. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Pembahasan tentang buku² Islam yang tersedia di berbagai toko buku di Indonesia. Isi buku² ini membenarkan penjelasan FFIndonesia tentang wajah Islam dan ajaran Muhammad yang sebenarnya.

Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby M-SAW » Sat Jan 20, 2007 3:59 pm

Perbedaan Pendapat adalah Rahmat??
Pernah dengar ? Islamikah ?

Mari kita lihat dari 2 buku islam berikut ini :

Buku pertama :
Anda Bertanya,Sabili menjawab


Buku ke dua
Bukan Sabda Nabi


Lansung saja ya ...
Dari buku pertama :

138.Perbedaan Pendapat adalah Rahmat?

Tanya:
Saya ingin bertanya tentang hadits yang berbunyi "perbedaan pendapat itu adalah rahmat". Apakah hadits itu benar-benar dhaif dan palsu? Dapatkah pengasuh rubrik ini menunjukkan pada kitab hadits mana, perawinya siapa, sanadnya, dan pendapat para ulama hadits tentang kuat atau tidaknya hadits ini untuk dijadikan sebagai hujjah. Bukankah hadits ini, menurut saya, sangat masyhur dan sering kita dengar dari para ustadz?

M. Said B-Berau Kalimantan Titaur



Jawab:
Hadits yang dimaksud berbunyi: "perbedaan di antara umatku adalah rahmat". Hadits ini dinyatakan oleh dan al-Muhaddits Syekh Nashiruddin al-Albani dan Dr Yusuf al-Qaradhawi, LMa ash/a lahu (tidak ada dasarnya, sumbernya).

Dengan demikian, dapat disebut hadits maudhu' (palsu). Maudhu' adalah tingkatan tertinggi dari hadits dba'if (lemah). Bahkan, sebagian ulama menempatkannya secara tersendiri, mengingat betapa besarnya
kelemahannya.

Selain itu, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, riwayat ini bertentangan dengan firman Allah, "Berpeganglah kamu pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai," (QS Ali Imran: 103).
Semata-mata terkenal (masyhur), tidak menentukan shahih tidaknya suatu hadits.

Baik masyhur secara istikh ilmu hadits (hadits yang sanadnya diriwayatkan oleh minimal 3 s/d 10 rawi pada setiap tingkatan), maupun secara non istilah ilmu hadits (sekadar terkenal di kalangan masyarakat), tidak memengaruhi shahih tidaknya sebuah hadits. Begitu banyak hadits yang terkenal di tengah masyarakat, ternyata setelah diteliti, terbukti lemah atau palsu.
Note : jangan2 yang malsuin kristen dan yahudi ..xixixi

Karena itu, selayaknya para mubaligh tidak menyebutkan riwayat ini sebagai hadits dari Rasulullah saw, karena terbukti lemah dan palsu. Dengan menyebutkan ungkapan ini sebagai hadits, kita khawatir termasuk dalam larangan Rasulullah, "Siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka," (HRBukbari, No. 107).Wallahu a'lamM


---------------------------

Dari buku ke dua :

[8] Perkataan:
"Perbedaan pendapat umatku adalah sebuah rahmat."129
Penutur maqalah ini adalah Qasim bin Muhammad.130

129 Ibnu Hazm berkata, "(Ini hadits) batil lagi dusta." Al-lhkam ( 5/642); Muhammad Shiddiq AI-Ghimari, AI-Mughir 'a/a Al-Jami' Ash-Shaghir, hal. 16; Az-Zarkasyi, At-Tadzkirah, hal. 64; As-Suyuti, Ad-Durar, hal. 28; AI-Qari, AI-Asrar, hal. 51; AI-Albani, As-Silsilah Ahadits Adh-Dha'ifah (1/76, hadits no. 57). la berkata, " Laa ashla lahu." Ulama hadits berusaha mencari isnad-nya, tetapi tidak berhasil."

