. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Seluk beluk ttg hak/kewajiban wanita, pernikahan, waris, bentuk2 pelecehan hak2 wanita dlm Islam dll.

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby DHS » Thu May 14, 2009 5:53 pm

Jahanam wrote:Islam mengharamkan Nikah Mut`ah .......
Adanya Orang Arab yang suka sama Jablay .... itu urusan orang Arab .... Gak semua orang Arab juga muslim !!
Banyak yang kafir juga kok !!

Ngomong kok ngegampar mulutnya sendiri!

Baca lagi tulisan TS di halaman pertama.

1. Apa dasar nikah mutah? dasar islam apa kafir?
2. Kasih referensi kalau islam mengharamkan nikah Mut'ah!


Awas loe kalau ga bisa jawab! :axe:
User avatar
DHS
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4377
Images: 4
Joined: Sat Jan 05, 2008 7:56 pm

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby dulilah » Thu May 14, 2009 7:54 pm

mas Jaha6 memang suka keliru kalau menerjemahkan apalagi mengartikannya... =P~
User avatar
dulilah
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 298
Joined: Fri Nov 23, 2007 8:50 pm

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Thu May 14, 2009 9:55 pm

DHS wrote:Ngomong kok ngegampar mulutnya sendiri!

Baca lagi tulisan TS di halaman pertama.

1. Apa dasar nikah mutah? dasar islam apa kafir?
2. Kasih referensi kalau islam mengharamkan nikah Mut'ah!


Awas loe kalau ga bisa jawab! :axe:

Lah emangnya kamu selama ini kemana ??
Noh Lihat ! Lembar 5-10 dalam topik ini semua mengeluarkan dasar sumbernya nikah Mut`ah dan apa itu nikah Mut`ah !!

Kamu ini netter udah lama apa baru Bro ............
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Thu May 14, 2009 9:59 pm

dulilah wrote:mas Jaha6 memang suka keliru kalau menerjemahkan apalagi mengartikannya... =P~

hashahaha .......... orang baru mau debat ......... mangkanya harus tau islam dulu baru debat masalah islam .......
:rofl: :rofl: :rolling: :rolling:
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby DHS » Fri May 15, 2009 12:27 am

Jahanam wrote:Lah emangnya kamu selama ini kemana ??
Noh Lihat ! Lembar 5-10 dalam topik ini semua mengeluarkan dasar sumbernya nikah Mut`ah dan apa itu nikah Mut`ah !!
Kamu ini netter udah lama apa baru Bro ............

ic, aq dah tau skarang cara pandangmu. Gampang, segala yang tidak berkenaan dengan pandanganmu, itu sumbernya dari Syiah, bukan islam.

Jeruk makan jeruk!


Btw: aq cabut dari thread ini karena ulasan-ulasan di depan sudah cukup komplit dan berbobot.
User avatar
DHS
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4377
Images: 4
Joined: Sat Jan 05, 2008 7:56 pm

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Fri May 15, 2009 4:24 am

[quote=”Jahanam”]Menurut saya Halal kalau Pemerintah Islam yang menghalalkannya, bukan individu orang Islamnya, Kaau bahasa Arab bukan kebalikannya ?? [/quote]
Sejak kapan ada pemerintah Islam di Indonesia sehingga elo berani menetapkan darah gue halal di halaman tiga? Elo itu sok jago mewakili Pemerintah Islam yang mana?

kamu yang bo do h dan gak ngerti maksud dari Tafsir main hantam kromo saja. Sok bisa bahasa arab padahal translet dari Translator Inggris – Arab.

Jika aku pake software murahan seperti yang kau lakukan, maka tentunya hasil terjemahannya ya sejelek punya elo sendiri. Emangnya lo pikir cuman Muslim aja yang bisa belajar bahasa Arab? Kan banyak banget tuh para ustad atau imam lokal yang menawarkan les bahasa Arab karena butuh duit? Apa susahnya mengikuti salah satu kursus mereka? Kalau aku tidak mengerti tulisan Arab tertentu, tinggal tunjukin aja sama ustad gue dan diapun segera membantuku.

Salah !!

Baca tafsir aja kagak becus, ngerti Ma Malakat Aymanukum juga kagak, sekarang sok jago pake nerjemahin literatur Arab kuno segala.

Dan Meriwayatkan Salim Abdulah Ibnu Umar, Bahwasanya Umar bin Khotob naik mimbar, Maka beliau memuji Allah dan berkata, “ Apa Alasan laki-laki menikah Mut`ah dan telah melarang Rosulullah dari Nikah Mut`ah.

Silakan baca lagi tulisan elo di atas. Tatabahasa elo sungguh tidak karuan. Lulusan SD mana sih lo? Siapa sih yang telah melarang Rasul Allâh? Dari nikah mut’ah? Hahahaha… karunya siah mah **** teu kacida pisan. Ternyata elo tidak hanya jahanam saja, tapi juga bodotolol lubis asli.

Sekali lagi tafsir dari Baghawi yang gue garis bawahi:

ورُوي عن أبي نضرة قال سألت ابن عباس رضي الله عنهما عن المتعة، فقال: أمَا تقرأ في سورة النساء: { فَمَا ٱسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ }؟ إلى أجلٍ مُسمّى قلت: لا أقرؤها هكذا، قال ابن عباس: هكذا أنزل الله، ثلاث مرات.

Abi Nadhr said “I asked Ibn Abbas about “Mut'a". He (Ibn Abbas) said (do) as you read in chapter Nisa, “And those of (women) whom ye seek pleasure (Istamta'tum) to a mutually agreed period”. I (Abi Nadhr) said, it is not like that I read in (Quran) Ibn Abbas said: “it is thus how Allah revealed it”. (He said it three times)

Terjemahan:
'Abu Nadhra bertanya pada Ibn Abbas tentang Mut'ah dan dia menjawab "Belumkah engkau membaca ayat Sura Nisa: "Dan wanita² tersebut yang telah kau nikmati untuk jangka waktu yang telah ditetapkan." Abu Nadhra berkata "Aku tidak membaca ayat itu seperti itu." Ibn Abbas menjawab bahwa "Allâh telah mewahyukan ayat tersebut seperti itu." Ibn Abbas bersumpah bahwa ayat itu tentang Mut'ah.

Baghawi menyebut hadis ini sebagai SAHIH. Jadi jelas bahwa Ibn Abbas punya Qur'an yang berbeda dengan Qur'an Abu Nadhra. Tabari pun menyatakan demikian dalam tafsir Q 4:24 miliknya:
Tafsir al-Kabir, by Ibn Jarir al-Tabari, on Sura 4 verse 24, v8, hal. 177

نضرة قال: سألت ابن عباس عن متعة النساء قال: أما تقرأ سورة النساء قال: قات بلى؟ قال: فما تقرأ فيها:( فما استمتعتم به منهن إلى اجل مسمى) قلت: لا ، لو قرأتها هكذا ما سألتك قال: فانها كذا .

Abi Nadhra said: I asked Ibn Abbas about temporary marriage (Mut'ah of women). Ibn Abbas said: "Do you not read 'For whatever you enjoyed (Istamta'tum) them by the contract to an appointed time?" I said: "If I would have read it this way, I wouldn't ask you (about temporary marriage)!" He replied: "Certainly the verse is about it."

Terjemahan:
Abi Nadhra berkata: Aku bertanya pada Ibn Abbas mengenai nikah sementara (mut’ah dengan wanita). Ibn Abbas menjawab: “Apakah kau tidak membaca ‘Bagi siapapun yang kau nikmati (Istamta'tum) melalui kontrak untuk jangka waktu yang telah ditetapkan?”
Aku berkata: “Jika aku membacanya begitu, maka aku tidak akan menanyakanmu (tentang nikah Mut’ah)!” Dia menjawab: “Sudah jelas bahwa ayat itu membahas tentang nikah Mut’ah.”


Dengan begitu Tabari sekali lagi menegaskan bahwa Q 4:24 itu adalah ayat Nikah Mut’ah. Punya tafsir Qur’an Tabari kagak lo? Kalo gak punya, gak’ usah mangap, ya? Liat bukunya aja belon pernah kali seumur idup.

iLa Ajalin Musamma = to a mutually agreed period” → kalimat ini dihilangkan di Qur’an jaman Umar sampai sekarang.

Tafsir diatas jelas membantah akan adanya Nikah mut`ah !!!

Silakan terjun saja ke laut daripada terus-menerus mempermalukan diri sendiri.

Mendingan kamu aja yang balik ke Gereja Jawa biar Tambah Sesat. Terlihat sekali Pendustanya.

Tulalit siah. Sejak kapan gue jadi orang jawa? Lagipula gue lebih memilih ke mesjid daripada ke gereja. Gimana bisa murtadin Muslim jika tidak sering mengunjungi mesjid?
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Fri May 15, 2009 4:39 am

Ternyata banyak hadis sahih yang menyatakan Mut’ah tetap halal di jaman Muhammad. Hadis² ini kusebut sebagai penyangkal hadis² yang dinyatakan Gaston. Aku tidak mengatakan hadis A palsu atau hadis B benar, sebab semuanya termasuk golongan sahih. Silakan pembaca sendiri memeriksanya.

