Oleh: M. Rafiqul-Haqq dan P. Newton
http://www.answering-islam.org/Authors/ ... tions.html
"Need is the mother of invention" artinya kurang lebih ; "kebutuhan adalah pangkal penemuan”. Peribahasa ini sungguh benar. Khususnya jika menyangkut apa yang disebut keajaiban Quran, terjemahannya jadi berubah: "Kebutuhan Pangkal Penyontekan".
Jika Muslim merasa mereka perlu melindungi apa yang mereka percayai sebagai sifat ajaib dari Quran, mereka mengarang/merekayasa :
1. Sejumlah besar hadis
2. Puisi Pra Islam
3. Non-Hijazi dan kata2 asing
4. Aturan2 tata bahasa
Kita mulai dengan yang nomor 1. Pembuatan hadis2, karena ini menjelaskan motif terselubung akan ‘penemuan’ yang dikarang muslim dibidang2 lainnya yang disebut diatas.
1. HADIS2 REKAYASA
Berikut ini kami kutip perkataan akademisi Muslim, Mahmood Abu Rayyah, dalam bukunya Adwa' 'Ala As-Sunnah Al-Muhammadeya. Dalam bab The Godly Fabricators (Pencontek2 Auloh), ia menulis:
Mengarang2 hadis tidak terbatas pada musuh islam saja tapi para mukmininPUN mengarang hadis dengan alasan bahwa yang mereka lakukan ini adalah sebuah perbuatan baik. Dan ketika mereka ditanya, “Bagaimana bisa anda berbohong pada Rasulullah”, mereka menjawab, “Kami tidak berbohong padanya tapi untuknya.”
Karena berbohong hanya dianggap ‘bohong’ jika sudah ditakdirkan demikian. Muslim meriwayatkan atas otoritas Yahya Ibn Said al-Qattan dan dari ayahnya, yang berkata, “Belum pernah kulihat mukminin mengucapkan banyak kebohongan spt yg mereka lakukan dgn hadis.”
Persis seperti kata Muslim: kebohongan mengalir dari lidah mereka tanpa sengaja.
Muslim meriwayatkan Abi Zinad yang berkata, “Kulihat di Madina ada 100 muslim yg bisa dipercaya tapi aku tidak akan mempercayai mereka dlm soal Hadis.” Alhafez Ibn Hagar berkata “Ada orang bodoh yang dipuja2 karena mengarang hadis2 yg mengancam dan memuji”.
Utk membela itu mereka berkata, “Kami tidak berbohong terhadap Rasul, kami melakukan apa yang harus dilakukan agar mendukung tradisi ini.”
Abdallah Annahawandi bilang pada salah seorang pengikutnya, Ahmad, “Dari mana kau dapat hadis yang kau ucapkan agar membuat hati orang2 jadi lunak (Raqa’q)?” Dia menjawab, “Kami mengarangnya agar membuat hati massa itu jadi lunak.”
Ibn Al-Gozi bilang mengenai pengikut Ahmad ini bahwa dia seorang yang disiplin yang menolak segala bentuk materi & hidup hanya dari tumbuh2an dan pada hari kematiannya, pasar2 di Bagdad ditutup.
Ahmad bin Muhammad al-Marouzi, salah seorang tradisionalis jaman itu yang paling setia, dan seorang pembela Sunnah terkuat yang biasa mendekatkan siapapun yang menyimpang dari Sunnah, tapi meski begitu dia suka mengarang2 dan merubah2 hadis.
Bukhari melaporkan dalam bukunya at-Tarikh al-Awsat, riwayat dari Omar bin Sobeyh bin ‘Omran at-Tamimi yang berkata: "Aku mengarang/membuat-buat pidato terakhirnya Nabi."
Dan al-Hakem dalam Madkhal, riwayat Abi ‘Ammar al-Marouzi katanya bilang pada Abi ‘Esmah: Dari mana kau dapat riwayat Akramah dan riwayat Ibn Abbas mengenai kebaikan Quran bab demi bab, sedang pengikut Akramah tidak punya satupun tentang itu?
Jawabnya: “Aku lihat orang2 mulai mengabaikan Quran dan lebih tertarik pada pekerjaannya Abu Hanifa dan Ibn Ishaq, jadi aku karang saja hadis2 ini.” [Mahmood Abu Rayyah, Adwa' 'Ala As-Sunnah Al-Muhammadeya, Dar al-Ma'aref, Cairo, 1980, pp. 111-112.]
