. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Mayoritas dan Minoritas di Dunia Arab

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Mayoritas dan Minoritas di Dunia Arab

Postby spaceman » Sun Feb 12, 2012 11:28 pm

Zvi Mazel

• Letusan sosial politik saat ini di dunia Arab adalah hasil dari kegagalan total negara-negara Arab untuk menciptakan suatu sifat pemersatu nasional dan membangun politik modern yang berlandaskan persamaan hak dalam berpolitik, sosial dan ekonomi.
• Alih-alih mencari apa yang menyatukan, dan membangun masyarakat yang memobilisasi sumber dayanya untuk mengalahkan keterbelakangan dan meningkatkan ekonomi, kaum elitnya malah berusaha melalui nasionalisme Arab dan / atau Islam untuk memaksakan kesatuan yang selalu meninggalkan sebagian penduduk di luar mayoritas masyarakatnya.
• 90 tahun sejak negara-negara Arab didirikan telah penuh dengan perselisihan antara komunitas yang berbeda, diskriminasi politik dan ekonomi, pemberontakan, kudeta militer, subversi, dan konflik antara negara-negara itu sendiri. Konflik-konflik ini telah mengakibatkan minimal 5 juta kematian dan jutaan terluka dan pengungsian.
• Pada tahap ini tak seorang pun di negara-negara Arab memikirkan tentang kaum minoritas dan persatuan nasional. Tidak ada pembicaraan tentang rekonsiliasi atau hak2 kaum minoritas. Sungguh, situasi minoritas hanya kian memburuk.


Apa yang disebut Barat sebagai musim semi Arab sebenarnya adalah letusan sosial politik di dunia Arab yang dihasilkan dari kegagalan total dari semua negara-negara Arab untuk menciptakan sifat pemersatu nasional dan membangun politik modern yang berlandaskan persamaan hak dalam berpolitik, sosial dan ekonomi. Negara-negara Arab mempunyai 90 tahun untuk menemukan kesamaan dalam mosaik kelompok etnis, nasional, dan agama di setiap negara dan membangun kerja sama politik, sosial, dan ekonomi di antara mereka. Tapi bukannya mencari apa yang menyatukan, dan membangun masyarakat egaliter yang memobilisasi sumber dayanya untuk mengalahkan keterbelakangan dan meningkatkan ekonomi, elitnya malah berusaha melalui nasionalisme Arab dan / atau Islam untuk memaksakan kesatuan yang selalu meninggalkan sebagian penduduk luar mayoritas masyarakatnya. 90 tahun sejak negara-negara Arab didirikan telah penuh dengan perselisihan antara komunitas yang berbeda, diskriminasi politik dan ekonomi, pemberontakan, kudeta militer, subversi, dan konflik antara negara-negara itu sendiri. Konflik-konflik ini telah mengakibatkan minimal 5 juta kematian dan jutaan terluka dan pengungsian.


Mayoritas dunia Arab adalah orang Arab yang Muslim Sunni; di Suriah, bagaimanapun, minoritas Alawit memerintah meskipun mayoritas adalah Sunni. Di Bahrain, yang memiliki mayoritas Syiah, pemerintahan di tangan kaum Sunni. Di Irak minoritas Sunni memegang kendali kekuasaan sampai penggulingan Saddam Hussein. Minoritas ini sekarang tidak mau menerima pemerintahan mayoritas Syiah, meskipun berdasarkan pemilu yang telah diselenggarakan. Di Afrika Utara setidaknya sepertiga penduduknya adalah orang Berber yang tidak memiliki bagian dalam pemerintahan dan ditolak semua hak2nya. Konflik antara mayoritas dan minoritas secara nasional, etnis, atau agama adalah fitur dari semua negara Arab.

Kaum Minoritas


Negara-negara Arab di Timur Tengah dan Afrika Utara terdiri dari 355 juta orang. 75-80 persen dari mereka adalah Arab Muslim Sunni. Kaum minoritas, bagaimanapun, termasuk Muslim Sunni yang tidak Arab, seperti Kurdi, dan kelompok minoritas Arab yang bukan Muslim seperti Kristen di Suriah dan Irak. Daftar minoritas sangat panjang dan mencakup puluhan kelompok etnis, nasional, agama, dan suku. Di sini kita akan menyebutkan hanya yang paling penting di antara mereka.


Orang Kurdi


Kurdi adalah salah satu suku kuno di Timur Tengah. Bahasa Kurdi adalah bahasa Indo-Eropa, bukan yang Semit dan karenanya bukan lah orang Arab. Kurdi telah mengabadikan keunikan mereka dan bahasa mereka meski telah diislamkan. Di masa lalu mereka adalah bagian dari mayoritas Sunni dan secara aktif berpartisipasi dalam perang orang-orang Arab dan Islam. Saladin, yang menaklukkan Yerusalem dari Tentara Salib, adalah seorang Kurdi. Pada saat yang sama, Kurdi selalu melihat diri mereka sebagai sebuah komunitas non-Arab yang terpisah. Sekitar 8-9 juta orang Kurdi hidup di Irak dan Suriah, tetapi bersama-sama dengan saudara-saudara mereka di Turki dan Iran mereka berjumlah 20-25 juta orang.


Di Suriah orang Kurdi tunduk kepada hukum2 yang diskriminatif. Setengah dari mereka bahkan tidak memiliki kewarganegaraan Suriah dan tidak berhak untuk mendapatkan perawatan medis atau diizinkan untuk membuka rekening bank. Sementara pada awal pemberontakan terhadap Assad ia berjanji untuk memperbaiki situasi ini, perubahan yang signifikan sangatlah tidak mungkin.


Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein, suku Kurdi menjadi korban upaya pendudukan oleh orang2 arab di daerah tinggal mereka di Irak utara. Sekitar seratus ribu orang Kurdi tewas dalam serangan gas dan serangan2 lainnya atau diusir dari rumah mereka untuk digantikan oleh orang2 Arab. Saat, setelah Perang Teluk Pertama, Amerika Serikat dan sekutunya menetapkan zona larangan terbang di daerah2 Kurdi di mana tentara Saddam dilarang untuk beroperasi, Kurdi mendapatkan otonomi administratif.


Setelah pemilu Irak setelah Perang Teluk Kedua, perjanjian antara berbagai pihak menentukan bahwa presiden seharusnya seorang Kurdi. Pada saat yang sama, berbagai masalah seperti bagaimana mendistribusikan pendapatan minyak (sebagian besar cadangan minyak Irak berada di daerah Kurdi), nasib kota Kirkuk, dan batas-batas daerah otonom belum diselesaikan. Beberapa bulan yang lalu parlemen dari daerah otonom Kurdi dengan suara bulat menyatakan hak rakyat Kurdi untuk menentukan nasib sendiri. Irak tidak akan mendapat ketenangan sampai ada solusi dari permasalahan tersebut dalam rangka otonomi penuh dan diakui, jika tidak, perjuangan kemerdekaan yang penuh kekerasan akan meletus.


Kaum Berber


Berber adalah penduduk asli Afrika Utara sejak awal masa sejarah (Berber menjadi nama yang diberikan oleh Roma untuk orang yang tidak berbicara bahasa Latin atau Yunani). Pada zaman kuno Berber memiliki kontak dengan Yahudi dan Kristen dan beberapa masuk ke agama-agama ini. Dengan penaklukan Arab pada abad ketujuh dan kedelapan mereka diislamkan, bahkan berjuang bersama-sama dengan orang Arab menaklukkan Spanyol. Berber memang mendirikan dinasti Islam radikal seperti Muwahidun, yang membantai non-Muslim. Pada saat yang sama, mereka kadang-kadang memberontak dan dipertahankan keunikannya. Dalam bahasa mereka yang bertahan hidup, Tamazight, mereka disebut Imazhighen, atau Amazigh dalam bentuk tunggal; bahasa ini termasuk dalam kelompok bahasa Asia-Afrika. Berber bukanlah Arab. Mereka merupakan 40-45 persen dari penduduk Maroko, 20-25 persen di Aljazair, dan 5-10 persen di Libya dan Tunisia. Secara keseluruhan mereka berjumlah sekitar 20-25 juta orang.


Pemerintah dari semua negara2 di Afrika Utara telah mengabaikan budaya dan bahasa Berber. Di Aljazair ada represi penuh kekerasan terhadap kaum minoritas ini, yang hidup terutama di wilayah Kabylia. Sekitar dua tahun lalu kaum Berber dari Kabylia mendirikan pemerintahan di pengasingan di Paris, dari mana diperjuangkan perjuangan kemerdekaan mereka. Di Libya kaum Berber mendukung pemberontak dan membantu menggulingkan Gaddafi. Mereka berharap ini berarti diskriminasi mereka telah berakhir dan pemerintah baru akan mengakui mereka sebagai minoritas berbudaya yang sama dalam hak dengan kaum mayoritas. Kemudian, dalam kekecewaan mereka, wakil-wakil mereka tidak termasuk dalam pemerintah baru, mereka mengumumkan bahwa mereka akan memboikotnya.