Sahih al-Bukhari, Volume 7, Book 62, Number 13o
Narrated 'Abdullah:
We used to participate in the holy battles led by Allah's Apostle and we had nothing (no wives) with us. So we said, "Shall we get ourselves castrated?" He forbade us that and then allowed us to marry women with a temporary contract (2) and recited to us: -- 'O you who believe ! Make not unlawful the good things which Allah has made lawful for you, but commit no transgression.' (Q 5.87)


Terjemahan:
Dikisahkan oleh ‘Abdullah:
Kami sering ikut berjihad dipimpin Rasul Allâh dan kami tidak membawa istri² kami. Maka kami berkata, “Haruskah kami menahan nafsu ngeseks?” Dia melarang kami melakukan hal itu dan lalu memperbolehkan kami menikahi para wanita dengan nikah mut’ah dan dia melafalkan pada kami: --‘ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.’ (Qur’an 5:87
)

Jadi Muhammad menegaskan di Q 5:87 bahwa Allâh menghalalkan mut’ah bagi Muslim. Berdasarkan keterangan hadis sahih ini, Q 5:87 turun berhubungan dengan penekanan kembali akan halalnya mut’ah. Adakah ayat Qur’an yang membatalkan Q 5:87 atau Q 4:24?

Tafsir al-Kabir (al-Razi) by Fakhr al-Din al-Razi → Suni dan bukan Syiah!
http://en.wikipedia.org/wiki/Fakhr_al-Din_al-Razi
Fakhruddin Razi was a well-known Persian Sunni Muslim theologian and philosopher. He was born in 1149 (543 AH) in Ray of Persia (today located in Iran) and died in 1209 (606AH) in Herat (today located in Afghanistan). He also wrote on medicine, physics, astrology, literature, history and law.
Tafsir ar-Razi tentang Q 4:24
"‘Mut’ah marriage involves a man hiring a woman for a specific amount of money, for a certain period of time, to have sex with her. The scholars agree that this Mut'ah marriage was authorized in the beginning of Islam. It is reported that when the Prophet came to Mecca to perform ‘umrah, the women of Mecca dressed up and adorned themselves. The companions complained to the Prophet that they had not had sex for a long time, so he said to them: ‘Enjoy these women.’"
"No Muslim disputes that Mut'ah marriage was allowed in early Islam, the difference is whether it has been abrogated or not."
(At-tafsir al-kabir, Q. 4:24)

Terjemahan:
“Nikah mut’ah terjadi kalau seorang pria menyewa seorang wanita dengan bayaran uang yang ditentukan, untuk jangka waktu tertentu, untuk berhubungan seks dengan wanita itu. Para ahli Islam setuju bahwa nikah Mut’ah ini dihalalkan di awal Islam. Dilaporkan bahwa ketika sang Nabi tiba di Mekah untuk melakukan umroh, para wanita Mekah memakai baju bagus dan mendandani diri mereka. Para sahabat mengeluh pada sang Nabi bahwa mereka sudah lama tidak ngeseks, sehingga sang Nabi berkata pada mereka, ‘Nikmatilah para wanita ini.’
Tiada Muslim yang mempertentangkan apakah mut’ah dihalalkan di jaman awal Islam, perbedaan pendapat adalah apakah mut’ah setelah itu diharamkan atau tidak.
(At-tafsir al-kabir, Q. 4:24)

Perlu diketahui bahwa kata "NIKMATI" (Istimta'a) di Hadis atas sama dengan kata NIKMATI (Istamta'tum) di Q 4:24, dan makna kata itu telah dijelaskan Hillman. Kebanyakan Muslim Sunni saat ini ikut saja perintah Umar yang mengharamkan mut’ah. Hadis sahih berikut menegaskan bahwa Qur’an tidak pernah membatalkan mut’ah;

Sahih Al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 43:
Narrated 'Imran bin Husain:
The Verse of Mut’ah was revealed in Allah’s Book, so we performed it with Allah’s Apostle, and nothing was revealed in Qur'an to make it illegal, nor did the Prophet prohibit it till he died. But the man (who regarded it illegal) just expressed what his own mind suggested.


Terjemahan:
Dikisahkan oleh ‘Imran bin Husain:
Ayat Mut’ah dinyatakan di buku Allâh, jadi kami melakukannya bersama Rasul Allâh, dan tiada ayat apapun di Qur’an yang menyatakan hal itu sebagai haram, dan Rasul Allâh pun tidak melarangnya sampai dia mati. Tapi orang itu (yang menganggap mut’ah haram → siapa lagi jika bukan si Umar) hanya menyatakan pendapatnya sendiri saja.


Perhatikan bahwa penerjemah Sahih al-Bukhari, yakni orang Saudi bernama Muhammad Muhsin Khan yang dibayar Pemerintah Saudi, telah merubah kata Mut’ah dengan Hajj-at-Tamatu, meskipun text Arab Hadis tersebut jelas menyatakan Mut’ah. Meskipun begitu, masih jelas bahwa arti Hajj-at-Tamatu (Tamatu berarti melakukan mut’ah) berhubungan dengan kegiatan mut’ah sewaktu naik haji, alisan Haji Mut’ah.
http://en.wikipedia.org/wiki/Hadith_of_ ... ibn_Husain
Muhammad Muhsin Khan translated the Arabic word "Mut'ah" to "Hajj-at-Tamatu" in his The Translation of the Meanings Of Sahih Al-Bukhari.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Fri May 15, 2009 5:52 am

Bagi para Muslim, terutama Gaston, yang memuji-muji nikah misyar nan halal, silakan dengar pendapat para wanita Saudi tentang nikah misyar.
================
Nikah Misyar — Anugrah atau Azab?
Somayya Jabarti, Arab News

JEDDAH, 5 June 2005 — Bagi sebagian orang, nikah misyar merupakan hal yang tak terpikirkan untuk dilakukan; tapi bagi sebagian orang, nikah misyar merupakan pilihan daripada kesepian, tapi nikah misyar ini tidak sesuai dengan kebudayaan konservatif.
Nikah Misyar itu merupakan pilihan nikah halal yang semakin banyak dilakukan oleh para pria dan wanita Saudi untuk menghindari biaya nikah yang besar dan rasa malu yang dihadapi para wanita yang tak menikah.

Dalam nikah misyar, pihak wanita tidak punya hak² yang ada di pernikahan normal. Kebanyakan pengantin wanita misyar tidak lalu tinggal bersama suami mereka tapi menunggu dikunjungi suami di rumahnya. Beberapa pejabat urusan nikah mengatakan 7 dari 10 kontrak nikah yang mereka lakukan adalah nikah misyar, dan di beberapa kasus mereka diminta nasehat untuk memilihkan calon² pasangan misyar.

Kebanyakan wanita yang memilih misyar adalah para wanita yang cerai, janda, atau sudah tua. Kebanyakan pria yang melakukan misyar sudah menikah.

“Semua kontrak² nikah misyar yang kulakukan adalah diantara orang² laki dan perempuan yang nikah lagi,” kata Abu Fawaz, yang telah jadi petugas pernikahan selama 4 tahun. “Untuk melakukan nikah misyar, yang kau perlukan adalah saksi², mahar buat perempuan, dan persetujuan kedua belah pihak. Biasanya pihak wanita punya rumah sendiri atau hidup bersama keluarganya. Kebanyakan pihak keluarga wanita mengetahui tentang nikah misyar ini, sedangkan pihak keluarga pria tidak tahu apa², termasuk istri tuanya atau anggota keluarganya yang lain.”

Arab News mengadakan survey terhadap 30 pria dan wanita Saudi usia 20-30 tahun tentang nikah misyar. Sekitar lebih dari 60% pria yang disurvey menyatakan mereka bisa saja melakukan nikah misyar ini dan kebanyakan dari mereka berusia sekitar 20-an. Mereka yang tidak mau melakukan misyar ternyata juga tidak mau sanak keluarganya melakukan hal itu, termasuk saudara perempuan/lakinya, anak laki/perempuannya. Akan tetapi, dari banyak pria yang tidak keberatan melakukan misyar, hanya dua orang saja yang menyatakan nikah misyar layak bagi sanak keluarganya sendiri yang perempuan.

“Jika aku nikah misyar dengan saudara perempuan atau anak perempuan dari seorang pria, maka tentunya adil pula menerima hal yang sama bagi sanak keluargaku yang perempuan,” kata Mohammad H. “Tidak adil dunk jika pria hanya mau menerima hal itu bagi dirinya atau bagi pria lain tapi tidak bagi wanita. Lagipula, jika kita tidak mau wanita melakukan misyar, lalu pihak pria harus nikah sama syafa dunk – laki sama laki?”
Alasan² pria memilih nikah misyar biasanya berhubungan dengan masalah keuangan, sebagian lagi balik bertanya, “Mengapa tidak?” “Aku bisa punya segala hak, tapi aku tidak usah menafkahi istri dan tidak usah menyediakan rumah baginya,” kata Rayan Abdullah, 25 tahun, mahasiswa kedokteran yang belum menikah. “Ini sungguh jalan keluar yang bagus – bener kan? Biayanya lebih murah daripada punya pacar – bener kan?” Atau apakah hal ini merupakan kenikmatan bagi pria dalam kebudayaan Arab yang didominasi pria?

“Apa sih hal² yang paling banyak dikeluhkan para pria yang telah menikah?” tanya Ghazi Ahmad, suami dan bapak 3 anak, usia 38 tahun. “Bukankah kita semua mengeluh tentang beban biaya, tiadanya kebebasan – rutinitas yang membosankan? Karena itu, bagiku misyar merupakan nikah terbaik. Nikah tapi tidak nikah – sempurna deh.”

