. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Mati Syahid : Pelecehan Hak Anak2 & Wanita

Mati Syahid : Pelecehan Hak Anak2 & Wanita

Postby ali5196 » Mon Mar 27, 2006 5:49 am

http://www.satp.org/satporgtp/publicati ... ticle3.htm

Child Abuse: The New Islamic Cult of Martyrdom/Pelecehan Anak: Aliran Islam Baru Mati Syahid. Contoh2 kasus: Jammu Kashmir dan Palestina.
Oleh Justus Reid Weiner

Bulan April 2000, Afaq Ahmed Shah berusia 17 th mengendarai mobil penuh dgn bahan peledak dan melaju menuju markas besar Tentara India di Srinagar, di Jammu & Kashmir. Ketika mobilnya dihentikan pengawal digerbang masuk, remaja itu meledakkan bomnya yg dahsyat itu shg melukai 4 orang. Shah, bersama dgn pemuda2 di kawasan bersengketa Kashmir, menghabiskan kebanyakan waktunya di mesjidnya dan jatuh kedalam pengaruh grujp2 teroris. Motivasi ini menjadikannya suicide bomber pertama (1) dlm konflik Kashmir.2

Bln Juni 2002, pemuda Palestina berusia 16 th bernama Issa Bdir dikirim oleh Brigade Martir Al-Aqsa utk melaksanakan serangan teror di Rishon Letzion didekat Tel Aviv. Setelah mencat rambutnya pirang agar disangka orang Eropa, ia memasuki pertokoan yg penuh orang tua dan pekerja asing dan kemudian meledakkan diri sendiri, membunuh 2 orang Israel dan melukai 30 lainnya. Bdir merupakan remaja termuda pertama yg sukses dlm misi bunuh diri di Israel.3

Agustus 2003, 2 lelaki Muslim Kashmiri, usia 13 dan 17, disandera diujung senapan oleh organisasi teroris Laskar-e-Toiba (LeT, Tentara Suci). Lelaki itu adalah 2 diantara ratusan remaja muslim yg direkrut secara paksa dan dilatih utk melakukan aksi2 teror melawan tentara India dan penduduk sipil.5 Para penyandera kemungkinan besar mengikuti perintah LeT agar desa2 "masing2 menyumbang seseorang utk direkrut organisasi itu. Kalau tidak, mereka akan mengalami konsekwensi."6

Bln November 2004, Amar al-Faar, laki2 Palestina16 thn memasuki Israel lewat lobang pagar keamanan. Ia meledakkan diri di Carmel, pasar di daerah berpenduduk padat di Tel Aviv. Serangan pemuda ini menewaskan 4 orang Israel dan melukai 32, 6 luka2 parah. Al-Faar direkrut oleh anggota the Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), faksi neo-Marxist milik PLO-nyaYasser Arafat. Ibu Al-Faar mengutuk teroris yg merekrut putera mudanya dan mengatakan, "Tidak bermoral utk mengirimkan orang yg begitu muda. Mereka seharusnya mengirim orang dewasa yg mengerti arti tindakannya."4

Baru2 ini, keterlibatan anak2 dibawah umur di Palestina juga mencapai titik terendah saat lelaki berusia 11 thn tertangkap basah membawa 7-10 kilogram bom melewati batasan jalan militer Israel. Pemuda ingusan ini dikirim organisasi teroris, Fatah Tanzim, yg juga anak buah Ysser Arafat. Para teroris memiliki 2 skenario mengerikan. Jika bom berhasil diselundupkan, ini akan diserahkan dan digunakan oleh seorang suicide bomber utk memporak-porandakan sebuah daerah di Israel. Atau, kalau anak itu tertangkap, bom yg ditentengnya akan diledakkan (berikut dirinya dan para tentara Israel), lewat detonator yg dioperasi sebuah cell phone. Untung, karena kesalahan teknis, bom itu tidak jadi meledak dan rencana teroris itu gagal.7

Peristiwa2 diatas ini bukan hal aneh. Praktek pelecehan anak2 terjadi dlm masyarakat Muslim diseluruh dunia, yg paling nyata di Palestina, Pakistan dan Jammu & Kashmir (J&K). India dan Kashmir tidak mampu melihat koneksi keduanya, tapi kemiripan modus operandi antara martir2 di Palestina dan J&K sangat nyata. Organisasi2 teroris Muslim merekrut – kadang secara paksa – remaja2 ini, karena anak2, spt juga wanita, jarang dicurigai pasukan keamanan. Dlm kedua konflik, nyawa anak2 itu (belum lagi korban yang tidak tahu menahu) dinilai lebih rendah ketimbang aspirasi Islam dan nasionalisme militan. Dan sementara rekrutmen dan indoktrinasi anak2 Muslim di Kashmir setinggi tingkat Intifada yg menargetkan Israel; orang India yg tinggal diareal yg dinyatakan sbg areal Jihad Islam itu harus sadar bahwa ancaman aliran mati syahid oleh anak2 ini merupakan ancaman global.8