Kongres Dunia Imazhighen, yang didirikan beberapa tahun lalu, merupakan perwujudan Imazhighen di negara2 Afrika Utara dan di dunia secara keseluruhan. Fathi Ben Khalifa, ketua baru dari kongres yang terpilih beberapa minggu lalu dalam konvensi di Djerba, mengumumkan bahwa Imazhighen Libya siap untuk menjalin kontak dengan Israel, bahwa Israel adalah satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah, bahwa masalah Palestina tidak menarik kecuali untuk Palestina sendiri, dan bahwa Imazhighen itu ingin berkonsentrasi pada membebaskan diri dari rezim2 diktator dan bekerja untuk mencapai hak-hak politik mereka sebagai komunitas yang terpisah.


Orang-orang Kristen


Populasi Kristen yang besar ada di Mesir, Irak, Suriah, Libanon, Yordania, Israel, dan Otoritas Palestina. Dikatakan bahwa mereka berjumlah 18-20 juta orang. Koptik di Mesir adalah strain yang terpisah dari orang-orang Kristen Ortodoks yang merupakan 10-12 persen (sekitar 10 juta orang) dari total penduduk. Mereka adalah keturunan dari masa Firaun, Yunani, dan Romawi. Bahasa mereka dikembangkan dari bahasa Mesir kuno dan dekat dengan apa yang diucapkan dan ditulis di era Romawi. Hari ini terutama digunakan dalam upacara keagamaan. Komunitas ini telah menjaga agamanya selama 1400 tahun dari pemerintahan Arab-Islam, meskipun terjadi diskriminasi dan penganiayaan yang berlangsung di bawah Mubarak juga. Jika beberapa berpikir semangat demokrasi akan tentu saja melalui urat nadi umat Islam dengan penggulingan rezim sebelumnya, permusuhan dan penganiayaan telah benar-benar hanya makin meningkat sejak penggulingan Mubarak. Puluhan orang Koptik tewas dalam serangan Muslim dan gereja-gereja mereka telah dibakar. Militer yang sekarang memerintah negara itu umumnya menghindari terlibat kecuali dalam tahap terakhir dari serangan dan, memang, pada bulan Oktober 2011 orang2 Koptik yang berdemonstrasi menentang diskriminasi dibantai. Bersamaan dengan demonstrasi di Tahrir Square, orang2 Koptik telah menyiapkan organisasi untuk menuntut hak mereka dari Dewan Agung Militer dan ingin terlibat dalam merumuskan konstitusi baru. Mereka, bagaimanapun, tidak berhasil memenangkan dukungan dari masyarakat Mesir. Hasil pemilihan awal di titik Mesir untuk mayoritas Islam di parlemen, dan ini merupakan berita buruk bagi hubungan Muslim-Koptik dalam waktu dekat ke depan.


Sekitar 2,5 juta orang Kristen tinggal di Irak. Situasi mereka telah memburuk sejak jatuhnya Saddam Hussein dan mereka telah menjadi target serangan teror Al-Qaeda.Dalam beberapa tahun terakhir sekitar dua ribu orang Kristen telah dibunuh di Irak, yang memicu gelombang emigrasi ke Barat. Di Suriah orang Kristen berjumlah 10-12 persen dari populasi dan jumlah sekitar 2,5 juta. Di Lebanon mereka berjumlah 1,5 juta, termasuk komunitas terbesar, Maronit, serta berbagai kelompok Kristen Timur. Orang Kristen tidak dianggap sebagai minoritas di Lebanon karena pemerintah didasarkan pada alokasi komunal yang jelas tentang posisi senior. Perang saudara Lebanon 1975-1990 meletus antara Muslim dan Kristen.


Juga tinggal di negara-negara di wilayah ini orang2 Armenia (sekitar satu juta), Asiria, Kasdim, Yunani, dan lain-lain yang merupakan bagian dari berbagai sekte2 Kristen dan sub2 sektenya. Banyak dari mereka tidak menganggap diri sebagai orang Arab dan ditindas oleh umat Islam, sehingga ada skala besar emigrasi ke negara-negara Barat.


Kaum Syiah


Meskipun kaum Syiah adalah orang Arab Muslim, karena alasan teologis dan politik mereka adalah minoritas yang ditindas yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk negara-negara Arab, dan mereka saat ini jumlah sekitar 35 juta orang. Di Irak dan di Bahrain mereka adalah mayoritas; di Lebanon mereka sekarang komunitas terbesar. Di Yaman mereka membentuk sekitar 30 persen dari populasi. Ada juga minoritas Syiah yang besar di Kuwait dan Arab Saudi. Sebagian besar Syiah di Timur Tengah berasal dari Syiah Imamiyah, yang percaya bahwa Imam Keduabelas sejak Imam Ali as akan muncul kembali pada Hari Pengadilan. Aliran Syiah lainnya, Syiah Sevener, percaya pada Imam Ketujuh, seperti halnya Ismailiyah.


Kaum Druze


Para Druze tinggal di Suriah, Libanon, dan Israel, sebesar 1,5 juta. Mereka melihat diri mereka sebagai orang Arab. Meskipun mereka berasal dari Islam, mereka tidak dianggap Muslim.


Kaum Alawite


Kaum Alawite berjumlah sekitar 12 persen dari populasi Suriah atau sekitar 2,5 juta orang.Mereka tinggal di barat laut negara itu, beberapa hidup di Turki. Sementara mereka melihat diri mereka sebagai kelompok Syiah Imamiyah dari aliran pusat, mereka dianggap sebagai bida’ah karena iman mereka mencakup unsur-unsur yang bertentangan monoteisme Islam, dan mereka dijauhi oleh kaum Syiah. Untuk alasan politik (kerjasama dengan Hizbullah dan Iran) kaum Alawite diakui sebagai sekte yang sah oleh para ulama Syiah di Lebanon dan Iran.


Orang-orang Yahudi


Pada malam sebelum pembentukan Israel pada tahun 1948 ada sekitar satu juta orang Yahudi di negara-negara Arab. Ketika konflik di Palestina semakin intensif pada 1940-an, penganiayaan dan pembunuhan masal terkoordinir terjadi di sejumlah negara Arab dan kaum Yahudi mulai pergi. Setelah Israel didirikan orang Yahudi dipaksa untuk pergi, dan dalam beberapa tahun kehadiran Yahudi yang telah ada sejak ribuan tahun di negara-negara Arab telah dieliminasi. Masih ada populasi kecil kaum Yahudi di Maroko dan Tunisia.


Satu juga harus menyebutkan Bahai, Turkmen, Circassians, Khawarij, Nubia, kaum Yazidi di Irak, dan suku-suku Afrika kulit hitam yang beragama Kristen dan pagan di Mauritania dan Maroko.


Masalah kaum Minoritas setelah Perang Dunia I

Pasca Perang Dunia I dengan pembubaran Kekaisaran Ottoman dan penciptaan negara-bangsa baru dengan kekuasaan kolonial saat itu, Inggris dan Perancis, isu minoritas di dunia Arab naik ke permukaan. 1300 tahun penaklukan Muslim-Arab tidak berhasil menekan identitas bangsa yang telah ditaklukkan atau menghapus keunikan mereka, tidak juga berhasil untuk membasmi agama2 lain. Sebaliknya, Islam itu sendiri melahirkan minoritas tambahan, khususnya berbagai strain dari Syiah. Negara-negara Arab yang didirikan pada goresan pena, sesuai dengan kepentingan Inggris dan Perancis, tidak homogen secara politis dan termasuk beragam jenis minoritas yang terpisah2. Nasionalisme Arab yang tumbuh di negara-bangsa baru, bersama dengan keyakinan akan supremasi Islam, mengacaukan hubungan antara minoritas dan mayoritas Sunni dan menelurkan konflik yang terus berkecamuk hingga ke masa kini. Dalam sebuah artikel tahun 1995, Prof Saad Eddin Ibrahim mencatat bahwa dunia Arab, yang kemudian menyumbang 8 persen dari populasi global, bertanggung jawab atas 25 persen dari semua konflik bersenjata di dunia sejak 1945. Terjadi dalam konteks konflik etnis, konflik2 ini telah menyebabkan 2,5 juta kematian. Sementara penduduk Timur Tengah saat ini hanya 6 persen dari populasi dunia, konflik domestik dan eksternal terus dan tampaknya bahwa jumlah korban menjadi dua kali lipat.


Sampai pembentukan negara-bangsa Arab di abad kedua puluh, Timur Tengah-Afrika Utara adalah hamparan Islam di mana semua Muslim adalah bagian dari bangsa Muslim dan tinggal di semacam negara tunggal berdasarkan Syariah dan dipimpin oleh seornang khalifah.Itulah gambaran ideal, bagaimanapun, harus memenuhi syarat. Sepanjang sejarahnya kaum Muslim di wilayah itu terlibat dalam perang saling bunuh antar saudara tak terhitung jumlahnya; khalifah dibunuh dan kekhalifahan saingan didirikan. Timur Tengah dan Afrika Utara, sebagian besar waktunya, dibagi antara para penguasa antagonis, meskipun wilayah ini terbuka untuk pergerakan orang dan barang dagangan.