Pendapat para wanita yang disurvey tentang nikah misyar ternyata sangat berbeda dengan pendapat kaum pria. Lebih dari 86% wanita² yang berusia 20-40 tahun tidak mau melakukan nikah misyar. Hanya empat wanita – semuanya lebih dari 40 tahun – tidak keberatan dengan nikah misyar bagi dirinya atau sanak keluarganya.

Kebanyakan para wanita tersebut menyatakan nikah misyar adalah “pelacuran yang dihalalkan” atau mereka menolak tiadanya hak² wanita dalam nikah misyar.

“Aku yakin dengan pendapatku,” kata Muna Saad, wanita manajer bank usia 42 tahun. “Aku hidup dengan ibuku dan tidak bisa meninggalkannya, dan aku cukup banyak duit. Di lain pihak, aku pun ingin nikah.,” kata Muna. “Aku pikir menarik juga untuk ‘memiliki’ pria dan dia yang tergantung keuangan padaku.”

Meskipun adanya pendapat² optimis ini, nikah² seperti misyar tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Istri² atau bekas istri² misyar mengatakan bahwa misyar bisa berubah jadi hal mengerikan jika mereka hamil atau jika telah punya anak dari nikah² misyar lainnya. Karena nikah misyar dirahasiakan, para suami hanya muncul sekali² saja. Jika lalu punya anak, maka rahasia inipun jadi bubar.

“Nikah misyarku yang kedua baik² saja, meskipun istri pertamaku mengawasiku secara ketat,” kata Abu Abdul Rahman. “Tapi keadaan ini berubah setelah istri keduaku hamil, dan mulai deh keadaan yang mengerikan. Istri kedua itu ingin mengumumkan hubungan kami terhadap massa karena hamil tanpa punya suami tentunya memberatkan dirinya secara sosial – kau tidak bisa jadi perempuan tak nikah dan hamil. Aku harus memberitahu keluargaku dan istriku, dan segala macam masalah lalu terjadi. Sekarang nikah pertama dan keduaku di ambang cerai.”

Ada konsekuensi lain yang tak begitu diamati dari kerahasiaan nikah misyar ini. “Aku telah nikah misyar selama lebih dari setahun ketika anggota Commission for the Promotion of Virtue (Polisi Moral Saudi) dan Prevention of Vice datang padaku dan menuduhku melakukan pelacuran,” kata Warda, wanita cerai dan ibu dua anak berusia 35 tahun.

Mereka ingin menyeretku ke pos polisi meskipun aku telah menunjukkan kontrak nikahku ke muka mereka. Aku harus memanggil saudara lakiku – padahal kami tidak rukun. Sungguh mengerikan. Aku benci diriku sendiri dan benci semua pria – anak²ku berusia 6 dan 7 tahun.”

Pekerja sosial yang bekerja di badan pengadilan tidak suka akan nikah misyar. “Pengadilan² kebanjiran berbagai masalah aturan nikah tentang kewajiban nafkah yang tidak dilakukan suami, masalah hak asuh anak, dan tunjangan anak, “ katanya (dia ini perempuan).

“Terjadi masalah berat yang semakin besar untuk menghukum para suami dan bapak yang tidak mengindahkan kewajiban mereka. Bagaimana mungkin orang bisa menghalalkan aturan seperti nikah misyar yang memperbolehkan orang lepas tanggung jawab?” tanyanya.

“Sayangnya, nikah misyar membuka jalan bagi orang² tak bertanggung jawab dan tak dewasa untuk memasuki hubungan yang seharusnya berdasarkan atas kredibilitas, pertanggunganjawab dan rasa hormat, “kata Abu Zaid, seorang pejabat pernikahan senior. “Tapi hal itu tidak terjadi di nikah misyar. Nikah misyar itu dijadikan solusi sementara untuk memuaskan nafsu berahi. Pernikahan itu tidak hanya masalah ngeseks saja. Dalam poligami biasa, semua istri punya hak yang sama atas suami, baik itu secara nafkah, waktu kunjung, atau menyatakannya pada umum. Para wanita mengira misyar itu baik untuk keuntungan mereka padahal dalam jangka waktu yang lebih lama, pihak wanitalah yang harus bayar harganya dan tidak hanya masalah keuangan saja, tapi juga emosional.”

Banyak para istri, orangtua, dan anak² dari nikah misyar merasa bahwa pihak wanita dijual begitu saja dalam nikah ini. Orangtua biasanya berkata bahwa satu²nya alasan mengapa mereka menerima keadaan ini adalah karena anak perempuan mereka sudah dewasa dan punya kebutuhan sendiri dan mereka berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. “Aku mohon anak perempuanku yang telah cerai untuk tidak menikahi pria yang melamarnya nikah misyar,” kata Abu Fahda. “Akhirnya, aku menyerah karena aku tidak mau jadi alasan yang mengakibatkan dia zinah dengan pria itu. Aku orang dewasa, aku tahu kebutuhan anak perempuanku, tapi aku berdusta jika mengatakan aku menaruh rasa hormat pada orang ini yang hanya datang kerumahku untuk ngeseks dengan anak perempuanku. Aku bahkan sukar memandang wajah anakku,” katanya. “Keponakan tetanggaku juga nikah misyar untuk sesaat, dan ketika sang suami sudah bosan dengannya, dia pun meninggalkan istrinya begitu saja.”

Cucu² Abu Fahda juga merasakan kesedihan yang sama. “Aku tidak tahu pria ini – pria ini datang ke rumah kami dan meluangkan waktu bersama ibuku,” kata anak laki berusia 6 tahun itu. “Dia bukan ayahku, dan dia tentunya bukan suami ibuku karena para bapak dan suami tinggal bersama keluarga² mereka.”

Bagi para ahli sosial, nikah misyar merupakan masalah yang membingungkan. “Apa yang bisa kita katakan pada orang lain tentang menghargai diri sendiri, dan apa yang bisa kita katakan pada anak² kita tentang pentingnya dan arti keluarga?” kata Dr. Nahid L. “Pernikahan itu merupakan hubungan yang dalam – dan bukan seks saja. Mengapa lebih banyak wanita yang mau melakukan hal ini agar dianggap menikah atau merasa menikah?”

Pernikahan dilaksanakan untuk menjamin tiada satu pun pihak yang mendapatkan keuntungan secara cuma². “Setiap pihak suami dan istri punya kewajiban dan hak – bahkan di pernikahan² normal, para wanita sudah dianggap sampah saja. Pernikahan itu bukan hanya masalah seks melulu. Nikah misyar itu hanya membuat keadaan makin jelek saja, begitu pendapatku.”

Beberapa pihak menyatakan bahwa masyarakat harus memikirkan jalan keluar lain. “Jika mereka benar² ingin memecahkan masalah para wanita yang tak nikah, maka jangan membolehkan para pria menikahi mereka berkali-kali dengan murah, tapi sebaiknya permudah cara bagi para wanita Saudi tersebut untuk menikahi pria² non-Saudi,” kata seorang guru sekolah.

“Bertahun-tahun yang lalu di universitas, aku mendengar salah seorang teman anak lakiku berkata tentang nikah dan wanita. Dia bertanya ‘mengapa beli sapi jika susu itu gratis?’ Mereka bicara tentang wanita² gampangan dan tidak usah nikah segala jika bisa mendapatkan wanita² seperti ini,” kata seorang professor universitas. “Dengan nikah misyar, bukankah kita malah telah menghalalkan pendapat ‘mengapa beli susu jika sapi itu gratis’? Masakan dengan begini kita ini bisa berbudaya?”
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Fri May 15, 2009 5:55 am

gaston31 wrote:Misyar= wanita ditinggal krn ada keperluan, tapi TIDAK OTOMATIS TERJADI PERCERAIAN!

Tidak perlu dicerai segala, karena suami bisa dengan mudah meninggalkan istri misyar, meskipun istri telah punya anak dari nikah misyar tersebut. Istri pun tidak bisa menuntut apapun, karena memang semua haknya sudah dilucuti dalam nikah misyar. Tinggalin aja tuh cewek jika sudah bosan, dan lakukan misyar yang baru dengan cewek lain. Peduli amat ama nasib anak dari nikah misyar. Begitu bukan?

Dari mana yaaa akar nikah² mirink gelo ini? Ingat penjelasan Mang Hillman;
Yang terpenting dalam ayat 24 ini sebagai dasar "NIKAH MIRING ISLAM" adalah yang saya beri warna merah.

Ayat 24

والمحصنت dan wanita yang bersuami
من dari
النساء manusia
إلا kecuali
ما apa
ملكت kamu miliki
أيمنكم tangan kananmu/budak-budakmu
كتب ketetapan
الله Allah
عليكم atas kamu
وأحل dan dihalalkan
لكم bagimu
ما apa
وراء dibelakang (selain
) ذلكم demikian itu
أن bahwa
تبتغوا kamu mencari
بأمولكم dengan hartamu
محصنين untuk dikawini
غير tidak/bukan
مسفحين untuk berzina
فما maka apa
استمتعتم telah kamu nikmati
به dengannya (wanita itu)
منهن dari/diantara mereka
فءاتوهن maka berikan kepada mereka
أجورهن mahar/maskawin
فريضة suatu kewajiban
ولا dan tidak
جناح berdosa
عليكم atas/bagi kamu
فيما terhadap apa (sesuatu)
ترضيتم - kamu saling merelakan
به dengannya (wanita itu)
من dari
بعد sesudah
الفريضة ditentukan
إن sesungguhnya
الله Allah
كان adalah Dia
عليما Maha Mengetahui
حكيما Maha Bijaksana

Demikian, insyaAllah berguna.

