. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemikir

Mengungkapkan cara berpikir Muslim pada umumnya dan Muslim di FFIndonesia pada khususnya.

Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemikir

Postby angky » Tue Aug 13, 2013 11:28 am

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sistem pendidikan yang ada sekarang bukan menciptakan generasi atau manusia pemikir namun lebih kepada generasi menghapal.

Bahkan, ilmu kreativitas pun seperti ilmu mengambar menjadi pelajaran hapalan.

"Di sekolah semua pelajaranpun menghafal. Misalnya diminta mengingat kapan perang Diponegoro dan mengambar pemandanganpun hapalan karena biasanya 2 gunung dengan tengahnya sinar matahari," tutur Rhenald Kasali dalam saat talkshow Membangun Future Leaders Indonesia Melalui Pendidikan di Hotel Santika, Jakarta, Kamis (30/5/2013).

Tugas guru pun hanya menurunkan apa yang sudah ada. Jika dibiarkan, yang terjadi adalah sistem pendidikan bukan menciptakan generasi pemikir.

"Mestinya siswa itu diminta keluar, tidak selalu di dalam kelas sehingga mereka dilatih berpikir, bukan menghafal sehingga akan mudah mengatasi masalah," katanya.


Bagaimana caranya menciptakan generasi yang kreatif?? buang lah agama islam dari pola pikir bangsa kita, pasti kita akan maju. Jangan bilang Habibie yg muslim toh bisa maju, karena habibie ane yakin sama sekali tidak mau mengisi serat serat kelabu nya dengan menghafal koran.

Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemikir


FFI Alternative
Faithfreedompedia
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3329
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemi

Postby NYFGbY » Tue Aug 13, 2013 12:23 pm

Sistem pendidikan yang ada sekarang bukan menciptakan generasi atau manusia pemikir namun lebih kepada generasi menghapal.


..Menghafal itukan kebanggaan muslim.
Dan dgn menghafal itu maka otak muslim akan BUNTU karena gak bisa berpikir kritis ttg islam.

..Muslim cuma tau menghafal, copy paste, tapi gak bisa mikir diluar konteks menghafal.
User avatar
NYFGbY
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 603
Joined: Thu Mar 01, 2012 12:30 am
Location: Di puncak Jayawijaya, menjaga agar salju tidak mencair.

Re: Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemi

Postby keeamad » Tue Aug 13, 2013 2:15 pm

Resiko kalo muslim pd pinter2x :
1. alloh dan racunnya, ntar kebanting - kaya' roma sama wajah2x personil OM Sonetanya ....
2. Pada murtad ....

Makanya supaya mereka gak pinter2x,
mereka cuma disuruh ibadah sama hafalin quran ...

Dan "Wola" ...., jadilah muslim2x pd **** sperti yg dinginkan nabi muhammad ...

NB.
Mengenai jaman keemasan islam,
sudah dibahas bahwa ilmuwan2x yg diklaim muslim itu,
secara garis keturunan, daerah tempat kelahiran dan kronologis waktunya,
masih sangat dekat dengan KEJAYAAN Bangsa Zoroaster ....

(Ingat, kejayaan islam itu relatif tidak lama setelah bangsa Zarazhutra itu ditaklukkan, dari sekitar abad ke 8 hingga abad 10 atau 11 ... )

Dindikasikan, ilmuwan2x muslim yg berasal dari Parsi tsb,
HANYA MENYALIN Kitab Nenek Moyangnya - orang2x bangsa Zoroaster, KE DALAM BAHASA ARAB ....


BTW.
Si bapak aljabar sendiri - khawaraizmi (?)...,
Mengaku kala dia cuma MENYALIN DARI KITAB MILIK ORANG Hindu India ...


Moral"
Dan setelah PARA TURUNAN Zoroaster itu benar2x habis,
HABIS PULA MASA KEEMASAN islam ....., Hingga kini ....

Sungguh ironis,
Bahkan ketika islam muslim SUDAH DIKASIH Kesempatan MENYALIN BUKU Pintar berbagai ilmu pengetahuan Sekalipun,
pd Perkembangan berikutnya,
islam dan muslim cuma MENJADI UMAT yg Naive2x ....
](*,) :prayer: :butthead: :toimonster: :rolling:

Resiko kalo muslim pd pinter2x :
Mirror
Faithfreedom forum static
User avatar
keeamad
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6771
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemi

Postby usmanabdullah » Tue Aug 13, 2013 5:27 pm

Ayo yg punya alamat RK bisa segera kirim FFI ke dia...
User avatar
usmanabdullah
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1190
Images: 2
Joined: Thu Nov 08, 2012 2:31 pm

Re: Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemi

Postby Penilai » Tue Aug 13, 2013 5:51 pm

"Berpikir Kritis (thinking skills)
Menurut Beyer (1988) mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan:
(1) menentukan kredibilitas suatu sumber;
(2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan;
(3) membedakan fakta dari penilaian;
(4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan;
(5) mengidentifikasi bias yang ada;
(6) mengidentifikasi sudut pandang;
(7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.
(8) mengidentifikasi kesalahan logika;
(9) mengidentifikasi tidak adanya konsistensi logika dalam suatu garis pemikiran atau ide; dan
(10) menentukan kekuatan argumen atau pernyataan.

