. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

mari bicara memakai teori kebenaran dan kaidah berpikir

Siapa 'sosok' Allah, apa maunya, apa tujuannya ?

mari bicara memakai teori kebenaran dan kaidah berpikir

Postby empirik » Mon Aug 11, 2008 10:09 am

harus ada kesamaan dalam menilai kebenaran suatu pemikiran. Kriteria kebenaran yang harus disepakati adalah;
sebelum melangkah lebih jauh kita artikan dulu apa itu kebenaran. Kebenaran dalah kesesuaian objek dengan realita atau kesesuaian objek dengan pengetauahn

parameter kebenaran
1. Kebenaran bersifat universal
Kebenaran suatu pemikiran harus bernilai universal, artinya berlaku untuk kapanpun dan dimanapun. Jika tidak demikian maka peserta diskusi yang tempat dan waktu mendapatkan pengetahuan baru tersebut berbeda tidak dapat menerima kebenaran tersebut.
2. Kebenaran bersifat mutlak
Tanpa pandangan tersebut, maka diskusi akan sis-sia. Apapun pengetahuan baru yang ada dalam sebuah diskusi tidak dapat diterima sebagai kebenaran. Sehingga semua perkataan yang dikemukakan dalam sebuah diskusi tidak berbeda dengan kebohongan, ketidakwarasan dan omong kosong.
3. Kebenaran bersifat manusiawi
Artinya bahwa pengetahuan yang disampaikan secara alamiah dapat diterima atau dimengerti oleh manusia. Tak perlu ada rekayasa seperti melalui bujukan, paksaan atau paksaan. Jika ada rekayasa seperti itu maka perlu dipertanyakan kebenarannya. Kebenaran akan diterima jika hal itu memang sebuah kebenaran, diakui secara lisan atau tidak.
4. Kebenaran bersifat argumentatif
Dalam sebuah diskusi, pembuktian terhadap kebenaran sebuah pendapat atau pengetahuan baru harus dimiliki. Argumentasi digunakan untuk menjelaskan proses mendapatkan pengetahuan baru tersebut sehingga orang lain dapat menilai kebenarannya dari proses tersebut.
Argumentasi adalah proses bergeraknya suatu pengetahuan yang menjadi patokan menuju pengetahuan baru (kesimpulan). Dalam menilai kebenaran dan keabsahan argumentasi, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah kebenaran dari isi pengetahuan yang menjadi pijakan. Kedua adalah keabsahan penyusunan pengetahuan-pengetahuan pijakan menjadi suatu kesimpulan (proses pengambilan kesimpulan).
5. Kebenaran bersifat ilmiah
Ini dimaksudkan agar kebenaran suatu pengetahuan dapat dibuktikan oleh orang lain bahwa pengetahuan tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada. Kebenaran yang tidak dapat dibuktikan oleh orang lain tidak dapat didiskusikan. Artinya bahwa kebenaran tersebut tidak dapat dihukumi untuk orang lain
Sumber pengatauahn
1.Empirisme
Sumber dari pengetahuan ini adalah Alam. Sarana yang digunakan adalah Eksperimen. Mazhab pengetahuan ini hanya mendasarkan kebenaran pada apa yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dll. Misalnya, Apakah memang benar Tuhan itu ada? Kalau Tuhan itu ada, lalu mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak dapat kita lihat, tidak dapat kita dengar suaranya? Dari mazhab pengetahuan inilah muncul berbagai macam ajaran-ajaran materialistik. Mazhab ini tidak dapat mengantarkan kita pada kebenaran yang 100%. Misalnya saja Teori Gravitasi yang ditemukan berdasarkan Eksperimen. Belakangan teori Gravitasi tersebut telah ada yang membantahnya.
2.Rasionalitas
Sumber dari pengetahuan ini adalah akal. Alat atau sarana yang digunakan adalah berpikir. Mazhab pengetahuan ini mempunyai dua kaidah utama, yaitu Kausalitas (sebab-akibat) dan Non-Kontradiksi.

Sebab Akibat
Bahwa apa yang terjadi di dunia ini pasti memiliki sebab-sebab yang mempengaruhinya. Seseorang bisa tidur sekalipun, dibelakangnya terdapat beribu-ribu faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Non-Kontradiksi
Sebuah kebenaran, tidak mungkin di dalamnya mengandung kontradiksi. Misalnya ada informasi bahwa si A itu berada di jakarta, tetapi pada saat yang sama si A berada di Bandung. Informasi ini mengandung kontradiksi sehingga wajib kita tolak keabsahannya.
Jadi, kebenaran itu PASTI tidak akan bertentangan dengan akal. Maksudnya adalah kebenaran tidak akan bertentangan dengan kedua kaidah akal tersebut.
Mazhab pengetahuan ini mampu membawa kita pada kebenaran yang 100%.
Prinsip berpikir
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri; A adalah A

