gaston31 wrote:gw muslim,
1. a. ya
b. tidak
Kamu tahu nggak, selingkuh itu apa?
Selingkuh itu TIDAK SETIA, serong atau menyeleweng dengan wanita lain. Selingkuh adalah perbuatan yang berhubungan dengan
kejahatan terhadap istri.
Kamu menjawab 1b dengan jawaban "TIDAK". Itu artinya, sampeyan setuju seorang pria SERONG dengan wanita lain, asalkan disahkan dulu dengan "nikah"?
Gaston wrote:2. a. ya
b. ya
Kenapa kalau pria yang berbuat itu, kamu anggap BENAR, sebaliknya kalau wanita yang melakukan itu, kamu anggap SALAH?
Apakah wanita itu lebih rendah kedudukannya daripada pria? Apakah perasaan wanita tidak sama dengan perasaan pria?
Pria berhak sakit hati, sedangkan wanita tidak berhak sakit hati?
Gaston ***** wrote:jika dlm kasus 1.b dianggap selingkuh, apa kesalahan dia? dan bagaimana memperbaiki kesalahan tsb?
Kesalahan dia jelas: (ada 3 kejahatan yg dilakukan)
A. Dia telah tidak setia kepada istrinya (dosa di dalam hati)
B. Dia telah memakai "nikah" sebagai alat untuk membenarkan perbuatan tidak setianya terhadap istri. (dosa karena bersiasat)
C. Dia telah bersetubuh dengan wanita lain (dosa dalam perbuatan)Awloh itu setan, karena dia menyediakan "tool" untuk
menyulap yang salah menjadi tampak seolah benar, dan itu membuat para pria keenakan dan tidak lagi peduli dengan dosanya terhadap istri.
Mari kita analisa diagram Sdr Muhammad Pagi:
b. Seorang suami melirik perempuan lain, menginginkannya, melakukan pernikahan dan akhirnya bersenggama dengannya.
[1] Seorang suami melirik perempuan lain
[2] Menginginkannya
[3] Melakukan pernikahan
[4] Akhirnya bersenggama dengannya
Lihat urut-urutannya.
Nomor [1]
Dapatkah dibenarkan, seorang pria beristri, melirik atau tertarik secara seksual dengan wanita lain?
Apakah pria tipe ini masih bisa dibanggakan sebagai tipe pria ideal yang setia kepada pasangannya?
Bila dari awalnya saja sudah salah, bagaimana Islam yang katanya AGAMA BERMORAL & SEMPURNA ini, bisa mengakalinya dengan membuatkan suatu "tool" atau alat guna menghapus yang salah itu agar kelihatan seolah-olah HALAL?
Yang kita lihat bukan "nikah"nya, tapi apa yang telah pria lakukan terhadap istrinya, yaitu BERKHIANAT, TIDAK SETIA, MENDUA HATI.
Kamu mungkin berpikir, "Saya hanya bertanggung jawab kepada awoh, tidak kepada istri."
Nah, kenapa awloh yang katanya Tuhan itu sangat tidak peduli dengan perasaan istri? Dianggap apakah istri itu di mata awloh?
Tidakkah istri bisa protes dan meminta keadilan kepada TUHAN SEJATI, bahwa suaminya sudah menyakiti perasaannya, sudah mendua hati, sudah mengkhianati cintanya, sudah berbuat serong dengan wanita lain. TUHAN SEJATI sebagai HAKIM YANG ADIL, apa yang akan dilakukanNya kepada SANG PRIA?
TUHAN SEJATI akan menjawab: "Hai pria hidung belang dan tidak setia, apa yang kamu lakukan terhadap istrimu itu sungguh tidak terpuji. Masuklah kamu ke dalam neraka."
Sang pria membela diri: "Saya tidak serong, Tuhan. Saya sudah menikahi wanita itu."
TUHAN SEJATI murka: "Hai orang ****. Kamu sudah serong terhadap istrimu, tapi masih menyangkal bahwa dirimu tidak serong?"
Sang Pria membela diri: "Bukankah engkau sudah memberi kami para pria suatu alat untuk melegalkan perbuatan kami itu? Bukankah engkau mengajarkan: Sebelum bersetubuh dengan wanita yang bukan muhrim, harus diadakan upacara nikah terlebih dahulu?"
TUHAN SEJATI menjawab: "Aku tidak pernah memberi ajaran katrok seperti itu. Itu adalah ajaran Iblis untuk menyesatkan orang-orang **** di bumi. Di dalam kitab sucimu ada dinyatakan secara jelas, bahwa Awloh adalah PENYESAT MANUSIA. Aku sudah memberi isyarat itu kepada kamu, kenapa kamu tidak menyadarinya?"
Sang Pria membela diri: "Bukankah di dalam kitab suci dikatakan juga Awloh itu Tuhan?"
TUHAN SEJATI menjawab: "Aku bukan awloh. Awloh itu cuma nama samaran Iblis. Nah, sekarang, karena kamu sudah berbuat jahat terhadap istrimu, masuklah ke dalam neraka, tempat di mana orang-orang sundal dan orang-orang yang tidak setia tersiksa selamanya."
Ketika 2 insan menjalin hubungan suami istri, maka istri bertanggung jawab kepada suaminya dan suami bertanggung jawab kepada istrinya.
Istri tidak boleh menjahati suaminya, dan suaminya tidak boleh menjahati istrinya. Kalau ada pihak ketiga, sekalipun itu mengaku "Tuhan", memberi legalitas pada salah satu pihak untuk berbuat jahat kepada pihak yang lain, contohnya dalam kasus awloh yang memberi legalitas pada pria untuk mengkhianati istrinya, maka sudah dipastikan pihak ketiga itu, yaitu awloh, adalah IBLIS KEPARAT.
Semestinya PIHAK KETIGA itu menjadi HAKIM, dan bukannya malah menjadi FASILITATOR bagi pria agar bisa selingkuh (menjahati istrinya).
Sang fasilitator perselingkuhan itu, yaitu awloh, sudah dipastikan bukan TUHAN. Awloh adalah sebenar-benarnya PENYESAT MANUSIA, sebagaimana tertulis terang dalam Alquran.
Gaston wrote:pertanyaan lanjutan,
suami ditinggal mati istrinya, lantas menikah lagi. apakah dia berselingkuh? Ya/Tidak
istri ditinggal mati suaminya, lantas menikah lagi. apakah dia berselingkuh? Ya/Tidak
Kita tidak membahas tentang salah satu pihak yang mati, tapi keduanya masih hidup, istri tidak mandul dan masih setia kepada suaminya.
Alquran dengan jelas menuliskan aturannya: Bahwa istri tidak bersalah pun boleh dikhianati oleh suaminya.
AJARAN IBLIS!!!