Tulisan ini mencoba menganalisa : seberapa meluasnya bentuk pelecehan anak2 dlm konflik Israel–Palestina ini ? Bgm mereka di-insipirasi ? Apakah ini dapat dibenarkan dlm konteks hukum internasional ? Apa konsekwensi ‘pendidikan kebencian’ bagi generasi berikutnya dan bagi kemungkinan perdamaian di kawasan itu ?

Martir Anak2 : Menyambut Baik Kematian

Dalam Intifada, anak2 dan remaja Palestina memainkan peranan penting. Anak2 berfungsi sbg tameng, membakari ban mobil dan melemparkan batu guna menarik perhatian kamera TV dan sering menyembunyikan para penembak jitu Palestina yg bersembunyi dibelakang mereka. Mengetahui bahwa tentara Israel diperintah utk tidak menembaki anak2 dgn peluru api, para penembak Palestina bersembunyi dibelakang anak2 di atap2 rumah, di gang2 jalan dan di perkebunan. Tidak jarang, para penembak Palestina ini menembaki punggung anak2 itu.

Dng meningkatnya intensitas Intifada, anak2 Palestina semakin terlibat langsung dlm serangan teror ini, khususnya suicide bombing.

Tgl 30 Maret, 2002, gadis Palestina berusia 16 th bernama Ayat Akhras memasuki sujpermarket Yerusalem dan mendetonasi bom yg disembunyikan dibawah pakaiannya, menewaskan 2 orang Israel dan melukai 22 orang lainnya.

Andaleeb Taqataqah hanya berusia 17 thn ketika ia direkrut kelompok teror dan dikirim utk meledakkan dirinya di sebuah pasar di Yerusalem tgl 12 April 2002.

Satu minggu kemudian, 3 remaja Gaza – Anwar Hamduna, Yusef Zakut, dan Abu Nada – mencoba menyusup lewat sebuah pagar dgn rencana menyerang penduduk Yahudi di Netzarim, tapi akhirnya dia ditembak pengawal.

Bln May 2002, pemuda Palestina berusia 16 thn dgn bom pada tubuhnya ditahan di sebuah perbatasan jalan di Jenin.

Bln Juni, 2002, gadis Palestina berusia 15 thn ditahan karena melempari bom kpd tentara Israel dan mengakui selama interogasi bahwa ia direkrut teroris.

Maret 2004, pemuda berusia 14 thn, Hussam Abdu juga tertangkap di sebuah perbatasan jalan dgn bahan eksplosif yg ditempeli di dadanya. Ia mengaku telah dibayar sekitar uang senilai $22 US utk melakukan suicide bombing.9

Dgn operasi sukses Israel bernama Operation Defensive Shield (10) jumlah serangan bunuh diri berkurang secara drastis. Tetapi perekrutan anak2 ini tidak berhenti dan masih saja berlangsung guna membantu berbagai kegiatan teroris spt menyelundupkan bahan peledak atau ditinggal pada perangkap (booby-trap) yg dipasang teroris dan siap utk diledakkan.(11)

January, 2003, 3 remaja ingusan dikirim oleh teroris ‘Popular Resistance Committees’ (PRC) utk menginfiltrasi dan menyerang masy Yahudi, Elei Sinai. Mereka tewas oleh tentara Israel.

Seminggu kemudian, 2 remaja kakak beradik Palestina, 14 dan 17 tahun, membawa pisau, menginfiltrasi komunitas Netzarim di Jalur Gaza. Mereka menyerang seorang anak lelaki Yahudi, memasuki rumah dan ditembak. Keduanya ditangkap tentara Israel dan dibawa ke rumah sakit dgn luka2 ringan. Brigjen Yisrael Ziv, panglima tentara di Gaza, mengatakan, "Jelas bahwa teroris tidak mengharapkan suksesnya misi pembunuhan anak2 ini; otak kriminal mereka mengharapkan agar kemungkinan kematian anak2 muda Palestina ini akan mencoreng citra Israel."