3.Pengetahuan Hati
Sumber dari pengetahuan ini adalah hati. Alat atau sarana yang digunakan adalah Tazkiyatun Nafs.
4.Skriptualisme
Pengetahuan ini bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Alat atau sarana yang digunakan adalah Pengkajian dan Penafsiran. Bahwa di dalam al-Qur’an terkandung berbagai macam pengetahuan yang dapat menuntun kita pada kebenaran 100% dan kesempurnaan. Tentunya kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan dalam kadar manusia.
Dan pernyataannya adalah

Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab. Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena.
Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident)
Atau suatu ketiadaan tidak mungkin menimbulkan keadaan atau suatu keadaan tidak mungkin timbul dari suatu keadaan.
Tolong dong tanggapain dengan atau sesuai dengan kaidah berpikir, bisa?
User avatar
empirik
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 11
Joined: Sat Mar 29, 2008 10:02 pm
Location: skynet_1241@yahoo.com

Postby United Nation » Mon Aug 11, 2008 10:30 am

bagaimana cara membuktikan kebenaran bersifat mutlak?

atau kita harus mulai dari postulat bahwa kebenaran itu mutlak?

dan kata mutlak mempunyai arti yang mutlak pula.


OK, lanjut...
User avatar
United Nation
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2416
Joined: Wed May 14, 2008 9:00 pm
Location: Princeton University

Postby empirik » Mon Aug 11, 2008 5:28 pm

dalam kaidah2 atau hukum-hukuim berpikir yang dituangkan oleh aristoteles kita mengnal yang namanya prima principia yaitu:


1. Prinsip berpikir
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri; A adalah A.
2. Prinsip non-kontradiksi
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu bukan selain sesuatu itu:; A bukan selain A; A tidak sama dengan selain A.
3. Prinsip Menolak kemungkinan ketiga.
Prinsip ini menyatakan bahwa pikiran manusia hanya bisa menunjuk sesuatu atau selainnya saja. Sesuatu atau selainnya saja; A atau selain A.
4. Sebab akibat.

contoh kebenaran mutlak;
menurut kaedah berpikir yaitu prinsip pertama di sebutkan A = A.
berarti A adalah A bukan B atau D. disini kita dapat menaraik kesimpulan bahwa keberadaan A adalah mutlak A itu sendiri, bukan B atau D
User avatar
empirik
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 11
Joined: Sat Mar 29, 2008 10:02 pm
Location: skynet_1241@yahoo.com

Re: mari bicara memakai teori kebenaran dan kaidah berpikir

Postby Humble » Mon Aug 11, 2008 6:30 pm

Salam,

Anda tampaknya berusaha untuk berpikir logis dan terbuka. Saya akan coba tanggapin tulisan anda.


empirik wrote:harus ada kesamaan dalam menilai kebenaran suatu pemikiran. Kriteria kebenaran yang harus disepakati adalah;
sebelum melangkah lebih jauh kita artikan dulu apa itu kebenaran. Kebenaran dalah kesesuaian objek dengan realita atau kesesuaian objek dengan pengetauahn

parameter kebenaran
1. Kebenaran bersifat universal
Kebenaran suatu pemikiran harus bernilai universal, artinya berlaku untuk kapanpun dan dimanapun. Jika tidak demikian maka peserta diskusi yang tempat dan waktu mendapatkan pengetahuan baru tersebut berbeda tidak dapat menerima kebenaran tersebut.
2. Kebenaran bersifat mutlak
Tanpa pandangan tersebut, maka diskusi akan sis-sia. Apapun pengetahuan baru yang ada dalam sebuah diskusi tidak dapat diterima sebagai kebenaran. Sehingga semua perkataan yang dikemukakan dalam sebuah diskusi tidak berbeda dengan kebohongan, ketidakwarasan dan omong kosong.
3. Kebenaran bersifat manusiawi
Artinya bahwa pengetahuan yang disampaikan secara alamiah dapat diterima atau dimengerti oleh manusia. Tak perlu ada rekayasa seperti melalui bujukan, paksaan atau paksaan. Jika ada rekayasa seperti itu maka perlu dipertanyakan kebenarannya. Kebenaran akan diterima jika hal itu memang sebuah kebenaran, diakui secara lisan atau tidak.
4. Kebenaran bersifat argumentatif
Dalam sebuah diskusi, pembuktian terhadap kebenaran sebuah pendapat atau pengetahuan baru harus dimiliki. Argumentasi digunakan untuk menjelaskan proses mendapatkan pengetahuan baru tersebut sehingga orang lain dapat menilai kebenarannya dari proses tersebut.
Argumentasi adalah proses bergeraknya suatu pengetahuan yang menjadi patokan menuju pengetahuan baru (kesimpulan). Dalam menilai kebenaran dan keabsahan argumentasi, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah kebenaran dari isi pengetahuan yang menjadi pijakan. Kedua adalah keabsahan penyusunan pengetahuan-pengetahuan pijakan menjadi suatu kesimpulan (proses pengambilan kesimpulan).
5. Kebenaran bersifat ilmiah
Ini dimaksudkan agar kebenaran suatu pengetahuan dapat dibuktikan oleh orang lain bahwa pengetahuan tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada. Kebenaran yang tidak dapat dibuktikan oleh orang lain tidak dapat didiskusikan. Artinya bahwa kebenaran tersebut tidak dapat dihukumi untuk orang lain




Kebenaran mutlak hanya 'apa adanya'. Segala sesuatu yg diketahui manusia berada dalam ranah kebenaran relatif, karena kebenaran yg diketahui manusia tergantung pada sudut pandang, kondisi dan waktu. Sesuatu dianggap benar sampai terbukti salah.

