



Maisaroh wrote:Terima kasih atas kesediaan Sdr/Mas Kelihgo memenuhi undangan saya.
Mas Kelihgo menulis: “Agama Islam adalah agama yang mengedepankan Akal Sehat.”
Sampai sebanyak apakah akal sehat itu digunakan dalam Islam?
Apakah semua ajaran dan klaim-klaim umat Muslim terhadap nabi Muhammad, kitabnya dan agamanya semuanya FULL SESUAI AKAL SEHAT? Atau hanya beberapa saja yang sesuai AKAL SEHAT?
Mohon Mas Kelihgo jelaskan.
Saya sengaja menggunakan pertanyaan-pertanyaan per poin biar diskusi kita lebih fokus.
Makasih dan Wassalam,
Maisaroh
1. Islam mengajarkan agar setiap manusia untuk saling kenal-mengenal.
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Qur'an mulia 49:13)
2. Islam melarang untuk saling olok-mengolok.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan janganlah wanita-wanita mengolok-olok wanita lain boleh jadi wanita (yang diolok-olok) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-burk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak taubat maka mereka itulah orang yang zalim". (Qur'an mulia 49:11).
3. Islam mengajarkan agar berlaku baik terhadap non muslim.
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Noble Verse 60:8-9)
Jika kita diberi sesuatu maka balaslah dengan yang lebih baik.
[004:086] Apabila kamu dihormati dengan suatupenghormatan, maka balaslah penghormatan itu denganyang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.
4. Islam melarang memerangi, membunuh orang non muslim yang tidak memerangi kita.
"Tetapi jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangimu serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan kepadamu (untuk memerangi) mereka". (Noble Verse 4:90)
"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Noble Verse 8:61)
"Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memafkaan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena dia membalas suatu kaum apa yang telah mereka kerjakan". (Noble Verse 45:14)
"Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya". (Noble Verse 5:32)
"Bagaimana bisa ada perjanjian aman dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) didekat Masjidil Haram? Maka selama mereka berlaku lurus kepadamu, hendaknya kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Noble Verse 9:7)
5. Islam memerintahkan melindungi non muslim yang minta perlindungan.
"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. [Noble Qur'an 9:6]
6. Islam melarang memaksakan agamanya pada orang non muslim.
"Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam". (Noble Qur'an 2:225)
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah:"Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang ummi:"Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Noble Qur'an 3:20)
7. Islam menganjurkan agar kalau berdebat dengan ahli kitab, dengan jalan yang paling baik.
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". [Noble Qur'an 29:46].
8. Islam menganjurkan menghormati milik orang lain dan melarang menggangunya.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya, Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat". (Noble Verses 24:27-28
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Noble Qur'an 4:29)
9. Islam mengajarkan agar kita berlaku adil terhadap non Muslim.
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." [Noble Qur’an 60:8]
Maka, dapat diketahui bahwa Allah menyukai dan mencintai kaum muslimin yang berbuat baik dan berlaku adil terhadap non-muslim, selama syarat-syarat di atas dipelihara.
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah! karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [5:8]
Walaupun ada rasa benci terhadap suatu kaum, itu tidak boleh dijadikan alasan bagi umat Islam untuk semena-mena/tidak adil terhadap kaum tersebut. Misal, seorang hakim memutuskan sebuah perkara untuk kemenangan seorang muslim terhadap seorang non-muslim, padahal bukti-bukti menunjukkan sebaliknya, maka ini adalah bentuk pelanggaran yang besar, karena peringatannya cukup keras, "janganlah sekali-kali".
"Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu untuk melawan mereka." [Noble Qur’an 4:90]
Maka, tidak ada jalan (alasan) bagi seorang muslim untuk melawan seorang non-muslim, jika dia tidak terbukti turut memerangi kaum muslimin, dan sudah jelas menyatakan perdamaiannya dengan kaum muslimin. Perlu diketahui bahwa, kaum muslimin diwajibkan untuk membenci karena Allah, dan mencintai karena Allah.
Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". [Noble Qur’an 3:32]
Karena Allah tidak menyukainya, maka kaum muslimin wajib membencinya. Tapi sesuai dengan ayat sebelumnya, kebencian tidak boleh menyebabkan kaum muslimin berbuat semena-mena.
"Allah tidak menyukai ucapan buruk, ..." [Noble Qur’an 4:148]
Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertutur kata yang baik, dan membenci mereka yang bertutur kata buruk. Tapi kebencian kita terhadap mereka tidak boleh menyebabkan kaum muslimin berbuat semena-mena, karena:
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." [Noble Qur’an 73:10]
Begitulah aturan yang mengikat kami kaum muslimin terhadap orang non Muslim dan yang lainnya. Sementara, hukuman di akhir bagi mereka yang kufur dan wafat dalam keadaan demikian, maka Allah telah menjelaskan:
"Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapati laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh." [Noble Qur’an 2:161-162]
10. Islam melarang umatnya untuk memaki-maki sembahan orang non muslim.
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. [Noble Qur’an 6:108].
11. Islam menganjurkan umatnya untuk memerangi non muslim yang memerangi umat Islam.
Islam adalah agama yang realistis dan fleksibel. Jika kaum non muslim mau hidup damai berdampingan dengan umat Islam, maka umat Islam tidak ada jalan (dilarang) memerangi mereka. Tetapi jika kaum kafir itu memerangi kita umat Islam maka wajib umat Islam untuk mengangkat senjata memerangi mereka. Tapi bersabar lebih baik,
[016:126] Dan jika kamu memberikan balasan, makabalaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yangditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar,sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orangyang sabar.
[016:127] Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalahkesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allahdan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran)mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apayang mereka tipu dayakan.
Dalam memerangi kaum kafirpun tidak boleh melampau batas.
190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.
192. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (haram bagi kami untuk memeranginya)
193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. [Noble Qur’an 190-193].
Sungguh indah hukum diatas. Jika mereka memerangi kita maka perangi mereka tapi jangan melampaui batas. Jika mereka berhenti memerangi kita maka tidak ada peperangan lagi. Solusi yang sama-sama enak dikedua belah pihak. Jika mereka, kaum kafir, mengemukakan perdamaian maka wajib umat Islam untuk menerimanya, meskipun dalam hati kaum kafir hanya untuk menipu kaum muslim.
61. Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
62. Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min,
63. dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) . Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.
64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu'min yang mengikutimu.
65. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. [Noble Qur’an 8 : 61-65].
Dalam peperangan umat Islam dilarang untuk membunuh anak-anak dan perempuan.
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar r.a:
Sesungguhnya pernah terdapat seorang wanita terbunuh dalam satu peperangan yang diikuti oleh Rasulullah s.a.w. Lalu Rasulullah s.a.w mengutuk daripada membunuh wanita dan kanak-kanak [Sahih Bukhari juz 4 no 257].
Dalam memperlakukan tawanan perang pun harus dengan cara yang baik.
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. [Noble Qur’an 76 : 8].
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, MAKA LINDUNGILAH IA supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian ANTARKANLAH IA KE TEMPAT YANG AMAN BAGINYA. Demikian itu
disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. [Noble Qur’an 9:6].
Rasulullah saw bersabda:
Diriwayatkan oleh Abu Musa ra:
Nabi saw bersabda: “Bebaskanlah para tawanan, beri makan mereka yang lapar dan kunjungilah orang yang sakit.” [Sahih Bukhari juz 4 no 282].
Karena kebaikan Rasulullah saw pada tawanan, ada seorang tawanan yang masuk Islam.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w mengirim satu pasukan berkuda ke daerah Najd. Mereka pulang dengan membawa seorang tawanan lelaki dari Bani Hanifah bernama Sumamah bin Usal, pemimpin penduduk Yamamah. Lalu mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid. Satu hari Rasulullah s.a.w keluar menemui tawanan tersebut. Baginda bertanya: Bagaimana keadaanmu, wahai Sumamah? Tawanan itu menjawab: Baik-baik saja wahai Muhammad. Jika kamu mahu membunuh aku maka bunuhlah, memang sepatutnya ke atasmu untuk melakukannya. Jika kamu memberikan suatu nikmat (tinggalkan dengan tidak membunuh aku) maka aku ucapkan berbanyak terima kasih. Jika kamu meminta harta maka aku akan berikan berapa banyak yang kamu mahu. Rasulullah s.a.w lalu meninggalkan tawanan tersebut. Keesokkan harinya baginda menemui tawanan itu kembali, lalu baginda bertanya: Bagaimana keadaanmu wahai Sumamah? Tawanan itu menjawab: Aku tidak mahu berbicara denganmu. Jika kamu mahu memberikan satu nikmat maka berikan kepada orang yang mahu berterima kasih. Jika kamu mahu membunuh aku bunuhlah, aku adalah orang yang memang berhak untuk dibunuh. Jika kamu menghendaki harta maka mintalah berapa banyak yang kamu mahu maka aku akan berikan apa yang kamu mahu. Lalu Rasulullah s.a.w meninggalkannya. Esoknya, Rasulullah s.a.w bersabda: Bagaimana keadaanmu wahai Sumamah. Sumamah berkata: Jika kamu memberikan satu nikmat maka aku akan ucapkan terima kasih, sekiranya kamu mahu membunuh maka bunuhlah, sekiranya kamu mahukan harta, aku akan berikan kepada kamu berapa banyak yang kamu mahukan. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda kepada para Sahabat: Lepaskan Sumamah. Lalu Sumamah berangkat menuju ke kawasan kebun tamar. Setelah mandi lalu dia memasuki masjid dan mengucapkan kalimah: Aku bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba serta utusanNya. Wahai Muhammad! Di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci daripada wajahmu sebelum ini. Tetapi sekarang wajahmulah yang paling aku suka di antara wajah-wajah yang pernah aku temui. Sebelum ini tidak ada agama yang paling aku benci daripada agamamu dan sekarang hanya agamamu lah yang paling aku sukai di antara agama-agama yang pernah aku temui. Dahulu negerimulah yang paling aku benci, tetapi sekarang negerimulah yang paling aku cintai di antara negeri-negeri yang pernah aku kenal. Sesungguhnya pasukan berkudamu selalu mengawasiku sedangkan aku ingin melakukan umrah. Beagaimana ini? Rasulullah s.a.w lalu menyampaikan berita gembira kepada Sumamah bahawa dia boleh melakukan umrah. Ketika sampai di Kota Mekah seorang bertanya kepadanya: Kamu sudah keluar dari agamamu? Sumamah menjawab: Tidak. Tetapi aku sudah memeluk Islam dan tunduk kepada Rasulullah s.a.w. Demi Allah, tidak akan ada sebiji gandum pun dari Yamamah yang akan sampai kepada kamu sebelum mendapat keizinan Rasulullah s.a.w [Sahih Bukahri dan Muslim kitab jihad].
Demikianlah sedikit gambaran tentang keindahan Islam, semoga bermanfaat.
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam."Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing ..
” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir; yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut.
Dan Dialah yang menjadikan siang dan malam, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar didalam garis edarnya". (The Noble Quran, 21:33)"
"Dan kau lihat gunung kau sangka diam, padahal ia terbang bagaikan awan". (QS An-Naml 88).
Jadi gunung itu terbang bagaikan awan demikian juga bumi.
"dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui". (The Noble Qur'an 36:38).