130 AI-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang imam, teladan dan terpercaya. Lahir pada pemerintahan Ali ra. Ulama terbaik di zamannya. Wafat tahun 107 H.


Keterangan:

Sepeninggal masa pemerintahannya Khulafaur Rasyidin yang berjurrilah empat khalifah itu, maka banyak kalangan umat Islam terjebak dalam silang pendapat masalah ibadah. Gejala ini amat bertentangan dengan misi dan ruh Islam serta seruannya yang mengajak kepada kemuliaan. Beda pendapat memang suatu hal yang tercela dalam pandangan syari'at yang telah jelas dan gamblang ini.

la juga merupakan bentuk propaganda batil dengan sengaja dihembuskan untuk melemahkan serta menggoyahkan umat, bahkan dapat menceraiberaikan fokus perhatiannya.
Ibnu Hazm mengomentari pernyataan di atas, "Ini ungkapan yang amat tak bermoral. Alasannya, jika perbedaan pendapat merupakan rahmat, berarti kesepakatan mendatangkan kemurkaan. Sebagai orang Islam tidak akan mengatakannya, sebab hanya (ada dua kemungkinan); satu kata dalam mufakat atau beda pendapat, rahmat atau kemurkaan Allah swt. Adapun hadits di atas adalah batil dan dusta, bersumber dari manuver orang yang fasik."131.
131 Al-lhkam fi Ushulil Ahkam (5/642).

Yang benar adalah, bahwa Allah swt telah melarang kita semua untuk saling berbeda pendapat atau berselisih.
Allah swt berfirman, "Dan Janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa berat." (QS. Ali Imran: 105)
Dari ayat ini bisa dipahami bahwa, perbedaan pendapat tidak mungkin menjadi rahmat (bagi umat). Allah swt berfirman, "Tapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu..." (QS. Hud: 118-119).
Pernyataan ini pada dasarnya muncul dari ahli bid'ah untuk mendapatkan akses mewujudkan tujuan mereka yang sesat, dan pemikiran mereka yang sedang sakit. Seandainya perbedaan pendapat menjadi cerminan rahmat, maka kesepakatan (konsensus) tersebut akan mengakibatkan suatu musibah. Orang yang berakal tidak akan mengatakan ini.

Al-Albani dalam menjernihkan permasalahan ini telah mengemukakan kesimpulannya, bahwa perbedaan pendapat memang suatu hal yang tercela dalam pandangan syari'at. Sedang-kan sikap yang seharusnya kita tindak lanjuti dalam menanggapi fenomena ini hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin menghindari perpecahan, dan perbedaan. Sebab hal inilah yang merupakan faktor penyebab lemahnya suatu umat. "Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatanmu." (QS. AI-Anfal: 46).

Adapun sikap merelakan begitu saja tentang munculnya perbedaan, bahkan menyebutnya sebagai sesuatu yang membawa rahmat bagi umat adalah bertentangan dengan dengan ayat-ayat mulia yang telah secara tegas mencela tindakan beda pendapat itu.

Dengan demikian maka ungkapan di atas tidaklah berdasar pada sanad yang benar.
Tegasnya, hadits tersebut tidak memiliki asal usul secara benar dari Rasulullah saw.132.
132.[i]HR. Bukhari, Fat-hut Ban (5/70, hadits no. 2410).

Keterangan yang shahih yang menjelaskan adanya perbedaan pendapat dalam bidang furu'iyyah (cabang-cabang masalah keagamaan) adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Aku mendengar seorang laki-laki yang sedang membaca ayat, tetapi ayat itu berbeda versi dengan ketika aku pernah mendengarnya langsung dari Nabi saw, lalu aku menangkap dia serta membawanya kepada Rasulullah saw. Waktu itu Rasulullah saw bersabda kepada kami, "Masing-masing dari kalian adalah sama baiknya (sama-sama benar bacaannya)." Syu'bah berkata, "Aku berperasangka bahwa waktu itu Nabi saw bersabda:
"Janganlah kalian semua berbeda pendapat. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dulu saling berbeda pendapat kemudian mereka mengalami kerusakan!"133.
133 Al-Albani, As-Si/silah AI-Ahadits Adh-Dha'ifah,