Kebenaran tidak dapat bersifat mutlak sekaligus argumentatif, itu kontradiktif.


empirik wrote:Sumber pengatauahn

1.Empirisme
Sumber dari pengetahuan ini adalah Alam. Sarana yang digunakan adalah Eksperimen. Mazhab pengetahuan ini hanya mendasarkan kebenaran pada apa yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dll. Misalnya, Apakah memang benar Tuhan itu ada? Kalau Tuhan itu ada, lalu mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak dapat kita lihat, tidak dapat kita dengar suaranya? Dari mazhab pengetahuan inilah muncul berbagai macam ajaran-ajaran materialistik. Mazhab ini tidak dapat mengantarkan kita pada kebenaran yang 100%. Misalnya saja Teori Gravitasi yang ditemukan berdasarkan Eksperimen. Belakangan teori Gravitasi tersebut telah ada yang membantahnya.



Pengetahuan adalah hasil kesimpulan dari fakta-fakta yang ada, dan experimen merupakan cara pembuktiannya. Kesimpulannya tidak mesti dapat ditangkap oleh indra manusia, tapi memenuhi hukum logika.

Tidak ada yg dapat membuktikan kebenaran akan Tuhan! Kaum agama sendiri secara tidak langsung mengakuinya, ketika berulang kali mempergunakan kata percaya dan iman! Bila bisa dibuktikan, tidak butuhkan lagi percaya maupun iman, bukan??


empirik wrote:2.Rasionalitas
Sumber dari pengetahuan ini adalah akal. Alat atau sarana yang digunakan adalah berpikir. Mazhab pengetahuan ini mempunyai dua kaidah utama, yaitu Kausalitas (sebab-akibat) dan Non-Kontradiksi.


Anda terbalik-balik. Sumber pengetahuan itu alam, alatnya adalah akal dan prosesnya disebut berpikir. Metode yg dipergunakan adalah logika. Fakta-fakta yg dikumpulkan kemudian dianalisa dan dihasilkan kesimpulan. Experimen dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi kesimpulannya, atau sebaliknya.

Coba lihat point 1 dan 2 anda diatas!


empirik wrote:Sebab Akibat
Bahwa apa yang terjadi di dunia ini pasti memiliki sebab-sebab yang mempengaruhinya. Seseorang bisa tidur sekalipun, dibelakangnya terdapat beribu-ribu faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Non-Kontradiksi
Sebuah kebenaran, tidak mungkin di dalamnya mengandung kontradiksi. Misalnya ada informasi bahwa si A itu berada di jakarta, tetapi pada saat yang sama si A berada di Bandung. Informasi ini mengandung kontradiksi sehingga wajib kita tolak keabsahannya.
Jadi, kebenaran itu PASTI tidak akan bertentangan dengan akal. Maksudnya adalah kebenaran tidak akan bertentangan dengan kedua kaidah akal tersebut.
Mazhab pengetahuan ini mampu membawa kita pada kebenaran yang 100%.
Prinsip berpikir
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri; A adalah A


Deskripsi anda kacau dari awal sampai akhir. Diatas anda mengatakan 'mazhab' ini tidak dapat membawa pada kebenaran 100%, tapi disini bertentangan. Logika yg dipergunakan dalam hukum gravitasi sama dgn yg anda pergunakan untuk membuktikan kesalahan informasi dari contoh anda.

Kita lihat hukum logikanya:

Premise 1: Tidak ada manusia yg dapat membelah dirinya, atau 'melipat' waktu.
Premise 2: Si(A) adalah manusia

informasi: Manusia (A) berada dalam 2 kota yg berbeda dalam waktu yg sama.

Kesimpulan: Info itu salah!


Teori gravitasi:

Premise 1: setiap benda bila dilempar ke atas dari permukaan bumi akan jatuh kembali ke bumi.
premise 2: setiap benda memiliki massa.

Kesimpulan: setiap benda yg memiliki massa akan terpengaruh oleh bumi(gaya gravitasi). Dengan experimen didapatkan rumusan besaran gravitasi bumi. m.a = G (konstanta gravitasi bumi).


Bisa anda tunjukan bantahan teori gravitasi ini seperti klaim anda di atas?


empirik wrote:3.Pengetahuan Hati
Sumber dari pengetahuan ini adalah hati. Alat atau sarana yang digunakan adalah Tazkiyatun Nafs.



Apa yg anda maksud dgn pengetahuan hati?


empirik wrote:4.Skriptualisme
Pengetahuan ini bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Alat atau sarana yang digunakan adalah Pengkajian dan Penafsiran. Bahwa di dalam al-Qur’an terkandung berbagai macam pengetahuan yang dapat menuntun kita pada kebenaran 100% dan kesempurnaan. Tentunya kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan dalam kadar manusia.