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutup malam atas siang dan menutup siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (The Noble Qur'an 39:5).
"..dan menundukan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan". (The Noble Qur'an 13: 2).
Allah menciptakan kamu didalam perut Ibu mu tahap kejadian demi tahap kejadian didalam gelap yang tiga". Qs Az Zumar; 6
Dalam pameran Islam di London terpampang kaligrafi dengan tulisan ayat Al Quran tersebut, berserta terjemahannya dalam bahasa Inggris. Lalu masuklah dokter ahli bedah kandungan bangsa inggris, yang jelas tak beragama Islam. setelah melihat benda yang dipajang akhirnya ia melihat kaligrafi tersebut. Tentu ia tidak tahu huruf kaligrafi tersebut, tapi setelah membaca terjemahannya ia sungguh kagum dan heran. Sebagai ahli kandungan dia mengetahui bahwa bayi yang terdapat dalam rahim ibunya di lindungi oleh tiga lapisan selaput halus tapi kuat. selaput itu adalah Amnion membrane, Decudea membrane, dan Chorion membrane. Dokter itu terpesona karena mengetahui ayat itu turun 14 abad yang lalu, disaat bangsa Eropa dan amerika tenggelam dalam kebodohan. Dari mana Muhammad saw tahu bahwa dalam rahim ada tiga kegelapan yang harus di lewati si bayi, yaitu tiga selaput membrane tersebut?
Di dalam Al Quran, Allah berfirman agar kita memperhatikan burung, seperti dalam ayat, "Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu." (Surat al-Mulk: 19). Pada bab ini, kita akan secara khusus membahas burung migran; kita akan melihat keseimbangan yang diciptakan burung-burung ini saat mereka mengarungi angkasa, sistem tubuh yang diberikan kepada mereka, dan perhatian khusus pada kekuasaan Allah yang menjaga mereka "di angkasa".
Bagaimana Burung Menentukan Waktu Migrasi?
Mengapa dan bagaimana awalnya burung bermigrasi, serta apa yang membuat mereka memutuskan untuk bermigrasi telah lama menjadi pusat perhatian. Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa migrasi disebabkan perubahan musim sementara yang lain percaya bahwa burung bermigrasi untuk mencari makan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana burung-burung ini-tanpa perlindungan, perlengkapan teknis, atau pengamanan, kecuali tubuh mereka sendiri-dapat melakukan penerbangan yang sangat jauh. Migrasi membutuhkan keahlian khusus seperti penentuan arah, cadangan makanan, dan kemampuan untuk terbang dalam jangka waktu yang lama. Hewan yang tidak memiliki ciri-ciri di atas tidak mungkin dapat berubah menjadi hewan migran, atau hewan yang melakukan migrasi.
Salah satu eksperimen yang mengangkat permasalahan ini adalah sebagai berikut: burung bulbul dijadikan objek penelitian di sebuah laboratorium yang suhu dan cahayanya dapat diatur sesuai kebutuhan. Kondisi di dalam laboratorium diatur sehingga berbeda dengan kondisi di luar laboratorium. Misalnya, bila di luar musim dingin, kondisi laboratorium dibuat seperti pada musim semi dan burung menyesuaikan dirinya pada kondisi tersebut. Burung bulbul menumpuk lemak sebagai sumber energi, seperti yang biasa mereka lakukan menjelang migrasi. Meskipun burung bulbul mengadaptasikan tubuhnya dengan iklim buatan, dan menyiapkan diri seakan hendak bermigrasi, mereka tidak berangkat sebelum waktunya tiba. Mereka mengamati musim di luar. Hal ini merupakan bukti bahwa burung menentukan waktu migrasi bukan berdasarkan perubahan musim.
Lalu bagaimana burung menentukan saat untuk bermigrasi? Para ilmuwan masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Mereka percaya bahwa makhluk hidup memiliki "jam tubuh" yang membantu mereka mengetahui waktu, bila mereka berada dalam lingkungan tertutup, dan membedakan perubahan musim. Bagaimanapun, jawaban bahwa burung memiliki "jam tubuh yang membantu mereka mengetahui saat untuk melakukan migrasi" adalah jawaban yang tidak ilmiah. Jam seperti apakah itu, organ tubuh apa yang berinteraksi dengannya, dan bagaimana jam ini muncul di dalam tubuh? Apakah yang terjadi bila jam ini rusak atau tidak berpengaruh lagi?
Mengingat sistem yang sama berlaku tidak hanya untuk seekor burung migran, tetapi juga untuk semua hewan migran, pertanyaan ini perlu mendapat perhatian.
Sebagaimana telah diketahui, burung migran tidak memulai perjalanan migrasinya dari tempat yang sama. Ketika saat bermigrasi tiba, masing-masing burung berada di tempat yang berbeda. Pada sebagian besar spesies, pertama-tama mereka berkumpul di tempat tertentu untuk kemudian bermigrasi bersama. Bagaimana mereka melakukan pengaturan waktu tersebut? Bagaimana "jam tubuh", yang katanya dimiliki burung, dapat begitu selaras? Mungkinkah keteraturan sistematis seperti ini dapat terjadi secara spontan?
Suatu kegiatan yang sudah direncanakan tidak mungkin berjalan secara spontan. Selain itu, baik burung maupun hewan migran lain tidak memiliki penunjuk waktu, dalam bentuk apa pun. Setiap tahun semua hewan migran bermigrasi pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, tetapi bukan berdasarkan jam tubuh. Yang disebut sebagian orang sebagai jam tubuh adalah kekuasaan Allah atas semua makhluk. Hewan migran mengikuti perintah Allah seperti halnya semua isi alam semesta.
Penggunaan Energi
Burung menggunakan banyak energi saat terbang. Oleh karena itu, mereka membutuhkan lebih banyak sumber energi daripada hewan darat maupun hewan laut. Misalnya, untuk terbang sejauh 3.000 km antara Hawaii dan Alaska, burung kolibri (yang memiliki bobot beberapa gram) harus mengepakkan sayap sebanyak 2,5 juta kali. Meskipun begitu, mereka dapat tetap berada di udara selama 36 jam. Kecepatan rata-rata selama melakukan perjalanan ini kurang lebih 80 km/jam. Selama melakukan penerbangan seberat ini, jumlah asam dalam darah bertambah secara berlebihan, dan burung dapat pingsan akibat suhu tubuh yang meningkat. Beberapa burung menghindari bahaya ini dengan mendarat. Lalu, bagaimanakah mereka dapat terbang melintasi lautan yang luas dengan selamat? Berdasarkan pengamatan ahli burung, dalam keadaan seperti ini, burung mengembangkan sayap selebar-lebarnya, dan dengan beristirahat dalam keadaan tersebut, suhu tubuhnya turun.
Burung migran memiliki sistem metabolisme tubuh yang kuat agar dapat melakukan aktivitas yang berat ini. Misalnya, aktivitas metabolisme pada burung kolibri, burung migran terkecil, dua puluh kali lebih kuat daripada aktivitas metabolisme gajah. Suhu tubuh burung dapat naik hingga 62 C.
Teknik Terbang
Sebagai makhluk yang diciptakan untuk melakukan penerbangan berat, burung juga dikaruniai kemampuan untuk memanfaatkan angin guna membantu mereka terbang.
Misalnya, burung bangau dapat terbang hingga ketinggian 2.000 m dengan mengikuti arus udara panas, lalu meluncur dengan cepat menuju arus udara panas berikutnya tanpa harus mengepakkan sayap.
Teknik terbang lain yang biasa dilakukan sekelompok burung adalah formasi "V". Pada teknik ini, burung yang besar dan kuat berada paling depan sebagai perisai melawan arus udara dan membuka jalan bagi burung lain yang lebih lemah. Dietrich Hummel, seorang insinyur penerbangan, telah membuktikan bahwa dengan pengaturan seperti ini, secara umum kelompok tersebut dapat menghemat energi hingga 23%.
Terbang Sangat Tinggi
Beberapa burung migran terbang sangat tinggi. Misalnya, angsa dapat terbang pada ketinggian 8.000 m. Ini adalah hal yang luar biasa mengingat pada ketinggian 5.000 m kerapatan atmosfer berkurang sebanyak 63% dibandingkan pada permukaan laut. Terbang pada ketinggian dengan atmosfer sangat tipis, burung tersebut harus mengepakkan sayap lebih cepat dan karenanya harus mendapatkan oksigen yang lebih banyak pula.
Meskipun demikian, paru-paru burung ini telah diciptakan sedemikian rupa sehingga dapat secara maksimal memanfaatkan oksigen yang tersedia pada ketinggian tersebut. Paru-paru burung, yang berfungsi secara berbeda dengan paru-paru mamalia, membantu mereka mendapatkan energi yang lebih besar dari udara yang lebih sedikit.
Indra Pendengaran Yang Sempurna
Selagi bermigrasi, burung harus memperhatikan gejala atmosferis. Misalnya, mereka mengubah arah untuk menghindari badai yang mendekat. Melvin L. Kreithen, ahli burung yang meneliti indra pendengaran burung, mengamati bahwa beberapa jenis burung dapat mendengar bunyi yang berfrekuensi sangat rendah, yang tersebar jauh dalam atmosfer. Oleh karena itu, burung migran dapat mendengar terbentuknya badai di gunung pada kejauhan atau halilintar di atas samudra yang berjarak ratusan kilometer di depan. Selain itu, telah diketahui pula bahwa burung dikenal berhati-hati dalam menentukan rute migrasinya; mereka akan menghindari daerah dengan kondisi atmosfer yang berbahaya.
Persepsi Arah
Bagaimanakah burung dapat menentukan arah tanpa bantuan peta, kompas, atau penunjuk arah lain selama penerbangan yang panjang menempuh ribuan kilometer?
Teori pertama yang dikemukakan berkenaan dengan pertanyaan tersebut adalah bahwa burung menghafal karakteristik daratan di bawah mereka, sehingga dapat menemukan daerah tujuan tanpa kebingungan. Akan tetapi, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa teori ini tidak benar.
Dalam sebuah percobaan yang menggunakan burung dara, digunakan lensa buram untuk mengaburkan penglihatan burung dara. Dengan begitu, mereka tidak dapat menggunakan tanda-tanda daratan di bawahnya sebagai penunjuk. Meskipun demikian, ternyata burung dara tetap dapat menemukan jalan mereka meskipun tertinggal beberapa kilometer dari kelompoknya.
Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa medan magnet bumi berpengaruh terhadap beberapa spesies burung. Berbagai kajian menunjukkan bahwa tampaknya burung memiliki sistem reseptor magnetik yang maju, yang memungkinkan mereka menentukan arah dengan menggunakan medan magnet bumi. Sistem ini membantu burung menentukan arah dengan merasakan perubahan medan magnet bumi selama migrasi. Berbagai eksperimen menunjukkan bahwa burung migran dapat merasakan perbedaan medan magnet bumi sebesar 2%.
Sebagian orang berpikir bahwa mereka dapat menjelaskan hal tersebut dengan mengatakan bahwa burung memiliki semacam kompas di dalam tubuhnya. Pertanyaannya justru ada di sini.
