. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

PAKAIAN MUSLIMAH YANG ISLAMI

Forum ini mengenai (1) kehidupan dan perilaku seksual Muhammad dan (2) isi dan penerapan hukum2 seksual Islam dalam masyarakat Muslim.

PAKAIAN MUSLIMAH YANG ISLAMI

Postby talenta » Sat Apr 19, 2008 8:28 am

KATANYA : Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah.
Karena itu di dalam Islam:
1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah.
2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya).
3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya.

Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh.

Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah.

PAKAIAN BAGI MUSLIMAH

KATANYA : Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Menutup aurat;
2. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab, khumur, mihnah dan memenuhi kriteria irkha’);
3. Tidak tembus pandang;
4. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya;
5. Tidak tabarruj;
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki;
7. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.


Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan:

1. Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus.
2. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan.

Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum. Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya, kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim.
Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Kewajiban menutup aurat, seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
b. Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum, yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah), yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki.
c. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh, kecantikan dan perhiasan di depan laki-laki non muhrim atau dalam kehidupan umum).
d. Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki.

Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj, sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah, kulot panjang dan lain-lain, Qs. an-Nûr [24]: 60).

Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom, maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum), di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang).

AURAT WANITA

Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu:
1. Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim).
2. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan, seperti: kepala seluruhnya, tempat kalung (leher), tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut, payudara, kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut.

Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT:

“….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali…” (Qs. an-Nûr [24]: 31).

Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan, tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah), karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan, jadi menyangkut anggota badan.

1. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, yaitu:

“….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nûr [24]: 31).

Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat, haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. Tafsir mengenai hal ini, Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan, juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, jld. 18, hal. 94). Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar:

“Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud, No. 3580].

Qs. an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul.

Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup, maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat, tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu:
1. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat).
2. Pakaian itu dapat menutup kulit, sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya, yaitu apakah kulitnya putih, merah, kuning, hitam dan lain-lain. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. Jika pakaian itu tipis misal brokat, kerudung tipis, kaos kaki tipis, rukuh tipis dan lain-lain, sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu, maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya. Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra, beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda:

“Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” [HR. Abu Dawud, no. 3580].

Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka, sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah:

“Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya.”

Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya, beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya:

“Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya.”

Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya, tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis, sehingga kelihatan warna kulitnya.

Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut, daster dan lain-lain.

Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid, pasar, jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj, terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki), bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah, kulot panjang dan lain-lain. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab, oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. an-Nûr [24]: 60). Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. Oleh karena itu celana panjang, kaos kaki panjang, kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya.

PAKAIAN MUSLIMAH DALAM KEHIDUPAN UMUM

Dalam kehidupan umum, yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom, maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna, yakni:
1. Menutup aurat;
2. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab, khumur, mihnah dan memenuhi kriteria irkha’);
3. Tidak tembus pandang;
4. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya;
5. Tidak tabarruj;
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki;
7. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.

Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya, dan janganlah menampakkan perhiasanyaa, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’.” (Qs. an-Nûr [24]: 31).

Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya.

Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala, dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah, terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada.

Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut:
(1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT:

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

(2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT:

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj), dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nûr [24]: 60).


(3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab, Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. Berkata:

Rasulullah memerintahkan kepada kami, nenek-nenek, wanita yang sedang haid, wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”, Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (HR. Muslim, no 1475].

Pada Qs. al-Ahzab [33]: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab.

MEMAHAMI PENGERTIAN JILBAB

KATANYA : Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits, namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). Dalam kamus arab Al-Muhith, jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita, yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah), bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah). Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah. Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs. an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab.

Dari Qs. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab), berarti tersisa mihnah, hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan, bentuk tubuh, perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang, daster, kulot panjang dan lain-lain, tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung, mihnah dan jilbab.

Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah), sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”, maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah.

Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain, jld. III, hal. 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan, sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki). Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.”

Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan, tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki), tidak boleh kurang dari itu, oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu, maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’, yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu, berjalan di sekitar rumah, maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda, motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki, sepatu dan lain-lain.

MEMAHAMI PENGERTIAN TABARUJJ

KATANYA : Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT:

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nûr (24): 60).

Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak. Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab), tanpa bertabarruj.

Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan, kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian, warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan.

Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan, kecantikan, bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan,pasar, mall, dll. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj, maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj.

Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT:“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (Qs. an-Nûr [24]; 31).
Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj, yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut, yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj, yaitu menonjolkan perhiasan.

Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj, sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan, kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan, keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi:

“Wanita yang memakai parfum, kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina.”

Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw:
“Dua golongan penghuni neraka, saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggak-lenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta, maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya.”

Kata telanjang, berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya. Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias, namun bermakna menonjolkan perhiasan.