Nonsense!

Akal dan logika tetap merupakan alat dan metodenya. Alquran dan hadis merupakan informasi yang harus diproses utk menyimpulkan kebenarannya. Tafsir merupakan pendapat yg lain yg dapat dipakai sebagai rujukan utk mengerti apa maksud yg coba disampaikan oleh objeknya (Quran dan hadis). Kesimpulan anda sama sekali tidak mempunyai dasar yg kuat!


Bila anda ingin berdiskusi dgn baik, anda harus dapat membedakan mana yg fakta dan bukan, dan mengerti bagaimana caranya menarik kesimpulan yg benar.

empirik wrote:Dan pernyataannya adalah

Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab. Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena.
Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident)
Atau suatu ketiadaan tidak mungkin menimbulkan keadaan atau suatu keadaan tidak mungkin timbul dari suatu keadaan.


Setuju.


empirik wrote:Tolong dong tanggapain dengan atau sesuai dengan kaidah berpikir, bisa?


Bisa dan Sudah!
Humble
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 48
Joined: Wed Apr 19, 2006 1:18 am

Postby robint » Mon Aug 11, 2008 10:31 pm

bravo humble
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Postby empirik » Wed Aug 13, 2008 11:49 am

saya akan coba menyanggah pernyataan saudara humble

kebenaran mutlk saya akan memberikan narasi terlebih dahulu.

Untuk memudahkan manusia dalam berpikir, manusia melakukan abstraksi terhadap cerminan dari realitas. Abstraksi tersebut dinamakan dengan bahasa. Bahasa terdiri atas simbol-simbol yang menggambarkan konsepsi manusia tentang realitas.
Dalam komunikasi, simbol-simbol tersebut bersifat material agar bisa diindera oleh penerima pesan sehingga bisa ditanggapi olehnya. Simbol yang merupakan alat komunikasi tersebut merupakan kesepakatan masyarakat, sehingga ia bisa digunakan bersama-sama dan komunikasi dapat mencapai tujuannya. Jika simbol yang digunakan oleh berbeda antara pengirim peesan dan penerima pesan maka komunikasi akan gagal, ide yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan tidak dimengerti oleh penerima pesan.
Begitu juga dengan pemaknaan terhadap simbol yang sama, ia harus disepekati bersama oleh pengirim dan penerima pesan. Jika makna suatu simbol tidak sama antara yang dimaksud oleh pengirim pesan dan yang dimengerti oleh penerima pesan, maka komunikasi akan gagal. Contoh yang sering diceritakan adalah pemaknaan kata "atos"antara orang Jawa dengan orang Sunda. Orang Jawa memaknai "atos" dengan makna keras, sedangkan orang Sunda memaknai sebagai makna "sudah"
Jadi dalam suatu komunikasi harus ada kesamaan bahasa dan makna yang dipakai / dipahami oleh pengirim pesan dan penerima pesan. Selain itu, bahasa juga harus menunjuk pada realitas yang sama. Jika ada komunikasi menggunakan kata "kucing" dengan makna yang sama tetapi realitas yang ditunjuk berbeda, maka komunikasipun akan gagal. Jadi dalam suatu komunikasi dapat disimpulkan harus ada kesesuaian antara bahasa, pikiran dengan realitas yang dimaksudkan.
Sebagian orang mengatakan bahwa pemaknaan terhadap suatu simbol oleh seseorang tidak sama dengan orang lain. Begitu juga dengan penunjukan suatu makna terhadap suatu realitas. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebenaran menurut seseorang tidak sama dengan kebenaran menurut orang lain. Dengan kata lain, kebenaran bernilai relatif. Pemahaman demikian tidaklah tepat. Jika demikian adanya, maka seseorang tidak dapat memastikan kebenaran. Sehingga apapun yang dikomunikasikan tidak akan pernah sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Lalu, bagaimana dengan pernyataan-pernyataan mereka?. Konsekuensinya, apapun yang mereka ucapkan harus diabaikan.

saya kembali kepada hukum berpikir aristoteles

1. Prinsip berpikir
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri; A adalah A.
2. Prinsip non-kontradiksi
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu bukan selain sesuatu itu:; A bukan selain A; A tidak sama dengan selain A.
3. Prinsip Menolak kemungkinan ketiga.
Prinsip ini menyatakan bahwa pikiran manusia hanya bisa menunjuk sesuatu atau selainnya saja. Sesuatu atau selainnya saja; A atau selain A.
4. Sebab akibat.

contoh kebenaran mutlak;
menurut kaedah berpikir yaitu prinsip pertama di sebutkan A = A.
berarti A adalah A bukan B atau D. disini kita dapat menaraik kesimpulan bahwa keberadaan A adalah mutlak A itu sendiri, bukan B atau D
dan A selamanya akan A tidak akan berubah menjadi D,C atau B.
SBY akan selamanya tetap menjadi sby tidak mungkin berunah menjadi petrus or udin.