Maret, 2003, 2 pemuda 13 thn ditembak mati, salah satu menaiki kendaraan pengangkut tentara utk mencuri senapan, dan yg lainnya melemparkan bom Molotov. Remaja lainnya terbakar oleh bomnya sendiri.13

Walau ada orang2 Palestina yg menentang penggunaan anak2 ini, suara2 mereka tidak terdengar. Bln Juni 2002, Mahmud Abbas, asisten senior Arafat yg kemudian menjadi PM utk waktu singkat dlm pemerintahan Arafat, mengecam taktik organisasi2 Palestina di Gaza. Abbas mengatakan kpd surat kabar Kuwait, "Saya menentang dikirimnya anak2 kecil utk mati. Ini sangat mengkhawatirkan. Paling tidak 40 anak2 di Rafah [di Jalur Gaza] kehilangan tangan akibat melemparkan torpedo Bangalore [semacam bom pipa]. Mereka masing2 menerima uang senilai kira2 $1 US (!) utk melemparinya."14

Nah, mengapa anak2 ini mau mengorbankan nyawa mereka ? Siapa yg mengantar mereka kpd peran2 bahaya dgn motivasi memperbaiki situasi keluarganya ataupun politik ? Bgm tradisi kekerasan terhdp Israel menjadi begitu berakar dalam budaya Palestina ? Tujuan apa sampai memotivasi sebuah masyarakat utk mengorbankan anak2 dan masa depan mereka ?

Utk itu penting utk mempelajari pengaruh yg ada di masyarakat Palestina yg mengajarkan kebencian kpd anak2 merkea dgn persetujuan pemimpin politik, agama dan orang tua.

Penggunaan martir anak2 juga menjadi masalah besar di Pakistan, dimana anak2 yg mudah dimanipulasi diprogram utk melakukan tujuan para ketua fundamentalis mereka. Mereka ini dipaksa utk melakukan operasi jihad lewat berbacai macam cara: mereka diculik dan nyawa mereka ataupun keluarga mereka diancam. Yg paling umum terjadi ; mereka mengalami pencucian otak bahwa jihad adalah cara berbakti pada Allah.15 Disebagian besar kasus, anak2 ini tidak menyadari arti ataupun konsekwensi tindakan mereka ini dan juga tidak tahu alternatif lain.


Contoh, Mohamad Abdullah, anak berusia 17 th dgn temannya – keduanya anggota kelompok teroris Lashkar-e-Toiba– melancarkan serangan disebuah kompleks perumahan di Jammu (bagian J&K yg dikuasai India). Dlm beberapa menit, keduanya mengosongkan 4 senapan AK-47 yg masing2 berisi 32 peluru – dan meledakkan 5 granat, menewaskan 28 orang, termasuk 8 wanita dan 10 anak2.16 Ketika mereka ditangkap dan diinterogasi polisi India, Abdullah mengatakan, "Saya sendiri tidak menyukai apa yg saya lakukan tetapi atasan saya di Pakistan mengatakan, teror ini penting … saya diberi perintah dan melaksanakannya. Ini bukan masalah saya suka atau tidak."17 Cerita macam Abdullah ini sering terjadi di Kashmir, dimana anak2 Pakistan dipergunakan sbg alat dlm aksi teror melawan penduduk sipil India dlm konflik Kashmir.18

Sumber2 India mengatakan, antara 2,000 dan 4,000 militan Mujahideen (19) ada di J&K; dan 40% berasal dari Pakistan/Afghanistan dan 80% berusia remaja..20

Dlm beberapa tahunn ini, taktik merkea semakin intensif, dari peluru dan pistol kpd bahan peledak dan komunikasi maju.21 Mirip dgn situasi di Israel, ini semakin meningkatkan konflik & jumlah korban sipil. Ini juga semakin menyulitkan pasukan keamanan menghindari kegiatan teroris.

Inciting Children to Violence/Mengajarkan Kekerasan kpd Anak2

Koneksi antara “incitement” dgn kekerasan nampak dlm perjanjian2 damai interim yg ditandatangani antara Israel dan Palestina. Contoh, Perjanjian Cairo yg ditandatangani Arafat th 1994, mewajibkan Penguasa Palestina (PA) utk "menanamkan saling pengertian dan toleransi " dan "menjauhi ajaran kekerasan (incitement), termasuk propaganda, kebencian [dan]… mengambil langkah2 hukum utk menghentikan ajaran kekerasan oleh organiasi, kelompok ataupun individu manapun." Namun, langkah2 yg diambil pemimpin Palestina dan media jelas bertujuan utk memprovokasi anak2 kpd kekerasan, yg bertentangan langsung dgn perjanjian2 interim itu.

