. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Kisah Polisi Jadi Teroris

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 6:47 am

Kisah Polisi Jadi Teroris (1)
Tribunnews.com - Kamis, 23 September 2010 17:50 WIB
Image
TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Mantan anggota Polri M Sofyan Tasauri mulai diadili di PN Depok karena terlibat terorisme di Aceh, Kamis (23/9/2010)


Pasal yang Menjerat M Sofyan Tasauri
- Pasal 9 UU Terorisme 15 /2003 ancaman hukuman mati.
- Pasal 15 Jo pasal 7 UU Terorisme karena berencana ikut dalam jaringan
terorisme ancaman seumur hidup
- Pasal 13 UU Terorisme tentang penggunaan dana pribadi untuk membeli
senjata guna pelatihan terorisme
- UU Darurat 12/1951 tentang kepemilikan senjata api


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan anggota Samapta Polres Depok (disersi), Muhammad Sofyan Tsauri, alias Abu Ahyass alias Marwan mulai diadili di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Kamis (23/9/2010).

Sofyan diadili terkait jaringan dan aksi teroris di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ia didakwa dengan empat pasal berlapis dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sofyan dipecat dari kesatuan Polri karena alasan poligami. Pasca pemecatan itulah Sofyan mulai menjalin hubungan dengan kelompok teroris. Sejak itulah ia aktif dalam jaringan teroris hingga turut dalam pendirian camp pelatihan kemiliteran teroris di Jantho, Aceh.

Februari 2009, Sofyan membawa anak didiknya yang berlatih kemiliteran di Aceh ke Jakarta yang selanjutnya berlatih di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.

Setelah tak menjadi polisi, Sofyan sering berlatif air soft gun di Depok.Ia juga menjadi pedagang senjata maupun peralatan permainan air soft gun di Depok.

Sejak Juni 2009, Sofyan membeli senjata dari dua orang anggota Polri yang bertugas di gudang bengkel senjata api Polri Cipinang, Jakarta Timur, yakni Tatang Mulyadi dan Abdi Tunggal. Perantaranya adalahPosma Barimbing, yang merupakan Anggota Polri Bagian logistik di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

Hingga Maret 2010, telah terjual 28 pucuk senjata dalam berbagai jenis, serta 19.999 butir peluru kepada Sofyan Tasauri.

Senjata-senjata itulah yang kemudian dipergunakan Sofyan untuk berlatih di camp pelatihan teroris di Aceh. Ketika digerebek Densus 88 dan Brimob Polda NAD, senjata itu dipergunakan untuk melawan sehingga dua polisi tewas.

Editor : yulis
http://www.tribunnews.com/2010/09/23/be ... di-teroris
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby AnakBokap » Fri Sep 24, 2010 11:25 am

Itu fotonya si Copian (baca sofyan) yak... wajahnya kalem banget apalagi dengan dandanannya... peci, baju gamis (dari kata agamis yak?) dan jenggot.... hmmm... kalau di indonesia dandanan kayak gini dandanan khas budaya mana yak?....

salam
ab
AnakBokap
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 59
Joined: Fri Apr 16, 2010 10:49 am

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 10:02 pm

Dulu Polisi, Kini Teroris - 1
Beli 19.999 Peluru Polri untuk Teror
Jumat, 24 September 2010 | 07:39 WIB
Image
Tribunnews.com/Bian Harnansa
Mantan anggota Polri, M Sofyan Tasauri, mulai diadili di Pengadilan Negeri Depok karena terlibat terorisme di Aceh, Kamis (23/9/2010).



JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan anggota Samapta Polres Depok (disersi), Muhammad Sofyan Tsauri alias Abu Ahyass alias Marwan mulai diadili di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Kamis (23/9/2010).

Sofyan diadili terkait jaringan dan aksi teroris di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ia didakwa dengan empat pasal berlapis dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sofyan dipecat dari kesatuan Polri karena alasan poligami. Pasca pemecatan itulah Sofyan mulai menjalin hubungan dengan kelompok teroris. Ia lantas aktif dalam jaringan teroris hingga turut dalam pendirian kamp pelatihan kemiliteran teroris di Jantho, Aceh.

Februari 2009, Sofyan membawa anak didiknya yang berlatih kemiliteran di Aceh ke Jakarta yang selanjutnya berlatih di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.

Setelah tak menjadi polisi, Sofyan sering berlatif air soft gun di Depok. Ia juga menjadi pedagang senjata maupun peralatan permainan air soft gun di Depok.

Sejak Juni 2009, Sofyan membeli senjata dari dua anggota Polri yang bertugas di gudang bengkel senjata api Polri Cipinang, Jakarta Timur, yakni Tatang Mulyadi dan Abdi Tunggal.

Perantaranya adalah Posma Barimbing, anggota Polri Bagian logistik di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

Hingga Maret 2010, telah terjual 28 pucuk senjata dalam berbagai jenis, serta 19.999 butir peluru kepada Sofyan Tsauri.


Senjata-senjata itulah yang kemudian dipergunakan Sofyan untuk berlatih di kamp pelatihan teroris di Aceh. Ketika digerebek Densus 88 dan Brimob Polda NAD, senjata itu dipergunakan untuk melawan sehingga dua polisi tewas. (Bian Harnansa dan Nurmulia Rekso P)

Editor: yuli | Sumber : Tribunnews.com
http://nasional.kompas.com/read/2010/09 ... ntuk.Teror
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 10:09 pm

Kisah Polisi Jadi Teroris
Saya Bangga Jadi Teroris

Tribunnews.com - Jumat, 24 September 2010 01:22 WIB
Image
Tribunnews.com/Bian Harnansa
Mantan anggota Polri M Sofyan Tasauri mulai diadili di PN Depok karena terlibat terorisme di Aceh, Kamis (23/9/2010)


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bian Harnansa

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - M Sofyan Tsauri adalah polisi yang memilih menjadi teroris. Pangkat terakhirnya Brigadir sebelum dipecat pada 2009 akibat melakukan poligami dan desertir.

Tak ada kekecewaan atas pilihan hidupnya itu. Sofyan yang turut mendirikan camp pelatihan kemiliteran teroris di Jantho, justru merasa bangga menjadi teroris. Ia memilih menjadi teroris karena ingin menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Berikut hasil wawancara Tribunnews.com dengan Sofyan Tsauri alias Abu Ahyass alias Marwan di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Kamis (23/9/2010):

Saya bukan penyusup atau intel polisi. Saya ini adalah buah dari dakwah tauhid. Kalau saya susupan, saya tempatnya bukan di dalam sel.