Dan pengetahuan itu harus bersifat argumentatif, maksud disini adalah pembuktian terhadap kebenaran sebuah pendapat atau pengetahuan baru.Argumentasi digunakan untuk menjelaskan proses mendapatkan pengetahuan baru tersebut sehingga orang lain dapat menilai kebenarannya dari proses tersebut
Cth: bahwasanya benda terkecil di dunia itu adalah atom jika kita tidak dapat membuktikanya secara argumentatif gugurlah pendapat kita tersebut. dan bendapat kita tresebut hanya bisa di bilang kalim sepihak kita saja.

Mengenai Sumber Pengtahuan

say menulis
1.Empirisme
2.Rasionalitas
3.Pengetahuan Hati
4.Skriptualisme

Empirisme adalah suatu aliran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. empiris sendiri berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera. Data empiris berarti data yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan dan objeknya adalah alam yang bersifat materi dan dapat di indrai

Rasionalitas yang bersumber pada akal. dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempersepsinya dengan indra terlebih dahulu. Manusia bisa membangun pengetahuan, misalnya dari anggapan dua entitas yang masing-masing sama besarnya dengan entitas ketiga adalah entitas sama besar. Pengetahuan semacam itu jelas dengan sendirinya (tanpa persepsi indra) karena ada akal yang
memungkinkannya. secara tidak langsung sendiri anda menyepakati bahwa akal adalah sember pengetahuan.

contoh:
Misalnya kenyataan-kenyataan: bahwa keseluruhan adalah lebih besar dari bagian-bagiannya; satu adalah separuh dari dua; keliling lingkaran lebih besar dari garis tengahnya, adalah merupakan pengetahuan yang dapat diketahui dengan pasti dan dengan sendirinya karena potensi akal.

pengetahuan hati
Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah)


skriptulaisme disini tidak hanya bergantung pada alquraan dan hadis saja artepak kitab2 dan tex2 itulah skriptulisme

anda yang nonsen
gimana kita tahu bahwasanya pada tanggal 17 agustus itu hari kemerdekaan kita klo yang anda gunakan hanya dua alat yaitu akal dan logika tanpa mengacu pada skrip atau tex2.

untuk masalah kepercayaan
humble wort
Tidak ada yg dapat membuktikan kebenaran akan Tuhan! Kaum agama sendiri secara tidak langsung mengakuinya, ketika berulang kali mempergunakan kata percaya dan iman! Bila bisa dibuktikan, tidak butuhkan lagi percaya maupun iman, bukan??


di atas anda menggunakan percaya anda tau arti percaya dalam kamus besar bahasa indonesia di sebutkan bahwa percaya itu artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata
berati konsekuensi logisnya tidak ada kerguan lagi didalamnya. dan para agamawan sampai saat ini tidak menggunkan kata saya ragu-ragu akan keberadaan tuhan"

terus kenapa banyak yang tidak meyakini keberadaan tuhan jika memang tuhan itu benar2 ada. karena mereka hanya menggunakan alat indrwinya saja dalam mencari tuhan tidak menggunkan akal mereka. karena tuhan itu bersifat inmaterl hanya bisa dibuktikan dengan nalar dan kaedah2 berpikirt

secara tidak langsung anda mempercayai tuhan itu ada dengan menyetujui pernyataan saya

bahwasanya ada sebab utama yaitu tuhan

Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab. Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena.
Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident)

suatu ketiadaan tidak mungkin menimbulkan keadaan atau suatu keadaan tidak mungkin timbul dari suatu keadaan.

ingat bahwasanya kebenaran itu universal dan apa konsekuensinya setipa manusia harus ikut kedalamnya karena manusia pada hakekatnya bergerak menuju kepada kebenaran.
User avatar
empirik
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 11
Joined: Sat Mar 29, 2008 10:02 pm
Location: skynet_1241@yahoo.com

revisi

Postby empirik » Wed Aug 13, 2008 2:06 pm

sori saya salah tulis
suatu ketiadaan tidak mungkin menimbulkan keadaan atau suatu keadaan tidak mungkin timbul dari suatu keadaan


seharusnya suatu ketiadaan tidak mungkin menimbulkan suatu keadaan atau suatu keadaan tidak mungkin timbul dari ketiadaan
User avatar
empirik
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 11
Joined: Sat Mar 29, 2008 10:02 pm
Location: skynet_1241@yahoo.com

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Wed Aug 13, 2008 7:11 pm

empirik wrote:

Rasionalitas yang bersumber pada akal. dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempersepsinya dengan indra terlebih dahulu. Manusia bisa membangun pengetahuan, misalnya dari anggapan dua entitas yang masing-masing sama besarnya dengan entitas ketiga adalah entitas sama besar. Pengetahuan semacam itu jelas dengan sendirinya (tanpa persepsi indra) karena ada akal yang
memungkinkannya. secara tidak langsung sendiri anda menyepakati bahwa akal adalah sember pengetahuan.


