. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

SATU DIANTARA 73 GOLONGAN DALAM ISLAM...

Artikel dan pertukaran pikiran mengenai SYI'AH, Ahmadiyah, Sufi, Salafi, Wahabi, dan berbagai aliran dan sekte Islam selain Sunni.

SATU DIANTARA 73 GOLONGAN DALAM ISLAM...

Postby H.Nadri Saaduddin » Fri Jun 23, 2006 10:42 am

Mencari firqah yang benar....


Oleh: H.Nadri Saaduddin *)

Salah seorang kawan akrab saya semasa kecil di kampung dulu dan karena kebetulan dia lebih tua beberapa tahun dari saya , sejak dari dulu sampai kini saya tetap memanggilnya dengan sebutan “Uda ”, suatu panggilan keakraban bagi seseorang yang lebih tua dikampung kami. Uda saya ini juga seorang KH alias Kiai Haji yang dikota kami ini disebut dengan Buya dan kebetulan juga mengasuh sebuah pesantren tradisional terkenal dikota kami ini . Dalam suatu kesempatan, dalam bulan Ramadhan tahun yang lalu ini , ketika berjumpa dengan saya disebuah masjid dikampung kami Talangmaur, ketika sedang duduk selesai shalat Ashar beliau mengajukan pertanyaan kepada saya, tentang kelompok Islam yang oleh Rasulullah SAW dibangsakan kepada “illla waahidatan” , salah satu golongan yang dikecualikan dari neraka , diantara 73 golongan umat Rasulullah SAW, yang ada sebagai yang disebutkan oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi itu.
Beliau bertanya demikian, terus terang katanya , karena masing-masing pihak dan firqah dalam Islam diantara 72 golongan itu semuanya mengaku pihak merekalah yang benar, pada hal menurut Rasulullah SAW yang benar itu hanya satu golongan saja. Kepada beliau, saya balik bertanya , agar beliau sudilah kiranya menerangkan lebih dahulu siapakah mereka yang disebut umat Rasulullah SAW itu. Hal ini adalah sangat penting, untuk menyamakan persepsi dan batasan sebelum kita menentukan golongan mana yang benar diantara mereka. Menjawab pertanyaan saya ini, kemudian Uda saya ini lalu memberikan batasan, siapa yang disebut dengan umat Rasulullah SAW itu.
Menurut Uda saya yang juga berproffesi sebagai muballigh jemputan itu , yang dikatakan umat Rasulullah SAW adalah mereka yang bersyahadat “an laa ilaaha illallaahu, waasyhadu anna muhammadan rasululullah, wa iqaamish sahalaati, wa iitaaizzakaati, walhajji, washaumi ramadaana”. Umat Islam menurut beliau adalah mereka yang bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan yang bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul-Nya dan yang mendirikan shalat lima waktu, dan yang membayarkan zakat dan yang menunaikan ibadat Hajji dan yang berpuasa dibulan Ramadhan.
Ketika saya tanyakan , siapa yang mengemukan batasan seperti itu, dengan cepat dan tangkas beliau menjawab bahwa batasan yang diketengahkannya itu adalah menurut Rasulullah SAW. “Baiklah , apakah menurut pengamatan Uda , semua kelompok yang ada sekarang mengaku sebagai umat Rasulullah SAW dan perkelompoknya masih bersyahadat, masih mendirikan shalat lima waktu, masih berzakat , masih berhaji dan masih berpuasa dibulan Ramadhan?”, saya balik bertanya lagi.
Kawan saya ini dengan mantap menjawab:”Bahkan mereka perkelompoknya masih tetap menjalankan itu semua”. Saya kembali menyambung, “Nah kalau semua kelompok itu masih menjalankan itu semua, lalu dimana letak kesalahan yang tujuh puluh dua golongan itu dan dimana letak betulnya yang satu golongan yang dikecualikan itu?”. Sambil menatap saya tanpa berkedip,beliau berkata: “Wallahu ‘aklamu”,......Hanya Allah lah yang mengetahui. Dan inilah yang akan saya diskusikan dengan “angku”....., beliau menggeleng-gelengkan kepalanya sembari merentangkan kedua tangannya keatas…