Kemampuan Menghafal / Memorization (rote learning)

Rote Learning adalah teknik menghafal berdasarkan pengulangan. Kemampuan menghafal merupakan bagian dari pembelajaran, menjadi unsur penting dalam mempelajari bidang-bidang keilmuan misalnya mempelajari bahasa asing, tabel periodik kimia, tabel perkalian dalam matematika, anatomi dalam kedokteran, undang-undang dalam hukum, rumus-rumus dalam fisika, dll. Jadi kemampuan menghafal sangat dibutuhkan dalam pembelajaran, misalnya agar siswa dapat dengan cepat mengingat suatu rumus percepatan yang telah dihapalnya untuk menyelesaikan suatu soal fisika yang membutuhkan perhitungan percepatan. Namun rote learning adalah sebuah alat bantu dalam pembelajaran, dimana kemampuan pemahaman dan berpikir kritis untuk menyelesaikan suatu masalah adalah tingkatan pembelajaran yang sesungguhnya ingin dicapai dalam pendidikan, misalnya menurunkan suatu rumus fisika atau suatu besaran turunan.

Referensi:
Beyer, B. K. (1988). Developing a thinking skills program. Boston, MA: Allyn & Bacon, Inc."


Kritik dari Rhenald Kasali menurut saya cukup tepat, hanya saja kurang mendalam penjelasan, mungkin karena waktunya yang terbatas.
Kemampuan menghafal berdasarkan kutipan di atas justru sangat fundamental. Dapat dibayangkan bagaimana potensialnya seorang siswa kalo kemampuan menghafal + kemampuan berpikir kritisnya sama-sama oke. Inilah target ideal dalam dunia pendidikan yang sebenarnya, namun sayangnya pendidikan di Indonesia kebablasan, para siswa dididik kemampuan menghafal sampai keblinger dan sangat sedikit diberikan kemampuan berpikir kritis, sehingga para siswa ketika berhasil menyelesaikan sekolahnya harus lebih banyak lagi meluangkan waktu untuk belajar berpikir secara kritis. Karena dalam dunia nyata ataupun ketika siswa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, mereka diminta/menghadapi (wajib) untuk mencari penyelesaian masalah (problem solving). Dengan hanya mahir menghafal, dapat dipastikan mantan siswa tersebut akan keteteran dan ketinggalan ketika bersaing di dunia kerja atau di universitas berkualitas (bukan yang abal-abal... :yawinkle:).

Sehubungan dengan islam, dengan banyaknya larangan yang tak masuk akal dalam ajarannya, termasuk larangan untuk bertanya tentang kebenaran al quran-nya, menyebabkan kemampuan berpikir kritis para muslim menjadi tidak sepenuhnya bebas karena takut azab dari auloh katanya kebanyakan.
Dari beberapa poin yang dikemukakan Beyer (kutipan di atas), Keterampilan Berpikir Kritis tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan muslim, karena:
(1) menentukan kredibilitas suatu sumber --> kalo tidak berani mempertanyakan kebenaran al quran maka bagaimana kredibilitas sumber (al quran) itu sendiri dapat dipercaya;
(2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan --> bagaimana bisa membedakan relevan dengan tidak jika memikirkan kemungkinan akan adanya kesalahan dalam al quran-pun tidak berani;
(3) membedakan fakta dari penilaian --> bagaimana bisa membedakan antara fakta dengan penilaian ketika hati nurani ditutupi fanatisme membabi-buta
(4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan --> bahasa kerennya menafsir yang tersirat dari yang tersurat, dibutuhkan poin (1), (2), dan (3) untuk menguasai poin ini.
Poin (5)-(10) tidak akan dapat dikuasai ketika seorang muslim dalam dirinya telah mengklaim bahwa ajaran islam adalah yang paling sempurna. Sudut pandangnya telah dipagari oleh tembok keakuan islamnya, sehingga dirinya akan selalu menolak tanpa mengevaluasi terlebih dahulu bukti yang ditawarkan. Keadaan ini tidak akan membuka peluang untuk mengidentifikasi terjadinya kesalahan logika (karena logikanyalah yang paling benar) dan celakanya lagi, kondisi ini menyebabkan si muslim ini menganggap argumennyalah yang paling benar.