Wassalam. :rolleyes:
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby dulilah » Fri May 15, 2009 7:22 am

dulilah wrote:mas Jaha6 memang suka keliru kalau menerjemahkan apalagi mengartikannya... =P~


mas Jaha6, anda pertama posting tanpa memakai quote shg semua bingung membacanya, anda lalu belajar memperbaiki setelah diingatkan bung Adadeh, berikutnya, meng-capture ayat quran sambil menunjukkan bhw bagian yg anda kotaki itu artinya "istri", dibantah mas Hillman bahwa yg anda kotaki itu artinya:

أجورهن - ujuurahunna - mahar/maskawin
جناح - junaaha - berdosa

lalu, mengartikan
Q4:24 - waalmuhsanaatu mina alnnisaa-i illaa maa malakat aymaanukum kitaaba allaahi 'alaykum wauhilla lakum maa waraa-a dzaalikum an tabtaghuu bi-amwaalikum muhsiniina ghayra musaafihiina famaa istamta'tum bihi minhunna faaatuuhunna ujuurahunna fariidhatan walaa junaaha 'alaykum fiimaa taraadaytum bihi min ba'di alfariidhati inna allaaha kaana 'aliiman hakiimaan

sebagai: Dihalalkan mencari istri.......... setelah menjadi istri maka dinikmati ( digauli ) maka diberi mahar. mahar itu haknya perempuan.

padahal arti استمتعتم - telah kamu nikmati , baru kemudian diberi mahar,... bukan diberi mahar lalu baru menjadi istri!

Selanjutnya menterjemahkan hadith seperti ini:

(Also (forbidden are) women already married, except those whom your right hands possess).
Consequently, we had sexual relations with these women.'' This is the wording collected by At-Tirmidhi An-Nasa'i, Ibn Jarir and Muslim in his Sahih. Allah's statement,


Terjemahannya Jaha6 :
(Kata-kata yang anda penggal)……… Juga (diharamkan) wanita-wanita yang telah menikah, kecuali tangan kanan mereka yang anda miliki).


terakhir mengatakan :
Jahanam wrote:hashahaha .......... orang baru mau debat ......... mangkanya harus tau islam dulu baru debat masalah islam .......


Orang yang bijak menyembunyikan pengetahuannya, tetapi hati orang bebal menyeru-nyerukan kebodohan....

Salam.
User avatar
dulilah
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 298
Joined: Fri Nov 23, 2007 8:50 pm

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Fri May 15, 2009 9:14 pm

Adadeh wrote: Sejak kapan ada pemerintah Islam di Indonesia sehingga elo berani menetapkan darah gue halal di halaman tiga? Elo itu sok jago mewakili Pemerintah Islam yang mana?

Anda tahu ..... ada Pemerintahan islam yang dipimpin oleh Pengikut Kartosuwiryo ???
Yaitu NII .... Kalau kamu saya tahu, dimana Alamat anda maka saya akan hadapkan anda kepada NII biar di Qisos ....
Jika aku pake software murahan seperti yang kau lakukan, maka tentunya hasil terjemahannya ya sejelek punya elo sendiri. Emangnya lo pikir cuman Muslim aja yang bisa belajar bahasa Arab? Kan banyak banget tuh para ustad atau imam lokal yang menawarkan les bahasa Arab karena butuh duit? Apa susahnya mengikuti salah satu kursus mereka? Kalau aku tidak mengerti tulisan Arab tertentu, tinggal tunjukin aja sama ustad gue dan diapun segera membantuku.

Saya bingung bagaimana Ustad kalau menerjemahkan bahasa Arab Ke indonesia, harus menterjemahkan dulu ke Bahasa Inggris ... Ingat yaa ... Ustad di indonesia sedikit yang bisa bahasa Inggris ...... Kamu mayoritas terjemahannya di dahulukan menggunakan bahasa Inggris baru ke indonesia dulu ......... Jelas sekali kalau kamu pakai Program transletor Inggris - Arab.

Kebiasaan Bohong Yaaa ........ Apakah Yesus ngajarin kamu bohong atau Budha Gautama Ngajarin kamu bohong ???
Baca tafsir aja kagak becus, ngerti Ma Malakat Aymanukum juga kagak, sekarang sok jago pake nerjemahin literatur Arab kuno segala.

Coba kamu tongolin Tafsir yang lain menggunakan bahasa Arab ..... Pasti kamu terjemahinnya pake bahasa Inggris dulu .... Udah gitu di tambah-tambahin lagi ........ Seperti Pendeta Kristen yang menambah-nambahkan Bible .....
Silakan baca lagi tulisan elo di atas. Tatabahasa elo sungguh tidak karuan. Lulusan SD mana sih lo? Siapa sih yang telah melarang Rasul Allâh? Dari nikah mut’ah? Hahahaha… karunya siah mah **** teu kacida pisan. Ternyata elo tidak hanya jahanam saja, tapi juga bodotolol lubis asli.

Anak kecil juga tau boss ....... maksudnya Rosulullah itu melarang ....... yang bo do itu kamu !!! maksudnya aja kagak tau .... saya menterjemahkan sesuai dengan urutan arabnya. Ingat saya gak pakai Translet yaa ..... emangnya kamu ....... bisanya nyontek sama ustad ...... katanya bisa bahasa arab ... taunya nyontek . dasar botol ........
قال ابن عباس: هكذا أنزل الله، ثلاث مرات.

Abi Nadhr said “I asked Ibn Abbas about “Mut'a". He (Ibn Abbas) said (do) as you read in chapter Nisa, “And those of (women) whom ye seek pleasure (Istamta'tum) to a mutually agreed period”. I (Abi Nadhr) said, it is not like that I read in (Quran) Ibn Abbas said: “it is thus how Allah revealed it”. (He said it three times)

Terjemahan:
'Abu Nadhra bertanya pada Ibn Abbas tentang Mut'ah dan dia menjawab "Belumkah engkau membaca ayat Sura Nisa: "Dan wanita² tersebut yang telah kau nikmati untuk jangka waktu yang telah ditetapkan." Abu Nadhra berkata "Aku tidak membaca ayat itu seperti itu." Ibn Abbas menjawab bahwa "Allâh telah mewahyukan ayat tersebut seperti itu." Ibn Abbas bersumpah bahwa ayat itu tentang Mut'ah.

toh kan bahasa inggris dulu ........ ketahuan elu bootol bahasa arabnya .....
yang saya bold diatas coba mana arabnya ?? coba kamu tunjukkin ??? kamu kamu yang nunjukin tafsir Buhgowi dalam Tulisan Arab . bukan ???
Jadi jelas bahwa Ibn Abbas punya Qur'an yang berbeda dengan Qur'an Abu Nadhra. Tabari pun menyatakan demikian dalam tafsir Q 4:24 miliknya:

Anda salah kedua kali ...... karena anda KAfir
Aku bertanya kepada Ibnu Abbas r.a tentang Nikah Mut`ah, maka dia menjawab, “ belumkah engkau membaca surah Annisa.
" saya belum membacanya begitu. "
Dari dialog tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka sedang menggunakan 2 Qur`an yang berbeda, tetapi cara pandang membaca yang berbeda .......
Abu Nadroh adalah orang yang sudah lama menetap di Madinah sedangkan Ibnu Abbas orang asli Mekkah, maka mereka mempunyai perbedaan dialog dan cara pandang dalam memahmi surah Annisa. Itu wajar !!!
Tafsir al-Kabir, by Ibn Jarir al-Tabari, on Sura 4 verse 24, v8, hal. 177

نضرة قال: سألت ابن عباس عن متعة النساء قال: أما تقرأ سورة النساء قال: قات بلى؟ قال: فما تقرأ فيها:( فما استمتعتم به منهن إلى اجل مسمى) قلت: لا ، لو قرأتها هكذا ما سألتك قال: فانها كذا .

Abi Nadhra said: I asked Ibn Abbas about temporary marriage (Mut'ah of women). Ibn Abbas said: "Do you not read 'For whatever you enjoyed (Istamta'tum) them by the contract to an appointed time?" I said: "If I would have read it this way, I wouldn't ask you (about temporary marriage)!" He replied: "Certainly the verse is about it."

Terjemahan:
Abi Nadhra berkata: Aku bertanya pada Ibn Abbas mengenai nikah sementara (mut’ah dengan wanita). Ibn Abbas menjawab: “Apakah kau tidak membaca ‘Bagi siapapun yang kau nikmati (Istamta'tum) melalui kontrak untuk jangka waktu yang telah ditetapkan?”
Aku berkata: “Jika aku membacanya begitu, maka aku tidak akan menanyakanmu (tentang nikah Mut’ah)!” Dia menjawab: “Sudah jelas bahwa ayat itu membahas tentang nikah Mut’ah.”

Dengan begitu Tabari sekali lagi menegaskan bahwa Q 4:24 itu adalah ayat Nikah Mut’ah. Punya tafsir Qur’an Tabari kagak lo? Kalo gak punya, gak’ usah mangap, ya? Liat bukunya aja belon pernah kali seumur idup.

