Semua artikel dengan topik ini dipindahkan pada satu post ini saja.
Posted: Tue Jun 07, 2005 6:44 pm
Post subject:
Muslim moderat : siapa dibelakang fundamentalisme ?
http://www.faithfreedom.org/Articles/si ... talism.htm
SIAPA YANG MEMBAKAR API FUNDAMENTALISME ? Oleh Ali Sina
Cerita2 kekejaman dan kepicikan kaum muslim fundamentalis membuat malu kaum muslim moderat berintelek yang ingin hidup secara harmonis dengan tetangga non-muslim mereka. Sementara kita semua mengutuk para ekstrimis yang membom gedung2 dan melakukan kegiatan fanatisme lainnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri : bukankah kita (golongan moderat) sendiri juga terlibat secara tidak langsung dalam kegiatan teroris oleh saudara2 se-agama itu ?
Bukankah kita, golongan muslim moderat, juga menguatkan fundamentalisme dengan tetap berpegang pada Islam ?
Apakah Islam memang agama yang disalah-artikan dan disalah-gunakan oleh segolongan kecil orang ? Atau memang kejahatan mereka di-INSPIRASI oleh ajaran Quran, buku yang kita sebut suci karena mengandung kata2 sakral Allah ?
Banyak yang percaya bahwa setiap agama sebenarnya murni tetapi lalu dirusak oleh interpretasi. Ini jauh dari kebenaran. Islam DIMULAI dengan kekerasan. Islam dalam bentuk murni, sebagaimana dimengerti dari Quran dan dicontohkan oleh penulisnya adalah agama yang tidak kenal kompromi/toleransi dan bersifat fundamentalis. Setiap usaha untuk menunjukkan Islam sebagai agama manusiawi bertentangan dengan ajaran Islam. Dimanapun Islam berekspansi disitulah para pengikut membakar nafsu fundamentalis dan meningkatkan terorisme.
Anda tidak dapat mengatakan Muhamad adalah Rasulallah dan Quran perkataan Allah sambil menuding mereka yang mencoba mengikuti perintahNya agar jangan membunuh, merampas harta dan hak kafir ataupun memukuli isteri. Mengapa tidak ? Kalau Quran memang mengajarkannya, maka bukankah kita harus menuruti ? Tidak percaya ? Baca lagi Quranmu !
Menggambarkan Islam sebagai agama toleran dan manusiawi bukan hanya tidak mungkin tetapi juga tidak jujur. Ini tidak mungkin karena adalah melawan inti Quran dan Sunah Nabi. Ini juga tidak jujur karena Islam yang toleran BUKAN lagi Islam, melainkan BID'A, yaitu inovasi/penemuan, yang oleh Islam dianggap MURTAD dan menurut Islam harus dikenakan hukuman mati. Ini sama dengan kaum Nazi Jerman yang mencoba menunjukkan partai mereka sebagai partai manusiawi. Kalau memang dari sononya tidak benar, mengapa tetap mengikutinya atau kita hiasi dengan kata2 manis ?
Setidaknya para kaum Islam fundamentalis jujur dan konsisten. Kelakuan mereka KONSISTEN dengan ajaran agama. Mereka jujur. YANG TIDAK JUJUR DAN TIDAK KONSISTEN JUSTRU ADALAH GOLONGAN ISLAM MODERAT. Disatu pihak mereka setia dan mempromosikan sebuah doktrin yang menyebarkan kebencian, sementara dilain pihak mereka mengadakan "lip service" bahwa agama mereka mengajarkan "Cinta Kasih" dan "Toleransi".
Memang tidak semua Muslim jahat. Rata2 orang Islam tidak pernah membaca Quran. Jarang mereka membaca ataupun mengerti Quran. Kalau mereka membaca Quran, biasanya jarang mereka akan setia pada Islam. Tetapi muslim baik2 ini lebih sering membumbui ajaran agama mereka yang aslinya tidak manusiawi dan tidak mengenal toleransi. INILAH AKAR PERMASALAHANNYA.