Saya ditangkap bersama istri saya. Kalau mau tahu bagaimana saya ditangkap, tanya istri saya.

Saat penangkapan,suasananya sangat dramatis, ada tembakan di jalan. Saya bukan susupan. Saya sangat menyayangkan kalau ada yang bilang saya intel penyusup.

Saya sudah memberikan mereka 28 senjata api dan puluhan ribu peluru. Justru saya dikhianati oleh mereka. Saya menjadi kambing hitam atas kegagalan jihad di Aceh.

Jihad Aceh sudah kita rencanakan. Mungkin mereka tidak cross check ke sana. Mungkin mereka minim pengetahuannya tentang saya. Bisa di cross check ke Polres Depok siapa saya.

Saya itu awalnya ingin menegakkan syariat Islam untuk membawa Indonesia ke jalan yang lebih baik. Karena hanya dengan syariat Islam di Indonesia akan menjadi lebih baik.

Tokoh mujahid yang saya suka adalah sosok Dulmatin. dan saya memang sengaja mencari tahu keberadaan dia untuk bergabung. Karena allah, saya akhirnya bertemu Dulmatin. Kemudian saya dan beliau ketemu di Aceh,lalu mengadakan program latihan di Aceh. Pelatihan jihad.

Saya ketemu Dulmatin di Aceh akhir 2008 dan awal 2009. Saya waktu itu sudah desersi. Saya juga bilang sama Dulmatin kalau saya ini desertir polisi karena bulan Juni 2009 dipecat.

Banyak rumor beredar,saya dipecat karena sakit hati lalu cari jalan lain. Itu salah. Saya sebelum menjadi polisi saya sudah aktif berdakwah. Kemudian karena tuntutan, dan panggilan dakwah tauhid saya memilih jalan untuk berjihad.

Saya tidak merasa di khiananti korps yang thogut (kepolisian). Saya sudah keluar dari polisi, baru saya jadi teroris. Apa yang dilakukan ini bukan tindakan teror. Ini adalah ibadah, ini perintah Allah yang wajib.

Saya bersama Dulmatin sebulan di Aceh. Berkeliling ke semua wilayah Aceh karena kita mengumpulkan faksi-faksi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) disana untuk jihad. Kita cari orang GAM yang mau bertempur kembali.

Banyak yang mau ikut. Ada yang berasal dari pesantren, mantan-mantan GAM juga ada dan banyak dari beberapa elemen.


Simak hasil wawancara lainnya pada share link yang telah disediakan oleh Tribunnews.com

Penulis : bian_tribun
Editor : olan_gultom

http://www.tribunnews.com/2010/09/24/sa ... di-teroris

Komentar (3)

#1 | Vanny_Nangoi | Jumat, 24 September 2010 07:30 WIB | Reply | Like (belum ada)
setiap manusia mempunyai pilihan masing-masing,namun pilihan itu harus benar-benar kita kaji, percuma kita berkorban tapi diri kita tidak "selamat"
#2 | arryhamid | Jumat, 24 September 2010 18:01 WIB | Reply | Like (belum ada)
Kalo melihat kronologis Sofyan Tsauri mulai desersi dan dipecat bln juni 2009, pdhl ia sdh melatih teroris di kawasan Jantho pd bln Februari 2009, serta memasok 28 pucuk senjata api dan 19 ribu amunisi kpd pok teroris, terlihat ada kejanggalan. jgn2 Sofyan tsauri memang sengaja diperintahkan atasannya utk melatih suatu kelompok teroris lalu stlh terbentuk baru dilaporkan agar disergap oleh densus 88 (membuat konflik dan diselesaikan sendiri/utk mencari nama).
#3 | arryhamid | Jumat, 24 September 2010 18:06 WIB | Reply | Like (belum ada)
28 senjata api & 19 ribu amunisi yg dipasok ke kelompok teroris di Aceh berasal dari gudang senjata Mabes Polri, suatu jumlah yg sangat besar. apakah hilangnya 28 pucuk senjata api dan 19 ribu amunisi ini ada unsur kelalaian atau memang kesengajaan ??? bagi kami masy umum, melihat hal tersebut terasa aneh dan menjadi bertanya-tanya, apakah kelompok teroris itu memang benar-benar ada atau memang ada yg membentuk lalu dia sendiri yg menyergapnya (demi nama baik). Wallahu a'lam bissawab.
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 10:23 pm

Dulu Polisi, Kini Teroris - 2
Ini Bukan Teror, Ini Perintah Allah

Jumat, 24 September 2010 | 08:07 WIB
Image
Tribunnews.com/Bian Harnansa
Mantan anggota Polri, M Sofyan Tsauri, mulai diadili di Pengadilan Negeri Depok karena terlibat terorisme di Aceh, Kamis (23/9/2010).



JAKARTA, KOMPAS.com — M Sofyan Tsauri adalah polisi yang memilih menjadi teroris. Pangkat terakhirnya brigadir sebelum dipecat pada tahun 2009 akibat melakukan poligami dan desersi.

Tak ada kekecewaan atas pilihan hidupnya itu. Sofyan yang turut mendirikan kamp pelatihan kemiliteran teroris di Jantho justru merasa bangga menjadi teroris. Ia memilih menjadi teroris karena ingin menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Berikut penuturan Sofyan Tsauri alias Abu Ahyass alias Marwan
di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Kamis (23/9/2010), kepada Tribunnews.com:

Saya bukan penyusup atau intel polisi. Saya adalah buah dari dakwah tauhid. Kalau saya susupan, saya tempatnya bukan di dalam sel.

Saya ditangkap bersama istri saya. Kalau mau tahu bagaimana saya ditangkap, tanya istri saya.

Saat penangkapan, suasananya sangat dramatis, ada tembakan di jalan. Saya bukan susupan. Saya sangat menyayangkan kalau ada yang bilang saya intel penyusup.

Saya sudah memberikan mereka 28 senjata api dan puluhan ribu peluru. Justru saya dikhianati oleh mereka. Saya menjadi kambing hitam atas kegagalan jihad di Aceh.

Jihad Aceh sudah kami rencanakan. Mungkin mereka tidak crosscheck ke sana. Mungkin mereka minim pengetahuan tentang saya. Bisa di-crosscheck ke Polres Depok, siapa saya.

Saya itu awalnya ingin menegakkan syariat Islam untuk membawa Indonesia ke jalan yang lebih baik karena hanya dengan syariat Islam, Indonesia akan menjadi lebih baik.