Adapun mengenai perhiasan, maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya, hal ini sesuai dengan kaidah syara’, Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah.

Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, wanita yang rambutnya minta disambungkan, wanita yang mentato, dan wanita yang minta ditato.”

Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom).

Bersambung...........
Last edited by talenta on Sat Apr 19, 2008 9:57 am, edited 1 time in total.
User avatar
talenta
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1761
Joined: Mon Feb 11, 2008 7:27 am
Location: NKRI

Postby talenta » Sat Apr 19, 2008 9:08 am

MARI KITA MEMBUAT RANGKUMAN DISERTAI GAMBAR

talenta wrote:PAKAIAN BAGI MUSLIMAH

KATANYA : Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Menutup aurat


YANG BEGINI MENUTUP AURAT TIDAK YAH ? ? ?
Katanya RAMBUT Juga tidak boleh diperlihatkan ?
Image

Si Ibu muda ini, tengok ketek kemana-mana, dada kemana-mana.
Pulang umroh juga lhooo dia ...
Image


talenta wrote:2. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab, khumur, mihnah dan memenuhi kriteria irkha’)


PAKAIAN MUSLIMAH YANG SATU INI APAKAH MEMENUHI SYARIAH ?
We all know....beliau baru pulang UMROH Lhoo... :)
Image

talenta wrote:3. Tidak tembus pandang


DARI ATAS KEBAWAH MEMANG DIBUNGKUS KAIN....TEMBUS PANDANG KAN...
Image


talenta wrote:4. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya


Yang begini masuk MENUNJUKKAN LEKUK TUBUH ATAU TIDAK ?
Masih ada yang sangat jelas NGE-JENDOL dibagian dada tuh ?
Image

Masih kelihatan jelas Lekuk PAHA-nya Si Mbak-Mbak ini
Image

talenta wrote:5. Tidak tabarruj

INI MASUK TABARUJJ APA NGGAK YAH ?
Image
Image

talenta wrote:6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki

JILBAB ALA ROCKER INI MENYERUPAI LELAKI APA NGGAK YAH ?
Image

Jilbab yang dikenakan Para PEMAIN BOLA ini apakah Tidak Menyerupai Lelaki ?
Image

Bersambung....
User avatar
talenta
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1761
Joined: Mon Feb 11, 2008 7:27 am
Location: NKRI

Postby talenta » Sat Apr 19, 2008 10:16 am

MARI MEMBUAT RANGKUMAN ANTARA JILBAB YANG SESUAI DAN TIDAK SESUAI DENGAN SYARIAH

talenta wrote:Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan, tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah.....DAN....Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki), tidak boleh kurang dari itu, oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu, maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah)


JILBAB YANG SESUAI DENGAN SYARIAH
Image

JILBAB YANG TIDAK SESUAI DENGAN SYARIAH
Image
Image

----------------------------------------

P E R T A N Y A A N :
:arrow: Apakah FAKTOR KESULITAN YANG UTAMABagi MUSLIMAH untuk mematuhi PERINTAH Ber-Jilbab ?
:arrow: Apakah FAKTOR KESULITAN YANG Utama bagi ISLAM untuk membuat MUSLIMAH-nya benar-benar BISA PATUH Pada aturan-aturan mengenai JILBAB YANG ISLAMI ??
---------------------------------------------


PAKAIAN MUSLIMAH YANG SUDAH MENOPAUSE

talenta wrote:Dari Qs. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab), berarti tersisa mihnah, hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan, bentuk tubuh, perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang, daster, kulot panjang dan lain-lain, tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung, mihnah dan jilbab.

Dari Qs. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab), berarti tersisa mihnah, hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan, bentuk tubuh, perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang, daster, kulot panjang dan lain-lain, tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung, mihnah dan jilbab.


Kira-kira Si Mamak-Mamak ini SUDAH MENOPAUSE belum yah ?

Image

Image

Bukan-kah salah satu fungsi jilbab adalah menutup aurat untuk melindungi MUSLIMAH dari NAFSU Lawan Jenis ? Tetapi mengapa WANITA MENOPAUSE Diperbolehkan membuka Jilbabnya? ... Kalau disebutkan bahwa wanita menopause tidak lagi memiliki keinginan seksual, ada benarnya. Tetapi bagaimana dengan LELAKI yang memandang si wanita menopause ? APakah ada jaminan bahwa lelaki muslim tidak akan tertarik kepada wanita menopause ?
---------------------------------------

P E R T A N Y A A N :
:arrow: Apakah sebenarnya TUJUAN MENGENAKAN JILBAB ? ? ? ?
User avatar
talenta
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1761
Joined: Mon Feb 11, 2008 7:27 am
Location: NKRI

Postby Garin laksana » Sat Apr 19, 2008 3:03 pm

@talenta,

Tal, lhah dulu waktu dirimu pake Jilbab emangnya bertujuan apa dunk?
Sori Opung baru brani tanya, sebab dulu wktu kita ktemuan, masih agak canggung nanya macem2...(takut dicakarrr!!- kamu 'kan 'galak')...xi...xi..xi...