Sementara fenomena suicide bombing di Israel biasanya diasosiasikan dng kelompok2 radikal militant spt Hamas dan Islamic Jihad, sebenarnya PA – badan yg dibentuk, didanai dan diperlengkapi utk melaksanakan perjanjian damai Oslo – yg merupakan kekuatan utama yg mempromosikan Shahadat, yg secara harafiah berarti "pernyataan kepercayaan," yg juga mencakup mati syahid/martir. Pengajaran kekerasan dlm masy Palestina diturunkan langsung dari puncak pimpinan PA dan jelas berakar kemana2. [b]Stasiun TV, radio, kotbah, buku sekolah, surat kabar dan majalah dan bahkan kurikuler liburan secara langsung atau tidak langsung dikuasai PA, yg menggunakan fasilitas2 ini utk memuja2 mati syahid dan utk meyakinkan anak2 Palestina agar turut terlibat dlm tindakan yg dapat mengancam nyawa mereka. TV yg dikontrol PA, dgn gambar2 jelas dan grafis, adalah salah satu cara media meracuni otak dan emosi anak2. Gambar2 anak2 yg mati atau berlumuran darah sering ditayangkan, disusul dgn gambar2 anak2 yg bermain, sambil ditempeli slogan, "Carilah Kematian – Hidup akan Diberikan Kepadamu." Slogan ini juga menjadi judul sebuah laporan yg diedarkan the Palestine Media Watch, yg secara lengkap mencatat tekanan2 yg diterapkan kpd anak2 agar mengorbankan nyawa mereka lewat mati syahid.22

Laporan ini menunjukkan clip2 video dari TV yg dikuasai PA yg khusus diproduksi utk anak2. Laporan ini juga mencakup kutipan2 dari buku sekolah dan kutipan2 dari guru, imam dan politisi Palestina.

Salah sebuah video clip, menunjukkan tayangan TV, dlm 3 thn belakangan ini : seorang bocah lelaki menulis surat perpisahan kpd orang tuanya. "Jangan sedih dan jangan menangisi perpisahan ini, ayahku. Bagi negara saya, saya akan mengorbankan diri." Anak itu nampak meninggalkan rumah dan bergabung dgn teman2nya dlm kerusuhan. Ia menempatkan diri didepan tentara, ia tertembak di dada dan kemudian tubuhnya lunglai. Saat ia jatuh di tanah, kata2nya dinyanyikan : "Betapa manisnya mati syahid saat saya memelukmu, oh tanahku." Saat ibunya tampak menangis, kata2nya dilanjutkan : "Ibuku tersayang, berbahagialah atas kucuran darah ini dan jangan menangisi saya." Pesan ini jelas: inilah missi setiap anak Palestina dlm mengkonfrontasi Israel.23

Dlm clip lain, seorang anak lelaki memainkan peran Mohammed Dura, korban anak yg paling terkenal yg diduga kena sasaran tentara Israel saat bersembunyi dgn ayahnya dari “tembakan Israel”. Ia tampak melambaikan tangannya pada pemirsa mudanya, menyerukan agar mereka mengikutinya ke surga. Ketika mereka melihat gambar2 surga dgn latar belakang pantai dan air terjun indah, sang aktor berjalan lewat sebuah taman (an amusement park) dan menerbangkan layangan. Katanya, "Saya tidak mengucapkan selamat tinggal, saya melambaikan tangan utk mengajakmu mengikuti jejak saya."[/b[ Dan sebuah lagu melantun; [b]“Betapa harumnya wangi martir, betapa harumnya wangi tanah, tanah yg diperkaya dgn darah, darah yg mengucur dari tubuh segar."24

Banyak acara2 populer yg mendorong mati syahid dan memuji mereka yg tewas.
Acara2 budaya pada TV Palestina sering MEMUJA2 KEKERASAN. Menurut suratkabar Israel, Ha’aretz, "Tayangan TV termasuk lagu2 dan dansa2 yg dibarengi foto2 kekerasan, menekankan betapa mulianya kematian dijalan Allah."25

Sebuah acara anak2 Palestina berjudul "The Children’s Club," yg mirip "Sesame Street" AS, menyiarkan episode dimana anak2 lelaki dgn tangan diangkat bersorak "Kami siap dgn senjata kami; revolusi sampai menang; menang."26 Pada acara yg sama, seorang anak lelaki 8 thn mengumumkan kpd pemirsa anak2: "Saya disini utk mengatakan bahwa kami akan melempar mereka ke laut. Penjajah, akhiratmu sudah dekat, dan kami akan membalas dendam. Kami akan membalas dgn batu dan peluru."27

Dalam serial tv baru2 ini, seorang bocah lelaki yg diwawancarai berteriak, "Mereka harus memberi kita senjata api, kami sendiri, anak2mu, anak2 lelaki dan perempuan akan bertempur. Berilah kami senjata; senjatalah yg harus mereka berikan kpd kami, kami tidak akan meninggalkan satupun Yahudi, tidak satupun Yahudi disini."