Saya melihat tafsir Qur’an Tabari bersepakat dengan Tafsir Al-Bughowi bahwa QS Annisa : 24 membicarakan Nikah Mut`ah untuk mengharamkan nikah mut`ah.
Kalau memang tafsir Qur’an Tabari itu menghalalkan nikah mut`ah mana sumbernya atau kalimatnya karena diatas tidak menunjukkan halalnya nikah mut`ah ..... karena anda yang memulai maka anda yang menunjukkan bukti !!!
Karena dalam Tafsir Bughowi jelas sekali umar menerangkan Pengharaman Nikah Mut`ah .. gak tanggung-tanggung hukumannya dilempari batu.
iLa Ajalin Musamma = to a mutually agreed period” → kalimat ini dihilangkan di Qur’an jaman Umar sampai sekarang.

Mana buktinya ??? Kalau tidak anda pendusta dari kalangan kafir ..... ??? Adedeh janganlah diri anda di perbodohkan dengan butanya hati anda .......
Silakan terjun saja ke laut daripada terus-menerus mempermalukan diri sendiri.

Yang terjun ke api neraka itu seharusnya anda ...... kafir ngeyelnya gak ketulungan ..... bo doh tapi ngeyel sok bener .... malu bung !!!
Tulalit siah. Sejak kapan gue jadi orang jawa? Lagipula gue lebih memilih ke mesjid daripada ke gereja. Gimana bisa murtadin Muslim jika tidak sering mengunjungi mesjid?

Ooo jadi kamu juga Orang Batak yaa ........ Baru ada orang batak seperti anda ........ bo dooooo sekali ........ selahkan anda ke masjid saya ........ Masjid babutakwa Jl. Kebantenan v jakarta Utara.
Disana ketemu saya ......
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby HILLMAN » Fri May 15, 2009 9:29 pm

Awas dia sudah mempersiapkan "eksekutor" di masjidnya. Ha...ha... sudah putus asa rupanya beliau ini.....:lol:
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Fri May 15, 2009 9:46 pm

dulilah wrote: mas Jaha6, anda pertama posting tanpa memakai quote shg semua bingung membacanya, anda lalu belajar memperbaiki setelah diingatkan bung Adadeh, berikutnya, meng-capture ayat quran sambil menunjukkan bhw bagian yg anda kotaki itu artinya "istri", dibantah mas Hillman bahwa yg anda kotaki itu artinya:

أجورهن - ujuurahunna - mahar/maskawin
جناح - junaaha - berdosa

Dalam hal ini Mahar / atau maskawin menunjukkan akan adanya keterikatan suami istri. Permasalahan disini KAfir masih ngeyel bahwa QS 4:24 adalah nikah kontrak. Padahal disana tertulis Ujurohunna yaitu adanya mas Kawin sebagai tanda sebagai Istri.

Ancaman dari Pengingkaran itu adalah dosa yaitu جناح - junaaha - berdosa ....
Apakah dalam Postingan tersebut saya menulis bahwa arti yang dikotakin itu adalah Istri ?? . kan tidak ......... jadi salah saya dimana ??
wrote: lalu, mengartikan
Q4:24 - waalmuhsanaatu mina alnnisaa-i illaa maa malakat aymaanukum kitaaba allaahi 'alaykum wauhilla lakum maa waraa-a dzaalikum an tabtaghuu bi-amwaalikum muhsiniina ghayra musaafihiina famaa istamta'tum bihi minhunna faaatuuhunna ujuurahunna fariidhatan walaa junaaha 'alaykum fiimaa taraadaytum bihi min ba'di alfariidhati inna allaaha kaana 'aliiman hakiimaan

sebagai: Dihalalkan mencari istri.......... setelah menjadi istri maka dinikmati ( digauli ) maka diberi mahar. mahar itu haknya perempuan.

padahal arti استمتعتم - telah kamu nikmati , baru kemudian diberi mahar,... bukan diberi mahar lalu baru menjadi istri!

saya akan mengulangi terjemahan saya sendiri :
Dan wanita-wanita yang sudah bersuami dari para wanita kecuali para budak yang kalian miliki. Ketetapan Allah kepada kalian. Dihalalkan kepada kalian selain dari itu ( yaitu yang di haramkan pada ayat 23 ) untuk kalian. dengan ( Sambil ) mencari harta kalian untuk menikah diluar dari Perzinahan. Maka apa yang telah kamu nikmati dari nya (Pernikahan itu) diantara mereka. maka berikanlah kepada meraka maskawin ( mahar ) sebagai suatu kewajiban. Dan tidak berdosa bagi kalian atas kerelaanmu dengannya setelah kewajiban ( yang telah di tetapkan Allah ). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ingat yang Saya Bold ( dengan ( Sambil ) mencari harta kalian untuk menikah diluar dari Perzinahan. ) ini sudah terjadi pernikahan lalu dinikmati ........ Allah mengingatkan kalau sudah menikah tanpa berzinah maka harus diberikan mahar. Mahar diberikan sebelum dinikmati ataupun sesudah dinikmati sah-sah saja. Yang penting Ijab Qobulnya !!!

Definisi Zinah ........ adalah melakukan hubungan sexual tanpa menikah.
QS 4:24 sudah dilakukan umat islam sampai sekarang. Yaitu menikah dengan memberi Mahar lalu menikmati.
wrote: Selanjutnya menterjemahkan hadith seperti ini:

(Also (forbidden are) women already married, except those whom your right hands possess).
Consequently, we had sexual relations with these women.'' This is the wording collected by At-Tirmidhi An-Nasa'i, Ibn Jarir and Muslim in his Sahih. Allah's statement,

Terjemahannya Jaha6 :
(Kata-kata yang anda penggal)……… Juga (diharamkan) wanita-wanita yang telah menikah, kecuali tangan kanan mereka yang anda miliki).

Karna yang memenggal tuh tulisan adalah Adedeh saya hanya mengimbangi dia ...
Last edited by Jahanam on Fri May 15, 2009 10:16 pm, edited 1 time in total.
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Fri May 15, 2009 10:07 pm

dulilah wrote:mas gaston,
dalam perdebatan ini, ada yg sudah sangat jelas ditunjukkan oleh para kafirun disini, tetapi yg mas gaston tidak bisa jelaskan, yakni:

1). AHadis banyak sekali menyatakan PERBEDAAN
a. Awalnya Mut'ah dihalalkan dalam Islam;
b. Tapi lalu di Khaybar mut'ah diharamkan untuk selamanya;
c. Terus di Mekah dihalalkan lagi untuk beberapa hari dan lalu diharamkan untuk selamanya;
d. Lalu dihalalkan lagi di Hyunain selama 3 hari, lalu diharamkan lagi untuk selamanya;
e. Tapi lalu banyak pula hadis² sahih lainnya yang menyatakan mut'ah selamanya halal di jaman Muhammad dan Abu
Bakr, dan Umar yang mengharamkannya.

menurut anda bgm menyikapi hal diatas?

2). Ada PERBEDAAN tafsir antara Tabari + Suyuti + Literatur islam lain dgn Ibn Kathir.
Dan bila kita telaah di tafsir Ibn Kathir, maka tiba2 kok muncul kata2 Mut'ah !? Darimana asalnya kata tsb dimasukkan oleh Ibn Kathir, padahal menurut mas gaston kata2 tsb tdk ada dalam quran? Pasti ada sebabnya musababnya, jawaban logis saya adalah: yakni perilaku mut'ah sudah diijinkan pada jaman muhammad ! Dan itu pasti pernah tercatat dalam quran shg Tabari + Suyuti + Literatur islam + Hadis membahas panjang lebar, bahkan Ibn Kathirpun malahan perlu menambahkan keterangan ttg hal tsb.(utk menolaknya).

Atau anda punya jawaban logis lainnya?

3). Tentang kata "istamta'tum" yg ada dalam quran, coba anda hayati dalam hati anda sendiri artinya.
The root of the Arabic word, istimta' is م - ت - ع (meem, taa, ‘ain) which means to derive benefit. Any benefit derived from a person or from wealth, property, assets, etc. is called istimta’. According to Arabic grammar, the addition of the letters س (seen) and ت (taa) to the root of any word gives the meaning of seeking. Based on this lexical explanation, the simple and straight sense of the Qur’anic expression, Istamta’tum (you have benefited), it means have you enjoyed. (Ref: http://www.ummah.net)

Mengintimi wanita2 (hasil tawanan perang) guna MENCARI KENIKMATAN lalu SETELAH itu memberikan mahar, hal demikian bukan merupakan esensi perkawinan yg diharapkan kekal !
Mut'ah ini jelas2 pernah dipraktekkan atas ijin muhammad , untuk apa???? (meskipun menurut mas gaston lalu dilarang selamanya), tetapi pertanyaanya sekali lagi : MENGAPA DIIJINKAN ?

Nah, itulah maksud perdebatan/diskusi kali ini mas gaston.

Banyak sekali hal-hal yang dahulu di biarkan oleh Nabi Muhammad tapi pada akhirnya diharamkan oleh Muhammad.

Ingat Muhammad adalah produk dari Zaman Jahiliyah. Dan Muhammad juga yang menghilangkan Zaman Jahiliyah itu !!
Tentu hal-hal yang berbau jahiliyah melekat kepada Muhammad SAW. Tapi Dialah yang merubah Kejahiliyahan itu. yaitu dengan wahyu.