Tokoh mujahid yang saya suka adalah sosok Dulmatin,
dan saya memang sengaja mencari tahu keberadaan dia untuk bergabung. Karena Allah, saya akhirnya bertemu Dulmatin. Kemudian saya dan beliau ketemu di Aceh, lalu mengadakan program latihan di Aceh.

Banyak rumor beredar, saya dipecat karena sakit hati lalu cari jalan lain. Itu salah. Saya sebelum menjadi polisi sudah aktif berdakwah.
-- M Sofyan Tsauri, terdakwa teror


Saya ketemu Dulmatin di Aceh akhir tahun 2008 dan awal 2009. Saya waktu itu sudah desersi. Saya juga bilang sama Dulmatin kalau saya ini desertir polisi karena bulan Juni 2009 dipecat.

Banyak rumor beredar, saya dipecat karena sakit hati, lalu cari jalan lain. Itu salah. Saya sebelum menjadi polisi sudah aktif berdakwah. Kemudian karena tuntutan, dan panggilan dakwah tauhid, saya memilih jalan berjihad.

Saya tidak merasa dikhiananti korps yang thogut (kepolisian). Saya sudah keluar dari polisi, baru saya jadi teroris. Apa yang dilakukan ini bukan tindakan teror. Ini adalah ibadah, ini perintah Allah yang wajib.

Saya bersama Dulmatin sebulan di Aceh. Berkeliling ke semua wilayah Aceh karena mengumpulkan faksi-faksi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di sana untuk jihad. Kami cari orang GAM yang mau bertempur kembali.

Banyak yang mau ikut. Ada yang berasal dari pesantren, mantan-mantan GAM juga ada dan banyak dari beberapa elemen. (Bian Harnansa)

Editor: yuli
Dibaca : 39280

http://nasional.kompas.com/read/2010/09 ... ntah.Allah
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 10:33 pm

Kisah Polisi Jadi Teroris
Saya Pun Ingin Bangsa Ini Tentram dan Damai

Tribunnews.com - Jumat, 24 September 2010 04:35 WIB
Tribunnews.com/Bian Harnansah

Image
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bian Harnansa

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tak ada raut penyesalan dari wajah Muh Sofyan Tsauri saat diadili dengan ancaman hukuman mati akibat terlibat teroris kelompok Aceh. Pilihannya menjadi teroris setelah disertir dari polisi dengan pangkat terakhir Brigadir sudah ia pertimbangkan matang.

Dengan tenang, Sofyan mengakui bahwa dari 16 tersangka teroris yang ditangkap di Medan, adalah hasil didikannya di camp pelatihan kemiliteran teroris di Jantho, Aceh. Camp tersebut ia dirikan bersama Dulmatin Cs sebelum tewas digerebek Densus 88.

Berikut penuturan Sofyan kepada Tribunnews.com
di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat:

Insya Allah, (aksi) di Medan itu mereka adalah bagian dari ikhwan-ikhwan kita yang lulusan latihan perjuangan kita (camp pelatihan kemiliteran teroris)
di Aceh.

Saya pernah melatih sampai 100 orang awal 2009 dan kesempatan lain pernah melatih sampai 67 orang. Ini cukup banyak. Orangnya berbeda-beda.

Kalau yang 16 (tersangka teroris Medan) sudah ditangkap, itu mungkin bagian kecil saja. karena belum tertangkap semua.

Dan bisa jadi lebih banyak lagi karena ini program lintas takdzim. Berbagai kelompok-kelompok jihad yang akhirnya membentuk Al Qaeda untuk wilayah Indonesia


Saya tidak tahu siapa yang (jadi) pemimpin saat ini. Karena saya sudah di dalam sel tahanan. Kata Polisi yang memegang peranan Abu Tholut. Tapi kita kan enggak tahu juga, Kalau terakhir ada pengerebekan, ada Abu Tholut.

Saya enggak tahu apakah Abu Bakar Basyir (ABB) terlibat, program ini. Tetapi ternyata dari teman-teman yang lain, dia (Baasyir) ikut menyumbangkan dana.

Tapi saya tidak tahu, karena saya tidak pernah berhubungan dengan Ustad Abu Bakar Baasyir. Ustad Baasyir juga tidak kenal saya. Tapi ternyata sambung menyambung. Jaringan teroris kan under ground, gerakan kita dibawah tanah semua.

Mungkinkan, karena ideologi kita sama, yakni dakwah untuk mengajarkan jihad.


Saya ketemu Dulmatin di Aceh. Tapi sebelumnya ketemu di Jakarta juga sering di rumah saya. Dan kita kalau ke Aceh berangkat sendiri-sendiri. Saya ikut aturan dia karena dia punya sistem security tersendiri.

Saya ingin beribadah. Saya ingin berjihad, saya peduli dengan bangsa ini. Dan saya ini mau tentram mau aman dan itu hanya bisa dilakukan dengan syariat Islam. Saya yakin dengan jihad pemerintah ini akan lebih baik.

Banyaknya korban itu ekses dalam peperangan. Amerika saja yang sudah mempunyai kota, dengan menggunakan dengan teknologi canggih, masih mengenai rakyat sipil (senjatanya). Ini akses karena peperangan pasti menimbulkan korban yang tidak kita inginkan.

Yang pasti, kita tidak pernah menargetkan rakyat sipil.

Dan sekarang, pola kami sudah berubah, dari yang ngebom menjadi peperangan bersenjata. Karena dengan senjata kita lebih fokus dan targetnya jelas.

Tapi kalau bom bisa kena warga sipil dan lainnya. Alasannya supaya lebih fokus jadi kita bisa menghindari korban warga sipil yang tidak perlu.
Dengan senjata, target jelas. Dengan senjata, dan memang faksi-faksi jihad di Indonesia itu lebih setuju dengan cara ini.

Kita jadi punya titik temu disitu. Makanya berbagai macam kelompok seperti NII, Ustad Ana, kelompok Erwin dari kelompok sempalan JI itu ada, dari Al Qaeda itu juga ada. Bahkan kita sudah ke Filipina karena seorang teman kita ada yang meninggal di Filipina.

Kita belum menetukan target serangan waktu itu. Tapi wacana sudah ada. Dan kita sepakat menggunakan bendera Al Qaeda. Antum (anda) mungkin sudah paham bagaimana Al Qaeda itu selalu menargetkan pasti sasaran asing.

Penulis : bian_tribun
Editor : olan_gultom

http://www.tribunnews.com/2010/09/24/sa ... -dan-damai
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 10:41 pm

Ibu Terdakwa Teroris: Saya Serasa Ingin Bunuh Diri
Jum'at, 24 September 2010 - 04:03 wib
Marieska Harya Virdhani - Okezone

Image
Sofyan Tasauri (Foto: okezone)

DEPOK - Salah satu alasan terdakwa teroris Sofyan Tasauri dipecat dari Polres Depok kerena melakukan poligami.

