CRESCENT-STAR wrote:setiap orang kejadiannya berbeda ... tidak bisa mengeneralisir seperti itu.
wah mas CS, kan saya udah bilang di awal, saya ga ada niat mengeneralisir bahwa semua laki2 brengsek. :) jangan menfitnah dong mas....hehe.
CRESCENT-STAR wrote:kita pun akan sangat banyak menemukan perempuan-perempuan yang sayang sama suaminya agar melakukan poligami karena kekurangan yg ada padanya. contoh saja istri Nabi Ibrahim, Sarah.
dan banyak juga lelaki yg tidak mau walau sudah dipaksa sang istri.
waduh mas, kalo rasa sayang sama pasangan kita dinilai dengan merelakan pasangannya menikah lagi ketika ada kekurangan pada kita, saya harus mempertanyakan rasa sayang suami saya kalau begitu. dan rasa sayang semua suami2 pada agama apapun (saya ga bilang agama tertentu loh ya disini) yang tidak mengijinkkan istrinya menikah lagi meskipun sang suami sakit atau belum mendapat pekerjaan atau berbagai kekurangan sang suami yang lain.
mas, SEMUA manusia itu punya kekurangan. bullshit kalo ada orang yang bilang pasangannya ga ada kekurangan. monggo dicari di seluruh dunia ini ada ga perempuan atau laki2 yang ga punya kekurangan. pertanyaan saya, tanpa membicarakan gender :
1. kalau kita sendiri punya kekurangan, kenapa kita mengharapkan pasangan yang tanpa kekurangan atau menuntut "tambahan" pasangan untuk menutupi kekurangan pasangan kita? apa kita sendiri sudah sempurna sehingga berani2nya mengharapkan kesempurnaan?
2. kalau kita berharap bisa menutupi kekurangan pasangan kita dengan orang lain yang juga punya kekurangan lain dan seterusnya dan seterusnya, kapan berakhirnya?
Maaf mas, tapi saya melihat jawaban mas yang sangat dangkal itu cuma menunjukkan satu hal : mas tidak tau caranya BERSYUKUR.
Lebih jauh, orang2 yang BENAR2 sayang sama pasangannya akan menyayangi pasangannya dengan semua kelebihan DAN kekurangannya karena dia menyadari bahwa
dirinya sendiri juga memiliki kelebihan DAN kekurangan.
CRESCENT-STAR wrote:sekali lagi ... sikapi dengan bijak, jangan mudah mengeneralisir ....
sudah kok mas. terima kasih.
CRESCENT-STAR wrote:tidak semua lelaki yang setuju dengan poligami, mau melakukan poligami. tidak semua lelaki yang memiliki istri yg kekurangan secara fisik mencari wanita lain...
laki2 yang setuju sama poligami, MESKIPUN tidak melakukan poligami, artinya dia TIDAK PEDULI dengan nasib perempuan2 yang menderita karena poligami.
CRESCENT-STAR wrote:dan juga tidak semua wanita egois yg tidak memperdulikan kebahagian suaminya ketika dirinya dirasa memiliki kekurangan.
oh, mas menuding dengan halus bahwa saya egois? baiklah. kalau memang orang yang seperti itu dianggap egois, saya lebih bahagia menjadi orang yang egois.
mas, saya kenal seorang istri yang sudah menikah puluhan tahun. saya ga akan sebut agamanya, mungkin islam, mungkin kristen, mungkin hindu, mungkin budha. biar netral. suaminya berasal dari suku yang sangat mengagung2kan untuk mempunyai anak laki2. apalagi sang suami adalah anak laki2 sulung. sayangnya, sang istri menderita kelainan pada rahimnya sehingga tidak mungkin memiliki anak. tentu saja sang istri ga cukup gila untuk mengijinkan suaminya menikah lagi, dan sang suami memang tidak cukup gila untuk berpikir menikah lagi itu normal. dia bahkan tidak menceraikan istrinya meskipun didesak keluarganya. beberapa puluh tahun kemudian, suaminya menderita pengecilan otak. divonis tidak akan bisa apa2 lagi. istrinya melepaskan semua kehidupan normalnya demi mendampingi suaminya karena suaminya ingin ditemani setiap saat dan sang istri menerima kondisi suaminya. ini KISAH NYATA. kita ga berandai2 disini. sekarang saya mau tanya sama mas, siapa diantara kedua orang itu yang egois menurut mas? si suami yang ga ingin istrinya meninggalkan dia di saat2 terburuk dalam hidupnya? atau istrinya yang ga ingin suaminya meninggalkan dia di saat2 terberat dalam hidupnya?
