalam persoalan politik, Wali Songo yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara yang cukup solid dalam berdakwah itu, Ternyata juga bisa terpolarisasi ke dalam tiga kutub politik; Giri Kedaton (Sunan Giri, di Gresik), Sunan Kalijaga (Adilangu, Demak) dan Sunan Kudus (Kudus).

Kutub-kutub politik itu memiliki pertimbangan dan alasan sendiri-sendiri yang berbeda, dan sangat sulit untuk dicarikan titik temunya; dalam sidang para wali sekalipun. Terutama perseteruan dari dua nama yang terakhir, itu sangat menarik. Karena pertikaian kedua wali tersebut dengan begitu gamblangnya sempat tercatat dalam literatur sejarah klasik Jawa, seperti: "Babad Demak", "Babad Tanah Djawi", "Serat Kandha", dan "Babad Meinsma".

Lagi-lagi, konflik itu diakibatkan karena persoalan politik. Perseteruan yang terjadi antara para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trenggono (raja ke-2 Demak) wafat. Giri Kedaton yang beraliran "Islam mutihan" (lebih mengutamakan tauhid) mendukung Sunan Prawata dengan pertimbangan ke-'alimannya. Sementara Sunan Kudus mendukung Aryo Penangsang karena dia merupakan pewaris sah (putra tertua) dari Pangeran Sekar Seda Lepen (kakak Trenggono) yang telah dibunuh oleh Prawata (anak Trenggono). Sedangkan Sunan Kalijaga (aliran tasawuf, abangan) mendukung Joko Tingkir (Hadiwijaya), dengan pertimbangan ia akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan nusantara yang akomodatif terhadap budaya.

Sejarah juga mencatat, konflik para wali itu "lebih seru" bila dibandingkan dengan konflik ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor, seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik. Penyebabnya tidak semata karena persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru terhadap murid, dan sebagainya.



*catatan wachdie..
bagaimana bangsa indonesia tidak dijajah? jika kita melihat cerita para negarawan islamnya sendiri pada rakus kekuasaan!!!!
User avatar
wachdie.jr
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2088
Joined: Tue Sep 20, 2005 8:19 am

Postby dago » Fri Dec 02, 2005 10:54 am

wachchdie.jr
Sejarah juga mencatat, konflik para wali itu "lebih seru" bila dibandingkan dengan konflik ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor, seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik.


Kita tak usah heran.
Lihatlah terjadinya Shiah Islam, bukankan karena terbnuhnya imam Ali?
Shingga sampai sekarang Sunni saling membenci dan sering bunuh membunuh diTimur tengah (Iraq) dan diPakistan.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Next

Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users