Para pendiri Islam terdiri dari pembohong, tanpa rasa spiritual ataupun cinta kasih. Mereka picik, fanatik dan pandai mengelabui orang. Kharisma mereka seperti pemimpin "cult" modern jaman sekarang. Sedihnya, orang mempercayai manusia2 biadab itu dengan segala jiwa dan raga mereka. Orang bahkan bersedia mencabut nyawa orang lain demi menanamkan kebohongan mereka. Kebrutalan mereka dianggap sebagai bukti kebenaran. Ketika nabi wafat mereka menciptakan cerita2 mukjizat sehingga menarik perhatian dan mengundang rasa hormat.
Generasi berturut-turut menambah-nambahi ajaran absurd itu dan mencoba memaksakan macam2 interpretasi agar masuk akal. Para filsof dan ahli mistik memberikan versi interpretasi mereka terhadap pernyataan konyol sang "nabi" dan pada akhirnya sebuah doktrin berkembang menjadi cara hidup. Setiap muslim menunjukkan keberadaan mereka sebagai bukti kebenaran agama tersebut. "Bagaimana satu milyar orang bisa salah ?" mereka bertanya dan hanya satu pertanyaan inilah yang membuat orang tetap taat.
Untuk itulah penting bagi kita, kaum muslim, untuk melepaskan tali emosi kita dengan Islam dan mempertanyakan kebenaran sebagaimana kita mempertanyakan teori2 sains atau sejarah. Salah besar jika kita hanya mengutip Rumi atau kaum Sufi lainnya guna mendapatkan "arti mendalam" (inner meaning) Quran. Quran tidak punya arti mendalam. Quran sangat jelas. Setiap pengertian spiritual atau mendalam Quran adalah hasil interpretasi kaum intelek humanis yang tidak menerima absurditas dan kesalahan2 yang terdapat dalam Quran. Mereka menginterpretasikannya sedemikian rupa agar pengertian Quran sesuai dengan pandangan humanis dan intelektualitas mereka.
Sebuah buku tidak dapat diberikan arti spiritual dan diinterpretasikan sedemikian rupa agar sesuai dengan pandangan si pembaca. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa "arti mendalam" perintah Hitler untuk menggas-mati jutaan orang2 Yahudi adalah agar kau menjadi semakin spiritual, orang itu akan kau anggap gila. Anda tentu tidak **** jika orang mengatakan kepada anda bahwa tujuan Hitler mencaplok negara2 lain adalah agar ia bisa membawa kedamaian dan kemakmuran dan cinta Tuhan kepada sesama manusia. Kalau ada yang mengatakan bahwa pembunuhan masal yang dilakukan Nazi adalah karena salah interpretasi perintah Hitler, anda juga tidak akan percaya. Lalu mengapa kita oke-oke saja kalau hal yang sama dilakukan Muhamad ? Ia membunuhi 600 sampai 900 orang Yahudi setelah memutuskan saluran air ke rumah2 mereka, membakar perkebunan mereka dan memaksakan mereka kedalam perbudakan, semua dengan tujuan memperkaya dirinya secara finansial dan seksual. Ia mengirimkan pembunuh ke rumah lawan2nya. Salah satu dari mereka adalah ibu 5 anak yang satu2 kesalahannya adalah menulis sajak yang dianggap Muhamad menghina dirinya. Ia memperkosa gadis2 cantik hasil tangkapan perampokan dan menjual selebihnya kedalam perbudakan. Apa "interpretasi spiritual" dari kekejaman2 macam ini ?
Berapa lama lagi kita sudi membiarkan diri dibohongi ? Berapa lama kita ingin menguburkan kepala kita dalam bumi ? Berapa lama lagi kita sudi mencari pengarahan spiritual dalam keranjang sampah ?
Muslimin selalu semangat melihat meningkatnya jumlah pengikut dan cerita2 konversi yang begitu mereka banggakan. Kalau memang cerita2 tersebut tidak ada, mereka akan mengarangnya. Apakah penting bagi mereka bahwa Islam benar atau salah ? Menurut mereka, bukanlah urusan mereka mencari kebenaran dan fakta. Jika mereka mendengarkan cerita2 konversi, itu sudah cukup bukti akan kebenaran Islam. Mereka mengatakan "tidak mungkin satu milyar orang salah" lalu mereka menerapkan teori2 kekejaman Muhamad seperti diwahyukan dalam Quran dan Hadis, dan hasilnya anda bisa lihat sendiri.