Selama lima ratus tahun di Timur Tengah yang sebagian besar di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman, yang jarang ikut campur dalam urusan non-Muslim selama mereka menerima status dzimmi mereka (minoritas dilindungi). Status ini diberikan untuk non-Muslim suatu perlindungan Islam. Mereka membayar pajak komunitas, jizyah, dan sebagai imbalannya diizinkan untuk mengelola urusan masyarakat mereka. Semua ini tergantung situasi dalam menghormati mayoritas Muslim dan mengakui kedaulatan negara Islam. Perlu ditekankan, meskipun, bahwa non-Muslim adalah warga negara kelas dua, sesuai dengan perubahan pikiran mendadak dari massa dan dari penguasa Muslim yang, pada titik yang berbeda dalam sejarah panjang, membunuh dan membantai mereka atau memaksa mereka untuk masuk Islam. Ketika Kekaisaran Ottoman melemah, status dhimmi dihapuskan pada tahun 1856 karena tekanan oleh kekuatan Barat.


Istilah2 tersebut berubah total, dikarenakan dengan pembentukan negara baru setelah Perang Dunia I. Hal ini diharapkan akan menjadi kebijakan2 modern, dengan identitas nasional sipil terpisah untuk seluruh negara, dan untuk mengembangkan kebijakan politik-sosial-ekonomi yang akan menjamin kesetaraan yang wajar bagi semua warga negara, pertumbuhan ekonomi, dan kemakmuran. Ini adalah dasar untuk menjalankan setiap negara di dunia, dan cara untuk mencegah konflik yang akan menumbangkan persatuan. Di sini semua negara-negara Arab telah gagal.


Negara-negara Arab Gagal dalam Upaya Persatuan Nasional


Segera setelah penciptaan negara-negara Arab, bahkan sebelum mereka mencapai kemerdekaan penuh, dua visi berkompetisi di antara mereka tentang pembangunan negara dan identitas warga negara mereka: visi Islam dan visi sekuler-nasional.Mengingat prinsip dasar mereka, keduanya jauh dari kondusif bagi persatuan nasional dan munculnya negara demokrasi egaliter. Dalam kedua kasus, mewujudkan visi berarti tidak memasukkan berbagai kelompok minoritas dari sistem politik mayoritas.


Visi Islam memposisikan negara yang berdasarkan agama, pemerintahan dan struktur sosial ditentukan oleh Syariah. Itu berarti orang Kurdi, yang adalah Muslim Sunni tetapi bukan Arab, akan menjadi warga negara dengan hak yang sama, sementara non-Muslim, terutama Kristen, Yahudi, dan penyembah berhala, akan kembali menjadi warga kelas dua dengan status dhimmi yang tidak bisa ditunjuk untuk menduduki jabatan kunci seperti presiden, menteri, dan hakim.


Menurut visi sekuler-nasional -Arab, bagaimanapun, negara akan didasarkan pada kebangsaan Arab-yaitu orang yang bahasa pertamanya bahasa Arab dan budaya Arab yang diidentifikasikan sebagai milik mereka. Untuk nasionalis Arab sekuler, siapa saja yang memenuhi kriteria dapat diterima, mereka akan menjadi warga dengan hak penuh terlepas dari asal-usul etnis atau agama. Ideologi ini menempatkan orang-orang Kristen, yang tersebar di seluruh negara Arab dan sebagian besar menganggap diri mereka sebagai orang Arab, dalam komunitas mayoritas. Pada saat yang sama, visi nasional ini tidak meninggalkan ruang bagi minoritas nasional atau agama yang mengklaim hak sebagai komunitas terpisah, yang akan bertentangan dengan nasionalisme. Jika Kurdi atau Berber -keduanya juga Muslim Sunni - yang mengajukan petisi atas hak-hak sebagai komunitas budaya-nasional yang unik, mereka akan tetap berada di luar komunitas mayoritas, tidak diakui, dan mengalami diskriminasi. Visi ini juga mendiskriminasikan orang-orang Koptik, yang sepenuhnya orang Mesir tetapi sebuah komunitas agama yang meminta untuk diakui sebagai suatu kelompok yang terpisah.


Dalam istilah praktis, situasi muncul di mana dua kekuatan beraksi bersama dalam dosis yang berbeda. Pada tahap pertama, pada saat pendirian mereka, negara2 Arab baru berusaha untuk mengatasi masalah identitas. Konstitusi pertama yang dirumuskan di Mesir, Suriah, dan Irak pada tahun 1920 dan 1930-an, di bawah pengaruh Inggris dan Perancis, relatif liberal dan memberikan kesetaraan pada warga negara tanpa pengaruh ke agama-setidaknya di atas kertas mereka. Namun, semua konstitusi menegaskan bahwa setiap negara merupakan bagian dari dunia Arab dan bekerja untuk persatuan, dan bahwa Islam adalah agama negara dan Syariah adalah sumber hukum.


Konstitusi ini memungkinkan penunjukan perdana menteri yang bukan Muslim Sunni. Boutros Ghali, seorang Kristen dan kakek dari Menteri Luar Negeri Boutros Boutros Ghali, diangkat menjadi perdana menteri Mesir pada 1910 dan dibunuh oleh seorang Muslim. Orang Kristen perdana menteri Faris al-Khoury diangkat di Suriah, dan Irak menjadikan Syiah dan Kurdi menjadi perdana menteri. Pada saat yang sama, prinsip-prinsip konstitusional persatuan Arab dan Syariah sebagai sumber hukum menciptakan bayangan atas kaum minoritas. Jika negara-negara Arab adalah negara-negara Arab dan berjuang untuk persatuan Arab, apa yang menjadi minoritas non-Arab? Jika negara-negara Arab mempertimbangkan Syariah sumber penting dari undang-undang, bagaimana nasib non-Muslim atau Muslim yang bukan dari aliran utama?


Pembentukan Liga Arab atas inisiatif Inggris dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama antara negara-negara Arab dengan tujuan untuk kemungkinan penyatuan di masa depan. Hari ini, juga, konstitusi semua negara-negara Arab masih menekankan pada paragraf pertama bahwa negara adalah bagian dari negara Arab dan bertujuan untuk penyatuan tersebut.


Semangat yang relatif liberal mulai berubah pada 1950-an dan 1960-an sebagai dua visi gagal untuk memecahkan masalah dalam dan luar negeri dari negara-negara Arab. Ekonomi tidak berkembang; korupsi merajalela. Untuk ini masih harus ditambahkan kegagalan yang gemilang dari negara utama -Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania-untuk mencegah penciptaan Israel dan kekalahan memalukan militer mereka. Periode ini terlihat gejolak agama dan nasionalis di semua negara Timur Tengah. Hasilnya adalah bahwa Mesir, Suriah, Irak, Libya, dan Sudan mengalami kudeta militer yang tujuannya untuk memperbaiki masalah-masalah masyarakat Arab. Rezim militer berjanji modernisasi rakyat mereka, reformasi ekonomi dan sosial, dan pendidikan universal. Namun, dalam waktu singkat, ternyata mereka tidak bisa memenuhi janji mereka, melainkan negara-negara mereka lebih memburuk menjadi kediktatoran yang kejam yang ditandai oleh penindasan dalam negeri dan konflik dengan tetangga. Tampaknya alasan utama kegagalan rezim -rezim tersebut adalah ketidakmampuan mereka untuk datang dengan sebuah cara yang dapat menyatukan mosaik seluruh etnis, nasional, dan agama yang berbeda - bersama dengan korupsi, yang endemik di negara-negara Arab dan tunas dari tradisi suku Arab .


Di Mesir kudeta dilakukan oleh perwira2 militer yang dekat dengan Ikhwanul Muslimin. Meskipun mereka menolak Islamisasi Mesir sebagai tuntutan Ikhwanul, Nasser, pemimpin mereka, yang didukung nasionalisme Arab ekstrim cenderung pada pan-Arabisme. Dia menggerogoti semua negara-negara Arab dalam upaya untuk menciptakan sebuah negara tunggal Arab bersatu. Dia berhasil mendirikan Republik Persatuan Arab dengan Suriah, tetapi berantakan dalam waktu singkat. Perjanjian penyatuan negara-negara Arab lainnya dengan beberapa negara Arab tetap di atas kertas dan tidak dilaksanakan. Selain itu, Mesir menjadi terjerat dalam perang saudara di Yaman. Dan nasionalisasi atas Terusan Suez menyebabkan serangan tiga pihak oleh Inggris, Perancis, dan Israel pada tahun 1956. Dalam reaksinya Nasser mengusir non-Arab dan minoritas non-Muslim-Inggris, Perancis, Italia, Yunani, dan Yahudi yang masih tinggal dari pergerakan populasi sebelumnya. Ini melibatkan sekitar setengah juta orang yang merupakan mesin pembangunan ekonomi Mesir.Selanjutnya perekonomian Mesir runtuh, dan sampai sekarang belum kembali ke kondisi seperti sebelumnya.