“Millatan Wahidatan”.....
“Memang semuanya Allah lah yang Mahamengetahui, tetapi menurut jalan pikiran saya, untuk mencari aliran mana yang sebenarnya berhak disebut “millatan wahidatan” itu tidaklah begitu sulit, Salah satu caranya adalah agar semua pemimpin atau penghulu kelompok-kelompok yang masih bersyahadat dan lain-lainnya itu supaya berkumpul dalam satu majlis”, kata saya. Uda saya ini semakin bertambah heran dan bingung mendengar usul saya itu, “Lalu”, tanyanya, “setelah berkumpul semua penghulu itu mereka lalu disuruh apa, menurut angku?”
“Setelah mereka berkumpul semuanya, Uda mestilah bertanya kepada mereka , “Aliran-aliran yang mana yang Tuan-tuan wakili yang benar itu?”, saya kembali menjelaskan kepadanya maksud dari mereka itu dikumpulkan bersama-sama dalam satu majelis itu. Bahwa mereka, katakanlah yang tujuhpuluh dua aliran , pastilah akan berkata bahwa merekalah yang benar. Satu aliran dari antara mereka pasti akan dikatakan, malah divonis sebagai golongan yang tidak betul. Kalau sudah demikian keadaannya maka akan mudah bagi Uda buat menentukan secara pasti kelompok mana yang disebut dengan “millatan wahidatan” itu. Kelompok yang satu ini oleh kebanyakan atau mayoritas pasti akan dikatakan “bukan Islam” atau “di luar Islam”.
Uda saya ini nampaknya maklum juga bahwa pertemuan semacam itu memang pernah dilakukan organisasi-organisasi Islam Internasional yang mewakili umat Islam dari berbagai golongan (tetapi minus satu....) dan mereka yang telah bersidang di Makkah Mukarramah dari tanggal 6 sampai 19 April 1974 dibawah naungan Rabithah Alam Islami, dimana telah berkumpul 140 delegasi Islam itu telah memutuskan pula bahwa yang satu golongan itu bukanlah Islam atau berada diluar Islam.
“Dalam hubungannya dengan keputusan mereka”, kata saya , saya kira Uda tentu pernah membaca pendapat seorang Sufi Islam terdahulu Sufyan Atsaury yang mengatakan bahwa “ahlussunah adalah terasing”. Malah beliau itu berpesan “istawshuu bi ahlissunati fa innahum ghuraba-u”-“berpesan-pesanlah kamu dengan ahlussunah, karena sesungguhnya mereka adalah terasing”....Nah kalau Uda mau percaya kepada fatwa Imam itu, justeru terkandung maksud dalam pesan itu agar kita mencari ahlu sunnah. Tanda mereka adalah terasing. Jadi sebenarnya gampang mencari mereka itu. Cirinya sudah dijelaskan oleh Imam itu . Kalau Uda sudah mendapatkannya, dikandung pula suatu saran agar kita bergabung dengan yang terasing itu”.
Uda saya ini nampaknya mangggut-manggut saja, lalu saya melanjutkan omongan saya.
“Sesungguhnya yang terpecah belah, bukan hanya umatnya Nabi Muhammad SAW saja, melainkan juga umat Yahudi dan umat Nasrani sebagaimana dapat kita kita baca dalam Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud. Menurut Rasulullah SAW umat Yahudi telah terpecah menjadi 70 atau 71 golongan. Demikian juga umat Nashara telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Kapan terpecahnya umat Yahudi terpecah menjadi 70 atau 71 golongan, kapan terpecahnya umat Nashara menjadi 71 atau 72 golongan dan kapan terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan Rasulullah SAW tidak menjelaskannya. Ini tentulah kita yang harus memikirkannya. Menurut kenyataan sejarah, perpecahan kaum Yahudi terjadi lama setelah Musa a.s. meninggal dunia, perpecahan kaum Nashara lama setelah Isa al Masih meninggal dunia, dan perpecahan umat Islam juga lama setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Dizaman beliau-beliau itu masih hidup tentu saja umat-umat mereka bersatu padu dalam suatu jemaat atau barisan yang kokoh.

