. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Magribi, PSK Timur Tengah Bertarif 2,5 Juta Per Dua Jam

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Magribi, PSK Timur Tengah Bertarif 2,5 Juta Per Dua Jam

Postby daniel-ntl » Mon Jul 02, 2012 3:47 pm

http://www.wartakotalive.com/detil/beri ... er-Dua-Jam

Magribi, PSK Timur Tengah Bertarif 2,5 Juta Per Dua Jam
Warta Kota/wid
Dibaca : 189 kali Komentar: 0
Image
Bogor, Warta Kota

Dua wanita cantik asal Timur Tengah tertangkap ketika menjajakan diri sebagai wanita penghibur di kawasan Puncak, Jawa Barat, Jumat (29/6/2012) malam. Sampai tadi malam keduanya masih diperiksa.

Dua pekerja seks komersial (PSK) impor yang bertarif Rp 2,5 juta per dua jam itu ditangkap setelah dijebak polisi yang berpura-pura mem-booking-nya. Mereka adalah SA (26) dan DS (22).

Dua wanita yang selama ini disebut 'magribi' itu ditangkap di sebuah hotel di Puncak, Kecamatan Cisarua. Hingga semalam mereka masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Bogor. Rencananya, dua wanita itu akan diserahkan ke Kantor Imigrasi Bogor untuk kemudian dideportasi.

"Magribi itu sebutan untuk PSK impor seperti DS dan SA. Awalnya kami enggak percaya, soalnya Puncak itu kawasan wisata. Namun karena terus banyak laporan, anggota kami melakukan penyelidikan dengan menyamar, dan ternyata laporan-laporan itu benar," ujar Ajun Komisaris Imron Ermawan, Kasat Reskrim Polres Bogor, Sabtu (30/6/2012) siang.

Untuk dua jam, kata Imron, setiap 'magribi' meminta bayaran Rp 2,5 juta. Oleh karena itu, untuk menangkap dua PSK tersebut petugas reserse yang menyamar sebagai konsumen pun membayar sebesar Rp 5 juta.

"Saat traksaksi sudah terjadi, barulah keduanya 'diamankan' dan langsung dibawa ke mapolres," ujarnya seraya menjelaskan, penangkapan itu berlangsung sekitar pukul 22.00.

Dalam pemeriksaan yang memakai penerjemah, dua PSK itu mengaku masih ada rekan mereka asal Timur Tengah yang berprofesi serupa dan beroperasi di wilayah Bogor.

Dalam pemeriksaan itu DS dan SA tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian, sehingga pihak polres segera berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Bogor. "Rencananya sore ini atau hari Senin nanti mereka akan kami serahkan ke Kantor Imigrasi Bogor," kata Imron.

Menurut informasi yang diperoleh Imron, jumlah wanita Timur Tengah yang berprofesi serupa di kawasan Bogor mencapai belasan orang. Saat ini polisi masih menyelidiki keberadaan para 'magribi' lainnya.

"Yang terbukti baru dua. Tapi, di lokasi kontrakan mereka jumlah wanita asal Timur Tengah itu banyak, mencapai belasan orang," ujar Imron saat dihubungi Minggu (1/7/2012) malam.

Para wanita itu berasal dari berbagai negara, seperti Maroko, Bahrain, Yordania, dan Mesir.

Menurut dua wanita yang tertangkap, mereka datang ke Indonesia menggunakan paspor resmi kemudian memilih tinggal di Puncak dengan cara mengontrak rumah. "Mereka mengaku sudah setahun beroperasi sebagai PSK," kata Imron.

Saat ditanya tentang pelanggan para PSK itu, Imron mengatakan bahwa mereka berasal dari berbagai kalangan. "Mereka (para PSK) hanya bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit. Komunikasinya lebih banyak pakai bahasa Arab," katanya.

Imigran gelap

Sementara itu, suasana di sebuah wilayah di kawasan Puncak tidak ubahnya kawasan perkampungan Arab. Di setiap sudut jalan, mulai dari kawasan Cilember hingga kawasan Tugu Selatan mudah ditemui pria-pria berhidung mancung dan berkulit putih.

Biasanya para pria Arab itu keluar menjelang malam. Mereka biasanya berkumpul di tempat keramaian seperti supermarket. Salah satu lokasi favorit bagi orang Arab itu adalah Supermarket Britania yang lokasinya di depan Pasar Cisarua.

Di supermarket terbesar di kawasan Cisarua itu bisa dengan mudah ditemukan belasan pria Timur Tengah berkumpul berdasarkan kelompok masing-masing. Sebagian dari mereka berkumpul bersama wanita-wanita pribumi yang dijadikan 'istri kontrak'. Jarang ditemui wanita Arab berkumpul dengan pria-pria dari negara yang sama.

"Kalaupun ada wanita Arab-nya, biasanya mereka satu keluarga yang sengaja berlibur di Puncak," ujar Mirawan (45), warga Cisarua.

Menurut warga Cisarua lainnya, praktik prostitusi yang dilakukan orang-orang Timur Tengah itu mulai marak sehingga meresahkan masyarakat.

Seorang petugas Kantor Kecamatan Cisarua mengatakan, biasanya transaksi terjadi di kafe, hotel, dan vila yang kerap dikunjungi oleh turis dan sesama imigran asal Timur Tengah.