Perbedaan pendapat yang dilarang dalam hal ini adalah yang dapat menimbulkan permusuhan dan berdampak timbulnya mencari-cari kesalahan sesama saudara muslim. Adapun terjadinya perbedaan dalam sudut pandangan dan pemikiran, maka hal ini tidak termasuk dalam kategori ungkapan ini. Oleh karena itu Rasulullah saw mengomentari Ibnu Mas'ud dan lelaki itu dengan mengatakan, "Kalian berdua sama-sama berada dalam posisi yang benar", padahal keduanya berbeda bacaannya.




Sekian
M-SAW
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5244
Joined: Wed Aug 23, 2006 3:59 pm
Location: :)

Postby up1234go » Sat Jan 20, 2007 9:22 pm

bisa tidak di scan sebagian. saya ingin tahu isinya.
up1234go
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1910
Joined: Tue Jul 04, 2006 12:05 pm

Postby ali5196 » Tue Aug 07, 2007 8:03 pm

ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby M-SAW » Tue Sep 25, 2007 9:38 pm

http://wiramandiri.wordpress.com/2007/0 ... tu-rahmat/

    Penulis: Al Ustadz Abu Abdurahman Abdul Aziz

    Perselisihan dan kontradiksi pendapat yang mewarnai umat ini, seakan sudah menjadi perkara yang dianggap lumrah. Slogan-slogan dari sebagian orang yang mengatakan: “Perselisihan itu adalah rahmat, jadi diantara kita harus memiliki rasa toleransi”, atau “Kita saling tolong-menolong pada hal-hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi pada hal-hal yang kita perselisihkan” pun turut menghiasi, seakan menyetujui perselisihan yang kian larut ini.

    Sekilas slogan-slogan tersebut memberi kesejukan dan ketenangan jiwa manusia. Dengan dalih “… Walaupun berselisih atau berbeda pemahaman, yang penting ukhuwah (persaudaraan) tetap terjalin.” Walhasil ketika bermuamalah, mereka berusaha untuk tidak menyentuh perkara yang diperselisihkan demi menjaga keutuhan ukhuwah. Sekalipun perkara tersebut adalah sesuatu yang prinsip (jelas) hukumnya dalam agama. Sehingga amar ma’ruf nahi munkar sulit dijalankan, karena adanya rambu-rambu toleransi ala mereka.

    Mereka tak sadar –bahwa dengan sikap seperti itu- justru melanggengkan perselisihan yang tajam pada umat ini. Bila kita melihat realita yang ada, tidak sedikit dari kalangan muslimin yang terperosok jauh akibat perselisihan tersebut. Mereka tidak bisa menerima dan menjalani konsekwensi dari slogan-slogan di atas tadi (“perselisihan adalah rahmat” dan lain-lain). Perselisihan pun menjadi kian meruncing nan tajam.

    Bahkan di antara mereka terjatuh dalam pertikaian, permusuhan, bersitegang urat sampai pada bentrokan fisik. Karena masing-masing pihak merasa bangga dan ingin memenangkan pendapat yang dipeganginya.

    Semisal dalam hal pemilihan madzhab diantara imam yang empat. Baik dalam perkara aqidah, fiqih maupun muamalah. Sebagai contoh: “Si A tidak mau sholat di masjid yang berbeda madzhab” atau “si B tidak mau bermakmum di belakang si C karena madzhabnya berbeda”. Dan contoh-contoh lain yang telah melanda kehidupan umat Islam. Lalu apakah perselisihan yang demikian ini dikatakan sebagai “rahmat”?