Semasa memberikan pelatihan militer untuk anggota teroris di Aceh Besar, Sofyan menaruh hati terhadap wanita Aceh bernama Nurmala Sari dan menikahinya.

Padahal Sofyan sudah memiliki seorang istri dan tiga orang anak yang tinggal di Perumahan Citra Elok Palsi Gunung Selatan, Cimanggis, Depok. Hal itu dituturkan oleh ibunda Sofyan, Agustin.

Saat mengetahui anaknya melakukan poligami, Agustin mengaku sempat marah besar dan menentang tindakan Sofyan. Untungnya, kata Agustin, Sofyan belum memiliki anak hasil pernikahannya dengan Nurmala.

“Saya tidak setuju, tapi dia berjanji berlaku adil, untung belum punya anak. Apalagi saat mengetahui Sofyan terlibat jaringan teroris, serasa mau bunuh diri saja. Stres menangis terus, lebih baik dia ditangkap seperti ini. Untung tidak ditembak mati oleh Densus,” ujarnya kepada wartawan di Pengadilan Negeri Depok, Kamis (23/9/2010).

Semasa muda, kata Agustin, Sofyan dikenal sebagai sosok pria saleh dan belajar di Pondok Pesantren Al Falah, Kediri, Jawa Timur. Agustin bahkan kerap kali meminta solusi kepada Polres Depok saat anaknya sering membolos dan pergi ke Aceh.

“Saya sudah curiga kok enggak mau kerja. Saya sampai mengadu dan minta tolong sama polisi supaya anak saya berubah. Saya rasa anak saya salah bergaul. Dia terpengaruh, saya pikir dia terkena aliran sesat,”
ungkapnya.
(ton)

http://news.okezone.com/read/2010/09/24 ... bunuh-diri
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Bigman » Fri Sep 24, 2010 10:49 pm

wrote:Banyak yang mau ikut. Ada yang berasal dari pesantren, mantan-mantan GAM juga ada dan banyak dari beberapa elemen. (Bian Harnansa)

UuwwoouuwW!
Koq ngga ada nyang dari pura, wihara, kelenteng, gereja, dll?
Kenape bisa gitchu yah......! Image
Ape mang pesantren sumber terrorist yah?
\:D/
User avatar
Bigman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3234
Joined: Sat Jan 03, 2009 8:19 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 10:55 pm

Bekas Polisi Indonesia Mengaku Latih Teroris
Mohammad Sofyan Tsauri menjalin hubungan dengan kelompok teroris, termasuk Al-Qaida dan Abu Sayyaf tak lama setelah mundur dari kepolisian tahun 2008.

Kamis, 23 September 2010
Image
Foto: ASSOCIATED PRESS
Mohammad Sofyan Tsauri, dalam sidang di pengadilan Depok hari Kamis. Bekas anggota Polri ini mengaku melatih 170 anggota jaringan teroris di propinsi Aceh.


Seorang bekas polisi Indonesia mengaku telah melatih 170 anggota jaringan teroris yang dibongkar tahun ini di propinsi Aceh.

Mohammad Sofyan Tsauri memberitahu para wartawan bahwa dia menjalin hubungan dengan kelompok teroris termasuk al-Qaida dan Abu Sayyaf tak lama setelah dia mengundurkan diri dari kepolisian pada tahun 2008. Dia mengatakan tindakannya itu adalah "kewajiban agama yang diperintahkan oleh Tuhan."

Lebih dari 100 orang telah ditahan sejak polisi menggerebek kamp Aceh pada bulan Februari lalu. Kamp itu berada di bawah komando Dulmatin, gembong teroris Indonesia yang mendalangi pengeboman di Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Dulmatin berhasil ditewaskan oleh polisi pada penggerebekan di Pamulang, Tangerang Selatan pada tanggal 9 Maret 2010.

Sofyan Tsauri yang bertindak sebagai pengawal Dulmatin berhasil ditangkap pada saat penggerebekan itu. Sofyan yang pernah bertugas di Polres Depok, diajukan ke pengadilan Depok, Jawa Barat hari Kamis dengan dakwaan terlibat dalam beberapa komplotan untuk menyerang warga asing dan kedutaan negara-negara Barat.

http://www.voanews.com/indonesian/news/ ... 68364.html
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Sep 24, 2010 11:20 pm

Penyerbu Polsek Dilatih Brigadir
Image
Sripo/Bian
"Kalau saya susupan saya tempatnya bukan di dalam sel. Saya ditangkap bersama istri saya. Kalau mau tahu gimana saya ditangkap, tanya istri saya"Sofyan TsauriTerdakwa Kasus Terorisme


Sriwijaya Post - Jumat, 24 September 2010 09:13 WIB

JAKARTA, SRIPO — Mantan anggota Sabhara Polres Metro Depok, Jawa Barat, Brigadir Satu Muhammad Sofyan Tsauri alias Abu Ahyas alias Marwan (34) merasa yakin, kelompok perampok Bank CIMB Niaga Medan, dan penyerang markas Polsek Hamapran Perak, Deliserdang merupakan anak didiknya. Sofyan mengaku bersama almarhum Dulmatin, ia pernah melatih menembak ratusan orang di Aceh dan di tempat lainnya.

“Insya Allah, yang di Medan itu (perampok Bank CIMB Niaga dan yang menyerang Mapolsek Hamparan Perak, Red) mereka bagian dari ichwan-ichwan (saudara atau sahabat, Red) kami yang lulusan latihan perjuangan kami,” kata Sofyan dalam perbincangan dengan Tribunnews dan beberapa wartawan untuk media asing menjelang sidang perdana di Pengadilan Negeri Depok, Kamis (23/9) pagi.

Dalam insiden penyerangan oleh belasan orang ke Mapolsek Hamapran Perak, Rabu (22/9) dini hari, tiga orang anggota polisi tewas diberondong puluhan peluru. Pelaku diduga geng teroris yang sebelumnya, 18 Agustus lalu merampok Rp 400 juta dana dari Bank CIMB Niaga Medan.

Dalam sidang perdana kemarin, Sofyan didakwa dengan empat pasal berlapis dengan ancaman hukuman mati. Undang-undang yang dikenakan menjerat adalah Pasal 9 UU terorisme 15 tahun 2003 ancaman hukuman mati, Pasal 15 Jo pasal 7 UU terorisme berencana ikut dalam jaringan terorisme ancaman seumur hidup, dan Pasal 13 tentang penggunaan dana pribadi untuk membeli senjata pelatihan terorisme, serta UU Darurat 12/1951 tentang kepemilikan senjata api.