contoh:
Misalnya kenyataan-kenyataan: bahwa keseluruhan adalah lebih besar dari bagian-bagiannya; satu adalah separuh dari dua; keliling lingkaran lebih besar dari garis tengahnya, adalah merupakan pengetahuan yang dapat diketahui dengan pasti dan dengan sendirinya karena potensi akal.



apakah benar ada ilmu bisa muncul tanpa perlu dipersepsi dahulu oleh indra manusia ? jadi dari mana informasi yg digunakan oleh akal dalam memecahkan sesuatu berasal ? apakah anda bisa memikirkan/memecahkan sesuatu tanpa memiliki informasi terlebih dahulu ?

mungkin maksud anda adalah dengan cukup membayangkan maka anda dapat menilai/memecahkan sesuatu. tapi apakah bisa anda membayangkan jika anda tidak terlebih dahulu mengindranya ? darimana anda bisa membayangkan kotak itu seperti apa jika anda tidak pernah mengindra (melihat,meraba,dll) bentuk kotak dalam wujud aslinya ?

empirik wrote:
pengetahuan hati
Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah)


apakah ini bisa dijadikan sumber pengetahuan valid ? hati itu tergantung dengan apa dia diisi.contoh :

orang yang dididik dari lahir hingga dewasa bahwa mencuri/merugikan orang lain itu tidak salah, maka tidak akan ada rasa bersalah ato penyesalan dalam hatinya. baginya adalah hal yang biasa.

apakah ini juga termasuk pengetahuan hati ?

empirik wrote:
skriptulaisme disini tidak hanya bergantung pada alquraan dan hadis saja artepak kitab2 dan tex2 itulah skriptulisme


ini pedang bermata dua. bisa saja berguna sebagai sumber pengetahuan tapiiii bisa juga sebagai sumber penyesat. tergantung motif dari sipenulis text. tidak bisa langsung diterima sebagai fakta dan kebenaran. tetap harus diuji.

empirik wrote:
anda yang nonsen
gimana kita tahu bahwasanya pada tanggal 17 agustus itu hari kemerdekaan kita klo yang anda gunakan hanya dua alat yaitu akal dan logika tanpa mengacu pada skrip atau tex2.


lihat, dengar dan rasakan.

empirik wrote:
di atas anda menggunakan percaya anda tau arti percaya dalam kamus besar bahasa indonesia di sebutkan bahwa percaya itu artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata
berati konsekuensi logisnya tidak ada kerguan lagi didalamnya. dan para agamawan sampai saat ini tidak menggunkan kata saya ragu-ragu akan keberadaan tuhan"


tapi dalam pengertian percaya tidak pernah ditekankan tentang pembuktian kan ? yang penting yakin bahwa itu benar atau nyata adanya.
sama seperti anda mempercayai teman anda. sampai pada akhirnya teman anda menghilangkan kepercayaan anda.

oleh karena itu dengan modal percaya saja tidak bisa anda membuktikan bahwa benar Tuhan itu ada.

empirik wrote:
terus kenapa banyak yang tidak meyakini keberadaan tuhan jika memang tuhan itu benar2 ada. karena mereka hanya menggunakan alat indrwinya saja dalam mencari tuhan tidak menggunkan akal mereka. karena tuhan itu bersifat inmaterl hanya bisa dibuktikan dengan nalar dan kaedah2 berpikirt


mereka yang terlalu banyak menggunakan indrawinya saja tanpa akal dalam mencari Tuhan, atau anda yang terlalu banyak menggunakan akal tanpa menggunakan indra dalam mencari Tuhan ?

dari mana dasarnya anda bisa berkata bahwa Tuhan adalah Immateri adalah benar adanya ?

bagaimana anda bisa membuktikan dalil bahwa Tuhan adalah immateri bukanlah suatu cara pelarian anda oleh karena anda tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan ?

anda tidak bisa berkata orang lain salah ketika anda sendiri tidak bisa membuktikan diri anda adalah benar.

empirik wrote:
bahwasanya ada sebab utama yaitu tuhan


anda mau rasional ato irasional ?

coba diubah menjadi pertannyaan.

apakah sebab utama itu ? (jawabannya) Tuhan.

dasar pertanyaan tersebut kan hukun sebab-akibat. yang adalah sesuatu yang rasional. karena segala sesuatu di dunia ini menurut pikiran dan pertimbangan yg logis; menurut pikiran yg sehat; cocok dng akal memang begitu adanya, ada sebab maka muncul akibat. oleh karena itu jawabannya pun seharusnya rasional pula. Apakah Tuhan itu adalah suatu hal yang rasional ?

[/quote]
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4406
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby

Re: revisi

Postby Humble » Thu Aug 14, 2008 2:56 am

empirik wrote:saya akan coba menyanggah pernyataan saudara humble

kebenaran mutlk saya akan memberikan narasi terlebih dahulu.