Kita disini bukan mendiskusikan hadis2 karangan yang direkayasa musuh2 Islam. Dan kita tidak mendiskusikan beberapa ‘hadis’ yang kenyataannya berasal dari sumber2 buku kristen.
Kita disini membicarakan materi Islam yang murni yang berasal dari otak para pemimpin muslim yang saleh dan suci. Hadis2 karangan ini bukan hanya perubahan kecil disana-sini, tapi seluruhnya berupa karangan. Dan paling penting, karangan ini dilakukan bukan utk menjelekkan Islam dan berbohong ttg Muhammad, tapi utk menyebarkan Islam lewat kebohongan demi Muhammad.
Dalam buku yang disebut diatas, Mahmood Abu Rayyah juga menulis dalam bab How did they justify fabricating the Hadith (Cara mereka membenarkan rekayasa hadis) :
"Para pengarang Hadis tidak mengarang tanpa tulisan2 yg mendukung akan karangan mereka. Tahawi menulis dalam al-Moshkel, riwayat Abu Huraira:
'Jika kau mendengar sebuah hadis yang kau suka dan tidak kau benci, percaya saja, terlepas dari apakah hadis itu kusebutkan atau tidak! Karena yang kukatakan adalah yang disukai, bukan yang tidak disukai. Khalid bin Yazid berkata: Kudengar Muhammad bin Sa’eed ad-Demeshqi berkata: Jika kutemukan tulisan yang baik, saya tidak melihat alasan mengapa saya tidak perlu mencakupkannya sbg isnad (rantai riwayat hadis).' " [Mahmood Abu Rayyah, p. 110].
Jadi dengan ‘niat baik dan ijin terbit ini’ diconteklah ‘kisah2 Kristus’ kedlm hadis2 Sahih Bukhari, vol 9, buku 93, no.559, yang mirip dengan Matius 20:1-16:
Volume 009, Bk 093, No.559:
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar: Kudengar Rasul Allah ketika dia berdiri di mimbar, berkata, “Sisa waktu kalian tinggal (dibumi) sama seperti bangsa2 sebelum kalian, sama seperti waktu antara sholat asar dan magrib. Orang2 (yg diberi) Taurat diberikan Taurat dan mereka bekerja hingga tengah hari dan lalu mereka lelah dan diberi upah mereka, masing2 satu Qirat...
Lalu orang2 yang diberi Injil diberikan Injil dan mereka bekerja sampai waktu sholat ashar, lelah dan berhenti, mereka diberi masing2 satu Qirat.
Lalu kalian muslimin yang diberi Quran, dan kalian bekerja hingga matahari terbenam hinga diberi masing2 dua Qirat (dua kali hadiah dari bangsa2 sebelumnya).”
Lalu orang2 yang diberi Taurat berkata, ‘O Tuhan! Orang2 ini hanya bekerja sebentar saja tapi mendapat hadiah yang lebih besar.” Allah berkata, ‘Apa aku menahan hadiahmu?” Mereka bilang, ‘Tidak.” Lalu Allah berkata, ‘Itu adalah kehendakKu yang aku limpahkan pada siapa Aku mau.'”
Matius 20:1-16:
1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
Doa Tuhan ditujukan pada Muhammad, lihat Sunan Abu Dawud, no.3883; mirip dengan Matius 6:9-13:
Buku 022, Nomor Hadits 3883:
Diriwayatkan oleh AbudDarda: Kudengar Rasul Allah (pbuh) berkata: Jika salah satu darimu menderita apapun atau saudaranya menderita, dia harus berdoa: Tuhan Allahku yang ada disurga, disucikanlah namaMu, Berkuasalah perintahmu disurga dan dibumi, seperti pengampunanmu disurga jadikan pengampunanmu dibumi; ampuni dosa2 kami dan kesalahan2 kami; Kau adalah Tuhan orang2 baik; turunkan pengampunanMu dan tolong kami, lepaskanlah pertolonganMu atas penderitaan ini agar disembuhkan.