Terserah kita sekarang untuk mengubah keadaan. Ceraikanlah diri dari tali genggaman Islam, kritiklah dan sebarkan artikel2 ttg wajah Islam sebenarnya. Dengan semakin meningkatnya jumlah orang2 seperti kami, kita menarik perhatian muslimin dan pada akhirnya mereka akan merasa tidak enak dan mengikuti contoh kami. Ini satu2nya jalan. Duduk ongkang kaki dan mengajarkan muslimin agar bertindak sopan2 tidak akan berhasil. Mengajarkan muslimin bahwa Islam agama damai dan menghormati perempuan dan kafir juga tidak akan sukses. Mengapa ? Karena kita tahu itu semua bohong besar. Islam tidak berhasil selama 1400 tahun, dan tidak akan berhasil sekarang. Para Mo’tazalies mencoba dan gagal, kaum Sufi mencoba dan gagal juga, Kemal Ata Turk mencoba dan gagal.
Setiap upaya membuat Islam nampak manusiawi akan gagal karena Islam tidak manusiawi. Seperti dikatakan Talima Nasrin, "Fundamentalisme adalah tangkai beracun yang asalnya dari agama, batang pohonnya". Selama kita tidak mencongkel akar pohon tersebut, tangkai beracun itu tetap akan berkembang biak.
Berikut artikel dari The New York Times yang menegaskan teori saya bahwa penambahan pengikut Islam di satu bagian bumi akan meningkatkan teror Islam di bagian dunia lain.
August 26, 2000
SRINAGAR JOURNAL
Dari dalam Burka, seorang Feminist Muslim
Oleh BARRY BEARAK/The New York Times
RINAGAR, KASHMIR --Dari dalam burka yang menutupi seluruh tubuhnya, Asiyah Andrabi menuntut persamaan hak bagi wanita. Seorang muslimah konservatif dan feminis radikal, ia percaya bahwa wanita boleh terdengar suaranya asal tidak kelihatan.
"Burka guna menjaga keamanan sebagaimana diinginkan Allah," katanya, sambil mulut terselubungnya kadang diam menikmati Coca-Cola. "Jika emas dibiarkan nampak di jalanan, orang akan mencurinya karena namanya juga barang mahal. Sama halnya dengan wanita yang tidak mengenakan tudung."
Namun ada alasan lain mengapa Asiyah menutupi wajahnya. Ia seorang militan yang menentang kekuasaan India disana. Selama satu dekade, ia keluar masuk penjara, menghabiskan waktu memperjuangkan kebebasan wanita dan Kashmir.
Agen2 intel India mengatakan ia pandai mencari sumbangan bagi kelompok2 gerilyawan. Sebagai kepala Dukhtaran-e-Millat, atau Puteri2 Komunitas, ia memimpin ratusan wanita berdemo di jalanan. Kadang mereka menenteng kwas dan cat didalam burka mereka dan mencorengkan papan2 iklan yang menunjukkan model2 bergaun minim.
Kelompoknya juga tidak enggan2 menyirami muka wanita2 yang tidak bertudung dengan cat berwarna. Gaya berbusana barat sangat populer di Srinagar, ibukota negara bagian Jammu dan Kashmir.
Dengan reputasi tinggi dan wajah tersembunyi, Asiyah, 37, nampak misterius. Namun ia tidak malu2 dengan media, selalu mengingatkan reporter menjelang sebuah protes. Mendapatkan wawancara dengannya sulit. Ia yang menelpon wartawan, bukan sebaliknya. Janji temu sering dibatalkan. Akhirnya, ia sampai juga, menggendong putera berumur 8 bulan yang tertidur dibahunya.
"Bagi anda saya nampak aneh," katanya dalam bahasa Inggris fasih, askennya menunjukkan asalnya dari keluarga kelas atas dan pendidikan tinggi. "Namun saya tidak pernah merasa bahwa burka saya ini --purdah ini--menyulitkan pekerjaan saya."