Untuk memudahkan manusia dalam berpikir, manusia melakukan abstraksi terhadap cerminan dari realitas. Abstraksi tersebut dinamakan dengan bahasa. Bahasa terdiri atas simbol-simbol yang menggambarkan konsepsi manusia tentang realitas.
Dalam komunikasi, simbol-simbol tersebut bersifat material agar bisa diindera oleh penerima pesan sehingga bisa ditanggapi olehnya. Simbol yang merupakan alat komunikasi tersebut merupakan kesepakatan masyarakat, sehingga ia bisa digunakan bersama-sama dan komunikasi dapat mencapai tujuannya. Jika simbol yang digunakan oleh berbeda antara pengirim peesan dan penerima pesan maka komunikasi akan gagal, ide yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan tidak dimengerti oleh penerima pesan.
Begitu juga dengan pemaknaan terhadap simbol yang sama, ia harus disepekati bersama oleh pengirim dan penerima pesan. Jika makna suatu simbol tidak sama antara yang dimaksud oleh pengirim pesan dan yang dimengerti oleh penerima pesan, maka komunikasi akan gagal. Contoh yang sering diceritakan adalah pemaknaan kata "atos"antara orang Jawa dengan orang Sunda. Orang Jawa memaknai "atos" dengan makna keras, sedangkan orang Sunda memaknai sebagai makna "sudah"
Jadi dalam suatu komunikasi harus ada kesamaan bahasa dan makna yang dipakai / dipahami oleh pengirim pesan dan penerima pesan. Selain itu, bahasa juga harus menunjuk pada realitas yang sama. Jika ada komunikasi menggunakan kata "kucing" dengan makna yang sama tetapi realitas yang ditunjuk berbeda, maka komunikasipun akan gagal. Jadi dalam suatu komunikasi dapat disimpulkan harus ada kesesuaian antara bahasa, pikiran dengan realitas yang dimaksudkan.


Bahasa hanya salah satu alat untuk komunikasi manusia, gerak tubuh, simbol, lukisan, ketukan, dsb. termasuk didalamnya.


empirik wrote:Sebagian orang mengatakan bahwa pemaknaan terhadap suatu simbol oleh seseorang tidak sama dengan orang lain. Begitu juga dengan penunjukan suatu makna terhadap suatu realitas. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebenaran menurut seseorang tidak sama dengan kebenaran menurut orang lain. Dengan kata lain, kebenaran bernilai relatif.


Kenyataannya memang pemahaman orang berbeda-beda, dan simbol bahasa sebagai alat komunikasi sendiri bukan 'kebenaran absolut', karena hanya cerminan dari kenyataan yg ada.

Kesimpulan kebenaran relatif bukan seperti yg anda gambarkan, tapi karena pengetahuan manusia merupakan proses mencari 'kebenaran absolut', shg kebenaran absolut menjadi benar hanya dalam ranah logika, bukan kenyataan.

1+1=2 adalah benar, tapi bukan kebenaran absolut, karena tidak valid dalam setiap kondisi. Misalnya:

1 kecepatan cahaya + 1 kecepatan cahaya = 1 kecepatan cahaya!


empirik wrote:Pemahaman demikian tidaklah tepat.


Memang tidak tepat!


empirik wrote:Jika demikian adanya, maka seseorang tidak dapat memastikan kebenaran.


Manusia berusaha dan belajar terus untuk dapat berkomunikasi dgn sempurna, itu adalah kenyataannya. Permasalahan komunikasi timbul ketika ada ketimpangan dalam perbedaan pengetahuan dan kemampuan berlogika. 'Memastikan kebenaran' dapat dicapai dgn menganalisa fakta-fakta yg ada dan mencapai kesimpulannya. Kesimpulan dapat berbeda dikarenakan faktor kurangnya fakta2 yg ada, atau kesalahan dalam berlogika.


empirik wrote:Sehingga apapun yang dikomunikasikan tidak akan pernah sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Lalu, bagaimana dengan pernyataan-pernyataan mereka?. Konsekuensinya, apapun yang mereka ucapkan harus diabaikan.


Hanya bila tidak mengerti, atau cape melayani orang tdk mengerti!


empirik wrote:saya kembali kepada hukum berpikir aristoteles

1. Prinsip berpikir
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri; A adalah A.
2. Prinsip non-kontradiksi
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu bukan selain sesuatu itu:; A bukan selain A; A tidak sama dengan selain A.
3. Prinsip Menolak kemungkinan ketiga.
Prinsip ini menyatakan bahwa pikiran manusia hanya bisa menunjuk sesuatu atau selainnya saja. Sesuatu atau selainnya saja; A atau selain A.
4. Sebab akibat.

contoh kebenaran mutlak;
menurut kaedah berpikir yaitu prinsip pertama di sebutkan A = A.
berarti A adalah A bukan B atau D. disini kita dapat menaraik kesimpulan bahwa keberadaan A adalah mutlak A itu sendiri, bukan B atau D
dan A selamanya akan A tidak akan berubah menjadi D,C atau B.
SBY akan selamanya tetap menjadi sby tidak mungkin berunah menjadi petrus or udin.


A=A adalah benar -- bukan kebenaran mutlak! Aristoteles juga tidak mengklaim demikian.


empirik wrote:Dan pengetahuan itu harus bersifat argumentatif, ...