Bahkan iklan2 TV Palestina mendesak anak2 utk meninggalkan mainan mereka dan sebaiknya memungut batu dan bergabung melawan Israel.28

Dlm sebuah program camping remaja yg diorganisasikan PA, wartawan New York Times menyaksikan program latihan penculikan para pemimpin Israel, memasang dan melengkapi senapan Kalashnikov dan belajar bgm mengadakan serangan mendadak.
Para peserta diberikan seragam kamuflase dan senapan2 imitasi.29 Mereka belajar berbaris dan infiltrasi, berbaring sambil melaju melewati halangan2. Mabuk oleh kemungkinan diakui sbg pahlawan dan mati syahid, tanpa dibarengi emosi matang,
anak2 muda ini mudah dimotivasi utk mengorbankan nyawa mereka.

Arafat sendiri memanggil anak2 Palestina "para jendral batu2/the generals of the stones,"30 yang semakin membakar semangat kebanggaan dan ego muda mereka. Berbicara kpd pemirsa lewat TV Palestina, Arafat menyebut nama Faris Ouda, seorang lelaki 14 tahun yg mati syahid dan memuja2nya sbg ikon agar menjadi contoh. Sambil disambut sorak sorai dan gegap pempita auditorium penuh dgn anak2, Arafat mengatakan: "Kalian adalah kawan2 Faris Ouda! Salah seorang dari kalian, laki2 atau perempuan, akan mengangkat bendera Palestina diatas tembok2
Yerusalem, mesjidnya dan gereja2nya ...Maju bersama keYerusalem!" Dan anak2 menyahut: "Jutaan Shahid berbaris ke Yerusalem!"31

berlanjut -----------------------------
Last edited by ali5196 on Tue Nov 07, 2006 6:03 pm, edited 4 times in total.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Tue Mar 28, 2006 12:27 am

http://www.challenging-islam.org/articles/chesler.htm
THE PSYCHOANALYTIC ROOTS OF ISLAMIC TERRORISM/AKAR2 PSIKOANALITIS TERORISME ISLAM
By PHYLLIS CHESLER

Mencakup wawancara dgn Walid Shoebat, eks teroris Palestina, ttg masa kecilnya di Palestina

FrontPageMagazine.com | May 3, 2004

Dlm pertempuran di Fallujah, teroris menggunkaan wnaita dan anak2 sbg tameng manusia (human shield) melawan tentara AS. April 27, 2004, di Yerusalem, Hamas menggunakan seorang remaja lelaki Palestina sbg ‘human bomb’ utk membunuh 2 ‘kolaborator’ Palestina. Dan May 1, 2004, di Gaza, pra penembak Palestina di Gaza menembaki wnaita yahudi yg hamil 8 bulan dgn keempat puteri2nya.

Dari segi psykologis dan anthropologis, budaya macam apa yg menciptakan ‘human bombs’, mengagungkan pembunuhan masal dan mendukung balas dendam ?

Menurut psychoanalyst dan Arabist, Dr. Nancy Kobrin, ini adalah budaya dimana rasa malu dan kehormatan memainkan peranan penting dan dimana penghinaan wanita adalah titik utama. Dlm bukunya, the Sheik's New Clothes: the Psychoanalytic Roots of Islamic Suicide Terrorism, Kobrin, dan rekannya ahli counter-terrorisme, Yoram Schweitzer, menggambarkan dinamika keluarga biadab dimana anak2, baik lelaku maupun perempuan, secara rutin diperkosa oleh anggota keluarga lelaki lainnya, bahkan bayi lelaki secara sadis di-stimulasi dgn masturbasi; bocah2 lelaki antara usia 7-12 dimuka umum dan secasra traumatis disunat; banyak anak2 disunat pula (clitoridectomized); dan wantia dianggap sbg sumber rasa malu dan pembawa malu dlm keluarga diperlakukan sepantasnya : dgn cara yg sangat, sangat parah.

Menurut Dr. Kobrin, "Anak kecil ini melewatkan hidupnya dibawah ancaman mati komunal--the honor killing." Baik bayi lelaki dan perempuan dibesarkan oleh ibu2 (yang sendirinya dihina dan menderita trauma). Dgn begitu, semua anak2nya selama2nya "terkontaminasi" secara psikologis oleh ibu yang maha kuasa. Lelaki dan Arab dan Muslim harus memisahkan diri dari ibu mereka dgn cara kekerasan. Namun didalam benaknya ia juga ingin tetap bersatu dgn sumber kontaminasinya ini –sebuah konflik yg dialami para suicide bombers. Menurut Kobrin, yahudi Israel berfungsi sbg kambing hitam atau substitusi bagi musuh primalnya : Wanita.