Saatnya terpecah....
Umat Musa a.s. yang dikenal dengan kaum Judaism (Yahudi) disaat kedatangan Isa al Masih dan menjelang diangkatnya beliau menjadi Nabi buat Bani Israel, telah terpecah belah menjadi 69 atau 70 golongan. Mereka dalam masalah-masalah tertentu , satu sama lain tidak sependapat dan saling berselisih paham. Semua golongan itu tentunya mengaku pihaknyalah yang benar. Kendatipun dalam masalah-masalah tertentu satu sama lain mereka bertikai pakai, namun dalam “satu hal” semua mereka adalah sama yakni semua golongan itu masih menjalankan syari’at Musa a.s. Kemudian di kala Isa al Masih dibangkitkan Allah menjadi Nabi buat mereka, maka dari antara mereka, yakni dari antara golongan-golongan yang telah ada itu tumbuhlah satu golongan baru yang beriman kepada kenabian Isa al Masih a.s. Golongan yang beriman kepada Isa al Masih ini menjadi golongan yang ke 70 atau 71.
Golongan-golongan yang telah ada, sebelum yang terakhir ini muncul masih tetap ada dan mereka tentu saja adalah merupakan golongan mayoritas atau “mainstream”. Dan golongan “mainstream Yahudi” ini adalah mereka yang tidak beriman kepada Isa al Masih a.s. Dengan demikian dapatlah kita simpulkan secara pasti bahwa dari antara 70 atau 71 golongan umat Yahudi itu, yang benar adalah cuma golongan yang terakhir itulah. Golongan Mainstream Yahudi yang banyak itu, kendatipun mereka mayoritas dan masih menjalankan syari’at Musa a.s, tetapi tetap “dihukumkan salah”, karena mereka tidak mau beriman kepada Isa al Masih a.s.
Golongan yang timbul terakhir ini itu sudah barang tentu diasingkan oleh golongan-golongan yang mainstream itu , bahkan mereka tidak bebas menjalankan kebaktian (ibadat) sehingga mereka harus bersembunyi di gua-gua (catacomba) seperti bekasnya bisa kita lihat dan temukan di sekitar Laut Mati. Golongan ini pada mulanya sedikit sekali dan diantara mereka adalah sahabat-sahabat setia dari Yesus (Isa al Masih) sendiri seperti Nicodemus, Yusuf Arimatea, Simon, Andreas, Yakub bin Zabdi dan adiknya Yahya bin Zabdi dan juga Matius. Golongan inilah yang disebut dalam Al-Qur’an dengan julukan Hawariyun.
Bagaimana dengan pengikut Nabi Isa a.s. yang oleh Rasulullah SAW disebutkan dengan kaum Nashara itu? Mereka disaat menjelang dibangkitkannya Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Nabi yang Universal untuk segala bangsa juga sudah terpecah menjadi 70 atau 71 golongan. Satu golongan dengan golongan yang lain dalam masalah-masalah tertentu , sudah barangtentu saling berbeda pandangan. Tetapi dalam satu hal mereka tetap sama, yaitu sama-sama masih menjalankan syari’at Taurat dan beberapa aturan yang ditetapkan oleh Isa a.s.
Kemudian setelah Muhammad SAW dibangkitkan sebagai seorang Nabi, maka sedikit dari antara golongan-golongan mereka yang telah ada itu beriman kepada Muhammad SAW. Diantara mereka dalah Bilal dari Abbisina (Etiopia), Suhaib dari Romawi. Dan di tanah Arab sendiri seorang ahli Taurat yang mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi ialah Waraqah bin Naufal. Golongan ini yang datang dari kalangan mereka, ditinjau dari intern umat Nashara adalah menjadi golongan yang ke 71 atau ke 72 itu dan merekalah yang benar keimanannya karena mereka “beriman kepada Muhammad SAW.”