    Perkataan Ulama tentang Hadits ini
    Al-Hadits merupakan sumber rujukan utama umat Islam setelah Al-Qur’an. Kedudukan Al-Hadits sedemikian penting, maka mengetahui kesahihan (kebenaran)nya adalah suatu konsekwensi logis. Namun dalam menentukan suatu hadits itu sahih atau tidak, bukanlah hal sepele. Oleh karena itu kita dilarang untuk sembarangan menukil hadits, jika belum pasti kesahihannya.

    Ahlul Hadits adalah para ulama yang mereka memahami ilmu-ilmu seputar permasalahan hadits. Baik dari segi matan/redaksi hadits maupun sanad (deretan/rangkaian para perawi hadits yang bersambung sampai kepada Rasulullah). Ahlul Hadits berupaya keras untuk mengumpulkan, meneliti dan memisahkan hadits yang sahih dari yang dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu). Berikut penulis nukilkan perkataan Ahlul Hadits tentang sebuah hadits masyhur: “Perselisihan Umatku adalah Rahmat”.

    Asy Syeikh Al Muhadits Nashiruddin Al Albani rohimahullah dalam Silsilah Ahadits Adh Dho’ifah mengenai “hadits” ini, beliau berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya”. Para muhadits sudah berupaya keras untuk mendapatkan sanad hadits ini tetapi mereka tidak mendapatkannya. Sampai beliau (Al Albani) berkata: “Al Munawi menukil dari As Subki bahwa dia berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh para muhadits, dan saya belum mendapatkannya baik dalam sanad yang sahih, dho’if, atau maudlu’. Syaikh Zakariya Al Anshori menyetujuinya dalam ta’liq atas Tafsir Al Baidlawi 2/92 Qaaf (masih dalam manuskrif).

    Makna hadits ini pun diingkari oleh para ulama peneliti hadits. Al ‘Allamah Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya Al Ihkam fi Ushulil Ahkam Juz 5/hal 64 setelah beliau mengisyaratkan bahwasanya “ucapan” itu bukan hadits: “Ini adalah ucapan rusak yang paling rusak. Karena jika perselisihan itu rahmat, tentu kesepakatan itu sesuatu yang dibenci dan tidak ada seorang muslim pun yang mengatakan demikian. Yang ada hanya kesepakatan atau perselisihan, rahmat atau dibenci. Di kesempatan lain beliau mengatakan: “batil dan dusta”. (Silsilah Ahadits Adh Dho’ifah juz 1, hadits no 57 hal 141)

    Dalam kitab Zajrul Mutahawin bi Adz Dzoror Qo’idatil Ma’dzaroh wa Ta’awun hal 32, yang ditulis oleh Hamad bin Ibrohim Al Utsman dan kitab ini telah dimuroja’ah (diteliti ulang) oleh Asy Syeikh Al Allamah Sholeh bin Fauzan Al Fauzan. Disebutkan bahwa: “Hadits ini lemah secara sanad dan matan. Tidak diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits dengan lafadz ini. Adapun yang masyhur adalah hadits “Perselisihan para shahabatku adalah rahmat”. Dan sebagian dari ulama ahli ushul menyebutkan hadits tersebut sebagaimana yang dilakukan Ibnul Hajib di dalam Mukhtashornya tentang ushul fiqih.

    Berkata Abu Muhammad ibnu Hazm: “Adapun hadits yang telah disebutkan “Perselisihan umatku adalah rahmat” adalah kebatilan dan kedustaan yang bermuara dari orang yang fasik.” (Al Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/61) Al Qoshimy mengomentari (sanad dan matan) hadits ini, dalam kitab Mahasinut Ta’wil 4/928: “Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa hadits ini tidak dikenal kesahihan sanadnya. At Thobrony dan Al Baihaqy meriwayatkannya di dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang lemah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

    Adapun ‘ilat (kelemahan) hadits ini adalah:
    1. Adanya perawi yang bernama Sulaiman bin Abi Karimah, Abu Hatim Ar Rozy melemahkannya.
    2. Perawi yang bernama Juwaibir, dia seorang Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dinyatakan Nasa’i, Daruquthny. Dia meriwayatkan dari Adh Dhohhak perkara-perkara yang palsu termasuk “hadits” ini.
    3. Terputusnya (jalur riwayat) antara Adh Dhohhak dan Ibnu ‘Abbas.