Pertanyaannya adalah: bagaimanakah burung-burung tersebut dapat diperlengkapi dengan "kompas alami"? Kita tahu bahwa kompas adalah hasil penemuan manusia. Lalu bagaimanakah kompas-alat yang dibuat manusia dengan pengetahuan yang dimilikinya-dapat berada pada tubuh burung? Mungkinkah bertahun-tahun yang lalu, ketika berusaha menemukan arah, spesies burung memikirkan cara menggunakan medan magnet bumi untuk menentukan arah dan membuat reseptor magnet pada tubuhnya? Mungkinkah bertahun-tahun yang lalu spesies burung diperlengkapi dengan mekanisme seperti ini secara kebetulan? Tentu saja tidak….
Burung tersebut maupun peristiwa kebetulan tidak mungkin dapat menambahkan kompas yang sangat maju ke dalam tubuhnya. Struktur tubuh, paru-paru, sayap, sistem pencernaan, dan kemampuan burung untuk menentukan arah adalah contoh dari ciptaan Allah yang sempurna:
"Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Surat al-Hasyr: 24)
"Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masingnya telah mengetahu (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."(Surat an-Nur: 24)
Perjalanan Kupu-Kupu Raja Yang Menakjubkan
Kisah perjalanan migrasi kupu-kupu raja, yang hidup di Kanada bagian tenggara, lebih rumit daripada migrasi burungm
Kupu-kupu raja umumnya hidup hanya 5-6 minggu setelah berkembang dari ulat. Dalam setahun terdapat empat generasi kupu-kupu raja. Tiga dari empat generasi kupu-kupu raja hidup di musim semi dan musim panas.
Situasi berubah dengan datangnya musim gugur. Migrasi dimulai pada musim gugur, dan generasi yang bermigrasi akan hidup jauh lebih lama dari generasi lain yang hidup di tahun yang sama. Kupu-kupu raja yang bermigrasi adalah generasi yang keempat.
Hal yang cukup menarik adalah, migrasi dimulai pada malam ekuinoks musim gugur (hari ketika waktu siang dan malam sama panjang). Kupu-kupu yang bermigrasi ke selatan, hidup enam bulan lebih lama dibandingkan ketiga generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan waktu hidup yang lebih lama agar dapat bermigrasi dan kembali lagi.
Kupu-kupu yang terbang ke selatan tidak berpencar setelah melalui garis balik utara (garis lintang utara 23,30 ) dan meninggalkan udara dingin. Setelah bermigrasi melintasi setengah benua Amerika, jutaan kupu-kupu itu mendiami bagian tengah Meksiko. Di daerah ini jajaran gunung berapi dipenuhi bermacam-macam jenis tumbuhan. Bertempat di ketinggian 3.000 m, tempat ini cukup hangat bagi kupu-kupu. Selama empat bulan, dari Desember hingga Maret, kupu-kupu tidak memakan apa pun. Mereka hanya minum air selama cadangan lemak tubuh mereka masih mencukupi sebagai sumber makanan.
Bunga yang bermekaran di musim semi cukup penting bagi kupu-kupu raja. Setelah empat bulan berpuasa, untuk pertama kalinya di musim semi kupu-kupu mengadakan pesta nektar. Setelah itu, mereka memiliki cadangan energi yang cukup untuk kembali ke Amerika Utara. Selain waktu hidupnya yang dua bulan diperpanjang menjadi delapan bulan, generasi ini tidak berbeda dengan tiga generasi sebelumnya. Mereka kawin di akhir Maret sebelum memulai perjalanannya. Pada saat ekuinoks, kelompok kupu-kupu akan terbang kembali ke Utara. Begitu mereka menyelesaikan perjalanannya dan tiba di Kanada, mereka mati. Namun, sebelum mati, mereka bertelur untuk menghasilkan generasi baru, yang penting bagi kelangsungan spesiesnya.
Generasi yang baru lahir adalah generasi pertama pada tahun tersebut dan hidup selama 1,5 bulan. Generasi ini akan diikuti oleh generasi kedua dan ketiga. Ketika datang generasi keempat, migrasi kembali berulang. Generasi ini akan hidup enam bulan lebih lama daripada generasi sebelumnya, dan rantai ini akan terus berlanjut dengan cara yang sama.
Sistem yang sangat menarik ini menimbulkan banyak pertanyaan: bagaimanakah generasi keempat dari empat generasi kupu-kupu dapat hidup enam bulan lebih lama? Bagaimanakah waktu hidup generasi ini selalu bertepatan dengan musim dingin dan berlangsung selama ini selama beribu-ribu tahun? Bagaimanakah kupu-kupu selalu memulai migrasi pada saat ekuinoks, dan bagaimanakah mereka bisa begitu sensitif terhadap panjang waktu siang dan malam? Apakah mereka menggunakan kalender untuk menentukan saat migrasi?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh teori evolusi maupun variasi lain dari teori tersebut. Kupu-kupu ini telah memiliki karakteristik istimewa tersebut sejak mereka diciptakan. Jika saja generasi keempat kupu-kupu raja yang pertama ada di bumi tidak memiliki karakteristik untuk hidup lama, semua kupu-kupu tersebut akan mati selama musim dingin dan hewan ini akan punah.
Kupu-kupu raja tentunya telah memiliki karakteristik yang luar biasa ini semenjak mereka diciptakan. "Peristiwa kebetulan" tidak mampu mengatur generasi hewan berdasarkan migrasi. Selain itu, tidak mungkin kupu-kupu dapat memutuskan agar generasi keempatnya dapat hidup lebih lama, dan mengatur metabolisme, DNA, dan gen mereka sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Jelas bahwa kupu-kupu raja diciptakan dengan keistimewaan-keistimewaan tersebut.
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS. Ath-Thalaq:12)
Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.
Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.
Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.
Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.
Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat
Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.
Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.
Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.
"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang." (QS. Luqman:10)
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An-Naba:7)
Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini "mengikat" lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.
Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.
"Al Hadid" (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem "Abjad" Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata "Al Hadid" jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.
Nilai numerik (Abjad) dari kata "Hadid" (besi) sendiri, tanpa penambahan "al", jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.


Maisaroh wrote:Mas Kelihgo, terima kasih atas jawabannya.
Oya...Kelihgo ini nama asli atau nama samaran sih? Kok serem banget namanya. Hehehe.
Nama Asli Gue Doni,Panggilan Rumahnya ya Kelik.kalau HGO itu Forum pertama gue ikutin.Tapi gue kagak mau Forum selain agama di kotorin SARA.Makanya gue ikut Forum apapun tidak pernah membicarakan SARA,seperti Indosiar,TV7 dan Republik Mimpi,artinya saya tetap Profesional.Sdr/Mas Kelihgo, dalam diskusi ini selain kita manfaatkan untuk mendapatkan kejelasan tentang benar atau tidaknya agama Islam, juga menjadi tantangan buat Mas untuk bisa meng-Islamkan saya lagi. Gimana, tertarik, kan?
Kalau yang ini semoga ALLAH S.W.T memberikan petunjuk dan hidayah pada anda,bukan saya,karena saya hanya Manusia Biasa.Dan saya hanya membantu anda saja mengenai Keislaman dan menyampaikan saja.Sesuai dengan ayat ini
Tiada paksaan dalam (memeluk) agama (Islam). Jalan kebenaran telah jelas dari jalan yang kesesatan. Oleh karena itu, barangsiapa mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar nan Maha Mengetahui. (2 :256)
Kemudian jika mereka mendebat kamu( tentang kebenaran Islam (, maka katakanlah:" Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan( demikian pula ( orang- orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang- orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang- orang yang ummi:" Apakah kamu( mau ( masuk Islam" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan( ayat- ayat Allah (. Dan Allah Maha Melihat akan hamba- hamba-Nya.( 3:20)Oke.
Mas bilang Alquran selalu mengedepankan akal sehat, tapi ini bukan dari hasil pikiran Mas sendiri, tetapi Mas mencontek dari tulisan-tulisan orang lain yang mengklaim Alquran demikian.
Saya kurang menyetujui sikap demikian, sebab sikap ikut-ikutan menunjukkan kalau orang itu tidak punya pendirian sendiri. Pandangannya tidak obyektif dari dirinya sendiri, melainkan berdasarkan ‘nunut’ pada apa kata orang. (Maaf lho Mas, bukannya saya menyalahkan Mas, tapi ini sikap kritik saya saja, jgn dimasukkan ke hati).
Suatu contoh: Tanah Lekok Pasuruan kini dijadikan sengketa antara warga dengan pihak TNI-AL, sampai-sampai terjadi bentrok yang memakan korban jiwa. Pihak TNI-AL menyatakan kalau tanah itu adalah milik mereka dan mereka mengaku punya sertifikatnya. Sebaliknya, warga juga menyatakan tanah itu hak milik mereka namun diambil paksa oleh pihak aparat. Nah, ada 2 versi kebenaran dalam kasus ini. Apabila Mas Kelihgo anggota TNI-AL, pasti Mas Kelihgo akan ‘manut’ (menurut) pada apa yang dikatakan atasan tanpa berani menelaahnya sendiri.
Itu adalah contoh sederhana perihal kesetiaan seorang bawahan kepada atasannya, apa pun yang diklaim oleh sang atasan kita harus menurut dan percaya 100%.
Berbeda kasusnya dengan agama. (Apakah mas Kelihgo akan dibantai kalau berani menelaah Islam? Atau... mas akan dipecat dari perusahaan tempat Mas bekerja? Pasti nggak, lha ya... Indonesia kan negara demokratis!)
Manusia diberi AKAL dan Kebebasan untuk memilih. Dan oleh akal itu kita bersikap mandiri dan harus berani mempergunakannya sebaik mungkin dan tidak membeo atau ikut-ikutan saja berdasarkan apa yang orang lain klaim.
Mas menyebut nama Karen Amstrong, memangnya dia siapa? Saya tak senang dengan orang ini. Karena menurut kabar, si Karen Amstrong telah dibayar oleh petinggi Saudi untuk berkata yang muluk-muluk tentang Islam. Percaya atau tidak percaya, saya tetap tidak mau melibatkan orang ini atau pendapat siapa pun dalam diskusi kita ini. Saya minta pendapat ORISINIL dari Mas sendiri. Bagaimana, Mas, bersediakah?
Mas bilang Alquran selalu mengedepankan akal sehat, tapi ini bukan dari hasil pikiran Mas sendiri, tetapi Mas mencontek dari tulisan-tulisan orang lain yang mengklaim Alquran demikian.
Saya kurang menyetujui sikap demikian, sebab sikap ikut-ikutan menunjukkan kalau orang itu tidak punya pendirian sendiri. Pandangannya tidak obyektif dari dirinya sendiri, melainkan berdasarkan ‘nunut’ pada apa kata orang. (Maaf lho Mas, bukannya saya menyalahkan Mas, tapi ini sikap kritik saya saja, jgn dimasukkan ke hati).
Suatu contoh: Tanah Lekok Pasuruan kini dijadikan sengketa antara warga dengan pihak TNI-AL, sampai-sampai terjadi bentrok yang memakan korban jiwa. Pihak TNI-AL menyatakan kalau tanah itu adalah milik mereka dan mereka mengaku punya sertifikatnya. Sebaliknya, warga juga menyatakan tanah itu hak milik mereka namun diambil paksa oleh pihak aparat. Nah, ada 2 versi kebenaran dalam kasus ini. Apabila Mas Kelihgo anggota TNI-AL, pasti Mas Kelihgo akan ‘manut’ (menurut) pada apa yang dikatakan atasan tanpa berani menelaahnya sendiri.