“Umat Islam”, lanjut saya “dikala dekat dengan masa turunnya atau dibangkitkannya Isa ibnu Maryam yang dinuwatkan oleh Rasulullah SAW juga sudah terpecah belah, katakanlah waktu itu pas 72 golongan. Satu sama lainnya, juga seperti umat Musa a.s. dan Isa a.s. dimana mereka juga saling bertengkar sesama mereka sendiri dan mengaku golongan merekalah yang benar. Tetapi dalam satu hal sebagaimana juga umat nabi Musa dan umat nabi Isa mereka adalah sama, yaitu mereka semuanya masih menjalankan Rukun Islam yang lima, masih bersyahadat, masih shalat, masih berzakat, masih berhajji dan masih berpuasa di bulan Ramadhan. Apakah golongan-golongan ini salah lantaran mereka masih menjalankan Rukun Islam? Jawabnya, tentu saja tidak. Sebab itu semua kan diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah SAW. Dan dalam urusan ini mereka tentu saja mendapat pahala. Kalau begitu dan memang begitu, lalu dimanakah letak kesalahan mereka? Ikutilah keterangan berikut ini...
Isa ibnu Maryam telah turun.....
Rasulullah SAW didalam Haditsnya telah menubuwatkan bahwa Isa ibnu Maryam kan “turun” diakhir zaman dan kalau ia telah datang maka ia akan menjadi imamnya umat Islam. Semua golongan-golongan Islam itu, boleh dikatakan percaya akan hal ini, termasuk Uda saya ini. Tetapi tatkala yang dijanjikan itu datang , maka sejarah orang-orang Yahudi dan Nasrani berulang kembali. Dan sebagian besar umat Islam malah tidak mempercayainya. Mereka mengatakan bahwa dia itu bukanlah Isa ibnu Maryam, dia adalah pendusta, penipu dan nabi palsu, gila, mutanabi, pemakan harta haram dan lain-lainnya. Menurut mereka yang harus datang itu adalah Isa ibnu Maryam yang dulu, yang pernah datang kepada Bani Israel , yang sekarang masih hidup diatas langit atau di planet atau di tempat lainnya yang kita tidak perlu tahu dimana, karena Al-Qur’an tidak pernah mengatakan bahwa dia diangkat kelangit, tetapi diangkat kepada-Nya.
Lagi pula menurut sebagian mereka itu , kalau ia datang maka ia tidak lagi berpangkat nabi, ia pensiunan nabi sebab kalau ia masih nabi maka itu berarti Muhammad SAW bukanlah penutup nabi atau khaatamannabiyyin. Bermacam-macam sanggahan mereka kemukakan dan tujuh puluh ribu alasan mereka susun , tetapi sayangnya mereka lupa bahwa alasan-alasan penolakan yang mereka susun itu adalah sekedar pengulangan alasan-alasan yang dahulu pernah dilemparkan kepada Musa a.s., Isa a.s. dan bahkan kepada semua Nabi. Nah ini supaya dicatat baik-baik, kendatipun demikian dari antara golongan-golongan umatnya Muhammad SAW itu yang satu sama lainnya dalam masalah-masalah tertentu saling berbeda paham dan pandangan akan ada yang memisahkan diri dari golongannya semula dan kemudian berkumpul dalam satu kelompok baru.Kelompok baru ini adalah kelompok yang ke 73 dan kelompok inilah yang percaya bahwa Isa ibnu Maryam yang dijanjikan itu telah datang.
Kelompok yang ke 73 ini sebagaimana kelompok-kelompok yang lain “tidak bisa” dikatakan bukanlah umat Nabi Muhammad SAW. Bukankah telah Uda ta’rifkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah mereka yang bersyahadat dan lain-lainnya itu? Bukankah Nabi Muhammad SAW sendiri yang berkata bahwa “umatku” akan terpecah menjadi 73 golongan, dengan demikian maka berarti semuanya adalah masih umat Muhammad SAW. Dengan demikian menurut analisa saya, maka kesalahan yang 72 golongan itu , sebagaimana juga kesalahan umat-umat terdahulu adalah lantaran “tidak beriman” kepada orang yang telah dijanjikan itu, bukan lantaran tidak menjalankan syari’at. Kemudian benarnya golongan yang ke 73 itu bukan hanya sekedar karena masih menjalankan syari’at sebagaimana golongan-golongan lainnya, melainkan lantara iman mereka telah tepat. Bila Uda tidak percaya kepada analisa saya , boleh saja. Tapi itu berarti Uda menentang sejarah . Dan itu tak mengherankan saya, karena yang demikian telah berulang beberapa kali dalam kejadian sebelumnya.