    Berkata sebagian ulama: “Hadits ini menyelisihi nash-nash ayat dan hadits, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang yang dirahmati Robbmu” dan sabda Rasulullah “Janganlah kalian berselisih, maka akan berselisih hati-hati kalian” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan dikeluarkan di dalam Sunan Abu Daud oleh Asy Syeikh Al Albani) dan hadits-hadits yang lain banyak sekali. Maka kesimpulannya bahwa kesepakatan (di atas kebenaran) itu lebih baik daripada perselisihan.

    Penutup
    Setiap muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir, niscaya akan menyatakan bahwa dirinya cinta kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Namun cinta tidaklah cukup di lisan saja. Bahkan harus diwujudkan dalam amal perbuatan. Salah satu bukti cinta kita kepada Beliau adalah tidak lancang/berani dalam menukil suatu ucapan, lalu mengatasnamakan Rasulullah. Hendaklah takut akan ancaman Beliau:
    “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia menempatkan tempat duduknya dari api neraka”. (HR.Bukhori)

    Alhamdulillah dari penjelasan Ahlul Hadits di atas, dapat diketahui bahwa hadits “Perselisihan umatku adalah rahmat” ternyata bukan merupakan sabda Rasulullah. Atau disebut juga hadits maudhu’. Padahal hadits ini sangat tenar dan menyebar bahkan menjadi pegangan para aktivis dakwah. Namun sebagai seorang muslim yang mau menerima kebenaran, tentulah akan bersegera meninggalkan hadits ini, sebagai salah satu wujud cinta dia kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Allah berfirman: “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imron: 103)

    Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul (di atas kebenaran).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/367)

    Sesungguhnya tidak terdapat satu dalilpun dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa perselisihan itu adalah rahmat. Maka sikap menyetujui perselisihan dan menganggapnya sebagai rahmat, justru menyelisihi nash-nash mulia, yang jelas-jelas mencela terjadinya perselisihan. Adapun yang ridho dengan perselisihan tersebut, tidaklah mereka memiliki sandaran dalil melainkan berpegang pada “hadits” yang maudhu’ ini. Wallahul muwafiq ila sabilish showab.

    (Sumber: Buletin Jum’at Al Jihad, diterbitkan Yayasan As Salaf Samarinda. Telpon (0541) 7010648. Penulis Al Ustadz Abu Abdurrahman Abdul Aziz As Salafy. Judul asli “Kedudukan dan Penjelasan Hadits “Perselisihan Umatku adalah Rahmat”. )
M-SAW
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5244
Joined: Wed Aug 23, 2006 3:59 pm
Location: :)

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby Umar bin Khatab » Mon Mar 16, 2009 9:35 pm

HAYOOOO
SIAPA YG SUKA MENGATAKAN HAL TSB?
DOSA TAU
PERBEDAAN ITU
B
U
K
A
N
RAHMAT
Umar bin Khatab
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 244
Joined: Thu Nov 30, 2006 11:19 am

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby Mufassiri » Fri Nov 20, 2009 7:47 pm

Hehehehehhhh.

Perbedaan yang mana?
Ali bin Abi Thalib yang Khulafaurrasyidin (Khalifah negara Islam yg ke 4) berantem dengan Siti Aisyah yang Ummul Mukminin (ibu kaum muslimin) beberapa tahun setelah Nabi wafat. Mereka berantem dalam Perang Berunta. Masing-2 pihak mengalami kerugian yi 5000 orang mampus di pihak Aisyah dan 5000 di pihak Ali. Rahmat = 10.000 orang mampus?

Ini pertanyaan gue sejak kecil 36 tahun y.l. Gue baca Sejarah Islam abang gue yg waktu ntu sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama). Lha gue masih kelas 5 SD yg lagi getol-2nya hobi baca. (Waktu itu belon ada hp, komputer, game. apalagi warnet). Jadi hiburan satu-2nya adalah membaca. Aebelon abang gue habis baca sejarah islam. gue udah baca 2 - 3 kali.