Pelecehan anak2 secara meluas mengakibatkan orang2 dewasa yg paranoia, menderita trauma dan haus balas dendam. Berdasarkan pengalaman saya di Afghanistan (budaya Muslim yg non-Arab), budaya patriarchal dan poligami juga bisa mengakibatkan kompetisi infernal, fraternal bagi warisan dan rasa saying dari pihak ayah.
Ini adalah persaingan antar kakak-beradik lelaki, antar saudara tiri dan antar keponakan—jadi seluruh keluarga2 dan clan terus terjerat dlm lingkaran balas dendam yg bisa berlanjut selama beberapa generasi.

Jelas, hanya evolusi demokrasi danpeningkatan derajat wnaita yg nbisa mengubah lingkaran setan ini. Oleh karena itulah perang utk membebaskan Iraq, Afghanistan, dan seluruh Timur Tengah adalah sangat penting dan sangat sulit karena budaya mereka sangat menentang kemajuan wanita..

Walid Shoebat, seorang ex teroris PLO teroris juga mengatkan bahwa berbeda dgn para ‘human bombs’, Shoebat menyelamatkan ibunya dari perangkap dan pelecehan domestik di Bethlehem/Beit Sahur. Ia juga menyelamatkan ayahnya, lelaki yg memenjarai dan menyiksanya.

Shoebat menegaskan pelecehan seksual baik terhdp lelaki dan perempuan dlm masy Palestina. "Ini memang masy aneh. Homosexuality dilarang tetapi jika kau yang men-sodomi dan bukan disodomi, maka it's okay." Ia menggambarkan seksualitas yg terpendam. "Jika kau remaja laki2 tanpa bulu di kakimu, anak2 lainnya akan mencubit pantatmu dan menggodamu. Saya melihat lelaki remaja dlm pelarajan senam, menseksualisasikan latihan senam mereka. Dan pernah, saat naik gunung, saya melihat barisan beberapa lelaki penggembala yg menunggu giliran utk men-sodomi lelaki 5 tahun. Sungguh tidak masuk akal."

:lol: :lol: :lol:

Ayah Shoebat bercerita kpdnya ttg lelaki2 Arab yg kelaparan yg menukar sex dgn daging dari tentara2 Iraq. Menurut Shoebat, remaja lelaki mencari mangsa anak2 yg lebih muda; anggota keluarga lelaki yg lebih tua mencari mangsa lelaki dan perempujan yg belum akil baliq. Mrkea tidak mengadkan sex dgn gadis2 karena ini akan membuat mereka tidak laku bagi perkawinan dan membawa aib bagi keluarga. Saya sering mendengar cerita di Afghanistan dan Iran ttg preferensi lelaki bagoi sex anal (sex di mulut), bahkan dalam perkawinan, baik sbg bentuk kontrasepsi atau praktek homoseksual yg disukai.

Kebanyakan Arab dan Muslim kaan membantahnya. Mereka akan menyerangmu dgn kata2 "orientalis, kolonialis, rasis."

Kakek Shoebat adalah Muktar desanya. Tetapi tetap, 11-15 orang hidup dlm 2 kamar dgn balkon besar ertheless, sebuah halaman depan dan rumah di taman. Satu hari, ibu Kristen Shoebat asal AS (ia dipaksa masuk Islam) memegang sebuah papan permainan backgammon didepan teman2 ayahnya, Achmed, yg kemudian mengambil palu dan memukuli kepalanya sampai pecah. Shoebat, sang putera bungsu, mengambil tangannya dan berjalan ke gereja terdekat dimana para suster menjahuit kepalanya. Ketika itu tidak ada rumah sakit. Ketika ibuny amenconba melarikan diri, (bersama dng ketiga anaknya) para lelaki Shoebat akan menemukannya, menculiknya dan menyiksanya.

Pelecehan seksual lelaki atas anak2 perempuan terjadi dimana2; ini salah satu cara membuat trauma dan membuat malu wanita agar patuh dan membuat merkea tidak mampu melawan atau memberontak. Namun, pelecehan seksual anak2 lelaki yg selalu dibantah membuat mereka menjadi pedofil, dan diantara lelaki Arab-Muslim, pembunuhan balas dendam sangat meluas.

Shoebat mengilustrasikan mentalitas Palestina dan Arab Timur Tengah. Salah seorang pamannya berselingkuh dgn seorang wanita yg suaminya kebetulan kepala polisi yg cara balas dendam favoritnya adalah melemparkan granat kpd rumah orang. Rumah keluarga Shoebat sampai menunjukkan bekas2 perusakan yg tidak diperbaiki selama bertahun2. Lelaki marah itu tidak hanya ingi membunuh lelaki yg selingkuh dgn isterinya tetapi seluruh keluarga besarnya. “Ayah saya dan seluruh keluarganya, semua harus mati karena apa yg dilakukan paman saya seorang."