Itu adalah contoh sederhana perihal kesetiaan seorang bawahan kepada atasannya, apa pun yang diklaim oleh sang atasan kita harus menurut dan percaya 100%.
Berbeda kasusnya dengan agama. (Apakah mas Kelihgo akan dibantai kalau berani menelaah Islam? Atau... mas akan dipecat dari perusahaan tempat Mas bekerja? Pasti nggak, lha ya... Indonesia kan negara demokratis!)
Oke kalau itu Sample saja.saaya memberikan bukti apa yang dikatakan mereka yang Non Muslim,soalnya kalau pendapat dari Muslim entar mengada-ada.Takutnya kalau saya Muslim,kemudian memberikan pendapat seperti Itu,maka jawabannya ; :KARENA ANDA MUSLIM".Jadi Saya pakai pendapat Orang yang bukan Muslim.ALQURAN itu berasal dari Allah atau manusia?
Kalau Alquran adalah sebuah buku pemberian Allah, lalu kenapa ia tidak berani memberikan penjelasan yang detil tentang Allah?
Bila ia tidak berani memberikan penjelasan detil tentang Allah, maka ini menjadi bukti bahwa ia bukan buku pemberian dari Allah.
Allah itu ghaib, Allah sudah pasti mengerti hal-hal yang sifatnya ghaib. Dan tidaklah logis bila Allah yang ghoib itu malah tidak berani berbicara lebih mendalam tentang hal-hal yang menyangkut dirinya. Jadi percuma dong, Allah memberi buku suci kepada manusia kalau ternyata Allah tidak memberikan suatu gambaran apapun mengenai diriNya supaya manusia lebih mengenal akan pribadi Allah. Justru yang banyak saya temukan dalam Alquran adalah ajaran-ajaran kekerasan dan keduniawian, yang jauh dari hal-hal pengetahuan ketuhanan. Kalau Alquran hanya berisi hal-hal yang populer saja (maksud saya, hal-hal yang umum sifatnya), maka semua orang pun sudah tahu dan meskipun tidak membaca Alquran tak ada bedanya dengan orang yang telah membaca.
Kitabullah harus berani menyatakan dengan jelas seperti apa Allah itu sebenarnya.
Tapi kalau yang disampaikan cuma seputar pemberian nama-nama untuk maksud meninggi-ninggikan, maka saya yakin semua orang di dunia ini juga bisa bila hanya disuruh menyalin nama-nama agung untuk Tuhan.
Apa ada orang yang kasih julukan buruk buat Tuhan, misal Tuhan itu maha rendah, atau Tuhan itu maha ****. Jelas tidak ada, kan, Mas? Tentu semua orang yang bermaksud memuja-muja Tuhan pasti akan membuat nama-nama pujian yang serba baik untuk Tuhannya.
Maka dari itu, saya menyimpulkan bahwa ASMAUL HUSNA yang diajarkan nabi Muhammad SAW adalah suatu pengajaran yang umum sifatnya. Yang saya yakin, walau bukan nabi sekalipun juga bisa mengoleksi daftar nama-nama Tuhan bahkan bisa lebih banyak dari jumlah nama yang tertera dalam ASMAUL HUSNA. Secara logis, kemampuan nabi Muhammad ini adalah kemampuan yang juga dimiliki oleh siapapun manusia di muka bumi.
Nah, ini sanggahan pertama saya untuk Mas Kelihgo. Maaf, memang agak mendalam nih, jadi saya mohon Mas tidak tergesa-gesa dalam membacanya, karena saya juga mengharapkan jawaban murni dari Mas seorang lain. ndiri bukan hasil nyontek dari tulisan


Maisaroh wrote:Mas Kelihgo, terima kasih atas jawabannya.
Allah itu ghaib, Allah sudah pasti mengerti hal-hal yang sifatnya ghaib. Dan tidaklah logis bila Allah yang ghoib itu malah tidak berani berbicara lebih mendalam tentang hal-hal yang menyangkut dirinya. Jadi percuma dong, Allah memberi buku suci kepada manusia kalau ternyata Allah tidak memberikan suatu gambaran apapun mengenai diriNya supaya manusia lebih mengenal akan pribadi Allah. Justru yang banyak saya temukan dalam Alquran adalah ajaran-ajaran kekerasan dan keduniawian, yang jauh dari hal-hal pengetahuan ketuhanan. Kalau Alquran hanya berisi hal-hal yang populer saja (maksud saya, hal-hal yang umum sifatnya), maka semua orang pun sudah tahu dan meskipun tidak membaca Alquran tak ada bedanya dengan orang yang telah membaca.
Kitabullah harus berani menyatakan dengan jelas seperti apa Allah itu sebenarnya.
Tapi kalau yang disampaikan cuma seputar pemberian nama-nama untuk maksud meninggi-ninggikan, maka saya yakin semua orang di dunia ini juga bisa bila hanya disuruh menyalin nama-nama agung untuk Tuhan.
Apa ada orang yang kasih julukan buruk buat Tuhan, misal Tuhan itu maha rendah, atau Tuhan itu maha ****. Jelas tidak ada, kan, Mas? Tentu semua orang yang bermaksud memuja-muja Tuhan pasti akan membuat nama-nama pujian yang serba baik untuk Tuhannya.
Maka dari itu, saya menyimpulkan bahwa ASMAUL HUSNA yang diajarkan nabi Muhammad SAW adalah suatu pengajaran yang umum sifatnya. Yang saya yakin, walau bukan nabi sekalipun juga bisa mengoleksi daftar nama-nama Tuhan bahkan bisa lebih banyak dari jumlah nama yang tertera dalam ASMAUL HUSNA. Secara logis, kemampuan nabi Muhammad ini adalah kemampuan yang juga dimiliki oleh siapapun manusia di muka bumi.
Nah, ini sanggahan pertama saya untuk Mas Kelihgo. Maaf, memang agak mendalam nih, jadi saya mohon Mas tidak tergesa-gesa dalam membacanya, karena saya juga mengharapkan jawaban murni dari Mas sendiri bukan hasil nyontek dari tulisan orang lain.
Seperti yang sudah saya nyatakan dalam surat undangan saya, bahwa Mas tidak perlu menjadi seorang Profesor untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Yang diperlukan hanya AKAL & HATI NURANI YG JUJUR. Itu saja.


Terima kasih atas jawaban cepat dari Mas Doni (eh Kelihgo). [Pakai panggilan Kelihgo aja ya? Biar para pembaca nggak bingung.]
Mas banyak sekali mempostingkan bukti-bukti keajaiban Alquran. Itu semua saya sudah tahu. Bahkan ayat-ayat toleransi juga sudah saya hafal sejak saya masih seorang Muslim. Tapi sekalipun banyak bukti-bukti yang disodorkan dan banyak ayat-ayat baik yang saya ketahui tertulis dalam kitab suci Alquran, itu tidak membuat saya semakin kusyuk dan beriman pada Islam. Mata saya tidak bisa mengesampingkan begitu saja hal-hal buruk dalam Islam dan menutupinya dengan hal-hal baik. Karena menurut saya, sebuah agama haruslah sempurna, tak boleh ada cacat walau hanya satu.
Apabila sebuah agama mengklaim dirinya sebagai agama yang berasal dari Tuhan (kita tahu Tuhan itu baik) dan sekalipun separuh ajarannya adalah ajaran baik tetapi ia ada mengajarkan hal-hal yang di luar akal sehat dan menyalahi hati nurani, maka jatuhlah agama itu. Ini ibarat setitik nila merusak susu sebelanga. Ajaran Allah haruslah sempurna, tak boleh ada cela-nya.
[color=darkred]Mungkin Mas Kelihgo tetap bisa bertahan dalam Islam karena berusaha mengesampingkan hal-hal buruk itu, dan hanya memperhatikan sisi-sisi baiknya saja. Tetapi apakah ini cara beriman yang benar?
Saya mau kasih contoh. Para pengikut Soko Asahara juga begitu percaya pada alirannya, saking percayanya mereka sehingga mereka tidak bisa membedakan mana benar dan mana salah. Mereka menurut saja ketika diminta mengalirkan gas beracun di sebuah stasiun kereta api bawah tanah di Tokyo untuk menewaskan ratusan orang tak berdosa. Ini akibatnya, apabila seorang percaya secara membuta sehingga tak lagi menggunakan akal dan hati nuraninya.
Contoh di atas adalah contoh di luar agama Islam. Padahal, di dalam agama kita sendiri ada cukup banyak bukti kejadian-kejadian biadab yang melibatkan orang-orang Muslim fanatik. Mereka ada yang rela meledakkan dirinya demi untuk imannya kepada nabi Muhammad dalam menuntaskan misi jihad Islami. Kalau saja mereka melakukan itu tanpa melibatkan orang-orang tak berdosa, kita mungkin hanya menganggap ini sebagai suatu kebodohan yang merugikan dirinya sendiri. Tetapi yang terjadi dengan misi bom bunuh diri ini justru merugikan orang lain yang tak tahu apa-apa. Matinya mereka juga membawa kematian bagi ribuan orang tak berdosa.
Kita adalah manusia berakal, kita bukan ikut-ikutan tapi kita yg memilih dan menentukan sendiri dengan bebas apa yang kita suka.
Mas Kelihgo banyak menampilkan ayat-ayat baik di forum ini. Saya hargai itu untuk pembelaan Mas terhadap Islam, dan ayat-ayat itu saya sudah ketahui dari dulu. Dengan kata lain, walaupun saya tahu di dalam Alquran ada ayat-ayat seperti itu, tetapi hal itu tidak mengubah pendirian saya untuk tidak meninggalkan agama ini.
Daripada saya yang menampilkan ayat-ayat buruk, saya harap Mas Kelihgo-lah yang menampilkan ayat-ayat buruk itu di sini untuk kita diskusikan. Apakah Mas Kelihgo berani menampilkan ayat-ayat buruk itu di sini? Saya tidak ingin para pembaca menganggap Mas sebagai seorang pembohong karena hanya menampilkan ayat-ayat baik saja, sementara banyak dalam Alquran ayat-ayat yang buruk, yang mencerminkan kebencian, permusuhan, sikap intoleransi dan pemaksaan kehendak.
Seperti yang saya katakan di atas, Mas, bahwa keberadaan ayat-ayat baik dalam Alquran tidak bisa menutupi keberadaan ayat-ayat buruk yg juga ada dalam kitab yang sama. Setitik nila merusak susu sebelanga. Kitab Allah haruslah berisi hal-hal yang baik saja, dan tidak boleh ada ajaran buruk di dalamnya.
Saya tunggu jawaban jujur dari Mas Kelihgo.

nb.
Dalam jawaban terakhir Mas, mengatakan: “Seandainya Kitabullah menerangkan seperti apa ALLAH S.W.T.maka apakah yakin tetap beriman Manusia itu?”
Justru ini yg merupakan tanda tanya besar bagi saya, Mas, kenapa Allah SWT takut mengungkapkan yg sebenarnya tentang dirinya. Apakah karena Allah SWT takut kita tahu siapa dia yang sebenarnya, sehingga nanti kita malah akan meninggalkan dia sesudah kita tahu siapa dia yang sebenarnya?