Terdakwa ditangkap anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror di kawasan Cileungsi, Bogor, Jabar, tidak lama setelah penyergapan kelompok teroris yang berlatih di NAD, awal hingga pertengahan tahun ini.

Selain Sofyan, ada tiga anggota polisi lainnya yang terkait kasus ini yakni Brigadir Satu Tatang Mulyadi; dan Brigadir Satu Abdi Tunggal dari Satuan Logistik Bagian Gudang Senjata di Jakarta Timur. Sofyan membeli senjata api dan amunisi dari Tatang Mulyadi dan Abdi Tunggal melalui perantara Posma Barimbing, anggota Polri Bagian Logistik di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua Depok.

Sofyan, mengaku pernah melatih sampai 100 orang awal 2009 di Aceh. Kemudian di tempat lain, yang dia tidak sebut, pernah melatih sampai 67 orang. Orang yang dididik dan dilatih berbeda-beda. “Kalau yang 16 sudah ditangkap. Itu mungkin bagian kecil saja. karena belum tertangkap semua,” katanya.

Bertemu Dulmatin Dia mengaku pernah bertemu dengan gembong teroris yang ditembak mati polisi Maret lalu, Dulmatin, dan mereka bersama-sama melatih tembak-menembak di Aceh dan di Depok. “Saya ketemu Dulmatin di Aceh akhir 2008 dan awal 2009. Saya waktu itu sudah desersi dari polisi, saya juga bilang sama Dulmatin kalau saya ini desersi polisi. Karena bulan Juni 2009 dipecat,” kata Sofyan.

Tokoh mujahid yang saya suka adalah sosok Dulmatin dan saya memang sengaja mencari tahu keberadaan dia untuk bergabung, karena Allah, saya akhirnya bertemu Dulmatin. Kemudian saya dan beliau ketemu di Aceh lalu mengadakan program latihan di Aceh. Pelatihan jihad,” ujarnya.

Sebelum bertemu di Aceh, Sofyan mengaku sempat bertemu Dulmatin di Jakarta. Mereka sering di rumah Sofyan di Depok. “Dan kami, kalau ke Aceh sendiri-sendiri, tetapi saya ikut aturan dia karena dia punya sistem security tersendiri,” tandas Sofyan.

Sofyan bersama Dulmatin berada selama sebulan di Aceh, keliling ke semua wilayah di Aceh. Dalam perjalanan itu, misi mereka mengumpulkan faksi-faksi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk jihad. Mereka mencari dan merekrut orang GAM yang mau bertempur kembali. Dan hasil yang didapat cukup banyak. Ada yang dari kalangan ingin berjuang, ada dari pesantren, dan mantan GAM.

Menurut dia, jihad Aceh sudah direncanakan jauh hari. Dan dia tertarik bergabung, karena sejak awal ingin menegakkan syariat Islam untuk membawa Indonesia ke jalan yang lebih baik. Dalam paham yang dia anut, hanya dengan syariat Islam di Indonesia akan menjadi lebih baik.

Sofyan mengakui banyak rumor yang menyebut dia sakit hati karena dipecat dari keanggotaan polisi karena berpoligami lalu mencari jalan lain. Namun penilaian itu, menurut Sofyan salah. “Saya sebelum menjadi polisi saya sudah aktif berdakwah. Kemudian karena tuntutan, dan panggilan dakwah Tauhid saya memilih jalan untuk berjihad,” katanya.

Dia juga membantah tudingan sebagai penyusup atau intel polisi yang sengaja disusupkan. Dia berdalih murni buah dari dakwah tauhid. “Kalau saya susupan saya tempatnya bukan di dalam sel. Saya ditangkap bersama istri saya. Kalau mau tahu gimana saya ditangkap, tanya istri saya. Saat penangkapan, suasananya dramatis ada tembakan di jalan. Jadi saya bukan susupan. Saya sangat menyayangkan kalau ada yang bilang saya intel penyusup,” katanya.

Bukti lain kalau Sofyan bukan intel susupan ke jaringan teroris, ia mengaku sudah memberikan jaringan teroris sebanyak 28 senjata dan puluhan ribu peluru. Dia berkelit, “Justru saya dikhianati oleh mereka, saya menjadi kambing hitam atas kegagalan jihad di Aceh.” (tribunnews/rek)

http://www.sripoku.com/view/47184/penye ... h_brigadir
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Sat Sep 25, 2010 7:16 pm

Dari Polisi Jadi Teroris
Jumat, 24 September 2010 | 07:14 WIB


Ketika para anggota jaringan teroris Aceh kini sedang diburu oleh aparat kepolisian karena kasus serangan terhadap sebuah markas Polsek di Deli Serdang (Sumatra Utara), kemarin sejumlah anggota jaringan itu, salah-satunya Sofyan Tasauri (alias Abu Ahyass alias Marwan), diadili di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat.

Sebelumnya, aparat Densus 88 telah menangkap puluhan dari jaringan teroris Aceh, yang juga disebut Alqaeda Serambi Mekkah. Sofyan, 33, ditangkap pada 9 Maret di Pamulang (Jawa Barat) sesaat setelah Dulmatin tewas ditembak aparat Densus.

Sofyan disebut-sebut sebagai pengawal Dulmatin —gembong teroris yang dicari-cari di Asia Tenggara setelah sebelumnya banyak terlibat dalam gerilya bersama pemberontak separatis di Moro (Filipina selatan) yang berpenduduk mayoritas Muslim.


Dalam sidang kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Totok Bambang menuntut terdakwa Sofyan hukuman mati. Sofyan didakwa dengan empat pasal berlapis. Pasal-pasal tersebut adalah pasal 9 UU 15 /2003 tentang Terorisme dengan ancaman hukuman mati, kemudian pasal 15 Jo pasal 7 UU tentang Terorisme karena berencana ikut dalam jaringan terorisme dengan ancaman hukuman seumur hidup, serta pasal 13 tentang penggunaan dana pribadi untuk membeli senjata bagi pelatihan terorisme. Selain itu juga dijerat dengan UU Darurat 12/1951 tentang Kepemilikan Senjata Api.

Totok menjelaskan, Sofyan mendanai pelatihan militer di Kabupaten Aceh Besar bersama Dulmatin. Jumlahnya Rp 325 juta untuk jual beli senjata sebanyak 17 kali.