Dulu kalau opung liat cewe2 gak pake jilbab, langsung maen sindir.."...katanya islaaaamm... kok gak patuh printah agama..!!!";

Jangan balik bertanya yak: "...printah agama yg manaaaa 'pung!?".
Soalnye opung ndiri kagak tauk jawabnye....... alias asal "njeplak!" (waktu itu!!) gicuuu... loh!

Opung 'pan sebelum pindah jadi Kafir, hobinye: 'asal njeplak' kalo ade nyang ngritik islam! Eeeee hobinye Opung ntuh ternyata masih dilestarikan ama 'anak-cucu opung' di FFI ini yeee...??!!

Yaa dech... kembali ke pertanyaanmu sajah...
Ada gak yg bisa kasih komen, trutama yg pada pake jilbab..
Gampang2 cucah seh pertanyaanmu ntuh!
User avatar
Garin laksana
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1198
Joined: Mon Sep 24, 2007 5:07 pm
Location: Al-Quds

Postby talenta » Sat Apr 19, 2008 4:46 pm

Garin laksana wrote:@talenta,

Tal, lhah dulu waktu dirimu pake Jilbab emangnya bertujuan apa dunk?
Sori Opung baru brani tanya, sebab dulu wktu kita ktemuan, masih agak canggung nanya macem2...(takut dicakarrr!!- kamu 'kan 'galak')...xi...xi..xi...

Dulu kalau opung liat cewe2 gak pake jilbab, langsung maen sindir.."...katanya islaaaamm... kok gak patuh printah agama..!!!";

Jangan balik bertanya yak: "...printah agama yg manaaaa 'pung!?".
Soalnye opung ndiri kagak tauk jawabnye....... alias asal "njeplak!" (waktu itu!!) gicuuu... loh!

Opung 'pan sebelum pindah jadi Kafir, hobinye: 'asal njeplak' kalo ade nyang ngritik islam! Eeeee hobinye Opung ntuh ternyata masih dilestarikan ama 'anak-cucu opung' di FFI ini yeee...??!!

Yaa dech... kembali ke pertanyaanmu sajah...
Ada gak yg bisa kasih komen, trutama yg pada pake jilbab..
Gampang2 cucah seh pertanyaanmu ntuh!


ALASANKU DULU BERJILBAB : Bentuk ke-taat-an ku kepada tuhanku pada waktu itu.

Dan jilbab yang aku gunakan juga sesuai syariah dong....secara awak dulu Islam banget gitu lhooo...senyum.com

Give attention to this image ..... seksama.com
Image

Thanks Pung.
User avatar
talenta
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1761
Joined: Mon Feb 11, 2008 7:27 am
Location: NKRI

Postby STRIKER » Thu Apr 24, 2008 3:02 pm

talenta wrote:
Garin laksana wrote:@talenta,

Tal, lhah dulu waktu dirimu pake Jilbab emangnya bertujuan apa dunk?
Sori Opung baru brani tanya, sebab dulu wktu kita ktemuan, masih agak canggung nanya macem2...(takut dicakarrr!!- kamu 'kan 'galak')...xi...xi..xi...

Dulu kalau opung liat cewe2 gak pake jilbab, langsung maen sindir.."...katanya islaaaamm... kok gak patuh printah agama..!!!";

Jangan balik bertanya yak: "...printah agama yg manaaaa 'pung!?".
Soalnye opung ndiri kagak tauk jawabnye....... alias asal "njeplak!" (waktu itu!!) gicuuu... loh!

Opung 'pan sebelum pindah jadi Kafir, hobinye: 'asal njeplak' kalo ade nyang ngritik islam! Eeeee hobinye Opung ntuh ternyata masih dilestarikan ama 'anak-cucu opung' di FFI ini yeee...??!!

Yaa dech... kembali ke pertanyaanmu sajah...
Ada gak yg bisa kasih komen, trutama yg pada pake jilbab..
Gampang2 cucah seh pertanyaanmu ntuh!


ALASANKU DULU BERJILBAB : Bentuk ke-taat-an ku kepada tuhanku pada waktu itu.

Dan jilbab yang aku gunakan juga sesuai syariah dong....secara awak dulu Islam banget gitu lhooo...senyum.com

Give attention to this image ..... seksama.com
Image

Thanks Pung.