Kenapa Allah begitu paranoid dan tidak percaya diri? Mengapa Allah tidak berani (atau, tidak bisa) menyatakan dengan terus terang kepada manusia seperti apa hakikat pribadi Allah? Kalau Allah tidak berani mengungkap siapa dirinya, berarti percuma saja dia memberi kita kitab suci, karena yang dibahas hanya masalah yang umum saja yang semua manusia juga sudah mengetahuinya?
Siapakah manusia yang tidak tahu Allah itu maha besar? Siapakah manusia yang tidak tahu Allah itu Maha tinggi? Siapakah manusia yang tidak tahu Allah itu Maha pengasih? Siapakah manusia yang tidak tahu Allah itu Maha Esa? Saya yakin bahwa para Ahlul Kitab dan bahkan para penyembah dewa juga punya pengetahuan ini. Jadi apa yang bisa kita dapatkan dari kitab suci bila yang diajarkan hanya hal-hal yg sudah populer?
Kita seharusnya bisa mendapatkan gambaran jelas mengenai seperti apa pribadi Allah itu melalui kitab suci, dan bukannya terus-menerus diajak main petak umpet atau main tebak-tebakan dan hanya berani mengatakan bahwa Allah itu maha misterius.
Jika Allah itu maha misterius, berarti sang nabi sendiri tidak tahu dan tidak pernah mengenal bagaimana tuhannya?
Jika sang nabi mengaku pernah bertemu Allah, kenapa dia mengatakan Allah itu misterius? Bukankah ini bukti kalau dia sebenarnya memang tak pernah bertemu dengan Allah?
Jadi benar, dong, kalau nabi Muhammad hanya mengarang-ngarang saja?
Hal inilah salah satunya yang mengganggu pikiran saya, sehingga saya tidak bisa lagi terus bertahan dalam agama ini. Malah saya merasa, saya telah dibohongi oleh nabi Muhammad. Bagaimana menurut pendapat Mas Kelihgo?
Saya minta pendapat jujur dari Mas pribadi, jangan mengutip dari kata-kata orang lain.
Wassalamualaikum Wr. Wb.


Mas Kelihgo, jawabnya kok lama sih?
Okelah.
Saya mau tanya:
Benarkah nabi Muhammad tidak pernah mengaku dirinya pernah bertemu Allah?
Lalu bagaimana dengan kisah Isra Miraj?
Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: "Aku didatangi mereka (malaikat), kemudian mengajakku ke Sumur Zam Zam. Lalu dadaku dibedah, kemudian dibasuh dengan Air Zam Zam. Lalu aku dikembalikan."
HR Muslim (162.2), Kitab Iman, Bab Isra Rasulullah ke Langit dan Kewajiban Shalat.
mendapat kabar gembira akan masuk surga, yaitu Ukasyah bin MihshanDari Ibnu Abbas, ia telah berkata: Ketika Nabi SAW diisra`kan, beliau melewati seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka ada banyak orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka beberapa orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka tidak ada seorangpun sampai beliau melewati kelompok yang besar. Aku berkata: “Siapa Ini?” Dijawablah (oleh Jibril): “Musa dan kaumnya. Akan tetapi angkatlah kepalamu, kemudian lihatlah!” Kemudian ada kelompok besar yang memenuhi ufuk dari sebelah sana dan dari sebelah sana. Lalu dikatakan (oleh Jibril): “Mereka adalah umatmu dan yang lainnya adalah kelompok dari umatmu yang berjumlah tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).” Kemudian beliau masuk (ke kamar beliau) dan mereka (para sahabat) tidak menanyai beliau dan beliau tidak merangkan kepada mereka. Maka mereka berkata: "Kami adalah mereka itu tadi". Dan ada pula yang berkata: "Mereka adalah anak-anak kami yang lahir dalam fitrah dan Islam". Kemudian Nabi SAW keluar, lalu bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan besi panas, tidak meruqyah, dan tidak pula bertakhayul (tathayyur). Dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka.” Lantas Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata: “Saya termasuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya.” Kemudian yang lain lagi berdiri lalu berkata pula: “Saya termasuk mereka?" Beliau menjawab: “Kamu telah didahului oleh Ukasyah (dalam bertanya demikian).”
HR at-Tirmidzi (2446). Beliau berkata: "Ini adalah hadits hasan shahih".
Dalam hadits ini terdapat tambahan seorang sahabat lagi yang
Dari Ibnu Mas'ud, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diisra'kan. Iapun bertanya: "Wahai Muhammad, suruhlah umatmu mengucapkan salam kepadaku, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya surga subur tanahnya, manis airnya, dan terhampar luas. Dan bahwasanya tanamannya adalah (ucapan dzikir) Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar."
HR at-Tirmidzi (3462), Kitab Doa-Doa dari Rasulullah, Bab Dalil tentang Keutamaan Tasbih, Takbir, Tahlil, dan Tahmid. Beliau berkata: Ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini dari hadits Ibnu Mas'ud. Dihasankan al-Albani dalam ash-Shahihah (I:105) dengan dua syahid (penguat) dari hadits Ibnu 'Umar dan hadits Abu Ayyub al-Anshari.
.Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW : "..... Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama'ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu'ah. Dan ada pula 'Isa bin Maryam alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim 'alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril): "Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!" Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: "Pada malam aku diisra'kan aku melewati Musa di gundukan tanah merah ketika dia sedang shalat di dalam kuburnya."
HR Muslim (2375), Kitab Keutamaan-Keutamaan, Bab Sebagian Keutamaan Musa.
Dari Abu al-'Aliyah: Telah mengisahi kami sepupu Nabi kalian, yaitu Ibnu 'Abbas radhiya`llahu 'anhuma, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: "Pada malam aku diisra'kan aku telah melihat Musa, seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi kekar, seakan-akan dia adalah lelaki Suku Syanu'ah. Dan aku telah melihat 'Isa, seorang lelaki bertinggi sedang, berambut lurus. Dan aku juga telah melihat Malaikat Penjaga Neraka dan Dajjal" termasuk ayat yang telah diperlihatkan Allah kepada beliau. {maka janganlah kamu ragu tentang pertemuan dengannya (yaitu Musa) (as-Sajdah, 32: 23)}.
Dari Anas dan Abu Bakrah, dari Nabi SAW: "Malaikat-malaikat kota Madinah berjaga-jaga dari Dajjal."
HR al-Bukhari (3239), Kitab Permulaaan Penciptaan, Bab Penyebutan Malaikat
Abu Hurairah telah berkata: Pada malam beliau diisra`kan, disodorkan kepada Rasulullah SAW dua gelas minuman: khamr (minuman keras) dan susu. Beliaupun melihat keduanya, lalu mengambil susu. Jibril berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki engkau kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu."
HR al-Bukhari (4709), Kitab Tafsir al-Qur'an, Bab Firmannya {yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram (al-Isra', 17: 1)}.
Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika aku diisra`kan, aku bertemu Musa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Dia adalah lelaki, aku mengira beliau bersabda: Kurus, agak tinggi. Rambutnya ikal, seakan-akan dari suku Syanu'ah. Beliau bersabda: Dan aku bertemu 'Isa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Beliau bersabda: Tingginya sedang, berkulit kemerahan, seperti baru keluar dari Dimas, yaitu pemandian. Dan aku telah melihat Ibrahim. Beliau bersabda: Dan aku adalah keturunannya yang paling mirip dengannya. Beliau bersabda: Dan disodorkan kepadaku dua gelas minuman. Salah satunya susu, dan yang lain khamr. Kemudian dikatakan kepadaku: Ambillah yang mana dari keduanya yang engkau kehendaki! Akupun mengambil susu, kemudian meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku: "Engkau telah ditunjuki kepada fitrah" atau "Engkau telah menepati fitrah. Adapun sungguh seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu."
HR at-Tirmidzi (3130), Kitab Tafsir al-Qur`an dari Rasulullah, Bab Dan Dari Surah Bani Isra`il. Beliau berkata: "Ini adalah hadits hasan shahih."
Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika aku dimi'rajkan [Tuhanku yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi], aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakari wajah-wajah dan dada-dada mereka. Aku bertanya: "Siapa mereka wahai Jibril?" Ia menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menumpuk-numpuk harta."
HR Abu Dawud (4878), Kitab Adab, Bab Tentang Ghibah. Menurut al-Albani hadits ini shahih lighairih dalam ash-Shahihah (II: 533) dan Shahih at-Targhib (III: 2839). Sebelumnya dalam Takhrij al-Misykat (III: 5046) beliau belum menetapkan derajatnya
Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: Ketika aku jalan-jalan di Surga, aku mendekati sungai yang di kedua bantarannya terdapat kubah-kubah dari rangkaian mutiara. Aku bertanya: "Apa ini wahai Jibril?" Ia menjawab: "Ini adalah al-Kautsar yang diberikan Tuhanmu kepadamu." Maka ingatlah (ketahuilah) oleh kalian bahwa tanahnya atau debunya adalah kesturi yang harum semerbak.
HR al-Bukhari (6581), Kitab Kelembutan Hati, Bab Tentang al-Kautsar.
Asy-Syaibani berkata: Aku menanyai Zirr bin Hubaisy tentang firman Allah 'Azza wa Jalla {maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (an-Najm, 53: 9)}. Dia menjawab: "Telah mengabariku Ibnu Mas'ud bahwasanya Nabi SAW telah melihat (bentuk asli) Jibril. Ia memiliki enam ratus sayap."
HR Muslim (174), Kitab Iman, Bab tentang Penyebutan Sidratul Munta
Dari Abu Dzar, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: "Apakah paduka melihat Tuhan paduka?". Beliau menjawab: "Cahaya. Bahwasanya aku melihat-Nya (demikian)."
HR Muslim (178.1), Kitab al-Iman, Bab Tentang Sabdanya "Bahwasanya aku melihat-Nya sebagai cahaya" dan Tentang Sabdanya "Aku telah melihat cahaya".
Dari 'Abdullah bin Syaqiq, ia telah bersabda: Aku bertanya kepada Abu Dzar: 'Seandainya aku melihat Rasulullah SAW, pasti aku akan menanyainya.' Lantas dia berkata: "Tentang sesuatu apa?" Aku akan menanyainya: "Apakah baginda melihat Tuhan baginda?" Abu Dzar berkata: "Aku telah menanyainya, kemudian beliau jawab: 'Aku telah melihat cahaya'."
HR Muslim (178.2), Kitab al-Iman, Bab Tentang Sabdanya "Bahwasanya aku melihat-Nya sebagai cahaya" dan Tentang Sabdanya "Aku telah melihat cahaya".
Dari 'Abdullah bin 'Ushm Abu 'Ulwan, dari Ibnu 'Abbas, ia telah berkata: "Nabi kalian SAW diperintah lima puluh kali shalat (sehari semalam), kemudian beliau meminta keringanan Tuhan kalian agar menjadikannya lima kali shalat."
HR Ibnu Majah (1400), Kitab Mendirikan Shalat dan Sunnah-Sunnah di Dalamnya, Bab Dalil tentang Kewajiban Shalat Lima Waktu dan (Kewajiban) Menjaganya.
Menurut riwayat Imam Ahmad: Dari Abu 'Ulwan, ia telah berkata: Aku telah mendengar Ibnu 'Abbas berkata: "Diwajibkan atas Nabi kalian SAW lima puluh kali shalat (sehari semalam), kemudian beliau meminta Tuhannya. Maka Dia menjadikannya lima kali (shalat)."