Dahulu Nikah mut`ah di perbolehkan oleh Muhammad SAW tapi pada Akhirnya dilarang oleh Muhammad SAW.
Dahulu orang Sholat sambil mabuk diperbolehkan oleh Muhammad SAW ....... tapi setelah menerima wahyu orang dilarang Sholat dengan Mabuk.
Dahulu Orang Tawaf sambil bertelanjang bulat ... tetapi setelah menerima wahyu Muhammad SAW melarangnya.
dan masih banyak lagi.

Semua itu karena Perintah dari Allah SWT. :rolling: :rolling: :rolling: :rofl: :rofl: :rofl:
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Foxhound » Fri May 15, 2009 10:49 pm

Jahanam wrote:Banyak sekali hal-hal yang dahulu di biarkan oleh Nabi Muhammad tapi pada akhirnya diharamkan oleh Muhammad.

Ingat Muhammad adalah produk dari Zaman Jahiliyah. Dan Muhammad juga yang menghilangkan Zaman Jahiliyah itu !!
Tentu hal-hal yang berbau jahiliyah melekat kepada Muhammad SAW. Tapi Dialah yang merubah Kejahiliyahan itu. yaitu dengan wahyu.

Dahulu Nikah mut`ah di perbolehkan oleh Muhammad SAW tapi pada Akhirnya dilarang oleh Muhammad SAW.
Dahulu orang Sholat sambil mabuk diperbolehkan oleh Muhammad SAW ....... tapi setelah menerima wahyu orang dilarang Sholat dengan Mabuk.
Dahulu Orang Tawaf sambil bertelanjang bulat ... tetapi setelah menerima wahyu Muhammad SAW melarangnya.
dan masih banyak lagi.

Semua itu karena Perintah dari Allah SWT. :rolling: :rolling: :rolling: :rofl: :rofl: :rofl:


Dahulu, menikahi mantan menantu adalah hal yang tabu, tapi akhirnya diijinkan oleh Muhammad SAW yang sudah terlanjur ngebet sama Zaynab...

Semua itu karena Perintah dari Allah SWT. :rolling: :rolling: :rolling: :rofl: :rofl: :rofl:

AwlohSWT bin Muhammad ini yang b3g0, mana ada Tuhan kompromi ama dosa.... apanya yang Maha Suci coba?
User avatar
Foxhound
Translator
 
Posts: 5450
Joined: Sun Mar 18, 2007 6:02 pm
Location: FFI

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Sat May 16, 2009 2:14 am

Jahanam wrote:Yaitu NII .... Kalau kamu saya tahu, dimana Alamat anda maka saya akan hadapkan anda kepada NII biar di Qisos ....

NII itu pengkhianat bangsa alias budak Indonesia rendahan penjilat pantat majikan Arab. Tak heran lo pilih mesjid babutakwa, sebab tempat itu memang cocok bagi para babu Indonesia yang bertakwa terhadap majikan Arabnya.

Saya bingung bagaimana Ustad kalau menerjemahkan bahasa Arab Ke indonesia, harus menterjemahkan dulu ke Bahasa Inggris ... Ingat yaa ...

Bahasa Inggrisnya gue ambil dari buku tafsir versi Inggrisnya. Tidak seperti lo, gue punya banyak akses ke buku² Islam versi bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Para ustad dan imam yang kukenal memang tidak mahir bahasa Inggris tapi aku sangat mahir bahasa Inggris.

Jelas sekali kalau kamu pakai Program transletor Inggris - Arab.

Silakan periksa sendiri, coba pake google dan lihat hasilnya sendiri agar kau yakin. Program/software translator itu tidak reliable karena hasil terjemahannya tidak bisa dimengerti dan menerjemahkan secara harafiah (per kata) saja. Ini sama persis dengan caramu menerjemahkan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Terjemahanmu adalah per kata saja, tanpa mengindahkan arti seluruh kalimat dan konteksnya. Karena itulah hasil terjemahanmu tidak bisa dimengerti, janggal, dan sangat salah baik dalam arti maupun struktur bahasa.

Anak kecil juga tau boss ....... maksudnya Rosulullah itu melarang ....... yang bo do itu kamu !!!

Kalau maksudnya begitu, mengapa tidak kau tulis begitu? Anak kecil saja tahu gimana menulis, sebab mereka bukan jahanam bin botol seperti lo.

Mana buktinya ??? Kalau tidak anda pendusta dari kalangan kafir ..... ???

Hahaha... Udah gini ajah, beli nih tafsir² di bawah ini dan periksa sendiri tafsir Q 4:24.

Para sahabat Nabi yakni Abd Allah ibn Mas'ud, Ubay ibn Ka'b, `Abd Allah ibn `Abbas dan Jabir ibn Abd-Allah membaca ayat Q 4:24 sebagai demikian: Lalu bagi wanita² yang kau nikmati dalam jangka waktu yang telah ditetapkan (iLa Ajalin Musamma), berikan pada mereka uang bayaran (mahar) yang telah ditetapkan." → Keterangan ini pula terdapat dalam tafsir² berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/An-Nisa,_24
1. Tafseer Durre Manthur Volume2 P. 40 -
2. Tafsir al-Tabari Volume 5 p. (14 & 15 ?) [1]
3. Tafseer Kabeer Volume 3 p. 94
4. Fathul Qadeer Volume 1 p. 14
5. Tafseer Ibn Katheer Volume 1 p. 84
6. Tafseer Ruh al Maani Volume 5 p.
7. Tafseer Kashaf p. 20
8. Tafseer Mazhari Volume2 p. 4
9. Tafseer Ahkam al Quran Volume2 p. 47
10. Tafseer Mu'alim al Tanzeel p. 63
11. Mustadrak Al Hakim volume 2 p. 47
12. Al Musahif by Abi Bakr Sijistani p. 3
13. Tafseer Mawahib al Rahman page 4 part 5
14. Tafseer Haqqani volume5 p.
15. Tafseer Jama Al Bayan Volume1 p. 66
16. Neel al Authar Volume2 p. 53 Kitab Nikah
17. Tafseer Qurtabi Volume5 p. 30
18. Dhurqani Sharh Muwatta Volume1 p. 54
19. Kitab al Musahaf page 342
20. Al Bahar al Maheet Volume 3 page 218
21. Tafseer Maar Volume5 p. 5
22. Tafseer Jama al Bayan Volume6 p. 9
23. Tafseer Al Baghawi, Al Musami Mu'alim al Tanzeel, p. 414

Jangan menerjemahkannya sendiri, sebab kemampuanmu jauuuh dari memadai, tapi minta bantuan para imam yang qualified. Banyak ustad Indonesia yang bahasa Arabnya juga sangat memalukan.

Definisi Zinah ........ adalah melakukan hubungan sexual tanpa menikah.

Kalau begitu Muhammad berzinah dong dengan Mariah bin Kuptiah, sebab dia menghamili Mariah diluar nikah sampai punya anak haram Ibrahim tuh. Gimana dengan hubungan sex tanpa nikah antara Muhammad dengan Rokhayah si kafir Yahudi dari bani Qurayza? Bukankah Muhammad menyetubuhi Rokhayah tanpa nikah setelah selesai memancungi 900 pria dan anak² laki Yahudi Qurayza di Medinah? Muhammad zinah lagi dunk kalo begitu.

Kejebak omongan sendiri lo rupanya. Mampus... :rolleyes:
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Sat May 16, 2009 2:33 am

Jahanam wrote:Ingat Muhammad adalah produk dari Zaman Jahiliyah. Dan Muhammad juga yang menghilangkan Zaman Jahiliyah itu !! Tentu hal-hal yang berbau jahiliyah melekat kepada Muhammad SAW. Tapi Dialah yang merubah Kejahiliyahan itu. yaitu dengan wahyu.

Muhammad mengabadikan budaya Jahiliyah itu dalam Qur'an, hasilnya adalah hukum² barbar seperti nikah mut'ah/ siry/misyar, poligami, potong kaki tangan, rajam bagi pezinah, pancung murtadin kafirun, perendahan derajat wanita dalam masyarakat, permusuhan Muslim terhadap kafir → memecah belah bangsa, rampas jarah salib perbudak kafir, Arabisasi → memuja semuanya yang berbau Arab, dll. Ini adalah hukum yang diciptakan masyarakat barbar Arab bagi kepentingan mereka sendiri di abad ke 7 Masehi. Di saat itu, bangsa Arab hanya bisa menggembalakan kambing dan onta melulu, sedangkan bangsa Indonesia sudah jauuuh beradab dan berbudaya dengan negara² kerajaan yang besar dan dihormati di seluruh Asia. Kita bangsa Indonesia tidak butuh hukum barbar seperti itu, sebab manusia Indonesia jauuh lebih berakhlak daripada masyarakat barbar Arab. Buktinya juga tampak jelas sekarang: meskipun masyarakat Indonesia umumnya Muslim, tapi mereka tetap ogah dan menolak negara Islam dan penerapan Syariah dan lebih memilih bentuk negara kafir demokrasi. Hal ini karena para Muslim mayoritas Indonesia dalam hati tahu bahwa Syariah Islam itu sangat tidak berperikemanusiaan.

Dahulu Nikah mut`ah di perbolehkan oleh Muhammad SAW tapi pada Akhirnya dilarang oleh Muhammad SAW.