So. Tiap kali ada gue denger ada usradz bilang perbedaan itu Rahmat, gue selalu berkerut.

Adalagi sontoloyo yg bilang tugas Muhammad sudah lengkap terpenuhi!! Baca lagi sejarah islam nyong!!

Sejak Muhammad modar, yang terjadai adalah bunuh-2an terus gak ada habisnya sampai sekarang. Entah dengan al kafirun ataupun dengan sesama muslim.

Ada dua perang antar mukminin yg parah. Yaitu mampusnya cucu Nabi Muhammad Hasan wa Husein melawan Yazid dari bani Umaiyyah. Lalu Golongan Yazid disebut Sunni dan golongan anak buah Hasan Hussein menyebut dirinya Syiah. Apa ini disebut tugasnya udah lengkap? Gue setuju kalau tugasnya Muhammad memang disuruh Allah buat membikin manusia saling bunuh. Setuju 100%

So, kalau gue tetep Islam kemungkinan benarnya cuma fifty-fifty. Sebab dua glongan itu saling mengkafirkan. Itupun kalau Islam benar.

Yang ke dua adalah pergantian Bani Umaiyyah ke Bani Abasyiah.
Bani Umayyah dihabisi sampai ke orok-orok yg masih merah oleh Kelompoknya Abbas sehingga dia sampai disebut Abbas Assyafah. Abbas si Penumpah darah. Itu manusia yang dihabisi lebih dari ribuan orang. Satu kesultanan disembelih semua. Itu juga karena perbedaan dalam Islam.

Hmmmm. Islam memang Rahmatan Lil Alamin. Bahkan perbedaan diantara orang Islam sendiri sudah bikin jutaan manusia disembelih.

Belom lagi yang di bom atau ditembaki di jaman pergantian dari kesultanan Ottoman ke Republik Turki. Tapi gua salut ama Kemal Attaturk yang bikin Turki jadi republik sekuler hingga dari 'Negara Eropa Kering/miskin' menjadi lumayan makmur. So di Turki, Sekularisasi adalah Rahmat. Islam = biang kemiskinan dan sengsara.
Eit jangan berhenti dulu, Islam = biang kemiskinan dan sengsara dimanapun di muka bumi ini!!

Sooja
Mufassiri
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 82
Joined: Sat Apr 18, 2009 8:21 pm

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby Akukomkamu » Fri Nov 20, 2009 8:04 pm

Perbedaan Pendapat adalah Rahmat? Benar , karena dr perbedaan itu bumi mendapat Rahmat nya dengan berkurangnya populasi manusia . Jadi islam itu sebenarnya agama pecundang yg dibikin untuk menjaga keseimbangan dunia aja...hehehehe.
Dah tau agama pecundang tapi masih ada manusia2 yg mengikutinya , nah itulah keajaiban sang PENCIPTA .
Akukomkamu
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby da'watul Islam » Sat Jan 02, 2010 7:24 pm

boleh jadi palsu,boleh jadi lemah..tp lau lemah masih boleh dipakai,kan??(amalan dan bukan sbg dalil)
yg saya faham,"perbedaan" pendapat adalah dalam soal pandangan spt perbedaan pendapat yg melahirkan pelbagai mazhab dlm Islam(syafi'ie,zahiri dll)..
tiada siapa boleh kata siapa sesat/ahli neraka kerana Islam melarang prasangka dan kelak yg akan masuk syurga hanya 3 puak(1puak dari 73 puak org Islam,1puak dari 72 puak org nasrani dan 1 puak dari 71 puak org Yahudi)..even pendapat ulama mengatakan bahwa syiah imamiyah itu sesat namun yg sesat puaknya(kerana pegangannya) bukan individunya,maksud saya individu itu bisa berubah dan atas rahmat Allah dia menjadi ahli syurga(xleh prasangka sbb kita xtahu hujung akhir kita dll bgmn)
apakah yg dijadikan ukuran sbg petanda sempurnanya Islam??setau saya Islam sempurna setelah sempurna penurunan atau pewahyuan al-Quran 30juz kepada baginda Nabi sallalLahu 'alaihi wa sallam..wallahu a'lam
da'watul Islam
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 70
Joined: Tue Dec 29, 2009 12:20 am