Keliru Mengartikannya....
“Sebenarnya angku”, sambung Uda, “ termasuk golongan yang mana?” Saya menjawab, bahwa saya adalah termasuk yang diasingkan bahkan yang dikeluarkan dari Islam oleh mayoritas Mainstream Islam itu. Maunya mereka, yang banyaklah yang benar, sementara yang salah harus yang satu saja. Nah, keputusan mereka, sekalipun menurut mereka hebat karena telah didukung oleh lebih 140 orang delegasi yang mewakili Dewan-Dewan Dakwah Internasional, jelas bertolak belakang dengan apa yang dinubuwatkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW. Keputusan mereka itu sebenarnya “telah membuka” tabir rahasia Hadits “.......walladzi nafsu Muhammadin biyadihi lataftariquuna ummatii ‘ala tsalatsin wa sab’uunaa finnari”.
Uda saya ini cepat menyambung: “Tapi yang satu golongan itu kan aljama’ah. Apa arti aljama’ah menurut angku?” “Benar”, jawab saya , yang satu golongan itu adalah al-jama’ah. Banyak orang sering keliru mengartikan arti dari jama’ah dan mereka cenderung mengartikannya bahwa aljama’ah sebagai orang-orang Islam yang banyak. Malah ada yang mengartikan jama’ah sebagai anggota majlis taklim, misalnya. Kata aljama’ah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW bukan hanya kumpulan orang-orang Islam, banyak atau sedikit tidaklah jadi soal , melainkan kumpulan orang-orang Islam yang mempunyai Khalifah dengan syaratnya khilafatnya mestilah “ ‘ala minhajin nubuwah”, khilafat yang mengikuti kenabian. Bukan hanya sekedar menamakan diri sebagai khalifah atau dianggap khalifah oleh para pengikutnya. Berapa firqahkah diantara firqah-firqah yang banyak yang memakai sistim khilafat ‘ala minhajin nubuwah? Silakan cari oleh Uda . Yang ada memakai sistim itu, cuma satu...
“Menurut analisa saya tidak akan ada jama’ah kecuali dengan adanya Imam. Hal ini dapat dibuktikan dari keadaan sehari-hari yang ada dihadapan kita. Adakah sembahyang jama’ah kalau tidak ada Imam, sekalipun ma’mumnya ratusan ribu orang? Jawabnya, yang semacam itu bukan shalat berjama’ah namanya. Tapi sekalipun shalat itu cuma diikuti oleh tiga orang, kalau satu diantara mereka menjadi Imam, maka yang demikian pasti dinamakan shalat berjama’ah. Benarkah demikian?,
“Benar”, Uda saya ini nampaknya setuju dengan batasan jamaah yang saya ketengahkan kepadanya. “Nah”, saya langsung menyambung apa yang dikatakannya. “Sekalipun jumlah anggota yang diwakili oleh 140 anggota delegasi Rabithah Alam Islami itu berjumlah satu milyard orang, tetapi karena mereka tidak mempunyai Khalifah, bukanlah aljama’ah itu namanya. Mereka tetap merupakan kelompok cerai-berai , laksana ayam yang tidak mempunyai induk.
“Sesungguhnya Khalifah itulah yang mengikat orang-orang yang beriman didalam satu ikatan , baik mereka yang di Timur, maupun mereka yang dibarat , baik mereka yang di Utara maupun mereka yang di Selatan. Baik mereka yang ada di kota-kota maupun maupun mereka yang ada di desa-desa. Baik mereka yang kaya, maupun mereka yang miskin . Baik mereka yang ulama maupun mereka yang awwam. Baik mereka yang teknokrat maupun mereka yang rakyat kebanyakan, dan selanjutnya, dan selanjutnya.Tanpa tali pengikat ini, yaitu “imaamah”, orang-orang yang beriman akan tetap juga bercerai berai.
Mungkin akan ada , bahkan sekiranya sudah ada , malah banyak orang Islam yang berpendapat bahwa Imam itu tidak perlu, toh sudah ada Kitabullah dan Sunattur Rasul yang apabila kita berpegang kepada keduanya kita tidak akan tergelincir selamanya. Tentang jawaban mereka ini, kita bisa membandingkannya dengan kehidupan kita bernegara Indonesia ini. Kendatipun kita bangsa Indonesia telah mempunyai UUD 1945, Panca Sila dan Undang-undang lainnya, apakah kita tidak merasa perlu kepada adanya seorang Presiden? Jawabnya tentu saja perlu.
Dibawah pimpinan seorang Presiden lah kita berhimpun dan beliaulah yang berkewajiban menjaga agar ketentuan UUD 1945 dan Undang-undang lainnya ddilaksanakan oleh seluruh rakyat. Mungkin ada yang berkata, bukankah ulama itu pewaris nabi-nabi dan merekalah yang akan membimbing umat? Betul, itu adalah betul , tetapi menurut saya, bila kita sudah punya seorang Presiden, tidaklah berarti kita tidak perlu lagi Polisi. Kita perlukan kepolisian, angkatan bersenjata, kita perlu Gubernu, Bupati, Walikota dan aparat lainnya. Semua mereka juga dalam rangka menjaga agar hukum dijalankan. Nah untuk itulah kita memerlukan seorang Presiden. Itulah makna “tali Allah” dalam firman Allah “wa’tashimuu bihablillahi jami’a, wala tafarraqu”... berpegang teguhlah kamu dengan tali Allah dan janganlah bercerai berai...(QS. 3:103).

Perbincangan kami dengan Uda diakhiri dengan ucapan beliau. “Mudah-mudahan Uda dapat menyusul mengikuti jejak angku. Insya Allah”. “Amin ya Rabbal ‘aalamiin”, do’a saya dan selanjutnya kami bersalaman dan berpisah.


*) H. Nadri Saaduddin
Mubaligh dan pemerhati masalah sosial dan keagamaan domisili di Payakumbuh
H.Nadri Saaduddin
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 160
Joined: Sun Jun 11, 2006 4:30 am
Location: Payakumbuh

Return to Aliran dan Sekte2 Dalam Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users