Jadi dari penjelasan di atas secara singkat dapat diperoleh premis mayornya bahwa di dalam islam berpikir kritis itu sulit dilakukan. Premis minornya islam menyebabkan pendidikan di Indonesia sulit untuk maju. Konklusinya pendidikan di Indonesia gagal oleh islam... :-k (bagus niy buat judul penelitian phd)

Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemikir
Mirror
Faithfreedom forum static
User avatar
Penilai
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 71
Joined: Fri Aug 09, 2013 9:55 am
Location: Kotak Hitam Pembodohan

Re: Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemi

Postby angky » Thu Aug 15, 2013 12:32 pm

usmanabdullah wrote:Ayo yg punya alamat RK bisa segera kirim FFI ke dia...

Ketika dihadapkan dengan fakta menghafal koran, muslim akan berkelit : lho itu kan lain, keajaiban auloh yg wajib di hafalkan.
Muslim lupa menyadari terutama yg besar di pesantren pesantren sejak kecil, kebiasaan menghafal dan menerima tanpa mengkritisi dan bertanya ulang perlahan lahan akan menumpulkan daya kritis. Katanya koran adalah buku sempurna yang didalamnya ada fakta sains dan teknologi, sayangnya TAK SEORANGPUN lulusan pesantren dimuka bumi yg tercatat menjadi seorang penemu sains dan teknologi. :roll:

Inilah 5 Tips Menghafal Al Quran dari Syaikh Al Ghamidi
April 2, 2013 12:13 pm | Nasional

Inilah 5 Tips Menghafal Al Quran dari Syaikh Al Ghamidi

Imam tamu Masjid Nabawi sekaligus qari’ internasional, Syaikh Sa’ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang harus diperhatikan bagi penghafal Al Quran. Tips tersebut harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Dikutip dari Republika, berikut kelima tips tersebut:

Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. “Teman-teman Indonesia harus memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan antum menghafal Al Quran,” kata beliau.

Kedua, ujar Sa’ad, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Al Quran. Lembaga ini berfungsi untuk mengkoordinasi mereka yang ingin menghafal Al Quran agar nantinya tidak patah dan berhenti di tengah jalan.

Ketiga, harus ada metode yang digunakan dan tak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. “Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari,” jelasnya.

Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Al Quran dengan baik dan benar. “Jadi mu’allim harus dilihat juga, apakah bacaannya fasih? Apakah hafalan Al Qurannya baik? Apakah dia bisa menjadi qudwah (tauladan) dari kepribadian dan akhlaknya? Jadi memang diperlukan seleksi yang ketat dalam menentukan mu’allim itu,” jelas Syaikh.

Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Al Quran. Jadi, mereka yang telah merampungkan hafalan Al Quran mereka tidak dibiarkan begitu saja. “Bagi sebahagian madrasah Tahfidz Al Quran hanya menfokuskan santrinya bagaimana mencetak para hafiz Quran. Namun yang tak kalah pentingnya, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi hafiz Quran?” jelas beliau lagi.

Mengulang dan Berkelanjutan

Lupa menjadi kendala terbesar bagi para penghafal Al Quran. Biasanya, para penghafal tidak sabar dan ingin segera mengkhatamkan bacaannya dan kadang terlalu terburu-buru. Sehingga ayat yang telah mereka hafal tidak sempurna dan menjadi cepat lupa.

Syaikh Sa’ad Al Ghamidi menjelaskan, kunci utama dalam menghafal Al Quran adalah terus mengulang hafalan. Ini yang terus dilakukannya walau pun telah selesai menamatkan Al Quran 30 juz.

“(Penghafal Al Quran) harus senantiasa dengan dua hal, tikrar (mengulang) dan istimrar (berkelanjutan). Ia harus terus mengulang hafalan yang telah dihafalnya dan melanjutkan hafalan barunya,” jelas Syaikh.
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3329
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Rhenald Kasali Menghafal Menciptakan Generasi Bukan Pemi

Postby angky » Thu Aug 15, 2013 12:41 pm

Penelitian Rhenald kasali sebenarnya tidak mengagetkan, kalau saja dia pernah mendengar peringatan berikut :

Dan Tuhan telah berfirman: ''Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,

Yesaya 29:13
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3329
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am


Return to CARA BERPIKIR MUSLIM



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users