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby murtad mama » Sat Jan 09, 2010 2:54 pm

da'watul Islam wrote:boleh jadi palsu,boleh jadi lemah..tp lau lemah masih boleh dipakai,kan??(amalan dan bukan sbg dalil)
yg saya faham,"perbedaan" pendapat adalah dalam soal pandangan spt perbedaan pendapat yg melahirkan pelbagai mazhab dlm Islam(syafi'ie,zahiri dll)..
tiada siapa boleh kata siapa sesat/ahli neraka kerana Islam melarang prasangka dan kelak yg akan masuk syurga hanya 3 puak(1puak dari 73 puak org Islam,1puak dari 72 puak org nasrani dan 1 puak dari 71 puak org Yahudi)..even pendapat ulama mengatakan bahwa syiah imamiyah itu sesat namun yg sesat puaknya(kerana pegangannya) bukan individunya,maksud saya individu itu bisa berubah dan atas rahmat Allah dia menjadi ahli syurga(xleh prasangka sbb kita xtahu hujung akhir kita dll bgmn)
apakah yg dijadikan ukuran sbg petanda sempurnanya Islam??setau saya Islam sempurna setelah sempurna penurunan atau pewahyuan al-Quran 30juz kepada baginda Nabi sallalLahu 'alaihi wa sallam..wallahu a'lam


step by step dulu mak cik ...

dalil ko yang saya boldkan tuh diatas dapat dr mana mak cik? dari congor ko kah atau ada refrensi lain?
apa ko nie ahli hadeeth? kalo ahli hadeeth dah beri amaran bahwa tu hadeeth maudhu (palsu), kenapa kamu bilang "boleh jadi palsu, boleh jadi lemah"

apa ja syarat2 hadith bisa dikatakan shaheh?

syarat yg utama, adalah tidak boleh bertentangan dengan Qoran, sedangkan hadeth itu bertentangan dgn Qoran sudah pastila palsu, kalaupon palsu napa ko mau jadikan sebuah amalan?
User avatar
murtad mama
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4284
Joined: Tue Feb 06, 2007 7:16 pm
Location: Jl veteran 48 Kota Bekasi 17141 Jawa Barat <==== Alamat VOA-Islam :) :) :)

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby da'watul Islam » Sat Apr 03, 2010 12:34 pm

maaf,silap saya..tak dinafikan hadith itu maudhu', saya cuma mau mengatakan mengenai maksud perbedaan yg saya fahami..moga Allah ampunkan kta semua selagi tidak menyekutukan-Nya..
da'watul Islam
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 70
Joined: Tue Dec 29, 2009 12:20 am

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby slowrock » Wed Apr 07, 2010 4:22 pm

hadith itu palsu/lemah kalo hadith tersebut bisa dijadikan alat untuk menjelek2an islam :supz:
slowrock
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 424
Joined: Tue May 06, 2008 2:21 am

Re: Perbedaan Pendapat adalah Rahmat ?

Postby Rony » Thu Jul 01, 2010 10:01 am

slowrock wrote:hadith itu palsu/lemah kalo hadith tersebut bisa dijadikan alat untuk menjelek2an islam :supz:



Yeahh (ikutan) :supz: :supz:

Perbedaan pendapat ? hmmmm ... [-( [-( [-(
User avatar
Rony
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 227
Joined: Sun Apr 04, 2010 9:17 am
Location: Di Tepi Bumi ...


Return to Buku² Islam Indonesia oleh Penulis² Muslim



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users