Shoebat melanjutkan, akhirnya Najib, pamannya yg selingkuh itu membujuk desanya agar merkea menyerang komunitas Yahudi didekat mereka. (Ramat Rachel). Begitu Israel membalas tembakan karena bela diri, kebanyakan Arab lari. Namun, serangan Arab terhdp Yahudi ini dijadikannya tameng bagi apa yg ingin dilakukannya terhdp Yusuf. Ia menembaki Yusuf dari belakang. Saat pihak Arab mengambil korban2 mereka, Najib menyatakan Yusuf al-Atrash sbg "mati shahid" dan menguburnya dlm pakaian penuh lumuran darahnya itu. Selain ini merupakan tanda kehormatan, ini cara yg dipercaya mempercepatnya masuk surga.

Ternyata mati syahid Yusuf belum cukup. "Kehormatan" keluarga al-Atrash (keluarga Yusuf) belum dibayar. Seorang lelaki lain dari clan al-Atrash menyerang Achmed, ayah Shoebat, yang, dalam pembelaan dirinya, "merobek perutnya sampai terbuka seperti sapi." Orang itu anehnya tidak mati. Ayah Shoebat segera menyembunyikan diri. Pada saat ini, Shoebat hidup di AS. Ia ditelpon dan diminta membayar uang darah. Shoebat melakukannya tetapi tidak sebelum paman2nya yang “baik” itu secara terbuka menolak hubungan persaudaraan dgn Achmed. "ia bukan lagi kakak saya, saya menolak dan meninggalkannya."

Dan dgn cara ini Shoebat, yang saat itu menjadi evangelis Kristen ternama, berhasil menyelamatkan ibunya. Ia membayar uang darah dan menjemput ibunya yg tersiksa dan ayahnya, sang penyiksa ke AS. Baru2 ini, kakak Shoebat menelpon isteri Shoebat. "Katakan kepada suamimu bahwa kami tahu bahwa ia bertindak melawan Islam. Katakan kpdnya kita tahu dimana ia tinggal. Bye bye."

"Saya mengatakan kpd isteri saya, Welcome to the Middle East dimana orang2 yang kau cintai keesokan hari bisa menjadi algojomu."

Cerita2 menakjubkan ini menegaskan analisa Dr. Kobrin. Oleh karena itu pihak Barat jangan mudah percaya versi Arab ttg konflik Arab-Israel ini dan patut berpikir dua kali sebelum menuduh macam2 terhdp AS, Israel dan Yahudi.

-------------------------------
Phyllis Chesler, PhD, is an Emerita Professor of Psychology and Women's Studies and the author of twelve books including the best-selling WOMEN AND MADNESS and most recently, THE NEW ANTI-SEMITISM. THE CURRENT CRISIS AND WHAT WE MUST DO ABOUT IT (Jossey-Bass/John Wiley). She may be reached at her website www.phyllis-chesler.com

With thanks to FRONT PAGE MAGAZINE
Last edited by ali5196 on Tue Nov 07, 2006 6:47 pm, edited 1 time in total.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Tue Mar 28, 2006 12:30 am

http://www.nospank.net/glazov.htm
The Sexual Rage Behind Islamic Terror
By Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com, October 4, 2001

Jamie Glazov holds a Ph.D. in History with a specialty in Soviet Studies. He is the author of 15 Tips on How to be a Good Leftist.. His father, Yuri Glazov, was a Soviet dissident during the Brezhnev era, who signed the Letter of Twelve, denouncing Soviet human rights abuses. His mother, Marina Glazov, also participated in the dissident movement in the Soviet Union, actively typing and circulating Samizdat - the underground political literature. To avoid imprisonment, Yuri Glazov took his family out of the USSR in 1972 and settled in Canada in 1975, when Jamie was 9. Today Jamie battles socialism from his high-tech warroom in Toronto. He writes the Dr. Progressive advice column for angst-ridden leftists at EnterStageRight.com. E-mail him at jglazov@home.com.
ALL SERIAL KILLERS, almost without exception, are severely sexually abused as children. The kind of people who hijack a plane with innocent people and drive it into a building with thousands of other innocent people are related to this phenomenon.

When sociopaths rape and kill, they do not see their victims as human beings, but only as objects. This is because the sociopaths were themselves, at one time, used as objects - as their bodily integrity was repeatedly violated. The rage that results from sexual abuse is one thing, but when combined with living in a dysfunctional culture of sexual repression and misogyny, where love is reduced to violent domination, it is quite another.