Dana tersebut berasal dari Dulmatin, dan jual beli senjata dengan transaksi berupa 24 pucuk senjata, terjadi sebanyak 17 kali. Senjata-senjata itu, antara lain, jenis AR-15 ada 9 buah, dan AK-47 ada 4 buah. Ada juga 2 buah AK-58, 6 buah revolver, FN, Chalanger dan Remington masing-masing satu buah, dengan 19.999 butir peluru, serta magazine 93 buah.

Pengacara terdakwa, Nurlan HN mengaku keberatan dengan dakwaan yang diajukan JPU. Menurutnya, jika mengacu pada Tempat Kejadian Perkara (TKP) maka seharusnya sidang digelar di Aceh, tapi justru sidang digelar di Depok, mengacu pada pasal pelatihan anggota teroris. “Dakwaan Jaksa tidak konsisten,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, walaupun ia tidak merasa dirugikan dengan persidangan yang digelar di Depok, pada persidangan berikutnya yang akan digelar pada 6 Oktober 2010 mendatang, pihaknya akan mengajukan eksepsi.

Sosok Sofyan pernah menjadi bahan perbincangan menarik setelah tertangkap dan lantas terungkap latar belakangnya. Diketahui bahwa Sofyan adalah mantan anggota kepolisian yang bertugas di Polres Depok, Jawa Barat.

Ia mulai bergabung di Polres Depok sekitar 2000. Alumnus Sekolah Kepolisian Negara Lido, Sukabumi, Jawa Barat, itu pernah ditempatkan di bagian Bimas, lalu ke Bagian Pengamanan Objek Vital, selanjutnya dipindah ke bagian Samapta.

Sebelum dipecat pada 2006, lantaran setahun tak pernah masuk, Sofyan pernah dikirim ke Aceh pada 2004 sebagai anggota Tim Da`i Kamtibmas Polres Depok. Seorang sumber di Polres Depok berpangkat brigadir kepala bercerita, sebelum berangkat ke Aceh, Sofyan sudah memiliki pemahaman agama yang kuat.

“Ceramah-nya bagus, menggebu-gebu, dan keras sekali dalam menyampaikan kritikan,” kata sumber itu seperti dikutip tempointeraktif.com.

Menurut keterangan Mabes Polri, selama di Aceh, Sofyan justru terlibat kegiatan kelompok dakwah pimpinan Oman Abdulrahman. Menikahi gadis Aceh, Sofyan tak pernah masuk kantor lagi sepulang dari Aceh. Tahun 2006 dia dipecat.

Selepas dipecat, pada tahun 2008 Sofyan gabung kelompok Oman Abdulrahman, tersangka bom Cimanggis, dan dibawa ikut pelatihan ke Aceh. Mereka berencana berangkat ke Jalur Gaza sebagai sukarelawan jihad.

Untuk persiapan, Sofyan mengajak delapan anggota sukarelawan berlatih menembak di Markas Komando (Mako) Brimob Jakarta, tepatnya di lapangan tembak sebelah belakang. Mereka berlatih secara ilegal lewat seorang teman Sofyan di Brimob.

Tidak sampai seminggu berlatih menembak di Mako Brimob, keberangkatan sukarelawan ke Jalur Gaza ternyata batal. Sofyan dan delapan sukarelawan pun membubarkan diri. Pada tahun 2009, nama Sofyan muncul dalam transaksi jual-beli senjata ilegal di Kalimantan Timur.

Menurut Mabes Polri, keterlibatan Sofyan dalam kegiatan teroris Aceh hanya sebagai pemasok senjata ilegal. Dia ikut mencarikan senjata bekas yang sudah afkir (disposal). Sofyan memperoleh senjata itu melalui seorang temannya yang bertugas di bagian logistik Polri.

Delapan sukarelawan yang pernah diajak Sofyan berlatih menembak di Mako Brimob juga ditangkap oleh Kepolisian. Kedelapan sukarelawan itu ditangkap bersamaan dengan penangkapan 102 sukarelawan yang berlatih militer di Aceh.

Dalam perbincangan sehari-hari, Sofyan sering mengutarakan niatnya berjihad. Ia juga kerap mengutarakan kekecewaannya terhadap Amerika Serikat. “Menurut Sofyan, negara-negara luar sudah terlalu banyak melakukan intervensi terhadap Indonesia,” kata sebuah sumber di Polres Depok. Perubahan pemikiran Sofyan sangat drastis terjadi setelah bertugas di Aceh.ntribunnews/ant/tempointeraktif

Editor : jps
http://www.surya.co.id/2010/09/24/dari-polisi-jadi-teroris-2.html
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Sun Sep 26, 2010 8:54 pm

Berantas Teroris
Perlu Penjara Khusus Teroris

Minggu, 26 September 2010 | 20:06 WIB
Image
Tribunnews.com/Bian Harnansa
Mantan anggota Polri, M Sofyan Tasauri, mulai diadili di Pengadilan Negeri Depok karena terlibat terorisme di Aceh, Kamis (23/9/2010).



JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat teroris Mardigu Wowieq Prasantyo berpendapat, pemerintah perlu menyediakan rumah tahanan khusus bagi kelompok teroris. Mereka harus terpisah dengan pelaku tindak kejahatan lainnya.

"Di penjara ini ada masalah, karena kan tidak terpisah antara ekstra ordinary crime dengan yang non," katanya dalam diskusi "Teroris Juga Punya Cinta", di The Bondies, Jakarta, Minggu (26/9/2010).

Menurut Mardigu, para teroris harus dipenjara terpisah dengan pelaku kejahatan lain agar mereka tidak melakukan perekrutan anggota dalam penjara. Karena biasanya, penjara menjadi tempat kaderisasi kelompok teroris.

"Di penjara mereka perekrutan, dapat alumni STPDN, wakil camat, kurir ganja. Kalau mereka tidak punya penjara sendiri, jadi kaderisasi buat mereka," ujarnya.

Penjara bagi anggota teroris-pun, kata Mardigu harus menyediakan sarana bagi teroris untuk terbuka, berbagi sehingga mampu menyentuh sisi kemanusiaan para teroris. Mereka, kata Mardigu, dapat diubah ideologinya dengan pendekatan kasih sayang.

"Mereka juga merindukan cinta dan sebagianya. pendekatan kata hati lebih berhasil. Karena dari sisi kemanusiaan mereka tidak siap," tuturnya. "Karena sebenarnya mereka punya akhlak yang bagus, santun sekali, tapi ideologi tetap ideologi," tambah Mardigu.

