. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1 ?

Yang santai dan rileks. Gosip juga boleh.

Dahlan menjadi RI 1

Saya dukung
14
82%
Tidak saya dukung
3
18%
 
Total votes : 17

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby angky » Tue Jun 26, 2012 10:13 pm

duren wrote:Tidak lah sebuah kaum akan berobah nasibnya KECUALI oleh kaum itu sendiri .

tulipputut wrote:wek wek weeek.....! keburu tua n layu bunga tulipku menuggu hadis itu terpenuhi!

Sewa aja presiden dari negara kapir yg sudah teruji otak n hatinya,
keren kan kita bisa bayar presiden, ha ha haaa....


:heart: tulip


Kalo Bill Clinton di hired jadi presiden RI, baru satu minggu, dia pasti mewek minta berhenti. Kalo ditolak, dia akan sengaja melakukan sexual harrasment dan saat di impeachment, baru wacana, dia buru buru angkat koper takut dpr berubah pikiran. :lol:

Ane setuju untuk sewa, tapi yang disewa sagerbong gerbongnya, termasuk pegawai kecamatan. :rolling:
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3321
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Wed Jun 27, 2012 11:02 am

angky wrote:
Sejak jadi direktur PLN dan kemudian jadi Menteri BUMN, DIS tidak pernah MENGAMBIL gajinya. Beberapa hari yang lalu, ada kabar DIS akan menyumbangkan 6 bulan gaji menterinya untuk pembangunan gedung KPK yang di tolak DPR. :rolling:

Ane usulkan supaya DIS mengangkat duren swt sebagai manajer kampanye nya dan nanti kalau sudah terpilih jadi Pres dan Duren jadi menteri, ane mau minta proyek yang mirip seperti hambalang. :lol:

Bung angky percaya ga .. para DIS mania , para Dahlanist semua bekerja tanpa pamrih ( bahkan keluar duit sendiri ) tuk mempopulerkan DIS .

Ini contohnya
http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/0 ... ment-16646
http://kickdahlan.wordpress.com/
Belum lagi di FB

Ohh ya .. mungkin teman teman belum faham akan asal muasal virus MH ( Manufacturing Hope ) .
Mulanya adalah iseng iseng / kebiasaan Dahlan saat di PLN membuat CEO NOTE untuk kepentingan internal . Suatu kali dia tidak menulis CEO NOTE , ehh malah banyak pegawai PLN yang kasak kusuk meributkannya .
Sejak itulah Dahlan DIPAKSA " massa " tuk terus menerus meluncurkan MH setiap senin pagi

Dan lahirlah generasi DIS mania .... Dahlan adalah The New Indonesian Idol yang di BENCI para pesimistis , para Islamist dan para anti islamist ( ntah knafa mereka kompak sekali ini ) :green:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby angky » Wed Jun 27, 2012 3:50 pm

duren wrote:Bung angky percaya ga .. para DIS mania , para Dahlanist semua bekerja tanpa pamrih ( bahkan keluar duit sendiri ) tuk mempopulerkan DIS .

Ini contohnya
http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/0 ... ment-16646
http://kickdahlan.wordpress.com/
Belum lagi di FB

Ohh ya .. mungkin teman teman belum faham akan asal muasal virus MH ( Manufacturing Hope ) .
Mulanya adalah iseng iseng / kebiasaan Dahlan saat di PLN membuat CEO NOTE untuk kepentingan internal . Suatu kali dia tidak menulis CEO NOTE , ehh malah banyak pegawai PLN yang kasak kusuk meributkannya .
Sejak itulah Dahlan DIPAKSA " massa " tuk terus menerus meluncurkan MH setiap senin pagi

Dan lahirlah generasi DIS mania .... Dahlan adalah The New Indonesian Idol yang di BENCI para pesimistis , para Islamist dan para anti islamist ( ntah knafa mereka kompak sekali ini ) :green:


hehehehe, jangan kuatir bung Duren, ane tidak punya pretensi negatif hingga saat ini. Ane cukup mengikuti baik dari buku nya maupun tulisan tulisannya yang cukup mengigit.
Tetapi bung, percaya atau tidak, saat ini ane merasa PESIMIS dengan kiprah para "konglomerat" indonesia yang menyimpan borok yang kadang mengejutkan. Saat kita begitu respek dan ternganga dengan kiprahnya didunia bisnis tiba tiba seringkali kita TERKEJUT dengan The Dark Side of their life and behaviour.

Nah ane saat ini lagi pengen tahu sebetulnya, bagaimana caranya DIS menguasai Jawa Pos?? Agak lupa lupa ingat, kayaknya pernah terjadi perselisihan juga bukan?? Bung Duren mungkin lebih updated, mohon dishare apakah ada sisi gelapnya yang belum terbuka??

Jangan salah paham, maksud ane lebih baik menjadi seorang TW daripada menjadi seorang farisi dipersimpangan jalan ramai yang kemudian tertangkap tangan oleh KPK menyuap.
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3321
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Wed Jun 27, 2012 6:21 pm

Tentu saja masalah riwayat kepemilikan saham Jawa Pos sangat erat kaitannya dengan Eric Somala ( PT Grafiti Pers ) dan Dahlan memang sudah dianggap sebagai anak kesayangannya

Btw ... saya kira berikut ini tulisan tulisan yang paling fair mengenai hubungan mereka komplit dengan riwayat kepemilikan saham nya

Jawa Pos adalah Dahlan Iskan (11)

Jawa Pos adalah Dahlan Iskan (12)


Dan KETIDAK SUKAAN Eric Somala akan kebahlulan Dahlan yang gila Persebaya

Ternyata, Dahlan Iskan Punya Keterkaitan Erat dengan Bonek Persebaya

Ternyata, Dahlan Iskan Pernah Menjadi Anggota MPR

Riwayatnya sehingga dia menjadi anak kesayangan Eric adalah saat Dahlan magang di Tempo , yaitu membuat laporan tentang Kusni Kasdut dan dilanjutkan saat kembali ke Samarinda ... Dahlan sukses membuat liputan tentang tragedi tenggelamnya Tampomas II di Masalembo .
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Wed Jun 27, 2012 8:43 pm

Jadi ingat ni akan masa masa magang nya di TEMPO nihh .

Simak akan gaya reportase pertamanya di tentang KUSNI KASDUT sang pahlawan kemerdekaan yang jadi bandit lalu di hukum mati


Saya ini orang masa lalu kata

12 Januari 1980 . UNTUK menuju kamarnya kita harus melalui pagar besi tujuh rangkap. Di situlah, di kamar ke-5 dari 9 ruangan serba beton di blok B-II penjara Kalisosok (Surabaya), Kusni Kasdut menunggu akhir hidupnya -- yang agaknya sudah ditentukan tak lama lagi. Ia sendirian.

Ruangan lain belum berpenghuni. "Barangkali hanya saya saja yang kuat membayar untuk kamar jenis ini," ujar Kusni bergurau. Ia suka tetap berseloroh dan bersikap biasa-biasa saja. Maklumlah terpidana mati ini hingga awal bulan ini belum tahu perihal penolakan grasinya. Bangun pukul 5 ia memulai kegiatannya dengan sembahyang pagi.
Agamanya Katolik.

Setelah itu ia mendapat kesempatan "jalan pagi" di halaman kamar, sebelum membenahi kamarnya sendiri. Menyusul waktu minum kopi dan sarapan roti. Setelah itu, seharian sampai malam, sepi. Tak ada teman ngobrol. Tak ada lagi keroncong, langgam dan tiupan trompet Louis Amstrong kegemarannya. "Saya ini memang orang masa lalu," kata Kusni. Dulu ia boleh menikmati musik itu di penjara cipinang. Kini ia tak boleh lagi memiliki radio atau televisi.
Juga dibiarkan menganggur -- suatu hal yang tak disukainya. Ia senang mengerjakan berbagai pekerjaan tangan. Masih lumayan ada kesempatan membaca Injil dan majalah ringan lainnya. Itupun sekarang terhenti. Karena satu-satunya kacamata yang dipunyainya sedang diperbaiki di luar.

Setiap 10 atau 15 menit sekali, sepanjang siang dan malam selalu ada petugas penjara yang mengecek ke dalam sel Kusni. "Asal tahu saja ia masih berada di dalam," kata Kepala LP (Lembaga Pemasyarakatan) Kalisosok, Harry Marsudi. Dan bunyi pintu besi bergerit, menggelisahkan Kusni. Bahkan di malam hari suara itu membangunkannya dari tidur. Ia tidak tenteram. Sorot dua lampu neon membuatnya susah tidur telentang di atas "dipan" betonnya. "Saya senang tidur remang-remang -- tapi maklumlah, demi pengamanan toh?" kata Kusni sambil melirik kepala jaga penjara.

Memang berlaku "pengamanan penuh" bagi narapidana yang satu ini. Menurut Marsudi ada "empat jangan" yang harus dijaga pada Kusni: jangan sampai lari, sakit, bunuh diri dan terbunuh oleh orang lain.

Untuk itu, sampai makanannya pun diatur dan diawasi dengan ketat. Ransum nasinya, setiap kali 500 gram, diperiksa oleh dokter sebelum diantar ke kamarnya. Sebelum dan sesudah makan badannya ditimbang. Ternyata berat badannya kini 50, bertambah 3 kg dari sebelum ia di penjara ini, walaupun ia tak selalu menghabiskan jatah makannya. Apa yang tampak pada Kusni Kasdut, sebenarnya tidak persis menggambarkan apa yang bergerak di dalam hatinya. Lihat saja. Dalam perjalanan ke Malang ketika ia hendak dipindahkan ke penjara Lowokwaru, ia bersikap manis walaupun cukup kesempatan untuk lari. Tapi ia memilih kabur pada saat ia diawasi dengan ketat. "Selama ini sikapnya memang sukar ditebak, unpredictable," ujar Dirjen Pemasyarakatan Ibnu Susanto. Ekspresi yang sebenarnya, barangkali akan muncul pada saat ia diberitahu kapan pelaksanaan hukuman matinya akan dilaksanakan. Yaitu 3 x 24 jam sebelum eksekusi. Hingga kini Kusni Kasdut memang belum tahu. Petugas Kalisosok sangat berhati-hati mengenai hal itu. Jangan sampai bocor.