Di Suriah dan Irak, tentara mengambil alih partai Baath yang dihormati, yang telah didirikan oleh Michel Aflaq, seorang Kristen, dan dimaksudkan untuk menjadi sekuler dan pan-Arab. Para perwira, juga, sekarang mengadopsi kebijakan radikal nasionalis. Dalam kudeta militer Abdul Karim Qasim di Irak, Raja Faisal II dan Perdana Menteri Nuri Said dibunuh. Selanjutnya, Saddam Hussein mendirikan kediktatoran yang kejam dengan pembantaian orang Kurdi dan Syiah mayoritas. Dia kemudian menyerang dan menaklukkan Kuwait, tetapi kemudian menderita kekalahan yang memalukan oleh pasukan Koalisi. Di Suriah kediktatoran didirikan oleh Assad, yang termasuk dalam minoritas Alawit, tidak kurang kejam, ia membantai Ikhwanul Muslimin, memperketat kontrol atas mayoritas Sunni, dan melakukan intervensi di Lebanon. Selain itu, dua pihak bersaudara partai Baath melakukan perjuangan ideologis dan pribadi sengit antara mereka, yang menyebabkan Assad bergabung dengan Koalisi melawan Saddam Hussein dalam Perang Teluk Pertama dan kemudian untuk membentuk aliansi dengan Iran. Juga diperhatikan adalah perang sipil di Lebanon, yang menyebabkan intervensi Suriah di Tanah Cedars. Pada dasarnya ini adalah perang Kristen terhadap umat Islam, tetapi juga dari Sunni melawan Syiah dan Kristen terhadap umat Kristen.


Di Aljazair FLN (Front Pembebasan Nasional) mendirikan partai berkuasa tunggal dan Berber yang memberontak di wilayah Kabylia dibantai, tidak mau menerima sebuah kediktatoran nasionalis yang benar-benar mengabaikan warisan budaya dan nasional mereka.Perang juga pecah antara Aljazair dan Maroko pada latar belakang keinginan Maroko mencaplok Sahara Barat, yang sudah dibebaskan dari kekuasaan Spanyol, permusuhan masih berlangsung.


Di Sudan, suku-suku Afrika, Kristen, dan kafir di bagian selatan negara tidak siap untuk menerima kekuasaan Islam dari utara Arab, yang mencoba untuk memaksakan Syariah pada mereka. Sebaliknya selatan meluncurkan perjuangan yang berlangsung sekitar empat puluh tahun dan berakhir dengan pembagian Sudan dan pembentukan negara merdeka Sudan Selatan.


Somalia berperang melawan tetangganya, Ethiopia, pada klaim bahwa penduduk wilayah Ogaden di Ethiopia timur adalah bagian dari suku Somalia, berusaha untuk menaklukkan dan mencaplok tetapi menderita kekalahan.


Libya juga berperang melawan Chad dengan tujuan menganeksasi wilayah sempit yang kaya minyak .


Itu bukan daftar lengkap dari konflik antara dan di dalam negara-negara Arab. Namun demikian,merupakan sampel yang representatif yang menjelaskan di mana sumber daya bangsa Arab telah diarahkan sejak mencapai kemerdekaan.


Sementara yang mengaku sekuler, rezim militer tidak menyangkal Islam. Sebaliknya, mereka mendorong pendidikan Islam sebagai cara untuk mengalihkan perhatian massa dari kegagalan militer dan ekonomi. Dengan sebagian besar masyarakat menempel agama dalam menghadapi pembangunan ekonomi gagal dan kemiskinan yang sedang berlangsung, pengaruh Islam tumbuh. Ketika jutaan pekerja dari Mesir dan negara Arab lain yang telah mendapatkan pekerjaan di Arab Saudi dan negara Teluk lainnya kembali ke negara asal mereka pada 1980-an, mereka membawa bersama mereka Islam.radikal Wahabi.


Para penguasa, untuk bagian mereka, berusaha untuk menyapu semua yang bermasalah bertambah di bawah permukaan, menyatakan persatuan nasional sementara mereka berjuang terhadap keduanya yaitu orang mereka sendiri dan tetangga mereka. Secara bersamaan, situasi ekonomi terus memburuk di semua negara-negara Arab.


Musim semi Arab


Di tengah keadaan sosial ekonomi ini, proses yang dikenal sebagai "musim semi bangsa" dimulai pada negara-negara Arab. "Musim semi dari masyarakat" juga telah membuka kembali arsip dari kaum minoritas. Pertanyaan besar adalah: apa solusi2nya? Integrasi, otonomi, federalisme, kemerdekaan? Tidak ada yang bisa mengatakan. Dalam kasus Sudan solusi kemerdekaan telah terwujud.


Generasi muda yang telah turun ke jalan benar-benar ingin menyingkirkan kediktatoran militer dan memperbaiki kondisi hidup. Orang-orang muda yang sama, bagaimanapun, telah menyerap nasionalisme Islam dan Arab sejak mereka lahir. Beberapa minggu demonstrasi tidak cukup bagi mereka untuk mengubah kepercayaan mereka. Hal ini sangat diragukan bahwa mereka memahami nilai-nilai demokrasi, khususnya diwujudkan dalam penerimaan terhadap yang lainnya, memastikan hak asasi manusia, kesetaraan bagi perempuan, toleransi beragama, dan penegakkan hukum. Melakukan pemilihan umum untuk parlemen, bahkan di bawah pengawasan hukum atau internasional, tidak ada jaminan akan adanya demokrasi. Islam dan tradisi Arab tidak akan lenyap dalam semalam. Masyarakat ini harus mengatasi warisan ratusan tahun keterbelakangan, kepercayaan yang telah membentuk karakter mereka sejak awal Islam. Jalan menuju demokrasi akan lama dan bergelombang. Apa yang telah dimulai adalah periode berlarut-larut yang tidak stabil di dunia Arab, sampai keseimbangan baru dapat dicapai antara tuntutan generasi muda dan kekuatan tradisional masyarakat Arab-Islam.


Dunia Arab tidak memiliki partai-partai liberal yang dapat mencetak gejolak ini menjadi demokrasi. Unsur-unsur utama adalah Ikhwanul Muslimin dan Salafi. Mayoritas di Mesir, Tunisia, dan Maroko memilih partai-partai ini, dan tampaknya juga akan terjadi di Suriah, Yaman, Aljazair dan bahkan ketika pemilihan umum yang bebas diselenggarakan di sana.Ketika wartawan bertanya kepada beberapa orang Mesir untuk menjelaskan suara mereka, mereka mengatakan mereka percaya bahwa hanya melalui demokrasi Islam dapat dibentuk dan ekonomi membaik. Mereka cenderung akan sangat kecewa, dan mungkin turun ke jalan lagi dalam upaya untuk menurunkan kediktatoran Islam yang akan segera muncul.


Pada tahap ini tak seorang pun di negara-negara Arab berpikir tentang kaum minoritas dan persatuan nasional. Semua sibuk dengan menggulingkan rezim lama dan membangun yang baru, meskipun demikian tidak ada yang tahu seperti apa yang seharusnya terlihat. Tidak ada pembicaraan tentang rekonsiliasi Sunni-Syiah, tidak ada gagasan kemerdekaan bagi Kurdi, melainkan sebaliknya, seperti telah disebutkan, situasi kaum minoritas hanya makin memburuk.


Singkatnya, niscaya kita menyaksikan awal dari sebuah revolusi sosial politik di dunia Arab. Gelombang pertama revolusi, bagaimanapun, membuka pintu untuk aturan Islam, dan tampaknya kita harus menunggu sampai gelombang kedua. Pertanyaannya adalah apakah itu akan menjadi layak untuk rezim-rezim baru untuk bertindak hanya untuk kepentingan mayoritas Muslim Arab Sunni sambil terus menyangkal hak-hak minoritas.Tampaknya tidak. Dalam waktu dekat kemungkinan berbagai kaum minoritas akan menyuarakan tuntutan mereka, tetapi Ikhwanul Muslimin akan mengalami kesulitan menerima mereka.
***
Zvi Mazel, anggota dari Pusat Yerusalem untuk Urusan Umum, adalah mantan Duta Besar Israel ke Mesir, serta Swedia dan Rumania.
http://www.rslissak.com/content/majorit ... -zvi-mazel
================================================================================================================================================

Intinya, keterbukaan dan demokrasi yang menjamin kemakmuran dan kesejahteraan.

Sudah pasti syariah islam yang korup dan terbelakang tidak berguna sama sekali.

Penulis dengan cermat memaparkan persamaan islam dengan ideologi komunisme yang terbukti gagal.