kalau menurut definisi mas diatas, maka dua2nya egois. betul?
kalau menurut definisi kasih sayang mas sebelumnya, dua2nya juga ga menyayangi satu sama lain loh ternyata.
sekali lagi, saya cuma mau menegaskan, sebagai manusia, kita punya kekurangan dan kelebihan, kita punya saat2 dimana kita tidak berdaya dan saat2 dimana kita berjaya. itu normal. mau agama apapun, mau gender apapun, pasti akan mengalami hal ini. tapi mas, menutup mata pada satu sisi dan cuma mau melihat sisi yang lain, well, itu namanya menipu diri sendiri.
wanita yg tidak memperdulikan kebahagian suaminya ketika dirinya dirasa memiliki kekurangan = egois
pria yg tidak memperdulikan kebahagian istrinya ketika dirinya dirasa memiliki kekurangan = [mohon diisi]?
saya kembalikan kata2 mas pada mas sendiri ya, "sekali lagi ... sikapi dengan bijak."
CRESCENT-STAR wrote:poligami bukan keharusan, bukan kewajiban dan bukan SUNNAH sama sekali. poligami adalah salah satu solusi yg diperbolehkan TUHAN untuk hal2 yg membawa kebaikan bagi semua pihak.
saya TIDAK PEDULI apakah poligami keharusan, kewajiban, atau sunnah. itu urusan tuhan anda dan sistem2 peraturannya yang begitu membingungkan.
saya manusia, dan saya melihat apa yang ada di depan mata saya. saya melihat perempuan2 yang menangis karena suaminya menikah lagi, saya melihat perempuan2 yang depresi dan harus minum anti depresan BERTAHUN2 karena suaminya pulang dengan anak dari perempuan lain yang dinikahi diam2, saya melihat anak2 yang trauma dengan pernikahan dan harus menjalani konseling untuk itu. dan saya menangis setiap kali melihatnya. karena saya PEDULI pada mereka tapi tidak bisa berbuat apa2 selain mendengarkan.
saya berkata TIDAK untuk setiap tetes toleransi pada poligami karena saya PEDULI pada mereka.
kalau saya yang manusia saja bisa PEDULI pada mereka, kenapa tuhan anda tidak? kenapa anda tidak? kenapa ada muslim2 yang tidak peduli?
mereka menjadi korban orang2 yang menurut anda 'menyalahgunakan' hukum tuhan anda yang konon tahu segala2nya, tapi tuhan yang luar biasa itu tidak bisa memprediksi manusia ciptaannya sendiri. padahal, tidak seperti saya yang tidak bisa berbuat apa2 selain mendengarkan, tuhan anda harusnya bisa melakukan hal2 yang lebih hebat daripada itu. yaitu melarang. tapi tidak, tuhan anda tidak berbuat apa2.
mas CS, tolong jangan tutup mata anda. buka mata, dan lihat seberapa parah dampak poligami pada perempuan dan anak2. dan tolong, jangan berani2nya bicara tentang rasa kasih sayang para istri yang bersedia dipoligami dan betapa egoisnya mereka yang tidak bersedia, kalau anda MASIH laki2. karena kalau anda masih laki2 dan berani melakukan judgement tersebut maka apa yang anda ucapkan tidak lebih dari hipotesis yang belum terbukti belaka. lain kali, kalau mas mengalami poliandri karena mas sakit dan tidak bisa menafkahi istri dan mas rela, monggo mas kita bahas lagi tentang kasih sayang yang sesungguhnya. dengan senang hati akan saya tanggapi. :)
terima kasih.