Dari Ninik anaknya yang datang membezuk bersama kedua anaknya bulan lalu, Kusni juga tak dapat mendengar nasib apa yang sebenarnya sudah ditentukan baginya. Dia gembira sekali menyambut anak dan kedua cucunya. Ia banyak berpesan, terutama untuk kedua cucunya. "Paling sedikit mereka harus sekolah sampai SMA -- jangan sampai gagal hanya karena alasan tak ada uang," katanya. Tak lupa ia juga mendesak Ninik, seperti, "apa yang kamu dengar di luar tentang ayah?" Ninik tentu saja tak bisa menjawab. Hanya air matanya saja yang keluar, seperti yang terlihat di wajah ayahnya juga. "Bilang saja, tak usah ragu-ragu, tak usah takut," desaknya. Tentu saja Ninik diam. Juga tidak diutarakan keinginan hatinya: agar ayahnya kelak, setelah dihukum mati, mau dikuburkan -- walaupun hanya rambutnya -- di Bogor atau Jakarta. "Biar mudah menziarahinya," kata Ninik. Tapi, "entah ia rela atau tidak," lanjutnya, karena Kusni pernah berpesan: kalau mati ia ingin jenazahnya disumbangkan untuk penelitian di fakultas kedokteran.

Ada keinginan lain, yang juga tak bisa disampaikan kepada ayahnya: Ninik berharap bisa merasakan tinggal serumah dengan ayahnya, "walaupun hanya sehari." Yaitu, sebelum pelaksanaan hukuman mati, yang didengarnya mungkin akan dilaksanakan Februari mendatang. "Saya ingin ngobrol panjang, masak dan mencuci pakaiannya sebelum ayah meninggal," harap Ninik. Ngobrol panjang memang salah satu yang disukai Kusni Kasdut.

Di bawah ini beberapa cuplikan obrolannya dengan Slamet Djabarudi dan Dahlan Iskan dari TEMPO:

Apa kabar?
O, baaaik! Semua baik. Betul. Bukan saya main sandiwara atau takut kepada bapak-bapak penjaga. Sebenarnya, begini, kalau dipercaya mulai dibaptis tahun 1969 saya betul-betul sudah tobat. Mana saya pernah berbuat salah -- sedikit pun tidak pernah. Saya tekun dalam agama. Tekun mengabdi pada hukuman saya. Kok lari? Nah, begini soalnya. Oka Gunawan yang sudah saya bina akan dipindah. Saya ingin agar Oka, yang pernah merampok toko emas itu, bisa baik nanti setelah keluar. Kalau Oka dipindah, saya juga minta dipindah. Mengapa mengurusi Oka segala? Kan, lembaga ini dasarnya pembinaan dan waktu itu tidak ada napi lain yang menerima Oka. Mengapa lari dari Malang? Waktu dibawa dari Cipinang ke Malang saya nginap di Tretes. Rantai saya dibuka. Bahkan Brimob yang mengawal saya tidur satu kamar -- senjatanya tergeletak. Kalau saya mau lari 'kan mudah. Tapi saya tidak lari. Karena saya berpikir, sesampai di Malang saya akan diperlakukan dengan wajar. Ternyata tidak. Saya pusing karena minta pekerjaan tidak diberi. Asal ngomong dengan narapidana lain dicurigai. Saya ingin 'nyoba lari. Kebetulan ada beberapa kawan yang ngajak. Tapi gagal. Tapi waktu saya tambah pusing, maka saya lari saja.

Bagaimana menghadapi hukuman mati?
Hukuman saya 'kan sudah tidak karu-karuan. Ada yang 50 tahun, ada yang 10 tahun, ada yang mati. Saya tidak pikir soal hukuman lagi. Kalau dipikir mungkin 15 hari saya sudah mati. Yang penting, kalau dibina di lembaga dengan baik, saya akan tobat dan mengabdi pada dunia yang sempit ini kalau diberi kesempatan. Cuma itu yang saya pikir. Kalau masih dipercaya, sekali lagi. Kalau tidak diberi kesempatan? Ya, terserah. Pasrah. Tapi namanya manusia, kalau terjepit terus, daripada mati konyol ya lebih baik berusaha. . .

Bagaimana sistem pemasyarakatan -- bukankah Pak Kusni diperlakukan dengan baik selama di Cipinang?
Ya, untuk pribadi saya. Tapi untuk kepentingan umum seperti di Cipinang itu 'ndak bener! Misalnya soal sogok orang bisa kerja asal bayar. Tapi yang seharusnya bekerja bisa 'nggak usah kerja asal mampu bayar juga. Kasihan bangsa kita sendiri yang tidak mampu. Bapak-bapak di Cipinang secara tidak langsung mengizinkan main judi. Karena saya diajak membantu pembinaan, hal itu saya laporkan kepada petugas, tapi mereka tidak berani lapor ke atas. Apa yang diharapkan pada Presiden? Mudah-mudahan beliau diberi kekuatan oleh Tuhan. Mudah-mudahan lewat Bapak Presiden kami diberi kesempatan mengabdi dan menghabiskan sisa umur tua saya di luar. Betul-betul saya sudah sadar. Saya minta kebijaksanaan pemerintah. Bukannya saya ingin bebas lalu berbuat yang enggak-enggak. Saya ini sudah tua -- apa sih gunanya saya dihukum?



Perjamuan Terakhir Ignatius Waluyo

16 Februari 1980 . DI atas makamnya kelak hanya akan tertulis: Ignatius Waluyo. Nama hitamnya, Kusni Kasdut, telah lama dinyatakannya sendiri habis.
Yang hendak ditinggalkan hanyalah nama baptis. Itu adalah semacam simbul dia bukan manusia yang dulu pernah mengumbar kejahatan dengan tidak semena-mena, tapi seorang biasa yang mati dalam iman. Dan ia tidak bergurau, di muka rumah penjara Kalisosok sebelum berangkat ke tempat eksekusi, ketika ia berkata. "Semoga dalam perjalanan terakhir saya ini tidak ketemu setan . . . Haleluya . . . Haleluya . . . !"

Tiga buah peluru tepat mengenai jantungnya dan lima yang lain di sekitar perutnya. Tugas 12 orang dari regu tembak polisi pagi itu, 6 Februari sekitar jam 04.35, selesai sudah: Kusni Kasdut, 52 tahun dinyatakan telah menjalani hukuman ditembak sampai mati.

Waktu itu di langit bersinar tigaperempat rembulan malam ke-18. Di cakrawala sebelah utara nampak pijar-pijar kilat yang tak berbunyi. Nasib Kusni telah ditentukan, sejak Presiden Soeharto menolak permohonan grasinya 10 November tahun lalu. Ada memang jasanya dalam perjuangan 1945. Kelakuannya juga baik sebagai narapidana teladan di Cipinang. Dan ia sendiri berharap dapat pengampunan. Tapi hukuman bagi kejahatan yang pernah dibuatnya memang, seperti katanya sendiri, sudah tidak tertanggungkan lagi.

Ia dipidana mati bagi kejahatannya membunuh anggota polisi di Semarang. Ia dihukum penjara seumur hidup untuk nyawa Ali Bajened. Ia divonis 12 tahun penjara untuk lakonnya memimpin perampokan berlian di Museum Pusat. Dan ia diganjar 50 tahun untuk kejahatannya -- yang pertama -- menculik seorang dokter. Selama sebagai "orang rantai", narapidana, Kusni juga sudah 8 kali berusaha lari dari penjara dan tempat tahanan polisi. Hanya tiga kali ia gagal.

Demikianlah awal bulan ini, Kusni Kasdut dipanggil dari sel ke-5 blok B-II penjara Kalisosok (Surabaya) untuk diberitahu tentang penolakan grasinya oleh Presiden. Tak ada yang bisa meraba apa yang ada dalam pikirannya. Tapi petugas penjara melihat ia kembali ke selnya dengan langkah yang biasa-biasa saja. Tidak kaget? Kecewa? Mungkin. Sebelumnya Kusni sudah juga diberitahu: akhir hidupnya ditentukan pemerintah paling lama liga hari lagi. Upaya hukum, seperti "amnesti" yang masih diharapkannya, tentu saja tak mungkin bisa diperolehnya. Keinginannya terakhir hanya ia mau duduk di tengah keluarganya. Itu terpenuhi. Sembilan jam sebelum diantar pergi oleh tim eksekutor, di ruang kebaktian Katolik di LP Kalisosok Kusni Kasdut dikelilingi keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuannya yang terakhir-dengan capcai, mi dan ayam goreng. Tapi rupanya hanya orang yang menjelang mati itu yang dengan nikmat makan.

Kusni, kemudian, memeluk Ninik. "Saya sebenarnya sudah tobat total sejak 1976," katanya, seperti direkam seorang pendengarnya. "Situasilah yang membuat ayah jadi begini. Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek. Ninik dan yang lain menangis. "Diamlah," lanjut ayahnya, "Ninik 'kan sudah tahu, ayah sudah pasrah. Ayah yakin Tuhan sudah menyediakan tempat bagi ayah. Maafkanlah ayah." Kedua cucunya, Eka dan Vera, mulai mengantuk. Kusni banyak berpesan, misalnya agar keluarganya saling mengunjungi. Ia juga minta kerelaan Edi, menantunya, agar menyekolahkan Eka dan Vera di sekolah Katolik. "Syukur kalau salah scorang di antaranya bisa ada yang jadi biarawati."