Penulis: Icha Rastika | Editor: Tri Wahono
Dibaca : 282

http://nasional.kompas.com/read/2010/09 ... us.Teroris
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Wed Oct 06, 2010 8:02 pm

Rabu, 06/10/2010 13:41 WIB
Sidang Teroris Aceh
Dituding Mata-mata Polisi, Sofyan Tsauri Tantang FPI Bermubahalah

Suluh Gembyeng - detikNews


Jakarta - Terdakwa kasus terorisme Sofyan Tsauri menyangkal tudingan yang menyebutnya dia mata-mata polisi yang menyusup ke jaringan terorisme di Aceh. Tsauri bahkan berani bermubahalah.

Mubahalah ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat mendoakan kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta.

"FPI itu kan nggak tahu apa-apa tentang saya. Saya siap untuk bermubahalah dengan Habib Rizieq dan Yusuf Qardhawi (Ketua FPI Aceh)," kata Tsauri saat ditanya soal tudingan FPI sebelum sidang dimulai di PN Depok, Jl Boulevard, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/10/2010).

Tsauri mengatakan, tidak ada rekayasa tentang apa yang telah ia perbuat. Semua murni karena dakwah dan tauhid. "Meskipun seandainya yang menuduh itu Osama bin Laden, saya pun siap bermubahalah," ujarnya.


Sidang Tsauri kali ini beragendakan pembacaan eksepsi. Tsauri tiba di PN Depok pukul 11.30 WIB. Mantan anggota Brimob itu tiba dengan mobil tahanan dan dijaga oleh 3 personel kepolisian berpakaian preman. Istri dan orangtua Tsauri sudah tiba sebelumnya di pengadilan. Saat tiba di pengadilan, Tsauri langsung disambut istri dan bapaknya.

Tsauri yang mengenakan peci hitam, baju putih sepanjang betis dan celana coklat ini langsung dibawa ke ruang tahanan pria di pengadilan. Sidang sendiri dijadwalkan akan dimulai pukul 13.00 WIB.

Tsauri diduga terlibat karena menyalurkan senjata api dan melatih pemuda yang ada di pelatihan militer di Aceh. Tsauri yang juga desertir polisi ini memang pernah bertugas di Aceh saat konflik Aceh masih terjadi.

Berdasarkan penjelasan pengacaranya, Nurlan, Tsauri bergabung ke jaringan teroris Aceh atas ajakan seseorang bernama Bara, yang disebutkan sebagai salah satu pemimpin jaringan teroris. Pada Januari 2009, Sofyan pergi ke Aceh dan di sana dia sempat bertemu dengan Dulmatin.

Tsauri kemudian ditangkap saat penyerbuan Densus 88 di hutan kawasan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, awal Maret lalu. Setelah penangkapan itu, Direktur An Nashr Institute Munarman yang juga pengurus FPI ini mencurigai Tsauri merupakan intel polisi yang sengaja ditanam di pelatihan militer di Aceh. "Dia itu ditanam, dia juga merekayasa dan mendesain gerakan yang kerjaanya tertentu yang disebut polisi terorisme, yang bisa ditangkap secara hukum," ujar Munarman pada 26 Agustus.

Kecurigaan pun bertambah dengan pernyataan Ketua FPI Aceh, Yusuf Qardhawi yang pernah melihat Tsauri melenggang bebas di luar tahanan Polda Aceh. Tsauri kala itu sempat menyapa Yusuf, sebelum naik mobil bersama beberapa polisi lainnya, menuju pusat kota.

Tudingan Tsauri merupakan intel polisi itu sudah pernah dibantah Tsauri dalam sidang sebelumnya.

(gus/nrl)
http://us.detiknews.com/read/2010/10/06 ... rmubahalah?
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Wed Oct 06, 2010 8:10 pm

Rabu, 06/10/2010 14:21 WIB
FPI Akan Ladeni Tantangan Mubahalah Sofyan Tsauri
Chazizah Gusnita - detikNews
Image


Jakarta - Terdakwa teroris Aceh yang juga desertir Polri, Sofyan Tsauri menantang Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq dan Ketua FPI Aceh Yusuf Qardhawi untuk ber-mubahalah. Tantangan itu pun akan diladeni FPI.

"Nanti saya sampaikan ke yang bersangkutan. Nanti kita jawab secara resmi. Apa dia bisa bermubahalah di dalam tahanan?"
kata Koordinator bidang hukum FPI Munarman saat dihubungi detikcom, Rabu (6/10/2010).


Menurut Munarman, pihaknya tidak perlu menyiapkan bukti-bukti apapun untuk membenarkan kecurigaannya terhadap Tsauri. "Mubahalah itu saya menyatakan intel Polri atau bukan intel Polri. Nanti laknat Allah yang membalasnya. Nggak perlu ada bawa bukti-bukti lain," ujarnya.

Sebelumnya Tsauri membantah tudingan yang menyatakan dirinya intel Polri yang ditanam di jaringan teroris Aceh. Tsauri pun menantang Habib Rizieq untuk bermubahalah. Bahkan Tsauri pun berani bermubahalah jika tudingan itu berasal dari Osama Bin Laden sendiri. Mubahalah ialah tindakan di mana masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat mendoakan kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta.

Tsauri diduga terlibat terorisme karena menyalurkan senjata api dan melatih pemuda yang ada di pelatihan militer di Aceh. Tsauri yang juga desertir polisi ini memang pernah bertugas di Aceh saat konflik Aceh masih terjadi.

Berdasarkan penjelasan pengacaranya, Nurlan, Tsauri bergabung ke jaringan teroris Aceh atas ajakan seseorang bernama Bara, yang disebutkan sebagai salah satu pemimpin jaringan teroris. Pada Januari 2009, Sofyan pergi ke Aceh dan di sana dia sempat bertemu dengan Dulmatin.

Tsauri kemudian ditangkap saat penyerbuan Densus 88 di hutan kawasan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, awal Maret lalu. Setelah penangkapan itu, Direktur An Nashr Institute Munarman yang juga pengurus FPI ini mencurigai Tsauri merupakan intel polisi yang sengaja ditanam di pelatihan militer di Aceh. "Dia itu ditanam, dia juga merekayasa dan mendesain gerakan yang kerjaanya tertentu yang disebut polisi terorisme, yang bisa ditangkap secara hukum," ujar Munarman pada 26 Agustus lalu.

(gus/vit)
http://us.detiknews.com/read/2010/10/06 ... yan-tsauri
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Sabilla » Fri Oct 08, 2010 2:44 am

Sofyan Tsauri Bantah Terlibat Jaringan Teroris Aceh
Rabu, 6 Oktober 2010 - 19:09 wib
Marieska Harya Virdhani - Okezone

Image
Ilustrasi


DEPOK- Terdakwa kasus teroris Sofyan Tsauri kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Depok dengan agenda pembacaan eksepsi. Dalam keberatannya kuasa hukum Sofyan membantah terlibat langsung dengan jaringan teroris Aceh.