Semoga berguna dan salam damai
User avatar
spaceman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2095
Joined: Thu Sep 18, 2008 12:23 pm
Location: Green Planet

Re: Mayoritas dan Minoritas di Dunia Arab

Postby Momad Narsis » Mon Feb 13, 2012 9:42 pm

Tulisan yg sangat bermanfaat sekali unt membuka mata kita dimana islam memang tdk sejalan dgn iklim Demokrasi.
Islam dgn tegas menampikan persamaan hak2 setiap orang, pengkotak2an inilah yg membuat islam sulit menemukan jalan keluar dlm permasalahan negara.
sy sekarang baru mengerti mengapa islam menolak Demokrasi,ternyata bukan hanya karena produk nonmuslim,melainkan karena syariat islam tdk sejalan dgn sistem Demokrasi.
Tak pelak muslim selalu hidup dlm Hukum Rimba dmn yg kuatlah yg berkuasa.
Salam Damai
User avatar
Momad Narsis
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3460
Joined: Sun Jan 02, 2011 4:35 pm

Re: Mayoritas dan Minoritas di Dunia Arab

Postby spaceman » Tue Feb 14, 2012 1:01 am

Zvi Mazel

• Letusan sosial politik saat ini di dunia Arab adalah hasil dari kegagalan total negara-negara Arab untuk menciptakan suatu sifat pemersatu nasional dan membangun politik modern yang berlandaskan persamaan hak dalam berpolitik, sosial dan ekonomi.
• Alih-alih mencari apa yang menyatukan, dan membangun masyarakat yang memobilisasi sumber dayanya untuk mengalahkan keterbelakangan dan meningkatkan ekonomi, kaum elitnya malah berusaha melalui nasionalisme Arab dan / atau Islam untuk memaksakan kesatuan yang selalu meninggalkan sebagian penduduk di luar mayoritas masyarakatnya.
• 90 tahun sejak negara-negara Arab didirikan telah penuh dengan perselisihan antara komunitas yang berbeda, diskriminasi politik dan ekonomi, pemberontakan, kudeta militer, subversi, dan konflik antara negara-negara itu sendiri. Konflik-konflik ini telah mengakibatkan minimal 5 juta kematian dan jutaan terluka dan pengungsian.
• Pada tahap ini tak seorang pun di negara-negara Arab memikirkan tentang kaum minoritas dan persatuan nasional. Tidak ada pembicaraan tentang rekonsiliasi atau hak2 kaum minoritas. Sungguh, situasi minoritas hanya kian memburuk.


Apa yang disebut Barat sebagai musim semi Arab sebenarnya adalah letusan sosial politik di dunia Arab yang dihasilkan dari kegagalan total dari semua negara-negara Arab untuk menciptakan sifat pemersatu nasional dan membangun politik modern yang berlandaskan persamaan hak dalam berpolitik, sosial dan ekonomi. Negara-negara Arab mempunyai 90 tahun untuk menemukan kesamaan dalam mosaik kelompok etnis, nasional, dan agama di setiap negara dan membangun kerja sama politik, sosial, dan ekonomi di antara mereka. Tapi bukannya mencari apa yang menyatukan, dan membangun masyarakat egaliter yang memobilisasi sumber dayanya untuk mengalahkan keterbelakangan dan meningkatkan ekonomi, elitnya malah berusaha melalui nasionalisme Arab dan / atau Islam untuk memaksakan kesatuan yang selalu meninggalkan sebagian penduduk luar mayoritas masyarakatnya. 90 tahun sejak negara-negara Arab didirikan telah penuh dengan perselisihan antara komunitas yang berbeda, diskriminasi politik dan ekonomi, pemberontakan, kudeta militer, subversi, dan konflik antara negara-negara itu sendiri. Konflik-konflik ini telah mengakibatkan minimal 5 juta kematian dan jutaan terluka dan pengungsian.


Mayoritas dunia Arab adalah orang Arab yang Muslim Sunni; di Suriah, bagaimanapun, minoritas Alawit memerintah meskipun mayoritas adalah Sunni. Di Bahrain, yang memiliki mayoritas Syiah, pemerintahan di tangan kaum Sunni. Di Irak minoritas Sunni memegang kendali kekuasaan sampai penggulingan Saddam Hussein. Minoritas ini sekarang tidak mau menerima pemerintahan mayoritas Syiah, meskipun berdasarkan pemilu yang telah diselenggarakan. Di Afrika Utara setidaknya sepertiga penduduknya adalah orang Berber yang tidak memiliki bagian dalam pemerintahan dan ditolak semua hak2nya. Konflik antara mayoritas dan minoritas secara nasional, etnis, atau agama adalah fitur dari semua negara Arab.

Kaum Minoritas


Negara-negara Arab di Timur Tengah dan Afrika Utara terdiri dari 355 juta orang. 75-80 persen dari mereka adalah Arab Muslim Sunni. Kaum minoritas, bagaimanapun, termasuk Muslim Sunni yang tidak Arab, seperti Kurdi, dan kelompok minoritas Arab yang bukan Muslim seperti Kristen di Suriah dan Irak. Daftar minoritas sangat panjang dan mencakup puluhan kelompok etnis, nasional, agama, dan suku. Di sini kita akan menyebutkan hanya yang paling penting di antara mereka.


Orang Kurdi


Kurdi adalah salah satu suku kuno di Timur Tengah. Bahasa Kurdi adalah bahasa Indo-Eropa, bukan yang Semit dan karenanya bukan lah orang Arab. Kurdi telah mengabadikan keunikan mereka dan bahasa mereka meski telah diislamkan. Di masa lalu mereka adalah bagian dari mayoritas Sunni dan secara aktif berpartisipasi dalam perang orang-orang Arab dan Islam. Saladin, yang menaklukkan Yerusalem dari Tentara Salib, adalah seorang Kurdi. Pada saat yang sama, Kurdi selalu melihat diri mereka sebagai sebuah komunitas non-Arab yang terpisah. Sekitar 8-9 juta orang Kurdi hidup di Irak dan Suriah, tetapi bersama-sama dengan saudara-saudara mereka di Turki dan Iran mereka berjumlah 20-25 juta orang.


Di Suriah orang Kurdi tunduk kepada hukum2 yang diskriminatif. Setengah dari mereka bahkan tidak memiliki kewarganegaraan Suriah dan tidak berhak untuk mendapatkan perawatan medis atau diizinkan untuk membuka rekening bank. Sementara pada awal pemberontakan terhadap Assad ia berjanji untuk memperbaiki situasi ini, perubahan yang signifikan sangatlah tidak mungkin.


Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein, suku Kurdi menjadi korban upaya pendudukan oleh orang2 arab di daerah tinggal mereka di Irak utara. Sekitar seratus ribu orang Kurdi tewas dalam serangan gas dan serangan2 lainnya atau diusir dari rumah mereka untuk digantikan oleh orang2 Arab. Saat, setelah Perang Teluk Pertama, Amerika Serikat dan sekutunya menetapkan zona larangan terbang di daerah2 Kurdi di mana tentara Saddam dilarang untuk beroperasi, Kurdi mendapatkan otonomi administratif.


Setelah pemilu Irak setelah Perang Teluk Kedua, perjanjian antara berbagai pihak menentukan bahwa presiden seharusnya seorang Kurdi. Pada saat yang sama, berbagai masalah seperti bagaimana mendistribusikan pendapatan minyak (sebagian besar cadangan minyak Irak berada di daerah Kurdi), nasib kota Kirkuk, dan batas-batas daerah otonom belum diselesaikan. Beberapa bulan yang lalu parlemen dari daerah otonom Kurdi dengan suara bulat menyatakan hak rakyat Kurdi untuk menentukan nasib sendiri. Irak tidak akan mendapat ketenangan sampai ada solusi dari permasalahan tersebut dalam rangka otonomi penuh dan diakui, jika tidak, perjuangan kemerdekaan yang penuh kekerasan akan meletus.


Kaum Berber


Berber adalah penduduk asli Afrika Utara sejak awal masa sejarah (Berber menjadi nama yang diberikan oleh Roma untuk orang yang tidak berbicara bahasa Latin atau Yunani). Pada zaman kuno Berber memiliki kontak dengan Yahudi dan Kristen dan beberapa masuk ke agama-agama ini. Dengan penaklukan Arab pada abad ketujuh dan kedelapan mereka diislamkan, bahkan berjuang bersama-sama dengan orang Arab menaklukkan Spanyol. Berber memang mendirikan dinasti Islam radikal seperti Muwahidun, yang membantai non-Muslim. Pada saat yang sama, mereka kadang-kadang memberontak dan dipertahankan keunikannya. Dalam bahasa mereka yang bertahan hidup, Tamazight, mereka disebut Imazhighen, atau Amazigh dalam bentuk tunggal; bahasa ini termasuk dalam kelompok bahasa Asia-Afrika. Berber bukanlah Arab. Mereka merupakan 40-45 persen dari penduduk Maroko, 20-25 persen di Aljazair, dan 5-10 persen di Libya dan Tunisia. Secara keseluruhan mereka berjumlah sekitar 20-25 juta orang.


Pemerintah dari semua negara2 di Afrika Utara telah mengabaikan budaya dan bahasa Berber. Di Aljazair ada represi penuh kekerasan terhadap kaum minoritas ini, yang hidup terutama di wilayah Kabylia. Sekitar dua tahun lalu kaum Berber dari Kabylia mendirikan pemerintahan di pengasingan di Paris, dari mana diperjuangkan perjuangan kemerdekaan mereka. Di Libya kaum Berber mendukung pemberontak dan membantu menggulingkan Gaddafi. Mereka berharap ini berarti diskriminasi mereka telah berakhir dan pemerintah baru akan mengakui mereka sebagai minoritas berbudaya yang sama dalam hak dengan kaum mayoritas. Kemudian, dalam kekecewaan mereka, wakil-wakil mereka tidak termasuk dalam pemerintah baru, mereka mengumumkan bahwa mereka akan memboikotnya.