Lalu acara pemakaman juga dibicarakan. Mereka sepakat mengajukan permohonan agar jenazah dikuburkan di Probolinggo (Jawa Timur). Di saat terakhir Kusni menyerahkan sebuah bungkusan coklat kepada Bambang. Isinya sepotong kemeja safari, hem lengan panjang dan dua buah celana panjang.

Pesan penghabisan sederhana, seperti urusan bisnis agar honor dari penerbit Gramedia, untuk riwayat hidup yang dibukukan oleh pengarang Parakitri, agar diurus. Itu, kata Kusni, "merupakan persembahan terakhir bapak kepada anak-cucu."

Lalu keluarga itu berpisah.
Di malam menjelang ajal, Kusni hanya duduk dekat terali besi, merokok kretek, mengobrol dengan sipir, dan sekali-kali bersembahyang. Ketika tim eksekutor menjemputnya, sekitar jam 03.00, Kusni masih tetap jaga. Ia menolak mandi pagi. Setelah menyalami petugas yang selama ini mengurusnya, Kusni pun diiring meninggalkan selnya. Di muka penjara menunggu dua orang polisi: Kol. Pol. Harsono dan Mayor Pol. Sujono.
Mereka adalah petugas yang menangkapnya setelah sebulan melarikan diri dari penjara Lowokwaru di Malang. Mereka memeluk dan mencium Kusni. Lalu dua buah mobil polisi pun memimpin iring-iringan 17 mobil meninggalkan Kalisosok. Banyak yang menyangka hukuman mati bagi Kusni Kasdut akan dilaksanakan di Pantai Kenjeran sebelah timur kota. Ternyata rombongan menuju barat laut. Di sekitar 8 km sebelum Gresik, iringan berhenti. Rombongan turun dari kendaraan dan berjalan kaki menuruti pematang-pematang tambak, untuk mencapai tanah yang agak datar berpohon rimbun dekat Selat Kamal. Di situ, segala sesuatunya telah siap.

Kusni terpancang di sebuah tiang dengan sehelai kain menutupi mukanya.
Romo Tandyo Sukmono membimbingnya berdoa.
Lalu "Amin".
Dan peluru menggelegar.
Tuhan, selesai sudah.
( Duren : Judul dan Reportase nya nyontek Injil nihh :lol: )

Tapi adakah segalanya jadi selesai? Banyak yang berharap pelaksanaan hukuman mati tak akan terjadi lagi setelah sebelumnya berturut-turut Oesin Baftari dan Henky. Beberapa hari sebelum Kusni Kasdut berhadapan dengan regu tembak, di Jakarta muncul sekelompok orang berkaus dengan tulisan "Hapus Hukuman Mati". Mereka menyebut diri Kelompok HATI. Hukuman mati, menurut kelompok ini, tampak "telah meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan". Bentuk pidana demikian, kata mereka telah merampas hak paling dasar bagi manusia, "yakni hak untuk hidup." Pidana mati meniadakan kemungkinan bertobat, padahal hukuman adalah proses untuk mendidik dan memperbaiki kehidupan si terpidana. HATI, yang terdiri dari, antara lain, Mochtar Lubis (budayawan), Nani Razak (advokat dan bekas pembela Kusni Kasdut), Marianne Katoppo (sastrawan), T. Mulia Lubis dan A. Rahman Saleh (dari LBH DKI), mengulang kembali argumen yang terkenal yang menentang hukuman mati banyak lagi sejauh manakah hukuman mati akan sungguh-sungguh berguna untuk menangkal terulangnya suatu kejahatan? Sejumlah studi kriminologi mereka ketengahkan: tidak ada hubungannya antara angka kejahatan dengan hukuman mati. Hukuman itu dengan kata lain sia-sia, meskipun HATI mengakui bahwa studi perkara itu di Indonesia belum pernah dilakukan secara layak. Suara HATI toh didengar oleh Menteri Kehakiman Moedjono SH. Menteri, seperti dikatakan Mulia Lubis, bisa menyetujui penghapusan hukuman mati bagi kejahatan seperti pembunuhan berencana. Namun bagi kejahatan lain, yang "membahayakan Pancasila, keamanan negara atau Kepala Negara," Menteri berpendapat hukuman mati masih sangat diperlukan. Tapi Adam Malik, Wakil Presiden, lain dari yang lain. Ia ikut berkaus HATI. Sikapnya, menurut Mulia Lubis, sangat jelas anti hukuman mati bagi semua jenis kejahatan. Adam Malik, sesaat sebelum sidang kabinet pada hari Kusni Kasdut ditembak, bahkan menyatakan: "Hukuman mati tak perlu dilaksanakan di Indonesia." Sebab, katanya, "negara ini hidup dalam peradaban yang maju."

Sebagai contoh dijanjikannya: hukuman mati bagi Subandrio tidak akan dilaksanakan. Tentulah jangan diharap, pendapat itu sudah merupakan pendapat resmi pemerintah. Sebab Jaksa Agung Ali Said, selesai rapat dengan Komisi III DPR minggu lalu, menyatakan ancaman hukuman mati masih perlu dicantumkan dalam undang-undang. Pandangannya terhadap hukuman mati, katanya, sudah jelas: "Setidak-tidaknya saya pernah satu kali menjatuhkan hukuman mati, yaitu ketika saya mengadili perkara G.30 S./PKI Nyono."

Begitu juga pendapat Pangkopkamtib Laksamana Sudomo. Soal pengetrapan ancaman hukuman mati, katanya, sepenuhnya tergantung penilaian dan kebijaksanaan hakim yang mengadilinya. Namun, katanya, ancamannya itu sendiri masih perlu tercantum dalam undang-undang. "Untuk membuat penjahat takut," katanya di Bina Graha -- tak jauh dari tempat Adam Malik berdiri. Tapi diskusi tak berhenti di situ. Muncullah kelompok yang menamakan diri "Pahama", atau Pembela Hukuman Mati. Kelompok yang terakhir ini juga menemui Menteri Kehakiman dengan membawa alasan Kitab-kitab suci berbagai agama mengisyaratkan dengan tegas izin bagi manusla untuk mempergunakan pidana mati sebagai bentuk penghukuman terberat. Hukuman mati, seperti kata Hidayat Achyar dari Pahama, "adalah hukuman yang berasal dari Tuhan Yang Maha Adil." Rupanya dalam soal begini Tuhan memang harus disebut-sebut, baik oleh pro-HATI maupun anti-HATI. Juga oleh Kusni Kasdut -- juga oleh Henky, yang ditembak dalam waktu begitu berdekatan.

BOKS H.M. Syukri, 73 tahun, Ketua II Majelis Ulama Indonesia: Hukuman mati, katanya, dibenarkan oleh Islam bagi kejahatan mencabut nyawa sesamanya -- bila keluarga korban tidak memaafkannya, memerangi Allah dan utusannya, dan berzina, bagi orang yang sudah beristri atau bersuami. "Ancaman hukuman yang keras," katanya, "tak lain demi terpeliharanya ketertiban masyarakat."

Yap Thiam Hien, pengacara "Saya gembira kalau hukuman mati dikeluarkan dari semua undang-undang baik KUHP maupun pidana khusus." Allah katanya melarang membunuh manusia. Dan hukuman mati "tidak lain pembunuhan yang dilegalisir." Pemidanaan, menurut falsafah hukum modern, tidak untuk membalas dendam. Tapi untuk mendidik dan memperbaiki manusia yang rusak. "Kalau sudah mati tidak lagi bisa tobat -- itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan." Hukuman mati hanya menunjukkan ketidak-mampuan mendidik narapidana.

Prof Sudarto, 57 tahun, Rektor Univ. Diponegoro (Semarang), Gurubesar Hukum Pidana dan bekas pembela Kusni Kasdut: Ia tak setuju hukuman mati. "Alasan pokoknya," katanya, "manusia tak berhak mencabut nyawa orang lain. "Apalagi bila diingat hakim bisa salah menjatuhkan hukuman. Tidak benar hukuman mati diperlukan untuk menakut-nakuti agar orang tidak berbuat jahat. "Nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman."

Bambang Poernomo, 44 tahun, Dosen Hukum Pidana/Hukum Acara Pidana Fak. Hukum Univ. Gajah Mada (Yogya): Untuk mengontrol kejahatan masih diperlukan ancaman keras seperti halnya dengan hukuman mati. Penerapannya yang harus hati-hati. Terhadap kejahatan makar, korupsi atau penyelundupan misalnya. Juga kejahatan terhadap individu "yang dilakukan secara bengis."

Suparto H.S., 56 tahun, Ketua Perwalian Umat Budha Indonesia: Orang Budha tak akan kaget kalau ada orang dihukum mati. "Saya melihat sebagai suatu hal yang semestinya karena ada perbuatan yang sudah dilakukannya."

R. Said Sukanto, 72 tahun, tokoh aliran kepercayaan dan bekas Kapolri: Hukuman mati boleh ditiadakan, tapi nanti, "sekarang masih terlalu pagi." Kondisi di sini belum baik. Kriminalitas sudah berubah jadi teror. Lembaga pemasyarakatan masih seperti penjara. "Apa keluar dari sana sudah menjadi orang baik? Sudah disurvei?"

Prof. Mahadi, 68 tahun Gurubesar luarbiasa di Fak. Hukum USU (Medan), bekas Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara: "Satu saat kita butuh senjata terhadap orang yang memang betul-betul tidak bisa diperbaiki lagi. "Bila kejahatan sudah dilakukan berulang-ulang -- entah itu subversi, manipulasi atau pembunuhan -- perlu hukuman mati.

