
kafirun_ali wrote:------- Ponimin yang dikenal sebagai "orang pintar " nomor dua setelah Mbah Maridjan di lereng Merapi.......






iniesta wrote:Well...bro saraph ini tampaknya udah bener2 saraf nih...(sorry, just kidding...).
Udah ane cari2 di kitab suci ane, Al Quranul Karim, keknya ga ada tuh ayat2 ajaran takhyul penyelamatan2 kek gitu? Kali si ponimin yg khas kultur jawa ini karena shock dan panik liat bahaya, secara naluri manusia, apapun akan dibuat berlindung. Nah barangkali secara kebetulan si ponimin cuma menemukan mukena sang istri. Nah kebetulan lagi barangkali sang Wedus gembel TIDAK mencapai area mereka.... Nah karena dasar kultur jawa yg gampang mengkait2kan dgn hal2 mistik...so, itu bukan ajaran Islam bro saraph... Agama Islam hanya mengajarkan REALITAS, bukan MISTIK bro.....

iniesta wrote:.so, itu bukan ajaran Islam bro saraph... Agama Islam hanya mengajarkan REALITAS, bukan MISTIK bro.....
KLIK
candra_mukti19 wrote : Kapir FFI lebih banyak mengupas tentang jihad dan poligami. Itu itu melulu yang dibahas. Jika memang FFI mengenal Islam dengan baik, maka tunjukan pada saya, dimana artikel-artikel kapirun yang membahas tentang Imamah, sufisme dan mistisme Islam! Menunjukan jihad sebagai teror, dan menunjukan poligami sebagai nafsu seks yang bejat, semua itu sia-sia saja. Sebab Imam tetap akan tegak, sufisme dan mistisme Islam tidak pernah tersentuh oleh otak kapirin.