Sunni Muslim menolak nikah mut'ah, tapi menghalalkan nikah misyar (nikah rahasia agar istri tua kagak tahu), nikah siry (ini juga nikah rahasia agar istri tua kagak tahu), dan nikah urufi yang semuanya sama miring²nya dengan nikah mut'ah. Lihat tuh yang dilakukan para turis Arab saat ini di daerah Puncak, Jawa Barat, terhadap para wanita Sunda. Lo tentunya tidak keberatan dengan yang dilakukan para bajingan Arab itu terhadap para wanita Indonesia, sebab moto lo adalah: benar salah tak peduli, yang penting terus jilat pantat Arab. Makanya di sub forum perlakukan Arab terhadap TKW Indonesia dan juga thread nikah misyar Arab Indonesia sangat jarang dikunjungi Muslim. Mereka lebih memilih tutup mata sama sekali terhadap kebejadan para Arab yang menerapkan Q 4:24 terhadap para wanita Indonesia.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Sat May 16, 2009 11:53 am

Adadeh wrote:

wrote: NII itu pengkhianat bangsa alias budak Indonesia rendahan penjilat pantat majikan Arab. Tak heran lo pilih mesjid babutakwa, sebab tempat itu memang cocok bagi para babu Indonesia yang bertakwa terhadap majikan Arabnya.

Hahaahahaha ........... **** ........
wrote: Bahasa Inggrisnya gue ambil dari buku tafsir versi Inggrisnya. Tidak seperti lo, gue punya banyak akses ke buku² Islam versi bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Para ustad dan imam yang kukenal memang tidak mahir bahasa Inggris tapi aku sangat mahir bahasa Inggris.

Punya buku tafsir apa ngambil dari google ??? Ngaku-ngaku .......
wrote: Silakan periksa sendiri, coba pake google dan lihat hasilnya sendiri agar kau yakin. Program/software translator itu tidak reliable karena hasil terjemahannya tidak bisa dimengerti dan menerjemahkan secara harafiah (per kata) saja. Ini sama persis dengan caramu menerjemahkan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Terjemahanmu adalah per kata saja, tanpa mengindahkan arti seluruh kalimat dan konteksnya. Karena itulah hasil terjemahanmu tidak bisa dimengerti, janggal, dan sangat salah baik dalam arti maupun struktur bahasa.

Bagaimana mungkin tafsir Bughowi yang berbahasa Arab Kuno ada terjemahan Inggris ????
Setahu saya Tafsir Bughowi yang kamu tongolin itu tidak berbahasa Inggris maupun indonesia deh ........ dan tidak ada terjemahannya deh ...... kita sendiri yang harus menterjemahkan. Bagaimana mungkin kamu terjemahkan ke bahasa inggris dulu baru Indonesia ???
Kalau memang sudah ada terjemahannya di Kitab itu ?? seharusnya tidak murni seperti itu .......

Dari uraian anda kalihatan sekali anda berbohong ..........
wrote: Kalau maksudnya begitu, mengapa tidak kau tulis begitu? Anak kecil saja tahu gimana menulis, sebab mereka bukan jahanam bin botol seperti lo.

Loh saya menterjemahkan sesuai dengan alur dari bahasa arabnya ...... memang salah ....... anak kecil juga paham kok !!
wrote: Hahaha... Udah gini ajah, beli nih tafsir² di bawah ini dan periksa sendiri tafsir Q 4:24.

Para sahabat Nabi yakni Abd Allah ibn Mas'ud, Ubay ibn Ka'b, `Abd Allah ibn `Abbas dan Jabir ibn Abd-Allah membaca ayat Q 4:24 sebagai demikian: Lalu bagi wanita² yang kau nikmati dalam jangka waktu yang telah ditetapkan (iLa Ajalin Musamma), berikan pada mereka uang bayaran (mahar) yang telah ditetapkan."

Setahu saya mereka para Pentafsir tersebut mewakili Tafsir Bughowi yang menytakan bahwa Nikah mut`ah itu haram.

saya akan mengulangi terjemahan saya sendiri :
Dan wanita-wanita yang sudah bersuami dari para wanita kecuali para budak yang kalian miliki. Ketetapan Allah kepada kalian. Dihalalkan kepada kalian selain dari itu ( yaitu yang di haramkan pada ayat 23 ) untuk kalian. dengan ( Sambil ) mencari harta kalian untuk menikah diluar dari Perzinahan. Maka apa yang telah kamu nikmati dari nya (Pernikahan itu) diantara mereka. maka berikanlah kepada meraka maskawin ( mahar ) sebagai suatu kewajiban. Dan tidak berdosa bagi kalian atas kerelaanmu dengannya setelah kewajiban ( yang telah di tetapkan Allah ). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ingat yang Saya Bold ( dengan ( Sambil ) mencari harta kalian untuk menikah diluar dari Perzinahan. ) ini sudah terjadi pernikahan lalu dinikmati ........ Allah mengingatkan kalau sudah menikah tanpa berzinah maka harus diberikan mahar. Mahar diberikan sebelum dinikmati ataupun sesudah dinikmati sah-sah saja. Yang penting Ijab Qobulnya !!!

QS 4:24 sudah dilakukan umat islam sampai sekarang. Yaitu menikah dengan memberi Mahar lalu menikmati.
wrote: → Keterangan ini pula terdapat dalam tafsir² berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/An-Nisa,_24
1. Tafseer Durre Manthur Volume2 P. 40 -
2. Tafsir al-Tabari Volume 5 p. (14 & 15 ?) [1]
3. Tafseer Kabeer Volume 3 p. 94
4. Fathul Qadeer Volume 1 p. 14
5. Tafseer Ibn Katheer Volume 1 p. 84
6. Tafseer Ruh al Maani Volume 5 p.
7. Tafseer Kashaf p. 20
8. Tafseer Mazhari Volume2 p. 4
9. Tafseer Ahkam al Quran Volume2 p. 47
10. Tafseer Mu'alim al Tanzeel p. 63
11. Mustadrak Al Hakim volume 2 p. 47
12. Al Musahif by Abi Bakr Sijistani p. 3
13. Tafseer Mawahib al Rahman page 4 part 5
14. Tafseer Haqqani volume5 p.
15. Tafseer Jama Al Bayan Volume1 p. 66
16. Neel al Authar Volume2 p. 53 Kitab Nikah
17. Tafseer Qurtabi Volume5 p. 30
18. Dhurqani Sharh Muwatta Volume1 p. 54
19. Kitab al Musahaf page 342
20. Al Bahar al Maheet Volume 3 page 218
21. Tafseer Maar Volume5 p. 5
22. Tafseer Jama al Bayan Volume6 p. 9
23. Tafseer Al Baghawi, Al Musami Mu'alim al Tanzeel, p. 414

Haahahahaha ........ :rolling: :rolling: :rolling: :rofl: :rofl: ....... Ndableg nih yee .......
wrote: Jangan menerjemahkannya sendiri, sebab kemampuanmu jauuuh dari memadai, tapi minta bantuan para imam yang qualified. Banyak ustad Indonesia yang bahasa Arabnya juga sangat memalukan.

Bukan kebalikannya kamu yang memalukan karena kebodohan kamu sendiri.
wrote: Kalau begitu Muhammad berzinah dong dengan Mariah bin Kuptiah, sebab dia menghamili Mariah diluar nikah sampai punya anak haram Ibrahim tuh. Gimana dengan hubungan sex tanpa nikah antara Muhammad dengan Rokhayah si kafir Yahudi dari bani Qurayza? Bukankah Muhammad menyetubuhi Rokhayah tanpa nikah setelah selesai memancungi 900 pria dan anak² laki Yahudi Qurayza di Medinah? Muhammad zinah lagi dunk kalo begitu.

Kejebak omongan sendiri lo rupanya. Mampus... :rolleyes:

Yang saya Bold tunjuukkan buktinya ..... setahu saya Mariah adalah budak Muhammad yang sudah dimerdekakan lalu dinikahinya.

Rokhayah dengan Muhammad SAW menikah karena kemauan dari keduanya.
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Adadeh » Sat May 16, 2009 1:48 pm

Jahanam wrote:Bagaimana mungkin tafsir Bughowi yang berbahasa Arab Kuno ada terjemahan Inggris ????

Tafsir Baghawi memang belum ada terjemahan Inggrisnya, tapi tafsir Tabari udah ada. Meskipun begitu, pernyataan Baghawi atas Q 4:24 sangat banyak dikutip di berbagai website, sehingga kutipannya bisa didapatkan di mana², dan ini salah satunya:
http://en.wikipedia.org/wiki/An-Nisa,_24
It is reported that several Sahaba including Abd Allah ibn Mas'ud, Ubay ibn Ka'b, `Abd Allah ibn `Abbas and Jabir ibn Abd-Allah would read the verse as "Then as to those whom you profit by for a prescribed period (Ajol Masomee), give them their dowries as appointed", something that is included in numerous exegises.
Ref: http://en.wikipedia.org/wiki/An-Nisa,_24#cite_note-4

Loh saya menterjemahkan sesuai dengan alur dari bahasa arabnya ...... memang salah .......

Terima kasih atas pengakuanmu. Semua orang waras juga tahu bahwa tatabahasa Arab sangat berbeda dengan tatabahasa Indonesia, sehingga usaha menjejalkan alur bahasa Arab ke bahasa Indonesia merupakan usaha idiot bin botol.

yang saya Bold tunjuukkan buktinya ..... setahu saya Mariah adalah budak Muhammad yang sudah dimerdekakan lalu dinikahinya.