HR Ahmad (2739). Menurut al-Albani, sanad hadits Ibnu 'Abbas ini hasan lighairih.
Dari 'Abdullah (bin Mas'ud), ia telah berkata: "Ketika Rasulullah SAW diisra'kan, beliau berakhir di Sidratul Muntaha yang berada di langit keenam. Ke sanalah berakhir apa-apa yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan ke sana berakhir apa-apa yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana.
Ia berkata: {Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (an-Najm, 53: 16)}. Ia berkata: "yaitu dengan permadani emas"
Ia berkata: "Kemudian Rasulullah SAW diberi tiga hal. Diberi shalat lima waktu dan diberi penutup Surah al-Baqarah serta diampuni dosa-dosa besar bagi siapapun dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun."
HR Muslim (173), Kitab Iman, Bab tentang Penyebutan Sidratul Muntaha.
Kemudian Mas Kelihgo menulis: "...Dalam ISlam sikap terlalu Fanatik dilarang keras..."
Saya juga mau bertanya, kenapa sikap terlalu fanatik dilarang keras? Dan, adakah ayatnya yang mengatakan itu?
Dalam beragama, orang memang harus fanatik, kan Mas?
Tapi kenapa dalam Islam hal itu malah dilarang? Kenapa? Apakah karena fanatiknya Islam berbeda dengan fanatiknya agama-agama lain?
Wassalam,
Maisaroh




Terima kasih untuk jawaban Mas Keli yang bagus.
Sepertinya Mas Keli punya kemampuan buat meng-Islamkan saya lagi, nih.
Mas Keli menyodorkan Hadish Sahih Muslim tentang pengakuan nabi Muhammad yang melihat Allah berwujud cahaya. Dengan kata lain, nabi Muhammad telah bertemu Allah langsung, tanpa melalui perantara seperti ketika di bumi.
Nah, bila nabi Muhammad telah bertemu secara langsung dengan Allah, seharusnya dia bisa bercerita lebih rinci mengenai pribadi Allah. Tapi kenapa yang dibahas hanya masalah sholat? Apakah Allah bukan sebuah pribadi? Apakah Allah cuma sebuah benda keramat belaka yang menciptakan makhluk untuk menyembah-nyembah dirinya?
Dan apakah kisah Isra Miraj benar-benar pernah terjadi?
Di dalam perjalanan Isra Miraj itu nabi Muhammad bertemu dengan nabi Ibrahim, nabi Isa, nabi Musa, malaikat Malik, dll. Apakah cerita ini sahih?
Kalau Mas mengatakan agama Islam itu mengedepankan akal sehat, lalu di mana akal sehat kita sewaktu mempercayai cerita ini? Adakah saksi yang melihat langsung peristiwa naiknya Muhammad ke langit? Kenapa semua hanya berdasarkan atas cerita 1 orang saja? Apakah ini yang Mas katakan Islam berlandaskan pada akal sehat? Di mana akal sehatnya, Mas?
Saat Nabi SAW diisrakan ke Masjid al-Aqsha, subuhnya orang-orang membicarakan hal itu. Maka sebagian orang murtad dari yang awalnya beriman dan membenarkan beliau. Mereka memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar radhiya`llahu anhu. Mereka bertanya: "Apa pendapatmu tentang sahabatmu yang mengaku bahwasanya dia diisrakan malam tadi ke Baitul Maqdis?" Dia (Abu Bakar) menjawab: "Apakah ia berkata demikian?" Mereka berkata: Ya. Dia menjawab: "Jika ia mengatakan itu, maka sungguh ia telah (berkata) jujur." Mereka berkata: "Apakah engkau membenarkannya bahwasanya dia pergi malam tadi ke Baitul Maqdis dan sudah pulang sebelum subuh?" Dia menjawab: "Ya, sungguh aku membenarkannya (bahkan) yang lebih jauh dari itu. Aku membenarkannya terhadap berita langit (yang datang) di waktu pagi maupun sore." Maka karena hal itulah, Abu Bakar diberi nama ash-Shiddiq (orang yang membenarkan).
HR al-Hakim dari Aisyah radhiyallahu anha. Shahih lighairih menurut al-Albani dalam ash-Shahihah (I: 306).
Datang sekelompok orang-orang Quraisy kepada Abu Bakar. Mereka kemudian berkata: "Apa pendapatmu tentang sahabatmu ! Ia mengaku bahwasanya dia mendatangi Baitul Maqdis, kemudian pulang ke Makkah dalam satu malam saja ?! Abu Bakar menjawab: "Apakah ia berkata demikian?" Mereka berkata: "Ya." Dia menjawab: "Sungguh ia telah jujur." (menurut riwayat al-Baihaqi: Dia menjawab: "Ya, sungguh aku membenarkannya bahkan yang lebih jauh dari itu. Aku membenarkannya terhadap berita langit." Dia berkata: Maka karena itulah, dia diberi nama ash-Shiddiq).
HR Qasim bin Tsabit (dan al-Baihaqi) dalam ad-Dalail mereka masing-masing dari Jabir (al-Isra, h. 60-61
Pembedahan kedua sesudah kenabian
Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: "Aku didatangi mereka (malaikat), kemudian mengajakku ke Sumur Zam Zam. Lalu dadaku dibedah, kemudian dibasuh dengan Air Zam Zam. Lalu aku dikembalikan."
HR Muslim (162.2), Kitab Iman, Bab Isra Rasulullah ke Langit dan Kewajiban Shalat.
[sunting] Beliau SAW melihat gambaran para nabi dan umatnya
Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: Ketika Nabi SAW diisra`kan, beliau melewati seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka ada banyak orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka beberapa orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka tidak ada seorangpun sampai beliau melewati kelompok yang besar. Aku berkata: “Siapa Ini?” Dijawablah (oleh Jibril): “Musa dan kaumnya. Akan tetapi angkatlah kepalamu, kemudian lihatlah!” Kemudian ada kelompok besar yang memenuhi ufuk dari sebelah sana dan dari sebelah sana. Lalu dikatakan (oleh Jibril): “Mereka adalah umatmu dan yang lainnya adalah kelompok dari umatmu yang berjumlah tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).” Kemudian beliau masuk (ke kamar beliau) dan mereka (para sahabat) tidak menanyai beliau dan beliau tidak merangkan kepada mereka. Maka mereka berkata: "Kami adalah mereka itu tadi". Dan ada pula yang berkata: "Mereka adalah anak-anak kami yang lahir dalam fitrah dan Islam". Kemudian Nabi SAW keluar, lalu bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan besi panas, tidak meruqyah, dan tidak pula bertakhayul (tathayyur). Dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka.” Lantas Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata: “Saya termasuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya.” Kemudian yang lain lagi berdiri lalu berkata pula: “Saya termasuk mereka?" Beliau menjawab: “Kamu telah didahului oleh Ukasyah (dalam bertanya demikian).”
HR at-Tirmidzi (2446). Beliau berkata: "Ini adalah hadits hasan shahih".
Dalam hadits ini terdapat tambahan seorang sahabat lagi yang mendapat kabar gembira akan masuk surga, yaitu Ukasyah bin Mihshan.
[sunting] Beliau SAW bertemu beberapa kelompok malaikat dan mereka berwasiat sama untuk umat beliau
Dia (Anas) berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: "Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali mereka berkata: Wahai Muhammad, suruhlah umatmu berbekam."
HR Ibnu Majah (3479), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Disahkan al-Albani dalam Shahih al-Jami` (II: 5671), dan Takhrij al-Misykat (4544).
Dari Ibnu 'Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: "Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali tiap mereka berkata kepadaku: Wajib bagimu wahai Muhammad untuk berbekam."
HR Ibnu Majah (3477), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah (V: 2263) dan Shahih al-Jami` (II: 5672).
[sunting] Beliau SAW bertemu Nabi Ibrahim yang berwasiat untuk umat beliau
Dari Ibnu Mas'ud, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diisra'kan. Iapun bertanya: "Wahai Muhammad, suruhlah umatmu mengucapkan salam kepadaku, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya surga subur tanahnya, manis airnya, dan terhampar luas. Dan bahwasanya tanamannya adalah (ucapan dzikir) Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar."
HR at-Tirmidzi (3462), Kitab Doa-Doa dari Rasulullah, Bab Dalil tentang Keutamaan Tasbih, Takbir, Tahlil, dan Tahmid. Beliau berkata: Ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini dari hadits Ibnu Mas'ud. Dihasankan al-Albani dalam ash-Shahihah (I:105) dengan dua syahid (penguat) dari hadits Ibnu 'Umar dan hadits Abu Ayyub al-Anshari.
[sunting] Beliau SAW mengimami shalat jama'ah para nabi di Masjid Al-Aqsha
Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW : "..... Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama'ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu'ah. Dan ada pula 'Isa bin Maryam alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim 'alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril): "Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!" Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam.
HR Muslim (172).
[sunting] Beliau SAW melihat Nabi Musa, Nabi Isa, Dajjal, dan Malaikat Malik
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: "Pada malam aku diisra'kan aku melewati Musa di gundukan tanah merah ketika dia sedang shalat di dalam kuburnya."
HR Muslim (2375), Kitab Keutamaan-Keutamaan, Bab Sebagian Keutamaan Musa.
Dari Abu al-'Aliyah: Telah mengisahi kami sepupu Nabi kalian, yaitu Ibnu 'Abbas radhiya`llahu 'anhuma, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: "Pada malam aku diisra'kan aku telah melihat Musa, seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi kekar, seakan-akan dia adalah lelaki Suku Syanu'ah. Dan aku telah melihat 'Isa, seorang lelaki bertinggi sedang, berambut lurus. Dan aku juga telah melihat Malaikat Penjaga Neraka dan Dajjal" termasuk ayat yang telah diperlihatkan Allah kepada beliau. {maka janganlah kamu ragu tentang pertemuan dengannya (yaitu Musa) (as-Sajdah, 32: 23)}.
Dari Anas dan Abu Bakrah, dari Nabi SAW: "Malaikat-malaikat kota Madinah berjaga-jaga dari Dajjal."
HR al-Bukhari (3239), Kitab Permulaaan Penciptaan, Bab Penyebutan Malaikat.
[sunting] Disodorkan kepada beliau SAW dua gelas minuman
Abu Hurairah telah berkata: Pada malam beliau diisra`kan, disodorkan kepada Rasulullah SAW dua gelas minuman: khamr (minuman keras) dan susu. Beliaupun melihat keduanya, lalu mengambil susu. Jibril berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki engkau kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu."
HR al-Bukhari (4709), Kitab Tafsir al-Qur'an, Bab Firmannya {yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram (al-Isra', 17: 1)}.
Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika aku diisra`kan, aku bertemu Musa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Dia adalah lelaki, aku mengira beliau bersabda: Kurus, agak tinggi. Rambutnya ikal, seakan-akan dari suku Syanu'ah. Beliau bersabda: Dan aku bertemu 'Isa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Beliau bersabda: Tingginya sedang, berkulit kemerahan, seperti baru keluar dari Dimas, yaitu pemandian. Dan aku telah melihat Ibrahim. Beliau bersabda: Dan aku adalah keturunannya yang paling mirip dengannya. Beliau bersabda: Dan disodorkan kepadaku dua gelas minuman. Salah satunya susu, dan yang lain khamr. Kemudian dikatakan kepadaku: Ambillah yang mana dari keduanya yang engkau kehendaki! Akupun mengambil susu, kemudian meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku: "Engkau telah ditunjuki kepada fitrah" atau "Engkau telah menepati fitrah. Adapun sungguh seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu."