Titik Pramoedya Ananta Toer, 50 tahun, pengarang: "Setiap ada kejadian hukuman mati saya menyesal," katanya, "sebab jiwa manusia paling berharga." Ia tidak setuju hukuman mati. "Pikiran manusia terbatas Karena terbatasnya kesalahan (bagi hakim) menjadi mungkin." Pidana penjara sudah berat sekali sebagai hukuman. Ia sudah mengalaminya, jadi "lebih merasakan". Bahkan, lanjutnya, menunggu hukuman itu sendiri sudah dirasakan sebagai hukuman

. Dr. Franz Magnis Suseno, 43 tahun, rohaniawan Katolik: Gereja Katolik menentang hukuman mati. Tidak sesuai dengan martabat manusia dan semanaat Injil. "Secara definitif mengakhiri riwayat orang lain itu sama sekali tidak dibenarkan." Hukuman mati, katanya, timbul dari "rasa balas dendam yang dicarikan rumusan formal yang dituangkan dalam suatu undang-undang." Di Indonesia masih lebih baik dibanding negara lain. "Meskipun di sini ada hukuman mati, saya menilai, pemerintah sangat sedikit melaksanakannya."

T.B. Simatupang, 60 tahun, Ketua Dewan Gereja Indonesia (DGI): Ia senang seandainya, dengan pertimbangan "sudah masanya", hukuman mati dicabut dari undang-undang. Tapi, soalnya, "hukuman tersebut adalah alat untuk menjaga ketenteraman masyarakat." Hukuman mati harus dibicarakan dari segi kepentingan masyarakat. Seperti halnya pembunuhan dalam perang. Masyarakat juga harus mempertahankan diri.

Drs. I.B. Oka Puniatmaja, Ketua Parisada Hindu Dharma, Anggota DPR dan Dosen Univ. Udayana (Bali): Kejahatan membunuh, mengambil harta dan memperkosa boleh dibalas dengan mencabut nyawa pelakunya. Orang yang mengambil nyawa orang yang bersalah tidak berdosa. "Itulah hukum keadilan dalam agama Hindu." Nyawa orang yang melakukan kejahatan seperti di atas dianggap tidak berharga lagi.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby angky » Thu Jun 28, 2012 10:47 am

Dahlan: Bicara Capres? Rusak Semua Kerja Saya!
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta -Dalam berbagai forum, tak sekali Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan ditanya apakah akan mencalonkan diri atau bersedia dicalonkan sebagai presiden pada Pemilu 2014. Namun berulang kali Dahlan Iskan menolak dan mengungkapkan beragam alasan tersendiri.

Saat menjadi pembicara dalam kuliah umum Penguasaan Sains dan Teknologi untuk Kemanusiaan Bangsa dan Pengentasan Kemiskinan di Universitas Diponegoro, Semarang, Sabtu, 16 Juni 2012, Dahlan juga ditanya pertanyaan serupa. Kali ini Dahlan menjawab pencalonan itu hanya akan merusak semua pekerjaannya saat memimpin kementerian itu.

"Saya hanya ingin bekerja," kata Dahlan. "Saya ini Menteri BUMN, tidak boleh berpolitik, tidak boleh berpartai."

Dahlan menolak membicarakan masalah pencalonan dirinya sebagai presiden pada pemilu mendatang. Meski demikian sejumlah pihak menilai Dahlan pantas dijadikan presiden. "Bukan apa-apa. Begitu saya ngomong mau mencalonkan diri sebagai presiden, padahal mungkin belum tentu ada yang mau mencalonkan, akan rusak semua kerja saya," katanya.

Jika dirinya menyatakan mau mencalonkan diri menjadi presiden, kata dia, tidak ada lagi orang yang akan percaya pada dirinya, termasuk langkah dan strategi yang ditempuhnya dalam memimpin Kementerian BUMN.

Nantinya, kata mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu, setiap orang akan menganggap bahwa langkah-langkahnya dalam bekerja sebagai Menteri BUMN ada kepentingan terkait dengan pencalonan.

"Nantinya tidak akan ada lagi yang percaya dengan saya. Akhirnya ketika saya mengajak jajaran kementerian untuk ''mari melakukan ini'', misalnya, pasti berpikiran maksudnya apa. Saya tidak ingin seperti itu," katanya.

Selain itu, kata sosok yang tak pernah lepas dari sepatu kets itu, ketentuan Tuhan jauh lebih menentukan daripada keinginan manusia, termasuk berkaitan dengan jadi atau tidaknya seseorang sebagai presiden.

"Saya adalah orang yang sangat percaya pada takdir. Jadi presiden atau tidak itu urusan Tuhan karena ketentuan Tuhan jauh lebih menentukan dibanding keinginan manusia," katanya.

"Buktinya, banyak orang yang ingin menjadi presiden tapi ternyata tidak kesampaian," kata Dahlan sembari bercanda.


Cocoknya DIS di jadikan CAWAPRES dari PDIP, gimana cocok bung Duren?? Wapres memang sebaiknya orang yg tidak suka berpolitik jadi melakukan pekerjaan dibelakang layar mirip seperti wapres di US. Kartu anggota bisa diatur, sama seperti kasus MPR dahulu. :finga:
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3321
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Thu Jun 28, 2012 11:49 am

angky wrote:
Cocoknya DIS di jadikan CAWAPRES dari PDIP, gimana cocok bung Duren?? Wapres memang sebaiknya orang yg tidak suka berpolitik jadi melakukan pekerjaan dibelakang layar mirip seperti wapres di US. Kartu anggota bisa diatur, sama seperti kasus MPR dahulu. :finga:

Di dunia kangouw ... tingkatan tertinggi ilmu Pedang itu adalah jurus BERPEDANG TANPA PEDANG

Politikus yang menciptakan partai tuk nyapres , ibarat bocah yang belajar pakai pedang kayu tuhh .

:lol:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Sat Jun 30, 2012 12:40 pm

Tulisan berikut adalah sebuah analisis dari Dahlan YANG JELAS diterapkannya dalam berbagai sisi kehidupannya .


Judulnya saya sesuaikan agar senada dengan arwah masalah pen capresan seorang DIS


Tidak Takut TIDAK Jadi Mentri !!
Tidak Takut TIDAK Jadi Presiden !!

Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol. Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen, Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate, Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.

Kini, dalam posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), saya lebih banyak lagi mengenal, bergaul dan berinteraksi dengan bupati/walikota. Apalagi saya terus berkeliling Indonesia untuk melihat dan menyelesaikan problem kelistrikan Nusantara.

Dari situ saya mencatat bupati/walikota itu umumnya biasa-biasa saja: banyak berjanji di awalnya, lemah di tengahnya dan menyerah di akhirnya. Saya tidak tahu akan seperti apa Bupati Tuban yang baru terpilih, H. Fathul Huda ini. Apakah juga akan menjadi bupati yang biasa-biasa saja atau akan menjadi bupati yang tergolong sedikit itu. Bahkan jangan-jangan akan jadi bupati yang sama mengecewakannya dengan yang dia gantikan.

Saya tahu dari para wartawan, bahwa Fathul Huda adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi bupati. Dia sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar. Dia adalah pengusaha yang kaya-raya. Dia juga bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia keagamaan. Juga dunia sosial. Dunia kemasyarakatan. Sekolah-sekolah dia bangun. Juga rumah sakit. Dia yang sudah sukses hidup di dunia sebenarnya hanya ingin lebih banyak memikirkan akherat. Kalau pun berorganisasi, ia adalah Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Tuban.

Tapi sejak enam tahun lalu begitu banyak orang yang menginginkannya jadi bupati Tuban. Itu pun tidak dia respons. Begitu banyak permintaan mencalonkan diri dia abaikan. Tahun lalu permintaan itu diulangi. Juga dia abaikan. Menjelang pendaftaran calon bupati malah dia pergi umroh ke Makkah. Baru ketika, Gus Saladin (KH Sholachuddin, kyai terkemuka dari Tulungagung, putra KH Abdul Jalil Mustaqiem almarhum) meneleponnya dia tidak berkutik. Ini karena Gus Saladin dia anggap seorang mursyid yang tidak boleh ditolak permintaannya. Konon Gus Saladin lebih hebat dari bapaknya yang hebat itu.

Begitu Gus Saladin menugaskannya menjadi bupati Tuban, dia sami’na waatha’na. Dia kembali ke tanah air mendahului jemaah lainnya. Tepat di tanggal penutupan pendaftaran dia tiba di Tuban. Tanpa banyak kampanye dengan mudah dia terpilih dengan angka lebih dari 50%.

Cerita itu saja sudah menarik. Sudah bertolak belakang dengan tokoh yang dia gantikan yang dikenal sangat ambisius akan jabatan. Termasuk nekad mencalonkan diri lagi meski sudah dua kali menjadi bupati hanya untuk mengejar jabatan wakil bupati.

Sebagai sesama orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang dipikirkan Fathul Huda menjelang pelantikannya 20 Juni besok. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan ketika akan dilantik sebagai Dirut PLN: ingin banyak sekali berbuat dan melakukan perombakan di segala bidang.

Tapi, sebentar lagi, setelah dilantik nanti Fahtul Huda akan terkena batunya. Hatinya akan berontak: mengapa tidak boleh melakukan ini, mengapa sulit melakukan itu, mengapa jadinya begini, mengapa kok begitu, mengapa sulit mengganti si Malas, mengapa tidak boleh mengganti si Lamban, mengapa si Licik duduk di sana, mengapa si Banyak Cakap diberi peluang dan mengapa-mengapa lainnya.

Saya perkirakan Fathul Huda akan menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya hadapi. Di PLN saya mendapat dukungan besar untuk melakukan perubahan besar-besaran. Mengapa? Karena orang-orang PLN itu relatif homogen. Mayoritas mereka adalah sarjana, bahkan sarjana tehnik yang berpikirnya logik. Mereka adalah para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terkemuka di republik ini. Sebagai sarjana tehnik logika mereka sangat baik. Sesuatu yang logis pasti diterima. Ide-ide baru yang secara logika masuk akal, langsung ditelan. Mereka memang sudah lama berada dalam situasi birokrasi yang ruwet, tapi dengan modal logika yang sehat, keruwetan itu cepat diurai.