Tidak begitu menurut Ibn Kathir:
Tafsir Q 33:50 oleh Ibn Kathir
[وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّآ أَفَآءَ اللَّهُ عَلَيْكَ]
(those (slaves) whom your right hand possesses whom Allah has given to you,)
means, `the slave-girls whom you took from the war booty are also permitted to you.' He owned Safiyyah and Juwayriyah, then he manumitted them and married them, and he owned Rayhanah bint Sham`un An-Nadariyyah and Mariyah Al-Qibtiyyah, the mother of his son Ibrahim, upon him be peace; they were both among the prisoners, may Allah be pleased with them.
Terjemahan:
(mereka (para budak) yang dimiliki tangan kanannya yang diberikan Allah bagimu,)
berarti ‘budak2 wanita yang kau ambil dari jarahan perang dihalalkan bagimu.’ Dia memiliki Safiyyah dan Juwayriyah, lalu dia merdekakan mereka dan menikahinya, dan dia memiliki Rayhanah bint Sham`un An-Nadariyyah dan Mariyah Al-Qibtiyyah, yang adalah ibu dari putranya yang bernama Ibrahim, semoga damai menyertainya; mereka berdua adalah tawanan2 perang, semoga Allah puas akan mereka.

Tabari (vol. ix, pp.120-141). juga mengatakan
Gundik2 Muhammad:
Mariyah bt. Shamun
Rayhanah bt. Zayd al-Quraziyaah

Sudah jelas Muhammad berzinah, karena dia tidak menikahi kedua wanita tersebut. Lo sendiri mana berani mengakuinya, sebab mengakui Muhammad zinah berarti murtad.

Rokhayah dengan Muhammad SAW menikah karena kemauan dari keduanya.

Hahahaha... gini kok ngaku jadi ahli Islam. Jangan² jabatanmu cuman janitor ajah di babutakwa, tukang jepret kecoa mesjid. Ini nih daftar istri² Nabi lo yang doyan kawin:
ISTRI² dan SIMPANAN MUHAMMAD

Anyway, kembali ke masalah nikah² miring hasil Q 4:24, yang semuanya merupakan penghalalan PELACURAN. Apakah definisi pelacuran? Silakan, Jahanam, tunjukkan definisi PELACURAN DALAM ISLAM. Berdasarkan pengertian non-Islam, definisi pelacuran biasanya adalah:
Kegiatan servis seksual yang dilakukan terhadap pasangan seksnya dengan imbalan uang. → Sama persis nih kedengarannya dengan isi Q 4:24 yang lo jelaskan:
Mahar diberikan sebelum dinikmati ataupun sesudah dinikmati sah-sah saja. Yang penting Ijab Qobulnya !!!

Ijab Qobul = prosedur pernikahan atau serah terima mahar. Hmmm... sekarang pertanyaannya:
Apakah prosedur nikah mut'ah bertentangan dengan Ijab Qobul dalam Islam?
Kan mut'ah juga mewajibkan prosedur ijab qobul. Begitu pula misyar. Gimana nih kok nikah misyar dihalalkan sedangkan mut'ah diharamkan? Apakah alasannya hanya karena ada batas waktunya saja? Jika alasannya hanya karena batas waktu saja, maka tentunya nikah mut'ah lebih jelas dan tegas hukumnya dibandingkan nikah misyar di mana suami bisa tiba² saja menghilang tak muncul lagi setelah bosan dengan istri misyarnya.

Nikah mut'ah secara finansial lebih menguntungkan bagi wanita karena tiap kali selesai kontrak dan selesai pembayaran mahar, maka pihak wanita tidak perlu kasih servis seks lagi buat suami. Habis sudah kontraknya. Jika ingin ngeseks lagi, pihak pria musti bayar lagi, dan begitu seterusnya.
Nikah misyar secara finansial sangat merugikan wanita karena pria hanya sekali saja bayar mahar, dan dia bisa menikmati seks dengan wanita tanpa batas waktu yang ditentukan. Tiap kali ingin ngeseks, tinggal kunjungi istri lalu pergi setelah puas ngeseks, dan begitu seterusnya tanpa batas waktu. Rugi dunk ceweknya cuman dijadikan jamban pemuas nafsu berahi lelaki.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: NIKAH MUTTAH = PENG"HALAL"AN PELACURAN

Postby Jahanam » Sun May 17, 2009 10:26 pm

Adadeh wrote: Tafsir Baghawi memang belum ada terjemahan Inggrisnya, tapi tafsir Tabari udah ada. Meskipun begitu, pernyataan Baghawi atas Q 4:24 sangat banyak dikutip di berbagai website, sehingga kutipannya bisa didapatkan di mana², dan ini salah satunya:
http://en.wikipedia.org/wiki/An-Nisa,_24
It is reported that several Sahaba including Abd Allah ibn Mas'ud, Ubay ibn Ka'b, `Abd Allah ibn `Abbas and Jabir ibn Abd-Allah would read the verse as "Then as to those whom you profit by for a prescribed period (Ajol Masomee), give them their dowries as appointed", something that is included in numerous exegises.
Ref: http://en.wikipedia.org/wiki/An-Nisa,_24#cite_note-4

Tetap tidak menyatakan bahwa Nikah Mut`ah itu Halal tetapi haram .......... perhatikan kalimat itu baik-baik yaa ....
wrote: Terima kasih atas pengakuanmu. Semua orang waras juga tahu bahwa tatabahasa Arab sangat berbeda dengan tatabahasa Indonesia, sehingga usaha menjejalkan alur bahasa Arab ke bahasa Indonesia merupakan usaha idiot bin botol.

Loh ........ rupanya kamu selain pendusta tetapi **** juga yaa ..... memang salah ??? saya itu bertanya !! **** ......
wrote:
Tidak begitu menurut Ibn Kathir:
Tafsir Q 33:50 oleh Ibn Kathir
[وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّآ أَفَآءَ اللَّهُ عَلَيْكَ]
(those (slaves) whom your right hand possesses whom Allah has given to you,)
means, `the slave-girls whom you took from the war booty are also permitted to you.' He owned Safiyyah and Juwayriyah, then he manumitted them and married them, and he owned Rayhanah bint Sham`un An-Nadariyyah and Mariyah Al-Qibtiyyah, the mother of his son Ibrahim, upon him be peace; they were both among the prisoners, may Allah be pleased with them.
Terjemahan:
(mereka (para budak) yang dimiliki tangan kanannya yang diberikan Allah bagimu,)
berarti ‘budak2 wanita yang kau ambil dari jarahan perang dihalalkan bagimu.’ Dia memiliki Safiyyah dan Juwayriyah, lalu dia merdekakan mereka dan menikahinya, dan dia memiliki Rayhanah bint Sham`un An-Nadariyyah dan Mariyah Al-Qibtiyyah, yang adalah ibu dari putranya yang bernama Ibrahim, semoga damai menyertainya; mereka berdua adalah tawanan2 perang, semoga Allah puas akan mereka.

married ini artinya apa ??? apakah berzinah ??

Terbukti kalau mereka telah dinikahi Rayhanah bint Sham`un An-Nadariyyah dan Mariyah Al-Qibtiyyah. Walaupun status mereka sebagai budak dari tawanan perang. Karena hukum pada saat itu, tawanan perang itu bisa dijadikan sebagai budak .. tetapi dengan bijaksananya Muhammad menikahinya.
wrote: Hahahaha... gini kok ngaku jadi ahli Islam. Jangan² jabatanmu cuman janitor ajah di babutakwa, tukang jepret kecoa mesjid. Ini nih daftar istri² Nabi lo yang doyan kawin:

Bukannya elu yang jadi pengacau gereja ...... karena FFI ini juga dianggap sesat oleh sebagian pendeta.
wrote: Ijab Qobul = prosedur pernikahan atau serah terima mahar. Hmmm... sekarang pertanyaannya:
Apakah prosedur nikah mut'ah bertentangan dengan Ijab Qobul dalam Islam?
Kan mut'ah juga mewajibkan prosedur ijab qobul. Begitu pula misyar. Gimana nih kok nikah misyar dihalalkan sedangkan mut'ah diharamkan? Apakah alasannya hanya karena ada batas waktunya saja? Jika alasannya hanya karena batas waktu saja, maka tentunya nikah mut'ah lebih jelas dan tegas hukumnya dibandingkan nikah misyar di mana suami bisa tiba² saja menghilang tak muncul lagi setelah bosan dengan istri misyarnya.

Ijab Qobul = prosedur pernikahan atau serah terima mahar.
begini mau debat masalah islam ... bo doh ...
Arti Ijab Qobul
Makna dari Ijab Qobul adalah Seorang suami yang siap menerima wanita sebagai istrinya dan seorang ayah yang siap menyerahkan anaknya untuk dijadikan istri oleh menantunya. Sebagai tanda simbolik dari Ijab qobul yaitu sebuah benda yang berbentuk mahar. Dan disahkan oleh saksi dan masyarakat luas.
Mahar dapat diserahkan setelah dinikmati ataupun sesudah dinikmati. Emangnya laki-laki aja yang enak .... perempuan juga ngerasa enak juga. memang harus begitu dalam islam.

Sementara Nikah mut`ah tidak ada ijab Qobul disaksikan oleh masyarakat luas. Karena Pernikahan mut`ah dilakukan sembunyi-sembunyi. tanpa saksi, walaupun ada hanya sebagai simbolik saja. Maka sudah barang tentu ini disebut pelacuran.

Coba sejauh mana kamu tahu tentang Islam .... bo do h ..
Jahanam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 348
Joined: Thu Sep 18, 2008 9:32 am

PreviousNext

Return to Hak WANITA dlm Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users