Matius 6:9-13 :
9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
Bahkan kata2 Rasul Paulus sekarang juga 'keluar' dari mulut Muhammad, Sahih Bukhari, vol.4, buku 54, no.467, sama dengan 1 Korintus 2:9:
Volume 004, Buku 054, Nomor Hadits 467:
Diriwayatkan oleh Abu Huraira: Rasul berkata, “Allah berkata, ‘Aku disiapkan bagi budak2 salehku hal2 yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak tidak pernah didengar oleh telinga, atau tidak pernah dibayangkan oleh seorang manusiapun.” Jika kau mau, kau bisa melantunkan ayat dari Quran ini: “Tak ada jiwa tahu apa yang disembunyikan bagi mereka, akan kenikmatan pahala utk apa yang mereka sudah lakukan.”
1 Korintus 2:9:
Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Tidak mengherankan kalau muslim suatu hari akan merekayasa Hukum Newton, Gaya = Massa x Percepatan kedalam sebuah hadis dan diriwayatkan seakan berasal dari mulut Muhammad sendiri.
Niat menyimpang tapi “tujuannya baik” ini adalah prinsip dasar mukminin. Jika Quran menghadapi masalah serius, yang diperlukan hanyalah mukminin dengan “tujuan baik” dan berniat mengangkat dan membela kepercayaan mereka, bahkan kalau sampai kedengaran tidak logis sekalipun.
[Note dari translator: Coba anda bayangkan, jika hadis2 yang “baik2” bisa saja dikarang sedemikian mudah, apakah hadis2 yang mengandung hal2 yg tidak sedap atau kelakuan2 “jahat” Muhammad juga bisa dicantumkan dlm hadis ? Jika hadis2 “Jahat” itu hanyalah isapan jempol belaka, pastilah hadis2 tsb sudah dibabat habis oleh para pembela Muhammad. Kemungkinan besar, hadis2 “Jahat” itu memang benar2 terjadi dan diucapkan oleh Muhammad, maka para pengikutnya takut kualat jika melenyapkan hadis2 tersebut. Lagipula hadis2 “Jahat” tersebut banyak yang berstatus mutawatir (periwayatnya ada lebih dari 1 orang), jadi mustahil bagi mukminin utk melenyapkan hadis2 “Jahat” tsb.
2. PUISI2 REKAYASA
Muslimin dalam membela kesalahan tata bahasa Quran memakai apa yang disebut puisi2 pra-islam sebagai gugus pertama pertahanan mereka. Dalam puisi2 ini, penyimpangan tata bahasa yang ditemukan dalam Quran dicocok-cocokkan dengan penyimpangan yang ada dalam puisi2, yg kata mereka sih, berasal dari masa pra-islam.
Beberapa akademisi menyimpulkan bahwa apa yang disebut puisi masa pra islam ini ternyata hanyalah karangan muslim belaka. Disini kita akan merangkum secara singkat penemuan2 seorang akademisi muslim Mesir yang bernama Taha Hussein.
Taha Hussein dalam bukunya Fi al-Adab al-Jaheli berpendapat bahwa:
Sejumlah besar puisi yang disebut pra-islam ternyata tidak ada hubungannya dengan literatur2 masa pra-islam, tapi hanya karangan setelah masa islam. Jadi riset kita akan berujung pada sebuah kesimpulan yang sangat aneh; bahwa puisi ini tidak lah bisa dipakai utk menafsirkan Quran. [Fil-Adab al-Jaheli, Taha Hussein, Dar al-Ma'aref, 16th edition, p. 65, 67.]
Dengan membanding-bandingkan isi dari puisi ‘pra-islam’ dengan Quran, Taha Hussein telah menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai literatur masa pra-islam tidaklah mewakili kehidupan ekonomi, politis, intelektual ataupun religiusitas perioda2 masa pra-islam. [ibid., pp. 70-80]
Taha Hussein telah memakai beberapa riset yang mendokumentasikan bahwa bahasa, yg katanya dipakai pada puisi pra-islam, sangat jauh berbeda dari puisi2 masa pra-islam yang ada dlm dokumentasinya.