Sedang Fathul Huda akan menghadapi masyarakat yang aneka-ria. Ada petani, pengusaha. Ada politisi ada agamawan. Politisinya dari berbagai kepentingan dan agamawannya dari berbagai aliran. Ada oportunis, ada ekstremis. Ada yang buta huruf, ada yang professor. Ada anak-anak, ada orang jompo. Yang lebih berat lagi Fathul Huda akan berhadapan dengan birokrasinya sendiri.

Bukan saja menghadapi bahkan akan menjadi bagian dari birokrasi itu. Di lautan birokrasi seperti itu Fathul Huda akan seperti benda kecil yang dimasukkan dalam kolam keruh birokrasi. Di situlah tantangannya. Fathul Huda bisa jadi kaporit yang meskipun kecil tapi bisa mencuci seluruh kolam. Atau Fathul Huda hanya bisa jadi ikan lele yang justru hidup dari kolam keruh itu. Pilihan lain Fathul Huda yang cemerlang itu hanya akan jadi ikan hias yang tentu saja akan mati kehabisan udara segar.

    Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia:
    -Kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya).
    -Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya.
    -Seorang birokrat biasanya punya backing.
    -Kalau bukan atasannya yang gampang dijilat, tentulah politisi.
    -Atau bahkan dua-duanya.
    -Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar.
    -Kalau dihalusi dia malas.
    -Kalau dipecat dia menggugat.
    -Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.

Intinya:
Ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi.
Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya.
Proyek tidak boleh hemat.
Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari.
Dan keputusan harus dibuat mengambang.
Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan.
Peraturan yang merugikan sekalipun!


Fathul Huda tentu tahu semua itu. Sebagai pengusaha (dari perdagangan sampai batubara) dia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula Fathul Huda tentu banyak akal. Kini saya ingin tahu: seberapa banyak akal Fathul Huda yang bisa dipakai untuk mengatasi birokrasinya itu. Apalagi birokrasi di Tuban sudah begitu kuatnya di bawah bupati yang amat birokrat selama 10 tahun.

Yang jelas Fathul Huda sudah punya modal yang luar biasa: tidak takut tidak jadi bupati !

Itulah modal nomor satu,
nomor dua, nomor tiga, nomor empat dan nomor lima. Modal-modal lainnya hanyalah nomor-nomor berikutnya.
Tidak takut tidak jadi bupati adalah sapu jagat yang akan menyelesaikan banyak persoalan.
Apalagi kalau Fathul Huda benar-benar bertekad untuk tidak mengambil gaji (he he gaji bupati tidak ada artinya dengan kekayaannya yang tidak terhitung itu), tidak menerima fasilitas, kendaraan dinas, HP dinas dan seterusnya seperti yang begitu sering dia ungkapkan.

Banyak akal, kaya-raya dan tidak takut tidak jadi bupati. Ini adalah harapan baru bagi kemajuan Tuban yang kaya akan alamnya. Pantai dangkalnya bisa dia jadikan water front yang indah. Pantai dalamnya bisa dia jadikan pelabuhan yang akan memakmurkan. Pelabuhan Surabaya sudah kehilangan masa depannya. Tuban, kalau mau bisa mengambil alihnya!

PDI-Perjuangan sudah dikenal memilki banyak bupati/walikota yang hebat: Surabaya, Solo, Sragen. Muhammadiyah juga sudah punya Masfuk. Kini PKB punya tiga yang menonjol: di Banyuwangi, Kebumen dan Tuban. Akankah tiga bupati ini bisa membuktikan bahwa tokoh Nahdliyyin juga bisa jadi pimpinan daerah yang menonjol?
Tapi birokrasi akan dengan mudah menenggelamkan mimpi-mimpi mereka dan mimpi besar Fathul Huda di Tuban.

Di Tubanlah kita akan menyaksikan pertunjukan yang sangat menarik selama lima tahun ke depan. Pertunjukan kecerdikan lawan keruwetan. Fathul Huda bisa memenangkannya, dikalahkannya atau hanya akan jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri: sebuah pertunjukan yang panjang dan melelahkan!
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Sat Jun 30, 2012 1:44 pm

angky wrote:
Cocoknya DIS di jadikan CAWAPRES dari PDIP, gimana cocok bung Duren?? Wapres memang sebaiknya orang yg tidak suka berpolitik jadi melakukan pekerjaan dibelakang layar mirip seperti wapres di US. Kartu anggota bisa diatur, sama seperti kasus MPR dahulu. :finga:


duren wrote:Di dunia kangouw ... tingkatan tertinggi ilmu Pedang itu adalah jurus BERPEDANG TANPA PEDANG

Politikus yang menciptakan partai tuk nyapres , ibarat bocah yang belajar pakai pedang kayu tuhh .

:lol:


seperti berislam tanpa hadis donk...

wah berarti JJ dah master dalam ilmu ISLAM donk ? :stun:
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4425
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Tue Jul 03, 2012 3:43 pm

serangan balik terhadap dahlan iskan

TEMPO.CO, Jakarta - Gebrakanan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengganti sejumlah direksi dan komisaris perusahaan pelat merah menuai protes.

Ini berawal dari protes Dipo Alam dalam dua halaman memorandum yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertanggal 10 April 2012. Dalam memorandum itu, Sekretaris Kabinet ini meneruskan laporan Dahlan mengenai penggantian direktur utama dan komisaris utama di lima perusahaan negara, yakni PT Perkebunan Nusantara III, PT Perkebunan Nusantara IV, PT Rajawali Nusantara Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Pindad.

Pada bagian berikutnya, Dipo mengadu kepada Presiden. Dia menyebutkan penggantian pos-pos kunci di BUMN itu dilakukan Dahlan secara tak patut. Dahlan dinilai lancang karena main tunjuk direktur atau komisaris tanpa melibatkan tim penilai akhir (TPA) yang diketuai Presiden. "Sehingga muncul pengaduan dari masyarakat…," kata Dipo, yang mengingatkan bahwa langkah Dahlan itu mulai berbuah masalah.

Atas memorandum itu, Presiden memberikan disposisinya dalam tiga poin. Pertama, Yudhoyono memerintahkan Dipo menyampaikan secara tertulis hal ini kepada Menteri BUMN. »Kecepatan perlu, tapi jangan melanggar aturan. Bisa ada ’bom waktu’.”

Seperti dilansir majalah Tempo edisi 2 Juli 2012, peringatan soal 'bom waktu' inilah yang kini bocor ke mana-mana. Dokumen disposisi rahasia Presiden beredar keluar dan menguarkan kabar ketegangan yang terjadi dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Dipo, yang dalam hal ini disebut-sebut satu kubu dengan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, kesal lantaran tak direken dalam penempatan pimpinan BUMN. Dahlan dianggap terlalu banyak "bermain sendiri". »Pak Dipo memprotes karena, sebagai Sekretaris TPA, tak diajak ngomong,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Padahal, berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2005, Menteri BUMN diperintahkan melaporkan hasil penjaringan calon direksi, komisaris, atau Dewan Pengawas BUMN kepada TPA. Dalam tim ini, Dipo duduk sebagai sekretaris, wakil ketua dipegang Wakil Presiden, dengan anggota Menteri Keuangan dan Menteri BUMN. Di tangan mereka, setiap calon akan melalui penyaringan final.

Salah seorang petinggi BUMN yang dekat dengan Dahlan bercerita, hubungan bosnya dengan Dipo dan Sudi memang lebih banyak diwarnai ketegangan. Bahkan sejak mantan wartawan itu masih memimpin PT PLN. »Menjelang pelantikannya sebagai menteri, Dahlan bertekad memilih sendiri tim penggantinya di PLN. Tapi dari Istana datang tekanan untuk menempatkan orang lain,” kata sumber itu, pekan lalu.

Langkah lain Dahlan yang juga menuai protes dari koleganya adalah rencana perampingan jumlah perusahaan negara. Sebanyak 141 BUMN akan disusutkan Dahlan menjadi 70 perusahaan pada akhir 2014. Tak hanya itu, Dahlan juga mengusulkan penunjukan direksi dibuat secara cepat. »Pilih direktur utamanya saja untuk diajukan kepada Presiden.” Proses selanjutnya menjadi kewenangan Menteri BUMN dan tim kecil yang melibatkan direktur utama terpilih.

Dipo Alam, yang dihubungi pada Rabu pekan lalu, menolak mengomentari isi dokumen yang beredar itu. Ia mempertanyakan mengapa informasi rahasia semacam itu bisa sampai ke media. »Saya hanya menjalankan tugas membantu Presiden mengelola kabinet,” katanya saat ditanya mengenai ketegangan hubungannya dengan Dahlan.

Dahlan tak mau memberi banyak komentar. Ketika ditemui seusai senam pagi di Monumen Nasional, Kamis pekan lalu, Dahlan sempat meminta salinan dokumen yang beredar tersebut. Dia bertanya tentang respons Dipo soal ini dan berjanji akan membaca lebih teliti isi dokumennya serta memberi penjelasan pada hari berikutnya.