Saat ribuan warga turun gunung untuk mengungsi, ada puluhan lainnya yang tetap nekat bertahan. Sebagian tewas dihujani wedhus gembel. Ada sekitar 26 orang yang masih hidup. Salah satunya adalah Ponimin. Bahkan, seluruh anggota keluarganya selamat, meski rumahnya di Dusun Kaliadem hancur.
---------------------------------------------
KARDONO SETYORAKHMADI, Solo
--------------------------------------------
RUMAH Ponimin yang terletak di ujung paling utara (paling dekat Merapi) kini luluh lantak. Eternitnya jebol dan seluruh kayunya hangus. Bau menyengat seperti belerang tercium di sekeliling rumah. Rumah seluas sekitar 120 meter persegi tersebut memang baru dihantam wedhus gembel (awan panas) yang memuat puluhan ribu material vulkanik berkecepatan tinggi dan bersuhu 800 derajat Celsius.
Meski begitu, Ponimin dan seluruh anggota keluarganya selamat. Padahal, mereka terperangkap di rumah tersebut. Pria yang juga dianggap "tokoh kedua" setelah Mbah Marijan dalam hal pengenalan dengan Gunung Merapi itu menyatakan bisa bertahan karena mukjizat. "Siapa nyana bisa selamat," tuturnya. Sebelumnya, Ponimin mengungkapkan bahwa dirinya memang memutuskan untuk tidak mengungsi karena alasan mistis. "Saya mendapat bisikan gaib dari makhluk Allah yang berdiam di Merapi. Intinya, mereka meminta saya menemani mereka "bekerja?. Kalau tidak, letusan kali ini akan menghancurkan sebagian besar Jogja," ucapnya.
Entah benar atau tidak, yang jelas, Ponimin memutuskan untuk tidak mengungsi. Dia ditemani istri, dua anak, seorang menantu, dan dua cucunya.Ketika peristiwa itu terjadi, Ponimin baru saja berwudu hendak salat Magrib. Belum sempat masuk rumah karena menunggu istrinya wudu di luar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Mendadak hawa panas menghampar. Ponimin sadar bahwa Merapi telah muntah dan wedhus gembel telah menimpa rumahnya. Istrinya langsung masuk rumah. Ketika melihat ke sekeliling, Ponimin melihat api di mana-mana. "Saya seperti dikepung api," ungkapnya.
Dia kemudian secepat mungkin masuk ke dalam rumah. Bersama seluruh keluarganya, dia langsung masuk ke dalam kamar berukuran 2,5 x 4 meter. Semua berkumpul. Sebelum menutup pintu, mereka melihat kaca rumah sudah pecah dan api menyala di seluruh rumah. Pria yang menjadi abdi dalem keraton sejak 2001 tersebut kemudian mengucapkan doa-doa bersama keluarganya. Tiba-tiba, plafon kamar ambruk dan api terlihat menyala-nyala di atap rumah. "Kami sekeluarga hanya bisa berdoa," tuturnya.
Bisa dibayangkan betapa paniknya Ponimin sekeluarga. Terkurung dalam sebuah kamar kecil dengan eternit jebol dan rumah yang dilalap api. Belum lagi, suara gemuruh besar dari Merapi menambah ketegangan.
Ketakutan itu baru berkurang sekitar pukul 21.00. Yakni, sesaat setelah api tak lagi menyala-nyala. Kemudian, Ponimin nekat mengintip ke luar. Dia bergegas keluar dan berupaya menyelamatkan diri dengan menyalakan mobil Daihatsu Xenia-nya. Mobil menyala, dia kemudian memundurkan mobil tersebut ke dalam rumah. Tapi, tiba-tiba, duaarrr... ban mobil itu meletus karena terkena abu vulkanik yang masih panas. "Abunya sangat tebal, kira-kira 40 cm," katanya.
Dia tergesa-gesa turun dari mobil dan kakinya menginjak ke abu. Terasa sangat panas. Ponimin pun langsung buru-buru masuk rumah. Karena tak mengenakan sandal atau sepatu, kakinya melepuh. Dia kemudian langsung menelepon ke banyak orang, termasuk ke tim SAR. "Hawa belerang sangat menyengat dan terasa sangat panas," ucapnya. Ponimin meminta segera dikirim bantuan.
Celakanya, karena situasi masih sangat berbahaya, tim SAR tak berani langsung menolong. "Saya sempat emosional dan ngomong kata-kata yang tak pantas," tuturnya. Sebab, salah seorang yang ditelepon malah menyarankan untuk istigfar dan menunggu.
Bantuan datang sekitar pukul 23.00. Yang berani datang untuk menyelamatkan adalah Pandu Bani Nugroho, relawan SAR yang masih berusia 19 tahun. Dengan mengendarai sepeda motor trail, Pandu membawa tabung oksigen. Tapi, persis di depan rumah Ponimin, ban sepeda motor trail itu meletus. Pandu langsung membuang trail-nya dan berlari ke rumah Ponimin. "Saat itu, mereka hendak keluar tapi urung karena abunya masih sangat panas," ujar Pandu.
Pandu juga merasakan clekit-clekit di kakinya, meski mengenakan sepatu gunung yang tebal. Akhirnya, dia menyerahkan tabung oksigen. Semua pun lantas berpikir bagaimana caranya bisa keluar dari tempat tersebut.
Akhirnya, istri Ponimin punya akal. Dia mengambil tujuh bantal dan satu sajadah. Mereka kemudian menaruh satu bantal di depan untuk pijakan. Kemudian, yang belakang mengambil bantal. Lantas, yang sudah berdiri di atas bantal menaruh bantal dari belakang itu ke depan secara estafet. Persis seperti outbound.
Dengan cara itu, mereka bergerak pelan. Jangan ditanya soal sport jantung. "Kami tak bisa bergerak cepat. Padahal, sering terdengar suara gemuruh dari puncak Merapi. Bila ada wedhus gembel, kami semua ya selesai sudah," ungkap Pandu yang saat itu melangkah dengan menggendong cucu Ponimin yang paling kecil. Mereka berjalan estafet sejauh lebih dari 1,5 km sebelum ada kendaraan yang sudah menanti. Akhirnya, mereka dibawa ke pengungsian sebelum dibawa ke Rumah Sakit Ghrasia untuk dirawat.
Ponimin mengalami luka bakar stadium dua dan Pandu mengalami luka bakar stadium satu. Luka Pandu lebih ringan karena dia memakai sepatu gunung yang tebal. "Baru terasa sakit setelah di rumah sakit. Pas jalan dengan bantal, sakitnya tidak terasa. Hanya terasa panas," ucapnya.
Meski mengalami kejadian sangar, Ponimin dan Pandu tidak kapok. Ponimin tetap bertekad untuk tidak pindah rumah dan Pandu tetap akan menjalankan tugas sebagai relawan. "Bagaimanapun, Merapi adalah rumah kami. Kalau ada apa-apa, ya kami bahu-membahu untuk membantu korban," tegas Pandu. Selain Pandu, Haryana, seorang relawan Gunung Merapi, nyaris kehilangan nyawa kala menolong puluhan warga di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, saat terjadi letusan Senin petang lalu.
Saat terdengar suara letusan, dia sedang berada di rumah bersama istri dan dua anaknya. Namun, niat ingin menolong warga di lereng Merapi membuat dirinya nekat meninggalkan rumah yang berjarak sekitar 15 kilometer dari puncak Merapi itu.Dia langsung menghidupkan Isuzu Panther-nya dan menuju balai desa Tegalmulyo yang berjarak 5?6 kilometer dari puncak Merapi. Tentu saja dibutuhkan mental yang kuat untuk menuju tempat tersebut setelah Merapi meletus. Apalagi, di tengah perjalanan, dia melihat ratusan orang sudah menyelamatkan diri ke bawah.
"Yang saya pikirkan saat itu nasib ratusan warga di Desa Tegalmulyo yang belum mengungsi. Setiba di desa tersebut, mobil saya sudah dihadang warga. Hanya dapat memuat sekitar 10 orang," ujarnya. Haryana enam kali menaiki bukit dan masuk ke dusun yang mulai ditinggalkan warga. Dia masih ingat betul saat hendak mengambil warga untuk yang kedua. Saat itu, dengan jelas dia melihat awan panas melintas di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Haryana saat itu sedang turun dari Desa Sidorejo bersama beberapa warga.
"Jaraknya sekitar 800 meter dari jalan yang saya lalui. Ada perasaan takut kalau awan tersebut menuju ke mobil saya. Namun, ternyata awan itu mengarah ke selatan (Sleman). Seisi mobil saat itu hanya bisa berdoa," kenangnya. (dilengkapi Radar Solo/c5/iro)

Entah benar atau tidak, yang jelas, Ponimin memutuskan untuk tidak mengungsi. Dia ditemani istri, dua anak, seorang menantu, dan dua cucunya.Ketika peristiwa itu terjadi, Ponimin baru saja berwudu hendak salat Magrib. Belum sempat masuk rumah karena menunggu istrinya wudu di luar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Mendadak hawa panas menghampar. Ponimin sadar bahwa Merapi telah muntah dan wedhus gembel telah menimpa rumahnya. Istrinya langsung masuk rumah. Ketika melihat ke sekeliling, Ponimin melihat api di mana-mana. "Saya seperti dikepung api," ungkapnya.










Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional
Users browsing this forum: No registered users and 1 guest