Penulis puisi2 ‘pra-islam’ ini tidak bicara atau menulis dengan bahasa Arabnya Quran tapi bahasa Hameereyin karena penulis2 itu berasal dari suku2 Qahatny. [ibid., pp. 80-92]
Dia juga menetapkan bahwa yg katanya 'puisi2 pra-islam' ini adalah karya suku2 yang berbeda karena memakai dialek2 yang berbeda pula. Perbedaan dialek ini tidak bisa dideteksi dalam puisi ‘pra islam’ yang mendukung tata bahasa islam. Orang pastinya berharap puisi2 demikian harus mewakili dialek2 sukunya masing2, jadi puisi yang katanya memakai bahasanya Quran, harusnya juga memakai bahasa dialek Quraish. [ibid., pp. 92-105]
Taha Hussain juga mencatat bahwa para akademisi muslim yang mengutip 'puisi pra islam' utk membuktikan pandangan2 mereka tidak menemukan kesulitan apapun dalam menemukan bagian2 puisi yang mendukung kasus2 mereka; sedemikian, sehingga Taha Hussain merasa bahwa ‘puisi pra-islam’ ini telah direkayasa agar cocok dengan Quran dan Hadis; tidak kurang dan tidak lebih. [ibid., p. 108]
Taha Hussain, mengutip Ibn Sallam yang mengritik Ibn Ishaq dll yang memakai puisi karya Aad dan Thamoud, mengatakan bahwa puisi ini direkayasa. Bukti kuat utk ini ditemukan dalam Quran yang menyatakan bahwa Allah menghancurkan kaum Aad dan Thamoud tanpa seorangpun yang selamat, yg mampu melantunkan puisi mereka bagi generasi berikutnya. [ibid., p. 131].
Perekayasa puisi pra-islam ini bahkan berani bertindak keterlaluan hingga mereka bilang ada puisi2 pra-islam yang dikarang oleh Jin.
Para perekayasa ternyata tidak hanya puas dgn mengarang puisi pra-islam, mereka bahkan merekayasa puisi2 'pra-sejarah,' sebuah syair pujian bagi Habil yang terbunuh oleh Kain, dan dianggap diucapkan oleh Adam, dalam bahasa Arab pula !
Orang bertanya-tanya bgm mungkin kata2 Adam yg begitu puitis sama sekali tidak diketahui (tidak disinggung ataupun dikutip) oleh nabi2 sebelumnya, bahkan Muhammad sendiri tidak mengetahuinya. Baik Yahudi maupun Kristen ataupun kelompok2 lain tidak ada yang tahu tentang keberadaan syair ini. Pengarangnya pastilah menerima wahyu hebat yang bisa menempatkan dia sekelas dengan para nabi. :wink:
Dalam Itqan oleh Suyuti kita melihat adanya sebuah insiden mustahil dimana seseorang datang bertanya pada Ibn Abbas mengenai perkataan aneh dalam Quran dan Ibn Abbas melantunkan sebuah ayat puisi bagi setiap kata2 sulit dalam Quran tersebut, kecuali empat buah kata. [Itqan, chapter 36]
Seakan2 Ibn Abbas adalah orang yg mirip ensiklopedi berjalan ttg perihal puisi, sampai dia dikatakan 'tahu semua puisi yang pernah diucapkan sebelum jamannya mulai dari Yaman hingga Siria.'
Dalam bukunya, Ulum al-Hadits, Dr. Sobhy as-Saleh
bertanya kenapa para muslim awal memakai puisi ‘pra-islam’ dan bukannya memakai Hadis. Ia lalu setuju dengan pernyataan Ustadz Sa’eed al-Afghani, yang menyatakan, “..mereka [para muslim awal] seharusnya tidak perlu memakai puisi2 demikian, puisi yang segera akan diragukan jika diselidiki oleh sains modern sekarang ini.” ['Ulum al-Hadith, Dr Sobhy as-Saleh, Dar al-'Elm lel-Malayeen, Lebanon, p. 333.]
Jadi bukan hanya Taha Hussein saja yang percaya bahwa puisi2 ‘pra islam’ ini hanyalah rekayasa belaka, bahkan para ulama sejamanpun mencurigakan puisi2 ‘pra-islam’ ini.
Bahkanpun jika Taha Hussein salah dalam klaimnya bahwa kebanyakan puisi2 pra-islam hanya karangan jaman pasca islam, paling tidak dari dulu sebagian hadis memang sudah dicurigai sbg isapan jempol.
Jika muslim saja berani merekayasa ratusan dan ribuan baris kumpulan perkataan nabi mereka, bayangkan saja berapa banyak yang akan mereka karang mengenai puisi2 yang katanya dikarang oleh orang2 biasa saja.
-----------------------
Catatan dari translator :
Untuk dua topik berikutnya, yaitu 3. Non-Hijazi dan kata2 asing
4. Aturan2 tata bahasa, tidak akan saya terjemahkan. Saya tidak punya kemampuan utk menerjemahkannya, kayaknya Hillman atau Murtad Mama lebih berkompeten utk itu. [/i]