Tapi Dahlan batal memberikan keterangan itu. Ia mengaku tak akan banyak bicara soal ini lantaran malam sebelumnya kembali mendapat teguran dari Dipo Alam. »Saya mendapat kartu kuning karena mengumumkan akan menyumbang (dana) buat gedung Komisi Pemberantasan Korupsi,” Dahlan menjelaskan kenapa memilih bungkam. »Soalnya, ini kartu kuning ketiga, hahaha….” Ada kemungkinan ia tak ingin 'bom waktu' meledak terlalu dini.
http://id.berita.yahoo.com/serangan-bal ... nance.html
==========================================================================================================================================================================

Image
dahlan cocok jdi ini nih... :green:
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4425
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Tue Jul 03, 2012 4:24 pm

Image

Image
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Tue Jul 03, 2012 4:29 pm

Sono LAWAN Dahlan ... INSYA AWLLOH MASUK TIPIiiiiiii :green:


Image
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby Mohmed Bin Atang » Tue Jul 03, 2012 4:33 pm

Bro Duren, DIS di judul tri diganti aja jadi Dahlan Iskan...
mana tau orang yang lagi nge-googling nyasar di mari :green:
User avatar
Mohmed Bin Atang
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2329
Joined: Sun Feb 19, 2012 5:45 pm
Location: Surga Islam, bermain rudal bersama 72 bidadari

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Wed Jul 04, 2012 8:14 pm

Wahh voter ku nambah , pasti si Netral Oneng nih yang mbantuin :green:


Btw ... 14 tahun Indonesia melakukan reformasi , LANTAS APA RUPANYA yang sudah berhasil di reformasi dengan result positif ???

Sepertinya CUMA BERHASIL DI TIGA BIDANG :
1. TNI
2. KPK
3. Dan tentu segera tayang ... BUMN !!


Karena kita lagi bicara TNI , kita lihat hasil kerja kandidat WAcapres favorit gw .

Alasan RI Batal Beli Tank Leopard Belanda

Indonesia batal membeli tank Leopard dari Belanda. Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, :supz: :supz: menjelaskan, pembatalan itu karena Indonesia ingin rencana strategis, berkaitan dengan pembelian tank tersebut, bisa tepat waktu dan tepat jumlah,

"Itu bisa dipenuhi oleh Jerman, setelah satu tahun ini berinteraksi dengan Belanda. Ternyata Belanda tidak siap untuk memenuhi target yang diinginkan," kata Sjafrie di Gedung DPR, Rabu 4 Juli 2012.

Indonesia untuk 2012, Sjafrie melanjutkan, membutuhkan 15 unit. Hingga jumlah maksimal mencapai 100 unit pada tahun 2014 mendatang. "Itu hanya Jerman yang bisa penuhi," kata dia.

Meski demikian, ia mengakui harga Leopard dari Jerman lebih mahal daripada dari Belanda. "Tapi karena dia (Belanda) bukan produsen. Kementerian Pertahanan Belanda yang mau menjual, harganya lebih rendah tapi tanpa TOT (transfer of technology). Jerman memang harganya sedikit lebih tinggi karena produsen dan ada TOT," kata dia.

Sehingga alokasi anggaran pembelian tank Leopard yang semula US$220 juta kini bertambah US$60 juta. "Jadi sekarang anggarannya US$280," kata dia.

Anggaran tersebut sudah masuk dalam bluebook dari Kementerian Keuangan dan Bappenas. "Sudah ada alokasi rupiah murninya, jadi yang kita bicarakan dengan DPR itu adalah mengadakan sinkronisasi dan memperoleh kesepakatan untuk politik anggaran," kata dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I DPR Tb. Hasanuddin mengatakan, kepastian pembelian Leopard dari Jerman menunggu pembicaraan akhir antara Komisi I dengan Kementerian Pertahanan.


DPR: Tank Leopard Jerman Belum Diputuskan


Komisi I Bidang Pertahanan DPR belum mendapat keterangan resmi dari pemerintah soal rencana pembelian tank Leopard dari Jerman. Untuk itu, parlemen akan mengundang Kementerian Pertahanan untuk membicarakan rencana itu.

"Itu berarti rencana pindah pemerintah, yang awalnya ingin membeli dari Belanda tapi sekarang menyebut akan membeli dari Jerman," =D> =D> =D> =D> kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tb. Hasanuddin kepada VIVAnews, Selasa 3 Juli 2012.

Menurut Hasanuddin, sampai sekarang belum ada keputusan final untuk membeli tank Leopard. Karena, belum ada pembicaraan akhir antara Komisi I dengan Kementerian Pertahanan soal rencana pembelian tank yang diperkirakan menelan anggaran sebesar US$280 juta ini.

Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin kemarin mengatakan, sebanyak 15 unit tank Leopard asal Jerman akan datang ke Indonesia pada Oktober 2012. Jumlah itu akan bertambah sebanyak lebih kurang 100 unit secara bertahap hingga Oktober 2014.

Sjafrie mengatakan pemerintah sudah berkomunikasi dengan Ketua Panja Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Komisi I DPR Tb. Hasanuddin dan Menteri Pertahanan Belanda.

"Itu baru pernyataan Pak Sjafrie bahwa baru akan beli, tapi belum dilakukan pembelian," kata Hasanuddin yang juga mantan Sekretaris Militer di era Presiden Megawati Soekarnoputri ini.

Hasanuddin melanjutkan, dalam waktu dekat Komisi I akan mengundang Kementerian Pertahanan untuk membahas pembelian tank Leopard ini. Terkait perbedaan spesifikasi tank buatan Belanda dan Jerman, menurut dia tidak ada banyak perbedaan. Spesifikasi keduanya cenderung sama.

"Hanya saja, kalau dari Belanda itu tank bekas, sedangkan dari Jerman baru. Tapi, tank dari Jerman itu stok pabrik dan sudah tidak diproduksi lagi," dia menerangkan


=========
Go go Syafrie .. kelaut aja tuh rongsokan Belanda
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Wed Jul 04, 2012 8:50 pm

katanya blom di beli dari jerman, kok udah dtg aje 15 biji tar oktober ? mana yg bener ini :lol:
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4425
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Wed Jul 04, 2012 9:15 pm

MaNuSiA_bLeGuG wrote:katanya blom di beli dari jerman, kok udah dtg aje 15 biji tar oktober ? mana yg bener ini :lol:

Simak masalahnya slim :finga:

Duit tambahan yang $60 jt yang belum di acc DPR
Menurut rumor ... cuma yang 15 unit itu aja yang Leopard seri 2A6 ( kebetulan ready stock dan TNI kebelet menempatkannya di Kalimantan )

Sisanya malah diberi seri terbaru yang pake periskop Leopard seri 2A7
Tapi saya lebih fokus melihat kesempatan akan ToT nya , sebab Pindad benarnya mendapat tawaran join production dari Ukraina tuk membuat MBT T 64
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Wed Aug 08, 2012 7:45 pm

Daripada ngurus si Kompas , mending ngelanjutin kampanye disini :green:

===========
Apakah Dahlan bisanya cuma kotbah , nulis ataupun ngelempar kursi di pintu tol ??


Dahlan Iskan dan Nasi Sisa

MEMBICARAKAN sosok Dahlan Iskan, mungkin tidak habis-habisnya. Bukan sekadar ikut-ikutan, apalagi saat ini Dahlan Iskan sudah menduduki jabatan menteri BUMN. Bagi saya, seorang Dahlan Iskan merupakan sosok inspiratif yang sudah cukup lama saya kenal. Jauh sebelum banyak media menulis tentang sepak terjangnya ketika menjadi Dirut PLN atau ketika membuka paksa pintu tol setelah menjadi menteri BUMN. Atau karena perilaku spontan yang tidak lazim sebagai pejabat negara. Misalnya naik ojek atau makan di warung pinggir jalan yang tidak mungkin dilakukan oleh menteri kelas atas lainnya.

Saya mengenal Dahlan Iskan ketika menjadi wartawan Lombok Post, sebuah media yang terbit di NTB, jaringan di bawah manajemen Jawa Pos Group. Kendati Dahlan Iskan tidak mengenal saya secara pribadi, tetapi beberapa kali bersentuhan dengannya membuat saya memiliki banyak kesan baik yang bisa saya jadikan sebagai inspirasi bagi perjuangan saya untuk bisa mengangkat wajah menghadapi dunia. Jadi tidak mengherankan kalau tokoh isnpirasi buat saya di facebook, mencantumkan nama Dahlan Iskan, dan itu jauh sebelum dia menjadi menteri seperti sekarang ini.

Sentuhan dengan Dahlan Iskan, tidak sering, juga tidak lama. Karena Dahlan Iskan bukan sosok yang biasa betah berlama-lama di suatu kota ketika mengunjungi media di bawah Jawa Pos. Pun kalau dia menginap, saya yang hanya berposisi sebagai redaktur, tentu tidak memiliki peluang untuk menemaninya berlama-lama, kecuali pada saat briefing singkat yang dilakukannya.

Seingat saya, Dahlan Iskan akan ke daerah hanya ada dua alasan. Pertama karena ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di daerah, atau kedua karena ada masalah yang dibawanya dari Surabaya untuk segera dilaksanakan di daerah.

Ketidakbetahan Dahlan Iskan berlama-lama di daerah pernah terjadi juga ketika mengunjungi Mataram. Karena ada masalah dengan mesin cetak yang baru saja dipasang, dia terbang dari Surabaya ke Mataram. Seperti biasa, dia tidak pernah jauh dari tampilan lumrahnya yaitu bersepatu kets dan kaos oblong sambil menenteng tas kresek. Begitu tiba, langsung melakukan pertemuan singkat dan memberikan banyak solusi atas masalah yang tadinya tidak bisa diselesaikan oleh orang-orang di Mataram. Saya terkesima memperhatikan cara dia secara spontan memberikan banyak alternatif jalan keluar atas masalah itu. Kesan mendalam pada pertemuan pertama ini rupanya tertanam dalam benak saya. ”Hebat sekali.” kata saya dalam hati.

Tetapi jujur apa yang disampaikan Dahlan Iskan, sesungguhnya sebagian di antaranya sudah saya sampaikan pada kru Lombok Post ketika itu. Tetapi karena yang berbicara bukan Dahlan Iskan, tentu nilainya berbeda dan tidak mau didengar. Bagi saya tidak masalah, yang terpenting adalah cara berpikir CEO Jawa Pos, paling tidak bisa saya raba-raba.