HR at-Tirmidzi (3130), Kitab Tafsir al-Qur`an dari Rasulullah, Bab Dan Dari Surah Bani Isra`il. Beliau berkata: "Ini adalah hadits hasan shahih."
[sunting] Peristiwa ketika Mi'raj
[sunting] Beliau SAW melihat suatu kaum yang mencakari wajah dan dada mereka sendiri
Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika aku dimi'rajkan [Tuhanku yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi], aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakari wajah-wajah dan dada-dada mereka. Aku bertanya: "Siapa mereka wahai Jibril?" Ia menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menumpuk-numpuk harta."
HR Abu Dawud (4878), Kitab Adab, Bab Tentang Ghibah. Menurut al-Albani hadits ini shahih lighairih dalam ash-Shahihah (II: 533) dan Shahih at-Targhib (III: 2839). Sebelumnya dalam Takhrij al-Misykat (III: 5046) beliau belum menetapkan derajatnya.
[sunting] Peristiwa di Surga
Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: Ketika aku jalan-jalan di Surga, aku mendekati sungai yang di kedua bantarannya terdapat kubah-kubah dari rangkaian mutiara. Aku bertanya: "Apa ini wahai Jibril?" Ia menjawab: "Ini adalah al-Kautsar yang diberikan Tuhanmu kepadamu." Maka ingatlah (ketahuilah) oleh kalian bahwa tanahnya atau debunya adalah kesturi yang harum semerbak.
HR al-Bukhari (6581), Kitab Kelembutan Hati, Bab Tentang al-Kautsar.
[sunting] Peristiwa di Sidratul Muntaha
[sunting] Beliau SAW melihat bentuk asli Malaikat Jibril
Asy-Syaibani berkata: Aku menanyai Zirr bin Hubaisy tentang firman Allah 'Azza wa Jalla {maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (an-Najm, 53: 9)}. Dia menjawab: "Telah mengabariku Ibnu Mas'ud bahwasanya Nabi SAW telah melihat (bentuk asli) Jibril. Ia memiliki enam ratus sayap."
HR Muslim (174), Kitab Iman, Bab tentang Penyebutan Sidratul Muntaha.
[sunting] Beliau SAW melihat Cahaya Tuhannya
Dari Abu Dzar, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: "Apakah paduka melihat Tuhan paduka?". Beliau menjawab: "Cahaya. Bahwasanya aku melihat-Nya (demikian)."
HR Muslim (178.1), Kitab al-Iman, Bab Tentang Sabdanya "Bahwasanya aku melihat-Nya sebagai cahaya" dan Tentang Sabdanya "Aku telah melihat cahaya".
Dari 'Abdullah bin Syaqiq, ia telah bersabda: Aku bertanya kepada Abu Dzar: 'Seandainya aku melihat Rasulullah SAW, pasti aku akan menanyainya.' Lantas dia berkata: "Tentang sesuatu apa?" Aku akan menanyainya: "Apakah baginda melihat Tuhan baginda?" Abu Dzar berkata: "Aku telah menanyainya, kemudian beliau jawab: 'Aku telah melihat cahaya'."
HR Muslim (178.2), Kitab al-Iman, Bab Tentang Sabdanya "Bahwasanya aku melihat-Nya sebagai cahaya" dan Tentang Sabdanya "Aku telah melihat cahaya".
[sunting] Beliau SAW diberi tiga hal, diantaranya adalah shalat lima waktu
Dari 'Abdullah bin 'Ushm Abu 'Ulwan, dari Ibnu 'Abbas, ia telah berkata: "Nabi kalian SAW diperintah lima puluh kali shalat (sehari semalam), kemudian beliau meminta keringanan Tuhan kalian agar menjadikannya lima kali shalat."
HR Ibnu Majah (1400), Kitab Mendirikan Shalat dan Sunnah-Sunnah di Dalamnya, Bab Dalil tentang Kewajiban Shalat Lima Waktu dan (Kewajiban) Menjaganya.
Menurut riwayat Imam Ahmad: Dari Abu 'Ulwan, ia telah berkata: Aku telah mendengar Ibnu 'Abbas berkata: "Diwajibkan atas Nabi kalian SAW lima puluh kali shalat (sehari semalam), kemudian beliau meminta Tuhannya. Maka Dia menjadikannya lima kali (shalat)."
HR Ahmad (2739). Menurut al-Albani, sanad hadits Ibnu 'Abbas ini hasan lighairih.
Dari 'Abdullah (bin Mas'ud), ia telah berkata: "Ketika Rasulullah SAW diisra'kan, beliau berakhir di Sidratul Muntaha yang berada di langit keenam. Ke sanalah berakhir apa-apa yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan ke sana berakhir apa-apa yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana."
Ia berkata: {Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (an-Najm, 53: 16)}. Ia berkata: "yaitu dengan permadani emas"
Ia berkata: "Kemudian Rasulullah SAW diberi tiga hal. Diberi shalat lima waktu dan diberi penutup Surah al-Baqarah serta diampuni dosa-dosa besar bagi siapapun dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun."
HR Muslim (173), Kitab Iman, Bab tentang Penyebutan Sidratul Muntaha.
[sunting] Peristiwa Sepulang Isra Mi'raj
[sunting] Isra Mi'raj merupakan ujian keimanan bagi manusia
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang firman-Nya Ta'ala: "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia" (al-Isra', 17: 60). Ia berkata: Itu adalah dengan mata yang telah dilihat Rasulullah SAW pada malam beliau diisra'kan ke Bait al-Maqdis. Ia berkata: "dan pohon kayu yang terkutuk dalam Al-Qur'an", ia berkata: Itu adalah Pohon Zaqqum.
HR al-Bukhari (3888), Kitab Manaqib, Bab Mi'raj.
[sunting] Beliau SAW menceritakan Isra Mi'raj dan melihat gambaran Baitul Maqdis
Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika malam aku diisra'kan dan subuhnya aku telah sampai di Makkah, aku mengkhawatirkan urusanku, dan aku tahu bahwasanya manusia akan mendustakanku. Kemudian aku duduk bersedih hati.
Ia Ibnu Abbas) berkata: Kemudian melintaslah musuh Allah, Abu Jahl. Dia datang sehingga duduk di dekat beliau, kemudian berkata kepada beliau: Kamu tampak bersedih, apakah ada sesuatu? Rasulullah SAW pun menjawab: Ya. Dia berkata: Apa itu? Beliau menjawab: Sesungguhnya aku diisra'kan malam tadi. Dia berkata: Ke mana? Beliau menjawab: Ke Bait al-Maqdis. Dia bertanya: Kemudian engkau subuh sudah ada di hadapan kami (di Makkah ini)? Beliau jawab: Ya. Ia berkata: Namun dia tidak menampakkan sikap bahwa dia mendustakannya karena takut beliau tidak mau menceritakan hal itu lagi jika kaumnya dipanggilkannya. Dia berkata: Tahukah engkau, jika engkau hendak mendakwahi kaummu, kau harus kisahi mereka apa yang barusan kau ceritakan padaku. Rasulullah SAW pun menjawab: Ya.
Kemudian dia berseru: Kemarilah wahai penduduk Bani Ka'ab bin Lu`ai! Lalu mereka berkumpul kepadanya datang sampai duduk mengelilingi keduanya. Dia berkata: Kisahi kaummu apa yang telah engkau kisahkan kepadaku. Rasulullah SAW pun berkata: Sesungguhnya malam tadi aku diisra'kan. Mereka bertanya: Ke mana? Kujawab: Ke Bait al-Maqdis. Mereka bertanya: Kemudian subuh engkau berada di depan kami. Beliau menjawab: Ya.
Ia (Ibnu Abbas) berkata: Maka ada yang bersorak dan ada yang meletakkan tangannya di atas kepala heran atas kebohongan itu (menurut mereka). Mereka berkata: Dan apakah engkau dapat menyifatkan kepada kami masjid itu? Dan di antara penduduk ada yang pernah pergi ke negeri itu dan pernah melihat masjid itu. Maka Rasulullah SAW bersabda: "Maka aku mulai menyebutkan ciri-cirinya dan tidaklah aku berhenti menyifatkan sehingga aku lupa beberapa cirinya." Beliau bersabda: "Lantas didatangkanlah masjid sampai diletakkan tanpa kesamaran sehingga aku dapat melihat(nya). Maka aku menyifatkannya dengan melihat hal itu."
Ia berkata: Dan sampai ini, ada sifat yang tidak aku hafal.
Ia berkata: Kemudian ada kaum yang berkata: "Adapun sifat tersebut, demi Allah, ia benar."
HR Ahmad (2680). Disahkan al-Albani dalam ash-Shahihah (VII: 3021).
Hasan dan Abu Zaid telah berkata: Abdu`sh Shamad telah berkata: Telah mengisahi kami Hilal, dari Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas, ia telah berkata: Nabi SAW diisra'kan ke Bait al-Maqdis. Kemudian sekembalinya dari malamnya itu, beliaupun mengisahi mereka (umat manusia) mengenai perjalanannya, ciri-ciri Bait al-Maqdis dan unta-unta mereka. Maka saling berbincanglah (gemparlah) manusia.
Hasan berkata: Kami membenarkan Muhammad terhadap apa yang diucapkannnya. Lalu banyak orang yang kembali kafir. Kemudian Allah menebas leher-leher mereka bersama-sama dengan Abu Jahal (ketika Perang Badar). Dan Abu Jahal berkata: "Muhammad menakut-nakuti kita dengan Pohon Zaqqum (terlaknat). Bawalah kemari kurma dan mentega, kemudian laknatlah ia." Dan beliau telah melihat Dajjal dalam bentuknya dengan mata kepala, bukan ketika mimpi saat tidur; 'Isa, Musa, dan Ibrahim semoga shalawat Allah atas mereka. Kemudian Nabi SAW ditanya tentang (ciri-ciri) Dajjal. Beliaupun menjawab: "Tinggi dan besar."
Hasan berkata: Beliau berkata: "Aku melihatnya berkulit putih, tinggi besar. Salah satu matanya juling seperti bintang yang bersinar. Rambut kepalanya seperti ranting-ranting pohon. Dan aku melihat 'Isa sebagai pemuda berkulit putih, kepalanya tegak, bermata tajam, bertubuh bagus. Dan aku melihat Musa (yang) kekar, berkulit sawo matang, (dan) berambut lebat."
Hasan berkata (melanjutkan riwayat marfu' tadi): "Rambutnya indah. Dan aku melihat Ibrahim, maka aku tidak melihat salah satu cirinya kecuali aku melihatnya ada pada diriku. Seakan-akan dia adalah sahabat kalian ini (yaitu Rasulullah sendiri). Kemudian Jibril 'alaihi`s salam berkata: "Berilah salam kepada Malik (malaikat penjaga neraka)", maka aku mengucapkan salam kepadanya."
HR Ahmad (3365). Isnadnya hasan menurut al-Albani.
Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah n : "Sungguh aku telah melihat di al-Hijr dan orang-orang Quraisy menanyaiku tentang perjalanan malamku (isra). Mereka menanyaiku tentang hal-hal dari Baitul Maqdis yang tidak kuperhatikan. Maka akupun gelisah dengan kegelisahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya." Beliau bersabda: "Kemudian Allah menampakkan (gambaran Baitul Maqdis) untukku sehingga aku melihat kepadanya. Tidaklah aku ditanya tentang sesuatupun (mengenai Baitul Maqdis) kecuali aku kabarkan hal itu kepada mereka.
Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama'ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Syanu'ah. Dan ada pula Isa bin Maryam p sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim p sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata: Wahai Muhammad; ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya. Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam."
HR Muslim (172), Kitab Iman, Bab Penyebutan al-Masih bin Maryam dan al-Masih ad-Dajjal.
Ketika Suku Quraisy mendustakanku [ketika aku diisrakan ke Baitul Maqdis], aku berdiri di al-Hijr. Kemudian Allah menampakkan Baitul Maqdis bagiku. Akupun menerangkan kepada mereka tentang ciri-cirinya sementara aku melihat (penampakan) itu.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba- Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda ( kebesaran ) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.( 17:1 )
An - Najm (15) ayat
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu ( dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain.(13)
(Yaitu) di Sidratil Muntaha.(14)
Di dekatnya ada surga tempat tinggal.(15)
Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.(16)
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula )melampauinya.(17)
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda- tanda ( kekuasaan ) Tuhannya yang paling besar.(18)
Tentang kata “Beriman”
Mas mengutipkan Surah Al-Baqoroh ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Oleh karena itu, hendaknya mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di atas jalan petunjuk.” (2:186)
Apa makna “beriman” dalam Islam? Apa betul “beriman” itu hanya “percaya kepada Allah”?
Penduduk Madinah/Mekkah sewaktu agama Islam didirikan juga percaya kepada Allah, tapi mereka dibantai oleh nabi Muhammad (Ingat kisah orang Yahudi di Madinah). Beriman menurut Islam berarti beriman kepada Muhammad sebagai utusan Allah. Kalau tidak percaya Muhammad sebagai rasulullah, dianggap tidak beriman sekalipun orang itu percaya kepada Allah.
Saya kutipkan kisah Muhaiyisah dan Huwaiyisah:
Ketika Muhaiyyishah membunuh Ibnu Sunainah, Huwaiyyishah memukulnya dan berkata, "Hai Musuh Allah, kenapa engkau membunuh Ibnu Sunainah? Demi Allah, itu barangkali karena lemak di perutmu berasal dari hartanya!" Muhaiyyishah berkata, "Demi Allah, aku diperintah untuk membunuhnya oleh orang yang jika ia menyuruhku membunuhmu, aku pasti memenggal lehermu." (Ibn Ishaq)
Muhaiyisah adalah salah seorang pengikut nabi Muhammad. Sedangkan Huwaiyisah belum menjadi pengikut nabi Muhammad, tapi dia juga menyembah Allah.
Dari kutipan hadish di atas sangat nampak perbedaan antara orang yg pengikut nabi dan yg bukan pengikut nabi. Seorang yg bukan pengikut nabi malah lebih mengerti yang haq dari yang batil, sehingga dia mencela kelakuan pengikut nabi itu. Dan lebih parahnya lagi, perintah pembunuhan itu adalah perintah sang nabi sendiri.
Jika non-muslim lebih baik dibanding muslim, jadi pertanda apakah ini?
Keduanya sama-sama menyembah Allah. Tetapi yang membedakan mereka, yang satu pengikut nabi (begitu jahat & tidak berperikemanusiaan) dan yang lain bukan pengikut nabi (tahu mana yg pantas & yg tidak pantas dilakukan).
SEPINTAS LALU TENTANG IBNU ISHAQ : PEROSAK SEJARAH AWAL ISLAM
Namanya Muhamad bin Ishaq . Hidup sezaman dengan Imam Malik dan pernah berjumpa dengan Anas bin Malik dan Said ibnu Musayyab.
Beliau tidak rasminya diangkat sebagai 'bapa sirah' dan cerita-cerita sirah yang bersumber dari beliau banyak bertebaran dalam kitab-kitab sirah kemudiannya . Malah dalam sukatan pelajaran Universiti Al-Azhar terdapat cerita-cerita yang bersumber dari beliau.
Salah seorang anak muridnya Ibnu Hisham telah mengutip secara bebas ( ataupun dengan tapisan yang ringan) cerita-cerita dari Ibnu Ishaq dan memuatkannya di dalam kitabnya yang termasyhur Sirah Ibnu Hisham, sebuah kitab rujukan sirah yang utama masakini.
Ibnu Ishaq ialah seorang penganut Syiah . Anutannya telah mempengaruhi cara beliau berfikir dan telah banyak diabadikan di dalam kitab-kitab yang beliau nukilkan atau dalam siri pengajiannya.
Banyak cerita-cerita ganjil berkenaan kehidupan dan suasana awal Islam yang bersumber hanya dari beliau seorang. Cerita-cerita ini banyak untuk menyokong fahaman syiahnya iaitu samada mengangkat Saidina Ali ra atau keluarganya, mengurangkan sumbangan atau memburuk-burukkan sahabat yang lain terutama Saidina Muawiyah serta sahabat-sahabat utama seperti Abu Bakar , Umar ra
Di antara cerita yang diriwayatkan oleh beliau yang dipertikaikan oleh Ulamak ialah:
a) Kisah Hindun ra , ibu kepada saidina Muawiyah, yang dikatakan memakan jantung Saidinia Hamzah. Cerita ini tidak pernah diceritakn oleh orang lain malah dalam Shahih Bukari , Wahsyi ra yang membunuh Saidina Hamzah tidak pernah menyebut tentang kisah ini. Motif utama ialah mencacatkan Hindun, ibu kepada Muawiyah , musuh utama golongan Syiah.
b) Kekarutan dalam cerita-cerita tentang Muawiyah ra dengan menggambarkan beliau sebagai seorang pemutar belit dan suka mengambil kesempatan. Motifnya ialah untuk mencederakan peribadi sahabat besar ini kerana dengan tercederanya beliau bermakna Quran yang ada hari ini berkemungkinan tercedera juga, kerana beliau adalah salah seorang jurutulis wahyu nabi.
c) Cerita hijrah nabi saw dari rumah beliau saw pada waktu malam dengan Saidina Ali menggantikan tempat tidur baginda saw. Pada mata kasarnya ianya menunjukkan keberanian, kepatuhan dan pengorbanan Saidina Ali. Tetapi dalam kitab hadis paling sahih, Sahih Bukhari , mengatakan nabi saw berhijrah dari rumah Saidina Abu Bakar di waktu siang hari . Dalam Sahih Bukhari dinyatakan dengan jelas peranan keluarga Abu Bakar seperti Abd Rahman, Asma' dan lain-dain dalam peristiwa hijrah ini. Tidak lain cerita yang dibawa oleh Ibnu Ishak ialah untuk menutup sumbangan dan pengorbanan besar Abu Bakar ra sekeluarga sesuai dengan akidah Syiah yang mengkafirkan sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Aisyah dan seterusnya.
d) Kisah Isra' nabi dari rumah Ummu hani' . Ummu Hani ialah kakak kepada Saidina Ali dan masa ini masih lagi belum Islam . Secara sepintas lalu dapat diperhatikan Ibnu Ishak cuba mengaitkan setiap peristiwa besar dengan Saidina Ali sekeluarga. Tetapi dalam kes ini beliau sebenarnya cuba mencederakan maruah Rasullullah saw sendiri . Kalau cerita ini benar, kita akan mengatakan bahawa nabi saw bersunyi-sunyi ( atau tidur) di rumah isteri orang tanpa kehadiran suaminya. Alangkah dahsyatnya fitnah yang ingin dilemparkan oleh Ibnu Ishaq terhadap nabi saw.
e) Kisah mempersaudarakan Ali ra dengan nabi saw. Suatu kisah yang tidak masuk akal bila dipandang dari tujuan 'mempersaudarakan' itu sendiri, kerana sememangnya Ali adalah saudara kepada nabi saw dan beliau ra adalah sama-sama dari Mekah. Tidak lain ini adalah untuk menaikkan martabat Ali ra dari yang sepatutnya untuk merasionalkan hujjah bahawa beliaulah yang sepatutnya dilantik menjadi khalifah selepas wafatnya nabi saw.
Banyak lagi kisah aneh yang dikeluarkan oleh beliau seorang. Maka tidak menghairankan bila ulamak besar mengatakan :
''…..salah seorang dajjal " , " Kami telah menghalau Ibnu Ishaq keluar dari Madinah" - Imam Malik
"Dia meriwayatkan hadith-hadith karut dari orang-orang majhul ( orang yang tidak diketahui latarbelakangnya) " - Ali Ibnu Al-Madini
" Muhammad bin Ishaq adalah di antara perawi-perawi yang tidak menepati syarat-syarat hadith sahih" - Imam Nawawi
"Aku bersaksi bahawa Muhammad bin Ishaq adalah pendusta besar " - Yahya bin Said al-Qatthan
Mereka yang men'ta'dil' kannya bersikap demikian kerana tidak mengetahui dengan jelas kedudukan sebenar beliau samada kerana tidak hidup sezaman dengannya atau tidak dapat mengesan sifat sebenar disebabkan oleh sikap "Taqiyah" yang diamalkan sesuai dengan kehendak ajaran Syiah yang dianutinya.
Catatan sejarah perlu diperbetulkan kerana ini akan menjaga keutuhan agama Islam ini sendiri. Kita tidak akan berpuashati menganut agama Islam sekiranya nabinya besekedudukan dengan isteri orang, sahabat-sahabat utama yang meneruskan syiar ini berperangai tidak senonoh malah menjadi kafir selepas peninggalan nabi saw, jurutulis wahyu di mana Quran yang kita pegang hari ini merupakan orang yang tidak boleh dipercayai dan sentiasa mencari peluang untuk habuan dunia malah beliau datang dari keluarga yang tidak bertamaddun.
Sikap yang perlu diambil ialah kita wajib menolak seorang yang bernama Muhammad bin Ishaq secara total untuk menyelamatkan Islam yang kita cintai ini secara total. Wallahua'lam
Despite the fact that this story is mentioned in Sunan Abu Dawood, it is weak and unreliable. Concerning isnad (i.e. chain of reporters), this Hadith was narrated by servant of Zaid Ibn Thabet on authority of daughter of Muhayyisah. Servant of Zaid is Muhammad Ibn Ibi Muhammad and he is unreliable, and daughter of Muhayyisah is unknown. Concerning matn (i.e. text), it says that Prophet Muhammad (peace be upon him) ordered to kill all Jews which is illogical even if Christian missionaries want to believe it! Because the Jews had a treaty with Muslims and there was no evidence that Muslims indulged in killing any Jew other than this Hadith. Moreover, Ibn Hesham himelf who edited the work of Ibn Ishaq suggests that the incident of Huwayyisah and Muhayyisah occurred during slaughter of Bani-Qurayzah, not after murder of Ka’b(11). Needless to say, there is no such thing as “Kill any Jew that come under your power”.

Return to Ruang Debat Terbatas
Users browsing this forum: No registered users