Kongres Dunia Imazhighen, yang didirikan beberapa tahun lalu, merupakan perwujudan Imazhighen di negara2 Afrika Utara dan di dunia secara keseluruhan. Fathi Ben Khalifa, ketua baru dari kongres yang terpilih beberapa minggu lalu dalam konvensi di Djerba, mengumumkan bahwa Imazhighen Libya siap untuk menjalin kontak dengan Israel, bahwa Israel adalah satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah, bahwa masalah Palestina tidak menarik kecuali untuk Palestina sendiri, dan bahwa Imazhighen itu ingin berkonsentrasi pada membebaskan diri dari rezim2 diktator dan bekerja untuk mencapai hak-hak politik mereka sebagai komunitas yang terpisah.


Orang-orang Kristen


Populasi Kristen yang besar ada di Mesir, Irak, Suriah, Libanon, Yordania, Israel, dan Otoritas Palestina. Dikatakan bahwa mereka berjumlah 18-20 juta orang. Koptik di Mesir adalah strain yang terpisah dari orang-orang Kristen Ortodoks yang merupakan 10-12 persen (sekitar 10 juta orang) dari total penduduk. Mereka adalah keturunan dari masa Firaun, Yunani, dan Romawi. Bahasa mereka dikembangkan dari bahasa Mesir kuno dan dekat dengan apa yang diucapkan dan ditulis di era Romawi. Hari ini terutama digunakan dalam upacara keagamaan. Komunitas ini telah menjaga agamanya selama 1400 tahun dari pemerintahan Arab-Islam, meskipun terjadi diskriminasi dan penganiayaan yang berlangsung di bawah Mubarak juga. Jika beberapa berpikir semangat demokrasi akan tentu saja melalui urat nadi umat Islam dengan penggulingan rezim sebelumnya, permusuhan dan penganiayaan telah benar-benar hanya makin meningkat sejak penggulingan Mubarak. Puluhan orang Koptik tewas dalam serangan Muslim dan gereja-gereja mereka telah dibakar. Militer yang sekarang memerintah negara itu umumnya menghindari terlibat kecuali dalam tahap terakhir dari serangan dan, memang, pada bulan Oktober 2011 orang2 Koptik yang berdemonstrasi menentang diskriminasi dibantai. Bersamaan dengan demonstrasi di Tahrir Square, orang2 Koptik telah menyiapkan organisasi untuk menuntut hak mereka dari Dewan Agung Militer dan ingin terlibat dalam merumuskan konstitusi baru. Mereka, bagaimanapun, tidak berhasil memenangkan dukungan dari masyarakat Mesir. Hasil pemilihan awal di titik Mesir untuk mayoritas Islam di parlemen, dan ini merupakan berita buruk bagi hubungan Muslim-Koptik dalam waktu dekat ke depan.


Sekitar 2,5 juta orang Kristen tinggal di Irak. Situasi mereka telah memburuk sejak jatuhnya Saddam Hussein dan mereka telah menjadi target serangan teror Al-Qaeda.Dalam beberapa tahun terakhir sekitar dua ribu orang Kristen telah dibunuh di Irak, yang memicu gelombang emigrasi ke Barat. Di Suriah orang Kristen berjumlah 10-12 persen dari populasi dan jumlah sekitar 2,5 juta. Di Lebanon mereka berjumlah 1,5 juta, termasuk komunitas terbesar, Maronit, serta berbagai kelompok Kristen Timur. Orang Kristen tidak dianggap sebagai minoritas di Lebanon karena pemerintah didasarkan pada alokasi komunal yang jelas tentang posisi senior. Perang saudara Lebanon 1975-1990 meletus antara Muslim dan Kristen.


Juga tinggal di negara-negara di wilayah ini orang2 Armenia (sekitar satu juta), Asiria, Kasdim, Yunani, dan lain-lain yang merupakan bagian dari berbagai sekte2 Kristen dan sub2 sektenya. Banyak dari mereka tidak menganggap diri sebagai orang Arab dan ditindas oleh umat Islam, sehingga ada skala besar emigrasi ke negara-negara Barat.


Kaum Syiah


Meskipun kaum Syiah adalah orang Arab Muslim, karena alasan teologis dan politik mereka adalah minoritas yang ditindas yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk negara-negara Arab, dan mereka saat ini jumlah sekitar 35 juta orang. Di Irak dan di Bahrain mereka adalah mayoritas; di Lebanon mereka sekarang komunitas terbesar. Di Yaman mereka membentuk sekitar 30 persen dari populasi. Ada juga minoritas Syiah yang besar di Kuwait dan Arab Saudi. Sebagian besar Syiah di Timur Tengah berasal dari Syiah Imamiyah, yang percaya bahwa Imam Keduabelas sejak Imam Ali as akan muncul kembali pada Hari Pengadilan. Aliran Syiah lainnya, Syiah Sevener, percaya pada Imam Ketujuh, seperti halnya Ismailiyah.


Kaum Druze


Para Druze tinggal di Suriah, Libanon, dan Israel, sebesar 1,5 juta. Mereka melihat diri mereka sebagai orang Arab. Meskipun mereka berasal dari Islam, mereka tidak dianggap Muslim.


Kaum Alawite


Kaum Alawite berjumlah sekitar 12 persen dari populasi Suriah atau sekitar 2,5 juta orang.Mereka tinggal di barat laut negara itu, beberapa hidup di Turki. Sementara mereka melihat diri mereka sebagai kelompok Syiah Imamiyah dari aliran pusat, mereka dianggap sebagai bida’ah karena iman mereka mencakup unsur-unsur yang bertentangan monoteisme Islam, dan mereka dijauhi oleh kaum Syiah. Untuk alasan politik (kerjasama dengan Hizbullah dan Iran) kaum Alawite diakui sebagai sekte yang sah oleh para ulama Syiah di Lebanon dan Iran.


Orang-orang Yahudi


Pada malam sebelum pembentukan Israel pada tahun 1948 ada sekitar satu juta orang Yahudi di negara-negara Arab. Ketika konflik di Palestina semakin intensif pada 1940-an, penganiayaan dan pembunuhan masal terkoordinir terjadi di sejumlah negara Arab dan kaum Yahudi mulai pergi. Setelah Israel didirikan orang Yahudi dipaksa untuk pergi, dan dalam beberapa tahun kehadiran Yahudi yang telah ada sejak ribuan tahun di negara-negara Arab telah dieliminasi. Masih ada populasi kecil kaum Yahudi di Maroko dan Tunisia.


Satu juga harus menyebutkan Bahai, Turkmen, Circassians, Khawarij, Nubia, kaum Yazidi di Irak, dan suku-suku Afrika kulit hitam yang beragama Kristen dan pagan di Mauritania dan Maroko.


Masalah kaum Minoritas setelah Perang Dunia I

Pasca Perang Dunia I dengan pembubaran Kekaisaran Ottoman dan penciptaan negara-bangsa baru dengan kekuasaan kolonial saat itu, Inggris dan Perancis, isu minoritas di dunia Arab naik ke permukaan. 1300 tahun penaklukan Muslim-Arab tidak berhasil menekan identitas bangsa yang telah ditaklukkan atau menghapus keunikan mereka, tidak juga berhasil untuk membasmi agama2 lain. Sebaliknya, Islam itu sendiri melahirkan minoritas tambahan, khususnya berbagai strain dari Syiah. Negara-negara Arab yang didirikan pada goresan pena, sesuai dengan kepentingan Inggris dan Perancis, tidak homogen secara politis dan termasuk beragam jenis minoritas yang terpisah2. Nasionalisme Arab yang tumbuh di negara-bangsa baru, bersama dengan keyakinan akan supremasi Islam, mengacaukan hubungan antara minoritas dan mayoritas Sunni dan menelurkan konflik yang terus berkecamuk hingga ke masa kini. Dalam sebuah artikel tahun 1995, Prof Saad Eddin Ibrahim mencatat bahwa dunia Arab, yang kemudian menyumbang 8 persen dari populasi global, bertanggung jawab atas 25 persen dari semua konflik bersenjata di dunia sejak 1945. Terjadi dalam konteks konflik etnis, konflik2 ini telah menyebabkan 2,5 juta kematian. Sementara penduduk Timur Tengah saat ini hanya 6 persen dari populasi dunia, konflik domestik dan eksternal terus dan tampaknya bahwa jumlah korban menjadi dua kali lipat.


Sampai pembentukan negara-bangsa Arab di abad kedua puluh, Timur Tengah-Afrika Utara adalah hamparan Islam di mana semua Muslim adalah bagian dari bangsa Muslim dan tinggal di semacam negara tunggal berdasarkan Syariah dan dipimpin oleh seornang khalifah.Itulah gambaran ideal, bagaimanapun, harus memenuhi syarat. Sepanjang sejarahnya kaum Muslim di wilayah itu terlibat dalam perang saling bunuh antar saudara tak terhitung jumlahnya; khalifah dibunuh dan kekhalifahan saingan didirikan. Timur Tengah dan Afrika Utara, sebagian besar waktunya, dibagi antara para penguasa antagonis, meskipun wilayah ini terbuka untuk pergerakan orang dan barang dagangan.