Begitu rapat selesai, solusi sudah disampaikan, Dahlan Iskan minta balik lagi ke Surabaya hari itu juga. Penerbangan dari Bandara Selaparang pada tahun 1995 masih relatif jarang. Tiket sulit diperoleh apalagi dicari secara mendadak.

Pertemuan dengan Dahlan Iskan masih terus terjadi, termasuk ketika membawa konsultan Jawa Pos Group, Mr John Moon. Belakangan baru saya tahu ternyata John Moon adalah pengusaha media di negara bagian Kansas Amerika Serikat. Di sinilah putra Dahlan Iskan yang kini menjadi CEO Jawa Pos, Asrul Ananda dikenalkan dengan dunia koran oleh bapak angkatnya itu, ketika mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Asrul rupanya lebih sering bermain ke kantor redaksi koran bapak angkatnya itu, ketimbang bermain dengan bapaknya ke Jawa Pos yang saat itu masih di Karah Agung Surabaya.

Pertemuan terakhir yang benar-benar sulit saya lupakan adalah ketika para redaktur Ekonomi dan Bisnis Jawa Pos Group mengikuti lokakarya di Pendopo Jawa Pos di Karah Agung tahun 1996, dua tahun sebelum terjadinya peristiwa reformasi pada tahun 1998. Ketika itu, seperti layaknya lokakarya yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga manapun, kami mengikuti setiap materi yang disampaikan nara sumber. Nara sumbernya tidak seluruhnya berasal dari internal Jawa Pos seperti mas Elman, yang saat itu menjadi Redaktur Ekonomi dan Bisnis di Harian Jawa Pos, tetapi juga menghadirkan nara sumber dari luar seperti pengamat ekonomi dari Surabaya yang kerap menjadi nara sumber untuk berita-berita bisnis di Jawa Pos.

Puluhan redaktur bisnis mulai dari Cenderawasih Pos hingga Riau Pos itu dengan tekun mengikuti setiap paparan dan diskusi saat lokakarya selama beberapa hari itu. Seperti biasa, kami makan nasi kotak dan selalu disertakan sayur atau soup kikil yang dibungkus dengan plastik karena ada kuahnya.

Pada hari-hari menjelang lokakarya usai, kami masih melakukan hal yang sama. Menerima materi, diskusi, dan praktik, istirahat, makan. Sampai akhirnya terjadilah pemandangan yang benar-benar membuat saya terkesima. Kejadiannya demikian cepat, di depan semua peserta lokakarya. Pada saat itu, seorang kawan dari Riau Pos (saya lupa namanya, semoga dia membaca tulisan ini dan bisa memberikan tanggapan) pada saat makan malam, terlihat ogah-ogahan menghabiskan jatah makannya. Entah karena sudah bosan dengan menunya atau sedang tidak enak makan, dia menyisakan lebih dari separuh makanan di dalam kotak yang sudah dia campur dengan soup kikil.

Dia meninggalkan makanannya di lantai, tempat kami juga makan. Kami semua juga tidak peduli dengan kotak yang masih disimpan di lantai itu, karena sebagian besar kami sudah selesai makan dan telah membuang kotak makanan ke dalam bak sampah.

Entah dari mana munculnya, tiba-tiba saja Dahlan Iskan sudah duduk bersila sambil mengangkat kotak nasi sisa tadi dan memakannya. Kami semua tercengang karena dia begitu lahap menghabiskan semua makanan sisa itu di depan kami semua, termasuk kawan dari Riau Pos, si empunya nasi sisa itu. Nasi kotak sisa yang sudah dicampur kuah soup kikil itu habis, tidak ada yang tersisa. Ya, Dahlan Iskan memakan nasi sisa dari kawan kami itu di depan kami semua.

Betapa malunya kawan yang punya nasi kotak sisa tadi. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya merah menahan malu. Kami semuanya melihat aksi CEO Jawa Pos itu tidak bisa berkata apa-apa juga. Tidak ada komentar, semuanya hening. Bahkan setelah Dahlan Iskan meninggalkan kami yang masih bingung, tidak berkata apa-apa juga. Kami juga sama sekali tidak mendiskusi kejadian itu karena tidak enak dengan kawan yang punya nasi sisa yang dimakan Dahlan Iskan.


Dahlan Iskan rupanya sedang memberikan pelajaran berharga bagi kami semua. Pelajaran itu begitu kuat tertanam dan berpengaruh pada perjalanan hidup saya selanjutnya. Entahlah dengan kawan-kawan yang lain yang datang dari Papua hingga Sumatera itu. Bisa jadi, ini publikasi pertama tentang kejadian yang telah saya simpan sejak 22 tahun lalu itu. Hingga sekarang, saya tidak pernah lagi menyisakan makanan setiap kali saya makan nasi.

Entah apa maksudnya Dahlan Iskan. Saya tidak perlu menebak macam-macam, termasuk menudingnya mencari popularitas seperti yang banyak dituduhkan padanya di hari-hari belakangan ini. Yang jelas saya hanya berpikir lebih dari sekadar yang bisa dipertontonkan oleh Dahlan Iskan. Seorang CEO sebuah perusahaan besar mau makan nasi sisa orang yang belum tentu ia kenal. Dilakukan terbuka depan banyak orang, tentu alasannya bukan karena sekadar lapar, tetapi lebih dari itu. Itulah bagian kecil dari soso Dahlan Iskan yang saya kenal.

Sampai saat ini saya masih mengikuti perjalanan Dahlan Iskan yang memperoleh kesempatan hidup kedua setelah Ganti Hati. Ceo Note ketika menjadi Dirut PLN pun saya ikuti, demikian pula dengan Catatan dari Tiongkok, cerita miskin di Sepatu Dahlan, dan sepak terjangnya sebagai menteri BUMN yang banyak menimbulkan kontroversi. Terlepas dari banyak kontroversi yang dilakukannya, bagi saya sikapnya spontan adalah gambaran sikap rakyat jelata yang butuh penyelesaian cepat dari setiap masalah yang sedang mereka hadapi. Bagaimana pendapat Anda? (*)


=========
Inspiratif walau TANPA SEPOTONG KATAPUN
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby angky » Mon Oct 29, 2012 12:43 pm

Dahlan Iskan Siap Jelaskan Dugaan Korupsi PLN
TEMPO.COTEMPO.CO – Rab, 24 Okt 2012


TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan menyatakan kesediaannya menjelaskan prihal dugaan kerugian negara sebesar Rp 37 triliun di PT Perusahaan Listrik Negara (persero) selama dirinya menjabat Direktur Utama. "Begini saja deh, semua saya serahkan ke Dewan," kata Dahlan di Jambi, Rabu 24 Oktober 2012 sore.

Dahlan mengatakan dirinya tak punya waktu menjelaskan kepada publik. Dia butuh waktu lebih dari satu menit, sementara waktu yang diberikan saat itu sangat sempit.

Dahlan Iskan menjelaskan mengenai ketidakhadirannya dalam Rapat bersama Komisi Energi di DPR. Ia beralasan sedang berkunjung ke beberapa daerah, termasuk Jambi.

Dahlan tiba di bandara Sulthan Taha Jambi sekitar pukul 18.05 WIB. Menteri BUMN ini langsung disambut Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, Walikota Jambi Bambang Priyanto, Direktur Utama PTPN VI dan sejumlah pejabat Jambi lainnya. Sore itu juga Ia langsung meninjau pengerjaan terminal dan Bandara yang sedang dikerjakan agar bertaraf internasional.

Dalam kunjungan kerjanya ke Jambi Dahlan Iskan memiliki beberapa agenda, antara lain akan mengunjungi PLN Sungaigelam, Kecamatan Muarojambi, mengunjungi lokasi integrasi sawit sapi PTPN VI di unit usaha kebun sawit di Kabupaten Batanghari, menghadiri seminar di Universitas Negeri Jambi dan mengadakan pertemuan dengan para biksu dan penganut umat Budha di Jambi.


Mendekati pemilu, DI menjadi target para politisi untuk dijatuhkan...keh keh keh keh. Yang mengagetkan ane juga, ternyata DIS memiliki istri kedua yang "katanya" terlibat dalam kasus PLN ini. Apakah DIS pengikut poligami??? Ane belum telusuri berita pasti nya nih.
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3321
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby duren » Mon Oct 29, 2012 1:21 pm

Wkwkwk saya tau bung Angky HARI INI PASTI akan NYUNDUL trit ini :rolling:





Persembahan DIS untuk kader PDIP => " EFENDI SIMBOL -OON " :lol:

Kian besar kembung perut, kian besar buang anginnya ! :shock:

Kalo bahasa Medannya :

PERUT KIAN KOMBUNG ... KENT*T KIAN BOSAR

Senin, 29 Oktober 2012
Manufacturing Hope 49

Benarkah BPK menemukan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun saat saya jadi Dirut-nya? Sangat benar. Bahkan, angka itu rasanya masih terlalu kecil. BPK seharusnya menemukan jauh lebih besar daripada itu.

Contohnya ini: Rabu subuh kemarin saya mencuri waktu sebelum mengikuti acara peresmian pelabuhan kontainer Kariangau, Balikpapan, oleh Bapak Presiden SBY. Masih ada sedikit waktu untuk saya menyelinap ke Senipah. Jaraknya memang 1,5 jam dari Balikpapan, tapi dengan sedikit ngebut masih akan oke.

Di Senipah sedang dibangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 80 mw. Awalnya, sebelum saya menjabat Dirut PLN, proyek itu menghadapi persoalan birokrasi besar. Saya datang ke Senipah di dekat muara Sungai Mahakam itu. Persoalan selesai. Proyek bisa dibangun.