Tetapi bertentangan dengan sikap feminisnya, ia mengatakan ia malah merengek kepada suaminya agar mengambil lagi beberapa isteri. Katanya, "Allah mengatakan, lelaki dapat menikahi satu, 2, 3 atau 4 isteri, tetapi ia harus adil kepada semua. Jihad melawan India ini mengakibatkan banyak wanita menjadi janda dan yatim piatu. Mereka juga tanggung jawab lelaki."
Lalu ia menguraikan kisah hidupnya. Ayahnya seorang muslim taat. Namun walaupun ia mendorong puterinya agar berpendidikan, hanya putera2nyalah yang didorongnya mempelajari Quran.
Ia mempelajari biokimia di sekolah tinggi di Srinagar. Tetapi ketika ia ingin lanjutkan sekolah, keluarganya tidak mengijinkannya keluar rumah. Mulailah ia membaca buku karangan wanita2 yang memilih Islam.
"Saya benar2 kaget akan ketidaktahuan saya akan agama saya sendiri," katanya. "Benar2 tragis bahwa hanya lelaki yang boleh ke mesjid, dan satu2nya tugas perempuan hanya jaga anak. Sebenarnya, Islam memberikan individualitas kepada perempuan dan lelaki. Di surga dihadapan Allah, lelaki maupun perempuan akan ditanyai tentang kelakuannya semasa hidup." Ia kemudian mempelajari Quran -- dan mendorong wanita2 lain melakukan hal yang sama. "Masyarakat kami menghalangi wanita dari kata2 Rasulullah, dari sekolah dari pekerjaan," katanya. "Namun jaman sekarang ini wanita bisa menjadi astronot."
Pada tahun 1989, huru-hara pecah di Lembah Kashmir yang mayoritas Muslim, dan sekarang masih berlangsung. Asiyah percaya Kashmir harus menjadi bagian Pakistan, negara Islam yang menurutnya harus berbuat lebih banyak bagi wanita dan lebih setia kepada agama.
"Saya percaya seluruh dunia harus ditundukkan dibawah Islam, dan Allah mengatakan semua muslim harus menyatu," katanya.
Ia ingin agar putera2nya tumbuh dengan senjata di tangan. " Saya ingin mereka menjadi mujahid," katanya. "Saya tidak pernah mimpi agar mereka menjadi dokter atau perdana menteri. Saya ingin mereka berjuang dalam Perang Suci Islam." //
Nah, lihat sendiri. Cerita diatas menunjukkan seorang wanita berpendidikan yang menjadi teroris, menyirami wanita lain2 yang tidak mengenakan Hijab dengan cat, mendorong kekerasan dan ingin mendidik putera2nya sebagai teroris. Mentalitasnya begitu rancu sampai mendorong suaminya beristeri lebih dari satu.
Apa yang mendorongnya menjadi teroris ? Sebuah buku cerita tentang konversi wanita kedalam Islam. Itu saja yang diperlukan guna membangkitkan semangat fanatiknya dan menjadi teroris.
Setiap konversi menambah jumlah fundamentalis. Kaum muslim moderatlah biang penambahan fundamentalis. Setiap sukses penambahan pengikut melipatgandakan jumlah fundamentalis. Mengapa ? Karena Islam adalah agama fundamentalis. Tidak percaya ? Baca Quran dengan dua mata terbuka, seperti Aisiyah. Militansi memang didorong Quran, dan itu yang diikuti orang2 konsisten seperti Aisiyah. Dan semakin menjalar akar2 Islam, semakin menjalar pula fundamentalisme. Anda tidak dapat memerangi fundamentalisme tanpa memerangi Islam.
Ini yang diajarkan Islam :
"Oh ye who believe! Murder those of the disbelievers and let them find harshness in you." Q.9:123
"Slay the idolaters wherever you find them" Q. 9: 5
"Fight those who do not believe in God and the last day... and fight People of the Book, who do not accept the religion of truth (Islam) until they pay tribute by hand, being inferior" Q. 9: 29
“Fight them on until there is no more tumult and religion becomes that of Allah” Q. 2: 193
MUSLIM, INI TANGGUNG JAWABMU !