Ya, bukan kebenaran absolut seperti pernyataan anda.


empirik wrote:Mengenai Sumber Pengtahuan

say menulis
1.Empirisme
2.Rasionalitas
3.Pengetahuan Hati
4.Skriptualisme

Empirisme adalah suatu aliran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. empiris sendiri berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera. Data empiris berarti data yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan dan objeknya adalah alam yang bersifat materi dan dapat di indrai


Pengetahuan TIDAK BERASAL dari pengalaman manusia, tapi BERDASARKAN pada pengalaman manusia. Sumber/ASALnya tetap dari alam.

empirik wrote:Rasionalitas yang bersumber pada akal. dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempersepsinya dengan indra terlebih dahulu. Manusia bisa membangun pengetahuan, misalnya dari anggapan dua entitas yang masing-masing sama besarnya dengan entitas ketiga adalah entitas sama besar. Pengetahuan semacam itu jelas dengan sendirinya (tanpa persepsi indra) karena ada akal yang
memungkinkannya. secara tidak langsung sendiri anda menyepakati bahwa akal adalah sember pengetahuan.


Maksud 'sumber pengetahuan' disini merupakan pengetahuan yang dihasilkan melalui 'reasoning', dari fakta-fakta empirik yang ada di alam! Rationalism lebih kepenekanan pada metodanya atau teori.

Bagaimana anda dapat mengetahui ada dua entitas yg sama besarnya - apalagi tiga - bila anda tidak pernah melihat, mendengar,atau merasakannya??


empirik wrote:contoh:
Misalnya kenyataan-kenyataan: bahwa keseluruhan adalah lebih besar dari bagian-bagiannya; satu adalah separuh dari dua; keliling lingkaran lebih besar dari garis tengahnya, adalah merupakan pengetahuan yang dapat diketahui dengan pasti dan dengan sendirinya karena potensi akal.


Saya tidak mengerti apa yg coba anda katakan disini. Semua pengetahuan manusia ada karena 'potensi' akal.


empirik wrote:pengetahuan hati
Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah)


Hati/jiwa tidak pernah bisa berpikir. Mgk yg anda maksud adalah Innatism atau nativism.


empirik wrote:skriptulaisme disini tidak hanya bergantung pada alquraan dan hadis saja artepak kitab2 dan tex2 itulah skriptulisme


Saya tidak pernah menyangkal itu, tapi logika anda dan kesimpulannya.


empirik wrote:anda yang nonsen
gimana kita tahu bahwasanya pada tanggal 17 agustus itu hari kemerdekaan kita klo yang anda gunakan hanya dua alat yaitu akal dan logika tanpa mengacu pada skrip atau tex2.


Apa maksudnya??? Bagaimana kamu pastikan tanggal 17 Agustus itu hari kemerdekaan kita kalau tidak pakai akal dan logika? Kalau saya katakan: 'tanggal 16 agustus itu hari kemerdekaan indonesia'. Bagaimana kamu pastikan itu benar apa salah?? Pakai Quran sama hadits???


empirik wrote:untuk masalah kepercayaan
Quote:
humble wort
Tidak ada yg dapat membuktikan kebenaran akan Tuhan! Kaum agama sendiri secara tidak langsung mengakuinya, ketika berulang kali mempergunakan kata percaya dan iman! Bila bisa dibuktikan, tidak butuhkan lagi percaya maupun iman, bukan??


empirik wrote:di atas anda menggunakan percaya anda tau arti percaya dalam kamus besar bahasa indonesia di sebutkan bahwa percaya itu artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata
berati konsekuensi logisnya tidak ada kerguan lagi didalamnya. dan para agamawan sampai saat ini tidak menggunkan kata saya ragu-ragu akan keberadaan tuhan"


Nonsense! Anda jelas tidak mengerti arti kata 'mengakui atau yakin' dalam konteks ini!


empirik wrote:terus kenapa banyak yang tidak meyakini keberadaan tuhan jika memang tuhan itu benar2 ada. karena mereka hanya menggunakan alat indrwinya saja dalam mencari tuhan tidak menggunkan akal mereka. karena tuhan itu bersifat inmaterl hanya bisa dibuktikan dengan nalar dan kaedah2 berpikirt


Bulshit! Tunjukan satu ilmu pengetahuan yg tidak menggunakan 'akal mereka'!!!


empirik wrote:secara tidak langsung anda mempercayai tuhan itu ada dengan menyetujui pernyataan saya

bahwasanya ada sebab utama YAITU TUHAN.


Buktikan dimana saya pernah menyetujuinya!!!


empirik wrote:Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab. Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena.
Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident)

suatu ketiadaan tidak mungkin menimbulkan keadaan atau suatu keadaan tidak mungkin timbul dari suatu keadaan.

ingat bahwasanya kebenaran itu universal dan apa konsekuensinya setipa manusia harus ikut kedalamnya karena manusia pada hakekatnya bergerak menuju kepada kebenaran.


OK. dimana saya menyetujui 'sebab utama YAITU TUHAN'?
Humble
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 48
Joined: Wed Apr 19, 2006 1:18 am


Return to Ttg ALLAH



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users