"Warga tidak tahu dari mana asal mereka. Warga hanya tahu mereka itu imigran," kata petugas tersebut.

Menurut dia, sulit untuk melakukan tindakan terkait dugaan prostitusi terselubung tersebut. Pasalnya, petugas belum menemukan langsung adanya praktik kotor seperti itu di lingkungan yang terkenal agamis ini.

Hal serupa dikatakan anggota Polsek Cisarua. Menurut petugas intel yang tidak bersedia menyebutkan namanya itu, keberadaan PSK imigran tersebut memang nyata. Bahkan tak jarang mereka berkeliaran di pinggir jalan untuk mencari pria hidung belang sesama imigran.

Menurut data yang dimiliki oleh kepolisian, terdapat setidaknya seribu imigran yang bermukim sementara di kawasan Puncak. Akan tetapi, berdasarkan data hasil penertiban, hanya terdapat sekitar 700 imigran yang masih memiliki izin tinggal, sedangkan 149 lainnya imigran gelap. Sebagian besar imgran gelap itu asal Afganistan, sedangkan 44 orang berasal dari Somalia.

Maraknya orang asing, terutama asal Timur Tengah, di kawasan Cipanas dan kawasan Puncak yang masuk wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diduga terkait dengan kaburnya belasan imigran dari tahanan imigrasi Sukabumi beberapa waktu lalu.

Ketua DPRD Kabupaten Cianjur Gatot Subroto mengatakan, penanganan terhadap imigran gelap di kawasan Puncak itu terkendalabeberapa masalah. “Beberapa kendala di antaranya menyangkut aturan penertiban. Para orang asing tidak bisa ditertibkan begitu saja, karena ada aturan internasional. Namun, jika tidak ditertibkan, keberadaanya bisa meresahkan masyarakat setempat, terutama menyangkut sistem sosial,” ujarnya seperti dikutip VIVAnews.

Menurut Gatot, langkah sementara yang dilakukan Pemkab Cianjur adalah membentuk tim pengawasan orang asing. Saat ini, draf pembentukan tim sedang dalam tahap penyusunan. Pembuatan draf ini sebagai kepanjangan akan diaktifkannya kembali lembaga pengawasan orang asing oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam waktu dekat.

“Orang-orang Timur Tengah yang berada di Cipanas dan Puncak mulai bertambah jumlahnya. Bahkan, mereka mulai membentuk komunitas sendiri. Kala malam Minggu kita bisa melihat mereka berkeliaran di sepanjang jalan atau asyik kongko-kongko di kedai-kedai Arab yang kian marak di kawasan Puncak dan Cipanas,” kata Gatot.

Dia menjelaskan, dari sisi ekonomi mikro, ada hal positif dengan keberadaan mereka. Di antaranya, banyak kedai bergaya Arab yang menjual berbagai makanan dan keperluan seperti di Arab. Namun, secara ekonomi makro, keberadaan mereka itu tidak membuat bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD) Pemkab Cianjur.

“Yang paling ditakutkan adalah masuknya wacana lain, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan terorisme. Saya juga dapat kabar, banyak imigran yang gagal menyeberang (ke Australia dsb) dan tertangkap aparat lari dan bersembunyi di kawasan ini,” tuturnya.

Yang paling Gatot takutkan adalah maraknya kawin kontrak. Ini, kata dia, merupakan pelecehan dan akan menjadi beban panjang bagi pemerintah daerah maupun bagi pemerintah pusat. “Mereka enak saja menikah dalam waktu tertentu. Setelah selesai kontrak dan punya anak, mereka bisa pergi dengan santai. Lalu, anak-anaknya tanggung jawab siapa? Kondisi ini sudah terjadi,” keluhnya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Cianjur, Tom Dani Garniat, mengatakan, payung hukum berbentuk SK bupati itu nantinya akan mengatur mengenai tugas pokok dan fungsi tim pengawasan terhadap orang asing di Kabupaten Cianjur.

Aturan ini akan tidak jauh berbeda dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No 49/2010 dan Permendagri No 50/2010 tentang Pedoman Tata Kerja Tim Pengawasan Orang Asing.

“Nantinya kinerja atau tupoksi tim pengawasan orang asing ini diatur melalui SK bupati yang saat ini drafnya masih disusun. Kami koordinasi dengan berbagai instansi terkait, semisal kejaksaan dan kepolisian, juga dengan LSM,” kata Tom.

Dia mengharapkan, terbitnya SK bupati menyangkut tim pengawasan orang asing ini bisa menjadi upaya antisipasi menyusul maraknya kasus warga asing ilegal di berbagai di daerah. Di Kabupaten Cianjur pun tak tertutup kemungkinan banyak warga asing yang belum terdata.

“Apalagi saat ini di Cianjur sudah banyak berdiri perusahaan penanaman modal asing yang mempekerjakan tenaga asing. Tentunya ini harus diawasi agar mereka terdata. Bukan hanya tenaga asing, termasuk juga peneliti maupun turis, karena dikhawatirkan izin tinggal mereka habis,” ujarnya. (wid)
daniel-ntl
Translator
 
Posts: 1643
Joined: Mon Mar 31, 2008 2:03 pm

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users