Ini penting bukan saja agar kekurangan listrik di Kaltim segera teratasi, tapi PLN pun bisa berhemat triliunan rupiah. Lebih efisien. Kasus Kaltim tersebut (juga Kalselteng) sangat memalukan bangsa. Daerah yang kaya energi justru krisis listriknya terparah.

Kini, ketika pembangunan PLTG Senipah itu hampir selesai, ada persoalan lagi. Untuk membawa listrik itu ke Balikpapan dan Samarinda, harus melewati tanah Pertamina. Saya pun harus mencarikan jalan keluar. Beres. Tiga bulan lagi proyek itu sudah menghasilkan listrik. Efisiensi triliunan rupiah segera terwujud.

Dengan kata lain, selama ini telah terjadi inefisiensi triliunan rupiah di Kaltim. Inefisiensi itu tidak ditemukan oleh BPK.

Contoh lain lagi: Krisis listrik di Jambi juga termasuk yang paling parah. Padahal, di Jambi ditemukan banyak sumber gas. Tapi, PLN membangkitkan listrik dengan BBM. Terjadilah inefisiensi triliunan rupiah di Jambi. BPK juga tidak menemukan inefisiensi di Jambi itu.

Saya segera memutuskan, pembangkit yang sudah nganggur di Madura dibawa ke Jambi. Sejak kabel listrik untuk Madura dilewatkan Jembatan Suramadu, tidak ada lagi kekhawatiran Madura kekurangan listrik. Jambi pun lebih efisien.

Ada lagi gas Jambi yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Berapa triliun rupiah inefisiensi telah terjadi. Itu juga tidak ditemukan BPK. Saya segera memutuskan membangun CNG (compressed natural gas) di Sei Gelam, di luar Kota Jambi. Agar gas yang ditelantarkan bertahun-tahun itu bisa dimanfaatkan.

Minggu lalu, tengah malam, dalam rangkaian meninjau proyek sapi di Jambi, saya bersama Gubernur Jambi Hasan Basri Agus meninjau proyek CNG itu. Sudah hampir selesai. Saya bayangkan betapa besar efisiensinya. Bahkan, Jambi yang dulu krisis listrik akan bisa “ekspor” listrik.


Contoh lagi: Suatu saat pemerintah membuat keputusan yang tepat, yakni gas jatah PLN dialihkan untuk industri yang kehilangan pasokan gas. Jatah gas PLN dikurangi. Akibatnya, PLN berada dalam dilema: menggunakan BBM atau mematikan saja listrik Jakarta. Pembangkit besar di Jakarta itu (Muara Karang dan Muara Tawar) memang hanya bisa dihidupkan dengan gas atau BBM. Tidak bisa dengan bahan bakar lain.

Tentu PLN tidak mungkin memilih memadamkan listrik Jakarta. Bayangkan kalau listrik Jakarta dipadamkan selama berbulan-bulan. Maka, digunakanlah BBM.

Kalau keputusan tidak memadamkan listrik Jakarta itu salah, saya siap menanggung risikonya. Saya berprinsip seorang pemimpin itu tidak boleh hanya mau jabatannya, tapi tidak mau risikonya. Maka, dia harus berani mengambil keputusan dan menanggung risikonya.

Kalau misalnya sekarang saya harus masuk penjara karena keputusan saya itu, saya akan jalani dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya!

Saya pilih masuk penjara daripada listrik Jakarta padam secara masif berbulan-bulan, bahkan bisa setahun, lamanya. Saya membayangkan, mati listrik dua jam saja, orang sudah marah, apalagi mati listriknya berbulan-bulan.

Sikap ini sama dengan yang saya ambil ketika mengatasi krisis listrik di Palu. Waktu itu saya sampai menangis di komisi VII. Saya juga menyatakan siap masuk penjara. Daripada seluruh rakyat Palu menderita terus bertahun-tahun.

Akibat keputusan saya untuk tidak memadamkan listrik Jakarta itu memang berat. PLN mengalami inefisiensi triliunan rupiah. Tapi, pabrik-pabrik tidak tutup, PHK ribuan buruh terhindarkan, dan Jakarta tidak padam selama setahun!

Apakah PLN harus memberontak terhadap putusan pemerintah itu? Tentu tidak. Putusan itu sendiri sangat logis. Kalau industri tidak dapat gas, berapa banyak pabrik yang harus tutup. Berapa ribu karyawan yang kehilangan pekerjaan. Alangkah ributnya. Indonesia pun kehilangan kepercayaan.

Sekali lagi, jangankan dipanggil komisi VII, masuk penjara pun saya jalani dengan sikap ikhlas seikhlas-ikhlasnya!

Ini mirip Pertamina yang juga tidak mungkin tidak menyalurkan BBM ke masyarakat meski kuota BBM bersubsidinya sudah habis. Atau juga seperti BUMN lain, PT Pupuk Indonesia, yang November/Desember nanti tidak mungkin tidak menyalurkan pupuk ke petani. Padahal, kuota pupuk subsidi sudah akan habis.

Saya tahu pepatah ini: Kian tinggi, kian kencang anginnya. Tapi, saya juga tahu lelucon ini: Kian besar kembung perut, kian besar buang anginnya! :finga:


Contoh lain lagi: Secara mendadak, saat menjadi Dirut PLN saya memutuskan membangun transmisi dari Tentena ke Palu lewat Poso. Sejauh 60 km. Harus melewati hutan dan gunung. Tahun depan transmisi tersebut harus jadi. Itu akan bisa mengalirkan listrik dari PLTA Poso milik Pak Kalla yang begitu murah tarifnya ke Kota Palu.

Kalau tidak ada transmisi itu, PLTA di Sulteng tidak bisa untuk melistriki Sulteng, tapi justru melistriki provinsi lain. Akibatnya, inefisiensi di PLN Sulteng akan terus terjadi. Dengan nilai triliunan rupiah. Itu juga tidak ditemukan oleh BPK.

Saya terus memonitor pembangunan transmisi tersebut agar inefisiensi yang sudah terjadi bertahun-tahun itu segera berakhir.

Belakangan ini ada masalah besar di proyek itu. Terutama sejak dua polisi Poso tewas di hutan oleh teroris. Para pekerja yang memasang transmisi itu tidak berani masuk hutan. Dua polisi tersebut pernah ikut mengamankan proyek itu.

Karena begitu pentingnya proyek tersebut, saya minta PLN tidak menyerah terhadap ancaman teroris. Kalau perlu, minta tolong Zeni TNI-AD untuk mengerjakannya.

Efisiensi yang akan terjadi triliunan rupiah. Listrik untuk Palu pun lebih terjamin. Program itu tidak boleh gagal oleh gertakan teroris.

Contoh lain yang lebih menarik: Di laut utara Semarang ditemukan sumber gas. Pemilik sumur gas itu sudah setuju menjual gasnya ke PLN. Harganya pun sudah disepakati. Tapi, bertahun-tahun perusahaan yang memenangi tender untuk membangun pipa gasnya tidak kunjung mengerjakannya. Bukan PLN yang mengadakan tender. PLN hanya konsumen.

PLN gagal mendapatkan gas sampai 100 MMBtu. Di sini PLN mengalami inefisiensi triliunan rupiah. BPK juga belum menemukan inefisiensi itu.

Contoh-contoh inefisiensi seperti itu luar biasa banyaknya. Dan triliunan rupiah nilainya. Itulah sebabnya saya benar-benar ingin menjabat Dirut PLN sedikit lebih lama lagi. Agar saya bisa melihat hasil-hasil pemberantasan inefisiensi di PLN lebih banyak lagi.

Apakah Komisi VII DPR tidak tahu semua itu? Sehingga memanggil saya untuk menjelaskannya?

Saya tegaskan: Komisi VII sangat tahu semua itu. Kalaupun merasa tidak tahu, kan ada Dirut PLN yang baru, Nur Pamudji. Pak Nur bisa menjelaskan dengan baik, bahkan bisa lebih baik daripada saya. Apalagi, waktu itu beliau menjabat direktur PLN urusan energi primer.

Hampir tidak ada relevansinya memanggil menteri BUMN ke komisi VII. Tapi, kalaupun saya dipanggil lagi, saya akan hadir. Saya juga sudah kangen kepada mereka. Dan mungkin mereka juga sudah kangen saya. Sudah setahun saya tidak melucu di komisi VII. (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN


======
Ket :
Hijau : PLTG pertama dengan sistem PEAK ... bila tidak di kompres PLTG tersebut cuma berdaya 18,5 MW , namun setelah di kompres berdaya 100MW ( yang di hidupkan dari jam 17.00 sd 22.00 )


Biru : Tender pembangunan pipa gas dari Kalimantan -Jawa di menangkan BAKRIE nyaris 5 tahun yang lalu ... namun sampai detik ini tidak bangun juga dannn tidak mundur juga dari proyek tersebut
Menyebabkan PLTG Tambak Lorok Semarang sebagai setan BBM ( akhirnya di padamkan PLN dan di biarkan nganggur begitu saja sejak 2012 ) ... padahal KALAU SAAT INI DIBANGUN PLTG berdaya 1000MW seperti itu akan menelan biaya 15T.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Ngapir Bersama DIS - Layakkah DAHLAN Didukung Jadi RI 1

Postby momed_xxx3 » Tue Oct 30, 2012 12:04 pm

Bung Duren kalo Dahlan diusulkan jadi Cawapres Ical setuju gak, hehehe,??? kalo ane sh smoga aja tuh Dahlan ogah...... ngeliat reputasi ical yg bner2 bikin kaco negara ini.................
User avatar
momed_xxx3
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 584
Images: 2
Joined: Fri Aug 31, 2012 11:15 am
Location: di Surga bersama anak2 kecil perawan

PreviousNext

Return to Obrolan Santai



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users