Selama lima ratus tahun di Timur Tengah yang sebagian besar di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman, yang jarang ikut campur dalam urusan non-Muslim selama mereka menerima status dzimmi mereka (minoritas dilindungi). Status ini diberikan untuk non-Muslim suatu perlindungan Islam. Mereka membayar pajak komunitas, jizyah, dan sebagai imbalannya diizinkan untuk mengelola urusan masyarakat mereka. Semua ini tergantung situasi dalam menghormati mayoritas Muslim dan mengakui kedaulatan negara Islam. Perlu ditekankan, meskipun, bahwa non-Muslim adalah warga negara kelas dua, sesuai dengan perubahan pikiran mendadak dari massa dan dari penguasa Muslim yang, pada titik yang berbeda dalam sejarah panjang, membunuh dan membantai mereka atau memaksa mereka untuk masuk Islam. Ketika Kekaisaran Ottoman melemah, status dhimmi dihapuskan pada tahun 1856 karena tekanan oleh kekuatan Barat.


Istilah2 tersebut berubah total, dikarenakan dengan pembentukan negara baru setelah Perang Dunia I. Hal ini diharapkan akan menjadi kebijakan2 modern, dengan identitas nasional sipil terpisah untuk seluruh negara, dan untuk mengembangkan kebijakan politik-sosial-ekonomi yang akan menjamin kesetaraan yang wajar bagi semua warga negara, pertumbuhan ekonomi, dan kemakmuran. Ini adalah dasar untuk menjalankan setiap negara di dunia, dan cara untuk mencegah konflik yang akan menumbangkan persatuan. Di sini semua negara-negara Arab telah gagal.


Negara-negara Arab Gagal dalam Upaya Persatuan Nasional


Segera setelah penciptaan negara-negara Arab, bahkan sebelum mereka mencapai kemerdekaan penuh, dua visi berkompetisi di antara mereka tentang pembangunan negara dan identitas warga negara mereka: visi Islam dan visi sekuler-nasional.Mengingat prinsip dasar mereka, keduanya jauh dari kondusif bagi persatuan nasional dan munculnya negara demokrasi egaliter. Dalam kedua kasus, mewujudkan visi berarti tidak memasukkan berbagai kelompok minoritas dari sistem politik mayoritas.


Visi Islam memposisikan negara yang berdasarkan agama, pemerintahan dan struktur sosial ditentukan oleh Syariah. Itu berarti orang Kurdi, yang adalah Muslim Sunni tetapi bukan Arab, akan menjadi warga negara dengan hak yang sama, sementara non-Muslim, terutama Kristen, Yahudi, dan penyembah berhala, akan kembali menjadi warga kelas dua dengan status dhimmi yang tidak bisa ditunjuk untuk menduduki jabatan kunci seperti presiden, menteri, dan hakim.


Menurut visi sekuler-nasional -Arab, bagaimanapun, negara akan didasarkan pada kebangsaan Arab-yaitu orang yang bahasa pertamanya bahasa Arab dan budaya Arab yang diidentifikasikan sebagai milik mereka. Untuk nasionalis Arab sekuler, siapa saja yang memenuhi kriteria dapat diterima, mereka akan menjadi warga dengan hak penuh terlepas dari asal-usul etnis atau agama. Ideologi ini menempatkan orang-orang Kristen, yang tersebar di seluruh negara Arab dan sebagian besar menganggap diri mereka sebagai orang Arab, dalam komunitas mayoritas. Pada saat yang sama, visi nasional ini tidak meninggalkan ruang bagi minoritas nasional atau agama yang mengklaim hak sebagai komunitas terpisah, yang akan bertentangan dengan nasionalisme. Jika Kurdi atau Berber -keduanya juga Muslim Sunni - yang mengajukan petisi atas hak-hak sebagai komunitas budaya-nasional yang unik, mereka akan tetap berada di luar komunitas mayoritas, tidak diakui, dan mengalami diskriminasi. Visi ini juga mendiskriminasikan orang-orang Koptik, yang sepenuhnya orang Mesir tetapi sebuah komunitas agama yang meminta untuk diakui sebagai suatu kelompok yang terpisah.


Dalam istilah praktis, situasi muncul di mana dua kekuatan beraksi bersama dalam dosis yang berbeda. Pada tahap pertama, pada saat pendirian mereka, negara2 Arab baru berusaha untuk mengatasi masalah identitas. Konstitusi pertama yang dirumuskan di Mesir, Suriah, dan Irak pada tahun 1920 dan 1930-an, di bawah pengaruh Inggris dan Perancis, relatif liberal dan memberikan kesetaraan pada warga negara tanpa pengaruh ke agama-setidaknya di atas kertas mereka. Namun, semua konstitusi menegaskan bahwa setiap negara merupakan bagian dari dunia Arab dan bekerja untuk persatuan, dan bahwa Islam adalah agama negara dan Syariah adalah sumber hukum.


Konstitusi ini memungkinkan penunjukan perdana menteri yang bukan Muslim Sunni. Boutros Ghali, seorang Kristen dan kakek dari Menteri Luar Negeri Boutros Boutros Ghali, diangkat menjadi perdana menteri Mesir pada 1910 dan dibunuh oleh seorang Muslim. Orang Kristen perdana menteri Faris al-Khoury diangkat di Suriah, dan Irak menjadikan Syiah dan Kurdi menjadi perdana menteri. Pada saat yang sama, prinsip-prinsip konstitusional persatuan Arab dan Syariah sebagai sumber hukum menciptakan bayangan atas kaum minoritas. Jika negara-negara Arab adalah negara-negara Arab dan berjuang untuk persatuan Arab, apa yang menjadi minoritas non-Arab? Jika negara-negara Arab mempertimbangkan Syariah sumber penting dari undang-undang, bagaimana nasib non-Muslim atau Muslim yang bukan dari aliran utama?


Pembentukan Liga Arab atas inisiatif Inggris dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama antara negara-negara Arab dengan tujuan untuk kemungkinan penyatuan di masa depan. Hari ini, juga, konstitusi semua negara-negara Arab masih menekankan pada paragraf pertama bahwa negara adalah bagian dari negara Arab dan bertujuan untuk penyatuan tersebut.


Semangat yang relatif liberal mulai berubah pada 1950-an dan 1960-an sebagai dua visi gagal untuk memecahkan masalah dalam dan luar negeri dari negara-negara Arab. Ekonomi tidak berkembang; korupsi merajalela. Untuk ini masih harus ditambahkan kegagalan yang gemilang dari negara utama -Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania-untuk mencegah penciptaan Israel dan kekalahan memalukan militer mereka. Periode ini terlihat gejolak agama dan nasionalis di semua negara Timur Tengah. Hasilnya adalah bahwa Mesir, Suriah, Irak, Libya, dan Sudan mengalami kudeta militer yang tujuannya untuk memperbaiki masalah-masalah masyarakat Arab. Rezim militer berjanji modernisasi rakyat mereka, reformasi ekonomi dan sosial, dan pendidikan universal. Namun, dalam waktu singkat, ternyata mereka tidak bisa memenuhi janji mereka, melainkan negara-negara mereka lebih memburuk menjadi kediktatoran yang kejam yang ditandai oleh penindasan dalam negeri dan konflik dengan tetangga. Tampaknya alasan utama kegagalan rezim -rezim tersebut adalah ketidakmampuan mereka untuk datang dengan sebuah cara yang dapat menyatukan mosaik seluruh etnis, nasional, dan agama yang berbeda - bersama dengan korupsi, yang endemik di negara-negara Arab dan tunas dari tradisi suku Arab .


Di Mesir kudeta dilakukan oleh perwira2 militer yang dekat dengan Ikhwanul Muslimin. Meskipun mereka menolak Islamisasi Mesir sebagai tuntutan Ikhwanul, Nasser, pemimpin mereka, yang didukung nasionalisme Arab ekstrim cenderung pada pan-Arabisme. Dia menggerogoti semua negara-negara Arab dalam upaya untuk menciptakan sebuah negara tunggal Arab bersatu. Dia berhasil mendirikan Republik Persatuan Arab dengan Suriah, tetapi berantakan dalam waktu singkat. Perjanjian penyatuan negara-negara Arab lainnya dengan beberapa negara Arab tetap di atas kertas dan tidak dilaksanakan. Selain itu, Mesir menjadi terjerat dalam perang saudara di Yaman. Dan nasionalisasi atas Terusan Suez menyebabkan serangan tiga pihak oleh Inggris, Perancis, dan Israel pada tahun 1956. Dalam reaksinya Nasser mengusir non-Arab dan minoritas non-Muslim-Inggris, Perancis, Italia, Yunani, dan Yahudi yang masih tinggal dari pergerakan populasi sebelumnya. Ini melibatkan sekitar setengah juta orang yang merupakan mesin pembangunan ekonomi Mesir.Selanjutnya perekonomian Mesir runtuh, dan sampai sekarang belum kembali ke kondisi seperti sebelumnya.