Mereka terbiasa menilai segala sesuatu hanya dari bungkusnya saja. Maka jadilah kemunafikan justru merajalela. Jauh lebih menusuk lagi kalau pertanyaan anda ditambahi : apakah ada bedanya pengguna busana muslim yang dilengkapi bordir dan payet sama nggak ? hihihi
User avatar
STRIKER
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 210
Joined: Wed Apr 23, 2008 11:56 pm

Postby ali5196 » Thu Apr 24, 2008 5:21 pm

UDah dibungkus ala shariah eeehhhhh ... masih dicolek juga, di TANAH SUCI PULA !

Jilbab Tidak Selalu Berarti Menjaga Kehormatan Muslimah: SAYA DICOLEK SAAT TAWAF
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=19520

Jadi Muslimah: Karunia atau Ketiban Duren?
Cari artikel agak bawah yg berjudul : Ini adalah kumpulan pengakuan para Muslimah berjilbab yg dicolek di Mesjid & dilecehkan secara seksual atau bahkan diperkosa SESAMA MUSLIM !!
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=567

Muslimah berjilbab senang indehoy !
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 189125#189 125

Image Image Image Image
(sori, foto2nya harus diperlihatkan utk menunjukkan kemunafikan Muslimah ! Ini bukan om ali yg bikin kok !) :wink:

YG DIBAWAH INI GAWAT NIH !!! JANGAN DIBUKA KALAU TIDAK DIATAS USIA 53 thn !
http://img24.imagevenue.com/aAfkjfp01fo ... _521lo.jpg :shock: :shock: :shock:

Komentar salah seorang Muslimah kenes : 'ah, om ali, mereka2 itu khan bukan Muslimah baik2 ...'
Jawab om ali ; 'Itulah buktinya neng, bahwa jilbab BUKAN tanda mengukur kebaikan muslimah. Jadi utk apa dipake sih ? '

Image
Udah berhijab, TETAP aja di gangrape ! http://www.skype.com/intl/en/

UK : jilbab mencekik dua gadis, 4 & 5 thn****
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=22005
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby fuhrer » Thu Apr 24, 2008 10:15 pm

buuusssyyeeeeettt.......

ane kira cewek berjilbab tu kagak mau 'gitu2'an sebelum nikah

eh ternyata
User avatar
fuhrer
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 148
Joined: Mon Apr 07, 2008 10:39 pm
Location: Di dekat Hajjar Syahwat

Postby STRIKER » Mon May 12, 2008 6:39 pm

ali5196 wrote:UDah dibungkus ala shariah eeehhhhh ... masih dicolek juga, di TANAH SUCI PULA !

Jilbab Tidak Selalu Berarti Menjaga Kehormatan Muslimah: SAYA DICOLEK SAAT TAWAF
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=19520

Jadi Muslimah: Karunia atau Ketiban Duren?
Cari artikel agak bawah yg berjudul : Ini adalah kumpulan pengakuan para Muslimah berjilbab yg dicolek di Mesjid & dilecehkan secara seksual atau bahkan diperkosa SESAMA MUSLIM !!
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=567

Muslimah berjilbab senang indehoy !
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 189125#189 125

Image Image Image Image
(sori, foto2nya harus diperlihatkan utk menunjukkan kemunafikan Muslimah ! Ini bukan om ali yg bikin kok !) :wink:

YG DIBAWAH INI GAWAT NIH !!! JANGAN DIBUKA KALAU TIDAK DIATAS USIA 53 thn !
http://img24.imagevenue.com/aAfkjfp01fo ... _521lo.jpg :shock: :shock: :shock:

Komentar salah seorang Muslimah kenes : 'ah, om ali, mereka2 itu khan bukan Muslimah baik2 ...'
Jawab om ali ; 'Itulah buktinya neng, bahwa jilbab BUKAN tanda mengukur kebaikan muslimah. Jadi utk apa dipake sih ? '

Image
Udah berhijab, TETAP aja di gangrape ! http://www.skype.com/intl/en/

UK : jilbab mencekik dua gadis, 4 & 5 thn****
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=22005


keren.bisa aja dapat gambar begitu.dimana dapatnya :lol: :lol:
User avatar
STRIKER
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 210
Joined: Wed Apr 23, 2008 11:56 pm

Postby kibot_gesek » Tue Jun 24, 2008 3:56 am

talenta wrote:MARI KITA MEMBUAT RANGKUMAN DISERTAI GAMBAR

talenta wrote:PAKAIAN BAGI MUSLIMAH

KATANYA : Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Menutup aurat


YANG BEGINI MENUTUP AURAT TIDAK YAH ? ? ?
Katanya RAMBUT Juga tidak boleh diperlihatkan ?
Image



mirip ma jilbab g dipakai oleh calon mertua sayah.......
sama2 dah Hajjah pulak lagi.......
itu sah nggak yah ????
kok gak pernah di senggol ma MUI yah ????
ato di demo ma kaum wanita HTI n HMI..........

bingung........
kibot_gesek
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 5
Joined: Fri Jun 20, 2008 1:54 am


Return to Resource Center: Wanita & Sex dalam Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users