Throughout the Islamic Middle East, men and women are taught to be vehemently opposed to pleasure, especially of the sexual variety. Men are raised not only forbidden to touch women, but to even look at them. Sex before marriage is not just a sin -- but a criminal offence. It is punishable by a severe beating at best, and an execution at worst.

The sexual privileges that are allowed in Islamic cultures are permitted to men. Women's sexuality and social independence represent major threats to male supremacy and are tightly controlled. Thus, as the Moroccan feminist Fitna Sabbah reveals in her book Woman in the Muslim Unconscious, there is a disturbing conflict in the Middle East between sexual libido and repression. A deep-seated fear of, and hostility to, individuality prevails, and its main expression exists in misogyny.

Socially segregated from women, Arab men succumb to homosexual behavior. But, interestingly enough, there is no word for "homosexual" in their culture in the modern Western sense. That is because having sex with boys, or with effeminate men, is seen as a social norm. Males serve as available substitutes for unavailable women. The male who does the penetrating, meanwhile, is not emasculated any more than if he had sex with a wife. The male who is penetrated is emasculated. The boy, however, is not, since it is rationalized that he is not yet a man.

In this culture, males sexually penetrating males becomes a manifestation of male power, conferring a status of hyper-masculinity. It is considered to have nothing to do with homosexuality. An unmarried man who has sex with boys is simply doing what men do. As the scholar Bruce Dunne has demonstrated, sex in Islamic societies is not about mutuality between partners, but about the adult male's achievement of pleasure through violent domination.

There is silence around this issue. It is the silence that legitimizes sexual violence against women, such as honor crimes and female circumcision. It is also the silence that forces victimized Arab boys into invisibility. Even though the society does not see their sexual exploitation as being humiliating, the psychological and emotional scars that result from their subordination, powerlessness and humiliation is a given. Traumatized by the violation of their dignity and manliness, they spend the rest of their lives trying to get it back.

The problem is that trying to recover from sexual abuse, and to recapture one's own shattered masculinity, is quite an ordeal in a culture where women are hated and love is interpreted as hegemonic control.

With women out of touch - and out of sight -- until marriage, males experience pre-marital sex only in the confines of being with other males. Their sexual outlet mostly includes victimizing younger males - just the way they were victimized.

In all of these circumstances, the idea of love is removed from men's understanding of sexuality. Like the essence of Arab masculinity, it is reduced to hurting others by violence. A gigantic rupture develops between men and women, where no harmony, affection or equality is allowed to exist. In relationships between men, meanwhile, affection, solidarity and empathy are left out of the picture. They threaten the hyper-masculine order.

It is excruciating to imagine the sexual confusion, humiliation, and repression that evolve in the mindsets of males in this culture. But it is no surprise that many of these males find their only avenue for gratification in the act of humiliating the foreign "enemy," whose masculinity must be violated at all costs - as theirs once was.

Violating the masculinity of the enemy necessitates the dishing out of severe violence against him. In the recent terrorist strikes, therefore, violence against Americans served as a much-needed release of the terrorists' bottled-up sexual rage. Moreover, it served as a desperate and pathological testament of the re-masculinization of their emasculated selves
See these related articles:

The Childhood Origins of Terrorism, Lloyd deMause

The Wellsprings of Horror in the Cradle, Alice Miller

Atta's Rage Rooted in Islam's Misogyny, Jamie Glazov

The School for Violence, Riane Eisler

Yes, This Is About Islam, Salman Rushdie

Afghan Boy Gets Lesson in Manhood, Philip Caputo
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Wed Apr 12, 2006 4:03 pm

PELACURAN DI IRAN

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=568

Kutipan:
Kini, para fundamentalis ini menemukan cara baru untuk menghina wanita: menjual belikan mereka kedalam bisnis pelacuran. Tidak mungkin diperoleh angka pasti korban bisnis ini, tapi dari sebuah sumber pemerintah di Tehran, terdapat kenaikan 635% jumlah remaja putri dalam bisnis pelacuran.

Meledaknya angka statistik ini menunjukan betapa cepatnya bisnis ini tumbuh. Di Teheran, terdapat sekitar 84.000 wanita dewasa dan remaja putri di bidang pelacuran, banyak dari mereka beroperasi di jalan2. Paling tidak ada 250 rumah pelacuran di kota itu (yang ketahuan). Bisnis ini juga berskala internasional: ribuan wanita2 dan remaja2 putri Iran dijual untuk perbudakan seks di luar negeri. Kepala kantor Interpol Iran percaya bahwa bisnis budak seks adalah salah satu bisnis yang paling menguntungkan di Iran saat ini.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Centre: Kekerasan terhdp WANITA dlm Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users