Di Suriah dan Irak, tentara mengambil alih partai Baath yang dihormati, yang telah didirikan oleh Michel Aflaq, seorang Kristen, dan dimaksudkan untuk menjadi sekuler dan pan-Arab. Para perwira, juga, sekarang mengadopsi kebijakan radikal nasionalis. Dalam kudeta militer Abdul Karim Qasim di Irak, Raja Faisal II dan Perdana Menteri Nuri Said dibunuh. Selanjutnya, Saddam Hussein mendirikan kediktatoran yang kejam dengan pembantaian orang Kurdi dan Syiah mayoritas. Dia kemudian menyerang dan menaklukkan Kuwait, tetapi kemudian menderita kekalahan yang memalukan oleh pasukan Koalisi. Di Suriah kediktatoran didirikan oleh Assad, yang termasuk dalam minoritas Alawit, tidak kurang kejam, ia membantai Ikhwanul Muslimin, memperketat kontrol atas mayoritas Sunni, dan melakukan intervensi di Lebanon. Selain itu, dua pihak bersaudara partai Baath melakukan perjuangan ideologis dan pribadi sengit antara mereka, yang menyebabkan Assad bergabung dengan Koalisi melawan Saddam Hussein dalam Perang Teluk Pertama dan kemudian untuk membentuk aliansi dengan Iran. Juga diperhatikan adalah perang sipil di Lebanon, yang menyebabkan intervensi Suriah di Tanah Cedars. Pada dasarnya ini adalah perang Kristen terhadap umat Islam, tetapi juga dari Sunni melawan Syiah dan Kristen terhadap umat Kristen.


Di Aljazair FLN (Front Pembebasan Nasional) mendirikan partai berkuasa tunggal dan Berber yang memberontak di wilayah Kabylia dibantai, tidak mau menerima sebuah kediktatoran nasionalis yang benar-benar mengabaikan warisan budaya dan nasional mereka.Perang juga pecah antara Aljazair dan Maroko pada latar belakang keinginan Maroko mencaplok Sahara Barat, yang sudah dibebaskan dari kekuasaan Spanyol, permusuhan masih berlangsung.


Di Sudan, suku-suku Afrika, Kristen, dan kafir di bagian selatan negara tidak siap untuk menerima kekuasaan Islam dari utara Arab, yang mencoba untuk memaksakan Syariah pada mereka. Sebaliknya selatan meluncurkan perjuangan yang berlangsung sekitar empat puluh tahun dan berakhir dengan pembagian Sudan dan pembentukan negara merdeka Sudan Selatan.


Somalia berperang melawan tetangganya, Ethiopia, pada klaim bahwa penduduk wilayah Ogaden di Ethiopia timur adalah bagian dari suku Somalia, berusaha untuk menaklukkan dan mencaplok tetapi menderita kekalahan.


Libya juga berperang melawan Chad dengan tujuan menganeksasi wilayah sempit yang kaya minyak .


Itu bukan daftar lengkap dari konflik antara dan di dalam negara-negara Arab. Namun demikian,merupakan sampel yang representatif yang menjelaskan di mana sumber daya bangsa Arab telah diarahkan sejak mencapai kemerdekaan.


Sementara yang mengaku sekuler, rezim militer tidak menyangkal Islam. Sebaliknya, mereka mendorong pendidikan Islam sebagai cara untuk mengalihkan perhatian massa dari kegagalan militer dan ekonomi. Dengan sebagian besar masyarakat menempel agama dalam menghadapi pembangunan ekonomi gagal dan kemiskinan yang sedang berlangsung, pengaruh Islam tumbuh. ( Persis dengan gaya komunisme, menipu untuk kemudian menguasai dan kemudian rontok hihihihi ) Ketika jutaan pekerja dari Mesir dan negara Arab lain yang telah mendapatkan pekerjaan di Arab Saudi dan negara Teluk lainnya kembali ke negara asal mereka pada 1980-an, mereka membawa bersama mereka Islam.radikal Wahabi.


Para penguasa, untuk bagian mereka, berusaha untuk menyapu semua yang bermasalah bertambah di bawah permukaan, menyatakan persatuan nasional sementara mereka berjuang terhadap keduanya yaitu orang mereka sendiri dan tetangga mereka. Secara bersamaan, situasi ekonomi terus memburuk di semua negara-negara Arab.


Musim semi Arab


Di tengah keadaan sosial ekonomi ini, proses yang dikenal sebagai "musim semi bangsa" dimulai pada negara-negara Arab. "Musim semi dari masyarakat" juga telah membuka kembali arsip dari kaum minoritas. Pertanyaan besar adalah: apa solusi2nya? Integrasi, otonomi, federalisme, kemerdekaan? Tidak ada yang bisa mengatakan. Dalam kasus Sudan solusi kemerdekaan telah terwujud.


Generasi muda yang telah turun ke jalan benar-benar ingin menyingkirkan kediktatoran militer dan memperbaiki kondisi hidup. Orang-orang muda yang sama, bagaimanapun, telah menyerap nasionalisme Islam dan Arab sejak mereka lahir. Beberapa minggu demonstrasi tidak cukup bagi mereka untuk mengubah kepercayaan mereka. Hal ini sangat diragukan bahwa mereka memahami nilai-nilai demokrasi, khususnya diwujudkan dalam penerimaan terhadap yang lainnya, memastikan hak asasi manusia, kesetaraan bagi perempuan, toleransi beragama, dan penegakkan hukum. Melakukan pemilihan umum untuk parlemen, bahkan di bawah pengawasan hukum atau internasional, tidak ada jaminan akan adanya demokrasi. Islam dan tradisi Arab tidak akan lenyap dalam semalam. Masyarakat ini harus mengatasi warisan ratusan tahun keterbelakangan, kepercayaan yang telah membentuk karakter mereka sejak awal Islam. Jalan menuju demokrasi akan lama dan bergelombang. Apa yang telah dimulai adalah periode berlarut-larut yang tidak stabil di dunia Arab, sampai keseimbangan baru dapat dicapai antara tuntutan generasi muda dan kekuatan tradisional masyarakat Arab-Islam.


Dunia Arab tidak memiliki partai-partai liberal yang dapat mencetak gejolak ini menjadi demokrasi. Unsur-unsur utama adalah Ikhwanul Muslimin dan Salafi. Mayoritas di Mesir, Tunisia, dan Maroko memilih partai-partai ini, dan tampaknya juga akan terjadi di Suriah, Yaman, Aljazair dan bahkan ketika pemilihan umum yang bebas diselenggarakan di sana.Ketika wartawan bertanya kepada beberapa orang Mesir untuk menjelaskan suara mereka, mereka mengatakan mereka percaya bahwa hanya melalui demokrasi Islam dapat dibentuk dan ekonomi membaik. Mereka cenderung akan sangat kecewa, dan mungkin turun ke jalan lagi dalam upaya untuk menurunkan kediktatoran Islam yang akan segera muncul.


Pada tahap ini tak seorang pun di negara-negara Arab berpikir tentang kaum minoritas dan persatuan nasional. Semua sibuk dengan menggulingkan rezim lama dan membangun yang baru, meskipun demikian tidak ada yang tahu seperti apa yang seharusnya terlihat. Tidak ada pembicaraan tentang rekonsiliasi Sunni-Syiah, tidak ada gagasan kemerdekaan bagi Kurdi, melainkan sebaliknya, seperti telah disebutkan, situasi kaum minoritas hanya makin memburuk.


Singkatnya, niscaya kita menyaksikan awal dari sebuah revolusi sosial politik di dunia Arab. Gelombang pertama revolusi, bagaimanapun, membuka pintu untuk aturan Islam, dan tampaknya kita harus menunggu sampai gelombang kedua. Pertanyaannya adalah apakah itu akan menjadi layak untuk rezim-rezim baru untuk bertindak hanya untuk kepentingan mayoritas Muslim Arab Sunni sambil terus menyangkal hak-hak minoritas.Tampaknya tidak. Dalam waktu dekat kemungkinan berbagai kaum minoritas akan menyuarakan tuntutan mereka, tetapi Ikhwanul Muslimin akan mengalami kesulitan menerima mereka.
***
Zvi Mazel, anggota dari Pusat Yerusalem untuk Urusan Umum, adalah mantan Duta Besar Israel ke Mesir, serta Swedia dan Rumania.
http://www.rslissak.com/content/majorit ... -zvi-mazel
================================================================================================================================================

Intinya, keterbukaan dan demokrasi yang menjamin kemakmuran dan kesejahteraan.

Sudah pasti syariah islam yang korup dan terbelakang tidak berguna sama sekali.

Penulis dengan cermat memaparkan persamaan islam dengan ideologi komunisme yang terbukti gagal.

Semoga berguna dan salam damai
User avatar
spaceman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2095
Joined: Thu Sep 18, 2008 12:23 pm
Location: Green Planet

Re: Mayoritas dan Minoritas di Dunia Arab

Postby spaceman » Sun Feb 19, 2012 3:13 pm

Mana yah islamist, koq ga ada yg brani komen ya ??

Pura2 ga liat kali ya

Hati2, ntar kalo dunia dikuasai islam (mimpi siang bolong sih), arab jadi tuan besar, yg bukan arab jadi kacung !!

Sdh terbukti koq di darfur dan banyak tempat lain, kini di libya
User avatar
spaceman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2095
Joined: Thu Sep 18, 2008 12:23 pm
Location: Green Planet


Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users