Menurut Nurlan HN, salah satu pengacara Sofyan, kliennya hanya terbukti memperjualbelikan senjata api, bukan terlibat langsung dalam aksi teror.

"Tidak ada pelatihan militer dan tidak menyebabkan kematian warga serta kegoncangan terkait aksi terorisme," katanya kepada wartawan, Rabu (06/10/10).

Sehingga, kata Nurlan, seharusnya Sofyan hanya didakwa dengan UU Darurat tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api, bukan UU Terorisme. Nurlan pun meminta jaksa penuntut umum untuk membuktikan jika senpi yang dijual Sofyan, dipakai untuk kegiatan teror.

"Silakan saja JPU buktikan. Kami juga sudah review ulang kalau sidang memang harus digelar di Depok, karen TKP di Depok,” jelasnya.

Sebelumnya, JPU mendakwa desertir Polri ini dengan ancaman hukuman mati karena dugaan keterlibatan Sofyan dalam pelatihan militer teroris di Aceh.


(ded)
http://news.okezone.com/read/2010/10/06 ... roris-aceh
Sabilla
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1311
Joined: Mon Jul 20, 2009 8:23 pm

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby muh_panic » Fri Nov 12, 2010 12:53 am

jgn2 neh org udah murtad dlm hati, kaya si mosab hamas....
jadi mata2 polisi..
semoga saja, toh ga ada yg tahu...
hahaha \:D/
muh_panic
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 40
Joined: Tue Feb 16, 2010 2:57 am

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby a_man » Sun Nov 14, 2010 12:04 pm

karena alohswt blum terbukti bisa nurunin azab, mubahalahnya dibalik aja : "SAYA MEMANG INTEL".
Klo dlm 3 bln gak terjadi apa2, berarti dia bener intel, tinggal diserahin ke FPI buat digauli.
User avatar
a_man
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4320
Joined: Mon Sep 01, 2008 5:12 pm
Location: http://code.google.com/p/a-manffi/downloads/list

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Akukomkamu » Sun Nov 14, 2010 1:56 pm

Orang kalo sudah islam sewaktu-waktu setan akan memperalatnya tanpa dia sadari , istilahnya KHILAF gituuu... :lol:

Sering orang islam itu selalu KHILAAAAAAAAAAF...napa ya... :-k

Ustad dah sejuta umatpun juga khilaf ... #-o




Piss... :heart:
Akukomkamu
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5565
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am
Location: "Mengajak onta2 arab unt bisa BERMARTABAT" IFF adalah TEMPAT nya.

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby becak » Mon Nov 15, 2010 2:14 am

Akukomkamu wrote:Orang kalo sudah islam sewaktu-waktu setan akan memperalatnya tanpa dia sadari , istilahnya KHILAF gituuu... :lol:

Sering orang islam itu selalu KHILAAAAAAAAAAF...napa ya... :-k

Ustad dah sejuta umatpun juga khilaf ... #-o




Piss... :heart:



Itu bukan khilaf bro, tapi HOBBY !! :rofl: , sama kayak bang mamad, hobby nya kawin !! :supz: :rolling:
User avatar
becak
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 991
Joined: Wed Apr 02, 2008 8:25 pm
Location: Ka'bah Umum @ [Team Haha Hihi]

Re: Kisah Polisi Jadi Teroris

Postby Bigman » Mon Nov 15, 2010 9:27 pm

http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum ... 61,id.html

Tsauri Ungkap Deklarasi Al Qaeda Indonesia
Senin, 15 November 2010 | 18:15 WIB

TEMPO Interaktif wrote: Jakarta - Sofyan Tsauri, desertir polisi yang terlibat jaringan terorisme mengungkapkan rencana pendeklarasian organisasi Al Qaeda Indonesia dalam proses rangkaian pelatihan teroris di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar Nangro Aceh Darussalam. Kesaksian itu disampaikan Tsauri saat menjadi saksi dalam persidangan kasus terorisme dengan terdakwa fasilitator pelatihan terorisme di Aceh, Yudi dan Agam, di Pengadilan Jakarta Barat, Senin (15/11).
Menurut Tsauri pembicaraan soal deklarasi terungkap saat dirinya bertemu dengan Yahya alias Dulmatin di Aceh. Dulmatin adalah tokoh sentral teroris yang meninggal saat disergap kepolisian di daerah Pamulang. Turut rembug dalam pembicaraan, Yudi sebagai fasilitator pelatihan dan Tengku Marzuki yang sempat mengetahui rencana pendeklarasian al Qaeda Indonesia tersebut.
"Saat itu memang ada persiapan deklarasi Al Qaeda Indonesia," ujarnya menjawab pertanyaan hakim.
Meski begitu, Tsauri tak menjelaskan bagaimana bentuk dari organisasi Al Qaeda Indonesia yang dimaksud. Yang ia ketahui hanya Aceh akan dijadikan tempat dimana Al Qaeda Indonesia bisa tumbuh. "Soal waktunya belum ditentukan," ujarnya.
Pernyataan Tsauri kontan dibantah terdakwa Yudi. Kepada Majelis Hakim menerangkan bahwa dirinya tidak pernah mengikuti pertemuan itu. Selain karena memang tidak mengetahuinya, Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) itu beranggapan perannya yang hanya sebagai fasilitator tidak seharusnya tahu soal itu. "Saya tidak tahu semua, saya bantah keterangan Tsauri," ujarnya kepada Majelis Hakim.
Sebelumnya, wacana pendirian tandzim Al Qaeda Indonesia juga pernah dilemparkan Ubaid dalam sebuah kesaksiannya. Bendahara kelompok teror itu menjelaskan bahwa memang Aceh sudah terpilih untuk menjadi markas dari Organisasi teror internasional. Namun sama halnya dengan Tsauri, Ubaid juga tidak menjawab kapan organisasi itu benar-benar akan didirikan.
SANDY INDRA PRATAMA

uwwooOOOWWWW!
Emang sumbernya dari muhammad alm aka alquran aka auwlloh swt.
Bijimane mo di-ilangin ntuh terrorist...
Paitnya, kenyataan bagi nyang maseh moslem!

Terrorist sumbernya tetep! Dari quran...............!
:lol:

HILLMAN wrote:Image
Salam bagi orang yang berpikir.:finga:
User avatar
Bigman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3234
Joined: Sat Jan 03, 2009 8:19 pm


Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users